Bagflan 1: IBADAH lsr.JA.M IrrID 1
t;'fi s1r++v ti; ,i a>; ,f iu U berwukuf, karena itulah waktu memohon dan
berdoa kepada Allah SWT. Imam al-lsnawi
.'n 6;itoj'' .y berkata, "Semua ini (adalah hukumnya sunnah
atau dianjurkan), berbeda jika ada orang yang
+, Yl sedang berwudhu dengan air yang najis, maka
"Barangsiapa tidur dan terlewat melaku- mengingatkannya hukumnya waj ib."
kan shalat atau terlupa melakukan shalat, 2. HILANG UDZUR DALAM WAKTU SHALAT
hendaklah ia melakukan shalat apabila ia ter- Apabila sebab-sebab yang menghalangi
kewajiban shalat sudah tidak ada-seperti
ingat. Tidak ada hukuman baginya, kecuali anak-anak sudah menjadi baligh, orang gila
menjadi waras, perempuan telah suci dari haid
m eng qa dh a' sh alat TsyssSqT'azse
dan nifas, atau orang kafir memeluk Islam-
Hadits ini adalah dalil wajibnya mengqa-
dha' shalat fardhu baik disengaja maupun ti- dan masih ada sisa waktu untuk shalat yang
dak, meskipun waktunya telah terlewat lama. hanya mencukupi untuk takbiratul ihram atau
lebih, maka menqadha' shalat waktu tersebut
Imam an-Nawawi mengatakan dalam adalah wajib. Hal ini adalah pendapat ulama
kitab al-Majmu', "Disunnahkan membangun- madzhab Hambali dan Syafi'i yang azhhar. Di
kan orang yang tidur supaya menunaikan samping itu, menurut pendapat jumhur selain
ulama madzhab Hanafi, shalat lain yang dapat
shalat, terutama jika waktu sudah hampir be- dijamak dengan shalat yang udzur seseorang
rakhir. Dalam Sunan Abu Dawud, disebutkan hilang dalam waktunya, juga wajib diqadha'.
bahwa, "Pada suatu hari, Nabi Muhammad
saw. keluar untuk menunaikan shalat. Setiap Menurut pendapat ulama madzhab Syafi'i
kali baginda menemui orang tidur; baginda dan Hambali, jika halangan tersebut hilang
membangunkannya." Begitu juga hukumnya
sunnah, membangunkan orang yang tidur di pada akhir waktu ashar sedangkan sisa waktu
hadapan orang yang shalat, tidur di barisan hanya tinggal sekadar cukup untuk takbiratul
(shatr) pertama, tidur di mihrab masjid, atau ihram, maka wajib juga mengqadha' shalat
tidur di atas atap yang tidak berdinding. Ka- Zhuhur. Begitu juga jika hilang halangan pada
akhir waktu isya, maka wajib juga mengqadha'
rena, terdapat larangan berkenaan dengan je- shalat Maghrib. Karena kalaulah dalam masa
nis tidur seperti tersebut, tidur dalam keadaan duzur (waqtul'udzur) waktu Zhuhur dianggap
sebagian badannya di bawah cahaya matahari sebagai satu waktu dengan ashar dan waktu
dan sebagian lagi terlindung bayang-bayang maghrib sebagai satu waktu dengan isya, maka
tidur setelah keluar fajar [masuk waktu shu- dalam masa darurat(waqtudh dharurah) lebih
buh) dan sebelum naik matahari, tidur sebe- wajar untuk dianggap sebagai satu waktu.
lum shalat Isya dan selepas ashar; tidur sen-
dirian (di tempat yang sepi), perempuan tidur Meskipun demikian, disyaratkan pula ma-
telentang dan mukanya menghadap ke langit,
atau lelaki yang tidur telungkup karena tidur sa hilangnya halangan itu cukup panjang,
seperti itu dibenci oleh Allah SWT.
yaitu sekurang-kurangnya mencukupi untuk
Disunnahkan juga membangunkan orang bersuci dan untuk melakukan kedua shalat
[Zhuhur dengan Ashar dan Maghrib dengan
yang tidur untuk menunaikan shalat malam Isya) dengan bilangan rakaat yang paling
dan untuk bersahur. Begitu juga membangun-
kan orang yang tidur di padang Arafah ketika
12se Hadits riwayat lmam Muslim, dari sahabat Abu Hgrairah r.a..
FIQIH ISLAM IILID 1 kan bagi waktu yang tertentu, maka apabila
pendek dan yang sah, seperti dua rakaat shalat waktunya telah terlewat-karena udzur-
qashar ketika musafirl sebelum halangan da-
maka tidak diwajibkan lagi shalat yang telah
tang lagi. lewat.
Menurut pendapat ulama madzhab Ma- Datang Udzur dalam Waktu Shalat Setelah
Lewat Masa yang Cukup untuk Melakukan
liki, jika udzur tersebut hilang sedangkan Shalat
waktu yang tersisa dari waktu shalat yang
Hal-hal yang dapat menyebabkan terjadi-
kedua (Ashar atau Isya) dapat digunakan un- nya kasus tersebut adalah tiba-tiba gila, ping-
tuk melakukan lima rakaat shalat di luar masa san, atau tiba-tiba datang haid dan nifas. Kasus
musafir [masa biasa) atau tiga rakaat dalam ini tidak terjadi dalam masalah menjadi kafir
masa musafir; maka diwajibkan juga shalat atau mencapai umur baligh.
yang pertama (Zhuhur atau Maghrib). Karena
dalam masa udzur; kadar waktu bagi rakaat )ika seorang dewasa (baligh) tiba-tiba gila
atau pingsan, ataupun perempuan datang haid
pertama dari lima rakaat itu adalah untuk atau nifas pada awal waktu shalat fardhu atau
shalat yang pertama fZhuhur atau Maghrib). di tengah-tengah waktu dan sebenarnya ada
Oleh sebab itu, shalat yang pertama juga di-
wajibkan karena waktunya mencukupi (un- waktu yang cukup untuk melakukan shalat (se-
tuk satu rakaat), sama seperti apabila dalam
keadaan biasa (alwoqt ol-mukhtaor). Sebalik- belum kejadian itu), maka-menurut jumhur
nya, jika sisa waktu yang ada itu kurang dari selain ulama madzhab Hanafi-orang tersebut
kadar lima rakaat shalat di luar masa musafir wajib mengqadha' shalat tersebut, sekiranya
atau kurang dari kadar tiga rakaat dalam masa telah berlalu masa yang mencukupi untuk
musafil maka tidak diwajibkan shalat yang
pertama (Zhuhur atau Maghrib). shalat fardhu dan bersuci.
Jika waktu yang tersisa hanya cukup un- Adapun shalat yang kedua [Ashar atau
tuk satu rakaat, maka yang wajib diqadha' ha- Isya)-yang dianggap satu waktu dengan sha-
nyalah shalat yang kedua (Ashar atau Magh- lat yang pertama (Zhuhur atau Maghrib)-ti-
dak wajib diqadha'. Hal ini disebabkan waktu
rib). Adapun shalat yang pertama fZhuhur shalat yang pertama tidak dapat digunakan
untuk shalat yang kedua. Kecuali, jika kedua-
atau Isya) tidak perlu diqadha'. Sebaliknya, jika duanya dilakukan secara jamak taqdim, teta-
pi tidak sebaliknya [yaitu waktu shalat yang
waktu yang tersisa tidak mencukupi untuk kedua dapat digunakan untuk shalat yang
pertama).
menyelesaikan satu rakaat, maka kedua shalat
tersebut gugur. Dalil pendapat jumhur yang mengatakan
wajib mengqadha' shalat waktu ketika terjadi
Menurut pendapat ulama madzhab Hanafi, udzur adalah karena awal waktu merupakan
shalat yang wajib dilaksanakan hanyalah shalat sebab bagi diwajibkannya shalat. Oleh sebab
yang berada dalam waktu ketika udzur terse- itu, apabila waktu shalat sudah masuk, maka
seorang mukallaf dituntut untuk melakukan
but hilang. Hal ini disebabkan waktu shalat shalat bagi waktu tersebut, dengan diberi pi-
lihan untuk melakukannya pada bagian mana
yang pertama (Zhuhur atau Maghrib) telah pun dari waktu tersebut. Dengan syarat, dia
berlalu. Karena orang tersebut dalam keadaan adalah orang,y€ng $udah terkena taklif pada
udzur, maka tidak diwajibkan lagi. Begitu juga
jika tidak ada waktu lagi untuk melakukan ,:i., ,,,r:,:fui;:,t , :i,tt;ir.,iiiii., . ,;i;rlili,,, il r:,i'.,] ,,tiii,+, ,
shalat yang kedua [Ashar atau Isya), maka ti-
dak wajib juga melaksanakannya.
Menurut pandangan penulis, pendapat
inilah yang lebih tepat. Karena shalat diwaiib-
iilt
f",*j.Y
.L tJ
Ist,A,M JILID 1
awal waktu tersebut. Hal ini berdasarkan fir- mumayyiz-yaitu dapat membedakan antara
sesuatu yang bersih dengan sesuatu yang
man Allah SWT kotor; antara perkara yang baik dengan per-
kara yang buruk, atau antara perkara yang
"Laksanakanlah shalat sejak matahari ter- menguntungkan dengan perkara yang me-
g elincir...." (al-Israa':78) rugikan-dan berakal. Hal-hal ini juga men-
jadi syarat wajib shalat. Oleh sebab itu, shalat
Tergelincirnya matahari dijadikan batas- yang dilakukan oleh anak-anak yang mu-
an sebagai tanda perintah syara'kepada orang mayyiz adalah sah, tetapi shalat tersebut tidak
mukallaf. Pendapat ini juga didasarkan ke- diwajibkan kepadanya.
pada penjelasan hadits tentang awal waktu Di samping tiga hal tersebut itu, terdapat
dan akhir waktu bagi setiap shalat. Rasulullah pula sebelas syarat Iain yang disepakati semua
saw. bersabda, "Waktu shalat odaloh antara fuqaha. Yaitu masuknya waktu, suci dari ha-
due ini," sebagaimana yang telah dijelaskan dats kecil dan besan suci dari najis, menutup
sebelum pembahasan ini. Semua dalil tersebut aurat, menghadap ke arah kiblat, niat, tertib
menunjukkan bahwa waktu shalat itu luas sewaktu menunaikan shalat, muwaalaat (ti-
(dari awal hingga akhir waktu). Oleh sebab itu, dak terputus-putus dalam melaksanakan se-
apabila ada sesuatu perkara yang diwajibkan, tiap bagian shalat), tidak berucap kecuali yang
maka ia akan terus diwajibkan dan tidak akan berkaitan dengan bacaan-bacaan dalam shalat,
gugur. Menurut penulis, inilah pendapat yang tidak melakukan banyak gerakan yang tidak
paling shahih. ada kaitan dengan pelaksanaan shalat, serta
meninggalkan makan dan minum.1261
Menurut pendapat ulama madzhab Ha-
nafi,1260 orang yang mengalami udzur tidak a. Syarat Peftama: Mengetahul Masuknya
diwajibkan melakukan shalat yang seharus-
nya dilakukan pada waktu terjadi udzur terse- Waktu shalat
Tidak sah shalat yang dilakukan tanpa
but. Karena, yang menyebabkan wajibnya mengetahui waktunya secara yakin atau se-
cara zhann (dugaan) yang didasarkan atas
shalat adalah bagian waktu ketika seseorang ijtihad. Oleh sebab itu, siapa saja yang melaku-
melakukan shalat. Apabila seseorang belum kan shalat sedangkan dia tidak mengetahui
melakukan shalat, maka ia wajib melakukan- waktunya, maka shalatnya tidak sah meskipun
nya dalam bagian waktu yang tersisa dari dilakukan dalam waktunya. Karena, ibadah
waktu shalat itu. Oleh karena itu, jika waktu shalat harus dilakukan dengan keyakinan dan
terlewat karena terjadi udzur dalam waktu kepastian. Oleh sebab itu, apabila masuknya
tersebut, maka tidak diwajibkan shalat pada waktu shalat diragukan, maka shalat yang
waktu itu.
dilakukan pada waktu itu tidak sah. Karena,
3. SYARATSAHSHALAT
Syarat sah shalat adalah beragama Islam,
1260 Iri rn".rprkan khilaf di antara dua pendapat. Perkara-perkara usul seperti ini hendaknya dirujuk kepada kitab-kitab utama, karena
pembahasan mengenai masalah waiib ini sangatlah luas.
1267 Muraaqi al-Falah, hlm. 33, 39 dan 53; Fathut Qadia Jilid I, hlm. 179-191; at-Bada'i',Jilid I, hlm. 114-146; Tabyiinut Haqao'iq,lilid l,
hlm.95-103; ad-Durrul Mukhtanlilidl,hlm.3T2-4L0; al-Lubab, Jilid 1, hlm. 64-68 dan lilid I, hlm. 86; al-Qawaaniin al-Fiqhiyyah,
hlm. 50-57; Bidayatul Mujtahtd, Iilid l, hlm. 105-114; asy-Syarhush Shaghir,Jilid I, hlm. 265-302; Mughnil Muhtaj, filid 1, hlm. 142-
150 dan Jilid I, hlm.lB4-I99;al-Muhadzdzab,lilid I, hlm.59-69; al-Hadhramiyyai, hlm.49-55; al-Mughni,lilid.1. hlm.431- 453, Jilid
1, hlm. 577-580 dan Jilid 2, hlm. 6; Kasysyaaful Qina', Jilid I, hlm.287 -37 4; al-Muharrar fi Fiqhil Hambali, f ilid 1, hlm. 29; Hasyiyah
al-Bajuri,lllid 1, hlm. 141-149
FIQIH ISI,AM JILID 1
keraguan berbeda dengan keyakinan yang 'Allah tidak menerima shalat yang dilaku-
pasti. Dalilnya adalah firman Allah SWT,
kan oleh salah seorang kalian jika berada da-
5\U6t<."'$5\'& A(, ;t3\ . . .
&, ,B4:F2.:." lam keadaan hadats hingga iq berwudhu.'426{
QsS Bersuci dari hadats adalah syarat yang
"... Sungguh, shalat itu adalah kewajiban harus dipenuhi setiap melakukan shalat, baik
shalat tersebut shalat fardhu ataupun sunnah,
yang ditentukan waktunya atas orang-orong baik shalat yang lengkap ataupun tidak leng-
kap seperti sujud tilawah [sujud pada tempat-
yang beriman. (an-Nisaa':103) tempat tertentu dalam bacaan AI-Qur'an) dan
sujud syukur. Oleh sebab itu, jika ada orang
Maksudnya, shalat adalah suatu kewajib- shalat tanpa bersuci, maka shalatnya tidak
an yang waktunya telah ditentukan. Kita telah
sah.
membincangkan masalah waktu shalat dan
ijtihad untuk menentukan waktu shalat pada Menurut pendapat yang disepakati oleh
para ulama (ijma'), apabila ada orang yang
pembahasan sebelum ini. sengaja berhadats sewaktu shalat, maka sha-
latnya batal. Tetapi menurut pendapat ulama
b. Syarat Kedua: Suci dari Hadats Kecil madzhab Hanafi, kejadian tersebut tidak
membatalkan shalat apabila terjadinya pada
dan Besar 1262 akhir shalat.
Bersuci dari hadats kecil dan besar (junub,
haid, dan nifas) adalah dengan cara berwudhu, Adapun pendapat ulama madzhab Syafi'i
dan Hambali, jika berlaku hadats, maka shalat
mandi, atau tayammum. Hal ini berdasarkan seseorang menjadi batal dengan seketika. Hal
ini berdasarkan sabda Rasulullah saw.,
firman Allah SWT,
"Jika seseorang dari kalian kentut ketika
"Wohai orong-orqng yang beriman! Apa- shalat, hendaklah ia berpaling (berhenti dari
bila kamu hendak melaksanakan shalat, maka shalat) dan mengambil air wudhu dan hen-
basuhlah wajohmu dan tanganmu sampai ke
daknya mengulangi shalatnyo lagi."rzss
siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kedua
kakimu sampai ke kedua mata kaki. Jika kamu Tetapi menurut pendapat ulama madzhab
junub maka mandilah...." (al-Maa'idah: 6) Hanafi, shalat tersebut tidak batal dengan se-
ketika, kecuali jika orang tersebut berdiam diri
Rasulullah saw. juga bersabda, selama sekadar satu rukun setelah terjadinya
"Allah tidak menerima shalqt tanpa ber- hadats tersebut, dan ini dilakukannya dalam
keadaan sadan tanpa udzur apa pun, maka
suci.,4263
Dalam riwayat lain disebutkan,
1262 Al-Hodrtt arti bahasa adalah sesuatu yang teriadi . Al-Hadats menurut istilah syara' adalah: Hal yang menurut syara' dapat
menyebab^kaennumruent ghalangi seseorang melakukan beberapa ienis ibadah, apabila hal tersebut berada dalam anggota tubuh hingga
hadats tersebut hilang.
1263 Hrditr riwayat al-Jama'ah kecuali Imam al-Bukhari dari Ibnu Umar r.a..
1264 Hrditt riwayat al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, dan at-Tirmidzi, dari Abu Hurairah r.a.. Hadits ini statusnya adalah shahih.
1265 H"dit. riwayat lima orang imam hadits dan dishahihkan oleh lbnu Hibban, dari Ali bin Talaq. Lihat Subulus Salam, filid I, hlm.
131.
Ba€llan 1: IBADAH FrQlH ISLAM frLrD I
shalatnya batal. Jika ada udzurl seperti keluar termasuk tempat berpijaknya kedua telapak
darah melalui hidung, ia boleh menyambung kaki, tangan dan lutut juga dahi. Ini menurut
lagi shalatnya selepas bersuci, dan boleh juga pendapat yang ashah di kalangan ulama ma-
memulai shalat dari awal jika dia memang dzhab Hanafi. Pendapat ini berdasarkan
menghendakinya. Dalam keadaan hidung ber- firman Allah SWT,
darah ini, hendaklah dia keluar dari shalat "Dan bersihkanlah pakaianmu. " (al-Mud-
dengan cara menutupi hidungnya dengan datstsir:4)
tangan. Ibnu Sirin menafsirkan ayat, "Yaitu basuh
Pendapat ulama madzhab Maliki sama dengan air." Pendapat ini juga berdasarkan
seperti pendapat ulama madzhab Hanafi, yaitu kepada dua hadits shahih yang sebelum ini
dalam keadaan darah keluar melalui hidung, telah disebutkan,
shalat itu boleh disambung, tetapi dengan "Apabila perempuan datang haid, maka
enam syarat. Dan juga, hendaknya dia keluar hendaknya ia meninggalkon shalat. Apabila
dari shalat dengan memegang hidungnya dari
sebelah atas ujung hidungnya, bukan dari se- haidnya habis, hendaklah ia mandi dan shalat."
belah bawah pada bagian tulang hidung yang
lembut supaya darah tidak mengendap pada Dan juga, hadits tentang seorang Arab
kedua-dua lubang hidungnya. Enam syarat yang kencing di dalam masjid, "Siramkan se-
tersebut adalah: timba air di atas air kencingnya itu."
[a) Tidak berlumuran darah lebih dari ukur- Ayat Al-Qur'an di atas menunjukkan
an uang satu dirham. f ika lebih, hendaklah bahwa pakaian haruslah bersih. Hadits yang
memutuskan shalatnya. pertama menunjukkan badan juga harus ber-
sih, dan hadits yang kedua menunjukkan tem-
(b) Tidak melewati tempat yang paling dekat pat shalat harus bersih.
untuk menyucikan darah. fika melebihi
Menurut pendapat yang masyhur di ka-
tempat tersebut, maka batallah shalatnya. langan ulama madzhab Maliki, suci dari najis
[c) f arak tempat untuk bersuci tersebut dekat. adalah sunnah muakkad. Adapun ulama yang
fika tempatnya terlalu jauh, maka batal menganggap suci itu sebagai syarat, seperti
shalatnya. asy-Syaikh Khalil dan para ulama yang men-
syarahi kitabnya, mereka mengatakan bahwa
(d) Tidak membelakangi kiblat tanpa udzur. suci dari najis adalah wajib, apabila memang
|ika membelakangi kiblat tanpa sebab, orang tersebut ingat dan mampu menyucikan
diri dari najis.
maka shalatnya batal.
Kasu*Kasus yang Berkaitan dengan
[e) Tidak memijak benda najis semasa ber- Kebersihan Pakalan, Badan, dan Tempat
gerak untuk bersuci. fika terpijak, maka
l. Kesucian Pakaian dan Badan
batallah shalatnya.
(a) Pakaianyang Terkena Najis
(fJ Tidak bercakap ketika bergerak untuk
bersuci. fika bercakap sekalipun terlupa, fika baju orang yang shalat-umpamanya
iba'ah (baju yang mengurai panjang)-terke-
maka shalatnya batal. na najis yang berada di tempat shalat, ketika
c. Syarat Ketig6: Suci dari Berbagai Najis
Syarat sah shalat adalah suci dari berbagai
najis yang tidak dimaafkan oleh syara', baik
najis tersebut terletak pada pakaian, badan,
ifr
Isr-AM IrUD 1 Baglan 1: IBADAH
orang tersebut sedang bersujud, maka menu- sebab itu, siapa yang shalat dengan pakaian
yang terkena najis dan dia mengetahui najis
rut pendapat ulama madzhab Hanafi shalat
tersebut serta mampu menghilangkannya, ma-
orang tersebut masih sah, Karena-menurut ka hendaklah ia mengulangi shalatnya. Namun
mereka-yang membatalkan shalat adalah
najis yang berada pada tempat berdiri atau jika seseorang tidak sanggup menghilangkan
pada tempat dahi ketika sujud, pada tempat najis atau lupa, maka hukum wajib menghi-
tangan, atau pada tempat lutut ketika sujud. langkan najis tersebut gugur. Oleh karena
itu, seseorang tidak dituntut mengulangi lagi
Namun menurut pendapat ulama madz- shalatnya, apabila dia lupa melakukan pem-
hab Syafi'i dan Hambali, shalat tersebut batal. bersihan dari najis atau tidak mampu mem-
Oleh karena itu, jika sebagian dari pakaian
atau tubuh seorang yang melakukan shalat bersihkannya.L26T
terkena najis, maka shalatnya tidak sah. Kare-
na, pakaian dianggap sebagai bagian dari tu- (c) Pakaian atau Tempatyang Terkena
buh orang yang shalat dan pakaiannya juga
Najis
disamakan dengan anggota sujudnya.1266 fika seseorang tidak mempunyai pakaian
selain pakaian yang terkena najis yang tidak
(b) TidakMengetahui Kalau Terkena Najis
termasuk dimaafkan oleh syara' (al-mofu
fika ada orang yang melakukan shalat
dalam keadaan terkena najis yang tidak di- 'anha), serta ia tidak mampu menyucikan
maafkan dan orang tersebut tidak mengetahui najis tersebut; ataupun ada air; tetapi tidak
kalau terkena najis, maka menurut ulama dari ada orang yang membantu menyucikannya
ketiga madzhab selain madzhab Maliki, shalat sedangkan dia sendiri tidak mampu melaku-
orang tersebut batal dan wajib diqadha. Ka- kannya; ataupun ada orang yang dapat me-
rena, suci dari berbagai najis adalah tuntutan nyucikannya tetapi menuntut upah yang dia
syara' meskipun orang yang melakukan shalat
tidak mengetahui terkena najis, atau ia tidak tidak mampu membayarnya, ataupun dia
tahu kalau najis tersebut membatalkan shalat.
Hal ini berdasarkan firman Allah SWT, mampu membayar upah, namun orang lain
itu menuntut bayaran yang sangat tinggi dari
ffi#J;rc; kebiasaan; ataupun dia ditahan di tempat yang
najis dan dia memerlukan benda yang meng-
"Dan bersihkanlah pakaianmu. " (al-Mud-
datstsir:4) hampar untuk memisahkannya dari tempat
Menurut pendapat yang masyhur di ka- najis tersebut, maka menurut pendapat ulama
langan ulama madzhab Maliki, suci dari ben- madzhab Syafi'i, orang tersebut tidak boleh
menggunakan pakaian yang terkena najis
da najis dan menghilangkannya adalah wajib
apabila memang diketahui dan orang tersebut tersebut untuk shalat. Karena, pakaiannya
mampu menghilangkan najis tersebut. Oleh
tersebut termasuk pakaian yang terkena najis.
Adapun menurut pendapat ulama madzhab
Hanafi, Maliki, dan Hambali, orang tersebut di-
bolehkan memakai pakaian yang terkena na-
jis tersebut dan shalat dengan menggunakan
pakaian itu.
1266 R ddul Mukhtar,lilid 1. hlm. 374 dan 585; Mughnil Muhtaj, Jilid 1, hlm. 190; asy-Syarhul Kabir ti lbni Qudamah,Jilid 1, hlm. 475.
1267 Fathul Qadiir,lilid.l.. hlm. 179; ad-Durrul Mukhtar,Jilid I, hlm. 373; Mughnit Muhtaj,Jilid I, hlm 188; asy-syarhush Shaghiir,lilidl,
hlm.64, 293; Kasysyaful Qina', Jilid I, hlm.22; al-Mughni,filid I, hlm. 109; al-Muhadzdzab, filid 1, hlm.59 dan setelahnya; al-Majmu',
lilid 111, hlm 163.
