The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Kumpulan PUISI (Puisi Akrostik, Puisi Anak, Puisi Haiku Tanka, Puisi Bebas) dan CERPEN (cerita pendek) yang dituliskan oleh seluruh mahasiswa 5F PGSD, Universitas Muhammdiyah Prof Dr. Hamka. Fakultas Keguruan da Ilmu Pendidikan.

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by safitridwia.04, 2022-01-18 23:33:01

SAJAK AKSARA DAN ANTOLOGI CERITA

Kumpulan PUISI (Puisi Akrostik, Puisi Anak, Puisi Haiku Tanka, Puisi Bebas) dan CERPEN (cerita pendek) yang dituliskan oleh seluruh mahasiswa 5F PGSD, Universitas Muhammdiyah Prof Dr. Hamka. Fakultas Keguruan da Ilmu Pendidikan.

Keywords: PUIS,CERPEN

Semakin membuat orang bingung, apa yang dimaksud
panda miliknya?

“Itu bu, tadi Humaira bawa Puzzle panda. Tapi puzzlenya
dipinjem sama Arkhan.” ucap Aurel, salah satu anak yang
belum dijemput juga. Bu guru pun bertanya, “Sama
Arkhan puzzlenya ditaruh di mana?”

“Nggak tau.” Jawa Aurel.

Pun pada akhirnya semua yang ada di ruangan
mencari puzzlenya Humaira yang bergambar panda, tetap
tidak ditemukan. Hanya ada satu kemungkinan, bisa jadi
puzzle itu ikut Arkhan pulang. Akhirnya, Bu guru pun
menghubungi Ibunya Arkhan.

“Oh iya Bu, maaf yaa puzzlelnya kebawa sama Arkhan.
Nanti segera saya antarkan.” Ucap Ibunya Arkhan dari
seberang telepon. Pada akhirnya, telepon pun ditutup.
Menunggu hingga setengah jam, dua orang bertubuh
tinggi dan kecil datang dari arah gerbang.

“Itu Arkhan, Bu!” Teriak Aurel dari dalam ruang tunggu
jemputan.

586

“Anu itu Bu, aku nggak tau puzzlenya tiba-tiba ada di
tasku.” Jawab Arkhan.

Bu guru menghela napas. Sudah biasa terjadi,
Arkhan sering membawa pulang benda-benda di sekolah
yang menurutnya menarik. Bahkan tempo lalu ia pernah
membawa kabel mic yang didapat dari lemari kantor
sekolah.
“Arkhan kamu harus minta maaf sama Humaira.” ucap
Aurel.
“Kenapa aku harus minta maaf? Kan puzzlenya sudah
aku kembalikan?”
“Soalnya kamu udah bikin Humaira nangis. Iya kan, Bu?”
Kepala kecil nan mungil itu mendongak ke arah wanita
yang lebih tinggi darinya.
“Nggak mau!” Arkhan melipat tangannya dan membuang
muka dari Humaira. Humaira pun menangis lagi.
“Tuh, kan! Humaira jadi nangis lagi. Arkhan, sih!”

587

“Arkhan, ayo minta maaf nak.” ucap Ibunya. Arkhan
masih kekeuh tidak mau minta maaf, masih dalam
posisinya semula.

Akhirnya Arkhanpun mengembalikan puzzle milik
Humaira yang sudah mulai berhenti menangis. “Arkhan,
kenapa kamu bawa puzzlenya Humaira?” Tanya Bu guru.

“Arkhan, kamu suka apa?” Tanya Ibu Guru.

“Mobil.” Jawab Arkhan.

“Arkhan punya mobil – mobilan di rumah?”

“Punya.”
“Nah! Sekarang, ibu guru main ke rumah Arkhan. Terus
ibu guru minjem mobil-mobilannya Arkhan buat mainan.
Tapi, mobil-mobilannya ibu bawa pulang, bagaimana?”
“Loh! Kok dibawa pulang? Itu kan punya Arkhan, Bu!
Bu guru mau mencuri, ya!”

“Nah! Itu tau. Berarti, kalau kamu minjem mainannya
Humaira tapi nggak bilang-bilang sama aja dengan
mencuri, kan?” tanya ibu guru. Arkhan terdiam.

588

Sekali lagi, dibujuknya Arkhan untuk minta maaf.
Akhirnya, mau tidak mau Arkhan pun luluh juga meski
masih sedikit kelihatan sewot.

“Ya deh iya! Aku minta maaf! Tapi besok aku pinjam
puzzlenya lagi, ya!” Ucap Arkhan.
“T-tapi kalo mau pinjam bilang dulu, Arkhan.” Sahut
Aurel.

“Ya iyalah kan aku udah tau.” Jawab Arkhan.

Setelah kejadian di hari itu, keesokan harinya
Arkhan pun selalu bilang saat hendak meminjam barang.
Bukan hanya itu saja, Arkhan juga jadi lebih hati – hati
dalam bertindak sehingga tidak melukai hati teman-
temannya.

Dengan begitu, Arkhan pun jadi punya banyak teman.
Sekarang teman-teman sudah tidak takut lagi saat bergaul
dengan Arkhan. Berbeda pada saat dulu, pasti banyak
yang takut dekat dengan Arkhan karena Arkhan terkenal
nakal.

589

Mereka juga cenderung menjauh supaya bisa
menghindari barang-barangnya hilang karena dicuri oleh
Arkhan. Namun, karena sudah minta maaf sama
Humaira, keesokan harinya Aurel bilang ke teman-teman
kalau Arkhan sudah menjadi baik.

Meski beberapa teman masih ada yang takut,
Aurel tetap meyakinkannya supaya mau berteman baik
dengan Arkhan. Pada akhirnya semua teman-teman jadi
mau bergaul dan bergabung dengan Arkhan.

590

PERJALANAN HIDUPKU YANG TIDAK
LAGI INDAH

Oleh : Syafira Ainiyyah

Di Siang yang begitu terik, terlihat ramai siswa –
siswi baru di kantin sekolah SMA Harapan Atas, Tanpa
disadari tempat tersebut akan terjadi sebuah pertemuan
antara dua sejoli yang bernama Fitrah dan Aini. Aini yang
merasa tidak asing dengan sosok pria yang berdiri
dihadapannya, Aini mencoba memanggil pria tersebut
untuk memastikannya “Fitrah ya?” dan pria tersebut
menjawab “Iya, Aini ya?” dan Aini pun menjawab “Iya
(disertai senyum)”. Ya benar saja sosok pria tersebut
bernama Fitrah. Fitrah merupakan teman SD Aini,
dahulu pada saat mereka SD Fitrah menyukai Aini tetapi
sayang nya pada saat itu, teman Fitrah menyampaikan
kepadanya bahwa Aini tidak menyukainya padahal saat itu
juga Aini menyukai Fitrah.

