Sebelumnya, beberapa pribadi duduk sebagai anggota, yaitu:
Ir. Harry Sosrohadisewojo (Ketua); Drs. Ignatius Susilo
(Bendahara); Sr. Catharinia, CB; Ir. Thomas Katili; Drs. Frans
Sadikin; W.J. Winardi, S.H.; dan Ir. A. Kartahardja. Kemudian,
pada tahun 1984 susunan menjadi: Bapak B. Arief Sidharta,
S.H. (Ketua), Sr. Assisia, CB (Sekretaris), Pastor Anton Rutten,
OSC (Bendahara), Prof. Dr. Ir. KPH Albertus Sosrowinarso, Ir.
Thomas Katili, dan Drs. Frans Sadikin.
Gambar. Bapak B. Arief Sidharta, S.H.
(Ketua Perhimpunan Santo Borromeus)
Bangkit Kembali, Turut Menjaga Ibu Pertiwi 291
Gambar. Perayaan Ekaristi memperingati 400 tahun wafat Santo Carolus
Borromeus pada tahun 1984 di Aula RS Santo Borromeus. Tampak dari
kiri kenan: Pastor Leo van Beurden, OSC (pastoral care di RS Santo
Borromeus 1984–1986), Pastor Hein Wenholt, OSC (pastoral care di RS
Santo Borromeus dasawarsa 1950-an hingga 1960-an), Mgr. Alexander
S. Djajasiswaja (Uskup Keuskupan Bandung 1984–2006), Pastor F.X.
Soekarno, OSC (Pastor Kepala Paroki Santo Petrus Katedral), Pastor
Martin Brouwer, OFM (dosen Unpar dan Unpad, serta psikolog di RS
Santo Borromeus), dan Pastor Anton Rutten, OSC (Bendahara
Perhimpunan Santo Borromeus)
292 The Eternal Light
Gambar. Penampilan siswa-siswi SPK Santo Borromeus dalam
peringatan 400 tahun wafat Santo Carolus Borromeus tahun 1984.
Adapun Direksi RS Santo Borromeus dipimpin oleh Dokter
(Marsekal Pertama TNI AU Purn.) Efram Harsana
Hadiwidjana, M.M. sebagai Direktur Utama (1984–1991).
Beliau dibantu oleh dr. Soediono Brotoprawiro (Direktur
Medis), Sr. Agnesine, CB (Direktur Keperawatan), dan Sr.
Agnes Redempta, CB (Direktur Keuangan). Kemudian, Dokter
Widyastuti Amidjojo, Sp.PD dipercaya sebagai Direktur Medis
sejak tahun 1986.
Bangkit Kembali, Turut Menjaga Ibu Pertiwi 293
Pastor Anton Rutten, OSC (2020) menuturkan bahwa
menyelenggarakan sebuah rumah sakit itu rumit. Kebijakan
terhadap suatu hal dilakukan setelah melalui pertimbangan
berbagai aspek. Ketika beliau sebagai Bendahara
Perhimpunan Santo Borromeus sejak tahun 1984, saat itu RS
Santo Borromeus sedang menghadapi keadaan yang sangat
tidak mudah, pelik, memerlukan begitu banyak energi untuk
mengatasinya. Syukurlah bahwa kemudian hal itu dapat
diatasi bersama oleh segenap pemangku kepentingan
sehingga RS Santo Borromeus dapat melanjutkan peziarahan
melintasi zaman.
Pada masa penataan itu, satu di antara yang penting antara
lain adalah perubahan Anggaran Dasar Perhimpunan Santo
Borromeus pada tahun 1985, untuk menyesuaikan dengan
perkembangan keadaan internal maupun eksternal. Pada
tahun 1987 diperjelas pula, melalui ketetapan tertulis,
Susunan Organisasi dan Hubungan Tata Kerja Perhimpunan
Santo Borromeus.
Perubahan penting lain waktu itu adalah penetapan
Peraturan Gaji Karyawan Tahun 1985 (PGB-85), yang
kemudian dilanjutkan dengan Peraturan Gaji Karyawan per 1
Januari 1988 (PGB-88), yang ditetapkan Perhimpunan Santo
Borromeus dalam kepemimpinan Bapak B. Arief Sidharta, S.H.
sebagai Ketua.
Peristiwa yang juga penting adalah bahwa sejak 1 Maret 1987
manajemen RS Santo Yusup dipisahkan dari manajemen RS
Santo Borromeus, dengan tetap dalam naungan Perhimpunan
Santo Borromeus. Hal ini menunjukkan bahwa proses
pembenahan manajemen RS Santo Yusup sejak tahun 1976
294 The Eternal Light
dalam naungan Perhimpunan Santo Borromeus telah
menunjukkan kemajuan signifikan.
Gambar. Dokter (Marsekal Pertama TNI AU Purn.) Efram Harsana
Hadiwidjana, M.M. (Direktur Utama RS Santo Borromeus 1984–1991).
Kemajuan RS Santo Yusup antara lain terlihat dari sejumlah
penghargaan yang sangat membanggakan pada dasawarsa
1990-an sebagai berikut:
• Juara I Lomba Rumah Sakit Swasta Setara Kelas C Tingkat
Jawa Barat Tahun 1992–1995 (berturut-turut);
Bangkit Kembali, Turut Menjaga Ibu Pertiwi 295
• Juara Harapan I Konvensi Gugus Kendali Mutu (GKM)
Kesehatan Jawa Barat Tahun 1995 (GKM Sakuntala dari
Bag. KKIA);
• Juara I Lomba Rumah Sakit Sayang Bayi Swasta Setara
Kelas C Tingkat Jawa Barat Tahun 1995;
• Juara I Lomba Rumah Sakit Swasta Setara Kelas C Tingkat
Jawa Barat Tahun 1996;
• Juara I Lomba Rumah Sakit Swasta Tingkat Nasional
Tahun 1993;
• Juara III Rumah Sakit Swasta Berpenampilan Terbaik
Tingkat Nasional Tahun 1994;
• Juara I Rumah Sakit Swasta Berpenampilan Terbaik Kelas
C Tingkat Nasional Tahun 1995;
• Juara I Konvensi GKM Rumah Sakit Tingkat Nasional
Tahun 1995.
Pelayanan RS Santo Borromeus terus maju berkembang
dengan pembukaan Klinik Penyakit Dalam sejak 11 Maret
1987. Dibuka pula pelayanan ultrasonography (USG). Klinik
khusus untuk karyawan dibuka pada 17 April 1989. Klinik
THT dibuka pada 9 Mei 1989. Bagian Farmasi dan Poliklinik
Umum dipindahkan dari Jalan Ir. H. Juanda ke Jalan
Suryakencana pada 5 Februari 1990 karena di tempat lama
akan dibangun bangunan baru. Gedung baru berlantai empat
mulai dibangun pada 18 Juni 1990 yang direncanakan untuk
bagian keperawatan Maria, bagian Farmasi, pelayanan Gawat
Darurat, Poliklinik Umum, Poliklinik Spesialis, Ruang
Rehidrasi, dan Medical Check Up, yang diresmikan pada 20
Juni 1992. Untuk memperkuat manajemen, dibentuk Seksi
Hubungan Masyarakat (Humas) dan Biro Monitoring,
Evaluasi, dan Perencanaan Organisasi (MEPO).
296 The Eternal Light
Gambar. RS Santo Yusup di Cicadas sekitar tahun 1990. Waktu itu
bangunannya masih belum banyak berubah sejak zaman baheula.
Namun, di kemudian waktu rumah sakit ini mengalami perubahan pesat
dan berprestasi di tingkat nasional.
