The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Pelatihan Dialisis bagi Perawat di RS dan Klinik Khusus Dialisis

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by anislaili62, 2022-03-30 12:33:07

E- MODUL

Pelatihan Dialisis bagi Perawat di RS dan Klinik Khusus Dialisis

e. Pada anak-anak dan remaja dengan CKD tahap 2-5D dan berhubungan dengan rendahnya
tinggi badan kami menganjurkan pengobatan dengan rekombinan hormon pertumbuhan
manusia ketika pertumbuhan diinginkan setelah mengobati malnutrisi dan abnormalitas
biokimia dari CKD-MBD.

ASKEP GANGGUAN MINERAL TULANG PADA PASIEN CKD

A. Pengkajian
1. Riwayat Keperawatan
Hal-hal yang perlu ditanyakan pada anamnesis riwayat gangguan mineral tulang :
Wawancara meliputi pertanyaan mengenai terjadinya osteoporosis dalam
keluarga, fraktur sebelumnya, konsumsi kalsium diet harian, pola latihan, awitan
menopause dan penggunaan kortikoseteoroid selain asupan alkohol, rokok dan kafein.
Setiap sengaja yang dialami pasien, seperti nyeri pingang, konstipasi atau ganggua citra
diri harus digali.
2. Pengkajian Fisik
Pemeriksaan fisik kadang menemukan adanya patah tulang kifosis vertebrata
torakalis atau pemendekan tinggi badan. Masalah mobilitas dapat terjadi akibat
perubahan postur dan kelemahan otot. Konstipasi dapat terjadi akibat inaktivitas.

B. Diagnosa Keperawatan

1. Kurang pengetahuan mengenai proses gangguan mineral tulang dan program terapi
2. Nyeri yang berhubungan dengan fraktur dan spasme otot
3. Risiko terhadap cedera : fraktur, yang berhubungan dengan tulang osteoporotik

C. Intervensi Keperawatan

1. Kurang pengetahuan mengenai proses gangguan mineral tulang dan program terapi
- Ajarkan pada klien tentang faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya gangguan
mineral tulang.
- Anjurkan diet atau suplemen kalsium yang memadai.
- Timbang berat badan secara teratur dan modifikasi gaya hidup seperti pengurangan
kafein, sigaret dan alkohol, hal ini dapat membantu mempertahankan massa tulang.
- Anjurkan latihan aktivitas fisik yang mana merupakan kunci utama untuk
menumbuhkan tulang dengan kepadatan tinggi yang tahan terhadap terjadinya
gangguan mineral tulang

436 | P a g e

- Anjurkan untuk tetap membutuhkan kalsium, vitamin D, sinar matahari dan latihan
yang memadai untuk meminimalkan efek gangguan mineral tulang.

- Berikan pendidikan pasien mengenai efek samping penggunaan obat. Karena nyeri
lambung dan distensi abdomen merupakan efek samping yang sering terjadi pada
suplemen kalsium, maka pasien sebaiknya meminum suplemen kalsium bersama
makanan untuk mengurangi terjadinya efek samping tersebut. Selain itu, asupan
cairan yang memadai dapat menurunkan risiko pembentukan batu ginjal.

2. Nyeri yang berhubungan dengan fraktur dan spasme otot
- Peredaaan nyeri punggung dapat dilakukan dengan istirahat di tempat tidur dengan
posisi telentang atau miring ke samping selama beberapa hari.
- Kasur harus padat dan tidak lentur.
- Fleksi lutut dapat meningkatkan rasa nyaman dengan merelaksasi otot.
- Kompres panas intermiten dan pijatan punggung memperbaiki relaksasi otot.
- Pasien diminta untuk menggerakkan batang tubuh sebagai satu unit dan hindari
gerakan memuntir.
- Postur yang bagus dianjurkan dan mekanika tubuh harus diajarkan. Ketika pasien
dibantu turun dari tempat tidur,
- Pasang korset lumbosakral untuk menyokong dan imobilisasi sementara, meskipun
alat serupa kadang terasa tidak nyaman dan kurang bisa ditoleransi oleh kebanyakan
lansia.
- Bila pasien sudah dapat menghabiskan lebih banyak waktunya di luar tempat tidur
perlu dianjurkan untuk sering istirahat baring untuk mengurangi rasa tak nyaman dan
mengurangi stres akibat postur abnormal pada otot yang melemah.
- Analgetik oral mungkin diperlukan untuk hari-hari pertama setelah awitan nyeri
punggung.

3. Risiko terhadap cedera : fraktur, yang berhubungan dengan tulang osteoporotik
- Anjurkan melakukan Aktivitas fisik secara teratur hal ini sangat penting untuk
memperkuat otot, mencegah atrofi dan memperlambat demineralisasi tulang progresif.
- Ajarkan latihan, latihan ini dapat digunakan untuk memperkuat otot batang tubuh.
- Anjurkan untuk berjalan, mekanika tubuh yang baik, dan postur yang baik.
- Hindari Membungkuk mendadak, melenggok dan mengangkat beban lama.
- Lakukan aktivitas pembebanan berat badan Sebaiknya dilakukan di luar rumah di
bawah sinar matahari, karena sangat diperlukan untuk memperbaiki kemampuan
tubuh menghasilkan vitamin D.

437 | P a g e

No Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia Standar Luaran Kep
(SDKI) (SL

1. Nyeri Kronis (D.0078) Luaran Utama

Definisi : Tingkat Nyeri (L.08066)

Pengalaman sensorik atau emosional yang Definisi :

berkaitan dengan keruskan jaringan aktual atau Pengalaman sensorik atau e

fungsional, dengan onset mendadak atau lambat dengan keruskan jaringan ak

dan berintensitas ringan hingga berat dan konstan, dengan onset mendadak ata

yang berlangsung lebih dari 3 bulan ringan hingga berat dan kon

Penyebab : Ekspektasi : Menurun

Kriteria Hasil :

1. Kondisi muskuloskeletal kronis Menu C
2. Kerusakn sistem saraf run M

3. Penekanan saraf Kemampuan 1
4. Infiltrasi tumor menuntaskan
5. Ketidakseimbangan neurotransmiter, aktivitas

neuromodulator, dan reseptor

6. Gangguan imuntas (mis. neuropati terkait Mening C
HIV, virus varicella-zoster) kat M

7. Gangguan fungsi metabolik Keluhan nyeri 1
8. Riwayat posisi kerja statis Meringis 1
9. Peningkatan indeks massa tubuh Sikap protektif 1
10. kondisi pasca trauma Gelisah 1
11. Tekanan emosional Kesulitan tidur 1
12. Riwayat penganiayaan (mis. fisik, Menarik diri 1
Berfokus pada diri
psikologis, seksual) sendiri 1
13. Riwayat penyalahgunaan obat/zat Diaforesis
1

Gejala dan tanda Mayor : Perasaan depresi 1
Subyektif : (tertekan\) 1
Perasaan takut
mengalami cedera

1. Mengeluh nyeri berulang 1
Anoreksia

Perineum terasa 1
tertekan

perawatan Indonesia Standar Intervensi Keperawatan Indonesia
LKI) (SIKI)

emosional yang berkaitan Intervensi Utama
ktual atau fungsional, Manajemen Nyeri (I.03119)
au lambat dan berintensitas Definisi :
nstan Mengidentifikasi dan mengelola pengalaman sensorik atau
emosional yang berkaitan dengan keruskan jaringan aktual atau
Cukup Se Cukup Mening fungsional, dengan onset mendadak atau lambat dan berintensitas
Menu dang Mening kat ringan hingga berat dan konstan
run Observasi
kat
 Identifikasi lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas,
234 5 intensitas nyeri

Cukup Se Cukup Menu  Identifikasi skala nyeri
Mening dang Menu run  Identifikasi respons nyeri non verbal
 Identifikasi faktor yang memperberat dan memperingan
kat 3 run 5
2 3 4 5 nyeri
2 3 4 5  Identifikasi pengetahuan dan keyakinan tentang nyeri
2 3 4 5  Identifikasi pengaruh budaya terhadaprespon nyeri
2 3 4 5  Identifikasi pengaruh nyeri pada kualitas hidup
2 3 4 5  Monitor keberhasilan terapi komplementer yang sudah
2 4
5 diberikan
23 4  Monitor efek samping penggunaan analgetik
5 Terapeutik
23 4  Berikan teknik nonfarmakologis untuk mengurangi rasa
5
23 4 nyeri (mis. TENS, hipnosis, akupresur, terapi musik,
biofeedback, terapi pijat, aromaterapi, teknik imajinasi
2 34 5 terbimbing, kompres hangat/dingin, terapi bermain)
 Kontrol lingkungan yang memperberat rasa nyeri (mis. suhu
2 34 5 ruangan, pencahayaan, kebisingan)
2 34 5  Fasilitasi istirahat dan tidur
 Pertimbangkan jenis dan sumber nyeri dalam pemilihan
strategi meredakan nyeri
Edukasi

438 | P a g e

2. Merasa depresi (tertekan Uterus teraba 1
membulat
Obyektif : Ketegangan otot 1
Pupil dilatasi 1
1. Tampak meringis Muntah 1
2. Gelisah Mual 1
3. Tidak mampu menuntaskan aktivitas
Membu Cu
Tanda dan Gejala Minor : ruk Me
Subyektif :
Frekuensi nadi 1
1. Merasa takut mengalami cedera berulang Pola nafas 1
Tekanan darah 1
Obyektif : Proses berpikir 1
Fokus 1
1. Bersikap protektif (mis. posisi menghindari Fungsi berkemih 1
nyeri) Perilaku 1
Nafsu makan 1
2. Waspada Pola tidur 1
3. Pola tidur berubah
4. Anoreksia Luaran Tambahan
5. Fokus menyempit 1. Kontrol Gejala
6. Berfokus pada disi sendiri 2. Kontrol Nyeri
3. Mobilitas Fisik
Kondisi Klinis Terkait : 4. Status Kenyamana
5. Pola tidur
1. Kondisi kronis (mis arthritis reumatoid) 6. Tingkat Agitasi
2. Infeksi 7. Tingkat Ansietas
3. Cedera modula spinalis 8. Tingkat Depresi
4. Kondisi pasca trauma
5. Tumor

