Pastor Antonius Johannes Piets, OSC secara resmi memimpin
Perhimpunan Santo Borromeus. Pastor Anton Piets adalah
perintis karya di Cicadas bersama Suster Louise Helmer sejak
sebelum Perang Pasifik. Karena kesehatan, Pastor Anton Piets
terpaksa kembali ke Negeri Belanda pada athun 1964.
Selanjutnya, pada dasawarsa 1960-an hingga awal dasawarsa
1970-an kepemimpinan Perhimpunan Santo Borromeus
dipercayakan kepada Prof. Ir. Antonius Maximilian Semawi.
Beliau dahulu adik kelas Bung Karno semasa belajar di
Technische Hoogeschool te Bandoeng. Kemudian beliau
berkarya di Departemen Pekerjaan Umum. Ketika Perguruan
Tinggi Katolik Parahyangan (kemudian menjadi Universitas
Katolik Parahyangan) membentuk Fakultas Teknik pada
tahun 1960, beliau dipercaya sebagai dekan yang pertama,
dan memangku amanah tersebut hingga tahun 1978.
“Indonesianisasi”
Pemerintah Indonesia mengharapkan agar semakin banyak
orang Indonesia yang cakap dan mampu mengisi berbagai
posisi kerja dan manajerial. Sementara itu, konflik antara
Republik Indonesia dengan Kerajaan Belanda tentang Papua
Bagian Barat masih berkepanjangan. Ditambah dengan situasi
politik dalam negeri Indonesia yang sangat tidak stabil waktu
itu, membuat orang-orang Belanda yang tinggal di Indonesia
semakin merasa kurang nyaman.
Pada tahun 1956 Dokter Tumbelaka dipercaya sebagai
Direktur RS Santo Borromeus. Beliau bukanlah orang baru di
Borromeus. Dedikasi beliau sudah teruji. Beliau adalah dokter
pertama yang terlibat dalam Klinik Santo Yusup di Cicadas
sejak tahun 1935. Dengan demikian, beliau sudah sekitar dua
Bangkit Kembali, Turut Menjaga Ibu Pertiwi 241
dasawarasa lebih terlibat dalam pelayanan kesehatan
bersama Suster-Suster CB di Bandung. Namun, sayang sekali,
beliau hanya sekitar tiga tahun saja memimpin RS Santo
Borromeus karena beliau wafat pada tahun 1959.
Gambar. Prof. Ir. A.M. Semawi;
Ketua Perhimpunan Santo Borromeus
(awal dasawarsa 1960-an hingga awal dasawarsa 1970-an).
Kepemimpinan RS Santo Borromeus kemudian dipercayakan
kepada Dokter R. Soediono, yang didampingi oleh Suster
Angelbertha Opdam. Dokter R. Soediono seorang dokter
bedah; sebelumnya pernah memimpin bagian bedah RS
Rantja Badak, dan termasuk di antara tokoh-tokoh rumah
242 The Eternal Light
sakit tersebut waktu itu. Beliau juga berkarya di RS Santo
Borromeus. Ketika Fakultas Kedokteran Universitas
Padjadjaran dibentuk pada tahun 1957, beliau merupakan
dosen di sana. Sebelumnya, beliau pernah menjabat Direktur
RS Tasikmalaya (Provinciale Ziekenhuis) 1939–1948.
Selanjutnya, pada akhir dasawarsa 1960-an, dr. M.M.
Moeliono diangkat sebagai Wakil Direktur untuk
memperkuat kepemimpinan Dokter R. Soediono dan Suster
Angelbertha Opdam.
Gambar. Dokter R. Soediono (Direktur RS Santo Borromeus 1959–1974)
dan Dokter Admiral Soerasetja (Direktur RS Santo Yusup). Foto tahun
1973.
Bangkit Kembali, Turut Menjaga Ibu Pertiwi 243
Gambar. Suster Angelbertha (Direktris RS Santo Borromeus 1959–1974,
mendampingi Dokter R. Soediono) bersama beberapa suster dan
perawat pada tahun 1973
Suster Johanna Elisabeth Helena “Angelbertha” Opdam
memeroleh penugasan yang relatif lama di RS Santo
Borromeus, sekitar 26 tahun. Beliau lahir di Amsterdam pada
tahun 1918, mengucapkan kaul kekal pada tahun 1942,
pernah ditugaskan di Nijmegen, kemudian ditugaskan di
Bandung sejak tahun 1948 (ketika beliau berusia sekitar 30
tahun) pada masa Revolusi Kemerdekaan, ketika keadaan
sedang tidak menentu. Sejak tahun 1948 beliau terus
244 The Eternal Light
ditugaskan di RS Santo Borromeus Bandung, pernah sebentar
kembali di Negeri Belanda pada tahun 1956 dan 1965. Beliau
membantu Suster Mijnadien Verwegen memimpin SPR A
Santo Borremeus sejak tahun 1953; kemudian beliau menjadi
Direktris RS Santo Borromeus sejak tahun 1959
mendampingi Dokter R. Soediono hingga tahun 1974. Dapat
dikatakan bahwa beliau sangat berperan dalam mengelola RS
Santo Borromeus sehari-hari sampai dengan tahun 1974.
Tahun 1974 beliau ditugaskan kembali ke Negeri Belanda.
Beliau menulis buku berjudul Pedoman Latihan Kerja
Pekarya Kesehatan, dengan tebal 390 halaman, yang
diterbitkan oleh Perdhaki pada tahun 1979. Pada tahun 1979
hingga 1991 beliau ditugaskan kembali ke Indonesia, untuk
bersama Suster Arnolde Misiyem merintis karya baru di Fak-
Fak, Sorong, Papua sejak tahun 1979. Dari tahun 1992 hingga
1997 beliau ditugaskan di Tanzania. Setelah itu, pada sekitar
usia 80 tahun, beliau kembali ke Negeri Belanda, dan wafat di
Maastricht pada tahun 2007 dalam usia 89 tahun.
RS Santo Borromeus terus melangkah dalam berpartisipasi
membangun masyarakat Indonesia yang sehat. Pada tahun
1960 kamar isolasi selesai dibangun, dan setahun kemudian,
1961, ruang poliklinik selesai dibangun. Pada tahun 1962
gedung laboratorium selesai dibangun. Selanjutnya, pada
tahun 1963 dimulailah program “dinas kampung”, yakni
pelayanan kesehatan masyarakat di kampung-kampung.
Sejumlah kampung di Kota Bandung dikunjungi dua kali
dalam seminggu dengan menyediakan pelayanan pengobatan,
antara lain di Titimplik, Balubur, dan Cinta Asih. Tahun 1964
dibuka kursus ibu yang kegiatannya terus berkembang,
antara lain breast care, senam hamil, perawatan bayi,
makanan bayi, dan sebagainya.
Bangkit Kembali, Turut Menjaga Ibu Pertiwi 245
Kongregasi CB Provinsi Indonesia
Akhir dasawarsa 1950-an, tepatnya tahun 1959, Kongregasi
Suster-Suster Cintakasih Santo Carolus Borromeus
melangkah berkarya di benua Afrika, tepatnya di Tanzania. Di
Indonesia, Moeder Rosalinde Borst ditunjuk sebagai
Pemimpin Misi Indonesia pada tahun 1959. Ini merupakan
kedua kali beliau sebagai Pemimpin Misi Indonesia.
Dasawarsa 1960-an merupakan masa yang tidak mudah bagi
segenap bangsa Indonesia, tidak terkecuali RS Santo
Borromeus. Selain pertentangan politik, keadaan ekonomi
merosot. Pada pertengahan dasawarsa 1960-an itu sering
berlangsung demonstrasi di kota-kota besar termasuk Kota
Bandung. Situasi keamanan pun terasa kurang kondusif. RS
Santo Borromeus “dijaga” oleh mahasiswa-mahasiswa
PMKRI.
Tahun 1964 Suster Felix Westerwoud terpilih sebagai
Pemimpin Umum Kongregasi CB, kemudian terpilih lagi pada
tahun 1970 hingga masa jabatan 1976. Masa kepemimpinan
beliau banyak diisi dengan pembaruan konstitusi, seiring
dengan derap Konsili Vatikan II. Pada masa ini Kongregasi CB
melebarkan pelayanan ke Filipina, yang dirintis oleh suster-
suster dari Indonesia.