Seiring dengan perkembangan pelayanan kesehatan di
seluruh Indonesia, diterbitkanlah Undang-Undang Nomor 23
Tahun 1992 tentang Kesehatan. Undang-Undang ini
mencabut sembilan undang-undang yang diterbitkan pada
masa Presiden Soekarno.
Bangkit Kembali, Turut Menjaga Ibu Pertiwi 297
Sekolah Pengatur Rawat menjadi Sekolah Perawat
Kesehatan, kemudian menjadi Akademi Keperawatan
Sekolah Pengatur Rawat A (SPR A) Santo Borromeus sejak
tahun 1968 menerima lulusan SLTA, dengan durasi
pendidikan tiga tahun. Nama “SPR A Santo Borromeus”
berlangsung hingga tahun 1978. Sesudah itu namanya diubah
menjadi “Sekolah Perawat Kesehatan (SPK) Santo
Borromeus”. Hal ini merupakan kehendak Pemerintah waktu
itu, yang semula bersifat himbauan, dan kemudian
dinyatakan secara tegas melalui Surat Keputusan Menteri
Kesehatan yang mengamanatkan bahwa seluruh SPR di
Indonesia diubah menjadi SPK.
SPK Santo Borromeus menerima siswa lulusan SMP, dengan
usia maksimum 20 tahun (artinya lulusan SLTA pun dapat
mendaftar).
Pada tahun 1978 itu pula Sekolah Bidan Santo Borromeus,
yang sudah dimulai sejak tahun 1969 (lulusan SPR A
ditambah dengan satu tahun), terhenti selama empat tahun
karena kebijakan Pemerintah yang menghentikan pendidikan
bidan di seluruh Indonesia. Setelah penghentian itu, Ikatan
Bidan Indonesia (IBI) mendesak agar Pemerintah membuka
kembali pendidikan bidan. Akhirnya, Pemerintah
mengizinkan kembali pendidikan bidan. Sekolah Bidan Santo
Borromeus dilanjutkan kembali sejak tahun 1982, yang
berlangsung hingga tahun 1999, dengan ijazah D1 Kebidanan.
Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kesehatan Republik
Indonesia pada tahun 1992, SPK Santo Borromeus mengalami
konversi menjadi Akademi Keperawatan (Akper) Santo
Borromeus, yang ditindaklanjuti dengan Surat Keputusan
298 The Eternal Light
Perhimpunan Santo Borromeus pada tahun 1993 tentang
Pendirian Akademi Keperawatan Santo Borromeus Program
Diploma III Keperawatan.
Gambar. Gedung yang dahulu digunakan sebagai Asrama Putri di Jalan
Suryakencana selama lebih dari setengah abad sejak pertengahan
dasawarsa 1950-an. Kemudian bangunan ini digunakan untuk
kebutuhan lain. Foto tahun 2021
Bangkit Kembali, Turut Menjaga Ibu Pertiwi 299
Gambar. Bangunan di Jalan Juanda Nomor 101, dahulu pernah
digunakan untuk SPK Santo Borromeus, yang kemudian diubah menjadi
Akper Santo Borromeus, dan kemudian STIKes Santo Borromeus
sebelum dibangun Kampus STIKes Santo Borromeus di Kota Baru
Parahyangan, Padalarang.
300 The Eternal Light
Dari Puspelkes Menjadi Rumah Sakit Sekar Kamulyan
Cigugur
Sekitar tahun 1975 pelayanan yang diberikan Pusat
Pelayanan Kesehatan (Puspelkes) Sekar Kamulyan Cigugur
sudah cukup lengkap, yaitu dengan tersedianya pelayanan
medik (dokter umum satu orang), pelayanan laboratorium
(tenaga analis satu orang), pelayanan farmasi (tenaga asisten
apoteker satu orang), pelayanan gizi (tenaga pelayanan gizi
satu orang), pelayanan kebidanan (tenaga bidan tiga orang),
pelayanan keperawatan (tenaga perawat sepuluh orang),
Pelayanan Kesehatan Masyarakat (PKM, tenaga PKM satu
orang), tenaga administrasi (tiga orang), dan pembantu
rumah tangga (20 orang).
Tahun 1976 mulai dilaksanakan kegiatan Usaha Kesehatan
Sekolah (UKS). Selanjutnya, sejumlah kegiatan mulai
dilaksanakan, misalnya penimbangan bayi yang dilaksanakan
di tiga RT, dan bekerja sama dengan Dinas Kesehatan
mengadakan kegiatan penanggulangan penyakit TBC pada
tahun 1977. Tahun 1982 Sekar Kamulyan mengadakan
kursus kader kesehatan untuk 40 orang. Pada tahun yang
sama diadakan penataran dokter kecil di SD Yos Sudarso
sebanyak 40 anak dari kelas 4 sampai dengan kelas 6.
Sejak tahun 1983 mulai terdapat dokter tetap yang berkarya,
dimulai oleh dr. G.F Mukta Prawata. Tahun 1984 mulai
dirintis usaha oleh Sr. Richardia, CB dan dr. G.F Mukta
Prawata untuk meningkatkan Puspelkes Sekar Kamulyan
menjadi rumah sakit. Dengan perjuangan yang tiada henti,
akhirnya berhasil diperoleh izin prinsip rumah sakit pada 2
Februari 1987. Selanjutnya, pada 26 November 1987
diperoleh izin operasional rumah sakit, yang berlaku selama
Bangkit Kembali, Turut Menjaga Ibu Pertiwi 301
satu tahun dan masih bersifat sementara, sebagai rumah sakit
pratama dengan kapasitas 50 tempat tidur, dengan nama
Rumah Sakit Sekar Kamulyan.
Gambar. RS Sekar Kamulyan pada masa awal menjadi rumah sakit
setelah ditingkatkan dari Pusat Pelayanan Kesehatan Masyarakat
Tahun 1988 dimulailah pelayanan Röntgen, lalu pada tahun
1992 diperoleh izin penyelenggaraan rumah sakit untuk
jangka waktu 5 tahun. Pada tahun 1993 dimulailah pelayanan
operasi.
Mulai tahun 1994 dilakukan pembangunan sejumlah
prasarana. Tahun 1994 sampai dengan 1997 dilakukan
pembangunan gedung dua lantai dan renovasi ruang
302 The Eternal Light
perawatan dewasa (R. Elisa). Tahun 1998 dilakukan
pembangunan dan renovasi rumah dinas. Tahun 2000
direalisasikan pembuatan Ruang Incinerator.
Sejak pertengahan dasawarsa 1970-an hingga tahun 2000
pemimpin Puspelkes yang kemudian menjadi Rumah Sakit
Sekar Kamulyan adalah sebagai berikut: Sr. dr. Lousiana, CB
(1976–1983), dr. G.F Mukta Prawata (1983–1990), dr.
Haryanto C. (1990–1997), dan dr. A Sigit Ladrang (1997–
2000).
Gambar. Upacara bendera pada tahun 1990 di RS Santo Borromeus.
Bangkit Kembali, Turut Menjaga Ibu Pertiwi 303
Gambar. Upacara bendera pada tahun 1990. Pada foto bawah tampak
karyawan bagian administrasi (seragam putih hitam), karyawan bagian
dapur (seragam abu-abu), dan bibi-bibi (berkebaya, yang membantu
urusan rumah tangga).
