The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Kumpulan PUISI (Puisi Akrostik, Puisi Anak, Puisi Haiku Tanka, Puisi Bebas) dan CERPEN (cerita pendek) yang dituliskan oleh seluruh mahasiswa 5F PGSD, Universitas Muhammdiyah Prof Dr. Hamka. Fakultas Keguruan da Ilmu Pendidikan.

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by safitridwia.04, 2022-01-18 23:33:01

SAJAK AKSARA DAN ANTOLOGI CERITA

Kumpulan PUISI (Puisi Akrostik, Puisi Anak, Puisi Haiku Tanka, Puisi Bebas) dan CERPEN (cerita pendek) yang dituliskan oleh seluruh mahasiswa 5F PGSD, Universitas Muhammdiyah Prof Dr. Hamka. Fakultas Keguruan da Ilmu Pendidikan.

Keywords: PUIS,CERPEN

PUISI BEBAS
WAKTU YANG BEGITU CEPAT

Oleh: Syafira Ainiyyah

Dua tahun lalu
Ku jalanu hidup ini dengan berat
Semangatku terus di ganggu oleh kenyataan
Keadaan yang dulunya dekat sekarang jauh sampai tidak
bisa terlihat
Ayah, aku merindukanmu
Rindu menggenggam tanganmu
Rindu canda mu dan senyum mu
Rindu jail dan teguranmu
Aku rindu semua hal yang kita lalui bersama
Wisuda ku yang kau tunggu tak bisa kau hadir
Tidak ada lagi yang mengantarkan ku
Menyusuri Lorong kehidupan
Hanya ada foto bersamamu yang kupunya untuk
mengingatmu
Setiap kali ku lihat foto kebersamaan kita
Air mata ini selalu ingin keluar dari tempatnya

236

Ayah….
Meski semua momen istimewa dalam hidupku tak bisa
lagi engkau damping
Namun, cinta pertamaku tetap engkau
Engkau akan selalu jadi modelku dalam mencari suami

237

PUISI AKROSTIK
WAKTU BERHARGA

Oleh: Tasya Salsabila Mujahidah

Warna-warni kehidupan
Aku harus tetap bertahan
Ku terus berjalan
Tetapi banyak penghalang
Usaha dan doa selalu ku hadirkan
Banyak yang harus dipikirkan
Entah sampai kapan
Raga mu lelah
Hanya sebatas kata dan kalimat
Aku harus belajar dengan tekun
Ruang yang selalu ku tempati
Guru yang selalu mengajariku
Aku harus berhasil

238

PUISI HAIKU
PERTUMBUHAN

Oleh: Tasya Salsabila Mujahidah

Dirimu bunga merah
Harum mu mempesona
Kau sedang tumbuh

PUISI TANKA
PERSAHABATAN

Oleh: Tasya Salsabila Mujahidah

Di awal tahun
Di bulan januari
Sukses selalu
Untukmu sahabatku Selalu ku rindukan

239

PUISI ANAK
GURU

Oleh: Tasya Salsabila Mujahidah
Guru....
Kau adalah pahlawan tanpa tanda jasa
Memberikan ilmu untuk kami
Kau mengabdi untuk bangsa
Guru.....
Engkau mendidik kami penuh dengan kesabaran,
kepedulian dan kasih sayang
Akan ku ingat jasa dan pengorbanan mu
Terimakasih guruku

240

PUISI ANAK
IBU

Oleh: Tasya Salsabila Mujahidah
Ibu....
Sembilan bulan lamanya kau mengandungku
Kau berjuang dalam melahirkan ku
Agar aku bisa melihat indahnya dunia
Ibu....
Yang telah membesarkan ku
Selalu sabar dalam merawat ku
Ku ucapkan terimakasih akan jasamu dan pengorbanan
mu

241

PUISI BEBAS
MATAHARI

Oleh: Tasya Salsabila Mujahidah

Matahari...
Kau terbit di pagi hari
Sinar mu meyehatkan bagi tubuh
Yang selalu dilihat keindahan mu
Matahari...
Ketika siang sinar mu sangat panas
Kau tenggelam di sore hari
Terimakasih Ya Allah
Kau telah menciptakan alam semesta yang sangat indah
dan bagus

242

PUISI AKROSTIK
REMBULANKU

Oleh: Via Ivani

Rasa hampa kian menyelimutiku
Entah perasaan apa yang ku rasa saat ini
Mampukah ku bertahan?
Bahkan dirimu tak bisa ku gapai
Untuk yang terkasih…
Lama sudah perasaan ini kian memuncak
Anganku meninggi
Namamu ku lambungkan setinggi langit
Ku berharap yang terbaik
Untukmu selalu…

243

PUISI HAIKU
GALAU

Oleh: Via Ivani

Hatiku hampa
Tatapan kian kosong
Hati menjerit

PUISI TANKA
BERJALAN KEMBALI

Oleh: Via Ivani

Tanpa hadirmu
Hidup harus berlanjut
Ke arah depan
Melanjutkan yang patah
Menjadi lebih baik

244

PUISI ANAK
AKHIR PEKAN

Oleh: Via Ivani

Minggu pagi yang cerah
Aku bergegas untuk bertamasya
Bersama keluarga
Hati pun riang gembira

Burung-burung beterbangan
Mengeluarkan kicauan yang menawan
Taman bunga terhampar luas
Indah dan berseri
Kupu-kupu elok beterbangan
Menghinggapi bunga yang harum
Cahaya Sang surya di langit,
Bersinar menembus bumi
Suasana sejuk menyelimuti tubuhku
Oh.. akhir pekanku
Sungguh berkesan di hati
Akan menjadi kenangan yang indah
Dan takkan pernah ku lupakan

245

PUISI ANAK
LINGKUNGAN SEKOLAHKU

Oleh: Via Ivani

Wahai lingkungan sekolahku
Tempat ku belajar dan bermain
Kau bersih dan asri
Juga indah saat dipandang

Setiap hari selalu ku bersihkan
Sehingga tiada sampah berserakan
Pepohonan tumbuh rindang
Menyejukkan lingkungan sekolahku

Oh lingkungan sekolahku…
Rasanya aku ingin melihatmu selalu
Kau selalu bersih juga indah di mataku
Membuatku nyaman untuk menuntut ilmu

