The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

"Dengan kesabaran dan susah payah kami terus bekerja dengan keinginan besar untuk maju ... ya ... maju ..." (Elisabeth Gruyters 35)

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by timbuku100th, 2021-11-03 08:48:14

The Eternal Light (versi pendek)

"Dengan kesabaran dan susah payah kami terus bekerja dengan keinginan besar untuk maju ... ya ... maju ..." (Elisabeth Gruyters 35)

akan didirikan, sebagai suster karya rumah tangga. Pastor
P.A. van Baer mengatakan bahwa tidak ada perbedaan di
antara para suster, mereka semua akan bekerja sama sebagai
Suster Cintakasih. Lalu Pastor van Baer menerima beliau.
Pastor van Baer mengatakan kepada Bunda Elisabeth dengan
penuh kepercayaan bahwa di antara mereka yang mendaftar,
Bunda Elisabeth-lah perempuan pertama yang membuat
beliau berani untuk memulai sebuah biara.

Gambar. Pastor Paulus Antonius van Baer

Sesudah mengalami proses selama beberapa bulan, pada
tanggal 29 April 1837, pada hari peringatan Santo Petrus
Martir, Tuhan memberi Bunda Elisabeth dan Suster Maria

Semangat Cintakasih Suster-Suster dari Maastricht 41

keberanian dan kekuatan untuk mengawali karya mereka
dalam sebuah biara baru (“Kongregasi CB”). Mereka
menerima berbagai komentar dari masyarakat yang kurang
menyemangati, bahkan penolakan, namun mereka tetap terus
menjalani kehidupan mereka. Pertama-tama, mereka mulai
membersihkan sebuah rumah sewaan. Mereka serba
kekurangan dalam banyak hal, bahkan mereka tidak memiliki
kursi untuk duduk. Mereka pun rela tidak memiliki pemanas
untuk menghangatkan rumah mereka yang kecil, padahal
waktu itu sedang musim dingin. Akan tetapi, Pastor van Baer
selalu menyemangati mereka. Bunda Elisabeth menulis:

“Meskipun orang telah membicarakan kami bahwa kami
miskin, … namun Tuhan memberi kami berdua keberanian
dan kekuatan untuk mengawali karya ini.”
(EG 46).

Bunda Elisabeth terus berkarya dengan penuh ketabahan,
ketekunan, dan iman yang teguh karena percaya pada
Penyelenggaraan Allah. Mereka menghadapi berbagai
kesulitan dan kesusahan, namun terus maju. Ada saat Bunda
Elisabeth merasakan sesuatu yang digambarkan bagaikan
tiga ekor ikan di luar air, tanpa bantuan atau pun dukungan,
karena dua suster dari kongregasi lain yang menolong
mereka harus kembali ke biara mereka. Namun, mereka terus
berdoa dan berkarya hingga mampu mengembangkan
pelayanan mereka seiring dengan bertambahnya jumlah
wanita yang tertarik bergabung dengan mereka. Bunda
Elisabeth merenungkan:

“… Memang kami renungkan sesekali rencana Tuhan yang
menakjubkan itu, tetapi masih kurang juga. Hal-hal
tentang mendirikan biara yang dulu jelas karena

42 The Eternal Light

penerangan dari surga, kini seolah-olah terpendam di
bawah kesadaranku.” (EG 54).

“ … pada tanggal 29 April 1837,
pada hari peringatan Santo Petrus Martir,

Tuhan memberi Bunda Elisabeth
dan Suster Maria keberanian dan kekuatan

untuk mengawali karya mereka
dalam sebuah biara baru….”

Bunda Elisabeth menulis dalam buku catatan pribadi sebagai
berikut:

“Namun perlu kuceritakan di sini beberapa usaha yang
telah kucoba secara untung-untungan saja pada bulan
April dalam tahun yang sama (tahun 1836). Pastor van
Baer, Komisaris Gereja St. Servatius, baru saja tiba di sana
tahun itu. Aku mulai berharap bahwa dengan pertolongan
Tuhan dan dengan bantuan imam ini, aku akan berhasil.

Aku mempunyai kenalan, seorang wanita saleh. Kami
sering membicarakan hal yang sama. Dia mempunyai
kerinduan yang besar agar di Kota Maastricht ini didirikan
sebuah biara. Kami berdua memutuskan akan menyatakan
kerinduan kami kepada Pastor van Baer itu melalui surat.

Sekali lagi kami mencoba; kami belum pernah bertemu
dengan beliau, dan hanya melihat dari jauh saja. Kami
memberitahukan hasrat kami, tetapi tidak menuliskan
nama kami. Pastor van Baer membaca surat kami, lalu

Semangat Cintakasih Suster-Suster dari Maastricht 43

beberapa bulan kemudian mulailah ia memikirkan hal itu,
dan berusaha akan memperoleh suatu Peraturan dari
biara lain. Akan tetapi hal ini belum kuketahui, sebab ia
tak mengenal kami. Hanya Tuhan yang tahu, dan Ia mulai
bekerja dengan diam-diam. Se-cara tidak nampak Ia mulai
merentangkan tangan-Nya atas diri kami dan memberikan
bantuan-Nya.”

Surat Bunda Elisabeth tanpa tercantum si pengirim kepada
Pastor van Baer, membuat kedua belah pihak saling tidak
tahu bagaimana akan berkomunikasi. Surat tersebut rupanya
membuka kemungkinan cakrawala baru bagi Pastor van Baer
berhadapan dengan situasi konkret, kendati Elisabeth
Gruyters mengharapkan reaksi Pastor van Baer. Bagi seorang
beriman mampu melihat cara kerja Tuhan berhadapan
dengan situasi konkret. Meskipun demikian, Bunda Elisabeth
bertekun mencari kemungkinan-kemungkinan jalan Tuhan,
perjalanan jauh dan sulit bukan halangan bagi beliau. (bdk.
Luk 2:1-7). Hal ini diperjelas dengan kisah berikut ini:

“Akan tetapi baru delapan hari kemudian, aku berani
mengunjungi Pastor Komisaris van Baer. Aku masuk ke
Gereja St. Servatius pada hari Sabtu pagi. Misa Agung St.
Maria telah berakhir pada waktu itu. Aku berlutut dan
menerima berkat Sakramen Mahakudus. Dengan hati
berdebar-debar kuikuti Pastor van Baer setelah beliau
menyelesaikan doanya sehabis Misa. Aku minta tolong
kepada koster, agar aku dapat berbicara dengan pastor.
(EG 22).

Aku memperkenalkan diri dan memberitahukan betapa
besar keinginanku agar diterima dalam biara yang baru itu
sebagai suster karya rumah-tangga. Pastor mengatakan

44 The Eternal Light

kepadaku bahwa tak ada perbedaan antara suster-suster
itu. Mereka semua akan bekerja sama sebagai Suster
Cintakasih.

Setelah membicarakan beberapa hal, beliau menerima aku
sebagai Suster-Suster Cintakasih. Kemudian beliau
memercayakan kepadaku bahwa di antara mereka yang
mendaftarkan, akulah wanita pertama yang membuat
beliau berani untuk bersama aku memulai karya besar ini.
Dengan demikian nyatalah bahwa undian jatuh pada
‘Yonas’. Tetapi pada saat itu, semua yang telah kuceritakan
di atas tidak muncul dalam ingatanku, seolah-olah
terpendam dalam diriku. Apa yang dapat kukerjakan ialah
meneruskan karya Allah dengan tekun sambil berdoa
terus-menerus, dan selalu berusaha melibatkan diri di
dalamnya. (EG 24) [ingat cerita tentang surat tanpa nama
pengirim] (EG 15).

29 April 1837 Pesta St. Petrus, martir. Meskipun orang
telah membicarakan kami bahwa kami miskin, Kota
Maastricht telah menjadi kota tertutup sejak enam tahun
berselang dan tak dapat diharapkan adanya perubahan,
namun Tuhan memberi kami berdua keberanian dan
kekuatan untuk mengawali karya ini.

Pada bulan April 1837 kami mulai membersihkan rumah
dan mengurus hal-hal yang perlu. Pertama-tama yang
harus diusahakan ialah segerobak batubara, karena hawa
masih sangat dingin; lapisan salju di jalan biasanya
setinggi orang. Sampai waktu itu orang yang tua-tua pun
belum pernah mengalami keadaan semacam ini dalam
bulan April. (EG 47).

