Gambar. Bangunan awal RK Ziekenverpleging Sint Borromeus
Berakit-rakit Membangun Rumah Sakit 91
#haiku 4 The Eternal Light
a) 4-1
pergi belayar
seratus tujuh hari
tak sia-sia
b) 4-2
pagi pertama
cita-cita mulia
tulus berkorban
#tanka 4
a) 4-1
pergi belayar
seratus tujuh hari
tak sia-sia
tinggalkan tanah air
awali karya baru
b) 4-2
pagi pertama
cita-cita mulia
tulus berkorban
tak pandang perbedaan
melayani sesama
92
V
Disambut Hangat Masyarakat,
Berkembang Pesat
Disambut Hangat Masyarakat, Berkembang Pesat 93
S esudah dibuka, RK Ziekenverpleging Sint Borromeus
memantapkan diri. Ternyata rumah perawatan ini
memeroleh sambutan hangat dan sangat diterima oleh
masyarakat. Dalam semangat demi keselamatan sesama
manusia, apa pun latar belakangnya, rumah perawatan ini
berkembang pesat.
Badan Hukum Penyelenggara
Pada hari peringatan Santo Carolus Borromeus, keberadaan
Sint Borromeus Vereeniging diakui secara resmi sebagai
badan hukum ketika statuten (anggaran dasar)-nya
diresmikan melalui putusan Gouverneur Generaal van
Nederlandsch-Indië tertanggal 4 November 1921.
Seperti namanya, badan hukum Sint Borromeus Vereeniging
berbentuk vereeniging (ejaan sesudah Perang Dunia II:
vereniging). Pada masa lalu, istilah vereeniging biasanya
diterjemahkan dengan “perhimpunan”. Dalam perkembangan
kemudian, terutama sejak dasawarsa 1990-an istilah
vereniging diterjemahkan dengan “perkumpulan”.
Dr. ir. C.J. de Groot
Untuk pertama kali, Sint Borromeus Vereeniging dipimpin
oleh Dr.ir. Cornelis Johannes de Groot sebagai president/
voorzitter (ketua). Siapakah beliau? Beliau seorang doktor
insinyur yang berjasa sebagai pionir kemajuan telekomunika-
si di belahan bumi tropis.
Cornelis Johannes de Groot lahir di Den Helder, Provinsi
Noord Holland, Negeri Belanda, pada 27 Januari 1883. Beliau
belajar teknik mesin di Technische Hoogeschool Delft, Negeri
94 The Eternal Light
Belanda, dan kemudian belajar teknik elektro di Technische
Hochschule Karlsruhe, Jerman, hingga lulus sebagai ingenieur
pada tahun 1906. Kemudian beliau bekerja di General Electric
Company di Berlin.
Gambar. Dr. ir. Cornelis Johannes de Groot (1883–1927),
Ketua Sint Borromeus Vereeniging yang pertama.
Pada tahun 1908 beliau pindah ke Indonesia, bekerja di Post,
Telegraaf, en Telefoon (PTT). Beliau memberikan pengarahan
terhadap pemasangan stasiun-stasiun telegrafi nirkabel di
berbagai lokasi; yang pertama dilakukan di Sabang pada
tahun 1911. Beliaulah ahlinya! Kemudian beliau mengambil
cuti di Eropa, dan berhasil mempertahankan disertasi
Disambut Hangat Masyarakat, Berkembang Pesat 95
doktoral berjudul Radiotelegrafie in de tropen; beliau lulus
cum laude. Setelah itu beliau ditugaskan untuk melakukan
studi banding di Jerman dan Amerika Serikat mengenai
kemungkinan hubungan radio jarak jauh antara Negeri
Belanda dengan Indonesia.
Di Bandung, beliau melakukan uji coba hubungan radio jarak
jauh. Beliau membangun instalasi Radio Malabar di Gunung
Puntang dengan tujuan dapat berhubungan secara langsung
dengan Negeri Belanda, yang pada waktu itu belum dapat
dilakukan. Perintisan pembangunan Radio Malabar di
Gunung Puntang berlangsung sejak 1920 dan diresmikan
pada 5 Mei 1923. Hingga akhirnya, pada tahun 1927
hubungan radio suara perdana antara Den Haag dan Bandung
berhasil tersambungkan.
Sementara itu, pada 3 Oktober 1921 Dr. ir. C.J. de Groot
terpilih dengan suara terbanyak sebagai anggota Gemeente-
raad (Dewan Kotapraja) Bandung. Hal ini tidak mengheran-
kan mengingat reputasi beliau.
Dr. ir. C.J. de Groot wafat pada 1 Agustus 1927 di Terusan
Suez ketika beliau sedang dalam perjalanan menuju Eropa,
dan jenazah beliau dimakamkan di Den Haag. Untuk
menghormati jasa beliau, sebuah jalan di Bandoeng Noord
dinamakan Dr. de Grootweg (Jalan Dr. de Groot, sekarang
Jalan Siliwangi). Selain itu, pada tahun 1930 sebuah
monumen dibangun di Tjitaroemplein (Taman Citarum).
Monumen berbentuk setengah bola besar di Tjitaroemplein
tersebut kini sudah tidak ada, telah menjadi lokasi sebuah
bangunan.
96 The Eternal Light
Pastor Petrus J.W. Muller, SJ
Untuk pertama kali, peran Sekretaris Sint Borromeus
Vereeniging dijalankan oleh Pastor Petrus Johannes Wilhelm
Muller, SJ. Beliau lahir pada tanggal 8 Mei 1876 di Oude
Pekela, Provinsi Groningen, Negeri Belanda, namun
dibesarkan sebagai “anak kota” di Amsterdam. Beliau
menerima tahbisan imamat pada tanggal 28 Agustus 1910.
Beliau tiba di Indonesia pada tanggal 24 November 1912, dan
segera mengemban tugas di Surabaya (1912), kemudian di
Flores, yaitu di Maumere, Kotting, Lela, Nita (1913–1919),
sebelum ditugaskan di Bandung pada tahun 1919. Beliau
menggantikan Pastor Jan Timmers, SJ sebagai Hoofdpastoor
van Bandoeng pada kurun waktu 1920–1925. Pada masa
kegembalaan beliaulah diresmikan patung Pastor Verbraak,
SJ di Molukken Park (Taman Maluku), dan dibangun gedung
Sint Petruskerk (Gereja Santo Petrus) yang diresmikan pada
tanggal 19 Februari 1922. Setelah Bandung, beliau ditugaskan
di Semarang (1926–1933), yaitu di Gereja Santo Yusuf
Gedangan dan sekaligus sebagai ekonom SJ Indonesia; lalu di
Gereja Santo Athanasius Agung Karangpanas dan sekaligus
sebagai Pengurus Yayasan Panti Asuhan Katolik; lalu di
Rumah Retret Girisonta, Ungaran. Beliau wafat di Batavia
pada tanggal 8 Juni 1935, dalam usia 59 tahun, dan
dimakamkan di Ambarawa.
Moeder Gaudentia Brandt dan Penerus
Pengelolaan sehari-hari RK Ziekenverpleging Sint Borromeus
semula dijalankan oleh enam suster perintis, dengan Moeder
Gaudentia Brandt sebagai direktris, sekaligus overste para
suster. Beliau lahir di Rotterdam, Provinsi Zuid Holland,
Negeri Belanda, pada tahun 1883; memasuki Kongregasi CB
Disambut Hangat Masyarakat, Berkembang Pesat 97
pada tahun 1911. Pada tahun 1913 beliau lulus pendidikan
dan memeroleh diploma keperawatan. Tahun 1921 beliau
diutus ke Bandung untuk menjadi overste para suster dan
sekaligus Direktris Ziekenverpleging Sint Borromeus.
Beliaulah yang membangun fondasi kokoh pengelolaan RS
Santo Borromeus pada masa awal. Antara lain berkat
kepemimpinan beliau, Ziekenverpleging Sint Borromeus
disambut hangat dan dipercaya oleh masyarakat Bandung,
serta berkembang pesat.
