- Cuci tangan
4. Hal yang perlu diperhatikan
- Kesterilan alat instrumen
- Prosedur kerja dengan teknik aseptik
Refrensi
Prowant,B.F, Twardowski Z.Recomendations for exit site care. Pert Dial Int
1996:16(Suppl 3):94-99
Keane,WF.,Et al.Adult peritoneal dialysis-related Peritonitis Treatment
Recommendations. Perit Dial Int 20:396-411
516 | P a g e
PROSEDUR PENGGANTIAN TRANSFER SET
1. Deskripsi Singkat
Mengganti transfer set yang lama dengan yang baru, dengan indikasi
dilakukan rutin setiap 6 bulan sekali, bila mana transfer set robek atau bocor,
terputusnya transfer set secara tidak sengaja, terkontaminasi dari titanium adaptor.
2. Tujuan Pembelajaran
A. Tujuan Pembelajaran Umum (TPU)
Setelah mengikuti materi ini, peserta pelatihan dapat melakukan prosedur
penggantian transfer set.
B. Tujuan Pembelajaran Khusus (TPK)
Setelah mengikuti materi ini peserta dapat :
1. Peserta dapat menjelaskan tujuan penggantian transfer set.
2. Peserta dapat menyiapkan peralatan yang dibutuhkan.
3. Peserta dapat melakukan prosedur kerja penggantian transfer set.
3. Pokok Bahasan Dan Atau Sub Pokok Bahasan
A. Pokok Bahasan
Pokok bahasan yang akan disampaikan adalah prosedur penggantian transfer set.
B. Sub Pokok Bahasan
1. Tujuan penggantian transfer set.
2. Peralatan yang disediakan.
3. Prosedur kerja penggantian transfer set.
4. Bahan Belajar
Bahan belajar yang diperlukan adalah materi prosedur penggantian transfer set.
517 | P a g e
5. Langkah-Langkah Kegiatan Pembelajaran
N PROSES PEMBELAJARAN
WAKTU
Kegiatan Pengampu Kegiatan Peserta
O
1. 10 menit Pembukaan: 1. Menjawab salam
1. Salam 2. Mendengarkan dan
2. Penjelasan mata ajar prosedur penggantian memperhatikan
transfer set. 3. Bertanya
2. 150 menit 1. Tujuan penggantian transfer set. 1. Menganalisis
2. Peralatan yang disediakan. 2. Menjawab
3. Prosedur kerja penggantian transfer set. 3. Mencatat
4. Bertanya
3. 20 menit Penutup:
1. Menyimpulkan pertemuan
1. Memperhatikan
2. Menanyakan konsep prosedur penggantian 2. Menjawab
transfer set.
518 | P a g e
URAIAN MATERI
PROSEDUR PERGANTIAN TRANSFER SET
a. Tujuan :
- Transfer set bocor/sobek
- Adaptor terlepas
- Kontaminasi adaptor
- Penggantian rutin setiap 6 bulan
b. Peralatan Yang Diperlukan
- Transfer set
- Spesial dressing set
- Masker, sarung tangan steril 2 buah
- Povidone iodine
- Hibisol (handrub)
- Minicup
- Kantong untuk membuang sampah
c. Prosedur Penggantian Transfer Set
1. Cuci tangan dan keringkan
2. Bersihkan meja yang akan dipakai dengan alkohol
3. Buka dressing set tray di ujung lipatannya
4. Keluarkan kom dengan menggunakan forsep plastik yang telah disediakan dan
letakkan pada daerah yang steril
5. Masukan povidone iodine ke dalam 3 buah kom yang sudah ada
6. Buka transferset pack dan letakkan di tempatkan ke daerah yang steril.
7. Siapkan sarung tangan steril dan letakkan di tempat yang telah dibersihkan
8. Bersihkan tangan dengan hibisol
9. Keluarkan duk dari dressing set tray dan letakkan di atas tubuh pasien, di bawah
kateter
10. Klem kateter dengan klem kateter PD (3 cm di atas titanium)
11. Cuci tangan (6 langkah) dengan hibiscrub dan keringkan
12. Pakai sarung tangan steril
13. Prosedur Penggantian Transfer Set tahap 1
519 | P a g e
Ambil 2 lembar kassa dan rendam ke dalam povidone iodine. Pegang kateter
dengan kassa yang telah direndam tersebut, gosok sekitar kateter/sambungan
dengan kassa lain yang telah direndam selama 1 menit.
Letakkan kateter/sambungan adaptor di atas sebuah kassa steril
Angkat kateter/sambungan adaptor dan rendam dengan sempurna ke dalam
kom yang berisi povidone iodine selama 5 menit.
Angkat kateter dari kom dan letakkan di atas kassa steril.
14. Prosedur Penggantian Transfer Set tahap 2
Keluarkan kom yang telah digunakan dari daerah yang steril.
Ambil 2 buah kassa steril, putar dan lepas transferset yang lama (tangan kanan
memutar transfer set, tangan kiri menahan adaptor). Jangan menyentuh ujung
kateter yang terbuka. Buang transfer set yang lama ke dalam kantong untuk
membuang sampah.
