Isr.-AM IrrrD 1
dibuat oleh ulama Madzhab Hanafi bertujuan Pentlngnya Thaharah
supaya hukum-hukum berikut dapat tercakup,
yaitu tayamum, mandi sunnah, memperbarui Thaharah amat penting dalam Islam baik
wudhu, membasuh yang kedua dan ketiga da-
lam hadats dan naiis, mengusap telinga, berku- thaharah haqiqi,yaitu suci pakaian, badan, dan
mux, dan kesunnahan thaharah, thaharah wa- tempat shalat dari najis; ataupun thaharah
nita mustahadhah, dan orang yang mengidap hukmi, yaitu suci anggota wudhu dari hadats,
kencing berterusan. dan suci seluruh anggota zahir dari ianabah
(junub); sebab ia menjadi syarat yang tetap
Definisi yang dibuat oleh ulama Madzhab bagi sahnya shalat yang dilakukan sebanyak
Maliki dan Hambalizaa adalah sama dengan
definisi ulama Madzhab Hanafi. Mereka me- Iima kali dalam sehari. Oleh karena shalat
ngatakan bahwa thaharah adalah menghilang- adalah untuk menghadap Allah SWT, maka
kan apa yang menghalangi shalat, yaitu hadats
atau najis dengan menggunakan air ataupun menunaikannya dalam keadaan suci adalah
menghilangkan hukumnya dengan tanah. untuk mengagungkan kebesaran Allah SWT.
Meskipun hadats dan ianabah bukanlah najis
lenls Thaharah yang dapat dilihat, tetapi ia tetap merupakan
Dari definisi di atas, maka thah arah da- najis ma'nawi yang menyebabkan tempat
yang terkena olehnya menjadi kotor. Oleh se-
pat dibagai menjadi dua ienis, yaitu thaharah
hadats (menyucikan hadats) dan thaharah bab itu, apabila ia ada, maka ia menyebabkan
khabats [menyucikan kotoran). cacatnya kehormatan dan iuga berlawanan
dengan prinsip kebersihan. Untuk menyuci-
Menyucikan hadats adalah khusus pada kannya, maka perlu mandi. ladi, thaharah da-
badan. Adapun menyucikan kotoran adalah pat menyucikan rohani dan jasmani sekaligus.
merangkumi badan, pakaian, dan tempat. Me-
nyucikan hadats terbagi kepada tiga macam, Islam sangat memerhatikan supaya pe-
yaitu hadats besar dengan cara mandi, me- nganutnya senantiasa bersih dalam dua sisi;
nyucikan hadats kecil dengan cara wudhu, maddi (lahiriah) dan ma'nawf (rohani).zas Hal
dan ketiga adalah bersuci sebagai ganti kedua ini membuktikan bahwa Islam sangat memen-
tingkan kebersihan, dan juga membuktikan
jenis cara bersuci di atas, apabila memang bahwa Islam adalah contoh tertinggi bagi ke-
indahan, penjagaan kesehatan, dan pembina-
tidak dapat dilakukan karena ada udzu4 yaitu an tubuh dalam bentukyang paling sempurna,
tayamum. Menyucikan kotoran (khabats) iuga juga meniaga lingkungan dan masyarakat su-
dapat dilakukan dengan tiga cara yaitu mem- paya tidak meniadi lemah dan berpenyakit.
basuh, mengusap, dan memercikkan. Karena, membasuh anggota lahir yang terbuka
dan bisa terkena debu, tanah dan kuman-
Oleh sebab rtu, thaharah mencakup wu- kuman setiap hari serta membasuh badan dan
dhu, mandi, menghilangkan najis, tayamum, mandi setiap kali berjunub, akan menyebab-
dan perkara-perkara yang berkaitan dengan- kan badan menjadi bersih dari kotoran.
nya.
24+ Asy-Syarhush Shaghir,lilid 1, hlm. 25; asy'syarhul Kabrr, Jilid I, hlm. 30; al-Mughni.Jilid l. hlm. 6.
245 Thaharah lahiriah tidak berfaedah jika tidak disertai dengan thaharah batiniah. Yaitu ikhlas kepada Allah, tidak menipu, tidak
berkhianat, tidak dengki, dan tidak menggantungkan hati kepada selain Allah'
FIQIH ISLAM IILID 1 Baglan 1: IBADAH
Menurut kedokteran, cara yang paling 2. SYARAT.SYARAT WAIIB THAHARAH
baik untuk mengobati penyakit berjangkit
dan penyakit-penyakit lain ialah dengan cara Apabila badan, pakaian, ataupun suatu
menjaga kebersihan. Menjaga kebersihan tempat terkena najis, maka ia wajib dibersih-
adalah suatu Iangkah untuk mengantisipasi kan berdasarkan firman Allah SWT,
diri dari terkena penyakit. Sesungguhnya "Dan bersihkanlah pakoianmu." (al-Mud-
datstsir:4)
antisipasi lebih baik daripada mengobati.
Begitu juga firman Allah SWT,
Allah SWT memuji orang yang suka ber-
suci (mutathahhirin) berdasarkan firman-Nya,
"... Sungguh, Allah menyukai orang yang "... Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-
tobat dan menyukai orang yang menyucikan orong yong tawaf, orqng yang itikaf, orqng yang
d i r i. " (al-Baqar ahz 222) ruku' dan orang yang sujudl." (al-Baqarah:
Allah SWT memuji ahli Masjid Quba' t2s)
dengan firman-Nya, fika pakaian dan tempat wajib dibersih-
"... Di dalamnya ada orang-orang yang kan, maka membersihkan badan adalah lebih
ingin membersihkan diri. Allah menyukai utama. Karena, ia lebih diutamakan bagi orang
yang hendak shalat.
orang-orang yang bersih." (at-Taubah: 108)
Siapa yang wajib melakukan shalat, maka
Seorang Muslim hendaklah menjadi contoh ia wajib melakukan thaharah. Kewajiban ini
bergantung kepada sepuluh syarat, yaitu:za7
bagi orang lain dalam soal kebersihan dan
kesucian, baik dari segi Iahir maupun batin. 1. lslam
Rasulullah saw. bersabda kepada sekelompok Ada pendapat yang mengatakan bahwa
sahabatnya, syarat pertama ialah sampainya dakwah Islam
EGt'+G &,';1L *'or,,6 &l kepada orang yang bersangkutan. Berdasarkan
pendapat ini, maka thaharah tidak wajib bagi
€.L* #G GF e &g'*i,
orang kafir. Namun berdasarkan pendapat
;l.3lltj ;;ar i; y'ar if ,6r yang kedua, orang kafir juga wajib melaku-
kan thaharah. Perbedaan pendapat ini terjadi
'Apabila kamu datang * ,"^Oor roud'rro- akibat dari perbedaan pendapat mengenai
prinsip ushul, yaitu apakah orang kafir dipe-
saudara kamu, hendaklah kamu perindah atau rintahkan melakukan hukum-hukum cabang
perbaiki kendaraan dan pakaian kamu, sehing-
ga kamu menjadi perhatian di antora manusia. syariah atau tidak. Jumhur ulama mengata.kan
Karena, Allah tidak suka perbuatan keji dan
juga keadaan yang tidak teratur.'2a6 bahwa orang kafir diperintahkan melakukan
hukum-hukum cabang ibadah. Ini artinya me-
reka akan dihukum di akhirat dengan hukum-
an tambahan selain hukuman meninggalkan
keimanan kepada Allah.
246 Hadits ini diriwayatkan oleh lmam Ahmad dalam musnadnya. iuga diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud, al-Hakim dan al-Baihaqi
dan Sahal bin al-Hanzaliyah. Ini adalah Hadits sahih.
247 lbnu f azi al-Maliki, al-Qawanin al-Fiqhiyyah, hlm. 19 dan seterusnya.
Baglan 1: IBADAH FIQIH ISLAM )ILID 1
OIeh sebab itu, mereka akan menghadapi tahun, hendaklah mereka disuruh melakukan
dua hukuman, yaitu hukuman karena tidak thaharah. Apabila umur mereka mencapai 10
beriman dan juga hukuman karena meninggal- tahun, hendaklah mereka dipukul jika tidak
kan hukum-hukum cabang agama. Madzhab
Hanafi mengatakan bahwa orang kafir tidak mau ber-thaharah. Apabila seorang anak
diperintahkan melakukan hukum-hukum ca-
bang syariat. Oleh sebab itu, di akhirat nanti sedang mendirikan shalat kemudian dia men-
mereka hanya dikenakan satu hukuman, yaitu
hukuman karena meninggalkan keimanan. jadi baligh dalam waktu shalat yang masih
fadi, perbedaan pendapat ini adalah mengenai tersisa atau dalam masa shalat itu, maka
hukuman di akhirat. Namun, kedua belah pi- menurut ulama Madzhab Maliki dia harus
mengulangi thaharah dan shalatnya. Tetapi
hak sependapat untuk mengatakan bahwa menurut Imam Syafi'i, anak tersebut tidak
pertikaian pendapat mereka tidak menim-
bulkan pengaruh apa pun mengenai hukum- diwajibkan thaharah.
hukum di dunia. Oleh sebab itu, orang kafir
4. Berhentlnya Darah Haid dan NIfas
selagi mereka kafir; mereka tidak sah menun- 5. Masuknya Waktu
aikan ibadah. fika mereka masuk Islam, maka 6. Tidak Tidur
mereka tidak dituntut melakukan qadha. Ber- 7. Tidak Lupa
dasarkan ketetapan ini, maka tidak sah shalat 8. Tidak Dipaksa
yang dilakukan oleh orang yang kafir. Hal ini
disepakati oleh seluruh ulama (ijma). Menurut ijma ulama, orang yang tertidur,
orang yang terlupa, dan orang yang dipaksa,
fika seorang murtad kembali menganut harus mengqadha shalat yang terlewat.
Islam, maka dia tidak perlu mengqadha shalat- 9. Ada Air atau D,ebu yang Suci
shalat yang ditinggalkannya semasa murtad.
Apabila kedua benda ini tidak ada, maka
Ini adalah menurut pendapat jumhur. Tetapi
menurut ulama Syafi'i, ia wajib melakukan seseorang itu harus mendirikan shalat dan
mengqadhanya setelah mendapati air atau
qadha.
debu. Ada pendapat yang mengatakan bahwa
2. Berakal ia tidak perlu mengqadha, dan ada pula pen-
dapat yang mengatakan bahwa ia tidak perlu
Thaharah tidak diwajibkan bagi orang gila
shalat, tetapi wajib mengqadhanya. Perkara
dan orang yang pingsan, kecuali jika mereka ini akan dibincangkan secara terperinci dalam
sudah siuman ketika waktu (shalat) masih
ada. Adapun orangyang mabuk, tetap diwajib- pembahasan mengenai tayamum.
kanberthaharoh.
10. Mampu Melakukan Thaharah Sesuai
3. Baligh
Kemampuan
Tanda baligh ada lima, yaitu mimpi,
Thaharah adalah wajib menurut syara'.
tumbuh bulu, datang haid, mengandung, dan Kewajibannya ditetapkan menurut dalil qath'i
mencapai umur 15 tahun. Ada pendapat yang yang telah disepakati ulama. Perkara yang di-
mengatakan 17 tahun. Abu Hanifah menga- wajibkan adalah wudhu, mandi junub, mandi
karena menyucikan diri dari haid, dan mandi
takan umur baligh adalah 18 tahun. Oleh nifas dengan air. Jika air tidak ada atau apabila
sebab itu, anak-anak tidak wajib thaharah.
Apabila anak-anak itu telah sampai umurtujuh
FIQIH ISTAM JITID 1
tidak dapat menggunakan ai4 hendaklah di- AUT.ALAT BERSUC' MENURW MADZHAB
ganti dengan tayamum dan diwajibkan juga
menghilangkan najis. HANAFP4g
Para ahli fiqih sepakat mengatakan boleh 1. Alr Mutlak Meskipun Air Musta'mal
bersuci dengan menggunakan air yang me- Dengan menggunakan ain maka akan di-
hasilkan dua thaharah, yaitu thaharoh haqiqi
nyucikan atau air yang mutlak, yaitu air yang dan hukmi (hadats dan janobahJ. Contohnya
disebut sebagai "air" saja tanpa disertai dengan
sifat apa pun seperti air musta'mal (yang telah ialah menggunakan air hujan, air laut, air
digunakan) atau disertai sandaran apa pun
seperti air mawar. Allah SWT berfirman, sumu4 air dari mata ai4 dan air yang tertam-
pung di bagian lembah. Allah SWT menama-
ffiigriJ,Xrva\CujV kan jenis air ini sebagai air yang menyucikan
(thahur), sebagaimana disebut dalam firman-
"...dan Kami turunkan dari langit air yang
sangat bersih." (al-Furqaan: 48) Nya,
"...dan Kami turunkan dari langit air yang
sangat bersih." (al-Furqaan: 48)
Demikian juga firman Allah SWT, Rasulullah saw juga bersabda,
"...dan Allah menurunkan air (hujan) dan 9: e at Y'tYry'qv;rlr i1
langit kepodamu untuk menyucikan kamu
dengan (hujan) ittt...." (al-Anfaal: 11) {}i ";b)
Para ahli fiqih juga sepakat untuk me- 'Air yang suci tidak dapar' ,,rrirrUo,
ngatakan boleh bersuci dengan cara meng-
oleh apa pun, kecuali ia berubah warna, rasa,
usap dengan kertas atau dengan batu dalam
kasus istinja'.lni artinya boleh menggunakan ataupun baunya.'2ae
kertas atau batu untuk menghilangkan najis
kencing dan berak, dengan syarat air kencing Kalimah ath-thahur artinya suci pada di-
rinya dan dia dapat menyucikan untuk yang
atau tahi itu tidak mengotori daerah sekitar lain.
tempat keluarnya. Para ahli fiqih juga sepakat 2. Benda GairyangSucl
mengatakan bahwa bersuci dengan debu di-
anggap sebagai suci dari segi hukumnya saja Cairan yang suci ialah cairan yang meng-
(taharah hukmiyyah). Mereka juga sepakat
mengatakan bahwa arak akan menjadi suci alir apabila diperah. Ia dapat menghilang-
dengan cara tertentu, sehingga ia berubah kan najis. Ulama Hanafi dan juga para ulama
menjadi cuka. _y-a-n-g lain sepakat mengatakan bahwa cairan
Namun, para ahli fiqih berbeda pendapat suci tidak dapat menghilangkan
yang
mengenai alat-alat bersuci lainnya. Berikut ini
adalah pendapat-pendapat mereka. hukmi fyaitu hadats-hadats yang dapat hilang
dengan wudhu dan mandi). Sebab, hadats
hukmi hanya dapat dihilangkan dengan air. Hal
Al-Bada'i', Iilid I, hlm. 83-87; Fathul Qadir. f ilid I, hlm. 133 - 136,ad-Durrul Mukhtar. Jilid I, hlm. 284 - 303;Tabyinul Haqo'iq. filid L
hlm. 69 dan seterusnya; al-Lubab Syarhul Kitab,lilid I, hlm. 24 dan hlm. 3O; Muraqi al-Falah,hlm.26 - 27.
249 Hadits dengan lafaz seperti ini adalah dianggap sebagai hadits gharib. Ibnu Maiah meriwayatkan dari Abu Umamah, "Sesungguh-
nya air adalah suci kecuali yang berubah bau, rasa, dan warnanya." (Nashbur Rayah lilid l, hlm. 94) Hadits ini dhaif.
FIqLH ISTAM IITID 1
ini ditetapkan oleh nash Al-Qur'an. Penggu- Muhammad al-Hasan, Zufal dan ulama
naan air untuk menghilangkan hadats hukmi
selain ulama Hanafi tidak membenarkan peng-
merupakan kemudahan bagi manusia. gunaan cairan untuk menghilangkan naiis.2s1
?enggunaan cairan Yang suci dapat -Hr-iniTEebabkan sifat air yang menyuci-
, _badanl menurut Abu Hanifah dan Abu Yusuf. kan ditetapkan oleh syarai dan syara'hanya
mengakui bersuci dengan air dan tidak dengan
Pendapat ini adalah pendapat yang difatwa- selainnya. Oleh sebab itu, bahan-bahan yang
lain tidak boleh disamakan dengannya'
kan. Contoh-contoh cairan yang suci ialah air
mawa4 air bunga, cuka, air tumbuh-tumbuh- Boleh bersuci dengan air yang bercampur
an, air buah-buahan, air kacang yang jika di- dengan sedikit bahan yang suci yang mengubah
rebus dia mencair dan apabila didinginkan ia salah satu sifat air itu,zs2 seperti air keruh dan
akan menjadi beku,zso dan air dari bahan apa air yang bercampur dengan sabun, bercampur
pun yang jika diperah akan mengeluarkan air; dengan bahan penyuci lain atau kunyit, selagi
termasuk juga keringat yang dapat member- air itu masih halus dan mengalir' Karena mes-
sihkan jari. )ika puting susu seorang ibu men-
jadi najis karena muntahan anaknya, maka ia kipun sudah bercampur aic benda itu masih
menjadi suci atau bersih dengan cara anaknya dinamakan air. Ini disebabkan adanya kesu-
litan untuk mengawasi bahan-bahan seperti
itu menghisap susunya tiga kali hisap. Mulut tanah, daun, dan pohon supaya tidak bercam-
pur dengan air. f ika air itu menjadi padat, yaitu
seorang peminum arak menjadi bersih apabila apabila campuran tanah lebih banyak dari-
bertukar dengan air liur. pada air atau jika ia bercampur dengan sabun,
Apabila bahan itu tidak mengalir seper- dan sabun atau bahan pencuci itu lebih banyak
ataupun jika bercampur dengan kunyit dan ia
ti madu, minyak sapi, lemak, minyah susu, berubah menjadi pewarna kain, maka tidak
walaupun susu yang dimasamkan, sup dan boleh bersuci dengannya.
sebagainya, maka semua bahan ini tidak dapat
digunakan untuk bersuci. Sebab, bahan-bahan 3. Menggosok (a&Dalkl
ini tidak dapat menghilangkan najis. Karena,
menghilangkan najis hanya dapat dilakukan Menggosok ialah mengusap bagian yang
dengan cara mengeluarkan bagian-bagian terkena najis dengan tanah secara kuat,
hingga bekas atau zat naiis itu hilang. Sama
yang najis bersama-sama dengan bahan yang
menghilangkannya sedikit demi sedikit. Hal dengan ad-dalk ialah al-hat, yaitu mengeruk
dengan kayu atau tangan. Mengosok dapat
ini hanya dapat dilakukan oleh bahan yang menghilangkan najis yang beriirim yang me-
ngenai sandal baik najis itu kering ataupun
mengalir apabila diperah. Cairan sepefti ini basah. Maksud beriirim ialah sesuatu yang
sama seperti air yang dapat menghilangkan masih dapat dilihat sesudah kering seperti
bagian-bagian najis, sebab cairan yang meng- tahi, darah, mani, air kencing, dan arak yang
alir bersifat halus dan dapat meresap ke da- terkena tanah. Perlu diperhatikan juga, naiis
lam bagian-bagian najis. Ia juga dapat meng- berjirim adalah mencakup naiis yang basah
hilangkannya, kemudian naiis itu dapat dike-
luarkan dengan cara perlahan.
250 fika air berubah tanpa direbus, maka boleh berwudhu dengannya.
2s1 Al-gawanin al-Fiqhiyyah,hlm.35: Bidayatul Mujtahid,lilid I, hlm. 80; al-Mughni,ltlid I, hlm. 11.; Mughnil Muhtaj,lilid I, hlm. 17.
2s2 ;ik" i, mengubah dua atau tiga sifat air tersebut, maka tidak boleh berwudhu dengannya. Tetapi menurut pendapat yang shahih,
boleh berwudhu dengannya meskipun bahan iul rnengubah seluruh sifat air terselut
-
FIQIH ISI.AM IITID 1
juga. Pendapat ini dianggap sebagai pendapat bahwa ia boleh digosokkan jika najis itu sedi- L
yang ashah dan terpilih, serta difatwakan. kit. Tetapi jika banyak, maka harus dibasuh.2ss ,1
N
Alasan dibolehkannya najis yang terkena
II
sandal itu digosok ialah karena kejadian ini 4. Mengusap yang Dapat Menghilangkan
sering terjadi ('umum al-balwa) dan juga {
Bekas Naiis I
terdapat Hadits Nabi Muhammad saw., Cara ini dapat membersihkan benda-ben- l
'Apabila salah seorang kamu datang ke dalalslicinsepertimatapedang'cermin'kaca' f
*masiid, hendaklah di barik sandarnya trorl,,
dapatmelihat apakah ada kotoran at;;i,iri. *-"-"n yang dilumuri minyak' kuku' tulang' I
Jika dia mendapati ada kotora", h;;,;o;loo
diusap (digosok) dengan tanah kemudiatn -d'-i-ia permukaan barang dari perak' dan lain-lain' t
l
barubolehsholotdengansandalisu.,our'---" u:l""a semua barang itu tidak akan diserap
I
nalis' Najis yang terdapat di permukaan I
b3alerhang-barang ini dapat dihilangkan dengan L
cara mengusapnya. Diriwayatkan bahwa para
Apabila najis itu bukan najis yang berjirim' sahabat Rasulullah saw membunuh orang ka-
fir dengan pedang mereka. Kemudian mereka
maka wajib dibasuh dengan air sebanyak:tg: mengusap pedangnya dan merakukan sharat
a"rg""n pedang itu. Berdasarkan hal ini, maka
kali' walaupun setelah ia kering' setiap kali
abiarstuehteasna,nnhyeandbaekrlhaehntdi' ibdaianrkhainnggdaulnuaj.ishyinagngg, .rtJplah mengusap tempat yang dibekam
masih basah itu hilang dari khuf. Tetapi, tidak
disyaratkan keringnya khulterlebih dahulu. aengan tiga potong kain yang bersih yang di-
brrJhkun.
._Kebanyakan ulama mengatakan bahwa
ulama madzhab rvr{r<i__uqrpg!4grg!
sandal akan menjadi suci dengan cara rneng
,,
sPNo-sao'-mk"k"au-n"nn"v,'a-ia:k'-teidt-aa--n-ka--ah-,ki-i-ka-a-nn-m-a-,i-ies- ni-t-uj-ak^devirrsin1us1.c1i6ji'kdaenngaanjiscaitrua ,mengusap naiis yang ada pada
ybaasnagh'skuadraehnakeArisinygahdmarei npgakgaoiasnokR-gaosruolku.Tllallih-r,"ap"rtipedangsanedbaabl,kadnainukshaukfn2ysa6 barang itu
saw.. fika mani itu basah, beliau membasuh kain
tersebut'2s.4-lmam asy-Syafi'i dan Mullapmad 5. Mengeringkan dengan cahaya Matahari
ibnul Hasan mensatakan bahwa sandal yang atau Udara dan Bekas Nafls itu Menjadl
Hitang
samaKarena, najis meresap ke dalam sandal Cara ini dapat digunakan untuk member-
sihkan tanah dan semua benda yang melekat
seperti meresapnya ke dalam pakaian dan pada tanah seperti pohon, rumput, dan batu
badan' Ulama Madzhab Hambali mengatakan yang menghampar yang akan digunakan un-
253 Diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Abu Dawud, al-Hakim, dan Ibnu Hibban dari Abu Sa'id al-Khudri. Mereka berselisih pendapat 1
apakah hadits ini moushul atau mursol Abu Hatim meraiihkan dalam Kitab al-'llatbahwa hadits ini adalah hadits maushul (Nailul
Auth ar lilid I, hlm. 44). I
254 Diriwayatkan oleh ad-Daruquthni dan al-Bazzar dalam musnadnya, dari Aisyah. Hadits ini tidak disandarkan kepada Aisyah ke- .t
cuali oleh Abdullah ibnuz Zubair. Perawi-perawi lain meriwayatkannya secara mursal. Rasulullah bersabda kepada Aisyah tentang ,i
mani," Basuhlah iika ia basah, dan koreklah jika io kering!' Namun, hadits ini adalah hadits gharib dan tidak diketahui (sumbernya). 't
(Nashbur Rayah, Jilid I, hlm. 209).
255 Nailul Authar,Jilid l, hlm. 44; al-Qawanin ai-Fiqhiyyah,hlm.24; Kasysyaful Qino',Jilid, t, hlm. 21.8; al-Mughni,lilid il, hlm. 83.
