“Bangunan baru terdiri dari sejumlah kamar yang
dijadikan satu sedemikian rupa sehingga menjadi suatu
bangsal rumah sakit. Pada waktu itu Moeder Louise yang
menjabat sebagai Overste/Pimpinan Komunitas, beliau
sangat terkenal karena kasih dan belarasanya kepada para
orang miskin. Beliau juga sangat bersemangat untuk ikut
membangun kembali karya-karya Kongregasi di Cicadas.
Beliau mengawali kembali pelayanan asrama, sekolah,
poliklinik, dan rumah sakit tanpa mengenal lelah.”
Akan tetapi, kemudian penyelenggaraan RS Santo Yusup –
seperti halnya RS Santo Borromeus – diambil alih oleh Dienst
der Volksgezonheid (DVG).
Sementara itu, setelah memulihkan diri dari kamp interniran
Tentara Dai Nippon, Moeder Lioba van Haastert (satu di
antara enam suster perintis Rumah Sakit Santo Borromeus)
dipercaya sebagai Pemimpin Misi Suster-Suster CB di
Indonesia selama dua tahun, 1946–1948. Kepemimpinan
beliau dilanjutkan oleh Moeder Rosalinde Borst pada kurun
waktu 1948–1952.
Sikap Gereja Katolik yang mendukung Republik Indonesia
dipertegas oleh Vikaris Apostolik Jakarta, Mgr. P. Willekens,
SJ, yang menolak menerima bintang jasa Belanda pada tahun
1946. Tentu, dalam kehidupan sehari-hari situasi yang tidak
selalu mudah dihadapi oleh para misionaris dari Belanda di
Indonesia.
Disambut Hangat Masyarakat, Berkembang Pesat 191
Gambar. Moeder Lioba van Haastert;
satu di antara enam suster perintis RK Ziekenverpleging Sint Borromeus;
Missie Overste Indonesia 1946–1948
Sementara itu di tingkat nasional Bapak I.J. Kasimo, Ketua
Umum Partai Katolik, menjadi anggota Komite Nasional
Indonesia Pusat (1945-1949), menjadi Menteri Muda
Kemakmuran (1947), Menteri Kemakmuran merangkap
Menteri Persediaan Makanan Rakyat (1948) dan ‘Menteri
Gerilyawan’ di Jawa Tengah (1948-1949) dalam
Pemerintahan Darurat RI.
192 The Eternal Light
Gambar. Moeder Rosalinde Borst,
Overste Santo Borromeus (1946–1953),
Missie Overste (1948–1952)
Di Yogyakarta, pada tahun 1946 para suster CB di Rumah
Sakit Panti Rapih dengan rela memilih tidak mengungsi
sehingga kemudian Panglima Besar Jenderal Soedirman
tanpa ragu memercayakan perawatan diri beliau kepada
mereka.
Disambut Hangat Masyarakat, Berkembang Pesat 193
“ … walaupun tidak diperkenankan berkarya
di RS Santo Borromeus,
para suster CB tetap tabah, bertahan,
berjaga-jaga, dan berdoa, dalam kepemimpinan
Moeder Rosalinde Borst sebagai Overste…”
Akhir November 1946, Soekarno-Hatta memindahkan pusat
pemerintahan Republik Indonesia dari Jakarta ke Yogyakarta.
Sebagai ungkapan sikap nasionalisme dan dukungan
terhadap pemerintahan Soekarno-Hatta, sejak 15 Februari
1947 Vikaris Apostolik Semarang, Mgr. Albertus
Soegijapranata, SJ, memindahkan kantor Vikariat Apostolik
dari Gereja Katedral Semarang ke Gereja Santo Yusup
Bintaran, Yogyakarta. Di kompleks Gereja Bintaran yang
terletak di tepi timur Kali Code, kala Soekarno diasingkan ke
Pulau Bangka, Mgr. A. Soegijapranata pernah
menyembunyikan dan memberi tempat mengungsi Ibu
Fatmawati (alumna Huishoudschool Sint Carolus di Bengkulu)
dari kejaran serdadu Belanda. Saat itu Ibu Fatmawati baru
saja melahirkan Megawati Soekarnoputri. Zaman susah di
tengah berkecamuknya situasi perang rupanya mendekatkan
hubungan Mgr. Soegijapranata dengan keluarga Presiden
Pertama Republik Indonesia. Presiden Soekarno kemudian
menghadiahi Mgr. Soegijapranata sebuah repro lukisan karya
perupa masyhur Italia berjudul Heilige Maagd (Perawan Suci,
Holly Virgin). Dalam surat pengantar yang dibuat di
Yogyakarta tertanggal 10 Agustus 1948, Presiden Soekarno
menulis, “... Sekarang saya bergembira hati dapat
menghadiahkan lukisan itu kepada Yang Mulia, sebagai tanda
penghargaan saya kepada golongan Roma Katolik di
194 The Eternal Light
Indonesia. Moga-moga golongan Roma Katolik tetap sejahtera
dalam Republik.”
Gambar. Gereja Katolik tegas mendukung Revolusi Kemerdekaan
Indonesia. Vatikan termasuk satu di antara beberapa negara pertama
(negara Eropa pertama) yang mengakui kedaulatan Republik Indonesia
sejak 6 Juli 1947. Sri Paus Pius XII mengangkat seorang Delegatus
Apostolik (Duta Besar). Tampak Presiden Soekarno (tengah) diapit oleh
Mgr. Georges-Marie de Jonghe d'Ardoye (Delegatus Apostolik Vatikan
untuk Indonesia 1947–1955) dan Mgr. Albertus Soegijapranata, SJ
(Vikaris Apostolik Semarang) di Yogyakarta, tahun 1947. Pengakuan
Gereja Katolik memberikan dampak penting secara internasional.
Ketika keadaan di Bandung dan Jawa Barat relatif aman dari
pertempuran-pertempuran – yang mana setelah Perjanjian
Renville (Januari 1948), medan pertempuran berfokus di
kawasan Jawa Tengah dan Jawa Timur – berbagai kegiatan
Disambut Hangat Masyarakat, Berkembang Pesat 195
pelayanan pastoral, pendidikan, kesehatan, sosial yang
pernah dilakukan pada masa sebelum perang, mulai
diupayakan kembali, walaupun masih tertatih-tatih, dan tidak
semuanya dapat kembali sepenuhnya seperti pada masa lalu.
Suster Muda dari Negeri Belanda
Untuk membantu para suster CB di Indonesia yang
mengalami situasi yang begitu berat, pada tahun 1948
Algemeen Overste Kongregasi CB di Maastricht mengirimkan
12 suster muda ke Indonesia. Sr. Mijnardien Verwegen, satu
di antara 12 suster muda itu, mengisahkan bahwa pada
tanggal 5 Mei 1945 berakhirlah perang di Negeri Belanda dan
mulai ada kedamaian. Akan tetapi, tidak lama kemudian, [di
Negeri Belanda] diterima berita yang tidak menyenangkan
dari para suster di Indonesia yang lebih berat menderita.
Banyak penderitaan, kemiskinan, dan kesusahan karena
orang-orang yang mereka cintai meninggal tanpa ada
pertolongan.
Sr. Mijnardien Verwegen mengisahkan:
“Kami juga mendapat berita bahwa para suster di
Indonesia berusaha dengan susah payah mempertahankan
harta milik mereka. Mereka juga bersusah payah
mempertahankan dirinya sendiri sebagai suster yang
masih muda dengan segala tanggung jawab segala bidang
dalam keadaan yang kacau-balau. Meskipun demikian,
mereka dapat mengerjakannya semua itu dengan saling
membantu. Bagi kami dari jarak yang jauh [dari Negeri
Belanda] tidak dapat membayangkan, tidak ada gambaran
untuk semuanya itu.
196 The Eternal Light
Gambar. Kongregasi CB mengutus 12 suster yang masih muda ke
Indonesia pada tahun 1948 untuk membantu para suster yang
mengalami situasi sangat berat
Perjalanan para suster kembali ke Nederland berlangsung
lama dan melelahkan. Kami menyaksikan para suster yang
kembali dari internir keadaannya sangat lemah dan dalam
keadaan sakit, hampir tak dapat dikenali lagi, karena
banyaknya penderitaan yang mereka alami. Mereka
mengalami lingkungan yang asing, meskipun kembali ke
tempat asal [Negeri Belanda], mereka membutuhkan
waktu untuk suatu perubahan dan pembaharuan. Terlalu
Disambut Hangat Masyarakat, Berkembang Pesat 197
banyak yang telah mereka rasakan selama masa
penahanan di Kamp Tahanan Jepang. Pemimpin dan
Dewan Umum di Maastricht tidak diam saja, tetapi
mencari cara baru dengan mencoba mempersiapkan
kelompok suster muda untuk membantu di tanah misi.