Ambil kom yang lain yang berisi povidone iodine dan rendam ujung kateter
yang terbuka selama 5 menit.
Angkat kateter dari kom dan letakkan di atas kassa steril.
15. Prosedur Penggantian Transfer Set tahap 3
Bersihkan tangan dengan hibisol dan ganti sarung tangan
Angkat kateter dengan kassa sterilnya dari duk pertama dan letakkan di atas
duk kedua.
Ambil transferset yang baru, buka penutup birunya dan sambungkan
transferset yang baru ke adaptor kateter. Eratkan dengan baik.
Tutup twist clamp dari transfer set yang baru dan ganti cap yang transparan
dengan minicap yang baru
Lepaskan klem kateter
Lakukan dressing exit site
Pasien dapat melakukan pertukaran CAPD
Catat waktu mengganti transfer set.
520 | P a g e
I. REFERENSI
1. SOP Pergantian Transferset RSUP Dr. Kariadi Semarang
2. Brunner and Suddarth. 2001. Keperawatan Medikal Bedah (Alih Bahasa: Agung
Waluyo).
3. Jakarta: EGC
4. Sylvia and Lorraine. 2002. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-proses Penyakit Ed. 4.
Jakarta: EGC
5. Soepaman, dkk. 2001. Ilmu Penyakit Dalam (Jilid II). Jakarta: Balai Penerbit FKUI
521 | P a g e
PROSEDUR PERITONEAL EQUILIBRIUM TEST (PET)
1. Deskripsi Singkat
Tes equilibrium peritoneal ( PET ) adalah penilaian semikuantitatif fungsi
transportasi membran peritoneum pada pasien dialisis peritoneal ( PD ) . Tarif
transportasi zat terlarut dinilai oleh tingkat equilibrium mereka antara darah kapiler
peritoneal dan dialisat . Rasio konsentrasi zat terlarut dalam dialisat dan plasma ( D /
P rasio ) pada waktu tertentu ( t ) selama diam tersebut menandakan tingkat zat
terlarut equilibrium . Rasio ini dapat ditentukan untuk setiap zat terlarut yang
diangkut dari darah kapiler ke dialisat . Kreatinin, urea , elektrolit , fosfat , dan protein
adalah zat terlarut umumnya diuji untuk penggunaan klinis
2. Tujuan Pembelajaran
A. Tujuan Pembelajaran Umum (TPU)
Setelah megikuti materi ini,peserta pelatihan dapat mengerti prosedur
peritoneal equilibrium test (PET)
B. Tujuan Pembelajaran Khusus (TPK)
Setelah mengikuti materi ini peserta dapat :
1. Menjelaskan pengertian PET
2. Menjelaskan aspek yang dinilai dari PET
3. Menjelaskan Corrected Creatinin
4. Melakukan PET Calculation
3. Pokok Bahasan Dan Atau Sub Pokok Bahasan
A. Pokok Bahasan
Pokok bahasan yang akan disampaikan adalah prosedur peritoneal equilibrium test
(PET)
B. Sub Pokok Bahasan
1. Pengertian PET
2. Aspek yang dinilai dalan PET
3. Corrected Creatinin
4. PET Calculation
522 | P a g e
4. Bahan Belajar
Bahan belajar yang diperlukan adalah materi prosedur peritoneal equilibrium test
(PET)
5. Langkah-Langkah Kegiatan Pembelajaran
N PROSES PEMBELAJARAN
WAKTU
Kegiatan Pengampu Kegiatan Peserta
O
1. 10 menit Pembukaan: 1. Menjawab salam
1. Salam 2. Mendengarkan dan
2. Penjelasan mata ajar prosedur peritoneal memperhatikan
equilibrium test (PET) 3. Bertanya
2. 150 menit 1. Pengertian PET 1. Menganalisis
2. Aspek yang dinilai dalan PET 2. Menjawab
3. Corrected Creatinin 3. Mencatat
4. PET Calculation 4. Bertanya
3. 20 menit Penutup:
1. Menyimpulkan pertemuan 1. Memperhatikan
2. Menanyakan konsep prosedur peritoneal 2. Menjawab
equilibrium test (PET)
523 | P a g e
URAIAN MATERI
ROSEDUR PERITONEAL EQUILIBRIUM TEST (PET)
1. Pengertian PET
Tes equilibrium peritoneal ( PET ) adalah penilaian semikuantitatif fungsi transportasi
membran peritoneum pada pasien dialisis peritoneal ( PD ) . Tarif transportasi zat terlarut
dinilai oleh tingkat equilibrium mereka antara darah kapiler peritoneal dan dialisat . Rasio
konsentrasi zat terlarut dalam dialisat dan plasma ( D / P rasio ) pada waktu tertentu ( t )
selama diam tersebut menandakan tingkat zat terlarut equilibrium.