256 Al-Qawanin al-Fiqhiyyah, hlm. 34 - 35.
Baglan 1: IBADAH IsrAM )rrrD 1
tuk shalat, bukan untuk bertayamum. Tetapi, ProsesPengeringl@
hal ini berbeda dengan hamparan permadani,
tikar; pakaian, tubuh, dan setiap benda yang -atau uaari). finah yang terkena najis harus
dapat dipindah. Benda-benda yang dapat di-
pindah jika terkena najis harus dibasuh untuk dibasuh dengan air. Oleh sebab itu, jika tanah,
membersihkannya. kolam, sumu[ tempat tampungan air dan lain-
lain terkena najis (mutanajjis), maka ia dapat
Tanah yang terkena naiis dapat menjadi disucikan dengan cara memperbanyak curah-
bersih atau suci dengan cara dikeringkan (di an ai4 baik dengan air hujan ataupun lainnya.
bawah terik matahari atau udara). Hal ini ber- Sehingga, hilanglah zat najis itu, seperti yang
dasarkan kepada kaidah yang artinya, "Bersih- diterangkan dalam hadits mengenai seorang
nya tanah ialah dengan cara mengeringkan- Arab badui yang kencing di dalam masjid Nabi
nya:'zs7 fuga, hal ini berdasarkan hadits riwayat Muhammad saw.. Lalu Rasul menyuruh supaya
Ibnu Umar; disiramkan air ke atasnya.2se
'Aku sering tidur di masjid Rasulullah saw. 6. Pakaian Panlang yang Dapakai
ketika aku masih muda dan belum berumah
tangga. Aku sering melihat anjing kencing dan Menyentuh Tanah yang Naiis dan
berkeliaran dalam masjid. Tetapi, tidak ada Kemudian Menyentuh Tanah yang Suci
siapa pun yang memercikkan air padanya."2s8 secara Berulang Kall
Sebab, dibedakannya antara shalat dan Kejadian ini dapat menyucikan pakaian
tayamum dalam kasus di atas adalah yang di-
tuntut bagi sahnya shalat adalah suci (thaha- itu, sebab tanah dapat saling membersihkan
rahJ. Sedangkan yang dituntut untuk sahnya antara satu dengan yang lainnya. Hal ini ber-
tayamum adalah, sifat menyucikan (thahu- dasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Ummu
ruyyah). Tanah yang terkena najis apabila ke- Salamah, "Saya adalah perempuan yang sering
ring karena pancaran matahari hanya meng- memanjangkan pakaian. Saya sering berjalan
hasilkan sifat thaharah fsuci) bukan sifat
thahuriyyah (menyucikan). Sesuatu yang suci di tempat yang kotor." Lalu Rasulullah saw,
tidak mesti menyucikan. Sedangkan yang men-
jadi syarat dalam tayamum ialah, tanah yang berkata kepadanya, "la dapatdibersihkan oleh
menyucikan (thahuriyyah at-turob) sama se- (tan ah) yang b erikutny a !' 260
perti syarat air yang menyucikan (thahuriyyah
al-ma') dalam wudhu. Ulama madzhab Maliki dan Hambali se-
Ulama selain madzhab Hanafi mengata- .
pekaldengan ulama madzhab Hanafi tentans
nya bersih jika kain itu menventuh najis vang
membatasi apabila najis itu sedikit. ]ika najis
itu banyak, maka kain itu harus dibasuh.261
2s7 Hrdit. ini tidak ada asalnya sebagai hadits morfuiUlama madzhab Hanafi menggunakan Hadits ini. Ia diriwayatkan dari Abu Ja'far
Muhammad al-Baqir,z sna al-Mathalib karya al-Bairuti, hlm. 112.
zs8 Riwayat Abu Dawud, Ma'alim as-Sunan oleh al-Khaththabi, Jilid l, hlm. 117 dan seterusnya.
2s9 Diriwayatkan oleh al-famaah dari Abu Hurairah kecuali Muslim yaitu, "seorang Arab badui berdiri lalu kencing dalam masjid. Lan-
tas orang-orang berdiri dan hendak memukulnya, tetapi dihalangi oleh Nabi Muhammad saw dengan sabdanya,'Biarkan dia dan
curahkan setimba air ke atas air kencingnya. Sesungguhnya komu diutus untuk memberi kemudahan, bukan untuk memberi kesusah-
an;" (Nailul Authar, Jilid I, hlm.41 dan seterusnya)
260 Diriwayat oleh Abu Dawud.
261 Khaththabi,Ma'alimas-Sunan, filid I, hlm. l.1B; al-Qawanin al-Fiqhiyah,hlm.35; Ihsysyaful Qinai lilid I, hlm. 218.
-]
IsrAM rrrrD 1 jika ia kering. Dan saya membasuhnya, jika ia #:rti
basah."263 Oleh sebab itu, mengeruk (al-farku) &
7. Mengeruk (al-Farku) dan menggosok fad-dalku) dapat dikatakan *
Cara ini dapat membersihkan air mani ,d
sebagai hal yang sama.26a {
manusia yang mengenai pakaian kemudian 4
kering. fika bekasnya masih ada setelah dike- Ulama Maliki sepakat dengan ulama
ruh maka ia tetap bersih sama seperti bekas 4I
yang masih ada selepas dibasuh. Syaratnya Hanafi me
ialah kepala kemaluan yang dilalui oleh air
mani tersebut adalah suci. Umpamanya ke- dan Hambali meneatakan bahwa mani ma-
nusia adalah suci berdasarkan hadtls-Jang
lamin itu sebelumnya disucikan (dibasuh)
@as mengatakan, "Usap-
dengan aix, bukan disucikan secara istinjo'
dengan kertas atau batu. Sebab, batu dan se- lah dengan idzkhirah (sejenis rumput yang
macamnya tidak dapat menghilangkan ken-
cing yang menyebar di atas kepala kemaluan berbau) atau dengan sepotong kain, karena ia
itu. fika air kencing tidak menyebar dan mani
tidak melewati di atas kepala kemaluan, maka adalah sama seperti ingus dan ludah."26s
mani yang terkena pakaian dan sudah kering
Sebab terjadinya perbedaan pendapat ini
itu dapat dibersihkan dengan cara menge- ada dua. Pertoma, hadits riwayat Aisyah tidak
sama. Satu riwayat dikatakan bahwa ia mem-
ruknya. Karena, mani itu tidak dianggap na- basuhnya, tetapi pada hadits lain yang diri-
jis sebab melewati air kencing yang ada pada wayatkan bahwa dia mengeruknya. Kedua,ka'
rena di satu sisi mani menyerupai hadats yang
bagian dalam kemaluan. keluar dari badan, dan di sisi lain ia menyeru-
pai unsur-unsur lebihan yang suci seperti susu
Hukum ini berlaku bagi air mani lelaki
dan Iain-lain.
dan juga air mani perempuan. lika air mani itu
masih basah atau air mani itu ialah air mani Saya lebih condong kepada pendapat yang
binatang ataupun air mani manusia, namun
keluarnya adalah dari kemaluan yang ken- mengatakan bahwa air mani adalah suci, ka-
cingnya dibersihkan dengan kertas, batu atau
seumpamanya, maka air mani itu tidak men- rena pendapat ini memberi kemudahan ke-
jadi suci dengan cara mengeruknya. la harus
pada banyak orang. Pakaian yang terkena air
dibasuh. Hal ini berdasarkan hadits Aisyah mani patut dibasuh bukan karena naiis, te-
tapi karena kotor berdasarkan hadits Aisyah
yang menceritakan bahwa dia membasuh kain yang pertama, yang mengatakan bahwa cukup
Rasulullah saw. yang terkena mani.262 dengan mengeruk air mani. Meskipun dalil ini
sesuai untuk menjadi hujjah kepada ulama
Dalam Hadits riwayat Imam ad-Daru-
quthni dari Aisyah juga disebutkan, "Saya Hanafi, bahwa najis dapat dihilangkan dengan
mengeruk mani dari pakaian Rasulullah saw.
bahan selain air.266
262 Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim. Ibnul fauzi mengatakan, hadits ini tidak boleh dijadikan huiiah. Sebab, Siti Aisyah mem-
basuhnya atas dasar kotorl bukan karena najis (NashburRayah,lilid I, hlm. 209 - 210).
263 Telah ditakhrij sebelum ini. Seperti yang kita ketahui bahwa hadits yang menyuruh supaya mani yang basah dibasuh dan mani
yang kering supaya dikore[ merupakan hadits yang ghorib. Al-Baihaqi mengatakan dua hadits itu tidak bertentangan (Nashbur
Rayah, Ibid.).
Al-Qawanin al-Fiqhiyyah, hlm. 34; Bidayatul Mujtahid,lilid I, hlm. 79; Mughnil Muhtai, Jilid I, hlm. 80i Kasysyaful Qina', Jilid I, hlm.
224.
265 Diriwayatkan oleh Sa'id bin Manshur dan ad-Daruquthni secara marfu'.
266 Al-Majmu',lilid ll, hlm. 560; Bidayotul Mujtahrfl lilid I, hlm. 79,,lVailul Author,Jilid I, blm. 55.
Bagan 1: IBADAH Isr-A.M JrLrD 1
8. Mengusap (anNadful air ke atasnya, sehingga banjir dan kemudian
Kapas dapat membersihkan najis apabila dialirkan. fika barang itu adalah barang yang
dimasak seperti daging gandum, dan ayam,
diusapkan. Bekas najis akan hilang jika najis
maka ia menjadi suci dengan cara memba-
itu sedikit.
suhnya dalam keadaan mentah. Tetapi, ia ti-
9. Menylngffirkan (at-Taqwlfl dak dapat menjadi suci jika ia terkena najis
Menyingkirkan maksudnya adalah me- kemudian dimasak dengan api bersama-sama
nyingkirkan bagian yang terkena najis dari
bagian yang tidak terkena najis. Cara ini da- dengan najis itu. Sebab, najis sudah meresap
pat membersihkan minyak beku yang terkena
najis, seperti minyak samin dan yang sema- ke dalam bagian barang itu. Berdasarkan ke-
camnya. Hal ini berdasarkan hadits Maimu- tetapan ini, maka jika kepala binatang direbus
nah, istri Rasulullah saw. yang mengatakan,
bersama daging dan usus besar sebelum di-
bahwa seekor tikus telah jatuh ke dalam mi-
nyak samin lalu mati. Kemudian Rasulullah basuh dan dibersihkan, maka ia tidak akan
saw. ditanya tentang hal itu. Beliau menjawab,
suci. fika ayam direbus untuk memudahkan
"Buanglah tikus itu dan juga minyak samin
mencabuti bulunya sebelum perutnya dibedah
yang ada di sekelilingnya. Adapun sisanya bo-
leh dimakan.il267 Hal ini disepakati oleh semua [dan dikeluarkan najisnya), maka ia tidak
ulama. |ika minyak samin itu beku, maka najis
itu dibuang dan juga minyak yang ada di de- akan suci sama sekali.
katnya. - Ulama Madzhab Maliki dan Hambali se-
_ pslaapataenean utama M
Jika najis itu jatuh ke dalam cairan se- -- dagingyangdirebus bersama dengan najis tidak
perti minyak dan minyak samin yang mencai4 akan suci. Ulama Mad
maka menurut Tumhur ulama ia adalah na- g:le1ilqrlagi bahlvq=lglglyang direbus dengan najis,
jis.268 Menurut ulama Hanafi, cairan itu boleh
menjadi suci dengan cara menuangkan air ke luah iaitulyg"g di-rtrk d"rg", .
atasnya sebanyak tiga kali, ataupun dengan
cara meratakannya ke dalam bejana yang ia
berlubang. Kemudian dituangkan air ke atas-
nya. Minyak itu akan naik ke permukaan, dan tidak dapat disucikan. Tetapi jika najis itu jatuh
hendaklah minyak itu diambil atau dengan
cara membuka lubang bejana itu, supaya air ke dalam daging yang sedang direbus sesudah
dapat mengalir keluar. Memahat (mencong- daging itu masah maka menurut ulama Madz-
kel) adalah sama seperti menyingkirkan.
hab Maliki ia dapat disucikan. Yaitu, dengan
Bahan-bahan yang beku atau keras, dapat
disucikan dengan cara ini. Kecuali jika najis itu cara membasuh air kuah yang menempel pada
meresap ke dalam bagian-bagian bahan itu. daging tersebut. Itu pun dengan syarat najis itu
fika barang yang keras itu ialah bejana, maka
ia dapat disucikan dengan cara menuangkan tidak lama berada di dalamnya.
U_Lama maaznaU Syan'i m
wa barang-br."ng yrng .".b"ku y"n* .alis
m fika
@ najis ataupun jika gan-
dum diresapi najis ataupun pisau direndam
ke dalam air bernajis, maka semuanya boleh
disucikan dengan cara menuangkan atau
mengguyur air ke atasnya. Kecuali, batu bata
yang diadon dengan bahan najis yang beku,
maka ia tidak bisa suci.
267 Riwayat al-Bukhari, Ahmad, dan an-Nasa'i menambahkan, "Pada minyak samin yang beku !' (subulus Salam, filid III, hlm. 8)
268 Al-qawanin at-Fiqhiyyala hlm,35; aLMughni,lilldl, hlm.37; a{y.sya rhul Kabir,lilld l, hlm. 59.
FIqLH ISIAM IITID 1
10. MembaEF Benda yang Terkena Naiis dengan pendapat Abu Yusuf. Karena sesuatu r
Benda yang terkena najis dapat dibagi najis apabila berubah sifatnya, maka dia tidak
menjadi naiis lagi. Karena, najis ialah nama i
dengan cara memisahkan bagian yang terkena bagi sesuatu zat yang bersifat tertentu. OIeh
najis dari bagian yang bersih atau suci. Atau, ]
dengan cara memisahkan barang-barang mitsli sebab itu, ia akan hilang dengan hilangnya I
sifat itu. fadi, hukumnya sama seperti arak !
seperti gandum apabila terkena najis dan yang berubah menjadi cuka. Hukum arak ini
r
membagi-bagikannya kepada para pembeli. disepakati oleh semua madzhab.
i
fika keledai yang menggiling padi atau Arak dan iusa temnatnva meniadi suci I
gandum, kencing di atas padi atau gandum apabila ia herubah meniadi cuka, baik peru-
l
tersebut, kemudian gandum itu dibagi ataupun bahlL itu teriadi sendiri ataupun karena
1
dibasuh sebagiannya ataupun sebagiannya J<e tempat yang bercahava atau sebaliknya,
diberikan kepada seseorang atau dimakan menurut ulama selain Madzhab Hanafi.26e :
1
ataupun dijual, maka sisanya menjadi suci. g 1
Barang yang terkena najis kemudian di-
disebabkan oleh sifat mabuk yang sangat \Ii
berikan kepada orang yang berpendapat bah- kuat telah hilang, sehingga ia tidak mening-
wa barang itu tidak najis, ia dianggap suci. galkan najis._M_enrrrt rlama madzh ,
Cara menyingkirkan najis, memberi dan mem- arak 4reniadi suci iika berubah meniadi cuka.
Tetapi menurut ulama madzhab Syafi'i dan
bagi-bagikan pada hakikatnya tidak diang- Hambali, arak tidak menjadi suci jika proses
menjadi cuka itu melalui pemrosesan seperti
gap sebagai cara menyucikan, tetapi diterima
sebagai cara menyucikan atas dasar untuk memasukkan bawang atau roti panas. Ka-
memberi kemudahan kepada manusia.
rena, bahan yang dimasukkan ke dalam arak
11. lstihalah itu meniadi mutanajjis ketika ia terkena arak.
Istihalah ialah perubahan atau bertukar- Dan selain bahan itu, semuanya najis. Oleh
nya sendiri benda yang najis atau perubahan
melalui sesuatu. Contohnya, darah kijang ber- sebab itu, sesuatu yang najis tidak akan men-
tukar menjadi minyak kasturi, arak berubah
menjadi cuka dengan sendirinya atau melalui jadi suci disebabkan berubah sifatnya atau
sesuatu; seperti bangkai berubah menjadi ga-
ram atau anjing yang terjatuh ke dalam tempat sebab api. Oleh sebab itu, abu tahi yang najis
garam, tahi binatang yang menjadi abu karena yang dibakar tetaplah najis, sabun yang dibuat
terbakar; minyak yang terkena najis kemudian dari minyak yang najis tetap najis, asap dan
dijadikan sabun; seperti tanah pembuangan abu yang naiis tetap najis. Demikian juga uap
dari air najis yang terkena sesuatu tetap najis.
sampah apabila kering dan hilang bekas-
nya, dan seperti najis yang ditanam di dalam Tanah yang bercampur dengan tahi keledai
tanah dan bekasnya sudah hilang karena masa atau bighal dan binatang-binatang yang tidak
boleh dimakan dagingnya adalah najis, meski-
yang lama. Ini berdasarkan kepada pendapat
pun dibakar.
Imam Muhammad al-Hasan yang berlawanan fika seekor anjing jatuh ke dalam tempat
pembuatan garam,lalu ia menjadi garam atau
Al-Qawanin al-Fiqhiyyah, hlm. 34; Bidayatul Mujtahid, Jilid I, hlm.461; osy-Syarhush Shaghir,lllid,l, hlm.46; asy-Syarhul Kabir,Jilid
I, hlm. 57; al-Muntaqa'ala al-Muwaththa', filid lll, hlm. 153 dan hlm. seterusnya; Mughnil Muhtaj, Jilid I, hlm. 8L:. al-Mughni,Jilid
VIII, hlm. 3li; Kasysyoful Qina',lLlid I, h]m.214 dan hlm. seterusnya; al-Muhadzdzab,lilid I, hlm.48.
ISIAM IITID I
jatuh ke dalam tempat membuat sabun lalu kecuali kulit manusia dan kulit babi, serta
ia menjadi sabun, maka ia tetap najis. Tetapi
kulit binatang kecil yang tidak dapat disamak
an ulama Maliki, mereka mengecualikan abu seperti kulit tikus dan ular yang kecil. Hukum
ini berdasarkan hadits,
medan asap najis. Mereka _
'.Pt" t'a't e''!-r)rir, ';ii
,de6h r*i- I.,i ,drlah menurut pendapatyang
"Semuq kulit yang disamak, maka ia men-
mu'tamad. jadi suci.'271
Dalam kasus arak menjadi cuka namun Diriwayatkan bahwa Nabi saw. melewati
halaman sebuah rumah ketika Perang Tabuk.
akibat memindahkannya dari satu tempat ke Lalu beliau meminta air dari tuan rumah ter-
sebut. Rasul berkata, "Apakoh kamu mem-
tempat lain, maka ulama Madzhab Hambali
punyai air?" Perempuan di rumah itu men-
"-md--ien-niastykaarantkuanntubkahmweanpjaedmikinadnanhyaan itu bukan jawab, "Kami tidak mempunyainya, wahai
cuka. Iika Rasulullah. Kecuali air dalam karung kulit
indahannya binatang yang mati." Lalu Rasulullah saw. ber-
ia tidak bisa suci. Karena menurut hukum, tanya, "Apakah kamu tidak menyamaknya?"
fawab perempuan itu, "Ya fsaya menyamak-
ffiagai cuka adalah haram.
nya)." Rasulullah saw. berkata, "Sesungguhnya
Oleh sebab itu, ia tidak menyebabkan mun-
samakan itu teloh menyucikanfiya.'2tz Ditam-
culnya thaharah (suci).
bah lagi menyamak dapat menghilangkan hal-
.Uadzhab Srcrfi'iz7o mengatakan bahwa ti- halyang menyebabkan bangkai itu najis, yaitu
kelembaban dan darah yang mengalir. Jadi,
dak ada barans naiis vans danat meniadi suci samakan adalah sama dengan membasuh se-
umpama pakaian yang terkena najis.
disebabkan oleh perubahan sifatnya kecuali
Madzhab Hanafi mengatakan bahwa sa-
jgsJerE-
m'
(a) Arak dan juga tempatnya apabila berubah
,
menjadi cuka dengan sendirinya.
dan mqng-
(b) Kulit, selain kulit anjing dan babi, yang
hilangkan bau busuk. Samak tetap dianggap
najis karena bangkai, kemudian menjadi sebagai penyuci, meskipun dengan mengguna-
kan samak hukmi saja (dibaghah hukmiyyah)
suci lahir dan batinnya setelah disamak.
(c) Sesuatu yang berubah menjadi binatang;
seperti bangkai apabila menjadi ulat, ka-
rena terjadi kehidupan baru.
12. Menyamak
Samak digunakan untuk membersihkan
kulit yang terkena najis ataupun kulit bangkai.
Samak dapat menyucikan semua jenis kulit
270 Al-Hodhromiyah,hlm.23. i
271 Diriwayatkan oleh an-Nasa'i, at-Tirmidzi, dan Ibnu Maiah dari Ibnu Abbas. Dan iuga diriwayatkan oleh ad-Daruquthni dari lbnu
Umar. Ia adalah hadits hasan. Imam Muslim meriwayatkan, "Jika kulit disamak maka ia menjadi suci." (Nashbur Ralah, f ilid I, hlm.
115 dan seterusnya). Perkataan ihab berarti kulit sebelum disamah adapun setelah disamak dinamakan adim.
272 Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan an-Nasa'i dari Salmah ibnul Muhabbaq. fuga diriwayatkan oleh lbnu Hibban dalam Shahih-nya
dan Ahmad dalam Musnad-nyadan iuga oleh atrTirmidzi. Mereka semua mengatakan bahwa hadits ini adalah lemah, karena terda-
pat perawi yang bernama al-laun bin Qatadah (Nashbur Rayah, Jilid l, hlm. 117). Ibnu Abbas meriwayatkan, "Seekor kambing telah
disedekahkan kepada budak Maimunah. Kemudian kambing itu mati. Rasulullah kemudian melewati bangkai itu. Lalu Rasulullah
bersabda,'Mengapa kamu tidak ambil kulitnya, samak, dan gunakan? Para sahabat berkata, 'la telah meniadi bangkai, wahai Rasul.'
Kemudian Rasul bersabda,'Yang diharamkan ialah memakannya."' (HRal-Jama'ah kecuali lbnu Maiah)
IsrAM JrrrD 1
seperti dengan cara melumuri tanah atau atau dengan cara melumuri tanah, membeku- 'I
menjemurnya. Sebab, maksudnya sudah ter- kannya, dan mengasinkannya. Karena, semua- I
penuhi. nya ini tidak dapat membuang kotoran yang I
Setiap kulit yang dapat suci dengan cara ada pada kulit, meskipun kulit itu kering dan :
harum baunya. Bukti yang menunjukkan bah-
samak juga dapat suci dengan cara menyem- wa kotoran itu tidak hilang ialah jika kulit itu
direndam atau terjatuh ke dalam aic maka bau
b e I i h nya. JvI_e nllll_pel$ a p at ya n g qry :E!qgd,__
busuknya akan kembali lagi.
kulit anjing dan kulit gajah dapat menjadi suci
dengan disamak. Adapun kulit manusia dan
kulit babi tidak bisa disamak. Kulit manusia _ Menurut ulama Madzhab Syafi'i, kulit an-
dikecualikan, karena ia dimuliakan oleh Allah. iing dan babi serta kulit binatang yang lahir
Kulit babi juga dikecualikan, karena ia adalah
dari gabungan keduanya atau dari salall sa-
najis 'ain. Binatang-binatang yang kecil yang tunya yang kawin dengan binatang yang suci,
tidak dapat disamak dihukumi sama dengan tlA"k
hukum keduanya. Apa yang terdapat di atas Mereka juga berpendapat bahwa barang-ba-
kulit bangkai, baik itu bulu atau lainnya adalah rang yang ada di atas kulit bangkai seperti
suci. Begitu juga dengan kulit ular adalah suci. bulu dan seumpamanya tidak dapat disucikan
--U-lama Syafi'i menganggap bahwa samak. dengan cara menyamak. Namun iika ia hanya
sedikit, maka ia dimaafkan karena susah un-
dapat menyucikan.2T3 la dapat menyucikan
tuk menghilangkannya.
semua kulit yang najis kareha menjadi bang-
kai; yaitu menyucikan dari segi lahirnya. Ada- Ulama madzhab Maliki dan ulama madz-
pun menurut pendapat yang masyhur; ia juga hur274 di kalangan mereka-mengatakan
dapat menyucikan dari segi batinnya, meski-
pun binatang itu bukanlah binatang yang bo- bahwa kulit y
+-
leh dimakan dagingnya. Hal ini berdasarkan
clengan cara menyqmak berdasarkan haditq-
dua buah hadits yang telah lalu dan juga hadits @sebulan sebelum Ra-
Ibnu Abbas. Namun, disyaratkan, penyamakan sulullah saw wafat, beliau mengirim surat
itu harus dilakukan dengan sesuatu yang dapat kepada kami supaya jangan mengambil fae-
membuang kotoran dari kulit. Yaitu, lendir dan dah dari bangkai, baik kulit ataupun urat be-
kelembaban yang melekat pada kulit yang jika sarnya."z7s Hadits ini menasakh hadits-hadits
dibiarkan akan merusak kulit. Bahan yang di- lain yang muncul sebelumnya. Karena, had-
gunakan ialah sesuatu yang kesat (yang dapat its ini muncul di akhir umur Rasulullah saw..
mengasarkan lidah jika terkena lidah seperti Hadits ini menuniukkan bahwa penggunaan
daun akasia lqarazf,'alsh, kulit delima, dan kulit bangkai sebelum itu hanyalah suatu
tawas fasy-shubb)), baik bahan yang diguna-
kan itu suci ataupun najis seperti tahi burung. rukhshah. Seorang ulama madzhab Maliki,
yaitu ad-Dardir mengatakan, "Hadits Rasu-
Tidak sah menyamak dengan cahaya matahari, lullah saw. hendaknya diartikan dengan suci
273 Mughnil Muhtaj,lilid l, hlm.82; al-Muhadzdzab, Jilid l, hlm.48. 76; Ghayatul Muntatro, Jilid I, hlm. 14; al-Mughni, fil I, hlm. 66
274 Asy-Syarhush Shaghir,Jilid I, hlm. 51; Bidayatul Mujtahid, Jilid I, hlm.
dan hlm. seterusnya.
27s Ri*"y"t al-Khamsah (Ahmad dan Ashabus Sunan ol-Arba'ah). Ia diriwayatkan juga oleh asy-Syafi'i, al-Baihaqi, dan lbntr Hibban.