Gambar. Moeder Gaudentia Brandt
(Direktris RK Ziekenverpleging Sint Borromeus
yang pertama, 1921–1924)
98 The Eternal Light
Moeder Gaudentia dipindahtugaskan ke Salemba-Batavia
sebagai Overste dan Direktris Sint Carolus pada tahun 1924.
Ketika Suster-Suster CB memperluas karya pelayanan di
Yogyakarta pada tahun 1929, beliau diutus untuk merintisnya
dan menjadi overste dan direktris di sana. Berkat pengalaman
beliau di Bandung dan Weltevreden maka RK Ziekenver-
pleging Onder de Bogen (kemudian dinamakan RS Panti
Rapih) di Yogyakarta dapat dimulai dan dikelola dengan baik.
Beliaulah yang membangun fondasi kokoh pengelolaan RS
Panti Rapih pada masa awal.
Pada tahun 1931 Suster-Suster CB di Indonesia untuk
pertama kali mempunyai pemimpin (sebelumnya langsung
dipimpin oleh Algemeen Overste di Maastricht). Moeder
Gaudentia Brandt ditunjuk sebagai Pemimpin Misi (Missie
Overste) Suster-Suster CB di Indonesia untuk pertama kali.
Dalam kapitel umum 1932, beliau mengusulkan agar dibuka
rumah pembinaan awal (postulat-novisiat) di Indonesia;
kapitel menyetujui usulan beliau. Dalam kapitel tersebut
beliau dipilih sebagai anggota Dewan Pimpinan Umum,
tepatnya Vicares (Wakil Pemimpin Umum). Sejak kapitel itu
beliau ditarik untuk berkarya di Negeri Belanda. Beliau wafat
pada tahun 1980 dalam usia 97 tahun.
Kepemimpinan Moeder Gaudentia sebagai overste para suster
CB dan direktris rumah sakit di Bandung dilanjutkan oleh
Moeder Anselma Berger pada tahun 1924. Beliaulah yang
mulai melakukan renovasi, pengembangan prasarana, dan
modernisasi peralatan. Beliau pula yang merintis pendidikan
mantri-perawat.
Selanjutnya, kepemimpinan Moeder Anselma sebagai overste
para suster CB dan direktris rumah sakit di Bandung
Disambut Hangat Masyarakat, Berkembang Pesat 99
dilanjutkan oleh Moeder Ambrosine Steenvoorden pada
tahun 1928. Beliau satu di antara sepuluh suster CB yang
pertama merintis karya pelayanan di Indonesia sejak tahun
1918. Beliau juga satu di antara enam suster yang merintis
Ziekenverpleging Sint Borromeus. Relatif lama bertugas di
Bandung, beliau sangat dikenal oleh masyarakat Bandung
karena kehangatan beliau, kesediaan beliau untuk mende-
ngarkan dan memberi pertolongan.
Tahun 1934 Moeder Ambrosine dipindahtugaskan sebagai
overste para suster CB dan Direktris Ziekenverpleging Onder
de Bogen, Yogyakarta. Moeder Ignatio Hermans mengganti-
kan sebagai overste dan direktris di Bandung. Beliau satu di
antara sepuluh suster CB pertama di Indonesia. Sebelum
ditugaskan di Bandung, beliau ditugaskan sebagai overste dan
direktris di Yogyakarta. Beliaulah yang memimpin perluasan
karya pelayanan Suster-Suster CB di Garut dan di Cicadas-
Bandung.
Disambut Hangat oleh Masyarakat
Masyarakat Bandung merasa gembira atas kehadiran
Ziekenverpleging Sint Borromeus. Selain Ziekenverpleging Sint
Borromeus, pada dasawarsa 1920-an jumlah rumah sakit di
Bandung masih dapat dihitung dengan jari: 1) Militair
Hospitaal di Cimahi (sejak 1887, kelak menjadi RS Dustira);
2) Koningin Wilhelmina Gasthuis voor Ooglijders (rumah sakit
khusus mata sejak 1909, kelak menjadi RS Mata Cicendo); 3)
Zending Hospitaal Immanuel (sejak 1910, kelak menjadi RS
Immanuel), 4) Het Algemeene Bandoengsche Ziekenhuis (sejak
1923; kemudian diubah menjadi Het Gemeentelijk Ziekenhuis
Juliana pada tahun 1927; kelak menjadi RS Rantja Badak, lalu
RS Hasan Sadikin).
100 The Eternal Light
Sejak 3 Oktober 1921 Ziekenverpleging Sint Borromeus mulai
menyampaikan pengumuman singkat di surat kabar, yang
berisi kategori ruang rawat inap beserta tarifnya. Diinforma-
sikan pula bahwa pasien dapat memilih dokter sesuai pilihan
masing-masing; dan untuk informasi lebih lanjut, dipersila-
kan menghubungi direktris, yaitu Moeder Gaudentia. Sesekali
pengumuman semacam itu ditampilkan di surat kabar pada
masa-masa awal.
Gambar. Pengumuman di surat kabar (3-10-1921):
pemberitahuan pertama RK Ziekenverpleging Sint Borromeus.
Dilandasi oleh semangat cintakasih Suster-Suster Cintakasih
Santo Carolus Borromeus, rumah perawatan orang sakit ini
Disambut Hangat Masyarakat, Berkembang Pesat 101
terbuka bagi siapa saja, apa pun latar belakangnya.
Diupayakan agar rumah perawatan ini juga mampu menolong
mereka yang berpenghasilan rendah. Pada 15 Oktober 1921
diumumkan di surat kabar De Preanger-bode:
“Di fasilitas rumah sakit tersebut di atas tersedia operasi
dan pembedahan tanpa biaya, memberikan pengobatan
kepada pasien dari kalangan atau negeri apa pun. Ini
merupakan langkah pertama untuk menjadi poliklinik dan
bangsal gratis, segera setelah dana memungkinkannya.”
Sejak 19 Oktober 1921 dan beberapa kali sesudahnya,
Ziekenverpleging Sint Borromeus menyampaikan pengumum-
an melalui surat kabar De Preanger-bode:
“Rumah Perawatan Santo Borromeus
Jalan Dago 80 – Telepon 1196
Perawatan operasi dan bedah gratis bagi pasien yang
pendapatan bulanannya kurang dari ƒ 250. Informasi lebih
lanjut dapat diperoleh dari Direktris, Moeder Gaudentia.”
Pasien-pasien terus mengalir di Ziekenverpleging Sint
Borromeus, termasuk yang sedang mengalami sakit berat dan
membutuhkan operasi. Hal itu membuat para suster perintis
begitu sibuk melayani para pasien.
Moeder Gaudentia Brandt menulis dalam buku harian:
“Kendati para suster sedemikian banyak pekerjaan,
sehingga mereka sering berjaga malam dan tidak jarang
mengalami kelelahan, namun demikian mereka tetap
dalam kegembiraan. Inilah suatu ungkapan semangat
102 The Eternal Light
kasih religius, yang mendayai mereka dalam rela
berkorban untuk siapa saja dan di mana pun yang
membutuhkan pertolongan tanpa mengenal keluh kesah.”
Dijalankan oleh Suster-Suster CB yang telah ditempa dengan
spiritualitas dan mentalitas yang kuat, ketulusan hati dan
budi, serta pengalaman yang panjang di Negeri Belanda dan
di Salemba-Batavia, Ziekenverpleging Sint Borromeus tumbuh
berkembang sebagai rumah perawatan orang sakit yang
dapat diandalkan oleh masyarakat.
Kadang-kadang di surat kabar muncul advertentie (iklan)
berisi dankbetuiging (ucapan terima kasih) dari mantan
pasien atau keluarganya atas pelayanan yang bagus dan tulus.
Berikut ini satu di antara ucapan-ucapan terima kasih yang
dimuat di surat kabar De Preanger-bode:
“Ucapan Terima Kasih
Yang bertanda tangan di bawah ini dengan sepenuh hati
menyatakan berterima kasih kepada Moeder dan Suster-
Suster Rumah Sakit St. Borromeus, Jalan Dago 80, atas
perawatan yang sangat baik di klinik yang disebutkan di
atas selama pemulihan dari operasi.
