Struktur Organisasi Unit Layanan Hemodialisis di Luar Rumah Sakit
Struktur Organisasi Unit Dialisis di Luar Rumah Sakit
2. Ketenagaan
Ketenagaan pelayanan hemodialisis terdiri dari :
1) Tenaga medis (Supervisor, Dokter Sp.PD yang bersertifikat HD, Dokter
bersertifikat HD). 2. Perawat (Perawat Mahir dan Perawat Biasa)
2) Teknisi.
3) Tenaga administrasi.
4) Dan tenaga lainnya yang mendukung program.
3. Kompetensi
1) Supervisor hemodialisis adalah Dokter Sp.PD-KGH.
2) Dokter penanggung jawab hemodialisis adalah Dokter Sp.PD-KGH dan
atau Dokter Sp.PD yang telah mempunyai sertifikat pelatihan
hemodialisis di pusat pendidikan yang diakreditasi dan disahkan oleh
PBPERNEFRI.
3) Dokter pelaksana hemodialisis adalah Dokter bersertifikat HD yang telah
dilatih di pusat pendidikan yang diakreditasi dan disahkan oleh
PBPERNEFRI.
4) Perawat mahir hemodialisis adalah Perawat yang bersertifikat pelatihan
HD di pusat pendidikan yang diakreditasi dan disahkan oleh
PB.PERNEFRI.
5) Perawat adalah lulusan Akademi Keperawatan.
97 | P a g e
4. Klasifikasi dan Uraian Tugas :
1) Supervisor Seorang Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Ginjal
Hipertensi (Dokter SpPD-KGH) yang diakui oleh Pernefri, dan bertugas
sebagai Pengawas Supervisor. Disamping itu dapat juga bertugas sebagai
Dokter Penanggung Jawab Unit Dialisis dan/atau Dokter Pelaksana Unit
Hemodialisis.
2) Penanggung Jawab Seorang Dokter Spesialis Penyakit Dalam (Dokter
Sp.PD) yang telah mendapat pelatihan dialisis di Pusat Pelatihan Dialisis
yang diakui/diakreditasi oleh PERNEFRI dan bertugas sebagai
Penanggung Jawab Unit Dialisis. Disamping itu dapat juga bertugas
sebagai Dokter Pelaksana Unit Hemodialisis.
3) Dokter Pelaksana Seorang Dokter yang telah mendapat pelatihan dialisis
di Pusat Pelatihan Dialisis yang diakreditasi oleh PERNEFRI dan
bertugas sebagai Dokter Pelaksana Unit Hemodialisis.
4) Perawat Mahir Perawat yang telah menempuh pendidikan khusus dialisis
dan perawat ginjal intensif di pusat pelatihan dialisis yang diakui
PERNEFRI.
5) Perawat Seorang lulusan Akademi Keperawatan yang memberikan
asuhan keperawatan dan membantu tugas perawat mahir HD.
6) Teknisi Minimal SMU/STM atau perawat dengan pelatihan khusus mesin
dialisis & perlengkapannya. Bertugas : menyiapkan mesin &
perlengkapannya, menjalankan & merawat mesin dialisis dan pengolah
air, bekerjasama dengan teknisi pabrik pembuatnya (produsen/agen).
98 | P a g e
C. Persiapan Alat Dan Bahan
1. Menyiapkan Mesin Hemodialisis
a. Pengertian
Menyiapkan mesin agar siap digunakan secara optimal pada saat hemodialisis.
b. Tujuan
Mengoptimalkan fungsi mesin sesuai kebutuhan hemodialisis.
c. Perlengkapan
a) Mesin hemodialisis
• Pompa darah (blood pump)
• Temperatur mesin
• Fungsi alarm
b) Listrik
c) Air yang dimurnikan (reverse osmosis)
d) Pembuangan air (drainage)
e) Cairan dialisat pekat (bikarbonat / asetat)
• Komposisi dialisat
• Konduktifitas / hantaran dialisat
• Jerigen dialisat bersih, rapi dan selalu tertutup
d. Prosedur Kerja
a) Buka kran air yang telah dihubungkan ke mesin hemodialisis.
b) Pastikan selang pembuangan air dari mesin hemodialisis sudah masuk ke
saluran pembuangan.
c) Sambung kabel mesin hemodialisis ke saklar listrik.
d) Hidupkan mesin dengan cara menekan tombol ON yang ada dibelakang
mesin.
e) Kembalikan posisi mesin pada posisi rinse
f) Yakinkan posisi mesin sampai END.
g) Masukkan selang dialisat merah ke jerigen merah (acid) dan selang dialisat
biru ke jerigen biru (bikarbonat).
h) Tekan tombol dialisis dan preparation, tombol lampu bypas akan hidup
(berkedip), tunggu beberapa menit sampai lampu tombol bypas mati.
i) Posisi mesin siap pakai
e. Hal-hal yang harus diperhatikan
• Selang dan sambungan tidak ada yang bocor.
99 | P a g e
• Selang pembuangan air harus masuk ke dalam pembuangan/got.
• Kabel listrik tidak ada yang terbuka.
2. Persiapan sirkulasi darah (ekstra korporeal)
a.Pengertian
Menyiapkan sirkulasi darah sebelum disambungkan ke sirkulasi sistemik
(tubuh)
b.Tujuan
a) Membilas dan membasahi blood line, dializer dari zat sterilisasi.
b) Mencegah terjadinya anafilaktik shock.
c) Mengurangi keluhan dan memberikan rasa aman dan nyaman.
c.Persiapan alat
a) Dializer / ginjal buatan
b) Blood line / selang darah
c) Set infus
d) NaCl 0,9%, 2-3 kolf ( utk reuse), 1 kolf (utk non reuse)
e) Spuit 20 cc 1 buah
f) Spuit 1 cc 1 buah
g) Heparin
h) Gelas ukur
i) Tempat sampah
j) Mesin hemodialisis siap pakai.
d.Prosedur Kerja
e.Menyiapkan sirkulasi darah ginjal buatan /dializer baru
a) Alat disiapkan dan didekatkan ke mesin.
b) Cuci tangan
c) Perawat memakai apron / celemek
d) Buka masing-masing set yang telah disediakan.
e) Tempatkan dializer pada holder dengan posisi inlet (tanda merah) di
bawah dan posisi outlet (tanda biru) di atas.
f) Hubungkan :
1. NaCl dengan set infus
2. Set infus dengan selang darah arteri.
100 | P a g e
3. Selang darah arteri / ABL dengan dialiser, masukkan selang segment
kedalam pompa darah / blood pump dengan cara memutar sedikit
bagian pompa darah sesuai arah jarum jam.
