KISAH SI PEMULA
Oleh: Febriyani Rachman
Gunung gede adalah gunung pertama kali yang
saya daki. Pendakian ini bener-bener nekat dan dadakan.
Kebetulan yang ikut mendaki hanya berlima itupun empat
cewe satu cowo. Posisinya disitu saya tidak tahu medan
dan kurangnya persiapan yang matang.
Gunung gede memiliki 3 jalur pendakian yaitu, via
Selabintana, via Cibodas dan via gunung Putri. Saya dan
rombongan memutuskan untuk memilih jalur putri, yang
merupakan jalur paling banyak di minati para pendaki.
Kami berangkat tanggal 28 september 2018 tepatnya di
malam hari, titik kumpul keberangkatan di terminal Kp.
Rambutan. Kita disana naik bus ke arah Cianjur turun di
pertigaan kebun raya cibodas kemudian kita memutuskan
carter angkot untuk sampai ke basecamp-nya. Singkat
cerita sampailah kami di basecamp, kami langsung
bergegas mengangkat barang-barang bawaan kami.
Pagi hari telah tiba, semua orang packing ulang
barang bawaannya serta mengecek kembali apakah ada
386
yang tertinggal atau tidak. Sebelum mendaki kita
melengkapi syarat-syarat pendakian salah satunya surat
keterangan sehat dan lain sebagainya. Kami juga tidak
lupa mencari warung untuk mengisi energi dan tidak lupa
berdoa karena pendakian akan segera dimulai.
Berjalanlah kami menuju basecamp pendaftaran, harga
tiket dari gunung putri sekitaran Rp. 15.000 - Rp. 20.000.
Setelah pendaftaran selesai kami melakukan breefing.
Pendakian ini dipimpin oleh Bima. Karena satu tim
minimal 5-8 orang jadi kami memutuskan untuk gabung
sama pendaki lain yang anggotanya hanya 3 orang saja.
Jadi total anggota kami sekarang ada 8 orang.
Dengan sigap Bima memerintahkan untuk
membuat barisan kebelakang. Setelah membuat barisan
Rahma dengan asik melihat pemandangan sekitarnya
bersama Acel, Adel dan Dinda . Tiba-tiba 3 cowo
pendaki itu menyapa kami. “Permisi, kalian yang
dibasecamp tadi ya?” tanyanya kepada kami. “iya, ohh
kakak yang di depan ruangan kita ya, yang di gelosoran
itu?” ucap Acel. “iya benar, kalian ber lima aja, cowonya
satu?” tanya Ka Rendo dengan heran. “iya ka, ini juga
387
modal nekat banget kesini, pemula lagi ka” ujar Rahma.
“yauda kita kan satu tim, jadi kalau butuh apa-apa bilang
saja ya” Ucap ka Rasya. “oke ka” jawab Bima, Rahma,
Acel, Adel dan Dinda. Akhirnya mereka jalan bersama
untuk menuju pos 1.
Gunung gede via putri ini hampir setiap trek nya
adalah jalur menanjak dan sedikit sekali jalan datar.
Kenapa kami memilih jalur via putri? Karena kami akan
bertemu dengan salah satu pos yang paling bagus dari
semua pendakian yakni Alun-alun Surya Kencana.
Memiliki lahan yang sangat luas dipenuhi bunga edelweiss
dan rerumputan, serta tempat favorite mendirikan tenda
bagi para pendaki. Tibalah kami di pos 1, setelah berjalan
kurang lebih 1 jam. Trek ini didominasi oleh perkebunan
dan sawah-sawah, jalanan masih datar dan sedikit
menanjak. “gimana udah mulai berasa belum?” tanya ka
Rendo kepada Rahma. “masih aman ka haha” jawab
Rahma. Selanjutnya kita akan menuju pos 2 memakan
waktu 1,5 jam, disini semakin berat trek nya. Acel mulai
kambuh asmanya dengan sigap kita langsung
388
menolongnya. “kita break dulu ya teman-teman, isi tenaga
dulu semua, 10 menit kita jalan lagi” ujar ka Brandon.
Setelah 10 menit kami bergegas untuk
melanjutkan perjalanan, kali ini Ka Rendo, Rahma,
Dinda, dan Bima jalan duluan karena mereka ingin
membangun tenda supaya yang lain pas sampai sudah
tinggal istirahat. Sampailah di pos 3, perjalanan sedikit
letih dan tiba-tiba, “auu sakit” rintih Rahma karena
kakinya keram tiba-tiba. “maa kenapa, yang mana yang
sakit? Sini-sini duduk dulu, diem jangan bergerak lemesin
aja, kaki kamu ke paha saya, tahan yaa” dengan sigap Ka
Rando membantu Rahma yang sedang keram. “Kaa sakit
kaa, udah ka”rintih Rahma dengan muka pucatnya. “nih
minum dulu, abis itu kalau sudah enakan kita lanjut jalan
ya, oh ya ini ada coklat dimakan ya buat ngisi energi” ucap
Ka Rendo dengan nada pelan. Rahma pun mengangguk.
Disini posisi Bima dan Dinda sudah berada di pos 4
mereka buru-buru ingin mengejar mendirikan tenda
karena cuaca sedikit mendung. Sedangkan Ka Rasya, Ka
Brandon, Acel dan Adel tertinggal di belakang karena
389
mereka jalan pelan-pelan menuntun Acel agar asmanya
tidak kambuh lagi.
Tibalah di alun-alun surya kencana ada warung
gorengan, semangka, berbagai es, wahh enak deh disini.
Langsung Rahma dan Dinda membelinya, setelah
membeli mereka ditarik sama Ka Rendo dan Bima ke
Api unggun untuk menghangatkan badannya yang sudah
mulai tertusuk oleh anggin kencang alun-alun surya
kencana. Disusul juga oleh pasukan belakang yaitu Ka
Rasya, Ka Brandon, Acel dan Adel. Tanpa berlama-lama
mereka bergegas mencari lahan untuk mendirikan tenda.
Akhirnya nemu tempat yang cukup dekat untuk lanjut
summit puncak gunung gede. Setelah selesai mendirikan
tenda mereka istirahat, shalat dan ada juga yang mengisi
air dari sumber air letaknya dekat goa, sedikit melimpir
kebawah dekat plang petunjuk arah. Tak lupa
mengabadikan dokumen foto-foto mereka di alun-alun
surya kencana di sore hari. Tampak menawan sekali latar
belakang fotonya adalah gunung pangrango.
Malam pun tiba, semua memasak untuk mengisi
perut yang sudah mulai keroncongan dan ditemani oleh
390
lagu-lagu yang syahdu. Setelah kelar makan, mereka
bermain dan berbincang-bincang layaknya debat dadakan
hehe. Waktu pun berlalu sudah saatnya untuk tidur Adel
dan Acel tiba-tiba tidak tahan untuk buang air kecil, dan
mereka berdua langsung mencari lahan yang tertutup
untuk buang air kecil. Walaupun sedikit seram, gelap,
dan mengerikan tapi di terobos saja dari pada ngompol
kan ribet lagi hehe.
“ maa gimana sudah membaik belum kakinya, apa
masih nyeri?” tanya Ka Rendo dengan penuh khawatir.
