The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

2. BUKU 2 LENGKAP (bid. Psikologi pendidikan, Sosial Humaniora, Kesehatan Lingkungan)

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by adhim.irawan, 2016-10-15 01:14:40

2. BUKU 2 LENGKAP (bid. Psikologi pendidikan, Sosial Humaniora, Kesehatan Lingkungan)

2. BUKU 2 LENGKAP (bid. Psikologi pendidikan, Sosial Humaniora, Kesehatan Lingkungan)

Tabel 1.Bentuk Kegiatan Pengabdian Masyarakat

No. Kegiatan Output

1 Sosialisasi Program dan Pemahaman terhadap kegiatan yang akan

Pengelompokan anggota dilakukan dan pembagian kelompok

peserta

2 Trial and error dalam pembuatan Didapatkan formula dan metode

kapsul sayur berkhasiat obat pembuatan kapsul sayur yang memenuhi

aspek mutu

3 Pelatihan pembuatan kapsul sayur Kemampuan melakukan proses produksi

berkhasiat obat kapsul sayur dan cara pengemasan yang

baik sehingga menghasilkan produk yang

berkualitas

4 Pelatihan sanitasi dan higiene dalam Pemahaman akan pentingnya aspek

pembuatan kapsul sayur berkhasiat sanitasi dan higiene dalam produksi kapsul

obat sayur

3. HASIL DAN PEMBAHASAN

Kegiatan pengabdian masyarakat diawali dengan melakukan observasi dan
pengamatan fenomena di kecamatan Tawangmangu sebagai penghasil sayur dimana dalam
observasi awal tim menemukan bahwa pada saat musim panen raya sayuran, banyak
ditemukan sayuran yang dibuang karena anjloknya harga. Oleh karena itu, tim pengabdian
melakukan upaya dalam rangka pemanfaatan sayuran menjadi produk kapsul sayur,
dimana produk kapsul sayur lebih praktis dalam penggunaannya dan tahan lama.

Pengabdian yang telah dilakukan memberikan dampak yang lebih baik bagi
masyarakat maupun mitra, sebagaimana uraian berikut ini :

3.1 Sosialisasi Program
Sosialisasi program dilakukan dengan melibatkan semua kelompok UKM Mitra. Anggota
kelompok yang dilibatkan adalah anggota yang memiliki minat, berwawasan maju, mau
menerima inovasi teknologi, dan mampu menularkan kepada orang lain sehingga
diharapkan dapat menjadi pioner. UKM mitra 1 Lembah Manah dan UKM mitra 2 Pakar
tani, sebagai mitra berpartisipasi aktif dalam diversifikasi pengolahan hasil panen menjadi
kapsul sayur. Setelah pelatihan dan praktek, secara bertahap dan sistematis mereka
diharapkan akan mengolah produk kapsul sayur dengan standarisasi mutu mulai dari
penyediaan bahan baku, proses produksi hingga pengemasan dan pelabelan.

Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016 37

Gambar 2. Kegiatan Sosialisasi Pengabdian Masyarakat

3.2 Trial and Error dalam Pembuatan Kapsul Sayur Berkhasiat Obat
Kegiatan ini dilakukan di UKM Lembah Manah. Dalam pembuatan kapsul sayur
berkhasiat obat perlu dilakukan trial and error terlebih dahulu untuk mendapatkan
produk yang memiliki kualitas baik dilihat dari metode ekstraksi, pengeringan, dan
cara pengemasan. Setelah dilakukan trial and error selama kurang lebih 2 minggu
didapatkan 3 varian produk yaitu Kapsul Selada, Kapsul Seledri dan Kapsul Caisim.
Adapun khasiat dari masing-masing produk adalah sebagai berikut [4][5][6]:
a. Kapsul Selada
Khasiat Selada antara lain membantu proses pertumbuhan, membantu menurunkan
resiko diabetes, membantu proses diet, dan baik untuk ibu hamil dengan kandungan
vitamin K.
b. Kapsul Seledri
Manfaat seledri antara lain mengandung serat non larut yang baik untuk diet, kaya
antioksidan yang baik untuk menjaga imunitas tubuh, mengandung vitamin A yang
baik untuk kesehatan kulit dan mata, serta baik dikonsumsi untuk penderita
hipertensi
c. Kapsul Caisim
Manfaat Caisim antara lain baik untuk diabetes dengan kandungan serat,
menyehatkan tulang dengan kandungan vitamin K, mencegah kanker dalam dosis
kecil dengan kandungan glukosinolat, menyehatkan kulit dan rambut dengan
kandungan vitamin A dan C, dan baik untuk pencernaan.

Berikut prosedur pembuatan setelah melewati tahap trial and error:
Bersihkan sayuran dengan air mengalir. Masukkan ke dalam mesin juice extractor
hingga didapatkan sari sayuran. Tambahkan putih telur sebanyak 2% b/v dari volume
sari, dan maltodekstrin sebanyak 10% b/v dari volume sari, lalu blender selama 1 menit
dengan kecepatan sedang. Tuang ke dalam loyang lebar hingga membentuk lapisan
tipis (2-3mm). Oven pada suhu 60 0C selama 2 jam hingga diperoleh ekstrak kering.
Ekstrak kering kemudian diayak dengan ayakan 40 mesh, lalu kemas ke dalam kapsul.

3.3 Pelatihan Pembuatan Kapsul Sayur Berkhasiat Obat
Pelatihan pembuatan kapsul sayur dilakukan di UKM Lembah Manah, Desa Nglurah,
dipandu oleh Tim Pegabdian dan Mahasiswa Universitas Sebelas Maret. Pelatihan
diikuti oleh 7 peserta yang merupakan anggota UKM Lembah Manah dan Pakar Tani.
Dari kegiatan pelatihan ini sebagian besar peserta mampu melakukan proses
pembuatan kapsul sayur dan tehnik pengemasan sehingga menghasilkan produk yang
berkualitas.

38 Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016

(a) (b) (c)

(d) (e) (f)
Gambar 4. (a) Suasana pelatihan pembuatan kapsul sayur; (b) penyiapan bahan baku

sayur; (c) ekstraksi dengan juice ekstraktor; (d) pengeringan dengan oven; (e)
cangkang kapsul sebagai bahan kemas; dan (f) produk jadi kapsul sayur

3.4 Pelatihan Sanitasi dan Higiene
Pelatihan sanitasi dan higiene dilakukan di UKM Lembah Manah, Desa Nglurah, dipandu
oleh Tim Pegabdian dan Mahasiswa Universitas Sebelas Maret. Pelatihan diikuti oleh 20
peserta yang merupakan anggota UKM Lembah Manah dan Pakar Tani. Pelatihan ini
bertujuan meningkatkan kemampuan dan pengetahuan akan penanganan produk,
khususnya kaspsul sayur secara benar, dimulai dari penanganan bahan baku sampai kepada
pengolahan dan pengemasan, untuk menjaga agar konsumen terjaga dari bahaya yang
ditimbulkan oleh produk yang dibuat [7]. Para peserta cukup antusias dalam mengikuti
pelatihan ini, dan UKM mitra sepakat bahwa produk kapsul sayur ini dapat diproduksi
dengan merancang pembentukan Usaha Kecil Obat Tradisional.

Gambar 4. Kegiatan Pelatihan Sanitasi dan Higiene

Meskipun pelaksanaan pengabdian masyarakat ini sudah terlaksana sesuai dengan
perencanaan program, akan tetapi tim pengabdian masyarakat selalu membina secara
berkesinambungan agar kegiatan produksi kapsul sayur yang dilakukan oleh mitra IbM
akan terus berlanjut dan selalu melakukan langkah perbaikan sistem untuk memenuhi

Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016 39

aturan persyaratan produk kapsul sayur sebagaimana yang telah ditetapkan oleh Badan
Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) sehingga produk yang dapat dibuat bisa didaftarkan
untuk memperoleh izin edar. Tim pengabdian selalu melakukan pembinaan melalui
konsultasi dan pemberian wacana menuju agar produk kapsul sayur ini dapat diproduksi
oleh Usaha Kecil Obat Tradisional yang terstandar.
UKM Lembah Manah dan UKM Pakar Tani, sebagai mitra berpartisipasi aktif dalam
pengolahan tanaman sayur menjadi produk kapsul sayur. Setelah pelatihan dan praktek,
secara bertahap dan sistematis mereka mampu mengolah sayur menjadi kapsul sayur
dengan standarisasi mutu mulai dari penyediaan bahan baku, proses produksi hingga
pengemasan dan pelabelan. Permasalahan yang dihadapi dalam transfer paket teknologi
akan dikaji bersama-sama dalam evaluasi kegiatan serta umpan balik dari kelompok mitra.
Adapun masalah yang belum dapat dipecahkan akan dikonsultasikan lebih lanjut kepada
narasumber yang kompeten. Berdasarkan hasil evaluasi kegiatan akan disusun konsep
strategi produksi dan pemasaran produk untuk menjamin keberlanjutan program secara
mandiri.

4. KESIMPULAN
Adapun kesimpulan dari program pengabdian ini sebagai berikut:

1. Pembuatan kapsul sayur berkhasiat obat dengan teknologi pemanasan suhu rendah
(<60 oC) sehingga tidak merusak komponen aktif yang terkandung di dalam sayur

2. Pemahaman akan pentingnya aspek sanitasi dan higiene dalam pembuatan produk,
sehingga produk akan memenuhi uji persyaratan mutu apabila akan didaftarkan izin
edarnya.

3. Kapsul sayur berkhasiat obat menjadi salah satu produk alternatif dalam upaya
pemanfaatan hasil produksi sayur yang melimpah.
Pengabdian kapsul sayur berkhasiat obat sebagai upaya pemberdayaan masyarakat di

Desa Nglurah dan Kalisoro, Kecamatan Tawangmangu telah dapat dijalankan dengan baik
dengan kerjasama tim pengabdian yang baik dan peran aktif dari penyuluh/narasumber
dalam kegiatan pengabdian ini maka semuanya telah berjalan sesuai yang diharapkan dan
harapannya dapat memberikan manfaat bagi mitra pengabdian masyarakat.

UCAPAN TERIMA KASIH
Terimakasih kepada Kemenristek Dikti atas dukungan finansial berupa hibah pengabdian
IbM tahun 2016 sehingga pengabdian ini dapat terlaksana dengan baik.

DAFTAR PUSTAKA
[1] Pemkab Karanganyar, 2013, Karanganyar Dalam Angka tahun 2013, Kabupaten

Karanganyar.
[2] Badan Pusat Statistik, 2013, Kabupaten karanganyar Dalam Angka tahun 2013,

Kabupaten Karanganyar.
[3] Agoes G, 2012, Pengembangan Sediaan Farmasi, Penerbit ITB, Bandung
[4] Badan Pengawas Obat dan Makanan R.I, 2010, Acuan Sediaan Herbal, Vol 5, Badan

POM RI Jakarta.
[5] Anonim, 2010, Herbal Indonesia Berkhasiat, Vol.10, Trubus, Jakarta, Indonesia.
[6]Roselyndiar, 2012, Formulasi Kapsul Kombinasi Ekstrak Herba Seledri Dan

DaunTempuyung, Fakultas MIPA, Ekstensi farmasi, Universitas Indonesia
[7] Badan Pengawas Obat dan Makanan RI, 2012, Petunjuk Operasional Penerapan Cara

Pembuatan Obat yang Baik, Jilid 2, Badan POM RI, Jakarta.

40 Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016

ANALISIS PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP PESERTA PROPER
STUDI KASUS DI HOTEL CIPUTRA SEMARANG

Rizki Arizal Purnama1, Al. Sentot Sudarwanto2, Wiryanto3.

1 Ilmu Lingkungan, Pascasarjana, Universitas Sebelas Maret, Surakarta.
2 Fakultas Hukum, Universitas Sebelas Maret, Surakarta.

3 Biologi, Fakultas MIPA, Universitas Sebelas Maret, Surakarta.

Ilmu Lingkungan, Pascasarjana, Universitas Sebelas Maret, Surakarta
Email : [email protected]

Abstrak

Undang-Undang No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup
Pasal 3, menyatakan bahwa perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup bertujuan antara
lain untuk menjamin keselamatan, kesehatan dan kehidupan manusia, mewujudkan pembangunan
berkelanjutan dan mengantisipasi isu lingkungan global. Program Penilaian Peringkat Kinerja
Perusahaan dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup (Proper), merupakan program pemerintah
dalam rangka meningkatkan pengelolaan lingkungan hidup dalam ketaatan pengelolaan
lingkungan hidup. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif, lokasi
penelitian di Hotel Ciputra Semarang yang merupakan peserta Proper. Tahun 2013 dan 2014,
Proper Hotel Ciputra Semarang mendapatkan peringkat Merah dan pada tahun 2015 mendapat
peringkat Biru. Komitmen manajemen hotel dalam pengelolaan lingkungan hidup mendorong cara
pandang dan cara berfikir dalam meningkatkan produktifitas dan efisiensi kerja. Penyelenggaraan
kegiatan pengelolaan lingkungan hidup yang hemat energi mampu membangun kepedulian
pegawai untuk meningkatkan kenyamanan dan keamanan seluruh pegawai serta memberikan
pengetahuan pada tamu hotel untuk turut serta mengelola lingkungan hidup. Gerakan hemat
energi yang dilakukan, secara tidak langsung ikut serta berpartisipasi dalam mengurangi
pemanasan global dengan turut andil dalam mengurangi pembakaran gas buang fosil dari
pembakaran mesin-mesin pembangkit listrik berbahan bakar minyak bumi dan batubara.

Kata kunci : Proper, pengelolaan lingkungan, kepemimpinan, hemat energy, .

1. PENDAHULUAN

Pariwisata, selain mendatangkan devisa juga diharapkan memberikan manfaat dalam
pelestarian alam dan budaya serta pembangunan lingkungan yang berkelanjutan. Namun, pada
kenyataannya manfaat ekonomi yang didapatkan dibarengi dengan dampak-dampak negatif
terhadap lingkungan. Salah satu aspek fasilitas pendukung industri pariwisata adalah hotel. Hotel
adalah suatu perusahaan yang dikelola dalam rangka untuk menyediakan pelayanan makanan,
minuman dan fasilitas kamar untuk tidur kepada orang-orang yang melakukan perjalanan dan
mampu membayar dengan jumlah yang wajar sesuai dengan pelayanan yang diterima tanpa adanya
perjanjian khusus [1]. Persoalan lingkungan hidup telah menjadi isu global, tidak hanya menyoroti
industri-industri besar pemakai energi bersumber fosil, tetapi juga merambah pada sektor
pariwisata. Sistem informasi yang terbuka dan sangat canggih saat ini, memudahkan wisatawan
dalam mencari informasi tentang situasi dan kondisi pariwisata dan lingkungan sekitarnya. Biaya
pengelolaan lingkungan yang sangat besar dan komitmen pengusaha menjadi salah satu alasan
utama bagi hotel tidak melakukan pengolahan limbah, sehingga pencemaran lingkungan akibat
kegiatan hotel semakin tidak terkendali. Swasta, selaku pelaku usaha perhotelan seharusnya bisa
membaca dengan baik keinginan para konsumennya, terkait dengan isu lingkungan hidup, yaitu
melakukan kegiatan perhotelan dengan menggunakan konsep wawasan ramah lingkungan.
Perubahan iklim global mengakibatkan kerusakan lapisan ozon, salah satunya disebabkan oleh

Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016 41

emisi gas karbon dioksida, hal tersebut diperparah dengan meningkatnya jumlah permintaan energy
listrik yang selama ini dominan dihasilkan oleh pembangkit dengan bahan bakar fosil.

Sejalan dengan salah satu agenda Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan
(KLHK), yaitu agenda mewujudkan kemandirian ekonomi dengan menggerakan sektor-sektor
strategis ekonomi domestik, maka pembangunan industri pariwisata ke depannya diharapkan harus
sejalan dengan arah pembangunan berkelanjutan. Hotel Ciputra Semarang merupakan salah satu
peserta Proper sejak tahun 2013 di wilayah Provinsi Jawa Tengah. Tahun 2013 dan 2014, Hotel
Ciputra Semarang mendapatkan predikat Merah, berdasarkan Permen LH no 3 tahun 2014
sebenarnya telah memiliki instalasi pengolahan limbah, tapi belum sesuai dengan standar baku
mutu yang ditetapkan, dengan kata lain masih terdapat pencemaran lingkungan yang tetap
dibiarkan. Dengan berbagai usaha dan perubahan yang dilakukan maka pada tahun 2015, Proper
hotel Ciputra Semarang berhasil mendapatkan predikat Biru.

Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah :
1) Untuk mengetahui upaya-upaya yang dilakukan oleh Hotel Ciputra Semarang dalam rangka

pengelolaan lingkungan hidup kaitannya dengan kegiatan Proper.

2) Untuk menemukan kendala dan solusi pengelolaan lingkungan hidup di Hotel Ciputra

Semarang.

Pengertian Proper

Undang-undang Nomor 32 Tahun 2009 Tentang Pengelolaan dan Perlindungan
Lingkungan Hidup (UUPPLH), pada Pasal 71 ayat (2) dan (3) menyatakan bahwa pengendalian
dampak lingkungan hidup sebagai alat pengawasan dilakukan kepada pejabat/instansi teknis yang
bertanggungjawab di bidang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup dan dalam
melaksanakan pengawasan, Menteri, Gubernur atau Bupati/Walikota menetapkan Pejabat
Pengawas Lingkungan Hidup. Salah satu upaya pemerintah dalam rangka pengawasan dan
perlindungan terhadap lingkungan hidup adalah dengan dikeluarkannya Peraturan Menteri
Lingkungan Hidup Nomor 3 Tahun 2014 Tentang Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan
dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup (Proper). Permen-LH No.3 tahun 2014, menyebutkan bahwa
Proper adalah evaluasi ketaatan dan kinerja melebihi ketaatan penanggung jawab usaha dan/atau
kegiatan dibidang pengendalian pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup, serta
pengolahan limbah bahan berbahaya dan beracun. Aspek penilaian ketaatan meliputi: izin
lingkungan; pengendalian pencemaran air; pengendalian pencemaran udara; pengelolaan limbah
bahan berbahaya dan beracun (B3); dan potensi kerusakan lahan (khusus untuk kegiatan
pertambangan). Terdapat 5 peringkat dalam sistem pemeringkatan Proper yaitu, Hitam untuk
perusahaan yang dengan sengaja melakukan pencemaran lingkungan. Peringkat Merah adalah
perusahaan yang upaya pengelolaan lingkungannya tidak sesuai dengan persyaratan dalam
peraturan perundang-undangan. Peringkat Biru diberikan kepada perusahaan yang telah melakukan
pengelolaan lingkungan sesuai dengan persyaratan perundang-undangan. Proper hijau diberikan
pada perusahaan yang memiliki system manajemen lingkungan, efisiensi sumber daya dan
melaksanakan pemberdayaan masyarakat. Proper Emas diberikan kepada perusahaan yang
konsisten menunjukkan keunggulan lingkungan hidup dalam proses produksi / jasa, melaksanakan
bisnis yang beretika dan bertanggung jawab terhadap masyarakat.

Proper dilaksanakan dengan pendekatan instrumen informatif, yang mengadopsi pola
insentif dan disinsentif dimana hasil akhir dari penilaiannya akan diumumkan di media masa.
Diharapkan dengan dipublikasikannya hasil penilaian Proper tersebut, maka perusahaan-
perusahaan yang berperingkat bagus akan mendapat simpati dari pihak konsumen dan masyarakat
luas. Begitu juga sebaliknya dengan perusahaan-perusahaan dengan penilaian Proper tidak baik dan
belum mentaati peraturan yang ada akan mendapat disinsentif berupa sanksi administrasi dan
penilaian tidak baik dari kalangan masyarakat, konsumen maupun institusi lainnya, sehingga akan
berpacu untuk memperbaiki kualitas lingkungan hidupnya. Proper juga diharapkan mendorong

42 Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016

perusahaan untuk mencapai keunggulan lingkungan berdasarkan pembangunan yang berkelanjutan
dengan menerapkan system manajemen lingkungan, 3R, efisiensi energy, konservasi sumber daya
alam dan melaksanakan bisinis beretika serta bertanggung jawab terhadap masyarakat.

Pengelolaan Energi
Dilihat dari bahan bakarnya, 50% pembangkit listrik di Indonesia berasal dari batubara,

14% dari bahan bakar minyak dan sisanya sebesar 23 % dari sumber gas [2]. Dominasi penggunaan
energy fosil ikut serta menyumbang peningkatan emisi gas rumah kaca (GRK). Meningkatnya
jumlah pembangunan hotel sebagai fasilitas pendukung pariwisata berbanding lurus dengan
kebutuhan energy listrik di Indonesia, hal tersebut berdampak negative semakin meningkatnya
potensi emisi gas rumah kaca. Secara tidak langsung, budaya penggunaan energy yang berlebihan
dan boros tidak hanya berdampak pada besarnya pembiayaan, tetapi juga berdampak negative
terhadap lingkungan hidup. Penerangan, pendinginan ruang, dan peralatan elektonik pribadi
maupun peralatan listrik dengan beban besar seperti lift, mesin laundry dan lain-lain merupakan
sumber konsumsi energy terbesar di sebuah hotel. Sebanyak 3-6% dari total pembiayaan sebuah
hotel, dihabiskan untuk membayar konsumsi energy [3]. Penggantian sprei dan handuk yang terlalu
sering selain berpengaruh besar dalam konsumsi energy hotel, juga turut serta meningkatkan
pembuangan zat-zat kimia berbahaya di lingkungan. Proper bertujuan mendorong ketaatan industri
terhadap peraturan lingkungan hidup, selain hal tersebut juga mendorong perusahaan untuk
menerapkan prinsip pembangunan yang berkelanjutan salah satunya yaitu efisiensi energy.