G. Renders, Jalan Braga 25”
Contoh lain adveretentie ucapan terima kasih:
“Ucapan Terima Kasih
Yang bertanda tangan di bawah ini mengucapkan terima
kasih dengan sepenuh hati kepada Moeder and Suster-
Disambut Hangat Masyarakat, Berkembang Pesat 103
Suster Rumah Sakit St. Borromeus atas perawatan yang
terhormat dan cermat di klinik tersebut selama pemulihan
dari operasi serius istri saya.
R.A. Soewïne”
Sekali lagi, sebuah contoh ucapan terima kasih:
“Ucapan Terima Kasih
Yang bertanda tangan di bawah ini mengungkapkan
terima kasih yang tulus kepada Moeder dan Suster Rumah
Sakit St. Borromeus atas perawatan yang baik dan penuh
kasih setelah operasi.
Nyonya H.J. Schröder”
Selain advertentie berupa dankbetuiging (ucapan terima
kasih) oleh pasien-pasien, sekali-sekali muncul pula di surat
kabar, familiebericht (berita keluarga) yang mengabarkan
kelahiran anak di Ziekenverpleging Sint Borromeus. Berikut ini
satu contoh di antaranya dalam surat kabar De Preanger-
bode:
“Bapak dan Ibu WYATT-Kempfer mengumumkan
kelahiran yang lancar atas Putri mereka IRÈNE.
Rumah Sakit St. Borromeus, Bandung, 15 Januari 1922.
Kami juga ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-
besarnya kepada Moeder yang terhormat dan Suster-
Suster St. Borromeus … atas penanganan penuh kasih dan
cakap yang dialami saat melahirkan putri mereka.
104 The Eternal Light
Bapak dan Ibu WYATT-Kempfer.
Bandung, 15 Januari 1922”
Seseorang yang pernah dirawat di Ziekenverpleging Sint
Borromeus menuliskan pengalamannya secara relatif detail
dalam sebuah artikel yang panjang, bahkan bersambung, di
surat kabar De Preanger-bode. Penulis yang hanya
menyebutkan inisial saja itu dalam artikel yang terbit 20
Agustus 1922 antara lain menegaskan:
“Setiap pasien, apa pun agama atau kebangsaannya,
dirawat dengan dedikasi yang sama yang menjadi ciri
klinik Katolik di seluruh dunia.
Dan para suster?
Meskipun kedengarannya apa yang saya sampaikan
kurang sopan, saya menyarankan agar Anda dirawat di
Rumah Sakit Borromëus. Saya yakin pendapat Anda akan
berubah total.”
Peduli kepada yang Berpenghasilan Rendah
Dua bulan sejak dibuka, 19 November 1921, Ziekenverpleging
Sint Borromeus menyampaikan pengumuman di surat kabar
mengenai tiga hal:
• Tersedia pelayanan bagi istri-istri yang bersalin, pasien-
pasien bedah dan penyakit dalam.
• Fasilitas Röntgen dengan alat modern.
• Dokter pilihan Anda.
Selang empat hari kemudian, pada 23 November 1921
Ziekenverpleging Sint Borromeus mengumumkan melalui
Disambut Hangat Masyarakat, Berkembang Pesat 105
surat kabar De Preanger-bode. Selain menginformasikan jenis
kelas rawat inap dan tiga hal tersebut, diumumkan pula:
“Mulai 1 Desember, BANTUAN OBSTETRIK gratis bagi
yang berpendapatan bulanan kurang dari f 400. BANTUAN
BEDAH gratis bagi yang berpendapatan bulanan kurang
dari f 250.”
Pengumuman tersebut terus-menerus dipasang di surat
kabar selama berbulan-bulan sepanjang akhir tahun 1921
dan sepanjang tahun 1922. Kebijakan tersebut
mencerminkan kepedulian Sint Borromeus Vereeniging
kepada masyarakat yang berpenghasilan rendah dari
kalangan apa pun. Ini merupakan sebuah kebijakan yang
sangat berani, yang didorong oleh kepedulian besar untuk
meringankan mereka yang membutuhkan pertolongan,
padahal rumah perawatan orang sakit baru saja dibuka, dan
masih sangat membutuhkan dana untuk mengoperasikannya.
Kehadiran Ziekenverpleging Sint Borromeus merupakan
berkat bagi masyarakat. Kehadirannya juga memperkaya
pertimbangan Pemerintah Gemeente Bandoeng dalam
mempersiapkan Het Algemeene Bandoengsche Ziekenhuis
(Rumah Sakit Umum Bandung, yang dibuka pada tahun 1923;
kemudian tahun 1927 menjadi Gemeentelijk Ziekenhuis
Juliana, kelak diubah namanya menjadi RS Rantja Badak,
kemudian RS Hasan Sadikin). Apalagi, Dr.ir. C.J. de Groot pada
tahun 1921 terpilih sebagai anggota Gemeenteraad (Dewan
Kotapradja).
Perlu dipahami bahwa pada dasawarsa 1920-an Pemerintah
semakin memberi perhatian pada kesehatan masyarakat.
Anggaran belanja bidang kesehatan ditingkatkan, rumah-
106 The Eternal Light
rumah sakit umum dibangun satu demi satu di setiap kota,
jumlah tenaga kesehatan pun meningkat. Sementara itu,
kalangan swasta juga berpartisipasi. Yang pertama memulai
adalah kalangan Kristen Protestan sejak akhir abad ke-19.
Kemudian disusul oleh kalangan Katolik. Kalangan
Muhammadiyah memulainya sejak tahun 1923; yang mana
rumah sakitnya dinamakan PKO (Penolong Kesengsaraan
Oemoem); kelak sejak tahun 1962 menjadi PKU (Pembina
Kesejahteraan Umat). Selain kalangan religius, perusahaan-
perusahaan (terutama perkebunan) pun mendirikan klinik,
bahkan rumah sakit.
“Angan-angan” semula bahwa Biara CB di Bandung dapat
menjadi tempat menyegarkan diri bagi para suster CB yang
telah bekerja keras di Salemba-Weltevreden-Batavia,
ternyata tidak tercapai. Ketika mereka berada di Bandung,
mereka tidak dapat beristirahat karena tidak tega melihat
rekan-rekan mereka di Bandung sangat sibuk bertugas
menangani pasien-pasien yang tiada henti.
Gambar. Pengumuman di surat kabar (07-11-1923): pemberitahuan dari
Borromeus yang membutuhkan seorang perempuan muda Indonesia
untuk mengelola urusan rumah tangga. Jadi, sekitar dua tahun sejak
pembukaan, tampaknya para suster perintis mulai memerlukan tenaga
selain suster
Disambut Hangat Masyarakat, Berkembang Pesat 107
Perubahan Pengurus Vereeniging
Seiring dengan waktu, terjadi perubahan personalia Bestuur
(Pengurus) van Sint Borromeus Vereeniging. Berikut ini
beberapa di antara perubahan-perubahan pada masa-masa
awal.
Gambar. Pastor Antonius van Hoof, SJ (Pastor-Kepala Bandung 1925–
1928; Sekretaris Sint Borromeus Vereeniging).
Pastor Petrus J.W. Muller, SJ dipindahtugaskan dari Gereja
Santo Petrus Bandung ke Gereja Santo Yusuf Gedangan-
Semarang pada tahun 1925. Posisi beliau sebagai
108 The Eternal Light
Hoofdpastoor van Bandoeng (Pastor Kepala Bandung) dan
Secretaris van Sint Borromeus Vereeniging digantikan oleh
Pastor Antonius van Hoof, SJ. Beliau sebelumnya bertugas di
Batavia, dan berkarya di Bandung hingga peran beliau
sebagai Hoofdpastoor van Bandoeng dan Sekretaris Sint
Borromeus Vereeniging digantikankan oleh Pastor Jacobus
Hubertus Goumans, OSC pada tahun 1928.
Ordo Salib Suci (Ordo Sanctae Crucis, OSC) memeroleh
amanat dari Gereja Katolik untuk menggembalakan umat di
kawasan Jawa Barat bagian timur (Bandung dan sekitarnya).