“alhamdulillah aman ka, jurus kakak ampuh deh, belajar
dimana ka hehe? “ jawab Rahma dengan wajah
tersenyum. “belajar otodidak dong hehe, lain kali
olahraga rutin dulu sebelum nanjak, supaya kuat pas
menghadapi trek yang terjal itu” ucap Ka Rendo. “oke ka,
sip deh lain kali saya naik turun tangga bawa galon hehe”
jawab Rahma dengan candaan. “ yehh jangan begitu juga
hehehe” ujar Ka Rendo tertawa dengan senyum tipis.
Tiba-tiba ada yang menepuk pundak Ka Rendo muka Ka
Rendo sedikit ketakutan dan ternyata... “hei ngapain
kalian, asik nih kayanya, join lah” dengan nada polos Ka
391
Brandon tanpa rasa bersalah. “ heh kebiasaan nih,
ngagetin orang tiba-tiba” dengan nada kesal Ka Rendo. Ka
Brandon dan Rahma malah tertawa melihat tingkah Ka
Rendo yang panik ketakutan. “udah-udah sekarang kita
tidur lanjut besok bincangnya, si Rahma matanya sudah
merah tuh, ayo bren masuk ke kandang haha. Good night
maa, mimpi indah” ujar Ka Rendo. “oke ka, kalian juga
ya jangan begadang, masih panjang perjalanan besok”
jawab Rahma. Mereka mengangguk dan tersenyum serta
mengangkat tangan membentuk oke. Tiba-tiba
dipertengahan malam Rahma dan Adel mendengar
seperti suara harimau, lantas mereka membangunkan
Dinda dan Acel yang sedang tertidur pulas. Sontak
mereka kaget di bayangan tenda mereka ada bentukan
Harimau yang sangat besar. Mereka gemetar dan pasrah,
Rahma pun memberi kode agar mereka tidak grasak-
grusuk. Dan akhirnya harimau pun pergi, mungkin dia ke
tenda pendaki ingin mengambil makanan yang berada di
luar tenda, untung mereka tidak menjadi santapannya.
Pagi pun tiba sudah saatnya mereka keluar tenda
dan menikmati view yang indah dari luar sana. “nyaman
392
juga ya, segar gimana gitu” ujar Adel. “iya dong pagi-pagi
begini liat yang hijau-hijau tuh seger, adem, nyaman, yang
begini enaknya ditemenin sama kopi dan gorengan ngga
si? hehe” balas Ka Rasya. “ wah boleh tuh, bikinin dong
hehe” pinta Ka Brandon. “tanpa disuruh juga udah bikin,
nih ambil satu-satu ya” ucap Rahma dan Acel. “nah gitu
dong peka terhadap isi perut kita haha”ujar bima dan
yang lainnya. Dibalas dengan senyuman sinis Acel dan
Rahma. Setelah kelar mengisi perut, mereka foto-foto lagi
untuk view pagi hari yang cerah ini. Beberapa menit
kemudian mereka beres-beres memisahkan sampah dan
makanan yang masih tersisa. Dan juga merapihkan tenda
karena sudah mau menuju ke puncak gunung.
Beres-beres sudah selesai saatnya berpamitan
kepada 3 kakak pendaki, mereka tidak ikut muncak
karena katanya si sudah pernah mau langsung balik saja
turun di jalur via putri lagi, sedangkan kita via cibodaas
otomatis misah dan entah bisa ketemu lagi ataupun tidak.
Satu persatu bersalaman dan mengucapkan terimakasih
sudah banyak membantu kami dalam berbagai hal.
“Rahma yang kuat ya jangan sempoyongan lagi, hati-hati
393
melangkahnya, nanti ngga ada yang jadi porter dadakan
lagi deh hehe piss” ledek Ka Rendo kepada Rahma. “ ihh
parah nih hehe, insyaallah kuat kok. Yaudah hati-hati ya
ka sama yang lain juga” ujar Rahma. “Semoga kita bisa
berjumpa lagi ya, dengan keadaan yang kuat menghadapi
kerasnya hidup ini” ucap 3 cowo pendaki itu. “jagain
cewe-cewe bim, jangan sampai biarin mereka kelelahan”
ujar Ka Rasya. “jangan juga terlalu dipaksa gas treknya,
kalau pada lelah istirahat dulu 10 menit baru jalan lagi”
ucap Rendo. Semua pun mengangguk. “semangat ya
kalian semoga selamat sampai pulang dengan keadaan
utuh” ujar 3 cowo pendaki. “oke ka hati-hati ya
diperjalanan baliknya, jangan mentang-mentang trek
turun, asal main merosot saja, takutnya kan bahaya” ucap
Rahma. Ka Brandon dan Ka Rasya membalas ucapan
Rahma dengan tangan oke, beda lagi dengan Ka Rendo ia
membalas dengan senyum lebar ke arah Rahma dan
berkata ”jaga diri ya baik-baik diperjalanan, terimakasih
sudah mau temenan sama gua yang bawel ini, jangan
lupain gua ya dan gua bakal selalu inget lu sampai
kapanpun” sambil mengelus pala Rahma. Sontak air mata
Rahma menetes tanpa disadari, terharu karena sudah bisa
394
mengenal Ka Rendo dan lainnya yang begitu benar-benar
baik, mulai dari awal nanjak sampai saatnya perpisahan.
Akhirnya mereka berpelukan untuk memberi semangat
melanjutkan perjalanannya.
Ini yang dinamakan pertemuan dan pastinya juga
ada perpisahan, pertemuan yang membuat saya
merasakan kebahagiaan tanpa disadari juga akan sakit jika
muncul kata perpisahan.
395
VENUS
Oleh: Hafny Lutfiana
Perkenalkan, namaku Venus. Aku seorang gadis
berusia 16 tahun yang baru saja menginjak kelas 1 SMA.
Sebenarnya kehidupanku berjalan biasa saja seperti pada
umumnya, ya meskipun tidak bisa bohong kalo hidupku
ngga selamanya bahagia, pasti ada sedih nya, pasti ada
kesal dan marahnya juga. Kehidupan di SMA benar benar
sesuatu yang jauh dari bayangan ku sebelumnya. Bukan
berarti tidak menyenangkan, tentu sangat menyenangkan,
omongan dari orang diluar sana yang mengatakan bahwa
“masa masa SMA adalah masa yang paling
menyenangkan, tidak bisa di gantikan oleh masa yang
lain”, ternyata itu benar terjadi di kehidupan semasa SMA
ku.
Lingkungam baru, teman baru dan guru guru baru
memang membuatku awalnya susah untuk beradaptasi,
tetapi ternyata proses adaptasi berjalan dengan cepat dan
aku mendapatkan beberapa teman dekat baru. Aku
memiliki 5 teman, Ophlia, Delilah, Jessie, Joline, dan
396
Caroline. Diantara mereka ber 5 aku selalu merasa bahwa
aku adalah yang paling pintar, dan selalu mudah saat
menangkap ilmu pada pembelajaran. Ini bukan hanya
pengakuanku semata saja, tetapi memang semua teman
ku selalu bertanya pada ku, meminta tolong pada ku
ketika mereka memiliki kesusahan saat pembelajaran.
