The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

2. BUKU 2 LENGKAP (bid. Psikologi pendidikan, Sosial Humaniora, Kesehatan Lingkungan)

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by adhim.irawan, 2016-10-15 01:14:40

2. BUKU 2 LENGKAP (bid. Psikologi pendidikan, Sosial Humaniora, Kesehatan Lingkungan)

2. BUKU 2 LENGKAP (bid. Psikologi pendidikan, Sosial Humaniora, Kesehatan Lingkungan)

dari kerjasama Perguruan Tinggi (PT) sangat membantu pada program di DKP, terkait dengan
penanggulangan banjir dan penanggulangan sampah serta membantu program penghijauan.

Terdapat beberapa hambatan didalam penerapan LRB antara lain :
(1).Pada identifikasi keberhasilan LRB, kondisi pemasangan dilakukan saat musim kemarau,
sehingga Tim IbW belum bisa sempurna menganalisa dampak dari LRB disekitar rumah,
perkantoran ataupun pada gang-gang di perumahan.
(2).Terdapat sebagian kecil warga yang belum tahu fungsi LRB, padahal saat FGD telah diberikan
sosialisasi dari progran IbW ini, sehingga masih harus dilakukan untuk menyadarkan warga yang
acuh tak acuh dalam pemasangan dan fungsi dari LRB.
(3). Diperlukan kajian yang mendalam pada LRB, yakni dampak kenaikan air tanah (resapan),
cacing tanah dan dan komposer yang terbentuk saat hujan berlangsung.

Secara umumseluruhkegiatan diikuti olehwarga/masyarakat (dalam hal ini RW/RT) serta
perwakilan dari DKP (Mitra/Pendukung program IbW). Para warga/masyarakat yang wilayahnya
(RW/RT) diimplementasi sebagai akternatip pemasangan LRB sangat senang hal ini terkait dengan
program dari WaliKota Malang yaitu bebas dari genangan air/banjir, lingkungan yang bersih dan
Hijau.

4. KESIMPULAN

Alternatip pemasangan Lubang Resapan Biopori (LRB) sangat membantu warga
dipemukiman padat yang relatip banyak terjadi genangan air dan multiguna.

Sosialisasi mengelola banjir dengan LRB dilakukan secara kontinyu untuk menambah dan
menanamkan pemahaman kepada masyarakat atas pentingnya kepedulian terhadap kondisi
lingkungan sekitarnya, dengan penanaman pohon.

Diperlukan tingkat pemahaman dan kesadaran yang lebih untuk meningkatkan
keikutsertaanmasyarakat dalam setiap kegiatan yang dilakukan di lingkungannya.

DAFTAR PUSTAKA

[1] Badan Pusat Statistik Kota Malang, 2012Kota Malangdalam Angka, Katalog BPS:
1102001.3574,No.Publikasi:35740.0902,ISSN:0215.6008.

[2] Peraturan Daerah Kota Malang Nomor 4 tahun 2011, Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah
Kota Malang Tahun 2010 – 2030.

[3] Djumantri, Maman. Memandang Banjir Menggunakan Kacamata Lain, Kasubdit Pedoman
Pengembangan Kawasan Direktorat Penataan Ruang Departemen PU, diunduh pada
tanggal 7 Maret 2012.

[4] Sudjatmiko, Achmad Fadillah, Bekti Prihatingsih, Andy Kristafy Arifianto, 2015. Laporan

Akhir program Iptek bagi Wilayah (IbW) tahun ke 1 Program Ipteks Bagi Wilayah

(IbW) Penanggulangan Banjir Melalui Manajemen Lubang Resapan

Biopori.Kemenristek Dikti, Universitas Merdeka

Malang,UniversitasTribhuwanatunggadewi Malang dan Pemerintah Kota Malang.

[5] Pemerintah KotaMalang,Rencana Pembangunan JangkaMenengahDaerah (RPJMD)Kota
Malang Tahun2013–2018, PeraturanWalikotaMalang Tahun2014.

[6] Jawa Pos, Delapan Titik Terendam Air hingga 1 Meter, 16 Januari 2012.

Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016 87

KAJIAN KEARIFAN LOKAL MASYARAKAT DESA TAWANG SARI
KECAMATAN PUJON KABUPATEN MALANG DALAM PELESTARIAN

MATA AIR SUNGAI KONTO SUB DAS BRANTAS

Novita Ratna Satiti1, Tatag Muttaqin2, Husamah3

1Pusat Studi Lingkungan dan Kependudukan, Universitas Muhammadiyah Malang, Malang
2Pusat Studi Lingkungan dan Kependudukan, Universitas Muhammadiyah Malang, Malang
3Pusat Studi Lingkungan dan Kependudukan, Universitas Muhammadiyah Malang, Malang

Alamat Korespondensi: Jl. Raya Tlogomas 246 Malang, Telp/Fax 0341-464318 psw 244
E-mail: 1) [email protected]; 2)[email protected]; 3)[email protected]

Abstrak
Upaya pengidentifikasian kearifan lokal masyarakat harus lebih difokuskan pada permasalahan
sistem mata pencaharian yang memiliki isu global dan sekaligus mempunyai pengaruh sangat
besar bagi keberlangsungan hidup masyarakat lokal. Daerah-daerah yang memiliki peran vital
seperti wilayah hulu sungai sangat tepat menjadi fokus perhatian. Penyelamatan mata air di hulu
sungai saat ini menjadi isu lingkungan yang penting dalam tataran masyarakat dan memiliki
korelasi yang signifikan dengan kesejahteraan masyarakat di wilayah DAS. Penelitian yang
bertujuan untuk mengkaji dimensi sosial dan budaya dari kearifan lokal masyarakat Desa
Tawang Sari Kecamatan Pujon dalam pemanfaatan dan pengelolaan sumberdaya alam,
mengidentifikasi kearifan lokal apa saja yang pernah dijalankan dan yang masih berlangsung
dalam kehidupan masyarakat di Desa Tawang Sari dalam mempertahankan kelestarian hutan
“sengkeran” hingga saat ini (yang terdapat sumber mata air sungai Konto yang masuk dalam Sub
Das Brantas), mengkaji jenis-jenis kearifan lokal yang dapat menunjang penyelamatan mata air,
dan mengkaji kemungkinan untuk menggeser atau meningkatkan status kearifan lokal masyarakat
dari hukum normatif menjadi hukum legal formal (peraturan desa). Penelitian ini dilaksanakan di
Desa Tawang Sari Kecamatan Pujon Kabupaten Malang mulai Oktober 2015-Juli 2016. Penelitian
ini menggunakan metode survey. Data yang dikumpulkan adalah data primer dan data sekunder.
Data sekunder dikumpulkan dari instansi pemerintah dan non pemerintah yang terkait dengan
topik penelitian ini. Data primer dikumpulkan dari masyarakat, tokoh masyarakat, aparat desa,
aparat kecamatan, dan aparat kabupaten. Data primer dikumpulkan dengan metode: Pengamatan
tak terlibat (nonparticipant observation), Wawancara terstruktur dan Focus Group Discussion
(FGD). Data kuantitatif yang telah terkumpul dan telah ditabulasi, selanjutnya dianalisis dengan
metode analisis etnografis. Hasil dari penelitian ini adalah diketahui Desa Tawangsari memiliki
kearifan lokal untuk pemeliharaan lingkungan hidup melalui pelestarian kawan hutan sengkeran
yang merupakan kawasan yang terdapat mata air sungai konto DAS Brantas. Kearifan lokal
tersebut di atas dapat menjadi cerminan pemeliharaan sumber daya alam kedepan, dalam bentuk
pembangunan yang berkelanjutan

Kata kunci: kearifan lokal, mata air, masyarakat lokal, etnografis

1. PENDAHULUAN
Desa Tawangsari adalah sebuah Desa kecil dilembah gunung Anjasmoro, di Desa tawangsari

inilah salah satu mata air atau hulu sungai Konto (DAS Brantas) berasal. Sungai konto adalah
bagian dari hulu sungai Brantas dimana sungai Brantas merupakan salah satu sungai Besar di
Indonesia. Sungai Brantas memiliki fungsi yang sangat penting bagi Jawa Timur mengingat 60%
produksi padi berasal dari areal persawahan di sepanjang aliran sungai ini sehingga bisa dikatakan
sungai Brantas adalah sungai kehidupan bagi masyarakat Jawa Timur.

88 Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016

Sebagai desa hulu sungai, desa Tawangsari memiliki peran yang sangat penting dalam
menjaga kelestarian mata air sungai Konto karena dari Desa inilah kelangsungan dan keberlanjutan
sungai Konto berasal. Secara administratif Desa Tawangsari masuk wilayah Kecamatan Pujon
Kabupaten Malang. Sebagian besar masyarakat Desa Tawangsari berprofesi sebagai petani sayur.
Sebagai petani dan tinggal di desa hulu sungai Konto menjadikan masyarakat Desa Tawangsari
memiliki berbagai kearifan lokal dalam mengelola dan memanfaatkan sumberdaya alam terutama
tanah dan air.

Salah satu kearifan lokal masyarakat Desa Tawangsari dalam menjaga kelestarian
lingkungan adalah adanya “hutan Sengkeran”. Hutan Sengkeran yang ada di desa Tawangsari
secara ekologi tidak berbeda dengan hutan-hutan pada umumnya, yang membedakan adalah
pengelolaannya didasari kearifan lokal dengan “mitos hutan Sengkeran”. Mitos yang dipercayai
secara turun-temurun dan nilai mistisnya masih kuat sampai sekarang tersebut adalah kepercayaan
masyarakat bahwa hutan sengkeran adalah hutan yang angker dan dihuni mahluk halus. Barang
siapa mengambil kayu atau merambah hutan tanpa seijin sesepuh atau pamong setempat dimana
pun dia meletakan barang curiannya akan diikuti makluk halus penghuni hutan
sengkeran.Kepercayaan masyarakat desa dengan mitos turun-temurun tersebut terbukti membawa
dampak positif terhadap kelestarian hutan sengkeran dan mata air sungai Konto.

Kebijakan pengelolaan hutan sejauh ini lebih ditekankan pada aspek sipil teknis yaitu hanya
pembangunan fisik saja misalnya teknik silvikultur, pembuatan dam penahan. Penerapan teknologi
dengan melibatkan dan pemberdayaan masyarakat memang sudah dilakukan tetapi tidak bisa
menunjukan hasil yang positif karena orientasi program lebih pada aspek keproyekan yaitu ketika
rangkaian kegiatan selesai maka selesai pula programnya tanpa ada pengawasan dan pemeliharaan
kegiatan. Pelestarian dengan berbasis kearifan lokal di Tawangsari dalam memelihara hutan
Sengkeran yang didalamnya terdapat mata air sungai Konto menunjukan hasil yang postif dan
kelestariannya bisa terpelihara hingga sekarang. Pengelolaan hutan dan mata air berbasis kearifan
lokal di Desa tawangsari bisa dijadikan model kebijakan baru dalam pengelolaan hutan dan air
sehingga diperlukan disseminasi dan dipublikasikan model pengelolaan hutan dan air berbasis
kearifan lokal tersebut agar kedepan bisa diduplikasikan di daerah lain.

Kawasan DAS Brantas (Konto) memiliki luasan sekitar 23.700 ha, termasuk dalam dua
kecamatan Pujon dan Ngantang. Didalamnya terdapat 20 desa yang menggantungkan pasokan air
dari keberadaan aliran sungai. Namun beberapa tahun terakhir kondisi DAS Brantas mengalami
penurunan debit air akibat terjadinya deforestasi/ penurunan luasan lahan hutan dari awalnya 9000
ha (tahun 1990) menjadi 6000 ha (tahun 2010) dari pembukaan perkebunan, tegalan, sawah, dan
pemukiman baru. Melihat kondisi tersebut Pemerintah membuat kebijakan yang sejauh ini lebih
ditekankan pada aspek sipil teknis yaitu hanya pembangunan fisik saja misalnya teknik silvikultur,
pembuatandam penahan dan sebagainya. Kebijakan-kebijakan ini sejauh ini masih bersifat parsial
dan berbasis aspek ke“proyek”an dengan tingkat keberlanjutannya rendah yang berakibat pada
belum maksimalnya penyelesaian persoalan penurunan debit air DAS Brantas.

Keberadaan kearifan lokal masyarakat setempat seperti yang dilakukan masyarakat desa
Tawangsari melalui pengelolaan hutan larangan/sengkeran, sejauh ini dapat dianggap sebagai
alternatif dan terbukti efektif dalam menjaga keberadaan debit air di hulu sungai Brantas. Sehingga
target kegiatan ini adalah adanya kolaborasi yang lebih komprehensif dan harmonis antara
perencanaan sipil teknis dari pemerintah dan kearifan lokal masyarakat dalam pengelolaan sumber
air dan hutan.