4. Selang darah vena / VBL dengan dialiser, tempatkan buble trap /
perangkat udara dengan posisi tegak, ujung VBL dalam gelas ukur
dengan posisi ¼ bagian gelas ukur.
g) Semua klem pada sirkulasi dibuka, kecuali klem pada selang arteri.
h) Lakukan pengisian / pembilasan sirkulasi ekstrakorporeal dengan cara :
1. Jalankan pompa darah dengan kecepatan 100-200 mL/menit.
2. Isi ABL & VBL ¾ bagian,
3. Bebaskan udara dengan pemberian tekanan pada VBL secara
intermitent, dengan cara memijit-mijit selang vena (sirkulasi terbuka)
4. Teruskan pengisian / primming sampai habis 1 kolf, kemudian matikan
pompa darah dan ganti dengan kolf baru.
5. Klem ujung selang vena / VBL, kemudian hubungkan kedua ujung
VBL & ABL dengan menggunakan konektor,
6. Semua klem dibuka, lakukan sirkulasi dengan kecepatan aliran 250 –
300 ml/menit (sirkulasi tertutup)
7. Lakukan rinsing dalam dengan menekan tombol dialisis untuk start
sampai mencapai target ultrafiltrasi 100 mL, (pada dialiser reuse)
8. Rapikan alat
9. Perawat mencuci tangan.
3. Menyiapkan Sirkulasi Darah Dengan Dialiser Pakai Ulang
1) Saat akan di gunakan, buka tutup plastik pada kedua kompartemen darah.
2) Pasang ginjal buatan pada holder dengan inlet diatas, outlet dibawah.
3) Lakukan pengisian dan pembilasan dializer dengan cara yang sama pada
cara kerja dializer baru.
4) Pembilasan dializer reuse digunakan dengan NaCl 0,9% sebanyak 1000mL
(2 kolf)
5) Jalankan QB mulai dari kecepatan aliran 250 – 300 mL/menit dengan
menggunakan NaCl 0,9%, ini disebut sirkulasi terbuka.
101 | P a g e
II. HAL-HAL YANG HARUS DIPERHATIKAN
1) Bekerja dengan tehnik septik
2) Cairan bekas priming langsung dibuang
3) Posisi dializer saat sirkulasi tertutup selalu terbalik
4) Saat memulai dialisis udara bebas dari dializer,
5) selang arteri dan vena
6) Semua sambungan harus kencang
7) Bekerja dengan tehnik septik
8) Cairan bekas priming langsung dibuang
9) Posisi dializer saat sirkulasi tertutup selalu terbalik
10) Saat memulai dialisis udara bebas dari dializer,
11) selang arteri dan vena
12) Semua sambungan harus kencang
102 | P a g e
Referensi
Neuen, B. L., Chadban, S. J., Demaio, A. R., Johnson, D. W., & Perkovic, V. (2017). Chronic
Kidney Disease and the Global NCDs Agenda. In BMJ Global Health (Vol. 2, Issue 2).
https://doi.org/10.1136/bmjgh-2017-000380
Kelly J, Stanley M, Harris D. The CARI Guidelines. Acceptance onto dialysis guidelines.
Nephrology (Carlton), 2005;10(suppl 4): S46-S60.
Rayner HC, Imai E. Approach to renal replacement therapy. 4th Ed In: Floege J, Johnson RJ,
Feehally J, editors. Comprehensive clinical nephrology. Missouri: Elsevier Saunders, 2010;
p.1019-30
Ravani P, Marinangeli G, Tancredi M, Malberti F. Mutidiciplinary chronic kidney disease
management improves survival on dialysis. J Nephrol.2003; 16(6):870-7.
Stevens L, Stoycheff N, Levey A. Satging and mangement of chronic kidney disease.
Greenberg: primer on kidney disease, 5th edition. 2010.
Devins GM, Mendelssohn DC, Barre PE, Binik YM. Predialysis psychoeducational
intervention and coping styles influence time to dialysis in chronic kidney disease. Am J
Kidney Dis.2003;42(4):693-703
Cho E, Park HC, Yoon HB, Ju KD, Kim H, Oh YK, et al. Effect of multidisciplinary
predialysis education in advanced chronic kidney disease: Prospensity score matcehd cohort
analysis.Nephrology (Carlton) . 2012 Jul ; 17(5):472-9
Radias Z, Harnavi H, Syaiful A. Indikasi dan Persiapan Hemodialis Pada Penyakit Ginjal
Kronis.Subbagian Ginjal Hipertensi Bagian Ilmu Penyakit Dalam FK Unand/RSUP M
Djamil Padang. 2018.
Riskesdas. (2013). Hasil Utama Riset Kesehatan Dasar. Kementrian Kesehatan Republik
Indonesia, 1–100. https://doi.org/1
Perhimpunan Nefrologi Indonesia (Pernefri). PEDOMAN PELAYANAN HEMODIALISIS
DI SARANA PELAYANAN KESEHATAN. Pernefri. 2018:9:11–14.
Montanari LB, Sartori FG, De Cardoso MJO, Varo SD, Pires RH, Leite CQF, et al.
Microbiological Contamination of A Hemodialysis Center Water Distribution System. Rev
Inst Med trop S Paulo. 2009;51(1):37–43.
American National Standard. New AAMI Water Quality Standard for Hemodialysis. 2015;1–
4.
103 | P a g e
Okunola OO, Olaitan JO. Bacterial Contamination of Hemodialysis Water in Three
Randomly Selected Centers in South Western Nigeria. Nigerian Journal of Clinical Practice.
2016;19(4):491–5.
Karkar A. Infection Control Guidelines in Hemodialysis Facilities. Kidney research and
clinical practice. 2018;37(1):1–3.
Gueguim C, Nga N, Folefack FK, Ragon A, Kamga HG. Microbiological Analysis of
Hemodialysis Water at the University Teaching Hospital of Yaounde , Cameroon. American
Journal of Biomedical and Life Sciences. 2016;4(6):81–6
104 | P a g e
MONITORING HEMODIALISA (PASIEN DAN MESIN)
1. Deskripsi Singkat
Hemodialisis merupakan salah satu terapi pengganti ginjal yang di lakukan pada pasien
dengan gagal ginjal terminal. Tindakan hemodialisis ini dilakukan di rumah sakit selama 3 – 5
jam. Saat hemodialisis berlangsung kemungkinan timbul masalah teknis maupun klinis pada
pasien, oleh karena itu selama tindakan hemodialisis harus dimonitor terus menerus baik mesin
maupun terhadap pasiennya. Asuhan keperawatan intradialisis merupakan bagian terpenting
dalam melakukan pencapaian semua program HD. Tidak jarang berbagai kendala teknis
maupun non teknis di temui selama HD berjalan. Monitoring pasien dan mesin HD merupakan
upaya utama dalam manajemen pengawasan intradilisis.
Perawat dialisis melakukan suatu upaya pengkajian yang cermat untuk mencegah
berbagai kemungkinan komplikasi dan kendala teknis selama HD berlangsung, walaupun pada
akhinya komplikasi dan kendala-kendala itu tidak bisa di hindari maka perawat HD
harus mempunyai kemampuan untuk mengatasinya. Dalam modul ini akan di jelaskan berbagai
monitoring yang harus dilakukan selama intradialisis.