Hotel-hotel terbaik di dunia telah melakukan penghematan energy dalam system
pemanasan dan pendinginan ruang [4]. Salah satu strategi pengelolaan energi listrik adalah dengan
penggunaan peralatan pencahayaan hemat energi dan menggunakan teknologi yang mana lampu
dapat menyala dan mati secara otomatis, penghematan penggunaan AC baik di dalam maupun luar
ruang kamar, serta penggunaan energi alternatif berupa energi matahari. Manajemen lingkungan,
semestinya bisa dijadikan sebuah solusi terhadap persoalan lingkungan hidup untuk meminimalisir
dampak negatif yang ditimbulkan akibat pencemaran, khususnya di dalam sebuah industri atau
perusahaan. Manajemen lingkungan di nyatakan dengan adanya komitmen berupa kebijakan,
perencanaan lingkungan, pelaksanaan program kegiatan, pendokumentasian, evaluasi dan
pengawasan, serta partisipasi dari masyarakat. Manajemen lingkungan akan berhasil apabila ada
komitmen dan komunikasi yang baik antara pemerintah, pelaku usaha dan masyarakat yang
terintegrasi di dalam seluruh kegiatan di hotelnya

Kepemimpinan dalam lingkungan kerja
Pemimpin merupakan sosok penentu yang mempunyai tanggung jawab besar dalam

menetukan arah kebijakan dan keberhasilan disebuah organisasi, sehingga diperlukan seorang
pemimpin berkualitas yang bisa membawa organisasi pada tujuannya [5]. Kepemimpinan
merupakan sebuah proses seseorang/individu mempengaruhi kelompoknya dalam mencapai tujuan
tertentu [6]. Terjadinya kerusakan lingkungan oleh dampak kegiatan perusahaan disebabkan tidak
adanya prinsip etika lingkungan, oleh sebab itu diperlukan kepemimpinan yang berwawasan
lingkungan. Sehingga proses kegiatan di dalam perusahaannya tidak hanya berorientasi mencari
keuntungan semata dan merugikan lingkungan dengan melakukan pengelolaan lingkungan yang
baik. Perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi kegiatan di perusahaan yang dilakukan oleh
pemimpin/manajer yang memiliki etika lingkungan akan dilakukan dengan memperhatikan dampak
terhadap lingkungan, misalnya dengan melakukan penghematan energi di tempatnya bekerja.

2. METODE

Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan metode
deskriptif kualitatif dengan melakukan wawancara dan dokumentasi. Subyek dari penelitian ini
adalah sumber daya manusia/pegawai dari Hotel Ciputra Semarang yang memiliki pengetahuan
tentang kegiatan Proper serta Badan Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Tengah selaku instansi
teknis yang bertanggungjawab di bidang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup.

Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016 43

Berdasarkan rekomendasi dari pihak manajemen hotel, maka sebagai informan dalam penelitian ini
adalah SDM Engineering Department sebagai pihak yang menangani kegiatan Proper di hotel
Ciputra Semarang.

3. HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Pelaksanaan kegiatan Proper
Perusahaan-perusahaan yang menjadi target peserta Proper adalah perusahaan-perusahaan

yang menghasilkan produk ditujukan untuk ekspor, tercatat di pasar bursa, mendapat perhatian dari
masyarakat luas baik dari lingkup regional maupun secara nasional dan perusahaan yang skala
kegiatannya menimbulkan dampak penting terhadap lingkungan. Penilaian ketaatan perusahaan
peserta Proper dinilai dari 4 aspek yaitu dokumen lingkungan, pengendalian pencemaran air,
pengendalian pencemaran udara dan pengelolaan limbah B3, dengan perijinan yang merupakan
wewenang dari Pemerintah Kota / Kabupaten. Tercantum di dalam Pasal 63 ayat (2) UUPPLH
disebutkan dengan jelas bahwa salah satu tugas dan wewenang pemerintah provinsi dalam rangka
perlindungan, yaitu melakukan upaya pengawasan dan pembinaan serta melakukan penegakan
hukum di wilayahnya. Pada kegiatan Proper, penilaian dilakukan oleh tim dari KLHK. Selain tim
dari KLHK tersebut, BLH Provinsi juga menjadi tim penilai pada perusahaan peserta Poper dengan
pembagian tugas dan wewenang yang sesuai dengan criteria tertentu. Dalam rangka pembinaan,
BLH Provinsi melakukan pendampingan dan fasilitasi terhadap peserta Proper mengenai
pengelolaan lingkungan hidup, antara lain dengan memberikan sosialisasi mengenai kegiatan
Proper. Dalam pengelolaan lingkungan, perusahaan biasanya terkendala oleh factor biaya dan
komitmen pemilik usaha. Selama ini kegiatan Proper masih bersifat sukarela, akan tetapi
kedepannya semua perusahaan diharapkan masuk kedalam penilaian Proper.

Hotel Ciputra merupakan salah satu hotel peserta Proper di wilayah Jawa Tengah, dengan
mendapatkan predikat Biru pada tahun 2015, sedangkan pada tahun 2013 dan 2014 mendapatkan
predikat Merah. Management hotel Ciputra sebenarnya tidak memiliki standar tertentu dalam
pengelolaan lingkungan hidup, ditambah dengan minimnya bimbingan serta kurang baiknya
komunikasi dengan pemerintah akibat dari tidak adanya pengelompokan jenis usaha dan kurangnya
jumlah pegawai baik dari BLH Provinsi maupun BLH Kota Semarang mengenai pengelolaan
lingkungan hidup sehingga kesulitan dalam mengelola lingkungan hidup yang sesuai dengan
persyaratan dalam aturan perundang-undangan. Namun demikian dengan keterbatasan sumber daya
manusia dan informasi, management hotel Ciputra berusaha untuk melakukan pengelolaan
lingkungan sesuai dengan peraturan yang ada, hal tersebut dibuktikan dengan semakin baiknya
pengelolaan energy listrik pada hotel.

3.2 Pengelolaan lingkungan di Hotel Ciputra
Hotel Ciputra Semarang adalah hotel bintang 5 yang terletak di kota Semarang, dengan

jumlah kamar sebanyak 200 kamar. Dampak negative kegiatan hotel yang sangat mengkhawatirkan
dan mengancam kelestarian lingkungan adalah meningkatnya volume limbah yang berpotensi
mencemari lingkungan. Dilihat dari jenisnya limbah yang dihasilkan oleh hotel antara lain adalah
berupa limbah cair misalnya dari kegiatan laundry, limbah padat domestik dari sisa makanan,
penggunaan energi boros, pencemaran udara dari sistem sirkulasi udara, limbah B3 dari sisa tinta
printer. Keberhasilan Hotel Ciputra tersebut tidak bisa lepas dari peran Chieff Engineer yang telah
melakukan perubahan dalam budaya kerja di hotel serta memberikan edukasi kepada pengunjung
hotel, antara lain dengan memberikan kartu berupa tulisan himbauan yang terdapat pada kamar
mandi hotel tentang penggunaan handuk secara ulang selama menginap di hotel. Himbauan kepada
pengunjung hotel diharapkan agar pengunjung hotel ikut berperan serta membantu dalam
pengelolaan lingkungan hidup. Agar menimbulkan kesadaran untuk menjaga lingkungan,
himbauan tersebut berisikan tulisan yang memberikan pengetahuan kepada penghuni kamar hotel
akan dampak pencemaran terhadap tanah dan air akibat penggunaan detergent yang digunakan saat
mencuci handuk setiap harinya. Dengan peran serta pengunjung hotel, maka hotel Ciputra mampu

44 Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016

meningkatkan kualitas lingkungan hidup di hotelnya tanpa mengurangi kenyamanan pengunjung
hotel.

Gambar 1. Himbauan penggunaan handuk untuk ramah lingkungan di kamar hotel
Budaya pendekatan keleluargaan yang dilakukan oleh Chieff Engineer terhadap karyawan
telah berhasil meningkatkan kesadaran untuk berperilaku hemat energy. Bukan hal mudah bagi
manajemen untuk melakukan penghematan energy listrik di hotel, salah satu cara yaitu dengan
memberikan motivasi berupa pemberian bonus yang besar terhadap karyawan apabila target
penghematan energy terpenuhi. Factor utama yang mempengaruhi keberhasilan penghematan
energy adalah manusia dan energy itu sendiri, dengan 80% dipengaruhi oleh budaya manusia dan
20% penggunaan energy.

Gambar.2. Sticker hemat energy di wilayah kerja staff hotel
Komitmen perusahaan dalam rangka pengelolaan lingkungan hidup yang lebih baik adalah
diwujudkan dengan adanya program risk management serta memberikan alokasi dana yang
dimanfaatkan untuk pengelolaan lingkungan. Salah satu langkah nyata untuk mencapai kualitas
lingkungan hidup yang lebih baik diantaranya adalah penggantian jenis lampu secara menyeluruh
di lingkungan hotel Ciputra. Penggunaan lampu LED sebagai pengganti lampu Flourescent (neon)
adalah salah satu upaya hotel dalam rangka mendukung gerakan hemat energy yang sudah sejak
lama dikampanyekan oleh pemerintah. Selain membantu dalam mengurangi konsumsi energy
listrik, perusahaan juga di untungkan dengan berkurangnya biaya untuk membayar listrik, yang
bersumber dari jaringan PLN. Selain penggantian peralatan boros energy dengan peralatan hemat
energy, pemeliharaan rutin dan berkala sangatlah penting dan berpengaruh terhadap performa
peralatan listrik berdaya listrik besar antara lain seperti lift, pompa air dan AC. Terjadi penurunan

Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016 45

konsumsi daya listrik dari tahun 2012 sampai dengan 2015, menunjukkan bahwa komitmen untuk
mengurangi konsumsi energy listrik telah berhasil dilakukan di hotel Ciputra Semarang.

Table.1. konsumsi energy listrik pertahun

Nomor Tahun Total kWh listrik
1 2012 3,863,000.00
2 2013 3,842,800.00
3 2014 3,651,000.00
4 2015 3,494,880.00

4. KESIMPULAN

Persoalan lingkungan tidak dapat dilihat sebagai suatu yang berdiri sendiri, namun sangat
terkait dengan perilaku manusia terutama dalam memenuhi kebutuhannya. Perubahan perilaku
melalui gaya hidup tentu saja merubah pola ekstraksi sumber daya alam dan energi yang ada.
Proper merupakan instrumen penaatan alternatif yang dikembangkan untuk bersinergi dengan
instrumen penaatan lainnya guna mendorong penaatan perusahaan melalui penyebaran informasi
kinerja kepada masyarakat. Proper mengadopsi pola insentif dan disinsentif, serta pengawasan atas
kinerja perusahaan dengan kriteria penilaian terdiri dari penilaian ketaatan dan penilaian ketaatan
lebih yang diwujudkan dengan adanya dokumen-dokumen lingkungan. Kurangnya informasi,
bimbingan teknis mengenai pengelolaan lingkungan, tidak adanya pengelompokan jenis industry,
ditambah dengan masih minimnya jumlah personil BLH Provinsi maupun BLH Kota,
menyebabkan perusahaan perhotelan kesulitan dalam memenuhi standar pengelolaan lingkungan
sesuai yang ditetapkan. Pengelolaan lingkungan hidup di sebuah perusahaan perhotelan tidak hanya
menjadi tanggung jawab perusahaan semata, namun juga diperlukan kesadaran dari para
pengunjung hotel untuk berperan serta dalam rangka menjaga kelestarian lingkungan hidup.
Efisiensi energy terbukti menguntungkan perusahaan secara ekonomi, disamping itu secara tidak
langsung juga ikut serta mengurangi emisi gas CO2 pada pembangkit listrik. Komitmen, budaya
kerja serta kepemimpinan yang beretika lingkungan menjadi salah satu factor penentu sebuah
perusahaan dalam melakukan pengelolaan lingkungan ke arah yang lebih baik. Penghargaan
terhadap perusahaan yang telah melakukan pengelolaan yang baik sampai saat ini hanya sebatas
wacana saja dan belum dirasakan kenyataannya oleh pengusaha. Untuk mendorong terwujudnya
pembangunan berkelanjutan, perlu adanya komitmen para stakeholder dalam upaya pelestarian
lingkungan, dengan meningkatkan kesadaran para pelaku usaha / kegiatan serta kerjasama
masyarakat untuk mentaati peraturan perundang – undangan dibidang lingkungan untuk
mengurangi dampak negative kegiatan perusahaan terhadap lingkungan hidup.

DAFTAR PUSTAKA

[1] Sulastiyono, A. 2011.Manajemen Penyelenggaraan Hotel. Bandung. Alfabeta.
[2] Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi. Pusat Teknologi Sumber Daya Energi dan Industri

Kimia. 2016. Indonesia Energy Outlook 2016 : Pengembangan Energi untuk Mendukung Industri
Hijau. Jakarta.
[3] Mensah I. 2013. Hotel Energy Efficiency Towards Sustainable Tourism. Journal of Hotel & Business
Management.
[4] Alexander, S., Kennedy,C. 2002. GREEN HOTELS: Opportunities and Resources for Success. Zero
Waste Alliance.
[5] Werren, B., Burt, N. 2006. Leaders Strategi untuk Mengemban Tanggung Jawab. Jakarta. PT.Buana
Ilmu Populer Kelompok Gramedia Jakarta. 3 p.
[6] Northhouse, PG.2003. Leadership: Theory and Practice, 3rd edition. New Delhi. 3 p.

46 Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016

PENGEMBANGAN PRODUK FORMULA KONSORSIUM PENGURAI
LIMBAH CAIR RUMAH TANGGA

Lud Waluyo1, Ainur Rofieq2

1UMM/FKIP Biologi, Malang
2UMM/FKIP Biologi, Malang

Alamat Korespondensi : Jl. Raya Tlogomas 246, Telp/Fax (+620341)464318/Ext 120
E-mail: 1)[email protected] 2)[email protected]

Abstrak
Pertambahan penduduk dan perubahan pola konsumsi masyarakat menimbulkan peningkatan
volume, jenis, dan karakteristik limbah. Banyaknya limbah cair domestik yang memasuki badan
air, menyebabkan berbagai penyakit menular mudah berjangkit. Limbah cair domestik merupakan
sumber mikroba pencemar penyebab berbagai penyakit dan sangat berpotensi menjadi sumber
penularan penyakit oleh patogen yang dibawa melalui air. Konsekuensinya, limbah cair domestik
tersebut harus dikontrol dan diolah terlebih dahulu dengan metode dan teknik pengelolaan yang
berwawasan lingkungan sehingga tidak menimbulkan dampak negatif terhadap kesehatan
masyarakat dan lingkungan. Tujuan penelitian menemukan: a) produk formula konsorsium bakteri
heterotrofik pengurai limbah cair rumah tangga yang paling efektif dalam mendegradasi senyawa
organik, menurunkan COD, TSS, residu deterjen, dan BOD pada limbah cair rumah tangga
secara in vitro, secara in vivo, dan pengujian secara pilot plan, b) produk formula pengurai
limbah cair rumah tangga yang teruji secara baik terhadap komunitas biota air, sehingga limbah
rumah tangga yang berbahaya menjadi ramah lingkungan dan dapat dijadikan pupuk organik.
Target khusus yang ingin dicapai adalah mendapatkan (a) Formula konsorsium bakteri
heterotrofik pengurai limbah cair rumah tangga yang memiliki efektifitas paling tinggi dalam
dalam toleransi deterjen, LAS, antagonistik terhadap patogen, dan kemampuan amilolitik,
proteolitik, dan lipolitik secara in vitro, (b) Formula konsorsium bakteri heterotrofik yang paling
efektif menguraikan limbah cair rumah tangga terbaik dalam mendegradasi senyawa organik,
menurunkan COD, TSS, residu deterjen, dan BOD pada limbah cair domestik secara in vivo.
Metode untuk mencapai target tersebut: (1) Formulasi konsorsium bakteri heterotrofik pengurai
limbah cair rumah tangga secara in vitro, (2) Formulasi konsorsium bakteri heterotrofik pengurai
limbah cair rumah tangga secara in vivo, (3) Uji viabilitas dan stabilitas untuk menguji
konsorsium bakteri heterotrofik bersifat viabel dan stabil. Hasil penelitian menunjukkan: a).
Formula konsorsium inokulum bakteri heterotrofik pengurai limbah cair domestik toleran deterjen
manakah yang memiliki efektifitas paling tinggi dalam mendegradasi senyawa organik dan daya
antagonistik terhadap patogen secara in vitro adalah formula konsorsium ABC, b). Formula
konsorsium inokulum bakteri heterotrofik pengurai limbah cair domestik toleran deterjen yang
paling efektif dalam mendegradasi limbah cair domestik secara in vivo adalah formula konsorsium
ABCD dan konsorsium ABC.

Kata kunci: formula konsorsium, pengurai limbah cair rumah tangga, pengembangan produk

Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016 47

1. PENDAHULUAN
Salah satu upaya penanggulangan limbah cair rumah tangga secara mikrobiologi dengan

memanfaatkan isolat mikroba asli (indigen) potensial. Namun demikian, banyak inokulum pengurai
limbah yang beredar di masyarakat ada beberapa kelemahan, yakni tidak ramah lingkungan
(mengandung mikroba patogen), memiliki khasiat yang tidak konsisten, dosis kurang menyakinkan,
tidak spesifik, dan tidak toleran deterjen [37, 33, 38, 39, 34, 41, 35, 36, 43]. Oleh karenanya
penting untuk mengembangkan produk formula konsorsium pengurai limbah yang ramah
lingkungan.

Isolasi, karakterisasi potensi, dan identifikasi mikroba indigen adalah langkah awal untuk
mendapatkan mikroba unggul yang ramah lingkungan. Proses skrining terhadap isolat mikroba
harus disesuaikan dengan lingkungan mikroba tersebut. Karakteristik potensi isolat dari limbah cair
domestik harus dipilih yang memiliki kemampuan lengkap, yakni toleran deterjen, toleran LAS
(Linear Alkylbenzene Sulfonate), kemampuan mendegradasi senyawa organik, antagonistik
terhadap patogen, dan tidak saling antagonis satu spesies dengan spesies lainnya [1, 2, 5, 6, 8, 10,
17, 26, 27, 44].

2. METODE
Formulasi konsorsium spesies bakteri heterotrofik pada limbah cair rumah tangga secara in

vitro dengan rancangan penelitian mencari formula terbaik pada formula konsorsium inokulum
mikroba pengurai limbah dengan cara menguji konsorsium 4 spesies bakteri heterotrofik dengan
perbandingan 1:1:1:1. Faktor A dengan perlakuan selengkapnya, yakni ABC: konsorsium spesies
ABC, ABD: konsorsium spesies ABD, BCD: konsorsium spesies BCD, dan ABCD: konsorsium
spesies ABCD. Formulasi konsorsium spesies bakteri heterotrofik ini dengan berdasarkan pada
hasil uji-uji sebelumnya. Uji tersebut meliputi uji toleransi deterjen, uji penguraian senyawa
organik, uji antagonistik terhadap patogen, identifikasi isolat sampai dengan tingkat spesies, dan uji
hubungan antarspesies.

Uji formulasi penerapan formula konsorsium limbah cair domestik pada limbah cair domestik
alami secara in vivo dengan penelitian eksperimen yang dilakukan dengan pendekatan metode
laboratorik. Metoda laboratorik dilakukan untuk mencari formula konsorsium terbaik yang bersifat
efektif. Formulasi konsorsium ini dilakukan pada limbah cair sintetik. Uji formulasi konsorsium
antar spesies bakteri heterotrofik dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) Faktorial. Percobaan
menggunakan 20 perlakuan dengan 3 ulangan, sehingga ada 60 satuan percobaan. Parameter
lainnya yang juga diukur adalah Biochemical Oxygen Demand (BOD5), Chemical Oxygen Demand
(COD), Total Suspended Solid (TSS), pH, dan cfu.

Langkah-langkah uji formulasi konsorsium mikroba pengurai limbah cair domestik adalah:
(a) Menyiapkan biakan formula terbaik terdiri 4 spesies terpilih yang didapatkan dari penelitian
sebelumnya yang berumur 24 jam yang akan digunakan sebagai konsorsium, (b) Mengambil
sampel dari berbagai jenis limbah cair domestik dari biotoilet dari inlet IPAL Tlogomas, Malang,
(c) Mensterilkan limbah cair domestik agar makhluk hidup yang ada di dalam limbah semua mati,
(d) Semua parameter diukur setelah limbah disterilkan, yakni kadar amilum, kadar protein, kadar
lemak, COD,TSS, BOD5, deterjen, pH, (e) Pengamatan semua parameter selanjutnya dilakukan
pada hari ke-5, 10, 15, 20, 25, dan 30 hari, (f) Mempertahankan faktor-faktor abiotik agar
bioremediasi berlangsung secara optimum, (g) Mengamati beberapa parameter yang digunakan
untuk uji penguraian karbohidrat, protein, dan lemak serta kemampuan antagonistik terhadap
patogen pada awal dan akhir perlakuan. Setiap pengamatan dilakukan ulangan sebanyak 4 kali,
sedangkan untuk pertumbuhan koloni pengamatan sebanyak 3 kali.

Uji viabilitas dan stabilitas formula konsorsium limbah cair domestik pada limbah cair
domestik. Spesies unggul bakteri heterotrofik yang telah didapat dari penelitian sebelumnya
berdasarkan ciri-ciri morfologi sel dan koloni, serta reaksi fisiologi, dan biokimia. Isolat-isolat yang
telah didapatkan disimpan dalam media yang telah dimurnikan secara terpisah pada tabung media
agar miring. Selanjutnya, isolat-isolat mikroba yang telah disimpan diuji viabilitas dan
stabilitasnya.