Aini mencoba membangun komunikasi kembali
kepada Fitrah yang sudah lama tidak berkomunikasi, ia
mendapatkan kontak Fitrah melalui grup Angkatan

591

sekolahnya “Fitrah, mau nanya. Guru ec (English
Convertation) kamu siapa?” Fitrah pun langsung
menjawabnya “ibu Ika”. Setalah percakapan itu, Aini dan
Fitrah berlanjut chatting. Sampai akhirnya muncul rasa itu
kembali diantara keduanya. Hari Senin (27/07/16) Aini
ada kegiatan kerja kelompok dirumah temannya yang
berada di gg. Salam, Aini memberi kabar ke Fitrah bahwa
iya sedang kerja kelompok dirumah temannya “Aku
sedang kerja kelompok dirumah Evi nih” Fitrah pun
langsung menjawab nya “oiya, dimana” dan Aini pun
menjawab “Di gg. Salam” Fitrah membalas “itu dekat
dengan rumahku” Aini tidak menjawabnya lagi karna ia
sibuk untuk kerja kelompok.

Waktu sudah malam Aini dan teman-temannya
baru selesai mengerjakan tugas kelompok, Aini juga baru
sempat membalas pesan dari Fitrah “oh gitu, aku sudah
mau pulang tetapi, aku takut naik angkot karna sudah
malam” lagi lagi Fitrah langsung menjawab pesan dari
Aini “Mau aku jemput?” Aini sempat menolaknya karna
takut merepotkan Fitrah, tetapi Fitrah terus memaksanya.
Akhirnya Aini diantarkan pulang oleh Fitrah hingga

592

didepan rumahnya, setelah Fitrah mengantarkan Aini
pulang kian hari kedekatan mereka semakin dekat.
Hingga satu hari Fitrah tiba tiba mengirim pesan ke Aini
“Aku izin mau kerumah Sule, mau nanya tugas sama dia.
Boleh ya sayang?” Aini yang membaca nya pun kaget dan
jantungnya berdebar – debar. Karna Aini dan Fitrah resmi
belum pacaran. Aini mengambil kesimpulan bahwa Fitrah
menyukainya, dan Aini ingin ada pembuktian bahwa
dugaan ia itu tidak salah, akhirnya Aini menghubungi
teman-teman SMP Aini yaitu Gita, Basmara dan Tiara.
Aini pun memulai obrolannya bahwa dia ingin
membuktikan dugaan ia tentang perasaan Fitrah, Basmara
mencoba untuk memberi saran kepada Aini yaitu
mengajak Fitrah bermain Truth or Dare.

Akhir nya Aini pun mencobaa untuk mengajak
main Fitrah, tanpa disadari Fitrah memilih Truth. Aini
melontarkan pertanyaan “Oke karna kamu memilih truth,
aku kasih pertanyaan yaa. Siapa perempuan yang lagi
kamu inginkan untuk menjadi pacar kamu?” Fitrah
membalasnya “Dia anak kelas 10 IPS 2 dan dia itu galak”
Aini merasa bingung karna dikelas tersebut banyak

593

teman-teman perempuannya yang terkenal galak, lalu Aini
memperjelas kepada Fitrah “Siapa? Banyak loh” dan
Fitrah mencoba memberi deskripsi yang begitu jelas lagi
“Sekolah di SMA Harapan Atas, dan kalo ngomong itu
cerewet banget” Aini semakin penasaran, Aini mencoba
untuk memperjelasnya tetapi perkataan Fitrah hanya di
ulang-ulang saja. Akhirnya, Fitrah menjawab “orang yang
lagi chatan sama aku sekarang” Aini menjawab “Aku?”
dan Fitrah menjawab tanpa basa – basi “Iya kamu, Kamu
mau jadi pacar aku?” Aini menjawab “Iya” Akhirnya
mereka resmi berpacaran.

Selama mereka berpacaran Aini diperlakukan
seperti Princeess di cerita dongeng, sesibuk apapun Fitrah
selalu mengantarkannya pulang. Semarah apa pun Fitrah
kepada Aini ia tetap mengantarkan Aini pulang. Kemana
pun Aini pergi Fitrah selalu berusaha untuk
mengantarkannya, Fitrah seperti itu karna Fitrah ingin
memastikan bahwa orang yang ia sayangi selamat di
tempat tujuannya.

594

SAHABAT TAK TERPISAHKAN

Oleh: Tasya Salsabila Mujahidah

Hana dan Dewi sudah berteman sejak lama. Sejak
masih kecil, mereka sering menghabiskan waktu di sore
hari dengan bermain bersama. Semua tahu bahwa Hana
dan Dewi tidak terpisahkan. Persahabatan mereka tetap
terjalin erat, sampai saat ini mereka duduk di kelas 6 dan
disekolah yang sama.

Banyak temannya yang meragukan bahwa
persahabatan Hana dan Dewi akan bertahan lama, karena
latar belakang keluarga mereka yang jauh berbeda. Hana
adalah anak seorang pengrajin batik yang sukses.
Walaupun mulai dari membatik sendiri, kemudian
memiliki beberapa pegawai, sekarang usaha orang tua
Hana sudang berkembang sangat pesat. Mereka sudah
memiliki beberapa cabang toko batik di kota untuk
memasarkan batik karya mereka. Pegawainya juga
semakin banyak. Sementara Dewi adalah anak seorang
penjual kue yang sederhana.

595

Ketika kecil dulu, setiap sore Dewi ikut ibunya
menjajakan kue kepada para pekerja di pendopo batik
milik orang tua Hana. Disanalah Hana berkenalan
dengan Dewi. Waktu kecil dulu, mereka sangat
menikmati saat-saat itu. Namanya anak-anak, perbedaan
latar belakang keluarga tak dirisaukan. Permainan mereka
tetap saja asyik. Petak umpet, petak jongkok, rumah-
rumahan atau masak-masakan.

Tetapi, yang membuat persahabatan mereka
bertahan lama adalah sikap Hana dan Dewi yang selalu
menghargai satu sama lain. Hana tidak pernah
menganggap dirinya berbeda dengan Dewi. Bukan hanya
Dewi yang bermain ke pendopo batik Hana, tetapi Hana
pun tidak sungkan bermain ke rumah sederhana milik
keluarga Dewi. Ia malah menikmati makan siang atau
makan jajanan sore di rumah Dewi. Memang, ibu Dewi
pandai memasak. Namanya juga penjual kue, pasti pandai
juga membuat aneka masakan. Hana justru senang
dengan kedekatan dan kesederhanaan suasana dikeluarga
Dewi. Acara makan bersama yang selalu ramai penuh
cerita, karena semua hadir dengan kisah masing-masing.

596

Sebaliknya, ketika Dewi bermain ke rumah Hana,
tidak di rasanya minder sedikit pun. Bapak dan Ibu Hana
tidak pernah juga memperlakukan Dewi super istimewa
karena Dewi anak penjual kue. Santai saja Dewi
membaca-baca koleksi buku cerita Hana di kamarnya
ketika Hana sedang melakukan hal lain. Kadang-kadang
Dewi pun ikut membantu ketika Hana harus melipat-lipat
batik dan memasukannya ke dalam plastik sebelum siap
dikirim ke toko. Dewi kagum dengan Hana dan
keluarganya. Walaupun punya pegawai, Hana dan
saudara-saudaranya tetap terlibat untuk membantu usaha
orang tuanya. Membantu sesuai kemampuannya. Terlihat
bahwa mereka meraih sukses memang karena kerja keras.

