The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

"Dengan kesabaran dan susah payah kami terus bekerja dengan keinginan besar untuk maju ... ya ... maju ..." (Elisabeth Gruyters 35)

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by timbuku100th, 2021-11-03 08:48:14

The Eternal Light (versi pendek)

"Dengan kesabaran dan susah payah kami terus bekerja dengan keinginan besar untuk maju ... ya ... maju ..." (Elisabeth Gruyters 35)

IX

Setia pada Misi,
Turut Menjaga NKRI

Bangkit Kembali, Turut Menjaga Ibu Pertiwi 341

A khir dasawarsa 1990-an dan awal dasawarsa 2000-an
dilintasi RS Santo Borromeus ketika segenap bangsa
Indonesia masih dalam upaya memulihkan diri dari
Krisis Finansial Asia dan bersemangat untuk mereformasi
negara. Dalam kehidupan bernegara, semangat reformasi
diwujudkan melalui perubahan menuju tatanan yang lebih
demokratis, yang lebih menghargai hak asasi manusia, yang
lebih memberikan peran untuk otonomi daerah. Perubahan-
perubahan juga terjadi dalam bidang kesehatan. Dalam
menjalaninya, Rumah Sakit Santo Borromeus tetap setia pada
misi yang diembannya sejak tahun 1921.

Era Reformasi

Dalam penulisan sejarah Indonesia kontemporer, masa
sesudah Presiden Soeharto lèngsèr keprabon sering
dinamakan Era Reformasi atau Era Pasca-Soeharto.
Sepanjang waktu itu bangsa Indonesia bergulat dengan
upaya-upaya merekonstruksi ekonomi yang terpuruk dan
bereksperimen dengan demokrasi. Presiden Abdurrahman
Wahid tidak sempat menuntaskan masa jabatan, dan beliau
digantikan oleh Presiden Megawati Soekarnoputri pada tahun
2001. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono terpilih pada
tahun 2004 dan 2009. Selanjutnya, Presiden Joko Widodo
terpilih pada tahun 2014 dan 2019. Tantangan untuk
menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)
berdasarkan Pancasila, semangat Bhinneka Tunggal Ika, dan
UUD 1945 merupakan tema besar segenap bangsa pada
kurun waktu itu.

Di Keuskupan Bandung, Mgr. Alexander S. Djajasiswaja wafat
pada tahun 2006. Pastor Markus Priyo Kushardjono, OSC
ditunjuk sebagai Administrator. Tahun 2008 Mgr. Johannes

342 The Eternal Light

Pujasumarta diangkat oleh Sri Paus Benediktus XVI sebagai
Uskup Keuskupan Bandung. Relatif sebentar, Mgr. Johannes
dipindahtugaskan sebagai Uskup Keuskupan Agung
Semarang pada akhir tahun 2010. Uskup Keuskupan Agung
Jakarta, Mgr. Ignatius Suharyo, bertindak sebagai Administra-
tor Apostolik. Selanjutnya, tahun 2014 Mgr. Antonius
Subianto Bunjamin, OSC diangkat oleh Sri Paus Fransiskus
sebagai Uskup Keuskupan Bandung.

Di Maastricht, Sr. Melanie Giniyati memangku amanah
sebagai Pemimpin Umum Kongregasi Suster-suster
Cintakasih Santo Carolus Borromeus (1999–2005, 2005–
2011). Selanjutnya, Sr. Rosaria Nurhardiningsih terpilih
sebagai Pemimpin Umum (2011–2017, 2017–2023).

Di Indonesia, Sr. Evarista Setyawati Murnining Tyas
memimpin Kongregasi CB Provinsi Indonesia (1999–2005).
Beliau dilanjutkan oleh Sr. Sesilia Widiastari (2005–2011), Sr.
Carolina Nuryati (2011–2017), dan kemudian Sr. Yustiana
Wiwiek Iswanti sejak 2017.

Suster-suster CB Komunitas Santo Borromeus Dago-Bandung
dipimpin oleh Sr. Venantine Kismorodati (1995–2000), yang
dilanjutkan oleh Sr. Listiana Listyastuti (2000–2005), Sr.
Patrisia Tjutjitari (2005–2009), kembali Sr. Listiana
Listyastuti (2009–2011), Sr. Evarista Setyawati MT (2011–
2013), Sr. Valentina Sri Mulyani (2013–2016), Sr. Monique
Angga Laksmi (2016–2020), dan kemudian dilanjutkan oleh
Sr. Avriana Dwi Atmi Widyastuti sejak 2020.

Sementara itu, Suster-suster CB Komunitas Santo Yusup
Cicadas-Bandung dipimpin oleh Sr. Lidwina Prihatin (1993–
1999), dilanjutkan oleh Sr. Irmina Sri Supranti (1999–2005),

Bangkit Kembali, Turut Menjaga Ibu Pertiwi 343

Sr. Listiana Listyastuti (2005–2009), Sr. Marian Mentasir
(2009–2012), Sr. Monique Angga Laksmi (2012–2013), Sr.
Elise (2013–2015), dan Sr. Cahyari sejak 2015.
Adapun Suster-Suster CB Komunitas Nirawarana Cigugur-
Kuningan dipimpin oleh Sr. Monique Angga Laksmi (1992–
2000), Sr. Lucina Siti Pudiyanti (2000–2008), Sr. Priati
Surtiyati (2008–2015), dan Sr. Viani sejak 2015.

Gambar. Dokter Eddy Haswidi
(Direktur Utama RS Santo Borromeus 2000–2001).

Perhimpunan Santo Borromeus melanjutkan eksistensinya
sebagai badan hukum penyelenggara Borromeus Group yang
terdiri dari beberapa satuan karya (unit operasional
pelayanan) di dalamnya. Karena badan hukumnya berbentuk
344 The Eternal Light

perkumpulan maka sejak sebelum pergantian abad ke-21
mulai dibiasakan untuk disebut secara lengkap “Perkumpulan
Perhimpunan Santo Borromeus”, disingkat PPSB. Kepemim-
pinan Bapak F. Fadjar Bastaman sebagai Ketua dilanjutkan
kembali oleh Prof. Dr. B. Arief Sidharta, lalu Ibu Martina
Sudibja, dan kemudian Ibu Cynthia Limandibrata.

Kepemimpinan dr. Albert I. Hendarta, M.P.H. sebagai
Direktur Utama RS Santo Borromeus berakhir pada tahun
2000, dan kemudian dilanjutkan oleh dr. Eddy Haswidi
(2000–2001), dr. Widyo Slamet Budiman, Sp.PK, M.M. (2001–
2007), dr. A.M. Lisliyantotot Moenardi, M.M.R. (2007–2010),
dr. Suriyanto (2010–2015), dan kemudian dr. Chandra
Mulyono, Sp.S.

Berangsur-angsur Pulih dari Situasi Krisis Finanial

Awal dasawarsa 2000-an segenap bangsa Indonesia masih
mengalami imbas Krisis Finansial Asia. Walaupun berangsur-
angsur mengalami pemulihan, perekonomian masih
mengalami berbagai kesulitan.

Pastor M. Priyo Kushardjono, OSC ─ waktu itu sebagai Vikjen
Keuskupan Bandung, duduk di dalam PPSB sejak sekitar
Krisis Finansial selama sekitar satu dasawarsa – menuturkan
bahwa waktu itu membubungnya harga-harga kebutuhan
sehari-hari membuat para karyawan pun mengalami
keresahan. Sementara itu, unit-unit operasional pelayanan
harus terus berjalan. Syukurlah, Borromeus Group dapat
melaluinya dengan selamat dalam semangat solidaritas.

Bangkit Kembali, Turut Menjaga Ibu Pertiwi 345

Gambar. Pastor M.P. Kushardjono, OSC (Vikjen Keuskupan Bandung
1997–2006; Administrator Keuskupan Bandung 2006–2008).