Moeder Rosalinde Borst menyelesaikan amanah sebagai
Pemimpin Misi Indonesia sampai dengan tahun 1966. Setelah
itu beliau digantikan oleh Moeder Catharinia Liedmeier. Pada
tahun 1967, tahun ketika Kongregasi CB merayakan 130
tahun berdirinya, status Indonesia sebagai “Daerah Misi”
diubah menjadi “Provinsi”, dan istilah pemimpinnya diubah
dari “Pemimpin Misi” menjadi “Pemimpin Provinsial”. Dalam
246 The Eternal Light
kapitel umum, Moeder Catharinia Liedmeier terpilih sebagai
Provinsial CB Indonesia yang pertama, sampai dengan masa
jabatan tahun 1971. Kemudian beliau terpilih kembali untuk
masa jabatan kedua sampai dengan tahun 1977.
Gambar. Dua suster dan lima perawat RS Santo Borromeus didampingi
oleh Pastor Hein Wenholt, OSC (bertugas pastoral care di RS Santo
Borromeus dasawarsa 1950-an hingga 1960-an). Foto pada paruh kedua
dasawarsa 1960-an.
Selama sekitar 11 tahun Moeder Catharinia memimpin
Suster-Suster CB Indonesia. Dampak Tragedi 30 September
Bangkit Kembali, Turut Menjaga Ibu Pertiwi 247
1965 merupakan topik utama. Di Bandung, kunjungan kepada
tahanan politik yang dituduh terlibat dalam Tragedi 30
Sepetmber 1965, seminggu dua kali menjadi perhatian/
layanan para suster CB yang diwakili oleh Suster Frederick
Koulman bersama para mitra karya.
Sekar Kamulyan di Cigugur
Di tengah situasi politik yang genting pada pertengahan
dasawarsa 1960-an, Uskup Keuskupan Bandung Mgr. P.M.
Arntz, OSC mengharapkan agar Suster-Suster CB terlibat
dalam karya pelayanan kesehatan di Desa Cigugur,
Kabupaten Kuningan, yang sangat membutuhkan
pertolongan. Sejak tahun 1964 beberapa pastor Keuskupan
Bandung, yang dimulai oleh Pastor M. Kuppens, OSC,
kemudian Pastor W. Straathof, OSC, dan lalu Pastor A. Rutten,
OSC telah melakukan komunikasi-komunikasi dengan
masyarakat setempat, yang mana Pangeran Tedja Buana
merupakan pemimpin informal yang sangat berpengaruh di
sana. Pastor Kuppens melihat bahwa penduduk di Desa
Cigugur dan sekitarnya banyak menderita TBC. Pastor
Kuppens terketuk hatinya untuk meringankan penderitaan
masyarakat sehingga terbersit cita-cita untuk menghadirkan
pelayanan kesehatan di sana.
Setelah Kongregasi CB bersama Perhimpunan Santo
Borromeus mengadakan kesepakatan, maka diutuslah dua
orang suster, yaitu Suster Jacqueline van Nieuwenhoven dan
Suster Agnesine Soetandinah untuk merintis upaya pelayanan
kesehatan di Desa Cigugur. Karena keterbatasan jumlah
suster maka jumlah suster yang berkarya di RS Santo
Borromeus harus dikurangi. Para suster mulai berkarya di
tengah-tengah masyarakat dengan kehidupan yang amat
248 The Eternal Light
sederhana. Berkat bantuan Pangeran Tedja Buana beserta
keluarga, para suster mendapatkan tempat tinggal sementara,
sampai dengan para suster dapat berkarya di tempat tinggal
sendiri. Pada waktu itu pelayanan dilakukan di Paseban Tri
Panca Tunggal (sekarang telah menjadi cagar budaya).
Dengan banyaknya warga masyarakat yang memerlukan
pertolongan dari waktu ke waktu maka dipikirkanlah
pembukaan sebuah balai pengobatan.
Gambar. Pastor Mathias Kuppens, OSC; ditugaskan merintis karya di
Cigugur pada tahun 1964. Foto tahun 2020 ketika beliau berkarya di
Pulau Nias, saat mempersiapkan Klinik Santo Carolus di Kecamatan
Mandrehe, Kabupaten Nias Barat; tetap sehat dan bersemangat pada
usia sangat sepuh.
Bangkit Kembali, Turut Menjaga Ibu Pertiwi 249
Pada peringatan Santa Maria Berdukacita, 15 September
1965, Suster-Suster CB mulai membuka Rumah/Komunitas
Nirawarana Cigugur. Dalam bahasa Sunda, nirawarana
berarti jernih. Dalam filosofi kuno, nirawarana berarti
membawa pikiran tiada terbatas, maksudnya tidak
terbelenggu pada kelekatan-kelekatan, sebagai satu di antara
cara-cara pembersihan batin dari pengaruh kotor. Tiga suster
perintis adalah Sr. Jacqueline van Nieuwenhoven (Pemimpin
Komunitas 1965–1970), Sr. Agnesine Soetandinah, dan Sr.
Radboda Saryati. Para suster berkarya dalam pelayanan
kesehatan, pendidikan, dan sosial-pastoral. Selanjutnya,
Pemimpin Komunitas Suster-Suster CB di Cigugur dilanjutkan
oleh Sr. Gerda Roeliyah (1970–1971), Sr. Bernadette
Heerdink (1971–1972), lalu Sr. Gustavine Sarminah (1972–
1978).
Bersama dengan kehadiran para suster perintis pada tahun
1965, dimulailah Balai Pengobatan Sekar Kamulyan (artinya
Bunga Kemuliaan), yang diselenggarakan oleh Yayasan
Kristus Raja, dengan Suster Jacqueline van Nieuwenhoven
sebagai pelaksana yayasan sekaligus pemimpin balai
pengobatan, dibantu oleh lima perawat dan dua pembantu.
Klinik ini semula menggunakan sebuah ruang yang sangat
sederhana. Pelayanan yang dilaksanakan pada waktu itu
masih terbatas pada klinik umum yang dilaksanakan pada
pagi hari, pelayanan kebidanan dan KB yang dilaksanakan
pada sore hari, dan pertolongan persalinan selama 24 jam.
Perjuangan yang tiada henti-hentinya membuahkan hasil
dikeluarkannya izin tertulis dari Dinas Kesehatan Kabupaten
Kuningan pada tahun 1967 yang menyatakan bahwa
pelayanan kesehatan itu merupakan Balai Pengobatan dan
Balai Pemeriksaan Ibu Hamil dan Bayi, dengan 15 (lima
250 The Eternal Light
belas) tempat tidur untuk bersalin. Pada tahun 1969 untuk
pertama kali hadir dokter part time.
Gambar. Seorang anak sedang diperiksa di Sekar Kamulyan Cigugur
Ketika RS Santo Borromeus menuju berusia lima puluh tahun,
setelah pelayanan kesehatan di Cigugur berlangsung sekitar
lima tahun, pada 21 September 1970 penyelenggaraan Balai
Pengobatan Sekar Kamulyan dialihkan dari Yayasan Kristus
Raja ke Perhimpunan Santo Borromeus. Kemudian, tahun
1972 mulai dibangun gedung yang digunakan sebagai klinik
kebidanan, dengan penambahan kapasitas 25 tempat tidur.
Dalam rencana semula memang dipergunakan sebagai klinik
kebidanan tetapi karena kebutuhan maka kemudian
Bangkit Kembali, Turut Menjaga Ibu Pertiwi 251
dipergunakan sebagai pelayanan kesehatan rawat inap. Pada
tanggal 3 Februari 1974 klinik tersebut diresmikan oleh
Uskup Keuskupan Bandung Mgr. P.M. Arntz, OSC sebagai
Pusat Pelayanan Kesehatan (Puspelkes) Sekar Kamulyan.
Suster Secunda ditugaskan memimpinnya.
Sampai dengan pertengahan dasawarasa 1970-an, para
pemimpin Sekar Kamulyan Cigugur pada masa sangat awal
adalah: Sr. Jacqueline van Nieuwenhoven (1965–1967), Sr.
Agnesine Soetandinah (1967–1973), lalu Dokter Nany
Tohardi (1973–1976).
Sekitar tahun 1975 pelayanan yang diberikan Puspelkes
Sekar Kamulyan sudah lebih lengkap, yaitu dengan
tersedianya pelayanan medis (dokter umum satu orang),
pelayanan laboratorium (tenaga analis satu orang),
pelayanan farmasi (tenaga asisten apoteker satu orang),
pelayanan gizi (tenaga pelayanan gizi satu orang), pelayanan
kebidanan (tenaga bidan tiga orang), pelayanan keperawatan
(tenaga perawat sepuluh orang), Pelayanan Kesehatan
Masyarakat (PKM, tenaga PKM satu orang), tenaga
administrasi (3 orang), dan pembantu rumah tangga (20
orang).
Balai Pengobatan Sari Asih
Sementara itu, RS Santo Borromeus melanjutkan langkah-
langkah kebangkitan. Tahun 1966 Apotik Borromeus yang
berada di dalam satu bangunan dengan Laboratorium ditata
dan disempurnakan. Sebagai apoteker pertama adalah Dra.