2 34 5  Jelaskan penyebab, periode, dan pemicu nyeri
 Jelaskan strategi meredakan nyeri
2 34 5  Anjurkan memonitor nyeri secara mandiri
2 34 5  Anjurkan menggunakan analgetik secara tepat
2 34 5 Kolaborasi
2 34 5  Kolaborasi pemberian obat antiansietas, jika perlu

ukup Se Cukup Mem Perawatan Kenyamanan (I.08245)
embu dang Mem baik Definisi :
ruk baik Mengidentifikasi dan merawat pasien untuk meningkatkan rasa
3 5 nyaman
2 3 4 5 Tindakan :
2 3 4 5 Observasi
2 3 4 5
2 3 4 5  Identifikasi gejala yang tidak menyenangkan
2 3 4 5  Identifikasi pemahaman tentang kondisi, situasi dan
2 3 4 5
2 3 4 5 perasaannya
2 3 4 5  Identifikasi masalah emosional dan spiritual
2 4
Terapeutik

 Berikan posisi yang nyaman
 Berikan kompres dingin atau hangat
 Ciptakan lingkungan yang nyaman
 Berikan pemijatan
 Berikan terapi akupresur
 Berikan terapi hipnotis
 Dukung keluarga dan pengasuh terlibat dalam terapi
 Diskusikan mengenai situasi dan pilihan terapi

Edukasi

 Jelaskan mengenai kondisi dan pilihan terapi/ pengobatan

439 | P a g e



 Ajarkan terapi relaksasi
 Ajarkan latihan pernafasan
 Ajarkan tehnik distraksi dan imajinasi terbimbing

Kolaborasi

 Kolaborsi pemberian analgesic, antipruritis, anthihistamin,
jika perlu

Terapi Relaksasi (I.09326)
Definisi :
Menggunakan tehnik peregangan untuk mengurangi tanda dan
gejala ketidaknyamanan sperti nyeri, ketegangan otot atau
kecemasan
Tindakan :
Observasi

 Identifikasi penurunan tingkat energy, ketidakmampuan
berkonsentrasi atau gejala lain yang mengganggu
kemampuan kognitif

 Identifikasi tehnik relaksasi yang pernah efektif digunakan
 Identifikasi kesedian, kemampuan dan penggunaan tehnik

sebelumnya
 Periksa ketegangan otot, frekuensi nadi, tekanan darah dan

suhu sebelum dan sesudah latihan
 Monitor respon terhadap terapi relaksasi
Terapeutik
 Ciptakan lingkungan tenang dan tanpa gangguan dengan

pencahayaan dan suhu yang nyaman jika memngkinkan
 Berikan informasi tertulis tentang persiapan dan prosedur

tehnik relaksasi
 Gunakan pakaian longgar
 Gunakan nada suara lembut dan irama lambat dan

berirama

440 | P a g e



 Gunakan relaksasi sebagai strategi penunjang dengan
analgetik atau tindakan medis lain jika sesuai

Edukasi
 Jelaskan tujuan, manfaat, batasan dan jenis relaksasi yang
tersedia (missal musik, meditasi, nafas dalam, relaksasi otot
progresif)
 Jelaskan secara rinci intervensi relaksasi yang dipilih
 Anjurkan mengambil posisi nyaman
 Anjurkan rileks dan merasakan sensasi relaksasi
 Anjurkan sering mengulangi atau melatih tehnik yang dipilih
 Demontrasikan dan latih tehnik relaksasi ( missal nafas
dalam atau imjinasi terbimbing

Intervensi Pendukung

 Aromaterapi
 Dukungan Hipnosis diri
 Dukungan koping keluarga
 Dukungan meditasi
 Edukasi aktifitas / istirahat
 Edukasi efek samping obat

441 | P a g e

Referensi
Sukandar.(2006). Gagal Ginjal Dan Panduan Terapi Dialisis. Pusat Informasi Ilmiah (PII)
Bagian Ilmu Penyakit Dalam F.K.UNPAD/RSHS Bandung
KDIGO. KDIGO Clinical Practice Guideline for The Diagnosis, Evaluation, Prevention, and
Treatment of Chronic Kidney Disease-Mineral and Bone Disease (CKD-MBD). Kidney
International. 2009.
Bulechek, G., Howard K., Joanne M. Nursing Interventions Classification (NIC). 5th. Mosby
elsevier
Herdman, T. 2012. NANDA International Diagnosis Keperawatan definisi dan klasifikasi 2012-
2014. Jakarta :EGC
Morhead, S., Johnson, M., Maas, M. L., and Swanson, E. (2008). Nursing Outcomes
Classifications (NOC), 6th Edition. Missouri: Mosby
American Nephrology Nurses’ Association (ANNA) (2008). Core Curriculum for the Dialysis
Technician.Medical education institute

442 | P a g e

ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN NUTRISI

1. Deskripsi Singkat
Fungsi ginjal adalah untuk membuang zat yang berbahaya bagi tubuh.,

menyerap kembali nutrisi penting, mengatur volume cairan dan elektrolit, serta
memproduksi hormone. Namun ketika ginjal tidak dapat melakukan fungsi-
fungsinya tersebut diatas pasien akan mengalami retensi cairan, kelainan elektro;it
dan akumulasi zat beracun, sehingga pasien membutuhkan terapi pengganti ginjal.
Salah satu terapi pengganti ginjal yang banyak di pilih oleh pasien adalah
hemodialysis. Walaupun memperpanjang usia, hemodialysis ( HD ) dapat memicu
komplikasi hemodinamik dan nutrisi, karena selama tindakan HD tidak hanya zat zat
yang tidak beguna dikeluarkan (urea) tetapi juga zat zat penting untuk tubuh (asam
amino, peptide, vitamin dan glukosa) selain kehilangan nutrisi peningkatan katabolisme
juga terjadi selama HD, sehingga pasien HD berisiko tinggi kehilangan cadangan
protein dan energy tubuh.

2. Tujuan Pembelajaran
A. Tujuan Pembelajaran Umum (TPU)
Setelah megikuti materi ini, peserta pelatihan dapat memahami masalah jangka
panjang pada pasien hemodialisa yang mengalami gangguan nutrisi.
B. Tujuan Pembelajaran Khusus (TPK)
Setelah mengikuti materi ini peserta dapat :
1. Menjelaskan Definisi Malnutrisi
2. Menjelaskan Faktor-faktor yang Mempengaruhi Terjadinya Malnutrisi Protein-Energi
3. Menjelaskan Kebutuhan Nutrisi Pasien CKD yang Menjalani Dialysis
4. Menjelaskan Diet Pasien Yang Menjalani Peritoneal Dialisis

3. Pokok Bahasan Dan Atau Sub Pokok Bahasan
A. Pokok Bahasan
Pokok bahasan yang akan disampaikan adalah masalah jangka panjang pada pasien
hemodialisa yang mengalami gangguan nutrisi

.

443 | P a g e

B. Sub Pokok Bahasan
1. Menjelaskan Definisi Malnutrisi
2. Menjelaskan Faktor-faktor yang Mempengaruhi Terjadinya Malnutrisi Protein-Energi
3. Menjelaskan Kebutuhan Nutrisi Pasien CKD yang Menjalani Dialysis
4. Menjelaskan Diet Pasien Yang Menjalani Peritoneal Dialisis

4. Bahan Belajar
Bahan belajar yang diperlukan adalah masalah jangka panjang pada pasien

hemodialisa yang mengalami gangguan nutrisi.

5. Langkah-Langkah Kegiatan Pembelajaran

N PROSES PEMBELAJARAN
WAKTU
Kegiatan Pengampu Kegiatan Peserta
O

1. 10 menit Pembukaan: 1. Menjawab salam

1. Salam 2. Mendengarkan dan

2. Penjelasan mata ajar masalah jangka panjang memperhatikan

pada pasien hemodialisa yang mengalami 3. Bertanya

gangguan nutrisi.

2. 60 menit 1. Menjelaskan Definisi Malnutrisi 1. Menganalisis

2. Menjelaskan Faktor-faktor yang Mempengaruhi 2. Menjawab

Terjadinya Malnutrisi Protein-Energi 3. Mencatat
3. Menjelaskan Kebutuhan Nutrisi Pasien CKD 4. Bertanya

yang Menjalani Dialysis

4. Menjelaskan Diet Pasien Yang Menjalani

Peritoneal Dialisis

3. 20 menit Penutup:

1. Menyimpulkan pertemuan 1. Memperhatikan

2. Menanyakan konsep masalah jangka 2. Menjawab

panjang pada pasien hemodialisa yang

mengalami gangguan nutrisi

444 | P a g e

Uraian Materi

NUTRISI PASIEN HEMODIALISA

Menurut Clinical Practice Guideline on Adequacy of Hemodialysis, kecukupan dosis
hemodialysis yang diberikan diukur dengan istilah adequasi hemodialisis (NKF-K/DOQI,
2000). Tidak adekuatnya dialysis dapat juga menjadi penyebab penting terjadinya malnutrisi.
Malnutrisi pada dasarnya disebabkan oleh asupan nutrisi yang kurang, kehilangan nutrient
meningkat, dan atau katabolisme protein yang meningkat,serta adanya inflamasi kronis. Status
nutrisi yang buruk akan menyebabkan pasien mengalami malaise dan fatigue, rehabilitasi
jelek, penyembuhan luka terganggu, kepekaan terhadap infeksi meningkat dan angka
rawat inap serta mortalitas meningkat.