Rasio ini dapat ditentukan untuk setiap zat terlarut yang diangkut dari darah kapiler ke
dialisat . Kreatinin , urea , elektrolit , fosfat , dan protein adalah zat terlarut umumnya
diuji untuk penggunaan klinis
2. Keuntungan dari PET
Identifikasi karakteristik dari membran peritoneal
Melakukan ultrafiltrasi yang tidak adekuat
Membedakan antara dialisis yang tidak adekuat dengan pasien yang tidak patuh
Dinilai jika peritonitis berulang akan mempengaruhi permeabilitas membran
3. Aspek yang dinilai dalam PET
PET dengan 2.5 % dialisat,10-12 jam
Persentase keseimbangan dari bermacam-macam solut antara cairan dialisat dan
plasma
Rata2 absorbsi glukosa dari cavum peritoneum
NET Ultrafiltration pada 4 jam
4. Standard PET (Peritoneal Equilibrium Test)
Malam hari sebelum dilakukan PET,pasien harus siap dengan melakukan standard
pertukaran CAPD dengan menggunakan cairan dianel 2.5 %
Pertukaran harus dengan dwile time antara 8-12 jam
5. Standard PET (Peritoneal Equilibrium Test)
Langkah2 prosedur test PET
524 | P a g e
Siapkan 2 liter dianel 2.5 % dan hangatkan sesuai suhu tubuh.
Dengan posisi pasien duduk,alirkan dwile pada malam hari,sebelumnya lebih dari 20
menit dan catat volume drainasenya
Masukkan 2 liter cairan dianel 2.5 % dengan rata-rata 400 cc per 2 menit dengan
posisi pasien supin
Catat waktu setelah semua cairan masuk perut Pada jam 0 dan 2 dewll time ambil
dan kumpulkan,contoh:alirkan 200 cc dialisat ke dalam drain bag dan campur dengan
cara membolak-balik kantong 2-3 kali dan alirkan 10 cc dan masukkan dalam botol
sampel kemudian masukkan kembali sisa 190 cc ke pasien
Pada 2 jam dwell time ambil darah untuk pemeriksaan kreatinin dan glukosa
Pada jam ke-4 posisi pasien duduk kemudian alirkan semua cairan dialisat selama
minimal 20 menit,kemudian ambil 10 cc dialisat sampel dan masukkan dalam botol
sampel timbang drain bag dan catat volume drain
6. Corrected Creatinin
Tingginya cairan glukosa pada dialisat dapat mempengaruhi hasil penilaian laboratorium
dari creatinin dapat menghasilkan nilai kreatinin yang palsu,perlu faktor koreksi kembali
7. PET Calculation
Keterangan:
D/Do=konsentrasi glukosa cairan dialisat pada jam 2 dan 4 dibagi konsentrasi cairan
dialisat pada jam 0
D/P=konsentrasi dialisat dar kreatinin tekoreksi pada 0,2, dan 4 jam dibagi engan
konsentrasi serum dari kreatinin terkoreks.
I. REFERENSI
1. Pannekeet MM,Imholz AL,Struijk DG,et al.1995.The standard peritoneal
permeability analysis:a tool for the assesment of peritoneal permeability characteristic
s in CAPD patients.Kidney Int
2. Teitelbaum I,Burkart J.2003.Peritoneal dialysis.Am J Kidney Dis Twardowski
ZJ,Nolph KD,Khanna R,et al.1987.Peritoneal equilibration test
525 | P a g e
526 | P a g e
PEMBERIAN OBAT INTRA PERITONIAL MELALUI DIANEAL
CAPD
1. Deskripsi Singkat
Pemberian obat Intra Peritoneal adalah memasukkan obat ke dalam cairan
dianeal dengan menggunakan spuit melalui port lateks dianeal
2. Tujuan Pembelajaran
A. Tujuan Pembelajaran Umum (TPU)
Setelah megikuti materi ini,peserta pelatihan dapat mengerti pemberian obat
intra peritoneal melalui dianel CAPD
B. Tujuan Pembelajaran Khusus (TPK)
Setelah mengikuti materi ini peserta dapat :
1. Peserta pelatihan mampu menjelaskan pengertian, persiapan, dan rangkaian
prosedur pemberian obat intra peritoneal melalui dianeal
2. Peserta pelatihan mampu melakukan persiapan, dan rangkaian prosedur
pemberian obat intra peritoneal melalui dianeal
3. Pokok Bahasan Dan Atau Sub Pokok Bahasan
A. Pokok Bahasan
Pokok bahasan yang akan disampaikan adalah pemberian obat intra peritoneal
melalui dianel CAPD
B. Sub Pokok Bahasan
1. Pengertian, persiapan, dan rangkaian prosedur pemberian obat intra
peritoneal melalui dianeal
2. Persiapan dan rangkaian prosedur pemberian obat intra peritoneal melalui
dianeal
4. Bahan Belajar
Bahan belajar yang diperlukan adalah materi pemberian obat intra peritoneal melalui
dianel CAPD
526 | P a g e
5. Langkah-Langkah Kegiatan Pembelajaran
N PROSES PEMBELAJARAN
WAKTU
Kegiatan Pengampu Kegiatan Peserta
O
1. 10 menit Pembukaan: 1. Menjawab salam
1. Salam 2. Mendengarkan dan
2. Penjelasan mata ajar pemberian obat intra memperhatikan