Begitulah sahabat, tidak ada kata-kata yang perlu
di ucapkan untuk menyatakan sayang pada sahabat.
Hanya diperlukan sikap yang tulus, tidak pandang
perbedaan, saling menghargai dan saling belajar. Rasa
sayang yang tulus pada sahabat akan membentuk
pertemanan yang indah dan tidak terpisahkan.

Saat Hana dan Dewi masuk ke SMP. Meraka
sekolah di tempat yang sama. Sehingga Hana dan Dewi

597

masih bisa bermain dan belajar bersama, hanya saja kelas
yang mereka tempati berbeda. Tetapi tidak ada
kerenggangan dalam persahabatan yang mereka miliki.

598

PENGORBANAN SANG AYAH

Oleh: Via Ivani

Perkenalkan, namaku Nasya Shafira Abriana. Aku
adalah seorang anak perempuan sulung. Aku mempunyai
hubungan erat dengan ayah, bagiku ia adalah pahlawan
sekaligus cinta pertamaku. Ayah mengorbankan segalanya
untukku. Mulai dari jiwa, raga, bahkan hidupnya. Dan
tentunya takkan pernah mengeluh apapun yang
dikerjakan demi untukku.

Aku tinggal di Marunda, wilayah kecil di pelosok
Jakarta Utara. Berbekal sepeda tua yang ayah punya, ayah
selalu mengantarkan kemana saja tempat yang ingin ku
datangi. Mulai dari sekolah, taman bermain, atau hanya
sekadar berjalan-jalan saja. Sepeda itu memang sudah
usang, tapi tidak mengurangi fungsinya. Bahkan,
menambah suatu memori indah perjalananku, terutama
bersama ayah.

Walaupun dunia sedang tidak baik-baik saja,
ataupun kami tak mempunyai uang. Ayah dan sepeda

599

tuanya selalu ada untuk mengantarkanku dan
mengembalikan duka hati yang ku rasa.

Suatu ketika, sepeda tua itu mungkin sedikit lelah
mengantarku kemana saja. Jelas, karena menanggung
massa dari 2 orang dengan keadaan sepeda yang tak lagi
bagus. Akhirnya, ban sepeda tersebut pecah saat kami
sedang membeli makan malam. Di tengah gelapnya
malam, ayah tak patah semangat mendorong sepeda
tuanya yang pecah ban. Tidak sekali dua kali sepeda tua
itu berulah saat bersama ayah. Kadang tanpa sebab,
sepeda tua itu mogok tiba-tiba dan kadang karena sudah
rusak beberapa bagian yang sudah harus diganti. Namun,
ayah tak kunjung punya uang yang cukup untuk
menggantinya. Alhasil, ia rusak lagi-rusak lagi.

"Huh rusak terus, sebel. Kenapa sepeda tua ini
tidak mengerti kita, Yah?" Tanyaku.

Namun, ayah hanya menjawab dengan suara
lemah lembut, "sabar ya, Nak. Kalau ayah sudah punya
uang nanti akan ayah beli sebuah sepeda baru yang bisa
kita gunakan dengan mudah kemana saja kau mau."

600

Malam itu begitu gelap. Jarum jam yang melingkar
di tangan bapak hampir menunjukkan jam 22.30 malam.
Suasana malam di Marunda tentu jauh berbeda dengan
malam di jalanan besar. Di tempat tinggalku saat sudah
malam sangat sunyi dan tak banyak orang yang berlalu
lalang. Biasanya, habis Isya orang-orang sudah tidak
keluar rumah. Mereka hanya beraktivitas saja di rumah
bahkan sudah berangkat tidur merebahkan badan di
kasur setelah lelah bekerja seharian.

Kondisi yang sangat jauh berbeda apabila
dibandingkan dengan jalanan besar, tak ada penerangan
jalan yang cukup, tak juga ada bunyi klakson mobil yang
terdengar dengan frekuensi bunyi tanpa nada, dan juga
tak ada cuitan manusia malam yang selalu bikin gaduh
gendang telinga. Malamnya tenang seperti tenangnya
bocah yang tengah tertidur lelap di pangkuan ibunya.

Dalam keheningan itu, ayah tetap semangat
mendorong sepeda tua, dengan aku yang berada di
atasnya. Sungguh berat pastinya, bukan? Sesekali, kulihat
ia menyeka keringat yang deras di dahi. Aku yang waktu
itu baru masih berusia anak-anak, merasa sedikit

601

ketakutan. Kesunyian malam yang pekat membuat bulu
romaku berdiri sempurna. Dalam hati, aku merutuki
sepeda tua itu terus menerus. Aku kesal dan sakit hati.
Rasanya ingin menangis saja.

"Kenapa di malam yang pekat ini pulalah ia harus
pecah ban dan kenapa sepeda tua ini tak pernah lelah
membuat ayah sengsara? Sepertinya ia mempunyai rumus
turunan yang banyak untuk menguji kesabaran ayah
sehingga ia rusak lagi – rusak lagi." Gerutuku.

Lelaki 50 tahunan itu seperti mengerti gerutu
hatiku malam itu. Lelaki bijaksana itu memahami
kegalauan hatiku. Ia meninggalkan senyum yang hampir
tak terlihat olehku karena senyumnya menyaru dengan
gelapnya malam. Tapi aku yakin, di tengah lelahnya
mendorong, ia masih menguatkanku dengan senyumnya
itu.

“Sya, kamu turun ya. Lalu, berjalan duluan di
depan ayah. Nanti tak jauh dari sini ada bengkel sepeda,
kita tambal bannya, semoga masih buka.” Ujar ayah

602

Aku hening. Aku melangkah mendahului ayah
dan sepeda tua itu. Tak berselang lama, posisiku sudah
ada di depannya. Setelah berjalan beberapa waktu, ada
seseorang yang mengendarai motor melewatiku. Lalu, aku
mencegahnya dan harapan orang tersebut akan
membantu. "Pak. Permisi, tolong bantu kami. Ini sudah
larut, tetapi ban Sepeda kami pecah" Ujarku. Namun, tak
ada hirauan dari pengendara tersebut.

Setelah 1 kilometer lebih berjalan, akhirnya
terlihat lampu yang remang dari pondok kecil di pinggir
jalan. Itulah ia si tukang tambal yang ayah maksud.
Sepanjang perjalanan menuju rumah, ayah banyak hafal
tempat-tempat penambal ban. Mungkin karena ulah si
sepeda yang berulang yang membuat dia hafal semua
bengkel-bengkel di jalan yang ia lalui. Tak lama berselang,
sampailah kami di pondok itu. Lampu depan pondok itu
nyala agak sedikit terang. Namun, na’as ternyata
bengkelnya sudah tutup. Sangat mustahil juga sebenarnya
jika ada bengkel yang buka sudah memasuki waktu yang
larut malam. Ayah melirik ke kiri dan kanan bengkel,

603

mengetuk pintu agar pemilik bengkel keluar, tapi tak ada
jawaban dari dalam.

Ayah menghela napas panjang sambil berkata “Sya
di depan ada bengkel lagi. Kita jalan lagi aja. Nanti kita
tambal di sana, sabar ya." Senyuman itu terus hadir di
wajahnya. Aku menahan kesal yang dalam sambil
mengangguk tanpa perlawanan.