Ad-Daruquthni meriwayatkan, "Rasulullah saw. mengutus surat kepada fuhainah yang isinya,'Aku telah memberi rukhshah kepada
kamu untuk menggunakan kulit bangkai. Setibanya suratku ini, maka janganlah menggunakan apa-apa dari bangkai, baik kulit atau
dagingnya!" lNailul Authar,lilid,I, hlm. 64J
menurut bahasa (thaharah al-lughawiyyah) FIQIH Isr"A.M rrrrD I
bukan suci menurut syaral Ini adalah menurut
takan bahwa mengambil faedah dari bangkai
pendapat yang masyhur dalam madzhab. Oleh adalah boleh. Hal ini berdasarkan sabda Nabi
sebab itu, tidak boleh melakukan shalat di atas Muhammad saw. yang lalu, "Mengapa kamu ti-
kulit bangkai yang disamak." dak mengambil kulitnya dan kamu menyamak-
Berdasarkan pendapat yang masyhur di nyo?"
kalangan ulama madzhab Maliki vang menga- Ditambah lagi para sahabat ketika berha-
takan bahwa kulit yang d
sil membuka negeri Persia, mereka mengam-
maka selepas disamak, kulit itu hanya boleh bil pelana, senjata, dan binatang sembelihan
orang Persia, sedangkan sembelihan mereka
.digunak?_
ntqya-@i--b u ka,n _yg ng_basab._ C o n to h nya a d al ah s e p e rti itu dihukumi sebagai bangkai. Pemanfaatan
_ql e n ggu n 1tsa -
kulit bangkai itu juga termasuk pemanfaatan
an yang tgg yang tidak membahayakan. fadi, kedudukan-
nakan untuk duduk selain duduk di dalam nya sama dengan binatang buruan anjing dan
menunggang keledai atau bighal. Bulu-baik
!qr1j. Kulit yang disamak tidak boleh di- yang halus maupun yang kasar-yang ada
pada bangkai adalah suci menurut ulama
gunakan untuk sesuatu yang basah seperti
madzhab Hambali.
untuk menyimpan minyak samin, madu, se-
Menurut pendapat penulis, pendapat
mua jenis minyak, air yang bukan mutlak se- yang rajih ialah pendapat ulama Hanafi dan
perti air mawan roti yang basah, dan keju. Syafi'i, bahwa samak adalah satu cara penyu-
cian. Sebab, hadits Ibnu Ukaim dipertikaikan.
f ika barang-barang yang basah itu diletakkan Al-Hazimi dalam bukunya, an-Nasikhwal Man-
di kulit tersebut, maka ia menjadi najis ketika
sukh wo Toriq al-lnshaf fihi mengatakan bah-
diletakkan.
wa hadits Ibnu Ukaim merupakan dalil yang
Ulama madzhab Maliki mengecualikan menunjukkan terjadinya nasakh, jika memang
hadits itu benar. Tetapi hadits itu riwayatnya
kulit babi. Mereka tidak membolehkan meng- dipertikaikan, dan ia tidak dapat menandingi
keshahihan hadits Maimunah. Berpegang ke-
gunakan kulit ini sama sekali, baik ia disa- pada hadits Ibnu Abbas adalah lebih utama,
karena ada sebab-sebab yang merajihkan-
mak ataupun tidak, dan baik digunakan untuk nya. Hadits Ibnu Ukaim seharusnya dibatasi
perkara kering atau basah. Demikian juga, artinya menjadi larangan menggunakan kulit
mereka mengecualikan kulit manusia karena bangkai itu dikhususkan ketika kulit itu belum
disamak. Karena, ketika kulit belum disamak
kehormatan dan kemuliaannya. Madzhab Ma- ia dinamakan ihab dan ketika sudah disamak
ia dinamakan jild. Perbedaan ini memang di-
liki berpendapat bahwa bulu binatang dan kenali di kalangan ahli bahasa. Lagipula de-
ngan cara membatasi makna hadits kepada
yang seumpamanya tidak menjadi najis karena pengertian yang demikian, kita dapat menggu-
nakan kedua hukum tersebut dan inilah cara
binatang tersebut mati. untuk menghilangkan pertentangan.zT 6
Di kalangan ulama mad-hab Hambali ter-
dapat dua riwayat mengenai boleh atau tidak-
nya menggunakan kulit najis yang disamak.
Pendapat pertama mengatakan boleh. Hal ini
f-fj-uikgaaibmerydaasnargkalan luhaddaitsnal-Bukhari dalam
Ta
dah Sendapat kedua
flang merupakan pendapat yang rajih menga-
276 Nailut Authar, lilid l, hlm. 65.
ISLAM IILID 1 Bagan 1: IBADAH l
Perlu diperhatikan juga, bahwa berubah- untuk menyucikan kulit binatang sembelihan
nya arak menjadi cuka ataupun proses penya-
makan termasuk dalam istihaloh (perubahan) mereka hanyalah dengan cara meyamaknya,
atau berubahnyazat suatu benda.
tidak ada cara lain selain itu.
Setiap benda yang tidak ada darah yang
mengalir di dalamnya tidak dianggap najis
13. Sembelihan Menurut Syara' karena kematian. Contohnya ialah rambut, bulu
Cara ini dapat menyucikan binatang yang yang dipotong, tanduk, kuku, dan tulang se-
disembelih. Sembelihan yang diakui oleh sya- lama tidak ada lemaknya. Menurut pendapat
ra' ialah sembelihan binatang yang dilakukan yang shahih, 'asab adalah najis. Botol minyak
oleh seorang Muslim atau seorang Ahli Kitab misik adalah suci sama seperti misik.
[Yahudi atau Nasrani), walaupun binatang
Binatang yang boleh dimakan dagingnya
yang disembelih itu tidak boleh dimakan
akan menjadi suci seluruh bagiannya dengan
dagingnya. M'-enurut pendapat yang di sembelihan, kecuali darahnya yang mengalir.
kan di kalangan ulama madzhab Hanafi, sem- Hal ini disepakati oleh seluruh ahli fiqih.
belihan dapat menyucikan kulit binatang yeng Ulama madzhab l\,!q]iki'??8 mengatakan iika .
tidak boleh di-rk@ __bipteley4ng tidak boleh dimakan dagi n gnya
_9lglqbelth sepertibinatang buas atau lainnya,
ikan daei Karena,
qqt<g 4Aging_, kulit, dan lemaknya menjadi suci,
semua binatang yang suci dengan samak akan _kecq4li manusia dan babi yang iika disemhe-
suci kulitnya dengan sembelihan, berdasar- , lih pun tctan tidak suci. Alasannya adalah,
kan sabda Rasulullah saw., "Samak kulit ialah
manusia merupakan makhluk terhormat dan
sembelihan."277
mulia. Adapun babi adalah hewan yang najis
Hadits ini menyamakan sembelihan de-
ngan samak. Oleh karena kulit menjadi suci 'ain. Tetapi, Imam ash-Shawi ndeanndaanda-D! Earndgir_-
dengan samak, maka ia juga menjadi suci mengatakan bahwa menurut
dengan sembelihan. Sebab, sembelihan ber- maq&ur-dlkelangan ulama m4lZbab-Idaliki
fungsi sama seperti samak, yaitu dapat meng- - sembelihan tidak dap-_renlgnyucikanlinqtg4gr -
hilangkan darah yang mengalir dan lendir-
jrnatang yang dagingnF haram dimalAl
lendir yang najis. Oleh sebab itu, sembelihan seperti bighal, kuda perang (khaill, aniing, dan
dapat menyucikan kulit sama seperti samak, babi. Namun binatang buar dan burung buas
kecuali kulit manusia dan babi. Adapun sem-
belihan yang dilakukan oleh seorang Majusi, cara m b elihn'
maka ia tidak dianggap sembelihan yang di- Ulama Syafi'i dan Hambali mengatakan2Te
akui oleh syara'. Sebab, mereka bukanlah orang bahwa sembelihan tidak memberikan penga-
yang mempunyai kelayakan untuk menyem- ruh apa pun kepada binatang yang tidak bo-
belih. Oleh sebab itu, sembelihan yang dilaku- leh dimakan dagingnya. Karena, pengaruh
kan oleh mereka tetap tidak dapat menyucikan sembelihan terhadap dibolehkannya daging
kulit binatang sembelihan. OIeh sebab itu, cara adalah perkara asal. Sedangkan kulit, hanyalah
An-Nasa'i meriwayatkan dari Aisyah bahwa Nabi Muhammad saw. pernah ditanya tentang kulit bangkai lalu beliau menjawab,
"la dapat suci dengan cara menyembelihnya." Ad-Daruquthni meriwayatkan dari Aisyah dari Nabi Muhammad saw. bahwa beliau
bersabda, "semua kulit suci dengan samakan." Ad-Daruquthni mengatakan bahwa semua sanadnya dapat dipercaya(Nailul Authar,
f ilid I, hlm. 36), Hadits ini juga diriwayatkan oleh Ibnu Hibban, ath-Thabrani, dan al-Baihaqi.
Bidayatul Mujtahid, Jilid l,hlm.427; al-Qawanin al-Fiqhiyah, hlm. 181; Hasyiah ash-Shawi'ala Syarh ash-Shaghir,lilid I, hlm. 45.
279 Mughnil Muhtaj, f il l, hlm. 58; al-Mughni,lilid I, hlm. 7l; Ghayatul Muntoha,lilid I, hlm. 14.
menurut kepada daging. Maka jika sembelihan FrqlH IsrAM JrLrD 1
tidak dapat menyucikan daging, ia juga tidak
dapat menyucikan yang lainnya. Kedudukan- najis. Namun ulama madzhab Maliki, menurut
nya sama seperti sembelihan orang Majusi pendapat yang masyhur, mengecualikan abu
atau sembelihan yang tidak diakui oleh syara'. najis, asapnya, dan benda najis yang dijadikan
Sembelihan tidak dapat disamakan dengan sa- kayu api. Mereka mengatakan bahwa semua
mah karena samak dapat menghilangkan ko- itu adalah suci karena telah terbakar dengan
toran dan kelembaban, dan juga menjaga kulit api.
supaya senantiasa baik. Sedangkan sembelih- 15. AnNaz'ah (menguras)
an tidak dapat melakukan hal yang demikian. An-Naz'ah artinya menimba semua air
Inilah pendapatyang saya kira kuat, menqiyas-
kan sembelihan dengan samakan dalam per- telaga yang terkena najis atau membuang
kara-perkara ibadah (ta'abbudiyyah) adalah
suatu perkara yang tidak dapat diterima. ukuran yang wajib dibuang. Cara ini akan
14. Menyuci dengan Cara Membakar menyucikan telaga tersebut.
Dalam beberapa kasus, api dapat menjadi Dengan kata lain, nez'ah ialah membuang
beberapa timba air yang wajib dibuang atau-
alat penyuci, yaitu jika ia mampu mengubah pun membuang seluruh air sesudah apa yang
najis atau menghilangkan bekasnya dengan
pembakaran itu, seperti tahi yang berubah terjatuh ke dalam telaga itu-baik manusia
menjadi abu ketika membakar batu bata, atau maupun binatang-dikeluarkan. Jika yang wa-
seperti tempat berdarah pada kepala kambing
jib dibuang adalah semua air telaga, maka
yang terbakar. Sama dengan pembakaran
ialah pendidihan dengan menggunakan api jika dapat semua mata air atau jalan masuk
air harus ditutup, kemudian barulah air yang
seperti minyak atau daging yang dididihkan najis yang terdapat dalam telaga itu dibuang.
sebanyak tiga kali. Ibnu Abidin mengatakan Jika lubang masuknya air atau mata air tidak
janganlah kamu kira bahwa setiap benda na- dapat ditutup karena air sangat banyak, maka
jis yang terkena api menjadi suci, karena ada hendaklah air yang dibuang sesuai kadar be-
kabar yang sampai kepada saya bahwa seba-
gian orang menyangka demikian. Yang dapat rikut.28o
menjadi suci ialah najis yang berubah apabila
terbakar (dengan api) atau hilang bekas najis- (a) fika yang jatuh ke dalam telaga itu ialah
nya dengan pembakaran itu. Dari sini, maka binatang, maka perlu dilihat. Apabila
pembakaran najis dengan menggunakan'api
dapat menyebabkannya suci. binatang yang jatuh itu ialah binatang
Menurut pendapat ulama Hanafi, api tidak jenis najis 'ain seperti babi, maka semua
dapat menjadi alat penyuci. Masalah ini telah
air wajib dibuang. Menurut pendapat
kita jelaskan dalam pembahasan mengenai
yang ashah di kalangan ulama madzhab
istihalah [perubahan najis). Oleh sebab itu, abu
najis (najis yang dibakar) dan asapnya adalah Hanafi, anjing tidaklah termasuk binatang
najis 'ain. Apabila binatang yang jatuh ke
dalam telaga air itu bukan binatang yang
termasuk najis 'ain, maka perlu dilihat.
Jika ia manusia, maka ia tidak menyebab-
kan telaga itu najis. fika yang jatuh ialah
binatang yang tidak boleh dimakan da-
gingnya seperti binatangbuas atau burung
buas (siba' ath-thair), maka menurut
Tuhfatul Fuqahai Jilid I, hlm. 10 dan hlm. seterusnya. Cetakan Darul Fikr, Damaskus. Pengarang dan Ustadz Muntasir al-Kattani
telah mentahqiq dan mentakhrii hadits-hadits yang terdapatdi dalarnnya.
ISTAM IILID 1 Brgan 1: IBADAH
pendapat yang ashah, ia menyebabkan air banyak tiga kali. Ini merupakan cara penyuci-
an kulah ataupun bejana apabila terkena na-
itu najis. fika yang jatuh adalah keledai jis. Sebab, ia dapat menghilangkan bekas na-
atau bighal, maka menurut pendapat jis, yaitu dengan keluarnya air dari arah yang
yang ashah ia menyebabkan air tersebut lain. Dengan cara ini juga, maka diyakini ti-
dak akan ada lagi najis yang tertinggal dalam
menjadi air yang diragui (kesuciannya). kulah tersebut. Berdasarkan keputusan ini,
maka jika air dalam bejana atau dalam suatu
[b) Iika yang jatuh ke dalam telaga adalah saluran terkena najis, maka ia dapat menjadi
suci dengan cara mencurahkan air dari satu
binatang yang halal dimakan dagingnya, arah sehingga ia mengalir keluar ke arah yang
maka ia menyebabkan air itu najis apabila
binatang itu mati. Oleh sebab itu, hendak- satunya lagi.
lah semua airnya dibuang jika memang
binatang itu telah kembung atau hancur. 17. Membalikkan Tanah (al-Hafrul
|ika binatang itu tidak kembung atau tidak Maksud al-hafru adalah dengan cara
hancu4 maka menurut zhahir ar-riwayat
membalikkan tanah: bagian yang atas dike-
ia dapat dikelompokkan ke dalam tiga
bawahkan. Cara ini dapat menyucikan tanah
kategori yaitu:
yang najis.
(i) Apabila yang jatuh ialah bangkai tikus
18. Membasuh Uiung Pakaian ataupun
atau semacamnya, maka hendaklah
Badan
air itu dibuang 20 atau 30 timba di- Cara ini dapat mengganti basuhan ke selu-
sesuaikan dengan besar kecilnya tim- ruh pakaian atau badan, apabila orang terse-
ba itu. but lupa tempat yang terkena najis. Cara ini
boleh dilakukan meskipun ia tidak mencari
[ii) Iika yang jatuh adalah bangkai ayam tempat najis itu. Ini merupakan pendapat yang
terpilih di kalangan ulama madzhab Hanafi.
atau semacamnya, maka hendaklah
air yang dibuang adalah 40 atau 50 PENDAPAT MADZHAB LAIN TENTANG ALAT
timba. PENYUC'
[iii) fika yang jatuh ialah manusia, maka Ketika kita membincangkan jenis alat pe-
nyuci dalam Madzhab Hanafi, kita juga dapat
hendaklah semua air itu dibuang apa- mengetahui pendapat madzhab lain. Di sini,
bila orang yang jatuh itu diyakini ada akan diterangkan pembahasan yang ringkas
najisnya baik najis haqiqi atau huk- mengenai pendapat madzhab itu.
mi, baik dia berniat mandi ataupun
wudhu ketika masuk telaga itu. Dalil Madzhab Maliki
yang digunakan oleh mereka ialah Cara bersuci menurut madzhab Maliki
perbuatan para sahabat Rasulullah
saw.. Namun, sebenarnya tidak ada adalah sebagai berikut.e
satu hadits yang shahih mengenai
masalah ini. 1. Membasuh dengan air yang menyucikan
16. Masuknya Air darl Satu Arah dan Keluar
dari Arah yang Laan Sebanyak Tiga Kall
Hal ini bisa terjadi pada kulah yang kecil.
Dengan cara ini, seakan-akan ia dibasuh se-
28r Al-gawanin at-Fiqhiyyah,hlm. 34 - 35; o4t-Syarhush Shaghir,f ilid I, hlm. 64,78,82 dan hlm. seterusnya; Bidayatul Muitahid,lilidl,
hlm.82 dan hlm, seterusnya: osy-Syarhul Kabrr, lilid I, hlm. 56.
(mutlak). Ini dilakukan untuk perkara ISLAM IILID 1
yang tidak cukup hanya dengan percikan iing, kucing ataupun lainnya jika terkena
atau usapan. Ketika membasuh, tidaklah
cukup hanya dengan mengalirkan air pakaian ataupun badan, maka ia tidak
ke atas najis. Zat najis dan juga bekas na- dimaafkan sama sekali, dan hendaklah
jis itu harus dihilangkan terlebih dulu. dibasuh dengan air. Demikian juga jika tahi
atau kencing binatang itu terkena tempat
Menghilangkan najis dengan cairan selain lain selain khufdan sandal seperti terkena
air adalah tidak boleh.
pakaian atau tubuh, maka ia tidaklah
2. Dengan cara mengusap dengan potongan
dimaafkan, tetapi hendaklah dibasuh.
kain yang dibasahi. Ini dilakukan untuk
barang-barang yang akan rusak jika di- 6. Dengan cara berjalan berulang kali. Cara
basuh, seperti pedang dan sandal. ini dapat menyucikan kain atau pakaian
3. Dengan cara memercikkan air ke pakaian yang panjang yang terkena tanah yang ada
atau tikar jika diragui najisnya. Percikan
najisnya yang kering, lalu debu melekat
itu boleh dilakukan tanpa niat sama se-
perti ketika membasuh. Yang dimaksud pada kain atau pakaian itu. Syaratnya ialah
dengan cara ini ialah memercikkan de-
tujuan pakaian itu dipanjangkan untuk
ngan tangan ataupun lainnya seperti de-
ngan menggunakan mulut atau dengan menutup aurat, bukan untuk tujuan ber-
cara diletakkan di bawah air hujan. Per- bangga-bangga (sombong). Ulama madz-
cikan itu cukup dilakukan sekali saja untuk hab Maliki berbeda pendapat mengenai
najis yang basah: jika ia tidak memakai
najis tersebut, dan hendaknya dilakukan khuf maka dapat suci dengan cara terse-
dengan menggunakan air mutlak. Dalam but. Tetapi jika ia memakai khu[, maka
kasus ini, jika suatu tempat diragui ter- tidak dimaafkan. Sama dengan kasus ini
kena najisnya, maka hanya wajib diper-
ialah berjalan di atas najis yang kering
cikkan air ke atasnya dan tidak wajib
namun dengan kaki yang basah. Dengan
membasuhnya. Tetapi jika dibasuh, ia le- cara ini, maka langkah yang berikutnya
dapat menyucikannya. Dalam kedua kasus
bih baik dan lebih menyakinkan. Tidaklah
ini (pakaian panjang dan kaki yang ba-
cukup memerciki badan yang diragui
terkena najis, melainkan badan itu wajib sah), orang tersebut dibolehkan melaku-
kan shalat dan dia tidak wajib membasuh-
dibasuh sama seperti kasus ketika dapat
nya.
dipastikan tempat yang terkena najis.
Najis yang berasal dari tanah hujan
4. Dengan cara menggunakan debu yang su- dimaafkan jika najisnya tidak mendomi-
nasi ataupun jika'ain (zat) najisnya tidak
ci. Cara ini dapat menyucikan najis hukmi,
yaitu dalam kasus tayamum. ada.
5. Ad-dalk (memijit/menggosok). Ini dilaku- 7. At-taqwir (memisahkan). Cara ini dapat
kan pada khuf dan sandal yang terkena
tahi atau kencing binatang yang terdapat membersihkan benda-benda yang beku
di jalan raya atau di tempat-tempat lain. [bukan cair). Contohnya ialah apabila ti-
Cara ini dibenarkan karena menghindari kus jatuh ke dalam minyak samin yang
tahi di jalan raya adalah perkara susah. beku, maka tikus itu hendaknya dibuang
Namun bagi najis atau tahi manusia, an- dan juga minyak samin yang ada di sekitar
tikus itu. Sahnun mengatakan kecuali jika
najis itu lama berada di dalamnya. fika
tikus itu jatuh ke dalam minyak yang cair
FIqlH ISLAM IILID 1 "-4'"-\ Bagian 1: IBADAH
E'. --
\=]'-l
lalu mati di dalamnya, maka hendaklah tidakmengetahuinya, atau dia mengetahui tapi
dibuang semuanya. Berdasarkan hal ini, lupa, maka shalatnya sah menurut madzhab
maka jika najis itu jatuh ke dalam cairan
selain air, maka ia menajiskan cairan itu Maliki yang tidak mewajibkan menghilangkan
najis, kecuali jika orang tersebut ingat, mam-
baik cairan itu berubah sifatnya ataupun pu, dan bisa.
tidak. Madzhab Syaf i
Menurut Madzhab ini, ada empat jenis
An-nazh fmenguras). fika binatang yang
najis jatuh ke dalam telaga dan ia meng-
ubah sifat air itu, maka semua air itu wajib penyuci yang dapat menyucikan benda cair
dibuang. fika najis itu tidak mengubahnya, dan beku.2B2
maka disunnahkan membuang seukuran
binatang dan kadar air. Artinya, dibuang (i) Air Mutlak
semua di samping dibuang juga menurut Air mutlak adalah air yang disebut sebagai
kadar binatang. air saja tanpa disertai dengan tambahan apa
9. Membasuh tempat yang terkena najis. Hal pun seperti air mawaL atau tidak disertai
ini dapat dilakukan jika diketahui tempat engan sifat apa pun seperti air memuncrat
yang terkena najis. Yang dibasuh boleh seperti air mani. Air mutlak ini terbagi kepada
tempat itu saja. Tetapi jika tidak diketahui beberapa kelompok:
tempatnya, maka hendaklah dibasuh se-
1. Air yang turun dari langit. Ia terbagi ke-
muanya. pada tiga hal:
10. lstihalah [be.rbrh). Cara ini dapr = [a) Air Hujan.
(b) Air salju yang mencair (adz-dzaub).
nusia. Kulit bangkai tidak depg!_d [c) Air es (bard).
Menurut pendapat
2. Air yang bersumber dari bumi, ia terbagi
yang mu'tamad, abu najis yang dibakar
kepada empat hal:
dan asapnya adalah suci.
[a) Air yang bersumber dari mata air.
11, Sembelihan menuru (b) Air sumur.
menyucikan binatang yang tidak bol& [c) Air sungai.
[d) Air laut.
- dimakan daginguLa, kecuali manusia dan
- babi. Menurut pendapat ad-Dardi4 pen- Air dapat digunakan untuk menghilang-
dapat yang masyhur mengatakan bahwa kan najis, mengangkat hadats dan juga lainnya,
sembelihan tidak dapat menyucikan bi-
natang yang haram dimakan dagingnya, seperti untuk memperbarui wudhu.
seperti kuda perang [khail), bighal, kele- Kencing atau muntah anak-anak yang
belum memakan makanan selain susu, dan
dai, anjing, dan babi.
umurnya belum mencapai dua tahun dapat
fika seseorang melakukan shalat, dan diperciki dengan air ini. Hal ini berdasarkan
hadits yang shahih tentang masalah ini, "Air
setelah selesai shalat dia melihat ada najis di
kencing anak perempuan hendaknya dibasuh
pakaian atau badannya, dan sebelum itu dia
282 qyekh Zakaria al-Anshari, Tuhfatuth Thutlab, hlm. 4; al-Majmu', f ilid I, hlm. 188: al-Mughnil Muhtaj,lilid 1, hlm. 17 dan 84 dan
seterusnya
=i:.3.:=-=+rt
dan air kencing anak lelaki hendaknya di- Isr."A,M JrLrD 1
perciki air.'283 merusak kulit, yang kira-kira kulit itu setelah
disamak jika direndam atau dibasuh dengan
Ulama Syafi'i drn Hr-Urli * air, maka kulit itu tetap tidak busuk dan tidak
bedaan ini. Tetapi, ulama madzhab Maliki rusak. Samakboleh dilakukan dengan qaraz dan
tidak membedakan antara anak lelaki dan tawas. Kulit itu tetap menjadi suci, walaupun
perempuan. Mereka mengatakan bahwa per- alatyang digunakan untuk menyamak itu najis,
seperti dengan menggunakan tahi burung.
cikan air hanya dapat menyucikan pakaian
(iv) Takhallul (Menjadi Cuka)
yang diragui najisnya saia._Mg:ka s:lakat Tokhallul artinya arak berubah menjadi
dengan ulama madzhab Hanafi yang_men_gi- cuka tanpa dimasukkan sesuatu bahan ke da-
lamnya. Dengan berubah menjadi cuka, maka
takan wajib me@, karena
arak itu menjadi suci meskipun ia berubah
mereka mengqiyaskan hukum anak perem- dengan cara dipindah dari tempat yang ter-
puan dengan hukum anak lelaki.2saPenulis lebih kena cahaya matahari ke tempat yang teduh
ataupun sebaliknya. Jika arak itu menjadi cuka
condong kepada pendapat ulama madzhab disebabkan oleh kemasukan sesuatu bahan
walaupun bahan itu tidak memberi pengaruh
Syafi'i dan Hambali yang membedakan antara kepadanya, ataupun karena kejatuhan najis ke
dalam arak tersebut, maka ia tetap najis (tidak
-keduanya. Hikmahnya ialah kencing anak
suci) walaupun najis yang jatuh itu dibuang
lelaki keluar dengan tekanan yang kuat, se-
sebelum ia menjadi cuka.
hingga memancur atau karena anak lelaki
Bersuci yang dapat dihasilkan dari empat
sering digendong. Oleh karena ia sering ken- alat penyuci empat ini ada empat macam yaitu
wudhu, mandi, tayamum, dan menghilangkan
cing dalam gendongan, maka susah dibasuh, najis. Suci yang terakhi6, yaitu menghilangkan
naj is mencakup ihalah (perubahan).
atau karena campuran kencing anak lelaki
Barang-barang yang mempunyai permu-
adalah panas. Oleh sebab itu, kencingnya kaan licin dan terkena najis seperti pedang,
dan seumpamanya tidak menjadi suci dengan
halus. Hal ini berlainan dengan kencing anak cara mengusapnya, ia harus dibasuh. Demikian
juga sandal, ia tidak dapat meniadi suci dengan
perempuan. cara menggosok-qosokkannya dengan tanah
(ll) Tanah Menyucikan yang tldak tanpa dibasuh. Air menjadi suci dengan cara
Diglunakan untuk Kefardhuan dan tldak ditambah meskipun tidak sampai dua kulah.