2. Tujuan Pembelajaran
A. Tujuan Pembelajaran Umum (TPU)
Setelah mengikuti materi ini, peserta pelatihan mampu menjelaskan mengenai
monitoring pasien dan mesin.
B. Tujuan Pembelajaran Khusus (TPK)
Setelah mengikuti materi ini peserta dapat :
1. Peserta mampu mengetahui monitoring pasien
2. Peserta mampu mengetahui monitoring mesin
3. Pokok Bahasan Dan Atau Sub Pokok Bahasan
A. Pokok Bahasan
Pokok bahasan yang akan disampaikan adalah menjelaskan tentang monitoring
pasien dan mesin.
1|Page
B. Sub Pokok Bahasan
1. Monitoring Pasien
2. Monitoring Mesin
4. Bahan Belajar
Bahan belajar yang diperlukan adalah masalah materi monitoring pasien dan
mesin.
5. Langkah-Langkah Kegiatan Pembelajaran
N PROSES PEMBELAJARAN
WAKTU
Kegiatan Pengampu Kegiatan Peserta
O
1. 10 menit Pembukaan: 1. Menjawab salam
1. Salam 2. Mendengarkan dan
2. Penjelasan mata ajar monitoring pasien dan memperhatikan
mesin. 3. Bertanya
2. 150 menit 1. Monitoring Pasien 1. Menganalisis
2. Monitoring Mesin 2. Menjawab
3. Mencatat
4. Bertanya
3. 20 menit Penutup:
1. Menyimpulkan pertemuan 1. Memperhatikan
2. Menanyakan konsep monitoring pasien dan 2. Menjawab
mesin.
2|Page
Uraian materi
MONITORING HEODIALISA (PASIEN DAN MESIN)
A. Monitoring Pasien
1. Ukur Tanda vital dan Gula Darah (pada pasien dengan DM)
Pasien yang dilakukan hemodialisis 20% mengalami hipotensi, karena efek penarikan cairan/
ultrafiltrasi, oleh karena itu setiap 1 jam harus dilakukan pemantauan tanda vital. Pada pasien
dengan kondisi khusus (hemodinamik tidak stabil) pemantauan tanda vital harus lebih sering.
Pasien dengan diabetik, pemantauan gula darah sangat diperlukan, karena saat tindakan
hemodialisis pasien akan kehilangan gula darah kira-kira 30%, sehingga pasien berisiko terjadi
hipoglikemia.
2. Pantau kecukupan pemberian antikoagulan
Darah didalam pembuluh darah manusia sudah terlindungi dengan baik oleh endotel sehingga
tidak terjadi pembekuan, akan tetapi saat dilakukan tindakan hemodialisis darah di
extrakorporeal harus diberikan antikoagulan supaya tidak terjadi pembekuan darah. Pemberian
antikoagulan diberikan berdasarkan berat badan pasien dan waktu lama pembekuan dan
perdarahan. Saat hemodialisis pemberian antikoagulan perlu monitoring secara
berkesinambungan. Pompa heparin umumnya berbentuk syringe pump. Heparin dinfuskan ke
dalam segmen bertekanan positif dari sirkuit darah (pasca-pompa; pra- dialiser). Jika
diinfuskan pra-pompa pada segmen tekanan negatif dapat meningkatkan risiko emboli udara.
3. Observasi respon tindakan HD
Saat pasien dilakukan tindakan hemodialisis respon pasien berbeda-beda, ada yang terjadi
kram, hipotensi, gangguan kardiovaskuler, reaksi alergi terkait alat, maupun gejala yang lain.
Karena hal itu, pasien selama tindakan hemodialisis harus di observasi secara terus menerus
terkait respon dari tindakan hemodialisisnya.
4. Catat status perubahan gelaja fisik dan mental
Semua respon pasien yang terjadi terkait tindakan hemodialisisnya harus dicatat di dalam
rekam medis pasien. Pencatatan ini diperlukan untuk evaluasi tindakan hemodialisis yang
berikutnya
3|Page
5. Mengenal tanda awal respon pasien yang tidak sesuai untuk dialisis
6. Lakukan tindakan pencegahan
7. Cek tempat akses vaskuler (adanya kebocoran darah, jarum lepas, pembengkakan akibat
kesalahan penusukan). Saat kecepatan aliran darah dinaikan ke 200 ml/menit atau lebih,
apabila kanulasi aksesnya tidak tepat atau terkena di dinding pembuluh darah, maka
pembuluh darah bisa mengalami pembengkakan atau tidak lancer
B. Monitoring Mesin
I. Monitoring Sirkuit Darah
1. Monitoring sirkulasi darah diluar ekstrakorporeal ( blood monitoring ), meliputi :
a. Monitoring kecepatan aliran darah ( Blood Pump )
Kecepatan aliran darah dalam proses dialysis sangat berpengaruh terhadap
adekuasi dialysis, adapun kecepatan aliran darah (blood pump) yang
direkomendasikan adalah setengah dari dialysat flow (Quick dialysat) yang di
berikan. Perlu di perhatikan pula bahwa kecepatan aliran darah juga di pengaruhi
oleh akses yang dimiliki pasien.
b. Perangkap udara dan detektor udara
Perangkap udara ini umumnya terletak pada venous blood line, dan ada beberapa
yang terletak juga pada arterial line. Fungsi perangkap udara adalah untuk
mencegah agar udara pada line tidak masuk ke tubuh pasien. Detektor udara ini
bekerja secara otomatis pada mesin HD, jika ada udara yang melewati detektor,
otomatis mesin akan alarm dan blood pump berhenti. Detektor kebocoran udara
adalah salah satu bagian penting dari mesin HD.
1) Tempat kemungkinan masuknya udara :
a) Jarum arteri
b) Segmen selang pra-pompa darah
c) Kateter vena yang terbuka
4|Page
d) Infus set atau botol infus yang kosong
2) Syarat detektor udara :
a) Sebaiknya yang berdasar ultrasonografi
b) Dapat mendeteksi udara dalam darah, dalam darah dan salin, atau
dalam salin saja
c) Mampu mengaktifkan alarm dan menghentikan pompa
d) Tidak memiliki sensitivitas yang berlebiha
2. Monitoring terhadap tekanan pada akses, diantaranya :
a. High venous pressure, penyebabnya:
1) Cloting pada bubble venous/dialyzer
2) Kinking/ venous line terhambat (terlipat, klem)
3) Permasalahan pada akses outlet
b. Low arterial pressure
1) Clotting pada arterial line terutama yg menuju blood pump
2) Kinking atau arterial line terhambat (terlipat, klem)
3) Cardiac output kecil
4) Tekanan darah pasien rendah atau cardiac arrest
5) Permasalahan pada akses inlet
c. Clotting
1) Tanda-Tanda :
a) Dializer berwarna gelap, hitam, pada keseluruhan/sebagian membran,
(warna darah di dializer berbeda, lebih gelap dibanding warna darah pada
AVBL)
5|Page
b) Bila dializer dibilas dengan NaCl, dializer tetap gelap
c) Peningkatan tekanan
2) Penyebab :
a) Antikoagulan tidak adequat
b) Gangguan pembekuan darah
c) Pompa darah berhenti
d) Kecepatan pompa darah yang
pelan e) Hemoglobin tinggi
3. Monitoring terhadap tekanan di mesin, diantaranya :
a. Positive pressure
Positive pressure adalah tekanan pada inlet di monitoring sesudah blood pump,
pada bubble trap disebut juga arterial pressure, terjadi bila ada tekanan pada
dialiser (misal ada bekuan darah dalam dialiser).
