VERSI PENDEK
The Eternal Light
Satu Abad Perjalanan Cintakasih
Rumah Sakit Santo Borromeus
1921–2021
(Versi Pendek)
Tim Penyusun:
P. Krismastono Soediro dkk.
Judul Buku:
The Eternal Light: Satu Abad Perjalanan Cintakasih Rumah Sakit
Santo Borromeus 1921-2021 (Versi Pendek)
Hak Cipta © Perkumpulan Perhimpunan Santo Borromeus
Pemangku karsa:
Rumah Sakit Santo Borromeus
Jalan Ir. H. Juanda No 100, Bandung 40132
[email protected]
Penasihat:
dr. Cynthia Limandibrata; Sr. Maria Elly Budiarti, CB; dr. Chandra Mulyono, Sp.S.
Panitia 100 Tahun Rumah Sakit Santo Borromeus:
dr. Paul Jonathan, Sp.OT., M.Kes. (Ketua)
Tim Penyusun:
Penulis utama dan editor:
P. Krismastono Soediro
Tim Buku 100 Tahun RS Santo Borromeus:
Ns. Ursula Anita, S.Kep. (Koordinator); Ns. Yuni Susilawati, S.Kep.; drg. Waty Sumiati
Halim, Sp.KGA; Ns. Rosalia Melik H., S.Kep.; Ns. Wulan Puspita Sari, S.Kep.; Ns. Maria
Asitoret Hirera Woda, S.Kep.
Asisten penulis utama dan editor:
Apolonius Sumardijono, F. Ida Surjani
Sumber foto:
Dokumen RS Santo Borromeus, Dudi Sugandi, dll.
Desain sampul:
Irman Nugraha
ISBN buku versi panjang/lengkap: 978-623-7879-25-1
Penerbit:
Unpar Press
Jalan Ciumbuleuit No. 100, Bandung 40141
[email protected]
Cetakan pertama, 2021
Dipersembahkan kepada
para perintis dan pendahulu
yang telah mendirikan, menumbuhkan, memelihara,
merawat, menjaga, dan mengembangkan
Rumah Sakit Santo Borromeus
dengan segenap hati dan budi mereka.
“Dengan kesabaran dan susah payah
kami terus bekerja
dengan keinginan besar
untuk maju … ya … maju ….”
∼ Elisabeth Gruyters (1789–1864)
Sampurasun
Buku ini merupakan versi pendek dari buku berjudul The Eternal
Light: Satu Abad Perjalanan Cintakasih Rumah Sakit Santo
Borromeus 1921–2021. Seluruh isi buku ini sepenuhnya mengacu
pada buku versi panjang tersebut, tidak ada tambahan lain. Versi
panjang disusun lebih dahulu, dan kemudian barulah disusun versi
pendek.
Perkenankan kami menyampaikan kembali apa yang kami
sampaikan dalam versi panjang:
Historia magistra vitae est. Sejarah adalah guru kehidupan.
Dalam semangat itulah buku ini ditulis. Tim penyusun berupaya
menuliskan satu abad perjalanan Rumah Sakit Santo Borromeus
dengan harapan bahwa hal ini menjadi pijakan perjalanan
selanjutnya.
Pada prinsipnya buku ini ditulis secara kronologis. Namun
demikian, buku ini bukanlah sekadar urutan peristiwa (kronik)
belaka. Dalam setiap bab, penulisan secara kronologis
dipadukan dengan penulisan secara tematis untuk membangun
pemahaman tentang sebuah topik tertentu. Buku ini – yang
ditulis secara relatif ekstensif, termasuk mencatumkan teks asli
dalam bahasa asing [dalam versi panjang], sebagai upaya
dokumentasi, tidak semata-mata berisi tentang perjalanan
Rumah Sakit Santo Borromeus, namun mencakup pula konteks
yang melingkunginya, baik masyarakat Indonesia, Gereja Katolik,
Sampurasun i
Kongregasi Suster-Suster Cintakasih Santo Carolus Borromeus
(CB), maupun Perkumpulan Perhimpunan Santo Borromeus
(PPSB) sebagai penyelenggara unit-unit operasional pelayanan
dalam Borromeus Group.
Dengan memahami konteks yang melingkunginya maka
pemahaman tentang perjalanan RS Santo Borromeus pun
diharapkan menjadi lebih menyeluruh. Sebagai “anak sulung”
PPSB, dari dan dengan dukungan RS Santo Borromeus
kemudian lahirlah sejumlah unit operasional pelayanan yang
merupakan “adik-adiknya”. Pada bab terakhir, disajikan
pengalaman, refleksi, dan harapan dari sejumlah pribadi yang
terlibat dalam perjalanan RS Santo Borromeus. Epilog
menarasikan ungkapan syukur atas perjalanan kasih RS Santo
Borromeus.
Kami mengucapkan terima kasih, pertama-tama kepada
Perkumpulan Perhimpunan Santo Borromeus (khususnya Dokter
Cynthia Limandibrata selaku Ketua, dan Suster Valentina Sri
Mulyani, CB selaku Sekretaris, yang kemudian dilanjutkan oleh
Suster Maria Elly Budiarti, CB) yang menggagas penulisan buku
ini. Kemudian, kami mengucapkan terima kasih kepada Direksi
Rumah Sakit Santo Borromeus (khususnya Dokter Chandra
Mulyono, Sp.S. selaku Direktur Utama) yang telah memangku
karsa untuk mewujudkan buku ini dengan membentuk sebuah
tim.
Kami mengucapkan terima kasih kepada Kongregasi CB yang
memberikan informasi dan masukan sangat berharga melalui
Suster Evarista, CB dan Suster Theresia, CB. Kami juga
mengucapkan terima kasih kepada Ordo Salib Suci (OSC) atas
sejumlah foto historis.
ii The Eternal Light
Terima kasih kami ucapkan kepada Bapak Frans Legimin, Ibu F.
Bowo Rini Sunarsasi, dan Ibu Irene Ratnaningsih Handoko yang
membantu memberikan wawasan mengenai perjalanan RS
Santo Borromeus. Terima kasih kepada pribadi-pribadi yang
berkenan menuturkan pengalaman mereka melalui wawancara.
Terima kasih kepada semua yang telah turut serta terlibat dalam
upaya pewujudan buku ini. Ada pun kekurangan-kekurangan
buku ini, antara lain mungkin ada sejumlah hal yang
terlewatkan, merupakan tanggung jawab kami.
Satu abad sudah usia Rumah Sakit Santo Borromeus. Wilujeng
tepang taun. Dirgahayu. Ad multos annos.
Salam kasih,
Tim Penyusun
Sampurasun iii
Daftar Isi
I Bumi Parahyangan Nan Menawan 1
II Masyarakat Membutuhkan Pelayanan Kesehatan 11
III Semangat Cintakasih Suster-Suster dari Maastricht 25
IV Berakit-rakit Membangun Rumah Sakit 57
V Disambut Hangat Masyarakat, Berkembang Pesat 93
VI Demi Martabat Manusia, Demi Masyarakat Indonesia 147
VII Bangkit Kembali, Turut Menjaga Ibu Pertiwi 209
VIII Memperbarui Diri, Turut Membangun Negeri 265
IX Setia pada Misi, Turut Menjaga NKRI 341
X Merefleksikan Peziarahan, Mengunjukkan Harapan 457
Epilog: Melantan Kasih, Merenda Asa 525
Pustaka 539
iv The Eternal Light
I
Bumi Parahyangan
Nan Menawan
Bumi Parahyangan Nan Menawan 1
Bumi Parahyangan diciptakan ketika Tuhan
sedang tersenyum,” kata M.A.W. Brouwer,
seorang biarawan Fransiskan asal Negeri
Belanda yang lama tinggal di Bandung. Bagaikan mojang
geulis yang menawan hati para jejaka, Bumi Parahyangan
“memesona orang-orang Eropa. Kawasan Parahyangan, yang
disebut pula Priangan, sedangkan orang Belanda menyebut-
nya Preanger, merupakan kawasan pegunungan di bagian
tengah-selatan Jawa Barat, berbatasan dengan Banten di
bagian barat dan dengan Jawa Tengah di bagian timur.