304 The Eternal Light
Gedung Maria dan Gedung Yosef
Setelah persoalan manajemen (terutama personalia dan
keuangan) dapat diatasi dengan relatif baik pada dasawarsa
1980-an, pembaruan berlanjut pada prasarana. Gedung-
gedung bertingkat RS Santo Borromeus mulai muncul sejak
dasawarsa 1990-an, pada masa Dokter Efram Harsana
Hadiwidjana, M.M. sebagai Direktur Utama, dengan Dokter
Widyastuti Amidjojo, Sp.PD sebagai Direktur Medis.
Pembangunan Gedung Maria dimulai dengan pembongkaran
Afdeling Maria Pav yang letaknya sama dengan Gedung Maria
saat ini pada tahun 1987. Pembangunan Gedung Maria
barulah dapat dimulai pada tahun 1988, dengan sistem
swakelola, dan selesai pada tahun 1992.
Sementara itu, pada tahun 1992 bagian Irene pindah ke
Lantai 2. Pelayanan opname dibuka selama 24 jam mulai 1
Oktober 1992, berlokasi di depan Unit Gawat Darurat (UGD).
Tanggal tahun 1992 itu pula dilakukan renovasi bangunan
bekas Irene dan relokasi bagian Carolus. Bagian BKIA selesai
direnovasi dan diresmikan pada tahun 1993 menjadi Klinik
Kesejahteraan Keluarga. Pemasangan USG Colour Doppler
dilakukan pada tahun yang sama, dan peresmian Unit
Pelayanan Hemodialisis dilakukan pada tahun 1993 itu pula.
Pembangunan Gedung Yosef berlangsung mulai tahun 1994.
Pembangunan didahului dengan pembongkaran Paviliun
Yosef (lama) pada tahun 1992. Bangunan yang dibongkar
adalah Afdeling (Paviliun) Yosef 1, Yosef 2, Yosef 3, dan
Paviliun Theresia.
Bangkit Kembali, Turut Menjaga Ibu Pertiwi 305
Gambar. Gedung Maria, diresmikan pada tahun 1992
Setelah pembongkaran gedung lama Yosef selesai,
dilanjutkan dengan pembangunan Gedung Yosef bertingkat
empat ditambah satu ruang attic (Yosef 5) dan sub-basement.
Gedung Yosef digagas pada masa kepemimpinan Direktur
Utama Dokter Efram Harsana Hadiwidjaja, M.M., dengan
Dokter Widyastuti Amidjojo, Sp.PD sebagai Direktur Medis,
kemudian mulai dilaksanakan pada masa Dokter Albert I.
Hendarta, M.P.H. yang dilanjutkan oleh Dokter A.
Kuswardono. Peletakan batu pertama pembangunan dihadiri
oleh Wali Kota Bandung (Bapak Wahyu Hamidjaja) dan
Uskup Keuskupan Bandung (Mgr. Alexander S. Djajasiswaja)
306 The Eternal Light
pada 28 Maret 1994. Peresmian dilaksanakan pada masa
kepemimpinan kembali Dokter Albert I. Hendarta, M.P.H.,
bersamaan dengan Hari Ulang Tahun (HUT) RS Santo
Borromeus ke-75 tanggal 18 September1996 oleh Menteri
Kesehatan RI, Prof. Dr. Sujudi.
Gambar. Mgr. Alexander S. Djajasiswaja
(Uskup Keuskupan Bandung 1984–2006)
Bangkit Kembali, Turut Menjaga Ibu Pertiwi 307
Gambar. Dokter Alber I. Hendarta, M.P.H.
(Direktur Utama RS Santo Borromeus 1992–1994, 1996–2000).
Gambar. Dokter A. Kuswardono
(Direktur Utama RS Santo Borromeus 1994–1996)
308 The Eternal Light
Gambar. Paviliun Yosef III (lama) dipandang dari Jalan Suryakencana, di
sudut Jalan Hasanudin. Foto tahun 1988
Bangkit Kembali, Turut Menjaga Ibu Pertiwi 309
Gambar. Maket Gedung Yosef. Gedung Yosef menggantikan Paviliun
Yosef (lama).
Program Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Santo
Borromeus
Disadari bahwa pemeliharaan dan perawatan kesehatan
memerlukan biaya yang tidak kecil. Penyediaan biaya ini
tidak selalu mudah. Perhimpunan Santo Borromeus telah
dengan saksama mencermati hal tersebut dan berupaya
untuk mengantisipasinya dengan mengembangkan gerakan
Dana Sehat di RS Santo Yusup pada dasawarsa 1970-an.
310 The Eternal Light
Pada tahun 1990, dengan dukungan Perhimpunan Santo
Borromeus, RS Santo Yusup bekerja sama dengan Kanwil
Departemen Kesehatan Propinsi Jawa Barat dan Persatuan
Rumah Sakit Indonesia (Persi) Jawa Barat menyelenggarakan
seminar sehari tentang Jaminan Pemeliharaan Kesehatan
Masyarakat (JPKM).
Tidak lama kemudian, berdasarkan hasil Rapat Paripurna
Anggota Persatuan Karya Dharma Kesehatan (Perdhaki) se-
Indonesia pada tahun 1990 di Batu-Malang, antara lain
diputuskan bahwa Perdhaki akan mengembangkan lebih
lanjut Program JPKM. Selanjutnya, dalam Rapat Anggota
Tahunan (RAT) Perdhaki Wilayah Jawa Barat tahun 1991 di
Sukabumi, dilakukan pengesahan Program JPKM yang
dihadiri oleh Pejabat Kanwil Dep. Kes. Prop. Jawa Barat. Pada
tahun 1992 Perdhaki Wilayah Jawa Barat menunjuk RS Santo
Borromeus untuk melaksanakan pilot project Program
Jaminan Pemeliharaan Kesehatan (PJPK) Santo Borromeus–
Perdhaki.
Program PJPK Santo Borromeus dibentuk pada 1 Agustus
1992. Status pilot project diperoleh secara resmi pada tahun
1993 sesuai surat Kepala Direktorat Bina Peran Serta
Masyarakat, dan sejak itu PJPK Santo Borromeus berada
dalam pembinaan Kantor Wilayah Departemen Kesehatan RI
Provinsi Jawa Barat.
Bangkit Kembali, Turut Menjaga Ibu Pertiwi 311
Gambar. Poliklinik Karyawan sebelum menjadi PJPK Santo
Borromeus
312 The Eternal Light
Status Bapel beroperasi sejak tanggal 1 Juli 1993 yang
dipimpin oleh Direktur dr. Miriam Renee Maengkom. Pada
saat itu sudah melayani 3.100 peserta, antara lain kelompok
karyawan Perhimpunan Santo Borromeus dengan
keluarganya, warga yang kurang mampu, serta kelompok
masyarakat tertentu yang berada sekitar RS Santo
Borromeus, RS Santo Yusup, serta unit-unit balai pengobatan
di wilayah Kotamadya Bandung dan Kabupaten Bandung.
Gambar. Dokter Miriam Renee Maengkom
Bangkit Kembali, Turut Menjaga Ibu Pertiwi 313
Awal Mula Rumah Duka
Pada dasawarsa 1980-an di Jalan Suryakencana No. 4,
hadirlah apa yang kemudian dikenal sebagai Rumah Duka
Santo Borromeus, sebagai outlet pelayanan Amal Penguburan
Katolik (APK) Santo Yusuf, sebuah perkumpulan yang
direstui secara resmi oleh Keuskupan Bandung. Karena
sering terdapat permintaan dari RS Santo Borromeus maka
pada dasawarsa 1980-an dilakukan pembicaraan dengan
Direksi RS Santo Borromeus, yang waktu itu dipimpin oleh
Dokter Efram Harsana Hadiwidjana. APK Santo Yusuf
diizinkan membuka pelayanan di Jalan Suryakencana No. 4.