246

PUISI BEBAS
SURGA YANG REAL

Oleh: Via Ivani

Hembusan semilir angin
Menyentuh hati himpunan insan
Angka yang menjadi tumpuan hidup
Untuk mencapai titik pusat kehidupan
Baik positif ataupun negatif
Akan mengalirkan suatu akhir dari kehidupanku
Menuju surga atau neraka
Persentase kebaikan yang meningkat
Melangkahkan kaki menuju surga
Hitungan pahala yang baik
Membuat surga yang real bagiku…

247

PUISI AKROSTIK
BUTUH WAKTU

Oleh : Wahyu Karisma Wati

Wahai pujangga
Aku sudah bosan
Hari hariku hanya dipenuhi dengan gombalan mu
Yangku rasa bukan kagum lagi namun muak tak berperi
Untuk saat ini
Ku ingin pergi
Agar segera bisa mendengar untaian katamu lagi dengan
hati yang berseri
Ruang yang ku butuh tidaklah begitu jauh
Instalasi didekat sini sama berartinya
Selama aku bisa melihat mu, tanpa mendengar bualanmu
Maka, disini ataupun jauh di ujung negeri
Akan sama berartinya untuk menghilangkan jenuh dihati

248

PUISI HAIKU DAN TANKA

Oleh : Wahyu Karisma Wati

SAKIT HATI KESEPIAN
Cintamu palsu Hariku sepi
Menyakiti hatiku Tanpa hadirmu kini
Begitu pilu Sampai ku mati

PEMBUKTIAN PENANTIAN
Cintaku suci Tak pernah letih
Takkan pernah berhenti Ku menanti disini
Sampai ku mati Demi dirimu

PESAN RINDU CINTA PERTAMA
Memupuk rindu Tawa indahmu
Kala jauh darimu Merasuk dalam kalbu
Kau kekasihku Indah senyumu
Pulanglah dan bertemu Terukir dibenakku
Ku menanti hadirmu Duh cinta pertamaku

249

PUISI ANAK
DOA KAKAK

Oleh : Wahyu Karisma Wati

Adik ku..
Aku sangat menyayangimu
Aku selalu ingin melindungi mu
Mengajarimu banyak hal
Dan menceritakan banyak dongeng kepada mu
Adik ku..
Jika kelak kau dewasa
Ingatlah masa masa kecil dan kisah indah di dalamnya
Ingatlah bahwa kakak sangat menyayangimu
Dan memberikan yang terbaik hanyauntukmu
Adik ku..
Jadilah orang yang bijak dan berilmu
Agar kelak kau bisa membanggakan kakak, ayah dan ibu

250

PUISI ANAK
IBUKU

Oleh : Wahyu Karisma Wati

Ibu...
Kasihmu begitu besar untukku
Cintamu tak ada habisnya untuk anak – anakmu
Kenakalanku tidak pernah membuatmu berhenti untuk
menyayangimu
Kau tidak pernah lelah berjuang untuk kebahagiaanku
Bahkan jika terik matahari dan hujan membasahi
punggungmu
Ibuku tersayang...
Maafkan aku yang belum bisa membuatmu bahagia
Maafkan aku yang masih sering membuatmu khawatir
Ibu, jika kelak aku dewasa
Aku berjanji akan membuatmu bangga

251

PUISI BEBAS
KENANG

Oleh : Wahyu Karisma Wati

Gemericik berbentur buntala.
Rintik – rintik bersahut serupa lagu pengiring senja.
Udara membawa petrichor menusuk indra seperti candu.
Aroma segar ini tak pernah luput dari indra pencium ku.
Saraf pembauku tak pernah salah menyampaikan
informasi dan membangkitkan memori.
Kala itu,
Dimasa kau dapat ku tatap dengan kedua bola mataku.
Hingga menciptakan getar yang syahdu dalam detak yang
tak menentu.
Dan kini,
Rindu dan sesal menjadi satu.
Sebab rasa yang harus patah sebelum sempat dirimu tau

252

253

DIA MASIH JADI TOKOH FAVORITKU

Oleh: Adira Fitrinanda Achmad

Kenalkan, Aku si anak nomor satu yang bisa
dibilang masih selalu diutamakan segala-galanya. Karena
keperluanku lebih banyak dan usiaku pun terpaut cukup
jauh dari adikku. Saat ini aku sudah dewasa, tapi masih
selalu jadi putri kecil baginya. Panggil saja Aba. Aba
adalah panggilan sayangku untuknya. Ya, Aba adalah
ayahku. Ku ceritakan sedikit tentangnya ya. Aba adalah
orang yang selalu memberikan kontribusi terbesar setelah
Allah dan mama dalam hidupku. Beliau sosok yang
sangat sederhana, saking sederhananya, Aba gak pernah
pake dompet kaya bapak-bapak lain. Itu gak sederhana
sih, tapi kan hampir semua orang dewasa pake dompet ya
kan? haha. Aba itu perhatian banget sama kita anak-
anaknya. Bisa dibilang monoton, tapi aku suka caranya.

Kata mama “Aba itu paling takut kalo anak-
anaknya disentuh orang lain, dari kecil selalu kaya gitu.
Sampai kamu sakit kemudian dibawa ke rumah sakit dan
harus ambil tindakan, aba berdiri di samping dokter dan

254

hampir pegang tangan dokter karena gak tega liat kamu
ditindak pake jarum”. Cerita itu memang terbukti,
sepanjang perjalanan aba mendampingiku. Banyak
nasehat yang keluar dari lisannya, tentang kehidupan,
rezeki, cinta dan kematian. Pernah satu ketika, saat kami
bertiga yang sedang naik motor terjebak macet. Usiaku
masih 10 tahun saat itu. Di samping motor kami ada
sepasang anak muda memakai seragam SMA yang
berpelukan di motor. Aba bilang “Kak, Aba gak mau kalo
nanti kakak kaya gitu. Pokoknya kakak gak boleh pacaran
ya?.” Terus aku tanya dong, anak usia 10 tahun kan
belum ngerti apa-apa “Memangnya kenapa ba? Pacaran
itu deket-deket kaya orang itu ya? Terus kakak kapan
bolehnya?” dari situ aba cuma jawab “Nanti kalau sudah
waktunya”.

