Fasilitasi memilih aktivitas dan tetapkan tujuan
aktivitas yang konsisten sesuai kemampuan fisik,
psikologis, dan social
Koordinasikan pemilihan aktivitas sesuai usia
Fasilitasi makna aktivitas yang dipilih
Fasilitasi transportasi untuk menghadiri aktivitas,
jika sesuai
Fasilitasi pasien dan keluarga dalam
menyesuaikan lingkungan untuk
mengakomodasikan aktivitas yang dipilih
Fasilitasi aktivitas fisik rutin (mis. ambulansi,
mobilisasi, dan perawatan diri), sesuai kebutuhan
Fasilitasi aktivitas pengganti saat mengalami
keterbatasan waktu, energy, atau gerak
Fasilitasi akvitas motorik kasar untuk pasien
hiperaktif
Tingkatkan aktivitas fisik untuk memelihara berat
badan, jika sesuai
Fasilitasi aktivitas motorik untuk merelaksasi otot
Fasilitasi aktivitas dengan komponen memori
implicit dan emosional (mis. kegitan keagamaan
khusu) untuk pasien dimensia, jika sesaui
Libatkan dalam permaianan kelompok yang tidak
kompetitif, terstruktur, dan aktif
Tingkatkan keterlibatan dalam aktivotasrekreasi
dan diversifikasi untuk menurunkan kecemasan
( mis. vocal group, bola voli, tenis meja, jogging,
berenang, tugas sederhana, permaianan
sederhana, tugas rutin, tugas rumah tangga,
perawatan diri, dan teka-teki dan kart)
Libatkan kelarga dalam aktivitas, jika perlu
Fasilitasi mengembankan motivasi dan penguatan
diri
475 | P a g e
Fasilitasi pasien dan keluarga memantau
kemajuannya sendiri untuk mencapai tujuan
Jadwalkan aktivitas dalam rutinitas sehari-hari
Berikan penguatan positfi atas partisipasi dalam
aktivitas
Edukasi
Jelaskan metode aktivitas fisik sehari-hari, jika
perlu
Ajarkan cara melakukan aktivitas yang dipilih
Anjurkan melakukan aktivitas fisik, social,
spiritual, dan kognitif, dalam menjaga fungsi dan
kesehatan
Anjurka terlibat dalam aktivitas kelompok atau
terapi, jika sesuai
Anjurkan keluarga untuk member penguatan
positif atas partisipasi dalam aktivitas
Kolaborasi
Kolaborasi dengan terapi okupasi dalam
merencanakan dan memonitor program aktivitas,
jika sesuai
Rujuk pada pusat atau program aktivitas
komunitas, jika perlu
Intervensi Pendukung
Dukungan ambulasi
Dukungan kepatuhan program pengobatan
Dukungan meditasi
476 | P a g e
Dukungan perawatan diri
Edukasi latihan fisik
Edukasi tehnik ambulasi
Manajemen program latihan
477 | P a g e
DAFTAR PUSTAKA
Rizzo, M. A., Frediani, F., Granata, A., Ravasi, B., Cusi, D., & Gallieni, M. (2012).
Neurological complications of hemodialysis: state of the art. Less under-diagnosed &
under treatment
Pardede, S. O., Yulman, A. R., & Andriana, J. (2016). Komplikasi Neurologi Penyakit Ginjal
Kronik pada Anak. Majalah Kedokteran, 32(4), 189-195.
Yanuarita.T, A. Tajally, Kartikadewi A.,(2015). Buku Ajar System Saraf. Unimus Press
Sirait, F. R. H., & Sari, M. I. (2017). Ensefalopati uremikum pada gagal ginjal kronis.
Medical
Profession Journal Of Lampung [MEDULA], 7(1), 19-24.
Soetomenggolo, T. S. (2004). Kelainan Neurologis pada Penyakit
Sistemik.
John T. Daugirdas, Peter G. Blake, Todd S; hand book of Dialisis, Fifth Edition. 2015
Wolters
Kluwer Health
Suhail Ahmad, Manual of Clinical Dialisis, Second Edition. 2009. University of
Washington, Scribner Kidney Center
Nicola Thomas, Renal Nursing, Fourth Edition. 2014. London
478 | P a g e
ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN PSIKOLOGI
1. Deskripsi Singkat
Pasien yang menjalani dialisis berada dalam situasi yang sangat tergantung
pada mesin,hemodialisis dan profesional medis yang memberikan pelayanan dialisis
selama sisa hidupnya. Kondisi medis penyakit kronis lain yang memiliki tingkat
ketergantungan pemeliharaan perawatan yang tinggi tidak ada selain dialisis. Dialisis
sebagai tindakan medis sangat menekan pasien apabila pendidikan dan persiapannya
tidak diberikan sejak awal sehubungan dengan penyakit ginjal tahap akhir (ESRD).
Hemodialisis mengharuskan pasien untuk beradaptasi dengan pembatasan
tertentu, seperti kontrol diet, asupan cairan, nyeri kronis dan ketidaknyamanan yang
terkait dengan penusukan jarum arteriovenosa fistula pada hari dialisis. Penyakit
somatik lainnya juga sering dialami, menyertainya dan menggangu, seperti
seringnya tinggal di rumah sakit, serta lebih sering cedera selama keadaan pasien
melemah setelah dialisis. Masalah peran fungsi sehari-hari, dan rasa takut akan
masa depan tidak diragukan lagi akan mempengaruhi timbulnya gejala depresi dan
kecemasan. Sumber kegelisahan pasien yang lain terkait prosedur invasif yang
menyertai hemodialisis seperti: memasukkan jarum ke dalam fistula arteriovenosa,
menanamkan kateter vena sentral, bunyi alarm dari mesin dialisis dan staf ginjal
mengubah shift di ruang perawat dialisis (misalnya kurangnya seorang perawat
permanen yang menusuk fistula "dengan benar")
2. Tujuan Pembelajaran
A. Tujuan Pembelajaran Umum (TPU)
Setelah megikuti materi ini, peserta pelatihan dapat memahami masalah jangka
panjang pada pasien hemodialisa yang mengalami gangguan Psikologi.
B. Tujuan Pembelajaran Khusus (TPK)
Setelah mengikuti materi ini peserta dapat :
1. Menjelaskan Gangguan Psikososial Pada Pasien Dialisis
2. Menjelaskan Type Kepribadian Pasien Dialisis
3. Menjelaskan Aspek Sosial Pasien Dialisis
4. Menjelaskan Intervensi Terhadap Gangguan Psikososial Pada Pasien Dialisis
1|Page
3. Pokok Bahasan Dan Atau Sub Pokok Bahasan
A. Pokok Bahasan
Pokok bahasan yang akan disampaikan adalah masalah jangka panjang pada
pasien hemodialisa yang mengalami gangguan Psikologi
B. Sub Pokok Bahasan
1. Gangguan Psikososial Pada Pasien Dialisis
2. Type Kepribadian Pasien Dialisis
3. Aspek Sosial Pasien Dialisis
4. Intervensi Terhadap Gangguan Psikososial Pada Pasien Dialisis
4. Bahan Belajar
Bahan belajar yang diperlukan adalah masalah jangka panjang pada pasien
hemodialisa yang mengalami gangguan Psikologi.
5. Langkah-Langkah Kegiatan Pembelajaran
N PROSES PEMBELAJARAN
WAKTU
Kegiatan Pengampu Kegiatan Peserta
O
1. 10 menit Pembukaan: 1. Menjawab salam
1. Salam 2. Mendengarkan dan
2. Penjelasan mata ajar masalah jangka panjang memperhatikan
pada pasien hemodialisa yang mengalami 3. Bertanya
gangguan Psikologi.