Semangat Cintakasih Suster-Suster dari Maastricht 45

Oleh Pastor Komisaris van Baer kami diberi peraturan
yang disetujui oleh Mgr. Den Dubbelden, Uskup Den Bosch.
Pastor van Baer membacakan kepadaku Peraturan Suci
yang memuat semua latihan rohani dari pukul setengah
lima pagi sampai setengah sepuluh malam termasuk juga
mengenai semua kebutuhan lain-lain, seperti: pakaian,
perlengkapan tempat tidur, perabot rumah, dan lain-lain.

Tanggal 1 Desember 1861. Kini aku merasa perlu mulai
menulis mengenai Peraturan dan Statuten (Konstitu-
si) kami.

Syukur kepada Allah dan dimuliakanlah Ia dalam para
kudusnya. Hari ini tanggal 25 April 1862.”

Pastor van Baer wafat pada tanggal 28 Desember 1855 dan
dimakamkan di Wolder, dekat Maastricht.

Bunda Elisabeth Gruyters wafat pada tanggal 26 Juni 1864
pada usia 74 tahun. Hingga saat ini, beliau telah meneruskan
spiritualitasnya kepada para wanita lain yang, seperti beliau,
tergerak hati mereka untuk mengabdi untuk keselamatan
sesama demi kemuliaan Nama Tuhan.

46 The Eternal Light

Santo Carolus Borromeus

Dalam tradisi Gereja Katolik, tarekat-tarekat biarawan/
biarawati memiliki seorang santo/santa pelindung (patron
saint). Pelindung bukanlah dalam arti orang yang masih
hidup, yang berkedudukan tinggi dan mampu memberikan
perlindungan dengan kekuasaan, pengaruh, dan/atau harta,
melainkan seorang tokoh panutan yang serentak dijadikan
idola, citra yang ingin ditiru, dan perantara dengan Tuhan.
Oleh karena itu, para pelindung selalu diambil dari jajaran
orang-orang kudus.

Kongregasi Suster-Suster Cintakasih, yang didirikan oleh
Bunda Elisabeth, semula mengambil Santo Vincentius à Paulo
(Prancis: Saint Vincent de Paul) sebagai pelindung, dan
semula disebut Suster-Suster Cintakasih Ordo Santo
Vincentius à Paulo. Pastor P.A. van Baer memilih nama ini
karena kegiatan Santo Vincentius à Paulo di bidang pelayanan
kemasyarakatan sangat banyak. Kebetulan situasi Prancis
yang mendorong Santo Vicentius mengadakan kegiatan-
kegiatan sosial, hampir sama dengan situasi di Maastricht
yang dihadapi oleh Pastor van Baer dan Bunda Elisabeth
Gruyters. Lebih dari itu, Pastor van Baer tertarik pada Santo
Vincentius karena santo ini berani memberikan tanggung
jawab kepada kaum perempuan untuk berkarya di kalangan
Gereja, termasuk di bidang kerasulan. Semangat pelayanan
Santo Vincentius à Paulo dan semangat serikat yang didirikan
beliau, yaitu Kongregasi Suster Putri-putri Cintakasih, ingin
diikuti anggota kongregasi baru yang hendak didirikan.

Semangat Cintakasih Suster-Suster dari Maastricht 47

Gambar. Santo Carolus Borromeus. Lukisan karya Orazio Borgianni,
1574-1616. Koleksi Hermitage Museum, Saint Petersburg, Rusia

48 The Eternal Light

Ketika Konstitusi dan Statuta dikirim ke Roma untuk
memeroleh pengesahan Sri Paus, hal pertama yang diperta-
nyakan adalah pelindung. Apabila Pastor van Baer dan Bunda
Elisabeth Gruyters menginginkan kongregasi berada dalam
perlindungan Santo Vincentius à Paulo maka kongregasi yang
mereka dirikan itu harus bergabung dengan kongregasi yang
didirikan oleh Santo Vincentius. Gagasan ini kurang berkenan
bagi Pastor van Baer dan Bunda Elisabeth Gruyters.
Kemudian Sri Paus Pius IX menunjuk Santo Carolus
Borromeus (Italia: Carlo Borromeo, Inggris: Charles
Borromeo). Melihat riwayat hidup dan perjuangan Santo
Carolus Borromeus, tepatlah apabila santo ini dijadikan
pelindung. Walaupun berasal dari keluarga ningrat, Santo
Carolus Borromeus membanting tulang untuk meringankan
penderitaan orang yang sakit, yang miskin, dan terlantar.
Beliau juga memelopori pendidikan kaum muda, bahkan
mendirikan pusat-pusat pendidikan imam.

Carlo Borromeo dilahirkan di Kastil Arona, Lombardia, Italia,
pada tanggal 2 Oktober 1538. Carlo anak ketiga dari enam
bersaudara. Ayah beliau seorang bangsawan, dan ibu beliau
berasal dari wangsa Medici yang sangat terpandang. Ayah
beliau wafat ketika Carlo berusia 16 tahun. Walaupun ada
kakak laki-laki, namun Carlo diminta untuk mengurus bisnis
keluarga meneruskan almarhum ayah beliau. Sempat agak
tersendat, pada usia 21 tahun Carlo Borromeo lulus cum
laude dari studi doktor dalam bidang hukum Gereja dan
hukum sipil.

Pada tahun 1559 paman Carlo (kakak kandung ibunda
beliau), Kardinal Giovanni Angelo Medici, terpilih sebagai
Paus Pius IV. Carlo Borromeo diminta membantu paman
beliau di Roma untuk mengurus sejumlah hal. Selama empat

Semangat Cintakasih Suster-Suster dari Maastricht 49

tahun di Roma, beliau hidup dalam kesederhanaan,
menjalankan kewajiban untuk mengenakan pakaian hitam,
dan mendirikan akademi orang-orang terpelajar. Beliau
mengorganisasikan sesi ketiga dan terakhir Konsili Trente
pada tahun 1562–1563 yang dipimpin Paus Pius IV.

Kakak laki-laki Carlo Borromeo tiba-tiba meninggal pada
tahun 1562. Keluarga Borromeo mendesak agar beliau
meninggalkan urusan Gereja, lalu menikah dan memiliki
anak, sehingga nama keluarga mereka tidak punah. Akan
tetapi, beliau memutuskan untuk tidak menuruti desakan
keluarga. Beliau justru semakin terdorong untuk melanjutkan
upaya-upaya pembaharuan Gereja.

“… Kardinal Carlo Borromeo
tampil sebagai organisator yang disegani,

sekaligus seorang penolong
yang penuh pengabdian.”

Selanjutnya, Carlo Borromeo diangkat menjadi Uskup
Keuskupan Agung Milan, sebuah keuskupan terbesar di Italia.
Di kemudian hari, Carlo Borromeo dikenal sebagai tokoh
pembaharu dalam Gereja, dikenal dengan ketegasan beliau
dalam melaksanakan keputusan pembaharuan hasil Konsili
Trente. Beliau mendirikan seminari-seminari, memajukan
studi, membenahi tata tertib biara, mendirikan ordo dan
kongregasi, menulis hukum Gereja lengkap, dan menyusun
ketentuan-ketentuan pastoral. Beliau terkenal karena sikap
hidup beliau yang tidak lekat pada hal-hal duniawi,

50 The Eternal Light

pertobatan beliau yang mendalam, serta penyangkalan diri
beliau yang kuat.

Akibat kegagalan panen di Lombardia pada tahun 1570,
banyak orang menderita kelaparan. Kardinal Carlo Borromeo
tampil sebagai organisator yang disegani, sekaligus seorang
penolong yang penuh pengabdian. Satu di antara peristiwa
atau pengalaman Kardinal Carlo Borromeo yang menyentuh
adalah pada tahun 1576 ketika wabah pes melanda kawasan
Milan dan menelan korban ribuan jiwa. Banyak pejabat tinggi
dan orang kaya meninggalkan tempat, namun beliau justru
bertahan tinggal. Beliau dicatat dalam sejarah sebagai
gembala yang melayani para penderita pes dan yang rela
mengorbankan harta kekayaan untuk meringankan
penderitaan orang sakit dan miskin yang kelaparan. Saat itu,
beliau berupaya sekuat tenaga memberi makan kepada
sekitar 60.000 hingga 70.000 orang setiap hari.

Kardinal Carlo Borromeo bekerja keras dan memikul beban
berat. Pada malam hari tanggal 3 November tahun 1584,
beliau wafat pada usia 46 tahun. Jenazah beliau dimakamkan
di Gereja Katedral Milan.

Kongregasi Suster-Suster CB

Konstitusi perdana ditulis tangan oleh Bunda Elisabeth.
Kongregasi Suster-Suster Cintakasih Santo Carolus Borrome-
us yang didirikan oleh Bunda Elisabeth pada tahun 1837
merupakan sebuah kongregasi apostolis-aktif. Para suster
berjumpa penderitaan sesama, berjumpa Kedukaan Hati
Allah yang mendalam, berjumpa Keprihatinan Hati Allah.