Hampir 2 km kami berjalan. Aku sudah tidak
punya energi untuk melanjutkan perjalanan malam itu.
Rasa hausku menjadi-jadi. Tak satu pun warung yang
buka yang kami temui. Semua sudah tutup sehingga untuk
mendapatkan seteguk minum pun sangat sulit, aku yakin
apa yang aku rasa juga dirasakan lelaki yang tengah
mendorong sepeda itu, tapi dia tetap tenang melaluinya.

Pada titik puncak lelahku. Akhirnya, kami sampai
di salah satu kios tambal ban. Kali ini, kiosnya cukup
besar dari pondok yang sebelumnya. Ayah mengetuk
pintu kios dan berharap sangat sang pemilik bengkel
keluar. Aku duduk di kursi panjang menunggu ayah. Ia
terus saja menggedor pintu itu dengan sangat hati-hati.
Pada gedoran kesekian, akhirnya tuan yang punya

604

bengkel tersebut keluar sambil mengucek-ngucek bola
matanya. Dengan sangat hati-hati dan santun, ayah
menyampaikan hajatnya. Tukang bengkel itu menyambut
kedatangan kami dengan sangat baik, setelah
menyodorkan dua gelas air, ia memulai pekerjaannya. Di
kursi panjang, ayah menyeka rambutku dan menggosok-
gosok kepalaku dengan lembut. Ayah mengerti
kepenatanku malam itu.

“Sya, nanti kalau sudah cukup uang ayah mau
ganti saja sepeda ini biar tidak rusak terus,” begitu ayah
mengawali kalimatnya.

“Kamu pasti lelah berjalan 3 km lebih, tapi kita
tak punya pilihan. Kita harus hadapi semuanya.
Walaupun kamu anak perempuan, tapi kamu tidak boleh
cepat menyerah, tidak boleh cepat putus asa, dan lelaki
yang kuat akan menjaga martabat keluarganya." Ujar ayah.

Ayah melanjutkan ucapannya. "Di Radio, ayah
pernah mendengar pidato Buya Hamka, beliau adalah
simbol lelaki Minangkabau yang kuat. Kata Buya ”Salah
satu pengkerdilan terkejam dalam hidup adalah
membiarkan pikiran yang cemerlang menjadi budak bagi

605

tubuh yang malas, yang mendahulukan istirahat sebelum
lelah. Maka dari itu, ayah ingin menjadi seperti Buya
Hamka yang tidak patah semangat. Ayah ingin
membahagiakanmu selalu dengan cara yang ayah bisa."

Aku berkaca-kaca mendengar ucapan ayah.
Seolah menusuk relung hatiku yang paling dalam. Ayah
terus memberikanku nasihat dan petuah. “Malam ini
mungkin masalah sepeda yang kamu hadapi Nak. Kita
tidak tau apa yang akan terjadi esok hari. Kita tidak
mampu untuk menakar takdirnya. Apa pun yang akan
kamu lalui nanti, teruslah bersemangat. Jangan cepat
menyerah dan berputus asa”.

Aku hanya mampu mengangguk tanda bahwa
menyahuti kata-kata yang mengalir di bibir ayah.
Perlahan, aku merapatkan dudukku padanya. Serapat
kutub utara magnet saat didekatkan dengan kutub selatan.
Aku mendekap lengannya kuat. Kali ini, bukan karena
dekapan ketakutan karena malam, tapi dekapan kagum
dan bangga karena aku memiliki lelaki pekerja seperti
ayah.

606

Selesainya ban sepeda tua itu ditambal, aku dan
ayah kembali melanjutkan perjalan untuk pulang ke
rumah. Saat itu, hanya pikiran cepat sampai yang ada di
kepala kami, karena waktu sudah semakin larut dan
semakin terasa rasa lelah di tubuh. Di perjalanan pulang,
aku memandangi punggung ayah dengan rasa haru. Aku
berpikir begitu besar pengorbanan yang selalu ayah
berikan untukku. Sungguh, aku sangat menyayangi lelaki
di hadapanku. Aku berharap semoga ayah selalu diberi
kesehatan agar dapat selalu membahagiakanku seperti
yang diharapkannya.

607

PATAH SEBELUM TUMBUH

Oleh : Wahyu Karisma Wati

Semilir angin menerbangkan ujung kerudung
putih yang sedang dikenakan oleh gadis cantik yang
sedang tertidur di bangku taman kelas XI MIA 4, dengan
mata terpejam dan bibir yang tertarik sedikit sudah jelas
menggambarkan bahwa gadis itu sedang menikmati
semilir angin yang menerpa kulit wajahnya. Agatha,
begitulah gadis itu sering disapa oleh teman – temannya.
Agatha adalah sosok pemberani dan sedikit bandel seperti
remaja pada umumnya. Pelanggaran tatatertib yang sering
Agatha lakukan adalah terlambat datang sekolah, sedikit
mengherankan sebab dia selalu bangun pagi untuk
bersiap kesekolah, namun tetap saja dia masuk kedalam
jajaran siswa yang sering terlambat datang ke sekolah dan
alhasil selalu berakhir dengan membersihkan lapangan
dengan memungut sampah dan dedaunan, tidak jarang
juga dia melewatkan jam pertama pelajarannya karena
kebiasaan buruknya itu. Namun meski begitu Agatha
adalah sosok siswi yang sangat digemari oleh guru –

608

gurunya, entah dari keberaniannya ataupun prestasinya,
memang masih sebanding dengan kebiasan buruknya,
setidaknya dia masih memiliki nilai plus disamping
kebiasaan buruk itu. Oh iya, sedikit informasi terkait gadis
cantik ini, dia adalah wakil ketua OSIS perempuan
pertama di SMA Garuda. Cukup mengherankan juga
gadis dengan kebiasaan terlambat seperti nya bisa menjadi
wakil ketua OSIS.

Agatha memiliki dua sahabat yang selalu
menghabiskan waktu bersamanya yaitu Lili dan Enzel,
mereka seperti paket komplit sulit dipisahkan. Lili dengan
kepribadian keibuannya dan Enzel dengan kepribadian
dewasanya, bisa membuat Agatha nyaman, sebab dia
merasa sangat disayangi oleh kedua temannya. Terkait
kebiasaan buruknya yang sering terlambat, benar – benar
sudah dapat dikategorikan cukup parah. Sebab benar saja
keesokan harinya Agatha terlambat lagi, dan kali ini
hukuman yang diberikan oleh guru piket cukup
mengesankan, sebab Agatha sampai melewatkan mata
pelajaran pertama hingga waktu istirahat.

609

“Terlambat lagi Tha?” todong Enzel saat bertemu Agatha
yang berjalan dari ujung lorong dengan tas yang masih di
gendongannya.

“Iyanih, parah sih, masa kali ini aku disuruh bersihin WC
cuma gara- gara telat! Padahal biasanya juga cuma mungut
sampah, mana nggak kira – kira lagi, masa ya semua WC
guru disuruh bersihin. Parah banget nggak sih!!” adu
Agatha dengan menggebu – gebu.

“Ya lagian sih, kebiasaan kok telat, mbokya kebiasaan tuh
yang lebih berfaedah gitu kayak rajin sedekah, rajin bersih
– bersih, lah ini malah telat. Ya udahlah terima
konsekuensi aja hahaha. Ya udah yuk ke kantin udah jam
istirahat juga nih, Lili udah nunggu di kantin dari tadi”
ajak Enzel sembari menyeret tangan Agatha.