2. 60 menit 1. Gangguan Psikososial Pada Pasien Dialisis 1. Menganalisis
2. Type Kepribadian Pasien Dialisis 2. Menjawab
3. Aspek Sosial Pasien Dialisis 3. Mencatat
4. Intervensi Terhadap Gangguan Psikososial Pada 4. Bertanya
Pasien Dialisis
3. 20 menit Penutup:
1. Menyimpulkan pertemuan 1. Memperhatikan
2. Menanyakan konsep masalah jangka 2. Menjawab
panjang pada pasien hemodialisa yang
mengalami gangguan Psikologi
2|Page
Uraian Materi
PSIKOLOGI PASIEN HEMODIALISA
Memulai dialisis secara signifikan mengubah hubungan pasien dengan lingkungan
terdekat, kemampuan mereka untuk melakukan peran sosial baik dalam keluarga
maupun dalam masyarakat pada umumnya. Kebutuhan untuk melepaskan pekerjaan
mereka dengan masalah keuangan berikutnya, tunduk pada hari dan jam perawatan
yang telah ditentukan, rawat inap berulang kali dan kesadaran akan ketergantungan
mereka yang semakin besar pada orang lain, juga menurunkan harga diri mereka.
Penyakit kronis dan jangka panjang serta komplikasinya memaksa penyesuaian
kembali seluruh hidupnya, hal itu juga dapat menyebabkan hilangnya makna hidup dan
munculnya gejala depresi yang memburuk. Pasien yang menjalani dialisis juga ada
pembatasan yang cukup banyak terkait dengan pemilihan makanan dan pembatasan
cairan. Pasien peritoneal dialisis memiliki beberapa aturan lebih banyak dibandingkan
dengan pasien yang menjalani hemodialisis. Pasien gagal ginjal sering mengalami
banyak komplikasi dan penggunakan obat yang banyak dan berbeda. Beberapa
dari obat-obatan yang diminum pasien kadang-kadang dapat menyebabkan
gejala kejiwaan. Kadang-kadang agitasi dan kebingungan dapat muncul sebagai
akibat dari pengobatan non psikiatri, Ini adalah gejala yang sangat membingungkan
karena hal yang sama dapat terjadi dalam kondisi medis seperti gangguan
elektrolit, hipertensi, hipoglikemia, toksisitas aluminium, dialisis demensia dan mungkin
juga menjadi bagian dari depresi dan kecemasan.
1. Gangguan Psikososial Pada Pasien Dialisis
a. Depresi
Depresi merupakan gangguan mood yang berkepanjangan yang mewarnai seluruh
mental seseorang dalam berperilaku, perasaan dan kognitif (berpikir).
Depresimempengaruhi masalah dan kondisi perasaan seseorang yang mempengaruhi
kepribadiannya sehingga individu muda marah, cepat sedih, melamun, menyalahkan
diri sendiri dan cepat merasa putus asa. Umumnya mood yang secara dominan
muncul adalah perasaan tidak berdaya dan kehilangan harapan.
3|Page
.
Tanda dan Gejala Depresi
1. Lesu,
2. Pesimis
3. sering menyalahkan diri sendiri,
4. memikirkan halhal yang menyedihkan,
5. duka mengeluh
6. apatis
7. Adanya keinginan untuk bunuh diri
8. Pandangan masa depan yang suram
b. Kecemasan
Kecemasan adalah keadaan emosional dimana individu mengalami ketakutan,
ketidakpastian,, dan ketakutan yang intens dari antisipasi situasi yang mengancam.
Gangguan kecemasan pada pasien CKD tidak seperti keadaan kecemasan yang
disebabkan oleh peristiwa stress lain hanya singkat, kecemasan pada pasien CKD
bertahan setidaknya 6 bulan, bersifat meluas dan dapat memburuk tanpa pengobatan.
c. Delirium
Fenomena umum yang pada pasien dialisis karena ketidakseimbangan elektrolit yang
dapat terjadi setelah dialysis, yang disebut sebagai disekuilibrium sindrom dialysis,
sebagai konsekuensi dari komplikasi medis tindakan HD Penyebabnya mungkin
termasuk uremia, anemia dan hiperparatiroidisme. Pasien dialysis usia lanjut dengan
diabetes yang menjalani dialisis, demensia dapat terjadi karena penyakit Alzheimer,
vaskular, dan sindrom dialisis demensia.
d. Harga diri rendah
Gangguan harga diri rendah adalah penilaian negatif seseorang terhadap diri dan
kemampuan, yang diekspresikan secara langsung maupun tidak langsung. Gangguan
harga diri rendah digambarkan sebagai perasaan yang negatif terhadap diri sendiri,
termasuk hilangnya percaya diri dan harga diri, merasa gagal mencapai keinginan
e. Isolasi sosial
Isolasi sosial prilaku menarik diri merupakan usaha menghindar dari interaksi dan
berhubungan dengan orang lain, individu merasa kehilangan hubungan akrab, tidak
4|Page
mempunyai kesempatan dalam berfikir, berperasaan, berprestasi, atau selalu dalam
kegagalan.
f. Perilaku Bunuh Diri
Membahas depresi lebih lanjut memunculkan subjek perilaku bunuh diri pada pasien
dialisis dan gagal ginjal. Beberapa study telah menunjukkan bahwa pasien dialisis
memiliki tingkat keinginan bunuh diri yang lebih tinggi daripada orang sehat. Ketika
depresi, pasien dialisis memiliki metode pembuangan yang sangat efektif yaitu bunuh
diri. Kehilangan dialisis untuk beberapa sesi atau melakukan pesta makan kalium dapat
menyebabkan kematian. Selain itu, yang menjadi pertimbangan dalam kasus bunuh diri
akan dilakukan dialisis extra
2. Type Kepribadian Pasien Dialisis
Gangguan psikologis pada pasien dialysis sangat dipengaruhi oleh kepribadian
pasien tersebut. 5 type kepribadian pasien adalah sebagai berikut:
1. Tipe Kepribadian Konstruktif (Construction personalitiy)
Type ini tidak banyak mengalami gejolak, tenang dan mantap.
2. Tipe Kepribadian Mandiri (Independent personality)
Pada tipe ini ada kecenderungan mengalami post power sindrome, apalagi jika
pada sebelumnya tidak diisi dengan kegiatan yang dapat memberikan otonomi
pada dirinya
3. Tipe Kepribadian Tergantung (Dependent personalitiy)
Pada tipe ini biasanya sangat dipengaruhi kehidupan keluarga, apabila kehidupan
keluarga selalu harmonis maka pada saat divonis untuk menjalani HD tidak
bergejolak,
4. Tipe Kepribadian Bermusuhan (Hostility personality)
Pada tipe ini setelah menjalani HD tetap merasa tidak puas dengan kehidupannya,
banyak keinginan yang kadang-kadang tidak diperhitungkan secara seksama
sehingga menyebabkan kondisi ekonominya menjadi morat-marit.
5. Tipe Kepribadian Kritik Diri (Self Hate personalitiy)
Pada tipe ini umumnya terlihat sengsara, karena perilakunya sendiri sulit dibantu
orang lain atau cenderung membuat susah dirinya
5|Page
3. Aspek Sosial Pasien Dialisis
Gangguan psikologis pada pasien dialysis juga dipenaruhi aspek sosial pasien.
Berikut ini beberapa hal yang berpengaruh pada aspek sosial pasien yang menjalani
dialysis:
1. Emosi
Perasaan takut adalah ungkapan emosi pasien gagal ginjal yang paling sering
diungkapkan. Pasien sering merasa takut akan masa depan yang akan dihadapi dan
perasaan marah yang berhubungan dengan pertanyaan mengapa hal tersebut
terjadi pada dirinya. Ketakutan dan perasaan berduka juga kerap datang karena
harus tergantung seumur hidup dengan alat cuci ginjal. Perasaan ini tidak bisa
dielakan dan seringkali afeksi emosional ini ditujukan kepada sekeliling seperti
pasangan, karyawan dan staf di rumah sakit. Kondisi ini perlu dikenali oleh semua
orang yang terlibat dengan pasien.
2. Gaya Hidup
Gaya hidup pasien akan berubah. Perubahan diet dan pembatasan air akan
membuat pasien berupaya untuk melakukan perubahan pola makannya. Keharusan
untuk kontrol atau melakukan dialisis d rumah sakit juga akan membuat keseharian
pasien berubah. Terkadang karena adanya komplikasi pasien harus berhenti bekerja
dan diam di rumah. Hal- hal ini yang perlu mendapatkan dorongan untuk pasien
agar lebih mudah beradaptasi.
3. Fungsi Seksual
Fungsi seksual pada pasien yang mengalami gagal ginjal akan sering terpengaruh.