Semangat Cintakasih Suster-Suster dari Maastricht 51

Tujuan Kongregasi (Konstitusi Suster-Suster Cintakasih Santo
Carolus Borromes) adalah:

“Hendaklah kamu mencintai Tuhan Allahmu
dengan seutuh hati,
dengan seutuh jiwa,
dan dengan seluruh tenaga,
serta cintailah sesamamu seperti dirimu sendiri
demi Tuhan.
Tujuan Kongregasi ini,
ialah berdaya upaya dengan segenap hati,
agar Tuhan dimuliakan
dengan menguduskan diri
serta melaksanakan berbagai karya bakti
untuk membantu sesama
yang mengalami kesesakan hidup
dan yang berkekurangan.”

Kongregasi ini melakukan pelayanan dalam bidang
kesehatan, pendidikan, dan sosial-pastoral. Jenis pelayanan
ini sesuai dengan kebutuhan masyarakat pada waktu itu. Di
masyarakat memang terdapat banyak orang sakit dan yang
menderita kesulitan. Selalu muncul pula orang muda yang
memerlukan pendidikan. Bermula dari sebuah rumah yang
disewa di Maastricht, Kongregasi Suster-Suster CB semakin
mengembangkan pelayanan di berbagai kota besar maupun
kecil di seluruh Negeri Belanda.

Sejak biara pertama di Jalan Lenculen dan biara kedua yang
dibeli di Vrijthof pada tahun 1840 tidak mampu lagi
mengakomodasi perkembangan jumlah suster, maka pada
tahun 1844 dibelilah sebuah rumah di belakang Sint
Servaasbasiliek (Basilika Santo Servatius). Rumah itu

52 The Eternal Light

dibangun sekitar abad XII dan semula merupakan bagian dari
Basilika yang terhubungkan dengan sebuah lengkungan.

Gambar. Bangunan berbentuk lengkungan yang menghubungkan
Basilika Santo Servatius dan Rumah Induk Kongregasi CB di Maastricht

Lengkungan ini merupakan jalan bagi para imam dan para
pemimpin Gereja. Karena lengkungan yang menghubungkan
Gereja dan rumah yang ditempati para suster sebagai
moederhuis (rumah induk) itu cukup dikenal oleh

Semangat Cintakasih Suster-Suster dari Maastricht 53

masyarakat, sejak saat itu para Suster Cintakasih dikenal di
Negeri Belanda sebagai “zusters onder de bogen” (suster-
suster di bawah lengkungan). Istilah Onder de Bogen (Inggris:
Under the Arches) diambil dari bangunan berbentuk
lengkungan (Jawa: plengkung, Inggris: arch, Latin: arcus).
Lengkungan itu juga memberi makna simbolik bagi para
suster menjadi penghubung antara Gereja dan dunia; sebuah
kongregasi yang menjembatani Allah dan umat manusia.

Gambar. Patung Yesus Yang Tersalib di dekat pintu masuk Kapel Rumah
Induk Kongregasi CB.

54 The Eternal Light

Gambar. Patung Santo Carolus Borromeus di Rumah Induk Kongregasi
CB, Maastricht. Di belakang tampak patung Bunda Maria menggendong
bayi Yesus.

Ketika Kogregasi Suster-Suster CB semakin berkembang,
Bunda Elisabeth merefleksikan:

“Tetapi setelah beberapa waktu, jumlah suster bertambah
dan jenis karya meluas, lagi pula pengalaman sehari-hari
disertai hasrat besar akan kemajuan rohani … menjadikan
kami merasa diberkati oleh tangan Tuhan yang tak
kelihatan.” (EG 63).

Semangat Cintakasih Suster-Suster dari Maastricht 55

Kepemimpinan Bunda Elisabeth sebagai pendiri dan
pemimpin pertama, dilanjutkan oleh pemimpin-pemimpin
berikutnya secara berkesinambungan hingga kini.

Wanita-wanita beriman itu mendarmabaktikan hidup dan
karya mereka seturut semangat Bunda Elisabeth Gruyters
yang pernah merenungkan:

“Santo Petrus hanya memiliki perahu dan jalannya, itulah
seluruh harta kekayaannya serta sarana pencaharian
nafkahnya; meskipun demikian ia meninggalkan segala-
galanya serta mengikuti Yesus, dan dengan rahmat Allah,
aku pun dapat berbuat demikian.” (EG 91)

***

#haiku 3

s'mangat mengabdi
lampaui cinta diri
jiwa belia

#tanka 3

s'mangat mengabdi
lampaui cinta diri
jiwa belia
wujudkan cita-cita
bagi yang membutuhkan

56 The Eternal Light

IV

Berakit-rakit
Membangun Rumah Sakit

Berakit-rakit Membangun Rumah Sakit 57

S ebuah rumah sakit dibangun tidak dalam waktu sehari-
semalam. Ada proses yang mendahuluinya. Ada hal
yang memicunya. Dan, diperlukan ketekunan untuk
mewujudkannya. Diperlukan semangat, energi, biaya, dan
waktu untuk memulai dan menumbuhkembangkannya.
Keberadaan Rumah Sakit Santo Borromeus Bandung tidak
dapat dilepaskan pula dari saudari yang mendahuluinya di
Batavia, yaitu Rumah Sakit Santo Carolus.

Sint Carolus Vereeniging, Batavia

Sesudah kembali dari Negeri Belanda untuk berkomunikasi
dengan tarekat-tarekat biarawati mengenai kesediaan untuk
berkarya mengelola pelayanan kesehatan di Indonesia, yang
mana akhirnya Suster-Suster Cintakasih Santo Carolus
Borromeus menyatakan kesediaan mereka, Pastor Leonardus
Sondaal, SJ (Pastor Gereja Katedral Batavia) ditunjuk oleh
Vikaris Apostolik Batavia, Mgr. Edmundus S. Luypen, SJ,
untuk mengadakan persiapan pembangunan sebuah rumah
sakit di Batavia. Mulailah upaya membentuk panitia,
mengumpulkan dana, merancang bangunan, berkomunikasi
dengan pemerintah, dan lain-lain. Dana yang dibutuhkan
sangatlah besar hingga memerlukan pinjaman.

Mgr. Edmundus S. Luypen, SJ bersama sejumlah tokoh awam
Katolik membentuk Sint Carolus Vereeniging (Perhimpunan
Santo Carolus) yang secara resmi didirikan pada hari Minggu,
4 Juli 1915. Mgr. Luypen mengukuhkan badan pengurus
perhimpunan. (Kelak di kemudian waktu, ditentukan bahwa
anggota Perhimpunan Santo Carolus meliputi tiga unsur/
perwakilan, yaitu Keuskupan Agung Jakarta, Kongregasi CB,
dan awam). Pengurus Sint Carolus Vereeniging berkomunikasi
lebih lanjut dengan Algemeen Overste Kongregasi CB di

58 The Eternal Light

Maastricht, Negeri Belanda, Moeder Lucia Nolet. Kesepakatan
pun dituangkan secara tertulis pada tahun 1915 itu.

Gambar. Mgr. Laurentius Schrijnen,
Uskup Keuskupan Roermond (1914–1932),
yang wilayahnya meliputi pula Maastricht.

Persiapan yang dilakukan oleh Sint Carolus Vereeniging telah
membuahkan sebuah bangunan rumah sakit sederhana pada
tahun 1917. Di Maastricht, sejumlah suster sudah dipersiap-
kan untuk berangkat pada November 1916. Akan tetapi,
mengingat situasi Perang Dunia I (1914–1918), mempertim-
bangkan keselamatan dan keamanan para suster, Uskup
Keuskupan Roermond, Mgr. Laurentius Schrijnen, belum
mengizinkan mereka berangkat ke Indonesia. Sesudah Perang

Berakit-rakit Membangun Rumah Sakit 59

Dunia I agak mereda, walaupun belum berakhir, dan keadaan
dianggap relatif aman, barulah beliau mengizinkan mereka
berangkat.