Oei Koeng Hong.
252 The Eternal Light
Gambar. Sebuah kegembiraan di depan Kapel Hati Kudus Yesus pada
dasarwasa 1960-an.
Bangkit Kembali, Turut Menjaga Ibu Pertiwi 253
Asrama Putra untuk para perawat pria dibentuk pada tahun
1968 di Jalan Tengku Angkasa No. 10, yang mana sebuah
bangunan diremajakan sehingga dapat digunakan sebagai
asrama. Pada tahun itu pula dibangun Kamar Cuci dan Kamar
Jahit, di belakang Asrama Putri yang sudah ada sejak tahun
1960 yang kemudian diperluas dengan rumah di Jalan Imam
Bonjol No. 17.
Pada tahun 1969 Apotik dipindahkan dari Jalan Juanda No. 91
ke Jalan Suryakencana No. 9 karena terjadi kerusakan yang
parah. Laboratorium dipindahkan ke bekas Apotik. Dibangun
Aula yang baru, dan selesai pada tahun 1971. Tahun 1969
mulai dilengkapi sarana praktik siswa bidan dengan
membuka unit KIA. Pada tahun itu pula RS Santo Borromeus
menambah kelengkapan baru, yaitu Medical Social Worker
Unit (MSWU).
Pada tahun 1969 itu pula RS Santo Borromeus diharapkan
oleh Badan Pembina Wyata Guna (pusat rehabilitasi sosial
dan perlindungan penyandang disabilitas netra) di Jalan
Pajajaran, Kota Bandung, untuk membantu perawatan orang
sakit di sana. RS Santo Borromeus dengan senang hati
menerimanya. Lalu dikirimkanlah perawat-perawat untuk ke
sana. Kelak kemudian pelayanan ini menjadi Balai
Pengobatan Wiyata Guna.
Atas kerja sama dengan masyarakat setempat, RS Santo
Borromeus pada tahun 1973 mendirikan Balai Pengobatan
Sari Asih di Kampung Sekeloa, RW 18, Kelurahan Lebakgede,
Kecamatan Coblong, Kota Bandung, dan mendapat izin secara
resmi sebagai balai pengobatan.
254 The Eternal Light
Gambar. BP Sari Asih pada masa lalu
Logo RS Santo Borromeus
Tahun 1966 RS Santo Borromeus berusia 45 tahun, pada
tahun 1967 Suster-Suster CB memperingati 130 tahun usia
Kongregasi, dan pada tahun 1968 Suster-Suster CB
memperingati 50 tahun berkarya di Indonesia. Waktu itu
dirasakan perlunya sebuah logo yang mencerminkan
spiritualitas dan nilai-nilai dasar RS Santo Borromeus. Oleh
karena itu, pada bulan Agustus 1966, sebulan menjelang usia
ke-45, Suster Angelbertha Opdam sebagai Direktris RS Santo
Borromeus (yang mendampingi Dokter R. Soediono)
mengadakan sayembara perancangan logo. Terdapat tiga
peserta, yaitu: 1) Josaphat Lie Kwie Tjiang (karyawan; sarjana
farmasi yang sedang belajar di Program Apoteker ITB), 2)
Suster Soleha (perawat berdiploma, asal Palembang), dan 3)
Frans Legimin (pemuda dari Cimahi, duduk di voorklasse SPR
Bangkit Kembali, Turut Menjaga Ibu Pertiwi 255
A Santo Borromeus). Dari ketiga peserta tersebut, desain
Josaphat Lie Kwie Tjiang terpilih sebagai pemenang. Kelak di
kemudian hari, beliau dikenal dengan nama Drs. Yos E.
Hudyono (Apt.). Dalam desain karya Josaphat Lie Kwie Tjiang,
dicantumkan pula nama teman beliau, Margaretha Ping
Djenau. Logo tersebut diinspirasikan dari perangko seabad
Palang Merah Internasional pada tahun 1963 yang dirayakan
di seluruh dunia, termasuk Indonesia.
Logo pada mulanya dipakai oleh para perawat (wanita
maupun pria), disematkan pada dada kiri. Waktu itu perawat
wanita masih mengenakan sluier. Pada tahun 1971 sluier
diganti dengan cap; sejak itu logo dipasang pada cap. Logo
digunakan dalam kop surat, resep, dan dokumen-dokumen
lain sejak tahun 1974, pada masa Drs. P.J. Pattiwael sebagai
Direktur Utama.
256 The Eternal Light
Bentuk-bentuk dalam logo:
• Rantai dengan mata rantai berjumlah 18 membentuk satu
kesatuan, perlambang “persatuan dan kesatuan yang
menjadi kekuatan, agar mampu melahirkan karya
kemanusiaan di bidang kesehatan”. Angka 18
melambangkan hari jadi RS Santo Borromeus pada tanggal
18 September 1921.
• Tangan yang menengadah melambangkan “dambaan dan
kesiapsediaan menerima rahmat Tuhan, untuk kemudian
diwujudkan dalam karya pengabdian”.
• Lampu Florence Nightingale melambangkan “keteladanan
dan semangat untuk menolong sesama manusia yang
menderita dengan pelayanan yang manusiawi dan penuh
cintakasih”.
• Salib melambangkan “sumber cintakasih dan pengharapan
kristiani yang abadi kepada Allah dan sesama manusia”.
Warna-warna dalam logo:
• Putih melambangkan kemurnian dan kesucian.
• Kuning melambangkan keluhuran dan keabadian.
• Hijau melambangkan pengharapan.
• Merah melambangkan semangat dan keberanian.
• Coklat melambangkan kesiapsediaan untuk menerima.
Arti keseluruhan logo:
• Kristus sebagai sumber cintakasih abadi, menjadi landasan
yang kuat bagi para suster yang menyatukan diri dalam
semangat persatuan dan kesatuan, serta menjiwai karya
kesehatan yang didirikan sejak tanggal 18 September
1921 dalam bentuk RS Santo Borromeus.
• Semangat persatuan dan kesatuan ini memeroleh inspirasi
dari Florence Nightingale, yang mengabdikan diri bagi
Bangkit Kembali, Turut Menjaga Ibu Pertiwi 257
sesama manusia yang menderita tanpa membedakan suku,
bangsa, agama, dan golongan, dengan ketulusan,
keikhlasan, serta keberanian.
• Pengabdian diri ini diwarnai dengan kesiapsediaan
menerima rahmat Tuhan, melalui kehidupan yang suci
murni, sehingga mencerminkan cintakasih Kristus yang
memberi pengharapan bagi orang-orang yang menderita.
Melalui lambang ini diharapkan agar semua orang yang
menyatukan diri dalam pengabdian diri dalam pengabdian di
RS Santo Borromeus memiliki keyakinan bahwa:
• Semangat persatuan dan kesatuan (rantai) yang
bersumber dari Kristus-lah (salib) yang mampu dan
mempertahankan, memberi daya tarik, dan
mengembangkan karya RS Santo Borromeus dahulu, kini,
dan akan datang (kuning).
• Inspirasi dari perawat pelopor Florence Nightingale
(lampu) merupakan wujud pengabdian yang dipilih, yaitu
merawat dan menolong sesama manusia yang menderita.
• Pengabdian (tangan terbuka warna coklat) bukan
merupakan kesombongan atas kemampuan yang dimiliki,
akan tetapi pengabdian ini sarat dan penuh harap untuk
menerima rahmat Kristus, yang akan hadir melalui
kehidupan yang suci dan murni (putih).
• Pengabdian yang didasari atas semangat (merah) dan
kesucian (putih) inilah yang mampu memberikan
pelayanan kristiani yang penuh pengharapan dan
manusiawi (hijau).
258 The Eternal Light
Gambar. Semangat dan kegembiraan para perawat RS Santo Borromeus
dari berbagai daerah di Indonesia pada dasawarsa 1960-an, yang
didampingi oleh Pastor Hein Wenholt, OSC.
Bangunan-bangunan RS Santo Borromeus
Pada sekitar usia ke-50 tahun, pada awal dasawarsa 1970-an
bangunan RS Santo Borromeus terdiri dari sejumlah bagian
(Belanda: afdeling, plural: afdelingen):
• Yosef Paviljoen terdiri dari: Yosef 1, Yosef 2 dan Yosef 3.
• Elisabeth Pav.
• Theresia Pav.
• Maria Pav.
Bangkit Kembali, Turut Menjaga Ibu Pertiwi 259
• Anna Pav.
• Carolus Pav.
• Kinder Afdeling (khusus anak mulai usia baru lahir s.d. 12
tahun) yang terdiri dari Irene Boxen (s.d. 5 tahun) dan
Irene Zaal (5–12 tahun).
