The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

2. BUKU 2 LENGKAP (bid. Psikologi pendidikan, Sosial Humaniora, Kesehatan Lingkungan)

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by adhim.irawan, 2016-10-15 01:14:40

2. BUKU 2 LENGKAP (bid. Psikologi pendidikan, Sosial Humaniora, Kesehatan Lingkungan)

2. BUKU 2 LENGKAP (bid. Psikologi pendidikan, Sosial Humaniora, Kesehatan Lingkungan)

Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016 433

dengan diberi nama “AS ZAHRA”, yang diharapkan perkumpulan ini dapat berkembang dan
434 Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016

STRATEGI KEBERHASILAN INDUSTRI KECIL MENENGAH MAKANAN RINGAN
MELALUI PENDEKATAN MOTIVASI USAHA DAN KEMAMPUAN USAHA DI
PRIANGAN TIMUR PROVINSI JAWA BARAT

THE SUCCESS STRATEGY SNACKS SMALL MEDIUM BUSINESS APPROACH THROUGH
MOTIVATION AND ABILITY ENTERPRISE IN WEST JAVA EAST PRIANGAN
Dwi Gemina1); Endang Silaningsih2)

1,2Program Studi Manajemen Universitas Djuanda Bogor
Email:[email protected]

Abstrak
Tujuan penelitian ini: 1) Merek dagang yang dimiliki IKM makanan ringan; 2) Menganalisis
penilaian dan harapan IKM terhadap motivasi usaha dan kemampuan usaha pada IKM makanan
ringan; 3)Menganalisis penerapan strategi yang dapat dilakukan IKM makanan. Metode penelitian
survey dan bentuk penelitian deskriptif.Objek penelitian IKM makanan ringan di Bandung, Tasikmalaya
dan Garut sebanyak 150 responden.Oleh karena kuesioner tertutup sebelum dilakukan pengujian dengan
menggunakan uji validitas dan uji reliabilitas. Alat analisis dalam penelitian menggunakan metode
Importance and Performance Analysis (IPA) serta penerapan strateginya.Hasil penelitian bahwa melalui
motivasi usaha sebesar 83,2 persen menyatakan sangat tinggi. kemampuan usaha sebesar 82 persen
menyatakan sangat baik Sedangkan kepentingan melalui motivasi usaha sebesar 86 persen menyatakan
sangat penting dan kemampuan usaha sebesar 86 persen menyatakan sangat penting. Sebanyak 25
industri menengah makanan ringan telah memiliki merek dagang. Strategi dilakukan dengan
meningkatkan semangat pengusaha dalam bekerja dipengaruhi oleh cocok atau tidaknya usahanya;
meningkatkan rasa tanggung jawab seorang pengusaha dalam memotivasi dirinya dalam bekerja;
melakukan pengawasan dari pengusaha membuat karyawan lebih giat bekerja; besarnya laba dapat
ditentukan oleh pengusaha; pengusaha memiliki rasa banggakarena dapat mandiri dalam segala hal
seperti permodalan, pengelolaan manajemen; pengusaha memiliki pengetahuan praktik dalam tehnik;
pengusaha memiliki pengetahuan praktik dalam pemrosesan.
Kata Kunci : Motivasi Usaha, Kemampuan Usaha dan Keberhasilan Usaha

Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016 435

1. PENDAHULUAN
Permasalahan yang di hadapi industri kecil menengah bersifat multi dimensi, antara lain

mencakup masalah-masalah internal dari setiap unit usaha, masalah eksternal dalam hubungannya dengan
pemasok (supplier), pembeli (buyer) atau konsumen dan pesaing, masalah-masalah yang terkait dengan
upaya pemberdayaan, serta masalah globalisasi ekonomi sehubungan dengan diperlakukannya
perdagangan bebas serta kemajuan teknologi informasi. Secara internal, industri kecil menengah yang
didominasi oleh usaha-usaha berskala sangat kecil (usaha mikro) berhadapan dengan masalah
keterbatasan sumber daya manusia (SDM).Ciri yang melekat pada para pelaku usaha mikro tersebut
adalah tingkat pendidikan yang rendah.Rendahnya tingkat pendidikan pada pelaku industri kecil
menengah menjadikan wawasan bisnis mereka menjadi sangat sempit, semangat kewirausahaan
(entrepreneurship) yang rendah, dan tidak mempunyai atau mengenal manajemen usaha.Ciri umum dari
usaha-usaha mikro adalah bahwa usaha ekonomi yang di jalankan masih ditujukan untuk memenuhi
kebutuhan hidup yang paling dasar, sehingga sebenarnya masih pada tingkat ekonomi subsistem.Ciri dari
ekonomi subsistem adalah kegiatan usaha yang yang dijalankan hanya untuk bertahan hidup guna
memenuhi kebutuhan paling minimum dan karenanya mereka lebih mengutamakan selamat (savety first)
dengan menghindari segala risiko sekecil apapun.Dalam kondisi tersebut, secra fisik, usaha-usaha sangat
sederhana, hasil produksi yang kualitasnya rendah, tidak mengenal pembukuan keuangan dan
sebagainya.Sedangkan masalah eksternal yang dihadapi usaha-industri kecil sangat berat. Secara khusus
pelaku ekonomi yang berusaha pada bidang produksi berhadapan dengan masalah ketergantungan yang
sangat tinggi kepada para pedagang pemasok bahan baku dan toko-toko atau pedagang pengumpul yang
membeli hasil mereka.

Pada saat yang bersamaan, usaha-usaha produksi kecil dan mikro serta menengah berhadapan
dengan produsen barang atau komoditas sejenis dari kalangan pengusaha menengah dan besar bermodal
kuat.Para pengusaha besar dengan akses yang mereka miliki kepada asset produksi menggunakan
teknologi produksi yang lebih canggih sehingga mampu menghasilkan barang dengan kualitas yang lebih
tinggi dan dengan volume produksi yang lebih banyak.Kondisi ini menyebabkan barang atau produksi
dari usaha-usaha produksi mikro dan kecil serta menengah kalah dalam persaingan, yang mengakibatkan
satu persatu mengalami kebangkrutan.Industri kecil menengah di Indonesia saat ini berada di
persimpangan jalan.Hambatan dan beberapa faktor utama yang menyebabkan industri kecil menengah
sulit berkembang itu menjadikan industri kecil menengah berada di posisi yang marginal dalam peta
ekonomi nasional.Padahal, sumbangan sektor ekonomi kecil terhadap pemerataan kesejahteraan dan
penyerapan tenaga kerja, sangatlah besar. Di sisi lain, beberapa potensi yang ada hingga kini belum
sepenuhnya dapat dioptimumkan. Dengan peluang yang masih terbuka lebar, pengembangan potensi
usaha rakyat patut mendapatkan dukungan sebagai usaha membentuk kekuatan ekonomi nasional yang
tangguh.

Pengalaman di beberapa negara maju menunjukkan bahwa usaha kecil dapat berkembang
menjadi kompetitif dan berintegrasi dengan perekonomian modern. Secara rinci dapat diuraikan sebagai
berikut: Pertama, usaha kecil pada tahap awal selalu tergusur oleh usaha-usaha besar karena tingginya
tingkat persaingan, tetapi dalam jangka panjang terjadi perkembangan yang pesat, setidaknya
bertambahnya daya tahan usaha kecil. Pengalaman di Amerika, misalnya menunjukkan bahwa
perekonomian negara ini terdiri dari usaha-usaha kecil. Bertahan dan kepesatan perkembangannya dinilai
sebagai dampak kebijaksanaan yang selama ini diberikan, seperti pembatasan-pembatasan melalui
undang-undang anti monopoli terhadap usaha-usaha besar.Selain itu, perlindungan pembinaan dan
pengembangan baik melalui undang-undang maupun administrasi, terhadap usaha kecil dalam rangka
memelihara kebebasan ekonomi terus dipacu. Kedua, adanya proses modernisasi di kalangan usaha kecil.
Tersedianya modal, baik dari bank maupun tabungan yang dilakukan oleh calon pengusaha, semakin
mendorong usaha kecil untuk dapat melakukan proses modernisasi hasilnya adalah apa yang kemudian
disebut industri kecil modern. Ketiga, industri atau usaha kecil tidak harus bertentangan dengan industri
besar, dimana usaha skala besar menyisihkan usaha skala kecil. Berbagai keunggulan pada usaha kecil,
misalnya: lebih efisien, fleksibel dan inovatif, menjadikan jenis usaha kecil dapat mengungguli usaha
besar.