Banyak kenangan yang dilewati bareng aba, gak
cuma aba sih tapi juga mama. Tapi karena ini cerita
tentang aba, maka abalah tokoh utamanya. Masuk waktu
SMP, Aba masih selalu ada pastinya. Soal aktivitas di luar
rumah rasa-rasanya aba lebih bawel dibanding mama.
Aba, mulai dari memastikan kelengkapan sekolah, basa-

255

basi saat sarapan, sampe anter ke sekolah juga masih aba.
Aba gak pernah izinkan aku berangkat sekolah diantar
orang lain, kecuali aba bener-bener ada keperluan
mendesak dan gak bisa anter aku. Oh iya, aba itu suka
banget ngebut kalo pake motor, katanya sih biar dipeluk
anaknya dari belakang. Awalnya, aku gak boleh pulang
sekolah jalan kaki, tapi karena bareng sama temen-temen
dan itu banyak. Jadi aba gak permasalahkan itu.
Walaupun kalo dipikir-pikir sekarang, jalan dari sekolah
ke rumah itu jauh haha.

Sekarang kita masuk saat usiaku 15 tahun, tepat
kelas 3 SMP. Aba dan mama yang saat itu juga turut
menentukan pilihan pendidikan bagiku mulai sibuk
dengan pilihannya masing-masing. Aba pengen aku bisa
melanjutkan pendidikan ke pesantren, sementara mama
pengen aku tetap melanjutkan sekolah umum karena satu
dan lain hal. Hampir setiap hari aba selalu menyodorkan
brosur-brosur tentang pesantren. Ya, aku yang saat itu
sama sekali gak ada niatan untuk masuk pesantren lebih
mengikuti kemauan mama untuk lanjut sekolah umum.
Aba belum pernah kasih alasan kenapa sih harus memilih

256

pesantren. Dengan masih terus berusaha buat
merekomendasikan beberapa pesantren yang sudah
sempat dikunjunginya.

Setiap hari liat kegigihan Aba, aku mulai luluh dan
mau untuk masuk pesantren. Tapi saat itu gak ada
bayangan sama sekali tentang pesantren, dan masih mikir
kalo pesantren itu gak enak. Hari itu Sabtu, dan aku libur
sekolah. Aku udah janji sama Aba untuk ikut survey salah
satu pesantren. Aba bilang “Kak, Aba dapet pesantren
bagus nih. Ada kenalan Aba juga disana. Besok mau ya
kita liat-liat dulu? Kalo kakak masih belum cocok gak
apa-apa”. Aku jawab “Oke Ba, sama siapa kita kesana?”,
“Berdua aja sama Aba ya? Kita naik motor” jawab Aba.
Aba punya salah satu rekan disana, kebetulan beliau
sempat mengajarku saat SD. Mungkin dari situ aba
merasa kalo aku akan mau masuk di pesantren itu.
Sepanjang perjalanan aku dan aba banyak berbincang,
tentunya tentang dunia pesantren. Entah, mungkin saat itu
masih ada rasa ragu dalam hatiku. Masih ada keinginan
untuk bisa lanjut di sekolah umum.

257

Singkat cerita, sampailah kita di pesantren tujuan.
Kita menyambangi kediaman Pak Mardiansyah terlebih
dahulu, rekan aba yang sekarang mengajar disana. Pak
Mardiansyah menyapa “Wah sudah besar ya sekarang,
apa kabar?”, “Baik Pak” jawabku singkat. “Nanti kakak
masuk dianter sama santri putri disana ya, karena Aba gak
boleh masuk” kata aba, “Malu tapi Ba” rengekku pada
aba, “Gak apa-apa, sebentar aja kok” jawab aba
menenangkan. Aku masuk ke daerah santri putri,
sementara aba dan Pak Mardiansyah berbincang di pos
depan. Kesan pertama melihat dunia pesantren adalah
menganggap mereka semua hebat, kok bisa ya tanpa
orang tua? Kok bisa sih tinggal di keadaan yang kaya
gitu?. Maaf, aku mengaku salah. Karena penilaianku pada
dunia pesantren hanya berdasarkan tempat yang enak dan
gak enak saat itu. Pesantren yang aku kunjungi memang
pesantren yang sangat sederhana. Dari situlah
keinginanku untuk masuk pesantren mulai memudar lagi.

Setelah selesai lihat-lihat kondisi di dalam kawasan
santri putri, Pak Mardiansyah bertanya “Gimana? Suka
nggak? Gak apa-apa dipikir-pikir dulu” aku saat itu cuma

258

bisa diam dan tidak memberikan respon sama sekali.
Banyak pikiran yang membuatku semakin ragu untuk
masuk pesantren, berpikir apakah semua pesantren kaya
gitu ya?. Dan lagi-lagi itu hanya penilaianku yang belum
mengenal dunia pesantren. Selepas mengunjungi kawasan
putri, kami kembali ke rumah Pak Mardiansyah untuk
berbincang-bincang sebentar sebelum memutuskan untuk
pulang.

Pada perjalanan pulang aba banyak bertanya
“Gimana kak? Suka nggak sama suasananya?” aku cuma
jawab dengan suara memohon “Nanda gak suka Ba, ada
ngga pesantren yang lain?”. “Gak apa-apa, nanti kita coba
cari yang lain lagi ya” jawab aba lembut. Pencarian aba gak
berhenti sampai disitu, setiap harinya aba masih selalu
membawakan banyak brosur untuk ditawarkan kepadaku.
Dan keinginanku untuk masuk pesantren semakin
menipis. Sampai saatnya aku bilang gak mau masuk
pesantren. Saat denger itu aba bilang, dengan suara yang
menurutku sebuah kekecewaan paling dalam dari seorang
ayah “Ya udah terserah kakak. Aba nggak minta banyak
kok dari kakak, aba cuma mau kakak bisa ngaji, ngajinya

259

juga dengan baik. Kak, kalau nanti aba sama mama gak
ada, yang bisa nemenin aba sama mama disana cuma do’a
dari kakak sama adek, aba ngga mau nanti hilang gitu aja.
Sapaan-sapaan lewat do’a itu ngga ada kalo kakak gak bisa
ngaji.” Dan saat itu, rasa bersalah paling dalam terasa
dalam hatiku. Aba keluar kamar setelah mengusap kepala
dan mencium keningku.