Dua belas suster muda diminta mempersiapkan diri
membantu aneka kebutuhan yang sedang dialami di
Indonesia. Hari keberangkatan mereka telah ditetapkan
pada tanggal 22 Februari 1948. Kali ini mereka berangkat
dengan pesawat ‘Canstelation’ yang berkapasitas 45
tempat duduk. Prosedur penumpang didahului dengan
peraturan seperti biasa, mengisi formulir dan tanda
tangan. Pada waktu itu yang masih saya ingat ialah,
pesawat mendarat, bermalam dan terbang lagi beberapa
kali dan akhirnya sampai di Jakarta dengan selamat. Untuk
kami semua, ini merupakan perjalanan terbang yang
pertama kali. Setelah sampai di Jakarta dan menyelesaikan
urusan surat-surat, kami boleh tinggal beberapa hari di
Jakarta. Untuk selanjutnya empat suster dari kelompok
kami berangkat ke Rumah Sakit Borromeus di Bandung.
Sr. Gunthildis sebagai tenaga muda, Sr. Ludana di dapur
besar, Sr. Jeanne sebagai bidan, Sr. Angelberta dan saya
sebagai perawat. Rumah di Bandung merupakan
lingkungan yang sama sekali baru bagi kami.
Setelah tinggal di Bandung selama setengah tahun Sr.
Jeanne merasa tidak enak badan, kemudian berobat ke
Rumah Sakit St. Carolus di Jakarta. Begitu juga teman
seperjalanannya, Sr. Willibrordine, merasa tidak enak
badan dengan keluhan yang sama dengan Sr. Jeanne.
Penyakit mereka berdua merupakan proses penyakit yang
berat. Menurut hasil pemeriksaan laboratorium, mereka
198 The Eternal Light
sakit typhus. Pada waktu itu belum ada obat-obat yang
tepat untuk typhus seperti sekarang. Akhirnya, apa yang
terjadi dengan kedua suster ini ialah perpisahan untuk
selama-lamanya, dalam satu minggu dengan selisih empat
hari. Para suster di Jakarta dan Bandung sangat sedih
dengan meninggalnya kedua suster itu secara tiba-tiba.
Apalagi keluarga mereka masing- masing yang belum lama
melihat mereka berangkat. Padahal kedua suster ini kami
anggap sebagai tenaga muda yang diharapkan.
Pada waktu itu Rumah Sakit Carolus dan Borromeus masih
berada di tangan pemerintah [Pemerintahan Sementara
Nederlandsch-Indië], jadi belum berada di tangan para
suster. Kami yang baru datang mengadakan ikatan dinas
untuk dua tahun. Ikatan dinas dapat diperpanjang lagi
dengan mengajukan permohonan.”
Mereka juga bersusah payah mempertahankan dirinya
sendiri sebagai suster yang masih muda dengan tanggung
jawab segala bidang dalam keadaan yang kacau-balau.
Sementara itu, Dienst der Volksgezonheid (DVG) melalui
Besluit no. 5269 KAB tanggal 13 Maret 1948 mengembalikan
penyelenggaraan Rumah Sakit Santo Yusup Cicadas kepada
Vikariat Apostolik Bandung. Selanjutnya, melalui Besluit no.
17824 ADV.4 tanggal 1 April 1948 Rumah Sakit Santo Yusup
memeroleh bantuan subsidi dari DVG. Akan tetapi, bantuan
subsidi ini berarti pula bahwa Rumah Sakit Santo Yusup
belum sepenuhnya “merdeka” dari DVG.
Sebuah tim perawat dari sekolah misi di Ubbergen, Negeri
Belanda, datang pada 3 Agustus 1948 untuk membantu para
suster karena perkerjaan yang banyak.
Disambut Hangat Masyarakat, Berkembang Pesat 199
“Mereka juga bersusah payah mempertahankan dirinya
sendiri sebagai suster yang masih muda
dengan segala tanggung jawab segala bidang
dalam keadaan yang kacau-balau.”
RS Santo Borromeus masih mengalami banyak kekurangan,
terutama alat-alat tenun. Sementara itu, Amerika Serikat
mengirim paket-paket bantuan; ini merupakan sumbangan
yang besar untuk memulihkan keadan RS Santo Borromeus.
Waktu itu Borromeus menyelenggarakan dapur umum, baik
untuk para pasien maupun untuk para karyawan.
Jenderal Soedirman di Panti Rapih
Pada Oktober 1948 kesehatan Panglima Besar Jenderal
Soedirman semakin memburuk. Beliau memercayakan
perawatan kesehatan beliau kepada Rumah Sakit Panti Rapih
Yogyakarta untuk penanganan tubercolosis (TBC) yang
diderita beliau. Atas saran dokter senior, Prof. dr. R.D. Asikin
Widjayakusuma dan dr. Sim Kie Ay (Simadibrata), Jenderal
Soedirman menjalani proses operasi untuk menonaktifkan
satu paru-paru beliau. Pascaoperasi penonaktifan satu paru-
paru beliau, pada 19 Desember 1948 terjadilah Agresi Militer
II oleh Tentara Belanda. Agresi militer ini memaksa Jenderal
Soedirman menyingkir dari Yogyakarta untuk memimpin
perang gerilya. Padahal, saat itu kesehatan beliau belum
pulih. Delapan bulan memimpin gerilya, pada Juli 1949
Jenderal Soedirman kembali ke Yogyakarta dengan keadaan
kesehatan yang semakin menurun. Setelah sampai di
Yogyakarta, beliau kembali menjalani perawatan kali kedua
di Rumah Sakit Panti Rapih.
200 The Eternal Light
Gambar. Panglima Besar Jenderal Soedirman dirawat di RS Panti Rapih
Yogyakarta.
Sebagai ungkapan terima kasih kepada Rumah Sakit Panti
Rapih, Jenderal Soedirman menulis sebuah puisi:
Rumah Nan Bahagia
Seperempat abad lamanya
tegak berdirinya hingga kini
Panti Rapih rumah nan bahagia
naungan putra pertiwi
Orang sakit nan menderita
gering tiba, sehatlah pergi
Disambut Hangat Masyarakat, Berkembang Pesat 201
berkat kegiatan usaha
beserta kesucian hati
Selama tegak dengan teguhnya
besar jasanya hingga kini
seluruh pengurus pegawainya
ikhlas serta jujur pekerti
Sambil baring aku berdoa
Tuhan Allah Yang Maha Suci
limpahkanlah berkat kurnia
atas rumah bahagia ini
Moga kiranya terus berjasa
dulu, kini dan hari nanti
untuk masyarakat Indonesia
yang tetap merdeka abadi
Sebelum kesehatan beliau membaik, pada Oktober 1949
Panglima Besar Jenderal Soedirman keluar dari Rumah Sakit
Panti Rapih dan dirawat di sanatorium yang berada di dekat
Pakem. Pada Desember 1949 beliau meminta untuk kembali
ke rumah beliau di Magelang. Di rumah beliau itulah pada 29
Januari 1950 Panglima Besar yang masih muda itu
menghembuskan nafas terakhir.
202 The Eternal Light
RS Santo Borromeus Dikembalikan
Mengupayakan pengembalian RS Santo Borromeus dari
penguasaan oleh Pemerintah Sementara Nederlandsch-Indië
kepada Sint Borromeus Vereeniging, para suster CB
mengadakan rapat dengan delegasi Dienst der Volksgezonheid
(DVG) pada 20 Desember 1948. Setelah itu, diselenggarakan
beberapa kali perundingan untuk memisah-misahkan mana
milik Borromeus dan mana yang bukan. Perundingan-
perundingan berjalan dengan “sukarela dan persaudaraan”.
Namun demikian, itu bukan berarti begitu mudah.
Seiring dengan perkembangan Revolusi Kemerdekaan, yang
mana Pemerintahan Sementara Nederlandsch-Indië tampak
semakin sulit mempertahankan kehadirannya di Indonesia,
muncul berita bahwa rumah sakit swasta dapat dikembalikan
dari kekuasaan Dienst der Volksgezonheid kepada pemilik
sebenarnya. Hal ini disambut dengan gembira.
Suster CB Indonesia pertama, yaitu Sr. Yvone Agnes Suwarti,
diberi tugas untuk membuat peraturan baru. Beliau sangat
memahami urusan administrasi dan sudah berpengalaman
menangani sejumlah karya. Permintaan tentang
pengambilalihan rumah-rumah sakit berjalan lancar dengan
hasil baik. Pada bulan Juni-Juli 1949, setelah para suster
melewati perjuangan yang gigih dalam menghadapai aneka
tantangan yang sangat berat dan sulit, akhirnya perjuangan
itu mulai menampakkan hasil.
