The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Modul dan Ringkasan Laboratorium Auditing

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by rossitasari94, 2021-04-23 07:36:21

Akuntansi Syariah by Wiroso

Modul dan Ringkasan Laboratorium Auditing

Keywords: Akuntansi Keuangan Syariah

Dr. Hutang salam Rp1.000.000.000,00

(200 ton gabah INTANI 2 ka 12%) Rp850.000.000,00
Rp150.000.000,00
Cr. Persediaan
Cr. Keuntungan salam

Dengan penyerahan barang yang dipesan sesuai spesifikasi dalam kontrak tersebut kewajiban
Lembaga Keuangan Syariah terhadap Bulog telah selesai, tanpa dipengaruhi oleh harga barang pada
saat penyerahan. Dan karena terjadi penyerahan barang dari penjual kepada pembeli (Bulog), maka
Lembaga keuangan Syariah sebagai penjual melakukan pengakuan keuntungan atas transaksi salam
tersebut.

5.6 Penyajian dan Pengungkapan

Dalam PSAk 103 tentang Akuntansi salam telah diatur hal-hal yang terkait dengan penyajian
transaksi salam dalam laporan keuangan syariah sebagai berikut:

1. Pembeli menyajikan modal usaha salam yang diberikan sebagai piutang salam.
2 Piutang yang harus dilunasi oleh penjual karena tidak dapat memenuhi kewajibannya dalam transaksi salam

disajikan secara terpisah dari piutang salam.
3. Penjual menyajikan modal usaha salam yang diterima sebagai kewajiban salam.

Dalam PSAk 103 tentang Akuntansi salam telah diatur hal-hal yang terkait dengan pengungkapan
transaksi salam dalam laporan keuangan syariah sebagai berikut:

1. Penjual dalam transaksi salam mengungkapkan:
(a) Piutang salam kepada supplier (dalam salam paralel) yang memiliki hubungan istimewa;
(b) Jenis dan kuantitas barang pesanan; dan
(c) Pengungkapan lain sesuai dengan PSAK 101: Penyajian Laporan Keuangan Syariah.

2. Pembeli dalam transaksi salam mengungkapkan:
(a) Besarnya modal usaha salam, baik yang dibiayai sendiri maupun yang dibiayai secara bersama-sama
dengan pihak lain;
(d) Jenis dan kuantitas barang pesanan; dan
(e) Pengungkapan lain sesuai dengan PSAK 101: Penyajian Laporan Keuangan Syariah.

5.7 Pertanyaan dan Soal

5.7.1 Pertanyaan

1. Salah satu penyaluran dana yang dilakukan oleh Lembaga Keuangan Syariah dengan
mempergunakan prinsip salam.
a. Jelaskan dengan lengkap dan rinci pengertian dan jenis salam yang dilakukan oleh lembaga
keuangan syariah?
b. Jelaskan dengan lengkap dan rinci karakteritstik salam menurut Fatwa DSN dan PSAK 103
tentang Akuntansi Salam

2. PSAK 103 mengatur tentang Akuntansi salam baik pada penjual maupun yang dilakukan oleh
pembeli.
a. Jelaskan cakupan PSAK 103 tentang Akuntansi Salam ?
b. Jelaskan penggunaan akuntansi penjual dan akuntansi pembeli sesuai dengan PSAK 103 ?

3. Pada dasarnya penyerahan barang yang dilakukan produsen kepada pembeli harus sesuai dengan
spesifikasi yang disepakati dalam kontrak.
a. Jelaskan pengakuan dan pengukuran penerimaan barang dengan kualitas yang berbeda dengan
kontrak?
b. Jelaskan pengakuan dan pengukuran penerimaan barang yang sesuai dengan sesifikasi dalam
kontrak?

BAB V. Akuntansi Salam | 195

c. Jelakan risiko yang terjadi penerimaan barang dengan kualitas yang berbeda dengan kontrak,
jika yang dilakukan adalah salam paralel?

4. Salah satu penyaluran dana Bank Syariah mempergunakan pola jual beli
a. Jelaskan prinsip salam dan salam paralel
b. Jelaskan perbedaan salam dan istishna

5. Salah satu penyaluran dana Bank Syariah mempergunakan pola jual beli
a. Jelaskan prinsip-prinsip syariah yang dikategorikan dalam kelompok jual beli
a. Jelaskan prinsip salam dan salam paralel

6. Salah satu penyaluran dana Bank Syariah mempergunakan pola jual beli
a. Jelaskan secra rinci dan lengkap prinsip salam dan salam paralel
b. Jelaskan perbedaan salam dan murabahah

5.7.2 Soal study kasus

Soal pertama

Bank syariah melakukan transaksi salam dengan kelompok petani di Sukabumi dengan data-data
sebagai berikut:

Nama Barang pesanan : Kedelai
Jenis barang pesanan : Biji kedelai kualitas A
Jumlah barang : 20 ton
Jumlah modal/harga : Rp30.000.000,00 ( Rp1.500.000,00 per ton)
Jangka waktu penyerahan : 3 bulan sampai gudang bank syariah
Penyerahan modal : Dalam bentuk uang tunai dan dibayar dimuka pada saat kontrak

Diminta : ditanda tangani.

Buatlah perhitungan dan jurnal dari siklus transaksi tersebut.

Soal kedua

Bank syariah memperoleh kepercayaan dari Bulog untuk melakukan pembelian beras, dengan data-
data sebagai berikut :

Nama barang pesanan : Gabah padi IR 38

Jenis barang pesanan : IR 38 kadar air 15%

Jumlah : 100 ton

Harga : Rp500.000.000,00 (Rp5.000.000,00 per ton)

Jangka waktu penyerahan : 6 bulan

Untuk memenuhi kebutuhan tersebut bank syariah melakukan pemesanan beras kepada KUD

Sejahtera, dengan data-data sebagai berikut:

Nama Barang pesanan : Gabah padi IR 38

Jenis barang pesanan : IR 38 kadar air 15%

Jumlah barang : 100 ton

Jumlah modal/harga : Rp400.000.000,00 (Rp4.000.000,00 per ton)

Jangka waktu penyerahan : 4 bulan

Penyerahan modal : Uang tunai sejumlah Rp300.000.000,00

Alat pertanian sejumlah Rp100.000.000,00

Agunan : Sebidang sawah senilai Rp500.000.000,00

Cara penyerahan : Secara bertahap masing-masing 25 ton setiap bulan

Penjelasan lain berkaitan dengan pesanan kepada KUD Sejahtera:

1. Harga perolehan alat pertanian sebesar Rp95.000.000,00

2. Data-data saat penyerahan barang dari KUD Sejahtera adalah sebagai berikut:

196 | Akuntansi Transaksi Syariah ( Wiroso, IAI, 2011 )

a. Tahap kesatu sebanyak 25 ton gabah padi IR 38 kadar air 15% dan nilai wajar saat
penyerahan sebesar Rp100.000.000,00 (atau Rp4.juta per ton)

b. Tahap kedua sebanyak 25 ton gabah padi IR 38 kadar air 25% dan nilai wajar saat
penyerahan sebesar Rp125.000.000,00 (atau Rp5 juta per ton )

c. Tahap ketiga sebanyak 25 ton gabah padi IR 38 kadar air 20% dan nilai wajar saat
penyerahan sebesar Rp8.000.000,00 (atau Rp3, 2 juta per ton)

3. Penyerahan tahap ke-4 sisa barang pesanan sebesar 25 ton gabah padi IR 38 kadar air 15%
seharga Rp10.000.000,00 tidak lancar, sehingga perlu diambil alternatif:
a. Bank Syariah melakukan perpanjangan kontrak pemesanan barang kepada KUD
Sejahtera
b. Bank Syariah membatalkan Kontrak dengan KUD Sejahtera
d. Bank Syariah dengan persetujuan KUD Sejahtera, menjual jaminan dengan asumsi
(1) harga jual jaminan seharga Rp7.500.000,00
(2) harga jaminan seharga Rp15.000.000,00

Diminta :
Buatlah perhitungan dan jurnal sehubungan dengan transaksi tersebut

Soal ketiga

Bank syariah melakukan pemesanan beras kepada kelompok petani Suka Makmur, dengan data-data
sebagai berikut:

Nama Barang pesanan : Beras IR 38

Jenis barang pesanan : IR 38 kering gudang

Jumlah barang : 100 ton

Jumlah modal/harga : Rp40.000.000,00

Jangka waktu penyerahan : 4 bulan

Penyerahan modal : Uang tunai sejumlah Rp30.000.000,00

Alat pertanian sejumlah Rp10.000.000,00

Agunan : Sebidang sawah senilai Rp50.000.000,00

Cara penyerahan : Secara bertahap masing-masing 25 ton setiap bulan

Penjelasan lain berkaitan dengan pesanan kepada petani Suka Makmur:

1. Harga perolehan alat pertanian sebesar Rp9.500.000,00

2. Penyerahan barang pesanan dilakukan 3 tahap sbb:

a. Ke-1 : 25 ton beras IR 38 kering dengan nilai wajar Rp10.000.000,00

b. Ke-2 : 25 ton beras IR 38 kering dengan nilai wajar Rp12.500.000,00

c. ke-3 : 25 ton beras IR 38 kering dengan nilai wajar Rp8.000.000,00

Diminta:

Buatlah jurnal dan perhitungan atas transaksi tersebut sesuai tahapan transaksinya

Soal keempat

Lembaga Keuangan Mikro Syariah Mitra Umat (LKMS Mitra Umat) melakukan pemesanan
kepada Kelompok Petani Gula Sekar Madu (KPG Sekar Madu) berupa gula merah kualitas A
sebanyak 100 ton dengan harga Rp100 juta. Penyerahan dilakukan dengan dua tahap masing-masing
50 ton gula merah paling lambat selama 6 bulan setelah akad ditandatangani.

Atas pemesanan tersebut disepakati penyerahan modal dalam bentuk :

a. Peralatan penyadap gula dan peralatan pembuatan gula merah senilai Rp75 juta saat
penyerahan. Peralatan tersebut dibeli oleh LKMS Mitra Umat seharga Rp70 juta.

b. Uang tunai sebesar Rp25 juta untuk keperluan pembayaran upah tenaga kerja dan biaya
lainnya.

BAB V. Akuntansi Salam | 197

Mengingat bahwa terdapat masalah pengadaan bahan baku mengakibatkan hasil tidak sesuai yang
disepakati dan penyerahan tahap kedua LKSM Mitra Umat bersedia dan sepakat menerima gula
merah dengan kualitas yang berbeda dalam akad, dimana harga pasar gula merah hanya senilai Rp40
juta

Diminta:

Buatlah perhitungan dan jurnal atas transaksi tersebut sesuai dengan tahapan transaksinya.

Soal kelima

Departemen pertanian bersama-sama dengan Bulog memiliki program untuk memenuhi kebutuhan
pangan tahun anggaran 2008. Untuk itu Departemen Pertanian melakukan pemesanan kepada
KUD dengan data-data sbb:

Barang yang dipesan : 100 ton gabah padi IR 78 kadar air 12% dengan harga

Rp8.000.000,00/ton

Waktu Penyerahan : Tahap ke-1 sebesar 50 ton dilakukan 3 bulan setelah akad ditanda

tangani

Tahap ke-2 sebesar 30 ton dilakukan 4 bulan setelah akad ditanda

tangani

Tahap ke-3 sebesar 20 ton dilakukan 5 bulan setelah akad ditanda

tangani

Modal diberkan : uang tunai sebesar Rp300.000.000,00 sbg modal kerja

Alat pertanian dengan harga pasar sebesar Rp300.000.000,00 yang

sebelumnya dibeli dengan harga sebesar Rp350.000.000,00

Bibit, pupuk dan sejenisnya dengan harga wajar sebesar

Rp200.000.000,00 yang sebelumnya dibeli dengan harga

Rp175.000.000,00

Keterangan lain : Saat penyerahan barang langsung diserahkan ke Bulog.

Diminta : Buatlahjurnal dan perhitungan atas

a. Pembayaran modal dari Departemen Pertanian kepada KUD

b. Penerimaan barang dari KUD oleh Departemen Pertanian tahap pertama dan kedua

c. Jurnal penyerahan barang tahap ketiga jika barang yang diserahkan kualitasnya tidak sama
dengan akad dan Departemen Pertanian sepakat. Gabah yang diserahkan nilai pasarnya
sebesar Rp7.5 juta per ton.

Soal keenam

Dalam rangka membantu program pemerintah dalam penguatan pangan Bank Syariah pada tanggal
15 Januari 2008 melakukan pemesanan dengan KUD Usaha Tani Kerawang dan disepakati hal-hal
sbb:

1. Modal yang diberikan Bank Syariah kepada KUD untuk 200 ha sawah berupa

a. modal non kas berupa :

No Nama kwantitas Nilai tercatat (Rp) Nilai wajar (Rp)
90.000.000 100.000.000
(1) Bibit Intani-2 2.000 kg 575.000.000 600.000.000
310.000.000 300.000.000
(2) Pupuk Urea 300 ton
1.000.000.000
(3) Obat-obatan 200 lt

Jumlah

(terbilang : satu milyar rupiah)

b. Modal kas sebesar Rp500.000.000 (lima ratus juta rupiah)

198 | Akuntansi Transaksi Syariah ( Wiroso, IAI, 2011 )

2. Penyerahan barang yang dilakukan oleh KUD Usaha Tani kepada Bank Syariah berupa 200
ton gabah Intansi 2 kadar air 12% seharga Rp7,5 juta per ton

3. Penyerahan barang dilakukan paling lambat enam bulan setelah akad ditanda tangani, yaitu
pada tanggal 20 Januari 2008.

