The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

"Dengan kesabaran dan susah payah kami terus bekerja dengan keinginan besar untuk maju ... ya ... maju ..." (Elisabeth Gruyters 35)

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by timbuku100th, 2021-11-03 08:48:14

The Eternal Light (versi pendek)

"Dengan kesabaran dan susah payah kami terus bekerja dengan keinginan besar untuk maju ... ya ... maju ..." (Elisabeth Gruyters 35)

Pastor Leo van Beurden, OSC
Saya Senang Berkarya di Borromeus

P astor Leo van Beurden, OSC dahulu pernah bertugas
dalam pastoral care di RS Santo Borromeus. Beliau pun
pernah beberapa kali dirawat di sana. Beliau mengenal RS
Santo Borromeus sejak sekitar tahun 1979, saat bertugas di
Katedral Bandung. Ketika itu beliau sakit tifus, perlu dirawat
dua minggu.

“Di sana saya merasa dilayani dengan penuh perhatian dan
penuh pelayanan dengan baik. Susternya ramah-ramah
dan gampang akrab. Perawatannya sangat personal, dalam
arti banyak meluangkan waktu ngobrol dan mendampingi
saya dengan penuh perhatian.”

Selanjutnya, Pastor Leo berkarya di RS Santo Borromeus dari
tahun 1984 sampai dengan tahun 1986.

“Para perawat itu terasa memiliki Borromeus, dan
Borromeus pada waktu itu terkenal tidak hanya melayani
secara teknis tetapi juga in caritate.”

Pastor Leo sudah empat kali dirawat di RS Santo Borromeus
selama ini. [Dan, kelima, pada masa pandemi Covid-19, bulan-
bulan terakhir tahun 2020.]

“Saya merasa dilayani secara istimewa dan sangat
diperhatikan oleh perawat-perawat.”

Merefleksikan Peziarahan, Mengunjukkan Harapan 491

Gambar. Pastor Leo van Beurden di Kapel Hati Kudus Yesus, tahun 1985,
sewaktu bertugas dalam pastoral care di RS Santo Borromeus

Ketika berkarya dalam pastoral care, Pastor Leo merasa
terkesan ketika berinteraksi dengan orang-orang yang
dilayani (para pasien) Borromeus. Pastor Leo sampai saat ini
masih menjalin relasi dengan sejumlah pasien sekitar 40
tahun yang lalu. Pasien-pasien itu masih ingat dengan Pastor
Leo, bahkan ada pasien Muslim minta didoakan oleh beliau.

“RS Santo Borromeus menurut saya adalah rumah sakit
yang paling bagus, paling terkenal dan tersohor, dikagumi
dan diakui oleh masyarakat Kota Bandung.”

Dalam pandangan Pastor Leo, keterlibatan suster-suster CB
mempunyai peran yang sangat besar, di samping sebagai

492 The Eternal Light

pendirinya. Dengan adanya kapel, setiap pagi hari lumayan
banyak perawat, karyawan, dan dokter yang rajin berdoa
sebelum beraktivitas sehari-hari. Jadi, bukan hanya urusan
teknis saja, tetapi hal spiritualitas juga menjadi penting.

“Keunggulan Borromeus saya kira dalam pelayanan dan
keramahan terhadap setiap pasien dengan kasih sayang.
Kecanggihan alat-alat kedokteran saat ini hendaknya
jangan sampai mengancam relasi personal dengan pasien,
dan itu harus dijaga, karena kecenderungan alat menjadi
kaku dalam berelasi. Tuntutan teknologi yang berkembang
perlu digunakan dengan baik dan benar tanpa
menghilangkan relasi pribadi dengan pasien.”

Dalam pandangan Pastor Leo, RS Santo Borromeus juga
dipandang hebat dalam memerhatikan kebutuhan karyawan,
dengan menyediakan perumahan Borromeus di empat area.
Hari tua karyawan juga diperhatikan.

Apa harapan Pastor Leo kepada RS Santo Borromeus?

“Harapan saya, pertama, agar Borromeus bisa
mempertahankan semangat serviam in caritate, supaya
keramahan pelayanan personal, kepedulian kepada pasien
dengan situasinya, tetap diperhatikan walaupun dari segi
lain mau tidak mau Borromeus harus mengikuti
perkembangan zaman. Dengan mempunyai alat yang besar
dan canggih seperti MRI yang terbaru, itu demi pelayanan
pasien dan penyembuhan pasien yang prima, agar mereka
yang ‘berduit’ [kalangan yang mampu secara finansial]
tidak lari ke rumah sakit di luar negeri seperti ke
Singapore. Kedua, saya harap Borromeus tetap menjaga
nilai-nilai sosial bagi masyarakat yang membutuhkan

Merefleksikan Peziarahan, Mengunjukkan Harapan 493

pertolongan, yang tidak mampu ditolong dan dilayani
dengan baik.”

Kunci utama Borromeus, dalam pandangan Pastor Leo,
adalah welcome dalam pelayanannya dengan perkembangan
zaman, bagaimana membuat pasien merasa betah, membuat
nyaman dengan kecanggihan alat kesehatan, dan mau
berusaha berubah dan berkembang sesuai perkembangan
zaman.

“Borromeus sebaiknya menjaga keseimbangan antara
profesionalisme dengan serviam in caritate, dan harus
dipertahankan agar tetap eksis, diakui di tengah-tengah
masyarakat Bandung dan sekitarnya, bahkan Provinsi
Jawa Barat.”

***

Dokter Widyastuti Amidjojo, Sp.PD.
Saya Cinta Borromeus

D okter Widyastuti Amidjojo, Sp.PD berkarya di RS Santo
Borromeus sejak tahun 1985. Sebelumnya, beliau
belajar di Jerman, menjalani ikatan dinas, dan kemudian
bergabung dengan Borromeus. Baru sebentar di Borromeus,
beliau dipercaya sebagai direktur medis, dan terlibat dalam
upaya-upaya pembaruan dan pengembangan rumah sakit.

“Waktu itu RS Santo Borromeus masih berbentuk
bangunan lama, belum bertingkat seperti sekarang. Waktu
itu masih hanya ada Klinik Umum, Klinik Anak, dan IGD

494 The Eternal Light

saja. Jadi, masih terbatas pelayanannya jika dibandingkan
dengan sekarang. …”

Gambar. Dokter Widyastuti.

Berbekal pengalaman belajar di Jerman, Dokter Widyastuti
banyak menyampaikan masukan-masukan kepada berbagai
unsur. Beliau menuturkan:

“Sehingga, kemudian saya ditunjuk menjadi Direktur
Medis untuk membenahi sistem, baik manajemen maupun
SDM-nya. Saya mulai menata pelan-pelan secara bertahap
karena saya buta mengenai manajemen, tidak punya
keahlian khusus untuk itu, tetapi saya mencoba sebisa

Merefleksikan Peziarahan, Mengunjukkan Harapan 495

saya. Sifat saya memang to the point jika berbicara, tidak
suka bertele-tele, jadi terkesan galak. Saya suka ngomong
spontan jika ada sesuatu hal yang tidak benar menurut
saya.”

Rumah Sakit Santo Borromeus kemudian dikembangkan
secara “tambal-sulam”, dari keadaan yang lama lalu
direnovasi terus-menerus sesuai kebutuhan. Hal itu tentu saja
memerlukan biaya yang tidak sedikit dan lebih “repot” dalam
merencanakannya jika dibandingkan dengan membangun
gedung di lahan yang kosong yang pasti lebih bagus dan
efektif (seperti rumah sakit baru). Namun, dengan
keterbatasan lahan maka mau tidak mau dilakukan renovasi,
dari yang lama diganti dengan yang baru, dan itu berlangsung
dari waktu ke waktu.

Seiring dengan perjalanan waktu, pasien semakin banyak.
Lalu direksi mulai berpikir untuk membangun gedung
bertingkat agar lebih memadai dan mampu menampung
jumlah pasien yang semakin banyak. Pembangunan gedung
bertingkat dimulai dari Gedung Maria.

“Saya terlibat dalam perencanaan dan pencarian dana. Ke
sana ke sini, dana diperoleh dari para donatur, hingga
akhirnya berhasil dibangun, meskipun proyek
pembangunan sempat terhenti karena kekurangan dana.”

Setelah Gedung Yosep dibangun RS Santo Borromeus menjadi
memiliki kapasitas dan kemampuan lebih, sehingga
kemudian direksi merencanakan pembangunan Gedung
Carolus. Waktu itu Dokter Widyastuti tidak terlibat dalam
pembangunan Gedung Carolus. Kemudian dibangun Gedung

496 The Eternal Light

Irene dan Gedung Elizabet; Dokter Widyastuti kembali
membantu mencari dana untuk pembangunannya.

Sebagai Direktur Medis waktu itu, Dokter Widyastuti
membantu Dokter Efram sebagai Direktur Utama, dan
berlanjut hingga Dokter Albert sebagai Direktur Utama.
Antara lain beliau membantu upaya pembangunan gedung
dengan menggalang dana dari donatur-donatur yang beliau
kenal, termasuk melalui kolega dokter-dokter, serta dokter
mitra Borromeus.