Bumi yang terkena najis juga menjadi suci
Bercampur dengAn Sesuatu yang l-ain
dengan cara menuanginya air yang banyak.
Tanah jenis ini dapat digunakan untuk
menyucikan, berdasarkan firman Allah SWT,
"...meke bertayamumlah kamu dengan de-
bu yang baik (suci)...." (an-Nisaa': 43)
(iii) Samak
Samak ialah membuang unsur-unsur le-
bihan yang melekat pada kulit dan yang dapat
Riwayat Abu Dawud, an-Nasa'i, dan Ibnu Maiah dari Abu Samh. Juga, diriwayatkan oleh al-fama'ah dari Ummu Qais binti Mih-
san, bahwa Nabi Muhammad saw. memerciki air kencing anak-anak lelaki dengan air suci. Juga, diriwayatkan oleh Ibnu Majah
dari Ummu Karz bahwa Nabi Muhammad saw. bersabda," Kencing anak-anak lelaki adalah cukup diperciki dan kencing anak-anak
perempuan dibasuh." (Nailul Authar,lilid,l, hlm. 45)
Bidayaatl Mujtahl4 Jilid I, hlm. 82; Nailul Authan t{osysyaful Qina', f ilid I, hlm. 217 dan seterusnya, cetakan Mekah.
ISLAM JILID 1 Baglan 1: IBADAH
Madzhab Hambali 28s Naiis juga tidak dapat disucikan dengan
Secara umum pendapat Madzhab Hambali api. Oleh sebab itu, abu dari tahi yang najis,
sa sabun yang dibuat dari minyak yang najis,
-I-ecuali dalam masalah samak. Mereka meng- asap dan debu najis, semuanya adalah najis.
bahwa samak tidak dapat men-yuc-!li--kan-- . Uap apa pun yang keluar dari air yang na-
-!--anYgangsapdaoat disunakan untuk menvucikan baei lis yang terkena benda licin atau benda lain
mereka ialah aic tanah, istinja' dengan-batu- adalah najis. Tanah yang bercampur dengan
dan arak bertukar ryg4lac!;quka-
tahi keledai atau bighal ataupun binatang lain
-=-ffi-eE yaft,-..-terkena naj is dapat disucikan
yang tidak boleh dimakan dagingnya adalah
dengan menuanginya air yang banyak. Maksud-
naiis, walaupun ia sudah terbakar seperti batu
nya adalah dengan mencurahkan air kepada
najis, sehingga najis itu tenggelam dalam air. bata. Demikian juga jika anjing jatuh ke dalam
Cara ini tidak memerlukan bilangan, asalkan
najis itu hilang'ain-nya dan tidak ada bekas- tempat pembuatan garam lalu menjadi garam
nya lagi baik warna ataupun bau, jika memang atau jatuh ke dalam tempat membuat sabun,
kedua-duanya atau salah satunya itu dapat lalu ia menjadi sabun, maka ia tetap najis.287
dihilangkan. Satu pengecualian dari prinsip umum
Tanah yang terkena najis tidak menjadi bahwa istihalah tidak menyucikan, adalah
suci dengan dipanaskan di bawah cahaya ma-
kasus istihalahnya penciptaan manusia, arak
tahari ataupun dengan tiupan angin. Demikian
juga tidak menjadi suci dengan sebab kering, berubah menjadi cuka dengan sendirinya atau
sebab Nabi Muhammad saw. menyuruh supa-
ya kencing Arab badui yang membuang ken- dengan cara dipindahkan dari satu tempat ke
cing dalam masjid dibasuh. fika sucinya cukup
hanya dengan cahaya matahari, angin, atau- tempat lain tanpa ada tuiuan untuk menjadi-
pun apabila kering, maka Rasulullah saw. tidak
kan cuka. Perbuatan yang dimaksudkan untuk
akan menyuruh membasuhnya.
mengubah arak menjadi cuka adalah haram.
Najis tidak menjadi suci dengan cara isti-
halah. Seandainya baja yang terkena najis di- fika ia menjadi cuka dengan melalui pemin-
bakar; lalu menjadi abu ataupun anjing jatuh dahan yang disertai tujuan menjadikan cuka,
ke dalam tempat pembuatan garam, kemudian
ia menjadi garam, maka ia tetap najis. Sebab, maka ia tidak menjadi suci berdasarkan hadits
Nabi Muhammad saw. melarang memakan
binatang yang memakan najis dan melarang Muslim dari Anas,
meminum susunya2s6 karena binatang itu
"Rasulullah saw. pemah ditanya tentang
memakan barang najis. Apabila ia menjadi
boleh atau tidak arak dijadikan cuka. Rasul
suci dengan cara istihalah, sudah barang tentu
Rasulullah saw. tidak melarangnya. menjawab,'Tidak boleh."'
Botol arak adalah sama seperti arak. Ia
menjadi suci apabila arak itu suci.
t
Minyak terkena najis tidak dapat
yang
menjadi bersih dengan cara membasuhnya,
karena tidak dapat dipastikan apakah air itu
dapat sampai ke seluruh bagiannya atau tidak.
Demikian juga bagian dalam biji-bijian yang
diresapi najis tidak dapat disucikan. Demiki-
an iuga tepung yang sudah diuli yang terkena
28s Kasysyalul Qina',lilidl,hlm.22,2L3 - 218; al-Mughni,lilid,l, hlm. 35 - 39, Jilid ll, hlm' 98.
286 Riwayat lmam Ahmad, Abu Dawud, dan at-Tirmidzi dari lbnu Umar. At-Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan ghorib.
287 lbru Taimiyah dalam fatwanya mengatakan bahawa nalis yang berubah (istihatah) dengan cara hilang 'ain dan kotorannya, maka
ia menjadi suci.
FIq[H ISI.A,M JITID 1
najis tidak dapat disucikan, karena ia tidak c ! yang terkena najis akan
dapat dibasuh. Daging yang diresapi naiis iuga menjadi suci dengan cara
tidak dapat disucikan. Demikian juga bejana
dengan tanah, ia waji . Demikian ju
yang diresapi najis serta pisau yang direndam uI
kalendengan air yang najis juga tidak dapat disuci- -_ asuh.
'kan. Cara membasuhnya sama seperti membasuh
Minyak samin yang beku dan yang se- pakaian dan tubuh. Namun najis yang sedikit
macamnya menjadi suci jika dibuang najisnya
dan juga bagian yang mengelilingi najis itu. yang terdapat di telapak khuf dan sandal
Adapun cairan, maka ia tidak dapat menjadi
suci apabila najis itu terus berada di dalam- sesudah digosok-gosokkan dengan tanah
adalah dimaafkan. Hal ini berdasarkan hadits
Abu Hurairah bahwa Nabi Muhammad saw.
nya, seperti tikus mati di dalamnya. Apabila bersabda,
tikus itu keluar dalam keadaan hidup, maka ia "Jika dua khufnya memijak najis, maka
tetap suci.
p e nsuc iny a a dalah gqnsfi.'488
Benda yang kejatuhan najis kemudian
diyakini hilangnya, maka perlu dibasuh. fika Tanah yang najis tidak dapat menjadi
tempat yang terkena najis pada badan atau suci dengan cara memanaskannya dengan
pakaian ataupun tempat kecil seperti rumah pancaran cahaya matahari, angin, ataupun
dan najis itu tidak diketahui di mana, maka mengeringkannya. Hal ini berdasarkan hadits
tempat itu harus dibasuh. Zhan (dugaan kuat)
saja tidak mencukupi, karena ada kesamaran Rasulullah saw.,
di antara bagian yang suci (thahir) dengan "Curahkanlah seember air untuk kencing-
yang najis. Oleh sebab itu, semua tempat itu nya."
wajib dijauhi hingga diyakini sucinya dengan
cara membasuhnya. Sebab, najis itu diyakini Kesimpulannya ialah, ulama Syafi'i dan
keberadaannya. Oleh sebab itu, ia tidak hilang ulama Hambali lebih melihat kepada cara
kecuali dengan kesucian yang meyakinkan. menyucikan yang lebih sempurna menurut
Namun apabila ketidakpastian tempat 5yara'.3depl! ulama Hanafi lebih longgar
yang terkena najis itu adalah pada tempat @ Ulama Maliki dalam
yang besar seperti padang pasir yang luas dan sebagian keadaan berpendapat sama seperti
rumah yang besar, maka tidaklah mengapa. ulama Hanafi. Namun, kenyataan yang ada
Ini adalah untuk menghindari kesulitan dan dan juga dengan alasan keperluan, serta adat
kesusahan. orang banyak, maka pendapat Madzhab
Kencing dan muntah anak lelaki yang Hanafi dalam masalah ini lebih tepat. Atas
belum memakan makanan dengan keinginan
dasar ini, maka menurut jumhur tanah tidak
sendiri cukup diperciki dengan air, walaupun dapat disucikan dengan cara memanaskannya
air kencing itu najis sama seperti air kencing di bawah terik matahari atau dengan tiupan
orang dewasa. Namun, air kencing anak pe- angin. Adapun Madzhab Hanafi memboleh-
rempuan atau khunsa harus dibasuh. kannya.
Riwayat Imam Ahmad dan Abu Dawud dari Muhammad bin 'Ajlan, dia adalah seorang yang dapat dipercaya. Hadig Ummu Salamah
yang telah lalu adalah sahih, yaitu hadits yang menceritakan bahwa berjalan di atas jalan yang kering adalah dapat menyucikan,
tetapi hadits ini tidak membatasi kadar na.iisnya apakah banyak atau sedikit, . : ,.
.
,s$
FIQIH ISTAM JILID 1 l
Untuk membersihkan kursi sofa adalah tiga sifatnya (warna, rasa dan bau) tidak ber-
dengan cara membasuh tempat yang terke- ubah, atau berubah namun penyebabnya tidak
na najis dengan menggunakan air._Msnu{Uf- sampai menghilangkan sifat menyucikan yang
terdapat padanya, seperti disebabkan oleh
MadzhabHanafid@ tanah yang suci, garam, atau tumbuhan air.
Dan juga, air itu belum musta'mal yaitu belum
sihkan sandal yang terkena naji digunakan untuk bersuci seperti air hujan, air
kun densan menssosok-sosokkannva densan yang mengalir di antara dua bukit, mata ai4 air
telaga, air sungai, air laut, air salju, dan lain-
wayatkan oleh Abu Dawud dari Abu Hurairah, lain, baik air tawar atau asin. Termasuk juga
bahwa Rasulullah saw bersabd4 air beku (es), air yang menjadi garam atau air
yang menjadi uap, karena semuanya itu ada-
I :,t)r.iti .s1!r e. F-6i .p, t;y lah air yang sebenarnya.
,, ,rl
o-ssP Namun, ulama Hanafi mengatakan bahwa
"Jika sandalmu mengenoi kotoran, maka air asin dapat menyucikan sebelum ia menjadi
garam. Tetapi setelah menjadi garam dan ke-
tanah adalah alat untuk membersihkannye." mudian mencair lagi, maka ia suci lagi, tetapi
tidak dapat menyucikan. Oleh sebab itu, tidak
Adapun untuk membersihkan pisau, kaca, boleh mengangkat hadats dengan air itu, tetapi
pedang, cermin, dan benda-benda yang licin dapat digunakan untuk menghilangkan najis.
lainnya adalah dengan cara mengusapnya Air mutlak ini suci dan dapat menyucikan
hingga bekas najis itu hilang. Ini berdasarkan menurut ijma ulama, dan ia dapat digunakan
untuk menghilangkan najis, dan dapat juga
amalan para sahabat yang mengusap pedang digunakan untuk berwudhu dan mandi (sun-
mereka dari darah. nah atau wajib), berdasarkan firman Allah
Baju dan pakaian tidak dihukumi najis SWI,
selagi 'ain najis itu tidak diketahui. Apabila
pada malam hari seseorang atau bajunya "...den Kami turunkan dari langit air yang
kejatuhan air, maka ia dihukumi suci kecuali sangat bersih." (al-Furqaan: 48)
jika muncul dugaan kuat bahwa yang jatuh itu
".,den Allah menurunkan air (hujan) dan
adalah najis. langit kepodamu untuk menyucikan kamu de-
ngan (hujan) itu...." (al-Anfaal: 11)
4. IEN'&IEN'S A'R
Dan juga sabda Nabi saw. mengenai alr
Air terbagi kepada tiga jenis: air yang laut,
menyucikan; air suci, tetapi tidak menyucikan; );i)q ,Flt.lz o z ic
air mutanajjis [air yang terkena najis). 4'1
a. Alr Mutlak
Air tersebut ialah air yang suci dan dapat
menyucikan benda lain, yaitu setiap air yang
jatuh dari langit atau yang bersumber dari
bumi, yang keadaan asalnya tetap, satu dari
Baglan 1: IBADAH ISTAM IILID 1
"Yeittt air yang menyucikan dan halal di pinggir pantai dan mengubah air sebab
bangkainya.'28e baunya, ataupun bercampur dengan sebagian
Dan juga sabda Rasul saw.,' bahan galian seperti garam dan belerang,
dan juga benda yang tidak dapat dihindarkan
"Sesungguhnya air itu menyucikan. Ia tidak
mejadi najis kecualiyang berubah bau, rasa dan seperti jerami dan daun kayu.
warnonya." zeo
Penjelasan para ahli fiqih secara terperin-
Untuk membahas air yang dapat diguna- ci adalah sebagai berikut.
kan untuk bersuci, perlu diketahui dua per-
kara berikut. L. Menurut ulama Hanafi,2el boleh bersuci
(i) Peruhhan yang tidak Memberi dengan air yang bercampur dengan se-
suatu yang beku dan suci jika tidak ter-
Pengaruh kepada Slfat Menyucikan jadi perubahan akibat proses memasak.
yang!Dimiliki oleh Air itu
Para ahli fiqih sepakat mengatakan bah- Sehingga, berubahlah salah satu sifatnya
wa semua perkara yang bercampur dengan atau kesemua sifatnya, seperti air meng-
air dan menyebabkan perubahan sifat ail alir yang bercampur dengan tanah dan
daun tetapi sifat lembutnya air masih
dan biasanya tidak dapat dipisahkan dari air ada. Tetapi jika air itu sudah berubah si-
itu, maka tidak menghilangkan sifat suci dan fat, yaitu jika jumlah tanah sudah mele-
menyucikan yang dimiliki oleh air tersebut.
bihi air; maka tidak boleh bersuci dengan-
Oleh sebab itu, air tersebut tetap diang-
gap suci dan menyucikan meskipun ia terge- nya. Hal ini seperti air yang bercampur
nang lama, kemudian terjadi perubahan pada
dengan susu, zo'faron, sabun atau garam,
keseluruhan air ataupun sebagiannya saja.
selagi masih kekal sifat lembutnya dan
Karena, perubahan itu tidak dapat dihindari.
sifat mengalirnya, karena ia masih disebut
Begitu juga jika perubahan itu disebabkan
dengan aic dan karena bercampur dengan
bercampur dengan tanah yang suci, lumut benda-benda tersebut tidak dapat dihin-
yang tumbuh di permukaan aic dan sesuatu
yang sudah ada pada tempat genangan air atau dari. Tetapi jika sifat air sudah bertukar
tempat alirannya. Begitu juga jika bercampur dan dipanggil dengan nama lain seperti
dengan sesuatu yang dapat dipisahkan seperti air sabun pekat atau air za'faran berwar-
ranting kayu, minyak, ataupun bau-bauan dan na, maka ia tidak boleh lagi digunakan
kayu gaharu. Begitu juga bangkai yang dibuang untuk bersuci.
2. Menurut pendapat ulama Maliki;2ez air
masih dianggap suci dan menyucikan
meskipun ia tergenang lama, mengalir di
atas sesuatu benda, menghasilkan sesuatu
seperti berlumut, ulat, dan ikan hidup,
bercampur dengan sesuatu yang biasanya
Diriwayatkan oleh tuiuh sahabat yaitu Abu Hurairah, Jabir bin Abdillah. Ali bin Abi Thalib, Anas bin Malik, Abdullah bin Amr
al-Farisi, dan Abu Bakar ash-Shiddiq. Hadits Abu Hurairah diriwayatkan oleh Imam Hadits yang empat. Meskipun ada kecacatan
dalam riwayatnya, namun ia didukung oleh riwayat-riwayat lainnya (Nashbur Rayah Jilid I, hlm.95).
Ri*ayat Ibnu Majah dari Abu Umamah, sanad hadits ini adalah dhaif (Nashbur Rayah,lilid I, hlm. 94), tetapi at-Tirmidzi mengang-
gap hadits ini hasan. Ia mempunyai sanad yang shahih seperti yang disebut oleh Ibnul Qaththan. Imam Ahmad mengatakan hadits
ini shahih.
297 Fathul Qadir.lllid I, hlm. 48: al-Lubab Syarhul Kitab. Jilid I, hlm. 26; Muraqi al'Falah, hlm. 3.
292 Asy-Syarhush Shaghir, Jilid I, hlm. 3O-36; al-Qawanin al-Fiqhiyyoh. hlm. 30; Bidayatul -Mujuhid, filid I, hlm. 22i asy-Syarhul Kabir,
lilid I. hlm.35 - 39.
FIqLH ISI.A,M JILID 1
tidak dapat dipisahkan, atau bercampur perubahan yang disebabkan oleh tempat
dengan sesuatu yang dapat dipisahkan. keberadaan air.
Dan menurut pendapat yang masyhur di Air tetap dianggap suci dan menyuci-
kan juga jika berubah karena bercampur
dalam madzhab ini, air tetap dianggap
suci dan menyucikan, meskipun terjadi dengan sesuatu yang diragui jenisnya;
perubahan karena bercampur dengan apakah ia dari jenis yang menghilangkan
tanah yang dibuang ke dalamnya. Begitu sifat suci dan menyucikan seperti madu
juga jika bercampur dengan garam yang
dan darah atau dari jenis yang tidak
dibuang ke dalamnya dan bahan seum- menghilangkan sifat itu seperti belerang
pamanya seperti tembaga, belerang, dan
yang tergenang lama. Maka, air yang
besi, sekalipun dibuang ke dalamnya de- demikian boleh digunakan untuk bersuci.
ngan sengaja. Begitu juga bahan untuk Begitu juga jika ragu apakah air berubah
atau tidak sebab ada air liur, umpamanya
menyamak seperti ta4 atau bercampur
dengan sesuatu yang susah dihindarkan air dimasukkan ke dalam mulut, lalu tim-
seperti jerami atau daun yang gugur ke bul keraguan apakah air itu berubah de-
dalam telaga dan kolam karena ditiup ngan air Iiur atau tidak, maka air itu boleh
angin. fika kulit perut disamak untuk di-
buat tempat air seperti qirbah (tempat air digunakan untuk bersuci.
yang dibuat dari kulit) dan timba, maka Tidak boleh bersuci dengan meng-
air itu boleh digunakan meskipun terjadi
gunakan air yang berubah salah satu sifat-
perubahan. Karena, bekas bahan penya-
mak itu suci seperti lilin kayu qaraz (kayu nya yang disebabkan bercampur dengan
samak), ta4 dan tawas. Air tetap dianggap jenis air lain tetapi ia suci, seperti susu,
minyak, dan madu, maka apabila ada air
suci dan menyucikan jika bercampur yang bercampur dengannya atau mele-
kat padanya, seperti bunga kenanga yang
dengan sesuatu yang dapat dipisahkan da- jatuh ke permukaan airl lemak yang me-
Iekat pada ain dan berubah salah satu
rinya, karena air berubah menurut benda sifat air [warna, rasa atau bau), maka air
yang berada di sebelahnya. Di antara ben- itu tidak boleh digunakan untuk bersuci.
Air tersebut tetap suci, tetapi tidak dapat
da yang bercampur dan dapat dipisahkan menyucikan benda lain.
ialah bangkai yang dibuang di luar air; dan
bau air itu berubah karena bangkai itu.
Air tetap dianggap suci dan menyuci-
kan jika terjadi sedikit perubahan yang Kesimpulannya adalah, jika air bercampur
disebabkan oleh alat penciduk seperti dengan sesuatu yang suci, dan tidak meng-
tali atau timba, atau karena pengaruh
ubah warna, rasa, atau baunya, maka ia tetap
kayu wangi yang dilumurkan pada suatu dianggap sebagai air mutlak yang boleh di-
wadah. Tetapi, bukannya yang digunakan gunakan untuk bersuci. Tetapijika berubah
untuk menyamak atau yang dibuang ke
dalam air lalu mengendap di dasar air
dan kemudian air berubah karenanya. adalah air suci, tetapi tidak
Halinidobolehkan,karenaorangArab<GdapatulamaHanafiiaadaIah
banyak menggunakan tar untuk alat pen--- suci rlan menyucikan
ciduk. Maka, perubahan itu sama seperti atau sifat air itu berkurang.
Baglan 1: FIQLH ISI.AM JILID 1
Ulama Maliki menghukumi bahwa semua wangi, kapur barus yang keras, atau debu
bagian tanah seperti belerang, besi, dan tem- meskipun debu itu sudah musta'mal yang di-'
baga, tidak dapat menghilangkan sifat me- buang ke dalam air-ini menurut pendapat
nyucikan pada airi jika air itu berubah salah
satu sifatnya, sekalipun bahan-bahan itu di- yang azhhar-karena perubahan air yang di-
buang dengan sengaja ke dalam air. sebabkan benda-benda di atas-selain debu-
Menurut pendapat ulama Syafi'i;2e3 air te-
hanya pada baunya saja. Sedangkan perubah-
tap dianggap suci dan menyucikan jika meng- an air akibat debu, hanya bercampur [dan ke-
lami sedikit perubahan yang disebabkan oleh
benda yang suci. Perubahan itu tidak meme- mudian mengendap) saja. Keadaan ini tidak
ngaruhi nama air itu sebagai air mutlak, menghalanginya untuk disebut air.
meskipun banyak atau sedikitnya perubahan Pendapat ulama Hambali2ea sama dengan
diragui. Karena, biasanya air tidak dapat ter- pendapat ulama Syafi'i, yaitu air tetap diang-
hindar dari percampuran dan perubahan se- gap suci dan menyucikan, meskipun ia beru-
perti ini. Begitu iuga jika perubahan air itu bah karena tergenang lama (yaitu air yang
disebabkan ia lama tergenang, meskipun per- berubah rasa, warna, dan baunya karena lama
ubahan yang teriadi banyak, atau perubahan- tergenang di tempatnya),"s atau berubah ka-
rena benda yang sudah ada di tempat ia terge-
nya disebabkan oleh tanah atau lumpu[ atau nang atau tempat mengalirnya, atau berubah
disebabkan oleh benda yang sudah ada di karena bercampur dengan sesuatu yang da-
tempat tergenangnya atau tempat berlalunya pat dipisahkan, atau disebabkan bau bangkai
air seperti belerang, sebatian arsenium atau yang ada di sebelahnya. Karena, semua itu su-
kalsium. Karena, air memang tidak mungkin
terhindar dari benda-benda itu. Begitu iuga lit untuk dielakkan, atau perubahan itu kare-
jika perubahannya disebabkan oleh garam
laut. Tetapi, air tidak dianggap menyucikan na air garam yaitu air yang dituang ke tanah
Iagi perubahannya disebabkan oleh garam bergaram lalu ia menjadi garam, karena pe-
bukit apabila garam itu pada asalnya tidak be- rubahan itu terjadi karena bercampur dengan
rada di tempat tergenangnya air atau tempat sesuatu yang asalnya adalah air juga, sama
mengalirnya air. Bersuci dengan garam yang seperti salju yang mencair.
mencair adalah boleh, karena memang asal-
nya adalah air. Ia sama dengan salju apabila Kesimpulannya, air yang berubah yang
mencair. boleh digunakan untuk wudhu terbagi kepada
Air tetap dianggap suci dan menyucikan empat ienis.
jika berubah karena bercampur dengan daun
yang berguguran dan bertaburan, karena air (a) Air yang namanya dihubungkan dengan
tidak dapat terhindar darinya. Begitu juga jika tempat asalnya, seperti air sungai, air te-
ia berubah karena bercampur dengan sesua-
laga dan seumpamanya.
tu yang suci dan dapat dipisahkan seperti
ranting kayu, minyak meskipun itu minyak (b) Air yang bercampur dengan sesuatu
yang tidak dapat dihindari seperti lumut
dan tumbuhan air; begitu juga daun yang
berguguran ke dalam air atau ditiup angin
dan jatuh ke dalamnya, atau benda-benda
yang dihanyutkan oleh banjir seperti
ranting kayu, jerami dan seumpamanya,
?93 Mughnil Muhtaj,lilid l, hlm. t9; al-MuhadzdzaD, Jilid I, hlm. 5.