Kawasan Parahyangan mempunyai ciri-ciri bergunung-
gunung dan mempunyai pemandangan yang indah, elok,
molek. Ada pun kawasan Bandung berada di tengah-tengah
kawasan Parahyangan.
Cekungan Bandung
Dataran tinggi Bandung pada masa lalu merupakan kaldera
Gunung Sunda Purba yang meletus, dan kemudian menjadi
Danau Bandung Purba. Legenda Sangkuriang tampaknya
bersesuaian dengan fakta geologis terciptanya Danau
Bandung Purba (Situ Hyang) dan Gunung Tangkuban Parahu.
Penelitian geologis mutakhir menunjukkan bahwa telah
terjadi dua letusan Gunung Sunda Purba. Letusan kedua telah
meruntuhkan kaldera Gunung Sunda Purba sehingga mencip-
takan Gunung Tangkuban Parahu, Gunung Burangrang
(disebut juga Gunung Sunda), dan Gunung Bukit Tunggul.
Danau Bandung Purba kemudian mengering.
Kabupaten Bandung
Kawasan yang sekarang dinamakan Bandung dahulu disebut
sebagai daerah Tatar Ukur, yang termasuk wilayah Kerajaan
2 The Eternal Light
Timbanganten, yang berada di bawah Kerajaan Sunda
Pajajaran. Ketika Kerajaan Sunda Pajajaran runtuh pada abad
ke-16, muncullah Kerajaan Sumedang Larang.
Kemudian kawasan ini jatuh ke tangan Sultan Agung dari
Kerajaan Mataram pada abad ke-17. Pada masa itulah
Kabupaten Bandung dibentuk pada 20 April 1641, dengan ibu
kota di Dayeuhkolot sekarang. Bupati Bandung relatif otonom
akibat jauhnya jarak dari pusat kekuasaan Mataram.
Selanjutnya kawasan Priangan jatuh ke tangan Vereenigde
Oost-Indische Compagnie (VOC). Walaupun VOC melakukan
reorganisasi pemerintahan, namun corak pemerintahan
masih seperti pada masa kekuasaan Kerajaan Mataram. Pada
abad ke-18 kawasan Bandung dijuluki Paradise in Exile
(Surga dalam Pembuangan) karena keindahan alamnya yang
belum banyak dijamah manusia, khususnya orang Eropa.
Kota Bandung
Perlahan-lahan orang-orang Eropa menjelajah dan membuka
kawasan Priangan sebagai daerah perkebunan. Pada tahun
1786 sebuah jalan dibuka antara Batavia, Buitenzorg (Bogor),
Cianjur, Bandung, Sumedang, dan Cirebon. Gubernur Jenderal
Hindia Belanda, Herman Willem Daendels, membangun de
Groote Postweg (Jalan Raya Pos) sepanjang sekitar 1.000 km
yang terbentang dari Anyer di sebelah barat hingga ke
Panarukan di sebelah timur Pulau Jawa, sebagai sistem
pertahanan terhadap armada Britania Raya yang kemungkin-
an akan menyerang dari Laut Jawa.
Secara resmi pada tanggal 25 Mei 1810 Gubernur Jenderal
Daendels memerintahkan Bupati Bandung, R.A. Wiranata-
Bumi Parahyangan Nan Menawan 3
koesoemah II, untuk memindahkan ibu kota Kabupaten
Bandung dari kawasan Dayeuhkolot ke arah utara sejauh 11
km ke tepi de Groote Postweg (Jalan Raya Pos), yaitu dekat
perpotongan Jalan Raya Pos dan Sungai Cikapundung
(sekarang sekitar Alun-Alun Bandung). Bupati Wiranata-
koesoemah II langsung memimpin rakyat melaksanakan
pembangunan kota sehingga beliau dikenal dengan julukan
Dalem Kaum, yaitu tokoh pendiri Kota Bandung. Ibu kota
baru Kabupaten Bandung ini diberi nama Bandong
berdasarkan keputusan Pemerintah Nederlandsch-Indië
tanggal 25 September 1810 (itulah hari jadi Kota Bandung).
Ibu Kota Keresidenan Priangan
Residentie Preanger Regentschappen (Keresidenan Kabupa-
ten-kabupaten Priangan) dipisahkan dari Residentie Batavia
oleh Gubernur Jenderal H.W. Daendels karena Priangan
waktu itu merupakan kawasan penghasil kopi yang bagus.
Sejak tahun 1829 Residen Priangan berkedudukan di Cianjur.
Pada tahun 1852 Residen Carl Philip Conrad Steinmetz
menyatakan bahwa Keresidenan Priangan terbuka bagi orang
asing demi menunjang perkembangan kawasan ini. Karena
Bandung berkembang pesat maka Bandung pun dijadikan ibu
kota Keresidenan Priangan pada tahun 1864.
Selain kopi dan teh, kawasan Priangan menghasilkan pula
beras, tapioka, dan kina. Pabrik kina didirikan pada tahun
1886 di Bandung, yang produknya diekspor ke Asia, Eropa,
dan Amerika. Sementara itu jalur kereta api dibangun antara
Batavia dan Buitenzorg (Bogor) pada awal tahun 1870-an,
lalu secara bertahap dari Bogor ke Cilacap melalui pedalaman
Priangan mulai tahun 1878, dan pada tahun 1884 mencapai
Bandung. Di Bandung-lah Kereta Api Negara (Staats
4 The Eternal Light
Spoorwegen, SS) membangun kantor dan perbengkelan. Di
Bandung juga terdapat sekolah pelatihan untuk kepala
pemerintahan pribumi (Hoofden School) yang kemudian
menjadi Opleiding School voor Inlandsche Ambtenaren (OSVIA,
sekolah pendidikan untuk pamong praja pribumi) dan
sekolah pelatihan untuk guru-guru pribumi (School tot
Opleiding van Inlandsche Onderwijs). Ada pun orang-orang
Tionghoa tinggal di sekitar stasiun kereta api (daerah Pecinan
sekarang).
Gambar. Alun-Alun Bandung, 1929. 5
Bumi Parahyangan Nan Menawan
Gemeente Bandoeng
Pemindahan pusat militer dari Batavia ke Bandung–Cimahi
sejak akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 membuat
Bandung semakin ramai. Dengan perkembangan tersebut
maka Bandung diberi status gemeente (kotapraja; wilayah
administrasi pemerintahan yang memiliki kewenangan
mengatur diri sendiri; Inggris: municipality) yang relatif
otonom pada 1 April 1906, dengan luas wilayah sekitar 900
hektar pada waktu itu. Pada awal abad ke-20 jumlah
penduduk Gemeente Bandoeng sekitar 30.000 orang, dengan
sekitar 10 % di antaranya orang Eropa, yang sebagian besar
bekerja sebagai pegawai kereta api jalur barat (westerlijnen).
Kawasan Dago
Dago merupakan kawasan relatif tua di Bandung. Kawasan
Dago pada abad ke-19 (1800-an) masih berupa hutan, yang
mana terdapat jalan setapak sejak zaman Kerajaan Sunda-
Galuh (Pajajaran). Nama Dago berasal dari bahasa Sunda
yang berarti menunggu. Sekitar abad ke-18 orang-orang dari
kawasan utara Bandung zaman dahulu perlu saling
menunggu (Sunda: silih dagoan, padago-dago) untuk
kemudian bersama-sama berjalan melintasi kawasan Dago
yang waktu itu masih berupa hutan dan kurang aman dari
risiko binatang buas dan aktivitas para begal.