“Saya juga mengumpulkan dana untuk pasien-pasien yang
kurang mampu dengan menggalang dana dari para dokter.
Misalnya, dokter spesialis menyumbang dana sekian
rupiah per bulan, dan dokter umum menyumbang sekian
rupiah per bulan. Data dan laporan keuangan semuanya
tercatat. Dana terkumpul lumayan banyak. Kemudian saya
membuat Yayasan Pancaran Kasih, salah satunya untuk
membantu mereka yang berkekurangan.”

Saat krisis moneter melanda Indonesia tahun 1998, Dokter
Widyastuti bersama Dokter Kelly (almarhum) membentuk
dana yang dinamakan “Pancaran Kasih” untuk membantu
orang-orang yang kurang mampu dan berkekurangan. Untuk
rawat inap diberikan yang kelas III; jumlah pasiennya relatif
banyak; Rumah Sakit Santo Borromeus memberikan diskon
untuk rawat inap dan penunjangnya. Pasiennya diseleksi;
tidak semua orang yang menyampaikan permohonan akan
diberikan bantuan. …. Sekarang Pancaran Kasih sudah
diserahkan kepada Dokter Bernadette untuk
meneruskannya.”

Merefleksikan Peziarahan, Mengunjukkan Harapan 497

Dihimpun pula kas dari para dokter untuk membantu para
pensiunan, yang diberikan dalam bentuk beras setiap bulan.
Juga, bantuan bagi keluarga karyawan yang kurang mampu
untuk biaya rawat inap orang tuanya, dan biaya untuk
sekolah anaknya. Sampai sekarang masih berjalan. Datanya
dikelola di Sekretariat Rumah Sakit (Bu Liana).

Dokter Widyastuti memiliki kesan mendalam terhadap RS
Santo Borromeus:

“Kesan saya tentang Rumah Sakit Santo Borromeus …,
saya rasa Borromeus dipercaya oleh (menjadi
kepercayaan) masyarakat Bandung dan sekitarnya. Masih
dipandang berarti bagi mereka, dengan pelayanan kasih
yang baik, sehingga banyak masyarakat yang berkunjung
untuk berobat ke sini. Borromeus tidak pernah sepi, dari
tahun ke tahun selalu naik, bahkan pasien dari luar kota
pun masih mencari Borromeus, meskipun kita tidak
pernah berpromosi tentang Borromeus waktu itu,
masyarakatlah yang mencari kita.”

Dokter Widyastuti memandang bahwa kedisiplinan masih
dijaga sebagai budaya di Borromeus. Menurut beliau,
Borromeus itu rumah sakit yang jujur jika dibandingkan
dengan rumah sakit lain. … Juga, Kode Etik Kedokteran
dipegang teguh.

Harapan Dokter Widyastuti, semakin banyak subspesialisasi
yang mendukung pelayanannya. Dokter Widyastuti sangat
berharap agar Nilai-Nilai, Visi, dan Misi Rumah Sakit Santo
Borromeus tetap dipegang teguh, dijaga, dan tetap dijalankan
sesuai aturan main.

498 The Eternal Light

“Slogan saya untuk Borromeus: ‘Saya Cinta Borromeus’.
Cinta itu dalam, cinta itu mau berkorban. Dari awal sampai
sekarang saya melakukannya dengan penuh sukacita dan
rasa tanggung jawab. Cinta kasih menjadi nomor satu bagi
saya, sesuai Visi-Misi Borromeus.”

***

Christina Sri Rejeki
Merupakan Panggilan, Saya Nyaman Bekerja di Borromeus

I bu Christina Sri Rejeki, akrab disapa “Bu Sri”, mulai
berkarya di Borromeus sejak tahun 1987; sebentar di
bagian Rumah Tangga (RT), kemudian ditugaskan di Kapel
sampai tahun 1995, lalu pindah ke Maria 4 sebentar, kembali
ditugaskan di Kapel, kemudian dipindahkan ke Biara Suster-
Suster CB selama 15 tahun, lalu tahun 2014 ditugaskan
kembali di Kapel sampai sekarang.

Setelah menjadi karyawan, Bu Sri mengenal beberapa
direktur rumah sakit. Yang pertama adalah Dokter Efram, lalu
Dokter Albert, Dokter Totot, Dokter Suriyanto, dan Dokter
Chandra.

“Dahulu Borromeus masih alami dengan model paviliun
dan banyak area kebunnya; sangat sejuk dan segar
udaranya. Dahulu Yosep Paviliun terdapat selasar yang
panjang dengan depannya ada area taman dan tanaman
kebun yang indah. Dahulu gedung Carolus juga masih
model paviliun. Bagian Anak-Anak atau Irene juga masih
model lama. Juga gedung Anna masih paviliun. Dahulu

Merefleksikan Peziarahan, Mengunjukkan Harapan 499

banyak daunnya; jadi kalau saya mau merangkai bunga
altar, saya cari bunga dan daunnya lebih mudah. Sekarang
semuanya hampir digantikan dengan gedung-gedung yang
betingkat megah dan modern, sangat berbeda sekali;
tentunya ini mengikuti perkembangan zaman di era
sekarang ini.”

Gambar. Bu Sri dan Suster Simona.

Bu Sri mengenal sejumlah suster, antara lain Suster Simona.
Setiap ulang tahun, Bu Sri selalu diberi hadiah oleh beliau.
Kalau beliau sedang di Negeri Belanda, beliau selalu
mengirim surat kepada Bu Sri, dan selalu menyapa serta
500 The Eternal Light

memerhatikan pekerjaan Bu Sri dengan saksama. Beliau
tampak bijaksana sekali, sangat baik dan menaruh perhatian
kepada Bus Sri, tetapi terkenal dengan disiplin yang tinggi.
Kalau beliau sudah percaya dengan pekerjaan yang diberikan
kepada Bu Sri, beliau tidak perlu mengawasi, yang penting
pekerjaannya beres.

Bu Sri mengisahkan, Biara CB semula hanya memiliki satu
rumah biara hingga masa kepemimpinan Suster Simona.
Kemudian pada masa kepemimpinan Suster Venantin, dibeli
sebuah rumah di sebelah rumah biara milik seorang ibu
hajah, sehingga biara bertambah luas. Dua bangunan rumah
dirombak menjadi satu bangunan untuk biara.

Dahulu ketika Pastor Anton Rutten, OSC masih muda [beliau
pernah sebagai Bendahara PPSB sejak tahun 1984 selama
beberapa tahun], gedung sebelah kapel bekas biara lama
pernah dipakai sebagai kantor PPSB. Kantor PPSB terletak di
lantai dua dan luas, sering digunakan untuk pertemuan-
pertemuan penting dan rutin. Di ujung gedung itu ada kamar
dan ruang tunggu untuk tamu-tamu suster-suter Belanda
sehingga kantornya mirip penginapan; ada kamar mandi
khusus dan ruang tunggu.

“Saya bekerja selama 32 tahun lebih banyak mengurus
Kapel; itu sudah merupakan panggilan saya sehingga saya
nyaman bekerjanya.”

Bu Sri mengenang, dahulu bagian Rumah Tangga (RT)
bekerja merangkap membersihkan ruangan hingga
menyajikan makanan kepada pasien, membereskan tempat
tidur, mengganti sprei, sampai dengan mencuci.

Merefleksikan Peziarahan, Mengunjukkan Harapan 501

“Teladan dari Suster-Suster CB, mereka punya belarasa
terhadap sesama manusia, baik untuk rumah sakit
maupun karyawannya. Perhatian juga terhadap karyawan
yang kelas bawah dan bahkan kalau perlu ditolong dan
dibantu, tercermin sikap cinta kasih dalam pelayanan
terhadap pasien maupun karyawan rumah sakit. Karya
Suster-Suster CB tercermin dalam organisasi RS Santo
Borromeus; di setiap bidang penting selalu hadir atau
ditempatkan Suster CB, baik di PPSB, di Perawatan,
Pelayanan Sosio-Medis, Kebidanan, Kerohanian, Kapel, dan
lain-lain.”

Bu Sri ingat, pada suatu ketika pernah ada program
pembagian bunga atau kado secara langsung kepada
karyawan oleh seorang direktur. Beliau rajin turun langsung
ke bawah; beliau mempunyai sifat merakyat, mau dekat
dengan kalangan bawah dan tidak gila hormat, selalu
menghargai setiap karyawan. Bu Sri mengungkapkan, ada
direktur yang sangat rajin setiap pagi berdoa di Kapel.

“Beliau selalu menyapa jika ketemu saya, ramah sekali,
sapaan beliau membuat saya senang dan merasa dihargai.
Ada pula direktur periode lain yang juga rajin berdoa di
kapel; beliau juga sering menyapa saya setelah selesai
berdoa.”

Tiga tahun sebelum pensiun, Bu Sri menerima piagam
penghargaan kesetiaan kerja 30 tahun.

“Saya terharu, senang, dan bangga ….”

