The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Kumpulan PUISI (Puisi Akrostik, Puisi Anak, Puisi Haiku Tanka, Puisi Bebas) dan CERPEN (cerita pendek) yang dituliskan oleh seluruh mahasiswa 5F PGSD, Universitas Muhammdiyah Prof Dr. Hamka. Fakultas Keguruan da Ilmu Pendidikan.

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by safitridwia.04, 2022-01-18 23:33:01

SAJAK AKSARA DAN ANTOLOGI CERITA

Kumpulan PUISI (Puisi Akrostik, Puisi Anak, Puisi Haiku Tanka, Puisi Bebas) dan CERPEN (cerita pendek) yang dituliskan oleh seluruh mahasiswa 5F PGSD, Universitas Muhammdiyah Prof Dr. Hamka. Fakultas Keguruan da Ilmu Pendidikan.

Keywords: PUIS,CERPEN

membantu Ibu Omat membuat gemblong. Dan gantian
sekarang aku yang memfoto pada saat ada pembeli yang
datang ke warung Ibu Omat.

“Permisi teh, saya ingin membeli teh celup nya 2”. Bilang
si pembeli kepada Sulis

“Oh iya teh, sebentar” jawab sulis, karna Sulis lupa untuk
menanyakan harga teh nya berapa. Akhirnya Sulis datang
ke dapur untuk nanya harga teh nya.

“Bu ini teh 2 harganya berapa yaa?” Tanya sulis sambil
senyum senyum malu.

“Itu satunya 1.000 neng” jawab Bu Omat

“Oh baik bu terimakasi hehe” jawab sulis langsung
menghampiri pembeli

“Ini teh, harga 1 teh nya 1.000” Bilang Sulis kepada
pembeli itu dan mengasih 2 tehh

“Ini tehh uangnya” jawab si pembeli sambil mengasih
uang

436

“Haturnuhun yaa tehh” jawab sulis menggunakan bahasa
sunda, karena kedengeran sampai dapur. Aku, Intan, dan
juga Nisa tertawa karna dengar sulis ngomomg bahasa
sunda. Hahahahaaha. Semua warga di kampung Sindang
Jaya memang kebanyakan menggunakan bahasa sunda,
jadi aku dan teman – teman juga harus sedikit – sedikit
belajar bahasa sunda supaya ngerti dan nyambung kalau
berbicara dengan orang kampung Sidang Jaya ini. Setelah
gemblong nya jadi. Aku, Intan dan Nisa langsung
mengantar nya ke warung atas, warung yang biasa Ibu
Omat titipkan gemblong itu.

“Bu, kenapa kue gemblong nya tidak dijual di warung Ibu
saja?” Tanya intan

“Kalau dijual di warung Ibu sepi nak, karena warung atas
banyak warga sebelah yang datang kesana untuk membeli.
Dan disana juga ada pangkalan ojek, jadi biasanya ojek –
ojek itu makan kue gemblong Ibu sambil ngopi dan
nunggu ada penumpang.” Jawab Ibu Omat

“Ohh gitu buu, yauda bu aku, intan dan nisa antar ini ke
warung atas dulu ya.”

437

“Iyaa nak hati hati” jawab Ibu Omat sambil mengantar
kita keluar gang rumahnya.

Lumayan si jalan dari rumah Ibu Omat ke warung
depan atas dekat tempat upacara pembukaan Homestay
kemarin. Di perjalanan menuju warung atas banyak
teman–teman angkatan ku yang sedang membantu orang
tua angkat mereka melakukan pekerjaannya. Ada yang
menanam padi di sawah, menanam sayuran, ada juga yang
nyapu rumah mereka dan banyak sekali. Melihatnya aku
ikut senang, dan pastinya ini pengalaman yang gak pernah
dilupakan sama teman–teman semua. Dan sesampainya
di warung atas. Aku, intan dan Nisa memberikan kue
gemblong nya kepada Ibu pemilik warung atas itu.

“Ibu ini kue gemblong nya Ibu Omat” Ujar aku. “Oh iyaa
neng, nih udah ada yang nanyain tadi mau beli” Jawab Ibu
warung atas “Jangan lupa nanti seperti biasa sore di ambil
tempat nya yaa neng.” “Iyaa bu baik, terimakasih yaa bu
kami pamit.” Jawab Nisa “Iyaa iyaa hati – hati yaa neng.”
Jawab Ibu warung atas

438

Tidak terasa sudah satu minggu aku dan teman –
teman ku berada di Kampung Sidang Jaya. Di situ kami
belajar bahwa mencari sesuap nasi tidaklah mudah seperti
membalikan halaman pada buku. Hari terakhir, setelah
kemarin belajar berdagang,sekarang kami mempelajari
sejarah dan macam – macam flora yang ada di Kebun
Raya Cibodas. Tidak kalah menariknya, karena sambil
belajar kami dapat berfoto – foto dan tadabur alam.
Dengan tadabur alam, semakin meningkatkan rasa syukur
atas nikmat dan anugrah Allah melalui keindahan akam
disana, semakin kenal dengan keindahan alam disana,
semakin enggan pula kami meninggalkan tempat ini.
Selepas sholat dzuhur kami berpamitan dengan orang
angkat kita. Masing–masing dari kami mendapatkan oleh-
oleh berupa sayuran dan buah–buahan. “Ibu terima kasih
udah ngajarin kita buat kue gemblong dan banyak banget
ilmu yang kita dapat dari ibu.” Ujar kami saat ingin
pulang. “sama–sama nak, semoga bermanfaat buat kalian,
semoga kalian nanti lancar ujiannya dan lulus semua.”
Jawab Ibu Omat. “Aamiin bu, pasti kita bakalan kangen
banget sama ibu dan anak – anak ibu, dan keseharian di
rumah ibu. Semoga di lain waktu kita bisa bertemu lagi

439

yaa bu. Dan semoga jualan Ibu setiap hari nya selalu laku
dan ramai terus.” Jawab ku sambil meneteskan air mata.
Setelah berpamitan dengan orang tua angkat kita dan
warga Kampung Sindang Jaya lainnya, kita langsung
upacara penutupan Homestay dan sekalian
berterimakasih banyak kepada warga setempat karena
sudah mamberi ilmu yang bermanfaat untuk anak – anak
MTsN Pamulang. Ingin rasanya kami berlama di
Kampung Sindang Jaya ini tetapi tugas kami sebagai
pelajar masih banyak. Selamat tinggal Kampung Sindang
Jaya, insyaallah kita bertemu lagi! kami pasti merindukan
kalian.

440

MENGATUR WAKTU

Oleh: Maulida Rufaidah

"Kring ... Kring ... Kring"
Terdengar suara bel yang bertanda masuk ke

kelas, para siswa berlari untuk masuk ke kelas tetapi
terdapat salah satu siswa yang sudah terbiasa terlambat
dan siswa itu bernama "Rizki Dwi Ramadhan" yang saat ini
kelas 3 Sekolah Dasar (SD).
"Rizki, kenapa kamu sering terlambat?" bentak bu Zainab
guru kelasnya yang dikenal galak
"Maaf bu saya kesiangan" ucap Rizki meminta maaf
kepada bu Zainab

Bu Zainab langsung memberikan hukuman
berlari keliling lapangan sebanyak 5 kali kepada Rizki. Bu
Zainab sudah sering memberikan hukuman seperti itu
tetapi Rizki tidak pernah berubah, sebenarnya bu Zainab
ingin memberitahukan Rizki kepada kepala sekolah yang
sering terlambat tetapi bu Zainab ingin mengetahui
penyebab Rizki yang sering terlambat.