peritoneal melalui dianel CAPD 3. Bertanya
2. 150 menit 1. Pengertian, persiapan, dan rangkaian 1. Menganalisis
prosedur pemberian obat intra peritoneal 2. Menjawab
melalui dianeal 3. Mencatat
4. Bertanya
2. Persiapan dan rangkaian prosedur
pemberian obat intra peritoneal melalui
dianeal
3. 20 menit Penutup:
1. Menyimpulkan pertemuan 1. Memperhatikan
2. Menanyakan konsep pemberian obat intra 2. Menjawab
peritoneal melalui dianel CAPD
527 | P a g e
URAIAN MATERI
PEMBERIAN OBAT INTRA PERITONIAL MELALUI DIANEAL
CAPD
A. Pengertian
pemberian obat intra peritoneal melalui dianeal adalah cara memasukkan obat ke
dalam cairan dianeal dengan menggunakan spuit melalui port lateks dianeal
B. Indikasi
Pemberian obat intra peritoneal dilakukan pada pasien dengan kasus:
- Infeksi
- Perdarahan intra peritoneal
- Terdapat fibrin pada pembuangan cairan CAPD
C. Persiapan pemberian obat intra peritoneal
- Spuit , ukuran sesuai dengan obat yang akan dimasukkan
- Obat yang diperlukan ( vial / ampul )
- Kapas alkohol / alkohol swab
- Dianeal sesuai kebutuhan
- Bak instrument untuk penyimpanan obat
- Bengkok
- Masker
- Label
- Handrub
D. Prosedur tindakan pemberian obat intra peritoneal
- Cek instruksi dokter
- Pakai masker
- Cuci tangan
- Siapkan cairan dianeal yang akan digunakan pergantian cairan
- Siapkan obat yang akan disuntikkan, pastikan 7 benar pemberian obat
( BENAR Pasien,Indikasi, Obat, Dosis, Cara Pemberian, Waktu pemberian,
Dokumentasi )
- Bersihkan area penyuntikkan ( port latex )
528 | P a g e
- Suntikkan obat pada lateks cairan dianeal, aspirasi untuk mengecek jarum
sudah masuk pada cairan, pastikan ujung jarum tidak menembus kantong
dianeal
- Masukkan cairan obat
- Cabut spuit lalu buang ke tempat sampah benda tajam
- Goyangkan/ bolak balik kantong dianeal agar obat tercampur rata
- Beri label pada dianeal
- Lanjutkan dengan prosedur pergantian cairan CAPD
- Bereskan alat alat
- Lakukan cuci tangan
- Dokumentasikan tindakan
REFERENSI
1. Emedicinehealth.Hemodialysis comared to peritoneal dialysis.2010; WebMD.
Peritoneal Dialysis.2009
2. Daugirdas J.T., blake, P.G., ing T.S., Handbook of dialysis. 4th Ed. Philadelphia:
lipincott williams & wilkins, 2007. P410-452.
3. Saxena R. West C. Peritoneal Dialysis : A primary care prespective. J Am Board
Fam Med. 2006. Vol 19 No.4 p.380-389
4. Kontamwar A Abhijit. Clinical Assistant Professor of Internal Medicine at
NEOUCOM (Northeastern Ohio Universitas Colleges of medicine and
pharmacy). Lecture Slide : Complications of Peritoneal Dialysis. Uploaded
March 2011.
5. SOP Pemberian Obat Intra Peritoneal pada pasien CAPD RSUP Dr.Kariadi
Semarang
529 | P a g e
DIALIZER PROSES ULANG
1. Deskripsi Singkat
Hemodialisis (HD) sebagai terapi pengganti pada pasien gagal ginjal
terminal telah dimulai sejak tahun 1960. Tindakan ini mampu memperpanjang
umur pasien dan meningkatkan kualitas hidup pasien, namun mahalnya tindakan ini
masih merupakan kendala utama bagi penggunaan secara luas. Salah satu faktor
yang menyebabkan mahalnya biaya tindakan HD adalah harga ginjal buatan
(dialiser) yang cukup tinggi. Untuk mengurangi biaya ini maka dilakukan
pemakaian ulang ginjal. Pemakaian ulang ginjal buatan ini sudah dimulai sejak
permulaan tindakan HD kronik dipakai sebagai terapi pengganti bagi pasien gagal
ginjal terminal yaitu sejak tahun 1964 oleh Sheldon. Setelah itu pemakaian ulang
ginjal buatan makin popular dan dikerjakan dimana-mana. Di Indonesia, pemakaian
ulang telah dilakukan pada 92% pusat dialisis dengan rata-rata pakai ulang 2-10
kali dan dapat menghemat biaya 11- 42% (Armelia, 2000).
Sebenarnya, pemakaian dialiser pakai ulang (DPU) bukanlah suatu praktik
yang salah, apabila dilakukan secara benar. Terdapat panduan klinik untuk
proses ulang dari Kidney Disease Outcomes Quality Initiative (KDOQI) 2006,
yang tidak ada lagi pada KDOQI 2015. Dalam KDOQI 2016 dianjurkan bahwa
proses ulang dialiser dilakukan sesuai standar dari Association for the
Advancement of Medical Instrumentation (AAMI)(Suhardjono, 2017).
2. Tujuan Pembelajaran
A. Tujuan Pembelajaran Umum (TPU)
Setelah megikuti materi ini, peserta pelatihan dapat memahami dialiser Proses
ulang.