b. Negative pressure/Arterial pressure
Arterial pressure adalah tekanan pada inlet yang di monitor sebelum blood
pump, disebut juga fistula pressure, laarm berbunyi bila terjadi hambatan dari
arteri, aliran darah yang keluar kurang lancar atau tidak adekuat.
c. Venous pressure
Dimonitor pada blood line outlet (venous line), letaknya pada ujung distal dari
dialiser, yaitu sesudah dialiser. Venous pressure ini untuk memonitor aliran darah
dari dialiser yang menuju ke tubuh pasien. Tekanan positif pada outlet yang
dimonitor pada bubble trap vena disebut juga venous pressure. Terjadi karena
hambatan pada jalan masuk darah ke tubuh, misal karena ukuran jarum kecil,
posisi jarum kurang baik dan vasokonstriksi dari vena. Dilihat dari indikator (
hati-hati bila tinggi ), bila tinggi periksa “outlet”, bila rendah periksa sensor vena.
Tekanan arteri di monitor pada post pump, biasanya tinggi tekanan tergantung
pada laju aliran darah, viskositas darah, dan resistensi ujung di dialiser.
6|Page
d. Blood Flow Rate
1) Kaji ditempat jarum arteri dan ABL untuk kekuatan aliran
2) Kaji tempat jarum vena dan monitor tekanan vena untuk mengetahui tanda
infiltrasi
3) Keamanan blood line
4) Mengukur tekanan darah pasien
e. Transmembran pressure ( TMP )
Transmebran pressure ( TMP ) adalah perbedaan tekanan antara kompartemen
darah dan kompartemen dialisat yang dibatasi oleh membran.
II. Monitoring Sirkuit Dialisat
Dialisat adalah merupakan cairan dialisis yang di gunakan pada proses hemodialisa,
yang terdiri dari campuran air dan elektrolit yang mempunyai konsentrasi hampir sama
dengan serum normal dan memiliki tekanan osmotik yang sama dengan darah. Laju aliran
dialisat biasanya 500 ml/menit. Meningkatkan aliran dialisat tidak banyak berpengaruh
terhadap klirens, peningkatan dari 500 menjadi 800 ml/menit akan mempengaruhi
peningkatan klirens urea yang di capai selama tindakan hemodialisis, tidak lebih dari
10%. Peningkatan itu sedikit lebih besar dari yang diperkirakan atau tercapai.
Dalam proses dialisis untuk pemenuhan adekuasi diperlukan pengawasan terhadap
sirkulasi dialisat yang meliputi :
1. Monitoring Conductivity
Konduktiviti (conductivity) adalah daya hantar listrik larutan cairan dialisat dan
merupakan gambaran dari jumlah natrium yang dibutuhkan . Umumnya nilai
conductivity berkisar antara 13,8 – 14,5. Jika sistem proporsional yang mencairkan
konsentrat dengan air malfungsi, larutan dialisis yang dihasilkan terlalu encer atau
terlalu pekat. Paparan darah ke larutan dialisis hiperosmolar berat sehingga dapat
7|Page
menyebabkan hipernatremia dan gangguan elektrolit lainnya. Paparan larutan dialisis
hipoosmolar yang parah dapat menyebabkan hemolisis, hiponatremia berat serta
hiperkalemia. Karena zat terlarut utama dalam larutan dialisis adalah elektrolit ,tingkat
konsentrasinya dalam larutan dialisis akan tercermin dari daya konduksi listriknya.
Yang memonitor arus konduktivitas cairan dialisis adalah sistem proporsional.
Konduktivitas diukur dengan milliSiemens (mS) per sentimeter (cm). Satu Siemen (S)
sama dengan kebalikan dari satu ohm (istilah alternatif untuk Siemen adalah "ohm").
Kisaran konduktivitas normal untuk larutan dialisis adalah 12–16 mS / cm. Jika
konduktivitas berada di luar batas yang ditentukan, maka alarm berbunyi dan aliran
dialisat berhenti mengalirkan ke dialiser dengan katup itu mengalihkan larutan dialisat
ke saluran pembuangan. Dalam peristiwa seperti itu, sistem “masuk ke dalam bypass
mode " untuk melindungi pasien, proses dialisis berhenti sampai masalah konduktivitas
teratasi.
Untuk memonitor pencampuran dialisat. Jika terjadi alarm pada conductivity
monitor kemungkinanya adalah :
a. Low Conductivity
Penyebab :
- Cairan konsentrat/diasol habis
- Posisi pipa konsentrat/tubing diasol yang tidak tepat
- Pemakaian cairan konsentrat yang tidak sesuai
- Kerusakan mesin
b. High Conductivity
Penyebab :
- Kerusakan pada sistem pengolahan air (debit air kurang/air kosong)
- Pemakaian cairan konsentrat/diasol yang tidak sesuai
2. Kebocoran dializer ( Blood Leak )
Kebocoran atau keluarnya sel darah merah dari membran dializer ke dialisat
8|Page
Penyebab :
a. Kerusakan atau rusaknya membrane dializer
b. Selama priming menggunakan tekanan tinggi
Klasifikasi Bood Leak :
a. Major leak : Kelihatan/tampak bercak-bercak darah pada dialisat line di dialyzer
b. Minor leak : Haemastix test positive, tetapi darah tidak kelihatan
c. Alarm palsu : Alarm berbunyi tetapi haemastix test negative
Tanda-Tanda :
a. Blood leak detector alarm
b. Kompartemen dialisat, selang dialisat dari dializer berwarna merah
3. Suhu dialisat
Kerusakan fungsi elemen pemanas dalam mesin dialisis dapat menyebabkan produksi
larutan dialisis yang terlalu dingin atau panas. Gunakan larutan dialisis dingin hingga
35°C) tidak berbahaya kecuali pasien tidak sadar, dalam hal ini hipotermia dapat
terjadi. Seorang pasien yang sadar akan mengeluh merasa kedinginan dan menggigil.
Di sisi lain, penggunaan larutan dialisis yang dipanaskan hingga > 42 °C dapat
menyebabkan protein darah denaturasi dan akhirnya hemolisis. Sirkuit cairan dialisis
mengandung sensor suhu, dan jika suhu di luar batas yang dapat diterima, cairan
dialisis dialihkan untuk dikeringkan (bypass), seperti yang dibahas sebelumnya
4. Katup bypass
Seperti disebutkan sebelumnya, jika salah satu larutan konduktivitas dialisis atau suhu
berada di luar batas, katup bypass diaktifkan untuk mengalihkan larutan dialisis sekitar
dialiser langsung ke saluran pembuangan.
