The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by MOHD RAHIMI BIN RAMLI Moe, 2021-08-05 23:44:36

Fiqih Islam Wa Adillatuhu Jld1

Fiqih Islam Wa Adillatuhu Jld1

Adapun seorang makmum, maka dia juga FrQIH lsr"A.M f rrrD 1

wajib melakukan ta'yin sebagaimana yang shalat-shalat tersebut imam menjadi syarat

telah diterangkan. Dia juga perlu menambahi bagi sahnya shalat.176

niat mengikuti imam. Umpamanya adalah Madzhab Syafi'i177 menetapkan bahwa
apabila shalat yang dilakukan adalah shalat
dengan niat melaksanakan kefardhuan waktu
dan mengikuti imam dalam melakukannya, fardhu-meskipun fardhu kifayah seperti
shalat jenazah*atau shalat qadha, atau
atau niat melakukan shalat yang dilakukan
oleh imam, atau niat mengikuti imam dalam shalat i'adah atau shalat nadzar, maka yang
diwajibkan dalam niat shalat-shalat tersebut
shalatnya.
ada tiga.
Madzhab Maliki mengatakan menentukan
dengan jelas (tayin), merupakan keharusan Pertoma, niat kefardhuan shalat, yaitu
dalam shalat-shalat fardhu, shalat sunnah dengan berniat dan bermaksud melakukan
yang lima [yaitu witir; Id, kusul khusuf dan
istisqa')17s dan shalat sunnah fajar. Adapun shalat fardhu, supaya ia dapat dibedakan dari
shalat-shalat sunnah yang lain seperti shalat
dhuha, rawatib, dan tahajud, maka cukup niat shalat sunnah dan i'adah. Adapun redaksi
ungkapan bagi niat kefardhuan umpamanya
shalat sunnah secara mutlak. Sehingga apabila
dilakukan sebelum tergelincirnya matahari, adalah Ga ! .iit,ri|*yt q', ii) " sayamelak-
maka shalatnya menjadi shalat dhuha, akan
sanakan shalat zhuhur yang merupakan kefa;-
menjadi shalat ratib zhuhur kalau dilakukan
sebelum melaksanakan shalat zhuhur atau dhuan waktu karena Allah SWT. Kata 1,:;i1)
sesudahnya, akan menjadi shalat tahiyyatul juga boleh diganti dengan asal kata (1LJ,)
masjid jika dilakukan ketika masuk masjid, dan [;rr$i). Kedua, menyatakan kehendak (al-
akan menjadi shalat tahajjud apabila dilaku- qashdu), yaitu kehendak melaksanakan suatu

kan pada malam hari, dan akan menjadi shalat perbuatan dengan cara menyatakan kehendak
melaksanakan shalat, supaya ia dapat dibeda-
asy-syaf' [shalat sunnah isya) apabila dilaku- kan dari jenis perbuatan-perbuatan yang lain.
kan sebelum shalat witir. fuga, tidak disyarat- Ketiga, menyatakan dengan jelas jenis shalat
kan niat melakukan secara ada' (tunai) atau
qadha'(utang shalat yang terlewat) dan juga fardhu yang dilakukan, umpamanya shalat
tidak disyaratkan menentukan bilangan rakaat shubuh atau zhuhur atau yang lain, yaitu de-
shalat. Melakukan shalat qadha dengan niat ngan cara menyatakan keinginan melakukan
shalat ada'adalah sah begitu juga sebaliknya.
Wajib menyatakan niat secara sendirian atau shalat fardhu zhuhur umpamanya.
sebagai imam, namun tidak wajib menyatakan
niat sebagai imam kecuali dalam shalat jumat Niat tersebut harus dilakukan berbareng-
dan shalat jamak taqdim, disebabkan hujan
atau disebabkan perasaan takut. Karena, dalam an dengan semua bagian takbiratul ihram,
meskipun secara global tidak secara terperin

ci. Umpamanya adalah dengan menggambar-
kan (istihdhar.) rukun-rukun shalat dalam hati,
hingga eksistensi shalat, sifat-sifat shalat yang
wajib dinyatakan seperti zhuhuc fardhu dll.
benar-benar hadir dalam hati, kemudian me-

munculkan keinginan untuk melaksanakan

175 Al-Bada'i',jilid 1, hlm. 127 dan setelahnya; ad-Durrul Mukhtar iilid 1, hlm.406; Tabyinul Haqa'ig, jilid 1, hlm.99; Fathul Qadiniilid

1, hlm. 185; Ibnu Nujaim, al-Asybah wan-Nazha'ir, hlm. 32 dan setelahnya.