4. KUD Usaha Tani menyerahkan agunan 10 ha sawah
Diminta : Buatlah perhitungan dan jurnal atas trasaksi

a. Pembelian barang-barang untuk modal non kas (Bibit, Pupuk, Obat-obatan)

b. Penyerahan modal non kas dan modal non kas secara rinci
c. Penerimaan barang salam pada tanggal 20 Juli 2008, jika

(1). penerimaan dengan kualitas sesuai akad dibanyak 100 ton gabah

(2). sisa barang diperpanjang sampai dengan tanggal 30 Agustus 2008
d. Penerimaan barang pada tanggal 30 Agustus, jika

(1). barang sebanyak 50 ton gabah terpaksa diterima dengan kualitas yang berbeda
dan nilai wajar saat penyerahan sebesar Rp400.000.000,- (empat ratus juta rupiah)

(2). sisa barang salam KUD Usaha Tani tidak dapat memenuhi kewajibannya,
sehingga akadnya dibatalkan.

e. Untuk melunasi hutangnya, agunan KUD Usaha Tani sebanyak 2 ha sawah dijual
dengan harga jual secara wajar sebesar Rp500.000.000 (lima ratus juta rupiah)

Soal ketujuh

Bank syariah menerima pasana dari Bulog Tepung Ketela kualitas A sebanyak 200 ton seharga Rp
100.000.000,00

Atas pesana tersebut bank syariah lakukan pemesanan beras kepada kelompok petani Suka Makmur,
dengan data-data sebagai berikut:

Nama Barang pesanan : Tepung ketela type A

Jenis barang pesanan : Kadar air 5%

Jumlah barang : 200 ton

Jumlah modal/harga : Rp80.000.000,00

Jangka waktu penyerahan : 4 bulan

Penyerahan modal : Uang tunai sejumlah Rp60.000.000,00

Alat pertanian sejumlah Rp20.000.000,00

Agunan : Empat bidang sawah senilai Rp100.000.000,00

Cara penyerahan : Secara bertahap masing-masing 50 ton setiap bulan

Penjelasan lain berkaitan dengan pesanan kepada petani Suka Makmur:

1. Harga perolehan alat pertanian sebesar Rp19.000.000,00

2. Penyerahan barang pesanan

a. Tahap kesatu sebanyak 50 ton tepung ketela kualitas A dengan nilai wajar sebesar
Rp20.000.000,00

b. Tahap kedua sebanyak 50 ton tepung ketela kualitas B dengan nilai wajar sebesar
Rp25.000.000,00

c. Tahap ketiga sebanyak 50 ton tepung ketela kualitas B dengan nilai wajar sebesar
Rp16.000.000,00

BAB V. Akuntansi Salam | 199

d. Tahap keempat sebanyak 50 ton tepung ketela kualitas A tidak dapat diserahkan oleh
kelompok tani Suka Makmur

Diminta :
1. Menentukan prinsip syariah yang dipergunakan dalam transaksi tersebut
2. Perhitungan dan jurnal Bank Syariah yang terkaitan, mulai awal sampai dengan pelunasan

transaksi tersebut
a. Penyerahan modal Bulog ke Bank Syariah
b. Penyerahan modal Bank Syariah ke Kelompok Tani Suka Makmur
c. Penerimaan barang pesanan Bank Syariah dari Kelompok Tani Suka Makmur (tahap
d. Penerimaan barang tahap ke empat jika:

(i) akad dibatalkan
(ii) diperpanjang
(iii) penjualan agunan seharga Rp10.000.000,00
(iv) penjualan agunan seharga Rp30.000.000,00
e. Penyerahan barang dari bank Syariah ke Bulog

200 | Akuntansi Transaksi Syariah ( Wiroso, IAI, 2011 )

BAB VI
AKUNTANSI ISTISHNA’

6.1 Pengertian dan Karakteristik Istishna’

Kegiatan usaha yang dilakukan oleh Lembaga Keuangan Syariah dalam penyaluran atau pengelolaan
modal atau dana adalah dengan menggunakan prinsip istishna’. Sebelum dilakukan pembahasan tentang
akuntansi istishna’, perlu diketahui pengertian, jenis dan karakteristik istishna’, karena hal ini sangat
memengaruhi pemahaman akuntansi istishna’

6.1.1 Pengertian

Istishna’ adalah akad jual beli antara al-mustashni’ (pembeli) dan as-shani’ (produsen yang juga
bertindak sebagai penjual), penyerahan dilakukan kemudian dengan pembayaran sesuai kesepakatan.
Berdasarkan akad tersebut, pembeli menugasi produsen untuk menyediakan al-mashnu’ (barang pesanan)
sesuai spesifikasi yang disyaratkan pembeli dan menjualnya dengan harga yang disepakati. Cara
pembayaran dapat berupa pembayaran dimuka, cicilan, atau ditangguhkan sampai jangka waktu tertentu.

Dalam PSAK 104 tentang Akuntansi Istishna’ diperoleh beberapa pengertian yang terkait dengan
transaksi Istishna’ adalah sebagai berikut:

Istishna' adalah akad jual beli dalam bentuk pemesanan pembuatan barang tertentu dengan kriteria
dan persyaratan tertentu yang disepakati antara pemesan (pembeli, mustashni') dan penjual
(pembuat, shani').
Istishna' paralel adalah suatu bentuk akad istishna' antara pemesan (pembeli, mustashni') dengan
penjual (pembuat, shani'), kemudian untuk memenuhi kewajibannya kepada mustashni', penjual
memerlukan pihak lain sebagai shani'.
Pembayaran tangguh adalah pembayaran yang dilakukan tidak pada saat barang diserahkan
kepada pembeli tetapi pembayaran dilakukan dalam bentuk angsuran atau sekaligus pada waktu
tertentu.
Dalam Kamus Istilah Keuangan dan Perbankan Syariah, Direktorat Perbankan Syariah Bank
Indonesia menjelaskan sebagai berikut:
Istishna’ adalah akad jual beli dalam bentuk pemesanan pembuatan barang tertentu dengan kriteria
dan persyaratan tertentu yang disepakati antara pemesan/pembeli (mustashni’) dan
penjual/pembuat (shani’)
Istishna’ Paralel adalah dua transaksi bai’ al-istishna’ yang dilakukan oleh para pihak secara
simultan.
Bai’ istishna’ adalah kontrak penjualan antara pembeli dan pembuat barang, menurut spesifikasi
yang telah disepakati dan menjualnya kepada pembeli akhir. Kedua belah pihak sepakat atas harga
serta sistem pembayaran, apakah pembayaran dilakukan dimuka, melalui cicilan, atau ditangguhkan
sampai suatu waktu pada masa yang akan datang.

BAB VI. Akuntansi Istishna’ | 201

Rukun Istishna’ adalah:
1. Produsen/pembuat barang (shaani’) dan juga menyediakan bahan bakunya
2. Pemesan/pembeli barang (Mustashni’)
3. Proyek/usaha barang/jasa yang dipesan (mashnu’)
4. Harga (Tsaman)
5. Shighat/Ijab Qabul

Syarat-syarat Istishna’ (Muamalat Institute, Perbankan Syariah, hal 59) adalah :
1. Pihak yang berakal cakap hukum dan mempunyai kekuasaan untuk melakukan jual beli
2. Ridha/kerelaan dua belah pihak dan tidak ingkar janji
3. Apabila isi akad disyaratkan Shani’ hanya bekerja saja, maka akad ini bukan lagi istishna’, tetapi
berubah menjadi akad ijarah
4. Pihak yang membuat menyatakan kesanggupan untuk mengadakan/membuat barang itu
5. Mashnu’ (barang/obyek pesanan) mempunyai kriteria yang jelas seperti jenis, ukuran (tipe), mutu
dan jumlahnya
6. Barang tersebut tidak termasuk dalam kategori yang dilarang syara’ (najis, haram, samar/tidak jelas)
atau menimbulkan kemudharatan (menimbulkan maksiat).

6.1.2 Karakteristik Istishna’

Dari definisi di atas dapat dilihat bahwa istishna’ merupakan jual beli dimana penyerahan barang
dilakukan kemudian dengan pembayaran sesuai kesepakatan, yaitu pembayaran dilakukan dimuka
seluruhnya sebelum proses produksi dilakukan, atau pembayaran dilakukan selama proses produksi atau
pembayaran dilakukan setelah barang pesanan diterima. Dewan Syariah Nasional menetapkan aturan
tentang Jual Beli Istishna’ sebagaimana tercantum dalam fatwa Dewan Syariah Nasional nomor 06/DSN-
MUI/IV/2000 tertanggal 4 April 2000 (Fatwa, 2006) sebagai berikut:

Pertama : Ketentuan tentang pembayaran
1. Alat bayar harus diketahui jumlah dan bentuknya, baik berupa uang, barang, atau manfaat
2. Pembayaran dilakukan sesuai dengan manfaat
3. Pembayaran tidak boleh dalam bentuk pembebasan hutang.

Kedua : Ketentuan tentang barang
1. Harus jelas ciri-cirinya dan dapat diakui sebagai hutang
2. Harus dapat dijelaskan spesifikasinya
3. Penyerahnnya dilakukan kemudian
4. Waktu dan tempat penyerahan barang harus ditetapkan berdasarkan kesepakatan
5. Pembeli (mustashni’) tidak boleh menjual barang sebelum menerimanya.
6. Tidak boleh menukar barang kecuali dengan barang sejenis sesuai kesepakatan
7. Dalam hal terdapat cacat atau barang tidak sesuai dengan kesepakatan, pemesan memiliki
hak khiyar (hak memilih) untuk melanjutkan atau membatalkan akad

Ketiga : Ketentuan lain
1. Dalam hal pesanan sudah dikerjakan sesuai dengan kesepakatan, hukumnya mengikat.
2. Semua ketentuan dalam jual beli salam yang tidak disebutkan di atas berlaku pula pada
jual beli isthisna’
3. Jika salah satu pihak tidak menunaikan kewajibannya atau jika terjadi perselisihan diantara
kedua belah pihak maka penyelesaiannya dilakukan melalui badan arbitrasi syariah setelah
tidak tercapai kesepakatan melalui musyawarah.

202 | Akuntansi Transaksi Syariah ( Wiroso, IAI, 2011 )

Sedangkan Fatwa yang berkaitan dengan Istishna’ Paralel sebagaimana tercantum dalam Fatwa
DSN no 22/DSN-MUI/III/2004 tanggal 28 Maret 2004 (Fatwa, 2006) sbb:

1. Jika LKS melakukan transaksi Istishna’ untuk memenuhi kewajibannya kepada nasabah ia dapat
melakukan istishna’ lagi dengan pihak lain pada obyek yang sama, dengan syarat istishna’
pertama tidak bergantung (mu’allaq) pada istishna’ kedua.

2. Semua rukun dan syarat yang berlaku dalam akad istishna’ (Fatwa DSN No. 06/DSN-
MUI/IV/200) berlaku pula dalam Istishna’ Paralel.

Dalam PSAK 104 tentang Akuntansi Istishna’ dijelaskan karakteristik Istishna’ sebagai berikut:
5. Berdasarkan akad istishna’', pembeli menugaskan penjual untuk menyediakan barang pesanan
(mashnu') sesuai spesifikasi yang disyaratkan untuk diserahkan kepada pembeli, dengan cara
pembayaran dimuka atau tangguh.
6. Spesifikasi dan harga barang pesanan disepakati oleh pembeli dan penjual di awal akad.
Ketentuan harga barang pesanan tidak dapat berubah selama jangka waktu akad.
7. Barang pesanan harus memenuhi kriteria:
(a) memerlukan proses pembuatan setelah akad disepakati;
(b) sesuai dengan spesifikasi pemesan (customized) bukan produk massal; dan
(c) harus diketahui karakteristiknya secara umum yang meliputi jenis, spesifikasi teknis,
kualitas, dan kuantitasnya.
8. Barang pesanan harus sesuai dengan karakteristik yang telah disepakati antara pembeli dan
penjual. Jika barang pesanan yang dikirimkan salah atau cacat maka penjual harus bertanggung
jawab atas kelalaiannya.
9. Entitas dapat bertindak sebagai pembeli atau penjual dalam suatu transaksi istishna’'. Jika entitas
bertindak sebagai penjual kemudian memesan kepada pihak lain (produsen atau kontraktor)
untuk membuat barang pesanan juga dengan cara istishna’' maka hal ini disebut istishna’' paralel.
10. Istishna’' paralel dapat dilakukan dengan syarat akad pertama, antara entitas dan pembeli akhir,
tidak bergantung (mu'allaq) dari akad kedua, antara entitas dan pihak lain.
11. Pada dasarnya istishna’' tidak dapat dibatalkan, kecuali memenuhi kondisi:
(a) kedua belah pihak setuju untuk menghentikannya; atau
(b) akad batal demi hukum karena timbul kondisi hukum yang dapat menghalangi
pelaksanaan atau penyelesaian akad.
12. Pembeli mempunyai hak untuk memperoleh jaminan dari penjual atas:
(a) jumlah yang telah dibayarkan; dan
(b) penyerahan barang pesanan sesuai dengan spesifikasi dan tepat waktu.