BaElan 1: lBADAll FIqLH ISLAM IILID 1
Sedangkan menurut ulama madzhab Dia juga tidak boleh shalat secara telanjang,
karena tuntutan supaya menutup aurat ada-
Maliki, hendaknya orang tersebut shalat dalam lah lebih kuat dari menyucikan najis. Maka,
keadaan berdiri dan bertelanjang jika me- shalat dengan penutup yang najis adalah lebih
mang ia tidak mendapatkan pakaian lain un- diutamakan karena Nabi Muhammad saw.
tuk menutup auratnya, karena menutup aurat
dituntut ketika seseorang memang mampu bersabda, "Tutuplah pahemu." Perintah Rasul
melakukannya. ini bersifat umum, dan tuntutan supaya me-
Namun menurut pendapat yang dapat nutup aurat adalah syaratyang disepakati oleh
diikuti (mu'tamad), jika shalat dilakukan de- semua ulama. Adapun tuntutan supaya ber-
ngan menggunakan pakaian yang terkena suci dari najis, terdapat perselisihan pendapat
najis, atau dengan pakaian yang terbuat dari
sutra, emas sekalipun berbentuk cincin, atau- di kalangan ulama. Maka, perkara yang dise-
pun shalat dalam keadaan telanjang, maka
hendaknya shalat tersebut diulangi lagi ke- pakati ulama mestinya lebih diutamakan.
tika sudah ada pakaian yang suci (memenuhi
Menurut pendapat ulama madzhab Syafi'i,
syarat).
shalat dalam keadaan telanjang-karena
Menurut ulama madzhab Hambali dan udzur-hendaklah dilakukan dengan berdiri
Hanafi, jika seseorang tidak mempunyai pa- supaya rukun-rukunnya sempurna. Shalat
kaian sama sekali, maka hendaklah ia shalat
dengan cara duduk dan dengan cara isyarat. tersebut tidak harus diulangi lagi, karena me-
lakukan shalat secara telanjang sudah meng-
Pendapat ini berdasarkan perbuatan Ibnu gugurkan kewajiban shalat. Tetapi jika pada
tubuh orang yang melakukan shalat ada benda
Umar. Al-Khalal meriwayatkan dengan sanad- najis yang tidak dimaafkan oleh syara', dan ia
nya dari Ibnu Umar mengenai satu kaum yang
tidak mempunyai air untuk menyucikannya,
kendaraannya rusak [karena kecelakaan), maka hendaknya ia shalat dengan keadaan
sehingga mereka keluar dalam keadaan ber- apa adanya. Kemudian di lain waktu ia
telanjang. Ibnu Umar berkata, "Mereka mela-
mengulanginya lagi apabila sudah bisa bersuci.
kukan shalat sambil duduk dan membuat Hukum shalat orang tersebut seperti hukum
isyarat dengan kepala mereka." shalatnya orang yang tidak menemukan air
dan debu untuk menghilangkan hadats. OIeh
Abdurrazzaq meriwayatkan dari Ibnu sebab itu, shalat dengan benda najis tidak
Abbas, dapat menggugurkan kewajiban.
"Orang yang melakukan shalat di dalam Ulama madzhab Hanafi1268 telah men-
kapal, dan orang yang melakukan shalat dalam jelaskan masalah ini secara terperinci. Se-
keadaan telanjang hendaklah melakukannya
dengan duduk." kiranya seperempat bagian atau lebih pakaian
Adapun jika seseorang mempunyai (kain) yang digunakan untuk shalat itu suci, hen-
penutup, namun terkena najis, maka ia hen-
daklah shalat dengan menggunakan penutup daknya orang tersebui shalat dengan meng-
gunakan pakaian itu. Ia tidak boleh shalat se-
tersebut, dan tidak perlu mengulangi lagi. cara telanjang karena seperempat seumpama
dengan semua bagian. Seperempat bagian
tersebut dapat menggantikan bagian lain un-
1268 Tabyiinul Haqaa"iq,lilid 1, hlm.98.
FIQIH ISIAM JILID 1 Bagan 1: IBADAH
tuk menutup aurat.126e Di samping itu, orang ya aurat tertutup, dan shalatnya dilakukan
tersebut juga dituntut untuk meminimalisasi dengan memberikan isyarat ketika ruku' dan
najis dari pakaiannya tersebut, sesuai dengan sujud. Cara seperti ini lebih diutamakan dari-
kadar kemampuan yang dapat ia lakukan. Ia pada shalat secara berdiri. Karena, shalat se-
juga harus berusaha mengenakan pakaian cara duduk tadi lebih menjamin tertutupnya
yang najisnya paling sedikit. aurat.
|ika bagian yang suci pada pakaian ter- (d) Tidak Mengetahui Tempat yang
sebut kurang dari seperempat, maka orang
tersebut disunnahkan melakukan shalat de- Terkena Naiis pada Pakaian
ngan menggunakan pakaian tersebut secara
berdiri, ruku', dan sujudnya juga sempurna. fika ada pakaian yang terkena najis, tetapi
Namun, ia juga dibolehkan melakukan shalat
dan bertelanjang dengan cara memberikan tidak diketahui bagian mana yang terkena
isyarat. Menurut pendapat Abu Hanifah dan najis, maka-menurut pendapat ulama madz-
hab Hanafi-untuk menghilangkannya cukup
Abu Yusuf, shalat dengan pakaian yang semua dengan membasuh bagian-bagian pakaian
bagiannya terkena najis lebih baik daripada tersebut tanpa harus meneliti dengan cermat
bagian yang terkena najis.
shalat dengan bertelanjang.l2To
Menurut pendapat ulama madzhab Syafi'i,
fika seseorang musafir tidak mampu untuk menghilangkan najis tersebut, hendak-
lah dibasuh seluruh pakaian atau seluruh tu-
mendapatkan sesuatu untuk menghilangkan buh jika memang tidak diketahui tempat yang
atau mengurangkan najis pada pakaiannya, terkena najis secara pasti. Menurut pendapat
hendaklah dia melakukan shalat dengan pa- yang shahih, hendaklah dibasuh seluruh pa-
kaian yang terkena najis itu, atau melakukan
shalat dengan telanjang. Setelah itu, dia tidak kaian jika diragui terkena najis pada satu
dituntut supaya mengulangi shalatnya Iagi.
bagian saja, karena pakaian dan badan adalah
Menurut ketetapan di kalangan ulama
satu kesatuan. fika timbul keraguan antara
madzhab Hanafi, orang yang tidak mempunyai
sesuatu untuk menghilangkan najis hendak- dua helai pakaian yang manakah yang terkena
lah melakukan shalat dengan pakaian yang najis dan yang manakah yang suci, maka hen-
daklah orang tersebut berijtihad terlebih da-
najis itu. Setelah itu, dia tidak dituntut su- hulu sebelum melakukan shalat.1271
paya mengulangi shalatnya lagi. Begitu juga (e) Ujung Pakaianyang Terkena Najis
orang yang tidak mempunyai sesuatu untuk
menutup auratnya, shalat secara telanjang ]ika seseorang yang sedang shalat mema-
yang dilakukannya tidak dituntut lagi supaya kai pakaian atau suatu benda lain dan ujung-
nya terkena najis, umpamanya ujung serban
diulangi. atau ujung lengan baju yang panjang terkena
najis, maka menurut pendapat ulama madzhab
Shalat dengan telanjang adalah dengan Syafi'i, shalatnya dianggap tidak sah-kasus
cara memanjangkan kaki ke arah kiblat supa-
ini disamakan dengan kasus pakaian yang
1269 Syara' telah menetapkan dalam banyak kasus bahwa seperempat bagian dianggap serupa kedudukannya dengan keseluruhan
bagian. Di antara contohnya adalah bercukur bagi orang yang berihram cukup seperempat rambut kepalanya saja, menyapu seper-
empat bagian kepala ketika berwudhu, dan juga terbukanya aurat. Karena, permasalah ini termasuk dalam permasalahan kehati-
hatian ihtiyaath.
r270 Ad-Durrul Mukhtar,Jilid.l, hlm.283 dan seterusnya; al-Bada'i', Jilid l, hlm .111-7', asy-Syarhushshaghir,lilidl, hlm.283 dan setelahnya;
Mughnil Muhtaj, filid I, hlm. 186; Hashiyah al-Bajuri,lllidl,hlm. 144; al-Muhadzdzab,lilid I, hlm. 60-61; al-Mughnl, filid 1, hlm. 587,
592,594; Fathul Qadir, f ilid I, hlm L84; al-Lubab, f ilid 1, hlm. 66; Muraqi al-Falah, hlm. 38.
1277 Al-Muhodzdzab,lilid 1, hlm.61; Muqhnil Muhtaj,Jilid I, hlm. 189.
Badan 1: IBADAH ISLAM )rLrD 1
terkena najis-meskipun ujung serban atau Sebaliknya, jika sesuatu itu tidak bersambung
ujung lengan baju yang terkena najis itu dengan orang yang shalat seperti hamparan
tidak bergerak mengikuti gerakan orang yang yang ujungnya terkena najis, sedangkan tem-
shalat ketika berdiri, duduh ruku', dan su- pat berdiri dan tempat dahi ketika sujud da-
jud. Ketidaksahan shalat tersebut disebabkan lam keadaan suci, maka dia tidak menghalangi
terkena najis adalah menafikan penghormatan sahnya shalat.1272
terhadap shalat. Padahal, menghindar dari
najis ketika shalat adalah untuk menghormati (f) Memegang Taliyang Terikatpada
shalat. Sesuatu Najis
Apabila seseorang yang sedang shalat
Keadaan di atas berbeda dengan kasus memegang tali yang terikat pada benda najis,
apabila ada seseorang sujud di atas sesuatu
(seperti kain hamparan) yang bersambung seperti tali pengikat anjing, tali pengikat bi-
dengan benda najis, maka shalat itu dianggap natang, atau perahu kecil yang terkena najis,
sah jika memang tempat sujud itu [yaitu kain
hamparan) tidak bergerak dengan sebab per- maka menurut pendapat yang ashah di ka-
gerakannya dalam shalat. Karena, yang sesuai
tuntutan syara'adalah sujud di atas sesuatu langan ulama Syafi'i, shalat orang tersebut di-
yang tetap [tidak bergerak). Ini berdasarkan anggap tidak sah. Menurut pendapat mereka
hadits tetapkan dahimu. juga, anjing baik yang kecil atau yang besar
adalah najis zatnya ('ain). Orang yang mela-
Oleh sebab itu, jika dia sujud di atas sesua- kukan shalat dalam keadaan demikian, di-
anggap membawa benda najis yang apabila
tu fseperti kain hamparan) yang bersambung
dengan benda najis, yang tidak bergerak de- dia bergerak, najis-najis tersebut juga akan
ngan sebab pergerakannya dalam shalat,
maka shalatnya sah. Berdasarkan kaidah ini bergerak bersamanya. Berbeda dengan kapal
juga, apabila ada najis yang searah dengan
besar yang tidak bergerak jika ditarik atau-
dada ketika ruku' atau sujud, hal ini tidak
pun rumah, jika tali penambatnya bersam-
menyebabkan batalnya shalat karena dada
bung dengan orang yang sedang shalat, maka
tersebut tidak menyentuh najis. Ini adalah
shalatnya sah. Begitu juga apabila tali peng-
pendapat yang shahih. ikat (anjing, binatang, atau perahu kecil yang
terkena najis) tersebut diletakkan di bawah
Adapun menurut pendapat ulama madz-
hab Hanafi, shalat itu dihukumi sah jika ujung telapak kakinya, maka shalatnya dianggap sah.
pakaian yang terkena najis tersebut tidak Ini adalah pendapat ulama madzhab Syafi'i.
bergerak mengikuti pergerakan orang yang
Menurut pendapat ulama madzhab Ha-
shalat. Sebaliknya, jika ujung pakaian itu nafi, shalat dalam keadaan memegang tali
bergerak, maka shalat itu tidak sah karena
pengikat anjing dianggap sah. Hal ini ber-
syarat sah shalat menurut pendapat mereka dasarkan pendapat yang rajih di kalangan
adalah sucinya pakaian dan apa yang bergerak
mengikuti gerakannya, dan juga apa saja yang mereka yang mengatakan bahwa anjing bu-
dibawanya, seperti yang akan dibahas nanti. kan najis 'ain, tetapi termasuk binatang yang
lahiriahnya suci seperti binatang-binatang
lain-kecuali babi-yang dihukumi najis ha-
nya apabila mati. Shalat orang tersebut sah
selama anjing tersebut tidak mengeluarkan
7272 Ad-DurrulMukhtardanar-RaddulMukhtarfilidl,hlm.3T3;MughnitMuhtaTfilidl,hlm.lg0;at-Muhadzdzab,iilidl,hlm.3SiMuraqi
al-Folah,hlm.38.
r ,':#,,,,:
l'1iil,, r
FIQLH ISI"A.M JILID 1
cairan atau benda yang menghalangi sahnya shalat, maka shalat orang tersebut dianggap
sah. Karena, dalam keadaan seperti ini orang
shalat [seperti air IiuC air kencing, atau ko-
yang shalat itu tidak dianggap membawa
toran).1273
benda najis.
(g) Membawa Telur yang Sudah Berubah
Menjadi Darah Ulama madzhab Syafi'i sependapat de-
Menurut pendapat ulama madzhab Ha- ngan pendapat ulama madzhab Hanafi dan
para ulama lain, yaitu dalam hal tidak batal
nafi, boleh melakukan shalat dengan mem- shalat seseorang jika dia menggendong anak-
bawa telur yang sudah rusak, yaitu telur yang anak yang tidak terdapat najis padanya. Oleh
sebab itu, jika seseorang menggendong bina-
isi kuningnya telah berubah menjadi darah tang yang suci ketika shalat. Maka shalatnya
sebagaimana dalam kasus anjing. Mereka juga dianggap sah, karena Nabi Muhammad
saw. pernah menggendong Amamah binti Abil
berpendapat bahwa darah tersebut berada Ash ketika baginda sedang shalat,127s dan juga
di tempat asalnya, yaitu di dalam telur; dan karena najis yang berada dalam tubuh bina-
sesuatu yang berada di tempat asalnya tidak tang sama seperti najis manusia yang masih
dihukum sebagai najis. Sebaliknya jika mem-
bawa botol yang berisi air kencing, maka tidak berada dalam perut.1276
sah shalat karena air kencing itu tidak berada
di tempat asalnya. (i) Menyambung Tulang yang Patah
Menurut pendapat yang ashah di kalang- dengan Benda Najis
an ulama madzhab Syafi'i, tidak sah shalat
dalam kasus telur tersebut. Begitu juga me- Ulama madzhab Syafi'i berpendapat bah-
nurut pendapat yang shahih di kalangan wa jika tulang seseorang yang patah disam-
bung dengan sesuatu yang najis [karena me-
mereka, tidak sah shalat dalam kasus botol mang tidak ada benda lain yang suci), maka ia
yang berisi air kencing, karena ia membawa
dimaafkan dan shalatnya dianggap sah karena
benda yang najis.127a
darurat.1277
(h) Iulenggendong Anak-anak yang Terkena
2. Kesucian Tempat shalat
Najis Ketika Shalat
Tempat shalat disyaratkan harus suci.
Menurut pendapat ulama madzhab Hanafi, Apabila tempat shalat tersebut tidak terkena
jika anak-anak tersebut naik ke tubuh orang
yang shalat karena sengaja digendong orang najis, maka shalatnya sah.
tersebut, bukan karena inisiatif anak-anak itu
sendiri, maka orang tersebut dianggap mem- (a) Shalat di Atas Hamparan yang Ada
bawa benda najis, karenanya shalatnya batal. Najis di Atasnya
Mereka mensyaratkan sesuatu yang dibawa fika shalat dilakukan di tempat yang ada
itu haruslah suci, kecuali jika benda najis itu najisnya, maka ulama sepakat bahwa shalat
berada di tempat asalnya seperti dalam kasus tersebut tidak sah. Karena, tempat tersebut
telur dan anjing. Sebaliknya, jika anak-anak itu terkena najis, dan meletakkan anggota tubuh
sendiri yang menggelantung pada orang yang pada benda yang terkena najis sama seperti
1273 Ad-Durrul Mukhtar dan ar-Raddul Mukhtar Jilid L, hlm. 37 4; Mughnil Muhtaj lilid I, hlm. 1.90; al-Muhadzdzab, jilid 1, hlm. 38; al-
Majmu',iilid 3, hlm. 155 dan setelahnya.
727a Ar-Roddul Mukhtarlilid.1, hlm. 374; al-Muhadzdzab, iilid 1, hlm. 38; at-Majmu',jilid 3, hlm. 157.
127s H"ditr ini diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Muslim.
7276 Roddrl Mukhtar, op.cit.; Mughnit Muhtaaj,iitid.l,hlm. 190; al-Muhadzdzab,iilid 1, hlm. 62', Muraqi al-Falah, hlm. 38.
7277 Mughnil Muhtaj, jllid 1, hlm. 190.
Isr^A.M JrrrD I
membawa benda yang bernajis. Tetapi jika pat yang suci dan shalat di atas tempat yang
shalat dilakukan di tempat yang suci, maka
ulama sepakat mengatakan sah, meskipun suci tersebut. Ini adalah pendapat ulama
hamparan tempat shalat tersebut sempit.
Ini adalah pendapat yang ashah di kalangan madzhab Hanafi.
ulama madzhab Hanafi. Sahnya shalat di ham-
paran yang sempit tersebut dikarenakan tem- Adapun menurut pendapat ulama madz-
pat tersebut tidak terkena najis dan maknanya
orang yang shalat tidak membawa benda yang hab Syafi'i,t"o lika kawasan itu luas seperti
terkena najis.1278
padang pasir, maka seseorang boleh melaku-
(b) Shalat di Tempat Bernajis Tapi Ada
kan shalat di tempat mana pun di kawasan
Penghalang tersebut. Karena, tempat yang najis itu tidak
diketahui secara pasti dan karena memang
fika di atas tanah yang ada najis diben- pada asalnya tempat tersebut adalah bersih
tangkan kain atau benda lain yang suci dan dan tidak ada kemampuan untuk membasuh
seseorang melakukan shalat di atasnya, ulama semua kawasan tersebut.
sependapat untuk mengatakan bahwa shalat
orang tersebut adalah sah. Karena, orang yang fika kawasannya sempit seperti rumah,
shalat tersebut tidak terkena benda yang najis
secara langsung dan ia juga tidak membawa maka seseorang tidak boleh melakukan shalat
sesuatu yang terkena najis. Tetapi jika dia di dalamnya hingga semua tempat dibasuh
. menyentuh benda najis melalui lubang yang terlebih dahulu sebagaimana dalam kasus se-
ada pada hamparan kain atau benda lain terse- bagian pakaian yang diragui terkena najis. Ini
but, maka shalatnya batal.LzTe disebabkan rumah atau seumpamanya yang
sempit masih mampu dibasuh dan dibersih-
Ulama Hanafi juga mengatakan bahwa kan dari benda najis. Oleh karena itu, apabila
shalat di atas permadani tebal yang permu- suatu tempat terkena najis dan ada kemam-
kaannya suci dan bagian bawahnya najis ada- puan untuk membasuh semua tempat tersebut
lah sah. Begitu juga sah shalat di atas kain yang namun tidak diketahui bagian manakah dari
suci, tetapi lapisan dalamnya bernajis, karena
ia seperti dua helai kain yang salah satunya tempat tersebut yang terkena najis, maka tem-
terletak di atas yang satu lagi. pat tersebut boleh dibasuh seluruhnya seperti
pakaian yang sebagiannya terkena najis. fika
(c) Najisyang Terdapatdi Dalam Rumah
najis itu terdapat pada salah satu dari dua
otau di Padang Pasir
buah rumah dan diragui rumah yang manakah
fika terdapat najis di dalam rumah atau di yang terkena najis, maka hendaklah diteliti
atas padang pasir dan diketahui tempat najis dulu sebagaimana dianjurkan untuk meneliti
tersebut dangan pasti, maka orang yang akan
melakukan shalat hendaknya mencari tempat di antara dua pakaian yang salah satunya
yang suci dari najis tersebut.
terkena najis dan salah satunya lagi suci.
Namun jika letak najis itu tidak diketahui,
maka hendaklah orang tersebut mencari tem- fika seseorang dikurung pada suatu tem-
pat yang penuh dengan najis seperti kandang
di antara dua rumah yang menjadi tempat
tambatan binatang, maka dia tetap wajib me-
lakukan shalat menurut pendapat jumhur
ulama. Pendapat ini berdasarkan sabda Ra-
sulullah saw.,
1278 Roddrl Muhktar, op.cit., i Mughnil Muhtaj, iilid 1, hlm. 190; at-Muhadzilzab,Jilid I, hlm. 62; Muraqi al-Falah, hlm. 38.
1279 Raddul Mukhtar, op.cil dan dan al-Muhadzdzab, op.cit.
r28o Al-Muhadzdzob, Jilid 1. hlm. dZ; al.Majmu',lilid L hlm. 160 dan serelahnya.
.:. ; ,..,\ :",
Isr-A"M IrrrD 1
"Apabila aku memerintahkanmu supaya kekurangan. Adapun menurut istilah syara'
melakukan sesuatu, maka lakukanlah sesuai
adalah sesuatu yang wajib disembunyikan dan
d eng an kemampuanmu.'n281' diharamkan melihatnya.
Pendapat ini juga berdasarkan qiyas ke- Pengertian pertama dari segi syara'ada-
lah pengertian yang berkaitan dengan ma-
pada orang sakit yang tidak mampu menyem- salah shalat. Menurut pendapat jumhur ula-
purnakan sebagian rukun shalat. ma, orang yang shalat disyaratkan menutup
auratnya, jika ia mampu melakukannya, seka-
Apabila orang yang dikurung di kandang lipun shalatnya itu dilakukan sendirian di tem-
tersebut melakukan shalat, hendaklah ia me-
renggangkan diri dari benda-benda najis se- pat yang gelap.
waktu duduk dengan bertumpu kepada kedua
tangan dan lututnya. Usaha ini harus dilaku- Menurut pendapat ulama madzhab Ha-
kan sekuat kemampuan. Dan sewaktu sujud, nafi, menutup aurat ketika berada di khala-
ia wajib melakukan isyarat atau membongkok yak ramai wajib dilakukan. Begitu juga ketika
supaya tidak menyentuh najis itu. Menurut sendirian, menurut pendapat yang shahih
pendapat yang shahih, ia tidak boleh melaku- dari madzhab itu. Oleh sebab itu, seseorang
tidak boleh melakukan shalat sendirian secara
kan sujud di atas tanah flantaiJ. Karena, shalat-
telanjang, sekalipun di dalam rumah yang
nya sudah sah bila dilakukan dengan cara
isyarat, dan tidak sah apabila terkena benda gelap gulita. Padahal, dia mempunyai pakaian
yang bersih.1282
najis.
Ketika melakukan shalat, seseorang di-
Menurut pendapat fadid yang ashah, wajibkan menutup aurat. Begitu juga pada
waktu-waktu lainnya meskipun ketika sedang
orang yang ditahan tersebut wajib mengulangi sendirian. Kecuali, jika ia perlu untuk telan-
lagi shalatnya pada tempat yang suci, semen- jang seperti untuk mandi, buang air besa4 dan
beristinja.
tara pendapat qadim mengatakan bahwa
Dalil yang mewajibkan menutup aurat
mengulangi shalatnya itu hanya disunnahkan
saja, karena ia meninggalkan perkara fardhu adalah firman Allah SWT,
karena ada udzur yang luar biasa dan udzur
tersebut termasuk udzur eksternal (bukan "Pakailah pakaianmu yang bagus pada
disebabkan oleh dirinya sendiri). Oleh kare- setiap (memasuki) masjid..," (al-A'raaf: 31)
na itu, fardhunya tidak gugu4 sebagaimana
Menurut Ibnu Abbas, 'Apa yang dike-
juga jika ia terlupa melakukan sujud. Dan hendaki pada ayat ini adalah pakaian ketika
yang dianggap sebagai melaksanakan fardhu shalat." Dalil lainnya adalah sabda Rasulullah
adalah shalat yang kedua, menurut pendapat
yang paling ashah di kalangan ulama madzhab saw.,
Syafi'i.
"Allah tidak menerima shalat perempuqn
d. Syarat Keempat: Menutup Aurat yang sudah datang haid (baligh) tonpa tudung
Definisi aurat dari segi bahasa adalah kepala.'4283
1281 H"ditr riwayat al-Bukhari dan Muslim, dari Abu Hurairah r.a. dengan lafaz, "Apa yang aku larang untukmu hendaklah kamu men-
jauhinya, dan apa yang aku perinahkan untukmu hendaklah kamu melakukannya sesuai dengan kemampuanmu!'
1282 Roddrl Mukhtar,lilid.1, hlm. 375.
1283 H"ditr ini diriwayatkan oleh al-Hakim. Dia berkata hadits ini shahih menurut syarat Muslim. Hadits ini juga diriwayatkan oleh lima
orang imam hadits kecuali an-Nasa'i. Hadits ini iuga dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah, dari Aisyah.
FIQIH ISLAM )ILID 1
Dalil lainnya juga adalah sabda baginda, dipakai oleh perempuan dan khilaful Awa bagi
lelaki.
ii;t:J'
Menurut pendapat ulama madzhab Syafi'i,
l-u't
,a^*)ct dJ./ l5t ';tt it::,i ti syarat penutup aurat adalah sesuatu yang ti-
dak dapat menjelaskan warna kulit, sekalipun
Y atJL iLr1l)"ol-6J lJ,. \,1 ,,o o?t1C0'-lao-, penutup itu menggunakan air yang keruh atau
tanah. Tetapi, kemah yang sempit dan ruang
^rS, G) yang gelap tidak boleh dijadikan sebagai pe-
nutup aurat. Menurut pendapat mereka juga,
"Wahai Asma, perempuan apabila telah
sampai umur haid (umur baligh), tidak boleh penutup aurat haruslah suci.
dilihat padanya kecuali ini dan ini." Baginda Menurut ulama madzhab Maliki, jika pe-
Rasul saw. menunjukkan muka dan kedua te- nutup itu masih bisa menjelaskan (zhahara)
apa yang ada di bawahnya, maka ia dianggap
lapak tangannya.rzs+
seperti tidak menutup aurat. Tetapi jika hanya
Menurut ijma'ulama, menutup aurat bagi menyifatkan (washafa) apa yang di bawahnya,
wanita hukumnya adalah wajib dalam semua maka dihukumi makruh.1z8s
keadaan, baik sewaktu shalat maupun tidak.
