Bukan hanya residen yang berdomisili di Bandung yang
memilih dirawat di Ziekenverpleging Sint Borromeus. Yang
relatif dari jauh pun, Burgemeester van Buitenzorg (Wali Kota
Bogor) Mr. M.W. Hildebrand, pada tahun 1937 memilih
dirawat di Sint Borromeus, padahal jarak Bogor–Bandung
lumayan jauh.
Pada dasawarsa 1930-an terjadi depresi besar (great
depression) yang melanda seluruh dunia, termasuk Indonesia.
Harga-harga komoditas jatuh sehingga industri-industri
terpuruk dan ekonomi merosot. Dalam keadaan tersebut,
Ziekenverpleging Sint Borromeus turut melakukan
pengurangan tarif secara signifikan. Surat kabar De Koerier
(17-03-1934) memberitakan:
“Pengurangan-Besar Tarif
Bergerak seiring waktu, Rumah Sakit St. Borromeus,
Bandung, telah merevisi tarif. Ini menyangkut penurunan
harga rata-rata 30–40 persen. Kami ingin memberikan
beberapa contoh hal ini: ruang kelas 1 yang sebelumnya f
14 per hari, menjadi hanya f 10 per hari; ruang kelas 2
yang sebelumnya f 10 sehari, menjadi hanya f 7,50 sehari.
Dan seterusnya secara pro rata.”
Kenyataan menunjukkan bahwa Ziekenverpleging Sint
Borromeus sangat diminati oleh masyarakat Bandung dan
sekitarnya. Mengapa demikian? Surat kabar Algemeen
Handelsblaad voor Nederlandsch-Indië (12-11-1930) antara
lain menulis:
“… Cintakasih, perhatian, serta dedikasi mereka hanya bisa
datang sepenuhnya dari hati ….
Disambut Hangat Masyarakat, Berkembang Pesat 141
Itulah satu-satunya penjelasan mengapa Rumah Sakit
Katolik Santo Borromeus, yang dimulai hanya dengan satu
bangunan, setelah beberapa tahun berkembang ke
perluasan yang bagus, sehingga sekarang menempati tidak
kurang dari tiga bangunan!”
Kekuatan Ziekenverpleging Sint Borromeus dengan tulang
punggung para suster CB tercermin dalam sebuah tulisan di
surat kabar De Koerier (8-11-1934) mengenai keberangkatan
Moeder Ambrosine Steenvoorden yang berpindah tugas ke
Yogyakarta:
“Kepergian Moeder Ambrosine Pemimpin Rumah Sakit St.
Borromeus!
Pagi ini kita menyaksikan perpisahan dengan Moeder
Ambrosine yang sudah tidak asing lagi bagi banyak warga
Bandung kita. Meskipun adalah niat beliau, dan
sepenuhnya sifat beliau, untuk pergi secara diam-diam dan
tidak mencari perhatian, seperti yang beliau jalani dengan
rendah hati di sini siang dan malam dalam beberapa tahun
terakhir dan bekerja keras hanya untuk Tuhan kita,
begitulah tampaknya. Merupakan tugas mulia bagi kami
untuk memberi hormat kepada beliau atas kepergian
beliau ke Yogya, atas ketekunan beliau yang tidak kenal
lelah, juga ucapan terima kasih yang tulus atas semua yang
beliau lakukan pada tahun-tahun itu sebagai perawat
religius dan sebagai pemimpin rumah sakit kita. Moeder
Ambrosine termasuk di antara enam suster pertama, yang
dipilih pada tahun 1921 dengan Moeder Gaudentia sebagai
pemimpin untuk mengambil alih … yang terletak di sini.
142 The Eternal Light
Gambar. Moeder Ambrosine Steenvoorden,
Direktris RK Ziekenverpleging Sint Borromeus
yang ketiga (1928–1934).
Pada awalnya mereka harus menghadapi banyak kesulitan
karena berbagai sebab, namun dalam waktu singkat
rumah sakit Katolik ini ternyata dapat memenuhi
kebutuhan yang mendesak. Setelah beberapa tahun,
pengembangan harus dipertimbangkan, dan kami melihat
secara berturut-turut paviliun yang berbeda dari St. Yosef
I, II dan III muncul, sehingga ada bagian yang benar-benar
gratis untuk Röntgen, untuk yang lemah, maupun bagian
yang diperuntukkan bagi para pasien yang menghendaki
dirawat di kamar dengan pemandangan yang indah, atau
Disambut Hangat Masyarakat, Berkembang Pesat 143
tetap berada di kamar saja yang tersedia di Paviliun St.
Carolus.
Sementara itu, Moeder Ambrosine bekerja selama
beberapa tahun pertama kedatangannya di sini terutama
di Ruang Operasi dan Bersalin, tetapi juga di mana-mana,
selama masa-masa sulit pertama itu, Suster-Suster (yang
waktu itu jumlahnya sedikit) membutuhkan bantuan
beliau. Dengan penuh pengabdian beliau dengan gembira
dan riang menyelesaikan tugas berat beliau, dan dengan
kecakapan pengorbanan yang paling mulia beliau
mengorbankan banyak malam yang seharusnya digunakan
untuk beristirahat guna menghibur dan membantu para
ibu di saat-saat tersulit mereka.
[Enam tahun lalu] pada bulan Desember 1928, atas
kepergian (pindah tugas) Moeder Anselma, selanjutnya
Moeder Ambrosine yang telah beberapa tahun mengurus
komunitas Bandung, terpilih menjadi Pemimpin
Borromeus. Maka dari itu, Moeder Ambrosine menjalani
upaya terbaik beliau selama enam tahun terakhir,
mengabdikan diri pada perkembangan dan perluasan
rumah sakit ini, yang mana jumlah Suster telah meningkat
menjadi 32, dengan 10 perawat magang.
Mereka yang telah berjumpa dengan beliau selama
bertahun-tahun dan yang cukup beruntung karena pernah
bekerjasama dengan beliau, akan mengingat kepedulian
dan keramahan beliau yang sederhana, dengan rasa terima
kasih yang dalam. Sebagai pribadi yang benar-benar
religius, pada kenyataannya beliau telah menyerahkan diri
sepenuhnya pertama-tama kepada komunitas beliau,
144 The Eternal Light
tetapi juga kepada semua yang datang kepada beliau
untuk meminta nasihat dan bantuan.
Moeder Ambrosine, kami merelakan Anda pergi, namun
berharap Anda mendapatkan kehidupan yang lebih damai
dalam biara Yogya, agar memiliki kesempatan untuk
memulihkan kesehatan Anda yang perlu menyesuaikan
diri sampai batas tertentu.
Kami berharap bahwa Tuhan kita Yang Mahakasih akan
memberi Anda kekuatan dan keberanian pada tahun-
tahun mendatang untuk membantu karya misi di Jawa
Tengah melalui kerja keras dan doa serta pengorbanan
Anda.”
Gambar. Bagian depan RK Ziekenverpleging Sint Borromeus sesudah Sint
Jozef Paviljoen dibangun.
Disambut Hangat Masyarakat, Berkembang Pesat 145
Itulah fondasi dan modal historis sangat indah yang
diwariskan oleh para pendiri dan perintis Rumah Sakit Santo
Borromeus, yang akan terus menyemangati peziarahan
hingga tahun-tahun selanjutnya.
***
Perkembangan Ziekenverpleging Sint Borromeus pada masa-
masa awal sungguh disyukuri. Hal ini mengingatkan refleksi
Bunda Elisabeth Gruyters pada abad ke-19:
“Tetapi setelah beberapa waktu, jumlah suster bertambah
dan jenis karya meluas, lagi pula pengalaman sehari-hari
disertai hasrat besar akan kemajuan rohani … menjadikan
kami merasa setiap hari diberkati oleh tangan Tuhan yang
tidak kelihatan.” (EG 63)
***
#haiku 5
sejak semula
karya dan pengabdian
tak sia-sia
#tanka 5
sejak semula
karya dan pengabdian
tak sia-sia
kiprah kian dikenal
tuai kepercayaan
146 The Eternal Light
VI
Demi Martabat Manusia,
Demi Masyarakat Indonesia
Disambut Hangat Masyarakat, Berkembang Pesat 147
S ejak pertama kali datang di Indonesia pada tahun
1918, Suster-Suster Cintakasih Santo Carolus
Borromeus memiliki misi mengembangkan karya
pelayanan demi keselamatan sesama manusia, apa pun latar
belakangnya. Dalam konteks Indonesia, tentu saja hal ini juga
demi kebaikan masyarakat Indonesia. RK Ziekenverpleging
Sint Borromeus tidak dapat dipisahkan dari keseluruhan
pengabdian Suster-Suster CB dan Gereja Katolik Indonesia. Di
Jawa Barat, sesudah Bandung mereka sempat
mengembangkan pula pelayanan pendidikan di Garut.