9|Page
DAFTAR PUSTAKA
Daugirdas, J. T., Van Stone, J. C., Boag, J. T. 2001, Hemodialisis Aaparatus in Handbook Of
Dialysis, Third Edition, Lippincott Williams & Wilkins, Philadelphia
Ismail, N. and Hakim, R. 1991. Hemodialysis. D. Z. Levine (ed:), Care of The Renal Patient.
2nd, W.B. Saunders Company. Pp 220-8
PERNEFRI, 2003, konsensus dialisis. Sub Bagian ginjal dan Hipertensi-Bagian Ilmu Penyakit
Dalam. FKUI-RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo
American Nephrology Nurses’ Association (ANNA) (2005). Nefrology Nursing Standards
of
Practice and Guidelines For care.Anthony J-Jannetti.Inc.Est Holly Avenue/Bok
56.Pitman.NJ
Kallenbach, .Z, Gutch, C.F., Stoner, M. H., dan Corca, A (2005). Hemodialysis For Nurses
and Dialysis Personnl (7 th Edition). St. Louise Missouri : Elsevier Mosby.
Kallenbach, .Z, Gutch, C.F., Stoner, M. H., dan Corca, A.L (2012). Hemodialysis For
Nurses and Dialysis Personnl (8 th Edition). St. Louise Missouri : Elsevier Mosby.
Renal Society of Australasia. (2012). New Zealand Nephrology Nursing Knowledge & Skill
Framework
Kallenbach, .Z, Gutch, C.F., Stoner, M. H., dan Corca, A.L.(2005). Hemodialysis For
Nurses and Dialysis Personnl (7 th Edition). St. Louise Missouri : Elsevier Mosby
Kallenbach, .Z, Judith. (2012). Hemodialysis For Nurses and Dialysis Personnl (8 th
Edition).
St. Louise Missouri : Elsevier Mosby
10 | P a g e
PROSEDUR MENGAKHIRI / TERMINASI HEMODIALISA
1. Deskripsi Singkat
Pada proses hemodialisa, darah sebenarnya tidak mengalir melalui mesin HD,
melainkan hanya melalui selang darah dan dialyzer. Mesin HD sendiri merupakan
perpaduan dari komputer dan pompa, dimana mesin HD mempunyai fungsi untuk
mengatur dan memonitor aliran darah, tekanan darah, dan memberikan informasi
jumlah cairan yang dikeluarkan serta informasi vital lainnya. Mesin HD juga
mengatur cairan dialisat yang masuk ke dialyzer, dimana cairan tersebut membantu
mengumpulkan racun – racun dari darah. Pompa yang ada dalam mesin HD berfungsi
untuk mengalirkan darah dari tubuh ke dialyzer dan mengembalikan kembali ke
dalam tubuh.
Pada akhir hemodialysis arterial line dihubungkan dengan larutan garam
fisiologis untuk mengembalikan darah dari dialiser kepada pasien. Jika restitusi darah
telah sempurna, venous line diklemp, jarum venousa dikeluarkan dan hemostasis
bekas tusukan dirawat untuk mencegah perdarahan dan infeksi lokal.
2. Tujuan Pembelajaran
A. Tujuan Pembelajaran Umum (TPU)
Setelah mengikuti materi ini, peserta pelatihan mampu menjelaskan mengenai
prosedur mengakhiri hemodialisa.
B. Tujuan Pembelajaran Khusus (TPK)
Setelah mengikuti materi ini peserta dapat :
1. Peserta mampu mengetahui definisi dan tujuan prosedur mengakhiri
hemodialisa
2. Peserta mampu mengetahui prosedur mengakhiri hemodialisa
3. Peserta mampu mengetahui prosedur perawatan sarana hubungan sirkulasi
4. Peserta mampu mengetahui observasi post Hemodialisa
159 | P a g e
3. Pokok Bahasan Dan Atau Sub Pokok Bahasan
A. Pokok Bahasan
Pokok bahasan yang akan disampaikan adalah menjelaskan tentang prosedur
mengakhiri hemodialisa.
B. Sub Pokok Bahasan
1. Definisi dan tujuan prosedur mengakhiri hemodialisa
2. Prosedur mengakhiri hemodialisa
3. Prosedur perawatan sarana hubungan sirkulasi
4. Observasi post Hemodialisa
4. Bahan Belajar
Bahan belajar yang diperlukan adalah masalah materi prosedur mengakhiri
hemodialisa.
5. Langkah-Langkah Kegiatan Pembelajaran
NO WAKTU PROSES PEMBELAJARAN
Kegiatan Pengampu Kegiatan Peserta
1. 10 menit Pembukaan: 1. Menjawab salam
1. Salam 2. Mendengarkan dan
2. Penjelasan mata ajar prosedur mengakhiri memperhatikan
hemodialisa. 3. Bertanya
2. 150 menit 1. Definisi dan tujuan prosedur mengakhiri 1. Menganalisis
hemodialisa 2. Menjawab
2. Prosedur mengakhiri hemodialisa 3. Mencatat
3. Prosedur perawatan sarana hubungan 4. Bertanya
sirkulasi
4. Observasi post Hemodialisa
3. 20 menit Penutup:
1. Menyimpulkan pertemuan 1. Memperhatikan
2. Menanyakan konsep prosedur mengakhiri 2. Menjawab
hemodialisa.
160 | P a g e
PROSEDUR MENGAKHIRI / TERMINASI HEMODIALISA
A. Definisi
Suatu tindakan untuk menyelesaikan hemodialisa karena program hemodialisa
sudah tercapai atau pada keadaan kegawatan maupun gangguan tehnik yang serius,
untuk menghindari akibat yang fatal
B. Tujuan
Mengembalikan darah dari sirkuit ekstrakorporeal ke dalam tubuh pasien
C. Terminasi Hemodialisa meliputi:
1. Mengakhiri HD
2. Perawatan SHS (Sarana Hubungan Sirkulasi)
3. Observasi post HD
1. Mengakhiri HD
Adapun alat yang harus dipersiapkan adalah sebagai berikut :
Kasa steril secukupnya
Plester
Konektor steril
Gunting
Op site
Sarung tangan
Ember / tempat sampah tertutup
Desinfektan ( Havox ) ± 200cc
Prosedur Kerja
5 menit sebelum HD diakhri, turunkan Qb menjadi ± 100 ml/menit.