Disambut Hangat Masyarakat, Berkembang Pesat 203
Gambar. Suster Yvone Agnes Suwarti; suster CB Indonesia pertama;
Missie Overste Indonesia 1943–1945; gigih memperjuangkan
kembalinya penyelenggaraan RS Santo Borromeus dan RS Santo Yusup
dari Pemerintah kepada badan hukum penyelenggara sebelum perang.
Puji syukur, pada 20 Juli 1949 penyelenggaraan Rumah Sakit
Santo Borromeus dikembalikan oleh Dienst der
Volksgezondheid kepada Sint Borromeus Vereeniging. Secara
resmi tertulis hal itu dinyatakan melalui Besluit No.
151/XX/1949, tanggal 1 Juli 1949. Terbitan berkala Indisch
Missietijdschrift (1951) menulis:
“Akhirnya, kompleks bangunan yang rusak dan inventaris
yang tidak lengkap diserahkan kepada pemilik aslinya oleh
204 The Eternal Light
Departemen Kesehatan. Di sini juga telah dan akan
bertemu kegiatan utama rehabilitasi rumah sakit.”
Dokter L.W. van Ouwerkerk masih dipercaya sebagai
Direktur Rumah Sakit Santo Borromeus. Sementara itu, Sr.
Mijnardien Verwegen diangkat sebagai Direktur yang
mengurusi keperawatan, administrasi, dan pendidikan. Akan
tetapi, Rumah Sakit Santo Yusup Cicadas belum sepenuhnya
merdeka dari DVG hingga peralihan kekuasaan.
Gambar. Suster Mijnardien Verwegen; satu di antara 12 suster muda
yang diutus pada tahun 1948 dari Negeri Belanda; pada tahun 1949
diangkat sebagai Direktur Pendidikan Santo Borromeus ketika masih
berusia muda.
Disambut Hangat Masyarakat, Berkembang Pesat 205
Gambar. Kongres Umat Katolik Seluruh Indonesia (KUKSI) 1949
menegaskan dukungan Umat Katolik Indonesia kepada Republik
Indonesia. Tampak Mgr. Albertus Soegijapranata, SJ (Vikaris Apostolik
Semarang, kelak Uskup Keuskupan Agung Semarang), Presiden
Soekarno, Mgr. Nicolaus Geise, OFM (Prefek Apostolik Sukabumi, kelak
Uskup Keuskupan Bogor), dan Bapak I.J. Kasimo (Ketua Partai Katolik).
Para misionaris sejak Pastor Franciscus van Lith, SJ sudah
melihat tanda-tanda bahwa kolonialisme sudah tidak cocok
dengan zaman sehingga mereka mendukung kemerdekaan
Republik Indonesia.
Kongres Umat Katolik Seluruh Indonesia (KUKSI) yang
pertama diselenggarakan di Gereja Santo Yusup Bintaran,
Yogyakarta, 7-12 Desember 1949, yang diprakarsai oleh Mgr.
A. Soegijapranata, SJ dan Bapak I.J. Kasimo. KUKSI yang
pertama itu dihadiri oleh Presiden Soekarno, Wakil Presiden
206 The Eternal Light
Mohammad Hatta, Sri Sultan Hamengku Buwono IX, dan Sri
Paku Alam VIII. KUKSI menegaskan dukungan Umat Katolik
Indonesia kepada Republik Indonesia.
Setelah melalui Konferensi Meja Bundar (KMB), akhirnya
Kerajaan Belanda mengakui kedaulatan Republik Indonesia
Serikat (RIS) pada 27 Desember 1949.
Tahta Suci Vatikan merupakan satu di antara negara-negara
yang pertama mengakui kemerdekaan Republik Indonesia
yang ditandai dengan pembukaan misi diplomatiknya di
Jakarta pada tingkat Delegatus Apostolik (Apostolic Delegate)
sejak masa Revolusi Kemerdekaan pada tahun 1947.
Kemudian, hubungan diplomatik resmi antara Indonesia dan
Tahta Suci Vatikan dijalin sejak tahun 1950 dan terus
berkembang menghasilkan saling pengertian yang terbina
dengan baik.
***
Zaman baru pun dimulai. Tidak ada yang tahu apa yang akan
terjadi selanjutnya, namun harapan terus dipelihara, seperti
keyakinan Bunda Elisabeth Gruyters:
“Harapanku ada pada Tuhan dan tidak seorang pun dapat
menggoncangkannya.” (EG 55)
***
Disambut Hangat Masyarakat, Berkembang Pesat 207
#haiku 6 The Eternal Light
a) 6-1
hari berjuang
Misi Sunda mulia
kian berkembang
b) 6-2
perang menjelang
bakti tetap dijunjung
kobar semangat
#tanka 6
a) 6-1
hari berjuang
Misi Sunda mulia
kian berkembang
karya 'tuk kesehatan
seiring pendidikan
b) 6-2
perang menjelang
bakti tetap dijunjung
kobar semangat
bagi Indonesia
di tengah kesulitan
208
VII
Bangkit Kembali,
Turut Menjaga Ibu Pertiwi
Bangkit Kembali, Turut Menjaga Ibu Pertiwi 209
S ikap Gereja Katolik sangat jelas dan tegas: mendukung
kemerdekaan Indonesia, mendukung negara baru
Indonesia. Di tengah berbagai peristiwa dan
eksperimen negara muda Indonesia, Rumah Sakit (RS) Santo
Borromeus bangkit berdiri, berpartisipasi menjaga Ibu
Pertiwi. Dalam bidang pelayanan kesehatan, segenap bangsa
Indonesia berupaya mengembalikan capaian yang telah
merosot drastis selama Pendudukan Tentara Dai Nippon dan
Revolusi Kemerdekaan.
Gereja Katolik Mendukung Indonesia
Dasawarsa 1950-an merupakan dasawarsa penuh gelora,
namun juga penuh eksperimen dan pergolakan di Indonesia.
Gereja Katolik tegas mendukung Republik Indonesia sejak
awal, sebagaimana tercermin dalam pengakuan Negara
Vatikan kepada RI sejak tahun 1947 dan hubungan
diplomatik resmi sejak tahun 1950. Para vikaris dan prefek
apostolik di daerah-daerah mewujudkan sikap Vatikan di
tengah situasi yang tidak begitu mudah.
Kesehatan Vikaris Apostolik Bandung, Mgr. J.H. Goumans, OSC
semakin menurun. Demi penanganan kesehatan, beliau
terpaksa meninggalkan Indonesia yang dicintai beliau,
kembali ke Negeri Belanda, dan kemudian wafat di sana. Pada
tahun 1952 Mgr. Petrus Marinus Arntz, OSC diangkat sebagai
Vikaris Apostolik Bandung.
Gereja Katolik terpanggil untuk berpartisipasi membangun
negeri yang baru merdeka ini. Setelah para waligereja di
Pulau Jawa (kerkvoogden van Java) beberapa kali bertemu,
pada tahun 1956 dibentuklah Majelis Agung Waligereja
Indonesia (MAWI, kelak kemudian menjadi Konferensi
210 The Eternal Light
Waligereja Indonesia, KWI). Dalam sidang-sidang
tahunannya, MAWI selalu membahas topik-topik aktual
kehidupan bermasyarakat dan berbangsa serta partisipasi
umat Katolik dalam mengisi kemerdekaan Indonesia.
Gambar. Mgr. Petrus Marinus Arntz, OSC
(Vikaris Apostolik Bandung 1952–1961,
Uskup Keuskupan Badung 1961–1984).
Hierarki Gereja Katolik Indonesia didirikan oleh Sri Paus
Yohanes XXIII pada 3 Januari 1961. Dengan demikian, Gereja
Katolik Indonesia dinilai dan diharapkan semakin mandiri
dalam penyelenggaraan dan pengelolaan berbagai
pelayanannya. Seiring dengan semangat agar semakin
mandiri, identitas Katolik Indonesia dan Indonesia Katolik
Bangkit Kembali, Turut Menjaga Ibu Pertiwi 211
pun semakin mewujud. Vikariat Apostolik Bandung diubah
statusnya menjadi Keuskupan Bandung.