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dimensi sosial dan budaya dari kearifan lokal
masyarakat di Desa Tawang Sari dalam berinteraksi, pemanfaatan dan pengelolaan sumberdaya
alam,mengidentifikasi Kearifan lokal apa saja yang pernah dijalankan masyarakat di Desa Tawang
Sari dalam penyelamatan kelestarian hutan sengkeran dan mata air,mengkaji kemungkinan untuk
menggeser atau meningkatkan status kearifan lokal masyarakat dari hukum normatif menjadi
hukum legal formal (Peraturan Desa), dan mendesain model pengelolaan dan pemanfaatan
sumberdaya yang lestari bersumber dan berakar dari kearifan lokal masyarakat di Desa Tawang
Sari Kecamatan Pujon Kabupaten Malang.

Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016 89

0(72'(
Penelitian dilaksanakan di Desa Tawang Sari Kecamatan Pujon Kabupaten Malang. Adapun

waktu penelitian dilakukanpada bulan September 2015 sampai Juli 2016.Penelitian ini ialah suatu
studi etnografis yang berfokus pada interaksi manusia dengan ekologi yang ada disekitarnya.
Alasan pemilihan tempat ini adalah untuk mendapat pemahaman lebih jauh atas masyarakat di
Desa Tawang Sari karena masyarakat Tawang Sari memiliki kearifan budaya dalam menjaga
dan melestarikan sumberdaya alam dalam hal ini pelestarian mata air, selain itu Tawangsari
merupakan daerah yang terletak jauh dari perkotaan berada di wilayah pegunungan dan
karakteristik alam yang sesuai dengan kondisi pertanian serta masyarakatnya yang masih
memiliki keyakinan akan keberadaan makhluk gaib di sekitar tempat tinggal mereka
sehingga dianggap sebagai desa tradisional sehingga memiliki budaya yang diwariskan dari
dahulu, terkhusus pada aktivitas pelestarian sumberdaya alam dan lingkungan yang mereka
lakukan.

Alat yang digunakan adalah alat tulis menulis, tally sheet, panduan wawancara, tape
recorder, komputer beserta perlengkapanya, peta, dan kamera sedangkan bahan yang di gunakan
dalam penelitian ini adalah data-data dokumen pendukung penelitian seperti data demografi dan
lahan.

Penelitian yang dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui pengetahuan lokal yang
diterapkan masyarakat Desa Tawang Sari dalam pelestarian sumberdaya alam terdiri dari 3
tahap terdiri dari tahap 1 yaitu studi pustaka/literatur, laporan penelitian, internet, dan data-data
di desa dan kecamatan, tahap 2 yaitu kajian lapangan etnoekologi masyarakat aspek yang
diteliti yaitu pengetahuan lokal yang diterapkan masyarakat Desa Tawang Sari dalam
mengelola sumberdaya ala, tahap 3 yaitu pengelolaan dan analisis data sesuai tahap 1 dan 2,
pengelolalan data hasil dari wawancara maupun kuisioner dilakukan dengan berpedoman pada
metode dan tujuan penelitian yang akan dicapai.

Pengumpulan data dapat penelitian ini melalui beberapa cara antara lain, yaitu kajian
literature yangbertujuan untuk mendapatkan data-data yang berkaitan dengan sejarah masyarakat
Tawang Sari secara umum, data mengenai penduduk atau demografi desa, luas Desa, data
mengenai lahan serta sejarah penggunaan lahan yang dilakukan oleh masyarakat Desa Tawang
Sari. Studi literatur ini dapat menggunakan buku, tulisan atau artikel, koran atau tulisan lainya
yang berkaitan dengan deskripsi masyarakat Tawang Sari, dan kajian lapangan yang
dilaksanakan melalui kegiatan wawancara dan pengamatan terlibat.

Analisis data dilakukan dengan analisis etnografis sesuia dengan pendapat Spradley[1]yaitu
pencarian makna budaya dengan menggunakan bahasa komunikasi atau istilah yang digunakan
oleh masyarakat setempat. Analisis data dilakukan dengan mengikuti sifat umum dalam tahapan
penelitian kualitatif menurut Usman dan Akbar[2]antara lain: mereduksi data, yakni merumuskan
secara singkat dengan klasifikasi tertentu sesuai dengan informasi/data yang ditemukan di
lapangan; penyajian data, yakni memaparkan informasi/data dalam sebuah tulisan sesuai
dengan data yang telah direduksi pada tahap analisis pertama, dan tahap terakhir adalah
penarikan kesimpulan, yakni menentukan pokok jawaban sesuai dengan sajian data dilakukan
pada tahap kedua.

Analisa data mengenai potensi pengetahuan lokal yang diterapkan masyarakat desa Tawang
Sari dalam mengelola sumberdaya alam ini antara lain peneliti menganalisis pembagian-pembagian
kawasan desa oleh masyarakat Tawang Sari dalam kehidupannya sehari-hari atau menjalankan
tradisi. Pembagian wilayah pemukiman, pertanian, ladang, sumber air, hutan, peternakan dan lain
sebagainya sesuai dengan informasi yang didapatkan padasaat penelitian melalui wawancara serta
pengamatan terlibat yang dilakukan. Data yang didapatkan tersebut kemudian direduksi sehingga
didapatkan rumusan dan klasifikasi informasi, setelah itu data tersebut disajikan atau
dideskripsikan dalam sebuah tulisan sehingga dapat menggambarkan pengetahuan masyarakat
Tawang Sari dalam yang Diterapkan Masyarakat Desa Tawang Sari dalam Mengelola Sumberdaya
Alam, langkah yang terakhir adalah menyimpulkan dari analisis tersebut sehingga diperoleh
gambaran yang jelas mengenai apa yang diteliti.

90 Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016

+$6,/ '$1 3(0%$+$6$1
/RNDVL 3HQHOLWLDQ

Penelitian ini dilaksanakan di Desa Tawangsari Kecamatan Pujon Kabupaten Malang.
Adapun waktu penelitian dilakukan pada bulan Desember 2015 sampai Juli 2016. Penelitan ini
adalah suatu studi etnografis yang berfokus pada interaksi manusia dengan ekologi yang
ada disekitarnya. Tawangsari memiliki kearifan budaya yang sampai sekarang masih terawat
oleh karena itu perlu untuk diteliti dan dipelajari, selain itu Tawangsari merupakan daerah yang
terletakjauh dari perkotaan berada diwilayah pegunungan dan karakteristik alam yang sesuai
dengan kondisi pertanian serta masyarakatnya yang masih memiliki keyakinan akan keberadaan
makhluk gaib disekitar tempat tinggal mereka sehingga dianggap sebagai desa tradisional
sehingga memiliki budaya dan adat yang diwariskan dari dahulu, terkhusus pada aktifitas
memanfaatkan hutan dan lingkungan yang mereka lakukan.

3.2 Kondisi Geografis desa Tawangsari

Secara geografis, Tawangsari termasuk wilayah yang memiliki pegunungan dan sebagian
besar dataran tinggi. Kondisi tanah dalam kawasan hutan tersebut pada umumnya memiliki solum
yang agak tebal dan sedikit berbatu. Ketinggian wilayah Tawangsari ±1.000 – 2.500 mdpl. Suhu
rata-rata 14-24ÛC dengan rata-rata curah hujan dalam satu tahun 1.724 mm dan terbagi dalam
delapan bulan basah, tiga bulan kering dan satu bulan lembab. Jenis tanah, kelerengan dan curah
hujan mempunyai peranan penting dari segi konservasi lahan, karena kepekaan tanah, kelerengan
dan curah hujan memberikan indikasi tingkat bahaya erosi dimana semakin peka tanah, semakin
tinggi derajat kelerengan dan curah hujan, maka potensi terjadinya erosi akan semakin besar.

Penggunaan lahan di Desa Tawangsari adalah 5,0% dari wilayah berupa pemukiman
penduduk, 2,3% berupalahan kering, 3,8% berupa lahan persawahan dan 88,9% berupa kawasan
hutan pangkuan desa (Tabel4.1).

Tabel 4.l: Luas Desa Pujon Kidul berdasarkan penggunaan lahan

Penggunaan Lahan Luas (Ha) Persentase (%)

Pemukiman Penduduk 141 5,0

Lahan Kering 63 2,3
Persawahan 97 3,8
Hutan Produksi dan Lindung 2.399 88,9
Total 2.700 100

Sumber: Profil Desa Tawangsari Tahun 2015 [3]

3.3 Kondisi Demografis desa Tawangsari
Desa Tawangsari memiliki penduduk berjumlah 3.965 jiwa. Jumlah penduduk tersebut terdiri

dari laki-laki sebanyak 1.905 jiwa dan perempuan sebanyak 2.060 jiwa (Tabel 4.2).

Tabel 4.2: Jumlah penduduk Desa Tawangsari berdasarkan jenis kelamin

Jenis Kelamin Jumlah Penduduk (Jiwa) Persentase (%)

Perempuan 2.060 51
Laki-laki 49
1.905 100

Jumlah 3.965

Sumber: Profil Desa Pujon Kidul Tahun 2015[4]

Jumlah penduduk di Desa Tawangsari sebagian besar berusia produktif (umur 15-64 tahun)
dengan persentase lebih dari 50% (Tabel 4.3). Jumlah usia produktif yang tinggi jika tidak
diikuti dengan ketersediaanlapangan pekerjaan yang layak akan menyebabkan pengangguran.
Tingginya angka pengangguran dapat memicu timbulnya berbagai persoalan sosial lainnya
seperti kenakalan remaja dan sebagainya.

Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016 91

Tabel 4.3: Jumlah penduduk Desa Tawangsari berdasarkan kelas umur

Kelas Umur Jumlah Penduduk (Jiwa) Persentase (%)

0-4 474 11,6

5-9 524 13,8

10-14 479 11,7

15-24 737 18,0

25-64 1.640 40,1

>64 196 4,8

Jumlah 3.965 100

Sumber: Profil Desa Tawangsari Tahun 2015 [3]

Tingkat pendidikan di Desa Tawangsari seperti halnya sebagian besar desa-desa di Indonesia

masih tergolong rendah dimana lebih dari 90% penduduk hanya berpendidikan di sekolah dasar

(tabel 4.4)

Tabel 4.4: Jumlah penduduk Desa Tawangsari berdasarkan tingkat pendidikan

Tingkat Pendidikan Jumlah Penduduk (Jiwa) Persentase (%)

Buta Huruf 21 0,6

SD 3.273 90,6

SLTP 227 6,3

SMA 83 2,3

PT 7 0,2

Jumlah 3.611 100

Sumber: Profil Desa Pujon Kidul Tahun 2015 [4]
Sebagian besar penduduk di Desa Tawangsari yang berusia produktif bermata pencaharian
sebagai petani atau buruh tani yaitu mencapai lebih dari 95%. Dengan tingkat pendidikan yang
relatif rendah dan keterampilan yang terbatas bidang pertanian menjadi tumpuan sumber
penghidupan masyarakat di Desa Tawangsari (Tabel 4.5).

Tabel 4.5: Jumlah penduduk Desa Tawangsari berdasarkan mata pencaharian

Jenis Mata Pencaharian Jumlah Penduduk (Jiwa) Persentase (%)

Petani 1.841 71,6
27,5
Buruh Tani 707 0,4
0,5
PNS/Pegawai Pemerintahan 9 0,1

Pegawai Swasta 13 0
100
Usaha Sendiri 3

Tidak Bekerja 0

Jumlah 2.573

Sumber: Profil Desa Pujon Kidul Tahun 2015 [4]

3.4 Sarana dan Prasarana di Lokasi Penelitian
3.4.1 Sarana Jalan

Jalan yang ada di Desa Tawangsari terdiri atas jalan aspal, jalan makadam dan jalan tanah
(Tabel 4.6). Jalan merupakan salah satu infrastruktur transportasi yang mendukung

pemasaran produk pertanian dan pengembangan wisata alam.

Tabel 4.6: Panjang jalan pada berbagai spesifikasi di Desa Tawangsari

Jenis Jalan Panjang (Km) Kondisi

Aspal 4 Baik

Makadam 2 Sedang

Tanah 2 Rusak

Sumber: Profil Desa Tawangsari Tahun 2015 [3]

92 Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016

3.4.2 Sarana Pendidikan

3.4.3 Upaya peningkatan pendidikan masyarakat dilakukan dengan pembangunan sarana
3.4.4
pendidikan. Sampai 2014 tercatat jumlah gedung sekolah untuk TK sebanyak 4 unit, SD

sebanyak 2 Unit dan SLTP sebanyak 1 unit (tabel 4.7).

Tabel 4.7: Jumlah sarana pendidikan di Desa Tawangsari

Jenis Sarana Pendidikan Jumlah (Unit)

PAUD -

TK 4

SD 2

SLTP 1

SLTA -

Total 7

Sumber: Profil Desa Tawangsari Tahun 2015 [3]

Sarana Kesehatan
Sarana kesehatan yang ada di Desa Tawangsari berupa Posyandu sebanyak 2 unit dan
Polindes sebanyak 1 unit (Tabel 4.8)

Tabel 4.8: Jumlah sarana kesehatan di Desa Tawangsari

Fasilitas Kesehatan Jumlah (Unit)

Posyandu 2

Polindes 1

Total 3

Sumber: Profil Desa Tawangsari Tahun 2014 [5]

Sarana Ibadah dan Umum

Sarana ibadah yang ada di Desa Tawangsari meliputi Masjid sebanyak 5 unit dan Mushola

sebanyak 22 unit. Sedangkan sarana umum yang menunjang dalam peningkatan produksi

desa seperti pasar, Bank Perkreditan Rakyat (BPR) atau kredit usaha tani (KSU) belum

tersedia di desa ini (Tabel 4.9).

