The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by MOHD RAHIMI BIN RAMLI Moe, 2021-08-05 23:44:36

Fiqih Islam Wa Adillatuhu Jld1

Fiqih Islam Wa Adillatuhu Jld1

mengapa. Hanya koyak yang sangat kecil FIQLH ISIAM JILID 1

saja yang dapat dimaafkan, yaitu yang ngusap adalah merujuk kepada penger-
tidak menyebabkan air sampai ke kulit tian tersebut.
kaki dari tangan yang basah pada waktu
Mengusap kaos kaki (Stocking)
mengusap.
Ulama madzhab Hanafi dalam penda-
Menurut ulama madzhab Hanafi, robek
pat yang rajih dari merekaTs6 memboleh-
yang termasuk besar adalah yang sebesar kan mengusap kedua stocking yang kuat,
tiga jari kaki yang terkecil.
yaitu kira-kira jika dipakai, ia mampu
2. Hendaklah khuf dibuat dari kulit. Ini
digunakan untuk berjalan sejauh satu far-
adalah syarat menurut ulama madzhab sakh ataupun lebih. Stocking ini pula tetap
Maliki. Bagi mereka, mengusap khuf tidak lekat pada betis orang yang memakai
boleh jika khuf yang dipakai dibuat dari
kain, sebagaimana tidak sah mengusap dengan sendirinya. Ia juga haruslah tebal,

kaos kaki (stocking) yaitu yang dibuat sehingga tidak dapat dilihat apa yang

dari kapas atau bulu, kecuali jika dilapisi terdapat di baliknya.
dengan kulit.lika tidak dilapisi kulit, maka Ulama madzhab Hambali juga mem-
mengusap di atasnya tidaklah sah. Begitu
juga ulama madzhab Syafi'i, mereka ber- bolehkan mengusap stocking yang tebal,
serta tidak jatuh apabila orang yang me-
pendapat tidak sah mengusap di atas makai berjalan. Ia dibolehkan dengan dua
syarat:
sulaman tenun yang tidak dapat meng-
halangi air sampai ke kulit kaki, apabila [a) Hendaklah ia tebal sehingga kaki di
dicurahkan air di atasnya melalui tempat sebaliknya tidak tampak walaupun
jahitan apabila dicurahkan air ke atasnya,
' sedikit.
karena ia tidak tebal.
Ulama madzhab Maliki juga mensya- [b) Ia dapat digunakan untuk melakukan

ratkan, hendaklah khuf itu dijahit. Me- perjalanan.

ngusap tidak dibolehkan jika khuf itu di- Wajib mengusap di atas keduastocking
lem. Hal ini ditetapkan untuk membatasi sekadar yang wajib.
hukum rukhshoh yang didasarkan pada
Ulama madzhab Syafi'i dan Hambali
pernyataan yang ada dalam nash. membolehkan mengusap khuf atau se-
patu yang terbelah sampai ke kaki, yang
|umhur ulama selain madzhab Maliki mempunyai bagian betis dan diikat de-
membolehkan usapan ke atas khuf yang
ngan tali, di mana tidak tampak sedikit
dibuat dari kulit, anyaman bulu, atau
pun tempat yang wajib dicuci apabila ia
sebagainya. Ulama madzhab Syafi'i dan berjalan menggunakannya.
Hanafi mensyaratkan agar khul tersebut
hendaklah yang dapat menahan air sam- 3. Hendaklah khuf itu selapis. Ini merupa-
pai ke jasad, karena kebiasaan khufber-
kan syarat yang ditetapkan oleh kalangan
keadaan demikian. Dengan demikian, nash ulama madzhab Maliki.TsT Oleh sebab itu,

syara' yang menunjukkan kebolehan me- jika seseorang memakai jurmuq (lapisan
luar khufl, maka mereka mempunyai dua
pendapat berkaitan dengan kebolehan

7s6 At-Bodo'i', Jilid I, hlm. l0; ad-Durrul Mukhtar dan Hasyiah lbn'Abidin,lilidl, hlm.348.
7s7 Al-qawanin at-Fiqhtyyah hlm.39; asy-Sya rhut Kabir,lilid t, hlm. L45; asy-Syarhusir Shoglria filid l, hlm, L57 dan se$udahnya.

FIQIH ISLAM,ITID 1

mengusap untuk lapisan yang luar. Pen- fika kedua-duanya robek, maka tidak
dapat yang rajih adalah dalam keadaan
boleh mengusapnya. Mengusap khuf di
ini dia boleh mengusap khuf yang luar. bagian dalam saja juga hukumnya boleh,
yaitu dengan memasukkan tangan ke ba-
fika dia membuka pada waktu masih be- wah khuf yang di luar dan mengusapnya.
lum berhadats, maka dia wajib segera
mengusap lapisan khuf bagian dalam. Karena, kedua-duanya merupakan tempat

Ulama madzhab Hanafi dan Hambali yang boleh diusap. Oleh sebab itu, ia boleh
berpendapat,Tss mencukupi mengusap di
atas jurmuq sebagaimana pendapat ulama diusap sekiranya khuf itu bagus.
madzhab Maliki. Ini berdasarkan kenya-
taan Bilal yang artinya, "Aku melihat Nabi Menurut pendapat yang azhar di ka-
Muhammad saw. mengusap khuf bagian
luar (al- Muq) i' 7 se luga, berdasarkan sabda langan ulama madzhab Syafi'i,761tidak cu-
Nabi Muhammad saw.,
kup hanya dengan mengusap lapisan khul
"Hendaklah kamu mengusap di atas yang luar saja (apabila memakai dua lapis
khuf yangkeduanya sesuai untuk diusap).
serban dan khuf bagien luar.'a6o Karena, kelonggaran (rukhshah) yang
diberikan oleh syara' adalah untuk khul
Supaya usapan yang dibuat di atas biasa.Hal ini dilakukan karena keperluan
yang meliputi semua orang, sedangkan
khuf luar ini sah, ulama madzhab Hanafi memakai khuf atas (jurmuq) bukanlah
merupakan keperluan yang menyeluruh.
menetapkan tiga syarat. Mereka berpendapat, boleh mengusap
kedua lapis khufyang di luar dan di da-
[a) Hendaklah lapisan luar ini dibuat da-
ri kulit. fika ia bukan kulit, maka sah Iam.

usapan tersebut jika air yang diusap- 4. Memakai khuf yang boleh. Ini adalah sya-
kan sampai ke khuf di bawahnya.
rat menurut ulama madzhab Maliki dan
[b) Hendaklah bagian luar itu dapat di- Hambali. Dengan itu, tidak sah mengusap

gunakan untuk berjalan secara per- khuf yang dirampas. Begitu iuga khuf yang
seorangan. |ika ia tidak dapat, maka haram digunakan seperti yang dibuat dari
sutra fbagi lelaki), walaupun dalam ke-
mengusap di atasnya tidak sah, ke- adaan darurat menurut ulama madzhab
cuali usapan itu sampaike khuf yang Hambali. Contohnya, seperti mereka yang
berada di negara bersalju dan takut mem-
di bawahnya. bahayakan jari-jarinya jika membuka khuf
yang dirampas, atau khuf yang dibuat dari
[c) Hendaklah khuf atas dipakai dalam sutra yang dipakainya. Maka tidak boleh

keadaan suci seperti juga memakai untuk mengusap khul tersebut, karena
khuf yangbagian dalam.
pemakaiannya dicegah dari asal. Keadaan
Ulama madzhab Hambali memboleh- darurat yang dihadapinya adalah suatu
kan mengusap khuf yang di luar sebelum
berhadats, walaupun salah satunya robek.

758 Ad-Durrul Mukhtaa Jilid I, hlm. 2 47; Fathul Qadir,Jilid I, hlm. 7O8; Kasysyaful Qinai Jilid I, hlm. L24,131 dan seterusnya; al-Mughni,Jilidl,

hIm.284.

759 Riwayat Ahmad dan Abu Dawud.
760 Riwayat Sa'id bin Manshur dalam sunannya dari Bilal.
76t Mughnil Muhtaj, Jilid I, hlm.66.

Baglan 1: lBADAll FIQIH Isl,A.M JILID 1

perkara yang sangat jarang berlaku. dicurahkan air ke atasnya. Karena kalau
OIeh sebab itu, tidak ditentukan hukum demikian, ia tidak tembus air. Berdasar-

untuknya. kan hal ini, maka sah mengusap khuf yang
Ulama madzhab Hambali juga berpen- dibuat dari kain nilon tebal serta bahan

dapat orang yang sedang berihram haji lain yang sejenisnya. Karena, tujuannya
atau umrah tidak boleh mengusap khuf adalah untuk menghalang dari diresapi
walaupun dengan keperluan. Pendapat
yang ashah di kalangan ulama madzhab air.
Syafi'i juga menyatakan, semua syarat ini
tidak diperlukan. Seseorang itu dapat me- 6. Masih ada sisa dari bagian telapak kaki
ngusap walaupun khuf yang dipakainya
digunakan tanpa seizin pemiliknya atau sekadar tiga jari tangan yang terkecil. Ini
dibuat dari sutra tebal fanti air), ataupun
yang dibuat dari perak ataupun emas un- adalah syarat yang ditetapkan oleh ulama
tuk lelaki dan lainnya. Kedudukan hukum- madzhab Hanafi, dalam kasus apabila se-
nya adalah seperti masalah bertayamum seorang itu telah terpotong sebagian kaki-
dengan debu yang digunakan tanpa seizin nya, supaya masih ada bagian yang diusap
pemiliknya. Seseorang yang berihram sekadar yang fardhu. Seandainya sese-
untuk ibadah haji atau umrah sambil me-
makai khuf terkecuali karena orang yang orang itu terpotong kakinya di atas mata
berihram dilarang dari memakainya se- kaki, maka gugurlah kewajiban memba-
bagai pakaian semata-mata. Larangan dari suh kaki dan tidak perlu lagi dia meng-
memakai pakaian yang dirampas bukan- usap khufnya. Dia hanya perlu mengusap
lah karena memakainya, akan tetapi kare- khuluntuk kaki yang satu lagi. Seandainya
na merampas dengan menggunakan hak masih ada bagian telapak kaki yang ter-
sisa, tetapi tidak sampai sekadar tiga
orang lain. jari, ia tidak boleh diusap. Karena, bagian
itu fardhu dibasuh. Berdasarkan hal ini,
5. Hendaklah khuf itu tidak menampakkan seseorang yang tidak mempunyai bagian
punggung kaki, tidak boleh mengusap
kaki baik itu disebabkan oleh sinar atau- khuf, walaupun bagian tumitnya masih
pun terlalu tipis. Syarat ini adalah menu-
ada. Karena, ia bukan merupakan tempat
rut pendapat ulama madzhab Hambali. untuk diusap bahkan ia wajib dibasuh.
Dengan demikian, tidak sah mengusap
Menurut pendapat fuqaha yang lain,
khuf yang dibuat dari kaca, karena ia ti- mengusap khuf sah dilakukan ke atas khul
dak menutup anggota tubuh yang wajib yang dipakai menutupi setiap bagian kaki
dibasuh. Begitu juga, tidak sah mengusap yang masih ada, yang pada asalnya wajib
khuf yangmenampakkan kulit disebabkan dibasuh. |ika daerah yang wajib dibasuh
terlalu tipis. telah tiada dan hanya tinggal satu kaki
saja, maka dia hanya perlu mengusap khuf
Menurut pendapat ulama madzhab untuk kaki yang ada. Tidak boleh sama
Maliki seperti yang telah disebutkan, se- sekali seseorang mengusap sebelah kaki
baiknya khuf dibuat dari kulit. Menurut atau sebagian yang ada, dan membasuh
ulama madzhab Hanafi dan Syafi'i, ia ha- kaki yang sebelah lagi supaya tidak ber-
rus dapat menghalang air sampai ke kaki, satu antara perkara gantian dengan yang
asal pada satu tempat.
selain melalui tempat jahitannya kalaulah

FIQIH ISI.]A.M IILID 1 [a) Hendaklah khulitu terbuat dari kulit.

Rlng;kasan Syarat$yarat dalam Berbaglai Tidak sah mengusap khuf yang ter-
Madzhab
buat dari bahan lain.
1. Madzhab Hanafi menetapkan tujuh sya-
[b) Hendaklah ia suci, untuk menghinda-
rat untuk membolehkan mengusap khuf, ri kulit bangkai, walaupun disamak.

yaitu: [c) Hendaklah khuf itu dijahit, bukan di-

(a) Hendaklah ia dipakai setelah mem- lekatkan dengan lem.

basuh kedua kaki, walaupun sebelum [d) Hendaklah ia mempunyai bagian be-

sempurna wudhunya. fika dia telah tis yang melindungi bagian yang wajib
dapat menyempurnakan wudhunya
sebelum berlaku hal-hal yang mem- dibasuh pada waktu berwudhu. Yaitu,
batalkan, maka dia dibolehkan me-
ngusap khul ia haruslah melindungi kedua mata
[b) Hendaklah khuf tersebut menutup kaki. fika khuf itu tidak melindungi-
nya, maka ia tidak sah untuk diusap,
kedua mata kaki.
dan
(c) Khuf itu dapat digunakan untuk me-
(e) Menurut kebiasaannya, ia dapat digu-
neruskan perjalanan. nakan untuk berjalan, terhindar dari

[d) Kedua-duanya hendaklah tidak ter- longgar dan terbuka ketika berjalan.
dapat robek yang sebesar tiga jari
3. Ulama madzhab Syafi'i menetapkan dua
kaki atau lebih.
syarat untuk membolehkan khuldiusap:
(e) Ia tetap melekat di kaki tanpa harus
[a) Ia hendaklah dipakai setelah dalam
diikat.
keadaan suci secara sempurna dari
(f) Kedua-duanya mampu menghalang
hadats besar dan hadats kecil.
air dari sampai ke anggota kaki, dan
[b) Hendaklah khuf itu bersih dan kuat
(g) fika kaki terpotong, hendaklah masih
ada sebagian dari bagian punggung serta dapat digunakan untuk mene-
ruskan perjalanan dalam melaksana-
kaki, sekurang-kurangnya sekadar tiga kan kebutuhan.762 Di samping itu, ia
juga menutupi semua bagian yang
jari menurut ukuran jari tangan yang wajib dibasuh pada waktu berwudhu
dari semua sudut, kecuali dari atas.
paling kecil. Yaitu, semua kaki dan kedua mata
kaki.763 Ia juga harus dapat menahan
2. Madzhab Maliki. Untuk membolehkan meresapnya air, kecuali melalui tem-
pat jahitan dan tempat yang pecah.
mengusap khuf, ulama madzhab Maliki
menetapkan sebelas syarat. Enam syarat Menurut pendapat yang shahih, boleh
khusus untuk khuf yang diusap, dan lima
syarat untuk .orang yang melakukannya. juga mengusap khuf yang terbelah
Syarat untuk orang yang mengusap, telah dari kaki, tetapi diikat dengan tali.
kita kemukakan pada permulaan perbin-
cangan mengenai syarat yang disepakati. Sehingga, ia tidak memperlihatkan
Tentang syarat-syarat untuk khuf yang
diusap pula adalah seperti berikut: satu pun bagian yang fardhu dibasuh

ketika berjalan.

762 Yaitu kebutuhan sewaktu memakainya, tiga hari tiga malam bagl musafir dan sehari semalam bagi yang bermukim.

763 Kalar baglan belakang kaki dapal kelihatal dari atas,.yaitq Yl*X,Sq+t, tidrk mengapa.

IsrAM ]rrrD 1

4. Ulama madzhab Hambali pula mensya- sah mengusap khuf yang terkoyak
atau sebagainya yang memperlihat-
ratkan tujuh perkara bagi membolehkan kan sebagian kaki, walaupun dari
mengusap khuf,yaitu:
tempat jahitan. Karena dalam keada-
[a) Kedua khuf tersebut dipakai setelah an ini, ia tidak lagi melindungi tempat
berada dalam keadaan suci secara yang wajib dibasuh. Namun seandai-
nya tempat yang robek itu tercantum
sempurna yang menggunakan air. karena dipakai, maka ia sah diusap.
Karena, syarat harus menutup bagian
(b) Khuf tersebut dapat dipakai di kaki yang wajib dibasuh telah terpenuhi;

dengan sendiri ataupun dengan per- dan

antaraan sandal. Tidak sah mengusap (g) Khuf itujangan terlalu longgar hingga
khuf yanghanya dapat dipakai apabila memperlihatkan tempat yang wajib
diikat. Bagaimanapun, sah mengusap
khuf yang teguh dengan sendiri, te- dibasuh.

tapi sebagiannya terbuka lalu diikat d. Jangka Waktu untuk Mengusap ffltuf
dengan tali seperti yang mempunyai
Para fuqaha mempunyai dua pendapat
bagian betis, sebagiannya disilangkan berkaitan dengan jangka waktu mengusap
dan diikat. Ia melindungi semua tem- khuf yang diperbolehkan. Ulama madzhab
Maliki tidak menetapkan jangka waktu, ada-
pat yang fardhu.
pun jumhur pula menentukannya. Ulama
(c) Kebolehan memakainya. Tidak sah
madzhab MalikiT6a berpendapat, kebolehan
mengusap ke atas khufyangdirampas mengusap khuf ini adalah tanpa batas waktu
dan yang dibuat dari sutra, walaupun
dalam keadaan terdesak (darurat). tertentu, kecuali setelah dia membukanya

(d) Dapat digunakan untuk berjalan me- ataupun junub. Dalam keadaan junub, dia di-
ngikut 'urf, walaupun ia tidak biasa wajibkan membukanya untuk mandi. Setelah
digunakan. Dengan demikian, sah dibuka, maka batallah hak untuk mengusap
mengusap khuf yang dibuat dari ku- dan wajiblah membasuh kaki. Seandainya se-
lit, anyaman bulu, kayu, kaca, besi, seorang wajib mandi, maka dia tidak boleh
dan sebagainya, karena ia tetap me- lagi mengusap, karena mengusap khuf hanya
boleh dalam berwudhu. Walaupun khuf tidak
rupakan khufyang menutup dan da- wajib dibuka dalam jangka waktu tertentu,
pat digunakan untuk berjalan. namun mereka tetap berpendapat sunnah
membuka khulsekali dalam setiap seminggu
(e) Bahannya itu sendiri haruslah suci. yaitu pada hari ia dipakai.

Tidak sah mengusap khuf yang najis, Dalam pendapat ini, mereka berpegang
walaupun dalam keadaan darurat.
Dalam keadaan terpaksa pula, ia hen- pada dalil-dalil berikut.

daklah bertayamum untuk kedua t. Hadits Ubay bin Ammarah. Dia berkata,

kakinya, karena keduanya harus di- "Aku telah bertanya, 'Ya Rasulullah,
bolehkah aku mengusap khuP' fawab
basuh.

(t) Khuf tersebut tidak memperlihatkan

kaki dengan sebab kejernihan warna-
nya seperti kaca, karena ia tidak lagi
melindungi bagian yang wajib. Tidak

764 Asy-Syarhush Shaghir, Jilid I, hlm. 154; asy-Syarhul-Kabinlilid. I, hlm. 142; Bidayah al-Mujtahid, lilid I, hlm. 20; al-Qawanin al'

-

FIQIH ISIAM IITID 1 Bagan 1: IBADAH

Rasul, 'Ya!' Aku bertanya selama sehari- sehubungan dengan jangka waktu mengusap
kah? fawab Rasul, 'lla.'Aku bertanya dua khuf-nya. Ulama madzhab Syafi'i dan Hambali
hari? fawab Rasul, 'Ya, dua hari.' Aku ka- pula menetapkan jangka waktu untuk orang
takan, 'tiga hari?' |awab Rasul, 'Seberapa yang musafir karena tujuan maksiat seperti
yang engkau maut"76s jangka waktu orang yang bermukim.

2. Kenyataan dari sekumpulan sahabatyang Dalil yang dipegang oleh jumhur dalam
masalah ini adalah hadits yang ditetapkan dan
menyebut tentang mengusap khuf tanpa menerangkan kebolehan mengusap khuf. Di

menetapkan waktu tertentu. Di antara antaranya adalah:
mereka adalah Umar, Anas bin Malik,
sebagaimana yang dicatatkan oleh ad- 7. Hadits Ali yang telah disebutkan sebelum

Daruquthni. ini,

3. Ia merupakan satu bentuk usapan dalam "Bagi orang musafir tiga hari dan tiga
malam don bagiyang bermukim sehari dan
bersuci. Ia hendaklah tidak terikat dengan satu molam.'q67
waktu, seperti mengusap kepala dan me-
ngusap di atas pembalut. Ini dikarenakan 2. Hadits riwayat Khuzaimah bin Tsabit,

jangka waktu tidak memberikan kesan "Bagi orang musafir tiga hari dan tiga
malam, dan bagi yang bermukim sehari
membatalkan keadaan suci. Karena, per- dan satu malem.'q68
kara yang membatalkan adalah berlaku-
3. Hadits Shafiaran bin Assal, dia berkata,
nya hadats baik itu kencing, berak, dan
sebagainya. Qiyas ini walaupun berten- "Nqbi telqh memerintahkan kami su-
paya mengusap di atas kedua khuf kami
tangan dengan hadits yang menunjukkan apabila kami memakainya dalam keadaan
adanya waktu tertentu untuk mengusap, bersih atau suci, selama tiga hari opabila
kami musafir dan sehari semalom jikq kami
tetapi dipakai karena didukung dengan bermukim. Kami tidak perlu membukanya
dengan sebab berak, kencing, atau tidur.
hadits Ibnu Ammarah. Kami hanya harus membukanya apabilo

Kalangan jumhur juga berpendapat jang- berjunub.'a6e
ka waktu masa mengusap khuf selama satu
hari satu malam bagi mereka yang bermukim, 4. Hadits Auf bin Malik al-Asyja'i,
dan tiga hari tiga malam bagi mereka dalam
perjalanan atau musafir.766 Ulama madzhab
Hanafi pula berpendapat mereka yang me-
Iakukan musafir dengan tujuan maksiat ada-
lah sama hukumnya dengan mereka yang lain,

Riwayat Abu Dawud. Dia mengatakan bahwa ahli hadits berselisih pendapat mengenai isnadnya. Oleh sebab itu ia tidaklah kuat, be-
gitu ,uga pendapat al-Bukhari. lmam Ahmad mengatakan bahwa perawinya tidak dikenali. Diriwayatkan juga oleh ad-Daruquthni,
menurutnya isnad hadits ini tidak kuat. Di dalamnya ada tiga orang yang tidak dikenali, dikeluarkan iuga oleh Ibnu Majah. Kata Ibnu
Abdil Barr, isnadnya tidak kuat. Al-fauzqani juga mengatakan bahwa hadits itu adalah maudhu'(Nailul Authar,lilid, I, hlm. 182). Asy-

Syaukani mengatakan bahwa sebenarnya mengusap khufboleh dilakukan selama tiga hari bagi musafi5, dan sehari semalam bagi yang

bermukim.

Fathul Qadir, Jilid l, hlm. 102, lO7; Tabyinul Haqa'iq, Jilid I, hlm. 48; al-Bada'i', filid I, hlm. 8; Mughnil Muhtaj, lilid I, hlm. 64; aI-
Muhadzdzab,Jilidl,hlm.20; Kasysyaful Qina',lilid I, hlm. 128 dan seterusnya; al-Mughni, Jilid I, hlm. 282-291dan sesudahnya.

767 Riwayat Ahmad, Muslim, an-Nasa'1, dan Ibnu Majah.
768 Riwayat Ahmad, Abu Dawud, dan at-Turmudzi, dia menshahihkan hadits ini.