Lokasi bagian-bagian tersebut belum tentu persis sama
dengan lokasi bagian-bagian pada masa selanjutnya. Ada
yang masih sama, namun ada yang berubah lokasi.
Dari afdelingen tersebut, pembagian perawatan dilakukan
menurut penyakit atau kebutuhan pasien:
• Yosef 1: Afdeling perawatan pasien bedah, khusus kelas 1.
• Yosef 2:Afdeling perawatan penyakit dalam dan isolasi,
khusus kelas 1 dan utama.
• Yosef 3: Afdeling kebidanan (obgyn) dan Verlos Kamer
(VK), Baby Kamer (BK); terdiri dari kelas-kelas 1, 2 dan 3.
• Afdeling Elisabeth Pav untuk pasien kelas 3 dan charity
(yang tidak mampu).
• Afdeling Theresia Pav terdiri dari kelas 1, 2, 3 dan ruang
isolasi; khusus perawatan pasien penyakit dalam.
• Afdeling Maria Pav untuk perawatan pasien operasi mata
dan penyakit mata nonoperatif dan satu ruang isolasi,
seluruh ruangan di Maria Pav kelas 1.
• Afdeling Anna Pav untuk perawatan penyakit bedah dan
beberapa pasien isolasi bedah; perawatan di Anna Pav
terdiri dari kelas 1, 2, dan 3.
• Afdeling Carolus Pav untuk perawatan pasien penyakit
paru terutama TBC Paru, terdiri dari kelas 1, 2, dan 3
berikut ruang isolasi.
260 The Eternal Light
• Kinder Afdeling (Irene Boxen dan Irene Zaal) untuk
perawatan anak kelas 2, kelas 3, dan pasien charity. Bagian
ini terletak di Jalan Suryakencana No. 2.
Gedung/bangunan lain sebagai penunjang dan pelayanan
pasien terdiri dari Operatie Kamer (OK) / Operating Theatre
(OT) yang terletak di halaman Afdeling Carolus Pav, dibangun
pada tahun 1953, mulai digunakan tahun 1954. Afdeling
Radiologi dan Administrasi Keuangan (berhadapan) terletak
di bagian Afdeling Theresia (saat ini) terletak di sekitar
Heritage.
Laboratorium dan Farmasi terletak di seberang rumah sakit,
yaitu Jalan Ir. H. Juanda No. 101, merangkap garasi mobil dan
Asrama Putra. Prasarana ibadah Katolik terdiri dari Kapel
(Inggris: Chapel, Belanda: Kapel atau Kerkje yang artinya
gereja kecil) terletak di Jalan Suryakencana No. 1. Asrama
Putri (Verpleegster Huis) terletak di Jalan Suryakencana No. 2,
berdampingan dengan Kamar Jenazah (Lijkenhuis), saat ini
disebut Rumah Duka, terletak di Jalan Suryakencana No. 4.
Pada dasawarsa 1970-an belum terdapat gedung bertingkat
kecuali Asrama Putri yang terletak di Jalan Suryakencana.
Selanjutnya, pada tahun 1975 selesai dibangun gedung
Röntgen dan Laboratorium dengan wajah yang lebih
representatif dan modern, di sebagian bekas Afdeling
Theresia. Beberapa gedung baru muncul di Jalan
Suryakencana No. 7, yakni bagian Bersalin, BKIA, Sekolah
Bidan, dan Asrama Bidan, yang diresmikan pada 1 November
1975.
Bangkit Kembali, Turut Menjaga Ibu Pertiwi 261
Gambar. Siswa-siswi Sekolah Pengatur Rawat (SPR) A Santo Borromeus
Angkatan 1967. Mitra Andyani artinya sahabat yang memberi terang.
Dalam kesempatan Peresmian Gedung Pendidikan Perawat
Bidan, 1 November 1975, Ketua Perhimpunan Santo
Borromeus Bapak Ir. Harry Sosrohadisewojo (beliau
menggantikan Bapak Liliek Soehadi, Bc.A.P.) mengungkapkan
bahwa pendidikan bidan RS Santo Borromeus mengikuti apa
yang dinamakan Kurikukum Ciloto, dengan masa pendidikan
14 bulan. Beliau juga mengungkapkan kemungkinan
mendatang, “Setelah para perawat bidan melakukan
prakteknya selama lima tahun, yaitu biasanya dua tahun
ikatan dinas dan tiga tahun praktek, mereka dapat
262 The Eternal Light
meneruskan studinya ke Akademi Perawatan selama 3 tahun,
setelah itu yang bersangkutan dapat menjadi staf pengajar
dalam ilmu kebidanan dan perawatan dengan status sipil
Sarjana Muda.”
***
Demikianlah, RS Santo Borromeus bangkit kembali dan turut
menjaga Ibu Pertiwi sejak Pengakuan Kedaulatan Indonesia
pada 27 Desember 1949. Bukan sekadar bangkit, RS Santo
Borromeus mampu melintasi perubahan zaman, dan bahkan
mampu terus-menerus berkembang. Pujian syukur
dipanjatkan, sebagaimana dahulu Bunda Elisabeth Gruyters
menulis:
“Ya, Tuhan Yang Mahabaik dan berbelas kasih,
pertimbangan-Mu tak terjajagi, jalan-Mu tak tertelusuri!
Dikau yang tidak meremehkan keinginan para papa, dan
telah mencobai kami bertahun-tahun untuk meneguhkan
kami dalam harapan akan kebaikan dan kerahiman-Mu
yang tak terhingga. Dimuliakan Nama-Mu selama-lamanya.
Amin.” (EG 131)
***
#haiku 7
a) 7-1
merdeka nyata
siap untuk berubah
tuntutan zaman
Bangkit Kembali, Turut Menjaga Ibu Pertiwi 263
b) 7-2
masa berjuang
mengabdi masyarakat
bangkit kembali
#tanka 7
a) 7-1
merdeka nyata
siap untuk berubah
tuntutan zaman
gigih menata karya
di tengah kesulitan
b) 7-2
masa berjuang
mengabdi masyarakat
bangkit kembali
s'mangat pembaharuan
jaga Ibu Pertiwi
264 The Eternal Light
VIII
Memperbarui Diri,
Turut Membangun Negeri
Bangkit Kembali, Turut Menjaga Ibu Pertiwi 265
T ahun 1950 hingga pertengahan dasawarasa 1970-an
merupakan masa kebangkitan kembali Rumah Sakit
Santo Borromeus. Setelah bangkit kembali, seiring
dengan derap pembangunan di segenap negeri, sejak
pertengahan dasawarsa 1970-an hingga akhir abad ke-20 RS
Santo Borromeus melakukan upaya-upaya memperbarui diri,
turut serta dalam upaya-upaya membangun negeri.
Masa Pembaruan dan Pembangunan
Semenjak Presiden Soeharto mulai berkuasa (1967), keadaan
Indonesia berubah. Beliau menekankan pada stabilitas politik
dan pembangunan ekonomi. Namun, kepemimpinan beliau
yang dianggap semakin autoritarian, mengalami perlawanan
oleh Gerakan Reformasi yang berhasil membuat beliau
lèngsèr keprabon pada tahun 1998. Presiden B.J. Habibibe
melanjutkan kepemimpinan beliau. Setelah Pemilu 1999,
Presiden Abdurrahman Wahid dipilih oleh MPR sebagai
Presiden.
Sementara itu, pada akhir dasawarsa 1960-an dan sepanjang
dasawarsa 1970-an Gereja Katolik berupaya melakukan
pembaruan-pembaruan. Uskup Keuskupan Bandung Mgr.
Petrus Marinus Arntz, OSC wafat pada tahun 1984. Pada
tahun itu pula Mgr. Alexander S. Djajasiswaja diangkat
sebagai Uskup Keuskupan Bandung.
Suster Paulie Douven terpilih sebagai Pemimpin Umum
Kongregasi CB (1976–1982 dan 1982–1988). Pembaruan-
pembaruan terus dilakukan. Tahun 1988 Suster Louisie Satini
dari Indonesia terpilih sebagai Pemimpin Umum Kongregasi
CB. Tahun 1994 beliau terpilih kembali sebagai Pemimpin
266 The Eternal Light
Umum untuk yang kedua kali. Tahun 1999 Suster Melanie
Giniyati terpilih sebagai Pemimpin Umum.
Di Indonesia, Suster Ignatia Srimi terpilih sebagai Pemimpin
Provinsi (1977–1982 dan 1982–1988). Beliau dilanjutkan
oleh Suster Christera Sri Rudati (1988–1994) dan Suster
Rosalima Umi Kusdariyah (1994–1999). Pembaruan,
pembangunan, pengembangan, pembinaan, dan peluasan
jejaring merupakan tema-tema pada masa itu.
