The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

2. BUKU 2 LENGKAP (bid. Psikologi pendidikan, Sosial Humaniora, Kesehatan Lingkungan)

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by adhim.irawan, 2016-10-15 01:14:40

2. BUKU 2 LENGKAP (bid. Psikologi pendidikan, Sosial Humaniora, Kesehatan Lingkungan)

2. BUKU 2 LENGKAP (bid. Psikologi pendidikan, Sosial Humaniora, Kesehatan Lingkungan)

seperti perilaku PNS yang kurang disiplin, moralitas yang rendah, pembangunan yang tidak merata,
infrastruktur jalan yang rusak, penataan kota yang semrawut, dan lalu lintas yang macet. Birokrasi
pemerintah dari pusat hingga daerah merupakan salah satu perangkat negara yang dikeluhkan oleh
berbagai pihak, dan unit-unit pelayanan pemerintah merupakan bagian dari negara yang dianggap tidak
professional dan tidak efisien serta penempatan orang dari berbagai instansi atau lembaga pemerintah
tidak sesuai dengan latar belakang pendidikan dan kemampuannya (Ghufran dan H. Kordi K, 2014). Hasil
pengamatan Zuhro (2013) di DKI Jakarta, Lelang jabatan tidak akan menyelesaikan masalah karena
kultur kerjanya masih sama saja. Oleh karena itu, dengan adanya lelang jabatan diharapkan para calon
pejabat bisa bereaksi dengan pro-aktif (Septiana, 2015)

2. METODE
Penelitian ini dilaksanakan pada pemerintah daerah Kota Makassar. Pemilihan lokasi penelitian

ditentukan secara sengaja dengan pertimbangan bahwa pemerintah daerah Kota Makassar memiliki
karakteristik, visi dan misi serta keragaman kemampuan dan kinerja aparatur dalam melaksanakan tugas
pemerintahan. Kedua, pemerintah daerah Kota Makassar untuk yang pertama kalinya melaksanakan
kebijakan lelang jabatan sebagai formula dalam reformasi birokrasi dan reformasi pelayanan publik pada
semua perangkat satuan kerja pemerintah daerah, dan ketiga, Kota Makassar memiliki masyarakat dengan

keragaman sosial budaya yang membutuhkan pelayanan aparatur/pejabat yang lebih cepat dan tepat.
Desain penelitian menggunakan pendekatan penelitian kualitatif dan jenis-jenis penelitian yang relevan
seperti triangulasi untuk memperolehsumber-sumber informasi mengenai pengembangan kebijakan
lelang jabatan. Data-data yang diperoleh dalam penelitian ini terdiri dari data primer dan data sekunder.
Pengumpulan data primer dilakukan melalui observasi dan wawancara mendalam (depht interview).
Sedangkan data sekunder akan didapatkan dengan penelusuran dokumen kebijakan lelang jabatan baik
dalam bentuk formulasi kebijakan yang telah menjadi regulasi, maupun petunjuk teknis pelaksanaan
kebijakan. Analisis data primer dilakukan atas statemen (statement) atau pernyataan yang dikemukakan
oleh para informan dengan cara membaca seluruh transkrip wawancara yang ada dan mendeskripsikan
seluruh pengalaman yang ditemukan di lapangan. Berdasarkan hal yang dikemukakan tersebut akan
diketahui makna dari statemen yang ada, baik makna yang bersifat implisit maupun makna eksplisit dari
pernyataan atas objek yang diteliti. Uraian makna yang dikemukakan akan menunjukkan kecenderungan
arah jawaban atau pengertian yang dimaksudkan oleh para informan.. Sedangkan analisis data sekunder
dilakukan dengan cara mendeskripsikan seluruh data-data dan keterangan dari isi kebijakan lelang jabatan
yakni data yang telah tersedia atau terdokumentasi pada pemerintah daerah, kemudian di analisis
keterkaitannya dengan data primer yang diperoleh dari para informan.

Berdasarkan hasil survei sebelumnya yang dilaksanakan sebagai studi awal oleh para peneliti dan
pengamat, bahwa kebijakan lelang jabatan di beberapa daerah pemerintahan bertujuan untuk memperbaiki
kinerja pemerintahan ditengah kritikan masyarakat tentang rendahnya kinerja aparatur/pejabat dalam
pelayanan publik disegala bidang seperti perilaku aparatur/pejabat yang kurang disiplin, moralitas yang
rendah, pembangunan yang tidak merata, infrastruktur jalan yang rusak, penataan kota yang semrawut,
dan lalu lintas yang macet. Pelayanan aparatur/pejabat publik merupakan salah satu perangkat
pemerintahan yang dikeluhkan oleh berbagai pihak, dan unit-unit pelayanan pemerintah merupakan
bagian dari negara yang dianggap tidak professional dan tidak efisien serta penempatan orang dari
berbagai instansi atau lembaga pemerintah tidak sesuai dengan latar belakang pendidikan dan
kemampuannya. Oleh sebab itu indikator-indikator yang akan dicapai dalam penelitian ini adalah adanya
hasil kajian mengenai kualitas aparatur sebagai hasil pelaksanaan kebijakan lelang jabatan oleh
pemerintah daerah Kota Makassar yang dapat memenuhi prinsip-prinsip akuntabilitas, transparansi yang
dilaksanakan secara professional dan objektiv sebagai suatu komitmen aparat pelaksana kebijakan. Secara
deskriptif penelitian ini dikembangkan berdasarkan skema pemikiran sebagai berikut

Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016 533

Studi Awal Pengembangan Lokasi Penelitian
Kebijakan
Pemerintah Daerah
Transparansi Kota Makassar

Akuntabilitasi

Pra Penelitian Profesionalitas

Objektivitas

Kemampuan
Aparatur Kurang

Optimal

Jenjang Keilmuan Kajian Pengembangan
Pangkat Integritas Kebijakan lelang
Prestasi Kerja Kompetensi jabatan

Kualitas Kajian Kualitas
Pejabat Pejabat yg dipromosi

Pengembangan
Model Pembinaan
Aparatur di Daerah

Prosiding di UMM
Jurnal internasional

Target Luaran (Effect)

Gambar 1. Skema Pemikiran Pengembangan Kebijakan Lelang Jabatan Pada Pemerintah Daerah
Kota Makassar

3. HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1. Transparansi Kebijakan

Prinsip transparansi dalam pelaksanaan lelang jabatan di Kota Makassar kurang mampu
dikembangkan dengan baik sesuai Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi
Birokrasi Nomor 13 Tahun 2014 khususnya yang terkait dengan penyusunan dan penetapan standar
kompetensi jabatan yang lowong. Seharusnya untuk mengisi lowongan jabatan bagi calon pimpinan

tinggi harus diumumkan secara terbuka dalam bentuk surat edaran melalui papan pengumuman, dan atau
media cetak, media elektronik termasuk media on line internet paling lambat 15 hari kerja sebelum batas
akhir tanggal penerimaan lamaran. Namun proses promosi tersebut tidak diumumkan secara terbuka dan
hanya dilaksanakan dengan cara memberikan undangan kepada pejabat tertentu, misalnya undangan

534 Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016

secara langsung peserta seleksi dari luar pemerintah Kota Makassar dan para peserta/pejabat tidak bebas
memilih/melamar jabatan karena undangan jabatan sudah ditentukan oleh pimpinan. Hal tersebut kurang
sesuai dengan prinsip lelang terbuka. Demikian pula hasil seleksi tertulis, wawancara dan presentasi
makalah seharusnya diumumkan hasilnya agar pertanyaan-pertanyaan publik tentang proses
penyelenggaraan lelang jabatan dapat diketahui hasilnya.

3.2. Akuntabilitas Kebijakan

Pelaksanaan kebijakan lelang jabatan di Kota Makassar dapat dikatakan memenuhi syarat
akuntabilitas jika dilaksanakan sesuai dengan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur
Sipil Negara dan Peraturan Pemerintah Nomor 100 Tahun 2000 serta permenpan-RB Nomor 13 Tahun
2014. Pertama, pembentukan panitia seleksi lelang jabatan mengharuskan pejabat pembina kepegawaian
pemerintah Kota Makassar melakukan kordinasi dengan Komisi Aparatur Sipil Negara (KASN) sesuai
dengan Permenpan-RB Nomor 13 Tahun 2014 angka romawi II huruf A Nomor 1. Namun dalam
pelaksaanaannya lebih berkordinasi dengan Lembaga Administrasi Negara LAN RI Makassar yang bukan
kewenangannya dan cenderung menggunakan logika pemerintahan tanpa mengikuti perkembangan
ketentuan mengenai managemen kepegawaian. Pengumuman lowongan untuk mengisi jabatan-jabatan
yang akan dilelang harus diumumkan secara terbuka untuk didaftar/diisi oleh peserta lelang jabatan
sebagaimana diatur dalam Permenpan-RB Nomor 13 Tahun 2014 lampiran I huruf B pelaksanaan Nomor
1 pengumuman lelang. Kemudian pelaksanaan seleksi calon pejabat yang akan dipromosikan bertujuan
untuk menempatkan pejabat khususnya pimpinan SKPD sesuai kompetensi yang dimiliki dengan jabatan
yang diemban. Untuk memenuhi hal tersebut maka dilakukan uji kompetensi (kelayakan dan kepatutan)
antara calon pejabat dengan jabatan yang dilamar. Pada pelaksanaan lelang jabatan di Kota Makassar,
pelaksanaan seleksi dilakukan dengan ujian tertulis, tes presentase/pemaparan dan wawancara.
Selanjutnya akuntabilitas penetapan dan pengangkatan seorang pegawai negeri sipil dalam jabatan
struktural sebagaimana diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 100 Tahun 2000 walaupun dasar
pembentukannya masih berlandaskan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 tetap masih berlaku, dan
hal tersebut dapat diihat pada Pasal 139 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014 Tentang Aparatur Sipil
Negara. Persyaratan untuk dapat diangkat dalam jabatan struktural sebagaimana dalam Pasal 5 Peraturan
Pemerintah Nomor 100 Tahun 2000 adalah: a) berstatus pegawai negeri sipil, b) serendah-rendahnya
menduduki pangkat 1(satu) tingkat dibawah jenjang pangkat yang ditentukan, c) memiliki kualifikasi dan
tingkat pendidikan yang ditentukan, d) semua unsur penilaian prestasi kerja sekurang-kurangnya bernilai
baik dalam 2 (dua) tahun terakhir, e) memiliki kompetensi jabatan yang diperlukan, dan f) sehat jasmani
dan rohani. Namun dalam implementasinya masih ditemukan proses yang kurang sesuai dengan aturan
tersebut, dimana pejabat pembina kepegawaian daerah perlu memperhatikan faktor senioritas dalam
kepangkatan, usia, pendidikan dan pelatihan jabatan, dan pengalaman yang dimiliki. Salah satu tujuan
dari akuntabilitas penetapan dan pengangkatan pejabat adalah untuk meningkatkan kinerja, bukan untuk
mencari kesalahan dan memberikan hukuman. Kinerja akan dapat meningkat jika didukung oleh 3 faktor
yakni; kemampuan (capacity), motivasi (motivation) dan peluang (opportunity). Kemampuan berkaitan
dengan kualifikasi pendidikan, pengalaman, dan prestasi kerja. Motivasi berkaitan dengan imbalan yang
diberikan, dan peluang berkaitan dengan kesempatan mengikuti pendidikan dan pelatihan serta
pembinaan kepegawaian lainnya yang dapat membuat kinerja pejabat lebih smart. Pejabat yang
berprestasi seyogyanya lebih ditingkatkan peluangnya menduduki jabatan struktural dan fungsional yang
lebih menantang dalam organisasi, kecuali mengundurkan diri dari jabatan yang didudukinya, atau telah
mencapai batas usia pensiun, atau telah diberhentikan sebagai pegawai negeri sipil, atau menjalani tugas
belajar, atau adanya perampingan organisasi pemerintah atau tidak memenuhi persyaratan kesehatan
jasmani dan rohani. Oleh sebab itu pejabat pembina kepegawaian dalam hal ini Walikota Makassar perlu
merencanakan dan memonitor kinerja dan dapat membandingkan kinerja aktual selama periode review

Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016 535

tertentu dengan kinerja yang direncanakan. Dari hasil perbandingan tersebut, terdapat hal-hal yang perlu
diperhatikan, perubahan atas kinerja yang diterapkan dan arah masa depan bisa direncanakan agar bisa
mendapatkan kualifikasi pejabat yang diharapkan. Semua indikator tersebut jika dilaksanakan secara tepat
maka akuntabilitas penetapan dan pengangkatan pejabat akan lebih efektif dan bermanfaat.

3.3. Profesionalitas dan Obyektivitas Kebijakan

Pelaksanaan lelang jabatan sebagai sebuah kebijakan di Kota Makassar cenderung dilaksanakan
dengan kurang profesional, mulai dari penetapan jumlah panitia seleksi yang kurang sungguh-sungguh
dilaksanakan sesuai Permenpan-RB Nomor 13 tahun 2014 dan kurang dikonsultasikan dengan komisi
aparatur sipil negara (KASN). Demikian pula ditemukan adanya PNS yang ditetapkan, ditempatkan dan
dilantik dalam jabatan pimpinan tinggi pratama, namun PNS tersebut tidak mengikuti proses lelang
jabatan yang dilaksanakan. Beberapa pejabat yang diangkat dan dilantik kurang memperhatikan rekam
jejak kemampuan dasar pengetahuan yang dimiliki.

Obyektivitas kebijakan adalah tujuan dan sasaran yang akan dicapai dalam pelaksanaan
kebijakan tersebut. Tujuan dan sasaran tersebut haruslah didasarkan pada aturan (regulasi) sebagai kriteria
dalam mencapai tujuan dan sasaran yang dikehendaki. Tujuan dan sasaran dalam pelaksanaan lelang
jabatan adalah agar benar-benar bisa mendapatkan calon pejabat yang memiliki kompetensi, kapasitas dan
kapabilitas berdasarkan jabatan struktural yang diembang. Salah satu peraturan pemerintah yang
mengatur pengangkatan pangkat pegawai negeri sipil dalam jabatan struktural sebagaimana telah diubah
dengan peraturan pemerintah Nomor 13 Tahun 2002 adal;ah peraturan pemerintah Nomor 100 Tahun
2000. Peraturan tersebut menjadi landasan hukum untuk dijalankan agar pejabat yang diangkat dalam
jabatan struktural dapat bersifat obyektiv. Salah satu prinsip dari obyektivitas kebijakan mengangkat
pejabat adalah menjalankan merit sistem dan tidak melanggar sehingga PNS yang diangkat dalam jabatan
memenuhi persyaratan. Beberapa pejabat dalam lingkup pemerintahan Kota Makassar menduduki jabatan
Eselon II b sementara yang bersangkutan baru 1 (kali) menduduki belum pernah menduduki jabatan
Eselon III a dan belum pernah mengikuti diklat struktural baik Diklat PIM IV dan III (Kepala Badan
Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, tercatat hingga April 2016). Hal yang sama seorang
pejabat diangkat dalam jabatan Eselon II b, sementara yang bersangkutan berpangkat golongan III d, 2
(dua) tingkat dibawah pangkat dasar, sementara pangkat dasar Eselon II b adalah IV b dan belum pernah
mengikuti diklat struktural PIM III (Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah, tercatat hingga
April 2016). Data sementara dalam penelitian ini ditemukan sekitar 12 orang pejabat yang diangkat
dalam jabatan Eselon II b, Eselon III a dan Eselon III b belum memenuhi syarat golongan untuk jabatan
Eselon yang diduduki maupun kualifikasi dan tingkat pendidikan serta kompetensi keahlian di bidang
pendidikan sesuai dengan jabatan yang bersangkutan. Hal tersebut tidak hanya bertentangan dengan
peraturan pemerintah Nomor 100 Tahun 2000 tentang pengangkatan pangkat pegawai negeri sipil dalam
jabatan struktural tetapi juga bertentangan dengan Perda Nomor 3 Tahun 2006 tentang Pendidikan Pasal
19 ayat (1). Oleh sebab itu pelaksanaan lelang jabatan sebagai suatu kebijakan dalam pelaksanaan
pemerintahan perlu dikembalikan pada aturan yang berlaku agar pejabat pembina pemerintahan dapat
menjalankan tugas dan fungsi sebagai pelaksana regulasi yang baik yakni tepat aturan, tepat hukum dan
tepat disiplin sebagai aparat pemerintah yang berwibawa dan memiliki akuntabilitas yang tinggi dalam
menjalankan pemerintahan.