Aku yang selama ini belum pernah mendengar
alasan kenapa aba ingin memasukkanku ke dalam
pesantren, saat itu juga menangis di dalam kamar setelah
mendengarnya. Aku sadar, bahwa betul aba dan mama
tidak akan pernah meminta apapun dari kami. Tapi, aba
berprinsip bahwa aku masih akan selalu jadi tanggung
jawabnya dunia dan akhirat. Aba menganggap bahwa
memiliki aku dan adikku adalah sebuah anugerah luar
biasa yang harus dijaga. Setelah hari itu, aku masih takut
untuk memulai pembicaraan dengan aba. Aba juga
terlihat diam, berbeda dari biasanya

Perjalananku sebagai seorang siswa kelas 3 SMP
gak berhenti sampai disitu. Kesibukanku yang mulai padat
karena harus les dan pendalaman materi dari sekolah

260

membuatku lupa dengan keinginan aba. Tapi ternyata aba
gak berhenti, aba masih terus usaha supaya aku mau
masuk ke pesantren. Setelah Ujian Nasional aba dan
mama menawarkanku salah satu pondok pesantren. Ya,
aba dan mama. Mama saat itu sudah berada di pihak aba.
Kali ini salah satu pesantren tempat pamanku dulu
menuntut ilmu. Aba dan mama bilang bahwa pesantren
itu tempatnya enak, dan mengajakku untuk kesana. Aku
bilang “Aba sama Mama aja deh yang kesana, Nanda gak
ikut ya?.” “Oke kalau emang maunya gitu, besok Aba
sama Mama pergi berdua” jawab mama.

Saat itu karena memang aba dan mama sudah
dalam satu keinginan, akupun menyetujui untuk masuk
pesantren. Sepulang dari kunjungan aba dan mama.
Mereka menceritakan segala kegiatan yang ada disana.
Aku memang mengiyakan, tapi dalam hati masih ada rasa
ragu buat jalanin semuanya. Tidak lama dari kunjungan
itu, aba dan mama mulai mempersiapkan segala
keperluan untuk aku disana.

Singkat saja, hari itu tiba. Aba, mama dan yang
lainnya mengantarku ke pesantren. Saat itu mungkin hari

261

paling bahagia bagi aba. Senyumnya, kata-katanya,
perilakunya, semua begitu membekas di dalam ingatan.
Dan untuk pertama kalinya aba jauh dari anak
perempuannya. Aba memang tersenyum saat itu, tapi dari
kata-katanya tersirat bahwa tetap ada rasa khawatir di
dalam pikirannya “Baik-baik disini ya Kak, jaga
kesehatan. Nanti kalo udah waktunya, Aba datang kesini”
itu kata penutupnya, sambil memeluk erat serta mencium
keningku.

Banyak cerita yang dialami disana, tentunya masih
tentang kehidupan. Saat itu rasanya aku ingin bilang pada
aba “Ba, aku menyukai seseorang” tapi ternyata itu cuma
mampu sampai di hati. Yang pastinya takut, dan gak siap
liat reaksi aba. Prinsip Ku begini, tidak salah kamu
menaruh rasa pada lawan jenis. Pertama, karena itu
semua fitrah dari Allah, dan rasa suka itu gak bisa kita
cegah kan? Tapi kita bisa memilih cara paling elegan
dalam menyikapi semua itu. Guruku pernah berpesan
“Jika benar kalian mencintai seseorang, ungkapkanlah
sebagaimana bentuk cinta. Cinta itu fitrah, tidak ada yang
bisa memanipulasi cinta. Wujud dari pada cinta adalah

262

menjaga kehormatannya. Kalau kalian memperlakukan
seseorang yang pastinya belum Allah ridhoi untuk jadi
milik kalian, menyentuhnya, merusak kehormatannya,
apa itu yang kalian sebut cinta?” ya begitulah. Itu akan jadi
bagian dari cerita kehidupan. Dan aku masih memegang
janjiku pada aba. Memilih untuk diam dan tidak
menceritakan padanya.

Selesainya pendidikan ku disana, pada
penjengukan terakhir aba bilang “Kenapa? Kok sedih sih
tumben.” “Nanda masih mau aba sama mama disini,
masih kangen '' jujur rasanya sedih pas jawab itu. “Kakak
pulang terus nanti kuliah mau?” aba kasih pertanyaan itu.
Sebenernya buat kuliah juga belum ada rencana sama
sekali. Tapi ya itu benar-benar jadi penjengukan terakhir.
Gak lama dari itu aku memutuskan untuk pulang dan
berkuliah.

Jangan tanya kisah cintaku, kalo berani tanyanya
sama aba aja hehe. Anggaplah itu intermeso dalam cerita
ini. Posesifnya aba membuat cerita cinta itu mungkin akan
ditulis di lain waktu. Ya kalau sudah waktunya. Aba betul-
betul menjalankan kewajibannya. Dan dia masih jadi

263

tokoh favoritku. Entah nantinya akan ada laki-laki lain
dalam hidupku. Aku hanya ingin menyampaikan “Aba,
sehat selalu ya. Terima kasih atas segalanya. Tenang saja,
peranmu sebagai orang yang aku cintai masih sama. Dan
gak akan ada yang merubah itu semua. Tetap
mengawasiku, sekalipun tenagamu semakin berkurang
tiap saat. Tetap seposesif itu walaupun nanti ada saatnya
aku akan berjalan dengan orang lain. Terima kasih sudah
menaruh kepercayaan penuh padaku. Sampai saat ini aku
jaga rasa percaya itu dengan sebaik-baiknya. Terima kasih
sudah menjadi tokoh favoritku dalam cerita ini. Kelak
akan kusampaikan pada Allah, bahwa engkau telah
menjalankan tugas sebaik-baiknya sebagai seorang ayah.
Tetap seperti itu, karena aku betul-betul menyukai
caramu dalam mencintai.”

Cerita ini menurut sudut pandangku, dan kalian
pun berhak mempunyai sudut pandang masing-masing.
Jika kita berbeda dalam satu dan lain hal itu biasa. Ambil
saja baiknya, dan buang segala yang buruk dari cerita ini.
Terima kasih.

264

RIRIN SI PENARI CILIK

Oleh: Amalia Faudziah

Disuatu desa hiduplah seorang anak bernama ririn, ia
tinggal bersama keluarganya di sebuah rumah yang
sederhana. Ayah ririn bekerja sebagai karyawan swasta,
sedangkan ibunya hanya seorang ibu rumah tangga. Suatu
hari Ririn diajak oleh ibu ke sebuah pasar swalayan untuk
membeli kebutuhan pokok sehari – hari. Namun
ditengah perjalanan langkah ririn terhenti, ternyata ririn
melihat anak – anak sebayanya menari dengan sangat
anggun dan cantik layaknya penari. Ibu yang menyadari
ririn tertinggal langsung mencarinya, ternyata ririn ada di
sebuah sanggar tari “ ririn” sapa ibu. “ ibu lihatlah
mereka, cantik sekali tarian yang mereka bawakan” ibu
hanya menjawab “ iya, ayo kita lanjutkan ke pasarnya
sebelum semakin ramai” akhirnya ririn bersama ibu
melanjutkan perjalanan mereka ke sebuah pasar.