Menuju Tanah Air Baru

Sejumlah suster menyerahkan diri agar ditunjuk oleh
Pemimpin Umum berkarya di tanah air baru. Senin, 8 April
1918, Algemeen Overste Moeder Lucia Nolet menetapkan
sepuluh suster yang masih muda namun memiliki keberanian
dan iman yang dalam untuk pergi ke tempat yang jauh.
Mereka adalah: 1) Moeder Alphonsa Groot (sebagai overste),
2) Suster Lina Leenen, 3) Suster Ambrosine Steenvoorden, 4)
Suster Hermana Linder, 5) Suster Ignatio Hermans, 6) Suster
Justa Niekerk, 7) Suster Gratiana Eskens, 8) Suster Chrispine
Bosman, 9) Suster Isabela Noordman, dan 10) Suster Judith
de Laat. Para suster ini amat bersyukur karena terpilih untuk
menjadi misionaris. Mereka pun mempersiapkan diri dengan
retret.

Sabtu, 22 Juni 1918, sepuluh suster itu berangkat dari
pelabuhan Amsterdam, naik kapal Frisia, melalui Bergen-
Norwegia menuju New York. Dari sana mereka melanjutkan
perjalanan darat menuju Chicago, dan kemudian San
Francisco. Dari San Francisco, perjalanan dilanjutkan dengan
kapal, melalui Hawai dan Yokohama-Tokyo, menuju Batavia.
Rute yang panjang ini dipilih mengingat situasi Perang Dunia
I, yang mana perjalanan melalui Laut Tengah, Terusan Suez,
dan Samudera Hindia belum aman.

60 The Eternal Light

Mereka meninggalkan tanah kelahiran.
Mereka meninggalkan kampung halaman.
Mereka meninggalkan orang-orang tercinta.
Mereka meninggalkan segalanya.
Dengan perasaan campur aduk tak terkira.
Menuju tanah air baru yang belum mereka kenal.
Menuju masa depan yang tidak diketahui.
Demi pelayanan kepada orang-orang sakit di tanah yang
dalam berbagai hal sangat jauh dan berbeda dengan tempat
asal mereka.

Gambar. Kapal Frisia

Selama perjalanan dari Maastricht menuju Tanjung Priok,
iman yang kuat kesepuluh suster misionaris awal tersebut
semakin jelas. Berkembang pula devosi kepada Hati Kudus
Yesus. Oleh karena itu, kemudian di ketiga rumah sakit besar

Berakit-rakit Membangun Rumah Sakit 61

(Santo Carolus, Santo Borromeus, dan Panti Rapih) di tempat
yang strategis diletakkan patung Hati Kudus Yesus.

Naik kapal menyeberangi lautan merupakan pengalaman
baru bagi kesepuluh suster itu. Pada hari-hari pertama,
mereka mengalami mabuk laut, muntah-muntah, sakit, dan
tampak pucat. Ada pengalaman yang dapat menakutkan
tetapi juga “lucu” ketika di Laut Utara diinformasikan bahwa
kapal harus kembali ke Amsterdam karena diperoleh
informasi bahwa terdapat ranjau laut yang berbahaya. Selama
tiga jam kapal Frisia berlayar kembali menuju Amsterdam.
Tetapi ternyata, informasi tadi ditujukan untuk kapal lain.
Kapal Frisia kembali menuju Laut Utara.

“Pada hari-hari pertama,
mereka mengalami mabuk laut, muntah-muntah,

sakit, dan tampak pucat.”

Ketika kapal Frisia berlabuh di Bergen, Norwegia, dan
kemudian menyusuri pantai-pantai Norwegia dengan
pemandangan yang begitu indah, para suster dapat
melupakan kesusahan sebelumnya. Kapal melanjutkan
pelayaran menyusuri pantai Skotlandia, lalu mengarungi
Samudera Atlantik yang bergelombang; kapal Frisia pun
bergoncang-goncang, membuat badan terasa tidak enak.

Akhirnya, kapal tiba New York. Di sana kesepuluh suster CB
itu menginap semalam di sebuah susteran. Selanjutnya
mereka naik bus ke arah barat, menginap semalam di
Chicago, dan kemudian menuju San Fransisco. Di sana

62 The Eternal Light

mereka tinggal di sebuah susteran selama sekitar sebulan.
Selama itu mereka membantu karya suster-suster setempat.

Rabu, 28 Agustus 1918, kesepuluh suster CB melanjutkan
perjalan dengan naik kapal Vondel menuju tanah air baru
mereka, tempat mereka akan melayani.

Gambar. Kapal Vondel

Ketika kapal Vondel tiba di Hawai, para suster itu terkagum-
kagum dengan tumbuh-tumbuhan dan bunga-bunga “aneh”
yang belum pernah mereka lihat sebelumnya di Eropa.

Setelah bertolak dari Hawai, para suster CB untuk pertama
kali menerima pelajaran bahasa Melayu di dalam kapal, dan
dengan rajin berusaha menguasainya.

Berakit-rakit Membangun Rumah Sakit 63

Di Samudera Pasifik pada suatu malam tiba-tiba sebuah kapal
perang menyorotkan lampu, menghampiri, dan
memberhentikan kapal Vondel. Ternyata sebuah kapal
perang Britania Raya. Awak kapal mereka melakukan
pemeriksaan, dan mempersilakan kapal Vondel melanjutkan
perjalanan.

“.. terkagum-kagum dengan tumbuh-tumbuhan dan
bunga-bunga ‘aneh’ yang belum pernah mereka lihat

sebelumnya di Eropa.”

Beberapa hari kemudian kapal Vondel menyusuri pantai
Jepang, dan kemudian berlabuh di Yokohama, Teluk Tokyo.
Kesepuluh suster CB itu merasa seolah-olah berada di dunia
lain ketika melihat orang-orang Jepang, cara berpakaian, dan
budaya mereka.

Setelah dua hari, kapal Vondel bertolak dari Yokohama,
menyusuri pantai Jepang, sehingga para penumpang dapat
melihat Gunung Fuji yang puncaknya diselimuti salju tebal.

Rabu, 25 September 1918, diperoleh berita bahwa terdapat
60 (enam puluh) kapal tenggelam akibat taufan. Taufan itu
sebenarnya cukup dekat dengan posisi kapal Vondel.

Rabu, 2 Oktober 1918, malam sebelumnya ada kabut
sehingga kapal terpaksa berhenti beberapa jam. Banyak
penumpang kapal Vondel menderita sakit akibat flu, namun
kesepuluh suster CB tetap dalam keadaan sehat. Padahal,

64 The Eternal Light

pada waktu itu, di samping bahaya akibat perang, juga sedang
terjadi pandemi Flu Spanyol yang mematikan.

“Tumbuhan pertama yang kami lihat
dari tanah air kami yang baru itu ialah
pohon kelapa yang menjulang tinggi.”

Minggu, 6 Oktober 1918, Suster Ignatio Hermans menulis
catatan:

“Sudah tiga bulan lamanya kami berada di negeri-negeri
asing. Pada siang hari, langit redup. Dari kejauhan, kami
melihat ada angin olak.”

Begitu melihat tanda-tanda akan tiba di Pelabuhan Tanjung
Priok, para suster sudah dapat menyebut Nusantara sebagai
tanah air baru mereka, sebagaimana ditulis Suster Ignatio
Hermans:

“Hari Minggu menjelang jam sebelas, untuk pertama
kalinya kami melihat pantai Pulau Jawa. Tumbuhan
pertama yang kami lihat dari tanah air kami yang baru itu
ialah pohon kelapa yang menjulang tinggi.”

Kerinduan dan cinta yang dalam dilukiskan oleh Suster
Ignatio Hermans:

“Sudah sejak tadi malam, kami melihat cahaya kecil redup
dari tanah air baru kami. Cahaya itu berkelip-kelip seolah-
olah hendak memberi salam. Di situlah terletak tanah misi

Berakit-rakit Membangun Rumah Sakit 65

baru kami, tanah yang sangat kami rindukan, tanah yang
kami mencapainya setelah melewati simpangan yang jauh
sekali. Selama seratus tujuh hari kami berada di lautan.
Tetapi, kini kami telah tiba pada tujuan!”

Sepuluh puteri penerus semangat Bunda Elisabeth Gruyters,
yang berhati tulus dan pemberani, tiba di tanah air baru
mereka pada 7 Oktober 1918, yang merupakan tanggal
bersejarah bagi Kongregasi Suster-Suster Cintakasih Santo
Carolus Borromeus, juga bagi masyarakat Indonesia yang
merasakan pelayanan mereka. Para suster amat bersyukur
atas penyelenggaraan Tuhan yang menguatkan mereka dalam
menempuh perjalanan panjang selama 107 hari, dengan 9
minggu di lautan.

Jam enam pagi kapal Vondel berlabuh di pelabuhan Tanjung
Priok. Dalam buku peringatan/kenangan seratus tahun
Kongregasi CB (1937) ditulis:

“Dengan ‘Te Deum’ yang tulus di bibir, para suster
menginjakkan kaki di tanah air baru.”