536 Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016

Kesimpulan
Berdasarkan data dan pembahasan sebelumnya, maka dapat disimpulkan sebagai berikut:

(1) Prinsip transparansi dalam pelaksanaan lelang jabatan di Kota Makassar kurang mampu
dikembangkan dengan baik sesuai Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan
Reformasi Birokrasi Nomor 13 Tahun 2014 khususnya yang terkait dengan penyusunan dan
penetapan standar kompetensi jabatan yang lowong.

(2) Pelaksanaan lelang jabatan sebagai sebuah kebijakan di Kota Makassar cenderung kurang
dilaksanakan secara profesional, mulai dari penetapan jumlah panitia seleksi yang kurang
dilaksanakan sesuai Permenpan-RB Nomor 13 tahun 2014 dan kurang dikonsultasikan dengan
komisi aparatur sipil negara (KASN).

(3) Pengangkatan pejabat dalam lelang jabatan di Kota Makassar kurang memperhatikan rekam jejak
pejabat yang dipromosikan, Pejabat yang diangkat kurang memenuhi syarat profesional dan
obyektivitas.

Saran

(1) Seharusnya untuk mengisi lowongan jabatan bagi calon pimpinan tinggi harus diumumkan secara
terbuka dalam bentuk surat edaran melalui papan pengumuman, dan atau media cetak, media
elektronik termasuk media on line internet paling lambat 15 hari kerja sebelum batas akhir tanggal
penerimaan lamaran

(2) Pembentukan panitia seleksi lelang jabatan seyogyanya pejabat pembina kepegawaian pemerintah
Kota Makassar melakukan kordinasi dengan Komisi Aparatur Sipil Negara (KASN) sesuai dengan
Permenpan-RB Nomor 13 Tahun 2014 angka romawi II huruf A Nomor 1.

(3) Agar para pejabat mudah memahami tugas baru yang dilaksanakan, maka salah satu prinsip
obyektivitas kebijakan adalah mengangkat pejabat berdasarkan prinsip merit sistem dan tidak
melanggar aturan kepegawaian sehingga PNS yang diangkat dalam jabatan memenuhi persyaratan.

Daftar Pustaka

[1] Rahmi, Sri. 2014. Lelang Jabatan Langkah Strategis, [online] From: http://legislatorsrirahmi.
blogspot.com, [diakses 12 Februari 2015]

[2] Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2009 Tentang Pelayanan Publik, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 5038

[3] Zainudin, 2010.Badan Pendidikan dan Latihan (Diklat) Kementerian Dalam Negeri.

[4] Ilmar, Aminuddin. 2013. Lelang Jabatan Hasilkan Pejabat Yang Berkompeten, [online] From:
http://rakyatsulsel.com, [diakses 20 Februari 2015]

[5] Nasution, Makmun Syarif, 2013. Lelang Jabatan dalam Perspektif Kebijakan Publik, [online] From:
hhtp//Sumut, Kemenag.go.id, [diakses 21 Februari 2015].

[6] Ghufran H, Kordidan Baso Temanenggnga, 2014. Membangun Kota Bertaraf Dunia, Penerbit
Pustaka Celebes dan Humas Pemkot Makassar

Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016 537

[7] Zuhro, Siti. 2014. Lelang Jabatan Tak Selesaikan Masalah, [online] From: http//www.republika.co.id,
[diakses 22 Faebruari 2015]

[8] Septiana, 2015. Lelang Jabatan Camat-Lurah Bisa Tingkatkan Kegairahan Birokrasi, [online] From
detikNews. [diakses 20 Februari 2015]

[9] Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 100 Tahun 2000 Tentang Pengangkatan Pegawai
Negeri Sipil dalam Jabatan Struktural

[10] Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Republik Indonesia
Nomor 13 Tahun 2014 Tentang Tata Cara Pengisian Jabatan Pimpinan Tinggi Secara Terbuka di
Lingkungan Instansi Pemerintah

[11] Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2014 Tentang Aparatur Sipil Negara
[12] Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 43 tahun 1999 Tentang Perubahan Atas

UndangUndang Nomor 8 Tahun 1974 Tentang Pokok-Pokok Kepegawaian
[13] Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 13 tahun 2002 Tentang Perubahan Atas Peraturan

Pemerintah Nomor 100 Tahun 2000 Tentang Pengangkatan Pegawai Negeri Sipil dalam Jabatan
Struktural
[14] Peraturan Daerah Kota Makassar. Nomor 3 Tahun 2006. Tentang. Penyelenggaraan Pendidikan.
Bagian Hukum. Sekretariat Pemerintah Daerah Kota Makassar

538 Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016

STUDENTS ENTREPRENEUR MODEL IN PRIVATE UNIVERSITY

Uci Yuliati, Rahayu Hartini, Dwi Eko Waluyo, Triningsih S.

University of Muhammadiyah Malang
[email protected]

Abstract
Muhammadiyah University has 33 majors, minimum 4000 graduated students per year. This is
the problem in the labor market absorption. This condition can be a challenge for graduates to
compete in the job market and the wait to get a job as soon as possible. Therefore, it is necessary
to have an effort to encourage students to have a strong entrepreneurial spirit to become a model
in the development of entrepreneurship through entrepreneurial learning method and to provide
added value to the students in creating their own work opportunities through entrepreneurship
undertaken by students. Furthermore, students have the ability to entrepreneurship (job creators)
and reduce students become job seekers. The research purpose was to know Entrepreneurship
Characteristics of Students, Potential and Students’ Business Opportunities, Student
Entrepreneurship Factor, Student Entrepreneurial Model, Student Entrepreneurship
Development, Entrepreneurial Students Networking. Respondents are students who are doing
business. The analytical tool used is the analysis of tabulation, analysis Range of scale and factor
analysis. The results showed that the entrepreneurial characteristics of individual students over
20 years old, his parents mostly as entrepreneurs, had graduated high school and some have
already Bachelor. Business potential and business opportunities of students according to student
response was great. Student entrepreneurship model seen from the type of business, how to
create a product, type of product and how to market. The factors that determine student run
business of 34 variables extracted into 3 factors. The third factor is its attitude/ spirit of
entrepreneurship, entrepreneurial ability and ability to read the opportunities in accordance with
eigenvalue greater than one. Models who discovered and mapped network is an association
between active students with the students who have graduated and has already successfully
become entrepreneurs by regularly doing business gathering. For students who have graduated
entrepreneurs were required to be members of the student entrepreneur community.

Keywords: Characteristics of Student Entrepreneurship, entrepreneurship student factor,
student entrepreneurship model, entrepreneurial culture, student entrepreneur network

1. INTRODUCTION

The one success indicator of a country's development is the development of human resource
capacity especially the "educated people" are accompanied by direct and active participation in
moving the development of such a variety of government institutions and the private sector.
However, not all the "educated people" such as scholars can participate here. Apart from the
group of "educated people" there is also another group called as "un-educated people" or "less
educated people" who tend to be more difficult to absorb and participate in government
institutions or private companies. One alternative for the community members are not absorbed
in government institutions and private sector could not or did not improve the ability of scientific
resources, actually still have a great opportunity to participate in development through
entrepreneurial activities or often called the self-employed. Entrepreneurial activity is one of
significant importance in filling economic development, for example in the developed countries,
the role of successful entrepreneurs is very dominant in the success of the development.

Creating human resources quality in entrepreneurship, it is fitting start to become
government thinking in order to give a very positive response in realizing entrepreneurs who
formidable. Entrepreneur from college can be formed through a model of entrepreneurial
learning. Furthermore, young entrepreneurs from college graduates increases with
entrepreneurial learning model which is increasing as well. Data obtained from the University of

Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016 539

Ciputra (2008) that 83.15% out-put of college is dependent business activities undertaken by
others (as laborers or employees), and only 6.14% are able to develop their own independent
business.

Based on the results of research conducted Ambarwati, (Ambarwati,Titiek,2015) showed
that students who attend entrepreneurship courses have entrepreneurial competence to do
business from creating business-plan as a group and practice. Entrepreneurial competencies
include understanding of entrepreneurship, feeling the importance of entrepreneurship and run
entrepreneurship. According to the 2009 survey of the Muhammadiyah Malang University
students who participated in entrepreneurship show that the type of business run 27% of food and
beverage businesses, 22% of business communication tool, 16% of business fashion and
cosmetics. The work done by 47% starting in the second half, 16% started in semester 4 and 14%
starting in semester 6. Students who do business mostly from the Department of Biology
education 13%, 10% of the Department of Accounting and 8% of the Department of
Management. While the factors that encourage student entrepreneurship is the economic needs of
42%, a friend 25% and 18% lived in small-business environments.

University is an institution of higher education that are still largely focused on the
likelihood scored graduates as job seekers and not as the creator of the work (job creators), as
seen in the learning system and a curriculum model in universities still focused on preparing
"graduates ready to work "instead of" graduates who are ready to create jobs ". Thus there must
be an effort of universities in creating its output (graduates) have the will to realize
entrepreneurial independent candidates and trying to be able to create jobs for others. In fact,
depends on the existing educational process at universities to provide a variety of learning
methods for student entrepreneurship.

There are some efforts to build an entrepreneurship culture in higher education which
developed by the directorate general of Higher Education (Higher Education), namely the
subjects Entrepreneurship, to make a research proposal about entrepreneurial opportunities,
providing funding and guidance student entrepreneurship through entrepreneurial student
program (PMW). In addition, the cooperation of various Bank with universities to create young
entrepreneurs. Independently, have started popping their student career development centers in
universities. It was an indication of how important entrepreneurial culture developed in
universities to make the graduates are able to work to create jobs. Another effort is the agency
business incubator, laboratory entrepreneurial and business-centers.

Building student entrepreneurship is virtually identical to train the knowledge, attitudes
and behavior of the student so skillfully sought independently. Therefore, through
entrepreneurship courses can be pursued so that students not only have the knowledge about
entrepreneurship but also to be able to practice it. Entrepreneurial knowledge gained when a
college student should be able to animate the mind, attitude, creativity and innovation that should
be realized in activity in real terms. One of the efforts to realize the student entrepreneurship is to
provide opportunities for entrepreneurship as weekly market activity, business highlights
entrepreneurship in campus.

This research is important because the Research Master Plan (RIP) and Muhammadiyah
Malang University's Strategic Plan, particularly the field of Humanities & Social featured with
featured theme "strengthening the modalities of civil society" and "the development of
innovation-based economy". Students at colleges are community members who need to be
strengthening entrepreneurship through entrepreneurial education so equipped to lead the world
of work. In addition to college students entrepreneurship while also need to be given a container
as a place to develop creativity in entrepreneurship. Furthermore, after the students graduate can
implement their entrepreneurship so important pursued entrepreneurial model of network.

Objectives
Five objectives were developed for this study. These were 1. Characteristics of Student
Entrepreneurial in running entrepreneurship, 2. The potential and opportunities of the business
carried by the students, 3. Factors determine student entrepreneurship , 4. Model

540 Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016

entrepreneurship and the development of entrepreneurial culture in College, 5. Networking
model of student entrepreneurship.

2. LITERATURE REVIEW

Entrepreneurship comes from the word of ‘entrepreneurs’, French ‘entreprendre’ which means
doing (to undertake) or attempt (trying). The word "entreprendre" is defined as a 'among makers'
(between-taker) or 'intermediate' (go-between), (Frinces, 2011.8). In simple language
'entrepreneurship' can be interpreted as an ability that contain an 'effort' activity, action and other
action to complete a task or a challenging job.

Entrepreneurs are people who have the courage to do business with his own hands, dare to
bear the risk and is dedicated to running a business to succeed. To achieve success, according to
David Mc Clelland required by people who have "n Ach" (need for achievement) or needs be
high potential. Entrepreneurship more broadly defined as the process of creating something
different value by using the effort and time required, and take risks financial, psychologists, and
social as well as receive remuneration accompanying monetary and personal satisfaction
(Wiratmo, 2001).

According Ciputra (in Hendro, 2011, page 7)) said that entrepreneurship is an attitude of
creative, innovative and willing to take decisions that serve life stance even the character of the
Indonesian nation. Meanwhile, according Suryana entrepreneurship (Suryana, 2003, page 1) is
the creative ability and innovative that basis, tips and resources to seek out opportunities to
success. The essence of entrepreneurship is the ability to create something new and different
(create new and different) through creative thinking and innovative action to create opportunities.

The concept of entrepreneurship is usually owned by people who have the attitude and the
entrepreneurial spirit, that is, those whose confidence (optimistic and full of confidence),
initiative (energetic and confident), has the achievement motive (results-oriented and forward-
looking), has leadership (dare to be different), and willing to take risks with the full calculation
(because it was like to be a challenge). This concept is taken from a book entitled
"Entrepreneurship, practical guidance, tips and processes to success written by Suryana (2003,
page 2). From the concept can be said that entrepreneurship is an attitude and entrepreneurial
spirit can become one's personality in doing business independently.

Entrepreneurial personality traits studied in order to determine individual characteristics
that distinguish an entrepreneur and not entrepreneurs. McClelland indicated a positive
correlation between the behaviour of people who have high achievement motive with
entrepreneurial behaviour. The characteristics of people who have high achievement motif is:
1. Have the risk of "moderate" in his actions he chose to do something that no challenge, but

with enough chances to succeed.
2. Take personal responsibility for actions. This means that small inclination to seek a

"scapegoat" for the failure or wrong he had done.
3. Seek feedback on his actions. Trying to do things in new ways.

The characteristics of Entrepreneur
The definition of entrepreneurship by Kuratko and Hodgets in Frinces, stating that the

entrepreneur is as "a person who performs the duty to organize, manage and accept the business
risks", (Frinces, 2011.10). Meanwhile, according to Winardi citing Schumpeter stated that the
entrepreneur has the function to transform or revolutionize the pattern of production by way
beneficial a new discovery (invention) or, more commonly, a possible technological for
producing a new commodity or producing a commodity old in a new way, opening the source of
supply of new materials, or a new method of distribution (remember the distribution channels in
marketing) or reorganize a new industry, (Winardi 2003, 3).

According Suparman (Alma, 2001) in building a successful entrepreneur are some of the
traits possessed by a student who runs a business. The characteristics are as follows:
1. Think carefully and creatively minded to constructive imagination.
2. Have a mental attitude to absorb and create opportunities.

Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016 541

3. Familiarize yourself positive mental attitude to come forward and be passionate in every
job.

4. Have initiative.
5. Familiarize build self-discipline.
6. Mastering salesmenship (ability to sell), has leadership and is able to take into account the

risk.
7. Advanced character, clever and believe in yourself.

According to Peggy and Charles (in Hendro, 2011, page 30) states that every entrepreneur
(entrepreneur) who are successful have four basic elements, namely:
1. The ability (to do with IQ and skill)

a. in reading opportunities
b. in innovating
c. manage
d. in selling
2. Courage (to do with EQ and mental)
a. in overcoming his fears
b. in controlling risks
c. to get out of the comfort zone
3. Persistence (its relations with the self-motivation)
a. persistence (ductile), challenges
b. determination (firm will own religion)
c. the power of the mind that you can
d. The creativity that spawned an inspiration as a forerunner to the idea of finding

opportunities based on intuition (to do with experience)
Being an entrepreneur or entrepreneur should be able to see the opportunities in the
perspective that can be distinguished from other people or even different to what other people
think. Thus an entrepreneur is able to be different and dare to act with what he had in mind with
a lot of calculation. So an entrepreneur (students) are successful generally have the urge or high
achievement motivation. People who are high achievers tend to have high confidence,
responsible, strive to always be successful, an active social life, as well as resistant to the
pressures of society.

Enterprise and Entrepreneurship.
There is a distinction in terms of entrepreneurship and entrepreneurial. Entrepreneurship is a
Science which is the result of field trials, collected, researched and assembled as a source of
useful information for people who need them. Thus entrepreneurship can be incorporated into a
discipline of both theoretical and empirical (field test results). Furthermore it was stated that
entrepreneurship is (Hendro, 2011, page 32):
1. The personality or attitude, 2. Philosophy, 3. Skills, 4. Art, 5. Profession, 6. Instict, 7.

Dreams someone, 8. Option one’s life.
Entrepreneurship can be implemented outside organizations known as entrepreneurship, while
being held in the organization is intrapreneurship (Hendro, 2011). In practice, when a person is
self-employed are not necessarily imbued with an entrepreneurial spirit, but when a person has
an entrepreneurial spirit, the road to entrepreneurship closer. Thus the essential entrepreneurial
spirit possessed by anyone who is going self-employed or doing business independently. That is
seeking business with all the abilities and skills of their own.