Ahmad dan lbn

FIQIH ISIAM JITID 1

"Sesungguhnya Rosulullah saw. me- babkan oleh berak, kencing, dan tidur." Ini
nyuruh supayo mengusap khuf pada waktu memberi pengertian bahwa khul tersebut
peperangan Tabuk selamq tiga hari dan harus dibuka setelah tiga hari yang telah di-
tiga malam dan sehari semalam bagi yang lalui setelah membuang air besar. Khuf adalah
menghalang dari hadats itu sampai ke bagian
bermukim.'a7o kaki. OIeh karena itu, ia perlu dihitung mulai
dari waktu ia berhalangan atau waktu hadats
Pendapat yang menetapkan jangka waktu itu tidak sampai ke bagian kaki.
ini adalah hadits dari Umar, Ali, Ibnu Mas'ud,
Ibnu Abbas, Abu Zaid, Syuraih, Atha', ath- Berdasarkan ini, maka siapa yang ber-
Thawri, dan Ishaq.
wudhu pada waktu terbit faja4, kemudian dia
Pendapat yang betul adalah yang me- memakai khuf-nya dan setelah terbit matahari
netapkan batas waktu untuk mengusap khul
karena hadits Ibnu Ammarah tidak shahih. baru berhadats, kemudian setelah tergelincir
Selain itu, ia dapat dimungkinkan telah di- matahari barulah dia berwudhu dan meng-

nasakh dengan hadits-hadits yang shahih ini, usap khuf-ny4 maka jika dia seorang yang
karena kedudukannya datang kemudian. Ha-
dits Awf berlaku pada waktu Perang Tabuk. bermukim, dia boleh mengusap hingga waktu

Jarak di antara peristiwa perang ini dengan yang sama dengan waktu dia menghilang-
wafatnya Rasulullah saw. adalah lebih me- kan hadats itu pada hari berikutnya. Yaitu,
setelah tergelincir matahari hari kedua. |ika
mungkinkan. Adapun qiyas yang dikemuka-
kan oleh ulama madzhab Maliki, maka qiyas dia musafir; maka dia boleh mengusap hingga
itu batal dengan masalah tayamum.
tergelincir matahari pada hari keempat.
Kapankah awal iangka waktu mengusap
khuf? Apabila seorang itu mengusap khuf-nya

Menurut pendapat jumhur; jangka waktu pada waktu bermukim, kemudian dia musafir
yang ditetapkan bagi mengusap khuf ini ber-
ataupun sebaliknya, yaitu mengusap khuf
mula dari berlaku hadats setelah memakai
dalam musafir kemudian dia bermukim, maka
khuf,hingga waktu yang sama pada hari kedua
untuk yang bermukim dan pada hari keempat menurut pendapat ulama madzhab Syafi'i
bagi mereka yang musafir. Karena, waktu yang dan Hambali, jangka waktunya dihitung ta-
dibolehkan untuk mengusap adalah bermula mat seperti orang yang bermukim, Karena,
dengan berlakunya hadats. Dengan demikian, diberikan keutamaan dalam keadaan terse-
maka jangka waktu yang dihitung adalah dari
but yang merupakan asal. Dalam dua keadaan
ketika itu. Hal ini diqiyaskan dengan shalat
yang telah disebut tadi, dia hanya boleh me-
yang waktunya dihitung mulai dari sejak ia ngusap selama sehari semalam saja. Menurut
boleh dikerjakan. Selain itu, hadits Shafwan
bin Assal yang disebutkan dahulu yang me- pendapat ulama Hanafi, seandainya seseorang
nyebut, "Kami dianjurkan supaya tidak mem-
buka khuf kami selama tiga hari tiga malam, itu mengusap khuf pada waktu bermukim,
kecuali disebabkan junub. Tetapi tidak dise-
tetapi sebelum sampai sehari semalam, dia
telah mulai musafir, maka dia berhak meng-
usap sebagai seorang musafi4 yaitu tiga hari

tiga malam. Karena, dia telah menjadi seorang

yang merantau. Orang merantau [musafir)
berhak mengusap untuk waktu tiga hari tiga
malam. fika seorang yang musafir berhenti

770 Riwayat Imam Ahmad. Dia mengatakan bahwa inilah hadits yang paling baik dalam masalah mengusap khul karena ia teriadi
dalam peperangan Tabuk, yaitu peperangan terakhir Nabi Muhammad saw..

ISIAM IILID 1

dan bermukim di suatu tempat, maka seandai- bagi dia mengambil wudhu dan mengusap
nya dia memenuhi jangka waktu bermukim,
dia wajiblah membuka khuf-nya, karena ke- lagi jika jangka waktu untuk mengusap
longgaran untuk orang musafir tidak diberi-
kan lagi tanpanya. f ika dia tidak menghabiskan masih ada. fika jangka waktunya telah ha-
jangka waktu, maka dia bolehlah meneruskan bis, maka dia hendaklah berwudhu dan

dengan keadaan orang musafir. membasuh kedua kakinya.

Sekiranya dia ragu-ragu adakah dia mu- 2. |unub atau sejenisnya. fika seorang yang
mengusap khuljunub atau terjadi sesuatu
lai mengusap pada waktu dalam musafir yang mewajibkan mandi seperti haid, da-
lam waktu untuk mengusap, maka batal
atau dalam waktu bermukim, maka menurut kebolehan mengusap, dan dengan itu dia
pendapat ulama madzhab HambaliTTl hendak- wajib membasuh kedua kakinya. fika dia
lah ia merujuk kepada yang pasti, yaitu me- masih mau mengusapnya, maka dia hen-
ngusap sebagai seorang bermukim. Karena,
daklah memakainya kembali. Ini dapat
tidak boleh seseorang itu mengusap dalam
dipahami dari hadits Shaftnran bin Assal
keadaan ragu.
yang telah disebutkan sebelum ini, bahwa
Ulama madzhab Syafi'i berpendapat,TTz "Rasulullah saw. memerintahkan kami jika
seorang yang ragu tentang jangka waktunya kami dalam musafit agar tidak membuka

masih ada atau sebaliknya, ia tidak boleh khuf kami selama tiga hari tiga malam,

mengusap, baik jangka waktunya telah ber- melainkan disebabkan junub." Hal-hal lain
akhir ataupun belum. Begitu juga orang mu-
safir yang ragu apakah dia mengusap pada yang sama kedudukannya adalah seperti
waktu musafir atau bermukim, karena meng-
usap khufini adalah suatu kelonggaran (rukh- haid, nifas, melahirkan, dapat diqiyaskan
shah) yang diberikan dengan beberapa syarat, dengan junub tersebut,
termasuk waktu. OIeh sebab itu, apabila dia
ragu, maka hendaklah kembali kepada hukum 3. Membuka salah satu dari kedua khul
asal, yaitu wajib membasuh.
ataupun kedua-duanya. Walaupun ia ter-
e. PerkaraPerkara yang Membatalkan jadi disebabkan sebagian besar dari kaki
telah terbuka ke bagian betis khul maka
Mengusap Khul tindakan membuka itu membatalkannya,
Mengusap khuf batal dengan perkara- karena tempat yang diusap telah terpi-
perkara berikut.773 sah dari kedudukannya. Untuk sebagian
besar adalah sama hukum dengan ke-
L. Semua perkara yang membatalkan wudhu
seluruhan. Dalam keadaan ini, jumhur
dapat membatalkan mengusap khuf, ka-
rena ia adalah sebagian dari wudhu. Selain selain ulama madzhab Hambali berpen-
itu, ia adalah pengganti wudhu. Oleh sebab dapat wajib membasuh kedua kaki. Ka-
itu, ia batal dengan perkara yang mem-
rena, kesucian kedua kaki dibatalkan,
batalkan asalnya. Dengan hal itu, wajib
sebab menurut hukum asal kedua kaki
adalah wajib dibasuh, mengusap hanya
merupakan pengganti. Karena itu apabila

hilang hukum pengganti, maka hendaklah

777 Al-Mughni,Jilid l, hlm.292.
772 Mughnil Muhtaj,lilidt, hlm. 67.
773 Fathul Qadinlilid.I, hlm. 105 dan seterusnya; al-Bada'i',filid I, hlm. 12 dan seterusnya; ad-Dumtl Mukhtan filid I, hlm. 254-256;

Muraqi al-Falah,hlm.22; asy-Syarhush Shaghir, filid I, hlm. 156; asy-Syarhul lhbir,Jilidl,hlm.l45"L47; Mughnil Muhtaj,lilid I, hlm. 68;
al-Muhadzdzqb, Jilidl,Nlm.22; al-Mughn[lilidl,hlm.?BL Karysyqful Qinq', Iitid I, hlrn 136 dan seterusnya.

Baglan 1: IBADAH FIqLH ISI."AM JILID 1

kembali kepada asalnya, seperti dalam menghindari berkumpulnya mengusap
hukum tayamum setelah mendapat air.
dan membasuh, karena mengusap sebelah
Tidak mencukupi kalau hanya membasuh
kaki dan membasuh sebelah yang lain
sebelah kaki yang terlepas khuf saia,
adalah tidak boleh.
tetapi wajib membasuh kedua belah kaki.
6. Habis jangka waktu masa, yaitu apabila
Karena, mengumpulkan di antara mem-
berakhir sehari semalam untuk yang ber-
basuh dengan mengusap adalah tidak mukim dan tiga hari tiga malam bagi yang

boleh. musafir. Hal ini adalah karena hadits-

Dalam kasus membuka khuf bagian hadits yang berkaitan dengan mengu-
luar (jurmuq), ulama madzhab Maliki ber- sap khuf dari Ali, Khuzaimah, dan Shaf-
pendapat hendaklah segera mengusap wan menetapkan jangka waktu masa
kedua khuf yang di dalam, sebagaimana
yang ditetapkan dalam syarat muwalah demikian.

seperti yang telah diterangkan. Dalam keadaan ini dan tiga keadaan se-

4. Terbuka sebagian dari kaki karena ter- belumnya, menurut pendapat ulama madzhab
Hanafi, Maliki, dan Syafi'i yang rajih bahwa
singkap atau terbukanya tali pengikat dan
sebagainya. Ulama madzhab Syafi'i dan berdasarkan usapannya telah membersih-
kan kaki, maka dia hanya perlu membasuh
Hambali berpendapat bahwa sebab-sebab
tersebut membatalkan wudhu. Menurut kedua kakinya saja, tanpa harus mengulangi
ulama madzhab Hanafi, wudhu batal apa-
keseluruhan wudhu. Karena, dia dihitung
bila terbuka sekadar tiga jari kaki. Me-
masih berwudhu. Kejadian tersebut hanya
nurut ulama Maliki, wudhu menjadi batal melibatkan khuf saja ataupun membatalkan
apabila khuf-nya terkoyak atau terbuka
jahitannya sebesar sepertiga dari bagian kesucian kedua kakinya saja. Sebab, pada asal-
kaki, baik itu khuf-nya terbuka langsung nya kedua kaki boleh dibasuh, dan mengusap
ataupun bertaut, ataupun kurang dari khul merupakan penggantinya. Maka apabila
ukuran tersebut apabila terbuka dan ter- hukum pengganti batal, boleh kembali kepada
lihat kaki. Sebaliknya, tidak batal jika ia hukum asalnya, sama seperti dalam masalah
bertaut dan melekat di antara satu sama tayamum setelah mendapatkan air.
lain. Seandainya tempat yang terbuka itu
terlalu kecil, yang mana basah air yang Ulama madzhab Hanafi memberi penge-
ada di tangan pada waktu mengusap tidak cualian untuk keadaan darurat, yaitu takut
dapat sampai ke kaki yang berada di se- kehilangan kaki disebabkan dingin. Dalam ke-
baliknya, maka tidak menjadi apa-apa. adaan ini, khuftidak perlu dibuka, tetapi bo-
leh terus diusap sehingga keadaan tersebut
5. Apabila sebagian besar dari salah satu ka- berakhir. Pengecualian ini diberikan tanpa ba-
tas waktu, hanya saja mengusap khuf dalam
ki yang di dalam khuf dibasahi air, meski- keadaan ini diperbolehkan dengan meratakan
usapan ke seluruh khuf, sebagaimana meng-
pun khuf itu bagus. Menurut pendapat usap di atas perban atau balutan.

yang shahih di kalangan ulama madzhab Menurut pendapat ulama madzhab Ham-
Hanafi, keadaan ini membatalkan usapan, bali, setelah jangka waktu masa mengusap
sama seperti jika semua kaki menjadi berakhir ataupun khul dibuka, maka wajib
basah. Oleh sebab itu, wajib membuka bersuci [mengambil wudhu) semula. Karena,
khuf dan membasuh kedua kaki untuk wudhu adalah suatu ibadah yang

FrqlH IsrAM JrilD 1 Bagan 1: IBADAH

batal dengan sebab hadats. Ia menetapi hu- memakai serban dan setelah itu dia berhadats,
maka dia boleh mengusap ke atas serbannya.
kum batal secara keseluruhannya apabila Ini berdasarkan kenyataan Amru bin Umayyah

terjadi pembatalan pada sebagian darinya, se- ad-Damiri yang maksudnya, 'Aku melihat
perti halnya shalat. Dengan kata lain, hadats
tidaklah boleh dibagi-bagi. Oleh sebab itu, Rasulullah saw. mengusap di atas kain serban-
apabila jangka waktu masanya berakhir atau nya dan juga di atas khuf-n!a."726
apabila khuldibuka, maka hadats kembali lagi
kepada anggota yang diusap khuluntuk peng- Al-Mughirah bin Syu'bah menyatakan,

ganti dari membasuhnya, maka hadats itu "Rasulullah saw. berwudhu dan Rasul meng-

akan melebar ke anggota-anggota wudhu yang usap di atas kedua khuf-nya dan serbannya:'777

lain. Dengan demikian, wajiblah mengambil Bilal menyebutkan bahwa, "Rasulullah

wudhu lagi, walaupun dalam jarak waktu yang saw telah mengusap ke atas dua khufnya dan
sebentar. j uga penutup kepalanya."778

Kesimpulan Hukum boleh mengusap serban ini adalah
Perkara-perkara yang membatalkan usa- pendapatyang dipegang oleh Abu Bakat Umar;
Anas, Abu Umamah. Al-Khallal meriwayatkan
pan menurut ulama madzhab Hanafi ada em- bahwa Umar telah berkata, "Barangsiapa tidak
pat perkara, yaitu semua perkara yang mem- pernah menyucikan dirinya dengan mengusap
batalkan wudhu, terbukanya khul walaupun ke atas serban, maka Allah tidak menyucikan-
dengan hanya terkeluar sebagian besar kaki
ke bagian betis khuf. Sebagian besar dari salah nya'"
satu kaki yang di dalam khufdibasahi aic dan
berakhirnya jangka waktu masa yang ditentu- Yang harus dan wajib adalah mengusap
kan dengan syarat. fika tidak, dikhawatirkan sebagian besar dari serban, karena ia sebagai

akan menyebabkan kehilangan kaki akibat penganti seperti khuf.Yang harus diusap ada-
kedinginan. Karena, dalam hal ini seseorang
lah bagian sekelilingnya bukan di tengah-
boleh mengusap hingga keadaan itu tidak ada.
tengahnya, karena ia seperti telapak khuf. Ba-
t. Mengusap di atas Serban gian yang biasanya dibuka tidak perlu diusap

Ulama madzhab Hanafi berpendapat,TTa bersamanya, karena serban ini adalah peng-
mengusapkan air atau debu di atas serban,
peci, penutup muka, dan sarung tangan ada- ganti pada kepala. Oleh sebab itu, kebutuhan
lah tidak sah, karena hukum mengusap khul telah beralih kepadanya dan hukum tersebut
ditetapkan secara menyalahi qlyas. Oleh se- telah berbungan dengannya. Mengusap peci
bab itu, ia tidak dapat disamakan dengan yang tidaklah diperbolehkan. Adapun mengusap

lain. serban adalah sah dengan beberapa syarat:
Ulama madzhab Hambali berpendapat,TTs
L. Hendaklah ia berupa serban yang mubah
lelaki yang mengambil wudhu kemudian dia
dan tidak haram, seperti serban yang

dirampas ataupun yang dibuat dari sutra.

2. Hendaklah ia dipakai secara dililitkan di

bawah dagu sekali atau dua kali lilitan

saja, baik ia mempunyai ekor atau tidak.

774 Mumqial-Falah,hlm.23;Fathul Qadir,lilid I, hlm. 109; al-Lubab, Jilid I, hlm.45 dan seterusnya.

Kasysyaful Qina', Jilid I, hlm. 126, 134 dan seterusnya; al-Mughnr, Jilid I, him. 300-304.
776 Riwayat Ahmad, al-Bukhari, dan Ibnu Malah.
777 Riwayat Muslim, at-Tirmidzi dan dianggapnya shahih.
778 Riwayat al-fama'ah kecuali al-Bukhari dan Abu Dawtrd fNcilu//uthar, Jilid I, hlm. 154J,

Baglan 1: IBADAH FIQIH ISLAM IITID 1

Karena, itulah cara serban Arab dipakai. berdasarkan hadits Anas yang telah disebut-
Ia sulit dibuang serta akan memberikan kan sebelum ini, 'Aku melihat Rasulullah saw
perlindungan yang lebih. Kain serban juga
mungkin mempunyai ekor, yaitu ujungnya berwudhu di mana Rasul memakai serban

yang dibiarkan menjulur ke bawah. buatan Qatar. Rasul memasukkan tangannya
ke bawah serban, lalu mengusap bagian de-
Membiarkan ujung serban terurai adalah pan kepalanya tanpa menguraikan serbannya
amalan Nabi Muhammad saw..Ibnu Umar
menyatakan bahwa Rasul memakaikan itu."78o
Abdurrahman dengan serban hitam dan
Rasul membiarkan ujung serban itu labuh Selain itu, Allah telah mewajibkan meng-
ke belakangnya kira-kira empat jari. Kain usap di atas kepala, sedang hadits-hadits yang
serban yang dipakai secara berselimut berkaitan dengan mengusap serban masih
tidak boleh diusap, karena ia bukan me- dapat dibuat andaian. Oleh sebab itu, tidak
rupakan bentuk serban yang dipakai di
kalangan orang Islam. Di samping mudah boleh menukarkan hukum yang memang
untuk membukanya, ia juga seperti topi.
jelas-jelas yakin kepada yang masih menerima
3. Hendaklah serban itu dipakai oleh lelaki, andaian. Mengusap serban bukanlah meng-
usap di atas kepala.
bukan oleh seorang wanita. Seorang wa-
Asy-Syaukani berpendap?t,781 terdapat ha-
nita dilarang untuk menyerupai lelaki, dits yang jelas yang menyebut tentang meng-

karena wanita tidak boleh mengusap ser- usap kepala saja, yaitu menyebut mengusap

ban, meskipun dia memakainya karena serban saja dan juga yang menyebut tentang
usapan kedua sekali. Hadits-hadits tersebut
terlalu dingin ataupun sebagainya.
merupakan hadits shahih dan sah. Dengan
4. Hendaklah serban tersebut menutupi ba- demikian, membatasi kebolehan kepada se-
bagian yang disebut oleh hadits tanpa alasan
gian anggota yang biasanya tidak dibuka, adalah tidak adil.
seperti bagian depan kepala, dua telinga,
dan bagian pinggir kepala. g. Mengusap Kaos Kakl (Stockingl

Ulama madzhab Maliki berpendapat,TTe Para fuqaha bersepakat tentang keboleh-

boleh mengusap serban yang dikhawatirkan an mengusap stockingTs2 jika ia dilapiskan
akan menyebabkan kemudharatan jika mem- pada kulit ataupun sepatu. Namun, mereka

buangnya, di samping tidak mampu untuk berselisih pendapat mengenai stocking biasa

mengusap kopiah atau sebagainya, yang di- menjadi dua pendapat. Pendapat pertama
baluti dengan serban. fika dia mampu mengu- yang dipelopori oleh sebagian ulama, terma-
sap sedikit kepala, maka hendaklah berbuat
demikian dan menyempurnakan usapan di suk Imam Abu Hanifah, ulama madzhab Maliki
dan ulama Syafi'i, menyatakan tidak boleh.
atas serbannya.
Pendapat kedua disertai oleh ulama
Ulama madzhab Syafi'i berpendapat, ti-
dak boleh hanya mengusap serban saja. Hal ini madzhab Hambali dan dua sahabat Abu Hani-

fah, yaitu Muhammad ibnul Hasan dan Abu
Yusul yang mana pendapat mereka berdua

77e Asy-Syarhul Kabir Jilid I, hlm. 163; asy-Syarhush Shaghir,Jilid,l, hlm. 203 dan sesudahnya.
780 RiwayatAbu Dawud, Ibnu Hajar mengatakan bahwa sanadnya ada masalah (Nailul Authar,lilid I, hlm. 157).
78r Nailul Arthar, Iilid I, hlm. 166.
782 B^ikdibuat dari bulu, kapas, atau sutra.

FIqLH ISLAM )ILID 1 Baglan 1: IBADAH

meniadi fatwa dalam madzhab Hanafi. Mereka pada betis dengan sendiri di samping tidak
berpendapat hukumnya adalah boleh. Beri-
kut dijelaskan pendapat-pendapat bagi setiap terlihat bagian yang dibalutinya.
Ulama madzhab Maliki seperti juga ulama
madzhab.783
madzhab Hanafi mensyaratkan supaya kedua
Imam Abu Hanifah berpendapat, tidak bo-
leh mengusap di atas kedua stocking, kecuali stocking itu dilapisi dengan kulit pada bagian
atas dan bawah, sehingga dapat digunakan
jika ia dilapisi dengan kulit ataupun sepatu, untuk berjalan seperti biasa. Dengan demiki-
an, ia menjadi seperti khuf,lni adalah andaian
karena stocking tidak boleh disamakan dengan yang mungkin dikehendaki dalam hadits-
hadits yang menunjukkan boleh mengusap
khuf karena ia tidak boleh digunakan untuk
kedua stocking.
melakukan perjalanan, kecuali jika dengan
Ulama madzhab Syafi'i berpendaPat,
bersepatu. Pengertian inilah yang mungkin
mengusap stocking adalah boleh dengan dua
dimaksudkan oleh hadits yang membolehkan syarat, yaitu:

mengusap stocking. 1. Hendaklah ia dianyam secara rapat dan

Namun, Imam Abu Hanifah dikatakan tidak jarang, sehingga dapat digunakan
telah menarik kembali pendapatnya ini dan untuk berjalan dengannya.
setuju dengan pendapat kedua sahabatnya
pada akhir hayatnya. Pada waktu dia sakit, 2. Hendaklah ia dipakai dengan sepatu.

dikatakan bahwa dia mengusap ke atas dua fika tidak ada salah satu dari dua syarat
stocking-nya, sambil mengatakan kepada me- tersebut, maka ia tidak boleh mengusap stock-
reka yang berziarah, 'Aku lakukan apa yang ing,karena ia tidak boleh digunakan lagi un-
dahulunya aku larang kepada banyak orang."
tuk berjalan. Kedudukannya adalah seperti
Ini telah dijadikan dalil bahwa Imam Abu
kain buruk. AI-Baihaqi dalam mengutip hadits
Hanifah telah mengubah pendiriannya. Kedua al-Mughirah mengatakan bahwa Nabi Muham-
mad saw. mengusap ke atas dua stocking dan
orang sahabatnya berpendapat, mengusap
sepatunya, dan mengatakan hadits ini adalah
ke atas stocking adalah boleh kalau keduanya lemah. Para ahli hadits juga mengatakan ke-
dua hadits Abu Musa dan Bilal sebagai lemah
tebal hingga kulit tidak tampak. Pendapat ini (dhaif).
menjadi fatwa dalam madzhab Hanafi. Dalil
Ulama madzhab Hambali juga membo-
mereka berdasarkan amalan Nabi Muhammad
saw. yang telah mengusap di atas kedua stock' lehkan mengusap stocking dengan dua syarat
ing-nya.7Ba Selain itu, jika ia tebal maka ia dapat yang telah disebutkan dalam masalah meng-
usap khuf, yaitu:
digunakan untuk berjalan, seperti stocking
bulu yang wujud sekarang. Dengan demikian, L. Hendaklah ia kuat dan tidak terlihat kaki

jelaslah bahwa pendapat yang menjadi fatwa sedikit pun,

di kalangan ulama madzhab Hanafi adalah

boleh mengusap stocking yang kuat yang dapat
digunakan untuk berjalan sejauh satu farsakh
ataupun lebih. Selain itu, mestilah ia melekat

Ad-Durrul Mukhtan lilid I, hlm. 248 dan seterusnya; Fathul Qadir, f ilid I, hlm. 108 dan seterusnya; al-Bada'i',Jilidl,hlm, L0; Mumqi al-
Fatah,hlm.2L; Bidayatul Mujtahid, Jilid I, hlm. 19;asy-Syarhush Shaglrdr,lilid l, hlm. 153;asy-SyarhulKablr, Jilid I, hlm.l4t; Mughnil Muhtai'
filid I, hlm.66; al-Majmu',lilidl,hlm.539 dan seterusnya;al-Muhadzdzab,lilidl,hlm.2l;al'Mughni Jilid I, hlm' 295; Kasysyaful Qina',lilid

l,hlm.124,130.

Diriwayatkan oleh lmam Hadits yang empat dari al-Mughirah bin Syu'bah. Imam at-Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan
shahih. fug4 diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan ath-Thabrani dari Abu Musa. Diriwayatkan juga oleh ath-Tabrani dari Bilal, kedua
hadits yang terakhir ini adalah dhaif (Nashbur Rayaft, ,ilid I, hlm, 184 dan seterusnyaJ.