6.1.3 Jenis dan Alur Transaksi Istishna’
Dalam transaksi kedudukan Lembaga Keuangan Syariah dapat bertindak sebagai

produsen/pembuat/kontraktor. Disamping itu Lembaga Keuangan Syariah juga dapat bertindak sebagai
pemesan/pembeli, atau bertindak sebagai produsen sekaligus yang dilakukan secara simultan. Untuk
memberikan gambaran masing-masing kedudukan Lembaga Keuangan Syariah, berikut diberikan
penjelasan dan uraian yang lebih lengkap.
A. Istishna’ Lembaga Keuangan Syariah sebagai pembuat (produsen)

Lembaga Keuangan Syariah sebagai produsen dalam transaksi istishna’ ini dapat dilakukan untuk
pengelolaan dana seperti renovasi rumah, pembuatan perkebunan kelapa sawit dan sebagainya. Alur
transaksi Lembaga Keuangan Syariah sebagai produsen adalah sebagai berikut:

BAB VI. Akuntansi Istishna’ | 203

Gambar 6-1 : Alur Istishna’ LK Syariah sebagai pembuat
Dalam gambar di atas kedudukan Lembaga Keuangan Syariah sebagai pembuat atau produsen atau
kontraktor dan Lembaga Keuangan Syariah dapat menerima pesanan atas barang-barang yang masih
memerlukan proses pembuatan. Gambar tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:
1) Lembaga Keuangan Syariah sebagai produsen dan Nasabah sebagai pemesan melakukan negosiasi

terutama tentang spesifikasi barang termasuk cara penyerahannya dan cara pembayaran atas
barang tersebut, hingga disepakati dan dituangkan dalam akad Istishna’
2) Lembaga Keuangan Syariah menerima pembayaran harga (modal istishna’) dari Nasabah sesuai
kesepakatan (misalnya pembayaran dilakukan dimuka atau sebagian dari modal selama dalam
proses pembuatan barang).
3) Barang pesanan dari hasil produksi Lembaga Keuangan Syariah diserahkan kepada Nasabah
sebagai pembeli atau pemesan. Dengan diserahkannya barang tersebut kewajiban bank syariah
sebagai pembuat telah selesai

B. Istishna’ Lembaga Keuangan Syariah sebagai pemesan
Transaksi istishna’ Lembaga Keuangan Syariah sebagai pemesan dilakukan oleh Lembaga Keuangan
Syariah dalam hal Lembaga Keuangan Syariah melakukan renovasi kantor atau gedung, pembangunan
kantor dan sebagainya. Alur transaksi istishna’, Lembaga Keuangan Syariah sebagai pemesan dapat dilihat
dalam gambar berikut ini:

Gambar : 6-2 : Alur Istishna’ Lembaga Keuangan Syariah sebagai pemesan

204 | Akuntansi Transaksi Syariah ( Wiroso, IAI, 2011 )

Dalam gambar tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:
1) Lembaga Keuangan Syariah sebagai pemesan dan Nasabah sebagai kontraktor atau produsen
melakukan negosiasi terutama tentang spesifikasi barang termasuk cara penyerahannya dan cara
pembayaran atas barang tersebut, hingga disepakati dan dituangkan dalam akad Istishna’
2) Lembaga Keuangan Syariah sebagai pemesan membayar harga (modal istishna’) kepada Nasabah
sebagai produsen sesuai kesepakatan (misalnya pembayaran dilakukan dimuka atau sebagian dari
modal selama dalam proses pembuatan barang).
3) Barang pesanan dari hasil produksi Nasabah sebagai produsen diserahkan kepada Lembaga
Keuangan Syariah sebagai pembeli atau pemesan. Dengan diserahkannya barang tersebut kewajiban
Lembaga Keuangan Syariah sebagai pembuat telah selesai

C. Istishna’ Paralel
Istishna’ Paralel merupakan dua transaksi istishna’ yang dilakukan secara simultan. Hal ini dilakukan

kalau Lembaga Keuangan Syariah sebagai produsen tidak dapat mengerjakan sendiri dan menyerahkan
kepada pihak lain untuk membuatkan. Dalam istishna’ paralel ini merupakan gabungan transaksi istishna’
Lembaga Keuangan Syariah sebagai pembuat atau produsen dan Lembaga Keuangan Syariah sebagai
pemesan. Alur transaksi istishna’ paralel dapat dilihat dalam gambar berikut ini.

Gambar 6-3 : Alur Istishna’ Paralel
Dalam gambar di atas kedudukan Lembaga Keuangan Syariah sebagai
pembuat/produsen/kontraktor sekaligus sebagai pemesan/pembeli yang dilakukan secara simultan.
Dalam transaksi istishna’ paralel ini dapat dilakukan mana yang lebih dahulu, Lembaga Keuangan Syariah
sebagai produsen atau Lembaga Keuangan Syariah sebagai pemesan. Gambar tersebut dapat dijelaskan
sebagai berikut:
1) Dalam alur 1a, Nasabah (Syaifullah) sebagai pembeli akhir melakukan negosiasi kepada LKS Berkah
Gusti sebagai kontraktor atas pembagunan gedung, khususnya hal-hal yang berkaitan dengan
spesifikasi gedung dan cara pembayarannya hingga diperoleh kesepakatan dan dituangkan dalam
akad istishna’ (akad istishna’ pertama)
2) Dalam alur 1b, oleh karena LKS Berkah Gusti tidak memiliki kemampuan untuk menyelesaikan
gedung tersebut ia menyerahkan kepada Nasabah (PT Anugrah) sebagai pelaksana pembagunan
gedung/sub kontraktor karena kontraktor aslinya adalah LKS Berkah Gusti. Untuk itu dilakukan
negosiasi, khususnya spesifikasi barang (sama dengan yang dipesan oleh Nasabah/Syaifullah sebagai
pembeli akhir) dan cara pembayaran hingga kesepakatan dan dituangkan dalam akad istishna’ (akad
istishna’ kedua). Sesuai ketentuan Fatwa Dewan Syariah Nasional dijelaskan bahwa kedua akad

BAB VI. Akuntansi Istishna’ | 205

tersebut tidak boleh saling terkait, sehingga jika salah satu gagal tidak boleh membawa dampak pada
pihak lain.

3) Dalam alur 2a, Nasabah (Syaifullah) pembeli akhir melakukan pembayaran harga barang kepada
LKS Berkah Gusti dan begitu juga dalam alur 2b, LKS Berkah Gusti menyerahkan modal pada
Nasabah (PT Anugrah) sebagai subkontraktor sesuai kesepakatan. (ini jika pembayaran dilakukan
dimuka atau dilakukan sebagian selama dalam proses produksi)

4) Nasabah (PT Anugrah) sebagai sub kontraktor setelah gedung selesai dibangun diserahkan kepada
LKS Berkah Gusti sebagai pemesan (alur 3a). Jika gedung tidak sesuai spesifikasi yang disepakati
LKS Berkah Gusti dapat menolak. dan seterusnya LKS Berkah Gusti menyerahkan gedung kepada
Nasabah (Syaifullah) pembeli akhir (alur 3b). Misalnya atas keteledoran LKS Berkah Gusti dalam
menentukan spesifikasi barang atau penerimaan yang tidak sesuai dengan spesifikasi dan Nasabah
(Syaifullah) pembeli akhir menolak gedung tersebut, maka LKS Berkah Gusti harus bertanggung
jawab hingga barang sesuai spesifikasi yang disepakati. Kewajiban produsen adalah kewajiban
penyerahan barang sesuai spesifikasi yang telah disepakati (bukan penyerahan kembali uang)

Jika di dalam sebuah kontrak Istisna`a Pemesan/pembeli mengizinkan penjual/produsen (al-sani)
untuk menggunakan subkontraktor untuk melaksanakan kontrak tersebut, maka penjual/produsen (al-sani)
bisa memulai kontrak baru Istisna`a dengan pandangan melaksanakan kewajibannya pada kontrak pertama.
Kontrak baru ini dikenal sebagai Istisna` Paralel., yang sebenarnya merupakan subkontrak dimana
kewajiban al-sani pada kontrak pertama dilaksanakan (aaoifi,2000). Meskipun demikian:
1) Lembaga Keuangan Syariah sebagai penjual/produsen pada kontrak pertama tetap satu-satunya

yang bertanggung jawab terhadap pelaksanaan kewajibannya seolah-olah tidak ada Istisna` Paralel.
Sehingga, penjual/produsen pada kontrak pertama tetap bertanggung jawab atas setiap
kesalahan, kelalaian atau pelanggaran kontrak yang berasal dari kontrak paralel.
2) Penjual/produsen pada Istisna` Paralel bertanggung jawab terhadap Pemesan/pembeli (Lembaga
Keuangan Syariah) sebagaimana dia melaksanakan kewajibannya. Dia tidak mempunyai
hubungan legal secara langsung dengan Pemesan/pembeli pada kontrak pertama. Istisna`a
kedua merupakan kontrak paralel, tetapi bukan transaksi bersyarat pada kontrak pertama. Secara
legal keduanya merupakan kontrak yang berbeda dilihat dari hak dan kewajiban.
3) Lembaga Keuangan Syariah sebagai penjual/produsen berkewajiban kepada Pemesan/pembeli
terhadap kesalahan pelaksanaan subkontraktor dan jaminan yang timbul darinya. Kewajiban
inilah yang membenarkan keabsahan Istisna` Paralel dan yang juga membenarkan
membebabankan keuntungan oleh Lembaga Keuangan Syariah, jika ada.

6.2 Cakupan Akuntansi Istishna’

Pengukuran, pengakuan, penyajian dan pengungkapan transaksi Istishna’ dan Istishna’ Paralel yang
sebelumnya diatur dalam PSAK 59 tentang Akuntansi Perbankan Syariah diganti dengan PSAK 104
tentang Akuntansi Istishna’. Dalam PSAK 104 dijelaskan cakupan penerapan akuntansi istishna’ sebagai
berikut:

2. Pernyataan ini diterapkan untuk:
(a) lembaga keuangan syariah yang melakukan transaksi salam baik sebagai penjual
maupun pembeli; dan
(b) pihak-pihak yang melakukan transaksi salam dengan lembaga keuangan syariah.

3. Pernyataan ini tidak mencakup pengaturan perlakuan akuntansi atas obligasi syariah (sukuk) yang
menggunakan akad salam.

4. Lembaga keuangan syariah yang dimaksud, antara lain, adalah:
(a) perbankan syariah sebagaimana yang dimaksud dalam peraturan perundang-undangan
yang berlaku;

206 | Akuntansi Transaksi Syariah ( Wiroso, IAI, 2011 )

(b) lembaga keuangan syariah non-bank seperti asuransi, lembaga pembiayaan, dan dana
pensiun; dan

(c) lembaga keuangan lain yang diizinkan oleh peraturan perundang-undangan yang
berlaku untuk menjalankan transaksi salam.

Jadi cakupan akuntansi istishna’ dalam PSAK ini adalah untuk Lembaga Keuangan Syariah dalam
melaksanakan transaksi istishna’ baik Lembaga Keuangan Syariah sebagai penjual atau produsen atau
kontraktor maupun Lembaga Keuangan Syariah sebagai pembeli atau pemesan. Disamping itu juga
dibahas pihak-pihak yang terkait dengan transaksi istishna’ yang dilaksanakan oleh Lembaga Keuangan
Syariah tersebut. PSAK 104 ini lebih jelas dari pada PSAK 59 misalnya dalam hal pemahaman tentang
transaksi istishna’ yang pembayarannya dilakukan dengan tangguh. Dalam PSAK 104 ini dibahas tentang
penyatuan dan segmentasi akad, dan tambahan yang dapat dilaksanakan dalam transaksi istishna’.Untuk
mengetahui kapan akuntansi pembeli dan akuntansi penjual dalam transaksi istishna’ dilaksanakan dapat
dilihat dalam gambar berikut ini:

Gambar : 6-4 : penggunaan akuntansi istishna’
Gambar di atas dapat dijelaskan sebagai berikut:

1. Dalam transaksi Istishna’ Lembaga Keuangan Syariah dapat bertindak sebagai pembuat atau
produsen atau penjual atau kontraktor dan bertindak sebagai pemesan atau nasabah pembeli akhir.
Oleh karena itu dalam transaksi istishna’ ini Lembaga Keuangan Syariah sebagai kontraktor
menerapkan Akuntansi Penjual dan Nasabah sebagai pembeli akhir menerapkan Akuntansi Pembeli

2. Disisi lain dalam transaksi istishna’ Lembaga Keuangan Syariah dapat bertindak sebagai pemesan
atau pembeli dan nasabah bertindak sebagai penjual atau sebagai kontraktor. Oleh karena itu dalam
transaksi istishna’ ini Lembaga Keuangan Syariah menerapkan Akuntansi Pembeli dan nasabah
sebagai kontraktor menerapkan Akuntansi Penjual.

3. Dalam hal Lembaga Keuangan Syariah melaksanakan transaksi istishna’ paralel, maka Lembaga
Keuangan Syariah sebagai kontraktor (akad istishna’ pertama) menerapkan Akuntansi Penjual dan
sebagai pembeli (akad istishna’ kedua) menerapkan Akuntansi Pembeli

BAB VI. Akuntansi Istishna’ | 207

6.3 Akuntansi Penjual

Seperti telah dijelaskan di atas akuntansi penjual ini dilaksanakan oleh pihak yang menjual atau
memproduksi atau membangun barang yang dipesan. Jika transaksi istishna’ kedudukan Lembaga
Keuangan Syariah sebagai penjual, maka Lembaga Keuangan Syariah harus menerapkan akuntansi penjual,
sedangkan sebagai pihak pembelinya adalah nasabah yang melakukan pemesanan, maka nasabah yang
bersangkutan akan menerapkan akuntansi pembeli. Dalam akuntansi penjual ini akan dibahas antara lain
(a) akun-akun yang dipergunakan dalam transaksi istishna’ tersebut, (b) penyatuan dan segmentasi akad, (c)
pengeluran biaya dalam memproduksi barang dan penyerahan kepada pemesan (d) pengakuan pendapatan
istishna’ dengan metode proyek selesai atau metode persentase penyelesaian proyek, (e) istishna’ dengan
pembayaran tangguh, (f) penyelesaian awal pembayaran, dan (g) perubahan pesanan dan tagihan tambahan.

6.3.1 Akun-akun untuk Akuntansi Penjual

Akun-akun yang dipergunakan dalam akuntansi penjual dalam transaksi istishna’ dan uraian
penggunaannya, baik akun-akun yang berkaitan dengan Laporan Posisi Keuangan (neraca) atau Laporan
Laba Rugi dapat dijelaskan seperti di bawah ini.

A. Akun-akun Laporan Posisi Keuangan/Neraca.
Akun-Akun berikut dipergunakan untuk mencatat transaksi istishna’ pada akuntansi penjual, untuk

menyusun Laporan Posisi Keuangan (neraca)

1. Persediaan/Aset Istishna’
Akun ini dipergunakan untuk mencatat aset istishna’ yang telah selesai produksi atau akan
diserahkan kepada pemesan. Akun ini didebet pada saat penerimaan atau penyelesaian barang
pesanan dan dikredit pada saat barang diserahkan kepada pemesan.

2. Piutang Istishna’
Akun ini dipergunakan untuk mecatat harga barang pesanan yang harus dibayar oleh pembeli akhir
atau pemesan. Akun ini didebet pada saat penyerahan barang atau tagihan pembayaran barang
sebesar harga jual barang dan dikredit pada saat dilakukan pembayaran harga barang tersebut.

3. Keuntungan Istishna’ Tangguhan
Akun ini dipergunakan untuk menampung keuntungan harga barang yang disepakati dan
pembayarannya dilakukan dengan tangguh (baik cicilan atau sekaligus dibelakang). Akun ini
disajikan sebagai akun pengurang (offseting account) dari akun Piutang Istishna’. Akun ini dikredit pada
saat terjadi tagihan pembayaran harga barang dengan pembayaran secara tangguh sebesar selisih
nilai tunai saat penyerahan (harga pokok penjualan) dengan pembayaran yang dilakukan (harga jual)
dan didebet pada saat dilakukan pembayaran harga barang tersebut.

