The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

2. BUKU 2 LENGKAP (bid. Psikologi pendidikan, Sosial Humaniora, Kesehatan Lingkungan)

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by adhim.irawan, 2016-10-15 01:14:40

2. BUKU 2 LENGKAP (bid. Psikologi pendidikan, Sosial Humaniora, Kesehatan Lingkungan)

2. BUKU 2 LENGKAP (bid. Psikologi pendidikan, Sosial Humaniora, Kesehatan Lingkungan)

BIDANG SOSIAL HUMANIORA



IbPE INDUSTRI BATIK PODHEK DI KABUPATEN PAMEKASAN
PROVINSI JAWA TIMUR TAHUN I

Muhammad Baidawi1 Yayuk Ngesti Rahayu2

[email protected] [email protected]

ABSTRAK

Program pengabdian Ipteks bagi Produk Ekspor (IbPE) pada tahun pertama ini
difokuskan pada penanganan aspek sumberdaya manusia dan produksi dengan tujuan untuk
meningkatkan keterampilan pengrajin dan produksi baik kualitas dan kuantitas batik podhek.
Dalam meningkatkan keterampilan pengrajin progam IbPE melaksanakan wokshop dengan
tema ragam desain motif batik, pengelolaan accounting & keuangan, dan strategi pemasaran
untuk meningkatkan omzet pengrajin batik podhek. Workshop ini ditindaklanjut dengan
pendampingan dalam regenarasi pengrajin sehingga profesi ini dicintai kalangan muda dan
merubah mindset bahwa profesi ini bukan profesi kuli, namun merupakan profesi seni yang
tentunya mahal harganya. Dalam meningkatkan kualitas, program IbPE melakukan
pendampingan pengrajin untuk membatik dengan motif yang bervariasi dan sesuai selera
pelanggan, tidak hanya motif tumbuhan atau bunga namun bisa dikembangkan dengan
mengambil tema khas podhek atau madura. Dalam meningkatkan kuantitas membatik,
program IbPE memberikan alat membatik yang lebih efisien berupa kompor listrik pencair
malam, gawangan tempat selampiran kain dan canting ganda. Hasil dari program IbPE ini
dapat meningkatnya minat kalangan muda dalam menekuni profesi membatik, meningkatnya
produksi batik podhek, bervariasinya motif batik podhek dan membatik lebih mudah dan
efisien.

Kata Kunci: Batik Podhek Pamekasan, Permasalahan Pengrajin, Program
Kegiatan.

1. PENDAHULUAN
Analisis Situasi

Diberlakukannya Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) pada tahun 2015 oleh
pemimpin negara ASEAN menjadi tantangan bagi bangsa Indonesia dalam meningkatkan
kualitas dan kuantitas produksi dalam negeri khususnya batik tulis khas Indonesia. Untuk
meningkatkan kualitas produksi batik dalam negeri diperlukan suatu pengrajin yang terampil
dalam mendesain, pencampuran warna, dan pemilihan kain yang sesuai dengan pewarnaan
batik. Untuk meningkatkan kuantitas batik Indonesia diperlukan peningkatan jumlah pengrajin
batik tulis dan cap dalam negeri dengan memberikan pelatihan mendesain, membatik,
mencampur warna, melorod dan pemilihan kain yang sesuai dengan pewarnaan batik.

Selain MEA Indonesia juga mempunyai peluang yang besar dalam pemasaran batik,
dilihat dari jumlah penduduk Indonesia yang begitu besar. Jika produksi batik dalam negeri
diminati atau dicintai masyarakat Indonesia maka permintaan dan produksi batik akan
meningkat. Agar masyarakat Indonesia

mencintai batik asli Indonesia maka perlu diadakan sosialisasi pemahaman masyarakat
terhadap batik asli Indonesia melalui pameran, promosi, pelatihan batik asli Indonesia.

Usaha batik Indonesia mempunyai karakteristik yang sangat khusus, dan merupakan
Kebudayaan Indonesia yang tetap bertahan secara konsisten. Dengan pengaruh motif daerah
tertentu, batik berkembang dan menyebar terutama di Pulau Jawa, misalnya yang dikenal
dengan Batik Cirebon, Batik Pekalongan, Batik Kedungwuni, Batik Solo, Batik Yogyakarta,
Batik Tanjung Bumi Bangkalan, Batik Podhek Pamekasan dan Batik Kraton Sumenep.
Sementara itu sampai saat ini batik dengan motif kedaerahan semakin berkembang secara
nasional.

Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016 335

Khusus wilayah Madura terdapat tiga kabupaten produksi batik yaitu batik Bangkalan

yang dikenal dengan Batik Tanjung Bumi, Batik Pamekasan dan Batik Sumenep. Khusus Batik

Pamekasan terdapat beberapa jenis batik ditinjau dari tempat produksinya mempunyai

karakteristik tersediri, yaitu, 1) Batik Podhek, 2) Batik Banyumas, 3) Batik Toket, 4) Batik

Toronan dan 5) Batik Badung.

Batik Podhek diambil dari nama Dusun Podhek yang terletak di Desa Angsanah

Kecamatan Palengaan Kabupaten Pamekasan. Terletak 12 km arah utara dari Kota Kabupaten

Pamekasan. Berbatasan dengan kecamatan Proppo sebelah selatan, berbatasan dengan

kecamatan Pamekasan sebelah timur, berbatasan dengan kecamatan lPuaesgnaynaten8a8n.4s8ebkemla2h
utara dan Kabupaten Sampang sebelah barat. Kecamatan Palengaan

dengan jumlah penduduk 88.288 orang (BPS Kabupaten Pamekasan). Batik Podhek

merupakan kebanggaan bagi penduduk Pamekasan.

Batik produksi dusun Podhek bercorak khas dengan warna yang cerah, identik dengan

pohon, daun, bunga dan hewan yang mengekspresikan masayarakat

dusun Podhek dekat dengan alam. Kekhasan lain Batik Podhek ini terletak pada goresan

canting yang halus dan detail. Coraknya merupakan gabungan pengaruh

budaya Tionghoa, budaya Arab, masyarakat pesisir utara Madura dan masyarakat Pamekasan

khususnya Podhek desa Angsanah. Batik Podhek bisa bersaing dengan batik Cirebon, Solo,

Yogyakarta dan Tanjung Bumi karena motifnya yang unik, halus dan cerah. Batik Podhek

banyak diminati masyarakat di luar Madura seperti Surabaya, Jakarta, Jogja dan Solo. Batik

Podhek pernah diekspor ke Australia.

Tabel 1. Sektor usaha batik di Desa Agsanah

No Spesifikasi Jumlah (orang)

1 Pengusaha batik 40

2 Buruh / Tenaga kerja pembatik 241

Sumber : BPS Kabupaten Pamekasan, 2014

Menurut data diatas disebutkan bahwa jumlah pengusaha batik (khususnya yang
masuk dalam kluster batik) berjumlah 40 pengusaha, dengan jumlah tenaga kerja berkisar 241
orang. Dari jumlah tenaga kerja tersebut, komposisi jumlah tenaga kerja wanita dan pria
berbanding 80% : 20%, sedangkan usia tenaga kerja yang berusia diatas 45 tahun berkisar 70
% dan dibawah 45 tahun sekitar 30%. Pendidikan mereka paling tinggi rata-rata lulusan
Sekolah Dasar (SD).

Belakangan ini ada perkembangan menarik, Pemda Pamekasan mulai menaruh
perhatian. Misalnya karyawan dan siswa sekolah pada waktu tertentu mulai memakai batik
khas Pamekasan. Sebelum krisis ekonomi terjadi ada sekitar
75 pengusaha batik. Setelah krisis, kini tinggal sekitar 30 orang. Selain itu perlu dilakukan
regenerasi pembatik. Regenerasi tidak sebatas anak muda mau terjun ke dunia batik, tetapi perlu
transfer ilmu dan skill batik Podhek khas Pamekasan. Para pengrajin batik Podhek perlu juga
dibantu jaringan pemasarannya. Selama ini batik dipasarkan di kawasan Pamekasan, Surabaya,
Pasuruan, Probolinggo, Jember, Tuban, Semarang, Solo sampai Jakarta melalui pihak
ketiga/perantara. Batik Podhek juga sudah dikirim/dijual diluar negeri. Pengusaha belum
optimal melakukan upaya untuk menembus pasar ekspor secara mandiri. Setelah batik
Indonesia diakui sebagai warisan budaya oleh UNESCO, pasar batik di tingkat internasional
terbuka lebar, ditambah lagi dengan diberlakukannya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA)
2015. Dengan demikian peningkatan kuantitas dan kualitas produk serta profesionalisme
dibidang pengelolaan manajemen produksi, keuangan, sumberdaya manusia, pemasaran
menjadi tuntutan yang harus perhatikan.