(b) Maksud Menutup Aurat di Kalangan
Syarat Penutup Aurat
Ulama
(a) Tebal dan tidak Transparan Ulama Syafi'i dan Hambali berpendapat
Wajib menutup aurat dengan mengguna- bahwa menutupi aurat hendaklah meliputi se-
mua bagian yang perlu ditutup, baik dengan
kan kain tebal, kulit, atau kertas yang dapat cara berpakaian atau yang serupa. Oleh sebab
menyembunyikan warna kulit dan juga tidak
menjelaskan sifatnya. fika kainnya tipis atau itu, menggunakan kemah yang sempit dan
tenunannya jarang-jarang, sehingga dapat
keadaan gelap sebagai penutup aurat belum
menampakkan apa yang di bawahnya atau
dianggap memadai.
dapat menggambarkan warna kulitnya hing-
ga tampak kulit pemakai yang cerah atau ke- Menurut ulama Hanafi dan Maliki, meng-
merah-merahan, maka kain tersebut tidak gunakan keadaan gelap sebagai penutup aurat
memenuhi syarat untuk digunakan shalat. ketika dalam keadaan darurat sudah dianggap
Shalatnya tidak sah, karena tujuan menutup memadai. Ini disebabkan-menurut pendapat
aurat tidak tercapai.
mereka-yang diwajibkan adalah menutup
Sebaliknya, sekiranya kain itu dapat me- aurat dari penglihatan orang lain, sekalipun
nutupi warna kulit, tetapi dapat menggam-
bentuk penutup itu hanya hukmi fsekadar
barkan bentuk dan ukuran tubuh, maka shalat
sesuai dengan hukum) saja seperti tempat
dengan menggunakan pakaian itu hukumnya
sah. Karena, yang seperti itu tidak dapat di- yang gelap. Menutup aurat bukanlah menutup
elakkan sekalipun memakai kain yang tebal. bagian tubuh dari pandangan matanya sendiri,
Walau bagaimanapun, menurut pendapat ula- ini adalah pendapat yang difatwakan.
ma madzhab Syafi'i, kain seperti itu makruh
(c) Cara-Cara Menutup Aurat yang sesuai
dengan Tuntutan Syara'
Di kalangan ulama Hanafi dan para fuqaha
lain, yang dituntut adalah menutup sekeliling
1284 Hrditr riwayat Abu Dawud, dari Aisyah. Hadits ini adalah hadits mursal. Lihat Nashbur Rayahlilid 1,h\m.299.
r28s Al -qawanin al - Fiqhistyah,hlm. 54.
FIqLH ISLAM )ILID 1
aurat. Maka, tidak wajib menutup di sebelah pakaian yang tidak boleh dipakai sama hal-
nya memakai sutra bagi laki-laki, dan orang
bawah atau bagian atas baju. OIeh sebab itu, tersebut juga berdosa seperti hukum shalat
shalat di atas kaca yang menampakkan semua di atas tanah ghashab tanpa ada alasan yang
yang terdapat di sebelah atasnya adalah sah.
dibenarkan oleh syara'.
fika ada sesuatu yang hanya dapat me- Menurut pendapat ulama Hambali, tidak
nutup sebagian aurat saja, maka wajib meng-
gunakannya untuk menutup aurat, sekalipun sah shalat dengan menggunakan benda yang
dengan tangan sebagaimana pendapat yang haram, seperti memakai pakaian yang dibuat
ashah di kalangan ulama Syafi'i. Karena, de-
ngan cara itu tercapailah tujuan menutup au- dari sutra, atau shalat di atas tanah ghashab
rat. Sekiranya sesuatu itu mencukupi untuk sekalipun yang di-ghashab hanya faedahnya
menutup dua kemaluan saja, maka ia wajib
menggunakannya untuk menutup kedua ke- atau sebagian darinya saja. Atau, shalat meng-
maluannya itu. Jika penutup itu hanya cu- gunakan pakaian yang dibeli dengan uang
kup untuk menutup salah satu dari kedua ke- haram, dengan sebagian uang haram, atau-
maluannya, maka yang harus ditutup dahulu pun shalat dengan memakai cincin emas. Ini
adalah kemaluan bagian depan dulu, baru semua jika ia mengetahui tentang keharaman
kemudian kemaluan bagian belakang. Ini memakai pakaian itu dan tidak dalam keadaan
adalah menurut ulama madzhab Syafi'i.
lupa.1286 Pendapat ini berdasarkan apa yang
Sebaliknya, menurut ulama Hanafi dan diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Ibnu
Maliki, hendaklah diutamakan untuk menutup
kemaluan belakang baru kemudian kemaluan UmaL
yang depan. Apabila kancing baju tidak dikan-
cingkan atau kain di tengah-tengah baju tidak "Siapa yang membeli pakaian dengan
diikat dapat menyebabkan tampaknya aurat
ketika ruku'atau lainnya, maka mengancing- harga sepuluh dirham, sedangkan sotu dirham
kan kancing atau mengikat kain tersebut hu- darinya odalah uang haram, niscaya Allah
SWT tidak menerima shalatnya selama pakai-
kumnya wajib. an itu dipakainya." Kemudian Ibnu Umar me-
masukkan dua jarinya ke dalam dua Iubang
7) Shalat dengAn Menganakan Pakaian telinganya dan berkata, "Tulilah kedua telinga
ini jika Nabi Muhammad saw. tidak bersabda
yang Haram
Menurut pendapat ulama Maliki dan Sya- demikian."1287
fi'i, shalat dengan menggunakan pakaian yang
fuga, berdasarkan hadits riwayat Aisyah,
haram adalah sah, tetapi menggunakan pa-
kaian itu tetap haram. "Barangsiapq melakukqn suatu pekerja-
an yang tidak kami perintahkan, maka ia di-
Menurut pendapat ulama Hanafi, shalat
dengan menggunakan pakaian tersebut ada- tolak,'a288
Iah sah, tetapi menggunakan pakaian itu di-
hukumi makruh tahrim. Sebab, menggunakan Ini karena perbuatan berdiri, duduk, dan
berada dalam pakaian yang haram, hukumnya
adalah haram dan juga dilarang. Maka, shalat
1286 Kasysyaful Qina',lilid 1, hlm. 313; al-Mughni,Jilid,1, hlm. 587 dan setelahnya.
1287 Nr.rn, pada sanad hadits ini terdapat dua lelaki, yaitu Hasyim dan Buqayyah. Al-Bukhari berkata, Hasyim itu tidak csiqaft
sedangkan Buqayyah adalah m udal I is
1288 Haditr riwayat Imam Ahmad dan Imam Muslim, dari Aisyah, Hadits ini shahih.
Badan 1: IBADAH FIQIH ISIAM JILID 1
dengan memakai pakaian yang haram tidak Menurut pendapat ulama Hambali, ketika
dianggap sebagai ibadah, seperti hukum shalat seseorang dalam keadaan tidak ada penutup
ketika datang haid dan shalat dengan memakai aurat hendaklah ia melakukan shalat dengan
pakaian yang terkena najis. cara duduk dan melakukan isyarat. Hal ini
fika seseorang tidak mengetahui atau lu- berdasarkan perbuatan Ibnu Umar seperti
pa bahwa pakaian yang ia pakai adalah ter-
buat dari sutra atau pakaian hasil ghashab, yang telah dijelaskan sebelum ini dalam syarat
atau dikurung di tempat hasil ghashab atau
tempat bernajis, maka shalat dalam keadaan ketiga.
tersebut dianggap sah, karena itu tidak ter- Menurut pendapat ulama Syafi'i dan Ha-
masuk berdosa. Sebagaimana diketahui, ulama
Maliki dan Hanafi membolehkan shalat dengan nafi, orang tersebut wajib melakukan shalat
menggunakan pakaian yang najis, seperti meskipun dengan cara melumuri tanah pada
yang telah dijelaskan sebelum ini. tubuhnya sebagai penutup aurat. Dan hen-
daknya, ia terus berada dalam keadaan demi-
Para ulama sependapat bahwa menutup kian hingga selesai shalat, ataupun dengan
aurat adalah wajib sekalipun dengan pakaian cara melumuri badan dengan air yang keruh
yang dipinjam. Oleh sebab itu, jika seseorang
melakukan shalat secara telanjang sedang- sebagai penutup aurat.
kan ada pakaian yang dapat dipinjam, atau
dia shalat secara telanjang sedangkan ada pa- Menurut pendapat ulama Hanafi dan
kaian yang dibuat dari sutra serta suci, maka
menurut pendapat jumhur; kecuali ulama Maliki, orang tersebut cukup menutupi aurat
Hambali, shalat yang dilakukan tersebut hu-
kumnya batal. fika seseorang dijanjikan akan dengan kegelapan karena dalam keadaan da-
diberi pinjam pakaian, hendaklah ia menunggu
selagi tidak menyebabkan terlepasnya waktu rurat. Sementara menurut pendapat yang
shalat. Ini adalah pendapat yang azhar di ka- ashah di kalangan ulama Syafi'i, orang terse-
langan ulama Hanafi. Dia juga wajib berusaha but hendaklah menutupi auratnya dengan
membeli pakaian dengan harga yang patutl28e
sebagaimana hukum yang ditetapkan dalam tangan. tsegitu juga menurut pendapat ulama
masalah pembelian air untuk berwudhu, se-
perti yang telah dibincangkan sebelum ini. Hambali, karena dengan cara itu tercapailah
TidakAda Penutup Aurat tujuan menutup aurat sebagaimana yang telah
Menurut pendapat ulama Maliki, sese-
dijelaskan sebelum ini.
orang yang tidak mempunyai penutup aurat
hendaklah shalat dengan telanjang. Karena, Dalam keadaan seperti di atas-menurut
menutup aurat dituntut di saat memang ada pendapat ulama Syafi'i-hendaklah shalat
kemampuan memenuhinya. fika tidak mampu, dilakukan dengan cara berdiri supaya rukun
maka tuntutan tersebut gugur. shalat dapat sempurna. Dan menurut penda-
pat di kalangan mereka, shalat tersebut tidak
wajib diulangi lagi sebagaimana yang telah
dijelaskan sebelum ini.
Sementara menurut pendapat ulama
Hanafi, hendaknya shalat tersebut dilakukan
dengan cara duduk dan membuat isyarat
ketika ruku' dan sujud. Hal ini sama dengan
pendapat ulama Hambali. Cara duduk seperti
itu lebih utama daripada shalat dengan berdiri
dan membuat isyarat ketika ruku' dan sujud.
Karena, menutup aurat lebih penting daripada
menunaikan rukun.
rz8e Ad-Durrul Mukirar,filid 1, hlm.283; al-Majmu',lilid 111, hlm. 193.
FIQIH ISI.AM IILID 1
Menurut pendapat ulama Hambali, siapa Shalat Berjamaah dalam Keadaan Telantang
Orang yang tidak ada pakaian boleh me-
yang berada di dalam air dan tanah (yaitu
tempat yang berlumpur) sedangkan dia ti- lakukan shalat berjamaah. Oleh sebab itu,
dak mampu bersujud di tanah bumi, karena menurut pendapat ulama Syafi'i dan Ham-
bali, mereka boleh melakukan shalat baik
kalau dia sujud ke tanah, niscaya dia akan sendirian ataupun berjamaah. fika shalat se-
berlumuran dengan tanah dan basah, maka cara berjamaah, maka imamnya hendaklah
hendaklah ia melakukan shalat di atas tung- berdiri di tengah-tengah dalam barisan (shatr)
gangannya, dengan membuat isyarat ketika
ruku'dan sujud.l2eo yang sama dan semua makmum berada dalam
satu barisan saja, supaya tidak tampak aurat
2) Terbuka Aurat secara Tlb*tlba
fika aurat seseorang yang sedang shalat sesama mereka. fika terpaksa mengadakan
dua barisan (shaff), maka hendaklah shalat
terbuka secara tiba-tiba karena tiupan angin
umpamanya dan tidak sengaja, lalu ia menu- dengan memejamkan mata masing-masing.
tup auratnya kembali seketika itu juga, maka
menurut ulama Syafi'i dan Hambali, shalat Jika perempuan-perempuan yang tidak
tersebut tidak batal karena tidak termasuk ada pakaian berkumpul, maka mereka disun-
dalam larangan. Tetapi jika aurat itu terbuka nahkan shalat secara berjamaah, dan imam-
nya berdiri di tengah-tengah barisan (shaff)
kerena kesembronoan atau ia tidak segera
karena mereka semua ini adalah aurat. Ini
menutup kembali aurat tersebut, maka shalat-
semua disebabkan shalat berjamaah lebih di-
nya itu batal karena kecerobohannya. Hal ini utamakan daripada shalat secara sendirian,
disebabkan lamanya waktu terbukanya aurat
itu menimbulkan keburukan, sedangkan dia sebagaimana yang tersebut dalam hadits.
mampu mengelakkan dari berlakunya hal itu,
Atas dasar itu, maka dia tidak dimaafkan.l2el Shalat tersebut juga hendaklah dilakukan
Menurut pendapat ulama Maliki, jika yang
terbuka adalah aurat yang berat (mughalla- secara berdiri dengan menyempurnakan se-
zhah) maka shalatnya batal dengan serta gala rukun-rukunnya. Ini menurut pendapat
ulama Syafi'i. Menurut pendapat ulama Ham-
merta.
bali, mereka hendaklah melakukannya secara
Menurut pendapat ulama Hanafi, jika isyarat. Dan sujud pula, hendaklah lebih ren-
yang terbuka adalah seperempat anggota au-
rat, maka shalatnya batal. fika memang, aurat dah dari ruku'.
yang terbuka itu dibiarkan terbuka selama ka-
dar melakukan satu rukun dan dengan syarat Apakah shalat berjamaah lebih afdhal
terbukanya aurat itu tidak disebabkan oleh
perbuatannya sendiri. fika disebabkan oleh daripada shalat sendirian? Menurut pendapat
perbuatannya sendiri, maka shalatnya batal
ulama Syafi'i, jika mereka semua buta atau
pada saat aurat terbuka. berada di tempat yang gelap sehingga tidak
jelas pandangan sesama mereka, maka di-
sunnahkan melakukan shalat secara ber-
jamaah menurut kesepakatan semua ulama,
dan imamnya hendaklah berdiri di hadapan
mereka. Tetapi jika di antara mereka dapat
saling melihat, maka shalat secara berjamaah
atau secara sendirian hukumnya adalah sama.
Hal ini menurut pendapat yang ashah.
72eo Al-Mughni,f ilid I, hlm. 599.
r2e1 Mughnil Muhtaj,Jllidl, hlm. 188; al-Mughni,!11id,1, hlm. 580.
,o+lll'i
f IqLH lslr{.M JILID 1
fika ada salah seorang yang mempunyai pusar hingga bawah lutut. Menurut pen-
pakaian, maka ia disunnahkan meminjamkan dapat yang ashah, lutut termasuk bagian
kepada mereka. fika ia tidak mau meminjam- dari aurat. Pendapat ini berdasarkan ha-
kan, maka mereka tidak boleh merampas dits berikut,
f-qhashab) pakaian itu, karena shalat mereka
"Aurat lelaki adalah apa yang terdapat
tanpa menutup aurat sudah dianggap sah. antara pusar dengan lututnya.
Sementara menurut pendapat ulama Apa yang terdapat di bawah pusarnya
hing g a m elew ati lututny a.'aze a
Maliki dan Hanafi, hendaklah shalat tersebut
dilakukan secara sendirian dan menjauhkan Pendapat ini juga berdasarkan sebuah
diri di antara satu sama lain. |ika mereka ber- hadits yang didhaifkan oleh ad-Daruqutni:
ada di tempat gelap, maka hendaklah mereka Lutut adalah sebagian dari aurat.12e5
melakukan shalatsecara berjamaah dan imam- tb) Aurat hamba perempuan sama dengan
nya berdiri di hadapan.lze2 fika mereka tidak aurat lelaki. Tetapi ditambah bagian pung-
dapat dipisah-pisahkan, maka hendaklah sha- gung, perut, dan bagian sisi lambungnya.
latnya dilakukan secara berjamaah dengan
Hal ini berdasarkan perkataan Umar
berdiri di dalam satu barisan (shaff) saja.
r.a, yang artinya, "Hulurkanlah kain tu-
Ruku' dan sujud juga hendaknya dilakukan dung kepala wahai hamba perempuan,
secara sempurna. Adapun imam hendaknya Apakah kamu menyerupai wanita-wanita
berada di tengah-tengah mereka dan masing- yang merdsft2.1"72e0 Disebabkan, hamba
masing diwaj ibkan memejamkan mata. perempuan sering keluar rumah untuk
memenuhi keperluan tuannya dengan
3) Batas Aurat memakai pakaian kerjanya. Maka, ia di-
Semua imam madzhab mensyaratkan anggap sebagai muhrim (orang yang
diharam kawin) bagi orang lain untuk
menutup aurat supaya shalat seseorang men-
mengelakkan kesulitan.
jadi sah, sebagaimana yang telah dijelaskan
(c) Perempuan [selain hamba sahaya) dan
sebelum ini. Tetapi, para fuqaha berbeda khunsa [orang yang tidak dapat dipastikan
kelaminnya), menurut pendapat yang
pendapat dalam menetapkan batas aurat bagi
laki-laki, hamba perempuan, dan juga perem- ashah di kalangan ulama Hanafi, aurat
puan biasa (bukan hamba). Pendapat mereka
secara terperinci adalah seperti berikut. mereka adalah seluruh anggota tubuh
sehingga rambutnya yang terurai, kecuali
Madzhab Hanafi 12e3
[a) Aurat lelaki adalah dimulai dari bawah
L2e2 Al-Moimu',f ilid lll, hlm. 191 dan setelahnya; al-Muhadzdzob, Jilid 1, hlm 66; al-Mughni,Jilid I, hlm. 596 dan filid I, hlm. 598; asy-
Syarhul Kabir ma'a ad-Dusuqi,Jilid l, hlm. 221.
r2e3 Ad-Durrul Mukhtar wa Raddul Mukhtar, Jilid I, hlm. 375-379; Tabyinul Haqa'iq ti az-Zaila'i,lilid I, hlm. 95-97.
12e4 Hukum ini diambil dari tiga buah hadits yaitu: (a) Hadits ad-Daruqutni, Ahmad, dan Abu Dawud, dari Amr bin Syu'aib, dari ayahnya,
dari kakeknya, "Sekiranya seseorang dari kamu kawin dengan seorang hamba perempuan, hamba lelaki atau pekerjanya, maka
ianganlah kamu melihat pada bagian bawah pusar dan bagian atas lutut. Sesungguhnya apa yang di bawah pusar hingga ke lutut
itu adalah aurat." Ini adalah hadits dhaif. (b) Hadits Hakim bin Abdullah bin Ja'far, "Apa yang ada di antara pusar hingga ke lutut
adalah aurat." Hadits ini adalah hadits maudhu'. (c) Hadits ad-Daruqutni dari Abu Ayyub, "Apa yang di atas kedua lutut itu adalah
aurat dan apa yang di bawah pusar itu iuga aurat." Hadits ini adalah hadits gharib (Nashbur Rayah, filid I, hlm. 296-297).
Lzes N ashbur Rayah, Jilid l, hlm. 297 .
1296 Menurut az-Zaildi, hadits ini adalah gharib. Abdurrazzaq iuga meriwayatkan hadits yang maknanya sama dari Umar. Hadits ter-
sebut diriwayatkan oleh al-Baihaqi. Dia berkata bahwa, atsar dari Umar tersebut shahih (Nashbur Rayah, filid I, hlm. 300).
FIQIH ISLAM JILID 1 Baglan 1: IBADAH
muka, kedua telapak tangan, dan kedua dilihat padanya kecuali ini dan inr." Beliau
telapak kaki (pergelangan hingga ujung
jari), baik bagian luar telapak kaki atau menunjuk ke arah muka dan kedua telapak
telapak tangan itu maupun bagian dalam-
nya. Ini menurut pendapatyang mu'tamad tangannya.l2ee
karena darurat.
Begitu juga hadits yang diriwayatkan
Menurut pendapat yang rajih, suara bu-
kanlah aurat.12e7 Menurut pendapat yang azh- oleh Aisyah yang telah disebutkan sebelum
har; sebelah luar tapak tangan adalah aurat. ini, 'Allah SWT tidak menerima shalat perem-
Tetapi menurut pendapat yang ashah, tapak puan yang sudah datang haid (baligh) tanpa
tangan dan sebelah luarnya bukanlah aurat. menggunakan tudung kepala."
Menurut pendapat yang mu'tamad, kedua Perempuan remaja dilarang memperli-
telapak kaki [pergelangan hingga ujung jari)
bukan termasuk aurat semasa shalat. Tetapi hatkan mukanya di kalangan lelaki. Larang-
menurut pendapat yang shahih, keduanya an ini bukan karena muka itu sebagai aurat,
adalah aurat, baik dilihat maupun disentuh
tetapi untuk mengelak timbulnya fitnah atau
sama-sama tidak dibolehkan. Hal ini berda- nafsu syahwat. Tujuan larangan memperlihat-
kan mukanya adalah karena dikhawatirkan
sarkan firman Allah SWT, laki-laki akan melihat mukanya sehingga me-
ngakibatkan timbulnya fitnah. Hal ini karena
"...dan janganlah menampakkan perhias- memperlihatkan mukanya dapat menyebab-
annya (auratnya), kecuali yang (biasa) ter- kan laki-laki memandangnya dengan keingin-
lihat...." (an-Nuur: 31)
an syahwat.
Tempat perhiasan yang zahir adalah mu-
ka dan dua telapak tangan, sebagaimana per- Tidak boleh melihat muka perempuan
kataan Ibnu Abbas dan Ibnu Umar, dan juga
sabda Rasulullah saw., dan pemuda amrad [pemuda tampan yang be-
Ium tumbuh kumis dan janggut) dengan naf-
it&t W';;t c-;; t;r; i., r; ii';1 su syahwat, kecuali karena keperluan syar'i,
seperti keperluan sebagai qadhi, saksi, atau
"Perempuan aarnn aurat. Apabita ia ke- pembuktian terhadapnya. Begitu juga dengan
orangyang ingin meminang perempuan, boleh
luar, maka setan akan memandang kepada-
melihatnya sekalipun timbul nafsu syahwat.
nYA.'42e9 Tetapi, hal ini harus didasari niat mengamal-
kan sunnah Nabi, bukan untuk memuaskan
fuga, berdasarkan hadits riwayat Aisyah nafsu. Begitu juga ketika untuk keperluan
yang telah disebut sebelum ini, mengobati orang yang sakit, namun sekadar
"Wahai Asme, perempuan apabilo men- yang diperlukan saja.
capai umur haid (umur baligh) tidak boleh
Menurut pendapat yang mu'tamad di ka-
langan ulama Hanafi, membuka seperempat
bagian anggota aurat [yang berat, fmughal-
lazhahf, yaitu kemaluan bagian depan dan
bagian belakang dan sekitarnya, ataupun au-
1297 S"o."ng wanita yang menyanyi, atau mengalunkan suaranya dengan lembut dianggap sebagai aurat, baik di dalam adzan atau
selainnya. Oleh sebab itu, tidak halal mendengarnya.
1298 Hrditr.ir"ayatat-Tirmidzi,dariAbdullahbinMas'ud. Iaberkata,haditshasanshahihgharib.Haditsiniiugadiriwayatkanolehlbnu
Hibban (Nashbur Rayah,lllid I, hlm. 298).