Tabel 4.9: Jumlah sarana ibadah dan umum di Desa Tawangsari

Jenis Fasilitas Jumlah (unit)

Masjid 5

Mushola 22

Pasar -

BPR/KSU -

Sumber: Profil Desa Tawangsari Tahun 2014[5]

3.5 KeterkaitanMasyarakat Desa dengan Kawasan Hutan
Desa Tawangsari merupakan desa di sekitar kawasan hutan, dimana luas hutan pangkuan

desa mencapai 88% dari total wilayah desa, Hutan pangkuan desa tersebut berada di bawah
pengelolaan Perum Perhutani yang berupa hutan produksi dan hutan lindung, dengan persentase
lahan pertanian baik berupa sawah dan lahan kering yang hanya mencapai 6% dari luas wilayah,
sedangkan lebih dari 90% jumlah penduduk adalah petani. Dari kondisi inilah yang menjadikan
lahan hutan sebagai sumberdaya lahan alternatif bagi penduduk di Desa Tawangsari dalam
melakukan usaha di bidang pertanian.

Masyarakat bekerjasama dengan Perhutani melalui kegiatan PHBM melakukan usaha
agroforestri dan silvopasture baik berupa tumpangsari tanaman pertanian serta melakukan
penanaman rumput di bawah tegakan hutan. Aktivitas agroforestri ini telah menjadi sumber
penghidupan masyarakat di Desa Tawangsari.

Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016 93

.HDULIDQ /RNDO 'HVD
Tawangsari merupakan salah satu desa yang terdapat di kecamatan Pujon Kabupaten

Malang, desa tersebut memiliki kearifan lokal yang digunakan untuk memelihara lingkungan hidup
dan peningkatan produksi hasil pertanian. Kearifan lokal atau dapat juga disebut kearifan
tradisional merupakan pengetahuan yang secara turun temurun dimiliki olah para petani dalam
mengolah lingkungan hidupnya, yaitu pengetahuan yang melahirkan perilaku sebagai hasil
dari adaptasi mereka terhadap lingkungannya yang mempunyai implikasi positif terhadap
kelestrian lingkungan hidup [6].

Kearifan lokal yang ada di Desa Tawangsari berupa sistem penanggalan dalam pertanian,
misalnya penanggalan musim tanam. Sistem penanggalan ini adalah sistem penanggalan jawa yang
dalam penentuannya dilihat dari perkiraan posisi bulan. Misalnya masa tanam “mlebu rendeng”
dilakukan pada saat sebelum musim hujan. Petani di Desa Tawangsari memiliki semacam
“ilmu batin” yang bisa menunjukkan kapan seharusnya menanam, dan kapan seharusnya tidak
menanam. Ketika pada waktunya tidak boleh menanam, berarti seluruh petani harus serentak
tidak boleh menanam, jika ada yang menanam umumnya terjadi “malapetaka” tertentu
seperti lahan pertaniannya terkena hama, atau tidak tumbuh dengan subur.

Selain itu pada saat panen, para petani biasanya membuat acara sedekah bumi. Ritual ini
biasanya dilakukan di pusat air yang sudah dibubuhi dengan doa-doa dengan tujuan mendapat
berkah dari Sang Khaliq. Tradisi yang juga biasa dilaksanakan oleh masyarakat Tawangsari adalah
ketika pertengahan musim tanam, dedaunan diikatkan ke pohon atau sajen disudut tegalan. Tradisi
ini dipercaya dapat menjaga pohon dari serangan hamadan pohon cepat berbuah.

Selain contoh kearifan lokal yang ada diatas, di Desa Tawangsari juga terdapat kearifan
lokal dalam pemeliharaan lingkungan hidup. Lingkungan hidup itu sendiri adalah apa saja yang
mempunyai kaitan dengan kehidupan pada umumnya dan kehidupan manusia [7]. Salah satu
contoh pemeliharaan lingkungan hidup yang ada di Desa Tawangsari adalah gotong royong.
Misalnya pada saat hari-hari besar seperti pada perayaan 17 Agustus masyarakat Cimanggu
melakukan gotong royong. Namun sekarang gotong royong tersebut sudah tidak lagi dilaksanakan,
karena tidak lagi diagendakan oleh kepala desa setempat. Sehingga sekarang pemeliharaan
lingkungan hidup dengan gotong royong tidak lagi dilaksanakan. Akibat dari pemeliharaan
lingkungan hidup yang tidak lagi dilaksanakan, keadaan kampung tersebut kurang terurus
kebersihannya. Meskipun begitu, masyarakat kampung tersebut membuat inisiatif sendiri dengan
membuat lubang di pekarangan rumah sebagai tempat pembuangan sampah, kemudian di bakar.

3.7 PerananKearifan Lokal terhadap pemeliharaan Sumber Daya Alam
Hutan Sengkeran atau hutan angker adalah kawasan hutan yang berada di pinggir desa

Tawangsari merupakan kawasan hutan yang didalamnya terdapat mata air sungai konto anak
sungai brantas. Kondisi hutan sengkeran yang di jaga oleh masyarakat dengan kearifan lokalnya ini
sangat terjaga kelestariannya. Hutan sengkeran digambarkan oleh mayarakat desa setempat sebagai
hutan “wingit” atau sangat angker banyak sekali cerita-cerita mistis yang selalu diceritakan
masyarakat desa Tawangsari misalnya pernah ada perambah hutan dari luar desa Tawangsari
mencoba mengambil kayu di hutan sengkeran kemudian kesurupan atau kemusakan roh penjaga
hutan dan baru bisa disembuhkan kalau pencuri kayu ini mengembalikan kayu hasil curiannya
dan berjanji tidak akan mengulang kembali. Cerita-cerita mistis ini ternyata membuat
masyarakat sangat percaya dengan roh penghuni hutan sengkeran ini sehingga masyarakat
kemudian turut menjaga hutan agar penghuni hutan tidak marah. Kearifan lokal masyarakat desa
Tawangsari pada hutan sengkeran ini menjadikan hutan sengekeran yang terdapat mata
airnya ini bisa terjaga kelestariannya (hasil wawancara dengan tokoh desa Tawangsasi, 20
Januari 2016).

Petani pada tahun 60-an selalu menggunakan “ilmu batin” ini dalam menentukan waktu
tanam, pengistirahatan tanaman, dan panen. Sehingga panen selalu memberikan hasil yang baik
dan lahan pertanian mereka tidak pernah terserang hama yang serius. Kearifan lokal ini
sesungguhnya berperan penting terhadap sistem pertanian berkelanjutan, melalui penghitungan
menggunakan “ilmu batin” tersebut, petani tidak pernah menggunakan pestisida untuk
memberantas hama, dan tidak menggunakan pupuk-pupuk kimia yang berdampak buruk bagi
kesuburan tanah kedepan, karena mereka sudah dapat memprediksinya. Sehingga hasil panen yang

94 Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016

mereka hasilkan tidak mengandung residu kimia yang berbahaya bagi kesehatan konsumen, dan
tidak digunakannya pestisida, herbisida, maupun pupuk kimia berdampak langsung terhadap
terjaganya unsur-unsur hara tanah, sehingga tanah tetap subur dan produktif.

Keterjagaan tanah, tanaman, dan ekosistemnya menunjukkan bahwa kearifan lokal tersebut
berpihak pada pemeliharaan kelangsungan sumber daya alam, dimana tanah tidak terus
tereksploitasi untuk berproduksi menggunakan perangsang pertanian yang tidak bersahabat dengan
alam, ekosistem didalamnya tidak terganggu kehidupannya, begitu juga dengan manusia yang bisa
mengonsumsi pangan hasil panen dengan aman. Kearifan lokal ini sesungguhnya dapat menjadi
cerminan pemeliharaan sumber daya alam kedepan, dalam bentuk pembangunan yang
berkelanjutan. Pembangunan yang menghasilkan, namun tetap arif terhadap alam.

Kearifan lokal lainnya yang berdampak terhadap pemeliharaan sumber daya alam adalah
tradisi gotong royong untuk membersihkan kampung, dimana masyarakat sama-sama bahu
membahu mebersihkan lingkungan mereka sehingga tercipta lingkungan yang bersih dan kondusif
bagi kesehatan warga. Selain itu terdapat kearifan lokal seperti ritual-ritual seperti sedekah bumi
sebelum menanam, dan ketika panen. Hal ini memang tidak berdampak langsung terhadap
pemeliharaan sumber daya alam, namun kearifan lokal ini menimbulkan solidaritas antar warga
Desa Tawangsari yang semakin kuat.

4. KESIMPULAN
Desa Tawangsari memiliki kearifan lokal untuk pemeliharaan lingkungan hidup melalui

pelestarian kawan hutan sengkeran yang merupakan kawasan yang terdapat mata air sungai konto
DAS Brantas. Kearifan lokal tersebut di atas dapat menjadi cerminan pemeliharaan sumber daya
alam kedepan, dalam bentuk pembangunan yang berkelanjutan. Pembangunan yang menghasilkan,
namun tetap arif terhadap alam. Kearifan lokal yang ada di Desa Tawangsari berupa gotong royong
dapat dilestarikan dengan senantiasa menumbuhkan kesadaran masyarakat bahwa kebersihan
lingkungan adalah penting bagi kesehatan warga, apalagi mengingat dengan kebiasaan warga yang
membuang sampah diselokan. Sistem kearifan lokal yang berupa sistem penanggalan pertanian
sudah mulai ditinggalkan, terlihat dari semakin sedikitnya masyarakat yang menggunakan sistem
ini, hanya orang-orang tertentu saja yang menggunakan. Perlunya kelembagaan secara terstruktur
dengan baik untuk melestarikan pengetahuan-pengetahuan lokal dan perlunya mendeseminasikan
kearifan lokal ini agar pengetahuan tersebut tidak pudar dan hilang.

5. PERSEMBAHAN
Penelitian dan penulisan artikel ini merupakan bagian dari kegiatan penelitian yang didanai

Universitas Muhammadiyah Malang melalui Penelitian Unggulan Pusat Studi (PUPS), dalam hal
ini mewakili Pusat Studi Lingkungan dan Kependudukan Universitas Muhammadiyah Malang.
Dengan demikian, patutlah kami menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada pihak-
pihak tersebut.

6. DAFTAR PUSTAKA
[1] Spradley, J. P. 1997. Metode Etnografi. Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya.
[2] Usman, H. & Akbar, R. P. S. 2006. Pengantar Statistika. Jakarta: Bumi Aksara.
[3] Profil Desa Tawangsari Tahun 2015
[4] Profil Desa Pujon Kidul Tahun 2015
[5] Profil Desa Tawangsari Tahun 2015
[6] Lamech, A. P. & Hutama, P. 1995. Kearifan Tradisional Masyarakat Pedesaan Daerah Irian

Jaya di Kabupaten Jayapura dan Biak Numfor dalam Pemeliharaan Lingkungan hidup.
Jayapura: Proyek Pengkajian dan Pembinaan Nilai-nilai Budaya Pusat.
[7] Sastrosupeno. 1984. Manusia, Alam, dan Lingkungan. Jakarta: Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan.

Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016 95

JAMBANISASI DI DESA MAYANGKAWIS KECAMATAN BALEN
KABUPATEN BOJONEGORO

Nugroho Tri Waskitho1, Sunarto2

1Fakultas Pertanian Peternakan Universitas Muhammadiyah Malang
2Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Malang

Alamat Korespondensi : Jl.Raya Tlogomas No 246, Telp: 0341 464318
E-mail: 1)[email protected]

Abstrak

Pada tahun 2015 terdapat 130 rumah tangga di desa Mayangkawis kecamatan Balen Kabupaten
Bojonegoro yang masih buang air besar sembarangan. Kondisi ini sangat menurunkan sanitasi
lingkungan. Untuk memperbaikinya dilakukan jambanisasi dan penyuluhan. Pada tahun 2016
dibangun 23 jamban kerjasama pemkab Bojonegoro, desa dan program IbW.

Kata kunci: jambanisasi, sanitasi lingkungan, buang air besar sembarangan

1. PENDAHULUAN
Derajat kesehatan dipengaruhi oleh banyak faktor yaitu : lingkungan, perilaku, pelayanan

kesehatan dan keturunan. Faktor lingkungan dan perilaku sangat mempengaruhi derajat kesehatan.
Termasuk lingkungan yaitu keadaan pemukiman/perumahan, tempat kerja, sekolah dan tempat
umum, air dan udara bersih, teknologi, pendidikan, sosial dan ekonomi. Sedangkan perilaku
tergambar dalam kebiasaan sehari-hari seperti pola makan, kebersihan perorangan, gaya hidup, dan
perilaku terhadap upaya kesehatan [1].