Pendudukan Tentara Dai Nippon merupakan ujian atas
ketabahan dan kesetiaan mereka. Revolusi Kemerdekaan
Indonesia membawa perubahan besar atsmosfer dalam karya
pelayanan.
Mantap Berkarya di Indonesia
Dalam kapitel umum tahun 1926 Moeder Fulgentia Verriet
terpilih sebagai Algemeen Overste. Pada tahun 1932 Moeder
Fulgentia terpilih kembali untuk periode kedua. Selama tiga
belas tahun sejak pertama kali berkarya tahun 1918 hingga
tahun 1931, Suster-Suster CB telah berkarya di lima
komunitas, yaitu di Weltevreden-Batavia (sejak 1918), di
Bandung (sejak 1921), di Yogyakarta (sejak 1929), di
Bengkulu (sejak 1929), dan di Ganjuran-Bantul (sejak 1930).
Sejak 7 November 1931 dibentuklah posisi Missie Overste
(Pemimpin Misi, Latin: Superior Missionis) Kongregasi CB di
Indonesia. Moeder Gaudentia Brandt memeroleh
kepercayaan sebagai Missie Overste di Indonesia yang
pertama. Beliau sudah berkarya di Bandung (sejak 1921), di
Batavia (sejak 1924), dan di Yogyakarta (sejak 1929).
148 The Eternal Light
Gambar. Ibu Fatmawati, Ibu Negara RI yang pertama, adalah lulusan Sint
Carolus Huishouldschool Bengkulu.
Dalam kapitel umum Kongregasi CB tahun 1932 Moeder
Gaudentia mengusulkan pembentukan Rumah Pembinaan
Awal (Postulat-Novisiat) di Indonesia, dan hal itu disetujui
oleh kapitel umum. Novisiat diwujudkan pada tahun 1933.
Posisi Missie Overste di Indonesia dilanjutkan oleh Moeder
Anselma Berger dan kemudian Moeder Laurentia de Sain.
Ziekenverpleging Sint Borromeus Terus Berkembang
Dasawarsa 1930-an Ziekenverpleging Sint Borromeus terus
berkembang mantap. Seakan-akan menandai perkembangan
tersebut dan sekaligus menegaskan misi Suster-Suster CB,
pada November 1934 Kapel Hati Kudus Yesus memiliki
sebuah lonceng penanda waktu. Sebuah surat kabar
memberitakan:
Disambut Hangat Masyarakat, Berkembang Pesat 149
“Lonceng-jam Bernadette
Mgr. J. Goumans telah meresmikan lonceng-jam Angelus
baru Suster-Suster St. Carolus Borromeus. Lonceng-jam ini
memiliki berat 190 kg dan dipasok oleh perusahaan
Fermont-Cuypers.
Pagi, sore, dan malam hari lonceng ini memanggil para
suster dan orang sakit serta warga sekitar untuk berdoa
Angelus. Lonceng gereja ini didedikasikan untuk St.
Bernadette Soubirous.”
Pada November tahun 1934 itu Moeder Ambrosine
Steenvoorden dan Moeder Ignatio Hermans bertukar tempat
tugas sebagai pemimpin di Bandung dan Yogyakarta.
Gambar. Moeder Ignatio Hermans (Direktris RK Ziekenverpleging Sint
Borromeus yang keempat, 1934 1937).
150 The Eternal Light
Gambar. Berita surat kabar: peresmian lonceng-jam Bernadette untuk
Kapel Hati Kudus Yesus oleh Mgr. J.H. Goumans, OSC pada November
1934. Selain suster-suster CB, tampak pula tiga mantri-verpleegster.
Karya di Swiss van Java
Dengan perkembangan jumlah suster CB di Indonesia,
Pimpinan Kongregasi CB berpikir bahwa Garut dapat pula
dijadikan sebagai rusthuis (rumah peristirahatan) bagi para
suster yang telah bekerja keras di Jawa maupun Sumatera.
Pada masa lalu Garut dijuluki sebagai Swiss van Java karena
alamnya yang memesona, berada di dataran tinggi dan
dikelilingi oleh pegunungan, seperti Swiss dengan
pegunungan Alpen. Hamparan pepohonan dan perkebunan
Disambut Hangat Masyarakat, Berkembang Pesat 151
nan hijau membuat mata dan pikiran menjadi segar. Banyak
wisatawan dari berbagai belahan dunia datang untuk
menikmati keindahan alam Garut waktu itu.
Dalam Buku Peringatan Seratus Tahun Kongregasi CB (1937)
ditulis:
“Karena merawat orang sakit di daerah tropis yang panas
sangat melelahkan, Pemimpin Umum – pada saat itu
Moeder Lucia – dan Dewan Pimpinan memutuskan agar
para suster menjalani pemulihan dengan istirahat kecil
selama tiga minggu setiap 2 hingga 3 tahun. Awalnya,
Bandung ditunjuk untuk ini.
Sejak didirikan, dua suster secara teratur beristirahat di
sana [Bandung] sepanjang tahun. Mereka diganti setiap
tiga minggu. Tetapi lama-kelamaan muncul sejumlah
keberatan. Salah satu yang terbesar adalah bahwa
Bandung selalu memiliki begitu banyak pekerjaan
sehingga suster yang beristirahat terkadang harus terlibat
membantu. Apalagi Bandung menjadi komunitas yang
selalu berubah melalui pengaturan ini. Rumah baru
‘Immaculata’ di Garut merupakan solusinya.
Para suster yang berkarya di Indonesia harus sangat
berterima kasih kepada Moeder Fulgentia dan Dewan
Pimpinan atas keputusan yang bagus ini. Ketika tubuh
mendapatkan kembali kekuatannya, jiwa juga akan
menemukan ketahanan spiritualnya di lingkungan yang
indah itu, untuk berkarya setiap hari dengan riang.”
Perintis karya di Garut adalah suster CB pribumi pertama,
Suster Yvonne Suwarti, dan Suster Lamberte yang ditugaskan
152 The Eternal Light
dari Negeri Belanda. Suster Justa ditunjuk sebagai Overste di
Garut. Pada 14 Agustus 1934 tiga suster berangkat dari
Bandung menuju Garut untuk mempersiapkan rumah baru di
sana. Kemudian, Algemeen Overste Moeder Fulgentia Verriet
dan Vicares, Moeder Gaudentia Brandt, melakukan kunjungan
ke Garut pada 20 September 1934, sebelum kemudian
melakukan kunjungan ke kota lain. Pada Oktober 1934
diberitakan bahwa rumah di Garut tersebut diberi nama
Huize Immaculata. Rumah ini ditetapkan sebagai kediaman
Missie Overste (Pemimpin Misi) Suster-Suster CB di Indonesia,
selain sebagai rusthuis (rumah peristirahatan) bagi para
suster untuk menyegarkan diri.
Gambar. Huize Immaculata, Garut, kantor Missie Overste dan rumah
peristirahatan suster-suster CB.
Disambut Hangat Masyarakat, Berkembang Pesat 153
Missie Overste mulai tinggal di Garut pada November 1934.
Dalam Buku Peringatan Seratus Tahun Kongregasi CB (1937)
ditulis:
“Pada tanggal 7 November 1934 Moeder Gaudentia
sebagai Pemimpin Misi Indonesia digantikan oleh Moeder
Anselma, yang pindah dengan asisten Suster Symphorose
di Rumah Peristirahatan Immaculata. Beliau melakukan
kunjungan tahunan di semua rumah di Indonesia dan
mewakili pelayanan misionaris kepada Dewan Pimpinan
Umum Kongregasi.”
Seorang suster yang telah merilekskan diri di Garut menulis
sebuah artikel di terbitan berkala Sint Carolus klokje
(Desember 1934), menceritakan apa yang dilihat dan
dialaminya di Huize Immaculata. Rumah itu lumayan luas, ada
taman bunga, kebun buah-buahan, belantara, dan gudang tua.
