The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by MOHD RAHIMI BIN RAMLI Moe, 2021-08-05 23:44:36

Fiqih Islam Wa Adillatuhu Jld1

Fiqih Islam Wa Adillatuhu Jld1

Baglan 1: IBADAH FIqLH ISIAM IILID 1

tersebut kekal selama dia belum melaksana- Wudhu yang sunnah adalah wudhu bagi
kan shalat atau melaksanakan perbuatan yang orang yang iunub (berhadats besar) ketika ia
ingin tidur.
semisalnya.
Wudhu yang mustahab adalah wudhu
Kellma: Haram yang dilakukan setiap hendak mengerjakan
Berwudhu dengan air rampasan (ghasab) shalat bagi perempuan yang sedang istiha-
dhah dan orang yang terkena penyakit beser
dari seseorang adalah haram, begitu juga
(suka kencing). Namun, ulama selain madzhab
berwudhu dengan air milik anak yatim. Ulama Maliki mewajibkan wudhu untuk kedua kon-
madzhab Hambali berkata bahwa tidak sah disi tersebut. Termasuk wudhu yangmustahab
berwudhu dengan air yang dirampas (ghasab) adalah wudhu untuk mengeriakan perbuatan
dan semisalnya, karena terdapat hadits yang
yang dapat mendekatkan diri kepada Allah,
menyatakan, seperti membaca Al-Qur'an, berdzikir, ber-

& \;; l*"yispg..t..,,1o' J4 ' ' doa, dan membaca buku agama. Dianjurkan
juga berwudhu karena ingin belajar; ingin ber-
)s U jumpa dengan pemimpin, dan apabila ingin
berhadapan dan bertemu orang banyak.
"Borangsiapa melakukan perbuatai yorg
Wudhu yang mubah adalah wudhu untuk
tidak sesuai dengan perintah kami, maka ia
membersihkan diri dan untuk mendinginkan
ditolak."4ee
badan yang panas.
Ulama madzhab Maliki mengatakansoo
bahwa wudhu terbagi meniadi lima: wajib, Wudhu yang makruh adalah wudhu yang

mustahab, sunnah, mubah, dan makruh. Wu- diperbarui, sedangkan ia belum melakukan
dhu yang waiib adalah wudhu yang dilaku-
kan untuk melaksanakan shalat fardhu, shalat ibadah apa pun dengan wudhu yang pertama.
sunnah (tathawwu), untuk mengerjakan su-
jud karena membaca ayat-ayat Saidah dalam Ulama madzhab Syafi'i dan Hambalisol
Al-Qur'an, untuk mengerjakan shalat jenazah, memiliki pendapat yang sama dengan ulama
menyentuh Al-Qur'an, dan untuk mengerjakan madzhab Hanafi dan Maliki, mengenai per-
thawaf. Menurut pendapat mereka, tidak sah kara-perkara yang telah disebutkan. Orang-

bagi seseorang yang melaksanakan shalat, orang yang berada dalam kondisi di atas ada-
lah dianjurkan untuk berwudhu; di antaranya
kecuali dengan wudhu yang wajib. adalah ketika hendak membaca Al-Qur'an atau
hadits, mempelajari ilmu agama, memasuki,
Barangsiapa berwudhu untuk mengerja- duduk atau menyeberangi masjid, berdzikic
kan salah satu perkara-perkara tersebut di adzan, ingin tidur; menghilangkan rasa ragu
atas, maka dia dapat mengerjakan seluruh terhadap hadats kecil, ketika marah,so2 ke-

perkara-perkara itu dengan menggunakan tika mengucapkan yang diharamkan seperti
mengumpat dan sejenisnya, ketika hendak
satu kali wudhu.

499 Riwayat Imam Muslim dari Aisyah. Lafal al-Bukhari dan Muslim ialah, "siapa yang membuat perkara baru (bid'ah) dalam urusan
kami ini, maka ia ditolak!'

soo Al-qawanin al-Fiqhiyyah,hlm. 20.
s07 Mughnit Muhtaj,lilidl, hlm.49; Kasysyafut Qina', Jilid I, hlm.98 dan seterusnya.
502 Ka.ena marah itu bersumber dari setan dan setan berasal dari api. Adapun air mempun}rai fungsi untuk memadamkan api, se-

bagaimana yang disebutkan dalam hadits.

FrqLH Isr"A,M f rUD 1 Bagfan 1: IBADAH I
I
mengerjakan beberapa amalan haji seperti fumhur fuqaha selain ulama madzhab I
wuquf, melontar jumrah, dan berziarah ke Hanafi telah menambahkan fardhu wudhu
kubur Nabi Muhammad saw.. Berwudhu juga tersebut dengan berdasarkan dalil-dalil dari I
disunnahkan pada waktu hendak makan dan
setiap akan melakukan shalat. Hal ini karena As-Sunnah. Yang mereka sepakati adalah far- I
dhu niat wudhu. Ulama madzhab Maliki dan
terdapat sebuah hadits Rasulullah saw. yang I
Hambali mewajibkan muwalah (berturut-
diriwayatkan oleh Abu Hurairah, I
turut) di antara rukun-rukun wudhu. Hal
r*rl*/oe :ylrr ;;i &a. a ti. oi' lrJ^: I
ini juga sama dengan yang diungkapkan oleh I
ert Jl ulama madzhab Syafi'i dan Hambali. Selain I
itu, ulama madzhab Maliki mewajibkan meng- i
/ O,
gosok anggota wudhu ketika meratakan air. I
,";,y Oleh sebab itu, rukun wudhu dibedakan i

"Jika tidak menyusahkan umatku, tentulah menjadi empat, menurut pendapat ulama i
madzhab Hanafi, yaitu yang disebut dalam I
aku memerintah mereka untuk berwudhu pada ayat tersebut di atas. Dan ia terbagi menjadi i
tujuh menurut pendapat ulama madzhab
setiap akan menunaikan shalat.'ao3 I
Maliki, yaitu dengan menambahkan niat,
Menurut pendapat ulama madzhab Syafi'i, menggosok anggota badan, dan muwalah i
wudhu juga disunnahkan setelah melakukan
bekam, hidung berdarah, sewaktu mengantuk, fberturut-turut). Dan menurut pendapat ula- I
setelah tidur dalam keadaan pantatnya rapat, ma madzhab Syafi'i, ia menjadi enam dengan
sesudah tertawa terbahak-bahak ketika akan menambahkan niat dan tartib. l
shalat, setelah makan sesuatu yang dimasak l
dengan api, memakan daging unta, ketika da- Menurut pendapat ulama madzhab i
lam keadaan ragu-ragu mengenai hadatsnya,
Hambali dan Syiah Imamiyah, rukun wudhu l
karena berziarah ke kubur, mengantar dan ada tujuh yaitu dengan menambahkan niat,
tartib, dan muwalah fberturut-turut). Ij
menyentuh mayat.
Dengan demikian, jelaslah bahwa rukun I
b. RukunRukun Wudhu wudhu terbagi menfadi dua bagian. Yaitu, i

Al-Qur'an telah menyebut empat rukun rukun-rukun yang disepakati oleh semua

ffardhu) wudhu, yaitu membasuh muka, ulama dan rukun-rukun yang tidak mendapat

membasuh kedua tangan, mengusap kepala, kesepakatan dari mereka.
dan membasuhkeduakaki. Hal inisebagaimana
dalam firman Allah, 7) Rukun yang dl*pakati oleh semua

"Wahai orang-orong yang berimon! Apa- ulama
bila komu hendok melaksanakan shalat, maka
basuhlah wajahmu don tanganmu sampai ke Ia terdiri atas empat rukun yang semua-
nya disebutkan dalam Al-Qur'an, yaitu sebagai
siku, dan sapulah kepadamu dan (basuh) kedua berikut.

kakimu sampai ke kedua mato kaki...." (al- 1. Membasuh muka, sebagaimana
Maa'idah:6)
disebutlran dalam firman Allah SWT,

ffi "F^'X6;6.

503 Riwayat Ahmad dengan isnad yang shahih.

*E

BaEiian 1: IBADAH FrqlH IsrAM JrrlD I

"...mqkq basuhlah wajahmu...." (al- rambut yang dalam bahasa Arab disebut de-
Maa'idah: 6) ngan al-ghamam. Adapun dua bagian kosong
yang berada di samping dahi bagian atas (an-
yaitu membasuh semua bagian luar muka noz'atain),s06 tidaklah termasuk bagian muka.
dengan sekali basuhan saja.soa Rukun ini juga An-naz'atain dianggap sebagai bagian dari ke-
berdasarkan kepada ijma para ulama.s0s pala karena kedua-duanya masuk ke dalam
kepala.
Maksud membasuh adalah meratakan air
pada satu anggota tubuh hingga air tersebut Batas lebar muka adalah bagian di antara
dua anak telinga. Menurut pendapat yang
menetes. Menurut pendapat yang ashah, rajih dari ulama madzhab Hanafi dan Syafi'i,
bagian kosong yang terdapat di antara ujung
sekurang-kurangnya tetesan air tersebut ada- pipi dan telinga termasuk ke dalam anggota
lah dua tetes dan dianggap tidak mencukupi muka. Akan tetapi, ulama madzhab Maliki dan
Hambali berpendapat bahwa ia termasuk ke
apabila hanya sekadar meratakan air tanpa dalam anggota kepala. Termasuk bagian wajah
menetes. Selain itu, yang dimaksud dengan menurut pendapat ulama madzhab Hambali,
membasuh di sini adalah menyempurnakan seperti yang terdapat dalam kitab al-Mughni,
adalah bagian yang disebut dengan at-tahdzif
perbuatan tersebut, baik dilakukan oleh yaitu bagian tepi dahi yang ditumbuhi ram-
but-rambut yang tipis yang terletak di antara
orang yang berwudhu sendiri ataupun dengan
pertolongan orang lain. Yang dihitung sebagai ujung pipi dan dahi.soT lni disebabkan tempat
tersebut berada di bagian muka. Akan tetapi,
fardhu wudhu adalah satu kali basuh saja.
an-Nawawi mengatakan bahwa menurut yang
Adapun mengulangi membasuh sebanyak tiga
kali merupakan hal yang disunnahkan, bukan telah diakui jumhur ulama madzhab Syafi'I,
hal yang fardhu. maudhi' at-tahdzif (tempat tumbuh bulu)
adalah bagian dari kepala karena rambutnya
Muka adalah anggota bagian depan pada berhubungan dengan rambut kepala. Penulis
wajah seseorang. Ukuran panjangnya adalah kitab Kasysyaful Qina'dari madzhab Hambali
mengatakan bahwa maudhi' ot-tahdzif (tem-
antara tempat tumbuhnya rambut kepala- pat tumbuh bulu) tidak termasuk ke dalam
dalam keadaan normal-hingga ke bagian anggota muka, melainkan ia termasuk ke da-
akhir dagu, atau dengan kata lain antara
permulaan ruang dahi hingga ke bagian ba- lam anggota kepala.

wah dagu. Adapun yang dimaksud dagu ada- Ruang kosong yang terdapat di atas dua
lah tempat tumbuhnya jenggot yang terletak telinga yang bersambung dengan dua ujung
di atas dua tulang rahang bagian bawah. Se-
dangkan dua tulang rahang adalah dua tulang
yang menjadi tempat tumbuhnya gigi bagian
bawah. Di antara bagian yang termasuk muka
adalah bagian dahi seseorang yang ditumbuhi

504 Riwayat al-Jama'ah kecuali lmam Muslim dari lbnu Abbas r.a., dia berkata, "Rasulullah saw. berwudhu dengan membasuh sekali-

sekali." fNailul^4uthar,Jllid I, hlm. 172)
505 Ad-Durrul Mukhtar, filid I, hlm.88; Fathul Qadir,lilid I, hlm.8 dan seterusnya;al-Bada'ii filid I, hlm.3 dan seterusnya;Tabyinul

Haqa'iq, f ilid I, hlm. 2; asy-Syarhush Shaghir,Jilid I, hlm. 104 dan seterusnya; asy-Syarhul Kabir,lilid I, hlm.85; Mughnil Muhtaj,lllid
I, hlm. 50 dan seterusnya; al-Muhadzdzab, Jilid I, hlm. 16; Kasysyaful Qina', lilid I, hlm. 92, 106; al-Mughni Jilid I, hlm. t74 - 120;
Bidayatul Mujtahid,lilid I, hlm. 10; ol-Qawanin al-Fiqhiyyah,hlm L0.

Orang Arab memuii dahi yang luas dan mencela dahi yang sempit atau dahi yang berbulu, karena kononnya orang yang seperti itu

adalah orang bodoh, penakut, dan bakhil.
507 Anak rambut yang tumbuh di dahi dibuang oleh wanita Arab supaya walahnya kelihatan luas, sebab itulah ia dinamakan tempat

tahdzif, a*inya tempat rambut dibuang.

FrqLH Isrrq.M JIUD I tulang yang lurus dengan telinga dan terletak

pipi adalah termasuk anggota kepala, karena di antara pelipis dan pipi), bulu pipi, bulu
kedua-duanya masuk dalam bulatan kepala.
Meskipun demikian, hendaklah sebagian kecil rewes [yaitu bulu yang tumbuh di bawah bibir
mulut bagian bawah), bagian luar dan dalam
dari kepala dimasukkan ke dalam anggota jenggot fyaitu bulu yang hanya tumbuh di
dagu, tempat pertemuan dua tulang rahang)
muka untuk menyempurnakan hukum wajib baik ia tumbuh dengan tipis ataupun tebal.soe

membasuh muka. Karena, hukum wajib Ini karena terdapat sebuah hadits riwayat
Muslim yang menceritakan bahwa Rasul
membasuh muka tidak akan sempurna kecuali
dengan membasuh sebagian kepala tersebut. bersabda kepada seorang laki-laki yang tidak
Ulama madzhab Hambali berpendapat bah-
wa sunnah hukumnya membasuh maudhi'al' membasuh kuku kakinya. Beliau bersabda,

mafshal, yaitu bagian yang terletak di antara !iy3,ry; et:
janggut dengan telinga. Karena, ia termasuk
ke dalam anggota yang sering dilupakan orang. "Kembalilah dan sempurnokan wudhu kamu"'

Ulama madzhab Syafi'i juga mengatakan bah- Jika jenggot seseorang tebal hingga ku-
wa sunnah hukumnya membasuh maudhi' ash- litnya tidak tampak maka yang wajib di-
shal'i, yaitu bagian kepala yang botak, maudhi' basuh hanya bagian luar saja, dan sunnah
at-tahdzifi yaitu dua sisi dahi yang ditumbuhi hukumnya menyela-nyelai bagian dalam jeng-
rambut tipis dan dua ruang kosong yang ter-
got tersebut. Ketetapan sunnah ini karena
letak di atas dua telinga ketika membasuh
muka. Hal ini dilakukan untuk menghindari sukar untuk menyampaikan air ke kulit pada

perbedaan pendapat tentang hukum wajib bagian tersebut. Dalilnya adalah berdasarkan

membasuh bagian-bagian tersebut. sebuah hadits yang diriwayatkan oleh al-
Bukhari yang menggambarkan bahwa Nabi
Wajib membasuh sebagian kecil bagian saw. sedang berwudhu, kemudian beliau
kepala, leher, bagian bawah tulang rahang, mengambil seciduk air untuk membasuh mu-
dan dua telinga. Begitu juga wajib melebihkan ka.510 Padahal, janggut beliau tebal. Hal ini
sedikit ketika membasuh kedua tangan dan
kedua kaki. Hal ini berdasarkan hukum wajib menunjukkan bahwa seciduk air biasanya
yang ditetapkan untuk membasuh kedua ang-
gota tersebut. Karena suatu kewajiban yang tidaklah mencukupi untuk membasuh hingga
tidak dapat sempurna kecuali dengan sesuatu
yang lain, maka sesuatu yang lain tersebut sampai ke bagian dalam fienggot).

menjadi wajib. Adapun jenggot yang panjang hingga
melebihi paras muka, maka ia waiib dibasuh
Termasuk juga bagian anggota muka menurut pendapat yang mu'tamad di kalang-
adalah dua bibir,508 bagian hidung yang luna[ an ulama madzhab Syafi'i dan Hambali. Hal ini

bagian depan hidung, dan yang semcamnya. karena ia adalah bulu yang tumbuh di bagian
Tidak wajib membasuh bagian dalam dua bibir anggota fardhu. Oleh sebab itu, secara lahir ia
termasuk ke dalam nama anggota tersebut.
dan dua mata. Dan ia tidak dapat disamakan dengan rambut
Waiib membasuh bulu kening, bulu mata,

ujung pipi (yaitu bulu yang tumbuh di atas

508 Yaitu, bibir yang kelihatan ketika keduanya ditutup secara biasa.
509 )anggut yang lebat ialah yang menutupi kulit muka apabila dilihat oleh orang yang berhadapan dengannya.
510 Riwayat al-Bukhari, dari lbnu Abbas (Nailul Authar,lilid I, hlm. 147).

.:i;1i1.i:#::.:.;:r:=:.1=,...'i;$$::.::+i.li,ifu1ijir'tn-

FIqLH ISI.A,M JILID 1

kepala. Adapun rambut yang keluar dari ba- Ulama madzhab Hambali mewajibkan ju-
tas kepala, tidak termasuk ke dalam kepala. ga membaca Bismillah ketika berwudhu. Hal
Selain itu, karena terdapat sebuah hadits yang ini berdasarkan sabda Nabi Muhammad saw.,
diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Amru
bin Absah, P 4;.r3 \j iJ ;-d v ,:r i>\; t
it fqu at
"Kemudion apabila dia membasuh muka ,X-

seperti yang diperintahkan Allah, maka keluar- "Tidaklah sah shalatnyo orong yong ,iao*
lah dosa muka dari ujung jenggotnyq bersama
dengan tetesan air." berwudhu, dan tidak sah wudhu orang yang

Ulama madzhab Hanafi dan Maliki tidak tidak menyebut nama Allah (membaca bis-
mewajibkan membasuh jenggot yang panjang,
karena ia dihitung sebagai bulu yang keluar millah).'611
dari bagian anggota fardhu dan ia juga bukan
dari bagian muka. 2. Membasuh kedua tangan hingga ke

Ulama madzhab Hambali menambahkan, siku dengan sekali basuh. Rukun ini
mulut dan hidung adalah bagian dari anggota
berdasarkan firman Allah SWT,
muka. Pendapat ini juga menegaskan bahwa
berkumur dan membersihkan hidung dalam ".,mako basuhlah wajahmu dan tanganmu
wudhu merupakan hal yang wajib berdasar- sampai ke siku...." (al-Maa'idah: 6)
kan hadits yang diriwayatkan Abu Dawud
Dan juga berdasarkan kepada ijma ula-
dan perawi yang lain. Maksud hadits tersebut
adalah, 'Apabila kamu berwudhu, maka hen- ma.s12 Perkataan al-maraafiq pada ayat di atas
daklah kamu berkumur." artinya adalah, "Tempat bertemunya dua tu-
lang lengan, yaitu lengan atas dan bawah."
Hadits lain yang diriwayatkan at-Tirmi-
dzi dari Salamah bin Qais juga menyatakan, Menurut pendapat jumhur ulama ter-
'Apabila kamu berwudhu, maka hendaklah
masuk juga imam madzhab empat, wajib me-
kamu membersihkan hidung." masukkan dua siku pada waktu membasuh
|uga, terdapat hadits lain yang diriwayat-
kedua tangan karena huruf jarr (ilaa) yang
kan oleh Abu Hurairah yang dapat diterima
digunakan dalam ayat tersebut menunjukkan
oleh semua ulama,
arti "hingga sempurnanya sesuatu tersebut"
'4.? iirt1 €.,W i:*i V; ti;, lintiha' al-ghayah), sehingga di sini kata ilaa
tersebut berarti "bersama (ma'a)." Hal ini
"Apabila salah satu di antara kamu sedang
sama seperti firman Allah SWI,
berwudhu, maka hendaklah ia memasukkan air
ke dalam hidung kemudian menghempaskan- ffi *-j:tf$"?"'fi

nya keluar." "...Dia akan menambahkan kekuatan di
atas kekuatanmu...." (Huud: 52)

511 Riwayat Ahmad, Abu Dawud, dan Ibnu Maiah dari Abu Hurairah. Imam Ahmad dan lbnu Majah iuga meriwayatkan hadits dari Sa'id
bin Zaid dan Abu Sa'id.

51,2 Rujukan yang sama, al-Bada'ij hlm. 4; Fathul Qadir, hlm. L0; Tabyinul Haqa'iq, hlm. 3; ad-Durrul Mukhtar. hlm. 90 dan seterusnya;

asy-Syarhush Shaghir, hlm. 107 dan seterusnya; asy-Syarhul Kabia hlm. 87 dan seterusnya; Bidayatul Mujtahid, lilid I, hlm. L0; aI-
Qawanin al-Fiqhiyyah,hlm.tO: Mughnil Muhtaj,hlm,52; al-Muhadzdzab, hlm. 16 dan seterusnya; al-Mughni,hlm. 122 dan seterus-

nya; Ka sy sy afu I Q i n a', hlm. 1 08 da n seteru s nya.

FrqLH lsrAM f rrrD 1 Baglan 1: IBADAH

Dan juga pada ayat, Namun jika kotoran itu sedikit, maka ia di-

"...dan janganlah kamu makan hartq me- maafkan. Menurut pendapat ulama madzhab
reka bersama hartamu...." (an-Nisaa': 2) Hanafi, kotoran tersebut dimaafkan, baik ia

Hal ini disebabkan karena yang dimak- sedikit ataupun banyak. Sikap ini dimaksud-
kan untuk menghindarkan diri dari kesukaran.
sud dengan kata tangan pada asalnya adalah
mencakup seluruh tangan dan lengan. Tetapi Namun, madzhab ini bersepakat atas wajibnya
jika ia dibatasi dengan siku (marafiq), maka hal menghilangkan kotoran yang menghalangi air
kepada bagian kuku dan bagian lainnya, ko-
ini menyebabkan anggota yang lain menjadi toran tersebut adalah seperti minyak dan lilin.
gugur. Sunnah Nabi saw. telah menjelaskan
arti dari ayat mujmal tersebut. Imam Muslim Menurut pendapat ulama madzhab Maliki,
meriwayat dari Abu Hurairah tentang cara menyisipi celah-celah jari tangan dan juga kaki
adalah wajib.
wudhu Rasulullah saw.,
"Bahwa Nabi Muhammad saw. telah ber- Wajib membasuh jari yang lebih yang

wudhu, kemudian beliau membasuh muka. tumbuh pada anggota fardhu bersama-sama
Maka, sempurnalah wudhunya. Setelah itu, dengan jari biasa. Hal ini karena ia tumbuh
beliau membasuh tangan kanan hingga ke pada tempat jari. Begitu juga menurut pen-
bagian atas tangan [siku), kemudian Rasul dapat ulama madzhab Hambali dan Maliki,
membasuh tangan kiri hingga ke bagian atas
wajib membasuh kulit yang tumbuh yang
tangan [siku)."s13
bergantung, bukan pada anggota yang fardhu
Ad-Daruquthni telah meriwayatkan dari tetapi menjulur pada anggota fardhu. Ulama
Utsman r.a. yang berkata, "Mari saya tunjuk-
madzhab Syafi'i mengatakan bahwa jika ku-
kan kepada kamu bagaimana Rasulullah lit tangan bagian atas tergantung maka tidak
wajib membasuh sedikit pun dari kulit terse-
berwudhu." Kemudian dia membasuh muka
but, baik kedudukannya sejajar dengan tangan
dan kedua tangannya hingga pangkal tangan
(siku). ataupun tidak. Hal ini karena yang dimaksud
dengan tangan tidak mencakup anggota ter-
Ad-Daruquthni juga meriwayatkan dari sebut. Selain itu, kedudukan kulit tersebut ti-
fabir yang berkata, "fika Nabi Muhammad
saw. berwudhu, maka beliau mengalirkan air dak berada di bagian anggota fardhu.

ke atas dua sikunya."sla fika terdapat sebagian anggota tangan
yang wajib dibasuh terpotong, maka menu-
Wajib membasuh celah jari dan bagian rut kesepakatan ulama wajib membasuh ba-
yang tertutup di bawah kuku yang panjang
gian yang tersisa (masih ada). Karena, perkara
yang menutupi ujung jari. Begitu juga menu- yang mudah dilaksanakan tidak gugur hukum
wajibnya disebabkan adanya perkara yang
rut pendapat ulama madzhab Hanafi, wajib
menghilangkan semua kotoran kuku yang susah. Selain itu, Nabi Muhammad saw. juga

menghalang air sampai kepada bagian terse- bersabda,
but, jika memang kotoran yang ada itu banyak.
;;kt r Lt;:u it,;*;1 tiy

sr3 Nailul Author; Jilid I, hlm. 152
sta rbid..

BaElan 1: IBADAH FIQIH ISI.AM JILID 1

"Apabila aku menyuruh kamu melakukan Kepala adalah anggota badan yang men-
sesuetu, maka laksanakanlah seberapa daya
yang kamu mempu." jadi tempat tumbuhnya rambut. Ia bermula

Adapun orang yang tangannya terpotong dari bagian atas dahi hingga lubang tengkuk di
pada bagian siku, maka dia wajib membasuh bagian belakang. Termasuk ke dalam penger-
ujung tulang lengan bagian atas, karena bagian tian kepala adalah dua pelipis yang tumbuh di
ini termasuk ke dalam anggota siku. atas tulang yang timbul di bagian muka. Para

fika bagian tangan yang terpotong di atas fuqaha berselisih pendapat tentang kadar
siku, maka sunnah membasuh tangan yang mengusap kepala yang dapat mencukupi un-
tersisa yang masih ada, sehingga dengan tuk wudhu.sls
membasuh anggota tersebut tidak ada anggota
yang tertinggal dalam melaksanakan wudhu. Menurut pendapat yang masyhur dan

Menurut pendapat jumhur ulama, meng- mu'tamad di kalangan ulama madzhab Hanafi,
gerakkan cincin yang ketat adalah wajib. Te-
tapi menurut ulama madzhab Maliki, meng- wajib mengusap seperempat kepala dengan
gerakkan cincin yang mubah dipakai baik bagi satu kali usap. Yaitu, sekadar luas ubun-ubun
laki-laki ataupun perempuan adalah tidak yang ada di bagian atas dua telinga-bukan-
wajib, meskipun cincin tersebut ketat dan nya pada ujung dandanan rambut-meskipun
air tidak dapat masuk ke bawahnya. Ia tidak usapan itu dari air hujan atau basah sisa man-
dianggap sebagai penghalang sampainya air di, asalkan bukan diambil dari anggota tubuh

pada anggota berkenaan. Iain.