B. Tujuan Pembelajaran Khusus (TPK)
Setelah mengikuti materi ini peserta dapat:
1. Menjelaskan pengertian dialiser proses ulang
2. Menjelaskan Keuntungan Dan Kerugian Reprocessing
3. Menjelaskan Kontraindikasi Reprocessing Dialiser
4. Menjelaskan Automated Vs Manual Reprocessing
5. Menjelaskan Penggunaan Dialiser Pertama Kali/Baru
530 | P a g e
3. Pokok Bahasan Dan Atau Sub Pokok Bahasan
A. Pokok Bahasan
Pokok bahasan yang akan disampaikan adalah memahami dialiser Proses ulang.
B. Sub Pokok Bahasan
1. Pengertian dialiser proses ulang
2. Keuntungan Dan Kerugian Reprocessing
3. Kontraindikasi Reprocessing Dialiser
4. Automated Vs Manual Reprocessing
5. Penggunaan Dialiser Pertama Kali/Baru
4. Bahan Belajar
Bahan belajar yang diperlukan adalah materi mengenai dialiser Proses ulang
531 | P a g e
5. Langkah-Langkah Kegiatan Pembelajaran
N PROSES PEMBELAJARAN
WAKTU
Kegiatan Pengampu Kegiatan Peserta
O
1. 10 menit Pembukaan: 1. Menjawab salam
1. Salam 2. Mendengarkan dan
2. Penjelasan mata ajar dialiser Proses ulang. memperhatikan
3. Bertanya
2. 150 menit 1. Pengertian dialiser proses ulang 1. Menganalisis
2. Keuntungan Dan Kerugian Reprocessing 2. Menjawab
3. Kontraindikasi Reprocessing Dialiser 3. Mencatat
4. Automated Vs Manual Reprocessing 4. Bertanya
5. Penggunaan Dialiser Pertama Kali/Baru
3. 20 menit Penutup:
1. Menyimpulkan pertemuan 1. Memperhatikan
2. Menanyakan konsep masalah dialiser Proses 2. Menjawab
ulang..
532 | P a g e
Uraian Materi
DIALIZER PROSES ULANG
A. Definisi
Dialiser proses ulang adalah penggunaan dialiser lebih dari satu kali pada pasien yang
sama (Ratnawati, 2014).
B. Keuntungan Dan Kerugian Reprocessing
1. Menurut (Upadhyay et al., 2007) dan (Levy et al., 2016) keuntungan dilakukan
reprocessing dialiser adalah :
a. Menekan biaya
b. Memungkinkan dipakainya kembali high-flux dialyzer
c. Meningkatkan biokompatibilitas membrane sehingga menurunkan angka first
use syndrome
d. Menyelamatkan lingkungan dari sampah dialiser
2. Bahaya yang ditimbulkan dari reprocessing dialiser :
a. Terpaparnya pasien dan petugas oleh germicida
b. Menyebabkan efek teratogenik
c. Menyebabkan reaksi pirogen dan bacteremia
d. Berkurangnya area permukaan membrane sehingga dapat menyebabkan
dialisis menjadi tidak adekuat
e. Kontaminasi lingkungan dengan penggunaan germicida
f. Mahalnya biaya untuk petugas reprocessing
C. Kontraindikasi Reprocessing Dialiser (Levy Et Al., 2016)
1. Pasien dengan sepsis
2. Pasien dengan HBV antigenemia
533 | P a g e
D. Automated Vs Manual Reprocessing
1. Reprocessing dialiser dapat dikerjakan dengan menggunakan mesin atau dengan
cara manual
2. Reprocessing dialiser menggunakan air RO standar AAMI
3. Tahap-tahap yang dikerjakan oleh mesin dapat dilakukan secara manual,
tetapi dengan menggunakan sistem yang otomatis menawarkan kontrol kualitas
yang kebih baik
4. Reprocessing dialiser dengan menggunakan alat otomatis lebih efisien, lebih
konsisten, pencatatan yang lebih baik dan aman untuk pasien (Edy Susanto, 2019)
5. Selain hal diatas dengan menggunakan mesin reprocessing, menurunkan human
error, hasil pengetesan Total Cell Volume (TCV) dan kebocoran membran akurat
E. Penggunaan Dialiser Pertama Kali/Baru
1. Dialyzer labeling
a. Bubuhkan nama pasien pada dialiser yang baru akan digunakan
b. Isi label meliputi : nama pasien, kode warna, no RM, penggunaan ke, tanggal
terakhur reuse, identitas orang yang melakukan reprocessing, hasil pengukuran
TCV (Edy Susanto, 2019).
c. Label sebaiknya jangan menutupi aliran darah
gambar Contoh label dializer proses ulang
534 | P a g e
2. Total Cell Volume
a. Sebelum menggunakan dialiser baru, sebaiknya dialiser diukur total
volume selnya.