176 Asy-Syarh al-Kabir wa Hasyiyah ad-Dasuqi, jilid 1, hlm. 233, 520; Bidayah al-Mujtahdi, iilid 1, hlm. tl6; al-Qawanin al-Fiqhiyyah,

hlm.57
t77 Al-Majmu', iilid 3, hlm. 243-ZS2; Mughnlal-Muhtal, jilid 1, hlm. 148, 150, 252 dan253; Hasytyah al-Bajuri, jilid,1, hlm. 149.

-t

.,t.i:- Pengantar ttmu Rqth

--.{' 154J-\.
u-_

yang digambarkan itu sewaktu memulai tak- dari shalat ashar; dan niat kefardhuan supaya

biratul ihram dan berterusan hingga akhir dapat dibedakan dari shalat-shalat sunnah.

takbiratul ihram. Namun, proses berbarengan Menyatakan jumlah rakaat bukanlah I
suatu syarat. Begitu juga dengan menyatakan
antara niat dan takbiratul ihrom ini cukup dengan jelas hari pelaksanaan shalat, jenis I

dengan menggunakan standar,kebiasaan. f

Yaitu selagi orang tersebut dianggap sebagai shalat ada' atau qadha', mengaitkannya kepada

orang yang menyadari shalat yang sedang Allah SWT178 menyebut rukun-rukun shalat,
dan juga menyatakan menghadap qiblat, Se-
dilakukannya, bukan orang yang lalai akan

shalat yang dilakukannya. Imam an-Nawawi mua ini tidak disyaratkan dalam niat shalat,

mengatakan bahwa ini adalah pendapat yang melainkan hanya kesunnahan saja. Sehingga,

dipilih. tidak wajib mengaitkan amalan shalat kepa-

Cara ini menurut madzhab Syafi'i di- da Allah, karena ibadah adalah bentuk amalan

istilahkan dengan al-istihdhar wal muqaranah yang dilakukan hanya untuk Allah, Namun, t

al-'urfiyyain [menggambarkan shalat dalam menyatakan hal tersebut adalah disunnahkan
hati dan membarengkan niat dengan takbira-
supaya arti keikhlasan benar-benar tereali-
tul ihram menurut standar kebiasaan). Cara-
sasikan.
nya adalah sebelum melakukan takbiratul
Sunnah juga niat menghadap qiblat, me-
ihram menggambarkan semua perbuatan sha- nyatakan jumlah rakaat, supaya terhindar

lat, baik yang ucapan maupun tindakan dari dari perbedaan-perbedaan pendapat. Kalau

awal hingga akhir meskipun secara global- seandainya dalam niat seseorang keliru dalam
menyebut jumlah rakaat, umpamanya niat
ini menurut pendapat yang mu'tamad-dan

membarengkan penggambaran hati yang sing- shalat zhuhur dengan menyatakan tiga atau
lima rakaat, maka shalatnya tidak sah. Niat
kat tersebut dengan tokbiratul ihram. ada' dan qadha'juga disunnahkan supaya

Kesimpulannya adalah, apabila shalat

yang dilakukan itu adalah salah satu dari sha- antara keduanya dapat dibedakan. Namun,

lat wajib yang lima, maka wajib menyatakan pendapat yang ashah di kalangan ulama

tiga niat; melakukan shalat, kefardhuan, dan madzhab Syafi'i menyatakan bahwa shalat

menentukan dengan jelas jenisnya (ta'yin). ada' sah dilakukan dengan niat shalat qadha'.