48 Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016

3. HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Formulasi Konsorsium Spesies Bakteri Heterotrofik Limbah Cair Rumah Tangga Secara
In Vitro

Tabel 3.1 Formula konsorsium spesies bakteri heterotrofik terhadap berbagai jenis dan
konsentrasi deterjen.

Konsorsium ABC

Jenis deterjen Rerata diameter zona hambat pada konsentrasi deterjen

25% 50% 75% 95%

SCT ‘LX’ 0 0 0 0,01±0,01

SCP ‘RNS’ 0 0 0 0

SC ‘EKN’ 0 0 0 0

PL ‘SKL’ 0 0 0 0

Konsorsium ABD

Jenis deterjen Rerata diameter zona hambat pada konsentrasi deterjen

25% 50% 75% 95%

SCT ‘LX’ 0 0 0 0,03±0,01

SCP ‘RNS’ 0 0 0 0

SC ‘EKN’ 0 0 0 0

PL ‘SKL’ 0 0 0 0

Konsorsium BCD

Jenis deterjen Rerata diameter zona hambat pada konsentrasi deterjen

25% 50% 75% 95%

SCT ‘LX’ 0 0 0 0,03±0,01

SCP ‘RNS’ 0 0 0 0

SC ‘EKN’ 0 0 0 0

PL ‘SKL’ 0 0 0 0

Konsorsium ABCD

Jenis deterjen Rerata diameter zona hambat pada konsentrasi deterjen

25% 50% 75% 95%

SCT ‘LX’ 0 0 0 0,02±0,01

SCP ‘RNS’ 0 0 0 0

SC ‘EKN’ 0 0 0 0

PL ‘SKL’ 0 0 0 0

Keterangan:

x 0 = tidak ada diameter zona hambat; CT ‘LX’ = sabun cuci tangan merk LX; SCP ‘RNS’= sabun cuci pakaian
merk RNS; SC ‘EKN’= sabun colek, merk EKN; PL ‘SKL’= pembersih lantai, merk SKL.

x ABC = konsorsium spesies ABC; ABD = konsorsium spesies ABD; BCD = konsorsium spesies BCD; ABCD =
konsorsium spesies ABCD

x A = Bacillus cereus strain BQAR 01d; B = Bacillus thuringiensis strain MSS-2; C = Bacillus cereus strain JDA-1;
D = Bacillus sp. B31(2008)

Tabel 3.1 menunjukkan sebagian besar konsorsium spesies bakteri, yakni konsorsium ABC,
konsorsium ABD, konsorsium BCD, dan konsorsium ABCD toleran terhadap berbagai jenis dan
konsentrasi produk deterjen. Perlakuan yang ada diameter zona hambat terhadap deterjen hanya
pada jenis deterjen sabun cuci tangan pada konsentrasi 95% saja, sedangkan pada perlakuan sabun
cuci pakaian, sabun colek, dan pembersih lantai diameter zona hambat nol.

Respon terbaik terhadap berbagai jenis dan konsentrasi deterjen yang terbaik dari ke empat
konsorsium spesies mikroba adalah konsorsium ABC, yakni rerata diameter zona hambat = 0,01
cm, kemudian baru konsorsium ABCD = 0,02 cm dan disusul konsorsium ABD dan konsorsium
BCD. Konsorsium ABC terdiri konsorsium 3 spesies mikroba, yakni A= Bacillus cereus strain
BQAR 01d; B = Bacillus thuringiensis strain MSS-2; C = Bacillus cereus strain JDA-1.

Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016 49

Konsorsium spesies bakteri ABC adalah konsorsium yang memiliki toleransi terbaik terhadap
berbagai jenis dan konsentrasi produk deterjen.

Tabel 3.2. Data uji toleransi berbagai konsentrasi LAS pada konsorsium spesies bakteri

heterotrofik asal limbah cair domestik.

Konsentrasi Konsorsium spesies bakteri heterotrofik

LAS/ Pengenceran ABC ABD BCD ABCD
0,06%/ 108
0,08%/ 108 + + + +
0,10%/ 108 + + + +
0,12%/ 108 + + + +
0,14%/ 108 + + + +
1%/ 108 + + + +
5 %/ 108 + + + +
10%/ 108 + + + +
15 %/ 108 + + + +
20%/ 108 + + + +
25 %/ 108 + + + +
30%/ 108 + + + +
100 %/ 108 + + + +
+ + + +

Keterangan :

+ = tumbuh pada konsentrasi LAS
ABC = konsorsium spesies ABC; ABD = konsorsium spesies ABD; BCD = konsorsium spesies BCD; ABCD =

konsorsium spesies ABCD
A = Bacillus cereus strain BQAR 01d; B = Bacillus thuringiensis strain MSS-2; C = Bacillus cereus strain JDA-1;
D = Bacillus sp. B31(2008).
Toleransi LAS adalah suatu istilah kemampuan tumbuh dan tidaknya mikroba dengan adanya paparan surfaktan 0,1%
(w/v).

Tabel 3.2. Notasi Duncan zona hambat formula konsorsium spesies bakteri heterotrofik

toleran deterjen terhadap berbagai patogen (cm).

Rerata diameter zona hambat terhadap patogen (cm)

No Konsorsium Salmonella typhi Shigella dysenteriae Vibrio cholerae Escherichia coli

ABC 2,44±0,07 c 2,64±0,21 b 2,98±0,25 b 2,84±0,30 b

ABD 1,39±0,06 a 1,40±0,21 a 1,18±0,28 a 1,40±0,29 a

BCD 2,03±0,11 b 1,19±0,23 a 1,31±0,24 a 1,39±0,32 a

ABCD 1,29±0,13 a 1,13±0,25 a 1,18±0,23 a 1,24±0,32 a

Keterangan: Huruf yang menyertai angka dalam tabel menunjukkan notasi dari uji Duncan,
nilai yang diikuti oleh huruf yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata pada taraf signifikansi 5%.

Tabel 3.3 Rerata indeks hidrolitik formula konsorsium spesies bakteri heterotrofik toleran

deterjen.

No Konsorsium Rerata indeks hidrolitik

Indeks amilolitik Indeks proteolitik Indeks lipolitik

1 ABC 6,26±0,35 d 5,79±0,37 c 4,56±0,33 b

2 ABD 4,05±0,37 b 2,88±0,47 b 2,25±0,33 a

3 BCD 3,51±0,67 a 1,78±0,42 a 2,33±0,58 a

4 ABCD 5,31±0,40 c 2,64±0,75 b 2,55±0,24 a

Keterangan: Huruf yang menyertai angka dalam tabel menunjukkan notasi dari uji Duncan, nilai yang diikuti
oleh huruf yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata pada taraf signifikansi 5%.

50 Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016

3.2 Uji Formulasi Konsorsium Spesies Bakteri Heterotrofik pada Limbah Cair Domestik
Alami Secara In Vivo

Tabel 3.4. Uji biodegradasi kadar amilum, lemak, protein, COD, TSS, residu deterjen, BOD
pada limbah cair domestik oleh konsorsium bakteri heterotrofik dengan perlakuan
berbagai konsorsium dan lama inkubasi (mg/L).

Konsor Rerata (mg/L)
sium
Amilum Lemak Protein COD TSS Deterjen BOD pH
ABC
24,58±0,16 b 0,83±0,10 a 9,96±0,26 b 75,21±1,44 a 51,0±1,63 ab 2,13±0,01 b 46,58±0,27 b 5,88±0,01 d
ABD
28,17±0,16 c 1,35±0,10 b 14,10±0,26 c 106,13±1,44 b 62,92±1,63 b 3,18±0,01 d 61,67±0,27 c 5,13±0,01 a
BCD
27,79±0,16 c 1,67±0,10 c 14,30±0,26 c 110,13±1,44 b 54,44±1,63 c 2,92±0,01 c 62,05±0,27 c 5,43±0,01 b
ABCD
21,48±0,16 a 1,67±0,10 c 8,91±0,26 a 72,18±1,44 a 47,78±1,63 a 1,74±0,01 a 42,00±0,27 a 5,70±0,01 c

Keterangan: Huruf yang menyertai angka dalam tabel menunjukkan notasi dari uji Duncan,
nilai yang diikuti oleh huruf yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata pada taraf signifikansi 5%.

Perlakuan berbagai konsorsium dan waktu inkubasi telah mampu mereduksi cemaran bahan
organik yang dapat dilihat dari nilai kadar BOD, COD, TSS, deterjen, amilum, lemak, dan protein;
serta mematikan patogen. Menurunnya indikator tersebut menunjukkan bahwa telah terjadi reduksi
atau proses degradasi bahan-bahan cemaran organik yang dilakukan oleh bakteri pendegradasi
pada konsorsium spesies bakteri heterotrofik. Menurut [7, 11, 13, 14, 21, 23, 24, 28], selama
proses pengolahan limbah, bakteri akan melakukan aktivitas metabolisme untuk tumbuh dan
berkembang biak.

Bacillus memiliki ciri Gram positif, bentuk batang, dan anggota Divisio Firmicutes. Genus
ini bersifat aerob obligat atau aerob fakultatif, dan sangat tahan terhadap tekanan kondisi
lingkngan yang ekstrim, karena menghasilkan endospora. Bacillus mempunyai kemampuan
fisiologis tahan terhadap panas, pH, dan salinitas. Spesies dari genus Bacillus mampu
mensekresikan sejumlah enzim yang dapat berfungsi sebagai antibiotik alamiah, misalnya protein
barnase, alpha amilase, protease subtilisin [7, 9, 15, 29, 31, 36]. Kemampuan yang kuat terhadap
kondisi lingkungan yang ekstrim, sebagai salah satu keunggulan formula konsorsium penelitian
ini.

Berdasarkan temuan penelitian menunjukkan biodegradasi amilum, protein, residu deterjen,
dan BOD pada limbah cair domestik alami yang terbesar adalah konsorsium ABCD, sedangkan
konsorsium ABC terbesar untuk parameter kadar lemak dan pH. Penurunan terbesar COD, TSS
adalah pada konsorsium ABC dan ABCD, sedangkan untuk pertumbuhan koloni konsorsium ABC,
ABD, dan ABCD sama besarnya.

Secara ringkas keunggulan dan pengembangan formula konsorsium mikroba pengurai limbah
cair rumah tangga dalam penelitian ini adalah terdiri dari spesies bakteri heterotrofik yang toleran
terhadap berbagai konsentrasi dan jenis produk deterjen, toleran terhadap salah satu surfaktan
deterjen yakni Linear Alkylbenzene Sulphonate (LAS), dapat mematikan patogen, menguraikan
limbah cair domestik lebih cepat, memiliki viabilitas yang lebih tinggi.

4. KESIMPULAN
4.1 Formula konsorsium inokulum bakteri heterotrofik pengurai limbah cair domestik toleran

deterjen manakah yang memiliki efektifitas paling tinggi dalam mendegradasi senyawa organik
dan daya antagonistik terhadap patogen secara in vitro adalah formula konsorsium ABC.

4.2 Formula konsorsium inokulum bakteri heterotrofik pengurai limbah cair domestik toleran
deterjen yang paling efektif dalam mendegradasi limbah cair domestik secara in vivo adalah

formula konsorsium ABCD dan konsorsium ABC.

Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016 51

DAFTAR PUSTAKA

[1] Adesemoye, A.O., Opere B.O., and Makinde S.C.O. 2006, ‘Microbial content of abattoir
wastewater and its contaminated soil in Lagos, Nigeria’, Academic Journal, [Online]
From:http://www.academicjournals.org/AJB/PDF/pdf2006/10Oct/Adesemoye%20et%20al.pdf

[2] Alexander, M. 1994. Biodegradation dan bioremidiation. San Diego, California:
AcademicPress.

[3] American Public Health Association. 2005. Standard Methods for the Examination of Water
and Wastewater, 21st edition. Washington DC.

[4] Amund, O.O., Ilori, M.O., and Odetundun, F.R.1997.’Degradation of commercial detergent
products by microbial populations of the Lagos lagoon’Folia Microbiologica, Vol. 42. Number
4, pp 353-356, [Online] From: http://resources.metapress.com/pdf-
preview.axd?code=4p22514107211077&size=smaller

[5] Atlas, R. and Bartha, R., 1993. Microbial Ecology, Fundamentals and Application, 3rd Edition,
the Benyamin/Cummings Publishing Company Inc., New York.

[6] Atlas, R.M., and Philp, J., 2005. Bioremediation: Applied Microbial Solutions for Realworld
Environmental. Michigan: ASM Press.

[7] Bhatia, C., 2008. Handbook of Environmental Microbiology, Vol. 3. New Delhi: Atlantic.

[8] Boon, N., Goris, J., de Vos, P., Verstraete, and top, E. M., 2000. ‘Biouagmentation of Activated
Sludge by Indigenous 3-Chloroaniline-Degrading Comamonas testosteroni Strain, 12gfp’,
Journal Applied and Environmental Microbiology, [Online] From:
http://www.pubmedcentral.nih.gov/articlerender.fcgi?artid=92090

[9] Boyd, R.F., 1995. Basic Medical Microbiology, Fifth Edition. Boston, New York-Toronto-
London: Little Brow and Company,.

[10] Cirne, D.G., Bjornsson, L., Alves, M., and Mattiasson, B., 2006, ‘Effects of bioaugmentation
by an anaerobic lipolytic bacterium on anaerobic digestion of lipid-rich waste’, Journal of
Chemical Technology and Biotechnology, [Online] dari
http://repositorium.sdum.umnho.pt/bitstream/1822/5863/1/JCTB2006-Cirne%5B2%5D.pdf

[11] Cullum, D.C. 1994. Introduction to Surfactant Analysis, Glasgow: Blackie Academic &
Professional.

[12] Dinas Kominfo Pemkot Kota Malang, 2011. Kondisi Kota Malang: Pemkot Malang

[13] Feachem, R.G., Bradley, D.J., Garelick, H.and Mara,D.D., 1983. Sanitation and Disease :
Health Aspects of Ekcreta and Sullage Management. Chichester – New York – Brisbane –
Toronto –Singapore: John Wiley and Sons.

[14] Fogarty, WM, 1983. Microbial Enzymes and Biotechnology, London and New York: Applied
Science Publisher.

[15] Gerardi, M.H., 2006.Wastewater Bacteria, John Wiley & Sons, Wiley Interscience.

[16] Hadi, A. 2005. Prinsip Pengelolaan Pengambilan Sampel Lingkungan, Jakarta: Penerbit PT
Gramedia Pustaka Utama.

[17] Handayanto, E. dan Hairiah, K., 2007. Biologi Tanah: Landasan Pengelolaan Tanah Sehat,
Yogyakarta: Pustaka Adipura.

[18] Holt, J.G., Krieg, N.R., Sneath, P.H.A, Staley, J,T., and William, S.T., 1994. Bergey’s Manual
of Determinative Bacteriology, Philadelphia: William & Wilkins.

52 Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016

[19] Kato, S., Yoshimura, H., Hirose, K., Amornkitbanrung, M., and Sugahara, I., 2007.

‘Application of microbial Consortium System to Wastewater from Bioddiesel Fuel Generator’

Journal SEEM. [Online] From: http:

//202.44.9.82/Journals/SEEM2007/paper2007/IC/Jutturit_Application.pdf

[20] Kepmen LH, 2003. Keputusan Menteri Negera Lingkungan Hidup Nomor 112 tentang Baku
Mutu Air Limbah Domestik, Jakarta: KLH.

[21] Kurniadie, D., 2011. Teknologi Pengolahan Limbah Cair secara Biologis, Bandung: Widya
Padjadjaran.

[22] Laksmi, J. dan Rahayu,W., 1993. Penanganan Limbah Industri Pangan, Jakarta: Kanisius.

[23] Madigan, M.T., Martinko, J.M., Parker, J. 2003. Brock Biology of Microorganism, New York:
Prentice-Hall International, Inc.

[24] Metcalf and Eddy, 2003. Wastewater Engineering, Treatment Disposal, Re Use, Series Water
Resources and Environmental Engineering, New York: McGraw-Hill Book Co.

[25] Mukono, 2008. Prinsip Dasar Kesehatan Lingkungan, Edisi Kedua, Surabaya: Airlangga
University Press.

[26] Mukred, A.M., Hamid, A.A., Hamzah, A., and Yusoff, W.M.W., 2008.’Development of Three

Bacteria Consortium for the Bioremediation of Crude Petroleum-oil in Contaminated Water’,

diunduh dari Journal of Biological Sciences 8 (4):73-79 ISSN 1608-4217, Science

Publications, Selangor, Malaysia [Online] From:

http://www.scipub.org/fulltext/ojbs/ojbs8473-79.pdf

[27] Ojo, O.A., and Oso, B.A., 2008.’Isolation and characterization of synthetic detergent-

degraders from wastewater’, diunduh dari African Journal of Biotechnology Vol. 7(20), pp

3753-3760, 20 October, 2008ISSN 1684-5315 [Online] From:

http://www.academicjournals.org/AJB

[28] Radojevics, M. and Vladimir, B. N., 1999. Practical Environmental Analysis, The Royal
Society of Chemistry, Cambridge.

[29] Scragg, Alan. 1999. Environmental Biotechnology, Addison Wesley Longman, Singapore,
Ltd.

[30] Sugiharto, 2008. Dasar-dasar Pengelolaan Air Limbah, Jakarta: UI Press.

[31] Suthersan, S.S. and Payne, F.C. 2005. In Situ Remediation Engineering. Boca Raton: Florida
CRC Press, 2000 N. W. Corporate Blvd.

[32] Waluyo, 2004a. Bioremidiasi Limbah Domestik Ramah Lingkungan di Kota Malang: Suatu
Upaya Mengatasi Pencemaran Kawasan Padat Huni. Laporan Program Penelitian Unggulan
(P2U), Universitas Muhammadiyah Malang, Malang.

[33] Waluyo, L. 2000a. Peran Zat Pengurai Limbah “Starbio Plus” dalam Penurunan Bakteri
Indikator Pencemar Air pada Air Limbah Domestik. Laporan Penelitian Bidang Ilmu,
Universitas Muhammadiyah Malang, Malang.

[34] Waluyo, L. 2002. Upaya Mengatasi Pencemaran Air Limbah Domestik oleh Berbagai Jenis
dan Konsentrasi Zat Pengurai Limbah: Sebagai Sumber Pembelajaran tentang Bioremidiasi
dengan Metode Bioteknologi di SMU Laporan Penelitian Bidang Ilmu, Universitas
Muhammadiyah Malang, Malang.

[35] Waluyo, L. 2005. Bioremidiasi Limbah Domestik Ramah Lingkungan: Uji Antagonistik Isolat
Actinomycetes dan Fungi dari Limbah Septic Tank, Comberan, dan Bekas air Mandi terhadap
Bakteri Patogen. Laporan Program Penelitian Unggulan (P2U), Universitas Muhammadiyah
Malang, Malang.

Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016 53

[36] Waluyo, L., 2007. Mikrobiologi Umum. Cetakan ketiga, Malang: UMM Press.
[37] Waluyo, L., 1999. Pengaruh Berbagai Variasi Waktu Kontak EM-4 (Effective Microorganism-

4) terhadap Persistensi Bakteri Indikator Pencemar Tinja, Laporan Penelitian Bidang Ilmu,
Universitas Muhammadiyah Malang, Malang.
[38] Waluyo, L., 2000b. Pengaruh Konsentrasi Zat Pengurai Limbah Starbio Plus terhadap
Penurunan Bakteri Indikator Pencemar Tinja pada Air Limbah RPH (Rumah Pemotongan
Hewan) Gadang. Laporan Penelitian Bidang Ilmu, Universitas Muhammadiyah Malang,
Malang.
[39] Waluyo, L., 2001. Peran EMMA dalam Menghilangkan Bau pada Limbah Domestik, Laporan
Penelitian Bidang Ilmu, Universitas Muhammadiyah Malang, Malang.
[40] Waluyo, L., 2003. Upaya Mengatasi Pencemaran Air Limbah Domestik oleh Berbagai Jenis
dan Konsentrasi Zat Pengurai Limbah: Sebagai Sumber Pembelajaran tentang Bioremidiasi
dengan Metode Bioteknologi di SMU, Laporan Penelitian Bidang Ilmu, Universitas
Muhammadiyah Malang, Malang.
[41] Waluyo, L., 2004c. Bioremidiasi Ramah Lingkungan Berbagai Jenis dan Waktu Kontak Zat
Pengurai Limbah dalam Degradasi Air Limbah Domestik Laporan Penelitian Dosen Muda,
Universitas Muhammadiyah Malang, Malang.
[42] Waluyo, L., 2008. Teknik dan Metode Dasar dalam Mikrobiologi. Cetakan kedua, Malang:
UMM Press.
[43] Waluyo, L., Sujono, dan Hadi, S., 2007. Spesifikasi Produk Inokulum Mikroba Pengurai
Limbah Toleran Deterjen: Upaya Bioremediasi Pencemar Limbah Domestik Ramah
Lingkungan di Kawasan Padat Huni. Laporan Penelitian Hibah Bersaing, Universitas
Muhammadiyah Malang, Malang.
[44] Wind, T., Henkel KgaA. 2007, ‘The Role of detergents in the phosphate-Balance of European
Surface Waters’. J.E-Water. Official Publication of the European Water Association

54 Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016

NILAI EKONOMI KAWASAN TAMAN HUTAN RAYA BUNDER
SEBAGAI PENYIMPAN KARBON DENGAN PENDEKATAN
KARAKTERISTIK KAWASAN

Ikhsan Anshori1

1 Ilmu Lingkungan, Pascasarjana, Universitas Sebelas Maret, Surakarta.
Email : [email protected]

Abstrak

Sumber Daya Alam (SDA) Hutan memiliki kedudukan dan peranan sangat penting bagi kehidupan
manusia. Salah satu penyebab rusaknya hutan di Indonesia adanya paradigma hutan dinilai secara
ekonomi dari hasil kayunya (timber oriented), tetapi secara ekologisnya jauh lebih tinggi dari nilai
ekonomi kayu. Nilai intangible hutan diantaranya adalah peranannya dalam tata kelola air, penyerap
karbon (CO2) dan dan dapat dikembangkan sebagai objek wisata yang potensial. Perlu diketahui nilai
kuantitatif terhadap barang dan jasa yang dihasilkan dari kawasan hutan, serta kajian tentang manfaat
kawasan hutan melalui pendekatan nilai karbon yang tersimpan. Cara tersebut diharapkan efektif dalam
mereduksi pemahaman yang keliru tentang kecilnya nilai ekonomi kawasan hutan konservasi (Taman
Hutan Raya Bunder) dibandingkan dengan bentuk pemanfaatan lainnya. Penentuan nilai ekonomi
sumberdaya alam dapat dilakukan dengan menggunakan data sekunder. Metode yang penilaian ekonomo
kawasan menggunakan pendekatan nilai karbon yang tersimpan dalam areal tersebut. Nilai ekonomi
kawasan Taman Hutan Raya Bunder sebagai penyimpan karbon dengan pendekatan karakteristik tapak
sebesar 123,325 milyar rupiah per tahun.