Ukur tanda – tanda vital
Beritahu pasien
Setelah UFG tercapai UFR dinolkan tekan Prep, Air Buble, Pump
dinolkan
161 | P a g e
Matikan pompa darah, klem kanula inlet sebelum mencabutnya,
selanjutnya lepas kanula dari selang inlet, dengan konektor sambungkan
selang inlet dengan infuse Nacl
Jalankan pompa darah 150 – 200 ml/mnt sehingga dari sirkuit ekstra
korporeal mengalir masuk ke dalam tubuh pasien
Bila outlet sudah masuk, klem ujung kanula outlet dan pada waktu
bersamaan matikan pompa
Mencabut kanula outlet, selanjutnya bekas tusukan ( in dan outlet ) di
tekan dengan menggunakan kasa steril dengan tekanan sedang ± 10 menit
Bila pendarahan berhenti, luka di tutup dengan Op site kemudian di balut
Lapaskan semua peralatan HD dari mesin HD, kemudian masukkan ke
dalam ember/tempat sampah, mesin di desinfektan
Catatan
Bila fungsi termoral di tekan lebih kuat supaya tidak bengkak, bila
pendarahan sudah berhenti tutup dengan Op site kemudian di tekan / ditindih
dengan bantal pasir.
Pada double lumen kateter 2 ujung kateter di spool dengan Nacl 0.9 %
(± 20 cc) dan diberi heparin 1cc = 5000 unit, kemudian kanula tadi ditutup
dengan kasa steril kemudian diplester supaya tidak tertarik
2. Perawatan SHS (Sarana Hubungan Sirkulasi)
Tindakan untuk merawat akses sirkulasi HD, meliputi pemberian dan
pemeliharaan sesudah akses sirkulasi di gunakan,
Tujuan :
Memenuhi rasa aman
Mencegah komplikasi
Agar akses sirkulasi HD dapat di gunakan dengan baik
Prosedur Kerja
a. Fungsi cimino dan femoral
Segara setelah jarum punksi dilepas luka bekas tusukan ditekan
dengan kasa selama 10 menit
162 | P a g e
Setelah pendarahan berhenti kemudian ditutup dengan Op site dan
dibalut
Rapikan alat-alat
Cuci tangan
b. Double lumen
Setelah kedua AVBL dilepas, kedua kanula kateter dibilas dengan
Nacl
bersih yang telah diberi heparin Icc/ 5000 unit
Kanula dibungkus dengan kasa steril kemudian diplester dengan
plester
Rapikan alat-alat
Cuci tangan
3. Observasi Pasien Post HD
Memantau/mengobservasi keadaan dan keluhan pasien setelah alat-alat
HD dilepas sampai pasien diperbolehkan pulang /pindah ruangan
Tujuan
Mengetahui keadaan pasien
.Dapat mengenali secara dini apabila timbul penyakit / keluhan
sehingga dapat segera ditangani secara cepat dan tepat
Prosedur Kerja
Mengukur TTV
Setelah perdarahan berhenti, pasien diistirahatkan lebih kurang 30
menit dan bila tidak ada keluhan, pasien diperbolehkan pulang/pindah
ruangan
Menimbang BB bila keadaan memungkinkan
Memberi penyuluhan kesehatan sesuai kebutuhan
163 | P a g e
ADEKUASI HEMODIALISA
1. Deskripsi Singkat
Perawat dialisis harus memahami apa yang dimaksud dengan adekuasi dialisis,
hal apa saja yang dapat mempengaruhi dan bagaimana cara mengukurnya. Tindakan
dialisis yang dilakukan sesuai dengan program bertujuan untuk mencapai adekuasi
dialisis. Karena hemodialisis yang adekuat dapat meningkatkan kualitas hidup pasien.
2. Tujuan Pembelajaran
A. Tujuan Pembelajaran Umum (TPU)
Setelah mengikuti materi ini, peserta pelatihan mampu menjelaskan mengenai
Adekuasi Hemodialisa.
B. Tujuan Pembelajaran Khusus (TPK)
Setelah mengikuti materi ini peserta dapat :
1. Peserta mampu mengetahui indikator adekuasi hemodialisis
2. Peserta mampu mengetahui pengukuran adekuasi hemodialisis
3. Peserta mampu mengetahui pengukuran dosis hemodialisis
4. Peserta mampu mengetahui hal yang mempengaruhi dosis hemodialisis
3. Pokok Bahasan Dan Atau Sub Pokok Bahasan
A. Pokok Bahasan
Pokok bahasan yang akan disampaikan adalah menjelaskan tentang Adekuasi
Hemodialisa.
B. Sub Pokok Bahasan
1. Indikator adekuasi hemodialisis
2. Pengukuran adekuasi hemodialisis
3. Pengukuran dosis hemodialisis
4. Hal yang mempengaruhi dosis hemodialisis
4. Bahan Belajar
Bahan belajar yang diperlukan adalah masalah materi Adekuasi Hemodialisa.
164 | P a g e
5. Langkah-Langkah Kegiatan Pembelajaran
NO WAKTU PROSES PEMBELAJARAN
Kegiatan Pengampu Kegiatan Peserta
1. 10 menit Pembukaan: 1. Menjawab salam
1. Salam 2. Mendengarkan dan
2. Penjelasan mata ajar Adekuasi Hemodialisa. memperhatikan
3. Bertanya
2. 150 menit 1. Indikator adekuasi hemodialisis 1. Menganalisis
2. Pengukuran adekuasi hemodialisis 2. Menjawab
3. Pengukuran dosis hemodialisis 3. Mencatat
4. Hal yang mempengaruhi dosis hemodialisis 4. Bertanya
3. 20 menit Penutup:
1. Menyimpulkan pertemuan 1. Memperhatikan
Adekuasi 2. Menjawab
2. Menanyakan konsep
Hemodialisa.
165 | P a g e
ADEKUASI HEMODIALISA
A. Indikator adekuasi hemodialisis
Adekuasi hemodialisis (HD) adalah kecukupan dosis HD yang diberikan
kepada pasien dengan tujuan untuk mengontrol gejala sindrom uremikum, tekanan darah,
marker biokimia, memeberikan rasa nyaman, status nutrisi yang baik. Adekuasi HD dapat
dicapai bila kualitas hidup pasien menjadi lebih baik. Umumnya adekuasi dialsis diukur
dengan perhitungan terhadap bersihan toksin uremik, yang diwakili oleh konsentrasi
ureum darah. Adapun alat ukur yang biasa digunakan sebagai indikator adalah URR,
Kt/V dan UKM.
KDOQI merekomendasikan target Kt/V yang harus dicapai 1,4 atau URR 70%
pada pasien yang menjalani HD 3X/Minggu, 4 jam tiap sesi HD. Sedangkan Pernefri
memberikan rekomendasi untuk target Kt/V yang diinginkan adalah 1,8 yang ekuivalen
dengan URR 80% pada pasien yang menjalani HD 2X/Minggu, 5 jam tiap sesi HD.
Proses Hemodialisis akan memberesihkan toksin yang ada di dalam tubuh. Tubuh terbagi
atas beberapa kompartemen cairan yaitu intraseluler, interstitial, intravaskuler. Pada saat
tindakan hemodialisis berlangsung, cairan (darah) dalam kompartemen intravaskuler akan
dibersihkan dengan cepat. Kemudian masuk kembali kedalam tubuh dan kembali
bersentuhan dengan jaringan intrstitial yang masih banyak mengandung toksin.