Umpamanya dengan menyatakan, Begitu juga sebaliknya, jika memang ada
tt
. 3*l il 1t) "saya niat meta- sebab atau udzur, seperti tidak tahu waktu
d&t ci

t<utan shalaifardhu zhuhur" karena mendung yang gelap atau semacam-

. (ytt :* qi ,t;i a;., "Saya niat me- nya, kalau seandainya seseorang menyangka

laksanakan fardh.u..isha,l.a,t,ashar" bahwa waktu shalat sudah terlewat, sehingga

. (+1'):t;* ,_;"'j;tri .>"t)) "Saya niat me- dia melakukan shalat tersebut secara qadha',

ta-t sanaftan faiahu shalat ashar." dan ternyata waktunya belum terlewat, atau

Menyatakan niat shalat dilakukan supaya dia menyangka bahwa waktunya belum ter- i
ibadah dapat dibedakan dari adat kebiasaan;
menyatakan zhuhur supaya dapat dibedakan lewat, sehingga dia melakukan shalatnya de-

terlewat, maka shalatnya tetap sah. :

178 Ini 1rg, pendpaat madzhab Hanafi dan Maliki sebagaimana yang telah saya terangkan, dan juga pendapat madzhab Hambali (lbnu
Nujaim, at-Asybah wan-Nazha'ir, hlm. 32, 35; Kasysyafut Qinai lilid 1, hlm. 365 dan setelahnya; Ghayatul Muntaha, iilid 1, hlm.

116.).

Pongantal llmu Flqlh FIq!H ISIAM IILID 1

Madzhab Maliki menetapkan bahwa da- jamaah. Semuanya ini dilakukan supaya keluar
lam keadaan apa pun, shalat ada'boleh di- dari dosa. Begitu juga dengan madzhab Ma-
laksanakan dengan menggunakan niat sha- liki, mereka menetapkan bahwa niat menjadi
imam tidak wajib kecuali dalam shalat jumat,
lat qadha'. Begitu juga sebaliknya. Menurut jamak, khauf, dan istikhlaf. Karena, imam mer-
upakan syarat dalam shalat-shalat tersebut.
madzhab Hambali, shalat ado'boleh dilaksa- Sedangkan Ibnu Rusyd, menambahi dengan
nakan dengan menggunakan niat shalat qa- shalat jenazah.

dha'. Begitu juga sebaliknya jika memang Orang yang menjadi makmum disyarat-
kan niat menjadi makmum, yaitu dengan cara
dia salah sangka dalam menetapkan waktu.
Madzhab Hanafi menetapkan bahwa shalat menyatakan niat mengikuti, menjadi mak-

atau haji secara ada' boleh dilaksanakan mum, atau berjamaah dengan imam yang ha-
dir atau dengan orang yang ada di mihrab. Niat
dengan menggunakan niat shalat atau haji se-
cara qadha', begitu juga sebaliknya. ini dilakukan berbarengan dengan takbiratul

Apabila shalat yang dilakukan adalah sha- ihram dan harus dilakukan. Karena, mengikuti
adalah satu aktivitas amal, sehingga memer-
lat sunnah yang mempunyai waktu tertentu lukan niat, karena yang akan diperoleh oleh
seperti shalat sunnah rawatib, atau shalat seseorang adalah tergantung niatnya. Tidak
cukup apabila hanya menyatakan niat meng-
sunnah yang mempunyai sebab seperti sha-
Iat sunnah istisqa', maka dalam niat diwajib- ikuti secara mutlak, tanpa dikaitkan dengan
kan dua perkara: berkehendak melakukannya imam. Apabila seseorang mengikuti imam
dan menyatakan dengan jelas jenis shalatnya tapi tidak dengan niat atau dengan keraguan,
seperti shalat sunnah zhuhur; Idul Fitri, atau
Idul Adhha. Adapun niat kesunnahan tidaklah maka batallah shalatnya jika memang dia lama
dalam menunggu imam.
disyaratkan.
Madzhab HambalilTe mengatakan bahwa,
Adapun shalatsunnah mutlak [yaitu shalat apabila shalat yang dilakukan adalah shalat
sunnah yang tidak mempunyai waktu terten- fardhu, maka disyaratkan dua perkara: me-

tu dan tidak mempunyai sebab seperti shalat nyatakan dengan jelas jenis shalat yang di-
lakukan (ta'yin), apakah shalat zhuhur atau
sunnah tahiyyah al-masjid atau shalat sunnah asha[ atau yang lain; dan berkehendak untuk
wudhu), maka cukup dengan niat melakukan melaksanakannya. Tidak disyaratkan menya-
takan niat kefardhuan umpEmanya dengan
shalat saja.
menyatakan, (la'S')l:t S;i "saya shalat
Imam tidak disyaratkan niat menjadi
zhuhur secara fardhu."
imam, melainkan hanya disunnahkan saja su-
paya mendapatkan keutamaan jamaah. Apa- Adapun shalat yang sudah terlewat, apa-
bila ia tidak niat menjadi imam, maka ia tidak bila orang yang melakukan tersebut menyata-
kan dengan jelas bahwa yang dilakukan ada-
mendapatkan keutamaan jamaah. Karena, Iah shalat zhuhur hari ini [misalnya), maka dia
tidak perlu menyatakan niat qadha' atau adai
seseorang akan mendapatkan sesuatu sesuai shalat qadha'dengan menggunakan niat ada'
dengan apa yang diniatkannya.