Sesampainya dari pasar, ririn langsung bermain bersama
teman- temannya di lapangan tepatnya rumah panggung.
Mereka satu persatu menceritakan apa yang mereka lihat,

265

ada yang menceritakan tentang mainannya, ada yang
menceritakan tentang pengalamannya, dll. “ teman –
teman tahu tidak, tadi aku melihat anak – anak di sanggar
sana berlatih nari, mereka terlihat cantik sekali
menggunakan seragam tarinya, aku ingin sekali seperti
mereka ” begitu cerita ririn kepada teman- temannya “
memangnya kamu bisa menari ..?” celetuk dari teman
ririn yaitu aini. “ bisa dong, kamu g percaya aku bisa nari,
sini aku buktikan” lalu ririn pun mempraktikan gerakan
tarian yang tadi ia perhatikan di sanggar. Teman – teman
ririn hanya tertawa melihat ririn yang menari tak karuan
dengan semaunya.

Sampai pada malam hari tepatnya saat makan malam ririn
kembali menceritakan apa yang ia lihat di sanggar kepada
ayah dan kakak perempuannya. “ yah .. ayah tadi aku
melihat anak – anak sepantar aku menari di sebuah
sanggar di dekat pasar sana” kata ririn ayah pun hanya
tersenyum mendengar cerita ririn, tak lama kemudian “
ayah.. ayah, boleh tidak aku ikut menari di sanggar
sana” begitu ucap ririn kepada ayah “ emangnya kamu
bisa menari rin..? tanya ayah kepada ririn. “ bisa

266

dong yah, nih aku peragakan” karena ketertarikan ririn
kepada seni tari, ririn pun menari menunjukan kepada
ayah agar diizinkan untuk mengikuti sanggar tari tersebut.
“ gimana yah baguskan…!” ayah hanya tersenyum melihat
putri kecilnya menari “ boleh ya yah aku ikut sanggar tari”
begitu bujukan ririn kepada ayahnya agar dibolehkan
mengikuti sanggar tari. ya “ yasudah kamu boleh ikut
sanggar tari itu” akhirnya dengan iba hati ayah
mengijinkan ririn untuk mengikuti sanggar tari.

Keesokan harinya ririn diantar oleh ibu untuk mendaftar
sanggar tari yang diinginkannya. Dan ririn dengan
semangatnya tidak sabar ingin mengikuti tarian di sanggar
itu. Tak lama setelah itu ririn mengikuti tarian pertama ia
berlatih bersama teman – teman yang lainnya. Setelah
mengikuti sanggar tarian ririn pun menceritakan apa yang
ia rasakan “ ibu ternyata cape juga ya bu latihan nari” ibu
hanya tertawa melihat putri kecilnya bercerita “ kalau
kamu mau jadi penari yang lincah dan profesional, kamu
harus berlatih terus” begitu ucap ibu untuk menyemangati
putri kecilnya. “ owh begitu ya bu, oke deh aku akan lebih

267

giat lagi berlatih tarinya” dengan kata – kata semangat yang
diberikan oleh ibu.

Seiring bergantinya hari, ririn semakin lincah gerakan
tariannya akibat berlatih setiap hari, akhirnya teman –
teman yang berada di sanggarnya pun merasa tersaingi.
Hari kemudian guru di sanggar tari tersebut
memberitahukan bahwa akan diadakan lomba tari se-
Nasional. “ anak – anak kita akan mengikuti perlombaan
tari se – nasional, maka dari itu ibu akan memilih
beberapa anak yang akan mewakili sanggar kita.” Begitu
kata guru pada sanggar ririn . Anak – anak sangat senang
mendengar berita gembira tersebut. “ nama – nama anak
yang akan mewakili sanggar kita yaitu : riana, ririn, nabila,
sintia, safa, lifti, dara, nasiwa, dan puspa, anak – anak yang
namanya dipanggil tadi harap berlatih lebih keras lagi baik
di rumah maupun di sanggar” setelah mendengar nama
anak – anak yang akan mewakili perlombaan, ada anak –
anak lain yang tidak suka bahwasannya ririn menjadi anak
yang mewakili sanggar mereka, karna mereka berpikir
bahwa mereka lebih hebat dari ririn. akhirnya mereka

268

melakukan pembicaraan untuk mencelakakan ririn agar
tidak dapat mengikuti perlombaan nanti.

Pada saat hari latihan berikutnya mereka memulai
rencana untuk mencelakakan ririn, saat ririn berlatih
untuk berlomba beberapa pekan lagi, mereka dengan
jailnya mengerjai ririn dengan membasahi lantai tempat
ririn berlatih, tak lama kemudian ririn pun terkena
jebakan mereka, kaki ririn tergelincir sehingga tidak dapat
digerakan. Melihat kondisi ririn yang kesakitan, akhirnya
ririn di keluarkan dari nama anak yang mewakili
perlombaan. Dengan sangat sedih ririn menangis di
malam hari karena ingin sekali ikut serta dalam
perlombaan tersebut. Ibu, ayah dan kakaknya pun
berusaha untuk menghiburnya, sampai di suatu hari, ririn
mencoba untuk mengobrol dengan guru di sanggarnya itu,
dan akhirnya guru tersebut memberikan kesempatan
terakhir untuk ririn mengikuti perlombaan it.

Keesokan harinya, ririn datang ke tempat perlombaan
dan bersiap untuk memberikan yang terbaik, setelah
menunggu giliran, akhirnya nama ririn pun dipanggil,
teman – temannya terkejut melihat ririn mengikuti

269

perlombaan tersebut. Ririn menunjukan kepada teman –
temannya bahwa dengan kakinya yang sakit ia masih dapat
memberikan yang terbaik. Akhirnya tibalah di akhir
perlombaan para juri pun berdiskusi untuk menentukan
siapa yang menjadi juara, tiba saat pengumuman
kejuaraan lomba nama ririn dipanggil menjadi juara
pertama dalam perlombaan tari se- nasional. Ririn, ibu,
ayah, kakak dan teman- temannya pun terkejut
mendengar pengumuman itu. Teman – teman ririn
akhirnya meminta maaf atas kesalahan mereka yang telah
membuat ririn celaka “ rin maafkan kami ya, kami yang
membuat rencana itu,kami iri dengan kamu, sehingga
kami berpikir agar untuk mencelakai kamu agar tidak
mengikuti perlombaan ini” begitu kata teman – teman
yang telah jahat kepada ririn. Ririn dengan senang hati
memaafkan teman – temannya “ ia teman – teman tidak
apa, aku memaafkan kalian ko, dan berjanji ya untuk
tidak melakukan itu lagi.” Berkat kejadian itu, akhirnya
ririn dan kawan – kawan bermain dan belajar bersama lagi
di tari sanggar tersebut.