294 Kasysyaful Qinaj Jilid I, hlm. 25 dan seterusnya; al-Mughni,Jilid I, hlm. 13.
295 Ini karena Nabi Muhammad saw. berwudhu dengan air yangsudah lama disimpan dan berubah warnanya.
#.lt;.
r ."I
-!1.1:
FIQIH ISTAM IITID 1 Bagan 1: IBADAH
dan sesuatu yang sudah berada di tem- Ulama sepakat mengatakan bahwa ber-
pat bergenangnya air atau tempat meng-
wudhu dengan air yang bercampur dengan
alirnya air seperti belerang, zafat dan sesuatu yang suci yang tidak menyebabkan
seumpamanya yang dapat mengubah air terjadinya perubahan adalah boleh. OIeh se-
apabila air melewati benda-benda itu. bab itu, jika ada sedikit kacang, kacang putih,
bunga, za'faron, atau lainnya jatuh ke dalam
(c) Air yang bercampur dengan sesuatu yang air, dan tidak muncul rasa, warna, dan bau
mempunyai kedua sifat air yaitu suci dan benda-benda itu secara kuat, maka berwudhu
menyucikan, seperti debu yang menye- dengan air itu adalah dibolehkan karena,
babkan berubahnya air. Maka, perubahan
"Nabi Muhammad saw. dan istrinya mandi
ini tidak menghilangkan sifat menyucikan menggunakan bejana besar yang ada bekas
yang dimiliki oleh air. Karena, sifat debu tepung di dalamnya."
sama dengan sifat air. Tetapi jika air itu
pekat akibat bercampur dengan debu se- (ii) Air yang Suci dan Menyucikan, tetapi
hingga tidak dapat digunakan oleh badan, Makruh Tanz ih Menggunakannya,
maka air itu tidak boleh digunakan untuk Menurut Pendapat Ulama Hanafi
bersuci, karena ia adalah lumpur bukan Terdapat air yang suci dan menyucikan,
air. Dan tidak ada bedanya antara tanah tetapi makruh tanzih menggunakannya apa-
bila ada air lain menurut pendapat yang paling
yang sengaja dicampurkan dengan air atau
ashah di kalangan ulama Hanafi,2e6 yaitu air
yang tidak sengaja dicampurkan. Begitu sedikit yang diminum oleh binatang seperti
juga apabila bercampur dengan garam kucing rumah-bukan kucing liar [kucing hu-
lautan atau garam air atau logam, karena
tan) karena air sisa (su'r)ze1 kucing liar adalah
semua bahan ini tidak dapat dielakkan najis-atau ayam yang dilepas dan memakan
dari bercampur dengan air seperti juga
benda-benda koto[ burung yang makan de-
za'faran dan lain-lain.
ngan cara menyambar dan mencabut makanan
(d) Air yang bercampur dengan benda yang dengan kukunya, ular dan tikus, karena semua
dapat dipisahkan seperti minyak dan je- binatang tersebut tidak terhindar dari benda
nis-jenis minyak lainnya, tar, zafat, dan najis. Hukum tersebut adalah berdasarkan
lilin, bahan-bahan keras yang suci seperti istihsan, untuk memudahkan manusia. Karena,
ranting kayu, kapur barus, dan'anbar, jika memang manusia dikelilingi oleh kucing, dan
memang benda-benda ini tidak rusak dan karena sulit menghindar dari burung-burung
Iiar tadi. Nabi Muhammad saw. telah menetap-
tidak hancur di dalam air. Karena, peru- kan bahwa sisa minuman kucing adalah suci
bahan seperti ini disebabkan oleh per- dengan sabdanya,
campuran yang dapat dipisahkan, sama "Sesungguhnya ia (kucing) qdalah suci,
seperti air yang ditiup oleh angin dan kucing adalah yang berkelioran di sekeliling
mengenai benda yang ada di sebelahnya. kamu.'aeq
Tidak ada perselisihan pendapat menge-
nai masalah ini.
2e6 Muraqi al-Falah,hlm. 3.
297 As-Su'r ialah sisa air di dalam wadah selepas ia diminum oleh hewan.
2eB Diriwayatkan oleh Imam Hadits yang lima, dari Kibsyah binti Kalb bin Malik. Ad-Darimi mengatakan bahwa hadits ini adalah hasan
shahih. Ia juga diriwayatkan oleh al-Baihaqi dan dianggap shahih oleh Imam al-Bukhari, al-Uqaili, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban,
al-Hakim, dan ad-Daruquthni {Nailul Authar, Jilid I, hlm. 35).
FIqLH ISTAM JILID 1
fuga, hadits riwaYat AisYah, beliau mandi iunub, dan beliau membasuh ke-
"Rasul mengulurkan wadah kepada ku- palanya dengan daun khitmf [daun dari seje-
cing untuk tempat minum. Kemudian beliau nis tumbuhan di air asin yang ditumbuk untuk
berwudhu dengan sisa air yang diminum ku-
membasuh kepala). Beliau menganjurkan su-
cing itu."2ee paya jenazah seorang yang mati semasa ihram
Namun jika tidak ada air lain selain air karena ditendang unta, dimandikan dengan
itu, maka tidaklah makruh. Adapun menurut air dan daun bidara. Beliau juga mengarahkan
Qais bin Ashim supaya mandi dengan air dan
pendapat ulama Syafi'i, mulut kucing dan sisa daun bidara ketika dia memeluk Islam'301
minumannya adalah suci. Air yang didominasi oleh benda cair yang
b. Air yang Suci, tetapi tidak Menyucikan tidak besifat adalah seperti air musta'mal dan
air mawar yang sudah hilang baunya. Hal ini
Menurut ulama Hanafi, air ini daPat
terjadi apabila benda cair itu lebih banyak
menghilangkan najis dari pakaian dan badan,
dari air suci tadi, seperti apabila dua kati air
tetapi tidak dapat menyucikan [mengangkat) musta'mal bercampur dengan satu kati air
hadats. Oleh sebab itu, tidak sah berwudhu mutlak, atau sebab dua sifat dari tiga sifat yang
dan mandi hadats dengan air ini. Air ini ter-
dimiliki oleh benda cair itu muncul, seperti
bagi kepada tiga jenis.
cuka yang mempunyai warna, rasa dan bau.
(i). Atr yanE bercampur dengAn bnda yang Maka apabila dua sifat dari tiga sifat tersebut
suci yang menyebabkan berubahnYa muncul, hal itu menyebabkan tidak berwu-
salah satu slfat air (rasa, bau, dan
dhu dengan air itu tidak sah. Tetapi jika yang
warna) dan iuga mengfiilangfl<an slffi muncul hanyalah satu sifat saja, maka tidak
menyuclkan yang! dtmllikt oleh air. dianggap sebagai hilang sifat menyucikannya,
karena ia hanya sedikit. Begitu juga apabila
Menurut ulama Hanafi, hal ini teriadi yang muncul hanyalah salah satu dari dua sifat
yang dimiliki benda cair itu, seperti susu yang
apabila benda yang menghilangkan sifat me- mempunyai warna dan rasa, tetapi tidak ada
nyucikan itu lebih dominan daripada ait; baunya.
baik benda-benda itu beku ataupun cair.300 Menurut pendapat ulama Hanafi, air yang
Air yang didominasi oleh benda beku dapat
diragui mempunyai sifat menyucikan, seper-
terjadi apabila benda itu menghilangkan
ti air yang diminum keledai atau bighal di-
sifat air yang lembut dan cai4 atau menghi-
langkan sifat asal air [lembut, cai4 menghi- hukumi sebagai air yang suci' Tetapi apabila
langkan rasa haus, dan menyuburkan tum- keraguan itu dalam hal apakah boleh menyu-
buhan) umpamanya, dengan sebab direbus cikan fmengangkat) hadats dengan meng-
dengan benda-benda seperti kacang putih gunakan air itu atau tidak, maka seseorang
atau adas, asalkan tidak adanya niat untuk yang tidak mendapatkan air lain hendaklah
membersihkan diri fatau benda) seperti apa- berwudhu dengan air tersebut dan kemudian
bila bercampur dengan sabun atau garam. bertayamum. Karena, terdapat pertentangan
dalil antara yang membolehkan dan meng-
Karena, Nabi Muhammad saw. mandi dengan
air yang mengandung bekas tepung sewaktu
2ee Diriwayatkan oleh ad-Daruquthni, Ibid'.
30o Muraqi al-Falah, hlm. 3 - 4; Fathul Qad,r, Jilid I, hlm.48.
3or Nashbur Rayah, f ilid l, hlm. L04; Nailut Authan lilid I, hlm. 239. Hadits pertama diriwayatkan oleh an-Nasa i, lbnu Majah, dan al-
Atsram. Hadits kedua diriwayatkan olehAhmad dari Ais5rah,::.
Isr.AM IrrrD 1 l
haramkan atau karena para sahabat berbeda tersebut tidak dapat digunakan untuk meng-
pendapat mengenai kenajisan dan kesucian- angkat hadats dan menghilangkan najis, ialah
semua benda suci yang bercampur dengan
nya.3o' air yang tidak diperlukan oleh air itu, jika me-
mang benda itu menyebabkan berubahnya sa-
Menurut pendapat ulama Maliki,303 benda lah satu sifat air [warna, bau, dan rasa) dengan
yang dapat menghilangkan sifat menyucikan perubahan yang banyak dan juga menyebab-
yang dimiliki oleh air; sehingga menyebabkan
kan berubahnya nama air itu, dan benda yang
air tidak dapat menghilangkan hadats dan
mengubah itu bukan debu atau garam laut,
menghilangkan najis, ialah semua benda suci
yang bercampur dengan air yang biasanya ia meskipun sengaja dimasukkan ke dalam air.
terpisah dari air dan ia mampu mengubah sa-
lah satu sifat air (warna, bau dan rasa). fuga, Benda-benda tersebut adalah seperti za'faren,
benda itu bukan sebagian dari debu, bukan air pohon, mani, garam bukit, buah kurma,
pula benda untuk menyamak tempat ai4 serta tepung dan lumut yang dibuang ke dalam air;
tidak sulit untuk mengelakkan air dari benda- dan iuga linen atau akar liquorice yang diren-
benda itu. Contohnya adalah sabun, air mawa4 dam di dalam air; dan tar yang bukan untuk
za'foran, susu, madu, kismis yang direndam di
menyamak. Begitu juga air yang bercampur
dalam ai[ lemon, tahi binatang ternak, arang,
dengan daun bidara atau sabun. Oleh sebab
rumput, daun atau jerami yang jatuh ke dalam itu, tidak sah berwudhu dengan air tersebut
telaga yang mudah ditutup, tar yang meresap sebagaimana air daging dan air kacang.
ke dalam air tapi yang bukan untuk menya-
mak wadah, lumut yang direbus, dan ikan yang Perubahan fisikal ataupun perubahan
andaian saja pada kasus di atas sama-sama
mati.
Semua benda tersebut jika menyebabkan menyebabkan berubahnya hukum air, f ika suatu
cairan yang mempunyai sifat sama dengan air
berubahnya salah satu sifat airl maka air itu
masih suci, tetapi tidak menyucikan. Begitu jatuh ke dalam air; seperti air mawar yang
juga air yang berubah banyak karena alat pen- sudah hilang bau, dan tidak terjadi perubahan.
ciduk atau karena wadah, jika kedua benda itu Namun jika diandaikan bahwa air mawar itu
tidak terbuat dari tanah seperti wadah yang mempunyai sifat asal yang pertengahan yang
berbeda dari sifat air; seperti diandaikan ada
terbuat dari kulit atau kayu, tali dari linen warna seperti warna air anggur dan ada rasa
atau sabut. Tetapi jika air itu hanya mengala- seperti rasa delima dan ada bau seperti bau
mi perubahan sedikit saja atau berubahnya olladhan3os dan dengan andaian tersebut, ma-
ka menyebabkan berubahnya air dan air itu
karena tar yang digunakan untuk menyamak, hilang sifat menyucikannya.
maka air tersebut tidak hilang sifat menyu-
cikan yang dimilikinya. Menurut pendapat ulama Hambali,306 di
antara benda-benda yang dapat menghilang-
Menurut pendapat ulama Syafi'i,3oa benda kan sifat menyucikan yang ada pada air ialah
yang dapat menghilangkan sifat menyucikan sesuatu yang dihasilkan melalui proses, se-
yang dimiliki air; sehingga menyebabkan air
302 Fothul qrdir dan al-Hidayah, f ilid 1, hlm. 78. asy-Syarhush-Shaghir,Jilid,l, hlm. 31; al-Qawanin al-Fiqhiyyah,hlm. 30 dan se-
303 Asy-syarhul Kabir,lilid I, hlm. 37 dan seterusnya;
304 terusnya; Bidoyatul Mujtohi4 Jilid I, hlm. 26. f ilid I, hlm. 5. dan ubat.
30s Mughnit Muhtaj,lilid,l, hlm. 1.8; al-Muhadzdzab, minyak wangi
Selenis bahan yang digunakan untuk membuat
306 At-Mughni, Jil t, hlm. 14 dan seterusnya; Kasysyaf al-Qina', jilid t, hlm. 30.
: .:.
=
Isr.AM IILID 1
perti air mawa[ air bunga dan air semangka, Menurut pendapat ulama Hanafi,3o8 air
apabila jumlah bahan-bahan itu Iebih banyak
dari air. Contoh lainnya adalah benda suci yang musta'mal ialah aiiflang telah digunakan un-
tuk mengangkat hadats (wudhu dan mandi)
dapat mengubah air menjadi pewarna atau atau untuk mendapatkan pahala seperti wu-
dhu yang dilakukan oleh orang yang sudah
cuka; sesuatu yang suci yang dapat mengubah berwudhu untuk mendapatkan pahala atau
salah satu sifat air dengan perubahan yang untuk shalat jenazah, masuk ke dalam masjid,
banya( seperti melalui masakan umpaman-
ya air kacang dan kacang besar; atau tidak memegang mushaf Al-Qur'an dan membaca-
melalui masakan seperti za'faran, garam, atau nya. Dan air menjadi musta'mal apabila ter-
karena ada orang yang membuang benda itu pisah dari badan. Yang menjadi musta'mal
ke dalam air dengan sengaja seperti Iumut ialah air yang menyentuh badan saja bukan
atau daun kayu dan seumpamanya. Dalam ke- semua air yang digunakan.-l)49lUll[9$:
adaan tersebut, air itu tidak dinamakan lagi pat mereka, air musta'mal adalah suci, tetapi
sebagai air mutlak. Maka, tidak boleh berwu- tidak dapat untuk menyucikan hadats dan ti-
dhu dengannya. daoat untuk membersihkan naiis. Yaitu,
(li). Alr musta'mal yang *dikit -da^pkabila mandi atau berwudhu dengan meng-
Yang dimaksud dengan air musta'malyang gunakan air itu maka hadatsnya tidak akan
sedikit adalah air yang ukurannya kurang dari
dua kulah. Menurut ukuran timbangan, 2 ku- hilang. Tetapi menurut pendapat yang raiih
lah adalah sama dengan [kurang lebih) 500 dan mu'tamad, air tersebut dapat digunakan
kati Baghdad,3o7 atau 446 3l? kati Mesit, atau untuk menghilangkan najis dari pakaian dan
81 kati Syam. 1 kati Syam sama dengan?r /rkg.
fadi, dua kulah sama dengan 195, LL2kg. badan.
Adapun menurut ukuran banyak 2 kulah Menurut pendapat ulama Maliki,3oe air
adalah sama dengan 10 tin (ada pendapat musta' moialah air yang telah digunakan untuk
mengatakan 15 tin atau2701iterJ. Dan apabila mengangkat hadats fwudhu atau mandi) atau '
diukur dengan ruangan bersegi empat adalah menghilangkan najis, baik mandi wajib seperti
L1/n hasta bagi masing- masing panjang, lebar
dan dalam, berdasarkan hasta yang sederha- untuk memandikan jenazah atau bukan wajib
na. seperti wudhu yang dilakukan oleh orangyang
Adapun untuk ukuran tempat yang bun- sudah wudhu, mandi sunnah lumat, mandi
dar seperti kolam/telaga adalah, 2 hasta untuk untuk dua hari raya, siraman kedua atau ke-
ukuran dalamnya dan L hasta untuk ukuran tiga ketika mengambil wudhu, jika memang
lebarnya. Menurut pendapat ulama Hambali,
ukurannya ialah 2 t/, hasta untuk dalam dan 1 penggunaan itu tidak menyebabkan perubah-
hasta untuk lebar. an air yang dipakai.
Air yang dianggap musto'mal ketika digu-
nakan untuk mengangkat hadats ialah air yang
menetes jatuh dari anggota badan,310 yang
melekat pada badan, yang terpisah sedikit dari
badan, atau air fdalam satu tempat) yang di-
307 Rrthl (kati) Baghdad ialah 128 a/, dirham dan kati Mesir beratnya 144 dirham. Berat satu dirham ialah 3,17 gram.
308 Al-Bada'i',Jilidl, hlm. 69 dan seterusnya; ad-Du mtl Mukhta rwa Raddul Mukhtar,f ilid I, hlm. lB2 - 186; Fathul Qadir lilid I, hlm. 58, 51.
309 Asy-Syarhush Shaghir,Jilid I, hlm. 37 - 40; asy-Syarhul Kabir ma'a ad-Dasuqi, lilid I, hlm.41 - 43; al-Qawanin ol-Fiqhiyyah, hlm. 31;
Bidayatul Mujtahrd, lilid I, hlm. 26 dan seterusnya.
310 Dalam hal ini air berbeda dengan tanah. Oleh sebab itu, tanah tayammum tidak makruh digunakan sekali lagi, karena ia tidak me-
lekat pada anggota tubuh.
*.".YFi-+.';:"-=., != :- '::::i..: l. .-!l
1,-:E-:= S
ISLAM 1 Baglan 1: IBADAH
'ILID
masuki oleh anggota badan. Tetapi jika air itu sebagai ganti menyapu khuf (sejenis sarung
diciduk dengan tangan dan anggota badan itu kaki yang dibuat dari kulit), air yang sudah
dibasuh di luar tempat air tersebut, maka air digunakan untuk mandi perempuan kafir dari
itu tidak menjadi musta'mal. haid dan nifas supaya halal digauli oleh suami-
M.n nya yang Islam atau tuannya [tuan hamba)
yang Islam, air yang telah digunakan untuk
musta'mal adalah suci dan menyucika an
menurut pendapat yang rajih, menggunakan memandikan jenazah dan air yang telah digu-
air musta'mal untuk menghilangkan najis, atau nakan untuk mandi perempuan gila dari haid
membasuh wadah dan seumpamanya adalah dan nifas supaya halal digauli oleh suaminya
tidak makruh. Tetapi apabila digunakan untuk yang Islam dan tuannya [tuan hamba) yang
mengangkat hadats atau mandi sunnah apa- Islam. Air-air tersebut tidak menjadi musta'-
bila ada air lain adalah makruh, jika memang mal kecuali apabila terpisah dari anggota ba-
air musto'mal itu sedikit. Alasan ia dihukumi dan.
makruh adalah karena kurang bisa diterima Air musfa'mal yang suci boleh digunakan
oleh perasaan. untuk menghilangkan najis dengan tiga sya-
Menurut pendapat ulama Syafi'i,3ll air rat.
mustumili;Df,h air sedikit yang telah diguna-
(a) Menurut pendapat yang paling ashah,
kan untuk mengangkat hadats yang fardhu hendaklah air itu mengalir di atas tempat
seperti siraman pertama ketika mengangkat najis apabila air itu sedikit, supaya ia tidak
hadats. Dan menurut pendapat yang paling
menjadi najis sebagaimana jika air itu
Lshah dalam qaul iodid, _ye!€_aigglglal_
tidak dialirkan. Karena, air akan menjadi
-1ti1siraman yang kedua dan ketiga adalah suci najis apabila terkena najis.
--dan
menyucikan. dengan mengangkat ha- (b) Air yang terpisah dari tempat najis itu
- Yang dimaksud
hendaklah tidak berubah salah satu sifat-
dats yang fardhu-meskipun formalitas-ialah nya, dan tempat itu menjadi suci.
seperti air wudhu anak-anak, karena sahnya [c) Hendaklah berat air itu tidak bertambah
shalat yang dilakukan memang memerlukan setelah air diserap oleh kain dan setelah
kotoran itu bercampur dengan air. f ika air
wudhu. berubah atau bertambah timbangannya,
atau tempat yang terkena najis itu tidak
Di antara air yang termasuk air musta'mal suci, yaitu masih ada warna najis dan bau-
nya, atau rasanya saja, dan sebenarnya
ialah air sedikit yang diciduk dengan tangan tidak susah menghilangkannya, maka itu
menunjukkan masih ada zat najisnya.
tanpa niat menciduk ketika hendak mem-
basuh kedua belah tangan. Dengan kata lain,
memindah air dari suatu wadah untuk mem-
basuh kedua belah tangan di luar wadah itu.
Tetapi jika ada niat untuk menciduk dengan Hukum air musfa'ma/menurut qaul iadid
kedua belah tangan itu, maka air itu masih
:dalah suci, tetapi tidak menyucikan, maka
dianggap suci dan menyucikan.
Di antara air musta'mal juga ialah air yang tidak ioleh berwudhu atau mandi untuk
telah digunakan untuk membasuh kepala se- mengangkat ha4a'!s dengan menggunakan
bagai ganti menyapunya atau membasuh kaki
- air itu, dan arr itu juga tidak da
-
fiiufaEfighilangkan najis. Kesimpulan ini
377 Mughnil Muhtaj,lilidt, hlm. 20,85; al-Muhadzdzab, Jilid I, hlm. 5,8.
BaE[an 1: IBADAH FIQIH ISIAM JILID 1
didasarkan bahwa ulama salal menggunakan Di antara contoh air musta'mal ialah air
air tersebut dan tidak menghindar dari per- sedikit yang dimasuki oleh tangan atau digu-
cikan air itu, dan di dalam Shahih al-Bukhari nakan untuk membasuh tangan orang bangun
tidur malam, dan orang tersebut adalah Mus-
dan Muslim diriwayatkan, lim, berakal, dan baligh, dan masuknya tangan
ke dalam air itu sebelum tangan dibasuh tiga
"Nabi Muhammad saw telah menziarahi
fabir yang sedang sakit menjelang matinya, kali.
lalu beliau mengambil wudhu dan memer-
Di antara contohnya Iagi ialah air yang
cikkan air wudhunya ke arah JabirJ' dimasuki oleh semua bagian tangan hingga
Dan meskipun kekurangan air; para saha- ke siku seorang Muslim, berakal, dan baligh
(bukan anak-anak, orang gila dan kafir). fika
bat tidak mengumpulkan air musta'mal untuk
digunakan lagi. Sebaliknya mereka bertaya- yang dimasukkan ke dalam air bukanlah
mum, dan mereka juga tidak mengumpulkan-
ya untuk diminum karena air tersebut men- tangan, seperti muka dan kaki, maka air itu
jijikkan. tidak menja di musta'mal.
Air musta'mal yang sedikit yang bercam- Air tidak menjadi musta'mal kecuali apa-
pur dengan air mutlak adalah dimaafkan. Oleh bila terpisah dari tempat yang dilaluinya. Air
musta'mal sedikit yang bercampur dengan air
sebab itu, jika air musta'mal dikumpulkan lain adalah dimaafkan, karena Nabi Muham-
mad saw. dan para sahabatnya berwudhu di
hingga sampai dua kulah, maka sifatnya yang dalam mangkuk dan mandi di dalam ember
besar. Nabi Muhammad saw. mandi di dalam
menyucikan akan kembali lagi, ini adalah
satu bejana bersama Aisyah, dan tangan me-
menurut pendapat yang paling ashah. reka bergiliran menciduk air. Masing-masing
dari mereka berkata, "Sisakan untukku." Dalam
. Menurut pendapat ulama Hambali,31z air kondisi seperti itu, percikan tetesan air mandi
musta'mal ialah air yang telah digunakan un- ke dalam bejana tidak dapat dielakkan. Tetapi
tuk mengangkat hadats besar (junub) atau
hadats kecil [wudhu), atau-menurut penda- jika percikan yang jatuh ke dalam bejana air
pat al-madzdzhab-air siraman yang ketu- itu banyak dan menyebabkannya rusak, maka
juh313 ketika untuk menghilangkan najig dan tidak boleh bersuci dengan menggunakan air
air itu tidak berubah salah satu sifatnya [war- itu. Ini menurut riwayat yang rajih. Dan pen-
dapat tersebut sama dengan pendapat ula-
na, rasa, dan bau). ma Syafi'i sebagaimana yang telah kita telah
Di antara contoh air musta'mal ialah air jelaskan.
yang telah digunakan untuk memandikan je-
nazah, karena memandikan jenazah adalah Terdapat dua riwayat mengenai hukum
ibadah bukan karena hadats. Air juga menjadi air musta'mal karena digunakan untuk bersuci
musta'mal apabila seseorang yang junub atau yang sunnah, seperti memperbaharui wudhu,
yang berwudhu berniat mengangkat hadats untuk siraman yang kedua dan ketiga di dalam
di dalam air yang sedikit. Tetapi jika ia tidak wudhu, untuk mandi sunnah fumat, dan mandi
niat mengangkat hadats atau hanya niat men- dua hari raya.
ciduk air atau niat menghilangkan debu atau
mendinginkan badan, maka air tersebut masih
mempunyai sifat menyucikan.