3. Mengusap kepala Dalil mereka adalah, mengusap kepala
wajib dilaksanakan mengikuti kebiasaan 'url
Mengusap kepala adalah rukun ketiga Oleh sebab itu, mengusap anggota wudhu
ibadah wudhu. Ia berdasarkan firman Allah adalah sekadar apa yang sudah dinamakan
sebagai mengusap secara 'urf, Hal ini dise-
SWT,
babkan huruf ba'(pada kalimat biru'uusikum)
"Dan usaploh kepala kamu." (al-Maa'idah:
6) mengandungi pengertian ilshaq (terkena).
Maka, arti ayat tersebut adalah seperti beri-
Imam Muslim telah meriwayatkan sebuah kut, "Hendaklah kamu mengusapkan tangan
hadits, "Sesungguhnya Nabi Muhammad saw.
telah mengusap ubun-ubun dan serbannya." dengan merapatkannya kepada kepala kamu."

Mengusap adalah satu tindakan meng- Menurut kaidah yang terdapat di kalangan

gerakkan tangan yang basah di atas suatu ulama madzhab Hanafi, jika huruf ba'dikait-

anggota badan. kan dengan bagian anggota yang diusap, maka

ia mempunyai arti semua alat yang digunakan

untuk mengusap harus mengenainya. fika

huruf ba'dikaitkan dengan alat yang diguna-
kan untuk mengusap, maka perbuatan meng-
usap itu harus mencakup semua bagian ang-
gota yang diusap. Atas dasar ini, maka kadar
kepala yang perlu diusap hanya seluas tangan

srs Tabyinul Haqa'iq,Jilidl, hlm. 3; al-Bada'i',lllid I, hlm.4; Fathut Qadir.lilid I, hlm. 10 dan seterusnya; ad-Durrul Mukhtor, Jilid I, hlm.

92; Bidayatul Mujtahid, Jilid I, hlm. l1-; al-Qawanin al-Fiqhiyyah, hlm. 21; asy-Syarhush Shaghir, Jilid I, hlm. 108 dan seterusnya,
asy-Syarhul Kabir, Jil I, hlm. 88; al-MuhadzdzaD, filid l, hlm. 17; Mughnil Muhtaj, filid I, hlm. 53; al-Mughni, Jilid I, hlm. 125 dan se-

terusnya; I{asysyaful Qina'lilid I, hlm. 109 dan seterusnya.

FIqLH ISLAM JILID 1

saia. Karena luas tangin yang menyentuh ke- khusus bagi laki-laki. Sedangkan bagi wanita,
pala tidak lebih dari seperempat bagian ke-
pala, maka itulah yang dimaksud oleh ayat cukup dengan mengusap bagian depan kepala
saja, karena Aisyah hanya mengusap bagian
tersebut.
depan kepalanya.
Hal ini telah dijelaskin oleh sebuah hadits
yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim Menurut pendapat ulama madzhab

dari al-Mughirah bin Syu'bah, bahwa Nabi Hambali, wajib mengusap kedua cuping te-
linga bagian luar dan dalam. Karena, kedua
Muhammad saw. ketika berwudhu mengusap
anggota tersebut termasuk bagian kepala. Hal
ubun-ubun, serban, dan kedua khuf-nya. Hadits
lain yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dari ini berdasarkan kepada sebuah hadits yang
Anas juga menjelaskan, "Saya telah melihat diriwayatkan oleh lbnu Majah, "Dua telinga
Rasulullah saw. berwudhu, yaitu pada waktu
beliau memakai serban Qhatariyyah [serban adalah sebagian dari kepala."s17

yang dibuat di Qatar). Beliau memasukkan Menurut pendapat mereka, sekali usap
saja mencukupi. Tidak disunnahkan meng-
tangan ke bawah serbannya dan mengusap
bagian depan kepala tanpa menanggalkan ulangi mengusap kepala dan telinga. At-

serban tersebut."sl6Tindakan Rasulullah saw. Tirmidzi dan Abu Dawud mengatakan bahwa
tersebut dianggap sebagai penjelasan terha- pendapat ini adalah pendapat yang dijadikan
dap ayat yangmujmal karena ubun-ubun atau pegangan oleh mayoritas ahli ilmu. Karena,

bagian depan kepala merupakan seperempat mayoritas orang yang menjelaskan sifat

kepala saja. Ia merupakan satu bagian dari wudhu Rasulullah saw. menyebutkan bahwa
Rasul hanya mengusap kepala satu kali saja.
empat bagian kepala yang ada. Kemungkinan Dalam riwayat itu, mereka juga menyebutkan
pendapat ini adalah pendapat yangrajih. bahwa pada wudhu Rasulullah saw. (ketika
membasuh bagian) yang lain, beliau memba-
Ulama Maliki dan salah satu riwayat yang suh sebanyak tiga kali. Namun ketika mereka
rajih di kalangan ulama Hambali berpendapat berkata, "Beliau mengusap kepalanya," mereka
bahwa wajib mengusap semua bagian kepala. tdak menyebutkan berapa kali beliau meng-
usap sebagaimana yang disebutkan pada per-
Seseorang tidak wajib mengurai dandanan
rambutnya dan juga tidak wajib mengusap buatan yang lain.
rambut yang keluar dari batas kepala, dan
Dalil mereka ialah huruf ba'mengandungi
mengusap rambut tersebut sebagai pengganti makna ilshaq (mengenai), yaitu mengenakan
dari mengusap kepala adalah tidak mencu- perbuatan pada tempat yang dikenai. Oleh
kupi. Namun, mengusap rambut yang tidak
keluar dari tempat fardhu adalah mencukupi. sebab itu, seolah-olah Allah menyatakan,
fika seseorang tidak memiliki rambut, maka
dia hendaklah mengusap kulit kepala, karena "Kenakan usapan itu ke kepala kamu, yaitu
hanya itu yang ada pada kepalanya.
usaplah dengan air."
Menurut pendapat yang zhahir dari ka-
langan ulama madzhab Hambali, kewajiban Dalil lain adalah karena Rasulullah saw.
mengusap seluruh bagian kepala hanyalah mengusap pada semua bagian kepala ketika

beliau berwudhu. Abdullah bin Zaid meri-

wayatkan bahwa Rasulullah saw. telah meng-

usap kepalanya dengan kedua tangannya.

s76 Nailul Authar Jilid I, hlm. 157, 167; Nashbur Rayah,Jilid.I, hlm. 1 - 2.
517 Dari Ibnu Abbas, ia berkata, "Nabi Muhammad saw. mengusap kepalanya, kedua telinga sebelah luar dan luga dalamnya." (HR at-

Tirmidzi dan dia menghukuminya sebagai hadits shahih) (Nailul.Authal,lllid I, hlm. 162).

;:t;;:r._i,

.tl

Isr."A,M )rrrD I

Yaitu, mengusap ke depan dan ke belakang juga mengusap serban bagian atas. Oleh sebab

dengan memulakan pada bagian depan kepala, itu, mengusap sebagian kepala saia adalah
kemudian beliau menurunkannya hingga ke
mencukupi, karena apa yang diperintahkan
bagian tengkuk. Setelah itu Rasul kembali adalah perbuatan mengusap saja, dan hal ini
telah terlaksana dengan mengusap sebagian-
memulai dari tempat beliau memulai meng- nya. Huruf ba' jika dikaitkan kepada sesuatu
usap.s18 Ini menunjukkan perlunya mengusap yang banyak (muta'addid), seperti yang ter-
ke semua bagian kepala. Dan menurut kese- dapat dalam ayat tersebut, maka ia berarti
sebagian. Oleh sebab itu, mengusap sebagian
pakatan ulama, melakukan hal itu adalah kecil kepala sudah dianggap cukup sama se-

sunnah, seperti yang diterangkan oleh an- perti mengusap bagian yang banyak dari

Nawawi. kepala.

Ulama madzhab Syafi'i menyatakan bah- Sebenarnya, maksud ayat tersebut adalah

wa wajib mengusap sebagian kepala saja, mutlak dan artinya tidak lebih dari menun-
jukkan perbuatan mengusap kepala, baik de-
meskipun hanya menyentuh sehelai rambut ngan cara mengusap semua bagian kepala
yang ada pada batas kepala, yaitu yang tidak ataupun sebagiannya saja, baik kadar meng-
keluar dari kepala jika ditarik ke bawah. usapnya sedikit ataupun banyak. Selama per-
buatan itu bisa dianggap sebagai perbuatan
Pendapat yang ashah di kalangan ulama
madzhab Syafi'i menyatakan bahwa mem- mengusap, maka ia dianggap mengusap. Akan
tetapi jika ia hanya mengusap sehelai atau tiga
basuh kepala hukumnya mubah. Karena, per- helai rambut saja, maka perbuatan tersebut
buatan itu sudah memenuhi perbuatan meng- tidak dapat disebut sebagai perbuatan meng-

usap. Meletakkan tangan di atas kepala mes- usap.sle
kipun tanpa menariknya juga mubah. Karena
dengan tindakan tersebut, maksud yang di- 4. Membasuh kedua kaki hingga kedua
inginkan telah berhasil, yaitu membasahi ke-
mata kaki. Hal ini berdasarkan firman
pala. Allah SWT,

Pendapat yang ashah di kalangan ulama "...dan (basuh) kedua kakimus2i sampai ke
kedua mata kaki...." (al-Maa'idah: 6)
madzhab Hambali menyatakan bahwa mem-
basuh kepala tanpa menggerakkan tangan di Ia juga berdasarkan kepada ijma ulama dan

atasnya tidaklah mencukupi. Tetapi jika ke- juga berdasarkan hadits yang diriwayatkan
oleh Amru bin Absah dan diceritakan oleh
pala dibasuh, setelah itu tangan digerakkan di
atasnya, maka ia telah mencukupi meskipun Imam Ahmad,
hukumnya makruh.

Ulama Syafi'i mendasarkan pendapatnya

kepada sebuah hadits yang diriwayatkan

oleh al-Mughirah yang diriwayatkan oleh asy-
Syaikhan. Hadits tersebut menyatakan bahwa
Rasulullah saw. mengusap ubun-ubunnya dan

s1B Riwayat al-Jama'ah, diriwayatkan juga oleh Imam Abu Dawud dan lmam Ahmad dari ar-Rubayi'binti Mu'awwidz. Hadits ini hasan.

ar-Rubayi'berkata, bahwa Rasulullah saw. berwudhu di sampingnya. Beliau mengusap kepalanya, dan beliau mengusap seluruh
bagian kepalanya di mulai dari atas kepala, yaitu ke setiap bagian tumbuhnya rambut. Tetapi, beliau tidak menggerakkan rambut

dari bentuk asalaya. (Nailul Authar,Jilid I, hlm. 154, 156J
s1e Syekh Mahmud Syaltut dan Syekh Muhammad Ali Sais (Muqaranah al-Madzahib fil-Fiqh, hlm. 11).
s20 Menurutqlra'atyangtuiuh,perkataan"Arjutakum" dibacadengan nasab(fathah).Adapunqira'atyanglainmembacanyadengan

jar (kasmh) ikut kepada kata wuTuh (muka).

FIqLH ISLAM

"Kemudian Rasul mengusap kepalanya nya. Tidaklah cukup hanya dengan mengusap
seperti yang diperintahkan Allah. Setelah itu
beliau membasuh kedua kakinya hingga kedua kedua-duanya saja. Hal ini karena Rasulullah
mata kaki seperti yang diperintahkan Allah."
saw. bersabda,
Ia juga berdasarkan kepada hadits lain
yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan ad- a. o1 , o.o.
Daruquthni, dari Utsman yang berkata setelah
-,,u1 d.r vLip)AJ "F:
dia membasuh kedua kakinya, "Beginilah yang "Celakaloh bagi tumit-tumit kaki yang
saya lihat ketika Rasulullah saw. berwudhu."
akan dimokan api neraka.'623
Terdapat beberapa hadits lain yang men-
jadi dalil bagi masalah ini, seperti Hadits yang Rasul melarang mengusap kedua kaki.
Rasulullah saw. juga selalu membasuh dua
diriwayatkan oleh Abdullah bin Zaid dan
kakinya. Selain itu, tidak terdapat riwayat
hadits Abu Hurairah.
Dua mata kaki adalah dua tulangyang timbul yang shahih yang menunjukkan bahwa Rasul
mengusap kedua kakinya. Rasul menyuruh
di kedua belah kaki, yaitu pada sendi kaki.
membasuh kedua kaki seperti yang telah
Menurut jumhur fuqaha, wajib memba-
suh dua mata kaki atau kadar keduanya yang ditetapkan dalam hadits yang diriwayatkan
masih ada, jika memang keduanya terpotong labir, yang dicatat oleh ad-Daruquthni dengan
bersama dua kaki. Yaitu, diwajibkan memba-
suh dengan satu kali basuh saja, sama seperti lafal,
wajibnya membasuh dua siku ketika memba-
"Kami disuruh Rasulullah saw. apabila
suh dua tangan. Ini karena ujung suatu anggota kami berwudhu untuk mengerjakan shalat
wudhu adalah termasuk ke dalam hukum ang-
gota yang berkenaan. Bagian anggota wudhu supaya membasuh kedua kaki kami."
yang disebut setelah huruf ila merupakan ba- Hal yang sama juga terdapat dalam hadits
gian yang masuk dalam hukum anggota yang
yang diriwayatkan Amru bin Absah, Abu
sebelumnya.s2l Dalil lainnya adalah hadits
Hurairah, Abdullah bin Zaid, dan Utsman yang
yang diriwayatkan Abu Hurairah, telah lalu, yang menceritakan tentang wudhu
"Kemudian beliau membasuh kaki kanan-
Rasulullah saw.. Hadits tersebut adalah,
nya hingga ke batas betis, setelah itu mem-
"Kemudian Rasul membasuh kedua kakinya."
basuh kaki kirinya hingga ke batas betis." Ke- fuga, terdapat hadits yang menceritakan
mudian dia berkata, "Begitulah saya melihat
Rasulullah saw benvudhu''s22 bahwa setelah berwudhu-yang di dalamnya
beliau membasuh kedua kaki-Rasulullah
Menurut pendapat jumhur, wajib mem-
basuh kedua kaki dengan kedua mata kaki- menyatakan,

"Barangsiapa melebihi otou mengurangi
batas ini, moka ia telah melakukan kesalahan

dan kezaliman.'624'

s21 Al-Bodo'i: filid I, hlm. 5; osy-Syarhush Shaghir, Jilid I, hlm. 109; Mughnit Muhtaj,Jilid,l, hlm.53; al-Mughni, filid I, hlm. 132 dan

seterusnya.

s22 Riwayat Muslim (Nai/ul Authar,lllid I, hlm. 152).
523 Riwayat Imam Ahmad dan asy-syaikhan dari Abdullah bin Umar: dia berkata, "Kami tertinggal di belakang dalam suatu perlalanan

bersama Rasulullah. Kemudian kami dapat mengejarnya dan waktu ashar pun masuk. Lalu kami mengambil wudhu dan mengusap
kaki kami. Rasul kemudian berseru dengan kuat, "Celakalah bagi tumit-tumit kaki yang akan dimakan api neraka!' Rasul meng-
ucapkan kalimat ini sebanyak dua atau tiga kali (Nailul Authar.lilid l, hlm. 167).
s24 Diriwayatkan oleh Abu Dawud, an-Nasa'i, Ibnu Maiah, dan Ibnu Khuzaimah dari jalur yang shahih dan iuga dianggap shahih oleh

Ibnu Khuzaimah (Nailul Authar lilid I, hlm. 146, lS2,168, L73).

Baglan 1: IBADAH FIqLH ISIAM JILID

Tidak diragukan lagi bahwa terdapat ke- arjulakum dengan kasrah (menjadi arjulikum).
kurangan dalam mengusap jika dibandingkan
dengan membasuh. Rasul juga bersabda ke- Mereka juga mendasarkan kepada riwayat
pada seorang Arab badui, "Berwudhulah kamu
sebag aimana yang diperintahkan oleh Allah."szs yang bersumber dari Ali, Ibnu Abbas, dan Anas.
Akan tetapi, telah ditetapkan dalam beberapa
Kemudian Rasul menerangkan kepada- riwayat bahwa mereka telah menarik kembali
nya tentang cara berwudhu. Dalam penjelas- pendapat tersebut. Asy-Syaukani mengatakan
an itu, beliau menyebut membasuh dua kaki. bahwa orangyang mewajibkan mengusap kaki
adalah pengikut madzhab Syiah al-lmamiyyah.
Selain itu, terdapat ijma para sahabat ten- Akan tetapi, mereka tidak menunjukkan dalil-
tang wajibnya membasuh dua kaki ketika dalil yang terang. Padahal, mereka telah me-
berwudhu. Keterangan yang menyebutkan nentang maksud yang terdapat dalam al-Kitab

bahwa kata arjulakum dibaca dengan arjuli- dan sunnah yang mutawatin baik sunnah
kum [membaca kasrah lam) merupakan ba-
caan yang ganjil, yang bertentangan dengan yang bersifat perkataan maupun sunnah yang
maksud zhahir ayat dan tidak dapat dijadi- dalam bentuk perbuatan. Mereka berpendapat
kan alasan kepada apa yang diperselisihkan bahwa membaca /am dengan fathah pada kata
di kalangan ulama. Diikutkannya kata arjula-
kum kepada kata ru'usikum disebabkan kare- arj ul akum disebabkan kata terseb ut di-' oth af-
na kedudukannya yang berdekatan. Adapun
membaca lafal tersebut dengan bacaan lam kan kepada kata aidiyakum.
yang di-fathah merupakan'athaf kepada kata Alasan membasuh dan mengusap kedua

aidiyakum. kaki adalah berdasarkan kepada dua bacaan
Kemudian perintah Nabi Muhammad saw. tersebut, yaitu bacaan lam yang dibaca fathah
dan lam yang dibaca kasrah pada perkataan
agar menyela-nyelai celah-celah jari tangan arj ul aku m/ a rj ulikum.s2e Alasannya adalah se-
dan kaki menunjukkan hukum wajibnya bagaimana yang diterangkan oleh az-Zamakh-
syari, untuk menghindarkan dari pemborosan
membasuh kedua kaki tersebut.s26
penggunaan air. Ini disebabkan penggunaan
Golongan Syiah Imam iyyahszT mewajibkan air pada waktu membasuh kemungkinan be-

mengusap kedua kaki, karena berdasarkan sar akan terjadi pemborosan.
hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud Kesimpulannya, rukun-rukun wudhu yang
dari Aus bin Abi Aus ats-Tsaqafi yang me-
telah disepakati semua ulama adalah ada em-
ngatakan bahwa dia melihat Nabi Muhammad
saw. sampai di terusan air yang terdapat pada pat yaitu membasuh muka, kedua tangan,

suatu kaum di Thaif. Lalu beliau berwudhu kedua kaki dengan satu kali basuhan saja, dan
juga mengusap kepala dengan satu kali usap-
dengan mengusap dua sandal dan dua kaki-
nya.t" Mereka membaca huruf /am pada kata an. Adapun melakukannya, baik membasuh
ataupun mengusap sebanyak tiga kali, adalah

sunnah seperti yang akan dijelaskan nanti.

Riwayat Imam Ahmad, Abu Dawud, dan ad-Daruquthni dari Anas bin Malik dan diriwayatkan juga oleh Ahmad dan Muslim dari

Umar ibnul Khaththab (Nailul Authar,Jilid I, hlm. 170,175).

Riwayat Ahmad, Ibnu Majah, dan at-Tirmidzi dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah saw. bersabda ,"Apabla kamu berwudhu, hendaklah

menyela-nyela celah-celah jari kaki dan tangan." (Nailul Authar, Jilid I, hlm. 153)

527 Al-Mukhtasar an-Nafi'fi Fiqhil lmamiytah, hlm. 30.
528 Hadits ini adalah hadits ma'lul,l<arena sebagian rawinya tidak diketahui kedudukannya. Kalau seandainya hadits ini shahih, maka

ada sebagian pendapat yang mengatakan bahwa ia telah di-mansukh. Kata Husyaim, "Hukum ini berlaku pada permulaan lslam."

(Nailul Authq filid I, hlm. 159)
529 Noilul Authar, lbid..

ISIAM IILID 1 BaElan 1: IMDAH

2) Rukun Wudhu yangl Dlpercelisihkan Para fuqaha berselisih pendapat dalam
mensyaratkan niat sewaktu bersuci
Para fuqaha berselisih pendapat menge-
Ulama madzhab Hanafis3o mengatakan
nai hukum wajibnya niat, tartib, muwalah bahwa orang yang ingin berwudhu disunnah-
kan memulainya dengan niat. Tujuannya ada-
fberturut-turut) dan menggosok anggota lah supaya mendapatkan pahala. Waktu niat
adalah sebelum ber-istinja'agar semua per-
wudhu. Ulama selain madzhab Hanafi menga- buatannya menjadi ibadah. Cara niat adalah
dengan berniat menghilangkan hadats, ber-
takan bahwa niat adalah fardhu (rukun). niat untuk mengerjakan shalat, berniat untuk
berwudhu, atau mematuhi perintah syara'.
Ulama madzhab Maliki, Hambali, dan Syiah
Imamiyah mengatakan bahwa muwalah ada- Tempat niat adalah di dalam hati. fika dia
lah wajib. Ulama madzhab Syafi'i, Hambali,
dan Syiah Imamiyah mengatakan tartib adalah mengucapkan niatnya dengan tujuan untuk
wajib dan termasuk rukun wudhu. Hanya menggabungkan perbuatan hati dengan lisan,
ulama madzhab Maliki saja yang mengatakan maka cara seperti ini sangat dianjurkan. Ini
bahwa menggosok anggota wudhu adalah menurut pendapat yang masyhur dalam
wajib. Kita akan membicarakan perselisihan
perkara-perkara tersebut secara lebih detail. madzhab Hanafi.

a) Niat Konsekuensi dari pendapat yang menga-
takan bahwa niat bukanlah satu rukun, maka
Niat menurut arti bahasa adalah keingin- seseorang yang berwudhu untuk mendingin-
an dalam hati yang tidak berkaitan dengan
kan badan di dalam air adalah sah. Dan sah juga
lidah. Menurut istilah syara', ia adalah niat wudhu seseorang yang menyelam di dalam air
untuk tujuan berenang, membersihkan badan,
yang dilakukan oleh orang yang bersuci un- atau untuk menyelamatkan orang yang lemas
tuk menunaikan suatu kefardhuan atau niat dan sejenisnya. Mereka telah berhujjah dengan
untuk menghilangkan hadats, atau niat untuk dalil-dali berikut.
membolehkan melakukan apa saja yang di-
wajibkan bersuci ketika melakukannya. Con- (a) Tidak ada nash Al-Qur'an yang menjelas-
tohnya adalah, "Saya berniat untuk melakukan kan tentang niat ini, karena ayat yang
fardhu wudhui' atau apabila ada orang yang
berhadats seperti perempuan yang menga- berkaitan dengan wudhu hanya menyuruh
lami rsfihadhah, orang yang selalu keluar air membasuh tiga anggota badan dan me-
kencing (berpenyakit beser) ataupun selalu ngusap kepala saja. Pendapat yang me-
kentut, kemudian dia berniat, "Saya berniat ngatakan niat disyaratkan untuk sahnya
untuk melakukan perbuatan yang memboleh- wudhu dengan berdasarkan kepada hadits
kan shalat, thawal ataupun menyentuh mu- ahad adalah pendapat yang melebihi ke-
shaf." Ataupun orang yang bersuci dengan hendak nash Al-Qur'an. Sedangkan me-
niat, "Saya berniat untuk menghilangkan ha-
dats," yaitu niat menghilangkan penghalang nurut mereka, menambah ajaran yang
amal perbuatan yang memerlukan thaharah.
Ulama madzhab Hanafi mendefinisikan niat melebihi nash Al-Qur'an adalah termasuk
dari segi istilah dengan keinginan hati untuk
melakukan suatu perbuatan. kategori nasakh,sedangkan ayatAl-Qur'an

tidak boleh dinasakh dengan hadits ohad.

Ad-Durntl Mukhtar, filid I, hlm. 98 - 100; al-Lubab, filid I, hlm. 16', Muraqi al-Falah, hlm. 12; al-Bada'i', filid I, hlm. 17; Muqaranah
al-Madzahib fil Fiqh, hlm. 1,4.