Imam-imam OSC hadir di Bandung sejak tahun 1927. Imam-
imam SJ berangsur-angsur ditarik, dan difokuskan hanya di
kawasan Batavia dan sekitarnya serta kawasan Semarang–
Yogyakarta–Surakarta. Selanjutnya, pada tahun 1932 Sri Paus
Pius XI mendirikan Prefektur Apostolik Bandung (kelak
menjadi Vikariat Apostolik Bandung pada tahun 1941, dan
kemudian Keuskupan Bandung pada tahun 1961), yang
pertama kali digembalakan oleh Mgr. Jacobus Hubertus
Goumans, OSC. Beliau tetap melanjutkan peran sebagai
Sekretaris Sint Borromeus Vereeniging.
Sementara itu, Dr.ir. C.J. de Groot wafat pada tahun 1927 di
Terusan Suez dalam perjalanan ke Eropa; beliau dimakamkan
di Den Haag. Posisi President/Voorzitter van het Bestuur van
Sint Borromeus Vereeniging digantikan oleh Prof. ir. Gerardus
Henricus Maria Vierling. Beliau seorang insinyur teknik
mesin. Sejak tahun 1924 beliau dipercaya sebagai hoogleraar
(guru besar) luar biasa dalam bidang teknik mesin di
Technische Hoogeschool te Bandoeng (TH Bandoeng). Pada
tahun 1929, atas permintaan sendiri, beliau mengundurkan
diri sebagai guru besar TH Bandoeng untuk menikmati hari
tua.
Disambut Hangat Masyarakat, Berkembang Pesat 109
Gambar. Mgr. Jacobus Hubertus Goumans, OSC
(Pastor-Kepala Bandung 1928–1932; Prefek Apostolik Bandung 1932 -
1941; Vikaris Apostolik Bandung 1941–1952; Sekretaris Sint Borromeus
Vereeniging)
Doktor Arthur Hubert Willem Marie Hermans dipercaya
untuk mengisi posisi President/Voorzitter van het Bestuur van
Sint Borromeus Vereeniging pada tahun 1929, menggantikan
Prof.ir. G.H.M. Vierling. Beliau aktif dalam Nederlandsch-Indië
Apothekers Vereeniging (Perhimpunan Apoteker Hindia
Belanda). Beliau juga co-founder dan Ketua Indische
Katholieke Wetenschappelijke Vereeniging (Perhimpunan
Sains Katolik Hindia) di Bandung. Beliau kembali ke Negeri
110 The Eternal Light
Belanda pada tahun 1930 karena dipercaya memimpin
sebuah pabrik kina.
Selanjutnya, Johannes Jacobus Ludovicus Anthonie Wijnne
dipercaya untuk menduduki posisi Voorzitter van het Bestuur
van Sint Borromeus Vereeniging pada tahun 1930. Beliau
adalah Voorzitter van de Nederlandsch-Indië Apothekers
Vereeniging (Ketua Perhimpunan Apoteker Hindia Belanda).
Beliau juga Voorzitter van de Afdeling Bandoeng der Indische
Katholieke Wetenschap Vereeniging (Ketua Cabang Bandung
Perhimpunan Sains Katolik Hindia). Beliau kembali ke Negeri
Belanda pada tahun 1935.
Kemdian, posisi Voorzitter van het Bestuur van Sint
Borromeus Vereeniging dilanjutkan oleh mr. H.C.P. Korte,
seorang advokat yang juga Voorzitter der Middenstands-
vereeniging Bandoeng (Ketua Perhimpunan Kelas Menengah
Bandung). Beliau aktif dalam upaya memajukan
perkembangan masyarakat Bandung.
Berkembang Pesat
Diberitakan dalam sebuah surat kabar bahwa sepanjang
tahun 1922 Ziekenverpleging Sint Borromeus melayani 5.567
hari rawat inap, yang mana 3.685 di antaranya [66%] bukan
pasien Katolik. Ada pun sepanjang tahun 1922 ruang operasi
digunakan untuk 127 operasi. Perlengkapan Röntgen dengan
alat modern, sangat bermanfaat. Terjadi 111 opname
Röntgen, 250 iradiasi, dan 20 skrining. Diberitakan pula
bahwa Ziekenverpleging Sint Borromeus membangun dua
kamar untuk pasien yang berpenghasilan rendah, dengan
tarif hanya 4 gulden sehari. Apabila kontribusi, sumbangan,
dan dukungan finansial meningkat, diharapkan jumlah kamar
Disambut Hangat Masyarakat, Berkembang Pesat 111
untuk pasien berpenghasilan rendah akan dapat ditambah.
Pada awal tahun 1923 terdapat 9 (sembilan) suster yang
melayani, dan menurut rencana akan ditambah. Dengan
bertambahnya jumlah suster maka Zusterhuis (Biara/Rumah
Suster) yang berupa rumah kayu tidak mampu menampung
lagi sehingga perlu dibangun Zusterhuis baru yang sederhana
dan efisien.
“ … yang mana 3.685 di antaranya [66%]
bukan pasien Katolik.”
Pelayanan dan manajemen Ziekenverpleging Sint Borromeus
sangat dipuji dan menjadi bahan kajian yang sangat berharga
bagi Pemerintah Gemeente Bandoeng yang waktu itu sedang
membangun sebuah rumah sakit umum kotapraja. Sesudah
Rumah Sakit Umum Bandung diresmikan pun, pelayanan dan
manajemen Ziekenverpleging Sint Borromeus terus menjadi
kajian-perbandingan.
Keadaan Ziekenverpleging Sint Borromeus pada tahun 1924
diberitakan oleh De Java Pos (30 Januari 1925) sebagai
berikut:
“RUMAH PERAWATAN ST. BORROMEUS
Berikut ini diambil dari laporan tahunan 1924 lembaga di
atas.
Pada tahun yang ditinjau, 550 pasien dirawat di Rumah
Perawatan Katolik St. Borromeus di Jalan Dago, yang
112 The Eternal Light
terdiri dari 151 orang Katolik [27 %] dan 399 bukan
Katolik [73 %]. Jumlah operasi 267, kelahiran 55,
perawatan bedah 71.
Tercatat 6.677 hari perawatan, sehingga rata-rata lebih
dari 18 pasien dirawat per hari.
Apabila dirasakan kebutuhan mendesak untuk memung-
kinkan rumah sakit memperluas fasilitasnya, beberapa
bidang tanah-bangunan yang bersebelahan harus dibeli.
St. Borromeus akan menjadi pemilik atas tanah seluas
6.508 m2.
“ … yang terdiri dari 151 orang Katolik [27 %]
dan 399 bukan Katolik [73 %].”
Dengan Moeder Gaudentia diangkat menjadi Overste Santo
Carolus di Batavia, Moeder Anselma diangkat menjadi
Overste Santo Borromeus. Laporan tersebut memberikan
penghormatan kepada Moeder Gaudentia atas dedikasi
beliau yang luar biasa dan kebijakan yang bijaksana.
Beliau akan terus hidup dalam kenangan indah dari
banyak orang Bandung.
Lebih lanjut ditekankan bahwa pilihan bebas dokter harus
dijamin tanpa syarat apa pun. Setiap pasien bisa memilih
dokter yang disukainya. Baik dewan direksi maupun para
suster tidak boleh dan tidak akan memberikan pengaruh
sedikit pun atas pilihan tersebut.
Disambut Hangat Masyarakat, Berkembang Pesat 113
Namun, karena lembaga ini secara alami membutuhkan
informasi teknis …, Dokter Rizzi akan bertindak sebagai
ahli bedah, Dokter Borst sebagai ahli penyakit dalam.
Pasien yang tidak memiliki dokter sendiri dan tidak
memiliki preferensi untuk dokter tertentu akan dirujuk
kepada salah satu dokter yang disebutkan di atas sejauh
menyangkut spesialisasinya. Semua pasien lain tetap di
bawah perawatan dokter pilihan mereka. Untuk semua
hal, baik pasien maupun dokter yang merawat harus
berpaling kepada direktur utama, Moeder Anselma.