312 KasyryaSulQina',Jilidl,hlm.31 -37;al-Mughni,lilidl,hlm. L5,18-22,124.
313 Air basuhan yang keempat dalam wudhu adalah suci dan basuhan yang kedelapan dalam selepas naiis itu hilang adalah suci me-
nurut ulama Hambali.
-.1
ISIAM IILID 1 I
I
Pertama, hukumnya sama seperti air kulah, maka semuanya menjadi suci dan me-
musta'mal yang disebabkan untuk mengang- nyucikan.
kat hadats, karena semua itu adalah bersuci
(iii) Atr tumbubtumbuhan balk bunga atau
yang disyariatkan. Kedua, hukumnya menyuci- futah, seryfti air mawar, air semangka,
kan. Maka bersuci dengan air tersebut adalah dan *umpamanya adalah suci, tetaPi
tldak menyucikan.
boleh, dan hukumnya sama seperti meng-
gunakan air untuk mendinginkan badan. Ini c. Air yang Najis
adalah pendapat yangrajih, dan tidak terdapat Air yang najis ialah air yang terkena ben-
perselisihan pendapat ulama bahwa air yang
digunakan untuk mendinginkan badan dan da najis yang tidak dimaafkan oleh syara' se-
membersihkan badan itu masih suci dan me- perti tahi yang sedikit, dan air tersebut tidak
nyucikan dan tidak makruh menggunakannya. mengalir dan juga sedikit.
Air sedikit tidak menjadi musta'mal jika Menurut pendapat ulama Hanafi,3ls ukur-
an sedikit ialah ukuran yang kurang dari 10 x
diciduk tangan orang yang mengambil wudhu 10 hasta biasa, bentuk empat persegi panjang.
untuk membasuh kedua tangannya. Karena,
orang yang menciduk itu tidak bertujuan se- Maka, air itu menjadi najis meskipun tidak
lain menciduknya saja. Dia tidak bertujuan tampak bekas najis di dalamnya.
membasuh tangannya di dalam air itu. fuga, Menurut pendapat yan g ashah, j ika tempat
karena Nabi Muhammad saw., menurut riwa- itu berukuran 10 x 10 hasta berbentuk kolam
yat Sa'id dari Utsman, pernah menciduk air empat persegi panjang, atau berukuran tiga
dari satu wadah dengan tangannya, puluh enam berbentuk bulat dan tidak tampak
dasarnya apabila air diciduk darinya, maka air
"Kemudian menciduk dengan tangan ka- tidak najis kecuali apabila sifat najis itu tam-
nannya. Lalu membuangnya ke lengan kanan- pak di dalamnya.
nya, dan beliau membasuhnya hingga ke siku
sebanyak tiga kali." Air yang mengalir menjadi najis apabila
Hukum air musta'mal ialah tidak dapat ada bekas najis padanya. Yang dimaksud bekas
mengangkat hadats dan tidak dapat meng- najis ialah rasa najis, warnanya, atau baunya.
hilangkan najis sebagaimana pendapat ulama Oleh sebab itu, air mutanajiis (air yang
Syafi'i. menjadi najis) terbagi menjadi dua jenis. Per-
Ada dua pendapat mengenai air musto'mal
tame, air sedikit yang mempunyai sifat me-
yang dikumpulkan hingga sampai dua kulah,
nyucikan, dan kejatuhan najis meskipun salah
Pertama, ia masih tetap seperti asalnya
satu sifatnya tidak berubah. Kedua, air yang
[masih musta'ma[). Keduo, ia menyucikan, mempunyai sifat menyucikan, dan kejatuhan
berdasarkan sabda Nabi Muhammad saw., naiis serta berubah salah satu sifatnya [warna,
bau dan rasa).
'Apabila air mencapai dua kulah, maka ia
tidak akqn najis.'4l+ Para ulama sependapat bahwa air jenis
Apabila air musta'mal bercampur dengan kedua adalah najis, yaitu yang berubah salah
satu sifatnya. Ulama Syafi'i dan Hambali se-
air yang tidak musta'mal dan menjadi dua
314 Diriwayatkan oleh kumpulan lima periwayat, asy-Syafi'i, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, al-Hakim, ad-Daruquthni, dan al-Baihaqi
dari Abdullah bin Umar. Al-Hakim mengatakan bahwa hadits ini shahih menurut syarat keduanya (Nailul Authar,lilid I, hlm. 30).
37s Muraqi al-Falah,hlm. 4,
FIQIH IST"AM JILID 1
pendapat dengan ulama Hanafi yang menga- seperti setitih dan air tidak mengalami peru-
takan bahwa air jenis pertama adalah najis. bahan, maka menggunakan air itu untuk me-
Namun, ulama Syafi'i mengecualikan najis ngangkat hadats atau untuk menghilangkan
yang dimaafkan seperti bangkai binatang yang najis adalah makruh. Namun jika digunakan
tidak mengalir darahnya seperti lalat dan le- untuk bersuci yang sunnah dan yang musta-
hab, maka hukumnya adalah tawoqquf [tidak
bah apabila terjatuh atau ditiup angin, dan ada putusan). Dan kalau digunakan untuk
adat/kebiasaan, maka tidak makruh.
jatuh ke dalam air tersebut.
Kadar air sedikit menurut pendapat ula-
Menurut riwayat yang raiih di kalangan
ulama Maliki, air jenis pertama adalah me- ma Syafi'i dan Hambali ialah dua kulah318 jenis
nyucikan. Yaitu, air sedikit yang kejatuhan kulah Hajar fnama tempat) yang ukurannya
sama dengan lima qirbah (satu qirbah sama
najis, tetapi tidak berubah salah satu sifatnya.
Tetapi, menggunakannya adalah makruh un- dengan 100 kati Baghdad, maka dua kulah
tuk menghormati pendapat yang berbeda da-
rinya.316 Menurut kebanyakan pendapat ahli sama dengan 500 kati Baghdad).
fiqih, air mutanajjis tidak bermanfaat dan ti- Apabila air mencapai dua kulah, lalu ada
dak boleh digunakan untuk bersuci ataupun
najis yang jatuh ke dalamnya, baik najis itu
Iainnya, kecuali untuk minuman binatang beku atau cait; dan tidak ada perubahan rasa,
warna atau bau ai4 maka air itu dianggap suci
atau menyiram tanaman, atau ketika dalam dan menyucikan, berdasarkan sabda Nabi
keadaan darurat seperti dahaga sehingga ia Muhammad saw,
terpaksa meminumnya. "Apabila air mencapai dua kulah, maka ia
tidak membawa (yahmil) naiis."
llkuran banyak ataupun *diklt air
Menurut Imam al-Hakim, hadits ini shahih
Para ahli fiqih berbeda pendapat menge- menurut syarat Imam al-Bukhari dan Muslim'
nai ukuran banyak ataupun sedikitnya air' Imam Abu Dawud meriwayatkan dengan re-
Menurut pendapat Abu Hanifah, air yang ba- daksi lain dan juga perawi Iain dengan sanad
nyak ialah apabila air itu dikocak pada salah yang shahih,
satu bagiannya, maka bagian lainnya tidak
bergerak.317 Air yang sedikit ialah yang kurang "sesungguhnya ia tidak meniadi naiis (laa
dari ukuran 10 x 10 hasta biasa, bentuk per- yanjus)."
segi panjang, sebagaimana yang diterangkan
Yang dimaksudkan dengan "tidak mem-
di atas. bawa najis" ialah menolak najis dan juga tidak
Madzhab Maliki tidak menetapkan kadar menerimanya.
banyak air. Mereka hanya menetapkan bahwa fika salah satu sifat air yang banyak (dua
air yang sedikit adalah makruh, yaitu sekadar
satu ukuran yang cukup untuk wudhu atau kulah) berubah, meskipun berubah sedikit
mandi, atau kurang dari ukuran itu' fika air
yang sedikit itu kemasukan najis yang sedikit
316 Asy-Syarhrl Kabir ma'a ad-Dasuqi, Jilid I, hlm. 37,43; asy-Syarhush Shaghir, )ilid I, hlm. 31, 35 dan seterusnya; al-Qawanin al'
Fiqhiyyah,hlm.30; Bidayatul Muitahr4 lilid I, hlm.23; al-Muhadzdzab, lilid t, hlm. 5-8; Mughnil Muhtai,lilid I, hlm. 21 dan seterus-
nya; al-Mughni,Jilid l, hlm. 22 - 27; Ghayatut Muntaha,lllid I, hlm. 9 dan seterusnya; Kasysyaful Qina', Jilid I, hlm. 37 ,39 - 42' 44 dan
seterusnya.
317 Fathut Qadir, Jilid I, hlm. 55.
378 qu\rh dari segi bahasa artinya adalah 'tempayan"
IsrAM lrlrD 1
saja, maka ia menjadi najis menurut ijma ulama 5. HUKUM MENGENAI S'SA M'NUMAN DAN
yang menganggap hadits mengenai air dua TELAGA
kulah adalah hadits khusus, dan begitu juga a. Hukum Air Sisa Minuman
hadits riwayat at-Tirmidzi dan lbnu Hibban,
Menurut istilah syara', air sisa minuman
'Air tidak dinajiskon oleh sesuatu.'ale ialah air sisa yang terdapat di dalam wadah
atau kolam selepas diminum oleh peminum-
Menurut lbnul Mundzir; ijma ahli ilmu
mengatakan bahwa air yang sedikit dan ba- nya. Kemudian kata slsa juga digunakan untuk
nyak, apabila terkena najis, lalu berubah rasa, semua makanan.
warna, atau bau air itu, maka ia menjadi najis.
Dan Abu Umamah al-Bahili telah meriwayat- Para ulama sependapat bahwa air sisa
kan bahwa Nabi Muhammad saw. bersabda,
minuman manusia dan binatang ternak adalah
/o ,"ryv;rir ,11 suci. Tetapi, mereka berbeda pendapat me-
-:&(^lluYl dli "ei ngenai air sisa minuman selain manusia dan
"Air itu menyucikan. Sesuatu'irkoU'^"no- binatang ternak.
jiskannya kecuali apabila mengubah beu, rose, Madzhab Hanafi
don warnonya." Menurut pendapat ulama Hanafi,3z2 hukum
air sisa minuman yang bercampur dengan air
Hadits ini ialah hadits yang diriwayatkan Iiur peminumnya berbeda disesuaikan dengan
oleh Ibnu Majah, tetapi lemah.3zo suci atau najisnya daging peminumnya. Air sisa
minuman manusia dan binatang yang halal
Saya me-ra7ih-kan pendapat ulama Syafi'i
dan Hambali yang menerima Hadits mengenai dimakan dagingnya adalah suci, dan air sisa
air dua kulah yang shahih, meskipun ulama minuman anjing adalah najis. Terdapat juga
Hanafi mengatakan bahwa hadits itu mudh- air sisa minuman yang makruh atau diragui
tarib dan berlawanan dengan riwayat-riwayat hukumnya. Maka menurut pendapat ulama
Iainnya. Karena, dalam satu riwayat disebut- Hanafi, air sisa minuman terbagi kepada
kan apabila mencukupi tiga kulah, dan di da-
lam riwayat lain disebutkan satu kulah dan empat yaitu suci, makruh, diragui, dan najis.
ukuran kulah itu tidak diketahui. Tetapi, ulama Keterangannya adalah sebagai berikut.
Syafi'iyah telah menjawab semua keberatan
1. Air sisa minuman peminum yang suci
itu.321
adalah menyucikan dan tidak makruh,
yaitu air sisa minuman manusia atau
binatang yang halal dimakan dagingnya
seperti unta, lembu, kambing, dan-menu-
rut pendapat yang paling ashah-juga
kuda dan yang semacamnya, selama
binatang tersebut tidak memakan barang
'1. 31e Lihat Nas/r bur Rayah,filid I, hlm. 95. Ibnu Hibban mengatakan bahwa hadits ini mengkhususkan hadits dua qultah, keduanya [ha-
dits ini dan hadits yang akan datangJ mengkhususkan bahwa air yang berubah disebabkan oleh najis adalah nalis hukumnya, baik
f#n: h,rr i; air itu banyak atau sedikit, demikianlah pendapat iima ulama.
m,
320 Nashbur Rayah,lilid.l, hlm. 94.
I...ftrit 327 subulus satam,Jilidl, hlm. 19.
322 Ad-DurrulMukhtarwaRaddulMukhtar,lilidl,hlm.205dan2gT;FathutQadir,jilidl,hlm.T4danseterusnya;TabyinulHaqa'iq,lilid
l, hlm. 31.
5"€*
BaEFan 1: IBADAH lsrAM rrrrD 1
najis dan tidak sedang mengunyah makan- "Dahulukan yang sebelah kanQn."
an-jika memang termasuk binatang me- 2. Air sisa minuman Peminum Yang suci,
mamah biak-karena air liur tersebut ada- tetapi makruh tanzih apabila mengutama-
lah keluar dari daging yang suci. Maka, air
yang bercampur dengannya juga suci' kan air itu apabila ada air lain, yaitu
Hukum ini tidak ada perbedaan anta- air sisa minuman kucing, ayam yang di-
ra anak-anak dan dewasa, Muslim atau Iepas,32s unta dan lembu yang memakan
kafir; junub atau haid. Kecuali orang kafir najis (yang tidak diketahui keadaannya),
burung sawah atau burung Yang me-
yang meminum arak, maka mulutnya najis nyambar seperti elang dan gagak, dan
apabila ia langsung meminum air setelah binatang yang terdapat di rumah seperti
meminum arak. Tetapi jika ia tidak lang- ular dan tikus, selagi najis pada mulut-
sung meminum ai4 melainkan ada jeda nya tidak tampak. Karena, hewan itu bia-
waktu untuk membasahi mulutnya dengan sa berkeliaran di rumah dan juga karena
darurat, tidak dapat dielakkan' Juga, ka-
air liurnya kemudian baru meminum ail rena Nabi Muhammad saw memberikan
tempat minuman kepada kucing lalu ku-
maka air itu tidak menjadi najis.323 cing itu meminumnya, dan kemudian be-
Dalil yang menunjukkan bahwa air sisa liau berwudhu dengan air itu.326
minuman manusia dihukumi suci adalah
hadits riwayat Abu Hurairah yang berkata, 3. Air sisa minuman binatang yang suci,
"Wahai Rasulullah, engkau menemuiku
ketika aku sedang junub, maka aku tidak tetapi diragui apakah air itu menyucikan
mau menjumpaimu." Lalu Rasul bersabda, atau tidak, yaitu air sisa minuman bighal
dan keledai kampung. Air seperti ini bo-
"subhanallah, sesungguhnya orang muk- leh untuk berwudhu atau mandi. Namun
setelah itu, hendaklah bertayamum atau
min tidak najis."3za bertayamum dulu baru kemudian ber-
wudhu atau mandi dengan air itu. Hal ini
Dan juga riwaYat Imam Muslim dari dilakukan sebagai langkah berhati-hati
Aisyah yang berkata, "SaYa minum se- untuk satu shalat. Keraguan ini muncul
waktu haid. Lalu saya memberi minum itu
kepada Rasulullah saw.. Kemudian beliau sebab terdapat pertentangan antara dalil-
meletakkan mulutnya pada tempat mulut dalil yang menghalalkan dan mengharam-
kan daging binatang tersebut, dan juga
saya." adanya perbedaan pendapat di kalangan
para sahabat dalam hal najis atau sucinya
Dan iuga riwaYat Imam al-Bukhari binatang-binatang tersebut. Atau, karena
bahwa Rasulullah saw. minum susu, di masalah ini tidak menjadi masalah daru-
sebelah kanan beliau ada orang Arab, di
sebelah kiri beliau ada Abu Bakac lalu
Rasul memberikan air minum itu kepada
orang Arab sembari bersabda,
Contohnya iika anggota orang kafir terkena najis, kemudian disapu dengan mulutnya hingga tidak ada lagi bekas naiisnya, atau
anak kecil muntah di atas tetek ibunya lalu dihisapnya hingga hilang maka sucilah tempat itu'
Hudzaifah dan baginda mengulurkan tangannya dengan
324 Diriwayatkan oleh Imam Muslim bahwa Nabi Muhammad saw. bertemu tangannya sambil berkata, "Saya sedang junub" lawab
maksud hendak bersalaman dengannya. Lalu Hudzaifah menggenggam
baginda, "Orang mukmin tidak najii'
325 yaitu ayam yang dilepas dan bercampur dengan nalis. Adapun ayam yang dikurung dan diberi makan dalam kandang tidaklah
makruh menggunakan air bekas minumnya karena ia hanya memakan bi.iian'
326 Diriwayatkan oleh ad-Daruquthni dengan dua jalur hingga menuiu'Aisyah r.a. (Nashbur Rayah, lilid l, hlm. 133)'
'-*l&i.'- ;+
Sisi-:
FIQIH ISIAM IILID 1 Baglan 1: IBADAH
rat atau bailwa (tidak dapat dihindari) Menurut satu riwayat yang lain,
yang menggugurkan hukum najis. Hal
"Sesungguhnya ia najis, hendaklah
ini karena binatang-binatang tersebut
periuk itu dibalik (sekalipun) ketika
biasanya ditambat di dalam rumah dan
ia meminum air di dalam tempat-tempat d ag ing ny a su d ah m e n didih,'azq
yang digunakan oleh manusia. Hewan itu Perbedaan pendapat di kalangan para
juga bergaul dengan manusia, bahkan di- sahabat mengenai suci dan najisnya ke-
tunggangi. Namun menurut pendapat al- ledai adalah berdasarkan pendapat Ibnu
Umar yang mengatakan bahwa keledai
madzhab di kalangan ulama Hanafi, air
liur bighal dan keledai adalah suci. Yang adalah najis. Tetapi, Ibnu Abbas mengata-
kan bahwa keledai adalah suci.
diragukan ialah hukum air sisa minuman-
nya itu apakah ia menyucikan atau tidak. Sebenarnya, hadits riwayat Anas ada-
lah yang riwayat yang ashah, dan daging
Adapun dalil yang bertentangan me- keledai adalah haram dimakan tanpa ada
ngenai halal atau haram dagingnya, ada permasalahan lagi. Dan apabila ada per-
tentangan di antara haram dan halal, maka
dua hadits yaitu:
lebih baik diutamakan pendapat yang
(a) Hadits Abjar bin Ghalib, yang berkata,
mengharamkan, baik dengan cara mem-
"Wahai Rasulullah! Kami mengalami
musim kemarau, dan saya tidak mem- pertimbangkan pertentangan di antara
punyai apa pun untuk memberi ma-
kan keluarga kecuali lemak keledai, kedua hadits tersebut atau kedua ijtihad
sedangkan engkau telah mengharam- sahabat tersebut.
kan keledai kampung?" Lalu Rasul Dan yang paling shahih mengenai ala-
menjawab, "Berilah keluargamu ma- san munculnya keraguan hukum ini ada-
lah adanya keraguan mengenai dikatego-
kan lemak keledaimu."32? rikannya kasus ini sebagai kasus darurat
atau tidak. Karena, keledai biasanya di-
[b) Hadits Anas bahwa lelaki telah me- tambat di dalam bagian rumah dan hala-
man, dan ia tidak mencapai taraf darurat
nemui Rasulullah saw. dan berkata, seperti taraf daruratnya kucing dan tikus.
"Wahai Rasulullah! Saya telah mema- Karena, kedua-duanya dapat masuk ke
kan daging keledai." Rasul tidak men- tempat sempit, sedangkan keledai tidak
jawab. Lelaki itu datang menemuinya dapat berbuat demikian. Maka, air sisa
lagi, dan berkata, "Saya telah mema- minumannya diragui apakah menyucikan
kan daging keledai." Rasul juga tidak atau tidak; dari satu segi ia adalah najis
menjawab. Lelaki itu kemudian datang karena najisnya air liuc dan dari satu segi
untuk ketiga kalinya, dan berkata, ia adalah suci karena terdapat sedikit da-
"Saya telah memakan daging keledai rurat dan adanya keraguan mengenai air
sampai habis." Lalu Rasul menyuruh
seseorang memberi tahu kepada ba- sisa minumannya. fadi yang menyebabkan
nyak orang, " Sesungguhnya Allah SWT timbulnya keraguan adalah hal-hal ter-
dan Rasul-Nya melarang kalian me-
makan daging keledai kampung!'
FIQIH ISIAM IILID 1
sebut bukannya masalah pengharaman Madzhab Maliki 330
dagingnya, dan bukan karena terdapat per-
bedaan pendapat di kalangan sahabat ten- L. Air sisa minuman manusia. Apabila orang
tang sisa minumannya.
itu adalah Muslim dan dia tidak minum
4. Air sisa minuman binatang yang najis arak, maka air sisa minumannya adalah
suci dan menyucikan menurut ijma ula-
mughallazhah (berat). Air ini tidak boleh ma. Apabila orang itu adalah kafir atau
orang yang meminum arak maka apabila
digunakan sama sekali kecuali dalam ke-
adaan darurat, sama seperti hukum me- di mulutnya ada benda najis, maka air sisa
minumannya adalah sama seperti airyang
makan bangkai. Yang termasuk air ini
bercampur najis. Apabila pada mulutnya
ialah air sisa minuman anjing, babi, atau tidak ada naiis, maka air sisa minuman-
binatang buas seperti singa, harimau, se- nya adalah suci dan menyucikan, ini ada-
lah menurut pendapat jumhur.
rigala, kera, dan musang.
Tetapi menurut pendaPat ulama
Najisnya anjing adalah berdasarkan Maliki, menggunakan air sisa minuman
sabda Nabi Muhammad saw, peminum arak baik dia seorang Muslim
atau kafir yang diragui mulutnya adalah
'Apabila anjing meminum di dalam
makruh, sebagaimana juga air yang di-
waah air komu, maka hendaklah (wadah
itu) dibasuh tujuh kali.'aze masuki oleh tangan orang tersebut juga
makruh, karena ia sama seperti air yang
Apabila tempat air itu dianggap najis,
maka airnya tentulah lebih berhak untuk dimasuki benda najis, tetapi tidak menye-
dikatakan najis. Hal ini juga menunjuk-
kan bahwa anjing itu najis. babkan perubahan.
Babi dihukumi najis karena ia adalah 2. Air sisa minuman binatang yang mema-
najis 'ain berdasarkan firman Allah S\MX,
kan najis, seperti kucing dan tikus. Apabila
"...kareno semua itu kotor (naiis)...."
pada mulutnya ditemui ada najis, maka
(al-An'aam:145) air sisanya adalah sama seperti air yang
bercampur dengan najis. Tetapi jika mu-
Najisnya binatang-binatang buas ialah lutnya didapati bersih, maka air sisanya
dihukumi suci, dan jika tidak diketahui,
karena dagingnya najis dan air liurnya maka ia dimaafkan. Karena, ia termasuk
yang bercampur dengan air adalah keluar perkara yang sulit untuk dihindari, tetapi
dari dagingnya, maka ia menyebabkan air makruh menggunakannya. Adapun me-
itu najis. ngenai najisnya benda yang dihindari itu
terdapat dua pendapat,331 pendapat yang
rajih adalah yang mengatakan bahwa ia
suci.
Riwayat Imam Ahmad dan aqy-syaikhan (muttafaq'alaih) dari Abu Hurairah. Lafal hadits yang diriwayatkan oleh lmam Ahmad dan
Muslim adalah, "Bersihkan belana kamu apabila dijilat anjing dengan membasuhnya tuiuh kali, yang pertama (campurlah) dengan
tanahJ' fNailul A uthar, Jilid I, hlm. 36).
Al-Qawanin al-Fiqhiyyah, hlm. 31; Bidayatul Mujtahid,Jilidl,hlm.2T - 30; asy-Syarhush Shaghin filid I, hlm. 43; asy-Syarhul Kabir,
]ilid I, hlm. 43 - 44.
331 Diriwayatkan oleh Qurrah dari lbnu Sirin dari Abu Hurairah, dia berkata, "Rasulullah saw. bersabda,'Bersihkanlah beiana yang
diiilat oleh kucing dengan membasuhnya sekali atau dua kali."'Qurrah adalah perawi yang tsiqah fdipercayai) di kalangan ahli
hadits. Malik meriwayatkan dari Abu Qatadah bahwa Rasulullah saw. bersabda tentang kucing, "la tidak naiis, ia hanya binatang
!yang berkeliaran di sekeliling kamu
rltl;;,,;'iii*+*r'. ."--*, : ;:i.-.