Keyword : nilai ekonomi, Taman Hutan Raya Bunder, penyimpan karbon.

1. PENDAHULUAN

Sumber Daya Alam (SDA) memiliki kedudukan dan peranan sangat penting bagi kehidupan manusia.
Hutan merupakan SDA yang harus dikelola dan dimanfaatkan secara lestari demi kesejahteraan manusia
baik untuk saat ini maupun pada masa yang akan datang. Salah satu penyebab rusaknya hutan di
Indonesia adanya paradigma bahwa hutan hanya bisa dinilai secara ekonomi dari hasil kayunya (timber
oriented). Hutan masih sekedar dilihat dari sudut nilai tangible berupa produk yang bisa dijual secara
langsung seperti kayu, madu, getah dan sebagainya. Selain itu, masih kuatnya mindset di masyarakat dan
pemangku kebijakan bahwa hutan merupakan penghasil devisa negara yang bisa diperbaharui
(renewable) semakin memicu tingginya laju deforestasi yang ada di Indonesia.
Hutan menghasilkan intangible produk yang apabila dihitung, nilai ekonomi dan ekologisnya jauh lebih
tinggi dari nilai ekonomi kayu. Nilai intangible hutan diantaranya adalah peranannya dalam tata kelola
air, penyerap karbon (CO2) dan dapat dikembangkan sebagai objek wisata yang potensial. Namun saat ini
nilai ekonomi dari sistem plasma nutfah dan sistem ekologi-biologi sebagai produk (nature) dan
jasa/layanan ekosistemnya diabaikan dalam perhitungan pertumbuhan ekonomi. Pengelolaan kekayaan
alam yang tidak disesuaikan dengan karakteristik dan peruntukannya akan mengakibatkan terjadinya
kelangkaan yang berujung pada kemusnahan biodiversity hayati. Apabila kekayaan alam ini musnah
karena pemakaian untuk tujuan lain, maka sifatnya absolut tidak dapat dikembalikan pada posisi ekologi
biologi semula (irreversible) [1].

Kawasan hutan konservasi merupakan bagian kawasan hutan yang cenderung masih alami.
Taman Hutan Raya adalah kawasan pelestarian alam untuk tujuan koleksi tumbuhan dan/atau satwa yang
alami atau bukan alami, jenis asli dan/atau bukan jenis asli, yang tidak invasif dan dimanfaatkan untuk

Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016 55

kepentingan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, menunjang budidaya, budaya, pariwisata, dan
rekreasi [2].

Taman Hutan Raya Bunder terletak di dua wilayah kecamatan, yaitu Kecamatan Playen dan
Kecamatan Patuk, Kabupaten Gunungkidul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Kawasan ini
ditetapkan sebagai Kawasan Pelestarian Alam dengan fungsi Taman Hutan Raya tahun 2014 melalui
Surat Keputusan Menteri Kehutanan Republik Indonesia Nomor : SK.144/Menhut-II/2014 tentang
Penetapan Kawasan Hutan Taman Hutan Raya Bunder Seluas 634,10 Ha. Taman Hutan Raya Bunder
memiliki keunikan yang tidak dimiliki oleh daerah lain, selain itu kekayaan alam hayati serta non hayati
yang dimiliki di kawasan ini sangat beragam berupa flora, fauna, pemandangan dan topografi. Taman
Hutan Raya Bunder merupakan pertemuan tiga ekosistem alami yaitu ekosistem karst (Pegunungan
Seribu) di sebelah timur dan ekosistem lembah (Wonosari) di bagian selatan dan ekosistem gunung tua
purba (Gunung Nglanggeran) di sebelah Utara. Ketiga ekosistem ini telah ditetapkan UNESCO menjadi
kawasan Geopark untuk dapat dikembangkan sebagai Konservasi Paleoekosistem. Keberadaan Taman
Hutan Raya Bunder ini secara langsung memiliki keistimewaan karena berada di transisi 3 (tiga) ekotype
yaitu (a) Karst, (b) Lembah Wonosari, dan (c) kaki gunung Purba Nglanggeran [3].

Pengelolaan kawasan Taman Hutan Raya Bunder hendaknya diselenggarankan secara
menyeluruh dan terpadu. Menyeluruh baik dari segi sosial, ekonomi maupun ekologi dan terpadu
melibatkan pemerintah, akademisi dan masyarakat sekitar. Pengelolaan yang tidak tepat akan
mengakibatkan konflik dan kerusakan ekologi yang tidak dapat dikembalikan seperti semula. Berbagai
kegagalan dalam pengelolaan kawasan hutan telah meningkatkan jumlah kemiskinan, kualitas kerusakan
lingkungan yang terus merosot seperti terjadinya banjir, longsor, kekeringan, bencana alam lainnya
bahkan sering terjadi konflik yang berkepanjangan. Hal ini menunjukan adanya kesalahan strategi
pembangunan hutan yang selama ini dilaksanakan. Faktor penghambatnya adalah krisis ekonomi dan
moneter yang belum pulih dan perencanaan pengelolaan kawasan wisata yang belum optimal. Optimalnya
pengelolaan kawasan Taman Hutan Raya Bunder secara signifikan berpengaruh terhadap pendapatan
finansial masyarakat setempat dan secara luas meningkatkan perekonomian nasional. Dari sisi ekonomi
secara nyata kawasan konservasi mampu menciptakan kegiatan ekonomi dan menciptakan lapangan kerja.

Pemanasan global telah menjadi isu yang menghangat beberapa dekade belakangan ini, hal ini
tidak terlepas semakin terasanya dampak negatif dari pemanasan global tersebut. Dampak yang
ditimbulkan dari pemansasan global dirasakan oleh negara maju maupun negara berkembang. Akibat
dampak yang ditimbulkan dari pemanasan global, maka seluruh negara di dunia sepakat untuk
mengusahakan pencegahan pemanasan global tersebut. Salah satu usaha pencegahan pemanasan global
tersebut adalah penerapan Reducing Emission From Deforestation Degradation (REDD) yaitu
mekanisme pencegahan pemanasan global melalui penyerapan karbon hutan dengan mencegah
deforestasidan degradasi hutan.

Hutan alami merupakan penyimpan karbon (C) tertinggi bila dibandingkan dengan sistem
penggunaan lahan (SPL) pertanian, dikarenakan keragaman pohonnya yang tinggi, dengan tumbuhan
bawah dan seresah di permukaan tanah yang banyak [4]. Kawasan Taman Hutan Raya Bunder dengan
luas 634,10 hektar sebagai hutan memiliki ekosistem hutan yang sempurna. Dengan ekosistem hutan yang
sempurna maka akan mempunyai peran dalam penyerapan karbon sehingga mempunyai pengaruh
terhadap pengurangan tingkat emisi gas rumah kaca yang memicu adanya pemanasan global (global
warming).

Potensi penyerapan karbon yang dimiliki kawasan Taman Hutan Raya Bunder mempunyai nilai
ekonomi yang harus dipandang sebagai suatu jasa (services) yang merupakan barang yang mempunyai
nilai jual. Di dalam ilmu ekonomi, jasa lingkungan seperti udara dan air bersih, tempat tinggal yang bebas
dari kebisingan, serta keindahan alam, harus dipandang sebagai suatu jasa (services) yang merupakan
final product di dalam bundel pilihan ekonomi individu karena hal tersebut memiliki nilai ekonomi yang
signifikan bagi kehidupan manusia [1].

56 Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016

Penentuan nilai ekonomi kawasan Taman Hutan Raya Bunder menggunakan pendekatan nilai
karbon diharapkan dapat mengungkap nilai ekonomi kawasan. Keseluruhan informasi yang didapatkan
akan menjadi referensi dalam pengelolaan khususnya investasi pengembangan kawasan Taman Hutan
Raya Bunder sehinggatujuan pengelolaan kawasanhutanyang berkelanjutan dapat tercapai.

Tujuan penelitian

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui nilai ekonomi kawasan Taman Hutan Raya Bunder
sebagai penyimpankarbondengan pendekatan karakteristik kawasan.

PengertianSumber Daya Alam Hutan

Hutan adalah suatu kesatuan ekosistem berupa hamparan lahan berisi sumber daya alam hayati
yang didominasi pepohonan dalam persekutuan alam lingkungannya, yang satu dengan lainnya tidak
dapat dipisahkan. Kawasan hutan adalah wilayah tertentu yang ditunjuk dan atau ditetapkan oleh
pemerintah untuk dipertahankan keberadaannya sebagai hutan tetap [5]. Hutan adalah ekosistem atau
persekutuan hidup tumbuh-tumbuhan yang membentuk satu unit dengan alam lingkungannya.
Lingkungan alam dalam pengertian ini meliputi hayati (flora, fauna dan manusia) dan non hayati (sinar
matahari, air, udara, dan tanah).

Hutan menurut fungsinya dibagi menjadi tiga yaitu hutan konservasi, hutan lindung, dan hutan
produksi. Hutan produksi adalah kawasan hutan yang mempunyai fungsi pokok memproduksi hasil hutan.
Hutan lindung adalah kawasan hutan yang mempunyai fungsi pokok sebagai perlindungan sistem
penyangga kehidupan untuk mengatur tata air, mencegah banjir, mengendalikan erosi, mencegah intrusi
air laut, dan memelihara kesuburan tanah. Hutan konservasi adalah kawasan hutan dengan ciri khas
tertentu, yang mempunyai fungsi pokok pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa serta
ekosistemnya[5].

Taman Hutan Raya adalah kawasan pelestarian alam untuk tujuan koleksi tumbuhan dan/atau
satwa yang alami atau bukan alami, jenis asli dan/atau bukan jenis asli, yang tidak invasif dan
dimanfaatkan untuk kepentingan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, menunjang budidaya, budaya,
pariwisata, dan rekreasi [4].

Valuasi Ekonomi Sumber Daya Hutan dan Lingkungan
Semua manfaat sumber daya hutan dapat diberikan nilai terhadap masing-masing jasa dari hutan

tersebut. Secara umum, nilai ekonomi dapat didefenisikan sebagai pengukuran jumlah maksimum
seseorang ingin mengorbankan barang dan jasa untuk memperoleh barang dan jasa lainnya. Nilai
merupalan persepsi manusia tentang makna suatu obyek sumber daya hutan bagi individu tertentu pada
tempat dan waktu tertentu [6]. Nilai sumber daya hutan akan berbeda-beda karena adanya persepsi
masyarakat baik berkaitan dengan lokasi yang berbeda maupun cara penilaian atau metode yang
digunakan. Nilai sumber daya hutan sendiri bersumber dari berbagai manfaat yang diperoleh masyarakat.
Masyarakat yang menerima langsung akan menilai persepsi yang positif terhadap nilai sumber daya
hutan, berbeda dengan masyarakat yang tinggal jauh dari hutan dan tidak menerima manfaat secara
langsung. Nilai sumber daya hutan dapat diklasifikasikan menutur cara penilaian dan penentuan besar
nilai yang dilakukan yaitu sebagai berikut[7].

a. Nilai pasar, yaitu nilai yang ditetapkan melalui transaksi pasar.
b. Nilai kegunaan, yaitu nilai yang diperoleh dari pengunaan sumber daya hutan tersebut oleh

individu tertentu.

Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016 57

c. Nilai sosial, yaitu nilai yang ditetapkan melalui peraturan, hukum ataupun perwakilan
masyarakat.

Valuasi ekonomi penggunaan sumberdaya alam hingga saat ini telah berkembang pesat. Di dalam
konteks ilmu ekonomi sumberdaya dan lingkungan, perhitungan-perhitungan tentang biaya lingkungan
sudah cukup banyak berkembang. Secara garis besar metode penilaian manfaat ekonomi (biaya
lingkungan) suatu sumberdaya alam dan lingkungan pada dasarnya dapat dibagi ke dalam dua kelompok
besar, yaitu berdasarkan pendekatan yang berorientasi pasar dan pendekatan yang berorientasi suvey atau
penilaian hipotesis yang disajikan berikut ini [8].

a. Pendekatan Orientasi Pasar
1) Penilaian manfaat menggunakan harga pasar aktual barang dan jasa (actual based market
methods) :
a) Perubahan dalam nilai hasil produksi (change in Productivity).
b) Metode khilangan penghasilan (loss of earning methods).
2) Penilaian biaya dengan menggunakan harga pasar aktual terhadap masukan berupa
perlindungan lingkungan :
a) Pengeluaran pencegahan (averted defensif expenditure methods).
b) Biaya penggantian (replacement cost methods).
c) Proyek bayangan (shadow project methods).
d) Analisis keefektifan biaya.
3) Penggunaan metode pasar pengganti (surrogate market based methods)
a) Barang yang dapat dipasarkan sebagai pengganti lingkungan.
b) Pendekatan nilai kepemilikan.
c) Pendekatan lain terhadap nilai tanah.
d) Biaya perjalanan (travel cost).
e) Pendekatan perbedaan upah (wage differential methods).
f) Penerimaan kompensasi/pampasan.

b. Pendekatan Orientasi Survey
1) Pertanyaan langsung terhadap kemauan membayar (Willingness To Pay).
2) Pertanyaan langsung terhadap kemauan dibayar (Willingness To Accept).

Nilai ekonomi atau total nilai ekonomi suatu sumberdaya secara garis besar dapat dikelompokan
menjadi dua, yaitu nilai penggunaan (use value) dan nilai intrinsik (non use value). Selanjutnya dijelaskan
bahwa nilai penggunaan (use value) dibagi lagi menjadi nilai penggunaan langsung (direct use value),
nilai penggunaan tidak langsung (indirect use value) dan nilai pilihan (option value) [10].

2. METODE

Tempat penelitian ini adalah areal kawasan Taman Hutan Raya Bunder Kabupaten Gunung Kidul Daerah
Istimewa Yogyakarta. Waktu penelitian mulai bulan Agustus 2016. Metode penelitian yang digunakan
dalam penelitian ini adalah menggunakan metode deskriptif kualitatif. Data yang dipergunakan adalah
data sekunder berupa data potensi kawasan Taman Hutan Raya Bunder. Perhitungan nilai ekonomi
Taman Hutan Raya Bunder menggunakan data potensi kawasan yang didasarkan pada jenis tegakan pada
masing masing petak. Perhitungan cadangan karbon dalam suatu areal hutan menggunakan persamaan
sebagai berikut.

C total = Ȉ CPetak

Keterangan:

Ctotal adalah cadangan karbon dalam suatu areal, dinyatakan dalam ton;

Cpetak adalah total cadangan karbon dalam setiap petak, dinyatakan dalam ton.

58 Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016

3. HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Manfaat Kawasan Konservasi Taman Hutan Raya Bunder
Sumber daya hutan banyak memberikan fungsi dan manfaatnya bagi kehidupan manusia di muka

bumi. Beberapa manfaat tersebut tergolong tangible seperti hasil hutan kayu dan non kayu seperti rotan,
tanaman obat, buah, sayuran, binatang dan sebagainya maupun intangible seperti peran dalam tata kelola
air, udara bersih, penyerap karbon (CO2), membantu penyerbukan dan nilai keindahan yang dimiliki
ekosistem hutan sebagai potensi wisata. Kawasan konservasi memiliki 3 (tiga) dimensi manfaat, yaitu
manfaat ekologi yang berarti melestarikan keanekaan hayati dan ekosistemnya, manfaat ekonomi yang
berarti mampu menciptakan peluang dan kesempatan kerja, dan manfaat sosial yang berarti mampu
meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Ragam manfaat yang diberikan kawasan konservasi berhubungan dengan tipe pengelolaan
masing-masing kawasan tersebut, yang sangat bergantung pada spesifikasi tujuan konservasi yang
ditetapkan. Variasi tujuan konservasi dapat berkisar antara lain sebagai berikut.

a. Pemeliharaan dan perlindungan sumber daya lingkungan, jasa dan proses-proses ekologi.
b. Produksi sumber daya alam, seperti kayu dan satwa.
c. Produksi rekreasi dan jasa wisata.
d. Perlindungan benda-benda dan situs sejarah serta budaya; dan.
e. Penyediaan peluang-peluang pendidikan dan penelitian.
Kawasan konservasi sebagai sumber daya memiliki karakteristik sebagai berikut [6].
a. Nonrivalry (tak tersaingi), yaitu : tidak ada persaingan dalam mengkonsumsi jasa-jasa yang

diberikan oleh kawasan konservasi, sebagai contoh konsumsi orang terhadap jasa lingkungan
(udara bersih, keindahan alam) tidak mengurangi jumlah produk dan jasa yang tersedia.
b. Nonexcludability (tidak eksklusif), yaitu masyarakat umum memiliki akses yang terbuka
terhadap sumber daya. Kondisi ini membawa implikasi bahwa produk dan jasa lingkungan
tidak memiliki harga pasar atau untuk mendapat manfaat produk/jasa orang tidak harus
membeli.
c. Off-site Effect (berdampak terhadap lingkungan luar), yaitu manfaat kawasan konservasi
dapat menyebar ke tingkat lokal, nasional, global, seperti manfaat DAS dan hidrologi, udara
bersih, dan produksi oksigen.
d. Uncertainty (ketidakpastian), yaitu: data dan informasi mengenai nilai potensi manfaat pada
umumnya tidak lengkap atau tidak benar sehingga membawa implikasi tidak tepatnya
penentuan kebijakan pengelolaan kawasan konservasi, seperti dalam pengalokasian dana dan
sumber daya manusia.
e. Irreversibility (ketidakpulihan), yaitu apabila kawasan konservasi sudah rusak, maka sangat
sulit untuk dapat pulih kembali. Sedangkan apabila dimungkinkan pulih lagi akan diperlukan
waktu yang sangat lama, bahkan berabad-abad.
Banyak manfaat yang disediakan kawasan konservasi, termasuk taman hutan raya, yang justru
sulit dinilai dalam satuan moneter. Manfaat-manfaat tersebut biasanya merupakan manfaat sosial yang
sering menjadi justifikasi bagi perlindungan terhadap kawasan konservasi. Mengoptimalkan fungsi hutan
merupakan upaya mitigasi perubahan iklim global melalui perannya sebagai pengurangan emisi karbon
hutan, penyerapan CO2 dari atmosfir dan pemeliharaan sediaan karbon.

3.2 Perdagangan Karbon sektor Kehutanan
Dalam konteks perdagangan tentu ada penjual, pembeli dan barang dagangan itu sendiri, yang

diperankan secara berturut turut adalah negara-negara pemilik hutan (penyerap karbon, carbon sink),

Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016 59

negara-negara industri (penghasil karbon, emitor), dan karbon (dalam senyawa CO2). Jual-beli karbon ini
akan dilakukan melalui suatu bentuk skim yang disepakati bersama secara standar internasional dan
sebagai konsekwensinya negara penjual wajib mempertahankan dan menjaga kondisi hutannya.

Pada awalnya timbul rasa ketidakpuasan dan ketidakadilan oleh negara-negara yang masih
memiliki hutan dan umumnya miskin dan berkembang yang merasa selalu ditekan untuk tetap menjaga
hutannya demi kepentingan internasional tanpa memperoleh kompensasi apapun. Di satu sisi negara-
negara ini dipaksa untuk mempertahankan kondisi hutannya agar tetap berfungsi menyerap karbon di
udara sekaligus menjaga karbon yang ada di dalam tanah agar tidak lepas ke udara, tapi di sisi lain
negara-negara industri kaya terus saja melepas CO2 melalui kegiatan industri mereka. Konon sekitar 85%
emisi karbon yang ada di atmosfir berasal dari negara-negara ini. Sudah sepantasnya mereka inilah pihak
yang paling bertanggung jawab dalam menciptakan pemanasan global [12].