FIqLH ISTAM IILID 1

(b) Tidak ada nash dalam sunnah Rasulullah ti) Sunnah Rasulullah saw., beliau bersabda,
saw. mengenai masalah ini. Beliau tidak
"Sesungguhnya setiap perbuatan itu
pernah mengajarkan niat kepada seorang berdasarkan kepada niatnya, dan setiap
badui, meskipun orang tersebut tidak orang berhak mendapatkan apa yang telah
diniatkannya." s32
mengetahuinya. Niat diwajibkan dalam
tayamum, karena ia menggunakan debu Hadits tersebut menunjukkan bahwa se-
dan pada hakikatnya debu tidak dapat mua pekerjaan yang diakui oleh syara'
adalah perbuatan yang didasarkan pada
menghilangkan hadats. Menggunakan de- niat. Wudhu merupakan suatu perbuatan,
bu hanya sebagai pengganti air saja.
maka ia tidak dianggap sah oleh syara'
(c) Diqiyaskan kepada semua ienis thaharah
kecuali ia dilakukan dengan niat.
dan juga lainnya; bahwa wudhu adalah
tii) Untuk memastikan keikhlasan dalam
satu perbuatan untuk bersuci yang
menggunakan air. OIeh sebab itu, niat beribadah. Hal ini berdasarkan firman
tidak disyaratkan. Hal ini sama dengan
Allah SWT,
menghilangkan najis. Begitu juga tidak
....C1t[+ni,itt'i;;.*16fr 6
diwajibkan niat dalam syarat-syarat
"Padahal mereko hanya diperintah
shalat yang lain, seperti syarat menutup
aurat. Niat juga tidak diwajibkan dalam menyembah Allah, dengan ikhlas menaati-
mandinya wanita Ahli Kitab ketika dia ber- Nya semata-mata karena (menjalankan)
eg ame,.,. " (al-Bayyinah: 5)
henti dari haid supaya dirinya halal digauli
Wudhu merupakan ibadah yang diperin-
oleh suaminya yang Muslim. tahkan oleh syara'. Ia tidak akan terlak-

(d) Wudhu hanya satu wasilah (jalan) untuk sana kecuali dengan niat yang ikhlas
melaksanakan shalat. Ia bukan sesuatu kepada Allah, sedangkan ikhlas adalah
yang diperintah secara sendiri. Dan niat
adalah syarat yang dituntut pada benda amalan hati, yaitu niat.
asal, bukan pada jalan.
[iii) Qryas; niat disyaratkan dalam berwudhu
fumhur fuqaha, selain ulama madzhab
Hanafi berpendapat bahwa niat adalah far- sebagaimana ia disyaratkan dalam shalat
dhu [rukun) dalam wudhu, supaya keberha- dan' juga dalam tayammum, yang dilaku-
silan (sahnya) dalam ibadah terpenuhi, kan supaya boleh melakukan shalat.
[iv) Wudhu merupakan jalan [wasilah) kepada
atau supaya maksud mendekatkan diri ke-
pada Allah terpenuhi.s3l Karena itu, shalat sesuatu yang dituju. Oleh sebab itu, ia
memiliki hukum yang sama dengan apa
tidak dianggap sah jika wudhunya diniatkan yang dituju itu. Hal ini berdasarkan fir-

untuk mengerjakan perbuatan lain selain man Allah S\,VT,

ibadah, seperti berwudhu dengan niat ingin
makan, minum, tidur, dan sejenisnya. Mereka

berhujjah dengan dalil berikut.

531 An-Nawawi, al-Majmu', filid I, hlm. 361 dan seterusnya; al-Muhadzdzab, filid I, hlm. 14 dan seterusnya; Bidayatul Mujtahid,Jilidl,
hlm.7 dan seterusnya; al-Qawanin al-Fiqhiyyah, hlm.21; asy-Syarhush Shaghir, filid I, hlm. 114 dan seterusnya; asy-Syarhul Kabir,
Jilid l, hlm.93 dan seterusnya; Mughnil Muhtaj,Jilid I, hlm.47 dan seterusnya; al-Mughni,lilid I, hlm. 110 dan seterusnya; Kosysyaful
Qina',lilid,l, hlm.94 - 101.

Muttafaq'alaih,dirLwayatkan oleh al-jama'ah dari Umar ibnul Khaththab r.a, {Natlul Authar,Jilid I, hlm. 131).

FIqLH ISIAM IILID 1 Baglan 1: IBADAH

'Apabila kamu hendak melaksanakan antara sebagian ibadah dengan sebagian l
shalat, maka basuhlah wojahmu...." (al- yang lain seperti ibadah shalat yang se-
Maa'idah:6)
bagian fardhu dan ada juga yang sunnah.
Ayat ini menunjukkan bahwa wudhu
adalah perbuatan yang diperintahkan [d) Syarat; syarat niat adalah orang yang
ketika seseorang hendak melaksanakan
shalat, atau ketika hendak melakukan berniat hendaklah beragama Islam, mu-
ibadah yang dituntut syara'. Ia dilakukan
mayyiz [berakal), serta mengerti apa yang
dengan cara membasuh beberapa anggota diniatkan, tidak melakukan perkara yang

untuk tujuan melakukan shalat. Inilah bertentangan dengan niat seperti dengan

yang dinamakan niat. melakukan aktivitas yang lain. Oleh

Pendapat yang benar ialah pendapat sebab itu, tidak boleh mengalihkan per-
yang mengatakan bahwa niat adalah fardhu
(rukun). Karena, banyak hadits ahad yang hatian kepada perkara lain dan ianganlah
niat tersebut dikaitkan dengan sesuatu.
telah menetapkan hukum-hukum yang tidak
terdapat dalam Al-Qur'an. Alasan lain adalah, fika dikaitkan dengan mengucapkan insya
karena perbuatan menyiramkan air ke anggota
Allah, yang artinya, "fika dikehendaki
badan tanpa niat atau dengan niat untuk
mendinginkan badan tidak dapat dianggap Allah," dengan maksud sebagai ta'liq atau

sebagai membasuh untuk berwudhu, sehingga dia mengglobalkan artinya, maka niat ter-
seseorang boleh melakukan tanggung jawab
syara'atau dapat melaksanakan perkara yang sebut tidak sah. Tetapi jika dia menyebut
diperintakan oleh syara'.s33
kata insya, llah tersebut untuk menda-
Perkara-perkara yang berkaitan dengan niat
Dari penjelasan di atas, dapatlah disimpul- patkan berkah, maka niatnya sah.

kan bahwa terdapat beberapa perkara yang Ulama selain dari madzhab Hanafi
berkaitan dengan niat, yaitu:s3a
mensyaratkan masuk waktu shalat bagi
(a) Hakika! hakikat niat dari segi bahasa
orang yang selalu berhadats, seperti orang
adalah qashdu [keinginan). Adapun dari
segi syara' adalah keinginan melakukan yang mengidap penyakit beser [sering
sesuatu yang disertai dengan perbuatan.
kencing) dan perempuan yang istihadhah.
(b) Hukum; hukum niat menurut jumhur
Ini karena thaharah fbersuci) bagi orang-
ulama adalah wajib, akan tetapi menurut orang tersebut adalah termasuk uzur dan
ulama madzhab Hanafi ia adalah sunnah.
darurat. Oleh sebab itu, dia terikat dengan
(c) Tujuan; tuiuan niat adalah untuk mem-
waktu seperti halnya tayamum.
bedakan antara ibadah dengan adat, atau
membedakan peringkat ibadah. Yaitu mem- (e) Tempat; tempat niat adalah di dalam ha-
bedakan tingkatan ibadah, membedakan
ti. Hal ini karena niat merupakan qashdu

[keinginan), sedang tempat qashdu ada-
lah hati. Oleh sebab itu, barangsiapa ya-

kin [akan munculnya qasdu itu) dalam

hatinya, maka hal itu dianggap telah men-

cukupi sebagai niat, meskipun dia tidak
melafalkannya. Namun jika (qashdu itu)

tidak terlintas di dalam hati, maka per-

buatan yang telah dikerjakan itu tidak

mencukupi. Menurut ulama madzhab

Maliki, niat lebih baik tidak dilafalkan.

533 Muqaranah al-Fiqh fil Madzahib, hlm. 17.
534 Mughnil Muhtaj,Jilid I, hlm. 47 dan ibid.; al-Mughnr, filid I, hlm. 142.

:l: "' .'r';liii.:,' ! ' ]:lr:ll'i :'

Baglan 1: IBADAH lsrAM frLrD 1

Adapun ulama madzhab Syafi'i dan juga maka niatnya tersebut sah dan mencukupi.
Hambali mengatakan bahwa sunnah me- Akan tetapi jika dia berniat secara mutlak
lafalkan niat, kecuali menurut pendapat
yang rajih dari kalangan ulama madzhab untuk tujuan bersuci yang merangkumi
Hambali, bahwa melafalkan niat dengan hadats dan membersihkan kotoran/najis,
perlahan-lahan adalah sunnah. Sedangkan maka niat yang demikian itu tidak sah dan
melafalkan niat dengan suara yang keras juga tidak mencukupi, karena tidak ada
dan berulang-ulang, adalah makruh.
perbedaan di antara ibadah dan adat. Per-
t0 Sifat niat; hendaklah seseorang berniat
bedaan itu tidak akan terlaksana kecuali
thaharah itu untuk tujuan supaya boleh
melakukan suatu ibadah yang tidak di- dengan niat. Apalagi, kadang-kadang ber-

bolehkan kecuali dengan thaharah seper- suci itu dilakukan untuk menghilangkan
hadats dan kadang-kadang untuk mem-
ti shalat, thawal dan menyentuh mu-
bersihkan najis. f adi, ia tidak akan menjadi
shaf. Dan hendaklah dia berniat untuk sah dengan niat yang mutlak dan umum.
menghilangkan hadats kecil, yaitu suatu
Jika seseorang berwudhu dengan niat
halangan yang berada pada anggota-ang- untuk melakukan sesuatu yang disunnah-
kan berwudhu seperti dia berniat wudhu
gota tertentu. fadi, sifat niat adalah de- untuk membaca Al-Qur'an, berdzikin me-
ngan berniat untuk menghilangkan ha-
dats atau bersuci dari hadats. fika berniat ngumandangkan adzan, tidu[ duduk di

dengan salah satunya, maka ia mencukupi, dalam masjid, mempelaiari suatu ilmu,
karena dia telah berniat dengan apa yang menziarahi orang alim dan lainnya, maka
hadats orang tersebut dapat hilang. Dan
menjadi tujuan wudhunya, yaitu meng- menurut pendapat ulama madzhab Ham-
bali, dia boleh melaksanakan seberapa
hilangkan hadats. banyak shalat, karena dia telah berniat
untuk melakukan sesuatu yang memer-
fika dia niat bersuci untuk mengerja- lukan keshahihan thaharah.
kan sesuatu yang tidak memerlukan fha-
harah seperti untuk mendinginkan badan, Menurut ulama madzhab Maliki, niat
untuk makan, beriual beli, menikah, dan seperti itu tidak mencukupi untuk melak-
sebagainya dan dia tidak berniat untuk sanakan shalat, jika memang dalam wu-
bersuci seperti yang dikehendaki oleh dhu tersebut tidak ada niat untuk meng-
syara', maka hadatsnya tidak hilang. Hal hilangkan hadats. Hal ini karena apa yang
ini karena dia tidak berniat untuk bersuci diniatkan [untuk membaca Al-Qur'an dll.)
dan juga tidak berniat untuk apa melaku- adalah sah dilakukan, meskipun masih
kan sesuatu yang termasuk niat bersuci. dalam keadaan berhadats.
Oleh sebab itu, dia tidak mendapatkan
apa-apa seperti halnya orang yang tidak Begitu juga menurut pendapat yang
berniat.
ashah dari kalangan ulama madzhab
fika dia niat berwudhu untuk me-
ngerjakan shalat dan untuk melakukan Syafi'i, ia tidak mencukupi karena perka-
perbuatan yang lain seperti untuk men- ra-perkara itu boleh dikerjakan meskipun
orang tersebut dalam keadaan berhadats,
dinginkan badan, membersihkan badan,
untuk mengaja4 atau menghilangkan najis, sedangkan niatnya tidak menyebutkan

maksud untuk menghilangkan hadats.

FIQLH ISI.,C.M )ItID 1 belum seseorang itu ber-utinia', agar de'

Tidak ada perselisihan pendapat di ngan itu semua perbuatannya menjadi
antara ulama bahwa apabila seseorang
berwudhu untuk shalat sunnah atau un- ibadah. Ulama madzhab Hambali iuga
tuk melakukan apa saja yang memerlu-
kan thaharah seperti menyentuh mushaf mengatakan bahwa waktu niat adalah
atau thawaf, maka wudhu tersebut boleh ketika melakukan perkara wajib yang
digunakan untuk shalat fardhu. Karena, ia
pertama, yaitu ketika membaca bismillah
telah menghilangkan hadatsnya.s3s pada waktu berwudhu. Ulama madzhab
Maliki berkata bahwa tempat niat adalah
fika dia ragu-ragu dengan niatnya ketika membasuh muka. Menurut pen-
dapat yang lemah, dikatakan bahwa tem-
ketika sedang bersuci, maka ia wajib me- pat niat adalah di permulaan thaharah.
ngulangi kembali. Karena, wudhu yang
dilakukan itu menjadi ibadah yang syarat- Ulama madzhab Syafi'i berpendapat ba-
nya diragui. Oleh sebab itu, thaharahnya wa waktu niat adalah ketika mulai membasuh
tidak sah, begitu juga dengan shalatnya. muka. Menurut mereka, niat wajib disertakan
dengan basuhan pertama pada anggota muka.
Tetapi apabila keraguan dalam berniat
muncul setelah selesai bersuci, maka ke- Ini dilakukan agar niat dapat berlangsung

raguan ini tidaklah berpengaruh. Hal ini bersama fardhu yang pertama. Begitu juga
halnya niat dalam shalat. Disunnahkan berniat
sama dengan ibadah-ibadah yang lain. sebelum membasuh dua tangan, supaya niat
Apabila seseorang diwudhukan oleh dapat meliputi semua kesunnahan dalam tha-
harah dan juga fardhunya. Sehingga, orang
orang lain, maka niat yang dianggap ada- yang melakukan akan diberi pahala atas ke-
lah niat orang yang berwudhu, bukan niat dua-duanya. Boleh mendahulukan niat wu-
orang yang mewudhukan. Karena, orang dhu dari permulaan thaharah dalam kadar
yang berwudhu adalah yang dikehendaki,
maka wudhu yang diakui adalah apa yang masa yang sedikit. Akan tetapi jika jarak
dia niatkan. Berlainan dengan orang yang
mewudhukan, karena dia perantara yang waktunya panjang, maka hal tersebut tidak-

tidak ada tuntutan untuk berwudhu, lah mencukupi.
dan sejatinya wudhu itu memang bukan Disunnahkan terus mengingat niat hing-

untuknya. ga amalan terakhir dalam thaharah. Hal ini
Orang berhadats secara berterusan supaya semua perbuatan yang dikerjakan
disertai dengan niat. Jika seseorang terus
seperti perempuan yang sedang meng-
alami istihadhah, orang yang mengidap mengekalkan niat, maka ia dapat mencukupi.
penyakit beser (sering kencing) dan se- Maksudnya adalah, jangan sampai ada ke-
jenisnya, hendaklah berniat supaya boleh hendak untuk memutuskan niat.

melakukan shalat, bukan niat untuk Tidaklah memengaruhi apa-apa jika di
tengah-tengah mengerjakan wudhu niatnya
menghilangkan hadats. Ini karena hadats- terlepas dari ingatan. Karena, apa saja yang
nya tidak mungkin dapat dihilangkan. disyaratkan tidak akan batal dengan mun-

[g) Waktu niaU ulama madzhab Hanafi me-
ngatakan bahwa waktu niat adalah se-

culnya ingatan yang hilang. Masalah ini sama FrqLH Isr-A.M f ruD 1

seperti niat dalam shalat dan puasa. Keadaan tersebut terbagi menjadi dua pendapat, se-
bagaimana yang telah diterangkan di atas.
ini berbeda dengan munculnya penolakan
b) Tartib
terhadap wudhu dalam hati. Maksudnya ada-
Yang dimaksud dengan tartib adalah
lah ada usaha untuk membatalkan wudhu
membasuh anggota-anggota wudhu satu demi
ketika sedang melaksanakannya, seperti se- satu secara urut, seperti yang terdapat dalam
seorang berkata dalam hati, "Saya memba- nash Al-Qur'an. Dengan kata lain, pertama
talkan wudhu saya," maka dengan segera
kali hendaklah membasuh muka, kemudian
wudhunya batal. kedua tangan, kemudian mengusap kepala,

Menurut pendapat ulama madzhab Sya- setelah itu membasuh kedua kaki. Para fuqaha
fi'i dan Hambali, sah bagi orang yang berwu- berselisih pendapat wajibnya melakukan tar-
dhu memisahkan niat pada setiap anggota
wudhunya. Yaitu, dengan berniat menghi- tib ini.s36 Ulama madzhab Hanafi dan Maliki
langkan hadats pada setiap anggota wudhu.
mengatakan bahwa ia adalah sunnah mu'ak-
Hal ini karena melakukan amalan wudhu ka4 bukan termasuk fardhu. Oleh sebab itu,
dianjurkan untuk memulainya dengan seperti
secara terpisah-pisah adalah boleh. Maka, apa yang telah disebut oleh Allah dalam su-
memisahkan niatnya pada semua perbuatan rah al-Maa'idah, ayat 6. Nash Al-Qur'an yang
menyebut tentang rukun-rukun wudhu se-
wudhu juga boleh. muanya di-'athaf-kan dengan huruf penghu-
bung wawu [dan) yang hanya menunjukkan
Pendapat yang mu'tamad dari kalangan
ulama madzhab Maliki yang bertentangan arti menggabungkan. Ia tidak menunjukkan
dengan pendapat yang azhar menurut Ibnu makna tartib. fika memang tindakan tartib
Rusyd adalah tidak sah seseorang itu memi-
sahkan niatnya pada setiap anggota wudhu, diinginkan syara', tentulah ia di-'athaf-kan
jika dia tidak ada hasrat untuk menyempur- dengan huruf fa' atau tsumma [kemudian).

nakannya. Dengan demikian, jika dia me- Adapun huruf/o'yang ada dalam firman Allah
misahkan niat pada setiap anggota wudhu
dengan keinginan untuk menyempurnakan (faghsiluu) hanya menunjukkan arti penyu-

wudhunya dengan segera, maka perbuatan sulan keseluruhan anggota secara umum.
tersebut dapat mencukupi. Dengan pendapat
ini, maka terdapat persamaan antara penda- Imam Ali, Ibnu Abbas, dan lbnu Mas'ud
pat ulama madzhab Maliki, Syafi'i, dan juga meriwayatkan hadits-hadits yang menuniuk-
kan bahwa tartib tidaklah wajib. Imam Ali r.a.
Hambali. berkata, "Saya tidak peduli dengan anggota
mana yang telah saya mulakan." Ibnu Abbas
Sebagai kesimpulan, seluruh ulama ber- r.a. berkata, "Tidak mengapa memulai wudhu

sepakat mengenai wajibnya niat dalam ta- dengan membasuh kedua kaki sebelum mem-

yamum. Dan mereka berselisih pendapat ten- basuh kedua tangan." Ibnu Mas'ud r.a. juga
menyatakan bahwa tidak mengapa jika kamu
tang wajibnya niat pada waktu bersuci dari memulai dengan membasuh kedua kaki se-
hadats besar dan hadats kecil. Perselisihan

Ad-Durrul Mukhtar,lllid I, hlm. 1L3; Muraqi al-Falah, hlm. 12; Fathul Qadir,Jilid I, hlm. 23; al-Bada'i',lilid I, hlm. 17 dan hlm. seter-
usnya; asy-Syarhush Shaghir,lilid I, hlm. L3O; asy-Syarhul Kabir,lilid I, hlm. 102; Mughnil Muhtaj,lilid I, hlm. 54; al-Muhadzdzab,

Jilid l, hlm. 19; at-Mughni, filid I, hlm. 136 - 138; I{asyryaful Qina',lllid I, hlm. 116; Bidayatul Mujtahid, Jilid I, hlm. 16; al'Qawanin
ol-Fiqhi1ryah,hlm.22; al-Majmu',lilid l, hlm.480 - 486.

FIqIH ISI.AM IILID 1 Baglan 1: IBADAH

belum kamu membasuh kedua tangan ketika tidak mengikuti tartib itu dibetulkan dengan
membasuh semua anggota sebanyak empat
berwudhu.s3T kali putaran. Karena dengan cara demikian,
ia akan berhasil pada setiap membasuh sa-
Ulama madzhab Syafi'i dan Hambali me- tu anggota yang dihitung satu basuhan. Oleh
sebab itu, dalam putaran pertama yang ber-
ngatakan bahwa tartib adalah fardhu dalam hasil adalah membasuh muka, putaran kedua
wudhu dan tidak waiib dalam mandi. Hal ini adalah [rukun) membasuh kedua tangan,
putaran ketiga adalah (rukun) mengusap ke-
berdasarkan perbuatan Nabi Muhammad saw. pala, dan putaran keempat adalah (rukun)

yang menjelaskan tentang cara berwudhu membasuh kedua kaki.

yang diperintahkan.s3s Dan juga, berdasarkan fika dia membasuh semua anggota seka-
atas sabda baginda saw. dalam menjalankan ligus, maka wudhunya tidak sah. Begitu juga
haji, hukumnya jika dia dibantu empat orang yang
membasuh secara bersamaan karena tartib
?nri; rL, tsiiu adalah wajib, sehingga membaliknya dianggap
tidak tartib.
".
"Mulakon seperti yang telah dimulakon Jika seorang yang sedang berhadats kecil

oleh Allah.'a3e mandi dengan niat menghilangkan hadats
atau sejenisnya, maka menurut pendapat
Apa yang dimaksudkan adalah arti yang
terkandung dalam keumuman lafal ayat itu. yang ashah di kalangan ulama madzhab Syaf i
Hal ini karena adanya satu qarinah ftanda) (jika memang dapat diandaikan terjadi tartib
seperti dengan cara menyelam) adalah sah
dalam ayat wudhu, yang menunjukkan bahwa wudhunya, meskipun dia tidak berendam di

tartib adalah perkara yang diinginkan. Allah air. Hal ini karena tindakan yang demikian
tidak akan menyebutkan secara terpisah ter- dianggap mencukupi untuk menghilangkan
hadap anggota-anggota yang sama dan tidak
hadats yang lebih besar, maka sudah tentu
akan mendahulukan anggota-anggota yang sa- dia mampu menghilangkan hadats yang lebih
ma, kecuali karena ada faedah tertentu. Faedah kecil. Selain itu, tartib juga dapat dilakukan
dalam beberapa detik saja.
tersebut adalah tartib, karena ayat tersebut
bertujuan menjelaskan cara wudhu yang di- Menurut pendapat ulama madzhab Ham-
wajibkan. Sebagai bukti, ia tidak menyebutkan bali, tindakan ini tidak mencukupi, kecuali jika
secara langsung terhadap perkara-perkara dia berada dalam air dalam masa yang cukup
yang sunnah. Ia juga diqiyaskan kepada tartib untuk melakukan tartib. Oleh sebab itu, dia
yang wajib dalam rukun-rukun shalat. hendaklah mengeluarkan mukanya, kemudian
kedua tangan, kemudian mengusap kepala,
f ika seandainya ada orang yang berwudhu setelah itu keluar dari air. Perbuatan tersebut
dengan membalik urutan tartib yang dituntut dapat dilakukan dalam air yang tidak mengalir
syara', yaitu memulai dengan membasuh ke- ataupun yang mengalir.
dua kaki dan mengakhiri dengan membasuh

muka, maka amalan wudhunya tidak ada

yang sah kecuali membasuh muka saja. Dia
hendaklah menyempurnakan rukun yang se-

telahnya menurut urutan yang diinginkan
oleh syara'. Ada kemungkinan wudhu yang

537 Dua atsar yang pertama diriwayatkan oleh ad-Daruquthni. Atsar yang ketiga tidak diketahui dari mana asalnya.
538 Hadits riwayat Muslim dan juga lainnya dari Abu Hurairah (Nailul Authar,lilid l, hlm. 152).
539 Hadits riwayat an-Nasa'i melewati sanad yang shahih lMuqaranah al-Madzahib,hlm,2\ - 23).

BaElan 1: IBADAH F|QIH IsrAM f lUD 1

Tartib termasuk perbuatan fardhu yang c) Berturut-turut (Dluwalah)
diperintahkan syara'. Tartib tidak diwajibkan
bagi dua anggota kanan dan kiri, yaitu pada Maksudnya adalah amalan-amalan wudhu
kedua tangan dan kedua kaki, namun perbuat-
an tersebut disunnahkan' Hal ini disebabkan hendaknya dilakukan secara terus-menerus,
penyebutan kedua tangan dan kaki dalam
Al-Qur'an adalah sama, sehingga para fuqaha tidak ada ruang dan masa yang bisa dianggap
menganggap kedua tangan adalah sebagai sebagai pemisah dia antara satu perbuatan
satu anggota, begitu fuga kedua kaki. Tartib
juga tidak wajib pada anggota yang tunggal' dengan perbuatan yang lain menurut 'uf
Inilah yang dimaksudkan dalam riwayat Imam
Ahmad, yang menyatakan bahwa Imam Ali dan ataupun diartikan sebagai perbuatan mem-
Ibnu Mas'ud membasuh anggota kiri sebelum basuh anggota wudhu yang dilakukan secara
anggota kanan, karena kedua anggota terse- berturut-turut sebelum basuhan anggota se-
belumnya kering. Keadaan ini juga bergan-
but disebutkan satu dalam Al-Qur'an. tung kepada normalnya suasana, masa, tem-

Menurut penilaian penulis, pendapat pat, dan cuaca. Para fuqaha berselisih pendapat
orang yang berpegang dengan tartib adalah
pendapat yang lebih utama, karena Nabi tentang hukum wajibnya muwalah ini.sal

Muhammad saw. telah mencontohkan secara Ulama madzhab Hanafi dan Syafi'i ber-
berurutan baik dalam ucapan ataupun per- pendapat bahwa berturut-turut (muwalah)
buatan. Para sahabat iuga meneruskan per- adalah amalan sunnah, bukan waiib' Oleh
buatan tersebut, hingga mereka tidak menge- sebab itu, jika seseorang menjarakkan masa
dalam membasuh anggota-anggota wudhu
tahui selain tartib dalam amalan wudhu' dengan kadar masa yang tidak lama, maka ia
Mereka tidak pernah berwudhu melainkan tidaklah memengaruhi apa-apa, karena hal
yang demikian itu adalah sulit untuk dielak-
dengan cara yang teratur. Umat Islam juga kan. Jika seseorang menjarakkan dengan ka-
meneruskan amalan tartib sepanjang masa' dar masa yang lama hingga air wudhu men-
Tentang kedudukan huruf wawu, yang diang- jadi kering dalam kondisi yang normal, juga
gap bahwa dia tidak menunjukkan arti tartib, dianggap mencukupi. Karena, wudhu adalah
ini merupakan pendapat yang betul dan dapat suatu ibadah yang tidak akan batal dengan
diterima. Tetapi, pengertian tersebut adalah jarak waktu, baik jaraknya pendek ataupun
ketika tidak terdapatqarinah (tanda) yang me- lama, kondisinya sama seperti zakat dan haji'
nunjukkan bahwa tartib itu dikehendaki' Pa- Mereka mempertahankan pendapat mereka
dahal, qarinah yang menunjukkan bahwa tar-
tib itu diinginkan sangatlah banyak. Amalan dengan huj jah-huj jah berikut.
tersebut adalah amalan Nabi Muhammad saw'
[a) Diriwayatkan bahwa Nabi Muhammad
dan para sahabatnya yang dilakukan secara saw. pernah berwudhu di dalam sebuah

berterusan dari generasi ke generasi'sao pasar. Beliau membasuh muka dan kedua

tangannya, serta mengusap kepala. Setelah

itu, beliau diminta untuk melaksanakan

shalat jenazah, kemudian beliau datang ke

masjid sambil mengusap dua khufnya dan
melaksanakan shalat jenazah tersebut.saz

s40 Muqoronoh ol-Madzahib, hlm. 2l-23
s+r ,,a6ry'o-sryrarruhluMshusjthaahgitdri,rl,ilJidilild,hI,lmhl.m\l.;aLl-tQt;aawsya-Snyianrhaul-l Friuqnhiiry,ltiatiha,th, lhmlm.2. l9',0a;l-MMuaghimnituMililuidhlt,ahi,lfmilid.4EI, gh-lm49. 361;a; dra-sDysuymafutllMQuinkah"ta]irli,dlilIi,dhl,lmhl'm11'171; 3a;l

sa, Mughnr, Jilid l, hlm . !38', aL Muhadz d z ab, lilid I, hlm' 1 9' lmam Malik dari Nafi', bahwa lbnu Umar telah berwudhu di dalam pasar (ol-
tni"rda*r hadits yang shahih, dan diriwayatkan oleh

M oj mu', ltlid l, hlm. 493).