Perubahan Anggaran Dasar Sint Borromeus Vereniging
Dalam keadaan baru negara muda Republik Indonesia, Sint
Borromeus Vereniging – terdapat perubahan ejaaan bahasa
Belanda; sebelumnya ditulis vereeniging, kemudian menjadi
vereniging – melanjutkan eksistensinya. Pada awal tahun
1950, pada masa Republik Indonesia Serikat (RIS), Meester
Albert August Michel Lapre dipercaya sebagai administrator
Perhimpunan Santo Borromeus. Selanjutnya, pada tahun
1950 itu pula disusun pengurus baru, dengan Dr. mr.
Henricus Anthonius Franciscus Lijnkamp sebagai Ketua.
Menimbang perubahan keadaan yang telah terjadi di
Indonesia, pada tahun 1950 dilakukan perubahan Anggaran
Dasar Perhimpunan Santo Borromeus. Perubahan-perubahan
yang dilakukan antara lain bahwa Vikaris Apostolik Batavia
diganti dengan Vikaris Apostolik Bandung.
Karya CB di Garut Tidak Dapat Dilanjutkan
Kongregasi Suster-Suster Cintakasih Santo Carolus
Borromeus berusaha sekuat tenaga untuk menata kembali
karya-karyanya. Diperlukan penyesuaian-penyesuaian.
Algemeen Overste (Pemimpin Umum) Kongregasi CB, Moeder
Emmanuel Lemmens, melakukan visitasi ke Indonesia pada
tahun 1951 untuk meneguhkan komunitas-komunitas dan
memantapkan karya-karya pada era Republik Indonesia.
Moeder Chrysaria Jongerius terpilih sebagai Pemimpin
Umum Kongregasi CB pada tahun 1952. Masa kepemimpinan
212 The Eternal Light
beliau ditandai dengan penyelesaian-penyelesaian masa lalu
dan penyesuaian-penyesuaian era baru.
Gambar. Dr. mr. Henricus Anthonius Franciscus Lijnkamp;
Ketua dan Bendahara Perhimpunan Santo Borromeus
awal dasawarsa 1950-an.
Di Indonesia, Moeder Laurentia de Sain dipercaya sebagai
Missie Overste (Pemimpin Misi) untuk kurun waktu 1952
sampai 1959. Beliau sudah menjadi Pemimpin Misi pada
kurun waktu 1940 hingga 1943, sebelum beliau diinternir
oleh Tentara Dai Nippon. Pada masa beliau sebagai Pemimpin
Misi di Indonesia (1952–1959), dibuka tiga rumah baru.
Bangkit Kembali, Turut Menjaga Ibu Pertiwi 213
Akan tetapi, dengan berat hati karya CB di Garut tidak dapat
dilanjutkan karena situasi keamanan yang berat, yang mana
DI/TII waktu itu masih bergerak dan belum berhasil
ditumpas. Dengan terpaksa, secara resmi karya di Garut
dikembalikan oleh Kongregasi CB kepada Vikariat Apostolik
Bandung pada pertengahan dasawarsa 1950-an. Kelak di
kemudian hari, ketika situasi keamanan sudah lebih baik,
setelah Pemimpin DI/TII, S.M. Kartosoewirjo, berhasil
ditangkap pada tahun 1962 (dan kemudian dihukum mati),
Yayasan Salib Suci melanjutkan karya pendidikan itu.
“Kongregasi Suster-Suster Cintakasih
Santo Carolus Borromeus berusaha sekuat tenaga
untuk menata kembali karya-karyanya.”
RS Santo Borromeus Bangkit
Suster Rosalinde Borst dipercaya sebagai Pemimpin
Komunitas Suster-Suster CB di Bandung pada kurun waktu
1946–1953. Beliau mengawal RS Santo Borromeus pada masa
yang sulit dan mengantarkannya memasuki situasi baru.
Posisi beliau dilanjutkan oleh Moeder Alida Maria (Charita)
Streng (1953–1959), Moeder Mijnardine Verwegen (1959–
1966), Moeder Magdaleni Soemardilah (1966–1971), dan
Moeder Vincentio Soemarah (1971–1974).
Dokter L.W. van Ouwerkerk melanjutkan kepercayaan yang
diberikan kepada beliau sebagai Direktur RS Santo
Borromeus, didampingi oleh Suster Mijnardine Verwegen
214 The Eternal Light
sebagai Direktris yang mengurus administrasi dan
pendidikan.
RS Santo Borromeus berusaha bangkit kembali, menghadapi
keadaan sehari-hari yang kadang-kadang tidak mudah, tidak
selalu mulus karena perubahan situasi makro politik,
ekonomi, sosial, dan budaya, yang berimplikasi pada
perubahan cara pengelolaan rumah sakit. Hal ini tidak hanya
dialami oleh RS Santo Borromeus saja, namun juga dialami
oleh semua institusi di Indonesia.
Gambar. Segenap awak Borromeus berfoto bersama. Foto diperkirakan
pada tahun 1950. Tampak tulisan Roemah Sakit Oemoem R.K. Missie St.
Borromeus Ziekenhuis, campuran bahasa Indonesia (ejaan van
Ophuijsen) dan bahasa Belanda
Bangkit Kembali, Turut Menjaga Ibu Pertiwi 215
Di tengah berbagai persoalan, kenyataan menunjukkan
bahwa pegawai-pegawai RS Santo Borromeus adalah orang-
orang yang setia. Sebuah surat kabar edisi 27 Desember 1950
menuliskan tentang sebuah perayaan perak atas enam
pegawai yang telah bekerja sejak tahun 1925:
“St. Borromeus dalam suasana pesta
Di bangsal kecil, RS St. Borromeus di Bandung pada Sabtu
pagi, secara meriah merayakan enam personil, empat
perempuan dan dua laki-laki, yang telah bergabung
dengan rumah sakit selama 25 tahun. Yang merayakan
adalah Ibu Uti, Ibu Erum, Ibu Timah, Ibu Iming, Bapak
Madsai, dan Bapak Sarimin.
Selain lebih dari seratus karyawan Indonesia, beberapa
suster, perawat, dokter, dan Pengurus Perhimpunan Santo
Borromeus, juga Dokter Admiral sebagai wakil dari
Inspeksi Jawatan Kesehatan dan Wedana Cibeunying
hadir. Dalam pidato yang hangat, Bapak Laperre,
administrator rumah sakit, menyambut mereka yang hadir
dan mengucapkan selamat atas perayaan perak mereka.
Beliau menjadikan mereka sebagai contoh pengabdian
sejati pada tugas dan ketekunan, serta kemudian
menyerahkan amplop biasa kepada mereka. Dokter
Admiraal dan Wedana Cibeunying juga menyampaikan
sambutan dan memuji keenam tokoh utama dari pesta
hangat ini atas kiprah mereka dalam melayani
kepentingan umum. Setelah mereka yang hadir menyantap
makanan dan minuman, Pak Sarimin mengucapkan terima
kasih kepada mereka yang berkenan hadir dan
menyampaikan harapan agar dapat terus berkarya dalam
pelayanan RS St. Borromeus dalam waktu yang lama.”
216 The Eternal Light
Gambar. Kapel Hati Kudus Yesus, Biara Suster-Suster CB, dan taman di
sampingnya yang tampak asri pada dasawarsa 1950-an.
Bangkit Kembali, Turut Menjaga Ibu Pertiwi 217
Sebuah terbitan berkala melaporkan bahwa dari Januari
sampai dengan September 1951 jumlah pasien yang dilayani
RS Santo Borromeus sebagai berikut:
• Kelas I : 214 pasien, 1.839 hari-rawat
• Kelas II A : 990 pasien, 9.530 hari-rawat
• Kelas II B : 940 pasien, 9.998 hari-rawat
• Kelas III : 1.455 pasien, 18.526 hari-rawat
• Potongan tarif: 40 pasien, 1.201 hari-rawat
• Perawatan gratis: 118 pasien, 1.659 hari-rawat.
Setahun kemudian, mengenai RS Santo Borromeus
dilaporkan:
• tempat tidur kelas: 190
• untuk kurang mampu: 10
• tempat tidur total: 200
• rata-rata harian: 170
• jumlah yang dirawat: 4.892
• jumlah hari rawat: 54.344
• jumlah kelahiran: 338
• jumlah operasi: 884
• jumlah perawat: 17 berdiploma, 7 belum berdiploma.
Kualitas pelayanan RS Santo Borromeus yang sudah ditempa
sejak 1921 tidaklah luntur. Masyarakat Bandung tetap
memberikan kepercayaan tinggi kepadanya. Sekali-sekali
muncul ucapan terima kasih di surat kabar dari pasien atau
keluarganya atas pelayanan bagus RS Santo Borromeus.