Students, Organizations and Entrepreneurship.
Students are people who are doing activities to learn at a high level education. Students

can become young entrepreneurs along with their learning activities. In addition, students also
can become business owners with financial support from various parties such as the Higher
Education or other scholarship programs. Students who perform business activities referred to as
a student entrepreneur. Higher Education program that provides funding to mahasisiiwa willed

542 Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016

entrepreneur is student entrepreneurship program. Hope the program is spawned student
entrepreneurs as founders or job creators.

The role of the founder entrepreneur is the birth of a new organization, either alone or with
a group. After birth, the entrepreneurial founder to make efforts to arrive organizational
development more dependent on the founder. Implementing organizations require strengthening
management organizations with management systems and reduce uncertainty and dependence on
subjectivity factor founder.

Systems development and organizational culture must be able to accommodate a good
management and also their entrepreneurial. One pattern is there to accommodate
entrepreneurship within an established organization is a market-Intra (intrapreneurs).
Development of entrepreneurship within the enterprise can occur at three levels:

Individual (intrapreneurs / pruduct champions)

Working Group (entrepreneurial team / skunworks)

Organizations / Companies (entrepreneurial organization).

Factors Supporting Being An Entrepreneur
To be an entrepreneur is influenced by several factors both factor individual and the

environment. As these factors according to Hendro are as follows:
1. Individual Factors
2. Working Environment
3. The level of education
4. Personality
5. Educational Achievement
6. Encouragement Family
7. Environmental and social
8. Desire appreciated (self-esteem)
9. necessity and circumstances

In addition to the factors that drive a person to become entrepreneurs there are also factors that
the reason someone does not want to become entrepreneurs. There are five reasons people do not
want to become an entrepreneur, namely (Hendro 2011 case 63):

1. Not having the experience, he said it was new!
2. Do not have capital, capital of what? Which one?
3. Do not have the courage to decide.
4. No person who guided you.
5. Fear out of your "comfort zone". Well this is the answer!
Along with the change and the economic development of a country, there are several factors that
encourage the spirit of entrepreneurship, namely (Hendro, 2011, 28):
1. Evolution Products
2. Evolution of Science
3. Changes in lifestyles, tastes and hobbies
4. Changes in technology
5. Change the culture
6. Changes in the structure of government and politics
7. Intrapreneurship

Some theoretical information above were already applied in various studies. As Vaidya
research conducted with secondary school students in India who produce that values
entrepreneurship in the community can be built not only in economic activity alone. If
entrepreneurship is raised in curriculum can motivate students to grow its entrepreneurial spirit,
build life skills to face the challenges of life. From this research would be useful to
entrepreneurial development of children up to secondary school level recommended in the
department of education in India (Vaidya, 2007).

Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016 543

Research conducted Julie and Seena (in the Journal of Educational and Social Research) to
college students about entrepreneurship motivation models show that entrepreneurship
motivation can be used as predictors for facing what is happening in the future. The model was
built by binary logistic regression. The study was conducted to describe the probability of
motivation among students based on extrinsic motivation variable. It is also to develop
entrepreneurial motivation probability index (EMI: Entrepreneurial motivation index) among
students of Bachelor level (in various disciplines) with the indicator. The study also explores and
examines the relationship between the response variable (score entrepreneurship motivation) and
explore the same variable. The results of the research may lead to a better understanding of the
attitudes to entrepreneurship, (Julie and Seena, 2012).

Research on entrepreneurship else was done Zaidatol, in the Journal of Social Sciences
Europe (European Journal of Social Sciences - Volume 9, Number 2 (2009), entitled Enterprise a
career choice: analysis Enterprise Self-Eficacy and Intention to students in college. The study
was to determine students' perceptions about the intentions of entrepreneurship and self-eficacy
entrepreneurship in aspects of management. The results showed that students who had positive
entrepreneurship aspiration high value on the intentions of entrepreneurship and self-eficacynya
and vary with students who do not have aspirations positive. In addition, Students who have a
moderate attitude leads to careers and become entrepreneurship control, previous behavior. Thus,
the results showed that students who have studied entrepreneurship at the university appeared to
have an average score higher on entrepreneurship as a controlling attitude previous behavior.

The study, entitled Analysis of Factors Motivating Student Desiring Become
Entrepreneurs in the Journal of Business and Entrepreneurship, vol 8. 1. In March 2012, shows
that there are three factors that encourage students to become entrepreneurs are successful
themselves, tolerance for risk and freedom to work. Respondents are students of the fifth
semester at department of Tourism Bali State Polytechnic. These three factors are a positive
influence on mahasiswia eager to become entrepreneurs. The analytical tool used is multiple
linear regression analysis, (Widhari and Suarta, 2012).

According to the results of research conducted by Aisman, who conducts research at the
University of Andalas shows that the factors affecting entrepreneurial development policy is a
factor of human resources, economy, society and the social background of students,
entrepreneurial experience and information related to entrepreneurship. Among these factors, the
main factor is human resources, information and student experience. This strongly supports the
research to be conducted especially to find other factors that may be decisive in the development
of entrepreneurship on campus.

Research conducted on 10 young entrepreneurs Asriyal as a tenant at IBK program in
Jakarta Thamrin concluded that young entrepreneurial business strategy is still conventional and
slightly applying modern business patterns. However, tenants are beginning to have a plan/
strategy businesses started steady and mature. The targets already set still needs to be reviewed
and rationalized and customized implementation capabilities. For those entrepreneurs who
already formidable will pursue the targets set at the optimum level.

From the results of research conducted by Retno Budi can be concluded that
entrepreneurship education significantly affect the interest in entrepreneurship. Student interest
in entrepreneurship is also reinforced by demographic factors such as gender, work experience,
and the work of parents.

Research Framework
Based on several previous studies above can be made and described the support and the
importance of research prior to this study. Moreover, it can be explored variables of research,
then combined with the above theories in order to build a framework of research concepts. By
observing the phenomena that occur in the field (on the respondent and universities) can be
found research variables operasinality. The research variables include entrepreneurial
characteristics of students, student business potential and business opportunities, factors
determine entrepreneurship, student entrepreneurial model. Thus the basic chart can be made in

544 Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016

building a new model of an entrepreneurial culture on campus. The model can be seen in the

following chart.
Figure 1. Research Framework1.

Mental spirit Entrepreneurial Factors that affect the Entrepreneurship Module
student. There are differences in interest of student to pursue test in the class & laboratory
mental entrepreneurial students
entrepreneurship.
who have entrepreneurship

subject and who have not





!












Interests Students Become Type of Business and FGD and Modul
Entrepreneurs. Students as student Implementation
component of the educated public,
entrepreneurship
with growing interest in
entrepreneurship. experience

Figure 2. Research Variables
Student Entrepreneur

Entrepreneurial Factor Factor 1
Student Determinant Factor 2

Characteristic Student Factor 3
Entrepreneur Factor n
Student
Entrepreneur ship

Model

Student
Business
Potential

Student
Business

Opportunity

Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016 545

3. RESEARCH METHODE

Research conducted on students in private colleges.The reason is because there were students

who have done entrepreneurial. Therefore, it is expected to find a model of student entrepreneur

development for achieving an entrepreneurship culture. Students are expected to have readiness

in business self-relience than always waiting for jobs after graduation. This means that students

who have graduated can help providing jobs to others, as young entrepreneurs and independent

entrepreneurs.

Students, as the respondents are students who have already done entrepreneurs. The

number of students as research objects is determined proportionally according to the condition of

each faculty. In the next phase, analyzesing about the students interestto to perform an

entrepreneur. It is done by asking questions about the indicators of entrepreneurial practice from

the planning stage to the implementation. Students entrepreneurial characteristics used the

concept of entrepreneurship which relevant to spirit, skills, attitudes, technology, innovation,

efficiency, courage, creativity. Potential Student Business obtained by learning student interest in

entrepreneurship. Students who have a great business potential will be an opportunity to build an

entrepreneurial culture.

Finding the determinants of student entrepreneurs, It can be the factors of students

entrepreneurship to do business.

Data Collecting

The data are two types, secondary data and primary data. Secondary data include the data of

students in faculty or department. Primary data was obtained directly from the object of

research (students as respondent). The primary data was in the form of answers to the items the

questions of students in response to the content of the question. It included data on individual

characteristics, entrepreneurial characteristics of students, student business potential and business

opportunities and the factors that determine/ encourages student entrepreneurship. The collection

of data used a list of questions.

Population and Sample

Population research were students who have been taking entrepreneurship in private

colleges.Students sampled are students who already have a business and or students who have

been running the entrepreneur.

Analysis Methode.

To know the individual student characteristics, entrepreneurial characteristics of students, student

business potential and business opportunity used tabulation analysis. The results of the

questionnaire answers were was analysed with SPSS. To find out the determinants of

entrepreneurship students used factor analysis tool. Factor analysis was performed using SPSS

starting first to entry data from the questionnaire answers. After the data entry process is

completed, then analysis of the factors that can be obtained successively loading factor values,

rotation, and enguine value (EV). From the EV value can be set in accordance with the order of

the deciding factor EV value. The number of variable were 23 variables with a total of 143

respondents

4. RESULT AND DISCUSSION
The results of the study include characteristics of individual students, student entrepreneurial
characteristics, potential and business opportunities of students, the factors that determine student
entrepreneurship, entrepreneurial models and entrepreneurial culture development and
networking of student entrepreneurship. Results of this study was obtained from the deployment

of questionnaires to students who are already practicing entrepreneurship and has followed the
course of entrepreneurship in college. The answer from a list of questions and then processed
using SPSS and analyzed using descriptive (frequency table) and factor analysis. The detailed
results of the study are as follows:

Individual and Entrepreneurial Student Characteristic
Students who have followed the course of entrepreneurship at private universities have been
required to make a business plan and practice it. This means that students who are already part of

546 Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016

a real entrepreneurial have never run a business, or at least they've never sold a product, both
products are made individually or sells products belonging to another party (the seller back / re-
seller).

To know the entrepreneurial characteristics of students used instrument question namely
find the idea of making the product, making the product as a group, sells products that have been
made, calculate the profit from the sale and how to cope with marketing. If the student had no
difficulty (easy) on five indicators can be said that the students already have the ability to
entrepreneurship. In other words, students have good entrepreneurial characteristics and can be
continued or developed.

Based on questionairre of 143 students, most students (4 indicators) turned out to
students already have a good entrepreneurial or no difficulty in running the business. In addition
to entrepreneurial characteristics, described also the individual characteristics of students who
conduct business. Student business characteristics observed from individual characteristic
include age, gender, experience in entrepreneurship, family, and the student's education. In detail
characteristic of the individual and entrepreneurial characteristics of students can be read in the
following.

Student Individual Characteristic
The individual characteristics of students who do business is important to know because in
general they do business is also determined by age, gender, education and family. Based on the
age of students who perform entrepreneurial show that most of them have range of age between
20 years to 22 years were 109 students (76.2%). A total of 29 students (20.3%) were less than 20
years old and 5 students (3.5%) were over 22 years.

Gender student entrepreneurs who run the vast majority of women in 79 (55.2%) and
male 61 mahasisiwa (42.7%). Bades on143 students, there are three students who did not answer.
Most students who run entrepreneurial show that 108 have education level of high school (SMU /
SMK) and some have already passed the S1 were 28 people, they are mostly students and alumni
who are invited to collaborate in business. However there is no mention of education as 7 people
(4.9%). There were 77 people (53.8%) the student's father was not as entrepreneurs or people
who run the business. In fact shows that 65 people (45.5%) had become the father as
entrepreneur. But there was one who did not answer. In addition to the father as an entrepreneur
and there were 58 students (40.6%) who had mothers as entrepreneur. But there were 84 students
(58.7%) whose mother was not as entrepreneur.

Student Entrepreneurial Characteristic
Students of doing business can be seen their entrepreneurial characteristics which includes five
important indicators when they were practicing entrepreneurship. These five key indicators
included finding the idea of making the product, making the product as a group, selling products
that have been made, calculate the profit from the sale and how to cope with marketing. In facts,
It show that the business of students were variously seen from the products made and
entrepreneurial orientation. Furthermore, the findings of the various types of products important
to remember elaborated students' ability to develop the idea of making the product. It was very
decisive entrepreneurial in the future, especially after they graduate from the university.

A number 69 students (48.8%) declares difficult to find the idea of making products and
4 (2.8%) stated very difficult. A number 65 students (45.8%) said easy as 6 mahaiswa stated very
easy and there was a student who did not answer. Student who have been already operating
businesses in making products cooperatively were 82 students (67.3%) easy and very easy there
are 24 students (16.8%). Thus the majority of student entrepreneurs have no difficulty in making
the products together. However, there are students who answered was very difficult just one and
answer difficult 36 students (25.2%). This is certainly not surprising that the students in making
the products together more are answered easily and very easy compared to that answer difficult
because students also have other task relating with subjects.

Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016 547

Entrepreneurial characteristics of students seen from selling products already made were
41.3% answered very fifficult and difficult. However there were 74 students (51.7%) answered
easily and 10 students (7.0%) answered very easily. This means that most students (58.7%) did
not face any difficulty in selling products that are already made. This is relevant to the practice of
entrepreneurship as an effort to improve skills in selling or marketing the product as a marketing
management practice. After the student entrepreneurs selling the product it makes sure they get
the money as proceeds. Most of them were able to calculate the profit from the sale. A number of
116 students (81.1%) answered easily to calculate profits and proceeds,11 students (7.7%)
answered very easily in calculating the profit proceeds. However there is still a student who
answered very difficult to assess the benefit proceeds. When it compared between students who
answered easily and very easy to calculate the proceeds benefit, in fact whow that they were
more than those answering very difficult. It is relevant to entrepreneurial subject matter that has
been entered, the students were taught to make business plan and create business reports.

Entrepreneurial characteristics of students seen from indicator ways to overcome the
difficulties of marketing the product, in fact there were 84 students responded very difficult
(2.1%) and answer difficult (58.7%). However, there are 55 students (38.5%) answered easily
and 4 students (2.8%) answered very easily. If it seen the bustle students in university classes and
their jobs, student entrepreneurs having only a market share on campus and the area around the
campus so that they would find it difficult if reaching a wider market share.

The Potential And Opportunities of Student Business
Potential and business opportunities in response to the student entrepreneurs showed that it was
small to large. It has been felt when they were doing the marketing of products and dealing with
customers. According to the 97 students (67.8%) stated that the students business has great
potential and 31 students (21.7%) said their business has tremendous potential. However there
was student to state that the business has the small and medium potential (10.5%). In addition it
was related to potential business opportunities. Business Student opportunities to 97 students
(67.8%) said large and 33 students (23%) stated very large. There were still students who stated
that his business has good opportunities and small (9.1%).

Factors Determining Students Entrepreneurship
Variables were analyzed to find the factors of entrepreneurial students originally consisted of 23
factors. Results were analyzed using factor analysis shows that there are five factors are decisive
students to practice entrepreneurship. In this extraction, there are two factors that do not have

component and four variables have a significant correlation value on two factors that do
extraction again. Finally, extration on 19 variables resulted in the three factors that determine the
students to practice entrepreneurship.