336 Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016

Permasalahan prioritas yang akan diselesaikan selama tiga tahun

Masalah prioritas yang akan diseslesaikan selama tiga tahun yaitu, 1)
masalah sumber daya manusia yang masih terbatas dalam mendasain batik dan mayoritas
pembatik berusia tua sehingga diperlukan kaderisasi, 2) masalah terbatasnya penyediaan bahan
baku, penciptaan desain produk baru, alat untuk nmembatik, teknologi pewarnaan dan belum
seriusnya penanganan limbah produksi. 3) permasalahan pemasaran yang belum optimal,
jangkauan pemasaran masih terbatas (terbatas pulau jawa) jangkauan ke antar pulau atau ke
manca negara masih belum optimal dan masih menggunakan pihak ke 3, 4) permasalahan
manajemen keuangan/akuntansi, perpajakan, ekspor import, masih minimnya pemahaman dan
penerapan penataan manajemen keuangan yang baik, termasuk masalah anggaran, perpajakan,
perbankan, 5) masalah minimnya pemahaman proses perijinan usaha dan patent.

METODE PELAKSANAAN

Berdasarkan permasalahan yang ada du UKM mitra maka Metode yang
akan dilaksanakan dalam program ini adalah:
1. Pelatihan yaitu memberikan materi untuk memberikan pemahaman sesuai objek,

tujuan dan output yang diharapkan.
2. Pendampingan yaitu memberikan bimbingan, arahan didalam aktivitas yang dilakukan

sesuai objek, tujuan, output dan target luaran yang diharapkan.
3. Rekayasa/ pembuatan alat/ desain berupa pembuatan desain dan produk teknologi

tepat guna sesuai objek, tujuan, output dan target luaran yang diharapkan.
4. Perluasan jangkauan pemasaran dengan mengikuti pameran ditingkat lokal, propinsi,

nasional dan internasiona serta membuat fasilatas online shop.
5. Pembuatan izin usaha serta mematenkan hasil karya produksi mitra
6. Monitoring dan feed back dan evaluasi adalah memonitor dan memberikan masukan

sebelum pelaksanaan program, pada saat pelaksanaan program, dan setelah kegiatan
berlangsung dalam rangka mengantisipasi dan memberikan masukan agar kendala yang
dihadapi dapat ditanggulangi dan tidak berulang pada kegiatan berikutnya.

Rincian solusi yang ditawarkan selama tiga tahun terlihat seperti pada tabel
3 berikut,

Permasalahan Tabel 2 : Solusi yang ditawarkan Ket
Solusi (UKM)

Tahun 1 Tahun 2 Tahun 3

Aspek Sumber Daya Pelatihan dan Implementasi Peningkatan 1,2,3
praktek pelatihan dan implementasi
Manusia : keterbatasan keterampilan
ketrampilan membatik membatik praktek pelatihan
baik dari sisi kuantitas keterampilan ketrampilan
dan kualitas (pembatik membatik membatik
rata rata sudah berusia
tua sehingga perlu
regenerasi dan desain
motif batik monoton)

Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016 337

Aspek Produksi : Pelatihan dan Implementasi Peningkatan 1,2,3
praktek pelatihan dan implementasi
terbatasnya penyediaan penciptaan praktek pelatihan dan
bahan baku, masih desain baru penciptaan praktek
terbatasnya alat dan dan desain baru penciptaan
penciptaan desain produk pewarnaan dan pewarnaan desain baru
baru, terbatasnya teknologi serta serta dan pewarnaan
pewarnaan, belum penerapan penerapan serta
seriusnya penanganan teknologi teknologi tepat penerapan
limbah produksi. tepat. guna. teknologi tepat
Penataan/ guna.
penanganan
limbah
Industri

Aspek pemasaran : Pelatihan dan Implementasi Peningkatan 1,2,3
pelatihan dan implementasi
promosi masih belum praktek praktek pelatihan dan
manajemen praktek
optimal (termasuk manajemen pemasaran manajemen
(termasuk pemasaran
display produk yang pemasaran, menggunaka n (termasuk
web dan menggunaka n
masih kurang tertata) dan penataan e-comerce), web dan
penataan e-comerce),
jangkauan pemasaran masih show room show room penataan
dan show room
terbatas (terbatas pulau dan mengikuti dan
pameran mengikuti
jawa) jangkauan ke antar mengikuti pameran

pulau atau ke pameran

manca negara masih belum

optimal dan masih

menggunakan pihak ke 3.