436 Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016

Di negara-negara maju, usaha kecil memiliki kemampuan keluar dari berbagai macam tempaan.
Sementara itu, timbul pemikiran untuk bias memanfaatkan usaha-usaha kecil, terutama dalam pasok
bahan baku atau bahan antara, yang akan diproses oleh usaha-usaha besar. Dengan demikian

pengembangan kemitraan di antara keduanya merupakan syarat mutlak bagi pemerataan pendapatan di
negara-negara maju tersebut. Keempat, industri kecil terbukti mampu survive dalam guncangan krisis
ekonomi. Krisis yang terjadi di Asia, khususnya di Indonesia, menjadi bukti kemampuan usaha kecil
sebagai kekuatan industri kecil yang bertahan hidup, bahkan mununjukkan perkembangan.Beralihnya

para korban Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) misal akibat krisis ke sektor informal dan usaha kecil,
telah membantu menyelamatkan kehidupan ekonomi masyarakat pada umumnya. Berbagai uraian di atas
terlihat bahwa dalam jangka panjang, usaha kecil lebih mampu berperan dalam perekonomian nasional.
Adapun beberapa potensi industri kecil yang sebagian besar masih dikelola secara sederhana sebagai

elemen kekuatan dan potensi perekonomian nasional, dapat dijabarkan sebagai berikut:
Pertama, jumlah industri kecil dalam perekonomian nasional terhitung sangat besar, baik sebagai

produsen, distributor, maupun konsumen.Kedua, kegiatan produksi dan distribusi dalam industri kecil
menampung sebagian besar angkatan kerja.Pada masa mendatang, tersedianya jumlah tenaga kerja ini

diharapkan mampu menopang industri kecil mewujudkan produk unggulan.Hal ini tentunya tanpa
mengabaikan prinsip pembuatan produk yang berdaya saing (competitive advantage) dengan peningkatan
kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) yang memadai.Ketiga, produk yang dihasilkan mampu bersaing di
pasar internasional.Kecuali menggunakan tenaga kerja yang murah, local content produk industri kecil
cukup tinggi, sehingga tidak terlalu terpengaruh terhadap naik turunnya nilai dolar.Dengan membuka
peluang pasar barang-barang hasil industri kecil sebagai produk ekspor.Apabila ekonomi di negara-negara
tujuan ekspor mengalami pertumbuhan yang cukup baik.Keempat, jarang terjadi perselisihan
pekerja/perburuhan, sehingga produksi tetap berjalan lancar.Tenaga kerja yang mereka gunakan

kebanyakan adalah keluarga, kerabat dekat, atau paling jauh tetangga dekat.Rasa saling pengertian antara
pekerja dengan usaha juga mendukung perkembangan industri kecil.Kelima, karena sifatnya yang kecil,
maka usaha rakyat relative tahan terhadap berbagai perubahan yang cepat.Kelenturan ini tidak dimiliki
oleh usaha besar.Dari uraian tentang permasalahan dan potensi di atas, terlihat adanya kesempatan dan
peluang untuk mengembangkan industri kecil.

Kemampuan membaca peluang pasar (opportunity market) dan penciptaan produk yang berdaya
saing dengan melakukan diversifikasi produk yang ditunjang oleh motivasi usaha dan kemampuan usaha
(kemampuan profesional pengelolaannya), sangat menentukan keberhasilan industri kecil

menengahmakanan ringan, camilan, atau kudapan (snack) adalah istilah bagi makanan yang bukan
merupakan menu utama (makan pagi, makan siang atau makan malam). Sedangkan makanan yang
dianggap makanan ringan adalah sesuatu yang dimaksudkan untuk menghilangkan rasa lapar seseorang
sementara waktu, memberi sedikit pasokan tenaga ke tubuh, atau sesuatu yang dimakan untuk dinikmati

rasanya.Adapun kriteria usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) sesuai dengan ketentuan Undang-
Undang Nomor 20 Tahun 2008 dan industri kecil dan menengah (IKM) menurut Badan Pusat Statistik
dapat dilihat pada Tabel 1 berikut ini :

Tabel 1. Kriteria UMKM Menurut UU No 20/2008 dan Kriteria Industri Rumah

Tangga, Kecil dan Menengah

No Uraian Kriteria Menurut UU No 20/2008 Uraian Kriteria

Menurut BPS

Asset (Rupiah) Omzet (Rupiah) Jumlah Tenaga

Kerja

1 Usaha Mikro 50 juta 300 juta Industri Rumah 4 orang

Tangga

2 Usaha Kecil >50 juta-500 juta >300 juta-2,5 miliar Industri Kecil 5 – 19 orang

3 Usaha Menengah >500 juta-10 >2,5 miliar-50 miliar Industri Menengah 20 – 99 orang

miliar

Sumber: Leonardus Saiman, 2011. Kewirausahaan (Teori, Praktik dan Kasus-kasus) dan Tambunan, 2009

Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016 437

Sektor UMKM atau industri rumah tangga, kecil dan menengah merupakan penopang utama
perekonomian Indonesia, hal tersebut dapat dilihat dari besarnya jumlah pelaku UMKM atau industri
rumah tangga, kecil dan menengah yang mencapai 99 persen dari atau usaha sendiri total 55.211.396
pelaku usaha di Indonesia berskala UMKM atau industri rumah tangga, kecil dan menengah dan tercatat
mampu menciptakan lapangan pekerjaan sebanyak sekitar 99,4 juta tenaga kerja. Sementara, usaha besar
menyerap sekitar 2,8 juta pekerja (Sumber: Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah, 2015).

Propinsi Jawa Barat merupakan salah satu propinsi di Indonesia yang memiliki potensi bagi
perkembangan sektor UMKM atau industri rumah tangga, kecil dan menengah, dimana saat ini peran
UMKM atau industri rumah tangga, kecil dan menengah dalam pembentukan kesejahteraan masyarakat
Jawa Barat sangat besar. Dengan jumlah UMKM atau industri rumah tangga, kecil dan menengah
sebanyak 8.214.262 unit dan menyerap 13.911.531 orang tenaga kerja dari total 18.137.043 jiwa
penduduk yang bekerja, maka dapat dipastikan sebagian besar pelaku usaha dan tenaga kerja ada di Jawa
Barat (Sumber: Rully Indrawan, 2013).

Industri rumah tangga, kecil dan menengah merupakan bagian dari UMKM yang berjumlah
kurang lebih 56,5 juta unit (Kemkop dan UKM, 2013) ini memegang peranan penting dalam
perekonomian Indonesia, bahkan telah diakui keberadaannya sebagai salah satu pelaku ekonomi nasional
yang handal dan diharapkan dapat menjadi penggerak utama (primer mover) dalam ekonomi Indonesia
karena berperan dalam menciptakan lapangan usaha dan lapangan kerja sebesar 11,4 persen dari total
tenaga kerja yang diserap oleh UMKM atau industri rumah tangga, kecil dan menengah memberi
kontribusi bagi pengembangan dan pertumbuhan ekonomi daerah.

Kebijakan Industri Nasional telah menyebutkan bahwa dalam rangka pengembangan kompetensi
inti industri daerah setiap Pemerintah Provinsi ditugasi menyusun peta panduan pengembangan industri
unggulan provinsi. Kemudian, Pemerintah Kabupaten/Kota juga ditugasi untuk menyusun peta panduan
pengembangan kompetensi inti industri Kabupaten/Kota. Hal ini berkaitan dengan visi Industri Nasional
2025 yang salah satunya mengamanatkan untuk “Memilih produk-produk unggulan daerah
(provinsi,kabupaten/kota) untuk diolah dan didorong agar tumbuh dan berkembang menjadi kompetensi
inti industri daerah, dan menjadi tulang punggung perekonomian regional.” Hal itu, pada akhirnya,
dicita-citakan untuk bisa dipenuhi oleh sebuah sinergi antara IKM dan Industri Besar.

IKM memegang peranan penting dalam pembangunan ekonomi kerakyatan.Industri tersebut
terbukti tangguh dari dampak krisis ekonomi global.Potensi industri kecil dan menengah di sektor
makanan ringan masih prospektif, mengingat jumlah penduduk yang besar sekitar 250 juta jiwa.Pelaku
usaha di sektor makanan ringan, sedang bersaing ketat dengan sesama pelaku usaha lokal maupun dengan
produk impor, baik itu legal maupun ilegal, dari China, Malaysia, Thailand, atau Jepang.