Hal ini bisa disebabkan karena faktor organik (perubahan hormonal atau karena
insufisiensi vaskuler pada kasus gagal ginjal dengan diabetes), psikososial
(perubahan harga diri, citra diri dan perasaan tidak menarik lagi) atau masalah fisik
(distensi perut, perasaan tidak nyaman dan keluhan-keluhan fisik akibat uremia).
Masalah pengobatan yang mengganggu fungsi seksual juga bisa menjadi masalah.
4. Perubahan Peran
Perubah peran pasien ESRD yang menjalani terapi dialysis sangat dirasakan oleh
pasien. Seorang yang menjadi tulang punggung keluarga akan berubah seketika.
Kebutuhan hidup yang semula dipenuhi oleh pasien tidak bisa lagi dikerjakan. Hal
ini akan menimbulkan masalah baru dalam keluarga pasien.
4. Intervensi Terhadap Gangguan Psikososial Pada Pasien Dialisis
6|Page
Intervensi psikososial harus dilakukan sedini mungkin sejak diagnosis gagal ginjal
ditetapkan. Hal ini juga membutuhkan usaha yang terus menerus untuk membuatnya
lebih baik.
1. Meningkatkan pengetahuan pasien
Pengetahuan pasien yang baik tentang penyakit yang dideritanya akan mengurangi
kecemasan pasien. Hal ini yang membuat sangat penting bagi perawat untuk
mempunyai keahlian dalam menyediakan informasi yang jelas demi membantu
pasien untuk menentukan tujuan dari perawatan dan membantu pemecahan
masalah untuk kemampuan fungsional fisik yang lebih baik.
2. Penilaian Kondisi
Penilaian kondisi pasien akan menentukan kebutuhan pasien, mengidentifikasi
masalah dan masalah- masalah yang menjadi potensial untuk timbul serta
mengumpulkan informasI untuk rencana pengobatan sehingga bantuan yang sesuai
bisa diberikan.
3. Bina Hubungan Saling Percaya
Bina hubungan saling percaya dengan cara salam terapeutik, beri kesempatan pada
klien untuk mengungkapkan perasaannya, ciptakan lingkungan yang tenang dan
Membesarkan hati dan jika mungkin membuat pasien mampu menerima tanggung
jawab akan kesehatan dan kebahagiaan serta mampu mengisi tanggung jawab
mereka di keluarga dan masyarakat. Pada kondisi ini perawat dapat membesarkan
hati pasien untuk menerima keterbatasan pribadi akibat kondisi sakit dan
pengobatannya. Kondisi-kondisi seperti ini yang bisa memberikan persesi positif
dan pengertian di antara pasien dan petugas kesehatan.
4. Peningkatan Kualitas Hidup
Perawat dapat memfasilitasi adaptasi pasien terhadap hal-hal yang dibutuhkan
sehubungan dengan perawatan dengan memaksimalkan kekuatan pasien dan
mendorong pasien lebi baik lagi. Terapi yang lebih bersifat individu dan
meminimalkan kompleksitasnya dapat membantu perilaku yang lebih kooperatif.
Kegiatan yang membuat pasien meningkatkan kualitas hidup dan pasien mampu
hidup beradaptasi dengan kondisi kronis yang dialaminya, antara lain :
a. Edukasi
b. Motivasi
c. Pemberian dukungan
d. Membesarkan hati
e. Mengajarkan cara membantu diri sendiri
7|Page
f. Monitor diri sendiri
5. Terapi Spiritual Emotional Freedom Technique (SEFT)
Terapi SEFT berpengaruh untuk penurunan tingkat depresi pada pasien hemodialisa.
Unsur kekuatan do’a terapi SEFT efektif dalam :
a. Menurunkan depresi
b. Membuat perasaan tenang
c. Membangkitkan harapan dan rasa percaya diri
d. Menambah keimanan pasien
Sehingga dampak psikologis dari penyakit dan terapi hemodialisa yang dijalani dapat
diatasi dengan terapi ini. Hal yang sama diperkuat oleh teori Hawari (2008) bahwa
terapi psikoreligius dapat membangkitkan harapan (hope), rasa percaya diri (self
confidence) dan keimanan (faith) pada diri seseorang.
6. Support Group
Support group atau dukungan kelompok adalah suatu dukungan oleh kelompok yang
memiliki permasalahan yang sama untuk mengkondisikan dan memberi penguatan pada
kelompok maupun perorangan dalam kelompok. Kelompok yang memiliki problem
yang relatif sama dengan cara sharing informasi tentang permasalahan yang dialami
serta solusi yang perlu dilakukan sekaligus proses saling belajar dan menguatkan, sering
disebut kelompok sebaya. Tujuan utama dari intervensi Support Group adalah
tercapainya kemampuan coping yang efektif terhadap masalah ataupun trauma yang
dialami. Support Group dapat diberikan dalam bentuk :
a. Emotional support
Dukungan dengan melibatkan ekspresi empati, perhatian, pemberian semangat,
kehangatan pribadi, cinta, atau bantuan emosional.
Contohnya :
Bantuan ketika ada anggota kelompok yang mengalami kecemasan saat hemodialisa,
teman dalam kelompok dapat menjadi support koping yang dapat menenangkannya.
b. Esteem support
Dukungan terjadi melalui ekspresi penghargaan yang positif, dorongan yang
semangat, atau persetujuan dengan ide atau perasaan yang dikemukakan individu
serta perbandingan yang positif antara individu dengan orang lain.
Contohnya :
8|Page
Ketika ada subjek pasien yang baru dilakukan Tindakan hemodialisa, temannya
dapat memberikan semangat dan motivasi kepada subjek untuk mampu senantiasa
menjaga kesehatannya.
c. Instrumental support
Pemberian dukungan yang melibatkan bantuan secara langsung, seperti bantuan
finansial ataupun mengerjakan tugas rumah sehari- hari.
Contohnya :
Ketika saat temannya kesulitan saat menuju ke instalasi hemodialisa, teman lainnya
dapat membantu bersama menuju ke ruang tersebut.
d. Informational support
Dukungan diberikan dalam bentuk saran, penghargaan dan umpan-balik
mengenai cara menghadapi atau memecahkan masalah yang ada.
Contohnya :
Ketika pasien baru menjalani hemodialisis tidak persyaratan yang harus
dilengkapi untuk HD menggunakan BPJS, maka teman pasien membantu
menginformasikan syarat-syarat yang diperlukan.
e. Companionship support
Dukungan diberikan dalam bentuk kebersamaan sehingga individu merasa
sebagai bagian dari kelompok. Keterlibatan subjek dalam sebuah kelompok
pasien hemodialisa.
Kebersamaan yang ada dalam kelompok subjek yaitu saling berbagi pengalaman,
kekuatan dan harapan.
Contohnya:
Pasien diikut sertakan dalam komunitas pasien hemodialisis yang sudah ada.
5. Peran dan Dukungan Keluarga
Menurut Friedmen (1998) bahwa peran dan dukungan keluarga dapat diberikan dalam
beberapa bentuk, yaitu: dukungan informasi, dukungan penghargaan, dukungan
peralatan, dan dukungan emosional.
Perubahan pola kehidupan keluarga mungkin diperlukan untuk memenuhi kebutuhan
pasien. Pasien dan keluarga harus dibantu untuk menceritakan perasaan mereka dalam
9|Page
suatu hubungan saling percaya agar dapat menyesuaikan dengan proses adaptasi dari
sakit pasien. Perasaan bersalah, kesedihan dan kehilangan yang sangat dan sering terjadi
pada pasangan pasien.
Bentuk peran dan dukungan yang bisa diberikan oleh keluarga pasien HD antara lain :
1. Selalu memberikan motivasi dan dukungan kepada pasien supaya pasien
menjadi semangat dan termotivasi untuk melanjutkan aktivitas dalam kehidupannya.
2. Selalu menemani ketika pasien menjalani hemodialisis dan harus selalu ada di
saat
dibutuhkan oleh pasien.