b. Bandingkan nilai TCV pada saat dialiser tersebut baru dan setelah
dilakukan reprocessing
3. Pre proses
Pada tahap ini bertujuan untuk membuang sisa germicida seperti ETO atau
produk lain yang dapat membahayakan pasien
F. Petugas Yang Melakukan Reprocessing
Orang yang melakukan reprocessing dialiser harus dilatih. Adapun hal-hal yang harus
ada dalam program latihan tersebut adalah :
1. Prinsip hemodialisis
2. Prosedur dan kebijakan reprocessing dialiser
3. Catatan dan dokumentasi reprocessing dialiser
4. Penggunaan dan pemeliharaan peralatan reprocessing dialiser
5. Kontrol infeksi
6. Prosedur kegawatan
G. Tahapan Reprocessing Dialiser
Tahapan reprocessing dialiser :
1. Rinsing
a. Mengembalikan darah yang berada di sirkuit ekstracorporeal ke dalam
tubuh pasien
b. Pada saat mengakhiri hemodialisis, sebaiknya menggunakan heparin
secara optimal untuk menghindari kemungkinan terjadinya bekuan pada
dializer.
c. Di beberapa pusat dialisis pre rinsing menggunakan air reverse osmosis/RO,
yaitu kompartemen darah dialiri air RO selama 8-10 menit atau sampai terlihat
bersih.
d. Perhatikan adanya sisa darah yang masih berada di dalam dialiser
535 | P a g e
e. Secara visual bekuan darah yang terlihat di bagi 3, yaitu : good, fair and poor
rin seback
2. Cleaning
a. Membuang sisa darah didialiser dengan menggunakan air RO dan
dilanjutkan bahan kimia
b. Bahan kimia yang dapat digunakan
1) Sodium hipoklorit yang diencerkan sampai dengan 1% atau kurang
2) Hidrogen peroksida 3% atau kurang
c. Reverse ultrafiltration digunakan dengan menutup salah satu port dialisat
dan mengalirkan air RO di port dialisat yang lain (Azar, 2015)
d. Masukkan agen cleaning ke dalam kompartemen darah selama 1 menit
(seperti sodium hipoklorit 1 %, asam para asetat/hydrogen peroksida) (Levy et
al., 2016)
536 | P a g e
3. Testing
a. Pengukuran total cell volume
1) Untuk mengetahui dialiser masih berfungsi dengan baik dengan
melakukan test total cell volume (TCV).
2) Menurut National Kidney Foundation’s Kidney Disease Outcomes
Quality Initiative (NKF’s K/DOQI), dialiser dikatakan layak jika
mempunyai TCV minimal 80% dari priming volume dialiser baru.
3) Pengukuran TCV memperlihatkan jumlah kapiler yang tidak
tersumbat. Kapiler dialiser yang masih berfungsi dan secara
tidak langsung memperlihatkan klirens dan kapasitas transfer solute.
4) Penurunan TCV sebesar 20 % akan menurunkan klirens kreatinin sebesar
4 – 11 %. Bila TCV turun lebih dari 20 % maka dialiser tersebut tidak
dapat dipakai lagi dan harus dibuang.
5) Menurut (Upadhyay et al., 2007), terjadi penurunan klirens urea sebesar
1 – 2 % pada dialiser yang sudah dilakukan reprocessing sebanyak 10 kali
b. Tes kebocoran membrane
1) Kosongkan kedua kompartemen dialiser
2) Berikan tekanan pada salah satu sisi kompartemen darah, sedangkan
sisi kompartemen darah yang lain ditutup
3) Kompartemen dialisat juga ditutup
4) Berikan tekanan pada kompartemen darah 1- 2 bar
5) Amati kurang lebih selama 1 menit (dengan tetap mempertahankan
tekanan pada kompartemen darah 1 – 2 bar)
a) Jika terjadi kebocoran , maka tekanan tersebut akan berkurang
bahkan bisa sampai 0
b) Jika tidak terjadi kebocoran, maka tekanan tersebut stabil
537 | P a g e
4. Sterilisation/Desinfection
a. High level desinfektan digunakan untuk mengisi kompartemen darah dan
dialisat
b. Low level desinfektan digunakan untuk desinfeksi sisi luar dialiser dan
tutupdialiser
c. Selama reprocessing dialiser hanya terekspos pada satu agen saja,
penggunaan lebih dari satu agen dapat menyebabkan keusakan membaran
d. 4 jenis germicida yang umum digunakan : asam para asetat (3 % - 4%),
formaldehid atau formalin (15 – 4%), glutaraldehid (0.8), desinfeksi panas
dengan menggunakan citric acid
e. Masing-masing germicida mempunyai kelebihan dan kekurangan
f. Untuk menentukan desinfektan yang cocok, germisida harus berada di
dalam dialiser dalam waktu tertentu
g. Heat sterilization
Menggunakan asam sitrat 1.5% 95 ⁰C atau menggunakan air pada suhu
105⁰C merupakan alternative desinfektan yang tidak berbahaya tetapi
disisi yang lain akan merusak membrane dialiser
5. Storage (penyimpanan)
a. Sebelum disimpan, bagian luar dialiser harus diusap dengan
desinfektan
538 | P a g e
b. Jangan simpan dialiser yang sudah direprocessing dengan dialiser
baru
c. Ruang penyimpanan : terhindar dari kontaminasi, tidak bocor, bersih,
terpisah dari ruang dialysis, mempunyai ventilasi yang baik/dilengkapi
dengan exhaust fan, bukan tempat lalu lalang pasien maupun petugas.