Dari segi pemain, jumlah perusahaan yang bergerak dalam industri makanan ringan juga sangat
banyak, baik yang telah atau belum memiliki badan hukum, dengan varian produk yang dijual setiap
perusahaan juga bermacam-macam.Kondisi ini mengindikasikan tingkat persaingan dalam industri
makanan ringan tergolong tinggi. Pelaku usaha di sektor makanan ringan tersebut tidak hanya bersaing
dengan sesama pelaku usaha lokal namun juga dengan produk impor, baik yang legal maupun illegal,
yang berasal dari China, Malaysia, Thailand, ataupun Jepang. Tingkat persaingan yang tinggi dalam
industri makanan ringan tersebut mendorong perusahaan yang bergerak di dalamnya untuk memiliki
keunggulan bersaing. Kewirausahaan merupakan suatu disiplin ilmu tersendiri, memiliki proses
sistematis, dan dapat diterapkan dalam bentuk penerapan kreativitas dan keinovasian. Seperti
dikemukakan oleh Thomas W. Zimmerer (1996), “Entrepreneurship is the result of disciplined,
systematic procces of applying creativity and innovations to needs and opportunities in the market
place”.Kewirausahaan merupakan hasil dari suatu disiplin, proses sistematis penerapan kreativitas dan
inovasi dalam memenuhi kebutuhan dan peluang di pasar.

Hasibuan (2000) bahwa motivasi merupakan pemberian daya penggerak yang menciptakan
kegairahan kerja seseorang, agar mereka mau bekerja sama, bekerja efektif dan terintegrasi dengan segala
daya dan upaya untuk mencapai kepuasan. Selanjutnya kemampuan seseorang itu pada dasarnya
merupakan hasil proses belajar, yang meliputi aspek-aspek knowledge (pengetahuan), attitude (sikap) dan

438 Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016

skill atau ketrampilan (Nadler, 1982). Menurut Luk (1996) berkaitan dengan faktor penentu keberhasilan
usaha industri kecil ini, hasil penelitiannya menemukan bahwa keberhasilan usaha kecil ditandai oleh
inovasi, perilaku mau mengambil risiko.Oleh sebab itu paradigma penelitian berikut ini.

IKM Merek Kewirausahaan: Penilaian Penerapan
Makanan Dagang Motivasi Usaha IKM Strategi Untuk
Kemampuan Usaha Meningkatkan
Ringan Kepentingan
IKM Keberhasilan Usaha

Rekomendasi
Hasil

Gambar 1.Paradigma Penelitian

2. METODE PENELITIAN

Desain Penelitian dan Sampel Penelitian
Secara umum penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis penilaian IKM

makanan ringan terhadap keberhasilan usaha melalui motivasi usaha dan kemampuan usaha serta
kinerja IKM makanan ringan terhadap keberhasilan usaha melalui motivasi usaha dan kemampuan usaha
sehingga memperoleh penerapan strategi. Sesuai dengan tujuannya, maka penelitian ini dirancang
sebagai suatu penelitian deskriptif.Hasil yang diperoleh dalam penelitian ini diharapkan dapat
memberikan penjelasan tentang keberhasilan usaha dengan pendekatan motivasi usaha dan kemampuan
usaha serta merek dagang IKM.Jumlah sampel dalam penelitian ini 150 unit usaha industri kecil menegah
makanan ringan sebagai sampel penelitian ini menurut Gay dan Diehl Roscoe (1992) untuk penelitian
deskriptif ukuran sampel lebih dari 30 dan kurang dari 500 adalah tepat untuk kebanyakan penelitian,
untuk memenuhi syarat tersebut maka setiap wilayah diambil sampel minimal sebesar 50 sampel.
Pengambilan sampel menggunakan teknik random sampling didasarkan pada daerah yang mempunyai
potensi pengembangan industri (sentra industri) terdiri dari 3 wilayah Kabupaten/Kota di Jawa Barat
yaitu Bandung, Tasikmalaya dan Garut. Industri Kecil Menengah makanan ringan yaitu: sale pisang,
keripik pisang, dodol Garut, wajik, opak, rengginang, kue sangu (aci), keripik tempe, kerupuk, stik keju,
wajit, ladu, kue kuping gajah, kue somprong, koya, kue tambang, kue kering, kue sus kering, chocodot
(cokelat dodol), dorokdok Garut, emplod (endog lewo), burayot dan galendo merupakan makanan ringan
produksi dari Provinsi Jawa Barat. Melakukan wawancara mendalam (in-depth interview) dengan pihak-
pihak yang berkaitan penelitian ini untuk melengkapi analisis. Data sekunder diperoleh dari BPS, Dinas
Perindustrianserta studi pustaka.

Metode Analisis Data
Data yang dikumpulkan melalui kuesioner akan diolah dengan pendekatan kualitatif. Jenis

kuesioner yang digunakan adalah kuesioner tertutup dengan skala ordinaldapat diukur dengan
menggunakan skala likert. Secara lebih rinci, operasionalisasi variabel tersebut dapat dilihat pada
Tabel 2 berikut ini.

Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016 439

Variabel Konsep Tabel 2. Operasionalisasi Variabel Skala
Variabel Ukur
Keberhasilan Sub Variabel Konsep Sub Indikator Harapan
Usaha Keberhasilan Variabel
(Sumber: Yuyus Sangat
Suryana dan usaha industri Motivasi Merupakan - Motif Penilaian
Kartib Bayu, kecil di Penting/ Sangat
2013; Algifari, pengaruhi Usaha dorongan yang - Harapan Penting/
2003; Luk, 1997) oleh berbagai (Sumber: diinginkan - Insentif Cukup Tinggi/
factor Leonardus seseorang untuk - Laba Penting/ Tinggi/
Saiman, 2011; melakukan - Kebebasan Kurang Cukup
Irham Fahmi, suatu perbuatan - Impian Personal Penting/ Tinggi/
2014; Hendro, guna mencapai - Kemandirian Tidak Kurang
2011: Buchari tujuan Penting Tinggi/
Alma, 2013: organisasi. - Memiliki Tidak Tinggi
Rusdiana, Pengetahuan Sangat
2013) Kemampuan Usaha Penting/ Sangat Baik/
Kemampuan mempengaruhi Penting/ Baik/
Usaha kinerja - Sikap Cukup Cukup Baik/
(Sumber: pengusaha kecil - Memiliki Penting/ Kurang Baik/
Suryana, 2014 yang pada Kurang Tidak Baik
Michael gilirannya akan Keterampilan Penting/
Hariss, 2000; mempengaruhi Menghitung Tidak
Yuyun tingkat - Kematangan Penting
Wirasasmita,1 keberhasilan Emosional
993; Marzuki perusahaan - Memiliki
Usman, 1997; Imajinasi atau
Grounlund, Khalayan
1977) - Memiliki
Pengetahuan
Praktik
- Memiliki
Pandangan ke
Depan
- Ketrampilan
Menemukan
- Memiliki
Ketrampilan
Berkomunikasi

Langkah-Langkahnya
Data yang terkumpul akan dianalisis secara deskriptif serta mengetahui akibat mana yang harus

diprioritaskan dengan membandingkan atribut lainnya, maka digunakan Importance Performance
Analysis (IPA) atau analisis tingkat kepentingan/harapan (Setiawan, 2005). Penerapan teknik IPA dimulai

dengan identifikasi atribut-atribut yang relevan terhadap situasi pilihan yang diamati. Di lain pihak,
sekumpulan atribut yang melekat kepada barang atau jasa dievaluasi berdasarkan seberapa penting
masing-masing produk tersebut bagi IKM makanan ringan dan bagaimana barang atau jasa tersebut
dipersepsikan/penilaian oleh IKM. Evaluasi ini biasanya dipenuhi dengan melakukan survey terhadap

sampel yang terdiri dari IKM makanan ringan yang ada di Bandung, Tasikmalaya dan Garut. Dalam
penelitian ini terdapat 2(dua) buah variabel yang diwakili oleh huruf Y dan X di mana Y merupakan
harapan IKM dan X merupakan penilaian IKM. Keberhasilan usaha ditentukan oleh tingkat kesesuaian
antara penilaian IKM untuk setiap indikator yang ada di motivasi usaha dan kemampuan usaha dengan

demikian tingkat kesesuaian ini adalah rasio antara tingkat kinerja dengan tingkat kepentingan sebagai

berikut : TKi = + 100%

Dimana :TKi = Tingkat kesesuaian responden untuk indikator; Xi = Skor penilaian
kinerja IKM indikator i; Yi= Skor penilaian kepentingan indikator i

Setelah tingkat kesesuaian IKM diketahui, untuk keperluan analisis IPA digunakan diagram kartesius.
Masing-masing indikator dideskripsikan atau dipetakan posisinya dalam satu diagram kartesius. Dalam
diagram kartesius sumbu mendatar (X) diisioleh indeks kinerja atau nilai rata-rata skor tingkat kinerja

indikator sedangkan sumbu vertikal (Y) diisi oleh kepentingan atau nilai rata-rata skor tingkat
kepentingan setiap indicator dengan rumus sebagai berikut :

440 Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016

Keterangan : Skor rata-rata harapan IKM; Skor rata-rata penilaian

IKM; Jumlah responden.

