The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

2. BUKU 2 LENGKAP (bid. Psikologi pendidikan, Sosial Humaniora, Kesehatan Lingkungan)

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by adhim.irawan, 2016-10-15 01:14:40

2. BUKU 2 LENGKAP (bid. Psikologi pendidikan, Sosial Humaniora, Kesehatan Lingkungan)

2. BUKU 2 LENGKAP (bid. Psikologi pendidikan, Sosial Humaniora, Kesehatan Lingkungan)

PROSIDING

SENASPRO 2016

Seminar Nasional dan Gelar Produk 2016

“Inovasi-Hilirisasi Produk Riset dan Pengabdian Masyarakat
Menuju Indonesia Berkemajuan dan Berdaya Saing”

http://senaspro.umm.ac.id
Print ISBN: 978-979-796-223-4

http://research-report.umm.ac.id/index.php/research-report/issue/view/70

Malang, 17-18 Oktober 2016
Direktorat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat
Universitas Muhammadiyah Malang

Seminar Nasional dan Gelar Produk 2016
(SENASPRO 2016)

“Inovasi-Hilirisasi Produk Riset dan Pengabdian Masyarakat

Menuju Indonesia Berkemajuan dan Berdaya Saing”

Hak cipta @ 2016 pada panitia, dilarang keras mengutip, menyalin sebagian maupun
keseluruhan isi prosiding ini tanpa sepengetahuan dan mendapat ijin dari panitia atau penerbit.

Ilmu Pertanian : REVIEWER
:
Psikologi dan Ilmu : 1. Prof. Dr. Sujono, M.Kes
Kependidikan 2. Dr. Syarif Husen, MP
Sosial Humanoria 3. Dr. Ahmad Wahyudi, MP
4. Dr. Ir. Fatimah Nursandi, MP
Keteknikan dan Rekayasa : 1. Dr. Iswinarti, M.Si
Teknologi 2. Dr. Nida Hasanati, M.Psi
3. Dr. Moh. Agus Krisno, M.Kes
Kesehatan dan : 4. Dr. Nurul Zuriah, M.Si
Lingkungan 1. Dr. Vina Salviana, M.Si
2. Dr. Masduki, M.Si
3. Dr. Oman Sukmana, M.Si
4. Dr. Tri Sulistyaningsih, M.Si
5. Dr. Widayat, M.Si
Zulfatman, M.Eng, PhD
Dr. Lailis Syafa’ah, MT
Dr. Sunarto, MT
Dr. Suwarsono, MT
Ilyas Masyudin, ST, M.ScLog, PhD
dr. Meddy Setiawan, Sp.PD
dr. Sulistyo Mulyo Agustin, Sp.PK
Dr. Abdulkadir Rahardjanto, M.Si.
Dr. Ahmad Mubin, MT.

ISBN 978-979-796-223-4
Dicetak Oktober 2016

Isi makalah di luar tanggung jawab editor dan penerbit
UMM Press

Direktorat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat
Universitas Muhammadiyah Malang
Jl. Raya Tlogomasno. 246 Malang

ŝŝ Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016

SUSUNAN PANITIA

Seminar Nasional dan Gelar Produk 2016

(SENASPRO 2016)

Penanggung Jawab : Prof. Dr. Sujono, M.Kes (Direktur DPPM)

Wakil Penanggung Jawab : 1. Dr. Vina Salviana DS, M.Si

: 2. Dr. Masduki, M.Si

Ketua : Drs. Wiyono, MM

Wakil Ketua : Dr. Nurul Zuriah, M.Si

Sekretaris : Ir. Ahmad Yani, M.P

Bendahara : Luluk Asmawati, S.Pd.

Koord. Kesekretariatan : Ir. Muhammad Irfan, MT

Anggota : 1. Agus Eko Minarno, S.Kom., M.Kom

: 2. Suripto, SE

: 3. Dikky Cahyo Hariyanto, S.Kom

: 4. Moh. Afif Setiawan, ST

Koord. Gelar Produk : Hendra Kusuma, SE. M.SE

Anggota : 1. Drs. Muhammad Jufri, ST., MT

: 2. Ir. Suwignyo, MT

Koord. Sie. Penerimaan Tamu : Dra. Thathit Manon Andini, M.Hum

Anggota : 1. Dr. Untung Santoso, M.Si

: 2. Drs. Krishno Hadi, M.A

Koord. Sie. Persidangan : Dr. Tri Sulistyaningsih, M.Si

Anggota : 1. Dr. Ir. Syarif Husen, MP.

: 2. Dr. Ir. Fatimah Nursandi, M.Si

: 3. Pradana Boy, S.Ag, MA, P.hD

Koord. Sie. Konsumsi : Dra. Zulaikhah, S.Pd

Anggota : 1. Maya Saraswati KD, SE

Koord. Sie Pubdok,Sponsorship dan : Novin Farid Setyo W, S.Sos, M.Si.
Perlengkapan

Anggota : 1. Drs. Farid Rusman, M.Si
: 2. Apdani, S.Sos
Koord. Sie. Transportasi : Drs. Amir Syarifuddin, MP.
Anggota : 1. Husamah, S.Pd., M.pd
: 2. Musadad Dwi Permana, S.Pt
Anggota Umum
: 1. Mohammad Syaikhul Ulum
: 2. Fidrianti

Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016 ŝŝŝ

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT, atas Rahmad dan HidayahNya sehingga
Prosiding Seminar Nasional dan Gelar Produk 2016 , dengan tema “Inovasi-Hilirisasi
Produk Riset dan Pengabdian Masyarakat Menuju Indonesia Berkemajuan dan
Berdaya Saing”yang diselenggarakan oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian
Kepada Masyarakat pada tanggal 17-18 Oktober 2016 dapat kami selesaikan.
Penyusunan prosiding ini bertujuan agar para pemakalah dan masyarakat luas dapat
mengetahui berbagai pengetahuan yang terkait dengan hasil penelitian dan pengabdian
kepada masyarakat. Akhir kata semoga prosiding ini dapat memberi manfaat bagi
semua pihak khususnya para perguruan tinggi.

Malang, Oktober 2016
Tim Penyusun Prosiding
Panitia Senaspro 2016,

ŝǀ Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016

UCAPAN TERIMA KASIH

Ucapan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kami sampaikan kepada :

Drs. H. Saifullah Yusuf, Wakil Gubernur Jawa Timur; Dr. Gautam Kumar
Jha Universitas Jawaharlalnehru India; Prof. Dr. Ocky Karna Radjasa, M.Sc
(Dirjen Ristekdikti); Prof. Dr. Bambang Subianto, M.Sc (LIPI); Prof. Dr. Ir.
Bondan Tiara S,
0Si (staf Ahli Menteri Pertahanan); Prof. Dr. Yus Mochamad C, M.Si (UMM)

Bapak/Ibu Pemakalah dan peserta yang telah berpartisipasi dalam kegiatan
Seminar Nasional dan Gelar Produk 2016

Para sponsorship yang telah membantu dana dalam kegiatan Seminar Nasional dan
GelarProduk 2016

Semua pihak yang telah memberi dukungan dalam kegiatan Seminar Nasional dan
GelarProduk 2016

Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016 ǀ

DAFTAR ISI

Susunan Panitia………………………………………………. iii
Kata Pengantar………………………………………………… iv
Ucapan Terima Kasih ………………………………………… v

Makalah Bidang Kesehatan dan Lingkungan

1. IbM Unit Pelayanan Rehabilitasi Fisik Lansia Pasca Stroke di Panti Lansia 1

Kota Malang.

Nurlailatul Masruroh; Rakhmad Rosadi; Sri Sunaringsih Ika Wardojo

2. IbM Di Kelurahan Sisir Kota Batu (Budidaya Sayuran/Toga Organik). 10

Uswatun Chasanah; Dian Ermawati; Andri Tilaqsa

3. Pengelolaan Sampah Dengan Model 8M Berbasis Nilai Islam Di MTS 16

Muhammadiyah I Dan MA Muhammadiyah I Kota Malang.
Idaul Hasanah; Husamah; Gina Harventy; Novita Ratna Satiti

4. Inovasi Jamu Dalam Kemasan Siap Minum Sebagai Upaya Meningkatkan 24

Pola Konsumsi Jamu Dan Pemberdayaan Masyarakat Di Kecamatan Jaten.
Fea Prihapsara; Anif Nur Artanti

5. Pengembangan Herbal Berkhasiat Obat Dengan Bahan Dasar Sayur Di 34

Kecamatan Tawangmangu.
Anif Nur Artanti; Okid Parama Astirin; Fea Prihapsara

6. Analisis Pengelolaan Lingkungan Hidup Peserta Proper StudiKasus Di 41

Hotel Ciputra Semarang.
Rizki Arizal Purnama; Al. Sentot Sudarwanto; Wiryanto

7. Pengembangan Produk Formula Konsorsium Pengurai Limbah Cair Rumah 47

Tangga.

Lud Waluyo; Ainur Rofieq

8. Nilai Ekonomi Kawasan Taman Hutan Raya Bunder Sebagai Penyimpan 55

Karbon Dengan Pendekatan Karakteristik Kawasan.

Ikhsan Anshori

9. IbM PKK Pembuatan Sirup Buah Naga. 64

Ika Ratna Hidayati; Nailis Syifa; Engrid Juni Astuti

10. Upaya Konservasi dan Pengelolaan Habitat Penyu Laut melalui 68
Pengembangan Ekowisata Berbasis Masyarakat. 81
Wahyu Prihanta; Amir Syarifuddin; Ach. Muhid Zainuri 88

11. Alternatif Penanggulangan Banjir Melalui Manajemen Lubang Resapan

Biopori (LRB).
Sudjatmiko; Achmad Fadillah; Bekti Rihatiningsih; Andy Kristafy Arifianto

12. Kajian Kearifan Lokal Masyarakat Desa Tawang Sari Kecamatan Pujon
Kabupaten Malang Dalam Pelestarian Mata Air Sungai Konto Sub Das
Brantas.
Novita Ratna Satiti; Tatag Muttaqin; Husamah

ǀŝ Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016

13. Jambanisasi di Desa Mayangkawis Kecamatan Balen Kabupaten 96
Bojonegoro. 102
Nugroho Tri Waskitho; Sunarto 108

14. Echinodorus paleafolius Sebagai Tanaman Fitoremedian Dalam
Menurunkan Phospat Limbah Cair Laundry.
Ayu Maharani;IIn Hindun;Sukarsono

15. Penurunan Kadar Gula Darah Tikus Putih (Rattus norvegicus)

Hiperglikemia Menggunakan Berbagai Bentuk Sediaan Jamur Tiram Putih

(Pleurotus ostreatus ).

Siti Zaenab; Nurwidodo

Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016 ǀŝŝ

Makalah Bidang Psikologi dan Ilmu Kependidikan

1. Efektivitas Layanan Konseling Kelompok Dalam Meningkatkan

Penyesuaian Diri Siswa Di MTs. Muhammadiyah 22 Padangsidimpuan. 117

Khairul Amri

2. Menurunkan Perilaku Youtube addiction. 124
Ulpawati

3. Pembulian di Tempat Kerjadalam Konteks Asia. 133
Lilik Hidayati

4. Pembuatan Media Pembelajaran Berbantuan Komputer Menggunakan

Aplikasi Open Source. 143

Selamet Riyadi; Kawakibul Qamar;Tri Candra Wulandari

5. Pendampingan Implementasi Bahan Ajar Matematika Berbasis Konstruktif

Islami Di SMP Muhammadiyah Sukabumi. 148
Yanti Mulyanti;Eka Novarina; Andri Moewashi Idharoel Haq; Novi Andri

Nurcahyono; Dyah Lyesmaya

6. Penguatan Literasi Ekosistem pada Siswa Kelas X dengan Specific Materi:
Pembalaran Ekosistem Melalui Penelitian Ekofisiologi Hutan Mangrove. 155

Elly Purwanti; Wahyu Prihanta

7. Model Pendidikan Karakter Berbasis Nilai Kearifan Lokal Dan Civic 164
Virtue Sebuah Rekayasa Sosial.
Nurul Zuriah; Rahmad Widodo; Hari Sunaryo

8. Desain Media Pembelajaran Keterampilan Bersastra Berbasis Panggung. 178
Hari Sunaryo; Nurul Zuriah; Novin Farid SW

9. Hubungan Antara Kesesuaian Individu-Organisasi Dan Modal Psikologis 186
Dengan Keterikatan Kerja Pada Staf Administrasi Perguruan Tinggi.
Johanes Gregorious Gozalie

10. Aplikasi Information-Based Programme Melalui Penyuluhan Untuk 197
Meningkatkan Pengetahuan Tentang Narkoba Pada Remaja.
Narintya Puji Kurnianita

11. Predictors of Academic Excellence. 204
Dimas Armand Santosa

12. Hubungan Makna Kerja Panggilan Dengan Keterikatan Kerja Pada Penyiar 209
Radio Di Surabaya.

Oktavianus Saiya Seran Goran

13. Hubungan Antara Kecerdasan Emosidan Komitmen Pendidik Dengan 215
Efektifitas Pembelajaran di PAUD Kota Banjarbaru.
Alpha Ariani

14. Adversity Quotient dan Psychological Capital Dalam Menentukan 223
Keterikatan Kerja Pada Karyawan.
Fensi Arintia Ekaputri

ǀŝŝŝ Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016

15. Al Kaaffah Brain Sebuah Konsep Pemikiran Holistik 233
Dan Perwujudannya Dalam Pembelajaran Konstruktif 242
Di Perguruan Tinggi. 252
Sitti Rabiah Yusuf 262

16. Pembelajaran Berbasis Blended Learning disertai Nilai Karakter di FKIP 270

Universitas Muhammadiyah Metro.
Handoko Santoso; Agil Lepiyanto; Swaditya Rizki

17. Model Pengelolaan Kelas Rendah Pada SD Amaliah Ciawi Bogor Sebuah
Best Practice.
Rusi Rusmiati Aliyyah; Omon Abdurakhman

18. Penerapan Metode Pembelajaran I-Class Sebagai Upaya Peningkatan

Kualitas Pendidikan di SMA Kristen Petra.

Reviaty Wido Permatasari

19. Kemandirian Finansial Lembaga Pendidikan Melalui Entrepreneurship
Dan Partnership(Studi Kasus Al Ashriyyah Nurul Iman Islamic Boarding
SchoolParung Bogor).
Subaiki Ikhwan; Ahmad Romadhon; Moh. Supendi

20. IbM Guru Mata Pelajaran Sekolah Menengah Pertama. 276
Erly Wahyuni; Estu Widodo; Shobbah Sabili M

21. Dinamika Psikologis Tawadhu’ Mahasiswa Terhadap Gurunya. 285
Fony Libriastuti; Priyo Abhi Sudewo

22. The Problems Faced In Implementing Character Education On English

Subject Through Problem Solving At SMK Muhammadiyah Malang 298
District.

Sri Hartiningsih; Thatit Manon Andini

23. Karakteristik Berpikir Aljabar Siswa Pada Level Multi Struktural Dalam

Menggeneralisasi Pola. 305

Siti Inganah

24. Pelatihan Guru Seni Tari Tradisional 315
SD Muhammadiyah 8 Dau Malang.

Arina Restian

25. Peningkatan Kemampuan Guru Tk Aba Kecamatan Kedungkandang Dalam

Mengembangkan Pembelajaran Untuk Anak Berkebutuhan Khusus. 322

Endang Poerwanti; Siti Fatimah Soenaryo;Diah Karmiyati;Masduki

Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016 ŝdž

Makalah Bidang Sosial Humanoria

IbPE Industri Batik Podhek Di Kabupaten Pamekasan Provinsi Jawa Timur

1. Tahun I. 335

Muhammad Baidawi; Yayuk Ngesti Rahayu

Analisis Akselerasi Konflik Organisasi Keagamaan Islam Di Yogyakarta. 345
2.

Ali Maksum; Surwandono

Kedudukan Hukum Ibukota Kabupaten Setelah Dimekarkan Menjadi 355
3. Pemerintah Kota.

Alinapia

Sistem Informasi Pengelolaan Konflik Sosial Keagamaan Di Yogyakarta. 361
4.