Isr.AM IrLrD 1

Imam Syafi'i berkata, "Di antara kedua (dJ Wudhu diqiyaskan kepada shalat, yaitu
[tindakan Nabi tersebut) terdapat jarak ibadah yang bisa rusak karena hadats.
OIeh sebab itu, tindakan berturut-turut
waktu yang lama."
(muwalah) disyaratkan di dalamnya se-
[b) Menurut riwayat yang shahih dari Ibnu
perti juga dalam shalat.
Umar, bahwa beliau pernah mengamalkan
pemisahan jarak waktu tertentu tanpa di- Menurut penilaian penulis, pendapat yang
ingkari oleh siapa pun. mengatakan bahwa bertu rut-tu rut (m uw alah)
harus dilakukan kecuali dalam keadaan udzur
Adapun ulama madzhab Maliki dan merupakan pendapat yang sesuai dengan si-
kap bersungguh-sungguh yang diperintahkan
Hambali, mengatakan bahwa berturut-turut syara' dalam menunaikan ibadah, tanpa me-
(muwalah) merupakan fardhu [rukun) dalam nunjukkan sikap bermain-main. fuga, sesuai
wudhu, namun ia bukan rukun dalam mandi.
Hal ini berdasarkan dalil-dalil berikut. dengan prinsip menjaga kesatuan ibadah,
juga telah ditunjukkan oleh sunnah fi'liyyah.
[a) Diriwayatkan bahwa Nabi Muhammad saw.
melihat seorang laki-laki yang sedang Dengan cara ini, maka ia akan membantu kon-

mengerjakan shalat. Di kedua kakinya ter- sentrasi kepada niat dan konsentrasi dalam
dapat satu tempat yang lebarnya satu dir- melaksanakan perintah syara' yang menghen-
ham yang tidak terkena air. Maka, Rasul daki amalan secara berturut-turut, tanpa di-
menyuruh dia untuk mengulangi wudhu pisah dengan perbuatan yang dapat meng-
dan shalatnya.sa3 fika tindakan berturut-
hilangkan konsentrasi terhadap ibadahnya.
turut (muwalah) tidak wajib, niscaya ia
d) Menggosok Secara Perlahan dengan
cukup dengan membasuh bagian tersebut
Tangan
saja.
Menggosok ialah menggerakkan tangan di
(b) Diriwayatkan dari Umar r.a. bahwa se- atas anggota badan, setelah air dicurahkan di
orang laki-laki telah berwudhu dan dia atas anggota tersebut sebelum air itu kering.
tidak membasuh kuku kaki. Hal ini terlihat Yang dimaksud dengan tangan adalah telapak

oleh baginda Rasulullah saw. dan beliau tangan. Oleh sebab itu, tidaklah cukup jika
berkata, "Kembali dan sempurnakanlah menggosok kaki dengan kaki yang satunya.
wudhumul'Kemudian laki-laki itu pun ber-
wudhu lagi dan kemudian melaksanakan Para fuqaha berselisih pendapat tentang hu-
kum wajib menggosok ini.sas
shalat.saa
fumhur ulama selain ulama madzhab Ma-
(c) Baginda Rasulullah saw. selalu memeli- liki mengatakan bahwa perbuatan menggosok
adalah sunnah. Ia tidaklah wajib, karena ayat
hara perbuatan berturut-turut (muwalah) AI-Qur'an yang berkaitan dengan wudhu tidak
dalam semua amalan wudhunya. Beliau menyuruh melakukannya. Hadits juga tidak
tidak pernah berwudhu kecuali dilakukan
dengan berturut-turut, dan beliau me-
nyuruh orang yang meninggalkan muwa-
loh agar mengulangi wudhunya.

543 Hadits riwayat Ahmad, Abu Dawud, dan al-Baihaqi dari Khalid bin Ma'dan dari sebagian para sahabat Nabi Muhammad saw. Tetapi, an-
Nawawi mengatakan bahwa sanadnya dhaif. Namun, Imam Ahmad mengatakan bahwa sanadnya baik
Hadits riwayat Imam Ahmad dan Muslim (lihat kedua riwayat ini dalam Narlul Authar,Jilid I, hlm. 174 dan halaman selaniutnya), tetapi
an-Nawawi berkata, ia tidak menuniukkan kepada muwalah.

Fathul Qadir,lilidl,lim.9;ad-Dumtl Muk*tur,lilidl,blm.ll4;Mumqi al-Falah,lfin"12; asy-Syarhush Shoghir,lilid I, hlm. 110 dan hlm. seterus-
nya; asy-Syarhul l(aDdr, Jilid I, hlm.90; Nailul Authar, Jilid I, hlrn 220,245.

Baglan 1: IBADAH FIQIH ISI.AM JILID 1

menetapkan hal itu. Ia iuga tidak disebut da- lakukan perbuatan menggosok, karena
lam sifat wudhu Nabi Muhammad saw.. Apa membersihkan sesuatu tidak akan berha-
yang ditetapkan mengenai cara mandi Ra- sil dengan hanya sekadar mengucurkan
sul saw. adalah semata-mata mengucurkan air ke atasnya.
air bersama-sama dengan mengurai pangkal (c) Qiyas, mereka mengqiyaskan perbuatan
bersuci dari hadats kecil dengan perbuat-
rambut.sa6 an membersihkan najis yang tidak mung-
Ulama madzhab Maliki mengatakan bahwa kin berlaku, kecuali dengan menggosok
dan mengoreknya. Begitu juga mereka
perbuatan menggosok anggota pada waktu mengqiyaskan dengan mandi junub yang
berwudhu adalah dilakukan dengan meng-
gunakan telapak tangan, tidak dengan meng- disebut dalam firman Allah,
gunakan bagian belakang tangan. Adapun
perbuatan menggosok anggota ketika mandi, :5frEu(L"lKt'.r:
apabila dilakukan dengan kaki, maka ia sudah
mencukupi. Menggosok anggota ketika wudhu "...lika kamu junub maka mandilah...."
adalah dengan cara mengusapkan satu ang- (al-Maa'idah:6)
gota kepada anggota yang lain dengan cara
Kata faththahharuu merupakan ung-
yang sederhana. Hal ini sunnah dilakukan
kapan yang mengandung arti mubala-
dengan cara perlahan-lahan dengan sekali go-
sokan saja. Makruh melakukan dengan kuat ghah, yang menunjukkan arti lebih dalam
dan berulang-ulang, karena sikap demikian
mengandung unsur berlebihan dalam agama bersuci dan ia akan terlaksana dengan
yang dapat membawa timbulnya rasa waswas.
cara menggosok. Sifat lebih tersebut akan
Namun menurut pendapat yang masyhur;
menggosok adalah wajib meskipun air telah terjadi dengan perbuatan menggosok.

sampai ke kulit. Mereka berhujjah dengan Menurut pendapat saya, perbuatan meng-
gosok merupakan suatu cara untuk mem-
dalil-dalil berikut. bersihkan dan menyempurnakan keber-
sihan anggota luar. Oleh sebab itu, untuk
(a) Membasuh yang diperintahkan dalam ayat melaksanakan tujuan ini cukuplah dengan
wudhu tidak akan terlaksana maksudnya mengatakan bahwa melakukan perbuatan
kecuali dengan menggosok. Oleh sebab menggosok adalah sunnah. Ia tidak wajib
karena hadits yang menceritakan basuhan
itu, sekadar sentuhan air ke anggota badan
yang dilakukan Nabi Muhammad saw.
tidak dapat dianggap sebagai perbuatan tidak menunjukkan bahwa Rasul mela-

membasuh, kecuali jika disertakan dengan kukan gosokan ini. Begitu juga tidak
mengusap sesuatu ke atas anggota. Mak-
terdapat dalam buku-buku bahasa yang
sudnya adalah menggosok. menunjukkan bahwa perbuatan menggo-
sok merupakan dalam pengertian mem-
[b) Hadits yang bermaksud, "Basahkanlah
basuh. Oleh sebab itu, apa yang wajib
rambut dan bersihkan kulit."s47 Hadits ini

dianggap sebagai sebuah hadits yang

shahih yang menunjukkan waiibnya me-

Maimunah menyebut cara mandi dengan menggunakan kata al-ghuslu, sementara itu Aisyah menggunakan perkataan ifudhah. Na-
mun, kedua kata ini mempunyai arti yang sama. Oleh sebab ittt,al-ghuslu (membasuh) tidak memasukkan kegiatan menggosok (Nai/ul
Authar,lilid I, hlm. 244 dan hlm. seterusnya).
Nailul Authar,lilid l, hlm. 220.

+r**.

FIQIH ISIAM

adalah apa saja perbuatan yang sesuai t. Berakal; orang yang gila tidak wajib dan
dengan maksud membasuh menurut ba-
hasa, sebagaimana yang diperintahkan. tidak sah wudhunya, yaitu pada waktu gila

Hukum Orang yang Lupa Salah Satu Rukun ataupun pada waktu penyakit ayannya
Wudhu kambuh. Wudhu juga tidak diwajibkan
bagi orang yang tidur dan yang terlupa.
Ibnu Juzi al-Malikisas mengatakan bahwa Wudhu tidak sah apabila dilakukan oleh
barangsiapa lupa terhadap satu rukun wudhu, kedua orang tersebut. Pendapat ini adalah
maka jika dia teringat sesudah kering air wu- menurut jumhur ulama selain madzhab
dhunya, hendaklah dia melakukan rukun yang Hanafi, karena tidak terdapat niat pada
terlupa secara khusus. fika dia teringat sebe- orang yang sedang tidur atau terlupa.
2. Baligh; wudhu tidak diwajibkan kepada
lum kering air wudhunya, maka hendaklah anak-anak dan tidak sah kecuali dari se-
dia memulai wudhunya lagi dari awal. Ath- orang yang mumayyiz. Mumayyiz juga
Thulaithali mengatakan bahwa hendaklah
ia mengulangi apa yang ia lupa dan amalan merupakan syarat bagi sahnya wudhu.

yang setelahnya, dia tidak diharuskan memu- 3. Islam; Islam adalah syarat wajib menu-
lai wudhu'nya dari awal. Ini adalah pendapat rut ulama madzhab Hanafi. Hal ini ber-
dasarkan pendapat yang masyhur di ka-
yang ashah.
langan mereka, yang mengatakan bahwa
c. Syarat-Syarat Wudhu orang kafir tidak diperintahkan menunai-

Perkara-perkara yang menyebabkan se- kan ibadah dan hukum-hukum syariah
seorang wajib berwudhu adalah terjadinya ha- yang lain. Oleh sebab itu, orang kafir tidak
dats, masuk waktu shalat, mengerjakan shalat, diwajibkan berwudhu, karena orang kafir
dan hal-hal yang semacamnya. Pendapat yang tidak diperintah untuk melaksanakan hu-
ashah dari kalangan ulama madzhab Syafi'i kum-hukum syariah. Akan tetapi, jumhur
mengatakan bahwa yang mewajibkan wudhu
adalah kedua perkara tersebut, yaitu hadats ulama menyatakan bahwa Islam merupa-
dan menunaikan shalat atau hal sejenisnya.
kan syarat sah. Hal ini berdasarkan ke-
Adapun syarat-syarat wudhu terbagi men-
tetapan mereka bahwa orang kafir dipe-
jadi dua jenis, yaitu syarat wajib dan syarat rintahkan melaksanakan hukum-hukum
syariah. Oleh sebab itu, tidak sah orang
sah.s4e kafir yang melakukan hukum-hukum ter-
sebut, karena di antara syarat sah melak-
Syarat-syarat wajib adalah semua perkara sanakannya adalah Islam.sso Syarat ini
yang apabila dapat terkumpul semua, maka juga menjadi syarat dalam semua ibadah
seseorang diwajibkan untuk bersuci. Adapun seperti bersuci, shalat, zakat, puasa, dan
syarat-syarat sah adalah perkara yang men-
jadikan sahnya amalan bersuci. juga haji.

7) Syarat-Syarat Wajib 4. Mampu menggunakan air yang suci dan
mencukupi; wudhu tidak diwajibkan ke-
Seseorang wajib berwudhu apabila ter- pada orang yang tidak mampu mengguna-
dapat delapan syarat berikut ini. kan air yang suci. Ia juga tidak diwajibkan

548 Al-Qawanin al-Fiqhiyyah, hlm. 23.

549 Al-Bada'i', Jilid I, hlm. 15; ad-Durrul Mukhtar wa Raddul Mukhtar,Jilidl,hlm.B0; Muraqi al-Fatah,hlm. L0; asy-Syarhush Shaghir,lilid t,

550 hlm. 1.31, 134; asy-Syarhul Kabia Jilid I, hlm.84 dan hlm. seterusnya; Mughnil Muhtaj,lilidl,hlm.4T;I{asysyafu,lQrna', Jilid L hlm. 95.

Lihat buku kami al-Wasith fi Ushulil Fiqh,hlm. 153 dan hlm. seterusnya. Cetakan pertama.

Baglan 1: IBADAH FIQIH ISIAM,ITID 1

kepada orang yang tidak memiliki air 2) Syarat-iyarat Sah
dan debu. Orang yang memPunYai ai4
Menurut ulama madzhab Hanafi, wudhu
tetapi tidak mencukuPi bagi semua
dapat dianggap sah dengan adanya tiga syarat.
anggota meskipun hanya untuk sekali Adapun menurut jumhur ulama, wudhu dapat
penggunaan fmaka ia tidak diwajibkan)'
Tidak diwajibkan juga atas orang yang dianggap sah dengan empat syarat.
apabila menggunakan air dapat memberi
mudharat kepadanya. Yang dimaksud t. Meratakan air yang suci ke atas kulit, yaitu

dengan orang yang mampu adalah orang meratakan air ke seluruh anggota yang
wajib dibasuh, hingga tidak ada bagian
yang mempunyai air yang penggunaan- yang tertinggal. Perbuatan ini bertujuan
nya tidak memudharatkan dirinya. Ini untuk meratakan air pada seluruh bagian
merupakan pendapat di kalangan ulama kulit. Oleh sebab itu, jika terdapat bagian

madzhab Hanafi dan Maliki. Akan tetapi, sebesar jarum yang tidak terkena air, ma-

pendapat yang azhar di kalangan ulama ka wudhunya tidak sah.

madzhab Syafi'i dan Hambali mengatakan Berdasarkan syarat ini, maka wajib

bahwa wajib menggunakan air yang ti- menggerakkan cincin yang ketat menurut
dak mencukupi tersebut, kemudian ia
jumhur ulama selain ulama madzhab
melakukan tayamum.
Maliki. Ulama madzhab Maliki berpenda-
5. Hadats; orang yang sedang dalam ke-
pat bahwa tidak wajib menggerakkan
adaan memiliki wudhu tidak diwajibkan
mengulangi wudhu, yaitu berwudhu atas cincin yang boleh dipakai, baik oleh laki-
laki ataupun perempuan, walaupun cincin
wudhu yang belum batal. tersebut ketat dan tidak dapat dimasuki
6 dan 7. Suci dari haid dan nifas, yaitu ketika
air. Keadaan ini tidak dianggap sebagai
seorang wanita berhenti dari keduanya
penghalang, berbeda dengan cincin yang
menurut pandangan syara'. Oleh sebab itu,
wudhu tidak diwajibkan atas perempuan tidak dibenarkan oleh syara', seperti emas
yang sedang haid dan nifas.
bagi laki-laki ataupun memakai cincin
B. Waktu yang sempit; Hal ini karena per-
dengan jumlah yang melebihi batas. Oleh
kara-perkara syara' ditujukan kepada se- sebab itu, wajib menanggalkan cincin ter-
orang mukallaf dalam waktu yang sempit sebut jika air tidak bisa memasuki bagian
[yaitu pada akhir waktu) dan dalam wak- bawah cincin. Namun jika air bisa masuk

tu yang panjang [yaitu pada permulaan hanya dengan menggerakkannya saja

waktu), maka wudhu tidak diwajibkan ke- [maka ia dibolehkan), karena ia dianggap
tika waktu yang panjang. Akan tetapi, ia seperti menggosok dengan kain.
diwajibkan ketika waktu semPit.
Menurut kesepakatan Para fuqaha,
Syarat-syarat ini dapat diringkas dengan wudhu tidak sah dengan menggunakan

"kemampuan seorang mukallaf dalam melak- benda cair selain air; seperti cuka, ius, su-
su, dan sejenisnya. Begitu juga tidak sah
sanakan bersuci dengan menggunakan air." berwudhu dengan air mutanaiils fair yang

terkena najis), karena shalat tidak sah

kecuali dengan air suci, ataupun tidak sah

satu shalat itu kecuali dengan keadaan

suci.

FrqlH IsrAM f rLrD 1 Baglan 1: IBADAH -I
I
2. Menghilangkan apa saja yang mengha- Hanafi, ia adalah syarat wajib. Akan tetapi, i
langi air sampai ke anggota wudhu. De-
ngan kata lain, tidak terdapat suatu peng- syarat mumayyiz merupakan syarat sah wu- I
halang yang menghalangi air sampai ke dhu dan syarat sah bagi ibadah yang lain me- I
kulit seperti lemak, minya[ dan termasuk nurut kesepakatan seluruh ulama.
juga kotoran mata, dawat cina yang liat I
dan cat kuku bagi perempuan. Namun, Ulama madzhab Syafi'i mengatakan bah- I
wa syaratwudhu dan mandi ada tiga belas yaitu jI
minyak biasa dan sejenisnya tidaklah beragama Islam, muma54/iz, suci dari haid dan
nifas, bersih dari apa saia yang menghalangi l
menghalangi air sampai ke kulit.
3. Tidak terdapat perkara-perkara yang me- air sampai ke kulit, mengetahui hukum far- i
dhu, tidak menganggap salah satu rukun se-
nafikan wudhu atau berhentinya perkara- bagai sunnah, menggunakan air yang suci,
perkara yang membatalkan wudhu. Mak- menghilangkan najis 'oin yang tedapat pada
sudnya adalah berhentinya semua hal
yang dapat menyebabkan batalnya wudhu badan dan pakaian orang yang berwudhu, pa-
da anggota wudhu tidak terdapat bahan yang
sebelum wudhu itu dimulai-selain bagi
dapat mengubah air, tidak menggantungkan
orang yang uzur seperti berhentinya da- niat, mengucurkan air ke atas anggota wudhu,
rah haid, nifas, air kencing, dan semacam- masuk waktu bagi orang yang hadatsnya ber-
nya. Begitu juga disyaratkan berhentinya terusan, dan berturut-turut (muwalah).
hadats ketika sedang melakukan wudhu.
Karena apabila seseorang keluar air ken- d. SunnahSunnah Wudhu
cing ketika sedang wudhu, maka wudhu-
nya batal dan menyebabkan wudhu tidak Ulama madzhab Hanafi membedakan an-

sah. tara perkara sunnah dan mandub. Mereka
mengatakan bahwa sunnah adalah sesuatu
Sebagai kesimpulan, wudhu yang di-
lakukan ketika hadats berlangsung atau yang sangat dianjurkan, yaitu amalan yang di-
ketika perkara yang membatalkan wudhu Iaksanakan oleh Nabi Muhammad saw. secara
wujud adalah tidak sah bagi orang yang berterusan yang hanya kadang-kadang diting-
tidak uzur. galkan oleh beliau tanpa uzur. Hukumnya ada-
4. Masuk waktu untuk tayamum menurut lah diberi pahala apabila dilakukan dan dicela
pendapat jumhur ulama selain ulama ma- apabila ditinggalkan.
dzhab Hanafi. Menurut pendapat ulama
madzhab Syafi'i, ia juga disyaratkan bagi Adapun mondub dan mustahab adalah
orang yang memiliki hadats yang berke- amalan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad
terusan seperti orang yang mengidap pe- saw. secara tidak berterusan. Di sini ia dikenal
nyakit beser (selalu kencing) disebabkan sebagai adab-adab wudhu. Hukumnya diberi-
bersuci dalam keadaan demikian diang- kan pahala apabila dilaksanakan dan tidak
gap bersuci karena uzur dan darurat. Oleh dicela apabila ditinggalkan.
sebab itu, ia terikat dengan waktu.
Sunnah-sunnah wudhu yang paling pen-
Beragama Islam merupakan syarat sah ting di kalangan ulama madzhab Hanafi ada 1B
ibadah menurut pendapat ulama selain ulama perkara. Adapun di kalangan ulama madzhab
madzhab Hanafi. Menurut ulama madzhab
Maliki ada delapan perkara dan di kalangan

ulama madzhab Syafi'i terdapat lebih kurang
30 perkara. Perbedaan ini terjadi karena me-
reka tidak membedakan antara amalan sunnah

€=".-

FIQIH ISIAM 1

'ILID

dengan amalan mandub. Di kalangan ulama manakah ia meletakkan tangannya pada
madzhab Hambali, jumlah yang dianjurkan
untuk dilakukan ketika wudhu lebih kurang waktu tidur.'$sz

20 perkara.ssl Dalam hadits yang lain disebutkan, "Se-

1. Niat adalah sunnah menurut pendapat hingga dia membasuhnya sebanyak tiga

ulama madzhab Hanafi. Waktunya adalah kali."
sebelum melakukan istinja'. Caranya ada-
lah dengan berniat untuk menghilangkan Akan tetapi menurut pendapat yang
hadats, mendirikan shalat, berniat untuk rajih, ia cukup dilakukan sekali saja, se-
berwudhu, atau mematuhi perintah. Tem- bagaimana amalan lain pada wudhu. Me-

pat niat adalah dalam hati. Para ulama lakukan sebanyak tiga kali adalah sunnah.
terkemuka mengatakan bahwa membaca
lafal niat adalah disunnahkan. Mereka Ulama madzhab Hambali mengatakan
juga berkata bahwa niat adalah fardhu bahwa membasuh sebanyak tiga kali ada-
di kalangan jumhur ulama selain ulama lah sunnah bagi orang yang bangun tidur
madzhab Hanafi, seperti yang telah dije- selain tidur malam.
laskan dalam penjelasan tentang fardhu
atau rukun-rukun wudhu di atas. 3. Membaca bismillah pada permulaan wu-

2. Membasuh kedua tangan hingga ke per- dhu, yaitu ketika membasuh kedua tangan
hingga sampai kepada dua pergelangan.
gelangan sebanyak tiga kali sebelum me- Bacaan yang diriwayatkan dari Rasul se-
masukkan kedua tangan ke dalam tempat perti yang diriwayatkan oleh ath-Thabrani

air; baik setelah seorang itu bangun dari Abu Hurairah dengan sanad yang

dari tidur ataupun tidak tidur. Hal ini hosan adalah,
karena kedua tangan merupakan alat
untuk berwudhu. Terdapat sabda Nabi ;!, ,* .1\roc\t:"Att g*At iut f*l

Muhammad saw., t)u: )'

i:r;.;;^; -j b i:*i a;g,rtiyi "Dengan menyebut namo Allah Yang
Mahaagung dan segala puji bagiNya atas
€t*l), o i,,- ,.; nikmat agama Islam."

o-l-r !.aJU u-l Menurut pendapat lain, bacaan yang af-
dhal adalah,

0/

"Apabila salah satu di antara kamu ,tt,i)tl' *
bangun dari tidur, moko hendaklah ia
mencuci tangannya sebelum ia memasuk- "Dengan menyebut nama Allah Yong
kan ke dalam tempat air. Kareno, tidak Mqha Pengasih lagi Maha Penyayang."
ada orang di antara kamu yang tahu di
Hal ini berdasarkan hadits,

551 Al-Bada'i', hlm. 18 - 23; Fathul Qadir,hlm. 13 - 23; ad-Durrul Mukhtar, filid I, hlm. 101 - tl4; Muraqi al-Falah, hlm. 13; asy-Syarhush
S/raghrr, hlm. 117 - l2L; asy-Syarhul Kabir,lilidl, hlm.96 - t04; Bidayatul Mujnhid,lilidl,hlm.S-12; al-Qawanin al'Fiqhiyyah,hlm.22;

al-Muhadzdzab, Jilid I, hlm. L5-79; Kasysyaful Qina',Jilid I, hlm. 1.18 ' t22; al-Mughnt, Jilid I, hlm.96 - 143.

Hadits riwayat al-A'immah as-Sittsh dalam kitab-kitab mereka dari Abu Hurairah {Nashbur Rayah, filid I, hlm.2).

