Santo Carolus pernah berkata, ‘Jangan mau digoda untuk
melakukan ketidakadilan yang paling kecil sekalipun, baik
demi uang, persahabatan, maupun demi dia yang
kausayangi secara khusus.’ ….
Santo Carolus adalah teladan pekerja yang rajin, tekun,
serta saleh. ….
Oleh kerendahan hatinya yang tulus, tuduhan bahwa ia
hidup dalam kemuliaan karena status uskup agungnya,
dapat disirnakan. ….
Santo Carolus memiliki pesona kesucian. Santo Carolus
juga ingin menyatukan kekuatan dan kelembutan dalam
suatu harmoni yang paling indah dan paling utuh. ….
Hingga akhirnya, bagai gempa bumi dahsyat dan tak
terduga di kegelapan malam itu memberikan gambaran
keterkejutan penduduk Milan. Pada malam hari tanggal 3
November 1584 Uskup Agung wafat. ….
Pada saat ini, pandemi Covid-19 sedang melanda dunia,
dan Indonesia khususnya, dengan berbagai dampaknya.
Kita mempunyai seorang teladan yang mengagumkan
dalam melayani mereka yang sedang menderita. ….”
Pastor Ign. Eddy Putranto, OSC (Sekretaris Keuskupan
Bandung, yang juga Wakil Ketua Pengurus PPSB)
menggarisbawahi:
“Beliau [Santo Carolus Borromeus] mengalami apa yang
kita alami juga pada saat ini. Beliau mengalami
pengalaman pandemi, pengalaman wabah pes, yang
Bangkit Kembali, Turut Menjaga Ibu Pertiwi 441
merenggut ribuan jiwa pada waktu itu, di keuskupannya di
Milan. Dan, perjuangannya dalam menolong orang-orang
yang terkena penyakit pes ini akhirnya merenggut jiwanya
pada usia yang masih sangat muda.
Bukan hanya bantuan fisik, tetapi juga bantuan rohani,
yang beliau berikan kepada umatnya. ….
Di dunia ini statusnya adalah bangsawan. Di Gereja
statusnya adalah kardinal dan uskup agung. Namun, di
hadapan Tuhan statusnya adalah hamba yang mencoba
mengikuti jalan penderitaan Tuhan, yang mencoba untuk
memikul salib-Nya dan menyerahkan nyawanya bagi
banyak orang sebagai wujud solidaritas paling total yang
diberikan oleh Santo Carolus Borromeus bagi orang-orang
yang menderita pada waktu itu.
Semoga itu menjadi semangat kita, yang akan kita hayati
dan kita hidupi dalam pelayanan kita.”
Uskup Keuskupan Bandung Mgr. Antonius Subianto B., OSC
dalam homili menyampaikan pesan:
“…. Bagi orang yang mencurahkan seluruh hidupnya pada
Allah dan menjadikan Allah sebagai prioritas, kesehatan
dan kesejahteraan yang dicari oleh manusia pun rela
dilepaskan demi kemuliaan Allah dan keselamatan
sesama. Itulah hidup Santo Carolus Borromeus, yang wafat
karena solider dengan mereka yang terkena wabah pes,
dengan cara rendah hati melayani mereka sebagai
ungkapan panggilan luhur untuk mengikuti Yesus. ….
442 The Eternal Light
…. Solidaritas bukan hanya berarti saya senasib dengan
dengan orang itu tanpa kemampuan melepaskan orang itu
keluar dari nasib hidup. Itu namanya mati konyol. …. Maka,
orang yang memiliki solidaritas adalah orang yang
memiliki situasi lebih tinggi tetapi melepaskan
privelesenya, kemampuan dan kuasanya, untuk bersama-
sama dengan yang membutuhkan, mengangkat diri. ….
Itulah Yesus. Ia, yang adalah Putera Allah, solider menjadi
manusia, turun, mengangkat manusia agar mulia seperti
Yesus. ….
… Motto Santo Carolus adalah Humilitas. Hanya orang
yang mempunyai humilitas, kerendahan hati, bisa
bersolidaritas, berbelarasa dengan mereka yang
membutuhkan. ….
Harta, kuasa, keluarga, dan raga diciptakan oleh Allah
sebagai sarana untuk membahagiakan manusia. Tetapi,
Bangkit Kembali, Turut Menjaga Ibu Pertiwi 443
apa yang menjadi milik kita kadang-kadang justru berbalik
memiliki kita. ….
Kita bersyukur kepada Allah dan berterima kasih kepada
para pahlawan dan martir Covid-19, yang berkorban demi
profesi dan dedikasi. ….
Itulah juga kehidupan Santo Carolus Borromeus, yang
solider, menyangkal diri, melepas privelese, dengan
sukacita berbelarasa pada mereka yang menderita.
….
Mari, dengan potensi yang Tuhan berikan kepada kita,
dalam situasi dan kondisi serta profesi kita masing-
masing, dengan rendah hati kita solider dengan mereka
terutama dengan mereka yang terkena dampak pandemi
Covid-19 ini. Kita masing-masing mulai melakukan
gerakan yang sederhana. Mulai bertenggang rasa. Mulai
memberikan bantuan. Mendoakan sampai, mungkin,
berkorban diri.”
Sementara itu, Ketua Pengurus PPSB dr. Cynthia
Limandibrata antara lain menyampaikan:
“Dalam meneladani, biasanya ada kekaguman. Kita
terkesan, mendapat inspirasi, dan tersentuh sampai ke
hati. Kok ada Santo Carolus yang sebaik itu? Sehingga
timbul dorongan dan usaha untuk menjalankan. Jadi,
sebenarnya kita dapat meneladani siapa pun, sekalipun
dari orang yang tampak sangat sederhana. Namun bagi
kita, makna meneladai Santo Carolus Borromeus
merupakan suatu keputusan yang penting sebagai dasar,
444 The Eternal Light
alasan, dan sebab dari panggilan kita, serta menjadi arah,
panutan, semangat, dan dorongan untuk menjalankannya,
mewujudkannya dalam karya pelayanan maupun dalam
sikap hidup kita sehari-hari.
…
Situasi pandemi ini benar-benar memberikan pelajaran
kepada kita. Kita tidak semata-mata melihat berapa
hasilnya, berapa pendapatannya. Tetapi kita lebih
mengutamakan nilai-nilai cintakasih. Situasi pandemi
Covid sangat memungkinkan terjadi penggerusan nilai-
nilai luhur, lunturnya nilai-nilai berbelarasa. Orang bisa
mendapatkan banyak sekali pembenaran diri untuk
semakin bersikap egoistis, individualistis, bahkan mungkin
saja mengambil keuntungan dari situasi penderitaan.
Ternyata semangat berbelarasa dan cinta, kita menjadi
tahu, justru inilah sumber kekuatan, semangat ke depan,
dalam memghadapi segala tantantangan, seperti Santo
Carolus Borromeus. Kita jalan terus, tentu dengan hati-hati
sekali, seperti Dirut Borromeus berkata, “Kita pasti bisa!”
Berbekal kematangan dan pengalaman ke pengalaman,
sarana dan prasarana yang memadai yang kita miliki,
semua prestasi diraih, menjadikan Borromeus Group
unggulan dalam bidangnya. Ini suatu kebenaran. Tetapi,
muatan hati yang berbelarasa menjadikan Borromeus
Group sebagai terpercaya dan andalan. Kita bersyukur atas
saat ini dan kita terus, mengingat kita menjadi andalan.
Dan, di usia 99 tahun dengan segala pencapaiannya yang
gemilang itu justru hendaknya kita tetap mawas diri dan
terus berpegang meneladani kerendah-hatian Santo
Carolus Borromeus. Tanpa kerendah-hatian, makna
sesungguhnya dari berbelarasa tidak ada. Tanpa
Bangkit Kembali, Turut Menjaga Ibu Pertiwi 445
kerendah-hatian, makna sesungguhnya dari teladan-
meneladani juga tidak ada.
Mari kita terus bersyukur atas anugerah dan penyertaan
Tuhan yang tiada taranya. Dan, terus membawanya dalam
doa, rendah hati, tetap bersuka cita, meneladani hidup
Santo Carolus Borromeus, pelindung kita yang kudus.”
Pemimpin Suster-Suster CB Komunitas Santo Borromeus, Sr.
Avriana Dwi Atmi Widyastuti, antara lain menyampaikan:
“Kami menyampaikan terima kasih kepada seluruh mitra
karya yang berkarya di Perkumpulan Perhimpunan Santo
Borromeus. Sungguh bukan perkara sederhana, membe-
sarkan karya besar Perkumpulan Perhimpunan Santo
Borromeus ini. Pasti dengan pergulatan yang tidak ringan
dan tantangan yang berat, namun berhasil diatasi dengan
penuh kegigihan dan kerendahan hati, dengan mengandal-
kan pada Penyelenggaraan Ilahi, sehingga karya PPSB
boleh dibesarkan Tuhan hingga pada saat ini.
….
‘Dengan aku atau tanpa aku, asal Tuhan dimuliakan dan
sesama diabdi secara tulus ikhlas dan sempurna.’
Demikian kata Bunda Elisabeth, pendiri kongregasi kami.