Tetapi, aku tidak selalu ingin membantu mereka karena
menurutku mereka harus belajar lebih giat lagi sendiri,
lagipula jika aku terus terusan mengajarkan mereka, nanti
justru mereka bisa lebih pintar dari ku dan menyaingi
prestasiku, aku tidak mau itu terjadi.
Sampai, pada suatu hari di kelas kami ada murid
baru bernama Mika, ia merupakan pindahan dari salah
satu sekolah terbaik di kotaku. Motivasi Mika pindah
adalah dengan alasan jarak dari rumahnya yang terlalu
jauh dari sekolah lamanya.
Selama beberapa hari dari kedatangan Mika di
kelas, dapat aku lihat bahwa Mika adalah siswi yang sangat
mudah melakukan adaptasi. Bukan hanya adaptasi
bersama lingkungan dan teman di sekolah, tetapi juga
dengan pelajaran yang telah lewat beberapa minggu lagi.
397
Dalam mengikuti olimpiade Nasional yang
dilakukan se-Jakarta, sekolah kami mencari kandidat yang
dapat di jadikan perwakilan sebanyak 1 orang.
“bayangkan, dari banyaknya manusia di sekolah ini, hanya
dipilih satu!” –ujar Venus bercerita kepada Jessie.
“kayanya kamu harus belajar lebih giat lagi deh, Ven.
Soalnya anak baru yang ada di kelas kita itu ternyata salah
satu murid pintar di sekolah lamanya. Kamu lihat sendiri
kan bagaimana dia di kelas”. Mendengar perkataan dari
Jessie, tentu saja aku merasa sangat bersemangat dan ingin
bersaing dengan Mika untuk mendapatkan posisi sebagai
perwakikan mengikutin olimpiade.
Berbeda dengan aku, aku lihat Mika tidak terlalu
melakukan banyak usaha, dia tidak belajar tambahan, dia
sering bermain hp saat jam kosong, dan sebagainya.
Seperti yang sudah bicarakan diatas bahwa Mika sangat
mudah menerima ilmu baru, sehingga Mika mendapatkan
beberapa rekomendasi olimpiade dari guru, bahkan ada
seorang guru yang langsung ingin menunjuk Mika untuk
ikut serta olimpiade matemarika tersebut.
398
Tidak hanya itu, Mika selalu sabar saat ada
beberapa individu yang bertanya pada Mika, ia selalu
sabar dalam menjelaskan pada mereka. Oleh karena ini,
banyak siswa dan siswi yang akhirnya meninggalkan dan
berpindah menjadi teman dari Michele. Lama kelamaan
aku merasa sepi, dan bosan, karena semua teman ku
menjauhi ku.
Sekolah kami mengadakan ujian pra olimpiade bagi
beberapa siswa yang sudah mendaftarkan dirinya untuk
mengikuti olimpiade ini, selain itu kami di ujikan untuk
mengerjakan beberapa soal.
Ternyata yang terpilih adalah Mika setelah terjadi
rundingan yang sangat lama antara para guru. Tidak
terpilihnya aku membuat ku merasa berkecil hati, dan
berpikir apakah selama ini aku terlalu pelit ilmu dan
terlalu kompetitif bersama teman ku yang lain.
Aku sadar bahwa yang aku lakukan tidak baik,
sangat tidak baik, apalagi sikap yang terkesan tidak ingin
berbagi ilmu karena takut tersaingin oleh teman teman ku
sendiri.
399
Dan, aku perlahan merubah sikap, mecoba
memperbaiki diriku dan meminta maaf secara langsung
pada teman-teman ku yang sempat terluka hatinya atas
perlakuanku.
Pada akhirnya mereka kembali berteman dengan
aku, yang aku semogakan semoga tidak ada lagi aku
merasa terlalu takut disaingin oleh orang lain, dan
berusaha meyakinkan bahwa sebagai teman justru harus
saling mendukung bukan malah bersaing apalagi secara
tidak sehat.
400
TIMBAL BALIK
Oleh: Indah Dwi Lestari
Raina seorang mahasiswi yang akan menghadapi
semester akhir, kehidupan yang dijalani saat ini sangatlah
membuatnya pusing. Ia hidup menjadi sebagai anak
rantau di daerah malang, tinggal di kos-kosan berdua
bersama teman se fakultas dan sejurusan yang sama
namun beda kelas.
Liburan semester akan segera berakhir, raina akan
menghadapi semester 7, waktunya mulai menyusun
proposal dan mulai lebih sibuk dari sebelumnya. Ia
menelfon dina untuk menanyakan perihal kapan akan
pulang ke kos,
“Assalamuaalaikum din?”
“Waalaikumsalam rain, ada apa?”
“Kamu kembali ke kos kapan?”
“Belum tau rain, kamu kapan?”
401
“Minggu depan kali ya, aku mau mulai belajar nyusun
proposal din”
“Oh okey rain mungkin aku bbrp hari setelah kamu”
“Okey din sampai jumpa di kos ya”
“Siap rain”
Telefon berakhir, mereka berencana akan kembali lebih
dulu ke kos supaya dapat mempelajari penyusunan
proposal lebih awal.
Raina dan Dina telah berteman sejak awal ospek
dikampus. Mereka sudah sangat dekat ditambah sekarang
satu kos bareng.
Mereka sering saling sharing bareng mengenai tugas-tugas
kuliah, bahkan tidak jarang saling membantu dalam
mengerjakan tugas.
1 minggu berlalu…
Raina telah kembali ke kos, ia berencana akan
menyelesaikan studi dengat cepat. Ketika ingin masuk
kedalam kos, ia berpapasan dengan tetangga kosnya,
402
“Hai rain, udah balik nih?”
“Iya kak pen nyusun proposal duluan”
“Wah ambis juga lo, semangat deh rain. gua jalan dulu ya
rain bye”
“Bisa aja kak, oke hati hati kak”
Masuk kedalam kos raina merebahkan diri karna lelah
menempuh perjalanan. Bangun di sore hari, Raina
langsung berberes kos. Tiba-tiba pintu kos ada yang
mengetuk
tok tok
“Iya sebentar” ujar Raina.
Raina membuka pintu, kaget karna tiba-tiba Dina juga
pulang ke kos.
“DINA?? lo jadinya pulangg? “
“Iya rain pengen ikut ambis juga kaya lo “
Mereka berbincang sambil masuk keadalam kos.
403
Hari-hari telah mereka lewati, menyusun rencana
proposal dan sudah mulai bimbingan ke dosen.
Tapi ada yang aneh menurut Raina, mengapa Dina tidak
pernah membicarakan terkait proposalnya kepada
dirinya?
Ia hanya bisa berpikir, mungkin dina memang sudah
paham.
Suatu ketika Raina menitipkan laptopnya kepada Dina
ketika mereka sedang mengerjakan tugas di Coffeshop
karna ada buku yang ketinggalan di kos sehingga ia harus
kembali untuk ke kos.
“Din buku gue ketinggalan, gua ambil dulu ya”
“Eh iya rain”
“Oke gua tiitip laptop gua”
“Sip rain, hati hati lu “
Setelah Raina kembali ke kosannya, Dina mengintip
Laptop Raina melihat proposal yang telah dikerjakan
Raina.