2. Hendaklah ia dapat digunakan untuk te- Istrq.M IrtID 1

rus berjalan dan ia melekat di kaki dengan h. Mengusap Balutan atau Perban
sendiri.
Perbincangan ini akan mencakup tentang
Pendapat ini didasarkan pada pendapat
definsi, dasar mensyariatkan, kebolehan
sembilan orang sahabat yang membolehkan
mengusap stocking. Mereka adalah Ali, Ammar; mengusap perban atau balutan, hukumnya,
Ibnu Mas'ud, Anas bin Uman al-Barra', Bilal, syarat dibolehkan, kadar yang dibutuhkan
Ibnu Abi Ala, dan Sahl bin Sa'ad. Pendapat ini untuk diusap, bolehkah mengumpulkan antara
juga menjadi pegangan kumpulan tabi'in yang mengusap perban dengan tayamum, apakah
masyhur seperti Atha', al-Hasan al-Bashri, shalat orang yang menggunakan perban perlu
Sa'id ibnul Musayyab, Ibnu ]ubair; an-Nakha'i, diulang setelah dilepas, perkara-perkara yang
dan ats-Tsauri. membatalkan mengusap perban, dan pada
akhir pembahasan akan disebutkan perbeda-,
Mengusap stocking juga disampaikan da- an yang terdapat antara mengusap balutan
dengan mengusap khul
lam hadits tabi'in, yaitu hadits al-Mughirah
Apa yang dimaksud dengan balutan ada-
yang artinya, "Rasulullah saw telah berwudhu. lah bilah-bilah kayu atau bambu yang dilu-
Rasul telah mengusap ke atas kedua stocking ruskan dan diikat pada bagian anggota yang
dan sepatunya."TEs patah atau terbuka untuk menguatkannya.TsT
Keadaan yang hampir sama dengan keduduk-
Hadits Bilal yang artinya, 'Aku melihat an ini adalah membalut tempat patah dengan
Rasulullah saw. mengusap ke atas dua khuf semen, Hal-hal berikut memiliki kedudukan
hukum yang sama dengan keadaan ini. Ia me-
bagian Iuar dan juga serbannya!r86
liputi balutan luka walaupun di kepala atau
Pendapat yang lebih rajih adalah pendapat
ulama madzhab Hambali yang bersandarkan tempat pembuangan darah,788 balutan kudis,
pada amalan sahabat dan tabi'in, serta karena balutan luka yang disebabkan operasi, dan
terdapat amalan yang telah tetap dari Rasu-
lullah berdasarkan hadits riwayat al-Mughirah. sebagainya. Ibnu fuzi al-Maliki mengatakan,
Pendapat ini juga adalah pendapat yang men- maksud jaba'ir adalah sesuatu yang diikat
jadi fatwa di kalangan ulama madzhab Hanafi. pada tempat luka, kudis, dan tempat mem-

Mengusap kedua stocking ini boleh dila- buang darah.78e

kukan hingga keduanya dibuka dalam jangka Dasar pensyarlatan mengusap pefuan
waktu sehari semalam bagi mereka yang ber- Mengusap perban dan balutan merupakan
mukim, dan tiga hari tiga malam bagi mereka
yang musafir. Bagi ulama madzhab Hambali, perkara mubah di sisi syara'. Hal ini berdasar-
usapan tersebut wajib dibuat ke atas kedua kan hadits dan akal. Dari segi hadits, terdapat
stocking dan juga tali sepatu menurut keten- beberapa hadits di antaranya:
tuan yang wajib.
L. Hadits Ali bin Abi Talib. Dia berkata,

Diriwayatkan oleh Imam Hadits yang lima dan dianggap shahih oleh at-Tirmidzi. Hadits ini juga diriwayatkan dari Abu Musa al-

Asy'ari, namun ia tidak bersambung dan tidak kuat (Nailul Authaa f ilid I, hlm. 179). Di sini kita dapati az-Zaila'i menyebutkan bahwa
an-Nasa'i sebagai salah seorang perawi hadits al-Mughirah, tetapi Ibnu Taimiyah dalam Muntaqa al-Akhbar mengecualikan an-

Nasa'i.
746 Riwayat Imam Ahmad, at-Tirmidzi, dan ath-Thabrani.
747 M ug hni I M u h taj, Jilid l, hlm. 94; a I - Mug hni, Jilid I, hlm. 27 7 .
748 Maksudnya ialah luka bekas berbekam, yaitu membuang darah untuk tuluan kesehaan.
789 Al-Qawanin al-Fiqhiyyah hlm. 39.

FIQIH ISLAM

"Salah satu dari lenganku telah Pa- Adakah hukum mengusap iablrah (balutan)
tah. Lalu aku bertanya tentang hukum- wajib atau sunnah?
nya kepada Rasulullah saw.. Rasul me-
nyuruhku supaya mengusap di atas per- Menurut madzhab Abu Hanifah dan pen-

bannya."Teo dapat yang shah dari dua sahabatnya,Te3 bah-
wa mengusap perban adalah wajib, namun
2. Hadits Jabir tentang seorang sahabat bukan fardhu. Pendapat inilah yang menjadi
fatwa dalam madzhab Hanafi. Hanya Abu
yang luka di kepala, lalu dia mandi hingga Hanifah berpendapat, seandainya usapan juga
menyebabkan kemudharatan, maka hukum
membawa maut. Setelah itu Nabi saw.
mengusap itu dapat gugur. Karena kalaulah
bersabda,
kewajiban membasuh dapat dilepaskan de-
i\'4"t'& rl ^** trE t;t ngan sebab uzu4 niscaya kewajiban mengusap
ini lebih utama untuk digugurkan. Dalil yang
,,o1 , ,.c, Ir!.::4, r D-oFt ',. menunjukkan wajib adalah perkara fardhu
tidak dapat ditetapkan, kecuali dengan dalil
k=Ie 3*r d yang qath'i. Sedangkan hadits AIi yang telah
dinyatakan merupakan hadits Ahad. Ia tidak
:f j.(' dapat menentukan hukum fardhu. Dengan
demikian, nyatalah bahwa Imam Abu Hanifah
"sesungguhnya dapot mencukuPi ka' sependapat dengan kedua sahabatnya ten-
tang hukum wajib. Dengan arti lain, ia boleh
lau ia hanya mengambil taYamum dan ditinggalkan. Bagi Imam Abu Hanifah, orang
yang tidak mengusap menanggung dosa, se-
membalut lukonya dengan perca kain, dan dang hukum shalatnya adalah sah dan dia
harus mengulangi lagi. Beliau memaksudkan
setelah itu ia mengusap di atasnyo dan
wajib, pada tingkat wajib yang rendah. Sedang
mandi ke seluruh tubuhnya.'aer kedua sahabatnya mengatakan, shalat yang
dilakukan tanpa mengusap adalah tidak sah.
Dalil dari akal adalah, mengusap perban Mereka memaksudkan waiib, pada tingkat
dan balutan diperlukan, karena membuang
balutan merupakan satu kesulitan dan ber- wajib tertinggi.
bahaya. AI-Marghinani dalam kitab ql-Hidayah Menurut jumhur, yaitu ulama madzhab
mengatakan bahwa kesulitan yang dihadapi
dalam masalah balutan, jauh lebih berat jika Maliki, Syafi'i, dan Hambali,Tea mengusap ba-

dibandingkan dengan kesukaran dalam men-
cabut khuf. Oleh sebab itu, ia lebih utama un-

tuk boleh diusap.Te2

7e0 Riwayat Ibnu Maiah, ad-Daruquthni, dan al-Baihaqi dengan sanad yang sangat lemah [Nashbur Rayah, Jilid I, hlm. 186 dan

seterusnya; Subulus Salam,lilid I, hlm.99).
791 Diriwayatkan oleh Abu Dawud dengan sanad yang dhaif. Imam al-Baihaqi mengatakan bahwa hadits ini adalah yang paling shahih

dalam bab ini, walaupun sanadnya diperselisihkan (Nashbur Rayah,Jtlid, t, hlm. 187; Subulus Sa/am, Jilid I, hlm.99). Imam asy-
Syaukani dalam Nailul Authar,lilid l, hlm. 285, mengatakan bahwa hadits f abir banyak ialurnya, dan masing-masing saling me-
nguatkan.0leh sebab itu, ia dapat dibuat dalil dan ia dikuatkan lagi oleh hadits Ali. Tetapi, hadits fabir menuniukkan pengga-

bungan antara mengusap, membasuh, dan tayamum.
792 Fathul Qadir, Jilid I, hlm. 109.
793 At-Baila'i', filid I, hlm. 13 dan seterusnya; Raddul Mukhtar, f ilid I, hlm. 257, inilah yang lebih tepat, berbeda dengan yang disebut

dalam al-Bada'i'yang mengatakan bahwa mengusap adalah sunnah menurut Abu Hanifah, bukannya waiib. Tetapi menurut pen-

dapat Muhammad dan Abu Yusuf, mengusap adalah wajib.
Asy-Syarhush Shaghir,ltlidl,hlm.202; asy-Syarhul Kabit Jilid I, hlm. 163; Mughnil Muhtaj,lilid I, hlm.94 dan seterusnya; Bujairami
at-Khathib, Jilid I, hlm. 262-265; al-Mughni,Jilid I, hlm. 286; Kasysyaful Qina', Jilid I, hlm. 127 ,135, dan seterusnya; al-Qawanin al-
Fiqhiyyoh, hlm. 39 ; al-Muhadzdaab, lilid l, hlm. 37.

,rll

.,!+'.x+

'rl: i#.4,

ISIAM IILID 1

lutan dengan air adalah wajib atau difardhu- hadats kecil, ataupun pada bagian tubuh
kan. Hal ini agar menggunakan air sebatas ke- jika berhadats besar.
mampuannya. Ini adalah diqiyaskan kepada
hukum mengusap kedua khuf, karena kedua- 2. Tidak mampu membasuh atau mengusap

nya dilakukan dalam keadaan darurat, bahkan tempat itu sendiri disebabkan kemudha-
ratan. fika mengusap tempat tersebut
mengusap perban ini lebih besar daruratnya.
Ia juga berdasarkan petunjuk yang terdapat boleh dilakukan dan tidak membawa mu-
dalam hadits Ali yang menyebut bahwa hen- dharat, maka tidak boleh mengusap per-
daklah engkau mengusap perban. Walaupun ban. Akan tetapi, hendaklah mengusap

hadits ini lemah, akan tetapi ia merupakan tempat luka itu sendiri jika tidak mem-

satu petunjuk dan petuniuk tersebut menun- bawa kepada kemudharatan. Dalam hal
jukkan wajib.
ini, mengusap balutan tidak cukup. Ulama
Para ulama bersepakat bahwa tidak bo-
leh mengusap perban sebelah kaki serta me- madzhab Maliki berpendapat, jika se-
ngusap khul untuk kaki yang sebelah lagi
orang yang mengidap penyakit mata atau
yang sehat. Hal yang boleh hanyalah mengga-
bungkan antara membasuh serta mengusap dahi dan tidak dapat mengusap mata dan

balutan. dahinya karena takut membahayakan,

Syarat-syarat untuk mengusap pefuan maka hendaklah dia meletakkan kain ke
Untuk membolehkan mengusap perban, atas mata atau dahinya, dan mengusap

ditetapkan syarat-syarat berikut:7es di atasnya. Ulama madzhab Hanafi ber-

1. Perban dan balutan tidak boleh dibuang, pendapat, mengusap juga tidak perlu di-
lakukan, seperti halnya membasuh jika
atau seandainya dibuang dan dicuci di- ia menyebabkan timbulnya bahaya. |ika
tidak, maka ia tidak boleh ditinggalkan.
khawatirkan akan menimbulkan rasa
Menurut pendapat ulama madzhab
sakit, bertambah sakit, ataupun memper- Syafi'i, tempat sakit tidak perlu diusap
dengan air; hanya perlu membasuh ang-
lambat kesembuhan. Hukumnya sama gota yang sehat dan bertayamum untuk

dengan masalah dalam tayamum. Ulama anggota yang sakit dan mengusap ke atas
madzhab Maliki berpendapat, jika dikha- perban jika ada.
watirkan menyebabkan kematian ataupun
menyebabkan kemudharatan yang parah, 3. Hendaklah balutan itu tidak melebihi ba-
maka hukum mengusap perban menjadi
gian yang perlu. fika perban tersebut lebih
wajib. Contohnya, menyebabkan hilang dari bagian yang diperlukan, maka wajib
fungsi suatu anggota badan, menjadi tuli,
dibuang untuk membasuh bagian anggota
buta, atau sebagainya. Seandainya dikha- yang tidak sakit yang tidak membahaya-

watirkan rasa sakit itu bertambah atau kan dengan sebab dibasuh. Karena, ia
merupakan satu bentuk pembersihan
lambat sembuh tanpa menyebabkan ke-
cacatan seperti kekaburan atau bernanah, yang didasarkan atas darurat. Oleh sebab
maka hukumnya adalah boleh. itu, ia harus dibatasi kepada ukuran da-
rurat saja. fika dikhawatirkan membuka
Hal ini berlaku jika luka tersebut ber- balutan tersebut akan menyebabkan ke-
ada pada anggota wudhu sewaktu ber- mudharatan atau kematian, maka hen-
daklah dia bertayamum untukbagian yang

les Al-Boda'i: lrlid I, hlnr. 13; ad -Dumtt Mukhua Jilid I, hlm, 258, Ibid..

Isr."A.M )rLrD 1 perban ini disebabkan adanya uzu[ se-

melebihi dari kadar yang perlu tersebut, dang dalam kasus ini uzur tersebut tidak
serta mengusap bagian tepat pada bagian wujud. Pendapat ini juga dibenarkan oleh
yang perlu dan membasuh bagian yang
ulama madzhab Maliki. Dengan demikian,
lain.
jelas bahwa ulama Hanafi dan Maliki ti-
Dengan demikian, ia menggabungkan dak membedakan antara perban yang
tiga perbuatan secara bersamaan yaitu meliputi tempat sakit saja ataupun yang
membasuh, mengusap perban, dan berta- lebih dari bagian tempat sakit karena ia
yamum. Dia tidak perlu mengusap tempat
sakit dengan aic sekalipun dia tidak bim- diperlukan.
bang menimbulkan mudharat. Karena,
yang wajib adalah membasuh. Namun, 4. Perban tersebut hendaklah dipasang da-

sunnah jika dia mengusap. Meletakkan lam keadaan orang tersebut bersuci de-
ngan air. fika tidak, maka shalatnya wajib
kain ke atas tempat sakit dengan tujuan diulang. Ini adalah syarat yang ditetapkan
untuk mengusap juga tidak wajib, karena
mengusap adalah satu kelonggaran. Oleh oleh ulama madzhab Syafi'i dan Hambali.
sebab itu, ia tidak sesuai dengan hukum Alasan mereka, karena mengusap jabirah
wajib mengusap.
adalah lebih utama dari mengusap khul
Ini adalah syarat-syarat yang dinyata- karena ia berdasarkan keadaan darurat.

kan oleh ulama madzhab Syafi'i dan Mengusap khuf disyaratkan ia dipakai da-

Hambali. Ulama madzhab Syafi'i juga lam keadaan suci [berwudhu atau mandi).
mewajibkan bertayamum secara mutlak, Shalat tidak perlu diulang sekiranya per-

seperti yang akan dijelaskan nanti. ban atau balutan itu sekadar perlu dan
ia dipakai sewaktu dalam keadaan suci,
Ulama madzhab Hanafi berpendapat dan [pada waktu berwudhu) membasuh
berdasarkan kenyataan al-Hasan bin Ziad,
"Seandainya membuka balutan luka dan bagian yang sehat, serta bertayamum un-
membasuh bagian sekitar tempat luka itu
dapat menimbulkan kesan buruk terha- tuk bagian tempat luka serta mengusap
di atas balutan. |ika perban dan balutan
dap luka berkenaan, maka mengusap itu diikat sewaktu dalam keadaan tidak
suci, maka balutan itu harus dibuka un-
pembalut yang melebihi bagian luka ter- tuk membasuh anggota yang berada di
sebut juga dibolehkan." Mengusap balut-
an tersebut adalah pengganti membasuh bawahnya, jika dia tidak bimbang menye-
babkan kemudharatan. fika bimbang tin-
bagian yang terdapat di bawahnya. Ke- dakan membuka tersebut menyebabkan

dudukan hukumnya sama dengan meng- maut atau bahaya, maka bertayamum da-
usap ke atas bagian yang betul-betul ber-
ada di atas luka itu sendiri. pat untuk dijadikan pengganti anggota
yang dibalut itu. fika balutan itu meliputi
fika membuang balutan dan mem- semua bagian tayamum (muka dan dua
basuh bagian sekitar itu tidak memberi
tangan), maka ulama madzhab Hambali
efek buruk kepada luka tersebut, maka berpendapat, kewajiban bertayamum itu
tidak boleh mengusap kecuali ke atas gugur. Ulama madzhab Syafi'i berpen-
luka itu sendiri. Mengusap perban adalah dapat dia perlu shalat lagi, karena kedu-
tidak boleh, karena kebolehan mengusap
dukannya sama dengan mereka yang tidak

mempunyai kedua alat untuk bersuci.

Ulama madzhab Hanafi dan Maliki FrqlH Isr"A,M IIUD 1
tidak mensyaratkan supaya perban itu
dipakai pada waktu suci. Oleh sebab itu, tiga jari. Alasannya adalah mengusap kepala
baik ia dipakai sewaktu dalam keadaan ditetapkan syara' melalui Al-Qur'an dengan
suci ataupun dalam keadaan berhadats, menggunakan huruf ba' yang memberi arti
dia tetap boleh mengusapnya dan tidak sebagian. Adapun mengusap khuf, jika diang-
perlu mengulangi shalatnya apabila di- gap tetap hukumnya dengan Al-Qur'an melalui
lakukan dengan sah. Hal ini untuk me- bacaan kasrah pada kalim ah "Arjulikumi' maka
ngelakkan kesukaran. Pendapat ini ada- hukumnya sama dengan hukum mengusap
lah termasuk pendapat yang paling mu- kepala, karena ia di-'athaf-kan kepadanya. f ika
hukumnya tetap dengan berdasarkan hadits,
nasabah, karena biasanya memakai per- maka semua hadits mewajibkan mengusap
ban ini terjadi secara tiba-tiba. Oleh sebab sebagian. Adapun mengusap balutan, hanya
itu, mensyaratkan keadaan suci sewaktu ditetapkan melalui hadits Ali. Hadits ini tidak
memakainya dianggap menjadi satu ke- menyatakan tentang mengusap sebagian. Na-
sulitan dan kesusahan. mun, bagian kecilnya dihitung gugur untuk
menghindari kesulitan dan mengusap sebagi-
5. Perban itu hendaklah tidak mengguna-
an besar itu dapat mengambil tempatnya.
kan bahan yang dirampas, seandainya ia
seorang laki-laki hendaklah bukan dari Menurut pendapat jumhu4 yaitu ulama ma-
bahan sutra yang diharamkan. Perban dzhab Maliki, Syafi'i, dan Hambali,TeT wajib

juga bukan bahan najis seperti kulit mengusap seluruh perban dengan air; sedapat

bangkai atau perca kain yang najis. Dalam mungkin hendaklah ia dilakukan dengan
keadaan ini, mengusap perban tidak sah
menggunakan air. Oleh karena mengusap
dan shalatnya juga tidak sah. Syarat ini
adalah syarat yang ditetapkan menurut perban hanya sebagai pengganti membasuh

ulama madzhab Hambali. bagian yang diperban, yang mana ketika
membasuh anggota tersebut harus dicuci
Kadar yang! harus dlusap secara menyeluruh, begitu juga pada waktu
Menurut pendapat yang menjadi fatwa mengusapnya. Mengusap perban secara ke-

di kalangan ulama madzhab Hanafi,Te6 cukup seluruhan tidaklah membawa kemudharatan,
mengusap sebagian besar balutan dengan
satu kali usap. Ulama bersepakat mengatakan, tidak seperti mengusap khuf. Karena, khuf
ia tidak perlu diratakan dan diulang serta ti- mungkin akan pecah atau rusak jika diusap
dak perlu diniatkan seperti dalam mengusap
seluruhnya.
khuf, mengusap kepala, dan mengusap serban.
Perbedaan antara mengusap balutan dengan Ulama madzhab Maliki dan Hanafi juga
mengusap khuf dan mengusap kepala adalah, menjelaskan, pada asalnya hal yang wajib

dalam mengusap kepala dan mengusap khuf adalah membasuh ataupun mengusap tempat
tidak disyaratkan supaya mengusap sebagian
besax, hanya cukup apabila mengusap sekadar luka itu sendiri seandainya dapat dilakukan

tanpa ada kemudharatan. fika tidak dapat di-
usap ke atasnya, maka hendaklah diusap di
atas balutan luka (yaitu tempelan yang me-
ngandung obat dan dilekatkan di atas tempat
luka atau sebagainya, juga yang diletakkan

7e6 Ad-Durrul Mukhtarlilid.l, hlm. 260; Fothul Qadir,lilid I, hlm. 129; al-Bada'i',filid I, hlm. 12.
7e7 Asy-Syarhul Kabin lilid.l,hlm. !63; ary-Syarhush Sftqgftir, Jilid I, hlm. 203; al-Qawanin al-Fiqhiyyah, hlm.39; at-Muhaddzab,lilid l,hlm.37;

MughnilMuhuj,lilidl,trlnr.94danseterus[ya; Bujairamial-KhdthiD,Jilidl,hkn.262;I{asysyafulQlna',filidl,hlrn 128, 135,

lsrAM f rrrD 1 kuat dari kalangan ulama madzhab Syafi'i, ia
tidak wajib Iagi mengusap.
di atas mata yang sakit). Seandainya tidak
Ulama madzhab Syafi'i juga berpendapat,
dapat mengusap balutan atau perban dan ti- jika dia sembuh pada waktu berwudhu, maka
dak dapat juga mengubahnya, maka hendak-
lah mengusap pengikat yang ada di atasnya, tayamumnya menjadi batal dengan sendiri-
walaupun banyak. Mengusap pengikat tidak nya. Karena penyebab yang membolehkan
bertayamum telah terhapus dan dia wajib
cukup jika dia mampu mengusap di atas membasuh tempat uzur berkenaan, baik ka-
rena berjunub ataupun berhadats kecil, dan
lapisan yang di bawahnya. ia tidak perlu bersuci lagi dari awal. Keadaan
suci tidak menjadi batal secara keseluruhan
fangka waktu masa untuk mengusap per- disebabkan batalnya sebagiannya. Menurut
ban juga tidaklah dibatasi, bahkan dia dapat
melakukannya sampai sembuh. Karena, tidak mereka, orang yang berhadats haruslah mem-
ada suatu dalil yang menunjukkan penentuan
waktu. Pembalut itu juga tidak perlu dicabut basuh anggota yang di luar tempat uzur itu,
untuk melaksanakan tertib, seperti jika dia ti-
ketika junub, dan hal ini berbeda dari khuf.
dak menyadari atau terlupa satu tumpuk. Ini
Mengusap perban berdasarkan kepada darurat berbeda dari orang yang berjunub, karena dia
menurut kewujudannya. Menurut jumhu4 ia tidak perlu membasuh anggota yang setelah-
masih wujud sehingga dapat dibuang perban nya. Karena dalam melakukan mandi wajib,
tersebut, atau sampai luka tersebut sembuh, semua fuqaha bersepakat ia tidak memerlu-
dan menurut ulama madzhab Hanafi sampai kan tartib.
sembuh keseluruhannya.
l. Perlukah Menggabungkan antara
Orang yang junub dan sejenisnya dapat
Mengusap Perban atau Balutan dan
mengusap pada kapan-kapan saja. Bagi yang Tayamum?
berhadats menurut pendapat ulama madzhab
Syafi'i dan Hambali haruslah melakukannya Ulama madzhab Hanafi dan Maliki ber-
pada waktu membasuh bagian anggota yang pendapat,Tee bahwa mencukupi dengan me-
ngusap perban saja. Karena, ia adalah peng-
sakit, agar terlaksana tartib yang menjadi ganti membasuh anggota di bawahnya. Tidak
perlu lagi melakukan tayamum, karena meng-
syarat menurut pendapat mereka. Dia juga gabungkan antara dua cara bersuci tidak di-
boleh melakukan tayamum dahulu sebelum
mengusap dan membasuh tempat tersebut perlukan.
dan cara ini lebih utama.
Ulama madzhab Syafi'i8oo pula dalam pen-
Pembalut yang menutup anggota itu wa- dapat yang umum mengatakan bahwa perlu
jib diusap walaupun terdapat darah. Karena
dalam keadaan ini, ia dimaafkan dari meng- menggabungkan di antara mengusap perban
gunakan air untuk bersuci.Tes Mengusapnya
merupakan pengganti dari bagian anggota dan bertayamum. Dengan demikian, seseorang
yang sehat. Oleh sebab itu, kalau balutan itu
tidak melindungi bagian anggota yang sehat itu harus membasuh anggotanya yang sehat,
ataupun melindungi sedikit, tetapi dibasuh
mengusap perban dan wajib juga bertayamum.
dengan ail maka menurut pendapat yang

798 B uj a i ra mi a I - Khathi b, I bid..
799 Ad-Durrul Mukhtar, Jil I, hlm. 258; asy-Syarhul Kablr, lilid I, hlm. 163; asy'Syarhush Shaghir,lilid I, hlm. 202.
800 Mughnil Muhtaj, f ilid I, hlm.94; Bujairami al-Khathrb,lilid I, hlm.262; dan seterusnya; Hasyiahal-Bajun,Jilid l, hlm.101;al-Muhadzdzab,

lilid l, hlm,37.