270

KESOMBONGAN YANG BERUJUNG
PETAKA

Oleh: Andhini Nur Afifah

Kampung gondang adalah sebuah perkampungan
yang terkenal di daerah lubang buaya. Dikampung ini
masyarakat yang ada disekitarnya terkenal dengan sikap
ramah dan tata kramanya yang selalu dijunjung tinggi.
Tidak jarang banyak masyarakat disini yang selalu
bertegur sapa tanpa mengenal siapa yang akan ditegurnya.
Semua perlakuan yang ada di kampung Gondang ini tidak
lepas dari peran seorang RT di kampung itu yang
bernama bapak sabar.

Bapak sabar merupakan seorang laki-laki paruh
bayah yang memiliki perawakan tinggi dan sifat sabar
dalam memimpin perkampungan ini. pak sabar sangat
menjunjung tinggi sifat sopan santun yang dimiliki kepada
keluarga tercintanya. Dia memiliki dua orang anak dan
seorang istri dalam rumah tangganya. Di Dalam
keluarganya, pak sabar menjadi seorang kepala keluarga
yang bijaksana serta selalu mengajarkan kepada

271

keluarganya untuk selalu berbuat baik dan sopan santun
kepada siapapun itu. Bapak sabar selalu mencerminkan
sikap ini karena pak sabar selalu memegang prinsip
bahwa jika kita memiliki sifat sopan santun terhadap
orang lain, maka orang lain akan sopan kepada kita juga.
Namun sebaliknya, jika kita memiliki sifat angkuh dan
acuh kepada orang lain, maka orang lain akan acuh
kepada kita juga.

Dari sifat sopan pak sabar ini lah, andi sang anak
dari pak sabar pun juga mencerminkan sikap ayahnya
tersebut. Dalam bergaul, andi dikenal sebagai orang yang
sopan terhadap teman sebayanya, maupun orang yang
lebih tua di lingkungan. Di Sekolahnya pun andi terkenal
sebagai orang yang baik budi pekertinya. Tidak heran jika
andi memiliki sikap tersebut karena didikan sang ayah
untuk selalu berbuat baik kepada siapapun itu

Sifat sopan santun ini tidak hanya diterapkan di
keluarganya, tetapi juga ia terapkan kepada warganya yang
tinggal di kampung gondang ini. Pak sabar selalu
menasihati warganya untuk selalu berbuat sopan santun
kepada siapapun itu yang akan memasuki wilayah

272

kampungnya itu disaat warga berkumpul untuk
bermusyawarah maupun dalam kegiatan sehari-hari. Dari
sifat pak sabar inilah, warga kampung gondang pun juga
ikut memiliki sikap sopan santun ini hingga RT lain
menilai kampung gondang sebagai kampung sopan
santun.

Namun suatu hari, kampung gondang menerima
kabar bahwa ada warga baru yang tinggal di kampungnya
itu. Warga baru itu adalah keluarga dari bapak sumbing.
Bapak sumbing ini memiliki sifat yang tidak
mencerminkan warga kampung gondang. Bapak sumbing
memiliki sikap angkuh dan juga sombong terhadap
siapapun itu yang ia temui. Tidak hanya bapak sumbing
yang memiliki sifat itu, namun istri dan anaknya bapak
sumbing pun memiliki sikap serupa seperti yang dimiliki
bapak sumbing. Keluarga pak sumbing tidak hanya
sombong dalam aspek sikap, mereka juga sombong dalam
harta kekayaan. Mereka selalu memamerkan harta
kekayaan dengan cara berhias berlebihan dengan
perhiasan yang dimiliki keluarganya jika melewati warga
yang sedang berkumpul. Selain memiliki sikap riya,

273

mereka juga memiliki sikap pelit terhadap lingkunganya
seperti tidak mau melakukan partisipasi dalam acara yang
diadakan karang taruna di kampung gondang ini dan juga
tidak mau memberikan uang keamanan yang memang
ditagih setiap bulan nya untuk keamanan di kampung
gondang ini.

Angga yang merupakan anak dari bapak sumbing
pun memiliki sifat yang mencerminkan ayahnya itu.
Dalam bergaul angga dinilai memilih dalam berteman dan
juga sombong terhadap teman sebayanya maupun orang
yang lebih tua daripada dirinya. Angga selalu merasa
paling hebat dari teman-temannya dalam bermain
maupun dalam bergaul dengan orang baru yang
dikenalnya. Tak heran jika angga menjadi orang yang
sombong karena didikan dan lingkungan yang diterima
serta diterapkan di dalam keluarganya itu.

Hingga suatu hari, pak sumbing beserta
keluarganya ingin pergi berlibur keluar kota. Namun
naasnya, istri pak sumbing lupa untuk mematikan
kompor yang dinyalakan sehabis memanaskan sayur.
Panci pun mulai terbakar dan menjalar ke daerah dapur

274

pak sumbing. Asap mulai mengepul didalam rumah pak
sumbing dan mulai keluar melalui ventilasi rumah dari
pak sumbing. Api kian membesar setelah menghanguskan
perabotan kayu yang ada di rumah pak sumbing.

Pak sabar yang sempat melewati rumah pak
sumbing panik saat melihat kepulan asap dan kobaran api
yang mulai membakar isi rumah pak sumbing. Pak sabar
lekas berteriak meminta pertolongan warga agar api cepat
dipadamkan dan tidak menjalar ke rumah yang lainya.
Para warga yang mendengar teriakan dari pak sabar mulai
berdatangan dan berlari sambil membawa ember dan alat
pemadam api seadanya untuk memadamkan api yang
membakar rumah pak sumbing. Pak sabar juga
menelepon pemadam yang ada disekitar kampungnya
untuk segera datang karena api kian membesar.

Pak sumbing yang sedang dalam perjalanan
menuju luar kota kaget mendengar telepon yang
diterimanya dari pak sabar saat mendapat kabar bahwa
rumahnya kebakaran. Pak sumbing segera memutar arah
laju mobilnya dan menambah kecepatan mobilnya untuk
sampai dirumah. Pak sumbing memacu kendaraanya

275

dengan sangat kencang dan tanpa sadar ada seekor
kambing yang melintas sehingga pak sumbing
membanting setir kendaraanya yang membuat kehilangan
arah sehingga pak sumbing dan keluarga menabrak
pohon yang ada ditepi jalan.