Setelah menghabiskan waktu istirahat di kantin
sekolah, dengan berbagai santapan yang mengenyangkan
perut. Agatha, Enzel dan Lili akhirnya masuk ke dalam
kelas dan bercerita cukup seru sembari menunggu guru
matematika datang. “guys tau nggak!” ungkap Agatha tiba
– tiba. “Ya enggak lah Tha, kan belum kamu kasih tau,
gimana sih” . jawab Enzel. “Hehe..iya deng. Jadi gini,

610

semalem aku kan main game sama Resya terus sama dia
dikenalin ketemennya buat jadi pasangan aku di game
online. Terus tau nggak sih, itu temennya Resya asik
banget terus perhatian banget, jadi takut kebawa perasaan
deh”. Cerita Agatha dengan menggebu – gebu. “Namanya
siapa terus asal mana?” tanya Lili “namanya Rakha
Aditama, kalok nggak salah asalnya dari Semarang deh,
dia seumuran kita juga kok, anak SMK jurusan TIK kalok
nggak salah.” Jawab Agatha sambil mengingat – ingat
percakapannya dengan Rakha tadi malam “Oh... masih
seumuran, tapi hati – hati loh Tha kalok sampek kebawa
perasaan nanti, takutnya dia cuma jadiin kamu
sampingannya aja lagi.” Nasehat Lili ke Agatha
“Sampingan gimana sih Li, kok aku ngga faham deh?”
tanya Agatha bingung “Ituloh Tha, hati – hati kalok kamu
sampek kebawa perasaan, takutnya si Rakha ini aslinya
udah punya pacar, terus kamu cuma dijadiin pengisi
waktu luang sama temen main game aja” beber Enzel
menjelaskan kepada Agatha “Iya, aku usahain nggak bakal
kebawa perasaan deh, atau kalok misal mulai ngerasa
kebawa perasaan aku bakal cari info soal dia, apa dia

611

udah punya pacar atau belum.” Jawab Agatha dengan
meyakinkan.

Malamnya Agatha mendapat notif chat dari
Rakha, mengajak Agatha untuk bermain game dan
menyelesaikan misi dalam game bersama. Entah kenapa
Agatha sangat senang saat diajak bermain game oleh
Rakha, terlebih mengingat betapa Rakha sangat perhatian
dan melindungi Agatha saat bermain game. Tanpa
berpikir lama Agatha langsung membuka aplikasi game
yang akan Agatha mainkan bersama dengan Rakha.
Setelah menyelesaikan misi dalam game, akhirnya tiba
saatnya Agatha dan Rakha dapat bermain game dengan
santai sembari mengobrol dengan menggunakan fitur
mikrofon yang tersedia dalam game. “Rakha, bisa dengar
suara aku?” tanya Agatha saat pertama kali
menghidupkan mikrofon dalam game “Iya bisa Agatha”
jawab Rakha. “Rakha gimana sekolah kamu hari ini?”
tanya agatha memulai percakapan pada malam itu, hingga
keduanya larut dalam obrolan mereka, dengan saling
menceritakan kegiatan mereka masing – masing hari ini,
dan tidak lupa cerita Agatha perihal tragedinya saat

612

dihukum oleh guru piket untuk membersihkan semua
WC guru karena terlambat datang ke sekolah.

Agatha dan Rakha semakin hari semakin dekat,
Agatha semakin merasa terbiasa dengan kehadiran Rakha
dalam kisah remajanya dan Agatha pun juga semakain
nyaman dekat dengan Rakha, disamping itu Rakha juga
semakin perhatian dengan Agatha, hingga menimbulkan
rasa yang tidak biasa yang baru pertama kali Agatha
rasakan terhadap teman laki – lakinya.

Siang ini begitu terik dan anginpun seolah ikut
berpartisipasi untuk menciptakan suasana yang panas dan
menyiksa untuk anak – anak kelas XI MIA 4 yang
kebetulan mendapat jadwal pelajaran olahraga dijam
terakhir, yang artinya harus bersabar dengan panasnya
terik matahari siang ini. “Ini kenapa panas banget sih,
neraka bocor apa ya. Lagian kenapa jam olahraga harus di
jam terahkir gini sih, kan jadi males juga mau olahraga.”
Keluh Agatha sembari mengipaskan kedua telapak tangan
kewajahnya. Agatha, Lili dan Enzel sedang duduk di
bawah pohon dipinggir lapangan Voli, sembari
memperhatikan anak laki – laki yang tetap semangat

613

bermain Voli dan seperti tidak terganggu dengan terik
matahari yang menyengat kulit.

“Li, En aku mau curhat deh sama kalian, ini
penting banget!” kata Agatha lagi dan mengalihkan
perhatian Lili dan Enzel yang sebelumnya
memperhatikan permainan Voli teman – temannya
berganti menatap Agatha dengan penuh tanda tanya.
“Curhat apa?” tanya Enzel akhirnya. “Aku kayaknya
beneran kebawa perasaan deh sama Rakha, gimana
dong?” curhat Agatha “Kan kita udah pernah nasehatin
kamu Tha sebelumya, katamu aman ngga bakal kewaba
perasaan sama Rakha. Masalahnya Rakha itukan orang
jauh Agatha, kita ngga tau dia aslinya kayak gimana,
takutnya udah punya pacar lagi aslinya” “ iya bener Tha,
kita ngga mau nanti kamu sakit hati seandainya Rakha
ternyata beda dari apa yang kamu bayangin selama ini”
jawab Enzel dan Lili kepada Agatha. “ Iya sih, tapi gimana
dong, makin hari makin nyaman deket sama dia, seneng
pas diperhatiin sama dia, banyak komunikasi sama dia,
pokonya udah terbiasa banget sama kehadiran Rakha, aku
kudu gimana dong sekarang. Soalnya dilain sisi aku juga

614

takut kalok misalnya Rakha bener kayak yang kalian
bilang, takutnya aku cuma jadi pengisi waktu luang dia aja.
Aku harus gimana dong Li, En?” adu Agatha pada kedua
sahabatnya “Gini aja deh, coba kamu tanya – tanya ke
Rakha soal kehidupan asli dia kayak gimana, terus kisah
asmaranya juga gimana, dia udah punya pacar atau belum,
terus suka cewek yang kayak gimana juga. Terus kamu liat
kira – kira ada kemungkinan engga buat perasaan kamu
itu” nasehat Lili kepada Agatha “Oke kalok gitu nanti
malem pas main game bareng, aku bakal coba tanya –
tanya ke Rakha, semoga dia mau jawab dan ngga bohong
juga” jawab Agatha “Siip, bagus Tha, semangat ya dan
seandainya jawaban Rakha beda dari harapan kamu ke
dia, kamu harus bisa lebih dewasa buat bisa ikhlas ya Tha,
soalnya perasaan yang dipaksakan itu nggak baik dan
nggak akan pernah berhasil juga.” Nasehat Enzel kepada
Agatha “Iya siap.. makasih ya Li, En udah selalu ngasih
saran buat aku” ucap Agatha kepada Lili dan Enzel “Iya
Agatha Rizkia Putri, kan kita sahabat, harus saling
menasehati dan mengarahkan ke hal yang benar dong.”
jawab Lili dan diangguki oleh Enzel.