Dalam hal sanitasi lingkungan, masyarakat masih memanfaatkan “toilet terbuka” yang
biasanya terletak di kebun, pinggir sungai, dan parit sawah. Melakukan buang air besar di tempat
terbuka akan menimbulkan pencemaran pada permukaan tanah dan air. Perilaku semacam itu
dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain faktor ekonomi karena untuk membuat septik tank
diperlukan biaya, tidak tersedianya septik tank umum dan layanan yang baik untuk penyedotannya.
Karena beberapa faktor tersebut, maka muncullah suatu masalah yaitu adanya masyarakat yang
masih buang air besar di sembarang tempat [2].

Menurut data UNICEF, 44,5 % total seluruh penduduk Indonesia belum memiliki akses
pembuangan tinja yang layak dan 63 juta masyarakat Indonesia masih buang air besar sembarangan
atau 24% dari total penduduk Indonesia pada tahun 2011 masih melakukan buang air besar (BAB)
Sembarangan [3]. Lebih lanjut, UNICEF menyatakan bahwa sanitasi dan perilaku kebersihan yang
buruk, serta minum air yang tidak aman berkontribusi terhadap 88% kematian anak akibat diare di
seluruh dunia [3].

Sanitasi yang baik dapat mengurangi penularan mikroba yang menyebabkan diare dengan
cara mencegah kontaminasi tinja manusia dengan lingkungan. Meningkatnya sarana sanitasi dapat
mengurangi insiden diare sebesar 36 %.[4,5]. Penggunaan jamban efektif dapat mengurangi insiden
penyakit diare sebesar 30%[5].

Pada tahun 2015 terdapat 130 rumah tangga di desa Mayangkawis kecamatan Balen
Kabupaten Bojonegoro yang masih buang air besar sembarangan. Kondisi ini sangat menurunkan
sanitasi lingkungan. Kondisi ini mempengaruhi kesehatan masyarakat.

Jamban sehat adalah fasilitas buang air besar yang dapat mencegah pencemaran badan air,
mencegah kontak antara manusia dan tinja, mencegah hinggapnya lalat atau serangga lain di tinja,
mencegah bau tidak sedap, serta konstruksi dudukan (slab) yang baik, aman dan mudah
dibersihkan.[6,7,8,9]

96 Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016

0(72'(
2.1 Lokasi

Kabupaten Bojonegoro terletak di Provinsi Jawa Timur pada koordinat 112º25' dan112º09'
BT dan 6º59' dan 7º37' LS dengan luas wilayah 2.384,02 km2. Kabupaten ini berbatasan dengan
Kab. Tuban di utara, Kab. Lamongan di timur, Kab. Nganjuk, Kab. Madiun dan Kab. Ngawi di
selatan, serta Kab. Blora (Jawa Tengah) di barat. Bagian barat Bojonegoro (perbatasan dengan
Jawa Tengah) merupakan bagian dari Blok Cepu, salahsatu sumber deposit minyak bumi terbesar
di Indonesia(Gambar 1).

Gambar 1. Posisi Kabupaten Bojonegoro

Topografi Kab. Bojonegoro menunjukkan bahwa di sepanjang daerah aliran sungai
Bengawan Solo merupakan daerah dataran rendah (low-land plain) yang berada pada ketinggian 25
mdpl dengan kemiringan 2 – 14,99%, sedangkan di bagian selatan yang terdapat gunung Pandan
Kramat dan Gajah merupakan dataran tinggi (upland plain) yang berada pada ketinggian 25 mdpl.
Kab. Bojonegoro merupakan daerah subur karena dilewati oleh sungai Bengawan solo dan terdapat
17 sungai besar yang bermuara di sungai Bengawan Solo. Kab. Bojonegoro merupakan daerah Sub
DAS Bengawan Solo Hilir dengan panjang sungai 6,237 km mengalir dari Kab. Bojonegoro
sampai dengan Kab. Lamongan. Secara umum, Kab. Bojonegoro termasuk wilayah dataran rendah
dan merupakan wilayah sungai, sehingga sangat rentan terhadap banjir. Wilayah yang rentan banjir
adalah wilayah di kanan-kiri sungai, khsususnya pada musim penghujan.
Secara administratif, Kab. Bojonegoro terbagi atas 27 Kecamatan. Kec. Balen adalah salah satunya
dengan luas 60,52 km2, berada pada ketinggian 0 – 5 m dpl. Wilayah Kec. Balen berbatasan
dengan Kec. Rengel, Kab. Tuban di sebelah utara, dan Kec. Sumberejo di timur, Kec. Sukosewu di
selatan dan di sebelah barat dengan Kec. Kapas, Kab. Bojonegoro. Kec. Balen juga dilintasi sungai
bengawan solo di sebelah utara.

Kecamatan Balen terletak di koordinat 7°11'28" LS dan 111°57'42" BT yang terbagi atas
23 desa. Kecamatan Balen dengan luas wilayah 6.051 ha mempunyai jumlah penduduk 66.730
jiwa, kepadatan penduduk 1.053 jiwa/km2, bermata pencaharian sebagian besar sebagai petani di
samping bekerja di sektor industri/pengrajin dan pedagang (Gambar 2). Dua desa di Kec. Balen
yang menjadi wilayah IbW yaitu desa Kemamang dan Mayangkawis dengan luas wilayah masing-
masing 166,99 ha dan 327,23 ha yang dihuni masing-masing 2.102 dan 3.926 jiwa.

Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016 97

Gambar 2. Posisi Kecamatan Balen

2.2. Kondisi Sanitasi Lingkungan
Dari hasil pemeriksaan rumah tinggal di Kecamatan Balen, jumlah rumah 12.762, diperiksa

1.667 rumah, jumlah sehat 1.371 rumah (82,24%). Tercatat 15.805 keluarga, diperiksa 1.658
keluarga, sebanyak 1.247 keluarga (75,21%) telah mengakses air bersih baik dari PDAM, sumur,
maupun air sumber. Dari 15.805 KK, jumlah KK diperiksa 1.658, yang memenuhi kriteria sehat
sebanyak 81,26% dari 61,16% KK yang memiliki jamban; 80,26% dari 61,16% KK yang memiliki
tempat sampah; 58,68% dari 61,16% KK yang memiliki pengelolaan air limbah [10].
2.3. Metode Pelaksanaan

Jambanisasi dilakukan dengan membangun jamban pada rumah yang belum mempunyai
jamban. Pemilihan rumah yang akan dibangun jamban ditentukan oleh Kepala Desa. Kegiatan ini
merupakan kerja sama antara pemerintah desa Mayangkawis, pemerintah kabupaten Bojonegoro
dan program IbW.
3. HASIL DAN PEMBAHASAN

Jambanisasi dilakukan di RT 15 dan RT 10 sebanyak 23 buah di desa Mayangkawis. Salah
satu contoh disajikan pada Gambar 1.

98 Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016

Gambar 3. Jambanisasi di desa Mayangkawis

Penyuluhan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dalam menggunakan jamban juga
memberikan kontribusi dalam perubahan perilaku buang air besar (BAB) masyarakat. Hal ini dapat
ditunjukkan dalam penelitian bahwa pembinaan petugas Puskesmas juga memiliki hubungan yang
bermakna dalam penggunaan jamban [11].

Dukungan aparat desa, kader posyandu dan LSM meningkatkakan 2,7 kali masyarakat
untuk menggunakan jamban [11]. Dukungan sosial berhubungan dengan perilaku buang air besar,
dalam penelitian kualitatif dikatakan bahwa salah satu faktor yang memudahkan seseorang buang
air besar di sungai karena melihat orang tua dan tetangganya melakukan hal yang sama [12] dan
keberadaan community leaders di masyarakat memicu untuk terjadinya perubahan perilaku [13].
Pendampingan fasilitator paska pemicuan yang kurang baik berisiko 12,7 kali seseorang untuk
BABS dan pendampingan paska pemicuan yang cukup baik masih berisiko 7,5 kali seseorang
untuk BABS [14].
Berdasarkan penelitian kualitatif bahwa salah satu faktor yang berhubungan dengan keberhasilan
daerah menjadi Opend Defecation Free setelah dilakukan pemicuan Community Led Total
Sanitation (CLTS) di Jawa Timur adalah karena adanya kegiatan sosial kemasyarakatan yang baik
: pemimpin yang terpercaya, adanya gotong – royong dan kebersamaan [13].

Tidak adanya sangsi sosial di masyarakat menjadi salah satu faktor kegagalan suatu daerah
untuk menjadi daerah bebas BABS serta didukung kurangnya monitoring pasca pemicuan CLTS.
[13]

Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016 99

Kebiasaan buang air besar sembarangan (BABS) yang terjadi dimasyarakat umumnya karena
adanya perasaan bahwa BABS itu lebih mudah dan praktis, BABS sebagai identitas masyarakat
dan budaya turun - temurun dari nenek moyang sehingga menjadi kebiasaan [12].

Teori yang mendukung hasil penelitian ini adalah salah satu faktor yang menyebabkan
masyarakat melakukan buang air besar sembarangan adalah rendahnya motivasi masyarakat untuk
berperilaku hidup bersih dan sehat. Motivasi PHBS yang menggerakkan seseorang untuk
melakukan kebiasaan BAB (Notoatmodjo, 2007). Keluarga harus dilibatkan dalam progam
pendidikan dan penyuluhan agar mereka mampu mendukung usaha keluarga yang masih buang air
besar di sembarang tempat. Bimbingan/penyuluhan dan dorongan secara terus menerus biasanya
diperlukan agar keluarga yang buang air besar sembarangan tersebut mampu melaksanakan
rencana yang dapat diterima dan mematuhi peraturan. Keluarga selalu dilibatkan dalam progam
pendidikan sehingga mereka dapat memperingati bahwa buang air besar sembarangan dapat
berdampak pada penyakit.
4. KESIMPULAN

Jambanisasi di desa Mayangkawis kecamatan Balen kabupaten Bojonegoro diharapkan
meningkatkan sanitasi lingkungan dan kesehatan masyarakat.

DAFTAR PUSTAKA

[1] Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2009. Pedoman Teknik Penyehatan Perumahan.
Jakarta : Depertemen Kesehatan RI – Direktorat Jendral PPM & PL. Departemen Kesehatan
Republik Indonesia 2009. Profil kesehatan Indonesia 2008. Jakarta : Depkes RI.

[2] Sholikhah, S. 2014. Hubungan Pelaksanaan Program ODF (Open Defecation Free) Dengan
Perubahan Perilaku Masyarakat Dalam Buang Air Besar Di Luar Jamban Di Desa Kemiri
Kecamatan Malo Kabupaten Bojonegoro Tahun 2012, Surya Vol.02, No.XVIII, Juni 2014

[3] Triyono, A. 2014. Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Perilaku Buang Air Besar
Masyarakat Nelayan di Kampung Garapan Desa Tanjung Pasir Kabupaten Tangerang Propinsi
Banten. Forum Ilmiah Volume 11 Nomor 3, September 2014

*+ ' )!
4,;;390,)3B.346/;08,;0<=466/B482,8/@3,=.,8-0/980



*
+ %07-,$;,070;%>80=,6
$06,=498<34:91=30";0<08.091,9><0396/
7:;9?0/ ,=;480 @4=3 4,;;30, ,8/ '8/0;4?0 346/ 9;=,64=B 48 8/980<4, &30
70;4.,8%9.40=B91&;9:4.,60/4.480,8/B24080C


*+ ,;; $
A.;0=,;06,=0/ 4810.=498< ,8/ =30 ;960 91 <,84=,=498 48 =30 .98=;96 91
=;,8<74<<498 8 ,;=;,7 , 0/4=9; ),=0; #>,64=B >4/06480< %=,8/,;/< ,8/ 0,6=3
98/98)">-64<43482

*+),280;,894A
A.;0=,4<:9<,619;$>;,6;0,<,8/%7,66977>84=40<
)!9892;,:3<0;40<89


*+ ,4;8.;9<<%(,6/7,84<(
),=0;%>::6B%,84=,=498,8/B24080";979=4988
0,8&,74<980,0/4=9;4<0,<098=;96";49;4=40<480?069:4829>8=;40<
8/0/4=498
0/),<3482=98)9;6/,85


*+ )%""
819;7,<4 "4643,8 ,7-,8 %03,= ,5,;=, 466 ,8/ 0648/, ,=0<
9>8/,=498/,8)%" "



[10] Dinas Kesehatan Kabupaten Bojonegoro.2012. Profil Kesehatan Kabupaten Tahun 2011.
[11] Pane E. 2009. Pengaruh Perilaku Keluarga terhadap Penggunaan Jamban. Jurnal

Kesehatan Masyarakat Nasional 3(5):229 - 35.
[12] USAID/Indonesia. 2006. Formative Research Report Hygiene and Health. 1-5 and 30- 41
[13] Mukherjee N. 2011. Factors Associated with Achieving and Sustaining Open Defecation

Free Communities: Learning from East Java. Water and Sanitation Program. 1 - 8.
[14] Simanjutak D. 2009. Determinan Perilaku Buang Air Besar (BAB) Masyarakat (Studi

terhadap pendekatan Community Led Total Sanitation pada masyarakat desa di wilayah