4. Aset Istishna’ Dalam Penyelesaian
Akun ini dipergunakan untuk menampung seluruh biaya, baik biaya langsung maupun tidak
langsung dalam produksi barang pesanan. Akun ini didebet saat pembayaran biaya-biaya produksi
atau penerimaan tagihan dari sub kontraktor dan dikredit saat barang selesai diproduksi.

5. Termin Istishna’
Akun ini dipergunakan untuk mencatat tagihan yang dilakukan Lembaga Keuangan Syariah kepada
pembeli akhir atas pembayaran harga aset istishna’ yang pembayarannya dilakukan secara bertahap.
Akun ini disajikan sebagai pengurang (offseting account) dari Aset Istishna’ Dalam Penyelesaian. Akun
ini dikredit pada saat dilakukan tagihan harga barang

208 | Akuntansi Transaksi Syariah ( Wiroso, IAI, 2011 )

B. Akun Laporan Laba Rugi
Akun-akun berikut dipergunakan untuk mencatat transaksi keuangan pada akuntansi Istishna’ untuk

menyusun Laporan Laba Rugi.
1. Pendapatan Istishna’

Akun ini dipergunakan untuk membukukan harga jual aset istishna’ yang diserahkan kepada
pemesan, baik dengan mempergunakan metode pengakuan pendapatan secara persentase
penyelesaian (procentage method) maupun metode penyelesaian (completed method). Akun ini dikredit
pada saat pengakuan pendapatan sebesar pendapatan atau harga jual yang diakui dan didebet pada
saat dipindahkan ke Pendapatan Usaha Utama.
2. Harga pokok Istishna’
Akun ini dipergunakan untuk membukukan harga pokok barang pesanan istishna’, baik yang
diproduksi sendiri yaitu biaya langsung dan biaya tidak langsung, atau biaya yang dikeluarkan atas
pemesanan aset istishna’ pada pihak lain/sub kontraktor (jika istishna’ paralel). Akun ini disajikan
sebagai pengurang dari akun Pendapatan Istishna’. Akun ini didebet pada saat pengakuan harga
pokok atau pengeluaran biaya-biaya (cost) dari barang pesanan dan dikredit pada saat dipindahkan
ke Laba Rugi Tahun Berjalan.
3. Keuntungan Istishna’
Akun ini dipergunakan untuk membukukan keuntungan istishna’, yaitu merupakan selisih
pendapatan istishna’ dan harga pokok istishna’ sebesar persentase penyelesaian proyek atau
seluruhnya proyek selesai.

6.3.2 Penyatuan dan Segmentasi Akad

Umumnya Istishna’ diaplikasikan untuk kontruksi, sehingga dalam pekerjaan ini dapat dilakukan
satu kontrak untuk menyelesaian beberapa pekerjaan, seperti misalnya proyek untuk pembangunan
perumahan yang dilakukan oleh developer. Dalam PSAK 104 tentang Akuntansi Istishna’ dijelaskan
perlakukan satu akad atau akad istishna’ terpisah atau pesanan tambahannya sebagai berikut:

13. Bila suatu akad istishna' mencakup sejumlah aset, pengakuan dari setiap aset diperlakukan
sebagai suatu akad yang terpisah jika:
(a) proposal terpisah telah diajukan untuk setiap aset;
(b) setiap aset telah dinegosiasikan secara terpisah dimana penjual dan pembeli dapat
menerima atau menolak bagian akad yang berhubungan dengan masing-masing aset
tersebut; dan
(c) biaya dan pendapatan masing-masing aset dapat diidentifikasikan.

14. Suatu kelompok akad istishna', dengan satu atau beberapa pembeli, harus diperlakukan sebagai
satu akad istishna' jika:
(a) kelompok akad tersebut dinegosiasikan sebagai satu paket;
(b) akad tersebut berhubungan erat sekali, sebetulnya akad tersebut merupakan bagian dari
akad tunggal dengan suatu margin keuntungan; dan
(c) akad tersebut dilakukan secara serentak atau secara berkesinambungan.

15. Jika ada pemesanan aset tambahan dengan akad istishna' terpisah, tambahan aset tersebut
diperlakukan sebagai akad yang terpisah jika:
(a) aset tambahan berbeda secara signifikan dengan aset dalam akad istishna' awal dalam
desain, teknologi atau fungsi; atau
(b) harga aset tambahan dinegosiasikan tanpa terkait harga akad istishna' awal.

BAB VI. Akuntansi Istishna’ | 209

Aplikasi transaksi istishna’ ini pada Lembaga Keungan Syariah diterapkan antara untuk
pembangunan (konstruksi). Sesuai ketentuan di atas dan sesuai karakteristika kontruksi dimungkinkan
untuk melakukan tambahan biaya (cost) sebagai akibat kenaikan material atau bahan baku atau biaya lain
yang dikeluarkan untuk menyelesaikan pembangunan tersebut. Tambahan ini harus dikeluarkan dengan
pertimbangan jika tidak ditambah pembangunan tersebut tidak selesai, misalnya akibat kenaikan harga
material atau bahan baku. Ini perbedaan jika melakukan transaksi renovasi rumah mempergunakan prinsip
jual beli murabahah dengan prinsip istishna’. Dalam murabahah yang dilakukan jual beli hanya material
(pasir, bata merah, baku, kayu dsb), bangunan selesai atau tidak bukan menjadi tanggung jawab Lembaga
Keuangan Syariah sebagai penjual. Tetapi jika renovasi rumah dilakukan dengan prinsip istishna’, maka
dapat dibiayai seluruh renovasi rumah, mulai dari material, tenaga kerja, pengawasan dsb termasuk
tambahan pembelian material yang harus dikeluarkan untuk menyelesaikan renovasi tersebut. Transaksi
istishna’ ini juga dapat dipergunakan untuk pembuatan kebon sawit (perkebunan).

Untuk memberikan gambaran yang lengkap akuntansi istishna’ yang dilakukan oleh LKS sebagai
penjual dapat diberikan ilustrasi contoh umum sebagai berikut:

Contoh : 6-1 (ilustrasi umum)

Abubakar memiliki Yayasan Pendidikan Islam ”ABUBAKAR”dari TK hingga SMU. Sehubungan
dengan meningkatnya peminat sekolah tersebut, YPI Abubakar mengajukan permohonan untuk
melakukan penambahan beberapa kelas dan disepakati oleh LKS Amanah Gusti, dengan data-data
sebagai berikut:

Nama barang : Lokal kelas

Jumlah : Satu proyek dengan 3 kelas

Harga kontrak : Rp500.000.000,00

Cara pembayaran : sesuai kesepakatan (lihat masing-masing bahasan

berikutnya)

Spesifikasi masing-masing : 6 x 9 m, dinding bata merah, atap asbes, kerangka kayu

kelas mranti super

Jangka waktu penyelesaian : 4 bulan

Atas kesepakatan dengan YPI Abubakar tersebut LKS Amanah Gusti, sebagai penerima pesanan

atau produsen akan mengerjakan sendiri proyek tersebut. Biaya-biaya yang dikeluarkan dari proyek

tersebut adalah sebagai berikut:

Tahun 2009 Progres Akumulasi Biaya Akumulasi Biaya tidak Total

Langsung Langsung

Bulan Maret 25% 75.000.000 25.000.00 100.000.000

Bulan April 60% 190.000.000 50.000.000 240.000.000

Bulan Mei 100% 275.000.000 125.000.000 400.000.000

Dalam ilustrasi di atas Lembaga Keuangan Syariah sebagai penjual melakukan
pembuatan/produksi barang pesanan istishna’ sendiri (istishna’ LKS sebagai penjual, bukan
istishna’ paralel). Ilustrasi tersebut dapat digambarkan dalam alur transaksi sebagai berikut:

210 | Akuntansi Transaksi Syariah ( Wiroso, IAI, 2011 )

Gambar 6-5 : Skema transaksi istishna’

Dari ilustrasi ini dapat dilihat bahwa terdapat dua hal yang tidak terkait yaitu:

a. Penyediaan aset istishna’ yang dilakukan sendiri pembuatannya oleh LKS Amanah Gusti sebagai
penjual (produsen), dilakukan dengan cara LKS Amanah Gusti membuat sendiri (membangun
sendiri) kelas (barang pesanan) tersebut.

b. Penyerahan barang yang dipesan dan pengakuan pendapatan istishna’ yang dikaitkan dengan
cara pembayaran harga aset istishna’ yang dilakukan oleh pemesan (YPI Abubakar).

Sesuai karakteristiknya, pembayaran harga barang dapat dilakukan dengan cara:

(1) Pembayaran dilakukan sekaligus dimuka

(2) Pembayaran dilakukan selama dalam proses penyelesaian proyek, jadwal masa pembayaran
dengan jangka waktu pembangunan sama. Misal dari ilustrasi tersebut di atas dilakukan tahapan
pembayaran

Bulan % pembangunan Pembayaran Jumlah

Maret 10% 100.000.000 100.000.000

April 50% 200.000.000 300.000.000

Mei 100% 200.000.000 500.000.000

(3) Pembayaran dilakukan setelah penyerahan barang, baik dilakukan mulai dari proses produksi

maupun setelah penerimaan barang (masa pembayaran lebih lama dibandingkan dengan

produksi). Cara pembayaran ini akan dibahas secara khusus dalam bahasan berikutnya.

6.3.3 Memproduksi Barang dan pengakuan pendapatan Istishna’

Untuk memenuhi pesanan aset istishna’ kepada pemesan Lembaga Keuangan Syariah dapat
melakukan produksi sendiri atau membuat sendiri barang pesanan istishna’ tersebut. Untuk memproduksi
aset istishna’ LKS mengeluarkan biaya-biaya yang terkait dengan produksi barang seperti biaya langsung
dan biaya tidak langsung. Dalam PSAK 104 tentang Akuntansi Istishna’ dijelaskan biaya perolehan
istishna’ sebagai berikut:

24. Biaya perolehan istishna' terdiri dari:
(a) biaya langsung yaitu bahan baku dan tenaga kerja langsung untuk membuat barang
pesanan; dan
(b) biaya tidak langsung adalah biaya overhead, termasuk biaya akad dan praakad.

BAB VI. Akuntansi Istishna’ | 211

25. Biaya praakad diakui sebagai beban tangguhan dan diperhitungkan sebagai biaya istishna’' jika
akad disepakati. Namun jika akad tidak disepakati, maka biaya tersebut dibebankan pada
periode berjalan.

26. Biaya perolehan istishna' yang terjadi selama periode laporan keuangan, diakui sebagai aset
istishna' dalam penyelesaian pada saat terjadinya.

27. Beban umum dan administrasi, beban penjualan, serta biaya riset dan pengembangan tidak
termasuk dalam biaya istishna'.

Pengakuan pendapatan dilakukan oleh Lembaga Keuangan Syariah sebagai penjual atau produsen.
Dalam PSAK 104 tentang akuntansi istishna’ dijelaskan ketentuan kedua pengakuan pendapatan istishna’
dan istishna’ paralel sebagai berikut:

16. Pendapatan istishna' diakui dengan menggunakan metode persentase penyelesaian atau
metode akad selesai. Akad dikatakan selesai jika proses pembuatan barang pesanan selesai
dan diserahkan kepada pembeli.

Sesuai ketentuan tersebut di atas pengakuan pendapatan (bukan keuntungan) dalam istishna’ ada
dua cara yaitu dengan metode akad selesai (completed method) atau metode persentase penyelesaian (procentage
method). Pengakuan pendapatan ini sangat terkait dengan barang yang diproduksi. Yang harus dihindari
adalah pengakuan pendapatan dilakukan tanpa memperhatikan penyelesaian barang yang diproduksi atau
pengakuan pendapatan tanpa diimbangi dengan penyelesaian barang yang dipesan.

A. Pengakuan pendapatan Istishna’ dengan metode Persentase Penyelesaian (Procentage
Method)

Pengakuan pendapatan dengan metode persentase penyelesaian barang yang diproduksi ini
dilakukan sebanding dengan persentase penyelesaian barang yang diproduksi. Hal ini diatur dalam PSAK
104 tentang akuntansi istishna’ sebagai berikut:

17. Jika metode persentase penyelesaian digunakan, maka:
(a) bagian nilai akad yang sebanding dengan pekerjaan yang telah diselesaikan dalam
periode tersebut diakui sebagai pendapatan istishna' pada periode yang bersangkutan;
(b) bagian margin keuntungan istishna' yang diakui selama periode pelaporan ditambahkan
kepada aset istishna' dalam penyelesaian; dan
(c) pada akhir periode harga pokok istishna' diakui sebesar biaya istishna' yang telah
dikeluarkan sampai dengan periode tersebut.

Oleh karena pengakuan pendapatan dilakukan oleh Lembaga Keuangan Syariah sebagai penjual atau
produsen, maka sangat terkait dengan biaya-biaya yang dikeluarkan untuk memproduksi barang yang
dibuat karena dapat menggambarkan persentase penyelesaian barang pesanan. Dari ilustrasi di atas dibahas
pengeluran biaya produksi barang pesanan dengan tahapan dan pengakuan pendapatannya dari masing-
masing tahapan pekerjaan.

1) Pengeluaran Biaya perolehan (produksi) aset istishna’ tahap pertama (Maret 2009)

Oleh karena LKS sebagai penjual memproduksi atau membuat sendiri barang pesanan istishna’
maka selama dalam proses produksi LKS mengeluarkan biaya-biaya perolehan barang pesanan istishna’,
baik biaya langsung maupun biaya tidak langsung.