Hasil dari rata-rata harapan IKM makanan ringan dan penilaian IKM makanan ringan
dimasukkan ke dalam diagram cartesius. Diagram kartesius merupakan suatu bangun yang dibagi atas 4

(empat) bagian yang dibatasi oleh dua garis yang berpotongan tegak lurus pada titik-titik dimana

adalah rata-rata dari rata-rata skor penilaian IKM terhadap motivasi usaha, kemampuan usaha dan

adalah rata-rata dari rata-rata skor harapan IKM makanan ringan terhadap seluruh faktor-faktor
yang mempengaruhi penilaian IKM makanan ringan atas motivasi usaha dan kemampuan usaha untuk
meningkatkan keberhasilan usaha.

Rumus untuk mencari dan menurut Supranto (1997) adalah sebagai berikut:

Dimana : Banyaknya variabel motivasi usaha dan kemampuan usaha.

Selanjutnya faktor-faktor yang mempengaruhi harapan dan penilaian IKM makanan ringan tersebut
akan dijabarkan dan dibagi menjadi empat bagian ke dalam diagram diagram kartesius, seperti

ditunjukkan pada gambar berikut ini :

High Kuadran I Kuadran II
(Prioritas Utama) (Pertahankan

Kuadran III Kuadran IV
(Berlebihan)

Low High
Low
Performance (Tingkat Kinerja)

Gambar 2. Pembagian Kuadran Importance Perfomane Analysis (IPA)
Sumber : Rangkuti 2003

Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016 441

Diagram ini terdiri dari 4(empat) kuadran (Supranto, 2001):
a. Kuadran I (Prioritas Utama).Kuadran ini memuat keberhasilan usaha melalui motivasi usaha dan

kemampuan usahayang dianggap penting oleh IKM tetapi pada kenyataannya penilaian IKM tersebut
belum sesuai dengan harapan IKM. Tingkat kinerja dari motivasi usaha dan kemampuan usaha
tersebut lebih rendah daripada tingkat harapan IKM terhadap indikator-indikator tersebut yang
terdapat dalam kuadran ini harus lebih ditingkatkan lagi kinerjanya agar dapat bersaing pada pasar
global.
b. Kuadran II (Pertahankan Prestasi). Keberhasilan usahayang terdapat dalam kuadran ini menunjukkan
bahwa motivasi usaha dan kemampuan usaha tersebut penting dan memiliki kinerja yang tinggi.
Sehingga perlu dipertahankan untuk masa yang akan datang.
c. Kuadran III (Prioritas Rendah). Keberhasilan usahayang terdapat dalam kuadran ini dianggap kurang
penting oleh IKM dan pada kenyataannya kinerjanya tidak terlalu istimewa. Peningkatan terhadap
motivasi usaha dan kemampuan usaha yang masuk dalam kuadran ini dapat dipertimbangkan
kembali karena pengaruhnya terhadap manfaat yang dirasakan oleh IKM.
d. Kuadran IV (Berlebihan). Kuadran ini memuat keberhasilan usaha melalui motivasi usaha dan
kemampuan usaha dianggap kurang penting oleh IKM dan dirasakan terlalu berlebihan. Peningkatan
kinerja pada kuadran ini hanya akan menyebabkan terjadinya pemborosan sumber daya.

3. HASIL DAN PEMBAHASAN

IKM Makanan Ringan Provinsi Jawa Barat
Industri makanan ringan di Provinsi Jawa Barat saat ini tengah berkembang sangat

pesat.Pertumbuhan maupun perkembangan terutama pada industri kecil dan menengah karena mampu
bertahan di tengah kondisi krisis moneter.Secara makro Industri Kecil Menengah (IKM) dapat
memberikan sumbangan berarti bagi pertumbuhan ekonomi nasional.IKM makanan ringan di Provinsi
Jawa Barat mampu menjadi penggerak pembangunan daerah khususnya di bidang teknologi, memperluas
kesempatan berusaha, dan kesempatan kerja serta peningkatan nilai tambah.

Kondisi IKM Makanan Ringan Provinsi Jawa Barat
Beberapa IKM makanan ringan Provinsi Jawa Barat mulai berdiri tahun 1970 yang merupakan

usaha padat karya, bahan baku yang digunakan berasal dari lokal dan daerah luar Jawa Barat. IKM
makanan ringan yang ada di Propinsi Jawa Barat telah memiliki sertifikasi P-IRT (Produksi Pangan
Industri Rumah Tangga) dan Sertifikat Halal dan Haki. Hal ini menunjukan bahwa produsen yang
bergerak di industri makanan sadar akan pentingnya sertifikasi produk makanan jika ingin serius
mengembangkan usaha makanan. IKM makanan ringan menyadari bahwa masyarakat mengkonsumsikan
makanan yang tidak hanya enak dan terjangkau, melainkan juga sehat.Oleh sebab itu akan menambah
kepercayaan diri terhadap produk yang akan dipasarkan. Masyarakat menjadi lebih percaya bahwa produk
tersebut aman dikonsumsi dan yakin bahwa produk yang dikonsumsinya tidak memiliki kandungan yang
diharamkan menurut syariat Islam. Pemasaran IKM makanan ringan umumnya dilakukan di toko/outlet
sendiri dan daerah pemasaran umumnya mencakup wilayah Jawa Barat, Jakarta dan Bali.Kendala usaha
yang kerap dihadapi adalah faktor cuaca, sedangkan produk IKM makanan ringan Provinsi Jawa Barat
memiliki kemasan yang menarik.Ada beberapa IKM belum pernah mengikuti pelatihan, Kegiatan industri
kecil makanan ringan tersebut umumnya tidak memiliki pencatatan kalaupun ada pembukuan masih
sederhana.

Teknologi Produksi IKM Makanan Ringan
Teknologi IKM masih sederhana dan dihadapkan pada rendahnya daya saing industri yang

disebabkan penggunaan mesin dan peralatan yang masih sederhana, berakibat pada rendahnya

442 Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016

produktivitas dan kualitas produk.Keterbatasan modal untuk investasi mesin dan peralatan produksi baru
menjadi kendala utama bagi IKM termasuk keterbasan kapasitas SDM, legal aspek, hingga akses pasar.

Aspek Lingkungan IKM Makanan Ringan
Limbah yang dihasilkan dari industri kecil dan menengah hampir tidak ada, kecuali berupa

limbah padat dari kulit pisang dapat dikatakan ramah lingkungan. Limbah padat yang dihasilkan tersebut
dapat dimanfaatkan sebagai pupuk atau sebagai pakan ternak. Sedangkan limbah berupa limbah cair
proses pencucian dan limbah padat sisa produksi atau kemasan produk dan tidak tergolong kategori B3.
Limbah cair hanya disalurkan langsung ke saluran pembuangan, sementara limbah padat dikumpulkan ke
tempat pembuangan sementara (TPS) untuk selanjutnya diangkut ke tempat pembuangan akhir (TPA).

Rekapitulasi Pengelola Usaha IKM Makanan Ringan
Adapun rekapitulasi karakteristik pengelola usaha berikut ini bahwa jenis kelamin laki-laki

sebanyak 96 pengelola usaha atau 64 persen hal ini menunjukan laki-laki yang mempunyai peran sebagai
kepala rumah tangga. Usia 35 – 55 tahun sebanyak 90 pengelola usaha atau 60 persen hal ini menunjukan
bahwa usia tersebut merupakan usia produktif. Lama usaha lebih dari 10 tahun yaitu 120 pengelola usaha
atau 80 persen hal ini menunjukan bahwa mayoritas pengelola usaha berpengalaman dalam menjalankan
usahanya. Mayoritas pengelola usaha berpendidikan sekolah menengah pertama yaitu 98 pengelola
usaha atau sebesar 65 persen. Hal ini menunjukan bahwa dalam menjalankan usahanya tidak memerlukan
pendidikan yang tinggi serta jumlah tenaga kerjanya IKM makanan ringan berkisar antara 5 – 55
orang.jumlah tenaga kerjanya IKM makanan ringan berkisar antara 5 - 19 orang sebanyak 125 pengelola
usaha atau 83 Persen. Hal ini menunjukan bahwa industri makanan ringan berada pada industri kecil.

Analisis Persepsi dan Kepentingan IKM Makanan Ringan di Bandung, Tasikmalaya dan Garut
Peran keberhasilan usaha melalui motivasi usaha sebesar 83,2 persen menyatakan sangat tinggi, hal

ini karena seorang wirausaha memperoleh kursus atau pendidikan non gelar bahkan setelah
mendengarkan ceritra sukses pengalaman bisnis yang dimiliki oleh orang-orang sekitarnya. Meskipun
dengan bisnis kecil-kecilan dapat menjadi pemicu potensi dan motivasi utama untuk menjadi wirausaha
yang berhasil. Untuk meraih keberhasilan itu, tentunya mempunyai kiat-kiat dalam menciptakan peluang
usaha, karena tahap pemanfaatan dan pengembangan kesempatan sudah menjadi hal yang rutin. ide-ide
inovatif seperti hal tersebut akan membantu dalam memotivasi pengusaha yang maju.