3. Selalu menjaga pola makan pasien.
4. Memahami, tapi bukan berarti memanjakan pasien.
5. Harus bisa menahan emosi, jangan terbawa marah pada saat pasien marah
6. Berfikir positif
10 | P a g e
11 | P a g e
No Standar Diagnosa Keperawatan Standar Luaran Keperawa
Indonesia (SDKI) (SLKI)
1. Ansietas (D.0080) Luaran Utama
Definisi : Tingkat Ansietas (L.09093)
kondisi emosi dan pengalaman subjektif Definisi :
individu terhadap objek yang tidak jelas Kondisi emosi dan pengalaman su
dan spesifik akibat antisipasi bahaya yang obyek yang tidak jelas dan spesifik
memungkinkan individu melakukan yang memungkinkan individu mel
tindakan untuk menghadapi ancaman. untuk menghadapi ancaman
Penyebab : Ekspektasi : menurun
1. Krisis situasional Kriteria Hasil :
2. Kebutuhan tidak terpenuhi Mening Cukup
3. Krisis maturasional kat Mening
4. Ancaman terhadap konsep diri
5. Ancaman terhadap kematian kat
6. Kekhawatiran mengalami
Verbalisasi 12
kebingungan
Verbalisasi khawatir
kegagalan akibat kondisi yang di 1 2
7. Disfungsi fungsi keluarga hadapi
8. Hubungan orang tua anak tidak Perilaku gelisah 1 2
Perilakuk tegang 1 2
memuaskan Keluhan pusing 1 2
9. Faktor keturunan (temperamen, Anoreksia 1 2
Palpitasi 1 2
mudah teragitasi sejak lahir)
10. Penyalahgunaan zat Frekuansi 12
11. Terpapar bahaya lingkungan pernapasan
Frekuensi nadi 12
(semisal toksin, polutan dan lain- Tekanan darah 12
lain) Diaforesis 12
12. Kurang terpapar informasi Tremor 12
Gejala dan tanda Mayor : Pucat 12
Subyektif :
Merasa bingung
Merasa khawatir dengan akibat
dari kondisi yang dihadapi
Sulit berkomunikasi
watan Indonesia Standar Intervensi Keperawatan Indonesia
(SIKI)
ubyektif terhadap
k antisipasi bahaya Intervensi Utama
lakukan tindakan Reduksi Ansietas (I.09314)
Definisi :
Se Cukup Menu Mencerminkan kondisi individu dan pengalaman subyektif
dang Menu run terhadap obyek yang tidak jelas dan spesifik akibat antisipasi
bahaya yang memungkinkan individu melakukan tindakan
run 5 untuk menghadapi ancaman.
Tindakan :
34 Observasi
34 5 Identifikasi saat tingkat ansietas berubah (mis. Kondisi,
waktu, stressor)
34 5
34 5 Identifikasi kemampuan mengambil keputusan
34 5 Monitor tanda-tanda ansietas (verbal dan nonverbal)
34 5 Terapeutik
34 5 Ciptakan suasana terapeutik untuk menumbuhkan
34 5 kepercayaan
Temani pasien untuk mengurangi kecemasan, jika
34 5
34 5 memungkinkan
34 5 Pahami situasi yang membuat ansietas
34 5 Dengarkan dengan penuh perhatian
34 5 Gunakan pendekatan yang tenang dan meyakinkan
Tempatkan barang pribadi yang memberikan
kenyamanan
Motivasi mengidentifikasi situasi yang memicu
kecemasan
Diskusikan perencanaan realistis tentang peristiwa
ynag akan datang
Edukasi
Jelaskan prosedur, termasuk sensasi yang mungkin
dialami
Informasikan secara factual mengenai diagnosis,
12 | P a g e
Obyektif : Membu Cukup
Tampak gelisah ruk Membu
Tampak tegang
Sulit tidur ruk
Tanda dan Gejala Minor : Konsentrasi 12
Subyektif : Pola tidur
Perasaan 12
Mengeluh pusing keberdayaan
Anoreksia Kontak mata 12
Palpitasi Pola berkemih
Merasa tidak berdaya Orientasi 12
Obyektif : 12
Frekuensi nafas meningkat 12
Frekuensi nadi meningkat
Diaforesis Luaran Tambahan
Tremor 1. Dukungan sosial
Muka tampak pucat 2. Harga diri
Suara bergetar 3. Kesadaran diri
Kontak mata buruk 4. Kontrol diri
Sering berkemih 5. Proses informasi
Berorientasi pada masa lalu 6. Status kognitif
Kondisi Klinis Terkait : 7. Tingkat agitasi
1. Penyakit kronis progresif (CKD, 8. Tingkat pengetahuan
kanker, penyakit autoimun dll)
2. Penyakit akut
3. Hospitalisasi
4. Rencana operasi
5. Kondisi diagnosis penyakit belum
jelas
6. Penyakit neurologis
7. Tahap tumbuh kembang
Se Cukup Mem pengobatan dan prognosis
dang Mem baik Anjurkan keluarga untuk tetap bersama pasien, jika
baik
5 perlu
34 5 Anjurkan melakukan kegiatan yang tidak kompetitif,
5
34 sesuai kebutuhan
Anjrkan mengungkapkan perasaan dan persepsi
34 Latih kegiatan pengalihan untuk mengurangi
34 5 ketegangan
34 5 Latih penggunaan mekanisme pertahanan diri yang
34 5
tepat
Latih tehnik relaksasi
Kolaborasi
Kolaborasi pemberian obat antiansietas, jika perlu
Terapi Relaksasi (I.09326)
Definisi :
Menggunakan tehnik peregangan untuk mengurangi tanda dan
gejala ketidaknyamanan sperti nyeri, ketegangan otot atau
kecemasan
Tindakan :
Observasi
Identifikasi penurunan tingkat energy,
ketidakmampuan berkonsentrasi atau gejala lain yang
mengganggu kemampuan kognitif
Identifikasi tehnik relaksasi yang pernah efektif
digunakan
Identifikasi kesedian, kemampuan dan penggunaan
tehnik sebelumnya
Periksa ketegangan otot, frekuensi nadi, tekanan darah
dan suhu sebelum dan sesudah latihan
Monitor respon terhadap terapi relaksasi
13 | P a g e
Terapeutik
Ciptakan lingkungan tenang dan tanpa gangguan
dengan pencahayaan dan suhu yang nyaman jika
memngkinkan
Berikan informasi tertulis tentang persiapan dan
prosedur tehnik relaksasi
Gunakan pakaian longgar
Gunakan nada suara lembut dan irama lambat dan
berirama
Gunakan relaksasi sebagai strategi penunjang dengan
analgetik atau tindakan medis lain jika sesuai
Edukasi
Jelaskan tujuan, manfaat, batasan dan jenis relaksasi
yang tersedia (missal musik, meditasi, nafas dalam,
relaksasi otot progresif)
Jelaskan secara rinci intervensi relaksasi yang dipilih
Anjurkan mengambil posisi nyaman
Anjurkan rileks dan merasakan sensasi relaksasi
Anjurkan sering mengulangi atau melatih tehnik yang
dipilih
Demontrasikan dan latih tehnik relaksasi ( missal nafas
dalam atau imjinasi terbimbing
Intervensi Pendukung
Bantuan Kontrol Marah
Biblioterapi
Dukungan Emosi
Dukungan Hipnosis Diri
Dukungan Kelompok
Dukungan Keyakinan
Dukungan Memaafkan
Dukungan Pelaksanaan Ibadah
14 | P a g e
Dukungan Pengungkapan Kebutuhan
Dukungan Proses Berduka
Intervensi Krisis
Konseling
Manajemen Demensia
Persiapan Pembedahan
Teknik Distraksi
Terapi Hipnosis
Teknik Imajinasi Terbimbing
Teknik Menenangkan
Terapi Biofeedback
Terapi Diversional
Terapi Musik
Terapi Penyalahgunaan Zat
Terapi Relaksasi Otot Progresif
Terapi Reminisens
Terapi Seni
Terapi Validasi
15 | P a g e
16 | P a g e
DAFTAR PUSTAKA
John T. Daugirdas, Peter G. Blake, Todd S; hand book of Dialisis, Fifth Edition. 2015
Wolters
Kluwer Health
Suhail Ahmad, Manual of Clinical Dialisis, Second Edition. 2009. University of Washington,
Scribner Kidney Center
Nicola Thomas, Renal Nursing, Fourth Edition. 2014. London South Bank University
Widiana Raka, Suardana Ketut; Terapi Dialisis. 2017, Udayana University
Townsend, M.C, (1998). Buku Saku Diagnosa Keperawatan Pada Keperawatan
Psikitari
(terjemahan), Edisi 3, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta
Hawari, D, 2008. Manajemen stress cemas dan depresi. Edisi 2. Jakarta:Balai penerbit FKUI
Kurella et.,al, 2005. Management of depression in hemodialysis patient. The CANNT Journal
Lazuardi, 2016. Pengaruh Intervensi Support Group Terhadap Kualitas Hidup Pasien
Penyakit
Ginjal Kronis Yang Menjalani Hemodialisa.eprints.undip.ac.id/51595/
Vázquez, I., Valderrábano, F., Fort, J., Jofré, R., López- Gómez, J., Moreno, F., &
SanzGuajardo, D. (2005). Psychosocial Factors and Health-Related Quality of Life in
Hemodialysis Patients. Quality of Life Research, 14(1)
17 | P a g e
KONSEP DASAR CAPD
1. Deskripsi Singkat
Pemilihan terhadap calon pasien peritoneal dialisis sangat penting untuk
menunjang keberhasilan peritoneal dialisis, pelatihan sebelum dialisis adalah ujung
tombak dari persiapan peritoneal dialisis, hubungan dokter,pasien/keluarga, perawat
memainkan peran penting untuk keberhasilan peritoneal dialisis, kualitas sumber daya
manusia adalah syarat mutlak untuk keberhasilan dari persiapan peritoneal dialisis.
