DRAFT MODEL PENGEMBANGAN KOMUNIKASI PEMASARAN JASA
PERGURUAN TINGGI DI MALANG
INP PRO OUTP
Televisi : Lokal (a.l : ATV, Malang
TV, Batu TV), Nasional (a.l. : Trans
TV, Net TV, RCTI, SCTV)
Spanduk/billboard : mahasiswa mulai
semester 2, dosen, karyawan
Pengirim Media komunikasi pemasaran yang digunakan : Penerima
Periklanan : televisi, internet, brosur,
pesan koran/majalah, spanduk/bilboard pesan
(perguruan Promosi penjualan :potongan/diskon (SPP, DPP)
(mahasiswa/ca
tinggi di Dari mulut ke mulut lon
Gangguan :
Perbedaan budaya
Efek status
4. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa :
1. Komunikasi pemasaran yang dilakukan oleh perguruan tinggi di Malang, antara lain dengan
menggunakan promosi penjualan, worth of mouth, dan periklanan.
2. Media komunikasi pemasaran yang dipergunakan oleh perguruan tinggi di Malang adalah
melalui televisi, spanduk/billboard, surat kabar, brosur, internet dan worth of mouth.
3. Sikap mahasiswa terhadap komunikasi pemasaran yang disampaikan oleh perguruan tinggi
adalah positif, artinya artinya komunikasi pemasaran yang dilakukan oleh perguruan tinggi
melalui surat kabar, televisi, brosur, spanduk/bilboard, internet maupun teman/orang lain/worth
of mouth adalah baik, menarik, lengkap, informatif baik dari sisi media yang dipergunakan, isi
pesan /informasi yang disampaikan, gambar yang ditampakkan, maupun sumber pesan yang
dipergunakan.
4. Rencana pengembangan penelitian kedepan, dapat diperoleh model pengembangan komunikasi
pemasaran jasa yang tepat untuk perguruan tinggi di Malang.
DAFTAR PUSTAKA
[1] Fraenkel, J. & Wallen, N., 1993. How to Design and evaluate research in education.
(2nd ed). New York: McGraw-Hill Inc
[2] Hiam, A, & Schewe, C.D, 1994, The Portable MBA Pemasaran, Jakarta, Binarupa
Aksara.
[3] Imasari, Kartika, 2010, Pengaruh Media Periklanan Terhadap Pengambilan
Keputusan Siswa SMU Untuk Mendaftar Di Universitas Kristen Maranatha: Sikap
Konsumen Sebagai Variabel Moderasi (Studi Kasus Siswa SMU Di Bandung), Jurnal
Bisnis dan Ekonomi (JBE), September 2010, Hal. 109 - 120 Vol. 17, No. 2 ISSN: 1412-
3126.
[4] ......., Kartika, 2010, Sikap, Periklanan, dan Attitude Towards Advertising (Aad), Jurnal
Manajemen Vol. 9, No. 2, Mei.
Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016 583
[5] Kotler, Philip & Keller, Kevin Lane, 2009, Manajemen Pemasaran, edisi ketiga belas,
jilid 1, edisi Indonesia, Penterjemah : Bob Sabran, Penerbit Erlangga.
[6] ......., Philip & Keller, Kevin Lane, 2009, Manajemen Pemasaran, edisi ketiga belas, jilid
2, edisi Indonesia, Penterjemah : Bob Sabran, Penerbit Erlangga.
[7] Lovelock, Christopher, Jochen Wirtz, Jacky Mussry, 2011, Pemasaran Jasa : Perspektif
Indonesia, Jilid 1, edisi ke tujuh, Alih bahasa : Dian Wulandari, Devri Barnadi Putera,
Penerbit Erlangga.
[8] ......., Christopher, Jochen Wirtz, Jacky Mussry, 2011, Pemasaran Jasa : Perspektif
Indonesia, Jilid 2, edisi ke tujuh, Alih bahasa : Dian Wulandari, Devri Barnadi Putera,
Penerbit Erlangga.
[9] Malhotra, 2004, Marketing Research; an Applied Orientation, Pearson Education, Inc,
New Jersey, USA
[10] Peter, J. Paul dan Olson, Jerry C, 2000, Perilaku Konsumen dan Strategi Pemasaran.
Alih bahasa Damos Sihombing, Penerbit Erlangga, Jakarta.
[11] ......., J. Paul dan Olson, Jerry C, 2005, Consumer Behaviour & Marketing Strategy, 7nd
ed, McGraw-Hill/Irwin.
[12] Pura, A. H. 2005, Brand Image Pada Sektor Jasa Pendidikan, Jurnal Bina Ekonomi,
Vol. 9, No. 2.
584 Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016
INOVASI PELAYANAN PUBLIK
“POSYANDU TERNAK” BAGI PETANI TERNAK DI KAB TENGGAMUS
PROVINSI LAMPUNG
Oleh :
Hardi Warsono
Departemen Administrasi Publik FISIP UNDIP
Abstraksi
Pelayanan kesehatan hewan ternak di Kabupaten Tanggamus Provinsi Lampung
sangat tidak ideal. Jumlah penyuluh yang sangat terbatas, membuat persoalan menjadi
semakin sulit karena kelompok tani ternak belum memiliki kemampuan menangani
persoalan kesehatan ternak. Banyak ternak sakit yang tidak ditangani dengan baik berakhir
dengan kematian, banyak bayi ternak lahir tanpa bantuan petugas kesehatan ternak,
beberapa mati dan yang lain bermasalah. Perlakuan terhadap ternak masih konvensional
dan jangkauan wilayah layanan ternak sangat luas. Terobosan Kahuripan berawal dari
Desa Pematang Nebak, Kecamatan Bulok, Kabupaten Tanggamus. Inovasi layanan ini
merupakan produk dari kemitraan antara kelompok tani ternak dan pusat kesehatan hewan
pada posyandu ternak. Setelah ada Posyandu Ternak, permasalahan diatasi bersama oleh
petugas posyandu, kelompok tani ternak, puskeswan, dan pemangku kepentingan.
Hasilnya, tingkat kematian hewan cenderung menurun. Inovasi ini mengalami hambatan
pada replikasinya.