Malnutrisi umum terjadi pada pasien hemodialisis rutin. Prevalensi 40% dari gizi
buruk ditemukan pada pasien dengan gagal ginjal kronik pada awal menjalani dialisis.
Seperti yang ditunjukkan oleh beberapa penelitian cross-sectional di Amerika Serikat,
Jepang, dan Eropa, pasien gagal ginjal stadium akhir (ESRD) yang mendapat terapi
pengganti hemodialisis rutin beresiko kekurangan gizi,. bahkan, hampir setiap studi meneliti
status gizi pasien hemodialisis menunjukkan bahwa pasien sering kekurangan energi
protein.. Pasien mungkin tidak makan dengan cukup karena kehilangan nafsu makan.
Anoreksia dapat disebabkan oleh faktor-faktor seperti retensi racun uremik dan asidosis
metabolik kronis, yang merupakan faktor penting katabolik. Dalam hal ini, tidak
memadainya terapi dialisis mungkin merupakan penyebab penting kekurangan gizi. Terapi
pengganti ginjal menyebabkan hilangnya nutrisi. selama sesi hemodialisis (HD),
kuantitas asam amino yang hilang bisa (4-9 g dalam keadaan puasa dan 8-12 g pasca-
prandially). Sebaliknya, kehilangan protein dapat diabaikan, kecuali pemakaian ulang ginjal
buatan dilakukan. Kekurangan energi protein (KEP) merupakan salah satu komplikasi lazim
muncul pada pasien yang menjalani hemodialisis.. Angka kematian tahunan dilaporkan
berkisar dari 23,6% di Amerika Serikat pada tahun 1993, sedang 10,7% di Eropa, dan 9,5%
di Jepang pada tahun 1994, faktor umum dari peningkatan risiko kematian pada populasi ini
adalah malnutrisi.

445 | P a g e

1. Definisi
Malnutrisi adalah asupan protein, energi, dan mikronutrien yang tidak memadai atau

berlebih seperti vitamin, dan seringnya terjadi gangguan infeksi. ( WHO ). Difinisi lain
Malnutrisi adalah kondisi berkurangnya nutrisi tubuh, atau suatu kondisi terbatasnya
kapasitas fungsional yang disebabkan oleh ketidakseimbangan antara asupan dan
kebutuhan nutrisi, yang pada akirnya menyebabkan berbgai ganggun metabolic, penurunan
fungsi jaringan, dan hilangnya massa tubuh. Pasien penyakit ginjal kronik yang
menjalani. hemodiaisis sering mengalami malnutrisi protein-energi atau protein-energy
malnutrition (PEM) (.Stevinkel, 2000). PEM yang terjadi pada pasien PGK yang
menjalani dialisis seharusnya dapat diperbaiki dengan memenuhi kebutuhan nutrisinya.
Malnutrisi bisa disebabkan oleh asupan nutrisi yang kurang, kehilangan nutrisi meningkat,
dan atau katabolisme protein yang meningkat. Malnutrisi pada pasien dialisis juga
menyebabkan konsekuensi klinis penting lainnya. Anemia lebih sering terjadi pada pasien
dialisis yang juga menderita malnutrisi dan atau inflamasi, serta respon terhadap
erithropoietin yang minimal biasanya dikaitkan dengan tingginya kadar sitokin pro-
inflamasi. Pasien dialisis yang juga menderita Penyakit Jantung Koroner (PJK) seringkali
didapatkan hipoalbumin dan peningkatan kadar petanda inflamasi.

Nutrisi memainkan peran penting dalam pengelolaan penyakit ginjal. Diet yang
dibutuh akan sangat bervariasi tergantung pada jenis dan stadium penyakit ginjal serta
pasien dan faktor-faktor khusus modalitas pengobatan. Diet dapat memperlambat
perkembangan penyakit ginjal pada salah satu dari empat tahap pertama. Tidak ada "diet
ginjal" yang dapat diterapkan untuk semua pasien. Setiap situasi harus dievaluasi secara
individual. Kesamaan tertentu mungkin berlaku untuk pasien dengan penyakit ginjal
kronis dan akut; Namun, kebutuhan makanan berubah dengan perkembangan
penyakit ginjal kronis (PGK). Pembatasan pola makan sering kali dianggap
sebagai tantangan tersulit yang mungkin dihadapi oleh pasien PGK. Pembatasan cairan
menambah beban tambahan pada pasien CKD pada dialisis pemeliharaan.

446 | P a g e

2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Terjadinya Malnutrisi Protein-Energi
1. Masukan nutrisi tidak adequat
a. Nafsu makan kurang
b. Toxic uremia
c. Pengosongan lambung lambat
d. Adanya inflamasi
e. Gangguan emosional dan psikologi
2. Permasalahan diet dan intake makanan
a. Mulai adanya pembatasan
b. Pembatasan sosial
c. Ketidakmampuan fisik
3. Hilangnya nutrisi selama dialysis
a. Hilang terus-menerus pada membran hemodyalisis kealiran dialisat
b. Menempel pada membran
c. Hilang selama peritonial dialysis
d. Hiperkatabolisme
1) Cardiovaskuler
2) Komplikasi diabetik
3) Infeksi dan atau tanpa sepsis
e. Gangguan endokrin uremic dan gangguan metabolisme lain
1) Resisten insulin
2) Resisten pada hormon pertumbuhan
3) Hiperparatiroidisme
4) Inflamasi kronik

447 | P a g e

3. Kebutuhan Nutrisi Pasien CKD yang Menjalani Dialysis

1. Kebutuhan protein pasien hemodialisis

Kebutuhan protein pasien yang dilakukan hemodialysis diperkirakan 1,2 ± 0,2 g / kg /
hari.. Secara umum 50% protein ini harus berasal dari protein yang bernilai biologis
tinggi, seperti daging, ikan, unggas, tahu, telur, susu, dan keju. Sumber protein
semacam itu mengandung asam amino esensial lengkap. Contoh protein bernilai
biologis rendah adalah buah-buahan, sayuran, kacang-kacangan, dan biji-bijian; akan
tetapi, pola makan vegetarian yang direncanakan dengan hati-hati dapat digunakan
tanpa mengorbankan status gizi Kebutuhan protein pasien hemodialisis lebih tinggi
daripada populasi umum, sebagian karena hilangnya 5 sampai 10 g asam amino
selama setiap perawatan

2. Kebutuhan energi

Bagi pasien hemodialisis tidak ada batasan yang tepat, meskipun umumnya 35
kkal/kg/hari untuk pemeliharaan. Pada situasi yang stres atau malnutrisi, kebutuhan
kalori bisa mencapai 40 hingga 45 kkal / kg / hari. Pasien dengan obesitas, 25
sampai 30 kkal/kg/hari.

3. Pengendalian kalium

Hampir semua makanan mengandung kalium, dan buah-buahan serta sayuran tertentu
merupakan sumber yang sangat kaya kalium. Ketika keluaran urin turun di bawah
1000 mL / harii, kalium harus dikontrol dalam makanan. Asupan sekitar 70 mEq atau
2.730 mg / hari aman untuk sebagian besar pasien hemodialisis. Asupan kalium
makanan tertentu tergantung pada ukuran pasien, tingkat kalium dalam dialisat, dan
faktor lain yang dapat mempengaruhi tingkat kalium serum. Faktor lain selain dari
pola makan yang dapat menyebabkan hyperkalemia adalah termasuk asidosis berat,
konstipasi, katabolisme, defisiensi insulin, dan penggunaan obat-obatan tertentu,
seperti agen penghambat β- adrenergik dan penghambat enzim pengubah angiotensin
(ACE).

4. Kebutuhan natrium

Asupan natrium sekitar 87 mEq atau 2000 mg / hari natrium sesuai untuk kebanyakan
pasien hemodialisis. Penyesuaian dapat dilakukan tergantung pada tekanan
darah, keluaran urin, dan ada tidaknya edema. Hipertensi pada pasien PGK
sebagian besar terkait dengan volume, dan berat kering yang harus selalu dinilai
ulang pada pasien hipertensi. Hipertensi yang dimediasi renin terjadi pada
sebagian kecil pasien dialisis. Obat antihipertensi yang tepat, pembatasan
natrium dan cairan sangat diperlukan.

448 | P a g e

5. Tingkat asupan cairan
Umumnya asupan cairan yang dianjurkan adalah 500-600 mL / hari ditambah jumlah
urin yang keluar dalam 24 jam. Cairan yang terkandung dalam makanan, seperti buah-
buahan dan sayuran, biasanya tidak dihitung dalam jumlah ini. Makanan yang
berbentuk cair seperti suhu, sup, gelatin, dan es, termasuk yang dihitung dalam
cairan harian. Volume cairan dalam makanan padat, sekitar 500 hingga 800 mL / hari,
secara kasar setara dengan kehilangan cairan yang tidak dapat disadari; oleh karena
itu sisa asupan cairan yang "terlihat" akan berkorelasi dengan
penambahan berat badan interdialitik. Peningkatan berat badan interdialitik
yang dapat diterima adalah 1,5 kg, atau kurang dari 3% berat badan. Cairan yang
berlebihan berkontribusi pada tekanan darah tinggi dan menyebabkan hipertrofi
ventrikel kiri.