d. Tempat penyimpanan bisa menggunakan rak atau troli (Edy Susanto, 2019)
e. Asam paraasetat mempunyai masa simpan 14- 21 hari dan kemungkinan
akan lebih pendek jika ada sisa bekuan darah, sehingga jika terjadi hal ini
desinfektan harus segera diganti setiap 14 hari.
f. Efektifitas renalin akan berkurang jika ditempatkan dalam suhu 27⁰C,
terpapar cahaya dan terpapar material organic (contoh darah)
H. Penggunaan Kembali Dialiser Yang Telah Dilakukan Reprocessing
1. Inspeksi
a. Pastikan label sudah tepat
b. Secara visual, dialiser tidak terlihat rusak
c. Port tertutup rapat, tidak ada kebocoran
d. Dialiser terlihat bersih
e. Lama kontak germicida tidak lebih lama dari waktu
simpannya
f. Untuk mengecek bahwa germicida masih ada didiaiser dengan jumlah
dan bekerja baik gunakan test strip
2. Pembuangan germicida
a. Sebelum dialiser digunakan, buang germicida dengan mengalirkan NaCl
sebanyak 2000 ml (Indian Society of Nephro, 2010)
b. Untuk mengecek bahwa germicida sudah terbuang semua gunakan test strip
539 | P a g e
I. Keselamatan Pasien
Pasien yang menggunakan dialiser reprocessing dilakukan monitor :
1. Keadekuatan dialysis
2. Septikemia
3. Reaksi pirogenik
4. Reaksi akut dari zat sterilan
Dialiser proser ulang aman dipakai apabila menikuti prosedur dan panduanyang
berlaku sehingga efektif dan aman bagi pasien, bagi petugas kesehatan dan bagi
lingkungan.
DAFTAR PUSTAKA
Armelia, L. (2000). Efektifitas pemakaian ulang ginjal buatan The effectiveness of
dialyzer reuse. Azar, T. A. (2015). Modelling and Control of Dialysis Systems.
Edy Susanto, M. (2019). Journal of Chemical Information and Modeling, 53(9),
1689–1699. https://doi.org/10.1017/CBO9781107415324.004
Indian Society of Nephro. (2010). Standard Treatment Guidelines Haemodialysis.
Ministry of Health & Family Welfare Govt. of India.
Levy, J., Brown, E., & Lawrence, A. (2016). Oxford Handbook of Dialysis. Oxford
Handbook of Dialysis. https://doi.org/10.1093/med/9780199644766.001.0001
Ratnawati. (2014). Efektivitas Dialiser Proses Ulang (DPU) pada Penderita Gagal Ginjal
Kronik (Hemodialisa). Jurnal Ilmiah Widya, 2(1), 48–52.
Suhardjono, S. (2017). Benarkah Dialiser Proses Ulang Memicu Inflamasi? Jurnal
Penyakit
Dalam Indonesia, 3(3), 115. https://doi.org/10.7454/jpdi.v3i3.18
540 | P a g e
EDUKASI PASIEN DIALISIS DAN KELUARGA
1. Deskripsi Singkat
Pasien dan keluarga sebaiknya mendapat penjelasan dan edukasi yang cukup
tentang PGK stadium 5 dan pilihan terapinya sehingga mereka dapat memilih terapi
yang tepat
Edukasi yang jelas dari tenaga medis tentang kapan perlu untuk segera
dilakukan terapi pengganti ginjal, diharapkan keluarga dan pasien siap dan
menghasilkan luaran yang baik
Edukasi predialisis mencakup informasi tentang penyakit ginjal, pilihan terapi
sebelum dialisis termasuk farmakoterapi serta diet, dan pilihan terapi pengganti
ginjal.
2. Tujuan Pembelajaran
A. Tujuan Pembelajaran Umum (TPU)
Setelah mengikuti materi ini, peserta pelatihan mampu menjelaskan mengenai
edukasi pasien dialisis dan keluarga.
B. Tujuan Pembelajaran Khusus (TPK)
Setelah mengikuti materi ini peserta dapat :
1. Peserta mampu mengetahui asseamen edukasi
2. Peserta mampu mengetahui edukasi pre dialisis
3. Peserta mampu mengetahui materi edukasi
3. Pokok Bahasan Dan Atau Sub Pokok Bahasan
A. Pokok Bahasan
Pokok bahasan yang akan disampaikan adalah menjelaskan tentang edukasi
pasien dialisis dan keluarga.
B. Sub Pokok Bahasan
1. Asseamen edukasi
2. Edukasi pre dialisis
3. Materi edukasi
541 | P a g e
4. Bahan Belajar
Bahan belajar yang diperlukan adalah masalah materi edukasi pasien dialisis
dan keluarga.