Pada abad ke-19 kawasan Dago merupakan bagian dari tanah
“milik” Andries de Wilde, tuan tanah pertama di kawasan
Priangan, yang membentang dari Cimahi barat hingga
Cibeusi-Sumedang, bagian utara dibatasi Gunung Tangkuban
Parahu, bagian selatan dibatasi de Groote Postweg (Jalan Raya
Pos; sekarang Jalan Asia-Afrika ke barat dan ke timur).
6 The Eternal Light
Namun, Gubernur Jenderal van der Capellen (1816–1826)
membatalkan kepemilikan tanah Andries de Wilde, dan
mengalihkan kepemilikannya ke Pemerintah Nederlandsch-
Indië.
Gambar. Foto dari udara Technische Hoogeschool te Bandoeng, 1925. Di
bagian kanan tengah tampak RK Ziekenverpleging Sint Borromeus.
Perkembangan kawasan Bandung yang pesat pada awal
abad ke-20 menjadikan kawasan Dago di Noord Bandoeng
(Bandung Utara) ikut pula berkembang secara cepat. Jika
kawasan di Bandung bagian tengah merupakan pusat
Bumi Parahyangan Nan Menawan 7
pemerintahan, perkantoran, dan perdagangan, maka Dago di
bagian utara Bandung merupakan kawasan dengan fungsi
hunian, pendidikan, dan kesehatan.
Calon Ibu Kota Nederlandsch-Indië
Dari semula hanya seluas 900 hektar pada tahun 1906,
Gemeente Bandoeng kemudian ditetapkan mempunyai
wilayah seluas 2.150 hektar pada tahun 1917, menjadi 3.305
hektar pada tahun 1945, dan menjadi 8.098 hektar pada
tahun 1949.
Pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal J.P. Graaf van
Limburg Stirum (1916-1921) muncul gagasan memindahkan
ibu kota Nederlandsch-Indië dari Batavia ke Bandung.
Gagasan ini bermula dari hasil studi oleh H.F. Tillema,
seorang ahli kesehatan lingkungan, yang menyimpulkan
bahwa kota-kota pelabuhan di Pulau Jawa tidak sehat,
termasuk Batavia. Tillema merekomendasikan Bandung
sebagai ibu kota Nederlandsch-Indië. Gagasan tersebut
didukung oleh Prof.ir. J. Klopper, Rektor Technische Hooge-
school te Bandoeng. Sejak itu dilakukan pemindahan kantor-
kantor pemerintah maupun swasta dari Batavia ke Bandung.
Perkembangan di atas membuat Bandung semakin mooi
(cantik, indah; Inggris: beautiful). Dari semula dijuluki
sebagai Paradise in Exile (Surga dalam Pembuangan, 1750-
an), lalu muncul sejumlah julukan lain seiring dengan
perjalanan waktu, yaitu Bandoeng Excelsior (Bandung
Semakin Maju, 1856), The Sleeping Beauty (Si Cantik yang
Sedang Tidur, 1884), De Bloem der Indische Bergsteden
(Bunga Kota Pegunungan Hindia, 1896).
8 The Eternal Light
Gambar. Dagoweg pada tahun 1927. Tampak sepeda, otomobil, dan
bus.
Selanjutnya, Bandung dijuluki Parijs van Java (Paris dari Jawa,
1920), The Garden of Allah (Taman Allah, 1921), Intellectuele
Centrum van Indië (Pusat Intelektual Hindia, 1921),
Staatkundig Centrum van Indië (Pusat Politik Hindia, 1923),
Europa in de Tropen (Eropa di Kawasan Tropis, 1930), Kota
Pensiunan (1936), Kota Permai (1950), Kota Kembang (1950-
an), Kota Konferensi Asia-Afrika (1955).
Di Bumi Parahyangan nan menawan inilah sekelompok
wanita beriman sejak tahun 1921 mendarmabaktikan diri
mereka untuk pelayanan perawatan orang-orang sakit dalam
Bumi Parahyangan Nan Menawan 9
semangat cintakasih, melanjutkan semangat Bunda Elisabeth
Gruyters yang merenungkan:
“Memang jika Allah berbicara dalam hati, pasti terdengar
bahasa cinta.” (EG 91)
***
#haiku 1
elok menawan
sejak dahulu kala
Tatar Priangan
#tanka 1
elok menawan
sejak dahulu kala
Tatar Priangan
rekam jejak sejarah
indah untuk dikenang
10 The Eternal Light
II
Masyarakat Membutuhkan
Pelayanan Kesehatan
Masyarakat Membutuhkan Pelayanan Kesehatan 11
K elahiran Rumah Sakit Santo Borromeus Bandung
dilatarbelakangi oleh kebutuhan akan pelayanan
kesehatan masyarakat, dan tidak dapat dilepaskan
dari Suster-Suster Cintakasih Santo Carolus Borromeus (CB).
Ada pun kehadiran para Suster-Suster CB ini merupakan
bagian dari kehadiran Gereja Katolik di Nusantara yang
menjunjung nilai-nilai cintakasih dan senantiasa menaruh
perhatian pada upaya untuk mengangkat harkat dan
martabat manusia apa pun latar belakangnya.
Pelayanan Kesehatan Militer
Pengobatan modern (Barat) mulai dikenal di Nusantara
ketika VOC mempekerjakan ahli bedah (Belanda: chirurg,
Inggris: surgeon) dalam aktivitas perdagangan dan militer-
nya. Praktik pelayanan kesehatan yang lebih “sistematis”
dilakukan ketika VOC mendirikan sebuah rumah sakit di
Batavia pada 1 Juli 1626.
Setelah VOC bubar pada tahun 1799 dan digantikan dengan
negara Nederlansch-Indië (Hindia Belanda), untuk meningkat-
kan ketahanan pemerintahannya maka Gubernur Jenderal
H.W. Daendels (1808–1811) bukan saja membangun de
Groote Postweg (Jalan Raya Pos) dari Anyer hingga Panarukan
yang selesai dalam waktu satu tahun, tetapi juga membentuk
Militaire Geneeskundige Dienst (MGD, Dinas Kedokteran
Militer). Daendels juga mendirikan tiga groot militair
hospitaal (rumah sakit militer besar), masing-masing di
Batavia, Semarang, dan Surabaya. Selain itu juga dibangun
rumah sakit garnizun di dalam atau di dekat tangsi militer.
Kemudian dibangunlah sebuah rumah sakit militer baru di
Weltevreden (Gambir dan sekitarnya, Jakarta Pusat), yang
12 The Eternal Light
selesai dibangun sekitar tahun 1836. Inilah yang kelak
kemudian menjadi Rumah Sakit Pusat TNI Angkatan Darat
(RSPAD) Gatot Subroto.
Gambar. Groot Militair Hospitaal te Weltevreden, yang kemudian
menjadi RSPAD Gatot Subroto
Pendidikan tenaga kesehatan pun dimulai dari rumah sakit
militer di Weltevreden tersebut, yang kemudian menjadi
School tot Opleiding van Inlandsche Artsen (Stovia; Sekolah
Pendidikan Dokter Pribumi), lalu menjadi Geneeskundige
Hoogeschool (Sekolah Tinggi Kedokteran).
Di kawasan Bandung, dengan dibangunnya Cimahi sebagai
kawasan militer, dibangun pula sebuah militair hospitaal
Masyarakat Membutuhkan Pelayanan Kesehatan 13
seluas 14 hektar pada tahun 1887. Bangunan bergaya art
deco itu kelak kemudian dinamakan Rumah Sakit Dustira.
