The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by MOHD RAHIMI BIN RAMLI Moe, 2021-08-05 23:44:36

Fiqih Islam Wa Adillatuhu Jld1

Fiqih Islam Wa Adillatuhu Jld1

BaElan 1: IBADAH FIQTH ISIAM JILID 1

tentang maksud Hadits Abu Darda', de- '6';i1 it i:t ,^tt itE s iAi
ngan mengatakan bahwa yang dimaksud
dengan kata wudhu dalam hadits tersebut "Mata adqlah Prngo*rt dubur. Oleh

adalah membasuh kedua tangan. karena itu, barangsiapa tidur, maka dia

Yang jelas bagi saya adalah segala se- wajib berwudhu."64t

suatu yang keluar tidak melalui dua sa- Hadits riwayat Mu'awiYah,
luran kemaluan dapat membatalkan wu-
dhu, jika jumlahnya banyak seperti yang "Mota adalah pengawal dubur. Jika
dikatakan oleh ulama madzhab Hambali. dua mata telah tidur, maka terlepaslah
Hukum ini diqiyaskan kepada najis yang
keluar melalui dua saluran kemaluan. kawalannya.'6az

Hal ini karena hadits-hadits yang telah Kedua hadits ini menunjukkan bahwa
tidur dapat menimbulkan sangkaan seba-
disebutkan mengandungi perselisihan gai membatalkan wudhu' Akan tetapi, ia
dalam hal keshahihannya. Oleh sebab itu, sendiri bukanlah sesuatu yang memba-
ia tidak terhindar dari dianggap sebagai
talkan wudhu.
hadits-hadits dhaif. Para ulama berselisih pendapat ten-

5. Hilang akal, baik hilang akal dengan sebab tang posisi tidur yang dapat membatalkan
wudhu. An-Nawawi menyebutkan dalam
heroin atau bahan-bahan pemabuk yang
lain, atau disebabkan pingsan, gila, atau kitab Syarh Muslim ffilid 1: 73). Saya
penyakit ayan, atau dengan sebab tidur.
memilih dua contoh yang hampir sama
Sebab-sebab tersebut dan juga sebab- dan tidak terdapat pertentangan, kecuali
sebab lain setelahnya seperti menyentuh dalam menentukan kadar tidur yang di-
anggap sebagai pertanda keluarnya angin.
perempuan yang menimbulkan syahwat, Kedua posisi tersebut adalah seperti
menyentuh qubul dan dubur [dapat mem- berikut.

batalkan wudhu). Pada kebiasaannya, (a) Pendapat ulama madzhab Hanafi
sebab-sebab itu akan diikuti dengan ke-
luarnya sesuatu dari salah satu saluran dan Syafi'i; Tidur Yang membatalkan
kemaluannya. Oleh sebab itu, perkara- wudhu adalah tidur Yang tidak me-
perkara tersebut dapat membatalkan
rapatkan pantat ke temPat duduk
wudhu. Selain itu, orang yang hilang akal
tidak mengetahui keadaan dirinya. Tidur atau lantai, tidur dalam posisi miring,
bersandar atau tengkurap, karena po-
juga mematikan rasa seseorang. Gila, sisi miring dan sejenisnya itu dapat
menyebabkan semua sendi lunglai.
pingsan, dan keadaan yang seumpamanya Oleh sebab itu, jika seseorang tidur
dalam posisi Pantat Yang merapat
memiliki pengaruh yang lebih besar dari ke tempat duduk sePerti tanah dan

tidur. punggung binatang, maka ia tidak

Hujjah yang mengatakan tidur Yang membatalkan wudhu.
nyenyak membatalkan wudhu adalah

sabda Rasul saw. yang diriwayatkan oleh

Ali,

641 Riwayat Ahmad, Abu Dawud, dan Ibnu Maiah {Nailul Authar,Jilid l, hlm' 1921

e2 Riwayat lmam Ahmad dan ad'Daruquthni, i&id.'

ffi

FIq!H ISIAM IILID 1

,Sekiranya ia bersandar pada sesuatu, Dalam riwayat yang lain disebut-

dan jika sandaran itu dibuang, maka kan,
dia akan terjatuh dan pantatnya tidak
rapat ke tempat duduknya. Maka da- "Tidak diwajibkan wudhu bagi
lam l,readaan, ini wudhunya menjadi
batal menurut pendapat ulama madz- orang yang tidur dalam keadaan duduk
hab Hanafi. Karena, dengan posisi Tetapi, wudhu diwajibkan bagi orang

tidur menyandar semua anggota yang tidur dalam keadaon miring.
Karena, orang yang tidur dalam ke-
menjadi lunglai. Akan tetapi menurut
ulama madzhab Syafi'i, wudhu tidak adaan miring semua sendinya menjadi
lunglai.'6aa
akan batal jika pantat merapat ke
Dalam riwayat al-Baihaqi, Rasul
tempat duduknya. Karena pada posisi
bersabda,
seperti ini, ia akan terselamat dari
"Wudhu tidak diwajibkan bagi
keluarnya sesuatu. Oleh sebab itu,
hukum dalam kedua madzhab ini orang yang tidur dalam keadaan du-
duk berdiri, atau sujud, sehingga ia
adalah satu. berubah posisi menjadi miring."

Menurut ulama madzhab Hanafi, Di antaranya iuga terdapat hadits
wudhu tidak akan batal dengan sebab riwayat Anas,

tidur dalam posisi berdiri, ruku', su- 1"4 W )t );' ,)t;;i 'oG
jud dalam shalat, dan lainnya. Hal ini ? er;3 'o^X e;t\t l^*jr
karena kemampuan ia untuk mena-
han masih ada. fika tidak ada, maka rP';i \'t r):;-

ia akan jatuh. Dengan sebab itu, lung- "Para sahabat Rasulullah saw.
pernah menunggu woktu untuk sha-
lainya anggota tidak sepenuhnya ber- lat Isya, lalu mereka tertidur sambil

laku. duduk. Kemudian mereka bangun te-
rus menunaikan shalat tanpa berwu-
Mereka berhujjah dengan berda-
sarkan kepada beberapa hadits, di dhu.'s4s
antaranya adalah hadits riwayat Ibnu
Hadits ini menunjukkan bahwa tidur
Abbas,
seketika (sekejap) tidak membatalkan
,, wudhu.

J;Arf Di antaranya juga adalah hadits
et _)ftt lJ' +t-- lU .f yang diriwayatkan Amru bin Syu'aib
Jit '#'^;L)t'11 ';V dari bapaknya dari kakeknya, bahwa
Nabi Muhammad saw. bersabda,
LA

"Tidak diwojibkan wudhu Lagi
orang yang tidur dalam posrsi sujud,
sehingga ia berubah kepada keadaan
miring. Karena apabila ia miring, ma-

ka lunglailah seg ala sendinya.'6a3

643 Riwayat Imam Ahmad. Hadits ini dhaif ( Nailul Authar,lllid l, hlm. 193).
6aa Riwayat Abu Dawud, at-Tirmidzi, dan ad-Daruquthni. Hadits ini dhail iDid..
6as Riwayat Imam asy-Syaf i, Abu Dawud, Musliqr, dan at:Iirmidzl Hadits ini shahih, ibid..

FIqLH ISIAM IILID 1

"Barangsiapa tidur sambil duduk, meskipun pendek waktunya, ia memba-
talkan wudhu. Akan tetapi, tidur yang
maka ia tidak diwajibkan berwudhu. tidak nyenyak meskipun waktunya lama
tidak membatalkan wudhu. Maksud tidur
Dan barangsiapa tidur dengan miring,
maka io diwajibkan berwudhu.'6+6 yang nyenyak adalah apabila orang yang

Imam Malik telah meriwayatkan tidur tersebut tidak mendengar suara
dari Ibnu Umar, bahwa dia pernah
apa pun, tidak merasa apabila ada benda
tertidur sambil berdiri, kemudian yang terjatuh dari tangannya, atau apabila
mengalir air liurnya dan lain-lain lagi yang
mengerjakan shalat tanpa mengambil sejenisnya. fika dia masih merasa perka-
wudhu terlebih dahulu. ra-perkara tersebut, maka tidurnya tidak
nyenyak. Hujjah mereka adalah hadits
Abu Dawud dan at-Tirmidzi telah riwayat Anas,
meriwayatkan dari Ibnu Abbas bah-
wa dia pernah melihat Nabi Muham- "Para sahabat Rasulullah saw. pernah
mad saw. tertidur sambil sujud hing- menunggu waktu untuk shalat Isya. Lalu
ga Rasul mendengkur. Kemudian Ra- mereka tertidur sehingga terkulai kepala
sul bangun dan menunaikan shalat. mereka. Kemudian (apabila mereka ba-
ngun) mereka terus melqkukan shalat tan-
Lalu dia bertanya, "Ya Rasulullah, pa berwudhu lagi."
sesungguhnya engkau telah tidur."
Hadits riwayat Ibnu Abbas, dia berkata,
Rasul bersabda,
'Aku telah bermalam di rumah ibu sau-
"Sesungguhnya wudhu tidak di-
wajibkan kecuali bagi orang yang tidur daraku Maimunah,lalu Rasul bangun dari
dalam keadaan miring saja. Karena
apabila tidur dengan miring, maka se- tidurnya dan aku juga turut bangun di
sebelah rusuk kiri Rasul. Setelah itu, Rasul
mua sendi menjadi lunglai.'6a7
memegang tanganku dan menempatkan
Al-Kamal ibnul Humam telah menga- aku di sebelah rusuk kanan Rasul. Apabila
aku terlelap, Rasul memegang cuping te-
takan bahwa jika Anda perhatikan lingaku." Menurut Ibnu Abbas, Rasul te-
pada hadits-hadits tersebut di atas, lah melakukan shalat sebanyak sebelas

maka tidak ada hadits yang melebihi rakaat.6ae
tingkatan hasan.6ag
Dalam kedua hadits ini, terdapat bukti
(b) Bagi ulama madzhab Maliki dan yang jelas bahwa tidur yang tidak nyenyak
Hambali, tidur yang sebentar atau- tidak membatalkan wudhu.

pun ringan tidak membatalkan wu- Menurut ulama madzhab Hambali,
semua posisi tidur dapat membatalkan
dhu. Adapun tidur nyenyak dapat wudhu, kecuali tidur yang sedikit meng-

membatalkan wudhu. ikuti hitungan 'urf, baik ia dilakukan

Ungkapan ulama madzhab Maliki da-
pat diartikan bahwa tidur yang nyenyak

Diriwayatkan oleh lbnu Adi fNashbur Rayah,]ilid I, hlm. 45). Diriwayatkan juga oleh al-Baihaqi. Hadits yang serupa iuga diriwa-

yatkan dari Hudzaifah al-Yamani.

647 Nashbur Rayah, filid I, hlm.44.
648 Fathul Qadir,lilid I, hlm.33.
&9 Riwayat Imam Muslim (flatlulAuthar,lilid l, hlm. 192).

FIq!H ISTAM 6. Menyentuh perempuan. Menurut penda-

sambil duduk atau sambil berdiri. Hal ini pat ulama madzhab Hanafi, wudhu diang-
karena berdasarkan hadits yang diriwayat-
kan oleh Anas dan Ibnu Abbas yang telah gap batal akibat bersentuhan dengan pe-
disebutkan. Sebenarnya, tidak ada batas rempuan sewaktu berjimak. Sementara,
bagi tidur yang sedikit. Penentuan batas ulama madzhab Maliki dan Hambali me-
tersebut dikembalikan pada adat. Oleh
sebab itu, jika orang yang tidur dalam ke- ngatakan bahwa wudhu akan batal dengan
adaan rapat pantatnya ataupun dengan
cara lain kemudian terjatuh, maka hal itu sebab bersentuhan kulit antara laki-laki
dapat membatalkan wudhunya. dan perempuan di saat ada rasa nikmat
atau timbul gairah nafsu. Menurut ulama
Sekiranya dia tidur dan merasa ragu madzhab Syafi'i, wudhu kedua belah pi-
hak laki-laki dan perempuan akan batal
dengan tidurnya, apakah tidurnya banyak
atau sedikit, maka hendaklah dia meng- dengan hanya terjadinya sentuhan kulit,
anggap dirinya masih suci. Karena, terda-
pat keyakinan tentang kesucian dirinya meskipun tidak timbul nafsu.
dan keraguan hanya terdapat pada batal-
nya saja. Seandainya dia bermimpi dalam Penjelasan terperinci mengenai pen-
tidurnya, maka tentulah tidurnya itu nye-
dapat madzhab tersebut di atas adalah
nyak. Tidur yang sedikit dari seorang
seperti berikut.
yang sedang ruku', sujud, bersandar; ber-
tongkat, dan mengangkat kedua lututnya (a) Ulama madzhab Hanafi berpendapat
adalah seperti seorang yang tidur dengan bahwa wudhu menjadi batal dengan
posisi miring. Semua itu dapat membatal-
kan wudhu. persetubuhan, yaitu bertemunya dua
kemaluan flaki-laki dan perempuan)
Tidur yang tidak menyebabkan hilang- tanpa alas pakaian yang menghalang
nya ingatan tidak membatalkan wudhu. kehangatan. Atau dengan kata lain
ketika seorang laki-laki menyentuh
Hal ini karena tidur itu adalah bentuk perempuan dengan penuh syahwat,
hingga kemaluannya tegang tanpa
kekalahan pada ingatan akal dan yang
menjadi pembatal adalah hilangnya akal. ada penghalang di antara mereka, dan
Sekiranya akal itu masih ada dan keupa-
dia tidak melihat sesuatu yang basah
yaannya tidak hilang, seperti ia masih
[yang keluar dari kemaluannya).
mendengar apa yang diucapkan di sisinya
serta dapat memahami, maka wudhunya [b) Ulama madzhab Maliki berpendapat
tidak batal. bahwa wudhu bisa batal dengan
sentuhan yang terjadi antara orang
Sebagai kesimpulan, tidur dalam ke- yang berwudhu dengan orang lain
yang pada adatnya menimbulkan
adaan miring yang tidak merapatkan pan- nikmat pada diri orang yang menyen-
tatnya, baik di dalam shalat atau lainnya
dapat membatalkan wudhu tanpa adanya tuh, baik itu laki-laki ataupun pe-
perbedaan pendapat di kalangan fuqaha.
Hilang akal dengan sebab apa pun seperti rempuan. Walaupun orang yangdi-
gila ataupun mabuk dapat membatalkan
wudhu. Ia diqiyaskan dengan tidur. Inilah sentuh itu belum baligh, baik sen-
pendapat yang benar. tuhan itu berlaku dengan istrinya,

dengan perempuan lain, atau dengan

mahramnya. Sentuhan pada kuku dan
rambut, ataupun sentuhan yang ber-
alaskan seperti kain, baik kain yang

dijadikan alas itu tipis yang dapat

Baglan 1: IBADAH FIQTH ISTAM IILID

menyebabkan orang yang menyentuh batal dengan menyentuh seorang anak
merasakan kelembutan badan atau
perempuan yang belum menimbul-
kain itu tebal, juga dianggap sebagai kan syahwat, atau menyentuh bina-
sentuhan juga. Hukum sentuhan ini tang atau laki-laki yang berjenggot.
berlaku juga antara laki-laki dengan Karena, pada adatnya tidak akan tim-
laki-laki ataupun perempuan dengan bul perasaan bernafsu apabila jeng-
gotnya sempurna (seorang yang tua).
perempuan.
Sentuhan dengan nafsu dapat mem- (c) Ulama madzhab Hambali berkata

batalkan wudhu. Begitu juga kecupan bahwa menurut pendapat yang ma-
mulut, ia dapat membatalkan wudhu
syhur di kalangan mereka, wudhu
meskipun tanpa nafsu. Karena, ia
merupakan tempat membangkitkan akan menjadi batal dengan menyen-

nafsu. Kecupan yang dilakukan pada tuh kulit perempuan dengan nafsu
bagian badan selain mulut juga dapat dan tanpa alas/penghalang, dengan
syarat jika memang kebiasaan orang
membatalkan wudhu orang yang yang disentuh itu dapat menimbul-

mengecup dan orang yang dikecup. kan syahwat-asalkan dia bukan anak-
Keadaan ini berlaku jika kedua orang
tersebut sudah baligh, atau salah satu anak-dan meskipun orang yang di-
di antara mereka baligh. Begitu juga sentuh itu sudah mati, tua, mahram-
dengan mengecup orang yang me-
miliki daya tarik dan merasa nikmat nya, atau anak-anak perempuan yang
dengan kecupan itu, walaupun hal ini menimbulkan syahwat, yaitu anak pe-
terjadi dengan cara paksaan ataupun rempuan yang berumur tujuh tahun
dalam keadaan lalai. Sentuhan yang ke atas. Hukum ini berlaku tanpa ada
perbedaan di antara perempuan yang
dapat membatalkan wudhu itu di
disentuh, baik dia itu ainabi [orang
dasarkan tiga syarat. lain), mahram, perempuan tua, atau

tD Hendaklah orang yang menyen- anak-anak.

tuh itu orang yang sudah baligh. Wudhu tidak batal dengan menyen-

(ii) Orang yang disentuh pada kebia- tuh rambut, kuku, dan gigi. Begitu
juga dengan menyentuh anggota
saan normal adalah orang yang yang terpotong, karena ia tidak ada
menimbulkan syahwat; dan
nilainya lagi. Begitu juga dengan me-
(ii) Hendaklah yang menyentuh itu nyentuh waria walaupun dengan ber-
nafsu, Menyentuh khuntsa musykil,
berniat untuk memuaskan nafsu sentuhan antara laki-laki dengan laki-
ataupun dia mendapati ada naf- laki, perempuan dengan perempuan,
su [meskipun tanpa berniat). walaupun dengan bersyahwat fjuga

Wudhu tidak menjadi batal karena tidak membatalkan wudhu). Sung-
memuaskan nafsu dengan cara pan-
dangan mata atau hanya dengan kha- guhpun wudhu ini tidak batal, namun
ia sunnah untuk diperbarui.
yalan meskipun penis orang itu te-
Kesimpulannya, ketiga madzhab ini
gang, asalkan ia tidak mengeluarkan (yaitu jumhur) berpendapat bahwa
air madzi. Begitu juga, wudhu tidak wudhu tidak batal yang disebabkan

Isr.rq,M rItID 1

adanya sentuhan di antara laki-laki antara maksud ayat di atas de-

dengan perempuan. Mereka berhuijah ngan hadits-hadits yang akan di-
dengan dalil-dalil berikut. nyatakan nanti yang diriwayat-
kan oleh Aisyah dan para perawi
(i) Firman Allah,
yang lain.
;\4\pt'
(ii) Hadits riwayat Aisyah bahwa Na-
"-.atau kamu telah menyen- bi Muhammad saw. pernah me-
tuh perempuan.... " (an-Nisaa': 43)
ngecup salah seorang istrinya,
Hakikat sentuhan yang asal kemudian Rasul terus menunai-
adalah sentuhan antara dua ku-
kan shalat tanpa berwudhu.5so
lit. Ulama madzhab Hanafi ber-
[iii) Hadits riwayat Aisyah juga, me-
pegang dengan pendapat Ibnu
nyebutkan,
Abbas. Seorang ahli tafsir me-
"Ketika Rasulullah hendak menu-
ngatakan, yang dimaksud dengan naikan shalat, saya pernah duduk

sentuhan adalah jimak. Mereka di hadapannya seperti jenazah,
hingga apabila hendak witir
juga berpegang dengan pendapat
Rasul menyentuh saya dengan
Ibnus Sikkit yang mengatakan
kakinya."6s1
bahwa perkataan sentuhan apa-
Dalam riwayat ini, terdapat buk-
bila digandengkan dengan pe- ti yang menunjukkan bahwa me-
nyentuh perempuan tidak mem-
rempuan, maka ia artinya jimak. batalkan wudhu dan juga Rasul
Orang Arab menyebutkan, "Saya menyentuh 'Aisyah tersebut tan-
menyentuh perempuan," maksud-
nya adalah, "Saya telah melaku- pa alas apa pun.
kan jimak dengannya." Oleh se-
bab itu, pengertian ayat tersebut (iv) Hadits riwayat Aisyah juga yang
seharusnya diartikan dengan mak-
na majazi, yaitu maksudnya (sen- menyatakan,
tuhan) adalah jimak, karena ter-
"Pada suatu malam, saya men-
dapat bukti yang menunjukkan
hal itu, yaitu hadits yang diriwa- dapati Rasulullah saw. tidak
yatkan oleh 'Aisyah yang akan
ada di atas kasur. Lalu saya men-
dinyatakan nanti. carinya dan saya memegang te-

Ulama madzhab Maliki dan Iapak kakinya dengan tangan
saya pada waktu beliau berada
Hambali yang mensyaratkan sen- dalam masjid. Kedua kakinya
tuhan yang dapat membatalkan itu diberdirikan [dalam keadaan

wudhu adalah sentuhan yang sujud) dan beliau membaca,
bernafsu telah menggabungkan
ryq!w/, tFI l' o

q,

+lA1 a;i; i+*,'

Riwayat Abu Dawud, an-Nasa'i, Ahmad, dan at-Tirmidzi. Hadits ini mursal dianggap dhaif oleh al-Bukhari. Ibnu Hazm mengatakan

bahwa hadits ini tidak betul sama sekali (Nailulluthar, Jilid I, hlm. 195).
651 Riwayat an-Nasa'i. Ibnu Hajar mengatakan bahwa isnadnya shahih (Nailul Authar, lilid l, hlm. 196).

Baglan 1: IBADAH 359 TIQJH ISLAM IILID I

G ,1; \iG 6,e>l dinikahi dengan sebab keturunan,
penyusuan, atau pernikahan, Oleh
J--ij _r,tr c-;;t sebab itu, wudhu tidak batal dengan
menyentuh seorang anak laki-laki
'Ya Allah, oku berlindung de-
ngan keridhaan-Mu dari kemur- atau perempuan yang masih kecil dan

kaan-Mu. Aku berlindung dengan yang biasanya tidak menimbulkan
ampunan-Mu dari siksa'Mu, dan
aku berlindung dengan-Mu dari syahwat pada salah seorang dari me-
ketid akmampuanku dq I a m m e m u -
reka, bagi orang yang mempunyai
ji-Mu sebagoimana Engkau me- tabiat normal, Oleh sebab itu, umur

muji Diri-Mu.'D 6s2 anak-anak yang dapat menimbulkan
syahwat tidaklah terikat dengan tujuh
Hadits ini menunjukkan bahwa tahun ataupun lebih, karena keadaan
anak-anak laki-laki dan perempuan
sentuhan itu tidak menyebabkan ba-
itu berbeda-beda. Wudhu tersebut
talnya wudhu.
tidak batal karena tidak adanya hal
[d) Ulama madzhab Syafi'i mengatakan
yang menimbulkan nafsu.
bahwa wudhu tetap batal disebabkan Wudhu juga tidak batal disebabkan
adanya sentuhan antara seorang laki-
laki dengan perempuan ainabi yang bersentuhan dengan mahram, baik
bukan mahram, walaupun dia telah
itu mahram karena keturunan, pe-
mati.
nyusuan, dan pernikahan [mushaha-
Bersentuhan tanpa alas/penghalang rah) seperti ibu mertua.

dapat membatalkan wudhu orang Alasan sentuhan bisa membatal-
yang menyentuh dan juga wudhu
kan wudhu adalah karena ia dapat
orang yang disentuh, walaupun salah
seorang dari mereka adalah orang tua menimbulkan perasaan nikmat yang
dapat menggerakkan nafsu. Hal se-
yang pikun atau orang tua yang lemah perti ini tidak patut terjadi pada diri
orang yang dalam keadaan suci.
dan meskipun tanpa niat. Namun,
Dalil mereka adalah arti yang se-
wudhu tidak batal dengan menyentuh benarnya dari segi bahasa bagi kata
rambut, gigi, dan kuku. Wudhu iuga
mulqmasah seperti yang terdapat da-
tidak akan batal jika menyentuhnya lam firman Allah SWT,

dengan menggunakan alas, "...atou kamu telah menyentuh pe-

Maksud antara laki-laki dan perem- rempuan...." (an-Nisaa': 43)
puan adalah laki-laki dan perempuan
Hal ini jelas menunjukkan penger-
yang telah sampai peringkat Yang lian mulamasah adalah sentuhan se-
menimbulkan syahwat menurut 'urf mata-mata, bukan jimak.
di kalangan orang yang mempunyai
Adapun hadits riwayat Aisyah yang
tabiat normal. Yang dimaksud dengan
mahram adalah orang yang haram berkaitan dengan kecupan mulut

6s2 Ri*"yrt Muslim, at-Tirmidzi, dan al-Baihaqi. At-Tirmidzi menganggap hadits ini shahih, ibid., dan lihat hadits ini dalam Nashbur
Rayah, lilid l, hlm. 70-75.

r F,.

rr'=

!l:

FIQIH ISTAM JILID 1

adalah sebuah hadits yang dhaif dan "la adalah sepotong daging pada
mursal. Hadits Iain yang diriwayat-
(tubuh) kamu.'6s3
kan oleh Aisyah menceritakan per-
buatannya yang menyentuh kaki Diriwayatkan dari Umar, Ali,

Rasul [juga dhaifJ. Ibnu Mas'ud, Ibnu Abbas, Zaid bin
Tsabit, Imran bin Husain, Hudzaifah
Oleh sebab itu, sentuhan itu dian- ibnul Yaman, Abu Darda', dan Abu
daikan terjadi dengan alas/pengha- Hurairah r.il., mereka menetapkan
lang, atau hukum itu hanya khusus
bahwa menyentuh penis itu tidak
bagi Nabi Muhammad saw. saja. Na-
menyebabkan hadats hingga Ali per-
mun begitu, pengandaian hal ini di- nah berkata, 'Aku tidak peduli jika
aku menyentuhnya atau dia menyen-
anggap sebagai pengandaian yang di-
paksakan dan bertentangan dengan tuh tepi hidungku."
zhahir nash.
(b) Ulama madzhab Maliki mengatakan
Bagi saya, sentuhan yang terjadi bahwa wudhu menjadi batal dengan
dengan cara tiba-tiba atau yang tidak sebab menyentuh penis (dzakar).
disertai nafsu, maka ia tidak mem- Namun, menyentuh dubur tidaklah
batalkan wudhu. Akan tetapi, sentuh- menyebabkan batalnya wudhu. Me-
an yang dilakukan dalam keadaan
bernafsu akan membatalkan wudhu. nurut pandangan mereka, menyentuh
Pada pertimbangan penulis, inilah penis yang masih bersambung de-
pendapat y ang paling raj i h. ngan pemiliknya saja yang memba-
talkan wudhu, adapun penis yang
7, Menyentuh kemaluan, yaitu qubul atau
sudah terputus tidak membatalkan.
dubur. Menurut pendapat ulama madz- Sentuhan itu terjadi baik menimbul-
hab Hanafi, wudhu tidak akan batal ka- kan kenikmatan atau tidak, sengaja
rena menyentuh kemaluan. Akan tetapi
menurut jumhur ulama, wudhu menjadi menyentuh atau karena terlupa, jika
batal karena menyentuh kemaluan. Pen-
jelasan pendapat tersebut adalah sebagai memang tanpa ada alas/penghalang
berikut.
apa pun. Sentuhan itu dianggap jika
[a) Ulama madzhab Hanafi mengatakan dilakukan dengan batin telapak ta-
wudhu tidak batal dengan menyen- ngan atau dengan bagian tepinya,
tuh farji atau penis. Pendapat ini ber- batin jari atau bagian tepinya. Namun

dasarkan hadits riwayat Thalq bin Ali, apabila menyentuhnya itu dengan
"Seorang laki-laki telah menyentuh
penisnya, apakah ia wajib berwudhu?" menggunakan bagian punggung te-
lapak tangan, maka hal itu tidak me-
Rasul bersabda,
nyebabkan batal wudhu. fuga menye-
a'-l gLWt,o $. o -, t^i;t
babkan batalnya wudhu, jika sese-

orang memegang kelaminnya dengan

jari yang melebihi jumlah yang lima,
jika memang jari itu mempunyai rasa
dan mampu bergerak seperti jari-jari

yang lain.