--
Ftq[H IsrAM JrLID 1 Baglan 1: IBADAH
3, Air sisa minuman binatang dan burung gunakan berwudhu, maka wudhunya di- t
yang makan dengan cara menyambar anggap sah. ,i
fburung buas) adalah suci, tetapi meng-
gunakan air sisa minuman binatang yang 4. Air sisa minuman binatang seperti kuda, ;
tidak terpelihara dari najis seperti burung bighal, keledai, binatang-binatang liar yang ,It
adalah makruh. halal dimakan dagingnya dan juga yang
haram dimakan dagingnya adalah suci. I
4. Air sisa minuman anjing dan babi adalah Itulah riwayat yang rajih di kalangan ula-
suci.Membersih@ ma Hambali, berdasarkan Hadits riwayat i)
anjing seba Jabin I
1"-"tr--rtr. Adrpun membasuh mang- "Nabi Muhammad saw. telah ditanya, I
Apakah kita boleh berwudhu dengan air
kuk yang diminum oleh babi sebanyak sisa keledai?' Rasul menjawab, 'Ye, dan t
juga air siso semua binatang fiqqs'n333
tujuh kali ada dua pendapat. l
Dan karena binatang-binatang terse-
Madzhab Syafi'l dan Hambali332 but boleh dimanfaatkan bukan hanya se- I
masa darurat, maka ia suci seperti biri-
1. Air sisa minuman manusia adalah suci, I
biri, dan juga karena Nabi Muhammad
baik Muslim atau kafir. Hukum ini disepa- I
kati oleh semua ulama, sebagaimana yang saw dan sahabatnya menunggang bighal
dan keledai. Apabila ia najis, niscaya Nabi
telah diterangkan di atas berdasarkan Muhammad saw. akan menjelaskannya,
dan orang yang memeliharanya tidak
sabda Nabi Muhammad saw, dapat mengelak dari binatang tersebut,
maka ia sama seperti kucing. Yang dimak-
"Orang mukmin tidak menajiskan." sudkan dengan ungkapan, "ia adalah na-
jis" dalam hadits Nabi Muhammad saw.
2. Air sisa minuman binatang yang halal di-
mengenai keledai dalam peperangan
makan dagingnya adalah suci. Menurut
Ibnul Mundzi4 "Ulama telah berijma bah- Khaibar ialah haram dimakan.
wa air sisa minuman binatang yang halal
dimakan dagingnya, boleh diminum dan 5. Air sisa minuman anjing dan babi dan
juga boleh digunakan untuk berwudhu."
yang lahir dari keduanya atau salah satu
3. Air sisa minuman kucing, tikus, musang,
darinya adalah najis. Ini berdasarkan
dan binatang merayap seperti ular dan
cicak adalah suci. Air sisa minumnya bo- hadits Nabi Muhammad saw. mengenai
leh diminum dan juga boleh digunakan anjing,
untuk berwudhu. Dan menurut pendapat 'Apabila anjing meniilat mangkuk,
kebanyakan ulama, sahabat, dan tabi'in,
air sisanya itu tidak makruh, kecuali Abu maka basuhlah ia tujuh kali dan yang
Hanifah yang mengatakan bahwa ber-
pertama dicampur dengan debu.'434
wudhu dengan air sisa minuman kucing
Babi sama seperti dengan anjing, karena
adalah makruh, sebagaimana yang telah ia lebih buruk dari anjing. Hukum anak dari
kedua binatang tersebut juga sama dengan
dijelaskan di atas. Tetapi jika air itu di-
332 Al-Mai^u; f ilid l, hlm, 227; al-Mughni, Jilid l, hlm. 46- 5l; Mughnil Muhtaj,lllid.l, hlm. 83; Kasysyaful Qina', Jilid l, hlm.221.
333 Riwayat asy-Syafi'i dalam Musnad-nya.
334 Riwayat lmam Muslim. Imam at-Tirmidzi iuga meriwayatkan, "Yang pertama atau yang akhir dengan air debu." Dan dalam riwayat
Abu Dawud, "Yang ketujuh dengan air debu."
Bagan 1: IBADAH FIQTH ISI.AM JII-ID 1
hukum induknya, karena ia mengikuti induk- mencapai ukuran dua kulah atau lebih tidak
menjadi najis, apabila terkena najis yang beku
nya dalam hal kenajisannya. atau cair selagi tidak ada perubahan. Tetapi
jika terjadi perubahan, maka ia menjadi najis.
Pendapat Madzhab ini lebih raiih. Ada'
Berdasarkan hukum itu, maka ulama
pun pendapat ulama Maliki yang mengatakan
bahwa menyucikan mangkuk yang dijilat oleh Syafi'i berkata, apabila hendak menyucikan
anjing adalah ibadah, tidak dapat dipahami,
karena hukum asal adalah menetapkan wa- air yang naiis hendaklah dilihat dulu. Jika
najisnya itu disebabkan perubahan dan air
jibnya membasuh najis. Hal ini berdasarkan
kepada semua jenis basuhan. fika perintah itu Iebih dari dua kulah, maka ia menjadi suci
membasuh itu ibadah, niscaya Nabi Muham-
apabila perubahan itu hilang dengan sendi-
mad saw. tidak akan memerintahkan supaya rinya, atau dengan cara menambah air yang
mencurahkan air [membasuh), dan tidak akan lain, atau dengan mengambil sebagiannya'
dikhususkan membasuh mangkuk yang dijilat
Karena, najis yang timbul akibat berubahnya
saja. Karena, lafal itu umum kepada semua air itu sudah hilang. Menurut pendapat ulama
Hambali, kolam yang menampung banyak air
bagian mangkuk.
tidak menjadi najis karena kemasukan sesuatu
b. Hukum Telaga yang najis selagi tidak ada perubahan fwarna,
Pembahasan mengenai telaga yang ter- bau, dan rasa). Jika najis itu menyebabkan
kena najis adalah menyerupai pembahasan terjadi perubahan air; seperti air kencing
mengenai air yang bercampur dengan benda
najis, dan menurut pendapat iumhur ulama manusia atau tahinya yang cair; maka hendak-
tidak ada perbedaan di antara dua perkara itu.
Tetapi, ulama Hanafi membedakan di antara lah air itu dibuang, dan mereka tidak mene-
kedua-duanya di dalam beberapa kondisi.
tapkan kadar tertentu air yang dibuang.
Menurut pendapat ulama Maliki,33s apa-
bila binatang yang najis jatuh ke dalam tela- Diriwayatkan dari Ali r.a. dengan sanad
ga dan menyebabkan airnya berubah, maka yang shahih bahwa dia ditanya mengenai
airnya wajib dibuang semua. fika airnya ti-
dak berubah, maka disunnahkan membuang anak-anakyang kencing di dalam telaga. Imam
Ali memerintahkan supaya membuang air itu.
sekadar binatang yang jatuh dan air yang Begitu juga riwayat yang bersumber dari al-
terkena olehnya. Hasan al-Bashri.lmam Ahmad ditanya menge-
nai telaga yang dikencingi oleh orang, beliau
Menurut pendapat ulama Syafi'i dan berkata, "Hendaklah airnya dibuang sehingga
Hambali,336 air yang tergenang dan yang me- hilang najisnya." Aku bertanya, "Berapa kadar-
ngalir sama saja dari segi perbedaan sedikit nya?" Dia berkata, "Mereka tidak menetapkan
dan banyaknya. Air yang kurang dari dua ku- kadarnya." Maksudnya, dibuang semua air
lah menjadi najis apabila terkena najis yang telaga sebagaimana pendapat ulama Maliki.
berpengaruh (mu'atstsirahJ meskipun tidak
ada perubahan. Air yang banyak, yaitu yang Ulama Hanafi337 sependapat dengan jum-
hul bahwa air yang banyak (yaitu sebanyak 10
x 10 hasta)338 tidak menjadi najis kecuali apa-
bila ditemukan bekas najis pada air tersebut.
33s At-qawanin at-Fiqhiyyah, hlm. 35.
336 Al-Mai^u',lilid I, hlm, t78 - 184; Mughnil Muhtaj, f ilid I, hlm. 21 - 24; al'Mughni, f ilid I, hlm. 39 - 41'
337 Tabyinul Haqa'iq,ltlid I, hlm. 28 - 30; ad-Durrul Mukhtar wa Raddul Mukhtar, Jilid l, hlm. 194 dan seterusnya; Fathul Qadin lilid l,
hlm. 68 dan seterusnya; Muraqi al-Falah, hlm. 5 dan seterusnya; al-Lubab Syarhul Kitab,lilid l, hlm. 30 - 33.
338 yaitu ukuran air yang banyak sekadar panjangnya lepuluh hasta dan lebarnya sepuluh hasta.
FIqLH ISI."A,M IILID 1 '1
jatuh ke dalam benda cair atau masuk ke l
air yang sedikit kemudian ia keluar dalam I
keadaan hidup, maka benda cair dan air itu I
adalah suci. t
Adapun air yang sedikit, maka ia menjadi najis (ii). Manusia atau Blnatang Mati dl dalam
meskipun tidak ada perubahan pada sifatnya.
Mereka juga menetapkan kadar tertentu bagi Telagla
air telaga yang harus dibuang berdasarkan [a) Menurut pendapat ulama Hanafi,
jika seseorang mati di dalam telaga,
istihsan, yaitu sebagai berikut.
maka air telaga itu menjadi najis.
(t). lika Manusla atau Binatang yang tatuh
Re dalam Telaga ltu Masih Hidup Hal ini berdasarkan keputusan fatwa
Telaga tidak menjadi najis karena ada Ibnu Abbas dan Ibnuz Zubair kepada
para sahabat supaya membuang air
manusia atau binatang yang halal dimakan telaga Zamzam setelah ada orang
dagingnya jatuh ke dalamnya, apabila ia keluar hitam mati di dalamnya.3ao Pendapat
tersebut berbeda dengan pendapat
dari air itu dalam keadaan hidup dan tidak
ulama madzhab-madzhab lain3al yang
terdapat najis apa pun pada badannya. Tetapi
jika terdapat najis pada badannya, maka air mengatakan bahwa air telaga yang
kemasukan orang mati adalah suci,
telaga itu menjadi najis karena terkena najis
sekalipun orang yang mati itu adalah
itu. kafir. Hal ini berdasarkan sabda Nabi
Muhammad saw.,
Telaga menjadi najis apabila ada babi
"Orang mukmin tidak najis.'aaz
jatuh ke dalamnya atau air liur anjing ma-
suk ke dalamnya. Air liur binatang-binatang [b) fika binatang darat seperti biri-biri,
lainnya yang tidak boleh dimakan dagingnya anjing, ayam, kucing, dan tikus mati
seperti air liur bighal, keledai, burung yang di dalam telaga, maka air telaga itu
makan dengan cara menyambar dan binatang menjadi naiis.
liar yang jatuh ke dalam ai4 maka hukum air
tersebut disesuaikan menurut hukum bina- (c) Air telaga tidak menjadi najis karena
tang itu dari segi suci, makruh, atau najisnya; kejatuhan binatang yang tidak me-
maka wajib membuang air bila yang masuk ngalir darahnya dan mati di dalamnya
termasuk hewan yang najis atau yang dira- seperti lalat, lipas, kumbang, kepin-
gui hukumnya, dan sunnah membuang airnya ding dan kalajengking, atau karena
terkena binatang air yang mati di
jika hewan itu makruh. Adapun kadar yang
dalamnya seperti ikan, katah buaya,
dibuang adalah sebanyak beberapa timba, se- udang, aniing laut, dan babi laut.
bagaimana yang akan diterangkan nanti. Yang
termasuk binatang yang najis ialah binatang Hal ini berdasarkan sabda Nabi
buas seperti singa dan srigala, dan binatang
yang makruh ialah burungyang makan dengan Muhammad saw,
cara menyambar seperti burung elang, dan
yang diragui ialah seperti bighal dan keledai.
Menurut pendapat ulama Hambali,33e
apabila tikus atau kucing dan seumpamanya
33e Al-Mughni,Jilid I, hlm.52.
340
3at Nashbur Rayah, f ilid I, hlm. 129.
At-Mughni,f ilid I, hlm.46.
3a2 Riwayatal-Jama'ahkecualial-Bukharidanat-Tirmidzi,dariHuzaifahibnulYamandenganungkapan,"Oranglslamtidaknajis."Dan
monurut tbnu Abbas, "Orang Islam tidak najis baiksemasa hidu4r atau mati'(IVailu/ Iilid I, hlm. 20, 56)
ISI,AM IILID I
"Apabila ada lalat iatuh ke dalam Hal ini berdasarkan riwayat Ibnu Mas'ud
minumanmu, maka tengg elamkanlah,
kemudian buanglah. Karena, sebelah f.2.,
sayapnya ada penyakit dan sebelah'
nyq yang satu ada obat" "Saya memberi dua buah batu dan satu
tahi [kuda, bighal, atau keledai). Lalu beliau
Imam al-Bukhari, dan riwayatAbu Dawud mengambil batu dan membuang tahi, dan
juga meriwayatkan, berkata, 'la adalah fiajis."'3++
"Karena ia menyelamatkannya deng an Telaga tidak menjadi najis karena ke-
say o p ny a y ang m eng andung ob at.'Ba3 jatuhan tahi merpati dan burung yang halal
dagingnya, selain ayam, angsa, dan itik. Hal
Dan juga sabda Rasulullah,
ini berdasarkan isfihsan dan juga karena Ibnu
"Wahai Salman, semua makanan dan
minuman yang keiatuhan binatang yang Mas'ud r.a. mengusap tahi merpati dengan
tidak berdarah dan mati di dalamnya, jarinya.
maka air itu holal dimakan dan diminum Menurut pendapat yang paling ashah, te-
laga tidak menjadi najis karena tahi burung
dan juga boleh berwudhu dengannya."
yang tidak halal dagingnya, seperti burung
(tll) Benda NaJls latuh ke dalam Alr
(a) Telaga kecil menjadi najis karena yang makan dengan cara menyambar; karena
kejatuhan najis, meskipun najis itu sulit untuk mengelakkan telaga dari tahi bu-
sedikit seperti setitik darah, setitik rung semacam itu.
arah kencing, atau tahi. Dan hendak-
lah semua air telaga itu dibuang se- Menurut pendapat ulama Syafi'i, tahi se-
mua setelah najisnya dibuang dan mua binatang adalah najis karena ia memang
hendaknya juga menyucikan telaga,
najis.
penciduk, tali, timba, dan tangan Menurut pendapat ulama Maliki dan Ham-
orang yang menciduk air. bali,3as tahi dan kencing binatang yang halal
dagingnya adalah suci dan tahi serta kencing
[b) Telaga tidak menjadi najis kejatuhan
tahi unta, kambing, kuda, bighal, ke- binatang yang haram dagingnya adalah najis.
ledai, dan lembu, kecuali jika tahi itu
Kadar Alr yang Wallb Dlbuang
kelihatan banyak atau jika timba yang
digunakan untuk menciduk air penuh 1. Semua air telaga atau sebanyak 200 tim-
dengan tahi itu. Adapun batasan sedi-
ba wajib dibuang iika memang tidak dapat
kit adalah yang menurut Pandangan
dibuang semuanya. Hal ini apabila telaga
orang sedikit. itu kejatuhan orang yang mati, atau bina-
tang besar yang mati seperti bighal, ke-
ledai, aniing, atau biri-biri, atau apabila
binatang itu bengkak di dalam telaga, baik
binatang itu kecil atau besa4, atau ada ti-
kus yang lari dari kucing atau yang sedang
terluka kemudian jatuh ke dalam telaga,
3a3 Riwayat Imam Ahmad, al-Bukhari. Abu Dawud, dan Ibnu Majah (Nailul Authan filid I, hlm. 55).
3aa RiwayatAhmad, al-Bukhari, at-Tirmidzi, dan an-Nasa'i dari lbnu Mas'ud (Nailulluthanlilid I, hlm.98)'
3as Al-qawanin al-Fiqhi1ryatt,hlm. 33.
Frq[H IsrAM f rrrD 1 Baglan 1: IBADAH
meskipun ia keluar dari telaga dalam ke- air telaga itu dibuang sebanyak dua puluh tim-
adaan masih hidup, atau ada kucing yang ba. Riwayat dari Abu Sa'id al-Khudri, mence-
ritakan bahwa dia berkata jika ayam mati di
lari dari anjing atau sedang luka kemu-
dalam telaga, maka hendaklah air telaga itu
dian jatuh ke dalam telaga. Karena, dalam
dibuang sebanyak 40 timba.3a7
keadaan seperti itu biasanya tikus dan
Ukuran Timba
kucing akan kencing, dan kencing serta
darah [akibat luka) adalah najis yang cair. Ukuran timba yang diakui dalam masalah
2. Air telaga sebanyak antara 40 timba ini adalah timba yang khusus untuk telaga.
hingga 60 timba hendaklah dibuang, jika fika telaga itu tidak mempunyai timba khusus,
kejatuhan binatang yang ukurannya se- maka ukurannya ialah yang dapat memuatkan
derhana seperti merpati, ayam dan kucing ukuran segantang (sha'), yaitu kurang lebih
hutan. Menurut pendapat azhhar seperti
yang disebutkan dalam kitab al-Jami'ush 2'/, kg atau 2,75 liter. |ika ukuran timba itu
Shaghir ialah sebanyak 40 atau 50 tim-
ba. Dan jika yang jatuh adalah dua ekor tidak seperti ukuran yang disebut, umpamanya
binatang tersebut, maka hendaklah yang
dibuang adalah semua air telaga itu. Yang ia lebih kecil atau lebih besar, maka hendaklah
wajib 40 timba dan yang sunnah adalah
50 timba. dihitung. Oleh sebab itu jika kadar air yang
wajib dibuang itu dapat diangkat dengan satu
3. Hendaklah air telaga sebanyak 20 timba timba yang besar, maka ia sudah memadai
atau 30 timba-menurut ukuran besar menurut pendapat yang zahir dalam Madzhab
Hanafi, karena dengan satu timba itu maksud
kecilnya timba3a6-dibuang, apabila keja- sudah tercapai.
tuhan binatang kecil seperti burung tikus,
Adalah dianggap cukup jika yang dibuang
dan cicak yang mati di dalamnya. Yang adalah air sepenuh timba. Begitu juga diang-
gap cukup bila yang dibuang adalah semua
wajib adalah 20 timba, dan yang sunnah air yang ada dalam telaga, meskipun ia tidak
adalah 30 timba yaitu jika binatang yang sampai ukuran yang wajib dibuang.
jatuh itu besar dan telaga juga besari maka
yang sunnah 10 timba (dari jumlah 30 Adalah cukup menyucikan telaga dengan
timba). fika binatang yang jatuh itu kecil cara membuka lubang keluar atau mengeduk
dan telaga juga kecil, maka yang sunnah lubang keluar supaya sebagian air keluar. fika
ialah kurang dari 10 timba. fika salah satu
(binatang atau telaga) kecil dan satu lagi terdapat binatang mati di dalam air, maka
besal maka yang sunnah ialah lima tim- ia dihukumi telah mati sehari semalam jika
ba, dan yang lima lagi hukumnya di bawah
memang binatang itu belum bengkak, dan ia
sunnah. dihukumi sudah mati tiga hari tiga malam jika
binatang itu sudah bengkak. Oleh sebab itu,
Diriwayatkan dari Anas bahwa dia ber- shalat yang dilakukan dalam masa itu wajib
kata, jika tikus mati di dalam telaga dan di- diulangi jika memang dia telah berwudhu de-
buang pada waktu itu juga, maka hendaklah ngan air telaga itu untuk mengangkat hadats,
dan hendaklah pakaian dan benda-benda lain
yang terkena air telaga itu disucikan lagi.
346 Keterangan ini adalah yang terdapat di dalam kitab al-Hidoyah, dan yang berada di dalam kitab karangan al-Qaduri. Semuanya
mengikut ukuran besar kecil binatang.
Lihat kedua-dua hadits di dalamNashbur Rayafi filid I, hlm. 128.
Bapan 1: IAADAH FIQIH ISIAM JILID 1
6.IENIS BARANG.BARANC YANG SUCI ffi i,\-$ufi{ii
Semua benda yang ada di alam ini ada- "Dan sungguh, Kami telah memuliakan
anak cucu Adam...." (al-Israa': 70,)
kalanya benda padat, hewan, atau unsur yang
Penghormatan terhadap anak Adam me-
lebihan (fadhlaat). Hukum asal dari sesuatu nuntut untuk menganggap mereka suci mes-
adalah suci selagi tidak ada bukti syara'yang kipun mereka sudah menjadi mayat, dan juga
menetapkan bahwa ia najis. Pendapat para berdasarkan sabda Nabi Muhammad saw.,
fuqaha hampir sama mengenai hukum suci
"Sesungguhnya Muslim-yaitu menurut
berbagai benda. Mereka sependapat bahwa
semua jamad fbenda padat, yaitu semua ja- hukum biasa-adalah tidak najis."
sad yang tidak bernyawa namun tidak terpi-
Adapun firman Allah SWT,
sah dari benda hidup)3a8 adalah suci, kecuali
yang memabukkan. Oleh sebab itu, semua ba- "...Sesungguhnya orong-orang musyrik itu
gian bumi yang beku dan cai4 dan iuga yang najis (kotor jiwa)...." (at-Taubah: 2B)
terlahir darinya adalah suci. Di antara contoh
benda yang jamad ialah logam seperti emas, Maksudnya adalah aqidah mereka itulah
perak, besi, dan seumpamanya, dan semua naiis, atau hendaknya menjauhi mereka se-
tumbuhan sekalipun yang beracun atau yang perti menjauh dari najis, dengan kata lain
melalaikan seperti ganja dan pohon poppy.
Adapun contoh benda cair ialah air; minyah maksudnya bukanlah najis badan.
madu, tebu, air bunga, dan cuka. Mereka se- Namun dalam beberapa masalah, para
pendapat bahwa benda yang kering adalah
suci. Mereka juga berpendapat bahwa wadah ulama berbeda pendapat. Penjelasannya ada-
mlsk adalah suci sama seperti sucinya mrsk lah sebagai berikut.
[minyak kesturi dari rusa jantan), begitu juga
dengan zabad [minyak kesturi dari musang Madzhab Hanaff3ae
jebat) dan anbar [minyak wangi yang diambil Menurut pendapat ulama Hanafi, semua
dari binatang laut) adalah suci. Bulu binatang
yang halal dimakair adalah suci, dan arak yang bagian anggota tubuh binatang yang di dalam-
berubah menjadi cuka juga suci. nya tidak ada darah mengalir; baik dalam ke-
adaan hidup atau mati, baik binatang itu halal
Mereka juga sependapat bahwa semua dimakan atau tidak, sekalipun anjing-asalkan
binatang yang disembelih menurut syara' ada- bukan babi-adalah suci, seperti bulu yang
lah suci. Bangkai ikan dan belalang juga suci. dipotong infihah yang keras,3so paruh, kuku,
dan-menurut pendapat masyhur-urat putih,
-.Beg*itu juga mayat manusia meskipun kafir;
tanduk, kuku kaki, tulang yang tidak berlemak,
tetapi pendapat ulama Hanafi mengatakan karena lemak bangkai adalah najis. Oleh se-
bahwa mavat oranq kafir adalah naiis. Alasan
pendapat yang mengatakan suci ialah firman
Allah SWT
Yang terpisah dari benda hidup seperti telu5, minyak samin, madu lebah, tidak dianggap sebagai benda beku (iamad) karena ia
terpisah dari benda hidup, dan ia adalah suci.
349 Muraqi al-Falah, hlm. 26, 28; ad-Durrul Mukhtanlilid I, hlm. 154, 188 - 193, 295.323: al'Bada'i',lilid I, hlm' 61 - 65.
350 Infihah ialahbahan yang diambil dari usus anak lembu yang masih menyusu yang digunakan untuk membuat keiu. Ulama sepakat
mengatakan bahwa infihah yang keras adalah s rci. Infihah yang cair dan susu yang terdapat di dalam susu bangkai binatang adalah
suci menurut pendapatAbu Hanifah, tetapi menurutAbu Yusufdan al-Hasan asy-Syaibani adalah naiis. Pendapatyangazhharialah
pendapat mereka herdua sebagaimana yang dinyatakan oleh.Ibnu Abidin.
r'.jX. -tj!
-
FrqlH Isr."A.M JrrrD 1 Baglan 1: IBADAH
bab itu jika lemaknya'sudah hilang dari tulang, _Ehi brlrlg vang halal dimakan daging-_-
maka hilanglah najisnya. Adapun tulang saja nryfgq !9ryI_dirdaqsepq$i_q1glpgll gm-
_
adalah suci. Ini semua berdasarkan riwayat aan seumpama
_--
ad-Daruqutni yang menceritakan, -prkeitb,anya
-"Rasulullah saw. mengharamkan daging merpafr di dalam Masjidil Haram dan masjid--
bangkai binatang, tetapi kulit dan bulunya ti- masjld iami', sedangkan m
dak diharamkan." ymaengnubreu-t-----*6mm-eaa-h3ibwimTa-atertfnisae_areTk_rbatiukt"a'1nI<ibkl!ea_rbsdeik.iagap! n3die-dmgiklgiapnq-klgarge&lnga:_
manusia
Termasuk juga rambut giginya
lum tercabut, tulang dan
pendapat al-madzhab. Tetapi, rambut yang rrpiy,
tercabutadalah najis. --
Air mata yang keluar dari benda yang
hidup, keringatnya, air liurnya, dan ingusnya nA;5'tog56'q$$:,#W?j
adalah sama seperti air sisa minuman dari @;*3t
segi suci dan najisnya. Menurut pendapat a/-
madzhab, air liur bighal dan keledai adalah "...bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-
suci. Adapun air liur burung yang makan se- orang yang tawaf, orang yang itikaf, orang
cara menyambar dan binatang rumah seperti yang ruku'dan orang yang sujudl" (al-Baqa-
tikus, ula4 kalajengking, kucing, dan seumpa- rah: 125)
manya adalah makruh. Air sisa minuman babi,
anjing, dan semua binatang buas adalah najis.