Dalam madzhab Syafi'i, niatmenjadi imam
adalah syarat dalam empat shalat: [1] shalat
jumat; [2] shalat jamak taqdim karena hujan;
[3] shalat i'adah yang dilakukan pada waktu-
nya secara berjamaah; [4] shalat nadzar ber-

77e Al-Mughnliilid 1, hlm. 464-46g,iilidZ,hlm.23Lt Karysyafut Qinaj iilid 1, hlm. 364-370.

ii;trF:'

FIQIH ISI.AM 1 Pengantar llmu Flqlh I

'ILID zztzd I
I
atau sebaliknya adalah sah apabila memang .rJt; .1 a;-Jt I
sewaktu melakukannya dia salah sangka da-
lam menentukan waktunya. "Saya niat melakukan puasa pada hari esok I

Apabila shalatnya adalah shalat sunnah, untuk melaksanakan kewajiban Ramadhan I
maka diwajibkan menyatakan dengan jelas
pada tahun ini karena Allah SWT."
(ta'yin) jenis shalatnya, jika memang shalat
tersebut mempunyai ciri-ciri tertentu atau Menurut pendapat yang mu'tamad da-
waktu-waktu tertentu seperti shalat kusuf, lam madzhab Syafi'i, menetapkan kefardhuan
shalat istisqai tarawih, witin shalat sunnah ra- dalam niat puasa Ramadhan bukan merupa-

watib. Apabila shalat sunnah tersebut mutlak, kan kewajiban.

maka tidak perlu menyatakan dengan jelas Madzhab Hambalils3 mengatakan bahwa
jenis shalatnya, seperti shalat malam. Maka, barangsiapa yang dalam hatinya tebersit ke-
cukuplah menyetakan niat shalat, karena me- inginan bahwa besok dia akan berpuasa, maka
mang tidak ada ciri-ciri tertentu dalam sha-
lat tersebut. Kesimpulannya dalam malasah itu sudah dianggap niat. Menentukan jenis
ini madzhab Hambali sama dengan madzhab
puasa secara jelas (ta'yin) dalam niat adalah
Syafi'i. wajib, yaitu dengan berkeyakinan bahwa dia
besok akan melakukan puasa Ramadhan,
E. NIAT PUASA
puasa qadha] puasa nadzar,atau puasa kafarat.
Madzhab Hanafi18o berpendapat bahwa
untuk puasa Ramadhan dan yang semacam- Madzhab Hambali juga menetapkan bahwa
menyatakan kefardhuan tidak wajib.
nya seperti puasa nadzar yang waktunya
telah ditentukan, seseorang boleh berniat Kesimpulannya adalah, jumhur ulama se-
lain madzhab Hanafi sepakat bahwa niat wa-
puasa secara mutlak, atau berniat puasa sun- jib dilakukan di malam hari (tabyifJ. fumhur
nah, atau berniat wajib yang lain. Mereka juga ulama selain madzhab Syafi'i juga sepakat
tidak mewajibkan meletakan niat puasa pada bahwa makan dan minum dengan niat ber-
malam hari (tabyit), sebagaimana yang telah puasa, atau melakukan sahur sudah diang-
saya terangkan, dan bersahur menurut mereka gap niat, kecuali jika ketika makan dan mi-
juga sudah dianggap sebagai niat. num orang tersebut memang berniat untuk
tidak puasa. Menurut madzhab Syafi'i, makan
Adapun menurut madzhab Maliki,181 niat sahur tidak dianggap sebagai niat dalam pua-
puasa harus dijelaskan secara terperinci jenis- sa apa pun, kecuali jika ketika bersahur dalam
nya (ta'yin) dan juga harus dilakukan di malam hati orang tersebut terbetik keinginan untuk
hari (tabyit). Sedangkan kesempurnaan niat puasa dan dia berniat untuk puasa. Umpa-
puasa Ramadhan, menurut madzhab Syafi'i182 manya adalah, dia memang berniat puasa ke-
adalah dengan menyatakan, tika makan sahur atau ketika fajar mulai mun-
cul, dia tidak mau makan supaya tidak batal
:y qi i; iowt ,t;i /o z t o./.
puasa.
2 e.2 LiJ .)