Gambar. Moeder Anselma Berger
(Direktris RK Ziekenverpleging Sint Borromeus yang kedua,
1924–1928).
114 The Eternal Light
Di bawah arahan Dokter Beets, beberapa perbaikan akan
dilakukan pada peralatan Röntgen. Sehubungan dengan
penggunaan perangkat Röntgen, Dokter Beets akan
menyediakan waktu konsultasi pada hari Senin, Selasa,
Kamis, dan Jumat dari pukul 5 hingga 6 sore di St.
Borromeus.
Skema tarif tetap tidak berubah untuk biaya perawatan;
namun, tarif yang lebih rendah akan ditetapkan untuk
penggunaan perangkat Röntgen. Suatu saat dengan senang
hati akan memperpanjang bagian di mana pasien
membayar 4 gulden sehari dan bahkan akan melanjutkan
pembangunan bagian yang gratis; tapi sumber daya belum
memungkinkannya untuk saat ini.
Untuk alasan yang sama, seseorang juga harus menunggu
pelaksanaan rencana pembangunan di lokasi yang baru
diperoleh, sampai modal yang dibutuhkan dapat dipinjam
dengan bunga yang moderat. Pada prinsipnya, disepakati
juga untuk mendirikan bagian anak-anak dengan
perlengkapan khusus pada kesempatan perluasan kelak.
Laporan ini diakhiri dengan ucapan terima kasih kepada
para suster, yang melalui dedikasi yang tidak
mementingkan diri membuat diri mereka sangat
bermanfaat bagi Santo Borromeus, dan perawatannya
yang cermat sangat dipuji oleh para mantan pasien.
Kami bertindak sepenuhnya dalam semangat Pengurus
Santo Borromeus ketika kami menambahkan kata
penghormatan hangat (juga terima kasih pribadi) atas
perpisahan dengan Dokter … yang memiliki kecakapan
bedah yang diakui dan pengabdian beliau yang tanpa lelah
Disambut Hangat Masyarakat, Berkembang Pesat 115
telah memberikan kontribusi yang besar bagi nama baik
dan kesejahteraan Rumah Sakit St. Borromeus.”
Dokter Wilhelm Rizzi
Pada tahun 1925 Dokter Wilhelm Rizzi dipercaya sebagai
directeur-geneesheer (direktur medis). Jabatan itu beliau
emban sampai sekitar tahun 1936, dan kemudian beliau
masih sebagai penasihat medis ketika sudah tidak lagi
sebagai direktur medis.
Dokter W. Rizzi lahir di Kötschach, Austria, pada 8 April 1886.
Setelah bertugas sebagai dokter tentara semasa Perang Dunia
I di Eropa, beliau ditugaskan di Indonesia pada tahun 1922,
sangat sebentar di Magelang, kemudian dipindahkan di
Cimahi. Tahun 1922 itu pula beliau mulai berkarya di
Ziekenverpleging Sint Borromeus, bahkan pada 1 Februari
1925 dipercaya sebagai derecteur-geneesheer (direktur
medis). Beliau mengundurkan diri sebagai dokter tentara
pada tahun 1925, dan lebih banyak berkarya di
Ziekenverpleging Sint Borromeus.
Antara lain berkat beliaulah Ziekenverpleging Sint Borromeus
disambut hangat dan memeroleh kepercayaan masyarakat.
Dokter Rizzi seorang dokter bedah dan dokter kewanitaan
yang bersahaja, yang dengan tulus bersedia bekerja siang-
malam untuk menolong para pasien, termasuk para pasien
miskin. Pengurus Sint Borromeus Vereeniging, para suster,
para para pasien, dan masyarakat sangat respek dan
mencintai beliau. Beliau wafat ketika sedang cuti, di tempat
kelahiran beliau, Kötschach, pada 6 Agustus 1938, dalam usia
52 tahun.
116 The Eternal Light
Kapel dan Renovasi Bangunan
Berkat kepercayaan masyarakat, pelayanan Ziekenverpleging
Sint Borromeus terus berkembang. Sebuah biara beserta
kapel yang lebih memadai, yang merupakan jantung
spiritualitas Suster-Suster CB, dibangun dan diresmikan pada
Senin Pahing, 3 Agustus 1925. Surat kabar Algemeen
Handelsblaad voor Nederlandsch-Indië menulis:
“Peresmian Kapel
Senin yang lalu peresmian kapel baru Rumah Sakit
Borromeus di Bandung berlangsung secara khidmat.
Sebelum dimulai peresmian, banyak tamu telah
berkumpul di gedung untuk melihat gereja yang indah,
lapor ‘A.I.D. [Algemeen Indische Dagblad]’. Banyaknya
rangkaian bunga, yang diterima oleh Suster-Suster pagi
itu, menambah kemeriahan di kapel, yang pantas untuk
hari yang penting itu.
Kedatangan Yang Mulia Monseigneur Van Velsen [Mgr.
Anton Pieter Franz van Velsen, SJ (Vikaris Apostolik
Batavia)] diumumkan sekitar pukul 8 pagi. Para tamu dan
paduan suara Caecilia berkumpul di halaman depan.
Kemudian Monseigneur melangkah keluar, didampingi
oleh imam-imam dan para anggota paduan suara. Pintu
masuk utama kapel ditutup, setelah itu upacara dimulai.
Setelah “Asperges me” dinding luar gereja diberkati dengan
percikan air suci. Paduan suara mengiringinya sambil
menyanyikan "Miserere". Kemudian mereka memasuki
kapel dalam prosesi sambil menyanyikan Litani Semua
Orang Kudus. Kemudian tembok bagian dalam diberkati
dengan cara yang sama, diiringi nyanyian Mazmur biasa.
Disambut Hangat Masyarakat, Berkembang Pesat 117
Ketika peresmian yang sebenarnya telah dilakukan, gereja
dibuka untuk para tamu, setelah itu Misa Agung
dipersembahkan oleh beliau. Dalam sambutan singkatnya,
Pastor Muller mengharapkan kebahagiaan suster-suster
yang merindukan Rumah Tuhan yang baru. Dalam
beberapa kata beliau menyampaikan arti motif dan
lambang yang sangat sesuai pada jendela melengkung.
Gambar. Mgr. Anton Pieter Franz van Velsen, SJ (Vikaris Apostolik
Batavia 1924–1933), yang meresmikan Kapel Hati Kudus Yesus, 1925.
Terima kasih disampaikan kepada para desainer dan
kontraktor (Bouwkundig Bureau Van Oijen en Bumkens,
Javasche Glasindustrie) atas hasil akhir yang rapi secara
keseluruhan. Setelah upacara, sebagian besar tamu tinggal
118 The Eternal Light
bersama selama beberapa waktu; selama waktu itu suster-
suster menawarkan minuman. Kami dengan senang hati
menambahkan banyak ucapan selamat yang diterima oleh
Suster-Suster hari itu yang juga milik kita.”
Sebagai ungkapan devosi para suster CB perintis, kapel
tersebut dipersembahkan kepada Hati Kudus Yesus (Hati
Yesus Yang Mahakudus). Ini merupakan sebuah devosi rohani
kepada hati Yesus yang menjadi lambang cinta ilahi kepada
umat manusia. Hati Kudus Yesus dirayakan pada hari Jumat,
19 hari sesudah Pentakosta.
Pada prasasti peresmian Kapel Hati Kudus Yesus tertulis:
Untuk keagungan Allah yang lebih besar
Kapel ini didedikasikan
kepada Hati Kudus Yesus
oleh Mgr. A.P.F. van Velsen
pada 3 Agustus 1925
P.J.W. Muller, Pastor.
Moeder Anselma, Pemimpin St. Borromeus.
Dirancang dan dibangun oleh
Biro Bangunan van Oijen dan Bumkens
Pada interior kapel tertera sebuah kalimat dalam bahasa
Latin, Adoro Te devote latens Deitas (Allah yang tersamar,
Dikau kusembah). Ini merupakan kalimat pertama sebuah
himne yang diciptakan oleh Santo Thomas Aquinas (1225–
1274). Himne ini diciptakan untuk menghormati Yesus dalam
Sakramen Mahakudus atas permintaan Paus Urbanus IV.