JPKM Surya Sumirat

Ketika segenap bangsa Indonesia sedang mengalami atau
masih belum pulih dari situasi krisis di sekitar pergantian
abad, muncullah Jaminan Pemeliharaan Kesehatan
Masyarakat (JPKM) Surya Sumirat yang beroperasi sejak
tahun 1999. JPKM Surya Sumirat dipimpin oleh seorang
Direktur, yang untuk pertama kali dijabat oleh Bapak
Hieronymus Dju Ha, S.H., M.A.R.S. (1999–2004), kemudian
dilanjutkan oleh Ibu F. Bowo Rini Sunarsasi, S.Sos. (2004–
2007), Ibu M. Xaveria Saranggi, Amk. (2007–2009), dr.
Hyacintha Primaria, M.M. (2010–2012), drg. Y.M.S. Sukma
Heryani, M.M. (2012–2014), dan kemudian dr. Miriam R.
Maengkom, M.M.

346 The Eternal Light

Gambar. Menteri Kesehatan, dr. Achmad Sujudi, M.H.A., mengunjungi
Klinik JPKM Surya Sumirat.

Pada Sekitar Usia 80 Tahun

Pada sekitar pergantian abad dan usia 80 tahun RS Santo
Borromeus – yang sekitar waktu itu bermotto “Mitra Anda
menuju sehat” – Uskup Keuskupan Bandung Mgr. Alexander
S. Djajasiswaja antara lain berpesan:

“Dalam merayakan HUT yang ke-80 ini hendaknya
dilakukan suatu permenungan yang dalam mengenai

Bangkit Kembali, Turut Menjaga Ibu Pertiwi 347

peran para pendiri dan pelopor institusi ini. Pengorbanan
para pengabdi kehidupan inilah yang menjadikan RS Santo
Borromeus pada keadaannya saat ini.
Loyalitas, ketulusan, kepedulian, semangat melayani harus
terus dikembangkan agar institusi ini masih terus
bergaung.”

Gambar. Suster Evarista Setyawati MT, CB
(Provinsial CB Indonesia 1999–2005).

Pemimpin Kongregasi CB Provinsi Indonesia, Sr. Evarista
Setyawati Murnining Tyas, antara lain menyampaikan pesan:

“‘Pasien bukanlah obyek yang tidak berdaya.’ Kesadaran
mengenai hal ini perlu setiap kali diperbarui karena
348 The Eternal Light

adanya kecenderungan untuk mengobyekkan pasien.
Tolok ukur rumah sakit yang baik tidak hanya terletak
pada lengkapnya fasilitas modern saja. Bahkan, bisa jadi,
rumah sakit yang sungguh-sungguh memiliki fasilitas yang
telah disesuaikan dengan tuntutan globalisasi dan
modernisasi, namun bila di sisi lain (yang juga penting)
tidak diperhatikan, maka rumah sakit itu tidak akan
mendapat kepercayaan dari masyarakat. Apalah artinya
rumah sakit bila tidak mendapat kepercayaan dari
masyarakat?

Yang dimaksud dengan ‘sisi lain’ di atas adalah suasana
kasih persaudaraan di antara para petugas rumah sakit,
sikap hormat terhadap pasien, sikap menghargai martabat
dan kehidupan, yang merupakan wujud nilai-nilai kasih
yang harus lebih mewarnai kehadiran RS Santo
Borromeus. Semua itu diungkapkan melalui sikap/cara
pelayanan yang diberikan kepada pasien/keluarga pasien.
Hal itu perlu kita sadari terus-menerus karena secara
perlahan-lahan seringkali kita terlalu silau akan arus
modernisasi, sehingga kita hanya mengikuti tuntutan
profesionalitas dari segi keterampilan dengan alasan
globalisasi saja namun mengabaikan sisi manusia sebagai
pribadi yang adalah citra Allah. Kita mengakui bahwa
banyak hal positif dari perkembangan iptek dan
globalisasi yang ‘menguntungkan’ kehidupan kita. Namun,
kita juga perlu mencermati dampak negatifnya. Seperti
halnya obat-obatan, banyak orang sakit menjadi sehat
karenanya, namun dokter dalam memberikan obat pasti
memerhatikan efek samping yang harus diminimalisasi.”

Pada sekitar usia 80 tahun, Perkumpulan Perhimpunan Santo
Borromeus (PPSB) dipimpin oleh Prof. Dr. B. Arief Sidharta,

Bangkit Kembali, Turut Menjaga Ibu Pertiwi 349

S.H. sebagai Ketua Pengurus, dengan beberapa anggota: Drs.
Fadjar Bastaman (Wakil Ketua), Prof. Drs. Hiro Tugiman
(Bendahara), Sr. Irmina, CB (Sekretaris), A.C. Suhardi, Pastor
Markus P. Kushardjono, OSC; Sr. Aloysius, CB; T. Sunardi; dan
Ir. Thomas Widjanarko.

Gambar. Prof. Dr. B. Arief Sidharta, S.H.
(kembali dipercaya sebagai Ketua Pengurus PPSB;

menggantikan Bapak Fadjar Bastaman).

Ketua PPSB mengajak untuk berintrospeksi:
“Di saat merayakan ulang tahun ke-80 ini marilah kita
sejenak berhenti, berhening diri untuk melakukan

350 The Eternal Light

introspeksi, untuk menelaah kembali dan mempertanya-
kan, apakah masih dijalankannya peran strategis para
pendiri rumah sakit ini di masa lalu itu yang dewasa ini
masih relevan untuk diteruskan. Namun bagi kami jelas
bahwa konsistensi adalah suatu hal yang tidak boleh
ditinggalkan untuk menjaga keberadaan institusi ini.
Terutama konsistensi dalam mewujudkan pelayanan yang
penuh cintakasih tanpa diskriminasi bagi mereka yang
menderita sakit dan yang membutuhkan pertolongan
medis keahlian berkeilmuan. Nilai-nilai yang seperti inilah
yang harus tetap dipelihara dan menjadi penggerak
kegiatan RS Santo Borromeus dalam mengembangkan
pelayanannya.

Roda institusi ini harus terus berputar, pengembangan
harus terus dilakukan, penyesuaian diri terhadap arus
perubahan yang semakin cepat harus tetap dijalankan.
Namun dalam menjalankan berbagai upaya itu hendaknya
kita tidak kehilangan arah sehingga menjauhkan kita dari
cita-cita yang mendorong para pendiri rumah sakit kita ini
dan garis yang sudah dirintis para pelopor pengembangan
upaya pewujudan cita-cita tersebut.”

Pada waktu itu RS Santo Borromeus dipimpin oleh dr. Widyo
Slamet Budiman, Sp.PK, M.M. sebagai Direktur Utama, yang
dibantu oleh dr. Eddy Haswidi, Sp.OG (Direktur Medis), Sr.
Rosaria Nur Hardiningsih, CB, M.M. (Direktur Keperawatan),
dr. Miriam R. Maengkom, M.M. (Direktur Keuangan), dan dr.
Bernadette Yvone Sutandi, M.M. (Direktur SDM dan Umum).

Direktur Utama mengucapkan syukur karena RS Santo
Borromeus “tetap mendapatkan kepercayaan dari masyara-
kat”. Beliau antara lain menyampaikan:

Bangkit Kembali, Turut Menjaga Ibu Pertiwi 351

Gambar. Dokter Widyo Slamet Budiman,
Sp.PK, M.M. (Direktur Utama RS Santo Borromeus 2001–2007)

“Nama baik RS Santo Borromeus yang diperoleh dan
dipupuk selama bertahun-tahun oleh para pendahulu kita,
merupakan warisan yang akan selalu kita pertahankan
dan tumbuh-kembangkan karena merupakan aset yang
menjadi dasar untuk meningkatkan pelayanan secara
terus-menerus.

Untuk menyikapi perubahan, tantangan, dan arus
globalisasi di masa yang akan datang, marilah kita
berusaha terus-menerus untuk meningkatkan keterampil-
an dan profesionalisme disertai dengan sentuhan kasih
pada setiap pelayanan yang kita berikan.”

352 The Eternal Light

Pada sekitar usia 80 tahun, RS Santo Borromeus menyedia-
kan pelayanan medis sebagai berikut:

1) Unit Gawat Darurat (UGD). UGD berkapasitas 17 (tujuh
belas) tempat tidur, dilengkapi dengan ruang resusitasi dan
peralatan medis lain.

2) Poliklinik Umum / Rawat Jalan. Klinik kesehatan yang
tersedia waktu itu meliputi:
• Klinik Nonspesialis (15)
• Klinik Spesialis dan Subspesialis (14)

3) Klinik Kesejahteraan Keluarga. Memberikan pelayanan:
imunisasi, keluarga berencana, bayi/anak sehat, pemeriksaan
kehamilan, senam hamil, senam bayi, klinik mammae,
infertilitas pria dan wanita, tes alergi, psikologi keluarga.