Baglan 1: IBADAH FIQLH ISLAM JITID 1

Pendapat mereka ini berdasarkan hadits dan ketiga untuk dua kaki. Sedangkan bagian
kepala, cukuplah dengan sebagiannya. fika
yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan ad- kecederaan meliputi seluruh kepala hingga
Daruquthni dengan sanadnya yang dipercayai tidak dapat diusap, maka dia perlu melaku-
dari Iabir; berkaitan dengan seorang sahabat kan empat kali tayamum. fika kecederaannya
yang luka di kepala, dia telah bermimpi lalu menyeluruh pada anggota wudhunya, maka
dia mandi, Air mandinya itu telah meresap ke dia harus bertayamum sekali saja. Karena,
dalam lukanya hingga menyebabkan kemati-
an. Berkaitan dengan kisah sahabat tersebut, dalam keadaan ini tartib sudah tidak perlu
Nabi Muhammad saw. telah bersabda,
lagi disebabkan hukum wajib membasuh telah
"Sesungguhnya cukup jika dia bertayamum gugur.
saja, kemudian ia mengikat kepalanya dengan
kain,lalu mengusap di atasnya dan mandi bagi Ulama madzhab Hambali mempunyai
seluruh anggota yang lain."
pendapat pertengahan.sol Mereka mengatakan,
Tayamum dilakukan untuk mengganti- mengusap perban saia tanpa bertayamum su-
dah cukup, seandainya perban tersebut tidak
kan perbuatan membasuh anggota yang sakit,
sedangkan mengusap balutan yang menutup melebihi kadar yang diperlukan, karena dia
telah mengusap tempat yang dibenarkan.
juga merupakan sebagai pengganti kepada Oleh sebab itu, dia tidak perlu bertayamum
membasuh anggota sehat di sekeliling tempat lagi, sama seperti mengusap khuf, bahkan
cedera. Karena, biasanya balutan akan meng- lebih utama. Karena, orang yang menghadapi
ambil ruang yang melebihi dari tempat yang keadaan darurat lebih utama diberikan ke-
sakit itu sendiri. fika balutan itu hanya meli-
puti tempat yang sakit saja ataupun mengam- ringanan,so2
bil ruang yang lebih, tetapi ruang yang lebih
itu dibasuh, maka tayamum tidak lagi wajib. Seseorang itu dapat mengusap dan juga
bertayamum jika perbannya melebihi tempat
|ika tubuhnya mempunyai banyak perban, berkenaan, dan dikhawatirkan akan menim-

kemudian dia junub dan hendak bersuci, bulkan kemudharatan jika membuangnya.
maka dia cukup bertayamum sekali untuk
Tayamum merupakan pengganti bagian yang
semuanya. Dalam keadaan berhadats kecil, di luar keperluan. Dengan demikian, ia meng-
maka menurut pendapat yang ashah, ia harus gabungkan antara membasuh, mengusap, dan
mengulangi tayamum sesuai jumlah anggota
wudhu yang sakit dan berbalut tersebut, dan bertayamum. Seandainya tempat luka tidak
dapat mengusap pada setiap perban yang dibalut, maka haruslah dibasuh bagian ang-
mencakupi anggotanya. Berdasarkan hal ini, gota yang tidak cedera dan bertayamum untuk
yang cedera. Pendapat ini, menurut penulis
seandainya dia mempunyai luka atau kece- adalah lebih sesuai. Barangkali tayamum ju-
deraan di keempat anggota wudhu. Akan te- ga perlu dilakukan lebih dari sekali seperti
tapi kecederaan itu tidak menyeluruh, maka
pendapat ulama madzhab Syafi'i.
dia dapat bertayamum sebanyak tiga kali: per-
tama untuk muka, kedua untuk dua tangan, i. Perlukah Mengulang Shalat setelah

Sembuh?

Mereka yang tidak mensyaratkan balutan
dipakai sewaktu dalam keadaan suci, yaitu

801 Kasysyaful Qina', Jilid I, hlm. 135 dan seterusnya; al-Mughni, Jilid I, hlm, 279 dan seterusnya,
ao2

,Il:: ..,- ,i.,iti+r ,tat,,_ ,.;.;1!ii:}.r,, .;s#,.. ,Illl,lf,r,

FIqLH ISTAM 1 BaEIan 1: IBADAH

'ILID k. Perkar+Perkara yang Membatalkan

ulama madzhab Hanafi dan Maliki8o3 tidak Mengusap Perban
mewajibkan shalat semula setelah sembuh
Mengusap perban akan meniadi batal de-
dari luka atau cedera. Pendapat mereka lebih
ngan dua keadaan:8ot
tepat, karena para ulama sependapat menga-
L. Apabila perban itu dibuang ataupun ter-
takan harus melakukan shalat dengan meng-
usap perban. Apabila shalat boleh, maka ia buka. Ulama madzhab Hanafi berpenda-
tidak perlu diulang.
pat bahwa mengusap perban dianggap
Bagi golongan yang mensyaratkan per-
ban dipakai dalam keadaan suci, yaitu ulama batal apabila ia terbuka ketika cederanya
telah sembuh, karena perkara yang men-
madzhab Syafi'i dan Hambali,soa mereka me-
jadi uzur telah hilang. fika pada waktu
wajibkan supaya mengulangi shalat yang telah itu dia sedang shalat, dia wajib memulai
lagi shalatnya setelah mengambil wu-
dikerjakan karena ketiadaan syarat tersebut. dhu yang sempurna, karena dia telah
mampu melaksanakan kewajiban yang
Menurut ulama madzhab Syafi'i, shalat
asal sebelum selesai melakukan dengan
harus diulang dalam tiga keadaan berikut:80s penggantiannya.

L. Seandainya perban tersebut pada anggota Sebaliknya, kalau ia terbuka sebelum
sembuh, maka hukum untuk mengusap
tayamum [muka dan tangan) baik dipakai tidak batal, karena perkara yang menjadi
uzur masih wujud. Kedudukan mengusap
sewaktu dalam keadaan suci ataupun perban adalah seperti membasuh anggota
di bagian bawahnya selagi keuzuran ma-
berhadats. sih wujud. Dengan kata lain, yang mem-
batalkan hukum mengusap perban hanya
2. Apabila perban dipakai pada waktu tidak terjadi dengan sebab luka telah sembuh.
Dalam tempo kecederaannya, dia harus
suci atau berhadats, baik ia pada anggota menukar perban dengan yang lain dan

tayamum ataupun anggota lain. tidak wajib mengusap lagi di atasnya.

3. Apabila perban dipasang lebih dari ruang Akan tetapi, yang afdhal hendaklah di-

yang perlu atau lebih dari tujuan untuk usap semula.

menyembuhkan, baik ia dipakai pada Seandainya seseorang itu menderita

waktu suci ataupun berhadats. sakit mata dan dianjurkan oleh dokter
Islam yang pakar supaya jangan mem-
Menurut pendapat mereka, shalat tidak basuh matanya, ataupun kukunya pecah
atau menderita suatu penyakit lalu diberi-
perlu diulang dalam dua keadaan berikut: kan obat ke atasnya, maka dia tidak harus

1. Apabila perban tersebut dibuat selain

pada anggota tayamum dan tidak menu-

tupi bagian yang tidak sakit walau se-

dikitpun, meskipun ia dipakai pada waktu

berhadats.

2. Apabila perban tersebut pada selain ang-

gota tayamun, dan dipakai sewaktu suci

walaupun ia melebihi kadar yang perlu.

8o3 Al-qawanin al-Fiqhiyyah,hlm. 39; ad-Durrul Mukhtar,lilid l, hlm. 285.
804 Buiairami
80s Buiairami at-Khathib,Jilid I, hlm. 265; Kasysyaful Qina', f ilid I, hlm. 131. Mughnil Muhtaj,lilid I, hlm. 107; al-Muhadzdzab,lilidl,
al-Khathib,Jilid I, hlm. 265; Hasyiah at-Bajuri,lilid I, hlm. 100;

hlm.37.
806 At-Bodo'i',Jilid I, hlm. 14; Fathul Qodir,Jilid I, hlm. 110; al-Lubab 1:46; Muraqiat-Falah,hlm.23;al-Qawaninal-Fiqhiyyah,hlm.

39; aqt-Syarhush Shaghir,lilid I, hlm. 205: asy-Syarhul ltubir, Jilid I, hlm. 166; Bujairami ol-Khathib,lilidl,hlm262; Kasysyaful Qina',lilid'

I, hlm. 136-137.

Baglan 1: IBADAH FIqIH IST"A,M IILID 1

mengusap karena darurat. Bahkan jika ka keadaan sucinya menjadi batal. fika
mengusap dapat menyebabkan kemudha-
ratan, maka dia tidak perlu melakukannya belum sembuh, maka dia boleh memakai
karena perkara darurat dilaksanakan me- perban tersebut di tempatnya dan hanya
nurut kadarnya. perlu mengusapnya lagi.

Ulama madzhab Maliki berpendapat, Ulama madzhab Hambali berpenda-
mengusap perban dapat menjadi batal pat, perban yang terbuka memiliki hukum
dengan membuka balutan tersebut atau- yang sama dengan kecederaan yang di-
pun terbuka sendiri, baik ia terjadi de-
ngan tujuan untuk berobat ataupun untuk perban itu sembuh, walaupun luka atau
tujuan lain. fika luka telah sembuh, maka
hendaklah membasuh tempat berkenaan kecederaan itu sebenarnya belum sembuh.
dengan segera. fika masih belum sembuh
dan menukar perban atau balutan bagi Keadaannya yang telah sembuh adalah
meneruskan pengobatan, maka bolehlah seperti seorang yang telah membuka
mengusap lagi. )ika pada waktu sedang khuf-nya usapannya, kesuciannya, dan
shalat perban terjatuh atau terbuka, maka shalatnya semuanya menjadi batal dan
shalat tersebut menjadi batal. Perban ter- perlu diulang lagi. Hal ini karena meng-
sebut perlu dipakai lagi dengan segera usapnya merupakan pengganti dari mem-
dan mengulangi mengusap, jika tidak ber- basuh bagian yang dilindunginya. Hanya
selang lama. Kemudian mulai lagi shalat dalam kasus bersuci dari hadats besa[
karena kesucian tempat tersebut telah cukuplah membasuh bagian yang dilin-
menjadi batal apabila ia terbuka. dungi oleh perban apabila ia terbuka. Da-
lam berwudhu, jika perban tersebut ter-
Orang yang berwudhu harus meng- buka setelah luka sembuh, maka ia perlu
usap kepalanya apabila penutup atau
pembalut kepala yang telah diusap di berwudhu saja. fika ia terbuka, tetapi
atasnya terjatuh, baik penutup tersebut
berupa balutan, ikatan kepala, ataupun lukanya masih belum sembuh, maka ia
serban, kemudian dia shalat kembali. Dia perlu berwudhu dan bertayamum lagi.
hendaklah meneruskan shalatnya jika
Dengan demikian, jelaslah bahwa ium-
hal itu terjadi tanpa disadari, walaupun hur ulama selain ulama madzhab Hanafi
menetapkan bahwa mengusap perban
berselang lama. fika tidak, maka dia perlu atau balutan menjadi batal apabila ia di-
bersuci kembali ataupun mengambil wu- buka ataupun terbuka sendiri.
dhu kembali.
2. Berhadats. Para ulama bersepakat bah-
Ulama madzhab Syafi'i berpendapat,
wa mengusap perban juga menjadi batal
jika perban atau balutan terbuka pada apabila berhadats. Hanya menurut pen-
waktu sedang shalat, maka shalatnya dapat ulama madzhab Syafi'i, seandainya

dianggap batal, baik ia telah sembuh dari seorang yang mengusap perban itu ber-
lukanya ataupun belum. Kedudukannya
seperti khuf yang terbuka. Begitu juga hadats,8o7 maka ia harus mengulangi lagi
apabila kecederaannya telah sembuh, ma-
tiga hal. Yaitu, membasuh bagian anggota
Hasy iah ql-Bajuri, liid l, hlm. 101. yang sehat, mengusap perbannya, dan
bertayamum. fika ia tidak berhadats dan
ingin mengerjakan shalat fardhu yang lain,
maka ia perlu bertayamum saja tanpa ha-
rus mengulangi membasuh dan mengusap

FIQIH ISLAM IILID I maka tidak sah mengusap perban. Dalam
mengusap kedua khuf, kebolehannya te-
perban. Karena menurut pendapat me- tap wujud walaupun seseorang itu boleh
reka, tayamum merupakan perkara yang membasuh kedua kakinya.

perlu diulangi untuk setiap kali shalat 5. Mengusap perban boleh walaupun ter-

fardhu.EoB dapat pada anggota yang lain dari kaki.
Sedangkan mengusap khuf hanya terba-
l. Perbedaan Pentlng antara Mengusap tas untuk kedua kaki saja. Perbedaan-
perbedaan lain, dapat diketahui melalui
Khuf dan Mengusap Perban atau tabi'i dan syarat-syarat untuk kedua jenis
Balutan
usapan ini.
Ulama madzhab Hanafi menyebutkan
perbedaan antara kedua jenis usapan ini Ulama madzhab Hambali menyebut lima
sebanyak dua puluh tujuh perkara. Ibnu Abi- perbedaan antara dua jenis usapan ini. Mereka
din menambah lagi sebanyak sepuluh per- sependapat dengan ulama madzhab Hanafi
dalam perbedaan pertama, kedua, dan keempat.
bedaan. Di antara yang terpenting adalah se- Sementara dua perbedaan lagi, yaitu pertama:
bagai berikut.soe
boleh mengusap di atas perban pada waktu
l. Mengusap perban, tidak terbatas pada bersuci dari hadats besar; karena membuang
perban dalam bersuci ini juga dapat menim-
sejumlah hari tertentu. Akan tetapi, ia bulkan kemudharatan. Keadaan ini tidak bo-
leh dalam mengusap khuf. Kedua: mereka
terbatas sampai sembuhnya luka yang di- berpendapat dalam mengusap perban har-
alami. Sedangkan hukum mengusap dua uslah diratakan air ke semua perban, karena
berbuat yang demikian tidak menyebabkan
khuf ditetapkan tempo masanya dengan
hari, yaitu sehari semalam bagi mereka kemudharatan apa pun, Ini berbeda dari
yang bermukim dan tiga hari tiga malam
mengusap khuf, karena perbuatan demikian
bagi yang musafir. pada dua khuf akan menyebab ia rusak.810
2. Memakai perban tidak disyaratkan dalam
E. MANDI
keadaan suci, Orang yang berhadats juga
boleh mengusap perban, akan tetapi me- Bagian ini akan membahas ciri-ciri mandi,
makai khuf disyaratkan haruslah sewaktu yang menyebabkan wajib mandi, fardhu-far-
dalam keadaan suci. Orang yang memakai dhu mandi, kesunnahan mandi, kemakruhan
khul sewaktu berhadats tidak boleh me- dan hal yang diharamkan bagi orang yang
ngusapnya. berjunub, mandi-mandi sunnah, juga masalah
hukum yang berhubungan dengan masjid dan
3. Apabila perban terbuka sebelum luka tempat mandi umum.
sembuh, ia tidak akan membatalkan ke-
bolehan mengusap. Sebaliknya jika kedua
khuf atau salah satunya terbuka, maka

batallah kebolehan mengusapnya.

4. Mengusap perban hanya boleh apabila
mengusap tempat luka atau cedera dapat
menyebabkan mudharat. |ika mengusap

luka itu tidak menimbulkan mudharat,

Bujairami al-Khathib, |ilid I, hlm.265. Menurut ulama Hanafi, wudhu menjadi batal apabila darah keluar dari tempat luka dan
mengalir keluar dari tempat keluarnya, yaitu bila ikatan pembalut itu basah (Raddul Mukhtar,lilid I, hlm. 129).

AI-Bada'i', filid I, hlm. L4 dan seterusnya; Fathul Qadir dan Hasyiah al-'lnayah, Jilid I, hlm. 109 dan seterusnya; ad-Durrul Mukhtar
dan Hasyiah lbn Abidin,lilid I, hlm.259-260.
810 Al-Mughni, lilid l, hIm. 278.

i;

r

Bag|an 1: IBADAH FIQTH ISIAM IILID I

7. CtBt-ctRl MANDT Dengan mandi, maka pengaruh tersebut dapat
hilang.
Lafal al-ghusl atau'al-ghaslu dalam Islam
Dengan mandi, hal ini juga berarti kita
menunjukkan arti perbuatan mandi itu sen-
diri, ataupun air yang digunakan untuk mandi. memenuhi perintah syara'. Nabi Muhammad

Dari segi bahasa, ia berarti mengalirkan air ke saw. bersabda,
atas sesuatu secara mutlak. Kalimah al'ghislu
)#'.1t.*)' p"
juga digunakan untuk menyebutkan bahan
"Bersuci adalah sebagian dari keimanan."
yang digunakan untuk membersihkan sesuatu
seperti sabun, sampo, dan sebagainya. Maksud bersuci di sini adalah wudhu dan
juga mandi.
Menurut istilah syarai arti mandi [a/-
Rukunnya
ghaslu) adalah meratakan air ke seluruh tubuh Meratakan air suci ke seluruh bagian tu-
dengan cara tertentu. 811
buh sesuai dengan kemampuan dan tidak
Ulama Syafi'i mendefinisikannya dengan
sampai menimbulkan kesukaran.
mengalirkan air ke seluruh badan dengan
Sebabnya
niat.812 Sebabnya adalah apabila seseorang mau

Ulama Maliki mendefinisikan al-ghaslu melakukan sesuatu yang tidak boleh dilaku-
dengan menyampaikan air serta menggosok- kan karena dia sedang dalam keadaan junub
ataupun karena ingin melakukan perkara
kannya ke seluruh badan dengan niat supaya
boleh melakukan shalat.813 yang wajib.81a

Dalll Pensyarlatannya Hukumnya
Firman Allah SWT,
Dengan mandi tersebut, maka semua
,..:t HfsVL"{{L-r:
hal yang sebelum mandi dilarang akan men-
".., Jika kamu junub maka mandilah...." (al'
jadi halal, di samping juga akan mendapat
Maa'idah:6)
pahala karena dia melakukannya dengan tu-
Ayat ini memerintahkan agar kita me- juan ibadah kepada Allah SWT. Ketika mandi,
seseorang boleh membuka seluruh tubuhnya
nyucikan seluruh tubuh, kecuali bagian yang
jika dia memang mandi sendirian di dalam
air tidak dapat sampai kepadanya seperti
tempat yang tertutup, atau dia hanya bersama
bagian dalam mata. Hal ini disebabkan mem- orang yang dibolehkan memandang auratnya.
Namun, menutup aurat ketika mandi adalah
basuh bagian dalam mata adalah menyakitkan
serta membahayakan. lebih afdhal. Hal ini berdasarkan sabda Nabi

Hikmah dan tujuan mandi ini ialah untuk Muhammad saw kepada Bahz bin Hakim,
kebersihan, mengembalikan kesegaran dan
keaktifan badan. Sebab, bersetubuh telah
memberi pengaruh kepada seluruh badan.

877 Kasysyaful Qina',Jilid 1, hlm. 158.
872
Mughnit Muhtaj, lilidl, hlm. 58. ash-shaglrir, filid 1, hlm. 160.
8r3 Hasyiah ash-Shawi 'ala asy-Syarh

s14 Muraqi abFalalr, hlrn 15.

FIQIH ISTAM JITID 1 dengan seorang yang hidup, yang telah mati,

;sl c ,i a;, b \Levii v*t ataupun binatang. Ulama Hanafi tidak me-
nyebutkan wajib mandi bagi orang yang me-
tu:Jurev;ri lG :r;q,.i:Js nyetubuhi orang mati, binatang, ataupun
anak-anak perempuan yang tidak menimbul-
,l\t;g.x-ii'6iXi
kan birahi.
"Hendaklah engkau jaga auratmu, kecuali
kepada istri dan hamba sahaya milikmu." Ke- Mani adalah air kental yang keluar me-
mudian dia bertanya, "Bagaimana jika sese- muncrat ketika syahwat menegang. Adapun
orang dari kami sedang sendirian?" Rasulullah mani wanita bentuknya cair dan berwarna
saw. menjawab, "Allah lebih patut disegani kekuningan. Keluar air madzi atau air wadi
daripoda manusia."B7s tidak menyebabkan wajib mandi. Air mazi

2. PERKARA.PERKARA YANC MENYEBABKAN ialah air yang putih dan agak jernih dan keluar
ketika seorang itu bermesra dengan istrinya.
WAIIB MAND'
Sementara air wadi ialah air kencing yang
Perkara yang menyebabkan wajib mandi
dinamakan hadats besar, sedangkan perkara kental yang keluar pada permulaan kencing.
yang menyebabkan wajib seseorang meng-
ambil air wudhu dinamakan hadats kecil. Ba- Sebagaimana yang dijelaskan oleh ulama
gi ulama Hanafi, perkara yang menyebabkan
Syafi'i, air mani dapat dikenali melalui cara
wajib seorang mukallaf mandi, baik dia keluarnya yang memuncrat beberapa kali

lelaki ataupun wanita ada tujuh perkara. Ula- ataupun dengan adanya rasa nikmat atau le-
ma Maliki mengatakan ada empat perkara.
Menurut ulama Syafi'i perkara tersebut ada zat ketika ia keluarl diikuti dengan kondisi
Iima, sedangkan menurut ulama Hambali ada
enam perkara. Keterangannya adalah sebagai zakar menjadi lembek dan hilang keinginan
syahwat. Mani juga kadang keluar tidak de-
berikut.816 ngan cara memuncrat karena ia sedikit. Ia juga
mungkin keluar dengan warna darah. Ia juga
a. Keluar Manl
dapat dikenali melalui baunya; sewaktu basah
Yaitu, apabila air mani keluar dari kema-
luan Ielaki ataupun wanita, disertai rasa nik- ia berbau seperti bau tepung gandum yang
mat-menurut kebiasaan-dan keluarnya me- dalam adonan dan ketika kering ia berbau
muncrat, meskipun keluarnya sewaktu tidur
ataupun sewaktu terjaga. Air mani itu keluar seperti putih telur. fika seseorang keluar mani
biasanya disebabkan memandang atau ber- tanpa memuncrat dan terasa nikmat seperti

pikir [hal yang menimbulkan syahwat), se- ia keluar sisa mani setelah mandi, maka

bab bersetubuh, atau melakukan hubungan mandinya waj ib diulang.

Kesimpulannya adalah keluar mani-mes-
kipun akibat membawa benda berat ataupun
terjatuh dari tempat tinggi, ataupun semata-

mata mendapatinya di pakaian, semua ini

menyebabkan wajib mandi, menurut ulama

Syafi'i, baik ia keluar dengan keinginan atau-

815 Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan imam-imam hadits penyusun kitab Sunan yang Empat, al-Hakim, al-Baihaqi dari Bahz bin Hakim,

dari ayahnya dari kakeknya.
816 Fathul Qadinlilid I, hlm. 41-44: ad-Durrul Mukhtar, Jilid I, hlm. 148-156: Muraqi al-Falah,hlm.16; al-Lubab,lilidl,hlm.22; asy-Syarhush

Shaghir, Jilid l, hlm. 160-166; asy-Syarhul Kabr Jilid I, hlm. 126-130; al-Qawanin al-Fiqhiyyah, hlm. 25-30; Bidayatul -Mujtahid, Jilidl,
hlm.44 dan halaman berikutnya;al-Muhadzdzab, Jilid I, hlm.29 dan halaman seterusnya;Mughnil Muhtaj,lilidl,hlm.68-7Ol' al-Mughni,
Jilid l, hlm 199-2lL:, Kasysyaful Qinoj lilid I, hlm. L58-167.