502 The Eternal Light

Ketika menerima penghargaan itu, Bu Sri harus berdandan,
yang selama ini tidak pernah dilakukan, mengenakan pakaian
adat.

“Pesan untuk Borromeus ke depan: semoga persaudaraan
antara karyawan dan pimpinan dapat dipertahankan
dalam mengikuti perkembangan zaman yang semakin
maju. Borromeus tetap jaya. Amin.”

***

Dr. dr. M. Begawan Bestari, Sp.PD-KGEH, M.Kes.
Borromeus Itu Rumah Sakit Leader

D okter Begawan sudah mengenal RS Santo Borromeus
sejak kecil. “Saya suka jalan-jalan [di Dago] juga karena
sangat nyaman untuk jalan-jalan.” Kedua orangtua beliau
adalah dokter yang berkarya di RS Santo Borromeus. Dokter
Begawan mengenang bahwa beliau dahulu banyak “bermain”
di area komplek RS Santo Borromeus, yang bangunannya
dahulu masih “klasik”.

Pengalaman awal Dokter Begawan dengan RS Santo
Borromeus terjadi pada tahun 2001 dan 2002 ketika dirawat
dan dioperasi karena sakit usus buntu. “Pelayanannya baik,
susternya ramah,” kata beliau. Beliau melakukan residensial
dengan RS Santo Borromeus pada tahun 2006. “Jadi, saya
resmi bekerja di Borromeus sejak tahun 2006. Sudah 15
tahun sampai sekarang.” Dokter Begawan bekerja sebagai
dokter mitra, yang mana beliau berkarya sebagai dokter tetap

Merefleksikan Peziarahan, Mengunjukkan Harapan 503

di RS Hasan Sadikin dan sebagai dosen di Fakultas
Kedokteran Universitas Padjadjaran.

Gambar. Dokter Begawan

Apa pandangan Dokter Begawan tentang posisi RS Santo
Borromeus? Menurut beliau:

“Dari segi sarana dan prasarana, saya lihat Borromeus
menjadi salah satu rumah sakit yang terlengkap di
Bandung. Itu dari segi perlatannya. Kalau dari segi
kedokterannya, untuk subspesialistiknya saya kira
Borromeus yang terlengkap pelayanannya di Bandung.
Dengan adanya SDM yang mumpuni dan alat-alatnya
cukup lengkap, saya kira RS Borromeus menjadi leader-
504 The Eternal Light

nya, baik kategori rumah sakit swasta maupun rumah
sakit pemerintah. Peralatan yang lebih lengkap justru ada
di rumah sakit; itu harus saya akui.”

Mengenai kelengkapan peralatan RS Santo Borromeus,
Dokter Begawan menjelaskan lebih lanjut:

“Bisa digambarkan bahwa di bidang penyakit dalam
terdapat beberapa subspesalisisasi seperti endokrin,
gastro, ginjal, hemato, infeksi, paru, geriatrik …. Itu semua
masing-masing dokternya ada di Borromeus. Semua
dokter subspesialis tugas utamanya memang di RSHS dan
bisa menjadi mitra di berbagai rumah sakit swasta yang
lain di Bandung.”

Dokter Begawan mengakui mutu SDM RS Santo Borromeus:

“Saya melihat, dalam bidang keperawatan, RS Borromeus
sangat mumpuni, dalam arti saya bisa bekerja sama
dengan para perawatnya dengan baik. Jadi, dokter dan
perawat itu harus saling mendukung dan bekerja sama;
dokter menghargai perawat sebagai mitra kerja bukan
sebagai bawahannya (seperti pembantu); perawat
menghargai dokter sebagai penanggung jawabnya. Saya
selama bekerja sama dengan mereka sangat terbantu dan
tidak ada yang dirugikan. Saya merasa bahwa para
perawat Borromeus sudah bekerja secara profesional dan
mengikuti perkembangan zaman di bidang teknik
kedokteran, khususnya endoskopi.”

Dokter Begawan meggarisbawahi, dokter melakukan visitasi
hanya beberapa saat, tetapi perawatlah yang setiap saat

Merefleksikan Peziarahan, Mengunjukkan Harapan 505

melayani pasien selama 24 jam. Jadi, perawatlah yang harus
lebih terampil dan cekatan.

“Perawat-perawat di Borromeus itu terampil. Demikian
juga dengan endoskopi; saya sebagai operator tidak bisa
bekerja sendiri, harus ada asisten operator; asistennya
adalah perawat, dan perawat di Borromeus bisa
mengimbangi pekerjaan saya. Katakanlah, jika saya
bekerja dengan speed 100 km/jam, sedangkan
perawatnya hanya 10 km/jam, maka itu bisa
mengakibatkan pekerjaannya keteteran. Tapi di sini, di
Borromeus, tidak ada yang begitu; bagus semuanya.”

Dalam hal teknologi informasi, menurut Dokter Begawan, RS
Santo Borromeus sudah maju, dan sudah menerapkan
electronic medical record. “Itu sudah luar biasa.” Meskipun
masih ada status pasien yang ditulis secara fisik, tetapi secara
sitem sudah terintegrasi.

“Saya menulis catatan medis, instruksi dokter, catatan
obat, langsung diketik secara digital, meskipun masih
terdapat beberapa dokumen fisik penting sebagai rekam
medis. Hal ini menjadi keunggulan dari RS Borromeus.”

Menurut Dokter Begawan, persaudaran di Borromeus cukup
baik dan komunikasinya lancar. Komunikasi antara dokter
dan perawat sangat ramah dan belum pernah ada masalah
yang merugikan.

“Saya enjoy. Saya melihat kerja sama yang baik
antarprofesi, dan semoga bisa dipertahankan selamanya.
Pengalaman saya berkomunikasi dengan direktur pun
mudah, tidak ada masalah, karena beliau pun sering

506 The Eternal Light

praktik melakukan tindakan di sini. Saya sering bertemu
dengan direktur dan ngobrol begitu akrab. Juga dengan
rekan kerja lain, baik secara informal maupun formal, saya
merasakan komunikasi itu mengalir lancar dan
persaudaraannya terlihat sangat baik.”

Dengan seabad RS Santo Borromeus, Dokter Begawan
berharap, “Semoga RS Borromeus tetap menjadi leader dalam
memberi pelayanan yang terbaik di Bandung maupun di Jawa
Barat.”

Menurut Dokter Begawan, rumah sakit di Indonesia harus
mendapatkan kesempatan dengan adanya pandemi. Banyak
pasien yang berkurang dalam berobat ke luar negeri seperti
ke Singapore dan Malaysia; peluang ini bisa diambil alih oleh
Borromeus. RS Borromeus bisa membuktikan bahwa kita
tidak kalah dengan rumah sakit di negara lain, sudah
terakreditasi internasional. “Mengenai skill dokter dalam
menangani pasien, saya rasa dokter-dokter RS Borromeus
tidak kalah dengan mereka.”

***

Suster Sofia Gusnia, CB
Ada Ruh yang Menjiwai

M emulai perkenalan sebagai perawat di RS Santo
Borromeus Bandung, Suster Sofia Gusnia, yang akrab
disapa “Suster Sofie”, saat ini duduk sebagai salah seorang
anggota Dewan Pimpinan Umum Kongregasi Suster CB di

Merefleksikan Peziarahan, Mengunjukkan Harapan 507

Maastricht, Negeri Belanda. Namun ingatan akan 14 tahun
berbakti di RS Santo Borromeus, tak pernah beliau lupakan.

Gambar. Kepemimpinan Umum Kongregasi CB di Maastricht saat ini.

Dari pengalamannya berhadapan dengan pasien, beliau
menilai semua pelayanan di mana pun adalah sama. “Saya
memperlakukan semua pasien harus dengan cintakasih. Ini
karena iman membuat saya merasa dicintai sangat banyak
oleh Tuhan. Karena banyaknya cinta yang saya dapatkan,
itulah yang harus saya bagikan kembali kepada orang lain,
termasuk pasien-pasien,” ujarnya.
Dari kacamatanya, adalah kasih sayang yang menjadi nilai
spirit terbesar RS Santo Borromeus sehingga dapat bertahan
selama satu abad.

508 The Eternal Light

“Ada roh yang menjiwai setiap sudut rumah sakit ini. Roh
yang diawali oleh pendirinya, yakni Bunda Elisabeth, serta
semangat Santo Corolus Borromeus yang selalu ingin
berbelas kasih. Ada lima nilai yang dihidupi. Nilai-nilai ini
berasal dari Delapan (8) nilai dari Guiding Principles
Spiritualitas CB (GPCB) dalam pelayanan kesehatan, dan
itu diejawantahkan menjadi budaya organisasi rumah
sakit yang kami namakan ICARE [Integrity, Compassion,
Assurance, Respect, and Embrace Innovation].”

Beliau berharap, nilai-nilai ini bisa menjiwai seluruh rekan
kerja dalam pelayanan kepada siapa saja di rumah sakit,
sekalipun rekan kerja berasal dari latar belakang yang
berbeda-beda.