615

Pada malam harinya Agatha dan Rakha bermain
game bersama seperti biasanya. Mereka bermain dengan
mengobrol dan membicarakan hal – hal yang mereka
anggap seru, hingga sampai pada saat Agatha ingin
bertanya terkait kisah asmara Rakha, namun belum
sempat pertanyaan itu Agatha tanyakan, Rakha lebih dulu
mengatakan ingin bertanya kepada Agatha “Tha aku mau
tanya sama kamu dan sekalian minta pendapat kamu,
boleh?” tanya Rakha “Boleh dong Kha, emang mau tanya
apa sih kok kayaknya serius gitu?” jawab Agatha “ jadi gini
Tha, aku kan punya teman perempuan dari kecil, dan
kebetulan SMA ini dia sekolah di luar kota, tapi liburan
tahun ini dia bakal balik ke sini, nah niatnya aku mau
ngungkapin perasaan aku ke dia, kalok aku udah suka
sama dia dari dulu, menurut kamu gimana?” tanya Rakha
kepada Agatha, yang berhasil membuat Agatha terpaku
dan hampir menangis, namun dia tahan karena dia tidak
ingin Rakha tau. “Menurut aku bagus itu Kha, momennya
juga pas, semoga berhasil ya, dan perasaan kamu bisa
terbalas, semangat Rakha” jawab Agatha memberi
semangat kepada Rakha “Jadi momennya pas ya Tha,
semoga dia juga punya perasaan yang sama ke aku ya,

616

makasih banyak ya Agatha sahabat game aku yang paling
baik dan cantik” ungkap Rakha yang membuat Agatha
tersenyum getir karena sadar bahwa ternyata selama ini
Rakha hanya menganggap dirinya sebatas sahabat dan
tidak memiliki perasaan lebih, dan artinya perasaan yang
Agatha miliki selama ini bertepuk sebelah tangan.

Setelah bermain game tadi Agatha akhirnya
menangis dan kini dia tidak bisa tidur karena terus terfikir
perkataan Rakha tadi, Agatha benar – benar tidak
menyangka bahwa kisah percintaannya akan berakhir
secepat ini dan sesadis ini, belum juga memulai sudah
harus berakhir, bahkan laki – laki yang dia sukai belum
tau bahwa dia menyukainya namun kisahnya sudah harus
berakhir, sungguh pupus sebelum tumbuh. Agatha
akhirnya menuliskan rasa gundah yang ada dihatinya ke
sebuah buku diary kesayangannya.

Dear Diary :

Pupus Sebelum Tumbuh

Aku bertemu denganmu secara online, dan
menyayangimu secara nyata. Belum juga kau tahu rasa

617

kagumku terhadapmu, namun rasa ini harus aku kubur
kembali, sebab dirimu masih berlabuh kepadanya. Dia
yang bertahta di hatimu terlebih dahulu sebelum hadirku
dihidupmu. Biarlah rasa ini cukup aku dan tuhan yang
tau, dan akan aku jadikan sebagai bagian dari
pendewasaan yang berharga dalam hidup.

Keesokan harinya Lili dan Enzel kaget melihat
Agatha yang sudah datang sepagi ini dengan keadaan yang
terlihat murung “Tha kok tumben jam segini udah dateng,
mana sambil bengong lagi. Ada apa sih, kamu kenapa?”
tanya Lili saat sudah berada di samping meja Agatha “Iya
tumben banget mukamu masih pagi gini udah ditekuk
gitu, cerita coba kalok ada masalah” sahut Enzel “Huaa
aku habis patah hati..” adu Agatha akhirnya “Kok bisa,
gimana ceritanya?” tanya Lili lagi “Jadi gini, semalemkan
aku main game sama Rakha terus aku mau bilang ke dia
kalok aku kayaknya ada perasaan lebih kedia, tapi malah
dia bilang duluan kalok dia suka sama teman masa
kecilnya” akhirnya Agatha menceritakan semua kejadian
tadi malam, mulai dari saat dia main game sampai
menangisi kisah cintanya yang harus berakhir tanpa

618

sempat dimulai, Enzel dan Lili mendengarkan dengan
seksama dan memberikan masukan dan nasehat kepada
Agatha untuk bersabar “Udah Tha jangan sedih lagi,
emang perasaan tuh ngga bisa dipaksain, lagian
seandainya kamu udah bilang duluan ke Rakha, sebelum
Rakha cerita soal perasaannya, bukannya kamu malah
bakal malu soalnya ditolak sama dia. Allah lagi sayang
banget sama kamu, Allah nggak mau bikin kamu malu,
nggak mau juga kamu terjerumus ke lingkaran maksiat
karna pacaran, seharusnya kamu bersyukur Allah
nyelametin kamu semalem” nesehat Enzel dan
dibenarkan oleh Lili “Iya juga ya, aku harusnya bersyukur
soalnya ngga sampek malu karna di tolak sama Rakha dan
tau perasaannya sebelum dia tau perasaan aku, Ya Allah
makasih udah sayang sama Agatha” jawab Agatha “Bener
Tha , kamu harus banyak bersyukur dan soal perasaan
kamu coba buat ikhlas ya” Sahut Lili memberi nasehat
juga. “Makasih ya Li, En kalian udah dengerin cerita aku
dan nasehatin aku juga, kalian bener – bener sahabat
terbaik deh pokonya” terimakasih Agatha kepada kedua
sahabatnya.

619

Akhirnya sedikit demi sedikit Agatha dapat ikhlas
dengan patah hatinya, walaupun berat dan harus dengan
niat yang ekstra, namun Agatha akhirnya bisa berdamai
dengan semua. Hingga kini Agatha tetap berteman baik
dengan Rakha dan masih sering bermain game bersama,
walaupun tidak sesering dulu. Sebab Agatha tau, kini
Rakha memiliki perasaan yang harus dijaganya dan
Agatha juga tidak mau hadir diantara Rakha dan
kekasihnya, terlebih jika kedekatan antara dirinya dan
Rakha akan menimbulkan salah paham pada kekasih
Rakha, jadi Agatha memberikan batasan pada
pertemanannya dengan Rakha.