Pengurus Harian APK Santo Yusuf, Bapak Heribertus
Irdiyanto Hadikusomo, mengisahkan bahwa dahulu tempat
pelayanan di Jalan Suryakencana No. 4 hanyalah sebuah
petak kecil, terbuat dari gedhèg (dinding dari anyaman
bambu) dan fungsinya hanya sebagai kamar jenazah saja,
bukan sebagai rumah duka. Ketika ada pasien yang meninggal
dunia di rumah sakit, lalu jenazahnya dibawa ke tempat
pelayanan APK Santo Yusuf untuk dimandikan, kemudian
setelah selesai dapat diambil oleh keluarganya.
Seiring dengan waktu, pelayanan APK Santo Yusuf
ditingkatkan pengelolaannya, berdasarkan kesepakatan
dengan RS Santo Borromeus, dengan melayani 24 jam sehari
dalam 3 shift. Setiap saat jika RS Santo Borromeus
membutuhkan, APK Santo Yusuf harus siap melayani dan
tidak boleh ditunda. Bapak Irdiyanto mengisahkan:
“Saya pindah ke sini masih belum punya kantor. Dengan
berjalannya waktu, kemudian direnovasi menjadi
bangunan tembok; dibuat dua ruang jenazah; dan
314 The Eternal Light
fungsinya menjadi rumah duka. Lama-kelamaan, karena
animo keluarga pasien yang meninggal cukup banyak, lalu
ruangan diperluas lagi. Barulah ada kantor untuk kami.
Ditambah satu ruang jenazah sehingga terdapat 3 ruang
jenazah. Dibuat pula ruang untuk memandikan jenazah,
yang terpisah.”
Gambar. Bapak H. Irdiyanto Hadikusumo
Karena animo masyarakat, khususnya keluarga pasien yang
meninggal di RS Santo Borromeus, cukup besar maka mereka
meminta APK Santo Yusup untuk mengurus jenazah sampai
ke luar kota, bahkan ke luar negeri. Ada juga keluarga pasien
yang meninggal di luar RS Santo Borromeus sangat
menginginkan agar jenazah disemayamkan di Rumah Duka
Santo Borromeus atau dilayani sesuai kebutuhan mereka.
Bangkit Kembali, Turut Menjaga Ibu Pertiwi 315
Alasan mereka adalah karena lokasinya sangat strategis,
gampang diakses, jika ke luar kota relatif dekat dengan pintu
tol (sejak 2005), dan bahkan ke bandara relatif cepat.
Komputerisasi Pengelolaan Rumah Sakit
Komputer personal mulai populer di Indonesia pada awal
dasawarsa 1980-an. RS Santo Borromeus pun mulai
mengenal dan menggunakannya sejak dasawarsa 1980-an.
Waktu itu komputer mulai digunakan secara individual
(berdiri sendiri, stand alone), mula-mula untuk mengolah
teks (word processor), kemudian untuk mengolah data
(spread sheet). Berangsur-angsur komputer mulai digunakan
secara luas di berbagai bagian, yang mana paling intensif
dimanfaatkan untuk kebutuhan administrasi keuangan.
Komputerisasi dimulai sekitar tahun 1990. Bapak Sabdo
Wibowo (Pak Bowo) mengisahkan pemanfaatan teknologi
informasi diawali dari Bagian Rekening Pusat. Saat itu belum
terbentuk bagian yang khusus mengurusi komputer. Fokus
pemanfaatan komputer waktu itu untuk urusan sistem
keuangan. Suster Johannie CB sebagai Kepala Biro Keuangan
menggagas untuk memulai komputerisasi sistem keuangan.
Yang dibutuhkan adalah membangun billing system yang
dapat diautomatisasi, terutama di Bagian Rekening Pusat.
Bagian rekening belum terdistribusi ke bagian-bagian (belum
ada di setiap bagian perawatan) serta karena dokumen
transaksinya masih manual. Dokumen yang ada di bagian
perawatan dikirim ke ruang Rekening Pusat, kemudian
dibuatkan transaksi yang dihitung secara manual. Proses
itulah yang ingin dikomputerisasi.
316 The Eternal Light
Setelah billing system, selanjutnya adalah sistem transaksi di
Farmasi. Yang ingin dikomputerisasi adalah sistem stok
pengadaan dan transaksi resep, yang disambungkan dengan
rawat inap. Kenapa transaksi resep? Karena transaksi resep
tidak memungkinkan obat-obat diinput oleh bagian rekening.
Tidak mungkin staf di bagian rekening menginput obat-
obatan, dosis, apalagi apabila ada racikan. Oleh karena itu
transaksi di Farmasi perlu dikomputerisasi.
Komputerisasi di Rekening Pusat dan Farmasi dilakukan
dalam kerja sama dengan sebuah vendor. Pada awal tahun
1992 komputerisasi merambah urusan rawat jalan.
Dibangunlah sistem rawat jalan, mulai dari registrasi hingga
billing. Hal itu dilakukan dalam kerja sama dengan vendor
lain. Kemudian, sistem rawat jalan dihubungkan dengan
sistem rawat inap.
Selanjutnya, dibentuklah Biro Monitoring, Evaluasi, dan
Perencanaan Operasional (MEPO), dengan dr. Bernadette
Yvone Sutandi, M.M. sebagai Kepala. Biro MEPO terdiri dari
bagian perencanaan dan bagian teknologi informasi.
Personal computer (PC) yang digunakan untuk komputerisasi
pertama kali adalah PC AT 286. Waktu itu sistem sudah bisa
berjalan. Jika pasien rawat inap hendak pulang maka dalam
waktu 1 jam rekening billing pasien barulah dapat
diselesaikan. Waktu itu durasi 1 jam sudah dianggap sangat
bagus dalam sistem pelayanan. Sebelum komputerisasi,
billing untuk pasien rawat inap yang pulang biasanya
dikerjakan dalam waktu 2 hingga 3 hari. Sebelum
komputerisasi, pasien menitipkan uang, dan kemudian akan
dipanggil lagi untuk konfirmasi billing. Dengan
Bangkit Kembali, Turut Menjaga Ibu Pertiwi 317
komputerisasi, proses billing jauh dipersingkat, dari semula
2–3 hari menjadi hanya sekitar 1 jam saja.
Gambar. Komputer IBM PC/AT 286
Biro MEPO dibantu oleh Pak Dadang (seorang konsultan,
praktisi komputer yang juga dosen Universitas Katolik
Parahyangan (Unpar). Pak Bowo dan Pak Dadang
membangun sistem informasi RS Santo Borromeus, membuat
program-program yang dibutuhkan hingga menjadi sebuah
sistem yang dibangun dengan aplikasi Clipper, dalam
teknologi Disk Operating System (DOS). Waktu itu masih
menggunakan disket sebagai penyimpan data maupun
pengolah data, dan hard disk-nya hanya di server saja. PC
waktu itu belum memiliki hard disk. Penyimpanan data
dengan disket sangat riskan, bahkan datanya dapat hilang.
Lalu muncul teknologi Local Area Network (LAN). Satu
318 The Eternal Light
komputer dengan komputer yang lain dapat dihubungkan
dengan jaringan tersebut. Data disimpan di server, tidak
menggunakan disket lagi.
Pada tahun 1994 sistem yang telah dibangun oleh sejumlah
vendor sebelumnya, dapat diganti dengan satu sistem
independen (tidak bergantung pada vendor) yang dapat
dikembangkan dan dipelihara oleh MEPO.