100 Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016

kerja Puskesmas Pagelaran, Kabupaten Pandeglang tahun 2009). Jakarta: Universitas
Indonesia.
[15] Notoatmodjo, S. 2007. Ilmu Kesehatan Masyarakat. Jakarta: Rineka Cipta

Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016 101

Echinodorus paleafolius SEBAGAI TANAMAN FITOREMEDIAN DALAM
MENURUNKAN PHOSPAT LIMBAH CAIR LAUNDRY

Ayu Maharani Siswandari1, Iin Hindun2, Sukarsono3

1Program Studi Pendidikan Biologi, FKIP Universitas Muhammadiyah Malang

2Program Studi Pendidikan Biologi, FKIP Universitas Muhammadiyah Malang

3Program Studi Pendidikan Biologi, FKIP Universitas Muhammadiyah Malang

Alamat Korespondensi : Jl. Raya tlogomas no. 246 malang telp 0341-464318
E-mail: 1)[email protected], 2)[email protected], 3)[email protected]

Abstrak

Limbah cair laundry merupakan air sisa proses pencucian pakaian yang dapat menyebabkan toxic bagi kehidupan biota
air jika tidak diproses terlebih dahulu. Fitoremediasi merupakan suatu sistem yang dilakukan tumbuhan untuk
menguraikan zat kontaminan menjadi bahan yang tidak berbahaya. Tanaman air berperan sebagai penyedia O2 bagi
proses penguraian zat pencemar, membantu proses filtrasi terutama pada akar dan penyerap nutrient serta bahan-bahan
pencemar. Penelitian bertujuan untuk menganalisis mekanisme penurunan kadar phospat dalam limbah cair laundry
dengan metode fitoremediasi menggunakan tanaman Echinodorus paleafolius (melati air). Penelitian deskriptif
kuantitatif dilakukan terhadap limbah cair sisa pencucian pakaian di laundry rumahan yang dibuang kesungai. Analisis
kandungan phospat dan ph dilakukan di laboratorium kualitas air PERUM Jasa Tirta I Malang. Hasil analisis deskriptif
menunjukkan kandungan phospat pada limbah cair laundry melebihi batas ambang baku mutu air limbah yang
ditetapkan PP no 82 tahun 2001, yang berarti sangat berbahaya apabila dibuang ke lingkungan. Melati air dapat
menurunkan kadar phospat sebesar 3,451 mg pada limbah dan sebesar 2,271 mg pada limbah yang telah diberi
pengenceran.

Kata kunci: fitoremediasi, limbah laundry, tanaman melati air

1. PENDAHULUAN

Kerusakan ekosistem air menurut Arsyad (1989) adalah berupa menurunnya kualitas air salah
satunya karena kandungan senyawa dari limbah rumah tangga yang masuk ke dalam air. Menurut
Rifai (2013), limbah rumah tangga merupakan jumlah pencemar terbesar yaitu sekitar 85% yang
masuk ke badan air di Indonesia. Limbah cair domestik paling tinggi volumenya adalah deterjen.
Hal ini seiring dengan produksi deterjen dunia yang mencapai 2,7 juta ton/tahun, dengan kenaikan
produksi tahunan mencapai 5%.

Pertumbuhan industri pencucian pakaian (Laundry) sangat meningkat, berdasarkan data dari
Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Malang pada tahun 2008, jumlah industri
jasa (manufacturing) di Kecamatan Lowokwaru meningkat 64% dari tahun sebelumnya yakni
sebanyak 673 unit usaha. Berdasarkan hasil observasi awal di usaha Laundry rumahan “X
Laundry” yang terletak di Jalan Karyawiguna diketahui bahwa limbah cair hasil proses pencucian
pakaian dibuang langsung ke aliran sungai daerah Tegalgondo. Satu kali proses pencucian untuk
2,5 kg pakaian menggunakan tiga ember air dan detergen bubuk yang ditambahkan ke dalam air
tanpa takaran yang sesuai.

Deterjen pada konsentrasi 0,5 mg/L sudah mampu membentuk busa sehingga menghambat
difusi oksigen dari udara ke permukaan badan air. Alkil Sulfat pada kadar 15 mg/L dalam deterjen
dapat mematikan ikan mas. Deterjen juga mencemari lingkungan terutama kandungan fosfat yang
menyuburkan Eceng Gondok, yang dapat mengurangi jatah oksigen terlarut bagi biota air. Dampak
pada manusia antara lain iritasi pada kulit dan mata, serta kerusakan pada ginjal dan empedu.
Adapun bagi hewan antara lain gangguan imun seperti pada marmut. Konsentrasi mematikan 50%
pada deterjen adalah 0,3-60 ppm (Rochman, 2009).

Tanaman Melati Air (Echinodorus paleafolius) diketahui dapat digunakan sebagai alternatif
metode fitoremediasi limbah cair. Berdasarkan hasil penelitian dari Padmaningrum (2014) tentang

102 Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016

Pengaruh Biomasa Melati Air (Echinodorus paleafolius) terhadap Kadar Fosfat, BOD, COD, TSS,

dan Derajat Keasaman Limbah Cair Laundry didapat hasil berupa penurunan kadar Fosfat dari

221,5181 ppm menjadi 49,3333 ppm, nilai BOD turun dari 7,360 mg O2/L menjadi 4,452 mg O2/L,
nilai COD dari 1682,660 mg O2/L menjadi 1235,770 mg O2/L, nilai TSS dari 52,5 mg/L menjadi
25,0 mg/L dan Derajad Keasaman (pH) turun dari 8,80 menjadi 7,62. Penelitian ini dilakukan

untuk mengetahui mekanisme penurunan kadar Phospat limbah cair laundry secara fitoremediasi

menggunakan tanaman Melati Air (Echinodorus paleafolius).

Pemutih, air sorftener, surfaktan menurut Sulistyani (2010) merupakan bahan terpenting

pada detergen laundry. Kandungan limbah laundry yang sangat kotor mengandung mineral oil,

logam berat, dan senyawa berbahaya di mana harga COD mencapai 1200 sampai 20.000 mg O2/L.
Limbah laundry dari hotel, harga COD mencapai 600-2500 mg O2/L. Kandungan limbah laundry
dapat dilihat pada tabel 1.1:

Tabel 1.1 Kandungan Limbah Laundry

Parameter Kondisi Limbah Konsentrasi Batas

Laundry pada Emisi Air

Temperatur (0C) 62 30

pH 9,6 6,5-9

Suspended substances (mg/L) 35 80

Sediment substances (mg/L) 2 0,5

Cl2 (mg/L) 0,1 0,2
Total nitrogen (mg/L) 2,75 10

Nitrogen ammonia (mg/L) 2,45 5

Total phospat (mg/L) 9,9 1

COD (mg O2/L) 280 200
BOD5 (mg O2/L) 195 30
Mineral oil (mg/L) 4,8 10

AOX (mg/L) 0,12 0,5

Anionic surfactant (mg/L) 10,1 1

Fitoremediasi adalah suatu sistem dimana tanaman tertentu yang bekerjasama dengan
mikroorganisme dalam media (tanah, koral dan air) dapat mengubah zat kontaminan
(pencemar/polutan) menjadi kurang atau tidak berbahaya bahkan menjadi bahan yang berguna
secara ekonomi (Anam, 2013).

Ada enam tahapan proses yang terjadi ketika fitoremedisasi berlangsung menurut Dewi
(2015), yaitu:

1. Phytoacumulation merupakan proses dimana tumbuhan menarik zat pencemar dari media
sehingga terkumpul pada bagian akar tumbuhan (Hyperacumulation).

2. Rhizofiltration merupakan penyerapan zat pencemar dan membuatnya mengendap di akar
tumbuhan.

3. Phytostabilization yaitu menstabilkan zat – zat yang tidak dapat terserap masuk ke dalam
akar tumbuhan.

4. Rhyzodegradation merupakan tahapan penguraian zat pencemar oleh mikroba yang terdapat
pada bagian akar tumbuhan.

5. Phytodegradation adalah menguraikan zat pencemar yang memiliki rantai molekul kompleks
menjadi rantai yang lebih sederhana sehingga dapat dimanfaatkan bagi pertumbuhan hidup
tanaman itu sendiri.

6. Phytopvolatization adalah menguapkan zat pencemar yang telah diurai ke atmosfer.
Yulianto (2002) menyatakan bahwa tanaman Melati air tidak hanya memberikan nuansa

alam yang menarik dari segi visual. Tanaman Melati Air mempunyai kemampuan dalam

Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016 103

menurunkan kandungan pencemar pada air dan mempunyai nilai estetika yang baik terhadap
lingkungan.

2. METODE

Penelitian ini dilakukan pada 17 Mei-10 Juni 2016 di Jalan Notojoyo 179A Desa Tegalgondo
Kecamatan Karangploso Kabupaten Malang sedangkan uji analisa kandungan Phospat dan pH
menggunakan jasa analisis di Laboratorium Kualitas Air Perum Jasa Tirta I Jl. Surabaya No. 2A
Malang 65115 Telp. 0341-551971.

Jenis penelitian yang digunakan pada penelitian ini yaitu deskripstif kuantitatif untuk
menguji efektifitas fitoremediasi tanaman Echinodorus paleafolius pada phospat limbah cair
laundry. Populasi dalam penelitian ini adalah limbah cair sisa pencucian pakaian di seluruh usaha
Laundry rumahan di sekitar Kecamatan Karangploso Malang, dan yang diambil sebagai sampel
yaitu limbah cair sisa proses pencucian pakaian di “X Laundry” yang dipilih dengan cara purposive
sampling berdasarkan kriteria-kriteria yang telah ditetapkan oleh peneliti, kriteria tersebut adalah
limbah yang dihasilkan dibuang ke sungai, karakter fisik limbah keruh dan berbau harum.

Pengumpulan data dilakukan dengan pengambilan data primer. Pengolahan data kandungan
phospat yang diperoleh dari hasil laboratorium. Kemudian data yang telah dianalisis disajikan
dalam bentuk tabel dan narasi untuk membahas mengenai hasil penelitian. Data hasil laboratorium
mengenai kadar phospat dan nilai pH pada setiap sampel dianalisis secara deskriptif.

Alat yang digunakan meliputi: 4 buah pot bunga, 1 buah sekop, 14 buah botol aqua ukuran
600 mL dan 1 buah gayung kecil. Sedangkan bahan yang digunakan adalah: 5 liter limbah cair
laundry, 2 buah tanaman Melati Air, 40 batang tanaman Bambu Air dan 4 kilo gram koral.
Prosedur kerja penelitian fitoremediasi adalah sebagi berikut: membersihkan akar dari tanah serta
kotoran dengan air mengalir, lalu menyiapkan media tanam seperti pada tabel 2.1, setelah itu
menanam kedua jenis tanaman (Melati Air dan Bambu Air) ke dalam media tanam dan meletakkan
tanaman di tempat terbuka, kemudian membiarkan tanaman dan media selama 9 hari, tahap akhir
yaitu mengambil sampel limbah setiap tiga hari sekali untuk memeriksa kadar phospat dengan
spektrofotometer serta memeriksa perubahan fisik tanaman dan media tanam setiap hari.

Tabel 2.1 Komposisi Media Tanam dan Tumbuhan Percobaan

Pot Komposisi Media Tanam
A Limbah cair Laundry, koral dan 1 buah tanaman Melati air
B Limbah cair Laundry, koral dan 20 batang tanaman Bambu air
C Limbah cair Laundry, koral dan 1 buah tanaman Melati air (dengan pengenceran)
D Limbah cair Laundry, koral dan 20 batang tanaman Bambu air (dengan pengenceran)

3. HASIL DAN PEMBAHASAN

Tabel 1.3 menunjukkan bahwa kadar phospat pada limbah laundry sebelum difitoremediasi sangat
tinggi yakni sebesar 3,681 mg dengan pH sebesar 9,9 satuan. Sedangkan pada limbah yang telah
diberi pengenceran dengan me-nambahkan air sebanyak 600 mL didapatkan kadar Phospat sebesar
2,421 mg dengan pH sebesar 10,9 satuan. Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun
2001, kadar Phospat yang diizinkan untuk dibuang ke lingkungan adalah sebesar 0,2 mg/L. Untuk
pH tidak kurang dari 6 satuan dan tidak lebih dari 9 satuan.

104 Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016

Tabel 3.1 Karakteristik Media Tanam sebelum ditanam Melati Air (Echinodorus

paleafolius)

Kandungan PP. 82

Parameter Pot Limbah th Keterangan

2001

A 3,681 0,2 Melebihi batas

Phospat (mg) B 3,681 0,2 Melebihi batas
C 2,421 0,2 Melebihi batas

D 2,421 0,2 Melebihi batas

A 9,9 6-9 Melebihi batas

B 9,9 6-9 Melebihi batas
pH 6-9 Melebihi batas

C 10,9

D 10,9 6-9 Melebihi batas

Keterangan:
Pot A = Limbah laundry dan koral
Pot B = Limbah laundry dan koral
Pot C = Limbah laundry dengan pengenceran dan koral
Pot D = Limbah laundry dengan pengenceran dan koral

Tabel 3.2 menunjukkan bah-wa jumlah kadar Phospat pada limbah Laundry yang ditanamni
tanaman Melati Air mengalami penurunan secara signifikan. Kadar Phospat awal limbah sebesar
3,681 mg (pot A) dan 2,421 mg (pot C) yang berarti sangat tidak memenuhi baku mutu. Kemudian
Phospat menurun pada hari ke-3 sebesar 0,650 mg (pot A) dan 1,4 mg (pot C), 0,650 mg pada pot
A (tetap) dan 0,516 mg (pot C) pada hari ke-6 dan pada hari ke-9 Phospat menurun menjadi 0,230
mg (pot A) dan 0,150 mg (pot C) yang berarti telah aman apabila dibuang ke lingkungan.