Disambut Hangat Masyarakat, Berkembang Pesat 119
Gambar. Kapel Hati Kudusl Yesus (kiri) dan Biara Suster CB (kanan)
diresmikan pada 3 Agustus 1925, berlokasi di pinggir Borromeusweg
(kemudian dinamakan Borromeuslaan, lalu Jalan Suryakencana). Bagian
tengah merupakan bagian dari Biara; biasanya untuk suster
pemimpin/senior.
120 The Eternal Light
Gambar. Interior Kapel Hati Kudus Yesus pada masa lalu.
Bukan hanya biara dan kapel, bagian-bagian di dalam rumah
perawatan orang sakit juga diperbarui. Dalam buku
peringatan seratus tahun Kongregasi CB (1937) ditulis:
“Rumah sakit itu secara bertahap diperluas dan
dimodernisasi. Pada tanggal 29 Juni 1925 pembangunan
paviliun baru dimulai. Perbaikan terus meningkat.
Misalnya pada tanggal 15 September dilakukan pergantian
bangunan yang sudah ada, antara lain meninggikan dan
meratakan serambi, pembangunan ruang jenazah,
perluasan ruang cuci, pembuatan bilik telepon, pembuatan
ruang pendingin, pembangunan beranda, dll. Tanggal 23
Desember berlangsung pembukaan bagian Röntgen yang
baru: pejabat-pejabat yang berwenang hadir pada upacara
ini.”
Disambut Hangat Masyarakat, Berkembang Pesat 121
Gambar. Kapel Hati Kudus Yesus, diresmikan pada 3 Agustus 1925. Foto
tahun 2021
122 The Eternal Light
Gambar. Interior Kapel Hati Kudus Yesus. Foto tahun 2021.
Pendidikan Keperawatan Sejak 1926
Dengan perkembangan tersebut, mau tidak mau dibutuhkan
tambahan tenaga perawat. Untuk itu pada tahun 1926
dimulailah Opleiding van Mantri-Verpleegster voor den
Algemeene Dienst en voor het Krankzinnigenwezen (Pendi-
dikan Mantri-Perawat untuk Layanan Umum dan untuk
Penderita Gangguan Jiwa). “Mantri verpleegster” merupakan
Disambut Hangat Masyarakat, Berkembang Pesat 123
istilah yang digunakan pada waktu itu untuk perempuan
pembantu perawat (atau “mantri verpleger” untuk laki-laki).
Perlu dipahami bahwa jumlah verpleegster dan verpleger di
Indonesia waktu itu masih sangat sedikit; itu pun masih
banyak orang Belanda. Di Negeri Belanda waktu itu,
pendidikan formal keperawatan orang sakit (zieken-
verpleging) dibagi menjadi dua bagian, yaitu Diploma A untuk
algemeene ziekenverpleging (keperawatan umum) dan
Diploma B untuk krankzinnigenverpleging (keperawatan
untuk penderita gangguan jiwa). Pendidikan untuk meraih
Diploma A atau B dapat ditempuh selama paling cepat tiga
tahun bagi lulusan voorbereidend middelbaar beroeps-
onderwijs (persiapan pendidikan menengah vokasional), dan
merupakan bagian dari jenjang middelbaar beroepsonderwijs
(pendidikan menengah vokasional). Pendidikan untuk
mempersiapkan dan mencapai Diploma Ziekenverpleging itu
belum terdapat di Indonesia. Sejumlah verpleegster yang
berkarya di Indonesia adalah orang-orang Belanda yang telah
lulus belajar dan memeroleh Diploma A atau B di Negeri
Belanda.
Dengan bertumbuhnya pelayanan kesehatan dan rumah-
rumah sakit maka kebutuhan akan perawat pun meningkat.
Karena keterbatasan jumlah perawat maka diciptakanlah apa
yang dinamakan mantri-verpleegster, yang akan lumayan
membantu pekerjaan keperawatan. Istilah mantri berasal-
usul dari bahasa Jawa, yang pada masa lalu berarti orang-
orang cakap yang dipercaya sebagai pembantu seorang
pemimpin (bandingkan dengan istilah menteri). Dalam
konteks abad ke-19 dan abad ke-20 zaman Nederlandsch-
Indië, istilah mantri digunakan untuk mengungkapkan peran/
jabatan seorang petugas yang memiliki kecakapan tertentu
124 The Eternal Light
untuk membantu pelaksanaan tugas petugas/pejabat yang
lebih kompeten atau lebih berwenang. Pada awal abad ke-20
setiap rumah sakit atau klinik mendidik para mantri-
verpleegster sesuai dengan kebutuhan mereka dan dengan
cara mereka sendiri-sendiri.
Gambar. Penampilan para mantri-verpleegster sekitar tahun 1920 di
Solo (Surakarta).
Gediplomeerd verpleegster (perawat berdiploma) waktu itu
biasanya berkomunikasi secara langsung dengan para dokter
dan menangani pasien-pasien Eropa dalam bahasa Belanda.
Sedangkan mantri-verpleegster bertugas membantu
verpleegster, menjadi asisten laboratorium, atau menangani
pasien-pasien bukan Eropa. Bagaimana pun, diperlukan
kefasihan pada taraf tertentu dalam berbahasa Belanda
Disambut Hangat Masyarakat, Berkembang Pesat 125
karena pengetahuan medis, alat-alat, dan dokumen-dokumen
dinyatakan dalam bahasa Belanda.
Pada tahun 1921 di Negeri Belanda ditetapkan peraturan
perundang-undangan yang memberikan perlindungan hukum
terhadap diploma keperawatan, yang mulai berlaku efektif
sejak tahun 1924. Pada tahun 1925 di Indonesia, terbit
ketentuan Pemerintah Nederlandsch-Indië bahwa hanya
mantri-verpleegster yang telah lulus ujian oleh Dienst der
Volksgezonheid (Dinas Kesehatan Rakyat) saja yang akan
diakui dan dapat memeroleh subsidi Pemerintah.
Perlu dicatat bahwa pendidikan untuk mantri-verpleegster
pada zaman itu masih dilakukan oleh rumah sakit yang
memiliki sumber daya untuk melakukan program
pendidikan. Belum terdapat lembaga pendidikan tersendiri
untuk mendidiknya. Untuk menjadi mantri-verpleegster
tweede klasse (kelas dua) diperlukan waktu sekurang-
kurangnya 3 (tiga) tahun mengikuti pendidikan dengan
pengantar bahasa Melayu, namun istilah-istilah pengetahuan
medis sering kali masih dalam bahasa Belanda dan Latin.
Tampaknya, agar dapat menempuh pendidikan mantri-
verpleegster dengan lancar, seseorang perlu lulus Hollandsch-
Inlandsche School (HIS), Hollandsch-Chineesche School (HCS),
atau Schakelschool, yaitu pendidikan dasar dengan bahasa
Belanda sebagai bahasa pengantar.
Selanjutnya, bagi mantri-verpleegster yang sudah cukup
berpengalaman dan dianggap cakap, dapat melanjutkan
pendidikan selama sekitar 2 (dua) tahun dan menempuh
ujian untuk menjadi mantri-verpleegster eerste klasse (kelas
satu). Mantri-verpleegster kelas satu memiliki tanggung jawab
yang lebih besar daripada kelas dua.
126 The Eternal Light
Yang menarik adalah bahwa Ziekenverpleging Sint Borromeus
semula bermaksud mendidik pula mantri-verpleegster untuk
krankzinnigenwezen (penderita gangguan jiwa). Ini
merupakan bentuk kepedulian Borromeus terhadap keadaan
masyarakat waktu itu. Pada masa itu para penderita
gangguan jiwa di Indonesia tidak memeroleh perawatan yang
layak. Saat itu terdapat beberapa rumah sakit jiwa: di Bogor
(1882, yang pertama di Indonesia), di Lawang (1902), di
Magelang (1923), dan di Sabang (1923). Selain itu terdapat
pula rumah rawat perantara di Surakarta (1919) dan di
Batavia (1924). Akan tetapi, kemudian pendidikan mantri-
verlpleegster voor krankzinnigenwezen Borromeus tidak
dilanjutkan, dan difokuskan pada pendidikan keperawatan
umum.