Sebagai contoh:
218 The Eternal Light
Gambar. Suster-suster CB dan beberapa perawat (verpleegsters),
didampingi oleh Pastor Harry van Haaren, OSC di depan Kapel Hati
Kudus Yesus pada awal dasawarsa 1950-an. Dalam semangat cintakasih,
RS Santo Borromeus bangkit kembali untuk menjaga Ibu Pertiwi
“Ucapan Terima Kasih
Kepada Yang Terhormat Moeder, suster-suster, dan
perawat-perawat RS Borromeus, serta para dokter yang
merawat, atas perhatian penuh kasih kepada istri saya
selama dia sakit.
G.H. Hazes”
Bangkit Kembali, Turut Menjaga Ibu Pertiwi 219
Gambar. Beberapa suster CB dalam sebuah kesempatan di Sekolah
Santa Angela, Jalan Merdeka, pada awal dasawarsa 1950-an. Tampak
Pastor Hein Wenholt, OSC yang bertugas pastoral care di RS Santo
Borromeus pada kurun waktu sekitar awal dasawarsa 1950-an hingga
akhir dasawarsa 1960-an.
Seorang anggota Parlemen dari Partai Masyumi, yaitu Kyai M.
Isa Anshary, yang terkenal, memilih dirawat di RS Santo
Borromeus pada bulan Juli 1951. Ketika beliau sakit lagi pada
Oktober 1953, beliau kembali memilih dirawat di RS Santo
Borromeus. Wali Kota Bandung, R. Enoch, memilih dioperasi
di RS Santo Borromeus pada Januari 1957.
220 The Eternal Light
Dengan banyaknya pasien berpenyakit paru-paru, mulai
bulan Juli 1951 pasien-pasien berpenyakit paru-paru
dipindahkan ke paviliun baru yang diberi nama Paviliun
Carolus, yang semula ditujukan untuk pasien berpenyakit
dalam. Pada tahun 1951 itu pula diumumkan kebutuhan
akan perawat-perawat berdiploma (gediplomeerde
verpleegsters) maupun yang masih sedang belajar untuk
dididik lebih lanjut. Hal ini mencerminkan perkembangan RS
Santo Borromeus.
“Di tengah berbagai persoalan,
kenyataan menunjukkan bahwa
pegawai-pegawai RS Santo Borromeus
adalah orang-orang yang setia.”
Sebuah peristiwa kelahiran bayi kembar empat terjadi pada
tahun 1953, yang gambarnya ditampilkan oleh sebuah surat
kabar, dengan keterangan:
“Sejak awal bulan ini, keempat bayi (kembar empat dari
Letnan Satu Fachroeddin dan istri, …, telah dirawat di RS
Borromeus. Nama keempatnya adalah: Achmad,
Mohamad, Hamid, dan Machmud.”
Tampaknya peristiwa kelahiran empat bayi kembar tersebut
menjadi buah bibir masyarakat Bandung hingga keempat
nama bayi tersebut dijadikan nama jalan di Kelurahan
Pamoyanan, Kecamatan Cicendo, Kota Bandung, yaitu Jalan
Ahmad, Jalan Muhamad, Jalan Hamid, dan Jalan Mahmud.
Nama-nama jalan itu masih bertahan hingga kini.
Bangkit Kembali, Turut Menjaga Ibu Pertiwi 221
Gambar. Bayi kembar empat setelah berusia beberapa bulan
RS Santo Yusup Berhasil Dikembalikan
Di Cicadas, Moeder Louise Helmer melanjutkan kepercayaan
sebagai Pemimpin Komunitas Suster-Suster CB sejak tahun
1937, diselingi dengan masa kamp interniran Tentara Dai
Nippon 1943–1945. Sejak tahun 1946 beliau memimpin
sampai dengan tahun 1959. Kemudian dilanjutkan oleh
Moeder Ursulia Sutandiah (1959–1965) dan Moeder
Cornelianne Heemskerk (1965–1968). Moeder Cornelianne
sempat cuti enam bulan pada tahun 1967 sehingga
digantikan sementara oleh Suster Theodore van Thienen dan
kemudian Suster Bernadette Heerdink. Kepemimpinan
dilanjutkan oleh Moeder Ignatia Srimi (1968), Moeder M.
222 The Eternal Light
Johanna Pudjiati (1968–1975), dan Moeder Marie Ivo Suwarti
(1975–1980).
Ketika Revolusi Kemerdekaan telah berakhir, RS Santo Yusup
tidak segera dikembalikan oleh Dienst der Volksgezondheid
Pemerintahan Belanda di Indonesia. Akibatnya, ketika terjadi
peralihan kekuasaan sesudah 27 Desember 1949, RS Santo
Yusup berada dalam kekuasaan Pemerintah Indonesia, dalam
hal ini Departemen Kesehatan (kelak kemudian menjadi
Kementerian Kesehatan). Sebagai perbandingan, RS Rantja
Badak (dahulu Het Gemeentelijk Ziekenhuis Juliana) pada
masa Revolusi Kemerdekaan dikuasai oleh Dienst der
Volksgezondheid. Selama beberapa tahun RS Rantja Badak
masih berada dalam kekuasaan Departemen Kesehatan,
belum diserahkan kepada pemerintah daerah.
Menurut catatan Departemen Kesehatan, pada tahun 1950,
Pemerintah Indonesia hanya memiliki 1.200 orang dokter,
150 orang dokter gigi, 80 orang apoteker, 650 orang asisten
apoteker, 1.446 orang bidan, 3.500 orang perawat, dan 30
orang analis. Jumlah tenaga medis dan paramedis itu untuk
melayani seluruh rakyat Indonesia yang pada waktu itu
diperkirakan sekitar 70 juta jiwa. Dalam aspek infrastruktur
kesehatan, sampai tahun 1950 Pemerintah Indonesia hanya
memiliki 69 rumah sakit di seluruh wilayah Indonesia,
dengan perincian 10 buah rumah sakit umum yang baru
dibangun, 24 rumah sakit umum lama yang diperluas, 13
rumah sakit khusus yang baru dibangun, dan 22 rumah sakit
khusus lama yang diperluas.
Seirama dengan situasi politik pada saat itu yang menerapkan
sistem kabinet parlementer, Menteri Kesehatan berganti-
ganti berkali-kali. Terjadi kekosongan pada semua struktur
Bangkit Kembali, Turut Menjaga Ibu Pertiwi 223
kesehatan yang dahulu kebanyakan diisi oleh orang-orang
Belanda. Tenaga kesehatan Indonesia yang waktu itu masih
sangat sedikit mengakibatkan seluruh struktur kesehatan
tersebut diambil alih oleh Pemerintah Pusat.
Departemen Kesehatan terus menata organisasi
pemerintahan, menata hubungan antara pusat dan daerah,
serta menata sistem pelayanan kesehatan masyarakat.
Barulah pada tahun 1954, RS Rantja Badak ditetapkan
sebagai rumah sakit provinsi, yang berada dalam pengawasan
Departemen Kesehatan; selanjutnya pada tahun 1956 sebagai
rumah sakit umum dengan kapasitas 600 tempat tidur.
Mengenai RS Santo Yusup, perlu dilihat sudut pandang
Departemen Kesehatan RI waktu itu. Segera setelah
pengakuan kedaulatan Indonesia oleh Kerajaan Belanda,
Departemen Kesehatan memiliki pengalaman
menasionalisasi sejumlah rumah sakit Zending di Jawa
Tengah yang mengalami kesulitan finansial sebagai dampak
Perang Dunia II dan Revolusi Kemerdekaan. Departemen
Kesehatan memandang bahwa rumah-rumah sakit Zending
dapat ditransformasikan menjadi rumah sakit umum daerah
dalam rangka penyediaan pelayanan kesehatan kepada
masyarakat. Di Jawa Tengah sembilan rumah sakit Zending
dijadikan rumah sakit umum daerah, yaitu di Blora, Klaten,
Surakarta, Wonosobo, Purwokerto, Magelang, Purbalingga,
Purworejo, dan Kebumen.
RS Santo Yusup Cicadas yang “dekat di hati” masyarakat
tampaknya memeroleh perhatian Departemen Kesehatan.
Rumah sakit ini sangat cocok dengan misi Departemen
Kesehatan untuk melayani masyarakat. Sementara itu pada
tahun 1953 terbit Undang-Undang Nomor 18 Tahun1953
224 The Eternal Light
tentang Merawat Orang-Orang Miskin dan Orang-Orang yang
Kurang Mampu. Undang-Undang itu mewajibkan pula rumah
sakit swasta untuk merawat orang-orang miskin. Departemen
Kesehatan menyediakan bantuan dana untuk memperluas
bangunan dan biaya pengobatan untuk orang miskin kepada
rumah sakit swasta yang dimaksud.