Diriwayatkan oleh Abu Dawud, atrTirmidzi, an-Nasa'i, Ibnu Majah, Ahmad, dan ad-Daruquthni secara marfu'. Diriwayatkan juga oleh
Ibnu Hibban dalam Shohih-nya. Imam at-Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini adalah yang paling baik dalam bab ini (Nasftbur
Rayah,lilid,l, hlm. 60 dan halaman seterusnya; NoilulAuthaafilid I, hlm. 198J.

Baglan 1: IBAOAH FlqlH Isr.AM JrLrD 1

Hukum batalnya wudhu akibat me- maluan itu kepunyaan sendiri atau
milik orang lain, milik orang kecil
nyentuh penis ini terjadi jika orang atau besa4 milik orang yang masih
hidup ataupun yang sudah mati.
yang melakukannya sudah baligh. De-
Mengqiyaskan dubur dengan penis
ngan kata lain jika yang menyentuh adalah menurut qaul al-jadid Imam
penis adalah anak-anak, maka per-
Syafi'i. Hukum ini berlaku dengan
buatannya itu tidak membatalkan
syarat sentuhan itu dilakukan dengan
wudhunya. Maksud sentuhan yang
dilakukan oleh seorang yang baligh batin telapak tangan (yaitu batin
adalah sentuhan dengan batin tela- telapak tangan dan juga batin jari-
pak tangan atau jari-jarinya.
jarinya). Oleh sebab itu, wudhu tidak
Wudhu tidak menjadi batal sebab
menyentuh lubang (halaqah) dubur batal apabila sentuhan itu dilakukan
atau dua buah pelir (yang berada di
bawah batang penis), seorang wanita dengan bagian punggung tangan, tepi
yang menyentuh vaginanya (farjinya) ujung jari, dan bagian-bagian tepi ja-
juga tidak batal wudhunya, walaupun
ri. Artinya, yang membatalkan adalah
dia memasukkan satu jari atauPun bagian yang terlindung ketika batin
lebih ke dalam vaginanya. Wudhu sebuah telapak tangan dirapatkan

juga tidak menjadi batal akibat me- kepada batin telapak tangan yang
nyentuh penis anak-anak ataupun satunya. Dalam masalah ini, ulama
madzhab Syafi'i sependapat dengan
orang dewasa yang lain.
Dalil mereka adalah sebuah hadits, ulama madzhab Maliki, karena bagian

"Barangsiapa menyentuh penis' belakang/punggung telapak tangan
nya, maka janganlah dia shalatkecuali bukanlah alat untuk menyentuh se-
sesudah dia berwudhu.'6s4 suatu, sehingga sentuhan dengan
punggung telapak tangan disamakan
Hadits yang lain, dengan sentuhan yang dilakukan

"Barangsiapa memegang Penis- menggunakan paha.
nya dengan tangannya tanpa beralas,
Ulama madzhab Hambali tidak
mako wajib bagi dia untuk berwu'
membedakan antara batin telapak ta-
dhu.'6ss
ngan dengan bagian punggungnya.
(c) Ulama madzhab Syafi'i dan Hambali Hal ini berdasarkan hadits yang ber-
berpendapat, wudhu menjadi batal
dengan menyentuh kemaluan anak kaitan dengan hukum menyentuh
Adam (baik itu penis, dubur, atauPun
yang telah disebutkan,
qubul fforji] perempuan), baik ke-
o.e+jcl/ Olli o"il'--". .3r.' ,.'11t:-!i1-,(J, .'o-i1[ .

1;1

l"b j4e o':d w..,+-,;'-t

Diriwayatkan oleh lmam Hadits yang lima dan dianggap shahih oleh at-Tirmidzi. Diriwayatkan juga oleh Imam Maliki, Syafi'i, Ibnu
Khuzaimah, Ibnu Hibban, al-Hakim, dan Ibnul Jarud. Imam al-Bukhari mengatakan bahwa hadits ini adalah paling shahih dalam bab
ini (Nailul Authar, Jilid I, hlm. 197; Nashbur Rayoh f ilid l, hlm. 54 dan halaman seterusnya).
Diriwayatkan oleh lmam Ahmad dan lbnu Hibban di dalam Shahih-nya (Nailul Authar, Jilid I, hlm. 199). Diriwayatkan iuga oleh asy-
Syafi'i dalam lafal, 'Apabila seseorang menyentuh zakarnya, maka waiiblah ia mengambil wudhuJ' (Nashbur Royah, Jilid I, hlm. 54 dan

halaman seterusnya)

.=*= -. J! l-.

FrQlH ISIAM f rLlD 1 302 Bagan 1: IBADAH

"Apobila salah satu di antara ka- Wudhu perempuan juga menjadi
mu menyentuh kemaluannya (farjihi) batal jika dia menyentuh qubulnya.
dengan tangan dan tidak terdapat Hal ini berdasarkan keumuman mak-
sud hadits riwayat Basrah dan Ummu
alas di antora kedua-duonya, mako
Habibah, "Siapa yang menyentuh ke-
hendaklah ia berwudhu." maluannya (farjahu), maka wajiblah

Bagian punggung tangannya adalah dia berwudhu."
termasuk anggota tangan dan dapat
Juga, berdasarkan hadits yang
membatalkan wudhu, yaitu jika me- diriwayatkan oleh Amru bin Syu'aib,

nyentuh tanpa penghalang. Dalil yang dari bapaknya, dari kakeknya,
digunakan ulama madzhab Syafi'i dan
Hambali adalah dua hadits yang telah ,L,.,:i''J cit:--?-i:-.-Ni;:*',i; oz J,*'-J,-:tai -
f
disebutkan terdahulu, yaitu hadits
riwayat Busrah binti Shafwan dan Vi1'.p-?;,i.a,:;.>-o,"',i,-io,t;l

Ummu Habibah,

"Barangsiapa menyentuh penis- anny"Laet(afakirj,aohiun),^mrrarkio*rwoajiubrla^hr,ria-
nya (dzakarahu), maka hendaklah dia
berwudhu." berwudhu dan perempuan yang me-
nyentuh kemaluannya (farjaha), maka
Dalam lafalyang lain Rasul bersabda, wajiblah ia berwudhu.'bs6

"Barangsiapa menyentuh vagina- Menurut penulis, pendapat yang
rajih adalah pendapat jumhur selain
nya (farjahu), hendaklah dia berwu- ulama madzhab Hanafi, karena hadits
yang diriwayatkan Thalq bin Ali ada-
dhu." lah hadits dhaif atau telah di-mansukh.

fuga, hadits riwayat Abu Hurairah, Ia dianggap lemah oleh asy-Syafi'i, Abu
Hatim, Abu Zur'ah, ad-Daruquthni, al-
"Apabila salqh satu di antara ko-
mu menyentuh penisnya (dzakarahu) Baihaqi, dan Ibnul fauzi. Ia dianggap
sebagai hadits yang di-mansukh oleh
tanpo alas, maka wajiblah io ber- Ibnu Hibban, ath-Thabrani, Ibnul Arabi,
al-Hazimi, dan yang lainnya.
wudhu."
B' Tertawa tinggi (terbahak-bahak fqahqa-
Dalam lafal yang lain, hah]) ketika shalat. Menurut pendapat
ulama madzhab Hanafi, tertawa dalam
"Apabila salah satu di antara kamu shalat dapat membatalkan wudhu jika
orang yang shalat itu seorang yang su-
menyentuhvaginanya (forjihi)...." dah baligh, baik tertawanya itu dilakukan
dengan sengaja ataupun terlupa. Hal ini
Arti kata farjun mencakup dua ke- adalah sebagai peringatan dan balasan
maluan, yaitu kemaluan depan [qu-
bu[) dan kemaluan belakang (dubur).
Dikarenakan dubur merupakan salah

satu di antara dua kemaluan tersebut,
maka ia sama seperti penis.

Riwayat Ahmad dan al-Baihaqi (Nashbur Rayah, Jilid l, hlm. 58J.

IsrAM lrLlD I

bagi orang yang shalat, karena perbuat- ketika terjadi dalam shalat. Menurut
annya itu bertentangan dengan keadaan mereka, kedudukan tertawa seperti ini
dirinya yang sedang bermunajat kepada
Allah SWT. Oleh sebab itu, tidak menjadi sama dengan bersin dan batuk. Mereka
batal shalat anak-anak yang tertawa ter-
bahak-bahah karena dia belum mencapai menolak hadits-hadits yang telah di-
umur yang patut diberi peringatan (be-
lummukallafl. sebutkan, karena semua hadits tersebut

Tertawa dengan suara Yang tinggi adalah hadits mursal. Dan juga, karena
(qahqahah) adalah tertawa yang dapat
didengar oleh orang-orang yang ada di ia bertentangan dengan kaidah yang
sampingnya. Adapun tertawa biasa (adh'
Dhahku) adalah tertawa Yang hanYa menyatakan bahwa sesuatu yang mem-
dapat didengar oleh dirinya sendiri dan batalkan thaharah di dalam shalat, ia tidak
tidak dapat didengar oleh orang-orang
yang ada disekitarnya. Tertawa yang membatalkan thaharah di luar shalat.6s8
pertama dapat membatalkan shalat dan
wudhu, sementara tertawa yang kedua Penulis memilih PendaPat jumhur,
hanya membatalkan shalat saja. Adapun karena hadits yang menjadi hujjah bagi
senyuman (at-tabassumJ adalah tertawa ulama madzhab Hanafi tidak dapat di-
yang tidak bersuara dan tidak memper-
lihatkan giginya, maka ia tidak menye- pegangi kekuatannYa.

babkan batalnya wudhu ataupun shalat. 9. Makan daging unta. Wudhu akan menjadi

Pendapat mereka ini berdasarkan atas batal dengan memakan daging unta. Ini
adalah menurut pendapat ulama madz-
sebuah hadits, hab Hambali saja. Memakan daging unta
dalam keadaan apa pun daPat memba-
"sesungguhnya barang siapa di antara
talkan wudhu, baik daging tersebut
kamu tertawa terbahak-bahak, hendaklah
mentah atau telah dimasak, baik orang
ia mengulangi shalat dan wudhunya.'657 itu mengetahui atau tidak mengetahui.
Hal ini berdasarkan pada hadits riwayat
Menurut pendapat iumhur ulama se- al-Barra' bin Azib. Dia berkata bahwa
lain ulama madzhab Hanafi, wudhu tidak Rasulullah saw. telah ditanya tentang
batal disebabkan tertawa yang keras. hukum makan daging unta. Rasul men-
Karena, perbuatan ini tidak mewaiibkan jawab, "Kamu hendaklah berwudhu ka-
seseorang berwudhu apabila terjadi di
luar shalat. Maka, sudah barang tentu ia rena memakannya!' Rasul ditanya lagi
juga tidak mewaiibkan untuk berwudhu tentang hukum makan daging kambing'

Rasul meniawab, "Tidak perlu berwudhu

karena memakannya"5se gtri6 bin Hudair

telah meriwayat sebuah hadits,

4.1:*r Y, +)' fF,l ,or tst ?o .iz

/'r*,

657 Dalam masalah ini ada hadits musnad dan hadits mursal: Hadits musnad ialah yang diriwayatkan oleh Abu Musa al-Asy'ari yang ada
pada ath-Thabrani; dan riwayat Abu Hurairah yang ada pada ad-Daruquthni; Ibnu Umar pada lbnu Adi; Anas, labir' Imran ibnul Hushain
ian Abul Malik pada ad-Daruquthni, tetapi semuahadits itu dhaif. Adapun hadits mursal ada empat, yaitu mursal Abu Aliyah, mursal
Ma bad al-lahni, mursal lbrahim anNakha'i, dan mursal al-H asan (Nashbur Rayah, Jilid l, hlm. 47-54)'

658 Bidoyotul Mujtahi4 Jilid l, hlm.39.
659 Diriwayatkan oleh Imam Muslim dan Abu Dawud, lmam Muslim dan Ahmad juga meriwayatkan dari fabir bin Samurah hadits yang

FIqlH ISLAM IILID

"Berwudhulah karena makan daging para Khulafaur Rasyidin. Bahkan, ulama
unta dan kamu tidak diminta untuk ber- madzhab Hambali sendiri berpegang ke-
pada hadits yang menjadi hujjah jumhur,
wudhu kqrena makan daging kambing.'66o sehingga mereka mengatakan bahwa ti-
dak batal wudhu seseorang disebabkan
Ulama madzhab Hambali mengulas makan sesuatu yang dibakar api.
10. Memandikan mayat. Mayoritas ulama
pengertian hadits di atas dengan kata- madzhab Hambali berpendapat bahwa
wudhu menjadi batal disebabkan sese-
kata mereka, "Sesungguhnya hukum wa- orang memandikan mayat secara keselu-
jib berwudhu karena makan daging unta ruhan662 atau memandikan sebagiannya

(jazur) merupakan ibadah yang tidak saja, baik mayat yang dimandikan itu
dapat dipikirkan sebabnya. Oleh sebab
itu, hukum tersebut tidak dapat ditetap- kecil ataupun besal laki-laki ataupun pe-
rempuan, Muslim ataupun kafir. Hal ini
kan pada perkara lain. Dengan demikian, karena terdapat riwayat dari Ibnu Umarl
wudhu tidak akan diwajibkan disebab- Ibnu Abbas, dan Abu Hurairah. Telah di-
riwayatkan juga oleh Ibnu Umar dan Ibnu
kan minum susu unta, mengunyah da- Abbas, bahwa mereka berdua menyuruh
gingnya [kemudian mengeluarkannya), orang yang memandikan mayat supaya
makan hati, limpa, paru, kulit, perut, dan berwudhu. Abu Hurairah berkata, "Seku-

sejenisnya." rang-kurangnya dia hendaklah berwu-
dhu, karena biasanya tangan mereka ti-
Jumhur ulama selain ulama madzhab
Hambali mengatakan bahwa wudhu tidak dak terselamat dari menyentuh kemaluan
batal dengan sebab makan daging unta
(jazur) berdasarkan sebuah hadits yang mayat."

diriwayatkan Jabir. Dia berkata, Mayoritas fuqaha berkata tidak ada
tuntutan untuk berwudhu, karena me-
"Di antara dua perkara fkeputusan) mandikan mayat tidak terdapat nash
yang terakhir dari pada Rasulullah saw. syara' yang menjelaskan hal tersebut.
adalah tidak wajib berwudhu karena Begitu juga tidak ada sesuatu nash yang

makan sesuatu yang dibakar api."66r pengertiannya sama dengan masalah ini.

Apa lagi karena daging unta adalah Apalagi ia hanya sekadar memandikan
bahan makanan seperti bahan-bahan seorang manusia, maka ia seperti me-

makanan yang lain. mandikan orang yang masih hidup.

Pendapat yang terkuat menurut Sungguh sangat menarik catatan Ibnu
Rusyd tentang tiga sebab terakhir yang
pandangan saya adalah pendapat jum- membatalkan wudhu. Dia berkata, "Abu
hur. Karena, seluruh fuqaha bersepakat Hanifah telah bersikap ganjil apabila dia
bahwa setelah masa awal-awal Islam, mewajibkan wudhu disebabkan tertawa
hukum wajib berwudhu disebabkan ma-

kan sesuatu yang dibakar api adalah

digugurkan. Iuga, berdasarkan adanya
informasi yang kuat yang menyatakan

bahwa ketetapan tersebut diamalkan oleh

Riwayat Imam Ahmad dan ia menghukuminya sebagai hadits shahih. Hadits ini sama dengan hadits riwayat Ibnu Malah dari
Abdullah bin Amr dari Nabi Muhammad saw. (Noilul Authar, f ilid I, hlm. 200).
661 Riwayat Abu Dawud, at-Tirmidzi, dan lbnu Majah.
662 Wudhu tidak batal karena membawa mayat menurut pendapat mereka. Hal ini berbeda dengan apa yang ditulis dalam sebagian

kitab.

Baglan 1: IBnDAH FIQIH ISIAM JILID I

fterbahak) dalam shalat dengan berda- diyakininya. Yaitu, dia masih dalam ke-
sarkan hadits mursal yang diriwayatkan adaan suci dalam contoh yang pertama,
Abul Aliah. Segolongan ulama juga telah dan dalam keadaan berhadats dalam
bersikap ganjil apabila mereka mewajib-
contoh kedua. Hal ini karena terdapat
kan wudhu disebabkan memandikan
sebuah hadits yang diriwayatkan oleh
mayat berdasarkan sebuah hadits dhail Abdullah bin Zaid. Dia berkata,
"Barangsiapa memandikan mayat, maka
hendaklah dia berwudu." Begitu juga de- ,ffi,sit ,ytt&[;,r J;., Jl6*
ngan segolongan orang yang terdiri atas
ahli hadits seperti Imam Ahmad, Ishaq, ! t -i i-.(>'Aattol,-r*'i ii a'l.t
dan golongan yang lain yang berpen-
dapat bahwa wudhu diwajibkan hanya // . . . oz 6/ c. . c,
karena makan daging unta (iazur), de-
r-E-
ngan berdasarkan kepada sebuah hadits C-" e -tf-V-t'L..u. , oca,'o

yang berkaitan dengannya dari Nabi St

Muhammad saw..663 "S"o.rng laki-laki telah mengadu ke-

11. Ragu dengan adanya wudhu. Menurut pada Nabi Muhammad saw. bahwa dia

satu pendapat yang masyhur dalam merasa ada atau menemukan sesuatu

madzhab Maliki menyatakan bahwa, ba- [pada dirinya) ketika shalat. Lalu Rasul
rangsiapa merasa yakin bahwa dirinya
suci (yaitu dia yakin bahwa dia telah bersabda,
berwudhu) kemudian dia ragu tentang
terjadinya hadats, maka dia wajib ber- 'Janganlah kqmu berhenti shalat ke-
wudhu. Begitu juga jika dia merasa yakin
tentang berlakunya hadats dan ragu bah- cuali jika kamu mendengar bunyi atau
wa dirinya masih suci, maka dia wajib
menghirup bau."664
berwudhu. Hal ini karena beban sese-
Terlebih Iagi jika muncul keraguan
orang itu sangat besar dan dia tidak akan pada diri seseorang, maka wujudlah dua
terlepas dari beban tersebut, kecuali de- keadaan yang bertentangan. Hal ini me-
ngan perasaan yakin.
nyebabkan kedua keadaan tersebut gugur
fumhur ulama selain ulama madzhab (tidak terpakai). Kedudukannya adalah se-
Maliki mengatakan bahwa wudhu tidak perti dua keterangan yang bertentangan,
akan menjadi batal dengan adanya pera- maka kedua-duanya digugurkan, kemu-
saan ragu. Oleh sebab itu, barangsiapa
merasa yakin dirinya telah suci dan ke- dian dirujuk kepada apa yang diyakini.

mudian muncul keraguan akan terjadinya Berdasarkan pada ketetapan ini, maka para
hadats, atau seseorang yakin berlakunya
fuqaha memutuskan satu kaidah, yaitu,
hadats dan dia ragu kesuciannya, maka "Yakin tidak dapat dihapuskan dengan
hukum yang ditetapkan pada orang ter-
sebut hendaklah berdasarkan apa yang keraguan."

12. Perkara yang mewajibkan mandi. Menu-
rut ulama madzhab Hambal.i, wudhu akan
menjadi batal dengan setiap perkara yang
mewajibkan mandi kecuali mati. Karena,
mati hanya mewajibkan mandi saja, ia
tidak mewajibkan wudhu. Di antara per-

Hurairah, tetapi tidak menyebut at-Tirmidzi. Imam Muslim meriwayatkan hadits marfu'dari Abu

"Dia sedang shalat."

-, ll ill : !.." Il

"#',...i

- =. :-., j . -+.:-,-i,,.,::
.].1]''*.]:l€

ISI.A.M IILID 1 -<,*il=\_-3-\f-6-6 ,' B'glran 1: IBADAH

kara-perkara yang mewajibkan mandi caci, dan sejenisnya. Namun, ia disunnahkan
adalah apabila bertemu dua kemaluan berwudhu karena melakukan itu. Wudhu juga
[berjimak), keluar air mani, dan apabila tidak batal disebabkan memotong rambut,
orang kafir masuk Islam, baik dia berasal
dari kafir asli atau murtad. Apabila orang kuku, dan sebagainya.
yang murtad kembali menganut Islam,
Kesimpulan Pendapat para Madzhab
maka dia diwajibkan mandi. Apabila Berkaitan dengan Perkara yang
Membatalkan Wudhu
dia diwajibkan mandi, maka diwajibkan
juga untuk berwudhu. Wudhu menjadi 1. Madzhab Hanafi
batal dengan sebab murtad, karena ia
dapat menghapuskan amalan seseorang, Terdapat dua belas perkara yang mem-
di antaranya adalah wudhu dan mandi. batalkan wudhu.

Pendapat ini sesuai dengan pendapat [a) Segala sesuatu yang keluar melalui dua

ulama madzhab Maliki. Akan tetapi, ula- kemaluan kecuali angin yang keluar dari
ma madzhab Hanafi dan Syafi'i berpen- qubul, menurut pendapat yang ashah.
dapat bahwa wudhu tidak menjadi batal
(b) Melahirkan anak yang tanpa disertai da-
dengan sebab murtad.
rah.
Konsekuensi dari Perkara yang
Membatalkan Wudhu (c) Najis yang mengalir keluar namun ia
tidak melewati dua kemaluan seperti da-
Perkara-perkara yang membatalkan wu- rah, nanah, muntah makanan, air, 'aloq
dhu, juga membatalkan orang yang mengusap
dua khufnya atau yang semacamnya. Namun, (yaitu darah beku yang bersumber dari
ada perkara-perkara khusus yang hanya mem- perut) apabila ukurannya sampai me-
batalkan amalan tertentu saja, seperti batalnya menuhi mulut.
thaharah yang dilakukan dengan mengusap
dua khuf dan dua jaurab [sejenis kaus kaki), [d) Air empedu (mirrah) apabila ia keluar
disebabkan karena habis masa mengusapnya
dan disebabkan ia telah ditanggalkan. Begitu dan memenuhi mulut. Maksud memenuhi
juga seperti batalnya thaharah perempuan
yang istihadhah atat yang serupa dengannya, mulut adalah ketika mulut tidak dapat
seperti orang yang beser forang yang kena ditutup, kecuali dengan cara memaksa-
penyakit sering kencing) disebabkan habis nya. Ini adalah menurut pendapat yang
ashah. Muntah yang keluarnya tidak ba-
waktu shalat, dan juga batalnya thaharah
reng namun disebabkan oleh satu sebab,
orang yang tayamum disebabkan terdapat air maka jumlah ukurannya dapat digabunguut
dan sejenisnya yang akan dibicarakan secara (jika jumlah ukurannya memenuhi mulut,
khusus nanti. maka membatalkan wudhu).