Menurut Suster Sofie, “perbedaan” itu jangan dianggap
masalah karena nilai-nilai yang dianut RS Santo Borromeus
bukanlah monopoli ajaran Katolik. Nilai-nilai yang
diperjuangkan adalah nilai universal dan bisa diterima semua
kalangan. Di mana setiap manusia patut kami hargai dan
martabatnya dijunjung.

Suster Sofie menceritakan, tak ada kesan buruk selama
menjalani tugas sebagai perawat dan kepala perawatan.
Beliau justru merasa tantangan terbesarnya ada pada dirinya
sendiri:

“Saya harus bisa menaklukkan tantangan dari diri sendiri
agar bisa melayani pasien dengan penuh kasih. Jangan
pernah berpikir bahwa mereka ‘mencari perhatian’.
Mereka adalah pasien (sedang sakit) maka respon mereka
bermacam- macam. Saya harus bisa mengelola emosi agar
tetap bisa melayani mereka sesuai dengan kebutuhannya.

Merefleksikan Peziarahan, Mengunjukkan Harapan 509

Bagaimana saya bisa mengharmonikan antara pikiran,
hati, kata-kata, dan tindakan yang harmonis sehingga
membantu mereka segera pulih.”

Berdasarkan pengalamannya, menjalin relasi dengan rekan
kerja juga menjadi penting agar tercipta suasana yang
menyenangkan saat bekerja. Harus dipahami jika setiap
pribadi memiliki kelebihan dan kekurangan. Dan, agar
tercipta suasana kerja yang nyaman dengan rekan kerja, lebih
baik saling menonjolkan kelebihannya saja.

Apa yang paling berkesan ketika berkarya di RS Santo
Borromeus? Suster Sofie menuturkan:

“Yang paling berkesan selama berada di RS Borromeus
adalah saat tergabung dalam tim pemateri bagi karyawan.
Saat itu saya memperkenalkan sejarah Kongregasi CB
termasuk siapa pendiri dan pelindungnya. Saya melihat
antusiasme dari rekan-rekan kerja tersebut. Ada
kerinduan yang besar dari mereka untuk mengenal lebih
dalam siapa itu pendiri dan pelindung CB, yang memberi
roh pada rumah sakit.”

Nilai-nilai luhur pendiri dan pelindung CB tidak boleh hilang
dan mati. Rumah sakit boleh berkembang dan menyesuaikan
diri dengan perkembangan dan kebutuhan zaman, namun
nilai-nilai luhur harus tetap bertahan dan dihidupi.

Beliau pun memaknai satu abad RS Borromeus dengan mimpi
yang tak kalah luhur. Beliau ingin agar seluruh rekan-rekan di
Borromeus betul-betul memahami visi dan misi, tujuan dan
nilai-nilai yang sudah ada. Itu semua perlu dimaknai dan
dihidupi dalam setiap pelayanan. Dikatakan, jika budaya

510 The Eternal Light

organisasi ini hidup dan dipertahankan, niscaya semua orang
yang tergabung didalamnya saling mecintai.

"Kerja itu harus nyaman, batin harus adem. Kalau tidak enjoy,
akan sulit untuk melayani. Jika jiwanya sudah damai, saya
berharap mereka bisa menjadi penerus cahaya Bunda
Elisabeth dan Santo Carolus Borromeus. Cahaya ini tidak
akan sirna dimakan waktu tetapi tetap menyala dalam
pelayanan kepada mereka yang membutuhkan pertolongan,"
katanya.

***

Silvia Indri Hapsari dan Yudi Hartanto
Sebuah Mujizat di Borromeus

I bu Silvia dan Bapak Yudi Hartanto berbagi pengalaman
tentang putera mereka, Natanael Marko Hartanto, yang
lahir prematur pada usia kehamilan 28 minggu, dengan berat
badan 1,1 kg, dirawat di NICU dengan terintubasi sekitar 5
bulan, namun kini Marko sudah berusia 13 tahun.

Pada tahun 2008, saat kehamilan pada minggu ke-28, suatu
tengah malam tiba-tiba Bu Silvia merasa nyeri sekali pada
perut dan keluar flek sehingga dilarikan ke RS Santo
Borromeus untuk diperiksa oleh bidan. Dokter Maximus pun
dipanggil. Setelah dicek dokter, ternyata bayi harus segera
dilahirkan karena sudah mencapai bukaan ke-8.

Merefleksikan Peziarahan, Mengunjukkan Harapan 511

Begitu dilahirkan, bayi Marko langsung dibawa ke ruang
perawatan Neonatal Intensive Care Unit (NICU) karena berat
badannya 1,1 kg. Jelas prematur, dan ada kelainan jantung.

“Marko dirawat di Borromeus sekitar 6 bulan lamanya,
cukup lama juga, sehingga bagi saya Borromeus menjadi
rumah kedua saya, karena sehari-hari tinggal di
Borromeus, sampai suster-susternya kenal baik dan dekat
dengan keluarga saya. Secara emosional kami menjadi
sangat dekat dengan para suster, serasa keluarga kami.
Hubungan kami sampai sekarang sangat baik.”

Dokter yang menangani Marko pada waktu itu adalah Dokter
Sandjaja. Setelah dirawat selama dua minggu dan diperiksa,
menurut dokter ada suara desing pada jantung Marko,
sehingga perlu dikonsultasikan kepada dokter jantung anak
di RS Hasan Sadikin (waktu itu Borromeus belum punya
dokter spesialis jantung anak). Dokter jantung anak itu
memberi obat untuk merangsang penutupan katup
jantungnya karena masih berusia dua minggu, agar tidak
terjadi kelumpuhan pada Marko. “Mendengar hal itu saya
syok dan berusaha untuk membantu dengan berdoa Novena,
mohon bantuan dan kesembuhan bagi Marko.”

Waktu berjalan. Marko mengalami perkembangan yang baik
sehingga, kata dokter jantung anak, bisa dilakukan katerisasi
jantung, tetapi masih perlu menunggu berat badannya cukup
memadai, minimal 8 kg. Marko waktu itu selama 71 hari
menggunakan ventilator. Perkembangan paru-parunya pun
ikut dipantau. “Begitu mesin atau alat ventilatornya sudah
bisa dilepas, saya baru bisa untuk pertama kali menggendong
Marko,” tutur Bu Silvia.

512 The Eternal Light

Gambar. Marko

Suatu hari ketika akan dipindahkan ke Bagian Irene, Marko
gagal bernafas lagi. Jadi, Marko kembali ke NICU. Kejadian
semacam ini berlangsung sampai tiga kali.

“Ini perjuangan yang sangat berat bagi saya. Tetapi, sekuat
tenaga saya selalu berdoa dan berjuang demi anak saya,
Marko, agar segera pulih. Kejadian yang ketiga kali, ketika
dipindahkan ke Irene 4, baru sehari, saya terkena cacar.
Marko harus dikembalikan lagi ke NICU. Saya selama dua
minggu tidak boleh kontak dengan Marko. Perasaan saya
sedih dan kecewa berat dengan kejadian ini …, tapi pasrah
dan tetap percaya, Tuhan pasti memberikan jalan yang
terbaik.”

Merefleksikan Peziarahan, Mengunjukkan Harapan 513

Bu Silvia melanjutkan:

“Saya merasakan mujizat bagi hidup Marko karena
penyakit yang dideritanya. Bagi bayi yang sepadan dengan
kondisinya, sangat besar risikonya akan kematian. Tetapi,
dengan percaya pada Yesus, Marko terselamatkan. Ketika
umurnya setahun, perkembangan jantungnya sudah
normal sehingga tidak perlu dilakukan operasi jantung
pada waktu itu. Juga perkembangan paru-parunya. …
Perkembangannya sangat pesat dan anaknya sekarang
tumbuh dengan sehat, pinter, dan berprestasi. ….”

Bu Silvia memuji pelayanan RS Santo Borromeus:

“Kesan saya, pelayanan suster-susternya sangat tanggap
jika saya minta bantuan dan minta pertolongan. Cekatan
dalam membantu dan suka diajak ngobrol juga sehingga
saya merasa terhibur dan merasa tidak sendirian. Mereka
serasa saudara sendiri; mereka sangat baik dalam
menjalin hubungan kekeluargaan dengan pasien; ada
sentuhan hati dan kasih sayang yang saya rasakan.”

Cepat tanggap, demikian Bu Silvia menilai para perawat RS
Santo Borromeus:

“Pelayanannya cepat tanggap. Ketika Marko lahir dan
susah bernafas, susternya sambil berlari-lari membawa
pompa, membawa Marko dari Ruang Elizabeth ke Ruang
NICU. Saya sangat salut. Jika saya sedang panik, susternya
sangat care sekali; saya dirangkul dan dipesankan untuk
calm down. Saya dikenalkan dengan keluarga pasien lain
yang kasusnya seperti Marko; jadi bisa sharing dengan
mereka. Pernah terjadi, Marko gagal bernafas sampai

514 The Eternal Light

delapan kali; saya sangat stres dan panik serta ketakutan
sekali, tetapi suster-susternya menenangkan saya.”