Rizki tidak mempunyai teman disekolah karena
sering usil kepada teman-temannya, jika diluar sekolah

441

Rizki mempunyai banyak teman tepatnya teman anak
jalanan. Pertama kali Rizki berteman dengan anak jalanan
karena ia sering melewati lampu merah dan suatu ketika
tidak sengaja melihat salah satu anak jalanan yang dipalak
(ingin meminta uang) oleh kakak berseragam sekolah
dengan celana abu-abu (kakak SMA) langsung segera
Rizki menolongnya dengan memukul kayu. Kemudian
Rizki berteman dengan salah satu anak jalanan tersebut
yang bernama Adi dan Adi langsung berterimakasih
kepada Rizki karena telah menolongnya, Adi membawa
Rizki ikut bersamanya untuk memperkenalkan anak
jalanan yang lainnya.

Ketika Rizki usai menjalani hukumannya langsung
balik ke kelas dan betapa terkejutnya ia melihat
dibangkunya terdapat orang lain. Tanpa permisi kepada
guru ia langsung ke tempat duduknya dan mengusir orang
yg menempati duduknya.
"Kamu minggir ini tempat dudukku" ucap Rizki dengan
sedikit bentakan
"Maaf aku gatau kalau ini tempat dudukmu, oh ya
perkenalkan nama aku Sultan Prasetyo untuk nama
panggilanku Tyo dan aku pindahan dari Yogyakarta" ucap

442

Tyo yang mengangkat tangannya untuk bersalaman
dengan Rizki
"Namaku Rizki" sambil menjabat tangan Tyo dengan
muka angkuh dan Rizki langsung merebahkan kepalanya
dimeja untuk segera tidur karena lelah usai dihukum lari
lapangan, Tyo tidak seperti yang lainnya untuk
membangunkan karena Tyo mengerti betapa lelahnya
saat lari.

Sultan Tyo adalah siswa pindahan Yogyakarta
mesti pindah ke Jakarta akibat orang tua yang bekerja
sebagai seorang bisnis dan Tyo masih SD membutuhkan
perhatian orang tuanya. Orang tua Tyo sangat sibuk tetapi
berusaha meluangkan waktunya untuk tetap bisa bersama
seperti mengajak Tyo bermain Timezone, mengajak
bermain ke taman, dan sebagainya meski hanya sebentar
Tyo tetap bahagia orang tuanya masih ingin meluangkan
waktunya.
"Kring ... Kring ... Kring"

Saat pelajaran pertama selesai bel istirahat
berbunyi, Tyo segera membangunkan Rizki dari tidurnya
dan Rizki terbangun dengan wajah yang bingung tidak

443

biasanya terbangun bel istirahat biasanya baru meram
sudah dibangunkan temannya.
“Kenapa kamu tidak membangunkanku? Ucap Rizki
kepada Tyo
“Iya aku melihat kamu lelah setelah berlari keliling
lapangan, memangnya ada yang aneh ya?” ucap Rizki
sambal mengkerutkan alisnya
“Tidak, Ayo ke kantin” Rizki mengajak Tyo ke kantin
tepatnya ke tukang bakso yang menjadi langganannya yang
padahal masih ada jajanan lainnya di kantin.

Kantin di SD Ceria beraneka ragam jajanan mulai
dari warung jajanan, mainan, ceria mart, tukang somay,
tukang bakso, tukang soto, dan lainnya sudah tidak
diragukan rasanya pasti sangat enak apalagi dibayarin.
“Pak deh bakso 2 yang satu biasa enggak pakai mie
kuning, kamu Tyo?” tanya Rizki kepada Tyo
“Aku pakai mie kuning” jawab Tyo
“Tumben Ki kamu pesan 2” tanya pak deh bakso kepada
Rizki yang terheran dengan biasanya hanya pesan satu saja
“Iya pak deh, anak baru” jawab Rizki

Tidak lama kemudian pesanan datang dan Rizki
teringat akan pulang sekolah akan bertemu Adi ditempat

444

biasa bertemu, ia berpikir untuk mengajak Tyo bertemu
Adi.
“Yo, mau tidak kamu aku ajak bertemu dan main dengan
temanku yang namanya Adi?” ucap Rizki mengajak Tyo
“ya boleh, aku ijin mamaku dulu ya” ucap Tyo yang
langsung segera mengabari mamanya melalui whastApp,
Tyo membawa handphone hanya untuk berkabaran
dengan kedua orang tuanya.

WhatsApp adalah aplikasi yang bisa memberikan
pesan, telpon, videocall (telpon dengan layer video dan
mampu menangkap video atau gambar). Aplikasi ini
sudah banyak digunakan banyak orang bahkan kurang
lebih sudah mendunia.

Percakapan Tyo dengan mamanya
Tyo : mah aku ijin mau main bersama temanku
Mama : iya boleh hati – hati, apa perlu ditemani pak Asep
(Supir sekaligus teman bermainnya saat dirumah)?
Tyo : ya mah nanti ditemani pak Asep karena aku takut
nyasar
Mama : baiklah, kamu jangan lupa bilang pak Asepnya”
Tyo : iya ma

445

Setelah Tyo berkabar ke mamahnya langsung
memberitahu Rizki bahwa ia sudah diperbolehkan dan
makan bakso telah selesai segera kembali ke kelas serta
tidak lama kemudian sekolah berakhir. Saat diperjalanan
menuju bertemu Adi, Tyo bertanya – tanya mengenai
Rizki yang sering terlambat dan tidak mempunyai teman.
“Rizki, apa aku boleh tau kenapa kamu sering terlambat
dan kamu tidak mempunyai teman?” tanya Tyo yang
takut Rizki tidak mau menjawabnya
“Aku salah sering terlambat karena sebelum berangkat
sekolah tidak tega dengan tidak membantu ibu membuat
kue dan aku tidak mempunyai teman karena aku marah
saat dibangunkan oleh teman kelas saat pelajaran” jawab
Rizki yang tidak sadar bahwa ia berani bercerita
“Kue? Hebat kamu Ki, tapi kamu harus bisa membagi
waktumu” Tyo menyarankan Rizki agar bisa membagi
waktunya
“Bagaiman bisa Yo?” tanya kembali Rizki
“Caranya dengan kamu set alarm misalkan kamu bangun
pukul 04.30 pagi untuk membantu ibu, pukul 06.30 siap
– siap ke sekolah, pukul 06.00 berangkat sekolah, pukul
08.00 malam mengerjakan tugas dan pukul 09.00

446

istirahat, bagaimana menurutmu?” saran Tyo kepada
Rizki
“Tapi Yo aku tidak mempunyai jam weker dan
handphone untuk menset alarm” ujar Rizki dengan
bingung untuk melakukannya agar tidak terlambat ke
sekolah, jika membeli alarm tidak cukup uang
membelinya
“Aku belikan saja, kamu mau?” Tanya Tyo yang ingin
membelikannya
“Tidak usah Tyo, aku akan berusaha untuk membeli jam
weker” jawab Rizki yang tidak ingin merepotkan Tyo
“Bagaimana caranya Ki?” tanya Tyo yang terheran dengan
Rizki yang biasanya orang – orang menginginkan
dibelikan
“Rencananya aku mau minta ibuku untuk membuat kue
lebihan untuk aku jualan di lampu merah tempat Adi
ngamen, bagaimana?” tanya Rizki rencananya kepada Tyo
“Boleh juga, tapi ingat ya kamu jangan sampai kesiangan
dan jika tidak abis akan aku beli kan lumayan untuk
dibagikan karyawan orang tuaku” ucap Tyo yang antusias
ingin membantu Rizki