Surwandono, Sidik Jatmika

Strategi Radio Komunitas Lintas 369
5. MerapiMendapatkanPartisipasiMasyarakat.

Halimatus Sa'diyah

Efektivitas Pelatihan Pewarnaan Kulit Samak Metode Batik Ikat Di Desa

6. Sumbersekar DAU Malang. 380

Wehandaka Pancapalaga; Wiyono; Titik Ambarwati

Tindakan Komunikatif Orang Tua Tentang Pendidikan Anak Autis Melalui

7. Online Parent Support Group. 388

Frida Kusumastuti

Menonton Televisi Secara Cerdas Dan Kritis Melalui Metode Diet TV 401
8. Sebagai Strategi Media Literacy.

Sumekar Tanjung

Pemertahanan Budaya Topeng Malangan. 406
9.

Eny Dyah Yuniwati; Mudji Rahayu; Sri Utami

Analisis Kekuatan Sumber Daya Pada Daerah Pengirim TKI Di Malang. 414
10.

Sri Wahjuni Latifah, Erna Retna R.

11. IbM Pelatihan Ketrampilan Membuat Batik Probolinggo Dihiasi Payet Di 424
Jrebeng Kulon.

Suryaningsih, Febry Chrisdanty

dž Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016

Strategi Keberhasilan Industri Kecil Menengah Makanan Ringan Melalui 435
Pendekatan Motivasi Usaha Dan Kemampuan Usaha Di Priangan Timur
12. Provinsi Jawa Barat.

Dwi Gemina; Endang Silaningsih

Kepuasan Penumpang Berbasis Standar Pelayanan Minimum PadaKereta 452
13. Rel Listrik Commuter Line Stasiun Bogor. 469

Endang Silaningsih;Dwi Gemina; Erni Yuningsih
Mengembangkan Kepedulian Akan Pentingnya Pendidikan Untuk
Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat Pemulung di TPA Bantar
14. Gerbang.

Didi Mulyadi

IbM Pengelolaan Sampah Rumah Tangga Sebagai Upaya Menciptakan 477
15. Kampung Pro Iklim (Proklim).

Karmanah; Dyah Budibruri Wibaningwati; Abdul Rahman Rusli

Rekayasa Hukum Masyarakat Modern. 485
16.

Sofyan Arief

IbM Desa Wisata di Pacet-Mojokerto. 492
17.

Muhammad Fadeli; Hadi Sutrisno

Pembentukan Karakter Ihsan Melalui Tasawuf Transformatif Fashionable 505
18. (Model Pembinaan Suberdaya Manusia Muslim di PT. Telkom Indonesia).

Tobroni

Kinerja Pemasaran Usaha Mikro Kecil Menengah Berbasis Orientasi Pasar,

Kreativitas Program Pemasaran Serta Faktor Lingkungan Di Kota Dan 514
19. Kabupaten Bogor.

Titiek Tjahja Andari; Lucky Hikmat Maulana; Dwi Gemina

Analisa SWOT Terhadap Sikap Perilaku Konsumen Dalam Memutuskan 523
20. Berbelanja Di Pasar Tradisional Program Revitalisasi.

Wahju Wulandari; Sodik; Yekti Intyas Rahayu

21. Kemampuan Pemerintah Daerah Dalam Mengembangkan Kebijakan 531
Lelang Jabatan Di Kota Makassar.

Lukman Hakim

Students Entrepreneur Model In Private University. 539
22.

Uci Yuliati; Rahayu Hartini; Dwi Eko Waluyo; Triningsih S

Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016 džŝ

PPM Pelatihan Public Speaking untuk Masyarakat di Desa Bulukerto, Kota
Batu.
23. 554
Muhammad Hayat; Rachmad Kristiono Dwi Susilo; Vina Salviana Darvina
Soedarwo

Kebijakan Dalam Mempercepat Pencapaian Millennium Development 563
24. Goals (MDGs) Kota Malang.

Ida Nuraini

Kelompok Lansia Mandiri. 571
25.

Dwi Susilowati; Ida Nuraini

Komunikasi Pemasaran Jasa Pada Pendidikan Tinggi Di Malang. 578
26.

Sri Nastiti Andharini; Dewi Nurjannah; Eka Kadharpa

Inovasi Pelayanan Publik

“Posyandu Ternak” Bagi Petani Ternak Di Kab Tenggamus 585
27.

Provinsi Lampung.

Hardi Warsono

Konsep Jaringan Kerja Fungsional

Usaha Kecil dan Menengah (UKM) Krupuk 594
28.

Di Desa Mulyoarjo Lawang Malang.

Luluk Dwi Kumalasari

Analisis Pengaruh Jumlah Anggota, Jumlah Simpanan Dan Volume Usaha 603
29. Terhadap Sisa Hasil Usaha Koperasi Di Kabupaten Bojonegoro.

Wiyono

Pengaruh Etika Kerja Profesional Dan Orientasi Sosial Terhadap Kinerja 612
30. Pimpinan.

Achmad Mohyi

31. Program Pemberdayaan Masyarakat Taman Nasional Gunung Merapi 624
Pasca Erupsi 2010.

Ginung Pratidina; Ratna Dewi Rahmawati

IMPLEMENTASI MODEL KARTU EDA

32. (EKSPRESI DIRI UNTUK ASERTIF) SEBAGAI UPAYA PENCEGAHAN 634
PERILAKU SEKSUAL PRANIKAH

Siti Maimunah

Pengembangan Desa Wisata Agro Berbasis Buah Tropis Di Kota Batu Jawa

33. Timur. 645
Tri Sulistyaningsih; Purnawan D. Negara; Jainuri; Hevi Kurnia Hardini;

Suwarta

džŝŝ Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016

BIDANG KESEHATAN DAN LINGKUNGAN



IbM UNIT PELAYANAN REHABILITASI FISIK LANSIA PASCA STROKE DI PANTI
LANSIA KOTA MALANG

1Nurlailatul Masruroh, 2Rakhmad Rosadi, 3Sri Sunaringsih Ika Wardojo

1,2,3) Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Malang
Jl. Bendungan Sutami 188 A Malang
Email: 1) [email protected]

ABSTRAK

Tujuan dari program IbM ini adalah menjamin tersedianya akses layanan rehabilitasi fisik lansia di
kedua panti lansia sehingga diharapkan mampu membantu memulihkan fungsi motorik lansia dengan
kondisi pasca stroke agar mampu melakukan aktivitas fisik secara mandiri serta dapat meningkatkan
derajat kesehatan mereka. Target luaran program IbM ini adalah 1)Terbentuknya unit pelayanan
rehabilitasi fisik lansia yang akan dikelola secara mandiri dan professional oleh pengasuh panti
lansia di bawah supervise dati Tim Fisioterapi Universitas Muhammadiyah Malang, 2)terbentuknya
modul pelayanan rehabilitasi fisik lansia pasca stroke, 3) terbentuknya kartu sehat bagi para lansia
yang akan mencatat perkembangan kesehatan lansia secara periodic, serta 4)adanya publikasi hasil
kegiatan IbM pada jurnal pengabdian masyarakat “Jurnal dedikasi”. Adapun rencana kegiatan
program IbM ini terbagi dalam tiga tahap. Tahap pertama adalah pendirian unit pelayanan
rehabilitasi fisik lansia dalam Panti Lansia yang meliputi kegiatan pendampingan rekrutmen sumber
daya manusia, pengadaan alat-alat terapi rehabilitasi fisik, dan perizinan. Tahap Kedua adalah
Pendampingan proses pemagangan pengasuh panti lansia di Unit Fisioterapi Universitas
Muhammadiyah Malang sebagai bagian proses pelatihan dan pembinaan rehabilitasi fisik lansia.
Tahap Ketiga adalah terdistribusikannya modul pelayanan rehabilitasi fisik lansia dan kartu sehat
lansia pada unit pelayanan rehabilitasi fisik lansia pada kedua panti, serta Tahap Keempat adalah
pendampingan dan proses evaluasi kinerja unit pelayanan rehabilitasi fisik lansia pada mitra Ibm.
Tahap Kelima yaitu adanya publikasi hasil kegiatan IbM pada jurnal pengabdian masyarakat.

Kata Kunci : Rehabilitasi Fisik, Lansia, Pasca Stroke

Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016 1

1. PENDAHULUAN

1.1 Analisis Situasi
a. Situasi Umum Panti Lansia Al Ishlah Malang
Sebagai satu-satunya Panti Lansia di Kota Malang, yang berlokasi sekitar 7 km dari Pusat Kota
Malang, dan berada di wilayah Kelurahan Pandanwangi Kecamatan Blimbing Kota Malang. Panti
Lansia ini berdiri pada tanah seluas 2000m2, dan memiliki daya tampung sebanyak 70 lansia.
Berdasarkan data tahun 2013, terdapat 30 orang lansia penghuni panti, dimana terdiri dari 20 orang
lansia perempuan dan 10 orang lansia laki-laki. Mayoritas lansia penghuni panti berasal dari Jawa
Timur sebanyak 70%, dan sisanya berasal dari Jawa (Non Jawa Timur) sebanyak 30%.

Panti lansia ini merupakan bagian amal usaha Yayasan Al Ishlah Malang, sehingga pengurus
panti berjumlah 5 orang merupakan anggota dari Yayasan Al Ishlah Malang, sedangkan pengasuh
panti lansia berjumlah 4 orang yang bekerja secara penuh waktu (full time), dan mereka berasal dari
lulusan pondok pesantren Al Ishlah Kota Malang. Selain itu, pada panti lansia ini juga terdapat 2
orang juru masak, dan 1 petugas keamanan.

Panti lansia ini juga bertugas untuk memberikan fasilitas hidup yang berupa makanan, pakaian,
asrama, dan membantu lansia dalam melakukan aktivitas keseharian mereka. Tetapi, sayangnya dalam
hal perawatan kesehatan lansia, dikarenakan adanya keterbatasan dalam hal pembiayaan, maka belum
ada tenaga kesehatan (dokter) yang khusus melakukan kunjungan (visite) di panti lansia ini. Jadi,
apabila ada penghuni panti yang sakit akan dirujuk ke rumah sakit atau puskesmas terdekat.

Masalah kemudian muncul ketika para lansia banyak yang mengalami penyakit stroke dan
mengalami kelumpuhan sebanyak 45%, sementara itu, terapi yang diberikan masih terbatas pada
pemberian obat-obatan tanpa disertai dengan latihan rehabilitasi fisik sehingga hal ini menyebabkan
para lansia masih mengalami hambatan dalam melakukan aktivitasnya secara mandiri dan sangat
tergantung dari bantuan pengasuh untuk melakukan aktivitasnya. Selain itu, minimnya pengetahuan
pengurus dan pengasuh panti tentang teknik pengelolaan kesehatan lansia juga semakin memperburuk
kondisi lansia pasca stroke, karena bantuan yang mereka berikan pada lansia tidak jarang semakin
membatasi lansia untuk melakukan mobilitasnya secara mandiri.

b. Situasi Secara Umum Panti Lansia Griya Asih Malang
Panti lansia Griya Asih terletak di wilayah Kecamatan Lawang Kabupaten Malang dengan

luas lahan 4000m2. Panti lansia ini dihuni oleh para lansia yang berasal dari berbagai daerah di
Indonesia Berdasarkan data terbaru tahun 2013, terdapat 30 orang lansia wanita dengan rentang usia
65-87 tahun, dimana mayoritas penghuni lansia berasal dari wilayah Jawa Timur sebanyak 60%, dan
Jawa (non Jawa Timur) sebesar 5%, NTB, NTT, Maluku dan Papua 30%, serta Sumatera 5%.

Struktur organisasi Panti Lansia Griya Asih berada di bawah Yayasan Diakonia Wilayah
Jawa Timur, sehingga seluruh pengurus panti lansia berasal dari anggota Yayasan Diakonia Jawa
Timur, sedangkan pengasuh panti lansia adalah orang yang dibayar oleh pihak Panti Lansia untuk
mengasuh para lansia penghuni panti secara paruh waktu dan penuh waktu (full time). Sebagai
gambaran di Panti Lansia Griya Asih Lawang memiliki 4 pengasuh penuh waktu dan pengasuh paruh
waktu yang datang dalam kegiatan-kegiatan yang terjadwal. Selain itu, panti lansia Griya Asih juga
memiliki 2 juru masak, 2 tukang kebun, serta 2 petugas keamanan yang ikut membantu dalam
pengelolaan panti lansia ini.

Panti lansia ini memiliki tugas untuk memberikan perawatan, bimbingan dan pelayanan bagi
lanjut usia terlantar agar dapat hidup secara baik dan terawat dalam kehidupan bermasyarakat, yang
meliputi pemberian fasilitas hidup berupa makanan, pakaian, asrama, membantu para lansia dalam
melakukan aktivitas keseharian mereka, termasuk dalam hal perawatan kesehatan. Tetapi sayangnya,
dalam hal perawatan kesehatan yang diberikan oleh pihak pengurus panti terhadap para lansia masih
dirasakan kurang maksimal, dikarenakan sebanyak 65% lansia mengalami stroke dan fracture (patah
tulang) sedangkan pelayanan kesehatan yang diberikan masih sangat tergantung pada kunjungan
(visite) dokter ke panti lansia setiap dua minggu sekali, sehingga fasilitas pengobatan yang diberikan

2 Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016

pada para lansia tersebut masih terbatas hanya berupa pemberian obat-obatan saja, tanpa disertai
dengan terapi rehabilitasi fisik pasca stroke untuk memulihkan mobilitas para lansia. Hal tersebut
berakibat masih terkendalanya lansia untuk melakukan aktivitasnya secara mandiri dan sangat
tergantung dengan bantuan dari pengasuh untuk melakukan aktivitasnya. Apabila dibiarkan secara
terus-menerus hal tersebut akan berdampak terhadap menurunnya derajat kesehatan lansia.

Pihak pengurus maupun pengasuh panti lansia juga memiliki keterbatasan terkait layanan
rehabilitasi fisik lansia pasca stroke ini, selain karena mereka minim pengetahuan tentang kesehatan
dikarenakan pengasuh panti memiliki background pendidikan non-kesehatan (pekerja social), juga
adanya keterbatasan terhadap minimnya akses informasi tentang layanan fisioterapis yang mampu
memberikan pelayanan rehabilitasi fisik lansia.

c. Prospek Pembinaan Pelayanan Rehabilitasi Fisik Lansia di Panti Lansia Kota Malang
Panti Lansia Griya Asih dan Panti Lansia Al Ishlah Malang sebagai lembaga social berupaya

untuk melakukan pembinaan dan perawatan pada lansia yang terlantar dan tidak mampu sehingga
dapat menjadi manusia yang mampu beraktivitas secara mandiri dan berdaya guna bagi masyarakat
(4). Karena masih tingginya angka lansia yang mengalami stroke dan kurang mendapat pelayanan
pemulihan kesehatan lansia yang efektif sehingga menyebabkan mereka belum dapat melakukan
aktivitas secara mandiri, sehingga hal tersebut berpengaruh terhadap menurunnya derajat kesehatan
lansia, serta menyebabkan mereka semakin tersisih dalam kehidupan social kemasyarakatan.