Aspek administrasi Pelatihan dan Implementasi Peningkatan 1,2,3
praktek pelatihan dan implementasi
manajemen keuangan/ manajemen : praktek pelatihan dan
akuntansi, perpajakan, keuangan/aku administrasi praktek
ekspor import : Masih ntansi, manajemen, administrasi
minimnya pemahaman dan anggaran, termasuk manajemen
penerapan penataan perpajakan, ijin pembuatan soft termasuk
manajemen keuangan yang usaha, ekspor- ware bidang pendampinga n
baik, termasuk masalah impor t, HKI keuangan/aku aspek
anggaran, perpajakan, ntansi dan administrasi
perbankan, HKI pendapingan manajemen
bidang keuangan/aku
administrasi ntansi/perpaj
manajemen, akan,
HKI ekport-import
, HKI

338 Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016

PELAKSANAAN PENGABDIAN
Program kegiatan IbPE pada tahun I ini meliputi, survey lokasi UKM mitra,

sosialisasi program IbPE, Workshop desain ragam batik, pendampingan
peningkatan produksi batik dengan kompor listrik dan promosi batik dengan
mengikuti pameran batik.
1. Survey lokasi UKM mitra program IbPE

Pada tanggal 2 Januari 2016 tim IbPE melakukan survei lokasi industri batik
podhek. Survei ini bertujuan untuk melihat secara detail permasalahan yang dihadapi
mitra dalam usaha batik. Dari hasil survei diperoleh data mengenai permasalahan dan
kebutuhan mitra dalam hal membatik. Permasalahan mitra yaitu,
1) dari aspek sumber daya manusia: keterbatasan keterampilan membatik baik dari sisi
kuantitas dan kualitas (pembatik rata-rata sudah berusia tua sehingga perlu regenerasi),
masih rendahnya kesadaran pembatik terhadap karyanya sehingga maindset pembatik
sebagai kuli bukan pekerjaan seni, 2) Aspek produksi: terbatasnya penyediaan bahan
baku, masih terbatasnya penciptaan desain produk baru, terbatasnya alat untuk membatik,
terbatasnya teknologi pewarnaan, belum seriusnya penanganan limbah produksi, 3) Aspek
pemasaran: promosi masih belum optimal (termasuk display produk yang masih kurang
tertata) dan jangkauan pemasaran masih terbatas (terbatas di pulau jawa) jangkauan ke
antar pulau atau ke manca negara masih belum optimal dan masih menggunakan pihak ke-
3, adanya persaingan tidak sehat antar pengusaha dengan saling menjatuhkan harga
batik,
membanjirnya batik printing, adanya batik printing yang mirip dengan batik tulis dengan
harga 4 kali lipat lebih murah daripada batik tulis, 4) Aspek administrasi manajemen
keuangan / akuntansi, perpajakan, ekspor import: masih minimnya pemahaman dan
penerapan penataan manajemen keuangan yang baik, termasuk masalah anggaran,
perpajakan, perbankan, 5) Aspek hukum usaha: masih minimnya pemahaman proses
perijinan usaha dan patent.

Gambar 1: Survei Lokasi UKM mitra IbPE

Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016 339

2. Sosialisasi program IbPE bagi UKM mitra di Dusun Podhek Kecamatan
Palengaan Kabupaten Pamekasan
Kebutuhan dari UKM mitra yaitu 1) Pemasaran batik yang konsisten,

sehingga pengrajin terus berproduksi 2) kesepakatan harga antar pedagang sehingga harga
batik stabil, 3) kebutuhan kompor listrik dikarenakan kompor yang digunakan masih
menggunakan bahan bakar kayu dan sering mati, 4) kebutuhan pameran produk untuk promosi
batik podhek dan menarik pelanggan, 5) kebutuhan akan desain ragam motif batik dikarenakan
sulitnya membuat desain jika tidak ada contohnya, 6) daya saing terhadap membanjirnya batik
printing, 7) pengolahan limbah produksi yang semakin menumpuk, 8) motivasi perubahan
maindset pembatik dari pekerjaan kuli ke pekerjaan seni yang merupakan karya bernilai.