447

Keesokan harinya, Rizki mencoba mengatur
waktu dari mulai tidur lebih awal, bangun pagi mulai
pukul 04.30, pukul 05.00 mulai jualan dilampu merah,
dan ketika matahari telihat Rizki segera bersiap ke
sekolah karena Rizki tidak mempunyai jam tangan jadi ia
harus menggunakan matahari sebagai tandanya. Saat Rizki
berjualan tidak sengaja bertemu bu Zainab dan bahkan bu
Zainab membeli dagangannya.
“Rizki kamu jualan kue? Apa selama ini kamu terlambat
karena kamu berjualan?” tanya bu Zainab yang terheran
dengan Rizki yang membawa sekotak kue
“Iya bu saya jualan kue, bukan alasan saya yang terlambat
karena berjualan bu tetapi karena saya yang tidak bisa
mengatur waktu membantu ibu membuat kue dan saya
berjualan karena ingin membeli jam weker dari hasil saya
sendiri bu” ujar Rizki yang ketakutan akan dimarahi bu
Zainab
“Luar biasa kamu Rizki, kalau begitu ibu beli sisa
daganganmu” ucap bu Zainab yang merasa sangat antusias
untuk membeli dan bu Zainab mengetahui penyebab
Rizki yang sering terlambat serta sangat bangga Rizki ingin

448

berubah untuk menjadi yang lebih baik dalam mengatur
waktu.

Setelah berdagang Rizki bergegas ke sekolah dan
sesampainya dikelas Rizki terharu akan ucapan bu Zainab
yang bercerita mengenainya. Rizki senang mempunyai
teman yang menyadarkan akan pentingnya mengatur
waktu dan bu Zainab yang dikatakan galak tetapi Rizki
mulai menyukainya karena bu Zainab guru yang sangat
baik hati. Setelah bu Zainab menceritakannya Rizki
mengucapkan terimakasih kepada bu Zainab serta Tyo
“Assalamualaikum teman – teman saya ingin
mengucapkan terimakasih kepada bu Zainab yang telah
menceritakan tentang saya, terimakasih kepada Tyo akan
masukan sarannya, serta terimakasih kepada teman –
teman telah mencicipi makanan kue buatan ibu saya yang
Insya Allah rasanya dijamin enak dan tidak bikin sakit
perut, sekian dari saya Wassalamualaikum” ucap Rizki
yang mengucapkan sambal mengusap air mata sedikit
mengalir diwajahnya.

Setelah kejadian tersebut Rizki langsung membeli
jam weker serta bahagia dapat mengatur waktu dengan
baik, tidak terlambat ke sekolah, mempunyai banyak

449

teman, dan dagangan yang semakin laris dibeli teman –
teman, guru, bahkan oleh orang tua Tyo yang ingin
mengembangkan usaha Rizki.

450

PERGI KE TAMAN WIADATIKA

Oleh: Miftah Rizky Amalia

Di suatu hari aku pergi ke Taman Wiladatika
bersama sahabatku yang bernama Devi. Sebelumnya kami
belum ada yang pernah kesana dan letaknya sangat jauh
dari tempat tinggal kami. Memilih untuk ke Taman itu
atas rekomendasi dari internet dan bermodal membaca
maps saja. Ya sedikit ketakutan nyasar tapi bismillah
ajahlah hehehe… yang penting bisa jalan-jalan. Karena
Taman Wiladatika itu sangat jauh dari tempat tinggal
kami untuk itu kami memutuskan untuk berangkat pagi
sekitar jam 8 dan mempersiapkan bekal makanan.

Kami naik Transjakarta (Busway) dari Halte Slipi
Kemanggisan sampai Halte Busway Kampung Rambutan.
Selama di perjalanan kami hanya diam-diaman tetapi
dengan hati senang dan menikmati perjalanan, ya
namanya juga di kendaraan umum kami tidak boleh
berisik Sesampainya di halte busway Kampung Rambutan
lanjut perjalanan dengan angkot mobil, karena tidak tau
untuk itu bertanya kepada bapak penjual minuman

451

“Permisi pak kalo mau ke Taman Wiladatika naik angkot
yang mana ya Pak?”. Bapak itu menjawab “Naik angkot
itu neng yang berwarna hijau kebiruan yang kearah
Cibubur”. Kami menaiki angkot tersebut yang sudah
diberikan informasi arahan dari bapaknya. Karena
angkotnya tidak turun di depan taman tersebut akhirnya
kita turun di tengah jalan dan pak supirnya bilang “Turun
disini ajah ya neng lebih dekat ke Taman Wiladatikanya,
tinggal jalan dikit ajah neng nyebrang”. Karena kami tidak
tau dan baca di Maps ternyata lumayan jauh kalo harus
jalan kaki, kami memutuskan untuk pesan mobil online
yang langsung ke tujuan Taman Wiladatika.

Akhirnya sampai juga di depan gerbang Taman
Wiladitika, tiket masuknya murah sekali hanya Rp. 5.000
per orang saja. Karena perjalanan memakan waktu yang
sangat lama kami sampai di Taman tersebut di jam 11
siang. Kami istirahat sebentar duduk di bangku Taman
dan minum. Setelah beristrihat Aku dan sahabatku siap
mengelilingi taman tersebut. Taman Wiladitka sangat
indah sekali saya teringat seperti berada di lokasi syuting
sinetron-sinetron yang ada di televisi. Taman yang asri,

452

hijau, banyak pepohonan dan di tengahnya terdapat air
mancur.

Kami tidak lupa untuk mengabadikan moment-
moment kebahagiaan ini, kami foto-foto di berbagai
tempat di Taman tersebut. Di pinggiran air mancur, di
goa, di bangku taman, di bunga-bunga yang sangat Indah,
di pohon dan banyak lainnya spot foto yang bagus.
Setelah menikmati jalan-jalan di Taman Wiladatika
tersebut kami mencari tempat untuk kami makan, karena
bawa bekal makanan jadi kami memutuskan untuk
makan di saung dibawah pohon. Udaranya sangat sejuk
dan mensatap makanan yang kami bawa, waah…. Rasanya
enak sekali. Setelah selesai makan kami mencari tempat
ibadah yang terdekat dari taman tersebut untuk
menjalankan kewajiban kami. Pergi dengan sahabat
adalah hal yang menyenangkan. Apalagi jarang main
karena kesibukannya masing-masing. Alhamdulillah pergi
ke Taman Wiladatika inilah yang mempererat
persahabatan kami.

Setelah selesai semuanya kami pulang dan seperti
berangkat kami pulang naik angkot dulu turun di halte

453

kampung rambutan, kemudian naik busway kembali
sampai ke halte slipi kemanggisan dan pulang kerumah
masing-masing. Selama di perjalanan aku tidak mengingat
apa-apa mungkin karena kelelahan ya aku tidur di
busway. Bangun-bangun sudah dekat di halte yang kami
turun. Alhamdulillah untung saja tidak kebablasan, kami
sampai rumah dengan selamat dan langsung
membersikan diri kami karena habis dari luar.