404
Tiba-tiba terlintas ide licik di otaknya, untuk mencuri
hasil proposal Raina.
“Ah gue copas aja kali ya proposal raina, dia kan belum
bimbingan juga” pikir Dina.
Langsung Dina pindahkan ke filenya melalui flashdisk.
Raina datang bertepatan dengan usainya Dina meng-
Copy hasil proposal Raina.
Pengajuan Proposal Raina ditolak, katanya sudah ada
yang menggunakan judul itu. Raina menangis di dalam
kos, Dina datang dengan muka sumringah karena
Proposalnya di acc tinggal maju untuk sidang.
“Kenapa rain” ujar Dina pura pura tidak tahu.
“Proposal gua ga di acc, katanya udah ada yang gunain”
ujar Raina sambil menghapus sisa air mata di pipi.
“Kok bisa sih?”
“Gue juga gatau din”
Setelah perbincangan tadi, Dina pamitan untuk keluar.
405
Dina meninggalkan print proposal di atas kasurnya, karna
penasaran Rain melihat proposal Dina, dan ternyata
sungguh mengkejutkan bahwa judul dan isinya sama
persis dengan yang ia kerjakan. Sungguh ia kecewa sekali
dengan Dina. Ia ingin marah tapi tidak bisa, sungguh hal
ini menjadi pembelajaran sekali buat Raina untuk tidak
mempercayai orang secara berlebihan, nyatanya teman
sekamarnya sendiri dengan teganya mengambil isi dan
serta judul proposalnya.
Raina pura pura tidak tahu bahwa Dina mengambil judul
serta isi yang ada hingga waktu seminar proposal tiba,
raina berusaha mati matian mengejar ketertinggalan dan
akhirnya ia bisa megikuti tepat pada waktunya.
Ternyata Dina gagal di seminar proposal ini karna ketikaa
ia menjelaskan tidak mengetahui isinya, karena memang
itu bukanlah hasil yang ia kerjakan sendiri. Pembelajaran
untuk Dina bahwa proses pasti akan membersamai hasil.
406
SEMUA SUDAH DITAKDIRKAN
Oleh : Inesha Audia Putri
“Tuhan memang tidak adil”
Kalimat itu yang selalu ada di pikiran ku saat ini. Saat ini
aku ingin sekali berteriak sekencang–kencangnya untuk
meluapkan segala emosi yang ada di pikiranku. Pikiranku
sangat kacau sekali, aku tidak ingin keluar dari kamar
untuk bertemu orang–orang sekalipun orang yang ada di
rumah ku sendiri, bahkan nafsu makan pun tidak ada dan
tidak berdaya untuk makan. Sementara waktu aku tidak
ingin bertemu siapapun. Ketukan pintu yang selalu ku
dengar berulang–ulang pasti selalu aku hiraukan. Aku
merasa gagal karena kalah dalam seleksi olimpiade tingkat
nasional yang diadakan pemerintah provinsi di daerah
tempat tinggalku. Aku binggung mengapa aku bisa seperti
ini, apakah aku yang tidak bisa mensyukuri nikmat yang
telah diberikan-Nya kepadaku atau aku yang kurang
berusaha dan belum maksimal untuk semua yang aku
inginkan. Entahlah saat ini aku tidak bisa berpikir dengan
tenang dan baik.
407
“Puuuuttttttrrriiii” teriak arumi dari luar kamarku dengan
suara khasnya yang membuatku sadar dari kebingungan
dan lamunan. Mendengar teriakan arumi tanpa pikir
panjang sontak aku langsung berlari membuka pintu
rumah untuk arumi. “arumi datang di waktu yang tepat”
gumamku di dalam hati.
Oh iya, perkenalkan nama ku putri. Putri Balqis, saat ini
aku duduk di kelas 2 SMA di salah satu sekolah favorit di
Bangka Belitung. Arumi adalah sahabat ku, kita sudah
berteman sejak kecil pada saat di taman kanak-kanak.
Arumi sudah aku anggap seperti bagian dari keluarga.
Semua permasalahan yang sedang aku rasakan selalu aku
curahkan kepada Arumi karena Arumilah yang dapat
mendegarkan semua keluh kesah yang aku rasakan.
Walaupun Arumi tidak pandai merangkai kata-kata untuk
menenangkan ku tapi Arumi merupakan sosok
pendengar yang setia dan baik. Itu semua sudah lebih dari
cukup bagi diriku.
“Putri kamu kenapa?” Tanya Arumi kepada ku.
408
Tangis sesak di dada pecah seketika mendengar kalimat
itu. Entah mengapa aku sangat emosional ketika
ditanyakan seperti itu, aku menangis dipelukan Arumi.
Arumi hanya diam sambil memeluk erat sembari berkata
“keluarin saja apa yang sedang kamu rasakan” setelah
merasa puas menangis aku langsung menceritakan
semuanya kepada Arumi tanpa pikir panjang.
“Kamu kenapa Putri?” Tanya Arumi
“Arumi kenapa semua nya terlihat tidak adil ? semesta
pun sepertinya tidak menginginkan ku untuk berada
dalam olimpiade itu. Buktinya langit pada saat itu
mendung tidak seperti biasanya. Matahari bersembunyi
dibalik awan seolah-olah tidak ingin melihat
perjuanganku. Usahaku kurang apa mi? mengapa semua
usaha yang aku lakukan terlihat sia-sia? Semua waktu ku,
aku habiskan untuk belajar, latihan soal-soal, hingga
bimbel aku lakukan setiap hari. Waktu istirahat pun aku
gunakan untuk belajar, namun hasilnya nihil. Aku gagal
dalam seleksi olimpiade nasional yang di adakan oleh
pemerintah provinsi ku. Aku kesal rumi!!!” Keluh Putri.
409
“Tidak ada usaha yang sia-sia Put. Semua sudah di atur
sedemikian rupa. Semua sudah punya porsinya masing-
masing. Mungkin ini rencana yang terbaik menurut
Tuhan, berhenti berpikir bahwa tuhan tidak adil kepada
kamu. Kegagalan mu hari ini bukan untuk mengakhiri
semuanya. Semua pikiran burukmu tidak akan merubah
apapun, tidak akan bisa membuat kamu berada di
olimpiade yang telah gagal kamu ikuti. Buang dan
hempaskan pikiran negatif yang ada di otak kamu.
Terbangkan lagi sayap kamu yang cantik untuk mengejar
mimpimu yang indah. Masih banyak olimpiade –
olimpiade lain yang bisa kamu ikuti”. Jawab Arumi yang
di akhiri dengan senyum manisnya.
Ucapan Arumi memang ada benarnya. Masih banyak
olimpiade yang bisa aku ikuti. Aku tersadar bahwa apa
yang aku pikirkan itu tidak baik. Tuhan selalu adil kepada
setiap umat-Nya. Terutama bagi orang yang sudah
berusaha. Hanya saja aku yang tidak mensyukuri terhadap
pencapaian yang aku dapatkan saat ini. Aku hanya harus
berusaha lebih giat lagi serta berdoa kepada tuhan dan
410
selalu meminta restu kepada orang tua terhadap semua
yang akan aku lakukan.