Namun hal tersebut tidak berpengaruh terhadap pH. Nilai pH pada limbah terjadi penurunan
secara drastis pada hari ke-3, namun kembali naik pada hari setelahnya. Namun hasil akhir kadar
pH sudah layak untuk dibuang ke lingkungan.

Tabel 3.2 Kadar Phospat dan pH Limbah Laundry pada Penerapan Melati Air

(Echinodorus paleafolius)

Penerapan Melati Air PP. 82

Parameter Pot (hari ke-) th 2001 Keterangan

3 69

PO4 (mg) A 0,65 0,65 0,23 0,2 Layak dibuang ke lingkungan
C 1,40 0,51 0,15 0,2 Layak dibuang ke lingkungan

pH A 7,4 6,9 7,2 6-9 Layak dibuang ke lingkungan

C 7,4 7,5 7,3 6-9 Layak dibuang ke lingkungan

Keterangan:
Pot A = Tanaman Melati Air dalam media tanam limbah dan koral
Pot C = Tanaman Melati Air dalam media tanam limbah dengan pengenceran dan koral

Kedua pot limbah terlihat sangat keruh dan terdapat algae yang melimpah hanya dalam
waktu tiga hari sejak awal penempatan limbah. Hari ke-2 tanaman Melati Air terlihat layu dan tepi
daun-daunnya mengering. Hari ketiga tanaman Melati Air pada pot C (limbah yang diencerkan)
kembali segar, terlihat bunga putih mulai mekar.

Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016 105

Namun, air limbah pada keempat pot terlihat sangat keruh ditandai dengan tumbuhnya algae
yang melimpah. Hari ke-4 tanaman Melati Air pada pot A terlihat layu, sedangkan tanaman Melati
Air pada pot C batang terlihat segar namun tepian daun yang mengering semakin lebar membuat
daun mati satu persatu.

Hari ke-6 limbah pada pot A berangsur-angsur jernih, namun tetap terdapat algae yang
cukup melimpah. Sedangkan pot C limbah terlihat jernih seperti air biasa. Setiap hari selama
sembilan hari tanaman Melati Air terlihat segar pada pagi hari kemudian layu saat siang hari dan
kembali segar saat malam hari. Hal itu menunjukkan bahwa absorbsi zat makanan dan proses
fotosintesis terjadi pada siang hari.

Ion fosfat merupakan sumber P bagi tanaman. Ion fosfat pada penelitian ini, diambil oleh
akar tanaman Melati Air sebagai nutrisi bagi tanaman sehingga semakin lama tanaman hidup dalam
media limbah semakin kecil konsentrasi fosfat dalam limbah.

Menurut Rusyani (2014) Proses penyerapan zat-zat yang terdapat di dalam media tanam
dilakukan oleh ujung-ujung akar dengan jaringan meristem terjadinya karena adanya gaya tarik-
menarik oleh molekul-molekul air yang ada pada tumbuhan. Penyerapan logam diserap oleh akar
tumbuhan dalam bentuk ion yang larut dalam air, selain ion-ion tersebut, unsur hara juga ikut
masuk bersama aliran air. Zat-zat yang diserap oleh akar akan masuk ke batang melalui pembuluh
angkut (xilem), yang kemudian akan diteruskan ke batang.

Limbah awal yang digunakan sebagai media tanam mempunyai nilai pH 9,9 (pot A dan B)
dan 10,9 (pot C dan D). Nilai pH tersebut sangat tidak sesuai dengan batas minimal kandungan pH
limbah cair yakni 6-9 yang dapat dibuang ke lingkungan. Jadi jelaslah bahwa limbah Laundry ini
sangat berbahaya jika dibuang langsung ke lingkungan.

Perubahan pH akibat sintesis senyawa organik yang dilepaskan ke dalam media membuat pH
pada limbah media tanam Melati Air tidak teratur. Hal tersebut juga dipengaruhi oleh keadaan pH
lingkungan karena tanaman diletakkan pada tempat terbuka.

4. KESIMPULAN

Kandungan Phospat dan pH pada limbah cair Laundry sangat tidak memenuhi batas ambang baku
mutu air limbah yang telah ditetapkan oleh PP No. 82 Tahun 2001. Meskipun telah diencerkan
dengan air, kandungan Phospat dan pH limbah tetap tinggi. Setelah penerapan fitoremediasi selama
sembilan hari, terjadi penurunan kadar Phospat dan pH secara signifikan. Tanaman Melati Air
dapat digunakan untuk menurunkan kadar Phospat dalam limbah cair Laundry sebesar 3,451 mg
dan sebesar 2,271 mg pada limbah cair Laundry yang telah diberi pengenceran. Dengan demikian
tanaman Melati Air dapat digunakan sebagai tanaman fitoremedian untuk limbah cair Laundry.
Perlu adanya penelitian lebih lanjut guna mengetahui seberapa besar kandungan Phospat yang telah
diserap oleh kedua tanaman.

DAFTAR PUSTAKA

[1] 4'3
+4:7:4'4'4*:4-'45-'3 (*'47+').'9++2'2://957+3+*/'8/
'3(: /7 %)'()! +! *'4 &+52/9 )&" ("" &("" &#$' "
#''(!


[2] 78='*" #"'&*'""&5-57 7+88
[3] +</ /97/ *11 ,/8/+48/ +4=+7'6'4 .586'9 /3('. ':4*7= +4--:4'1'4

'4-1:4- /7
$#!# %)( #&' *'4 +7/4-': #&)' !)' )&" " !

[4] !/,'//,9'.
"'#&$'
"& + ",") $#"(
"""(#"(
!"17/68/9/*'1*/9+7(/91'4%5-='1'79'$4/;+78/9'882'3+-+7/":4'4'2/0'-'
[5] '*3'4/4-7:3 ! # *11 +4-'7:. /53'88' +2'9/ /7 "##&)' $ # )'
*'4 #+7'9'/ +!$ &&'( 9+7.'*'6 '*'7 58,'9 #"" *'4 +7'0'9
+'8'3'4/3('.'/7
)"&+ )&" " (""(

[6] +7'9:7'4 +3+7/49'. 5357 #'.:4 9+49'4- " # " ) (' & "
"" ""!&"&

106 Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016

[7] !5).3'4 '/*:7 +3(:'9'4 6'2 /4/ $49:1 /3('. +9+70+4 53+89/1 )&"
" ("'(


[8] !:8='4/ !/4/ #("' )!)" "& " (#&!'
!
" "")"
#! ! "17/68/ 9/*'1 */9+7(/91'4 57549'25 $4/;+78/9'8
+-+7/57549'25

[9] ":2/89='4/*11 +4-+4*'2/'45:2/4-+3(7'4$297',/297'8/*+4-'4"/89+3:953'9/)
')1<'8. *'4 +4):)/'4 +3(7'4 "17/68/ 9/*'1 */9+7(/91'4 "+3'7'4- :7:8'4 #+14/1
/3/''1:29'8#+14/1$4/;+78/9'8/654+-575

[10] Yulianto, Vincentius. 2002. Aquascape, Menata Tanaman dalam Aquarium. Jakarta: PT
Agro Media Pustaka.

Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016 107

Penurunan Kadar Gula Darah Tikus Putih (Rattus norvegicus) Hiperglikemia Menggunakan
Berbagai Bentuk Sediaan Jamur Tiram Putih (Pleurotus ostreatus )

Siti Zaenab*), Nurwidodo*)
*) Program Studi Pendidikan Biologi FKIP Universitas Muhammadiyah Malang

Jln Raya Tlogomas no 246 Malang telp 0341-464318 pswt 120
e-mail : [email protected]

ABSTRAK
Menurut survei dari WHO yang dikutip oleh Depkes (2005), Indonesia menempati urutan ke-4
dengan jumlah penderita DM terbesar di dunia setelah India, Cina dan Amerika Serikat. Seseorang yang
memiliki kadar gula darah tinggi, seharusnya melakukan diet rendah energy. Salah satu makanan yang
ideal untuk pasien diabetes adalah jamur tiram. Jamur tiram (Pleurotus ostreatus) merupakan bahan
makanan bernutrisi dengan kandungan protein tinggi, kaya vitamin dan mineral, rendah karbohidrat,
lemak dan kalori. Selain rendah kolesterol dan karbohidrat, jamur tiram mengandung insulin alami dan
enzim yang menghambat penyerapan gula. Jamur juga mengandung senyawa yang meningkatkan fungsi
pankreas, organ hati dan kelenjar endokrinal lainnya.
Jenis penelitian ini adalah true experimental, direncanakan terdiri dari 5 kelompok perlakuan,
(P0-,P0+ P1, P2, dan P3) yaitu kontrol negatif, kontrol positip, pemberian jamur dalam bentuk simplisia,
filtrat dan infus), masing-masing kelompok terdiri dari 5 kali ulangan. Penelitian dilaksanakan
dilaboratorium Kimia Universitas Muhammadiyah Malang, pada bulan Maret sampai Agustus 2016.
Metode pengumpulan data dengan mengukur kadar glukosa darah tikus putih yang sudah diberi
perlakuan, kemudian dianalisis menggunakan Anava 1 jalur dan uji Duncan untuk mengetahui perlakuan
terbaik.
Hasil penelitian ini adalah ada pengaruh berbagai bentuk sediaan jamur tiram putih terhadap
kadar gula darah tikus putih. Perlakuan menggunakan filtrat jamur tiram dalam bentuk filtrat (P2)
merupakan perlakuan terbaik, tetapi tidak berbeda nyata dengan pemberian jamur tiram putih dalam
bentuk simplisia (P1), dan pemberian jamur tiram putih dalam bentuk infus (P3), tetapi berbeda nyata
dengan perlakuan kontrol positip P0+. Walaupun tidak berbeda nyata dengan perlakuan P1 dan P3, tapi
pada perlakuan P2 didapatkan kadar gula terendah.
Kata Kunci : Kadar gula darah, tikus putih, hiperglikemia, jamur tiram putih.

108 Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016

1. PENDAHULUAN

Menurut survei dari WHO yang dikutip oleh Depkes (2005), Indonesia menempati urutan ke-4

dengan jumlah penderita DM terbesar di dunia setelah India, Cina dan Amerika Serikat. Prevalensi DM di

Indonesia sebesar 8.6% dari total penduduk, sehingga pada tahun 2025 diperkirakan penderita DM

mencapai 12.4 juta jiwa. Jumlah tersebut setara dengan tiga kali kejadian pada tahun 1995, yaitu 4.5 juta

penderita (Depkes, 2005). Angka prevalensi penderita diabetes di tanah air berdasarkan data Departemen

Kesehatan (Depkes) pada tahun 2008 mencapai 5,7% dari jumlah penduduk Indonesia atau sekitar 12 juta

jiwa. Angka prevalensi prediabetes mencapai dua kali lipatnya atau 11% dari total penduduk Indonesia,

hal ini berarti jumlah penduduk Indonesia yang terkena diabetes akan meningkat dua kali lipat dalam

beberapa waktu mendatang (Hidayat, 2009).

Diabetes Mellitus dapat menyerang segala lapisan umum dan sosial ekonomi. Dari berbagai

penelitian epidemiologis di Indonesia didapatkan angka kejangkitan penyakit Diabetes Mellitus sebesar

1,5% - 2,3% pada penduduk usia lebih dari 15 tahun (Konsensus Pengelolaan Diabetes Mellitus di

Indonesia). Jumlah penyandang diabetes terutama diabetes tipe 2 makin meningkat di seluruh dunia

terutama di negara berkembang karena perubahan gaya hidup salah yang menyebabkan obesitas (Suyono,

2009).

Tabel 1. Penentuan Kriteria Diabetes Melitus Berdasarkan Kadar Glukosa

Darah Sewaktu Dengan Metode Enzimatik

Bukan DM Belum Pasti DM DM

Kadar glukosa plasma vena < 110 mg/dl 110-199 mg/dl • 200 mg/dl

Kadar glukosa darah kapiler < 90 mg/dl 90-199 mg/dl • 200 mg/dl

Sumber: Konsensus Pengelolaan Diabetes Melitus di Indonesia, 2002 (Perkeni)

Kadar glukosa plasma puasa normal (teknik autoanalisis) adalah 80-115 mg/100 ml.