To determine the factors that determine the students to practice entrepreneurship can be

seen also from Eigenvalue value that has a value greater than one. Each factor consists of several
components of the correlation value is greater than 0.5. Exstration of 23 variables obtained five
factors that determine student entrepreneurship. From the five factors, there are two factors that
do not have a component and four variables were significant at two factors so that the extraction

performed again. The results of the factor analysis with extraction twice earned the 3 factors that
determine students doing entrepreneurship. The results detailed in the table below.
Table 1. Eigenvalue and Extraction

Component Initial Eigenvalue Extraction Sum of Squared Loading

1 Total % of Cummulative Total % of Cummulative
2
3 7.576 Variance Variance
4 2.646
1.780 39.876 39.876 7.576 39.876 39.876
1.082
13.926 53.801 2.646 13.926 53.801

9.369 63.170 1.780 9.369 63.170

5.693 68.863 1.082 5.693 68.863

548 Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016

The four factors that determine the students to practice entrepreneurship or running a business or

a student entrepreneur has a component that consists of several different variables. But there is
one factor that does not have a component so that the decisive factor in entrepreneurship students
are only three factors.
Table 2. Factors, Variable or Component, Eiegenvalue dan Variance

Factors Variables Component Correlation Eigenvalue Variance

Factor 1 Having Ability to manage Time 0.740

(X21)

Having Ability to manage Human 0.718

Resource (X20)

Positive Attitude (X11) 0.718

Keyakinan Diri (X9) 0.708

Memiliki Informasi (X19) 0.705

Keteguhan Hati (X8) 0.699

Keberanian Mengendalikan 0.694

Risiko (X6) 7.576 39.876

Berorientasi Ke Depan (X23) 0.686

Memiliki Kemampuan Memimpin 0.684

(X22)

Berpikir positif “Selalu Bisa” 0.682

(X10)

Keberanian Keluar dari Zona 0.671

Nyaman (X7)

Kemampuan Mengelola (X3) 0.593

Memiliki Jaringan (X18) 0.569

Memiliki Pengetahuan (X16) 0.557

Memiliki Kemampuan Khusus 0.554

(X17)

Perilaku Individu dalam Bekerja 0.545

(X12)

Faktor 2 Kemampuan Berinovasi (X2) 0.639 2.646 13.926

Kemampuan Menjual (X4) 0.573

Faktor 3 Kemampuan membaca Peluang 0.637 1.780 9.369

(X1)

There were 19 variables that can be the first factor consist of 16 component. It can be referred to

as the entrepreneurial spirit (X1). While the second factor consists of two components which can

be stated as factor of innovation and marketing ability (X2). The third factor is only one

component can be referred to as a factor predicting ability (X3).

Entrepreneurial Model and Entrepreneurship Culture Development
This section describes about the model student entrepreneurs who have run as long as they take a
course in entrepreneurship and already four semesters as student. The model of entrepreneurial
students can be seen from the type of product, how to make the products, how to sell, target
consumers, promotions, place of selling and distribution channel. While the entrepreneurial

culture is a common practice in entrepreneurship as seen from the student's response. The
response of students to the entrepreneurial culture can show the prevailing custom at the time
they did the practice of entrepreneurship. If they respond well or agree to entrepreneurial culture,
it mean that the common practice in entrepreneurship for students is important or necessary.

Thus the development of an entrepreneurial culture can be done if the student is already feeling
the importance and necessity of making the practice of entrepreneurship on campus as they
pursue and education. A detailed model of entrepreneurship and student response to the
importance of entrepreneurial culture in universities was as follows.

Student Entrepreneurial Model

Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016 549

Student entrepreneurial model viewed from various aspects such as the start of business, type of

product, how to make the products, how to sell, target consumers, promotions, place of selling
and distribution channel. The results tabulation analysis of student entrepreneurial models can be
seen in the following. Most students start a business in 2016 were 55 students (38.5%), 39
students (27.3%) start a business in 2013), 26 students (18.2%) started business in 2015 and 23

students (16.1%) start a business in 2014.
Students business according to the type of product can be classfied among the new

products, old products and old products modified. The number of students doing
entrepreneurship with new products were 48 students (33.6%), students who modify old products

were also 48 students as well. The remaining 30 students (21%) had an old product that is sold or
they become re-sellers only or imitate make existing products.

Student business according to selling can be classified into selling directly to consumers
and not directly to consumers. The number of students who do selling directly to consumers were
117 students (81.8%). As for the students who sell their products indirectly were10 students
(7.0%). And for students who sell their products in other ways were16 students (11.2%).

Student entrepreneurship model according to where they sell their product, show 115
students (80.4%) were around campus. Only a few student sold their product at mini market

(2.1%), at supermarkets 2 (1.4%) and in the mall only one (0.7%). This is certainly relevant to
college students who still active, while selling them around their campus

The distribution channel shows that student entrepreneur sells its products directly to
consumers were 108 students (108%). There are some students sell with indirect distribution
channels were 9 students (6.3%). They generally sell their products by using a friend's party or
both can only entrust their products to shops or stores close to where they live (home-stay). This
is to minimize the cost and time.

Student Respond to Entrepreneurial Cultere
The above explained that the response of students to the entrepreneurial culture is important in
order to be described in detail as a basis for developing a culture of entrepreneurship in
universities. To see the response of students to the entrepreneurial culture used 15 indicators. The
results can be seen in the following table.

Table 3. Student Respons to the Entrepreneurial Cultere

No Questionairres Strongly Responds Strongly
Agree Agree Dissagree
1 Entrepreneurship Culture in university 7 (4.9) Disagree
is not important 13(9.1) 46(32.2) 77(53.8)
54(37.8)
2 Producing product should be planned 68(47.6) 86(60.1) 3(2.1) 0
3 Human Resources Management in 70(49.0) 3(2.1) 2(1.4)
7(4.9)
Entrepreneurship is important 8(5.6) 66(46.2) 62(43.4)
4 Production Management in 82(57.3)
54(37.6) 4(2.8) 3(2.1)
Entrepreneurship is not important 98(68.5)
5 Marketing management in 40(20.0) 4(2.8) 1(0.7)
15(10.5)
Entrepreneurship is important 15(10.5) 37(25.9) 76(53.1)
6 Creativity in Entrepreneurship is 71(49.7)
68(47.6) 3(2.1) 1(0.7)
important 6(4.2)
7 Innovation in Entrepreneurship is not 12(8.4) 56(39.2) 69(48.3)
88(61.5)
important 51(35.7) 2(1.4) 2(1.4)
8 Accuracy in Entrepreneurship is

important
9 Detail in Entrepreneurship is not

important
10 Responsibility in Entrepreneurship is

important

550 Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016

No Questionairres Strongly Responds Strongly
Agree Agree Dissagree Disagree
11 Reliability in Entrepreneurship tidak 3(2.1) 65(45.5)
penting 18(12.3) 57(39.9)

12 Stability in Entrepreneurship is 59(41.3) 76(53.1) 7(4.9) 1(0.7)
important
13(9.1) 11(7.7) 59(41.3) 60(42.0)
13 Loyality in kewirausahaan is not
important 81(56.6) 56(39.2) 3(2.1) 3(2.1)

14 Brave to take risk in Entrepreneurship 3(2.1) 11(7.7) 26(18.2) 103(72.0)
is important

15 Spirit in Entrepreneurship is not
important

Student response to the statement of the entrepreneurial culture indicator, the first that
entrepreneurial culture in University unimportant turns 77 (53.8%) stated strongly disagree and
46 (32.2%) disagree. This means that the student entrepreneurs consider that important
entrepreneurial culture held at their place of learning. However, there are 14% who expressed an
entrepreneurial culture is important not held.
Producing the products must be planned responded with answers strongly agree 37.8% and
60.1% agreed. This means that when they do venture / business indeed they already feel how

important it is planned to make the product. However 2.1% who answered disagreed. HR
management in the entrepreneurial is important responded 70% agreed and 68% strongly agree.
This means that when students do their businesses feel the importance of human resource
management. Moreover, for the most of the new business beginners, human resource

management is influencial to the business continuity. However there is still the answer is not
important as much as 5 mahasiswia (5.5%).

Production management in entrepreneurial is not important responded 46.2% disagreed
and 43.4% strongly disagree. This means that students actually stated that production

management in entrepreneurial important. Whatever the products they sell. Likewise, marketing
management, 57.3% responded strongly agree important and 37.6% agree important. To develop
a business much needed creativity resources. Creativity in entrepreneurial is important
responded 68.5% strongly agree and 20% disagree. This means that creativity is needed.

Likewise very important innovation in entrepreneurship. This is shown on the response of
innovation is not important in entrepreneurial turned out 53.1% strongly disagree and 25.9%
disagree. It means that innovation is very important in the entrepreneurial.

Accuracy in entrepreneurial is important responded 49. &% strongly agree and 47.6%
agree. This means that the accuracy is necessary in entrepreneurial. Likewise responsibility
responded 61.5% strongly agreed and 35.7 agree. That is an important responsibility in
entrepreneurship. Detail in entrepreneurial unimportant responded strongly disagree 48.3% and
39.2% disagree.

Reliability in entrepreneurship is not essential responded very agree 45.5% and 39.9%
disagree. This means that the reliability in critical entrepreneurship.
Stability in entrepreneurial is important responded 41.3% strongly agreed and 53.1% agreed.
That is an important stability in entrepreneurship. Likewise loyalty in entrepreneurial is
important. The courage to take the risk is also important in entrepreneurship. The spirit of
entrepreneurship is not important responded 72% strongly dissagree and 18% disagree. This
means that the entrepreneurial spirit is important.
The fifteen indicators of the importance of an entrepreneurial culture on campus can be stated
that the culture creates an important entrepreneurial behavior is held or developed in college.

Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016 551

4. CONCLUSSION

The conclusion of research show that student business individual characteristic showed that the
entrepreneurial characteristics of individual students over 20 years old, his parents mostly as
entrepreneurs, had graduated high school and some have already Bachelor. Business potential
and business opportunities of students according to student response was great. Student
entrepreneurship model can be seen from the type of business, how to create a product, type of
product and how to market. The factors that determine student run business of 34 variables
extracted into 3 factors. The third factor is its attitude/ spirit of entrepreneurship, entrepreneurial
ability and ability to read the opportunities in accordance with eigenvalue greater than one.
Models which discovered and mapped network is an association between active students with the
students who have graduated and has already successfully become entrepreneurs by regularly
doing business gathering. For students who have graduated entrepreneurs were required to be
members of the student entrepreneur community.

ACKNOWLEDGMENT

This Is Very Good Chance To Thanks To The Ministery Of Research And Technology Higher
Level Education Who Have Been Giving Funding This Research So The Research Team Can
Run The Research Periodically As Well As We Hope.

LITERATURE

[1] Adair. J., 1996, Effective Innovation: How to Stay Ahead of the Competition,
London:Pan Books Ltd.

[2] Alma, Buchari, 2000, Entrepreneurship, Bandung, Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI)
[3] Ass’ad, M., 1991, Industrial Psychology, Yogyakarta, Lyberty.
[4] Cohen, 1990, Entrepreneurship and Small Business Problem Solving, 2nd ed.,

Singapora : John Willey & Son.
[5] George, JM. Dan Zhou, J., 2001, When Opennes to Experiences and Conscientiusness

are Related to Creative Behaviour: An Internal Approach. Journal of Applied
Psychology, Vol 86. No.3.
[6] Longenecker, G.,Justin, 2001, Entrepreneurship, Manajemen Usaha Kecil, Buku satu,
Jakarta, Salemba Empat.
[7] Longenecker, G.,Justin, 2001, Entrepreneurship, Small Business Management, Buku
dua, Jakarta, Salemba Empat.
[8] Maskur, Wiratmo, 1996, Pengantar Entrepreneurship, Kerangka Dasar Memasuki
Dunia Bisnis, YogyakartaBPFE-UGM.
[9] McGrath, dkk., (1993), Elitist, Risktakers, and Rugged Individuals? An Explatory
Analysis of Cultural Dofferences Between Antrepreneurs an Non-Entrepreneurs,
Journal of Business Ventury, 7(2).
[10] Meredith, G., Geoffery, 1992, Entrepreneurship, Practice and Theoritical, Jakarta,
Pustaka Binaman Pressindo.
[11] Suryana, 2003, Entrepreneurship, Practical Guidance, Tips for Succes Prosses,
Jakarta, Salemba Empat.
[12] Scott, S.G. dan Bruce, R.A., 1994, Deterninant of Innovative Behaviour: A Path Model
of Individual Innovation in the Workplace. Academi of management Journal. Vol 37, no.
3.
[13] Takyi-Asiedu., Stephen (1993), Economic Policy; Economic Development;
Entrepreneur; Social Change; Problems; Applications. In the Journal of Business
Venturring, ISSN:0883-9026 Vol:8 Iss:2.

552 Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016

[14] Titiek, Ambarwati, (2015), The Implementation of Student Center Learning on the
Subject of Entrepreneurship for Developing Student Business Owner at Management
Department, Proceeding ISBN:978-60273722-7-6, Malang.

[15] Winardi, 2003, Entrepreneur dan Entrpreneurship, Jakarta Pranada Media.
[16] __________, (2005), Penyusunan Strategi Pengembangan Pendidikan Kewirausahaan

di Indonesia
[17] Vaidya, Shipra, 2007, Developing Entreprenerial Life Skill: An Experiment in Indian

Shools, National Council Of Education Research and Training (NCERT), Jurnal
Institute for Small Business & Entrepreneur (ISBE), 7-9 November 2007 - Glasgow,
Scotland.
[18] Julie Vardhan and Seena Biju, 2012, A Binary Logistic Regression Model for
Entrepreneurial Motivation Among University Students – AUAE Perspective, Journal
of Educational and Social Research, ISSN 2240 0524, Vol. 2 (3) September 2012.
[19] Zaidatol Akmaliah Lope Pihie , 2009, Entrepreneurship as a Career Choice: An Analysis
of Entrepreneurial Self-Efficacy and Intention of University Students, European
Journal of Social Sciences – Volume 9, Number 2 (2009),
[20] Cokorda Istri Sri Widhari dan I Ketut Suarta, 2012, The Analyses of Factor Motivating
Student to become Entrepreneur, Jurnal Bisnis dan Kewirausahaan, vol 8. No.1. Maret
2012, Jurusan Pariwisata Politeknik Negeri Bali, Kampus Bukit Jimbaran Bali.

Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016 553

554 Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016

g dalam bukunya yang sangat terkenal yaitu “
”. Menurutnya, setiap kelompok sosial pada dasarnya mempunyai kemampuan untuk

Schumacher mensintesa kelompok sosial tersebut sebagai “ ”. Kecil tetapi

dipahami hanya sebatas “produk”, implikasinya

Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016 555

dengan harapan “tanda baru” akan muncul sebagai “ ”. Identitas sebagai produk akhir akan

merupakan hasil relasi sosial. Dia tumbuh bukan di ruang kosong, oleh karena itu spirit “ ” adalah

Gerakan ini bisa dikatakan “ ” kare

menginisiasi gerakan lingkungan ditunjukkan oleh kemunculan “Nawakalam Gemulo” di Dusun Cangar,

556 Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016

sekitar lingkungan mereka. Secara “mendadak” mereka harus bisa menyamp

Terminologi “kemendadakan” (dimana peserta diberitahu beberapa saat sebelum acara Pelatihan
dalam kondisi ‘kemendadakan” mereka mempunyai kemampuan mengeksekusi secara cepat, tepat dan

mereka tinggal) sudah menjadi “ ” dalam khasanah keseharian masyarakat.

“Ternyata hal yang paling Utama
dicetak oleh SMK adalah buruh” (Gerakan tangan dan intonasi yang kadang mengeras dan menguat

Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016 557

sadar terhadap lingkungan sekitar. “Perempuan itu ternyata punya potensi untuk bisa menggerakkan
ekonomi.” (diksi yang cukup baik dan ditun

jadi “ ” yang baik. Pengalaman sehari

“identifikasi konflik” (kolektifitas tumbuh seiring kedekatan mereka untuk belajar dan memahami secara

sama tentang pentingnya lingkungan dalam hal ini “Sumber Gemulo”) telah mengajarkan

DS, M.Si, menyampaikan materi tentang “Arti
.“
setiap orang untuk bisa membangun karir yang sukses”. Begitulah kalimat pembuka yang disampaikan

558 Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016

tidak bersahabat dengan diri kita. “ Solusinya adalah menguasai materi, banyak baca
dan latihan”. Pernyataan penuh motivasi meluncur dari Dosen UMM yang membawahi bidang penelitian

bisik “susah itu memang mengatasi gugug. Kalau bicara disini memang tidak grogi. Tapi kalau
ah di depan. Bingung dan grogi” (lalu tertawa kecil dan diikuti oleh peserta disampingnya).

“Oleh karena itu, persiapkanlah dengan baik”. Pernyatan tersebut seakan

adalah “berilah ruang tumbuh dalam ranah
ngguh”
3 di Hosey Universiy Jepang tersebut menyampaikan materi tentang “Pandai Memilih

ke angkasa seakan ingin mengatakan bahwa “akulah Sang Pengendali Massa”. Peci warna hitam dengan
seringai yang memperlihatkan ketegasan raut muka semakin menambah purbawa “ Sang Proklamator”

Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016 559

yang kadang harus disikapi oleh peserta dengan jawaban, menjadikan “peristiwa” pelatihan
pelatihan yaitu “Pandai Memilih Kata/ Kalimat dalam Public Speaking.