454

SEKOLAH BARU

Oleh: Miratun Hasanah Nuryasri

Pagi hari yang cerah ditemani suara ayam berkokok, tentu
membuat beberapa orang terbangun dari tidurnya. Akan
tetapi, lain halnya dengan seorang gadis manis yang masih
tertidur pulas. Siapa lagi kalau bukan Lia Anastasia.
Sebenarnya, Lia tidak lupa bahwa hari ini adalah hari
pertama ia melaksanakan kegiatan MPLS di sekolah
barunya atau yang biasa dikenal dengan MOS. Mungkin
saja Lia capek, karena kemarin dirinya habis membeli
barang-barang bawaan untuk MPLS nanti yang bisa
dibilang cukup banyak.

Suara langkah kaki terdengar melangkah ke arah kamar
seorang gadis yang masih tertidur pulas. Ternyata suara
langkah kaki itu merupakan langkah kaki dari Ibu Lia.
Dengan segera sang ibu membangunkan seorang anaknya
untuk segera berangkat ke sekolah barunya.

“Lia bangun, kamu tidak ikut MPLS hari ini?”, Ucap Ibu
Lia yang baru saja memasuki kamar anaknya.

455

“Enghh, iya bu. Ini Lia mau siap-siap dulu.” Jawab Lia
dengan mata yang masih terpejam.
“Nanti kalo udah siap langsung ke bawah ya, sarapan dulu
sebelum berangkat.” Ucap ibu Lia saat melangkah keluar
dari kamar anak gadisnya.

Setelah sang ibu keluar dari kamar, Lia pun langsung
bergegas ke kamar mandi. Jam sudah menunjukkan
pukul enam lewat lima belas menit, yang artinya masih
sekitar satu jam lagi untuk dirinya bersiap - siap.
“Hmm masih jam segini ternyata, aku ke bawah dulu deh
sarapan, habis itu baru berangkat”, Ucap Lia yang sudah
rapih.

Sedangkan di meja makan, sudah ada kedua orangtua Lia
yang nampaknya menunggu Lia agar sarapan bersama.
Sebenernya Lia itu punya kakak dan adik, tapi mereka
sepertinya belum bangun. Alhasil hanya ada dirinya dan
kedua orangtuanya di ruang makan ini.

456

“Ayah, hari ini ayah yang anter aku ke sekolah kan?”
Tanya Lia disela-sela makannya.
“Iya Lia” Jawab ayah Lia.

Tidak butuh waktu lama bagi Lia untuk menyelesaikan
sarapannya. Karena, dirinya kalau makan tidak begitu
banyak porsinya, jadi bisa cepat habis. Lia pun segera
minum, dan menyusul ayahnya yang sudah menunggunya
di depan rumah.

Perjalanan dari rumah Lia ke sekolahnya lumayan lama,
kurang lebih sekitar 30 menit. Lia ini tipikal anak yang tak
pernah terlambat kalau ke sekolah dari dulu. Dia juga
merupakan salah satu siswi berprestasi di sekolahnya loh.
Entah karena nilai UN yang tidak mencukupi, Lia tidak
bisa masuk ke sekolah yang dia inginkan. Tapi Lia tidak
mempermasalahkan hal itu, yang terpenting adalah dia
masih bisa sekolah di negeri.

457

Tak terasa ternyata Lia sudah sampai di sekolah barunya,
ia pun langsung pamitan dengan ayahnya. Waktu sudah
menunjukkan pukul tujuh, yang artinya masih ada waktu
15 menit lagi sebelum gerbang di tutup.

Lapangan sudah dipenuhi oleh siswa - siswi baru. Lia yang
melihat itu pun segera ke lapangan dan masuk ke dalam
barisan. Saat ini Lia hanya bisa diam memperhatikan
kakak kelas yang sedang menjelaskan di depan. Salah satu
alasannya dirinya diam juga karena dirinya belum
mengenal anak-anak baru di sekolahnya. Setelah
dibagikan kelompok MPLS, akhirnya Lia pun bertemu
dengan teman lamanya. Dia bernama Kayla Larasati,
biasa dipanggil Kayla.

“Eh kamu Kay, aku nyangka ternyata kamu daftar disini
juga ya” Ucap Lia terlihat senang karena akhirnya ada juga
yang dia kenal disini.

“Iya Li, aku juga kaget setelah sekian lama akhirnya kita
ketemu disini.” Jawab Kayla dengan semangat.

458

Sebenernya Lia itu orangnya gampang kenal sama orang
baru, tapi entah kenapa disini dia merasa belum nyaman.
Alhamdulillahnya ada Kayla, jadi dirinya tidak perlu
kenalan dengan orang baru.

“Oiya Kay, ntar kamu duduknya bareng sama aku ya.
Soalnya aku belum kenal siapa - siapa disini.” Ucap Lia
kepada Kayla.

“Iya Li, santai aja sama aku mah kayak sama siapa aja”,
Ucap Kayla

“Ya ga gitu juga Kay, kan aku khawatirnya kamu udah
sama yang lain gitu.” Ucap Lia

“Iya sih, tadinya aku mau duduk sama temen SMP-ku
dulu. Tapi karena kamu mau duduk bareng aku, ya
jadinya temen aku aja deh yang duduk di belakang kita”,
Jelas Kayla kepada Lia.

Hari demi hari telah berlalu. Hari ini adalah hari terakhir
Lia mengikuti MPLS. Di hari terakhir ini, Lia sudah
mengenal beberapa orang di kelompoknya. Beberapa
teman barunya bernama Yasmin dan Zahra. Awal kenal

459

Yasmin, karena dari awal MPLS Yasmin ini jarang banget
ke kantin. Akhirnya dari situ, Lia mengajak Yasmin untuk
ke kantin bersama.

Waktu sudah menunjukkan pukul dua siang, itu artinya
sebentar lagi kegiatan MPLS akan berakhir tepat jam tiga
sore nanti.
“Lia, ntar kamu pulang sama siapa?”, Tanya Yasmin tepat
di samping Lia berdiri.

“Aku pulang sama ayahku”, Jawab Lia yang sedang fokus
memperhatikan seorang lelaki yang baru ia lihat di hari
terakhir ini.

Keeseokan harinya, Lia kembali menginjakkan kaki ke
sekolah barunya. Hari ini adalah hari terakhir kegiatan
MPLS. Hari yang ditunggu-tunggu oleh semua murid
karena telah berhasil melewati kegiatan MPLS-nya. Sama
halnya dengan Lia yang tampak senang berada di
sekolahnya baru, meskipun sekolah ini bukan sekolah
impiannya.

460

PRIA DAN ULAR BERBISA

Oleh: Muhammad Daffa Rizyanto

Bertahun-tahun yang lalu, ada sebuah desa kecil dan
miskin di tepi sungai yang indah. Semua warga desa
bertani di lahan milik orang lain. Di antara mereka ada
seorang pria yang lebih kaya dari yang lain. Dia memiliki
lebih banyak tanah daripada yang lain. Dia memiliki istri
yang baik hati dan tiga putra yang sayang kepadanya. Tapi
pria tersebut selalu khawatir kepada anak bungsu nya,
yang kebetulan dia lebih nakal dari saudara saudaranya.
Anak nakal tersebut berkeliaran di ladang, mendaki
gunung, tanpa mengenal rasa lelah sekalipun.