“Antara lain berkat keuletan perjuangan
Suster Yvonne Agnes Suwarti dalam berkomunikasi,
menjelaskan, dan berargumentasi,
akhirnya RS Santo Yusup dikembalikan
kepada Vikariat Apostolik Bandung pada tahun 1954.”
Vikariat Apostolik Bandung berulang kali menyampaikan
penghargaan kepada Departemen Kesehatan apabila
diperkenankan untuk kembali menyelenggarakan RS Santo
Yusup Cicadas walaupun tidak perlu mendapat
bantuan/subsidi Pemerintah. Departemen Kesehatan pada
dasarnya mengerti dan memahami bahwa pada prinsipnya
penyelenggaraan RS Santo Yusup Cicadas akan dikembalikan
kepada yang berhak, yaitu Vikariat Apostolik Bandung.
Suster-Suster CB yang sangat sayang pada rumah sakit ini,
terutama Suster Yvonne Agnes Suwarti, turut berjuang agar
karya ini dapat dikembalikan penyelenggaraannya kepada
Vikariat Apostolik Bandung melalui Yayasan Salib Suci.
Antara lain berkat keuletan perjuangan Suster Yvonne Agnes
Suwarti dalam berkomunikasi, menjelaskan, dan
berargumentasi, akhirnya RS Santo Yusup dikembalikan
kepada Vikariat Apostolik Bandung pada tahun 1954.
Bangkit Kembali, Turut Menjaga Ibu Pertiwi 225
Bagaimanakah gambaran keadaan RS Santo Yusup pada awal
dasawarsa 1950-an? Berkala Indisch Missietijdschrift (1951)
menginformasikan:
“Sebagian besar pasien yang pernah dan sedang dirawat di
rumah sakit ini kurang atau tidak mampu. Tarif rata-rata
sekarang Rp 1 sampai 2 per hari! Operasi yang diperlukan
berlangsung gratis di RS Santo Borromeus.”
Mengenai kapasitas RS Santo Yusup, diinformasikan:
“Rumah sakit tersebut saat ini memiliki kapasitas 130
tempat tidur yang terdiri dari:
3 kamar pria dengan total 30 tempat tidur
3 kamar wanita dengan total 36 tempat tidur
1 bagian anak-anak dengan 34 tempat tidur
1 kamar bersalin dengan 30 tempat tidur.”
Berkala Indisch Missietijdschrift (1951) memberikan sejumlah
angka mengenai RS Santo Yusup:
“Jumlah hari rawat rata-rata setiap bulan: 3.655
Jumlah pasien rata-rata setiap bulan: 417
Rata-rata hari rawat per pasien: 9
Jumlah pasien per hari: 120
Konsultasi poliklinik: 3.915
Pemeriksaan kehamilan: 771
Pemeriksaan laboratorium: 81.”
Setahun kemudian, Berkala Indisch Missietijdschrift (1952)
menginformasikan:
226 The Eternal Light
Gambar. Anak-anak yatim piatu di Cicadas. Suster Louise Helmer adalah
ibu mereka.
• tempat tidur untuk yang kurang mampu: 132
• rata-rata harian: 120
• jumlah yang dirawat: 5.608
• jumlah hari-rawat: 39.658
• jumlah kelahiran: 1.049
• kunjungan poliklinik: 68.616.
Mengenai personilnya, diinformasikan bahwa di RS Santo
Yusup terdapat dokter M. van Limburg-Stirum-Kampman;
terdapat 4 (empat) perawat berdiploma A (yang mana dua di
Bangkit Kembali, Turut Menjaga Ibu Pertiwi 227
antaranya berdiploma kebidanan), 3 (tiga) mantri-perawat,
dan 2 (dua) perawat belum berdiploma. Selain itu terdapat
21 siswa yang sedang mengikuti pendidikan kesehatan.
Setelah RS Santo Yusup sepenuhnya dikembalikan kepada
Vikariat Apostolik Bandung pada tahun 1954, selanjutnya
Dokter Verbeek diangkat sebagai Direktur RS Santo Yusup.
Sementara itu, Dokter R. Admiral Soerasetja (Kepala
Djawatan Kesehatan Kota Besar Bandung) turut berkarya di
sana sebagai dokter dan sebagai guru kesehatan. Saat itu
diselenggarakan Sekolah Djuru Kesehatan (SDK) bagi lulusan
SD dengan durasi satu tahun, yang dipimpin oleh Suster
Agnesin. Kemudian, sejak tahun 1959 pendidikan tersebut
ditingkatkan menjadi Sekolah Penjenang Kesehatan. Jumlah
murid cukup banyak, termasuk yang datang dari luar Pulau
Jawa, misalnya Flores, Kalimantan, Sumatra, dan lain-lain.
Perlu dicatat bahwa Moeder Louise Helmer sangat mencintai
orang-orang miskin di Cicadas dan beliau ingin hidup di
tengah-tengah mereka mewujudkan spirit Bunda Elisabeth
Gruyters. Suster Francino Hariandja, CB (2001) menulis:
“Cicadas bukan hanya miskin dalam materi, tetapi juga
miskin dalam cintakasih. Banyak anak begitu saja
ditinggalkan oleh ibu-ibu yang melahirkan, mungkin
karena tidak mempunyai ayah yang sah atau karena sang
ibu tidak mampu merawat dan membesarkan anak. Masa
perang, tentara-tentara meninggalkan istri atau pacar
gelapnya begitu saja dengan anak-anak yang dilahirkan
dalam perkawinan ‘sementara’ itu. Oleh karena itu,
sesudah perang banyak sekali anak yang harus dirawat
dan dibesarkan para suster.”
228 The Eternal Light
Suster Francino Hariandja, CB (2001) melanjutkan:
“Di samping bekerja dalam perawatan, suster-suster di
Cicadas juga giat sebagai guru di sekolah SD dan SLTP
milik Yayasan Salib Suci. Mereka mempunyai juga asrama
yatim piatu bagi putra-putri. Nama yang layak dikenang
adalah Sr. Louise Helmer, salah seorang yang berjasa
memulai dan mengembangkan rumah sakit Cicadas. Ia
juga seorang ibu yang penuh kasih sayang bagi anak-anak.
Ia selalu sabar dan penuh perhatian mengikuti
perkembangan mereka.”
Setelah kembali dalam kendali Vikariat Apostolik Bandung,
sepanjang dasawarsa 1950-an dan 1960-an RS Santo Yusup
berupaya bangkit dan berkembang. Pada tahun 1971 Suster
Imma Rumanti mengisahkan melalui Lembaran Kontak
bahwa waktu itu RS Santo Yusup terdiri dari:
• Bagian Yosef dengan 27 tempat tidur, sepuluh di
antaranya untuk para pasien lanjut usia yang
membutuhkan perawatan.
• Bagian Maria dengan 33 tempat tidur, enam di antaranya
kamar isolasi. Bangunan ini merupakan bangunan terbaru,
didirikan atas biaya Aksi Puasa dari Negeri Belanda dan
atas usaha seorang imam yang menjadi anggota yayasan
rumah sakit ini.
• Bagian Anak-Anak dengan 26 tempat tidur, juga dilengkapi
dengan beberapa kamar isolasi.
• Bagian Anna, yaitu bagian bersalin (kraam) terdiri dari
kelas I, kelas II dan klas III, dengan kapasitas tempat tidur
26 untuk ibu dan 28 tempat tidur untuk bayi serta 6
couveus untuk bayi premature.
Bangkit Kembali, Turut Menjaga Ibu Pertiwi 229
• Balai Kesejahteraan Ibu dan Anak (BKIA) yang buka 5 kali
dalam satu minggu untuk pemeriksaan bayi setiap hari
Senin s.d. Jumat sore.
• Poliklinik Umum yang buka setiap hari (pagi dan sore),
kecuali hari Minggu dan hari raya.
“Moeder Louise Helmer sangat mencintai
orang-orang miskin di Cicadas dan beliau ingin hidup
di tengah-tengah mereka
mewujudkan spirit Bunda Elisabeth Gruyters.”
Suster Imma Rumanti menggambarkan bahwa Cicadas
terletak di kawasan yang ramai, dekat pasar, tidak jauh dari
tumpukan sampah, di sekelilingnya berjajar pedagang kaki
lima, juga dekat tempat mangkal becak, jalan yang sebetulnya
cukup lebar dan cukup untuk tiga atau empat mobil berderet,
menjadi sangat sempit. Lagi pula Jalan Cikutra dihiasi dengan
lubang-lubang yang cukup besar dan dalam, pada musim
hujan bukan main becek, tetapi jalan tetap ramai.