“Matur nuwun, jazakumullahu khoiron k
Artinya sama dengan matur nuwun, tetapi bisa beda sopo sing menggunakannya”. Pernyataan yang

oh, kata “

560 Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016

Materi dilanjutkan oleh Bapak Muhammad Hayat, MA dengan materi tentang “Seni
”. Walau bertepata
“Langkah pertama yang harus dilakukan ketika kita berbicara di depan orang banyak berhasil
dengan acara”. Pernyataan dengan suara lantang dalam timbre bass yang kental keluar dari mulut dosen
“Jangan pernah khawatir apalagi takut untuk memberikan penekanan pada
menghibur. Dalam artian menghibur dimana kita tetap yang harus mengendalikan”. Pernyataan dengan

Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016 561

562 Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016

KEBIJAKAN DALAM MEMPERCEPAT PENCAPAIANMILLENNIUM
DEVELOPMENT GOALS (MDGs) KOTA MALANG
Ida Nuraini1

1Universitas Muhammadiyah Malang
Alamat Korespondensi : Jl. Raya Tlogomas 246, 0341-464318/Fax :0341-460435

E-mail: 1)[email protected]

Abstrak
Target pemerintah untuk mencapai Millenium Development Goals (MDGs) pada tahun 2015 pada
kenyataannya tidak bisa tercapai. Beberapa daerah Kabupaten dan Kota di Indonesia belum dapat
mencapai indikator target Pembangunan Millenium. Seperti Kota Malang target pencapaian
MDGs tahun 2015 belum bisa tercapai. Masalah terbesar yang dihadapi adalah masih banyaknya
jumlah penduduk miskin. Oleh sebab itu penting diketahui faktor apa saja yang berkontribusi besar
terhadap tingginya angka kemiskinan di Kota Malang.
Dengan menggunakan alat analisis regresi diperoleh hasil bahwa variabel inflasi, pertumbuhan
ekonomi dan jumlah Kredit Usaha Kecil mampu mempengaruhi jumlah penduduk miskin sebesar
80,08% sedangkan sisanya sebesar 19.92% dijelaskan oleh variabel lain di luar model.
Kebijakan percepatan pencapaian target Millenium Development Goals (MDGs) khususnya dalam
mengurangi angka kemiskinan di Kota Malang dapat dilakukan melalui kebijakan-kebijakan
ekonomi daerah di bidang fiskal maupun moneter. Bidang fiskal seperti Peraturan Pemerintah
Daerah yang mempermudah perizinan usaha kecil, keringanan tarif pajak bagi usaha kecil,
penambahan anggaran subsidi bagi usaha kecil untuk peningkatan kualitas sumberdaya manusia,
teknologi dan informasi. Bidang moneter yaitu dengan penurunan suku bunga kredit sektor
perbankan agar pertumbuhan ekonomi meningkat serta pengendalian laju inflasi daerah dengan
pemantauan dan pengaturan laju pertumbuhan antara sektor riil dan sektor moneter.
Key Words: Kemiskinan, Kota Malang, Millenium Development Goals (MDGs).

Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016 563

1. PENDAHULUAN

Perhatian khusus pemerintah dalam bidang pembangunan sumberdaya manusia dibuktikan
dengan keikutsertaan pemerintah dalam meratifikasi deklarasi Millennium Development Goals
(MDGs). Semakin terukurnya indikator penuntasan kemiskinan adalah salah satu dari dampak
Deklarasi Millenium Perserikatan Bangsa-bangsa (United Nation) pada bulan September 2000.

Indonesia sebagai salah satu anggota Perserikatan Bangsa-bangsa telah bersepakat untuk
bersama-sama berusaha mencapai 8 (delapan) tujuan atau obyektif pada tahun 2015 yang dikenal
sebagai Millenium Development Goals (MDGs). Untuk mencapai 8 tujuan tersebut maka Badan
Perencanaan Pembangunan Nasional (BAPPENAS) telah membuat perencanaan yang
didokumentasikan dalam Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium

Delapan tujuan yang dimaksud masingmasing adalah: (i) menghapuskan kemiskinan yang
ekstrim dan kelaparan; (ii) memenuhi kebutuhan pendidikan dasar; (iii) mempromosikan
kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan; (iv) mengurangi angka kematian anak; (v)
meningkatan kualitas kesehatan ibu; (vi) memberantas HIV/AIDS, malaria, dan beragam penyakit
lainnya; (vii) menjamin keberlanjutan lingkungan hidup; dan (viii) mengembangkan kemitraan
global untuk pembangunan. Dari kedelapan tujuan tersebut maka tujuan utamanya adalah untuk
memperbaiki kualitas ekonomi dan sosial dari masyarakat miskin yang masih sangat banyak
jumlahnya tersebar di negaranegara tersebut. Dari tiaptiap tujuan tersebut memiliki sejumlah
target dan indikator pencapaiannya masingmasing agar dapat terukur.

Berdasarkan hasil penelitian sebelumnya yang telah dilakukan peneliti mengenai
Pelaksanaan Pembangunan Millenium di Kota Malang hingga tahun 2015 diperoleh hasil bahwa
target MDGs sebanyak 8 indikator masih belum bisa tercapai. 8 (delapan) goals atau obyektif pada
tahun 2015 yang dikenal sebagai Millenium Development Goals (MDGs). Seperti diketahui
bersama, 8 (delapan) obyektif yang dimaksud masingmasing adalah: (i) menghapuskan
kemiskinan yang ekstrim dan kelaparan; (ii) memenuhi kebutuhan pendidikan dasar; (iii)
mempromosikan kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan; (iv) mengurangi angka
kematian anak; (v) meningkatan kualitas kesehatan ibu; (vi) memberantas HIV/AIDS, malaria, dan
beragam penyakit lainnya; (vii) menjamin keberlanjutan lingkungan hidup; dan (viii)
mengembangkan kemitraan global untuk pembangunan.

Jumlah penduduk miskin masih 43.400 orang, Pengangguran terbuka sebesar 5,19%
(22,185%). Angka melek huruf sebesar 4,57% atau 34.717 orang. Prosentase penduduk 10 tahun ke
atas yang tidak punya ijasah sebesar 21,21%, tamat SD/MI sebesar 23,77% serta tamat SMP
sebesar 18,17%. Dalam bidang kesetaraan gender, kontribusi perempuan dalam bidang politik
masih sangat rendah. Dalam bidang kesehatan masih ada 245 jumlah kematian bayi dan 10 kasus
kematian ibu. Penderita HIV hingga maret 2013 mencapai 2.134 dan AIDS sebanyak 341 orang
dengan faktor resiko tinggi melalui jarum suntik narkoba dan resiko tinggi pada kaum laki-laki
(65%) dengan usia 25-49 tahun. Bidang kelestarian lingkungan hidup beberapa segi banyak yang
menurun seperti kualitas air minum, kualitas udara dan suhu. Tujuan MDGs terakir yaitu
membantu kemitraan global untuk pembanguan. Pada indikator ini telah mengalami kemajuan
dilihat dari pertumbuhan jumlah bank, jumlah dana perbankan, pinjaman valas serta tabungan
masyarakat. Kepemilikan alat komunikasi cenderung meningkat demikian pula dengan jumlah
masyarakat pengguna jaringan internet.

Berdasar hal tersebut maka perlunya dilakukan penelitian lanjutan untuk mengetahui sebab-
sebab kurang berhasilnya tujuan MDGs khususnya pada indikator pertama yaitu menghapus
kemiskinan di Kota Malang. Dengan demikian nantinya bisa dirumuskan strategi untuk percepatan
pencapaian indikator-indikator dalam MDGs, khususnya indikator pertama.

Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk menentukan variabel-variabel apa saja yang berpengaruh

terhadap keberhasilan target indikator pertama MDGs yaitu menghapus kemiskinan serta

564 Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016

merumuskan kebijakan yang tepat dalam mencapai target indikator pertama MDGs di Kota
Malang.

Kontribusi Penelitian
Penelitian terhadap pencapaian target MDGs di kota Malang ini penting dilakukan mengingat

pada tingkat nasional target pencapaian MDGs sulit dicapai pada tahun 2015. Pada tingkat nasional
ada beberapa indikator yang sulit dicapai seperti masih tingginya Angka Kematian Ibu melahirkan,
masih tingginya tingkat kemiskinan dan pengangguran serta rendahnya angka melek huruf.

Dengan mengambil satu wilayah yaitu Kota Malang diharapkan dapat dideteksi variabel-
variabel apa saja yang dapat menghambat serta yang dapat mempercepat target pencapaian
indikator keberhasilan MDGs, dapat dideteksi kekuatan, kelemahan, peluang dan strategi
percepatan dalam pencapaian MDGs. Dengan kasus kota Malang diharapkan dapat dijadikan
pertimbangan bagi Pemerintah Daerah-Pemerintah Daerah untuk pengambilan kebijakan dalam
percepatan pencapaian target MDGs sehingga secara Nasional pencapaian target MDGs dapat
dilakukan percepatannya.

2. METODE
Penelitian ini mempunyai tujuan utama membangun model kebijakan dalam mempercepat

pencapaian target Millenium Developmen Goals (MDGs) Kota Malang. Lokasi penelitian adalah
Kota Malang yang terdiri dari 5 Kecamatan (kecamatan Sukun, Klojen, Lowokwaru, Blimbing,
Kedungkandang).Data yang digunakan dalam penelitian ini adala data sekunder. Data ini
merupakan data yang telah dikumpulkan oleh pihak lain yaitu Badan Keluarga Berencana dan
Pemberdayaan Masyarakat (BKBPM) Kota Malang dan BPS. Adapun data sekunder yang
digunakan dalam penelitian ini diantaranya seperti; inflasi, PDRB, jumlah penduduk miskin dan
jumlah penyaluran kredit usaha kecil perbankan.

Metode yang digunakan dalam pengumpulan informasi dan data yang digunakan dalam
penelitian ini adalah: 1) dokumentasi, 2) Focus Group Discussion (Diskusi Kelompok).Kegiatan ini
dilakukan untuk mensosialisasikan pelaksanaan pengumpulan data kepada para pejabat kantor
BKBPM. Berbagai informasi yang disampaikan dalam kegiatan sosialisasi ini, antara lain meliputi:
pemetaan indikator pencapaian MDGs. Diskusi kelompok kedua dilakukan pada saat menjelang
kegiatan ini berakhir yaitu untuk merumuskan strategi percepatan pencapaian MDGs. Dikusi
kelompok ini diarahkan kepada upaya-upaya mengklarifikasi hasil temuan lapangan, mendapatkan
koreksi dan masukan, serta kesepakatan tentang hasil akhir kegiatan ini. Analisis yang digunakan
adalah analisis ekonometrik untuk mengetahui pengaruh inflasi, pertumbuhan ekonomi, jumlah
kredit usaha kecil yang disalurkan sektor perbankan terhadap jumlah kemiskinan di Kota Malang.
Model persamaan regresi adalah sebagai berikut:
M= 1 + 11INFi + 12Gi + 13KUKi + 1

dimana:
M=jumlah penduduk miskin
INF = inflasi
G = pertumbuhan ekonomi
KUK = Jumlah Kredit Usaha Kecil
Untuk membuktikan apakah ketiga variabel bebas memiliki pengaruh yang nyata atau tidak
terhadap varibel terikat maka uji statistik yang digunakan adalah uji statistik F dan uji T

3. HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1 Indikator Ekonomi Kota Malang.

Inflasi merupakan salah satu indikator makro ekonomi suatu wilayah. Angka inflasi yang
tinggi akan berdampak pada lesunya perekonomian masyarakat. Perkembangan inflasi Kota
Malang adalah sebagai berikut:

Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016 565

Tabel 1 . Inflasi Kota Malang Tahun 2005-2014

Tahun Inflasi (%)
2005 15.72
2006 5.92
2007 5.93
2008 10.49
2009 3.39
2010 6.7
2011 4.05
2012 4.6
2013 7.92
2014 8.14
Sumber: BPS Kota Malang

Tingkat inflasi Kota Malang selalu fluktuatif. Inflasi tertinggi yang terjadi di Kota Malang
selamakurun waktu 2005-2014 terjadi pada tahun 2005 dengan tingkat inflasi mencapai 15.72%.
dan inflasi terendah terjadi pada tahun 2014 yaitu mencapai 3.32%. Inflasi Kota Malang dapat

dikatakan terkendali setelah enam tahun terakhir yaitu dibawah dua digit. Perekonomian Kota
Malang selain dapat dilihat dari indicator inflasi dapat dilihat pula dari laju pertumbuhan ekonomi.
Tabel berikut adalah laju pertumbuhan ekonomi Kota Malang.

Tabel 2 Pertumbuhan Ekonomi Kota Malang Tahun 2005-2014

Tahun rtumbuhanEkonomi (%)
2005 6.907
2006 7.031
2007 7.057
2008 7.083
2009 7.121
2010 7.497
2011 7.522
2012 7.548
2013 7.575
2014 7.599
Sumber: BPS Kota Malang

Pertumbuhan ekonomi Kota Malang selama kurun waktu 2005-2014 terus mengalami

peningkatan. Pertumbuhan Ekonomi terendah terjadi pada 2005 yaitu hanya sebesar 6,9%
sedangkan pertumbuhan ekonomi tertinggi terjadi pada tahun 2014 yaitu sebesar 7,59%.
Pemerintah Kota Malang saat ini terus terus meningkatkan target pertumbuhan ekonomi. Semakin
tinggi pertumbuhan ekonomi suatu daerah maka tingkat kesejahteraan masyarakat daerah tersebut

juga akan semakin baik.
Pertumbuhan ekonomi Kota Malang yang relative baik tersebut nampaknya tidak diikuti

oleh keberhasilan Kota Malang dalam menurunkan angka kemiskinan (lihat tabel berikut).

566 Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016

Tabel 3 Jumlah Penduduk Miskin Kota Malang Tahun 2005-2014

Tahun Jumlah Penduduk
2005 Miskin (jiwa)
2006 3.739
2007 3.774
2008 3.753
2009 3.757
2010 3.647
2011 3.686
2012 3.657
2013 3.638
2014 3.613
3.609

Sumber: BPS Kota Malang

Indikator perekonomian lainnya yang tidak menunjukkan adanya peningkatan adalah
perkembangan sektor Usaha Kecil Menengah (UMKM).

Perkembangan potensi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) tidak terlepas dari

dukungan perbankan dalam penyaluran kredit kepada UMKM. Kredit Usaha Kecil tentunya sangat
membantu pemilik usaha sebagai tambahan modal sehingga dapat menambah hasil produksi.
Pertambahan hasil produksi ini diharapkan mampu menambah pertumbuhan ekonomi daerah.
Perkembangan Kredit Usaha Kecil Kota Malang dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 4 Kredit Usaha Kecil Kota Malang Tahun 2005-2014

Tahun Jumlah Kredit
2005 Usaha Kecil (juta Rp)
2006
2007 9.536
2008 9.679
2009 9.722
2010 9.602
2011 9.783
2012 9.413
2013 9.543
2014 9.645
Sumber: Bank Indonesia (BI) Malang 9.575
9.494

3.2 Hasil Analisis Data

Berdasar hasil analisis regresi dengan menggunakan aplikasi E-Views maka dapat dilihat sebagai

berikut:

Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.

C 8.986641 2.24832 3.996990 0.0071
0.2377
X1 -0.006978 0.005322 1.311275 0.0075
0.1295
X2 -0.294924 0.074610 -3.952895
3.687276
X3 -0.322665 0.183703 -1.756445 0.063234

R-squared 0.800896 Mean dependent var
AdjustedR-0.701344 S.D. dependent var

Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016 567

squared

S.E.of

regression 0.034557 Akaike info criterion 3.603235

Sum Schwarz criterion -3.482201
Hannan-Quinn criter. -3.736009
squared Durbin-Watson stat 2.060557

resid 0.007165

Log

likelihood 22.01617

F-statistic 8.045011

Prob(F-

statistic) 0.015921

Dalam model persamaan regresi adalah sebagai berikut:

Y=8.98664121073–0.00697818677447X1–0.294923974471X2–
32266498934X3+0,034557

Dengan R-squared sebesar 0.800896 yang berarti bahwa variable inflasi, pertumbuhan

ekonomi dan Kredit Usaha Kecil mampu menjelaskan jumlah penduduk miskin sebesar 80,08%
sedangkan sisanya sebesar 19.92% dijelaskan oleh variable lain di luar model yang digunakan ini.
Pertumbuhan ekonomi memiliki koefisien -0,29 signifikan yang berarti apabila pertumbuhan
ekonomi meningkat 1% maka jumlah penduduk miskin akan berkurang 0,29%. Sementara itu

untuk variable inflasi dan kredit usaha kecil tidak berpengaruh signifikan terhadap jumlah
penduduk miskin.