Te Deum adalah kidung pujian Kristiani awal dalam bahasa
Latin, dikenal pula dengan Himne Ambrosian (Santo
Ambrosius) atau Kidung Gereja. Judul Te Deum diambil dari
bagian pertama kalimat Te Deum laudamus (Engkau Allah
yang kami puji). Kidung ini merupakan ungkapan rasa syukur
kepada Allah untuk sebuah karunia istimewa. Bagian awal
liriknya dalam bahasa Indonesia (Puji Syukur 669) sebagai
berikut:

66 The Eternal Light

“Allah Tuhan kami:
Engkau kami muliakan.

Dikau Bapa yang kekal:
Seluruh bumi sujud pada-Mu.

Para malaikat:
serta segala isi surga bermadah.

Kerubim dan serafim:
tak kunjung putus memuji Dikau,

Kudus, Kudus, Kuduslah:
Tuhan Allah segala kuasa;

Surga dan bumi penuh:
kemuliaan-Mu!”

Di pelabuhan, para suster mendengar berbagai kesusahan
yang dialami oleh para penumpang kapal-kapal lain selama
dalam pelayaran. Pastor Leonardus Sondaal, SJ menyambut
mereka di sana dengan perasaan campur aduk: gembira,
terharu, dan sekaligus prihatin karena masih banyak
pekerjaan menanti mereka di tanah air baru.

“Dengan ‘Te Deum’ yang tulus di bibir,
para suster menginjakkan kaki di tanah air baru.”

Dalam buku peringatan/kenangan seratus tahun Kongregasi
CB (1937) ditulis:

“Para suster disambut hangat oleh Pastor Sondaal. Hadir
pula beberapa pria dan wanita dari Pengurus
[Perhimpunan Santo Carolus] dan Pemimpin Suster-Suster
Ursulin yang kami hormati. Dari Pengurus [Perhimpunan

Berakit-rakit Membangun Rumah Sakit 67

Santo Carolus] adalah: Pastor van Swieten, SJ, Kapten Orie,
Insinyur-Kepala van Arcken dan istri beliau yang manis
dan energik. Dengan 5 mobil berangkat dari Tanjung Priok
ke Batavia (Weltevreden), ke ‘Biara Kecil’ para suster
Ursulin, karena rumah sakit belum siap. Koridor pertama,
tentu saja, menuju kapel yang didekorasi dengan rapi.”

Dalam perjalanan menggunakan mobil dari pelabuhan
Tanjung Priok menuju Klein Klooster (Biara Kecil) Suster-
Suster Ursulin (OSU) di Weltevreden, Suster Ignatio Hermans
mengisahkan:

“Kami hampir tidak percaya bahwa kami sekarang
sungguh berada di Indonesia. Ya, segalanya seperti dalam
mimpi. Kami melewati banyak kampung dan orang-orang
pribumi, namun kami masih belum bisa membayangkan
bahwa inilah kenyataan.”

RKZ Sint Carolus, Salemba

Suster-suster Ursulin menyambut hangat kesepuluh suster
CB pionir. Malam harinya suster-suster Ursulin menyambut
para suster CB dengan melantunkan lagu “Selamat Datang”:

Selamat datang para suster tercinta
Selamat datang untuk Anda di sini
Kami semua menyanyi dan bersorak
Kami bergembira dan bangga
Perjuanganmu berat sudah berlalu
Tuhan memberi Anda keberanian
Dia memberi kekuatan
Dia pasti yang menopang


68 The Eternal Light

Sebuah ibadat syukur dan pujian diselenggarakan, yang
dipimpin oleh Pastor Leonardus Sondaal, SJ. Suara beliau
tampak bergetar menahan perasaan terharu yang mendalam
dengan ungkapan kata yang agak terpatah-patah. Beliau
mengucapkan selamat datang kepada kesepuluh suster yang
baru tiba di tanah air baru. Beliau menyatakan bahwa para
suster itu merupakan perintis yang membuka jalan untuk
sebuah karya besar, dengan berbagai tantangan dan kesulitan
yang akan menghadang. Namun, karya itu akan banyak
memberikan sumbangan bagi keselamatan sesama manusia.

Gambar. Pastor Leonardus Sondaal, SJ 69
(Pastor Katedral Batavia 1911–1919).

Berakit-rakit Membangun Rumah Sakit

Selama beberapa hari, suster-suster Ursulin masih
melantunkan lagu selamat datang:



Kalian sama dengan kami
Meninggalkan tanah air kita
Hanya karena mencintai Tuhan
Menandakan eratnya ikatan
Banyak pergulatan, banyak pekerjaan
Menunggu Anda di masyarakat ini
Tetapi engkau akan menang
….

Barulah pada 25 Oktober 1918 kesepuluh suster CB dapat
menempati rumah mereka di Salembaweg (Jalan Salemba)
yang disediakan oleh Sint Carolus Vereeniging. Pada awalnya,
permintaan dan jawabannya dilakukan antara Vikaris
Apostolik dan Pemimpin Umum Kongregasi, namun dalam
pelaksanaannya berubah: suster-suster diserahkan kepada
Sint Carolus Vereeniging.

Sebuah kapel sebagai pusat kehidupan spiritual dapat
digunakan sejak 28 Oktober 1918.

Roomsch-Katholieke Ziekenverpleging Sint Carolus (Rumah
Perawatan Orang Sakit Katolik Roma Santo Carolus) diberkati
pada 13 Januari 1918, dan mulai dibuka pada 21 Januari 1918
dengan 40 tempat tidur. Rumah sakit ini segera mendapat
sambutan hangat masyarakat hingga berkembang pesat
dalam waktu relatif singkat.

70 The Eternal Light

Gambar. Sepuluh Suster CB perintis yang pertama kali tiba di Indonesia,
1918.

Suster-Suster CB di RK Ziekenverpleging Sint Carolus bekerja
keras, mulai dari merawat pasien, menyiapkan makanan,
hingga mengepel lantai. Walaupun sudah mempersiapkan diri
sebelumnya, ternyata keadaan Batavia, baik iklim, keadaan
sosial, maupun penyakit-penyakit tropis, lebih “keras” dari
yang dibayangkan sebelumnya. Akibat harus bekerja keras di
tengah keadaan yang “keras” itu, dua suster meninggal dunia
pada tahun 1922. Pernah terjadi, lima dari sebelas suster
mengalami sakit dan harus dirawat. Kepanikan terjadi.
Rumah sakit penuh pasien, berbagai pekerjaan menumpuk.
Untunglah para suster Ursulin merawat suster CB yang
sedang sakit sehingga suster CB yang masih sehat dapat

Berakit-rakit Membangun Rumah Sakit 71

mencurahkan tenaga seluruhnya untuk merawat para pasien
di rumah sakit.

Sint Borromeus Vereeniging

Pada sekitar April 1921 muncul sebuah kesempatan untuk
mewujudkan cita-cita penyelenggaraan pelayanan kesehatan
oleh kalangan Katolik bagi masyarakat di Bandung yang
sedang bertumbuh dan membutuhkan pelayanan kesehatan
yang lebih memadai. Hoofdpastoor van Bandoeng (Pastor-
Kepala Bandung), Pastor Petrus Johannes Wilhelm Muller, SJ,
menghubungi atasan beliau di Batavia. Komunikasi berlanjut
dengan Vikaris Apostolik Batavia waktu itu, Mgr. Edmundus
S. Luypen, SJ yang sebelumnya telah menggagas dan
mewujudkan pendirian RK Ziekenverpleging Sint Carolus di
Salemba.

Komunikasi dilanjutkan pula dengan Overste Suster-Suster CB
di Salemba-Weltevreden (Moeder Alphonsa de Groot) dan
kemudian Algemeen Overste di Maastricht (Moeder Lucia
Nolet).

Sebagai Vikaris Apostolik Batavia (yang waktu itu wilayahnya
meliputi seluruh Pulau Jawa), Mgr. Edmundus S. Luypen, SJ
sangat mengharapkan karya pelayanan kesehatan di
wilayahnya selain di Batavia. Bandung waktu itu merupakan
kawasan yang sedang bertumbuh. Gereja Santo Fransiskus
Regis, yang berukuran kecil, sedang dalam proses digantikan
dengan gedung gereja baru yang lebih luas yang sedang
dibangun, yaitu Sint Petruskerk (Gereja Santo Petrus,
kemudian diresmikan pada 19 Februari 1922).