Penelitian, Vaksin, dan Kina
Untuk mendukung kegiatan riset, Pemerintah mendirikan
Laboratorium Kedokteran pada tahun 1888, yang berlokasi di
Groot Militair Hospitaal di Weltevreden-Batavia. Pada tahun
1890 Pemerintah membentuk Taman Vaksinogen atau
Lembaga Cacar untuk memproduksi vaksin dan serum. Pada
tahun 1923 lembaga ini berpindah lokasi ke Pasteurweg
(Jalan Pasteur), Bandung, dengan nama Instituut Pasteur.
Kelak kemudian menjadi PT Biofarma.
Sebuah pabrik kina dibangun di Bandung, persisnya di
Nieuwe Kerkhofweg (kemudian diganti menjadi Kinineweg,
sebagian ruas Jalan Pajajaran), pada tahun 1896, yang
dinamakan Bandoengsche Kinine Fabriek N.V. Pabrik ini
didirikan karena dahulu banyak orang Eropa yang tinggal di
Batavia meninggal akibat malaria, bahkan Batavia sempat
dijuluki Het graf van het oosten (Kuburannya negeri timur).
Rumah Sakit Swasta
Sementara pelayanan kesehatan oleh Pemerintah Neder-
landsch-Indië masih sangat bercorak militer, pada akhir abad
ke-19 mulailah kiprah pelayanan kesehatan oleh swasta
untuk pertama kali, yang diawali oleh kalangan Kristen
Prostestan.
Di Mojowarno, Jombang, Jawa Timur, pada tahun 1894
didirikan Zendingsziekenhuis te Modjowarno (Rumah Sakit
Zending di Mojowarno).
14 The Eternal Light
Di Batavia, pada tahun 1898 sebuah pelayanan kesehatan
oleh seorang pendeta Kristen Protestan ditingkatkan menjadi
rumah sakit Koningin Emma Ziekenhuis (Rumah Sakit Ratu
Emma). Pada tahun 1957 pengelolaannya diserahkan kepada
Dewan Gereja-Gereja di Indonesia (DGI; kelak menjadi
Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia, PGI).
Di Yogyakarta seorang utusan dari Nederlansche Zendings-
vereeniging (NZV, Perkumpulan Perutusan Belanda),
mendirikan Zendingsziekenhuis Petronella pada tahun 1899.
Kelak namanya menjadi Rumah Sakit Bethesda.
Di Bandung, Zending Hospitaal Immanuel (Rumah Sakit
Zending Immanuel) di Kebon Djatiweg (Jalan Kebon Jati)
diresmikan pada 25 September 1910, sebagai peningkatan
dari pelayanan sebelumnya yang lebih sederhana di Pasir
Kaliki. Pada tahun 1922 rumah sakit tersebut dipindahkan ke
Situsaeur, Kopoweg (Jalan Kopo). Kepemilikannya diserahkan
kepada Gereja Kristen Pasundan pada tahun 1949.
Di Semarang, dimulai dengan klinik pengobatan mata, Rumah
Sakit William Booth, yang diselenggarakan oleh Bala
Keselamatan (The Salvation Army), diresmikan tahun 1915.
Di Jawa Tengah, Nederlandsche Zendingsvereeniging (NZV)
mendirikan pula sejumlah rumah sakit di sejumlah kota:
Surakarta (1912), Purbalingga (1914), Kebumen (1915), dan
Purworejo (1915). Pada tahun-tahun selanjutnya, NZV masih
mendirikan sejumlah rumah sakit di sejumlah kota lain.
Masyarakat Membutuhkan Pelayanan Kesehatan 15
Pelayanan Kesehatan Sipil
Pelayanan kesehatan sipil pada masa kolonial dipicu ketika di
kawasan Bandung pada awal abad ke-20 terjadi wabah
trachoma dan xerophtalmia. Untuk menanggulanginya,
Pemerintah mendirikan sebuah rumah sakit mata di
Tjitjendoweg (Jalan Cicendo) yang dinamakan Koningin
Wilhelmina Gasthuis voor Ooglijders (Rumah Sakit Ratu
Wilhelmina untuk Penderita Kelopak Mata) pada tahun 1909.
Inilah yang kelak kemudian menjadi Rumah Sakit Mata
Cicendo.
“Militeriasi” pelayanan kesehatan oleh Pemerintah Neder-
landsch-Indië berlangsung hampir satu abad. Pada tahun
1900 terdapat 30 rumah sakit militer, 56 klinik, dan 5 fasilitas
khusus (misalnya tempat pemulihan dan asilum orang
berpenyakit kusta). Pada abad ke-20 barulah Pemerintah
memberikan perhatian lebih serius terhadap kesehatan
masyarakat sipil. Burgerlijke Geneeskundige Dienst (BGD;
Dinas Kedokteran Sipil) secara tegas dipisahkan dari
Militaire Geneeskundige Dienst (MGD, Dinas Kedokteran
Militer) pada tahun 1911.
Pandemi Flu Spanyol yang melanda seluruh dunia terjadi
pada tahun 1918–1919. Jumlah korban tewas diperkirakan
mencapai 21 juta jiwa, bahkan ada yang memperkirakan
hingga 50–100 juta jiwa. Indonesia pun tidak luput dari
pandemi ini, dengan menelan korban kematian diperkirakan
sekitar 1,5 juta jiwa (sekitar dua persen jumlah penduduk).
Ketika pandemi Flu Spanyol terjadi, barulah pada tahun 1919
Pemerintah membangun apa yang dinamakan Centrale
Burgerlijke Ziekeninrichting (CBZ; Rumah Sakit Sipil Pusat;
16 The Eternal Light
kelak kemudian menjadi RS Cipto Mangunkusumo). CBZ juga
didirikan di Surabaya (tahun 1923, kelak menjadi RS
Simpang; lalu dibangun rumah sakit yang lebih besar di lokasi
lain pada tahun 1937 yang kelak menjadi RS Dokter Sutomo)
dan di Semarang (tahun 1925, kelak menjadi RS Dokter
Karyadi).
Gambar. Het Algemeene Bandoengsche Ziekenhuis dalam proses
konstruksi, 1920; diresmikan 1923; kemudian menjadi Het Gemeentelijk
Ziekenhuis Juliana, lalu RS Rantja Badak, lalu RS Hasan Sadikin
Sementara itu di Bandung, Vereeniging Bandoengsche
Ziekenhuis (Perkumpulan Rumah Sakit Bandung) dibentuk
pada tahun 1914, dan memprakarsai upaya pendirian sebuah
rumah sakit. Prakarsa tersebut kemudian diambil alih oleh
Pemerintah. Sekitar tahun 1920 dibangunlah Het Algemeene
Bandoengsche Ziekenhuis (Rumah Sakit Umum Bandung) di
Pasteurweg (Jalan Pasteur), yang diresmikan pada 15 Oktober
1923. Pada tahun 1927 namanya diubah menjadi Het
Masyarakat Membutuhkan Pelayanan Kesehatan 17
Gemeentelijk Ziekenhuis Juliana (Rumah Sakit Kotapraja
Juliana), dengan kapasitas 300 tempat tidur. Juliana adalah
nama Ratu Kerajaan Belanda waktu itu. Kelak kemudian
dinamakan RS Rantja Badak, lalu RS Hasan Sadikin.
Burgerlijke Geneeskundige Dienst (BGD; Dinas Kedokteran
Sipil) dievaluasi, direorganisasi, dan diubah namanya menjadi
Dienst der Volksgezondheid (DVG; Dinas Kesehatan Rakyat)
pada tahun 1925.