Berdasarkan permasalahan yang ditemukan dari UKM mitra, tim program IbPE
melakukan koordinasi internal dan dilanjutkan dengan koordinasi bersama UKM mitra
mengenai persiapan pelaksanaan program IbPE pada tahun I. Koordinasi menghasilkan
kesepakatan mengenai 1) Pelaksanaan pelatihan pengembangan batik, 2) pembuatan peralatan
membatik, 3) penerapan alat membatik, 4) peningkatan kualitas dan kuantitas produksi
batik, 5) Redesain lay-out produksi dan keselamatan kerja, 6) penajaman visi misi produksi,
dan 7) keikutsertaan dalam pameran batik.

Gambar 2: Sosialisasi Program IbPE bersama mitra UKM
3. Workshop desain ragam motif batik, manajemen keuangan, dan strategi pemasaran

batik podhek.
Workshop ini dilaksanakan pada bulan 23-24 Juli 2016. Materi workshop

340 Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016

meliputi desain ragam motif batik nusantara. Misalnya batik Solo, batik Jogja, batik Lasem,
batik Cirebon, batik Tanjung Bumi, batik Banyuangi, batik Kalimantan dan batik Papua. Tujuan
dari workshop ragam desain ini untuk memberikan wawasan atau inspirasi bagi pengrajin
untuk mendesain batik podhek yang lebih bergam (tidak monoton). Dari hasil wokshop desain
ragam motif batik ini pengrajin menyadari bahwa desain batik tidak hanya tumbuhan dan
hewan. Seperti yang dikatakan ibu Mudeyyina ‘oh.. mon bedhe contona engak reya sengkok
bisa agebey motif laen..’ jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, ‘kalo ada contohnya
seperti ini saya bisa gambar yang lain...’. Ibu Mudeyyinah ini sebbelumnya lebih banyak
membatik dengan motif liris dan junjung drajat.

Selanjutnya materi strategi pemasaran batik podhek. Pada materi ini dipaparkan
keluhan dari pelanggan batik akibat dari strategi penjualan pedagang batik. Keluhan dari
pelanggan batik diantaranya 1) ukuran kainnya kurang dari 2 meter, 2) batiknya masih ada
malamnya, 3) jika pesan seragam, warnanya kadang tidak sama dengan yang dipesan, terutama
warna hijau, 4) harga kadang jauh lebih tinggi dari pasaran atau jauh lebih rendah dari pasaran,
5) bahan kain kurang variatif, 6) masih minimnya produk yang sudah jadi (masih dalam bentuk
kain). Dari paparan ini pengrajin sadar bahwa keluhan dari pelanggan akan menghambat
pemasaran produknya sehingga para pengrajin sepakat untuk meingkatkan kualitas batik sesuai
harapan pelanggan.

Pada materi pengelolaan keuangan, narasumber menjelaskan cara
mengelolan keuangan.

Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016 341

Gambar 3: Workshop Ragam Desain Motif Batik, Pengelolaan Keuangan dan
Strategi Pemasaran

Setelah materi selesai, dilanjutkan dengan praktek membatik. Dalam
praktek ini pembatik mendesain terlebih dahulu kain mori yang akan dibatik, kemudian
desain yang sudah dilukis di kain mori ditulis ulang dengan menggunakan canting bermalam.
Canting yang digunakan merupakan canting dengan ujung yang lebih kecil sehingga hasil
batikan lebih halus. Canting ini juga terbuat dari bahan kuningan sehingga cairan malam lebih
cair lebih lama. Untuk memberikan kenyamanan dalam membatik, program tim IbPE
membuatkan gawangan dalam membatik, sehingga pembatik tidak cepat lelah dalam membatik
dan menjadikan pembatik lebih senang dalam membatik.