Baglan 1: IBADAH Frq[H Isr."A,M f rlrD 1

pun tidah dan baik keluar melalui saluran 'idah ialah mereka yang keluar mani disertai

biasa ataupun saluran lain seperti pecah ba- dengan syahwat.
gian sulbinya lalu keluar mani. Namun jika
mani yang keluar melalui saluran yang tidak Ulama Hanafi sepakat mengatakan bahwa
biasa itu disebabkan sakit, maka ia tidak me-
hukum waiib mandi hanya bagi mani yang
nyebabkan wajib mandi. keluar melalui kepala zakar dengan disertai
syahwat. Dari sini timbul perselisihan pen-
Ulama Hambali berpendapat apabila ma-
dapat di kalangan mereka tentang apakah
ni keluar namun tidak disertai rasa nikmat
keinginan tersebut disyaratkan berbarengan
atau tidak disertai syahwat-seperti disebab- dengan keluarnya mani atau tidak. Menurut
kan sakit, terlalu dingin, cedera punggung- pendapatAbu Hanifah dan Muhammad, hal itu

dan keluarnya dari seseorang yang tidak tidak disyaratkan. Abu Yusuf berpendapat ia

dalam keadaan tidur; keluar dari orang gila, disyaratkan.
Hasil perbedaan pendapat mereka ini juga
orang pingsan, ataupun orang mabuk, maka ia
tidak menyebabkan waiib mandi. Atas dasar berimbas dalam masalah apabila seseorang
ini, maka mani tersebut dianggap sebagai na- bermimpi dan merasakan kenikmatan, tetapi
maninya baru keluar setelah dia mengambil
jis yang wajib dibasuh semua tempat yang wudhu dan shalat. Dalam kasus ini, menu-

terkena olehnya. rut pendapat Abu Hanifah dan Muhammad

Begitu juga orang yang mengidap penya- orang tersebut harus mandi, tetapi tidak perlu
mengulangi shalatnya. Menurut pendapat Abu
kit keluar mani berterusan iuga tidak wajib Yusuf pula, dia tidak perlu mandi. )ika sese-
orang mandi setelah bersetubuh, dan sebelum
mandi. Dia hanya wajib mengambil wudhu dia tidur; kencing atau berjalan, maninya ke-
saja. Seseorang yang mendapati ada mani di luar tanpa syahwat, maka menurut pendapat
kainnya, maka dia wajib mandi. Seseorang mereka berdua, orang tersebut harus mandi'
yang bermimpi, tetapi air mani tidak keluaf, Tetapi menurut pendapat Abu Yusul ia tidak
maka ulama sepakat mengatakan bahwa dia
perlu mandi. Pendapat mereka berdua di-
tidak perlu mandi.
anggap lebih tepat, karena maksud berjunub
Ulama Hanafi mengatakan sebagai lang- adalah memenuhi keinginan syahwat' Oleh
kah berhati-hati, maka perkara-perkara beri- karena itu, apabila terjadi keluar mani, meski-
kut dianggap menyebabkan waiib mandi, yaitu pun terpisah telah dianggap memenuhi pe-
sekiranya seseorang telah sadar dari mabuk ngertian junub.

atau pingsan, dan dia mendapati kainnya ba- Ulama Maliki sependapat dengan ulama
Hanafi dan Hambali, bahwa mani yang me-
sah oleh air yang diduga mani. Begitu juga nyebabkan wajib mandi ialah yang keluar di-
sertai dengan rasa nikmat-menurut adat'
apabila seseorang mendapati maninya keluar fika ia keluar tidak disertai kenikmatan, se-
setelah dia mandi. Untuk menyebabkan wajib perti keluar sendiri disebabkan sakit, dipukul,
penyakit keluar mani berterusan ataupun
mandi, ulama Hanafi mensyaratkan mani disengat kalajengking, maka ia tidak menye-
tersebut hendaklah keluar secara memun- babkan wajib mandi. Dia hanya perlu ber-
crat dan disertai keinginan, baik bagi lelaki wudhu saja. Begitu juga jika mani keluar di-
ataupun wanita, ketika tidur ataupun ketika
terjaga. Atas dasar ini, maka sekiranya mani
tersebut keluar disebabkan memikul beban
berat ataupun karena terjatuh dari tempat
tinggi, maka mandi tidak wajib. Hal ini dise-
babkan maksud junub dalam surah al-Maa-

FIq!H ISTAM IILID 1 saw. tentang hal itu. Beliau berkata, 'Keluar
madzi wajib berwudhu dan keluar mani wajib
sertai kenikmatan, tetapi tidak seperti biasa
[adat), seperti orang yang menggosok gatal mandi.'D817
atau kurap di zakarnya, digoyang oleh bina-
tang yang ditungganginya ataupun masuk ke Dalam hadits Ahmad juga disebutkan,
dalam air panas, maka dia tidak wajib mandi,
tetapi hanya wajib berwudhu saja. Dalam ma- p'ty il-;j' 3, '#u it]Jt ,uti t;1
salah yang berkaitan dengan air panas dan t
menggosok gatal yang bukan terdapat pada t
zakar, dia tidak wajib mandi, meskipun ter-
dapat rasa nikmat yang bertertrsan dan me- urf ;<No ,.. z / ,,'

nyebabkan keluar mani, Karena, air panas "efr
"Jika air (mani) keluar memuncral maka
tidak berkaitan langsung dengan keinginan
jimak. Adapun masalah digoyang oleh bina- hendaklah engkau mandi junub dan jika tidak,
tang dan juga menggaruk gatal pada zakar,
maka engkau tidak perlu mondi."
sekiranya dia merasa nikmat secara berterus-
an hingga keluar mani, maka dia diwajibkan Hadits dari Ummu Salamah juga menya-
mandi. Karena, kedudukannya hampir sama
dengan keinginan jimak. Seseorang yang ter- takan,
sadar dari tidurnya dan mendapati pakaian-
nya ataupun tubuhnya basah oleh air dan dia Ummu Salamah telah bertanya kepada
Rasulullah saw., "Wahai Rasulullah, sesung-
meragukan apakah air itu mani atau madzi, guhnya Allah SWT tidak malu dari sesuatu

maka dia wajib mandi. Karena, adanya kera- yang benar. Apakah perempuan itu wajib
guan tersebut menyebabkan ia meniadi wajib.
Para ulama sepakat bahwa perempuan yang mandi apabila ia mimpi bersetubuh?" Beliau
terkena mani di kemaluannya selagi ia tidak
menyebabkannya mengandung, maka ia tidak menjawab,
wajib mandi. Mereka juga berpendapat basah
yang ada pada kelamin wanita dianggap bersih Vt:lrtit;,"
dan membasuhnya adalah disunnahkan.
"Ya, sekiranya ia mendapati keluar air
Dalil yang menunjukkan bahwa keluar
mani itu menyebabkan wajib mandi adalah (mani)!' Ummu Salamah pun kembali ber-
berdasarkan hadits Ali bin Abi Talib,
tanya, "Apakah perempuan juga keluar mani?"
i J* ** Ct dU',t",, >,lt s
Rasulullah saw. menjawab,
;*ir dt e,r,i*jt q^:)t
6$,i-i*f € ,4Jaz/
"Aku adalah lelaki yang sering keluar
tl^:"
madzi. Lalu aku bertanya kepada Rasulullah
" Beruntunglah kamu, bagaimana seorang
anaknya dapat menyerupai ibunya (kalau bu-

kan akibat peng aruh mani ibunya) ?'e18

Keluar madzi dan keluar wadi tidaklah
menyebabkan wajib mandi. Ia hanya menye-
babkan wajib wudhu, serta membasuh ke-

8t7 Hadits riwayat Imam Ahmad, Ibnu Majah, at-Tirmidzi dan dia mengakui sebagai shahih. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Abu Dawud
dan an-Nasa'i. Imam al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan secara ringkas dari Imam Ali (Nailul Authar, jilid I, hlm. 218).

818 Haditsmuttafaq 'alath. Ungkapan "Apabilakamu mendapati air'' artinya mendapati ada mani setelah bangun dari tidur (Nailul Authar,

hlm.219J,

FrqlH lsr."AM IILID

maluan berdasarkan sabda Nabi Muhammad Ulama Maliki dan Hanafi mensyaratkan
hendaklah perbuatan bersetubuh itu dilaku-
saw., kan oleh orang mukallaf (akil dan balig). fika
ia dilakukan oleh orang yang belum mukal-
,t *t-)tot *s c/ o /, t Iaf, maka mandi tidak wajib. Namun, ulama
Maliki-dalam pendapat yang mu'tamad di
€b-,W,F kalangan mereka-mengatakan bahwa anak
2l Ielaki yang telah sampai peringkat remaja
ataupun anak perempuan yang disetubuhi
"setiap lelaki yang keluar madzi waiib oleh orang yang balig disunnahkan untuk

berwudhu.'81e mandi. Ulama Hanafi berpendapat, remaja le-

b. Bertemu Alat Kelamln,82o Mesklpun laki hendaklah dilarang mengerjakan shalat
sebelum dia mandi wajib. Anak-anak yang
tldak Keluar Mani telah mencapai umur 10 tahun hendaklah di-

Maksudnya adalah berjunub, yaitu dengan latih dengan menyuruhnya melakukan amalan

memasukkan kepala zakar atau kemaluan mandi ini.
lelaki atau kadarnya-bagi yang zakarnya Ulama sepakat bahwa mandi junub adalah
terpotong-ke dalam kemaluan wanita yang
wajib karena persetubuhan dan mereka tidak
dapat disetubuhi baik qubul atau dubur; lelaki
ataupun perempuan, secara suka rela ataupun mensyaratkan keluar mani, karena hadits
dipaksa, dalam keadaan tidur ataupun terjaga'
Aisyah yang menyatakan, "Sesungguhnya air
Menurut pendapat ulama Syafi'i dan (mandi) adalah disebabkan air (keluar mani)i'

Hambali, mandi tetap wajib meskipun perkara telah dimansukh menurut ijma ulama. Hanya
tersebut terjadi pada anak-anak yang belum ulama Hanafi saja yang membuat pengecua-

balig. Kewajiban ini tidak disyaratkan harus lian, yaitu ketika seseorang menyetubuhi
taklif. Oleh sebab itu, anak-anak dan orang
gila juga dianggap berjunub dengan mema- orang mati, binatang, dan anak-anak kecilyang
sukkan zakarnya ke dalam kelamin wanita,
dan keduanya wajib mandi apabila mereka belum menimbulkan syahwat-jika memang
tidak merusak selaput daranya, maka dia di-
sampai ke tahap sempurna (al-kamaol). Anak- wajibkan mandi jika memang keluar mani.
anak mumayyizyang mandi, maka mandinya Oleh karena itu, sekiranya tidak keluar mani
dianggap sah. Anak-anak tersebut hendaklah dan anak-anak kecil yang disetubuhi itu pula
disuruh melakukan mandi wajib tersebut, se- tidak rusak selaput daranya, maka dia tidak
bagaimana dia disuruh mengerjakan wudhu.
Ulama Hambali juga mewajibkan mandi ke- wajib mandi dan mengambil wudhu. Dia hanya
pada anak lelaki yang berumur 10 tahun atau
disuruh membasuh zakarnya saja, karena
kanak perempuan yang berumur sembilan
tahun, apabila mereka melakukan persetu- perbuatan ini tidak dikehendaki menurut kon-

buhan. Yaitu, apabila mereka akan melakukan disi yang normal.821
jumhur ulama berpendapat bahwa mandi
perkara yang memerlukan mandi seperti
membaca Al-Qur'an dan yang memerlukan tetap waiib karena melakukan persetubuhan
dengan mayat dan binatang. Karena, ia tetap
wudhu seperti shalat dan thawaf.

819 H"dit ini diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Ahmad dari Abdullah bin Sa'ad al-Anshari. lmam lshaq dan ath-Thahawi iuga mentakhrii
hadits yang sama dari Imam Ali (Nashbur Rayah, filid l, hlm.93)

820 Mrk ud tempat khitan ialah tempat yang dipotong pada zakar dan farji. Bertemunya dua khitan maksudnya adalah bersetubuh.
82r Hasyiah tbn Abidin.lllid 1, hlm. 154.

FIqLH ISLAM JILID 1 persetubuhan itu dilakukan terhadap kelamin
wanita yang tidak mampu, ataupun yang bu-
dianggap memasukkan zakarke dalam kelamin kan kelamin wanita seperti menjepitkannya
wanita, sama seperti yang dilakukan terhadap
manusia ketika dia masih hidup. Menyetubuhi di celah paha, perut, ataupun di celah bibir
perempuan yang telah mati termasuk dalam
keumuman hadits-hadits yang menyebabkan kelamin wanita, ataupun hanya dengan ber-
wajib mandi seperti yang akan disebutkan. temu dua khitan tanpa memasukkan zakar
ke dalam kelamin wanita, dan begitu juga ber-
Persetubuhan yang dilakukan dengan
pembatas ataupun tidah menurut pendapat setubuh di antara dua wanita tanpa menge-
ulama Maliki dan Syafi'i, semuanya menye-
babkan wajib mandi. Ulama Maliki berpen- luarkan mani, maka tidak wajib mandi.

dapat bahwa kewajiban mandi tersebut apa- Dalil yang menunjukkan wajib mandi
bila memang balutan yang meliliti zakar itu
tipis. f ika ia tebal, maka mandinya tidak wajib. dengan sebab bersetubuh ini ialah firman
Ulama Syafi'i tidak membedakan antara ba-
lutan itu tipis atau tebal, orang tersebut tetap Allah SWT,
wajib mandi.
"... Jika kamu junub maka mandilah,..."
Ulama Hanafi dan Hambali berpendapat, (al-Maa'idah:6)
orang yang berjimak dengan pembatas/pem-
Begitu juga berdasarkan hadits-hadits
balut adalah tidak wajib mandi, sekiranya
tidak keluar mani seperti dengan membalut yang banyak, di antaranya ialah hadits,
zakarnya dengan kain ataupun menyarungi-
ii i \t i$t *. ) i :(Yr */tt tiy
nya dengan kondom. Ulama Syafi'i dan Ham-
"Apabila bertemu dua khitan, maka wajib-
bali mensyaratkan persetubuhan itu dilaku- lah mandi, meskipun tidak keluar mani.'422

kan terhadap kelamin wanita yang asli. Ada- Hadits lain,
pun memasukkan zakar ke kelamin wanita
yang tidak asli tanpa keluar mani, tidaklah -er./.;,j.,6,, {;fr,!c. r.Vo1' W' ,n_;.tr. lrl
E
menyebabkan wajib mandi. Hal ini sama de-
ngan lelaki yang memasukkan zakarnya ke ' , .c
qubul seorang khunsa, karena khunsa tidak
diyakini mempunyai kelamin wanita yang FiJl ,*;,,
sebenarnya. Begitu juga sebaliknya, seorang
"Apobila (zakar) seseorqng berada di an-
khunsa yang memasukkan zakarnya ke qubul
tara empat segi (kelamin wanita) kemudian
atau dubur seorang lain tanpa keluar mani,
karena tidak terdapat perbuatan memasuk- melakukan kerja (jimak), maka dia wajib

kan hasyafah yang sebenarnya dengan yakin. mandi.'423

Ulama Maliki dan yang lain mensyarat- Imam Ahmad dan Muslim menambahkan
dengan kalimat, "Walaupun tidak keluar ma-
kan, hendaklah perbuatan memasukkan zakar ni." Hal ini juga terdapat pada hadits,
itu terjadi pada kelamin wanita yang memang
mampu disetubuhi. Oleh sebab itu, sekiranya

822 Diriwayatkan oleh Imam Muslim dan Ibnu Majah dari Aisyah dan Abdullah bin Amr. lni adalah hadits shahih.

823 Hrdit muttafaq'alaih d,ari Abu Hurairah (Nailul Authar, filid l, hlm. 219). Maksud empat cabang ialah ada yang mengaakan dua

tangan dan dua kaki. Ada yang mengatakan dua kaki dan dua pahanya

.,i'l!+rl',fl, i#"ril

l
I

I

FIqLH ISI.AM JILID 1

'04'3V' A d\lii n *riy artinya membenamkan atau memasukkan
,;itaJ to
-. o.. hasyafah ke dalam kelamin wanita. Hal ini di-
-l*Jl karenakan makna khitan ialah tempat terjadi-
"Apabila ia duduk di antara empat segi nya khitan pada lelaki dan perempuan. Tem-
pat khitan bagi wanita adalah di atas tempat
(kelamin wanita) kemudian kedua kelamin itu keluar kencing, sedangkan kedudukan tempat

bersentuhan, maka waiiblah ia mandi iunub.'824 kencing adalah di atas tempat masuknya

Imam at-Tirmizi memakai ungkaPan, zakar.
Ulama Hambali dan juga yang lain men-
"Apabila tempat khitan melewati tempat khi-
jelaskan bahwa wanita yang mati kemudian
tan, maka wajiblah mandi." disetubuhi hendaklah dimandikan lagi.
Hadits Ubai bin Ka'ab juga menyebutkan
c dan d. Hald dan Nlfas
bahwa fatwa terdahulu yang berdasarkan, Ulama sepakat bahwa kedua hal ini juga
"air (mandi) adalah dengan sebab air (keluor'
nya air mani)i'merupakan rukhshah yang di- menjadi sebab wajibnya mandi. Hukum man-
berikan oleh Rasulullah saw. pada permulaan
Islam. Kemudian setelah itu beliau telah me- di sebab berhenti haid adalah berdasarkan

merintahkan kami agar mandi.82s firman Allah SWT,
Imam at-Tirmidzi juga meriwayatkan bah-
"... Kereno itu iauhilah istri pada waktu
wa aturan mandi hanya apabila keluar mani haid.... " (al-Baqarahz 222)
merupakan rukhshah di awal Islam, setelah
fuga, berdasarkan sabda Nabi Muhammad
itu aturan ini dilarang. saw. yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari

Atas dasar ini, maka hadits Rafi' bin dan Muslim, bahwa Nabi Muhammad saw.
bersabda kepada Fatimah binti Abu Hubaysh,
Khadij yang disebutkan oleh Imam Ahmad
dan yang menerangkan bahwa "oir (mandi) "Apabila mulai datang haid, hendaklah
adalah dengan sebab air (keluar mani)" telah kamu meninggalkan shalat. Apabila ia telah
dimansukh. Hal ini berbeda dengan pendapat berhenti, maka hendaklah kamu mandi dan
mengerjakan shalat"
kaum Anshar yang mengatakan bahwa mandi
tidak diwajibkan dengan persetubuhan yang Sementara itu, nifas adalah darah haid

tidak mengeluarkan mani. Karena, hadits- yang terkumpul. Berhentinya darah haid dan
hadits yang telah dikemukakan menunjuk-
kan secara jelas, bahwa wajib mandi dengan nifas merupakan syarat wajib serta syarat
bertemunya dua khitan, baik keluar mani
ataupun tidak. Ijma' dalam masalah ini juga sahnya mandi. Hal ini berdasarkan firman
terjadi di kalangan sahabat. Bertemunya khi-
Allah SWT dalam Al-Qur'an,
tan ini bukanlah hanya bermaksud kedua-

nya bertemu atau bersentuhan saja, tetapi
juga berarti saling melewati (at-taiaawuz).

Ungkapan ini adalah ungkapan maiaz yang

82a Riwayat Ahmad, Muslim, dan at-Tirmidzi-dia mengakui shahih-dari Aisyah r.a. (ibrd., lilid l,hlm.22l).
82s Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Abu Dawud (ibid.). Adapun hadits Rafi' Khadij yang menyebut "air itu dari air" yang diriwayat-

kan oleh Ahmad, maka terdapat seorang perawi yang tidak dikenali. Pada zahirnya, hadits tersebut adalah lemah (Nailul Authar,Jilid'1,

hlnu 222), ":; ,1,:i;r,,
t:.l l:ii!,!.:,

--

FIQIH ISI.AM 1

'ILID

"... Apabila mereka telah suci, campurilah dalam bentuk gumpalan darah atau daging,
m ereko.... " (al-Baqarahz 222)
karena keadaan itu tidak dianggap sebagai
Artinya, adalah apabila wanita-wanita
itu telah mandi. Suami dilarang menyetubuhi melahirkan. Anak yang lahir adalah suci dan
istrinya sebelum istrinya mandi. Ini adalah dengan adanya darah pada tubuhnya dia wajib
dibersihkan sama, seperti sesuatu yang ter-
dalil yang menunjukkan bahwa mandi adalah
wajib bagi wanita yang telah selesai haid. kena najis.

Adapun kelahiran bayi dalam keadaan Keluar darah istihadhah juga tidak me-

kering (tidak ada darah yang keluar), menurut nyebabkan wajib mandi. Ia hanya disunnahkan
mandi apabila darah itu berhenti.'
pendapat yang mu'tamad di kalangan ulama
Maliki, pendapat yang terpilih dalam Madzhab e. Muslim yang MatiSelaln Matl Syahid
Hanafi dan pendapat yang ashah di kalangan
Ulama sepakat bahwa orang Islam diwa-
ulama Syafi'i, hal itu tetap menyebabkan jibkan secara kifayah dan secara ta'abbudi,
untuk memandikan jenazah seorang Muslim
wajib mandi, karena adanya kelahiran bayi. yang meninggal dunia selain Muslim yang mati
Meskipun-menurut ulama Syafi'i-yang ke- syahid dan yang mati dalam keadaan tidak
luar itu adalah hanya segumpal darah atau menanggun g j anabah. Hukum ini berdasarkan
sabda Nabi Muhammad saw. tentang seorang
daging, karena pada hakikatnya ia adalah ma- sahabat yang meninggal dunia karena terjatuh

ni yang telah terbentuk. Selain itu, biasanya dari tunggangannya,
proses kelahiran selalu disertai keluarnya
cairan. Oleh sebab itu, hukumnya disamakan. Joi,.o;i tt:i. o , cl.,. tor j*bot

Kedudukannya sama seperti jika seorang €;-rEJ )bi

wanita tidur kemudian keluar sesuatu (cairan air b"iHdaernaddaaknlakhaf'*arn*k,an^odiioardioanlamaioduaa"hreglraii
dari kelaminnya). Perempuan juga dianggap
batal puasanya dengan sebab ini. Berbeda jika kain kafan.'826

yang keluar dari kelamin wanita itu hanya Hadits ini menjadi dalil tentang wajibnya
memandikan jenazah. Nabi Muhammad saw.
satu tangan atau kaki, atau anggota lainnya, sendiri telah dimandikan. Begitu juga Abu
maka ia tidak menyebabkan wajib mandi dan Bakar, dan kemudian menjadi amalan yang
juga tidak membatalkan puasa. Dia hanya di-
beri pilihan untuk mau mandi ataupun meng- terus diamalkan oleh umat Islam.

ambil wudhu. f. Orang Kaflr yang Masuk lslam

Menurut pendapat yang lebih rajih dari Ulama Maliki dan Hambali mewajibkan
kalangan ulama Hambali adalah kelahiran
yang terjadi tanpa diiringi dengan keluarnya mandi kepada orang kafir yang memeluk Islam.

darah tidaklah menyebabkan kewajiban man- Hal ini berdasarkan hadits Nabi Muhammad
di. Karena, tidak ada nash atau kesimpulan saw. yang diriwayatkan oleh Qais bin Ashim
yang dapat dipahami dari nash tentang ma- yang mengatakan bahwa dia telah memeluk
salah ini. Oleh karena itu, puasa wanita terse- Islam, lalu Rasulullah saw. memerintahkan-
but tidak batal dan dia juga tidak diharam- nya supaya mandi dengan air dan bidara.827
kan untuk disetubuhi sebelum mandi. Mandi
juga tidak diwajibkan disebabkan keguguran

,,826 H"dit, ttafaq'ataih dari lbnu Abbas (subulus Salam,Jilid 1, hlm. 92).

827 Diriwayatkan oleh Imam yang Lima penyusun kitab Sunan kecuali lbnu Maiah, iuga diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dan Ibnu
Khuzaimah dan diakui shahih oleh Ibnus Sakan (Nailul Authar, jilid I, hlm. 22aJ.

FIqLH ISI."A.M IILID 1

Ulama Hanafi dan ulama Syafi'i berpen- dari mabuh pingsan, haid, atau nifas. Mereka
dapat bahwa mereka hanya disunnahkan menambahkan satu lagi wajib secara kifayah,

mandi apabila mereka tidak berjunub. fika yaitu memandikan mayat.
Adapun menurut ulama Maliki ada em-
mereka hanya mengambil wudhu, maka sudah
cukup. Alasan mereka ialah Nabi Muhammad pat sebab, yaitu keluar mani, memasukkan

saw. tidak menyuruh setiap orang yang ha sy afah,haid, dan nifas.

memeluk Islam supaya mandi. fika perbuat- Ulama Syafi'i menetapkan lima sebab
an tersebut wajib, tentulah Nabi Muhammad yaitu mati, haid, nifas, bersalin tanpa keluar
saw. tidak hanya menyuruh setengah orang darah-menurut pendapat yang ashah-ber-
dan yang lainnya tidak. Hal ini menunjukkan junub dengan memasukkan hasyafah atau
bahwa perintah Nabi Muhammad saw. yang
disebutkan dalam hadits di atas hanya seba- kadarnya, dan keluar mani secara biasa atau

gai perintah sunnah saja. dengan cara yang tidak biasa.

Orang kafir hanya diwajibkan mandi Ulama Hanafi, kemudian menyebut sepu-
ketika memeluk Islam, jika mereka dalam
luh perkara yang tidak menyebabkan wa-
keadaan berjunub. Hal ini karena adanya da- jib mandi, di antaranya ialah keluar madzi,
lil-dalil yang menunjukkan bahwa orang yang
dalam keadaan junub wajib mandi, seperti keluar wadi, bermimpi tanpa keluar mani,
melahirkan tanpa diiringi darah-menurut
firman Allah SWT,
pendapat Abu Hanifah, tetapi pendapat
",..lika kamu junub maka mandilah...." (al'
yang paling ashah menurut keterangan lbnu
Maa'idah:6)
Abidin, ia tetap wajib mandi sebagai langkah
Perintah dalam ayat ini tidak membeda- hati-hati, memasukkan zakar yang berbalut
kan antara orang yang kafir dengan orang yang dapat menghalangi dari timbulnya ke-
nikmatan-menurut pendapat yang paling
Muslim. ashah, menyuntik atau memasukkan jari dan

Keslmpulan sebagainya ke kelamin wanita, melakukan
Terdapat enam perkara yang menyebab-
hubungan kelamin dengan binatang atau de-
kan wajib mandi. Hal ini menurut pendapat
ngan mayat tanpa keluar mani, menyetubuhi
ulama Hambali. Menurut ulama Hanafi ada
tujuh sebab, yaitu keluar mani ke bagian luar gadis yang tidak sampai menyebabkan hi-
tubuh dengan disertai syahwat, masuknya ha-
syafqh atau bagiannya-bagi zakar yang ter- langnya selaput dara juga tidak sampai keluar
potong-ke dalam salah satu dari kemaluan
manusia yang hidup, keluar mani yang dise- mani.
babkan melakukan hubungan badan dengan Perlu diperhatikan juga, bahwa apabila
orang mati ataupun binatang, mendapati air
ada dua perkara yang menyebabkan wajib
jernih setelah tidur jika memang zakarnya mandi berkumpul, umpamanya antara haid

tidak tegang sebelum tidur, dan apabila men- dan junub, bersetubuh dan keluar mani, maka
dapati cairan yang disangka mani setelah sadar
mandi sekali saja sudah cukup.
Jumhur ulama juga berpendapat bahwa

niat mandi dapat menggantikan niat wudhu,

karena wudhu dianggap masuk di dalam man-
di, tetapi tidak sebaliknya. Menurut pendapat
ulama Hambali, untuk mendapatkan wudhu,
seseorang harus niat wudhu secara khusus.