1299 Hadits ri*ayat Abu Dawud. Hadits ini adalah mursol.
FIQLH ISLAM 1
'ILID
rat ringan fmukhaffafahl, yaitu selain dua ke- berdasarkan hadits riwayat Anas,
maluan tadi)1300 dengan tidak sengaja selama
kadar melakukan satu rukun shalat, menye- " Pada peperangan Khaiban Rasulullah
saw. telah terkoyak koin pada pahanya, se-
babkan batalnya shalat. Hal ini disebabkan hingga tampak bagiku putih pahanya.'n3oz
seperempat bagian sama hukumnya dengan [b) Aurat hamba perempuan adalah kedua
seluruh bagian, sebagaimana yang telah di- kemaluan dan pantatnya. Oleh karena
itu, jika terbuka sebagian darinya atau
jelaskan sebelum ini. Oleh sebab itu, jika terbuka paha seluruhnya atau sebagian
yang terbuka kurang dari seperempat, maka saja, maka hendaklah shalatnya diulangi
tidak batal shalatnya. Atas dasar ini, maka dengan segera sebagaimana halnya de-
jika seseorang membuka seperempat dari ngan lelaki.
perut, paha, rambut yang terurai dari kepala, Waktu mengulangi shalat Zhuhur dan
kemaluan belakang, zakar, kedua buah zakar Ashar adalah semasa matahari kekuning-
atau kemaluan bagian depan perempuan, ma-
ka shalatnya batal jika berlangsung selama kuningan. Adapun bagi shalat Maghrib dan
kadar melakukan satu rukun shalat. Tetapi jika
berlangsungnya tidak selama kadar tersebut, Isya, adalah pada seluruh malam dan bagi
maka hal itu tidak membatalkan shalatnya.
shalat Shubuh adalah sewaktu matahari
Madzhab Maliki 13oL
Pendapat yang disepakati dalam madz- naik.
hab ini mewajibkan menutup aurat dari pan- [c) Aurat berat (mughallazhah) perempuan
dangan orang. Menurut pendapat yang shahih
dari madzhab ini, ketika seseorang melaku- [bukan hamba sahaya) adalah seluruh
kan shalat, ia diwajibkan menutup beberapa badan kecuali dada, tepi kepala, kedua
perkara berikut. belah tangan, dan kedua belah kaki (dari
[a) Aurat laki-laki ketika shalat adalah aurat pangkal paha hingga ujung jari). Adapun
berat (mughallazah) saja, yaitu kemaluan bagian punggung yang searah dengan da-
bagian depan: zakar berserta buah zakar da, hukumnya sama dengan dada. fika
dan kemaluan belakang yang terletak perempuan yang shalat terbuka aurat
antara kedua pantat. Oleh sebab itu,
sekalipun yang terbuka adalah kedua ringan (mukhoffafah)-ny a, yaitu dada atau
pantatnya saja ataupun kelihatan rambut sebagian darinya, atau bagian luar tela-
pak kaki bukan bagian dalamnya, maka
kelamin, maka diwajibkan mengulangi hendaklah ia mengulangi shalatnya pada
shalat dengan segera. Menurut pendapat masa yang dikehendaki, sebagaimana
mereka, paha tidak termasuk bagian yang telah diterangkan sebelum ini. Yaitu,
aurat. Hanya zakar dan buah zakar saja bagi waktu Zhuhur dan Ashar sewaktu
yang termasuk aurat bagian depan. Hal ini langit kekuning-kuningan dan bagi waktu
Maghrib dan Isya sepanjang malam. Ada-
pun bagi waktu Shubuh, adalah ketika
matahari naik.
1300 Tidrk rd, perbedaan di antara dua aurat tersebut. Melainkan, hukum haramnya adalah lebih berat bagi mereka yang melihat ke-
pada al-'aurat al-ghalizhah, yaitu kemaluan bagian depan dan belakang.
7307 Asy-Syarhush Shaghiir,Jilid l, hlm.285; Bidayatul MujtahidJilid I, hlm. l1,l; al-Qawanin at-Fiqhiyyah,hlm.53; asy-Syarhul Kabir,lilid
l,hlm.2ll-217; Syarhur Risalaft, Jilid I, hlm. 98.
1302 Hrditr riwayat Imam Ahmad dan al-Bukhari (Nailul Authar, Jilid Il, hlm,64). Hadits ini diperkuat lagi oleh hadits lain yang
diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Aisyah.
lili:ii
#,".if, ",
FIqIH ISTAM IILID 1 Baglan 1: IBADAH
Ini semua adalah dari segi hukum yang Aurat berat bagi hamba sahaya perem-
puan adalah kedua pantat dan yang terdapat
berhubungan dengan masalah shalat. Adapun di antaranya seperti lubang dubur, kemaluan
hukum yang berhubungan dengan masalah bagian depan, dan yang ada di sekitarnya ter-
memandang dan juga shalat, maka diwajibkan masuk rambut kemaluan. Aurat ringan bagi-
juga menutup aurat-aurat tersebut. nya adalah paha dan apa yang terdapat di atas
rambut kemaluan hingga pusar. Aurat berat
Lelaki dan hamba perempuan di luar sha- bagi perempuan (selain hamba sahaya) adalah
lat, tidak disyaratkan menutup auratnya. Aurat seluruh tubuhnya kecuali kaki, tangan, dada,
perempuan (selain hamba sahaya) di hadapan dan punggung yang searah dengan dada. Au-
rat ringan baginya adalah seluruh tubuhnya,
perempuan Islam atau kafir adalah antara kecuali muka dan kedua belah telapak tangan-
pusar dengan lutut. nya.
Seluruh tubuh perempuan fselain hamba Oleh sebab itu, jika seseorang melakukan
sahaya) wajib ditutup ketika berada di hadap- shalat dalam keadaan terbuka aurat beratnya,
an lelaki asing [bukan muhrim), kecuali bagian sedangkan ia tahu dan mampu untuk menu-
muka dan kedua belah telapak tangan. Karena, tupinya meskipun dengan cara membeli atau
kedua-duanya bukan termasuk aurat. Meski- meminjam penutup aurat, maka menurut pen-
pun begitu, menutup muka dan telapak tangan dapatyang raj ih, shalatnya batal dan hendaknya
tetap diwajibkan supaya tidak menimbulkan ia mengulanginya. Ini menurut pendapat yang
fitnah. masyhur di kalangan ulama Maliki.
Lelaki tidak dibenarkan melihat bagian Sebaliknya, seseorang yang melakukan
shalat dalam keadaan terbuka aurat ringan-
dada atau yang lainnya dari perempuan muh- nya, maka shalatnya tidak batal, sekalipun hu-
kum membuka aurat ringan adalah makruh
rim, sekalipun sebab menjadi muhrim itu
dan melihatnya diharamkan. Walaupun begitu,
karena pernikahan dan persusuan dan meski- orang yang melakukan shalat dalam keadaan
terbuka aurat ringannya disunnahkan untuk
pun melihatnya itu tidak menimbulkan syah-
mengulangi shalatnya dalam waktu darurat
wat. Mereka hanya dibolehkan melihat bagian [bagi Zhuhur dan Ashar adalah waktu langit
kekuning-kuningan, Maghrib dan Isya adalah
muka dan bagian-bagian luar (athraaf, yang sepanjang malam, dan Shubuh sewaktu terbit
meliputi, kepala, Ieher dan bagian punggung
matahari).
telapak kaki). Melihat aurat ketika terbuka hukumnya
Hukum tersebut berbeda dengan hukum haram, sekalipun tidak menimbulkan syahwat.
menurut ulama Syafi'i dan para ulama lain Tetapi melihatnya ketika tertutup, hukumnya
yang membolehkan melihat seluruh tubuh, boleh. Kecuali jika dengan cara mengintip da-
kecuali yang berada di antara pusar dan lutut.
Pendapat ini dimaksudkan untuk kemudahan ri sebelah atas penutupnya, maka hukumnya
lfushah).
tidak boleh.
Dari uraian di atas, jelas bahwa aurat le- Aurat yang tidak boleh dipandang pada
Iaki dan perempuan dalam shalat terdiri atas
aurat berat (mughallazhah) dan aurat ringan diri lelaki adalah apa yang terdapat di antara
(mukhaffafah). Aurat berat bagi lelaki adalah pusar dengan lutut. Aurat perempuan ketika
kemaluan bagian depan dan lubang dubur.
Sedangkan aurat ringan mereka adalah ba-
gian-bagian yang terdapat di antara pusar
dan lutut, selain kemaluan depan dan lubang
dubur.
FIQIH ISIAM IIttD 1
berada di hadapan lelaki asing adalah selu- ,G-;;i ,1i;s-'^;i i:*i e::tit
ruh badannya, kecuali muka dan kedua be-
x:-* t1 ,Si--."Vtt'o
lah telapak tangannya. Dan ketika berada di zc' ''"o
hadapan muhrimnya, adalah seluruh tubuh- 'rLs
nya kecuali muka, kepala, lehet, kedua be- "'
lah tangan, dan kedua belah kaki. Tetapi jika
dikhawatirkan menimbulkan syahwat, maka "Don opo'bila salah seorang d*i kamu
hukumnya haram membuka perkara-perkara
mengawinkon hamba perempuannya de-
tadi. Pengharaman itu bukan karena perka- ngan hamba lelakinya, maka janganloh
ra tersebut bagian dari aurat, tetapi karena hamba perempuan itu melihat auratnya."
dikhawatirkan akan menimbulkan syahwat. Dan banyak juga hadits yang diriwa-
Perempuan dengan perempuan lain atau de- yatkan tentang penutupan paha sebagai
ngan muhrimnya sama seperti lelaki dengan aurat. Di antaranya adalah hadits,
lelaki. Mereka boleh dilihat selain yang berada
di antara pusar dengan lutut. "Janganlah kamu membuka pahamu
dan janganlah kamu melihat paha orang
Bagian yang boleh dilihat oleh perempuan hidup dan orang mati.'43o4
pada lelaki asing adalah sama dengan hu-
kum lelaki dengan muhrim-muhrimnya, yaitu Dan juga, sabda Rasulullah saw. kepada
muka, kepala, kedua belah tangan, dan kedua farhad al-Aslami,
belah kaki.
"Tutuplah pahamu, sesungguhnya pa-
Madzhab Syafi'i 1303 ha itu qv7q7.'a3os
(a) Aurat lelaki ketika shalat, thawaf, dan Menurut pendapat yang shahih di
ketika berada di hadapan lelaki asing kalangan ulama Syafi'i, bahwa pusar dan
dan perempuan yang termasuk muhrim lutut tidak termasuk sebagai aurat. Hal
adalah antara pusar dengan lututnya. Ini ini berdasarkan hadits riwayat Anas yang
menceritakan bahwa Nabi Muhammad
berdasarkan riwayat al-Harits bin Abi saw. membuka pahanya sebagaimana
Usamah dari Abu Usamah, dari Abu Sa'id yang diterangkan dalam madzhab Maliki
al-Khudri r.a., sebelum ini. Tetapi, diwajibkan menutup
sebagian lutut supaya tertutup juga paha.
y: dL:.; i{ u ,rist;i} Begitu juga diwajibkan menutup sebagian
pusar supaya tertutup juga bagian di ba-
"Aurat orang mukmin adalah antara wah pusar. Karena apabila tidak sempur-
pusar deng an lututnya."
na kewajiban kecuali dengan sesuatu
Dan juga, berdasarkan riwayat al-Baihaqi,
hal, maka sesuatu itu juga menjadi wajib
sebagaimana yang telah dijelaskan oleh
1303 Mughni al-Muhtaj,Jilid I, hlm. 185; al-Muhadzdzab, Jilid I, hlm. 64; al-Majmu'.lilid III, hlm. 170 - 776.
130a Hrdits ini diriwayatkan oleh Abu Dawud, Ibnu Maiah, al-Hakim , dan al-Bazzar. Di dalamnya terdapat 'illah (Nailul Authar, Jilid II,
hlm.62).
130s H"dit riwayat Malik dalam al-Muwaththa'. Diriwayatkan juga oleh Imam Ahmad, Abu Dawud, dan at-Tirmidzi, dia berkata ini
hadits hascn, Haditf ini dishahihkan oleh Ibnu Hibban (Nailul Authqr,lilid I, hlm" 63).
FIqLH ISI,A,M IITID
ulama Syafi'i, Hambali, dan Maliki dalam yang jelas menunjukkan bahwa paha
Usul al-Fiqh.1306 adalah sebagian dari aurat adalah
Adapun aurat lelaki ketika berada di wajib.13o7
hadapan perempuan asing (bukan muh-
rim) adalah seluruh tubuhnya, dan ketika [b) Aurat hamba sahaya perempuan sama
seperti aurat lelaki menurut pendapat
sendirian hanya dua kemaluannya saja.
yang ashah. Karena, kepala dan tangan
Argumentasi ulama Maliki yang ber- hamba perempuan dan lelaki dianggap
sandar kepada hadits riwayat Anas dan
Aisyah yang membuktikan bahwa paha bukan aurat, dan karena kepala dan tangan
bukan sebagian dari aurat, ditolak dengan
adalah anggota yang sangat diperlukan
empat alasan: untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan
sehingga sering dibuka.
(i) Hadits tersebut menceritakan per- [c) Aurat perempuan (selain hamba) dan ju-
ga khunsa (orang yang tidak tentu ke-
buatan, sedangkan ujung paha boleh laminnya atau yang mempunyai dua or-
dibuka khususnya ketika peperangan gan kelamin) adalah seluruh tubuhnya,
dan permusuhan dan Ushul al-Fiqh kecuali muka dan kedua telapak tangan,
menetapkan bahwa perkataan lebih baik telapak tangan bagian belakang atau
kuat hujjahnya dari perbuatan. bagian dalam yang meliputi ujung jari
[ii) Hadits yang diriwayatkan oleh Anas hingga ke pergelangan tangan. Hal ini
dan Aisyah tidak dapat mengalah- berdasarkan firman Allah SWT,
kan perkataan-perkataan ulama yang ".,dan janganlah menampokkan per-
hiasannya (auratnya), kecuali yang (biasa)
shahih lagi telah menyebar. terlihat...." [an-Nuur: 3 1)
[iii Hadits yang diriwayatkan oleh Aisyah Ibnu Abbas dan Aisyah r.a. berkata bah-
wa yang dimaksud dengan yang zahir adalah
dalam Shahih Muslim terdapat ke- muka dan kedua telapak tangan. Karena, Nabi
Muhammad saw. melarang perempuan yang
raguan. Hadits itu menyatakan bah- berihram [baik untuk mengerjakan haji atau
wo, "Rasulullah saw berbaring di umrah) memakai sarung tangan dan penu-
rumahku sedangkan kedua paha tup muka.laoe fika muka dianggap sebagai au-
rat, mestinya tidak diharamkan menutupnya
atau betisnya terbuka." Betis tidak di- semasa berihram. Muka dan kedua telapak
anggap sebagai aurat menurut ijma' tangan tidak dianggap aurat, karena sangat
ulama. Maka, bagian yang terbuka itu dibutuhkan untuk keperluan jual beli, untuk
diragui apakah betis ataupun paha keperluan mengambil dan memberi sesuatu,
maka ia tidak dikira sebagai aurat.
yang terbuka.
(iv) Terbukanya paha yang menjadi isu
dalam peristiwa ini adalah khusus
bagi Nabi Muhammad saw. dan tidak
ada bukti yang menunjukkan bahwa
perbuatan itu merupakan teladan
yang harus diikuti. Oleh sebab itu,
berpegang pada perkataan-perkataan
7306 Syrrhal-lsnaawi,lilid,l,hlm.l2T;al-MadkhatilaMadzhabAhma4hlm.6l; Mukhtasharlbnal-Haajib,hlm38.
7307 Nailut AuthaarJilid II hlm. 64; al-Majmuu',Jtlid III, hlm. 176.
1308 H"ditt ini diriwayatkan dalam Sahih al-Bukhari, dari lbn Umar r.a., bahawa Nabi Muhammad saw. bersabda: "Perempuan yang
dalam ihram janganlah menutup muka dan meruakai.sarung 'tang. an."
; -r.-. ,i):^
Baglan 1: IBADAH FIqLH Isl,{M JILID 1
fika sebagian dari aurat seorang yang Begitu juga hadits riwayat Bahz bin Ha-
melakukan shalat terbuka, sedangkan orang kim dari ayahnya, dari kakeknya yang artinya,
'Aku bertanya,'Wahai Rasulullah saw., kepada
tersebut mampu menutup aurat tersebut, siapakah aurat kami boleh dibuka dan kepada
siapa dilarang?' Rasul menjawab,'Peliharalah
maka shalatnya batal. Kecuali jika terbukanya
aurat tersebut disebabkan oleh tiupan angin aurotmu kecuali dari istrimu atau hamba
atau karena terlupa kemudian ditutup dengan
sahaya milikmu.'Saya berkata, 'Kalau di antara
segera. Maka, ia tidak membatalkan shalat, orang banyak?' Rasul menjawab, 'Jika kamu
sebagaimana yang telah dijelaskan sebelum mampu mengelak dari dilihat oleh siapa pun,
ini. Namun jika terbukanya aurat tersebut maka jangan biarkan ouratmu dilihat.' Saya
bukan karena tiupan angin, atau bukan sebab bertanya lagi, 'fika kami sedang sendirian?'
binatang atau anak-anak yang belum mumay- Rasul menjawab, 'Kepada Allah Ta'ala mesti-
yiz, maka shalatnya batal.
nya lebih utama untuk malu."43ro
Lelaki tidak wajib menutup auratnya da-
Hadits itu menunjukkan bahwa sese-
ri pandangannya sendiri, tetapi hukum me-
orang tidak boleh telanjang di tempat yang
lihat auratnya sendiri adalah makruh. Aurat sepi. Pendapat ini juga didukung oleh hadits
perempuan (selain hamba sahaya) selain
pada waktu shalat, yaitu ketika di hadapan riwayat Ibnu Umar yang diriwayatkan oleh at-
lelaki asing [bukan muhrim) adalah seluruh Tirmidzi bahwa Rasulullah saw bersabda,
badannya. Adapun auratnya semasa di hadap- \tFi v; ;* 3p qF; €()
an perempuan kafir adalah seluruh badan- *i iyb)',4+t,y,6'*.
nya, kecuali anggota yang perlu dibuka untuk €lr-loto 11. gor^;,,o.-.or,-7u
keperluan kerja dan menunaikan hajat. Ada-
pun semasa di hadapan perempuan Islam dan "Janganlah kamu bertelanjang. Sesung-
lelaki muhrim, auratnya adalah anggota badan guhnya bersama-soma kamu ada (malaikat)
yang berada di antara pusar dengan lututnya. yang tidak berpisah dari kamu, kecuali ketika
komu membuang air dan ketika seorang lelaki
Dalil yang digunakan seluruh ulama ten- berhubungan badan dengan istrinya, Maka,
tang kewajiban menutup aurat dan larangan malulah kepada mereka (malaikat) dan hor-
terhadap lelaki dari melihat aurat lelaki lain,
dan larangan terhadap perempuan dari me- matilah mereka,"
lihat aurat perempuan lain adalah hadits ri-
wayat Abu Sa'id al-Khudri, Imam Bukhari mengatakan bahwa ber-
telanjang ketika mandi hukumnya boleh. Hal
"Lelaki tidak boleh memandang aurat le-
laki lain dan perempuan tidak boleh meman- ini berdasarkan kisah Nabi Musa dan Nabi
dang aurat perempuan yang lain, dan lelaki
Ayub.
tidak boleh tidur bersama-sama lelaki lain
dalam satu pakaian dan perempuan tidak boleh
tidur bersame-sama perempuan lain dalam
satu pakaian."l3oe
130e Hadits riwayat Imam Muslim, Abu Dawud, dan at-Tirmidzi.LihatNailulAutharlilidll, hlm. 61.
1310 Diriwayatkan oleh lima orang imam hadits kecuali al-N asa'i {Nailul Author Jilid II, hlm. 61),
FIqLH ISTAM JILID 1 BaE[an 1: IBADAH
Madzhab Hambali 1311 hadits ini, lebih diutamakan daripada de-
[a) Aurat lelaki adalah anggota tubuh yang ngan cara qiyas. Abu Dawud meriwayat-
kan dari Buraidah,
berada di antara pusar dengan lututnya.
"Rasulullah saw. melarang seseorang
Hal ini berdasarkan hadits yang telah
melakukan shalat di dalam kain selimut
disebutkan sebelum ini yang dipakai oleh tanpa menutup bahunya (seperti selim-
ulama Hanafi dan Syafi'i sebagai dalil pang)J'
mereka. Tetapi, pusar dan lutut sendiri
bukan termasuk aurat. Ini berdasarkan Tetapi, orang yang hanya mempunyai
hadits riwayat Amr bin Syu'aib yang telah
sesuatu fkain umpamanya) yang hanya
disebutkan sebelum ini, dapat digunakan untuk menutup aurat
atau bahunya saja, maka hendaklah dia
"Apa yang di bawah pusar sampai lu- mengutamakan untuk menutup auratnya,
tut adalah aurat." dan shalatnya wajib dilakukan dengan
Dan juga, berdasar hadits Abu Ayyub cara berdiri. Hal ini berdasarkan sabda
al-Anshari,
Rasulullah saw.,
"Di bawah pusar dan di atas kedua
"Jika kain itu luas, maka selisihkan
lutut adalah quvqs."73)'2 dan ikatkan kedua tepinya. Dan jika ia
Alasannya adalah lutut merupakan sempit, maka ikatkan kuat-kuat pada ping-
batas daerah yang bukan termasuk aurat gangnya.'431+
sebagaimana pusar. Aurat khunsa musykil
fseseorang yang mempunyai dua organ Lelaki hendaklah menutup auratnya
dari penglihatan orang lain. Bahkan, ia
kelamin) yang tidak jelas kelaki-lakian hendaknya melindungi auratnya dari
penglihatannya sendiri ketika sedang me-
ataupun perempuannya dihukumi seperti ngerjakan shalat. fika auratnya kelihatan
aurat lelaki. melalui saku bajunya yang terbuka luas
apabila ruku'atau sujud, maka hendaklah
Di samping itu, menurut yang zahir ia mengancingkan atau mengikatnya su-
dari madzhab ini, agar shalat lelaki men- paya ia tertutup. Hal ini karena perintah
jadi sah, maka dia diwajibkan menutup menutup aurat bersifat umum.
salah satu bahunya sekalipun dengan kain Begitu juga, diwajibkan menutup aurat
yang tipis yang dapat menjelaskan warna ketika dia sedang sendirian atau berada
kulitnya. Kewajiban menutup bahu adalah di dalam gelap. Hal ini berdasarkan hadits
berdasarkan hadits, riwayat Bahz bin Hakim yang telah dise-
"Janganlah seorang lelaki melakukan but sebelum ini yang berbunyi, "Pelihara
shalat di dalam satu kain yang tidak ada olehmu ourat kamu kecuali dari istrimu
sesuatu apa pun di atas bahunya.'4313 atau hamba milikmu...."
Larangan tersebut menunjukkan peng-
haraman dan penetapan hukum dengan
7311 At-Mughni,Jilid I, hlm. 577-582,601-606; Kasysyaful Qina', f ilid I, hlm. 306-315; Ghayatul Muntaha, Jilid I, hlm. 97-99.
1312 H"ditr riwayat Abu Bakar dengan isnadnya.
1313 Hrditr riwayat al-Bukhari, Muslim, Abu-Dawud, Ibnu Maiah, dan lain-lain dari Abu Hurairah.
l31a H"ditr riwayat Abu Dawud.
Baglan 1: IBADAH Frq[H IsrAM JrLrD 1
Tidak diwajibkan menutup aurat de- buhnya kecuali muka. Menurut pendapat
ngan tikar; tanah, air keruh, atau lumpur
yang berada di dalam parit. Karena, men- yang rajih dari dua riwayat di kalangan
jadikan benda-benda itu sebagai penutup ulama, kedua telapak tangan juga tidak
aurat tidak ada dalil yang kuat, dan me- termasuk aurat. Ini berdasarkan firman
ngambil lumpur di dalam parit juga me-
Allah SWT,
nyusahkan. fika ketika shalat terbuka
ffi tfr2frE1trtl#;'rr".;):t:
sebagian kecil aurat, maka shalatnya ti-
"...dan janganlah menampakkon per-
dak batal. Hal ini berdasarkan riwayat hiasannya (auratnya), kecuali yang (biasa)
terlihat...." (an-Nuur: 3 1)
Abu Dawud dari Amru bin Salmah yang
Ibnu Abbas dan Aisyah r.a. berkata
terbuka kain tutupnya ketika sujud karena bahwa yang dimaksud dengan yang za-
berlangsung hanya dalam waktu yang hir adalah muka dan kedua telapak ta-
ngan.131s Begitu juga perempuan tidak
singkat. fika yang terbuka adalah sebagian
boleh membuka selain muka dan kedua
besar dari aurat, maka shalatnya batal. telapak tangannya sewaktu shalat. Ini
Untuk menentukan besar kecilnya aurat berdasarkan hadits-hadits yang telah di-
sebutkan sebelum ini yang dijadikan dalil
yang terbuka adalah menurut kebiasaan. oleh ulama madzhab Syafi'i.
fika terbukanya sebagian besar dari Dalil yang mewajibkan menutup kedua
aurat karena tidak disengaja dan segera telapak kaki adalah hadits riwayat Ummu
ditutup kembali tanpa melewati masa
Salamah yang artinya, 'Aku bertanya,
yang panjang, maka shalatnya tidak batal. 'Wahai Rasulullah, adakah perempuan
Ini disebabkan pendeknya masa terbuka
disamakan dengan kecilnya ukuran aurat shalat dengan memakai baju dan tudung
yang terbuka. Tetapi jika terbukanya ber- kepala tanpa sarung?' Baginda menjawab,
langsung dalam masa yang panjang atau
sengaja dibuka, maka shalatnya batal se- 'Ya, jika memang bajunya panjang, maka
cara mutlak. tutuplah bagian punggung tapak kaki-
(b) Aurat hamba perempuan sama seperti fl)la,"4zto
aurat lelaki, yaitu apa yang ada antara
pusar dengan lutut menurut pendapat Hadits tersebut menunjukkan wajib-
yang rajih. Hal ini berdasarkan hadits ri- nya menutup kedua belah telapak kaki,
wayat Amr bin Syu'aib [hadits marfu'yang karena ia termasuk bagian tubuh yang
telah disebutkan sebelum ini yang artinya,
tidak boleh dibuka semasa berihram baik
"Dan apabila salah seorang dari kamu untuk haji atau umrah. Maka, ia juga tidak
boleh dibuka ketika shalat sebagaimana
mengawinkan hamba perempuannya de- halnya kedua betis.
ngan hamba lelakinya, maka janganlah
hamba perempuan itu melihat auratnya.") Perempuan sudah cukup mengguna-
kan pakaian yang dapat menutupi bagian
[cJ Aurat perempuan yang sudah baligh [se-
lain hamba sahaya) adalah seluruh tu-
1315 Hrditr riwayat al-Baihaqi. Hadits ini dhaif. Riwayat Ibnu Mas'ud berbeda dengan riwayat Aisyah dan lbnu Abbas.
1316 Hrditr riwayat Abu Dawud. Dia berkata, jamaah Ahli Hadits memauqufkan hadits ini kepada Ummu Salamah. Sementara,
Abdurrahman bin Abdullah bin Dinar memarfu'kannya. At-Tirmidzi meriwayatkan sebuah hadits dari Ibnu Umar tentang tema
yang sama dan dia berkata ini hadits hason shahih.