4) Day Care. ODS (One Day Surgery) dan ODC (One Day Care)
merupakan layanan bagi pasien-pasien bedah yang menurut
pertimbangan tidak memerlukan rawat inap, maupun pasien
yang memerlukan tindakan medis lain (kemoterapi, transfusi,
dll.).

5) Medical Check Up. Dengan pemikiran lebih baik mencegah
daripada mengobati, terdapat beberapa tipe layanan MCU,
yaitu: Mini, Basic, Advanced, Executive Comprehensive, dan
Khusus .

6) Kamar Operasi. Kamar Operasi terdiri dari 6 (enam) kamar
dengan fasilitas sesuai standar dan dilengkapi dengan mesin
jantung dan paru guna menunjang operasi jantung terbuka,
serta fasilitas Central Sterille Supply Departement (CSSD)
untuk menjamin sterilitas dan penyediaan peralatan.

Bangkit Kembali, Turut Menjaga Ibu Pertiwi 353

7) Unit Pelayanan Hemodialisis (UPH). Terdapat dua macam
layanan hemodialisis, yaitu Hemodialisis Asetat dan
Hemodialisis Bikarbonat. Tersedia 10 (sepuluh) unit mesin
dialisis.

8) Pelayanan Kesehatan Masyarakat. Sebagai ungkapan
kepedulian sosial, dilakukan pengobatan melalui sejumlah
balai pengobatan sebagai berikut:
• BP Sari Asih di Sekeloa,
• BP Wyata Guna di Jalan Pajajaran,
• BP Mitra Warga di Kebon Pisang, Kosambi,
• BP Kemuning di Jalan Kemuning,
• BP Unpar di Kampus Unpar Ciumbuleuit,
• BP Waringin di Jalan Kebon Jati,
• BP Yasinta di Lembang,
• BP Melania di Jalan Melania.

Pada sekitar usia 80 tahun, RS Santo Borromeus memiliki
pelayanan medis yang sudah dan akan dikembangkan, yaitu:
• bedah jantung;
• bedah saraf;
• Klub Asma Borromeus (KAB), yang meliputi kegiatan

penyuluhan kesehatan, kebugaran jasmani, dan keakrab-
an/rekreasi;
• Klub Sadar Stroke, yang didirikan pada ulang tahun ke-80
RS Santo Borromeus, 18 September 2001.

354 The Eternal Light

Gambar. Magnetic Resonance Imaging (MRI) 1,5 Tesla

Pelayanan-pelayanan medis tersebut didukung oleh penun-
jang medis sebagai berikut:

1) Laboratorium. Laboratorium waktu itu mampu melakukan
pemeriksaan: hematologi; kimia klinis; serologi; immunologi;
mikrobiologi; klinik rutin (urine, faeces, dan cairan tubuh);

Bangkit Kembali, Turut Menjaga Ibu Pertiwi 355

patologi anatomi (sitologi, pap smear, histopatologi, dan
vriescoupe).

2) Diagnostic imaging. Bagian ini selain memiliki peralatan
konvensional, juga dilengkapi dengan alat-alat pencitraan
diagnostik (diagnostic imaging) mutakhir seperti 1,5 Tesla
Superconducting MR-scanner (MRI, Magnetic Resonance
Imaging), Spiral CT-scanner (CT-scan), dan Colour Doppler
Ultrasound.

3) Farmasi. Selain menyediakan perbekalan farmasi, bagian
ini memberikan pelayanan farmasi klinis yang meliputi
pemantauan penggunaan obat dalam terapi dan pengkajian
keefektifan biaya pengobatan.

4) Rehabilitasi Medis. Bagian ini memberikan layanan exercise
and massage, faradisasi, infrared, nebulizer, traction and
muscle test, UKG, ultrasonic, parafin bath. Bagian ini melayani
rawat inap maupun rawat jalan dalam dua shift (pagi dan
sore).

5) Fisiologi Klinis. Bagian ini memberikan pelayanan yang
mencakup pemeriksaan-pemeriksaan:
• EKG (Elektro-Kardiografi),
• EEG (Elektro-Ensefalografi),
• Treadmill,
• Endoskopi: diagnostik dan terapeutik,
• Spirometri.

6) Instalasi Gizi. Bagian ini melayani makanan pasien sesuai
dengan kebutuhan dan jenis penyakitnya, baik bagi pasien
rawat inap maupun katering diet. Juga, melayani konsultasi

356 The Eternal Light

diet bagi pasien dan keluarganya agar pengobatan dan
pencegahan penyakit dapat dilanjutkan di rumah.

7) Rekam Medis. Bagian ini menunjang pelayanan statistik
dan penyediaan informasi pelayanan medis pasien rawat
jalan maupun rawat inap.

Gambar. Laboratorium sekitar tahun 2001,

Sementara itu, pada sekitar usia 80 tahun, ruang-ruang rawat
inap digolongkan sebagai berikut:
• Kelas VIP, Super VIP, dan Suite Room dengan fasilitas 1

tempat tidur, TV, kulkas, telepon, AC, sofa, dan 1 set kursi
tamu.

Bangkit Kembali, Turut Menjaga Ibu Pertiwi 357

• Kelas Utama dengan fasilitas 1 tempat tidur, TV, kulkas,
telepon, AC, sofa.

• Kelas I dengan fasilitas 2–4 tempat tidur, TV.
• Kelas II dengan fasilitas 4–6 tempat tidur.
• Kelas III dengan fasilitas 6 tempat tidur.

Critical Care Unit (CCU) melayani perawatan dan pengobatan
intensif intuk semua pasien dalam keadaan kritis.

Neonatal Intensive Care Unit (NICU) / Paediatric Intensive
Care Unit (PICU) disediakan sebagai ruang perawatan intensif
untuk bayi dan anak-anak yang memerlukan pengobatan dan
perawatan khusus guna mencegah dan mengobati terjadinya
kegagalan organ-organ vital.

Sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan hidup,
penanganan air limbah dilakukan secara khusus dan saksama
dengan standar pengolahan air limbah yang sudah mendapat
sertifikasi. Hasil pengolahan limbah cair sudah dapat
dipergunakan untuk pembibitan ikan lele. Untuk penanganan
limbah padat, digunakan sarana incenerator.

Dengan perkembangan teknologi informasi, RS Santo
Borromeus pun mengembangkan sistem informasi berbasis
komputer. Dikembangkan pula intranet untuk menunjang
sistem informasi internal. Untuk menyebarkan informasi
kepada masyarakat, dibangun website beralamat
www.rsborromeus.com.

Sembari mengembangkan pelayanan yang membutuhkan
sarana-sarana yang semakin canggih, RS Santo Borromeus
tidak melupakan fungsi sosialnya. Pasien-pasien yang tidak

358 The Eternal Light

mampu, setelah melalui prosedur dan mekanisme yang
berlaku, dapat memeroleh pertolongan pengobatan melalui
Medical Social Unit. Sementara itu, bagi pasien dan/atau
keluarga pasien yang membutuhkan pendampingan, bagian
Pastoral Care akan mengunjungi pasien dan/atau
keluarganya melalui pendekatan rohani.

Gambar. Paviliun Elisabeth sekitar tahun 2001.

Pada sekitar usia 80 tahun, RS Santo Borromeus didukung
oleh 34 (tiga puluh empat) dokter tetap, yang terdiri dari
dokter umum (17), dokter gigi (2), dokter spesialis penyakit
dalam (2), kebidanan dan kandungan (2), anak (2), mata (1),
bedah umum (2), anestesi (1), kardiologi (1), radiologi (2),
dan patologi klinis (2).

Bangkit Kembali, Turut Menjaga Ibu Pertiwi 359

RS Santo Borromeus juga didukung oleh 97 (sembilan puluh
tujuh) dokter mitra, yang terdiri dari dokter umum (9),
umum-sonolog (3), spesialis anak (15), anestesi (13), bedah
anak (2), bedah digestif (5), bedah mulut dan rahang (4),
bedah onkologi (5), bedah saraf (4), penyakit dalam (17),
psikiater (3), radiologi (4), rehabilitasi medis (2), dan THT
(11).