Gambar 4: Kegiatan membatik sebelum ada gawangan dan setelah memakai
gawangan

4. Pendampingan peningkatan produksi batik dengan kompor listrik pencair
malam
Pengrajin batik masih menggunakan tengku dengan bahan bakar kayu

dalam membatik. Penggunaan tengku kurang efisien dalam mencairkan malam, karena
membutuhkan waktu yang lama untuk menghasilkan bara api sebagai bahan pemanas. Selain
itu penggunaan tengku membuat bara api cepat padam bila tidak membakar kayu secara
kontinu. Apabila dibakar secara kontinu akan membuat malam terlalu mencair. Jika tidak
dibakar terus menerus bara api cepat padam dan membutuhkan waktu lama lagi dalam

342 Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016

menghasilkan bara api. Selanjutnya asap yang dihasilkan dari pembakaran kayu menggangu
pengelihatan pengrajin dalam membatik. Berdasarkan ketidakefisienan penggunaan tengku,
program IbPE memberikan solusi dengan penggunaan kompor listrik dalam membatik. Cara
kerja kompor listrik ini yaitu memanaskan malam dengan efek radiasi kumparan karbon akibat
aliran arus listrik. Voltasenya pun bisa diatur mulai 25 watt sampai 125
Watt. Pada penggunaan pertama voltasenya di maksimalkan dan dan jika malam sudah
mencair voltasenya secara otomatis akan stabil pada kisaran 65 Watt.

Gambar 4. pemanfaatan gawangan untuk memudahkan pengrajin membatik
Penggunaan kompor listrik ini berkat kerjasama tim IbPE dengan innovator
kompor listrik khusus membatik CV. Astoetik. Innovator kompor ini adalah mahasiswa yang
pernah meraih juara PKMK di PIMNAS.

Gambar 6: Kerjasama pemanfaatan kompor listrik pencair malam
5. Promosi Batik Podhek dengan Mengikuti Pameran Batik

Pameran batik ini dilaksanakan selama 10 pada tanggal 17-26 Juni 2016 di
Atrium Mall Olympic Garden Malang. Pameran ini bekerjasama dengan event organizer (EO)
GusIndo. Pameran batik ini betujuan untuk mempromosikan batik podhek pada masyarakat,
mengenalkan khas batik podhek, mencari pelanggan dan membuka wawasan mitra UKM
dalam memasarkan batik podhek. Pameran ini kelemahan dan kelebihannya. Kelemahannya

Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016 343

membutuh biaya operasional yang cukup tinggi namun kelebihannya juga tinggi.
Keikutsertaan UKM Mitra dalam pameran menambah wawasan dalam pemasaran batik,
menambah pelanggan dan mengenalkan batik podhek pada masyarakat Jawa Timur bahkan
Nasional.

DAFTAR PUSTAKA
[1] Kotler Philip. 2000. Manajemen Pemasaran (terjemahan), edisi 5. Jakarta:

Erlangga.
[2] ……………..., 2013. Profil Kabupaten Pamekasan (Pamekasan Regency Profil).

i. Kabupaten Pamekasan: Badan Perencanaan Pembangunan Daerah
ii. Kabupaten Pamekasan.

344 Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016

Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016 345

346 Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016

Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016 347

348 Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016

Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016 349

350 Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016

Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016 351

352 Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016

Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016 353

” Yogyakarta: Manhaj.
354 Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016

Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016 355

, bahwa: ”Pemekaran
pembangunan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat di daerah”.

356 Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016

Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016 357

358 Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016

”Teori Hukum Pembangunan”, yang inti teorinya
Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016 359

360 Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016

Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016 361

metode triple “C”,
362 Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016

stakeholders’
Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016 363

364 Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016

Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016 365

366 Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016

Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016 367

J. Craig Jenkins, 2001, “Conflict
368 Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016

Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016 369

370 Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016

Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016 371

372 Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016




––


Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016 373



siaran radio yang digunakan adalah “Zara”


”. Harga lebih banyak diartikan dengan berapa banyak uang yang dibayarkan untuk
374 Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016

“Radio Komunitas Lintas Merapi”.
Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016 375

376 Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016

‘kebaikan’ dengan mem
Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016 377

warga tidak segan untuk datang atau ‘main main’ ke radio ini. Radio ini
378 Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016

“”



Pratiwi, Ayu Tri. 2008. “Tingkat Partisipasi Warga Dalam Penyelenggaraan Radio

“”

Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016 379

pasar, niscaya akan dapat menjadi salah satu “Soko Guru“ baru perekonomian Indonesia yang
380 Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016

perguruan tinggi dan masyarakat sebagai ” subyek of interest ”
Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016 381


382 Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016


Click to View FlipBook Version