Wudhu tidak menjadi batal disebabkan [e) Wudhu juga batal apabila darah keluar

mengucapkan perkataan yang haram seperti melebihi atau sama banyak dengan air
berbohong, mengumpat, menuduh zina, men-
Iudah.

t0 Tidur dalam posisi miring, bertongkat,

atau bersandar pada sesuatu yang jika
sesuatu tersebut dibuang maka dia akan
terjatuh (yaitu tidur yang tidak merapat-
kan pantatnya pada tempat duduk).

66s lnilah pendapat Muhammad, yaitu pendapat yang asiah.

Baglan 1: IBADAH IsrAM f rLrD I

(g) Terangkatnya bagian anggota yang di- (a) Berbagai jenis hadats. Hadats yang keluar
gunakan untuk duduk seseorang yang
sedang tidur dari tempat dia tidur sebe- melalui dua kemaluan ada delapan yaitu
lum dia terjaga, meskipun dia tidak sam- air kencing, tahi, angin baik ia keluar de-

pai jatuh. ngan bunyi atau tanpa bunyi, air wadi
(yaitu air yang pekat berwarna putih
[h) Pingsan; (i) Gila; [j) Mabuk; yang keluar setelah air kencing keluar),
(k) Tertawa dengan suara yang tinggi (ter-
air madzi (yaitu air yang berwarna putih
bahak) bagi orang yang sudah baligh dan jernih yang keluar ketika seseorang ber-
dilakukan dalam keadaan sadar ketika syahwat), air hadi (yaitu air yang keluar
melalui vagina perempuan ketika ia me-
melaksanakan shalat yang mempunvai lahirkan anak), darah istihadhah dan se-
ruku'dan suiud, meskipun dia melakukan
itu dengan sengaja untuk keluar dari sha- jenisnya seperti beser air kencing jika

latnya; dan keluarnya tidak menentu (yaitu apabila
keluarnya tidak sampai setengah dari
0) Tersentuhnya vagina (fari) dengan penis waktu shalat ataupun lebih, oleh sebab itu
jika keluarnya sampai setengah dari wak-
(dzakar) yang menegang tanpa alas fii-
tu shalat ataupun lebih, maka wudhunya
', mak). tidak batal), dan air mani laki-laki yang
keluar dari vagina perempuan setelah dia
Adapun sepuluh perkara Yang tidak
mandi.
membatalkan wudhu adalah:
Wudhu tidak batal disebabkan keluar-
[a) Darah yang tidak mengalir dari tem-
nya sesuatu yang luar biasa seperti darah,
patnya. nanah, batu kerikil, dan ulat. Begitu juga,
wudhu tidak batal dengan sebab keluar-
(b) Terpotongnya daging tanpa ada darah
nya sesuatu yang tidak melalui saluran
yang mengalir. biasa seperti keluarnya angin atau tahi
(c) Keluarnya ulat dari tempat luka, telinga, melalui qubul, atau keluarnya air kencing
menerusi dubur. Wudhu juga tidak batal
dan juga hidung. dengan sebab keluarnya air mani tanpa
perasaan nikmat, yaitu tiada kenikmatan
td) Menyentuh penis. sama sekali atau yang tidak menimbul-
(e) Menyentuh perempuan. kan rasa kenikmatan yang luar biasa
tf) Muntah yang tidak memenuhi mulut. akibat menggaruk kurap atau sebab ba-
(e) Muntah dahak meskipun banYak.
(h) Seseorang yang tidur dalam keadaan mi- dannya diguncangkan oleh binatang tung-

ring yang memungkinkan dia berpindah gangan lalu keluar air maninya' Akan
dari tempat duduknya.
tetapi jika ia keluar dengan penuh rasa
(i) Tidur dalam keadaan rapat pantatnya, kenikmatan, seperti akibat jimak, sen-

walaupun dia bersandar pada sesuatu dan tuhan, atau khayalan, maka ia diwajibkan

jika sesuatu itu dibuang, maka dia akan mandi.

terjatuh; dan Wudhu tidak batal karena air kencing,
tahi, atau angin yang keluar melalui satu
tj) Tidurnya orang yang sedang shalat mes-
lubang yang terdapat di atas usus, baik
kipun ketika ruku'atau sujud.

2. Madzhab lvlaliki

Perkara yang membatalkan wudhu ada

tiga:

.HE;yiaft

FIQIH ISI,AM IITID 1 3. Madzhab Syafi'i

kedua saluran kemaluan yang asli itu ter- Terdapat empat perkara yang membatal-
sumbat atau salah satunya tersumbat
ataupun tidak. Sesuatu yang keluar me- kan wudhu:
lalui lubang yang terdapat di bawah usus
[a) Segala sesuatu yang keluar melalui salah
dapat membatalkan wudhu jika kedua
satu dari dua kemaluan, kecuali air mani
saluran kemaluan yang asli tersebut ter-
[yaitu maninya orang yang berwudhu
sumbat. Wudhu juga batal jika sesuatu itu sendiri) karena keluarnya mani me-
yang keluar melalui saluran kemaluan
wajibkan mandi.
yang biasa, terhenti, dan kemudian orang
tersebut kencing atau berak melalui mu- (b) Hilang akal dengan sebab gila, pingsan,
lutnya. atau tidur, kecuali tidur dalam keadaan

[b) Sebab-sebab lain; terdapat tiga sebab bagian badannya yang digunakan untuk
duduk (pantat) rapat pada tempat duduk-
yang membatalkan wudhu: nya, seperti rapat pada tanah (lantai) atau
rapat dengan punggung binatang yang
ti) Hilang akal. dikendarai, walaupun dia juga bersandar
[ii) Sentuhan yang disertai perasaan nik-
kepada sesuatu yang jika sandaran itu
mat antara seorang laki-laki yang su-
dah baligh dengan perempuan yang dibuang maka dia akan jatuh.
dapat menimbulkan syahwat, dan
[c) Bersentuhnya kulit laki-laki dan perem-
[iii) Sentuhan orang yang telah baligh
pada penis yang masih berada di puan walaupun perempuan yang disentuh

badannya dengan telapak tangan, de- itu sudah mati, baik disengaja ataupun
ngan bagian tepi telapak tangan atau
tidak. Wudhu orang yang menyentuh dan
dengan jari tangan tanpa ada alas,
walaupun alas itu tipis kecuali jika orang yang disentuh tetap batal. Akan
tetapi, wudhu tidak akan batal dengan
alas itu terlalu tipis, maka ia dianggap menyentuh seorang anak-anak laki-laki
seperti tidak ada. Hilang akal sama atau anak-anak perempuan yang kedua-
dengan sebab gila, pingsan, mabuk, duanya masih kecil dan tidak menimbul-
kan syahwat. Wudhu juga tidak batal
atau tidur yang nyenyak biarpun dengan sebab menyentuh rambut, gigi,
dan kuku. Begitu juga tidak batal me-
dalam masa yang singkat, Kecupan
bibir juga dapat membatalkan wudhu nyentuh mahram, baik mahram itu de-
walaupun dilakukan tanpa ada pe-
ngan sebab keturunan, penyusuan, atau
rasaan syahwat. pernikahan [yaitu perempuan-perempuan
yang menjadi mahram selama-lamanya
[c) Murtad dan ragu-ragu dalam masalah
akibat pernikahan), bukan perempuan
apakah dia suci, setelah dia yakin terjadi-
yang menjadi mahram sementara seperti
nya hadats dan juga ragu-ragu dalam
kakak atau adik ipar, karena mereka da-
masalah apakah ada hadats setelah dia
yakin terjadinya suci, juga dapat mem- pat menyebabkan batalnya wudhu; dan
batalkan wudhu. Wudhu tersebut men-
jadi batal bukan karena hadats dan juga [d) Menyentuh kemaluan bagian depan anak
bukan karena sebab-sebab di atas.
Adam dhn lubang (halaqah) dubur dengan

batin telapak tangan. Akan tetapi, wudhu

B'gan 1: IBADAH Isr"AM )rLrD 1

orang yang disentuh tidak ikut menjadi (c) Hilang akal dengan sebab gila dan sejenis-
batal. Wudhu menjadi batal dengan se-
bab menyentuh kemaluan mayat dan nya, atau tahap kewarasannya terhenti

anak-anak laki-laki yang kecil, menyentuh disebabkan pingsan dan mabuk, baik
tempat asal kemaluan yang semuanya mabuk sedikit atau banyak, iuga sebab
terpotong, dan menyentuh penis yang ter- tidur kecuali tidur yang sedikit menurut
potong. Wudhu tidak akan menjadi batal 'urf, baik seorang yang tidur itu dalam
dengan menyentuh vagina binatang, be-
gitu juga jika disentuh dengan ujung jari. keadaan duduk ataupun berdiri. Wudhu

4. Madzhab Hambali menjadi batal apabila seseorang tidur-

Terdapat delapan perkara yang memba- walaupun sebentar-bagi orang yang se-

talkan wudhu: dang ruku', sujud, bersandar, tengkurap,

[a) Segala sesuatu yang keluar melalui dua dan menungging, keadaannya sama seper-
kemaluan kecuali bagi orang yang ha-
ti orang yang tidur dalam posisi miring.
datsnya berterusan. Bagi orang yang di-
sebut terakhir, wudhunya tidak menjadi (d) Menyentuh penis, qubul, atau dubur anak
batal. Wudhu juga akan batal disebabkan Adam, baik pada dirinya sendiri atau
angin yang keluar melalui vagina atau
penis atau disebabkan kapas, celak, mi- pada orang lain, walaupun sentuhan itu

nya[ suntikan yang dimasukkan ke da- tanpa syahwat. Asalkan sentuhan itu di-

lamnya. Ia juga batal dengan sebab ke- lakukan dengan menggunakan batin tela-
luarnya ujung tali perut atau kepala ulat
atau disebabkan keluarnya air mani laki- pak tangan, bagian belakangnya, atau bagi-
laki atau perempuan yang dimasukkan an tepinya, kecuali jika menyentuh dengan

ke dalam vagina. kuku. Dan asalkan ia dilakukan tanpa

(b) Keluarnya berbagai najis dari bagian ba- alas/penghalang, meskipun ia dilakukan
dan yang lain. fika najis yang keluar ter- dengan jari yang lebih (yang tumbuh pa-
sebut adalah tahi atau air kencing, maka
ia tetap membatalkan wudhu walaupun da tangan seseorang). Akan tetapi, wudhu

kadarnya sedikit. Baik najis tersebut ke- orang yang terkena sentuhan tidaklah
luar melalui bagian bawah usus atau ba-
gian atasnya, baik kedua kemaluan yang batal. Wudhu tidak batal karena menyen-
asli tersumbat ataupun keduanya dalam tuh penis yang terpotong. Begitu juga wu-
keadaan terbuka. Jika najis yang keluar dhu tidak batal dengan menyentuh zakar
yang dipotong, dan tidak batal juga karena
itu bukan tahi dan air kencing seperti
menyentuh kulit yang dipotong karena
muntah, darah, nanah, dan ulat di tempat
luka, maka ia tidak membatalkan wudhu ia tidak dianggap sebagai kemaluan,

kecuali jika jumlahnya banyak' Yaitu, Sentuhan perempuan pada dua bibir ke-

kadar yang dirasakan jijik oleh seseorang, maluannya (syafraiha) tidak membatalkan
masing-masing disesuaikan dengan ke- wudhunya, karena yang disebut vagina

adaan dan kondisi. adalah saluran tempat keluarnya hadats.

Karenanya, kedua bibir vagina tidaklah

termasuk kedalam vagina, dan

(e) Bersentuhannya kulit laki-laki dengan

kulit perempuan dalam keadaan bersyah-
wat tanpa penghalang apa pun' Wudhu
tidak batal jika bersentuhan dengan anak-
anak perempuan atau laki-laki yang belum
sampai umur tujuh tahun. Hal ini berlaku

F€Le&.q,,W.,@,*

=

FIqLH ISI,AM JILID 1 BagIan 1: IBADAH

jika sentuhan tersebut dalam keadaan syahwat tidaklah membatalkan wudhu

tanpa syahwat. Wudhu akan menjadi batal mereka.
dengan sebab sentuhan yang dilakukan
[f) Memandikan seluruh badan mayat atau
dalam keadaan bersyahwat meskipun
orang yang disentuh adalah mayat orang sebagiannya walaupun mayat itu berbaju.
tua, mahram, dan anak-anak perempuan Mentayamumi mayat tidak membatalkan
yang berumur tujuh tahun ke atas. Hal ini
karena firman Allah, wudhu jika ia tidak dapat dimandikan.

@ x$Fii\ Orang yang memandikan mayat adalah
orang yang membolak-balikkan mayat
"'nteu kamu telah menyentuh pe- serta memandikannya, walaupun dilaku-
kan dengan sekali perbuatan. Orang yang
rempu an...." (an-Nisaa': 43) mengucurkan air ke atas mayat tidak ter-
masuk orang yang memandikan mayat
Akan tetapi, wudhu orang yang disentuh
[g) Makan daging unta (jazur), baik daging
tidak menjadi batal walaupun dirinya
itu mentah ataupun tidak; dan
dalam keadaan bersyahwat. Wudhu juga
(h) Perkara-perkara yang mewaiibkan mandi
tidak batal dengan sebab penis yang
seperti bertemunya dua kemaluan, [yaitu
tegang, yang disebabkan oleh khayalan berjimak), berpindahnya air mani, orang
dan melihat sesuatu secara berulang. Ia
juga tidak batal dengan sebab menyentuh kafir yang masuk agama Islam, baik ia

rambut, kuku, dan gigi. Hal ini karena seorang kafir asli atau murtad.

anggota-anggota tersebut menetapi hu- h. Wudhu Orang yang Uzul
kum sebagai anggota yang sudah terpi-
Wudhu akan menjadi batal dengan sebab
sah. Ia juga tidak batal dengan sebab keluarnya sesuatu melalui salah satu dari dua
kemaluan. Hal ini berlaku jika ia keluar pada
menyentuh anggota yang telah terputus
kondisi seseorang itu normal/sehat. Akan
dari badan seseorang. Hal ini karena
tetapi jika ia keluar pada waktu seseorang
anggota tersebut sudah hilang kehor- itu dalam kondisi sakit, maka dia dianggap

matannya. Ia juga tidak batal karena berada dalam keadaan uzur.

menyentuh laki-laki yang cantik seperti Menurut ulama madzhab Hanafi, orang
perempuan, sekalipun dengan perasaan yang uzur didefinisikan sebagai orang yang
mengidap penyakit beser (sering kencing) dan
syahwat. Hal ini karena ayat yang ber- dia tidak ma{npu menahannya, orang yang
mengidap penyakit perut kembung atau pe-
kaitan tidak menyebutkannya dan ia bu- nyakit tidak dapat menahan kentut, penyakit
kannya merupakan tempat melepaskan hidung berdarah yang berterusan (mimisan),
nafsu syahwat menurut pandangan syara'.
Tidak batal juga disebabkan menyentuh keluar darah dari luka atau sedang mengalami
khuntsa murykil baik disentuh oleh laki- istihadhah.665 Begitu juga apabila yang keluar
laki atau perempuan, walaupun dengan
syahwat. Sentuhan laki-laki dengan laki- itu karena suatu penyakit lain seperti darah,
laki dan perempuan dengan perempuan, nanah, air racun, dan sebagainya, meskipun

walaupun sentuhan itu dengan nafsu

666 Yaitu darah penyakit yang keluar dari ujung rahim, sedangkan darah haid adalah yang keluar dari pangkal rahi m. Istihadhah datangnya
tidak menentu {ad-Durrul Mul<htar,Jilid I, hlm 2 62-263).

Baglan 1: IBADAH FIqLH ISIAM )ILID 1

ia terjadi pada telinga, buah dada perempuan, fardhu, bukan berwudhu untuk setiap me-

atau pusar.667 ngerjakan shalat fardhu atau sunnah' Karena,
Rasulullah saw. bersabda,
Hukumhukum yang b*aitan deng;an
F/ 4t $re ) wpqt 4 -.' *;jjjl
wudhu dan shalat orangl Yang uzur,
memertukan penielasan dari berbaf,lai ;>G
pendapat madzhab.
"P"rripuon yang beristihodhah hendak-
1. Madzhab Hanafi568
lah berwudhu ketika setiap masuk waktu sha-
Pada peringkat awal, definisi orang uzur
adalah orang yang kondisi uzurnya mencakupi lqs.'66e
semua waktu shalat fardhu' Ia tidak mempu-
Selain itu, semua hukum orang yang uzur
nyai waktu untuk berwudhu dan menger- diqiyaskan dengan perempuan yang beristi-
jakan shalat sepanjang waktu shalatnya. Hal
ini karena dia selalu berada dalam keadaan hadhah. Dia boleh menunaikan sebanyak apa
berhadats dalam waktu tersebut, seperti air pun shalat fardhu dan shalat sunnah dengan
kencingnya selalu menetes dari awal waktu wudhu tersebut. Wudhunya akan terus kekal
zhuhur hingga waktu ashar. Jika dia berada selama dia masih berada dalam dua syarat,
dalam keadaan seperti ini, maka kewujud-
yaitu dia berwudhu karena uzur dan pada
annya mencukupi untuk dijadikan alasan. fika diriya tidak berlaku hadats yang lain, seperti

memang uzur itu berlaku satu kali dalam kentut atau keluar darah di tempat yang lain.

masa yang singkat, seperti dia melihat darah Wudhu orang yang uzur akan batal hanya
satu kali dalam waktu ashar setelah dia uzur
karena habis waktu shalat fardhu' Oleh sebab
sepanjang waktu zhuhur; ia tidak dianggap itu, jika dia berwudhu sesudah matahari ter-

sebagai orang yang dimaafkan kecuali jika bit untuk shalat hari raya, kemudian masuk
waktu shalat Zhuhur; maka wudhunya tidak
waktu shalatnya telah terlewat. Ini berarti akan batal karena masuk waktu Zhuhur. Be-
gitu juga habisnya waktu shalat hari raya
syarat yang tetap bagi uzur pada peringkat juga tidak membatalkan wudhunya' Karena,
awal adalah mencakupi semua waktu shalat.
Syarat berterusan adalah dengan wujudnya waktu shalat hari raya bukanlah waktu shalat
hadats itu pada setiap waktu setelah itu wa-
laupun sekali, karena dengan keadaan terse- fardhu. Akan tetapi, ia merupakan waktu
but dapat diketahui tentang kewujudan uzur
tersebut. Syarat terhenti uzur adalah dengan yang terbiar (waqt muhmal) dan memiliki ta-
ketiadaan uzur pada semua waktu shalat, raf seperti shalat Dhuha. Ini berarti, wudhu
seperti uzur tersebut sudah terhenti pada se- orang yang uzur dianggap sah dalam keadaan

panjang waktu ashar. tersebut, sebelum masuk waktu Zhuhur.

Hukum orang yang uzur, hendaklah dia Wudhunya akan menjadi batal apabila wak-
berwudhu ketika setiap masuk waktu shalat
tunya telah habis dan bukan karena masuknya
waktu shalat.670 Oleh sebab itu, apabila waktu
sudah habis, maka wudhu orang yang uzur

667 Ad-Durntl Mukhtar, Jilid l, htm. 280 dan seterusnya'
668 tbid.,filidt,hlm. 139,281,283;FathulQadir,Jilidl,hlm. 124-!28;Muraqial-Fatah,hlm.25;TabyinulHaqa'iq,Jilidl,hlm.64.
669 Di.iwayatkanolehSibtibnulfauzidariAbuHanifah,tetapiaz-Zaila'imengatakanbahwahaditsiniadalahgharib(NashburRayah,lilid,

1, hlm.204).

670 Abu Hanifah dan Muhammad mengatakan wudhu orang yang uzur menjadi batal dengan berakhirnya waktu shalal Ulama Hanafi
meniadi batal dengan terlewatrya waktu. Abu Yusufberpendapat wu-
sepakat untuk mengatakan bahwa wudhu wanita mustahadhah
dhu menjadi batal ketika masuk waktu dan lctika h36;s \^raktLl Zufar berpendapat wudhu moniadi bal4 kltika ry:uk *"=ql! or"

FIQIH ISLAM IILID 1

akan batal, dan hendaklah dia berwudhu lagi atau madzi. Darah istihadhah juga termasuk
untuk mengerjakan shalat [fardhu) yang lain. dalam as-salas jika ia tidak dapat dikenal pasti
waktu berhentinya dan tidak dapat diobati.
Hal ini menurut pendapat tiga ulama besar Akan tetapi jika ia dapat dikenal pasti waktu

dari madzhab Hanafi [yaitu Abu Hanifah, Abu berhentinya, seperti terdapat kebiasaan ber-
Yusul dan Muhamad bin Hasan asy-Syaibani).
Zufar berkata, "Hendaklah dia berwudhu lagi henti pada akhir waktu, maka wajib bagi
dia untuk memperlambat shalatnya hingga
ketika masuk waktu." ke akhir waktu. Begitu juga jika ia berhenti
pada awal waktu, maka wajib bagi dia untuk
|ika dia berwudhu sebelum terbit mata-
mempercepat shalatnya. Jika dia mampu
hari, maka wudhunya akan batal karena wak-
tu shalat fardhu sudah habis. Wudhunya juga menjaga atau mengendalikannya, maka dia
wajib melakukan hal tersebut, dan dia akan
akan batal jika dia berwudhu setelah shalat diampuni dosanya selama ia mampu menjaga
Zhuhur dan waktu ashar sudah masuk. Hal
ini karena pada masa itu waktu shalat Zhuhur dan mengendalikan.

sudah habis. Kondisi as-sa/as berlaku tidak disebabkan
Orang yang uzur hendaklah meringankan karena masa bujang yang lama, akan tetapi

uzurnya sekadar yang dia mampu, seperti ia disebabkan karena perasaan yang tidak se-

memakai alas bagi perempuan yang beristi- imbang, karena kedinginan, dan rasa sakit.
hadhah serta melakukan shalat dengan duduk
Menurut pendapat ulama madzhab Maliki,
jika gerakannya dapat menyebabkan darah wudhu tidak batal jika air kencing dan madzi

keluar. Sunnah bagi orang laki-laki menyum- keluar dalam keadaan as-sa/as yang berterus-
bat lubang saluran kencing jika diwaswaskan
oleh setan dan ia wajib melakukannya jika air an. Hukum ini dapat ditetapkan jika as-salas
kencing tidak dapat terhenti kecuali dengan itu berlangsung dalam kadar separuh waktu
cara itu. shalat, dalam kebanyakan waktu shalat,
atau dalam semua waktu shalat. Akan tetapi,
Orang yang uzur tidak wajib membasuh sunnah berwudhu jika ia tidak menghabis-
pakaian yang terkena najis yang melebihi ka-
dar sebesar satu logam dirham, jika memang kan semua waktu shalat.
dia yakin bahwa dengan membasuhnya maka Wudhu orang yang mengidap as-salas
dia akan menjadi mutanajjis karena meng-
alirnya air sebelum dia selesai mengerjakan akan batal karena kencing yang biasa atau
shalat. Oleh sebab itu, jika dia berkeyakinan keluar air madzi karena nafsu syahwat yang
bahwa pakaiannya tidak akan menjadi mu- biasa, seperti berlaku ketika dia melihat atau
berpikir [berkhayal). Keadaan demikian dapat
tanajjis sebelum dia selesai mengerjakan diketahui karena air kencingnya menjadi ba-

shalat, maka dia wajib membasuhnya. Inilah nyak dan keluarnya air madzi juga dalam

pendapat yang terpilih untuk difatwakan keadaan bernafsu.

dalam madzhab ini. Wudhu orang yang mengidap as-sa/as
fuga akan batal jika keadaan itu terjadi pada
2. Madzhab Maliki671 dirinya sendiri dalam jangka masa yang pendek.

As-Salas adalah sesuatu yang mengalir fika wudhu orang yang mengidap as-
dengan sendirinya karena kondisi yang tidak
normal, baik ia berupa air kencing, angin, tahi, salas tidak batal, maka dia dapat melakukan
shalat apa pun hingga didapati sebab-sebab

t67 Asy-SyarhushSftqgfth lilid I, hlm, 1 39 dan seteru snya; osy-Syarhul KaDrr, Jilid I, hlrn 1 16 dan seterusnya ; al-Qawanin al-Fiqhgyah,h\m 41.