Pendirian dan pembinaan pelayanan rehabilitasi fisik lansia di Panti Lansia Griya ASih dan
Al Ishlah kota Malang memiliki peluang pengembangan yang cukup besar karena hal tersebut selain
dapat membantu dalam pemulihan kesehatan lansia pasca serangan stroke dan meningkatkan derajat
kesehatan mereka, juga memiliki prospek jangka panjang untuk digunakan sebagai income profit bagi
pihak panti lansia, karena dengan semakin meningkatnya jumlah penduduk usia lanjut usia di
Indonesia serta motivasi yang tinggi untuk meningkatkan derjat kesehatan lansia akan berdampak
positif terhadap meningkatnya kebutuhan akan terapi rehabilitasi fisik lansia, sehingga nantinya
pemberian layanan rehabilitasi fisik lansia ini diharapkan tidak hanya diberikan kepada lansia
penghuni panti, tetapi juga dapat dimanfaatkan oleh para lansia yang tinggal di luar panti [1, 2, 3].

d. Persoalan yang dihadapi Panti Lansia Griya Asih dan Al Ishlah Malang
Sebagai lembaga yang membina orang-orang lanjut usia dari keluarga miskin dan

ditelantarkan oleh keluarganya, Panti lansia Griya Asih dan Panti Lansia Al Ishlah memiliki berbagai
macam permasalahan yang dihadapi. Berdasarkan hasil diskusi dengan pengurus kedua panti lansia
maka dapat diidentifikasi beberapa permasalahan yang dialami oleh pengurus dan pengasuh pada
kedua panti lansia tersebut. Permasalahan tersebut dapat diklasifikasikan dalam beberapa hal sebagai
berikut [4]:

1. Permasalahan Keuangan
Sebagai organisasi social yang mengandalkan dana dari bantuan dermawan dan donatur, kedua panti
lansia ini belum memiliki pos pendapatan mandiri sehingga sepenuhnya masih tergantung pada
donator untuk membiayai operasional panti lansia termasuk dalam hal penyediaan sarana pelayanan
kesehatan bagi lansia.
2. Permasalahan Akses Informasi terhadap Kebutuhan Layanan Kesehatan
Panti lansia ini memiliki keterbatasan akses informasi terhadap layanan fisioterapis yang mampu
membantu memberikan pembinaan dan pelayanan tentang rehabilitasi fisik lansia kepada pihak
pengelola (pengurus, pengasuh) maupun penghuni panti
3. Permasalahan Manajerial
Pada aspek manajerial, pihak pengelola panti lansia memiliki masalah dalam hal minimnya
pengetahuan tentang pengelolaan kesehatan lansia, sehingga hal tersebut berdampak pada kurang
tepatnya penatalaksanaan pada lansia dengan kondisi pasca stroke

Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016 3

Permasalahan mitra
Permasalahan utama yang dihadapi mitra saat ini adalah tidak adanya pelayanan rehabilitasi

fisik lansia yang akan membantu memulihkan kondisi lansia sehingga mampu mengembalikan
kemampuan mereka untuk melakukan aktivitas fisiknya secara mandiri dan meningkatkan derajat
kesehatan lansia. Hal ini disebabkan karena minimnya akses jejaring dan informasi yang dimiliki oleh
pihak pengelola panti terhadap layanan kesehatan ini, juga keterbatasan pengetahuan mereka tentang
penatalaksanaan kesehatan lansia. Berawal dari kesadaran bahwa kemandirian lansia dalam
melakukan aktivitas fisiknya sangatlah penting untuk mempertahankan derjat kesehatan dan usia yang
berkualitas bagi para lansia, maka diperlukan upaya pembinaan dan pelayanan rehabilitasi fisik lansia
pasca stroke untuk meningkatkan kemandirian mereka [5, 6, 7].

Oleh karena itu, berdasarkan hasil musyawarah antara pengurus/pengasuh panti lansia dan
tim IbM ini, maka dicapai kesepakatan bahwa permasalahan prioritas dan mendesak untuk segera
dicarikan solusi pemecahan masalah adalah minimnya pelayanan rehabilitasi fisik lansia terutama
pada lansia pasca stroke dan hal ini berpengaruh terhadap terhambatnya kemandirian lansia dalam
melakukan aktivitas fisiknya dan sangat menggantungkan pada bantuan pengasuh, sehingga
berdampak pada menurunnya kualitas hidup dan derajat kesehatan lansia secara signifikan, dan tujuan
utama panti lansia untuk meningkatkan taraf hidup lansia dapat dikatakan belum tercapai secara
maksimal.

2. TARGET LUARAN

Program IbM di Panti Lansia Griya Asih dan Al Ishlah Malang ini memiliki target luaran Target
luaran program IbM ini adalah 1) Terbentuknya unit pelayanan rehabilitasi fisik lansia yang akan
dikelola secara mandiri dan professional oleh pengasuh panti lansia di bawah supervise dati Tim
Fisioterapi Universitas Muhammadiyah Malang, 2)terbentuknya modul pelayanan rehabilitasi fisik
lansia pasca stroke, 3) terbentuknya kartu sehat bagi para lansia yang akan mencatat perkembangan
kesehatan lansia secara periodic, serta 4) adanya publikasi hasil kegiatan IbM pada jurnal pengabdian
masyarakat “Jurnal dedikasi”.

3. METODE PELAKSANAAN

Untuk mengatasi kendala tersebut maka diperlukan pelatihan dan pembinaan tentang pelayanan
rehabilitasi fisik lansia yang komprehensif, yang mencakup pelatihan tentang identifikasi kesehatan
lansia, mengenali gejala penyakit stroke pada lansia, dan latihan dasar untuk mengembalikan
mobilitas fisik lansia pasca stroke. Berdasarkan hal tersebut, maka kegiatan pembinaan dan pelatihan
rehabilitasi fisik lansia pada pengasuh panti lansia akan diwujudkan dalam bentuk pemagangan
pengasuh panti lansia di Unit Fisioterapi Universitas Muhammadiyah Malang.

Oleh karena itu, pengusul mengusulkan kegiatan yang akan menjadi solusi permasalahan di Panti
Lansia Griya Asih dan Al Ishlah Malang dalam beberapa tahap kegiatan:

1. Kegiatan Tahap Pertama: Pendampingan proses pemagangan pengasuh panti lansia di Unit
Fisioterapi Universitas Muhammadiyah Malang sebagai bagian proses pelatihan dan
pembinaan rehabilitasi fisik lansia, dimana kegiatan tersebut sepenuhnya akan disupervisi tim
Fisioterapis RS Universitas Muhammadiyah Malang.

2. Kegiatan Tahap Kedua: Setelah dilakukan evaluasi kelayakan sebagai hasil proses
pemagangan, kemudian dilanjutkan dengan pendirian unit pelayanan rehabilitasi fisik lansia
pasca stroke di Panti Lansia yang meliputi kegiatan pendampingan rekrutmen sumber daya
manusia, pengadaan alat-alat terapi rehabilitasi fisik, dan perizinan.

3. Kegiatan Tahap Ketiga: terdistribusikannya modul pelayanan rehabilitasi fisik lansia dan
kartu sehat lansia pada unit pelayanan rehabilitasi fisik lansia pada kedua panti.

4. Kegiatan Tahap Keempat: pendampingan dan proses evaluasi kinerja unit pelayanan
rehabilitasi fisik lansia pada mitra IbM.

4 Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016

5. KegiatanTahap Kelima: publikasi ilmiah hasil kegiatan IbM pada jurnal pengabdian
masyarakat.

Tabel 1 Rencana Jadwal Kegiatan Pelatihan Pelayanan Rehabilitasi Fisik Lansia

No Kegiatan Waktu

1 Sosialisasi program kegiatan kepada seluruh Bulan I

pengurus, pengasuh, dan lansia penghuni panti

2 Koordinasi dengan pihak pengurus panti lansia Bulan I

tentang rencana seleksi pengasuh panti lansia yang

akan mengikuti kegiatan pelatihan dan

pendampingan untuk memberikan pelayanan

rehabilitasi fisik lansia

3 Pelatihan dan pembinaan tentang rehabilitasi fisik Bulan II-IV

lansia, dengan materi meliputi: identifikasi

kesehatan lansia, mengenali gejala penyakit stroke

pada lansia, dan latihan dasar untuk mengembalikan

mobilitas fisik lansia pasca stroke di Unit Fisioterapi

RS Universitas Muhammadiyah Malang

4 Pembentukan unit pelayanan rehabilitasi fisik lansia Bulan V

untuk meningkatkan mobilitas fisik dan kemandirian

pada lansia dengan kondisi pasca stroke

5 Pendistribusian modul pelayanan rehabilitasi fisik Bulan V

lansia sebagai guideline pemberian layanan

kesehatan pada lansia, serta pembagian kartu sehat

lansia yang akan memantau perkembangan

kesehatan lansia secara periodic pada kedua panti

lansia

6 Pendampingan manajemen dan pengembangan unit Bulan V-XI

layanan rehabilitasi fisik lansia pasca stroke

7 Publikasi hasil pelaksanaan kegiatan IbM pada Bulan XII

jurnal pengabdian masyarakat “ Jurnal Dedikasi”

Berdasarkan pertimbangan efektifitas dan kesinambungan program, maka sasaran utama
program kegiatan ini adalah bagi pengasuh panti lansia yang diproyeksikan dapat secara penuh waktu
(full time) untuk menangani unit layanan kesehatan ini. Oleh karena itu, kegiatan pelatihan dan
pendampingan akan dilakukan pada pengasuh panti lansia yang memiliki komitmen dan waktu dalam
melaksanakan pengelolaan unit layanan kesehatan ini secara professional dan berkelanjutan.

Berdasarkan hasil diskusi dengan pihak mitra IbM, telah dicapai kesepakatan bahwa pihak mitra IbM
akan berkomitmen menyediakan semua keperluan yang menunjang kegiatan tersebut, antara lain:

1. Ruangan dan tempat khusus yang akan digunakan sebagai ruag layanan rehabilitasi fisik
lansia

2. Memberikan izin kepada para pengasuh panti lansia yang sesuai criteria untuk menjalankan
unit layanan kesehatan ini

3. Memberikan kewenangan penuh kepada tim IbM untuk melaksanakan kegiatan pembinaan
pengasuh selama program kegiatan berlangsung

Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016 5

4. HASIL DAN PEMBAHASAN
Kegiatan pengabdian masyarakat yang dilakukan di panti lansia Griya Asih Lawang dilakukan selama
kurun waktu 8 minggu ( dua bulan) selama bulan Februari-Juni 2016. Dalam pelaksanaan kegiatan
ini, tim PPMI dibantu oleh 15 orang mahasiswa Fisioterapi UMM. Kegiatanpengabdian ini terdiri
dari 5 macam kegiatan, antara lain:

1. Sosialisasi kepada pengurus panti lansia

Gambar 1 Sosialisasi dari tim IbM kepada pengurus panti Lansia Griya Asih Lawang dan
Panti Lansia Al Ishlah Malang.

Kegiatan sosialisasi kepada pengurus panti lansia oleh tim IbM dilakukan pada
tanggal 21 Desember 2015, Ketika kegiatan sosialisasi tim IbM melakukan kontak langsung
dengan pengurus panti yaitu Bapak Nelsensius dan Ibu Nia.
2. Pemberian pelatihan dari Tim IbM kepada mahasiswa Fisioterapi UMM sebelum
mereka terjun ke lapangan

Gambar 2 Pemberian pelatihan dari Tim IbM kepada mahasiswa Fisioterapi UMM sebelum
mereka terjun ke lapangan

6 Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016

Kegiatan selanjutnya adalah pemberian pelatihan tim IbM kepada 15 orang mahasiswa
Fisioterapi yang akan membantu proses kegiatan pengabdisn masyarakat. Pelatihan yang diberikan
oleh tim IbM meliputi dasar-dasar melakukan general exercise pada lansia, meliputi terapi mulligan ,
terapi berjalan. Kegiatan ini dilakukan selama 3 hari yaitu pada bulan Januari 2016.
3. Pemberian pelatihan kepada pengurus panti lansia tentang general exercise

Gambar 3 Pemberian pelatihan tentang rehabilitasi fisik lansia kepada petugas di kedua panti.
Pemberian pelatihan kepada pengurus lansia ( sebanyak 13 orang) tentang general exercise

dilakukan oleh tim IbM dibantu dengan mahasiswa fisioterapi. Dalam melakukan kegiatan ini materi
yang diberikan terkait pemeriksaan kesehatan dasar pada lansia, maupun tentang keselamatan lansia,
serta general exercise pada lansia.
4. Pendampingan general exercise pada lansia untuk meningkatkan ADL lansia

Gambar4.Latihan Rehabilitasi Fisik Lansia di kedua Panti oleh Mahasiswa Fisioterapi UMM yang
telah dilatih

Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016 7

Kegiatan pendampingan general exercise untuk para lansia dilakukan oleh pengurus lansia
bekerjasama dengan mahasiswa fisioterapi yang telah dilatih untuk melakukan latihan ini. Berbagai
kegiatan yang dilakukan antara lain adalah melakukan terapi berjalana dengan walker, terapi
berbicara, maupun memberikan terapi pada lansia yang baru mengalami jatuh. Kegiatan ini dilakukan
secara intensif selama 8 minggu sejak bulan Februari-April 2016.
5. Pemberian bantuan peralatan rehabilitasi pada pihak panti lansia griya asih lawang dan

Panti Lansia Al Ishlah Malang.

Gambar 5.Pemberian bantuan perlatan rehabilitasi fisik lansia kepada pengurus panti lansia
Selain itu, pada kegiatan ini juga tim IbM memberikan bantuan peraltan kesehatan yang

menunjang pemeriksaan kesehatan lansia antara lain, tensimeter, walker dan wheel chair masing –
masing sebanyak 2 buah kepada pihak panti lansia
6. Pemberian Modul Pelatihan dan pendampingan Kesehatan Pada Lansia

Gambar 6 Modul Latihan Rehabilitasi Fisik Lansia sekaligus berfungsi sebagai KMS Lansia
8 Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016

Dalam pelaksanaan program IbM Panti Lansia ini, tim IbM sekaligus juga menerbitkan buku
modul pedoman pelatihan dan oendampingan kesehatan pada lansia, sekaligus buku modul ini dapat
difungsikan sebagai KMS (Kartu Menuju Sehat) para lansia sehingga dapat memonitor perkembangan
kondisi fisiologis para lansia. Jumlah modul yang dibagikan adalah sebanyak 50 eksemplar ( 25
eksemplar masing-masing dibagikan pada setiap panti lansia). Jumlah buku modul yang dibagikan ini
secara proporsional sesuai dengan jumlah lansia yang ada di kedua panti.

5. KESIMPULAN DAN SARAN

1. Hasil yang telah dicapai dalam melakukan kegiatan pengabdian masyarakat pada Panti Lansia
terbagi menjadi 5 macam kegiatn yaitu: Sosialisasi kepada pengurus panti lansia, Pemberian
pelatihan dari Tim PPMI kepada mahasiswa Fisioterapi UMM sebelum mereka terjun ke
lapangan, Pemberian pelatihan kepada pengurus panti lansia tentang general exercise,
Pendampingan general exercise pada lansia untuk meningkatkan ADL lansia, Pemberian bantuan
peralatan rehabilitasi pada pihak panti lansia Griya Asih Lawang dan panti lansia Al Ishlah
Malang.

2. Rencana tindak lanjut dari kegiatan ini adalah terpublikasi dalam jurnal pengabdian masyarakat
milik DPPM UMM yaitu Jurnal Dedikasi sekaligus akan diikutsertakan dalam event Senaspro
UMM.

Saran

1. Diharapkan dengan kegiatan yang telah dilakukan pada salah satu panti lansia yang ada di Kota
Lawang ini dapat menjadi pilot project pemberian rehabilitasi fisik yang dapat
diimplementasikan pada seluruh panti lansia yang ada di wilayah Jawa Timur

DAFTAR PUSTAKA

[1] Ellis. JC, Nawlis. EA.1994. Nursing A Human Need Approach. 5th ed. Pennsylvania : J.B.
Lippincot. Company.

[2] Friedman M.M., Bowden V.R., Jones E.G. 2003. Family nursing research, theory, &
practice. Fifth Edition. New Jersey: Pearson Education, Inc.

[3] Rosdahl, CB. 1999. Textbook of Basic Nursing. Philadelphia : Lippincott Williams & Wilkins
[4] Gomes B dan Higginson IJ. 2006. Factor influencing death at home in terminaly ill patients

with cancer: systematic review. BMJ doi:10.1136/bmj.38740.614954.55
[5] Pender, N.J., Murdaug, C.L., & Parsons, M.A. 2002. Health promotion in nursing practice.