Gereja Katolik di Nusantara
VOC bersikap memusuhi Gereja Katolik. Di berbagai kawasan
Nusantara, VOC berusaha menekan, mengancam, dan
mengusir rohaniwan-rohaniwati Katolik. Bahkan ada imam
Katolik yang disiksa dan meninggal di penjara VOC. Dengan
demikian, pada abad ke-17 dan ke-18 umat Katolik di
Nusantara tertindas, tersingkir, tidak dapat berkembang.
Hanya di daerah-daerah tertentu saja ada umat Katolik yang
dapat bertahan dari penindasan VOC.
Menggantikan VOC, pada tahun 1800 didirikanlah negara
Nederlandsch-Indië (Hindia Belanda). Seiring dengan
perubahan keadaan di Negeri Belanda, terjadi pula
perubahan di Nusantara.
Tahta Suci mendirikan Prefektur Apostolik Batavia pada
tahun 1807. Selanjutnya pada tahun 1842 status Prefektur
Apostolik ditingkatkan menjadi Vikariat Apostolik, yang
wilayahnya meliputi seluruh Indonesia. Hubungan antara
Gereja Katolik dan Pemerintah Nederlandsch-Indië semula
kurang selaras, bahkan Vikaris Apostolik Batavia pada tahun
1846 diusir oleh Pemerintah karena saat itu Pemerintah
18 The Eternal Light
masih ingin mencampuri urusan Gereja Katolik. Namun,
komunikasi dan koordinasi dijalin kembali. Sejak tahun 1856
hadirlah Suster-Suster Ursulin (Ordo Sanctae Ursulae, OSU).
Kemudian, sejak tahun 1859 hadirlah Imam-imam Jesuit
(Societas Jesu, SJ). Tarekat-tarekat lain menyusul kemudian
pada tahun-tahun sesudahnya.
Gereja Katolik di Bandung
Di Cheribon (Cirebon), setelah sejumlah umat dilayani oleh
imam yang bolak-balik dari Batavia, pada tahun 1877
didirikanlah Stasi Cirebon, dengan seorang imam diosesan
yang menetap tinggal di sana sejak tahun 1878 (kemudian
digantikan oleh imam-imam Jesuit). Gedung Gereja Santo
Yusuf Cirebon diberkati pada tahun 1880. Dari Cirebon,
penggembalaan oleh imam-imam Jesuit dikembangkan pula
ke kawasan Bandung sejak akhir abad ke-19, yang waktu itu
sedang berkembang pesat.
Di kawasan Bandung, pada tahun 1895 didirikanlah gedung
gereja kecil sederhana, Gereja Santo Fransiskus Regis (kini
sudah tidak ada; di lokasi itu kemudian dibangun gedung
baru Bank Indonesia sekarang). Kemudian gedung gereja
kecil itu digantikan dengan Gereja Santo Petrus yang
diresmikan pada 19 Februari 1922.
Sementara itu, setelah imam-imam Jesuit menetap di
Bandung sejak 1895, Suster-Suster Ursulin (OSU) mulai hadir
pula di Bandung sejak tahun 1906, yang terutama berkarya
dalam bidang pendidikan. Di Cimahi, sebuah kota militer,
imam-imam Jesuit sudah berkarya sejak tahun 1885. Semula
imam-imam Jesuit melayani Cimahi secara bolak-balik (tidak
tinggal menetap) dari Batavia atau Cirebon, dan kemudian
Masyarakat Membutuhkan Pelayanan Kesehatan 19
dari Bandung sejak 1895. Sebuah gedung Gereja Santo
Ignatius dibangun pada tahun 1908. Beberapa tahun
kemudian gedung gereja tersebut diperluas. Di Garut, sebuah
kota yang dikelilingi banyak perkebunan, imam-imam Jesuit
juga berkarya menggembalakan umat di sana. Gedung Gereja
Santa Perawan Maria Yang Terkandung Tak Bernoda
diresmikan pada tahun 1917. Penggembalaan juga sampai ke
kawasan Tasikmalaya.
Gambar. Gereja Katolik Santo Fransiskus Regis, bangunan gereja Katolik
pertama di Bandung, diresmikan tahun 1895.
20 The Eternal Light
Mengundang Suster-Suster Cintakasih Santo Carolus
Borromeus
Melihat perkembangan masyarakat pada awal abad ke-20,
Gereja Katolik terpanggil untuk berpartisipasi dalam
menyediakan pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Bagi
Gereja Katolik, perawatan orang sakit sungguh-sungguh
menyentuh manusia seutuhnya.
Gambar. Mgr. Edmundus S. Luypen, SJ
(Vikaris Apostolik Batavia 1898–1923).
Vikaris Apostolik Batavia (pemimpin Gereja Katolik yang
waktu itu meliputi seluruh Pulau Jawa), Mgr. Edmundus S.
Luypen, SJ, bersama sejumlah tokoh umat Katolik,
Masyarakat Membutuhkan Pelayanan Kesehatan 21
memikirkan upaya untuk menyelenggarakan pelayanan
kesehatan, yang akan dimulai di Batavia. Mgr. Edmundus S.
Luypen, SJ menugaskan Pastor Leonardus Sondaal, SJ (waktu
itu sebagai Pastor Gereja Katedral Batavia) untuk berkomuni-
kasi secara langsung dengan beberapa tarekat biarawati di
Negeri Belanda; diharapkan ada di antara mereka yang
bersedia hadir untuk berkarya dalam pelayanan kesehatan
dengan mengelola sebuah rumah sakit. Satu di antara tarekat-
tarekat yang dihubungi adalah Kongregasi Suster-Suster CB;
kebetulan seorang saudari beliau adalah suster CB.
Gambar. Moeder Lucia Nolet
(Pemimpin Umum Kongregasi CB, 1914–1926).
22 The Eternal Light
Algemeen Overste (Pemimpin Umum; Latin: Superior
Generalis) Kongregasi Suster-Suster CB di Maastricht, Moeder
Lucia Nolet (periode 1914–1920, 1920–1926), semula
merasa belum siap karena masih fokus berkarya di Negeri
Belanda sendiri dan belum memiliki pengalaman berkarya di
luar Negeri Belanda. Namun kemudian, undangan untuk
hadir berkarya di Indonesia dipandang sebagai tantangan
dalam mewujudkan semangat sang pendiri Kongregasi CB.
Akhirnya, Moeder Lucia bersedia. Sementara itu, di Batavia
persiapan-persiapan untuk menyelenggarakan sebuah rumah
sakit dilakukan. Pada tahun 1918 sepuluh suster CB menuju
tanah air baru yang beriklim tropis, membuka ladang
pelayanan baru. Keputusan Moeder Lucia Nolet merupakan
sejarah penting bagi Kongregasi CB.
Pada hari Senin, 7 Oktober 1918, sepuluh suster CB tiba di
Batavia. Inilah untuk pertama kali Suster-Suster CB mulai
berkarya di luar Negeri Belanda. Sejak itu, dimulai dari
Batavia, Suster-Suster CB mengembangkan pelayanan
mereka di berbagai tempat di Indonesia dan di sejumlah
negeri lain.
Keputusan bersejarah itu selaras dengan harapan Bunda
Elisabeth Gruyters pada abad ke-19 ketika hendak memulai
karya beliau:
“Saya memohon perantaranmu untuk mengajukan
permohonanku, yaitu, jika sekiranya berkenan kepada
Tuhan, aku mohon agar di sini, di Kota Maastricht ini,
didirikan sebuah biara, di mana Tuhan akan diabdi secara
tulus ikhlas, ….” (EG 5)
***
Masyarakat Membutuhkan Pelayanan Kesehatan 23
#haiku 2
tuntutan karya
dalam kancah dunia
di tengah lara
#tanka 2
tuntutan karya
dalam kancah dunia
di tengah lara
hidup porak poranda
tulus mengunjuk bakti
24 The Eternal Light
III
Semangat Cintakasih
Suster-Suster dari Maastricht
Semangat Cintakasih Suster-Suster dari Maastricht 25
K eberadaan Rumah Sakit Santo Borromeus Bandung
tidak dapat dilepaskan dari spiritualitas Suster-
Suster Cintakasih Santo Carolus Borromeus (CB).