Kemampuan usaha sebesar 82 persen menyatakan sangat baik bahwa wirausaha yang memiliki
kemampuan dalam mengelola usahanya melalui kreativitas dan inovasi dalam rangka mengciptakan nilai
tambah. bahwa dalam mengukur keberhasilan bagi wirausaha dapat dibuktikan oleh prestasi yang dicapai,
yaitu pertumbuhan dari perusahaan yang dikelolanya. Sedangkan pertumbuhan ini dibuktikan oleh
penjualan, aset yang dimiliki perusahaan, dan jumlah karyawan.Pencapaian bukan harus sekaligus
dibuktikan, melainkan tercapainya keberhasilan itu dilakukan secara bertahap.

Keberhasilan usaha melalui kepentingan pengelola usaha berdasarkan motivasi usaha sebesar 86
persen menyatakan sangat penting, hal ini dapat dilakukan jika pemerintah ikut menfasilitasi dengan cara
memudah proses pemberian hak intelektual seperti lisensi, trade mark, hak waralaba, hak cipta dan
sejenisnya. Dalam aspek lain keberanian seseorang untuk mendirikan usaha sendiri (berwirausaha) sering
kali terdorong oleh motivasi sehingga dapat membangkitkan minat untuk mulai mencoba berwirausaha.
Motivasi untuk menjadi seorang wirausaha biasanya muncul dengan sendirinya. Menurut Sunyoto,
(2012) bahwa motivasi adalah suatu perangsang keinginan (want) daya penggerak kemauan bekerja
seseorang, setiap motif mempunyai tujuan tertentu yang ingin dicapai.Motivasi merupakan hubungan
sistematik antara suatu respons atau suatu himpunan respon dan keadaan dorongan tertentuyang terdiri
motif, harapan, insentif, laba, kebebasan, impian personal dan kemandirian.

Selanjutnya kepentingan IKM berdasarkan kemampuan usaha sebesar 86 persen menyatakan sangat
penting, hal ini disebabkan kewirausahaan tersebut mempelajari tentang nilai kemampuan dan perilaku
seseorang dalam berkreasi dan berinovasi sedangkan obyek studi kewirausahaan adalah kemampuan yaitu

Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016 443

kemampuan merumuskan tujuan hidup, kemampuan memotivasi diri, kemampuan berinisiatif,
kemampuan membentuk modal, kemampuan mengatur waktu dan kemampuan membiasakan diri untuk
belajar dari pengalaman (Sumber: Suryana, 2013). Oleh sebab itu, kewirausahaan merupakan
kemampuan, sifat-sifat, nilai-nilai, dan kepribadian seseorang yang diwujudkan dalam bentuk prilaku.

Analisis Merek Dagang IKM Makanan Ringan
Merek dagang dikeluarkan oleh Dirjen HAKI IKM tersebut terlebih dahulu memiliki perizinan

Pangan Industri Rumah Tangga/PIRT dikeluarkan oleh Dinas Kesehatan Asosiasi Industri Kecil dan
Menengah, Halal, SNI dan Paten. Dinas Perindagkop menfasilitasi dengan pembinaan Good
Manufacturing Practice/GMP, Association For Manufacturing Technology/AMT, PIRT dan halal
minimal 10 IKM sampai dengan 200 IKM. Hal ini sangat tergantung pada pelaku usaha atau IKM.
Kesulitan yang dialami IKM memperoleh HAKI bisa sampai setahun, rendahnya faktor biaya,
kemandirian masyarakat pada usahanya tidak mengikuti kemasan yang baik dimana ada kadaluarsa,
kesadaran hukum masih kurang, GMP (cara produksi pangan yang baik) tidak diperhatikan. Tantangan
masyarakat ekonomi ASEAN (MEA) adalah kesadaran masyarakat menggunakan produk dalam negeri
dengan pembinaan peningkatan kualitas produk, pemasaran, desain kemasan, mengikuti pameran dalam
negeri dan luar negeri.Industri menengah makanan ringan sebanyak 25 industri menengah makanan
ringan pada umumnya sudah memiliki merek dagang karena memiliki modal sudah kuat serta mengikuti
pameran di dalam negeri maupun diluar negeri.

Analisis Validitas dan Reliabilitas Instrumen Penelitian Tentang Persepsi IKM

Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat-tingkat kevalidan atau kesahihan

sesuatu instrumen (Arikunto, 2002). Sebuah instrumen dikatakan valid apabila mampu mengukur apa

yang diinginkan dan dapat mengungkap data dari variabel yang diteliti secara tepat. Menurut Sugiyono

(2004), kriteria validitas apabila koefisien korelasi di atas atau sama dengan 0,3 maka item tersebut

dinyatakan valid, sedangkan item yang memiliki korelasi dibawah 0,3 maka dinyatakan tidak valid

variabel motivasi usaha dan kemampuan usaha adalah valid. Reliabilitas adalah sesuatu instrumen cukup

dapat dipercaya untuk digunakan sebagai alat pengumpul data karena instrumen tersebut sudah baik

(Arikunto, 2002). Untuk uji reliabilitas digunakan teknik , dimana suatu instrumen

dikatakan reliabel apabila memiliki koefisien sebesar 0,6 atau lebih. Variabel motivasi usaha dan

kemampuan usaha adalah reliabel.

Analisis Keberhasilan Usaha Industri Kecil Menengah MakananRingan Berbasis Motivasi

Usaha dan Kemampuan Usaha
Adapun indikator motivasi usaha dan kemampuan usaha berdasarkan persepsi

dan kepentingan berikutini:

Tabel 3. Keberhasilan Usaha Industri Kecil Menengah Makanan Ringan
Berbasis Motivasi Usaha dan Kemampuan Usaha

No Indikator Keberhasilan Usaha Persepsi IKM Kepentingan IKM
Makanan Ringan
Makanan Ringan
4,21
Motivasi Usaha 4,25
4,36
1 Prestasi mempengaruhi motivasi setiap 4,05
4,34
pengusaha dalam bekerja

2 Pengakuan dari mitra usaha membuat 4,37

pengusaha lebih giat bekerja

3 Semangat pengusaha dalam bekerja 3,94

dipengaruhi oleh cocok atau tidaknya

usahanya

4 Tanggung jawab seorang pengusaha dalam 3,95

444 Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016

memotivasi dirinya dalam bekerja 4,32 4,35
5 Kemajuan perusahaan memberikan semangat 4,27 4,23
3,95 4,34
pada pengusaha untuk lebih giat bekerja 4,27 4,29
6 Kedekatan hubungan antar karyawannya 4,45 4,31
4,05 4,33
memberikan rasa nyaman dalam bekerja 4,25 4,26
7 Pengawasan dari pengusaha membuat 4,22 4,33

karyawan lebih giat bekerja 3,96 4,35
8 Gaji dan tunjangan dapat memotivasi
4,16 4,30
pengusaha dalam bekerja
9 Lingkungan yang nyaman membuat Kepentingan IKM
Makanan Ringan
pengusaha semangat bekerja
10 Besarnya laba dapat ditentukan oleh 4,19
4,21
pengusaha 4,44
11 Pengusaha dapat memperoleh kebebasan 4,32
4,44
dalam mengatur usahanya 4,19
12 Pengusaha dalam menjalankan usaha bebas 4,35
4,26
mencapai standar hidup yang diharapkan 4,34
sesuai dengan impiannya 4,23
13 Pengusaha memiliki rasa bangga karena dapat 4,25
mandiri dalam segala hal seperti permodalan, 4,29
4,27
pengelolaan manajemen 4,39
4,30
Rata-rata

No Kemampuan Usaha Persepsi IKM

Makanan Ringan

14 Pengusaha memiliki pengetahuan manajerial 4,21

dalam menjalankan usahanya

15 Pengusaha memiliki sikap untuk memajukan 4,29

usahanya

16 Pengusaha memiliki ketrampilan dalam 4,14

menjalankan usahanya

17 Pengusaha memiliki kematangan emosional 4,25

dalam menjalankan usahanya

18 Pengusaha memiliki pengetahuan tentang 4,35

usaha yang dilakukan atau ditekuni

19 Pengusaha memiliki imajinasi atau khalayan, 4,14

ide pada usahanya

20 Pengusaha memiliki pengetahuan praktik 3,85

dalam tehnik

21 Pengusaha memiliki pengetahuan praktik 3,72

dalam desain

22 Pengusaha memiliki pengetahuan praktik 3,92

dalam pemrosesan

23 Pengusaha memiliki pengetahuan praktik 3,98

dalam pembukuan

24 Pengusaha memiliki pengetahuan praktik 4,19

dalam administrasi dan pemasaran

25 Pengusaha memiliki ketrampilan menemukan, 4,07

berkreasi dan berimajinasi

26 Pengusaha memiliki ketrampilan berhitung 4,25

27 Pengusaha memiliki prediksi keadaan pada 4,15

masa yang akan dating

Rata-rata 4,11

Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016 445

Untuk lebih jelasnya hasil perhitungan tersebut, nilai-nilai yang telah diperoleh kemudian
dimasukkan kedalam diagram Important and Performance Analysis (IPA) keberhasilan usaha industri
kecil menengah berbasis motivasi usaha dan kemampuan usaha berikut ini:

II

I



III IV





Gambar 3.Diagram Important and Performance Analysis (IPA)Keberhasilan
Usaha IKM Makanan Ringan Berbasis Motivasi Usaha dan
Kemampuan Usaha

Keterangan :
Motivasi Usaha
2 : Semangat pengusaha dalam bekerja dipengaruhi oleh cocok atau tidaknya

usahanya
4 : Tanggung jawab seorang pengusaha dalam memotivasi dirinya dalam bekerja
7 : Pengawasan dari pengusaha membuat karyawan lebih giat bekerja
10 : Besarnya laba dapat ditentukan oleh pengusaha
13 : Pengusaha memiliki rasa bangga karena dapat mandiri dalam segala hal seperti permodalan,

pengelolaan manajemen
Kemampuan Usaha
20 : Pengusaha memiliki pengetahuan praktik dalam tehnik
22 : Pengusaha memiliki pengetahuan praktik dalam pemrosesan

Kuadran I (Prioritas Utama):
Pada kuadran ini faktor-faktor yang terletak pada kuadran ini dianggap sebagai faktor yang sangat penting
oleh IKM makanan ringan, tetapi pada kenyataannya faktor-faktor ini belum sesuai dengan tingkat
kepentingan. Tingkat kinerja dari motivasi usaha dan kemampuan usaha tersebut lebih rendah daripada
tingkat kepentingan IKM,yang termasuk kedalam daerah ini motivasi usaha adalah: semangat pengusaha
dalam bekerja dipengaruhi oleh cocok atau tidaknya usahanya (3); tanggung jawab seorang pengusaha
dalam memotivasi dirinya dalam bekerja (4); pengawasan dari pengusaha membuat karyawan lebih giat
bekerja (7); besarnya laba dapat ditentukan oleh pengusaha (10); pengusaha memiliki rasa bangga karena

446 Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016

dapat mandiri dalam segala hal seperti permodalan, pengelolaan manajemen (13). Sedangkan faktor
kemampuan usaha adalah: pengusaha memiliki pengetahuan praktik dalam tehnik (20); pengusaha
memiliki pengetahuan praktik dalam pemrosesan (22) sehingga manajemen IKM makanan ringan
berkewajiban mengalokasikan sumber daya yang memadai untuk meningkatkan kinerja berbagai faktor
tersebut. Faktor-faktor yang terletak pada kuadran ini merupakan prioritas untuk ditingkatkan lagi
kinerjanyaagar dapat bersaing pada pasar global.
Kuadran II (Pertahankan Prestasi):
Keberhasilan usaha yang terdapat dalam kuadran ini menunjukkan bahwa motivasi usaha dan kemampuan
usaha tersebut penting dan memiliki kinerja yang tinggi. Sehingga perlu dipertahankan untuk masa yang
akan datang. Faktor-faktor yang terletak pada kuadran ini dianggap penting oleh IKM makanan ringan
sudah sesuai dengan yang dirasakannya sehingga tingkat kepentinganya relatif tinggi, yang termasuk
kedalam kuadran ini motivasi usaha adalah: kemajuan perusahaan memberikan semangat pada pengusaha
untuk lebih giat bekerja (5); lingkungan yang nyaman membuat pengusaha semangat bekerja (9);
pengusaha dalam menjalankan usaha bebas mencapai standar hidup yang diharapkan sesuai dengan
impiannya (12). Sedangkan kemampuan usaha adalah: pengusaha memiliki ketrampilan dalam
menjalankan usahanya(16); pengusaha memiliki kematangan emosional dalam menjalankan usahanya
(17); pengusaha memiliki pengetahuan tentang usaha yang dilakukan atau ditekuni (18); pengusaha
memiliki prediksi keadaan pada masa yang akan datang (27). Sehingga pihak manajemen IKM makanan
ringan berkewajiban memastikan bahwa kinerja IKM makanan ringan yang dikelolanya dapat terus
mempertahankan prestasi yang telah dicapai karenanya menjadi prioritas utama untuk perbaikan.
Kuadran Kuadran III (Prioritas Rendah):
Keberhasilan usaha yang terdapat dalam kuadran ini dianggap kurang penting oleh IKM dan pada
kenyataannya kinerjanya tidak terlalu istimewa. Peningkatan terhadap motivasi usaha dan kemampuan
usaha yang masuk dalam kuadran ini dapat dipertimbangkan kembali karena pengaruhnya terhadap
manfaat yang dirasakan oleh IKM. Faktor-faktor yang terletak pada kuadran ini mempunyai tingkat
kepentingan yang rendah dan sekaligus dianggap tidak terlalu penting bagi IKM makanan ringan pada
prestasi mempengaruhi motivasi setiap pengusaha dalam bekerja (1). Sedangkan kemampuan usaha
adalah: pengusaha memiliki pengetahuan praktik dalam desain(21); pengusaha memiliki pengetahuan
praktik dalam pembukuan (23); pengusaha memiliki ketrampilan menemukan, berkreasi dan berimajinasi
(25). Sehingga pihak manajemen IKM makanan ringan tidak perlu memprioritaskan atau terlalu
memberikan perhatian pada faktor-faktor tersebut.Pada kuadran ini IKM makanan ringandapat
mempertimbangkan kembali peningkatannya, namun dengan tidak menghilangkan atributnya, kuadran ini
harus dikelola dengan serius karena biasanya IKM makanan ringanberawal dari kuadran ini.
Kuadran IV (Berlebihan):
Kuadran ini memuat keberhasilan usaha melalui motivasi usaha dan kemampuan usaha dianggap kurang
penting oleh IKM dan dirasakan terlalu berlebihan. Peningkatan kinerja pada kuadran ini hanya akan
menyebabkan terjadinya pemborosan sumber daya.Faktor-faktor yang terletak pada kuadran ini dianggap
tidak terlalu penting sehingga pihak manajemen IKM makanan ringan atributnya motivasi usaha seperti
pengakuan dari mitra usaha membuat pengusaha lebih giat bekerja (2); kedekatan hubungan antar
karyawannya memberikan rasa nyaman dalam bekerja (6); gaji dan tunjangan dapat memotivasi
pengusaha dalam bekerja (8); pengusaha dapat memperoleh kebebasan dalam mengatur usahanya (11).
Sedangkan atributnya kemampuan usaha adalah pengusaha memiliki pengetahuan manajerial dalam
menjalankan usahanya (14); pengusaha memiliki sikap untuk memajukan usahanya (15); pengusaha
memiliki imajinasi atau khalayan, ide pada usahanya (19); pengusaha memiliki pengetahuan praktik
dalam administrasi dan pemasaran (24); pengusaha memiliki ketrampilan berhitung (26).Oleh sebab itu
perlu mengalokasikan sumber daya yang terkait dengan faktor-faktor tersebut kepada faktor-faktor lain
yang mempunyai prioritas penanganan lebih tinggi yang masih membutuhkan peningkatan.

Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016 447

Analisis Penerapan Strategi Keberhasilan Usaha IKM Makanan Ringan Berbasis Motivasi Usaha
Dan Kemampuan Usaha

Strategi yang dapat diterapkan IKM makanan ringan sesuai dengan diagram IPA adalah sebagai
berikut :
1. Kuadran I

Menurut Rangkuti (2003) strategi yang di terapkan untuk meningkatkan keberhasilan usaha
adalah melakukan perbaikan secara terus-menerus sehingga tingkat kinerja motivasi usaha dan
kemampuan usaha yang ada dalam kuadran ini akan meningkat. Strategi ini dilakukan dengan cara
meningkatkan semangat pengusaha dalam bekerja dipengaruhi oleh cocok atau tidaknya usahanya;
meningkatkan rasa tanggung jawab seorang pengusaha dalam memotivasi dirinya dalam bekerja;
melakukan pengawasan dari pengusaha membuat karyawan lebih giat bekerja; besarnya laba dapat
ditentukan oleh pengusaha; pengusaha memiliki rasa bangga karena dapat mandiri dalam segala hal
seperti permodalan, pengelolaan manajemen; pengusaha memiliki pengetahuan praktik dalam tehnik;
pengusaha memiliki pengetahuan praktik dalam pemrosesan.
2. Kuadran II