4th ed. Upper Saddle River : Prentice Hall
[6] Naidoo, J. & Wills, J. 2000. Health Promotion: foundation for practice. 2nd ed. London:

Harcourt Publishers
[7] NANDA, NOC, NIC 2001, Nusing Diagnosis:Definition and Clasification 2001-2002

Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016 9

IbM di KELURAHAN SISIR KOTA BATU
(BUDIDAYA SAYURAN/TOGA ORGANIK)
Uswatun Chasanah1), Dian Ermawati2), Andri Tilaqsa3)

1,2,3) Program Studi Farmasi, Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas Muhammadiyah Malang, Malang
Jl. Bendungan Sutami 188-A Telp. 0341-552443 Hunting 0341-551149 Fax. 0341-582060 Malang 65145

[email protected], [email protected], [email protected]

Abstrak
Tanaman organik memiliki banyak kelebihan dibandingkan non organik, menyadari hal tersebut
pemeritah kota Batu mencanangkan gerakan penanaman sayuran organik bagi warga kota Batu. Untuk
mendukung kebijakan tersebut pemerintah telah melakukan sosialisasi berupa penyuluhan kepada
warga kota Batu. Untuk keberlanjutan program tersebut diharapkan pihak warga yang lebih berperan
aktif/mandiri. Mitra pengabdian ini adalah penduduk yang tinggal di lingkungan Rt 04, Rw 09,
kelurahan Sisir kota Batu, dikarenakan mereka sangat antusias untuk berpartisipasi pada program ini,
namun ada kendala keterbatasan kemampuan finansial. Kegiatan ini dimulai pada Desember 2015 dan
berakhir pada Juni 2016. Program ini diawali dengan kegiatan diskusi dengan pihak Mitra untuk
selanjutnya lebih banyak kegiatan di lapangan. Keterlibatan mitra meliputi penyusunan perencanaan
kegiatan, kemudian dilanjutkan dengan pengadaan kebutuhan yang berupa bahan berikut
perlengkapannya. Selanjutnya, pihak mitra juga berperan aktif dalam proses penanaman dan
perawatannya. Sebagai hasil dari kegiatan ini adalah mitra dapat menikmati hasil sayuran untuk
membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari, juga dapat memanfaatkan TOGA untuk memenuhi
kebutuhan pengobatan sendiri. Selain itu, setelah pelaksanaan kegiatan ini kawasan di lingkungan
mitra menjadi lebih hijau segar dan asri.
Kata kunci: budidaya ; sayuran organik ; TOGA organik

10 Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016

1. PENDAHULUAN

1.1 Analisis situasi
Tanaman organik merupakan hasil budidaya tanaman baik berupa sayuran maupun buah-buahan

dengan tidak menggunakan zat-zat kimia sebagai penyubur tanaman, sehingga tanaman ini bebas
pupuk kimia, pestisida, hormon dan obat-obatan yang membahayakan kesehatan manusia, oleh karena
itu hasilnya lebih bergizi dan sehat jika dibandingkan sayuran atau buah-buahan biasa, sedangkan dari
rasanya hasil penanaman secara organik adalah lebih segar dan enak. Selain itu kelebihan sayuran dan
buah organik jika dibandingkan dengan yang biasa adalah jika disimpan tidak mudah membusuk[1].

Sejak tahun 2012 Pemeritah Kota Batu sudah gencar mempublikasikan gerakan pertanian
organik kepada seluruh petani di wilayah Batu. Seiring dengan berjalannya waktu dan juga dengan
semakin tingginya kesadaran sebagian masyarakat tentang kelebihan dan keuntungan dari hasil
pertanian organik, maka pada tahun 2014 Pemerintah kota Batu melalui Dinas Pertanian Kota Batu,
melaksanakan sosialisasi dan pembimbingan penanaman organik kepada warga yang bertempat tinggal
di pemukinam padat penduduk yang relatif hanya memiliki lahan resapan air yang sangat minim.

Salah satu kelompok masyarakat yang mendapatkan penyuluhan dan pembimbingan penanam
sayuran organik dari Dinas Pertanian Pemerintah Kota adalah warga RT 04 Rw 09 Kelurahan Sisir
kota Batu. Rt 04, Rw 09 Kelurahan Sisir Kota Batu. Di wilayah Rt 04 Rw 09 kelurahan Sisir kota Batu
terdapat 30 rumah tinggal dan 19 diantaranya merupakan rumah tinggal tanpa tanah resapan. Sebagian
besar dari halaman dan jalan umum di lingkungan ini sudah berupa paving atau plester semen.
Walaupun demikian pada saat kegiatan penyuluhan dari Dinas Pertanian Kota Batu, mereka sangat
antusias untuk juga berpartisipasi pada kegiatan Gerakan Penanaman Sayuran Organik.

1. 2 Permasalahan
Warga Rt 04 Rw 09 kelurahan Sisir kota Batu sangat antusias untuk berpartisipasi pada gerakan

penanaman sayuran organik yang telah diinisiasi oleh pemerintah kota. Untuk mendukung kegiatan ini
diperlukan media tanam dan juga bibit sayur organik yang tidak sedikit.

1.3 Solusi/Rencana Pemecahan Masalah
Dengan keterbatasan lahan pekarangan yang dimiliki oleh pihak Mitra, maka diperlukan tempat

tanaman dalam bentuk lain, diantaranya berupa pot plastik atau polybag agar dapat diletakkan di atas
paving atau plester, dan juga pipa paralon yang sudah dimodifikasi sedemikian rupa sehingga dapat
diikatkan pada pagar besi. Sebagai media tanam disiapkan campuran pupuk kompos dan serbuk arang.
Terakhir yang tidak kalah penting adalah pengadaan bibit sayuran dan TOGA organik.

1.4 Tujuan Program Pengabdian
Tujuan dari program pengabdian ini adalah untuk menunjang keinginan warga Rt 04, Rw 09

kelurahan Sisir kota Batu agar dapat berpartisipasi dalam gerakan tanaman Organik. Adapun rencana
kegiatan program pengabdian ini adalah berupa bantuan pengadaan media tanam berikut bibit dan
sekaligus pendampingan penanaman sayuran organik. Supaya kegiatan ini juga lebih semarak, maka
kegiatan gerakan penanaman sayuran organik ditambah pula dengan TOGA Organik. Adapun alasan
untuk menambah TOGA Organik dikarenakan pemanfaatan tanaman sebagai obat di masyarakat
masih sangat dibutuhkan. Hal ini dikarenakan secara empiris penggunaan tanaman obat relatif lebih
aman jika dibandingkan dengan pemakaian obat kimia jika digunakan secara tepat [2]

Toga adalah singkatan dari tanaman ohat keluarga. Taman obat keluarga pada
hakekatnya sebidang tanah baik di halaman rumah, kebun ataupun ladang yang digunakan
untuk membudidayakan tanaman yang berkhasiat sebagai obat dalam rangka memenuhi
keperluan keluarga akan obat-obatan[3]. Menurut jenisnya TOGA dapat berupa sayuran atau

Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016 11

rempah-rempah atau buah-buahan [4]. Ada berbagai manfaat TOGA adalah (i) Untuk pengobatan diri
sendiri yang murah dan aman, (ii) Menjaga lingkungan bersih dan asri, (iii) Meningkatkan
perekonomian keluarga, (iv) Meningkatkan keguyupan dalam bermasyarakat, (v) Membantu orang lain
mendapatkan kesehatan (vi) Udara menjadi segar dan bersih, (vii) Melestarikan warisan nenek moyang
pada generasi muda.

2. METODE

2.1. Rencana Kegiatan
Sebelum dilakukan aktivitas di lapangan, disusun program kegiatan bersama dalam bentuk:

(1) Koordinasi antara Tim Pengusul dan pihak Mitra untuk menyampaikan rencana yang akan
dilaksanakan.

(2) Pengadaan Bahan dan Alat yang akan dilakukan bersama–sama antara Tim Pengusul bersama
Mitra.

(3) Pelaksanaan kegiatan gerakan penanaman sayuran/TOGA Organik.

2.2. Partisipasi

Tentang partisipasi dari masing-masing pihak yang terlibat dalam kegiatan pengabdian ini telah
disepakati bahwa:

Pihak pengusul bertanggungjawab dalam hal penyediakan bahan yang diperlukan untuk mendukung
kegiatan ini berupa (i) pengadaan kompos (ii) serbuk arang (iii) pot plastik dan paralon, dan juga (vi)
menyediakan bahan / sarana penunjang yang lain sesuai keperluan.

Kewajiban Pihak Mitra adalah bersungguh-sungguh mendukung kegiatan ini dalam bentuk
penyediaan lahan dan berperan aktif mulai kegiatan pembelian bahan kebutuhan, perawatan tanaman
sampai masa panen.

2.3. Pelaksanaan Kegiatan

Setelah dilakukan persiapan kegiatan dengan matang maka selanjutnya mulai dilakukan
pelaksanan kegiatan utama. Secara garis besar kegiatan ini akan dibagi menjadi tiga tahapan utama
yaitu :
(1) Sosialisasi/koordinasi pelaksanakan program pengabdian kepada seluruh anggota Mitra. Pada

saat sosialisasi /koordinasi ini ini akan disampaikan rencana kerja dari tim pengusul. Selanjutnya
pada pertemuan ini juga sekaligus disampaikan materi yang terkait dengan penanaman sayuran
organik. Penyampaian materi ini sebenarnya berupa penyegaran saja karena mereka sudah pernah
mendapatkan dari Pemerintah kota Batu.
(2) Karena kegiatan penanaman sayuran dan TOGA Organik merupakan kegiatan kerjasama antara
pihak pengusul dengan mitra, sehingga untuk kegiatan pembelian/pengadaan alat dan bahan juga
dengan melibatkan pihak mitra. Adapun alat dan bahan yang dibeli disesuaikan dengan kebutuhan
yang tertulis dalam usulan dan disesuaikan dengan kondisi lapangan.Sesuai kesepakatan, tim
pengusul dengan beberapa anggota Mitra bersama sama melakukan pembelian tanah, polybag/pot
plastik dan yang lain yang diperlukan untuk mendukung kegiatan ini.
(3) Tahap berikutnya adalah persiapan media tanam. Pada tahap ini dilakukan pencampuran tanah,
pasir dan kompos [5] yang dilakukan di rumah tinggal warga yang masih memiliki halaman yang
luas.

12 Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016

(4) Kegiatan selanjutnya adalah pembagian pot plastik, media tanam, bibit dan peralatan berupa
gembor kepada pihak Mitra. Tanah yang sudah dimasukkan pada pot plastik dibagikan kepada
warga.

(5) Secara rutin pada setiap bulan ( sekali dalam satu bulan), di lingkungan pihak Mitra selalu
dilakukan kerja bakti. Bertepatan dengan kegiatan ini akan dilakukan penanaman bibit sayuran
/TOGA Organik pada media tanaman yang sebelumnya sudah dibagikan kepada warga.

(6) Kegiatan pemeliharaan dilakukan oleh pihak Mitra dengan menyirami tanaman ini setiap hari.
Tanaman organik sangat rentan terhadap serangan hama/penyakit, oleh sebab itu pada pelaksanaan
ini pihak Mitra juga disarankan untuk memperhatikan perkembangan dari sayuran / TOGA
Organik yang ditanam dengan seksama.

Untuk lebih jelasnya rangkaian pelaksanaan kegiatan seperti tertera pada Tabel 1.

Tabel 1. Jadwal Pelaksanaan Pengabdian

Waktu Jenis Kegiatan Durasi
3 September 2015
Penyusunan Perencanaan Kerjasama antara Tim 120 menit, pada saat
Desember 2015 rutin
Pengusul dan Pihak Mitra (sudah dilaksanakan) pertemuan PKK
Desember 2015
Januari 2016 bulanan
Januari 2016
Maret 2016 Persiapan Pengadaan Bahan dan Alat: 2 minggu
Mei 2016
Juni 2016 Pembelian tanah kompos, serbuk arang, pot

plastic, paralon, bibit sayur/TOGA

Persiapan Pembuatan Media Tanam 1 hari

Pembagian Media Tanam dan bibit 2 hari

Penanaman Bersama Seluruh Warga 1 hari

Perawatan Tanaman Setiap hari

Masa Panen --------------------

Penanaman bibit baru ---------------------

2.4. Pengawasan Kegiatan

Agar kegiatan ini berjalan dengan baik, maka dalam pelaksanaannya perlu dilakukan pengawasan
kegiatan. Pengawasan kegiatan ini dilakukan baik oleh pihak pengusul maupun oleh koordinator pihak
Mitra. Hal ini dimaksudkan agar setiap pelaksanaan kegiatan sesuai dengan tujuan awal yang telah
disepakati bersama. Metode pengawasan dilaksanakan dalam bentuk penyusunan loog book dari setiap
tahap kegiatan. Perkembangan kegiatan ini dilaporkan setiap bulan bertepatan dengan kegiatan PKK
rutin.

Gambar 1. Kondisi sebelum program Gambar 2. Kondisi setelah program

Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016 13

Gambar 3. Persiapan

Gambar 4. Rangkaian kegiatan program

Gambar 5. Beberapa hasil budidaya

3. HASIL DAN PEMBAHASAN
Telah dilaksanakan Program Pengabdian kepada Masyarakat tentang Budidaya sayuran/TOGA

Organik oleh Tim Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Muhammadiyah Malang kepada pihak
Mitra. Mitra adalah warga Rt 04 Rw 09 kelurahan Sisir kota Batu. Dari proses yang telah berjalan
ternyata didapatkan hasil yang sangat memuaskan. Pihak Mitra yang sedemikian antusias untuk
melaksanakan program kegiatan adalah faktor terpenting dari kesuksesan pelaksanaan pengabdian.
Adapun dokumentasi dari kegiatan yang telah dilakukan adalah berupa serangkaian gambar di atas.
Beberapa hasil yang dapat dicapai dari pelaksanaan Program Pengabdian Masyarakat Internal di
lingkungan warga Rt 04 Rw 09 Kelurahan Sisir Kota Batu antara lain sebagi berikut:
1. Masyarakat bisa memanfaatkan tanaman TOGA organik yang telah ditanam sebagai obat

tradisional untuk pengobatan beberapa jenis penyakit yang dialami oleh warga.
2. Masyarakat bisa memanfaatkan tanaman organik yang telah ditanam menjadi pelengkap menu

sayur sehari-sehari.