\J

180 Muroqi al-Falah, hlm. 106 dan setelahnya; Ibnu Nujaim, al-Asybahwan-Nazha'in hlm.33.
181 Al-Qawanin al-Fiqhiyah, hlm. 117; Bidayatul Mujtal'id, tilid 1, hlm. 283.
782 Mughnil Muhtaj, iilid 1, hlm.425.
183 Kasy sy afu I Qin a i jilid 2, hlm. 267 .

IsrAM JrrrD I

F, NIAT I'TIKAF Ketika niat tidak disyaratkan menyatakan

Yang dimaksud dengan i'tikaf adalah kefardhuan zakat, karena zakat sudah pasti
berdiam diri di masjid yang dilakukan oleh
orang-orang tertentu dengan niat, sebagai- fardhu. Contoh niat yang lain adalah, "ini

mana yang didefinisikan oleh ulama madzhab adalah kewajiban sedekah hartaku' atau "ini
Syafi'i. Ulama sepakat bahwa untuk beri'tikaf adalah sedekah hartaku yang wajib" atau "ini
disyaratkan niat. I'tikaf tanpa niat tidak sah, adalah sedekah yang fardhu" atau "ini adalah
berdasarkan hadits yang telah lalu "innamal fardhu sedekah." Menurut madzhab Maliki,
a'maalu bin-niyaat' dan juga karena i'tikaf niat yang dilakukan oleh imam fpemerintah)
adalah ibadah murni (ibadah mahdhah). Se- atau wakilnya adalah cukup sebagai pengganti
niat orang yang berkewajiban zakat. Madzhab
hingga, ia tidak sah jika tanpa niat seperti Hambali mengatakan bahwa niat sudah cukup
hanya dengan berkeyakinan bahwa harta ter-
puasa, shalat, dan ibadah-ibadah yang lain. ebut adalah zakatnya, atau zakat yang wajib
dikeluarkan apabila yang wajib zakat adalah
Madzhab Syafi'i menambahkan, jika i'tikaf anak kecil atau orang gila. Tempat niat adalah
yang dilakukan adalah fardhu, maka orang di hati, karena tempat semua keyakinan ada-
lah di hati.18s
yang melakukan harus menyatakan kefardhu-
annya ketika niat, supaya ia dapat dibedakan H. N'AT HAJI DAN UMRAH

dari i'tikaf-i'tikaf sunnah. Madzhab Hanafi Niat dalam haji dan umrah adalah sesua-
dan Maliki mensyaratkan seseorang harus
dalam keadaan puasa bagi sahnya i'tikaf.18a tu yang wajib. Niatnya adalah ihram, yaitu
Karena, ada hadits yang diriwayatkan oleh
ad-Daruquthni dan al-Baihaqi dari Aisyah, niat haji atau umrah atau keduanya. Misalnya
"l'tikaf tidak sah tanpa puasa." Tetapi, hadits
adalah dengan menyatakan, "Saya niat haji
ini dhaif. Bagi madzhab Syafi'i dan Ham-
[atau umrah) dan saya berihram dengan haji
bali, puasa tidak menjadi syarat bagi sah- [atau umrah) tersebut karena Allah SWT]'
nya i'tikaf, kecuali jika memang orang ter-
sebut bernadzar. Niat i'tikaf adalah dengan Apabila dia melakukan haji atau umrah
untuk orang lain, maka hendaklah ia menya-
menyatakan, takan, "Saya niat haji (atau umrah) untuk si
fulan, dan saya berihram untuk haji [atau
y.U3G -x^il)tt* e-t*),..lt qi umrah) tersebut karena Allah SWT/' kemudi-
an melantunkan talbiyah setelah selesai me-
"Saya niat i'tikaf dalam masjid ini selagi Iaksanakan dua rakaat shalat sunnah ihram.
Menurut jumhur ulama, ihram sudah diang-
saya berada di dalamnya." gap cukup hanya dengan niat saja. Namun
menurut madzhab Hanafi, ihram belum cukup
G. NIAT AKAT hanya dengan niat saja, melainkan ia harus
Para ahli fiqih bersepakat bahwa niat dibarengkan dengan ucapan atau perbuatan
yang khusus dilakukan dalam ihram, seperti
merupakan syarat sah bagi pelaksanaan za-
kat. Caranya adalah orang yang membayar
zakat menyatakan "ini adalah zakat hartaku."