6. Asupan fosfor dan kalsium
Asupan fosfor harus dibatasi hingga 800 sampai 1200 mg / hari pada pasien CKD
stadium 5 (KDOQI Clinical Practice Guidelines for Bone Metabolism, 2003). Karena
kandungan fosfor dari makanan berkorelasi dengan asupan protein, mungkin perlu
memasukkan beberapa makanan tinggi fosfor untuk mencapai asupan protein yang
memadai. Fosfor juga dikendalikan oleh asupan antasida pengikat fosfat, seperti
kalsium karbonat atau kalsium asetat. Antasida yang mengandung aluminium harus
dihindari untuk meminimalkan risiko penyakit tulang aluminium. Antasida yang
mengandung kalsium diberikan bersama makanan dan kudapan, dan idealnya dititrasi
ke kandungan makanan berfosfor. Kandungan kalsium dalam makanan biasanya
rendah karena makanan tinggi fosfor juga cenderung kaya akan sumber kalsium.
Suplemen kalsium, selain kalsium dalam antasida pengikat fosfat,mungkin tidak
diperlukan untuk menjaga keseimbangan kalsium Apabila digunakan pakailah oral
atau intravena 1,25-dihydroxycholecalciferol. Kebutuhan kalsium sangat bervariasi
tergantung pada asupan fosfat, penggunaan vitamin D, kandungan kalsium dialisat,
dan adanya hiperparatiroidisme.

449 | P a g e

7. Suplemen vitamin

Pasien yang menjalani dialisis mungkin berisiko mengalami defisiensi vitamin yang
larut dalam air tertentu karena asupan nutrisi yang buruk, malabsorpsi, interaksi obat-
nutrisi, perubahan metabolisme vitamin, dan kehilangan saat dialisis. Suplementasi
vitamin B 3 , B 2 , dan B 12 , biotin, asam pantotenat, dan niasin, serta 800 hingga
1000 mcg asam folat dan 10 mg piridoksin (B 6 ) sehari-hari adalah wajar.
Rekomendasi untuk asam folat, B 12 , dan B 6 terus dievaluasi ulang sehubungan
dengan informasi mengenai asam amino, dan homosistein. Peningkatan kadar
homosistein telah dibuktikan menjadi faktor risiko penyakit kardiovaskular dan dapat
terjadi pada pasien dengan PGK. Beberapa penelitian mengatakan dosis asam folat
dan B 6 dan B 12 yang tinggi telah terbukti menormalkan kadar homosistein oleh
karena itu mungkin memiliki efek kardioprotektif. Suplementasi vitamin C dibatasi
hingga 60 mg / hari. Dosis vitamin C yang lebih tinggi harus dihindari untuk
mencegah akumulasi oksalat, suatu metabolit asam askorbat. Vitamin A tambahan
harus dihindari karena potensi toksisitas yang berhubungan dengan penurunan
degradasi ginjal dari protein pengikat retinol pada gagal ginjal.

8. Kebutuhan trace mineral

Kekurangan seng dapat ditemukan pada beberapa pasien yang menjalani dialysis.
Pasien yang menunjukkan tanda-tanda defisiensi seng — seperti hipogeusia
(kehilangan indera perasa), penyembuhan luka yang tertunda, atau alopecia.

9. Menilai kekurangan zat besi

Kekurangan zat besi adalah temuan umum pada pasien dialisis yang menerima human
eritropoietin rekombinan dan penggunaan zat besi secara bersamaan untuk
eritropoiesis. Sebelum penggunaan eritropoietin, kelebihan zat besi sering terjadi pada
pasien gagal ginjal ini sebagai akibat dari banyak transfusi darah (setiap unit darah
yang ditransfusikan mengandung sekitar 200 sampai 250 mg zat besi). Penilaian rutin
penyimpanan zat besi oleh feritin serum dan persen saturasi transferin (zat besi
dibagi dengan kapasitas pengikatan zat besi total) harus dimasukkan dalam protokol
terapi eritropoietin. Volume rata-rata sel yang rendah mungkin merupakan indikator
kekurangan zat besi. Jika terdapat defisiensi zat besi, pemberian zat besi intravena atau
suplementasi zat besi oral diperlukan. Meningkatkan kandungan zat besi dari makanan
umumnya tidak memberikan penggantian yang memadai.

450 | P a g e

10. Mengontrol asupan lemak

Dislipidemia, biasanya terlihat sebagai hipertrigliseridemia, dikombinasikan
dengan kolesterol high-density lipoprotein (HDL) rendah dan kolesterol
total serum normal,merupakan kelainan lipid yang paling umum ditemukan pada
pasien dialisis. Obesitas dapat memperburuk hipertrigliseridemia. Oleh karena itu,
pada pasien dialisis obesitas, pengendalian berat badan akan bermanfaat dalam
membantu mengontrol kadar trigliserida. Program latihan aerobik yang teratur
sangat bermanfaat dalam membantu mengontrol kadar kolesterol dan trigliserida.
Karnitin dan suplemen minyak ikan juga telah terbukti membantu menurunkan kadar
trigliserida.

11. Gula dan karbohidrat

Pembatasan gula dan karbohidrat tidak sesuai atau tidak perlu bagi pasien yang
menjalani cuci darah. Pengecualian adalah penderita diabetes atau mereka yang
kelebihan berat badan, atau yang menderita hipertrigliseridemia yang mungkin
merespons pembatasan kalori total. Seringkali gula dan karbohidrat lain perlu
ditingkatkan untuk menyediakan kalori yang cukup dalam makanan.

12. Apa itu karnitin dan haruskah itu ditambahkan secara rutin pada pasien yang
menjalani dialisis?

Karnitin disintesis dalam tubuh dari asam amino esensial lisin dan metionin dan
berperan dalam mengangkut asam lemak rantai panjang ke dalam mitrokondria.
Meskipun metode pengukuran karnitin pada metabolisme tubuh tidak tepat,
konsentrasi karnitin plasma dan otot karnitin mungkin rendah pada pasien yang
menjalani dialisis. Karnitin telah digunakan untuk menurunkan kadar trigliserida,
membantu kram otot dan kelemahan otot, dan menurunkan kerapuhan sel darah
merah pada pasien yang menjalani dialisis.

4. Bagaimana Diet Pasien Yang Menjalani Peritoneal Dialisis

Diet untuk pasien yang menjalani CAPD, continuous cycling peritoneal dialysis (CCPD),
dan modalitas PD lainnya berbeda dengan pasien yang menjalani hemodialisis dalam
beberapa hal.

1. Protein. Kebutuhan protein lebih tinggi pada pasien PD sebagai akibat kehilangan
protein dialisat yang rata-rata sekitar 9 g / hari. Kadar protein yang dibutuhkan 1,2
hingga 1,3 g per kilogram berat badan, dan seringkali sulit dicapai. Meskipun terdapat
bukti bahwa beberapa pasien dapat mempertahankan keseimbangan nitrogen positif
dengan asupan protein yang lebih rendah. Seperti halnya hemodialisis, rekomendasi
umumnya adalah bahwa setidaknya 50% protein harus berasal dari sumber yang
bernilai biologis tinggi karena untuk mempertahankan nutrisi protein yang baik. Pola

451 | P a g e

makan dengan vegetarian harus hati-hati. Suplemen protein nabati dapat digunakan
saat kebutuhan protein hewani tidak dapat dipenuhi.
2. Kalori . Meskipun kebutuhan kalori sama untuk pasien hemodialisis dan PD, pasien
PD menyerap 150 sampai 1000 kalori per hari dari dekstrosa dalam dialisat. Hal ini
dapat memberikan keuntungan khusus pada pasien yang mengalami malnutrisi
energi atau mungkinjustru bermasalah pada pasien obesitas atau hipertrigliseridemia.
3. Natrium / cairan . Biasanya, diet natrium dan cairan dapat disamakan untuk pasien
PD dan hemodialisis karena kandungan dekstrosa dari larutan dialisis dapat
disesuaikan dengan setiap pertukaran untuk menghilangkan volume cairan yang
bervariasi. Asupan natrium 4 g, dan asupan cairan yang disebabkan karena rasa haus.
Manajemen cairan yang yang baik dapat mempertahankan euvolemia.
4. Kalium. Kontrol kalium cenderung kurang menjadi masalah pada pasien PD
karena cairan dialysate yang mengandung glukosa konstan dikombinasikan dengan
produksi insulin endogen mendorong kalium intraseluler. Kalium tambahan dapat
diindikasikan pada sekitar 10% pasien PD.
5. Fosfor. Pengendalian serum fosfor menjadi tantangan bagi pasien PD. Asupan
fosfor yang lebih tinggi seringkali diperlukan untuk mencapai asupan makanan
protein yang cukup, karena makanan yang tinggi protein cenderung tinggi fosfor.
Oleh karena itu, persyaratan untuk obat pengikat fosfat mungkin lebih tinggi.
6. Vitamin dan mineral lainnya. Kebutuhan nutrisi lain ini umumnya dianggap sama
dengan kebutuhan pasien hemodialisis.

5. Tujuan Pengaturan Nutrisi Adalah Sebagai Berikut
1. Mencapai dan memelihara status nutrisi yang baik.
2. Mencegah atau menunda berkembangnya penyakit kardiovaskuler,serebrovaskuler
dan periferal vaskuler.
3. Mencegah atau mengobati hiperparatiroidisme serta osteodistrofi
4. Mencegah atau memperbaiki toksisitas uremi dan berbagai kelainan metabolik
yang berpengaruh terhadap nutrisi dan tidak bisa diperbaiki dengan HD adequat

452 | P a g e

6. Penilaian status gizi pasien dialysis

Penilaian status gizi harus didasarkan pada kombinasi parameter klinis dengan parameter
biofisik dan biokimia. Pasien dialisis yang mengalami malnutrisi sering mengalami
malnutrisi energi protein dengan pengurangan massa lemak (ML) dan lean body mass
(LBM), oleh karena itu, penilaian klinis ML subkutan dan massa otot serta riwayat
penurunan berat badan adalah bagian penting dari penilaian nutrisi rutin. Persentase berat
standar dan indeks massa tubuh (BMI) juga penting dan mudah diukur, meskipun BMI
lebih berguna untuk penilaian obesitas daripada kekurangan gizi. Sebagian besar pasien
dialisis dengan gizi buruk juga memiliki penyakit komorbid.