Persiapan peritoneal dialisis seharusnya dilakukan dengan pendekatan sebagai tim /
multidisiplin.
2. Tujuan Pembelajaran
A. Tujuan Pembelajaran Umum (TPU)
Setelah mengikuti materi ini, peserta pelatihan mampu menjelaskan mengenai
konsep dasar CAPD.
B. Tujuan Pembelajaran Khusus (TPK)
Setelah mengikuti materi ini peserta dapat :
1. Peserta mampu mengetahui seleksi terhadap calon pasien peritoneal dialisis
2. Peserta mampu mengetahui persiapan terhadap calon pasien peritoneal
dialisis
3. Peserta mampu mengetahui dasar – dasar peritoneal dialysis
4. Peserta mampu mengetahui komplikasi dari peritoneal dialysis
3. Pokok Bahasan Dan Atau Sub Pokok Bahasan
A. Pokok Bahasan
Pokok bahasan yang akan disampaikan adalah menjelaskan tentang konsep
dasar CAPD.
B. Sub Pokok Bahasan
1. Penentuan seleksi calon pasien peritoneal dialisis
2. Persiapan yang diperlukan untuk calon pasien peritoneal dialisis
3. Pengkajian tentang teori dasar peritoneal dialisis
4. Pengkajian tentang komplikasi dari peritoneal dialisis
494 | P a g e
4. Bahan Belajar
Bahan belajar yang diperlukan adalah masalah materi konsep dasar CAPD.
5. Langkah-Langkah Kegiatan Pembelajaran
N PROSES PEMBELAJARAN
WAKTU
Kegiatan Pengampu Kegiatan Peserta
O
1. 10 menit Pembukaan: 1. Menjawab salam
1. Salam 2. Mendengarkan dan
2. Penjelasan mata ajar konsep dasar CAPD. memperhatikan
3. Bertanya
2. 60 menit 1. Penentuan seleksi calon pasien peritoneal 1. Menganalisis
dialisis 2. Menjawab
2. Persiapan yang diperlukan untuk calon 3. Mencatat
pasien peritoneal dialisis 4. Bertanya
3. Pengkajian tentang teori dasar peritoneal
dialisis
4. Pengkajian tentang komplikasi dari
peritoneal dialisis
3. 20 menit Penutup:
1. Menyimpulkan pertemuan
2. Menanyakan konsep konsep dasar CAPD. 1. Memperhatikan
2. Menjawab
495 | P a g e
Uraian Materi
KONSEP CAPD
Penyakit ginjal kronik adalah penyakit yang menjadi epidemi global. Hal ini
disebabkan karena penderita gagal ginjal stadium akhir dari tahun ke tahun terus meningkat.
Pada tahun 1990 sebanyak 426.000, pada tahun 2003 sebanyak 1.681.000, dan pada tahun
2010 sebanyak 2.095.000.
Dialisis yang saat ini berkembang adalah Hemodialisa dan Peritoneal dialisa.
Beberapa keunggulan dari Hemodialisa ; dilakukan oleh tenaga medis, adanya sosialisasi di
tempat HD, dan dilakukan dalam waktu yang relatif singkat. Sedangkan keunggulan
peritoneal dialisis; dapat dilakukan secara mandiri dan lebih bebas, restriksi dari cairan dan
makanan lebih bebas, tidak membutuhkan penambahan heparin, dan kadar hematokrit lebih
tinggi. Beberapa kekurangan dari hemodialisis ; timbulnya rasa lelah pada hari dimana
dilakukan proses dialisis, hemodinamika menjadi kurang stabil, resiko penularan terhadap
infeksi “ blood – borne” lebih tinggi, dan adanya penambahan heparin. Kekurangan pada
terapi peritoneal dialisis ; prosedur penggantian cairan yang dirasakan sulit pada orang –
orang tertentu, resiko peritonitis, dan adanya resiko malnutrisi dan peningkatan kadar gula
darah.
Komponen penting yang diperlukan untuk program peritoneal dialisis adalah sumber
daya manusia, fasilitas, protokol, dan pengetahuan tentang prinsip peritoneal dialisis.
Sumber daya manusia yang diperlukan adalah suatu tim yang terdiri dari nefrologis,
perawat, ahli bedah, dan anggota tim lainnya ( ahli gizi, dokter muda, fisioterapis, ahli
mikrobiologi, social worker, dan manager. Fasilitas yang dibutuhkan cukup sederhana,
terdiri dari 1-2 ruang konsultasi, tempat pelatihan untuk 3-5 pasien, tempat duduk, telefon.
Protokol dan pengetahuan yang perlu disiapkan adalah protokol keperawatan, clinical
pathway, peritoneal clinical flow, edukasi ke pasien, rencana untuk peritoneal pada pasien.
Catatan medis pasien peritoneal dialisis meliputi foto pasien, rekam medis dan data
demografik, hasil tes laboratorium, penggunaan obat, clinical assesment, hasil dari
perkembangan dialisis, status gizi, catatan diet pasien, dokumentasi peritonitis dan
perawatan selang dialisis, catatan saat rawat inap, assesent scale ( status mental, riwayat
496 | P a g e
sosial ekonomi), catatan kadar gula darah dan perawatan kaki diabetes pada penderita
diabetes, dan dokumen perawatan secara elektronik.
Seleksi pasien berperan penting dalam keberhasilan peritoneal dialisis mengingat
peritoneal dialisis membutuhkan kemandirian pasien, maka seleksi pasien tidak hanya
terbatas pada indikasi dan kontra indikasi medis/non medis, tetapi perlu mempertimbangkan
beberapa persyaratan lain nya. Seleksi pasien dilakukan oleh dokter spesialis penyakit
dalam yang sudah mengikuti pelatihan peritoneal dialisis atau konsultan ginjal hipertensi.
Edukasi ke pasien dan keluarga berisikan penjelasan yang lengkap tentang perjalanan
penyakitnya, resiko yang akan timbul, termasuk terapi dialisis atau transplantasi. Terapi
pengganti ginjal (TPG) adalah terapi secara terus menerus, perlu persiapan dan penyesuaian
diri. Pilihan dari TPG tergantung dari pasien/keluarga. Indikasi TPG adalah penyakit ginjal
kronis (PGK) stadium 5 yang memerlukan dialisis. Persyaratan calon peserta peritoneal
dialisis adalah pasien mandiri atau ada yang membantu, tinggal di tempat yang bersih dan
lingkungan yang sehat, bersedia menjalani pelatihan intensif dan mematuhi prosedur.