Di RS Santo Yusup waktu itu terdapat empat dokter, tulis
Suster Imma Rumanti. Seorang dokter yang sudah tua sekali,
hanya melayani pasien di poliklinik saja. Waktu itu belum
terdapat dokter ahli, semua masih arts (dokter umum model
lama), walaupun demikian dalam keadaan darurat mereka
dapat bertindak melakukan insisi, eksisi, eksplorasi, dan
sebagainya. Dikisahkan bahwa hampir setiap hari ada
tindakan menjahit luka karena banyak sekali kecelakaan di
rumah atau dalam pembangunan, misalnya: kepala tertimpa
genting atau atap seng, kulit kepala sobek dan sebagainya. RS
230 The Eternal Light
Santo Yusup selain melayani para penderita yang datang, juga
mengadakan kunjungan pasien di rumah.
“Para pasien datang ke poliklinik
sering tanpa membawa uang,
dan para suster percaya akan kejujuran mereka.”
Suster Imma Rumanti menceritakan bahwa kebanyakan
pasien Poliklinik datang dari desa-desa di sekitar rumah
sakit. Kebanyakan dari para pasien datang berobat dengan
penyakit yang sudah terlambat, teristimewa pasien anak-
anak. Ini disebabkan karena mereka berperilaku kalau dukun
sudah tidak dapat menyembuhkan barulah mereka dibawa ke
rumah sakit. Para pasien datang ke poliklinik sering tanpa
membawa uang, dan para suster percaya akan kejujuran
mereka. Di antara mereka ada yang rajin mengangsur biaya
pengobatan, ada juga yang tidak pernah datang lagi.
Setiap hari, pasti ada 3 atau 4 pasien yang tidak membawa
uang atau uangnya tidak cukup, Suster Imma Rumanti
mengisahkan. Dari pihak lain, para suster tidak perlu
khawatir karena rumah sakit masih mempunyai sumber dana
lain untuk sekadar menyumbang kebutuhan-kebutuhan
tersebut. Tidak jarang penderita dirujuk ke RS Santo
Borromeus, RS Rantja Badak (Hasan Sadikin), RS Immanuel,
atau RS Advent, karena fasilitas pelayanan RS Santo Yusup
waktu itu masih kurang lengkap.
Suster Imma Rumanti menulis, “Meskipun rumah sakit ini
masih kecil, tidak atau belum sempurna, masih sangat
Bangkit Kembali, Turut Menjaga Ibu Pertiwi 231
sederhana, tetapi cukup dirasa kegunaannya, teristimewa
bagi masyarakat di sekitarnya.”
Pendidikan Perawat Borromeus
Perawat yang berkualitas dalam pelayanan merupakan
kekuataan RS Santo Borromeus sejak awal. Para suster CB
yang terlibat merupakan perawat-perawat yang handal dan
melayani dengan hati. Selain para suster yang jumlahnya
terbatas, terdapat pula perawat-perawat awam berdiploma
yang berkarya dengan tekun dan setia. Seorang di antaranya
adalah Suster G.W. Bouman. Pada tahun 1957 beliau telah
berkarya selama 50 (lima puluh) tahun sebagai perawat
berdiploma. Berarti beliau sudah berkarya sejak tahun 1907,
jauh sebelum kemudian berkarya di RS Borromeus. Atas
pengabdian tersebut beliau memeroleh penghargaan Pro
Ecclesia et Pontifice dari Sri Paus Pius XII, yang diserahkan
oleh Vikaris Apostolik Bandung Mgr. P.M. Arntz, OSC.
Perayaan pada hari Minggu, 7 April 1957, dihadiri oleh
Pengurus Perhimpunan Santo Borromeus, sejumlah pastor,
para suster, para dokter, para perawat, para karyawan lain,
dan tamu-tamu undangan. Setelah perayaan tersebut, Suster
G.W. Bouman melanjutkan karya kemanusiaan beliau sebagai
perawat.
Tahun 1952 di RS Santo Borromeus terdapat 24 perawat,
yang mana 17 sudah berdiploma, sedangkan 7 orang belum
berdiploma. Borromeus menyelenggarakan pendidikan
keperawatan Diploma A dan lanjutan kebidanan. Saat itu
terdapat 34 siswa, dan 17 siswa baru.
Pada dasawarsa 1950-an semula masih relatif banyak orang
Belanda tinggal di Indonesia, termasuk Bandung. Namun,
232 The Eternal Light
seiring dengan waktu, berangsur-angsur mereka kembali ke
Negeri Belanda. Hal ini menjadi sebuah persoalan dalam
pengelolaan lembaga di semua bidang karena ketersediaan
manusia-manusia yang cakap masih terbatas pada waktu itu.
Oleh karena itu, Pemerintah Indonesia dan segenap elemen
bangsa, termasuk Gereja Katolik Indonesia, berusaha sekuat
tenaga mengupayakan ketersediaan manusia-manusia cakap
untuk menjalankan suatu institusi/organisasi. Sementara itu,
pada waktu itu banyak pengetahuan didokumentasikan,
dipelajari, dan dikomunikasikan dalam bahasa Belanda. Para
elit politik, ekonomi, dan sosial Indonesia pun masih sering
berbahasa Belanda dalam berkomunikasi. Namun demikian,
penggunaaan bahasa Indonesia semakin menguat sejak tahun
1950.
Gambar. Sebuah pengumuman di surat kabar (01-12-1951): RS Santo
Borromeus membutuhkan beberapa perawat perempuan berdiploma
dan calon-calon siswi perawat perempuan. Disediakan tempat tinggal
(huisvesting aanwezig). Pengumuman ini diinformasikan melalui
sejumlah surat kabar yang berbasis di Bandung, Semarang, dan Jakarta
dalam beberapa tanggal yang berbeda
Bangkit Kembali, Turut Menjaga Ibu Pertiwi 233
Sementara itu, negara muda Indonesia mengalami
kekurangan tenaga kesehatan – dokter, perawat, maupun
bidan – pada dasawarsa 1950-an.
Dalam menyikapi realitas baru, Sr. Mijnardine Verwegen
mengisahkan tentang usulan agar para suster Belanda yang
bertugas di Indonesia, setelah diizinkan oleh keluarganya dan
dengan permohonan sendiri, boleh menjadi Warga Negara
Indonesia. Usulan ini sangat disetujui, dan kesempatan ini
dilaksanakan dengan lancar. Para suster boleh mendaftarkan
diri untuk menjadi Warga Negara Indonesia, dan pada tahun
1951 kesempatan ini diberikan. Inilah jalan keluar yang baik
sekali demi kelangsungan karya rumah sakit dan pendidikan
kesehatan. Ijazah pendidikan perawat para suster disamakan.
Selanjutnya, pendidikan kesehatan yang diselenggarakan juga
bebas memilih siswa-siswi sendiri, begitu juga dengan
penentuan jumlah siswa-siswi, asal sesuai dengan peraturan
dari Dinas Kesehatan. Setiap tahun ada tim yang diutus
menyelenggarakan ujian akhir dan memberi persamaan
ijazah. Dengan ujian itu banyak siswa dapat bekerja untuk
membekali hidup mereka selanjutnya.
Merefleksikan realitas dan melihat visi masa depan, pada
tahun 1953 Kongregasi CB memutuskan secara resmi bahwa
karya-karya Kongregasi CB di Indonesia akan mulai
menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar.
Sebelumnya, Novisiat di Yogyakarta sudah menggunakan
bahasa Jawa di samping bahasa Belanda. Sejak tahun 1953
bahasa Indonesia mulai digunakan. Bahasa Belanda tidak
dihilangkan begitu saja karena banyak informasi masih
diungkapkan dalam bahasa Belanda.
234 The Eternal Light
Sejalan dengan kebijakan Kongregasi CB, Pendidikan Perawat
Borromeus dilaksanakan dengan bahasa Indonesia sebagai
bahasa pengantar sejak tahun 1953. Hal ini juga melihat
kenyataan bahwa ketika RS Santo Borromeus membutuhkan
perawat-perawat sejak tahun 1951.
“ … pada tahun 1953 Kongregasi CB
memutuskan secara resmi bahwa karya di Indonesia
akan mulai menggunakan bahasa Indonesia
sebagai bahasa pengantar.”