Kata Kunci : Kemitraan, advocasi dan layanan kesehatan hewan
Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016 585
A. Pendahuluan
Seringkali masalah dan keluhan menjadi pijakan menuju perbaikan. Banyak
layanan publik menemukan inovasinya karena dihadapkan pada permasalahan dan
banyaknya keluhan dari pengguna layanan. Pelayanan kesehatan hewan ternak di
Kabupaten Tanggamus Provinsi Lampung awalnya sangat tidak ideal. Jumlah penyuluh
yang sangat terbatas, membuat persoalan menjadi semakin sulit karena kelompok tani
ternak belum memiliki kemampuan menangani persoalan kesehatan ternak. Banyak
ternak sakit tidak ditangani dengan baik dan berakhir dengan kematian, banyak bayi
ternak lahir tanpa bantuan petugas kesehatan ternak, beberapa mati dan yang lain
bermasalah. Perlakuan terhadap ternak masih konvensional dan jangkauan wilayah
layanan ternak sangat luas.
Solusi yang dihasilkan untuk mengangani permasalahan di atas, dikemas dalam
format kemitraan antara Dinas Kesehatan khusunya Pusat Kesehatan Hewan dengan
kelompok tani ternak. Banyak ragam kemitraan dalam hubungan antara pihak
penyelenggara layanan. Penelitian ini akan mengungkap inovasi berupa (i) ragam apa
atau pada derajat mana kemitraan yang terjadi, (ii) bagaimana awal mula tumbuhnya
kemitraan dan (iii) dampak inovasi dan (iv) hambatan apa yang dialami dalam menjaga
keberlanjutan inovasi.
B. Methode Penelitian
Penelitian dengan pendekatan kualitatif ini bertipe dekriptif. Studi kasus dengan
kasus tunggal dipilih untuk mengangkat tema inovasi pelayanan bagi petani ternak.
Lokasi dipilih karena situs inovasi hanya ada pada lokasi terpilih, yakni : Posyandu
Kahuripan di Kecamatan Bulok, Kabupaten Tanggamus Provinsi Lampung.
Sejalan dengan Yin (1995), penelitian ini memilih studi kasus dengan teknik
pengumpulan data wawancara mendalam dan Focus Group Disscusion (FGD) untuk
mencapai tujuan penelitian. Pemilihan teknik studi kasus juga dikarenakan fokus
penelitian lebih pada pertanyaan penelitian "bagaimana" dan "mengapa" yang mengarah
ke satu peristiwa kontemporer, dimana peneliti tidak memiliki kesempatan untuk
mengontrol peristiwa.
586 Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016
C. Review Literatur
Inovasi saat ini telah sangat berpengaruh pada berbagai bidang kehidupan seperti
yang diungkapkan Hamainen (2007) yang menegaskan bahwa banyak keberhasilan di
bidang sosial dan ekonomi yang dihasilkan oleh kekuatan inovasi :
The role of innovations has been strongly emphasised in several spheres of life. The
rapid change of the operating environment has resulted in a situation in which
economic and social success is strongly dependent on structural reformand
innovating ability.
Inovasi banyak diartikan sebagai “Terobosanpelayananpublik yang
merupakangagasan ide kreatiforisinaldanatauadaptasi/modifikasi yang
memberikanmanfaatbagimasyarakatbaiksecaralangsungmaupuntidaklangsung”
(Permenpan RB No 15 Tahun 2015 Tentang Kompetisi Inovasi Pelayanan Publik Di
Lingkungan Kementerian, Lembaga, Dan Pemerintah Daerah Tahun 2016.
Inovasi pelayanan publik banyak dilahirkan dari mekanisme ATM, yakni : Amati,
Tiru dan Modifikasi. Dari best practise pelayanan publik di tempat lain dapat diadopsi
dengan mekanisme ATM tersebut. Salah satu inovasi dalam pelayanan publik dilakukan
dalam format jejaring, antara lain Jejaring Layanan Dokter Spesialis di Provinsi
Lampung, yang merupakan kolaborasi antara Pemerintah Provinsi Lampung dengan
empat Rumah Sakit Besar untuk melakukan road show penyediaan layanan dokter
spesialis (Top 99 Kompetisi Pelayanan Publik, Kemenpan RBm 2016). Kemitraan atau
jejaring memiliki keunggulan dalam optimlaisasi layanan publik. Kemitraan ini
esensinya adalah koordinasi, koperasi dan kolaborasi.
1) Ragam dan Derajat Jejaring
Ada beberapa istilah yang hampir sama artinya, yakni : koordinasi, koperasi dan
kolaborasi. Kolaborasi dalam kemitraan memiliki derajat yang lebih tinggi dibanding
kerjasama ataupun koordinasi. Seperti dikemukakan oleh Warsono sebelumnya sebagai
berikut :
In Indonesia, the term “kerjasama” and “kolaborasi” are eventually, reciprocally
applied. There has not been any effort of discovering their differences and in-depth
meanings. In general, the term “kerjasama” is better known than “kolaborasi”.
However, no further explanation about paradigm is more appropriate....
Sementara itu Thomson (2006) menegaskan bahwa kolaborasi sebenarnya sama
Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016 587
penyebutannya dengan kooperasi, tetapi memiliki makna yang lebih dalam.
Thomson (2006) in her book Collaboration Process: Inside the Black Box, wrote that
collaboration might relate to a concept similar to cooperation, but with deeper
meaning. Cooperation, coordination, and collaboration, are different one to another
in the sense of the depths of interaction, integrations, commitment, and of its
complexity. A co-operation, by which two characteristics, giving each other,
intermingled within, will direct to a process of collaboration. This definition shows a
collective action at higher level in the collaboration than of cooperation and
coordination. Collaboration is a collective process in forming a unity based on
mutualism spirit. It also stands for mutual goals or objectives of an organization or
individuals with autonomous characteristics. They interact with one another through
a negotiation, either formal or informal, under mutually predetermined agreements
and beliefs. Even though the final outputs or goals of the collaboration process can
be more personal, they will still bear on mutual results. (Warsono, 2011)
Networking adalah jejaring dalam format organisasi yang terdiri dari unit-unit
organisasi dalam pola hubungan yang relatif fleksibel. Dalam format jaringan ini, ada
beberapa beberapa bentuk jaringan (Agranof, 2003), dengan derajat yang berbeda
sebagai berikut:
(1) Information Networks / jaringan informasi, di sini beberapa unitt membuat fungsi
forum sebagai kebijakan dan program pertukaran, teknologi dan solusi pada
masalah bersama;
(2) Developmental Networks / jaringan perkembangan, jejaring yang dibangun lebih
kuat di tingkat lokal, diikuti oleh pertukaran informasi dan pendidikan serta
layanan langsung disahkan kepada pemerintah yang bersangkutan;
(3) Outreach Networks / jaringan outreach, program dan strategi untuk unit yang
terlibat, yang diadopsi dan dilakukan oleh unit lainnya (umumnya dalam bentuk
fasilitas mitra organisasi); dan
(4) Collective Networks / jaringan tindakan, jaringan antar pemerintah yang paling
canggih. Pemerintah daerah anggota saling mengembangkan program aksi sesuai
dengan proporsi dan kemampuan mereka sendiri.