Di Dago-Bandung, Komunitas Suster-Suster CB Santo
Borromeus dipimpin oleh Sr. Vincentio Soemarah (1971–
1974), dilanjutkan oleh Sr. Cecilia Riyanti (1974–1977), Sr.
Franka Sarsiyem (1977–1981), Sr. Gerda Roeliyah (1981), Sr.
Joanesa Arief (1981–1988), Sr. Agnesine Purnopranoto
(1988–1992), Sr. Simona Donderwinkel (care taker, 1992),
Sr. Simona Donderwinkel (1993–1995), lalu Sr. Venantine
Kismorodati (1995–2000).
Komunitas Suster-Suster CB Santo Yusup Cicadas-Bandung
dipimpin oleh Sr. M. Johanna Pudjijati (1968–1975),
dilanjutkan oleh Sr. Marie Ivo Suwarti (1975–1980), Sr.
Mariël Moeryati (1980–1982), Sr. Assisia Winarti (1982–
1988), Sr. Listiana Listiastuti (1988–1993), lalu Sr. Lidwina
Prihatin (1993–1999).
Di Cigugur-Kuningan, Komunitas Suster-Suster CB
Nirawarana dipimpin oleh Sr. Gustavine Sarminah (1972–
1978), dilanjutkan oleh Sr. Ludovique Wuryanti (1978–
1992), dan Sr. Monique Angga Laksmi (1992–2000).
Bangkit Kembali, Turut Menjaga Ibu Pertiwi 267
Gambar. Para perawat berfoto bersama di depan Asrama Putri yang
mulai dibangun pada tahun 1954/5 setelah pembukaan Sekolah
Pengatur Rawat (SPR) A Santo Borromeus pada tahun 1953.
Keperawatan dan pendidikan calon perawat merupakan satu di antara
kekuatan RS Santo Borromeus. Tampak para perawat dahulu
mengenakan kerudung (sluier); dan sejak tahun 1971 mengenakan cap.
Rumah Sakit Santo Yusup Diserahkan kepada
Perhimpunan Santo Borromeus
Sebuah peristiwa penting terjadi dalam sejarah Perhimpunan
Santo Borromeus. Ketika didirikan, RS Santo Yusup di Cicadas
Bandung diselenggarakan oleh Prefektur Apostolik Bandung
(yang kemudian menjadi Vikariat Apostolik Bandung lalu
268 The Eternal Light
Keuskupan Bandung) melalui Yayasan Salib Suci. Berbagai
upaya telah dilakukan untuk membenahi RS Santo Yusup.
Gambar. PMI Unit RS Santo Borromeus. Tampak Pastor Fons Bogaartz,
OSC (pastoral care 1974–1984).
Akhirnya, setelah sekitar empat dasawarsa sejak pertama kali
dirintis, pada 1 Maret 1976 Rumah Sakit Santo Yusup
dialihkan penyelenggaraannya dari Yayasan Salib Suci kepada
Perhimpunan Santo Borromeus. Hal ini merupakan sesuatu
yang masuk akal dan bijak mengingat Suster-Suster
Cintakasih Santo Carolus Borromeus (CB) sudah berkarya di
sana sejak awal mula dirintis. Dipandang dari segi keefektifan
dan efisiensi penyelenggaraan dan pengelolaan pun perlu
dilakukan pembaruan.
Bangkit Kembali, Turut Menjaga Ibu Pertiwi 269
Dengan demikian, sejak tahun 1976 – ketika berusia sekitar
55 tahun – Perhimpunan Santo Borromeus waktu itu
menyelenggarakan tiga satuan pelayanan kesehatan: 1) RS
Santo Borromeus di Dago-Bandung, 2) RS Santo Yusup di
Cicadas-Bandung, 3) Pusat Pelayanan Kesehatan (Puspelkes)
Sekar Kamulyan di Cigugur-Kuningan. Ada pun Balai
Pengobatan Sari Asih dan Pelayanan Kesehatan Wyata Guna
waktu itu merupakan bagian dari Rumah Sakit Santo
Borromeus.
Sementara itu, tepat pada usia ke-55 tahun RS Santo
Borromeus, 18 Septemer 1976, dibentuk Palang Merah
Indonesia (PMI) Unit RS Santo Borromeus.
Pembaruan Organisasi dan Manajemen
Selama dasawarsa 1950-an dan 1960-an RS Santo Borromeus
bangkit kembali. Bukan sekadar bangkit kembali, namun
bahkan berkembang lebih lanjut. Namun demikian, dengan
perubahan zaman (politik, ekonomi, sosial, budaya), di
sekitar usianya yang setengah abad pada awal dasawarsa
1970-an dirasakan bahwa pengelolaan (manajemen) RS
Santo Borromeus memerlukan pembenahan serius. Situasi
semacam ini umum terjadi pada berbagai organisasi,
lembaga, atau perusahaan di Indonesia; dasawarsa 1950-an
merupakan masa penyesuaian terhadap keadaan negara
muda Indonesia yang belum stabil; dasawarsa 1960-an
merupakan masa untuk bertahan dalam melintasi keadaan
politik dan ekonomi yang mengkhawatirkan.
Prof. Ir. Antonius Maximilian Semawi sebagai Ketua
Perhimpunan Santo Borromeus kemudian digantikan oleh
Bapak Liliek Soehadi, Bc.A.P. (berkarya di Perum Pos dan
270 The Eternal Light
Giro) pada awal dasawarsa 1970-an, dan kemudian
dilanjutkan oleh Ir. Harry Sosrohadisewojo (dosen
Departemen Teknik Elektro ITB). Selain itu, sejumlah pribadi
lain yang terlibat dalam Perhimpunan Santo Borromeus
waktu itu adalah Pastor F. Lubbers, OSC; Sr. Catharinia, CB; Sr.
Marie Ivo, CB; Sr. Franka, CB; Bapak F.X. Teko Sukarmin;
Bapak B. Arief Sidharta, S.H.; Dra. Emiliana; Bapak Ir. Thomas
Katili; Bapak F. Rosadi; serta kemudian Bapak Ir. A.
Kartahardja dan Bapak Drs. Ign. Susilo.
Gambar. Suster Bernadette Heerdink
(mengalami kamp interniran Jepang; pernah bertugas di Santo
Borromeus, Santo Yusup, dan Sekar Kamulyan).
Bangkit Kembali, Turut Menjaga Ibu Pertiwi 271
Pada tahun 1974 – ketika Perhimpunan Santo Borromeus
dipimpin oleh Bapak Liliek Soehadi, Bc. A.P. sebagai Ketua –
dilakukan penggantian Direktur RS Santo Borromeus, dari
Dokter R. Soediono (yang sudah memangku amanah tersebut
selama sekitar 15 tahun, 1959–1974, didampingi oleh Sr.
Angelberta Opdam, CB) ke Drs. P.J. Pattiwael (1974–1982).
Bapak “Jos” Pattiwael alumnus Universitas Katolik
Parahyangan, kemudian berkarya di perusahaan minyak Shell
– satu di antara perusahaan minyak multinasional terbesar di
dunia waktu itu – di Sumatera Selatan. Dengan demikian,
beliau berpengalaman dalam pengelolaan perusahaan
modern pada waktu itu. Beliau berkarya pula sebagai dosen
Fakultas Ekonomi Universitas Katolik Parahyangan.
Pergantian direktur ini dapat dikatakan menandai perubahan
zaman.
Direfleksikan pada waktu itu, RS Santo Borromeus pada
dasawarsa 1970-an tetap dianggap sangat bagus dalam
bidang perawatan dan pendidikan (terutama berkat Suster-
Suster CB) dan dalam bidang medis (terutama berkat dokter-
dokter yang bermutu). Akan tetapi, bidang administrasi dan
manajemen memerlukan pembaruan, baik dalam
administrasi medis, keuangan, personalia, dan manajemen
secara umum. Sementara itu, bangunan-bangunan dan
peralatan-peralatan telah berusia relatif lama dan
memerlukan peremajaan.
Pembaruan pengelolaan RS Santo Borromeus ini relatif
bersamaan dengan bergabungnya RS Santo Yusup dalam
penyelenggaraan Perhimpunan Santo Borromeus pada tahun
1976. Untuk itu, dibentuk struktur organisasi yang meliputi
RS Santo Borromeus dan RS Santo Yusup sekaligus, yang
272 The Eternal Light
dipimpin oleh seorang Direktur Utama, dibantu oleh sejumlah
direktur, yaitu:
• Dir. Utama: Drs. P.J. Pattiwael
• Dir. Medis: dr. Soedijono Brotoprawiro
• Dir. Perawatan: Sr. Aloysius Windoe, CB
• Dir. Personalia & RT: Sr. Melanie Giniyati, CB (kemudian
dilanjutkan Sr. Henriette, CB)
• Dir. Keuangan: Drs. Frans Anjie
• Dir. Umum RS St. Yusup: dr. Eddy Dharmadi.