Hiperglikemia didefinisikan sebagai kadar glukosa plasma puasa yang lebih tinggi dari 115 mg/ 100 ml,

sedangkan hipoglikemia bila kadarnya lebih rendah dari 80 mg/100 ml. Glukosa difiltrasi oleh glomerulus

ginjal dan hampir semuanya diabsorbsi oleh tubulus ginjal selama kadar glukosa dalam plasma tidak

melebihi 160-180 mg/100 ml. Jika kadar glukosa plasma naik melebihi kadar ini, maka glukosa tersebut

akan keluar bersama kemih dan keadaan ini disebut glukosuria. (Price, 1995).

Konsumsi sayuran, khususnya sayuran yang termasuk kategori sayur untuk diabetes, sangat
dianjurkan. Kandungan serat sayuran untuk diabetes tersebut bisa dibilang sangat tinggi, sehingga dapat
memenuhi kebutuhan harian tubuh akan serat. Dengan asupan serat yang cukup, maka pencernaan pun

Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016 109

dapat berjalan dengan lancar. Selain itu, serat juga berfungsi menghambat pelepasan glukosa ke dalam
darah, sehingga kadar gula darah dapat kembali mendekati stabil.

Pada penelitian sebelumnya, (Zaenab, 2014), jamur tiram putih dalam bentuk fitrat pada dosis 3
ml/ hari dapat menurunkan kadar kolesterol tikus putih hiperlipidemia. Tetapi belum ada penelitian
tentang jamur tiram putih dalam berbagai bentuk sediaan dalam penurunan kadar gula darah tikus putih.
Sedangkan pada penelitian sebelumnya (Zaenab, 2013), penggunaan filtrat batang jamur shiitake dengan
dosis 6 ml perhari dapat menurunkan kadar gula darah tikus putih hiperglikemia terbaik.

Penyakit diabetes mellitus, sulit untuk sembuh secara total atau tuntas. Yang bisa dilakukan
adalah agar kadar gula dikendalikan atau dijaga supaya tidak terlalu tinggi. Selain mengkonsumsi obat
dari dokter, penderita diabetes membatasi konsumsi gula dan karbohidrat, tetapi memperbanyak
mengkonsumsi serat, yang berasal dari buah-buahan dan sayur-sayuran. Salah satu makanan yang ideal
untuk pasien diabetes adalah jamur tiram. Jamur tiram (Pleurotus ostreatus) merupakan bahan makanan
bernutrisi dengan kandungan protein tinggi, kaya vitamin dan mineral, rendah karbohidrat, lemak dan
kalori. Kandungan serat jamur mulai 7,4% sampai 27,6% sangat baik bagi pencernaan. Pada jamur tiram,
rata-rata kandungan seratnya sekitar 11,5%. Selain tinggi serat dan rendah kolesterol dan karbohidrat,
jamur tiram mengandung insulin alami dan enzim yang menghambat penyerapan gula. Jamur juga
mengandung senyawa yang meningkatkan fungsi pancreas, organ hati dan kelenjar endokrinal lainnya.
Selain itu, jamur juga memiliki antibiotik alami yang memberikan perlindungan bagi penderita diabetes
dari infeksi.
2. METODE PENELITIAN

Jenis penelitian ini adalah penelitian sungguhan (true experimental). Penelitian ini terdiri dari 5
kelompok perlakuan, masing-masing kelompok terdiri dari 5 kali ulangan. Adapun perlakuan pada
penelitian ini adalah sebagai berikut: P0 (–) yaitu kelompok tikus yang tidak diberi jamur tiram dan tidak
diberi aloksan (kontrol negatif); P0 (+) yaitu kelompok tikus yang tidak diberi jamur tiram dan diberi
aloksan (kontrol positif); P1 yaitu kelompok tikus hiperglikemia yang diberi simplisia jamur tiram putih
dengan dosis 3 gram/ ekor/ hari; P2 yaitu kelompok tikus hiperglikemia yang diberi filtrat jamur tiram
putih dengan dosis 3 ml/ ekor/ hari, dan P3, yaitu kelompok tikus hiperglikemia yang diberi infus jamur
tiram putih dengan dosis 3 ml/ ekor/ hari

Populasi dalam penelitian ini adalah tikus putih (Rattus norvegicus) dewasa dengan berat 150-200
gram yang diperoleh dari laboratorium kimia UMM. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah
Simple Random Sampling. Sedangkan sampel penelitian berupa tikus putih dewasa dengan berat 150-200
gram. Jumlah sampel pada penelitian ini adalah sebanyak 25 ekor tikus putih.

110 Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016

Adapun tahapan yang harus dilakukan meliputi : 1. Menyiapkan 25 tikus putih jantan, dibagi
menjadi 5 kelompok, kemudian diadaptasikan selama 2 minggu. Selanjutnya tikus putih diberi perlakuan
sesuai dengan rancangan yaitu: P0 - , P0 +, P1, P2 dan P3. Setelah 30 hari, dilakukan test pengambilan
darah tikus putih pada masing-masing perlakuan untuk diperiksa gula darahnya. Pemeriksaan dilakukan
dengan menggunakan alat untuk mengukur kadar glukosa darah merek Autocheck. Darah tikus diambil
dengan cara menyayat bagian pangkal ekor tikus dan menggunakan alat mikropipet untuk mengambil
sampel darah. Selanjutnya sampel darah tersebut diteteskan pada alat ukur glukosa dan dibaca angka yang
tercantum pada alat tersebut, yang menunjukkan kadar gula darah tikus putih tersebut.

Selanjutnya data tersebut dianalisis dengan menggunakan SPSS. Sebelumnya, dilakukan uji
normalitas dan homogenitas terlebih dulu, sebagai syarat untuk uji Anova. Setelah diuji normalitas dan
homogenitasnya, selanjutnya dilakukan uji Anava satu jalur, untuk mengetahui apakah ada pengaruh
perbedaan perlakuan pemberian jamur tiram putih dalam berbagai bentuk sediaan. Selanjutnya, untuk
mengetahui perlakuan terbaik dilakukan Uji Duncan.

3. HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Hasil

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilaksanakan mengenai “Penurunan Kadar Gula Darah

Tikus Putih (Rattus norvegicus) Hiperglikemia Menggunakan Berbagai Bentuk Sediaan Jamur Tiram

Putih (Pleurotus ostreatus )” didapatkan data hasil penelitian sebagai berikut:

Tabel 1. Data Kadar Gula Darah Tikus Putih (mg/dl)

NO PERLAKUAN ULANGAN RERATA

12345

1 P0 (-) 104 109 102 114 115 108,8

2 P0 (+) 139 140 133 144 127 136,6

3 P1 112 106 126 127 106 115,4

4 P2 103 107 115 119 113 111,4

5 P3 110 109 107 114 130 114

Berdasarkan uji normalitas didapatkan hasil nilai skewness yaitu 1,72 dan nilai kurtosis -0,55
sehingga, dari hasil tersebut dapat diambil keputusan bahwa data berdistribusi normal karena terletak
pada kisaran angka ± 2. Sedangkan untuk uji homogenitas didapatkan hasil probabilitas (Sig) 0,413.
Pengambilan keputusannya adalah jika Sig> 0,05 maka Ho diterima jika Sig < 0,05 Ho ditolak, karena
hasil sig 0,413> 0,05 maka Ho diterima. Kesimpulannya semua data varians populasinya adalah sama
(homogen), karena kedua prasyarat telah terpenuhi maka analisis bisa dilanjutkan.

Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016 111

Analisis selanjutnya adalah uji Anava satu jalur, fungsi dari uji tersebut adalah untuk
mengetahui apakah berbagai macam bentuk sediaan jamur tiram putih dapat menurunkan kadar gula
darah tikus putih (Rattus norvegicus) hiperglikemia.

Kadar_Glukosa_Darah ANOVA

Sum of df Mean Square F Sig.
Squares
4 617,540
Between Groups 2470,160 20 62,820 9,830 ,000
Within Groups 1256,400 24
Total 3726,560

Berdasarkan hasil analisis Anava diperoleh hasil probabilitas 0,000. Pengambilan keputusannya

adalah jika Sig> 0,05 maka Ho diterima jika Sig < 0,05 Ho ditolak, karena hasil Sig 0,000 < 0,05 maka

Ho ditolak. Artinya berbagai macam bentuk sediaan jamur tiram putih (simplisia, filtrat dan infus) dapat

menurunkan kadar gula darah tikus putih (Rattus norvegicus) hiperglikemia. Uji lanjutan yang digunakan

adalah uji Duncan untuk mengetahui pemberian sediaan jamur tiram putih bentuk apakah yang dapat

menurunkan kadar gula darah tikus putih (Rattus norvegicus) tertinggi atau terbaik.

Duncana Tabel Uji Duncan kadar glukosa darah tikus putih

Perlakuan N Subset for alpha = 0,05
12

P0- 5 108,80

P2 5 111,40

P3 5 114,00

P1 5 115,40

P0+ 5 136,60

Sig ,241 1,000

Means for grous in homogeneous subsets are displayed

a. Uses Harmonic Mean Sample Size = 5,0000

Berdasarkan hasil uji Duncan terlihat hasilnya bahwa perlakuan P0-, P1, P2, P3 berada pada
satu kolom yang sama yang artinya tidak berbeda nyata, sedangkan untuk perlakuan P0+ berada pada
kolom yang berbeda artinya berbeda nyata. P0 (+) merupakan kelompok tikus yang tidak diberi jamur
tiram dan diberi aloksan (kontrol positif), perlakuan ini berbeda nyata dengan perlakuan keempat lainnya,
hasil tersebut menunjukkan bahwa pemberian berbagai macam sediaan jamur tiram putih mampu
menurunkan kadar gula tikus putih. Uji Duncan antara P1, P2 dan P3 ternyata diketahui tidak berbeda
secara signifikan namun jika dilihat dari hasilnya berturut-turut yaitu 115,40; 111,40 dan 114 sehingga,

112 Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016

kesimpulannya perlakuan yang terbaik adalah ketika kadar glukosa darahnya yang paling kecil yaitu P2
(Kelompok tikus hiperglikemia yang diberi filtrat jamur tiram putih dengan dosis 3 ml/ ekor/ hari).
3.2. Pembahasan

Level glukosa di dalam darah pada tikus dimonitor oleh pankreas. Jika konsentrasi glukosa darah
pada tikus menurun karena dikonsumsi untuk memenuhi kebutuhan energi tubuh, pankreas melepaskan
glukagon, yaitu hormon yang menargetkan sel-sel di hati. Kemudian sel-sel ini mengubah glikogen
menjadi glukosa (glikogenolisis). Glukosa dilepaskan ke dalam aliran darah hingga meningkatkan level
gula darah. Namun jika konsentrasi glukosa darah pada tikus meningkat karena perubahan glikogen atau
karena pencernaan makanan, hormon yang lain dilepaskan dari butir-butir sel yang terdapat di dalam
pankreas. Hormon ini disebut insulin yang menyebabkan hati mengubah lebih banyak glukosa menjadi
glikogen (glikogenosis) yang mengurangi level gula darah. Karbohidrat dalam makanan yang dicerna
secara aktif mengandung residu glukosa, galaktosa dan fruktosa yang akan dilepas di dalam intestinum.
Unsur-unsur gizi ini lalu diangkut kedalam hepar lewat vena porta hati. Galaktosa dan fruktosa segera
diubah menjadi glukosa di dalam hepar (Dalimartha, 2005).

Tingginya kadar glukosa darah pada tikus putih jantan pada P0+ adalah akibat dari pemberian
aloksan yang diinduksikan pada tikus putih. Aloksan merupakan suatu zat yang dapat digunakan untuk
menginduksi diabetes pada tikus sehingga kadar glukosa darahnya meningkat akibat dari kerusakan sel
beta pancreas. Penyuntikan aloksan ke dalam pembuluh darah tikus dapat merusakkan sel beta pada
kelenjar pancreas dari pulau langerhans, akibatnya insulin tidak dapat diproduksi oleh pancreas. Insulin
adalah hormon yang salah satu fungsinya merubah glukosa menjadi glikogen yaitu simpanan glukosa
yang ada di hati dan otot. Karena insulin tidak dapat diproduksi oleh pankreas maka glukosa tidak bisa
dirubah menjadi glikogen, akibatnya glukosa dalam darah meningkat secra terus menerus sehingga tubuh
dalam keadaan hiperglikemia. Menurunnya produksi insulin berakibat naiknya kadar glukosa darah.