1. Laboratorium

Parameter laboratorium yang paling umum digunakan untuk penilaian status gizi
adalah konsentrasi plasma albumin, pre-albumin, transferrin, dan protein-protein
turunan hati lainnya. Meskipun serum albumin sejauh ini merupakan penanda
nutrisi yang paling umum digunakan pada pasien dialisis, nilainya dipertanyakan
karena kadar albumin serum yang rendah tidak hanya mencerminkan status gizi yang
buruk, tetapi juga kerugian albumin dalam urin (dan / atau dialisat) dan, karena
albumin adalah protein fase akut negatif, adanya proses inflamasi . Oleh karena itu,
protein visceral lain telah digunakan, termasuk protein pre-albumin, transferrin, dan
retinol-binding . Untuk protein-protein ini secara umum, ada banyak tumpang tindih
antara pasien yang kekurangan gizi dan gizi baik . Pra-albumin memiliki waktu
paruh lebih pendek daripada albumin, memiliki hubungan yang erat dengan status
gizi dan merupakan prediktor yang baik untuk hasil klinis. Pengukuran CRP penting
untuk penilaian kondisi komorbiditas inflamasi, serta untuk interpretasi kadar
albumin dan pra-albumin. Penanda nutrisi biokimia tambahan, dengan nilai yang
rendah mengindikasikan nutrisi yang buruk dan hasil yang buruk, termasuk kreatinin
serum dan kolesterol total Tingkat kreatinin sebelum dialisis adalah prediktor kuat
dari massa otot yang rendah dan hasil yang buruk. Kolesterol total serum adalah
penanda nutrisi yang kurang sensitif, tetapi murah dan mudah didapat. Asidosis
adalah faktor katabolik yang kuat pada uraemia maka pemantauan serum bikarbonat
direkomendasikan secara rutin untuk tindak lanjut status asam-basa.

453 | P a g e

2. Subjective Global Assessment (SGA)

Selama beberapa tahun terakhir, penilaian status gizi dengan subjektif global asesmen
(SGA) semakin sering digunakan. Teknik SGA lebih komprehensif dibandingkan
dengan antropometri karena terdiri dari dua tahap dan menggunakan pendekatan klinis
terstruktur, terdiri dari anamesis dan pemeriksaan fisik yang mencerminkan perubahan
metabolik dan fungsional. (Meilyana dkk, 2010). Anamesis terdiri dari keterangan
mengenai perubahan berat badan (BB), perubahan asupan nutrisi, gejala saluran cerna,
gangguan kemampuan fungsional dan penyakit yang dialami pasien. Anamesis pada
SGA ini bertujuan untuk mencari etiologi malnutrisi, apakah akibat penurunan asupan
makanan, malabsorbsi, maldigesti atau peningkatan kebutuhan. Pemeriksaan fisik
menilai kehilangan massa otot dan lemak serta adanya asites dan bermanfaat untuk
mengidentifikasi perubahan komposisi tubuh akibat efek malnutrisi atau pengaruh
proses penyakit. Subjective Global Assessment (SGA) merupakan indikator yang
dipakai pada penelitian pasien gagal ginjal terminal.

3. Penilaian LBM

Karena malnutrisi protein dengan kehilangan massa otot sangat umum pada pasien
dengan cronic renal injury (CRI) berbagai metode telah diterapkan untuk pemantauan
objektif massa otot atau LBM, misalnya antropometrik, kinetika kreatinin (CK),
bioimpedansi, dan absorptiometri sinar-X energi ganda (DEXA). Dari metode ini,
DEXA tampaknya menjadi yang paling dapat diandalkan. Dengan DEXA,
seseorang dapat memperkirakan distribusi mineral tulang, lemak, DEXA dianggap
lebih unggul daripada metode non-invasif lainnya untuk menentukan komposisi tubuh
pada gagal ginjal, dan telah banyak digunakan pada pasien dialysis.

4. Malnutrition Inflamation Score (MIS)

Merupakan suatu metode penilaian komprehensif dan kuantitatif dari status nutrisi
pada pasien dialysis. MIS merupakan pengembangan dari alat sebelumnya (SGA) .
MIS terdiri dari sepuluh komponen yang masing masing mewakili bebagai aspek
peradangan kekurangan gizi kompleks. Tujuh komponen MIS juga digunakan
untuk menentukan SGA ( perubahan berat badan, asupan makanan, gejala
gastrointestinal, kapasitas fungsional, kondisi komorbiditas, simpanan lemak dan
pengecilan otot). Tiga komponen non SGA adalah indeks massa tubuh, kadar
albumin serum dan kapasitas pengikatan besi total. Setiap komponen MIS memiliki
4 tingkat keparahan, dari 0 (normal) hingga 3 (sangat abnormal). Jumlah dari
semua 10 komponen MIS berkisar antara 0 (normal) hingga 30 sangat kurang
gizi) , skor yang lebih tinggi mencerminkan tingkat malnutrisi dan
peradangan yang lebih parah

454 | P a g e

7. Evaluasi Nutrisi Yang Dilakukan Tim Keperawatan

Parameter Tanda & Gejala Evaluasi Keperawatan
Kehilangan BB • Index massa tubuh Evaluasi tentang nafsu makan, mual,
muntah, dysphagia, kemampuan
Masa otot <17 membeli/mengambil makan, gerak badan
berkurang dan diet, depresi, DM, gangguan thyroid,
• Pakaian longgar kemampuan mengunyah, gigi palsu, medis
at alasan keyakinan budaya untuk tidak
• Overload cairan at mEvaaklauna.si kekuatan tangan, lengan dan paha
Kurdursy/ wtueliagnhgtnya
kelihatan menonjol athropi

Kekuatan & daya • Kelemahan Grade kekuatan otot 0-5
tahan tubuh • Mobilitas menurun 0 = tdk da kontraksi otot
berkurang
1 = sedikit ada kontraksi
Malnutrisi
2 = gerak aktiv tanpa grafitasi

3 = gerak aktiv melawan gravitasi

Keletihan, kelemahan, 4M=algaesrkaekrjaak,tisvtrmesesl,abwearnsebdeihbekraarpeana
keletihan
tidak tahan dingin, kulit
kering , pergelangan kaki
bengkak

8. Evaluasi Malnutrisi
1. Anamese
Perubahan BB, nafsu makan, keluhan gastrointestinal, riwayat penyakit, pola makan,
menu makanan sehari-hari
2. Perhitungan diet sehari-hari
Perhitungan kalori, protein, dll dari menu sehari-hari
3. Pemeriksaan fisik
Penentuan BB kering, evaluasi keadaan kulit, mukosa, rambut dan Antropometri
4. Laboratorium
Gula darah, BUN, albumin, trasferin, Hct

455 | P a g e

Secara singkat terapi dialisis untuk pasien dengan penyakit ginjal akut atau kronis dapat
memberikan hasil yang optimal bagi pasien jika dikombinasikan dengan manajemen nutrisi
yang efektif dan tepat. Meskipun manajemen diet pada akhirnya menjadi tanggung jawab
pasien atau pengasuh, anggota tim interdisipliner memainkan peran penting dalam mendidik
dan memperkuat informasi diet yang disesuaikan dengan individu dan dipantau
keefektifannya.

456 | P a g e

No Standar Diagnosa Keperawatan Standar Luaran Kepera
Indonesia (SDKI) (SLKI)

1. Defisit Nutrisi (D.0019) Luaran Utama

Definisi : Status Nutrisi (L.03030)

Asupan nutrisi tidak cukup untuk memenuhi Definisi :

kebutuhan metabolisme Keadekuatan asupan nutrisi un

Penyebab : kebutuhan metabolisme

Ekspektasi : Membaik

1. Ketidakmampuan menelan makanan Kriteria Hasil :

2. Ketidakmampuan mencerna Menu Cuku
makanan run Men
run
3. Ketidakmampuan mengabsorbsi
nutrien Porsi makanan yang 1 2
dihabiskan 1 2
4. Peningkatan kebutuhan Kekuatan otot 1 2
metabolisme penguyah 1 2
Kekuatan otot 1 2
5. Faktor ekonomi (mis, finansial tidak menelan 1 2
mencukupi) Verbalisasi keinginan 1 2
untuk meningkatkan
6. Faktor psikologis (mis, stres, nutrisi 1 2
keengganan untuk makan) Pengetahuan tentang
pilihan minuman
Gejala dan tanda Mayor : yang sehat
Subyektif : Pengetahuan tentang
standar asupan
(tidak tersedia) nutrisi yabg tepat
Obyektif : Penyiapan dan
penyimpanan
1. Berat badan menurun minimal 10% makanan yang aman
di bawah rentang ideal Penyiapan dan
penyimpanan
Tanda dan Gejala Minor : minuman yang aman
Subyektif :

awatan Indonesia Standar Intervensi Keperawatan Indonesia
) (SIKI)

ntuk memenuhi Intervensi Utama
Manajemen Nutrisi(I.03119)
Definisi :
Mengidentifikasi dan mengelola nutria yang seimbang
Tindakan :
Observasi

up Se Cukup Mening  Identifikasi status nutrisi
nu dang Menin kat  Identifikasi alergi dan intoleransi makanan
n  Identifikasi makanan yang disukai
g  Identifikasi kebutuhan kalori dan jenis nutrient
kat  Identifikasi perlunya penggunaan selang nasogastrik
 Monitor asupan makanan
34 5  Monitor berat badan
 Monitor hasil pemeriksaan laboratorium
34 5