Gambar. Drs. P.J. Pattiwael
(Direktur Utama RS Santo Borromeus 1974–1982)
Bangkit Kembali, Turut Menjaga Ibu Pertiwi 273
Pada pertengahan dasawarsa 1970-an hingga awal
dasawarsa 1980-an dilakukan pembenahan dalam berbagai
bidang. Dalam bidang keuangan, dilakukan perapian
administrasi, penertiban pembayaran gaji dan honorarium,
penggunaan cash register, penyusunan anggaran, dan
administrasi persediaan.
Dalam hal organisasi dan manajemen, dibentuk bidang
personalia tersendiri. Dibentuk pula bagian pembelian yang
lebih terpusat. Berbagai bidang di RS Santo Borromeus dan
RS Santo Yusup diintegrasikan. Disusun masterplan untuk
kedua rumah sakit. Struktur organisasi dibenahi sehingga
lebih memungkinan peningkatan karier dan regenerasi.
“Pada pertengahan dasawarsa 1970-an
hingga awal dasawarsa 1980-an
dilakukan pembenahan dalam berbagai bidang.”
Dalam hal personalia, disusun sistem penggajian yang
seragam dan lebih rasional. Dilakukan upgrading semua
kepala bagian. Peningkatan kesejahteraan karyawan
dilakukan dengan kesempatan bagi karyawan untuk ikut
serta dalam dana pensiun, pemberian tunjangan cuti besar,
kenaikan gaji sesuai kemampuan keuangan, dan tunjangan
kesetiaan kerja. Sementara itu, perawat yang sudah menikah
dimungkinan untuk terus bekerja. Asrama diperbaiki dan
diperluas sehingga setiap kamar menampung maksimum 4
orang. Peraturan Kekaryawanan dibuat secara tertulis dan
disahkan oleh Departemen Tenaga Kerja. Diadakan kegiatan
rekreasi karyawan. Dilakukan pengiriman karyawan untuk
274 The Eternal Light
belajar, misalnya ke Sekolah Guru Perawat, pelatihan medical
record, intensive care, penanganan steam boiler, dan lain-lain.
Dalam hal medis, dibuat kontrak tertulis dengan dokter-
dokter tamu. Dilakukan penambahan dokter tetap untuk
menggantikan dokter-dokter tidak tetap. Dilakukan
peningkatan administrasi dan peranan medical record serta
penyempurnaan “status” pasien. Dilakukan penataan
pelayanan radiologi. Diadakan pelayanan laboratorium
patologi. Diadakan pelayanan EEG. Ditetapkan secara tertulis
tarif honorarium dokter-dokter. Disediakan staf medis di RS
Santo Yusup.
Gambar. Dua perawat calon bidan berfoto di depan Asrama Putri
pada dasawarsa 1970-an
Bangkit Kembali, Turut Menjaga Ibu Pertiwi 275
Dalam hal keperawatan, dilakukan perubahan sistem kerja,
termasuk penghapusan sistem “brokkel” (dibagi/dipecah;
dalam hal ini seseorang bekerja pada pagi hari namun
kemudian diselingi dengan kegiatan lain misalnya belajar
sampai sore lalu melanjutkan kerja). Aktivitas pastoral care
ditingkatkan. Dilakukan upgrading kepala-kepala bagian
perawatan. Diadakan clinical instructor di bagian-bagian
perawatan.
Dalam hal pendidikan, dilakukan perubahan dari Sekolah
Pengatur Rawat (SPR) menjadi Sekolah Perawat Kesehatan
(SPK) pada tahun 1978. Sekolah Bidan memeroleh izin
dibuka kembali pada tahun 1982 sesudah ditutup pada tahun
1978. Dilakukan penggantian clinical instructor dengan guru-
guru yang lebih berkualifikasi. Dilakukan pendidikan perawat
anak-anak secara lokal dengan direstui dan diuji oleh
Pemerintah.
Dalam bidang sosial, diberikan dukungan untuk Koperasi
Dana Sehat di sekeliling RS Santo Yusup dan RS Sekar
Kamulyan Cigugur. Dibuka Medical Social Unit di RS Santo
Yusup. Ikut aktif dalam penanggulangan bencana-bencana
nasional, wabah, dan lain-lain.
Dalam hal hubungan dengan pihak ketiga, telah dibina
hubungan yang baik dengan Pemerintah Daerah, Departemen
Kesehatan, Departemen Ketenagakerjaan, Instansi Pajak, dan
lain-lain. Ikut aktif dalam pembentukan Perhimpunan Rumah
Sakit Seluruh Indonesia (Persi). Ikut aktif dalam berbagai
aktivitas Perdhaki. Ikut aktif dalam sejumlah pertemuan
rumah sakit swasta se-Indonesia, penyusunan Rencana
Pembangunan Lima Tahun Kesehatan Jawa Barat, dan lain-
lain.
276 The Eternal Light
Gambar. Beberapa “penjaga” RS Santo Borromeus pada pertengahan
dasawarsa 1970-an.
Dalam hal prasarana, dibangun gedung Asrama Putra dan
Dinas Pemeliharaan. Dilakukan penggantian jaringan listrik di
seluruh kompleks RS Santo Yusup. Dibangun gedung
pendidikan, asrama, dan biara di RS Santo Yusup.
Dilakukan rehabilitasi rumah di Jalan Imam Bonjol untuk
Biara Suster-Suster CB karena rumah sakit membutuhkan
perluasan. Oleh karena itu, Biara dipindahkan ke Jalan Imam
Bonjol. Kapel Hati Kudus Yesus, sebagal kapel biara, tetap
berada di kompleks RS Santo Borromeus.
Bangkit Kembali, Turut Menjaga Ibu Pertiwi 277
Dilakukan pembangunan dapur, kamar cuci, gudang-gudang,
garasi, tempat steam boiler, dan tempat generator yang baru.
Dibuat sumur bor air di RS Santo Borromeus maupun di RS
Santo Yusup. Dilakukan rehabilitasi/upgrading beberapa
kamar perawatan menjadi kelas Utama sejak tahun 1980.
Dilakukan rehabilitasi bagian Elisabeth dan BKIA.
Dalam hal alat-alat medis dan perawatan, dilakukan
penambahan ala-alat medis dan keperawatan untuk RS Santo
Borromeus dan RS Santo Yusup, yaitu: alat Röntgen dan
image intensifier yang baru, lampu-lampu operasi dan meja
operasi yang baru, alat-alat narkose dan kauterisasi, alat-alat
laboratorium dan alat-alat fisioterapi, alat-alat ECG dan EEG,
dan alat-alat keperawatan.
Dalam hal alat-alat nonmedis, dilakukan penambahan sarana
transportasi, termasuk tiga mobil ambulans. Selain itu,
diadakan dua generator yang secara otomatis dapat
mencukupi kebutuhan seluruh kompleks RS Santo
Borromeus maupun RS Santo Yusup; peralatan-peralatan
yang baru untuk dapur dan kamar cuci; peralatan steam
boiler sebagai sumber energi untuk dapur, kamar cuci, kamar
operasi, dan air panas untuk seluruh rumah sakit.
Pembaruan-pembaruan dalam segala bidang tersebut, pada
pertengahan dasawarsa 1970-an hingga awal dasawarsa
1980-an, menandai sebuah fase baru perkembangan RS Santo
Borromeus.
278 The Eternal Light
Gambar. Gedung di Jalan Juanda No. 101 ketika sedang dibangun pada
tahun 1975.
Koperasi Kredit Borromeus, Koperasi Teladan Nasional
Apa yang dewasa ini dikenal dengan Koperasi Simpan-Pinjam
“Kopdit Borromeus” telah dirintis sejak tahun 1968. Gerakan
berkoperasi berkembang ke seluruh karyawan RS Santo
Borromeus, bahkan seluruh karyawan Perhimpunan Santo
Borromeus.
Koperasi dibidani oleh Suster Afra, CB pada tahun 1968, yang
waktu itu menjabat sebagai Kepala Bagian Dapur RS Santo
Bangkit Kembali, Turut Menjaga Ibu Pertiwi 279
Borromeus. Hal ini berawal dari keprihatinan beliau
mengenai maraknya para rentenir (“lintah darat”) yang
beroperasi di lingkungan kerja RS Santo Borromeus dan
cukup banyak karyawan yang terjerat dengan pinjaman.