72 The Eternal Light

Pastor Petrus Muller, SJ segera mengundang sejumlah tokoh
awam Katolik di Bandung pada hari Minggu Legi, 10 April
1921, untuk membahas kemungkinan menyelenggarakan
sebuah karya pelayanan kesehatan di Bandung. Hadir waktu
itu:
1) Dr. ir. C.J. de Groot,
2) Dr. W.P. Thijsen,
3) Prof. ir. G.H.M. Vierling,
4) J. Th. Ch. Vonk, dan
5) N.J. Orie. *

* Catatan: Penulisan gelar dalam ejaan bahasa Belanda dengan sistem
pendidikan tinggi waktu itu: doctorandus (drs.), dokter (dr.), ingenieur (ir.),
dan meester in de rechten (mr.). Seseorang yang telah dipromosikan dan
berhasil mempertahankan sebuah disertasi berhak menyandang gelar
Doctor (Dr.). Seseorang yang diangkat dalam jabatan akademik sebagai
guru besar (hoogleraar) berhak menyandang gelar Professor (Prof.)

“Pastor Petrus Muller, SJ segera mengundang
sejumlah tokoh awam Katolik di Bandung
pada hari Minggu Legi, 10 April 1921 …”

Pertemuan 10 April 1921 yang bersejarah itu menghasilkan
keputusan bahwa perlu membentuk suatu vereeniging
(perhimpunan, perkumpulan) yang bertujuan membangun
tempat perawatan orang sakit yang berazaskan Katolik.
Pertemuan tersebut selanjutnya memutuskan bahwa Sint
Borromeus Vereeniging merencanakan penyediaan/ pengada-
an tanah dan bangunan untuk sebuah rumah sakit sederhana
yang direncanakan akan dikelola oleh Suster-Suster
Cintakasih Santo Carolus Borromeus, yang telah dihubungi

Berakit-rakit Membangun Rumah Sakit 73

dan bersedia menjalin kerja sama untuk hadir berkarya di
Bandung.

Gambar. Pastor Petrus Johannes Wilhelm Muller, SJ
(Pastor-Kepala Bandung 1919–1925;

Sekretaris Sint Borromeus Vereeniging).

Algemeen Overste Suster-Suster CB di Maastricht saat itu,
Moeder Lucia Nolet, menyambut hangat undangan Vikaris
Apostolik Batavia. Hal ini merupakan kesempatan bagi putri-
putri Bunda Elisabeth Gruyters untuk memperluas pelayanan
untuk merawat orang sakit di kawasan Bandung. Lokasi
Bandung, yang tidak terlalu jauh dari Batavia dan berada di
pegunungan Parahyangan yang beriklim lebih sejuk,
menambah daya tarik karena dapat digunakan sebagai
74 The Eternal Light

tempat melepas lelah bagi para suster yang telah berkarya di
Batavia yang panas. Selain itu, bertambahnya biara di lokasi
lain membuka kemungkinan baru untuk memeroleh
panggilan menjadi anggota kongregasi.

Keesokan harinya, Senin, 11 April 1921, Pastor Petrus Muller,
SJ menulis surat kepada Vikaris Apostolik Batavia, Mgr.
Edmundus S. Luypen, SJ. Pastor Petrus Muller menyertakan
pula naskah statuten (statuta, anggaran dasar) perhimpunan/
perkumpulan. Disampaikan pula nama-nama pribadi yang
telah bersedia menjadi anggota. Beliau mohon kesediaan Mgr.
Edmundus S. Luypen, SJ untuk mengangkat mereka sebagai
anggota vereeniging. Terjemahan surat tersebut sebagai
berikut:

“Monseigneur,

Dengan ini, kami mengirimkan anggaran dasar [Belanda:
statuten] untuk Rumah Perawatan Orang Sakit yang akan
didirikan di sini. Sebetulnya kami tidak mau mengganggu
Yang Mulia karena sudah sangat sibuk berhubung Paduka
baru kembali dari bepergian jauh. Kami mengira bahwa
Yang Mulia Pater Provicaris sudah menyampaikan kepada
Yang Mulia … . Maka kami dengan segera menghubungi
Yang Mulia. Tuan-tuan yang mulia ini telah bersedia untuk
menjadi anggota dalam perhimpunan, yaitu: ir. Dr. C.J. de
Groot, ir. G.H.M. Vierling, Dr. Thijsen, N.J. Orie, J. Th. Vonk,
C.M. van Oijen, dan saya yang bertanda tangan di bawah
ini. Maka dari itu kami mohon Yang Mulia berkenan
mengangkat beliau-beliau ini menurut anggaran dasar
pasal 4 [statuten art. 4]. Saya kira Yang Mulia juga sudah
mengetahui bahwa para Suster CB sudah memberi tahu
secara telegrafis bahwa mereka pada prinsipnya setuju

Berakit-rakit Membangun Rumah Sakit 75

untuk membuka rumah di Bandung. Karena pada hari
Jumat yang akan datang kami akan mengadakan rapat
untuk membicarakan anggaran rumah tangga, maka kami
mohon kabar Yang Mulia, sebelum hari Jumat. ….”

Dalam surat tersebut Pastor Petrus Muller, SJ mengakhiri,
“Saya mohon maaf karena saya begitu berani mengajukan
mohon jawaban cepat di tengah kesibukan Yang Mulia.”

Kelak di kemudian waktu, Statuten (Anggaran Dasar) Sint
Borromeus Vereeniging dilengkapi dengan Anggaran Rumah
Tangga.

“Algemeen Overste Suster-Suster CB
di Maastricht saat itu, Moeder Lucia Nolet,

menyambut hangat undangan
Vikaris Apostolik Batavia.”

Dalam waktu sangat singkat, setelah diperoleh tanggapan
yang tegas dari para pimpinan Gereja dan Kongregasi CB,
pada hari Jumat Legi, 15 April 1921, dilakukanlah rapat
Pengurus Sint Borromeus Vereeniging, yang mana susunannya
sebagai berikut:

1) Dr. ir. C.J. de Groot (President),
2) Dr. W.P. Thijsen (Vice President),
3) Pastoor P.J.W. Muller, SJ (Secretaris),
4) N.J. Orie (Vice Secretaris),
5) W.L.A. van Galen (Penningmeester),
6) C.M. van Oijen,

76 The Eternal Light

7) W.J.F. Rijck van der Gracht,
8) Prof. ir. G.H.M. Vierling,
9) J. Th. Ch. Vonk.

Gambar. Potongan berita sebuah surat kabar (16 April 1921) mengenai
pembentukan Sint Borromeus Vereeniging pada Minggu, 15 April 2021,
yang bertujuan melayani perawatan orang sakit apa pun latar belakang
kepercayaan dan kebangsaannya, yang dikelola oleh kaum religius
Katolik

Selanjutnya, proses penyediaan tanah dan bangunan
melibatkan pula Overste Suster-Suster CB di Salemba-Batavia,
Moeder Alphonsa, yang mewakili Kongregasi CB.

Pembentukan Sint Borromeus Vereeniging (Perhimpunan
Santo Borromeus) dan garis besar rencananya, untuk
melakukan karya perawatan bagi orang sakit seperti RK
Ziekenverpleging Sint Carolus di Batavia, diberitakan oleh
surat kabar. Diberitakan bahwa Kongregasi Suster-Suster
Cintakasih Santo Carolus Borromeus yang berpusat di
Maastricht itu akan mengirimkan sejumlah suster.
Diberitakan pula bahwa Sint Borromeus Vereeniging sedang
melakukan komunikasi mengenai lokasi di Dagoweg 80.

Berakit-rakit Membangun Rumah Sakit 77

Seminggu kemudian, Jumat, 22 April 1921, Pastor Petrus
Muller, SJ kembali menulis surat kepada Vikaris Apostolik
Batavia, Mgr. Edmundus S. Luypen, SJ :

“Saya harap Anda tidak marah kepada saya, bahwa saya
merepotkan Anda dengan begitu banyak surat. Tetapi ada
begitu banyak urusan untuk Perhimpunan Perawataan
Orang Sakit, sehingga saya harus menulis lebih banyak
dari pada biasanya. Untuk mendapat Mr. van Galen
menjadi bendahara aktif, kami memilih dua anggota
tambahan lagi, yakni, ir. W.J.F de Rijck van der Gracht dan
Tuan W.L. van Galen. Kami mohon Paduka mengangkat
keduanya sebagai anggota.

Dengan ini juga kami mengirimkan salinan perjanjian
ketentuan-ketentuan notaris … dan juga peneguhan
tertulis semua yang telah kami sepakati secara lisan.
Apakah Anda mempunyai keberatan terhadapnya? Kalau
saya selesai, saya akan mengundang rapat pada hari
Minggu, delapan hari lagi. Supaya tuan-tuan itu bisa
membubuhkan tanda tangan mereka.