2). Terbentuknya Inovasi
Di Finlandia ditemukan peluang munculnya inovasi karena perbenturan antara
penuaan sebagian populasi penduduk dan tuntutan produktivitas dalam sektor publik
khususnya pelayanan kesehatan. Bentrokan nilai itu bukan hanya merupakan yang
hambatan tidak terhindarkan pada pengembangan, tetapi juga bisa menjadi tempat yang
588 Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016
baik untuk tumbuhnya inovasi (Pekkarinen, Hennala, Harmaakorpi, & Tura, 2011).
Sementara itu kasus di Australia keberhasilan inovasi sektor publik membutuhkan difusi
antara kekuatan otoritas penyelenggara dan kerangka kerja operasional, seperti
diungkapkan oleh David Adams berikut :
To be effective public sector innovations need both a powerful authorising
environment and also a framework for operationalisation. As with private sector
innovation new ideas in the public sector often need new institutional arrangements
and instruments to enable their effective take up and diffusion. These new
arrangements often require the “creative destruction” of previous ways of thinking
and working (Adams & Hess, 2010).
Untuk menjadikan inovasi sektor publik yang efektif dibutuhkan lingkungan
otorisasi yang kuat dan kerangka kerja untuk operasionalisasi yang baik. Seperti halnya
dengan inovasi sektor swasta, ide-ide baru di sektor publik sering diperlukan pengaturan
kelembagaan baru dan instrumen untuk untuk mengoperasionalkannya. Pengaturan baru
ini sering membutuhkan "destruksi kreatif" dari cara berpikir dan bekerja sebelumnya.
D. Temuan dan Pembahasan
Tanggamus merupakan kabupaten di Provinsi Lampung, terdiri atas 20
kecamatan dan 302 desa. Bulok merupakan kecamatan di Kabupaten Tanggamus yang
pada Desember 2015 memiliki populasi ternak sapi, kerbau, kambing, ayam buras,
burung puyuh, itik. entok, dan kelinci. Posyandu Ternak “Kahuripan” yang didirikan
tahun 2013 merupakan “entry point” revitalisasi Pusat Kesehatan Hewan Kecamatan
Bulok. Inovasi ini dimaksudkan juga untuk menggairahkan kader dan partisipasi
masyarakat peternak untuk berperan dalam kegiatan peternakan.
(i) Ragam dan Derajat Kemitraan dalam Posyandu Ternak
Ada sejumlah aktor networking yang terlibat dalam pelaksanaan inovasi
posyandu ternak Kahuripan ini. Stakeholders tersebut antara lain : (i). Posyandu ternak
(2). Kader Posyandu Ternak (3). Perangkat Desa kahuripan (4). Tenaga medis ternak
(5). Pegawai Pusat Kesehatan Hewan (6) Peagwai pada Dinas Kesehatan Kabupaten.
Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016 589
6
5
4
3
2 Aktor / Stakeholders
1 Posyandu Ternak
Gambar 1. Jejaring Kemitraan Posyandu Ternak
Dilihat dari intensitas kegiatannya, Posyandu Kahuripan ini bermula dari
jejaring informasi (Information Networks) dan berkembang bertahap menjadi
Jejaring Collective Action networks. Jejaring memiliki bentuk ideal bila masing-
masing anggota jejaring dalam posisi sederajat. Kelembagaan Posyansu
Kahuripan baik wadah organisasi maupun mekanisme kerjanya antara anggota
tidak sederajat. Bukan komitmen dan kesepakatan yang melandasi kegiatan,
tetapi lebih merupakan karakter konsultatif bahkan beberapa diantaranya
direktif. Kedua karakter tersebut bukan karakter jejaring yang sehat.
(ii) Tumbuhnya Kemitraan
Posyandu Ternak dilaksanakan satu kali dalam sebulan, yaitu pada setiap
Selasa minggu pertama. Peternak berkunjung ke Posyandu membawa ternaknya
dan kader posyandu ternak menanyakan masalah ternak, memastikan jenis
pelayanan yang harus diberikan, pemberian pelayanan (pengobatan, pemberian
vitamin atau inseminasi buatan). Biaya operasional diperoleh dari swadaya
masyarakat, bimbingan teknis pemberian pelayanan dilakukan petugas teknis
kesehatan hewan, penyelenggaraan posyandu ternak didukung petugas kesehatan
hewan dan sanitasi lingkungan, administrasi dan pertanggungjawaban
pelaksanaan program pelayanan dilaksanakan oleh kader posyandu ternak
diketahui Kepala Pusat Kesehatan Hewan Kecamatan Bulok.
590 Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016
Gambar 2. Kegiatan Posyandu Ternak Kahuripan
Strategi tumbuhnya Posyandu Kahuripan dilakukan dengan
mengakomodasi inisiatif kemitraan kelompok tani dan puskeswan dan
identifikasi masalah kesehatan hewan di setiap Kelompok Tani Ternak. Diskusi
kelompok antara pemerintah daerah, anggota posyandu ternak, petani ternak,
dan pemangku kepentingan mencari solusi masalah hewan ternak. Akses
masyarakat peternak warga desa Pematang Nebak kepada tenaga medis
kesehatan hewan ditingkatkan. Koordinasi internal dan eksternal (formal dan
informal) digalakkan. Kemitraan makin dimantapkan. Paguyuban Kahuripan
menjadi motivator yang memberikan pengembadi ngan kapasitas dan dukungan
advokasi di bidang tata kelola kesehatan hewan. Pendekatan terhadap tradisi dan
budaya setempat menjadi sangat penting dalam rangka mengubah perilaku
peternak.