FIqLH ISI,"A.M JILID 1 Sagtan 1: IBADAH

3. PERKARA FARDHU DALAM MANDI ke tangan kirinya. Lalu beliau membasuh ke-

Kefardhuan mandi ditetapkan oleh Al- maluannya dan diikuti dengan berwudhu.828
Qur'an, yaitu dalam firman Allah SWT, Kemudian beliau memasukkan jari jarinya ke
bagian pangkal rambutnya. Setelah itu beliau
"... Jika kamu junub maka mandiloh...," (al- menuangkan air ke atas kepalanya sebanyak
Maa'idah:6)
tiga tuangan.s2e Setelah itu, beliau meratakan
Dan juga firman-Nya, air ke seluruh tubuhnya dan akhirnya beliau
"Janganlah kamu mendekati shalat, ketika membasuh kedua belah kakinla."aao
kamu dalam keadaan mabuk, sampai komu
Para ulama mewajibkan seseorang mela-
sadar apa yang kamu ucapkan, dan jangan kukan perkara-perkara berikut ini ketika dia
mandi wajib.831
pula (kamu hampiri masjid ketika kamu) dalam
keadaan junub kecuali sekadar melewati jalan 7. Meratakan Air ke Seluruh Tuhth
saja, sebelum kamu mandi (mandi junub),.."
(an-Nisaa':43) Maksud seluruh tubuh adalah mencakup
semua bagian rambut atau bulu dan kulit. Ini
Gara Mandl Rasulullah saw. adalah syarat yang disepakati oleh fuqaha.
Cara mandi yang sempurna dapat diketa-
Oleh karena itu, meratakan air ke seluruh
hui dengan memerhatikan panduan As-Sun-
nah. Di antaranya adalah yang diriwayatkan bagian kulit dan juga bulu-bulu adalah wajib.
Sehingga kalau ada yang tertinggal meskipun
oleh Aisyah r.a., satu bagian kecil saja yang tidak terkena air,
maka ia wajib dibasuh lagi. Dengan demikian,
.it, -p ? usi,* ;lt * seseorang wajib memerhatikan bagian-bagian

"Apabila Rasulullah saw. mandi junub, kulit yang tersembunyi di bagian tubuh yang ce-
maka beliau memulainya dengan membasuh kung dan berlipat seperti pusar, bawah ketiak
kedua tangannya kemudian menuangkan air
dan semua lubang yang ada di tubuh dengan
cara menuangkan air ke atasnya. Hukum ini

berdasarkan sabda Nabi Muhammad saw. yang
diriwayatkan oleh Abu Hurairah,

IFi':';3t t juu i:G r; F *X "ot

'li\o

"Di bawah setiap helai rambut atau bulu
ada janabah. Oleh karena itu, hendakloh kamu

828 Ul"-, sepakat mengenai sunnah berwudhu sebelum mandi karena mengikuti amalan Rasulullah saw., di samping ia dapat men-

829 dorong untuk mandi dan lebih sopan(al-Mughnr, Jilid I, hlm.219). dengan telapak tangan.
P"nurng"n di sini dilakukan dengan menggunakan air yang diambil
830
837 Hrditr muttafaq 'alaih (subulus Salam, |ilid I, hlm. B9). Hadits yang sama diriwayatkan iuga dari Aisyah dan Maimunah.
Fothulgodir,filidl,hlm.3Edanhalamanseterusnya;ad-DurrulMukhtanfilidl,hlm. l4O-143;Muraqiat-Fatah,hlmLT;at-Lubab,lilidl,

hlm.20; asy-Syarhul Kabtr, Jilid I, hlm. 133-135; Bidayatul Mujtahi4 ]ilid |,hlm.42 dan halaman berikutnya; al-Qawanin al-Fiqhiyyah,

hlm.26i Mughnil Muhtaj,lilidl,hlm.T2 dan setemsnya; al-Mughni,lilidl,hlm.2l9-229; al-Muhadzdzab, f ilid I, hlm. 31 dan seterusnya;

Kosysyafu l Qina', lilid I, hlm. L7 2-L77.

il

FIqLH ISLAM JILID 1

membasuh semuo rambut atau bulu, dan ber' Ulama Hanafi berpendapat bahwa mem-
basuh bagian yang di bawah kulup zakar yang
sih ka nl a h ku I i tm u.' 832 tidak sukar untuk dibuang adalah wajib, se-

Ulama Hanafi berpendapat bahwa mem- perti juga wajib membuka pintalan rambut
basuh seluruh badan yang memang dapat di-
basuh tanpa mengalami kesukaran adalah wa- lelaki dan membasuh bagian pangkal rambut-

jib seperti bagian telinga, pusa[ kumis, bulu nya secara mutlak.

kening, bagian dalam jenggot dan rambut ke- Demikian juga pendapat ulama Maliki,
pala, dan bagian luar kemaluan wanita. Mem- orang yang rambutnya bersanggul tidak perlu
basuh bagian yang sukar adalah tidak wajib, dibongkar sanggulnya, jika memang sanggul-
seperti bagian dalam mata dan bagian dalam nya itu tidak terlalu rapi atau tidak terlalu
banyak [tebal) sehingga dapat menghalang air
kulup zakar, tetapi .disunnahkan. Hal ini me- sampai ke bagian kulit kepalanya ataupun ke

nurut pendapat yang ashah di kalangan ulama dalam rambutnya.
Dalil yang digunakan oleh ulama Hanafi
Hanafi.
dan Maliki dalam masalah ini ialah, hadits
a. Membongkar Sanggul
Ummu Salamah,
Apakah ketika mandi wajib, seseorang "Wahai Rasulullah, saya adalah perempu-

perlu membongkar rambutnya yang disanggul an yang sangat ketat [sanggul) rambutnya.
atau tidak? Para ulama mempunyai berbagai Apakah saya perlu mengurainya karena mau
pendapat yang hampir sama dalam masalah mandi junub atau mandi haid?" Rasulullah
ini. Ulama Hanafi mengatakan cukup dengan saw. menjawab, "Tidak perlu, adaloh cukup
hanya membasuh pangkal sanggul atau ram- jiko kamu menunangkan (air) ke atas kepalamu

but wanita yang dipintal. Langkah ini adalah s eb a ny ak tig a kali."B33
untuk menghindari kesukaran. Bagi rambut
yang terurai, maka wajib dibasuh keseluruh- Ulama Syafi'i berpendapat, jika air tidak
annya. |ika bagian pangkal rambut tidak ter- dapat sampai ke bagian dalam rambut kecuali
kena air karena pintalan sanggul itu terlalu dengan mengurainya, maka ia wajib diurai.
Namun ada kemaafan iika air tidak sampai ke
rapat atau rambutnya terlalu banyak, ataupun dalam bagian rambut yang ikal. Membasuh
sanggul tersebut terlalu rapi, maka menurut bulu yang tumbuh di dalam mata dan hidung
pendapat yang ashah rambut tersebut wajib juga tidak wajib, meskipun ia wajib dibasuh
diurai terlebih dulu. jika terkena najis. Membasuh kuku dan bagi-
an cuping telinga yang luar adalah wajib. Be-
Namun sekiranya membasuh kepala dapat gitu juga bagian dalam kulup bagi yang tidak
menyebabkan kemudharatan, maka tidak per-
lu membasuhnya. Dan ada pendapat juga yang berkhitan. Hal ini berdasarkan hadits Abu
mengatakan bahwa seseorang itu hanya perlu
menyapu saja. Dan wanita tersebut tidak bo- Hurairah yang telah disebutkan sebelum ini,
leh menghalangi suaminya untuk bersetubuh yang menetapkan wajibnya air sampai ke se-
tiap bagian rambut dan kulit. Tentang hadits
dengannya. Ummu Salamah, mereka mengaitkan dengan

832 Diriwayatkan oteh Abu Dawud dan at-Tirmidzi. Mereka mengatakan bahwa hadits ini adalah dhaif (Subulus Salam,lilid I, hlm' 921'
833 Diriwayatkan oleh Imam Muslim, tetapi dengan lafal"menyanggul rambut di kepalaku" sebagai ganti perkataan "rambut di kepa-

laku" (SubulusSolam,Jilidl,hlm.gl)' ,:

FIqLH ISI,A,M 1

'IIID

keadaan di mana air dapat sampai ke bagian Kesimpulannya adalah, empat madzhab
dalam sanggul tanpa perlu mengurainya dan sependapat bahwa mengurai sanggul rambut

membongkarnya. tidaklah wajib, sekiranya air mandi dapat

Imam Ahmad membedakan di antara haid sampai ke dasar rambut. Hal ini berdasarkan
hadits Ummu Salamah yang telah disebutkan
dan junub. fika mandi wajib itu disebabkan
tadi.
haid dan nifas, maka sanggulnya perlu diurai. Apabila ada satu bagian badan yang ter-
Namun kalau mandinya sebab junub, maka
tidak perlu mengurai rambutnya, seandainya lewat tidak terkena ai4 maka cukuplah mem-
basuh bagian itu saja. Menurut pendapat yang
air mandinya dapat sampai ke pangkal rambut shahih di kalangan ulama Hambali, adalah cu-
jika tidak diurai. Ini adalah yang dapat dipa- kup jika bagian yang tidak terkena air itu ter-
hami dari hadits Ummu Salamah. Dalil yang basahi oleh air yang membasahi rambut pada
menunjukkan perlu mengurai sanggul sebab basuhan kedua atau ketiga, dan air itu kemu-
mandi haid ialah hadits yang diriwayatkan dian mengalir ke bagian tersebut. Karena, ba-
oleh Aisyah, bahwa Nabi Muhammad saw. suhan yang menggunakan basahnya air [yang
ada di rambut) tersebut adalah sama dengan
telah bersabda kepadanya ketika dia haid, basuhan yang menggunakan air yang baru, di
samping juga terdapat hadits yang berkaitan
;n^*tt lrui l;C ai dengan masalah ini.

"Hendaklah "|nuo, nuToio, air bidara Imam Ahmad meriwayatkan bahwa Nabi
dan menyisir.'834 Muhammad saw. melihat satu bagian di atas

Menyisir hanya disebut untuk rambut tubuh seorang sahabat yang tidak terkena ail
lalu beliau menyuruhnya supaya mengambil
yang terurai.
Dalam riwayat Imam al-Bukhari disebut- air yang ada di rambutnya dan mengusapkan-
nya ke tempat berkenaan.
kan,
b. Membasuh Kulit Kepala
;a^*ti*i';$t
Membasuh kulit kepala adalah wajib,
"Hendaklah engkau uraikan (rambut) ke-
baik dia mempunyai rambut yang tebal atau-
palamu dan sisirlah." pun tipis. Begitu juga membasuh bagian yang

Namun, Ibnu Qudamah berpendapat bah- berada di bawah rambut atau bulu lainnya,
wa menguraikan rambut untuk mereka yang seperti kulit dagu yang berjenggut dan lain-
mandi karena haid adalah disunnahkan. Ini lain. Hal ini berdasarkan hadits yang diriwa-
adalah pendapat yang shahih dan ia merupa-
kan pendapat kebanyakan fuqaha, karena ber- yatkan oleh Asma',
sandar pada sebagian hadits Ummu Salamah,
"Dia telah bertanya kepada Rasulullah
"Apakah saya perlu membongkar sanggul saw. tentang mandi junub, maka Rasulullah
karena mandi haid?" Maka Nabi menjawab,
"Tidak!" menjawab,

,1 -r;;,;lt j*;; ttr; 1; ,;tt-l L:t1

834 Hadits ini diriwayatkan oleh al-Bukhari.

.tr-. o *. ;,+,: ?,!, -), #,!rr, illIr,: FIQIH ISLAM IITID 1

^^-i t+,\i "Di bawah setiap helai rambut ada jana-
boh."
;t::t i;i ; *w:i, c,:* e
'Hendaklah komu mengambil air dan Di samping itu, rambut tersebut memang
tumbuh di tempat yang seharusnya dibasuh.
membersihkan dengan sebaik-baiknya. Kemu- Oleh karena itu, harus dibasuh sama seperti
bulu kening dan bulu mata.
dian kamu hendakah menuangkan air ke atas
Ulama Hanafi dan Maliki berpendapat
kepalanya, lalu menggosoknya hingga sampai ia tidak wajib dibasuh berdasarkan hadits
Ummu Salamah yang menyatakan tidak per-
ke pangkal rambutnya, Kemudian ia hendak- lu menguraikan rambut yang disanggul, wa-
laupun Ummu Salamah telah menjelaskan
lah menuangkan air ke etosnya."a3s
kepada Nabi bahwa ikatan rambutnya sangat
Diriwayatkan dari Ali r.a. bahwa Nabi
rapat. Jika ia wajib dibasuh, tentunya Rasul
Muhammad saw. bersabda, meminta supaya dia menguraikan sanggulan

,;t:rttd; p lG it; e; !'j u rambutnya supaya air mandinya mengenai
a #' i'
sr-1tt,t lJti ut .., Al semua rambutnya.

"Siapo yang'meninggatkan tr^pot meski- Ulama Hambali mempunyai dua pendapat
seperti dua pendapat yang telah disebutkan
punhanya seukuran sehelai rambutsaja hingga
tadi. Adapun yang paling rajih adalah yang
tidak terkena air ketika mandi junub, maka berpendapat bahwa membasuh rambut ter-

Allah SWT akan menyiksanya dengan ukuran sebut wajib seperti pendapat ulama Syafi'i. Ke-
tika menuangkan air ke atas kepala, hendaklah
tertentu dari api nereka." dia menggosoknya supaya air dapat sampai ke
kulit. Namun, dia tidak perlu memasukkan jari
Imam Ali berkata, "Oleh karena itu, maka
aku mengulangi membasuh rambutku." Da- ke bagian bawah rambut untuk menggosok
lam riwayat Abu Dawud terdapat tambahan kulit.
kalimat, "Oleh karena itu, maka dia memen-
dekkan rambutnya.'835 Selain itu, menyampai- Mereka juga berpendapat, adalah wajib
kan air ke kulit di bawah helai rambut atau menyela-nyelai celah-celah jari kaki dan ta-
ngan. Adapun ketika berwudhu, menyela-
bulu tidaklah menyebabkan kemudharatan
nyelai jari kaki adalah sunnah, sementara
dan tidak juga menyusahkan. OIeh karena itu,
menyela-nyelai jari tangan adalah wajib.
ia wajib dibasuh sama seperti bagian kulit
Termasuk juga di antara perkara yang fardhu
yang lain.
menurut pendapat ulama Maliki ialah
c. MembasuhRambutyangTerurai
menyela-nyelai celah-celah rambut atau lain-
Menurut ulama Syafi'i, membasuh rambut
yang terurai adalah wajib berdasarkan hadits nya, jika ia tebal. Maksud menyela-nyelai di
Abu Hurairah yang disebutkan sebelum ini,
sini ialah dengan menggenggamnya.

835 Diriwayatkan oleh Muslim.
836 Diriwayatkan oleh Abu Dawuddan Ahmad (ffcflul/utftar,lilid L hlm. 247J.

,l .r.'

l.t

FIq!H ISIAM adalah hati, dan hendaklah dilakukan serentak
dengan melakukan perkara fardhu yang paling
'IIID awal dilakukan, yaitu ketika membasuh untuk

2. Berkumur dan Memasukkan Alr ke pertama kali bagian tubuh yang mana pun,
baik dari bagian atas atau di sebelah bawah,
Htdung!
karena dalam mandi tidak perlu tertib.
Ulama Hanafi dan Hambali mewajibkan Jumhur ulama selain ulama Hanafi me-
berkumur dan memasukkan air ke dalam hi-
dung ketika mandi wajib, karena berdasarkan wajibkan niat mandi seperti juga niat wudhu.
firman Allah SWT, Hal ini berdasarkan hadits,

"... Jika kamu junub maka mandilah...." (al- "Segala amalan adalah bergantung ke-
Maa'idah:6) pada niat."

fuga hadits, Menurut ulama Hanafi, memulai dengan

"Kemudian hendaklah kamu meratakan niat hanyalah sunnah supaya perbuatannya
tubuhmu dengan air."
menjadi ibadah dan mendapat pahala seperti
Kedua nash yang disebut itu menuntut berwudhu.

supaya kita membersihkan dengan menggu- Adapun hukum membaca bismillah, jum-
hur berpendapat ia adalah sunnah. Semen-
nakan air ke seluruh badan.837
tara ulama Hambali mengatakan ia adalah
Ulama Maliki dan Syafi'i berpendapat
perbuatan ini adalah sunnah ketika mandi fardhu sama seperti dalam wudhu. Namun,
wajib. Kedudukannya sama seperti ketika mereka mengatakan bahwa hukum membaca
berwudhu. Hal ini berdasarkan hadits yang bismillah dalam mandi adalah lebih ringan
menyebut tentang sepuluh perkara fitrah, bila dibanding untuk wudhu, karena hadits
di mana Nabi Muhammad saw. menyebut di mengenai bismillah hanya menyebut wudhu.
Adapun yang lain tidak disebut dengan jelas.
antara sepuluh perkara tersebut adalah ber-
kumur dan memasukkan air ke hidung.838 4. Menggosok, Muwaalaat, dan Teillb

3. Berniat Ketika Memulal Membasuh Para fuqaha sepakat bahwa tertib bukan

Bag;lan Tubuh merupakan kewajiban dalam mandi. Oleh ka-

Maksudnya adalah niat menunaikan ke- rena itu, ia boleh dimulai dari bagian tubuh
fardhuan mandi, ataupun mengangkat junub,
mengangkat hadats besa4 ataupun supaya yang mana pun baik bagian tubuh sebelah atas
boleh melakukan perkara yang terlarang jika ataupun bawah.
tanpa mandi, umpamanya niat supaya boleh
melakukan shalat atau thawaf yang memang Ulama Maliki berpendapat bahwa meng-
harus dilakukan dalam keadaan suci dengan gosok adalah wajib, meskipun dengan meng-
cara mandi terlebih dahulu. Namun jika ia gunakan sobekan kain. Begitu juga dengan
niat dengan menyebut suatu amal yang tidak
perlu kepada mandi wajib, seperti mandi sun- muwaalaat sekiranya ia ingat dan mampu,
nah Hari Raya, maka tidak sah. Tempat niat
seperti halnya dalam wudhu. Maksud meng-

gosok di sini adalah menjalankan anggota

Hadis yang digunakan oleh ulama' Hanafi sebagai dalil untuk berkumur dan menghirup air ke dalam hidung, "Sesungguhnya ke-
duanya fardhu di dalam mandi junub dan sunnah dalam berwudhu," adalah hadits yang gharib (Nashbur Rayah, filid I, hlm.7B).
838 Diriwayatkan oleh al-lama'ah selain al-Bukha ri fNashbur Rayah, Jilid I, hlr4" 75).

'i,::':!:;i

FIQIH ISI"A,M JILID 1

badan-baik tangan atau kaki-ke keseluruh- sukar dibuka, membasuh pusa4 memba-

an bagian anggota badan. Dengan demikian, suh lubang-lubang, membasuh bagian da-
adalah cukup jika ia menggosok kaki dengan lam sanggul rambut wanita jika air dapat
menggunakan kaki yang satunya. Menggosok sampai ke pangkalnya, membasuh kulit di
juga dianggap cukup dengan menggunakan bawah jenggot, membasuh kulit di bawah
bagian punggung telapak tangan, lengan, bagi-
an dalam lengan. Bahkan menurut pendapat kumis, membasuh kening, dan membasuh
yang rojih, ia juga cukup dengan mengguna-
kan kain, walaupun dia mampu menggosok bagian kelamin wanita yang kelihatan.
dengan tangan. Yaitu, dengan cara meme- Tetapi, pendapat yang lebih ashah me'
gang kedua ujung kain dengan tangan dan
menggosok-gosokkan bagian tengah kain ke nyatakan bahwa membasuh bagian dalam
seluruh tubuh, ataupun dengan mengguna-
kulup hanya sunnah saja, bukannya wajib.
kan tali atau yang semacamnya. Menggosok
juga dianggap cukup meskipun setelah air di- 2. Madzhab Maliki: Terdapat lima perkara

curahkan ke tubuh dan setelah air itu terpisah yang difardhukan dalam mandi, yaitu:
dari tubuh, selagi ia belum kering. Iika tidak
mampu untuk menggosok, maka kewaiiban [a) Niat mandi fardhu atau niat meng-
itu gugur dan dia cukup meratakan air ke se-
luruh tubuhnya. Begitu juga dengan fardhu angkat hadats, atau niat supaya boleh
yang lain, karena Allah SWT tidak mewajib- melakukan perkara yang terlarang
kan sesuatu kecuali yang memang mampu di- tanpa mandi, dan niatnya itu hendak-

lakukan. Iah dilakukan berbarengan dengan
basuhannya yang pertama, yaitu de-
Muwaalaat adalah fardhu sama seperti ngan cara niat di dalam hati untuk

dalam berwudhu. Oleh karena itu, apabila menunaikan kefardhuan mandi, atau
seseorang membuat jarak yang lama dan
niat untuk mengangkat hadats besar;
sengaja ketika mandi, maka mandinya batal. atau menghilangkan janabah atau

fika jaraknya tidak lama, maka dia boleh niat supaya boleh melaksanakan

meneruskan mandinya dengan niat. perkara yang terlarang tanpa man-
di, ataupun niat supaya boleh me-
Ulama lain-selain ulama Madzhab Ma-
laksanakan shalat.
liki-tidak mewajibkan menggosok dan mu-
(b) Muwaalaat, apabila dia ingat dan
waalaat, karena ayat yang mewaiibkan ber-
suci, yaitu "fath-thohharuu" dan juga hadits- mampu melakukannya, sama seperti
hadits yang berkaitan tidak menyebut kewa-
jiban dua hal tersebut. dalam wudhu.

Kesimpulan [c) Meratakan air ke seluruh bagian tu-

1. Madzhab Hanafi: Perkara yang difardhu- buh.

kan dalam mandi adalah sebelas perkara, [d) Menggosok tubuh meskipun setelah

yaitu membasuh mulut, membasuh hi- air dituangkan dan meskipun dengan

dung, membasuh badan sekali, membasuh potongan kain.
bagian yang ada di bawah kulup yang tidak
[e) Menyela-nyelai rambut, jari dua kaki,

dan jari dua tangan.