Setelah Arumi menasihatiku Arumi kembali balik
kerumahnya dan meninggalkan aku dalam keadaan sudah
sedikit tenang dan bisa untuk makan. Keesokan harinya
Arumi mengirim sebuah pesan kepadaku mengenai
informasi seleksi olimpiade yang dapat aku ikuti dalam
waktu dekat ini. Arumi memang sahabat yang dapat
mengerti perasaan dan dapat aku andalkan.
“Info seleksi olimpiade” pesan singkat yang Arumi
kirimkan kepada ku
“Terima kasih Arumi. Aku akan mempersiapkannya
dengan baik” Jawab Putri
Semangat yang kembali terisi, aku tidak mau terus–
terusan berada dalam kesedihan, terus menyalahkan
takdir yang tak seharusnya aku salahkan. Aku mau
membuat keluarga ku bangga terutama kedua orang tua
dan tentu membuat Arumi bangga terhadapku, sebagai
sahabat ku satu-satunya. Tanpa berpikir panjang, aku
411
langsung mengisi biodata dan segera mengirimkan
formulir serta berkas yang dibutuhkan saat melakukan
pendaftaran olimpiade. Sudah 2 hari berlalu, aku
mendapatkan email bahwa aku lolos dalam tahap 1 yaitu
tahap registrasi. Aku semakin semangat untuk mengejar
mimpi – mimpi ku.
Hari demi hari aku habiskan dengan belajar, latihan soal–
soal dan tentunya berdoa kepada tuhan serta meminta
restu kedua orang tua agar di permudahkan segala urusan
ku. Sesekali Arumi datang kerumah untuk sekedar
mengetahui perkembangan ku dalam menyiapkan seleksi
olimpiade itu. Aku semakin percaya dengan kalimat
bahwa usaha tidak akan mengkhianati hasil.
Tiga hari lagi seleksi olimpiade itu akan dilaksanakan.
Perasaanku semakin campur aduk dan lagi lagi aku
kembali berpikir yang tidak tidak. Namun, beruntungnya
aku mempunyai keluarga dan sahabat yang selalu
memberikan dukungan dan motivasi. Arumi juga
mengajak ku untuk pergi ke pantai supaya aku dapat
412
membebaskan pikiran ku dari hal – hal yang tidak aku
inginkan.
Akhirnya hari dimana tahap seleksi 2 dilaksanakan. Tepat
pukul 07.30 WIB aku pergi ke tempat seleksi itu
diadakan, aku ditemani oleh mama, ayah dan juga sahabat
tercinta yaitu Arumi. Sepanjang jalan aku masih terus
belajar dan sesekali melihat kearah luar jendela dengan
jantung yang berdegup kencang. Beberapa kali Arumi
selalu mengajak ku untuk bercerita, namun aku tetap
dengan keadaan tidak fokus.
Tak terasa satu jam perjalanan telah dilewati, aku tiba di
lokasi tes. Aku langsung meminta doa dan restu kepada
mama, ayah, dan sahabat ku yaitu Arumi agar dapat
mengisi soal tes dengan lancar. Beberapa menit
kemudian, bunyi bel pun terdengar tandanya bahwa
seleksi akan di mulai dan panitia langsung mengarahkan
kami menuju ruang aula. Pengawas mulai membacakan
peraturan yang berlaku, setelah pengawas selesai
membacakan peraturan, tes pun dimulai. Aku menarik
nafas panjang dan berdoa saat hendak mengerjakan soal
413
olimpiade. Aku mengerjakan satu persatu soal yang
tersedia. 3 jam berlalu akhirnya tes berakhir, aku merasa
sedikit lega karena aku sudah menyelesaikan untuk
menjawab soal – soal tersebut tanpa terlewatkan. Aku
bergegas menuju mama, ayah, dan Arumi untuk
menceritakan semua yang aku rasakan dan ternayata
selama mereka menunggu ku mereka membacakan surah
yasin untuk ku agar dapat diberikan kemudahan dalam
mengisi soal olimpiade.
Satu minggu telah berlalu, hari yang ku tunggu – tunggu
tiba. Hari dimana pengumuman seleksi tahap 2, melalui
email dikirimkan bahwa aku ternyata lolos dan akan
melanjutkan ke tahap akhir yaitu tahap wawancara dan
aku dimasukkan ke dalam kelompok yang berisi orang –
orang pintar dari sekolah terpandang. Aku sungguh
senang sekali doa mama, ayah, dan arumi terkabulkan.
Sebelum aku pergi menuju olimpiade nasional
sesungguhnya Arumi mengajak ku untuk bakar – bakar di
depan rumah karena aku bakal pergi selama satu bulan.
Malam itu pun kami langsung melakukan bakar – bakar
yaitu bakar sosis, cedea, dan jagung. Sepanjang kami
414
bakar – bakar tidak terasa air mata kami saling berjatuhan
dikarenakan Arumi dan aku tidak menyangka bakal
sampai di waktu yang sepanjang ini untuk sampai di titik
seperti sekarang. Tidak terasa waktu sudah di pukul 22.30
WIB yang mengharuskan Arumi untuk pulang.
Dua hari setelah pengumuman seleksi tahap dua aku
harus pergi ke Jakarta untuk melakukan seleksi tahap
akhir. Di sana aku bertemu dengan menteri pendidikan
dan orang hebat lainnya. Perasaan bangga dan haru
bercampur menjadi satu karena aku sudah ditahap seperti
ini rasanya mimpi. Berawal dari gagal, gagal terus dan
waktunya harus bangkit. Benar bahwa kita harus gagal
terus mencoba lagi daripada gagal tapi tidak mencoba lagi.
Banyak orang yang takut akan ke gagalan padahal gagal
merupakan kunci dari kesuksesan seseorang. Apabila kita
tidak mau mencoba maka termasuk ke dalam orang yang
tidak mau keluar dari zona nyaman.
Aku dan kelompok pun menyiapkan olimpiade ini
dengan sangat sungguh – sungguh, kami saling membantu
satu sama lain. Apabila ada yang tidak mengerti atau
415
kurang paham terhadap materi kami saling bertukar
pikiran. Kami selalu menutup kelemahan anggota
kelompok kami satu persatu. Dan tidak terasa hari
dimana pelaksanaan olimpiade itu tiba. Kami dibagikan
urutan maju oleh panitia dan ternyata kelompok kami
mendapatkan urutan maju ke 5 perasaaan campur aduk
dan tegang semakin terlihat. Seperti biasa kami awali
dengan berdoa dan menelpon kedua orang tua masing –
masing untuk meminta restu.
Waktu pelaksanaan olimpiade ketiga dimulai, satu
persatu kelompok maju untuk menyampaikan argument
dan menyelesaikan soal tepat waktu. Pukul 14.00 WIB
kelompok kami mendapatkan giliran maju, perdebatan
pun dimulai dengan argumentasi yang baik tetapi ada
beberapa orang juga yang mengerjakan butir – butir soal
semuanya kami kerjakan dengan bersama – sama dan
konsekuensi satu kelompok. Tidak terasa olimpiade kami
pun berakhir tengah malam dikarenakan panitia tidak
melihat waktu dan senang dengan suasana olimpiade
seperti ini. Tidak lupa juga kami diputarkan video
416
dokumenter oleh panitia dengan judul dan tema semangat
berjuang.