FIq!H ISTAM JILID 1

,3!r nr lt. i{, )(q: tt Allah adalah berada di hati seorang

,y Mukmin, baik bismillah dibaca ataupun
tidakr'ss6 Takwil tersebut berdasarkan
l,'oi kepada hadits marfu'dari Ibnu Uma1,ss'
"Barangsiapa berwudhu dengan me-
dnl g")t nyebut nama Allah, maka semua badan-
nya akan menjadi suci. Dan barangsiapa
"Setiap perkara yang penting yong berwudhu tanpa menyebut nama Allah,
tidak dimulai dengan membaca bismillah,
maka hanya anggota wudhunya saja yang
maka i a ter p tttlts.'as3
menjadi sucir'ss8
Ulama madzhab Maliki menganggap
bahwa membaca bismillah merupakan Alasan lain adalah karena terdapat
salah satu kelebihan berwudhu. Ulama riwayat an-Nasa'i dan Ibnu Khuzaimah
dengan sanad yang jayyid dari Anas
madzhab Hambali juga mewajibkan
r.a., "Berwudhulah dengan nama Allah."
membacanya ketika berwudhu. Dalilnya Bacaan bismillah yang paling sempurna

ialah sabda Rasul saw., adalah dengan cara menyebutnya secara

"Tidaklah sah shalat seseorang yong Iengkap, setelah itu memuji Allah dengan
tidak berwudhu, dan tidaklah sah wudhu
mengucapkan,
seseorang yang tidak menyebut nqmq
.i,.r.-il ^a;.t t)r:)' ,v l".3Ai
Allah.'6sa
t"r-* ir].Jt );;. ,sir
Ulama madzhab Hambali berhujjah
dengan hadits-hadits ini untuk memper- Adapun alasan tidak diwajibkannya
tahankan pendapat mereka yang menga- membaca bismillah adalah karena ayat
takan, wajib membaca bismillah ketika wudhu yang menjelaskan perkara-per-
mulai berwudhu. Akan tetapi, jumhur
ulama menakwilkan maksud hadits ter- kara wajib tidak menyebutnya.
sebut, bahwa ia menafikan kesempurna-
an wudhu dan tidak menafikan sahnya 4. Berkumur dan membersihkan hidung;
berwudhu. Kedudukannya sama dengan
hadits yang menyatakan bahwa tidak berkumur adalah memasukkan air ke da-
sah shalat bagi tetangga masjid, kecuali lam mulut sambil mengocok-ngocoknya,
di masjid.sss Dan juga hadits, "Mengingat
setelah itu mengeluarkannya kembali.

Atau dengan kata lain, mengenakan air

553 Hadits ini disebut oleh Abdul Qadir ar-Rahawi dalam kitab al-Arba'in dari Abu Hurairah. Namun, ia hadits yang lemah.
554 Hadits riwayat Abu Dawud, Ibnu Malah, dan al-Hakim, dia berkata, "Hadits ini sanadnya shahih dari Abu Hurairah." (Nashbur Rayah,

filid I, hlm.3)
Hadits riwayat ad-Daruquthni dari f abir dan Abu Hurairah. Ia adalah hadits yang lemah (a/-,fami'ushShaghir,Nai/ulAutlrar,Jilid I, hlm.

136).
556 Hadits riwayat ad-Daruquthni. Ia adalah hadits yang lemah (Nashbur Rayah, filid IV hlm. L83; Nailul Author, Jilid I, hlm. 136J.
557 Ibnu Sayyid an-Nas telah menielaskan dalam kitab Syarh at:Tirmidzi bahwa hadits dalam sebagian riwayat dengan menggunakan

lafal, "Bukanlah wudhu yang sempurna." Ar-Rafi'i juga menggunakannya sebagai dalil. Ibnu Hajar berkata, "Saya tidak pernah
mendapatinya demikian." (Noilul Authar,lilid I, hlm. 136)

Hadits riwayat ad-Daruquthni dan al-Baihaqi. Di dalamnya ada perawi yang matruk dan ia dianggap sebagai hadits maudhu'. Hadits
ini diriwayatkan iuga oleh ad-Daruquthni dan al-Baihaqi dari Abu Hurairah. Dalam sanadnya terdapat dua perawi yang lemah. Ia juga
diriwayatkan oleh ad-Daruquthni dan al-Baihaqi lagi dan dalam sanadnya terdapat perawiyangmatruk (Nailul Authar,lilid I, hlm.

13s).

,tI-iE tilJ:.i.*$:

FIqLH TsIAM IILID 1

ke seluruh bagian mulut. Membersihkan berkumur dan ber-lstintsor. Setelah itu,
hidung adalah memasukkan air dan meng- dia membasuh muka sebanyak tiga kali,
hisapnya ke dalam hidung. kemudian membasuh kedua tangannya

Kedua perbuatan tersebut diikuti de- hingga sampai pada kedua siku sebanyak
ngan kesunnahan istintsar, yaitu menge-
tiga kali. Kemudian mengusap kepala dan
luarkan air dengan angin dari lubang
hidung dengan cara meletakkan dua membasuh kedua kaki hingga sampai

jari, yaitu jari teluniuk dan ibu jari pada pada kedua mata kaki sebanyak tiga kali.
hidung, seperti yang dilakukan ketika
mengeluarkan ingus. Semua perbuatan Setelah itu dia berkata, "Saya telah me-
tersebut adalah sunnah mu'akkod me- lihat Rasulullah saw. berwudhu seperti
nurut pendapat jumhur ulama selain
ulama madzhab Hambali. Hal ini karena wudhu saya tadi." Kemudian dia berkata,
terdapat sebuah hadits riwayat Muslim, "Barangsiapa berwudhu seperti wudhu
saya ini, kemudian setelah itu dia melak-
"Orang yang memulai wudhunya, kemu- sanakan shalat sebanyak dua rakaat de-
dian ia berkumur, memasukkan air ke hi- ngan sungguh-sungguh, maka Allah akan
dung dan mengeluarkannya {beristintsar), mengampunkan segala dosa yang telah
maka akan dikikis segala kesalahan dan
kotoran dalam mulut dan dalam rongga lgrrva1."sse
hidungnya bersama-sama dengan air
wudhunya itu. Baginda Rasul bersabda sebagaimana

Adapun hadits, "Berkumurlah dan ma- yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad,
sukkanlah air ke dalam hidung," merupa- Muslim, dan Ashabus Sunan al-Arbo'ah
dari Aisyah, "Terdapat sepuluh perkara
kan hadits yang dhaif. Alasan istintsar yang dianggap sebagai perkara fitrah!'
tidak diwajibkan, karena ayat yang men-
jelaskan hukum-hukum berwudhu tidak Kemudian beliau menyebutkan di antara-

menyebutkannya. nya adalah madhmadhah fberkumur) dan

Gara Rasulullah saw. Berkumur dan istinsyaq. Fitrah berarti sunnah karena
Bet- istinsyaq ketika Berwudhu mulut dan hidung merupakan dua ang-
gota batin. Oleh sebab itu, tidak diwajib-
Berkumur dan ber-istinsyoq disunnah- kan membasuh kedua anggota tersebut
kan sebanyak tiga kali, karena terdapat seperti bagian dalam janggut dan dua
mata. Alasan lain adalah karena wajah
sebuah hadits muttafaq 'alaih dari Uts-
merupakan anggota yang digunakan un-
man bin Affan r.a. yang menyatakan bah- tuk muwajahah [bertatap muka), sedang-
wa dia meminta satu ciduk aic kemudian kan hidung dan mulut bukan termasuk
dia menuangkannya ke atas kedua tela- bagian untuk muwajahah.
pak tangannya sebanyak tiga kali, setelah
Para fuqaha telah bersepakat menge-
itu membasuh kedua-duanya. Kemudian nai sunnahnya melakukan madhmadhah
[berkumur) dan istintsar secara berlebih-
dia memasukkan tangan kanan ke dalam an/keras bagi orang yang tidak berpuasa.
Hal ini karena terdapat sabda Rasul saw.
tempat air itu, dan dilanjutkan dengan dalam sebuah riwayat yang sanadnya
disahkan oleh Ibnul Qaththan, "Apabila

Nailul Authar, Jilid l, hlm. 139; hadits ini didukung oleh sebuah hadits lemah riwayat ad-Daruquthni dari lbnu Abbas secara marfu'
dengan lafal, "Madhmadhoh dan tstins/aq itu sunnah."

,=i'B::

=i'

FtqlH ISI.AM IILID 1 Baglan 1: IBADAH

kamu berwudhu, hendaklah berlebihan dan dilakukan dengan berlebihan pada
ketika bermadhmadhah (berkumur) dan keduanya, yaitu dengan cara ghargharah
dan menghisap air hingga sampai ke ba-
beristinsyaq selama kamu tidak berpuosa." tang hidung bagi orang yang tidak ber-
puasa. Orang yang berpuasa tidak boleh
Sebuah hadits yang lain riwayat Laqith melakukan hal tersebut karena dikhawa-
bin Sabrah menyebutkan, " Sempurnakan- tirkan dapat membatalkan puasanya.s62

lah wudhu, gosoklah celah-celah jari, dan Ulama madzhab Maliki juga menga-
lebihkan istinsyaq kecuali jika kamu ber- takan bahwa sunnah melakukan madh-
madhah (berkumur) dan lstinsyaq dengan
pnase,"s6o tiga kali gayungan air bagi tiap satunya.

Tidak disunnahkan berlebihan dalam Melakukan secara berlebihan dapat mem-
ber-istinsyaq bagi orang yang berpuasa,
batalkan puasa.
malah ia dihukumi makruh, karena di-
Ulama madzhab Syafi'i mengatakan
khawatirkan dapat membatalkan puasa. bahwa menurut pendapat yang ashah, tar-
tib pada kedua perbuatan tersebut (ber-
Perbuatan berlebihan dalam ber- kumur dan rstinsyaq) merupakan sesuatu

madhmadhah (berkumur) adalah dengan yang perlu, bukan sekadar perbuatan yang
memasukkan air hingga sampai ke akhir
langit-langit (ujung tenggorokan), dua sisi dianjurkan saia. Hal ini berbeda dengan
gigi dan anak lidah. Sunnah memasukkan
jari tangan kiri ke bagian-bagian tersebut. mendahulukan tangan kanan atas tangan
Berlebihan dalam ber-insfinsyaq adalah kiri.
dengan memasukkan air dan menghisap
Menurut pendapat yang azhhar seper-
napas hingga ke dalam hidung. Meng-
ti yang dikatakan oleh an-Nawawi dalam
gerakkan air ke sana kemari dalam mulut
kemudian mengeluarkannya adalah sun- kitab al- M inhaj, madhmadh ah (berkumur)

nah. dan rstinsyaq yang dilakukan secara seren-
tak adalah diutamakan daripada melaku-
Istintsar disunnahkan karena terdapat
perintah dalam sebuah hadits yang diri- kan keduanya secara sendiri-sendiri. Cara-
wayatkan lbnu Abbas dari Nabi Muham- nya adalah tiap satu dari tiga gayungan air
mad saw., "Beristintsarlah sebanyak duq hendaklah digunakan untuk madhmadhah
terlebih dahulu, kemudian digunakan juga
kali atau tiga kali dengan cara berlebih-
untuk ber-rstinqyaq. Yaitu, menggabung-
an'567
kan keduanya dengan segayung air di
Menurut ulama madzhab Hanafi,
tangan merupakan perbuatan yang lebih
madhmadhah fberkumur) dan istinsyaq afdhal daripada memisahkannya. Hal ini

adalah sunnah mu'akkad. Ia mengandung karena terdapat beberapa hadits yang
lima sunnah yang lain yaitu tartib, meng- shahih yang menjelaskan tentang hal
ulang sebanyak tiga kali, memperbarui air,
keduanya dilakukan dengan tangan kanan ini.s63

Hadits ini telah dihukumi shahih oleh at{irmidzi dan perawi lainnya. Ia diriwayatkan juga oleh Imam Hadits yang lima (al-Khamsah)

(Nailul Authar,lilid l, hlm. 1a5).
561 Hadits riwayat Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah, al-Hakim, Ibnul Jarud, dan dihukumi shahih oleh lbnul Qaththan. Hadits ini iuga

disinggung oleh al-Hafizh Ibnu Hajar dalam kitab al-Talkhish tanpa menyatakan bahwa ia lemah, begitu juga dengan pendapat al-

Mundziri (Nailul Authar,Jilid l, hlm. 146).
562 Ad-Durrul Mukhtor lilid l, hlm. 108.
563 Mughnil Muhtaj,lilid I, hlm. 58.

Baglan 1: IBADAH FIqLH ISIAM JILID 1

Menurut pendapat yang masyhur di Sebenarnya, zhahir hadits ini menun-
kalangan ulama madzhab Hambali, madh' jukkan hukum wajib dalam melakukan
madhah fberkumur) dan isfinsyaq adalah madhmadhah dan istinsyaq. Sebagian dari
wajib dalam wudhu dan mandi. Karena, ulama madzhab Syafi'i dan ulama yang
membasuh muka dalam kedua jenis tha-
horah tersebut adalah wajib. Dan mulut lain telah mengakui kelemahan dalil orang
serta hidung merupakan termasuk ang-
gota muka. Terdapat sebuah hadits yang yang berpendapat tidak wajib melakukan
diriwayatkan Aisyah yang bermaksud,
"Melakukan madhmadhah [berkumur) madhmadhah, istintsar, dan istinsyaq. Al-
dan rstinsyaq adalah bagian dari wudhu
Hafizh lbnu Hajar berkata dalam kitab
yang pasti."s64 Fathul Bari, "lbnul Mundzir menyebut
bahwa asy-Syafi'i tidak pernah berhujjah
Rasulullah saw tidak pernah mening- mengenai hukum tidak wajib ber-isfin-
galkan kedua tindakan tersebut. Hal ini syaq walaupun terdapat perintah yang
sebagaimana yang disebutkan dalam se- shahih untuk melakukannya. Yang jelas,
dia tidak mengetahui adanya perselisih-
tiap hadits yang menjelaskan tentang an pendapat tentang orang yang tidak
mengerjakan perkara tersebut, tidak wa-
wudhu Rasul. Yaitu, hadits yang diriwa- jib mengulanginya. Ini adalah dalil fiqih,
yatkan oleh Utsman yang telah disebut di masalah ini tidak diterima dari sahabat
atas, dan juga hadits yang diriwayatkan dan tabi'in mana pun kecuali hanya dari
oleh Imam Ali yang menyatakan bahwa,
"fika Rasul berwudhu, beliau ber'madh' Atha'.s67
madhah, ber-istinsyo{, dan ber-tstinfsar
dengan tangan kirinya. Beliau melakukan 5. Bersiwah hukum sunnahnya bersiwak
disepakati oleh seluruh ulama kecuali
hal itu sebanyak tiga kaliJ' Setelah itu
ulama madzhab Maliki, yang menganggap
beliau bersabda, "Inilah cara bersuci Nabi
bersiwak adalah salah satu perbuatan
Allah saw..'66s
yang baik. Saya akan membicarakan hal
Hadits lain yang diriwayatkan Abu
ini secara khusus pada pasal tertentu.
Hurairah menyatakan bahwa bahwa Nabi
6. Menyela-nyelai jenggot, jari tangan, dan
Muhammad saw. bersabda,
jari kaki, sunnah hukumnya menyela
"Apabila salah satu di antara kamu
berwudhu, maka hendoklah ia memasuk- jenggot yang tebal dengan seciduk air. Ia
kan air ke dalam hidung, kemudian hen- dilakukan dari bagian bawah jenggot.s68
Begitu juga sunnah hukumnya menyela
daklah dia beristintsar."
jari tangan dan jari kaki menurut kese-
Beliau juga telah menyuruh orang yang pakatan seluruh fuqaha. Hal ini karena

berwudhu untuk melakukan madhma' terdapat sebuah Hadits yang diriwayat-
kan Ibnu Majah dan at-Tirmidzi, dan dia
dhah (berkumur) dan istinsyaq.s66 menganggapnya sebagai Hadits shahih,

564 Hadits riwayat Abu Bakar dalam kitab asy-Syafi dengan sanadnya. Diriwayatkan iuga oleh ad-Daruquthni dalam kitab Sunan-nya.
565 Diriwayatkan oleh Ahmad dan an-Nasa'i dari Ali r.a. (Nailul Authar, Jilid I, hlm. 143)'
566 Hadits pertama m unnfaq'alaih.Hadits kedua diriwayatkan oleh ad-Daruquthni (/Vailul Authar,lilid l, hlm. 143).

567 Nailul Authar,lilid l, hlm. 141.
568 Adapun ianggut yang tipis dan iuga ianggut milik orang bikan lelaki yang tebal yang masih berada dalam paras muka, maka waiib

menyampaikan air ke bagian luar dan dalam serta ke pangkalnya dengan cara menyela-nyelainya ataupun dengan cara yang lain.

Mughnil Muhuj, filid I. hlm. 60.

FIQIH ISI.AM IITID 1

bahwa Rasul telah menyela jenggotnya. basuh sebanyak tiga kali. Akan tetapi,
Selain itu, terdapat Hadits lain yang diri' ulama madzhab Maliki menganggap hal
wayatkan Abu Dawud yang menyatakan tersebut sebagai perbuatan yang baik.
Hal ini disebabkan karena perbuatan ini
bahwa jika Rasul hendak berwudhu, terdapat dalam sunnah Rasulullah saw.
seperti dalam hadits yang diriwayatkan
maka beliau mengambil seciduk air; lalu Amru bin Syu'aib yang menielaskan bah-

mengarahkannya ke bawah dagu dan wa Rasul membasuh dua telapak tangan,
muka, dan kedua lengannya sebanyak tiga
beliau menyela jenggotnya. Setelah itu, kali.s73 Ia tidak diwajibkan, karena Rasu-
beliau bersabda, "Beginilah Tuhanku me- lullah saw. pada satu waktu berwudhu

ny uru h a ku m el a kuke n ny Q.'s 6e dengan sekali basuh saja. Lalu beliau
bersabda, "lnilah amalan yang diterima
Dan juga, disebabkan ada sebuah ha-
dits yang telah diriwayatkan oleh Laqith oleh Allah!'
Pada waktu yang lain, Rasul berwu-
bin Sabrah tentang istinsyaq, "Sempur-
dhu dengan membasuh sebanyak dua kali.
nakanlah wudhu, sela-selailah celah-celqh
Setelah itu beliau bersabda, 'Allah akan
jari dan berlebihanlah dolam istinsyaq
menggandakan pahalanya sebanyak dua
kecuali jika kamu berpuasa!'s7o Hadits ri-
kali."
wayat lbnu Abbas menYatakan bahwa Pada waktu yang lain juga, Rasul ber-

Rasulullah saw bersabda, wudhu dengan membasuh sebanyak tiga

t;:i c,,wi ; i';t L\*; '1t kali. Setelah itu beliau bersabda, "lniloh
#r )I')li- .' wudhuku dan iuga wudhu para Nabi se'

"Apabila kamu berwudhu, maka se- belumku!'s7a

lailah jari kedua tangan dan iuga iari Pendapat para ulama dan maYoritas
sahabat menyatakan bahwa tidak disun-
kedua kokimu.'67r nahkan mengulangi mengusap kepala' Hal

Begitu juga yang terdapat dalam ha- ini karena terdapat sebuah hadits yang

dits riwayat al-Mustaurid bin Syaddad, diriwayatkan Abdullah yang menjelaskan
tentang wudhu Rasulullah saw.. Hadits
"Saya melihat Rasulullah saw. jika beliau tersebut adalah, "Beliau mengusap kepala
berwudhu, beliau menyela jari kedua kaki
dengan jari kelingking:'szz dengan satu kali usap saja."s7s Sebuah

7. Membasuh sebanyak tiga kali, para fuqaha hadits lain yang diriwayatkan dari Ali r'a'

bersepakat tentang hukum sunnah mem-

s6e Lih"t dua Hadits rersebut dalam Nail ol-Authar, filid I, hlm. 148, Hadits Ibn Abbas di dalam kitab al-Bukhari, bab sifat wudhu'
Rasulullah saw., tidak waiib menyampaikan air ke bagian dalam ianggut yang tebal. Nail al-Authar, Jilid I, hlm. 147. Lihat iuga
Haditshadits yang berkaitan menyela-nyelai janggut dalam kitab Nashb ar-Rayah lilid I. hlm. 23.

s70 Hrdit.i-ryatlmamHaditsyanglima(al-Khamsah)dandihukumisahiholehatrTirmidzi.Nailal-Authar.Jilidl,hlm'145.
s71 Haditr riwayat Ahmad, Ibn Maiah dan at-Tirmidzi. Nail al-Authar. f ilid I. hlm. 153.
s72 H"dits riwayatal-Khamsah kecuali Ahmad fruiukan yang lalu): Lihat hadits-hadits mengenai menyela-nyelai iari-iari dalam Nashbur

Rayah.lilid l. hlm.27.
s73 Hrdits riwayat Abu Dawud, an-Nasa'i, dan lbnu Malah. Pada bagian akhirnya disebut, "Demikianlah wudhu. Siapa yang menambah

atau menguranginya, maka dia telah melakukan kesalahan dan zalim, atau zalim dan melakukan kesalahan." [Nashbur Rayah,lilid

I, hlm. 29J
57a Hadits riwayat ad-Daruquthni dari Zaid bin Tsabit dan Abu Hurairah, tetapi dalam sanadnya terdapat seorang perawi yang lemah,

ibid..

s7s Muttafaq'alaih.

FTQIH ISLAM IITID 1

menyatakan bahwa Rasul berwudhu dan Ali, Ibnu Umar; Abu Hurairah, Abdullah
mengusap kepala dengan satu kali usap bin Abi Aufa, ar-Rubayii dan Ubay bin

saja, kemudian dia berkata, "lni adalah Ka'ab. Mereka semua meriwayatkan bah-

wudhu Nabi Muhammad saw.. Barang- wa Rasulullah saw. telah berwudhu de-
siapa ingin mengetahui cara Rasulullah ngan mengulang (perbuatan wudhunya)
saw bersuci, maka lihatlah kepada cara
ini." At-Tirmidzi berkata hadits ini adalah sebanyak tiga kali.

hadits hasan shahih. Akan tetapi, jumhur ulama menolak
pendapat ulama madzhab Syafi'i dengan
Ini merupakan penjelasan yang dise- mengatakan bahwa tidak terdapat pen-
jelasan yang terang dalam hadits yang
but oleh Abdullah bin Abi Aufa, Ibnu menjadi hujjah mereka. Dengan ini, maka
jelaslah bahwa pendapat jumhur menjadi
Abbas, Salamah ibnul Akwa' dan ar-Ru- bukti yang lebih kuat dari sunnah yang
bayi'. Mereka semua berkata, "Rasul me-
nyapu kepala dengan satu kali usap saja." shahih.
Kisah mereka tentang perbuatan wudhu
B. Mengusap seluruh kepala; sunnah hu-
Nabi Muhammad saw. ini merupakan
kumnya mengusap seluruh kepala menu-
satu kenyataan tentang perbuatan yang
berterusan. Suatu perbuatan tidak akan rut pendapat ulama madzhab Syafi'i dan
dianjurkan secara berterusan, kecuali ia Hanafi. Hal ini berdasarkan atas hadits
menunjukkan lebih baik dan sempurna.
yang telah diriwayatkan oleh asy-Syaikhan
Disebabkan ia mengusap dalam ber-
suci, maka tidak disunnahkan melaksa- [al-Bukhari dan Muslim). Sunnah dengan
nakannya secara berulang-ulang. Hal ini sekali usap saja menurut pendapat ulama
sama ketika mengusap dalam tayamum,
madzhab Hanafi, dan dengan tiga kali
mengusap di atas balutan, dan semua jenis
usap menurut pendapat ulama madzhab
usapan yang lain.
Syafi'i. Di samping itu, pendapat ini meru-
Ulama madzhab Syafi'i mengatakan pakan solusi atas pertentangan dengan
bahwa sunnah mengulang usapan seba-
pendapat orang yang mewajibkannya.
nyak tiga kali. Hal ini karena terdapat Karena seperti yang telah saya jelaskan
terdahulu, merrgusap seluruh kepala
sebuah hadits yang diriwayatkan dari adalah wajib mengikuti kalangan ulama

Anas, "Mengulang sebanyak tiga kali adalah madzhab Maliki dan Hambali.

perbuatan yang lebih afdhall' Melaksanakan kesunnahan sewaktu

Hadits lain riwayat Syaqiq bin Sala- mengusap kepala, maksudnya adalah me-
mah menurut catatan Abu Dawud, dia
berkata, "Saya melihat Utsman bin Affan letakkan kedua tangan pada bagian depan
kepala dengan mempertemukan kedua
membasuh dua lengannya sebanyak tiga jari telunjuk, serta meletakkan kedua ibu
kali dan mengusap kepala sebanyak tiga
kali, kemudian dia berkata, 'Saya melihat jari di atas dua ujung pipit (ati-afi). Ke-
Rasulullah saw melakukan hal yang se- mudian kedua jari tersebut digerakkan ke
perti ini."'Telah diriwayatkan hadits yang arah tengkuh setelah itu dikembalikan ke
tempat semula fika dia memiliki rambut
sama seperti tersebut di atas oleh beberapa yang mudah terbalik.sT6 Akan tetapi iika
sahabat Rasulullah saw. seperti Utsman, rambutnya tidak mudah terbalik karena

s76 Begitulahriwayatal-famaahdariAbdullahbinZaid(NailutAuthar,Jilidl,hlm. 154).

ISIAM JILID 1 Baglan 1: IBADAH

pendek atau karena tiada rambut, maka mudian dia berkata, "Beginilah yang saya
tidak perlu mengembalikan kedua tangan
karena tidak ada manfaatnya. lihat Rasulullah saw. melakukannya."