Ibu Silvia juga memuji pastoral care RS Santo Borromeus:

“Saya juga merasa puas dengan pelayanan pastoral care-
nya. Waktu itu oleh Pastor [Hans] van Doorn, OSC
(almarhum). Saat saya sedang dirawat sakit cacar, Pastor
membawakan foto Marko yang sedang dirawat di NICU
untuk ditunjukkan kepada saya karena saat itu tidak boleh
kontak selama dua minggu. Pastor menawarkan, lewat
suster, pembaptisan bayi Marko yang baru berumur satu
hari. Semua persyarataan sampai wali baptisnya langsung
disiapkan. Saya waktu itu sedang shocked, tidak
terpikirkan pembaptisan bayi. Bersyukur sekali, dengan
cepat tanggap Pastor dan susternya merespons. Saya salut
sekali dengan kinerjanya.

Suster-susternya masih baik hubungannya sampai
sekarang (Suster Wulan dan Suster Anita). Kadang-kadang
suka kontak dengan keluarga saya.”

Ibu Silvia menyampaikan harapan kepada RS Santo
Borromeus dalam menyongsong masa depan:

“Dipertahankan kinerja yang sudah baik ini. Melayanilah
dengan hati. Bagi saya, RS Borromeus sudah menjadi
pilihan keluarga saya.”

Pak Yudi, ayah Marko, menambahkan:

“Pelayanan di Borromeus sangat luar biasa dan saya
percaya 100 % dengan Borromeus. Dokter-dokter dan

Merefleksikan Peziarahan, Mengunjukkan Harapan 515

suster-susternya sangat responsif dan perhatian dengan
Marko. Saya bersyukur sekali atas kesehatan Marko.
Sampai sekarang, berkat jasa suster dan dokternya, Marko
tumbuh dan berkembang dengan baik. Penerimaan di RS
Borromeus sangat luar biasa untuk kami.”

Menurut Pak Yudi, secara umum pelayanan di Borromeus,
khususnya secara administratif, sangat baik dan mulus tanpa
kendala, jika dibandingkan dengan rumah sakit lain.
Kelebihan lain dan keunggulan RS Borromeus, menurut Pak
Yudi, adalah fasilitas ruang tunggu yang nyaman, serta
pelayanan yang ramah dan komunikasi yang baik serta
suasana kekeluargaan yang baik. “Pelayanan susternya,
menurut saya, kalau dinilai sampai 110%; sangat luar biasa,”
kata Pak Yudi.

Pernah, suatu ketika tiba-tiba detak jantung Marko turun,
nafasnya juga turun. Mama dan papa Marko melihat para
suster dan dokter sibuk untuk memacu jantungnya. Bu Silvia
mengenang:

“Kami dengan berpelukan dan menangis berdoa dengan
penuh hikmat, bersama omanya juga, bagi keselamatan
Marko. Mujizat! Berkat bantuan doa, jantung dan paru-
parunya bisa pulih kembali. Kejadian ini lebih dari sekali.
Berkali-kali sering gagal jantung dan sering membuat
shocked kami. Tetapi, dengan ketekunan dan kesabaran
serta kepercayaan yang kuat, Tuhan memberkati.
Kekuatan doa sangat luar biasa.”

Para suster pun kagum. Hal ini membuat Marko menjadi kuat
dan pulih. Mengenai kekuatan doa, Bu Silvia menambahkan:

516 The Eternal Light

“Ada kejadian yang sangat bagus, ketika Marko di
intubator, kami berdoa selalu berpegangan tangan. [Kelak
kemudian] kalau kami (saya dan papanya) berdoa, selalu
Marko minta berada ditengah-tengahnya, kemudian
tangannya memegang tangan kami untuk disatukan,
bertumpu di tengah bersama tangan Marko. Hal ini
dilakukan terus sampai sekarang. Hal ini menjadi tanda
mujizatnya. Pengalaman ini merupakan keajaiban Tuhan.”

Bu Silvia mengungkapkan bahwa kelemahan Marko pada
motoriknya sehingga perlu dilakukan fisioterapi di RS Santo
Borromeus (terapisnya Mbak Maria dan Mbak Dewi). Terapi
ini dijalani sampai 10 tahun. Secara umum Marko sepintas
normal, hanya motoriknya saja yang lemah. Tapi, dalam
kelemahannya itu ternyata Marko bisa berprestasi. Marko
juga diikutkan dalam olahraga Wushu agar tetap sehat dan
motoriknya terjaga dengan baik.

Para perawat RS Santo Borromeus, yang terlibat dalam
penanganan Marko, merefleksikan bahwa Tuhan menyapa
melalui Marko. Mereka juga belajar dari peristwa itu, belajar
dari Marko dan keluarga Marko, belajar untuk saling
menguatkan.

***

Nia Restiana
Tuhan Menolong Melalui Borromeus

Ibu Nia Restiana, bekerja sebagai perawat di RS Santo
Borromeus, akrab disapa “Bu Nia”, mempunyai dua anak,

Merefleksikan Peziarahan, Mengunjukkan Harapan 517

yang pertama berumur 7 tahun dan yang kedua berumur 3
tahun. Anak kedua pernah mengalami kelainan jantung
sehingga dilakukan operasi penutupan katup jantung, yang
mana sebelumnya dinyatakan oleh dokter terdapat
kebocoran pada jantungnya.

Gambar. Bu Nia Restiana.

Anak kedua Bu Nia lahir pada tanggal 15 Desember 2018,
lahir dalam keadaan normal melalui sectio caesarea karena
berat badan anaknya besar, sedangkan pinggul Bu Nia sempit.
Waktu itu belum terdeteksi bahwa jantung anak bocor. Ketika
diperiksa oleh Dokter Sienny Kurniawati, Sp.A., waktu itu
umur bayi kira-kira baru seminggu, sebetulnya sudah ada
suara mur-murnya, sehingga diminta agar diperiksa melalui
EKG. Kemudian, pada usia 6 bulan, anak Bu Nia sakit
bronchopneumonia, batuk-batuk yang tidak segera sembuh;

518 The Eternal Light

waktu itu dirawat oleh Dokter Tjoa Siau Ling, dan kemudian
diminta agar diperiksa melalui thorax photo, lalu diminta
diperiksa dengan ekokardiografi atau USG jantung. Dari
situlah ternyata dokter mengetahui ada kebocoran jantung,
terdengar suara mur-mur jantung, seperti ada suara
tambahan di samping detak jantungnya. Kemudian dari
Dokter Tjoa Siauw Ling dikonsultasikan kepada Dokter
Rahmat Budi Kuswiyanto, Sp.A.-KJ. Dokter Rahmat Budi
menyarankan agar dilakukan operasi penutupan katup
jantungnya itu.

Karena biayanya relatif tinggi, Bu Nia berpikir-pikir lagi dan
menunda dulu berhubung belum memiliki dana yang
dibutuhkan. Kemudian Bu Nia menghubungi Bagian
Pasosmed. Dari situ diperoleh informasi bahwa terdapat
program Borromeus untuk membantu operasi jantung pada
usia bayi. “Saya beruntung sekali karena tidak semua orang
bisa mendapatkan bantuannya.”

Bu Nia menjelaskan, ketika mengalami bronchopneumonia,
gejalanya setiap kali minum selalu tersedak, kalau tengah
malam saat tidur sering terbangun, gelagapan seperti susah
tidur, selalu gelisah, kemungkinan kekurangan oksigen
(hipoksia). Jadi, tidurnya tidak nyenyak, tetapi tidak ada biru-
biru pada bidan. (Kelak, setelah dioperasi, tidurnya bisa
nyenyak lagi. Minumnya sudah bisa banyak dan tidak pernah
tersedak lagi.)

Kemudian anak Bu Nia dirawat oleh Dokter Tjoa Siauw Ling,
Sp.A. dan didiagnosis Patent Ductus Arteriosus (PDA), berarti
ada kebocoran pada katup jantung, sehingga perlu segera
dilakukan operasi. Berhubung biayanya tinggi dan Bu Nia
tidak mempunyai uang, Bu Nia sempat bingung dan stres. Bu

Merefleksikan Peziarahan, Mengunjukkan Harapan 519

Nia disarankan mencari informasi ke Bagian Cath Lab, ke Mas
Untoro, untuk konsultasi lebih dulu. Kemudian Mas Untoro
bertanya kepada Dokter Monik. Tidak lama kemudian, Bu Nia
dipanggil Dokter Monik. Beliau yang menangani program dari
Borromeus untuk membantu kasus anak Bu Nia melalui
WeCare, semacam program sosial bagi pasien yang perlu
dibantu. Kemudian Bu Nia disarankan untuk menghubungi
bagian Pasosmed, lalu Bu Nia diikutkan dalam programnya.

Setelah Dokter Tjoa, kasusnya dikonsultasikan kepada Dokter
Rahmat Budi untuk dilakukan operasi jantung anak.
Operasinya dilakukan di RS Santo Borromeus pada bulan
September. Setelah dioperasi, anak Bu Nia langsung masuk
ruang Irene, yang mana sebelumnya dikhawatirkan bahwa
sesudah operasi jantung biasanya masuk NICU dulu; ternyata
keadaan anak Bu Nia cukup baik.