Ada ruang kerja untuk Moeder Anselma Berger sebagai Missie
Overste di Indonesia, bersama sekretaris beliau. Ada paviliun
bagi para suster yang memeroleh kesempatan tiga pekan
untuk beristirahat. Dikisahkan bahwa delapan suster yang
beristirahat, menghabiskan malam hari di sebuah tenda.
Suster itu mengisahkan betapa asik di Garut, dan mengakhiri
kisahnya:
“Seperti yang Anda lihat, ini adalah surga sejati di sini dan
iklimnya luar biasa, sehingga kami dapat bersantai di sini
dengan jiwa dan tubuh kami. Dan setelah tiga minggu di
sini, kami pulang dengan rasa syukur, untuk memulai
pekerjaan kami dengan keberanian dan lebih banyak
pengorbanan.”
154 The Eternal Light
Gambar. Suster-suster CB bersama siswa-siswi sekolah dasar di Garut
yang diasuh suster-suster CB. Foto tahun 1939, ketika Algemeen Overste
Moeder Emmanuel Lemmens berkunjung.
Di Garut, Suster-Suster CB juga berkarya dalam bidang
pendidikan, mengasuh sebuah sekolah dasar yang telah
dirintis oleh Yayasan Salib Suci (Ketua waktu itu: Pastor Dr.
Antonius van Asseldonk, OSC yang juga Pemimpin Misi OSC di
Indonesia) pada tahun 1934 dan kemudian secara resmi
dipercayakan pengelolaannya kepada Suster-Suster CB sejak
tahun ajaran 1935. Sejak itu pula Suster-Suster CB
menyelenggarakan sebuah taman kanak-kanak (fröbelschool).
Karya di Garut merupakan karya pelayanan dalam bidang
pendidikan yang kedua oleh Suster-Suster CB sesudah karya
Disambut Hangat Masyarakat, Berkembang Pesat 155
di Bengkulu. Inilah partisipasi Suster-Suster CB dalam upaya
bersama mencerdaskan masyarakat Indonesia. Karya di
Garut ini terpaksa berhenti ketika Tentara Dai Nippon
menduduki Indonesia.
Karya di Cicadas Bandung
Sudah sejak awal Suster-Suster CB mendambakan untuk
berkarya bagi masyarakat sederhana, yang kurang
beruntung. Untuk itu, perlu dicari kemungkinan untuk
membuka pelayanan di tempat baru yang lebih dekat dengan
masyarakat yang kurang mampu.
Sementara itu, mempunyai kepedulian terhadap anak-anak
terlantar yang ditinggalkan orangtua mereka, Camilus
Stichting (Yayasan Camilus, yang dibentuk oleh imam-imam
OSC yang dpimpin oleh Pastor J.H. Goumans sebagai
Pemimpin Misi OSC di Jawa) sejak tahun 1929 mengupayakan
pendirian panti asuhan yatim piatu. Kemudian, sebuah panti
asuhan yatim piatu untuk laki-laki pribumi dan sebuah panti
asuhan yatim piatu untuk perempuan pribumi didirikan pada
tahun 1931 di Cicalengka dan Cihaurgeulis. Panti asuhan ini
rupanya menarik perhatian orang-orang di sekitarnya untuk
meminta obat karena di panti asuhan tersedia obat untuk
anak-anak yatim piatu, dan orang luar dapat
memanfaatkannya. Bantuan pengobatan ternyata sangat
diperlukan oleh masyarakat. Dari kenyataan itu, kemudian
Pastor Anton Piets, OSC – karena bertubuh kecil maka maka
beliau dijuluki Pastor “Klein” – menggagas pendirian sebuah
poliklinik.
Sementara itu, imam-imam OSC terus mengupayakan
pelayanan-pelayanan untuk mengangkat harkat-martabat
156 The Eternal Light
masyarakat. Pastor Anton Piets, OSC ditunjuk untuk
mengupayakannya di Bandung bagian timur (sekitar Kebon
Jambu, Cihaurgeulis, Cicadas), sedangkan Pastor Joannes
Scharrf, OSC di Cicalengka. Berdasarkan kemajuan dari upaya
tersebut, Pastor Antonius van Asseldonk, OSC sebagai
Pemimpin OSC di Jawa (1930–1938) memutuskan untuk
membangun sebuah karya pelayanan pendidikan, kesehatan,
dan sosial secara terpadu di Cicadas, agar lebih terjangkau
oleh warga masyarakat kecil dan sederhana.
Terutama untuk mewujudkan pelayanan kesehatan, Ordo
Salib Suci (OSC) tidak dapat bekerja sendiri, namun
membutuhkan kerja sama dengan Suster-Suster CB yang
sudah berkarya di Ziekenverpleging Sint Borromeus.
Pada tanggal 5 Maret 1935 Prefek Apostolik Bandung, Mgr.
J.H. Goumans, OSC memberkati ruang sederhana yang
digunakan sebagai poliklinik kecil di Engelenweg (Jalan
Cikutra), untuk melayani kebutuhan masyarakat sekitar.
Poliklinik didirikan dengan menyewa sebuah rumah milik
seorang Tionghoa.
Dua suster CB ditugaskan untuk merintis pelayanan poliklinik
itu, yaitu Suster Louise Helmer dan Suster Edelberte Sudariah
(orang Jawa). Mereka dibantu oleh seorang perawat bernama
Bernadette Fatimah (orang Sunda), yang sekaligus bertindak
sebagai penerjemah. Mereka bertiga setiap hari pergi-pulang
dari Dago.
Suster Laurentia de Sain (1968) menulis:
“Tanggal 5 Maret 1935 poliklinik diberkati secara anggun,
disaksikan oleh banyak umat. Bukannya suatu upacara
Disambut Hangat Masyarakat, Berkembang Pesat 157
yang terlalu meletihkan! Uskup [waktu itu masih berstatus
Prefek Apostolik] dengan pakaian kebesaran sudah
menjelajah seluruh rumah hanya dengan empat langkah!
Sr. Louise, Sr. Edelberte, dan Fatimah bukan saja untuk
sementara berdiam di Borromeus, tetapi mereka juga
mendapat kerja sama sepenuhnya dari Badan Pengurus
dan para suster Klinik menjadi seolah-olah ‘anak buah’
yang bergantung kepada Borromeus.”
Gambar. Poliklinik Katolik Soetji Joesoep Cicadas; mulai dibuka tahun
1935, dikembangkan tahun 1936.
158 The Eternal Light
Mula-mula penduduk setempat agak ragu-ragu berhubungan
dengan para suster. Akan tetapi, berkat kunjungan yang
tekun dan teratur ke kampung-kampung, keraguan penduduk
sedikit demi sedikit berkurang dan hilang. Akhirnya, semakin
banyak ibu yang mau bersalin di sana, dan semakin banyak
orang dewasa dan anak-anak meminta pertolongan para
suster.
Setiap hari banyak pasien berobat. Kebanyakan pasien
menderita tifus, trakhoma, dan frambosia (Jawa: pathèk).
Mereka orang-orang miskin yang benar-benar memerlukan
pertolongan. Karena pasien-pasien yang datang adalah orang-
orang miskin maka poliklinik ini mengalami kesulitan
finansial. Uang sewa tempat pun tidak mampu terbayar
karena uang masuk sangat minim. Namun, pemilik rumah
sangat baik hati.
Menyaksikan begitu banyak orang datang ke poliklinik untuk
memohon pertolongan, pemilik rumah pun merasa iba, dan
akhirnya membebaskan uang sewa. Bahkan, pemilik rumah
berkenan melakukan perbaikan aliran listrik dan pipa air
minum.
Melihat perkembangan poliklinik ini, Pemimpin OSC di Jawa,
Pastor Dr. Antonius van Asseldonk, OSC, memutuskan untuk
membangun sebuah poliklinik yang lebih memadai. Pada
tahun 1936 poliklinik di Cicadas tersebut diresmikan.
Tanggal 3 Maret 1936 sebuah surat kabar memberitakan
rencana peresmian poliklinik ini sehari sebelumnya:
Disambut Hangat Masyarakat, Berkembang Pesat 159
“Poliklinik Katolik di Cicadas
Kami memeroleh informasi bahwa Poliklinik Santo Yusup
dari Salib merah-putih akan resmi dibuka besok [4 Maret
1936] jam 10 pagi. Poliklinik ini merupakan bagian dari
Misi dan akan dioperasikan oleh Yang Terhormat Suster-
Suster dari Borromeus.