B. Pengukuran adekuasi HD/Delivered dose
Cara yang saat ini paling sering digunakan adalah melihat bersihan urea dari proses
dialisis melalui rumus :
1. Urea Reduction Rate (URR)
Ket :
Co = Ureum pre dialisis, Ct = Ureum post dialisis
Merupakan rumus sederhana yang dapat digunakan untuk mengukur adekuasi dialisis.
Menggunakan persentase konsentrasi ureum darah post terhadap pre dialisis.
166 | P a g e
2. Delivered Kt/V : Single pool Kt/V
Pada umumnya model perhitungan Kt/V adalah berdasarkan asumsi bahwa urea berada
pada satu kompartemen tubuh (pool) pada tubuh. SpKt/V dihitung dengan melalui
pengukuran konsentrasi BUN pre dialisis, dan konsentrasi BUN 10 – 15 detik post
dialisis. Jeda waktu digunakan untuk memperhitungkan efek perancu resirkulasi darah
dalam fistula. Rekomendasi terkini KDOQI untuk adekuasi dialsis konvensional,
3X//minggu spKt/V adalah 1,2 dengan target dosis 1,4.
Rumus dibawah ini salah satu contoh sederhana, generasi kedua rumus logaritma UKM
digunakan untuk menghitung spKt/V.
Ket :
ln= natural log; R= Ureum post dialisis/ureum pre dialisis; t=durasi dialisis
(jam); UF=BB pre dialisis – BB post dialisis; W=BB post dialisis.
Namun rumus ini hanya efektif jika dialisis diberikan 3X/minggu dengan 2,5 – 5 jam.
3. Delivered Kt/V : Equilibrated Kt/V
Memperhitungkan penyesuaian urea rebound dari kompartemen lain ke kompartemen
intravaskuler yang dijaduikan tempat pengambilan sampel darah.
Rumus perhitungan sebagai berikut :
Arterial Akses :
eKt/V = spKt/V – (0,6 x spK/V) + 0,03
Venous Akses :
eKt/V = spKt/V – (0,47 x spK/V) + 0,02
4. Weekly Standar Kt/V (stdKt/V)
stdKt/V diperlukan untuk mencerminkan akurasi dosis dialisis yang diberikan. Dalam
menentukan stdKt/V, klirens urea, pembentukan urea dan konsentrasi urea
diperhitungkan dalam periode 1 minggu dan normalisasi komposisi cairan tubuh sebagai
volume distribusi urea. Rekomendasi KDOQI untuk nilai minimum stdKt/V adalah 2.0 per
minggu, dan ini ekuivalen dengan nilai spKt/V 1,2 pada setiap HD dengan frekuensi
HD3X/minggu.
167 | P a g e
5. Urea Kinetic Modeling (UKM)
Urea Kinetic Modeling merupakan suatu metode kuantitatif yang memerlukan software
komputer tertentu untuk menghitung Kt/V menggunakan rumus UKM.
C. Pengukuran Dosis Hemodialisis
Rumus Kt/V
Pada awalnya rumus ini ditemukan bahwa keadaan klinis dapat lebih baik jika hasil
klirens urea dialiser (K) dan durasi dialisis (t) dibagi distribusi volume urea (V)
Dengan rumus :
K(mL/Menit) x t
(Menit) V(mL)
Dengan asumsi tanpa ultrafiltrasi ataupun pembentukan urea, hasil Kt/V urea dapat
dihitung dari konsentrasi urea pre dan post HD menggunakan rumus Natural Logaritma
(ln) sebagai
berikut :
Kt/V = ln (C0/Ct)
C0 = konsentrasi urea pre dialisis, Ct = konsentrasi urea post dialisis
Contoh :
Diketahui :
BB: 40 KG (V=24 L = 24000 ml)
TD : 5 jam (300 menit)
K : 250 ml/mnt
Ureum pre : 350 mg/dL, Ureum post 85 mg/dL
Berapa estimasi Adekuasi HD dg Kt/V ?
= 250 x 300
24000
= 75000 = 3,125
24000
Jadi nilai estimasi adekuasi dengan Kt/V adalah 3,1
168 | P a g e
Diketahui :
- BB: 50 KG (V=30 L)
- TD : 4 jam (240 menit)
- Kt/V target : 1,8
Dialiser mana yang cocok untuk pasien berikut
= 1,8 =K x 240
30
= (30 x 1,8)/ (K x 240)
= 54 L ( 54000 ml)
240 x K K = 220 ml/menit
Dialiser yang cocok untuk mencapai Kt/V berdasarkan soal diatas adalah yang mempunyai
kliren 220 ml/menit (di brosur produk dialiser kliren ureum bisa diambil sebagai acuan)
Diketahui :
- BB: 40 KG (V=24 L = 24000 ml)
- TD : 5 jam (300 menit)
- K : 250 ml/mnt
- Ureum pre : 350 ureum post 85
Berapa estimasi Adekuasi HD dg URR:
350 - 85 X 100 % = 75,7 %
350
Jadi nilai adekuasi dengan URR adalah 75,7%
169 | P a g e
D. Hal yang mempengaruhi dosis hemodialisis yang diberikan
1. Klirens urea yang rendah
a. Resirkulasi pada akses vaskuler
b. Aliran darah dari akses vaskuler tidak adekuat
c. Estimasi performans tidak adekuat
d. Proseur reprosesing dialiser yang tidak adekuat
e. Bekuan darah dalam dialiser
f. Kesalahan kalibrasi kecepatan alirah darah/dialisat
g. Kecepatan aliran dialisat yang terlalu rendah
h. Kebocoran dialisat
2. Pengurangan waktu terapi
a. Kesalahan perhitungan waktu terapi total (tidak memperhitungkan interupsi
selama dialisis berlangsung)
b. Terminasi hemodialisis yang terlalu cepat dengan alasan kenyamanan pasien
dan staf.
c. Keterlambatan memulai dialisis sehingga over lap dan mengganggu jadwal
pasien lain
3. Kesalahan sampling darah
a. Pengenceran sampel darah ureum pre-dialisis oleh NaCl 0,9% atau
antikoagulan
b. Sampel darah ureum predialisis diambil setelah hemodialisis dimulai
c. Sampel darah ureum post-dialisis diambil sebelum hemodialisis selesai
d. Sampel darah ureum post-dialisis diambil lebih dari 2 menit setelah
hemodialisis berakhir
e. Kesalahan laboratorium akibat salah kalibrasi atau kerusakan alat.
170 | P a g e
E. Metode Pengambilan Sampel Ureum
Terdapat cara yang berbeda dalam melakukan pengambilan sampel darah untuk
pemeriksaan adekuasi diaslis. Hal ini dilakukan dengan tujuan untuk mencegah bias
hasil pemeriksaan karena pengaruh pengenceran dan antikoagulan serta kembalinya
distribusi urea dalam cairan tubuh.