Demikian pula kami mengucapkan kalimat ini, yang
penting Tuhan dimuliakan oleh bapak-ibu melalui
pelayanan di PPSB ini dengan penuh integritas, keinginan
untuk selalu memperbaharui diri dan karya yang
dipercayakan kepada bapak-ibu, berbelarasa dengan
orang-orang yang dilayani, dan menjunjung tinggi
martabat manusia, apa pun dan siapa pun dia tanpa
446 The Eternal Light
membeda-bedakan. Maka, apabila hal ini diupayakan,
banyak orang akan menaruh kepercayaan kepada kita,
sehingga banyak orang akan dipercayakan kepada Tuhan
dalam jangkauan pelayanan kita. Kami para suster akan
senantiasa bersyukur kepada Tuhan dan mendukung para
dokter, para mitra karya, bapak-ibu sekalian di dalam doa-
doa dan pelayanan kami juga.”
Gambar. Misa Pesta Nama Santo Carolus Borromeus, 4 November 2020
Dalam kesempatan tersebut, Sr. Valentina Sri Mulyani
berpamitan untuk berpindah tugas setelah ditugaskan selama
sekitar 7 tahun 10 bulan di Komunitas Santo Borromeus.
Antara lain beliau berkata:
Bangkit Kembali, Turut Menjaga Ibu Pertiwi 447
“Selama perjalanan perutusan di PPSB, saya sungguh
merasakan berkat Tuhan yang luar biasa. … Ya, saya
merasakan berkat Tuhan yang luar biasa. Ketika diminta
untuk bertugas di PPSB, ada perasaan cemas, ada perasaan
takut, membayangkan Borromeus yang begitu besar.
Tetapi, kemudian saya merefleksikan diri, ‘Ya, sudah, lebih
baik saya mengosongkan diri.’ Dalam retret kemarin
dengan Romo Eddy, ‘Saya bukan apa-apa kalau tidak
diapa-apakan.’ Jadi, saya mengosongkan diri. Ternyata
begitu banyak berkat Tuhan yang ‘mengapa-apakan’ saya.
Dalam perjalanan di Borromeus, ada segenap pengurus,
terutama Monsinyur, Romo Eddy, direksi, dan terutama
para suster di komunitas. … Kalau melihat itu semua,
rasanya berkat Tuhan luar biasa. Penyertaan beliau luar
biasa karena saya yang ‘tidak ada apa-apa’, lalu berkat ‘ada
apa-apa’ dari orang-orang di sekitar saya. Itu sungguh saya
syukuri, dan saya sungguh merasa terberkati. Sehingga
ketika mau diutus ke tempat perutusan yang baru,
walaupun galau tapi ya sudah. Ada banyak pengalaman
iman, ada banyak pengalaman rahmat yang mana Tuhan
selalu memberikan berkat dalam perutusan.
Saya sungguh berterima kasih dan bersyukur atas semua
kerja sama, semua perhatian, atas semua kesempatan yang
boleh saya alami selama saya menjalani perutusan di
PPSB.
Secara khusus kepada Suster Maria Elly, selamat bertugas.
Ada banyak pekerjaan, tapi percayalah bahwa Tuhan akan
memberikan berkat perutusan.
…
448 The Eternal Light
Saya kira lagu ‘Alangkah bahagianya hidup rukun dan
damai’ sungguh menginspirasi. Dengan kerendahan hati,
kita dapat hidup saling rukun dan damai. ….”
Tahun Yubileum 2021
Tahun yubileum 2021, tahun ketika RS Santo Borromeus
merayakan usia ke-100, dilalui dalam suasana keprihatinan
atas pandemi Covid-19. Secercah harapan menyeruak di
seluruh dunia ketika vaksinasi bergulir sejak Desember 2020
di sejumlah negeri maju, dan sejak 13 Januari 2021 di
Indonesia. Sesuai dengan pengaturan Pemerintahan Presiden
Joko Widodo, pemimpin-pemimpin publik dan tenaga-tenaga
kesehatan memeroleh kesempatan paling awal divaksin. Di
RS Santo Borromeus dan Borromeus Group, tenaga-tenaga
kesehatan pun divaksin sejak pertengahan Januari 2021.
Vaksinasi kepada para penduduk di berbagai negeri,
termasuk Indonesia, berlangsung selama berbulan-bulan.
Masa pandemi membuat segenap elemen RS Santo
Borromeus dan Borromeus Group merenung, merefleksikan
keutamaan-keutamaan Santo Carolus Borromeus dan Bunda
Elisabeth Gruyters yang berbelarasa terhadap mereka yang
sedang menderita.
Merayakan Hari Orang Sakit Sedunia
Setiap tanggal 11 Februari setiap tahun RS Santo Borromeus
merayakan Hari Orang Sakit Sedunia. Demikian pula Hari
Orang Sakit Sedunia ke-29 pada tahun 2021 dirayakan, di
tengah situasi pandemi Covid-19.
Bangkit Kembali, Turut Menjaga Ibu Pertiwi 449
Suster Paulina Endri, CB menjelaskan bahwa Hari Orang Sakit
Sedunia ditetapkan oleh Paus Yohanes Paulus II dan mulai
dirayakan pada 11 Februari 1993. Mengapa 11 Februari?
Pada 11 Februari [1858] Bunda Maria menampakkan diri
kepada Santa Bernadette dari Lourdes yang waktu itu berusia
14 tahun. Semua rumah sakit Katolik ikut serta merayakan-
nya. Setiap Hari Orang Sakit Sedunia, Sri Paus selalu membuat
sambutan, menyapa orang-orang sakit, serta menghargai
para dokter dan perawat sebagai garda terdepan perawatan
orang sakit.
Biasanya RS Santo Borromeus merayakannya dengan
bersyukur dalam misa, Suster Paulina menceritakan. Pada
masa sebelum pandaemi Covid-19 orang-orang sakit dengan
tempat tidurnya dan kursi rodanya dibawa ke Aula/
Auditorium. Pastor atau Bapak Uskup mendoakan mereka,
memberkati mereka, sehingga orang-orang sakit merasa
terberkati. Ini membuat para pasien sangat senang. Pada
masa pandemi, misa dirayakan di Kapel; hanya Bapak Uskup,
Pastor, dan sekitar 20 orang hadir, sedangkan yang lain dapat
mengikutinya secara daring (online). Jadi, Bapak Uskup tetap
menyapa orang-orang sakit.
Dalam perayaan Hari Orang Sakit Sedunia ke-29, sebelum
misa pada 11 Februari 2021 di Kapel Hati Kudus Yesus,
Suster Paulina menyampaikan pesan Paus Fransiskus, yang
antara lain merefleksikan:
“… Pengalaman sakit membuat kita menyadari kerentanan
diri dan kebutuhan akan orang lain. Hal ini membuat kita
semakin jelas merasakan bahwa kita adalah makhluk yang
bergantung pada Tuhan. Ketika sakit, ketakutan dan
kebingungan dapat mencengkeram pikiran dan hati kita;
450 The Eternal Light
kita mengalami ketidakberdayaan, karena kesehatan kita
tidak bergantung pada kemampuan atau kekhawatiran
hidup yang tiada henti.”
Menurut Paus Fransikus, jika terapi ingin efektif, ia harus
mempunyai aspek relasional, karena aspek ini memampukan
pendekatan holistik kepada pasien. Aspek relasional dapat
membantu dokter, perawat, tenaga profesional, dan relawan
untuk merasa bertanggung jawab mendampingi pasien di
jalan penyembuhan yang didasarkan pada hubungan
antarpribadi yang saling percaya. Beliau berpesan:
“Masyarakat akan jauh lebih manusiawi bila secara efektif
memerhatikan anggotanya yang paling lemah dan
menderita, dalam semangat cinta persaudaraan. Marilah
kita berusaha keras mencapai tujuan ini, agar tidak ada
yang merasa sendirian, dikucilkan atau ditinggalkan.”
Dalam homili, Uskup Keuskupan Bandung Mgr. Antonius
Subianto B., OSC antara lain menggarisbawahi untuk
menyediakan hati bagi mereka yang membutuhkan.
“Kesembuhan dan mujizat tak ditentukan oleh agama apa
pun; tak ditentukan oleh suku, ras, golongan apa pun.
Untuk itulah pesan kesehatan yang luar biasa; pelayanan
kesehatan tidak pernah memandang siapakah orang itu,
apakah orang itu. Di hadapan saya, ia adalah orang yang
sedang membutuhkan pertolongan. Kesembuhan itu
ditentukan oleh keyakinan dan kepercayaan akan Tuhan.”
Mgr. Antonius melanjutkan:
Bangkit Kembali, Turut Menjaga Ibu Pertiwi 451
“Rahmat Allah tidak akan habis. Makin dibagikan makin
berlimpah. Jadi, jangan takut kehabisan. … Bersyukurlah,
kalau ada orang sembuh. Menantilah dengan sabar, kalau
Allah berbelah kasih maka saya pun diberi kesembuhan.
Kita harus sabar menunggu giliran yang Tuhan kehendaki.
Sejauh mana kita berusaha dengan penuh iman, rendah
hati, tersungkur di hadapan Yesus?”
Pada kesempatan itu, Direktur Utama RS Santo Borromeus,
Dokter Chandra Mulyono, Sp.S., menyampaikan sambutan.