Pemberian jamur tiram putih dalam bentuk simplisia dapat menurunkan kadar gula darah tikus
putih sehingga mendekati normal. Penurunan gula darah tiap tikus (ulangan) berbeda-beda, karena
simplisia ini diberikan sebagai pakan dan kemampuan tikus dalam menghabiskan pakan ini berbeda-beda.
Walaupun demikian, kadar gula darah tikus putih yang diberi perlakuan pemberian jamur tiram putih
dalam bentuk simplisia sudah berada dalam batas yang normal (115,4 mg/ dl). Demikian juga pemberian

Berdasarkan hasil penelitian dengan analisis Anava satu jalur yang telah dilakukan didapatkan
hasil bahwa jamur tiram putih dalam berbagai bentuk sediaan dapat menurunkan kadar gula tikus putih
(Rattus norvegicus) hiperglikemia. Hal ini karena kandungan zat yang terdapat pada jamur tiram mampu
menurukan kadar gula tikus putih. Lemak dalam jamur tiram adalah asam lemak tak jenuh sehingga aman
dikonsumsi baik yang menderita kelebihan kolesterol (hiperkolesterol). Jamur tiram juga mengandung

Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016 113

vitamin penting terutama vitamin B, C, dan D. Vitamin B1 (tiamin), vitamin B2 (riboflavin), niasin dan
provitamin D2 (ergosterol), dalam jamur tiram cukup tinggi. Mineral utama tertinggi adalah Kalium,
Fosfor, Natrium, Kalsium, dan Magnesium. Mineral utama tertinggi adalah Zn, Fe, Mn, Mo, Co, Pb.
Konsentrasi K, P, Na, Ca dan Me mencapai 56-70% dari total abu dengan kadar K mencapai 45%.
Berdasarkan kandungan jamur tiram tersebut, jamur tiram sangat baik sebagai alternatif makanan bagi
penderita diabetes melitus karena terutama kandungan karbohidrat yang rendah. Mengingat bahwa
penderita hiperglikemia harus berhati-hati dalam memilih makanan untuk menjaga kestabilan gula darah
(Sumarmi, 2006).

Jamur tiram putih juga mengandung insulin alami dan enzim yang menghambat penyerapan gula.
Insulin merupakan enzim yang bertugas sebagai pengatur kadar gula darah. Insulin disintesa oleh sel ȕ
pankreas. Kontrol utama atas sekresi insulin adalah sistem umpan balik negatif langsung antara sel ȕ
pankreas dengan konsentrasi glukosa dalam darah. Peningkatan kadar glukosa darah seperti yang terjadi
setelah penyerapan makanan secara langsung merangsang sintesis dan pengeluaran insulin oleh sel
pankreas (Sherwood, 1996). Insulin akan menurunkan kadar gula darah dengan cara membantu uptake
glukosa ke dalam otot dan jaringan lemak, penyimpanan glukosa sebagai glikogen dalam hati, dan
menghambat sintesis glukosa (glukoneogenesis) di hati (Sheidel, 2001).

Beta glukan yang terkandung dalam jamur tiram putih akan masuk ke dalam sistem peredaran
darah membantu tubuh untuk menghasilkan insulin dan berperan sebagai phytoinsulin, yaitu insulin yang
berasal dari tumbuhan yang akan menstimulasi sel ȕ pancreas tubuh untuk memproduksi insulin lebih
banyak, sehingga kadar glukosa darah dalam tubuh mengalami penurunan. Dengan cara bertahap
produksi insulin dalam tubuh meningkat, sehingga kadar glukosa darah menurun. Paparan di atas
menggambarkan bahwa insulin sangat penting saat proses mengatur gula darah sehingga kandungan
insulin alami jamur tiram putih merupakan salah satu faktor yang menguatkan bahwa jamur tiram putih
mampu menurunkan gula darah sesuai hasil penelitian yang telah peneliti lakukan.

Seseorang yang memiliki kadar gula darah tinggi, seharusnya melakukan diet rendah energi.
Jamur merupakan makanan paling ideal untuk pasien diabetes. Selain rendah kolesterol dan karbohidrat,
jamur tiram mengandung insulin alami dan enzim yang menghambat penyerapan gula atau pati. Jamur
juga mengandung senyawa yang meningkatkan fungsi pankreas, organ hati dan kelenjar endokrinal
lainnya. Jamur memiliki antibiotik alami yang memberikan perlindungan bagi penderita diabetes dari
infeksi. Disamping itu jamur dapat meningkatkan produksi sel-sel darah putih. Jamur bisa menjadi
makanan diet rendah energi yang ideal bagi penderita diabetes. Hal ini karena jamur mengandung lemak
dan karbohidrat yang sangat rendah, protein tinggi, vitamin, mineral, dan serat. Antibiotik alami dalam
jamur dapat membantu melindungi penderita diabetes dari infeksi yang ditakutkan.

114 Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016

Berdasarkan paparan di atas dapat disimpulkan bahwa jamur tiram putih dapat menurunkan gula
darah penderita hiperglikemia karena beberapa alasan. Pertama karena kandungan protein tinggi, kaya
vitamin dan mineral, rendah karbohidrat, lemak dan kalori. Kedua jamur tiram mengandung insulin alami
(fito insulin) dan enzim yang menghambat penyerapan gula. Ketiga jamur tiram putih memiliki aktivitas
antioksidan yang mampu mengurangi kerusakan sel beta pankreas. Ketiga alasan tersebut telah dapat
menguatkan hasil penelitian tentang penurunan kadar gula darah tikus putih (Rattusnorvegicus)
hiperglikemia menggunakan berbagai bentuk sediaan jamur tiram putih (Pleurotus ostreatus ).

Bentuk sediaan pada penelitian ini ada tiga yaitu simplisia, filtrat dan infus. Berdasarkan hasil
penelitian dengan uji Duncan menunjukkan bahwa pemberian berbagai macam sediaan jamur tiram putih
mampu menurunkan kadar gula tikus putih. Perlakuan yang paling baik adalah P2 (Kelompok tikus
hiperglikemia yang diberi filtrat jamur tiram putih dengan dosis 3 ml/ ekor/ hari). Masing-masing bentuk
sediaan melalui proses dan cara kerja yang berbeda, sehingga hasilnya juga berbeda. Hasil penurunan
kadar gula darah tikus putih yaitu P1, P2 dan P3 ternyata diketahui tidak berbeda secara signifikan namun
jika dilihat dari hasilnya berturut-turut yaitu P1 sebesar 115,40 mg/dl.; P2 sebesar 111,40 mg/dl dan P3
sebesar 114 mg/dl. Artinya ketiga sediaan dapat digunakan sebagai alternatif pembuatan sediaan, karena
hasilnya semua optimal. Hasil yang terlihat sudah hampir mendekati perlakuan kontrol negatif (tikus
normal) yaitu 108,8 mg/dl. Pada perlakuan jamur tiram dalam bentuk simplisia dan infus, juga terjadi
penurunan kadar gula darah yang berbeda nyata terhadap kontrol positip (P0+).

D. Kesimpulan dan Saran.
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan maka didapatkan kesimpulan sebagai berikut: Ada

pengaruh berbagai bentuk sediaan jamur tiram putih terhadap kadar gula darah tikus putih. Perlakuan
menggunakan filtrat jamur tiram dalam bentuk filtrat (P2) merupakan perlakuan terbaik, tetapi tidak
berbeda nyata dengan pemberian jamur tiram putih dalam bentuk simplisia (P1), dan pemberian jamur
tiram putih dalam bentuk infus (P3), tetapi berbeda nyata dengan perlakuan kontrol positip P0+.
Walaupun tidak berbeda nyata dengan perlakuan P1 dan P3, tapi pada perlakuan P2 didapatkan kadar gula
terendah.

Sedangkan saran dari penelitian ini adalah perlu dilakukan penelitian lanjutan dengan
menggunakan dosis dan waktu yang berbeda, juga dapat menggunakan jenis jamur yang berbeda,
sehingga pengaruhnya terhadap penurunan kadar gula darah juga berbeda.

Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016 115

E. DAFTAR PUSTAKA

[1] Anonimous, 20015, (http://tradisioanal-obat.blogspot.co.id/2015/05/manfaat-jamur-tiram-untuk-
kesehatan.html)

[2] Dalimartha, Setiawan. 2005. Ramuan Tradisional Untuk Pengobatan Diabetes Mellitus. Bogor:
Penebar Swadaya.

[3] Departemen Kesehatan RI. 2005. Jumlah penderita diabetes Indonesia ranking ke-4 di dunia. Berita
Dep. Kes. RI. 5 September 2005.

[4] Heather, R et al. 2001. The effect of flexible low glycemic index dietary advice versus measured
carbohydrate exchange diets on glycemic control in children with type 1 diabetes.Diab Care
Vol. 24:1137-1143.

[5] Hidayat. 2009. 11% Penduduk Indonesia Berisiko Diabetes. Republika Edisi November 15th, 2009

[6] Laboratorium klinik Prodia. 2002. Diabetes Mellitus Bagaimana Mengelola dan Mengendalikannya.
Jakarta :Informasi Terkini

[7] Perkeni. 2002. Konsensus Pengelolaan Diabetes Melitus Tipe 2 di Indonesia, 1-39, PB. PERKENI,
Jakarta.

[8] Price, S.A. 1995. Patofisiologi, Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. Penerbit Buku Kedokteran
EGC. Jakarta

[9] Syamsuni. 2006. Bentuk Sediaan Obat. Apollo Press, Surabaya.

[10] Siswono. 2005. Jumlah Pengidap Diabetes di Indonesia Peringkat Keenam. Suara Pembaruan Edisi
Selasa, 11 Januari, 2005

[11] Sumarmi. 2006. Botani dan Tinjauan Gizi Jamur Tiram Putih. Jurnal Inovasi Pertanian 4(2):124-
130.).

[12] Suyono, S. 2009. Penatalaksanaan Diabetes Melitus Terpadu edisi kedua tahun 2009. Bagian I

[13] World Health Organization. 2006. Definition and Diagnosis of Diabetes Mellitus and Intermediate
Hyperglycemia: report of a WHO/IDF consultation. WHO Document Production Services,
Geneva, Switzerland

[14] Zaenab, Siti 2013, Uji Potensi Batang Jamur Shiitake Dalam Penurunan Kadar Glukosa Darah
Tikus Putih Hiperglikemia, Laporan Penelitian

[15] Zaenab, Siti 2014, Penurunan Kadar Kolesterol Tikus Putih (Rattus norvegicus)
Hiperkolesterolemia Menggunakan Filtrat Dan Infus Jamur Tiram (Pleurotus ostreatus) Dalam
Berbagai Dosis, Laporan Penelitian

116 Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016

BIDANG PSIKOLOGI DAN
ILMU KEPENDIDIKAN



 
 





 



           

            
          
         
             


            
          
           
   
          
          
          
          


 

Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016 117

 
 

         
           
          


       
eksistensinya, atau bisa “survive”       


          
           
           
            
            
         

 

           


 
 
 
 

          
         
          
         

 

 
           

       

           
   

 
  


          

         

  
   

118 Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016

 
          

           
        
           
  


         
         



  


          
       


  


          
   
            
          
  

          


   
 



   
  

 

  
 

  
          



 

         
          

Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016 119


           


 
 
   

    
    
    
    
    
    
 


 

        
           
           
            






    

 

    

    

   

 
          


           
           


          


 
 

 

120 Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016

         
        
         
             
         
           
           


          
 

            




  
  

  
  
  
  

  
         

          


 
         
          
 
        
           
            
   ≥  

nyata α =0,03 korelasi tersebut dinyatakan valid maka di bawah 0,3 dinyatakan tidak valid.
 

         
          
            

Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016 121

             

 

instrumen itu cukup baik” ( 



 

         
         
           
          


  
           


           

          



  

 

         
       
 


  

 
dengan judul “Efektivitas Layanan Konseling Kelompok Dalam Meningkatkan Penyesuaian Diri
          
             
            
          
         
           

          
         
 

122 Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016




   

   

     



     

     



    
   

   

 

          
          
 


 

          
          
          
    

           
         


 




           


   
    
  


  
  

Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016 123

  










            
          
          
           
               
          
             
            
           
          
           
             
            
          
           
             


     

 

 
          

 

   
         
 
 
         
  
   

          
 
            
          
          
         
            
            


124 Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016

         
  
          

          

        



            
           

            
         
           
            
         
         


        
             
              


   

 
         
         


 
        

           
          
          


 
         

          


 

 
          

          

 

Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016 125

 
         

 
   

  
   

 
        

            
 
          
        
           
 

 



  
  
        
           
          
         
           
         


 
          
  

 
         
   
           
           
        – 
    
 – 

            
          
         
  

-        
        

           


126 Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016

-  


-          
        


 

 
         

 
  
  
-    
-   
-   
 
-    
        
       

-          
  

  
-   
-          

- 

   

 
          
  
-    
-   

          
          
           
           
          
         
           


Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016 127

  
         
         
  
 
         
          
          
  
         


           


  
         
  
         
          

  

         
   
   
            


  

         
   
            
         
          
     
 


         
             
             
           


128 Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016

  

           
          
          
         
           
           
        
             
          
           


  

 

  

 


  
          

           
          
         
 

Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016 129

 


        


          
          
           
             
 

         
  
          
 
       
          


         
          
           
            

  

 


        
        
          
    
          
  

  
           
          
          
    
    

          
             
         
            
           
   
   


130 Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016

         
  
    

 

         
           
          
             
          
    
           



          

          
          
  
     
      
             
         
           
          


          

 
   
           

 
   



Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016 131

   
            


               

 
                


  

132 Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016





  
 



          

            
            
          



           
           

          
            
           
           
            
          
 

   

Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016 133

 

          
          
   
            

            
          




          
           
           
            
           
            


 

          
            
           
          
  
           
 
            



          
         
        
  
           


          
         
 
          
          
 


           

 

134 Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016


Click to View FlipBook Version