Suatu ketika, kesialan menimpa dirinya, anak nakal
tersebut secara tidak sengaja menginjak seekor ular. Lalu
ular itu mendesis, dan menggigit kaki anak yang malang
tersebut. Bocah itu berlari ke orang tuanya. Dengan
menangis kesakitan. Tetapi anggota keluarganya yang
tidak berdaya untuk menyelamatkan anak malang
tersebut, karena racun itu akan membunuhnya dalam

461

beberapa menit. Namun, anak itu memberi tahu ayahnya
tentang keberadaan ular itu dan bagaimana dia digigit
sebelum dia menghembuskan nafas terakhirnya.

Sang ayah yang murka mengeluarkan kapaknya dan
memburu ular tersebut, yang kebetulan tinggal di sebuah
lubang kecil di samping sebuah pohon. Berkali-kali
kapaknya mengenai ular yang entah bagaimana berhasil
lolos dari setiap pukulan sampai satu pukulan kuat
memotong sebagian ekornya. Berdarah dan menangis
karena kesakitan, ular itu merayap dengan susah payah
dan menuju ke salah satu lubang di antara akar pohon
besar itu.

"Pertama dia menginjak-injak ekor saya. Lalu kamu
memotongnya?" gumam ular itu dengan menyakitkan. Ia
bersumpah akan membalas dendam pada pria itu.

Setelah itu, ular tersebut mulai menimbulkan kerugian
bagi petani. Lalu kawanan ular tersebut mulai menggigit
beberapa hewan ternak milik Petani yang membuat
kerugian besar.

462

"Aku sudah kehilangan anak saya, sekarang aku harus
melihat ternak aku mati. Yang terbaik adalah berdamai
dengan ular sebelum dia menyakitiku atau anggota
keluargaku." pikir pria itu.
Dengan tujuan tersebut, petani itu pergi ke sarang ular
dengan makanan dan madu dan menawarinya makanan
sambil berkata, "Kau tahu, kita harus membiarkan masa
lalu menjadi masa lalu. Tidak ada permusuhan di antara
kita seperti itu. Jadi mengapa kita tidak melupakan dan
memaafkan satu sama lain dan menjadi teman?"
"Tidak mungkin !!" Jawab ular, "Ambil hadiahmu. Kamu
juga tidak bisa memaafkanku atas kematian putramu, aku
juga tidak bisa melupakan atas kehilangan ekorku." Kata
ular kepada pria tersebut.

463

BERSYUKUR ATAS NIKMAT YANG
DIBERIKAN

Oleh: Muhammad Irfan Maulana

Minggu adalah hari libur yang ditunggu kaum rebahan,
malas beraktivitas. Ada yang hanya ingin rebahan di
rumah menghilangkan penat selama satu minggu
beraktivitas dan ada pula yang berencana akan berlibur.
Banu memilih opsi pertama, Banu memilih bersantai
rebahan di rumah, dan parahnya Banu akan selalu merasa
kurang dengan liburnya.
“Banu bangun sudah siang, nanti kamu terlambat.” Tanya
ibunya.

“Bu Banu masih capek, banu bolos sehari ya.” Banu
memelas pada ibunya.

“Jangan begitu, bayaran sekolahmu mahal jangan
menyepelekan menuntut ilmu” Jawab ibunya
menyanggah.

“Sehari saja bu, Banu tidur lagi.”

464

Melihat kelakuan Banu Ibunya geram, hingga ibunya
mengajak Banu melihat anak keterbelakangan di suatu
panti asuhan.
“Nah sekarang coba kamu buka mata kamu, mereka ingin
sekolah sepertimu, namun tidak ada orang tua yang akan
membiayai mereka bersekolah” Jelas ibunya, mereka
masih di dalam mobil.
Dengan kejadian itu Banu tersadar dan mau berangkat
sekolah walau terlambat. Di perjalanan menuju sekolah
Banu melihat seorang anak yang pincang berseragam
sekolah sama dengannya, dalam hati Banu berkata, aku
bersyukur masih punya fisik yang sempurna untuk bisa
menuntut ilmu

465

ARI YANG LUPA WAKTU

Oleh: Muhammad Sulistiaji

Hari menunjukkan pukul 11.00 dan hari semakin
siang, itu berarti pembelajaran jarak jauh yang diadakan
dari sekolah Ari sudah selesai. Ari kini duduk dibangku
kelas 6 SD dimana Ari sebentar lagi akan memasuki
jenjang Pendidikan yang lebih tinggi yaitu Sekolah
Menengah Pertama atau biasa kita sebut dengan SMP. Ari
juga sedang mengikuti program bimbingan tambahan
belajar guna memantapkan materi yang Ia pelajari
disekolah. Kelak Ujian Sekolah nanti diharapkan Ari bisa
mendapatkan nilai yang diharapkan. Ari sebenarnya hari
ini ada tugas rumah yang harus ia kerjakan, tapi Ari ingin
mengerjakan tugas tersebut nanti malam saja. Ari
kemudian beranjak mematikan laptopnya kemudian pergi
kedapur untuk memakan camilan yang disediakan oleh
Ibunya. Disitu terdapat catatan yang berisi “Ari, ibu hari
ini ada sedikit pekerjaan Tante Lita meminta Ibu men-
design gaun pengantin anaknya, Dita. Ketika kelasmu
sudah selesai dan sudah selesai memakan camilan ini
tolong bantu ibu mengambil laundry ya? Terimakasih -

466

dari Ibu” tulis Ibu. “wah ternyata hari ini Ibu tidak ada ya”
gumam Ari sembari memakan cemilannya. Ibu Ari
sebenarnya bekerja sebagai seorang designer, Beliau juga
mempunyai butik sendiri. Meskipun berporfesi sebagai
Wanita karier, Ibu Ari tidak meninggalkan tanggung
jawabnya sebagai Istri sekaligus Ibu. Beliau tetap
melaksanakan tanggung jawabnya sebagai ibu rumah
tangga dan mengurus anak. Meskipun sibuk, sesekali Ibu
Ari akan pulang untuk melihat situasi dirumah. Apalagi
mengingat Ari anak Tunggal dikeluarga ini. Sedangkan
Ayah Ari bekerja sebagai guru mata pelajaran Fisika di
salah satu SMA Negeri yang tak jauh dari rumah Ari. Tak
heran jika dari usia dini Ari sudah mengetahui peristiwa
sederhana yang dijelaskan secara fisika oleh Ayahnya.
Setelah menghabiskan camilan, Ari bukannya langsung
melakukan permintaan tolong dari Ibunya, Ia malah
bergegas membuka laptopnya, Ari baru ingat kalua hari
ini dia sudah berjanji dengan teman sekelasnya, Bimo
untuk bermain game online bersama. Ari sangat senang
bermain game online, terlebih lagi hari ini Ayah dan
Ibunya sedang tidak dirumah, Ari semakin tidak ingat
waktu.