Ulama madzhab Maliki berpendapat Ulama madzhab Syafi'i dan Hambali
bahwa sunnah hukumnya mengembali-
membolehkan mengusap sebagian kepala
kan usapan kepala ke arah depan kepala, saja, dan selebihnya disempurnakan de-
setelah diusapkan ke arah belakang yang ngan mengusap serban jika ia sulit untuk
membuka serban tersebut. Hal ini karena
merupakan usapan wajib. Hal ini disun-
nahkan, meskipun dia tidak mempunyai Nabi Muhammad saw. mengusap ubun-
rambut. Yaitu, dengan cara meratakan ubun di atas serban beliau, dan juga me-
usapan satu kali lagi jika masih terdapat
ngusap ke atas kedua khuf-nya.s7g
rasa basah pada tangan hasil dari usapan
yang wajib. Adapun jika tidak ada, yaitu 9. Mengusap kedua telinga pada bagian luar
jika tangannya sudah kering, maka hukum
dan bagian dalam dengan air yang baru.
sunnah tersebut menjadi gugur. Menurut pendapatjumhur ulama', sunnah
hukumnya mengusap kedua telinga pada
Dalil pendapat ulama madzhab Hanafi bagian luar dan dalam dengan air yang

adalah hadits riwayat Amru bin Syu'aib baru. Ini karena Nabi Muhammad saw.
dan hadits dari Utsman yang telah di-
sebutkan. Dalam kedua hadits tersebut, sewaktu berwudhu, mengusap kepala dan
terdapat lafal yang berbunyi, "Kemudian kedua telinga bagian luar dan dalam, Ra-
Rasul mengusap kepalanyai' tanpa me-
nyebut jumlah usapannya. Begitulah ha- sul juga memasukkan kedua iari telunjuk
dits yang diriwayatkan Abu Habbah yang pada kedua cuping telinga serta beliau
menjelaskan tentang cara wudhu AIi yang menggunakan air yang baru untuk kedua
disebut di dalamnya, "Dan beliau meng-
usap kepala dengan sekali usap."s77 Dalil perbuatan tersebut.
bagi pendapat ulama madzhab Syafi'i
adalah hadits yang diriwayatkan oleh Diriwayatkan dari Abdullah bin Zaid,
Utsman yang telah disebutkan. Ia berda- bahwa dia telah melihat Rasulullah saw
sarkan riwayat Abu Dawud dengan sanad berwudhu. Lalu Rasul mengambil air lain
yang hasan bahwa dia telah berwudhu, untuk kedua telinga, yaitu mengambil
lalu dia mengusap kepala sebanyak tiga air selain air yang telah digunakan un-
kali. Setelah itu dia berkata, "Saya melihat tuk mengusap kepala.sTe Begitu juga Ibnu
Rasulullah saw. berwudhu dengan cara Umar. fika dia berwudhu, dia mengambil
seperti itu." Begitu juga hadits Ali menu-
rut catatan al-Baihaqi, dia berwudhu lalu air dengan kedua jari untuk kedua te-
mengusap kepala sebanyak tiga kali. Ke-
linganya.sso

Ulama madzhab Hambali mengatakan

bahwa wajib mengusap dua telinga, ka-
rena kedua-duanya masuk dalam anggo-
ta kepala. Terdapat sebuah hadits yang

menyebutkan, "Dua telinga adalah sebagi-

an dari kepala."s81 Selain itu, Nabi telah

s77 Hrdis .ir"y"t at-Tirmidzi dan beliau telah menetapkan keshahihannya (ruiukan yang lalu, hlm. 158).
578 Hadis riwayat Muslim dan at-Tirmidzi. Dia menghukumi hadits ini shahih dari al-Mughirah bin Syu'bah (rujukan yang sama, hlm.

164).
579 Hadits riwayat al-Hakim dan al-Baihaqi; dan al-Baihaqi berkata, sanadnya adalah shahih (Nashbur Rayah, Jilid I, hlm. 22).

580 Hadits riwayat Imam Malik dalam kitab al-Muwaththa'(ruiukan yang sama).
581 Hadits riwayat Ibnu Majah melalui beberapa sanad. Tetapi, di dalamnya ada seorang perawi ying diperselisihkan (Nailul Authar,

filid I, hlrn 160). lr

i,, ...-ir'.r.ir.., -!.j -' .#:"5i..%*-.,,,,*i.,.,3#-.,...€-:**,.s.,l*&.*-ffi

&u,

..*#-i*;,.

mengusap kedua telinga bersama-sama FIQIH IST"AM IILID 1
kepala beliau, seperti yang ditetapkan da-
lam beberapa hadits.582 Pada pandangan memakai sepatu, menyisir rambut, dan
penulis, pendapat yang raiih adalah pen- ketika bersuci. Begitu juga dalam semua
dapat yang mengatakan bahwa sunnah
mengusap kedua telinga karena hadits urusannya."sBa
yang menyatakan bahwa kedua telinga
termasuk sebagian dari kepala tidak ada. Ini adalah bukti yang menunjukkan
Dan iika hadits tersebut ada, maka ia ada-
lah sebuah hadits yang lemah, sehingga pensyariatan atau hukum sunnah ketika
Ibnush Shalah berkata, "Kelemahannya memakai sepatu, menyisir rambut, dan
adalah banyak, sehingga tidak dapat di- bersuci. Oleh sebab itu, seseorang dianjur-
tutup dengan banyaknya jumlah sanad- kan memulakan membasuh tangan kanan
nya." Asy-Syaukani berkata, "Hadits yang sebelum membasuh tangan kiri, mencu-
lain tidak dapat digunakan sebagai dalil. rahkan air pada bagian kanan badan se-
Apa yang diyakini adalah hukum sunnah. belum mengucurkan air pada bagian kiri
Ia tidak akan menjadi wajib kecuali jika
terdapat dalil yang dapat menetapkan- badan ketika mandi. Hal ini karena me-
nya. fika tidak terdapat dalil, maka ia me-
rupakan rekaan terhadap hukum Allah, mulakan dengan anggota kanan adalah
sedangkan Dia tidak pernah berkata be- sunnah dalam semua perkara.

Bitu."ssE Amalan ini didukung oleh sebuah ha-

Mengusap kedua telinga disunnahkan dits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah,
bahwa Nabi Muhammad saw. bersabda,
sebanyak tiga kali. Hal ini menurut pen-
dapat ulama madzhab Syafi'i. Adapun "Apobila kau memakoi Pakaian dan
menurut pendapat jumhur ulama, ia di-
berwudhu, maka mulqilah dengan anggota
sunnahkan satu kali.
kanonmu.'aqs
10. Memulakan dengan anggota yang sebelah
kanan ketika membasuh kedua tangan Ulama madzhab Hanafi dan Syafi'i juga

dan juga kedua kaki. Ulama madzhab menambah kesunnahan yang lain pada
Maliki menganggap hal ini sebagai per-
sunnah ini, yaitu memulakan dengan ujung
buatan yang baik saia. Dalil yang menun- jari dan bagian depan kepala' Begitu juga
ulama madzhab Syafi'i menambah satu
jukkan hal tersebut sebagai perbuatan
sunnah lagi, yaitu memulakan dengan
sunnah adalah hadits riwayat Aisyah,
bagian atas muka. Ulama madzhab Maliki
"Rasulullah saw. sangat gemar untuk mengatakan, sunnah memulakan Pada
bagian depan setiap anggota, baik mem-
memulai dengan anggota kanan ketika basuh ataupun mengusaP, Yaitu Pada
muka, kedua tangan, kepala, dan kedua
kaki.

11. Tartib, berturut-turut, dan menggosok

anggota bagi mereka yang berpendapat

Di antaranya adalah hadits lbnu Abbas yang diriwayatkan oleh Ahmad dan Abu Dawud; hadits Ibnu Abbas yang diriwayatkan oleh
at-Tirmidzi, an-Nasa'1, dan hadits ar-Rubayi' binti Mu'awwidz yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan atTirmidzi. Mereka berdua
berkata bahwa hadits ini adalah hadits yang baik Lihat Nailul Authar, Jilid I, hlm. 160 - 162.

583 Nailul Authar,lilid I, hlm. 161.
584 Muttafaq.atarh dan hadits ini dihukumi sebagai hadits shahih oleh lbnu Hibban dan lbnu Mindah (NailulAuthar,lilid l, hlm. 170).
585 Riwa'at Imam Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Maiah, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, dan al-Baihaqi. Ibnu Daqiq al-Aid berkata, "Hadits ini

adalah hadits shahih." (/VailulAutftor, Jilid I, hlm. 170)

IsrAM lrLrD I Baglan 1: IBADAH

tidak difardhukan. Hal ini seperti yang memudahkan doa diterima. Ulama madz-
telah kita jelaskan dalam pembicaraan
hab Hambali dan Syafi'i menganggap
tentang rukun wudhu, sebagai perbuatan yang disunnahkan.

e. Adab dan Fadhilah Wudhu Sebabnya adalah, karena mereka tidak

Ulama madzhab Hanafi menyebut perka- membedakan antara sunnah dan adab.
ra-perkara tersebut sebagai adab berwudhu.
Ia merupakan perbuatan yang pernah diamal- 2. Duduk di suatu tempat yang tinggi dengan
kan oleh Nabi Muhammad saw sebanyak satu
tujuan mengelakkan air bekas basuhan
atau dua kali, dan Rasul tidak selalu meng-
memercik kembali. Ulama madzhab Ma-
amalkannya. Hukumnya adalah mendapatkan
pahala bagi orang yang melakukan, dan tidak liki mengatakan bahwa sunnah meng-
dicela karena tidak mengerjakan. Adab wudhu
tersebut menurut pandangan ulama Hanafi ambil wudhu di tempat yang benar-be-
terdiri atas empat belas adab. nar bersih. Karena, ia merupakan suatu
bagian dari amalan bersuci. Oleh sebab
Ulama madzhab Maliki menyebutnya se- itu, makruh berwudhu dalam toilet atau
bagai fadhilah berwudhu, yaitu sifat dan per- dalam kamar mandi, meskipun masih
buatan yang dianjurkan. Menurut pandangan
mereka, jumlahnya mencapai sepuluh perkara. baru dan belum digunakan.ss6 Begitu juga
Perbedaan antara fadhilah dengan sunnah makruh berwudhu di tempat-tempat lain
adalah, sunnah artinya segala sesuatu yang
diperintahkan oleh syara' dengan sungguh- yang ada najisnya.
sungguh dan memiliki nilai yang tinggi. Ada-
pun mandub atau perkara yang dianjurkan 3. Tidak berbicara dengan orang lain, kecuali
adalah, segala sesuatu yang diperintahkan
oleh syara' untuk kita laksanakan mengikuti dalam keadaan darurat. Karena, keadaan
satu tuntutan yang tidak berat dan perintah-
nya juga ringan. Setiap orang yang melak- ini dapat melalaikan orang dari meng-

sanakan salah satu di antara dua perkara ingat doa yangma'tsur.

tersebut akan mendapatkan pahala, dan jika 4. Tidak minta bantuan kepada orang lain
ditinggalkan tidak terkena pembalasan [sik- kecuali karena ada uzutl seper-ti minta
sa). Di antara adab-adab wudhu yang terpen- bantuan untuk menyiramkan air ke ang-
ting adalah seperti berikut. gota wudhu ataupun untuk tujuan lain.s87
Hal ini karena tindakan-tindakan seperti
t. Menghadap qiblat, karena ia adalah arah
itu kebanyakannya dilakukan sendiri
yang paling mulia. Perbuatan menghadap
oleh Rasulullah saw.s88 Selain itu, ia di-
qiblat merupakan satu keadaan untuk
anggap sebagai kesombongan diri. Hal

seperti itu tidak sesuai bagi seorang yang
hendak beribadah, sedangkan pahala di-
berikan sesuai dengan kadar kepayahan
yang dilakukan dan hal ini juga berten-
tangan dengan sesuatu yang Iebih diuta-
makan. Menurut pendapat yang lemah, ia
adalah makruh. Akan tetapi jika meminta

Karena kamar mandi merupakan tempat tinggal setan, meskipun belum digunakan. Perasaan waswas biasa muncul dalam kamar
mandi, meskipun sebenarnya tidak ada naiis dari percikan air. Singkatnya, berwudhu di tempat yang naiis adalah makruh, supaya

tidak ada percikan najis yang mengenai orang yang sedang berwudhu.
587 Minta tolong orang lain untuk mengambilkan air adalah tidak mengapa, tetapi lebih baik tindakan itu tidak dilakukan. Meminta tolong

membasuh anggota wudhu adalah makruh (Mughnil Muhtaj, f ilid l, hlm. 61J.
5BB Diriwayatkan oleh Ibnu Maiah dari hadits Ibnu Abbas, dia berkata, "Nabi Muhammad saw. tidak mewakitkan kepada siapa pun untuk

bersuci. Beliau luga tidak mewakilkan kepada siapa pun untuk memberi sedekah. Beliau melakukan perbuatan itu oleh dan untuk
dirinya sendiri." Hadits ini dhaif.

Bagan 1: IBADAH Frq[H ISIAM ftuD

pertolongan tersebut disebabkan karena 6. Melakukan madhmadhah fberkumur) dan
uzur seperti sakit, maka tidaklah menga- istinsyaq dengan menggunakan tangan
kanan, karena kemuliaan perbuatan ter-
pa.
sebut dan membuang ingus dengan tangan
Nabi Muhammad saw. telah membe-
narkan hal tersebut berdasarkan hadits kiri karena kedudukannya yang hina.
yang diriwayatkan al-Mughirah bin Syu'- 7. Berwudhu sebelum masuk waktu shalat

bah, bahwa dia pernah bersama Rasulullah untuk segera melakukan ketaatan bagi
saw. dalam suatu perjalanan. Rasul pergi orang yang tidak ada uzur. Orang yang
uzur dan orang yang bertayamum tidak
buang air dan Mughirah menuangkan air
untuk Rasul ketika Rasul berwudhu. Lalu disunnahkan bersegera melakukan tha-
Rasul membasuh muka dan dua tangan, harah, menurut pendapat ulama madzhab
mengusap kepala, dan dua khuf-nya!'sBe Hanafi. Menurut pendapat jumhur; wajib

Shafwan bin Asal berkata, "Saya telah mengakhirkan bersuci hingga masuk

menuangkan air kepada Nabi saw. untuk waktu.
berwudhu, baik dalam masa bepergian
ataupun bermukim."seo Kedua hadits ter- B. Memasukkan jari kelingking yang basah
sebut menunjukkan bahwa boleh men- ke dalam lubang telinga sebagai amalan
yang berlebihan (mubalaghah/untuk
dapatkan pertolongan dari orang lain. hati-hati) dalam membersihkan.

Kedua hadits tersebut menjadi pegangan 9. Mengusap leher dengan dua tangan, ti-
dak termasuk tenggorokan. Ini menurut
ulama madzhab Hambali, hingga mereka
mengatakan boleh (meminta pertolongan). pendapat ulama madzhab Hanafi.se2-

5. Menggerakkan cincin yang longgar supa- Karena, terdapat sebuah hadits yang di-

ya basuhan itu semakin meyakinkan [se- riwayatkan dari Laits, dari Thalhah bin
bagai langkah mubalaghah). Diriwayat- Musyarrif, dari bapaknya, dari kakeknya,
kan dari Abu Rafi', bahwa Rasulullah saw' bahwa dia pernah melihat Rasulullah
sering menggerakkan cincinnya apabila
beliau berwudhu.sel Begitu juga sunnah saw. mengusap kepala hingga sampai ke
menggerakkan cincin yang ketat, jika di- al-Qadhal [bagian menonjol di atas pung-
pastikan air dapat sampai ke bawah cin- gung di bawah leher belakang) dan sete-
cin tersebut. fika tidak dapat dipastikan,
rusnya hingga ke bagian depan leher.se3
maka wajib hukumnya menggerakkan
cincin tersebut. Kita telah menjelaskan fumhur fuqaha mengatakan bahwa
hal ini pada bagian sebelum ini. Menurut tidak sunnah mengusap leher. Malah ia

ulama madzhab Maliki, tidak wajib adalah makruh, karena amalan tersebut
dianggap sebagai amalan yang berlebihan
menggerakkan cincin yang ketat yang
dalam masalah agama.
boleh dipakai oleh seseorang.
10. Melanjutkan sampai ke ghurrah dan tah-

iil: melanjutkan sampai ke ghurrah ada-

589 Muttafaq'alaih (Nailul Authar,lilid I, hlm. 175).
590 Riwayat Ibnu Maiah dan juga diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dalam Tarikh al'Kabir. Ibnu Haiar mengatakan bahwa dalam

sanadnya ada perawi yang dhaif (Nailul Authar, f ilid l, hlm. 175).
591 Diriwayatkan oleh Ibnu Maiah dan ad-Daruquthni. Hadits ini dhaif {Nailul Authar,Jilid I, hlm. 153).
592 Inilah pendapat yangrajih lagi shahih dan dianggap oleh pengarang Muraqi al-Fatah dan al-Bahrur -Ra'iq sebagai sunnah-sunnah

wudhu. Lihat a d-Durrul Mukhtar; Jilid I, hlm. 115.
Riwayat Imam Ahmad. Hadits lni da'if (Nailul Author, Jilid I, hlm' 163).

FIqLH ISTAM IILID 1

lah dengan membasuh bagian luar muka basuhan anggota-anggota wudhu selain
yang wajib dibasuh dari semua sudutnya. bagian yang difardhukan, malahan ia di-
Tujuannya adalah untuk membasuh leher makruhkan karena ia dianggap sebagai
amalan yang berlebihan dalam masalah
bersama dengan bagian depan kepala. agama. Akan tetapi, disunnahkan untuk

Adapun melanjutkan sampai ke tahjil mengekalkan thaharah dan juga memper-
adalah dengan membasuh bagian yang baruinya. Tindakan demikian dinamakan
lebih dari kadar yang wajib, pada waktu
membasuh kedua tangan dan kedua kaki juga sebagai "melanjutkan ghurrahi' se-
dari semua sudutnya. Tujuannya adalah perti yang telah ditunjukkan oleh hadits
untuk meratakan basuhan pada anggota
yang telah disebutkan.
lengan dan pada kedua betis,
Mereka menegaskan bahwa perbuatan
Amalan ini disunnahkan menurut melanjutkan tersebut berarti berterusan

pendapat jumhur ulama, karena terdapat dan ghurrah pula berarti wudhu. Ring-
sebuah hadits dalam ash-Shahihain yang kasnya, melanjutkan sampai ke ghurrah
artinya, "Sesungguhnya umatku akan di- mempunyai dua makna, yaitu melebihi
panggil pada Hari Akhir nanti dalam ke- tempat membasuh dan mengekalkan (se-
adaan bersih muka, kedua tangan, dan lalu menjaga) wudhu. Perbuatan yang
kedua kakinya, karena pengaruh wudhu-
nya. Oleh sebab itu, barangsiapa di qntara pertama dimakruhkan, sementara makna
kamu mampu melanjutkan hingga ke yang kedua adalah dianjurkan. Ini adalah
g hurrahnya, maka lakukanl a h." menurut pendapat mereka.

Dan hadits riwayat Muslim, 11. Tidak mengeringkan air wudhu dengan

';iwtiL.t yqt i'; :) );rat $t $i usapan tangan atau handuk atau dengan
itktl-Y.-J ,i,*lr
yang lain. Ini menurut pendapat ulama
ti c'.
madzhab Hanafi dan Hambali. Pendapat
d::.->ri j ini juga merupakan pendapat yang ashah
di kalangan ulama madzhab Syafi'i. Tuju-
"Kamtt adalah orang yang bersih muka, annya adalah untuk mengekalkan bekas
kedua tangan, dan kedua kaki pada hari ibadah. Dalam satu riwayat diceritakan
kiamat karena wudhu yang sempurna. bahwa ketika Rasul saw. selesai mandi
Maka barangsiapa di antara kamu yang junub kemudian Maimunah memberinya
mampu melanjutkan membasuh ghurrah
dan tahj ilny a (maka lakukanlah).'6ea sapu tangan, namun Rasul menolaksambil

Ulama madzhab Maliki berpendapat bersabda berkaitan air (mandi tersebut),
bahwa tidak disunnahkan melanjutkan " Beginilahi' sambil dikibaskannya.t"
sampai ke ghurrah, yaitu melebihi dari
Ulama madzhab Maliki mengatakan
bahwa mengelap air dengan sapu tangan

adalah dibolehkan, karena terdapat hadits

yang diriwayatkan Qais bin Sa'ad, dia

berkata,

594 Nailul Authar,Jilid I, hlm. 152.
595 Diriwayatkan oleh asy-Syaikhan. Ulama Syaf i mengatakan bahwa ini tidak bisa dijadikan dalil bagi sunnahnya memercikkan air ke

anggota wudhu, karena mungkin perbuatan Rasul itu menunjukkan bahwa perkara itu hukumnya hanyalah boleh saia (Mughnil

Muhnj, Jilid l,hlm. 61).

Eagan 1: IBADAH FIqLH ISIAM IITID 1

"Kami telah diziarahi oleh Rasulullah L4. Meletakkan wadah yang terbuka seperti
saw di rumah kami. Lalu Sa'ad menyuruh wadah air di sebelah kanan orang yang
seseorang agar memberikan kepada Ra-
sulullah. Lalu diberikanlah air itu kepada bersuci, karena posisi seperti itu meru-
Rasul, dan kemudian beliaumandi. Ke- pakan posisi yang lebih mudah untuk
mudian diberikan kepada Rasul sehelai
mencapai wadah tersebut.
kain selimut yang dicelup dengan za'-
faran atau waras, lalu Rasul berselimut 15. Membaca dua kalimat syahadat serta ber-
doa setelah berwudhu. Ulama madzhab
dengannya."se6
Hambali berpendapat bahwa hal tersebut
Menurut pendapat ulama madzhab
Hambali, boleh bagi orang yang bersuci sama seperti yang dilakukan setelah
untuk mengeringkan anggotanya,seT tetapi
membiarkannya merupakan perbuatan mandi.

yang lebih afdhal. Ini adalah pendapat Bacaan itu adalah,

yangrajih. o .a , oi t-oi

12. Tidak mengibaskan air lyang ada pada ?rr Y! .J! ol r-6.11
anggota wudhu). Pendapat ini menurut I );r-1rl. s
pendapat yang ashah di kalangan ulama
gt t;'.,'r;r; \'r;J i'i '#,it {:
madzhab Syafi'i dan juga Hambali. Se-
bagian ulama madzhab Hambali menga- i;!A\,1 :#ti *:t 4t,1 :#t
takan bahwa tindakan itu adalah makruh. .
Adapun menurut ulama madzhab Syafi'i, oi rt.+o.i:l
ia bertentangan dengan amalan yang le- )a;al..1 tOl
bih diutamakan. Hal ini karena terdapat gr;,;j *t:r
hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hu-
rairah, 'Apabila kamu berwudhu, maka i:;1t *rf't :rjbi;f vf
janganlah kamu kibaskan air wudhu yang
terdapat pada tanganmu. Karena, ia me- "Aku bersaisi bahwa tioi, nno,yorg

rupakan kipas setan."ses patut disembah melainkan Allah, Tuhan

Tetapi menurut pendapat yang azhhar Yang Esa, tiada sekutu bagi-Nya. Dan aku

di kalangan ulama madzhab Hambali, ia bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah
tidak makruh. Pendapat ini merupakan
hamba dan Rasul-Nya. Ya Allah, iadikanlah
pendapat yang sesuai dengan pendapat aku dari kalangan orang yang bertobal
tiga imam madzhab yang lain. dan jadikanlah aku dari kalangan orang
13. Menghemat penggunaan air pada semua
yang suci. Mahasuci Engkau, dan segala
anggota wudhu. Hal ini karena pembo-
rosan dalam menggunakan air adalah puji hanya bagi Engkau. Aku bersaksi bah-

makruh. wa tiada tuhan melainkan Engkou. Aku

memohon ampun kepada Engkau dan aku

bertobat kepada Engkau."