3. Madzhab Syafi'i menetapkan bahwa per-

kara yang wajib hanya tiga saja, yaitu niat
menghilangkan najis jika memang ada.
Menuangkan air ke seluruh kulit tubuh
yang kelihatan dan juga ke bagian rambut

dan bulu, sehingga air sampai ke kulit

Isu,M rrlrD 1

yang ada di bawahnya. Adapun selain itu, tidak wajib ketika membasuh anggota wudhu
semasa mandi, karena mandi dapat member-
hukumnya adalah sunnah. sihkan kedua ienis hadats sekaligus. Kedua-
nya adalah ibadah yang dapat digabungkan
4. Madzhab Hambali menetapkan bahwa antara satu dengan yang lainnya, sehingga
hukum hadats kecil dianggap gugu[ hukum-
perkara yang diwajibkan dalam mandi
ialah menghilangkan najis atau perkara nya sama seperti apabila haji digabungkan
yang dapat menghalangi air sampai ke dengan umrah. Menggosok juga tidak wajib
kulit, niat, membaca bismillah, meratakan
apabila diyakini atau ada dugaan kuat bahwa
air ke seluruh tubuh hingga ke dalam air dapat sampai ke seluruh badan, walaupun
tanpa digosok.
mulut dan hidung. Oleh sebab itu, wajib
berkumur dan memasukkan air ke hidung 4. PERKARA.PERKARA SUNNAH DALAM

ketika mandi, sama seperti dalam wudhu. MANDI

Wajib juga membasuh semua bagian Sebelum ini telah dijelaskan bagaimana
rambut atau bulu, baik luar atau dalam,
dan baik pada lelaki ataupun wanita, cara mandi Nabi Muhammad saw.. Keterang-
juga baik rambut tersebut yang dilepas an itu merupakan dalil yang menggambarkan
ataupun tidak. |uga, wajib menguraikan bentuk mandi yang sempurna, yang meliputi
segala perkara wajib dan sunnah dalam man-
rambut yang disanggul atau yang diikat
ketika mandi haid atau nifas. Tetapi jika di, yaitu mandi yang mengandung sepuluh
mandi tersebut karena janabah, rambut perkara sebagaimana yang dipahami oleh

itu tidak perlu diuraikan sekiranya air ulama Hambali,s3e yaitu:
Niat, membaca bismillah, membasuh ta-
yang dituangkan ke atasnya dapat sampai
ngan sebanyak tiga kali, membasuh sesuatu
ke pangkal rambut.
yang koto4 berwudhu, menuangkan air ke
Orang yang tidak berkhitan wajib mem-
atas kepala sebanyak tiga kali supaya pangkal
basuh bagian dalam kulup jika memang
rambut basah, menuangkan air secara rata
dapat dibuka. Wajib juga membasuh bagian
yang di bawah cincin atau semacamnya, de- ke seluruh tubuh, memulai dari tubuh bagian
ngan cara menggerak-gerakkannya agar air sebelah kanan, menggosok-gosok badan de-
dapat sampai ke bagian bawahnya. Wajib juga ngan tangan, berpindah sedikit dari tempat
membasuh bagian luar kelamin wanita, yaitu mandinya, lalu membasuh kedua telapak kaki
bagian yang kelihatan ketika dia duduk un- dan sunnah juga menyela celah-celah pangkal
tuk membuang air; karena bagian itu adalah rambut atau janggut dengan menggunakan
dihukumi sebagai bagian yang zahir. Namun, air sebelum menuangkan air ke atasnya.
ia tidak wajib membasuh bagian dalamnya.
Begitu juga tidak wajib membasuh bagian da- Perkara-perkara sunnah ketika mandi dan
lam mata, bahkan perbuatan tersebut tidak
perkara-perkara yang dapat menyebabkan
disunnahkan meskipun perbuatan itu tidak
mandi menjadi sempurna menurut madzhab
membahayakan. Tertib dan muwaalaat juga yang berbeda-beda adalah sebagai berikut.Ba0

839 Al-Mughni, Jilid I, hlm. 2L7 ,lihat cara mandi yang sempurna menurut ulama Maliki; asy-Syarh ul Kabir,Jilid,l, hlm. 137; al-Qawanin
al-Fiqhlryah,hlm.26.

840 Fathul Qadir, Jilid I, hlm. 39 dan halaman seterusnya; ad-Durrul Mukhtar filid I, hlm. 140 dan halaman berikuvrya; Mumqi at-Fatah,
hlm. t7; al'Lubab, Jilid I, hlm. 21; asy-Syarhul -Kabrr, Iilid I, hlm. 135-137; asy-Syarhush Shaghir,lilidt,hlm. tTl; at-Qawanin at-Fiqhiyyah,
hlm.26; al'Muhadzdzab, filid I, hlm. 2l; Mughnil Muhtaj,lllid I, hlm.73 dan halaman berikutnya; al-Mughni,lilidt,hlm.2lT; Kasysyaful

Qrno', lilid I, hlm. t72-176.

Baglan 1: IBADAH lsr."A.M IrLID 1

L. Memulakan dengan membasuh kedua air benar-benar sampai ke tempat-tem-

tangan, kemaluan, dan membuang najis pat tersebut. Bagian yang perlu mendapat
jika memang ada pada tubuh, di samping perhatian adalah bagian dalam telinga, se-
juga niat ketika membasuh dua kemaluan hingga seseorang hendaknya mengambil
[qubul dan dubur) seperti yang dijelas- air lalu menuangkannya ke dalam telinga
kan oleh ulama Syafi'i. Niatnya adalah, dengan hati-hati, agar air tersebut dapat
"Aku niat mengangkatjanabah dari kedua sampai ke setiap penjuru telinga dan se-
tempat ini dan yang di antara keduanya." tiap lipatannya. Dia juga hendaklah me-
merhatikan bagian bawah leher, bawah
2. Berwudhu seperti wudhu untuk shalat. ketiah dan juga lipatan-lipatan pusar.
Menurut pendapat ulama Hanafi, apabila
orang yang mandi itu berdiri di tempat 4. Kemudian hendaklah orang tersebut me-
genangan air seperti berdiri dalam ember
atau semacamnya, maka sebaiknya dia nuangkan air ke atas kepala dan meng-
mengakhirkan membasuh telapak kaki
hingga dia selesai mandi, kemudian baru- gosok-gosokkannya, serta hendaklah dia
lah dia keluar dari ember tersebut lalu
membasuh kedua belah telapak kakinya. menunangkan air ke seluruh bagian tu-
Sebaliknya, jika dia berdiri di atas tempat buh sebanyak tiga kali dengan memulai
yang tidak ada air tergenang seperti di pada bagian tubuh sebelah kanan dan
atas batu atau dia memdkai sandal, maka diikuti dengan bagian sebelah kiri. Hal ini

dia hendaklah mendahulukan membasuh berdasarkan hadits Rasulullah saw. yang
telah disebutkan sebelum ini,
kedua telapak kaki. Dengan mengambil
wudhu, maka kewajiban berkumur dan '.)* €r$t;;:;wos

memasukkan air ke hidung yang dianggap "Rasulullah saw. suka memulakan

wajib menurut pendapat ulama Hanafi sebelah kanan dalam semua amalan ber-
sucinya,"
dan Hambali dapat terlaksana.
Menurut ulama Maliki, kedua lubang Sementara itu, menyela-nyelai rambut
dan memerhatikan bagian pangkal ram-
telinga juga harus dibasuh. Tetapi jangan- but adalah berdasarkan hadits,

lah berlebihan, karena hal itu bisa mem- "Di bawah setiap helai rambut atau
bahayakan pendengaran. Bagian luar te- bulu terdapat j anabah."
linga dianggap sebagai bagian tubuh lahir
yang wajib dibasuh menurut pendapat Menggosok-gosok tubuh dengan kedua
belah telapak tangan juga disunnahkan,
ulama Maliki. karena dapat menyebabkan lebih bersih,
di samping dapat meyakinkan air sampai
3. Menurut ulama Syafi'i, setelah itu dia hen-
daklah meneliti setiap lipatan pada tubuh- ke seluruh bagian tubuh yang perlu di-
nya, yaitu dengan cara mengambil air de- basahi. Dengan melakukan hal ini, maka
ngan tangan kemudian mengusapkannya dia dapat terhindar dari perbedaan pen-
dapat dengan ulama Maliki yang menga-
ke bagian tubuh yang berlipat seperti
takan menggosok adalah wajib.
ke kedua telinga, lipatan perut, dan da-
lam pusar. Karena melakukan hal yang
demikian akan lebih meyakinkan bahwa

FrqLH IsrAM IrrlD 1 Membasuh dengan tertib, yaitu memulai
dengan membasuh kepala kemudian mem-
Adalah cukup jika ada dugaan kuat di basuh bahu sebelah kanan diikuti bahu sebe-
hati, bahwa air telah sampai ke seluruh lah kiri adalah sunnah. Semua ulama sepakat
bagian kulit yang wajib dibasuh. Karena
kalau sampainya air itu harus berdasarkan bahwa tartib tidaklah wajib, karena tubuh
keyakinan yang kuat maka hal itu akan
menimbulkan kesukaran dan kesusahan. manusia ketika mandi dianggap sebagai satu
bagian. Kondisinya berbeda dalam wudhu.
Ulama Hanafi berpendapat, jika seorang Oleh sebab itu, apabila didapati ada bagian
itu menyelam di dalam air yang sedang me- tubuh yang tidak terkena air atau ada tempat
ngalir ataupun yang semacamnya, kemudian
dia berhenti untuk beberapa waktu, maka balutan yang tidak terkena air, maka yang
dia dianggap telah melaksanakan tuntutan perlu dibasuh adalah tempat yang tertinggal
itu saja, dia tidak perlu membasuh lagi bagian
sunnah.
yang lain.
Ulama Maliki berpendapat, mandi junub
dengan niat untuk mengangkat hadats besar Adapun masalah membongkar sanggul,
saja, sudah dapat mencakup bagi terlaksana- ulama Maliki berpendapat ia tidak wajib selagi
nya wudhu meskipun dia tidak niat wudhu, ikatan sanggul itu tidak terlalu kuat. Menurut
pendapat ulama Maliki, ia tidak perlu dibong-
dengan syarat tidak terjadi sesuatu yang kar ketika mandi junub, namun ketika mandi
haid dan nifas, ia wajib dibongkar. Menurut
membatalkan wudhu seperti menyentuh ke- ulama Hanafi, wanita tidak wajib meresapkan
maluan atau sebagainya. Demikian juga pen- airke pangkal rambut. Tetapi bagi kaum lelaki,
dapat ulama Syafi'i yang menjadi fatwa dalam melakukan hal itu adalah wajib dalam segala
madzhab, yang mengatakan bahwa mandi keadaan. Ulama Syafi'i berpendapat, sekira-
yang dilakukan sudah mencakup wudhu, baik nya sanggul tersebut menyebabkan air tidak
niat wudhu dinyatakan ataupun tidak. sampai ke dalamnya, maka ia wajib dibuka
sebagaimana yang telah diterangkan sebelum
Menurut pendapat ulama Hambali, mandi ini. Pada dasarnya, walaupun air dapat sampai
wajib adalah sudah mencakup wudhu, namun ke dalam rambut, sanggul tetap sunnah untuk
dengan syarat setelah dia berkumur dan me- dibongkar. Hal ini berdasarkan hadits Aisyah,
masukkan air ke hidung, serta dia meniatkan
untuk mandi dan wudhu secara bersamaan. "Nabi Muhammad saw. telah bersabda ke-

Dan tindakan ini merupakan tindakan me- padanya ketika dia sedang haid, uraikanloh

ninggalkan cara yang lebih afdhal dan lebih rambutmu dan mandiloh engkau.'aal

baik. Ulama Hambali berpendapat untuk orang
kafir yang baru memeluk Islam, disunnahkan
Ulama selain ulama Maliki berpendapat, mencampurkan daun bidara ke dalam air yang
digunakan untuk mandi. Hal ini berdasarkan
muwaalaat dalam mandi adalah sunnah, hadits Qays bin Ashim yang disebut sebelum
yaitu muwoalaat di antara membasuh setiap ini,

anggota dan setiap bagian tubuh, karena yang
dilakukan oleh Rasulullah saw. adalah seperti

itu. Menurut ulama Maliki, muwaalaat ini

adalah fardhu.

8a1 Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dengan isnad yang shahih (Nailul Authar. Jilid I, hlm. 249).

r..d"ol,.:fl

FIqIH ISLAM JILID 1

"Dia memeluk lslam, lalu Rasulullah saw. Dia bertanya kepada Rasulullah saw.
menyuruhnya supoya mandi dengan air dan
tentang mandi haid. Maka Rasul bersabda,
bidara.'aaz
" H e ndaklah kamu m eng g unakan air d an b i d ara,
Selain itu, disunnahkan juga mencukur dan hendaklah bersuci (mandi)."gas

rambut dan juga bulu-bulunya. Atas dasar ini, Menurut ulama Syafi'i dan Hambali, pe-
maka disunnahkan [bagi kaum lelaki) mencu- rempuan yang tidak dalam keadaan berihram
kur kepala, mencukur rambut yang tumbuh di ataupun'iddah846 disunnahkan menggunakan
sekitar kelamin dan yang ada di ketiaknya. Hal minyak kesturi atau harum-haruman yang
ini berdasarkan sabda Nabi Muhammad saw. lain setelah bersuci dari haid atau nifas. Yaitu,
kepada lelaki yang baru memeluk Islam, dengan cara meletakkan minyak wangi ter-
sebut di atas kapas atau yang semacamnya,
';i ,!b J)t
kemudian memasukkannya ke dalam kela-
"Hendaklah kamu membuang semua ram-
but dan bulu ketika kafir dan hendaklah kamu minnya setelah mandi, untuk menghilangkan
berkhitan.'8a3 bau darah haid atau nifas. Hal ini berdasar-
kan hadits yang diriwayatkan oleh Imam al-
Apabila ada seorang kafir memeluk Is- Bukhari dan Muslim dari Aisyah r.a.,

lam, maka dia wajib berkhitan, dengan syarat 'Ada perempuan datang menemui Rasu-
lullah saw dan bertanya tentang mandi wajib
ia mukallaf dan tidak dikhawatirkan akan karena haid. Beliau menjawab, 'Hendaklah
kamu ambil sepotong (kain atau kapas) yang
membahayakan dirinya. berkesturi dan hendaklah kamu bersuci de-
Ulama Hambali juga berpendapat, peng-
ngannya! Perempuan itu bertanya lagi, 'Ba-
gunaan daun bidara juga disunnahkan untuk
wanita yang mandi karena haid dan nifas. Hal gaimana caranya saya bersuci dengannya?'
Nabi pun menyebut subhanallah dan sem-
ini berdasarkan hadits Aisyah yang telah di-
bunyi di balik bajunya sembari bersabda,
sebutkan dulu di mana Nabi Muhammad saw
berkata kepadanya, 'Engkau sucikanlah dengannya! Lalu Aisyah
pun menarik perempuan tersebut dan mene-
!ru: !;6 si W; e? o* rangkan kepadanya, bahwa maksudnya ialah
dengan meletakkannya di tempat keluar da-
,:;e-*ti
rah."
"Apabila engkau haid, maka nrniaoruon
Bahkan, dianggap makruh jika tidak ber-
engkau gunakan air dan daun bidara dan buat demikian.

hendaklah engkau menyisir rambut.saa Tidak disunnahkan memperbaharui man-
di, karena memang tidak terdapat otsar yang
Asma' juga meriwayatkan hadits, diriwayatkan berkenaan dengan masalah ter-

sebut, di samping ia juga menyukarkan. Ber-

842 Diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Dawud, dan at-Tirmidzi serta diakui sebagai shahih.
843 Diriwayatkan oleh Abu Dawud.
844 Diriwayatkan oleh al-Bukhari.
845 Diriwayatkan oleh Muslim.
846 Adapun perempuan yang berihram, maka dia haram memakai segalajenis pengharum. Adapun perempuan yangber-rhdad (berkabung

karena kematian suami) diharamkan memakainya dalam masaiddah,

FIq!H ISIAM JITID 1 Baglan 1: IBADAH

beda dengan wudhu yang disunnahkan mem- "...mekq basuhlah wajahmu...." (al-
perbaharuinya, apabila ia telah digunakan un-
tuk mengerjakan shalat. Maa'idah:6)

Kadar Air yang Dlgunakan untuk Mandi dan Mengusap bukanlah membasuh. Oleh ka-
Benvudhu
rena itu, jika ada seseorang mengusap selu-
Menurut pendapat ulama Syafi'i dan ruh anggotanya dengan air ataupun es batu
Hambali, air yang digunakan untuk wudhu ke anggota tubuhnya, maka ia tidak dianggap
hendaklah jangan kurang dari satu mud, yai- bersuci. Karena, yang ia lakukan hanya me-
tu seukuran satu pertiga kati Baghdad, atau ngusap bukan membasuh, kecuali jika es batu
sama dengan 675 gram. Air mandi juga hen- itu menjadi cair dan mengalir di atas anggota
daklah jangan sampai kurang dari satu sha' tubuhnya. Kalau seperti ini, barulah dianggap
bersuci. fika air yang digunakan ketika wudhu
atau empat mud,yaitu yang menyamai dengan lebih dari satu mud dan yang digunakan untuk
2L75 gram. Hal ini berdasarkan hadits Muslim mandi lebih dari satu shal maka hukumnya
dari Sufainah, adalah boleh. Hal ini berdasarkan perkataan
Aisyah,'Aku mandi bersama Rasulullah saw
"Nabi Muhammad saw. mandi dengan dalam satu tempat air yang terbuat dari tem-
menggunakan satu sha' air dan berwudhu de- baga yang dinamakan al-faraq!'8as Tempat air

ngan satu mttd eir.'aa7 yang dinamakan al-faraq ini dapat menam-

Tidak ada batasan minimal yang ditentu- pung air sebanyak 16 kati Iraq.
kan bagi air yang digunakan untuk berwudhu
atau mandi. fika air yang digunakan kurang Ulama Hanafi dan Maliki berpendapat

dari yang telah disebutkan, tetapi ia dapat bahwa tidak ada batasan tertentu bagi air yang
digunakan untuk bersuci baik untuk mandi
digunakan dengan sempurna, maka tetap di- ataupun wudhu, karena kondisi manusia ber-
anggap mencukupi. Abu Dawud dan an-Nasa'i beda-beda. Setiap orang yang mandi hendak-
meriwayatkan hadits, "Nabi Muhammad saw.
berwudhu dalam tempat yang mengandungi nya menggunakan air secukupnya, dia tidak
air lebih kurang dua pertiga mud!'
boleh terlampau banyak menggunakan air dan
Selain itu, yang diperintahkan oleh Allah tidak juga terlampau sedikit.
SWT adalah melakukan mandi dan perintah
tersebut telah dilaksanakan, maka tidak bo- AdabAdab Mandl
leh dianggap makruh. Maksud meratakan air Ulama Hanafi dan Maliki membedakan
ketika mandi dan wudhu ialah menuangkan
antara perkara sunnah mandi dengan perkara
air ke seluruh anggota badannya, sehingga yang menjadi adab dan fadhilah mandi.
air tersebut mengalir di atasnya, tidak hanya
sekadar mengusapkan air ke atasnya saja. Ulama Maliki berpendapat,sae perkara

Ini karena dalam firman-Nya, Allah SWT me- yang disunnahkan dalam mandi ada lima per-
merintahkan, kara, yaitu membasuh kedua tangan sebelum
memasukkannya ke dalam tempat aic berku-

mu4 memasukkan air ke hidung, menyapu

Ia iuga diriwayatkan oleh Imam Ahmad, lbnu Majah dan at-Tirmidzi serta diakui sebagai shahih. Banyak lagi hadits-hadits lain yang

sama malmanya (Nailul Authar,lilid I, hlm. 250 dan halaman berikutnya).

848 H adits m u ttafa q' a I a i h (N a i I u I Autha r lilid, I, hlm. 2 5 1).
a49 Al-Qowanin al-Fiqh$ah,hlm.26; asy-Syarhush Shaghir,lllid I, hlm. 170 dan halaman berikutnya.

bagian dalam telinga, dan mengusap pangkal Isr-A.M IrLrD I
rambut dengan jari-jari. Adapun menggosok
5. PERKARA.PERKARA YANC DIMAKRUHKAN
rambut tanpa memasukkan jari ke dalamnya
adalah salah satu dari fardhu mandi-menu- DAIAM MANDI
rut mereka sebagaimana yang telah diterang-
Ulama Hanafi berpendapat,ssl segala yang
kan. makruh ketika berwudhu dianggap makruh
ketika mandi. Perkara makruh tersebut ada
Ulama Hanafi dan Hambali mewajibkan
berkumur dan memasukkan air ke hidung, se- enam perkara: menggunakan air dengan bo-
mentara ulama Syafi'i mewajibkan menyela- ros, terlalu sedikit menggunakan aix, memukul
nyelai rambut kepala. air ke arah muka, bercakap-cakap, meminta
tolong orang lain tanpa ada uzur dan makruh
Adapun fadhilah mandi ada lima, yaitu juga berdoa. Adapun dalam wudhu, berdoa
membaca bismillah, menuangkan air ke atas dengan doa yang ma'tsur ketika membasuh
kepala sebanyak tiga kali, mendahulukan wu- setiap anggota adalah disunnahkan, sebagai-
dhu, memulai dengan menghilangkan perkara
yang menyakitkan sebelum berwudhu, me- mana yang telah diterangkan.
mulai dari sebelah atas dengan mpndahulu-
kan bagian tubuh sebelah kanan. Ulama Maliki berpendapafs2 perkara yang
dimakruhkan ketika mandi ada lima perkara,
Ulama Hanafi berpendapatsso ketika man-
di terdapat dua belas perkara yang disunnah- yaitu mengunakan air terlalu banyak, me-
kan, yaitu memulakan dengan Bismillah, niat,
lakukannya dengan secara sungsang, meng-
membasuh kedua tangan hingga ke perge- ulangi membasuh tubuh setelah air diratakan
langan tangan, membasuh najis secara ter-
ke seluruh tubuh, mandi di tempat terbuka,
pisah jika memang ada, membasuh kemaluan,
berwudhu seperti wudhu untuk shalat, mem- dan mengucapkan perkataan selain dzikir.

basuh tiga kali dan menyapu kepala, tetapi Ulama Syafi'i berpendapat8s3 makruh ber-
mengakhirkan membasuh kaki jika dia berdiri lebih-lebihan dalam menggunakan air ketika

di tempat air yang menggenang, menuangkan mandi, mandi dan wudhu di air yang tidak
air ke seluruh badan sebanyak tiga kali, me-
mulai dengan menuangkan air ke atas kepala, mengalir; melakukan lebih dari tiga kali, tidak
kemudian membasuh bahu sebelah kanan di-
berkumur dan memasukkan air ke hidung.
ikuti dengan bahu kiri dan menggosok-gosok Bagi yang berjunub dan bagi wanita yang
berhenti dari haid dimakruhkan makan, mi-
seluruh badan.
num, bersetubuh sebelum membasuh kelamin
Adab mandi ialah sama seperti adab ber- dan berwudhu.
wudhu, namun sepatutnya tidak menghadap
ke arah kiblat karena biasanya mandi dilaku- Ulama Hambali berpendapatssa adalah
kan dalam keadaan terbuka aurat.
makruh menggunakan air yang terlalu ba-

nyak, walaupun dia mandi di tepi sungai yang
mengali4 berdasarkan hadits Ibnu Umax,

"Nabi Muhammad saw. melewati Sa'ad
ketika dia sedang mengambil wudhu. Maka,

85o Muraqi al-Falah,hlm. 17.
8s7
gsz tbid., hlm. 18.

Al-qawanin al-Fiqhiyyah,hlm. 26.
8s3 At-Hodhramiyyah, hlm. 21 dan halaman berikutnya.
85+ I<a**q[ulQlnajJilidl,hlm. lTgdanhalamanberikutrrya;ol-Mr4flhni,Jiltdl,trlm.229.

*@qffi,- ffiffif@Ml-#

FIq!H ISLAM,ITID 1 BaElan 1: IBADAH

Nabi Muhammad saw. bersabda, 'Mengapa annya dan berwudhu seperti wudhu untuk
engkau begitu boros (menggunakan air)7 Sa'ad
bertanya, Apakah ketika wudhu juga ada hu- 5fux1x1."8s6
kum boros?' Beliau menjawab, 'Ya! Walaupun
Hukum sunnah berwudhu ketika mau
engkau di tepi sungai yang mengolir!"gss
makan dan minum bagi yang berjunub adalah
Bagi mereka yang telah wudhu sebelum berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh
mandi makruh mengulangi wudhu setelah Aisyah,
mandi. Hal ini berdasarkan hadits Aisyah,
"Nabi Muhammad saw. telah memberikan
"Rasulullah saw. tidak berwudhu setelah kelonggaran [rukhshah) bagi orang yang ber-
mandi."
junub sekiranya ia mau makan atau minum,
maka ia hendaklah berwudhu seperti wudhu
untuk 5tt4141"8s7

Kecuali, apabila wudhu tersebut batal di- Bagi mereka yang mau mengulangi per-
sebabkan menyentuh kemaluan atau sebab setubuhan, juga disunnahkan berwudhu ber-
yang lain, seperti menyentuh perempuan di- dasarkan hadits Abu Sa'id bahwa Nabi Mu-
sertai keinginan [syahwat) ataupun keluar hammad saw. bersabda,

sesuatu dari kelaminnya, maka hal itu me- v2"'r*-oi. i:*i a "t
nyebabkan ia wajib mengulangi wudhunya "Apabilo seorang dari kamu bersetubuh

apabila mau shalat ataupun yang semacam- dengan istrinya kemudian ia mau mengulangi

nya. lagi, maka hendaklah ia berwudhu seperti

Kemakruhan tidak berwudhu bagi me- wudhu untuk shalat.'8s8
reka yang berjunub dan juga wanita yang
Al-Hakim menambahkan dalam riwayat-
telah habis haid atau nifasnya, adalah apabila nya, "Karena ia akan menambah keaktifan un-
mereka mau tidur saja. Oleh sebab itu, apabila tuk mengulanginya."
mereka tidak berwudhu dulu kemudian mau
makan, minum, atau mengulangi persetubuh- Namun, mandi untuk tujuan mengulangi
an, maka tidak dimakruhkan. Namun, mereka persetubuhan adalah lebih afdhal daripada
tetap disunnahkan untuk berwudhu, dengan
dalil hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar hanya berwudhu, karena ia akan memberi
bahwa Umar bertanya kepada Rasulullah saw.,
semangat yang lebih.
"Wahai Rasulullah, apakah di antara kami Menurut pendapat ulama Hambali, orang

boleh tidur sedangkan ia dalam keadaan ju- yang berjunub atau yang sedang dalam ke-

nub?" Rasulullah menjawab, "Ya! Apabila ia adaan haid atau nifas tidak dimakruhkan
telah berwudhu, moka bolehloh ia tidur."
memotong rambut atau kukunya. Begitu juga
fuga riwayat dari Aisyah, mereka tidak dimakruhkan memakai pewar-
"Apabila Rasulullah saw. mau tidur ketika na rambut (yang dibolehkan syara') sebelum
beliau junub, maka beliau membasuh kemalu- mandi wajib. Hal ini adalah berdasarkan nash.