467

Waktu pun terus berjalan, tidak terasa waktu
sudah menunjukkan pukul 17.30 Ari sudah selesai
bermain dengan Bimo 30 menit yang lalu, ia pun
mematikan laptopnya. Dan bergegas menuju dapur untuk
memakan sesuatu karena serunya bermain sampai lupa
untuk makan siang, jangankan makan siang, Dzuhur saja
terlewat!. “Ngambil laundrynya nanti aja deh sehabis
maghrib, sekarang aku mau nonton anime kesukaan ku
dulu” Ari pun beranjak pergi ke kamarnya dan Kembali
melanjutkan hal yang ia sukainya, menonton anime.
Anime sendiri adalah kartun 2 dimensi yang Digambar
menggunakan tangan ataupun computer, anime sendiri
berasal dari Jepang. Tak lama HP Ari pun berbunyi,
muncul notif kalua itu panggilan dari Ibunya. Karena
sedang seru, Ari pun menolak panggilan Ibunya. Notif
telfon dari Ibu Kembali muncul sampai enam kali,
namun tetap Ari tolak karena Ari masih seru menonton
anime yang ia sukai! Kini waktu sudah menunjukkan
pukul 18.30 dimana adzan maghrib sudah berkumandang
kurang lebih 15 menit yang lalu. Ari benar-benar
melewatkan tiga panggilan Shalat demi sebuah
kesenangan sementara! Ari pun masih berkeinginan

468

untuk melanjutkan satu episode anime kesukaannya!
“satu episode lagideh, lagi seru nih!” seru Ari. saking
serunya menonton anime, sampai adzan isya pun Ari
masih menonton Anime kesukaannya. Ayah Ari biasanya
sehabis ashar sudah pulang, akan tetapi sampai habis isya
kedatangan Ayah Ari tidak kunjung pulang!

Hingga tak lama, Ari disadarkan oleh suara motor
milik ayahnya itu berarti Ayah dan Ibunya sudah didepan
rumah. Ari Pun sangat panik, ia bergegas membersihkan
hal yang perlu dibersihkan seperti cucian piringnya setelah
makan. “yaampun! Aku lupa belum mengambil laundry.
Aduh bagaimana ini?!” waktu sudah menunjukkan pukul
21.00 itu berarti laundry sudah tutup! Ayah dan Ibunya
setelah mencuci tangan sebelum masuk kerumah pun
langsung bergegas masuk kerumah Ari pun mencium
kedua tangan orang tuanya seperti biasa. “yaampun Ayah
Kenapa?” tanya Ari terkejut dengan keadaan kaki kanan
ayahnya yang bengkak “Ayah jatuh dari motor, Ri. Karena
menghindari kucing yang hamper saja tertabrak oleh
Ayah“ jelas Ayah, kini Ayah pun duduk di sofa.
“bagaimana pelajaran hari ini Ari? tanya ayah “biasa saja

469

Yah, Cuma hari ini Pak Dito memberikan penjelasan
pembelajaran Fisika namun Ari belum terlalu paham
konsepnya Yah” jawab Ari “oke nanti kita belajar bareng
yaa!” jawab Ayah “Baik Yah” “Ari, sudah mengambil
laundry nak?” tanya ibu “ibu.. maaf Ari lupa” “ya ampun
nak.. besok giliran kamu pembelajaran tatap muka dan
seragamnya ada dilaundryan itu” ucap ibu. Ari pun takut
karena salah. “kamu tadi kenapa telfon ibu tidak
diangkat? Ibu sengaja menelfon untuk mengingatkan, dan
memberitahu kalau Ayah dan Ibu akan pulang telat.
Karena Ayah sedang jatuh dari motor! malah kamu tolak”
jelas ibu dengan nada marah “iya Ibu maaf” “Ari, kamu
ngapain aja seharian ini? Sudah shalat? Lihat Sejadah dan
sarung itu tidak berubah sejak ibu berangkat bekerja.”
“ibu sudah, kita diskusikan besok saja” ucap Ayah. “tidak
Ayah, Ibu harus tau Ari seharian tadi ngapain aja, sampai-
sampai enam panggilan telefon Ibu dia tolak” marah
Ibu. Ari pun menceritakan kegiatan yang Ari lakukan
hari ini “Astagfirullah Ari.. mulai besok wifi rumah akan
ibu atur dijam-jam tertentu saja. Kamu sangat keterlaluan
sampai-sampai lupa dengan shalat. Besok berangkat
sekolah Ari pakai-pakaian seperti mau pergi saja.

470

Seragamnya kan nggak kamu ambil” jelas Ibu “iya Ibu
maaf. Tapi kalau Ari kesekolah tidak pakai seragam malu
Bu..” “mau bagaimana? Seragamnya ngga kamu ambil
dan laundry buka jam 09.00 pagi. Ari, Ibu harap kejadian
ini pertama dan terakhir kalinya. Tolong jangan diulangi
lagi” jelas ibu “Baik Ibu, dan Ari minta maaf” ucap Ari
memelas. Ari pun bergegas mengambil wudhu untuk
shalat isya. Dan Ari berjanji hal seperti itu tidak akan
terulang lagi.

471

MENAPAK NAMUN TAK BERJEJAK

Oleh: Nadiah Basna

Sinar rembulan menyinari malam dengan terang.
Aku masih sibuk berkutat dengan laptopku untuk
mengerjakan beberapa deadline tugas yang masih belum
terselesaikan. Oh iya sampai lupa, perkenalkan aku
Olivia, aku berumur 19 tahun dan aku masih single.
Bicara tentang status, aku ingin berbagi cerita dengan
kalian tentang kisah ku. Kisah yang sudah cukup lama
terjadi, namun orang yang membuat kisah ini ada tidak
menyadarinya. Agak menyedihkan memang, karena
sudah 2 tahun aku memendamnya.

Suatu hari di 2021, saat itu aku sedang
mengerjakan beberapa deadline tugas, dan tiba-tiba saja
aku menyadari satu hal yaitu aku ingin memberinya kado
ulang tahun untuknya, karena sebentar lagi dia akan ulang
tahun. Iya.. dia, orang yang sudah membuatku jatuh cinta
selama 2 tahun. Aku mulai memikirkan kado apa yang
akan aku berikan.

472

“Aku tau harus kasih dia apa nantiii!!”

Aku mulai mencari barang itu di E-Commerce,
dan segera membayarnya. “Hmm.. Beli apa lagi ya? Masa
Cuma satu barang sih” Ucapku. Aku kembali berpikir,
kira-kira barang apa yang cocok untuknya.

“Sepertinya aku harus ke Mall deh, biar dapet
referensi kado”. Besoknya aku pergi ke salah satu Mall
yang ada di Jakarta untuk memberinya kado tambahan.
Aku memasuki salah satu toko serba ada, dan aku
membeli sepasang kaos kaki untuknya dan langsung
pulang agar tidak membeli yang lain hehe.

Beberapa hari kemudian, kado yang sudah aku
beli beberapa waktu lalu sudah sampai. Aku
membelikannya baju. Jadi kado yang akan ku berikan
adalah baju dan sepasang kaos kaki. Sederhana memang,
karena aku juga sedang berhemat, jadi hanya bisa
memberikannya itu.

Malamnya, aku membuka laptop untuk membuat
kartu ucapan dan surat. Iya surat. Aku berencana untuk
mengungkapkan perasaanku selama ini padanya. Dan ku

473

harap ia dapat menerimanya. Bukan menerima dalam arti
sebagai kekasih, namun menerima jika aku menyukainya,
dan tak apa jika aku tidak mendapatkan perasaannya
kembali.

Satu hari sebelum tanggal 27, akupun
memberanikan diri untuk mengirim pesan padanya. Ku
buka room chat , lalu aku mulai mengetik “Ghali, besok
kamu sibuk ga?”. Tak lama, ia membalas “Tidak,
kenapa?”. Aku kembali membalas “Besok bisa ketemuan
ga? Aku mau ngasih kamu sesuatu hehe”. Dan ia
menjawab “Bisa. Sekalian aja kamu ikut aku pergi dengan
teman-temanku”. Namun aku menolaknya karena aku
tidak siap bertemu dengan teman-temannya. Huhu, mau
jadi apa aku disana.