34 5

34 5 Terapeutik

34 5  Lakukan oral hygiene sebelum makan, jika perlu
34 5  Fasilitasi menentukan pedoman diet (mis. Piramida
34 5
makanan)
34 5  Sajikan makanan secara menarik dan suhu yang

sesuai
 Berikan makan tinggi serat untuk mencegah

konstipasi
 Berikan makanan tinggi kalori dan tinggi protein
 Berikan suplemen makanan, jika perlu
 Hentikan pemberian makan melalui selang

nasigastrik jika asupan oral dapat ditoleransi

457 | P a g e

1. Cepat kenyang setelah makan Sikap terhadap 1 2
2. Kram/nyeri abdomen makanan / minuman
3. Nafsu makan menurun  . sesuai dengan tujuan
kesehatan
Obyektif :
Mening Cuku
1. Bising usus hiperaktif kat Meni
2. Otot pengunyah lemah
3. Otot menelan lemah kat
4. Membran mukosa pucat
5. Sariawan Perasaan cukup 12
6. Serum albumin turun kenyang
7. Rambut rontok berlebihan Nyeri Abdomen 12
8. Diare Sariawan 12
Rambut Rontok 12
Kondisi Klinis Terkait : Diare 12

1. Stroke Membu Cuku
2. Parkinson ruk Mem
3. Mobius syndrome
4. Celebral palsy ruk
5. Cleft lip
6. Cleft palate Berat badan 12
7. Amyotropic lateral sclerosis Indeks Masa
8. Kerusakan neuromuskular Tubuh (IMT) 12
9. Luka bakar Frekuensi
10. Kanker Makanan 12
Nafsu Makan
Bising Usus 12
Tebal lipatan 12
Kulit Trisep
Membran
Mukosa

34 5

Edukasi

up Se Cukup Menu  Anjurkan posisi duduk, jika mampu
ing dang Menu run  Ajarkan diet yang diprogramkan
t run
Kolaborasi
34 5
 Kolaborasi pemberian medikasi sebelum makan
34 5 (mis. Pereda nyeri, antiemetik), jika perlu
34 5
34 5  Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan
34 5 jumlah kalori dan jenis nutrient yang dibutuhkan,
jika perlu

up Se Cukup Mem Promosi Berat Badan (I.03136)
mbu dang Mem baik Definisi :
k baik Memfasilitasi peningkatan berat badan
5 Tindakan :
34 5 Observasi

34  Identifikasi kemungkinan penyebab BB kurang
 Monitor adanya mual dan muntah
34 5  Monitor jumlah kalorimyang dikomsumsi sehari-hari
 Monitor berat badan
34 5  Monitor albumin, limfosit, dan elektrolit serum
34 5
Terapeutik

 Berikan perawatan mulut sebelum pemberian

458 | P a g e

11. Infeksi Luaran Tambahan
12. AIDS
13. Penyakit Crohn’s 1. Berat Badan
14. Enterokolitis 2. Eleminasi Fekal
15. Fibrosis kistik 3. Fungsi Gastrointestinal
4. Nafsu Makan
5. Perilaku meningkatkan Ber
6. Status Menelan
7. Tingkat Depresi
8. Tingkat Nyeri

rat Badan makan, jika perlu
 Sediakan makan yang tepat sesuai kondisi

pasien( mis. Makanan dengan tekstur halus,
makanan yang diblander, makanan cair yang
diberikan melalui NGT atau Gastrostomi, total
perenteral nutritition sesui indikasi)
 Hidangkan makan secara menarik
 Berikan suplemen, jika perlu
 Berikan pujian pada pasien atau keluarga untuk
peningkatan yang dicapai

Edukasi

 Jelaskan jenis makanan yang bergizi tinggi,
namuntetap terjangkau

 Jelaskan peningkatan asupan kalori yang dibutuhkan

Intervensi Pendukung

 Dukungan Kepatuhan Program Pengobatan
 Edukasi Diet
 Edukasi Kemoterapi
 Konseling Laktasi
 Konseling Nutrisi
 Konsultasi
 Manajemen cairan
 Manajemen Demensia
 Manajemen Diare
 Manajemen Eliminasi Fekal

459 | P a g e



 Manajemen Energi
 Manajemen Gangguan Makan
 Manajemen Hiperglikemia
 Manajemen Kemoterapi
 Manajemen Reaksi Alergi
 Pemantauan Reaksi Alergi
 Pemantauan Cairan
 Pemantauan Nutrisi.
 Pemantauan Tanda Vital
 Pemberian Makanan
 Pemberian Makanan Enteral
 Pemberian Makanan Parenteral
 Pemberian Obat Intravena

460 | P a g e

DAFTAR PUSTAKA

Bergstorm, Jonas MD, 1995 Why Are Dialysis Patients Malnourished? Dalam American
Journal of Kidney Disease Vol 26 No 1
Harmoko B. 2010, Gambaran Status Nutrisi pada Pasien yang Menjalani
Hemodialisis
Berkala di RSUP H Adam Malik, FK USU Medan

Kirsten L Johanse, et al. 2003. Longitudinal study of nutritional status, body
composition, and physical function in hemodialysis patients, American Society for
Clinical Nutrition

Kresnawan, Triyani. 2002. Pengukuran Status Gizi dengan Menggunakan SGA (Subjektive
Global Assesment) dalam ASDI Edisi Khusus 2002 ISSN 1412.646 X. Jakarta: Media
Dietetik

NKFKDOQI Guidelines, 2006. Hemodialysis Adequacy Peritoneal Dialysis Adequacy
Vascular Access. Available at : http://www.kidney.org/professionals/
kdoqi/pdf/ckd_evaluation_clasificattion_stratificattion.pdf (diakses tanggal 12 Oktober
2012)

Milanoux and Henrich, Renal Data System, USRDS 2009 Annual Data Report: Atlas of Chronic
Kidney Diseaseand End Stage Renal Disease in the United States, Bethesda, 2009

Supariasa, I Dewa Nyoman, 2002, Penilaian Status Gizi. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran
Sayogo, S. 2000. Penilaian Status Gizi Individu dalam Pegangan Penatalaksanaan Nutrisi

Pasien, Jakarta: Perhimpunan Dokter Gizi Medik Indonesia
Sukandar, 2006. Gagal Ginjal Dan Panduan Terapi Dialisis. Pusat Informasi Ilmiah
(PII) Bagian Ilmu Penyakit Dalam F.K.UNPAD/RSHS Bandung.

461 | P a g e

ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN NEUROLOGI

1. Deskripsi Singkat
Uremia adalah suatu sindrom klinis dan laboratorik yang terjadi pada

semua organ akibat penurunan fungsi ginjal, dimana terjadi retensi sisa pembuangan
metabolisme protein, yang ditandai dengan peningkatan kadar ureum diatas 50 mg/dl.
Uremia lebih sering terjadi pada Gagal Ginjal Kronis (GGK), tetapi dapat juga terjadi
pada Gagal Ginjal Akut (GGA) jika penurunan fungsi ginjal terjadi secara cepat.
Hingga sekarang belum ditemukan satu toksin uremik yang ditetapkan sebagai
penyebab segala manifestasi klinik pada uremia.

Walaupun dialisis telah menurunkan kejadian perubahan neurologis, beberapa
pasien mengalami masalah dalam proses penyakit. Neuropati perifer menyebabkan
banyak manifestasi seperti rasa terbakar pada kaki, perubahan gaya berjalan, food drop
dan paraplegia. Awalnya masalah utama adalah sistem sensorik namun jika tidak
diobati maka mungkin berkembang ke sistem motorik. Konduksi saraf menjadi lebih
lambat dan reflek tendon dalam dan indra peraba berkurang.

Asuhan keperawatan digunakan dalam memberikan pelayanan keperawatan
yang komprehensif pada pasien hemodialisa yang mengalami masalah jangka panjang
gangguan neurologi.

2. Tujuan Pembelajaran
A. Tujuan Pembelajaran Umum (TPU)
Setelah megikuti materi ini, peserta pelatihan dapat memahami masalah jangka
panjang pada pasien hemodialisa yang mengalami gangguan neurologi.
B. Tujuan Pembelajaran Khusus (TPK)
Setelah mengikuti materi ini peserta dapat :
1. Menjelaskan gangguan Neurologi pada pasien Hemodialisa
2. Menjelaskan pemeriksaan penunjang gangguan neurologis pasien Hemodialisa
3. Menjelaskan pengkajian ganguan neurologis pasien Hemodialisa
4. Menjelaskan Intervensi Gangguan Neurologis Pada Pasien Dialisis

462 | P a g e

3. Pokok Bahasan Dan Atau Sub Pokok Bahasan
A. Pokok Bahasan
Pokok bahasan yang akan disampaikan adalah masalah jangka panjang pada pasien
hemodialisa yang mengalami gangguan neurologi.
B. Sub Pokok Bahasan
1. Gangguan Neurologi pada pasien Hemodialisa
2. Pemeriksaan penunjang gangguan neurologis pasien Hemodialisa
3. Pengkajian ganguan neurologis pasien Hemodialisa
4. Intervensi Gangguan Neurologis Pada Pasien Dialisis

4. Bahan Belajar
Bahan belajar yang diperlukan adalah masalah jangka panjang pada pasien

hemodialisa yang mengalami gangguan neurologi dan Asuhan keperawatan pada pasien
yang mengalami gangguan neurologi pada pasien CKD..

463 | P a g e

5. Langkah-Langkah Kegiatan Pembelajaran

N PROSES PEMBELAJARAN
WAKTU
Kegiatan Pengampu Kegiatan Peserta
O

1. 10 menit Pembukaan: 1. Menjawab salam

1. Salam 2. Mendengarkan dan

2. Penjelasan mata ajar masalah jangka panjang memperhatikan

pada pasien hemodialisa yang mengalami 3. Bertanya

gangguan neurologi.