Para biarawati itulah yang merupakan tulang punggung
dalam memulai, menjalankan, menjaga, dan merawatnya.
Siapakah mereka? Apa spiritualitas mereka?
Bunda Elisabeth Gruyters
Kongregasi Suster-Suster Cintakasih Santo Carolus Borrome-
us (Belanda: Liefde Zusters van Heilige Carolus Borromeus;
Inggris: Sisters of Charity of Saint Charles Borromeo; Latin:
Sorores Misericordiae Sancti Caroli Borromei) didirikan oleh
seorang pribadi sederhana. Maria Elisabeth Gruyters lahir
pada tanggal 1 November 1789 di Desa Leut yang terletak di
pinggir Sungai Maas, sekarang termasuk Gemeente Maasme-
chelen, Provinsi Limburg, Belgia (sekitar setengah jam dari
Gemeente Maastricht, Provinsi Limburg, Negeri Belanda).
Orang tua beliau, Nicolaas Gruyters dan Maria Borde,
memberi beliau nama Maria Elisabeth. Beliau dilahirkan
dalam sebuah keluarga besar sebagai putri keempat dari
delapan bersaudara. Mereka adalah orang-orang beriman
yang saleh dan memegang tradisi-tradisi Kristiani dengan
setia.
Keluarga Gruyters saat itu telah tinggal cukup lama di
Limburg. Mereka tergolong kelompok orang terpandang dan
pendahulu di desa mereka. Ayah beliau seorang bendahara
atau semacam pengurus sebuah kastil di Leut. Posisi ini
memberi beliau peran penting untuk mengatur segala harta
benda pemilik kastil tersebut. Keluarga Gruyters juga dikenal
baik oleh masyarakat, bukan hanya karena Nicolaas Gruyters
mempunyai posisi sebagai pengurus sebuah kastil, melainkan
26 The Eternal Light
Gambar. Bunda Elisabeth Gruyters. Lukisan di Rumah Induk Kongregasi
Suster-Suster Cintakasih Santo Carolus Borromeus, Maastricht.
Semangat Cintakasih Suster-Suster dari Maastricht 27
karena mereka memiliki kualitas hidup yang pantas diacungi
jempol. Mereka menerima siapa saja yang datang ke rumah
mereka dengan penuh keramahan dan kehangatan. Orang
yang membutuhkan pertolongan akan mereka bantu dengan
penuh keikhlasan. Mereka memiliki hubungan yang baik
dengan orang-orang di sekitar.
Tepat pada Hari Raya Semua Orang Kudus tahun 1789
lahirlah Maria Elisabeth Gruyters, seorang putri yang
merupakan anugerah khusus bagi keluarga Gruyters. Umat
paroki maupun masyarakat mengucapkan “selamat” dan ikut
bergembira. Bapak Nicolaas Gruyters sebagai pengurus
Gereja waktu itu. Pastor Bongaerts, yang lahir di Maastricht,
mengenal Desa Leut sejak bertahun-tahun lamanya; beliau
juga mengenal keluarga Gruyters; maka secara istimewa ikut
berbahagia juga. Pada hari itu suasana di desa–kota
kelihatannya tidak ada tanda-tanda kericuhan. Maka, orang
dapat berkata bahwa kelahiran putri ini kiranya membawa
cahaya terang di tengah suasana yang kelam.
“Tepat pada
Hari Raya Semua Orang Kudus tahun 1789
lahirlah Maria Elisabeth Gruysters …”
Keluarga Gruyters memberi nama putri mereka Maria,
mewarisi nama ibu beliau, dan Elisabeth, mewarisi nama
nenek dari pihak ibu beliau. Bayi Maria Elisabeth Gruyters
dibaptis pada hari lahirnya, Hari Raya Semua Orang Kudus, 1
November 1789.
28 The Eternal Light
Pada waktu pembaptisan, Ibu Catharina Stermans sebagai ibu
baptis, membawa bayi mungil ke gereja paroki kuno untuk
dibaptis. Bapak Jan Tevissen sebagai bapak baptis mendam-
pingi berdiri di dekat bejana pembaptisan yang berbentuk
kerang pemberian dari Carolus Fransen kepada Gereja.
Setelah pembaptisan, pesta berlangsung sejenak saja, karena
sore hari adalah persiapan doa sore untuk Hari Peringatan
Arwah Semua Orang Beriman keesokan harinya. Semua
anggota keluarga Gruyters yang sudah meninggal dikenang
dengan rasa syukur. Dari leluhur, mereka mewarisi kebaikan
yang merupakan dasar dalam hidup menggereja.
Sejak masa muda Bunda Elisabeth telah akrab dengan banyak
duka-derita masyarakat dari dekat. Beliau berkembang di
tengah nilai-nilai kasih belarasa dari kedua orang tua beliau
dan keluarga puri, berhadapan dengan kekerasan dan
kejahatan perang masa itu. Masa kecil dan masa remaja
Bunda Elisabeth ditandai dengan pengalaman dari dekat
bagaimana kehidupan manusia tidak lagi dihargai bahkan
diinjak-injak akibat gejolak perang. Martabat manusia
merosot dan rusak sehingga citra luhur manusia sebagai buah
kasih ciptaan Allah punah karenanya. Situasi dunia sangat
memilukan karena banyak darah menyiram tanah akibat
bunuh-membunuh dan darah mereka menjerit sampai ke
telinga Allah. Hati manusia telah dikuasai oleh kuasa
kegelapan jahat. Hati manusia telah menjadi keras dan ganas
serta dikuasai oleh nafsu untuk merusak tatanan dunia
dengan segala kehidupannya. Tatanan kehidupan dan
lingkungan rusak karena dampak rusaknya jalinan relasi
antar manusia dan juga dengan alam semesta. Hal itu
menggambarkan dengan jelas bagaimana jalinan relasi
manusia dengan Allah yang rusak. Demikianlah martabat
manusia sebagai citra Allah seperti yang dicita-citakan Allah
Semangat Cintakasih Suster-Suster dari Maastricht 29
telah hancur. Inilah kebinasaan manusia, celaka, penuh duka
derita yang menimpa manusia zaman itu.”
Gambar. Lokasi Leut (Belgia) dan Maastricht (Negeri Belanda).
30 The Eternal Light
Situasi politik di Eropa saat itu pada umumnya sulit. Revolusi
Prancis mulai meletus pada tahun yang sama dengan tahun
kelahiran Elisabeth Gruyters. Kemudian, Napoleon Bonaparte
yang diangkat sebagai Kaisar Prancis namun berambisi untuk
menguasai Eropa menimbulkan kekacauan dan penderitaan
bagi masyarakat. Ambisi Napoleon Bonaparte bukan hanya
merupakan persoalan politik tingkat tinggi, namun
menimbulkan pula kerusuhan dan kekerasan terhadap
penduduk di kota maupun di desa, termasuk Desa Leut.
Situasi perang membawa kemiskinan dan kesengsaraan
penduduk. Kaum muda dipaksa masuk menjadi tentara. Para
pengikut Napoleon Bonaparte bertindak semena-mena.