(iii) Dampak Inovasi
Sebelum ada inovasi Kahuripan, permasalahan ternak belum diatasi
dengan baik sehingga banyak ternak yang mati. Setelah ada Posyandu Ternak,
permasalahan diatasi bersama oleh petugas posyandu, kelompok tani ternak,
puskeswan, dan pemangku kepentingan> Hasilnya, tingkat kematian hewan
cenderung menurun. Manfaat inovasi telah dirasakan semua pihak yang terkait
dengan pemeliharaan hewan ternak, meningkatknya jumlah kunjungan ternak
(sapi dan kambing) ke posyandu, tingkat kematian ternak menurun drastis, yaitu
24 ekor (2013), 17 ekor (2014), dan 9 ekor (2015), dan populasi ternak hasil
inseminasi buatan meningkat.
Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016 591
(iv) Hambatan Dalam Menjaga Keberlanjutan Inovasi
Pembelajaran dari Kahuripan adalah kemitraan melahirkan perbaikan
sistem informasi pelayanan kesehatan hewan dengan mengeluarkan kartu
layanan. Program “Beternak itu menyenangkan” memudahkan akses peternak
terhadap layanan, layanan posyandu ternak profesional berbasis kearifan lokal,
tradisi, dan budaya masyarakat yang sudah mengakar, komunikasi peternak
dengan puskeswan lebih efektif, bimbingan dan penyuluhan, peningkatan
kesadaran masyarakat peternak, pentingnya kebersihan dan pelestarian
lingkungan bersih, indah, sehat, dan nyaman, terbangunnya kesadaran lintas
sektor dalam perbaikan pelayanan kesehatan hewan, dan partisipasi publik.
Komitmen Bupati menjamin keberlanjutan Kahuripan. Buku panduan praktik
Kemitraan Kelompok Tani Ternak dan Puskeswan didistribusikan ke seluruh
wilayah Kabupaten Tanggamus. Replikasi baru dilakukan di lingkungan Pemkab
Tanggamus dan kunjungan beberapa pemda. Tenaga Posyandu Ternak harus
ditambah dan kualitasnya ditingkatkan melalui pelatihan dan studi banding.
Keluaran konkret untuk menjaga keberlanjutan inovasi meliputi
Perjanjian Kerjasama antara Kelompok tani dan Puskeswan Kecamatan Bulok,
perbaikan pelayanan petugas kesehatan hewan (peningkatan jumlah ternak yang
mendapatkan pelayanan, peningkatan jumlah kelahiran hasil Inseminasi Buatan,
komunikasi yang baik antara petugas kesehatan hewan dan kelompok tani
ternak, dan meningkatnya kepercayaan masyarakat kepada petugas kesehatan
hewan. Hambatan utama untuk menjaga keberlanjutan inovasi ini adalah
sulitnya mereplikasi inovasi karena keterbatasan tenaga medis hewan.
E. Kesimpulan Dan Saran
1). Bentuk Jejaring. Jejaring yang dikembangkan oleh Posyandu Ternak Kahurpan
sebagai bentuk inovasi pelayanan publik bagi petani ternak ini memiliki ragam dan
derajat sebagai Collective Action Networks, yakni kegiatan dirancang dan
dilaksanakan bersama, namun karakter jejaring tidak ideal karena anggota-anggota
jejaring tidak sederajat, bukan konsensus dan komitmen tetapi lebih mengarah pada
konsultatif dan direktif dari kelembagaan pemerintah dengan lembaga
kemasyarakatan
592 Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016
2). Tumbuhnya inovasi. Fenomena di Posyandu Ternak Kahuripan ini senada dengan
fenomena di Finlandia yang karena tidak memadainya lagi layanan lama dan karena
aktor-aktor layanan sudah out off date dan mendesaknya meningkatan
produktivitas. Inovasi ini bisa berjalan sejalan dengan fenomena yang dikemukakan
oleh Adams di Australia dengan menguatkan kelembagaan Dinas dan Puskeswan
serta didukung oleh standar operasional Posyandu Ternak
3). Dampak inovasi. Sebelum ada inovasi Kahuripan, permasalahan ternak belum
diatasi dengan baik sehingga banyak ternak yang mati. Setelah ada Posyandu
Ternak, permasalahan dapat diatasi bersama oleh petugas posyandu, kelompok tani
ternak, puskeswan, dan pemangku kepentingan. Hasilnya, tingkat kematian hewan
menurun.
4). Hambatan Keberlanjutan. Terbatasnya tenaga medis menyulitkan replikasi,
sehingga inovasi ini cenderung tidak tereplikasi di lokasi lain di Kecamatan Bulok
Kabupaten Tanggamus.
Daftar Pustaka
Adams, D., & Hess, M. (2010). Operationalising place-based innovation in public
administration. Journal of Place Management and Development, 3(1), 8–21.
http://doi.org/10.1108/17538331011030248
Agranof, Robert, (2003). A new look at the value-adding functions of intergovernmental
networks. Proceedings from Seven National967 Public Management Research
Conference. Georgetown University, October 9-1, 2003
Pekkarinen, S., Hennala, L., Harmaakorpi, V., & Tura, T. (2011). Clashes as potential for
innovation in public service sector reform. International Journal of Public Sector
Management, 24(6), 507–532. http://doi.org/10.1108/09513551111163639
Thomson, A. M., & James, L. P. (2006). Collaboration process: Inside the black
box.Public Administration review, 66, 20
Journal of US-
China Public Administration, 8(9), 965–967.
Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016 593
KONSEP JARINGAN KERJA FUNGSIONAL
USAHA KECIL DAN MENENGAH (UKM) KRUPUK
DI DESA MULYOARJO LAWANG MALANG
Luluk Dwi Kumalasari
Universitas Muhammadiyah Malang
JL. Raya Tlogomas 246 Malang
[email protected]
Abstrak
Keberhasilan pelaksanaan industri dalam ranah Usaha Kecil dan Menengah tentunya
dipengaruhi oleh banyak faktor termasuk jaringan kerja industri itu. Mungkin kita tahu bahwa
jaringan memang berpengaruh positif. Tetapi berdasarkan pengamatan awal peneliti, faktor
eksternal industrialisasi yang berawal dari kondisi perekonomian negara yang tidak jelas di mata
dunia, mau tidak mau juga berimbas pada hubungan jaringan kerja yang ada. Maka untuk
mendapatkan jawaban jelas akan konsep jaringan kerja UKM dalam proses industrinya, peneliti
tertarik untuk mengkaji lebih jauh tentang fenomena ini secara spesifik dengan judul Jaringan
Kerja Fungsional Usaha Kecil dan Menengah (UKM) Krupuk di Desa Mulyoarjo Lawang Malang.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, dengan cara pengambilan subyek
penelitian total sampling, yaitu pengambilan seluruh industri krupuk yang ada di Desa Mulyoarjo
(3 pabrik). Metode pengumpulan data dilakukan dengan wawancara, observasi dan dokumentasi.
Tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi dan mendiskripsikan tentang bentuk-bentuk
jaringan kerja yang selama ini terbentuk dan merupakan jaringan dari industri krupuk di Lawang
dalam pelaksanaan usahanya. Dan penelitian yang berjudul konsep Jaringan Kerja Fungsional
Usaha Kecil dan Menengah (UKM) Krupuk ini, diharapkan mampu menghasilkan konsep atau
teori baru tentang jaringan kerja. Mengingat selama ini banyak sekali jenis-jenis industri yang ada
di Indonesia dan di berbagai Negara yang sangat berperan dalam menunjang perekonomian suatu
Negara.
Hasil penelitian ini adalah jaringan kerja, baik jaringan produksi ataupun jaringan
pemasaran yang terbentuk antar pelaku yang terkait dalam industri krupuk di Desa Mulyoarjo
Lawang Malang hampir semuanya terjalin dengan baik dan berjalan dua arah. Masing-masing
pihak dapat melaksanakan fungsinya masing-masing sesuai dengan kebutuhan yang
dikerjasamakan pada proses produksi sampai pemasaran, meski masih ada sedikit persoalan
termasuk dalam ketidaktepatan waktu dalam penyelesaian perjanjian yang terbentuk atau yang
telah disepakati dan naik turun harga pasar dari bahan dan penjualan yang berimbas pada
kuranglancarnya sebuah hubungan yang telah terbentuk dari jaringan.
Kata kunci; jaringan produksi, jaringan pemasaran, UKM.
594 Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016
1. PENDAHULUAN
Mengkaji dari berbagai literatur tentang sejarah ekonomi dunia menunjukkan bahwa
industrialisasi merupakan proses interaksi antara pengembangan teknologi, inovasi, spesialisasi
produksi dan perdagangan antar negara, yang pada akhirnya sejalan dengan meningkatnya
pendapatan masyarakat untuk mendorong perubahan struktur ekonomi di banyak Negara dari yang
tadinya berbasis pertanian menjadi berbasis industri. Pengalaman di hampir semua Negara
menunjukkan bahwa industrialisasi sangat perlu karena menjamin pertumbuhan ekonomi jangka
panjang. Perkembangan UKM di Indonesia dari tahun ke tahun memang banyak mengalami
perkembangan (peningkatan) jumlah. Hanya pada saat terjadinya krisis ekonomi tahun 1998, usaha
dari semua kategori banyak yang mengalami pertumbuhan negatif, termasuk usaha kecil. Tetapi
dibandingkan yang lain, usaha kecil relatif masih bisa bertahan dan paling sedikit efek negatifnya.
Pentingnya UKM sebagai salah satu sumber pertumbuhan kesempatan kerja di Indonesia tidak
hanya tercerminkan pada kondisi statis, yakni jumlah orang yang bekerja di kelompok usaha
tersebut yang jauh lebih banyak daripada yang diserap industri besar, tetapi juga dapat dilihat pada
kondisi dinamis, yakni laju kenaikannya setiap tahun yang lebih tinggi daripada industri besar.
Melihat realitas ini, pembentukan jaringan kerja untuk meningkatkan kualitas serta
perkembangan dari suatu industri, terutama industri skala kecil dan menengah memang sangat
dibutuhkan. Jaringan usaha dapat berbentuk mulai dari yang sederhana sampai ke bentuk yang
kompleks. Pembentukan jaringan diharapkan dapat menciptakan berbagai interaksi antar unit usaha
yang pada akhirnya bisa menentukan konsistensi jaringan usaha yang terbentuk. Jaringan ini
berbentuk kerjasama-kerjasama dengan unit-unit usaha lain dan harus dapat dipelihara dengan
baik. Dengan demikian, adanya jaringan usaha yang baik akan mendorong suatu perubahan yang
penting dalam suatu industri.
Malang adalah salah satu daerah sentra industri di Indonesia yang mempunyai banyak unit
UKM, termasuk di desa Mulyoarjo Kecamatan Lawang, ada beberapa UKM antara lain; industri
krupuk, industri keripik, industri mebel, industri makanan kering (kue) dan lain-lain. Tidak jauh
beda dengan kondisi beberapa UKM yang ada, dalam perjalanan perkembangannya, UKM di desa
Mulyoarjo menurut cerita-cerita yang pernah di dengar peneliti juga banyak menghadapi
kendala/masalah yang membutuhkan berbagai solusi kritis untuk keluar dari permasalahan yang
dihadapi dan disisi lain UKM mampu untuk bertahan dan terus berkembang seiring perkembangan
zaman. Keberhasilan pelaksanaan industri di UKM tentunya dipengaruhi oleh banyak faktor yang
termasuk dalam jaringan kerja industri itu. Mungkin kita tahu bahwa jaringan memang
berpengaruh positif. Tetapi berdasarkan pengamatan awal peneliti, faktor eksternal industrialisasi
yang berawal dari kondisi perekonomian negara yang tidak jelas di mata dunia, mau tidak mau juga
berimbas pada hubungan jaringan kerja yang ada. Maka untuk mendapatkan jawaban jelas akan
konsep jaringan kerja UKM dalam proses industrinya, peneliti tertarik untuk mengkaji lebih jauh
tentang fenomena ini secara spesifik dengan judul Jaringan Kerja fungsional Usaha Kecil dan
Menengah (UKM) Krupuk di Desa Mulyoarjo Lawang Malang
2. METODE
Pendekatan penelitian dalam penelitian ini adalah adalah penelitian kualitatif dengan jenis
penelitian deskriptif yaitu menggambarkan atau menjelaskan fenomena social yang terjadi di
tempat penelitian. Bondan dan tailor mendefinisikan penelitian kualitatif sebagai prosedur
penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata atau tulisan dari orang-orang dan
perilaku yang dapat diamati. Moleong lebih lanjut menyebutkan jika menggunakan metode
kualitatif, maka metode tersebut digunakan karena beberapa perhitungan (Lexi Moleong, 2004).