Keesokan harinya, Ghali kembali mengirimkan
pesan padaku “Liv, nanti jadi?” dan ku jawab iya.
Malamnya kita bertemu di tempat biasa kami bertemu.
Aku langsung memberikannya, lalu berkata “Selamat
ulang tahun yaa” dan ia menjawab “Waduh apanih?
Makasih ya Liv” dan aku menjawab “Iya sama-sama. Oh
iya, nanti kamu bukanya dirumah aja ya, biar gaada yang

474

tahu”. Lalu ia menjawab “ Iya. Ini kamu seriusan gamau
ikut?”. Dan ku jawab “Iya, gausah hehe kapan-kapan aja”.

Tak banyak obrolan, Ia pun pamit untuk pergi.
Kami pun mengucapkan salam perpisahan. Di jalan
pulang, tanganku sangat dingin dan jantungku sangat
berdebar. “Duh jadi takut dia kecewa dengan surat yang
aku buat”.

Di kamar aku hanya bisa menunggu chat dengan
reaksi yang ia berikan. Jam 12 malam, ia mengirimkan
pesan

“Liv, makasih yaa kadonya”

“Tau aja aku lagi butuh kaos kaki buat ngantor”

“Suratnya juga udah aku baca, aduh aku bacanya
sampai guling-guling haha”

Aku hanya dapat membacanya dari notifikasi. Aku
bingung harus balas apa. Aku senang karena surat yang
aku buat tidak membuatnya kecewa, namun disatu sisi
aku juga malu. Karena bingung harus membalas apa, aku
pun memutuskan untuk membalasnya besok.

475

“Wah seneng kalo kamu suka sama kadonya!”

“Aduhh jadi malu kalo inget suratnyaa haha”
jawabku keesokan harinya.

Tiba-tiba saja aku kepikiran kenapa Ia tidak
membalas perihal apa yang ku pertanyakan di surat itu?

Di surat itu aku menulis “Tidak apa-apa kan jika
aku menaruh perasaan ke kamu?”. Padahal apa susahnya
ia menjawab “boleh kok” atau jika dia tidak mau, bisa
jawab “Maaf ya, lebih baik kamu cari yang lain aja”
simple.

Apa karena masa lalunya yang membuat ia tidak
dapat menjawabnya?

Mungkin aku akan ceritakan sedikit tentang masa
lalunya. Saat SMK, kami satu kelas dan pada saat itu
memang beredar berita jika Ia menyukai salah satu
perempuan di kelas ini. Namun berita itu muncul saat
kami sudah di ujung semester di kelas 12. Yang aku tahu,
perempuan itu memang sempat menolak Ghali dan
selanjutnya aku tidak begitu tahu kelanjutannya seperti
apa.

476

Ada satu memori yang aku tangkap saat kami
sudah lulus. Disaat pengurusan surat - surat kelulusan,
kelas kami di minta untuk datang untuk cap tiga jari dan
mengisi beberapa berkas. Saat itu, aku dan kedua
temanku sudah datang lebih dulu dan pergi mengurus
berkas-berkas kelulusan tadi. Saat aku dan temanku
selesai, kita tidak langsung pulang, karena sengaja ingin
berkumpul dengan teman - teman yang lain. Di tengah
perbincangan kami, tiba - tiba dia datang dengan
motornya dan memboncengi seorang perempuan. Ya
betul, perempuan yang sebelumnya aku ceritakan.

Sakit rasanya melihat kejadian saat itu. aku
langsung meminta temanku untuk segera pulang.
Temanku yang saat itu sudah tahu perihal perasaanku
pun mengikuti kemauanku. Di perjalanan pulang aku
hanya diam, meratapi nasib percintaanku. Saat itu juga
ingin cepat - cepat menghapus perasaanku padanya,
namun apa daya, aku tidak bisa menghapusnya hingga
saat ini.

477

KIRANA

Oleh: Nanda Silviana

Kampung Rawabuaya adalah kampung yang kecil
di daerah Jakarta barat. Disana lah tempat tinggal kirana
dan keluarga nya. Kirana dari SD sampai sekarang selalu
dapat remehan dari tetangganya. Yang selalu dibilang
tidak pintar dikarenakan sekolah tidak pernah dapat
peringkat hanyalah lulus dan naik kelas. Dan keluarga
Kirana selalu dapat remehan bahwa yang kerja hanya
bapaknya Kirana. Bapaknya Kirana kerja hanya di
proyek dan Ibunya Kirana ibu rumah tangga. Kirana
tinggal di sebuah kontrakan satu satu petak, namun
keluarga Kirana tidak pernah menyerah dan keluarga
Kirana selalu bersyukur. Kirana mempunyai adek laki -
laki 1 dan dia belum sekolah dikarenakan umurnya
belum cukup untuk sekolah. Setiap malam Kirana selalu
memikirkan apa yang diremehkan keluarga nya, Kirana
hanya ingin Kirana saja yang diremehkan bukan bawa
keluarganya.

478

Saat ini Kirana duduk dibangku SMK di salah satu
sekolah swasta, dikarenakan NEM Kirana tidak
mencukupi. Untuk saat duduk di SMK Kirana
menganggap bahwa dia tidak lagi diremehkan. Namun,
ternyata tetap saja diremehkan. Sekarang Kirana duduk
dikelas 11 Akuntansi, disini lah Kirana berusaha untuk
menjadi diri Kirana yang masa bodoh diremehkan.
Karena semua orang hanya bisa meremehkan apa yang
dilihat, namun tidak tahu bagaimana prosesnya. Tidak
hanya kepintaran yang selalu Kirana dapat melainkan
penampilan dan fisik yang juga dapat remehan.

Kirana pulang sekolah jalan sama teman sebangku
Kirana yang bernama Zahra mereka selalu pulang bareng
kadang jalan dan kadang naik motor. Zahra dan Kirana
saling memiliki perbedaan untuk mata pelajaran. Zahra
lebih bisa mata pelajaran IPS dan sedangkan Kirana lebih
bisa dengan hitungan. Setiap ada tugas Akuntansi Zahra
selalu kurang teliti untuk perhitungan, maka nya Zahra
selalu minta tolong Kirana. “Kirana ini bagaimana aku ga
balance ini, kan sama kaya kamu Kirana. Tapi kenapa ga
balance” Zahra yang selalu mencoba itung dengan

479

kalkulator. Kirana tertawa karena melihat Zahra yang
selalu begitu saat mengerjakan Akuntansi atau pun yang
hitungan “Kamu ya Ra selalu deh, coba sini aku cek
kalkulator kamu” Kirana selalu jadi pengecek kalkulator
sih Zahra karena Zahra selalu saja salah masukin angka.
Sedangkan kalau akuntansi satu angka saja tidak balance
“Ra nih, ini kan angka 6 atuh Ra, kenapa kamu masukin
angka 9 Ra. Pantes atuh ga balance” Zahra pasti selalu
menyalahkan diri nya “Ih siapa sih yang nulis angka 6
kaya 9” kita pun berdua ketawa saja. Dan Kirana juga
selalu bertanya jika soal sejarah ke Zahra, Ya karena
Zahra selalu semangat kalau pelajaran sejarah sedangkan
Kirana hanya masuk kuping kanan keluar kuping kiri.