Pada tahun 1995 Pak Nico Santono bergabung dengan MEPO,
membantu pengembangan sistem. Waktu itu terdapat dua
bahasa pemrograman yang digunakan, yaitu Clipper dan
Foxpro. Pak Bowo mengembangkan dengan Clipper untuk
urusan rawat jalan dan rekening, sedangkan Pak Nico
mengembangkan dengan Foxpro untuk bagian Farmasi.
Tahun 1996 Pak Yaten Purwono, bergabung dengan MEPO,
dan ditugaskan membangun sistem pengadaan dan gudang.
Selanjutnya, ketiga sistem tersebut (rekening dan rawat jalan,
Farmasi, serta pengadaan dan gudang) dikembangkan dan
diintegrasikan tidak melalui software, melainkan melalui
database. Database-nya digabungkan sehingga dapat saling
berkomunikasi dan menyimpan data di tempat yang sama,
lalu dapat diolah menjadi laporan-laporan yang dibutuhkan.
Jadi, transaksi di Farmasi bisa dihubungkan dengan billing
pasien. Sistem pergudangan di bagian persediaan, dari
Gudang Farmasi, Gudang Medis, Gudang Umum, Gudang
Teknik serta Gudang Makanan. Khusus Gudang Farmasi,
Gudang Medis dapat diintegrasikan dengan Farmasi dan
billing pasien, dan akhirnya dapat muncul di Bagian Rekening
secara lengkap. Muncul tarif dokter, data obat-obatan,
peralatan medis, laboratorium, persediaan makanan, dan
harga-harga dari pengadaan dapat langsung ter-update saat
Bangkit Kembali, Turut Menjaga Ibu Pertiwi 319
itu, sehingga terintegrasi semuanya, dan harga total dapat
muncul secara final dan menyeluruh.
Gambar. Gudang Farmasi sekitar tahun 1990; satu di antara bagian-
bagian yang pertama kali dikomputerisasi.
Tahun 1998 Pak Antonius Hanggara bergabung dengan
MEPO, membantu Pak Bowo di ranah Clipper untuk
memperkuat tim. Semua saling bekerja sama, dan sistem
tidak tergantung pada satu orang. Lalu muncullah teknologi
Sistem Operasi baru Windows 98. Sistem dikembangkan lebih
lanjut, beralih dari teknologi DOS ke teknologi Windows.
320 The Eternal Light
Selanjutnya, RS Santo Borromeus membeli software developer
baru, yang bernama Gupta.
Sekitar 75 Tahun RS Santo Borromeus
Perkembangan keadaan Perhimpunan Santo Borromeus
hingga pertengahan dasawarsa 1990-an mendorong
dilakukannya perubahan Anggaran Dasar Perkumpulan
Perhimpunan Santo Borromeus (PPSB) yang disahkan oleh
Pemerintah pada tahun 1996, tahun ketika PPSB dan RS
Santo Borromeus berusia 75 tahun. Ditegaskan kesadaran
misioner PPSB dalam Mukadimah Anggaran Dasar:
“Untuk mewujudkan Cintakasih Kristus ke dalam tindakan
nyata melalui pelayanan kesehatan masyarakat sebagai
ungkapan kepedulian pada kesehatan serta keprihatinan
terhadap penderitaan sesama karena gangguan kesehatan
di wilayah Parahyangan, Jawa Barat, maka pada tahun
seribu sembilan ratus dua puluh satu (1921) tergeraklah
hati Vicaris Apostolic Batavia yang pada waktu itu wilayah
karya cintakasihnya meliputi Bandung, dan sekitarnya,
beberapa orang Biarawati Tarekat Suster-Suster Carolus
Borromeus dan beberapa orang awam Katolik, untuk
menyelenggarakan pelayanan kesehatan yang dijiwai oleh
semangat kasih sayang terhadap sesama manusia dalam
keutuhannya tanpa membedakan suku, bangsa, golongan,
lapisan masyarakat, agaman dan kepercayaan.
Bangkit Kembali, Turut Menjaga Ibu Pertiwi 321
Gambar. RS Santo Borromeus pada sekitar usia ke-75 tahun, 1996
Bahwasanya untuk melembagakan tekad yang suci dan
luhur tersebut di atas, dengan memberi perhatian khusus
kepada masyarakat yang tidak mampu, maka pada tahun
seribu sembilan ratus dua puluh satu (1921) didirikanlah
322 The Eternal Light
suatu Perkumpulan dengan memilih Santo Carolus
Borromeus sebagai pelindungnya.
Bahwasanya, pendirian Perkumpulan tersebut di atas
dimaksudkan untuk, dalam terang dan semangat Iman
Kristiani dengan berpedoman pada kaidah-kaidah serta
petunjuk-petunjuk Gereja Katolik dalam kerangka
perundang-undangan yang berlaku di Republik Indonesia,
menghimpun unsur-unsur medis, paramedis, perawat,
administrasi, pendukung teknis keterampilan lainnya
serta dana yang diikhlaskan masyarakat, dalam
kebersamaan yang utuh, guna menyelenggarakan
pelayanan kesehatan yang mampu menjangkau dan
dijangkau oleh semua lapisan masyarakat sebaik mungkin
dengan memanfaatkan hasil-hasil kemajuan ilmu dan
teknologi kedokteran dan perawatan yang sesuai dengan
taraf perkembangan peradaban dan kebudayaan
masyarakat.
Bahwasanya, agar mampu menyelenggarakan pelayanan
kesehatan bermutu tinggi serta memenuhi tuntutan Etika
Medis dan Etika Keperawatan namun menjangkau dan
terjangkau oleh semua lapisan dan golongan masyarakat,
maka Perkumpulan ini perlu mengembangkan manajemen
perumah-sakitan yang dapat menjalin efisiensi dan
kemanusiaan dalam keutuhannya.
Bahwasanya, untuk mendukung penyelenggaraan
pelayanan kesehatan serta pemeliharaan kesehatan
lingkungan, maka Perkumpulan ini juga perlu
menyelenggarakan pendidikan keperawatan untuk
memenuhi kebutuhan masyarakat pada tenaga perawat
dan paramedis yang bermutu tinggi serta yang dijiwai
Bangkit Kembali, Turut Menjaga Ibu Pertiwi 323
semangat kasih sayang terhadap sesama manusia dalam
keutuhannya.
Bahwasanya, landasan bersama untuk berkarya dan
bekerja sama dalam menyelenggarakan pelayanan
kesehatan dalam lingkungan Perkumpulan tersebut adalah
penghormatan terhadap martabat serta nilai-nilai
manusiawi yang fundamental dan luhur.
Bahwasanya, untuk mewujudkan cita-cita yang mendasari
pendiriannya, maka ditetapkan anggaran dasar
perkumpulan ini ….”
Pada sekitar usia 75 tahun RS Santo Borromeus, ditegaskan
waktu itu bahwa Falsafah RS Santo Borromeus adalah “Dalam
semangat Cintakasih Kristus kami mengabdi.”
Pada waktu itu dirumuskan pula Visi RS Santo Borromeus:
“Dalam semangat iman Kristiani, kami mengabdi seutuhnya
untuk keselamatan jiwa dan raga bagi sesama umat manusia
tanpa membedakan suku, mencerminkan nilai-nilai yang
terkandung di dalamnya, serta senantiasa menjadi budaya
yang mewarnai budaya kerja sehari-hari.”
Visi itu hendak diwujudkan melalui apa yang dinamakan
Panca Pedoman operasional, yaitu:
1) Pasien yang Paling Utama.
2) Pelayanan Holistik.
3) Karyawan Punya Arti.