Napoleon Bonaparte akhirnya mengalami kekalahan dalam
pertempuran di Waterloo, Belgia, pada tahun 1815, ketika
menghadapi pasukan Inggris yang dibantu pasukan Prusia
(Jerman). Akan tetapi, dampak kekacauan dan kemiskinan
masih terasa bertahun-tahun berikutnya. Hal itu ditambah
kemudian dengan Revolusi Belgia yang memisahkan diri dari
Kerajaan Belanda pada tahun 1830, yang antara lain
membelah Limburg menjadi bagian Kerajaan Belanda dan
bagian Kerajaan Belgia.
“Roh Kudus berduka di dalam setiap derita manusia. Keluh
kesah Roh atas dunia menyentuh hati Bapa yang paling
dalam. Kedukaan hati Bapa yang paling dalam adalah, bahwa
darah Sang Putera yang pernah tercurah di salib karena
membela keselamatan manusia diinjak-injak oleh setiap
kekerasan entah dalam bentuk apa pun. Sang Putra
mengalami dianiaya, ditolak, dihina, dijual dan dibunuh,
dengan segala tindakan penganiayaan terhadap setiap insan
di dunia ini.”
Semangat Cintakasih Suster-Suster dari Maastricht 31
“Dalam situasi seperti itu Allah membutuhkan hati manusia
yang masih rela memuat cinta-Nya bagi penderitaan dunia.
Dunia mendambakan hati manusia yang lembut yang masih
mungkin menjalin relasi kemanusiaan, suatu hati yang masih
mempunyai belarasa akan jeritan dunia. Tuhan membutuh-
kan hati seseorang yang masih mungkin didayai oleh kasih
belarasa-Nya untuk ‘melahirkan’ dan memelihara kehidupan
dan lingkungan yang dirusak oleh kekerasan, kekejaman,
kerakusan serta setiap kebohongan.”
“Sejak masa muda Bunda Elisabeth
telah akrab dengan
banyak duka-derita masyarakat
dari dekat …”
Tahun 1822, ketika berusia 32–33 tahun, Bunda Elisabeth
meninggalkan Desa Leut menuju Maastricht, yang berjarak
sekitar 18–19 kilometer, untuk mengikuti kata hati beliau:
rindu untuk mencari Kerajaan Allah, dengan hidup membiara.
Situasi di Maastricht pun ternyata tidak jauh berbeda dari
Desa Leut. Maastricht juga menderita dampak buruk akibat
ambisi Napoleon Bonaparte. Banyak bangunan hancur.
Kehidupan sosial merana. Peradaban merosot. Pendudukan
oleh tentara dan perampasan yang berlarut-larut
menyebabkan Maastricht menjadi miskin. Kehidupan militer
mendominasi dan masyarakat berada dalam kesusahan.
Gereja-gereja dan biara-biara Katolik ditutup. Situasi inilah
yang dihadapi oleh Bunda Elisabeth. Harapannya untuk
mencari Kerajaan Allah dengan hidup membiara yang
diharapkan dapat terwujud di Kota Maastricht sebagaimana
32 The Eternal Light
yang ia inginkan sejak tahun 1820 harus disimpannya lagi
sebagai sebuah kerinduan. (Lustrum in Het Silver: 125 Tahun
Suster-Suster Cintakasih Santo Carolus Borromeus “Onder de
Bogen” Maastricht. 1962. Cetakan berbahasa Indonesia,
2018).
Di Maastricht, Bunda Elisabeth bekerja sebagai pengurus
rumah tangga keluarga Nijpels. Pengertian “pengurus rumah
tangga” di Eropa pada abad ke-19 bukanlah seperti pembantu
rumah tangga di Indonesia, melainkan seorang penyelia
(supervisor) atas sejumlah staf yang melakukan pekerjaan-
pekerjaan di sebuah rumah keluarga terpandang (bangsa-
wan) yang memiliki rumah yang besar/luas, bahkan puri
(Belanda: kasteel, Inggris: castle). Seorang pengurus rumah
tangga (Belanda: huishoudster, Inggris: housekeeper, sering
disebut necessary woman) pada zaman itu merupakan tangan
kanan dan bertanggung jawab kepada nyonya rumah
(Belanda: vrouw des huizes, Inggris: lady of the house).
Kenyataannya, yang dikerjakan beliau melebihi dari sekadar
seorang pengurus rumah tangga; sikap beliau adalah sikap
seorang pelayan Tuhan. Beliau tidak hanya menyediakan
kebutuhan fisik keluarga, namun juga prihatin akan
kebutuhan rohani keluarga tersebut.
Ketika Bunda Elisabeth tinggal di Maastricht, gereja-gereja
meskipun rusak parah dibuka kembali, melayani umat
beriman yang datang untuk berdoa dan memuji Tuhan.
Bunda Elisabeth adalah satu di antara umat yang sering
berkunjung ke Sint-Servaasbasiliek (Basilika Santo Servatius),
Sint-Matthiaskerk (Gereja Santo Mathias), dan Sint-Nicolaas-
kerk (Gereja Santo Nicolaus) di mana patung Maria Sterre der
Zee (Maria Bintang Samudra) ditakhtakan waktu itu.
Semangat Cintakasih Suster-Suster dari Maastricht 33
Jika beliau memiliki waktu luang pada hari Minggu, beliau
pergi ke Calvariënberg Ziekenhuis (Rumah Sakit Bukit
Kalvari), yang terletak tidak jauh dari rumah keluarga Nijpels,
untuk berdoa bersama para pasien yang sakit. Duka dan
penderitaan mereka selalu memenuhi pikiran beliau, bahkan
ketika Bunda Elisabeth sudah kembali ke pekerjaan beliau.
Sambil mencucurkan air mata, Bunda Elisabeth memanjatkan
doa agar dapat berkarya bagi para penderita di Calvariënberg
Ziekenhuis.
“Allah membutuhkan hati manusia
yang masih rela memuat cinta-Nya
bagi penderitaan dunia ….”
“Benih kasih belarasa yang diletakkan Tuhan dalam hati
Bunda Elisabeth bertunas dan bersemi dalam perjalanan dari
Desa Leut menuju Maastricht. Benih yang tumbuh di tanah
hati yang subur itu merupakan daya ilahi yang mendayai
Bunda Elisabeth berjumpa dengan kemalangan sesama di
Calvariënberg. Daya kasih belarasa itulah yang mendorong
beliau pergi ke Calvariënberg untuk berdoa rosario bersama
orang-orang yang malang, bila beliau mempunyai waktu
luang. Dengan kata lain, benih kasih belarasa itu
menyebabkan Bunda Elisabeth mampu melihat, mendengar,
dan berbelarasa berjumpa dengan kemalangan manusia.
Citarasa dan belarasa beliau yang sedemikian mendalam
sehingga mereka yang malang itu ‘berada’ dalam ‘ruang
rahim’ hati beliau. Beliau sangat rindu menghantar mereka
keluar dari kemalangan. Kedalaman kerinduan itu terlukis
dalam memanjatkan keluhan dan air mata di hadapan Allah.
34 The Eternal Light
Air mata dalam konteks ini merupakan sebuah simbol
kedalaman kasih belarasa yang sulit diurai dengan kata. (bdk.
Yesus menangisi kematian Lazarus, dalam Yoh 11:35; Yesus
menangisi Yerusalem, dalam Luk 19:41). Kualitas hati yang
demikian ini tidak mungkin tidak bertindak bagi sesamanya
entah dalam bentuk apa pun.
“Sambil mencucurkan air mata,
Bunda Elisabeth memanjatkan doa
agar dapat berkarya bagi para penderita
di Calvariënberg Ziekenhuis.”