Ada kejadian yang tak terduga sama sekali. Ketika anak
pertama Bu Nia bertemu Suster Paulina, CB secara tidak
sengaja, dan si anak ditanya oleh Suster Paulina, dia
mengatakan bahwa kalau adiknya tidak ditolong maka akan
segera mati. Suster Paulina kaget dan terenyuh. Akhirnya
langsung dilakukan konfirmasi kepada Pasosmed. Hal ini
tanpa sepengetahuan Bu Nia, malah diketahui dari orang lain.

Proses pelayanan dari Pasosmed ke WeCare berjalan lancar,
tidak ada kendala. “Saya sangat bersyukur sekali, ternyata
Tuhan memberikan jalan bagi saya dan mengabulkan doa
saya, sehingga anak saya bisa terselamatkan dan sehat hingga
sekarang.”

Setelah operasi, sekitar seminggu kemudian anak Bu Nia
diperiksa dokter di klinik, kemudian sebulan berikutnya

520 The Eternal Light

diperiksa lagi, dan setelah tiga bulan diperiksa lagi, kemudian
setalah enam bulan diperiksa lagi, lalu setelah setahun
diperiksa lagi. Proses pertumbuhan anak Bu Nia hingga kini
bagus dan sehat. Tumbuh kembangnya sesuai dengan
perkembangan anak pada umumnya.

Bu Nia percaya bahwa campur tangan Tuhan pasti
membantunya. “Saya berdoa mohon bantuan kepada Tuhan
bagi anak saya yang perlu biaya operasi jantung yang cukup
besar. Saya tidak punya uang sebanyak itu, sedangkan anak
saya harus diselamatkan hidupnya.”

“Saya merasa terharu, senang, bahagia, dan merasa
berhutang budi kepada Borromeus. Peristiwa ini
merupakan peristiwa yang luar biasa bagi saya karena
tanpa bantuan Borromeus, mungkin anak saya tidak akan
tertolong.”

Bu Nia merasa bahwa pelayanan dokter dan perawatnya
sangat bagus, khususnya di Bagian Cath Lab, operasi hanya
berlangsung selama 1 (satu) jam saja, berjalan lancar, dan
hasilnya sangat baik.

Nama lengkap anak kedua Bu Nia adalah Dev Brahmasta
Niagara. Dev dalam bahasa Sansekerta berarti segalanya
dimudahkan. Yang memberi nama adalah mbah-nya. Bu Nia
menjelaskan bahwa nama merupakan doa untuk Bu Nia dan
bagi si anak.

Dalam pandangan Bu Nia, kekuatan RS Santo Borromeus
adalah pelayanan dengan cintakasih. Orang datang bukan
hanya untuk mencari obat tetapi mencari pelayanan dengan
sentuhan kasih yang dirasakan. Hal ini terasa dengan para

Merefleksikan Peziarahan, Mengunjukkan Harapan 521

suster yang melayani dengan ramah dan penuh kasih sesuai
dengan visi-misi Borromeus yang mengutamakan Kasih di
atas segalanya.

***

Budaya ICARE

Kisa-kisah pengalaman nyata di atas memperlihatkan betapa
perziarahan RS Santo Borromeus selama ini dilandasi oleh
budaya ICARE. Walaupun istilah ICARE barulah dirumuskan
beberapa tahun terakhir ini, namun ICARE digali dari
kenyataan yang telah lama dihidupi sejak awal hingga kini,
yang kemudian ditegaskan melalui rumusan eksplisit.

Integrity tercermin dari kenyataan bahwa RS Santo
Borromeus berupaya menjunjung tinggi kejujuran dalam
pelayanan, menyatakan sesuatu secara apa adanya, tidak
berbohong demi mengambil keuntungan, tidak mengambil
kesempatan dari situasi pasien. RS Santo Borromeus
berupaya sekuat tenaga agar nilai-nilai cintakasih
diwujudkan dalam berbagai aspek penyelenggaraan rumah
sakit, baik pelayanan kepada pasien maupun pengelolaan
sumber daya, termasuk keuangan dan perpajakan.

Compassion, yang meliputi sikap empatik, peduli, sehati-
seperasaan terhadap penderitaan pasien, terutama tercermin
dalam kisah-kisah pasien yang mengalami pelayanan RS
Santo Borromeus. Para karyawan pun merasakan kepedulian
dari manajemen yang terus memerhatikan dan
mengupayakan kesejahteraan mereka.

522 The Eternal Light

Assurance, penjaminan, tercermin dalam sikap disiplin,
komunikatif, responsif, kesiapsediaan, dan profesionalisme
dalam pelayanan kesehatan dan pengelolaan organisasi.
Antara lain hal inilah yang membuat RS Santo Borromeus
tetap dipercaya oleh masyarakat Jawa Barat sejak awal
hingga kini.

Gambar. Ibu mertua Bapak Ridwan Kamil (Gubernur Jawa Barat) sedang
dirawat di RS Santo Borromeus, 2019

Respect, sikap menghormati dan menghargai, tercermin dari
keanekaragaman dan suasana akrab di antara para pemangku
kepentingan. Walaupun RS Santo Borromeus merupakan
sebuah lembaga Katolik, namun para pemeluk agama atau
keyakinan lain merasa nyaman berada di dalamnya. Para
pasien, yang beraneka latar belakangnya, tidak ragu-ragu dan
percaya dengan RS Santo Borromeus yang menghormati dan
menghargai para pasien.

Merefleksikan Peziarahan, Mengunjukkan Harapan 523

Embrace Innovation, terus berinovasi, tercermin nyata dalam
pembaruan-pembaruan terus-menerus mengikuti perkem-
bangan zaman. Hal ini sangat nyata dalam bangunan fisik,
namun juga dalam alat-alat pelayanan medis dan penunjang
medis, keperawatan, serta pengelolaan sumber daya. Sejak
beberapa dasawarsa terakhir, RS Santo Borromeus pun tidak
lepas dari kemajuan teknologi informasi dan komunikasi.
Bukan hanya secara fisik, pembaruan-pembaruan pun terus
dilakukan untuk meningkatkan kualitas manusia yang
melayani karena justru dari kualitas manusialah kemajuan
bermula.

***

Demikianlah perkembangan RS Santo Borromeus
sebagaimana dikisahkan oleh beberapa pribadi yang terlibat.
Terdapat ribuan pribadi yang telah dan sedang terlibat
hingga RS Santo Borromeus mencapai usia seratus tahun.
Semuanya itu demi pelayanan kesehatan yang terus
diupayakan peningkatan kualitasnya. Pelayanan yang berbela
rasa dan demi keselamatan jiwa para penderita begitu
dihidupi oleh Bunda Elisabeth Gruyters, pendiri Kongregasi
CB, yang menulis:

“… hanya Tuhanlah yang mengetahui betapa banyak jerih
payah harus kami alami sehingga kebahagiaan ini dapat
dilimpahkan kepada para penderita yang malang ini.” (EG
109).

524 The Eternal Light

Epilog 525
Melantan Kasih,
Merenda Asa

Epilog

“… jika sekarang ada orang
yang berani bertanya kepadaku, apakah harapanku itu,

maka aku akan menjawab,
atas kuasa Tuhan yang mengerjakannya,

maka marilah dan saksikanlah …”

(Elisabeth Gruyters 56)

Ditulis oleh
Perkumpulan Perhimpunan Santo Borromeus

P enggalan aksara pusaka di atas membawa kita ke alam
mawas diri untuk menemukan harta berharga bahwa
perjalanan sepuluh dasawarsa ini tak pernah tersapih
dari hasta Sang Mahacinta. Sosok ibunda menjadi perantara
kasih Sang Mahacinta, menyentuh dengan tangannya,
melantan [menjaga, memelihara] kisah, merenda asa bagi
sebuah “ada”. Semangatnya menuntun setiap hati ibarat hasta
ibunda yang terulur mesra membimbing “si buyung” yang
tertatih melangkahkan kaki mungilnya. Bunda, yang tekun
memelihara kisah demi kisah yang membentuk hidup
puteranya, tanpa pernah lupa membubuhkan asa dan doa di
setiap perjalanannya. Kini “si buyung” mungil itu telah
menjelma menjadi sosok dewasa nan rupawan. Berjuta mata
memandang dia, namun hati bunda yang sarat cinta senyap
dalam kehajaannya, meninggalkan tatapan penuh makna: “…
kuasa Tuhan yang mengerjakannya, maka marilah dan
saksikanlah ….”