Dari hasil analisis tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa pertumbuhan ekonomi sangat
berperan dalam mengurangi angka kemiskinan. Untuk varibel inflasi dan jumlah kredit Usaha

Kecil secara bersama-sama dapat berpengaruh terhadap pengurangan angka kemiskinan, meskipun
secara parsial tidak signifikan pengaruhnya. Oleh sebab itu dalam percepatan pencapaian target
indikator Pembangunan Millenium khususnya pencapaian indicator pertama yaitu mengurangi
angka kemiskinan maka Pemerintah Daerah harus mampu meningkatkan pertumbuhan ekonominya
dari waktu ke waktu.

3.3 Uji Asumsi Klasik

Uji Multikoleniaritas
Multikolinearitas adalah adanya hubungan linier (korelasi) antar variabel-variabel independen. Ada
dua jenis multikolinearitas, yaitu multikolinearitas sempurna dan tidak sempurna.

Cov. Correlation X1 X2 X3

X1 11.97802
1.000000

X2 -0.369968 0.067925
-0.410164 1.000000

X3 -0.145178 -0.013588 0.011079
-0.398529 -0.495316 1.000000

Pada model ini menunjukkan tanda koefisien semua variabel prediktor sesuai dengan yang
diharapkan. Selain itu, tidak ada korelasi yang tinggi antar variable bebas. Dengan demikian dapat
dikatakan bahwa tidak terjadi multikolinearitas.
Uji Heterokedastisitas

568 Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016

Heteroskedasticity Test: White

F-statistic 3.934210 Prob. F(8,1) 0.3723
Obs*R-squared 9.692058 Prob.Chi-Square(8) 0.2873

Scaled explained SS 3.169740 Prob.Chi-Square(8) 0.9233

Berdasarkan hasil uji White diperoleh nilai Prob.F=0.3723 yang mana lebih besar dari 0.10,
sehingga asumsi non-heteroskedastisitas tidak dilanggar.

Uji Autokorelasi

Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.

C 8.986641 2.248352 3.996990 0.0071
X1 -0.006978 0.005322 -1.311275 0.2377
X2 -0.294924 0.074610 -3.952895 0.0075
X3 -0.322665 0.183703 -1.756445 0.1295

R-squared 0.800896Mean dependent var 3.687276
Adjusted R-squared 0.701344S.D. dependent var 0.063234
S.E. of regression 0.034557Akaike info criterion -3.603235

Sum squared resid 0.007165Schwarz criterion -3.482201
Log likelihood 22.01617Hannan-Quinn criter. -3.736009
F-statistic 8.045011Durbin-Watson stat 2.060557
Prob(F-statistic) 0.015921

Nilai statistik uji Durbin-Watson untuk model ini adalah d=2.060557, sedangkan nilai dL=0,5253,
dU=2,0163, dan 4-dU=1.9837. Karena d>dL tidak ada autokorelasi.

4. KESIMPULAN
Dari hasil penelitian yang sudah dilakukan diperoleh hasil bahwa variabel tingkat inflasi,

pertumbuhan ekonomi, dan jumlah kredit usaha kecil 80,08% mampu mempengaruhi jumlah
kemiskinan di Kota Malang, sedangkan sisanya 19,92% dijelaskan oleh variable lain di luar model
ini.

Strategi percepatan pencapaian target Millenium Development Goals (MDGs) khususnya

indicator pertama yaitu mengurangi angka kemiskinan di Kota Malang dapat dilakukan melalui
kebijakan-kebijakan ekonomi daerah seperti peningkatan pertumbuhan ekonomi, pengendalian laju
inflasi daerah dan pelibatan sector perbankan dalam penambahan jumlah kredit usaha kecil.

Kebijakan peningkatan pertumbuhan ekonomi dapat dilakukan oleh Pemerintah Kota
Malang melalui kebijakan fiskal maupun moneter. Kebijakan fiskal dapat dilakukan dengan
memperingan pajak untuk usaha kecil serta mempermudah proses perizinan dan memangkas biaya-
biaya perizinan untuk usaha kecil. Peningkatan anggaran untuk member subsidi pada usaha kecil
melalui peningkatan sumberdaya manusia dan peningkatan teknologi informasi bagi usaha kecil.

Melalui kebijakan sektor moneter dapat dilakukan oleh Pemerintah Daerah melalui
kebijakan yang berkoordinasi dengan Pemerintah Pusat melalui penurunan bunga pinjaman sektor
perbankan bagi usaha kecil. Dengan itu sektor usaha khususnya usaha kecil dapat dengan mudah
mengakses permodalan pada sektor perbankan yang pada akhirnya dapat digunakan untuk

peningkatan volume usaha yang akan dapat meningkatkan penyerapan tenaga kerja dan
meningkatkan Produk Domestik Regional Bruto daerah.

Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016 569

DAFTAR PUSTAKA
[1] Adioetomo, Sri Moertiningsih. 2010. Dasar-dasar Demografi. Salemba Empat.

Jakarta.
[2] BPS, Malang dalam angka, 2016.
[3] Bank Indonesia Malang, statistik keuangan, 2016.
[4] Burhan Bungin, 2007, Penelitian Kualitatif: Komunikasi, Ekonomi, Kebijakan Publik,

dan Ilmu Sosial Lainnya, Jakarta, Prenada Media Group
[5] Damodar,Dawn C. Porter.2013. Dasar-Dasar Ekonometrika. Salemba Empat. Jakarta
[6] Sunusi, Dewi Kurniawati. Anderson K., D. Rotinsulu. 2014. “Analisis Pengaruh

Jumlah Tenaga Kerja, Tingkat Pendidikan, Pengeluaran Pemerintah Pada
Pertumbuhan Ekonomi dan Dampaknya Terhadap Kemiskinan di Sulawesi Utara
Tahun 2001-2010”. Jurnal Efisiensi.Volume 14 No. 2. Halaman 120-137
[7] Tjiptoherijanto, Prijono.1999. Keseimbangan Penduduk, Manajemen Sumber Daya
Manusia dan Pembangunan Daerah. Pustaka Sinar Harapan. Jakarta.

570 Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016

KELOMPOK LANSIA MANDIRI
Dwi Susilowati, Ida Nuraeni

Jurusan IESP, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, UMM, Malang

Jurusan IESP, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, UMM, Malang

Alamat Korespondensi : Jl. Raya Tlogomas No. 246 Malang, Telp. 0341-464318,Fax 0341-460435
Email : [email protected] , [email protected]

Abstract
Di masa yang akan datang jumlah penduduk Lansia akan semakin banyak, oleh karena itu
akan menimbulkan masalah jika tidak di kelola dengan baik. Permasalahan yang muncul berkaitan
dengan Lansia antara lain kebosanan dan rasa jenuh karena memiliki waktu luang . Berdasarkan
kondisi itu maka, para lansia ini perlu diberi pemahaman tentang pentingnya hidup bersama dalam
suatu kelompok atau organisasi. Tujuan dari pengabdian ini adalah pembentukan kelompok Lansia
Mandiri di perumahan Bumi Asri Sengkaling Malang. Metode yang digunakan adalah partispatif dan
focus group of discussion (FGD). Diharapkan dengan adanya kelompok ini dapat membuat mereka
tergerak untuk ikut berpartisipasi sekaligus untuk meningkatkan kemandirian di usia lanjut. Dari
hasil pengabdian yang telah dilakukan terbentuklah kelompok Lansia Mandiri perum Bumi Asri
Sengkaling.
Keywords: kelompok Lansia, kemandirian.

Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016 571

1. PENDAHULUAN
Di Perum Bumi Asri Sengkaling Desa Mulyo Agung Kecamatan Dau Kabupaten Malang

kurang lebih ada sekitar 44 orang lansia yang dengan berbagai macam karakteristik. Berdasarkan
hasil observasi dan wawancara dengan lansia yang dilakukan oleh tim pengabdi, sebagian besar lansia
menginginkan adanya wadah perkumpulan atau organisasi yang khusus menangani lansia. Mereka
membutuhkan organisasi agar dapat berperan dalam keluarga maupun lingkungan secara luas di
sekitar perumahan Bumi Asri. Selama ini mereka merasa tidak punya kegiatan yang berdampak luas
bagi lingkungan sekitar perumahan Bumi Asri. Kegiatan sehari-hari mereka sebatas rutinitas yang
dilakukan secara individu, seperti melakukan pekerjaan rumah tangga atau ikut pengajian. Ada
beberapa lansia yang justru tidak bisa melakukan aktivitas diluar rumah, karena bertanggungjawab
atas keluarga anaknya. Model perlakukan lansia seperti ini memperlakukan orang tua seperti asisten
rumah tangga sungguh sangat memprihatinkan.

Berdasarkan kondisi tersebut, maka para lansia perlu di perdayakan di masa yang akan datang,
supaya mereka mempunyai kegiatan di luar rumah. Dengan melakukan aktivitas di luar rumah,
berkumpul sesama lansia dapat menjadikan hidup mereka lebih bahagia. Para lansia merasa
keberadaan mereka menjadi bermanfaat dan tidak menjadi beban. Oleh sebab itu diperlukan
pendampingan bagi para lansia agar dapat berperan baik secara sosial maupun ekonomi dalam
keluarga dan masyarakat.

Program pengabdian yang akan dilaksanakan berupa pembentukan kelompok /organisasi lansia
dan pembuatan program kerja kelompok/organisasi. Program kerja kelompok lansia akan difokuskan
pada kegiatan yang dapat mendatangkan manfaat baik secara ekonomi maupun sosial. Manfaat
ekonomi, seperti kegiatan berwirausaha yang mendatangkan keuntungan bagi lansia. Kegiatan sosial
seperti pelatihan-pelatihan dan rekreasi. Program ini akan dilaksanakan di Perum Bumiasri
Sengkaling Malang selama 8 bulan.

2. METODE
Program Ibm : Kelompok Lansia Mandiri direncanakan melalui 2 tahapan, yaitu :
Tahap I atau tahun pertama adalah mengkoordinir terbentuk keanggotaan dan kepengurusan

kelompok lansia mandiri Desa Mulyo Agung Kecamatan Dau Kabupaten Malang secara lebih
terorgansir. Kemudian penataan manajemen admnistrasi yang lebih rapi. Pelatihan dan motivasi
kepada mitra tentang pentingnya pemahaman dan motivasi dalam pengelolaan dan pengendalian
kegiatan kelompok lansia mandiri Desa Mulyo Agung Kecamatan Dau Kabupaten Malang sehingga
kegiataannya dapat berlangsung terus menerus.

Tahap II atau tahun ke 2 pemberdayaan mitra melalui kegiatan sosial spiritual dan pembentukan
unit-unit usaha secara ekonomi dengan pemberian modal usaha sebagai langkah awal untuk berbisnis
secara sederhana. Kegiatan secara sosial spiritual diarahkan kepada kegiatan seperti pengajian,
rekreasi, olah raga dan bimbingan dan Konseling yang dapat meningkatkan kesehatan lansia.

Metode yang digunakan untuk mencapai progam tersebut adalah metode survey dan Focus
Group of Discussion (FGD).Survey dilakukan untuk menjaring keanggotan dan pengurus lansia di
sekitar perumahan Bumiasri Sengkaling. Metode Focus Group of Discussion (FGD) dilakukan untuk
pembentukan keanggotaan dan kepengurusan kelompok lansia mandiri Desa Mulyo Agung
Kecamatan Dau Kabupaten Malang dan pembuatan program kerja.

Pengendalian program pengabdian dilakukan melalui kegiatan monitoring, pengawasan,
evaluasi dan pelaporan terhadap pelaksanaan kegiatan serta tindak lanjut pembinaan yang akan
dilakukan terhadap mitra. Pengendalian terhadap seluruh proses dan kegiatan pendampingan
ditujukan untuk :

Memastikan bahwa seluruh tahapan kegiatan sesuai dengan proses dan mekanisme yang telah
ditetapkan.
Mengendalikan kegiatan agar sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan.
Menjaga kualitas kegiatan agar sesuai dengan program kerja.

572 Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016

3. HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1. Gambaran Umum Obyek Pengabdian

Program Pengabdian dengan judul Lansia Mandiri pada perumahan Bumiasri Sengkaling,
terletak di Desa Mulyo Agung Kecamatan Dau Kabupaten Malang. Jarak obyek penggabdian sangat
dekat dengan lokasi kampus, yaitu hanya 0,5 km dari kampus. Perumahan Bumi Asri Sengkaling
sendiri letaknya berbatasan dengan kota Batu, sehingga dalam satu area perumahan terdapat 2 wilayah

administrasi, yaitu kabupaten Malang dan Kotamadya Batu.
Perumahan Bumi Asri Sengkaling Tahap I bagian depan masuk wilayah kabupaten Malang

terdiri dari 4 RT 1 RW sedangkan perumahan Bumu Asri Selatan (belakang) masuk dalam wilayah
kotamadya Batu, terdiri dari 2 RT.Terdapat 2 (dua) kelompok Posyandu Lansia, yaitu kelompok

Posyandu Anggrek dan Melati.
Program pengabdian ini hanya ditujukan khusus untuk lansia perempuan yang tinggal di area

perumahan Bumi Asri Sengkaling, namun tidak menutup kemungkinan untuk ke depan kegiatan
pengabdian ini bisa di perluas lagi dengan melibatkan lansia pria. Jumlah lansia di perumahan Bumi

Asri Sengkaling berdasarkan data yang diterima sebanyak 44 orang terdiri dari kelompok posyandu
Anggrek sebanyak 23 orang , posyandu Melati sebanyak 21 oran, .namun yang aktif dalam kegiatan
posyandu lansia sekitar 25 orang. Berdasarkan kuesioner yang diberikan ke lansia yang bersedia
mengisi hanya 25 orang. Untuk gambaran lansia di perumahan Bumi Asri Sengkaling sebagai berikut:

Tabel 3. Sebaran Usia Lansia di Perum Bumi Asri Sengkaling tahun 2016

Us ia Jumlah Persentase

50– 60 tahun (pra Lansia) 16 64

> 60 tahun 9 36

Total 25 100

Sumber : Data primer diolah, 2016

Dari tabel 3. Usia lansia antara 50 - 60 tahun sebagai pra lansia sebanyak 16 orang atau 64
persen, sedangkan diatas 60 atau lansia sebanyak 9 orang atau 36 persen. Berdasarkan pengamatan,
kegiatan posyandu lansia jika sepenuhnya diserahkan mereka yang usianya diatas 60 tahun, maka

kegiatan kurang efektif. Oleh karena itu kepengurusan dalam posyandu lebih banyak di pegang oleh
mereka dengan uisa antara 50 – 60 atau usia pra lansia. Mereka inilah yang menggerakan posyandu
lansia. Kegiatan posyandu lansia satu bulan sekali, namun jarang yang aktif untuk datang. Pada
umumnya kegiatan posyandu lansia berkisar pada kegiatan penimbangan berat badan, dan cek tensi

kadang juga cek kolesterol dan asam urat.
Sebagian besar yaitu 23 orang atau 92 persen sebagai ibu rumah tangga dan sisanya 2 orang

atau 8 persen mempunyai kegiatan lain, seperti buka warung dan bisnis kue. Ketrampilan yang
dimiliki lansia dalam bidang pembuatan kue sebesar 4 orang atau 16 persen membuat kue, 7 orang

atau 28 persen memasak dan 13 orang atau 52 persen memiliki ketrampilan lain di luar membuat kue
dan masak, seperti menyulam, menjahit dan merajut. Harapan besar yang diinginkan dengan adanya
kegiatan pengabdian ini adalah bisa berlanjut terus berkesinambungan. Keinginan mereka untuk
sehata sebanyak 22 orang ataua 88 persen menginginkan hidup sehat dan 3 orang atau 12 persen
memiliki harapan dapat melakukan rekreasi dan kulineran secara terus menerus.