5. Langkah-Langkah Kegiatan Pembelajaran
N PROSES PEMBELAJARAN
WAKTU
Kegiatan Pengampu Kegiatan Peserta
O
1. 10 menit Pembukaan: 1. Menjawab salam
1. Salam 2. Mendengarkan dan
2. Penjelasan mata ajar edukasi pasien dialisis memperhatikan
dan keluarga. 3. Bertanya
2. 150 menit 1. Asseamen edukasi 1. Menganalisis
2. Edukasi pre dialisis 2. Menjawab
3. Materi edukasi 3. Mencatat
4. Bertanya
3. 20 menit Penutup:
1. Menyimpulkan pertemuan
1. Memperhatikan
2. Menanyakan konsep edukasi pasien dialisis 2. Menjawab
dan keluarga.
542 | P a g e
Uraian Materi
543 | P a g e
544 | P a g e
545 | P a g e
546 | P a g e
547 | P a g e
548 | P a g e
549 | P a g e
550 | P a g e
551 | P a g e
552 | P a g e
553 | P a g e
STANDAR KELENGKAPAN RM HEMODIALISIS
1. Deskripsi Singkat
Catatan medis merupakan bagian penting dari manajemen pasien Rekam
medis adalah satu satunya alat bagi dokter untuk membuktikan bahwa perawatan
sudah dilakukan dengan benar Sebagian besar klaim tidak bisa dilakukan karena
kelalaian medis yang rekam medis tidak berkualitas.
2. Tujuan Pembelajaran
A. Tujuan Pembelajaran Umum (TPU)
Setelah mengikuti materi ini, peserta pelatihan mampu menjelaskan mengenai
standar kelengkapan RM hemodialysis.
B. Tujuan Pembelajaran Khusus (TPK)
Setelah mengikuti materi ini peserta dapat :
1. Peserta mampu mengetahui definisi dokumen
2. Peserta mampu mengetahui manfaat rekam medik
3. Peserta mampu mengetahui dokumen yang ada di unit hemodialysis
3. Pokok Bahasan Dan Atau Sub Pokok Bahasan
A. Pokok Bahasan
Pokok bahasan yang akan disampaikan adalah menjelaskan tentang standar
kelengkapan RM hemodialysis.
B. Sub Pokok Bahasan
1. Definisi dokumen
2. Manfaat rekam medik
3. Dokumen yang ada di unit hemodialysis
4. Bahan Belajar
Bahan belajar yang diperlukan adalah masalah materi tentang standar
kelengkapan RM hemodialysis.
554 | P a g e
5. Langkah-Langkah Kegiatan Pembelajaran
N PROSES PEMBELAJARAN
WAKTU
Kegiatan Pengampu Kegiatan Peserta
O
1. 10 menit Pembukaan: 1. Menjawab salam
1. Salam 2. Mendengarkan dan
2. Penjelasan mata ajar tentang standar memperhatikan
kelengkapan RM hemodialysis. 3. Bertanya
2. 60 menit 1. Definisi dokumen 1. Menganalisis
3. 20 menit
2. Manfaat rekam medik 2. Menjawab
3. Dokumen yang ada di unit hemodialysis 3. Mencatat
4. Bertanya
Penutup: 1. Memperhatikan
1. Menyimpulkan pertemuan
2. Menanyakan konsep tentang standar 2. Menjawab
kelengkapan RM hemodialysis.
555 | P a g e
I. URAIAN MATERI
556 | P a g e
557 | P a g e
558 | P a g e
559 | P a g e
560 | P a g e
561 | P a g e
562 | P a g e
563 | P a g e
INDONESIAN RENAL REGISTRY (IRR)
1. Deskripsi Singkat
Indonesian Renal Registry (IRR) adalah suatu program dari Perkumpulan
Nefrologi Indonesia (PERNEFRI) yang sudah memasuki tahun ke 11, IRR ini
merupakan kegiatan pengumpulan data, yang dimulai dengan data pasien yang
menjalani dialisis, dengan harapan di masa depan program ini dapat diperluas untuk
data epidemiologi penyakit ginjal kronik, hipertensi dan semua data yang
beruhubungan dengan nefrologi dan hipertensi
Seluruh renal unit harus melaporkan datanya secara berkala sesuai dengan
Keputusan Direktur Jenderal Bina Pelayanan Medik Departemen Kesehatan RI No.
HK.03.05/III/1125/07 tentang Pedoman Pelayanan Hemodialisis Di Sarana
Pelayanan Kesehatan
2. Tujuan Pembelajaran
A. Tujuan Pembelajaran Umum (TPU)
Setelah mengikuti materi ini, peserta pelatihan mampu menjelaskan mengenai
Indonesian Renal Registry (IRR)
B. Tujuan Pembelajaran Khusus (TPK)
Setelah mengikuti materi ini peserta dapat :
1. Peserta mampu mengetahui pengertian Indonesian Renal Registry (IRR)
2. Peserta mampu mengetahui tujuan Indonesian Renal Registry (IRR)
3. Peserta mampu mengetahui cara pengisian Indonesian Renal Registry (IRR)
3. Pokok Bahasan Dan Atau Sub Pokok Bahasan
A. Pokok Bahasan
Pokok bahasan yang akan disampaikan adalah menjelaskan tentang Indonesian
Renal Registry (IRR)
B. Sub Pokok Bahasan
1. Pengertian Indonesian Renal Registry (IRR)
2. Tujuan Indonesian Renal Registry (IRR)
3. Cara pengisian Indonesian Renal Registry (IRR)
564 | P a g e