t84 Fathul Qadin jilid 2, hlm. 106 dan setelahnya; ar-Raddul Mukhtar iilid2,hlm.177 dan setelahnya; asy-Syarhush Shaghir wa Hasyiyah
ash-Shawi, iilid 1, hlm 725 dan setelahnya; al-Muhazhzhab, iilid 1, hlm l9O-192; Mughnil Muhtaj, jilid 1, hlm 453 dan setelahnya;
Kasysyaful Qinai iilid 2, hlm.406 dan setelahnya; al-Mughni,iilid 2, hlm. 638 dan setelahnya.

185 Fathul Qadir jilid 1, hlm. 493i al-Bada'ii iilid 2, hlm. 40; al-Majmu', iilid2, hlm. 40 dan setelahnya; asy-Syarhush Shaghir jilid 1, hlm.
666,670; al-Mughni, jilid 2, hlm. 638 dan setelahnya.

FIqLH ISI.AM IILID 1

dibarengkan dengan talbiyah atau dibareng- motong hewan qurban. Karena, pemotongan
kan dengan melepas pakaian yang tidak boleh
dikenakan sewaktu ihram. Menurut madzhab hewan merupakan jenis ibadah tersendiri
Hanafi, mengucapkan niat dengan lisan adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT,
disunnahkan, misalnya orang yang melakukan
haji ifrad mengatakan, dan niat tersebut cukup dengan hati. Dalam hal

t'), {u, A,i'# ?t yi At#1 ini tidak disyaratkan melafalkan niat dengan
lisan, karena niat adalah pekerjaan hati, dan
"Ya Allah, sungguh aku ingin melaksana- ucapan lisan hanya sebagai petunjuk atas niat
kan hajr. Maka, berilah aku kemudahan dalam
menjalankannya, dan terimalah hajiku terse- yang diutarakan oleh hati.187

but." F. RAGU DALAM NIAT, BERUBAH N!AT,

Sementara itu, orang yang melakukan MENGGABUNGKAN DUA IBADAH
DENGAN SATU NIAT
umrah mengucapkan,
A. RAGU DALAM NIAT
* m; U i'r:*i';At *ri Sygt:i
Madzhab Syafi'i dan Hambalilss memberi
'\a Allah,runrrun aku ingin -"frf.rrnr-
banyak perhatian kepada masalah niat dan
kan umrah. Maka, berilah aku kemudahan da-
lam menjalankannya, dan terimalah umrahku juga masalah ragu dalam niat ibadah. Mereka
tersebut." menetapkan bahwa ragu dalam asal niat atau
dalam syarat niat dapat membatalkan ibadah.
Adapun orang yang melakukan haji qiran, Apabila seorang yang sedang shalat ragu apa-
hendaklah membaca, kah dia shalat zhuhur atau shalat asar maka
dia tidak diakui melakukan kedua-dua shalat
*#iA C',:* ?ti i';3 n:1 A\ ;'-ri tersebut sebagaimana ditegaskan oleh Imam
"Ya Allah, sungguh aku ingin melaksana- asy-Syafi'i dalam kitab al-Umm.
kan haji dan umrah. Maka, berilah aku kemu-
dahan dalam menjalankannya, dan terimalah Apabila orang yang bersuci (thaharah)
haji dan umrahku tersebut."186 ragu mengenai niatnya, dan keraguan itu mun-

I. N'AT QURBAN cul di tengah-tengah pelaksanaan thaharah,

Menurut madzhab Syafi'i dan Hambali, maka dia wajib mengulangi niatnya lagi, ka-
niat tersebut harus dilakukan sewaktu me- rena kejadian seperti ini termasuk ibadah yang
diragui syaratnya, dan keraguan itu terjadi ke-
tika ibadah berlangsung sehingga thaharah-nya
tidak sah sebagaimana dalam shalat. Namun
apabila keraguan atas niat itu muncul ketika
amalan thaharah selesai, maka tidak mengapa.
Begitu juga dalam ibadah-ibadah yang lain.