ISI.AM JILID 1

lain yang membatalkan wudhu. Akan tetapi, dengan masuknya waktu shalat seperti hukum

sunnah bagi orang yang mengidap as-salas dan bertayamum. Jika dia berwudhu sebelum

istihadah untuk berwudhu pada setiap hen- masuk waktu shalat, kemudian sesuatu yang
dak melaksanakan shalat, tetapi hal tersebut dapat membatalkan wudhunya keluar, maka
bukanlah wajib bagi mereka.
thaharah-nya batal,
3. Madzhab Hambali6T2
Boleh bagi perempuan yang ber-istiha-
Wudhu orang yang mengidap penyakit dhah mengabungkan fjamak) dua shalat faf-
hadats yang berterusan sebab as-salos, air dhu dengan satu wudhu. Hal ini karena Nabi
madzi, keluar darah, kentut yang tidak dapat Muhammad saw pernah menyuruh Hamnah
dikawal dan sejenisnya, tidaklah batal. Keada-
binti fahsyi untuk menggabungkan dua shalat
an mereka sama seperti perempuan yang fardhunya dengan satu kali mandi.67s Selain
beristihadhoh, jika kondisi hadats itu berte- itu, Rasul juga pernah menyuruh Sahlah binti
Suhail dengan perintah yang sama, karena
rusan hingga menghabiskan sebagian waktu wudhunya dianggap masih kekal hingga ke
akhir waktu. Hal ini seperti orang yang ber-
shalat yang membolehkan seseorang itu tayamum, malah keadaannya lebih utama lagi.

bersuci. f ika hadatsnya terhenti dalam waktu Jika perkara yang menjadi uzur hilang, seperti
yang dapat digunakan untuk berwudhu dan berhentinya darah istihodhoh dalam jangka
shalat, maka dia wajib melaksanakan shalat. waktu yang dapat digunakan untuk berwudhu
Akan tetapi dia wajib berwudhu lagi jika
setiap kali akan shalat keluar sesuatu yang dan menunaikan shalat, maka thaharah'nya
menjadi sebab kepada hadats yang berterusan. batal. Oleh sebab itu, dia wajib memulakan
Hal ini dilakukan setelah membasuh tempat thaharah-nya karena hadats yang ada sudah
berkenaan, mengikat, dan menjaganya dari
kembali terjadi. Wudhunya tidak sah kecuali berhenti menyebabkan dia ditetapkan hukum

setelah masuk waktu shalat. Hal ini karena seperti orang yang berada dalam keadaan ha-
berdasarkan sabda Nabi Muhammad saw.
dats yang tidak berterusan.
kepada Fatimah binti Abi Hubaisy,
Cara orang yang uzur melakukan persiap-
"Berwudhulah untuk setiap shalat, (dan an berwudhu adalah sebagai berikut. Perem-
janganlah kamu berwudhu) sehingga masuk puan yang ber-istihadhah hendaklah mem-

waktunya.'673 basuh vaginanya (farji) kemudian menutup

Dalam lafallain, Rasul saw, bersabda, dengan kapas atau sesuatu yang sejenis [pem-

"Berwudhulah poda setiap waktu untuk balut wanita) untuk menjaga darah supaya
tidak keluar. Orang yang mengidap as-sa/as
setiop shalat'674 atau banyak air madzi yang keluar hendaklah
mengikat ujung [kepalal penis dengan secuil
Apalagi karena dia suci dalam keadaan
uzur dan darurat. Oleh sebab itu, dia terikat kain dan menjaga semampunya.
Begitu juga orang yang sering terkentut

atau keluar darah, hendaklah dia mengikat
tempat keluarnya. Jika tempat itu tidak dapat

672 Kasysyafulqino',Jilidl,hlm. 138,247danseterursnya;al-Mughnr,lilid1,hlm.340-342'
673 fuwayat Ahmad, Abu Dawud, at-Tirmidzi, dia menghukuminya shahih dan luga lbnu Maiah (Nailul Author, Jilid I, hlm. 275).
674 Irnrrn at-Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini adalah hasan shahih.
67s Di"ngg"p shahih oleh at-Tirmidzi.

IsrAM IrLrD 1

diikat seperti terdapat luka yang tidak bisa rena keadaan darurat. Oleh sebab itu, tidak sah
diikat atau karena terkena bawasir atau lu-
bang dubur pecah, maka dia boleh shalat da- jika dilakukan sebelum waktu shalat masuk,

lam keadaan tersebut. Hal ini seperti yang kedudukan adalah sama seperti tayamum.

diriwayatkan dari Umar r.a.. Yaitu ketika dia Kemudian dia wajib melakukan shalat
ditikam, dia menunaikan shalat dalam keada-
secara bersegera untuk memendekkan masa
an terluka yang mengeluarkan darah.
Orang yang uzur hendaklah berniat [ke- hadats. fika ia mengakhirkan shalat karena
ada kepentingan diri atau karena kepenting-
tika wudhu) untuk membolehkan melaksa-
an yang berkaitan dengan shalat seperti me-
nakan shalat, tidak mencukupi jika dia berniat nutup aurat, adzan dan iqamah, menunggu
dengan niat untuk menghilangkan hadats ka- jamaah, berijtihad mencari arah qiblat, ber-
rena ia memiliki hadats yang berterusan. jalan ke masjid dan mendapat halangan, ma-
ka wudhunya tidak rusak (tidak batal). Hal
4. Madzhab Syafi'iu'u
ini karena perkara tersebut tidak dihitung
Orang yang mengidap penyakit as-salas
sebagai sesuatu yang telah memperlambat
yang berterusan seperti air kencing, madzi,
shalat. Akan tetapi jika tidah seperti dia
najis atau angin, serta perempuan yang ter-
memperlambat shalat bukan karena sesuatu
kena istihadhah hendaklah membersihkan yang berkaitan dengan kepentingan shalat,
kemaluan kemudian menutupnya (dengan seperti karena makan, minum, menjahit, dan

cara memasukkan sesuatu ke dalamnya). Akan berbicara, maka menurut pendapat yang
tetapi iika dia sedang berpuasa atau tindakan ashah, kelewatan tersebut membahayakan
tersebut menyakitkan perempuan yang ber- wudhunya dan ia menjadi batal. Oleh sebab
itu, dia wajib mengulangi wudhu dan juga
istihddah dan menyebabkan dia merasakan mengulangi untuk menjaga salas-nya kare-

pedih karena tekanan darah, maka pada saat na hadats dan najis yang berulang-ulang se-
itu dia tidak wajib menyumbat atau mengikat. dangkan dia mampu menghindarkannya.
Cara perempuan yang ber-istihadhah menutup
serta mengikat kemaluannya adalah dengan Wajib bersuci dan memperbarui pengikat
menempelkan sesuatu pada vagina secara ra- vagina menurut pendapat yang shahih. Wajib
pi. Yaitu, dengan menggunakan sehelai kain juga berwudhu untuk setiap shalat fardhu dan
yang memiliki dua ujung yang bercabang, salah juga shalat yang dinadzarkan. Kedudukannya
satu ujung tersebut ditarik ke depan dan ujung sama seperti orang yang bertayamum karena
yang satu lagi ditarik ke belakang. Kedua-dua- hadatsnya masih ada. Dia dapat menunaikan
nya kemudian diikat dengan kain yang lain di shalat sunnah saja sebanyak apa pun yang dia
pinggang seperti posisi ikat pinggang celana. kehendaki. Hukum shalat jenazah adalah

Setelah itu, dia berwudhu atau bertaya- sama seperti shalat sunnah. Hal ini karena
mum dengan segera, yaitu wajib berurutan
antara mengikat vagina dengan amalan ber- terdapat sabda Nabi Muhammad saw. yang
wudhu. Ia dilakukan setiap waktu shalat telah diriwayatkan Fatimah binti Abi Hubaisy,
masuk. Hal ini karena dia ditetapkan sebagai
orang yang dihukumi dalam keadaan suci ka- "Berwudhulah bagi setiap shalaL"

fika perkara yang menjadi uzur tersebut
hilang dalam waktu yang dapat digunakan se-

667 Maghoil Murrfal, Iilid I, hlm. 1 1 1 dan seterusnya ; al-Hadhramfiryah, hlm. 28.

Baglan 1: IBADAH IsrAM JrLrD I

seorang untuk berwudhu dan melaksanakan fumhur ulama selain ulama madzhab
shalat, seperti darahnya terhenti, maka dia
wajib berwudhu dan membersihkan darah Maliki bersepakat tentang waiibnya memper-
yang terdapat pada vagina. barui wudhu bagi orang yang uzur. Hanya

Sedangkan orang yang terkena as-sa/as ulama madzhab Maliki saja yang berkata,
air mani, maka dia wajib mandi untuk setiap
memperbarui wudhu adalah sunnah. Berwu-
shalat fardhu. fika hadats itu berhenti pada dhu iuga dilakukan setelah waktu shalat ma-
waktu shalat dimulai, maka wajib baginya suk menurut pendapat ulama madzhab Syafi'i
untuk melakukan shalat tanpa mengulangi dan Hambali, selain (waktu) shalat Zhuhur
menurut pendapat ulama madzhab Hanafi.
mandi. Menurut ulama madzhab Hanafi, shalat Zhu-

Orang yang terkena as-sa/as tidak boleh hur boleh didahulukan waktunya karena ia
menggantungkan kantong hingga menyebab-
didahului oleh waktu yang kosong.
kan air kencing itu dapat menetes ke da-
i. Perkara yang Dlharamkan Sebab Hadats
lamnya.
Kecil
Orang yang uzur hendaklah berniat [se-
waktu berwudhu) dengan niat untuk mem- Terdapat tiga perkara yang diharamkan
bolehkan shalat, bukan berniat dengan niat bagi orang yang tidak berwudhu yaitu shalat
untuk menghilangkan hadats. Hal ini karena dan sejenisnya, thawal dan memegang mushaf.
hadats yang berterusan tidak dapat dihilang-
kan oleh wudhunya. Namun, dia dibolehkan Penjelasan pendapat dalam berbagai
beribadah, seperti pendapat yang dikatakan
madzhab adalah sebagai berikut.677
ulama madzhab Hambali.
1. Shalat dan sejenisnya. Shalat diharamkan
Dengan ini, maka jelaslah bahwa ulama
madzhab Syafi'i dan Hambali memiliki pen- bagi orang yang berhadats, baik ia berupa

dapat yang sama tentang berbagai hukum yang shalat fardhu ataupun shalat sunnah,
dan juga amalan lain yang seperti shalat
berkaitan dengan wudhu orang yang uzur. contohnya adalah sujud tilawah, sujud
Adapun ulama madzhab Hambali dan madz-
syukur, khotbah f umat dan shalat jenazah.
hab Hanafi berpendapat, bahwa boleh melak- Hal ini karena sabda Rasul saw.,

sanakan shalat fardhu yang lebih dari satu 'Allah tidak akan menerima shalat sa-
dalam satu waktu dengan satu wudhu. Apa lah satu di antara kamu jika dia berhadats,
yang wajib pada pendapat mereka adalah satu kecuali setelah dia berwudhu.il 678
wudhu pada setiap waktu shalat. Akan tetapi,
ulama madzhab Syafi'i tidak membolehkan Rasul juga bersabda,
shalat yang melebihi satu fardhu, karena apa
yang wajib di kalangan mereka adalah mem- "Tidaklah sah shalat orang yang tidak
perbarui wudhu untuk setiap melaksanakan
berwudhu.'67e
shalat fardhu.
2. Thawaf di Baitullah, baik berupa tawaf

fardhu ataupun tawaf sunnah. Hal ini

Al-Bada'i', Jilid I, hlm. 33 dan seterusnya; ad-Durrul Mukhtar,lllid I. hlm. 160, 165; asy-Syarhush Shaghir, Jilid l, hlm. 149 dan se-
terusnya; al-Majmu',Jilidll.hlm.7L-79; al-Muhadzdzab,lilid l, hlm. 125; al-Hadhramlryah,hlm.16; Hasyiah al-BajuriJilidl, hlm. 121 dan

seterusnya; al-Mughni,lilidl,hlm.l42,147; Kasysyaful Qrna'Jilid I. hlm. 152-157.
678 Riwayat asy-Syaikhan, Abu Dawud, dan at-Tirmidzi dari Abu Hurairah.
679 tuwayat Imam Ahmad, Abu Dawud, dan lbnu Majah dari Abu Hurairah (lVailul Author,ltlid I, hlm. 134).

FIQIH ISTAM Bagfan 1: IBADAH

karena thawaf memiliki hukum seperti Sabda Rasulullah saw.,

shalat. Rasulullah saw. bersabda, "Tidak menyentuh Al-Qur'an kecuali
orang yqng bersuci.'68r
"Thawaf di Baitullah adalah shalat.
Apalagi, memuliakan Al-Qur'an adalah
Akan tetapi, Allah telah membolehkan ber- wajib. Tidak dapat dikatakan memuliakan Al-
bicqra di dalamnya. Oleh sebab itu, jangan-
Qur'an jika ia berada di tangan orang yang
lah seorang itu berbicqra melainkan de-
berhadats. Ulama bersepakat tentang kebo-
ngan pembicaraan yang bqik.'680
lehan orang yang tidak berwudhu untuk
Akan tetapi, ulama madzhab Hanafi telah
menjadikan thaharah fbersuci) sebagai membaca Al-Qur'an, atau melihat tanpa me-
perkara yang wajib, bukan sebagai syarat
sah ibadah thawaf. Menurut mereka, tha- nyentuhnya. Hal itu sama seperti mereka

waf dianggap sah meskipun dilakukan yang membolehkan anak-anak menyentuh Al-
Qur'an dengan tujuan untuk belajar. Karena,
oleh orang yang berhadats, namun tetap anak-anak adalah orang yang tidak mukallaf.
dihukumi makruh tahrim. Alasannya ada- Ulama Syafi'i dan Maliki mengharamkan me-
lah, karena thawaf adalah amalan yang nyentuh AI-Qur'an pada waktu hadats kecil,
serupa dengan shalat menurut nash ha- walaupun ia ada penghalang atau mengguna-
kan lidi. Akan tetapi, ulama madzhab Hanafi
dits yang lalu, dan dimaklumi bahwa
dan Hambali membolehkan menyentuh Al-
thawaf bukanlah shalat yang sebenarnya. Qur'an jika menggunakan penghalang atau
Dengan petimbangan kedudukan thawaf Iidi yang bersih. Berikut ini adalah berbagai
sebagai amalan tersendiri, maka ia boleh
dikerjakan tanpa bersuci. Dan dengan per- pendapat fuqaha.
timbangan bahwa thawaf ada kesamaan
dengan shalat, maka makruh hukumnya Ulama madzhab Hanafi mengatakan bah-
melakukan thawaf tanpa bersuci. wa haram menyentuh semua bagian mushaf
atau sebagiannya. Yaitu, menyentuh sesuatu
3. Menyentuh semua bagian mushaf atau se-
yang ada tulisan ayat Al-Qur'an walaupun
bagiannya, meskipun sepotong ayat. Yang ia berupa satu ayat yang berada dalam uang
diharamkan adalah menyentuh sepotong logam atau pada dinding. Begitu juga haram
ayatnya walaupun menyentuhnya bukan
menyentuh kulit mushaf yang masih ber-
dengan anggota wudhu. Hal ini karena
sambung dengan Al-Qur'an, karena ia adalah
firman Allah, sebagian darinya. OIeh sebab itu, menyentuh-

"Tidak ada yang menyentuhnya se- nya berarti menyentuh Al-Qur'an itu sendiri.
lain hamba-hamba yang disucikan." (al- Tidak haram menyentuh kulit Al-Qur'an yang
Waaqi'ah:79) berpisah darinya, seperti sarung dan kotak-

Riwayat ath-Thabrani, Abu Nu'aim dalam al-Hilyah, al-Hakim dan al-Baihaqi dalam as-Sunan dari lbnu Abbas. Hadits ini adalah

hasan. Diriwayatkan iuga oleh Ahmad, an-Nasa'i, at-Tirmidzi, al-Hakim, dan ad-Daruquthni dari Ibnu Abbas, ia dianggap shahih oleh
Ibnus Sakan. Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban juga meriwayatkan secara marfu' dan mauquf dengan lafal, "sesungguhnya thawaf di

keliling Baitullah itu adalah doa. Oleh sebab itu, iika kamu thawaf, maka kurangilah bercakap-cakap;' (Nailul Authar,Jilid.l, hlm. 207J
681 Hadits Amr bin Hazm yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan an-Nasa'i. Ad-Daruquthni, ath-Thabrani, dan al-Baihaqi iuga meriwa-

yatkan dari Ibnu Umar. Hadits ini juga diriwayatkan melalui Utsman ibnul Ash oleh ath-Thabrani dan ats{sauban. Tetapi, Hadis dari
ats{sauban ini sangat dhaif. Hadits yang lain juga semuanya dhaif. Imam Malik juga meriwayatkannya secara mursal dari Amr bin

Hazm {Nailul Autftaa Jilid I, hlm. 2 05; Nashbur Rayah, f ilid I, hlm 196).

nya. Boleh menyentuhnya seperti dengan lidi FrqLH lsr"AM JrLrD 1
atau pena atau menyentuh kulit yang terpisah
dengannya. Makruh menyentuhnya dengan kertas yang di dalamnya terdapat tulisan
lengan baju, karena lengan baju bersambung
ilmu-ilmu agama seperti fiqih dan sebagai-
dengan orang yang memakainya. Penghalang nya. Mushaf hendaklah dikubur dalam tanah
adalah semacam kharitah menurut pendapat seperti mengubur jenazah orang Islam jika ia
tidak dibaca lagi. Adapun kitab-kitab agama,
yang ashah. Maksud kharitah adalah suatu boleh dikubur ataupun dibuang ke dalam air
tempat yang terbuat dari kulit ataupun lain- yang mengalir ataupun dibakar. Mengubur

nya yang dapat dimasuki sesuatu di dalamnya. kitab-kitab agama adalah perbuatan yang lebih
baik. Boleh menghapuskan sebagian tulisan
Orang yang bukan Islam tidak boleh me- meskipun berupa ayat Al-Qur'an dengan air
nyentuh mushaf. Akan tetapi ia boleh mem- liur. Boleh juga membawa bermacam-macam
pelajarinya, mempelajari ilmu fiqih, dan juga jenis rajah yang mengandungi ayat-ayat Al-
sejenisnya. Seorang anak-anak dibolehkan Qur'an dan masuk ke tempat melakukan hajat
menyentuh Al-Qur'an atau menyentuh satu dan juga boleh menyentuhnya, walaupun bagi
halaman darinya untuk tujuan mempelajari orang yang junub jika ia diletakkan di dalam
serta menghafal mushaf tersebut. Tidak haram pembalut yang terpisah dari tulisan itu, se-
menulis satu ayat di atas kertas. Karena, yang
dilarang adalah menyentuh ayat yang ditulis perti pembungkus yang terbuat dari lilin dan
dengan tangan. Adapun pena, ia merupakan
perantara yang terpisah seperti kain yang sejenisnya.
terpisah yang digunakan untuk menyentuh
Ulama madzhab Maliki mengatakan, orang
Al-Qur'an. Hal ini karena fatwa menyatakan yang berhadats kecil dilarang menyentuh se-
kebolehan menyentuh kulit mushaf yang ter- mua mushaf ataupun sebagiannya, meskipun
dia melakukan untuk menyalinnya, ataupun
pisah atau kantongnya. membawanya dengan cara digantung [dengan

Tidak dimakruhkan menyentuh kitab- tali) atau diletakkan di dalam kain. Begitu
kitab tafsir jika tafsirnya lebih banyak, dan
makruh hukumya menyentuh jika ayat-ayat juga jika mushaf tersebut berada di atas ban-

Al-Qur'an lebih banyak ataupun sama banyak tal atau kursi, meskipun sentuhan tersebut

dengannya. menggunakan penghalang atau dengan meng-

Tidak ada larangan untuk menyentuh ber- gunakan lidi, atau membawanya bersama ba-
bagai kitab agama seperti kitab fiqih, hadits, rang-barang yang lain yang tidak dimaksud-
dan tauhid tanpa berwudhu. Akan tetapi, di- kan membawa Al-Qur'an. Akan tetapi, jika
sunnahkan untuk tidak melakukannya. Begitu dia bermaksud membawa barang-barang lain
juga tiada larangan untuk menyentuh kitab- yang di dalamnya ada mushaf dan ia sebagai
kitab samawi yang lain. Akan tetapi, makruh barang tambahan seperti membawa kotak
membaca kitab Taurat, Injil, dan Zabur, karena dan sebagainya, maka ia boleh membawanya.
semua kitab tersebut pada asalnya adalah ka-
lam Allah, sedangkan perubahan yang terda- Hal ini memberi arti bahwa jika dia hanya
pat di dalamnya tidaklah jelas.
bermaksud membawa mushaf saja atau ber-
Makruh meletakkan mushaf di bawah ke- maksud membawa mushaf bersama barang-
pala seseorang, kecuali dengan maksud men- barang yang lain, maka haram membawanya.
jaganya Makruh membungkus sesuatu dengan Akan tetapi jika dia bermaksud hanya mem-

bawa barang-barang lain saja, maka boleh

membawanya.

FrqLH IsrAM JrLrD I Boleh membawa tangkal (yaitu yang di-
ikat pada tangan seorang anak-anak), uang,
Boleh menyentuh dan membawa mushaf dan juga kain yang bersulam dengan ayat-ayat
bagi seorang guru dan pelajar yang sudah ba- Al-Qur'an seperti kelambu Ka'bah. Karena, se-
ligh, meskipun dia berada dalam keadaan haid mua itu tidak dimaksudkan sebagai Al-Qur'an.
atau nifas. Karena, kedua-duanya tidak dapat
menghentikan haid dan nifas itu. Akan tetapi, Seseorang yang berhadats boleh menu-
orang yang iunub tidak boleh melakukannya lis ayat-ayat AI-Qur'an tanpa menyentuhnya.
karena dia dapat menghapuskan junubnya itu
mandi atau tayamum. Haram meletakkan sesuatu di atas mushaf

Begitu juga boleh bagi seorang Muslim seperti roti dan garam, karena perbuatan ter-
sebut dianggap sebagai perbuatan keji serta
menyentuh dan membawa mushaf di dalam
menghina Al-Qur'an. Haram mengecilkan mu-
wadah yang tertutup dan terpelihara, meski-
pun dia seorang yang junub atau dalam masa shaf serta surahnya, karena ini bisa menye-
haid, dan meskipun wadah yang dibawanya itu
ada sebuah mushaf yang lengkap. Boleh me- babkan disangka kurang walaupun perbuatan
nyentuh tafsic membawanya, serta membaca itu bertujuan untuk memuliakannya.
tafsir bagi orang yang berhadats meskipun dia
dalam keadaan iunub. Karena yang dimaksud Ulama madzhab Hambali mengatakan,
dengan tafsir adalah makna Al-Qur'an, bukan haram menyentuh mushaf walaupun pada
membacanya (Al-Qur'an). Ulama madzhab sepotong ayat dengan mengunakan anggota
Syafi'i mengatakan, haram hukumnya mem-
bawa mushaf, menyentuh kertas serta bagian badan manapun. Boleh menyentuhnya dengan
tepi, kulitnya yang bersambung dengannya penghalang atau dengan lidi yang bersih. Begitu
(bukan yang terpisah), sarung, tali pengikatnya, juga boleh membawanya dengan memegang
kotaknya, dan ayat yang ditulis di papan tulis tali yang mengikat ataupun wadahnya, sekali-
untuk pelajar, meskipun ia disentuh dengan
pun mushaf itu sendiri yang dimaksudkan.
kain atau dengan penghalang/penghubung
Boleh juga menulis Al-Qur'an dengan tidak
yang lain. Boleh membawa Al-Qur'an bersama menyentuhnya, walaupun dilakukan oleh orang
kafir dzimmi dan boleh membawanya di dalam
barang-barang yang tidak diniatkan untuk bungkusan yang bersih dan yang menutupi.

membawanya (secara khusus) dan membawa Wali seorang anak-anak tidak boleh mem-
biarkan mereka menyentuh mushafatau papan
tafsir yang melebihi kadar Al-Qur'an. Akan tulis yang terdapat ayat Al-Qur'an, meskipun
tetapi, jika kadar kedua-duanya sama atau ka- untuk tujuan menghafal atau mempelajarinya,
dar ayat-ayat Al-Qur'an itu lebih banyak dari
tafsirannya, maka tidak diperbolehkan mem- jika anak-anak tersebut berhadats. Maksud-
bawanya. Boleh membawa kitab-kitab lain nya, haram menyentuh Al-Qur'an menurut

selain kitab tafsir yang mengandungi ayat-ayat pendapat mereka kecuali apabila seseorang
Al-Qur'an. itu, termasuk juga anak-anak, berada dalam

Boleh membuka halamannya dengan keadaan suci.
menggunakan lidi, dan tidak dilarang bagi
Boleh menyentuh kitab-kitab tafsiri fiqih,
anak-anak yang mumayyiz membawa serta dan lain-lain, walaupun di dalamnya terdapat
menyentuh Al-Qur'an untuk tujuan belajar.
ayat-ayat Al-Qur'an. Hal ini berdasarkan ke-

pada tindakan Nabi saw yang menulis sepu-
cuk surat kepada Kaisar yang mengandungi

ayat Al-Qur'an.682 Menurut salah satu dari dua FIqLH ISI.AM IITID 1
pendapat yang rajih, boleh hukumnya me-
nyentuh uang perak dan pakaian yang ditulis "Janganlah membawa Al-Qur'an ke negara
musuh, karena dikhawatirkan akan disentuh
dengan ayat-ayat Al-Qur'an, karena ia tidak oleh tang an- tqng an mereka.'683

dinamakan Al-Qur'an. Apalagi sulit untuk Kesimpulannya, telah menjadi iima di ka-
langan ulama kecuali Dawud az-Zahiri, bahwa
menghindarkan diri dari menyentuhnya. fadi, seorang yang berhadats dengan hadats besar
tidak boleh menyentuh mushaf. Adapun orang
ia adalah umpama papan tulis yang digunakan yang berhadats kecil, tidak terdapat dalil yang
melarangnya dari menyentuh Al-Qur'an. Akan
anak-anak menurut salah satu pendapat, tetapi, mayoritas fuqaha mengatakan tidak
boleh. Ibnu Abbas dan golongan Syiah Zai-
fika seseorang yang berhadats perlu me- diyyah membolehkan orang yang berhadats
nyentuh mushaf ketika tidak ada ai4 maka
hendaklah dia bertayamum dan sesudah itu ia kecil menyentuh mushaf.6sa Pada lahirnya,
boleh menyentuhnya. Seorang kafir (dzimmi maksud ayat"laa yamassuhu illaa al-muthah-

atau lainnya) dilarang menyentuh Al-Qur'an, haruun" adalah Lauh Mahfuzh dan perkataan
al-Muthahharuun maksudnya adalah para
membaca, serta memilikinya. Seorang Muslim malaikat. fika maksud artinya tidak menun-
juga dilarang menyerahkan Al-Qur'an kepada jukkan arti yang jelas, maka ia termasuk ka-

orang kafir untuk dimiliki. Haram menjual tegori satu andaian, sebagaimana arti kata
mushaf, walaupun kepada seorang Muslim.
Haram juga menjadikannya sebagai bantal, thohir [orang yang suci) dalam hadits, "Tidak
bahan penimbang, tempat bersandar atau boleh memegang mushaf kecuali 'thahir'i'
bertongkat. Begitu iuga jika bersandar atau dapat diartikan sebagai orang yang beriman,
bertongkat pada kitab-kitab ilmu yang me- orang yang suci dari hadats besar dan iuga
ngandungi ayat-ayat Al-Qur'an. fika ia tidak kecil, serta dapat juga diartikan siapa saia
yang tidak terdapat najis pada dirinya.
mengandungi ayat-ayat Al-Qur'an, maka ber-
sandar padanya adalah makruh. Begitu juga fumhur ulama selain madzhab Maliki
menimbang dan bertongkat dengannya, ke-
cuali jika dikhawatirkan ia akan dicuri. Akan membolehkan orang yang berhadats menulis
tetapi, tidaklah mengapa jika ia berbantalkan
mushaf atau sebagian ayatnya, meskipun
dengannya karena ada keperluan. dia tidak bermaksud untuk kegiatan belaiar
dan mengajar; dengan syarat penulis yang
Tidak boleh membawa mushaf memasuki
berhadats itu tidak membawanya atau meme-
bagian kafir harbi, karena terdapat satu riwa- gangnya ketika menulis. fika dia melakukan
yat dari lbnu Umar yang menyebut bahwa hal itu, maka hal itu dihukumi haram.