'1iL ,,''a
a*,"'.ii1
FIQIH ISLAM )IIID 1 Penyebab perbedaan pendapat dalam
masalah ini adalah penafsiran ayat Al-Qur'an
yang wajib saja. Hal ini berdasarkan ha-
dits riwayat Ummu Salamah yang telah dalam surah an-Nuurl
disebutkan tadi. Tetapi ketika melakukan "...dan janganlah menampakkan perhias-
shalat, mereka disunnahkan memakai annya (auratnya), kecuali kepada suami me-
baju yang lebar dan panjang yang dapat reka, ...atau para perempuan (sesama Islam)
menutup kedua telapak kakinya dan juga mereka...," (an-Nuur: 3 1)
tudung kepala yang dapat menutup kepala
dan leher, serta menggunakan selendang Menurut pendapat ulama Hambali dan
yang diselimutkan ke atas baju yang di- para ulama lain, kata ganti hinna (mereka)
pakai. mencakupi perempuan secara umum tanpa
membedakan antara Islam dengan kafir. Oleh
fika perempuan terbuka aurat, selain sebab itu, perempuan Islam boleh memper-
muka dan kedua tapak tangan, baik se- lihatkan perhiasan tubuhnya kepada perem-
bagian kecil atau besarl rnaka hukumnya puan kafiq, sama dengan bolehnya ia mem-
adalah sama dengan hukum pada kasus perlihatkan kepada perempuan Islam lainnya.
lelaki, seperti yang telah dibincangkan
sebelum ini. Aurat perempuan di hadapan Menurut pendapat jumhur; kata ganti
lelaki yang termasuk muhrim adalah se-
luruh tubuhnya kecuali muka,leher; kedua hinna di sini adalah khusus menunjuk perem-
belah tangan, telapak kaki, dan betis. puan Islam saja, yaitu khusus bagi persaha-
batan dan persaudaraan Islam. Oleh sebab itu,
Sebagaimana pendapat ulama Syafi'i, perempuan Islam tidak boleh memperlihat-
kan apa pun dari perhiasan tubuhnya kepada
ulama Hambali mengatakan bahwa seluruh perempuan kafir.1317
tubuh perempuan termasuk muka dan kedua
telapak tangannya, di luar shalat, adalah ter- 4) Bag;lan Aurat yang;Terpisah darl Badan
masuk aurat. Ini berdasarkan sabda Rasu- Menurut pendapat ulama mAdzhab Hanafi
lullah yang telah disebutkan sebelum ini yang dan Syafi'i, melihat aurat lelaki baik dalam
artinya, "Perempuan adalah aurat." bentuk yang masih sedaging dengan tubuh
si empunya atau sudah terpisah dari tubuh
Membuka aurat karena untuk keperluan seperti rambut, Iengan, ataupun paha adalah
berobat dibolehkan. Begitu juga ketika sedang
sendiri di bilik air; berkhitan, untuk menge- haram hukumnya.
tahui pencapaian umur baligh, untuk menge- Menurut pendapat ulama madzhab Ham-
tahui keperawanan dan bukan perawan, serta
untuk mengetahui kecacatan. bali, bagian aurat yang telah terpisah dari tu-
buh si empunya tidak diharamkan melihatnya.
Aurat perempuan Muslim [selain hamba)
di hadapan perempuan kafir menurut penda- Karena, ia telah hilang kemuliaannya ketika
pat ulama Hambali adalah sama seperti au-
ratnya di hadapan lelaki muhrim, yaitu bagian sudah terpisah.
Menurut pendapat ulama madzhab Ma-
yang berada di antara pusar dengan lutut.
liki, boleh melihat bagian aurat yang sudah
Adapun menurut pendapat jumhu4 auratnya terpisah dari tubuh ketika pemiliknya masih
adalah seluruh tubuh kecuali yang biasa ter- hidup. Tetapi, diharamkan melihatnya apa-
buka ketika melakukan pekerjaan rumah.
7377 Tafsir 4yrat al-Ahkaam bil Azhar,lilid uI, hlm. 164.
Bagan 1: IBADAH FIQIH ISI-AM JILID 1
bila si empunya sudah mati. Hukum ini sama Menurut pendapat ulama Hanafi dan
seperti melihat bagian aurat yang masih se- Syafi'i, aurat perempuan ketika di hadapan
keluarganya yang muhrim atau di hadapan
daging dengan tubuh si empunya.
perempuan Muslim adalah apa yang terdapat
5) Suara Perempuan
di antara pusar dan lutut. Tetapi menurut
Menurut pendapat jumhu4, suara perem-
pendapat ulama Maliki, auratnya adalah selu-
puan tidak dianggap sebagai aurat, karena ruh tubuh kecuali muka, kepala, batang leher;
para sahabat mendengar suara istri-istri kedua belah tangan dan kaki (dari pangkal
Nabi Muhammad saw. untuk mempelajari hu- paha sampai ke ujung jari kaki). Sementara
kum-hukum agama. Tetapi apabila suaranya
berbentuk lagu dan irama sekalipun bacaan pendapat ulama Hambali, aurat adalah selu-
Al-Qur'an, maka diharamkan karena dikha- ruh tubuh kecuali muka, leher; kepala, kedua
watirkan akan menimbulkan fitnah. tangan, telapak kaki [dari pergelangan hingga
ke ujung jari kaki), dan betis.
Menurut ulama madzhab Hanafi, penda-
pat yang rajih adalah yang menyatakan bahwa Telapak kaki bukanlah aurat menurut
suara perempuan bukanlah termasuk aurat.
ulama madzhab Hambali dan Hanafi.
Kesimpulan dari pembahasan di atas ada-
6) Batas Aurat Anak-anak
lah, para ulama sependapat untuk menga-
takan bahwa kedua kemaluan adalah aurat, Mengenai batas aurat anak lelaki dan pe-
rempuan, para fuqaha berbeda pendapat. Ada
dan pusar bukanlah aurat. Aurat lelaki adalah kelompok yang cenderung kepada sikap keras
apa yang terdapat di antara pusar dengan lu- seperti ulama Syafi'i, kelompok yang lunak
tut. Adapun aurat perempuan ketika shalat seperti ulama Maliki, dan kumpulan yang
adalah seluruh tubuh kecuali muka dan ke-
dua telapak tangan, dan-menurut pendapat moderat seperti ulama Hambali dan Hanafi.
ulama Hanafi-juga selain kedua telapak kaki Menurut pendapat ulama Hanafi,1318 anak-
[dari pergelangan hingga ke ujung jari). Aurat anak yang berumur empat tahun ke bawah
dianggap belum beraurat. Oleh sebab itu, boleh
perempuan di luar shalat adalah seluruh tu- melihat dan menyentuh tubuh anak tersebut.
Apabila umurnya sudah lebih empat tahun,
buh. selagi belum menimbulkan keinginan nafsu
terhadapnya, maka auratnya adalah kemaluan
Di samping itu, ulama berbeda pendapat depan dan kemaluan belakang. Kemudian
tentang keauratan lutut. Menurut pendapat auratnya semakin meningkat hingga ia men-
ulama Hanafi, lutut adalah aurat. Sementara capai umur sepuluh tahun, yaitu kemaluan
pendapat jumhur; lutut tidak termasuk seba- belakang dan sekitarnya yang terdiri atas ke-
gai aurat. Tetapi, diwajibkan menutup seba- dua pantat dan juga kemaluan depan serta
gian darinya dan juga pusar karena keduanya sekitarnya. Setelah umurnya lebih dari sepu-
adalah bagian permulaan bagi auratyangwajib luh tahun, maka auratnya sama dengan aurat
ditutup. Karena apabila hukum wajib tidak orang yang telah baligh baik ketika ia sedang
dapat sempurna kecuali dengan memenuhi mengerjakan shalat ataupun di luar shalat. Hal
sesuatu, maka sesuatu itu juga menjadi wajib ini berlaku bagi lelaki dan juga perempuan.
hukumnya.
1378 Ad-Durrul Mukhtar wa Raddul Mukhtar,lilidl,hlm. 378.
FIQIH ISIAM JITID 1
Ulama madzhab Malikil3le membedakan rempuan tersebut sudah dianggap mempu-
antara anak lelaki dengan anak perempuan: nyai aurat. Oleh sebab itu, lelaki tidak boleh
memandikannya. Anak perempuan yang su-
[a) Ketika shalat: Aurat anak lelaki yang ma-
sih dalam masa disuruh shalat, yaitu dah bisa menimbulkan keinginan nafsu lelaki,
seperti anak perempuan yang berumur enam
yang berumur tujuh tahun adalah kedua tahun, maka auratnya sama seperti aurat pe-
kemaluan depan dan belakangnya, kedua rempuan yang sudah dewasa. Sehingga, lelaki
pantatnya, daerah tempat tumbuh rambut
kemaluan, dan paha. Maka, disunnahkan tidak boleh melihat auratnya dan dia juga ti-
menutupi bagian-bagian tersebut seba- dak boleh memandikannya sekiranya anak
gaimana yang dituntut di kalangan orang perempuan itu mati.
yang sudah baligh. Menurut pendapat ulama Syafi'i,1320 aurat
anak lelaki-meskipun belum mumaltyiz (be-
Adapun aurat anak perempuan yang lum dapat membedakan antara yang buruk
masih dalam umur disuruh shalat adalah dengan yang baik)-adalah sama seperti au-
apa yang terdapat di antara pusar dengan rat lelaki yang sudah dewasa. Yaitu, apa yang
lutut. Maka, disunnahkan menutupi semua
bagian badan tersebut sebagaimana yang terdapat di antara pusar dengan lutut. Au-
dituntut di kalangan orang yang sudah rat anak perempuan juga sama seperti aurat
perempuan yang sudah dewasa, baik ketika
baligh. shalat ataupun di luar shalat.
[b) Ketika di luar shalat: Anak lelaki yang Menurut pendapat ulama Hambali,1321
berumur delapan tahun ke bawah diang- anak yang belum mencapai umur tujuh tahun
gap belum mempunyai aurat lagi. Maka, dianggap belum mempunyai aurat. Maka, bo-
perempuan boleh melihat ke seluruh tu- leh melihat seluruh tubuhnya dan juga boleh
menyentuhnya. Aurat anak lelaki yang telah
buhnya dan memandikannya jika anak mencapai umur tujuh tahun hingga sepuluh
tahun adalah kedua kemaluannya saja, baik
itu mati. Anak lelaki yang telah mencapai sewaktu shalat ataupun di luar shalat. Aurat
umur sembilan tahun hingga dua belas anak perempuan yang sudah mencapai umur
tahun juga boleh dilihat seluruh tubuhnya tujuh tahun hingga sepuluh tahun, ketika sha-
lat adalah apa yang terdapat di antara pusar
oleh perempuan. Tetapi, ia tidak boleh
memandikannya jika anak itu mati. Anak dengan lutut. Adapun di luar waktu shalat,
lelaki yang sudah mencapai umur tiga be- auratnya adalah sama seperti aurat perem-
las tahun ke atas, auratnya sama seperti
aurat lelaki yang sudah dewasa. puan yang sudah dewasa. Yaitu, apabila berada
Anak perempuan yang berumur dua tahun di hadapan lelaki muhrimnya, auratnya adalah
delapan bulan dianggap belum mempunyai
aurat. Anak perempuan yang sudah menca- apa yang terdapat di antara pusar dengan
pai umur tiga tahun hingga empat tahun juga
dianggap belum beraurat dari segi pandang- lutut. Tetapi, disunnahkan supaya menutup
an, maka lelaki boleh memandang tubuhnya. tubuh dan kepalanya seperti perempuan
Tetapi dari segi aurat yang disentuh, anak pe- yang dewasa, sebagai langkah berhati-hati.
Apabila berada di hadapan lelaki asing (bukan
73re Asy-Syarhush Shaghir,f ilid L hlm 287; asy-Syarhul Kabir ma'a ad-Dusuqi,f ilid I, hlm. 216.
1320 Mughnit Muhtaj,ltlid,l. hlm. 185.
7321 KasysyqfulQinq', Jilid 1. hlm. 308 dan setelahnya
muhrim), auratnya adalah seluruh tubuhnya FIqLH ISLAM IILID 1
kecuali muka, lehex, kepala, kedua belah ta-
ngan hingga siku, betis, dan telapak kaki (dari dari binatang buas, dan juga apabila memang
pergelangan hingga ujung jari). Aurat anak- mampu dilakukan. Oleh sebab itu, tidak di-
anak lelaki yang sudah mencapai umur sepu-
luh tahun adalah sama seperti aurat lelaki wajibkan menghadap kiblat ketika berada
yang dewasa. dalam ketakutan dan ketika tidak ada kemam-
Menurut pendapat penulis, pendapat ter- puan melakukannya, seperti diikat oleh mu-
suh ke arah selain kiblat dan sakit yang tidak
akhir ini dan juga pendapat ulama madzhab memungkinkan untuk menghadap kiblat dan
tidak ada siapa pun yang dapat menolong-
Hanafi lebih utama, karena sesuai dengan ha- nya untuk menghadap kiblat. Dalam keadaan
dits yang menyuruh anak-anak yang berumur seperti itu, hendaklah orang tersebut shalat
tujuh tahun supaya shalat, dan menganjurkan dengan menghadap ke arah mana yang di-
mampuinya, karena dia sedang dalam keadaan
untuk memukul anak-anak yang berumur uzur.
sepuluh tahun yang tidak mau melakukan
Para fuqaha juga sependapat untuk me-
shalat. ngatakan bahwa seseorang yang dapat meli-
hat Ka'bah diwajibkan menghadap tepat ke
e. Syarat Kellma: Mengfiadap Kiblat bangunan Ka'bah tersebut dengan yakin. Be-
gitu juga, wajib menghadap ke arah Ka'bah
Para fuqaha sepakat untuk mengatakan dengan tepat bagi penduduk kota Mekah atau
bahwa menghadap kiblat adalah salah satu
syarat sahnya shalat. Ini berdasarkan firman orang-orang yang tinggal di situ, sekalipun
Allah SWT, ada sesuatu yang menghalangi antara mereka
dengan Ka'bah seperti dinding. Pendapat ter-
"Dan dari mana pun engkau (Muhammad) akhir ini adalah pendapat ulama Hambali.
keluan hadapkanlah wajahmu ke arah Mas-
Menurut pendapat jumhur (kecuali ulama
jidilharam, sesungguhnya itu benar-benar madzhab Syafi'i), orang yang tidak dapat me-
ketentuan dari Tuhanmu. Allah tidak lengah lihat Ka'bah juga diwajibkan menghadap ke
terhadap apa yang kamu kerjakan. Dan dari
arah Ka'bah.1322 Ini berdasarkan kepada sabda
mana pun engkau (Muhammad) keluar, maka Rasulullah saw.,
hadapkanlah wajahmu ke arah Masjidil Ha-
ram...." fal-Baqarah: 149-150) *:/'i9f'JIY
Kondisi ini dikecualikan dalam dua ke- "Di ontoro timur dengan barat adalah
adaan, yaitu ketika dalam ketakutan yang
kiblat,'4323
sangat dan ketika shalat sunnah di atas ken-
Hadits tersebut menunjukkan bahwa
daraan bagi musafir. semua bagian di antara timur dengan barat
Ulama Maliki dan Hahafi berpendapat adalah kiblat. Ini disebabkan kalau diwajibkan
bahwa syarat menghadap kiblat hanya dite-
tapkan ketika keadaan aman dari musuh dan
1322 Ad-Durrul Mukhtar,Jilid I, hlm. 397-406; asy-Syarhush Shaghirlilid,l,hlm.2g2-296; aqtsyarhul Kabir, Jilid 1,h1m.222,228; al-Qa-
wanin al-Fiqhiyyaft, hlm. 55; Kasyryaful Qina'Jilid l, hlm. 35O,364; al-Mughni lilid I, hlm. 431-452; al-Lubab,Jllidl,hlm.6T; Muraqi
al-Falah hlm. 34; Tabyinul Haqa'iq filid 1, hlm. 100 dan setelahnya.
1323 Hadits riwayat Ibnu Malah dan at-Tirmidzi. Dia berkata hadits hasan shahih. Hadits ini diriwayatkan dari Abu Hurairah. Hadits ini
menerangl(an tentang kiblat penduduk Madinah dan Syam.
.,: li,, , L:lrii:i,. .:1..
ISLrc.M ]ILID 1
menghadap tepat ke Ka'bah, niscaya tidak tengah mukanya, niscaya akan mengenai Ka'-
bah atau ruang udara di atasnya. Ka'bah berada
sah shalat orang yang berada dalam barisan dari bumi ketujuh hingga ke Arsy. Oleh sebab
[shatr) yang paniang dan lurus. Dan tidak itu, boleh melakukan shalat di atas bukit yang
sah juga shalat sendirian yang dilakukan dua tinggi dan telaga yang dalam, sebagaimana juga
orang yang berjauhan tempat dan keduanya
boleh melakukan shalat di atas atap Ka'bah
menghadap ke arah kiblat. Karena, dalam
satu barisan yang panjang tidak mungkin dan di dalamnya. fika seandainya dinding
dapat menghadap tepat ke arah Ka'bah ke-
Ka'bah roboh, niscaya sah juga shalat dengan
cuali sekadar ukuran searah Ka'bah saja. Pada
pendapat saya, inilah pendapat yang terkuat. menghadap ke arah tempat asal bangunan
Imam asy-Syafi'i berkata dalam kitab al- dinding Ka'bah tersebut.
Umm, "Orang yang berada di luar Mekah di- Menurut pendapat ulama Maliki, yang di-
wajibkan mengadap tepat ke Ka'bah, karena
perintah nash ada yang mewajibkan mengha- wajibkan adalah menghadap ke arah bangun-
dap kiblat. Artinya, diwajibkan menghadap an Ka'bah. Oleh sebab itu, tidaklah cukup jika
tepat ke Ka'bah sebagaimana penduduk Me- menghadap ke langit arah ruang udara di atas
kah juga wajib menghadap tepat ke Ka'bah."
Ini berdasarkan firman Allah SWT, Ka'bah.
ffi "",fr{.At3;#Yt;j... fitlhad Mencarl Arah Klblat
"... Dan di mana saja engkau berada, Orang yang tidak mengetahui kiblat dan
hadapkanlah wajahmu ke arah itu...." (al- ragu-ragu mengenai arahnya serta tidak ada
siapa pun yang dapat dipercayai untuk mem-
Baqarah:144) beri tahu kepadanya tentang arah kiblat de-
ngan yakin dan jelas, maka ia diwajibkan me-
Yang diwajibkan adalah menghadap ke lakukan penelitian dan ijtihad. Yaitu, berusaha
arah Ka'bah. Ini berarti diwajibkannya meng- semampu daya upaya untuk mengetahui arah
hadap tepat ke Ka'bah sebagaimana juga orang kiblat dengan bukti yang meyakinkan. fikalau
yang dapat melihat Ka'bah.1324 ada orang yang dapat dipercayai untuk mem-
beri tahu kepadanya tentang arah kiblat de-
Apa yang dimaksudkan oleh para imam ngan yakin, maka dia diwajibkan mengikuti
madzhab dengan menghadap ke arah Ka'bah informasi yang diberikan oleh orang itu. Ka-
adalah menghadapkan tubuh dan pandangan rena, informasi orang yang mengetahui arah
kiblat lebih kuat dari ijtihad.
seseorang yang shalat ke arah Ka'bah.132s
Dalil yang menunjukkan wajibnya me-
Maksudnya, hendaklah sebagian dari muka- lakukan penelitian arah kiblat adalah riwayat
nya terus mengarah ke Ka'bah, atau ruang Amir bin Rabi'ah yang artinya, "Pada suatu
udara di atas Ka'bah, menurut pendapat malam yang gelap gulita, kami bersama-sama
Rasulullah saw.. Kami tidak tahu ke manakah
jumhur [kecuali ulama Maliki). Yaitu, jika di- arah kiblat. Lalu setiap orang dari kami me-
panjangkan garis lurus ke depan dari tengah- lakukan shalat mengikuti arah masing-masing.
132a At-Maimu; filid III hlm. 194 dan Jilid lll hlm. 212; al-Muhadzdzab Jilid,l, hlm. 67; Hasyiyah al-Bajuri Jilid I, hlm. 147 dan setelah-
nya.
1325 Ulr-a Syafi'i berkata bahwa waiib menghadap kiblat secara nyata (haqiiqatanj ketika dalam keadaan berdiri dan duduk. Walib
menghadap secara hukum (hukman) saia ketika ruku'dan suiud. Dan kalau berbaring, maka wajib menghadapnya dengan dada
dan muka Kalau telentang, maka dengan muka dan kedua pipi.
(-\-* FrqlH Isr.AM ltltD I
633
.
i- - /*
Tatkala pagi, kami memberi tahu masalah itu fika kesalahan itu disadari sesudah shalat,
kepada Rasulullah saw.. Maka turunlah ayat maka orang tersebut tidak dituntut meng-
yang artinya'Maka ke mana saja kamu arahkan ulangi shalat yang sudah dilakukan. Karena,
diri (ke kiblat untuk menghadap Allah SWT), dia telah melakukan shalat menurut kemam-
di situlah arah yang diridhai Allah."4326 puannya. Tetapi, dia hendaklah menghadap
Siapa saja yang tidak mampu untuk men- ke arah kiblat yang diyakini betul dalam shalat
dapatkan informasi yang dapat dipercayai yang akan dilakukan setelah itu,
tentang kiblat, hendaklah berusaha mencari
Imam Ali berkata, "Kiblat orang yang
arah kiblat berdasarkan bukti-bukti seperti sudah berusaha meneliti arahnya adalah apa
cahaya fajar; cahaya matahari pada waktu yang menjadi keyakinan niatnya." Oleh sebab
senja (syafaq), kedudukan matahari, kedudu- itu, siapa saja yang melakukan shalat tanpa
kan bintang kutub dan sinar bintang-bintang, berusaha meneliti dulu arah kiblat, maka
angin timur; barat, atau angin selatan, dan lain- shalatnya tidak sah sekalipun arah yang di-
lain lagi. Bukti yang paling lemah adalah angin
ikutinya itu tepat mengarah kepada kiblat.
dan yang paling kuat adalah bintang kutub Karena, dia telah meninggalkan kewajiban
pada waktu malam. meneliti, kecuali jika dia mengetahui ketepat-
Bintang kutub adalah bintang biduk kecil an arah yang diikuti itu segera setelah selesai
yang terletak di antara bintang Farqadan (ursa shalat. Ulama madzhab Hanafi bersepakat
minor) dengan fady (capricorn). Kedudukan bahwa orang seperti itu tidak tidak perlu
bintang kutub ini berbeda-beda menurut mengulangi shalatnya.
iklimnya. Di Mesir ia terletak di sebelah be- Seseorang yang menjadi imam shalat da-
lakang telinga kiri orang shalat. Di Iraq ia ter- lam satu jamaah pada malam yang gelap gulita
orangletak di sebelah belakang telinga kanan
dan dia telah meneliti arah kiblat, kemudian
shalat. Di kebanyakan kawasan di Yaman, ia menjalankan shalat dengan menghadap ke
terletak di hadapan sebelah kiri orang shalat arah yang diyakininya, sedangkan orang yang
dan di Syam, ia terletak di sebelah belakang di belakangnya (makmum) melakukan pe-
orang yang shalat. nelitian sendiri dan menghadap ke arah kiblat
yang diyakini oleh masing-masing (tetapi ha-
Kesalahan dalam lttlhad Mencarl Arah sil penelitiannya berbeda dengan arah yang
KlHat diyakini oleh imam) dan semua makmum
Menurut ulama madzhab Hanafi, apabila berada di belakang imam, maka siapa (dari
kesalahan dalam ijtihad mencari arah kiblat makmum) yang menyadari bahwa imamnya
disadari dengan yakin ketika sedang shalat, menghadap ke arah yang berlainan dari arah-
hendaklah orang tersebut berpaling ke arah nya, shalat orang tersebut batal. Namun bagi
kiblat yang sebenarnya, serta meneruskan orang yang tidak menyadari keadaan imam
shalat [menyempurnakannya). fika shalat se- tersebut, maka shalatnya dianggap sah dan
seorang dilakukan dengan setiap satu rakaat tidak dituntut untuk mengulangi shalat lagi.
menghadap ke arah satu kiblat yang berbeda- Karena, dia menghadap ke arah yang te-
beda, maka sah shalatnya. lah ditelitinya. Perbedaan antara makmum
1326 Hrditr riwayat at-Tirmidzi dan lbnu Majah. Akan tetapi, kata at-Tirmidzi hadits ini sanadnya kurang begitu kuat. Sanadnya adalah
dhaif. Terdapat iuga sebuah hadits lain yang iuga dhail dari fabir yang diriwayatkan oleh al-Hakim, al-Baihaqi, dan ad-Daruquthni
(lihar Nashbur Royah, lilid 1, hlm. 304).