Air liur manusia adalah suci sebagaima-
diana air sisa minumannya, kecuali ketika "Seekor merpati berak dan mengenainya, lalu_ -
meminum arak karena mulutnya ,"t"tr rnunfr-
.
di najis. Dan mulutnya itu akan menjadi suci ==-TE$tLl luga riwayat dari Ibnu Mas'ud tentang
apabila dibersihkan atau sebab meminum ri.
padawaktuitujuga,ataudengancaramenelan-H3"*i1,jugatahiburungyangharamdi-
air ludahnya sebanyak tiga kali. makan seperti elang, gagah dan seumpama-
Air yang membasahi kemaluan perem- Dy?, adalah suci menurut pendapat Abu
puan (ruthubah al-farj), adalah suci menurut Hanifah dan Abu Yusufkarena darurat. Sebab,
pendapat Imam Hanafi, tetapi pendapat ini
berlawanan dengan pendapat kedua sahabat- burung-burung tersebut berak di udara dan
nya [Abu Yusuf dan Hasan asy-Syaibani). Air sulit dielakkan dari terkena pakaian dan juga
tersebut adalah air yang berwarna putih yang
keluar membasahi bayi sewaktu ia lahir dari bejana-bejana.
ibunya, atau air yang membasahi anak unta
sewaktu ia lahir dari ibunya. Telur juga suci, Menurut Abu Hanifah dan Muhammad al-
ia tidak menyebabkan pakaian dan air men-
jadi najis, tetapi wudhu dengan menggunakan Hasan asy-Syaibani, darah ikan adalah suci,
karena umat Islam telah berijma bahwa me-
air tersebut adalah makruh. Bangkai binatang makan ikan bersama darahnya adalah boleh.
darat yang tidak mengalir darahnya seperti Kalau darah ikan itu najis, niscaya tidak di-
bolehkan memakannya. Dan juga karena ia
lalat, semut, kalajengking, dan kutu anjing sebenarnya bukanlah darah, tetapi air yang
berwarna darah. Karena, binatang berdarah
adalah suci. tidak dapat hidup di dalam air.
Baglan 1: IBAoAH FIQIH ISIAM IILID 1
Darah yang melekat di dalam urat dan Ludah kental yang keluar dari dada-
meskipun sekental tahi-adalah suci, dan be-
daging selepas disembelih adalah suci, karena
ia tidak mengalir. Oleh sebab itu, halal dima- gitu juga yang keluar dari otak manusia atau
bukan manusia.
kan bersama daging.
Air kuning yang lengket yang keluar dari
fika kain kering yang suci dilipat di dalam perut dan menyerupai pewarnakuning za'fa-
kain yang najis serta lembab yang tidak akan ran adalah suci, karena menurut pendapat
mengalir airnya jika diperah, maka kain yang mereka perut adalah suci. Maka, semua yang
keluar dari perut adalah suci selagi tidak
bersih serta kering itu tidak menjadi najis.
Begitu juga kain yang lembab jika dihampar berubah dan rusak seperti muntah yang sudah
di atas tanah kering yang najis, lalu tanah berubah.
itu lembab, tetapi tidak bekas najis itu tidak
Menurut pendapat yang oshah, mayat
kelihatan pada kain tersebut, maka kain itu meskipun mayat orang kafir adalah suci, dan
tidak menjadi najis. Kain yang ditiup oleh bangkai binatang darat yang tidak berdarah
angin yang membawa najis, juga tidak menjadi seperti kalajengking, belalang, dan kutu an-
najis kecuali jika muncul bekas najis pada kain jing. Berbeda dengan bangkai kutu kepala, ci-
cak yang tidak berdaging dan berdarah, maka
tersebut. ia adalah najis. Tetapi, belalang tidak boleh
dimakan kecuali dengan cara disembelih ter-
Madzhab Maliki lebih dulu atau dengan cara yang seumpama-
Menurut pendapat ulama Maliki,3sl se- nya. Ulat buah dan ulat keju susu dan garam
boleh dimakan sekalipun tidak disembelih.
mua benda yang hidup termasuk anjing dan Dua ekor kutu atau tiga ekor adalah dimaaf-
babi adalah suci, sekalipun ia memakan benda kan karena ada faktor kesulitan.
najis. Begitu juga keringatnya, air matanya, - Bangkai binatang laut seperti ikan dan
ingusnya, air Iiurnya yang keluar selain dari
lain-lainnya adalah suci, sekalipun dapat ting-
perut,3s2 telurnya, kecuali telur rusak dan yang
keluar setelah ia mati. Yang dimaksud dengan -Tt5kirp: un mempunyai rupa seperti babi dan
telur rusak ialah telur yang berubah menjadi
busuk atau biru atau berdarah, maka ia men- manusla.
jadi najis. Berbeda dengan telur yang cair atau
pecah di dalam perut yang bercampur antara ^SemuaUinatan@
putih telur dengan kuning telur; tetapi tidak
busuk, maka ia suci. Semua benda yang keluar tidak
dari binatang selepas ia mati tanpa disem- menurut pendapat
belih menurut syara' seperti telurl tahi, air diteta n oleh ad-Dardir dan
mata atau air liurnya, adalah najis jika ia dari
Begitu juga anjing dan babi, ia tidak dapat
bangkai yang najis.
3sr Asy-Syarhul Kabir,lilid I, hlm. 48 dan seterusnya: asy-Syarhush Shaghin lilid I, hlm. 43 dan seterusnya; Bidayatul MuitahidJilidl,
hlm.74.
3s2 Ai. liur yrng keluar dari perut adalah nalis. Tandanya ialah iika ia berwarna kuning dan berbau busuk.
3s3 Yrng makruh dimakan seperti singa, binatang buas, dan kucing, jika disembelih untuk dimakan dagingnya maka kulitnya suci
mengikut dagingnya. Jika disembelih dengan tuluan untuk mengambil kulitnya, maka kulitnya suci tetapi tidak boleh dimakan
dagingnya. Karena, ia adalah bangkai berdasarkan pembagian hukum sembelihan dan itulah pendapat yang terkuat (asy-Syarhul
Kabinlilid l, hlm.49).
FIqLH ISI-A.M JILID 1 r
I
i
I
menjadi suci jika disembelih. Maka, binatang dimakan-yang sudah disembelih, adalah suci.
Begitu juga air muntahan yang keluar akibat
yqng najis dianggap bangkai meskipun disem- kekenyangan. Muntah juga suci, selagi ia tidak
belih. berubah dari keadaan makanan asalnya, um-
pamanya muncul bau masam atau lain-lain.
belaA{_dg4 bg!1. Begitu juga bulu yang lem- Tetapi jika berubah, maka ia menjadi najis.
but. Benda-benda beku (al-j amad) kecuali yang
memabukkan adalah suci sebagaimana yang Minyak mlsk dan juga tempat keluarnya
adalah suci. Arak yang berubah menjadi cuka
telah diterangkan di atas, berkenaan dengan atau menjadi keras dengan sebab sesuatu atau
benda-benda yang disepakati kesuciannya dengan sendirinya adalah suci, dan juga tem-
patnya dan sesuatu yang ada ke dalamnya.
oleh para ulama. Adapun benda yang mema- Tanaman yang disiram dengan benda najis
bukkan, maka ia dianggap najis baik arak atau adalah suci, tetapi hendaklah bagian luarnya
perahan anggur dan kurma, atau seumpama- yang terkena najis dibasuh.
nya. Adapun bahan yang menyebabkan lalai
(fly) seperti candu, madat, dan ganja adalah Abu najis seperti tahi yang najis dan kayu
suci karena ia dari benda beku. Namun, haram api yang terkena najis menjadi suci dengan
menggunakannya karena dapat menghilang- dibakar; begitu juga asap benda najis adalah
kan pikiran, tetapi tidak haram berobat dengan suci menurut pendapat yang mu'tamad.
menggunakannya di luar bagian tubuh.
Darah yang tidak mengalir dari binatang
Susu manusia meskipun dari orang kafir sembelihan, yaitu yang melekat pada urat
dan susu binatang yang tidak haram dimakan
sekalipun makruh seperti kucing dan binatang atau di dalam hati binatang, atau yang me-
buas, adalah suci. Susu binatang yang haram
dimakan seperti kuda, bighal, dan keledai nempel pada daging adalah suci. Karena, ia
adalah najis. Kotoran (fadhlaat) binatang yang sebagian dari sembelihan. Dan semua bina-
halal dimakan seperti tahi, air kencing ayam, tang yang disembelih dan anggota badannya
merpati, dan semua burung adalah suci se- adalah suci. Tetapi, darah yang melekat pada
lagi bahan najis itu tidak (sengaja) digunakan
untuk makanan dan minum. Tetapi jika ia di- bagian sembelihan, yaitu sisa darah yang
gunakan untuk makanan dan minum, maka .
kotoran itu adalah najis. mengalir adalah najis. Begitu juga darah yang
terdapat di dalam perut binatang sembelihan
leh dimakan. Maka, kotorannya juga suci jika selepas disobek perutnya adalah najis, karena
E-tidat< memakan benda najis, sekalipun ma- ia mengalir dari bagian sembelihan, maka ia
sih diragui. Karena apabila ia memakan benda termasuk darah yang mengalir.
najis, hukumnya adalah sama dengan hukum
ayam. Berlainan dengan merpati, kotorannya Madzhab Syafi'l
tidak dianggap najis kecuali apabila diyakini ia
memakan benda najis. Menurut pendapat ulama Syafi'i,3sa semua
binatang adalah suci kecuali anjing, babi, dan
Air empedu binatang yang tidak haram keturunan dari keduanya, dan semua benda
dimakan-baik boleh dimakan atau makruh beku (al-jaamid) adalah suci kecuali yang
memabukkan.
Al-'alqah [segumpal darah beku) danmud-
ghah (segumpal daging), air yang membasahi
3sa Mughnit Muhtaj,lilid I, hlm. 80 dan seterusnya ; Syarh al-Bajuri Jilid I, hlm. t05, t08; Syarh al-Hodhramiyyah, hlm.22; ol-Muhadz-
dzab,lilid l, hlm. 11; al-Majmu',lrlid I, hlm. 575.
Isr."A,M IrLrD I
kemaluan perempuan (air putih di antara hidup. Tetapi bulu yang diambil selepas mati,
warna seperti madzi dengan keringat) yang maka ia adalah najis. Begitu juga bulu yang di-
keluar dari hewan yang suci, sekalipun yang cabut dari binatang yang tidak boleh dimakan
tidak halal dimakan baik itu manusia atau bi- adalah najis seperti bangkainya. Asap najis
natang, adalah suci. yang sedikit dan bulu najis yang sedikit selain
Di antara yang dianggap suci adalah susu bulu anjing dan babi adalah dimaafkan. Begitu
binatang yang halal dimakan, meskipun ke- juga bulu binatang tunggangan yang banyak
luar dari binatang jantan kecil dan sudah mati. karena memang sulit untuk menghindar da-
Begitu juga infihah-nya"t jika diambil setelah rinya. Dimaafkan juga sedikit uap najis yang
disembelih, dan tidak memakan selain susu keluar dari api bahan najis. Adapun uap yang
meskipun najis. Yang termasuk suci juga ada- keluar dari najis jamban dan angin yang keluar
lah air yang tepercik dari semua binatang dari pantat adalah suci.
yang suci seperti keringat, air liur; tahi, dan Buah, pohon, dan tanaman yang tumbuh
ludah, kecuali yang diyakini keluar dari perut, dari bahan najis atau yang disiram dengan air
air kudis, telur binatang yang suci-sekalipun najis adalah suci, tetapi hendaklah dibersih-
binatang sudah menjadi bangkai dan sekali- kan bagian luarnya.
pun keluar dari binatang yang haram dimakan,
dengan syarat telur itu dalam keadaan keras, Madzhab Hambali
meskipun telur itu sudah berdarah-dan telur Menurut pendapat ulama Hambali,3s5 di
ulat sutra juga suci. antara benda-benda yang suci ialah darah urat
binatang yang halal dimakan setelah dikeluar-
-B""gk"i birrtr"g
l9lqeButsan kan dengan sembelihan, dan juga darah yang
tak, dan ular adalah najis. *Ba{rgkai belalang terdapat pada daging. Karena, ia tidak dapat
yang tidak mempunvai darah mengalir seperti il;;;,. Begitu juga darah ikan dan ken-
lalat, semut dan kutu anjing, adalah naiis.
.ingnya, karena kalau ia dianggap najis, maka
supaya ia boleh dimakan harus ada perintah
@tempatkeluarnyayangmenyembelihnyadahulu[dankenyataannya
terpisah sewaktu hidup atau sesudah disem- tidak ada). Alasan lainnya adalah ikan akan
belih rusanya adalah suci, begitu iuga misk hancur dengan ai4 dan luga ia adalah seperti
musang asalkan bukan diambil dari bulu mu-
sang darat. luga anbar (wangian yang diambil hati.
dari tumbuhan atau tahi binatang laut) adalah
suci sekalipun ditelan oleh ikan selama ia ti- Darah orang yang mati syahid meskipun
banyak, jika memang darah itu tidak terpisah
dak hancur. dari orang itu adalah suci.
Di antara benda yang disepakati kesuci- Darah kepinding kutu kepala, kutu anjing,
annya oleh ulama sebagaimana yang telah di- lalat, dan seumpamanya yang tidak mempu-
terangkan, adalah bulu-bulu binatang yang nyai darah mengalir adalah suci.
halal dimakan, sekalipun diambil dalam ke-
adaan busuk selepas disembelih atau semasa Hati dan limpa binatang yang halal di-
makan adalah suci berdasarkan hadits,
Inlihah ialah suatu bahan yang diambil dari usus anak lembu yang masih menyusu yang digunakan untuk membuat kelu, maka ia
suci karena ia bahan untuk membuat keju.
l{asysyaful Qinaj Iilid I, hlm. 2L9 - 220; Ghayaai Munwho, Iilid I, hlm. 14.
FIQIH ISLAM JILID 1 -I
"Dihalalkan bogi kita dua bangkai dan dua Termasuk benda suci adalah rambut
derah." dan semacamnya yang berasal dari hewan
Ulat sutra dan yang keluar dari perutnya yang dagingnya boleh dimakan, baik ketika
juga suci. Minyak misk dan tempat keluarnya
adalah suci.'Anbar 3s7 juga suci berdasarkan hewan itu dalam keadaan hidup ataupun
riwayat Imam al-Bukhari dari Ibnu Abbas, mati. Ataupun rambut hewan yang tidak bo-
leh dimakan dagingnya jika ukurannya seperti
"'Anbar adalah sesuatu yang dikeluarkan oleh kucing atau lebih kecil, asalkan ia tidak lahir
laut," ia adalah sejenis wewangian. dari hewan yang najis. Tetapi, pangkal rambut
dan bulu adalah najis.
Air yang mengalir dari mulut semasa tidur;
dan uap yang keluar dari dalam perut adalah B. NAJIS
suci, karena ia tidak bersifat dan tidak dapat
dihindari. Dalam bagian ini akan bincangkan lima
Ludah meskipun berwarna biru adalah pembahasan.
suci, baik keluar dari kepala, dada, atau pe-
rut. Karena menurut riwayat Imam Muslim, 7. IENI$IENIS N,[,IS SECARA UMUM DAN
Nabi Muhammad saw memberi isyarat supaya HUKUM MEMBERSIHKANNYA
mengusap ludah yang melekat pada pakaian Perkataan an-najaasah adalah lawan kata
ketika shalat.
dari perkataan ath-thahqarqh, dan perkataan
Air kencing binatang yang halal dimakan an-najas juga kebalikan kata ath-thahir. Kata
al-anjaas merupakan bentuk jamak dari kata
dagingnya adalah suci. Adapun al-'alaqah (se- najis, yaitu nama bagi benda yang kotor me-
gumpal darah beku) manusia atau binatang nurut pandangan syaral Najis ada dua jenis,
yang suci adalah najis, karena ia adalah darah najis hukmi dan najis haqiqr. Kotoran [al-
yang keluar dari kemaluan. Begitu juga telur khubuts) khusus bagi najis haqiqi, sedangkan
rusak atau telur yang berdarah adalah najis,
karena ia adalah tahap akhir dari al-'alaqah. hadats adalah sebutan khusus bagi najis.
Darah, keringat, air liur; dan tahi binatang hu kmi. Kata a n - n ajas, j i ka h u ru f i im - nya d ibaca
yang halal dimakan dagingnya atau yang dari
dengan fathah, maka ia menjadi isim. Tetapi
binatang lainnya jika seperti kucing, tikus, jika dibaca dengan kasrah (an-najis), maka ia
atau lebih kecil dari itu adalah suci, dengan
menjadi kata sifat.
syarat bukan anak dari binatang najis. Najis terbagi kepada dua jenis, yaitu na-
_Bangkai binatang laut meskipun tidak di-
jis haqiqi dan najis hukmi. Dari segi bahasa,
namai ikan adalah suci. Kecuali buava, katak, naiis haqiqi ialah benda-benda yang kotor
dan_g!41maka ia adalah najis, sama seperti seperti darah, air kencing, dan tahi. Menurut
pendapat qlama Syafi'i. syara', ia adalah segala kotoran yang meng-
halangi sahnya shalat. Najis hukmi ialah na-
jis yang terdapat pada beberapa bagian ang-
gota badan yang menghalangi sahnya shalat.
Najis ini mencakup hadats kecil yang dapat
357 Anbo, ialah sejenis bahan yang keras, tidak ada rasa dan tidak ada bau kecuali iika disapu atau dibakar, ia juga dikatakan tahi
binatang laut.
.:i..=::::":::J :1.
i. .=_= =:: :=€jr,=::=s=:i.!,:::.: ::€:-
,*: -*,
FIQIH ISTAM JITID 1
dihilangkan dengan wudhu dan hadats besar tersebut hanyalah sunnah. Berdasarkan kedua
pendapat tersebut, maka mengulangi shalat
(janabah) yang dapat dihilangkan dengan bagi orang yang terlupa, orang yang tidak me-
mandi. Najis haqfqi terbagi kepada beberapa ngetahui keberadaan najis, dan orang yang
j e nis, yaitu m u g h a I I a z hah fbe rat), m u kh affafa h tidak mampu menghilangkannya adalah sun-
[ringan), najis yang keras, najis yang cair; najis nah. Pembahasan ini mengandung dua cabang
yang dapat dilihat, dan najis yang tidak dapat
dilihat. permasalahan.
Hukum menghilangkan najis yang tidak a. Naiis yang Dlsepakati dan yang
dimaafkan dari pakaian, badan, dan juga tem-
pat shalat bagi orang yang hendak mengerja- Dipertikalkan oleh Ulama
kan shalat adalah wajib. Ini menurut pendapat
jumhur fuqaha kecuali ulama Madzhab Maliki, 7. Najis yang Di*pakati oleh Ulama
karena Allah SWT berfirman,
Madzhab
"Dan bersihkanlah pakaianmu." (al-Mud- Para fuqaha telah bersepakat mengenai
datstsir:4) najisnya perkara-perkara berikut: 3se
Ada dua pendapat yang masyhur dalam (a) Babi
Madzhab Imam Malik3s8 berkenaan dengan Babi adalah najis meskipun disembelih
masalah ini, yaitu waiib dan sunnah. fika secara syaral karena ia dihukumi sebagai na-
jis 'ain (najis pada dirinya) melalui nash Al-
orang yang berkenaan dalam keadaan sadal Qur'an. Maka, daging dan juga semua bagian
mampu dan dapat menghilangkan najis itu,
maka pendapat yang mu'tamad dan masy- badannya seperti bulu, tulang, dan kulit di-
hur mengatakan bahwa hukumnya sunnah. hukumi najis meskipun kulitnya disamak.
Namun menurut pendapat lain, hukumnya
adalah wajib. Oleh sebab itu, siapa yang (b) Darah
Darah manusia selain darah orang yang
menunaikan shalat dalam keadaan terkena
najis dengan sengaja, sedangkan dia mampu mati syahid, dan darah binatang selain bina-
menghilangkannya, maka dia wajib mengu- tang laut, yang mengalir keluar dari tubuhnya
baik semasa hidupnya ataupun sesudah mati-
langi shalatnya, karena shalatnya itu tidak nya, jika memang ia mengalir banyak, maka
darah tersebut dihukumi najis. Oleh sebab itu,
sah. Tetapi kalau berdasarkan pendapat yang darah orangyang mati syahid selama darahnya
masih berada di badannya tidaklah termasuk
masyhur dari Madzhab Maliki, yang menya- najis. Begitu juga darah ikan, jantung, limpa,
takan hukum menghilangkan najis hanya dan hati dan semua darah yang berada dalam
sunnah saja, sekiranya dia sadar dan mampu saraf binatang sesudah ia disembelih selama
menghilangkannya. Maka, mengulangi shalat
ia tidak mengalir, juga tidak termasuk ke
dalam hukum najis. Begitu juga darah kutu
dan kepinding, meskipun banyak menurut
pendapat Madzhab Hanafi.
3sB Asy-Syarh at-Kabin f ilid I, hlm. 65; asy-Syarh ash-Shaghir,lilid I, hlm. 64 dan hlm. seterusnya; Fath at-Ati al-Malrlc Jilid I, hlm. 11 1.
3se Fath at-QadirJilid I, hlm. 135 dan hlm. seterusnya', al-Lubab Syarh al-Kitab,lilid l, hlm. 55 dan hlm. seterusnya; Muraqi al-Falah,
hlm. 25 dan seterusnya; al-Qawanin al-Fiqhiyah, hlm. 34; Bidayah al-Mujtahid, f ilid I, hlm. 73 dan hlm. seterusnya; asy-Syarh ash-
Shaghia Iilid I, hlm.49 dan hlm. seterusnya; Mughni al-Muhtaj,Jilidl,hlm. TT dan hlm. seterusnya; al-Muhadzdzab, ]ilid I, hlm.46
dan hlm. seterusnya; Kasysyof al-Qinaililid I, hlm. 213 dan hlm. seterusnya; al-Mughnr, Jilid I, hlm.52 dan hlm. selanjutnya,
*'.'$ -'*+"
IsrAM rrlrD I Bagtran 1: IBADAH
Darah yang mengalir adalah najis, meski- ketika masuk ke dalam makanan. Tetapi tidak
pun ia keluar dari binatang seperti ikan, lalat, dimaafkan, jika masuk ke dalam air dalam
bejana. Selain itu, apa saja yang keluar dari
dan kutu anjing. Ini adalah menurut ulama
dubur binatang hukumnya adalah najis.
Madzhab Maliki dan Syafi'i.
Berdasarkan perbedaan pendapat ini, (d) Arak
Arak adalah najis menurut pendapat ke-
maka memakan ikan yang diasinkan (fasikh)
yang disusun secara bertindih-tindih dalam banyakan fuqaha berdasarkan firman Allah
keadaan darah masing-masing ikan itu masih
SWT,
mengalir dari seekor kepada yang lainnya,
"Bahwo sesungguhnya arak dan iudi dan
adalah tidak boleh menurut pendapat ulama
Madzhab Syafi'i, dan juga menurut pendapat pemujaan berhala dan mengundi nasib dengan
batang-batang anak panah adalah kotor (keii)
yang terkuat di kalangan ulama Madzhab dari perbuatqn setqn." (al-Maa'idah: 90)
Maliki. Kecuali, ikan-ikan yang berada di la- Namun, terdapat sebagian ahli hadits
yang mengatakan bahwa ia adalah bersih'
pisan atas saja ataupun ikan yang diduga be-
rada di bagian atas atau yang ada di tempat Arak menurut pendapat jumhur ulama dan
pendapat yangmu'tamad dari kalangan ulama
lainnya. madzhab Hanafi adalah mencakup semua
Menurut ulama Madzhab Hanafi dan cairan yang memabukkan.
Ibnul Arabi dari Madzhab Maliki, semua ikan
itu boleh dimakan. Karena menurut pendapat (e) Nanah
mereka, apa yang keluar dari badan ikan itu
bukanlah darah, melainkan ia adalah benda Nanah ialah sejenis darah yang rusak, yang
basah. Oleh sebab itu, ia dihukumi bersih.360 tidak bercampur dengan darah biasa yang
(c) Air Kencing, Muntah36l dan Tahi tidak rusak. Ia adalah najis, karena pada asal-
Manusia nya ia adalah darah yang berubah. Begitu juga
' ash-Shadid, yaitu sejenis cairan yang bercam-
Semuanya dihukumi najis kecuali air pur dengan darah. Kedua-duanya dihukumi
kencing anak-anak lelaki yang masih menyu- najis jika kadarnya banyak dan dimaafkan jika
su. Karena menurut pendapat ulama Madzhab hanya sedikit.
Syafi'i dan Hambali, cara membersihkannya (O Air Madzi dan Wadi
adalah cukup dengan memercikkan air ke Madzi ialah cairan berwarna putih yang
keluar tanpa memuncrat pada saat memun-
atasnya saja. Air kencing binatang yang tidak caknya nafsu seseorang, ataupun ketika ia
dimakan dagingnya, tahi, dan juga muntah teringat aktivitas persetubuhan. Ia dihukumi
najis karena terdapat perintah membasuh
binatang juga dihukumi najis. Kecuali tahi dzakar dan perintah berwudhu dalam hadits
riwayat Ali r.a., "Saya adalah lelaki yang kuat
burung, air kencing tikus, dan kelelawar me- keluar air madzi. Saya malu untuk bertanya
kepada Rasulullah saw. Lalu saya menyuruh
nurut pendapat ulama Madzhab Hanafi. Ka-
rena, air kencing tikus amat sulit untuk dielak-
kan, sementara kelelawar juga sering kencing
di udara [semasa ia terbang). Oleh sebab itu,
kedua-duanya digolongkan ke dalam najis
yang dimaafkan jika terkena pakaian ataupun
360 Asy-syarhul Kabir oleh ad-Dardir dan Hasyiah ad-Dasuqi, Jilid, L, hlm. 57.
361 Muntah menurut pendapat ulama madzhab Hanafi dihukumi sebagai najis berat jika ia memenuhi mulut seseorang dan ia tidak
dapat mengendalikannya.