Sunnah membaca shalawat dan salam

kepada Nabi Muhammad saw. setelah

berwudhu, yaitu mengucapkan kata yang

bermaksud,

596 Diriwayatkan oleh Ahmad, lbnu Majah, Abu Dawud, dan an-Nasa'i (/vailulAuthaa lilid I, hlm. 175J.

597 lni karena ada riwayat Ibnu Maiah dan ath-Thabrani dalam al- Mu'iamush Shaghir dari Salman, dia berkata, "Nabi Muhammad saw.

berwudhu, kemudian beliau mengusap mukanya dengan jubah yang dipakainya." .

kRiwayat al-Mu'amari dan lain'lain melalui al'Buhturi hin Ubaid yang dianggap motru

FIqLH ISLAM IILID 1

e*',y#1u/t ,vJ\l q J^a>z,.,. "Mohasuci Engkau ya Allah, dan se-

4/1 gala puji hanya bagi Engkau. Aku bersaksi
bahwa tiada tuhan melainkan Engkau. Aku
"Ya Alloh, berilah shalawat dan sa- memohon ampunan Engkau dan aku ber-
tobat kepada Engkau."
lam-Mu kepada Nabi Muhammad saw. dan
keluarga beliau."

fuga, disunnahkan mengucapkan dua Dia menambah lagi,

kalimat syahadat berdasarkan hadits d o9;,:tt e.t;t u ;i;ir ,:{irr
riwayat Muslim, Abu Dawud, dan Ibnu
t n''t1o
Majah dari Umar secara morfu',
;,. XLAI
iieva;fiq €Lu
t. t "Ya Allah,jadikanlah aku dari *rtrng-
oi t-oi t on orong yang bertobat dan jadikanlah
;: aku dari kalangan orang yong bersuci."
J'i-ri
V';i i*JA.1 jr Hadits ini juga diriwayatkan oleh

.J1 Ahmad dan Abu Dawud.
An-Nasa'i dan al-Hakim telah meriwa-
otid*FYt1 l' c.
oJ>3 yatkan dari Abu Sa'id al-Khudri, "Siapa
yang berwudhu dan membaca,
4otai.t:-lt ,Ual qt;ifr t/4-rt.-zt
^1 ) if $1 a"^"-,,'t'nat rtG:;
t..-"g7l o t.ro.
Jr+,.' ,*t *r|t l;r;*i;i vf
J,/
ct-, niscaya ,t rn dituti, lbr.rrnnya itu) di

"Tidakada seor(tng punai rntoio kamu atas kertas, kemudian akan dicap dengan
yang berwudhu, lalu ia menyempurnakan- (cincin) dan ia tidak akan hancur hingga
nya, kemudian ia membecq'Aku bersaksi ke hari Akhirat."
bahwa tiada tuhan yong patut disembah
seloin Allah dan aku bersaksi bqhwa Nabi Maksudnya, ia tidak akan terhapus.
Muhammad saw. adalah utusan Alloh,'
melainkan niscaya akan terbuka pintu- As-Samiri berkata, "dengan membaca aI-
pintu surga yang berjumlah delapan yang Qadr sebanyak tiga kali."
dopat ia masuki dari mana saja ia mau."
Adapun doa ketika membasuh setiap
At-Tirmidzi dalam riwayatnya telah anggota wudhu, pada dasarnya tidak ter-
dapat dalam kitab-kitab hadits. Hal ini
menambahkan, seperti yang dikatakan oleh an-Nawawi.
Akan tetapi, ulama madzhab Hanafisee dan
;ir v oi 't*ti at;;.', ,+t rtt;i

dlt! *r'i. o'*i;i vr

599 Bacaan ketika membasuh tangan, "Ya Allah, peliharalah tanganku dari segala maksiat." Ketika berkumur membaca, "Ya Allah,
tolonglah aku membaca Al-Qur'an, mengingati-Mu, bersyukun dan beribadah kepada-Mu." Ketika memasukkan air ke hidung berkata,
"Dengan nama Allah, ya Allah embuskanlah bau surga kepada diriku, dan jauhkanlah diriku dari bau neraka." Ketika membasuh
muka, hendaklah berkata, "Ya Allah, putihkanlah waiahku pada hari waiah-waiah kelihatan putih dan hitam." Ketika membasuh
tangan kanan hendaklah berkat4 "Ya Allah, berilah kitab di tangan kananku dan hisablah daku dengan mudah." Ketika menbasuh
tangan kiri, hendaklah berkata, "Ya Allah, janganlah beri kitab di tangan kiriku atau di sebelah belakangku." Ketika mengusap

Baglan 1: IBADAH FIQIH ISLAM JITID 1

Maliki600 mengatakan bahwa doa tersebut gorokan), duduk di tempat yang tinggi,
disunnahkan, sedangkan sebagian yang menghadap kiblat, tidak meminta per-
lain dari ulama madzhab Syafi'i menga-
takan bahwa doa tersebut adalah mubah. tolongan orang lain, tidak berbicara de-
ngan percakapan biasa, mengumpulkan
Kesimpulan Kesunnahan dan Adab Wudhu
Menurut BerhElai Madzhab antara niat di hati dengan ucapan di

1. Madzhab Hanafi6ol lidah, berdoa dengan doa yang me'tsur,
membaca bismillah pada setiap anggota,
[a) Perkara yang disunnahkan dalam wudhu
berjumlah tujuh belas, yaitu membasuh memasukkan jari kelingking ke dalam
kedua tangan hingga ke pergelangan,
dua lubang telinga, menggerakkan cincin
membaca bismillah, bersiwak pada per- yang longgar, ber-madhmadhah fberku-
mulaan wudhu, ber-madhmadhah (ber-
kumur) sebanyak tiga kali meskipun de- mur) serta ber-istinsyaq dengan tangan
kanan dan membuang air dengan tangan
ngan seciduk air; ber-rstinsyaq dengan
kiri, berwudhu sebelum masukwaktu bagi
tiga ciduk air, melebihkan (mubalaghah)
yang tidak uzun membaca dua kalimat
dalam menjalankan madhmadhah dan syahadat setelah berwudhu, minum sisa
istinsyaq bagi yang tidak berpuasa, me- air wudhu sambil berdiri dan membaca,
nyela jenggot yang tebal dengan se-
t r#ti 4tlt q;1;.t #)i
ciduk air dan dilakukan dari bagian
aliAt
bawah, menyela jari-jari, melakukan tiga 'aaat"t
kali basuhan, mengusap seluruh kepala
dengan sekali usap, mengusap dua telinga Di antara adab berwudhu

meskipun dengan air yang digunakan membaca surah al-Qadr60z serta shalat dua
rakaat di luar waktu yang dimakruhkan.603
membasuh kepala, menggosok anggota
yang dibasuh, berturut-turut, niat, tartib Salah satu adab berwudhu juga adalah
seperti yang disebut oleh Allah dalam menggosok kedua khul kedua mata kaki,
kedua urat belakang mata kaki, dan kedua
Kitab-Nya, dan memulai dari anggota lekuk telapak kaki.
sebelah kanan, ujung jari, dan bagian
2. Madzhab Maliki6oa
depan kepala.
[a) Perkara yang disunnahkan dalam wudhu
[b) Adab wudhu berjumlah lima belas, yaitu
berjumlah delapan, yaitu membasuh dua
mengusap leher [bukan termasuk teng-

kepala hendaklah berkata, "Ya Allah, haramkanlah rambut dan kulitku dari api neraka." Ketika mengusap dua telinga hendaklah ber-
kata, "Ya Allah, jadikanlah aku termasuk golongan orang yang mendengar percakapan dan mengikuti yang terbaik darinya." Ketika

membasuh kaki hendaklah berkata, "Ya Allah, tetapkanlah kakiku di sirafh pada hari kebanyakan kaki tergelincir." Sebagian ulama

Syafi'i membolehkan doa-doa ini.

Mereka mengatakan bahwa bercakap-cakap ketika berwudhu selain dzikir kepada Allah adalah makruh. Diriwayatkan bahwa
Nabi Muhammad saw. berdoa ketika berwudhu, "Ya Allah ampunilah dosaku, luaskanlah rumahku, berkatilah rezekiku, anugerahi-
lah kepuasan pada diriku dengan rezeki itu, dan iangan sampai aku tergoda dengan harta yang terlepas dariku." Hadits ini riwayat
at-Tirmidzi dari Abu Hurairah (asy-Syarhush Shaghir, lilid l, hlm. 127).
601 M u raq i al-Falah, hlm. 10- 1 3; a d - D u rru I M u kh tan Jilid l, hlm. 9 5 - 122.
602 Ada hadits yang menceritakan masalah ini, tetapi Ibnu Haiar mengatakan bahwa tidak ada keterangan yang dapat dipertanggung-
lawabkan dari Nabi Muhammad saw. baik perkataan atau perbuatan.
Ada hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Abu Dawud, dan iuga yang lain-lain, "Setiap orang yang berwudhu dengan sem-
purna dan shalat dua rakaat dengan hati dan tujuan yang fokus kepada shalat itu, maka wajiblah dia mendapat surga."

Asy-Syarhush Shaglrra lilid I, hlrn.LLT - L24; asy-Syarhul Kabia filid I, hlm. 96-106.

FIQIH ISIAM JILID 1

tangan hingga ke pergelangan tangan se- telahnya. Hal tersebut dilakukan jika jarak
waktunya tidak lama. fika jarak waktunya
banyak satu kali sebelum memasukkan Iama, maka semua rukun dianggap batal
tangan ke dalam tempat air, ber-madh-
madhah (berkumur) dan ber-istinsyaq karena tidak ada muwalah [berturut-
dengan tiga ciduk air bagi setiap satunya,
dan melebihkan (mubalaghah) dalam turut).
melaksanakan kedua perkara tersebut
bagi orang yang tidak berpuasa. Ketiga [b) Fadhilah [keutamaan) wudhu berjumlah
jenis kesunnahan ini diwajibkan dengan
adanya niat, yaitu berniat melakukan sepuluh. Fadhilah adalah beberapa sifat
sunnah wudhu atau ketika membasuh dan perbuatan yang diberikan pahala jika
dilakukan dan tidak dikenakan siksa ka-
dua tangan dengan berniat melaksanakan rena meninggalkannya. Di antaranya ada-
wudhu. Di antara kesunnahan wudhu juga Iah berwudhu pada tempat yang benar-
adalah istintsan yaitu mengembuskan air benar suci, menghadap kiblat, membaca
bismillah, yaitu membacanya ketika mem-
dari hidung, mengusap dua telinga, pada basuh kedua tangan hingga ke pergelang-
bagian luar dan dalam dengan satu kali
an tangan, berhemat dalam menggunakan
usap, membagi air bagi kedua-duanya, air waktu berwudhu,60s mendahulukan ta-
ngan atau kaki yang kanan daripada yang
mengembalikan usapan kepala ke depan
jika tangan masih basah dari air usapan kiri, meletakkan wadah air yang terbuka
kepala yang wajib, mentartibkan semua seperti gayung dan yang lain di sebelah
rukun wudhu yang berjumlah empat de- tangan kanan, memulakan membasuh
ngan mendahulukan membasuh muka
atau mengusap pada bagian depan, mem-
dari membasuh kedua tangan dan me-
basuh kedua dan ketiga kali dalam per-
nyapu kepala, membasuh kedua kaki. Hal
buatan-perbuatan sunnah dan rukun
ini karena jika mendahulukan satu rukun
dari tempat yang asal, maka wajib meng- sehingga sampai pada kaki, melakukan
ulang sekali saja tanpa mengulang rukun- kesunnahan dengan tartib dan bersama
rukun-rukunnya, serta bersiwak meski-
rukun yang lain yang terdapat setelahnya. pun dengan jari.

Menurut pendapat yang mu'tamad 3. Madzhab Syafi'i606
yang menyatakan tidak perlu melaksana-
Perkara yang disunnahkan dalam berwu-
kan kesunnahan, maka sunnah cukup di- dhu menurut pendapat madzhab Syafi'i ber-
ulang tanpa kesunnahan lain setelahnya, jumlah lebih kurang tiga puluh perkara, yaitu
baik waktunya sudah lama ataupun be- bersiwak secara melintang dengan menggu-
lum. Akan tetapi barangsiapa meninggal-
kan salah satu fardhu wudhu ataupun nakan barang yang kesat selain jari menurut
fardhu mandi selain niat atau meninggal-
kan satu bagian yang tidak terkena ai5, pendapat yang ashah bagi orang yang tidak
maka waiib baginya untuk melaksanakan berpuasa. Bagi orang yang berpuasa, dia tidak
disunnahkan melakukan hal tersebut setelah
dan mengulangi rukun-rukun yang se- matahari tergelinci4 membaca bismilloh yang
disertai dengan niat pada permulaan mem-

605 Tidak ada batasan tertentu untuk mengurangi penggunaan ail karena anggota wudhu berbeda ukurannya antara seseorang

dengan yang lain. dan kitab-kitab lain separti Bujarimi al-Khathib, filid I, hlm. 139
505 Mughnil Muhtaj, Jilid I, hlm. 55-62;al-Hadhramiltyah,lim.ll-13

yang menyatakan bahwa sunnah wudhu adalah sepuluh.

Baglan 1: IBADAH lsrAM IrLID 1

basuh kedua telapak tangan,607 menyebut lafal udzur dan tidak mengeringkan air wudhunya
menurut pendapat yang ashah, menggerakkan
niat berbarengan dengan niatnya, membasuh cincin,60e memulakan pada bagian atas muka
[ketika membasuh mukaJ, memulakan pada
kedua telapak tangan, Tetapi jika seseorang
tidak yakin akan kesucian kedua telapak jari-jari terlebih dahulu ketika membasuh

tangan tersebut, maka makruh memasukkan tangan dan kaki,510 menggosok anggota (yang
kedua-duanya ke dalam benda cair ataupun
dibasuh), mengusap dua lubang hidung,611
air yang sedikit sebelum membasuh kedua-
menghadap kiblat, meletakkan wadah air yang
duanya sebanyak tiga kali; ber-madhmadhah;
ber-istinsyaq, melakukan yang afdhal bagi akan dimasuki tangan di sebelah kanan jika
kedua-duanya (yaitu madhmadhah dan istin- ruangnya masih luas. fika wadah air tersebut
syaq) menurut pendapat yang azhhar seperti
yang ditegaskan oleh an-Nawawi yang ber- digunakan dengan cara mencurahkan, maka
tentangan dengan pendapat ar-Rafi'i, yaitu
menggabungkan kedua-duanya dengan tiga wadah air hendaklah diletakkan di sebelah
kiri, dan hendaklah air wudhu tidak kurang
ciduk air dimulai dengan madhmadhah meng-
gunakan seciduk air diikuti dengan istinsyaq dari satu mud (675 gram).
Tidak berbicara selama berwudhu kecuali
menggunakan air yang tersisa, melebihkan
ada keperluan, tidak mengucurkan air ke arah
(mubalaghah) dalam kedua-duanya bagi orang muka dengan kuat, tidak mengusap leher; dan
setelah itu hendaklah membaca,
yang tidak berpuasa, mengulangi sebanyak
iAAt q;#ti*:tirt C,#t.lalt
tiga kali pada setiap basuhan, usap, menyela,
Dan setelah itu disunnahkan membaca,
menggosok, dan bersiwah60s mengusap selu-
rH, Jl)rYJ eVr,y'#1
ruh kepala atau sebagiannya serta menyem-
S"t"t"n nu O,runnahkan juga membaca
purnakan usapan di atas serban, kemudian surah al-Qadr dan melakukan shalat dua

mengusap bagian luar dan dalam telinga serta rakaat.

kedua lubang telinga dengan menggunakan 4. Madzhab Hambali6l2
air yang baru. Menyela jenggot yang tebal dan
Perkara yang disunnahkan dalam berwu-
jari dua tangan dengan cara menyelisihkan
jari-jarinya (tasybik), menyela jari dua kaki dhu menurut madzhab Hambali berjumlah
dengan jari kelingking tangan yang kiri dan lebih kurang dua puluh perkara, yaitu meng-
dimulakan dari bawah telapak kaki kanan hadap kiblat, bersiwak ketika ber-madh-
hingga sampai ke kelingking kaki kiri, mu- madhah, membasuh dua telapak tangan se-

walah, memulakan dari arah kanan (baik da-

lam membasuh atau menyapu), melanjutkan

basuhan sampai ke ghutah dan tahiif tidak

mengibaskan fair wudhunya), tidak minta per-
tolongan untuk menuangkan air kecuali karena

607 Kalau bismillah terlewat pada awal wudhu meskipun disengaia, maka hendaklah orang tersebut membaca "Bismillah fi awwalihi

wo akhirihi," sama seperti ketika tertinggal membaca bismillah ketika makan dan minum.
608 fika muncul keraguan, maka hendaklah ditambah hingga muncul keyakinan. Penambahan ini wajib apabila perkara yang diragui

adalah waiib dan sunnah apabila perkara yang diragui adalah sunnah, tetapi makruh menambah lebih dari tiga kali.
609 f ika air tidak sampai ke bawah cincin kecuali dengan cara menggerakkan cincin itu, maka ia waiib melakukannya.
610 Kalau ada orang lain yang menolong mencurahkan air itu, maka hendaklah dimulai dari siku dan mata kaki.
611 Mengusap itu hendaklah dengan cara menggunakan dua jari teluniuk
672 Kasysyaful Qina', Jilid I, hlm. L78-lZ2; al-Mughnr., Jilid I, hlm. 1,18, L39'14?

FIQLH ISIAM IILID Baglan 1: IBADAH

banyak tiga kali bagi selain orang yang bangun dijelaskan sebelum ini menurut ulama madz-
hab Syafi'i) setelah selesai berwudhu dengan
dari tidur malam, dan wajib bagi orang yang
bangun dari tidur malam, memulakan dengan mengangkat pandangan mata ke arah langit,5l3
madhmadhoh sebelum membasuh muka ke- begitu juga sunnah berdoa setelah mandi.
mudian ber-istinsyaq melebihkan (mubola-
ghah) pada kedua-duanya bagi orang yang f. Perkara yang Dimakruhkan Sewaktu
tidak berpuasa, dan mubalaghoh pada ang-
gota-anggota yang lain bagi orang yang ber- Berwudhu
Menurut ulama madzhab Hanafi, hukum
puasa dan lainnya, melakukan rsfintsar dengan makruh terbagi menjadi dua jenis, yaitu mak-
ruh tahrim dan makruh tonzih. Makruh rah-
tangan kiri, menyela jari kedua tangan dan
juga kaki, menyela jenggot yang tebal dari rim adalah hukum makruh yang lebih dekat
muka, memulakan dengan anggota kanan kepada hukum haram. Meninggalkan makruh
jenis ini adalah wajib. Menurut mereka, jika
meskipun pada dua telapak tangan bagi orang disebut makruh, maka yang dimaksudkan
adalah makruh tahrim. Adapun makruh tan-
yang bangun dari tidur malam dan pada dua zih adalah suatu perbuatan yang lebih utama
telinga, mengusap kedua telinga sesudah ditinggalkan. Ini artinya makruh yang berla-
mengusap kepala dengan air yang baru, me-
lebihkan membasuh pada anggota yang ru- wanan dengan keutamaan.
Oleh sebab itu, jika mereka menyebutkan
kun atau fardhu, membasuh kedua dan ketiga
kali, mendahulukan niat ketika mengamalkan suatu hukum dengan makruh, maka wajiblah
semua amalan sunnah, melanggengkan niat dilihat kepada dalilnya. fika hukum makruh
hingga akhir wudhu, membasuh bagian dalam itu mengandung perintah secara zhanni, maka
bulu-bulu tebal yang terdapat di muka selain ia adalah makruh tahrim kecuali jika terdapat

jenggot, melebihkan penggunaan air ketika suatu dalil yang mengubah kepada hukum
sunnah. fika dalil itu tidak menunjukkan hu-
membasuh muka karena terdapat berbagai kum yang diperintah, malah ia menunjukkan
keriput kulit, bulu, bagian yang dalam dan
yang terlihat agar semuanya dapat terkena ain supaya ditinggalkan tetapi dalam bentuk yang
mengambil wudhu dengan sendiri tanpa per- tidak kuat, maka ia adalah makruh tanzih.

tolongan orang lain. fumhur ulama selain ulama madzhab

Boleh bagi orang yang bersuci menge- Hanafi tidak membedakan antara kedua
ringkan air pada anggota-anggotanya, tetapi
membiarkannya [kering sendiri) adalah lebih jenis makruh tersebut. Hukum makruh pada
afdhal, meletakkan wadah air yang besar di pendapat mereka ialah makruh tanzih. Orang
sebelah kanan agar mudah dia memasukkan yang berwudhu6la dimakruhkan melakukan
tangan ke dalamnya, tidak mengibaskan air suatu perbuatan yang bertentangan dengan
adab yang disunnahkan,6ls yang terpenting
yang ada pada anggotanya, tetapi ia tidak ialah sebagai berikut.
makruh jika dilakukan menurut pendapat
7. Menggunakan air dengan kadar yang me-
yang sesuai dengan qaul azhar dari kalangan
tiga madzhab yang lain, dan doa (seperti yang lebihi keperluan syara' atau melebihi

613 Hadits doa ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Abu Dawud seperti yang telah disebutkan dulu. Dalam riwayat yang lain di-

sebutkan, "Rasul berwudhu dengan sempurna kemudian memandang ke langit." asy-Syarhul Kabir, Jilid I,
6t4 Ad-Durntl Mukhtar, Jilid l,hlm.121-123; Muraqi al-Falah, hlm. 13; asy-Syarhush Shaghir,lilidl,hlm.126-729;

hlm. 126; al-Hadhramiyyah. hlm. 14; Kaq)syaful Qina', jilid I, hlm. ll8-120.

Ulama Syafi'i mengatakan yang dimakruhkan hanyalah meninggalkan sunnah mu'akkadah saia

Ba8lan 1: IBADAH FrQIH ISr,A,M ]rLrD 1

kadar yang mencukupi. Hukum ini dite- maksudkan adalah makruh tanzih." lika
tapkan jika air tersebut merupakan air
digunakan air secara berlebihan untuk
yang boleh digunakan oleh orang yang
berwudhu itu atau dimiliki olehnya. fika tujuan menambah bersih atau untuk me-
air tersebut adalah air yang diwakafkan yakinkan hati dan tujuan yang dibenarkan
untuk wudhu seperti air yang disediakan lainnya, maka ia tidak dianggap makruh.
di masjid-masjid, maka menggunakannya Begitu juga dihukumi makruh tanzih jika
terlalu sedikit [bakhil) menggunakan air;
secara boros adalah haram. sehingga tindakan membasuh menjadi
seperti mengusap, yaitu apabila air yang
Dalil yang menunjukkan hukum mak- menetes dari anggota yang dibasuh tidak
ruh adalah hadits yang diriwayatkan Ibnu jelas. Hal ini karena terdapat hadits yang
menuntut kita supaya menyempurnakan
Majah dan yang lain dari Abdullah bin wudhu. Perbuatan bakhil menggunakan
Amru ibnul Ash bahwa Rasulullah saw
air merupakan perbuatan yang berten-
melihat Sa'ad yang sedang berwudhu lalu
Rasul menegur, "Mengapo kamu berbuat tangan dengan hadits.
boros begini?' Sa'ad bertanya, 'Adakah
terdapat pemborosan dalam berwudhu?" 2. Menyiramkan air dengan kuat ke muka
dan anggota lain, hukum makruh di
Rasul menjawab, "Ya, meskipun kamu ber- sini adalah makruh tanzih karena ia me-
nyebabkan air yang telah digunakan me-
ada di tepi sungai yang airnya mengalir." Di mercik ke atas pakaian. Oleh sebab itu,
antara perbuatan yang dianggap sebagai tidak melakukan hal yang demikian me-
boros adalah mengulangi basuhan lebih rupakan tindakan yang lebih utama. Ia
dari tiga kali, dan mengusap khulmelebihi juga menyalahi adab dalam berwudhu.
Oleh sebab itu, larangan di sini merupa-
satu kali. Menurut jumhur ulama selain
ulama madzhab Syafi'i, hal itu disebabkan kan larangan mengenai adab.
karena terdapat hadits yang diriwayatkan
oleh Amru bin Syu'aib yang telah lalu, 3. Berbicara dengan bahasa manusia biasa,
"Barangsiapa melebihi kadar ini atau me-
nguranginya, maka dia tidak melakukan hukum makruh di sini adalah makruh
dengan baih melebihi batas, dan berlaku tanzih karena pembicaraan itu dapat

zalim!'616 menghalangi dari berdoa. Menurut ulama

Yang dimaksudkan makruh di sini ada- madzhab Syafi'i, perbuatan ini dianggap
lah makruh tanzih meskipun di kalangan sebagai perbuatan yang bertentangan

ulama madzhab Hanafi. Kecuali jika di- dengan keutamaan.

yakini bahwa apa yang melebihi kadar tiga 4. Meminta pertolongan kepada orang lain
tanpa udzu4 perbuatan ini adalah makruh
kali basuhan tersebut termasuk dalam
karena terdapat hadits yang diriwayatkan
amalan wudhu, maka hukum makruh de- Ibnu Abbas, "Sesungguhnya Nabi Muham-
ngan kondisi seperti ini dianggap sebagai
mad saw tidak pernah bergantung kepada
hukum makruh tahrim oleh mereka.
Ibnu Abidin telah menyebut, 'Apabila siapa pun dalam bersuci."617 Walaupun kita

disebut hukum makruh, maka yang di-

616 Hadis ini diririwayatkan oleh an-Nasa'i. Maksud kesalahan di sini ialah kesalahan meninggalkan As-Sunnah.
617 Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan ad-Daruquthni. Hadits ini adalah dhaif (Na ilul Authar,f ilid l, hlm. 176). Contoh yang lain ialah hadis

yang menceritakan bahwa Nabi Muhammad saw. bersabda kepada Umar yang hendak menuangkan air ke tangan beliau, 'Aku tidak
meminta pertolongan kepada siapa pun dalam berwudhu." Imam an-Nawawi berkata dalam al-Muhadzdzabbahwa hadits ini
tidak benar dan tidak ada asal usulnya.