Dokter Tumbelaka akan bergabung dengan poliklinik ini,
yang mana akan bisa dijumpai untuk konsultasi di sana
dua kali seminggu.”
Keesokan harinya, sebuah surat kabar memberitakan:
“Pembukaan Poliklinik Katolik di Cicadas
Saat kami sampai di Cicadas sekitar pukul sepuluh kurang
seperempat banyak peminat hadir, terutama dari kalangan
pribumi.
Kami melihat, antara lain, Yang Terhormat Pastor Dr.
[Antonius] van Asseldonk [OSC] dan beberapa suster yang
kita hormati, demikian pula Dokter Tumbelaka yang kerja
samanya sangat dihargai.
Kami melihat-lihat dan segera memerhatikan bahwa
semuanya tertata dan rapi.
Poliklinik ini bertempat di paviliun kecil. Serambi depan
dibagi dengan sekat menjadi ruang tunggu dan ruang
tindakan. Yang terakhir, kami menemukan meja
pemeriksaan dan banyak obat-obatan yang diperlukan.
160 The Eternal Light
Ada juga kamar untuk para suster, jika terpaksa bermalam
di sana karena kesibukan kerja, kamar pembantu, dan
dapur. Kamar mandi masih dalam proses pembangunan.
Seperti yang sudah diketahui, Dokter Tumbelaka akan
mengunjungi poliklinik tersebut setiap hari Selasa dan
Jumat. Selanjutnya, kita mendengar bahwa untuk saat ini
adalah Yang Terhormat Suster Louise akan ditugaskan di
poliklinik ini dengan dibantu asisten lain.
Sementara itu, lebih banyak orang telah tiba.
Sekitar jam sepuluh telah hadir Mgr. Goumans, pastor-
pastor, pastor pelayanan tentara Pastor Fleerakkers,
Moeder Theresia dari Suster-Suster Ursulin, Moeder dari
biara di Jalan Residen [Suster-Suster Penyelenggaraan
Ilahi (PI) yang waktu itu biaranya masih terletak di Jalan
Residen (sekarang Jalan Otista) sebelum pindah ke Jalan
Kebonjati], perwakilan dari Karya Santa Melania untuk
Jawa: Presiden Pengurus Pusat Jawa Ibu Hoogvelt,
Presiden Cabang Bandung Ibu Kamps; Dokter Rizzi
[Direktur Medis Ziekenverpleging Sint Borromeus], Wedana
Ujungberung, Asisten Wedana Cicadas, berbagai lurah dan
lain-lain. Bupati Bandung berhalangan hadir. Tentu saja
ada minat yang besar dari orang-orang setempat.
Pukul sepuluh Mgr. Goumans masuk ke dalam gedung,
setelah itu beliau menyampaikan sebuah sambutan
kepada mereka yang hadir, mengungkapkan terutama
harapan bahwa berkat Tuhan merupakan tumpuan karya
ini.
Disambut Hangat Masyarakat, Berkembang Pesat 161
Setelah ini giliran Pastor Dr. van Asseldonk
menyampaikan sambutan. Pertama-tama beliau berterima
kasih kepada Monsinyur atas peresmian poliklinik dan
pemberkatan obat-obatan, serta mengungkapkan harapan
bahwa di bawah perlindungan Santo Yusup ini semua akan
selalu digunakan untuk kemuliaan Tuhan yang semakin
besar dan untuk kebaikan umat manusia. Lebih lanjut
mengucapkan selamat kepada semua pastor atas
pendirian poliklinik ini.
Namun, sebelum sambutan berakhir, beliau
menyampaikan ucapan terima kasih kepada Yang
Terhormat Suster-Suster Borromeus yang akan
menjalankan poliklinik ini, dan khususnya kepada Moeder
Anselma [Pemimpin Misi CB di Indonesia], yang berhasil
memeroleh persetujuan dari Pemimpin Umum di
Maastricht bahwa suster-susternya dapat berkaya di
poliklinik ini.
Beliau juga mengucapkan terima kasih kepada Rumah
Sakit Borromeus, terutama Moeder Ignazio [Overste dan
Direktris di Borromeus], yang dengan baik hati dan murah
hati memfasilitasi pelaksanaan rencana ini.
Tentu saja Dokter Tumbelaka tidak dilupakan juga.
Merekomendasikan Poliklinik “Soetji Joesoep” untuk
kepentingan para administrator dan penduduk setempat,
Pastor van Asseldonk mengakhiri sambutan beliau.
Setelah itu, Wedana Ujungberung menyampaikan
sambutan, karena Bupati Bandung, seperti telah kami
sebutkan, berhalangan hadir.
162 The Eternal Light
Beliau mengucapkan terima kasih dan apresiasi atas
berdirinya poliklinik ini dan berharap agar poliklinik
semacam ini segera didirikan pula di Ujungberung.
Pastor van Asseldonk kemudian memohon para hadirin
yang diundang secara resmi untuk membubuhkan tanda
tangan mereka pada sertifikat yang sesuai, yang akan
disimpan sebagai pengingat pendirian ini.
Kami juga mengungkapkan harapan agar poliklinik ini
dapat tumbuh dan berkembang demi kemuliaan Tuhan
dan agar penduduk pribumi akan melihat berkat
melimpah dari pendirian poliklinik ini bagi mereka.”
Poliklinik Soetji Joesoep di Cicadas ini berkembang relatif
menggembirakan. Pelayanan kesehatan dilakukan oleh para
suster CB dari Ziekenverpleging Sint Borromeus. Melihat
perkembangan ini, Prefek Apostolik Bandung Mgr. J.H.
Goumans, OSC menaruh harapan dan menghendaki
pengembangan prasarana poliklinik ini sehingga berkapasitas
lebih besar.
Tahun 1937, tahun ketika Kongregasi Suster-Suster CB
merayakan usia seratus tahun, dalam sebuah terbitan berkala
edisi Januari 1937 diberitakan:
“Suster-Suster Cintakasih Santo Carolus Borromeus
memperluas karya keperawatan di Bandung. Di poliklinik
untuk orang-orang Sunda di Cicadas sedang dibangun
sebuah klinik untuk anak-anak dan ibu bersalin. Bagian
baru ini, dinamakan Klinik Santo Yusup, akan dioperasikan
pada bulan September dan dari sana akan disediakan dua
Disambut Hangat Masyarakat, Berkembang Pesat 163
poliklinik lagi, satu di Ujungberung dan satu di
Cicalengka.”
Gambar. Seorang anak sedang ditangani di Poliklinik Katolik Soetji
Joesoep Cicadas. Tampak Suster Louise Helmer dibantu oleh dua asisten
Agar para suster tidak perlu pergi-pulang setiap hari dari
Dago ke Cicadas maka dibangunlah Zusterhuis di Cicadas,
yang siap dihuni pada Agustus 1937. Empat suster CB mulai
menetap di Cicadas, yaitu Suster Louise, Suster Cleta, Suster
Iris, dan Suster Edelberte Sudariah. Keempatnya ditugaskan
untuk melayani Rumah Sakit Santo Yusup. Putri-putri Bunda
Elisabeth Gruyters bergembira memiliki sebuah rumah dan
164 The Eternal Light
karya pelayanan yang berlokasi di kawasan masyarakat yang
benar-benar membutuhkan pertolongan.
Dalam sebuah terbitan berkala Sint Carolus klokje edisi
Agustus 1937 para anggota komunitas rumah suster Cicadas
menulis:
“Klinik kami telah hidup secara diam-diam begitu lama,
seperti Santo Pelindungnya [Santo Yusup], tetapi sekarang
kami tidak dapat lagi menyimpan kegembiraan untuk diri
kami sendiri dan memberi tahu Anda tentang rumah sakit
baru, yang sedang dibangun. Ini akan menjadi rumah sakit
untuk anak-anak Sunda dan Tionghoa kita serta bangsal
bersalin bagi para ibu pribumi.”
Para suster yang berkarya di Cicadas itu menulis betapa
gembira hati mereka dapat melayani orang-orang Sunda.