3.2. Hasil Pengabdian
Program Pengabdian dengan judul Lansia Mandiri pada perumahan Bumi Asri Sengkaling

dengan hasil yang telah dicapai sebagai berikut :

A. Pembentukan kelompok lansia mandiri Bumi Asri Sengkaling Desa Mulyo Agung
Kecamatan Dau Kabupaten Malang
Program pengabdian kepada masyarakat dengan fokus Pemberdayaan Ibu-ibu Lansia Mandiri

Perumahan Bumi Asri Sengkaling Kecamatan Dau Malang diawali dengan kegiatan silaturrahim,
kordinasi dan pendataan. Pertemuan pertama ini dilakukan di rumah salah satu anggota lansia
perumahan Bumi Asri Sengkaling, tepatnya di rumah Bu Suhartono (ibu Ton) yang merupakan warga

Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016 573

perumahan tersebut yang tinggal di bagian selatan atau perumahan tahap 2. Secara geografis,
perumahan ini terbagi menjadi tiga bagian, yaitu: 1). Perumahan Bumi Asri Sengkaling Tahap I,
Perumahan Bumi Asri Sengkaling Tahap II dan Perumahan Bumi Asri Sengkaling Tahap III.

Pertemuan pertama ini dilakukan pada tanggal 23 Februari 2016 oleh tim pengabdian dengan
perwakilan beberapa lansia perumahan tersebut. Tujuan dilaksanakannya pertemuan ini adalah untuk
menyampaikan maksud dan tujuan dilaksanakannya program pengabdian dari Universitas
Muhammadiyah Malang. Program yang mengangkat tema lansia mandiri ini disambut dengan sangat
baik oleh perwakilan lansia perumahan Bumiasri Sengkaling, sehingga tim pengabdi marasa optimis
program ini akan berhasil. Kegiatan pertama ini dilakukan oleh seluruh anggota tim pengabdi yang
terdiri dari Dra. Dwi Susilowati, MM., Dra. Ida Nuraini, M.Si, Drs. Sri Joko, MM, dan Moh. Erfan
Arif, SE., MM.

Dari identifikasi lapangan menunjukkan bahwa pada komplek perumahan tersebut terdapat
beberapa kelompok lansia. Kelompok-kelompok lansia tersebut antara lain: kelompok Lansia Melati,
kelompok Lansia Anggrek dan Furqonita. Adanya beberapa kelompok lansia pada perumahan
tersebut memang dapat dimaklumi, mengingat komplek perumahan tersebut cukup luas. Masing-
masing kelompok lansia juga telah memiliki program atau kegiatan rutin, seperti senam kesehatan,
jalan sehat dan lain-lain.

Adanya beberapa kelompok lansia tersebut menunjukkan adanya batas atau jarak yang
terkesan membatasi komunikasi antar mereka dalam satu komplek. Dari fenomena tersebut, tim
pengabdi dari Universitas Muhammadiyah Malang ini berusaha untuk menawarkan penggabungan
seluruh lansia yang ada pada perumahan tersebut menjadi satu wadah saja, yaitu lansia Bumi Asri
Sengkaling. Usulan mengenai penggabungan kelompok-kelompok lansia menjadi satu wadah di
perumahan ini diterima dengan baik oleh seluruh perwakilan kelompok lansia.

Langkah pertama dalam pembentukan kelompok lansia mandiri adalah melakukan survey ke
RT dan RW untuk meminta izin terlebih dahulu. Setelah izin diperoleh, maka selanjutnya melakukan
pendataan warga lansia yang berdomisili di sekitar perumahan Bumi Asri sengkaling.

Di sekitar perumahan Bumi Asri Sengkaling ada 2 posyandu lansia yaitu kelompok Lansia
Melati dan Anggrek. Dimana kelompok lansia Anggrek dalam wilayah kabupaten Malang dan
kelompok lansia Melati masuk dalam wilayah Batu.

Dari hasil survey di lapangan diperoleh data bahwa jumlah lansia dan pra lansia secara
keseluruhan yang berhasil di data adalah 44 orang. Dari jumlah tersebut hanya 25 lansia yang
bersedia mengisi kuesioner. Dari jumlah tersebut lansia yang berusia di atas 60 tahun hanya
sebanyak 16 orang sisanya 9 orang berusia 50 -59 tahun.
B. Pembekalan dan Pemberian Motivasi

Pembekalan dan pemberian motivasi ke pengurus dan anggota kelompok lansia Mandiri
dilaksanakan oleh Tim Pengabdian Universitas Muhammadiyah Malang dengan ibu-ibu lansia
perumahan Bumiasri Sengkaling pada Sabtu, 14 Mei 2016. Pertemuan diawali pukul 09.00 dan
berakhir pada pukul 11.45. Pertemuan ketiga ini merupakan agenda terakhir dari rangkaian agenda
tim pengabdian UMM untuk ibu lansia perumahan Bumiasri Sengkaling. Kegiatan ini dihadiri oleh
ibu-ibu lansia dari beberapa kelompok lansia yang ada. Tim pengadian dari UMM juga hadir
semuanya

Acara ini dibuka dan sekaligus diberikan pengarahan oleh Ketua Tim Pengabdian yaitu Ibu Dra.
Dwi Susilowati, MM. Adapun agenda pada pertemuan ini adalah: pertama, memberi pembekalan
kepada pengurus dan anggota lansia tentang bagaimana mengelola dan aktif dalam organisasi yang
disampaikan oleh Bapak Moh. Erfan Arif, SE., MM., kedua, memberikan materi mengenai
kewirausahaan yang tepat untuk lansia yang disampaikan oleh Dra. Ida Nur Aini, M.Si, dan ketiga,
menyusun rencana dan program kerja yang akan dilaksanakan pada program pengabdian di tahun
berikutnya. Pada penyampaian materi kewirausahaan juga ditekankan pentingnya ibu-ibu lansia untuk
terus beraktivitas dan produktif.

Pertemuan ini berjalan dengan lancar dan selama proses penyampaian materi baik mengenai
pengelolaan organisasi maupun kewirausahaan para peserta cukup antusias. Pada kesempatan ini juga
dimanfaatkan oleh pengurus beserta anggota untuk melengkapi posisi struktur organisasi yang masih

574 Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016

kosong, karena tidak semua bersedia menjadi pengurus sehingga selama ploting posisi terjadi
interaksi yang dinamis antar anggota.

Salah satu catatan penting dari pertemuan-pertemuan yang telah dilakukan adalah proses
peggabungan antar kelompok lansia yang ada di perumahan Bumiasri Sengkaling membutuhkan
waktu yang lebih lama. Hal ini dapat dimaklumi karena sebelum tim pengabdian UMM datang,
mereka sudah memiliki kelompok-kelompok lansia yang sudah eksis sejak lama. Hal ini

mengakibatkan proses interaksi yang dinamis antar anggota dan antar kelompok lansia. Namun, ada
sisi positif yang diharapkan dapat diperoleh dari dinamisasi antar anggota, yaitu munculnya tanggung
jawab yang baik karena mereka akan aktif dan terlibat seolah sebagai perwakilan kelompok lansia
yang lama.

Secara umum, dari rangkaian kegiatan yang dilakukan oleh tim pengabdian UMM mulai kegiatan
pertama hingga akhir terlihat antusias dan ketertarikan yang besar dari para ibu lansia terhadap
program ini dan rencana program tahun berikutnya. Sesuai data lapangan yang bersumber dari ibu-ibu
lansia, meskipun secara usia mereka dikatakan lanjut usia, tetapi mereka juga masih ingin terus aktif

melakukan kegiatan-kegiatan yang baik dan produktif. Sambutan yang baik dari ibu-ibu lansia ini
menjadikan tim pengabdian UMM menjadi lebih optimis bahwa program ini nantinya akan berjalan
dengan baik sesuai yang direncanakan.

Metode pemberian pembekalan dan motivasi lebih bersifat diskusi dan tanya jawab. Beragam
macam pertanyaan diajukan oleh pengurus. Hal ini menunjukkan bahwa mereka sangat antusias dan
sangat aktif mengikuti kegiatan pengabdian ini. Pertanyaan tentang keorganisasian dan aspek bisnis
rupanya yang paling banyak ditanyakan oleh peserta.

Aktivitas atau kegiatan Lansia selama ini hanya terbatas pada kegiatan posyandu yang diadakan

sebulan sekali. Adapun kegiatan yang dilakukan sebatas pada penimbangan berat badan dan cek darah
tinggi, kadang kadang juga dapat melakukan cek gula darah dan kolesterol. Dengan adanya kegiatan
pengabdian ini mereka sangat senang sekali dan berharap kegiatannya lebih menarik. Wajar saja
mereka punya harapan positif terhadap program pengabdian ini mengingat selama ini kegiatan para
Lansia tergolong monoton. Banyak waktu luang yang dimiliki oleh lansia, karena mereka hanya
terbatas melakukan kegiatan sekitar RT. Dengan adanya program Lansia Mandiri membuat para
lansia dapat berkumpul dan bersilahturahmi dengan sesama lansia. Kondisi ini membuat mereka
merasa senang dan bahagia, sehingga dapat meningkatkan semangat hidup mereka.

C. Pembuatan program kerja.
Setelah kepengurusan terbentuk maka langkah selanjutnya adalah membentuk program kerja

untuk masing masing bidang. Program kerja masing bidang di buat berdasarkan hasil diskusi antar
pengurus, namun sebelumnya koordinator masing-masing bidang sudah membuat perencanaan

program kerja.

Tabel 1. Rencana Program Kerja Kelompok Lansia Mandiri Bumiasri Sengkaling Periode 2016 –
2020

No BIDANG PROGAM KERJA KETERANGAN
1. KESEHATAN 1. Olah Raga Lansia
2. PENDIDIKAN 1. Satu minggu sekali
3. EKONOMI - Senam 2. Satu bulan sekali
- Jalan sehat
2. Aktif dalam kegiatan posyandu 3 bulan sekali
1. Penyuluhan/seminar/pembekalan
tentang hidup sehat bagi lansia 2 macam ketrampilan
2. Pelatihan ketrampilan 1. Satu tahun sekali
2. Satu kali
1. Bazar Ramadhan 3. Setiap saat berdasarkan
2. Pembuatan brosur menu makanan
3. Pemasaran produk lansia order

Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016 575

1. Pembinaan Al-Quran metode ummi 1. Senin–kamis

2. Tahsin, Tarjim, Tadabbur Al Quran

4. AGAMA 3. Share keilmuan, seperti : Amaliyah
5. SOSIAL
Yaumiyah 2. Seminggu sekali

4. Pelatihan perawatan jenazah, manasik

haji, wudhu dan sholat 3. Satu kali

1. Bakti Sosial Satu kali setahun

2. Penyantunan lansia

4. KESIMPULAN
Di perumahan Bumi Asri Sengkaling terdapat 2 (dua) kelompok posnyadu lansia, yaitu posyandu

lansia Melati dan Anggrek. Dalam program pengabdian ini ke 2 posyandu tersebut digabung jadi satu
dengan nama kelompok lansia Mandiri. Harapannya dengan penggambungan dapat meningkatkan
produktivtas dan semangat para lansia untuk aktif dalam berorganisasi. Berdasarkan hasil pengabdian
yang telah dilakukan dapat disimpulkan sebagai berikut :

a. Para lansia yang tinggal di perumahan Bumi Asri sengkaling menyambut positif program
pengabdian ini. Hal ini dapat dilihat dari antusias mereka untuk menjadi anggota dan bersedia
menjadi pengurus. Mereka juga aktif mengikuti pertemuan-pertemuan yang diadakana oleh
kelompok lansia mandiri. Harapan mereka program pengabdian ini dapat berlanjut terus

sehinggga berkesinambungan.
b. Keberadaan kelompok lansia Mandiri dapat memotivasi para lansia di lingkungan perumahan

Bumi Asri sengkaling untuk aktif berorganisasi dan mengadakan kegiatan di kalangan mereka
sendiri, sehingga dapat meningkatkan kebersamaan diantara mereka. Dengan demikian

keberadaan program pengabdian ini sangat memberikan manfaat bagi mereka.
c. Untuk mendukung keberlanjutan program pengabdian ini dan kelompok lansia Mandiri

khususnya, maka dibuat program kerja dengan melibatkan semua lansia. Program kerja dibuat
berdasarkan kesepakatan anggota dan pengurus, dengan harapan dapat menunjang keberhasilan
program pengabdian. Pembuatan progam kerja untuk kurun waktu 4 tahun, yaitu 2016 – 2020

sesuai dengan masa kepengurusan.

5. SARAN
Sebagai saran dalam program pengabdian ini adalah sebagai berikut :
a. Untuk keberlanjutan program pengabdian ini diperlukan komitmen yang kuat dari anggota maupun

pengurus kelompok lansia Mandiri. Komitmen dapat diwujudkan dalam bentuk aktif dalam setiap
kegiatan yang diadakan oleh kelompok lansia Mandiri. Komitmen ini sangat penting sebagai

pondasi dalam berorganisasi.
b. Motivasi anggota dan pengurus perlu di tingkatkan agar keberadaan kelompok lansia Mandiri

memberikan nilai tambah bagi lingkungan sekitar. Peningkatan motivasi dapat dilakukan melalui
kegiatan yang menyenangkan bagi lansia, seperti rekreasi dan pelatihan-pelatihan.

c. Program kerja yang sudah tersusun, agar di pantau dan dilakukan evaluasi supaya ada perbaikan-
perbaikan untuk dijadikan program selanjutnya. Program kerja dengan mengambil rentang waktu 4
(empat) tahun merupakan rentang waktu yang dianggap cukup untuk memantapkan keberadaaan
kelompok lansia Mandiri di perumahan Bumi Asri Sengkaling.

576 Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016

REFERENSI
www.kemsos.go.id Penduduk Lanjut Usia di Indonesia dan Masalah Kesejahteraan Biro Pusat
Statistik, Jawa Timur
Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional, Provinsi Jawa Timur

Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016 577

KOMUNIKASI PEMASARAN JASA PADA PENDIDIKAN TINGGI DI MALANG
Sri Nastiti Andharini1, Dewi Nurjannah2, Eka Kadharpa3

1Fakultas Ekonomi dan Bisnis - Manajemen,UMM, Malang
2Fakultas Ekonomi dan Bisnis - Manajemen,UMM, Malang
3Fakultas Ekonomi dan Bisnis - Manajemen,UMM, Malang

Alamat Korespondensi : Jl. Tlogomas 64, Telp/Fax Institusi : 0341 (464318)/Afiliasi
E-mail: 1)[email protected], 2) [email protected], 3) [email protected]

Abstrak

Komunikasi pemasaran merupakan unsur penting dalam kegiatan pemasaran yang dilakukan oleh
sebuah perusahaan. Melalui kegiatan tersebut memudahkan perusahaan memberikan informasi
mengenai kualitas pendidikan tinggi, sehingga dapat memenuhi kebutuhan dan sesuai dengan
keinginan konsumen. Informasi yang tepat sasaran akan membentuk citra yang baik tentang
pendidikan tinggi tersebut. Lovelock menyebutkan bahwa bauran komunikasi meliputi komunikasi
personal, periklanan, promosi penjualan, publisitas dan hubungan masyarakat, materi
pembelajaran, dan rancangan korporat. Komunikasi personal meliputi : penjualan, layanan
pelanggan, telemarketing, dan mulut ke mulut; periklanan meliputi penyiaran, cetak, internet, luar
ruangan, surat langsung; promosi penjualan meliputi sampel, kupon, pengembalian, hadiah, dan
promo hadiah; publisitas dan hubungan masyarakat meliputi siaran pers, konferensi pers, event
khusus, sponsorship, pameran dagang, dan liputan media; materi pembelajaran meliputi situs web,
brosur, perangkat lunak, dan buku petunjuk; rancangan korporat meliputi papan nama, dekorasi
interior, kendaraan, peralatan, alat tulis, dan seragam. Dari hasil penelitian yang telah dilakukan
dapat disimpulkan bahwa : periklanan merupakan salah satu strategi yang sering digunakan oleh
perguruan tinggi dalam mempromosikan produknya. Pesan yang disampaikan dapat
menonjolkan kelebihan dari produk yang dihasilkannya, sehingga mampu membangun citra
merek secara jangka panjang. Konsumen yang terjangkau lebih banyak dan luas, karena tidak
terhalang oleh batas geografisnya. Sikap konsumen terhadap komunikasi pemasaran yang
dilakukan oleh perguruan tinggi, ternyata bersikap positif, artinya komunikasi pemasaran yang
dilakukan oleh perguruan tinggi melalui surat kabar, televisi, brosur, spanduk/bilboard, internet
maupun teman/orang lain/worth of mouth adalah baik, menarik, lengkap, informatif baik dari sisi
media yang dipergunakan, isi pesan/informasi yang disampaikan, gambar yang ditampakkan,
maupun sumber pesan yang dipergunakan.

Kata kunci: komunikasi pemasaran, periklanan, worth of mouth, promosi penjualan.