Antara lain beliau berkata:
“… Dijiwai oleh visi-misi pendiri Rumah Sakit Santo
Borromeus yang berlandaskan cintakasih kristiani, maka
di tengah pandemi Covid-19 yang masih terjadi saat ini,
Rumah Sakit Santo Borromeus tetap berupaya untuk
menyandarkan seluruh pelayanan kesehatan ke dalam
penyelenggaraan ilahi. Atas dasar semangat tersebut,
dalam suasana sederhana dan situasi pembatasan sosial,
kita tetap menyelenggarakan perayaan memperingati Hari
Orang Sakit Sedunia yang ke-29, dengan tema ‘Hanya Satu
Gurumu, dan Kamu Semua adalah Saudara’.
Melalui kesempatan perayaan ini, kami berharap semoga
di tengah-tengah masa sulit ini kita semua dikuatkan
dalam menjalani pelayanan kesehatan karena kita semua
disatukan dalam satu ikatan saudara dan satu ikatan Guru,
yaitu Tuhan Yesus Kristus. Dengan semangat dan teladan
Sang Guru satu-satunya, maka kita meyakini bahwa
sebagai satu saudara semangat pelayanan juga terfokus
pada pelayanan yang sama yaitu semangat cintakasih.”
452 The Eternal Light
Gambar. Sesudah Misa Hari Orang Sakit Sedunia, 11 Februari 2021
Pandemi Masih Berlangsung
Menjelang September 2021, ketika RS Santo Borromeus
merayakan usia 100 tahun, seluruh dunia masih dilanda
pandemi Covid-19. Di Indonesia kasus-kasus, baik kasus baru
maupun kasus aktif, tercatat meningkat tajam pada bulan
Juni-Juli 2021. Bed Occupancy Ratio (BOR) untuk pasien
Covid-19 di berbagai rumah sakit meningkat tajam, bahkan di
Kota Bandung nyaris penuh. Segenap masyarakat mengalami
Bangkit Kembali, Turut Menjaga Ibu Pertiwi 453
ketegangan atas situasi tersebut. RS Santo Borromeus pun
menambah ruang-ruang untuk pasien Covid-19.
Pada Agustus 2021 kasus-kasus yang tercatat, baik kasus
baru maupun kasus aktif, mulai mengalami penurunan.
Situasi membaik walaupun kewaspadaan diharapkan tidak
kendor. Hingga pekan terakhir Agustus 2021 secara
akumulatif tercatat lebih dari 4 juta penduduk Indonesia
telah terpapar, dengan lebih dari 132 ribu meninggal dunia,
dan masih tercatat sekitar 200.000 kasus aktif. Sementara
itu, Pemerintah begitu gencar menggalakkan program
vaksinasi, yang mana RS Santo Borromeus mendukung dan
berpartisipasi.
***
Demikianlah, pada kurun waktu dua dasawarsa pertama abad
ke-21 RS Santo Borromeus turut mengalami upaya pemulihan
bangsa Indonesia dari krisis, turut mengalami upaya
reformasi kehidupan bernegara, dan turut dalam upaya
menjaga tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia,
dengan tetap setia pada misi pelayanan kesehatan yang
dicanangkan oleh para pendiri. Menjelang usia ke-100, RS
Santo Borromeus terus berkembang menjadi sebuah rumah
sakit yang dipercaya oleh masyarakat, dan menorehkan
sejumlah prestasi yang sangat membanggakan. Semua itu,
tentu berkat darma bakti banyak pribadi yang setia dalam
menjaga, memelihara, merawat, dan mengembangkan-nya. Di
tengah keprihatinan atas pandemi global Covid-19, puji
syukur tetap dipanjatkan atas peziarahan seratus tahun RS
Santo Borromeus.
454 The Eternal Light
Gambar. RS Santo Borromeus berpartisipasi dalam pelaksanaan
program vaksinasi Covid-19, antara lain yang diselenggarakan di Bumi
Silih Asih.
Bangkit Kembali, Turut Menjaga Ibu Pertiwi 455
Pujian kepada Tuhan kita panjatkan, sebagaimana Bunda
Elisabeth Gruyters dahulu memanjatkannya:
“Dimuliakanlah Tuhan dalam para kudus-Nya dan kuduslah
Ia dalam karya-Nya. Amin.” (EG 144)
***
#haiku 9
zaman berubah
teguh menjunjung misi
cinta sesama
#tanka 9
zaman berubah
teguh menjunjung misi
cinta sesama
langkah tak kenal jeda
tingkatkan pelayanan
456 The Eternal Light
X
Merefleksikan Peziarahan,
Mengunjukkan harapan
Merefleksikan Peziarahan, Mengunjukkan Harapan 457
R umah Sakit Santo Borromeus dibangun tidak dalam
satu hari satu malam. Perkembangan hingga kini
merupakan kumpulan banyak proses yang
melibatkan banyak pribadi, banyak pihak, banyak waktu, dan
banyak energi. Di balik bangunan-bangunan, fasilitas-fasilitas,
dan pelayanan-pelayanan yang mengesankan, terdapat
banyak hati dan budi yang berinteraksi di dalamnya. RS Santo
Borromeus juga hendak melanjutkan peziarahan melintasi
zaman. Berikut ini adalah kisah, refleksi, dan harapan
sejumlah pribadi.
***
Dokter E.S. Limandibrata, Sp.PD
Terkesan dengan Suster-Suster Borromeus
D okter Eka Sentausa Limandibrata, Sp.PD. – yang saat ini
telah melewati usia 90 tahun – mengenal RS Santo
Borromeus sejak sangat lama. Beliau lulus sebagai dokter
pada tahun 1961. Selanjutnya, beliau selama sekitar satu
setengah tahun membantu almarhum Dokter Sim Ki Ay
(Simadibrata, spesialis penyakit dalam). Pada malam hari
beliau mengikuti Dokter Sim Ki Ay melakukan visite, antara
lain di RS Santo Borromeus.
Dokter Limandibrata mengenang, paviliun Yosep (lama)
masih satu lantai, yang mana satu kamar untuk beberapa
orang, belum ada satu kamar untuk dua orang. Bagian Maria
tidak seperti bangunan rumah sakit, melainkan seperti
bangunan rumah. Bagian anak-anak (Irene), berlokasi di Jalan
Suryakencana, di seberang Kapel.
458 The Eternal Light
Direktur RS Santo Borromeus waktu itu adalah Dokter R.
Soediono. Yang bertugas untuk penyakit dalam waktu itu
adalah Dokter Sim Ki Ay (Simadibrata), dan Dokter Schatter
(yang bertugas utama di RS Dustira). Ahli bedah waktu itu
adalah Prof. dr. Koestedjo dan Dokter Yoe Tjin Liong (dari RS
Dustira juga). Di bagian anak-anak ada Dokter Erwin.
Gambar. Tiga generasi Keluarga Limandibrata
pengabdi RS Santo Borromeus.
Semua kepala perawat pada awal dasawarsa 1960-an masih
suster-suster dari Belanda. Beliau mengenang:
“Saya tidak ingat nama-namanya, tetapi yang saya ingat,
mereka bekerja dengan dedikasi untuk perawatan pasien,
yang saya rasa baik dan ramah dengan pasiennya.”
Dokter Limandibrata kemudian menjadi dokter tentara,
hingga beliau pensiun. Setelah menjadi dokter internis, beliau
bergabung dengan RS Santo Borromeus sebagai dokter mitra
Merefleksikan Peziarahan, Mengunjukkan Harapan 459
bersama dengan Prof. Johan. Beliau menyebutkan sejumlah
dokter internis yang lebih dahulu di Borromeus:
“Seingat saya, dokter internis di Borromeus adalah Prof.
Suyono Hadi, Prof. Iman Supandiman, Prof. Enday, Prof.
Siti Aminah, Prof. Sri Hartini, lalu Prof. Johan, Prof. Rahmat
Sulaeman, dan Prof. Rully Rusli.”
Berdasarkan pengalaman bekerja di beberapa rumah sakit,
Dokter Limandibrata menilai:
“Meskipun semua rumah sakit lama membangun dan
merenovasi gedung-gedungnya menjadi bagus, sepertinya
yang paling ramai masih Borromeus yang terkenal dan
favorit.”
Beliau menambahkan:
“Saya melihat dan terkesan, yang datang ke RS Santo
Borromeus tidak hanya golongan tertentu saja tetapi
merata kelihatannya, dari semua golongan dan agama.
Rupanya Borromeus sudah menjadi rumah sakit yang
favorit bagi masyarakat Bandung.”
Mengenai SDM, menurut Dokter Limandibrata, meskipun
suster-suster Belanda sudah tidak ada, tetapi suster-suster
sekarang yang meneruskannya bagus, disiplin, dengan tetap
memeroleh bimbingan Tarekat Suster-suster CB. Mengenai
fasilitas dan sarananya, beliau melihat bahwa Borromeus
selalu di-upgrade terus.
Dalam pandangan Dokter Limandibrata, kekuatan RS Santo
Borromeus adalah dasar cinta kasih, yang selalu
460 The Eternal Light
dikedepankan. Semangat “dengan pelayanan cintakasih, kami
mengabdi” itulah kekuatannya. Peran suster-suster biarawati
CB sangat berpengaruh dalam memberi kekuatan pelayanan
cintakasih itu.