620

PROFIL PENULIS

Adira Fitrinanda Achmad. Adalah seorang mahasiswa aktif di
Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka, penulis dengan
kelahiran Jakarta, 20 Januari 2000, dengan umur 22 tahun, yang akan
menjadi calon guru sekolah dasar dimasa depan. Penulis dapat
dihubungi melalui email [email protected]

Amalia Faudziah. Adalah seorang mahasiswa aktif di Universitas
Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka, penulis dengan kelahiran Bogor,
21 Maret 2000, dengan umur 22 tahun, yang akan menjadi calon guru
sekolah dasar dimasa depan. Penulis dapat dihubungi melalui email
[email protected]

Andihini Nur Afifah. Adalah seorang mahasiswa aktif di
Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka, penulis dengan
kelahiran Sleman, 03 Mei 2001, dengan umur 21 tahun, yang akan
menjadi calon guru sekolah dasar dimasa depan. Penulis dapat
dihubungi melalui email [email protected]

Asty Nurul Zahrani. Adalah seorang mahasiswa aktif di
Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka, penulis dengan
kelahiran Tangerang, 15 Juni 1998, dengan umur 24 tahun, yang
akan menjadi calon guru sekolah dasar dimasa depan. Penulis dapat
dihubungi melalui email [email protected]

621

Azzhara Khana Mantika. Adalah seorang mahasiswa aktif di
Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka, penulis dengan
kelahiran Jakarta, 6 Desember 2001, dengan umur 21 tahun,yang
akan menjadi calon guru sekolah dasar dimasa depan. Penulis dapat
dihubungi melalui email [email protected]

Bella Shintia. Adalah seorang mahasiswa aktif di Universitas
Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka, penulis dengan kelahiran Jakarta,
24 November 2000, dengan umur 22 tahun, yang akan menjadi calon
guru sekolah dasar dimasa depan. Penulis dapat dihubungi melalui
email [email protected]

Chairunnisa Maydayanti. Adalah seorang mahasiswa aktif di
Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka, penulis dengan
kelahiran Jakarta, 02 Mei 2001, dengan umur 21 tahun, yang akan
menjadi calon guru sekolah dasar dimasa depan. Penulis dapat
dihubungi melalui email [email protected]

Cholifah. Adalah seorang mahasiswa aktif di Universitas
Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka, penulis dengan kelahiran Depok,
23 Maret 2000, dengan umur 22 tahun, yang akan menjadi calon guru
sekolah dasar dimasa depan. Penulis dapat dihubungi melalui email
[email protected]

622

Dandi Anugrah. Adalah seorang mahasiswa aktif di Universitas
Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka, penulis dengan kelahiran Jakarta,
21 Agustus 2001, dengan umur 21 tahun, yang akan menjadi calon
guru sekolah dasar dimasa depan. Penulis dapat dihubungi melalui
email [email protected]

Dede Zulfa Sania. Adalah seorang mahasiswa aktif di Universitas
Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka, penulis dengan kelahiran
Tasikmalaya, 02 Juni 2000, dengan umur 22 tahun, yang akan
menjadi calon guru sekolah dasar dimasa depan. Penulis dapat
dihubungi melalui email [email protected]

Desti Rohmadiyah. Adalah seorang mahasiswa aktif di Universitas
Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka, penulis dengan kelahiran Bangka,
10 Desember 2000, dengan umur 22 tahun, yang akan menjadi calon
guru sekolah dasar dimasa depan. Penulis dapat dihubungi melalui
email [email protected]

Destia Amelia Suci. Adalah seorang mahasiswa aktif di
Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka, penulis dengan
kelahiran Jakarta, 21 Desember 2000, dengan umur 22 tahun, yang
akan menjadi calon guru sekolah dasar dimasa depan. Penulis dapat
dihubungi melalui email [email protected]

623

Diah Anjani Putri. Adalah seorang mahasiswa aktif di Universitas
Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka, penulis dengan kelahiran Depok,
29 Januari 2001, dengan umur 21 tahun, yang akan menjadi calon
guru sekolah dasar dimasa depan. Penulis dapat dihubungi melalui
email [email protected]

Dwi Rahayu. Adalah seorang mahasiswa aktif di Universitas
Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka, penulis dengan kelahiran Bekasi,
24 Februari 2000, dengan umur 22 tahun, yang akan menjadi calon
guru sekolah dasar dimasa depan. Penulis dapat dihubungi melalui
email [email protected]

Eliza Dwi Cahyanti. Adalah seorang mahasiswa aktif di
Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka, penulis dengan
kelahiran Bekasi, 26 Januari 2000, dengan umur 22 tahun, yang akan
menjadi calon guru sekolah dasar dimasa depan. Penulis dapat
dihubungi melalui email [email protected]

Ervandra Oktarianto. Adalah seorang mahasiswa aktif di
Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka, penulis dengan
kelahiran Bangka,15 Oktober 2001, dengan umur 21 tahun, yang
akan menjadi calon guru sekolah dasar dimasa depan. Penulis dapat
dihubungi melalui email [email protected]

624

Faza Mafta F. Adalah seorang mahasiswa aktif di Universitas
Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka, penulis dengan kelahiran Jakarta,
17 April 2001, dengan umur 21 tahun, yang akan menjadi calon guru
sekolah dasar dimasa depan. Penulis dapat dihubungi melalui email
[email protected]

Febriani Rachman. Adalah seorang mahasiswa aktif di Universitas
Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka, penulis dengan kelahiran Jakarta,
14 Februari 2001, dengan umur 21 tahun, yang akan menjadi calon
guru sekolah dasar dimasa depan. Penulis dapat dihubungi melalui
email [email protected]

Hafny Lutfiana. Adalah seorang mahasiswa aktif di Universitas
Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka, penulis dengan kelahiran Jakarta,
3 Mei 2001, dengan umur 21 tahun, yang akan menjadi calon guru
sekolah dasar dimasa depan. Penulis dapat dihubungi melalui email
[email protected]

Indah Dwi L. Adalah seorang mahasiswa aktif di Universitas
Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka, penulis dengan kelahiran Jakarta,
27 Juni 2001, dengan umur 21 tahun, yang akan menjadi calon guru
sekolah dasar dimasa depan. Penulis dapat dihubungi melalui email
[email protected]

625

Inesha Audia P. Adalah seorang mahasiswa aktif di Universitas
Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka, penulis dengan kelahiran
Sungailiat, 08 Juni 2002, dengan umur 20 tahun, yang akan menjadi
calon guru sekolah dasar dimasa depan. Penulis dapat dihubungi
melalui email [email protected]

Khoiria Triana S. Adalah seorang mahasiswa aktif di Universitas
Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka, penulis dengan kelahiran Jakarta,
01 Agustus 2001, dengan umur 21 tahun, yang akan menjadi calon
guru sekolah dasar dimasa depan. Penulis dapat dihubungi melalui
email [email protected]

Lulita Meisari. Adalah seorang mahasiswa aktif di Universitas
Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka, penulis dengan kelahiran
Tangerang, 17 Mei 2001, dengan umur 21 tahun, yang akan menjadi
calon guru sekolah dasar dimasa depan. Penulis dapat dihubungi
melalui email [email protected]

Maulida Rufaidah Adalah seorang mahasiswa aktif di Universitas
Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka, penulis dengan kelahiran Jakarta,
08 Juni2001, dengan umur 21 tahun, yang akan menjadi calon guru
sekolah dasar dimasa depan. Penulis dapat dihubungi melalui email
[email protected]

626

Miftah Risky A. Adalah seorang mahasiswa aktif di Universitas
Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka, penulis dengan kelahiran Jakarta,
18 Maret 2001, dengan umur 21 tahun, yang akan menjadi calon guru
sekolah dasar dimasa depan. Penulis dapat dihubungi melalui email
[email protected]

Miratun Hasanah N. Adalah seorang mahasiswa aktif di
Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka, penulis dengan
kelahiran Bekasi, 26 Februari 2001, dengan umur 21 tahun, yang
akan menjadi calon guru sekolah dasar dimasa depan. Penulis dapat
dihubungi melalui email [email protected]