Contoh : 6-2
Dalam ilustrasi contoh di atas, pada bulan Maret 2009 LKS sebagai produksen mengeluarkan biaya
sebagai berikut:

Tahun 2009 Progres Akumulasi Biaya Akumulasi Biaya Total (Rp)
Langsung (Rp) tidak Langsung (Rp)

Bulan Maret 25% 75.000.000 25.000.00 100.000.000

212 | Akuntansi Transaksi Syariah ( Wiroso, IAI, 2011 )

Atas pengeluaran biaya-biaya tersebut, selama bulan Maret 2009 LKS sebagai penjual dan produsen

melakukan jurnal:

Dr. Aset Istishna’ Dalam Penyelesaian Rp100.000.000,00

Cr. Kas Rp100.000.000,00

Dari transaksi tersebut, maka akun-akun yang terkait dengan Laporan posisi keuangan (neraca) dan
penyajian neracanya adalah sebagai berikut:

ASET ISTISHNA’ DALAM PENYELESAIAN

Debet Keterangan Jumlah Tgl Keterangan Kredit
Tgl Biaya proyek Jumlah
100.000.000
Maret 100.000.000
100.000.000
Saldo

100.000.000

Aktiva NERACA pasiva
Per xx Maret 2009 Jumlah
Uraian Uraian
Jumlah
Aset Istishna’ Dalam Penyelesaian
100.000.000

2) Pengakuan pendapatan istishna’ tahap pertama (Maret 2009)

Seperti telah dijelaskan di atas bahwa pengakuan pendapatan dengan metode persentase

penyelesaian (procentage method) dilakukan sebanding dengan persentase penyelesian barang produksi. Jadi

pengakuan pendapatan dengan metode ini dilakukan seiring dengan penyelesaian barang produksi. Dari

ilustrasi di atas proyeksi keuntungan yang diperoleh adalah sebagai berikut:

Harga kontrak proyek Rp500.000.000,00

Harga pokok proyek (estimasi) Rp400.000.000,00

--------------------

Keuntungan istishna’ Rp100.000.000,00

Jika persentase penyelesaian sampai dengan akhir Maret sebesar 25%, maka perhitungan pendapatan
istishna’, harga pokok istishna’ adalah sebagai berikut:

Pendapatan Istishna’ : 25% x Rp500.000.000,00 = Rp125.000.000,00
Harga pokok istishna’ : 25% x Rp400.000.000,00 = Rp100.000.000,00
Keuntungan istishna’ : 25% x Rp100.000.000,00 = Rp25.000.000,00

Seperti telah diatur dalam PSAK 104 tentang akuntansi istishna’ (paragraf 17 di atas), bahwa bagian
nilai akad yang sebanding dengan pekerjaan yang telah diselesaikan dalam periode tersebut diakui sebagai
pendapatan istishna' pada periode yang bersangkutan. Berdasarkan ketentuan ini, maka jurnal penyesuaian
yang dilakukan sehubungan pengakuan pendapatan istishna’ adalah sebagai berikut:

Dr. Aset Istishna’ Dalam Penyelesaian Rp25.000.000,00

Dr. Harga Pokok Istishna’ Rp100.000.000,00

Cr. Pendapatan Istishna’ Rp125.000.000,00

Dari jurnal penyesuaian tersebut saldo akun-akun dan penyajian Laporan Posisi Keuangan (Neraca)
LKS Amanah Gusti sebagai penjual adalah sebagai berikut:

BAB VI. Akuntansi Istishna’ | 213

ASET ISTISHNA’ DALAM PENYELESIAN

Debet Keterangan Jumlah Tgl Keterangan Kredit
Biaya proyek Jumlah
Tgl Penyesuaian 100.000.000
Maret 125.000.000
Maret 25.000.000 125.000.000

Saldo pasiva
Jumlah
125.000.000

NERACA
Per 30 Maret 2009

Aktiva

Uraian Jumlah Uraian

Aset Istishna’ Dalam Penyelesaian 125.000.000

Sedangkan saldo akun-akun dan penyajiannya dalam Laporan Laba Rugi LKS sebagai penjual adalah

sebagai berikut:

PENDAPATAN ISTISHNA’

Debet Keterangan Jumlah Tgl Keterangan Kredit
Tgl 30/03 Pengakuan Jumlah
125.000.000 125.000.000
Saldo 125.000.000
125.000.000

HARGA POKOK ISTISHNA’

Debet Jumlah Tgl Keterangan Kredit
Jumlah
Tgl Keterangan 100.000.000
30/03 Pengakuan 100.000.000
100.000.000
Saldo

100.000.000

LAPORAN LABA RUGI
Periode 1 Januari s/d Maret 2009

Pendapatan Istishna’ (Revenue of Istishna’) Rp125.000.000,00
Harga pokok Istishna’ (Cost of Istishna’) Rp 100.000.000,00
----------------------
Keuntungan Istishna’ (profit of Istishna’) Rp 25.000.000,00

3). Pengeluaran Biaya perolehan (produksi) aset istishna’ tahap kedua (April 2009)

Untuk memperjelas akuntansi istishna’ pada penjual atau produsen, pengakuan pendapatan dengan
metode persentase penyelesaian, dan penyajian laporan keuangan dapat dilanjutkan contoh ilustrasi contoh
di atas, yaitu pengeluaran yang dilakukan oleh Lembaga Keuangan Syariah pada bulan April 2009

214 | Akuntansi Transaksi Syariah ( Wiroso, IAI, 2011 )

Contoh : 6 -3

Dalam catatan LKS sebagai produsen biaya-biaya yang dikeluarkan sampai dengan bulan April
2009 adalah sebagai berikut:

Tahun 2009 Akumulasi Biaya Akumulasi Biaya Total
Bulan Maret Langsung (Rp) tidak Langsung (Rp) (Rp)

75.000.000 25.000.00 100.000.000

Bulan April 190.000.000 50.000.000 240.000.000

Beban bulan April 115.000.000 25.000.000 140.000.000

Atas pengeluaran biaya-biaya produksi selama April 2009 tersebut, LKS sebagai penjual melakukan

jurnal sebagai berikut:

Dr. Aset Istishna’ Dalam Penyelesaian Rp140.000.000,00

Cr. Kas Rp140.000.000,00

Dari transaksi dengan jurnal tersebut di atas, mengakibatkan perubahan saldo dan penyajiannya atas
akun-akun yang berkaitan dengan Laporan Posisi Keuangan (Neraca) bulan April 2009 sebagai berikut:

ASET ISTISHNA’ DALAM PENYELESAIAN

Debet Keterangan Jumlah Tgl Keterangan Kredit
Biaya proyek 100.000.000 Saldo Jumlah
Tgl Penyesuaian 25.000.000
Maret Biaya proyek 140.000.000 265.000.000
Maret 265.000.000 265.000.000
April

Aktiva NERACA pasiva
Per 30 April 2009 Jumlah
Uraian Uraian
Jumlah

Aset Istishna’ Dalam Penyelesaian 265.000.000

4). Pengakuan pendapatan istishna’ tahap kedua (April 2009)

Seperti telah dijelaskan di atas pengakuan pendapatan istishna’ dengan metode persentase
penyelesaian, dapat diperhitungkan sebagai berikut:

Harga kontrak proyek Rp500.000.000,00

Harga pokok proyek Rp400.000.000,00

--------------------

Keuntungan bersih istishna’ Rp100.000.000,00

Jika persentase penyelesaian aset istishna’ sampai dengan bulan April 2009 sebesar 60%, maka
pengakuan pendapatan istishna’, harga pokok istishna’ dengan metode persentase penyelesaian dapat
dihitung sebagai berikut:

Pendapatan Istishna’ : 60% x Rp500.000.000 = Rp300.000.000
Harga pokok istishna’ : 60% x Rp400.000.000 = Rp240.000.000
Keuntungan istishna’ : 60% x Rp100.000.000 = Rp60.000.000

Jumlah tersebut di atas merupakan jumlah akumulasi sampai dengan bulan April 2009, sedangkan
sebagian pendapatan telah dibukukan dalam bulan maret 2009, sehingga penyesuaian pengakuan
pendapatan untuk bulan april 2009 adalah sebagai berikut:

BAB VI. Akuntansi Istishna’ | 215

Pendapatan Istishna’ Maret (Rp) April Rp) Akumulasi (Rp)
Harga pokok istishna’ 125.000.000 175.000.000 300.000.000
Keuntungan istishna’ 100.000.000 140.000.000 240.000.000
25.000.000 35.000.000 60.000.000

Dengan adanya penyesuaian pengakuan pendapatan bulan April tersebut, maka LKS sebagai penjual
melakukan jurnal sebagai berikut:

Dr. Aset Istishna’ Dalam Penyelesaian Rp35.000.000,00

Dr. Harga Pokok Istishna’ Rp140.000.000,00

Cr. Pendapatan Istishna’ Rp175.000.000,00

Dari transaksi dengan jurnal tersebut di atas, mengakibatkan perubahan saldo dan penyajiannya atas
akun-akun yang berkaitan dengan Laporan Posisi Keuangan (Neraca) bulan April 2009 sebagai berikut:

ASET ISTISHNA’ DALAM PENYELESAIAN

Debet Keterangan Jumlah Tgl Keterangan Kredit
Biaya proyek Jumlah
Tgl Penyesuaian 100.000.000
Maret Biaya proyek 300.000.000
Maret Penyesuaian 25.000.000 300.000.000
April
April 140.000.000

35.000.000

Saldo

300.000.000

Aktiva NERACA Pasiva
Per 30 April 2009 Jumlah
Uraian Uraian
Jumlah

Aset Istishna’ Dalam Penyelesaian 300.000.000

Sedangkan saldo akun-akun dan penyajiannya dalam Laporan Laba Rugi LKS sebagai penjual
adalah sebagai berikut:

PENDAPATAN ISTISHNA’

Debet Keterangan Jumlah Tgl Keterangan Kredit
Tgl 30/03 Pengakuan Jumlah
300.000.000 30/04 Pengakuan 125.000.000
300.000.000 175.000.000
Saldo
300.000.000
HARGA POKOK ISTISHNA’
Kredit
Debet Keterangan Jumlah Tgl Keterangan Jumlah
Pengakuan
Tgl Pengakuan 100.000.000 240.000.000
30/03 240.000.000
30/04 140.000.000 Saldo

240.000.000

216 | Akuntansi Transaksi Syariah ( Wiroso, IAI, 2011 )

LAPORAN LABA RUGI Rp. 300.000.000,00
Periode 1 Januari s/d April 2009 Rp. 240.000.000,00
Pendapatan Istishna’ (Revenue of Istishna’) -----------------------
Harga pokok Istishna’ (Cost of Istishna’) Rp. 60.000.000,00

Keuntungan Istishna’ (Profit of Istishna’)

5). Pengeluaran Biaya perolehan (produksi) aset istishna’ tahap ketiga (Mei 2009)

Tahap akhir dari proses istishna’ adalah penyerahan barang kepada pemesan, sehingga LKS sebagai
penjual atau produsen mengeluarkan biaya-biaya perolehan barang yang diperlukan sampai barang tersebut
dapat diserahkan kepada pemesan/pembeli.

Contoh: 6 - 4

Dari ilustrasi contoh di atas sampai dengan bulan Mei 2009, yang merupakan batas akhir
penyerahan barang, masih mengeluarkan biaya-biaya perolehan aset istishna’ sebagai berikut:

Tahun 2009 Akumulasi Biaya Akumulasi Biaya tidak Total
Langsung (Rp) Langsung (Rp) (Rp)
Bulan April 240.000.000
Bulan Mei 190.000.000 50.000.000 400.000.000
Beban bulan Mei 275.000.000 125.000.000 160.000.000
85.000.000 75.000.000

Atas pengeluaran biaya-biaya perolehan bulan Mei 2009 tersebut, LKS sebagai penjual/produsen
melakukan jurnal sebagai berikut:

Dr. Aset Istishna’ Dalam Penyelesaian Rp160.000.000,00

Cr. Kas Rp160.000.000,00

Dari transaksi dengan jurnal tersebut di atas, mengakibatkan perubahan saldo dan penyajiannya atas
akun-akun yang berkaitan dengan Laporan Posisi Keuangan (Neraca) bulan Mei 2009 sebagai berikut:

ASET ISTISHNA’ DALAM PENYELESAIAN

Debet Keterangan Jumlah Tgl Keterangan Kredit
Jumlah
Tgl Biaya proyek 100.000.000
Maret Penyesuaian 460.000.000
Maret Biaya proyek 25.000.000 460.000.000
April Penyesuaian
April Biaya proyek 140.000.000 Pasiva
Mei Jumlah
35.000.000

160.000.000 Saldo

460.000.000

Aktiva NERACA Uraian
Per 31 Mei 2009
Uraian
Aset Istishna’ Dalam Penyelesaian Jumlah
460.000.000

6) Pengakuan pendapatan istishna’ tahap ketiga (Mei 2009)

Seperti telah dijelaskan di atas pengakuan pendapatan istishna’ dengan metode persentase
penyelesaian, dapat diperhitungkan sebagai berikut:

BAB VI. Akuntansi Istishna’ | 217

Harga kontrak proyek Rp500.000.000,00
Harga pokok proyek Rp400.000.000,00
---------------------
Keuntungan Bersih istishna’ Rp100.000.000,00

Sampai dengan bulan Mei 2009 persentase penyelesaian 100% (selesai), sehingga pendapatan
istishna’, harga pokok istishna’ diperhitungkan sebagai berikut;

Pendapatan Istishna’ : 100% x Rp500.000.000,00 = Rp500.000.000,00
Harga pokok istishna’ : 100% x Rp400.000.000,00 = Rp400.000.000,00
Keuntungan istishna’ : 100% x Rp100.000.000,00 = Rp100.000.000,00

Oleh karena sampai dengan Arpil 2009 LKS sebagai penjual telah membukukan pendapatan dan
harga pokok istishna’, maka untuk bulan Mei 2009 dilakukan penyesuaian pengakuan pendapatan sebagai
berikut

April Mei Akumulasi

Pendapatan Istishna’ 175.000.000 200.000.000 500.000.000

HPP Istishna’ 140.000.000 160.000.000 400.000.000

Keuntungan istishna’ 35.000.000 40.000.000 100.000.000

Atas penyesuaian tersebut LKS sebagai penjual melakukan jurnal penyesuaian pengakuan
pendapatan dan harga pokok istishna’ sebagai berikut:

Dr. Aset Istishna’ Dalam Penyelesaian Rp 40.000.000,00

Dr. Harga Pokok Istishna’ Rp160.000.000,00

Cr. Pendapatan Istishna’ Rp200.000.000,00

Dari transaksi dengan jurnal tersebut di atas, mengakibatkan perubahan saldo dan penyajiannya atas
akun-akun yang berkaitan dengan Laporan Posisi Keuangan (Neraca) bulan April 2009 sebagai berikut:

ASET ISTISHNA’ DALAM PENYELESAIAN

Debet Keterangan Jumlah Tgl Keterangan Kredit
Jumlah
Tgl Biaya proyek 100.000.000
Maret Penyesuaian 500.000.000
Maret Biaya proyek 25.000.000 500.000.000
April Penyesuaian
April Biaya proyek 140.000.000
Mei Penyesuaian
Mei 35.000.000

160.000.000

40.000.000

Saldo

500.000.000

Aktiva NERACA Uraian Pasiva
Per 30 Mei 2009 Jumlah
Uraian
Aset Istishna’ Dalam Penyelesaian Jumlah
500.000.000

Sedangkan saldo akun-akun dan penyajiannya dalam Laporan Laba Rugi LKS sebagai penjual
adalah sebagai berikut:

218 | Akuntansi Transaksi Syariah ( Wiroso, IAI, 2011 )

PENDAPATAN ISTISHNA’

Debet Keterangan Jumlah Tgl Keterangan Kredit
Tgl Jumlah
500.000.000 30/03 Pengakuan 125.000.000
500.000.000 30/04 Pengakuan 175.000.000
31/05 Pengakuan 200.000.000

Saldo 500.000.000

HARGA POKOK ISTISHNA’

Debet Keterangan Jumlah Tgl Keterangan Kredit
Pengakuan Jumlah
Tgl Pengakuan 100.000.000
30/03 Pengakuan 400.000.000
30/04 140.000.000 400.000.000
31/05
160.000.000

Saldo

400.000.000

LAPORAN LABA RUGI Rp500.000.000,00
Periode 1 Januari s/d Mei 2009 Rp400.000.000,00
Pendapatan Istishna’ (Revenue of Istishna’) ----------------------
Harga pokok Istishna’ (Cost of Istishna’) Rp100.000.000,00

Keuntungan Bersih Istishna’ (Profit of Istishna’)

B. Pengakuan pendapatan istishna’ dengan metode penyelesaian (completed method)

Seperti telah dijelaskan di atas pengakuan pendapatan istishna’ dilakukan dengan dua metode,
dimana salah satunya menggunakan metode akad selesai. Berkaitan dengan pengakuan pendapatan dengan
metode akad selesai, dalam PSAK 104 tentang akuntansi istishna’ dijelaskan sebagai berikut

18. Jika estimasi persentase penyelesaian akad dan biaya untuk penyelesaiannya tidak dapat
ditentukan secara rasional pada akhir periode laporan keuangan, maka digunakan metode
akad selesai dengan ketentuan sebagai berikut:
(a) tidak ada pendapatan istishna' yang diakui sampai dengan pekerjaan tersebut selesai;
(b) tidak ada harga pokok istishna' yang diakui sampai dengan pekerjaan tersebut selesai;
(c) tidak ada bagian keuntungan yang diakui dalam istishna' dalam penyelesaian sampai
dengan pekerjaan tersebut selesai; dan
(d) pengakuan pendapatan istishna', harga pokok istishna', dan keuntungan dilakukan
hanya pada akhir penyelesaian pekerjaan.

Dari ilustrasi contoh di atas, jika LKS sebagai produsen melakukan pengakuan pendapatan dengan

metode akad selesai, maka jurnal-jurnal yang dilakukan oleh LKS sama dengan jurnal di atas (metode

persentase penyelesaian) kecuali jurnal penyesuaian pengakuan pendapatan yang tidak dilakukan yaitu:

1) Pengeluaran biaya produksi bulan Maret 2009 sebesar Rp100.000.000,00 LKS sebagai produsen

melakukan jurnal sebagai berikut:

Dr. Aset Istishna’ Dalam Penyelesaian Rp100.000.000,00

Cr. Kas/Rekening nasabah Rp100.000.000,00

2) Pengeluaran biaya produksi bulan April 2009 sebesar Rp140.000.000,00, LKS sebagai produsen

melakukan jurnal sebagai berikut:

Dr. Aset Istishna’ Dalam Penyelesaian Rp140.000.000,00

Cr. Kas/Rekening nasabah Rp140.000.000,00

BAB VI. Akuntansi Istishna’ | 219

3) Pengeluaran biaya produksi bulan Mei 2009 sebesar Rp160.000.000,00, LKS sebagai produsen

melakukan jurnal sebagai berikut:

Dr. Aset Istishna’ Dalam Penyelesaian Rp160.000.000,00

Cr. Kas/Rekening nasabah Rp160.000.000,00

Jurnal-jurnal di atas sangat berbeda jika selama dalam proses produksi aset istishna’, pemesan
melakukan pembayaran atau Lembaga Keuangan syariah melakukan tagihan kepada pemesan akhir.
Tagihan tersebut dicatat dalam akun “Termin Istishna’” dan disajikan sebagai pengurang (offseting account)

dari akun “Aset Istishna’ Dalam Penyelesaian”. Oleh karena itu saldo pada akun-akun dalam Laporan

Posisi Keuangan (Neraca) sebagai berikut:

ASET ISTISHNA’ DALAM PENYELESAIAN

Debet Kredit

Tgl Keterangan Jumlah Tgl Keterangan Jumlah
Maret Biaya proyek
April Biaya proyek 100.000.000 400.000.000
Mei Biaya proyek 400.000.000
140.000.000

160.000.000

Saldo

400.000.000

Aktiva NERACA Uraian Pasiva
Per 31 Mei 2009 Jumlah
Uraian
Aset Istishna’ Dalam Penyelesaian Jumlah
400.000.000

Dalam metode penyelesaian (completed method) ini pengakuan pendapatan dilakukan setelah aset
istishna’ selesai diproduksi dan siap untuk diserahkan. Atas contoh di atas pengakuan pendapatan istishna’
yang dilakukan oleh Lembaga Keuangan Syariah sebagai penjual dengan jurnal sebagai berikut:

Dr. Aset Istishna’ Dalam Penyelesaian Rp100.000.000,00

Dr. Harga Pokok Istishna’ Rp400.000.000,00

Cr. Pendpaatan Istishna’ Rp500.000.000,00

Akun-akun dalam Laporan Laba Rugi baru timbul saat pengakuan pendapatan dengan jurnal
tersebut di atas, sehingga saldo akun-akun dan penyajianya dalam Laporan Laba Rugi adalah sebagai
berikut:

PENDAPATAN ISTISHNA’

Debet Keterangan Jumlah Tgl Keterangan Kredit
Tgl
Jumlah
31/05 Penyelesaian proyek 500.000.000

Saldo 500.000.000

HARGA POKOK ISTISHNA’

Debet Jumlah Tgl Keterangan Kredit
Jumlah
Tgl Keterangan 400.000.000
31/05 Penyelesaian proyek 400.000.000

Saldo

220 | Akuntansi Transaksi Syariah ( Wiroso, IAI, 2011 )

LAPORAN LABA RUGI Rp500.000.000,00
Periode 1 Januari s/d Mei 2009 Rp400.000.000,00
Pendapatan Istishna’ (Revenue of Istishna’) ----------------------
Harga pokok Istishna’ (Cost of Istishna’) Rp100.000.000,00

Keuntungan Bersih Istishna’ ( Profit of Istishna’)

Sesuai karakteristik istishna’ penyerahan barang dilakukan kemudian setelah proses pembuatan
barang selesai diproduksi/dibuat. Oleh karena itu jurnal yang dilakukan sehubungan dengan penyerahan
barang kepada pemesan juga dipengaruhi oleh cara pembayaran yang dilakukan oleh pemesan:

a. Penyelesian proyek Rp500.000.000,00
Dr. Persediaan/Aset Istishna’ Rp.500.000.000,00
Cr. Aset Istishna’ Dalam Penyelesaian

b. Penyerahan aset istishna’ kepada pembeli akhir dengan pembayaran dimuka

(1) Saat penerimaan pembayaran dimuka

Dr. Kas Rp500.000.000,00

Cr. Hutang istishna’ Rp500.000.000,00

(2) Saat penyerahan barang Rp500.000.000,00
Dr. Hutang Istishna’ Rp500.000.000,00
Cr. Persediaan/Aset Istishna’

6.3.4 Penyerahan aset istishna’ dan cara pembayaran harga aset istishna’
oleh Pemesan

Cara pembayaran harga barang dalam istishna’ dapat dilakukan sesuai kesepakatan penjual dan
pembeli, arti pembayaran harga barang dapat dilakukan seluruhnya di depan (sebagaimana layaknya
transaksi salam), dapat dilakukan secara bertahap atau angsuran selama dalam proses pembuatan barang
sehingga pada saat penyerahan barang harga barang lunas, atau dapat juga dilakukan pembayarannya
dilakukan dengan tangguh setelah barangnya diterima (sebagaimana layaknya transaksi murabahah dengan
pembayaran tangguh). Untuk istishna’ dengan pembayaran tangguh akan dibahas dalam butir tersendiri.

Untuk memberikan gambaran yang lebih lengkap dari ilustrasi contoh di atas (contoh 6-1), akan
dibahas akuntansi istishna’ sesuai cara pembayaran oleh pemesan dilakukan dengan cara :

a. Pembayaran dimuka seluruh harga aset istishna’
b. Pembayaran dilakukan selama dalam proses penyelesaian aset istishna’ (jangka waktu pembayaran

dan jangka waktu penyelesaian aset istishna’ sama).
c. Pembayaran dengan jangka waktu tidak sama dengan jangka waktu penyelesaian aset istishna’

A. Pembayaran dimuka seluruh harga aset istishna’

Salah satu cara pembayaran harga aset istishna’ yang dilakukan oleh pemesan adalah dilakukan
pembayaran seluruh harga barang setelah akad ditanda tangani. Jika diperhatikan hal ini tidak berbeda
dengan karakteristik transaksi salam. Oleh karena itu akuntansinya juga tidak berbeda dengan akuntansi
salam

Contoh : 6-5

Dalam ilustrasi contoh di atas seluruh harga barang yaitu sebesar Rp500.000.000,00 dilakukan
sekaligus dimuka pada saat akad ditandatangani.

BAB VI. Akuntansi Istishna’ | 221

Atas pembayaran tersebut maka jurnal yang dilakukan oleh LKS sebagai penjual adalah sebagai berikut:

1). Pada saat LKS sebagai penjual menerma pembayaran seluruh harga barang :

Dr. Kas Rp500.000.000,00

Cr. Termin Istishna’/Hutang Istishna’ Rp500.000.000,00

Oleh karena harga aset istishna’ dibayar seluruhnya dimuka sebelum barang diserahkan maka
karakter ini sama dengan karakter salam, sehingga hutang istishna’ yang dimaksud di atas
merupakan hutang aset istishna’ yang dipesan (bukan hutang uang) sebagaimana karakter hutang
salam.

2). Pada saat LKS sebagai penjual mengeluarkan biaya untuk memproduksi barang istishna’ dilakukan

jurnal:

Dr. Aset Istishna’ Dalam Penyelesaian xxx

Cr. Kas xxx

(Sesuai dengan masing-masing jumlah biaya yang dikeluarkan)

3). Pada saat penyelesaian aset istishna’ seharga Rp500.000.000,00

Dr. Persediaan/Aset Istishna’ Rp500.000.000,00

Cr. Aset Istishna’ Dalam Penyelesaian Rp500.000.000,00

4). Penyerahan aset istishna’ dari LKS sebagai penjual kepada pemesan

Dr. Termin Istishna’/Hutang Istishna’ Rp500.000.000,00

Cr. Aset Istishna’ Dalam Penyelesaian Rp500.000.000,00

Tidak dilakukan pengakuan pendapatan karena pengakuan pendapatan dilakukan baik
dengan persentase penyelesaian aset istishna’ atau dilakukan pada saat aset istishna’ selesai
diproduksi seperti yang telah dibahas di atas.

B. Pembayaran dilakukan selama dalam proses penyelesaian barang istishna’ (jangka waktu
pembayaran dan penyelesaian aset istishna’ sama).

Karakteristik istishna’ dalam cara pembayaran adalah dilakukan sesuai kesepakatan, antara lain
dilakukan selama dalam proses produksi aset istishna’ dengan jangka waktu pembayaran selesai bersamaan
dengan jangka waktu penyelesaian proses produksi aset istishna’. Jadi setelah barang diserahkan kepada
pemesan selesai pula pembayaran dilakukan.

Contoh : 6-6
Dalam ilustrasi contoh di atas pembayaran harga barang dilakukan secara bertahap sesuai dengan
tahapan pembayaran proyek yaitu:

Bulan % pemb Pembayaran (Rp) Jumlah (Rp)
10% 100.000.000 100.000.000
Maret 50% 200.000.000 300.000.000
April 100% 200.000.000 500.000.000
Mei

Dari contoh di atas jurnal yang dilakukan untuk tahapan-tahapan penerimaan pembayaran

aset istishna’ yang diterima oleh Lembaga Keuangan Syariah sebagai penjual adalah sebagai

berikut:

1). LKS sebagai penjual pada bulan Maret 2009 menerima sebagian harga barang sebesar

Rp100.000.000,-00

(a) Pada saat LKS sebagai penjual mengirim tagihan pembayaran termin kepada pemesan :

Dr. Piutang Istishna’ Rp100.000.000,00

Cr. Termin Istishna’ Rp100.000.000,00

(b) Pada saat pemesan (pembeli akhir) melakukan pembayaran harga barang :

Dr. Kas/Rekening Nasabah Rp.100.000.000,00

Cr. Piutang Istishna’ Rp100.000.000,00

222 | Akuntansi Transaksi Syariah ( Wiroso, IAI, 2011 )

Tagihan termin aset istishna’ yang dilakukan oleh Lembaga Keuangan Syariah sebagai penjual

atau produsen kepada pemesan belum tentu seluruhnya dibayar. Dari contoh di atas, tagihan yang

dikirim ke pemesan sebesar Rp100.000.000,00 namun yang dibayar bisa hanya sebagian dari tagihan

tersebut misalnya hanya dibayar sebesar Rp90.000.000,00. Oleh karena itu jurnal pada butir b

menjadi sebagai berikut:

Dr. Kas/Rekening Nasabah Rp90.000.000,00

Cr. Piutang Istishna’ Rp90.000.000,00

Sehingga masih terdapat sisa tagihan Lembaga Keuangan Syariah sebagai penjual kepada
pemesan sebesar Rp10.000.000,00.