Melihat perjalanan RS Santo Borromeus dari dahulu hingga
kini, Dokter Limandibrata memandang:
“Kemajuan RS Borromeus sudah sangat bagus. Mohon
dipertahankan dan dipelihara nilai-nilai yang sudah baik.
Lebih ditingkatkan lagi atau dikembangkan lagi semua
aspek yang ada sehingga RS Borromeus tetap unggul dan
maju terus. Jalurnya sudah benar. Buktinya sudah jelas,
dari pengunjung yang banyak dan tidak hanya dari
kelompok tertentu, tetapi merata.”
***
Frans Legimin
Sense of Belonging dan Care di Borromeus
B apak Frans Legimin, akrab disapa “Bruder Frans”, ada
pula yang menyapa “Meneer” (bahasa Belanda yang
berarti “tuan” atau “bapak”), saat ini berusia sekitar 75 tahun,
sudah pensiun tetapi masih tetap berkarya hingga kini.
Pertama kali Frans datang secara resmi di Sekolah Pengatur
Rawat A (SPR A) Santo Borromeus pada Agustus 1966.
Setelah lulus SMA pada tahun 1965 di Cimahi, Frans sempat
kuliah satu tahun di Fakultas Sospol Universitas Padjadjaran.
Karena sering melewati RS Santo Borromeus, Frans
penasaran, kemudian mencoba berkomunikasi dengan Pastor
M. Sommers, OSC. Setelah berbincang-bincang dengan Pastor
Merefleksikan Peziarahan, Mengunjukkan Harapan 461
Sommers, Frans disarankan menghubungi Direktris
Pendidikan Perawat RS Santo Borromeus. Pastor Sommers
berpesan bahwa profesi perawat itu panggilan.
Gambar. Penampilan zaman dulu. Bruder Frans bersama seorang rekan
di depan Asrama Putri, Jalan Suryakencana.
Di SPR A Santo Borromeus, Frans dikelompokkan sebagai
voor klasse (kelas persiapan untuk pemula). Dengan situasi
nasional yang sedang genting waktu itu, dirinya bertugas pula
membantu di ruangan rawat inap, termasuk jaga malam, dan
kemudian menjaga gerbang secara bergiliran dengan petugas
462 The Eternal Light
lain, yang dibantu oleh Perhimpunan Mahasiswa Katolik
Republik Indonesia (PMKRI) dari ITB, Unpad, dan Unpar.
Bruder Frans menceritakan bahwa pendidikan dimulai pada
tanggal 2 Januari 1967, dan selama 4 bulan terdapat kelas
persiapan. Kemudian mereka disaring lagi untuk melanjutkan
pendidikan perawat. Angkatan tahun itu semula berjumlah
56 orang, tersaring menjadi 35 orang yang diterima, sampai
akhir lulus tinggal 28 orang. Bruder menjelaskan bahwa SPR
A Santo Borromeus menggunakan sistem pendidikan Belanda
untuk meraih Diploma A Algemene Ziekenverpleging (Kepera-
watan Umum).
“Awalnya berat bagi saya, namun dengan berjalannya
waktu dan bimbingan dari guru dan suster, akhirnya saya
bisa menghayati panggilan menjadi perawat. Saya rasakan
juga, memang harus ada panggilan pribadi karena terkait
dengan melayani orang. Itu tidak mudah, harus penuh
kesabaran dan kerendahan hati. Sebenarnya, kalau mau
jujur, menjadi perawat itu pelarian. Tetapi, panggilan itu
lama-kelamaan tumbuh di dalam diri saya.”
Ketika Bruder Frans bergabung dengan RS Santo Borromeus,
saat itu dapat dikatakan dalam masa peralihan, yang mana
masih ada beberapa suster Belanda yang berkarya. Ada juga
beberapa orang Indo-Belanda.
Dahulu, Bruder Frans mengisahkan, sebelum terdapat
Puskesmas, terdapat apa yang dinamakan “Dinas Kampung”,
yaitu berkeliling ke kampung-kampung, ke rumah-rumah di
RT dan RW, merawat pasien jika ada yang sakit. Termasuk
berkunjung ke penjara, misalnya di Kebon Waru, pada masa
Suster Frederik, CB. “Kami pergi ke sana membawa batok-
Merefleksikan Peziarahan, Mengunjukkan Harapan 463
batok kelapa dan serabut-serabutnya untuk dibuat keset oleh
mereka; dan ada juga yang dibuat kerajinan tangan, lalu dijual
untuk kehidupan mereka di situ.” Dahulu tim Borromeus
sering juga berkunjung ke Wyata Guna, membantu mereka
dalam hal kesehatan jika ada yang sakit. Kadang-kadang
menjadi leader untuk membuat kerajinan tangan.
Bruder Frans pernah mendapat beasiswa dari Perhimpunan
Santo Borromeus untuk belajar ke Negeri Belanda,
memperdalam ilmu di bidang keperawatan bedah selama 3
tahun, dari tahun 1974 hingga 1977. Di sana Bruder Frans
belajar untuk menghemat barang, misalnya sarung tangan
dapat dicuci lagi dan disterilkan dengan alat tertentu
sehingga bisa menghemat pengeluaran jika dibandingkan
dengan membeli yang baru.
Bruder Frans sangat terkesan dengan pentingnya tidak
melewatkan hal-hal kecil. Suster-suster Belanda
menekankannya.
Setelah selesai pendidikan, Bruder Frans ditempatkan di
bagian fisioterapi selama 7 bulan, kemudian dipindahkan ke
kamar operasi selama 30 tahun hingga menjelang pensiun,
terakhir bertugas tahun 1999. Bruder Frans mengenang
bahwa di Operating Room terdapat kebiasaan sebelum
bekerja selalu berdoa pagi, dilanjutkan dengan briefing untuk
mendengarkan laporan kerja 24 jam terakhir, terjadi
peristiwa apa selama itu, dan jika ada masalah maka
didiskusikan. Ada juga clinical instruction untuk membimbing
perawat yang masih muda-muda.
Selanjutnya, Bruder Frans masih berkarya dan ditugaskan di
Komite Medik. Bruder Frans mendengar dari teman-teman di
464 The Eternal Light
Jerman dan di Belanda bahwa permasalahan rumah sakit itu
hampir sama. Harus mencatat-menulis apa yang dikerjakan,
atau apa yang dikerjakan harus dicatat. Yang menjadi keluhan
adalah seolah-olah menjadi terlalu banyak dokumen dalam
berproses. Bruder Frans berharap agar kelak dapat dibuat
regulasi yang tidak terlalu njelimet.
Bruder Frans sangat berharap bahwa Borromeus tetap eksis:
“Karena pelayanan ini bukan hanya untuk kebanggaan,
tetapi harus didorong dengan hati yang tulus. Bahwa kita
harus mengikuti zaman, tapi juga bisa memberikan
masukan terutama untuk program pemerintah dalam
mengembangkan kesehatan masyarakat. Kita pun harus
siap membantu pemerintah, seperti contoh kasus pandemi
ini, kita terlibat juga membantu pemerintah dengan
sepenuh hati.”
Bruder Frans menggarisbawahi bahwa ciri khas RS Santo
Borromeus harus tetap dipertahankan, yaitu care. Borromeus
selalu beradaptasi dengan perkembangan zaman dan peduli
dengan masyarakat. Kenyamanan dan kebersihan rumah
sakit sangat diapresiasi. Yang paling utama di atas segalanya
adalah Cintakasih.
***
Merefleksikan Peziarahan, Mengunjukkan Harapan 465
Pastor Fons Bogaartz, OSC
Merindukan Keakraban di Borromeus
P astor Fons Bogaartz, OSC dahulu pernah bertugas dalam
pastoral care di RS Santo Borromeus (1969, 1974–1984).
Beliau pun pernah dirawat di sana beberapa kali. Pastor
Bogaartz pernah dua kali bertugas di Kapel Borromeus.
Pertama, pada tahun 1969 selama 3 bulan, tinggal di ruang
khusus pastor yang bertugas pada pastoral care di sana;
waktu itu beliau menggantikan Pastor Cornelius van Schaik,
OSC yang sedang cuti. Kedua, sejak tahun 1974 hingga 1984
menjadi pastor di Katedral tapi juga pastoral di Kapel
Borromeus. Dahulu ada kamar khusus untuk pastor tinggal di
rumah sakit, ada tempat kerja, tempat tidur, kamar mandi,
letaknya di gedung lama, masih sekitar Jalan Dago. Pastor
Bogaartz menetap tinggal di sana pada tahun 1969.
“Kesan saya yang paling pertama pada waktu itu adalah
suasana kekeluargaan yang sangat menyolok, kuat.”
Pastor Bogaartz mengenang, meskipun kebanyakan kepala
bagian masih suster-suster Belanda, tetapi relasi antara
perawat-perawat dengan suster-suster Belanda, bibi-bibi,
sangat akrab. [Bibi merupakan panggilan akrab kepada
perempuan petugas rumah tangga waktu itu. Bibi dalam
bahasa Sunda berarti perempuan adik orangtua.] Suasana
kekeluargaan disebabkan juga karena jumlah dokter, apalagi
spesialis, masih sedikit. Jumlah pasien belum sampai 200
orang pada waktu itu. Bangunan waktu itu tentu belum
seperti sekarang. Dahulu masih berupa pavilliun-pavilliun,
ada taman hijau yang sejuk, dan dihubungkan dengan jalan
466 The Eternal Light
lorong panjang yang ada atapnya. Keuntungan pada waktu itu
adalah pasien-pasien dapat melihat sedikit kebun; pagi hari
pasien-pasien Kelas I dan Kelas II sering dibawa keluar di
depan serambi untuk menghirup udara yang segar dan sejuk.