FlelH ISLAM ,JrLrD I Bagan 1: IBADAH
dengan imam ketika menghadap kiblat ini, ke arah yang berlainan dari arah kiblat bagi
tidak menyebabkan rusaknya keshahihan shalat yang telah dilakukan pertama, maka
shalat yang dilakukan, sebagaimana hukum hendaklah dia melakukan shalat yang kedua
dengan menghadap ke arah Kiblat hasil ijtihad
shalat di dalam Ka'bah. terakhirnya. Dia tidak diwajibkan mengulangi
Iagi shalat yang pertama tadi, sebagaimana
Menurut pendapat ulama Maliki, jika hakim apabila menjatuhkan hukuman menu-
orang yang berijtihad itu sadar ketika sedang rut ijtihad, kemudian ijtihadnya berubah, ma-
shalat bahwa arah kiblatnya salah, baik sa- ka ijtihad yang kedua tidak membatalkan hu-
dar secara yakin atau atas sangkaan kuat, kuman ijtihad yang pertama tadi.
maka hendaklah dia berhenti dari shalat, jika Hendaklah seseorang berijtihad pada se-
memang dia arahnya menyimpang jauh dari tiap shalat fardhu. fika masih ragu-ragu, hen-
arah kiblat yang sebenarnya. Umpamanya dia daklah melakukan shalat ke arah mana yang
dikehendaki dan diwajibkan qadha', karena
membelakangi atau menghadap ke sebelah itu perkara yang jarang berlaku.
Timur ataupun ke Barat dari arah kiblat yang Menurut ulama Hambali, jika seseorang
sebenarnya. Kemudian dia hendaklah memu- yakin bahwa dia salah, dan itu terjadi ketika
lai shalatnya lagi dengan iqamah. Dia tidak cu- sedang shalat, maka dia hendaknya berpa-
ling mengadap ke arah Ka'bah (kiblat yang
kup hanya dengan memalingkan diri ke arah sebenarnya) dan meneruskan shalatnya, se-
bagaimana pendapat ulama Hanafi. Karena
Ka'bah yang sebenarnya.
apa yang sudah berlaku dianggap sebagai sah.
fika orang itu buta, ataupun arah yang
Dia boleh meneruskan shalatnya, sebagaimana
diikutinya menyimpang sedikit saja dari arah juga jika dia tidak tahu tentang kesalahannya
yang sebenarnya, maka ia tidak dituntut itu. Para makmum juga hendaklah berganti
mengulangi shalatnya. Tetapi jika dia sadar arah sesegera mungkin mengikuti arah yang
bahwa arah yang diikutinya menyimpang jauh diikuti imam, jika kesalahan itu memang
dari arah yang sebenarnya, atau dia lupa arah
yang telah dihasilkan dari ijtihadnya, ataupun mereka ketahui secara jelas.
lupa arah yang telah diberi tahu kepadanya
oleh orang yang tahu, maka hendaklah dia f ika kesilapan ijtihadnya itu disadari
mengulangi shalatnya itu dalam waktu shalat
itu juga. Ini menurut pendapat yang masyhur. sesudah shalat, yaitu dia yakin bahwa arah
yang diikuti itu berlainan dari arah Ka'bah
Menurut ulama Syafi'i, jika munculnya yang sebenarnya, maka tidak diwajibkan me-
ngulangi lagi shalatnya. Hukum orang yang
keyakinan kesalahan itu ketika sedang shalat bertaqlid [orang yang mengikuti pendapat
atau sesudahnya, maka hendaklah orang mujtahid) yang melakukan shalat secara taq-
tersebut mengulangi shalatnya. Karena, ke- lid, sama seperti orang mujtahid. Pendapat ini
salahannya sangat jelas pada perkara yang
seharusnya tidak boleh salah, sebagaimana sama dengan pendapat ulama Hanafi.
dalam perkara yang berkaitan dengan ke-
hakiman. Maka, apa yang yang sudah berlalu Bagi orang yang ber-mustouthin [bukan
tidak dianggap lagi, sebagaimana hakim apa- musafir) yang melakukan shalat menghadap
ke arah lain dari Ka'bah, baik dia melihat atau
bila menjatuhkan hukuman kemudian di- buta, kemudian dia sadar akan kesalahan arah
dapati ada nash (Al-Qur'an atau hadits) ber- yang diikutinya, maka ia wajib mengulangi
tentangan dengan keputusannya.
Jika ijtihad seseorang bagi shalat yang ke-
dua berubah, yaitu ijtihad itu menunjukkan
Baglan 1: IBADAH Isr.AM ]rLrD 1
shalat lagi. Karena, orang yang ber-mustauthin ataupun ke arah ruang udara di atas Ka'bah
menurut pendapat ulama selain Maliki.
(bukan musafir) tidak layak melakukan ijti-
had. Orang seperti itu semestinya berupaya Menurut sebuah riwayat bahwa Rasu-
mengetahui kiblat berdasarkan mihrab (tem-
pat imam shalat), dan biasanya ada orang lullah saw. masuk sekali saja ke dalam Ka'bah,
yang dapat memberitahunya tentang arah
kiblat dengan yakin. Maka, ia tidak boleh ber- yaitu pada hari pembukaan kota Mekah
ijtihad, sebagaimana orang yang berupaya
(Fathu Makkah) dan baginda Rasul melakukan
mendapati nash dalam semua hukum.
Kesimpulannya, ulama Hanafi dan Ham- shalat di dalamnya. Diriwayatkan juga dari
bali menegaskan supaya shalat seseorang Ibnu Umar bahwa dia bertanya kepada Bilal,
"Adakah Nabi Muhammad saw. melakukan
diteruskan hingga sempurna, apabila muncul-
shalat di dalam Ka'bah?" fawab Bilal, "Ya!
nya kesadaran akan kesalahan arah kiblat
adalah sewaktu shalat. Dan seseorang tidak Baginda melakukan shalat dua rakaat di anta-
diwajibkan mengulangi lagi shalatnya jika ra dua tiang yang terdapat di sebelah kiri pintu
munculnya kesadaran akan salahnya arah masuk ke dalam Ka'bah. Kemudian Baginda
kiblat yang dia peroleh melalui ijtihad adalah
keluar dan melakukan shalat dua rakaat
sesudah shalat. menghadap ke Ka'bah."1327 Tetapi, Imam al-
Bukhari dan para perawi lain menceritakan
Ulama Maliki dan Syafi'i menegaskan bahwa Ibnu Abbas meriwayatkan sebuah
supaya seseorang menghentikan shalatnya hadits lain,
jika ia sadar akan kesalahannya itu ketika "Baginda saw. melakukan takbir dalam
sedang melakukan shalat. Dan hendaklah Ka'bah, tetapi tidak melakukan shalat."
seseorang mengulangi shalatnya apabila ia
menyadari kesalahannya itu sesudah shalat. Di antara kedua hadits tersebut terdapat
Tetapi, ulama Maliki mewajibkan seseorang
untuk mengulangi shalatnya hanya di dalam pertentangan. Namun, hadits riwayat Ibnu
Umar lebih diutamakan dari hadits yang di-
al-waqt adh-dharuri. Sementara, ulama Syafi'i riwayatkan oleh Ibnu Abbas. Karena, hadits
mewajibkan seseorang mengulangi shalatnya Ibnu Umar adalah mutsbit [positif) sementara
dalam semua keadaan, baik dalam waktu atau
selepas waktu. Karena, jelas shalatnya yang hadits Ibnu Abbas adalah naafi (negatifl. Me-
pertama telah batal. nurut apa yang ditetapkan oleh jumhur fuqaha
selain ulama Syafi'i, apabila ada pertentangan
Dua Pemhhasan tentang Syarat antara nash yang mufsbit (positif) dengan nash
Menghadap Ktblat yang naafi (negatif,l, maka yang diutamakan
adalah yang mutsbit [positifJ. Karena yang
1. Shalat dalam Bangunan Ka'bah
mutsbit (positifJ mengandung tambahan
Sebagaimana dimaklumi, menurut syara',
shalat diwajibkan menghadap ke arah Ka'bah, ilmu1328 dan juga karena Ibnu Umar bersama-
sama Nabi Muhammad saw., sedangkan Ibnu
Abbas tidak bersama-sama beliau. Bila kita
perhatikan, riwayat Usamah memang me-
1327 Hrdit. riwayat Ahmad dan al-Bukhari: lmam al-Bukhari dan Muslim juga meriwayatkan sebuah hadits dari lbnu Umar yang men'
jelaskan tentang orang-orang yang bersama-sama dengannya. Mereka ialah Usamah bin Zaid, Bilal, dan Utsman bin Thalhah (Nail'
ul Autharlilid II, hlm. 140).
1328 Musallam ats-Tsubut, Jilid 11, hlm. 162; al-Mustasyfa, Jilid 11, hlm. 129; at-Talwih'atat-Taudhih,lilid ll, hlm. 109; al'lhkam oleh
al-Amidi, filid Ill, hlm. 186.
FIQIH ISIAM JILID 1 Bagan 1: IBADAH
nafikan Nabi Muhammad saw. melakukan muakkad di dalam Ka'bah dengan menghadap
shalat, karena yang dilihatnya adalah Nabi ke arah mana saja dan juga di atas atap Ka'bah
dibolehkan. Shalat sunnah yang boleh dila-
Muhammad saw. sedang berdoa di satu sudut,
sedangkan Usamah berada di satu sudut yang kukan itu termasuk sunnah rawatib seperti
lain, dan kejadian ini berlaku di dalam keada-
an gelap karena pintu Ka'bah tertutup.132e empat rakaat sebelum shalat Zhuhut sunnah
Dhuha, sunnah asy-Syaf'fsunnah Isya). Boleh
Para fuqaha telah menegaskan bahwa
juga melakukan shalat sunnah di dalam ka-
shalat di dalam Ka'bah adalah disyaratkan. wasan Hijr Ismail dengan menghadap kiblat.
Menurut ulama Hanafi,1330 shalat fardhu atau Tetapi menurut pendapat ulama Maliki, tidak
sunnat sunnah, meskipun dilakukan secara sah melakukan shalat fardhu di dalam Ka'bah.
berjamaah, baik di dalam Ka'bah atau di atas
Adapun hukum melakukan shalat sunnah
atapnya sekalipun tidak ada pembatasnya muakkad seperti shalat sunnah, witiC shalat
adalah sah. Tetapi shalat di atas atap adalah dua hari raya, shalat sunnah fajar dua rakaat,
dan shalat sunnah thawaf dua rakaat di dalam
makruh, dianggap kurang sopan karena me- Ka'bah adalah makruh.
letakkan Ka'bah di bawahnya dan mening- Tidak boleh melakukan shalat fardhu di
galkan tuntutan supaya menghormatinya, ser- dalam Ka'bah atau di dalam kawasan Hijr
ta dilarang oleh Nabi Muhammad saw..
Ismail. fika dilakukan juga, hendaklah diulangi
fika shalat di dalam Ka'bah dilakukan se- lagi dalam waktu darurat (woqt dharurf) yaitu
cara berjamaah (yaitu imam dan para mak- untuk shalat Zhuhur dan Ashar adalah ketika
mum berkeliling menghadap ke arah dinding langit berwarna kekuning-kuningan. Adapun
Ka'bah), dan ada makmum yang memosisikan untuk shalat Maghrib dan Isya adalah sepan-
punggungya di belakang punggung imam, ma- jang malam dan untuk shalat Shubuh ketika
ka shalatnya sah. Namun jika ada seseorang matahari naik.
yang memosisikan punggungnya di hadapan
wajah imam, maka shalatnya tidak sah, karena Shalat fardhu di atas Ka'bah dianggap ba-
dia berada di depan Imam. tal, dan hendaklah orang yang melakukannya
mengulangi shalatnya tersebut, karena meng-
fika imam shalat di Masjidil Haram, dan hadap ke arah bangunan Ka'bah adalah wa-
para makmum yang shalat mengikuti imam jib. OIeh sebab itu, menghadap ke langit saja
tidaklah cukup.
mengelilingi Ka'bah, maka makmum yang po-
sisinya lebih dekat dengan Ka'bah dibanding Kesimpulannya, menurut Imam ad-Dar-
dir (yang mensyarahi kitab Khalit) penjelasan
imam, shalatnya dianggap sah jika dia me- terperinci yang dibuat oleh al-Allamah Khalil
mang tidak berada samping Imam [tidak se- dan pendapat yang mengatakan dibolehkan-
lajur dengan imam). Karena, posisi seseorang nya shalat di dalam Ka'bah adalah pendapat
dianggap berada di depan atau di belakang
imam jika memang diA berada dalam satu lajur yang lemah di kalangan ulama Maliki. Ibnu
fuzi al-Maliki mengatakan bahwa shalat di
dengan posisi imam.
Menurut asy-Syaikh Khalil dari madzhab
Maliki,1331 melakukan shalat sunnah bukan
r32e Nailul Authar, lilid 1 1, hlm. 141 dan setelahnya.
1330 Al-Boda'i', Jilid I, hlm. l1..5; Fathul Qadir, Jilid,l,hlm. 479 dan setelahnya ; Muraqi al-Falah, hlm. 70; al-Lubaab,Jilid I, hlm. 138 dan
setelahnya.
133r Asy-Syarhushshaghir,lilidl,hlm.2gT;al-Qawaninal-Fiqhiyyah,hlm,49.
.\riiti:4b$ l
atas Ka'bah adalah makruh dan madzhab ini ISILM lrlrD
melarang shalat fardhu di dalam Ka'bah.
takhfiif dan musaamahah). Buktinya adalah
Menurut pendapat ulama Syafi'i,1332 shalat shalat sunnah boleh dilakukan dengan cara
fardhu atau sunnah di dalam atau di atas atap duduk atau menghadap ke arah selain kiblat
Ka'bah dibolehkan, jika memang menghadap ketika musafir di atas kendaraan,
ke dinding atau tanahnya, yaitu dengan meng-
hadap kepada sesuatu yang tetap seperti 2. Shalat Sunnah di Atas Kendaraan oleh
bandul, pintu yang tertutup, atau tongkat yang
dipaku atau dibina di atas Ka'bah. Ukurannya Orang Musafir
kira-kira setinggi dua pertiga hasta ataupun
Ijma' ulama mengatakan bahwa sese-
lebih dengan ukuran hasta manusia, meskipun
jaraknya berada sejauh tiga hasta atau lebih orang musafir boleh melakukan shalat sunnah
darinya.
di atas kendaraannya dengan menghadap ke
Alasan sahnya shalat seseorang yang be- arah yang ditujunya. Ini berdasarkan hadits
rada di luar Ka'bah yang hanya menghadap ke yang diriwayatkan dari Amir bin Rabi'ah,
ruang udara di atas Ka'bah adalah karena dia
dianggap menghadap ke arah Ka'bah, seperti "Aku melihat Rasulullah saw. melakukan
orang yang shalat di kawasan yang lebih ting-
shalat sunnah Dhuha di atas kendaraannya
gi dari bangunan Ka'bah. Contohnya adalah
shalat di atas bukit Abi Qubais. Berbeda jika dengan cara memberi isyarat dengan kepala
dan menghadap ke arah yang dituju dalam per-
orang tersebut shalat di dekat, di dalam, atau jalanannya. Tetapi, baginda Rasul tidak mela-
di atas Ka'bah, maka ia harus menghadap ke kukan cara seperti itu bagi shalat fardhu."133a
bangunan Ka'bah. Pendapat Fuqaha Mengenal Shalat Sunnah
dl Atas Kendaraan
Ulama Hambali1333 juga membolehkan
shalat sunnah di dalam Ka'bah atau di atas Menurut pendapat ulama Hanafi,133s kiblat
bagi orang yang uzur karena sakit atau karena
atapnya. Tetapi, mereka berpendapat bahwa menunggang binatang adalah arah yang ia
mampu menghadap kepadanya, sekalipun sha-
shalat fardhu di dalam atau di atas Ka'bah latnya dilakukan secara berbaring. Dan hen-
daknya shalatnya dilakukan secara isyarat.
tidak sah. Pendapat mereka berdasarkan fir- Uzur tersebut banyak macamnya, di antaranya
man Allah SWT, adalah karena bepergian, takut kepada musuh,
binatang buas, pencuri, atau lari dari musuh.
"...Dan di mana saja kamu berada, maka Tetapi, shalat di atas binatang tunggangan di-
hadapkanlah wajahmu ke arah itu...." (al- syaratkan untuk menghentikan binatang ter-
Baqarah: 150) sebut dulu, jika memang itu mampu dilakukan.
Kecuali, jika muncul kekhawatiran atau ba-
Alasannya adalah oring yang shalat di haya seperti akan ditinggalkan rombongan
dalam atau di atas Ka'bah tidak mengadap ke dan terputus hubungan dengannya jika ia
arah Ka'bah. Berbeda dengan shalat sunnah
berhenti. Dalam keadaan seperti itu, maka ia
yang dilakukan di atas asas keringanan (a1- tidak wajib menghentikan tunggangannya, dan
ia juga tidak wajib menghadap ke arah kiblat
1332 At-Moi^u',Jilid III, hlm. 197; al-Hadramiyyah,hlm.52; al-Muhadzdzab, f ilid I, hlm. 67.
1333 Kasysya|ul Qina'Jilid 1, hlm.354; al-Mughnililid 11, hlm.73.
1334 H"ditr muttafaq alaih (Nailul Authar, jilid 11, hlm. 144).
r33s Ad-Durrul Mukhtaar wa Raddul Mukhtar iilid I, hlm. 402, 65,1-658.
FrqlH IsrAM JrLrD 1 Bagan 1: IBADAH
meskipun itu pada awal mula shalat (iftitah) atau terkaman binatang buas jika dia turun
sewaktu takbiratul ihram.
dari kendaraannya, maka dia dibolehkan me-
Shalat yang boleh dilakukan di atas tung- lakukan shalat sunnah di atas tunggangannya
sekalipun shalat sunnah witir; baik shalatnya
gangan adalah shalat sunnah dan sunnah
itu menghadap kiblat atau menghadap arah
muakkad selain sunnah fajar. Oleh sebab itu,
perjalanan binatangnya, dan meskipun dilaku-
shalat fardhu dan semua jenis shalat yang kan di atas tempat duduk (mahmil dari mihaf-
wajib seperti witir; shalat yang dinazarkan,
dan shalat sunnah jenazah tidak boleh dilaku- fah,'33' haudaj atau seumpamanya) dengan
kan di atas tunggangan. Semuanya ini tidak
boleh dilakukan di atas binatang tunggangan cara bersila.
tanpa uzu4 karena tidak ada kesulitan.
Penunggang kendaraan hendaklah me-
Orang bermukim yang melakukan perja- lakukan shalat dengan cara isyarat. Ketika su-
lanan ke luar kota sejauh jarak yang diboleh- jud hendaklah lebih rendah dari pada rukul
kan qashar (yaitu 89 kilometer) dengan me- dan dia tidak boleh bercakap dan memaling-
nunggang binatang, boleh melakukan shalat kan muka. Tetapi, bumi yang dilalui oleh bi-
natang tunggangannya tidak disyaratkan suci.
sunnat di atas kendaraan. Berdasarkan hu- Syarat sahnya shalat sunnah dengan meng-
hadap ke arah yang dituju dalam perjalanan
kum tersebut, maka bagi orang yang sedang
dalam perjalanan adalah lebih utama untuk adalah:
dibolehkan shalat di atas kendaraan. Hukum [a) Musafir dalam jarak jauh yang dibenar-
kan mengqashar shalat (yaitu 89 kilo-
pertama (orang yang bermukim) adalah sama
dengan hukum kedua [orang yang bepergian). meter) dan perjalanan tersebut diboleh-
kan oleh syara'. Tidak boleh shalat sunnah
Shalat-shalat tersebut sudah sah jika di- bagi musafir yang melakukan perjalanan
lakukan dengan cara isyarat dan dengan ruku'
serta sujud. Shalat tersebut dilakukan dengan maksiat.
menghadap ke arah yang dituju oleh bina-
tang tunggangan karena darurat. fuga, tidak [b) Perjalanan tersebut dilakukan dengan
disyaratkan menghadap kiblat pada permu-
laan shalat sebagaimana yang telah disebut- cara menunggang kendaraan, bukan de-
kan sebelum ini. Karena kalaulah dibolehkan
shalat tanpa menghadap kiblat, maka boleh ngan berjalan kaki atau duduk. Orang
juga memulai shalat tanpa menghadap kiblat. yang bermusafir dengan naik kapal laut
Madzhab yang zhahir dan yang ashah ada- hendaklah melakukan shalat dengan meng-
lah sah hukumnya shalat di atas pelana atau- hadap kiblaq apabila kapal berbalik arah,
pun tempat letak kaki yang ada banyak najis- maka dia juga hendaklah berbalik meng-
hadap kiblat.
nya,
[c) Binatang yang dijadikan tunggangan ada-
Menurut pendapat ulama Maliki,1336 orang
yang bepergian dengan menunggang binatang lah keledai, bighal, kuda atau unta, bukan-
sedangkan dia khawatir akan keselamatannya
dan juga keselamatan hartanya dari pencurian nya kapal atau berjalan kaki.
[d) Cara menunggangnya adalah seperti yang
biasa dilakukan, bukan dengan cara duduk
terbalik atau duduk menyamping dengan
kedua belah kaki diletakkan di sebelah
sisi binatang tunggangan.
t336 Al-gawani, al-Fiqhiyyah,hlm. 55; asy-Syarhush ShaghiirJilidt, hlm.298-302.
1337 Mihrgoh adalah sejenis kendaraan untuk w€nita sep€rti ftaudo7 ,tqtapi ia tidak bertutup.
FIQIH ISTAM JITID 1
Shalat fardhu di atas binatang tidaklah sah nangguhkan shalatnya hingga ke akhir
sekalipun menghadap ke arah kiblat, kecuali waktu ikhtiyari.
dalam empat kondisi sebagai berikut:
[d) Penunggang sedang sakit yang tidak
[a) Ketika sesorang bertempur dengan mu- mungkin baginya turun dari tunggangan.
suh yang kafir atau lainnya, dan peperang- Oleh sebab itu, hendaklah dia melakukan
shalat fardhu dengan cara isyarat di atas
an tersebut dibolehkan oleh syara', serta tunggangannya dengan menghadap kiblat
dia tidak mungkin turun dari tunggangan. setelah tunggangannya itu diberhentikan,
Dalam keadaan demikian, hendaknya sebagaimana dia melakukannya di atas
orang tersebut melakukan shalat fardhu daratan dengan cara isyarat.
di atas binatang tunggangannya, dengan Menurut pendapat ulama Syafi'i,133e orang
cara memberi isyarat ke arah kiblat jika yang melakukan perjalanan (dan perjalanan-
memang dia mampu melakukannya, dan nya itu dibenarkan oleh syara'), baik dalam
dia tidak perlu mengulangi shalatnya itu. jarak jauh ataupun dekat, boleh melakukan
shalat sunnah di atas tunggangannya. Tetapi
(b) Ketika seseorang merasa takut atau kha- orang yang bersafar dengan tujuan maksiat,
watir terhadap binatang buas atau pen- tidak boleh melakukan shalat seperti di atas,
curi, jika turun dari tunggangannya. Da-
Demikian juga orang yang pergi ke sana
lam keadaan demikian, hendaknya orang
tersebut melakukan shalat fardhu di atas kemari tanpa tuiuan (ha'im) atau orang yang
melakukan perjalanan dengan berjalan kaki,
binatang tunggangannya dan-jika mam-
pu-dengan cara memberikan isyarat ke juga tidak boleh melakukan shalat di atas
arah kiblat. Jika tidak mampu, dia boleh tunggangan. Oleh sebab itu, mereka haruslah
menghadap ke arah lainnya. Apabila rasa menyempurnakan segala syarat dan rukun
takutnya sudah hilang sesudah shalat, shalat, termasuk juga menghadap kiblat dan
maka hendaklah dia segera mengulangi menyempurnakan ruku' serta sujud. Adapun
shalatnya tersebut dalam waktu shalat
orang yang berjalan kaki, dia tidak boleh
itu. berjalan ketika shalat kecuali ketika qiam
(berdiri) dan tasyahhud (duduk tahiyat).
[c) Penunggang berada di kawasan yang
Orang yang melakukan shalat sunnah
becek dan air yang ada hanya sedikit, hendaklah membuat isyarat bagi ruku' dan
sehingga dia tidak mungkin turun dari sujudnya. Sujudnya hendaklah lebih rendah
daripada ruku'nya, dan disyaratkan supaya
tunggangannya atau khawatir iika turun, memulai shalatnya dengan menghadap ke
arah kiblat, jika memang dia mampu me-
pakaiannya akan koto[ atau khawatir lakukannya. Tidak sah shalat yang dilakukan
oleh seseorang yang memegang tali penam-
akan keluar dari waktu shalat ikhtiyaari, bat binatang yang ada najisnya. fika binatang
atau waktu shalat darurat (al-waqt adh-
dharur[).1338 Dalam keadaan seperi itu,
hendaklah dia melakukan shalat fardhu
di atas binatang tunggangannya dengan
cara isyarat. fika dia tidak khawatir ter-
lepas waktu, maka hendaklah dia me-
1338 Waktu shalat menurut ulama Maliki, Hanafi, dan Syafi'i ada dua ienis: (aJ Waktt at-lkhtiar, yaitu waktu yang dikenali untuk setiap
shalat. (b) Waktu darurat, yaitu waktu yang setelah waktu al-lkhtiyar. Waktu ini adalah waktu yang dibolehkan meniamak dua
shalat (al-Qawanin ol'Fiqhiyyah, hlm. 43 dan setelahnya).
733e Hasyiyah al-Bajuri Jilid l, hlm. 148 dan setelahnya; al-Muhadzdzab, lilid I, hlm. 69: al-Maimu', Jilid lll, hlm. 214 dan setelahnya;
Mughnil Plahtq.i f ilid I, hlm. 142 dan setelahnya.