Gambar. Neonatal Intensive Care Unit (NICU) sekitar tahun 2001
360 The Eternal Light

Gambar. Para anggota Perkumpulan Perhimpunan Santo Borromeus
sekitar tahun 2001.

Gambar. Direksi RS Santo Borromeus sekitar tahun 2001.

Bangkit Kembali, Turut Menjaga Ibu Pertiwi 361

Apresiasi kepada Prof. Koestedjo dan Prof. H.A.
Himendra

Sejumlah kegiatan dilaksanakan untuk merayakan 80 tahun
RS Santo Borromeus: seminar, bazar, pekan keluarga bahagia,
pemeriksaan golongan darah gratis bagi pasien tuna netra di
Yayasan Wyata Guna, operasi katarak gratis bagi pasien yang
tidak mampu, gerak jalan, lomba karaoke antarrumah sakit
se-Bandung, dan malam keakraban di Gedung PPI yang mana
dilakukan penyerahan Rantai Kenangan kepada Letjen TNI
(Purn.) Mashudi.

Ketika merayakan 80 tahun usia RS Santo Borromeus,
apresiasi diberikan kepada Prof. Dr. Koestedjo, Sp.BOnk
(berkarya sejak tahun 1957) dan Prof. Dr. H.A. Himendra,
Sp.An. (Rektor Universitas Padjadjaran). Mereka merupakan
dua di antara dokter-dokter yang berdedikasi dalam
mendukung dan mengharumkan nama RS Santo Borromeus
selama bertahun-tahun.

Guiding Principles Spiritualitas CB Pelayanan Kesehatan

Berhubung terdapat keterkaitan erat antara RS Santo Carolus
(Jakarta), RS Santo Borromeus (Bandung), dan RS Panti Rapih
(Yogyakarta), yang pada awalnya pendiriannya diminta oleh
Vikaris Apostolik Batavia, yang waktu itu meliputi seluruh
Pulau Jawa, kepada Kongregasi Suster-suster CB, maka sejak
tahun 1989 Suster-suster CB mulai merasakan kebutuhan
untuk “menyatukan” semangat rumah sakit – rumah sakit
tersebut. Untuk itu, kemudian pada tahun 1992 dijalinlah CB
Connection di antara pelayanan-pelayanan kesehatan yang
bernaung di dalam Perkumpulan Perhimpunan Santo Carolus

362 The Eternal Light

(PPSC), Perkumpulan Perhimpunan Santo Borromeus (PPSB),
dan Yayasan Panti Rapih. (YPR).

Gambar. Spiritualitas CB

Kemudian, Forum Komunikasi Aktualisasi Spiritualitas CB
(FKAS-CB) merupakan nama yang diberikan untuk
pertemuan bagi para pengurus PPSC, PPSB, dan YPR.
Sedangkan Forum Dialog Aktualisasi Spiritualitas CB (FDIAS-
CB) merupakan nama untuk pertemuan bagi para direksi
pelayanan kesehatan yang bernaung di dalam PPSC, PPSB,
dan YPR. Rencana semula, FKAS-CB diselenggarakan setiap
dua tahun, sedangkan FDIAS-CB setiap tahun. Namun,
mengingat perkembangan/ perubahan yang sangat cepat
dalam bidang kesehatan maka keduanya dilaksanakan secara
bersamaan sebagai Forum KAS-DIAS-CB.

Bangkit Kembali, Turut Menjaga Ibu Pertiwi 363

Pada tahun 2002 PPSB menjadi tuan rumah Forum KAS-
DIAS-CB bertempat di Kuningan. Atas permintaan FKAS-CB,
Kongregasi CB mempresentasikan Guiding Principles
Spiritualitas CB Pelayanan Kesehatan. Forum KAS-DIAS 2003
menghasilkan dokumen yang merinci bagaimana spiritualitas
CB dapat menginspirasi kegiatan-kegiatan nyata masing-
masing. Forum KAS-DIAS 2004 di Jakarta nengesahkan
Guiding Principles Spiritualitas CB Pelayanan Kesehatan
sebagai Roh yang menjiwai seluruh kegiatan pelayanan
kesehatan.

Di dalam GPCB dirumuskan sejumlah hal berikut:

Visi
Terwujudnya pelayanan kesehatan dalam spiritualitas CB,
yang bersumber pada cintakasih tanpa syarat dan berbela
rasa dari Yesus Kristus Sang Tersalib, agar yang miskin,
tersisih, menderita, dan berkesesakan hidup dibebaskan dan
diselamatkan dalam keutuhan Kerajaan Allah.

Misi
Melaksanakan pelayanan kesehatan dengan:
1) melayani demi keutuhan manusia agar semakin sesuai

dengan martabatnya sebagai citra Allah;
2) mewujudkan keberpihakan pada mereka yang miskin,

tersisih berkesesakan hidup dan yang menderita karena
ketidakadilan;
3) menanggapi tantangan zaman dalam kegembiraan dan
kesederhanaan.

Selanjutnya, terdapat delapan unsur pokok Spiritualitas CB
dalam bidang kesehatan, sebagai berikut:

364 The Eternal Light

1) Iman yang dalam.
2) Cintakasih tanpa syarat dan berbelarasa.
3) Hormat terhadap hidup dan martabat manusia.
4) Keberpihakan pada yang miskin, tersisih, berkesesakan

hidup, dan menderita karena ketidakadilan.
5) Ketulusan hati.
6) Kerelaan berkorban demi sesama yang dilayani.
7) Ketangguhan dan ketegaran dalam menanggapi

tantangan zaman.
8) Makna penderitaan.

Penerapan delapan unsur pokok Spiritualitas CB tersebut
diharapkan dapat menjadi keunggulan kompetetif pelayanan
kesehatan di mana Suster-Suster CB berperan serta. Dalam
perjalanan waktu, untuk menanggapi perubahan zaman,
kemudian GPCB dirumuskan lebih lanjut menjadi “ICARE”.

Pembangunan Gedung Carolus dan Gedung Irene

RS Santo Borromeus terus maju sehingga memerlukan
pembaruan dan pengembangan prasarana fisik.
Pembangunan Gedung Carolus dilakukan pada kurun waktu
tahun 2003–2005, didahului dengan pembongkaran Afdeling
Theresia, sebagian dari bangunan Biara Suster-Suster CB,
Kantor Keuangan, dan Ruang Direktur Utama.

Bagian dari Afdeling Theresia yang masih dipertahankan
sebagai heritage adalah bagian pendopo. Bagian ini, sesuai
dengan ketentuan tentang bangunan bersejarah, harus tetap
dipertahankan sebagai ciri khas RS Santo Borromeus.

Adapun apa yang dinamakan Gedung Irene dewasa ini
merupakan pengganti Afdeling Irene Boxen dan Irene Zaal di

Bangkit Kembali, Turut Menjaga Ibu Pertiwi 365

Jalan Suryakencana Nomor 2 (di sebelah Asrama Putri) yang
kemudian menjadi Kantor Biro SDM dan Kantor Biro
Keuangan. Pembaruan ruang perawatan anak ini merupakan
yang kedua kali sejak pindah dari Irene Boxen dan Irene Zaal.
Pembaruan ruang perawatan anak pertama dilakukan pada
tahun 1973–1974, menempati bekas Afdeling Carolus tempat
perawatan penyakit paru (TB) yang berdampingan dengan
Operatie Kamer (OK) lama.

Gambar. Gedung Carolus, di belakang heritage.

366 The Eternal Light

Gambar. Gedung Irene, yang dibangun pada tahun 2007–2009.

Pembangunan Gedung Irene dilakukan pada kurun waktu
tahun 2007–2009. Waktu itu RS Santo Borromeus dipimpin
oleh dr. A.M. Lisliyantotot Moenardi, M.M.R. (Direktur

Bangkit Kembali, Turut Menjaga Ibu Pertiwi 367

Utama), yang dibantu oleh dr. Retno Dewi Tanujoyo, Sp.PK
(Direktur Medis), Sr. Yosefine Kusuma Hastuti, CB, MSN
(Direktur Keperawatan), dr. Miriam R. Maengkom, M.M.
(Direktur Keuangan), dan Dra. Paulina Aning Djumiati
(Direktur SDM dan Umum). Pembangunan didahului dengan
pembongkaran Gedung Operatie Kamer (OK) lama yang saat
itu digunakan untuk pelayanan fisioterapi, yang telah
dipindahkan sementara di Afdeling Anna Pav.