Salam dan hormat, kepada Anda, Yang Mulia.”

Komunikasi-komunikasi terus berlangsung. Pada tanggal 15
Juni 1921 Vicares (Wakil Pemimpin Umum) Kongregasi CB di
Maastricht, Sr. Dominica, menulis surat kepada Vikaris
Apostolik Batavia, Mgr. Edmundus S. Luypen, SJ:

78 The Eternal Light

“Monseigneur,

Dengan segala hormat, saya kirimkan dengan segala
hormat, atas nama Waarde Moeder [sebutan untuk
Pemimpin Umum Kongregasi CB, waktu itu Moeder Lucia
Nolet] dua buah surat perjanjian yang telah
ditandatangani, kami kembalikan kepada Monseigneur
[Edmundus S. Luypen], dua yang lain kami pegang, satu
untuk arsip Monseigneur Schrijnen [Uskup Keuskupan
Roermond] dan satu untuk arsip kami. Barangkali Yang
Mulia telah mendengar bahwa Waarde Moeder baru
mengalami operasi yang kedua, dan sampai sekarang
beliau masih diopname di Rumah Sakit ‘Calvariënberg’;
bahaya sudah tidak ada dan ada kemajuan dalam
penyembuhan.

Dengan ini kami juga menghaturkan atas nama Waarde
Moeder terima kasih atas surat Paduka tertanggal 25
April. Ya, segala usaha ini agak terlalu cepat. Apalagi
bersamaan dengan sakitnya Waarde Moeder. Saya kira
penderitaan yang agak berat itu memberikan hikmah
berkat Tuhan untuk pekerjaan pendirian Rumah Sakit.
Semoga Tuhan memberkati pendirian rumah baru itu.
Waarde Moeder meminta saya untuk menyampaikan
salam hormat kepada Yang Mulia.

Dengan segala hormat, kami mengakhiri surat ini yang
kami tujukan kepada Yang Mulia, dari hamba.

Sr. Dominica (vicares).”

Dengan demikian, pernjanjian antara Sint Borromeus
Vereeniging dengan Kongregasi Suster-Suster Cintakasih

Berakit-rakit Membangun Rumah Sakit 79

Santo Carolus Borromeus telah ditandatangani oleh kedua
belah pihak, serta telah memeroleh persetujuan dan
pengesahan dari Vikaris Apostolik Batavia dan Uskup
Keuskupan Roermond. Dalam perjanjian itu antara lain
dinyatakan bahwa para suster bertugas memimpin rumah
sakit, yang melulu akan melayani perawatan orang sakit. Para
suster akan berkarya sesuai dengan semangat dan Konstitusi
serta Statutanya sendiri, mengikat diri melulu untuk
melaksanakan karya kasih perawatan di rumah sakit itu, dan
tidak di luarnya. Di dalam kegiatannya, para suster dipimpin
oleh overste mereka, tidak oleh Sint Borromeus Vereeniging.
Hanya moeder overste yang akan berbicara-berunding dengan
Vereeniging. Pemimpin Umum Kongregasi CB di Maastricht
berwenang menunjuk para suster yang bertugas dalam
perawatan. Selain itu, sejumlah hal lain diatur pula.

“ … bukan hanya terbatas untuk kalangan Katolik,
namun terbuka untuk umum.”

Persiapan untuk membuka sebuah biara Suster-Suster
Cintakasih Santo Carolus Borromeus pun dilakukan.
Komunikasi-koordinasi dengan para pemangku kepentingan
dilakukan untuk mempersiapkan sebuah karya pelayanan
kesehatan di Bandung. Penggalangan dana diupayakan. Ibu-
ibu banyak terlibat dalam upaya penggalangan dana ini.

Selanjutnya, pada bulan Juli 1921 Pengurus Sint Borromeus
Vereeniging mulai memberikan informasi kepada masyarakat,
termasuk melalui surat kabar, bahwa rumah perawatan yang
direncanakan akan dibuka pada 1 September 1921 bukan

80 The Eternal Light

hanya terbatas untuk kalangan Katolik, namun terbuka untuk
umum. Mereka juga menerangkan bahwa rumah perawatan
tersebut akan dilayani oleh Suster-Suster Cintakasih Santo
Carolus Borromeus, yang telah berkarya di Salemba-
Weltevreden-Batavia.

Dalam sebuah artikel singkat pada surat kabar De Preanger-
bode edisi 30 Juli 1921, ditegaskan:

“Pemikiran yang Keliru

Banyak orang Bandung tampaknya keliru berpendapat
bahwa Rumah Perawatan Orang Sakit St. Borromeus,
tempat Suster-Suster St. Carolus pertama kali akan tiba
hari ini, dan yang akan dibuka pada tanggal 1 September,
hanya diperuntukkan bagi umat Katolik. Ini tidak benar.
Rumah Perawatan Orang Sakit St. Borromeus merawat
orang-orang sakit, tanpa memandang golongan atau
kebangsaan mereka.”

Memulai dari Awal

Setelah persiapan awal di Bandung relatif matang, pada 30
Juli 1921 berangkatlah ke Bandung dari Batavia: Suster
Crispine Bosman dan Suster Judith de Laat (mereka termasuk
di antara sepuluh suster CB perintis yang pertama kali tiba di
Indonesia pada 7 Oktober 1918). Pada 2 Agustus 1921
Moeder Gaudentia Brandt tiba (beliau belum lama tiba di
Batavia dari Negeri Belanda) bersama Suster Ludolpha de
Groot. Selanjutnya, pada 15 Agustus 1921 datanglah Suster
Ambrosine Steenvoorden dan Suster Lioba van Haastert.
Mereka berenam merupakan perintis karya pelayanan
Suster-Suster CB di Bandung. Moeder Gaudentia Brandt

Berakit-rakit Membangun Rumah Sakit 81

ditunjuk oleh algemeen overste di Maastricht sebagai overste
di Bandung.

Gambar. Lukisan enam suster CB pertama di Bandung, yang merintis
pengelolaan RK Ziekenverpleging Sint Borromeus. Koleksi RS Santo
Borromeus.

Di Dagoweg 80, bangunan yang akan digunakan sebagai
rumah perawatan orang sakit dalam keadaan kosong. Tidak
ada perabot/mebel. Suster-suster CB perintis di Bandung itu
sempat terpana sejenak, tidak menyangka bahwa ternyata
82 The Eternal Light

tidak ada satu pun perabot/mebel yang ditinggal di sana.
Namun, mentalitas puteri-puteri Bunda Elisabeth Gruyters itu
sudah ditempa sangat kuat. Mereka segera mengurus
berbagai keperluan. Untuk sementara, mereka tinggal di
sebuah bangunan rumah tinggal. Demikian pula, berbagai
persiapan untuk membuka sebuah rumah perawatan
dilakukan setahap demi setahap. Pengalaman di Negeri
Belanda maupun di RK Ziekenverpleging Sint Carolus
Salemba-Weltevreden-Batavia menjadikan keenam suster CB
perintis di Bandung mampu berpikir dan bekerja cepat.
Ruang perawatan pasien disiapkan di bangunan yang ada.

Gambar. Paus Benediktus XV 83
Berakit-rakit Membangun Rumah Sakit

Sementara itu, pada 17 Agustus 1921 Vikaris Apostolik
Batavia, Mgr. Edmundus S. Luypen, SJ melakukan audiensi
kepada Paus Benediktus XV di Vatikan. Dari audiensi
tersebut, pada tanggal itu pula diterbitkan sebuah dokumen
yang ditandatangani oleh Mgr. P. Fumasoni Biondi, Sekretaris
Kongregasi Propaganda Fide. Dokumen tersebut menyatakan
bahwa Paus Benediktus XV memberikan izin kepada Mgr.
Edmundus S. Luypen, Vikaris Apostolik Batavia, untuk
berdasarkan penilaiannya yang bijaksana memperkenankan
dan mendirikan rumah religius dengan rumah sakitnya yang
terkait dengannya dari para Suster Cintakasih Santo Carolus
Borromeus di Bandung apabila sudah ada semua yang
diperlukan untuk mendirikannya dari sudut hukum dan dari
pimpinan setempat serta dari Konstitusinya, demikian pula
kalau sudah ditepati segala hal lain yang diperlukan,
terutama hal-hal yang termaktub dalam Konstitusi Apostolik
Romanos Pontifices serta bila tidak ada hal yang bertentangan
dengannya.

“ … selama sekitar tiga minggu
sebuah rumah kayu sederhana dibangun
di bagian belakang sebagai biara para suster.”