Para suster sangat tersentuh oleh keadaan dan situasi yang
dihadapi oleh orang-orang Sunda. Akhirnya, mereka menulis:
“Bunda Elisabeth sekarang terus bekerja dan melihat
dengan rasa syukur yang tulus dari surga bagaimana anak-
anaknya, terutama di tahun ini, dimampukan untuk
memulai pekerjaan misionaris yang luar biasa. Oleh
karena itu, kami secara otomatis mengandalkan doa dan
kerja sama Anda semua. Selain itu, jika ada jiwa dermawan
di daerah Anda yang ingin memberikan sesuatu yang
istimewa untuk kaum muda Sunda, mereka akan didoakan
oleh orang-orang kudus di surga; dan jika kita cukup
beruntung untuk mengembalikan kaum muda Sunda
dalam keadaan sehat dan baik-baik saja kepada kerabat
mereka, kami akan memohon berkat Tuhan atas kita dan
para dermawan. Para Moeder dan para Suster terkasih,
Disambut Hangat Masyarakat, Berkembang Pesat 165
sekali lagi: Ingatlah Misi Sunda kita. Bersatu dengan Anda
dalam doa dan pengorbanan:
Kami yang berkarya di Klinik St. Yusup.”
Suster Louise Helmer ditunjuk sebagai Overste para suster di
Cicadas pada 15 Agustus 1937. Beliau bekerja sama erat
dengan Pastor Anton Piets, OSC. Pastor Anton Piets, OSC
tinggal di Pastoran Cicadas sejak awal tahun 1938.
Gambar. Pastor Anton “Klein” Piets, OSC; pastor yang ditugaskan
merintis karya di Cicadas; bersama dengan Suster Louise Helmer.
166 The Eternal Light
Gambar. Ibu R. Dewi Maria Patmah, sangat membantu Pastor Anton
Piets dan Suster Louise Helmer. Pada tahun 1976 Sri Paus Paulus VI
menganugerahkan penghargaan Pro Ecclesia et Pontifice.
Pada September 1938 dimulailah kursus pendidikan calon
guru bagi orang-orang Sunda untuk sekolah desa, yang
kemudian menjadi Cursus voor Volksonderwijser (CVO, kursus
pendidik rakyat, dikenal pula sebagai kursus guru desa,
berdurasi 2 tahun), yang dipimpin oleh Bapak Enjol. Di sana
dilengkapi pula dengan asrama. CVO di Cicadas berada dalam
satu kompleks dengan sebuah standardschool yang baru
dibuka, bersama dengan karya pelayanan kesehatan yang
dikelola oleh Suster-Suster CB. Kepala sekolah pertama
standardschool Cicadas adalah Ibu R. Dewi Maria Patmah.
Beliau alumna Kweekschool Mendut (sekolah guru
perempuan pertama di Indonesia; berlokasi di Kabupaten
Disambut Hangat Masyarakat, Berkembang Pesat 167
Magelang, Jawa Tengah) yang diasuh oleh suster-suster
Fransiskanes (OSF).
Sejak tahun 1939 panti asuhan yatim piatu di Cicalengka oleh
Yayasan Camilus dipindahkan ke Cicadas. Suster Louise
Helmer dikenang sebagai ibu yang penuh kasih bagi anak-
anak asrama dan panti asuhan yatim piatu ini. Sebelum
Tentara Dai Nippon menduduki Indonesia, Rumah Sakit Santo
Yusup sudah mampu menampung 130 pasien rawat inap.
Jumlah suster yang berkarya bertambah menjadi 12 orang.
Pendidikan Verpleegster (Diploma A)
Setelah Ziekenverpleging Sint Borromeus mengalami
perkembangan pesat pada dasawarsa 1920-an dan 1930-an,
dibutuhkan perawat-perawat berdiploma (gediplomeerd
verpleegster), dengan kualifikasi lebih tinggi dari mantri-
verpleegster. Oleh karena itu, pada tahun 1937 opleiding van
mantri-verpleegster ditingkatkan menjadi pendidikan untuk
mempersiapkan gediplomeerd verpleegster, yaitu Diploma A
untuk Algemeene Ziekenverpleging (keperawatan umum).
Di Negeri Belanda dan Indonesia waktu itu seseorang
haruslah lulus Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO;
pendidikan dasar yang diperluas; semacam SMP) untuk
menempuh pendidikan menjadi perawat. Perlu diperhatikan
bahwa MULO berdurasi tiga tahun bagi lulusan Europeesche
Lagere School (ELS) atau empat tahun bagi lulusan
Hollandsch-Inlandsche School (HIS), Hollandsch-Chineesche
School (HCS), atau Schakelschool. Pada zaman itu lulusan
sekolah dasar dapat berusia sekitar 14 tahun; lulusan MULO
dapat berusia sekitar 17 tahun. Pendidikan persiapan meraih
Diploma A Algemeene Ziekenverpleging ditempuh paling cepat
168 The Eternal Light
tiga tahun (bisa lebih). Jadi, seorang gediplomeerd
verpleegster (perawat berdiploma) berusia sekitar sekurang-
kurangnya 21 tahun. Selanjutnya, agar dapat berstatus
verpleegster eerste klasse (perawat kelas satu) maka
seseorang harus menempuh ujian negara.
Melihat sejarah pendidikan keperawatan di Indonesia,
pendidikan keperawatan Borromeus untuk mencapai
Diploma A tampaknya termasuk satu di antara sejumlah
pionir, yang paling depan, di Indonesia pada waktu itu.
Disambut Hangat Masyarakat, Berkembang Pesat 169
Gambar. Sebuah pengumuman resmi dari Pemerintah Sementara
Nederlandsch-Indië di surat kabar pada 27 Juli 1946, yang membuka
kembali pendidikan Diploma A Perawat. Hanya tujuh lembaga yang
menyelenggarakan pendidikan Diploma A (Batavia: RS Cikini, RS Santo
Carolus, RS Militer; Bandung: RS Juliana / Rantja Badak, RS Santo
Borromeus, RS Militer Cimahi; Surabaya: kombinasi RS Palang Merah
dan RS Bala Keselamatan). Persyaratan masuk adalah lulusan MULO,
berusia 18–30 tahun, sehat jasmani, dan berperilaku baik. Pendidikan
berdurasi 3 tahun ditambah 1 tahun praktik, seluruhnya 4 tahun. Waktu
itu terjadi kekurangan besar jumlah perawat
170 The Eternal Light
Akhir Zaman Nederlandsch-Indië
Seiring perkembangan, pada tahun 1937 itu pula Anna
Paviljoen dan Maria Paviljoen dibangun. Waktu itu kapasitas
mencapai 90 tempat tidur, yang dilayani oleh 34 suster.
Tahun itu Moeder Ignatio Hermans digantikan oleh Moeder
Acquiline Moors sebagai Overste dan Direktris. Sebuah
asrama perawat dibangun pada tahun 1938. Dikembangkan
pula ruangan biara karena jumlah suster bertambah.
Perkembangan terus berlangsung sehingga pada 15 Juni 1941
dibuka Irene Paviljoen untuk anak-anak. Sempat dicita-
citakan perluasan dapur dan perluasan kamar operasi.
Namun, hal itu belum terwujud ketika Tentara Dai Nippon
menduduki Indonesia.
Di Maastricht, pada tahun 1938 Moeder Emmanuel Lemmens
terpilih sebagai Algemeen Overste Kongregasi CB. Tahun
1939 beliau melakukan visitasi ke Indonesia, termasuk ke
Bandung, Cicadas, dan Garut untuk melihat dan meneguhkan
perkembangan karya pelayanan puteri-puteri Bunda
Elisabeth Gruyters yang menggembirakan. Akan tetapi, tidak
lama setelah beliau kembali ke Maastricht, Perang Dunia II
meletus, dimulai dengan invasi Tentara Jerman Nazi ke
Polandia pada September 1939. Sejak itu, stabilitas dunia
goyang, dan kemudian ambyar. Negeri Belanda diivasi oleh
Tentara Jerman Nazi sejak Mei 1940.
Moeder Emmanuel kehilangan kontak dengan banyak suster
terutama di Negeri Belanda bagian utara, dan kemudian
dengan para suster di tanah misi Indonesia yang
komunikasinya terputus total.
Disambut Hangat Masyarakat, Berkembang Pesat 171
Gambar. Irene Paviljoen untuk anak-anak, diresmikan pada tahun 1941
Di Indonesia, ketika Perang Eropa sedang berkecamuk, pada
tahun 1940 Moeder Laurentia de Sain memeroleh
kepercayaan sebagai Missie Overste di Indonesia. Beliau
menghadapi masa-masa akhir zaman Nederlandsch-Indië dan
menghadapi kekejaman Tentara Dai Nippon. Di Bandung,
pada tahun 1940 Moeder Cornelianne dipercaya sebagai
Overste, menggantikan Moeder Acquiline yang
dipindahtugaskan sebagai Overste di Lahat.