14 Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016

3. Masyarakat menjadi lebih sehat karena sayuran yang mereka makan merupakan tanaman organik
tanpa pestisida

4. Lingkungan warga Rt 04 Rw 09 Kelurahan Sisir Kota Batu sebagai pihak Mitra menjadi lebih
sehat, segar dan asri.

4. KESIMPULAN
Dari hasil kegiatan IbM di Kelurahan Sisir Kota Batu (Budidaya Sayuran/TOGA Organik) dapat
disimpulkan sebagai berikut :
1. Adanya peningkatan pengetahuan warga dalam budidaya sayuran dan TOGA organik
2. Program budidaya sayuran dan TOGA organik dapat diselenggarakan dengan baik dan berjalan

dengan lancar sesuai dengan rencana kegiatan.
5. DAFTAR PUSTAKA

[1] Ryna Parlyna dan Munawaroh. 2011.Konsumsi Pangan Organik: Meningkatkan Kesehatan
Konsumen. Econo Sains Volume IX, Nomor 2, Agustus 2011

[2] Deherba, Situs Herbal No.1 Indonesia. Obat Tradisional vs Obat Kimia.
https://www.deherba.com/obat-tradisional-vs-obat-kimia.html Diakses pada 4 Oktober 2015

[3] Tukiman, 2004. Pemanfaatan Tanaman Obat Keluarga (TOGA) untuk Kesehatan Keluarga.
Digitized by USU digital library

[4] Departemen Kesehatan RI. Pemanfaatan Tanaman Obat Edisi III, Jakarta. 1983
[5] Edy Hendras Wahyono, Haerudin R Sadjudin, Bambang Ryadi Soetrisno, Nano Sudarno,

Jueni, Edi Hidayat, Bambang Lesmana, Ayu Arika J, Bonaji, Erwindo, Suhadi dan
Sutarto.2013. Budidaya Sayuran Alami. Konsorsium YABI-WCS-YAPEKA Tahun 2013

Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016 15

PENGELOLAAN SAMPAH DENGAN MODEL 8M BERBASIS NILAI ISLAM DI MTS
MUHAMMADIYAH I DAN MA MUHAMMADIYAH I KOTA MALANG

Idaul Hasanah1), Husamah2), Gina Harventy3), Novita Ratna Satiti4).
1Ahwal Syakshiyyah, FAI-UMM; 2Pendidikan Biologi, FKIP-UMM; 3Akuntansi, FEB-UMM; 4Manajemen,

FEB-UMM
e-mail: [email protected]

ASBTRAK

Berdasarkan berbagai permasalahan lingkungan yang ditemui di sekolah mitra (MTs dan MA
Muhammadiyah), maka disepakati bahwa hal yang perlu mendapat solusi adalah pengelolaan
sampah dan diikuti penanaman nilai Islami. Perlu ada transfer informasi, penguatan wawasan,
dan pendampingan sekolah oleh Tim Pengabdian mengenai topik Pengelolaan sampah dengan
model 8M. Luaran kegiatan pengabdian ini adalah produk dan jasa, yang dapat dirinci yaitu: 1)
Produk berupa materi powerpoint sistem pengelolaan sampah sekolah dengan model 8M dengan
nilai-nilai Islam dan buku saku tentang sampah yang kemudian diharapkan diadopsi sebagai
sistem di sekolah mitra. 2) Jasa berupa adanya peningkatan kompetensi civitas akademika sekolah
dalam pengelolaan sampah sekolah dengan model 8M. 3) Produk berupa tersedianya tempat
sampah yang sesuai dengan spesifikasi sampah dan berbagai hasil olahan sampah yang
berguna/bermanfaat. 4) Produk berupa poster-poster himbauan cinta lingkungan dan disiplin
mengelola sampah. Metode pelaksanaan kegiatan pengabdian adalah adalah diskusi, sosialisasi,
pelatihan, workshop dan praktik langsung. Kegiatan yang telah dilakukan oleh tim pengabdian
adalah 1) Pembekalan Siswa Cinta Lingkungan (Sosialiasi kepada Siswa), 2) Kajian Guru tentang
Islam dan Lingkungan (Sosialisasi pada Guru), 3) Pembekalan Siswa Kader Lingkungan dan
Workshop Pengelolaan Sampah, 4) Pelatihan Pengolahan Sampah dan Program Penghijauan
Sekolah, 5) Monitoring dan Pendampingan Sekolah, dan 6) Penulisan Buku Saku “Green & Clean
School Melalui Diet Sampah”. Kegiatan pengabdian ini memiliki manfaat bagi sekolah, khususnya
dalam membantu sekolah mewujudkan green and clean school serta menanamkan rasa peduli
permasalahan sampah bagi siswa.

Kata Kunci: 8M, Muhammadiyah, Pengelolaan Sampah, Sekolah, Siswa

1. PENDAHULUAN
Sampah merupakan salah satu permasalahan lingkungan yang memerlukan penanganan

serius. Berdasarkan Undang-Undang No. 18 Tahun 2008, sampah adalah sisa kegiatan sehari-hari
manusia dan atau proses alam yang berbentuk padat. Secara umum sampah dibedakan menjadi
tiga, yaitu sampah organik, sampah anorganik, dan sampah berbahaya (Sejati, 2009). Seiring
meningkatnya jumlah penduduk di suatu wilayah maka juga mengakibatkan bertambahnya volume
sampah. Pola konsumsi masyarakat ikut memberi kontribusi dalam peningkatan volume sampah
yang semakin beragam jenisnya. Pengelolaan sampah masih kurang mendapat penanganan yang
optimal dari berbagai pihak, baik dari masyarakat setempat maupun pemerintah daerah.
Penanganan yang kurang optimal akan menimbulkan berbagai permasalahan lingkungan, seperti
timbulnya banjir, timbulnya penyakit, sanitasi lingkungan memburuk, turunnya kandungan organik
lahan pertanian, dan mempercepat terjadinya pemanasan global. Oleh karena itu diperlukan adanya
komitmen bersama semua pihak dalam pengelolaan sampah sehingga tidak menimbulkan berbagai
permasalahan lingkungan (Suharmini et al., 2013).

Sehubungan dengan itu, tim pengabdian telah melakukan observasi dan diskusi mendalam
dengan pihak mitra, yaitu MTs Muhammadiyah I dan MA Muhammadiyah I Kota Malang. Diskusi
telah dilakukan dengan berbagai pihak di sekolah baik itu kepala sekolah, wakil kepala sekolah,
dan dewan guru. Tim juga mendapat masukan dari Majelis Dikdasmen Kota Malang. Observasi

16 Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016

dan diskusi dengan pihak MTs Muhammadiyah I Kota Malang dilaksanakan pada hari Ahad
tanggal 4 Oktober 2015, sedangkan observasi dan diskusi dengan pihak MA Muhammadiyah I
Kota Malang dilaksanakan pada hari Sabtu tanggal 31 Oktober 2015. Kedua sekolah yang menjadi
mitra adalah sekolah yang giat melakukan upaya pembenahan-pembenahan, melakukan terobosan-
terobosan dalam berbagai pengambilan kebijakan untuk meningkatkan kualitas sekolah, serta
membuka diri untuk bekerjasama dengan berbagai pihak selama memberi nilai positif bagi
sekolah.

Berdasarkan diskusi yang telah dilakukan, terungkap bahwa para guru dan kepala madrasah
menyadari bahwa budaya menjaga kelestarian lingkungan di kalangan masyarakat masih rendah,
tak terkecuali di kalangan siswa madrasah. Di sisi lain bahaya kerusakan lingkungan sudah
mengancam. Berbagai bencana yang menimpa manusia, khususnya di Indonesia menggambarkan
hal tersebut, seperti banjir di kota besar pada musim hujan, kekeringan di musim kemarau, bencana
longsor dan yang akhir-akhir ini menjadi perhatian masyarakat Indonesia bahkan Asia adalah
bencana asap yang melanda kawasan Sumatera dan Kalimantan. Para guru dan tim pengabdian
sepakat bahwa perlu dilakukan gerakan kesadaran lingkungan dan salah satu poin penting adalah
generasi muda yang ada di sekolah-sekolah.

Guru dan kepala madrasah mengungkapkan bahwa pihak sekolah telah menyediakan
tempat sampah yangdiletakkan di depan kelas masing-masing (satu tempat sampah untuk satu kelas
dan belum ada spesifikasi tempat sampah). Karena tempat sampah yang terbatas maka sekolah
tidak memiliki peraturan misalnya mewajibkan membuang sampah basah atau organik di tempat
yang berbeda atau dipisahkan dengan jenis sampah kering, sampah botol, sampah kaleng, sampah
kemasan, dan sampah berbahaya.

Budaya menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan pada siswa juga masih rendah.
Perilaku siswa dalam membuang sampah secara sembarangan, penggunaan plastik yang berlebihan,
kurangnya kesadaran dalam menjaga kebersihan toilet sekolah menggambarkan hal tersebut.

Berdasarkan permasalahan yang muncul atau ditemui di MTs maupun MA Muhammadiyah
yang menjadi mitra maka kepala sekolah, guru-guru, dan Tim Pengabdian telah sepakat bahwa
masalah prioritas yang perlu segera mendapatkan solusi adalah terkait pengelolaan sampah yang
dihasilkan di lingkungan sekolah agar lebih berdaya guna. Sekolah menyadari bahwa mereka
mempunyai tanggung jawab untuk mendidik siswanya dalam mengelola sampah (membuang
sampah secara terpisah sehingga sampah tersebut dapat diolah dan dimanfaatkan lagi),
menciptakan suasana lingkungan yang asri dan hijau dengan memperbanyak tumbuhan, serta
menanamkan kesadaran cinta lingkungan berdasarkan nilai-nilai Islam sehingga lebih bermakna.

Menurut sendratari et al (2015) salah satu yang menjadi permasalahan adalah persoalan
kebersihan lingkungan dari sampah plastik. Lingkungan umum termasuk sekolah harus memiliki
image bersih dan aman. Kebersihan fisik maupun psikis warga sekolah mutlak diperlukan agar
merasa betah belajar. Salah satu kondisi yang dinilai sangat mengganggu biasaya adalah kebiasaan
warga sekolah mengotori lingkungan dengan sampah plastik. Persoalan sampah sebenarnya dapat
dilakukan secara serentak oleh warga sekolah di bawah komando Kepala Sekolah dan Guru. Siswa
dapat mengumpulkan sampah dan dikelola lebih lanjut sehingga lebih bernilai. Langkah ini
dimaksudkan agar siswa juag mulai memiliki jiwa wirausaha dan sekaligus dilatih menjaga
kebersihan lingkungan dari gangguan sampah.

Luaran yang diharapkan dari kegiatan pengabdian ini adalah produk dan jasa, yang dapat
dirinci sebagai berikut: a) Produk berupa booklet sistem pengelolaan sampah sekolah dengan
model 8M dengan nilai-nilai Islam yang kemudian diharapkan diadopsi sebagai sistem di sekolah
mitra; b) Jasa berupa peningkatan kompetensi civitas akademika sekolah dalam pengelolaan
sampah sekolah dengan model 8M dengan nilai-nilai Islam; c) Produk berupa tersedianya tempat
sampah yang sesuai dengan spesifikasi sampah dan berbagai hasil olahan sampah yang
berguna/bermanfaat; d) Produk berupa poster-poster himbauan cinta lingkungan dan disiplin
mengelola sampah secara bertanggung jawab; e) Produk berupa laporan; dan f) Produk berupa
artikel/naskah publikas

Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016 17

2. METODE

Pendekatan Pengabdian
Pendekatan yang dipilih dalam kegiatan pengabdian ini sepenuhnya disesuaikan dengan

hasil analisis situasi terhadap permasalahan prioritas yang disepakati untuk diselesaikan bersama

dengan kepala sekolah, wakil kepala sekolah dan guru-guru serta melibatkan para siswa dari kedua
sekolah, yaitu MTs Muhammadiyah 1 maupun MA Muhammadiyah I Kota Malang.

Pendekatan yang digunakan adalah pendampingan yang meliputi sosialisasi, workshop,
pelatihan, praktek langsung, dan evaluasi. Metode ini diharapkan dapat memberikan peran lebih
kepada pada civitas akademika di sekolah mitra untuk memiliki, pengetahuan dan sekaligus

keterampilan dalam mengelola sampah dan mewujudkan sekolah green, clean, and confortable.

Tahapan Kegiatan
Metode pelaksanaan yang telah ada maka dapat disusun tahapan kegiatan sebagaimana

ditunjukkan pada Tabel 1 berikut ini.

Tabel 1. Tahapan Kegiatan dan Metode PelaksanaanPengabdian

No Rencana Kegiatan PPMI Metode

1 Sosialisasi (Penyampaian materi pengantar dan Diskusi dan sosialisasi
penyamaan persepsi) kepada pihak sekolah

Sosialisasi dan workshop terkait dengan konsep Diskusi, pelatihan,

2 Pengelolaan sampah sekolah dengan model 8M berbasis workshop

nilai-nilai Islam.

3 Pendampingan implementasi model 8M Praktek, diskusi, evaluasi

4 Pendampingan internalisasi nilai-nilai Islam terkait cinta Praktek, diskusi, evaluasi
lingkungan dan perilaku hidup sehat.

5 Monitoring dan evaluasi Diskusi

6 Penyusunan Naskah Publikasi dan Laporan Akhir, serta Praktek
melaksanakan publikasi semianr dan jurnal

3. HASIL DAN PEMBAHASAN
Kegiatan yang dilaksanakan dalam pengabdian ini adalah sebagai berikut.

Pembekalan Siswa Cinta Lingkungan (Sosialiasi kepada Siswa)
Kegiatan ini dilaksanakan tanggal 14 Januari 2016, dengan pemateri Bapak Fuad Jaya

Miharja dan Ibu Idaul Hasanah. Peserta kegiatan adalah Siswa-siswi MTs Muhammadiyah 1 dan
MA Muhammadiyah 1 Malang, guru Pendamping dan Tim pelaksana pengabdian. Peserta

berjumlah ±130 orang. Kegiatan dilaksanakan di ruang Aula BAU UMM. Kegiatan ini
dimaksudkan untuk memberikan pembekalan kepada para siswa terkait cinta lingkungan,
khususnya terkait kebersihan sekolah. Pembicara pertama, Idaul Hasanah menyampaikan berbagai

ketentuan ajaran agama Islam terkait mencintai dan menjaga lingkungan hidup agar tetap lestari.
Budaya menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan pada siswa juga masih rendah

menjadi petunjuk bahwa mereka tidak menjalankan ajaran atau perintah agama. Oleh karena itu
untuk mewujudkan kebersihan lingkungan siswa harus banyak terlibat. Disampaikan pula berbagai
fakta tentang perilaku membuang sampah yang tidak bertanggung jawab, fakta bahaya plastik, dan

langkah sederhanayang dapat dilakukan (berupa pemisahan sampah).
Pemateri selanjutnya yaitu Bapak Fuad Jaya Miharja, dosen Pendidikan Biologi UMM

menyampaikan materi tentang Pengolahan Sampah dengan Metode 6M. Pemateri menjelaskan
berbagai fakta tentang bahaya sampah, sumber sampah dan langkah yang dapat dilakukan untuk
mengurangi dampak sampah, yaitu dengan metode 6M (mengurangi, menggunakan kembali,

18 Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016

mengganti, memisahkan, mendaur ulang, dan mengomposkan) atau dapat ditambah dengan 2M lain
yaitu membuat berbagai handycraft berbasis sampah, dan menerapkan hasil kompos dalam bidang
pertanian. Ia menjelaskan pula salah satu teknik pengomposan yaitu dengan menggunakan
keranjang Takakura. Para siswa tampak antusias menyimak dan aktif bertanya kepada kedua
pemateri. Selanjutnya mereka berkomitmen untuk menerapkan hasil yang diperoleh dalam kegiatan
ini di sekolah masing-masing dan mengharapkan adanya pendampingan dari tim pengabdian.

Kajian Guru tentang Islam dan Lingkungan (Sosialisasi pada Guru)
Kegiatan dilaksakana pada tanggal kegiatan 20 Maret 2016, dengan pemateri adalah ketua

tim pengabdian, Ibu Idaul Hasanah. Materi yang disampaikan terkait Islam dan penjagaan
lingkungan. Peserta kegiatan ini adalah para guru dan karyawan sekolah mitra. Kegiatan
dilaksanakan di Aula MTs Muhammadiyah 1 Malang.

Program pengelolaan sampah sekolah tidak akan berhasil tanpa dukungan berbagai pihak
dalam lingkungan sekolah. Untuk itu bagi guru dan karyawan sekolah diberikan pembekalan yang
difokuskan pada materi lingkungan dalam perspektif Islam. Para guru dan karyawan diharapkan
memiliki pemahaman mengenai pentingnya pengelolaan lingkungan sekolah khususnya dalam
masalah sampah, untuk mendukung program sekolah. Kegiatan ini disesuaikan dengan kegiatan
pengajian rutin bulanan, yang biasanya diisi oleh pengurus majelis Dikdasmen PDM Kota Malang.
Atas izin Majelis Dikdasmen PDM Kota Malang, maka kajian rutin diisi dari Tim pengabdian
PSLK UMM.

Sampah jelas merupakan masalah yang sering muncul di daerah lingkungan sekitar penduduk
terutama di lingkungan masyarakat yang sangat heterogen. Dalam masyarakat yang sangat
heterogen, cara penanggulangan sampah bisa menjadi masalah yang sangat kompleks. Masyarakat
harus mempunyai pengetahuan yang cukup berkaitan dengan penanganan sampah. Selain
pengetahuan mengenai penanganan sampah, masyarakat juga harus mempunyai kesadaran akan
betapa pentingnya penanganan sampah (Main et al., 2013).

Islam adalah agama yang paling ramah lingkungan (eco-friendly). Terdapat 750 ayat atau
sekitar seperdelapan dari semua ayat al-Quran yang mendorong kaum beriman untuk menelaah,
merenungkan, dan menyelidiki alam (Quddus, 2012). Islam menegaskan bahwa pemeliharaan
lingkungan (himâyat al-bî`ah) merupakan sebuah tugas penting umat Islam. Menurut Islam,
lingkungan adalah kehidupan. Tanpanya, siapa dan apapun tak dapat hidup dan melangsungkan
kehidupan. Lingkungan bukan sekedar untuk digunakan oleh generasi saat itu, namun akan
diwariskan kepada generasi mendatang, karena itulah, Islam sangat peduli terhadap isu ini
(Dzulhadi, 2014). Ajaran Islam, mengandung prinsip-prinsip etika lingkungan yang merupakan
perwujudan kekuatan moral untuk pelestarian lingkungan hidup (Husamah, 2016).