Secara manusiawi dapat dikatakan bahwa Bunda Elisabeth
meninggalkan Leut untuk mencari pekerjaan karena Leut
tidak mungkin lagi memberi lapangan pekerjaan kepada para
wanita muda. Walaupun demikian, rupanya perjalanan Bunda
Elisabeth ke Maastricht bukan saja karena beliau telah
menginjak dewasa dan ingin mandiri, atau karena ayah beliau
telah wafat dan seluruh keluarga kembali ke desa asal, yaitu
desa “bawah” di Leut, namun juga karena hati beliau
digerakkan oleh daya kasih Roh untuk menuju Maastricht.
Bunda Elisabeth menulis dalam buku catatan beliau bahwa
kurang lebih selama 15–16 tahun (sekitar tahun 1820–
1836/1837) hati beliau telah merindukan Allah – hidup
membiara, yang dimaksud ialah hidup membiara apostolis-
aktif (bdk. EG 17, 5). Sedangkan Bunda Elisabeth meninggal-
kan Leut menuju Maastricht pada tahun 1822 (menurut arsip
data kepolisian Maastricht). Ini berarti bahwa kerinduan itu
sudah ada sejak beliau masih di Leut. Kerinduan hati inilah
Semangat Cintakasih Suster-Suster dari Maastricht 35
benih panggilan Ilahi, yang menggerakkan atau mendayai
serta menuntun beliau merasai jeritan sesama yang
menderita secara konkret yang beliau jumpai.
Dalam perjalanan waktu yang penuh dengan pergulatan,
iman beliau semakin tangguh dan benih panggilan beliau
yang autentik bertumbuh. Maka, perlu diperhatikan apa yang
menjadi fokus Bunda Elisabeth bekerja di rumah keluarga
Nijpels di Maastricht. Jenis pekerjaan yang beliau lakukan
menjadi tidak penting. Melainkan, yang sangat penting adalah
menyidik fokus yang diperjuangkan mati-matian oleh Bunda
Elisabeth selama bekerja di keluarga Nijpels, karena itulah
yang akan menjadi paradigma setiap perjuangan beliau
selanjutnya. Keselamatan jiwa sesama sangat kupentingkan
(EG 40).
Suatu kali ketika masih berada di rumah keluarga Nijpels di
depan Yesus Yang Tersalib, beliau berdoa, hati beliau
bernyala-nyala karena cinta beliau kepada Tuhan, beliau
tergagap-gagap mendoakan syair ini:
“O... Pencinta hatiku yang manis,
Ikut sertakan aku bagian dalam duka-Mu,
semoga hatiku bernyala-nyala karena cinta,
buatlah aku cakap dalam pengabdian-Mu
tetapi tidaklah bermanfaat bagiku saja,
pun juga bagi keselamatan sesama manusia. Amin.” (EG 39).
Bunda Elisabeth mendoakan syair itu setiap hari. Kelak
sesudah di dalam biara, Bunda Elisabeth mengajak semua
suster untuk mendoakannya.
36 The Eternal Light
Gambar. Gereja Santo Nikolaus (kiri) dan Gereja Bunda Kita Tercinta
(kanan), Maastricht. Lukisan karya Alexander Schaepkens, 1815-1899.
Koleksi Bonnefantenmuseum Maastricht.
Dalam buku catatan pribadi beliau, Bunda Elisabeth menulis
sebagai berikut:
“Betapa lamanya aku telah berdoa, mengesah serta
mencucurkan air mata; atau dapat dikatakan: tak henti-
Semangat Cintakasih Suster-Suster dari Maastricht 37
hentinya aku mempersenjatai diriku dengan pengharapan
para Bapa Bangsa; semenjak tahun 1820 sampai pada
tanggal 15 Agustus 1836 selama siang dan malam terus-
menerus, aku berdoa dalam batin di hadapan takhta Allah.
Akhirnya aku mulai merasakan adanya hasil, yaitu pada
Hari Raya Maria Diangkat ke Surga, ketika aku ada di
dalam bekas Gereja St. Nicolaas menghadiri Misa Agung
yang dipersembahkan oleh enam orang imam dengan
orkes lengkap ... namun yang sama sekali tidak kudengar
atau kulihat, sebab aku ‘tak sadar akan diriku’, karena
kerinduanku yang bernyala-nyala itu. (EG 2).
“ … semoga hatiku bernyala-nyala karena cinta,
buatlah aku cakap
dalam pengabdian-Mu …”
Ketika itu aku menempatkan diriku tepat di hadapan
patung Bunda Maria yang keramat, dan aku berdoa kepada
tiga orang Biarawan Suci yang kujadikan pengantaraku
karena aku sendiri sudah begitu lama mendoakannya,
sehingga tidak mempunyai keberanian lagi untuk berdoa;
dengan diam-diam aku telah memutuskan untuk mohon
kepada St. Antonius, St. Fransiskus, dan St. Dominikus,
agar mereka sudi membantu aku dalam doa, dan mewakili
aku menghadap takhta Bunda Allah yang suci. Aku tidak
berani lagi minta untuk diriku sendiri supaya aku diterima
dalam sebuah biara seperti yang kumaksudkan dan untuk
maksud yang sama, para bapa pengakuanku telah berkali-
kali menulis ke pelbagai biara. Dalam kepercayaan yang
hidup, aku memohon kepada ketiga Biarawan Suci
38 The Eternal Light
tersebut; dengan mencucurkan air mata sambil berlutut di
muka patung Santa Perawan Maria yang keramat itu,
berdoalah aku sebagai berikut:
‘Ya, dikau yang mulia Santo Fransiskus, Santo Antonius,
dan Santo Dominikus, aku tahu bahwa kalian telah
menyaksikan kerinduan, air mata, serta doa-doaku
yang berkepanjangan, supaya aku diterima dalam
sebuah biara. Tetapi semuanya itu sekarang sudah
lewat, aku sudah terlalu tua, bakat atau pun harta aku
tak punya. Namun demi cinta Allah, cobalah mengha-
dap tahta Bunda Allah yang suci, dan katakanlah atas
namaku bahwa aku sungguh tahu, Beliau belum pernah
menolak permohonan seseorang pada hari raya
pengangkatannya yang penuh berkat ke Surga.
Saya minta perantaraanmu untuk mengajukan permo-
honan yaitu, jika sekiranya berkenan kepada Tuhan,
aku mohon agar di sini, di Kota Maastricht ini, didirikan
sebuah biara, di mana Tuhan akan diabdi secara tulus
ikhlas, dan bagiku sama saja tarekat mana, ataupun
peraturan mana yang akan diikuti. Aku tak usah
mengambil bagian di dalamnya, asal ada orang yang
mau mengabdi Tuhan secara ikhlas dan sempurna. Aku
pun tahu bahwa aku tak dapat ambil bagian karena
usiaku sudah lanjut, namun aku akan mempersembah-
kan harta peninggalan ayahku, betapa pun sedikitnya,
sampai mata uang yang penghabisan untuk rumah ini.’
Dalam keadaan ini semakin hiduplah imanku, semakin
teguhlah harapanku, dan cintakasih bernyala-nyala
disertai cucuran air mata, memberi aku ketenangan hati
yang membahagiakan; tiba-tiba terdengar olehku
Semangat Cintakasih Suster-Suster dari Maastricht 39
persetujuan yang suci itu dari Surga, dan kata
persetujuan itu adalah ini: Itu akan terjadi.”
Gambar. Patung Maria Bintang Samudra (Belanda: Sterre der Zee,
Latin: Stella Maris) di Maastricht
Desember 1836, Bunda Elisabeth mendapat keberanian
untuk memperkenalkan diri kepada Pastor Paulus Antonius
van Baer, di Gereja Santo Servatius. Dengan hati berdebar,
beliau memperkenalkan diri dan memberitahukan kerinduan
beliau agar dapat diterima dalam sebuah biara baru yang
40 The Eternal Light