2). Sedangkan untuk penerimaan pembayaran harga barang pada bulan April 2009 sebesar

Rp200.000.000,00 LKS sebagai penjual melakukan jurnal sebagai berikut:

(a) Pada saat LKS sebagai penjual mengirim tagihan pembayaran termin kepada pemesan:

Dr. Piutang Istishna’ Rp200.000.000,00

Cr. Termin Istishna’ Rp200.000.000,00

(b). Pada saat pemesan (pembeli akhir) melakukan pembayaran harga barang :

Dr. Kas/Rekening Nasabah Rp200.000.000,00

Cr. Piutang Istishna’ Rp200.000.000,00

3). Dan untuk pelunasan harga barang pada yang diterima bulan Mei 2009 sebesar Rp200.000.000,00

LKS sebagai penjual melakukan jurnal sebagai berikut:

(a) Pada saat LKS sebagai penjual mengirim tagihan pembayaran termin kepada pemesan :

Dr. Piutang Istishna’ Rp200.000.000,00

Cr. Termin Istishna’ Rp200.000.000,00

(b) Pada saat pemesan (pembeli akhir) melakukan pembayaran harga barang :

Dr. Kas/Rekening Nasabah Rp200.000.000,00

Cr. Piutang Istishna’ Rp200.000.000,00

4) Pada saat penyerahan barang dari LKS sebagai penjual kepada pembeli akhir

Dr. Termin Istishna’ Rp500.000.000,00

Cr. Aset Istishna’ Dalam Penyelesaian Rp500.000.000,00

C. Pembayaran dengan jangka waktu tidak sama dengan jangka waktu penyelesaian aset
istishna’

Salah satu cara pembayaran harga aset istishna’ dilakukan mulai selama dalam proses produksi aset
istishna’, tetapi jangka waktu pembayaran dilakukan lebih lama dari jangka waktu proses produksi aset
istishna’. Untuk memberikan gambaran yang lengkap dan rinci dari cara pembayaran ini dapat dilihat
dalam pembahasan tentang contoh lain istishna’ paralel (butir 6.3.6 berikutnya)

D. Pembayaran dilakukan secara tangguh setelah penyerahan aset istishna’

Cara pembayaran lain atas harga aset istishna’, dilakukan mulai proses produksi aset istishna’ dengan
jangka waktu yang lebih lama dari jangka waktu proses produksi atau pembayaran dilakukan setelah
penyerahan barang dengan tangguh. Jika dicermati cara pembayaran seperti ini sama dengan pembayaran
yang dilakukan dalam transaksi murabahah. Dalam bab Akuntansi Murabahah telah dijelaskan salah satu
murabahah dilakukan berdasarkan pesanan. Salah satu cara pemenuhan murabahah berdasarkan pesanan
adalah dengan cara pembuatan barang dengan penyerahan tangguh (istishna’) dan pembayaranya dilakukan
setelah barangnya ada dan diterima. Istishna’ dengan pembayaran tangguh diatur secara khusus dalam
PSAK 104 tentang Akuntansi Istishna’ dan untuk memberikan gambaran yang lengkap dan rinci dapat
dilihat dalam pembahasan istishna’ dengan pembayaran tangguh (lihat buti 6.3.7).

BAB VI. Akuntansi Istishna’ | 223

6.3.5 Ilustrasi Contoh Lain LKS Sebagai produsen/penjual dalam
transaksi Istishna’

Untuk memberikan gambaran yang lengkap mengenai transaksi istishna’ ini berikut diberikan
ilustrasi contoh yang lain yang diambil dari buku Accounting Auditing Standard for Islamic Financial Institution
(AASIFI) yang dikeluarkan oleh Accounting and Auditing Organization for Islamic Financial Institutions.
(AAOIFI), Dalam ilustrasi contoh ini jangka waktu proses penyelesaian aset istishna’ sama dengan jangka
waktu pembayaran yang dilakukan oleh pemesan atau pembeli akhir.

Contoh : 6-7
Lembaga Keuangan Syariah mendapat pemesanan pembangunan sebuah gedung dari sebuah
yayasan sosial dengan data-data sebagai berikut:
1. Nilai kontrak pembangunan sebesar Rp500.000.000,00.
2. Biaya dikeluarkan sebesar Rp400.000.000,00 (termasuk biaya pra kontrak sebesar

Rp15.000.000,00).

Atas pembangunan tersebut bank syariah menunjuk tim sebagai pelaksana dan dari catatan bank
syariah diperoleh data lain sehubungan dengan pembangunan tsb yaitu :

Akumulasi pengeluaran biaya perolehan (cost) Tahun ke-1 Tahun ke-2
termasuk cost pra kontrak 300.000.000 400.000.000
Tagihan termin (billing istishna’)
Penerimaan tagihan dari pembeli 280.000.000 220.000.000
230.000.000 270.000.000

Untuk memberi ilustrasi dan pemahaman yang utuh terhadap contoh kasus tersebut di atas dalam
dilihat pada gambar berikut:

Gambar 6-6 : skema istishna’ produksi sendiri

Jurnal yang dilakukan oleh LKS sehubungan dengan contoh tersebut adalah:

1) Pembayaran beban pra akad sebesar Rp15.000.000,00.

a) Pada saat dikeluarkan biaya akad

Dr. Beban pra-akad istishna’ ditangguhkan Rp15.000.000,00

Cr. Kas/Hutang Rp15.000.000,00

224 | Akuntansi Transaksi Syariah ( Wiroso, IAI, 2011 )

b) Pada saat ada kepastian penandatangan akad (akad jadi ditandatangani) :

Dr. Aset Istishna’ Dalam Penyelesaian Rp15.000.000,00

Cr. Beban pra-akad istishna’ Tangguhan Rp15.000.000,00

c) Pada saat ada kepastian penandatangan akad (akad tidak jadi ditandatangani) :

Dr. Beban pra-akad istishna’ Rp15.000.000,00

Cr. Beban pra-akad istishna’ Tangguhan Rp15.000.000,00

2) Pembayaran biaya (cost) seperti material, tenaga kerja dan sebagainya pada tahun pertama sebesar
Rp300.000.000,00 (termasuk Rp15.000.000,00 beban pra akad) dan tahun kedua sebesar
Rp100.000.000,00.

Tahun ke-1 Tahun ke-2

Dr. Aset Istishna’ Dalam Penyelesaian (Istishna’ work-in 285.000.000 100.000.000

progress)

Cr. Kas 285.000.000 100.000.000

3) Penagihan oleh Lembaga Keuangan Syariah kepada pembeli akhir tahun pertama sebesar

Rp280.000.000,00 dan tahun kedua sebesar Rp220.000.000,00

Tahun ke-1 Tahun ke-2

Dr. Piutang Istishna’ (Istishna’ Account Receivable) 280.000.000 220.000.000

Cr. Termin Istishna’ (Billing Istishna’) 280.000.000 220.000.000

4) Penerimaan pembayaran dari pembeli akhir oleh Lembaga Keuangan Syariah pada tahun pertama

sebesar Rp230.000.000,00 dan untuk tahun kedua sebesar Rp270.000.000,00

Tahun ke-1 Tahun ke-2

Dr. Kas (Cash) 230.000.000 270.000.000

Cr. Piutang Istishna’ (Istishna’ Account Receivable) 230.000.000 270.000.000

5) Posisi perkiraan dalam administrasi Lembaga Keuangan Syariah atas transaksi istishna’ pada

tahun pertama adalah: Kredit

ASET ISTISHNA’ DALAM PENYELESAIAN
Debet

Tgl Keterangan Jumlah Tgl Keterangan Jumlah
Beban pra akad
Pembayaran termin 1 15.000.000 300.000.000
300.000.000
285.000.000

Saldo

300.000.000

PIUTANG ISTISHNA’

Debet Jumlah Tgl Keterangan Kredit

Tgl Keterangan 280.000.000 Penerimaan pemby Jumlah
Penagihan ke pembeli 230.000.000
50.000.000
Saldo 280.000.000

280.000.000

TERMIN ISTISHNA’

Debet Keterangan Jumlah Tgl Keterangan Kredit
Tgl Jumlah
280.000.000
Penerimaan pemby
280.000.000
Saldo 280.000.000

280.000.000

BAB VI. Akuntansi Istishna’ | 225

NERACA
Per dd/mm/ yyyy

Aktiva Jumlah Uraian Pasiva
300.000.000 Jumlah
Uraian (280.000.000)
Aset Istishna’ Dalam Penyelesaian 50.000.000
Termin Istishna’
Piutang Istishna’

6) Posisi perkiraan dalam administrasi Lembaga Keuangan Syariah atas transaksi istishna’ pada tahun
kedua (sebelum dilakukan perhitungan pendapatan) adalah :

ASET ISTISHNA’ DALAM PENYELESAIAN

Debet Jumlah Tgl Keterangan Kredit
Jumlah
Tgl Keterangan 15.000.000
Beban pra akad 400.000.000
Pembay termin ke-1 285.000.000 400.000.000
Pembay termin ke-2
100.000.000

Saldo

400.000.000

PIUTANG ISTISHNA’

Debet Jumlah Tgl Keterangan Kredit

Tgl Keterangan 280.000.000 Penerimaan pmby 1 Jumlah
Penagihan ke pemb 1 230.000.000
Penagihan ke pembeli 2 220.000.000 Peneriman pmby 2 270.000.000

Saldo 00
400.000.000
400.000.000

TERMIN ISTISHNA’

Debet Keterangan Jumlah Tgl Keterangan Kredit
Tgl Jumlah
280.000.000
Penerimaan pemby 220.000.000

Penerimaan pemby 400.000.000

Saldo 400.000.000

400.000.000

NERACA
Per dd/mm/yyyy

Aktiva Jumlah Uraian Pasiva
Jumlah
Uraian 400.000.000
Aset Istishna’ Dalam Penyelesaian (500.000.000)
Termin Istishna’
Piutang Istishna’ 00

(1) Metode persentase penyelesaian (persented method)

Dari contoh tersebut di atas, apabila Lembaga Keuangan Syariah menggunakan metode persentase

penyelesaian, maka perhitungan pendapatan istishna’ pada tahun pertama persentase penyelesaian

dilakukan dengan perhitungan :

Harga jual (Pendapatan Istishna’) Rp500.000.000,00

Harga pokok Rp400.000.000,00

-----------------------

Keuntungan Bersih istishna’ Rp100.000.000,00

226 | Akuntansi Transaksi Syariah ( Wiroso, IAI, 2011 )

Pada tahun pertama Lembaga Keuangan Syariah mengeluarkan Biaya (cost) sebesar
Rp300.000.000,00, dan pada tahun kedua mengeluarkan bisya sebesar Rp100.000.000,00 maka perhitungan
pendapatan berdasarkan metode persentase penyelesaian adalah sbb:

% penyelesaian Thn ke-1 Thn ke-2
300/400 x 100% = 75% 25%

Pencatatan penerimaan harga ke pembeli akhir 500 x 75% = 375 125

Pendapatan Istishna’ (Istishna’ revenue) (500 – 400) x 75% = 75 25

Atas perhitungan pengakuan biaya (cost) dan pendapatan (pada akhir periode laporan

keuangan/pada akhir termin), jurnal penyesuaian yang dilakukan oleh Lembaga Keuangan Syariah adalah

sebagai berikut :

Tahun ke-1 Tahun ke-2

Dr. Harga Pokok Istishna’ (Cost of Istishna’) 300.000.000 100.000.000

Dr. Aset Istishna’ Dalam Penyelesaian

(Istishna’ work-in-progres) 75.000.000 25.000.000

Cr. Pendapatan Istishna’ (Revenue of Istishna’) 375.000.000 125.000.000

Posisi perkiraan dalam Lembaga Keuangan Syariah atas transaksi istishna’ pada tahun pertama
(setelah dilakukan perhitungan pendapatan dengan metode persentase penyelesaian) adalah :

ASET ISTISHNA’ DALAM PENYELESAIAN

Debet Kredit
Jumlah
Tgl Keterangan Jumlah Tgl Keterangan
400.000.000
Beban pra akad 15.000.000 400.000.000

Pembayaran termin ke-1 285.000.000

Pengakuan pendapatan 75.000.000

Saldo

400.000.000

PIUTANG ISTISHNA’

Debet Jumlah Tgl Keterangan Kredit

Tgl Keterangan 280.000.000 Penerimaan pembay Jumlah
Penagihan ke pembeli 230.000.000
50.000.000
Saldo 280.000.000

280.000.000

TERMIN ISTISHNA’

Debet Keterangan Jumlah Tgl Keterangan Kredit
Tgl Jumlah
Penerimaan pembay
Saldo 280.000.000
280.000.000
280.000.000
280.000.000

NERACA
Per tanggal xx/xx/ 2004

Aktiva pasiva
Jumlah
Uraian Jumlah Uraian

Aset Istishna’ Dalam Penyelesaian 375.000.000
Termin Istishna’ (280.000.000)
Piutang Istishna’
50.000.000

BAB VI. Akuntansi Istishna’ | 227

LAPORAN LABA RUGI
Periode dd-mm-yyyy s/d dd-mm-yyyy

Pendapatan Istishna’ (Revenue of Istishna’) Rp375.000.000,00
Penerimaan Harga Pokok Istishna’ (Cost of Istishna’) Rp300.000.000,00
-----------------------
Keuntungan Istishna’ (Profit of Istishna’) Rp 75.000.000,00

Dalam perhitungan pendapatan yang akan dipergunakan sebagai dasar perhitungan distribusi hasil
usaha, yang harus diperhatikan adalah adanya aliran kas masuk, sehingga harus dilakukan perhitungan yang
matang berapa yang telah didukung dengan adanya aliran kas masuk. Posisi perkiraan dalam Lembaga
Keuangan Syariah atas transaksi istishna’ pada tahun kedua (setelah dilakukan perhitungan dan pengakuan
pendapatan atas metode persentase penyelesaian ) adalah :