Instalasi Röntgen Baru
Ziekenverpleging Sint Borromeus pada dasawarsa 1920-an
terus melaju. Peralatan Röntgen pun diperbarui. Surat kabar
Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië (28-12-1926)
memberitakan:
“Instalasi Röntgen yang Baru
Koresponden kami di Bandung menginformasikan:
Di Rumah Sakit Borromeus di sini diserahkan secara resmi
instalasi Röntgen oleh Siemens & Halske kepada
manajemen institusi rumah sakit ini, yang mana hadir
Pastor Van Hoof, Prof. Vierling, dan Bapak Orie. Hadir pula
Dokter Rizzi, Dokter Nauta, Mayjen. yang juga Kepala
Dinas Kedokteran Militer, ir. Pool dari Dinas Kedokteran
Militer, Moeder, dan beberapa Suster lain rumah sakit.
Disambut Hangat Masyarakat, Berkembang Pesat 127
Sambutan pertama adalah Dokter Beets, mewakili
Perhimpunan Santo Borromeus, yang menyapa semuanya.
Beliau mengatakan bahwa acara dihadiri sedikit orang
tertentu saja mengingat ruang yang terbatas.
Perangkat Silipan baru merupakan yang paling modern
untuk keperluan terapi diagnostik campuran.
Tidak ada suara berisik di sini yang disebabkan oleh mesin
yang sedang berjalan dan percikan api yang berderak.
Beliau gembira bahwa Bandung-lah yang pertama kali
memiliki instalasi semacam itu di Indonesia.
Atas pemasangan yang rapi diucapkan terima kasih
kepada perusahaan.
Sebagai tamu kehormatan, telah diundang dr. Nauta dan ir.
Pool. Jenderal Nauta adalah ahli radiologi Indonesia.
Selanjutnya, perwakilan dari perusahaan, Bapak Bakhuis,
memberikan penjelasan teknis tentang peralatan paling
modern itu dan berharap klinik Borromeus sukses dengan
fasilitas tersebut.
Prof. ir. Vierling atas nama Perhimpunan Santo Borromeus
mengucapkan terima kasih.
Moeder kemudian memandu
acara, yang mana Pastor Van Hoof [Pastor Antonius van
Hoof, SJ] merupakan ‘pasien’ pertama.”
128 The Eternal Light
Gambar. Sebuah potongan peta tahun 1926 yang berfokus pada kampus
Technische Hoogeschool. Bagian yang dilingkari adalah lokasi RK
Ziekenverpleging Sint Borromeus, yang mana jalan di belakangnya
dinamakan Borromeusweg (kemudian diubah menjadi Borromeuslaan,
dan kemudian Jalan Suryakencana).
Disambut Hangat Masyarakat, Berkembang Pesat 129
Gambar. RK Ziekenverpleging Sint Borromeus dipandang dari arah
selatan-barat daya pada tahun 1926, sebelum dibangun Sint Jozef
Paviljoen.
Paviliun Yosef
Sementara itu, pada tahun 1926 direncanakan pula
pembangunan sebuah paviliun untuk memperluas kapasitas.
Tahun 1927, ketika Kongregasi CB berusia 90 tahun,
merupakan tahun yang penting bagi Ziekenverpleging Sint
Borromeus. Surat kabar Het nieuws van den dag voor
Nederlandsch-Indië (2 Juli 1927) memberitakan:
“Minggu 3 Juli, di Bandung akan terdapat sayap baru
Rumah Sakit Santo Borromeus yang dinamakan Paviliun
Yosef. Bangunan baru tersebut merupakan bagian dari
kompleks, di mana Anda dapat melihat pemandangan
indah ke dataran tinggi dengan pegunungan di sekitarnya.
130 The Eternal Light
Pintu masuk dengan ruang para suster dan ruang
konsultasi di Jalan Dago mengarah ke sebuah koridor di
mana ruang-ruang rawat inap berada, yang mengikuti
persyaratan terbaru bangunan rumah sakit modern.
Ruang layanan berada di bagian terpisah, sehingga pasien
tidak diganggu.
Konstruksi dirancang dan dikelola dalam arahan Biro
Arsitek dan Insinyur Fermont-Cuypers, dan dikerjakan
oleh Biro Bangunan Koopman di Bandung. "
Pada 3 Juli 1927 upacara pemberkatan Paviliun Yosef, yang
terletak di sudut Pottersweg (kelak diubah menjadi
Bernhardlaan, dan kemudian menjadi Jalan Hasanudin),
dipimpin oleh Pastor J.H. Goumans, OSC. Pengurus Sint
Borromeus Vereeniging, para suster, para dokter, para
undangan, menghadiri upacara pembukaan.
“ … Anda dapat melihat pemandangan indah
ke dataran tinggi dengan pegunungan
di sekitarnya.”
Surat kabar De Koerier (4-7-1927) memberitakan:
“Peresmian Paviliun St. Yosef
Siapa pun yang mengarahkan pandangan secara leluasa ke
utara dari G.B. [Gouvernements Bedrijven, semacam
Disambut Hangat Masyarakat, Berkembang Pesat 131
Kementerian BUMN, yang waktu itu berlokasi di Gedung
Sate] terutama akan terpesona oleh lokasi yang indah dari
Borromeus. Kapel dengan menaranya yang ramping
memberikan suasana lanskap, damai, dan tenang. Dan itu
berkat biro N.V. Biro Arsitek dan Insinyur Fermont dan
Cuypers, bahwa Paviliun St. Yosef yang baru berpadu
sempurna dengan kompleks bangunan yang sudah ada.
Sebuah karya arsitektur yang cerdas oleh sesama warga
kota kita, Bapak Koopman yang cakap, dilaksanakan
dengan sama cerdiknya.
Pintu masuk dengan ruang suster dan ruang konsultasi di
kiri dan kanan mengarah ke koridor lebar, di mana kamar-
kamar luas terletak di kedua sisi. Semuanya dilengkapi
sesuai dengan persyaratan terbaru dari bangunan rumah
sakit modern.
Semua terlihat segar dan jernih dengan meja cuci tetap
yang terpasang; lemari dinding dan lantai, dinding, dan
langit-langit bersudut bulat. Perabotannya juga sangat
enak dan nyaman. Semua tempat tidur dilengkapi dengan
kasur Auping dan tentu saja disertai perlengkapan yang
sesuai dengan persyaratan kebersihan.
Ruang di depan galeri kamar pasien memberikan
pemandangan Bandung dan pegunungan yang indah dan
membuat banyak pengunjung hampir ingin berbaring di
sana (sakit).
Kotak-kotak bunga bata di sepanjang jalan masuk gedung
juga terlihat bersahabat.
132 The Eternal Light
Gambar. Sint Jozef Paviljoen yang pertama, dipandang dari sudut
Dagoweg dan Potterweg (kemudian dinamakan Bernhardlaan, lalu Jalan
Hasanudin). Pintunya menghadap Dagoweg.
Ruang layanan bertempat di sayap terpisah dan terhubung
ke bangunan utama oleh galeri panjang. Nantinya koridor
ini akan digunakan sebagai penghubung ke paviliun kedua
yang akan dibangun. Tetapi itu masih rencana untuk masa
depan!
Disambut Hangat Masyarakat, Berkembang Pesat 133
Kami sudah menyebut biro bangunan J.H. Koopman
sebagai kontraktor.
Penerangan listrik dan pipa ledeng direncanakan dan
dilaksanakan oleh perusahaan perdagangan Techn., yang
dahulu bernama De Rooy, di sini.
Instalasi petir dan cangkang oleh S.W. Perquin di
Weltevreden, yang juga merawat perpipaan interior untuk
pemasangan radio. Satu set radio sudah ada. Melalui
headphone, pasien akan diberikan kesempatan untuk
menikmati musik radio.
Ubin lantai dari P.E. Wener, ubin dinding 'Iris', kaca patri
NVANIGGI, koridor lantai Euböolith yang dibangun di sini
oleh biro perdagangan Kerner, dan lentera rapi di pintu
masuk dari bengkel konstruksi 'De Unie' di Bandoeng,
semuanya berkontribusi dalam mempercantik bangunan.