Gambar. Pastor Fons Bogaartz bersama Bapak Hieronymus Dju Ha
(konduktor Koor Caritas RS Santo Borromeus), tahun 1980.
Juga, suasana kekeluargaan waktu itu disebabkan karena
dahulu rumah sakit dan biara seperti menjadi satu. Setiap
sesudah misa hari Minggu, bersama-sama umat dan dokter-
dokter, perawat-perawat, suster-suster, serta anggota
keluarga pasien, saling bercengkerama, ngobrol, saling tegur
sapa satu sama lain.
Merefleksikan Peziarahan, Mengunjukkan Harapan 467
Tanggal 12 September 1974 lahir Koor Caritas atas rintisan
Pastor Bogaartz, yang anggotanya cukup banyak dan cukup
bagus koornya, dan sangat menyolok di Borromeus. Jadi, ada
koor tersendiri di samping dari dulu sudah ada koor perawat-
perawat yang dibimbing oleh Suster Angelbertha yang
terkenal, suster Belanda yang tinggi besar. Yang menyolok
lagi, lahirnya kelompok-kelompok Kitab Suci, ada dua
kelompok pelajaran agama, dan Pastor juga mengajar para
perawat di dalam flat perawat di depan gereja yang sekarang
sudah dipakai untuk fungsi lain. Pastor mengajar agama dan
budi pekerti bagi para perawat karena semua tidak
dibedakan, agama apa pun semuanya dijadikan satu
kelompok yang harus diberi bimbingan rohani.
Waktu itu relatif mudah sekali masuk ke Ruang Direksi
karena masih satu lantai dan aksesnya terbuka. Setiap tahun
Pastor Bogaartz memberikan laporan kepada Direksi. Dokter-
dokter dahulu juga menghargai pastor. Dahulu [1974–1984]
beliau mengenal dokter-dokter Borromeus dengan baik,
antara lain: Dokter Tjiam Tjin Goan (internis, sangat dikenal,
baik, dan perhatian dengan pasien); Dokter Liem Kong Ping
(internis); Dokter Benyamin Tanu (internis dan paru); Prof.
Nagar Rasyid (bedah tulang); Dokter Sihombing; Prof.
Koestejo (bedah, orangnya pendek kecil tapi baik sekali);
Dokter Theng (mata).
Pastor Bogaartz dahulu ke rumah sakit biasanya malam hari
karena saat-saat itu pasien sering mengalami kesepian.
“Kalau ada pasien yang gawat, saya dipanggil untuk
memberikan sakramen perminyakan (minyak suci);
setelah selesai, baru saya pulang. Tetapi para dokter itu
468 The Eternal Light
tidak langsung pulang melainkan menunggu saya sampai
selesai. Mereka merasa bertanggung jawab.”
Dahulu setiap tahun di Borromeus selalu ada acara malam
gembira di aula belakang yang ada panggungnya. Ada juga
malam musik yang meriah, dari musik klasik sampai musik
modern; perawat-perawat masing-masing punya kelompok
kecil, kuartet, menyanyi-nyanyi bersama. Suasana keakraban
dengan perawat bagus sekali.
“Saya bekerja di sana dengan sangat senang hati tanpa
paksaan, merasa diperkaya oleh mereka, orang sakit, oleh
suasana.”
Pastor Bogaartz merasa bahwa para suster dan perawat
sangat mengerti dan menghayati misi mereka dalam
melayani pasien, tidak dengan kata-kata tetapi prinsipnya
jika ada orang sakit yang perlu ditolong, yang ditolong. Tanpa
melihat agama dan golongan, yang penting merawat pasien
dengan tanggung jawab dan mendampinginya sampai
perawatan selesai.
“Saya masih ingat saat bagaimana seorang perawat
mendampingi pasien yang sedang dalam sakrat maut. Saya
hanya diam dan melihat saja, tidak mau mengganggu.
Hebat mereka, tidak peduli agamanya meskipun berbeda
agama.”
Pastor Bogaartz memandang:
“Saya kira, keunggulan RS Borromeus adalah di bidang
perawatan dan pelayanannya, baik secara teknik maupun
medisnya, dan ada kesan kebersihan yang terlihat, seperti
Merefleksikan Peziarahan, Mengunjukkan Harapan 469
di ruang-ruang tunggu tamu sampai sudut-sudut ruang
pasien, setiap pagi dan sore selalu dibersihkan dengan
rapi. Ketertiban dan faktor disiplinnya sangat kuat dan
menyolok.”
Di tengah perkembangan teknologi medis yang pesat, Pastor
Fons Bogaartz menyampaikan harapan agar dedikasi kepada
orang sakit terus menjadi perhatian RS Santo Borromeus.
***
Prof. dr. Rully M.A. Roesli, Sp.PD-KGH
Borromeus, Rumah Kedua Saya
P rof. dr. Rully M.A. Roesli, Sp.PD-KGH, belakangan ini
akrab disapa “Abah”, dikenal sebagai pelopor
hemodialisis di Indonesia. Beliau berkarya di RS Santo
Borromeus sejak tahun 1975. Dahulu ibunda beliau pun
berkarya di Borromeus sejak tahun 1955, teman seangkatan
Dokter Tjiam (almarhum; guru Prof. Rully) dan Dokter
Soediono; juga teman Prof. Koestedjo (almarhum). Prof. Rully
sudah mengenal RS Santo Borromeus sejak kecil.
“Dulu suasananya masih banyak taman, bunga-bunganya
bagus, dan banyak pohon-pohon besar yang rindang di
area Borromeus.”
Begitu menjadi dokter, Prof. Rully langsung berkarya di RS
Santo Borromeus. Pada waktu itu jumlah dokter masih
terbatas. Sewaktu masih muda dan masih dokter umum, Prof.
Rully juga pernah berkarya di Balai Pengobatan Sari Asih di
470 The Eternal Light
Sekeloa dan RS Sekar Kamulyan di Cigugur-Kuningan selama
5 tahun. Beliau pernah bekerja di Poli Bedah, Poli Kebidanan,
dan Poli Umum; berpindah-pindah karena jumlah dokter
masih terbatas waktu itu. Setelah tahun 1985 beliau menjadi
dokter internis (penyakit dalam). Walaupun sekarang
berkursi roda, namun beliau masih berkarya di RS Santo
Borromeus.
“Borromeus, jelas, fisiknya sehat. Saat ini kalau mau
bersaing dengan rumah sakit mana pun di Indonesia,
mungkin kalau saya bilang, adalah yang terbaik.”
Mengenai jiwanya, Prof. Rully menggarisbawahi bahwa
Borromeus memiliki toleransi yang besar sekali.
“Borromeus itu rumah sakit Katolik, tapi banyak perawat
dan dokter yang bukan Katolik. Malah, mungkin pasiennya
hampir 80-90% bukan Katolik. Toleransinya besar sekali,
dan hal itu harus dipertahankan. Saya stroke sejak 6 tahun
yang lalu, saya memakai kursi roda, tapi masih diizinkan
oleh Borromeus untuk bekerja. Begitu besar toleransinya.”
Tentang cuci darah, Prof. Rully mengisahkan bahwa semua
teknik cuci darah yang baru, berasal dari Borromeus, lalu
tersebar ke seluruh Indonesia. Bahkan, ada pasien yang
pernah melakukan cuci darah di Borromeus, kemudian ke
Singapura, ternyata di sana belum ada teknik cuci darah, dan
teknik cuci darah itu hanya ada di Borromeus. Pelopor semua
teknik itu dari Borromeus.
Unit Pelayanan Hemodialisa (UPH), Prof. Rully mengisahkan,
dibentuk sekitar pertengahan dasawarsa 1990-an. Awalnya
memang tidak mudah. PPSB tetap melanjutkan unit tersebut
Merefleksikan Peziarahan, Mengunjukkan Harapan 471
karena ada segi kemanusiaan, antara lain berkat dukungan
Dokter Widyastuti sebagai Direktur Medis waktu itu. UPH
pun dikembangkan dan berlanjut sampai sekarang. Prof.
Rully banyak mengembangkan teknik-teknik baru, misalnya
teknik pemasangan CAPD. Sekarang buku teknik CAPD
Borromeus menjadi pedoman dan panduan untuk seluruh
rumah sakit di Indonesia.
Gambar. Prof. Rully.
Prof. Rully memandang bahwa RS Santo Borromeus
merupakan sebuah rumah sakit yang maju:
“Saya kira Borromeus termasuk [satu di antara] yang
tertua, tetapi sekarang menjadi terlengkap dan terbagus,
472 The Eternal Light
baik bangunannya maupun sistemnya. Saya kira bukannya
Bandung tetapi seluruh Indonesia, RS Borromeus tidak
akan kalah bersaing, dan maju. Dan, itu membawa
peningkatan kesehatan di Jawa Barat. Bukan hanya Jawa
Barat saja tetapi memengaruhi Indonesia. Saya sangat
kagum dengan Borromeus.”