Pak sumbing lalu dilarikan kerumah sakit karena
mengalami pendarahan yang cukup parah dibagian
kepala. Angga juga harus dilarikan kerumah sakit karena
kakinya patah dan harus dioperasi secepat mungkin. Istri
pak sumbing yang saat itu duduk disamping pak sumbing
meninggal dunia ditempat karena kepalanya yang
terbentur kayu pohon sehingga tidak bisa diselamatkan.
Sementara keadaan rumah pak sumbing juga tidak bisa
diselamatkan harta bendanya hangus karena api dengan
cepat melahap rumah pak sumbing. Warga dengan
semaksimal mungkin sudah menolong agar api cepat
dipadamkan, namun nasib berkehendak lain.

Pak sabar selaku rt dari kampung gondang yang
menerima kabar bahwa keluarga pak sumbing mengalami
kecelakaan segera mengumpulkan warga dan melakukan
musyawarah untuk membantu meringankan beban dari

276

keluarga pak sumbing. Pak RT pun meminta warga untuk
tergerak hatinya dan memberikan sedikit harta yang
dimiliki untuk diberikan kepada bapak sumbing agar
dapat meringankan biaya operasi serta dapat membangun
rumah kembali yang terbakar. Warga yang memiliki sifat
iba pun tergerak hatinya dan mulai mengumpulkan uang
yang mereka punya serta barang yang masih layak untuk
diberikan kepada keluarga bapak sumbing

Setelah uang dan barang yang dikumpulkan
terkumpul. Pak sabar segera pergi kerumah sakit untuk
membantu biaya rumah sakit. Pak sumbing yang saat itu
dalam keadaan berduka setelah mendapatkan bencana
yang terus menerus diterimanya pun mulai tersadar dan
memberikan ucapan terima kasih yang sedalam-dalamnya
kepada pak sabar serta warga kampung gondang yang
telah membantunya. Pak sabar juga merasakan sedih yang
mendalam atas perlakuan keluarganya terhadap warga
kampung gondang yang sudah bersifat sombong. pak
sumbing pun berjanji untuk tidak berlaku sombong dan
akan sopan terhadap siapapun itu.

277

SURAT YANG TAK TERSAMPAIKAN

Oleh: Asty Nurul Zahrani

Matahari telah tenggelam. Kini, bulan bersinar terang
benderang. Bintang-bintang juga bertaburan diatas langit.
Cahaya gemarlap-gemerlip seperti hiasan yang indah nan
cantik. Kicauan burung hantu mengalun dengan sendu.
Gesekkan daun daun gemersik nyaris terdengar. Ya, ini
bisa dibilang malam yang kelam.
Hai, perkenalkan nama lengkapku Muhammad Rafid
Nadhif Rizqullah. Kalian bisa memanggilku dengan
sebutan Rafid. Katanya, aku adalah orang yang murah
senyum. Sekarang, aku tinggal di kota kembang,
Bandung. Aku duduk di bangku kelas 4 (Empat) SD IT
Darul Muttaqin. Yaah.. hari-hariku berwarna. Tapi,
kadang duka juga berdatangan silih berganti. Salam kenal
ya! Kembali saja ke cerita!
Dimalam ini, sungguh berbeda. Suasana di rumahku
hening. Biasanya, pukul sekarang, suara di luar terdengar.
Sangat ramai riuh rendah. Berbeda dengan sekarang.
Yang ada hanyalah suara burung hantu yang sendu dan
gemersiknya gesekkan dedaunan. Aku terus melihat

278

pemandangan di luar melewati jendela. Dipikiranku ini,
masih terngiang nama salah satu sahabatku, Fadhli. Fadhli
adalah sahabatku yang sudah pindah ke Tasikmalaya
sejak satu tahun silam. Nasibnya sungguh malang. Dia
selalu di ejek, dengan julukan `Si Autis` atau
semacamnya. Tulisannya juga, masih bisa dibilang acak
acakan. Kata guru Pkn, tulisannya masih seperti ceker.
Yaah.. itulah Fadhli. Maka dari itu, aku ingin menjadi
sahabat Fadhli. Aku masih terus melihat langit langit yang
dihiasi dengan bintang-bintang dan bulan yang redup.
“Hei.. Rafiid! sini” teriak Kak Nida. Teriakkan itu
membuyarkan ku dari lamunanku. “Hufh.. ” aku
menghela nafas. Dengan cepat, aku segera menghampiri
Kakakku. “Kak Nida, ada, apa?” tanyaku seraya
memegang tangan Kak Nida. Kak Nida tak menjawab.
Melainkan hanya memperlihatkan sebuah buku diary
berwarna biru yang unik. Hmm.. apa ya itu? batinku
dalam hati.
Tiba-tiba saja, ada memori yang mengingatkanku akan
buku diary itu. “Iiih.. kak Nida! itu kan buku diary ku!
sini” seruku. “Eum.. nggak ah!” sahut Kak Nida sambil
membuka isi diary ku. Spontan, aku marah. “Heh.. Kak

279

Nidaaa!” ucapku kesal. Amarahku sudah tak bisa ditahan.
“Iuh.. kakak macam apa itu? Sini..” kataku ketus sembari
merebut diaryku yang di pegang kak Nida.
Setelah mendapatkan diary ku, aku langsung berlari ke
kamar untuk membaca kembali isi diary itu. “hmm..
Diary itu, bukannya diaryku saat Tk?” pikirku.
“Sudahlah, tidak usah dipikirkan” kataku memutuskan.
Krek.. kres… aku pun membuka halaman pertama.
Disitu, tercantum Namaku, Tempat tanggal lahir, dan
umur. “Huaha.. hihi… tulisannya masih jelek” aku masih
tertawa geli. Satu per satu, aku membuka halaman
berikutnya. Aku masih asyik membaca diary ku yang
dulu. Tepat di tengah-tengah diary, ada secarik kertas
yang dilipat-lipat. Aku semakin penasaran. Tanpa basa
basi lagi, aku segera membuka secarik kertas itu. Setelah
dibaca lebih telaah, aku semakin tahu. Itu adalah surat
untuk Fadhli. Ihiks.. hiks.. air mataku mulai bercucuran.
“Ini adalah surat yang tak tersampaikan!” gumamku
mantap. Melihat foto Fadhli, aku segera tersenyum.
Mimik wajahku kembali ceria. Dengan cepat, aku
mengelap air mataku. Mataku mengerjap-ngerjap. “Fadhli,