Kontraindikasi absolut dari peritoneal dialisis adalah kesulitan teknis melakukan
prosedur peritoneal dialisis, luka yang luas di dinding abdomen, perlekatan luas dalam
rongga peritoneum (akibat operasi abdomen, dan riwayat inflamasi), tumor atau infeksi di
dalam rongga abdomen ( adnexitis), riwayat ruptur divertikel, hernia berulang yang tidak
dapat dikoreksi, fistel antara peritoneum dan rongga pleura, tidak dapat melakukan
peritoneal dialisis (PD) secara mandiri. Kontra indikasi relatif terhadap peritoneal dialisis
adalah obesitas tanpa residual renal function, gangguan jiwa, gangguan penglihatan, hernia,
penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), inflamasi kronik saluran cerna.
Mekanisme transpor pada peritoneal dialisis meliputi pergerakan solut, pergerakan air
(ultrafiltrasi), dan absorpsi.
Pergerkan solut, meliputi :
1. Difusi
a. Perbedaan konsentrasi solut antara cairan dialisa dalam rongga peritoneum dan
darah.
b. Permukaan peritoneum yang efektif
c. Resistensi membran peritoneum
d. Berat molekul solute
497 | P a g e
2. Konveksi
Pergerakan solut mengikuti pergerakan air pada ultrafiltrasi. Konveksi diukur dengan
sieving-coefficient (S), rasio antara kadar solut dalam ultrafiltrasi dan kadar solut
dalam plasma. S = (1 – rc), rc adalah koefisien refleksi (0-1). Pergerakan solut dari
rongga peritoneum ke kompartemen vaskuler melalui proses difusi dapat terjadi pada
solut osmotik yang dipakai pada dialisis peritoneal seperti glukosa, gliserol, dan asam
amino. Sekitar 66 % dari total gukosa pada cairan dialisat berdifusi ke kompartemen
vaskuler.
Pergerakan air (ultrafiltrasi) terjadi di membran peritoneum yang memiliki pori
saluran air (water channels) dengan ukuran diameter ultra kecil (3 sampai 5 A) yaitu
aquaporin-1. Aquaporin-1 hanya permeabel terhadap air, berada di endotel kapiler
peritoneum. Pergerakan air dimungkinkan oleh perbedaan tekanan osmotik. Gerakan air
melalui aquaporin-1 hanya sekitar 40% dari ultrafiltrasi total. Sisa 60 % melalui rute
paraseluler. Gerakan air dengan cara ini tidak dipengaruhi oleh perbedaan osmotik, akan
tetapi dipengaruhi oleh faktor non osmotik. Ultrafiltrasi dipengaruhi oleh ; konsentrasi zat
osmotik (glukosa pada cairan dialisat), permukaan peritoneum yang efektif, kemampuan
konduktan membran peritoneum, koefisien refleksi zat osmotik (0-1). Semakin rendah
koefisien, maka kemampuan osmotik semakin rendah perbedaan tekanan hidrostatik di
intrakapiler (20 mmHg) dengan rongga peritoneum (7 mmHg). Perbedaan bertambah pada
overhidrasi dan berkurang pada keadaan dehidrasi. Perbedaan tekanan onkotik di
intrakapiler dengan rongga peritoneum. Pada keadaan hipoalbuminemia, ultrafiltrasi juga
berkurang.
Absorbsi melalui pembuluh limfe sebanyak 1-2 ml/menit. 0,2-0,4 ml/menit langsung
masuk ke pembuluh limfe dan sisanya melalui peritoneum parietal masuk ke pembuluh
limfe.
498 | P a g e
Komposisi cairan dialisat
Cairan dialisat 1.5% 2,5% 4,25%
Sodium 132 132 132
Potassium 0 0 0
Chloride 96 96 96
Calcium 3.5 3.5 3.5
Magnesium 0.5 0.5 0.5
Laktat 40 40 40
Glukosa 1360 2270 3860
Ph 5.2 5.2 5.2
Osmolalitas 345 395 484
499 | P a g e
Komplikasi peritoneal dialisis meliputi peritonitis/infeksi dan nonperitonitis/ non
infeksi. Infeksi pada peritoneal dialisis meliputi peritonitis (infeksi pada peritoneum) dan
exit-site and tunnel infection. Tujuan dari pengobatan peritonitis adalah mempercepat
penyembuhan peritonitis dan menjaga fungsi dari membran peritoneum. 18 % dari infeksi
menyebkan kematian pada peritoneal dialisis (PD), memicu kerusakan membran peritoneum,
500 | P a g e
penyebab utama gagalnya tehnik peritoneal dialisis, penyebab utama dari berhentinya
peritoneal dialisis dan beralih menjadi hemodialisis.
Tanda – tanda dari exit-site infection adalah keluarnya pus, dengan atau tanpa eritema
dari kulit pada kontak antara kateter dan kulit. Tanda infeksi pada tunnel infection adalah
eritema, edema atau bengkaknya lapisan subcutan.
Komplikasi non infeksi pada peritoneal dialisis adalah
1. Mekanik ; ( hernia, kebocoran dinding abdomen dan perikateter, perubahan posisi
ujung kateter, drainage inadekuat, edema genital, nyeri punggung, komplikasi
respirasi (hidrotoraks, perubahan mekani pernafasan)
2. Metabolik ; (gangguan absorbsi glukosa, hiperglikemia, obesitas,
dislipidemia/abnormalitas lipid (total kolesterol, LDL, trigliserid), protein loss,
hipo/hiper natrium, hipo/hiper kaliun, hipo/hiper calcium, magnesium dan kalsifikasi
vaskuler, hipo/hiper fosfatemi, asidosis metabolik
3. Status volume dan overload ; kegagalan ultrafiltrasi, hipertensi, hipotensi
4. Berkaitan dengan peningkatan tekanan intra abdomen ; hidrotoraks, hernia, edema
dinding abdomen, hidrokel/edema vulva atau skrotum, nyeri punggung, daugirdas
5. Lain – lain ; hemoperitoneum, encapsulating peritoneal sclerosis, peritonitis
eosinofilik
Komplikasi yang berhubungan dengan kateter ; aliran yang gagal (outflow
failure), kebocoran perikateter, hernia dinding abdomen, kaff kateter yang
bergeser/lepas, perforasi usus halus. Komplikasi yang tidak berhubungan dengan
kateter ; GERD, nyeri belakang/perut, hernia dinding abdomen, efusi pleura, darah
dalam rongga peritoneum (hemoperitoneum), kegagalan ultrafiltrasi, sklerosis
peritoneal, metabolik.
REFERENSI
501 | P a g e
1. Emedicinehealth.Hemodialysis comared to peritoneal dialysis.2010; WebMD.
Peritoneal Dialysis.2009
2. Daugirdas J.T., blake, P.G., ing T.S., Handbook of dialysis. 4th Ed. Philadelphia:
lipincott williams & wilkins, 2007. P410-452.
3. Saxena R. West C. Peritoneal Dialysis : A primary care prespective. J Am Board
Fam Med. 2006. Vol 19 No.4 p.380-389
4. Kontamwar A Abhijit. Clinical Assistant Professor of Internal Medicine at
NEOUCOM (Northeastern Ohio Universitas Colleges of medicine and
pharmacy). Lecture Slide : Complications of Peritoneal Dialysis. Uploaded
March 2011.
502 | P a g e
ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN CAPD
1. Deskripsi Singkat
Asuhan keperawatan adalah proses pemberian pelayanan perawat
kepada kliennya,dengan harapan dapat membantu keluhan kliennya tersebut.Dengan
beberapa tahapan dari pengkajian sampai evaluasi.Pada tahap pengkajian klien akan
mengutarakan keluhan kliennya,klien yang dilakukan CAPD(Continues Ambulatori
Peritoneal Dialisis)
Maka dari itu asuhan keperawatan pada pasien CAPD (Continues Ambulatori
Peritoneal Dialisis) merupakan pengganti salah satu penyakit gagal ginjal kronis.
Perawat bekerja dihadapkan pada suatu tuntutan agar memberikan layanan yang
berkualitas dan aman sesuai dengan kaidah-kaidah profesi dalam kode etik perawat.
2. Tujuan Pembelajaran
A. Tujuan Pembelajaran Umum (TPU)
Setelah mengikuti materi ini, peserta pelatihan mampu menjelaskan asuhan
keperawatan pasien CAPD.