FrqlH IsrAM ItLtD I 640t.-Zi'--\ t: Bagllan 1: IBADAH
tunggangan terpijak najis yang basah ataupun (b) Nakhoda kapal tidak diwajibkan meng-
yang kering dan melekat padanya, maka sha-
latnya juga batal. Penjelasan yang terperinci hadap ke arah kiblat, karena itu menyulit-
adalah seperti berikut: kannya.
[a) Jika penunggang berada di tempat duduk Menurut pendapat ulama Hambali,13a1
musafir yang menunggang binatang [bu-
di atas binatang tunggangannya (marqad) kan berjalan kaki) baik safarnya itu ber-
jarak jauh ataupun dekat, apabila dia me-
atau (haudafl, hendaklah dia menghadap nuju ke suatu tujuan tertentu, maka dia
ke arah kiblat sepanjang shalatnya itu, dan
hendaklah dia menyempurnakan semua boleh melakukan shalat sunnah di atas
rukun atau sebagian darinya, yaitu ruku'
dan sujud, karena perkara itu mudah di- tunggangannya. Ruku' serta sujudnya di-
lakukan olehnya. Tetapi jika perkara itu lakukan dengan cara memberi isyarat.
menyulitkannya, maka yang diwajibkan
Sujudnya pun harus lebih rendah dari
hanyalah menghadap ke arah kiblat ketika
bentuk ruku'. fabir berkata,
takbiratul ihram. Itu pun jika tidak me- "Rasulullah saw. mengutusku untuk
nyulitkannya, yaitu jika binatang tersebut
berhenti sehingga dia mampu mengubah suatu keperluan. Lalu aku pun datang
menghadapnya dan aku dapati baginda
arahnya, ataupun binatang itu berjalan melakukan shalat di atas binatang tung-
gangannya dengan menghadap ke arah
dan dia memegang tali penambat bina- timur, dan sujudnya lebih rendah dari
tang sehingga dia mudah memandunya. bentuk ruku'nya."t:+z
Tetapi jika susah atau dia tidak dapat
Menghadap kiblat tetap diwajibkan
memalingkan binatang itu, ataupun bi-
natang itu terikat dengan binatang lain apabila shalat sunnah dilakukan dalam
keadaan bermukim (bukan musafir), se-
secara berderet, maka dia tidak diwajib- perti penunggang yang berjalan-jalan di
kan menghadap ke arah kiblat karena su- sekitar kota atau kampungnya. Orang
yang pergi ke sana kemari tanpa tujuan
lit dan akan mengganggu perjalanannya, (ha'im), orang yang sesat (taa'ih) dan pe-
lancong (sa'ih) tidak boleh melakukan
dan dia tidak boleh membelokkan arah shalat sunnah di atas tunggangannya, ka-
perjalanannya kecuali ke arah kiblat. rena dia tidak mempunyai tujuan yang
tertentu.
Dalil yang mensyaratkan menghadap
Shalat boleh dilakukan di atas unta,
ke arah kiblat pada permulaan shalat keledai, dan tunggangan lainnya. Ibnu
Umar berkata, 'Aku melihat Rasulullah
adalah hadits riwayat Anas r.a.,
"Apabila Rasulullah saw. dalam perja- saw. melakukan shalat di atas keledai
lanan dan baginda hendak melakukan ketika beliau menuju ke Khaibar.D1343 Te-
tapi jika binatang tersebut ada najisnya,
shalat sunnah di atas tunggangannya,
beliau menghadap ke arah kiblat dan me-
lakukan takbir, kemudian shalat dengan
menghadap ke arah yang dituju oleh bi-
natang tu nggangan ny a." L34o
1340 Hadits riwayat Imam Ahmad dan Abu Dawud. Hadits yang serupa ini juga diriwayatkan oleh asy-syaikhan (al-Bukhari dan Muslim)
(Nailul Authar,Jilid 11, hlm. 172).
r3a1 Al-Mughni, Jilid I, hlm. 4g4-438,6O0; Kasysyafut Qina', jilid I, hlm. 350-353.
13a2 H"ditr riwayat Abu Dawud.
1343 Hadits riwayat Abu Dawud dan an-Nasa'i.
Bag[an 1: IBADAH FIQIH ISIiq,M JILID 1
maka kalau seseorang akan shalat di Nakhoda kapal juga tidak diwajibkan
atasnya, harus ada penyekat yang suci. menghadap ke arah kiblat meskipun sha-
Kiblat shalat adalah arah yang ditujunya
dan-jika mampu-dia tidak boleh ber- lat yang dilaksanakannya adalah shalat
paling dari arah perjalanannya kecuali fardhu. Karena, dia bertanggung jawab
berpaling menghadap ke arah kiblat. fika memandu kapal sekalipun dia mampu
seseorang berada di dalam perahu atau menghadap kiblat ketika mulai fiftitah)
kapal besar sehingga dia dapat meng-
hadap ke arah mana saja yang dikehen- shalat.
dakinya, dan dia dapat melakukan shalat
dengan menghadap ke arah kiblat, ruku', Berkaitan dengan kewajiban mengha-
dan juga sujud, maka hendaklah dia dap arah kiblat bagi musafir yang me-
menghadap ke arah kiblat dan sujud di nunggang binatang, terdapat dua riwayat
atas tempat shalatnya-jika memang dia
yang bersumber dari Imam Ahmad bin
mampu melakukannya. fika dia hanya da-
pat menghadap kiblat saja, tapi dia tidak Hanbal:
dapat ruku'dan sujud secara sempurna, Pertama, yaitu pendapat yang terkuat
maka hendaklah dia menghadap kiblat orang tersebut wajib menghadap kiblat
dan ruku'serta sujud dilakukan dengan berdasarkan hadits dari Anas [yang te-
Iah disebutkan sebelum ini dalam madz-
cara isyarat. hab Syafi'i). Berdasarkan riwayat ini, pe-
nunggang hendaklah menghadap kiblat
fika dia tidak mampu menghadap kib- bersama-sama binatang tunggangannya
ketika memulai [iftitah) shalat sunnah.
lat, maka kewajiban menghadap kiblat
itu gugur. Ini menurut pendapat jumhur Yaitu, dengan mengarahkan binatang
ulama, sebagaimana menghadap kiblat tunggangannya ke arah kiblat jika dia
juga gugur bagi orang yang uzur seperti
semasa pertempuran dengan musuh, memang mampu melakukannya dan jika
menyelamatkan diri dari banjir, api, bi- memang tidak menyulitkan. Atau, dengan
natang buas dan seumpamanya. Meski- cara dirinya sendiri menghadap ke arah
pun, keuzuran itu yang jarang berlaku, kiblat. Itu pun jika ia mampu dan dirasa
seperti orang sakit yang tidak mampu tidak menyulitkan.
menghadap kiblat, tempat duduk yang
tidak dapat diarahkan ke arah kiblat, Kedua, orang tersebut tidak wajib
atau seperti diikat dan lain-lainnya. fika
menghadap kiblat, dengan alasan meng-
seseorang tidak mampu menghadap hadap kiblat adalah bagian dari shalat,
sehingga dia juga sama seperti bagian-
kiblat sejak mulai melakukan shalat, se- bagian lain dari shalat, dan juga karena
perti penunggang binatang namun bina- menghadap kiblat dalam kondisi demi-
tang tersebut tidak mau ikut arahan pe- kian dianggap menyulitan, maka gugurlah
mandunya (penunggangnya) atau dalam
kafilah (deretan binatang yang diikat kewajiban menghadap kiblat, Adapun
antara satu dengan yang lain), maka dia
tidak diwajibkan menghadap kiblat ke- hadits yang diriwayatkan oleh Anas itu
tika shalat. hanya menunjukkan kelebihan (fadhilah)
dan kesunnahan.
Musafir boleh melakukan shalat sun-
nah di atas tunggangannya, sekalipun shalat
tersebut adalah shalat sunnah witir atau sun-
FrqlH lsrAM lrrrD 1 mampu menghadap ke arah Kiblat. Namun
jika dia tidak sanggup, maka syarat itu gugur.
nah rawatib lain atau sujud tilawah. Musafir
yang berjalan kaki tidak boleh melakukan Seperti ketika memulai [iftitah) shalat sunnah
shalat ketika dalam keadaan berjalan. Ke- dia kesulitan menghadap kiblat (karena bina-
tika dia melakukan shalat sunnah, hendak-
lah memulainya (iftitah) dengan menghadap tang tunggangannya sangat liar dan susah
kiblat. Ruku' dan sujudnya juga hendaklah
dilakukan ke arah kiblat di atas tempat per- untuk diarahkan), maka dia tidak diwaiibkan
jalanannya. Karena, cara seperti ini mudah ia menghadap kiblat.
lakukan. Adapun sisa shalat (setelah iftitah)
boleh menghadap arah mengikuti arah per- Menurut pendapat ulama Hanafi dan
Maliki, sah shalat jika binatang tunggangan itu
jalanannya.
terkena najis. Tetapi menurut pendapat ulama
Adapun shalat di atas tunggangan dikare-
nakan sakit, terdapat dua riwayat mengenai Syafi'i, tidak sah. Adapun ulama Hambali me-
masalah ini:
ngatakan bahwa shalat tersebut sah, dengan
[a) Orang yang sakit tersebut boleh melaku-
syarat ada pelapis yang menjadi penghalang.
kan shalat di atas tunggangan, karena Menurut mereka, syarat sah shalat adalah
turun dari tunggangan sewaktu sakit le- sucinya tempat shalat seperti pelana, alat-alat
bih sulit daripada turun sewaktu hujan.
Siapa saja yang shalat di atas tunggangan untuk menarik kereta dan lain-lain, karena
karena sakit atau karena hujan, tidak masalah ini tidaklah menyulitkan. fikalau bi-
boleh berpaling dari arah kiblat. natang tunggangan itu sendiri najis (na7s aI-
(b) Tidak boleh. Alasannya adalah karena hin) atau tempat duduk itu terkena najis, te-
Ibnu Umar (ketika hendak shalat) turun tapi di atasnya terdapat lapisan [penghalang)
dari tunggangan semasa sakit. )uga, ka- yang suci seperti pelana dan seumpamanya,
rena orang sakit tersebut masih mampu
melakukan shalat dan sujud. Sehingga, maka shalatnya sah. fika binatang tunggangan
dia tidak boleh meninggalkannya seba-
gaimana orang yang tidak sakit. itu memijak benda najis, menurut ulama
Kesimpulannya adalah, para fuqaha se- Hambali shalat tersebut tidak batal.
pakat membolehkan orang yang dalam per-
jalanan melakukan shalat di atas tunggangan, Tidak sah melakukan shalat fardhu di atas
dan shalatnya dilakukan dengan cara isyarat.
Tetapi, mereka berbeda pendapat berkenaan binatang tunggangan, kecuali jika shalat itu
dengan musafir yang dekat. Ulama Syafi'i dan
Hambali membolehkannya, sementara ulama dilakukan dengan sempurna lengkap dengan
Maliki dan Hanafi tidak membolehkannya. segala rukun dan syaratnya. Siapa saja yang
melakukan shalat di dalam kapal, hendaklah
Menurut pendapat ulama Maliki dan Ha-
nafi, menghadap kiblat dalam kondisi di atas menghadap kiblat-jika memang dia mampu.
tidaklah disyaratkan. Tetapi, ulama Syafi'i dan Dan apabila kapal itu berpindah arah, hen-
Hambali mensyaratkannya pada permulaan
takbir untuk shalat jika memang orang itu daklah orang yang shalat juga berpindah arah
supaya tetap menghadap ke arah kiblat.
f. Syarat Keenam: Nlat
Niat adalah salah satu syarat shalat me-
nurut pendapat ulama Hanafi dan Hambali,
begitu juga menurut pendapat yang raiih
di kalangan ulama Maliki. Adapun menurut
pendapat ulama Syafi'i dan sebagian ulama
Maliki, niat adalah salah satu dari fardhu sha-
lat atau rukunnya, karena ia diwajibkan pada
salah satu dari shalat, yaitu pada awal
B'glan 1: IBADAH FIqLH ISIAM JILID 1
shalat bukan sepanjang waktu ketika sedang didapot oleh) setiap individu adalah menurut
mendirikan shalat. Oleh karena itu-menurut
mereka-niat adalah salah satu dari rukun niatnya.'4344
sebagaimana takbir dan ruku'.
Oleh sebab itu itu, shalat yang dilakukan
Arti niat dari segi bahasa adalah kehen- tanpa niat adalah tidak sah.
dak. Adapun menurut syara', niat bermakna
azamftekad hati untuk melakukan ibadah Niat yang sempurna adalah ketika sese-
dengan tujuan tujuan untuk mendekatkan diri orang yang melakukan shalat berusaha untuk
kepada Allah SWT. Sehingga, dia menjadikan merasakan bahwa dirinya beriman dan tujuan
melakukan shalat adalah untuk mendekatkan
Allah SWT sebagai tujuan perbuatannya, bu-
kan karena perkara lain, seperti untuk makh- diri kepada Allah. Dia juga harus meyakini
lu[ ingin mendapat pujian dari manusia, atau bahwa niat itu wajib dan harus melaksanakan
niatnya pada hari itu juga, serta menentukan-
semacamnya. Inilah yang dinamakan dengan nya (ta'yiin) dan menetapkan bilangan rakaat-
nya. Dia juga harus menetapkan posisinya,
keikhlasan. apakah menjadi imam ataupun menjadi mak-
mum atau sendirian, kemudian niat takbiratul
Para ulama sepakat bahwa niat adalah ihram.
wajib dalam mengerjakan shalat. Niat dilaku- Ulama sepakat bahwa yang wajib berte-
kan untuk membedakan antara sesuatu yang rusan (istishab) selama menjalankan shalat
dimaksudkan untuk ibadah dan sesuatu yang adalah niat yang dalam bentuk hukmi bukan
hanya adat [atau kebiasaan), dan ia juga di- dalam bentuk hakikatnya. Dengan arti, bahwa
maksudkan untuk mencapai keikhlasan ke- dia tidak boleh merencanakan untuk memu-
pada Allah SWT dalam mengerjakannya. Sha- tuskan niat. Jika di tengah-tengah shalat [se-
telah takbiratul ihram) dia lupa niatnya itu,
lat adalah ibadah dan ibadah harus berupa maka shalatnya tetap dianggap sah.
keikhlasan amalan yang sempurna hanya ka- Syarat Niat
rena Allah SWT. Firman-Nya, Syarat-syarat niat adalah:
ffi ,J\tr:4r*Av4-ifilu; 1. Beragama Islam;
2. Mumayyiz; dan
"Padahal mereka hanya diperintah me- 3. Tahu apa yang diniatkan.
nyembah AIIah, dengan ikhlas menaati-Nya
semata-mata karenq (menjalankan) ogama...."
(al-Bayyinah:5)
Imam al-Mawardi berkata, "lkhlas dalam Niat Harus Berbarengan dengan Takbtr
percakapan orang Arab biasanya diartikan Ulama Hanafi,l3as mensyaratkan bahwa
dengan niat." Pendapat ini didukung oleh ha-
dits yang terkenal juga, yaitu sabda Rasulullah niat shalat dan takbiratul ihram harus ber-
sambung (ittishaal), tidak boleh ada apa pun
saw., penyela lain di antara keduanya. Yang dimak-
sud dengan penyela tersebut adalah suatu
"Sesungguhnya setiap perbuatan adalah perbuatan yang tidak ada kaitannya dengan
dengan niat dan sesungguhnya (pahala yang
1344 H"ditr riwayat imam hadits yang enam di dalam kitab-kitab mereka, dari Umar ibnul Khaththab r.a. (Nashbur Rayah Jilid l, hlm.
301).
1345
t:
FIqLH ISI."A,M IILID 1 Menurut pendapat ulama Hambali,13a6
adalah lebih utama (al-afdhal) jika niat shalat
shalat seperti makan, minum, dan seumpa- dibarengkan dengan takbir. Hal ini supaya ti-
manya. Tetapi jika diselingi oleh perbuatan dak bertentangan dengan pendapat ulama
yang ada kaitannya dengan shalat seperti
wudhu atau berjalan menuju ke masjid, maka yang mengatakan bahwa niat wajib dilakukan
hal itu tidak memutuskan hubungan antara berbarengan dengan takbir. Namun jika se-
seorang melakukan niat untuk menunaikan
niat dengan takbiratul ihram. Atas dasar ini,
maka apabila seseorang berniat, kemudian shalat fardhu pada waktu itu, atau niat shalat
mengambil wudhu atau berjalan menuju ke sunnah rawatibnya, dan itu dilakukan setelah
masjid dan kemudian melakukan takbir tanpa masuk waktu, dia juga tidak berniat untuk
niat lagi, maka sahlah niatnya karena tidak ada membatalkannya serta masih dalam keadaan
penyela. Masalah ini disamakan dengan kasus Islam [tidak murtad), dan niatnya itu dilaku-
kan sebentar sebelum takbiratul ihram, maka
seseorang yang berhadats di tengah-tengah shalatnya sah. Karena sekalipun niat berlaku
lebih dahulu dari takbic namun shalat masih
shalat. Maka, dia boleh meneruskan shalatnya menjadi tujuan utama niatnya dan orang yang
sesudah memperbarui wudhunya.
shalat itu masih kekal dengan niatnya yang
Bagi mengelakkan dari perselisihan pen- ikhlas. Karena, niat adalah termasuk syarat-
dapat, maka seseorang disunnahkan berniat
syarat shalat. Maka, boleh mendahulukannya
di saat atau berbarengan dengan takbiratul sebagaimana syarat-syarat lainnya. Selain itu,
tuntutan supaya niat dilakukan berbarengan
ihram. Menurut pendapat yang shahih, tidak dengan takbiratul ihram akan menimbulkan
sah melewatkan niat dari takbiratul ihram. kesulitan, maka tuntutan itu gugur berdasar-
kan fiiman Allah SWT,
Begitu juga boleh mendahulukan niat
dalam mengerjakan'haji. Oleh sebab itu, jika @ qAY.4\eK)cJ46
seseorang keluar dari rumah dengan berniat "...dan Dia tidak menjadikan kesukaran
melakukan ibadah haji, lalu berihram tanpa untukmu dalam agama...." (al-Haii: 78)
niat lagi, maka hajinya sah. Begitu juga dalam Alasan lainnya adalah persiapan untuk
kasus zakat, yaitu zakat seseorang sah apabila shalat (awalan shalat) adalah termasuk se-
bagian dari shalat. Maka, niat shalat pada
niatnya terjadi ketika mengeluarkan zakat
waktu itu sudah cukup untuk dihubungkan
tersebut. dengan aktivitas shalat, sebagaimana yang
Berbeda dengan shalat, jika niat shalat berlaku pada perkara-perkara lain juga.
terjadi selepas takbiratul ihram, maka sha- Ulama Maliki berpendapat,l3aT niat wajib
latnya tidak sah. Tetapi dalam kasus puasa,
seseorang boleh melewatkan niatnya me- dilakukan sewaktu takbiratul ihram, ataupun
lampaui awal waktu puasa. Karena, dia perlu sesaat sebelumnya.
mengetahui terlebih dahulu dengan yakin
apakah waktu berpuasa sudah bermula atau
belum. Berlainan dengan shalat yang mana
apabila melakukan takbir; maka sudah tentu
melakukan shalat, maka niatnya harus dilaku-
kan pada waktu itu juga.
7346 Karyryaful Qina'lilid 1, hlm. 367.
73a7 Asy-Syarhush Shaghiir, lilidl, hlm, 305.
Menurut ulama Syafi'i,1348 niat disyarat- Isr."AM JrLrD 1
kan berbarengan dengan aktivitas shalat.
fika terjadinya niat terlambat dari perbuatan [b) Penentuan (at-Ta yiin); dan
shalat, maka ia dianggap sebagai keinginan [c) Kefardhuan (fardhiyah).
['azam) bukannya niat. fika seseorang ber-
Pendapat Paru Fuqaha Tentang Nlat
katA, " N aw a itu an Ush alliy a a zh -Zhuhra, All a hu
a. Pendapat Ulama Madzhab Hanafil3so
Akban nawaitu (Aku berniat shalat Zhuhur,
Allahu Akbar, aku berniat.)" maka shalatnya Pembahasan tentang niat ini mencakup
batal. Karena, perkataan "nawaitu (aku ber-
niat)" selepas takbir adalah perkataan yang tiga perkara, yaitu penafsiran niat, cara ber-
tidak ada kaitannya dengan shalat. Perkataan niat, dan waktu berniat.
tersebut terucap setelah shalat bermula, ma-
ka perkataan itu membatalkan shalat. Penalslran Nlat
Niat adalah kehendak. Oleh sebab itu, niat
Menentukan (ta'yln) Apa yang Dlnlatkan
Fuqaha sependapat bahwa orang yang shalat adalah kehendak melakukan shalat ka-
rena Allah SWT. Kehendak adalah perbuatan
berniat hendaklah menentukan jenis shalat
hati, maka tempat niat adalah di hati. Yaitu,
fardhu yang hendak dilakukan seperti Zhuhur
atau Ashar. Karena, jenis shalat fardhu ada dengan cara hatinya mengetahui apakah sha-
banyak. Maka salah satu shalat fardhu tidak
lat yang hendak dilakukan. Melafalkan atau
akan terlaksana, jika yang diniatkan adalah menyebutkan niat dengan lidah tidaklah di-
syaratkan. Tetapi disunnahkan untuk meno-
shalat fardhu yang lain. long hati, yaitu dengan niat di hati dan me-
Tempat Nlat nyebut dengan lidah.
Ulama juga sepakat untuk mengatakan Menentukan (ta'yin) suatu shalat adalah
bahwa tempat niat adalah di hati. Menurut lebih baik dan lebih diutamakan. fika yang
hendak dilakukan adalah shalat fardhu, hen-
pendapat jumhu4, kecuali ulama Maliki, me- daklah shalat itu ditentukan, seperti fardhu
Zhuhur atau Ashar. Begitu juga dengan shalat
lafalkan niat adalah sunnah. Ulama Maliki yang diwajibkan seperti shalat witir; sujud
tilawah, nadzar, dan shalat dua hari raya. OIeh
mengatakan melafalkan niat hukumnya boleh,
tetapi lebih diutamakan tidak melafalkan niat sebab itu, semuanya mestilah ditentukan.
baik untuk shalat atau ibadah lainnya.
Begitu juga orang yang menqadha shalat ha-
Menurut pendapat yang ashah di kalang- rus menentukan hari atau waktu shalat yang
an ulama Syafi'i,13ae kefardhuan shalat harus telah lewat, tetapi niat mengqadha'nya tidak
diniatkan juga. Adapun mengaitkan ibadah diharuskan. Bagi shalat tunai fbukan qadha')
shalat dengan Allah SWT tidak menjadi syarat menentukan hari, waktu dan bilangan rakaat-
niat. Oleh sebab itu, menurut ulama Syafi'i, nya tidak diharuskan.
syarat niat ada tiga:
Menurut pendapat yang shahih di kalang-
[a) Kehendak hati (al-Qashd);
an ulama Hanafi, niat untuk semua shalat
sunnah, baik itu sunnah fajaq, tarawih, dan
lain-lain, cukup dengan cara umum (tanpa
1348 Hasyiyah at-Bajurililid I, hlm. 149.
73ae Mughnil Muhtaj lilid I, hlm. 149.
73s0 Al-Bodo'i',filid I, hlm. 127 dan setelah nya; ad-Durrul Mukhtar,lilid I, hlrn. 406 dan setelahnya; Tabyinul Haqa'ig, f ilid l, hlm. 99 dan
Iilid 1, hlm.
FrqLH ISL{.M JrLrD 1
menentukan jenisnya). Tetapi, lebih baik ji- Perbedaan antara kedua kasus ini adalah
ka jenisnya ditentukan (tayin) juga sebagai jika orang shalatnya perempuan yang men-
jadi makmum lelaki yang tidak berniat men-
menghormati sifat sunnah, baik itu sunnah
jadi imam perempuan tersebut dianggap
tarawih atau sunnah waktu.
sah, maka jika perempuan itu shalat sebaris
Niat shalat atau puasa jika dikaitkan de-
ngan insya Allah, tidaklah batal karena tempat dengannya akan menyebabkan batalnya sha-
niat adalah di hati. lat imam lelaki tersebut. Padahal, dia tidak
Menurut pendapat yang mu'tamad, iba- menghendakinya. Oleh sebab itu, laki-laki itu
dah yang mempunyai banyak jenis perbuatan disyaratkan niat menjadi imam bagi perem-
cukup diniati secara global, dan niat itu akan
mencakup semua perbuatan yang ada di da- puan di belakangnya, supaya shalat lelaki
lamnya. tersebut tidak rusak akibat perbuatan mak-
mum perempuan yang tidak dikehendakinya.
fika seseorang mengikuti shalat berjama- Hal ini tidak berlaku bagi makmum lelaki. Ke-
ah sedangkan dia tidak tahu apakah shalat simpulannya, diwajibkannya niat mengimami
jenis makmum di belakangnya hanya dalam
berjamaah itu shalat fardhu atau tarawih, satu kasus saja, yaitu dalam kasus lelaki
dan dia niat shalat fardhu, maka jika jamaah menjadi imam perempuan.
itu ternyata melakukan shalat fardhu, sahlah
shalatnya. Namun jika tidah maka shalatnya fika seseorang mengikuti imam (menjadi
menjadi shalat sunnah. makmum), maka hendaklah dia menentukan
(ta yin) shalatnya sebagaimana yang telah di-
Cara Bemlat jelaskan sebelum ini. Dan hendaklah dia me-
nambahi dalam niatnya sebagai orang yang
fika seseorang mengerjakan shalat sen- mengikuti imam (makmum). Contohnya ada-
lah dengan meniatkan kefardhuan bagi waktu
dirian, hendaklah ia menentukan jenis fardhu shalat itu dan mengikuti imam, atau berniat
atau wajibnya. Dan jika ia shalat sunnah, maka mengikuti shalatnya imam.
cukup dengan niat shalat saja, sebagaimana
yang telah dijelaskan sebelum ini. Waktu Bernlat
Jika seseorang shalat sebagai imam, Niat disunnahkan serentak dengan takbir,
yaitu dengan cara membarengkan takbir de-
hendaklah ia menyebutkannya ketika niat ngan niat. Menurut mereka (ulama Hanafi),
niat shalat seseorang sah dilakukan sebelum
sebagaimana yang telah dijelaskan sebelum
ini. Lelaki yang menjadi imam kepada lelaki takbir jika dia tidak melakukan pekerjaan-
lain, tidak disyaratkan niat sebagai imam pekerjaan yang dapat memutuskan antara niat
dengan takbir. Membarengkan niat dalam satu
bagi jamaah laki-laki. Karena, para makmum masa dengan takbir bukanlah satu syarat.
sudah dianggap sah mengikuti imam terse-
but, meskipun imamnya tidak meniatkan bah- Pendapat Ulama Madzhab Mallkll3sl
wa merekalah (kaum lelaki) yang menjadi Niat adalah menghendaki sesuatu, dan
tempatnya adalah di hati. Niat shalat adalah
makmumnya. Sebaliknya, lelaki yang menjadi
imam bagi perempuan disyaratkan niat se-
bagai imam bagi mereka, supaya sah mereka
mengikutnya.
airssr Asy-Syarhul l{abir ma'a ad-Dasuqi,filid I, hlm. 233 dan 520; asy-Syarhush Strogtrrr dan Haryiyohas-Sawr, Iilid I, hlm. 303-305; aI-
Iql- Ftshw a h, hlm. 57 ; idp)ta fi[dI.hlm1
BaSIan 1: IBADAH FIqLH ISIAM JITID 1
fardhu. Adapun menurut pendapat yang ra- dengan niat tunai atau sebaliknya tetap di-
jih ia adalah syarat. Contohnya adalah ke- anggap sah.