172 The Eternal Light
Gambar. Foto udara RS Santo Borromeus sekitar tahun 1946.
Disambut Hangat Masyarakat, Berkembang Pesat 173
Ujian Ketabahan pada Masa Pendudukan Tentara Dai
Nippon
Pada akhir zaman Nederlansch-Indië, awal tahun 1942,
susunan Pengurus Sint Borromeus Vereeniging adalah: Mr.
H.C.P. Korte (Voorzitter); Mgr. J.H. Goumans, OSC (Secretaris);
C. Rothaan (Penningmeester); Ir. J. Sippel, Ir. C.L. Quant, Mr.
Th. M. de Graaf, dan J.B. Heijne.
Perang Pasifik (1941–1945) meletus sejak Angkatan Udara
Tentara Dai Nippon melakukan serangan fajar terhadap
Pangkalan Angkatan Laut Amerika Serikat di Pearl Harbor
pada 8 Desember 1941. Pada 18 Desember 1941 Gubernur
Jenderal Nederlandsch-Indië, Jenderal Tjarda van
Starkenborgh Stachouer menyatakan perang terhadap
Kekaisaran Jepang. Sejak itu pada malam hari lampu-lampu
tidak dinyalakan. Sekolah-sekolah mengalami kesulitan.
Sebagai contoh, SD Santo Agustinus dijadikan sekolah
menengah negeri, dan murid-muridnya dipaksa bergabung
dengan SD Santa Maria (sekarang SD Santa Ursula, Jalan
Bengawan). Bangunan Providentia Susteran Ursulin dipaksa
dijadikan rumah sakit darurat sehingga gedung Sekolah Santa
Maria dipakai untuk tiga sekolah sekaligus.
Menghadapi Perang Pasifik, Pemerintah Nederlandsch-Indië
menjadikan Het Gemeentelijk Ziekenhuis Juliana (kelak
menjadi RS Rantja Badak, lalu RS Hasan Sadikin) sebagai
rumah sakit militer, dan Koningin Wilhelmina Gasthuis voor
Ooglijders (kelak menjadi RS Mata Cicendo) sebagai rumah
sakit umum, dan memaksa Ziekenverpleging Sint Borromeus
sebagai pusat administrasi kesehatan.
174 The Eternal Light
Pada Januari–Februari 1942 Tentara Dai Nippon telah
menduduki Kalimantan. Mereka mendarat di Pulau Jawa pada
1 Maret 1942 di pantai-pantai Banten, Eretan, dan Kranggan.
Pada tanggal 1 Maret 1942 itu pula Pastor J. van Hoek, OSC
dianggap hilang di daerah Subang.
Penahbisan Vikaris Apostolik Bandung terpaksa ditunda.
Bom-bom dijatuhkan di Bandung dari pesawat-pesawat
terbang Tentara Dai Nippon. Pemerintah Nederlandsch-Indië
menyerah dalam Perjanjian Kalijati, Jawa Barat, pada 8 Maret
1942. Sejak itu secara resmi Tentara Dai Nippon berkuasa di
Indonesia.
Berangsur-angsur para pejabat Nederlandsch Indië ditangkap
dan dijebloskan ke penjara Sukamiskin.
Penahbisan Vikaris Apostolik Bandung pun mau tidak mau
harus diundur lagi, dan baru dapat dilaksanakan pada 22
April 1942, oleh Vikaris Apostolik Batavia Mgr. P. Willekens,
SJ yang dibantu oleh Vikaris Apostolik Semarang Mgr. A.
Soegijapranata, SJ dan Superior Regularis Pastor J. de Rooij,
OSC serta disaksikan umat yang berjejal di Gereja Santo
Petrus. Penahbisan pun diadakan tanpa publikasi resmi, yang
disampaikan dari mulut ke mulut, dan tanpa dokumentasi
foto. Setelah penahbisan selesai, tidak ada acara, umat harus
langsung pulang.
Pada 14 Juni 1942 ribuan orang berkebangsaan Belanda,
Australia, dan Inggris sebagai tawanan perang dibariskan
dari Bandung ke Cimahi.
Satu per satu para imam, bruder, suster dipanggil oleh
pejabat Tentara Dai Nippon, lalu dipaksa dijebloskan ke
kamp-kamp interniran, termasuk Mgr. Goumans. Gedung
Disambut Hangat Masyarakat, Berkembang Pesat 175
Gereja Salib Suci Kamuning dijadikan gudang pakaian bagi
Tentara Dai Nippon, sedangkan pastorannya dijadikan kamp
tawanan untuk wanita. Menara gereja dibuka sebagai tempat
pengintaian.
Kawasan Bandung berubah menjadi penjara besar. Dalam
buku Geliat Kota Bandung dari Kota Tradisional Menuju
Modern (2020) ditulis:
“Bandung yang sebelumnya identik dengan tempat
peristirahatan di pegunungan, berubah menjadi kamp-
kamp penampungan. Setidaknya ada puluhan kamp
tawanan tersebar di Kota Bandung seperti: Kamp
tawanan Bangka di Jalan Bangka, Kamp Bantjeuy di Jalan
Bantjeuy, Kamp Bloeman di sekitar Jalan Cipahit, Kamp
Dick de Hoog di Jalan Ciliwung, Kamp Muloschool
Tjitaroemplein di Jalan Citarum, Kamp Kebon Waroe di
Jalan Jakarta, Kamp Lengkong School di Jalan Lengkong,
Kamp Karees, Kamp Palace Hotel, Kamp Pasir Andir,
Kamp Rama, Kamp Sukamiskin, Kamp Stella Maris,
Kamp Cihapit, Kamp Cikudapateuh, Kamp Zeelandia
School, Kamp Sindanglaya, dan kamp-kamp lainnya yang
juga tersebar di sekitar Cimahi, Cicalengka dan Majalaya
(Sitaresmi, 2013:50).”
Kamp Stella Maris adalah kompleks sekolah Waringin yang
diselenggarakan oleh Suster-Suster Penyelenggaraan Ilahi
(PI) di Jalan Kebon Jati.
Karya Suster-Suster CB di Garut masih berjalan sampai
dengan akhir tahun 1942, dan pada Januari 1943 terpaksa
diserahkan kepada Vikariat Apostolik Bandung karena
keadaan bertambah genting.
176 The Eternal Light
Gambar. Suasana di sebuah kamp wanita (vrouwenkamp).
Di Cicadas Suster-Suster CB masih dapat bekerja sampai
dengan Januari 1943. Sesudah itu, para suster Belanda
dijebloskan ke kamp interniran, dan dokter-dokter diusir.
Suster-suster CB Indonesia, yang semuanya masih muda dan
sebagian besar berasal dari Jawa Tengah, dianjurkan untuk
menuju ke Yogyakarta karena situasi Bandung sangat
berbahaya. Sebagian perlengkapan masih sempat
disembunyikan oleh guru-guru sekolah rakyat.
Pada 25 Januari 1943 para suster CB Indonesia (yang
semuanya masih muda) meninggalkan Cicadas, menginap
semalam di Biara Santo Borromeus Dago. Keesokan harinya
mereka berangkat dengan kereta api menuju Yogyakarta.
Disambut Hangat Masyarakat, Berkembang Pesat 177
Para suster itu membawa tiga orang anak yatim piatu berusia
di bawah tiga tahun. Para suster itu ialah Suster Franka
Sarsiyem, Suster Bouwina Yatinah, Suster Agnesine
Purnopranoto, Suster Consepta Suminah, Suster Gustavine
Sarminah, Suster Angelique Sumarni, Suster Edelberte
Sudariyah, dan Suster Ellinor Ratu Anna. Dalam perjalanan
itu para suster menyamar dengan mengenakan kebaya dan
kerudung. Mereka meninggalkan Bandung dengan hati was-
was, dan pura-pura tidak saling mengenal. Perjalanan
berisiko itu berakhir; mereka tiba di Rumah Sakit Panti Rapih
dengan selamat.
Rumah Sakit Santo Yusup Cicadas yang dibangun dengan
susah payah harus ditinggalkan begitu saja. Rumah sakit
mengalami kelumpuhan. Hanya anak-anak asrama yang
menjaga di sana.