4) Senantiasa Belajar, Berkembang, dan Berinovasi.
5) Semangat Persaudaraan.
324 The Eternal Light
Gambar. Bapak Fadjar Bastaman
Ketua PPSB waktu itu, Bapak Fadjar Bastaman, antara lain
mengatakan:
“Di lingkungan zaman yang terus berubah ini, kita dituntut
untuk secara terus-menerus meningkatkan kualitas
pelayanan kesehatan kita, sehingga mampu memberikan
kepuasan dan mempertahankan kepercayaan para pasien
yang memercayakan kesembuhan mereka kepada kita.
Bagaimana sikap kita yang berkecimpung dalam
pelayanan kesehatan Katolik menghadapi kondisi
demikian?
Bangkit Kembali, Turut Menjaga Ibu Pertiwi 325
Dengan mengacu pada Visi dan Misi Perkumpulan
Perhimpunan Santo Borromeus, kita harus melakukan
pelayanan kesehatan masyarakat secara berkualitas dan
profesional. Inti dalam Visi dan Misi tersebut adalah
bahwa kita harus tetap mampu memberikan pelayanan
bagi mereka yang kurang mampu dan mengalami
kesesakan hidup. Sejalan dengan itu, kita pun harus
berkembang dan mandiri. Tiga kata kunci yang harus kita
perhatikan adalah nirlaba – berkembang – mandiri.
Manajemen harus mampu menjabarkan ketiga kata kunci
tersebut di atas dan operasionalnya sehingga tujuan yang
paling dalam yang dirintis oleh Tarekat Suster-Suster
Cintakasih St. Carolus Borromeus dapat dicapai.
Untuk mencapainya tidak mudah karena harus didukung
oleh SDM yang memahami dan menghayati Visi dan Misi
Perkumpulan Perhimpunan Santo Borromeus serta
mempunyai sikap dan keterampilan profesional.”
Sementara itu, Direktur Utama RS Santo Borromeus waktu
itu, Dokter Albert I. Hendarta, M.P.H., memandang:
“Dunia perumahsakitan di Indonesia sedang memasuki
zaman baru ditandai dengan pertumbuhan jumlah rumah
sakit baru yang amat pesat termasuk rumah sakit-rumah
sakit penanaman modal asing. Maka gaya pengelolaan
rumah sakit juga disesuaikan dengan perubahan ini.
RS Santo Borromeus yang sudah menginjak usia 75 tahun
pada tahun 1996 yang lalu juga menghadapi tantangan ini,
dan harus menyesuaikan diri dengan perubahan yang
sedang terjadi. Ini berarti harus makin profesional dan
326 The Eternal Light
berkualitas baik dalam manajemennya maupun dalam
pelayanannya yaitu pelayanan teknis medis, teknis
perawatan, dan teknis perhotelan. Karena itu dalam tahun
1996 yang lalu RS St. Borromeus telah menetapkan satu
rencana strategis, meredefinisikan misi dan visinya secara
operasional dan menetapkan sasaran pokok untuk tahun
2000.
Untuk dapat melaksanakan semua ini maka
pengembangan SDM dan kerja sama dengan luar negeri
memegang peran penting. Maka dengan berpedoman pada
misi, visi, dan filosofi operasional yang telah ditetapkan,
seluruh jajaran RS St. Borromeus dipersatukan dalam
persaudaraan untuk mengemban misi tersebut menuju ke
arah visi dan sasaran pokok tahun 2000 dan
mengembangkan budaya organisasi sesuai Panca
Pedoman RS St. Borromeus.”
Pada sekitar usia ke-75 tahun, RS Santo Borromeus
menyediakan fasilitas pelayanan kesehatan antara lain
sebagai berikut:
• Unit Rawat Jalan, terdiri dari Klinik-Klinik: Umum,
Penyakit Dalam, Bedah, Anak, Kebidanan dan Kandungan,
THT, Mata, Saraf, Kulit dan Kelamin, Asma, Kardiologi, Gizi,
Psikiatri, Gigi;
• Pelayanan 24 jam: Unit Gawat Darurat, Opname, Farmasi,
Laboratorium, Radiologi, Ambulance, Bank Darah;
• Medical Check Up untuk mengetahui kondisi kesehatan,
yang waktu itu terdiri dari empat tipe;
• dan lain-lain.
Sejumlah peralatan penunjang diagnostik tersedia, yaitu:
• Alat Radiografi dan Fluoroskopi (R/F).
Bangkit Kembali, Turut Menjaga Ibu Pertiwi 327
• CT Scan Spiral.
• USG Doppler Berwarna.
• EEG (Electro Encefalogram)
• ECG/EKG (Electro Cardiogram)
• EECP (Enhanced External Counter-pulsation)
• Spirometri
• Treadmill Exercise Stress Test
• Endoskopi
Ada pun pelayanan medis yang sedang dikembangkan waktu
itu adalah:
• Bedah Jantung. Operasi jantung terbuka pertama di RS
Santo Borromeus dilaksanakan pada 24 November 1994.
• Bedah Saraf. Operasi bedah saraf yang dilakukan berupa
kasus ringan maupun berat yang ditangani ahli bedah
saraf dan ahli saraf yang berpengalaman.
• Unit Pelayanan Hemodialisis, yaitu tindakan pengobatan
dengan melakukan cuci darah untuk mengeluarkan sisa-
sisa metabolisme dalam tubuh yang tidak dapat
dikeluarkan oleh ginjal karena fungsinya terganggu.
• Neonatal Intensive Care Unit (NICU), yaitu perawatan
khusus bagi bayi yang baru lahir dengan segala
permasalahannya, yang ditangani dokter-dokter spesialis
anak dan perawat yang terlahir dan berpengalaman.
• Home Care, yaitu pelayanan rawat rumah oleh tim yang
berkualitas.
Terdapat sejumlah peralatan canggih yang waktu itu hendak
diadakan yaitu:
• MRI (Magnetic Resonance Imaging), yaitu teknik untuk
memeriksa tubuh manusia secara keseluruhan dengan
memanfaatkan medan magnet dan gelombang radio untuk
menghasilkan gambar potongan.
328 The Eternal Light
• Angiokardiografi, untuk menambah kemampuan
mengamati keadaan jantung dan pembuuh darah.
• Ekokardiografi, yaitu alat untuk membantu menegakkan
diagnosis penyakit jantung dan pembuluh darah.
• Mamografi, yaitu alat untuk mendeteksi tumor payudara
sehingga kanker payudara dapat dideteksi secara dini.
• Radioterapi dan Pengobatan Nuklir, merupakan rencana
masa depan.
Gambar. Neonatal Intensive Care Unit (NICU) RS Santo Borromeus pada
pertengahan dasawarsa 1990-an
Bangkit Kembali, Turut Menjaga Ibu Pertiwi 329
Sementara itu, untuk memberikan pelayanan kesehatan
sesuai dengan keinginan pasien, disediakan kamar perawatan
Suite, Super VIP, VIP, dan Kelas Utama yang dirancang khusus
untuk memberikan rasa aman, tenang, dan nyaman. Tentu
saja, masih terdapat kamar Kelas I, Kelas II, dan Kelas III.
Pelayanan rawat inap khusus untuk anak dirancang sesuai
dengan jiwa anak; terdiri dari Kelas Utama, Kelas I, Kelas II,
dan Kelas III. Pelayanan untuk ibu yang baru melahirkan anak
tersedia perawatan Kelas VIP, Kelas Utama, Kelas I, Kelas II,
dan Kelas III. Terdapat pula Critical Care Unit (CCU) bagi yang
membutuhkan perawatan dan pengawasan ketat.