Perubahan penggunaan lahan dan kehutanan (Land use change and forestry) merupakan
penyumbang emisi karbon terbesar kedua setelah sektor industri, yaitu menyumbang sekitar 15-20% dari
total emisi dunia. Pada umumnya terdapat 3 (tiga) kategori mitigasi perubahan iklim untuk sektor
kehutanan, yaitu peningkatan manajemen hutan, Aforestasi/Reforestasi, dan menghindari penebangan
hutan dan degradasi hutan (REDD). Dari ketiga kategori tersebut, REDD mempunyai potensi
pengurangan emisi karbon yang paling besar. Melalui mekanisme CDM (yang notabene satu-satunya
mekanisme yang melibatkan negara berkembang dalam Protokol Kyoto), sektor kehutanan dapat berperan
melalui proyek Aforestasi/Reforestasi (A/R CDM).

Aforestasi adalah upaya menghutankan areal yang pada masa 50 tahun lalu bukan merupakan
hutan. Sedangkan reforestasi adalah upaya menghutankan kembali areal yang dulunya pernah menjadi
hutan (dalam hal ini ditetapkan lahan yang sejak 31 Desember 1989 bukan berupa hutan termasuk
kategori ini). Namun demikian, proyek-proyek A/R CDM sampai saat ini hanya sebesar 0.29% dari total
proyek CDM yang ditransaksikan. Pasar CDM didominasi oleh proyek-proyek industri energi 56%,
disusul oleh proyek-proyek dibidang penanganan limbah/sampah 17%, fugitive emission of fuels (6%),
pertanian (5%), dan industri manufaktur (4,8%). Dalam skema voluntary, prosentase proyek sektor
kehutanan lebih besar yaitu sekitar 14.5% dari total nilai transaksi perdagangan karbon voluntary. Proyek
kehutanan dalam skema voluntary diantaranya juga berupa proyek-proyek yang bersifat avoided
deforestation. Pasar karbon sektor Kehutanan kemungkinan besar akan bertambah besar terkait dengan
isu REDD.

Deforestasi sebagian besar disumbang oleh negara-negara berkembang dan setengahnya
dilakukan oleh 2 negara yaitu Brasil dan Indonesia. Mengurangi deforestasi dan degradasi hutan berarti
mengurangi emisi. Dalam perdagangan diperlukan standar untuk menjaga kualitas barang/jasa yang
diperdagangkan. Demikian juga dalam perdagangan karbon diperlukan standar untuk menjaga kualitas
proyek pengurangan emisi karbon/offset karbon yang dihasilkan. Standar CDM yang bersifat mandatory
telah terbentuk dengan mantap sehingga sering jadi acuan dalam penyusunan standar karbon sukarela.
Dalam banyak kasus, pembeli sukarela-karena alasan menghindari resiko-lebih memilih membeli kredit
karbon mandatory. Inilah tantangan bagi pengembang standar karbon sukarela.

3.3 Potensi Karbon Taman Hutan Raya Bunder
Hutan merupakan tempat penyimpanan dan pengemisi karbon. Di permukaan bumi ini, kurang

lebih terdapat 90 % biomassa yang terdapat dalam hutan berbentuk pokok kayu, dahan, daun, akar dan
sampah hutan (serasah), hewan, dan jasad renik [11]. Kawasan Taman Hutan Raya Bunder sebagai
kawasan hutan mempunyai potensi penyerapan karbon (carbon sequestration). Dengan potensi karbon
yang tinggi untuk kawasan hutan di daratan lahan kering seperti di Wonosari merupakan suatu nilai lebih
dari suatu kawasan hutan dalam hal ikut andil dalam penurunan tingkat emisi gas rumah kaca sebagai
penyebab perubahan iklim (climate change).Di kawasan Taman Hutan Raya Bunder terbagi ke dalam 8
petak pengelolaan yaitu sebagai berikut.

60 Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016

Petak 11 memiliki 10 anak petak dengan luas diperkirakan 93,3 ha. Jenis tamanan pada petak ini
didominasi oleh tegakan kayu putih (Melaleuca leucadendron). Tanaman kayu putih yang dimanfaatkan
untuk produksi minyak kayu putih dengan sistem pangkas. Jenis tanaman yang lain adalah mahoni,
kemiri dan gliricidae.

Petak 15 memiliki 5 anak petak dengan luas total kawasan 43,0 ha. Jenis vegetasi yang
mendominasi pada petak ini adalah tegakan kayu putih (Melaleuca leucadendron), hampir mencapai 65,0
%, kemudian tanaman mahoni (Sweitenia macrophila) sekitar 25,0 % sisanya adalah akasia sekitar 10 %
dari luasan seluruh petak.

Petak 19 merupakan kawasan Taman Hutan Raya Bunder yang sangat strategis dan potensial
untuk dikembangkan menjadi kawasan wisata. Jenis tumbuhan yang mendominasi pada areal petak ini
ialah jenis akasia (Acacia auriculiformis), baik secara murni maupun tercampur dengan jenis lain. Di
bagian tengah terdapat beberapa mosaik tumbuhan sesuai dengan kegiatan pengelolaan pada masing-
masing anak petak.Tanaman agroforestry yang dapat dijumpai pada petak ini adalah talok (Grewia sp.),
sukun (Artocarpus cummini), mangga (Mangivera indica), jambu mete (Anacardium occidentale), rumput
dan palawija.

Petak 20 memiliki tanaman dominan jenis kayu putih (Melaleuca leucadendrom) yang
diperkirakan mencapai 38,1 ha atau setara 53,9 % luas petak. Jenis tanaman yang lain adalah mahoni
(Swietenia macrophyla) diperkirakan seluas 20,3 ha atau setara 28,7 %. Terdapat juga tanaman
Glerecidea sp. dengan kondisi rapat pada anak petak 20c seluas 4,2 ha dan tanaman sengon buto (Albizia
sp.) yang rapat seluas 5 ha pada anak petak 20 dengan tahun tanam 1995.

Petak 21 jenis tanaman yang dominan adalah tanaman kayu putih yang diperkirakan seluas 66,55
ha atau mencakup 63 %dari luas. Jenis tanaman lain yang cukup banyak ialah kesambi (Schleichera
oleosa) pada anak petak 20k seluas 17,8 ha atau setara 16,8 % dan tanaman mahoni (Swietenia
macrophyla) seluas 12,6 ha atau setara dengan 11,9 %. Jenis lain yang dapat dijumpai pada petak ini
adalah tanaman akasia. Tegakan kayu putih pada kawasan ini dibiarkan sebagai upaya tindakan
konservatif.

Petak 22 terdapat kebun arboretum yang luasnya sekitar 10,7 ha dan areal penangkaran satwa.
Pada areal arboretum ditanami berbagai jenis Myrtaceae dan berbagai jenis Eucalyptus sp. Arboretum ini
dikelola oleh Balai penelitian dan Pengembangan Departemen Kehutanan. Pada areal penangkaran telah
ditangkarkan rusa yang dikelola oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam DIY.

Petak 23 seluruh wilayahnya ditanami kayu putih (Melaleuca leucadendron), secara keseluruhan
(100 %). Kondisi tegakannya sedang sampai rapat. Kayu putih yang ada tidak dipangkas (tidak
diusahakan untuk produksi daun kayu putihnya).

Petak 24 jenis vegetasi yang tumbuh pada petak ini seluruhnya adalah kayu putih (Melaleuca
leucadendron), untuk produksi dengan sistem pangkas, kerapatan tegakan dari sedang sampai rapat. Pada
petak ini dijumpai pula adanya tumpangsari dengan tanaman agroforestry maupun tanaman palawija.
Dalam perhitungan potensi karbon tersimpan di Taman Hutan Raya Bunder menggunakan asumsi :

a. bahwa setiap petak mempunyai karakteristik dan perkiraan jumlah karbon berbeda.
Perhitungan jumlah karbon menggunakan faktor koreksi 0,90 dimana faktor koreksi
ditentukan didasarkan pada kondisi luas areal terbuka.

b. Estimasi kemampuan penyerapan karbon untuk hutan primer sebesar 263 ton/ha, penyerapan
karbon untuk hutan sekunder sebesar 194 ton/ha dan untuk hutan tersier dan semak belukar
115 ton/ha, dimana untuk menghindari perhitungan yang terlalu tinggi (over estiate), maka
dipergunakan faktor koreksi sebesar 90%.[9].

c. Perhitungan stock karbon hanya didasarkan pada areal yang berupa hutan (tegakan kayu putih,
mahoni, gleresidae dsb.) sebagai hutan sekunder sedangkan untuk aeral lainnya baik
persemaian, padang rumput untuk penangkaran satwa, tegalan, tanah kosong dan bangunan
dianggap 0.

Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016 61

Berdasarkan uraian data potensi karbon tersimpan tersebut dapat dihitung nilai potensi karbon

tersimpan untuk masing-masing petak yang ada di Taman Hutan Raya Bunder. Dari perhitungan yang

dilakukan diketahui jumlah stock karbon tersimpan untuk kawasan Taman Hutan Raya Bunder sebesar

1.027.713,06 ton (lihat Tabel 1).

Tabel 1. Jumlah stock karbon di setiap petak.

No Penggunaan Luas (Ha) Stock Jumlah Stock Nilai Karbon
Karbon Karbon (ton) (US $)
Petak Lahan (ton/ha)

11 Hutan 93,30 194 162901.8 1.629.018,00

Lainnya 0,00 0 0 -

15 Hutan 39,30 194 68617.8 686.178,00

Lainnya 4,10 0 0 -

19 Hutan 98,20 194 171457.2 1.714.572,00

Lainnya 21,30 0 0 -

20 Hutan 68,10 194 118902.6 1.189.026,00

lainnya 2,60 0 0 -

21 Hutan 100,40 194 175298.4 1.752.984,00

lainnya 5,30 0 0 -

22 Hutan 62,50 194 109125 1.091.250,00

lainnya 12,20 0 0 -

23 Hutan 45,70 194 79792.2 797.922,00

lainnya 0,00 0 0 -

24 Hutan 81,11 194 141618.06 1.416.180,60

lainnya 0,00 0 0 -

Total 634,11 1.027.713.06 10.277.130,60

3.4. Nilai Ekonomi Karbon TamanHutan Raya Bunder
Berdasarkan Harga Karbon mengikuti standart Word Bank US $ 10 / per ton tersimpan. Mengacu

pada hal tersebut maka nilai ekonomi potensi karbon tersimpan dapat diketahui yaitu sebesar US $
10.277.130.60. Apabila diasumsikan nilai tukar untuk US$ 1 sebesar Rp12.000,00, maka nilai ekonomi
potensi karbon tersimpan sebesar Rp123.325.567.200,00 (123,325 milyar rupiah) per tahun. Nilai
penyerapan karbon ini merupakan nilai manfaat yang bisa diberikan masyarakat dunia atas kualitas
ekosistemTaman Hutan Raya Bunder sebagai kawasan hutan yang mampu berfungsi sebagai penyerap
emisi CO2. Bagi Taman Hutan Raya Bunder hasil perdagangan karbon dari fungsi penyerapan karbon
merupakan salah satu potensi sumber pendanaan untuk menjaga dan melestarikan keberadaan dan
existensi dariTaman Hutan Raya Bunder.

4. KESIMPULAN

Nilai ekonomi Taman Hutan Raya Bunder dengan pendekatan nilai karbon yang tersimpan sebesar
123,325 milyar rupiah per tahun. Dengan meningkatkan penglolaan Taman Hutn Raya Bunder ini
diharapkan dapat menurunkan emisi gas rumah kaca, yang dapat meningkatkan stok karbon dipermukaan
bumi umumnya dan Provinsi DIY khususnya. Hal ini sesuai dengan komitmen Presiden RI tahun 2009
yang menyatakan komitmen Indonesia untuk menurunkan emisi gas rumah kaca yaitu sebesar 26%
dengan upaya sendiri (business as usual) dan 41% dengan dukungan internasional pada tahun 2020.
Dengan mengetahui potensi karbon tersimpan maka langkah menuju perdagangan karbon international
akan lebih mudah karena Indonesia sebagai negara “penjual karbon” telah memiliki data lengkap terkait
produk yang dijual dalam hal ini potensi karbon. Salah satu cara untuk mengetahui nilai ekonomi potensi
karbon tersimpan dengan melakukan pengukuran dan di penelitian ini menggunakan
pendekatanNDUDNWHULVWLN NDZDVDQ GDQ SHQJJXQDDQ ODKDQ XQWXN PHQJHWDKXL SRWHQVL NDUERQ
WHUVLPSDQ 6HEDJDL XSD\D XQWXN PHQLQJNDWNDQ VHUDSDQ NDUERQ SHUOX GLODNXNDQ NHJLDWDQ 5+/
SDGD EHEHUDSD ORNDVL \DQJ WHUEXND

62 Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016

.
DAFTAR PUSTAKA

[1] Tambunan, M., 2011. Teori dan Aplikasi Ekonomi Sumber Daya Alam dan Lingkungan. Bahan
Ajar Kuliah Ekonomi SDA dan Lingkungan Mahasiswa PPIE Fakultas Ekonomi, Universitas
Indonesia. Jakarta.

[2] Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 2011 Tentang Pengelolaan Kawasan
Suaka Alam dan Kawasan Pelestarian Alam.

[3] Sutarto, 2015. Rencana Pengelolaan Jangka Panjang Taman Hutan Raya Bunder Periode 2016-
2025. Dinas Kehutanan Dan Perkebunan Daerah Istimewa Yogyakarta. Yogyakarta.

[4] Hairiah, K., & Subekti R. 2007. Petunjuk Praktis Pengukuran “Karbon Tersimpan” Di
Berbagai Macam Penggunaan Lahan. World Agroforestry Centre, ICRAF Southeast Asia.

[5] Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan.
[6] Hufschmidt, M. 1993. Teknik Penilaian Ekonomi terhadap Lingkungan. Gadjah Mada

University Press. Yogyakarta.
[7] Suparmoko, M dan Ratnaningsih, M, 2014, Ekonomi Sumber Daya Alam dan Lingkungan.

BPFE-Yogyakarta.
[8] Wiratno, Indriyo, D., Syarifudin, A., dan Kartikasari, A. 2004. Berkaca di Cermin Retak :

Refleksi Konservasi dan Implikasi bagi Pengelolaan Taman Nasional. The Gibbon Foundation
Indonesia, Departemen Kehutanan, Forest Press, PILI-NGO Movement. Jakarta.
[9] Brown K, Pearce DW. 1994. The Causes of Deforestation : The Economic and Statistical
Analysis of the Factor Giving Rise to Loss of the Tropical Forest, University College Press,
London, and the University of British Columbia Press, Vancouver.
[10] Fauzi, A. 2014. Valuasi Ekonomi dan Penilaian Kerusakan Sumber Daya Alam dan
Lingkungan. IPB Press. Bogor.
[11] Arief, A. 2005. Hutan dan Kehutanan. Penerbit Kanisius. Yogyakarta
[12] Boer, Nugroho, Ardiansyah. 2009. Analisis Potensi Perdagangan Karbon Kehutanan dalam
rangka mengatasi Krisis Keuangan. Prosiding seminar hasil-hasil penelitian IPB. Bogor.

Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016 63

IbM PKK PEMBUATAN SIRUP BUAH NAGA

Ika Ratna Hidayati1,Nailis Syifa2, Engrid Juni Astuti3

1,2,3 Prodi Farmasi Universitas Muhammadiyah Malang, Malang

AlamatKorespondensi : Jl. Bendungan Sutami 188-A, Telp/Fax:0341-551149/0341-582060
E-mail: 1)[email protected], 2)[email protected], 3)[email protected]

Abstrak

Kelompok Pendidikan Kesejahteraan Keluarga (PKK) bermula dari Pendidikan
Kesejahteraan Keluarga yang berupaya melibatkan partisipasi dan merupakan program
pendidikan perempuan. Kelompok PKK mitra ini terletak di Desa Sanan Watugede RT I
RW X Kecamatan Singosari dan PKK di Desa Bedali Kecamatan Lawang. Target dari
pengabdian ini adalah melakukan pelatihan pada kelompok PKK terkait pengolahan sirup
dari buah naga dan serbuk instan buah naga. Luaran yang didapatkan dari pengabdian ini
adanya produk sirup buah naga dan serbuk instan buah naga.

Pada awal kegiatan dimulai dengan studi literatur dan membuat buku saku yang
akan dijadikan pedoman peserta selama pelatihan. Setelah buku jadi proses berikutnya
adalah pelatihan terbagi menjadi 4 materi yaitu macam-macam buah naga, manfaat yang
dapat diperoleh dari buah naga terutama sebagai antioksidan, macam-macam sediaan yang
dapat dibuat dari buah naga, serta macam-macam sirup. Untuk pelatihan pembuatan
sediaan dari buah naga dibagi menjadi 2 kegiatan yaitu pembuatan sediaan sirup kering
dan sirup kental.

Untuk pelatihan pembuatan sirup kental dan sirup kering telah dilakukan dan
menghasilkan produk yang diberi nama Indonaga.

Kata kunci: PKK, Buah Naga, Sirup kering, Sirup kental.

1. PENDAHULUAN

PKK (Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga) yaitu sebuah organisasi yang
melibatkan partisipasi perempuan dan laki-laki dalam upaya mewujudkan keluarga sejahtera.
Sasaran Gerakan PKK adalah seluruh Anggota Keluarga yang masih perlu ditingkatkan dan
dikembangkan kemampuan dan kepribadiannya dalam bidang (1) Mental Spiritual, meliputi sikap
dan perilaku sebagai insan hamba Tuhan, anggota masyarakat dan warga negara yang dinamis serta
bermanfaat, berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. (2) Fisik material, meliputi pangan, sandang,
papan, kesehatan, kesempatan kerja yang layak serta lingkungan hidup yang sehat dan lestari
melalui peningkatan pendidikan, pengetahuan dan ketrampilan [1].

Jenis buah naga ada empat yaitu Hylocereus undatus (buah naga daging putih), Hylocereus
costaricencis (buah naga daging super merah), Hylocereus polyrhizus (buah naga daging merah),
Selenicereus megalanthus (buah naga kulit kuning daging putih) [2]. Dari riset yang dilakukan oleh
Marhazlina (2008), peneliti Department of Nutrition and Dietetics Faculty of Medicine and Health
Sciences Universiti Putra Malaysia yang menyatakan bahwa buah naga super merah berpotensi
membantu menurunkan kadar gula darah dan mencegah risiko penyakit jantung pada pasien
diabetes. Buah naga super merah selain dikonsumsi dalam bentuk segar juga diolah menjadi
beberapa produk olahan untuk mempermudah mengkonsumsi. Produk olahan yang paling diminati
adalah sirup buah naga super merah. Sedangkan Keunggulan kulit buah naga super merah
menurut penelitian yang dilakukan oleh Li Chen Wu (2005) adalah kaya polyphenol dan sumber
antioksidan yang baik. Bahkan menurut studi yang dilakukannya terhadap total phenolic konten,
aktivitas antioksidan dan kegiatan antiproliferative, kulit buah naga merah adalah lebih kuat

64 Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016

inhibitor pertumbuhan sel-sel kanker daripada dagingnya dan tidak mengandung toksik [3]. Dari
penelitian yang dilakukan oleh Nurliyana et al (2010) yang menyatakan bahwa di dalam 1 mg/ml
kulit buah naga merah mampu menghambat 83,48 1,02% radikal bebas, sedangkan pada daging
buah naga hanya mampu menghambat radikal bebas sebesar 27,45 5,03 % [4].

Kelompok PKK mitra ini terletak di Desa Sanan Watugede RT I RW X Kecamatan
Singosari dan di Desa Bedali Kecamatan Lawang. Kelompok PKK Desa Sanan Watugede sampai
saat ini beranggotakan kurang lebih 40 orang. Kegiatan PKKdilakukan sebulansekali pada hari
Minggu pada jam 15.30 sampai jam 16.00, Kegiatan PKK dimulai dengan doa kemudian
menyanyikan Mars PKK dan pengumuman dari Kelurahan kemudian dilanjutkan dengan arisan
dan simpan pinjam. Kegiatan yang tidak rutin lainnya adalah mengadakan lomba-lomba misalnya
lomba masak pada hari kartini. Kelompok PKK satunya terletak didesa Bedali RW X Lawang,
dimana anggota dari kelompok PKK RW adalah perwakilan pengurus PKK RT dari RT 1 sampai
RT 7, dengan total kurang lebih 25 orang. Kegiatan PKK desa Bedali yang biasa dilakukan adalah
arisan rutin tiap bulan serta koperasi simpan pinjam, kegiatan ketrampilan melukis kerudung serta
membuat abon dari ayam. Kegiatan yang tidak rutin seperti mengadakan lomba ketrampilan ibu-
ibu serta mengikuti kegiatan penyuluhan di desa. Anggota kelompok PKK di desa Bedali ini rata-
rata adalah ibu rumah tangga dimana kebanyakan tidak berpenghasilan. PKK sebagai organisasi
pemberdayaan perempuan berupaya untuk membina perempuan Indonesia menjadi manusia yang
siap berkarya dan berdaya guna bagi masyarakat, sesuai dengan visi PKK yaitu bekerja untuk
kemajuan dan terwujudnya masyarakat yang mandiri untuk hidup sehat. Untuk itu pengabdi akan
memberikan pelatihan tentang pembuatan sirup buah naga serta serbuk instan buah naga.
Pemberian pembinaan usaha diharapkan dapat meningkatkan jiwa kewirausahaan para anggota
PKK yang nantinya dapat membantu meningkatkan ekonomi masyarakat Indonesia.