Penelitian tentang jaringan kerja fungsional usaha kecil dan menengah (UKM) di Mulyoarjo
Lawang Malang ini, diorientasikan untuk melihat jaringan kerja yang terbentuk dalam usaha kecil
dan menengah (UKM) krupuk di Desa Mulyoarjo Lawang Malang, dan untuk mengetahui jaringan
kerja yang selama ini tergabung atau bekerjasama dengan industri krupuk di Lawang dalam
pelaksanaan usahanya. Penelitian tentang jaringan kerja fungsional usaha kecil dan menengah
(UKM) ini dilakukan di Desa Mulyoarjo, Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang. Desa Mulyoarjo
Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016 595
merupakan salah satu Desa di Kabupaten Malang yang banyak memiliki industri dalam berbagai
skala/ukuran/kategori.
Penentuan subyek penelitian yang berjudul tentang jaringan kerja fungsional Usaha Kecil dan
Menengah (UKM) Krupuk di Desa Mulyoarjo ini, peneliti menggunakan teknik total sampling
(pengambilan sampel secara keseluruhan), jadi semua pabrikkrupuk yang ada di Desa Mulyoarjo
dijadikan sebagai subyek penelitian, sehingga subyek mencakup 3 orang yaitu seluruh pemilik
usaha krupuk (3 pabrik) yang ada di Desa Mulyoarjo. Data dalam penelitian ini adalah data
kualitatif tentang bentuk jaringan kerja yang terbentuk dalam industri krupuk di Desa Mulyoarjo.
Dalam pengumpulan data, peneliti menggunakan teknik wawancara dan observasi serta
dokumentasi. Setelah data dikumpulkan, dilakukan interpretasi berdasarkan makna fenomena
sebagai upaya menjelaskan dan mendiskripsikan hasil penelitian. Selain itu, dalam analisis data
juga digunakan metode refleksif, dimana refleksif dapat dilihat sebagai kesadaran atas diri dalam
dimensi politik, kerja lapangan, dan konstruksi pengetahuan yang mencakup pemahaman serta
interpretasi pengalaman dan diri subyek (Miles dan Haberman,1992).
Selanjutnya dalam proses analisis hasil penelitianValiditas dalam penelitian kualitatif menurut
Janesick (2009) memiliki difinisi mikro yang bersifat teknis dalam penentuan subyek dan
pengambilan data, serta memiliki keterkaitan dengan deskripsi dan eksplanasi. Meskipun demikian,
menurut Lincoln & Guba (1985) dalam Denzin & Lincoln (2009) peneliti kualitatif bisa
melakukan cek-silang temuan-temuan penelitian dengan partisipan dan langkah-langkah audit.
Dalam membuat laporan naratif peneliti kualitatif bisa menggunakan orang lain (outsider) sebagai
pembaca untuk melakukan cek dengan catatan-catatan lapangan (field notes) dan transkrip
wawancara.
3. HASIL DAN PEMBAHASAN
Bab ini memaparkan hasil temuan-temuan dari lapangan yang terkait dengan judul penelitian
yaitu jaringan kerja fungsional usaha kecil dan menengah di Desa Mulyoarjo Kecamatan Lawang
malang. Temuan-temuan yang dipaparkan merupakan data-data yang mampu menjawab pertanyaan
penelitian atau rumusan masalah secara keseluruhan, yang diperoleh dari observasi, wawancara dan
dokumen. Adapun rumusan masalah yang menjadi fokus dalam penelitian ini adalah bagaimana
jaringan kerja fungsional yang terbentuk dalam industri krupuk di Mulyoarjo Lawang, yang
mencakup tiga pabrik krupuk. Jaringan yang dimaksud adalah antara pelaku yang terkait dengan
industri krupuk yaitu pemilik dan pihak-pihak lain yang terkait dalam proses pembuatan sampai
pemasaran krupuk.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan jenis penelitian deskriptif yang berusaha
secara maksimal untuk bisa mendapatkan gambaran dan menjelaskan secara detail hasil temuan-
temuan di lapangan terkait jaringan kerja. Subyek penelitian dalam penelitian ini adalah para
pemilik pabrik krupuk di Desa Mulyoarjo Lawang Malang berjumah 3 orang, dengan metode total
sampling. Secara lebih rinci tentang gambaran subyek penelitian akan dijabarkan berikut ini.
A. Gambaran Subyek Penelitian
Penelitian tentang jaringan kerja fungsional Usaha Kecil dan Menengah (UKM) di Mulyoarjo
Lawang Malang ini menggunakan teknik pengambilan sampel yaitu total sampel, dengan sampel
para pemilik industri krupuk yang ada di Desa Muloarjo berjumlah tiga orang, jadi para pemilik
pabrik krupuk adalah subyek penelitian dalam penelitian ini, yaitu; pertama, bapak Novi. Kedua,
bapak Solikin, dan ketiga ibu Sobana.
Berikut adalah tabel identitas subyek penelitian yang telah peneliti wawancara langsung
sebagai acuan dalam penyajian data guna menjawab rumusan masalah secara keseluruhan, untuk
lebih jelasnya mengenai data subyek dalam penelitian ini yang telah diwawancarai dapat dilihat
pada table 1 berikut.
596 Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016
Tabel 1
Identitas subyek penelitian
No. Nama Usia Keterangan Pendidikan
1. Novi S1
2. Solikin 37 tahun Pemilik SMA
3. Sobana SD
45 tahun Pemilik
60 tahun Pemilik
Sumber; data primer yang diolah oleh peneliti
B. Analisa Data Tentang Jaringan Kerja Fungsional Usaha Krupuk di Desa Mulyoarjo
Lawang Malang
Konsep jaringan kerja sebenarnya merupakan sebuah proses membangun kerjasama atau
hubungan kerja yang saling menguntungkan. Hubungan tersebut tentunya dibentuk untuk
mengembangkan industri krupuk oleh para pemilik industri agar industrinya mampu bersaing dan
menghasilkan keuntungan. Dalam hal ini jaringan yang terkait dalam industri krupuk adalah
berbagai pihak yang terlibat dalam proses awal sampai akhir produksi dalam industri krupuk, yang
mencakup proses pembuatan dan pemasaran.