Di Dagoweg 80, selama sekitar tiga minggu sebuah rumah
kayu sederhana dibangun di bagian belakang sebagai biara
para suster. Di dalam biara rumah kayu itu, sebuah ruang
kecil digunakan sebagai kapel tempat berdoa, dengan sebuah
meja berupa sebidang papan di atas empat batu bata merah
yang diberi kain putih di atasnya yang berfungsi sebagai altar.
Sebuah bangku difungsikan sebagai bangku komuni. Tentu

84 The Eternal Light

saja terdapat beberapa buah kursi. Pada sebuah sudut
diletakkan sebuah patung Hati Kudus Yesus. Moeder
Gaudentia Brandt mempersembahkan rumah sederhana itu
kepada Hati Kudus Yesus. Beliau menyerahkan segala urusan
dan segala kesulitan di bawah perlindungan-Nya. Beliau juga
mohon kepada-Nya agar sudi menjadi Tuan atas RK
Ziekenverpleging Sint Borromeus yang sederhana, yang akan
segera dibuka.

Gambar. Rumah kayu sederhana dibangun sebagai biara/rumah suster-
suster CB perintis di Bandung. Rumah kayu terletak di belakang rumah
perawatan orang sakit (tampak pada foto).

Berakit-rakit Membangun Rumah Sakit 85

Moeder Gaudentia berdoa:

“Hati Kudus Yesus, saya percaya pada-Mu! Mohon agar
tidak ada satu jiwa pun yang tersesat di rumah-Mu ini.”

Hal ini mengingatkan pada apa yang dilakukan oleh Bunda
Elisabeth Gruyters pada abad ke-19:

“Mula-mula kami mengusahakan ruang doa yang sehat dan
tenang, tempat Yesus bertahta siang-malam, agar kami
Suster-Suster Cintakasih dapat menyembah dan
memuliankan-Nya.” (EG 58)

Dengan selesai dibangunnya biara rumah kayu maka
bangunan rumah sebelumnya disiapkan untuk aneka
kebutuhan rumah perawatan orang sakit.

Pengurus Sint Borromeus Vereeniging semula memperkirakan
bahwa RK Ziekenverpleging Sint Borromeus akan dibuka pada
1 September 1921. Akan tetapi, ternyata lebih banyak waktu
diperlukan untuk mempersiapkan segala sesuatu, termasuk
harus banyak menjelaskan kepada masyarakat.

Pada 1 September 1921 Pengurus Sint Borromeus Vereeniging
memberikan informasi kepada masyarakat melalui surat
kabar bahwa pembukaan RK Ziekenverpleging Sint Borromeus
ditunda, namun pembukaan akan dilakukan pada bulan
September itu juga. Diinformasikan pula bahwa perawatan
orang sakit akan dipimpin oleh Moeder Gaudentia.
Ditekankan bahwa setiap orang akan bebas dalam memilih
dokter, …, tidak ada kewajiban untuk mengenal lebih dahulu
dokter tersebut.

86 The Eternal Light

Pada tanggal 5 September 1921 Pengurus Sint Borromeus
Vereeniging mengumumkan kepada masyarakat melalui surat
kabar bahwa RK Ziekenverpleging Sint Borromeus di Dagoweg
akan dibuka pada hari Minggu pagi, 18 September 1921.
Pengumuman ini diulangi lagi pada 15 dan 17 September
1921.

Pembukaan RKZ Sint Borromeus

Hari Minggu Pahing, 18 September 1921, merupakan sebuah
hari yang bersejarah. Apa yang secara lengkap dinamakan
Roomsch-Katholieke Ziekenverpleging Sint Borromeus (Rumah
Perawatan Orang Sakit Katolik Roma Santo Borromeus)
diberkati oleh Pastor Petrus J.W. Muller, SJ. Waktu itu para
suster CB menggunakan istilah ziekenverpleging (perawatan
orang sakit). Dalam hal ini hendak ditekankan tindakan
merawat orang sakit. Tidak digunakan istilah ziekenhuis,
ziekeninrichting, hospitaal, atau gasthuis yang semuanya
memiliki arti praktis yang mirip. Suster-Suster CB
menekankan keperawatan, tindakan merawat orang sakit,
dengan cintakasih. Perlu dipahami bahwa para suster CB
yang ditugaskan merawat orang sakit telah dibekali dengan
pendidikan hingga memeroleh diploma sebagai verpleegster
(perawat, Inggris: nurse).

Pembukaan RK Ziekenverpleging Sint Borromeus pada Minggu
Pahing, 18 September 1921, diberitakan dalam surat kabar.
Sejumlah karangan bunga memenuhi serambi depan
bangunan. Dr.ir. C.J. de Groot (Ketua Sint Borromeus
Vereeniging) dan Pastor Petrus J.W. Muller, SJ (Sekretaris
Vereeniging) menyambut para tamu, termasuk di antaranya
dokter-dokter. Setelah semua hadirin berkumpul, Dr. ir. C.J.
de Groot menyampaikan sambutan, mengucapkan terima

Berakit-rakit Membangun Rumah Sakit 87

kasih kepada para hadirin yang berkenan hadir. Secara
singkat beliau menjelaskan maksud Sint Borromeus
Vereeniging dengan RK Ziekenverpleging Sint Borromeus.
Beliau mengungkapkan bahwa telah muncul pertanyaan
apakah diperlukan rumah sakit lain ketika saat ini sedang
dibangun sebuah rumah sakit umum kotapraja? [Rumah sakit
umum itu dibangun sejak tahun 1920, diresmikan pada tahun
1923 dengan nama Het Algemeene Bandoengsche Ziekenhuis,
kemudian tahun 1927 menjadi Gemeentelijk Ziekenhuis
Juliana, kelak menjadi RS Rantja Badak, dan kemudian RS
Hasan Sadikin]. Beliau menggarisbawahi, ternyata
masyarakat memandang bahwa masih dibutuhkan rumah
sakit lain (swasta) walaupun sedang dibangun sebuah rumah
sakit umum kotapraja. Beliau menekankan pula bahwa
Bandung merupakan tempat perawatan yang bagus bagi
orang yang sedang sakit.

Atas nama Pengurus Sint Borromeus Vereeniging, Dr.ir. C.J. de
Groot mengucapkan terima kasih kepada para wanita yang
telah terlibat dalam upaya penggalangan dana.
Diinformasikan kepada hadirin bahwa saat itu terdapat enam
suster yang melayani. ….

Setelah menyampaikan sambutan singkat-bernas, Dr.ir. C.J. de
Groot mengundang para hadirin untuk melihat-lihat gedung.
Diberitakan dalam surat kabar De Preanger-bode bahwa
ruangan-ruangan yang ada tampak sederhana tetapi rapi.
Fasilitas/ instalasi Röntgen dan ruang operasi dilihat-lihat
dengan penuh minat oleh para hadirin. Di halaman belakang
rumah perawatan orang sakit telah dibangun sebuah biara
dari kayu yang sederhana namun bercitarasa.

88 The Eternal Light

Untuk pertama kali tersedia 17 tempat tidur pasien. Sebuah
bangunan rumah pun digunakan untuk ruang rawat satu
pasien tambahan lagi. Jadi, 18 pasien dapat ditampung waktu
itu. Sungguh luar biasa bahwa pada hari pertama RK
Ziekenverpleging Sint Borromeus dibuka, semua tempat tidur
pasien yang tersedia itu langsung terisi penuh. Hal itu
menunjukkan betapa masyarakat Bandung sangat
membutuhkan tempat perawatan orang sakit, dan betapa
masyarakat Bandung sangat menaruh harapan kepada RK
Ziekenverpleging Sint Borromeus. Sejak hari pertama dibuka!

Gambar. Foto paling awal RK Ziekenverpleging Sint Borromeus.
Bangunan utama (kanan) tetap dipertahankan hingga kini sebagai cagar
budaya (cultural heritage) yang dilestarikan.

Berakit-rakit Membangun Rumah Sakit 89

Gambar. Bangunan awal RK Ziekenverpleging Sint Borromeus.

***
Syukur atas pembukaan RK Ziekenverpleging Sint Borromeus.
Tentu, semua ini atas berkat rahmat Tuhan, sebagaimana
pada abad ke-19 Bunda Elisabeth Gruyters berkata:

“ … atas kuasa Tuhan yang mengerjakannya, maka marilah
dan saksikanlah … Berkat pertolongan Allah, kami kini
telah mendirikan biara yang ketiga.” (EG 56)

***

90 The Eternal Light


Click to View FlipBook Version