Pada sekitar usia ke-75 tahun, RS Santo Borromeus didukung
oleh 30 dokter tetap, yang terdiri dari 18 dokter umum, 10
dokter spesialis, dan 2 dokter gigi. Selain itu, terdapat pula 8
dokter part time. Juga didukung oleh banyak dokter mitra,
yang meliputi dokter spesialis anak, dokter spesialis penyakit
dalam, dokter bedah umum, dokter bedah tulang, dokter
bedah saraf, dokter bedah toraks dan vaskuler, dokter bedah
digestif, dokter spesialis bedah anak, dokter bedah ginjal dan
saluran kemih, dokter bedah rahang, dokter bedah plastik,
dokter spesialis kebidanan dan penyakit kandungan, dokter
ahli anestesi, dokter spesialis mata, dokter spesialis THT,
dokter spesialis kulit dan kelamin, dokter spesialis saraf,
dokter patolog, dokter radiolog, dokter ultrasonografi, dokter
ortodontis, dokter gigi, dokter psikiater, dan dokter bedah
tumor.
Pada sekitar usia ke-75 tahun, sejumlah pribadi terlibat
dalam Perkumpulan Perhimpunan Santo Borromeus (PPSB),
yaitu: Drs. F. Fadjar Bastaman (Ketua); Dr. B. Arief Sdiharta,
S.H. (Wakil Ketua); Ir. Thomas Widjanarto (Sekretaris I); Sr.
Lidwina, CB (Sekretaris II), Drs. Hiro Tugiman (Bendahara);
330 The Eternal Light
Juventius Suharto (Sekretaris Eksekutif); Pastor M.
Rooyakkers, OSC; Sr. Venantine, CB; A.C. Suhardi; dan T.
Sunardi.
RS Santo Borromeus dipimpin oleh seorang Direktur, yang
dibantu oleh tiga Wakil Direktur, yaitu Wakil Direktur Medis
(bertanggung jawab atas Pelayanan Medis dan Penunjang
Medis), Wakil Direktur Keperawatan (bertanggung jawab
atas Ward I dan Ward II), serta Wakil Direktur Umum dan
Keuangan (bertanggung jawab atas Rumah Tangga, Keuangan
dan Logistik, serta Personalia). Selain itu terdapat entitas-
entitas yang bertanggung jawab kepada Direktur, yaitu:
Sekretariat, Humas dan Pemasaran, Komite Medis, dan MEPO.
Waktu itu dr. Albert I. Hendarta, M.P.H. (Direktur) dibantu
oleh dr. Widyastuti Amidjojo, Sp.PD (Wakil Direktur Medis),
Sr. Maximine, CB, S.K.M. (Wakil Direktur Keperawatan), serta
Sr. Johanny, CB (Wakil Direktur Umum dan Keuangan).
Beberapa Keberhasilan Medis
Pada dasawarsa 1990-an RS Santo Borromeus meraih
sejumlah keberhasilan dalam bidang medis yang pantas
dicatat:
• Keberhasilan menolong bayi dengan berat badan saat lahir
700 gram (lahir prematur pada Maret 1993).
• Keberhasilan dalam proses persalinan bayi kembar 5
(lima) yang pertama di Indonesia. Hal ini terjadi pada
tahun 1996, oleh tim yang terdiri antara lain dr. Eddy
Haswidi, Sp.OG; dr. Munazar Surya Chandra, Sp.A.; dan dr.
Sanjaya, Sp.A.
• Keberhasilan menolong bayi dengan berat badan saat lahir
1.100 gram pada tahun 1997.
Bangkit Kembali, Turut Menjaga Ibu Pertiwi 331
• Berhasil melakukan operasi jantung secara terbuka sejak
tahun 1994. Aneurysma aorta thoracalis dilakukan pada
tahun 1998.
Mengenai keberhasilan menolong bayi dengan berat badan
saat lahir 700 gram (lahir prematur pada Maret 1993), kelak
pada ulang tahun ke-80 RS Santo Borromeus (2001) ditulis:
“Tanggal 1 Juli 1993 pukul 18.55 lahirlah seorang bayi
sangat mungil dengan barat badan 700 gram. Bayi mungil
ini dilairkan pada usia kandungan 5,5 bulan. Untuk alasan
medis maka bayi mungil tersebut mesti dilahirkan
sebelum waktunya. Tidak banyak harapan diberikan untuk
bayi mungil tersebut. Bahkan segala sesuatu sudah
dipersiapkan untuk keadaan yang paling buruk sekalipun.
Namun Yang Mahabesar mempunyai kehendak yang lain.
Kejapan mata bayi mungil itu adalah suatu pertanda yang
segera menyadarkan bahwa masih ada setetes harapan
pada bayi tersebut. Dalam sekejap mata, tenaga medis dan
paramedis yang hadir pada peristiwa tersebut melakukan
tindakan agar bayi mungil tersebut bertahan hidup.
Sang ibunda berada dalam dua persimpangan yang sangat
sulit. Harapan untuk memiliki anak sulung dari buah
perkawinan harus bertentangan dengan kondisi berat bayi
yang hanya 700 gram, suatu keadaan yang tidak
menguntungkan. Seakan menyadari kerinduan sang
ibunda untuk segera menimang sang bayi, tim medis dan
perawat di bawah pimpinan dr. Sandjaja Soetadji, Sp.A.
memantau perkembangan setiap detik yang berlalu.
Tenaga, waktu, keahlian, perhatian dicurahkan untuk
memberikan hasil yang terbaik bagi perkembangan sang
bayi. Upaya tim medis dan perawat ini membuahkan hasil
332 The Eternal Light
yang sangat menggembirakan. Setelah hampir selama 3
bulan dalam pengawasan ketat tim medis dan perawat,
bayi tersebut dapat kembali ke rumah orang tuanya.
Shauty Rachmawaty Nissa, rangkaian nama yang indah ini
yang diberikan orang tuanya. ‘Seorang pemimpin wanita
yang bersuara merdu’, demikian makna nama tersebut.
Saat ini [2001] bayi mungil telah menjelma menjadi
seorang gadis manis yang periang, lincah, cerewet. Tahun
ini Muti, demikian nama kesayangannya bersekolah di
SDN Banjarsari kelas 2 SD. Sama sekali tidak tampak
perbedaan secara fisik maupun mental dengan teman
sebayanya yang dilahirkan dengan berat badan normal.
Shauty Rachmawaty Nissa adalah salah satu anugerah dan
mujizat Yang Mahabesar serta kerja keras,
profesionalisme, kepedulian tim medis dan para perawat
yang telah bersama-sama menghabiskan waktu tiga bulan
pertama dari perjalanan kehidupan Shauty yang sangat
mendebarkan.”
Beberapa Penghargaan
Beberapa penghargaan yang sangat membanggakan dan turut
mengharumkan nama Provinsi Jawa Barat diperoleh RS Santo
Borromeus pada dasawarsa 1990-an, yaitu:
• 1993: Tampil Kerja Rumah Sakit Tingkat Jawa Barat,
Ranking I.
• 1993: Tampil Kerja Rumah Sakit Tingkat Nasional,
Ranking I.
• 1996–1999: Tampil Kerja Rumah Sakit Tingkat Jawa Barat,
Ranking I.
• 1997: Tampil Kerja Rumah Sakit Tingkat Nasional,
Ranking III.
Bangkit Kembali, Turut Menjaga Ibu Pertiwi 333
• 1999: Tampil Kerja Rumah Sakit Tingkat Nasional,
Ranking II.