B. Tujuan Pembelajaran Khusus (TPK)
Setelah mengikuti materi ini peserta dapat :
1. Melakukan pengkajian pada klien dengan CAPD
2. Menentukan diagnosa keperawatan dan intervensi keperawatan
3. Pokok Bahasan Dan Atau Sub Pokok Bahasan
A. Pokok Bahasan
Pokok bahasan yang akan disampaikan adalah menjelaskan tentang asuhan
keperawatan pasien CAPD.
B. Sub Pokok Bahasan
1. Pengkajian pada klien dengan CAPD
2. Penentuan diagnosa keperawatan dam intervensi keperawatan
4. Bahan Belajar
Bahan belajar yang diperlukan adalah masalah materi asuhan keperawatan
pasien CAPD.
503 | P a g e
5. Langkah-Langkah Kegiatan Pembelajaran
N PROSES PEMBELAJARAN
WAKTU
Kegiatan Pengampu Kegiatan Peserta
O
1. 10 menit Pembukaan: 1. Menjawab salam
1. Salam 2. Mendengarkan dan
2. Penjelasan mata ajar asuhan keperawatan memperhatikan
pasien CAPD. 3. Bertanya
2. 60 menit 1. Pengkajian pada klien dengan CAPD 1. Menganalisis
3. 20 menit
2. Penentuan diagnosa keperawatan dam 2. Menjawab
intervensi keperawatan 3. Mencatat
4. Bertanya
Penutup: 1. Memperhatikan
1. Menyimpulkan pertemuan
2. Menanyakan konsep asuhan keperawatan 2. Menjawab
pasien CAPD.
504 | P a g e
URAIAN MATERI
ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN CAPD
1. Pengkajian pada klien dengan CAPD
Peritoneal dialysis adalah suatu proses dialysis di dalam rongga perut yang
bekerja sebagai penampung cairan dialysis, dan peritoneum sebagai membrane
semi permeable yang berfungsi sebagai tempat yang dilewati cairan tubuh yang
berlebihan & solute yang berisi racun yang akan dibuang. Cairan dimasukkan
melalui sebuah selang kecil yang menembus dinding perut ke dalam rongga perut.
Cairan harus dibiarkan selama waktu tertentu sehingga limbah metabolik dari
aliran darah secara perlahan masuk ke dalam cairan tersebut. Kemudian cairan
dikeluarkan, dibuang dan diganti dengan cairan yang baru. Biasanya digunakan
selang karet silikon yang lembut atau selang poliuretan yang berpori-pori,
sehingga cairan mengalir secara perlahan dan tidak terjadi kerusakan.
Rongga peritoneum adalah bagian dari perut yang membungkus organ-organ,
seperti lambung, ginjal, usus, dll. Di dalam rongga perut ini terdapat banyak sel-
sel darah kecil (kapiler) yang berada pada satu sisi dari membran peritoneum dan
cairan dialysis pada sisi yang lain. Rongga peritoneum berisi + 100ml cairan yang
berfungsi untuk lubrikasi / pelicin dari membran peritoneum. Pada orang dewasa
normal, rongga peritoneum dapan mentoleransi cairan > 2 liter tanpa
menimbulkan gangguan.
Membran Peritoneum
Membran peritoneum merupakan lapisan tipis bersifat semi permeable. Luas
permukaan + 1,55m2 yang terdiri dari 2 bagian, yaitu:
a. Bagian yang menutupi / melapisi dinding rongga perut (parietal peritoneum),
+ 20% dari total luas membran peritoneum.
b. Bagian yang menutup organ di dalam perut (vasceral peritoneum), + 80% dari
luas total membran peritoneum.
Total suplai darah pada membran peritoneum dalam keadan basal + 60 – 100
ml/mnt.
505 | P a g e
2. Penentuan diagnosa dan intervensi keperawatan
a. Pengkajian Riwayat Penyakit
- Riwayat kesehatan umum, meliputi Gangguan /penyakit yang lalu,
berhubungan dengan penyakit sekarang. Contoh: ISPA
- Riwayat kesehatan sekarang,Meliputi; keluhan/gangguan yang
berhubungan dengan penyakit saat ini. Seperti; mendadak, nyeri
abdomen,Pinggang, edema.
b. Pengkajian Pemeriksaan Fisik
1. Aktivitas/istirahat
Gejala:Kelemahan/malaise,kelelahan,estrem,
Tanda: Kelemahan otot, kehilangan tonus otot, penurunan rentang gerak
2. Sirkulasi
Gejala: Riwayat hipertensi lama/berat
Tanda: Hipertensi, pucat,edema
3. Eliminasi
Gejala: Penurunan frekuensi urine, perubahan pola berkemih (oliguri),
anuria
Tanda: Perubahan warna urine (kuning pekat, merah)
4. Makanan/cairan
Gejala: Peningkatan BB (edema), anoreksia, mual,muntah
Tanda: Distensi abdomen/asites, Penurunan haluaran urine
5. Pernafasan
Gejala: Nafas pendek, dispnea noktural paroksismal
Tanda: Takipnea, dispnea, peningkatan frekwensi, kedalaman (pernafasan
kusmaul)
6. Nyeri/kenyamanan
Gejala: nyeri pinggang, sakit kepala, keram otot/nyeri kaki
Tanda: perilaku berhati-hati/distraksi, gelisah
c. Pemeriksaan Penunjang
Pada laboratorium didapatkan:
- Hb menurun
- Ureum dan serum kreatinin meningkat
- Elektrolit serum (natrium meningkat)
506 | P a g e
- urinalisis (BJ. Urine meningkat, albumin, Eritrosit , leukosit)
Pada rontgen:
IVP abnormalitas pada sistem penampungan (Ductus koligentes)
d. Diagnosa keperawatan yang muncul
1. Resiko tinggi kelebihan volume cairan berhubungan dengan tidak
adekuatnya osmotik dialisat
Intervensi :
Pertahankan pencatatan volume masuk dan keluar
Kaji patensi kateter
Miring dari satu sisi ke sisi lain, tinggikan kepela tempat tidur, lakukan
tekanan perlahan pada abdomen
Tambahkan Heparin pada dialisa awal, bantu irigasi kateter dengan
garam faal heparinisasi
2. Nyeri berhubungan dengan infeksi dlam rongga peritoneal
Intervensi :
Kaji tingkat Nyeri
Perhatikankeluhgan nyeri pada daerah bahu
Tinggikan kepela tempat tidur pada Interval tertentu
Dorong penggunaan teknik relaksasi
Berikan analgetik sesuai indikasi
3. Resiko tinggi pola napas efektif pola napas berhubungan dengan
keterbatasan pengembangan diafragma
Intervensi :
Awasi frekuensi/upaya pernapasan
Auskultasi paru, perhatikan penurunan atau bunyi nafas atventisius,
contoh gemericik
Perhatikan kateter, jumlah dan warna sekresi
Tnggikan kepala tempat tidur, tingkatkan latihan nafas dalam dan batuk
Berikan analgetik sesuai indikasi
4. Resiko tinggi terhadap trauma berhubungan dengan kateter dimasukkan
kedalam rongga peritoneal
Intervensi:
507 | P a g e
Biarkan Pasien mengosongkan kandung kemih sebelum pemasangan
kateter
Benamkan kateter/selang dengan plester
Perhatikan adanya bahan fekal dalam dialisat
Hentikan dialysis bila ada bukti perforasi usus
REFERENSI
1. Pannekeet MM,Imholz AL,Struijk DG,et al.1995.The standard peritoneal
permeability analysis:a tool for the assesment of peritoneal permeability
characteristic s in CAPD patients.Kidney Int
2. Teitelbaum I,Burkart J.2003.Peritoneal dialysis.Am J Kidney Dis
3. Twardowski ZJ,Nolph KD,Khanna R,et al.1987.Peritoneal equilibration test
508 | P a g e
PROSEDUR PERGANTIAN CAIRAN CAPD
1. Deskripsi Singkat
Prosedur pergantian cairan CAPD adalah Suatu proses pergantian
cairan CAPD (Continues Ambulatori Peritoneal Dialisis) yang dilakukan di rongga
peritoneum dengan melalui proses fase pengeluaran, fase pengisian dan fase dwilling