Pendirian RS Cahya Kawaluyan

Setelah membahas sejak tahun 2001, pada tahun 2002 PPSB
membentuk Tim Pembangunan RS Cahya Kawaluyan yang
dipimpin oleh drg. Wiana Renee Maengkom, M.A.R.S. sebagai
Ketua Tim. Tugas Tim adalah menyelesaikan pembangunan
RS Cahya Kawaluyan. Soft opening RS Cahya Kawaluyan
dilakukan pada 19 Juni 2006, artinya sudah dapat melakukan
pelayanan kepada masyarakat.

Untuk pertama kali, RS Cahya Kawaluyan dipimpin oleh
Direktur dr. A. M Lisliyantotot Moenardi, M.M.R. (kemudian
beliau diangkat sebagai Direktur Utama RS Santo Borromeus
2007–2010), lalu dilanjutkan oleh dr. Robert Kwaria, M.M.,
dan kemudian drg. Arnoldus Friedrich John.

Tiga tahun sejak soft opening, pada tahun 2009 RS Cahya
Kawaluyan memeroleh penghargaan dari Gubernur Jawa
Barat Ahmad Heryawan berupa Peringkat VIII Rumah Sakit
Sayang Ibu Bayi Tingkat Provinsi Jawa Barat. Dua tahun
kemudian, 2011, RS Cahya Kawaluyan memeroleh Sertifikat
Akreditasi Rumah Sakit dengan status “Penuh Tingkat Dasar”
dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

368 The Eternal Light

Gambar. RS Cahya Kawaluyan.

Akper menjadi STIKes Santo Borromeus

Akademi Keperawatan (Akper) Santo Borromeus terus maju
berkembang melintasi pergantian abad. Pada tahun 2003,
pada masa Presiden Megawati Soekarnoputri, terbit Undang-
Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional. Implikasi dari undang-undang tersebut adalah
bahwa pendidikan kesehatan, yang sebelumnya berada dalam
pembinaan Departemen Kesehatan, dialihkan kepada
Departemen Pendidikan Nasional. Melalui SK Mendiknas RI
Nomor 209/D/0/2004 tanggal 30 Desember 2004, Akper

Bangkit Kembali, Turut Menjaga Ibu Pertiwi 369

Santo Borromeus dialihkan pembinaannya dari Departemen
Kesehatan ke Departemen Pendidikan Nasional.

Gambar. Dokter. A. M. Lisliyantotot Moenardi, M.M.R. (Direktur Utama
RS Santo Borromeus 2007–2010).

Mengikuti perkembangan pendidikan kesehatan secara
nasional maupun global, Akper Santo Borromeus
ditingkatkan/dikonversi menjadi Sekolah Tinggi Ilmu
Kesehatan (STIKes) Santo Borromeus melalui Surat
Keputusan Mendiknas tahun 2007, yang ditindaklanjuti
dengan Keputusan Perkumpulan Perhimpunan Santo
Borromeus (PPSB) tahun 2008. STIKes Santo Borromeus
pada waktu itu memiliki beberapa program studi, yaitu
Program Studi S-1 Keperawatan dan Profesi Ners, Program
370 The Eternal Light

Studi D-3 Keperawatan, serta Program Studi D-3 Perekam
dan Informasi Kesehatan.

Gambar. Logo STIKes Santo Borromeus

Kemudian, untuk mendukung penyelenggaraan pendidikan
yang lebih bermutu, dibangun pula Kampus STIKes Santo
Borromeus di dekat RS Cahya Kawaluyan di Kota Baru
Parahyangan.

Bangkit Kembali, Turut Menjaga Ibu Pertiwi 371

Gambar. Perayaan ulang tahun ke-97 RS Santo Borromeus pada tahun
2008. Misa dipimpin oleh Mgr. Johannes Pujasumarta (Uskup
Keuskupan Bandung 2008–2010); tampak pula Pastor Hans van Doorn,
OSC dan Pastor Markus. P. Kushardjono, OSC

Pada Sekitar Usia 90 Tahun

RS Santo Borromeus berusia 90 tahun (tahun 2011), RS
Santo Borromeus bermotto “Mitra Anda menuju sehat.”
Perkumpulan Perhimpunan Santo Borromeus (PPSB) waktu
itu dipimpin oleh Ibu Martina Sudibja sebagai Ketua
Pengurus, disertai oleh beberapa anggota lain: Pastor Ign.
Eddy Putranto, OSC; Sr. Listiana, CB; Sr. Marita Tri S., CB; Sri
Haryaningsih; Cynthia Limandibrata; Wimpy Santosa; Rudi

372 The Eternal Light

Robertus Hadinata; Irene Ratna Mustikawati; Djoko Purnomo
E.; dan Agustinus Pohan.

Gambar. Ibu Martina Sudibja.

Ketua Pengurus PPSB, Ibu Martina Sudibja, merefleksikan
bahwa RS Santo Borromeus didirikan karena keprihatinan
Gereja atas pelayanan kesehatan yang kurang memadai pada
waktu itu. Selanjutnya beliau berkata:

“RS Santo Borromeus semakin berkembang dan sampai
saat ini masih menjadi rumah sakit terkemuka yang
menjadi andalan masyarakat. Sekilas pandang bisa muncul
keraguan apakah masih sejalan rumah sakit yang cukup
megah ini mengemban misi pelayanan bagi orang kecil,
lemah, dan berkekurangan. Namun, justru dengan
kemajuan RS Santo Borromeus inilah sebenarnya PPSB
mampu memperluas cakupan wilayah karya misinya.
Sebagai organisasi nirlaba di mana tidak ada keuntungan

Bangkit Kembali, Turut Menjaga Ibu Pertiwi 373

yang dinikmati oleh pribadi atau kelompok tertentu dari
anggota/pemilik, maka sisa hasil usaha RS Santo
Borromeus menjadi satu-satunya sumber dana PPSB
untuk pemekaran wilayah pelayanannya. Lahan pelayanan
merambah lebih luas dengan kualitas yang terus-menerus
ditingkatkan melalui pembentukan unit operasional lain.

Berdirinya Pendidikan Perawat Santo Borromeus
(Opleiding van Mantri-Verpleegsters voor den Algemeene
Dienst en voor het Krankzinnegenwezen) pada tahun 1926
dan kini sudah berkembang menjadi Sekolah Tinggi Ilmu
Kesehatan (STIKes) Santo Borromeus. Sadar bahwa salah
satu tulang punggung pelayanan kesehatan adalah
ketersediaan tenaga keperawatan yang handal untuk siap
berkarya dalam lingkungan PPSB, STIKes Santo
Borromeus terus dikembangkan. Pembangunan kampus
baru di Padalarang direncanakan agar fasilitas lebih
memadai. Pembangunan asrama yang menjadi nilai utama
juga menjadi prioritas sebagai wadah pembentukan
karakter para calon perawat di tahun pertama. Bekerja
sama dengan institusi pendidikan dari dalam dan luar
negeri untuk mendukung tercapainya kualitas pendidikan
yang diharapkan. Juga menyediakan beasiswa bagi peserta
didik dari seluruh pelosok Indonesia yang cerdas, berbudi,
tetapi kurang memiliki kemampuan keuangan untuk
pendidikan. RS Santo Yusup yang berdiri tahun 1937
dikelola sebagai salah satu ujung tombak misi kami juga.
Sampai saat ini RS Santo Yusup menyediakan 65 % dari
kapasitas layanan rawat inap yang ada untuk kelas tiga.

RS Sekar Kamulyan (RSK) yang berdiri [dirinris sejak]
tahun 1965 di Desa Cigugur, Kuningan, hingga saat ini
masih dikembangkan terus dan ditingkatkan pelayanan-

374 The Eternal Light

nya. Pembangunan fisik rumah sakit, tenaga dokter, dan
kelengkapan peralatan kesehatan diusahakan PPSB untuk
RS Sekar Kamulyan. Masyarakat yang dilayani oleh rumah
sakit ini adalah penduduk/masyarakat desa. Dalam rangka
turut serta aktif dalam mendukung program pemerintah
dan sejalan pula dengan misi yang diemban PPSB, tahun
1999 dibentuklah Jaminan Pemeliharaan Kesehatan
Masyarakat (JPKM). JPKM merupakan upaya yang
memungkinkan orang-orang berkekurangan dapat
menikmati fasilitas pengobatan dengan membayar premi
yang cukup terjangkau. Sampai sekarang JPKM masih
tetap eksis dan terus berkembang.