Pola sentralisasi kesehatan mulai terbentuk dengan diambil
alihnya semua fasilitas kesehatan oleh Eiseikyoku (Dinas
Kesehatan). Untuk keperluan perang, peralatan dan obat-
obatan yang dimiliki oleh rumah sakit diambil alih oleh
Pemerintah Militer Tentara Dai Nippon.
Melanjutkan apa yang sudah ditetapkan Pemerintah
Nederlandsch-Indië, Pemerintah Militer Tentara Dai Nippon
menetapkan Het Gemeentelijk Ziekenhuis Juliana (kelak
menjadi RS Rantja Badak, RS Hasan Sadikin) sebagai rumah
sakit militer, yang diberi nama Rigukun Byoin; dan Koningin
Wilhelmia Gasthuis voor Ooglijders (kelak RS Mata Cicendo)
dijadikan sebagai rumah sakit umum sipil. Sementara itu,
setelah Tentara Dai Nippon menguasai Bandung, Rumah Sakit
Santo Borromeus terus beroperasi dengan melayani pasien-
pasien yang mana 75 % di antaranya dibebaskan dari biaya,
178 The Eternal Light
menurut laporan Indisch Missietijdschrifjt (1951). Ini
menunjukkan betapa Rumah Sakit Santo Borromeus begitu
peduli terhadap keadaan masyarakat waktu itu yang sedang
mengalami kesulitan, bahwa Rumah Sakit Santo Borromeus
mengedepankan spirit kemanusiaan. Akan tetapi, Tentara Dai
Nippon tidak memedulikan.
Bulan-bulan pertama setelah Tentara Dai Nippon datang,
tinggal enam suster yang bisa menjadi perantara kepada
Tentara Dai Nippon. Selasa, 21 Agustus 1943, Rumah Sakit
Santo Borromeus disita oleh Tentara Dai Nippon. Para
karyawan diminta meninggalkan rumah sakit. Dengan
demikian, kompleks Borromeus tidak difungsikan sebagai
rumah sakit.
Para suster Belanda yang berkarya di Ziekenverpleging Sint
Borromeus dijebloskan ke dalam kamp interniran. Mula-mula
mereka ditahan di Bandung, kemudian mereka dibawa ke
Jakarta dijadikan satu dengan para suster dari Sint Carolus. Di
kamp interniran Jakarta mereka dibagi di beberapa tempat,
sehingga mereka tidak dapat saling berkontak. Setiap kamp
tahanan mempunyai model sendiri-sendiri, yang semuanya
mengerikan. Di kamp-kamp interniran itu mereka merawat
para interniran. Hal ini berlangsung sampai dengan
September 1945.
Berhubung para suster Belanda dijebloskan di kamp-kamp
interniran maka pada tahun 1943 Pemimpin Misi Suster-
Suster CB dipangku oleh seorang suster Indonesia, yaitu
Moeder Yvone Suwarti, yang tinggal di Ganjuran, Yogyakarta.
Disambut Hangat Masyarakat, Berkembang Pesat 179
Gambar. Mgr. Petrus Johannes Willekens, SJ
(Vikaris Apostolik Batavia 1934–1952)
tidak dijebloskan di kamp interniran karena beliau memberanikan diri
menyatakan sebagai wakil Negara Vatikan
Masa pendudukan Tentara Dai Nippon merupakan masa yang
berat bagi Gereja Katolik Indonesia dan seluruh Bangsa
Indonesia. Hampir semua misionaris diinternir, banyak gereja
ditutup, rumah sakit dan sekolah dirampas. Kaum awam
terpanggil mengambil alih banyak kegiatan gerejani. Vikaris
Apostolik Jakarta Mgr. P. Willekens, SJ, berkat keberanian dan
kecerdasan beliau, mengangkat diri sebagai “wakil resmi”
Vatikan, sehingga beliau dapat mengoordinasikan beberapa
imam yang masih bebas dan meringankan nasib ribuan orang
yang diinternir. Hanya Mgr. A. Soegijapranata, SJ, vikaris
180 The Eternal Light
apostolik bumiputera pertama, yang dapat bergerak bebas
melayani dan memperkuat umat. Di wilayah Vikariat
Apostolik Bandung hanya seorang pastor masih bebas,
artinya tidak ditahan. Tapi bebas secara mutlak pada saat itu
mustahil.
Gambar. Mgr. Albertus Soegijapranata, SJ
(Vikaris Apostolik Semarang 1940–1960,
Uskup Keuskupan Agung Semarang 1961–1963).
Vikaris Apostolik Semarang, Mgr. Albertus Soegijapranata, SJ,
memprotes keras tindakan biadab dan sewenang-wenang
Tentara Dai Nippon. Beliau mengirim surat kepada
Kekaisaran Jepang di Tokyo, menjelaskan bahwa antara
Disambut Hangat Masyarakat, Berkembang Pesat 181
Vatikan dan Pemerintah Jepang terdapat hubungan
diplomatik. Jadi, Tentara Dai Nippon tidak boleh seenaknya
berlaku kejam terhadap para misionaris dan mengambil alih
harta milik mereka.
Gambar. Pastor Henri Reichert, OSC; satu-satunya pastor di Vikariat
Apostolik Bandung yang tidak dijebloskan di kamp interniran.
Banyak korban jiwa jatuh akibat perlakuan kejam oleh
Tentara Dai Nippon, yaitu 160 suster, 74 imam, dan 47
bruder.
182 The Eternal Light
Selain Pastor J. van Hoek, OSC yang hilang di daerah Subang
pada 1 Maret 1942, sekurang-kurangnya tercatat tiga imam
yang berkarya di Vikariat Apostolik Bandung meninggal di
kamp interniran.
Terdapat 18 (delapan belas) suster CB yang meninggal di
kamp interniran akibat keganasan Tentara Dai Nippon. Tiga
belas meninggal di Sumatera (kamp Kepahiang 5 suster,
kamp Belalau dekat Lubuk Linggau 3 suster, kamp Muntok
Pulau Bangka 5 suster), dan 3 suster meninggal di Jawa
(kamp Bangkong dan kamp Lampersari Semarang). Di Pandu
Bandung dimakamkan delapan jenazah suster yang
meninggal di kamp Muntok, serta kamp Bangkong dan kamp
Lampersari Semarang.
Masa pendudukan Tentara Dai Nippon mengingatkan pada
sebuah syair yang ditulis oleh Bunda Elisabeth Gruyters pada
abad ke-19:
“O … Pecinta hatiku yang manis,
Berilah aku bagian dalam duka-Mu
O … Surya Ilahi
turunlah dalam hatiku
agar tertusuklah aku
oleh cahaya kasih-Mu
Ya Allah … tembuslah hatiku,
sehingga aku tak dapat berbicara lagi …
tetapi semoga kurasai duka-Mu …
dan aku akan mencucurkan air mataku …”
(EG 41)
Disambut Hangat Masyarakat, Berkembang Pesat 183
Gambar. Delapan jenazah suster CB yang meninggal di kamp interniran
dimakamkan di Pandu-Bandung. Foto tahun 2021: dua suster CB dan
tiga perawat RS Santo Borromeus sedang mengenang dan mendoakan.
Gereja Katolik Mendukung Kemerdekaan Indonesia
Kapitulasi Jepang pada bulan Agustus 1945 kepada Sekutu,
dan kemudian Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia
pada 17 Agustus 1945, menempatkan Gereja Katolik
Indonesia dalam perspektif lain yang menggembirakan,
kendati masih terjadi banyak huru-hara.
Rumah Sakit Santo Borromeus, yang masih dijaga oleh
Tentara Dai Nippon, belum dapat berfungsi sebagai rumah
sakit sepenuhnya, melainkan bersama dengan sejumlah
bangunan lain di Bandung (termasuk antara lain RS Ranca
184 The Eternal Light
Badak, RS Cicendo, dan RS Immanuel), yang juga dijaga oleh
Tentara Dai Nippon, dijadikan tempat penampungan
sementara untuk orang-orang yang baru keluar dari kamp-
kamp interniran pada sekitar kurun waktu Agustus 1945
hingga sekitar awal tahun 1946. Tempat-tempat
penampungan itu terdapat pula di berbagai kota. Di RS Santo
Borromeus pada 12 September 1945 barulah diperoleh obat-
obatan dari gudang persediaan Tentara Dai Nippon.
Pada 1 September, Mgr. J.H. Goumans, OSC dan Pastor J.