Madzhab Syafi'i menegaskan bahwa niat
adalah syarat bagi semua jenis shalat. Apabila
seseorang ragu apakah sudah melakukan niat
atau belum, maka shalatnya batal. Batalnya

186 Al-gawanin al-Fiqhiyyah, hlm. 131; al-Bada'iijilid 2, hlm. 161 dan setelahnya; asy-Syarhush Shaghirjilid 2, hlm. 16,25; Mughnil

Muhtaj, jilid L,hlm.476 dan setelahnya; al-Majmui jilid7,hlm.226; al-Mughni, jilid 3, hlm. 281 dan setelahnya.
787 Al-Bodo'i,jilid 5, hlm. 7'1.; al-Qawanin al-Fiqhiyyah, hlm. 1.87; Mughnil Muhtaj,jilid 4, hlm. 289i Kasysyafut Qinai illid 3, hlm. 6.
1BB Al-Husaini,AhkamunNiyah,hlm.48-51,66;MughnilMuhtaj,iilidL,hlm.4T,l4Bdansetelahnya,2S2dansetelahnya; al-Mughni,

jilid 1, hlm. 142, 467; Ghayatul Muntaha jilid 1, hlm, 116; Kasysaful Qina', jilid, 1, hlm. 369

',+iilf,i
l":'

shalat adalah jika keraguannya itu berlang- IsrAM JrLrD 1

sung melebihi masa pelaksanaan satu rukun. pada asal niatnya, kemudian melakukan shalat
dalam keadaan ragu, maka batallah shalatnya.
Sehingga apabila keraguannya itu berlangsung
melebihi satu ruku', satu sujud, atau ketika Ragu pada syarat niat adalah sama dengan

bengun dari sujud atau ruku', maka batallah ragu pada asal niat. Kalau seandainya ada
orang terlewat tidak melakukan dua shalat
shalatnya.
dan dia mengetahui jenis dua shalat tersebut,
Maksudnya adalah shalat tersebut menjadi kemudian dia melakukan salah satu dari dua
shalat tersebut Cengan niat, kemudian ragu;
batal apabila keraguannya itu berlangsung shalatyang manakah yang dia niati, namun dia
masih terus melakukan shalat, maka tidaklah
lama, sama dengan ukuran lamanya pelaksa- sah shalatnya tersebut hingga dia yakin atau
naan satu rukun perbuatan (fi'li) dalam shalat.
mempunyai dugaan yang kuat akan shalat
Apabila keraguan itu hanya sebentar dan
yang diniati tersebut.
tidak sampai mencapai lamanya satu rukun,
Madzhab Hambali juga menetapkan bah-
maka shalatnya tidak batal, sebagaimana
wa jika muncul keraguan di tengah-tengah
yang ditetapkan oleh pendapat yang masyhur.
shalaU apakah dia sudah niat atau belum,
Kecuali apabila keraguan tersebut adalah atau dia ragu apakah sudah takbiratul ihram
dalam hal niat qashar yang dilakukan oleh atau belum, maka dia wajib memulai dari
orang yang dalam keadaan musafir namun awal lagi. Hal ini sebagaimana yang dikatakan
kemudian dia melakukan niat tersebut dalam
oleh madzhab Syafi'i, karena hukum yang asal
waktu yang belum lama [dari awal shalatnya),
adalah tidak wujudnya sesuatu yang diragui
maka dia wajib menyempurnakan shalat tersebut. Kalau seandainya orang tersebut
ingat bahwa dia sudah berniat, atau dia ingat
tersebut. Karena, hal itu hanya terjadi dalam sudah melakukan takbiratul ihram, maka dia
waktu yang singkat, dan shalatnya dianggap
boleh melanjutkan shalatnya, karena memang
sah meskipun niat qashar-nya terlambat. tidak ada perkara yang membatalkan shalat-
nya tersebut. Apabila seseorang melaksana-
Namun apabila niat qasharnya itu dilakukan
dan sudah berlangsung satu pekerjaan dari kan shalat dalam keadaan ragu-ragu, maka
shalat, maka tidak boleh menyempurnakan shalatnya batal, sebagaimana yang dikatakan

shalatnya, dan inilah hukum yang asal. oleh madzhab Syafi'i.