Sementara itu, Pemerintah mulai membentuk apa yang
dinamakan Sekolah Guru Perawat pada tahun 1952 untuk
mendidik calon-calon perawat. Pada tahun 1953 Pemerintah
menerbitkan SK Menteri Kesehatan Nomor
32971/Pend/1953 tentang Pendidikan Perawat Diploma A
dan B. Dalam SK tersebut, Diploma A untuk perawat umum,
dan Diploma B untuk perawat jiwa. Pada tahun 1953 pula
Pemerintah mengatur apa yang dinamakan Sekolah Pengatur
Rawat (SPR) dengan dasar pendidikan SMP dan durasi
pendidikan tiga tahun. Hal ini mengacu pada model
pendidikan di Negeri Belanda, yang disesuaikan dengan
keadaan di Indonesia.
Pada waktu itu, tentu saja, banyak istilah dalam bahasa
Belanda yang belum dapat langsung diterjemahkan ke dalam
bahasa Indonesia begitu saja. Sr. Mijnardine Verwegen
mengisahkan bahwa pada waktu muncul permintaan supaya
bahasa Belanda diganti dengan bahasa Indonesia. Sr.
Bangkit Kembali, Turut Menjaga Ibu Pertiwi 235
Angelberta dan Sr. Martino yang bertugas di Bandung dipilih
untuk mengikuti kursus bahasa Indonesia.
Sejalan dengan penggunaan bahasa Indonesia, kurikulum
pendidikan keperawatan RS Santo Borromeus (yang telah
dirintis sejak 1926, kemudian ditingkatkan pada tahun 1937)
disesuaikan. Pendidikan Perawat Borromeus, yang
merupakan kelanjutan dari pendidikan sebelumnya yang
mengacu pada Diploma A Ziekenverpleging, menerima lulusan
MULO/SMP dan berdurasi tiga tahun, dimulai secara resmi
dengan 26 orang peserta yang datang dari berbagai penjuru
Indonesia. Pendidikan Perawat Borromeus, yang oleh
Pemerintah dikategorikan sebagai Sekolah Pengatur Rawat A
(SPR A), mendidik calon-calon perawat umum yang bermutu,
disiplin, dan berdaya juang.
Suster Angelbertha Opdam pun mengikuti Sekolah Guru
Perawat yang diselenggarakan oleh Pemerintah untuk
menyelaraskan dengan kebijakan Pemerintah.
Kelak, sejak tahun 1968, lulusan SPR A Santo Borromeus
dapat melanjutkan pelajaran selama satu tahun lagi untuk
memperdalam sebuah bidang keahlian, dalam hal ini
kebidanan.
Sementara itu, RS Santo Borromeus terus-menerus
melakukan pengembangan. Kamar operasi (operatie kamer,
OK) dibangun pada tahun 1953; dapur umum dan dapur diet
dibangun pada tahun 1955. Seiring dengan perkembangan
jumlah perawat, siswa perawat, dan karyawan, pada tahun
1954/5 mulai dibangun asrama perawat yang mampu
menampung sekitar 200 orang, yang dilaksanakan dalam
empat tahap dan selesai pada tahun 1962.
236 The Eternal Light
Gambar. Suster-suster CB memberikan pelajaran praktik kepada siswa-
siswi Sekolah Pengatur Rawat (SPR) A Santo Borromeus yang dibuka
sejak tahun 1953.
Sekolah Pengatur Rawat A (SPR A) Santo Borromeus
berkembang bagus, menghasilkan perawat-perawat yang
andal. Seiring dengan perkembangan zaman, perkembangan
kebutuhan pelayanan kesehatan, dan perkembangan tingkat
pendidikan masyarakat, lima belas tahun sejak 1953, yaitu
tahun 1968, SPR A Santo Borromeus tidak lagi menerima
lulusan SMP, melainkan hanya lulusan Sekolah Lanjutan
Tingkat Atas (SLTA).
Perlu dipahami bahwa pada zaman Nederlandsch-Indië,
seseorang lulus HIS/HCS/Schakelschool pada usia sekitar 14
tahun. Lulus MULO pada usia sekitar 17-18 tahun. Jika segala
Bangkit Kembali, Turut Menjaga Ibu Pertiwi 237
sesuatu berjalan lancar, seseorang dapat meraih Diploma A
Keperawatan Umum paling cepat pada usia sekitar 21 tahun.
Dengan perkembangan zaman, seseorang dapat lulus SMP
pada usia sekitar 15 tahun. Padahal, seorang perawat
diharapkan memiliki kematangan/ kedewasaan, yang antara
lain terkait dengan usia.
Perlu dipahami pula bahwa di negeri-negeri maju, termasuk
Negeri Belanda, sejak akhir dasawarsa 1950-an telah muncul
pemikiran tentang peningkatan kualifikasi perawat dan
pembaruan pendidikannya. Di Negeri Belanda, sementara
Ziekenverpleging Diploma A en B masih dipertahankan dalam
jalur middelbaar beroepsonderwijs (MBO, pendidikan
vokasional menengah), telah dirintis pula pendidikan
keperawatan pada jalur hoger beroepsonderwijs (HBO,
pendidikan tinggi ilmu terapan di hogeschool). Mengikuti
perkembangan di negeri-negeri maju, di Indonesia pada
tahun 1962 Departemen Kesehatan membuka Akademi
Keperawatan di RS Tjipto Mangunkusumo Jakarta, yang
kemudian dikenal dengan Akper Depkes, yang menerima
lulusan SLTA, dengan durasi pendidikan tiga tahun. Inilah
pendidikan keperawatan yang pertama pada jenjang
pendidikan tinggi di Indonesia, setara dengan sarjana muda.
Perlu dicatat pula bahwa pada tahun 1962 (secara resmi
1963) pendidikan keperawatan di RS Sint Carolus Jakarta
mulai dinamakan Akademi Perawatan (Akper) Sint Carolus.
Kemudian sejumlah Akper Depkes dibuka pula di Bandung
dan sejumlah ibu kota provinsi.
Jadi, tidaklah mengherankan apabila sejak 1968 SPR A Santo
Borromeus menerima lulusan SLTA. Dengan demikian,
walaupun namanya masih tetap SPR A, namun kualifikasi
lulusannya berbeda, yaitu setara Diploma III. Setahun
238 The Eternal Light
kemudian, sejak tahun 1969 SPR A Santo Borromeus
menyelenggarakan pendidikan bidan. Siswa pendidikan
bidan adalah lulusan SPR A yang menjalani pendidikan
tambahan selama satu tahun untuk meraih ijazah kebidanan.
Hal ini mengikuti sistem pendidikan di Negeri Belanda pada
masa itu, yang mana seseorang dapat meraih Diploma voor
Verloskundige (Diploma Kebidanan) sesudah memeroleh
Diploma A Ziekenverpleging (Diploma A Keperawatan) dan
melanjutkan pendidikan selama satu tahun. Namun demikian,
di Negeri Belanda waktu itu telah dirintis pula pendidikan
kebidanan pada jalur hoger beroepsonderwijs (HBO,
pendidikan tinggi ilmu terapan di hogeschool).
Pembaruan Kerja Sama Perhimpunan Santo Borromeus
dan Kongregasi CB
Pada masa Moeder Alida Maria (Charita) Streng sebagai
overste (1953–1959), tepatnya pada tahun 1955 – ketika
Perhimpunan Santo Borromeus terdiri dari Pastor Antonius
Johannes Piets, OSC (Ketua); Prof. Ir. Petrus G.H.A. Fermin;
Pieter Frans Maria Steins Bisschop; Bernard Leonard van
Beugen; The Tie Jan; Jacob Frederik Pattiwael; dan Hendrik
Arnold Petrus – dilakukan perubahan anggaran dasar
(wijziging der statuten).
Selanjutnya, pada tahun 1956 dilakukan pembaruan kerja
sama antara Perhimpunan Santo Borromeus dengan
Kongregasi CB. Antara lain disepakati bahwa Kongregasi CB
diberi tanggung jawab dalam bidang keperawatan dan semua
yang berhubungan dengan itu. Kongregasi CB juga diberi
tanggung jawab dalam administrasi rumah sakit dan
pendidikan keperawatan. Seorang imam diangkat untuk
Bangkit Kembali, Turut Menjaga Ibu Pertiwi 239
pembinaan rohani para suster dan pendampingan orang sakit
yang dirawat.
Kemudian, Prof. Ir. Petrus G.H.A. Fermin, guru besar Fakultas
Teknik (Faculteit van Technische Wetenschappen, dahulu
Technische Hoogeschool) Universitas Indonesia di Bandung
dalam bidang pertambangan, dipercaya sebagai Ketua
Perhimpunan Santo Borromeus.
Gambar. Suster-suster dalam perayaan 25 tahun imamat Mgr. Petrus
Marinus Arntz, OSC (Vikaris Apostolik Bandung) pada tahun 1959 di
Balai Pertemuan Sosial Katolik “Panti Budaya”.
240 The Eternal Light