Berikut hasil wawancara dengan Bapak Novi sebagai salah satu pemilik pabrik krupuk;
Kalau saya mbak dalam menjalankan usaha ini ya harus sungguh-sungguh dan harus berhasil
secara maksimal, meski banyak tantangan tetapi ya terus harus segera bangkit. Maka dari itu suatu
hubungan jaringan kerja atau kerjasama yang saling menguntungkan dalam usaha pembuatan
krupuk ini dengan pihak-pihak yang dibutuhkan sangatlah perlu dan penting, hukumnya ya
memang wajib untuk dilakukan. Apalagi produksi krupuk kita banyak macamnya dan pengiriman
tidak saja di wilayah Jawa Timur saja.
Melalui data ini dapat dicermati bahwa, banyak aktor yang terlibat dalam industri krupuk ini
mulai dari proses awal sampai akhir sebagai bagian dari strategi kerjasama atau hubungan kerja
yang memang mutlak wajib hukumnya untuk dilakukan agar industri tetap bisa berkembang
maksimal.
Diantara aktor yang terkait tersebut terdapat unsur kerja yang melalui media hubungan sosial
menjadi kerjasama. Di tempat mereka berinteraksi itulah salah satu media hubungan sosial yang
membentuk kerjasama diantara aktor tersebut. Jaringan sosial yang terbentuk karena adanya rasa
ingin tahu saling menginformasikan, saling mengingatkan, dan saling membantu dalam
melaksanakan atau mengatasi sesuatu. Antara aktor saling terikat dan tidak bisa terlepas dari aktor
lainnya, keterikatan antara industri krupuk yang melibatkan begitu banyak pihak inilah yang
disebut sebagai jaringan sosial. Apabila salah satu aktor tidak berjalan dengan baik maka dapat
dipastikan proses usaha industri ini tidak berjalan sebagaimana mestinya, seperti pemaparan Bapak
Solikin, berikut ini;
Ya semua pihak yang menjadi jaringan kerja saya, pasti saya anggap sebagai hubungan
kerjasama yang saling menguntungkan mbak. Karena mereka juga berperan untuk meningkatkan
perkembangan usaha kita, sering juga kita bicara-bicara saling curhat tentang dunia usaha, karena
sebenarnya kita kan sama-sama sebagai pihak yang melakukan usaha.
Jaringan kerja menurut Bapak Solikin merupakan hal yang harus dibina, karena adanya jaringan
sangat membantu dalam pengembangan usaha, karena masing-masing bisa bercerita dan bertukar
informasi tentang usaha yang digelutinya, dan terkadang juga dilanjutkan juga dengan obrolan-
obrolan lain yang menunjang keakraban dalam berwisausaha. Melalui ikatan emosional yang
terbentuk dengan jaringan merupakan hal yang luar biasa berperan dalam pengembangan usaha,
karena masing-masing pelaku industri menyadari adanya kebutuhan-kebutuhan yang memang tidak
bisa diselesaikan sendiri.
Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016 597
1. Aktor yang Terlibat dalam Jaringan Kerja Fungsional Usaha Kecil dan Menengah
(UKM) Krupuk.
Hasil wawancara dalam penelitian tentang jaringan kerja fungsional usaha kecil dan menengah
(UKM) krupuk di Desa Mulyoarjo Kecamatan Lawang Kabupaten Malang yang telah dilakukan
oleh peneliti ini, peneliti menemukan ada banyak aktor yang terlibat dalam jaringan kerja industri
krupuk. Aktor-aktor ini saling terkait dan bekerjasama dalam mendukung dan menjalankan usaha
krupuk.
Industri krupuk yang ada di Desa Mulyoarjo ini adalah termasuk usaha kecil dan menengah
karena jumlah pekerjanya antara 15 orang sampai 50 orang. Industri krupuk ini bagi desa
Mulyoarjo adalah industri yang bagus dan sangat membantu dalam mengangkat perekonomian
warga, karena mayoritas pekerjanya adalah saudara atau tetangga pemilik pabrik itu sendiri. Dan
pabrik-pabrik ini bersaing secara sehat dalam menjalankan usahanya, berjalannya usaha mereka
juga didukung oleh cirikhas dan variasi jenis krupuk yang dihasilkan. Tidak jarang pula antar
pemilik pabrik juga saling membantu dan bekerjasama apabila ada permintaan yang tidak bisa
dilayani oleh pabrik sendiri.
Jaringan funsional UKM krupuk di Desa mulyoarjo Lawang Malang ini secara lebih detail
akan dijelaskan melalui 2 sub yaitu jaringan saat pembuatan dan jaringan pemasaran.
a. Jaringan yang terlibat dalam pembuatan krupuk
Jaringan Usaha seringkali didasarkan pada tiga dasar pembentukan yaitu pertama, jaringan
produksi, kedua, jaringan pemasaran. Kedua hal ini merupakan rangkaian kegiatan yang
menunjang secara positip apabila diterapkan oleh industri.
Usaha kecil menengah (UKM) krupuk di Mulyoarjo juga melibatkan berbagai jaringan dalam
produksi dan pemasaran produk krupuknya. Jaringan ini terkait erat dan merupakan bagian yang
tidak bisa dilepaskan begitu saja, karena apabila jaringan tidak diperhatikan dan dijalin secara baik,
maka jaringan akan bersifat tidak fungsional, terutama dalam hal menghambat perkembangan
industri.
Jaringan-jaringan yang terlibat dalam jaringan produksi krupuk di Mulyoarjo adalah:
1. Pabrik Tepung, Agen Tepung (Tepung Jagung, tepung Kanji)
2. Agen Bumbu, Distributor Bumbu, Sales Bumbu (Micin, Bawang, Garam, Garlik, Puron, Sari
Manis, Titan, Soda, STPP= pengembang).
3. Nelayan (Distributor Udang) dan Pabrik pengolahan Udang.
4. Distributor Sarden, Agen sarden
5. Pabrik Plastik, Agen Plastik
6. Pengrajin Eblek
7. Toko Listrik, Toko Besi, Toko spearpad Mesin
8. Bengkel Las
9. Bengkel Mesin Krupuk
10. Perbankkan
b. Jaringan yang terlibat dalam pemasaran krupuk
Selain jaringan produksi, jaringan pemasaran adalah rangkaian dari proses dalam sebuah
industri termasuk industri krupuk. Jaringan pemasaran juga sangat menetukan dalam berjalan atau
tidaknya sebuah industri. Tanpa pemasaran maka barang yang diproduksi tidak akan bisa sampai ke
tangan konsumen. Dan tanpa dibelinya suatu barang, maka produksi tidak akan bisa berjalan
dengan lancar.