Kita bisa menjelaskan secara singkat tentang peresmian.
Di hadapan Pastor V. Hoof, SJ dan Van Offeren, SJ,
pengurus dan banyak suster rumah sakit, Bapak Fermont,
beberapa orang dokter dan banyak umat Katolik; Pastor
J.H. Goumans, OSC memimpin upacara yang telah
dipersiapkan, setelah itu mereka yang hadir mengunjungi
gedung, yang menampilkan banyak rangkaian bunga.”
Selanjutnya, pada 1 Oktober 1928 dimulai pembangunan
Paviliun Yosef II. Tidak lama kemudian dimulai pula
pembangunan Paviliun Yosef III. Dengan perkembangan
tersebut, kemudian Ziekenverpleging Sint Borromeus memiliki
kapasitas 90 tempat tidur dan dilayani oleh 34 suster.
134 The Eternal Light
Gambar. Sint Jozef Paviljoen yang pertama; pintunya menghadap
Dagoweg. Bagian kanan adalah Sint Jozef Paviljoen yang kedua;
pintunya menghadap Potterweg (Bernhardlaan, Jalan Hasanudin).
Surat kabar De Koerier (23-11-1931) memberitakan
pemberkatan paviliun Yosef III pada 22 November 1931:
“Rumah Perawatan St. Borromeus
Kemarin sore bagian ketiga Paviliun St. Yosef, yang sudah
selesai dibangun, diberkati oleh Pastor Goumans, tanpa
upacara istimewa. Bagian baru tersebut berisi beberapa
ruangan dengan satu, dua, atau tiga tempat tidur, dan
Disambut Hangat Masyarakat, Berkembang Pesat 135
paviliun anak-anak yang indah dengan beberapa boks
untuk pasien. Sebuah kamar untuk ibu hamil yang
membutuhkan pertolongan, masih dalam pembangunan.
Semuanya terlihat rapi dan segar; tempat tidur bayi, sofa,
dan perabotan lain dipasok oleh kantor teknik dan
perdagangan Kerner di sini.
Desainnya dibuat oleh firma Fermont Cuijpers, dan Bapak
J.N. Koopman melakukan pekerjaan itu. Dalam waktu
dekat bagian baru tersebut akan mulai digunakan.”
Gambar. Sint Jozef Paviljoen yang kedua. Pintunya menghadap
Potterweg (Bernhardlaan, Jalan Hasanudin).
136 The Eternal Light
Keberadaan Paviliun Yosef membuat Sint Borromeus
Ziekenverpleging semakin “bersinar”. Tampaknya sesudah
peresmian, Paviliun Yosef III menjadi bahan pembicaraan
masyarakat, sehingga surat kabar De Koerier (5-12-1931)
memberitakan:
“Pekan ini bagian ketiga Rumah Sakit Borromeus mulai
digunakan, yang mana rumah sakit tersebut telah selesai,
setelah bagian pertama selesai 4 tahun yang lalu dan
bagian kedua 2 tahun yang lalu. Tata letak paviliun ketiga
ini dijaga dengan semangat yang sama dengan dua
paviliun lain. Sebagian perabot paviliun kedua, yang
sedang direstorasi, telah dipindahkan sementara ke
paviliun ketiga. Dua ubin lebar telah dihapus dari galeri
telinga di paviliun baru, yang lebih membuat lega ruang-
ruang di kamar.
Juga di kamar ini terdapat tempat tidur Kero yang dibuat
khusus. Lemari built-in masih baru. Yang sangat luar biasa
adalah bagian terakhir Borromeus, melalui kamar anak-
anak dan kamar bayi, yang merupakan bagian paling
bagus dari paviliun baru.
Kamar anak yang cerah dan segar, yang dapat menampung
lima orang anak-anak, terletak di ujung paviliun dan
ditutup dengan pintu ganda, sehingga gangguan yang
ditimbulkan oleh kehadiran anak-anak untuk pasien lain
dapat diminimalisasi. Tempat tidur dipisahkan oleh sekat
kaca yang tinggi, yang memungkinkan untuk merawat
penderita berbagai penyakit.
Disambut Hangat Masyarakat, Berkembang Pesat 137
Gambar. Sint Jozef Paviljoen yang ketigga; pintu menghadap
Borromeusweg (kemudian dinamakan Borromeuslaan, kemudian Jalan
Suryakencana). Foto pada Desember 1931.
Taman bermain luar ruangan dengan lantai kayu masih
dalam proses pembangunan. Kamar bayi yang baru dibagi
menjadi dua bagian. Yang terbesar, yang dapat merawat
12 bayi sekaligus, adalah untuk bayi yang baru lahir; bayi
berusia dua minggu ke atas dirawat di bagian yang lebih
kecil. Dinding di bagian terbesar dihias, antara lain,
dengan potret semua orang yang lahir di rumah, termasuk
beberapa, yang berasal dari 10 tahun yang lalu.
138 The Eternal Light
Bagian bayi memiliki dapur bayi dan ruang bilas. Sebuah
galeri penghubung tertutup dari paviliun baru sekarang
memungkinkan untuk memasuki gereja tanpa terhalang
oleh cuaca hujan.
Paviliun ini dibangun oleh firma Fermont Cuypers, dan
kontraktor Bapak J.N. Koopman.
Fasilitas sanitasi dipasok oleh firma de Rooy, perabot baru
oleh firma Kerner.
Seperti yang dikatakan, beberapa restorasi paviliun kedua
sedang dilakukan. Di antaranya pengecatan dinding, dan
ruang tunggu diubah menjadi sebuah ruangan yang ke
depan akan memberikan kesempatan untuk mengasuh
lima orang ibu bersalin yang kurang mampu.”
Tampaknya Paviliun Yosef masih menjadi bahan
pembicaraan masyarakat sehingga surat kabar De Koerier
(26-02-1932) kembali menurunkan tulisan:
“Paviliun St. Yosef
Paviliun St. Yosef di Rumah Sakit St. Borromeus,
sehubungan dengan masuknya pasien yang terus
meningkat, kembali diperluas dengan gedung baru, yang
baru saja selesai dibangun. Paviliun anak-anak yang besar
dan bangsal bersalin baru telah ditambahkan, yang
terakhir dapat menampung 12 pasien. Di paviliun anak-
anak terdapat bagian untuk anak-anak yang sakit dan
sebuah ruangan besar untuk bayi-bayi, di mana banyak
anak-anak kecil dapat diterima. Selain itu, terdapat satu
Disambut Hangat Masyarakat, Berkembang Pesat 139
bagian untuk bayi yang sakit, di mana lima pasien dapat
dirawat.
Karena keadaan saat itu, tidak ada grand opening Paviliun
St. Yosef yang telah diperbesar. Hanya peresmian yang
dilakukan oleh Pastor Goumans.”
Menyusul perkembangan itu, Ziekenverpleging Sint
Borromeus kemudian membuka sebuah poliklinik untuk
anak-anak bagi yang kurang mampu. Surat kabar De Koerier
(6-9-1932) memberitakan:
“Mulai besok 7 September [1932] setiap hari Rabu dari
jam 10 pagi sampai 11 pagi di Poliklinik Borromeus untuk
anak-anak yang kurang mampu dan tidak beruntung oleh
dr. Christie Wijckerheld Bisdom.”
Rumah Sakit Favorit
Ziekenverpleging Sint Borromeus merupakan rumah sakit
“terbaik” di Bandung waktu itu. Residen Priangan pun
memilih dirawat di sana ketika sakit. Surat kabar De Koerier
(6-08-1927) memberitakan:
“Hari ini residen kita, Bapak Van Gesseler Verschuir,
menjalani sebuah operasi di Rumah Sakit Borromeus, yang
telah berlangsung secara memuaskan.
Kami berharap dengan tulus bahwa beliau, yang mana
fungsi beliau sementara ini dijalankan oleh oleh Bapak Van
Huls, lekas pulih kembali.”
140 The Eternal Light