Berkhout, OSC keluar dari kamp interniran. Pada 21
September 1945 para pastor yang lain mulai keluar dari
kamp interniran dan kembali ke pastoran. Sedangkan para
suster Ursulin Belanda berada di dalam kamp bersama-sama
anak-anak yatim-piatu hingga akhir Oktober 1945. Pada 3
November 1945 mereka dikembalikan ke Bandung dengan
kereta api.
Sr. Bernadette Heerdink, CB menceritakan keadaan Rumah
Sakit Santo Borromeus, yang indah, namun setelah perang
menjadi benar-benar porak poranda:
“Bandung adalah kesayanganku, ... selama dua tahun
kutinggalkan karena harus masuk kamp tahanan Jepang;
sewaktu saya kembali ke Borromeus ... hancur hatiku
sewaktu melihat kembali dalam keadaan porak-poranda.
Semua barang rusak, hilang atau dijarah rayah! Kami
harus mulai lagi dari bawah. Hatiku bertambah sedih.”
Disambut Hangat Masyarakat, Berkembang Pesat 185
Gambar. Suster Bernadette Heerdink
Keadaan di Jawa Barat, khususnya Bandung, semakin hari
semakin kacau. Sering terjadi ketegangan dalam rangka
pengambilalihan kekuasaan dari Tentara Dai Nippon,
sementara itu orang-orang Belanda yang baru pulang dari
kamp interniran mempersenjatai diri. Sesudah Tentara
Sekutu (diwakili oleh The British Indian Army, 23rd Division)
tiba di Bandung dari Batavia dengan kereta api pada 12
Oktober 1945, kemudian mereka melakukan ultimatum
untuk membagi Bandung menjadi dua bagian, bagian utara
dan bagian selatan, sebagai demarkasi antara Tentara Sekutu
yang dipimpin Brigjen Mac Donald (di utara) dan Tentara
Keamanan Rakyat (TKR) Republik Indonesia (di selatan).
Keinginan Tentara Sekutu tidak disepakati oleh TKR.
Bentrokan-bentrokan terjadi.
186 The Eternal Light
“ … hancur hatiku sewaktu melihat kembali
dalam keadaan porak-poranda.
Semua barang rusak, hilang atau dijarah rayah! Kami
harus mulai lagi dari bawah.
Hatiku bertambah sedih.”
Setelah berlangsung konflik selama berbulan-bulan,
Pemerintah RI (Perdana Menteri Soetan Sjahrir) di Jakarta
akhirnya meminta agar keinginan Tentara Sekutu dipenuhi,
yaitu mengosongkan Bandung bagian selatan. Terjadilah
peristiwa yang dikenal sebagai “Bandung Lautan Api” pada 24
Maret 1946. Tentara Republik Indonesia (TRI) dan para
penduduk membumihanguskan bangunan-bangunan dan
meninggalkan Bandung selatan.
Pada masa awal sesudah Proklamasi Kemerdekaan, Dokter
Abdoel Rivai dan Dokter dr. Ranadipura sempat memimpin
Rumah Sakit Santo Yusup Cicadas. Beliau melatih sekitar 500
pemuda (Permufakatan Politik-Politik Kebangsaan, PPPK)
yang di samping sebagai anggota Palang Merah Indonesia
(PMI) juga mengobarkan semangat memperjuangkan
Kemerdekaan Indonesia. Ketika kawasan Cicadas menjadi
sasaran pemboman oleh Tentara Sekutu, RS Santo Yusup
menampung para korban. Setelah terdapat perintah agar
kekuatan Republik Indonesia mundur ke arah selatan sejauh
11 km; untuk memaksa melakukan pengunduran ke selatan,
RS Santo Yusup diberondong dari udara, bahkan dibom
begitu dahsyat hingga dampaknya mencapai 150 meter dari
rumah sakit. Begitu banyak korban meninggal dan luka-luka.
Kegiatan rumah sakit terpaksa dipindahkan.
Disambut Hangat Masyarakat, Berkembang Pesat 187
Gambar. Dokter Abdoel Rivai, pernah memimpin
RS Santo Yusup Cicadas
Kompleks Santo Yusup Cicadas mengalami kerusakan berat
akibat ledakan-ledakan bom. Bangunan rumah sakit menjadi
puing-puing. Penduduk mengungsi ke pegunungan sekitar
Bandung.
Selanjutnya, perundingan-perundingan antara Pemerintah RI
dengan Tentara Belanda dilakukan, tetapi pihak Belanda
melanggar, berkelit, dan bahkan melakukan agresi militer
pada tahun 1947 dan 1948. TRI Divisi Siliwangi hijrah ke
Jawa Tengah dan Yogyakarta pada awal tahun 1948. Dengan
kekosongan TRI Divisi Siliwangi itu, gerakan Darul
Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) bergerak di sekitar
Priangan.
188 The Eternal Light
“Kompleks Santo Yusup Cicadas
mengalami kerusakan berat akibat
ledakan-ledakan bom.
Bangunan rumah sakit menjadi puing-puing.”
Setelah RS Santo Borromeus diserah-terimakan dari Tentara
Dai Nippon kepada Tentara Sekutu, dan kemudian Tentara
Sekutu meninggalkan Indonesia, maka selanjutnya RS Santo
Borromeus diselenggarakan di bawah Dienst der
Volksgezonheid (DVG, Dinas Kesehatan Rakyat) yang
dikendalikan NICA (Nederlandsch-Indische Civiele
Administratie) yang kemudian berganti nama menjadi
Tijdelijke Bestuursdienst (Pemerintahan Sementara).
Pengelolaan RS Santo Borromeus di bawah DVG semula
dipercayakan kepada Dokter J. Lodder, yang sebelumnya
dikirim oleh Nederlandsch Zendingsvereeniging (NZV) untuk
berkarya memimpin para dokter di RS Immanuel. Kemudian,
seorang dokter bedah dan ginekolog, yaitu Dokter L.W. van
Ouwerkerk, ditunjuk DVG sebagai Direktur RS Santo
Borromeus pada sekitar Oktober 1947. Untunglah, Dokter
L.W. van Ouwerkerk seorang dokter profesional bereputasi
dan mampu menjaga RS Santo Borromeus di tengah situasi
yang sulit. Para suster CB semula tidak diperkenankan oleh
DVG untuk terlibat dalam pengelolaan dan karya sehari-hari;
bahkan mereka sering diperbantukan di Juliana Ziekenhuis
(RS Rantja Badak). Dalam perkembangan kemudian, para
suster diperkenankan terlibat untuk berkarya, namun kendali
penyelenggaraan dan pengelolaan rumah sakit masih berada
di tangan DVG.
Disambut Hangat Masyarakat, Berkembang Pesat 189
Sementara itu, walaupun tidak diperkenankan berkarya di RS
Santo Borromeus, para suster CB tetap tabah, bertahan,
berjaga-jaga, dan berdoa, dalam kepemimpinan Moeder
Rosalinde Borst sebagai Overste (1946–1953). Perlu
dipahami bahwa pada masa Revolusi Kemerdekaan, keadaan
sungguh tidak menentu. Di samping sebagai Overste di
Bandung, pada kurun waktu 1948–1952 Moeder Rosalinde
Borst dipilih sebagai Missie Overste Suster-Suster CB di
Indonesia, menggantikan Moeder Lioba van Haastert.
Selama sekitar setahun sejak Perang Pasifik berakhir, para
pastor, suster, dan umat sibuk memulihkan keadaan.
Mengenai RS Santo Yusup, terbitan berkala Indisch
Missietijdschrift (1951) menulis:
“Selama pendudukan Jepang dan kerusuhan berikutnya
hampir hancur total, rumah sakit ini dibangun kembali
pada tahun 1947.”
Suster Mariska Siti Roemtari yang melihat keadaan RS Santo
Yusup Cicadas menceritakan,
“Wah …, saya terkejut sekali melihat itu semua! Wah …
wah … wah …, sungguh keterlaluan. Semua bangunan
rusak, rumah sakit kosong blong, tidak ada apa-apa sama
sekali di dalamnya! Sungguh-sungguh tinggal reruntuhan!
Sungguh mengerikan dan menyakitkan!”
Pada tahun 1946/47 Rumah Sakit Santo Yusup dibangun
kembali oleh Ordo Salib Suci. Suster Mariska Siti Roemtari
mengisahkan:
190 The Eternal Light