Industri dalam pemasaran barang yang telah diproduksi pasti melibatkan beberapa atau banyak
aktor, begitu juga dengan industri krupuk di Desa Mulyoarjo Lawang Malang. Ada beberapa aktor
yang terlibat dalam pemasaran krupuk-krupuk, antara lain;
1. Agen Krupuk
2. Penggoreng
3. Pengecer
4. Sales atau Tengkulak
5. Ekspedisi (Truk)
598 Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016
4. Konsep atau Bentuk Jaringan Kerja Kerja Fungsional Usaha Kecil dan Menengah
(UKM) Krupuk.
Jaringan kerja industri kecil dan menengah industri krupuk di Desa Mulyoarjo Lawang Malang
melibatkan sekumpulan aktor yang terikat dalam jaringan pelaku suatu sistem usaha dan mereka
bekerja dalam jaringan sesuai dengan spesialisasi masing-masing.
Aktor-aktor yang terlibat dalam industri krupuk di Mulyoarjo sudah dijelaskan dalam sub bab
di atas, dan di bawah ini adalah bentuk-bentuk jaringan kerja yang tercipta dari pihak-pihak yang
terlibat dalam industri tersebut.
c. Bentuk Jaringan Kerja Fungsional Usaha Kecil dan Menengah (UKM) Krupuk Milik
Bapak Novi
Gambar 1
Bentuk jaringan produksi industri krupuk milik Bapak Novi
Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016 599
Gambar 2
Bentuk jaringan pemasaran industri krupuk
milik Bapak Novi
d. Bentuk Jaringan Kerja Kerja Fungsional Usaha Kecil dan Menengah (UKM)
Krupuk Milik Bapak Solikin.
Gambar 3
Bentuk jaringan produksi industri krupuk milik Bapak Solikin
600 Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016
Gambar 4
Bentuk jaringan pemasaran industri krupuk
milik Bapak Solikin
D. Bentuk Jaringan Kerja Kerja Fungsional Usaha Kecil dan Menengah (UKM)
Krupuk Milik Ibu Sobana.
Gambar 5
Bentuk jaringan produksi industri krupuk milik Ibu Sobana
Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016 601
Gambar 6
Bentuk jaringan pemasaran industri krupuk
milik Ibu Sobana
5. KESIMPULAN
Hasil penelitian ini adalah jaringan kerja, baik jaringan produksi ataupun jaringan pemasaran
yang terbentuk antar pelaku yang terkait dalam industri krupuk di Desa Mulyoarjo Lawang Malang
hampir semuanya terjalin dengan baik dan berjalan dua arah. Masing-masing pihak dapat
melaksanakan fungsinya masing-masing sesuai dengan kebutuhan yang dikerjasamakan pada
proses produksi sampai pemasaran, meski masih ada sedikit persoalan termasuk dalam
ketidaktepatan waktu dalam penyelesaian perjanjian yang terbentuk atau yang telah disepakati dan
naik turun harga pasar dari bahan dan penjualan yang berimbas pada kuranglancarnya sebuah
hubungan yang telah terbentuk dari jaringan.
DAFTAR PUSTAKA
[1] Agusyanto, Ruddy. 2007. Jaringan Sosial dalam Organisasi. Jakarta: PT Raja Grafindo.
[2] Denzin, Norman K. 2009. Hand Book of Qualitatif Research. Jakarta: Pustaka Pelajar.
[1] John W.Creswell, 1998. Qualitative Inquiry and Research Design. SAGE Publication.
[2] Miles, Matthew B. and A. Michael Huberman. 1992. Analisis Data Kualitatif Buku Sumber
tentang Metode-metode Baru. Jakarta: UI Press.
[3] Moleong, Lexi. 2004. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: Rosdakarya.
[4] Subanar, Harimurti. 2001. Manajemen Usaha Kecil. Yogyakarta: Fakultas Ekonomi UGM.
[5] Sunartiningsih, Agnes. 2004. Pemberdayaan Masyarakat Desa Melalui Institusi Lokal.
Jogyakarta: Universitas Gadjah Mada.
[6] Susilo Sri Y., Maryatno, 1996. Tulisan dari masalah usaha kecil sampai masalah ekonomi
makro. Yogyakarta: Universitas Atma Jaya.
[7] Tambunan, Tulus. 2003. Perekonomian Indonesia, beberapa masalah penting. Jakarta: Ghalia
Indonesia.
602 Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016
Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016 603
604 Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016
Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016 605
606 Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016
Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016 607
608 Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016
= 1,680 dengan signifikansi sebesar 0,000 < Į =
Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016 609
signifikansi sebesar 0,026 < Į = 0,05, artinya volume usaha berpengaruh positif terhadap sisa hasil
ar 0,000 > Į = 0,05, artinya jumlah simpanan berpengaruh terhadap sisa hasil
yang diperoleh sebesar 37,958 dengan signifikansi sebesar 0,000 < Į = 0,05,
yang didapatkan sebesar 3,63 dengan signifikansi sebesar 0,000 < Į = 0,05. Nilai
2,253 dengan signifikansi sebesar 0,026 < Į = 0,05. Nilai
sebesar 0,000 < Į = 0,05. Nilai
610 Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016
–
Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016 611
612 Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016
Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016 613
614 Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016
dalam periode waktu tertentu. As’ad (2010;70),
Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016 615
616 Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016
Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016 617
–
618 Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016
Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016 619
Į
620 Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016
Į
Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016 621
As’ad, Muhammad, 2005.
622 Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016
STIE “AUB”.
–
Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016 623
624 Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016
Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016 625
“Konservasi sumber daya alam hayati ada
nilainya”.
626 Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016
Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016 627
imozic, dkk., 1991 dalam bukunya “ Strategic Choices. New York. Mc Graw
628 Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016
Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016 629
Sumber: Kenneth Primozic, dkk, (1991) dalam bukunya yang berjudul “Strategic Choices”. New
630 Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016
Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016 631
Rahmat, Dodik Ridho. 2005.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Riyanto, Budi. 2005.
Lembaga Pengkajian Hukum Kehutanan dan Lingkungan. Bogor.
Primozic, Kenneth dkk. 1991. . New York: Mc Graw Hill.
Salusu. 1996. Pengambilan Keputusan Strategik untuk Organisasi Publik dan Organisasi Non Profit.
Jakarta: Grasindo.
Sugiyono. 2008. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif. Bandung: Alfabeta.
632 Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016