Satu di antara yang dapat diandalkan RS Santo Borromeus
adalah hemodialisis, tempat beliau berkarya. Menurut beliau,
hemodialisis di Borromeus termasuk yang paling maju di
Indonesia. Selain itu, beliau juga melihat kemajuan di bidang
radiologi dan bedah saraf.
Harapan Prof. Rully kepada Borromeus:
“Teruskan yang sudah bagus, yaitu perkembangan fisik
dan perkembangan toleransi yang tinggi. Hal itu yang
menjadikan Borromeus semakin dicintai oleh semua
masyarakat. Terbukti dengan hampir bisa dikatakan 80%
pasiennya pun bukan Katolik melainkan Muslim, dan
dokter-dokternya pun banyak yang bukan beragama
Katolik melainkan Muslim. Saya pun Muslim. Borromeus
serasa seperti rumah saya sendiri. Kecintaan saya sangat
besar dengan Borromeus. Pertahankan terus kedua hal
tersebut agar Borromeus tetap maju bersama kemajuan
zaman modern ini.”
Mengenai perawat, beliau menganggap perawat sebagai
partner dokter, bukan bawahan dokter, karena dokter tidak
melihat pasien setiap saat dan setiap hari. Jadi, kerja sama
antara perawat dengan dokter harus seimbang.
Merefleksikan Peziarahan, Mengunjukkan Harapan 473
“Perawat bagian di UPH (Hemodialisa) biasa memanggil
saya ‘Abah’. Saya lebih senang dipanggil ‘Abah’ ketimbang
‘Prof’, saking dekatnya dengan mereka. Lebih akrab, ada
kedekatan secara emosional.”
Perlu diketahui bahwa Prof. Rully menulis buku tentang
kesehatan jiwa, yang intinya untuk menghibur mereka yang
sakit. Buku itu sering dibacakan oleh perawat di depan pasien
(khususnya pasien di ICU). Beliau mengakhiri:
“Saya sekarang sudah berusia 72 tahun, dan Borromeus
merupakan rumah kedua bagi saya.”
***
F. Bowo Rini Sunarsasi
Bangga Bekerja di Borromeus
I bu F. Bowo Rini Sunarsasi, akrab disapa “Bu Rini”,
bergabung dengan RS Santo Borromeus pada tahun 1975,
relatif lama di Bagian SDM, kemudian di JPKM hingga
pensiun, namun kemudian masih berkarya beberapa waktu di
Borromeus Group. Walaupun sudah beberapa tahun terakhir
tidak lagi berkarya di lingkungan Borromeus Group.
Waktu itu, awal tahun 1975, RS Santo Borromeus
membutuhkan karyawan administrasi penerimaan pasien
opname, di bawah Suster Martino, CB (orang Belanda). Tidak
lama kemudian Bu Rini berpindah di Bagian Personalia.
Kemudian Bagian Personalia berkembang, dengan meliputi
Bagian Penggajian pula (yang terkenal pada waktu itu adalah
474 The Eternal Light
Om Go, yang khusus mengerjakan gaji, dan langsung di bawah
Suster Melanie sebagai Direktur Personalia dan Rumah
Tangga). Selanjutnya, Bagian Personalia mulai dipisahkan
dengan Bagian Rumah Tangga/Umum.
Gambar. Ibu Rini dalam seremoni peresmian Gedung Yosef, tahun 1996.
Pada tahun 1980 Bu Rini ditunjuk sebagai Kepala Bagian
Administrasi Personalia. Untuk membangun manajemen yang
baik, pada waktu itu dihadirkan seorang suster Maryknoll,
yaitu Suster Rosemary Huber, MM. (waktu itu ada beberapa
suster Maryknoll yang berkarya di Bandung).
Merefleksikan Peziarahan, Mengunjukkan Harapan 475
Dengan RS Santo Yusup berada dalam satu manajemen
dengan RS Santo Borromeus, Bu Rini waktu itu mondar-
mandir antara Dago dan Cicadas karena tenaganya masih
sedikit. Seminggu dua kali Bu Rini ke RS Santo Yusup.
Zaman dulu masih banyak dokter tamu yang bekerja di
Borromeus karena belum ada dokter tetap yang spesialis.
Zaman itu kebanyakan dokter itu pegawai negeri. Pak Jos
Pattiwael (Direktur Utama) tidak mau tawar-menawar dalam
hal yang prinsipiil.
Peraturan-peraturan ketenagakerjaan mulai ditata pada
zaman Pak Jos Pattiwael dengan terbitnya buku Peraturan
Kekaryawanan. Perkiraan Bu Rini, jumlah karyawan pada
waktu itu kira-kira 300 orang. Demikian pula, peraturan
tentang ikatan dinas perawat juga ditata. Sejak zaman Pak Jos
Pattiwael, dilakukan pemberian penghargaan pengabdian
bagi karyawan yang bentuknya uang sekian kali gaji.
Kemudian, ketika Dokter Moelyono sebagai Direktur Utama
pada tahun 1982, social worker lebih dimanfaatkan dalam
melakukan diagnosis sosial. Dana MSU didapat dari
sumbangan para dokter; koordinatornya antara lain Dokter
Kelly (almarhum) dan Dokter Widyastuti. Fungsinya sebagai
dana sosial untuk membantu pasien yang tidak mampu.
Datanya ada di MSU, dan penyaluran dananya melalui
“Pancaran Kasih” yang dipromotori oleh Dokter Widyastuti.
Selanjutnya, Bagian SDM berkembang menjadi 2 subbagian,
yaitu Pengembagan SDM dan Administrasi SDM. Waktu itu
Penggajian masih di bawah Bagian Keuangan. Waktu itu
sistem penggajian masih meliputi RS Santo Borromeus, RS
Santo Yusup, dan RS Sekar Kamulyan.
476 The Eternal Light
Satu di antara hal penting yang dilakukan RS Santo
Borromeus adalah perumahan untuk karyawan. Hal ini
sebenarnya sudah dipikirkan sejak masa Bapak Jos Pattiwael
sebagai Direktur, tetapi keadaan waktu itu belum
memungkinkan. Barulah pada masa Dokter Moelyono sebagai
Direktur Utama (1982–1984), program ini dicetuskan.
Bu Rini antara lain juga mengurusi retret karyawan; waktu
itu pembimbingnya adalah Pastor Antonius Djoko Setyarmo,
OSC (almarhum). Tempatnya di Pacet, Cipanas (waktu itu
Wisma Pratista belum ada).
Selanjutnya, karena sudah terlalu lama di SDM, Bu Rini pun
pindah ke Penggajian. Sekitar tahun 1992 Bu Rini diangkat
sebagai Kepala Biro SDM. Lalu, Bu Rini dipindah lagi ke
Pengembangan SDM.
Kemudian Bu Rini dipindahkan ke Klinik Karyawan (sebelum
menjadi PJPK dan JPKM), dengan Dokter Miriam Maengkom
sebagai pemimpin. Lalu dilakukan uji coba menjadi PJPK
Santo Borromeus. Selanjutnya, uji coba ditawarkan kepada
Departemen Kesehatan atas nama Perdhaki Wilayah Jawa
Barat, dengan RS Santo Borromeus sebagai pilot project. Saat
pilot project berjalan, Pemerintah menggulirkan JPKM Jaring
Pengaman Sosial Bidang Kesehatan (JPSBK), sehingga banyak
prabapel-prabapel yang muncul di seluruh Indonesia,
semacam Jaminan Pelayanan Kesehatan Masyarakat (JPKM).
Waktu itu di Bandung yang ditunjuk ada 3, yaitu RS Al Islam,
RS Santo Borromeus, dan Rereongan Sarupi. PJPK Santo
Borromeus bekerja sama dengan 22 puskesmas di Bandung,
membina posyandu-posyandu. Nama Borromeus menjadi
terkenal. Banyak rumah sakit lain mundur, namun PPSB
menegaskan bahwa program ini harus tetap berjalan.
Merefleksikan Peziarahan, Mengunjukkan Harapan 477
Akhirnya, Borromeus maju terus hingga mendapat apresiasi
dari Depkes.
Peresmian JPKM Surya Sumirat dilakukan oleh Menteri
Kesehatan RI Bapak Achmad Sujudi pada tahun 2000,
bertempat di Kampus Universitas Padjadjaran, Jalan Dipati
Ukur. Panitianya dari Dinkes Jabar, IDI, Fakultas Kedokteran
Unpad, dan JPKM Surya Sumirat. Hal itu dilakukan bersamaan
dengan pembukaan pelatihan dokter keluarga. Barulah
kemudian setelah acara di Kampus Unpad, Bapak Menteri
mengunjungi Kantor JPKM Surya Sumirat di Jalan
Suryakencana.
Bu Rini mengisahkan bahwa kemudian diangkat sebagai
Direktur JPKM Surya Sumirat, menggantikan Bapak
Hieronymus Djuha (almarhum). Untuk promosi JPKM pada
waktu itu Bu Rini berkeliling di setiap paroki di Keuskupan
Bandung. Bu Rini relatif tidak lama sebagai Direktur JPKM,
karena satu setengah tahun kemudian masuk usia pensiun,
namun diperpanjang satu tahun lagi di JPKM.
Setelah itu, Bu Rini diminta untuk membantu di RS Santo
Yusup karena saat itu sedang mengalami kekosongan posisi
Wakil Direktur (Wadir).