di dalam di rongga peritoneum
2. Tujuan Pembelajaran
A. Tujuan Pembelajaran Umum (TPU)
Setelah megikuti materi ini, peserta pelatihan dapat melakukan prosedur
penggantian cairan CAPD
B. Tujuan Pembelajaran Khusus (TPK)
Setelah mengikuti materi ini peserta dapat :
1. Menjelaskan pengertian pergantian cairan CAPD
2. Menjelaskan fase- fase dalam pergantian cairan CAPD
3. Menjelaskan hal yang perlu diperhatikan
4. Melakukan prosedur kerja pergantian cairan CAPD
3. Pokok Bahasan Dan Atau Sub Pokok Bahasan
A. Pokok Bahasan
Pokok bahasan yang akan disampaikan adalah Prosedur pergantian cairan CAPD
B. Sub Pokok Bahasan
1. Pengertian pergantian cairan
2. Fase-fase dalam pergantian cairan
3. Prosedur kerja pergantian cairan
4. Bahan Belajar
Bahan belajar yang diperlukan adalah materi prosedur pergantian cairan
CAPD
509 | P a g e
5. Langkah-Langkah Kegiatan Pembelajaran
N PROSES PEMBELAJARAN
WAKTU
Kegiatan Pengampu Kegiatan Peserta
O
1. 10 menit Pembukaan: 1. Menjawab salam
1. Salam 2. Mendengarkan dan
2. Penjelasan mata ajar prosedur penggantian memperhatikan
cairan CAPD 3. Bertanya
2. 150 menit 1. Pengertian pergantian cairan 1. Menganalisis
2. Fase-fase dalam pergantian cairan 2. Menjawab
3. Prosedur kerja pergantian cairan 3. Mencatat
4. Bertanya
3. 20 menit Penutup:
1. Menyimpulkan pertemuan
1. Memperhatikan
2. Menanyakan konsep prosedur penggantian 2. Menjawab
cairan CAPD
510 | P a g e
URAIAN MATERI
PROSEDUR PERGANTIAN CAIRAN CAPD
a. Pengertian pergantian cairan CAPD adalah
Suatu proses pergantian cairan CAPD (Continues Ambulatori Peritoneal Dialisis)
yang dilakukan di rongga peritoneum dengan melalui proses fase
pengeluaran,fase pengisian dan fase dwilling di dalam di rongga peritonium
b. Fase-fase dalam pergantian cairan
Fase pengeluaran
Cairan akan dikeluarkan dari kavum peritonium dengan gaya gravitasi.Normal
memerlukan waktu 20 menit untuk 2 liter cairan dianel
Faktor-faktor yang mempengaruhi kecepatan aliran:
1. Bentuk/konfigurasi kateter,posisi kateter
2. Sumbatan pada kateter
3. Tekanan intra abdomen
4. Diameter dan panjang kateter
5. Tinggi dari abdomen ke kantong pembuangan
Fase pengisian
Cairan dialisis akan mengakir ke dalam cavum peritonium dengan gaya
gravitasi melalui sistem manual.Normal memerlukan waktu 10 menit untuk 2
liter cairan dianel
Faktor-faktor yang mempengaruhi kecepatan aliran
1Tingginya letak cairan
2.Diameter dari kateter
3.Panjang kateter
4.Bentuk/konfigurasi dari kateter
5.Tekanan intra abdomen
Fase dwilling
Cairan akan didiamkan cavum peritonium selama 4-6 jam (max 6 jam
terkecuali pada malam hari) sehingga akan terjadi osmosis dan ultrafiltrasi
511 | P a g e
antara cairan dianel dan cairan pasien untuk menurut ureun kreatinin dan
cairan.
c. Prosedur kerja pergantian CAPD
1.Siapkan tempat pergantian cairan
2.Siapkan perlengkapan
3.Cuci tangan dan gunakan masker
4.Periksa cairan
5.Tinggal waktu kadaluwarsa cairan
6.Siapkan cairan CAPD sesuai kebutuhan
7.Keluarkan Transfer Set dari pasien
8.Pasang ultra clem pada selang
9.Patahkan frangible
10.Tarik pulring dari kantong cairan
11.Sambungkan kateter set pada cairan
12.Pasang ultra clem pada selang pengeluaran
13.Putus sambungan koneksi twinbag dari transfer set
14.Pasang minicap
15Cek pada drin bag apakah cairan yang dibuang keruh atau tidak
16.Ukur cayat dan buang
REFERENSI
SOP pergantian cairan CAPD RSUP Dr.Kariadi Semarang
512 | P a g e
PERAWATAN EXITE SIDE CAPD
1. Deskripsi Singkat
Exite side CAPD yang normal merupakan exit site yang telah sembuh pasca
operasi, dalam keadaan sehat tanpa kemerahan, pembekakan, pengeluaran skret /
eksudat dan warnanya sama dengan warna kulit di sekitarnya. Exite side ini
dikategorikan sebagai exite side yang baik dan sempurna.
Perawatan exite side CAPD merpakan perawatan yang dilakukan pada exite
side / tempat keluarnya kateter CAPD yang terdapat dipermukaan kulit yang
bertujuan agar tidak terjadi infeksi pada exite site
2. Tujuan Pembelajaran
A. Tujuan Pembelajaran Umum (TPU)
Setelah mengikuti materi ini, peserta pelatihan mampu menjelaskan mengenai
perawatan exite side CAPD
B. Tujuan Pembelajaran Khusus (TPK)
Setelah mengikuti materi ini peserta dapat :
1. Peserta mampu mengetahui pengertian perawatan exite side CAPD
2. Peserta mampu mengetahui tujuan perawatan exite side CAPD
3. Peserta mampu mengetahui prosedur perawatan exite side CAPD
3. Pokok Bahasan Dan Atau Sub Pokok Bahasan
A. Pokok Bahasan
Pokok bahasan yang akan disampaikan adalah menjelaskan tentang perawatan
exite side CAPD
B. Sub Pokok Bahasan
1. Pengertian perawatan exite side CAPD
2. Tujuan perawatan exite side CAPD
3. Prosedur perawatan exite side CAPD
4. Bahan Belajar
Bahan belajar yang diperlukan adalah materi perawatan exite side CAPD
513 | P a g e
5. Langkah-Langkah Kegiatan Pembelajaran
N PROSES PEMBELAJARAN
WAKTU
Kegiatan Pengampu Kegiatan Peserta
O
1. 10 menit Pembukaan: 1. Menjawab salam
1. Salam 2. Mendengarkan dan
2. Penjelasan mata ajar prosedur perawatan memperhatikan
exite side CAPD 3. Bertanya
2. 150 menit 1. Pengertian perawatan exite side CAPD 1. Menganalisis
2. Tujuan perawatan exite side CAPD 2. Menjawab
3. Prosedur perawatan exite side CAPD 3. Mencatat
4. Bertanya
3. 20 menit Penutup:
1. Menyimpulkan pertemuan
2. Menanyakan konsep prosedur 1. Memperhatikan
perawatan 2. Menjawab
exite side CAPD
514 | P a g e
URAIAN MATERI
TINDAKAN PERAWATAN EXIT SITE CAPD
1. Pengertian
Perawatan yang dilakukan pada exite side / tempat keluarnya kateter CAPD
yang terdapat dipermukaan kulit
2. Tujuan
Agar tidak terjadi infeksi pada exite site
3. Prosedur
a. Persiapan alat dan obat
- Dressing Pack
- Kain kasa
- Nacl 0,9%
- Alkohol 70%
- Salep Gentamicin
- Hypavix
- Masker
b. Pelaksanaan
- Cuci tangan
- Bersihkan area kerja dengan alkohol 70% / kapas alcohol
- Taruh dressing pack di permukaan kerja yang bersih
- Kenakan masker
- Cuci tangan (7 langkah teknik aseptik)
- Buka dressing pack sterilnya
- Tuangkan nacl 0,9% ke dalam kom steril
- Lakukan handrub
- Bersihkan daerah exite site dari arah dalam ke luar (gerakan melingkar)
dengan kassa Nacl , ulangi sampai 3x (dengan memakai kassa steril baru )
- Keringkan exit site dengan usapan kain kasa kering
- Oleskan salep Gentamisin ke exit site dengan kain kasa
- Letakkan kain kasa di atas exit site dan rekatkan agar tidak terlepas
- Imobilisasi kateter yang terlihat di area kulit perut
515 | P a g e