Rasul saw. telah bersabda, Ulama madzhab Maliki-menurut penda-
pat yang mu'tamod di kalangan mereka-ber-
:t1';* ,Ar g<tr j1 or;Jr rri6 Y
pendapat bahwa orang yang berhadats haram
o r. o, tlu
^-c-r-Ll
4Jti

642 Muttafaq'alaih dari hadits Ibnu Abbas.
683 Adapun Imam Muslim meriwayatkan dengan lafal, "langanlah kamu pergi dengan membawa Al-Qur'an, karena aku khawatir ia

diambil oleh musuh." Tetapi, ini mungkin untuk zaman permulaan Islam. Pada zaman sekarang ini, Al-Qur'an telah banyak dicetak dan
disebarkan ke seluruh dunia

Nailul Authar, Jilid I, hlm. 205-207.

ltrQlH IstAM f ltrD </--l---\g\_-g._o/--... Bat[an 1: TBADAH

menulis Al-Qur'an atau sebagiannya, hukum- b. Hukum Bersiwak

nya sama dengan hukum membawa dan Bersiwak termasuk perkara yang disun-

memegangnya. nahkan dalam agama, karena ia merupakan
usaha membersihkan mulut dan orang yang
Jumhur ulama-selain madzhab Hambali

-mengatakan bahwa anak-anak dibolehkan melakukannya akan mendapat keridhaan

menulis Al-Qur'an dan memegangnya, dengan Allah. Nabi Muhammad saw. bersabda,
maksud untuk kegiatan belajar mengajar. Hal
?n ,".rtD! ;V. i -izlc ne';.zL,- t,
ini karena kondisi tersebut dianggap sebagai
darurat atau hajat, dan juga untuk menghin- Jl-J,Jl

darkan diri dari kesukaran. "Brrri*ok oaaon ^r^Urrrfn*o, ^rrr,
Ulama Maliki juga membolehkan wanita
dan memp eroleh keridhaan Allah.'68s
yang sedang haid dan nifas untuk membaca

Al-Qur'an, membawanya, dan memegangnya Hadits ini menunjukkan bahwa bersiwak
merupakan perkara yang dibenarkan oleh
ketika mereka sedang dalam pembelajaran. syara'tanpa ditentukan waktu atau keadaan
Alasannya adalah karena darurat. Ulama
Maliki juga membolehkan wanita tersebut yang khusus. Ia disunnahkan pada setiap

membaca Al-Qur'an di luar kegiatan belajar waktu dan merupakan sunnah yangmu'akkad,
mengajar, jika memang yang dibaca adalah walau dalam keadaan apa pun dan ia tidak
pernah menjadi perkara yang wajib. Hal ini
sedikit seperti ayat Kursi, surah al-lkhlaash, berdasarkan sabda Nabi Muhammad saw.,

al-Mu'awwidzatain, dan juga ayat-ayat ruqyah "Jika tidak karena (khowatir) memberat-
kan umatku, maka niscaya aku perintah me-
yang digunakan untuk pengobatan dengan reka untuk bersiwak poda setiap hendak me-
niat memohon kesembuhan kepada Allah

(i stisyfaa') dengan perantara Al-Qur'an.

2. BERSIWAK laksanakan shalat."

Pembahasan ini akan membicarakan de- Imam Ahmad meriwayatkan dengan per-
finisi bersiwak, hukum, cara-cara dan juga kataan yang bermaksud, "Niscaya aku me-
merintahkan mereka untuk bersiwak dalam
faedah-faedah bersiwak.

a. Definisi Bersiwak setiap hendak wudhu.'686

Kata siwak dari segi bahasa digunakan Imam Bukhari mempunyai riwayat mu'al-
untuk perbuatan menggosok gigi dan juga Iaq dengan perkataan yang tegas. Riwayat dia
untuk alat yang digunakannya. Dari segi sya-
ra', ia berarti menggunakan ranting atau yang yang seperti itu adalah betul, ia bermaksud,
lain seperti pasta gigi dan sabun untuk meng-
gosok gigi dan bagian sekelilingnya, dengan "Niscaya aku akan perintah mereka bersiwak
dalam setiap berwudhu."
tujuan menghilangkan kuning gigi dan
Sebagian fuqaha mengatakan bahwa para
sejenisnya. ulama telah satu pendapat, bahwa bersiwak
adalah sunnah mu'akkad, karena syara'sangat

685 Riwayat lmam Ahmad dan an-Nasa'i dari Aisyah. Imam al-Bukhari meriwayatkan hadits ini secara mu'allaq, dan lbnu Hibban

meriwayatkannya secara maushul (bersambung) (Nailul Authar,iilid I, hlm.102).
686 Riwayat al-jama'ah, diriwayatkan juga oleh Jabir dan Zaid bin Khalid. Ibnu Mindah mengatakan bahwa ahli hadits sepakat mengenai

keshahihannya. Diriwayatkan j' rga oleh Imam Malik dan Imam Syaf i wara marfu' libld, Jilid I, hlrL 104).

Bagan 1: IBADAH FIqIH ISTAM JITID 1

menganjurkannya. Rasulullah saw. juga meng- supaya bersiwak pada setiap hendak melaku-
amalkannya secara berterusan, serta meng- kan shalat."

anjurkan dan mendorong umatnya untuk Bersiwak juga sunnah dilakukan pada
waktu berwudhu, yaitu setelah membasuh
melakukannya. kedua tangan dan sebelum berkumur; juga
pada waktu bau mulut atau gigi berubah di-
Hukum Bersiwak Menurut Para Fuqaha sebabkan karena tidur; makan, lapar; tidak
Ulama Hanafi mengatakan bahwa ber- berbicara dalam waktu yang lama, ataupun

siwak adalah sunnah pada setiap hendak karena banyak berbicara. Hal ini berdasar-
berwudhu, yaitu sewaktu berkumur. Ulama
Maliki juga mengatakan, ia adalah termasuk kan hadits Huzaifah yang bermaksud, 'Apa-
bila Rasulullah saw. bangun malam, beliau
di antara perkara yang diutamakan dalam menggosok mulutnya dengan siwak."688

berwudhu dan dilakukan sebelum berkumur. Keadaan lain yang dapat mengubah bau
mulut bisa diqiyaskan dengan tidur ini.
Hal ini berdasarkan sabda Nabi Muhammad
Sebagaimana bersiwak ini sangat perlu
saw.,
jika hendak mendirikan shalat atau disebab-
* \i,y c lt4u. e';'u' gi 'r;i kan karena bau mulut yang berubah ataupun

,t*i disebabkan karena gigi yang berubah menjadi

kan "uJmikaattkidu,amk akkaorennaisc(kahyaawaaktuir)pe^rri^ntLarhrkoatn- kuning, maka ia juga sangat perlu jika sese-
orang itu hendak membaca Al-Qur'an, berbi-
mereka supaya bersiwak pada setiap hendak cara tentang agama, mempelajari ilmu syarai
berdzikir menyebut nama Allah, bangun tidur;
berwudhu.'687 memasuki rumah, ketika dan pada waktu
menghadapi kematian,6s' pada waktu sahun
Namun jika dia terlupa untuk bersiwak setelah makan, setelah witir; dan bagi mereka

pada waktu berkumur ketika berwudhu, maka yang berpuasa [untuk melakukannya) sebelum
disunnahkan baginya untuk melakukan pada waktu zhuhur.6e0 Ulama Syafi'i menambahkan,
waktu hendak mulai shalat. Amalan bersiwak sebelum dan sesudah bersiwak disunnahkan
yang mengikut ulama Syafi'i dan Hambali ini
adalah sunnah bagi setiap hendak melakukan mencungkil celah-celah gigi untuk menge-
shalat. Hal ini berdasarkan hadits Abu Hurai-
rah yang diriwayatkan oleh Jamaah dan telah Iuarkan sisa-sisa makanan.
disebutkan sebelum ini, ia bermaksud, "fika
tidak karena [khawatir) memberatkan umat- Alasan bagi pendapat tersebut adalah ha-
dits yang diriwayatkan oleh jamaah selain al-
ku, maka niscaya aku perintahkan mereka Bukhari dan at-Tirmidzi, dari Aisyah r.a. dia
berkata, 'Apabila Nabi Muhammad saw. me-

Diriwayatkan oleh al-Bukhari secara mu'allaq, juga diriwayatkan oleh an-Nasa'i dan Ibnu Khuzaimah di dalam Shohih-nya. Ia diang-

gap shahih oleh al-Hakim dari Abu Hurairah. Diriwayatkan luga oleh ath-Thabrani dalam al-, usofh dari Ali bin Abi Thalib dengan isnad
yang hasan.
688 Diriwayatkan oleh al-lama'ah kecuali at-Tirmidzi dari Hudzaifah. Lahl dalam Shahih al-Bukhari dan Muslim adalah, 'Apabila Nabi

Muhammad saw. bangun dari tidut beliau mencuci mulutnya dengan bersiwak' (Nailul Authar,lilid I, hlm. 105J
689 Bersiwak dapat memudahkan keluarnya roh. Diriwayatkan bahwa bersiwak itu menyembuhkan segala penyakit kecuali maut. (asy-

Syarhush Shaghri Jilid I, hlm. 126)
690 FathulQadir,Jilid I,hlm. 15danseterusnya;al-Lubob,filidl,hlm. 14;asy-SyarhushShaghir,lilid|hlm.t24-126;al-Majmu',filidl,him.

329-342; asy-Syarhul Kabir,lilidl, hlm. 102 dan seterusnya; Mughnil Muhta.1, Jilid l, hlm. 55 dan seterusnya; al-Muhdzdzab, Jilid I, hlm.
l3t a l - Mug hni, lilid I, hlm. 95 - 97 ; Ka sysyafu I Qino', Iilid I, hlm. 78-B 1.

FIqLH ISIAM JILID 1 Baglan 1: IBADAH

masuki rumah, maka Rasul memulakannya Ulama Maliki dan Hanafi berpendapat
dengan bersiwak." secara mutlah orang yang berpuasa tidaklah
makruh untuk bersiwak. Hal ini berdasarkan
Ibnu Majah juga meriwayatkan dari Abu keumuman hadits sebelum ini yang meng-
Umamah, 'Aku tetap akan bersiwak sehingga
kadang aku merasa bimbang akan mencede- anjurkan bersiwak. Ia juga berdasarkan sabda
rakan dua gigi depanku." Nabi Muhammad saw.,

Dari Aisyah, ia juga menyebut bahwa Ra- "Di antara sifat orang berpuasa yang baik
sulullah saw. setiap bangun dari tidurnya baik adalah bersiwak.'6e2
malam atau siang, beliau tetap bersiwak se-
belum berwudhu.6el Rabi'ah bin Amir mengatakan, "Aku tidak
dapat menghitung berapa kali aku melihat
Selain itu, tidu[ makan, dan sebagainya Rasulullah bersiwak pada waktu Rasul sedang

merupakan penyebab yang dapat mengubah berpuasa."6e3
bau mulut, sementara bersiwak disyariatkan
untuk menghilangkan bau yang tidak sedap Menurut asy-syaukani, sebenarnya amal-
tersebut serta meniadikannya harum.
an bersiwak dianjurkan bagi mereka yang
Mengikut ulama Syafi'i dan Hambali,
berpuasa sejak dari awal pagi hingga ke sore
makruh bersiwak bagi orang yang sedang hari, dan inilah pendapat yang dipegang oleh
berpuasa setelah matahari tergelincir; atau- jumhur ulama.
pun dalam masa setelah masuk waktu zhuhur
hingga terbenam matahari. Hal ini berdasar- c. Cara bersiwak dan Alatnya

kan sabda Nabi Muhammad saw. dalam Shahih Seseorang boleh bersiwak dengan tangan
Bukhari dan Muslim, kanannya dengan memulai dari sebelah kanan

"Bou mulut orang yang berpuasa adalah yang meliputi gigi sebelah luar dan dalam.
lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak Ia digosok secara melintang dari gigi depan,

misik." hingga ke gigi geraham. Setelah itu, ke bagian
tengah dan ke sebelah kiri, kemudian digosok
Kebaikan bau mulut yang disebut dalam juga secara membujur ke bagian lidah. Cara ini
hadits ini memberi maksud ia perlu dikekal- berdasarkan hadits Aisyah,
kan dan makruh dihilangkan. Hukum makruh
"Nabi Muhammad saw. sangat suka me-
ini berakhir setelah masuk waktu maghrib.
mulakan sesuatu dari sebelah kanan, baik
Karena, pada waktu itu dia tidak lagi dihitung pada waktu memakai sepatu atau menyisir
rambut, dalam bersuci dan dalam segala
sebagai orang yang berpuasa. Penentuan masa
perbuatann!a."oe+
setelah matahari tergelincir oleh Nabi Mu- Ia juga berdasarkan hadits yang menye-
hammad saw. disebabkan karena perubahan
bau mulut akan berlaku dengan jelas setelah butkan, "Apabila kamu bersiwak, maka laku-
kanlah secara melintang." 6es
waktu tersebut.

6e1 Ri-ryat lmam Ahmad dan Abu Dawud.
6ez Riwayat lbnu Malah dari Aisyah.
693 Riwayat Ahmad dan at-Tirmidzi, ia berkata hadits ini hasan. Diriwayatkan iuga oleh Imam Hadits yang enam dan lbnu Khuzaimah.

Al-Bukhari meriwayatkannya secara mu'allaq {Nailul Authar,lilid l, hlm. 107).
6ea Muna1aq'alaih.
6es Riwayat Abu Dawud dalam al-Marasit.

Bersiwak juga boleh dilakukan pada gigi FIQIH ISIAM IITID 1
secard membujur. Akan tetapi, cara ini diang-
gap makruh karena ia mungkin menyebabkan menggosok menggunakan jari telunjuk dan
gusi berdarah serta dapat merusak gigi.
ibu jari dapat dianggap sebagai bersiwak. Al-
Selain itu, lidah juga sunnah untuk digo- Baihaqi dan lain-lain telah meriwayatkan satu
sok secara membujur; sebagaimana yang di- hadits dari Anas yang disandarkan kepada
nyatakan oleh Ibnu Daqiq al-ld berdasarkan
Nabi Muhammad saw. yang berisi, "Mencukupi
hadits yang terdapat di dalam Sunan Abu untuk bersiwak dengan menggunakan jari!'6e7

Dawud.6e6 Ath-Thabrani meriwayatkan dari Aisyah

Ulama Hambali berpendapat, bersiwak r.a.. Dia berkata,
hendaklah dimulakan dengan menggosok ge-
raham sebelah kanan. Bersiwak juga dapat eax-,i? ..,,,i:",yli ,it ,s;'rr:- ai
dihasilkan dengan menggunakan batang yang
lembut seperti dari kayu kurma dan sebagai- l-":- :)u ti7Z. ,-b5),& ,p :j6
nya, yang dapat membersihkan mulut serta
tidak menyebabkan bahaya dan hancur di A"t' ai 9, )- ;#i
dalamnya. Contohnya seperti kayu arak dan
sikat, yang lebih baik adalah menggunakan _'-
kayu arak (kayu siwak) diikuti dengan kayu
kurma. Setelah itu, kayu-kayu yang mempu- 'Aku telah bertanya kepada Rasulullah,

nyai bau harum dan diikuti dengan kayu 'Wahai Rasulullah, apakah orang laki-laki

kering yang dilembutkan dengan air; kemu- yang tidak memiliki gigi juga perlu bersi-
dian kayu ud. Menggunakan siwak orang lain
tidaklah makruh jika dia memberi izin. fika wak?' fawab beliau, 'Ya!' Aku bertanya lagi,
tidak, maka hukumnya adalah haram. Abu
Dawud meriwayatkan dari Aisyah r.a. dia ber- 'Bagaimana dia dapat melakukan?'fawab be-
kata, "Rasulullah bersiwak dan di sampingnya
liau,'Hendaklah dia memasukkan jarinya ke
ada dua orang laki-laki, salah satunya lebih tua
d a lam m ulut d an meng g osokny a."' 6eB
daripada yang lain. Lalu wahyu diturunkan
kepada Rasul yang berkaitan dengan kelebih- Menurut pendapat yang lebih ashah di
an bersiwak, supaya diberikan siwak itu ke-
kalangan ulama Syafi'i dan ulama Hambali,
pada yang lebih tua di antara mereka berdua."
bersiwak dengan menggunakan jari tidak
Menurut pendapat ulama Hanafi dan Ma-
liki, bersiwak dapat dilakukan dengan meng- dapat berhasil. Begitu juga dengan mengguna-
gunakan jari. Hal ini boleh dilakukan jika tidak
ada alat siwak yang lain. Ali r.a. menyatakan, kan kain menurut pendapat ulama Hambali.
Menurut ulama Syafi'i bersiwak dapat di-
hasilkan jika menggunakan benda yang keras.

Menggunakan jari tidak dinamakan dengan

bersiwak, serta tidak dianjurkan oleh syara'.
Ia tidak mampu membersihkan seperti yang
dihasilkan jika menggunakan kayu siwak.

Setelah kayu siwak digunakan, maka ia

hendaklah dicuci dengan air untuk meng-

696 Dari Abu Burdah dari ayahnya, dia berkata, "Kami menjumpai Rasulullah saw. dan aku juga lihat beliau sedang bersiwak member-

sihkan lidahnya." [Abu Dawud, as-Sunan, filid I, hlm. 12; Ibnu Daqiq al-ld,al-Ilmam,hlm16)
697 Para ahli hadits berselisih pendapat mengenai hadits ini. Ibnu Adi dan ad-Daruquthni iuga meriwayatkan hadits ini fNarlu I Authar,lilid

l, hlm. 106; lVashbur Rayah, filid I, hlm. 10).
694 Dalam isnadnya ada perawi yang dhaif (Majma'uz Zawa'id,lilidll,hlm. 100). Diriwayatkan oleh Ahmad dari Ali, bahwa Nabi Muhammad

saw. meminta satu kendi air lalu beliau membasuh muka dan telapak tangannya serta berkumur tiga kali. Kemudian beliau
memasukkan sebagian jari ke dalam mulutnya. lni merujukkan boleh bersiwak dengan jari {Nailul Authar,lil I hlm. 106).

ISI,AM IILID 1 Bagan 1: IBADAH

hilangkan apa yang ada padanya. Aisyah r.a. Sebagian ulama Syafi'i berkata, pada
mengatakan, "Setelah Nabi Muhammad saw.
bersiwak, maka Rasul memberikan siwaknya waktu bersiwak hendaklah berniat untuk me-
kepadaku untuk dibersihkan. Lalu aku mulai laksanakan sunnah Nabi Muhammad saw,.

membersihkannya. Setelah itu aku bersiwak Tidak makruh bersiwak di dalam masjid,
dengannya, kemudian aku mencucinya lagi, karena tidak ada dalil khusus yang menun-

Ialu aku serahkan kepada Rasul."6ee jukkan ia makruh.

Semestinya bersiwak tidak dilakukan de- Ukuran panjang kayu siwak hendaklah
ngan menggunakan kayu delima, kayu raihan, tidak melebihi satu jengkal. fika lebih, maka
alas dan batang kayu yang berbau, karena hukumnya makruh. Dalam riwayat al-Baihaqi
ia dapat menimbulkan bahaya pada daging terdapat hadits dari fabir; dia berkata, "Posisi
mulut. Selain itu, ia tidak dapat menghasilkan siwak Rasulullah saw. adalah seperti posisi
kebersihan yang diperlukan. Syara'juga tidak pena pada telinga tukang tulisl'
menginginkan perkara-perkara tersebut. Nabi
d. Faedah Bersiwak
Muhammad saw. bersabda,
Para ulama menyebut bahwa di antara
t:itV 16')' \ t jt;;-')t :t t;t;i l
'ti,'-o faedah bersiwak adalah ia dapat membersih-
ll-t-+jl i; c.,2tSn-'T kan mulut, mendapat keridhaan Allah, me-
mutihkan gigi, mewangikan mulut, mengu-
"Janganlah kqmu bersiwak menggunakan kuhkan gusi, melambatkan uban, memper-
batang kayu raihan dan juga batang koyu de- cantik rupa, meningkatkan kecerdasan, me-
lima, karena keduonya dapat membawa bibit lipatgandakan pahala, memudahkan tercabut-
nya roh, dapat menyebut kalimah syahadat
penyakit kusta.'aoo pada waktu kematian,7o2 dan sebagainya yang

Batang gandum dan juga batang hulaf telah disebutkan oleh al-Hafizh Ibnu Hajar
serta sebagainya yang dapat menyebabkan
bahaya dan melukai tidak patut digunakan yang berjumlah sebanyak tiga puluh sembilan
untuk bersiwak, karena kedua-duanya bisa
membawa kepada penyakit kusta. Bersiwak faedah.To3
dan mencukil gigi juga tidak patut dilakukan
dengan menggunakan sesuatu yang tidak di- Pada masa sekarang, para dokter juga
kenali, agar ia tidak menyebabkan bahaya. menasihatkan supaya menggunakan siwak
untuk tujuan mengelakkan kerusakan serta
Apabila kamu bersiwak, maka hendaklah kuning gigi, bengkak mulut dan gusi, meng-
menyebut, "Ya Allah, bersihkan jiwaku dan elakkan dari kerusakan yang melibatkan sa-
raf, mata, dan pernapasan. Bahkan, bersiwak
hapuskan dosaku."701 juga dapat menghalang dari terjadinya lemah
ingatan dan lambat berpikir serta akhlak yang

buruk.

6ee Riwayat Abu Dawud (Sunan Abu Dawud, f ilid I, hlm. 13).
700 Riwayat Muhammad ibnul Husain al-Azdi al-Hafiz dengan isnadnya dari Qalisah bin Zu'aib.
701 S"b"6"n ulama menganjurkan ketika permulaan bersiwak hendaknya membaca, 'Ya Allah putihkanlah gigiku, kuatkanlah gusiku,

tetapkanlah leherku, dan berkatilah diriku, wahai Yang Maha Pengasih." lmam an-Nawawi mengatakan bahwa doa ini tidak mengapa
dibaca, walaupun tidak ada asal usulnya. Karena, ia merupakan doa yang baik (Mughnil Muhtaj,lllid l, hlm. 56).
702 Mughnil Muhtal Jilid I, hlm.57.
703 Ad-Dardi4, Hasyiah ash-Shawi'ala asy-Syarh ash-shaghir,lilid' 1, hlm. 125.