578 Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016

1. PENDAHULUAN

Saat ini tidak dapat dipungkiri bahwa pemasaran memiliki peranan yang sangat penting dalam
kaitannya dengan bisnis, baik produk maupun jasa. Komunikasi pemasaran merupakan unsur yang
penting dalam kegiatan pemasaran yang dilakukan oleh sebuah perusahaan, baik yang bergerak di
bidang jasa maupun produk. Keberhasilan pemasaran sangat bergantung pada keberhasilan
kegiatan komunikasi pemasaran yang dilakukan. Melalui kegiatan komunikasi pemasaran yang
dilakukan tentunya akan memudahkan dalam memberikan informasi kepada konsumen mengenai
kualitas pendidikan tinggi, sehingga dapat memenuhi kebutuhan dan sesuai dengan yang
diinginkan oleh konsumen. Informasi yang melalui komunikasi pemasaran yang tepat sasaran
kepada konsumen, tentu akan membentuk citra yang baik tentang pendidikan tinggi tersebut.
Periklanan merupakan salah satu kebijakan atau strategi yang sering digunakan oleh sebuah
perusahaan dalam mempromosikan produk barang atau jasa yang dihasilkannya. Dengan
mempergunakan periklanan dari berbagai media, maka sebuah perusahaan dapat memberikan
informasi atau mengkomunikasikan pesan-pesan yang ingin disampaikan oleh perusahaan tersebut.
Pesan yang disampaikan dapat menonjolkan kelebihan dari produk yang dihasilkannya, sehingga
mampu membangun citra merek secara jangka panjang. Selain itu melalui iklan, konsumen yang
terjangkau lebih banyak dan luas, karena tidak terhalang oleh batas geografisnya.
Setiap saat konsumen dihadapkan pada berbagai tampilan iklan, dengan berbagai informasi atau
pesan, pada berbagai media periklanan yang dipergunakan oleh perusahaan tersebut. Baik
periklanan melalui media cetak, media elektronik maupun media yang berbasis internet. Periklanan
digambarkan sebagai “image management : creating and maintaining images and meanings in
consumers mind.” (Peter & Olson).
Kotler & Armstrong, mengatakan bahwa pembelian produk jasa yang dilakukan oleh seorang
pembeli, mengandung resiko yang relatif lebih besar daripada produk fisik yang bisa dievaluasi
sebelum membeli, karakter tidak berwujud (intangible), yang merupakan salah satu karakter pada
jasa yaitu tidak dapat diindera sebelum dibeli. Berdasarkan uraian tersebut maka calon mahasiswa
akan melakukan pembelian jasa berdasarkan pengalaman masa lalu dan mencari informasi lebih
lengkap melalui word of mouth. Pribadi panutan (opinion leader) seringkali mempunyai pengaruh
lebih besar atas penjualan perusahaan daripada iklan, karena mereka dipandang lebih dapat
dipercaya daripada promosi yang dibiayai perusahaan (Hiam & Schewe,1994). Pura (2005)
mengatakan bahwa hasil penelitian di Fakultas Ekonomi Unpar terhadap mahasiswa baru tahun
2003,2004 dan 2005 menunjukkan bahwa 90% lebih dari mereka mencari informasi tentang Unpar
dari word of mouth artinya informasi mengenai Unpar tidak dicari melalui iklan melainkan dari
opinion leader.

Tujuan penelitian
Sesuai dengan perumusan masalah yang diangkat dalam penelitian ini, maka tujuan

penelitiannya adalah :
1. Untuk mengetahui komunikasi pemasaran jasa yang dilakukan di perguruan tinggi di Malang.
2. Untuk mengetahui media komunikasi pemasaran jasa yang dilakukan perguruan tinggi di

Malang.
3. Untuk mengetahui sikap mahasiswa terhadap komunikasi yang disampaikan oleh perguruan

tinggi di Malang.
4. Untuk mengetahui pengembangan model komunikasi pemasaran jasa yang sebaiknya dilakukan

oleh perguruan tinggi Malang.

Untuk memecahkan permasalahan tersebut maka digunakan daftar pertanyaan, sebagai intrumen
dalam penelitian ini, sehingga dapat dilakukan uji instrumen, dan kemudian dilakukan analisis data
dengan menggunakan analisis deskriptif menggunakan index value (nilai indeks atau rentang
skala).

Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016 579

Kajian Penelitian Terdahulu
Pura (2005) mengatakan bahwa hasil penelitian di Fakultas Ekonomi Unpar terhadap mahasiswa
baru tahun 2003, 2004 dan 2005 menunjukkan bahwa 90% lebih dari mereka mencari informasi
tentang Unpar dari word of mouth artinya informasi mengenai Unpar tidak dicari melalui iklan
melainkan dari opinion leader.
Penelitian yang dilakukan oleh Imasari (2010), tentang Pengaruh Media Periklanan Tehadap
Pengambilan Keputusan Siswa SMU Untuk Mendaftarkan di Universitas Kristen Maranatha :
Sikap Konsumen Sebagai Variabel Moderasi (Studi Kasus Siswa SMU di Bandung), menyatakan
bahwa sebagian besar responden memilih surat kabar/Koran, sebagai media yang paling sering
dibaca/dilihat/didengar, tema iklan sebagai alasan pemilihan media periklanan untuk
dibaca/didengar/dilihat, sikap siswa cukup baik terhadap iklan maupun lembaganya, dan iklan
mampu mengingatkan dan mendorong responden untuk melanjutkan pendidikan ke Universitas
Kristen Maranatha.

Peran Komunikasi Pemasaran
Melalui komunikasi, pemasaran menjelaskan dan mempromosikan proposisi nilai yang ditawarkan
oleh perusahaan kepada konsumennya. Komunikasi merupakan kegiatan pemasaran yang paling
terlihat atau terdengar, tetapi nilai atau manfaatnya terbatas, kecuali jika komunikasi ini
dipergunakan secara optimal dengan kegiatan-kegiatan pemasaran yang lainnya. Komunikasi harus
dipandang lebih luas daripada sekedar iklan media, hubungan masyarakat, dan tenaga penjualan
professional. Banyak cara yang dapat dipergunakan oleh sebuah perusahaan jasa umtuk
berkomunikasi dengan calon pelanggan maupun dengan pelanggan yang sudah ada. Semua media
harus diselaraskan secara efektif dan terintegrasi untuk menarik pelanggan baru dan menegaskan
kembali pilihan pelanggan lama.

Definisi Komunikasi Pemasaran
Komunikasi pemasaran merupakan unsur yang penting dalam kegiatan pemasaran yang dilakukan
oleh sebuah perusahaan, baik yang bergerak di bidang jasa maupun produk. Produsen dan
konsumen dihubungkan melalui arus informasi dalam komunikasi pemasaran. Dengan komunikasi
yang dilakukan, maka produsen dapat menawarkan, mengenalkan, mengingatkan dan
mempengaruhi konsumen untuk memperoleh produk atau jasa yang sesuai dengan kebutuhan dan
keinginannya. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa tanpa komunikasi pemasaran, maka tidak
akan ada kegiatan pemasaran. Dengan kata lain keberhasilan pemasaran sangat bergantung pada
keberhasilan kegiatan komunikasi pemasaran yang dilakukan.
Komunikasi pemasaran merupakan dialog yang berkesinambungan antara pembeli dan penjual
dalam satu arena pasar. Pendapat lain (Kotler dan Keller), mengatakan bahwa komunikasi
pemasaran adalah proses menjalin dan memperkuat hubungan yang saling menguntungkan dengan
karyawan, pelanggan dan semua pihak yang terkait dengan mengembangkan dan
mengkoordinasikan program komunikasi strategis agar memungkinkan mereka melakukan kontrak
konstruktif dengan perusahaan melalui berbagai media.
Berdasarkan uraian di atas, maka ada Teori Pengharapan Nilai (The Expectancy Value Theory),
yang dikemukakan Dr. Martin Fishbein. Teori ini merupakan sebuah kajian yang terfokus pada
komunikasi massa yaitu meneliti pengaruh penggunaan media oleh penggunanya dilihat dari
kepentingannya. Asumsinya adalah “Sikap khalayak terhadap segmen-segmen media tergantung
pada nilai yang mereka anut dan evaluasi mereka terhadap media tersebur”. Teori ini mengatakan
bahwa kepuasan yang dicapai sebagai pengguna media terhadap suatu media, ditentukan oleh sikap
terhadap media tersebut.

Bauran Komunikasi Pemasaran
Komunikasi pemasaran dibedakan pada 2 jenis, yaitu komunikasi massa, dan komunikasi pribadi.
Komunikasi pemasaran massa, meliputi : iklan, promosi penjualan, acara dan pengalaman serta
hubungan masyarakat. Sedangkan komunikasi pribadi meliputi : pemasaran langsung dan
interaktif, berita dari mulut ke mulut serta penjualan personal.

580 Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016

Dalam buku Pemasaran Jasa (Lovelock), diadaptasi dari diagram yang dibuat oleh Adrian Palmer,
menyebutkan bahwa bauran komunikasi meliputi komunikasi personal, periklanan, promosi
penjualan, publisitas dam hubungan masyarakat (humas), materi pembelajaran, dan rancangan
korporat. Komunikasi personal meliputi : penjualan, layanan pelanggan. Pelatihan, telemarketing,
dan mulut ke mulut; periklanan meliputi penyiaran, cetak, internet, luar ruangan, surat langsung;
promosi penjualan meliputi sampel, kupon, pengembalian, hadiah, dan promo hadiah; publisitas
dan hubunga masyarakat meliputi siaran pers, konferensi pers, event khusus, sponsorship, pameran
dagang, dan liputan media; materi pembelajaran meliputi situs web, brosur, perangkat lunak, dan
buku petunjuk; rancangan korporat meliputi papan nama, dekorasi interior, kendaraan, peralatan,
alat tulis, dan seragam.

Tantangan dalam Komunikasi
Jasa lebih bersifat performa daripada obyek, manfaatnya sulit untuk dikomunikasikan kepada
pelanggan, terutama ketika jasa tersebut tidak melibatkan tindakan berwujud kepada pelanggan
atau barang-barang mereka. Untuk menciptakan pesan yang mengkomunikasikan antribut jasa yang
tidak berwujud dan manfaatnya bagi calon pelanggan secara jelas, maka pemasara dapat mengikuti
strategi komunikasi tertentu. Seperti yang dikemukakan oleh Banwari Mittal dan Julie Baker,
dalam buku Pemasaran Jasa (Lovelock,2011).

Pengertian Sikap
Sikap adalah evaluasi, perasaan emosi, dan kecenderungan tindakan yang menguntungkan atau
tidak menguntungkan dan bertahan lama pada seseorang terhadap obyek atau gagasan tertentu.
(Kotler, Keller, 2009). Perusahaan sebaiknya menyesuaikan produknya dengan sikap yang telah
ada, bukannya berusaha mengubah sikap seseorang.

Model Sikap Tiga Komponen
Komponen yang pertama adalah komponen kognitif (kognisi), yaitu pengetahuan dan persepsi yang
diperoleh berdasarkan kombinasi pengalaman langsung dengan obyek sikap dan infromasi yang
berkaitan dengan berbagai sumber. (Schiffman dan Kanuk, 2004).
Komponen kedua adalah komponen afektif (afeksi) dari sikap tertentu, yaitu emosi dan perasaan
yang mencakup penilaian seseorang terhadap obyek sikap “menyenangkan” atau “tidak
menyenangkan”, “bagus” atau “jelek”. Di samping itu, peneliti juga dapat menggunakan sederatan
skala afektif yang mengukur perasaan dan emsoi untuk membangun gambaran perasaan konsumen
secara menyeluruh terhadap sebuah produk, jasa maupun iklan. (Schiffman dan Kanuk, 2004).

Komponen yang terakhir atau ketiga adalah komponen kognatif (kognasi), yaitu
kemungkinan atau kecenderungan individu akan melakukan tindakan khusus atau berperilaku
dengan cara tertentu terhadap obyek sikap tertentu. (Schiffman dan Kanuk, 2004).

2. METODE

Populasi, Sampel dan Sampling
Penelitian ini dilakukan di Malang, pada mahasiswa di perguruan tinggi di Malang. Pengambilan
sampel dilakukan dengan tehnik multi stage sampling. Sampling yang pertama adalah purposive
sampling, untuk menentukan Perguruan tinggi mana yang akan dijadikan sebagai sampel. Syarat
yang ditetapkan adalah mahasiswa baru (semester 2) dari 3 perguruan tinggi yang terbesar di
Malang. Sedangkan untuk respondennya dilakukan secara purposive sampling, dengan jumlah 100
orang.

Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016 581

Tehnik pengumpulan data dan Analisis Data
Dengan menggunakan daftar pertanyaan, sebagai intrumen dalam penelitian ini, maka dapat
dilakukan uji instrumen, dan kemudian dilakukan analisis data dengan menggunakan analisis
deskriptif menggunakan index value (nilai indeks atau rentang skala).

Variabel Penelitian dan Definisi Operasional Variabel
Sikap Konsumen Tentang Bauran Komunikasi, merupakan pengalaman langsung dari
konsumen yang mengakibatkan perasaan suka atau tidak terhadap komunikasi pemasaran yang
dilakukan oleh perguruan tinggi Malang, sehingga menyebabkan kemungkinan atau kecenderungan
konsumen akan melakukan tindakan tertentu. Bauran komunikasi yang dimaksud dalam penelitian
ini adalah penggabungan dari komunikasi massa dan komunikasi pribadi dalam pemasaran yang
dipergunakan oleh perguruan tinggi, yang meliputi :
1) Perikalanan : setiap bentuk presentasi yang bukan dilakukan orang dan promosi gagasan, jasa

oleh sponsor yang telah ditetapkan.
2) Promosi Penjualan : berbagai jenis insentif jangka pendek untuk mendorong orang mencoba

atau membeli jasa.
3) Hubungan masyarakat dan pemberitaan : berbagai program yang dirancang utnuk

mempromosikan atau melindungi citra perusahaan atau jasanya.
4) Penjualan pribadi : interaksi tatap muka dengan satu atau beberapa calon pembeli dengan

maksud untuk melakukan presentasi, emnjawab pertanyaan, dan memperoleh pemesanan.
5) Pemasaran langsung dan inetraktif : penggunaan surat, telepon, faksimili, e_mail atau inetrnet

untuk berkomunikasi langsung dan meminta tanggapan atau berdialog dengan pelanggan
tertentu dan calon pelanggan.
6) Berita dari mulut ke mulut.

3. HASIL DAN PEMBAHASAN

Berdasarkan hasil penelitian, dan sesuai dengan rumusan permasalahan yang diangkat serta
alat analisis yang dipergunakan, maka diperoleh hasil sebagai berikut :
1) Deskripsi komunikasi pemasaran yang dilakukan oleh perguruan tinggi di Malang :

a) Tentang promosi penjualan : sebagian besar mengatakan mendapatkan potongan SPP dan
potongan DPP pada saat kuliah diperguruan tinggi tersebut,

b) Pemilihan media iklan yang sesuai untuk komunikasi pemasatran tentang perguruan tinggi
melalui teman/orang lain --- mulut ke mulut (Worth of Mouth) sebesar 90,8%, melalui
televisi sebesar 75,9%, melalui spanduk/billboard sebesar 85,5%, melalui brosur sebesar
88,4%, melalui koran/majalah sebesar 77,5%, dan melalui internet sebesar 77,5% sebagian
besar mengatakan tepat/sangat tepat.

2) Menurut konsumen (responden), media komunikasi pemasaran yang dilakukan oleh perguruan
tinggi adalah melalui periklanan di surat kabar, teleisi, brosur, spanduk/billboard, internet
maupun dari teman/orang lain --- mulut ke mulut (Worth of Mouth).

3) Sikap konsumen (responden/mahasiswa) terhadap komunikasi pemasaran yang disampaikan
oleh perguruan tinggi melalui berbagai media tersebut adalah : bersikap positif, artinya
komunikasi pemasaran yang dilakukan oleh perguruan tinggi melalui surat kabar, televisi,
brosur, spanduk/bilboard, internet maupun teman/orang lain/worth of mouth adalah baik,
menarik, lengkap, informatif baik dari sisi media yang dipergunakan, isi pesan /informasi yang
disampaikan, gambar yang ditampakkan, maupun sumber pesan yang dipergunakan.

Oleh karena itu berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, maka diperoleh draft model
pengembangan komunikasi pemasaran pada perguruan tinggi sebagai berikut :

582 Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016


Click to View FlipBook Version