2. 60 menit 1. Gangguan Neurologi pada pasien 1. Menganalisis

Hemodialisa 2. Menjawab

2. Pemeriksaan penunjang gangguan 3. Mencatat

neurologis pasien Hemodialisa 4. Bertanya

3. Pengkajian ganguan neurologis pasien

Hemodialisa

4. Intervensi Gangguan Neurologis Pada

Pasien Dialisis

3. 20 menit Penutup:

1. Menyimpulkan pertemuan 1. Memperhatikan

2. Menanyakan konsep masalah jangka 2. Menjawab

panjang pada pasien hemodialisa yang

mengalami gangguan neurologi

464 | P a g e

6. Uraian Materi

GANGGUAN NEUROLOGI PADA PASIEN HEMODIALISA

Pasien gagal ginjal stadium akhir dapat terjadi komplikasi neurologis, karena
kelainan metabolisme multipel yang disebabkan oleh penyakit ginjal kronis dan akibat
prosedur dialisis. Komplikasi ini dapat muncul dalam bentuk variasi kesadaran,sakit kepala,
mual, muntah, mioklonus, tremor, kejang fokal dan umum,kejadian serebrovaskular (infark
dan perdarahan) dan disekuilibrium sindrom.

Gangguan neurologi sering terjadi pada pasien PGK dan merupakan penyebab penting
morbiditas dan mortalitas. Angka kematian akibat gangguan neurologi pada pasien
hemodialisis masih cukup tinggi, yaitu 45% dari seluruh angka kematian pasien
hemodialisis. Komplikasi neurologi dapat berhubungan dengan penyebab PGK atau akibat
tindakan dialysis itu sendiri. Dimana hemodialisis dapat menyebabkan komplikasi pada
system syaraf pusat dan perifer. Penelitian menunjukkan komplikasi neurologi pada pasien
PGK dapat mencapai 32% dengan manifestasi klinis tersering yaitu gangguan kejang yaitu
sebanyak 59% dan penurunan kesadaran sebanyak 26%. Oleh karena hal tersebut diatas,
maka untuk menghindari terjadinya komplikasi neurologis pada pasien hemodialisis, maka
sangat dibutuhkan tata laksana optimal.

1. Gangguan Neurologi Pada Pasien dengan HD

a. Encelopati Uremikum

1) Gejala awal dapat terlihat sebagai gangguan perasaan, gangguan konsentrasi, lupa
ingatan insomnia, kelelahan dan apatis.

2) Perubahan motorik : hiperefleksia, tremor, asterikis, disartria, serta gangguan
postur dan cara berjalan

3) Fase lanjutan dapat ditemukan perubahan status mental : gangguan kognisi dan
persepsi ilusi, halusiasi visual, agitasi, delirium hingga stupor atau koma.

4) Gejala Klinis : Penurunan kesadaran : somnolen – koma, Kejang, Tremor
5) Penatakasanaan :

- Terapi awal dapat dilakukan dengan terapi pengganti ginjal dengan dialisis.

- Koreksi anemia dengan eritropoietin (EPO)

- Supresi hormon paratiroid : vitamin D dan calcimimetic.

465 | P a g e

- Jika diperlukan obat psikiatri
b. Sindrom Disequilibrium Dialisis

1) Patofisiologi Sindrom Disequilibrium Dialisis. Odem serebri akibat pembuangan
ureum darah yang lebih cepat dibandingkan ureum di jaringan otak dan cairan
serebrospinal, yang akan menyebabkan perbedaan tekanan osmotik sehingga air
akan masuk ke sel

2) Komplikasi neurologis akut dari dialisis. menjelang akhir dialisis atau setelah
dialisis berakhir.

3) Gejala dan tanda-tandanya bisa berupa kelelahan, sakit kepala ringan, hypertensi,
mual, muntah, penglihatan kabur, dan kram otot, serta bisa menyebabkan aritmia,
kebingungan, tremor, kejang, dan koma.

4) Gejala Klinis: Nyeri kepala, Mual, Fatigue, Kejang, Penurunan kesadaran
5) Faktor risiko

- HD pertama kali
- Ureum > 125 mg/dL
- Usia : anak atau lansia
- Penyakit neurologi
6) Pencegahan
- Aliran darah lambat saat dialisis,
- waktu dipersingkat hingga 2 - 3 jam,
- laju aliran darah (QB) hingga 200 ml / menit
- menggunakan dialyzer dengan area permukaan kecil.
- Target dialisis < 30%
7) Penatalaksanaan
- Terapi simptomatis
- Cairan hipertonik
- Stop HD

466 | P a g e

c. Sindrom carpal tunnel

Komplikasi dialisis jangka panjang biasanya berkaitan langsung dengan
akumulasidari β2mA. Manajemen bersifat bedah.

d. Sakit kepala dialisis

Banyak pasien mengalami sakit kepala saat dialisis. Ini biasanya frontaldan, jika
parah, bisa disertai mual dan muntah. Gangguan visualtidak terjadi. Paling umum
karena efek disequilibria terlarut(natrium atau urea, kalsium atau fosfat), penarikan
UF berlebih, dan hipotensiatau obat lain. Frekuensi sakit kepala dapat dikurangi
dengan membatasipenambahan berat interdialytic (dengan demikian mengurangi
jumlah cairan yang dikeluarkanselama setiap sesi dialisis), dan kontrol cermat semua
faktor yang potensial memperburuk kondisi pasien.Penggunaan dialisat bikarbonat
juga bermanfaat sebagai vasodilatasi, dialisat asetat juga dapat berkontribusi
menyebabkan sakit kepala. Beberapa pasien dikatakan sakit kepala disebabkan karena
penarikan kafein atau kokain saat dilakukan hemodialisis.

e. Kejang pada dialisis

Paling umum terjadi pada pasien yang sangat uraemik ketika memulai dialisis.
Insidensi berkurang karena pasien gagal ginjal dimulai dialisis lebih awal.Penyebab
spesifik kejang pada pasien dengan dialisis

• Ensefalopati Uraemik

• Sindrom disekuilibrium

• Peningkatan Hb yang cepat setelah pemberian EPO

• Hipotensi

• Penyakit serebrovaskular

•Kelainan elektrolit, mis. hipokalsemia, hipoglikemia, hipo atau hipernatremia

• Emboli udara.

f. Gangguan kognitif kronis pada pasien gagal ginjal terminal

Adalah keadaan dimana pasien mengalami kebingungan kronis yang ditandai dengan
gangguan memori dan setidaknya satu domain kognitif lainnya, seperti bahasa,
orientasi, penalaran, atau fungsi eksekutif. Demensia dialisis sekarang jarang terjadi
(jika ada) dibandingkan dengan tahun-tahun awal hemodialisis dimulai. Dulu terkait
dengan peningkatan level aluminium dalam air yang digunakan dalam dialisat dan
muncul gejala disartria, disfasia dan disgrafia, kemudian berkembang adanya gaya
berjalan apraxia,

467 | P a g e

tersentak mioklonik dan kejang, menyebabkan kasus imobilitas ekstrem dan mutisme
diikuti oleh kematian

g. Neuropati Perifer

Adalah poli-neuropati sensorimotor distal, simetris, campuran.dan biasanya terjadi
pada ekstremitas bawah lebih sering daripada ekstremitas atas, gejala sensorik
mendahului gejala motorik. Proses patofisiologis polineuropati melibatkan degenerasi
aksonal yang panjang. Neuropati demielinasi primer jarang terjadi pada pasien CKD
kecuali ketika penyakit ginjal merupakan akibat dari penyakit yang juga menyebabkan
demielinasi (mis., Multiple myeloma).Menurut hipotesis molekul menengah,
akumulasi racun pada kisaran

300 hingga 12.000 d, termasuk hormon peptida dan poliamina, dapat menyebabkan
perkembangan neuropati pada pasien HD.Polineuropati terjadi pada sekitar dua
pertiga pasien uremik dan dapat berkembang dengan cepat pada pasien CKD lanjut.

h. Mononeuropati

Sindrom mononeuropati biasanya melibatkan kompresi atau iskemia dari saraf ulnaris
atau median dan paling sering dikaitkan dengan amiloidosis terkait dialisis atau
mononeuropati iskemik yang terkait dengan fistula arteri. Kadang-kadang,
rekumbensi yang berkepanjangan selama prosedur hemodialisis menyebabkan ulnar
dan palsi nervus peroneum .

i. Neuropati otonom

Neuropati otonom disebabkan oleh penyakit aksonal dan tergantung dengan
panjangnya. Karena alasan itu, saraf otonom terpanjang, vagus, biasanya yang paling
pertama terkena dampak, yang mengakibatkan hilangnya aritmia sinus normal,
pengurangan variasi tekanan darah siang-malam yang signifikan, dan
kemungkinan kematian mendadak akibat jantung. Diare nokturnal adalah
konsekuensi lain dari neuropati vagal. Manifestasi termasuk hipotensi ortostatik atau
terkait dialisis, impotensi dan inkontinensia. Pasien CKD mungkin memiliki
hiperaktif simpatis, yang berkontribusi terhadap hipertensi, sehingga, blokade
adrenergik dianjurkan pada pasien CKD.

j. Neuropati kranial

Terjadi penurunan fungsi penciuman, terutama berkurangnya kemampuan untuk
membedakan dan mengidentifikasi bau, dan dysgeusia umumnya dialami pada pasien
CKD.Kegagalan vestibular bilateral menyebabkan ketidakmampuan untuk berdiri atau
berjalan secara normal tanpa vertigo atau nistagmus. Ini sering dikaitkan dengan
penggunaan obat-obatan seperti diuretik loop berbasis aminoglikosida dan sulfa.

468 | P a g e

k. Gangguan tidur
Gangguan siklus tidur-bangun adalah gambaran khas dari efek uremia, dengan kantuk
di siang hari yang berlebihan dan insomnia. Termasuk gangguan tidur yang sering
muncul pada pasien CKD

l. Sleep Apnea
Didefinisikan sebagai koeksistensi dari kantuk berlebihan di siang hari yang tidak
dapat dijelaskan dengan setidaknya lima peristiwa pernapasan yang terhambat (apnea
atau hipopnea) per jam tidur.HD nokturnal secara signifikan mengurangi terjadinya
sleep apnea.

m. Sindrom Kaki Gelisah
Pada sindrom ini, pasien biasanya mengeluhkan berbagai gangguan sensorik pada
kaki, termasuk pin dan jarum, sensasi merayap atau merangkak, sakit, gatal, menusuk,
berat, tegang, terbakar, atau dingin. Kadang-kadang, gejala yang sama terjadi di
tungkai atas.Gejala terjadi selama periode tidak aktif dan diringankan oleh
gerakan.atau exercice Patogenesis gangguan ini dikaitkan dengan fungsi
dopaminergik yang terganggu di otak.