Tanggal 1 Januari 1972 dinyatakan sebagai waktu berdiri
secara resmi. Pada tahun 1972, untuk memutus mata rantai
beroperasinya para renternir, digagaslah pendirian koperasi
yang anggotanya tidak diikuti unsur perawat, antara lain:
Bagian Dapur, Bagian Kamar Cuci, dan Bagian Rumah Tangga,
dengan nama Credit Union (CU) Borromeus. Dalam
pengelolaannya, Suster Afra dibantu oleh beberapa orang,
antara lain Bapak Muchsin, B,Sc.; Bapak Parjimin Nursain,
B.Sc.; Bapak Ignatius Ngadiyo (Bagian Kamar Jahit); Ibu
Isralia Rustini (Bagian Kamar Cuci), dan Bapak Woeryanto.
Selama kurun waktu 1972–1974 CU Borromeus belum
berbadan hukum. Seiring berjalannya waktu dan
bertambahnya jumlah anggota, maka diperlukan
penambahan jumlah anggota pengurus. Masuknya Bapak T.
Sukarni H. sebagai pengurus, bersama dengan Bapak
Muchsin dan Bapak Parjimin Nursain membuat CU
Borromeus semakin solid.
Keberadaan Koperasi Kredit Borromeus pada semula masih
dipandang sebelah mata. Masih banyak karyawan yang tidak
menjadi anggota. Sementara itu, RS Santo Borromeus
dipusingkan dengan banyaknya karyawan yang ingin
meminjam uang. Atas dorongan Direksi RS Santo Borromeus
(Utama Drs. P.J Pattiwael), tahun 1974–1975 pengurus
koperasi berusaha memeroleh legalitas badan hukum.
280 The Eternal Light
Gambar. Logo Credit Union Indonesia.
Selanjutnya, akta pendirian Perkumpulan Koperasi Kredit
Borromeus disahkan oleh Direktorat Jenderal Koperasi
Provinsi Jawa Barat pada tanggal 29 November 1975.
dengan nomor 6310/BH/DK-10/I-1975. Nama “Credit Union”
diganti menjadi “Koperasi Kredit”, dengan jenis koperasi
simpan-pinjam. Nama Koperasi Kredit “Borromeus” sempat
menjadi polemik; ada sejumlah orang yang merasa keberatan
dengan penggunaan nama “Borromeus” pada Koperasi.
Setelah Koperasi disahkan secara resmi, Drs. P.J. Pattiwael
sebagai Direktur Utama/Umum RS Santo Borromeus terus
mendorong bahkan mewajibkan seluruh karyawan menjadi
anggota Koperasi. Berbagai bentuk pinjaman uang oleh
karyawan diarahkan untuk ditangani melalui Koperasi.
Sesudah RS Santo Yusup berada dalam naungan
Perhimpunan Santo Borromeus, pada tanggal 6 September
1982 Koperasi Kredit Santo Yusup bergabung
(amalgamasi) dengan Koperasi Kredit Borromeus sebagai
Bangkit Kembali, Turut Menjaga Ibu Pertiwi 281
pewujudan dari ikatan pemersatu di bawah naungan
Perhimpunan Santo Borromeus. Sementara itu, Dokter M.M.
Moeliono sebagai Direktur Utama RS Santo Borromeus
semakin memberi perhatian pada Koperasi Kredit
Borromeus.
Sejak tahun 1984 nama Koperasi Kredit Borromeus semakin
dikenal, baik di tingkat Kota Bandung, Propinsi Jawa Barat,
bahkan Pemerintah Pusat. Koperasi Kredit Borromeus
memeroleh kepercayaan untuk terlibat berperan dalam pilot
proyek pembangunan perumahan karyawan, yang didorong
oleh Pemerintah Republik Indonesia, melalui Menteri Negara
Perumahan Rakyat Bapak Drs. Cosmas Batubara. Pendanaan
pembangunan perumahan dilakukan dengan sistem subsidi
silang, didukung oleh Perhimpunan Santo Borromeus dan RS
Santo Borromeus, bekerja sama dengan pihak ketiga dan
Bank Tabungan Negara (BTN).
Dalam perjalanan waktu, Koperasi Kredit Borromeus
semakin bertumbuh, dana kelolaan semakin besar, dan
kehadirannya sangat bermanfaat bagi segenap karyawan
Perhimpunan Santo Borromeus. Pada tahun 1997
Perkumpulan Koperasi Kredit Borromeus melakukan
perubahan (amandemen) Anggaran Dasar, dan memeroleh
pengesahan Kepala Kanwil Departemen Koperasi dan PPK
Provinsi Jawa Barat pada tanggal 24 November 1997 dengan
nomor 6310/BH/DID/KK/K.10/XI/ 1997.
Beberapa penghargaan telah diterima oleh Koperasi Kredit
Borromeus, yang beberapa kali terpilih sebagai koperasi
terbaik se-Kota Bandung dan se-Provinsi Jawa Barat. Bahkan,
Kopdit Borromeus memeroleh penghargaan dari Pemerintah
282 The Eternal Light
Pusat pada tahun 1996, 1997, dan 1998 sebagai Koperasi
Teladan Tingkat Nasional.
Gambar. Biara/Rumah Suster-Suster CB Komunitas Santo Borromeus di
Jalan Imam Bonjol No. 3-5, dewasa ini (foto tahun 2021). Pada tahun
1978 Biara menempati satu kavling, kemudian diperluas pada tahun
1997
Melintasi Usia 60 Tahun
Di tengah pembaruan-pembaruan, Ketua Perhimpunan Santo
Borromeus, Ir. Harry Sosrohadisewojo, pada Perayaan Natal
1977 dan Tahun Baru 1978 menggarisbawahi bahwa ketiga
Bangkit Kembali, Turut Menjaga Ibu Pertiwi 283
hal berikut ini perlu menjadi fokus perhatian, yaitu: 1)
perlakuan terhadap pasien, 2) kebersihan, dan 3) ketenangan.
Ketiga hal itulah yang menjadi perhatian para pasien.
Pada 15 Agustus 1978 dilakukan pemberkatan gedung
Asrama Perawat Putra dan gedung Dinas Pemeliharaan di
Jalan Juanda No. 101. Biara Suster-Suster CB yang berada di
dalam kompleks rumah sakit, di samping Kapel, dipindahkan
ke bekas Asrama Putri di Jalan Imam Bonjol No. 5, pada tahun
1978 itu pula.
Pada tahun 1979 dilakukan peresmian gedung baru untuk
pendidikan (Sekolah Perawat Kesehatan, SPK). Pada tahun itu
pula Afdeling Theresia Pav dikosongkan; isi dan kegiatannya
dipindahkan ke Afdeling Yosef III Pav. Beberapa bulan
kemudian bekas Theresia Pav. dijadikan Apotek. Pada tahun
itu dilakukan pemugaran bangunan di Jalan Imam Bonjol No.
5.
Dalam Perayaan Natal, 30 Desember 1979, Ketua
Perhimpunan Santo Borromeus Ir. Harry Sosrohadisewojo
mengemukakan pentingnya The Loving Care.
Sesuatu yang sangat penting dicapai pada tahun 1980, yaitu
penyusunan buku Peraturan Kekaryawanan Rumah Sakit
Umum Santo Borromeus–Santo Yusup Bandung, yang
disahkan oleh Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal
Pembinaan Hubungan Perburuhan dan Perindungan Tenaga
Kerja Propinsi Jawa Barat. Ketua Perhimpunan Santo
Borromeus (Ir. Harry Sosrohadisewojo) dan Direktur Utama
RS St. Borromeus–RS St. Yusup (Drs. P.J. Pattiwael) dalam
sambutan buku menggarisbawahi pentingnya kerja sama,
yang berarti dapat menempatkan diri dalam pengabdian,
284 The Eternal Light
mengetahui peranan, dan mengetahui pula hak dan
kewajiban masing-masing.
Gambar. Buku Peraturan Umum Kekaryawanan
RS Santo Borromeus – Santo Yusup Tahun 1980
Buku Kekaryawanan tersebut disusun dengan Direktur
Utama sebagai Penasihat, dan dikoordinasikan/dibimbing/
didampingi oleh Suster Rosemary Huber, MM (Kongregasi
Maryknoll), serta melibatkan sebuah tim penyusun yang
Bangkit Kembali, Turut Menjaga Ibu Pertiwi 285
terdiri dari 19 (sembilan belas) orang, yaitu: Adi Ruvianto
S.M.Ph.; Drs. Frans Anjie; Frans Legimin; Sr. Hanita; Ny.
Hartuti Prihadi; Herman Kleden; Inge Irawati; Sr. Joanesa, CB;
dr. Koewardono; Sr. Melanie, CB; Irene Ratnaningsih, S.H.; dr.