ASET ISTISHNA’ DALAM PENYELESAIAN

Debet Kredit
Jumlah
Tgl Keterangan Jumlah Tgl Keterangan
500.000.000
Beban pra akad 15.000.000 500.000.000

Pembayaran termin ke-1 285.000.000

Pengakuan pendptan- 1 75.000.000

Pembayaran termin ke-2 100.000.000

Pengakuan pendpatan-2 25.000.000

Saldo

500.000.000

PIUTANG ISTISHNA’

Debet Jumlah Tgl Keterangan Kredit

Tgl Keterangan 280.000.000 Penerimaan pmbay Jumlah
Penagihan ke pembeli 230.000.000
Penagihan ke pembeli 220.000.000 Penerimaan pmbay 270.000.000

Saldo 00
500.000.000
500.000.000

Aktiva NERACA Uraian pasiva
Per dd/mm/yyyy Jumlah
Uraian
Aset Istishna’ Dalam Penyelesaian Jumlah
Termin Istishna’ 500.000.000
Piutang Istishna’ (500.000.000)

00

LAPORAN LABA RUGI
Periode dd-mm-yyyy s/d dd-mm-yyyy

Pendapatan Istishna’ (Istishna’ Revenue) Rp125.000.000,00
Penerimaan Harga Pokok Istishna’ (Cost of Istishna’) Rp100.000.000,00
-----------------------
Keuntungan Istishna’ (Istishna’ Profit) Rp 25.000.000,00

228 | Akuntansi Transaksi Syariah ( Wiroso, IAI, 2011 )

(2) Metode akad selesai (completed method)

Dari contoh tersebut di atas, maka perhitungan pendapatan istishna’ adalah

(a) Pada tahun pertama :

tidak ada perhitungan pendapatan

(b) Pada tahun kedua :

Pengakuan biaya (cost) dan pendapatan (hanya dilakukan pada akhir penyelesaian barang)

Dr. Harga pokok Istishna’ (Cost of istishna’) RP400.000.000,00

Dr. Aset Istishna’ Dalam Penyelesaian

(Istishna’ work-in-progres) Rp100.000.000,00

Cr. Pendapatan Istishna’ (Istishna’ revenue) Rp500.000.000,00

6.3.6 Istishna’ Dengan Pembayaran Tangguh

Seperti telah dijelaskan dalam bab Akuntansi Murabahah, bahwa ada dua jenis murabahah yaitu

murabahah tanpa pesanan dan murabahah berdasarkan pesanan. Dan salah satu cara pemenuhan

murabahah berdasarkan pesanan adalah dengan istishna’ yang pembayarannya dilakukan dengan tangguh.

Oleh karena itu dalam transaksi ini beberapa ketentuan akuntansinya mengikuti ketentuan dalam

Akuntansi Murabahah. Disisi lain perlunya pengaturan khusus akuntansi istishna dengan pembayaran

tangguh ini karena dimungkinkan terjadinya perbedaan waktu pekerjaan dengan jangka waktu pembayaran

yang dilakukan oleh pemesan, misalnya jangka waktu pekerjaan satu tahun sedangkan jangka waktu

penyelesaian pembayaran harga barang selama sepuluh tahun. Dalam PSAK 104 tentang akuntansi

istishna’, telah mengatur ketentuan tentang istishna’ dengan pembayaran tangguh sebagai berikut:

19. Jika menggunakan metode persentase penyelesaian dan proses pelunasan dilakukan dalam

periode lebih dari satu tahun dari penyerahan barang pesanan, maka pengakuan pendapatan

dibagi menjadi dua bagian, yaitu:

(a) margin keuntungan pembuatan barang pesanan yang dihitung apabila istishna'

dilakukan secara tunai diakui sesuai persentase penyelesaian; dan

(b) selisih antara nilai akad dan nilai tunai pada saat penyerahan diakui selama periode

pelunasan secara proporsional sesuai dengan jumlah pembayaran.

20. Meskipun istishna' dilakukan dengan pembayaran tangguh, penjual harus menentukan nilai

tunai istishna' pada saat penyerahan barang pesanan sebagai dasar untuk mengakui margin

keuntungan terkait dengan proses pembuatan barang pesanan. Margin ini menunjukkan nilai

tambah yang dihasilkan dari proses pembuatan barang pesanan. Sedangkan yang dimaksud

dengan nilai akad dalam istishna' dengan pembayaran langsung adalah harga yang disepakati

antara penjual dan pembeli akhir. Hubungan antara biaya perolehan, nilai tunai, dan nilai akad

diuraikan dalam contoh sebagai berikut:

Biaya Perolehan (biaya produksi) 1.000,00

Margin keuntungan pembuatan barang pesanan 200,00 +

Nilai tunai pada saat penyerahan barang pesanan 1.200,00

Nilai akad untuk pembay secara angs selama 3 thn 1.600,00 -

Selisih nilai akad & nilai tunai yg diakui selama 3 thn 400,00

21. Jika menggunakan metode akad selesai dan proses pelunasan dilakukan dalam periode lebih

dari satu tahun dari penyerahan barang pesanan maka pengakuan pendapatan dibagi menjadi

dua bagian, yaitu:

(a) margin keuntungan pembuatan barang pesanan yang dihitung apabila istishna'

dilakukan secara tunai, diakui pada saat penyerahan barang pesanan; dan

(b) selisih antara nilai akad dan nilai tunai pada saat penyerahan diakui selama periode

pelunasan secara proporsional sesuai dengan jumlah pembayaran

BAB VI. Akuntansi Istishna’ | 229

22. Tagihan setiap termin kepada pembeli diakui sebagai piutang istishna' dan termin istishna'
(istishna' billing) pada pos lawannya.

23. Penagihan termin yang dilakukan oleh penjual dalam transaksi istishna' dilakukan sesuai
dengan kesepakatan dalam akad dan tidak selalu sesuai dengan persentase penyelesaian
pembuatan barang pesanan.

Untuk memberikan pemahaman akuntansi istishna’ dengan pembayaran tangguh berikut diberikan
ilustrasi contoh yang merupakan penjabaran dan penelusuran contoh sebagaimana yang dimaksud dalam
paragraf 20 PSAK 104 tentang akuntansi istishna’, baik Lembaga Keuangan Syariah sebagai produsen
sendiri atau lembaga Keuangan Syariah melaksanakan transaksi istishna’ paralel. Dalam contoh dibawah
pada prinsipnya harga barang yang diproduksi oleh Lembaga Keuangan Syariah telah dibayar oleh pembeli
dan sisanya pembayarannya ditangguhkan atau dibayar kemudian oleh pembeli, sehingga pada saat
penyerahan barang istishna’ tersebut Lembaga Keuangan Syariah sebagai penjual memiliki piutang istishna’
kepada pembeli akhir. Untuk contoh dimana piutang atas harga barang jauh lebih kecil dari penyelesaian
barang dapat dilihat pada contoh dalam bahasan salam paralel berikutnya.

A. Istishna’ Pembayaran Tangguh LKS sebagai produsen (kontraktor) dengan setelah barang

diterima

Jika Lembaga Keuangan Syariah sebagai produsen atau kontraktor sendiri, maka Lembaga

Keuangan Syariah yang bertanggung jawab dan mengatur pengeluaran biaya-biaya yang berkaitan dengan

pembagunan atau proses produksi tersebut, baik biaya langsung atau biaya tidak langsung, biaya bahan

baku dan biaya-biaya lain yang merupakan unsur harga perolehan yang diperuntukan menyelesaikan aset

istishna’. Oleh karena itu tidak ada tangihan dari sub kontraktor pada Lembaga Keuangan Syariah.

Contoh : 6-8

Harga jual (nilai akad) kepada pembeli akhir Rp1.600

Harga jual saat selesai dan diserahkan (nilai tunai) Rp1.200

Harga pokok Rp1.000 62,50 %

(pembayaran biaya langsung, tidak langsung dan biaya lain

dari penyelesaian aset istishna’ selama 3 semester)

Margin / keuntungan Rp600 37.50 %

Keuntungan pembuatan aset Rp200

Selisih nilai akad dan nilai tunai Rp400

Penerimaan pembayaran dari pembeli akhir ke Lembaga Keuangan Syariah dilakukan dalam empat

tahap yaitu :

1. Tahap pertama sebagai uang muka sebesar Rp400,00.

2. Penyelesaian pembayaran tahap 2 dilakukan sampai akhir tahun pertama, dengan persentasi

penyelesaian atau proses produksi 25% sejumlah Rp400,00.

3. Penyelesaian pembayaran tahap 3 dilakukan sampai akhir tahun kedua, yaitu pada saat proses

produksi aset istishna’ selesai 100% sejumlah Rp400,00.

4. Pembayaran sisa aset istishna’ dilakukan setelah Lembaga Keuangan Syariah menyerahkan

aset istishna’ yaitu sebesar Rp400,00.

Dari ilustrasai contoh tersebut di atas, besarnya pembayaran yang dilakukan oleh pemesan, jangka

waktu proses produksi aset istishna’ dan jangka waktu pembayaran dapat digambarkan dalam skema

sebagai berikut:

230 | Akuntansi Transaksi Syariah ( Wiroso, IAI, 2011 )

Gambar 6-7 : skema istishna’ pembayaran tangguh
Jika memperhatikan PSAK 104 paragraf 19 di atas, maka dari contoh ilustrasi tersebut harus
dipisahkan keuntungan akibat penjualan (paragraf 19.a) dan keuntungan atas penjualan barang (paragraf
19.b), sehingga dari ilustrasi contoh di atas dapat dijelaskan bahwa biaya yang dikeluarkan untuk
memproduksi aset istishna’ (harga pokok) sebesar Rp1000,00 sedangkan aset istishna’ tersebut memilik
nilai jual sebesar Rp1.200,00 sehingga Lembaga Keuangan Syariah memiliki keuntungan atas pengadaan
atau pembuatan aset istishna’ tersebut sebesar Rp200,00. Disisi lain nilai aset istishna’ sebesar Rp1.200,00
tersebut merupakan harga pokok penjualan aset istishna’ kepada pemesan akhir, dimana harga jual yang
disepakati sebesar Rp1.600,00 sehingga atas penjualan tersebut Lembaga Keuangan Syariah memiliki
keuntungan sebesar Rp400,00 dan pembayaran harga aset istishna’ dilakukan dengan tangguh. Jadi
keuntungan sebesar Rp600,00 tersebut terdiri atas Rp200,00 merupakan keuntungan memproduksi aset
istishna’ dan Rp400,00 merupakan keuntungan atas penjualan aset istishna’. Dari uraian di atas dapat
digambarkan dalam skema transaksi sebagai berikut:

Gambar 6-8 : Ilustrasi istishna’ pembayaran tangguh
Oleh karena itu jurnal-jurnal yang dilakukan oleh Lembaga Keuangan Syariah sebagai produsen
berkaitan dengan ilustrasi contoh di atas adalah sebagai berikut:

BAB VI. Akuntansi Istishna’ | 231

1) Penerimaan pembayaran uang muka dari pemesan akhir oleh Lembaga Keuangan Syariah sebesar
Rp400,00.

Ref Keterangan Thn 1 Thn 2 Thn 3

1 Dr. Kas 400

Cr. Termin Istishna’ 400

2) Pembayaran pengeluaran biaya-biaya produksi, baik biaya langsung dan tidak langsung (material,
tenaga kerja dsb) oleh Lembaga Keuangan Syariah sebagai produsen, dengan rincian sebagai berikut:

Biaya aset istishna’ tahun pertama sebesar 25% x Rp1.000,00 = Rp250,00

Biaya aset istishna’ tahun kedua sebesar 75% x Rp1.000,00 = Rp750,00

Ref Keterangan Thn 1 Thn 2 Thn 3

2 Dr. Aset istishna’ dalam penyelesaian 250 750

Cr. Kas / Rekening suplier 250 750

3) Tagihan yang dilakukan oleh Lembaga Keuangan Syariah kepada pemesan akhir untuk tahun
pertama sebesar Rp400,00 dan untuk tahun kedua sebesar Rp400,00.

ref Keterangan Thn 1 Thn 2 Thn 3

3 Dr. Piutang Istishna’ 400 400

Cr. Termin Istishna’ 400 400

4) Penerimaan pembayaran harga barang dari pembeli akhir oleh Lembaga Keuangan Syariah untuk
tahun pertama sebesar Rp400,00 dan untuk tahun kedua sebesar Rp400,00.

ref Keterangan Thn 1 Thn 2 Thn 3

4 Dr. Kas 400 400

Cr. Piutang Istishna’ 400 400

5) Pengakuan pendapatan yang dilakukan oleh Lembaga Keuangan Syariah sebagai produsen sesuai
dengan persentase penyelesaian.

ref Keterangan Thn 1 Thn 2 Thn 3

5 Dr. Aset istishna’ dalam penyelesaian 50 150

Dr. Harga pokok istishna’ 250 750

Cr. Pendapatan istishna’ 300 900

Jika Lembaga Keuangan Syariah menggunakan pengakuan pendapatan dengan metode
persentase penyelesaian (procentage method) maka perhitungan pendapatan yang dilakukan oleh
Lembaga Keuangan Syariah adalah :

(a) tahun pertama (persentase penyelesian sebesar 25%), perhitungan adalah sebagai berikut:

Harga pokok (cost) aset istishna’ Rp1.000,00
Harga jual (nilai tunai) Rp1.200,00
-------------
Keuntungan produksi aset istishna’ Rp 200,00

Dengan penyelesaian 25% maka LKS sebagai produsen mengakui pendapatan (bukan
keuntungan) sebesar 25% x Rp1.200,00 = Rp300,00 sedangkan biaya aset istishna’ yang
tercatat dalam Aset Istishna’ dalam Penyelesaian sebesar Rp250,00 sehingga LKS
memperoleh keuntungan aset istishna’ sebesar Rp50,00. Keuntungan penyelesaian 25% juga
dapat dihitung dari : 25% x Rp200,00 = Rp50,00 dan jumlah tersebut yang dipergunakan
untuk penyesuaian atau ditambahankan sebagai “Aset Istishna’ Dalam Penyelesaian”

232 | Akuntansi Transaksi Syariah ( Wiroso, IAI, 2011 )


Click to View FlipBook Version