Berdasarkan hal tersebut, Agama Islam jelas sangat peka terhadap permasalahan
lingkungan hidup, termasuk sampah. Sampah tentu berhubungan dengan masalah kebersihan.
Terkait dengan Rasulullah SAW telah mengingatkan kita, bahwasanya kebersihan itu
merupakan cerminan Iman seorang Muslim, sebagaimana hadis berikut.

Abu Malik Al-Asy’ari meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Kesucian
(kebersihan) itu adalah separoh dari iman, kalimat “alhamdulillaah” mampu mengisi
(memberatkan) timbangan amal, kalimat “subhaanallaah” dan “alhamdulillaah” mampu mengisi
(sebanding) dengan seluruh isi yang ada di langit dan bumi, shalat adalah cahaya, sedekah adalah
bukti (kedermawanan dan ketaatan), shabar adalah sinar, dan Al-Qur’an adalah hujjah
(argumentasi) yang menguatkan atau melemahkan dirimu. Setiap orang berangkat (menyiapkan
dirinya), baik mengekang jiwanya atau memerdekakannya” (HR Bukhari).

Dalam hadis lain juag disampaikan, yaitu: “Diriwayatkan dari Sa’ad bin Abi Waqas dari
bapaknya, dari Rasulullah SAW: Sesungguhnya Allah SWT itu suci yang menyukai hal-hal yang
suci, Dia Maha Bersih yang menyukai kebersihan, Dia Mahamulia yang menyukai kemuliaan, Dia
Maha Indah yang menyukai keindahan, karena itu bersihkanlah tempat-tempatmu” (HR.
Tirmizi)”.

Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016 19

Apaila sampah tidak dikelola dengan baik, dan tidak ada perubahan sikap manusia untuk peka
terhadap permasalahan sampah, maka akan terjadi bencana sebagai akiat dari kelalaian itu.
Sehubungan dengan itu Allah SWT telah mengingatkan kita di dalam Al-Qur’an sebagai berikut:

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia,
Allah menghendaki agar mereka merasakan sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar
mereka kembali (ke jalan yang benar). (Q.S: Ar Ruum: 41)

Pembekalan Siswa Kader Lingkungan dan Workshop Pengelolaan Sampah
Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 6 April 2016. Pemateri adalah Bapak Husamah dan

Tim Penggerak PKK Kecamatan Sukun, dengan peserta adalah Siswa Kader Lingkungan dan Guru
Pendamping. Kegiatan bertempat di Aula MTs Muhammadiyah 1.

Deskripsi kegiatan yang dilakukan pada pembekalan dan workshop ini adalah:
1. Pembekalan siswa kader lingkungan yang disampaikan oleh Husamah, S.Pd., MPd, dengan

materi Pengelolaan Sampah dengan metode 8 M. Inti materi yang disampaikan adalah (1)
Mengurangi berarti suatu upaya mengurangi jumlah sampah yang ditimbulkan. (2
Menggunakan kembali berarti memakai atau memanfaatkan kembali sampah; (3) Mengganti
berarti mengganti jenis bahan kebutuhan civitas akademika sekolah tertentu dengan jenis bahan
yang lain; (4) Memisahkan berarti memisahkan sampah antara sampah basah dan sampah kering
yang sejenis (sesuai kategori sampah); (5) Mendaur ulang berarti memanfaatkan kembali
sampah dan mengolahnya terlebih dahulu. (6) Membuat kerajinan berarti membuat berbagai
hasta karya atau kerajinan yang bermanfaat, bernilai seni dan bernilai ekonomisberbasis sampah
sehingga memberi nilai tambah bagi siswa atau sekolah sekaligus semakin mereduksi sampah.
(7) Mengomposkan berarti suatu upaya mengolah sampah sekolah menjadi kompos. (8)
Mengaplikasi produk sampah pada pertanian atau tanaman berarti berbagai produk yang diolah
dari sampah seperti kompos baik kompos padat maupun kompos cair diaplikasikan pada lahan
pertanian/tanaman sehingga meningkatkan produktivitas tanaman yang tentu sangat bermanfaat
bagi sekolah.
2. Workshop/Pelatihan membuat kerajinan dari barang bekas. Tim pengabdian bekerja sama
dengan tim penggerak PKK Kecamatan Sukun yang diwakili oleh Ibu Erna memberikan
pelatihan pembuatan kerajinan dari koran bekas menjadi benda-benda yang bernilai tinggi.
Siswa melakukan praktek langsung di bawah bimbingan/panduan Ibu Erna dan tim pengabdian.
Mereka membuat tempat alat tulis, wadah permen, vas bunga imitasi, dan lain-lain.

Menurut Suparmini et al (2014) kegiatan pembekalan masyarakat dalam mengelola sampah
perlu dilandasi pemikiran bahwa setiap orang berhak atas lingkungan yang layak dan nyaman,
sehingga setiap orang wajib menjaga kenyamanan lingkungan, tanpa kecuali. Pelatihan pengelolaan
sampah menjadi aneka kreasi daur ulang dalam rangka meminimalkan sampah di lingkungsan
sekitar tentunya akan sangat bermanfaat, apalagi jika sampah yang telah didaur ulang menjadi
aneka kreasi unik dan cantik dapat memiliki manfaat tertentu dan bernilai ekonomi sehingga dapat
menambah penghasilan dan menambah kreativitas.

Sampah anorganik dapat dijadikan aneka kreasi (hasta karya) daur ulang. Sampah kertas
dapat diubah menjadi barang-barang unik dan modis sebagai aksesori maupun pelengkap
penampilan (Yuliati, 2011). Selain itu sampah kertas, khususnya kertas koran dapat dijadikan
bahan kerajinan yang menarik atau cantik (Rubiyar, 2011). Sampah plastik dapat dimanfaatkan
untuk bahan pembuatan kerajinan tangan seperti tas, dompet, jepit rambut, dan aneka aksesoris
lainnya. Sampah botol plastik dapat dijadikan tempat lilin, frame foto, tempat alat tulis, dompet
bulat, gantungan hias, tempat tisu, celengan, lampu hias, bunga hias, hiasan tas, hiasan lemari es,
anting, gelang, kalung, gantungan kunci, gantungan handphone, bando, dan bros (Prastiwi &
Widihastuti, 2010).

Menurut Suharmini et al (2014) dengan menerapkan prinsip recycle, barang-barang bekas
atau sampah dapat diolah kembali menjadi suatu bentuk yang memiliki daya guna seiring dengan
kreatifitas yang dimiliki. Dengan kreatifitas yang dimiliki, botol plastik bekas warna-warni dapat

20 Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016

dijadikan berbagai bentuk yang cantik sehingga terlihat artistik dan seperti tidak terbuat dari bahan
botol plastik bekas. Dalam berkreasi dengan botol plastik bekas, terlebih dahulu botol kita
bersihkan, selanjutnya botol dipotong dengan menggunakan tang/pisau/gunting untuk dibuat
berbagai kreasi, seperti bunga, bros, maupun hiasan tas.

Pelatihan Pengolahan Sampah dan Program Penghijauan Sekolah
Kegiatan ini dilaksanakan bulan April 2016. Pemateri kegiatan adalah semua tim Pengabdian

dan peserta adalah Siswa Kader Lingkungan dan Guru Pendamping. Kegiatan bertempat di
Aula MTs Muhammadiyah 1.

Adapun deskripsi kegiatan ini antara lain,
1. Pelatihan pengolahan sampah organik. Tim pengabdian menyerahkan satu paket komposter

pengolah sampah organik. Komposter ini diharapkan menjadi solusi terhadap sampah di
lingkungan sekolah. Sebelum komposter dioperasikan, terlebih dahulu dilakukan pelatihan
mengenai pengolahan sampah organik. Sampah yang boleh dimasukkan adalah sampah-sampah
organik seperti dedaunan, dan sisa makanan.
2. Program penghijauan sekolah dengan menanam tanaman hias. Kegiatan ini dilaksanakan
bersama-sama dengan siswa oleh tim pengabdian. Sejumlah 15 buah pot diisi dengan media
tanam berupa kompos dan ditanami tanaman hias. Tanaman hias adalah jenis pucuk merah.
Adanya tanaman hias ini diharapkan semakin membuat lingkungan sekolah menjadi hijau,
udara lebih sehat, lebih rindang dan terkesan nyaman. Tanaman ini akan dirawat oleh siswa.
3. Pengadaan tempat sampah. Melihat kurangnya tempat sampah yang ada di lingkungan sekolah,
Tim pengabdian PSLK menambah koleksi tempat sampah sekolah sebanyak 6 buah. Tempat
sampah ini diharapkan dapat mendukung program kebersihan di lingkungan sekolah.

Menurut Main et al (2013) cara terbaik mengendalikan sampah organik adalah dengan
mengubahnya menjadi pupuk kompos. Pupuk ini terbuat dari bahan organik dan proses
pembuatannya tidak terlalu rumit karena tidak membutuhkan tempat luas, banyak peralatan, dan
biaya. Kompos berguna untuk memperbaiki struktur tanah, zat makanan yang diperlukan tumbuhan
akan tersedia. Mikroba yang ada dalam kompos akan membantu penyerapan zat makanan yang
dibutuhkan tanaman. Tanah akan menjadi lebih gembur. Tanaman yang dipupuk dengan kompos
akan tumbuh lebih baik. Hasilnya bunga-bunga berkembang, halaman menjadi asri dan teduh.
Hawa menjadi segar karena oksigen yang dihasilkan oleh tumbuhan. Pengelolaan sampah menjadi
pupuk kompos ekonomis bertujuan untuk menjadikan sampah sebagai barang yang tidak berguna
menjadi sesuatu yang dapat mempunyai manfaat yang lebih. Tujuan lain meningkatkan taraf
perekonomian secara umum, khususnya yang menggunakan pupuk kompos untuk dijual kembali
maupun digunakan secara umum.

Monitoring dan Pendampingan Sekolah
Tim pengabdian memonitoring kegiatan terkait semangat sekolah khususnya siswa melalui

guru pendamping tentang keberlangsungan program pengelolaan sampah. Berdasarkan penuturan
guru pendamping, program tetap berjalan dan dilaksanakan oleh siswa dan dibawah pantauan guru
pendamping. Siswa semakin disiplin membuang sampah, memilah sampah, dan menggunakan
komposter untuk sampah-sampah organik.

Penulisan Buku Saku “Go Green & Clean School Melalui Diet Sampah”
Draft buku saku telah disiapkan oleh guru pendamping siswa (Bapak Mashuri, S.Pd., Tri

Maulida W., MA., dan Febri Retno Kartika Ningrum, S.Pd.). Dari draft yang telah disiapkan,
ditambahkan dan disempurnakan materinya oleh tim pengabdian PSLK, yang terdiri dari Ibu .
Ditahap akhir dilakukan proses editing. Buku ini telah diterbitkan oleh PSLK UMM bekerjasama
dengan UMM Press dengan ISBN Nomor 978-979-796-194-7, jumlah halaman 66 ukuran 10.5 x
15 cm. Menurut Mashuri et al. (2016) buku ini terdiri dari 8 bab, yaitu 1) Pendahuluan: Yuk Diet
Sampah, 2) Mengenal Sampah Lebih Dekat, 3) Mengapa Sampah Jadi Masalah Bagi Kita?, 4)

Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016 21

Karakteristik Sampah di Sekolah, 5) Pengelolaan Sampah di Sekolah, 6) Pengendalian Sampah, 7)
Gerakan Bersama “Yuk, Diet Sampah!”, dan 8) Gerakan Shodaqoh Sampah.

Buku ini disebarkan ke seluruh sekolah Muhammadiyah di Malang Raya. Buku ini
diharapkan menjadi buku seri praktis sehingga dapat menjadi acuan siswa dan sekolah dalam
mewujudkan sekolah yang bersih dan hijau. Buku ini diterbitkan sebagai bentuk kampanye dan
penyadaran lingkungan bagi masyarakat khususnya siswa dan guru di sekolah. Selain itu penulisan
dan penerbitan buku bertujuan memberikan pengetahuan dan keterampilan bagi siswa dan guru
dalam mengelola dan melestarikan lingkungan, khususnya lingkungan sekolah.

4. KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan
Alhamdulillah program pengabdian yang dilaksanakan TIM PSLK telah terlaksana. Kegiatan

yang telah dilakukan oleh tim pengabdian adalah 1) Pembekalan Siswa Cinta Lingkungan
(Sosialiasi kepada Siswa), 2) Kajian Guru tentang Islam dan Lingkungan (Sosialisasi pada Guru),
3) Pembekalan Siswa Kader Lingkungan dan Workshop Pengelolaan Sampah, 4) Pelatihan
Pengolahan Sampah dan Program Penghijauan Sekolah, 5) Monitoring dan Pendampingan Sekolah,
dan 6) Penulisan dan penerbitan Buku Saku ‘Green & Clean School Melalui Diet Sampah”.

Saran
Kegiatan pengabdian ini memiliki manfaat bagi sekolah, khususnya dalam membantu

sekolah mewujudkan green and clean school serta menanamkan rasa peduli permasalahan sampah
bagi siswa. Oleh karena itu, perlu kegiatan-kegiatan pengabdian dengan tema atau isu terkait yang
bersifat pengembangan sehingga sekolah akan semakin merasakan manfaatnya.

REFERENSI

[1] Al Muhdar, M. H. I. 2012. Mengubah Paradigma Masyarakat dalam Pengelolaan Sampah
Rumah Tangga melalui Pembudayaan 6M. Malang: UM Press.

[2] Anonim. 2009. Materi Dakwah Sanitasi. Surabaya: Kerjasama Pemerintah Indonesia, MUI
Jawa Timur, IainSurabaya, WSP-EAP/TSSM, Gates Foundation.

[3] DP2M UMM. 2014. Buku Panduan Program Pengabdian Kepada Masyarakat Internal
Universitas Muhammadiyah Malang. Malang: UMM Press.

[4] Dzulhadi, Q. N. 2014. Teologi Pengelolaan Lingkungan. FIKRAH, Edisi 9 Oktober 2014.
[5] Husamah. 2016. Islamic Deep Ecology: Integrasi Nilai-Nilai Islam Dan Pendidikan

Mengurai Problematika Lingkungan Hidup. Dalam Setiawan, A. & Husamah. (Eds). 2016.
Pemahaman Lingkungan Secara Holistik. Malang: UMM Press dan PSLK UMM.
[6] Kementrian Lingkungan Hidup RI. 2011. BankSampah dan 3R: Membangun
Lingkungandan Ekonomi Kerakyatan.
[7] Main, U. R., Aniawati, Susanti, R. & Hastanti, N. F. 2013. Pupuk Kompos Ramah
Lingkungan dan Ekonomis Dengan Memanfaatkan Sampah di Desa Gempolsewu.
Semarang: Universitas Dian Nuswantoro.
[8] Mashuri, Maulida, T., Hasanah, I., Husamah, Harventy, G., Satiti, N. R., & Ningrum, F. R.
K. 2016. Go Green & Clean School Melalui Diet Sampah. Malang: UMM Press & PSLK
UMM.
[9] Prastiwi, K. W. & Widihastuti, Y. 2010. Recycle Bottle: Ragam Kreasi Limbah Botol
Plastik. Surabaya: Tiara Aksa.
[10] Quddus, A. 2012. Ecotheology Islam: Teologi Konstruktif Atasi Krisis
Lingkungan. Ulumuna: Jurnal Studi Keislaman, 16(2): 311-346.
[11] Rubiyar. 2011. Kreasi Unik Kertas Koran. Surabaya: Trubus Agrisarana.