526 The Eternal Light

Pelbagai kisah yang merajut lembaran-lembaran buku ini
adalah bukti bahwa penyertaan tangan kasih Sang Mahacinta
bukanlah semata khayalan. Ia terus bekerja dalam diam dan
terus merentangkan tangannya di atas “ada” kita. Seratus
tahun Ia berkanjang [tekun, terus-menerus tiada henti] dalam
reksa karunia-Nya, agar karya kasih-Nya terjaga dalam
jalinan persaudaraan sejati bersama liyan. Jalinan
persaudaraan bisa menjadi centang-perenang karena
kekerasan yang lahir dari prasangka atau prasangka yang
lahir dari kekerasan. Namun, kemanusiaan yang
mendasarinya tidak pernah runtuh. Di atas batu karang
kemanusiaan inilah berlangsung ragam peristiwa yang
dibentangkan dalam buku ini.

Memandang Paras Lain Sang Mahacinta (Finding “the
other face” of God)

Pertimbangan Sang Mahacinta acapkali tak terjajagi, jalan-
jalan-Nya tak tertelusuri. Ia seringkali menggunakan pribadi-
pribadi yang berbeda dan kita anggap asing dari diri kita
sendiri untuk menggempur sudut pandang konvensional kita,
sekaligus mengusik kita agar memiliki cara pandang baru,
memapas mata batin kita dari belenggu cara pandang dunia
yang telah menjadikan berbagai sisi kehidupan sebagai
sesuatu yang lazim dan wajar. Palmer Parker, dalam bukunya
The Company of Strangers, menuliskan:

“God uses the stranger to shake us from our conventional
point of view, to remove the scales of worldly assumptions
from our eyes. God is a stranger to us, and it is at the risk of
missing God's truth that we domesticate God, reduce God to
the role of familiar friend.” (Parker, 1981, 59).

Epilog 527

Memang, jika kita mengelilingi diri kita hanya dengan orang-
orang yang sama, serupa, sependapat dan secara umum
seperti diri kita sendiri, kita tidak akan pernah melihat "paras
lain" Sang Mahacinta dan tidak pernah mendengar panggilan
untuk menjadi lebih dari diri kita sendiri. Cara pandang ini
dikukuhkan pula oleh Paus Fransiskus, dalam Seruan
Apostolik Evangelii Gaudium, yang menyatakan:

“Hanya berkat perjumpaan – atau perjumpaan yang
dibarui– dengan kasih Allah, yang berkembang dalam
suatu persahabatan yang memperkaya, kita dibebaskan
dari kesempitan dan keterkungkungan diri. Kita menjadi
manusia sepenuhnya ketika kita menjadi lebih dari
manusiawi, ketika kita membiarkan Allah membawa kita
melampaui diri kita sendiri supaya mencapai kepenuhan
kebenaran dari keberadaan kita” (Fransiskus, 2014, 11).

Kisah-kisah dalam buku ini terangkai dan berawal dari
perjumpaan setiap tokohnya dengan liyan di tengah simpang
siur kesibukan sehari-hari. Perjumpaan dengan liyan kerap
diwarnai rasa ragu, takut, atau bahkan dihantui rasa curiga.
Ini bukan sesuatu yang terlalu mengherankan karena
bermacam-macam peristiwa dan pemberitaan selalu
membuka peluang bagi tertanamnya syak wasangka. Akan
tetapi, berkat dialog serta percakapan-percakapan yang
terjadi di selasar-selasar kehidupan, perasaan-perasaan itu
perlahan-lahan sirna. Sebagai gantinya, mulai tumbuh
keyakinan bahwa kemanusiaan mampu menghadirkan jauh
lebih banyak alasan untuk merajut asa bersama.

528 The Eternal Light

Gambar. Patung Hati Kudus Yesus dengan latar belakang lukisan enam
suster CB perintis pengelolaan RS Santo Borromeus. (Sumber foto:
Rumah Sakit Santo Borromeus)

Epilog 529

Perjumpaan dengan liyan mampu membuka mata batin akan
makna menjadi manusia. Manusia ternyata adalah makhluk
yang mampu menemukan keterkaitan segala sesuatu dengan
dirinya dan keterkaitan dirinya dengan segala sesuatu. Capax
omnium atau kapasitas untuk mampu melakukan segala
sesuatu ini memungkinkan manusia memberi makna pada
setiap perjumpaannya dengan liyan, pun ketika yang
dijumpainya itu memiliki lapisan-lapisan identitas yang amat
berbeda dengan dirinya (Sheehan 2005, 33, 38). Karena
segala sesuatu yang diberi makna senantiasa memiliki daya
ubah pada jiwa, transformasi terjadi bukan hanya pada
lapisan eksterior, melainkan sampai ke relung batin yang
tersembunyi.

“ … refleksi tentang makna kehadiran
serta jejak-jejak perjalanan bersama Allah

selalu dapat ditemukan
ketika peristiwa demi peristiwa
tidak dibiarkan berlalu begitu saja.”

Borromeus, 100 Years of Legacy and Beyond

Setiap tulisan dalam buku ini dimulai dengan upaya
mengingat kembali peristiwa yang pernah dialami. Di dalam
lapisan kesadaran, ingatan ini timbul dalam rupa kepingan-
kepingan yang perlu disusun kembali. Proses penulisan
menjadi saat menyusun kembali kepingan-kepingan ingatan
itu sembari memberinya makna baru. Persis karena itu, buku
ini tidak hanya ingin menceritakan rentetan peristiwa secara
deskriptif. Lebih dari itu, refleksi tentang makna kehadiran

530 The Eternal Light

serta jejak-jejak perjalanan bersama Allah selalu dapat
ditemukan ketika peristiwa demi peristiwa tidak dibiarkan
berlalu begitu saja.

“ … mengarahkan pandangan ‘ke luar’
dan terus berjalan tapak demi tapak

meniti perjalanan masa bersama liyan.”

Benih yang ditanam di Bumi Pasundan dengan penuh kasih
oleh para perintis awal pelayanan kesehatan dalam wadah
Perkumpulan Perhimpunan Santo Borromeus terus-menerus
disiram dengan peluh kerja cerdas, dicangkul oleh lengan-
lengan perkasa yang berwibawa, hingga terus bertumbuh
semakin kuat dan berhikmat, tanpa pernah tercabut dari akar
sosialnya. Kekokohan ini berpengaruh pada kesadaran atau
gambaran mengenai diri (sense of self), pemahaman
mendalam akan tujuan keberadaannya sebagai perpanjangan
tangan kasih Sang Mahacinta yang dengan tulus mengambil
bagian demi keselamatan jiwa-jiwa di tengah masyarakat.

Peziarahan dalam mencari dan melaksanakan kehendak
Tuhan selayaknya dimaknai sebagai suatu kisah penciptaan
terus menerus, sebagaimana tertulis: "Jadilah cakrawala di
tengah segala air untuk memisahkan air dari air. Maka Allah
menjadikan cakrawala dan Ia memisahkan air yang ada di
bawah cakrawala itu dari air yang ada di atasnya. Dan jadilah
demikian” (bdk. Kejadian 1:6-7). Oleh sebab itulah, maka
perjalanan 100 tahun ini adalah peziarahan penuh cinta yang
tiada henti membuka indera memandang cakrawala.
Cakrawala memampukan jiwa memilih, memilah dan

Epilog 531

menelaah yang terbaik diantara yang apik serta yang bernas
pada saat yang pas.

Karya pelayanan kesehatan dalam wadah Perkumpulan
Perhimpunan Santo Borromeus dimaksudkan sebagai aksi
yang berjalan terus dalam lingkaran dinamika evangelisasi.
Istilah “evangelisasi” sengaja dipilih untuk memperkuat
nuansa kehadiran pelayanan kesehatan ini melangkaui karya
“pastoral”. Pastoral ─ meskipun mungkin kurang tepat ─
diartikan sebagai merawat yang sudah ada, memelihara
sembilan puluh sembilan domba yang tidak tersesat. Terselip
nuansa “melihat ke dalam” pada kata itu. Sementara kata
“evangelisasi” memuat nuansa “ke luar” atau “melihat keluar”
sebagaimana dituntut oleh realitas yang sekuler: pergi dan
mengajak serta sembilan puluh sembilan domba yang tidak
tersesat untuk mencari domba-domba lain (bdk. Ignatius
Suharyo, 2017, 290). Karya pelayanan kesehatan dalam
wadah Perkumpulan Perhimpunan Santo Borromeus
diundang untuk terus-menerus memelihara dan merawat
yang sudah ada, namun terus aktif mengembangkan diri,
mengarahkan pandangan “ke luar” dan terus berjalan tapak
demi tapak meniti perjalanan masa bersama liyan.

Merawat Pelita tetap Bernyala

Pelayanan Kesehatan ini didirikan di atas batu dasar
cintakasih dan kemanusiaan. Dengan demikian pelayanan
bagi yang menderita tidak semata-mata dipandang sebagai
tindakan welas asih, pun pula demi tanggung jawab dan
solidaritas untuk memberikan apa yang menjadi hak-hak
sesama lantaran mereka pun memiliki martabat setara serta
tercipta secitra dengan Allah. Hal ini senada dengan seruan

532 The Eternal Light

apostolik yang digaungkan sebagai arah prioritas Gereja di
awal milenium baru:

“Sekarang waktunya untuk mengembangkan kreativitas
dalam pelayanan kasih, tidak hanya mengusahakan agar
bantuan efektif, melainkan juga untuk semakin dekat
dengan mereka yang menderita. Dengan demikian tangan-
tangan yang membantu tidak dirasa merendahkan,
melainkan sebagai berbagi kehidupan di antara sesama
saudara” (Yohanes Paulus II, Novo Millenio Ineunte, 2001).