Gambar. RS Santo Borromeus memeroleh sejumlah penghargaan di
tingkat provinsi maupun nasional
334 The Eternal Light
Perlu dicatat pula bahwa pada tahun 1993 Paduan Suara RS
Santo Borromeus meraih Juara I Lomba Paduan Suara Rumah
Sakit Swasta se-Indonesia.
Sementara itu, pada tahun 1998 RS Santo Borromeus telah
menjalani Akreditasi Rumah Sakit dalam lima bidang, yaitu:
administrasi dan manajemen, perawatan, pelayanan medis,
unit gawat darurat, dan rekam medis.
Sejumlah keberhasilan dan penghargaan yang sangat
membanggakan itu tentu bukanlah sesuatu yang datang
secara tiba-tiba, melainkan dibangun selama bertahun-tahun
oleh segenap pribadi-pribadi yang telah dan sedang berkarya
di RS Santo Borromeus.
Krisis Bangsa dan JPKM Surya Sumirat
Apa yang dinamakan “Krisis Finansial Asia 1997” terjadi
mulai Juli 1997, yang menyeret sejumlah negeri di Asia,
termasuk Indonesia. Nilai mata uang Rupiah merosot drastis
terhadap US Dollar, rasio utang luar negeri terhadap PDB
melonjak, inflasi melonjak, daya beli merosot, dan
kemiskinan meningkat. Situasi ini mendorong semakin
kencangnya “Gerakan Reformasi”, yang akhirnya berhasil
membuat Presiden Soeharto lèngsèr keprabon pada 21 Mei
1998. Wakil Presiden B.J. Habibie menggantikan beliau.
Bangsa Indonesia berada dalam keadaan krisis ekonomi yang
disertai dengan krisis politik dan krisis sosial, yang mana rasa
saling percaya merosot tajam. Pemilu diadakan pada tahun
1999. Sidang Umum MPR memilih K.H. Abdurrahman Wahid
sebagai Presiden, dengan Megawati Soekarnoputri sebagai
Wakil Presiden.
Bangkit Kembali, Turut Menjaga Ibu Pertiwi 335
Gambar. Sejumlah anggota PPSB pada sekitar pergantian abad ke-20
dan ke-21.
RS Santo Borromeus tidak lepas dari imbas keadaan krisis
yang dialami segenap bangsa Indonesia. Akan tetapi,
syukurlah bahwa RS Santo Borromeus mampu melintasi
keadaan yang sulit itu dengan selamat.
Di tengah krisis nasional tersebut, dilakukan pembentukan
Tim Pengembangan Program JPKM Santo Borromeus, dengan
dr. Tb. Darmawan Tunggono, M.P.H. sebagai ketua. Jumlah
peserta JPKM pada saat peninjauan (per 31 Oktober 1998)
sebanyak 3.203 orang. Berdasarkan hasil kunjungan lapangan
pada tanggal 2 November 1998 dan hasil penelaahan teknis
336 The Eternal Light
laporan studi kelayakan, JPKM Santo Borromeus
mendapatkan rekomendasi izin operasional Badan
Penyelenggara (Bapel) JPKM.
Gambar. Direksi RS Santo Borromeus (PPSB) pada sekitar
pergantian abad ke-20 dan ke-21
Selanjutnya, PJPK Santo Borromeus ditunjuk oleh Kanwil
Departemen Kesehatan Propinsi Jawa Barat sebagai
Penyelenggara JPKM dalam program JPKM–JPSBK (Jaring
Pengaman Sosial Bidang Kesehatan). Program JPKM-JPSBK
yang dikelola oleh RS Santo Borromeus menyalurkan dana
Bangkit Kembali, Turut Menjaga Ibu Pertiwi 337
JPSBK untuk keluarga miskin (gakin) di Wilayah Cibeunying
dan Bojonegara yang terdiri dari 22 Puskesmas binaan.
PJPK Santo Borromeus resmi berubah status menjadi Badan
Penyelenggara Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat
(Bapel JPKM) Surya Sumirat melalui Surat Keputusan Menteri
Kesehatan Republik Indonesia pada tanggal 2 Agustus 1999.
Selanjutnya, Bapel JPKM Surya Sumirat resmi menjadi unit
operasional yang dipisahkan dari RS Santo Borromeus, di
dalam naungan Perkumpulan Perhimpunan Santo
Borromeus, pada tanggal 1 November 1999 yang diperingati
sebagai hari lahir Bapel JPKM Surya Sumirat. Hieronymus Dju
Ha, S.H., M.A.R.S. ditunjuk sebagai Direktur untuk pertama
kali. Bapel JPKM Surya Sumirat diresmikan oleh Menteri
Kesehatan, dr. Achmad Sujudi, pada tanggal 31 Januari 2000
di kampus Universitas Padjadjaran (Unpad).
338 The Eternal Light
Nama Surya Sumirat diberikan oleh Bapak Uskup Keuskupan
Bandung Mgr. Alexander S. Djajasiswaja. Surya berarti
matahari, Sumirat berarti bersinar. Program JPKM
diharapkan mampu menjangkau seluruh lapisan masyarakat.
Adapun logo Bapel JPKM Surya Sumirat mengandung makna:
• Secara simbolis melambangkan matahari.
• Konfigurasi delapan “S” yang diputar adalah inisial Surya
Sumirat yang berjumlah 8, menunjukkan bulan Agustus,
bulan berdirinya Bapel JPKM Surya Sumirat, juga
melambangkan 8 sudut yang menunjukkan sasaran
kegiatan Bapel JPKM Surya Sumirat yang terpancar ke
delapan penjuru arah.
• Empat garis dari 8 garis membentuk palang salib sebagai
lambang kesehatan.
• Warna hijau melambangkan warna kesehatan.
• Simbol sederhana tersebut dibuat agar masyarakat cepat
mengenal dan akrab sebagaimana harapan Bapel JPKM
Surya Sumirat untuk dapat dikenal dan diterima oleh
seluruh lapisan masyarakat.
***
Demikianlah, sejak pertengahan dasawarsa 1970-an RS Santo
Borromeus memperbarui diri, turut serta dalam upaya-upaya
membangun negeri. Puji syukur, RS Santo Borromeus dapat
melalui Krisis Finansial Asia dan krisis bangsa dengan
selamat. Bukan hanya itu, pembentukan JPKM Surya Sumirat
merupakan ungkapan kepedulian RS Santo Borromeus
mengenai pendanaan kesehatan bagi masyarakat.
Masa pembaruan sejak pertengahan dasawarsa 1970-an
hingga akhir dasawarsa 1990-an merupakan masa yang
Bangkit Kembali, Turut Menjaga Ibu Pertiwi 339
penuh dinamika dalam penyelenggaraan dan pengelolaan RS
Santo Borromeus. Kata-kata Bunda Elisabeth Gruyters
berikut ini barangkali mencerminkan pula masa pembaruan
ini:
“Para pemimpin telah banyak berdoa dan mencucurkan air
mata, …. Untuk itu kami bersyukur dan patut berterima
kasih sedalam-dalamnya kepada Allah Yang Mahabaik
karena sungguh bukanlah perkara kecil untuk
menganugerahkan karunia sebesar itu kepada para wanita
yang hina-dina ini. Tak ada kata yang mencukupi untuk
mengucap syukur dan memuliakan Allah. Dimuliakanlah
Nama-Nya untuk selama-lamanya. Amin.” (EG 79)
***
#haiku 8
masa prihatin
gejolak Tanah Air
terus berkarya
#tanka 8
masa prihatin
gejolak Tanah Air
terus berkarya
memperbarui diri
turut membangun Neg'ri
340 The Eternal Light