RS Cahya Kawaluyan yang dibangun tahun 2006 di Kota
Baru Parahyangan, Padalarang, Kabupaten Bandung Barat,
juga merupakan komitmen PPSB untuk memekarkan
daerah pelayanannya bagi masyarakat Jawa Barat yang
membutuhkan. Pemekaran karya pelayanan ini
berkembang sejalan dengan kemajuan RS Santo
Borromeus, artinya tidak ada bantuan dana, baik lokal,
nasional, maupun dari luar negeri. Satu-satunya sumber
dana adalah RS Santo Borromeus. Kita patut bangga
bahwa sampai saat ini RS Santo Borromeus masih
mendapat kepercayaan yang besar dari masyarakat
sehingga karya pelayanan kita bisa berjalan lancar dan
semakin membaik.

Namun demikian, kini keadaan sudah berubah. Rumah
Sakit sudah menjadi lahan investasi yang menguntungkan.
Rumah sakit investor asing bebas berperan di sini. Bahkan
investor-investor lokal dengan modal besar mulai
merambah bisnis perumahsakitan. Semua ini menjadi
tantangan yang cukup berat. Tetapi, bagaimana pun juga,

Bangkit Kembali, Turut Menjaga Ibu Pertiwi 375

karya pelayanan harus tetap berlangsung. Kita harus
segera merespon perubahan dan menjawab tantangan ini.
Untuk itu, salah satu langkah nyata saat ini adalah melalui
‘Pembenahan dan Pembangunan’ RS Santo Borromeus
yang saat ini menjadi tulang punggung PPSB dalam
menjalankan karyanya.

Pembenahan dan Pembangunan diupayakan untuk
mencapai keadaan minimal lima tahun mendatang di
mana RS Santo Borromeus adalah rumah sakit andalan
dan kepercayaan masyarakat yang memberikan ‘safety and
caring’ melalui pelayanan yang profesional dengan
didasari semangat cintakasih.

Untuk itu berbagai upaya dilakukan. Pembangunan
Gedung Elizabeth yang dirancangkan tahun 2012 untuk
memperkuat infrastruktur pelayanan yang sudah ada. Di
gedung baru itu dilakukan pembaharuan dua layanan,
mulai dari klinik rawat jalan, kamar operasi modern
berstandar internasional, UGD dan ICU yang handal, juga
menyediakan pelayanan ibu dan bayi serta keluarga yang
secara khusus mendukung RS Santo Borromeus sebagai
Rumah Sakit Sayang Ibu dan Bayi. RS Santo Borromeus
juga aktif dalam menjalin kerja sama di bidang pendidikan
para dokter, perawat, dan tenaga profesional lain serta
jaringan pelayanan, baik di dalam maupun di luar negeri,
sehingga semua ini dapat mendukung peningkatan
kualitas pelayanan yang bertaraf internasional. MIS-IT
merupakan program yang sedang dijalankan oleh PPSB,
bukan hanya di RS Santo Borromeus, melainkan untuk
semua rumah sakit dan unit operasional lain di bawah
PPSB. Hal ini dilakukan karena tuntutan terhadap

376 The Eternal Light

teknologi informasi yang maju merupakan hal mutlak
dalam pelayanan kesehatan yang modern saat ini.

“Dengan demikian, misi pelayanan pada
kaum lemah tetap terjaga sesuai dengan
cita-cita awal rumah sakit ini didirikan.”

Semua usaha ini memang tidak mudah, terutama dari
aspek finansial. Namun roda Pembenahan dan
Pembangunan harus dan memang sudah mulai bergerak.
Ini bisa terlaksana berkat dukungan berbagai pihak.
Jajaran direksi dan semua warga RS Santo Borromeus
yang siap bekerja keras. Para dokter, baik dokter tetap
maupun dokter mitra yang penuh dedikasi dalam
pelayanan kepada pasien, masih juga menyediakan diri
untuk memberikan masukan-masukan, ekstra-kerja dan
bahkan membantu memikirkan pendanaan. Relasi bisnis,
baik farmasi maupun alat-alat kesehatan, bank, dan lain-
lain yang sudah menjadi partner, serta para sahabat yang
dengan penuh kerelaan, semuanya menunjukkan
kesediaannya untuk urun rembug dalam penyelamatan
karya pelayanan ini melalui pembangunan RS Santo
Borromeus. Tidak kalah pentingnya peran anggota
masyarakat yang tetap setia dan percaya untuk
menggunakan jasa pelayanan kami yang merupakan
kontribusi langsung bagi keberadaan RS Santo Borromeus
saat ini. Untuk semua itu kami mengucapkan terima kasih
atas uluran kasih dan kepercayaannya. Satu komitmen
atau janji kami adalah bahwa semua yang sudah diberikan

Bangkit Kembali, Turut Menjaga Ibu Pertiwi 377

kepada RS Santo Borromeus, manfaatnya akan mengalir
dan dirasakan kembali oleh masyarakat.

Untuk RS Santo Borromeus sendiri, walaupun usia sudah
menginjak 90 tahun, diharapkan tetap terus belajar dan
meremajakan segala aspek internal dan proses pelayanan-
nya. Dengan demikian, cita-cita PPSB menjadikan RS Santo
Borromeus sebagai rumah sakit yang terhormat dan
dicintai oleh masyarakat Bandung khususya dan Jawa
Barat umumnya dapat terealisasi serta menjadikan tempat
yang terhormat pula untuk setiap insan yang berkarya di
dalamnya. Dengan demikian, misi pelayanan pada kaum
lemah tetap terjaga sesuai dengan cita-cita awal rumah
sakit ini didirikan.”

Pada sekitar usia 90 tahun, RS Santo Borromeus dipimpin
oleh Dokter Suriyanto sebagai Direktur Utama, yang dibantu
oleh dr. Retno Dewi Tanujoyo, Sp.PK yang dilanjutkan dr.
Francisca Tjieny Sutedja, M.H. (Direktur Medis), Sr. Yosefine
Kusuma Hastuti, CB, MSN yang dilanjutkan Sr. Constantia, CB,
S.Kep. (Direktur Keperawatan), Paulus Sugianto Yusuf, S.E.,
M.M. (Direktur Keuangan), dan Ir. Ign. Mulya Iskandar
Dharma (Direktur SDM dan Umum).

Direktur Utama merefleksikan perjalanan 90 tahun:

“… Pada tahun 2011 ini RS Santo Borromeus menginjak
usia ke-90 tahun dengan kapasitas 416 tempat tidur dan
senantiasa tumbuh berkembang menjadi rumah sakit
terkemuka. Didukung oleh tenaga para dokter, perawat
yang ramah, dan profesional dengan dilengkapi peralatan
modern sesuai perkembangan teknologi terkini, RS Santo
Borromeus terus mengemban komitmen yang kuat serta

378 The Eternal Light

semangat cintakasih tanpa syarat dan berbela rasa dalam
melayani masyarakat. Demikianlah semangat dasar
Suster-suster Cintakasih Santo Carolus Borromeus dapat
berkembang dihidupi oleh seluruh karyawan dan menjadi
karakter dalam pelayanan kepada sesama sehingga RS
Santo Borromeus tetap menjadi pilihan utama bagi
masyarakat yang tetap membutuhkan pelayanan
kesehatan yang prima, sesuai dengan visi dan misi
Perkumpulan Perhimpunan Santo Borromeus.

Gambar. Dokter Suriyanto (Direktur Utama
RS Santo Borromeus 2010–2015).

Kepercayaan yang diberikan masyarakat membuat RS
Santo Borromeus dikenal sebagai rumah sakit rujukan

Bangkit Kembali, Turut Menjaga Ibu Pertiwi 379

untuk kasus-kasus sulit dalam dunia medis dan sudah
mencatatkan beberapa prestasi yang membanggakan,
seperti sebagai rumah sakit pertama di Indonesia yang
membantu pertolongan persalinan kembar lima dan
tercatat dalam rekor MURI, juga kemampuan merawat
bayi yang lahir dengan berat badan di bawah 1.000 gram
yang sekarang tumbuh sehat.