B'gan 1: IBADAH FIQLH ISI.AM JILID 1

e. AmalanAmalan Baik yang Berkaitan alat kelamin laki-laki hingga semua bagian
itu menjadi terlihat. Sementara, bagi wanita
dengan Bersiwak adalah dengan memotong sedikit bagian kulit
Terdapat banyak hadits yang menjelaskan yang terdapat di bagian atas vagina. Berkhi-
amalan-amalan Nabi yang berupa tata tertib tan bagi laki-laki dalam bahasa Arab disebut
dan amalan keagamaan yang berkaitan dengan dengan i'dzar dan bagi wanita disebut dengan
kebersihan anggota tubuh manusia seperti
rambut, kuku, dan sebagainya. Ia lebih baik khafdh.
disebut dan dikemukakan seperti yang ter-
dapat dalam hadits dan kemudian diterangkan Berkhitan ini sunnah dilakukan pada hari
menurut cara fuqaha. ketujuh setelah kelahiran. Menurut pendapat
Terdapat dua hadits yang paling penting yang lebih azhar hendaklah ia dihitung dari
hari lahir. Ulama Hanafi dan Maliki menga-
di antara beberapa hadits mengenai hal ini. takan, bahwa berkhitan adalah sunnah bagi
Hadits pertama menyebutkan lima perkara laki-laki dan satu kemuliaan bagi wanita ber-
yang dianggap sebagai fitrah, hadits kedua dasarkan hadits yang bermaksud, "Berkhi-

juga menyebutkan sepuluh perkara. tan merupakan sunnah bagi laki-laki dan

f. Lima Pe*ara Fitrah merupakan amalan mulia bagi wanita."70s
Ulama Syafi'i berpendapat bahwa berkhi-
Dari Abu Hurairah r.a., dia berkata, "Lima
perkara yang dianggap sebagai fitrah adalah tan adalah wajib bagi kaum laki-laki dan wa-
mencukur bulu kemaluan, berkhitan, memo- nita. Sementara ulama Hambali berpendapat,
tong kumis, mencabut bulu ketiak, dan me- ia wajib bagi laki-laki dan satu amalan baik
motong kuku.'704 bagi wanita. Pendapat ini berdasarkan sabda
Nabi Muhammad saw kepada seorang laki-
MenghllanEl<an bul u kemal uan laki yang telah memeluk Islam,
Ulama bersepakat untuk mengatakan bah-
"Buanglah syiar kekufuran dorimu dan
wa ia merupakan satu amalan sunnah. Ia dapat
disempurnakan dengan cara mencukun men- berkhitanlah.'q06
cabut, ataupun menggunakan bahan kimia.
Imam an-Nawawi mengatakan cara yang pa- Juga, berdasarkan hadits Abu Hurairah,
Iing baik adalah dengan mencukurnya. Yang
dimaksud dengan bulu kemaluan adalah bulu "Barangsiapa menjadi orang Islam, maka
h en d akl oh i a b erkhi tan.'4 07
yang tumbuh di sekeliling kemaluan laki-laki
Dalam hadits Abu Hurairah yang lain di-
maupun wanita.
sebutkan,

Berkhitan "Nabi lbrahim Khalil Ar-Rahman berkhitan
Maksudnya adalah, memotong seluruh setelah berumur B0 tahun, dan dia berkhitan
dengan menggunakan alat tukang kayu..'qog
kulit yang menutupi bagian hashafah bagi

704 Diriwayatkan oleh al-fama'ah (Nailul Authar,Jilid I, hlm. 108 dan seterusnyal.
705 Riwayat Imam Ahmad dan al-Baihaqi dari Haijai bin Artha'ah yang dianggap mudallis. Al-Baihaqi mengatakan bahwa hadits ini

adalah dhaifdan rerputus isnadnya(Nailul Authan lilid I, hlm. 113). Diriwayatkan juga oleh al-Khallal dengan isnadnya dari Syaddad

bin Aus.
706 Riwayat Abu Dawud dari Utsaim, tetapi hadits ini dipersoalkan.
707 Ibnu Hajar menyebutnya dalam at-Talkhish dan tidak menganggapnya dhaif. Kemudian dia menyusulinya dengan perkataan Ibnul

Mundzir yang menyebutkan bahwa tidak ada riwayat tentang khitan dan iuga tidak ada sunnah yang dapat diikuti.

Muaofaq'alaih (Noilul Authar,lilid I, htm. 111).

Isr.AM rrlrD 1

Selain itu, berkhitan merupakan salah Menurut ulama madzhab Hanafi, anjuran

satu syiar umat Islam. Oleh sebab itu, ia wajib ini merupakan anjuran agar menghilangkan
seperti halnya syiar Islam yang lain. kumis secara keseluruhan. Hal ini berdasar-

Alasan lain menunjukkan bahwa ia tidak kan zahir hadits yang telah dinyatakan di atas,
wajib bagi wanita. Akan tetapi, ia merupakan
amalan yang baik menurut pendapat ulama yaitu, "Hendaklah kamu membuang kumis

Hambali. Hal ini berdasarkan hadits, "Ber- dengan bersungguh-sungguh."
Menurut pendapat ulama madzhab Ham-
khitan adalah sunnah bagi laki-laki dan me-
rupokan amalan baik bagi kaum wanita." Dan bali, seseorang diberi pilihan, baik memen-
juga, hadits, "Hendaklah kamu membuang dekkan kumis ataupun memotong kumis se-
sedikit dan jangan melebihi kadar."7oe Hadits
Ummu Atiyyah juga menyebutkan, "Apabila cara keseluruhan. Bagaimanapun, memotong
kamu mengkhitan wanita, hendaklah engkau kumis secara keseluruhan merupakan amalan
buang sedikit saja." yang lebih baik berdasarkan nash.

Memotong kumls Memelihara lenggot
Ulama bersepakat bahwa amalan me- Ia bermaksud: membiarkan jenggot dan

mendekkan kumis termasuk dalam amalan tidak melakukan perbuatan yang dapat me-
ngubahnya. Ulama madzhab Maliki dan ma-
sunnah. Orang yang memendekkan kumisnya dzhab Hambali mengharamkan mencukur
jenggot. Bagaimanapun, tidak makruh mem-
diberi pilihan, baik dilakukannya sendiri buang jenggot sekadar yang lebih dari geng-
gaman atau yang lebih panjang dari batas
ataupun dilakukan oleh orang lain. Karena, leher. Hal ini berdasarkan amalan lbnu Umar
kedua-duanya boleh mencapai tujuan. Ini
berbeda dengan mencabut bulu ketiak dan r.a.,7rr

mencukur bulu kemaluan. Menurut ulama madzhab Hanafi, mencu-

Ulama madzhab Syafi'i dan madzhab kur jenggot merupakan perbuatan makruh
tahrim. Ulama madzhab Syafi'i juga meng-
Maliki mengatakan, yang dimaksud dengan
anggap makruh terhadap perbuatan tersebut.
memotong kumis adalah membuang sebagian Imam an-Nawawi dalam kitab Syarh Muslim
kumis hingga menampakkan tepi bibir mulut. telah menyebut sepuluh perkara yang makruh
Ini merupakan makna yang terkandung dalam
hadits, "Potonglah kumis dan biarkan jeng- dilakukan pada jenggot, di antaranya adalah
got, dan hendaklah kamu jangan menyerupai
mencuku[ kecuali jika ia tumbuh pada wanita,
orang Majusi."7lo Terdapat hadits lain yang maka ia sunnah dicukur.
menyebutkan, "Hendaklah kamu pendekkan
Mencabut bulu ketiak
kumis."
Ia juga merupakan amalan sunnah meng-
ikut kesepakatan para ulama.

Diriwayatkan dari f abir bin Zaid secara mauqul bahwa Nabi Muhammad saw. berkata kepada tukang khitanperemptan,"Potonglah
biji iru sedikit saja dan jangan keseluruhannya."
770 Riwayat Imam Ahmad dan Muslim dari Abu Hurairah, makna yang sama juga terdapat dalam riwayat Ahmad dan asy-Syaikhan dari
Ibnu Umar, Rasul saw. bersabda, "Bedakan diri kamu dengan kaum Musyrikin, lebatkan janggut dan tipiskan kumis." Diriwayatkan
juga oleh Imam Ahmad, an-Nasa'i, dan at-Tirmidzi. lmam at-Tirmidzi mengatakan bahwa hadits yang sahth ialah dari Zaid bin
Arqam yang berbunyi, "Siapa yang tidak memelihara janggutnya, maka ia bukan dori komi." (Nailul Authar,lilid I, hlm. 114 dan
seterusnya)

Ketika lbnu Umar menunaikan haji atau umrah ia memegang janggutnya, kemudian bagian yang melebihi dari genggamannya

dipotong, ibid..

Baglan 1: IBADAH FIQLH IsrAM f ruD 1

Memotong kuku Imam an-Nawawi berkata tentang per-
Ulama juga bersepakat untuk menyatakan kara yang kesepuluh, mungkin ia adalah ber-
khitan. Inilah pendapat yang lebih sesuai.
bahwa ia merupakan suatu amalan sunnah.
Dalam melakukan semua perkara yang Semua perkara yang dinyatakan dalam ha-
dits tersebut telah dijelaskan dalam penjelas-
disebutkan di atas, hendaknya dimulai dari
an hadits sebelum ini, dan juga pada waktu
sebelah kanan. Hal ini berdasarkan hadits membicarakan perkara-perkara yang disun-
nahkan ketika berwudhu. Membasuh sendi-
yang menielaskan tentang hal itu yang pernah sendi juga merupakan satu amalan sunnah
disebutkan sebelum ini. Hadits tersebut me- yang tersendiri yang tidak diwajibkan. Para
nyebut bahwa Rasulullah saw. sangat kagum
dan gemar memulakan perbuatan baik dari ulama mengatakan kedudukan yang sama juga
sebelah kanan. Amalan itu contohnya mema- ditentukan bagi tempat-tempat lain yang se-
lalu mengumpulkan kotoran, seperti di celah-
kai sepatu, menyisir rambut, dan dalam semua
celah cuping teliga dan di dalam telinga. Ia
perbuatan beliau.
hendaklah dihilangkan dengan mengusap dan
8. Sepuluh Perkara Fltrah
sebagainya.
DariAisyahr.a., dia berkata, "Sesungguhnya Tentang menggunakan ain yang dimaksud

Nabi Muhammad saw. bersabda, adalah istinja'. Dalam satu riwayat, ia disebut
al-intidah dengan maksud mengucurkan se-
o co -F,tl'o
dikit air pada kemaluan setelah berwudhu,
7)raiJtl tryt
,4.'*a;i"irtJrl untuk mengelakkan waswas.
;u;b,,'-e ,. c,Pe
h. Pendapat Fuqaha tentangSepuluh
.o1 t / c dt uj:-,)li !'t'r.nt)
Perkara Fltrah
,pt,u-b!t cLJU
Berdasarkan apa yang terdapat dalam
,h, o ao l4)l ,6. c ,t p)
utlJr dua hadits yang telah disebutkan serta hadits-
-bsi et?t hadits yang lain, maka para fuqaha mempu-
nyai pendapat seperti berikut.713
(.f )it rarr*y,-4 rJ,i='t
7. Memakai wangl-wanglan, celak, dan
3fr ii vf i';;[;lr J*;t Uil ie
memotong kuku.
^*:;1t Memakai wangi-wangian pada badan dan
rambut merupakan amalan sunnah, namun ia
'Terdapat sepuluh perkara yang dihitung dilakukan secara berselang. Memakai celak
secara ganjil juga sunnah. Ia dilakukan ber-
sebagai fitrah (sunnah): memotong kumis, turut-turut pada setiap waktu sebelum tidur.
Maksud ganjil adalah dengan memakai se-
memelihara jenggot, bersiwak, memosukkan
banyak tiga kali di mata kanan dan tiga kali
air ke hidung, memotong kuku, membasuh

sendLsendi, mencabut bulu ketiah mencukur
bulu kemaluan, beristinja' (kota perawi, yaitu

Mush'ab bin Syaibah): aku lupa yang kesepuluh

kecuali yang aku ingat adalah berkufftur)."orz

712 Riwayat Ahmad, Muslim, an-Nasa'i, dan at-Tirmidzi dari Aisyah dan diriwayatkan juga oleh Abu Dawud dari Ammar. Hadits ini
dianggap shahih oleh Ibnus Sakan. Ibnu Hajar mengatakan bahwa hadits ini cacat dan al-Hakim meriwayatkannya dari lbnu Abbas

secara mauquf (Na ilul Authar, lil I, hlm. 1 10).
7t3 Al-Mughni,lllidl, hlm. B5-94; Iftsysyaful Qina',Jilid I, hlm. 82-91; al-Hadhramiyyah,hlm.9; al-Fatawa al-Hindfuah,lilid V hlm.367-

370.

FIQIH ISI,AM JITID Baglan 1: IBADAH

di mata kiri. Memotong kuku juga hendaklah 2. Memakai alas kaki dan memanjang$an
dimulakan menurut pendapat ulama Syafi'i,
yaitu dimulai dari kelingking sebelah kanan pakaian
kemudian diteruskan sampai ibu jari. Setelah Berjalan memakai satu alas kaki tanpa
uzur adalah makruh, karena terdapat larang-
itu, diikuti dengan kelingking sebelah kiri an yang sah tentang hal itu. Selain itu, juga
untuk menjaga keseimbangan jalan seseorang.
hingga ke ibu jarinya. Setelah memotong ku- Begitu juga makruh memakai alas kaki sambil
ku, disunnahkan membasuh ujung jari untuk berdiri, karena terdapat larangan yang sah
menyempurnakan kebersihan. Rambut dan berbuat demikian, di samping dikhawatirkan
kuku sebaiknya dikubur dalam tanah. Namun menyebabkan seseorang terjatuh.
jika dibuang, ia tidaklah menjadi kesalahan.
Memotong kuku dengan gigi adalah makruh, Ujung serban, baju, dan kain makruh di-
karena ia dapat menyebabkan penyakit kusta.
biarkan panjang melebihi mata kaki tanpa
Dalil mengenai perkara-perkara yang te- tujuan bermegahan. |ika ia dilakukan dengan

lah disebutkan secara tartib adalah seperti maksud bermegahan, maka hukumnya adalah
haram.
berikut.
Tidak makruh memakai serban yang
[a) Hadits, ujungnya dibiarkan berjuntai, begitu juga
"Sesungguhnya Nabi Muhammad saw. sebaliknya. Wanita juga tidak dimakruhkan
memanjangkan kain atau bajunya sekadar
telah melarang menyisir rambut kecuali
satu hasta di atas bumi.
dengan cara berselang hari."714
3. Berkhitan
(b) Ibnu Abbas juga meriwayatkan dari Nabi
Menurut ulama madzhab Hanafi dan Ma-
Muhammad saw.,
liki, berkhitan merupakan amalan sunnah.
"Sesungguhnya Nabi Muhammad saw.
memakai celak batu setiap malam sebelum Ulama madzhab Syafi'i berpendapat, berkhi-
tan adalah amalan yang wajib. Ulama madzhab
tidur, dan beliau memakai pada setiap mata-
nya dengan tiga kali colekan."71s Hambali juga mengatakan bahwa ia wajib

Memotong kuku adalah termasuk perkara bagi laki-laki dan satu amalan kebaikan bagi
sunnah fitrah, seperti yang terdapat dalam dua wanita, sebagaimana yang telah dijelaskan
hadits yang telah disebutkan. Dibolehkan bagi pada waktu menerangkan hadits yang sebe-
wanita untuk memakai wangi-wangian ketika lum ini.
di dalam rumah. Akan tetapi, mereka dilarang
Menurut pendapat ulama madzhab Ham-
memakainya ketika di tempat lain, karena ia bali, ia wajib dilaksanakan bagi laki-laki atau-
dapat menimbulkan fitnah dan kemungkaran. pun wanita pada waktu baligh, selama ia tidak
khawatir terhadap keselamatan dirinya. Hal
Ulama madzhab Hanafi berpendapat, memo-
tong kuku adalah sunnah, kecuali dilakukan ini berdasarkan pada kenyataan Ibnu Abbas,

di bagian kafir harbi karena di sana tidak

disunnahkan berbuat demikian.

714 Diriwayatkan oleh lmam Hadits yang lima kecuali lbnu Majah dan dianggap shahih oleh at-Tirmidzi dari Abdullah ibnul Mughaffal
{Nailul Author,lilid I, hlm. 123J. Diriwayatkan.iuga oleh Imam Ahmad dari Abu Ayyub secara marfu',"Empat perkara yang termasuk
sunnah para rasul adolah memakai celak, memakai wangi-wangian, bersiwak, dan nikah." Diriwayatkan dari Anas bahwa Rasu-
lullah saw. bersabda,"Dunio yang disukakan kepadaku adaloh istri,bau wewangian dan tenangnya hatiku ketika aku berada di dalam
shalot" Diriwayatkan oleh an-Nasa'i, Ahmad, dan Ibnu Abi Syaibah. Hadits ini dhaifdan yang diriwayatkan secara mursa/ lebih betul
(Nailul Authar,lilid I, hlm. 127).

71,5 RiwayatAhmad, at-Tirmidzi, dan Ibnu Maiah,

_: :=. -;:

FrqlH IsrAM f rLrD 1

yaitu mereka tidak mengkhitankan seorang Semua perkara yang telah disebutkan

laki-laki kecuali setelah dia baligh.716 hendaklah dilakukan pada setiap minggu, ka-
Melakukan khitan pada waktu seseorang rena Nabi Muhammad saw memotong kuku
pada setiap hari fumat.718 Oleh sebab itu, yang
masih kecil adalah lebih baik daripada setelah lebih baik hendaklah seseorang itu memotong
kuku, kumis, dan mandi membersihkan tu-
sampai umur mumayiz. Hal ini karena dia le- buhnya satu kali dalam seminggu.

bih cepat sembuh. Melakukan khitan pada Makruh membiarkan kuku tanpa dipotong
anak sebelum berumur tujuh hari adalah atau tidak mencukur rambut, bulu kemaluan,

makruh. serta tidak mencabut bulu ketiak lebih dari
empat puluh hari. Mencukur rambut setiap
Seseorang boleh melakukan khitan sendiri hari fumat adalah disunnahkan. Bagaimana-
jika ia mampu dan pandai menyempurnakan- pun, makruh mencukur sebagian kepala dan
nya. Karena menurut riwayat, Nabi Ibrahim membiarkan bagian yang lain tanpa dicukur
a.s. melakukan khitan sendiri pada dirinya. akan tetapi dipotong sekadar tiga jari. Pen-
dapat yang dinukil dari Abu Hanifah juga
4. Rambut atau bulu badan
menyatakan, perbuatan mencukur bagian be-
Sunnah hukumnya menyisir rambut seca- lakang tengkuk adalah makruh, melainkan
dengan tujuan untuk berbekam. Begitu juga
ra berselang hari, seperti halnya memakai makruh mencukur rambut atau bulu, serta

minyak wangi. Ia dapat juga dilakukan pada memotong kuku pada waktu sedang dalarn

setiap hari jika perlu. Hal ini berdasarkan keadaan junub.
Panduan yang diberikan Rasulullah saw.
hadits riwayat Abu Qatadah yang dinukil oleh
an-Nasa'i. fenggot juga memiliki hukum yang berkaitan masalah mencukur kepala adalah
sama dengan rambut dalam masalah ini. sama, baik ia mencukur seluruh rambut ke-
pala atau tidak mencukur seluruhnya. Tidak
Memendekkan kumis, membiarkan jeng- boleh mencukur sebagian dan meninggalkan
got, dan mencabut bulu ketiak adalah sunnah. sebagian yang lain. fika tidak dicukun ia sun-
Karena, semua perbuatan tersebut merupakan nah dibasuh dan dirapkan dengan bermula
beberapa perkara fitrah menurut hadits yang dari sebelah kanan. Hal ini berdasarkan hadits
telah disebutkan. Semua perkara tersebut dan yang menyebutkan, "Barangsiapa mempunyai
juga memotong kuku serta mencukur bulu
kemaluan, hendaklah dilakukan pada hari rambut, maka hendaklah dia menjaganya."Tle
lumat. Terdapat pendapat yang mengatakan Ibnu Abdil Barr mengatakan, para ulama

bahwa ia perlu dilakukan pada hari Kamis. di semua kota besar Islam sependapat tentang
Pendapat lain mengatakan, ia dapat dipilih di hukum boleh bagi orang laki-laki yang men-
antara dua hari tersebut. Rambut, kuku, dan
darah juga hendaklah dikubur dalam tanah,

karena terdapat hadits Nabi Muhammad saw
berkaitan dengan hal ini.717

715 Riwayatal-Bukhari.
717 Riwayat al-Khallal dengan sanadnya yang bersumber dari Mitslah binti Misyrah al-Asy'ariyah, ia berkata, "Aku melihat bapakku

memotong kuku dan menanamnya. Ia fbapakku) berkata, 'Aku melihat Nabi Muhammad saw. berbuat demikian."'Ibnu Jurail juga
meriwayatkan bahwa Nabi suka mengubur darahnya. Ibnu Umar mengubur kuku dan rambutnya; Kasysyaful Qina', Jilid 1, hlm. 84 dan
seterusnya; al-ltlughni. filid l, hlm. 88. Ad-Dailami meriwayatkan dalam Musnad al-Fridaus dari Ali sebuah hadits dhail "Memotong
kuku, mencabut bulu ketiak, dan mencukur bulu ketamin adalah pada hari Kamis. Mandi, memakai wewangian, dan memakai

pakaian yang bagus adalah pada hari fumat."
718 Riwayat al-Baghawi dengan sanadnya dari Abdullah bin Amr ibnul Ash {Kasysyaful Qina',lbid).
719RiwayatAbuDawuddansanadrryahasan(NailutAuthar,|ilidI,hlm.123)'

FIQIH ISIAM IILID 1

cukur kepala mereka, walaupun bukan untuk perbuatan memukul pipi dan menyobek baju
tujuan beribadah ataupun karena suatu ke- ketika terkena musibah.
perluan.
5. furhias
Perbuatan mencabut uban adalah makruh.
Becermin merupakan perbuatan yang di-
Hal ini berdasarkan hadits yang maksudnya, bolehkan. Ketika seseorang becermin, hendak-
"Rasulullah saw. melarang mencabut uban
lah ia berdoa,
dengan menegaskan, bahwa ia adalah cahaya
#?c,,r,) .-1 , u"iri
Islam."72o
#)o.
Perbuatan mencabut jenggot supaya keli-
hatan ganteng juga dimakruhkan. Begitu juga )at oG
mencukur sebagian kepala, karena terdapat
larangan berbuat demikian. Begitu juga de- "Ya Allah, sebagaimana Engkau mencan-
ngan perbuatan mencukur bagian belakang tikkan rupa parasku, maka cantikkanlah juga
tengkuk tanpa mencukur kepala. Hal ini jika akhlak dan tingkah lakuku, dan lindungilah
dilakukan tanpa tujuan untuk berbekam atau
wajahku ini dari api neraka.'423
sebagainya, karena ia merupakan amalan
Berdasarkan nash, menindik telinga anak
orang Majusi. Uban sepatutnya diinai dengan laki-laki adalah makruh. Akan tetapi tidak
warna kuning ataupun merah untuk mengikut makruh bagi anak perempuan, karena anak
sunnah.7zl Menghitamkan uban adalah mak- perempuan perlu berhias sedangkan laki-laki
ruh atau haram, kecuali dalam keadaan perang tidak perlu berbuat demikian.
dengan tujuan menakut-nakuti orang kafir.
Perbuatan mencabut bulu-bulu yang tum-
Wanita yang bersuami boleh menginai buh di muka, mengikir gigi supaya jarang dan
kedua tangan dan kakinya, sekiranya hal itu
tampak cantik, membuat tato di tubuh dan
disukai oleh suaminya.
menyambung rambut, merupakan perbuatan
Perempuan dimakruhkan mencukur atau
memendekkan rambut tanpa sebab uzur apa haram. Ia berdasarkan pada sabda Nabi
pun. Ikrimah menyatakan, Nabi Muhammad
saw. melarang wanita dari mencukur rambut- Muhammad saw.,
nya."'
'Allah melaknat mereka yang membuat ta-
fika terdapat alasan uzu[ maka mereka to dan orang lain yang membuatkan untuknya,
tidak makruh mencukur rambutnya. Contoh- melaknat orqng yang mencabut bulu muka dan
nya seperti jika kepalanya berkudis atau ka-
yang meminta bulu mukanya untuk dicabut,
rena alasan lain. Mencukur kepala karena di- orang yang menjarangkan giginya supaya ke-
lihatan cantik, dan yang mengubah ciptaan
timpa bencana adalah haram. Hal ini seperti
Allah."724

720 Riwayat al-Khaltal dari Amr bin Syu'aib dari bapaknya, dari kakeknya. Hadits ini iuga diriwayatkan dari Thariq bin Habib, "Siapa

yang tumbuh sehelai uban ketika Islam, ia akan menjadi cahaya pada Hari Akhir!' (al-Mughni,Jilid I, hlm. 91)
721 Riwayat Imam Ahmad dan lain-lain (al-Mughni,lilidl, hlm.91 dan seterusnya).
722
723 Riwayat al-Khallal dengan isnadnya dari Qatadah dari lkrimah.
Khabar Abu Hurairah, diriwayatkan oleh Abu Bakar bin Mardawaih.
724 Di.i*ry"tL.n oleh al-Jama'ah dari Ibnu Mas'ud dan Ibnu Uman Hadits ini shahih (NaitutzAufhar, Jilid VI. hlm. 190). Imam ath.:Thabari

mengatakan bahwa seorang wanita tidak boleh mengubah rupa yang telah dianugerahkan Allah, baik dengan cara menambah atau

menguranginya dengan tujuan kecantikan baik unhrk suami atau orang lain. contohnya adalah mencabut bulu kening(TVhfatul Ahwadzi.