Setelah tahun 2007–2009 di RS Santo Yusup, kemudian Bu
Rini diminta membantu mengolah kebijakan-kebijakan di
PPSB, terutama di bidang SDM. Suatu ketika, terjadi
kekosongan posisi Wadir di RS Sekar Kamulyan; Bu Rini
diminta untuk sementara waktu mengisi posisi Wadir di sana
selama tiga setengah tahun. Jadi, secara keseluruhan Bu Rini
diperpanjang selama 6 tahun setelah usia pensiun.
478 The Eternal Light
Sekian lama berkarya di Borromeus Group, Bu Rini
memandang bahwa kekuatan utama RS Santo Borromeus
adalah semangat Bunda Elisabeth Gruyters, “Tanpa aku atau
dengan aku, asal Tuhan dimuliakan dan sesama diabdi.”
Kepada RS Santo Borromeus, Rini berpesan:
“Tingkatkan customer service yang lebih unggul lagi karena
berbagai rumah sakit sekarang juga maju dengan pesat di
segala bidang, baik teknologi maupun jasa pelayanannya.”
Bu Rini mengungkapkan, “Saya merasa bangga bisa bekerja di
RS Santo Borromeus. Prinsip saya mirip Bapak Jokowi: kerja,
kerja, kerja.” Bu Rini mengungkapkan pula bahwa para
pensiunan tetap merasa bersyukur.
***
Christina Icoh Suwarsah
Cita-Cita Sejak di Cigugur
Ibu Christina Icoh Suwarsah, akrab disapa “Bu Icoh”,
bergabung dengan RS Santo Borromeus tahun 1976. Bu
Icoh sudah mengenal RS Borromeus sebelum menjadi
karyawan, ketika mengunjungi saudara yang sedang dirawat,
ketika itu masih tinggal di Cigugur, Kabupaten Kuningan:
“Saya terkesan sekali melihat keramahan para perawatnya
serta dokternya yang baik, dan suasana ruang perawatan
yang asri, ada taman bunganya, serta ada area kebun
kecil.”
Merefleksikan Peziarahan, Mengunjukkan Harapan 479
Bu Icoh mengenang, ketika pertama bergabung dengan
Borromeus, gedungnya masih asli berbentuk paviliun-
paviliun dan ada taman bunga yang indah. Bu Icoh bangga
bekerja di Borromeus:
“Kesan awal saat bekerja di Borromeus, sangat bagus
pelayanannya. Dapat dilihat dari visi-misi yang jelas.
Ketika saya baru masuk, rasa kekeluargaannya juga sangat
erat dan baik. Itu dapat dirasakan oleh semua karyawan.”
Gambar. Bu Icoh
Sebagai karyawan, pertama kali Bu Icoh ditempatkan di
Bagian Keuangan, yaitu di Bagian Honor Dokter. Setelah itu
dipindahkan ke Bagian Penggajian, bersama Om Go, Pak
480 The Eternal Light
Kamal, dan Pak Tisna. Mereka berempat bekerja melakukan
proses penggajian karyawan bukan hanya RS Santo
Borromeus saja, tetapi juga RS Santo Yusup dan RS Sekar
Kamulyan di Cigugur. Proses pekerjaan dari pengetikan slip
gaji, lalu uang dimasukkan ke dalam amplop coklat setiap
karyawan, semuanya dikerjakan secara manual. Setelah itu
harus dicek terlebih dahulu agar tidak ada kesalahan
penghitungan uang. Kemudian mereka harus mengirimkan
amplop-amplop berisi uang tersebut ke RS Santo Yusup, RS
Sekar Kamulyan di Cigugur, dan terakhir RS Santo
Borromeus. Waktu itu direkturnya masih menginduk RS
Santo Borromeus, yaitu Bapak Jos Pattiwael. Jumlah
karyawan seluruhnya pada waktu itu sekitar 450 orang.
Bu Icoh mengenang, biasanya penggajian untuk dibagikan
kepada karyawan di RS Santo Borromeus memerlukan waktu
dua hari, RS Santo Yusup memerlukan dua hari, dan RS Sekar
Kamulyan memerlukan satu hari.
“Bayangkan, penggajiannya hanya dikerjakan oleh 4 orang
saja! Tetapi kami bekerja dengan sepenuh hati; jadi kami
senang saja melakukan pekerjaan tersebut. Kami saling
mendukung dan kompak, bahkan bekerja sampai lembur.”
Kemudian Bu Icoh dipindahkan ke Bagian Sumber Daya
Manusia (SDM) dari tahun 1997 hingga 2002, sekitar 5 tahun,
lalu dipindahkan ke Bagian K3RS, sampai pensiun.
Visi-misi Borromeus, menurut Bu Icoh, merupakan dasar
yang kuat bagi perkembangan Borromeus. Hal ini terlihat
dalam kemajuan yang telah berlangsung. RS Santo Borromeus
selalu mengikuti perkembangan zaman hingga meraih
akreditasi international. “Ini suatu kebanggaan yang luar
Merefleksikan Peziarahan, Mengunjukkan Harapan 481
biasa bagi saya.” Bu Icoh melihat bahwa ini berkat perjuangan
dan semangat para karyawan yang gigih dalam
memperjuangkan prestasi RS Santo Borromeus melalui kerja
sama yang baik.
Dalam hal SDM, Bu Icoh mengisahkan, dahulu ketika pertama
masuk sebagai karyawan masih berjumlah sekitar 450 orang,
kemudian berkembang menjadi sekitar 1.300 orang ketika
menjelang pensiun tahun 2012. Bu Icoh seharusnya pensiun
pada tahun 2011 tetapi diperpanjang 1 tahun. Dahulu
karyawan terdiri dari lulusan SD, SMP, dan SMA saja, tetapi
sekarang minimum S1, bahkan S2. Dalam hal organisasi,
dahulu RS Santo Borromeus dan RS Santo Yusup serta RS
Sekar Kamulyan menginduk dalam satu organisasi.
Salah satu peristiwa yang berkesan bagi Bu Icoh adalah ketika
akan dilakukan akreditasi RS Santo Borromeus:
“Kami bekerja siang-malam untuk mempersiapkannya
dengan kerja keras dan rasa tanggung jawab. Kami
lakukan demi kemajuan Borromeus. Kami merasakan ada
rasa kebersamaan dengan teman-teman. Jadi, kami
bekerja merasa enjoy saja karena solidnya teman-teman
cukup kuat, bahkan sampai ada yang menginap di Wisma,
dan bahkan di depan kantor perawatan mereka menginap
di situ.”
Peristiwa lain yang berkesan bagi Bu Icoh adalah ketika
bekerja di K3RS bersama Dokter The. Saat ada audit dari
Dinas Kesehatan tentang K3RS, Bu Icoh sebagai Sekretaris
K3RS menyiapkan materi-materi dan segala dokumen-
dokumennya, mengerjakannya siang-malam. Dari konsep
482 The Eternal Light
sampai pengetikan dan membuat bahan sosialisasi, itu semua
dikerjakan Bu Icoh.
“Puji Tuhan, kerja keras saya menghasilkan buah yang
sangat baik. Ternyata di antara rumah sakit swasta se-
Jawa Barat, kita mendapatkan penghargaan dalam bidang
K3RS yang paling baik.”
Bu Icoh berpesan agar RS Santo Borromeus jangan terlena
dan puas dengan keadaan sekarang, melainkan harus terus
berkembang dan mengikuti zaman, serta harus lebih unggul
dan melebihi standar-standar agar bisa tetap eksis dan jaya
selalu.
“Jadi, yang harus dipertahankan terutama dari sisi
pelayanan kepada pasien, dan SDM yang betul-betul
berkualitas, profesional. Kesejahteraan karyawan perlu
ditingkatkan untuk mendukung SDM yang berkualitas.”
Bagi Bu Icoh, Koperasi Kopdit Borromeus sangat membantu
perekonomian keluarga karyawan.
“Berkat koperasi, kedua anak saya bisa menyelesaikan
sekolahnya dengan baik dan lancar. Koperasi Borromeus
harus tetap dipertahankan yang sudah baik, dan tetap
dikontrol dan dipantau agar prestasinya semakin tetap
diakui di mata masyarakat secara umum.”
***
Merefleksikan Peziarahan, Mengunjukkan Harapan 483
Nasihin
Hidup-Mati Saya di Borromeus
P ak Nasihin berkarya di RS Santo Borromeus sejak tahun
1977, sudah pensiun, tetapi saat ini masih diminta
bekerja lagi di sekitar Biara Suster CB dan Kapel Hati Kudus
Yesus. Ketika pertama kali bergabung sebagai karyawan,
pada mulanya Pak Nasihin ditempatkan di bagian Rumah
Tangga (RT). Waktu itu bagian SDM-nya [waktu itu
dinamakan Biro Personalia] adalah Ibu Ratna dan Ibu Rini.
Direkturnya saat itu Bapak Jos Pattiwael.
Suatu saat Pak Nasihin dipanggil oleh Biro Personalia. Pak
Nasihin berpikir, “Saya punya dosa apa, ya, kok sampai
dipanggil oleh Personalia?” Ternyata diminta untuk
menandatagani dokumen pengangkatan sebagai karyawan
tetap.