FIq!H ISIAM ]ILID 1 Baglan 1: IBADAH

telah mengetahui bahwa terdapat hadits nyusahkan. Ulama madzhab Syafi'i juga

yang menjelaskan bahwa boleh meminta berkata, tidak disunnahkan mengusap

bantuan orang lain dalam berwudhu, leher karena tidak terdapat nash yang te-
tap mengenai hal itu. An-Nawawi berkata
akan tetapi kebolehan tersebut hanya di- perbuatan tersebut adalah bid'ah. Begitu
juga, ulama Maliki berpendapat bahwa ia
khususkan bagi orang yang udzur. Selain
itu, kaidah darurat dapat membolehkan adalah bid'ah yang dimakruhkan.6le

berbagai larangan. 7. Tindakan yang berlebihan (mubalaghah)
dalam melakukan madhmadhoh [berku-
5. Berwudhu di tempat yang najis adalah mur) dan istinsyaq oleh orang yang ber-
makruh. Hal ini supaya ia tidak terkena puasa. Perbuatan ini dimakruhkan karena

najis. Ulama Hanafi menambahkan, mak- dikhawatirkan akan membatalkan puasa.
8. Tidak meninggalkan salah satu sunnah
ruh juga berwudhu menggunakan air
dari beberapa sunnah wudhu yang telah
lebihan yang pernah digunakan oleh wa- dijelaskan sebelum ini, berdasarkan pen-
nita. Ataupun, berwudhu dalam masjid
kecuali jika dilakukan dalam wadah atau dapat berbagai madzhab. Ulama madzhab
dalam tempat yang memang disediakan Hambali umpamanya mengatakan bah-
wa makruh bagi setiap orang melakukan
untuknya. Ini semua disebabkan karena istintsar, membersihkan hidung dan ko-

ia dikhawatirkan akan membasahi masjid. torannya, membuka sepatu, dan meng-
ambil sesuatu dari tangan orang lain dan
Ulama madzhab Hambali mengatakan6ls
bahwa makruh mengucurkan air wudhu sejenisnya dengan tangan kanan, sedang-

dan air mandi ke dalam masjid atau ke kan dia mampu menggunakan tangan
tempat yang diinjak oleh banyak orang,
seperti ke jalan raya. Ini adalah untuk kiri.62o
menjaga kesucian air wudhu, karena ia
memiliki kehormatan. Selain itu, ia ada- 9. Madzhab Hambali62l mengatakan bahwa
lah kesan dari suatu ibadah. Boleh ber- boleh berwudhu dengan air yang tersisa
wudhu dan mandi dalam masjid jika ia yang pernah digunakan oleh perempuan
tidak menyusahkan siapa pun dan tidak secara bersamaan dengan seorang laki-
mengotori masjid. Hal ini karena air yang
berpisah dari anggota wudhu itu memi- laki. Tetapi jika ia digunakan secara ter-
liki hukum suci. pisah, maka air tersebut makruh diguna-

6. Mengusap leher dengan air menurut kan. Ini disebabkan karena terdapat
dalil yang menunjukkan bahwa Nabi
pendapat jumhur ulama selain ulama
madzhab Hanafi. Hal ini karena menurut Muhammad saw melarang orang laki-laki
pendapat mereka, perbuatan tersebut
berwudhu dengan air sisa yang pernah
dianggap sebagai perbuatan yang melam- digunakan perempuan.622 Selain itu, ter-
paui batas dalam beribadah dan juga me- dapat sekelompok sahabat yang tidak

6rs Kasysyalut Qina',Jilidl, hlm.20; al-Mughni,Jilidl, hlm. 143.
61e
620 Mughnil Muhta, Jilid l, hlm. 6 0; asy-syarhush Shaglrir, f ilid I, hlm. 128.
Kasysyasul Qina',lilid I, hlm. 118.
62r Al-Mughni, Jilid I, hlm. 214 dan seterusnya; al-Muhadzdzob, filid l, hlm. 31.
522 Diriwayatkan oleh Imam Hadits yang Lima dari al-Hakam bin Amr al-Ghifari, tetapi Ibnu Malah dan an-Nasa'i berkata, "Wudhu pe-

rempuan." Imam at-Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini adalah hasan. Imam an-Nawawi mengatakan bahwa parahuf-

fazh telah sepakat bahwa hadits ini adalah dhaif. Ibnu Haiar mengomentari bahwa an-Nawawi saja yang berkata demikian, padahal

hadits tersebut mempunyai syolrrd dalam riwayat Abu Dawud dan an-Nasa'l {Nailul Authar,filid l, hlm. 25J,

suka dengan perbuatan yang demikian itu. FIQIH ISIAM IILID 1
Oleh sebab itu, mereka berkata, 'Apabila
perempuan meninggalkan air yang tersisa, 10. Air yang panas dan air yang terjemur

maka ianganlah kamu berwudhu dengan matahari (musyammas). Ulama madzhab
air tersebut." Syafi'i mengatakan bahwa makruh tanzih

Mayoritas ulama mengatakan boleh bersuci dengan mengunakan air yang
berwudhu dengan air tersebut, baik di-
gunakan oleh laki-laki atau oleh perem- terlalu panas, air yang terlalu sejuk, dan

puan. Hal ini karena terdapat sebuah aft musyammos yang berada di bagian
yang panas, seperti air yang berada di
hadits yang diriwayatkan oleh Muslim da-
bagian tropis. Air yang berada di dalam
lam kitab Shahih-nya dan juga terdapat wadah yang mudah berkarat (seperti

riwayat Ahmad dari Ibnu Abbas, wadah yang terbuat dari besi dan temba-
"Sesungguhnya Nabi Muhammad saw. ga) makruh digunakan untuk badan, teta-
pi tidak makruh untuk pakaian. Dari segi
pernah mandi dengan air yang tersisa dari
wudhu Maimunah.623 Maimunah berkata, kesehatan, ia memiliki hukum makruh
karena ia dapat menimbulkan penyakit
'Saya telah mandi dengan air dari satu
wadah (jafnah62a), Ialu saya tinggalkan kusta, Ia tidak diharamkan karena penya-

sisanya kemudian datang Nabi Muham- kit ini jarang berlaku disebabkan peng-
mad saw. dan menggunakan air tersebut gunaannya. Hukum makruh itu akan hi-
untuk mandi. Saya memberi tahu kepada
beliau bahwa saya telah mandi dengan lang apabila air kembali dingin.
air tersebut. Kemudian Rasul menjawab,
'Sesungguhnya air tidak menanggung ja- g. Perkara yang Membatalkan Wudhu
nabah itpa pqn."'t"
Mayoritas perkara yang membatalkan
Apalagi, ia adalah air yang suci dan
wudhu disepakati oleh banyak ulama. Hanya
boleh digunakan oleh laki-laki. Keduduk- sebagian kecil saja yang diperselisihkan oleh
mereka. Menurut pendapat ulama madzhab
annya adalah sama dengan sisa air Hanafi, jumlah perkara yang membatalkan
wudhu ada dua belas. Ulama madzhab Maliki
yang digunakan oleh orang laki-laki, ini juga membaginya menjadi tiga jenis. Semen-
adalah pendapat yang ashah. Oleh sebab
tara, ulama madzhab Syafi'i mengatakan
itu, larangan menggunakan air tersebut
bahwa terdapat lima perkara dalam masalah
ditafsirkan sebagai hukum makruh tanzih ini. Adapun ulama madzhab Hambali mem-
baginya menjadi delapan jenis. Perkara ter-
dengan berdasarkan kepada hadits-hadits sebut adalah seperti berikut.626

yang membolehkan.

623 Walaupun ia berada dalam Shahih al-Bukhari dan Muslim, namun ada golongan yang menganggapnya cacat (iVailul Authar.Jilid,

l. hlm.26).
624 Jafnah artinyawadah seperti mangkuk besar.
625 Diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Abu Dawud, an-Nasa'i, dan at-Tirmidzi, dia berkata bahwa hadits ini adalah shahih dengan lafaz,

"Wahai Rasulullah, saya berjunub." Lalu beliau bersabda, "Air tidak berjunub (berhadas besar)." (Noilul Authar,lilid I. hlm. 26). Di-
riwayatkan oleh Imam Ahmad dan lbnu Maiah dari Maimunah, bahwa Rasulullah saw. berwudhu dengan sisa air mandi janabahnya
(Maimunah).

Fathul Qadir, filid l, hlm. 24-37: Tabyinul Haqa'iq, filid I, hlm. 7-lZi al-Bada'i', Jilid I, hlm. 24-33; ad-Durrul Mukhtar. filid I. hlm.
124-1,38; al-Lubab, filid I, hlm. 17-20; Muraqi al-Falah, hlm.14 dan setemsnya; asy-Syarhush Shaghir, Jilid I, hlm. 135 - 1.48a asy-
Syarhul Kabir,lilid I, hlm. ttl-1L6; al-Qawanin al-Fiqhiyyah, hlm. 24 dan seterusnya; al-Muhadzdzab, Jilid I, hlm. 22 - 25; Hasyiah
al-Bajuri lilidl,hlm. 69-7 4; al-Majmu',Jilid I, hlm. 3-64; Kasysyaful Qina'Jilid I. hlm 138-148; Bidayatul Mujtahrd Jilid I, hlm. 33-39;

al-Mughni, lilid, I. him. 168-196.

FIQIH ISI.AM JILID Baglan 1: IBADAH

1. Segala sesuatu yang keluar dari salah Selain itu, perkara luar biasa Yang

satu kemaluan, baik berupa perkara bia- keluar itu juga keluar dari kemaluan se-
hingga kedudukannya sama seperti air
sa seperti air kencing, tinja, angin, air madzi. Apalagi, ia sering keluar bersama
madzi dan air wadi,627 serta air mani. sesuatu yang basah yang melekat pa-

Atau, perkara yang keluar itu merupakan danya, maka dengan itu wudhu akan

perkara yang tidak biasa seperti ulat, batal. Nabi Muhammad saw. menyuruh
perempuan yang sedang mengalami rsti
batu kerikil, darah, baik yang keluar itu hadhah untuk berwudhu setiap kali hen-

banyak ataupun sedikit. Hal ini karena dak melakukan shalat. Hal ini karena

terdapat firman Allah yang menyatakan, darahnya selalu keluar.63o

a:6,a*"Frfr{Gi. Para ulama madzhab Hanafi dalam

"...qtolt sehabis buang Qir...." (an- pendapat mereka yang ashah mengecua-
Nisaa':43)
likan angin yang keluar dari qubul. la
Kata ghaa-ith adalah kinayah kepada tidak dianggap sebagai perkara yang

terjadinya hadats, baik yang keluar membatalkan wudhu, karena ia hanYa
itu berupa air kencing atau tahi. Nabi
berupa embusan, bukan angin. Jika benar
Muhammad saw. bersabda, yang keluar itu angin, maka ia tidak najis.
Para ulama lain selain ulama Hanafi tidak
"Allah tidak akan menerima shalat sa-
mengecualikan angin yang keluar dari
lah soorang dari kamu jika dia berhadats
sehingga dia berwudhu." Lalu Abu Hu- qubul ini dari perkara yang membatal-
rairah ditanya oleh seorang laki-laki dari kan wudhu. Hal ini berdasarkan hadits
Hadhramaut, 'Apakah hadats itu, wahai
yang telah disebutkan di atas. Hadits
Abu Hurairah?" Dia menjawab, "Keluarnya
tersebut meliputi angin yang keluar
angin ataupun tahir'628 dari qubul juga. Pendapat yang benar

Rasulullah saw. bersabda juga, adalah pendapat yang dinyatakan oleh
Ibnu Qudamah dalam kitab al-Mughni.
;i3't,o Pendapat tersebut menyatakan, "Kami
c til ,7t*.4 !l
tidak mengetahui adanya angin ini dan
e:*tt
kami tidak mengetahui ia wujud pada diri
"Tidak akan diwaiibkan berwudhu
kecuali karena keluar bunyi ataupun seseorang."

bqu,'6ze

627 Wadi ialah air berwarna putih dan keruh, yang keluar mengiringi kencing. Adapun madzi ialah air yang putih jernih, keluar ketika

ada rasa nafsu.

628 Muttafaq'alaih dari hadits Abu Hurairah (Nailul Authar,lilid I, hlm. 185).
629 Riwayat at-Tirmidzi dan lbnu Malah dari Abu Hurairah. Imam an-Nawawi mengatakan bahwa hadits ini shahih. Tetapi, Imam as-

Suyuthi memberikan tanda dhaif. Hadits ini diriwayatkan oleh lmam Muslim dengan lafal lain, "Apabila seorang kamu merasa ada
seiuatu dalam perutnya, Ialu ia ragu, apakah ada sesuatu yang keluar darinya (atau tidak), maka janganlah ia keluar dari masiid
hingga ia mendengar bunyi atau ada baunyo!' (Nailul Authar,lilid I, hlm. 188).
Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan ad-Daruquthni dengan sanad yangtsiqah, dari Urwah, dari Fathimah binti Abi Hubaisy, dia
berkata bahwa ia sedang mengal ami istihadhah kemudian dia menanyakan hukummya kepada Nabi Muhammad saw.. Lalu beliau
saw bersabda, " Darah haid berwarna hitom. Jika ia keluar hendaklah kamu jangan shalat. Tetapi kalou darahyang keluar lain, mako
hendaklah kamu berwudhu dan shalat, karena ia adalah darah penyakit!'Kemudian Rasul menyuruhnya berwudhu. Darahnya itu
keluar secara tidak menentu. Oleh sebab itu, semua yang sama dengannya diqiyaskan dengan darah itu, baik yang keluar itu bersih
anpa dibarengi dengan darah, ataupun najis seperti air kencing atau yang semacamnya.

.+t

BaEtran 1: IBADAH Istrc,M IrLID 1

Ulama madzhab Maliki mengecuali- an waktu shalat. f ika ia keluar pada waktu
sebelum shalat, maka ia akan membatal-
kan perkara yang tidak biasa yang keluar kan. Beser [as-salas) adalah sesuatu yang
melalui saluran biasa pada waktu sehat mengalir keluar dengan sendirinya karena
seperti darah, nanah, batu kerikil, ulat, kondisi yang tidak sehat, baik ia berupa

angin, tahi yang keluar melalui qubul, air kencing, angin, tahi, ataupun madzi.
air kencing melalui dubur, dan air mani
Darah istihadhah merupakan salah satu
yang keluar tanpa kelezatan yang normal,
jenis as-salas. Hukum ini tidak berlaku
contohnya seperti orang yang menggaruk
karena kurap atau digoncang oleh bina- bagi perempuan yang sedang mengalami

tang tunggangannya, kemudian keluar istihadhah. Ia berlaku bagi orang yang
air mani. Dengan demikian, perkara-per-
tidak tetap kondisi sa/as-nya dan ia tidak
kara tersebut tidak menjadikan batal wa- dapat mengobatinya. Oleh sebab itu, jika
laupun batu kerikil atau ulat yang keluar kondisinya tetap seperti kebiasaan yang
berlaku pada akhir waktu atau pada awal
itu terdapat bersama kencing atau tahi. waktu, maka wajib baginya melaksana-
kan shalat pada waktu tersebut. Namun
Berbeda jika yang keluar itu berupa jika dia mampu mengobati, maka ia ber-
kewajiban mengobatinya.
perkara selain batu dan ulat. Oleh sebab
itu, jika yang keluar itu darah dan nanah Ulama madzhab Syafi'i mengecualikan
bersama kencing atau tahi, maka wudhu
akan menjadi batal.631 Begitu juga wudhu air mani seseorang. Menurut mereka ia

tidak menjadi batal apabila keluar sesuatu tidak membatalkan wudhu, karena ia me-
wajibkan salah satu dari dua perkara yang
melalui sebuah lubang buatan, kecuali lebih besar; yaitu mandi.
jika lubang tersebut berada di bawah usus
dan kedua saluran yang biasa tertutup. Akan tetapi, mereka berpendapat bah-
wa wudhu akan batal dengan disebabkan
Oleh sebab itu, kencing, tahi ataupun
keluarnya sesuatu dari lubang yang ter-
angin yang keluar dari sebuah lubang yang buka di bawah usus. Hal ini terjadi jika
saluran biasa tersumbat dan lubang ter-
berada di atas usus tidak membatalkan
wudhu, baik kedua saluran yang biasa sebut telah menjadi seperti saluran biasa,
atau salah satunya tertutup atau tidak
tertutup. Adapun yang keluar melalui yaitu sama seperti yang dikatakan oleh
lubang di bawah usus, ia membatalkan ulama madzhab Maliki. Tetapi jika salur-
an biasa tidak tersumbat, maka menurut
wudhu dengan syarat kedua saluran yang pendapat yang ashah wudhu tidak akan
biasa tertutup. Hal ini karena ia dianggap batal, baik lubang yang terbuka itu berada
seperti perkara yang keluar melalui ke-
di bawah usus ataupun di atasnya.
dua saluran tersebut. Ulama madzhab Hambali juga menge-

Menurut pendapat mereka, wudhu ti- cualikan orang yang senantiasa berhadats,

dak akan batal dengan keluarnya sesuatu baik yang keluar itu sedikit atau banyak,
yang keluar itu luar biasa atau biasa, kare-
bagi orang yang beser (orang yang memi- na terdapat kesulitan untuk mengatasi-

liki penyakit sering kencing atau buang

air besar) yang berlaku pada seseorang da-
lam kadar waktu shalat atau kebanyak-

163 Menurut pendapat yang masyhur dari lhnu Rusyd ia tidaklah membatalkan wudhu.

FIqLH TSI.AM JILID 1 nafi) ia mengalir ke tempat yang wajib
disucikan, yaitu sisi luar badan. Artinya,
nya, Bagi orang yang tidak menghadapi anggota yang wajib disucikan semuanya
penyakit hadats yang berterusan, maka meskipun sunnah, hal itu seperti darah
yang mengalir keluar melalui hidung.
wudhunya akan batal dengan sesuatu apa Maksud mengalir di sini adalah apabila
pun yang keluar darinya, baik ia berupa darah melimpah dari tempat keluarnya
kencing atau tahi, baik ia sedikit atau ba-
nyak, melalui saluran yang terbuka baik kemudian mengalir ke bawah. Oleh sebab
saluran tersebut di bawah usus ataupun di itu, tidak diwajibkan berwudhu jika darah
atasnya, dan baik kedua kemaluan asalnya
yang keluar itu hanya sekadar setetes
terbuka ataupun tertutup. Hal ini karena
keumuman dari maksud ayat dan hadits atau dua tetes saja. Tidak diwaiibkan ber-
wudhu, sebab terdapat bekas darah yang
yang telah disebutkan.
diakibatkan oleh menggigit sesuatu atau
Ulama madzhab Hambali menambah- dihasilkan dari bersiwak. Begitu iuga wu-
kan, iika seseorang yang berwudhu me- dhu tidak diwajibkan, dengan sebab darah
masukkan kapas ataupun pemoles celak yang keluar dari suatu tempat yang tidak
mata ke dalam qubul atau dubur, kemu- harus disucikan, seperti darah yang ke-
dian kapas atau pemoles celak mata itu luar dari tempat luka di dalam mata atau
keluar meskipun tidak basah, maka wu- telinga, buah dada atau pusan kemudian
dhu orang tersebut batal. Begitu juga jika ia mengalir ke bagian Yang lain'

dia meneteskan minyak ataupun cairan Ulama madzhab Hambali mensyarat-
kan, hendaklah sesuatu yang keluar itu
lain ke dalam lubang air kencing kemudian dalam kadar yang banyak. Maksud kadar
ia keluar, maka wudhunya meniadi batal. yang banyak adalah apabila kondisinya

2. Bersalin tanpa keluar darah. Pendapat menjadi buruk menurut diri seseorang.

yang rajih di kalangan madzhab Hanafi Maksudnya, kondisi badan seseorang di-
perhitungkan, baik ia kurus ataupun ge-
adalah pendapat ash-shahibain (yaitu Abu
Yusuf dan Muhammad Hassan asy'Syai- muk. Oleh sebab itu, jika darah keluar

bani) yang mengatakan bahwa tidak di- dari badan seorang yang kurus misalnya,

tetapkan hukum bernifas bagi perempuan dan ia dianggap banyak berdasarkan

tersebut. Hal ini karena nifas berkaitan atas badannya, maka wudhunya menjadi

dengan darah, sedangkan darah tidak batal. Jika tidak dianggap banya[ maka
wujud pada perempuan tersebut' Dia ha-
nya diwafibkan berwudhu karena lembab wudhunya tidak batal. Hal ini karena Ibnu
yang berlaku pada farjinya. Abu Hanifah Abbas pernah berkata, "Perkara yang bu-
berkata, "Dia wajib mandi sebagai langkah ruk itu adalah apa yang dirasakan buruk
berhati-hati (ihtiyath), karena pada ke- mengikut pertimbangan hatimu." Hujjah
biasaannya dia tidak terhindar dari ke-
bagi ulama madzhab Hanafi adalah sabda
luarnya darah yang sedikit."
Rasulullah saw,
3. Sesuatu yang keluar tidak melalui dua
{F,vJsti et t4lr9'il
kemaluan yang biasa seperti darah, nanah, l'
dan nanah yang bercampur dengan darah,
bisa membatalkan wudhu dengan syarat
(menurut pendapat ulama madzhab Ha-

FIqLH TSLq,M 1

'ILID

"Wudhu hendaklah dilakukan bagi Kadar yang sedikit dari darah tidak

setiap darah yang mengalir.'632 membatalkan wudhu, karena berdasarkan

Rasul saw. juga bersabda, mafhum kata-kata Ibnu Abbas tentang
darah, "fika ia buruk (kadarnya banyak),
era* *qc. . c-,.c- u,-t9') oi ;t3
1l hendaklah dia mengulangi (wudhunya)."
Ibnu Umar pernah memiiit jerawat di

o 4, /./'z mukanya, lalu keluar darah dan dia terus

*et ue;rt\+ menunaikan shalat tanpa mengulangi
Pv ab\; wudhunya. Ibnu Abi Aufa pula telah

"Barangsiapa muntah atau keluar da- memiiit bisulnya, dan begitulah yang di-
lakukan oleh orang lain selain mereka
rah dori hidungnya sewaktu shalatnya,
maka hendaklah iq berhenti, lalu berwu- berdua.63s

dhu dan menyempurnakan shalatnya itu Ulama madzhab Maliki dan Syafi'i
jika ia masih belum berbicara.'633 memutuskan bahwa wudhu tidak akan

Sabda Rasul saw. yang lain, batal dengan keluarnya darah dan seje-
nisnya. Mereka berhujjah dengan hadits

te'ti €\'6 . o .g yang diriwayatkan Anas,

rrjr ,y'bar
dA "Rasulullah saw. telah melakukan be-
kam, lalu Rasul menunaikan shalat tanpa
\Lirt, lz berwudhu terlebih dahulu. Yang Rasul
lakukan hanya sekadar membasuh tempat
)tJL; 1,.> r-l;5g r,tl

"Tidak diwajibkan berwudhu karena bekam saia."636
setetes atau dua tetes darah, kecuali jika
Hadits riwayat Abbad bin Bisyr juga
keadaan darah itu mengalir.'634 mengatakan bahwa dia telah terkena
panah ketika sedang shalat,637 lalu dia
Dalil ulama madzhab Hambali adalah meneruskan shalatnya. Sudah tentu dia
hadits yang diriwayatkan oleh Fatimah tidak menyampaikan kondisi tersebut
binti Abi Hubaisy yang telah disebutkan
menurut catatan at-Tirmidzi, "la merupa- kepada Nabi Muhammad saw., dan tidak
kan pendarahan. Oleh sebab itu, hendak-
lah kamu berwudhu untuk setiap shalat." diceritakan bahwa Nabi Muhammad saw.

Selain itu, karena darah adalah najis telah mengatakan shalatnya itu batal.
yang keluhr dari badan, maka dari itu ia
diberi hukum seperti sesuatu yang keluar 4. Muntah. Perbedaan pendapat mengenai

dari dua kemaluan. hal ini adalah seperti yang berlaku pada

masalah darah dan sejenisnya, yang keluar
melewati jalan lain selain dua kemaluan.

Diriwayatkan oleh ad-Daruquthni dari Tamim ad-Dari, tetapi perawinya ada yang tidak dikenali, dan iuga diriwayatkan oleh lbnu

Adi dalam kitab al-lhmil daiZaid bin Tsabit, Gtapi ada perawinya yang tidak dapat dipercayai (Nashbur Rayah, lilid I, hlm. 37).

Diriwayatkan oleh lbnu Maiah dari hadits Aisyah. Hadits ini adalah shahih juga diriwayatkan oleh ad-Daruquthni dari Abu Sa'id

al-Khudri, teapi hadits ini dhaif (Nashbur Rayah filid l, hlm. 38; Nailul Authar, Jilid I, hlm. 187).
634 Diriwayatkan oleh ad-Daruquthni dari Abu Hurairah secara marfu'. Ibnu Halar mengatakan bahwa isnadnya sangat dhaif (Nailul Au'

rlrar, Jilid l, hlm. 189; Nashbur Rayah, filid I, hlm.44).
535 Nailul Authar, Jilid I, hlm. 189.
636 Diriwayatkan oleh ad-Daruquthni dan al-Baihaqi. Hadits ini adalah dhaif [iVailul^4uthar,Jilid,l, hlm. 189J.
537 Disebutkan oleh al-Bukhari, Abu Dawud, dan Ibnu Khuzaimatu

FrqlH Isr."A,M JruD 1 Baglan 1: IBADAH

Perbedaan tersebut terbagi menjadi dua Ia bukanlah muntah. fika ia berulang
Iagi, maka ia menjadi muntah.
pendapat:
Mereka juga berhujjah dengan ha-
[a) Pendapat ulama madzhab Hanafi
dits yang diriwayatkan oleh Abu
dan Hambali. Ia dapat membatalkan
wudhu jika yang keluar itu seukuran Darda'bahwa Nabi Muhammad saw.
kadar satu mulut penuh. Pendapat muntah, tetapi beliau terus berwu-
dhu. Kemudian saya bertemu dengan
ini menurut pendapat yang ashah.
Tsauban di dalam masjid Damsyik.
Yaitu, kadar apabila mulut tidak da-
pat ditutup melainkan dengan cara Saya menceritakan perkara itu kepa-
danya, dia mengatakan, "Benar, saya
memaksanya. Ulama madzhab Ham-
yang mengucurkan air wudhu ke-
bali mengatakan apabila muntah
padanya."63e
yang keluar terlalu banyak menurut
Sebagai kesimpulan, sesungguhnya
perasaan seseorang, maka ia dianggap menurut pendapat mereka muntah
dapat membatalkan wudhu dengan
buruk (fahusy). tiga syarat, yaitu ia keluar dari usus,
kadarnya memenuhi mulut atau Iebih
Muntah, baik berupa makanan, ai4 banyak dan ia keluar serentak atau

'alaqah fdarah beku yang keluar dari sekaligus.

usus) atau mirrah (cairan empedu (b) Bagi ulama madzhab Maliki dan
yang berwarna kuning) dapat mem-
batalkan wudhu. Wudhu tidak batal Syafi'i, wudhu tidak batal disebabkan
dengan keluarnya dahak, baik ia ke-
luar dari usus, dada, atau kepala, oleh muntah. Hal ini karena Nabi
sama seperti ingus dan ludah (yang
Muhammad saw. pernah muntah
tidak membatalkan wudhu) karena ia dan Rasul tidak mengambil air wu-

merupakan sesuatu yang bersih yang dhu setelahnya.uoo Dalam hadits yang
keluar dari tubuh. Wudhu juga tidak diriwayatkan oleh Tsauban dinyata-
kan,
batal dengan disebabkan menguap,
yaitu angin yang keluar dari mulut 'Aku bertanya, 'Wahai Rasulullah
saw., adakah wajib berwudhu kare-
seseorang. na muntah?' Rasul menjawab, Jika
ia wajib, tentulah kam.u akan mene-
Dalil mereka adalah hadits riwayat mukannya di dalam kitab Allah:"
Aisyah, "Siapa yang muntah, keluar
darah hidung, qals [air gumoh), atau' Selain itu, karena ia tidak keluar melalui
pun air madzi, hendaklah dia berhenti kemaluan yang biasa, maka oleh sebab
itu, ia tidak membatalkan thahorah se-
shalat, kemudian berwudhu, setelah seorang. Kedudukannya sama seperti
hukum air Iudah saja. Mereka menjawab
itu meneruskan shalatnya. Dalam

kondisi seperti ini, hendaklah jangan

berbicara."63B

Qals adalah sesuatu yang keluar

dari kerongkongan seseorang, baik
ia memenuhi mulut ataupun tidak.

638 Riwayat lbnu Majah dan ad-Daruquthni (Naitul Authar,lilid I, hlm. 187).
63e Di.i*ayrtk n oleh Imam Ahmad dan at-Tirmidzi. Imam at{irmidzi berkata, "Hadits ini adalah yang palingashah!' (Nailul Authar,lilidl,

hlm. 186).

6ao Riw"y"tad-Daruquthni.


Click to View FlipBook Version