2. METODE

Metode pendekatan yang ditawarkan untuk mitra meliputi :
2.1 Tahapan Pemberian Informasi/ Pelatihan

Pemberian informasi / pelatihan tentang tema diatas dilakukan bertahap terhadap anggota
melalui 3 kali pertemuan dengan tujuan memberikan informasi yang diperlukan oleh mitra terkait
tema. Pelatihan diberikan dengan tujuan akan dapat manfaat dari bahan yang digunakan serta
manfaat produk yang dihasilkan. Proses pelatihan di mulai dengan pretest untuk mengetahui
tingkat pengetahuan kader terhadap tema yang akan diberikan. Kemudian memberikan informasi
terkait dengan tema serta bagaimana cara mendesain kemasan produk yang akan dibuat dan
terakhir post test dengan melihat presentasi kader tentang tema sehingga dapat melihat keberhasilan
informasi yang telah kita berikan. Selama pelatihan ini juga telah kita berikan modul untuk
pembuatan sirup dan serbuk instan.

2.2 Pelatihan Pembuatan Sirup Dan Serbuk Instan Buah Naga
Pelatihan pembuatan sirup Buah Naga dilakukan sesuai dengan buku panduan yang telah

kita berikan. Proses pelatihan dilakukan dalam 4 kali pertemuan, dimana 2 kali pertemuan awal kita
berikan materi proses pembuatannya dan 2 kali pertemuan berikutnya adalah membuat 1 produk
setiap pertemuannya. Pelatihan akan dilakukan di rumah salah satu anggota dengan bahan yang
sudah kita persiapkan terlebih dahulu. Hasil akan kita evaluasi dengan melihat karakteristik fisik
sirup dan serbuk instan serta uji kelayakan dengan meminta beberapa warga untuk mencoba rasa
produk yang dibuat.

2.3 Pelatihan Pengemasan Sirup Dan Serbuk Instan Buah Naga
Pengabdi akan melatih anggota untuk mengemas sirup dan serbuk instan yang dibuat serta

desain yang telah dibuat di awal pelatihan sudah kita cetak dan kita gunakan untuk mengemas
produk yang telah dibuat.

Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016 65

2.4 Evaluasi Produk Serta Metode Penjualan Produk
Pelatihan diberikan untuk melihat daya tahan produk yang telah dibuat serta bagaimana

memasarkan produk yang telah dibuat. Kemudian membantu mitra untuk mencarikan pangsa pasar
baru untuk produk yang dihasilkan.

3. HASIL DAN PEMBAHASAN
Pada pelaksanaan kegiatan pengabdian tentang pembuatan sirup kental dan sirup kering dari

bahan dasar buah naga telah dilakukan pada ibu-ibu PKK desa bedali kecamatan lawang dan desa
sanan kecamanatan singosari. Pelatihan tersebut bertujuan agar ibu-ibu PKK mendapatkan
ketrampilan tentang pembuatan sirup kental dan sirup kering dari bahan dasar buah naga yang
banyak terdapat pada perkebunan di daerah lawang.

Pada awal kegiatan dimulai dengan studi literatur dan membuat buku saku yang akan
dijadikan pedoman peserta selama pelatihan dengan judul :

1. Buah naga
2. Pengolahan Buah naga

Setelah buku jadi proses berikutnya adalah pelatihan terbagi menjadi 4 materi yaitu
macam-macam buah naga, manfaat yang dapat diperoleh dari buah naga terutama sebagai
antioksidan, macam-macam sediaan yang dapat dibuat dari buah naga, serta macam-macam sirup.
Untuk pelatihan pembuatan sediaan dari buah naga dibagi menjadi 2 kegiatan yaitu pembuatan
sediaan sirup kering dan sirup kental.

Proses pelatihan di mulai dengan pretest untuk mengetahui tingkat pengetahuan peserta
terhadap tema yang akan diberikan. Kemudian memberikan informasi terkait dengan tema serta
bagaimana cara membuat sediaannya. Pemberian informasi tersebut juga didukung dengan
pemberian booklet terkait materi. Pada proses pemberian pelatihan terhadap peserta, terlihat
antusiasme dari peserta dengan beberapa pertanyaan yang diajukan. Pertanyaan yang diberikan
terkait dengan buah naga. Pertanyaan biasanya didasarkan pada pengalaman peserta ketika
mengkonsumsi buah naga. Dari kegiatan pemberian pelatihan dan pembuatan sirup dalam
penyampaian informasi terlihat bahwa luaran dari pengabdian telah tercapai. Hal ini bisa dilihat
dari kemampuan warga membuat sirup baik sirup kering dan sirup kental. Untuk pelatihan
pembuatan sirup kering dan sirup kental telah dilakukan di kelompok PKK di desa Bedali Lawang
dan Watugede Singosari dan diberi nama produknya Indonaga .

AB

CD

Gambar 3.1 (A, B, C, D) Kegiatan pembekalan dan pelatihan pembuatan sirup buah naga

66 Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016

4. KESIMPULAN
Pelatihan pembuatan sirup buah naga di PKK Bedali Lawang dan Watugede Singosari

mampu memberikan keterampilan baru bagi ibu-ibu PKK.
DAFTAR PUSTAKA
[1] Anonim, 2007. Sejarah PKK, Diambil 28 Januari 2015, http://pkk.cilacapkab.go.id/index.php/

10programpokok.
[2] Cahyono. B., 2009. Buku Terlengkap Sukses Bertanam Buah Naga, Pustaka Mina, Jakarta.
[3] Wahyuni., 2011, Pemanfaatna Kulit Buah Naga Super Merah (Hylicereus costaricensis)

Sebagai Sumber Antioksidan dan Pewarna Alami Pada Pembuatan Jelly (Use Super
Red Dragon Fruit Skin (Hylocereus costaaricensis) As A Source of Antioxidants in
Natural Dyes And Jelly Making), Jurnal Teknologi Pangan Vol.2 No.1.
[4] Putri, N.K.M., Gunawan., I.W.G., Suarsa., I.W., 2015., Aktivitas Antioksidan Antosianin
Dalam Ekstrak Etanol Kulit Buah Naga Super Merah (Hylocereus costaricensis dan
Analisis Kadar Totalnya, JURNAL KIMIA 9 (2), JULI 2015: 243-251. ISSN.

Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016 67

Upaya Konservasi dan Pengelolaan Habitat Penyu Laut melalui Pengembangan Ekowisata
Berbasis Masyarakat

Wahyu Prihanta1, Amir Syarifuddin 2, Ach. Muhib Zainuri3

1Pendidikan Biologi, 2Kehutanan, 3Teknik Mesin
1, 2Universitas Muhammadiyah Malang, 3Politeknik Negeri Malang
[email protected], [email protected], [email protected]

Abstrak

Terdapat tujuh spesies penyu laut di dunia, enam di antaranya ada di Indonesia dan empat spesies yaitu
penyu hijau (Chelonia mydas), penyu blimbing (Dermochelys imbricate), penyu sisik (Eretmochelys
imbricate) dan penyu abu-abu (Lepidochelys olivaceae) diketahui bertelur di Pantai Taman, Kecamatan
Ngadirojo, Kabupaten Pacitan. Setiap jenis penyu diklasifikasikan sebagai terancam, terancam punah, dan
sangat terancam punah. Ancaman terhadap penyu laut meliputi 1) perburuan yang sangat intensif karna
nilai ekonomi telur, daging dan cangkangnya, 2) pembangunan pantai yang berakibat hilangnya habitat
bertelur penyu, 3) lalu-lintas kapal, 4) adanya serangan beberapa pemangsa, dan 5) perubahan iklim.
Upaya untuk menjaga agar keberadaan penyu laut tetap berlangsung telah dilakukan di Pantai Taman,
antara lain: menjaga pantai tempat penyu bertelur, membuat daerah penetasan telur buatan dan membuat
kolam pembesaran tukik sebelum dilepaskan kembali ke lautan. Upaya konservasi penyu terbilang sukses
dengan kegiatan ekowisata sebagai penunjang dananya.

Kata-kata kunci : penyu laut, terancam, konservasi, ekowisata, daerah peneluran.

Abstract

There are seven species of the sea turtles in the world, six of them exist in Indonesia and four of them,
known that are Chelonia mydas, Dermochelys imbricate, Eretmochelys imbricate and Lepidochelys
olivaceae lay eggs in Taman Beach, subdistrict of Ngadirojo, regency of Pacitan. Every sea turtle species
is classified as either vulnerable, threatened, or endangered. Threats to sea turtles include 1) intensive
hunting due to the economic value of their eggs, meats and shells, 2) coastal development which leads to
loss of nesting habitat, 3) boat traffic, 4) facing attack by a variety of predators, and 5) climate change.
Attempts to ensure the continued existence of these sea turtles had been carried out in Taman Beach,
comprising: nesting beach protection, artificial incubation and rearing their juvenils in the beach before
releasing them to the ocean. The conservation of sea turtle had been succesfull with ecotourism as
supporting its fund.

Keywords: sea turtle,endangered, conservation, ecotourism,nesting beaches.

I. PENDAHULUAN

Penyu merupakan kelompok hewan purba saat ini dalam kondisi semakin mendekati kepunahan.
Hal ini disebabkan karena sebagian orang menganggap penyu adalah salah satu hewan laut yang
memiliki banyak kelebihan. Selain tempurungnya yang dapat digunakan untuk cenderamata,
dagingnya dikonsumsi karena dianggap berkhasiat untukobatdanramuan kecantikan. Meski sudah ada
PP No. 7 tahun 1999tentang “Peles-tarian Jenis Tumbuhan dan Satwa” - yang melindungi semua jenis
penyu; perburuan terhadap hewan yang berjalan lamban ini terus berlanjut. Untuk mencegah
kepunahan penyu, terutama penyu belimbing, telah dilakukan beberapa upaya untuk melindungi tempat
bertelur penyu.

Keberadaan penyu perlu dilindungi, hal ini dikarenakan: a) Penyu merupakan peninggalan
hewan purba yang telah mendekati kepunahan; b) Perkem-bangbiakan penyu sangat lambat, namun
mampu hidup ratusan tahun, hanya sekitar 1 dari 1000 telur yang dihasilkan berhasil hidup
dewasa, c) Penyu dapat dikembangkan sebagai aset wisata sehingga akan mendatangkan keuntungan
langsung melalui penjualan tiket

68 Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016

maupun keuntungan tidak langsung, seperti halnya akan dibelinya suvenir wisata. Pengembangan wisata akan
mampu menjadi daya tarik wisata asing mengingat penyu merupakan hewan langka tingkat dunia; dan (4)
bagi pemerintah daerah perlindungan penyu akan meningkatkan image nasional maupun internasional di
bidang konservasi.

Pantai Taman di Desa Hadiwarno Kec. Ngadirojo Kab. Pacitan memiliki keindahan laut dan
sumberdaya alam yang cukup besar. Berdasarkan pengamatan pada rentang 10 tahun terakhir, terdapat 4 jenis
penyu yang ditemukan mendarat di sepanjang Pantai Pacitan yaitu penyu hijau (Chelonia mydas), penyu
blimbing (Dermochelys imbricate), penyu sisik (Eretmochelys imbricate) dan penyu abu-abu (Lepidochelys
olivaceae). Selama ini pariwisata dikelola dengan mengandalkan keindahan pantai yang ada, belum dilakukan
pengem-bangan wisata dari sumber daya kelautan yang lain. Pengembangan konservasi penyu sangat
mungkin diunggulkan, karena satwa penyu merupakan satwa langka dunia sehingga perlindungan penyu akan
sangat mungkin dapat menggaet perhatian dunia internasional.
II. SUMBER INSPIRASI
RPJMD Kab. Pacitan 2011-2016, menetapkan visi: “terwujudnya masyarakat pacitan yang sejahtera”.[1] Misi
ke-4 dan ke-5 yang ditetapkan Pemkab Pacitan untuk mencapai visi tersebut adalah: Meningkatkan
pertumbuhan dan pemerataan ekonomi yang bertumpu pada potensi unggulan dan Pembangunan
infrastruktur yang berkelanjutan dalam rangka pemenuhan kebutu-han dasar. Strategi pembangunan Kab.
Pacitan yang relevan dengan pelaksanaan Pengabdian Kepada Masyarakat (PPM) skim Ipteks bagi Wilayah
(IbW) diimplementasikan melalui arah kebijakan: Mewujud-kan pengelolaan sumberdaya alam yang
berwawasan lingkungan, meliputi: peningkatan konservasi di kawa-san budidaya, pemantapan kawasan
lindung, dan peningkatan kesadaran masyarakat untuk mencintai lingkungan. Pengembangan sektor
pariwisata di Kab. Pacitan (gbr. 1) dibagi ke dalam 4 kawasan pengembangan pariwisata (KPP), di mana
KPP C, meliputi Kec. Kebonagung, Kec. Tulakan, Kec. Ngadirojo, dan Kec. Sudimoro. Wisata andalan
adalah wisata pantai (pantai Taman dan pantai Desa Sidomulyo).[2]

Gambar 1. Peta rencana KPP Kabupaten Pacitan
Perlindungan penyu di Pantai Taman Desa Hadiwarno, Kec. Ngadirojo, Kab. Pacitan dirasa
mendesak sebab: 1) Pembangunan PLTU di Kec. Sudimoro telah memusnahkan lokasi pantai untuk
peneluran, sehingga saat ini ada peningkatan signifikan penyu bertelur di Pantai Taman; dan 2) Faktor lain
yang mendukung pengembangan wisata konservasi penyu adalah dengan adanya pengembangan Jalur Lintas
Selatan atau JLS (Banyuwangi hingga Yogyakarta) merupakan jalur wisatawan Bali ke Yogyakarta (gbr. 2).
Jika kegiatan konservasi penyu untuk wisata di Pantai Taman Desa Hadiwarno, Kec. Ngadirojo ini
terealisasi, akan menjadikan embrio pengembangan wisata bahari di Kab. Pacitan.

Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016 69

Gambar 2. Perpindahan lokasi penyu bertelur

Paradigma konservasi modern saat ini tidak hanya menekankan pada fungsi perlindungan
(konservasi), namun harus menyentuh juga manfaat ekonomi dan sosial. Untuk itu konservasi penyu
diharapkan akan dapat meningkatkan perekonomian warga dengan dikembangkannya konsep ekowisata pada
kegiatan PPM skim IbW dengan tema konservasi dan ekowisata di Kec. Ngadirojo, Kab. Pacitan ini. Tiga
poin penting pada pengembangan ekowisata berbasis masyarakat adalah: 1) Melakukan perlindungan penyu
sebagai aset wisata; 2) Pembangunan kawasan ekowisata yang sebagian hasilnya untuk konservasi; dan 3)
Pengem-bangan ekowisata bersama masyarakat baik perencanaan, pelaksanaan, modal dan sharing hasil
sehingga masyarakat akan ikut berkembang secara ekonomi dan sosial, selanjutnya akan merasa ikut
memiliki sehingga semakin kuat kesadaran terhadap konservasi penyu.

A. Pantai Taman sebagai Lokasi Konservasi

Sifat fisik wilayah Pantai Selatan Jawa umumnya memiliki kontur yang curam. Kondisi topografi
berupa kombinasi antara dataran rendah (pantai), bukit dan pegunungan. Pantai taman yang terletak di Pantai
Selatan Jawa sudah sejak lama dikenal sebagai tempat peneluran penyu dapat dikatakan termasuk jenis pantai
berpasir halus. Pantai berpasir dicirikan oleh ukuran butiran sedimen halus dan memiliki tingkat bahan
organik yang tinggi. Pantai ini banyak dipengaruhi oleh pasang surut yang mengaduk sedimen secara
periodik. Interaksi organisme dengan sedimen dan pengaruh evaporasi perairan sangat tinggi di
lingkungannya. Faktor fisik yang berperan penting mengatur kehidupan di pantai berpasir adalah gerakan
ombak. Gerakan ombak mempengaruhi ukuran partikel dan pergerakan substrat di pantai. Gerakan ombak di
Pantai Taman pada umumnya kecil dikarenakan adanya sejumlah palung laut. Hal ini ditandai dengan ukuran
partikel pasirnya yang halus.

Pengaruh ukuran partikel terhadap organisme yang hidup pada pantai berpasir halus adalah pada
penyebaran dan kelimpahannya. Butiran pasir yang halus mempunyai retensi air yang mampu menampung
lebih banyak air di atas dan memudahkan organisme untuk menggali. Gerakan ombak dapat pula
mengakibatkan partikel-partikel pasir atau kerikil menjadi tidak stabil sehingga partikel-partikel substrat akan
terangkut, teraduk, dan terdeposit kembali. Karena kondisi di lapisan permukaan sedimen yang terus menerus
bergerak, maka hanya sedikit organisme yang mempunyai kemampuan untuk menetap secara permanen
sehingga inilah yang menyebabkan pantai seperti terlihat tandus.

Adanya spesies penyu yang mendiami Pantai Taman (gbr. 3) karena masih seimbangnya rantai
makanan. Mulai dari adanya padang lamun sebagai penyedia makanan bagi detritus sampai penyu hijau
sebagai konsumen utama. Meskipun letak padang lamun di Pantai Taman tidak berdekatan dikarenakan
kontur pantai yang curam tetapi suplai makanan untuk penyu hijau terpenuhi. Hal ini dibuktikan dengan masih
adanya penyu yang bertelur di daerah ini. Hal ini didasarkan pada pola hidup penyu yang hanya mendarat di
pantai yang berpasir halus kaya akan nutrient untuk tempat menetaskan telurnya. Keadaan ini kemudian
didukung oleh kondisi pantai yang berhubungan langsung dengan Samudera Hindia yang memudahkan penyu
bermigrasi.

70 Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016

Gambar 3. Penyu Belimbing di Pantai Taman
B. Tahapan Konservasi Penyu di Pantai Taman

Berbagai macam penyu di Pantai Taman dikenal dengan nama lokal oleh masyarakat setempat yaitu
penyu pasiran, pasiran kebu dan lain-lain. Pengamatan secara ilmiah dilakukan oleh Tim IbW antara 2001
hingga 2013. Hasilnya, ada 4 jenis penyu (dari 7 jenis penyu dunia) yang pernah mendarat di Pantai Taman,
Desa Hadiwarno, Kec. Ngadirojo, Kab. Pacitan, yaitu: penyu sisik (Eretmochelys imbricata), penyu abu-abu
(Lepidochelys olivacea), penyu hijau (Chelonia mydas), dan penyu blimbing (Dermochelys coriacea).

Pengamatan etnozoologi penyu di Pantai Taman oleh tim IbW pada 2005 menunjukkan bahwa
penyu oleh masyarakat dianggap ikan sehingga ditangkap dan diperjualbelikan secara bebas. Beberapa
masyarakat pernah mendengar tentang perlindungan penyu (sea turtle rescue) namun tidak pernah ada
penindakan oleh pihak berwenang di Pantai Taman. Masyarakat juga mengenal mitos tentang penyu sebagai
hewan yang memiliki nilai mistis (malati), sehingga tidak semua orang berani menyembelihnya.

Pada Desember 2013, Tim IbW mengadakan sosialisasi program konservasi penyu untuk wisata
pada masyarakat Dusun Taman. Pada saat itu disepakati pembentukan kelompok masyarakat penyelamat
penyu untuk wisata (KMP2W), yang kemudian berubah nama menjadi Kelompok Masyarakat Konservasi
Penyu untuk Wisata (KMKPW) “Taman Ria” (gbr. 4). Selanjutnya dilakukan kampanye perlindungan penyu
di sekolah dan masyarakat oleh tim IbW. Dukungan dari Pemda ditunjukkan dengan sering hadirnya Bupati
Pacitan ke lokasi konservasi penyu Pantai Taman. Dukungan Desa Hadiwarno diwujudkan dengan dise-
rahkannya lahan negara seluas 10 ha untuk pengem-bangan kawasan konservasi penyu (Perdes No.7 Tahun
2012).

Tahap berikutnya disepakati bersama arah pengembangan konservasi penyu untuk ekowisata. Pada
tahap ini mulailah dibangun flying fox terpanjang di Indonesia sepanjang 475 m untuk pembiayaan
konservasi penyu dan kampanye konservasi penyu di Pantai Taman. Seluruh aktifitas pengembangan
konservasi penyu disepakati dalam kerangka besar dengan nama “Konservasi Penyu melalui Pengem-bangan
Ekowisata Berbasis Masyarakat di Desa Hadiwarno Kec. Ngadirojo Kab. Pacitan”.

Gambar4.KMKPWdi PantaiTaman

Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016 71

`Tiga poin penting pengembangan ekowisata berbasis masyarakat adalah: 1) Melakukan
perlindungan penyu sebagai aset wisata; 2) Pembangunan kawasan ekowi-sata yang sebagian hasilnya
untuk kegiatan konservasi; dan 3) Pengembangan ekowisata bersama masyarakat baik perencanaan,
pelaksanaan, modal dan sharinghasil sehingga masyarakat akan ikut berkembang secara ekonomi dan sosial,
selanjutnya akan merasaikut memiliki sehingga semakin kuat kesadaran terhadap konservasi penyu.
III. METODE KEGIATAN
Saat ini kesadaran akan konservasi penyu mulai meningkat. Terbitnya UU No. 31 tahun 2004 tentang
Perikanan dan PP No. 60 tahun 2007 tentang Konserva-si Sumberdaya Ikan membawa nuansa baru dalam
pengelolaan konservasi penyu. Perdes No.7 Desa Hadiwarno Tahun 2012 dikeluarkan untuk mencegah
kepunahan penyu Pantai Taman yang ditetapkan sebagai wilayah konservasi. Akan tetapi pemberian status
perlindungan saja jelas tidak cukup untuk memulihkan atau setidaknya mempertahankan populasi penyu.
Pengelolaan konservasi yang komprehensif, sistematis dan terukur mestinya segera dilaksanakan,
diantaranya dengan cara memberikan pengetahuan teknis tentang pengelolaan konservasi penyu bagi pihak-
pihak terkait khususnya bagi masyarakat di Pantai Taman.