Jilid I, hlm.67).

Baglan 1: IBADAH lsrAM f rLrD 1

Mereka juga meriwayatkan hadits dari Para ulama madzhab Syafi'i dan Hambali
Ibnu Umar yang berisi,"Allah melaknat orang telah menjelaskan tentang hal menyambung
yang tukang menyambung rambut wanita dan rambut. Mereka mengatakan, jika perempuan
orang yang menyuruh agar rambutnya disam' menyambung rambutnya dengan mengguna-
bung, serta yang membuot tato dan yang me- kan rambut orang lain, ulama telah bersepa-
kat bahwa hal tersebut hukumnya haram, baik
minta dibuatkan tato di tubuhnya!' rambut yang digunakan untuk menyambung
itu dari rambut laki-laki ataupun rambut pe-
Ath-Thabari mengatakan, perempuan ti- rempuan, dan baik rambut itu milik keluarga
dak boleh mengubah bentuk kejadian yang dekat yang merupakan mahramnya atau sua-
telah diciptakan Allah bagi dirinya, baik de- minya, ataupun milik orang lain. Hal ini karena
ngan menambah atau mengurangi untuk tu- dalil yang melarang hal itu adalah dalil yang
juan kecantikan, baik untuk suami ataupun umum. Selain itu, rambut dan seluruh bagian
untuk tujuan yang lain. Contohnya seperti tubuh manusia adalah haram digunakan untuk
mereka yang bertaut bulu keningnya kemu- menjaga kehormatannya. Rambut, kuku, dan
semua bagian badan manusia perlu dikubur
dian mencabut yang di tengahnya.
dalam tanah.
Apa yang dinyatakan dalam hadits ini
fika menyambung itu dilakukan tanpa
melibatkan orang yang melakukan perbuatan
menggunakan rambut manusia seperti meng-
tersebut dan yang meminta supaya dibuat gunakan bulu yang najis, yaitu bulu bangkai
demikian. Laknat yang dikenakan terhadap dan bulu binatang yang tidak halal untuk di-
suatu perbuatan memberi arti, bahwa per- makan apabila terpisah pada waktu ia hidup,
buatan tersebut diharamkan. Karena, orang maka hukumnya juga haram. Karena, ia me-
yang melakukan sesuatu yang boleh tidak se- nanggung najis dalam shalat dan di luar shalat
dengan sengaja. Dalam dua keadaan ini, hu-
patutnya dilaknat. Dengan berdasarkan hadits kum berlaku sama antara laki-laki dan wanita
ini, maka perempuan tidak boleh menyambung yang telah bersuami atau belum.
rambutnya dengan rambut orang lain. Namun,
fika yang digunakan untuk menyambung
menyambung rambut dengan sesuatu yang adalah bulu yang suci dan bukan dari manusia,
lain, tidaklah merupakan kesalahan iika ia dia tidak memiliki suami, maka hukumnya
hanya sekadar untuk menutup kepala. Hal tetap haram. fika dia mempunyai suami, maka
menurut pendapat yang oshah dia boleh me-
ini karena ia dilakukan untuk kepentingan lakukannya dengan izin dari suaminya. fika
suaminya tidak mengizinkan, maka hukumnya
yang tidak dapat dielakkan. Begitu juga ti-
tetap haram.
dak haram walaupun dia menyambung lebih
Hukum mencabut bulu-bulu adalah ha-
dari yang diperlukan, sekiranya perbuatan ram secara mutlah kecuali iika perempuan
yang ditumbuhi jenggot atau kumis, maka
itu mempunyai kepentingan, seperti untuk mencabut bulu tersebut tidaklah haram. Bah-
mempercantik diri bagi suami serta tidak
kan, ia sunnah membuangnya. Hal tersebut
membawa kemudharatan. Imam Malik ber-
pendapat, menyambung rambut dengan ben-
da apa pun, baik disambung dengan rambut,

dengan bulu, ataupun dengan kain, merupakan

perbuatan yang dilarang. Hal ini berdasarkan
hadits fabir yang menyatakan, bahwa Nabi
Muhammad saw. melarang wanita dari me-

nyambung rambutnya dengan sesuatu.Tzs

72s Noilut Aut)rar. Jilid L hlm. 191.

FIqLH ISTAM IILID 1

seperti yang dinyatakan oleh Imam an-Nawawi :J-!ut '.5- ', .\irl '*) tc !rt;-, !)1)
dan ulama yang lain. ,
t, , . \- _Stl)
Hukum haram yang disebutkan dalam
hadits ini, jika ia dilakukan untuk tujuan ke- 6f ^t; ""f j: lrt ;t ;\t,
cantikan, bukan disebabkan karena penyakit. "lkatkan m'ulut tempat air minrmor, se-

fika dilakukan karena untuk mengatasi sebuah butlah name Allah, dan tutuplah tempat ma-
penyakit, maka hukumnya tidak haram. Yang
diharamkan hanyalah mencabut bulu dari mu- kanmu dan sebutkan nama Allah walaupun
ka. Namun, menurut nash, kaum wanita boleh
mencukur muka dan melicinkannya. Mereka engkau hanya mampu meletakkan ranting di
juga boleh mempercantik rambut dengan me-
warnai merah ataupun dengan cara lain untuk atesnye.'q27

hiasan bagi suaminya. Mereka juga boleh Hikmah dan tujuan meletakkan ranting
membiarkan rambut yang terdapat di sudut di atas wadah (tempat) adalah agar membia-
sakan diri dengan amalan tersebut dan tidak
dahi memanjang. Sebaliknya, seorang laki-laki melupakannya. Mungkin juga anjuran itu
makruh hukumnya melicinkan mukanya. bertujuan untuk menjauhkan dari segala he-
wan yang merayap, disebabkan ada ikatan
Berdasarkan hal ini, maka haram hukum- ataupun dengan melalui di atasnya. Sunnah
nya mencabut gigi yang lebih ataupun mem- menyebut nama Allah di samping mengikat
bekas minuman apabila petang. Hal ini ber-
buang jari atau anggota yang lebih. Karena,
dasarkan hadits yang telah disebutkan.
ia dianggap sebagai usaha mengubah ciptaan
Allah. Al-Qadi Iyad mengatakan, jika anggota 7. Tidur
yang lebih ini dapat menyebabkan penderita-
an dan kemudharatan, maka tidak mengapa Pada waktu tidur disunnahkan menutup
pintu, memadamkan lampu, dan juga mema-
ia dibuang. Ath-Thabari juga mengecualikan damkan bara api. Selain itu, disunnahkan

segala sesuatu yang dapat menyebabkan ke- menyebut nama Allah ketika melakukan per-
mudharatan, seperti gigi yang lebih atau yang
panjang dan dapat menghalang kemudahan buatan tersebut. Hal ini berdasarkan hadits
makan ataupun jari yang lebih dan yang me-
nyakitkan, baik ia wujud pada laki-laki atau- tersebut di atas. Pada waktu ingin tidur;
pun perempuan.726
hendaklah dia memeriksa dan mengibaskan
Bekerja untuk mencari rezeki dengan hamparannya. Cara tidur yang disunnahkan
adalah dengan meletakkan tangan kanan di
menjadi tukang sikat adalah makruh. Hal ter- bawah pipi kanan, dan menghadapkan muka
sebut seperti halnya menjadi penjaga toilet. ke arah kiblat serta tidur di atas rusuk kanan.
Perempuan haram menyerupai laki-laki, be- Dia hendaklah bertobat kepada Allah sambil
gitu juga sebaliknya.
membaca doa,
6. Menutup wadah (tempat air)
"Deng an menyebut nama-Mu, aku meletak-
Sunnah hukumnya menutup wadah mes-
kan rusukku dan dengan-Mu juga aku dapat
kipun dengan ranting pohon. Hal ini berda- mengangkatnya (bangkit). Jika takdir Engkau
okan menahan diriku (mematikan aku), maka
sarkan hadits,

726 Tuhlodrt Ahwadzi, lilidt. hlm. 68.
727 Muttasaq'alaih

FIqLH ISTAM JILID 1

ampunilah aku. Dan jika Engkou akan mele- "Rasul melarang bersendirian dan seorong
yang bermalam secara bersendirian.'q3l
paskannya, maka peliharalah ia sebagaimana
Engkau memelihara hamba-Mu yang saleh." Sebagaimana juga, makruh bepergian
seorang diri, karena terdapat hadits yang
Disunnahkan juga membaca surah as-
menyebut, "Bersendiriqn adalah omolan per-
Sajdah dan al-Mulk. Imam Ahmad, at-Tirmidzi, buatan setan"732
dan al-Khalil meriwayatkan dari fabir bahwa
Nabi saw. melakukan perkara tersebut, yak- Tidur atau duduk di antara bayangan

ni berdoa dan membaca. Disunnahkan juga pancaran cahaya matahari juga dimakruhkan,

membaca bagian akhir dari surah al-Baqarah, karena terdapat larangan dari Nabi saw..733
ayat Kursi, al-Mu'awwidzatain, serta surah Dalam hadits dinyatakan bahwa tempat se-
al-lkhlaash. Pada waktu terbangun dari tidur
perti ini merupakan tempat duduk setan.
juga, hendaklah memandang ke langit dan
membaca akhir dari surah Ali'lmran. Makruh menyeberangi laut pada waktu

Tidur di atas sutuh yang tidak beratap bergelombang, karena ia membahayakan.

dan berpagar adalah makruh, karena terdapat Disunnahkan beristirahat ketika pada

larangan dari Nabi Muhammad saw.728 dan waktu tengah hari walaupun tanpa tidun baik
juga dikhawatirkan dia terguling dan ter- di musim panas ataupun di musim dingin.
jatuh. Tidur tengkurap dan tidur telentangT2e
Orang yang mati hendaklah dibacakan
juga makruh, jika terdapat kebimbangan akan
membuka aurat. Tidur setelah shalat Ashar surah Yasin di sisinya. Hal ini berdasarkan ha-
dits Abu Dawud dan yang lain. Sedangkan di
juga makruh hukumnya, karena terdapat sisi orang yang sedang sakit, juga hendaklah
hadits yang berbunyi, "Barangsiapa tidur se- dibaca surah al-Faatihah, al-lkhlaash, dan al-
Mu'awwidzatain serta diembuskan ke kedua
telah shalat Ashar kemudian terencat akalnya,
maka janganlah dia mencela kecuali pada diri- tangan kemudian diusapkan. Hal tersebut

nya sendiri."73o seperti yang terdapat dalam Shahih Bukhari
dan Muslim. Surah al-Kahfi juga hendaklah
Begitu juga makruh tidur setelah shubuh, dibaca pada hari dan'nalam fumat.
karena waktu tersebut adalah waktu rezeki
dibagikan, sebagaimana yang telah tetap da- Dalam penjelasan lentang keharaman dan
lam hadits. Begitu juga makruh tidur di ba-
wah matahari dengan membuka pakaian se- kebolehan nanti akan dikemukakan perbin-
lain hanya menutup aurat, ataupun tidur di cangan yang lebih luas, berkaitan dengan
kalangan orang lain yang terjaga. Karena, ia keadaan manusia dan adat istiadat mereka
bertentangan dengan adab kesopanan. Tidur
dalam berpakaian, menggunakan wadah atau
seorang diri juga makruh, karena terdapat bejana, berpandangan, bersentuhan, permain-
an, serta yang berkaitan dengan makan dan
hadits yang menyebut, minum.

728 Riwayat at-Tirmidzi dari fabir. Kubra mengatakan bahwa tidur telentang adalah membahayakan pandangan mata dan air
729 Or^ngy^ng biiak dalam kitab at-Adabul

mani, tetapi jika istirahat dengan telentang (dengan tidak memeiamkan maka) maka tidak mengapa.
730 Riwayat Abu Ya'la al-Mushili dari Aisyah, tetapi hadits ini dhaif.
731 Riwayat Ahmad dari Ibnu Umar seca ra marfu' (Hadits Hasan).
732 Riwayat al-Hakim dari Abu Hurairah. "sendirian adalah satu setan, berdua adalah dua setan, dan bertiga baru dinamakan satu rom-

bongan." Hadits ini shahih.
733 Riwayat Imam Ahmad.

IsrAM lrrrD 1

3. MENGIISiAPKHUF keempat madzhab fiqih, ia dibolehkan baik
pada waktu musafir ataupun tidah bagi lelaki
Pembahasan ini akan mencakup definisi, ataupun perempuan.T3s Keringanan ini adalah
dasar pensyariatannya, cara melaksanakan, satu kemudahan untuk kaum Muslimin, ter-
tempatnya, syarat-syarat, jangka waktu dan
utama pada musim dingin, dalam perialanan,
hal-hal yang membatalkannya. Termasuk da- dan bagi mereka yang sentiasa dalam tugas

lam pembahasan ini adalah masalah meng- seperti tentara, polisi, penuntut ilmu, dan
usap di atas serban, mengusap di atas kaos
kaki [stocking) dan di atas kain perban atau sebagainya.

balutan. Dalil yang membolehkan mengusap khuf
adalah hadits Nabi saw. yang terdapat dalam
a. Deflnlsl Mengusap Khuf dan Dasar kumpulan hadits, diantaranya adalah:

Mensyarlatkan L. Hadits Ali bin Abi Talib yang menyebut,

Mengusap khulmerupakan pengganti un- "Kalaulah agama itu semata-mata de-
tuk membasuh kedua kaki dalam berwudhu.
Dari segi bahasa, khuf berarti'menggerakkan ngan pikiran, maka tentulah bagian bawah

tangan di atas sesuatu.' Sedangkan dari segi khuf itu lebih sesuai untuk diusap dari-
syara', khuf berarti menyentuh khuf yangter-
tentu dan di tempat tertentu, dengan tangan pada bagian atasnya. Sesungguhnya aku
yang dibasahi dengan air dan dilakukan pada telah melihat Rasulullah saw. mengusap
waktu yang tertentu. Adapun khul dari segi bagian atas khufnya."
syara' bermakna 'pakaian kulit atau sejenis-
nya yang menutupi dua mata kaki ke atas.' Dia juga menyatakan bahwa Rasulullah
Bagian tertentu yang perlu diusap adalah saw. telah menetapkan tiga hari tiga ma-
bagian luar kedua khuf saja, bukan bagian lam bagi mereka yang musafir, serta sehari
semalam bagi mereka yang bermukim.736
dalamnya. Lama waktunya adalah sehari se-
malam bagi yang bermukim dan tiga hari tiga 2. Hadits al-Mughirah bin Syu'bah, dia ber-
malam bagi mereka yang musafir.T3a Ulama
kata,
madzhab Maliki tidak memberikan batasan
waktu untuk mengusap khuf ini seperti yang 'Aku bersama Rasulullah saw.,737 lalu
akan diterangkan nanti. Begitu juga dengan Rasul ingin mengambil wudhu. Aku ter-
tunduk untuk membuka kedua khuf Rasul,
pendapat golongan Imamiyah, mereka tidak tetapi Rasul bersabda,
menentukan batas waktu mengusap sehari
ataupun tiga hari. it"uek* i.f wt

Kedudukan Mengusap fffuf 'Biarkan ia, karena aku memasukkan
kedua kakiku dalam keadaan sucr,' lalu
Mengusap khuldisyariatkan sebagai satu Rasul mengusap di atas keduanla."Tzs
rukhshah fkeringanan). Menurut pandangan
3. Hadits Shafwan bin Assal,

73a Ad-Dumtt Mukhtar,hlidt, hlm. 240 dan seterusnya.

73s Bidayatut Mujtahid,lilidl, hlm. 17; al-Qawanin at-Fiqhiyyah,hlm.3S; Muraqi al-Falah,hlm.2t.
736 Hrdit pertama diriwayatkan oleh Abu Dawud dan ad-Daruquthni dengan isnad yang Hasan. Ibnu Haiar mengatakan bahwa hadits

ini adalah shahih. Hadits kedua diriwayatkan oleh Imam Muslim, Abu Dawud, at{irmidzi, dan lbnu Majah fSubulusSalom, Jilid I, hlm.
58-60; Nailul Authar,Jilid I, hlm. 184).
737 Mrk rdny, adalah bersama dalam bepergian seperti yang diterangkan oleh al-Bukhari. Menurut Imam Malik dan Abu Dawud, musafir
ketika peperangan Tabuk.
738 Muttosoq'alaih(subutusSalom,filidl,hlm,sT;NaitulAuthaafilidl,hlm. 180).

FIqLH ISI.AM IITID 1

#ri1)Y,;'Jr {,br \- ii - ;;tt -t';i mutawatir. Sebagian ahli hadits telah me-
ui; ,iir11 ulw t; t;.,lt['i F ngumpulkan sahabat yang meriwayatkan-
nya dan terdapat lebih dari delapan puluh
; ,4iU o", ,*i t:y ilu u;,
orang sahabat, termasuk sepuluh orang sa-
i.G ,t vf u#H \) J, ;. "tt a,s/ G habat yang telah dijamin masuk surga oleh
Rasulullah saw.. Imam Ahmad iuga mengata-
,z kan di antaranya terdapat empat puluh hadits

"Kemi diperintahkan oleh Nabi Mu' yang diriwayatkan oleh sahabat secara marfu'.
Al-Hasan juga mengatakan, "Terdapat tujuh
hommad saw. supaya mengusap kedua
puluh sahabat Rasulullah saw. yang telah men-
khuf. Apabila kami memakainya dalam ceritakan kepadaku, bahwa Rasulullah saw'

keodaan suci, untuk tempo tiga hari se- telah mengusap kedua khuf'nya."7a1 Hukum
boleh mengusap khuf ini adalah menjadi pe-
waktu kami musafir dan sehari semalam
gangan Amirul Mu'minin Ali r.a., Sa'ad bin
pada woktu kami mukim. Kami tidak per- Abi Waqqash, Bilal, Hudzaifah, Buraidah,

lu membuka dengan sebab membuang Khuzaimah bin Tsabit, Salman, farir al-Bajili,

air besar ataupun buang air kecil, hanyo dan lain-lain.

kami perlu membuka disebabkan karena Golongan Syiah Imamiyah dan Zaidiyah
serta kaum Khawarij menolak hukum boleh
junub.'q3e yang ditetapkan pada mengusap khuf.7az De-
ngan kata yang lebih tepat, golongan Ima-
4. Hadits farir, beliau telah buang air kecil miyah tidak membolehkan mengusap khul
ini dengan kehendaknya sendiri. Akan tetapi,
lalu berwudhu dan mengusap keduakhuf- mereka membenarkan dalam keadaan daru-
rat dan dalam keadaan takut serta memper-
nya. Beliau ditegur, "Mengapa engkau tahankan diri. Sedangkan golongan Khawarij
lakukan demikian?" Dia menjawab, "Ya, tetap tidak membenarkannya, walaupun da-

aku telah melihat Rasulullah saw. setelah lam keadaan darurat.

membuang air kecil, mengambil wudhu Mereka mengemukakan dalil-dalil berikut
untuk pendapat mereka. Semua dalil yang di-
dan mengusap kedua khuf'nya."7ao kemukakan itu tidak terlepas dari perdebat-
an, bahkan merupakan dalil yang sangat le-
Sebagaimana diketahui, |abir telah me-
meluk Islam setelah turunnya surah al'Maa- mah. Beberapa dalil tersebut adalah:
'idah yang di dalamnya terdapat ayat tentang
[a) Ia telah di-nasakh dengan ayat wudhu
wudhu.
dalam surah al-Maa'idah yang tidak me-
Dalam kitab Syarh Muslim,lmam an-Na-
wawi telah menyatakan masalah mengusap nyebut sedikit pun tentang mengusap
khuf ini yang diriwayatkan oleh sahabat yang khuf. Allah SWT hanya menyebutkan,
sangat banyak. Segolongan penghafal ha-

dits (al-hafizh) telah menegaskan bahwa

mengusap khuf ini telah disyariatkan secara

739 Riwayat Ahmad, Ibnu Khuzaimatr, an-Nasa'i, at-Tirmidzi, dan dihukumi shahih oleh at{irmidzi serta lbnu Khuzaimah. Diriwayatkan
juga oleh asy-Syafi'i, Ibnu Maiah, Ibnu Hibban, ad-Daruquthni, dan al-Baihaqi. Al-Bukhari mengatakan bahwa hadits ini hasan (Nailul

.4uthar, Jilid I, hlm. 181; SuDuIus Salam, Jilid I, hlm. 59).
7ao Mutn1aq'alaih.
741 Diriwayatkan oleh lbnu Abi Syaibah.

7a2 NoilulAot)rar,Jilidl,hlm. 176-178;ath-Tusi,kitabal-KhilaffilFiqh,lilidl,hlm.50-61;MuhammadbinYusufat-Tafaiytsy,Syamilal-
A$lwatFaf ,lilidl l{m. 211; Suiutus.sa{gq,.lilid L hlm. 57 da!=$$erutnlnl

IsrAM JlrrD I Tentang kenyataan Ali yang diriwa-
yatkan oleh Ibnu Abi Syaibah, maka ia
"Basuhlah kaki kamu hingga mato kaki."
Ayat ini telah menetapkan bahwa kedua adalah munqathi'. Begitu juga yang di-
belah kaki hendaklah dibasuh dengan air. riwayatkan dari Ibnu Abbas. Apalagi ri-
wayat ini terdapat pertentangan dengan
Ali r.a. berkata, "Ayat Al-Qur'an le- kenyataan yang ditetapkan dari mereka,
maka hal tersebut menunjukkan pendiri-
bih mengatasi dari mengusap khuf." Se-
dangkan Ibnu Abbas, juga mengatakan an mereka yang membolehkan mengusap
bahwa Nabi saw. tidak mengusap khul
setelah turunnya surah al-Maa'idah. khuf. Kedua hadits mereka ini berten-

Kenyataan ini ditolah karena ulama tangan dengan hadits yang lebih shahih,
yaitu hadits riwayat farir al-Bajali.
telah bersepakat mengatakan bahwa wu- (b) Semua hadits yang menyebut tentang
dhu telah ditetapkan sebelum turunnya mengusap khuf telah di-nasakh dengan
surah al-Maa'idah. Oleh sebab itu, sekira- ayat dalam surah al-Maa'idah yang men-
jelaskan tentang wudhu.
nya hukum mengusap khuf ini juga di-
syariatkan sebelum diturunkannya ayat Ayat tersebut adalah umum dan mut-
lak meliputi semua keadaan baik itu pada
tersebut, maka kedatangan ayat yang me- waktu memakai khuf ataupun tidak. De-

nyatakan tentang wajib membasuh kaki ngan demikian, menjadikan semua hadits
ataupun wajib mengusapnya (menurut yang berkaitan dengan mengusap khuf
pendapat golongan Imamiyah) tanpa me-
nyebut sedikit pun tentang mengusap itu sebagai pen-takhshrsh ataupun pen-
khuf, bukanlah me-nasakh hukum me-
taqyid kepada umum atau mutlak yang
ngusap khuf. fika hukum mengusap ada pada ayat tersebut. Dengan demikian,
maka nasakh tidak berlaku pada perkara
khuf ini tidak ditetapkan sebelum ayat ini. Semua hadits yang berkaitan dengan
mengusap khuf adalah mutawatir, seba-
berkenaan diturunkan, maka tentunya gaimana yang telah dijelaskan. Dengan
tidak berlaku nasakh sama sekali. Selain demikian, ia sah untuk berperan sebagai
itu, perawi hadits yang telah disebutkan pen-takhshlsh menurut pendapat semua
baru memeluk Islam setelah turunnya ulama. Dengan kata lain, firman Allah ada-
lah mutlak dikaitkan oleh hadits meng-
ayat dalam surah al-Maa'idah, dan dia te- usap khuf ataupun ayat itu, lalu dikhu-
suskan oleh hadits-hadits yang berkaitan.
lah melihat Rasulullah saw. mengusap
khuf-nya. Dalam masalah nasakh ini, di- (c) Dalam hadits-hadits yang berkaitan de-
ngan wudhu, juga tidak pernah disebut
syaratkan yang menjadi nasikh hendaklah tentang mengusap khul Semua hanya
sesuatu dalil yang datang kemudian. menyebut tentang membasuh kaki saja,

Dapat dikesimpulan bahwa ayat wu- dan setelah membasuh kaki ditambah ju-
dhu'telah diturunkan dalam masa pepe- ga dengan kenyataan bahwa "Allah tidak
rangan al-Muraysi. Sedangkan amalan
mengusap khuf yangdilakukan oleh Rasu-
lullah saw., berlaku pada waktu peperang-
an Tabuk.7a3 Bagaimanakah sesuatu yang

lebih dahulu dapat me-nasakh sesuatu

yang datang kemudian?

Peperangan al-Muraisi atau ghazwah Bani Musthaliq terladi pada tahun enam Hijrah, sedangkan peperangan Tabuk terjadi pada
tahun sembilan Hijrah.