Muhammda Daffa R. Adalah seorang mahasiswa aktif di
Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka, penulis dengan
kelahiran Jakarta, 20 September 2001, dengan umur 21 tahun, yang
akan menjadi calon guru sekolah dasar dimasa depan. Penulis dapat
dihubungi melalui email [email protected]

Muhammad Irfan M. Adalah seorang mahasiswa aktif di
Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka, penulis dengan
kelahiran Bekasi, 30 Desember 2000, dengan umur 22 tahun, yang
akan menjadi calon guru sekolah dasar dimasa depan. Penulis dapat
dihubungi melalui email [email protected]

Muhammad Sulistiaji. Adalah seorang mahasiswa aktif di
Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka, penulis dengan
kelahiran Jakarta, 10 Juni 1999, dengan umur 23 tahun, yang akan

627

menjadi calon guru sekolah dasar dimasa depan. Penulis dapat
dihubungi melalui email [email protected]

Nadia Basna. Adalah seorang mahasiswa aktif di Universitas
Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka, penulis dengan kelahiran Jakarta,
17 Februari 2002, dengan umur 20 tahun, yang akan menjadi calon
guru sekolah dasar dimasa depan. Penulis dapat dihubungi melalui
email [email protected]

Nanda Silviana. Adalah seorang mahasiswa aktif di Universitas
Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka, penulis dengan kelahiran Jakarta,
23 Januari 2001, dengan umur 21 tahun, yang akan menjadi calon
guru sekolah dasar dimasa depan. Penulis dapat dihubungi melalui
email [email protected]

Nisrina Nauli. Adalah seorang mahasiswa aktif di Universitas
Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka, penulis dengan kelahiran Jakarta,
15 Februari 2001, dengan umur 21 tahun, yang akan menjadi calon
guru sekolah dasar dimasa depan. Penulis dapat dihubungi melalui
email [email protected]

Nurul Saufa O. Adalah seorang mahasiswa aktif di Universitas
Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka, penulis dengan kelahiran
Tangerang, 28 Oktober 2001, dengan umur 21 tahun, yang akan
menjadi calon guru sekolah dasar dimasa depan. Penulis dapat
dihubungi melalui email [email protected]

628

Puteri Fadhillah A. Adalah seorang mahasiswa aktif di Universitas
Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka, penulis dengan kelahiran Jakarta,
17 Mei 2001, dengan umur 21 tahun, yang akan menjadi calon guru
sekolah dasar dimasa depan. Penulis dapat dihubungi melalui email
[email protected]

Putri Cahya K. Adalah seorang mahasiswa aktif di Universitas
Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka, penulis dengan
kelahiran Grobogan, 29 Desember 2001, dengan umur 21 tahun,
yang akan menjadi calon guru sekolah dasar dimasa depan. Penulis
dapat dihubungi melalui email [email protected]

Putri Dwi W. Adalah seorang mahasiswa aktif di Universitas
Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka, penulis dengan kelahiran Serang,
20 Januari 2001, dengan umur 21 tahun, yang akan menjadi calon
guru sekolah dasar dimasa depan. Penulis dapat dihubungi melalui
email [email protected]

Rafa Thirafi. Adalah seorang mahasiswa aktif di Universitas
Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka, penulis dengan kelahiran
Jakarta,09 September 2000, dengan umur 22 tahun, yang akan
menjadi calon guru sekolah dasar dimasa depan. Penulis dapat
dihubungi melalui email [email protected]

629

Ratu Diana R. Adalah seorang mahasiswa aktif di Universitas
Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka, penulis dengan kelahiran
Jakarta,08 April 2000, dengan umur 22 tahun, yang akan menjadi
calon guru sekolah dasar dimasa depan. Penulis dapat dihubungi
melalui email [email protected]

Rizka Nugrahani. Adalah seorang mahasiswa aktif di Universitas
Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka, penulis dengan kelahiran Jakarta,
11 Agustus 2001, dengan umur 21 tahun, yang akan menjadi calon
guru sekolah dasar dimasa depan. Penulis dapat dihubungi melalui
email [email protected]

Safitri Dwi A. Adalah seorang mahasiswa aktif di Universitas
Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka, penulis dengan kelahiran Bekasi,
04 Januari 2002, dengan umur 20 tahun, yang akan menjadi calon
guru sekolah dasar dimasa depan. Penulis dapat dihubungi melalui
email [email protected]

Salma Racmadhina A. Adalah seorang mahasiswa aktif di
Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka, penulis dengan
kelahiran Bekasi, 23 November 2001, dengan umur 21 tahun, yang
akan menjadi calon guru sekolah dasar dimasa depan. Penulis dapat
dihubungi melalui email [email protected]

630

Sarania. Adalah seorang mahasiswa aktif di Universitas
Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka, penulis dengan kelahiran Depok,
31 Maret 2001, dengan umur 21 tahun, yang akan menjadi calon guru
sekolah dasar dimasa depan. Penulis dapat dihubungi melalui email
[email protected]

Shafa Salsabila N. Adalah seorang mahasiswa aktif di Universitas
Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka, penulis dengan kelahiran Cirebon
07 Agust 2000, dengan umur 22 tahun, yang akan menjadi calon guru
sekolah dasar dimasa depan. Penulis dapat dihubungi melalui email
[email protected]

Siti Mudzalifah. Adalah seorang mahasiswa aktif di Universitas
Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka, penulis dengan kelahiran
Jakarta,26 april 2001, dengan umur 21 tahun, yang akan menjadi
calon guru sekolah dasar dimasa depan. Penulis dapat dihubungi
melalui email [email protected]

Siwi Prihatin U. Adalah seorang mahasiswa aktif di Universitas
Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka, penulis dengan kelahiran Jakarta,
06 September 2000, dengan umur 22 tahun, yang akan menjadi calon
guru sekolah dasar dimasa depan. Penulis dapat dihubungi melalui
email [email protected]

Syafira Ainiyyah. Adalah seorang mahasiswa aktif di Universitas
Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka, penulis dengan kelahiran Jakarta,
12 November 2000, dengan umur 22 tahun, yang akan menjadi calon

631

guru sekolah dasar dimasa depan. Penulis dapat dihubungi melalui
email [email protected]

Tasya Salsabila M. Adalah seorang mahasiswa aktif di Universitas
Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka, penulis dengan kelahiran Bekasi,
03 Januari2001, dengan umur 21 tahun, yang akan menjadi calon
guru sekolah dasar dimasa depan. Penulis dapat dihubungi melalui
email [email protected]

Via Ivania. Adalah seorang mahasiswa aktif di Universitas
Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka, penulis dengan kelahiran Jakarta,
16 Maret 2001, dengan umur 21 tahun, yang akan menjadi calon guru
sekolah dasar dimasa depan. Penulis dapat dihubungi melalui email
[email protected]

Wahyu Karismawati. Adalah seorang mahasiswa aktif di
Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka, penulis dengan
kelahiran WayKanan, 27 Juni 2001, dengan umur 21 tahun, yang
akan menjadi calon guru sekolah dasar dimasa depan. Penulis dapat
dihubungi melalui email [email protected]

632

TERIMAKASIH TELAH MEMBACA KISAH YANG
KAMI TULIS

SALAM HANGAT DARI KAMI :
KELAS 5F PGSD UHAMKA 2022

633

634


Click to View FlipBook Version