8s5 Diriwayatkan oleh Ibnu Majah.
8s6 Hrditr muttafaq'alaih.
857 Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dengan isnad yang shahih.
8s8 DiriwayatkanolehMuslim, lbnuKhuzaimatr,danal-HakimfSubulusSslarn,Jilidl,hlm,Sg).

FIqLH ISI,A"M IITID 1

Al-Ghazali menyatakan dalam kitabnya, dinyatakan oleh Rasulullah saw. dalam
I hya"U lumiddin, " Orang yang sedang berjunub
tidak sepatutnya memotong kuku, bercuku4 hadits,
atau membuang bulu kelamin, juga menge-
luarkan darah ataupun memisahkan sesuatu to t c t o
dari tubuhnya. Karena, pada hari Akhirat nan-
q;Jt{
ti semua bagian tubuhnya akan dikembali- W it'At vl, :.

kan kepadanya. Dengan demikian, ia akan t_#V
. , il o
kembali dalam keadaan berjunub. Ada yang
menyatakan bahwa setiap helai rambut akan t5!i ;)l.,
dituntut disebabkan keadaan junubnya."sse
. ,o
6. PER'$RA YANG HARAM BACI
i)\<r
ORANG YANG BERTUNUB DAN YANC "Sesungguhnya thawaf di Baitullah
SEMACAMNYA
itu adalah shalaL Oleh karena itu, apabila
Orang yang junub, haid, dan nifas diha- kqmu thawaf, hendaklah kamu sedikit
ramkan melakukan perkara yang diharamkan
bagi orang yang berhadats kecil, termasuk bercakap.'861
shalat, thawaf, menyentuh Al-Qur'an atau se-
bagiannya. Orang yang junub juga diharamkan 3. Menyentuh mushaf Al-Qur'an, karena fir-
membaca Al-Qur'an dan memasuki masjid.
Hukum secara terperinci adalah sebagaimana man Allah SWT,

berikut.s5o "Tidak ada yang menyentuhnya se-
lain hamba-hamba yang disucikan." (al-
1. Shalat, begitu juga sujud tilawah diha- Waaqi'ah:79)

ramkan bagi orang yang sedang junub Maksudnya adalah bagi mereka yang telah
dan yang semacamnya secara ijma. Hal bersuci.
ini berdasarkan firman Allah SWT,
Hal ini juga berdasarkan sabda Nabi
"... Jika kamu junub maka mandilah...."
(al-Maa'idah:6) Muhammad saw.,

2. Thawaf mengelilingi Ka'bah, meskipun frtV6oLot$t

thawaf sunnah, karena kedudukan thawaf "Tidak boleh menyentuh Al-Qur'an,
adalah sama seperti shalat, sebagaimana
melainkan orang yang telah bersuci.'862

Tiga perkara yang disebut di atas ada-

lah haram bagi orang yang berhadats

besar dan juga yang berhadats kecil.

Adapun bagi orang yang junub dan
yang semacamnya [yaitu yang berhadats
besar), perkara yang haram bagi mereka

859 Mughnil Muhtaj,Jilid I, hlm.75.
860 Ad-Durrul Mukhtar, Jilid I, hlm. 158-161; asy-Syarhul Kabtr, Jilid I, hlm. 138 dan halaman berikutnya, t72-174; asy-Syarhush Shaghir,

filid I, hlm. 776-215; al-Qawanin al-Fiqh[ryah, hlm. 29 dan seterusnya; Bidayatul Mujtahid,lilid I, hlm. 46 dan halaman berikutnya;

al-Muhadzdzab, Jilid I, hlm. 30; Mughnil Muhtaj, filid l, hlm. 71 dan halaman berikutnya; Kasysyaful Qina',lilid I, hlm. 168-170; Fathul
Qadir,lilid I, hlm. 114-116.
861 Diriwayatkan oleh Imam Ahmad, an-Nasa'i, at-Tirmidzi, al-Hakim, dan ad-Daruquthni dari Ibnu Abbas. Ia adalah hadits shahih

(Nailul Authar,lilid I, hlm. 207).
862 Diriwayatkan oleh an-Nasa'i, Abu Dawud dalam kumpulan hadits mursal dari Amr bin Hazm. Dalam sanadnya, ia adalah perawi yang

marnrk. Ath-Thabrani dan al-Baihaqi iuga meriwayatkannya dari lbnu Umar. Namun, dalam sanadnya terdapat juga orang yang
diperselisihkan (mukhtalaffih). Hadits ini iuga diriwayatkan oleh al-Hakim dan dia mengakuinya sebagai hadits yang shahih sanadnya
dari Hakim bin Hizam. Ath-Thabarani meriwayatkannya dari Utsman binAbil Ash. Ali bin Abdul Aziz juga meriwayatkannya dari ats-

hlm. 196-199).

Is[,q.M rItID I "...Sesungguhnya kami milik Allah dan
kepada-Nyalah kami kembali...." (al-Baqa-
ditambah dengan perkara-perkara beri-
kut ini. rah:156)

4. Membaca Al-Qur'an dengan lidahnya, Begitu juga tidak haram apabila Al-

walaupun hanya untuk satu huruf dan Qur'an itu terbaca tanpa disadari dan
meskipun tidak sampai satu ayat-me-
nurut pendapat yang terpilih di kalangan tanpa maksud untuk membacanya. |ika dia
ulama Hanafi dan Syafi'i-dengan syarat membaca dengan maksud membaca Al-
Qur'an saia, ataupun membaca Al-Qur'an
ia melakukannya itu dengan maksud
sebagai dzikir; maka hukumnya adalah
membaca Al-Qur'an. Kalau dia melaku-
kannya dengan tujuan berdoa, memuji haram.
Allah dan memulakan sesuatu, ataupun Membaca Bismillah dan Alhamdulillah,
dengan tujuan mengajar; ber-isti'adzah
dan berdzikin maka hukumnya tidak Fatihah, ayat al-Kursi dan juga al-lkhlash
dengan niat dzikir ketika berhadats besar
haram, Contohnya adalah seorang mem-
tidak diharamkan. Maksud dzikir di sini
baca ayat berikut ini ketika menaiki ken- adalah niat untuk mengingat Allah SWT.
Hal ini berdasarkan hadits yang diriwa-
daraan,
yatkan oleh Imam Muslim dari Aisyah,
uuLfu\ n6fr'c iJt'ot1$ . . .
"Nabi Muhammad saw. senantiasa
q&)zp+lZ,t
mengingat Allah SWT pada setiap waktu."
"..,Mahasuci (Allah) yang telah menun-
dukkan semua ini bagi kami, padahal kami Di antara perkara yang diharamkan
sebelumnya tidak mampu menguasainya,"
(az-Zukhruft 13) karena junub adalah membaca Al-Qur'an
dengan cara melantunkannya bagi orang
fuga, seperti contoh apabila dia turun yang boleh bertutur dan dengan secara
isyarat bagi mereka yang bisu, walaupun
dari kendaraan dengan mengucapkan, yang dibaca itu hanya sebagian ayat saja

6t;15r,45q seperti satu huruf. Karena, ia akan me-
rendahkan kehormatan Al-Qur'an. Dalil
"...Ya Tuhanku, tempatkanlah aku pada pengharamannya adalah hadits Ibnu
temp at yang di b e rkahi.... " (al-Mu'minuun:
Umar yang diriwayatkan Imam at-Tirmi-
2e) dzi dan Abu Dawud,

Kemudian juga, seperti orang yang ditim- 4 w d.at \) Ati; Y
pa bencana kemudian berkata,
t.ltroPlot
ffi Z;.sAiVi+$..
"seorang yang junub dan haid'tidak

boleh memboca apa pun dari Al-Qur'qn.'aez

Hal ini juga berdasarkan hadits Ali r.a.,

Dinyatakan oleh Imam an-Nawawidalam al-Majmu'dan ia menyatakan bahwa ini adalah hadits yang lemah, tetapi t€rdapat hadits-

haditslainyangmendukungnya ,

Baglan 1: IBADAH FIqLH ISI-A.M IILID 1

"Rasulullah saw. mengajar kami Al-Qur'an Pendapat yang mu'tamad di kalangan
dalam semua keadaan, selagi beliau tidak
berjunub."86a ulama Maliki adalah wanita yang sedang
haid dan nifas ketika darahnya sedang
Ulama Hambali membolehkan orang keluar tidak diharamkan membaca Al-
junub membaca sebagian ayat Al-Qur'an, Qur'an yang hanya sedikit, baik dalam
meskipun diulang-ulang. meskipun di- waktu yang bersamaan dia dalam keada-
ulang-ulang. Karena, sebagian ayat tidak an junub ataupun tidak. Keadaannya ber-
mempunyai sifat i'jaz selagi bagian ayat beda apabila darahnya sudah berhenti
dan dia belum mandi. Dalam keadaan
itu tidak panjang. Mereka juga sependa- darah berhenti, dia tidak boleh membaca
Al-Qur'an sama sekali hingga dia mandi.
pat dengan ulama Hanafi yang memboleh- Dalil yang digunakan oleh mereka ialah

kan mengeja Al-Qur'an, karena ia tidak al-istihsan karena masa haid agak lama.
dianggap sebagai membaca Al-Qur'an.
Membaca secara perlahan (sirr) yang Ulama sepakat bahwa orang yang
tidak dianggap sah jika dilakukan ketika junub, haid, dan nifas tidak haram me-
shalat, juga dibolehkan. Begitu iuga, mandang Al-Qur'an, karena junub tidak

boleh melihat Al-Qur'an tanpa membaca- melibatkan penglihatan.

nya dengan keras, melainkan ia mem- 5. Beri'tikaf di dalam masjid. Para ulama

bacanya dengan diam (membaca di dalam sepakat mengenai masalah ini. Memasuki
masjid dihukumi haram secara mutlak
hati), karena yang seperti ini juga tidak oleh ulama Hanafi dan Maliki, meskipun

dianggap sebagai membaca. hanya untuk melintas. Hal ini berdasar-
kan hadits yang diriwayatkan oleh Abu
Ulama Maliki menetapkan bahwa ba-
caan sedikit yang dibolehkan bagi orang Dawud dan lain-lain dari Aisyah r.a.,
yang junub, adalah membaca ayat de
ngan tujuan mendapatkan perlindungan, "Rasulullah saw. datang dan (pintuJ
seperti membaca ayat al-Kursi, al-lkhlash rumah-rumah para sahabat menghadap
dan al-Mu'awwidzatain, ataupun yang di- (bersambung) ke dalam masjid. Maka,
baca dengan maksud mengobati orang
yang sakit, ataupun yang dibaca dengan Nabi Muhammad saw. bersabda,
maksud untuk mengemukakan dalil dan
argumen terhadap suatu hukum seperti ft d.y :i":rt o#t :!:ry:
,--t.,* \) l,
mengucapkan,
zc
. . iU;ti;'6!/iir'S"r' . . .
"utA rtuJ,Jl ;-1
"... Padahal Allah telah menghalalkan 'Hendaklah kamu ubah rumah-rumah-

jual beli dan mengharamkan riba...." (al- mu dari mengarah ke dalam masjid, kare-
Baqarah:275)
na aku tidak menghalalkan masjid bagi

mereka yang haid dan junub."a6s

Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi. Dia menganggapnya sebagai hadits shahih. Hadits ini iuga diriwayatkan oleh penyusun Sunan Arba'ah

yang lain (Subulus Salam, Jilid I, hlm.88).

Diriwayatkan oleh lbnu Maiah, tetapi dalam sanadnya ada perawi yang diperselisihkan. Al-Bukhari meriwayatkannla dalam kiabnya

o t-Ta rikh al- Ka bir dan menyatakan, semua mcngatakan hadits lni

";fu. -- " ", **t&w

FIq!H ISTAM IILID 1 Diriwayatkan juga dari Zaid bin Aslam,
"Para sahabat Rasulullah saw. melintas di
Hal ini juga berdasarkan hadits Ummu
dalam masjid, sedangkan mereka berjunub."
Salamah,
Dibolehkannya wanita melintas di dalam
"Rasulullah saw. masuk ke masjid masjid ketika haid dan nifas adalah, dengan
syarat tidak ada darah yang menetes (ke lan-
dan berseru dengan suara yang lantang, tai). Iika khawatir kalau-kalau darah menetes
bahwa masjid tidak halal bagi orang yang di dalam masjid, maka haram dan dia tidak
haid dan junub."866 dibenarkan melintasinya, sama seperti Ia-

Adapun maksud orang yang melintasyang rangan berada di dalamnya.
disebut dalam sebuah ayat adalah, orang yang
dalam perjalanan musafir. Musafir dikecuali- 7. MANDI.MANDI SUNNAH

kan dari larangan mengerjakan shalat tanpa Hukum mandi adakalanya wajib seperti
mandi. Di samping itu, nash ayat telah men- mandi karena haid, nifas, dan junub, juga
jelaskan bahwa dia perlu bertayamum. mandi karena memeluk Islam-ini menurut
pendapat ulama Maliki dan Hambali. Adapula
Ulama Syafi'i dan Hambali mengatakan mandi yang hukumnya sunnah ataupun di-
keharaman bagi orang junub atau yang se-
macamnya,867 adalah berhenti di dalam masjid anj urkan [m u sta h a b),seperti yang diterangkan
ataupun mondar-mandir di dalamnya tanpa oleh ulama Hanafi dan Maliki.
ada uzur. Namun, mereka boleh menyebe-
rangi masjid walaupun tanpa keperluan, ber- Mandi-mandi sunnah adalah sebagai be-

dasarkan firman Allah SWT rikut.868

"Janganlah kamu mendekati shalat, ketika 1. Mandl untuk menunaikan shalat Jumat.
kamu dalam keadaan mabuk, sampai kamu
Hal ini berdasarkan beberapa hadits,
sadqr apa yang kamu ucapkan, dan jangan
pula (kamu hampiri masjid ketika kamu) da- di antaranya ialah hadits Abu Sa'id yang di-
lam keadaan junub kecuali sekadar melewati riwayatkan secara morfu', "Mandi fumat
j alan saj a.... " (an-Nisa a' : 43) adalah wajib bagi setiap mereka yang telah
baligh."e0e Kata wajib dalam hadits ini dipakai
Maksudnya adalah menggunakan masjid untuk menunjukkan perintah sunnah yang
sebagai tempat laluan saja. Sa'id bin Manshur
juga meriwayatkan dari labiC "Di antara kami mu'akkad. Kesimpulan ini berdasarkan hadits-
ada yang melintas dalam masjid, sedangkan
ia sedang junub." hadits yang lain. Di antaranya ialah hadits

Samurah,

866 Diriwayatkan oleh al-Baihaqi dan Ibnu Maiah. Al-Baihaqi menghukuminya sebagai shahih.
867 Ulama Syafi'i berpendapat, hukum haram ini adalah bagi orang Islam yang beriunub selain Nabi Muhammad saw. karena bagi beliau

tidaklah haram. Adapun orang kafi[ maka menurut pendapat yang oshah, mereka boleh berada di dalam masjid karena mereka tidak

beri'tiqad haram berbuat demikian. Tetapi orang kafir, walaupun tidak lunub, maka tidak boleh memasuki masjid kecuali
untuk suatu tuiuan yang penting seperti memeluk Islam, mendengar bacaan Al-Qur'an dengan syarat diberi izin oleh orang Islam,

ataupun dengan tuiuan untuk mendapatkan penyelesaian suatu pengaduan dan qadi/hakim berada di dalam masjid. Mereka tidakboleh

masuk ke masiid dengan tujuan untuk makan atau minum di dalamnya (Mughnil Muhtaj,lilid,l, hlm. 7t).

Fath al-Qadir,lilid I, hlm. 44 dan halaman berikutnya; ad-Durr al-Mukhtar, Jilid l, hlm. 156 - 158; al-Lubab, filid I, hlm. 23; Muraqi al-
Falah,hlm. L8; ol-Qawanin al-Fiqhiyah, hlm. 25 dan seterusnya; asy-Syarh osh-Shaghir,lilid I, hlm. 503 dan halaman berikutnya;

Kasysyaf al-@na',Jilid l, hlm. 171- L73;asy-Syarh ash-Shqghh lilid I, hlm.503 dan halaman-halaman berikutnya.
Diriwayatkan oleh tujuh ahli Hadits (lmam Ahmad dan enam penyusun (utub Sittah)

FIq!H ISIAM JILID 1

;it n *:r)W a;iAt i";;; U mendapat pahala sunnah. Namun, mereka
tetap sepakat bahwa mandi setelah shalat
,.o1 t to. |umat tidak lagi dianggap sunnah.

J-,l }:JU Siapa yang mandi junub atau semacam-

"Barangsiapa berwudhu pada hari Jumal nya-seperti mandi karena haid-dan diba-
maka itu adalah tindakan utama. Dan barang-
siapa mandi, maka hal itu lebih afdhal.'870 rengi dengan mandi fumat atau mandi sun-
nah Hari Raya, maka dia mendapatkan kedua-
fuga, hadits Aisyah r.a., duanya, apabila memang dia mengawalinya
"Nabi Muhammad saw. mandi disebabkan dengan niat mandi junub kemudian diikuti
empat perkara: karena junub, pada hari fumat dengan niat mandi Jumat. Pendapat ini adalah
karena berbekam, dan karena memandikan kesepakatan semua madzhab. Kedudukannya
sama seperti pendapat ulama Syafi'i dalam
mayat."871 masalah orang yang berniat shalat fardhu
berbarengan dengan shalat sunnah Tahiyyatul
Mandi disunnahkan bagi mereka yang Masjid dan juga sama dengan masalah yang
menghadiri shalat fumat pada hari tersebut. telah disepakati bersama, yaitu mandi sekali
Kesunnahan mandi tersebut mulai dari mun- untuk junub dan haid.
culnya fajar hingga tergelincirnya matahari.
Menurut ulama Maliki, mandi fumat disyarat- Mandi fumat merupakan mandi sunnah
kan bersambung dengan kepergiannya ke yang paling dituntut oleh syara'. Ini berdasar-
kan hadits-hadits yang telah disebutkan tadi.
masjid. Hal ini berdasarkan hadits yang di- Meskipun demikian, ia tidak sunnah untuk

riwayatkan oleh al-Jama'ah dari Ibnu Umarl kaum wanita.

"Siapa di antara kalian yang menunaikan 2. Mandl untuk shalat dua Harl Raya
shalat I umat, hen d aklah m andi. "
Rasulullah saw. pernah mandi untuk tu-
Inilah mandi yang sunnah menurut ulama juan tersebut.872 Tetapi, Imam asy-Syaukani
Maliki. Menurut pendapat yang shahih di ka- mengatakan bahwa hadits yang dijadikan dalil
Iangan ulama Hanafi, mandi tersebut disun- bahwa mandi Hari Raya adalah disunnahkan
nahkan karena adanya shalat fumat. Adapun tidak dapat dijadikan alasan. Sebab, dalam
menurut ulama yang lain, kesunnahan mandi masalah ini tidak ada satu dalil pun yang bo-
leh digunakan sebagai hujjah untuk menetap-
karena adanya hari fumat itu sendiri. Perbe- kan hukum syara'.
daan pendapat ini dapat dilihat dengan jelas
dalam masalah seseorang yang telah mandi Selain itu, shalat Hari Raya juga disya-

pada hari fumat, kemudian dia berhadats lalu riatkan supaya dikerjakan dengan berjamaah.
dia berwudhu dan mengerjakan shalat |umat. Oleh karena itu, ia hampir sama dengan shalat

Bagi dua pendapat terawal, orang ini tidak fumat.

DiriwayatJ<an oleh al-Jama'ah dengan isnad yang jayid dari Abu Hurairah dengan lafaz: "Wajib mandi bagi seorang sekali dalam tuiuh

hari yaitu mandi dengan membasuh kepala dan badan."
877 Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan diakui sahih oleh lbn Khuzaimah. Ia iuga diriwayatkan oleh Ahmad dan al-Baihaqi tetapi terdapat

perawi yang diperselisihkan dalam sanadnya. (Lihat Hadits-Hadits berkenaan dengan masalah ini, dalam Subul as-Salam, Iilid I, hlm.
86 dan halaman berikubrya; Nail al-Authar,JilidLhlm.23l - 236.

Diriwayatkan dari al-Fakih bin Sa'd-seorang sahabat-bahwa Nabi Muhammad saw. mandi pada hari fumat, Hari Arafah, Hari
Raya Puasa, dan Hari Nahar. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Abdullah bin Ahmad dalam al-Musnad.la luga diriwayatkan oleh Ibnu
Majah, tetapi tanpa menyebut lumat. Hadits ini adalah dhaif (lVailul Authar,lilid, I hlm. 236J,

FIqIH ISLAM

Mandi ini dilakukan pada Hari Raya bagi Mandi untuk wuquf di Arafah juga disun-
orang yang mukim (tidak musafir), jika dia nahkan, karena ia ada dalam sunnah.876
hendak mengerjakan shalat pada Hari Raya,
meskipun dia shalat sendirian, jika memang Mandi untuk bermalam di Muzdalifah,

shalat sendirian itu sah umpamanya dilakukan melontar |umrah, Thawaf Rukun, dan Thawaf
setelah shalat yang dikerjakan oleh bilangan Wada' juga disunnahkan, sebab semua perka-
jamaah yang dibenarkan. Mandi sunnah ini
ra ini merupakan ibadah yang dilaksanakan
tidak mencukupi apabila dilakukan sebelum
bersama kumpulan manusia. Kondisi ini akan
muncul fajar.
menyebabkan seorang itu berkeringat dan
3. Mandl untuk ihram hajl dan umrah
bisa jadi tidak menyenangkan orang lain. Oleh
Untuk melakukan wuquf di Arafah setelah karena itu, disunnahkan mandi agar bau yang
matahari tergelinci4 untuk memasuki Mekah,
tidak enak tersebut hilang dan supaya dia
untuk bermalam di Muzdalifah, juga untuk
menjadi bersih.
melakukan Thawaf Rukun atau Thawaf Wada'. Ulama Maliki mengatakan bahwa mandi
Mandi untuk berihram adalah disunnah-
untuk melakukan thawaf, sa'i, wuquf di Arafah
kan. Hal ini berdasarkan hadits yang diriwa-
dan di Muzdalifah adalah mustahab. Semen-
yatkan oleh Zaid bin Tsabit, "Bahwa Rasulullah tara untuk berihram dan memasuki Mekah
adalah sunnah. Ulama Hanafi berpendapat
saw. menanggalkan pakaian (biasa) untuk
berihram dan beliau mandi."873 mandi untukberihram dan berwuquf diArafah
adalah sunnah, sementara untuk berwuquf
Pada zahirnya, mandi untuk ihram ini di-
sunnahkan, meskipun dilakukan oleh wanita di Muzdalifah dan memasuki Mekah adalah
yang masih haid dan nifas. Hal ini berdasarkan
perintah Rasulullah saw. kepada Asma' binti man.dub.
Umais supaya dia berbuat demikian ketika
4. Mandl untuk mengerlakan shalat sunnah
dia melahirkan Muhammad bin Abu Bakr.BTa
gerhana bulan dan gerhana matahall,
Kesunnahan mandi untuk memasuki kota
Mekah meskipun masih dalam keadaan haid shalat sunnah meminta hujan (istisqaa')
juga berdasarkan apa yang dilakukan oleh Ra- juga disunnahkan, karena ia merupakan iba-
sulullah saw..B7s Pada zahirnya, kesunnahan dah yang dilakukan dalam kumpulan manu-
ini tetap berlaku meskipun dia sudah berada
sia. OIeh sebab itu, ia menyerupai shalat
di kawasan Tanah Haram, seperti mereka
fumat dan shalat Hari Raya. Ulama Hanafi
yang tinggal di Mina apabila mau masuk ke
berpendapat ia hanya mandub saja.
Mekah. Mandi juga disunnahkan apabila mau
5. Mandi karena memandikan mayat, balk
memasuki Madinah, sebagai rasa hormat
mayat Muslim atau kaflr.
dan memuliakan, dan juga karena akan me-
ngunj ungi Rasulullah saw.. Yang mensunnahkan adalah ulama Maliki,
Syafi'i, dan Hambali berdasarkan sabda Nabi
Muhammad saw.,

873 Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan diakuinya sebagai shahih ( Nailul Authar,Jilid I, hlm. 239).
874 Di.it"ryrtkan oleh Muslim dari hadits Aisyah. Hadits ini diriwayatkan iuga oleh Ibnu Majah dan Abu Dawud [Noilulluthor, Jilid I,

87s hlm.240).
876
Haditt mrtrosoq'alaih (Nailul Authar, Jilid I, hlm. 240). juga meriwayatkannya dari Ali dan Ibnu Majah iuga meriwayatkannya
Diriwayatkan oleh Malik dari Nafi'dari Ibnu Umar. Asy-Syafi'i

sebagai hadits marfu',

ffiM;


Click to View FlipBook Version