Dokter yang dikenal Pak Nasihin antara lain Dokter
Moelyono. Pak Nasihin pernah membantu membereskan
rumah beliau dahulu. Beliau cukup dekat dengan karyawan
dan ramah, selalu tersenyum dan menyapa. Pak Nasihin juga
mengenal Dokter Efram, pernah mengurus rumah beliau. Pak
Nasihin terkesan dengan Dokter Efram karena waktu itu para
karyawan diberi pin logo dengan tulisan “Saya Cinta
Borromeus”. Ini merupakan kenang-kenangan dari beliau.
Waktu itu karyawan yang tidak mengenakan pin itu dilarang
masuk. Itu himbauan Dokter Efram waktu itu.
“Pin ini sampai sekarang saya pakai di topi saya sebagai
kenangan.”
484 The Eternal Light
Gambar. Pak Nasihin.
Pak Nasihin mengenang, pada masa Dokter Albert sebagai
Direktur Utama, muncul pin dengan gambar Smile dan
keterangan 3S (Senyum, Sapa, Salam) yang dahulu sempat
digalakkan kepada semua dokter, perawat, dan karyawan.
Inilah kenang-kenangan dari beliau.
Pak Nasihin lebih banyak bekerja di area Biara Suster CB,
hingga menjelang pensiun. Lalu, lima tahun sebelum pensiun,
mohon izin bekerja di area rumah sakit pada waktu Dokter
Suriyanto sebagai Direktur Utama. Beliau yang memberikan
piagam penghargaan dan kesetiaaan kerja selama 35 tahun
Merefleksikan Peziarahan, Mengunjukkan Harapan 485
kepada Pak Nasihin di panggung saat tiba waktu pensiun.
Setelah pensiun, Pak Nasihin dipanggil oleh Suster Valen,
ditawari bekerja lagi di Biara dan Kapel sampai sekarang.
Pak Nasihin mengenal beberapa suster, antara lain Suster
Helini. Saat perpisahan hendak kembali ke Negeri Belanda,
Pak Nasihin sekeluarga diajak ke Jakarta, mengantarkan
Suster Helini di bandara. Beliau sangat baik dan perhatian
kepada Pak Nasihin sekeluarga. Selain baik, juga tegas dan
disiplin. Beliau terkenal dengan kedisiplinan dan ketegasan
beliau tetapi ramah kepada setiap karyawan yang ditemui.
Pak Nasihin menceritakan bahwa saat bekerja di rumah sakit,
yang mengesankan antara lain program akuarium, baik yang
kecil dan yang besar, dengan ikan arwana, ikan oscar, dan
jenis ikan lain yang cukup tinggi harganya saat itu. Akuarium
ditempatkan di setiap ruang tunggu. Aneka ikan hias dan
lukisan di setiap dinding membuat suasana lebih indah dan
menyenangkan.
Mengenai Koperasi Kredit Borromeus, Pak Nasihin melihat
perkembangannya sangat bagus. Kehadiran Koperasi sangat
membantu perekonomian keluarga. Terutama, Koperasi
memberikan pinjaman perumahan.
“Pinjaman untuk pendidikan sekolah sangat membantu. ….
Khususnya, pendidikan sekolah anak-anak saya terbantu
sampai selesai studinya (pendidikan tinggi) dan sudah
bekerja semuanya sekarang.”
Apa yang diharapkan Pak Nasihin pada usia 100 tahun RS
Santo Borromeus?
486 The Eternal Light
“Menurut saya, jangan dihilangkan kenang-kenangan RS
Santo Borromeus. Tetap pertahankan persaudaraan yang
erat, serta tingkatkan pelayanannya dengan baik.
Melayanilah dengan hati. Semoga lancar kemajuan
Borromeus. Hidup-matinya saya ada di Borromues, dari
bujangan sampai berkeluarga dan anak-anak sukses. Jasa
Borromeus sangat berarti bagi hidup saya.”
***
Dokter G.F. Mukta Prawata, Sp.PD
Sukacita Bertugas di Sekar Kamulyan, Santo Yusup, dan Santo
Borromeus
Dokter G.F. Mukta Prawata, Sp.PD. sudah nyaris empat
dasawarsa berkarya di lingkungan PPSB, yaitu sejak
tahun 1982. Beliau melakukan persiapan (memeroleh
orientasi/ pembekalan) beberapa waktu di RS Santo
Borromeus, untuk bertugas di Pusat Pelayanan Kesehatan
(Puspelkes) Sekar Kamulyan di Cigugur, Kabupaten
Kuningan. Setelah sekitar sembilan tahun di Cigugur, Dokter
Mukta melanjutkan studi di Universitas Santo Thomas,
Filipina. Setelah selesai studi, Dokter Mukta kembali ke RS
Santo Borromeus, dan ditugaskan di RS Santo Yusup selama
sekitar 9 (sembilan) tahun, hingga pertengahan 2006.
Kemudian beliau ditugaskan kembali ke RS Santo Borromeus
sampai sekarang (sudah sekitar 15 tahun).
Di Cigugur Dokter Mukta dipercaya sebagai pemimpin Pusat
Pelayanan Kesehatan (Puspelkes) Sekar Kamulyan, yang
kemudian menjadi RS Sekar Kamulyan. Bagaimana kesan
Merefleksikan Peziarahan, Mengunjukkan Harapan 487
ketika bertugas di sana? “Saya selaku dokter di sana sangat
dekat dengan masyarakat dan setiap berkunjung ke rumah
selalu dijamu seperti raja atau tamu agung.”
Gambar. Dokter G.F. Mukta Prawata, Sp.PD.
Waktu itu di Sekar Kamulyan Cigugur jumlah karyawan
masih relatif sedikit sehingga hubungan antarkaryawan
sangat erat, mudah akrab, dekat sekali. Waktu itu beliau
“bekerja sendiri”. Barulah sekitar dua tahun sebelum beliau
berpindah tugas ke Bandung, ada tambahan dokter spesialis
untuk membantu beliau.
“Karena saya masih muda waktu itu, seneng aja jalan-jalan
ke kampung-kampung mengunjungi masyarakat di sana,
488 The Eternal Light
dapat sambutan yang hangat sekali, dan mereka sangat
senang kedatangan saya, bagaikan raja saja.”
Berbeda halnya ketika bertugas di RS Santo Borromeus, yang
pasien-pasiennya lebih kritis. Dokter Mukta melihat bahwa
beberapa tahun belakangan ini pasien-pasien semakin kritis,
menyampaikan banyak pertanyaan: Kenapa saya memeroleh
tindakan ini, itu? Kenapa diberi obat ini-itu?
“Selama kita bisa memberikan keterangan yang masuk
akal kepada pasien, menurut saya tidak ada masalah,
karena pasien sekarang banyak dibantu dengan berbagai
informasi kesehatan di internet dan medsos yang semakin
marak, bahkan bisa menjadi second opinion. Itulah yang
saya rasakan. Belakangan ini saya merasa tidak ada
masalah, aman-aman saja.”
Disadari bahwa karakter kelompok masyarakat yang dilayani
RS Sekar Kamulyan, RS Santo Yusup, dan RS Santo Borromeus
berbeda.
“Saya merasa betah ditempatkan di rumah sakit mana saja,
baik di Cigugur, RS Santo Yusup, maupun RS Santo
Borromeus. Tentunya dengan karakteristik masing-
masing yang berbeda-beda. Semuanya saya jalankan
dengan sukacita. Memang, paling lama saya berkarya di RS
Santo Borromeus.”
Mengenai RS Santo Borromeus, Dokter Mukta melihat bahwa
hubungan antara pasien dengan dokter tampak lebih akrab,
apa pun latar belakang pasien. Sebagai rumah sakit Katolik,
sikap peduli dan kasih dipancarkan kepada para pasien.
Menurut beliau, suster-suster CB menjadi teladan dalam
Merefleksikan Peziarahan, Mengunjukkan Harapan 489
sikap yang peduli dan baik terhadap pasien. “Dari cahaya
mereka itu yang menjiwai kita semua, itu yang saya lihat,”
kata beliau.
Apa tantangan RS Santo Borromeus? Dokter Mukta
menggarisbawahi bahwa prinsip perawatan yang menjadi ciri
khas RS Santo Borromeus harus tetap dipertahankan dengan
baik meskipun tantangan zaman semakin berkembang.
“Meskipun Borromeus bukan rumah sakit for profit tetapi
harus mau mengikuti kemajuan teknologi agar tidak kalah
bersaing dengan rumah-rumah sakit lain yang modalnya
kuat. Kenyataannya, banyak anggota masyarakat masih
memilih Borromeus sebagai tujuan pengobatan meskipun
ada rumah sakit lain yang mungkin lebih bagus dalam
sarana dan prasarana. Saya rasa kualitas keperawatan
Borromeus harus tetap dipertahankan agar tetap menjadi
ciri khas tersendiri sepanjang masa.”
Dengan seabad usia RS Santo Borromeus, Dokter Mukta
berpesan:
“Pesan saya, Borromeus silakan maju, maju terus, tapi
jangan lupa dengan pasien atau masyarakat yang dilayani.
Umumnya rumah sakit melayani dalam kerangka finansial.
Sementara itu ada juga pasien kurang mampu yang perlu
ditolong. Jadi, masyarakat yang kurang mampu jangan
dilupakan; tetap dilayani dengan baik.”
***
490 The Eternal Light