Baglan 1: IBADAH FIQIH ISI.AM JILID 1

akan menerima shalat tanpanya." Rasul mengusap khuf telah ditetapkan oleh hadits
saw. juga telah bersabda,
dan juga Kitab. Ini adalah satu pendekatan
"Neraka Wail (hanya diperuntukkan)
bagi tumit-tumit (yang tidak terkena air terbaik melalui cara bacaan tersebut.
wudhu)."
b. Cara Mengusap Khuf dan Tempatnya
Secara keseluruhan, apa yang dapat di-
pahami dari hadits-hadits tersebut adalah pe- Ia dimulai dengan jari kaki diusap dengan
tunjuk supaya membasuh kedua kaki tanpa jari tangan, setelah itu menuju bagian betis.
suatu ketentuan yang menolak kebolehan Mengikut ulama madzhab Hanafi,Taa kadar
cara lain. Seandainya hadits tersebut hanya yang wajib diusap adalah kira-kira tiga jari
menunjukkan tentang membasuh saia, sudah dari jari-jari tangan yang paling kecil, mulai
tentu ia dikhususkan oleh hadits-hadits me- dari bagian depan atas pada setiap kaki, se-
ngusap khuf yang mutow atir. Tentang ungkap- banyak sekali usapan dengan memperkirakan
an, 'Allah tidak menerima shalat tanpanya," apa yang digunakan untuk mengusap. Dengan
demikian, tidak sah seandainya mengusap di
ia tidak ditetapkan secara ketetapan yang
telapak kaki atau di tumit, di kiri kanannya,
dapat diterima. Tentang hadits, "Neraka (ha- ataupun di betis. Usapan itu tidak disunnah-
nya diperuntukkan) bagi tumit-tumit (yang kan untuk diulang dan diusap di sebelah ba-
tidak terkena air wudhu)" itu pula merupakan wah. Hal ini karena cara mengusap perlu di-
ancaman terhadap mereka yang hanya me-
ngusap kedua kakinya tanpa membasuhnya. ikuti seperti yang dinyatakan oleh syara'.
Ia tidak berkaitan dengan mengusap kedua Menurut pendapat ulama madzhab Ma-
khuf, Hadits tersebut tidak meliputi mengu-
sap khuf, karena orang yang mengusap khul liki,745 wajib mengusap seluruh bagian atas
tidak membasuh atau mengusap ke seluruh khuf. Adapun bagian bawahnya disunnahkan
kakinya, bukan hanya tidak membasuh tumit untuk diusap.
saja. Selain itu, semua hadits yang berkaitan
mengusap khuf adalah hadits yang mengkhu- Menurut ulama madzhab Syafi'i pula,7a6
suskan ancaman bagi mereka yang mengusap cukup dengan tindakan yang dinamakan se-
bagai mengusap. Ia seperti mengusap kepala
khuf. yang dilakukan di tempat yang fardhu, yaitu
Di samping itu, boleh juga disebut bahwa bagian atas khuf bukan di bawah, tepi atau-
pun belakang tumit. Karena, mengusap telah
telah ditetapkan membaca kasrah pada per- dinyatakan secara mutlak dan tidak sah untuk
kataan "Arjulikum" dalam surah al-Maa'idah, menetapkan suatu kadar tertentu. Oleh sebab
yaitu secara diatafkan kepada sesuatu yang itu, ia cukup dengan kadar yang boleh dina-
diusap [kepala). Dengan adanya bacaan itu, makan sebagai usapan. Contohnya mengusap
maka ia dipakai juga untuk masalah mengu- dengan tangan atau sepontong kayu, dan se-
sap khuf sebagaimana yang telah dijelaskan bagainya. Yakni, cukup dengan tindakan yang
oleh hadits. Dengan sebab itu, dapat dikatakan paling minimal yang dapat disebut sebagai
usapan. Di samping itu, mengusap bagian atas
dan bawah serta bagian belakang tumit secara

744 Muraqi al-Fatah,hlm22; al-Bada'i|lilidl,hlm.12; al-Lubab, lilid I, htm. 43; Fathul Qadir,lilid I, hlm. 103; ad-Durrul Mukhfal Jilid I, hlm.
246,251,260.

7as Al-qawanin al-Fiqhiyyah, hlm. 39; asy-syarhush Shoghia f ilid I, hlm. 159.
746 Mughnil MuhtaT, lilid I, hlm.67; al-Muhailzdzab,lilid I, hlm' 22.

.:.*:. "1..i ,'r ..

-,r- :i,
@.{€' :
.I.-**:,X*-r. r;,ii
-ffi.-,,-*ti

ISLAM lrrrD 1

membuiur adalah disunnahkan, seperti halnya dinamakan mengusap, karena syara' telah
pendapat ulama madzhab Maliki. menyebutnya secara mutlak. Oleh sebab itu, ia
dapat dilakukan dalam setiap keadaannya. Ini
Ulama madzhab Hambali berpendapatTaT adalah pendapat yang paling utama, seperti
mencukupi mengusap khuf ini dengan meng- halnya pendapat dia yang berkaitan dengan
mengusap kepala dalam berwudhu.
usap sebagian besar bagian depan sebelah atas
Yang menjadi dasar dari perbedaan pen-
khuf secara membujur. Tidak disunnahkan
dapat dalam masalah mengusap bagian bawah
mengusap bagian bawah dan juga bagian be-
lakang tumitnya, yaitu seperti pendapat ula- khuf ini adalah, karena terdapat pertentang-

ma madzhab Hanafi. an antara dua atsar.Tae Pertama, hadits al-Mu-

Alasan mereka adalah, sesungguhnya ghirah bin Syu'bah yang isinya, "Rasulullah
saw mengusap di bagian atas dan di bagian
kata al-mash [mengusap) disebut dalam ben- bawah khul Rasul."7so [1531 ini telah menjadi
pegangan ulama madzhab Maliki dan Syafi'i.
tuk yang mutlak, dan telah ditafsirkan oleh Kedua, hadits Ali yang telah disebut sebelum

Nabi Muhammad saw. melalui perbuatan be- ini, di mana dia menyatakan, "Kalaulah agama
liau. Oleh sebab itu, wajib dirujuk kepada pe- itu dapat dipahami hanya dengan akal pikiran,
nafsirannya. Dalam Hadits al-Mughirah bin
Syu'bah seperti yang diriwayatkan oleh al- maka tentulah bagian bawah telapak khuf itu
Khallal dengan sanadnya, dia mengatakan,
lebih pantas diusap daripada bagian atasnya.
"Kemudian Rasul berwudhu dan meng- Aku telah melihat Rasulullah saw. telah me-
usap kedua khuf-nya. Rasul meletakkan tangan ngusap bagian atas khufnya." Hadits ini telah
kanannya di atas khuf sebelah kanan dan ta- menjadi pegangan ulama madzhab Hanafi dan
ngan kirinya di atas khulsebelah kirinya. Lalu
Rasul mengusap bagian atasnya dengan sekali Hambali.
usapan, sehingga seolah-olah aku dapat me- Golongan pertama menggabungkan anta-
Iihat kesan jari Rasul di atas kedua khulRasul
itu." ra kedua hadits tersebut dengan menafsirkan
bahwa hadits al-Mughirah menunjukkan hu-
Kesimpulannya, menurut ulama madzhab kum sunnah, sedangkan hadits Ali menunjuk-
Maliki, kadar yang wajib diusap adalah selu- kan hukum wajib. Golongan kedua mengambil
ruh bagian atas khuf, seperti anggota wudhu pendekatan men-tarjih, mereka men-taryih ha-
yang lain. Menurut ulama madzhab Hanafi, dits Ali daripada hadits al-Mughirah, karena ia
yang wajib diusap adalah sekadar tiga jari mempunyai sanad yang lebih kuat. Mengusap
tangan, sama seperti mengusap kepala dalam khuf juga dibolehkan secara menyalahi qiyas.
berwudhu. Ulama madzhab Hambali berpen- Oleh sebab itu, ia perlu dibatasi seperti apa
dapat perlu mengusap sebagian besar bagian yang telah dinyatakan oleh syara'.
atas khuf berdasarkan hadits Mughirah yang
artinya,'Aku melihat Rasulullah saw mengusap Menurut penulis, pendekatan golongan
bagian atas khufbeliau."Tas Menurut pendapat yang kedua ini lebih sesuai, walaupun dalam

ulama madzhab Syafi'i, ia dapat terlaksana masalah ini lbnu Rusyd telah menyatakan

dengan tindakan paling minimal yang dapat bahwa pendapat yang paling tepat dalam ma-

+77 At-M ug h n i, lilid l, hlm. 298; Kasyryaful Qrna', Jilid I, hlm. 1 30, 1 33.

748 Riwayat Abu Dawud dan Ahmad.
7ae Bidayatul Mujtahid,lilid I, hlm. 18.
7s0 Riwayat Imam Hadits yang lima kecuali an-Nasa'i. Diriwayatkan iuga oleh ad-Daruquthni, al-Baihaqi, dan lbnu farud, tetapi ada

'r?Iot dan dhaif (IVa ilul Authar,lilid.L hlm. 185).

Isr-AM lrrrD 1

salah ini adalah pendapat Imam Malik. Se- ia diletakkan di bawah tumitnya. Kemudian
kedua tangan tersebut digerakkan ke ujung
cara keseluruhan, menurut pendapat ulama
madzhab Hanafi dan Maliki, usapan perlulah kaki. Dengan kata lain, mereka berpendapat,
dilakukan di bagian luar dan bagian ataskhuf.
Bagian dalam dan bawah khuf tidak perlu di- khufhendaklah diusap di bagian atas dan ba-
usap. Ulama madzhab Maliki dan Syafi'i ber-
pendapat bahwa usapan dibuat di bagian atas wah. Namun, tidaklah disunnahkan meng-
khuf di samping sunnah mengusap di sebelah
usap secara menyeluruh. Mengulangi usapan
bawahnya.
dan membasuh adalah makruh, karena ia
akan merusak khuf. fika ia dilakukan juga,

maka hal tersebut dianggap mencukupi'

Hal-Hal yang Sunnah dalam Mengusap lfiuf c. Syarat-Syarat MengusaP Khuf

Dari apa yang telah dijelaskan, ternyata Terdapat tiga syarat yang disepakati dan
para fuqaha mempunyai dua pendapat ber- beberapa syarat yang tidak disepakati di ka-
kaitan dengan perkara sunnah dalam meng- langan para fuqahaTsz bagi membolehkan me-
ngusap khuf. Sebagaimana dimaklumi, semua
usap khuf ini. Ulama madzhab Hanafi dan
syarat yang disebut ini adalah syarat meng-
Hambali berpendapat usapan hendaklah di-
lakukan secara membujur dengan jari, dimulai usap bagi tufuan berwudhu. Adapun untuk
tujuan junub, maka mengusap khul tidak di-
dari sebelah jari kaki terus menuju ke betis.
Hal ini berdasarkan hadits al-Mughirah r.a' perbolehkan. Dengan kata lain, mengusap
yang artinya, "Nabi Muhammad saw mengu-
sap di bagian atas kedua khry' Rasul. Beliau khuf tidakboleh bagi mereka yang diwajibkan
meletakkan tangan kanannya di atas khuf se'
belah kanan, dan tangan kirinya di atas khuf mandi. Hal ini berdasarkan hadits Shafwan
sebelah kirinya. Kemudian beliau mengusap
bin Assal yang telah disebutkan sebelum ini.
ke atas dengan sekali usaPan."7s1 Nabi Muhammad saw. telah menganjurkan
kami supaya mengusap khuf apabila kami
fika usapan itu dimulai dari sebelah be- memakainya dalam keadaan suci, tiga hari
tisnya, kemudian menuju ke arah jari kaki, pada waktu dalam musafir dan sehari se-
maka cara ini dianggap mencukupi. Sunnah malam pada waktu kami mukim. Kami tidak
perlu membukanya disebabkan membuang
juga mengusap kaki kanan dengan tangan ka- air besar atau kecil, ataupun tidur. Kami tidak
membukanya kecuali disebabkan junub.
nan, dan kaki kiri dengan tangan kiri, seperti
Sya rat-Sya rat ya nE Dl se Pa kat t
yang dinyatakan dalam hadits al-Mughirah di
Para fuqaha telah bersepakat mensyarat-
atas. kan tiga perkara untuk mengusap khuf bagi

Ulama madzhab Maliki dan Syafi'i ber- maksud wudhu:
pendapat, cara mengusap yang disunnahkan
adalah dengan meletakkan telapak tangan l. Memakai kedua-duanya pada wakhr suci
kanan di atas ujung jari kaki sebelah kanan.
Sementara, tangan kiri menurut ulama madz- Hal ini berdasarkan hadits al-Mughirah.
hab Maliki diletakkan di bagian bawah jari
kaki. Adapun menurut ulama madzhab Syafi'i, Dia berkata, "Aku bersama Nabi Muhammad
saw. dalam satu perjalanan,lalu aku tertunduk

7s1 Riwayat al-Baihaqi dalam Sunannya dan Ibnu Abi Syaibah (Nashbur Rayah, Jilid l, hlm. 180).
7s2 Ad-Durrul Mukhtan filid l, hlm. 241-245; al-Bada'i', Jilid I, hlm. 9 dan seterusnya; Muraqi al-Falah,b1m.22; asy-Syarhush Shaghir'Jilid

l, htm. 15,1-156; al-Qawanin al-Fiqhwah hlm. 38; Mughnil Muhwj,lilid I, hlm. 65 dan seterusnya; al-Muhadzdzab, Iilid I, hlm. 21; al-
Mughnllilid I, hlm.282,293,294,296; Ihrysyaful Qina',lilid I, hlm.t24'133 Bidayatul Muitahid,lilid I, hlm. 19-21.

_=-

FIQIH ISTAM Bagan 1: IBADAH
'ILID
air atau sebagainya, lalu berhadats, maka
untuk mencabut khul Rasul. Maka, Rasul ber- dalam kasus ini dia boleh mengusap khuf
sabda, 'Biarkan, karena aku telah memakai-
nya podo kedua kakiku dalam keadaan bersih.' nya.
Lalu beliau pun mengusap kedua-duanya."7s3
[c) Hendaklah kesucian tersebut secara sem-
Jumhur ulama mensyaratkan juga bahwa
kebersihan kaki tersebut adalah yang dihasil- purna, yaitu dia memakainya setelah sele-
sai semua wudhu atau mandi yang tidak
kan dengan menggunakan air. Ulama madzhab membatalkan wudhunya. fika wudhunya
batal sebelum membasuh kaki misalnya,
Syafi'i mensyaratkan kebersihan itu dengan maka dia tidak boleh lagi mengusap khuf,
aic baik itu wudhu, mandi, ataupun dengan karena kaki tersebut telah masuk ke tem-
patnya pada waktu ia sedang berhadats.
tayamum yang bukan disebabkan oleh ke- Maka, kedudukannya seperti jika dia me-
makai pada waktu tidak langsung meng-
tiadaan air. ambilwudhu.

Ulama madzhab Maliki menganggap sya- Menurut ulama madzhab Maliki dan
rat ini termasuk dalam lima syarat bagi orang Syafi'i, hendaklah dia dalam keadaan su-
yang mengusap khuf. Lima syarat tersebut
ci sepenuhnya sewaktu memakai khuf.
adalah:
Dengan kata lain, haruslah memakai khul
(a) Hendaklah memakai khuf dalam keada- dalam keadaan suci secara keseluruhan.
Sementara ulama madzhab Hanafi, me-
an suci. Jika dia memakainya pada waktu masukkan suci yang lengkap itu sewaktu
berhadats, maka tidak dia sah mengusap berlaku hadats setelah memakai khuf-nya.
khuf. Ulama golongan Syi'ah Imamiyah Mereka tidak mensyaratkan keadaan suci
membolehkan memakai khuf baik pada secara sempurna pada waktu memakai
waktu suci atau tidak, khuf. Mereka berpendapat bahwa yang
perlu hanyalah menyempurnakan keada-
(b) Hendaklah keadaan suci itu dihasilkan an suci saja. Perbedaan ini akan jelas dalam
permasalahan, jika seseorang yang ber-
dari aic bukan dengan debu. Ini adalah hadats itu membasuh kedua kaki sewaktu
syarat dari jumhur ulama selain ulama berwudhu, dan setelah itu terus memakai
madzhab Syafi'i. fika dia bertayamum ke- khuf-nya. Kemudian dia baru menyem-
mudian memakai khuf, maka menurut purnakan wudhunya dengan mencuci
jumhur dia tidak boleh mengusap khul
anggota yang lain sebelum berhadats,
karena dia memakai pada waktu suci yang
Dalam hal ini, jika dia berhadats lagi se-
tidak sempurna. Ia dianggap suci dalam telah itu, maka menurut ulama madzhab
keadaan darurat saja dan yang batal dari Hanafi dia berhak untuk mengusap khuf
asalnya. Selain itu, tayamum sendiri tidak nya, karena telah ada syaratnya. Yaitu,
menyucikan hadats. Oleh sebab itu, dia memakai khuf dalam keadaan suci yang
memakainya pada waktu dia dalam ke- sempurna pada waktu berhadats setelah
memakai khuf. Menurut ulama madzhab
adaan berhadats. Ulama madzhab Syafi'i Syafi'i dan Hambali, orang tersebut tidak
berpendapat, jika tayamum dilakukan de-
ngan sebab tidak ada ait; maka dia tidak
boleh mengusap khuf setelah mendapat-
kan air. Dia hanya wajib membuka khuf-
nya dan mengambil wudhu secara sem-

purna. Sebaliknya, jika dia bertayamum

karena sakit dan tidak bisa menggunakan

7s3 Muttalaq'alaih.

FIqlH ISLAM IILID 1

boleh mengusap khuf.Karena pada waktu perti mengusap khuf, bertayamum, memakan
memakai khuf, dia tidak dalam keadaan
suci yang sempurna. Bagi mereka, tartib bangkai, kesemua itu boleh dilakukan pada
adalah menjadi syarat wudhu. Oleh se-
waktu musafir dan setiap keringanan (rukh'
bab itu, mendahulukan membasuh kaki shah) yang ditentukan pada waktu musafir
saja, seperti qashar shqlat, berbuka puasa,
dari anggota yang lain berarti ia tidak di- maka ia boleh bagi mereka yang tidak me-
lakukan perjalanan dengan tujuan maksiat'
basuhnya.
Jika perjalanan dilakukan dengan tujuan
[d) Hendaklah orang yang mengusap itu maksiat, maka kemudahan tersebut tidak

tidak memakai khuf hanya untuk tujuan boleh untuknya.Tsa
bermegah-megah, seperti memakai khuf
dengan tujuan menjaga inai yang dipakai 2. Hendaklah khut tersebut bersih sefta
di kedua kaki, karena semata-mata hen-
dak tidur, karena dia seorang hakim, ha- menutup semua baglan kaki yang harus
nya karena bertujuan mengusapnya saja, di basuh kettka be nvudhu
ataupun karena mengelakkan dari kutu, Anggota yang harus ditutupi adalah kaki
dan sebagainya. Dalam semua keadaan dan kedua mata kaki dari semua sudut, kecuali
tersebut, mengusap khuf tid'ak diboleh- dari sebelah atas. Mengusap khuf tidak boleh
kan. Akan tetapi jika ia dipakai karena sekiranya khul tersebut tidak menutupi dua
untuk menghindari panas, dingin, becek, mata kaki serta keseluruhan kaki. Begitu juga
ataupun takut disengat kalajengking dan tidak sah mengusap khuf iika ia najis, seperti
sebagainya, maka barulah dia boleh me- khuf yang dibuat dari kulit bangkai yang tidak
disamak, menurut pendapat ulama madzhab
ngusapnya. Hanafi dan Syafi'i. Bahkan, yang telah disamak
sekalipun mengikut pendapat ulama madzhab
[e) Janganlah memakai khuf menimbulkan Maliki dan Hambali. Hal ini karena bagi me-
reka menyamak tidak akan menjadikan kulit
maksiat. Contohnya seperti mereka yang bangkai tersebut menjadi suci. Menggunakan
perkara yang najis adalah terlarang.
sedang dalam ihram haji atau umrah,
3, Khul tersefutt boleh diglunakan untuk
yang tidak terpaksa memakainya. Dalam
keadaan ini, dia tidak boleh mengusap menefuskan perlalanan menu rut
khuf. lika dia memakai dengan keadaan kebiasaan
Ulama berbeda pendapat dalam mene-
terpaksa ataupun oleh wanita, maka meng- tapkan ukuran tersebut. Ulama madzhab Ha-
nafi berpendapat, hendaklah khul tersebut
usap khuf adalah boleh. Pendapat yang mampu digunakan untuk perjalanan biasa se-
kuat di kalangan ulama madzhab Maliki,
Hambali, dan Syafi'i, orang yang musafir jauh satu /a rsakhTss atau lebih. Oleh sebab itu,
yang maksiat boleh mengusap khuf. Con- tidak boleh mengusap khuf yang dibuat dari
tohnya, seperti mereka yang durhaka ke-
pada kedua orang tua atau perompak. kaca, kayu, besi, ataupun yang terlalu tipis
dan terkoyak bila digunakan untuk berialan.
Kaidah yang dipegang di kalangan ulama
madzhab Maliki adalah, setiap kelonggaran
yang diberikan pada waktu tidak musafir se-

75+

755 Satu mil ialah 1848 meter. Oleh sebab itu adalah 5,544 meter.

FrqlH Isr.AM JrrrD 1 -t

Mereka juga mensyaratkan khul tersebut ha- Baglan 1: IBADAH
rus melekat di kaki tanpa diikat.
pendapat tentang sebatas manakah ukur-
Ulama madzhab Maliki menjelaskan ke- an minimal robek yang boleh dimaafkan.
mungkinan khul tersebut digunakan untuk
berjalan seperti biasa. Untuk itu, tidak boleh Ulama madzhab Syafi'i dalam qaul
jadid dan juga ulama madzhab Hambali
mengusap khufyangluas, yang mana kaki pada tidak membenarkan mengusap khuf yang
seluruh waktu atau kebanyakan waktu tidak robek, walaupun hanya sedikit, Hal ini di-
dapat berada tetap di dalamnya, tetapi senan- sebabkan dengan adanya robek tersebut,
tiasa menggelongsor pada waktu berjalan. maka khuf tidak lagi melindungi dan
menutupi keseluruhan kaki, walaupun lu-
Apa yang ditetapkan di kalangan keba- bang robek itu dari tempat jahitan. Kare-
na, bagian yang tebuka memiliki hukum
nyakan ulama madzhab Syafi'i adalah khuf wajib dicuci dan bagian yang tertutup pu-
tersebut dapat digunakan untuk berjalan bo- la hukumnya adalah diusap. Oleh karena
lak-balik untuk melakukan keperluan mereka, menggabungkan kedua hukum tersebut
dalam masa sehari semalam untuk orang tidak boleh, maka diutamakan hukum
yang bermukim dan bagi orang yang musafir
dalam masa tiga hari tiga malam, yaitu masa membasuh. Dengan kata lain, anggota yang
bermusafir yang pendek, karena setelah itu
semuanya wajib membuka khuf. tampak hukumnya harus dibasuh dan
yang anggota yang tertutup harus diba-
Sehubungan dengan masalah ini, ulama
suh. Hingga apabila berkumpul dua bagian
madzhab Hambali mempunyai pendapat yang ini, maka diutamakan hukum membasuh
tersendiri. Mereka berpendapat, yang pasti, seperti jika terbuka salah satu kakinya.
khultersebut dapat digunakan untuk berjalan
Ulama madzhab Maliki dan Hanafi
menurut kebiasaan, sekalipun ia tidak biasa secara istihsan dan untuk tujuan meng-
digunakan. Mereka berpendapat boleh me- hindari kesukaran, membolehkan meng-
ngusap khuf yang dibuat dari kulit, bulu yang usap khuf yang terdapat robek sedikit,

dianyam dan ditenun, kayu, kaca, besi, dan se- karena kebiasaannya khuf selalu terdapat
robek sedikit. Oleh sebab itu, perlu diberi
bagainya. Karena, semua itu merupakan khuf kebenaran untuk mengelakkan kesukar-
yang menutupi dan boleh digunakan untuk an tersebut. Adapun robek yang besar;
maka ia tetap menghalang dari keboleh-
berjalan. Selain itu, karena ia menyerupai an mengusap. Menurut ulama madzhab
Maliki, robek besar ini adalah yang tidak
kulit, dengan syarat semuanya tidak longgar boleh dipakai lagi untuk meneruskan per-
sehingga memperlihatkan bagian yang wajib jalanan. Yaitu, robek yang kira-kira satu
pertiga kaki, baik itu ia terbuka ataupun
dibasuh. Syarat ini menyerupai pendapat bertaut di antara satu dengan lain, seper-
ti teriris ataq terputus jahitannya, sedang-
ulama madzhab Hanafi dan Maliki. kan kedudukan kulit masih bertaut rapat.

Syarat-syarat yang tidak disepakati fuqaha fika robek tersebut kurang dari satu
Terdapat beberapa syarat yang tidak di-
pertiga kaki, maka ia juga dihitung tidak
sepakati dan ditetapkan dalam beberapa ma- boleh, seandainya terbuka hingga tampak
dzhab, di antaranya adalah:
kaki. fika ia bertaut rapat, maka tidak
1. Hendaklah khuf itu sempurna dan tidak

ada yang robek. Syarat ini merupakan ke-
san dari syarat ketiga yang diterima oleh
semua madzhab. Hanya mereka berbeda


Click to View FlipBook Version