Strategi yang ditetapkan pada kuadran ini adalah dengan mempertahankan secara terus menerus
agar selalu berada pada kuadran ini dan tidak menurun kinerjanya dikarenakan motivasi usaha dan
kemampuan usaha yang termasuk dalam kuadran ini unggul pada IKM makanan ringan (Rangkuti, 2003).
Seperti kemajuan perusahaan memberikan semangat pada pengusaha untuk lebih giat bekerja; lingkungan
yang nyaman membuat pengusaha semangat bekerja; pengusaha dalam menjalankan usaha bebas
mencapai standar hidup yang diharapkan sesuai dengan impiannya; pengusaha memiliki ketrampilan
dalam menjalankan usahanya; pengusaha memiliki kematangan emosional dalam menjalankan usahanya;
pengusaha memiliki pengetahuan tentang usaha yang dilakukan atau ditekuni; pengusaha memiliki
prediksi keadaan pada masa yang akan datang.
3. Kuadran III

Pada kuadran ini IKM makanan ringan dapat mempertimbangkan kembali peningkatannya,
namun dengan tidak menghilangkan motivasi usaha dan kemampuan usaha, kuadran ini harus dikelola
dengan serius karena biasanya menurunnya usaha IKM berawal dari kuadran ini (Rangkuti, 2003). Seperti
prestasi mempengaruhi motivasi setiap pengusaha dalam bekerja; pengusaha memiliki pengetahuan
praktik dalam desain; pengusaha memiliki pengetahuan praktik dalam pembukuan; pengusaha memiliki
ketrampilan menemukan, berkreasi dan berimajinasi.
4. Kuadran IV

Pada kuadran ini strategi yang harus diterapkan adalah mengevaluasi seluruh kegiatan yang
berlebihan, sehingga didapatkan bagian-bagian mana yang harus dipertahankan dan bagian-bagian mana
yang harus dikurangi sehingga dapat menghemat biaya (Rangkuti, 2003). Seperti pengakuan dari mitra
usaha membuat pengusaha lebih giat bekerja; kedekatan hubungan antar karyawannya memberikan rasa
nyaman dalam bekerja; gaji dan tunjangan dapat memotivasi pengusaha dalam bekerja; pengusaha dapat
memperoleh kebebasan dalam mengatur usahanya: pengusaha memiliki pengetahuan manajerial dalam
menjalankan usahanya; pengusaha memiliki sikap untuk memajukan usahanya; pengusaha memiliki
imajinasi atau khalayan, ide pada usahanya; pengusaha memiliki pengetahuan praktik dalam administrasi
dan pemasaran; pengusaha memiliki ketrampilan berhitung.

4. SIMPULAN DAN IMPLEMENTASI
Adapun simpulannya berikut ini:
1. Karakteristik pengelola usaha berdasarkan jenis kelamin laki-laki sebanyak 96 pengelola usaha atau
64 persen, Usia 35 – 55 tahun sebanyak 90 pengelola usaha atau 60 persen Lama usaha lebih dari 10
tahun yaitu 120 pengelola usaha atau 80 persen. Berpendidikan sekolah menengah pertama yaitu
98 pengelola usaha atau sebesar 65 persen serta jumlah tenaga kerjanya IKM makanan ringan
berkisar antara 5 - 19 orang sebanyak 125 pengelola usaha atau 83 Persen.
2. Peran kewirausahaan melalui motivasi usaha sebesar 83,2 persen menyatakan sangat tinggi.
Kemampuan usaha sebesar 82 persen menyatakan sangat baik Keberhasilan usaha IKM makanan

448 Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016

ringan sebesar 82,2 persen menyatakan sangat tinggi. Sedangkan kepentingan pengelola usaha
berdasarkan motivasi usaha sebesar 86 persen menyatakan sangat penting. Kepentingan IKM dalam
kemampuan usaha sebesar 86 persen menyatakan sangat penting. Kepentingan IKM selanjutnya
melalui keberhasilan usaha sebesar 88 persen menyatakan sangat penting.
3. Merek dagang dikeluarkan oleh Dirjen HAKI IKM tersebut terlebih dahulu memiliki PIRT
dikeluarkan oleh Dinas Kesehatan Asosiasi Industri Kecil dan Menengah, Halal, SNI dan Paten
sebanyak 25 industri menengah makanan ringan telah memiliki merek dagang.
4. Keberhasilan usaha industri kecil menengah makananringan berbasis motivasi usaha dan
kemampuan usaha:
a. Tingkat kinerja dari motivasi usaha dan kemampuan usaha tersebut lebih rendah daripada tingkat

kepentingan IKM, yang termasuk kedalam daerah ini motivasi usaha adalah: semangat
pengusaha dalam bekerja dipengaruhi oleh cocok atau tidaknya usahanya (3); tanggung jawab
seorang pengusaha dalam memotivasi dirinya dalam bekerja (4); pengawasan dari pengusaha
membuat karyawan lebih giat bekerja (7); besarnya laba dapat ditentukan oleh pengusaha (10);
pengusaha memiliki rasa bangga karena dapat mandiri dalam segala hal seperti permodalan,
pengelolaan manajemen (13). Sedangkan faktor kemampuan usaha adalah: pengusaha memiliki
pengetahuan praktik dalam tehnik (20); pengusaha memiliki pengetahuan praktik dalam
pemrosesan (22) sehingga manajemen IKM makanan ringan berkewajiban mengalokasikan
sumber daya yang memadai untuk meningkatkan kinerja berbagai faktor tersebut.
b. Bahwa motivasi usaha adalah: kemajuan perusahaan memberikan semangat pada pengusaha
untuk lebih giat bekerja (5); lingkungan yang nyaman membuat pengusaha semangat bekerja
(9); pengusaha dalam menjalankan usaha bebas mencapai standar hidup yang diharapkan sesuai
dengan impiannya (12). Sedangkan kemampuan usaha adalah: pengusaha memiliki ketrampilan
dalam menjalankan usahanya (16); pengusaha memiliki kematangan emosional dalam
menjalankan usahanya (17); pengusaha memiliki pengetahuan tentang usaha yang dilakukan
atau ditekuni (18); pengusaha memiliki prediksi keadaan pada masa yang akan datang (27).
Sehingga pihak manajemen IKM makanan ringan berkewajiban memastikan bahwa kinerja
IKM makanan ringan yang dikelolanya dapat terus mempertahankan prestasi yang telah dicapai
karenanya menjadi prioritas utama untuk perbaikan.
c. Faktor-faktor yang terletak pada kuadran ini mempunyai tingkat kepentingan yang rendah dan
sekaligus dianggap tidak terlalu penting bagi IKM makanan ringan pada prestasi mempengaruhi
motivasi setiap pengusaha dalam bekerja (1). Sedangkan kemampuan usaha adalah: pengusaha
memiliki pengetahuan praktik dalam desain (21); pengusaha memiliki pengetahuan praktik
dalam pembukuan (23); pengusaha memiliki ketrampilan menemukan, berkreasi dan
berimajinasi (25). Sehingga pihak manajemen IKM makanan ringan tidak perlu
memprioritaskan atau terlalu memberikan perhatian pada faktor-faktor tersebut.
d. Faktor-faktor yang terletak pada kuadran ini dianggap tidak terlalu penting sehingga pihak
manajemen IKM makanan ringan atributnya motivasi usaha seperti pengakuan dari mitra usaha
membuat pengusaha lebih giat bekerja (2); kedekatan hubungan antar karyawannya memberikan
rasa nyaman dalam bekerja (6); gaji dan tunjangan dapat memotivasi pengusaha dalam bekerja
(8); pengusaha dapat memperoleh kebebasan dalam mengatur usahanya (11). Sedangkan
atributnya kemampuan usaha adalah pengusaha memiliki pengetahuan manajerial dalam
menjalankan usahanya (14); pengusaha memiliki sikap untuk memajukan usahanya (15);
pengusaha memiliki imajinasi atau khalayan, ide pada usahanya (19); pengusaha memiliki
pengetahuan praktik dalam administrasi dan pemasaran (24); pengusaha memiliki ketrampilan
berhitung (26).Oleh sebab itu perlu mengalokasikan sumber daya yang terkait dengan faktor-
faktor tersebut kepada faktor-faktor lain yang mempunyai prioritas penanganan lebih tinggi
yang masih membutuhkan peningkatan.
5. Strategi yang dapat diterapkan IKM makanan ringan sesuai dengan diagram IPA:
a. Strategi ini dilakukan dengan cara meningkatkan semangat pengusaha dalam bekerja dipengaruhi
oleh cocok atau tidaknya usahanya; meningkatkan rasa tanggung jawab seorang pengusaha

Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016 449

dalam memotivasi dirinya dalam bekerja; melakukan pengawasan dari pengusaha membuat
karyawan lebih giat bekerja; besarnya laba dapat ditentukan oleh pengusaha; pengusaha memiliki
rasa bangga karena dapat mandiri dalam segala hal seperti permodalan, pengelolaan manajemen;
pengusaha memiliki pengetahuan praktik dalam tehnik; pengusaha memiliki pengetahuan praktik
dalam pemrosesan.
b. Strategi yang ditetapkan pada kuadran ini adalah dengan mempertahankan secara terus menerus
agar selalu berada pada kuadran ini dan tidak menurun kinerjanya: kemajuan perusahaan
memberikan semangat pada pengusaha untuk lebih giat bekerja; lingkungan yang nyaman
membuat pengusaha semangat bekerja; pengusaha dalam menjalankan usaha bebas mencapai
standar hidup yang diharapkan sesuai dengan impiannya; pengusaha memiliki ketrampilan dalam
menjalankan usahanya; pengusaha memiliki kematangan emosional dalam menjalankan
usahanya; pengusaha memiliki pengetahuan tentang usaha yang dilakukan atau ditekuni;
pengusaha memiliki prediksi keadaan pada masa yang akan datang.
c. IKM harus dikelola dengan serius karena biasanya menurunnya usaha IKM berawal prestasi
mempengaruhi motivasi setiap pengusaha dalam bekerja; pengusaha memiliki pengetahuan
praktik dalam desain; pengusaha memiliki pengetahuan praktik dalam pembukuan; pengusaha
memiliki ketrampilan menemukan, berkreasi dan berimajinasi.
d. Strategi yang harus diterapkan dengan mengevaluasi seluruh kegiatan yang berlebihan, sehingga
didapatkan bagian-bagian mana yang harus dipertahankan dan bagian-bagian mana yang harus
dikurangi untuk dapat menghemat biaya antara lain: pengakuan dari mitra usaha membuat
pengusaha lebih giat bekerja; kedekatan hubungan antar karyawannya memberikan rasa nyaman
dalam bekerja; gaji dan tunjangan dapat memotivasi pengusaha dalam bekerja; pengusaha dapat
memperoleh kebebasan dalam mengatur usahanya: pengusaha memiliki pengetahuan manajerial
dalam menjalankan usahanya; pengusaha memiliki sikap untuk memajukan usahanya; pengusaha
memiliki imajinasi atau khalayan, ide pada usahanya; pengusaha memiliki pengetahuan praktik
dalam administrasi dan pemasaran; pengusaha memiliki ketrampilan berhitung.
Sedangkan implementasi berikut ini:
a. Kesulitan yang dialami IKM memperoleh HAKI bisa sampai selama setahun, rendahnya faktor
biaya, kemandirian masyarakat pada usahanya tidak mengikuti kemasan yang baik dalam
kadaluarsa, kesadaran hukum masih kurang, GMP (cara produksi pangan yang baik) tidak
diperhatikan sehingga peran pemerintah sangat diperlukan karena IKM memiliki merek dagang
jumlahnya kecil.
b. Kesadaran masyarakat menggunakan produk dalam negeri dengan pembinaan peningkatan
kualitas produk, pemasaran, desain kemasan, mengikuti pameran dalam negeri dan luar negeri
sehingga perlu dilakukan sosialisasi.
c. Strategi yang diperbaiki adalah meningkatkan semangat pengusaha dalam bekerja dipengaruhi
oleh cocok atau tidaknya usahanya; meningkatkan rasa tanggung jawab seorang pengusaha
dalam memotivasi dirinya dalam bekerja; melakukan pengawasan dari pengusaha membuat
karyawan lebih giat bekerja; besarnya laba dapat ditentukan oleh pengusaha; pengusaha memiliki
rasa bangga karena dapat mandiri dalam segala hal seperti permodalan, pengelolaan manajemen;
pengusaha memiliki pengetahuan praktik dalam tehnik; pengusaha memiliki pengetahuan praktik
dalam pemrosesan.

450 Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016

DAFTAR PUSTAKA

[1]Algifari, 2003.Ekonomi Mikro Teori dan Kasus, Edisi ke-1, Cetakan Pertama, Bagian Penerbitan
Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi YKPN, Yogyakarta.
[2]Arikunto, S. 2002. Prosedur Penelitian suatu Pendekatan Praktik. Binarupa, Jakarta. Aksara.
[3]Buchari Alma. 2013. Kewirausahaan. Edisi Revisi. Jakarta: Penerbit Alfabeta.
[4]Gay, LR dan P.L. Diehl 1992, Research Methods for Business Research Methods.Boston.
Richard D.Irwin, Inc.
[5]Gronlund, Norman E. 1977. Constructing Achievement Test. Penerbit: Englewood Cliffs:
PrenticeHall
[6]Hasibuhan Malayu, SP, 2000, Manajemen Sumber Daya Manusia, Edisi Revisi, Cetakan Kedua,
Bumi Aksara. Jakarta.
[7]Hariss, Michael, 2000. Human Recources Management, USA.
[8]Irham Fahmi, 2014. Kewirausahaan.Teori, Kasus dan Solusi. Bandung: Penerbit Alfabeta.
[9]Kementrian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah, 2013 dan 2014
[10]Luk, S. T. K., 1996. Succes in Hongkong: Faktors Self Reported by Successful Small Business

Owners, Journal of Business Management, Vol. 34,
July, pp. 68- 74.
[11]LeonardusSaiman. 2013. Kewirausahaan. TeoriPraktikdanKasus-Kasus. Penerbit
Salemba Empat. Jakarta.
[12]Marzuki Usman. 1997. Kewirausahaan dalam Birokrasi Salah Satu Langkah Antisipatif
Menghadapi Globalisasi. Makalah Seminar. Jatinangor: IKOPIN.
[13]Nadler, L., 1982. Designing Training Programs: The Critical Events Model.California:
I Addison -Wesley Publising Company, Inc.
[14]Rangkuti. 2003. Measuring Customer Satisfaction : Tehnik Mengukur dan Strategi
Meningkatkan Kepuasan Pelanggan. PT Gramedia Pustaka Utama,Jakarta
[15]Rully Indrawan, 2013. UMKM Jawa Barat : Stagnan di Tahun 2012 dan Berharap di Tahun 2013.
[16]Rusdiana, 2014. Kewirausahaan.Teori dan Praktik. Bandung: Penerbit Pustaka Setia.
[17]Yuyun Wirasasmita. 1993. Kerjasama Perguruan Tinggi dengan Lembaga Perbankan dan Keuangan

Lainnya dalam Menciptakan Wirausahawan-Wirausahawan Baru. Hasil Seminar Bandung: LM-
UNPAD.
[18]Setiawan, Rudi. 2005. Analisa Tingkat Kepuasan Pengguna Kereta Api Komuter Surabaya-
Sidoarjo, Simposium VIII FSTPT Universitas Sriwijaya
[19]Suryana. 2014. Kewirausahaan. Kiat dan Proses Menuju Sukses. Edisi 4. Salemba
Empat. Jakarta.
[20]Sunyoto, Danang. 2012. Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta: Center For Academic
Publishing Service
[21]Sugiyono, 2004. Statistika Untuk Penelitian, Cetakan kelima. Bandung. Penerbit CV.
Alfabeta.
[22]Supranto, J., 1997. Pengukuran Tingkat Kepuasan Pelanggan. Jakarta. Rineka Cipta, Jakarta.
[23]Tulus Tambunan, 2009. UMKM di Indonesia. Jakarta: Ghalia Indonesia
[24]YuyusSuryanadanKartibBayu. 2013. Kewirausahaan. PendekatanKarakteristikWirausaha
Sukses. EdisiKedua. PenerbitKencanaPredana Media Group. Jakarta.
[25]Zimmerer, T.W., N.M. Scarborough, 1996. Entrepreneurship and The New Venture Formation,
New Jersey: Prentice Hall International, Inc.

Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016 451

452 Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016

Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016 453

454 Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016

Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016 455

– –


456 Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016

Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016 457

İ
458 Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016

Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016 459

460 Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016

Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016 461

462 Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016

Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016 463

464 Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016

Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016 465

466 Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016

Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016 467

468 Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016

Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016 469

x
x
x
x








Adapun tujuan penelitian ini adalah “untuk mengetahui pola pikir dan kepedulian



dalam jangka panjang.”

470 Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016









Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016 471







472 Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016






– –
– –









––


Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016 473



– – –
– – –

474 Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016

Foxcroft D (2013) ‘Can Prevention Classification be Improved by Considering the
Function of Prevention?’
Jack, G. and Jack, D. (2000) ‘Ecological Social Work: The Application of a Systems
Model of Development in Context.’ In: Stepney, P. and Ford, D. (eds.)

Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016 475

476 Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016

Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016 477

§
478 Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016

xx
x

x
x

Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016 479

480 Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016

Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016 481

482 Seminar Nasional dan Gelar Produk | SENASPRO 2016


Click to View FlipBook Version