Tujuan konservasi adalah untuk memberikan penge-tahuan dan pemahaman kepada masyarakat
tentang kehidupan penyu dan hal-hal yang terkait dengan keberadaan penyu. Oleh karena itu, tim IbW telah
melakukan beberapa kegiatan antara lain sebagai berikut.
o Pendidikan Masyarakat

Berupa kegiatan penyuluhan yang bertujuan untuk meningkatkan pemahaman tentang penyu secara
lengkap meliputi aspek biologi, ekologi serta upaya-upaya pengelolaan dan konservasinya (gbr. 5).

Gambar 5. Pendidikan konservasi penyu
o Difusi Ipteks

Kegiatan yang telah dilakukan adalah 1) Pembuatan daerah penetasan telur (hatcheries), 2) Pembuatan
kolam pembesaran tukik (gbr. 6), dan 3) Pengem-bangan fasilitas wisata konservasi penyu terpadu.

72 Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016

Gambar 6. Kolam pembesaran tukik
o Pelatihan

Kegiatan berupa teknik pengelolaan konservasi penyu (gbr. 7), antara lain: a) teknis pemantauan penyu
bertelur dan penetasan telur secara alami, b) teknis penangkaran (mulai dari kegiatan pemindahan telur,
penetasan semi alami, pemeliharaan tukik hingga pelepasan tukik), c) teknik monitoring atau pemantauan
penyu (meliputi pemantauan terhadap telur dan sarang telur, tukik dan penyu yang bertelur), d) teknik
pembinaan habitat (meliputi teknik pembinaan habitat alami dan teknis pembinaan habitat semi alami), dan
e) teknik pengelolaan wisata berbasis penyu.

Gambar 7. Penetasan tukik di area konservasi
A. Pembuatan Daerah Penetasan Telur

Pembuatan daerah penetasan telur (hatcheries) dilakukan di daerah supratidal (gbr. 8). Hal ini
dilakukan untuk menghindari sapuan (flushing) air laut pada siklus hari-hari bulan mati atau bulan purnama
agar suhu sarang buatan tetap stabil. Kestabilan suhu sarang merupakan faktor penentu keberhasilan
penetasan telur dengan harapan terjadi tingkat penetasan telur yang tinggi (high of hatching rates). Di
samping itu, lama antara peneluran yang satu dengan peneluran berikutnya (interval peneluran) dipengaruhi
oleh suhu air laut. Semakin tinggi suhu air laut, maka interval peneluran cenderung makin pendek. Sebalik-
nya semakin rendah suhu air laut, maka interval peneluran cenderung makin panjang.

Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016 73

Gambar 8. Tempat penetasan telur

Pembuatan tempat penetasan telur penyu sudah dengan memperhatikan faktor pertumbuhan embrio
yang sangat dipengaruhi oleh suhu. Embrio akan tumbuh optimal pada kisaran suhu antara 24–33 oC, dan
akan mati apabila di luar kisaran suhu tersebut. Kondisi lingkungan yang sangat mempengaruhi pertumbuhan
embrio sampai penetasan, adalah sebagai berikut.[3]
o Suhu pasir. Semakin tinggi suhu pasir, maka telur akan lebih cepat menetas. Pengamatan terhadap telur

penyu hijau yang ditempatkan pada suhu pasir berbeda menunjukkan bahwa telur yang terdapat pada suhu
pasir 32 oC menetas dalam waktu 50 hari, sedangkan telur pada suhu pasir 24 oC menetas dalam waktu
lebih dari 80 hari.
o Kandungan air dalam pasir. Diameter telur sangat dipengaruhi oleh kandungan air dalam pasir. Makin
banyak penyerapan air oleh telur dari pasir menyebabkan pertumbuhan embrio makin besar yang berakibat
diameter telur menjadi bertambah besar. Sebaliknya, pasir yang kering akan menyerap air dari telur karena
kandungan garam dalam pasir lebih tinggi. Akibatnya embrio dalam telur tidak akan berkembang dan mati.
o Kandungan oksigen. Oksigen sangat dibutuhkan untuk pertumbuhan embrio. Air hujan yang menyerap ke
dalam sarang ternyata dapat menghalangi penyerapan oksigen oleh telur, akibatnya embrio akan mati.

Embrio dalam telur akan tumbuh menjadi tukik yang mirip dengan induknya. Masa inkubasi yang
dilewati kurang lebih 2 bulan. Identifikasi tukik berdasarkan bentuk luar (morfologi) setiap jenis (terdiri dari 4
jenis penyu yang dijumpai di Pantai Taman dari 7 jenis yang ada di dunia) ditunjukkan pada Tabel 1.

TABEL 1. CIRI MORFOLOGI TUKIK

No. Jenis Penyu Ciri-Ciri Morfologi

1 Penyu sisik Memiliki 4 pasang sisik
(Eret- lateral “lateral scute”,
mochelys karapas berbentuk
imbri-cata) genteng.

2 Penyu hijau Karapas melebar,
(Che-lonia berwarna kehitaman
mydas)

3 Penyu abu- Karapas mirip dengan

abu tukik Chelonia mydas

(Lepidochelys tetapi bentuk-nya

olivacea) memanjang

4 Penyu Karapas berbentuk buah

blimbing belimbing dan berwarna

(Dermochelys hitam

coriacea)

74 Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016

B. Pembuatan Kolam Pembesaran Tukik
Setelah menetas tukik seharusnya secara mandiri dibebaskan untuk menuju ke laut. Tetapi

kadangkala diperlukan penyelamatan tukik yang masih lemah, karena pada saat di laut tukik akan berenang
atau terombang-ambing dibawa arus laut sehingga dapat dengan mudah dimangsa predator. Penyelamatan
tukik dilakukan dalam kolam pembesaran tukik (gbr. 5). Tukik dari hatcheries diperlihara dalam bak-bak
budidaya sampai mencapai ukuran tertentu (berumur 2–3 bulan).

Langkah-langkah pembesaran tukik adalah sebagai berikut.[4]
o Setelah telur penyu menetas, tukik-tukik dipindah-kan ke kolam pembesaran yang berbentuk persegi

panjang terbuat dari keramik. Ketingian air dalam bak pemeliharaan dibuat berkisar antara 5–10 cm,
mengingat tukik yang baru menetas tidak mampu menyelam. Suhu air yang cocok untuk tukik adalah
sekitar 25 oC.
o Selama pemeliharaan tukik diberi makan secara rutin dan jika ada yang sakit dipisahkan agar tidak
menular kepada tukik yang lain. Pemberian pakan tukik dilakukan dalam wadah bak dilapisi plastik dalam
ukuran besar. Langkah-langkah pemberian pakan adalah sebagai berikut.
í Jenis pakan yang digunakan adalah ebi (udang kering/geragu) dan sesekali diberi pakan daging ikan

cacah. Sesekali dapat diberikan sayuran seperti selada atau kol. Umumnya tukik belum mau makan 2 –
3 hari setelah penetasan. Nafsu makan tukik sangat besar pada umur lebih dari 1 tahun, akan tetapi
jangan terus diberi makan.
í Pakan diberikan 2 kali sehari sebanyak 10-20% dari berat tubuh tukik dengan cara menyebarkan secara
merata. Waktu pemberian pakan adalah pagi dan sore hari.
o Kondisi air dalam kolam pemeliharaan harus sering diperhatikan, baik kuantitas maupun kualitasnya.
í Air dalam bak pemeliharaan dapat kotor akibat dari sisa-sisa makanan atau kotoran tukik. Air yang
kotor dapat menimbulkan berbagai penyakit yang biasa menyerang bagian mata dan kulit tukik.
í Lakukan pergantian air sebanyak 2 kali dalam sehari sesudah waktu makan. Air dalam bak
pemeliharaan harus selalu mengalir atau gunakan alat penyaring ke dalam pipa air bak pemeliharaan.
o Perawatan tukik. Tukik-tukik di dalam kolam pemeliharaan seringkali saling gigit sehingga terluka.
Pisahkan dan pindahkan segera tukik yang terluka ke kolam karantina. Bersihkan lukanya dengan larutan
KMnO4 (kalium permanganat) di kolam kolam karantina.
C. Pembangunan Fasilitas Wisata Konservasi

Pengembangan fasilitas wisata konservasi penyu terpadu oleh tim IbW dilakukan setelah
pelaksanaan kegiatan konservasi sudah berjalan. Kegiatan pengem-bangan fasilitas wisata yang sudah
dilakukan adalah sebagai berikut.
o Pembangunan pusat informasi penyu. Bangunan ini digunakan sebagai kantor, gudang, dan ruang

pertemuan (gbr. 9). Gedung berfungsi sebagai pusat informasi kawasan wisata terpadu. Gedung dilengka-
pi pagar kawasan wisata konservasi terpadu, gerbang kawasan konservasi, jalan penghubung antar wahana
(gbr. 6) dan kolam renang air tawar sekaligus berfungsi sebagai penyedia air untuk mengairi tanaman
Arboretum plasmanutfah.

Gambar 9. Gedung pusat informasi penyu

Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016 75

o Pembangunan flying fox terpanjang nasional 367 m. Desain pengelolaan konservasi penyu yang baik
membutuhkan adanya dukungan infrastruktur yang ekstensif, pembinaan kapasitas dan pembiayaan yang
tinggi. Pembangunan flying fox (gbr. 10) ber-fungsi untuk menarik wisatawan datang berkunjung sekaligus
membantu upaya konservasi dan untuk kampanye konservasi penyu secara nasional maupun internasional.

Gambar 10. Uji coba flying fox di Pantai Taman
IV. KARYA UTAMA

Untuk mengidentifikasi dan mengevaluasi kondisi Desa Hadiwarno dengan Pantai Tamannya sebagai
areal konservasi dan ekowisata, digunakan beberapa kriteria. Beberapa kriteria tersebut berupa: 1) Penilaian
terhadap penetapan ekowisata di Pantai Taman, dan 2) Bagai-mana konsep pengelolaan ekowisata berbasis
penyu dengan tetap memperhatikan perlindungan terha-dap kelestarian lingkungan, dampak negatif minimum,
kon-tribusi terhadap ekonomi lokal, dan pemberdayaan masyarakat setempat. Berdasarkan hasil observasi
yang menggunakan kriteria tersebut diperoleh hasil sebagai berikut.
A. Ekowisata di Pantai Taman

Ekowisata adalah perjalanan dan kunjungan ke ling-kungan alam yang relatif masih asli, yang
dilakukan secara bertanggungjawab, untuk menikmati dan meng-hargai alam dengan segala bentuk budaya
yang menyertainya, yang mendukung konservasi, memiliki dampak yang rendah dan keterlibatan
sosioekonomi masyarakat setempat yang bermanfaat.[5] Dalam kegiatan ekowisata terkandung unsur-unsur
kepedulian, tanggungjawab dan komitmen terhadap kelestarian lingkungan dan kesejahteraan penduduk
setempat. Ekowisata merupakan upaya untuk memaksimalkan dan sekaligus melestarikan potensi sumber-
sumber alam dan budaya untuk dijadikan sebagai sumber pendapatan yang berkesinambungan.

Jabaran indikator mengenai kegiatan ekowisata di Pantai Taman tersebut dapat ditentukan dengan
dipenuhinya prinsip-prinsip pengembangan ekowisata. Berdasarkan hasil pemetaan diperoleh keadaan
sebagai berikut yang memenuhi kaidah prinsip ekowisata.
o Konservasi. Beberapa kegiatan yang dilakukan meliputi: 1) Teknis pemantauan penyu bertelur dan

penetasan telur secara alami, 2) Teknis penangkaran (mulai dari kegiatan pemindahan telur, penetasan
semi alami, pemeliharaan tukik hingga pelepasan tukik), 3) teknik monitoring atau pemantauan penyu
(meliputi pemantauan terhadap telur dan sarang telur, tukik dan penyu yang bertelur),4)teknik pembinaan
habitat (meliputi teknik pembinaan habitat alami dan teknis pembinaan habitat semi alami), dan5) Teknik
pengelolaan wisata berbasis penyu. Beberapa bentuk konservasi tidak merusak sumber daya alam itu
sendiri, tidak menimbulkan dampak negatif dan ramah lingkungan. Hasil pemanfaatantersebuttelahdapat
dijadikan sumber dana untuk membiayai upaya konservasi, mendukung pemanfaatan sumber daya lokal
secara lestari serta meningkatkan daya dorong yang sangat besar bagi pihak swasta untuk berperan serta
dalam program konservasi dan mendukung upaya pengawetan jenis.
o Pendidikan. Kegiatan ekowisata berbasis penyu telah meningkatkan kesadaran masyarakat dan merubah
perilaku masyarakat tentang perlunya upaya konservasi penyu dan menjaga sumber daya alam hayati dan
keanekaragamannya.
o Ekonomi. Kegiatan ekowisata di Pantai Taman telah dapat memberikan keuntungan ekonomi bagi
pengelola kawasan, penyelenggara ekowisata dan masyarakat setempat, memacu pembangunan wilayah,
baik di tingkat lokal, regional maupun nasional serta menjamin kesinambungan usaha. Dalam skala besar
GDPSDNHNRQRPLVHFDUDOXDVMXJDWHODKGLUDVDNDQROHK.DE3DFLWDQPHODOXLNDZDVDQSHQJHPEDQJDQ
SDULZLVDWD.33

76 Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016

o Peran aktif masyarakat. Peran aktif masyarakat dilakukan dengan membangun hubungan kemitraan
dengan masyarakat setempat di antaranya dengan pelibatan masyarakat sekitar kawasan sejak proses
perencanaan hingga tahap pelaksanaan serta monitoring dan evaluasi, menggugah prakarsa dan aspirasi
masyarakat setempat untuk pengembangan ekowisata, memperhatikan kearifan tradisional dan kekhasan
daerah setempat agar tidak terjadi benturan kepentingan dengan kondisi sosial budaya setempat serta
menyediakan peluang usaha dan kesempatan kerja semaksimal mungkin bagi masyarakat sekitar kawasan.

o Wisata. Yang tak kalah penting dari prinsip pengem-bangan ekowisata adalah kegiatan wisata itu sendiri.
Dengan menyediakan informasi yang akurat tentang potensi kawasan, kenyamanan dan keamanan bagi
pengunjung sehingga akan memberikan kesempatan pengunjung menikmati pengalaman wisata dalam
lokasi yang mempunyai fungsi konservasi serta memahami etika berwisata dan ikut berpartisipasi dalam
pelestarian lingkungan (gbr. 11).

Gambar 11. Wisata pelepasan tukik di Pantai Taman
B. Konsep Pengelolaan Ekowisata Berbasis Penyu

Teknis pengelolaan ekowisata berbasis penyu telah dilakukan sesuai dengan bentuk wisata yang
sangat erat dengan prinsip konservasi. Dengan demikian ekowisata yang dibangun sangat tepat dan
berdayaguna dalam mempertahankan keutuhan dan keaslian ekosistem di areal yang masih alami dan
ditetapkan sebagai kawasan konservasi. Hal yang telah dilakukan adalah sebagai berikut.
o Desain tata ruang area (gbr. 12) telah dibuat dan mendukung dijadikan objek ekowisata berbasis penyu.

Beberapa ruang yang ada adalah kantor pusat informasi penyu, lokasi peneluran, lokasi penetasan semi
alami, lokasi pemeliharaan tukik, dan lokasi pelepasan tukik. Desain tata ruang telah dibuat dengan
memperhatikan upaya perlindungan pantai peneluran terhadap jenis predator dan gangguan lain yang khas
di lokasi Pantai Taman. Telah dibuat oleh tim IbW kegiatan pemantauan sarang dan penetasan telur-
telurnya untuk menduga prosentase telur-telur yang hilang akibat faktor alamiah dan manusia.

Gambar 12. Denah tata ruang kawasan konservasi penyu
o Konstruksi daerah wisata berbasis penyu sesuai dengan desain tata ruang yang telah disusun, termasuk

penanaman vegetasi-vegetasi yang sesuai dengan habitat penyu (gbr. 13). Secara umum, vegetasi dari
daerah pantai ke arah daratan adalah: 1) Tanaman pioneer, 2) Zonasi jenis-jenis tanaman yang terdiri dari
Hibiscus tiliaceus, Gynura procum-bens, dan lainnya, 3) Zonasi jenis-jenis tanaman seperti Hernandia
peltata, Terminalia catappa, Cycas rumphii, dan lainnya, 4) Zonasi terdalam dari forma-si hutan pantai
Callophyllum inophyllum, Canavalia ensiformis, Cynodon dactylon, dan lainnya.

Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016 77

Gambar 13. Penanam bibit di kawasan konservasi penyu
o Menggabungkan paket wisata berbasis penyu dengan paket-paket wisata yang ada di sekitar kawasan. Hal

ini dimaksudkan agar destinasi wisata selalu didatangi wisatawan. Kehadiran ekowisatawan ke Pantai
Taman memberikan peluang bagi penduduk setempat untuk mendapatkan penghasilan alternatif dengan
menjadi pemandu wisata, porter, membuka homestay, pondok ekowisata (ecolodge), warung dan usaha-
usaha lain yang berkaitan dengan ekowisata, sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan mereka atau
meningkatkan kualitas hidup penduduk lokal baik secara materi, spiritual, kultural maupun intelektual.
o Pengembangan ekowisata berbasis penyu di Pantai Taman masih tetap memperhatikan kondisi dan
kenyamanan bagi penyu untuk bertelur, mengingat sifat penyu yang sangat sensitif terhadap gangguan
cahaya, suara, dan habitat.
V. ULASAN KARYA
Upaya konservasi penyu merupakan program yang sangat penting dan mendesak untuk melindungi dan
menyelamatkan populasi penyu, terutama di Indonesia karena terdapat 6 dari 7 spesies penyu yang masih ada
di dunia saat ini. Pantai Taman di Desa Hadiwarno Kec. Ngadirojo Kab. Pacitan didiami 4 dari 6 spesies
penyu di Indonesia. Guna mendukung keberhasilan dan keberlanjutan upaya pengelolaan konservasi penyu,
tim IbW telah membangun beberapa fasilitas yang mendu-kung upaya konservasi dan keberlanjutan program
melalui kegiatan ekowisata.

Upaya konservasi penyu tak akan pernah cukup jika hanya dilakukan di lokasi peneluran saja, karena
penyu adalah satwa bermigrasi (gbr. 14). Penyu yang telah mencapai usia dewasa di suatu ruaya peneluran
(fora-ging ground) akan bermigrasi ke lokasi perkawinan dan pantai peneluran (breeding and nesting
migration). Setelah mengeluarkan semua telurnya, penyu betina akan kembali bermigrasi ke ruaya pakannya
masing-masing (post-nesting migration). Demikian pula halnya dengan penyu jantan, yang akan bermigrasi
kembali ke ruaya pakannya setelah selesai melakukan perkawinan.

Gambar 14. Siklus hidup penyu

78 Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016

Pengetahuan tentang jalur migrasi penyu yang dipe-roleh dengan penerapan teknik penelusuran
mengguna-kan satelit telemetri menunjukkan luasnya cakupan jalur migrasi penyu. Dengan memperhatikan
siklus hidup penyu mengharuskan adanya: 1) Konsep teknis konservasi penyu di daerah migrasi, 2) Teknis
patroli penyu, 3) Teknis pembinaan habitat, baik habitat alami maupun semi alami, dan 4) Pengaturan yang
meliputi daratan dan pantai, wilayah perairan pesisir (hingga 12 mil laut), zona ekonomi ekslusif sampai di
lautan lepas. Sifat-sifat migrasinya yang cenderung lintas negara menuntut adanya pengaturan bilateral dan
regional. Kompleksitas dampak sosial-ekonomi yang muncul pada setiap keputusan pengelolaannya
memandatkan adanya partisipasi aktif dan progresif dari berbagai pihak.

VI. KESIMPULAN

Hubungan antara manusia dan penyu telah berlangsung sejak manusia menghuni kawasan pesisir dan
mengarungi berbagai samudera. Di beberapa tempat, masyarakat memanfaatkan penyu baik daging maupun
telurnya sebagai sumber protein hewani. Pemanfaatan ini, di samping karena faktor alam, menjadi sebab
penurunan populasinya di berbagai belahan dunia termasuk di Indonesia. Hal ini kemudian menyebabkan
semua jenis penyu yang masih tersisa dibatasi perdagangannya bahkan dimasukkan ke dalam red list oleh
CITES.

Karena populasinya yang terancam, konservasi penyu menjadi kegiatan yang mendesak dilakukan.
Dalam melakukan tindak konservasi, keberadaan habitat, populasi penyu dan masyarakat sekitar akan saling
berkaitan sehingga harus diperhitungkan selain pengetahuan mengenai penyu itu sendiri. Informasi biologi
penyu, misalnya demografi, tingkah laku, dan fisiologi penyu merupakan perangkat penting dalam
mengembangkan strategi pengelolaan konservasi penyu yang dilakukan di Pantai Taman, Desa Hadiwarno,
Kec. Ngadirojo, Pacitan. Kegiatan ini merupakan tindakan nyata yang dibutuhkan dalam melakukan
pengelolaan konservasi penyu yang komprehensif, sistematis dan terukur. Karena program IbW ini akan
dilaksanakan 3 tahun, maka tinggkat capaian tim IbW di kec. Ngadirojo, Kab. Pacitan sekitar 35% (atau
100% untuk tahun I). Tim IbW akan mengembangkan beberapa fasilitas lain yang lebih memperkuat citra
kawasan sebagai lokasi konservasi penyu dan kawasan wisata.