22 Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016

[12] Sejati, K. 2009. Pengolahan Sampah Terpadu. Yogyakarta: Kanisius.
[13] Suhri, M. 20114. Gambaran Sikap Tentang Perilaku Hidup Bersih danSehat pada

Anak Sekolah Dasar Negeri di DesaGonilan Kecamatan KartasuraKabupaten Sukoharjo.
Naskah Publikasi. Surakarta: FIKES UMS.
[14] Suparmini, Khotimah, N., Sumunar, D. R. S., Sudarsono, A. & Setyawati, S. 2013.
Pelatihan Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dengan Metode Komposting di Desa
Banyurejo Kecamatan Tempel Kabupaten Sleman. Laporan Kegiatan Pengabdian Pada
Masyarakat (PPM) Dosen. Yogyakarta: FIS UNY.
[15] Suparmini, Setyawati, S., Sumunar, D. R. S., Khotimah, N. 2014. Pelatihan
Pengelolaan Sampah Anorganik Menjadi Aneka Kreasi Daur Ulang Bagi Ibu Rumah
Tangga dan Remaja Putri di Desa Trimulyo Kecamatan Jetis Kabupaten Bantul. Laporan
Kegiatan Pengabdian Pada Masyarakat (PPM) Dosen. Yogyakarta: FIS UNY.
[16] Yuliati, I. 2011. Aksesori dari Kertas: Memanfaatkan Kertas Menjadi Berbagai
Macam Aksesori Cantik. Surabaya: Tiara Aksa.

Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016 23

INOVASI JAMU DALAM KEMASAN SIAP MINUM SEBAGAI UPAYA
MENINGKATKAN POLA KONSUMSI JAMU DAN PEMBERDAYAAN

MASYARAKAT DI KECAMATAN JATEN

Fea Prihapsara1, Anif Nur Artanti1

1Program Studi Farmasi/ Universitas Sebelas Maret, Surakarta

Alamat Korespondensi : Jl. Ir. Sutami No. 36A, Program Studi Farmasi FMIPA Universitas Sebelas Maret
Telp. (0271) 663375 E-mail: 1)[email protected]

Abstrak

Penanaman tanaman obat sebagai kegiatan masyarakat telah dirintis di Desa Brujul, Kecamatan Jaten,
Kabupaten Karanganyar. Saat ini terdapat kelompok pemberdayaan masyarakat yakni PKBM Al Hikmah
dan CV Andromeda selaku home industry yang bergerak dalam perdagangan dan produksi minuman instan
yang bersama-sama melakukan edukasi kepada masyarakat melalui proses penanaman tanaman obat,
pemeliharaan, pemanenan hingga memasarkannya dalam bentuk produk minuman serbuk instan. Program
pengabdian masyarakat ini (Ipteks bagi Masyarakat) bertujuan untuk mengembangkan produk usaha
masyarakat yang hanya sebatas pada pembuatan minuman instan saja, sementara itu beberapa potensi
pemanfaatan herbal sebagai produk belum optimal. Program pengabdian masyarakat ini menginisiasi
produk inovasi jamu siap minum yang dibuat dengan berbagai komposisi dan formula yang sudah diteliti
dan terbukti secara empiris yakni 3 varian produk: teh daun sirsak, teh secang dan teh serai. Produk ini
diharapkan dapat menambah jenis produk usaha masyarakat di Desa Brujul sekaligus diharapkan dapat
menjadi komoditas ekonomi masyarakat dengan sasaran adalah anggota PKBM Al Hikmah yang belum
memiliki pekerjaan. Diversifikasi pengolahan minuman jamu dalam kemasan siap minum dinilai sangat
potensial untuk dikembangkan mengingat pada saat ini masyarakat banyak yang membudidayakan tanaman
obat namun pengolahannya menjadi produk yang bernilai ekonomi masih belum optimal. Hasil dari
program pengabdian masyarakat ini antara lain: pelatihan pembuatan jamu dalam kemasan, sanitasi
higiene dan dokumentasi; produk inovasi jamu dalam kemasan yang telah memperoleh izin edar, dan
transfer teknologi dengan metode pasteurisasi yang meningkatkan masa edar produk dari 3 hari (metode
konvensional) menjadi 2 minggu. Melalui program pengabdian masyarakat ini diharapkan dapat
memberikan alternatif usaha perekonomian baru di masyarakat.

Kata kunci: inovasi, jamu, kemasan, pemberdayaan masyarakat

1. PENDAHULUAN

Industri jamu menyerap tenaga kerja sampai 15 juta orang di mana 3 juta di antaranya

terserap di industri jamu untuk obat, sedang 12 juta terserap di industri jamu yang telah

berkembang ke arah makanan, minuman, suplemen, kosmetik, spa, aroma terapi. Sebagai

gambaran, saat ini terdapat kurang lebih 1.247 industri terdiri atas 129 industri obat tradisional

(IOT), dan 1.037 industri kecil obat tradisional (IKOT). Omzet obat tradisional dan herbal pada

tahun 2014 diperkirakan meningkat menjadi Rp 15 triliun, atau naik Rp 1 triliun dari perolehan

tahun lalu sebesar Rp 14 triliun menyusul makin diminatinya penyembuhan kesehatan

menggunakan obat herbal. Industri jamu merupakan salahsatu industri yang paling tuadi Indonesia

serta tumbuh dan berkembang dari akar budaya asliIndonesia. Tidak hanya itu, industri jamu juga

memiliki struktur industri yang cukup kuat karena ditopang oleh ketersediaan sumber bahan baku

berupa rempah-rempah, tanaman obat dan sumber plasma nutfah lainnya (Menperin, 2014) [1].

24 Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016

Kesiapan pengusaha jamu tradisional menghadapi era Masyarakat Ekonomi Asean
(MEA),maka mau tidak mau obat tradisional kita, dianggap sudah mampu bersaing. Perusahaan
multinasional ataupun PMDN seperti dianggapsudah bagus dan sudah mampu bersaing. Namun
permasalahannya adalah perusahaan kecil obat tradisional (UKOT) masih terkendala keterbatasan
sarana maupun SDM untuk membuat produk high quality dan kompetitif. Melihat kondisi tersebut,
maka diperlukan suatu terobosan untuk meningkatkan sustainabilitas UKOT salah satunya adalah
inovasi teknologi dalam produk obat tradisional.

Pengembangan inovasi jamu dalam kemasan berawal dari ide pengembangan dan
penggunaan produk non kimiawi yang saat ini lebih diminati masyarakat karena rendah efek
samping. Tren di masayarakat yang menjalani kehidupan “back to nature” menjadi suatu
penciptaan pangsa pasar yang strategis dalam pemasaran produk jamu dalam kemasan yang
berkualitas.

Salah satu wilayah di Kabupaten Karanganyar yang menjadi lokasi mitra dalam kegiatan
ini adalah Kecamatan Jaten yang secara geografis terletak pada 7°34'41"S 110°53'51"E. Batas
wilayah Kecamatan Jaten di sebelah utara berbatasan dengan Kecamatan Kebakkramat, sebelah
selatan dengan Kecamatan Mojolaban dan Kecamatan Polokarto, sebelah barat dengan Kecamatan
Jebres dan Kecamatan Gondangrejo sedangkan sebelah timur berbatasan dengan Kecamatan
Tasikmadu. Kecamatan Jaten memiliki topografi berupa aluvial dan grumasol kelabu dengan
ketinggian rata-rata 200 mdpl. Kecamatan Jaten memiliki 8 desa yaitu Brujul, Dagen, Jetis, Sroyo,
Ngringo, Suruh Kalang, Jati dan Jaten. Data statistik menunjukkan bahwa luas area produktif di
Karanganyar berupa tanah seluas 2,5 Ha dengan produktivitas tanaman obat seperti jahe yang
mencapai 987.184 kg, kencur yang mencapai 62.733 kg serta kunir yang mencapai 675.480 kg
pada tahun 2012 (Karanganyar Dalam Angka, 2013) [2].

Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016 25

Gambar 1. Lokasi Mitra IbM berjarak 9 km dari kampus UNS dengan waktu tempuh kurang lebih 15 menit

Kerangka pemecahan masalah terkait dengan pengelolaan pasca panen tanaman obat maka,
kegiatan pemberdayaan masyarakat diawali dengan sosialisasi program IbM 2016 di dua mitra
yakni PKBM Al Hikmah dibawah naungan Ibu Bakti Sri Rahayu yang berlokasi di Dusun Soka,
Desa Brujul dan CV Andromeda dibawah pimpinan Bapak Urip Setiawan yang berlokasi di Dusun
Duwet, Desa Brujul. Selain kegiatan sosialisasi juga diikuti dengan kegiatan berupa pelatihan
kepada masyarakat khususnya anggota Mitra IbM melalui pengelolaan tanaman obat keluarga
menjadi diversifikasi usaha jamu dalam kemasan. Kelebihan dalam produksi pengembangan jamu
dalam kemasan ini diharapkan dapat menjadi komoditas ekonomi masyarakat sekaligus menjadi
solusi untuk mengatasi masalah ekonomi masyarakat, karena sebagian besar anggota PKBM Al
Hikmah adalah ibu rumah tangga yang tidak bekerja sehingga dapat berkolaborasi dengan CV
Andromeda yang telah memiliki legalitas untuk memproduksi, untuk memproduksi dan
memasarkan produk inovasi ini. Produk jamu dalam kemasan dibuat dari aneka bahan baku herbal
yang didapat dari pembudidayaan masyarakat sekitar. Selain itu, pengabdian juga meliputi kegiatan
pendampingan yang dilakukan oleh Tim Pengabdian kepada CV Andromeda yang meliputi : cara
pengolahan bahan baku, pengeringan bahan baku, formulasi, pembuatan, sterilisasi, pengemasan,
dan kontrol kualitas jamu, hingga pengujian mikrobiologi di Dinas Kesehatan Karanganyar untuk
mendapatkan legalitas dan Nomor PIRT dari Dinas Kesehatan.

26 Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016

2. METODE

Metode pelaksanaan IbM untuk meningkatkan nilai tambah produk tanaman obat menjadi
minuman jamu dalam kemasan siap minum yang berkhasiat obat telah direalisasikan dengan
mekanisme sebagai berikut:
a. Sosialisasi Program
b. Trial and error dalam pembuatan jamu dalam kemasan
c. Pelatihan teknologi pembuatan inovasi jamu dalam kemasan
d. Pengajuan izin edar produk (PIRT)
e. Aplikasi mesin pasteurisasi dan teknik pengemasan jamu untuk meningkatkan mutu dan harga

jual dengan packing yang lebih berkualitas

Kegiatan utama adalah transfer teknologi pembuatan inovasi jamu dalam kemasan. Disebut
jamu inovatif mengingat jamu yang digunakan berbahan dasar formulasi dari beberapa tanaman
obat yang berkhasiat sebagai obat [3] [4] [5]. Pelatihan diikuti praktek pembuatan jamu dalam
kemasan oleh mitra IbM. Pelatihan yang diadakan selama 1 bulan berturut-turut. Praktek secara
mandiri oleh kelompok mitra didampingi oleh Tim Pelaksana dan dilakukan untuk meningkatkan
ketrampilan praktis para anggota PKBM Al Hikmah dan CV Andromeda. Adapun metode
pendekatan dan prosedur kerja dalam pengabdian masyarakat ini adalah sebagai berikut:

Tabel 1. Bentuk Kegiatan Pengabdian Masyarakat

No. Kegiatan Output

1 Sosialisasi Program dan Pengelompokan Pemahaman terhadap kegiatan yang akan dilakukan

anggota dan pembagian kelompok peserta

2 Trial dan error dalam pembuatan jamu Didapatkan formula dan metode pembuatan jamu

dalam kemasan siap minum yang tepat dilihat dari aspek bentuk, warna,

rasa,aroma dan keawetan produk sehingga layak

untuk dipasarkan

3 Pelatihan penggunaan teknologi tepat Kemampuan melakukan proses produksi jamu

guna dalam kemasan dan tehnik pengemasan agar

menghasilkan produk yang berkualitas

4 Pengajuan izin edar produk Setelah memperoleh penyuluhan dari Dinas

Kesehatan dan produk telah lolos uji sehingga

diperoleh sertifikat PIRT DINKES

5 Pelatihan pengolahan untuk memperlama Dengan teknologi pasteurisasi diperoleh produk

masa edar produk yang masa edar lebih lama daripada dengan

pembuatan secara konvensional

Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016 27

3. HASIL DAN PEMBAHASAN
Kegiatan pengabdian masyarakat diawali dengan melakukan observasi dan pengamatan

beberapa di kabupaten Karanganyar. Dalam observasi awal tim menemukan bahwa di Kabupaten
Karanganyar masih sedikit pengusaha di bidang obat tradisional. Salah satunya adalah mitra CV.
Andromeda yang bergerak di bidang obat tradisional. CV. Andromeda baru memproduksi sediaan
obat tradisional berupa teh herbal yang dikemas dalam kantong teh celup. Oleh karena itu, tim
pengabdian melakukan upaya dalam rangka peningkatan daya saing dari mitra dengan melakukan
inovasi produk baru yakni inovasi jamu dalam kemasan siap minum.

Pengabdian yang telah dilakukan memberikan dampak yang lebih baik bagi masyarakat
maupun CV Andromeda, sebagaimana uraian berikut ini :
3.1 Sosialisasi Program

Dalam sosialisasi program pengabdian ini, dihadiri para peserta dari kedua mitra IbM (PKBM
Al Hikmah dan CV Andromeda). Kedua mitra diberikan pemahaman bahwa kegiatan ini
bertujuan dalam rangka pemberdayaan masyarakat dengan membuat produk inovasi sekaligus
diharapkan dapat menjadi komoditas ekonomi masyarakat dengan sasaran adalah anggota
PKBM Al Hikmah yang berkolaborasi dengan CV Andromeda untuk pembuatan produk
minuman jamu dalam kemasan siap minum.

Gambar 2. Kegiatan Sosialisasi Pengabdian Masyarakat

28 Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016

3.2 Trial and Error dalam Pembuatan Jamu dalam Kemasan Siap Minum
Kegiatan ini dilakukan di CV Andromeda Dusun Duwet, Desa Brujul. Dalam pembuatan jamu
dalam kemasan perlu dilakukan trial and error terlebih dahulu untuk mendapatkan formulasi
yang sesuai, warna, rasa, aroma, dan keawetan produk. Setelah dilakukan trial and error
selama kurang lebih 2 minggu didapatkan 3 varian produk yang paling sesuai yaitu Teh Daun
Sirsak, Teh Secang, dan Teh Serai, dengan formula sebagai berikut:

Tabel 2. Formula Jamu dalam Kemasan

Formula Teh Daun Sirsak Formula Teh Secang Formula Teh Serai

Teh* 5 gram; Teh* 5 gram; Teh* 5 gram;

Daun Sirsak* 3 gram ; Kayu Secang* 3 gram ; Serai* 3 gram ;

Temulawak* 1 gram ; Temulawak* 1 gram ; Temulawak* 1 gram ;

Kunyit* 1 gram; Kunyit* 1 gram; Kunyit* 1 gram;

Cengkeh* 0.5 gram Cengkeh* 0.5 gram Cengkeh* 0.5 gram

Gula 70 gram Gula 70 gram Gula 70 gram

(dalam 1 liter minuman (dalam 1 liter minuman (dalam 1 liter minuman

jamu) jamu) jamu)

*dalam bentuk simplisia *dalam bentuk simplisia *dalam bentuk simplisia

kering kering kering

Prosedur pembuatan jamu dalam kemasan siap minum:
Timbang semua bahan yang disesuaikan dengan formula masing-masing, masukkan dalam air
mendidih pada mesin pasteurisasi, atur temperature pada 100 oC selama 2 jam. Saring untuk
memisahkan ampas dengan sari minuman jamu. Segera kemas dalam cup sealer dan dicek
jangan sampai ada segel yang bocor/rusak. Simpan produk ditempat sejuk dan kering, apabila
perlu dalam cooler box agar produk lebih tahan lama.

Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016 29

Gambar 3. Kegiatan Trial and Error Pembuatan Jamu dalam Kemasan Siap Minum
3.3 Pelatihan pembuatan inovasi jamu dalam kemasan

Pelatihan pembuatan jamu dalam kemasan dilakukan di PKBM Al Hikmah Dusun Soka, Desa
Brujul, dipandu oleh Tim Pegabdian dan Mahasiswa KKN Universitas Sebelas Maret.
Pelatihan diikuti oleh 30 peserta yang merupakan anggota PKBM Al Hikmah. Dari kegiatan
pelatihan ini sebagian besar peserta mampu melakukan proses produksi jamu dalam kemasan
dan tehnik pengemasan agar menghasilkan produk yang berkualitas

Gambar 4. Pelatihan pembuatan inovasi jamu dalam kemasan di PKBM Al Hikmah

30 Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016

3.4 Pengajuan izin edar produk (PIRT)
Pengajuan izin edar produk dilakukan dengan berbagai tahapan. Adapun tahapan yang
dilakukan sebagai berikut:
a. Pendaftaran produk ke Dinas Kesehatan Kabupaten Karanganyar. Dalam hal ini, pengajuan
dilakukan oleh mitra yang telah mempunyai badan usaha yakni CV Andromeda
b. Mengikuti penyuluhan PIRT yang dilaksanakan oleh Dinkes
c. Pengujian produk ke bagian pengujian Dinkes untuk melihat parameter mikrobiologi, yaitu
Pengujian Angka Lempeng Total. Setelah lolos uji Angka Lempeng Total, barulah izin
edar dapat diterbitkan.
d. Izin edar diterbitkan untuk produk jamu dalam kemasan dengan No. PIRT
21033131950368-21

3.5 Aplikasi mesin pasteurisasi dan teknik pengemasan jamu untuk meningkatkan mutu dan
harga jual dengan packing yang lebih berkualitas
Pasteurisasi dengan mesin pasteurisasi dilakukan dalam rangka menghilangkan
mikroorganisme baik bakteri baik patogen, non patogen dan spora. Untuk membunuh bakteri
patogen dan non patogen tidak memerlukan waktu yang lama (< 5 menit) namun, untuk
mensterilkan spora butuh waktu minimal 2 jam untuk memastikan bahwa spora yang
terkandung di dalam produk benar-benar mati, sehingga pasteurisasi dilakukan selama 2 jam
[6]. Dengan produk yang lebih steril maka masa edar produk menjadi lebih lama, dimana
dengan metode konvensional masa edar produk hanya 3 hari, namun dengan metode
pasteurisasi masa edar produk menjadi 2 minggu (setelah dilakukan evaluasi) dengan syarat
bahwa segel/kemasan tidak rusak.

Gambar 5. Mesin Pasteurisasi

Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016 31

Meskipun pelaksanaan pengabdian masyarakat ini sudah terlaksana sesuai dengan perencanaan
program, akan tetapi tim pengabdian masyarakat selalu membina secara berkesinambungan agar
kegiatan produksi jamu kemasan yang dilakukan oleh mitra IbM akan tetap bertahan dengan selalu
melakukan langkah perbaikan sistem untuk memenuhi aturan persyaratan produk minuman
sebagaimana yang telah ditetapkan oleh pemerintah melalui Dinas Kesehatan dan BPOM sehingga
akan dihasilkan produk yang tetap aman, stabilitasnya baik, dapat diterima dan berkhasiat. Tim
pengabdian selalu melakukan pembinaan melalui konsultasi dan pemberian wacana menuju UKOT
yang berstandar. Kelompok PKBM Al Hikmah dan UKM CV Andromeda, sebagai mitra
berpartisipasi aktif dalam diversifikasi pengolahan tanaman obat menjadi produk jamu dalam
kemasan. Setelah pelatihan dan praktek, secara bertahap dan sistematis mereka mampu mengolah
produk jamu dalam kemasan dengan standarisasi mutu mulai dari penyediaan bahan baku, proses
produksi hingga pengemasan, pelabelan dan pemasaran. Permasalahan yang dihadapi dalam
transfer paket teknologi akan dikaji bersama-sama dalam evaluasi kegiatan serta umpan balik dari
kelompok masyarakat PKBM Al Hikmah dan CV Andromeda. Adapun masalah yang belum dapat
dipecahkan akan dikonsultasikan lebih lanjut kepada narasumber yang kompeten. Berdasarkan
hasil evaluasi kegiatan akan disusun konsep strategi produksi dan pemasaran jamu dalam kemasan
siap minum untuk untuk menjamin keberlanjutan program secara mandiri.

4. KESIMPULAN
Adapun kesimpulan dari program pengabdian ini sebagai berikut:

1. Adanya sistem sanitasi dan dokumentasi yang lebih baik di CV Andromeda untuk menjaga
keberlangsungan produksi dimana sebelumnya belum diterapkan dengan baik, antara lain:
pembuatan sekat antara ruang produksi dan rumah tangga untuk menghndari kontaminasi

2. Jamu dalam kemasan telah memiliki izin edar PIRT dengan nomor PIRT. 21033131950368-21
3. Pembuatan jamu dalam kemasan yang dengan metode konvensional mempunyai masa edar 3

hari namun dengan teknologi pasteurisasi diperoleh masa edar hingga 2 minggu.
4. Kegiatan masyarakat anggota bertambah dengan adanya pembuatan jamu dalam kemasan

sekaligus mampu meningkatkan perekonomian masyarakat melalui penjualan jamu dalam
kemasan.
5. Jamu dalam kemasan hasil produksi masyarakat menjadi salah satu produk identitas Desa
Brujul.
Pengabdian inovasi jamu dalam kemasan siap minum sebagai upaya pemberdayaan
masyarakat di kecamatan jaten telah dapat dijalankan dengan baik dengan kerjasama tim
pengabdian yang baik dan peran aktif dari penyuluh/narasumber dalam kegiatan pengabdian ini
maka semuanya telah berjalan sesuai yang diharapkan dan harapannya dapat memberikan manfaat

32 Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016

bagi mitra pengabdian masyarakat dalam keberlanjutanusaha produksijamu dalam kemasanpada
kedua kelompok mitra.
UCAPAN TERIMA KASIH
Terimakasih kepada Universitas Sebelas Maret atas dukungan finansial berupa hibah pengabdian
PNBP tahun 2016 sehingga pengabdian ini dapat terlaksana dengan baik.
DAFTAR PUSTAKA
[1] Kementerian Perindustrian, 2014, Kosmetika dan Herbal Menghadapi MEA 2015, Jakarta.
[2] Pemkab Karanganyar, 2013, Karanganyar Dalam Angka tahun 2013, Kabupaten Karanganyar.
[3] Badan Pengawas Obat dan Makanan R.I, 2010, Acuan Sediaan Herbal, Vol 5, Badan POM RI

Jakarta.
[4] Anonim, 2010, Herbal Indonesia Berkhasiat, Vol.10, Trubus, Jakarta, Indonesia.
[5] Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 2009, Farmakope Herbal Indonesia, Departemen

Kesehatan RI, Jakarta.
[6] Badan Pengawas Obat dan Makanan RI, 2012, Petunjuk Operasional Penerapan Cara

Pembuatan Obat yang Baik, Jilid 2, Badan POM RI, Jakarta.

Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016 33

PENGEMBANGAN HERBAL BERKHASIAT OBAT DENGAN BAHAN
DASAR SAYUR DI KECAMATAN TAWANGMANGU

Anif Nur Artanti1,2, Okid Parama Astirin2, Fea Prihapsara1,2
1Program Studi Farmasi/ Universitas Sebelas Maret, Surakarta
2Pusat Penelitian Lingkungan Hidup/Universitas Sebelas Maret, Surakarta

Alamat Korespondensi : Jl. Ir. Sutami No. 36A, Program Studi Farmasi FMIPA
Universitas Sebelas Maret Telp.
(0271) 663375

E-mail: 1)[email protected]

Abstrak

Perkebunan sayur merupakan sentral kegiatan ekonomi di Desa Nglurah dan Desa
Kalisoro yang terletak di Kecamatan Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar. Problem
utama di UKM mitra (Lembah Manah dan Pakar Tani) adalah belum adanya sistem yang
mampu memfasilitasi kebutuhan pengembangan pengolahan pasca panen sayur sehingga
ketika panen sayur melimpah, sementara pengepul belum datang serta penjualan sayur di
pasar Tawangmangu tidak lancar menyebabkan sayur menjadi busuk dan rusak sehingga
nilai jualnya rendah. Disamping itu juga masih rendahnya pengetahuan masyarakat
dalam melakukan teknis budidaya dan pengolahan hasil pasca panen komoditas sayur,
sehingga memunculkan suatu gagasan yang dimaksudkan untuk mengangkat pengetahuan
masyarakat berbasis pengembangan sayur berkhasiat obat sebagai solusi yang
diharapkan mampu menjawab permasalahan kesehatan, kemiskinan dan kelestarian alam
khususnya di kecamatan Tawangmangu. Kegiatan yang diusulkan bertujuan untuk
melakukan diversifikasi usaha untuk memanfaatkan sayur dalam bentuk kapsul sayur
berkhasiat obat yang masuk dalam kategori obat tradisional. Pengembangan usaha
budidaya sayur dilakukan diversifikasi usaha pengolahan sayur segar yang dibuat dalam
bentuk ekstrak yang dikemas dalam sediaan kapsul. Program diversifikasi pengolahan
sayur yang telah dilaksanakan adalah transfer teknologi pembuatan kapsul sayur dengan
pengeringan suhu rendah sehingga tidak merusak kandungan senyawa aktif dan produksi
kapsul sayur yang berfungsi sebagai food suplemen. Melalui kegiatan ini anggota UKM
memperoleh pengetahuan praktis terhadap teknologi pasca panen sekaligus
pengemasannya sehingga diharapkan akan mampu memberikan alternatif usaha
perekonomian baru, yaitu produksi kapsul sayur.

Kata kunci : kapsul sayur, teknologi pasca panen, Tawangmangu

34 Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016

1. PENDAHULUAN
Kemajuan suatu bangsa dilihat dari perhatian terhadap pendidikan dan perkembangan
generasi muda bangsa. Indonesia merupakan negara megabiodiversity yang kaya akan
tanaman sayur-sayuran, dan potensial untuk dikembangkan tetapi belum dikelola secara
optimal. Apabila potensi tanaman sayuran tersebut dikelola dengan baik akan bermanfaat
tidak hanya dari segi ekonomi, tetapi juga sosial budaya dan lingkungan. Lereng Gunung
Lawu khususnya di kecamatan Tawangmangu merupakan salah satu lokasi yang strategis
untuk budidaya sayuran dan tanaman obat. Banyak produk sayur dan tanaman obat dijual
dalam keadaan segar. Pada saat panen beberapa komoditas mengalami penurunan nilai jual
disamping menerima resiko terjadinya busuk apabila tidak segera dilepas ke konsumen.
Diharapkan pengolahan pasca panen menjadi produk kapsul sayur berkhasiat obat dapat
meningkatkan nilai jual komoditas yang dibudidayakan oleh masyarakat setempat. Pada
saat ini pengembangan dan penggunaan produk non kimiawi lebih diminati karena rendah
efek samping. Trend di banyak kalangan adalah menjalani kehidupan yang “back to
nature”, sehingga trend ini menciptakan pangsa pasar yang baik khusunya untuk produk
kapsul sayur yang berkhasiat obat.
Kecamatan Tawangmangu memiliki letak geografis berada pada 07o37’30” LS-
07o42’00”LS dan 111o04’00” BT-111o12’00” LS. Batas wilayah Kecamatan
Tawangmangu di sebelah utara berbatasan dengan Kecamatan Ngargoyoso, sebelah selatan
dengan Kecamatan Jatiyoso, sebelah barat dengan Kecamatan Matesih dan Karangpandan
sedangkan sebelah timur berbatasan dengan Propinsi Jawa Timur. Kecamatan
Tawangmangu memiliki topografi kasar berupa perbukitan, lembah dan pegunungan
dengan ketinggian rata-rata 880 m dpal, jenis tanah sebagian besar merupakan tanah
andosol yang menurut Balai RLKT Solo sifatnya peka terhadap erosi dan sebagian besar
penggunaan tanahnya masih berupa hutan, semak belukar, lahan pertanian, sawah,
bangunan/pekarangan dan tegalan. Kecamatan Tawangmangu memiliki 3 Kelurahan yaitu
Tawangmangu, Blumbang dan Kalisoro, dengan 7 (tujuh) desa yaitu Bandardawung,
Gondosuli, Karanglo, Nglebak dan Plumbon [1]. Secara administratif, area perkebunan
sayuran dan tanaman obat yang dikelola oleh UKM mitra terletak di Desa Nglurah dan
Desa Kalisoro. Pada umumnya mata pencaharian penduduk Desa Nglurah dan Desa
Kalisoro adalah bertani, industri kecil dan jasa. Berdasarkan data dari BPS tahun 2011,
terdapat 24,95% penduduk miskin di Indonesia dan 15,72% yang tinggal di desa. Data
terakhir dari BPS menunjukan bahwa 7.09% penduduk miskin di Indonesia tidak
bersekolah [2]. Oleh karena itu, sudah saatnya kita mengevaluasi sistem pendidikan
masyarakat, khususnya sistem yang berfokus pada kemajuan generasi muda. Dunia
pendidikan Indonesia terhambat oleh kondisi ekonomi, kultural, lingkungan dan sistem
pendidikan
Kegiatan UKM 1 (Lembah Manah) adalah membudidayakan tanaman sayur segar organik
dimana dalam prosesnya tidak menggunakan bahan yang berasal dari zat kimia. Pada
UKM 1 sering kali digunakan sebagai laboratorium alam sekolah dasar, untuk memberikan
bekal nonkurikuler pada anak-anak. Kegiatan yang dilakukan di mitra pada saat ini adalah
bercocok tanam komoditas sayuran dengan harga yang rendah dengan resiko mengalami
kebusukan apabila tengkulak tidak mengambil produksinya. Gambaran kondisi saat ini dari
UKM mitra dapat ditunjukkan pada Gambar 1.

Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016 35

Gambar 1.Kondisi UKM Mitra

Problem utama di UKM mitra adalah belum adanya sistem yang mampu memfasilitasi
kebutuhan pengembangan pengolahan pasca panen sayur sehingga ketika panen sayur
melimpah, sementara pengepul belum datang dan/ atau penjualan sayur di pasar
Tawangmangu tidak lancar menyebabkan sayur menjadi busuk dan rusak sehingga nilai
jualnya rendah. Disamping itu juga masih rendahnya pengetahuan masyarakat dalam
melakukan teknis budidaya dan pengolahan hasil pasca panen komoditas sayur, sehingga
memunculkan suatu gagasan yang dimaksudkan untuk mengangkat pengetahuan
masyarakat berbasis pengembangan herbal berbahan sayur sebagai solusi yang diharapkan
mampu menjawab permasalahan kesehatan, kemiskinan dan kelestarian alam khususnya di
kecamatan Tawangmangu [3]. Kegiatan yang diusulkan dalam IbM ini merupakan
kelanjutan dari kegiatan pengembangan sayur organik (yang telah diawali dengan kegiatan
Hibah Tanoto Education Grant tahun 2012) yang pada akhir masa panen mengalami over
produksi hingga perlu terobosan lain untuk melakukan diversifikasi usaha untuk
memanfaatkan sayur dalam bentuk kapsul sayur berkhasiat obat. Usaha tersebut
diharapkan mampu menjadi ciri khas UKM 1 Lembah Manah. Support bahan baku sayuran
organik juga dilakukan oleh UKM 2 Kelompok Tani Pakar Tani yang juga
membudidayakan sayur organik.

2. METODE

Kegiatan utama adalah transfer teknologi pembuatan kapsul sayur berkhasiat obat.
Pelatihan akan diikuti praktek pembuatan kapsul sayur oleh masing-masing kelompok
mitra. Pelatihan akan diadakan selama 1 bulan. Praktek secara mandiri oleh kelompok
UKM pembudidaya sayur segar dan tanaman obat didampingi oleh Tim Pelaksana akan
dilakukan untuk meningkatkan keterampilan praktis para anggota UKM Lembah Manah
danUKM Pakar Tani. Adapun metode pendekatan dan prosedur kerja dalam pengabdian
masyarakat ini adalah sebagai berikut:

36 Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016


Click to View FlipBook Version