Pada semester 2 Kelas 11 Kirana ditunjuk untuk
mengikuti Perlombaan Akuntansi direkomendasikan oleh
teman - teman Kirana, agar Kirana tidak di anggap
sebelah mata dan Kirana juga ingin menunjukkan bahwa
teman - teman Kirana juga bisa dalam Akuntansi. Karena
Kirana dan teman - temannya selalu di anggap paling
berisik dan paling males dalam mengerjakan tugas. Tapi
itu semua tidak benar, teman - teman Kirana selalu belajar

480

dan selalu bertanya jika dia tidak tahu. Teman - teman
Kirana berpesan “Na tunjukin ke anak depan kalau kita
bangku belakang bisa seperti mereka. Kepintaran bukan
jadi tolak ukur kesuksesan, kita memang tidak pintar tapi
kita punya solidaritas bersama bukan seperti mereka”
pesan salah satu teman Kirana saat ingin berangkat lomba.
Selama diperjalanan Kirana sangat gugup dan takut
karena perlombaan itu di jalanin selama 3 hari. Keluarga
Kirana senang Kirana ikut lomba dan tetangga Kirana
tahu bahwa Kirana ikut lomba. Namun Kirana dapat
remehan lagi “Yah ikut lomba itu mah udah dapat
bocoran. Kaya temen aku tuh lombanya di sekolahan
SMK Negeri kan. Tinggal nyalin aja orang udah dapat
jawabannya” kata salah satu teman Kirana yang di rumah
dan berbeda sekolahan. Teman Kirana yang di rumah itu
selalu saja jadi patokan sama Kirana, dan tetangga Kirana
selalu ngebandingin Kirana dengan dia.

Dia itu bernama Fatiah, dia juga sekolah di SMK
Swasta di Jakarta. Padahal sama- sama sekolah swasta tapi
bedanya, dia pindahan dari SMP kampung ke Jakarta.
Jadi, tetangga Kirana selalu bilang kalau dia pindahan dari

481

kampung ya jadi susah masuk kesekolah Negeri dan dia
selalu dibilang pintar dari pada Kirana. Padahal NEM
SMP nya dibawah Kirana. Fatiah sekolah di SMK Suka
Menanti, sekolahan itu terkenal humor yang gurunya
jarang masuk ngajar dan lain - lain. Kirana setiap
diremehkan selalu tersenyum tanpa ada kata sedikitpun.
Namun aneh nya saat Fatiah minta ajarin Kirana
Akuntansi tetangga Kirana selalu bilang “Ih, sok pintar.
Padahal mah aslinya dia ga tau” Kirana hanya senyum dan
bilang “Iya kan sama-sama belajar”.

Dan saat Kirana ikut lomba dari rekomendasi
sekolahan Fatiah tidak ikut jadinya ya remehan itu datang
ke Kirana. Setiap apa yang dilakukan Kirana selalu di
pandang sebelah mata. Dan akhirnya Kirana ikut lomba
ternyata hasilnya tidak kompeten karena kekurangan 1
angka di Jurnal Umum dan temannya Kirana bernama
Merina juga tidak kompeten. Namun yah cibiran selalu
Kirana dapatkan. Kirana tidak ambil pusing dengan itu
semua, Karena Kirana punya temen yang selalu support
Kirana. Singkat cerita Kirana sudah Naik ke kelas 3 SMK
Kirana mendapatkan peringkat 8 dari 10. Dan itulah

482

pertama kali Kirana mendapatkan peringkat. Dan ya
Kirana selalu dibandingkan dengan pencapaian Fatiah.
Padahal Kirana sudah tau semuanya tentang Fatiah dan
sekolahan Fatiah dari alumni sekolahannya, Kirana hanya
diam saja.

Kelas 3 pasti sibuk sekali banyak ujian - ujian yang
akan datang dan guru disekolah Kirana membuat
kelompok belajar dimana didalam kelompok itu ada tutor
yang mengajarkan kepada teman - temannya. Dan Kirana
terpilih menjadi tutor, teman - teman Kirana sangat
senang akhirnya ada Kirana yang bisa mengajarkan teman
- temannya. Kirana pulang sekolah bersama Zahra saling
cerita - cerita selama diperjalanan. Sesampai dirumah
Kirana duduk dan makan, Ibunya Kirana sedang ngobrol
dengan tetangga yang kebingungan mencari sekolahan.
Karena sekolahan sekarang melihat umur dan nilai ijazah
sudah tidak lagi melihat NEM. “Aduh anak saya tidak
keterima di SMK 17 Jakarta. Padahal anak saya rata -
ratanya di atas 80 kenapa ga keterima, sedangkan anak itu
rata - ratanya 70 anak saya sudah jalur prestasi masa tidak
keterima. Dia curang tuh mamanya deketin guru yang

483

disono” tetangga Kirana ngomel - ngomel gitu. Lalu
mamanya Kirana bilang “Sudah bersyukur saja, tidak
papa anak kamu tidak keterima di Negeri nanti juga ada
rezeki kalau anak kamu sekolah di swasta. Nanti dapat
KJP kan lumayan buat bayaran sekolah” Mamanya Kirana
belum selesai bicara sudah dipotong “Coba bayangin anak
kamu sudah diles-in mahal - mahal terus ga masuk
Negeri, anak saya tuh pintar” sambil nunjuk - nunjuk ke
mamanya Kirana. Dan akhirnya Kirana kaget kenapa
kenceng - kenceng ngomongnya. Dan Kirana bilang
“Coba di cek dulu anak Ibu berapa nilainya sini Kirana
bantu coba cek, dari pada ibu marah - marah” setelah itu
Kirana mengecek nilai anak ibu ternyata nilai anak ibu itu
rata-ratanya 72. “Ibu maaf ya jangan marah - marah dulu.
Saya ngecek nilai ibu dan nilai anak temen ibu lebih besar
nilai anak temen ibu. Rata - rata nilai anak ibu 72 dan nilai
anak temen ibu 82. Jadi ibu jangan marah - marah ya,
kalau les mahal - mahal belum tentu menjamin anak ibu
masuk negeri.” Setelah Kirana bilang tersebut Ibu itu
akhirnya diemin Kirana dan mamanya Kirana.

484

Masalah nilai jadi patokan pintar dan tidak pintar,
padahal orang pintar itu banyak. Dan orang yang cerdas
itu pintar. Kirana akhirnya menjalankan aktivitas seperti
biasa dan pada waktunya kelulusan. Kelulusan Kirana
mendapatkan lambang garuda emas untuk pencapaian
Kompeten dalam bidang Akuntasi dan mendapatkan
peringkat 6 dari 10 besar.

Saat Kirana pulang kelulusan tetangga Kirana
tidak menannyakan hasil Kirana, Karena ternyata Fatiah
tidak lulus dalam kompeten Akuntansi Namun dia
mendapatkan peringkat 3 dari 5 besar. Jadi bagi Kirana
disaat Kirana gagal lomba tetangga Kirana meremehkan
sedangkan Kirana Lulus mendapatkan Lambang Garuda
dan dapat peringkat 7 dari 10 tetangga Kirana diam
karena Fatiah tidak mendapatkan lambang garuda. Kirana
hanya diam, dan Ayah Kirana ingin mengkuliahkan
Kirana. Disini Kirana mendapatkan pilihan dari Ayah
Kirana pilihan itu “Kuliah ambil jurusan guru yang akan
dibantu biaya kuliah, namun untuk pilihan kedua jika
ambil jurusan Akuntasi Kirana harus sambil kerja”
soalnya biaya kuliah Akuntansi lebih mahal. Kenapa

485


Click to View FlipBook Version