Tidak terasa waktu pun telah larut malam dan panitia
menyuruh kami untuk beristirahat agar siap untuk
menghadapi hari selanjutnya. Hari – hari terus berjalan
kami diajak oleh panitia mengelilingi ibu kota yaitu kota
Jakarta, saya senang sekali dan tersadar bahwa ibu kota
memiliki gedung yang tinggi dan penduduk yang sibuk
serta macet yang terus menerus. Dengan adanya lomba
seperti ini aku mengambil hikmah yang luar biasa bahwa
hanya bermodalkan giat belajar dan pantang menyerah
manusia biasa dapat menginjak kan kaki ke ibu kota yang
terkenal sibuk akan mobilitas dan cuaca yang terik. Kami
juga mengunjungi tempat sejarah seperti kota tua,
museum bank, museum Indonesia, dan kebun raya
bogor.
Tiga minggu telah berlalu saatnya hari yang aku dan
teman–teman kelompok tunggu bahwa hari ini
pengumuman pemenang dari olimpiade. Jantung ku
kembali berdegup dengan kencang dan tidak henti – henti
417
aku berdoa. Pengumuman olimpiade di umumkan,
dimulai dari juara ke 3, 2, dan 1. Juara 3 dan 2 sudah di
umumkan, aku dan kelompok pun sudah tidak
mengharapkan lagi untuk mendapatkan juara dikarenakan
saingan kami terdiri dari 34 provinsi yang hebat – hebat.
Panitia pun mengumumkan juara ke 1 dan juara ke 1
“adalaaaahhhh” kata panitia dengan nada yang membuat
kami takut dan tegang. Juara 1 dimenangkan oleh provinsi
Kepulauan Bangka Belitung aku dan teman kelompok
sontak tidak percaya dan kami menganggap ini semua
mimpi. Kami menuju panggung untuk mengambil medali
emas dan uang tunai dalam olimpiade sosial tingkat
nasional itu. Aku sangat bangga dan tidak berhenti untuk
mengucapkan syukur atas apa yang telah tuhan berikan.
Aku segera menelepon kedua orang tua dan juga Arumi
untuk memberitahukan kabar bahagia ini. Ternyata
mereka bangga terhadap apa yang aku dapatkan sekarang
ini. Ayah langsung berpesan kepada ku apapun
keadannya jangan pernah tinggalkan sholat dan jangan
menjadi orang yang tinggi yaitu tinggi kesombongan.
418
Aku benar – benar tidak menyangka akan terjadi hal ini
dikarenakan aku sudah tidak percaya dengan rezeki dari
tuhan. Benar apabila kita rajin dan bersungguh – sungguh
maka kita akan mendapatkan sesuatu yang kita inginkan
dengan waktu yang tepat.
419
KISAH 1 HARI AWAL MASUK SEKOLAH
Oleh: Khoiria Triana Sari
Awal masuk sekolah, dimana kita bisa mendapatkan
teman baru dan juga guru baru. ada kalanya senang dan
juga ada kalanya sedih. Senangnya kita akan mendapatkan
guru baru dan juga teman baru, tetapi sedihnya kita akan
meninggalkan teman lama kita, mungkin kita bisa
bersama-sama terus tapi akan ada jarak dan waktu yang
memisahkan.
Oiya aku hampir lupa, perkenalkan nama aku Bimawan.
Aku anak Kepala Desa. Aku tinggal di desa bernama
Desa Pakem. Aku anak ke 1 dari 2 bersaudara. Aku baru
saja duduk di kelas 1 SMP. Aku bersekolah di SMP
Negeri PAKEM 1 yang jaraknya lumayan jauh dari rumah
ku. Umur aku saat ini 13 tahun dan aku mempunyai adik
berusia 5 bulan.
Aku sudah mempunyai teman baru, menurutku dia
sangat ramah dan baik hati. Aku senang bisa berkenalan
dengannya. Temanku bernama Rasya. Ia orang yang
420
sangat ramah, baik hati dan sangat asik diajak berbicara.
Aku selalu berbincang dengan nya, karena menurut ku
dia juga mudah dimengerti.
“Haii, apa aku boleh duduk disebelah mu?”, tanya Rasya
tiba – tiba kepada ku. Tentu saja dengan senang hati aku
menjawab boleh. Rasya pun buru buru duduk di sebelah
ku. Akhirnya... kami berbincang–bincang, dari awal
kenalan sampai bel masuk kelas, ntah apa yang kita
omongin tadi. Kami membicarakan tentang mulai dari
bisa masuk SMP ini, kemudian memikirkan pelajaran apa
yang akan pertama kali kita pelajari, bahkan sampai game
pun kita bicarakan, hehehe...
Tidak terasa sudah terdengar bel berbunyi, bel tersebut
menandakan bahwa pelajaran jam pertama akan dimulai.
Akhirnya aku pun memulai pelajaran pertama dikelas
dengan mata pelajaran Bahasa Indonesia.
Setelah kurang lebih satu jam setengah ku belajar,
akhirnya jam pertama pun selesai...Menurut ku jam
pertama yang cukup asik dan seru, karena Aku belum
belajar full, hanya disuruh perkenalan diri maju ke depan
421
setelah itu Aku juga di suruh membuat cerita selama
liburan. Tetapi tetap saja aku ada PR hari ini...
Oh iya, sejujurnya aku masih belum mengenal satu sama
lain dikelas, karena aku masih merindukan teman kelasku
waktu di sd tapi aku tidak bisa terus–terusan seperti ini.
Aku harus bisa mengenal satu sama lain.
Waktu istirahat pun tiba... Aku bersama Rasya pergi ke
kantin untuk membeli makanan, karena hari ini aku tidak
membawa bekal.
Setelah sampai di kantin... Aku bertanya kepada
Rasya “Kamu mau beli makanan apa,” Rasya pun
menjawab “Sepertinya nasi goreng kantin disini terlihat
enak”. Dan aku pun memesan makanan yang sama
dengan rasya yaitu Nasi Goreng. Tidak selang beberapa
menit makanan kami pun telah jadi, kami sangat
menikmati makan nasi goreng.
Setelah selesai makan... Aku dan Rasya memutuskan
berkeliling sekolah. Kami mengelilingi Sekolah untuk
mengetahui fasilitas apa saja yang ada disekolah kami.
Tiba–tiba saat kami sedang mengelilingi sekolah, ada
422
pengumuman pengambilan buku pelajaran. Kami pun
langsung bergegas menuju Perpustakaan. Sesampainya di
Perpustakaan kami langsung mendapatkan buku paket
pelajaran, namun ada beberapa siswa yang tidak kebagian
karena kekurangan buku, siswa tersebut yaitu Dirla dan 3
teman lainnya. Setelah itu, Aku dan Rasya kembali
menuju kelas, karena akan memasuki jam pelajaran yang
terakhir.
Saat jam pelajaran terakhir... bel pun berbunyi yang
menandakan jam pulang pun tiba. “Akhirnya seluruh
pelajaran hari ini di sekolah sudah selesai”, ucap ku
dengan lirih. Aku pun langsung bergegas keluar kelas.
Namun... ketika aku ingin keluar kelas bersama Rasya,
tiba–tiba ada yang mencegah kami berdua di depan pintu.