Menyadari semakin maraknya persaingan dalam bidang
perumahsakitan di Kota Bandung, RS Santo Borromeus
terus berbenah diri agar tetap mampu tumbuh dan
berkembang dalam organisasi yang solid disertai
komitmen berkembang yang kuat dari seluruh karyawan.
Selain pengembangan SDM yang berbasis kompetensi, RS
Santo Borromeus juga melengkapi sarana pelayanan
dengan rencana membangun sebuah gedung pelayanan,
yaitu Elizabeth Building, yang menyediakan pelayanan
kebidanan, baik rawat jalan maupun rawat inap yang
nyaman dan aman di mana perawatan ibu dan bayi yang
sehat terpisah dari yang sakit; Estetika; Central Operating
Theater (COT); Intensive Care Unit (ICU); dan Neonatal
Intensive Care Unit (NICU)–Pediatric Intensive Care Unit
(PICU) yang modern.

Setiap insan RS Santo Borromeus sangat memahami
bahwa dengan membangun profesionalisme dari setiap
bidang pelayanan kesehatan yang tangguh serta
mengembangkan karakter pelayanan berbasis cintakasih
dan kejujuran merupakan suatu modal kuat untuk tetap
eksis, maju, dan dicintai masyarakat yang mendambakan
pelayanan kesehatan yang paripurna.”

380 The Eternal Light

Pelayanan RS Santo Borromeus pada Sekitar Usia 90
Tahun

Pelayanan Medis RS Santo Borromeus pada sekitar usia 90
tahun mencakup berbagai lini kebutuhan: Unit Gawat
Darurat, sederet klinik (umum, spesialis, dan subspesialis),
pemeriksaan medis, kamar operasi, ODC dan ODS, pelayanan
hemodialisis, NICU, PICU, ICU. Unit-unit khusus ditujukan
untuk para pasien yang membutuhkan penanganan lebih
spesifik, yaitu Borromeus Children Medical Center (BCMC),
Stroke Unit, Klub Sadar Stroke, Klub Asma, hingga asosiasi
diabetes, Persadia.

Unit Gawat Darurat (UGD) selalu siap melayani pasien dalam
kasus kegawatdaruratan. UGD memiliki armada ambulans
dengan peralatan khusus untuk dapat melakukan tindakan-
tindakan awal yang dianggap perlu selama perjalanan.
Fasilitas UGD memiliki 17 tempat tidur, dilengkapi dengan
ruang resusitasi dan peralatan medis lain, dengan pemisahan
pasien yang infeksius dan noninfeksius serta ruang isolasi.

Klinik rawat jalan merupakan satu di antara yang paling
lengkap di Indonesia, yang terdiri dari 30 klinik. Borromeus
Children Medical Center (BCMC) merupakan sebuah unit
khusus yang didedikasikan untuk pelayanan kesehatan anak,
yang terdiri dari 17 klinik.

Klinik Kesehatan Keluarga (K3) menyelenggarakan imunisasi,
keluarga berencana, bayi dan anak sehat, pemeriksaan
kehamilan, senam hamil, senam bayi, infertilitas pria dan
wanita, tes alergi, hypnobirthing, pijat ibu hamil, klinik
laktasi, senam nifas lanjutan, dan deteksi dini kanker rahim
dengan pap smear.

Bangkit Kembali, Turut Menjaga Ibu Pertiwi 381

Dengan pelayanan Medical Check Up (MCU), RS Santo
Borromeus menyediakan layanan pemeriksaan medis yang
meliputi mini, basic, customized, dan executive comprehensive.

RS Santo Borromeus memiliki kamar operasi yang
merupakan satu di antara fasilitas operasi paling mutakhir di
Jawa Barat. Pada sekitar usia 90 tahun, terdapat 6 (enam)
kamar operasi, yang waktu itu direncanakan menjadi 10
central operating theater (COT) di Gedung Elizabeth,
dilengkapi dengan Septic COT dan Hybrid COT, dengan
peralatan berstandar internasional, dilengkapi dengan mesin
pacu jantung (heart lung machine) untuk menunjang operasi
jantung terbuka, juga alat laparascopy untuk operasi dengan
minimal invasif. Semua itu didukung dengan fasilitas CSSD
(Central Sterile Supply Departement) untuk menjamin
sterilitas peralatan.

Unit Pelayanan Hemodialisis menyediakan dua metode
hemodialisis dengan mesin mutakhir, yaitu Hemodiafiltration
with Endrogen Reinfusion dan Sustained Low Efficiency Daily
Dialysis (SLEDD). RS Santo Borromeus merupakan satu-
satunya rumah sakit di mana setiap bed ICU-nya dilengkapi
instalasi untuk melakukan terapi dialisis baik HRF dan
SLEDD. Saat itu terdapat 21 unit mesin dialisis dengan 16
tempat tidur dan 6 mesin HFR.

Pelayanan Kesehatan Masyarakat diwujudkan melalui
sejumlah balai pengobatan:
1. BP Sari Asih di Sekelola
2. BP Wyata Guna di Jalan Pajajaran
3. BP Bina Mitra Warga di Jalan Kebon Pisang, Kosambi.
4. BP Unpar di Kampus Ciumbuleuit
5. BP Yasinta di Lembang

382 The Eternal Light

Gambar. Borromeus Children Medical Center (BCMC)

Neonatal Intensive Care Unit (NICU) merupakan unit khusus
untuk bayi baru lahir (kurang dari satu tahun) yang sakit atau
prematur. Sedangkan Pediatric Intensive Care Unit (PICU)
merupakan unit penanganan bayi atau anak-anak (lebih dari
satu tahun) yang sakit kritis.

Intensive Care Unit (ICU) RS Santo Borromeus melayani
perawatan dan pengobatan intensif bagi para pasien dalam
keadaan kritis serta tindakan noninvasif maupun invasif.

Bangkit Kembali, Turut Menjaga Ibu Pertiwi 383

Ruang ICU dilengkapi dengan peralatan-peralatan terkini
yang berteknologi tinggi.

Stroke Unit (SU) – Intermediate Care (IC) merupakan bagian
dari program pengobatan spesialistis. Stroke Unit dilengkapi
dengan peralatan modern dalam pemantauan pasien.

Klub Asma Borromeus bertujuan membimbing para pasien
asma dalam peningkatan kualitas hidup melalui program
pendidikan kesehatan, kebugaran fisik, dan rekreasi.

Klub Sadar Stroke bertujuan meningkatkan kesadaran
terhadap bahaya stroke, membimbing tindakan-tindakan
pencegahan, pengobatan, dan membantu mengoptimalkan
hidup setelah stroke.

Persatuan Diebetes Indonesia (Persadia) RS Santo Borromeus
berupaya untuk membuat hidup lebih mudah bagi mereka
yang hidup dengan diabetes.

Penunjang Medis ditujukan untuk membantu kinerja rumah
sakit dalam kegiatan operasional, terdiri dari laboratorum,
radiologi, farmasi, rehabilitasi medis, klinik fisiologi, instalasi
gizi, dan rekam medis.

Laboratorium medis dilengkapi dengan fasilitas hematologi
rutin, kimia klinis, immunologi, seroimunologi, mikrobiologi,
klinis rutin (urine, faeces, dan cairan tubuh lain), patologi
anatomi (sitologi, pap smear, histopatologi, dan vriescope),
dan andrologi (analisis sperma).

Unit Radiologi menerapkan penggunaan teknologi pencitraan
terkini untuk memetakan dan mendukung diagnosis penyakit

384 The Eternal Light

atau kelainan organ tubuh manusia. Selain memiliki alat-alat
diagnostik konvensional, unit ini juga mengadopsi teknologi
radiologi mutakhir seperti 1,5 Tesla Superconducting MR-
scanner (Magnetic Resonance Imaging, MRI), Spiral CT-
scanner (CT-scan), Angiography, dan Color Doppler
Utrasound.