2. Pemeriksaan Penunjang Gangguan Neurologis Pada Pasien Dialisis

469 | P a g e

3. Pengkajian Gangguan Neurologis
1. Menilai GCS
2. Menilai fungsi masing masing saraf kranial
3. Menilai fungsi saraf tepi
4. Nilai keseimbangan dan simetri
5. Evaluasi ektrimitas untuk kekuatan
6. Menilai fungsi otak kecil untuk keseimbangan dan koordinasi
7. Nilai reflex tendon yang dalam
8. Nilai bentuk, ukuran, kesetaraan dan respon terhadap cahaya
9. Hipotensi postural:
Merupakan tanda disfungsi otonom, yang terjadi ketika tekanan darah sistolik turun
20 mmhg atau lebih dan tekanan darah diastolik menurun 10 mmhg atau lebih
dengan berdiri dari posisi duduk.
10. Neuropati Perifer
Ketika pasien mengeluh setidaknya satu dari yang berikut di ekstremitasnya: Mati
rasa, rasa sakit atau sensasi terbakar mengurangi sensasi tusukan jarum, dan
penurunan sentuhan ringan
11. Mononeuropati:
Didiagnosis ketika pasien mengeluhkan rasa sakit dan / atau mati rasa dan
ada gangguan tusukan, sentuhan ringan dan / atau refleks dalam distribusi
dermatomal dari saraf tunggal.
12. Neuropati kranial:
Dianggap ketika salah satu dari berikut muncul
 Ketika ada riwayat satu atau lebih dari satu keterlibatan saraf kranial.
 Ketika pemeriksaan menunjukkan satu atau lebih dari satu cacat saraf kranial.

470 | P a g e

13. Neuropati otonom:

Dipertimbangkan ketika setidaknya ada salah satu dari yang
berikut:

 Keringat banyak, diare nokturnal dan / atau postprandial, hipotensi postural
dan hilangnya refleks takikardia oleh manuver valsava.

 Gerakan Tungkai Berkala: ketika pasien atau pasangan menggambarkan
gerakan dendeng cepat yang berulang-ulang pada anggota tubuh selama istirahat
atau tidur.

 Sindrom Kaki Gelisah: Ketika ada dorongan untuk menggerakkan anggota
badan setelah merasakan sensasi yang tidak menyenangkan yang lega dengan
gerakan tersebut

14. Kelemahan otot

Dipertimbangkan ketika setidaknya ada salah satu dari yang berikut :

 Miopati proksimal dengan gejala kesulitan mengangkat ke atas dan menyisir
rambut dan memeriksa tanda Gower atau kelemahan fokus pada tungkai atas atau
bawah.

 Pemeriksaan klinis menunjukkan kekuatan otot grade IV atau kurang

15. Sakit kepala

Semua jenis sakit kepala (gangguan sakit kepala primer, sakit kepala migrain,
sakit kepala tipe tegang, sakit kepala cluster, dan hemicrania paroxysmal).

16. Insomnia

Tidak didefinisikan hanya dengan total waktu tidur, tetapi juga oleh kesulitan
memulai dan pemeliharaan tidur, kualitas tidur yang buruk, dan durasi tidur yang
kurang, sehingga fungsi terganggu.

17. Getaran

Telah dibagi menjadi tremor halus dan mengepak.

18. Refleks

Telah dibagi menjadi: refleks normal, berkurang dan berlebihan.

19. Aktifitas

20. Hilang kesadaran

471 | P a g e

21. Emosi
4. Intervensi Gangguan Neurologis Pada Pasien Dialisis

1. Pastikan pasien menjalani dialisis dengan cukup.
2. Pertimbangkan untuk menggunakan membran dialyzer high fluks untuk HD.
3. Memberikan terapi nyeri neuropatik sulit diobati dan berbagai macam obat

dapat diberikan, seperti :
a. Amitriptyline mulai 25mg di malam hari dan meningkatkan dosis secara
bertahap sesuai dengan khasiat dan efek sampingnya
b. Carbamazepine mulai dari 100mg bd; tingkat darah seharusnyadimonitor
ketika dosis ditingkatkan
c. Gabapentin mulai dari 100 mg od atau 300mg pasca HD; dosis terbatas
karena kantuk dan pusing. Pregabalin dapat ditoleransi dengan lebih baik.

472 | P a g e

No Standar Diagnosa Keperawatan Standar Luaran Kepe
Indonesia (SDKI) (SLK

1. Intoleransi Aktifitas (D.0056) Luaran Utama
Toleransi Aktifitas (L.05047)
Definisi : Definisi :
Respon fisiologis terhadap ak
Ketidakcukupan energi untuk melakukan tenaga
Ekspektasi : Meningkat
aktivitas sehari-hari Kriteria Hasil :

Penyebab :

1. Ketidak seimbangan antara suplai Menu Cu
dan kebutuhan oksigen run M
r
2. Tirah baring
3. Kelemahan Frekuensi nadi 1
4. Imobilitas Saturasi Oksigen 1
5. Gaya hidup monoton Kemudahan dalam
melakukan aktifitas 1
Gejala dan tanda Mayor : sehari-hari
Subyektif : Kecepatan berjalan 1
Jarak berjalan 1
1. Mengeluh lelah Kekuatan tubuh 1
bagian atas
Obyektif : Kekuatan tubuh 1
1. Frekuensi jantung meningkat >20% bagian bawah
dari kondisi sehat Toleransi dalam 1
menaiki tangga
Tanda dan Gejala Minor :
Subyektif : Mening C
kat M
1. Dispnea saat/setelah aktivitas
2. Merasa tidak nyaman setelah Keluhan lelah 1
Dyspnea saat aktitas 1
beraktivitas Dyspnea setelah
aktitas 1
Perasaan lemah
Aritmia saat aktifitas 1
1

erawatan Indonesia Standar Intervensi Keperawatan Indonesia
KI) (SIKI)

ktifitas yang mebutuhkan Intervensi Utama
Manajemen Energi (I.05178)
ukup Se Cukup Mening Definisi :
Menu dang Menin kat Mengidentifikasi dan mengelola penggunaan energy
untuk mengatasi atau mencegah kelelahan dan
run 3 g 5 mengoptimalkan proses pemulihan
3 kat 5 Tindakan :
2 Observasi
2 4
4  Identifkasi gangguan fungsi tubuh yang
mengakibatkan kelelahan
234 5
 Monitor kelelahan fisik dan emosional
234 5  Monitor pola dan jam tidur
234 5  Monitor lokasi dan ketidaknyamanan selama

234 5 melakukan aktivitas

234 5 Terapeutik

234 5  Sediakan lingkungan nyaman dan rendah
stimulus (mis. cahaya, suara, kunjungan)
Cukup Se Cukup Menu
Mening dang Menu run  Lakukan rentang gerak pasif dan/atau aktif
 Berikan aktivitas distraksi yang menyenangkan
kat 3 run 5  Fasilitas duduk di sisi tempat tidur, jika tidak
2 3 4 5
2 4 dapat berpindah atau berjalan
5
23 4 Edukasi
5
23 4 5  Anjurkan tirah baring
23 4  Anjurkan melakukan aktivitas secara bertahap
 Anjurkan menghubungi perawat jika tanda dan

gejala kelelahan tidak berkurang
473 | P a g e

3. Merasa lemah Aritmia setelah 1
Obyektif : aktifitas 1
Sianosis

1. Tekanan darah berubah >20% dari Membu Cu
kondisi istirahat ruk Me

2. Gambaran EKG menunjukan aritmia r
saat/setelah aktivitas
Warna kulit 12
3. Gambaran EKG menunjukan iskemia Tekanan darah
4. Sianosis Frekuensi nafas 12
EKG iskemia
Kondisi Klinis Terkait : 12

12

1. Anemia Luaran Tambahan
2. Gagal jantung kongesif 1. Ambulasi
3. Penyakit jantung koroner 2. Curah jantung
4. Penyakit katup jantung 3. Konsevasi energi
5. Aritmia 4. Tingkat keletihan
6. Penyakit paru obstruksi kronis (PPOK)
7. Gangguan metabolik
8. Gangguan muskuloskeletal

234 5  Ajarkan strategi koping untuk mengurangi
234 5 kelelahan

ukup Se Cukup Mem Kolaborasi
embu dang Mem baik  Kolaborasi dengan ahli gizi tentang cara
ruk baik meningkatkan asupan makanan
5
34 5 Terapi Aktifitas (I.05186)
5 Definisi :
34 5 Menggunakan aktifitas fisik, kognitif, sosial dan spiritual
tertentu untuk memulihkan keterlibatan, frekuensi atau
34 durasi aktifitas individu atau kelompok
Tindakan :
34 Observasi

 Identifikasi deficit tingkat aktivitas
 Identifikasi kemampuan berpartisipasi dalam

aktivotas tertentu
 Identifikasi sumber daya untuk aktivitas yang

diinginkan
 Identifikasi strategi meningkatkan partisipasi

dalam aktivitas
 Identifikasi makna aktivitas rutin (mis. bekerja)

dan waktu luang
 Monitor respon emosional, fisik, social, dan

spiritual terhadap aktivitas

Terapeutik

 Fasilitasi focus pada kemampuan, bukan deficit
yang dialami

 Sepakati komitmen untuk meningkatkan
frekuensi danrentang aktivitas

474 | P a g e


Click to View FlipBook Version