Ternyata ia pengen berkenalan dengan kami.
“Haii, ucap Dirla kepada kami. Aku dan Rasya pun
menjawab sapaan Dirla. Lalu dila bertanya “Bolehkah kita
berkenalan?”. Aku dan Rasya serentak menjawab “Tentu
saja boleh”.
423
Setelah kami berkenalan, kami pun pulang ke rumah
masing–masing. Saat di perjalanan pulang aku berpikir,
“Ternyata Dirla tidak kalah asik juga, aku kira Dirla sosok
manusia yang sangat galak karena tampilannya. Untung
saja tadi aku tidak asal bicara di depannya, kalau iya aku
bisa di terkam olehnya”, ucap ku dalam hati.
Ntah kenapa setelah Aku mendengar suara Dirla, Aku
senang dan nyaman, karena ia sosok yang terbuka dan
asik diajak bicara. Oiya Dirla itu perempuan yaa, ia bukan
sembarang perempuan biasa. Bagiku ia sosok perempuan
yang hebat dan bertanggung jawab atas kesalahannya.
Seperti tadi di kantin... sebenarnya ada kejadian. Ketika
Aku dan Rasya sedang makan, kami mendengar suara
tumpahan makanan, dan itu membuat suasana kantin
menjadi ramai dan arah mata mereka tertuju kearah
tempat dimana makanan tersebut tumpah. Ternyata Dirla
tidak sengaja menyenggol orang lain saat sedang berjalan.
Lalu dengan berani hati, Dirla meminta maaf ke orang
tersebut atas kejadian itu.
424
Oiya Dirla pindahan dari kota ke desa. Sejak Dirla
berusia 4 tahun, ia dititipkan oleh orang tuanya ke
neneknya karena orang tuanya sangat sibuk berkerja.
“Huft (aku menghela nafas... ternyata ku sudah sampai di
rumah saja”, ucap ku di dalam hati.
Sesampainya di rumah... Aku langsung pergi mandi
karena merasa tubuh ku penuh keringat. Setelah selesai
mandi... Aku memikirkan “Kenapa ya selama perjalanan
pulang tadi aku memikirkan Dirla?”. Entah lah...
Aku pun teringat bahwa aku punya PR, langsung ku
bergegas untuk mengerjakan semua PR ku hari ini.
Namun saat di pertengahan aku mengerjakan PR entah
kenapa aku teringat kembali sosok Dirla. Akhirnya aku
memberanikan diri untuk mengirim pesan ke Dirla
melalui WhatsApp. “Hai Dirla, apakah kamu sudah
mengerjakan PR hari ini?”, ketik ku di room chat Dirla.
“Ah kenapa aku deg – degan seperti ini ya?”, ucap ku di
dalam hati.
425
Setelah menunggu selama 10 menit... akhirnya pesan ku
dibalas oleh Dirla, “Hm... iya nih aku lagi mengerjakan
tugas hari ini”, balasan pesan Dirla.
Entah kenapa aku senang sekali saat melihat notifikasi
balasan dari Dirla. Akhirnya aku pun dan Dirla
chattingan. Tapi kami sama–sama mengerjakan tugas
bersama–sama. Kami saling mengkomunikasikan hasil
kerja tugas kami masing–masing. Hingga larut malam
akhirnya tugas ku pun selesai dan aku pun sangat lelah
hari ini.
Ohya sebelum aku tidur malam ini, aku ingin akhiri cerita
ku hari ini... karena aku hanya bercerita saat aku masuk
sekolah saja hehe. Terimakasih sudah membaca cerita ku
ini...
426
HOMESTAY
Oleh: Lulita Meisari
Pada hari jum'at, 31 Oktober 2015, kami seluruh
siswa kelas IX MTsN Pamulang di hadiahi dengan berita
yang mengejutkan. Selesai melaksanakan kegiatan jum’at
bersih kami di kumpulkan di lapangan. Berita
mengejutkan itu ialah kita akan dikirim ke desa kecil di
Cianjur, Jawa Barat dalam rangka melaksanakan kegiatan
home stay. Apasih itu home stay? Home stay adalah
program dimana sekolah mencari rumah-rumah
penduduk di suatu daerah tertentu untuk dijadikan
tempat tinggal smentara bagi para siswa-siswi. Di sana
siswa berkegiatan bersama keluarga yang ditinggalinnya.
Tujuan MTsN Pamulang menyelenggarakan kegiatan ini
adalah untuk menumbuhkan empati, kemandirian, dan
tanggung jawab para siswa.
Setelah di beritahu bahwa ada kegiatan Homestay
aku dan teman-teman ku sangat senang dan gasabar mau
cepet cepet Homestay. Karna mendengar cerita dari
kakak kelas tentang Homestay aku dan teman–teman ku
427
semakin tidak sabar untuk menunggu hari keberangkatan
kita ke kampung Sindang Jaya. Kakak kelas menceritakan
ke aku dan teman–teman ku pada saat mereka tahun lalu
juga sudah pernah Homestay.
Ke esokan hari nya, pada waktu jam istirahat.
Teman kelas ku bernama Venny datang menghampiri ke
meja ku. “lulita ayo kita ke depan ruang guru liat
kelompok homestay kita siapa aja?”. “loh emang udah
ada pembagian kelompok nya ven?” jawab ku. “sudah lul,
ayo liat yuk!”. Dan akhirnya aku dan Venny menuju
depan ruang Guru untuk melihat pembagian kelompok
Homestay. “yah ven kita ga sekelompok, ternyata
pembagian kelompok nya menurut absen”. “yah iya ni lul,
kamu sama salma ya sama nasywa juga. Huh enak
banget!” jawab Venny yang tidak suka melihat teman
sekelompok nya. “gapapa ven itukan ada aisyah, apalagi
ada si sulis tuh pasti dia ngelawak mulu.” Jawaban ku
untuk meredahkan ke kesalan Venny. “iya sih lul bener
juga, yauda deh gapapa” jawaban Vennya sudah mulai
tenang.
428
Tinggal 2 hari lagi menuju Homestay, teman-
teman ku semakin semangat banget untuk cepat-cepat
Homestay. Akhirnya setelah selesai tilawah Al-Qur’an,
seluruh siswa–siswi kelas IX di kumpulkan lagi di
lapangan untuk pengarahan kegiatan Homestay. Guru
pembimbing Bu Yeti, memberi pengarahan banyak
tentang kegiatan Homestay. Dan Pak Oman membagikan
list barang–barang apa saja yang harus di bawa, lumayan
banyak sih.
Setelah selesai pengarahan kegiatan Homestay
dan pembagian list barang apa saja yang harus di bawa,
seluruh kelas IX di persilahkan masuk ke dalam kelas
untuk mengikuti jam pelajaran selanjutnya. Memang
banyak sih yang harus di bawa, dari mulai sembako untuk
orang tua kita nanti di sana, baju untuk satu minggu
nginap di sana. Aku sudah memikirkannya aku akan bawa
tas besar yang di pegang saja, dan tas kecil untuk
membawa hp, chargeran atau dompet dan barang barang
yang sering di butuhkan. Jadi tidak usah untuk ribet–ribet
membuka tas besar nya.