Rehabilitasi Medis terutama berfungsi sebagai program
pemulihan dari penyakit atau cedera. Unit ini melakukan
pemeriksaan dan aktivitas rutin bagi para pasien untuk
mempersiapkan mereka menuju keadaan fisik yang lebih
baik, juga mengadakan program-program seperti senam, tes
otot, pijat tradisional, faradisasi, terapi inframerah, terapi
nebulizer (untuk penderita gangguan nafas), traksi
(pelurusan tulang), UKG, ultrasonik, mandi parafin, ESWD,
MWD, terapi laser, dan penilaian kebugaran fisik.

Klinik Fisiologi mendukung para klinisi untuk memeroleh
diagnosis yang lebih pasti. Klinik Fisiologi memberikan
pelayanan yang mencakup pemeriksaan-pemeriksaan seperti
Elektrokardiografi (EKG), Elektroenselografi (EEG), Elektro-
miografi (EMG), Endoskopi Diagnostik dan Terapeutik
(pemeriksaan saluran nafas dan saluran cerna, baik atas
maupun bawah), Treadmill, Spirometri, dan Holter
Monitoring.

Instalasi Gizi menuntun para pasien menuju kesembuhan
dengan memerhatikan kebutuhan gizi mereka sehari-hari.

Unit Rekam Medis menunjang kebutuhan statistik dan
penyediaan informasi pelayanan medis dari pasien rawat
jalan maupun rawat inap secara berkesinambungan.

Bangkit Kembali, Turut Menjaga Ibu Pertiwi 385

Pelayanan Pastoral Sosio Medis merupakan bagian integral
pelayanan kesehatan yang memberikan dukungan moral
spiritual serta membantu mengoordinasikan pemberdayaan
pasien, keluarga pasien, dan orang-orang di sekitar pasien
dalam menyelesaikan masalah.

RS Santo Borromeus dilengkapi dengan Pelayanan Penunjang
Umum untuk memudahkan para pengunjung melakukan
aktivitas. Fasilitas Pelayanan Penunjang Umum meliputi
fasilitas lobi yang nyaman dengan acuascaping, arena
bermain anak, sarana parkir, toko buku, kafetaria, laundry,
bakery, salon, dan fotokopi. Untuk kebutuhan transaksi
keuangan, terdapat Bank OCBC NISP dan Bank BRI. Tersedia
pula mesin-mesin ATM dari Bank OCBC NISP, BNI, BCA, dan
Lippo Bank. Sementara itu, sebagai bentuk kepedulian
terhadap lingkungan hidup, penanganan limbah dilakukan
secara khusus dan seksama dengan memenuhi standar
pengolahan limbah yang sudah mendapat sertifikasi. Untuk
penanganan limbah padat medis, RS Santo Borromeus
bekerja sama dengan pihak ketiga yang terakreditasi.

Untuk memudahkan akses terhadap informasi bagi para
pasien dan pengunjung RS Santo Borromeus, tersedia website
di www.rsborromeus.com. Terdapat pula Borromeus TV
sebagai stasiun televisi mini yang menyajikan tayangan-
tayangan yang atraktif dan inovatif seperti info layanan, profil
rumah sakit, promosi kesehatan, relaksasi, program edukasi,
dan patient safety yang sangat bermanfaat untuk
meningkatkan pemahaman pasien dan pengunjung akan
kualitas pelayanan yang diberikan.

386 The Eternal Light

Gambar. Food court RS Santo Borromeus.

Kebijakan Keselamatan Kerja, Kebakaran, dan Kewaspadaan
Bencana Rumah Sakit (K3RS) dimaksudkan untuk
menjauhkan dari bahaya.

Ada pun sistem pengembangan SDM yang terintegrasi dan
berkesinambungan merupakan upaya utama RS Santo
Borromeus untuk tetap menjaga kualitas pelayanan kepada
pasien.

Bangkit Kembali, Turut Menjaga Ibu Pertiwi 387

Sebagai bentuk kepedulian, RS Santo Borromeus turut ambil
bagian dalam pelayanan sosial kepada masyarakat yang
membutuhkan layanan kesehatan, misalnya melalui bakti
sosial.

Pastoral Sosio Medis (Passosmed)

Sesudah berusia 80 tahun, menuju 90 tahun, sejak
pertengahan dasawarsa 2000-an di RS Santo Borromeus
terdapat sebuah bagian pelayanan yang dinamakan Pastoral
Sosio-Medis (Passosmed). Passosmed semula terdiri dari dua
bagian yang melakukan pelayanan yang berbeda, yakni
Pastoral Care dan Medical Social Unit (MSU). Pada mulanya
dua pelayanan ini dipisahkan, yang satu adalah pelayanan
psikologis dan yang lain adalah pendampingan sosial
ekonomis.

Seiring perkembangan zaman, di RS Santo Borromeus,
Pastoral Care dan Medical Social Unit digabung menjadi satu
bagian, yakni Passosmed. Suster Paulina Endri, CB (yang saat
ini memimpin Passosmed RS Santo Borromeus) menjelaskan
bahwa kedua bagian itu disatukan karena RS Santo
Borromeus ingin melayani para pasien secara holistik, utuh.
Ketika pasien mengalami atau membutuhkan pendampingan
psikologis, persoalan pasien mungkin terkait erat dengan
persoalan ekonomi yang sedang dialaminya.

Dalam pelayanan sehari-hari, Passosmed melakukan
kunjungan kepada para pasien. Tentu saja tidak semua pasien
dapat terkunjungi, namun ada target yang disepakati
bersama. Suster Paulina, CB menjelaskan bahwa kunjungan-
kunjungan oleh petugas Passosmed dilakukan terutama
untuk mendeteksi pelayanan apa yang dibutuhkan oleh

388 The Eternal Light

pasien. Kunjungan yang dilakukan tidak dibatasi pada pasien
penganut agama tertentu, tetapi kepada semua pasien yang
membutuhkan pelayanan. Setelah terdeteksi, apabila pasien
tersebut membutuhkan pelayanan doa, misalnya, atau
penerimaan sakramen (Sakramen Tobat, Sakramen Orang
Sakit, dan/atau Sakramen Baptis darurat), maka petugas
Passosmed memfasilitasinya. Tujuannya adalah agar pasien
“terselamatkan” dari sisi jiwanya, meskipun sedang sakit, dan
pasien dapat merasakan penyertaan Tuhan dan merasa
diringankan dalam mengalami sakitnya.

Gambar. Pelayanan pastoral sosio-medis. 389
Bangkit Kembali, Turut Menjaga Ibu Pertiwi

Ada kalanya pasien membutuhkan pendampingan secara
psikologis, merasa takut, khawatir, was-was, cemas dengan
sakitnya, maka petugas Passosmed menyediakan diri untuk
menjadi pendengar yang baik dan memberikan solusi yang
baik bagi pasien. Tidak sedikit pasien yang mengalami krisis
ekonomi ketika sakit, maka petugas sosio-medis
mendampinginya untuk dapat menemukan solusi yang tepat
terkait dengan keadaan itu. Kadang-kadang perlu dilakukan
home visit pasien, guna mengkaji dan memastikan keadaan
keluarga pasien yang sesungguhnya. Di samping
pendampingan secara rohani, apa pun agamanya, dan
pendampingan secara psikologis, petugas Passosmed juga
memfasilitasi pemberian Komuni pagi bagi pasien Katolik
setiap hari, menyelenggarakan Perayaan Ekaristi bagi pasien
Katolik sebulan sekali, dan memfasilitasi peringatan Hari
Orang Sakit Sedunia yang diadakan setahun sekali.

Passosmed ibarat Obor Spiritualitas CB yang selalu dijaga
nyalanya, Suster Paulina menjelaskan. Artinya, pelayanan
Passosmed sebenarnya merupakan perwujudan semangat
Pendiri Kongregasi CB, Bunda Elisabeth Gruyters, yang
berfokus demi keselamatan jiwa.

Rumah-rumah sakit yang diawali oleh para suster CB
memiliki komitmen sejalan dengan semangat Pendiri, yakni
melaksanakan pelayanan demi keselamatan sesama. Maka,
tidak dapat dipungkiri bahwa Passosmed tidak dapat
diabaikan keberadaannya. Passosmed jelas mendukung Bab
Hak Pasien dan Keluarga (HPK). Pasien mempunyai Hak
untuk diberi pelayanan secara rohani sesuai dengan agama
dan keyakinannya, dan Passosmed memenuhi kebutuhan itu.

390 The Eternal Light


Click to View FlipBook Version