Kasih yang terwujud dalam tindakan menandaskan
kebenaran dari kata-kata tentang kasih itu sendiri. Melalui
kaitan erat dengan kebenaran, kasih dikenali sebagai suatu
ungkapan autentik kemanusiaan. Hanya dalam kebenaran,
kasih memancarkan cahaya serta dapat dihayati secara
autentik. Kebenaran adalah percikan cahaya yang memberi
makna pada kasih. Tanpa kebenaran, kasih dapat terperosok
ke ranah sentimental atau sebatas sebagai ruang kosong yang
dipenuhi dengan cara sewenang-wenang yang pada akhirnya
hanya akan membatasi kasih pada bidang yang sempit tanpa
relasi.

“Tekad untuk terus berjalan melintas masa,
menuntut kita menjaga
‘pelita tetap bernyala’.”

Epilog 533

Gambar. Cagar budaya: lambang kesetiaan untuk menjaga misi awal.

Selama seabad kehadirannya, pelayanan kesehatan ini telah
menjadi saksi kesetiaan Sang Mahacinta yang terjelma dalam
kehidupan. Kesetiaan berpangkal dari perjumpaan dan
kebersamaan, berkembang berkat pengertian, dan bertahan
karena kepercayaan.

Kepercayaan tidaklah cukup diletakkan pada satu sisi
kehidupan saja, sebaliknya di setiap sisinya: lahir dari
kepercayaan Sang Mahacinta bagi Gereja yang ingin ikut
ambil bagian dalam karya penyelamantan-Nya; kepercayaan
Gereja kepada umatnya; kepercayaan generasi pendahulu
terhadap penerusnya; kepercayaan pimpinan kepada para
mitranya; kepercayaan seluruh entitas karya pelayanan
kepada pemimpinnya; kepercayaan para pelayan kesehatan
terhadap mereka yang dilayani; kepercayaan masyarakat

534 The Eternal Light

terhadap karya pelayanan kesehatan ini; serta masih banyak
sisi yang tidak pernah akan habis dikupas tuntas.

Komitmen Perkumpulan Perhimpunan Santo Borromeus
serta seluruh unit operasional di bawah payungnya untuk
mengambil bagian dalam karya Gereja, melibatkannya dalam
lingkaran dinamika evangelisasi baru serta menjadikannya
sebagai pembawa terang kebenaran. Tanggung jawab sosial
yang diemban, diwartakannya dalam semangat cintakasih
demi Kemuliaan Tuhan dan keselamatan sesama:
“Hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya
mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan
Bapamu yang di sorga” (bdk. Mat 5:14-16).

Tekad untuk terus berjalan melintas masa, menuntut kita
menjaga “pelita tetap bernyala”. Bunda Elisabeth
mengajarkan bahwa rahmat itu perlu terus dimohon dari
Tuhan, Sang Sumber, sebagaimana terungkap dalam doanya:
“Semoga hatiku bernyala-nyala karena cinta” (bdk. EG 39).
Pelita tetap bernyala karena asa dari Sang Cahaya, oleh
karena itulah maka rahmat ini pun perlu selalu dimohon.
Sepuluh dasawarsa telah dilalui bersama dan melangkaui
kurun itu kita bersyukur karena pelita kita boleh tetap
beryala-nyala penuh cinta dalam peziarahan hidup bersama
liyan.

Merangkai Kuntum Kisah ─ Menjelma Asa

Buku Perjalanan Kasih ini sekaligus merangkai kuntum-
kuntum kisah kemanusiaan. Kisah yang diikat dari
pengalaman demi pengalaman pribadi-pribadi yang telah
mengalami perjalanan penuh syukur bersama RK
Ziekenverpleging Sint Borromeus masa demi masa. Laksana

Epilog 535

tanaman sansevieria (Latin: Sansevieria trifasciata lauretii),
seabad sudah RK Ziekenverpleging Sint Borromeus berakar,
bertunas, dan berbiak mengisi bentala sekitarnya. Melahirkan
wahana-wahana baru perpanjangan tangan Sang Mahacinta
dalam karya kesehatan di Bumi Pasundan. Lika-liku dan
asam-garamnya terjalin erat dalam ragam pengalaman.
Pengalaman-pengalaman pribadi ibarat gemericik suara air
atau riak dalam gemuruh ombak. Ia bagaikan butir-butir pasir
yang meniscayakan dirinya ketika menjadi bagian dalam
kokohnya sebuah bangunan yang telah berdiri seabad
lamanya.

Kenangan memang cenderung bersifat personal, akan tetapi
kita sepakat bahwa kenangan juga memiliki peranan sangat
penting sebagai kisah tak tertuturkan yang menjiwai sebuah
perjalanan panjang sejarah. Dari sekian ribu kisah, ada di
antaranya kisah-kisah yang terlupakan yang menurut kita
tidak penting sehingga kita merasa tidak perlu untuk
mengingatnya. Kisah-kisah yang dirasa tidak penting
cenderung tidak menjadi perhatian, meskipun kita sering
melihatnya. Akan tetapi, baik kisah-kisah yang terlupakan
maupun yang tidak ingin kita ingat sesungguhnya tidak
pernah hilang sama sekali. Mengutip Thomas de Quincey: “I
feel that there is no such thing as ultimate forgetting; traces
once impressed upon the memory are indestructible”, kita
disadarkan bahwa dalam seluruh perjalanan seabad RK
Ziekenverpleging Sint Borromeus, Sang Mahacinta tidak
pernah melupakan kita. Ia selalu menyertai setiap langkah
perjalanan kita sejak awal karya ini dirintis hingga saat ini. Ia
berjalan bersama kita untuk terus melengkapi
ketidaksempurnaan kita.

536 The Eternal Light

Akhir kata, kisah-kisah yang terukir dalam buku ini memang
dikumpulkan berberkas-berkas dari masa lalu. Namun, masa
lalu tidak pernah mampu memenjaranya, karena setiap
narasi menawarkan imajinasi tentang masa depan. Imajinasi
tentang masa depan terkadang lahir dari gagasan penulis,
namun tak jarang juga terlahir dari penafsiran pembaca
sendiri (bdk. Sastrapratedja 2012, 258).

Sebangun dengan hal itu, maka hendaknya kita tidak pernah
berhenti bermimpi untuk terus menerus mengembangkan RK
Ziekenverpleging Sint Borromeus sesuai konteks
perkembangan zaman, sebab, menyitir psikoanalisis Sigmund
Freud, mimpi adalah representasi nyata dari hal-hal yang
tersimpan di dalam alam bawah sadar. Demi menjelmakan
syukur segala karunia, masing-masing dari kita diundang
untuk membatinkan sekaligus mewujudkan agar kisah-kisah
sarat makna yang terangkai indah dalam buku ini diwujudkan
serta terus dikobarkankan dalam kehidupan kita di sini, saat
ini untuk masa depan. “You are the light. Rise and shine!”

“Dimuliakanlah Nama Tuhan
selama-lamanya.
Amin”.

(Elisabeth Gruyters 156)

Epilog 537

Daftar Referensi:

Elisabeth Gruyters, Pendiri Sebuah Kongregasi, Kongregasi Suster
Suster Cintakasih St. Carolus Borromeus, Yogyakarta, 1987.

Fransiskus, Evangelii Gaudium, Seri Dokumen Gerejawi 103,
DOKPEN KWI.

Ignatius Suharyo, “Terimakasih, Baik, Lanjutkan!”, oleh St. Sularto &
Trias Kuncahyono, Obor, Cetakan 1, 2017.

Palmer Parker, The Company of Stangers, Published by Crossroad,
1981.

Sastrapratedja, M., “Hermeneutika dan Etika Naratif Menurut Paul
Ricoeur”, Kanz Philosophia 2, 2012.

Sheehan, Thomas, "Rahner's Transcendental Project." In The
Cambridge Companion to Karl Rahner, edited by Declan Marmion
Mary E. Hines, Cambridge: Cambridge University Press, 2005.

Sisters of Charity of St. Charles Borromeo, General Chapter
Document: Weaving Global Solidarity in the Spirit of Humility, Joy
and Simplicity, 2017.

Yohannes Paulus II, Novo Millenio Ineunte, 2001.

538 The Eternal Light

Pustaka

Buku ini merupakan versi pendek dari buku:

Soediro, P. Krismastono, dkk. (2021) The Eternal Light: Satu
Abad Perjalanan Cintakasih Rumah Sakit Santo Borromeus
1921–2021. Dalam rangka perayaan 100 tahun Rumah
Sakit Santo Borromeus; pemangku karsa: RS Santo
Borromeus. Bandung: Unpar Press.

Lihat Pustaka [daftar acuan] buku tersebut.

Pustaka 539

540 The Eternal Light


Click to View FlipBook Version