Cara pengambilan darah terdiri atas :
1 Persiapan alat dan bahan :
a. Tabung sample darah untuk pemeriksaan
b. Sarung tangan
c. Kapas alkohol
d. Spuit 3 cc
e. Formulir pemeriksaan laboratorium
f. Label identitas pasien
2 Penatalaksanaan :
a. Pre dialisis
Mengambil sampeldarah dilakukan saat melakukan akses vaskuler, pastikan
tidak terjadi pengenceran.
b. Post dialisis
1) set uf menjadi 0 (nol)
2) turunkan Qb ke 100 ml/menit selama 10 – 20 detik
3) stop pompa darah/tanpa stop pompa
4) ambil sampel dari arterial line
171 | P a g e
Daftar Pustaka
Sukandar, Enday. 2012. Nefrologi Klinik. Bandung
National Kidney Foundation. KDOQI Clinical Practice Guidelines and Clinical Practice
Recommendations
for 2006 Updates: Hemodialisis Adequacy, Peritoneal Dialisis Adequacy and Vascular
Access.
Am J Kidney Dis 48:S1-S322, 2006 (suppl 1).
BCPRA Hemodialisis Committee. Urea Testing Pre And Post Hemodialisis, July 2015.
Tattersall, James. Do We Need Another Kt/V? Published by Oxford University Press on
behalf of ERA-EDTA. 2013.
Azar, Taher Ahmad. 2013. Modeling and Control of Dialysis Systems Volume 1. New
York : Springer
172 | P a g e
HD DENGAN KASUS KHUSUS
(SQUENTIAL ULTRAFILTRASI)
1. Deskripsi Singkat
Proses difusi adalah perpindahan molekul melalui membran semi permeable
yang dipengaruhi oleh berat molekul, perbedaan konsentrasi, adhesi dan jenis
membrane, kecepatan aliran darah (Qb), Kecepatan aliran dialisat (Qd)
Ultrafiltrasi adalah perpindahan cairan melalui membran semipermeabel
karena perbedaan gradien tekanan hidrostatik yang dipengaruhi oleh perbedaan
tekanan (TMP), koefisien ultrafiltrasi (KUf), Kecepatan aliran dialisat (Qd)
2. Tujuan Pembelajaran
A. Tujuan Pembelajaran Umum (TPU)
Setelah mengikuti materi ini, peserta pelatihan mampu menjelaskan mengenai
HD dengan kasus khusus (squential ultrafiltrasi)
B. Tujuan Pembelajaran Khusus (TPK)
Setelah mengikuti materi ini peserta dapat :
1. Peserta mampu mengetahui indikasi insiasi dialisis
2. Peserta mampu mengetahui prinsip dasar dan ultrafiltrasi
3. Peserta mampu mengerti manajemen overload cairan
4. Peserta mampu mengetahui sequential dialisis
3. Pokok Bahasan Dan Atau Sub Pokok Bahasan
A. Pokok Bahasan
Pokok bahasan yang akan disampaikan adalah menjelaskan tentang HD dengan
kasus khusus (squential ultrafiltrasi)
B. Sub Pokok Bahasan
1. Indikasi insiasi dialisis
2. Prinsip dasar dan ultrafiltrasi
3. Manajemen overload cairan
4. Squential dialisis
173 | P a g e
4. Bahan Belajar
Bahan belajar yang diperlukan adalah masalah materi HD dengan kasus
khusus (squential ultrafiltrasi)
5. Langkah-Langkah Kegiatan Pembelajaran
NO WAKTU PROSES PEMBELAJARAN
Kegiatan Pengampu Kegiatan Peserta
1. 10 menit Pembukaan: 1. Menjawab salam
1. Salam 2. Mendengarkan dan
2. Penjelasan mata ajar HD dengan kasus memperhatikan
khusus (squential ultrafiltrasi) 3. Bertanya
2. 150 menit 1. Indikasi insiasi dialisis 1. Menganalisis
2. Prinsip dasar dan ultrafiltrasi 2. Menjawab
3. Manajemen overload cairan 3. Mencatat
4. Squential dialisis 4. Bertanya
3. 20 menit Penutup:
1. Menyimpulkan pertemuan 1. Memperhatikan
2. Menanyakan konsep HD dengan kasus 2. Menjawab
khusus (squential ultrafiltrasi)
174 | P a g e
URAIAN MATERI
175 | P a g e
176 | P a g e
177 | P a g e
178 | P a g e
179 | P a g e
180 | P a g e
181 | P a g e
HD DENGAN KASUS KHUSUS (SLED DAN CRRT)
1. Deskripsi Singkat
Pengelolaan AKI (Acut Kidney Injuri) adalah suportif, TPG (Terapi
Pengganti Ginjal) diperlukan apabila ada indikasi yang bertujuan untuk optimalisasi
cairan dan elektrolit. Sarana yang digunakan adalah Intermittent hemodialysis (IHD),
continuous renal replacement therapies (CRRTs), hybrid therapies, ie sustained low-
efficiency dialysis (SLED)
2. Tujuan Pembelajaran
A. Tujuan Pembelajaran Umum (TPU)
Setelah mengikuti materi ini, peserta pelatihan mampu menjelaskan mengenai
HD dengan kasus khusus (SLED dan CRRT.).
B. Tujuan Pembelajaran Khusus (TPK)
Setelah mengikuti materi ini peserta dapat :
1. Peserta mampu mengetahui indikasi terapi pengganti ginjal
2. Peserta mampu mengetahui CRRT
3. Peserta mampu mengerti SLED
3. Pokok Bahasan Dan Atau Sub Pokok Bahasan
A. Pokok Bahasan
Pokok bahasan yang akan disampaikan adalah menjelaskan tentang HD dengan
kasus khusus (SLED dan CRRT).
B. Sub Pokok Bahasan
1. Indikasi terapi pengganti ginjal
2. CRRT
3. SLED
4. Bahan Belajar
Bahan belajar yang diperlukan adalah masalah materi HD dengan kasus
khusus (SLED dan CRRT).
182 | P a g e
5. Langkah-Langkah Kegiatan Pembelajaran
NO WAKTU PROSES PEMBELAJARAN
Kegiatan Pengampu Kegiatan Peserta
1. 10 menit Pembukaan: 1. Menjawab salam
1. Salam 2. Mendengarkan dan
2. Penjelasan mata ajar HD dengan kasus memperhatikan
khusus (SLED dan CRRT). 3. Bertanya
2. 150 menit 1. Indikasi terapi pengganti ginjal 1. Menganalisis
2. CRRT 2. Menjawab
3. SLED 3. Mencatat
4. Bertanya
3. 20 menit Penutup:
1. Menyimpulkan pertemuan 1. Memperhatikan
2. Menanyakan konsep HD dengan kasus 2. Menjawab
khusus (SLED dan CRRT).
183 | P a g e
URAIAN MATERI
184 | P a g e
185 | P a g e
186 | P a g e
187 | P a g e
188 | P a g e
189 | P a g e
190 | P a g e