Menentukan jenis shalat adalah wajib ke-
hendak hati untuk menunaikan shalat fardhu
Zhuhur. Menghendaki sesuatu adalah perkara cuali pada satu kasus saia, yaitu jika seseorang
luaran bagi zat sesuatu itu. Niat lebih utama masuk ke dalam masjid dan didapati imam
iika tidak dilafalkan kecuali bagi orang yang sedang shalat dan dia menyangka imam itu
sedang melakukan shalat fumat. Lalu dia pun
waswas. Maka, ia disunnahkan melafalkan niat shalat |umat, tetapi kemudian ternyata
imam itu melakukan shalat Zhuhun maka hu-
niatnya supaya keraguannya hilang. Niat di- kum shalat orang tersebut adalah sah. Tetapi
wajibkan berbarengan dengan takbiratul ih- apabila yang teriadi sebaliknya, dia mengira
ram. fika niat mendahului takbir atau selepas
takbir dengan berlalu masa yang panjang, imam shalat Zhuhur tapi ternyata shalat
maka ulama sepakat untuk mengatakan bah-
wa niat tersebut batal. Jika teriadi niat men- fumat, maka tidak sah.
dahului takbir dengan masa yang singkat, Shalat sendirian atau shalat mengikut
imam fsebagai makmum) waiib diniatkan.
maka menurut sebagian pendapat, yaitu pen- Adapun niat sebagai imam tidaklah diwaiib-
dapat yang terpilih (al-mukhtaar), niat itu sah kan, kecuali dalam shalat |umat atau jamak
taqdim karena hujan, karena takut (khaufl,
sebagaimana pendapat ulama Hanafi. Menu-
rut sebagian pendapat yang lain, niat tersebut atau istikhlaf.l3s3 Karena di dalam shalat-shalat
batal sebagaimana pendapat ulama Syafi'i. tersebut, imam dianggap sebagai syarat. Ibnu
Rusyd menambahkan lagi, yaitu diwajibkan
Ketika niat hendaklah jenis fardhu, atau juga niat sebagai imam ketika shalat jenazah.
ienis sunnah yang lima (witi4, hari raya, ger- fika imam tidak berniat sebagai imam ketika
hana matahari, gerhana bulanl3sz atau shalat shalat fumat, maka shalat imam dan makmum
meminta hujan) atau sunnah fajar; ditentukan batal. Jika imam tidak berniat sebagai imam
ketika jamak taqdim karena hujan, maka sha-
(ta'yiin). Adapun untuk shalat-shalat sunnah lat yang kedua (yaitu Ashar atau Isya) batal.
yang lain seperti sunnah Dhuha, rawatib, dan fika imam tidak berniat sebagai imam
tahajud, yang hanya cukup dengan niat shalat
sunnah saja, maka tidak perlu ditentukan (ta'- dalam shalat khauf, maka shalat kumpulan
yiin). Shalat sunnah seperti itu akan meniadi makmum pertama saja yang batal, tetapi sha-
shalat sunnah Dhuha jika dilakukan sebelum lat imam dan kumpulan makmum kedua sah.
az-Zawal (tergelincirnya matahari dari garis fika imam tidak berniat sebagai imam dalam
tengah langit), sunnah rawatib jika dilakukan shalat istikhlaf, maka shalat imam sah, tetapi
sebelum atau sesudah Zhuhuc sunnah tahi- shalat makmum liatal.
yatul masiid jika dilakukan ketika masuk ke
Pendapat Ulama Madzhab Syafl'1rts+
masiid, sunnah tahajud jika dilakukan pada Ulama madzhab Syafi'i menetapkan bah-
tengah malam, dan shalat sunnah Isya [asy- wa niat haruslah berbarengan dengan per-
Syaf) jil<a dilakukan sebelum witir.
Niat tunai (adaa), qadha' atau bilangan
rakaat, tidaklah disyaratkan. Shalat qadha'
1352 Menrrut pendapat yang m u'tamad ia adalah mandub.
1353 lstikhtaf adalah imam atau makmum mendorong salah seorang yang melakukan shalat di belakang untuk meniadi imam
menggantikan imam yang asal. Karena, shalat imam yang asal batal disebabkan oleh hadats.
r3sa Hasyiyahal-Bajuri,lilid I, hlm. 149 dan setelahnya; Mughnil Muhaj Jilid I, hlm. 148 -150 dan Jilid l,hlm.252-253 dan setelahnya;
t hlnu 7S;
; Iitid [ll,hhn.
FrqLH IsrAM Itr.rD I Baglan 1: IBADAH
buatan (apa yang dikehendaki itu), dan tem- fika seseorang melakukan shalat sunnah
patnya adalah di hati. Disunnahkan melafalkan yang berkaitan depgan waktu seperti sunnah
niat terlebih dahulu beberapa saat sebelum rawatib, atau yang berkaitan dengan sebab
takbir. fika di dalam hati atau dengan lidah- tertentu seperti shalat meminta hujan, maka
nya seseorang berkata "insya Allahi'sesudah dia diwajibkan melakukan dua perkara: yaitu
niat dengan maksud untuk mendapat keber-
katan, dan berkeyakinan bahwa berlakunya niat menunaikannya (qashdu fi'lih) dan me-
perbuatan shalat tersebut adalah dengan
kehendak Allah SWT maka ucapan itu tidak nentukannya (ta'yinih) seperti niat shalat sun-
membatalkan niatnya. Tetapi jika tujuannya nah Zhuhur atau Hari Raya Puasa atau Hari
adalah menggantungkan perbuatan shalatnya Raya Kurban. Adapun niat bahwa shalat yang
dengan kehendak Allah [yaitu jika diniatkan dilaksanakan adalah sunnah (nafliyyah) ada-
bahwa shalat itu dilakukan jika dikehendaki lah tidak disyaratkan.
Allah SWT) atau disertai rasa ragu-ragu, maka Adapun shalat sunnah yang tidak dikait-
kan dengan waktu atau sebab tertentu seperti
niatnya tersebut tidak sah. tahiyatul masjid dan sunnah wudhu, maka cu-
kuplah dengan niat menunaikan shalat saja.
Berhubungan dengan niat shalat fardhu-
Begitu juga niat karena AIIah SWT (ida-
meskipun fardhu kifayah seperti shalat jena- /ah) tidaklah diwajibkan, karena semua iba-
dah adalah karena Allah SWT semata-mata.
zah, mengulangi shalat atau nadza4 maka ada Tetapi, disunnahkan niat karena Allah SWT
tiga hal yang diwajibkan, yaitu niat kefardhu-
an (meniatkan bahwa shalat itu adalah shalat supaya tercapai maksud keikhlasan.
fardhu), niat melaksanakan perbuatan (yaitu
berniat bahwa perbuatan shalatnya itu adalah Disunnahkan juga niat menghadap ke
untuk membedakan dari perbuatan lain), arah kiblat dan menyebutkan bilangan rakaat
dan menentukan jenis shalat fardhu tersebut untuk mengelakkan perselisihan pendapat
seperti niat menunaikan shalat fardhu Zhu-
dalam masalah ini. fika seseorang melakukan
hur.13ss kesalahan dalam niat bilangan rakaat seperti
Niat dan hal-hal yang berkaitan dengan- niat shalat Zhuhur dengan tiga rakaat atau
lima rakaat, maka shalat itu tidak sah. Begitu
nya hendaklah dilakukan serentak dengan tak- juga disunnahkan menyebutkan niat tunai
biratul ihram. Itulah yang dimaksud oleh ula-
ma madzhab Syafi'i dengan mendatangkan (adaa) atau qadha'.
(niat) dan menyertakan [niat dengan takbir) Menurut pendapat yang ashah, shalat tu-
nai (adaa) dengan niat qadha' atau sebaliknya
sesuai dengan kebiasaan [al-istihdhar wal-mu- adalah sah ketika memang ada uzu4 seperti
tidak tahu waktu, karena adanya awan men-
qaaranah ol-'urfiyyainl. [lni bermaksud men- dung, atau seumpamanya. oleh sebab itu, jika
datangkan dalam ingatan segala perbuatan
shalat yang terdiri atas perkataan, perbuatan seseorang menyangka waktu shalat sudah
pada awal dan akhirnya, sekalipun secara
habis, lalu dia melakukan shalat qadhal namun
umum, sebelum melakukan takbir. Ini adalah kemudian dia mendapati bahwa waktu shalat
menurut pendapat yang mu'tamad, juga
mengingat-ingat semua perkara tadi secara masih longgar; atau dia menyangka waktu
sepintas lalu ketika takbiratul ihram). shalat masih ada lalu dia melakukan shalat
dengan cara tunai (adaa), kemudian ternyata
1355 Seorang pakar bersyair; "Wahai yang bertanya tentang syarat niat, syaratnya adala h qashd, ta yin, danfardiyyah!'
B.gan 1: IBADAH FIqLH ISI.AM III-ID 1
waktu shalat sudah tamat, maka shalatnya mak taqdim karena hujan, shalat ulangan
dalam waktu (al-mu'aadah fil-waqtf) secara
tetap sah.
Begitu juga shalat seperti di atas dihukumi berjamaah, dan shalat yang dinadzarkan un-
sah apabila seseorang melakukannya tanpa tuk melakukannya secara berjamaah supaya
ada uzuri jika memang ia menghendaki niat
terlepas dari dosa.
itu dari segi bahasa saja. Karena, keduanya Makmum disyaratkan niat menjadi mak-
ladaa' dan qadhaaJ boleh digunakan untuk
mum. Dia hendaknya niat mengikuti, niat
makna yang satunya, seperti perkataan, 'Aku menjadi makmum, atau niat berjamaah de-
menunaikan (qadhaitu) utang" dan'Aku mem-
ngan imam yang ada pada waktu dia shalat
bayarnya (addaituhu)J' Arti dari keduanya
atau dengan orang yang berada di dalam
adalah sama yaitu membaya utang.
mihrab atau seumpamanya. Niat tersebut
Jika orang tersebut melakukan niat seba-
hendaknya dilakukan bersamaan dengan tak-
gaimana di atas sedangkan tidak ada uzur biratul ihram. Karena, aktivitas mengikut [af-
tab'iyyah) adalah perbuatan yang memerlu-
dan ia tidak menghendaki arti dari segi baha- kan niat, sebab seseorang itu tidak mendapat
sanya, maka shalatnya tidak sah karena ada hasil dari perbuatannya kecuali dari apa yang
unsur mempermainkan. diniatkan. Tidaklah cukup apabila makmum
Menentukan waktu bukanlah termasuk berniat mengikut (iqtidaa) secara umum
syarat dalam niat shalat. Jika seseorang me- tanpa dikaitkan dengan imam (yaitu meng-
nentukan hari, tetapi salah, maka shalatnya ikut imam liqtidaa' al-imaaml). fika seorang
tidak batal. Seseorang yang terlewat shalat
pada waktu yang telah lalu, seperti terlewat makmun mengikuti imam namun tanpa niat
shalat Zhuhur pada hari kemarin, maka dia atau ragu-ragu pada niatnya tersebut, maka
tidak disyaratkan niat shalat Zhuhur bagi hari shalatnya batal, meskipun dia telah lama me-
tersebut, cukuplah dia niat shalat Zhuhur saja. nunggu imam.
Menurut pendapat yang mu'tamad, menen-
tukan hari, bulan, atau tahun tidaklah disun- Pendapat Ulama Madzhab rlamhlf3s6
Niat adalah keinginan hati untuk melaku-
nahkan.
kan perbuatan ibadah dengan maksud untuk
Niat disyaratkan dalam semua shalat. fi-
ka timbul keraguan berkenaan dengan niat, mendekatkan diri kepada Allah SWT. Shalat
seperti apakah sudah niat atau belum, maka
apa pun yang tanpa disertai dengan niat ti-
shalatnya batal.
dak sah. Niat diwajibkan di dalam hati dan
Imam tidak disyaratkan niat sebagai
melafalkannya adalah sunnah.
imam, tetapi disunnahkan supaya mendapat
keutamaan berjamaah. Jika dia tidak berniat Niat shalat fardhu disyaratkan dua hal,
sebagai imam, maka dia tidak akan mendapat yaitu menentukan (ta'yin) jenis shalat seperti
keutamaan tersebut. Karena, seseorang tidak
akan mendapatkan buah pekerjaannya ke- Zhuhur; Ashar; atau lainnya, dan berazam un-
cuali berdasarkan apa yang diniatkannya. tuk melakukannya. Adapun niat kefardhuan
tidak disyaratkan,l3sT seperti mengucapkan,
Tetapi, niat sebagai imam disyaratkan dalam
empat keadaan, yaitu shalat Jumat, shalat ja- 'Aku shalat Zhuhur secara fardhu."
Adapun shalat qadha', jika hati orang
yang melakukan telah menentukan bahwa
73s6 Al-MughniJilid I, hlm. 464-469 dan Jilid Il, hlm.23l.; Kasyryaful Qina'Jilid l, hlm. 364-370.
1357 lbnu Qudamah berkata: pendapat yang shahih mengatakan bahwa ta'yin harus dilakukan. Shalat harus dilakukan sesuai dengan
yang diniatkan.
FlqlH IsrAM I[rD 1
shalatnya adalah Zhuhur untuk hari itu, maka hal takbiratul ihram, maka hendaklah orang
tersebut memulai Iagi shalatnya sebagaimana
niat qadha' atau tunai [adaa] tidak perlu yang dikatakan oleh ulama Syafi'i: karena
lagi. Shalat qadha' dengan niat tunai (adaa) dalam masalah ini, yang asal adalah belum
atau sebaliknya dianggap sah jika ketika me- niat. Namun, jika seseorang ingat sebelum
mulainya diawali dengan dugaan dan ternyata
menghentikan shalat bahwa dia telah niat atau
dugaannya meleset. telah melakukan takbir, maka shalatnya bo-
leh diteruskan, karena tidak ada perkara yang
Orang yang melakukan shalat sunnah,
wajib menentukan (ta'yiin) shalatnya itu, jika membatalkan. Keadaan ini adalah apabila
memang shalat sunnah tersebut ada termasuk dia belum melakukan perbuatan lain [dalam
shalat mu'ayyanah atau shalat sunnah yang shalat itu). Tetapi jika dia sudah melakukan
ada hubungannya dengan waktu (mu'aqqatoh)
seperti shalat gerhana matahari, shalat minta perbuatan lain sedangkan dia dalam keraguan,
maka shalatnya batal sebagaimana menurut
hujan (istisqaa), tarawih, witin dan sunnah pendapat ulama Syafi'i.
rawatib. Berubah Niat
Adapun shalat sunnah selain yang terse- fika seseorang takbir dengan niat salah
satu shalat fardhu, kemudian mengubah niat
but di atas seperti shalat malam, maka tidak kepada fardhu lain, maka kedua fardhu ter-
wajib menentukan (ta'yiin) jenis shalatnya. sebut batal. Ini disebabkan niat fardhu yang
Oleh sebab itu, shalat tersebut sah meskipun pertama telah terputus dan fardhu kedua
hanya dengan niat shalat saja, karena shalat tidak diniatkan dalam takbiratul ihram. Pen-
itu tidak ditentukan. Pendapat mereka [ulama dapat ini sama dengan pendapat ulama Syafi'i.
Hambali) ini sama dengan pendapat ulama fika niat shalat fardhu diubah menjadi
niat shalat sunnah, maka terdapat dua pen-
Syafi'i. dapat, menurut ulama Syafi'i dan Hambali.
Ulama Hambali juga berpendapat, jika se- Pendapat yang terkuat dalam kedua madzhab
seorang memulai shalat dengan niat yang ra- itu adalah shalat itu berubah menjadi sunnah,
gu-ragu antara menyempurnakan atau meng- karena niat fardhu sudah mengandungi niat
hentikan shalatnya, maka shalatnya dihukumi
sunnah. Alasannya adalah jika melakukan
tidak sah, karena niat haruslah kehendak
yang tegas. Oleh sebab itu, jika muncul kera- takbiratul ihram dengan niat fardhu, kemu-
dian ternyata belum masuk waktu shalat, ma-
guan, maka tidak dianggap sebagai ketegasan, ka shalat itu menjadi shalat sunnah, dan shalat
sebagaimana kesepakatan fuqaha. fardhunya dianggap tidak sah. Kenyataannya
dalam shalat tersebut tidak ada sesuatu yang
fika seseorang memulai shalat dengan niat
membatalkan shalat sunnah.
yang betul kemudian dia niat berhenti atau
keluar dari shalat, maka menurut pendapat Menyebut "karena Allah SWT" tidak disya-
jumhur batallah shalat tersebut. Karena, niat ratkan dalam semua amalan ibadah, seperti
adalah syarat bagi semua perbuatan shalat. berkata, "Aku shalat karena Allah SWT, ber-
puasa karena Allah SWT," atau semacamnya,
Adapun Abu Hanifah berpendapat bahwa sha-
karena semua ibadah adalah memang diniat-
Iat tersebut tidak dianggap batal, karena se-
tiap ibadah apabila permulaannya dianggap kan karena Allah SWT. Tetapi, menyebut
sah, maka tidak akan batal dengan niat keluar
karena Allah SWT disunnahkan supaya ter-
darinya seperti ibadah haji.
hindar dari perselisihan pendapat dengan
Ragu-ragu terhadap Niat
fika timbul keraguan semasa shala! apakah
sudah niat atau belum, atau ragu-ragu dalam
Baglan 1: IBADAH FIqIH ISI.AM JILID 1
orang yang mewajibkannya. Bilangan rakaat percakapan itu untuk keperluan shalat seperti
dan juga menghadap kiblat tidak diwajibkan
sebagaimana pendapat ulama Syafi'i. perkataan "Quml" [bangun) atau "Uq'ud"
Niat hendaklah dilakukan sewaktu tak- (duduk), atau dengan satu huruf yang boleh
biratul ihram, baik serentak dengannya atau dipahami seperti "qi" (jaga) dari perkataan
lebih dulu sedikit, sebagaimana yang dikata- wiqayah (pengawasan), "'i" (perhatikan) dari
kan oleh ulama Maliki dan Hanafi. Tetapi, perkataan al-wa'yu (perhatian), "y'" [sempur-
serentak dengan takbir lebih diutamakan nakan) dari perkataan al-wafaa' [kesempur-
sebagaimana yang telah disebutkan sebelum
ini. Syarat sah shalat jamaah adalah niat se- naan), "syi" [ubahlah) dari perkataan aI-
bagai imam atau makmum. Maka, imam hen-
daklah berniat sebagai imam dan makmum wosyyu (perubahan). Menurut pendapat yang
berniat sebagai makmum pada permulaan
shalat kecuali dalam dua kasus berikut: ashah di kalangan ulama Syafi'i, shalat juga
(a) Makmum masbuq. Maka, dia boleh meng-
akan batal apabila seseorang memanjangkan
ikuti makmum masbuq lain setelah imam
(madd) sebagian huruf melebihi kadarnya,
memberi salam dalam shalat selain shalat sekalipun tidak dipahami, seperti aa. Yang
termasuk huruf madd adalah alif, wawu, dan
fumat. ya',karena bacaan panjang mengandung dua
(b) Apabila orang bermukim menjadi mak- huruf.
mum mengikut imam (yang musafir) yang Pendapat ini berdasarkan hadits yang
mengqasar shalat. Maka, orang mukim
diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Zaid
ini boleh mengikut orang mukim lainnya
untuk menyempurnakan rakaat yang ter- bin Arqam yang artinya, "Dulu kami bercakap
dalam shalat, sehingga turunlah ayat, '...Dan
sisa setelah rakaat qashar tersebut. laksanakanlah (shalat) karena Allah dengan
g dan h. Syarat Ketujuh dan Kedelapan: khusyuk.' [al-Baqarah: 238) Lalu kami pun
Tertlb dalam Menunaikan Shalat dan
Muwaalaat (Tidak Terputus Hubungan) diperintahkan supaya diam dan kami juga di-
dalam Setlap Perbuatannya larang bercakap."
Sebenarnya kedua hal ini adalah syarat Dan juga, riwayat dari Mu'awiyah ibnul
bagi rukun-rukun shalat Hakam as-Sulami yang berkata kepada orang
yang sedang bersin dalam shalat, (Yarhamu-
i. Syarat Kesembilan: Meninggalkan kallah [Semoga Allah SWT memberi rahmat
kepadamu]), lalu Nabi Muhammad saw. ber-
Percakapan yang tidak Berkaltan sabda kepadanya,
dengan shalat
Shalat adalah ibadah untuk Allah SWT tr q * U {r. Y ;Y*?,lr :y'ot
semata-mata. Makanya, tidak boleh bercakap-
cakap sewaktu mengerjakan shalat. Jika se- "Sesungguhnya shalat ini tidak layak di-
seorang mengucapkan dua huruf yang dapat
dipahami, maka shalatnya batal, sekalipun barengkan dengan percakapan manusia di da-
lamnya, melainkan shalat adolah tasbih dan
takbir dan juga bacaan Al-Qur'an."13s8
13sB Hrditr riwayat Imam Ahmad, Muslim, an-Nasa'i, dan Abu Dawud. Dia berkata, "Tidak halal"-sebagai ganti dari "Tidak Sah"-
.menyebutkan suatu perkataan yang di luar dari bacaan shalat. Menurutriwayat lmam Ahmad, "Sesungguhnya shalat adalah takbir,
tahmid, .1(Natllil ;$A"lL,.hlm,l$a.) t,,
Isr."AM JrLrD 1 [b) Tidak shalat fardhu yang mana pun se-
Perkara ini akan dibahas dengan lebih bagai sunnah.
terperinci lagi dalam pembahasan berikutnya (c) Ketika mengucapkan atau melakukan
mengenai perkara-perkara yang dapat mem-
batalkan shalat. perbuatan yang termasuk rukun, tidak di-
sertai perasaan ragu-ragu mengenai niat-
i. Syarat Kesepuluh: Menlnggalkan nya. Yaitu, apakah telah niat atau belum,
apakah niatnya sudah sempurna atau
Pe6uatan yang Banyak yang tldak Ada apakah sebagian dari niat atau sebagian
Kaitannya dengan Shalat dari syarat niat sudah dilaksanakan atau
Perbuatan tersebut adalah perbuatan belum.
yang menyebabkan seseorang tidak dianggap
seperti orang yang sedang shalat oleh orang (d) Tidak berniat untuk menghentikan sha-
yang melihatnya. Masalah ini akan dibincang- lat, atau ragu-ragu untuk menghentikan
kan lebih terperinci dalam pembahasan me- shalat. Dan apabila dia niat keluar dari
ngenai perkara yang membatalkan shalat. shalat, maka shalatnya batal, meskipun
k. Syarat Kesebelas: Meninggatkan Makan niatnya adalah berpindah ke bentuk shalat
yang lain, ataupun hanya ragu-ragu untuk
Mlnum
menghentikan atau meneruskan shalat.
Penjelasan terperinci masalah ini akan Maka, shalatnya dianggap batal karena
dibahas dalam bab perkara-perkara yang
menafikan ketegasan dalam niat.
membatalkan shalat.
Demikianlah syarat-syarat yang harus di- Ie) Tidak menggantungkan berhentinya sha-
lat dengan sesuatu apa.pun, apabila ber-
penuhi dalam shalat menurut pendapat para hentinya shalat digantungkan dengan se-
ulama. Namun, ulama madzhab Syafi'i me- suatu, sekalipun ia tidak mungkin terjadi.
nambah lima syarat lagi, yaitu: Maka, shalatnya batal karena menggan-
tungkan niat sama dengan menafikan ke-
[a) Mengetahui kefardhuan shalat.
tegasan niat.
,'ttffi1g *