280

dimana kamu? Aku ingin kamu disini huhu… hua.. hiks..
hiks..” kataku.
Karena hari sudah larut malam, aku memutuskan untuk
tidur. Dengan semangat, aku segera merebahkan
badanku. Tapi… rasanya, ada yang janggal. Aku Pun
melemparkan bantal. Lalu, aku memeriksa balik bantal.
Ooh.. ternyata, itu adalah surat yang aku buat untuk
fadhli. Surat itu aku buat bersama Khansa, dan Nisa.
Mereka berdua juga adalah sahabatku. dalam
persahabatan itu, ada nama-nama nya. Misalnya, Aku
adalah Mono, Khansa adalah Mana, Nisa adalah Mini,
dan yang terakhir pastinya Fadhli, adalah Munu.
Lagi-lagi, air mataku bercucuran. Tangisanku meledak.
Sambil memegang surat itu, aku menerawang mengingat
hari-hari bersama Fadhli. Oh, Fadhli, Alamat rumahmu
dimana? Disini banyak surat untukmu yang tertumpuk.
Fadhli, good bye! aku takut jika aku pergi duluan atau
sebaliknya. Tapi, Hanya Allah yang menentukkan.
Semoga suatu saat, kita bertemu kelak. Meskipun di
dalam mimpi, sedikit demi sedikit rasa rindu pasti akan
terobati. Aku janji Fadhli, tak akan pernah melupakanmu.

281

HARAPAN

Oleh : Azahra Khana Mantika
Pada suatu hari hidup seorang anak tunggal yang bernama
Citra. Ia anak perempuan pertama sekaligus cucu
perempuan pertama. Sejak kecil ia sudah dilatih untuk
menjadi mandiri oleh kedua orang tuanya. Citra tumbuh
di keluarga yang berpendidikan dan sukses secara karir .
Dari SD Citra sudah difasilitasi lebih secara pendidikan
dengan harapan orang tuanya Citra bisa menggapai masa
depan yang jelas dan cerah. Sejak kecil Citra selalu
konsisten dengan cita-cita yaitu ingin menjadi pengusaha ,
ia dari SD sudah senang berjualan kecil-kecilan seperti
penghapus berkarakter , kertas file binder , pulpen warna
warni , dan slime. Bahkan Citra pernah mendapat omset
250.000 dalam sehari dalam berjualan, terbilang cukup
besar untuk anak usia SD. Namun orang tua Citra
menganggap bahwa cita-cita Citra dari SD tersebut
hanyalah cita-cita sementara dengan maksud akan
berganti seiring nya waktu. Kedua orang tua Citra sama-
sama berprofesi sebagai dokter spesialis. Yang diharapkan
oleh kedua orang tuanya adalah Citra harus menjadi
penerus nya , dengan kata lain Citra harus menjadi

282

Dokter. Seiring berjalannya waktu tak terasa Citra sudah
masuk SMA dan penentuan jurusan IPA atau IPS , Citra
pribadi ingin masuk IPS karena ingin meneruskan kuliah
di bidang bisnis manajemen. Namun sangat disayangkan
orang tua Citra sangat tidak setuju dengan hal itu. Citra
terus dituntut untuk menjadi seorang dokter , namun ia
sangat menginginkan menjadi pengusaha. Citra sadar ia
tidak minat di bidang tersebut kemudian ia berkata
kepada kedua orang tuanya.

“mah , pah , Citra ga bisa ikut kata mama papa kali ini. Ini
waktu yang di tunggu-tunggu Citra mah , pah” Ucap Citra.

Kemudian orang tua nya menjawab “ Citra kamu harus
nerusin mama papa. Kamu itu anak satu-satunya yang
kami punya.. kami berharap dengan siapa jika kamu ga
mau jadi dokter ? “ Ucap papah nya.

“Citra… jadi dokter memang punya tanggung jawab yang
besar..tapi percaya sama mama kalo kamu serius
jalaninnya itu hasil yang di dapat juga keuntungannya buat
diri kamu sendiri. Selama ini mama papa kan udah mem

283

fasilitasi kamu dengan lebih..ayolah.. ini demi kamu juga
kok bukan buat orang lain”

Kemudian Citra pun menangis ia merasa menjadi punya
beban tersendiri , ia juga sedih cita-cita nya kandas begitu
saja. Akhirnya dengan berat hati Citra menuruti kemauan
orang tuanya. Ia memilih jurusan IPA untuk meneruskan
menjadi dokter. Seiring berjalannya waktu Citra pun
mulai menjalani ‘Citra yang baru’ demi membuat bangga
kedua orang tuanya. Karena dari awal Citra sudah merasa
berat hati jadi lah Dia mengalami penurunan prestasi.
Dari SD sampai SMP Citra selalu masuk 3 besar , namun
karena hal ini terjadi Citra hanya mendapat peringkat 8 ,
orang tua Citra pun kaget mendengar hal tersebut terjadi
kepada anaknya kemudian sepulangnya Citra dirumah ,
mama nya menegur Citra

“Citra kamu kok turun gini sih nilainya ? kamu kalo kaya
gini terus kamu gabisa masuk PTN loh apalagi kan mau
kedokteran. Ayo Dong Citra yang serius ! mama gak suka
kalo gini caranya.”

284

Kemudian Citra menjawab “hmm…iya mah ini masih
penyesuaian aja… semester depan aku usahain lagi
ya..maaf ya mah kali ini bikin kecewa nilainya”

“Ya sudah belajar lebih giat lagi ya… yang semangat Citra”

Kemudian Citra naik ke kamarnya dan menangis karena
ia merasa kurang percaya diri dengan yang ia jalani
sekarang , ia terus dihantui rasa takut tidak sesuai dengan
harapan kedua orang tuanya.

-2 tahun kemudian-

Sekarang citra makin merasa takut. Karena tinggal
hitungan bulan Citra harus berjuang di bidang yang tidak
ia impikan namun inilah yang orang tuanya inginkan.
Keseharian Citra kini hanya bergelut pada buku untuk
masuk ke universitas negeri. Kedua orang tua Citra lagi
dan lagi memberikan beban harapan kepada Citra yaitu
Citra harus ke Universitas Indonesia untuk meneruskan
jenjang kedokterannya. Selama ini Citra hanya bisa
menangis sendirian di kamarnya karena kian hari beban
harapan yang diberikan kepada Citra makin berat. Setiap

285


Click to View FlipBook Version