429
Bel istirahat pertama sudah berbunyi. Seperti yang sudah
di katakana Bu Yeti, bahwa nanti pas bel istirahat pertama
berbunyi, sudah ada nama orang tua untuk kegiatan
Homestay nanti. Seluruh kelas IX pasti langsung buru-
buru untuk menuju depan ruang Guru, dan memang
bener-bener ramai sekali. Sampe yang kelas nya di atas aja
lari–larian. Huft.
Aku dan teman–teman ku yang kelas nya dekat
dengan ruang guru, sampai heran dan bener–bener
emang ramai banget. Akhirnya kita memutuskan untuk
menunggu sepi agar tidak sesek nafas aja karna terlalu
ramai.
Sudah rada sepi, akhirnya teman–teman ku
sekelas melihat pembagian orang tua untuk Homestay
nanti. Dan setelah aku melihat kelompokku dan orang
tua pembimbing nya langsung aku foto, agar nanti tidak
lupa namanya.
Hari – hari yang di tunggu oleh seluruh siswa –
siswi MTsN Pamulang pun tiba. Dengan semangat
mencari pengalaman baru. Hari selasa 3 November 2015,
430
pukul 06.30 pagi. Kami berangkat menuju lokasi
Homestay yaitu di kampong Cihurang Desa Sindang Jaya,
Cipanas, Cianjur, Jawa Barat. Semua siswa–siswi sudah
menempatkan mobil yang akan membawa kita ke desa
Sindang Jaya. Alhamdulillah nya jalanan kali ini tidak
macet dan cuaca nya sangat mendukung. Terima kasih
semesta.
Di dalam mobil kita nyanyi–nyanyi ada juga yang
tidur, mungkin karena beberapa dari mereka yang tidur
karena semalam menyiapkan barang–barang untuk
Homestay. Di pertengahan jalan kita berhenti di pusat
oleh–oleh di pinggir jalan, udara nya cukup dingin karena
mungkin sudah memasuki kawasan puncak. Aku
dan teman – teman ku memutuskan makan indomie soto
untuk menghangatkan badan karena cuaca yang dingin.
Setelah selesai makan, aku dan teman – teman ku
yang lain foto–foto dia dekat pemandangan yang bagus
banget, ga hanya aku dan teman–teman ku. Kelas yang
lain juga pada foto bersama, dan ada juga yang makan
indomie dan membeli beberapa makanan untuk nyemil
di mobil. Karena katanya masih 1 jam perjalanan lagi.
431
Setibanya dilokasi kami langsung melaksanakan
upacara pembukaan bersama warga di sana. Upacara
pembukaan dilaksanakan dengan khidmat meskipun
tempat nya kurang mendukung. Hal itu menyadarkan
kami bahwa kami harus cepat beradaptasi dengan
lingkungan rumah baru kami. Setelah upacara
pembukaan selesai, kami dipertemukan dengan orang tua
angkat kemudian mulai berpencar menuju rumah masing
– masing sesuai dengan orang tua angkat nya. Luar biasa
ramahnya warga disana, kami disambut dengan senyuman
hangat.
Aku bersama kelompok ku yaitu, Intan, Nisa,
Salma, dan Nasywa berjalan menuju rumah orang tua
angkat kita. Perjalanan dari tempat upacara pembukaan
tadi sampai ke rumah orang tua angkat kita lumayan jauh
masuknya, dengan jalanan yang turunan dan tanjakan
melewati sawah sawah di sampingnya. Bahkan melewati
jalanan yang sangat kecil, kalau kata orang tua angkat kami
itu jalanan yang lebih cepat di tuju untuk sampai ke
rumah.
432
Orang tua angkat saya dan teman–teman bernama
Ibu Omat. Ibu Omat merupakan seorang janda, suami
nya sudah lama meninggal. Ia mempunyai 2 anak
perempuan, anak 1 sudah menikah dan mempunyai 1
orang anak, anak ke 2 nya yang seharusnya duduk
dibangku SMA itu harus berhenti sekolah karena masalah
ekonomi keluarganya, tetapi anak yang ke 2 nya itu
menjadi guru ngaji anak–anak kecil di Mushola dekat
rumah. Intan teman ku bertanya “Sehari – hari pekerjaan
ibu apa?”, jawab Ibu Omat “Ibu setiap hari berdagang
jajanan seperti ini dirumah, dan setiap pagi menjual
gemblong yang ibu titipkan di warung atas tempat tadi kita
melaksanakan upacara pembukaan.”
Untuk pertama kalinya kami makan malam
bersama keluarga Ibu Omat. Masakan yang disajikan
memang tidak mewah. Tumis brokoli, bakwan jagung,
telor, dan sambal, semua terasa nikmat.
“Ternyata kita ga harus makan yang mewah ya sal, kalau
makan seperti tadi saja sudah nikmat banget.” Ujar Sulis
setelah selesai makan.
433
“Iya lis benar, kita harus selalu bersyukur dengan nikmat
yang selalu Allah berikan kepada kita.” Jawab salma.
“Semoga besok di hari pertama kita bantu Ibu Omat
untuk membuat kue gemblong dan menjaga warung, dan
besok kita bilang di group angkatan kita supaya mereka
pada jajan disini aja, hehehe.” Ujar Nisa yang ga sabar
untuk menjalankan hari esok.”
“Hahaha iya nis benar, besok kita bilang ke teman –
teman yang lain untuk jajan di warung Ibu Omat aja.”
Jawab aku, yang menyetujui ide nisa. Kita akan menginap
selama 3 malam di rumah Ibu Omat, semoga bisa betah
dan membantu Ibu Omat meringankan pekerjaan nya.
Keesokan harinya, aku dan teman–teman ku hari
pertama membantu Ibu Omat membuat kue gemblong
dan membantu melayani warga yang membeli jajanan di
warung Ibu Omat. Hari pertama ini kita lakukan dengan
penuh semangat, aku dan teman–teman ku membagi–
bagi tugas untuk membantu Ibu Omat. Aku, Intan, dan
Nisa membantu Ibu Omat untuk membuat kue
gemblong, Sulis menjaga warung, Salma mengantar cucu
434
Ibu Omat pergi kesekolah dan Rikha menemani anak Ibu
Omat untuk mengajar ngaji pagi di Mushola.
“Bu ini biasanya dijual berapaan gemblong nya?” Tanya
ku kepada Ibu Omat
“Biasa Ibu jual satunya 1.000 nakk” Jawab Ibu Omat
sambil mengaduk adonan gemblong.
“Gemblong nya setiap hari laku bu” Tanya Sulis yang
tiba–tiba datang ke dapur
“Alhamdulillah kadang laku semua, kadang juga tersisa”
Jawab Ibu Omat.
Aku, Intan, dan Salma membuat gula manis untuk
nanti di campurkan dengan gemblong, sedangkan Ibu
Omat membentuk adonan kue gemblong tersebut. Salma
yang mengantar cucu Ibu Omat kesekolah juga ga lupa
untuk mendokumentasikan, karna memang setiap
pekerjaan yang kita lakukan di Homestay ini harus di
dokumentasikan dan nanti hasil nya akan di bikin
makalah untuk nilai akhir kita di kelas 9. Sulis juga tadi
sudah memfoto aku, Intan, dan Nisa pada saat kita
435