VII. DAMPAK DAN MANFAAT KEGIATAN

Implementasi konsep konservasi dan pengelolaan habitat penyu laut melalui pengembangan ekowisata
berbasis masyarakat dinilai sangat efektif. Kegiatan ini dapat mengenalkan serta memberi peluang sebesar-
besarnya kepada masyarakat untuk memahami esensi konservasi dipadu dengan ekowisata serta menikmati
hasil dari kepariwisataan tersebut. Bagi daerah seperti halnya desa Hadiwarno yang memiliki karakteristik
dan keunikan keragaman flora, fauna dan geologi, konsep ini sangatlah bermanfaat.

Manfaat kegiatan bagi masyarakat adalah sebagai berikut.
o Konservasi penyu akan meningkatkan image positif dan peran konservasi pemerintah di percaturan na-

sional, regional maupun internasional.
o Meningkatkan peran masyarakat dalam konservasi penyu sebagai kekayaan keanekaragaman hayati dunia.
o Meningkatkan pendapatan masyarakat dari tiket langsung maupun multiplayer effect dari kegiatan

ekowisata (jasa pemanduan, souvenir maupun perdagangan lainnya).
o Mengembangkan kegiatan ekowisata berbasis konservasi penyu untuk meningkatkan perekonomian

masyarakat.
o Keberadaan pantai Taman sebagai kawasan konservasi dan ekowisata di Desa Hadiwarno, telah dapat

memberi kontribusi nyata bagi Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan ekonomi lokal. Hal ini dilakukan
melalui kolaborasi tiga pelaku dalam industri pariwisata, yaitu: destinasi wisata, wisatawan, dan
masyarakat lokal bisa diintegrasikan secara maksimal dalam industri pariwisata.
o Informasi mengenai sumberdaya alam terutama keragaman flora, fauna dan geologi yang terdapat di desa
wilayah IbW dapat diketahui masyarakat luas. Hal ini bisa menawarkan kesatuan nilai berwisata bagi
wisatawan yang terintegrasi antara keseimba-ngan menikmati keindahan alam dan upaya melestarikannya.

Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016 79

VIII. DAFTAR PUSTAKA
[1] Pemerintah Kabupaten Pacitan, 2011, Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Tahun
2011 – 2016, Peraturan Daerah Kabupaten Pacitan No. 11 Tahun 2011.
[2] Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Pacitan, 2009, Rencana Perwilayahan Kawasan
Pengembangan Pariwisata Kabupaten Pacitan.
[3] Dermawan, Agus; Nuitja, I Nyoman, Soedharma, Dedi, 2009, Pedoman Teknis Pengelolaan Kon-
servasi Penyu, Direktorat Konservasi dan Taman Nasional Laut, Dirjen Kelautan, Pesisir dan Pulau-
Pulau Kecil, Departemen Kelautan dan Perikanan RI.
[4] Adnyana, I.B. Windia dan Hitipeuw, Creusa, 2009, Panduan Melakukan Pemantauan Populasi Penyu
di Pantai Peneluran di Indonesia, WWF-Indonesia.
[5] Nuryanti, Wiendu, 1993, Concept, Perspective and Chalenges in Ecotourism, makalah pada Konferensi
Internasional mengenal Pariwisata Budaya, Gadjah Mada University Press, Yogjakarta.

80 Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016

Alternatif Penanggulangan Banjir Melalui Manajemen Lubang Resapan
Biopori (LRB)

Sudjatmiko1, Achmad Fadillah2, Bekti Prihatiningsih3, Andy Kristafy Arifianto4

1 Teknik Mesin,2,3 Teknik Sipil ,4 Teknik Sipil
1,2,3Universitas Merdeka Malang Jln. Terusan Raya Dieng 64,4Universitas Tribhuwanatunggadewi

Malang
[email protected]@gmail.com,[email protected]

Abstrak

Lubang Resapan Biopori merupakan teknologi ramah lingkungan dan murah untuk
menyelamatkan lingkungan hidup dan menjaga ketersediaan air serta pencemaran lingkungan
akibat sampah. Dengan teknologi ini, bukan hanya dapat menyimpan air limpasan hujan,
melainkan dapat berfungsi ganda yaitu dalam mengelola sampah yang dihasilkan, karena LRB
dapat digunakan sebagai lubang sampah. Alternatip pemasangan LRB yang dijadikan proyek
percontohan program IbW adalah Kecamatan Blimbing dan Sukun merupakan dua kecamatan
yang paling luas di Kota Malang dengan kepadatan penduduk yang relatif tinggi. Kelurahan
dengan tingkat kepadatan penduduk yang tinggi, terutama Kelurahan Bunulrejo , Kelurahan
Jodipan, Kelurahan Sukun dan Kelurahan Pisang Candi. Minimnya lahan terbuka sebagai ruang
resapan air hujan dan fasilitas drainase, di kedua wilayah Kecamatan ini sering dijumpai
genangan-genangan air di waktu hujan tiba yang tentunya sangat mengganggu aktivitas
masyarakat sekitarnya. Program alternatippemasangan LRB dan penghijauan yang melibatkan
Perguruan Tinggi (Unmer dan Unitri Malang) bekerja sama dengan Pemerintah Kota Malang
sebagai fasilitator yang diwakili oleh DKP Kota Malang menunjukkan adanya keberpihakan dan
dukungan Pemerintah dalam ikut mensukseskan setiap program terkait kepentingan
masyarakat.Hasil yang telah dicapai dalam kegiatan IbW peremajaan LRB, telah terealisasinya
penerapan pada pemasangan ± 650 titik LRB atau 163 rumah di Kel. Bunulrejo ( 4 RW),Jodipan
(4 RW), dan Kel. Sukun (1 RW),Kel. Pisang Candi ( 1 RW), (dalam hal ini mewakili perkantoran
yaitu pada Fakultas Teknik Universitas Merdeka Malang).Untuk penghijauan yang tersebar pada
wilayah 10 RW diatas tertanam 388 pohon (5 macam pohon), hal ini dimaksudkan untuk
mendukung program pemkot Malang menjadikan yaitu Green City. Dengan adanya
LRBdiharapkan dapat mengurangi genangan air/banjir yang disebabkan oleh hujan, sehingga
terbentuk komposer (kompos) secara alami yang masuk melalui LRB dan program penghijauan
dapat mencegah erosi dan memperbanyak oksigen pada lingkungan hidup, dengan demikian
pentingnya mengajak warga kota Malang ikut memelihara, melestarikan dan sekaligus merawat
tanaman pelestarian lingkungan hidup.

Kata-kata kunci : Green City,Komposer, Lubang resapan Biopori

1. PENDAHULUAN

Persoalan drainase perkotaan/wilayah menjadi sangat pelik.Data yang diperoleh dari
Pemerintah kota Malang, menunjukkan, Ruang terbuka hijau tercatat hanya tersisa seluas 3.188
hektare atau 2,89 persen dari luas wilayah keseluruhan. RTH itu terinci taman atau hutan kota
seluas 12 hektare, sempadan sungai 80 hektare, tanah pekarangan dan kebun 150 hektare, dan
sawah 2.940 hektare [1].

Salah satu alternatif yang dapat dilakukan dalam penanganan banjir dan genangan adalah
dengan cara sederhana dan murah yaitu dengan menerapkan sistem manajemen air yang paling
sederhana dengan mengelola air melalui sistem lubang resapan biopori.Masyarakat dilibatkan
secara langsung dalam kegiatan penanganan permasalahan sehingga merasa ikut andil dalam

Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016 81

mengatasi permasalahan yang pada akhirnya memperbesar rasa memiliki lingkungan
sekitarnya.Pada dasarnya, program pengelolaan air melalui pembuatan LUBANG RESAPAN
BIOPORI telah tercantum dengan jelas pada[2]

Berdasarkan pengamatan yang dilakukan, selokan-selokan atau drainase di Kota Malang,
banyak yang ditutup permukaannya sehingga air yang berasal dari jalan raya tidak dapat masuk ke
dalam selokan/parit.Akibatnya air melimpas langsung diatas jalan, dan jika jumlahnya banyak maka
terjadilah banjir. Selain hal tersebut, rumah tanpa halaman/pekarangan juga memicu terjadinya
banjir. Dengan semakin habisnya lahan terbuka, tertutupnya selokan yang berfungsi sebagai resapan
air, mendorong pemerintah Kota Malang, untuk berusaha dan berupaya merubah mindset atau
mental models bagaimana cara mengatasi banjir di lingkungannya serta manfaat lingkungan yang
bersih dan sehat[3].

Pemkot Malang bersama dengan Perguruan Tinggi (Unmer dan Unitri Malang) wajib melakukan
tindakan riil untuk mengatasi permasalahan banjir dan genangan air ini, dimana salah satu cara yang
dapat dilakukan adalah: 1) Melakukan sosialisasi melalui pemicuan terhadap masyarakat mengenai
manajemen air dalam mengatasi banjir dan genangan, serta 2) Menjaga dan menambah resapan air
dengan membuat Lubang Resapan Biopori (LRB) di seluruh penjuru Kota Malang. Mengingat
luasnya daerah administrasi Kota Malang, pada kesempatan ini dipilihsebagai lokasi penerapan LRB
diambil untuk mewakili untuk permukiman padat, mewakili tingkat kepadatan menengah dan pada
waktu turun hujan banyak dijumpai genangan yaitu Kecamatan Blimbing (Kelurahan Bunulrejo dan
Jodipan)dan Kecamatan Sukun (Perkantoran dan Sekolah/kampus) dengan pertimbangan sudah
tidak ditemukan ruang terbuka yang berfungsi sebagai resapan serta sistem drainase lingkungan
permukiman yang tidak memenuhi persyaratan.LRB ditawarkan, sebagai upaya untuk mengurai
permasalahan terjadinya pengenangan air (khususnya daerah yang cekung) adalah teknologi yang
bersifat mudah diterapkan dan sederhana serta murah dalam pelaksanaannya di lapangan.LRB
merupakan teknologi sederhana yang tepat guna dan ramah lingkungan. Lubang biopori ini mampu
meningkatkan daya resap air hujan ke dalam tanah sehingga mampu mengurangi resiko banjir akibat
genangan atau meluapnya air hujan. Selain itu, teknologi ini juga mampu meningkatkan jumlah
cadangan air bersih di dalam tanah [4]..

Misi ini diharapkan dapat mendorong pemerintah, masyarakat dan swasta untuk
mengembangkan potensi Kota Malang, untuk meningkatkan kemakmuran masyarakat yang
menekankan perlunya strategi pembangunan daerah yang tetap memperhatikan aspek kelestarian
lingkungan. Ke depan, diharapkan tidak terjadi kasus-kasus pelanggaran lingkungan, disertai
dengan meningkatnya luas lahan yang berfungsi sebagai Ruang Terbuka Hijau (RTH) dan kawasan
resapan air sebagai pencegahan terhadap bencana banjir. Penjabaran visi terkait selanjutnya adalah
Meningkatkan Kualitas Kesehatan Masyarakat Kota Malang Baik Fisik, Maupun Mental
Untuk Menjadi Masyarakat Yang Produktif..Misi ini diarahkan untuk peningkatan kualitas
lingkungan sehat dan meningkatkan perilaku hidup bersih dan sehat serta mendorong
pemberdayaan masyarakat yang dimulai dari lingkup masyarakat terkecil yakni keluarga. Dengan
suasana dan kondisi keluarga yang sehat, produktivitas masyarakat di segala bidang akan
meningkat [5].

Gambar 1.Kondisi Jln. Kampung Kota Malang Gambar 2. Kondisi SoehatKota Malang saat terjadi

82 Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016

yang sisi kanan kiri diplester,sehingga resapan airhujan, Kurang baiknya drainase 2012-14 [6].
yang masuk ke tanah sangat berkurang

Salah satu alternatif yang dapat dilakukan dalam penanganan banjir dan genangan adalah
dengan cara sederhana dan murah yaitu dengan menerapkan sistem manajemen air yang paling
sederhana dengan mengelola air melalui lubang resapan biopori (LRB). Masyarakat dilibatkan
secara langsung dalam kegiatan penanganan permasalahan sehingga merasa ikut andil dalam
mengatasi permasalahan yang pada akhirnya memperbesar rasa memiliki lingkungan sekitarnya.

Penerapkan LRB, banyak keuntungan yang diperoleh, bukan hanya dapat mengurai
permasalahan banjir, namun juga dapat digunakan untuk mengolah sampah sehingga sampah yang
dihasilkan tidak perlu lagi dibuang dengan mengandalkan pengangkutan sampah dari RW, bahkan
tidak perlu lagi mengeluarkan biaya retribusi sampah karena sampah yang dihasilkan sudah dapat
dikelola oleh warga sendiri.

2. METODE
Metoda kegiatan implementasi LRB dilakukan kegiatan program IbW dilakukan dengan

beberapa program sebagai berikut :
A.Program untuk menyelesaikan permasalahanprioritas pada tahun pelaksanaan
(1). Pada tahun pertama kegiatan yang telah dilaksanakan.

Untuk mendukung kegiatan IbW ini Tim melakukan identifikasi dan sosialisasi dan FGD
(forum diskusi grup) di masing wilayah Kecamatan Blimbing (Kelurahan Bunulrejo dan Jodipan)
serta Kecamatan Sukun (Kelurahan Pisang Candi dan kelurahan Sukun) Kota Malang. Hal ini
dilakukan untuk menambah wawasan pada masyarakat akan sadar lingkungan dan melestarikan
ekosistem yang kurang baik. Serta fungsi dari pemasangan Lubang Resapan Biopori (LRB). Untuk
FGD dan sosialisasi ini dilakukan oleh Tim IbW dengan pihak Dinas Kebersihan dan Pertamanan
(DKP) Kota Malang dalam hal ini diwakili oleh pihak Kelurahan (Para Ketua RW dan RT) yang
terkait pada program IbW ini. Pada pelaksanakan FGD dan sosialisasi dilakukan secara bergantian
untuk masing-masing wilayah yang terkena program pemasangan LRB ini, pada gambar 3, 4 dan 5
ditunjukkan salah satu kegiatan FDG dan sosialisasi program IbW di RW 19 kelurahan Bunulrejo
,RW5 Kelurahan Sukun dan RW 7 Kelurahan Jodipan. Dalam Forum diskusi ini menjelaskan
fungsi tanaman lingkungan hidup untuk mendukung ekosistem yang lebih baik dan menahan
adanya erosi serta memperbaiki daya serap air tanah untuk melestarikan sumber air sekitar
lingkungan warga tersebut.

Gambar 3, 4 dan 5.Pada Forum Grup Diskusi dengan Ketua RW. 19 Bunulrejo (Kiri),Warga RW 05
Kelurahan Sukun (tengah) dan Warga dan staff dari DKP saat FGD dan Sosialisasi LRB di RW 7
KelurahanJodipan (Kanan).

Bahan pertimbangan untuk alternatip pemasangan Lubang Resapan Biopori (LRB) di
daerah/wilayah terjadi genangan air pada waktu turun hujan, diantaranya pada daerah bermasalah

Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016 83

genangan air atau jalan/ gang dengan kondisi tertutup plester/semen/ aspal/paving. Untuk wilayah
di Kota Malang diterapkan pada 2 wilayah di kecamatan diperlihatkan pada gambar 6 yang
meliputi :

Kecamatan Blimbing
Kelurahan Bunulrejo RW 19,10, 9 dan 8 Kelurahan Jodipan RW. 8, 7, 6 dan 5.

Kecamatan Sukun
Kelurahan Pisang Candi RW 06 (Perkantoran/Kampus UnMer Malang) dan Kelurahan

Sukun pada RW.05 RT 15.
Sedangkan untuk pelestarian penanaman pohon menyesuaikan kondisi di dua kecamatan dengan
geografi masing-masing pada tingkat RW atau RT.

Kelurahan Pisangcandi Kelurahan Bunulrejo
Kelurahan Sukun Kelurahan Jodipan

Gambar 6.Peta Lokasi Alternatip pemasangan Lubang Resapan Biopori (LRB) dan
Tanaman Penghijauan

(2). Menentukan titik-titik untuk pembuatanLubang Resapan Biopori (sekitar jalan, rumah,
sekolah, kantor, sekeliling pepohonan dan tanahkosong).
(3). Pembuatan Lubang Biopori (PVC), di privat sektor terutama permukiman dan
perkantoran/Kampus

B. Kegiatan yang menunjukkan solusimenyelesaikan masalah, pada kegiatan IbW ini
identifikasi terdiri dari :

(1). Permasalahan yang terdapat pada Lingkungan
(2). Kondisi yang terjadi dampak air hujan
(3). Akibat yang ditimbulkan genangan air
(4). Solusi Kegiatan pada pemasangan titi LRB
(5). Kondisi lingkungan Hidup (Penghijauan).

C. Kontribusi Pemkot Malang dalam pelaksanaan program

Dalam pelaksanaan penerapan LRB dan Penghijauan di Kecamatan Blimbing kota Malang
yaitu (Kelurahan Bunulrejo [4 RW) dan Jodipan [4 RW] ) dan Kecamatan Sukun (Kelurahan
Pisang Candi [1 RW] an Kelurahan Sukun [1 RW]). Pemerintah Kota Malang yang diwakili oleh

84 Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016

Dinas Kebersihan dan Pertamanan memberikan kontribusi berupa pemberian fasilitas/infrastruktur
pembuatan Lubang Resapan Biopori serta membantu mensosialisasikan Program kepada
masyarakat , diperlihatkan pada gambar 7.

Gambar 7.Salah satu wujud konstribusi PemKot (Melalui DKP) dengan Warga alternatip pemasangan
LRB di RW.19 Bunulrejo dan Program Penghijauan warga RT 08 Kelurahan Jodipan Kota
Malang.

Lubang Resapan Biopori (LRB) sebagai alternatif yang ditawarkan, sebagai upaya untuk
mengurai permasalahan diperkampungan di dua kecamatan diatas merupakan teknologi yang
bersifat mudah diterapkan dan sederhana serta murah dalam pelaksanaannya di lapang ditunjukkan
pada gambar 8.

Gambar 8. Salah satu Alternatip pemasangan LRB oleh warga RW.05 Pisangcandi sebagai wujud
kepedulian terhadap lingkungan pemukiman untuk menanggulangi banjir.

Dengan mempertimbangkan beberapa hal antara lain: (a). Dengan memperhatikan prinsip
penanganan secara holistik atau ekologis dan ekosistem sehingga diperlukan keterkaitan antar

Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016 85

berbagai sector(b). Melalui pendekatan partisipatif dengan cara melibatkan kesadaran bersama para
pelaku atau warga setempat, menjalin kemitraan serta mengefektifkan baik pengambilan keputusan
maupun perencanaan mulai dari tingkat terbawah (grassroot level), (c). Peran perempuan sangat
penting, sehingga seringkali memiliki peran sentral yang berkaitan dengan masalah
kerumahtanggaan.
3.HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1.Hasil Kegiatan

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat terkait dengan lingkungan, hal ini dapat
memberikan dorongan/ motivasi padawarga masyarakat dikecamatan Blimbing dan Sukun kota
Malang untuk sadar kebersihan,lingkungan dan pencegahan banjir serta menjaga ekosistem yang
lebih baik.Dampak yang bisa dirasakan dari kegiatan alternatip pemasangan LRB
bagimasyarakat Warga/masyarakat Kecamatan Blimbing ( 4 RW di Kelurahan Bunulrejo ) dan (4
RW di Jodipan) dan 2 RW (RW.06 Pisangcandi) dan RW.05 (Kelurahan Sukun) di kecamatan
Sukun) sangat antusias dengan pemasangan/peremajaan LRB dan program penghijauan.

Warga/masyarakat mempraktekkan dan mengimplementasikan peralatan Bor tanah dan
pemasangan LRB, yang dibantu dari DKP dan Tim IbW perguruan tinggi UnMer Malang dan
Unitri Malang. Manfaatnya,terasa sebagai wujud gotongroyong dari masyarakat, DKP dan
Perguruan Tinggi. Walaupundemikian,menganggap pentingbahwa kegiatan diimplementasi
pemasangan LRB pada warga/masyarakat yangdiberikansebab sangatmenunjang untuk pelestarian
lingkungan yng bersih , sehat dan warga ikut peduli menjaga LRB dan ekosistem yang kurang
baik menjadi lebih baik.

Pada perawatan dan kepedulian warga/masyarakat diperlukan pembinaan lebih lanjut agar
LRB bermanfaat jika datangnya musim penghujan. Selain hal itu diperlukan sifat handar beni
(Dalam bhs jawa) atau rasa memiliki, sehingga LRB sangat bermanfaat bagi manusia dan
mahkluk lain (Cacing) serta pemanfaatan kompos dari LRB ini sebagai nilai tambah untuk
ekonomi masyarakat, meskipun belum optimal hasilnya.

Pada Tabel 1 menunjukkan pendistribusian alternatip Penanggulangan Banjir
MelaluiManajemen Lubang Resapan Biopori (LRB), serta program penghijauan , diharapkan dapat
meminimasir genangan air yang terjadi dipemukiman.

3.2. Manfaat dan Hambatan
Bermanfaat untuk mencegah genangan air yang mengakibatkan banjir, peningkatan
cadangan air bersih di dalam tanah, dan mencegah erosi dan longsor.Mengubah sampah organik
menjadi komposSampah organik yang dimasukkan ke dalam lubang biopori akan dirubah menjadi
kompos oleh satwa tanah seperti cacing dan rayap. Manfaat alternatip kegiatan pemasangan LRB
yang bisa dirasakan bagi Pemkota Malang ((dalam hal ini dinas kebersihan dan pertamanan (DKP)

86 Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016


Click to View FlipBook Version