Soedijono Brotoprawiro; L. Sugeng Sugiantoro; T. Sukarni
H.W.; Drs. Ny. Sumiarsih Waluyo; Ny. Sri Rahayu Sutrisno; dr.
W.E.M. Teguh Adiatmaka; Th. Woeryanto; dan Sr. Xaverie, CB.
Penyusunan buku Kekaryawanan itu merupakan sebuah
peristiwa penting dalam sejarah RS Santo Borromeus,
terutama dalam hal manajemen, khususnya manajemen
personalia. Di dalamnya diatur secara jelas beberapa hal
penting, antara lain: gaji dan tunjangan; jaminan kesehatan;
serta jaminan sosial.
Saat merayakan 60 tahun usia RS Santo Borromeus, tahun
1981, Ketua Perhimpunan Santo Borromeus Ir. Harry
Sosrohadisewojo mengemukakan “Program Sense of
Belonging” (rasa ikut memiliki). Program ini dilatarbelakangi
antara lain oleh kenyataan bahwa RS Santo Borromeus pada
hakikatnya harus berswasembada, atau dengan kata lain
dinamakan Balance Budget Operation, yaitu anggaran
pendapatan harus sama atau sesuai dengan anggaran
pengeluaran. Beliau menekankan bahwa pengeluaran-
pengeluaran dapat lebih dikendalikan melalui sense of
belonging (rasa ikut memiliki). Selain pengendalian terhadap
pengeluaran, sense of belonging juga mempunyai daya yang
cukup ampuh untuk menciptakan terwujudnya cita-cita RS
Santo Borromeus.
Tahun 1982, dalam acara pemberkatan gedung-gedung baru
di daerah “service” RS Santo Borromeus, Ketua Perhimpunan
Santo Borromeus Ir. Harry Sosrohadisewojo menekankan
286 The Eternal Light
bahwa sasaran pembangunan gedung-gedung baru adalah
menggabungkan dan memusatkan kegiatan-kegiatan
penunjang rumah sakit, sekaligus meningkatkan kemampuan
fisik bagian-bagian penunjang operasional. Ruang lingkup
pembangunan gedung-gedung waktu itu adalah pemugaran
dapur, pembangunan pusat uap, pusat listrik, ruang cuci,
ruang jahit, garasi, gudang-gudang, menara air, dan rumah
pompa. Beliau berkata, “Seperti kita ketahui bersama, pada
saat ini kegiatan-kegiatan penunjang operasional Rumah
Sakit tersebar di seluruh Rumah Sakit, hingga menyebabkan
turunnya efisiensi Rumah Sakit secara menyeluruh. Dengan
dipusatkannya kegiatan-kegiatan penunjang operasional,
diharapkan adanya peningkatan efisiensi Rumah Sakit.”
Beliau menggarisbawahi bahwa pembangunan gedung-
gedung baru bukan merupakan tujuan pokok. Tujuan
utamanya adalah “memberikan pelayanan kesehatan yang
sebaik-baiknya”.
Kepemimpinan Drs. P.J. Pattiwael selama delapan tahun
(1974–1982) sebagai Direktur Utama RS Santo Borromeus
dilanjutkan oleh Dokter M.M. Moeliono pada 8 Maret 1982;
kemudian dilanjutkan oleh sebuah Dewan Direksi Sementara
selama sekitar setengah tahun (1984), lalu Dokter Efram
Harsana Hadiwidjana (1984–1991), Dokter Albert I. Hendarta
(1992–1995), Dokter A. Kuswardono (1995–1996), dan
kembali Dokter Albert I. Hendarta (1996–2000).
Pembaruan-pembaruan terus berlanjut pada pertengahan
dasawarsa 1980-an, antara lain sebagai berikut. Dalam hal
keuangan dilakukan peningkatan administrasi persediaan
dan inventarisasi, dan kemudian komputerisasi administrasi
keuangan.
Bangkit Kembali, Turut Menjaga Ibu Pertiwi 287
Gambar. Dokter M.M. Moeliono
(Direktur Utama RS Santo Borromeus 1982–1984)
Dalam hal organisasi dan manajemen, dikembangkan sistem
referal yang lebih lancar sehingga pasien-pasien kurang
mampu dari RS Santo Yusup juga dapat menikmati pelayanan
kesehatan spesialistis di RS Santo Borromeus tanpa
dikenakan tarif yang terlalu tinggi. Hal itu dilakukan dengan
latar belakang pemikiran waktu itu bahwa RS Santo Yusup
menjadi Pusat Pelayanan Kesehatan dengan dokter umum,
sedangkan RS Santo Borromeus menjadi Pusat Pelayanan
Kesehatan dengan dokter-dokter spesialis.
Dalam manajemen personalia, dilakukan penyusunan job
descriptions atas semua pekerjaan. Dilakukan pula
288 The Eternal Light
penyusunan sistem penggajian yang lebih cocok dengan
keadaan waktu itu. Fasilitas untuk mendukung pengadaan
rumah karyawan pun disediakan.
Mengenai perumahan untuk karyawan, Ibu F. Bowo Rini
Sunarsasi mengisahkan bahwa sekitar tahun 1983 diajukan
permohonan kepada Kementerian Negara Perumahan
Rakyat (Bapak Cosmas Batubara sebagai Menteri waktu itu)
untuk melakukan uji coba rumah tumbuh konstruksi dua
lantai dengan tipe 27 dan 36 (di bawah standar BTN), dan
kemudian disetujui oleh Kementerian, yang tentu saja
memerlukan negosiasi dengan BTN. Akhirnya terlaksana
pembangunan rumah-rumah untuk karyawan tahap pertama
sebanyak 50 unit di Cimindi Raya. Bapak Prawoto sangat
terlibat dalam proyek ini. Perumahan diresmikan oleh
Menteri Negara Perumahan Rakyat Bapak Cosmas Batubara
(beliau sendiri yang menawarkan untuk meresmikannya).
Rumah tumbuh diserahkan kepada karyawan dalam keadaan
minimalis, belum diplester, batu bata tembok masih tampak.
Uang muka dicicil, setelah sebelumnya ditalangi terlebih
dahulu dan dikelola melalui dana bergulir Perhimpunan
Santo Borromeus. Pelunasan cicilan dana perumahan
dilakukan melalui Koperasi Kredit Borromeus, yang
berurusan dengan BTN.
Proyek perumahan Koperasi Kredit Borromeus sampai
dengan awal dasawarsa 2000-an berlokasi di Cimindi,
Cijawura, Parakan Panjang (I), Parakan Panjang (II), Parakan
Panjang (III), dan Parakan Panjang (IV).
Dalam hal medis, fungsi dokter umum diperjelas. Staf medis
difungsikan. Klinik Anak dibuka sejak tahun 1984. Intensive
Care Unit dibentuk. Pembangunan ruang Critical Care Unit
Bangkit Kembali, Turut Menjaga Ibu Pertiwi 289
(CCU) dimulai pada tahun 1984 dan mulai digunakan sejak
tahun 1985. Sementara itu, kamar jenazah direnovasi pada
tahun 1985 itu pula sehingga lebih representatif.
Dalam hal keperawatan, dilakukan peningkatan efisiensi
kerja melalui penggunaan ward clerk. Dilakukan konsolidasi
di bidang keperawatan dengan menganalisis kembali
perbandingan tempat tidur dengan jumlah perawat dan
sarana yang perlu disediakan seperti kantor perawatan,
sentralisasi pengawasan, sarana konsultasi dokter, pastor,
kamar mandi, toilet, dan sebagainya. Dibentuk sistem “tim
perawat”.
Dalam hal pendidikan, dilakukan perubahan sistem ikatan
dinas dan kebijakan asrama yang lebih sesuai dengan zaman.
Dalam hal prasarana dan alat-alat penunjang medis,
dilakukan perbaikan gedung laboratorium dan Röntgen.
Dilakukan penggantian sterilisator.
Itu merupakan sebagian gambaran tentang pembaruan pada
pertengahan dasawarsa 1980-an. Pembaruan-pembaruan
terus berlanjut pada waktu-waktu berikutnya seiring dengan
perkembangan zaman. Pembaruan yang dilakukan secara
sangat bersemangat pada kurun waktu pertengahan
dasawarsa 1970-an hingga pertengahan dasawarsa 1980-an,
sempat mengalami turbulensi pada sekitar tahun 1984
sehingga untuk menanganinya dibentuk Dewan Direksi
Sementara yang terdiri dari Dokter A. Kuswardono, Dokter
Soedijono Brotoprawiro, dan tiga dari Pemerintah (Dinas
Kesehatan). Hal itu kemudian dilanjutkan dengan “stabilisasi”
pengelolaan organisasi. Dilakukan perubahan susunan
anggota Perhimpunan Santo Borromeus pada tahun 1984.
290 The Eternal Light