Adapun amalan yang memang tidak di- B. MENGUBAH NIAT
syaratkan niat, apabila muncul keraguan di
tengah-tengah melakukannya, maka tidaklah Para ahli fiqih bersepakat bahwa orang
berpengaruh apa pun. Menghadirkan niat se- yang melakukan shalat dan berniat melaksa-

cara terus-menerus selama menjalankan sha- nakan salah satu shalat fardhu, kemudian di
lat tidaklah disyaratkan. Kalau seandainya ada tengah shalat dia mengubah niatnya meniadi
orang shalat Zhuhuc dan pada rakaat kedua
dia menyangka bahwa dia sedang melakukan niat melaksanakan shalat fardhu yang lain,
shalat Ashar; namun pada rakaat ketiga dia
maka batallah dua shalat yang diniati tersebut.
ingat, maka sah shalat Zhuhurnya. Munculnya Karena, dia telah memutus keberlangsungan
niat yang pertama, dan dia tidak melakukan
dugaan bahwa dia melakukan shalat Ashar ti- niat yang kedua pada waktu ihram. Apabila se-
daklah memengaruhi apapun. Karena niatyang seorang mengubah niat shalatnya dari shalat

memang asalnya tidak wajib, maka melakukan

kesalahan dalam niat tersebut adalah tidak
mengapa. Kalau seandainya seseorang ragu

FIqLH ISI"A,M JITID 1 Pongatrtar llmu Flqlh

fardhu menjadi shalat sunnah, maka menurut semua, atau yang satu fardhu dan yang satu-

pendapat yang paling rajih dalam madzhab nya lagi sunnah.

Syafi'i, adalah shalat tersebut menjadi shalat Apabila dua ibadah maqashid tersebut
sunnah. Karena, niat shalat fardhu sudah men- fardhu semua, apabila dua ibadah tersebut
cakup niat shalat sunnah. Dalilnya adalah apa- berupa shalat, maka tidak sah semuanya. Um-
bila seseorang niat ihram fardhu, kemudian dia pamanya adalah kalau seseorang berniat me-
tahu bahwa musim haji belum datang, maka lakukan shalat fardhu Zhuhur dan Ashat maka
ihramnya menjadi ihram sunnah, dan ihram kedua shalat tersebut tidak sah. Kalau sean-
yang fardhu tidak jadi. Selain itu, memang ti- dainya seseorang niat puasa qadha dan puasa
dak ada perkara yang membatalkan ibadah kafarat, maka yang sah adalah puasa qadha.
sunnah tersebut. Kalau seseorang niat zakat dan kafarat zihac

Kesimpulannya adalah shalat menjadi maka yang sah adalah salah satunya dan orang
batal apabila sengaja membatalkan niatnya
tersebut dipersilakan untuk memilih salah
atau muncul keraguan pada niat, atau dia ber-
satunya yang dianggap sah. Kalau seseorang
keinginan kuat untuk membatalkan niatnya niat melakukan zakat dan kafarat yamin, maka
yang sah adalah zakat. Apabila seseorang niat
atau berniat ingin keluar dari shalat, atau mem- shalat fardhu dan shalat jenazah, maka niat
batalkan niatnya dan menggugurkan amalan yang sah adalah niat shalat fardhu.
shalat yang sudah dilakukan, atau ragu apakah
Dengan demikian, maka jelas apabila se-
sudah niat atau belum, atau berpindah dari seorang menggabungkan niat dua fardhu, niat
yang sah adalah niat yang untuk fardhu yang
satu shalat ke shalat lain.18e
lebih kuat, jika memang salah satunya ada
C. MENGGABUNGKAN DUA IBADAH DENGAN yang lebih utama. Puasa qadha adalah lebih

SATU NIAT utama daripada puasa kafarat. Namun apabila

Madzhab Hanafileo menerangkan bahwa tingkatan kedua ibadah fardhu itu sama, dan
ibadah yang digabungkan adakalanya masuk kedua ibadah tersebut adalah puasa, maka
kategori ibadah pengantar (wasa'il) atau iba-
dah utama (maqashid). Apabila ibadah terse- orang tersebut disuruh memilih salah satunya.
but masuk kategori wasa'il, maka kedua-dua
ibadah yang digabungkan dengan satu niat Umpamanya seperti puasa kafarat zihar dan
tersebut sah. Umapamanya adalah seseorang kafarat yamin, begitu juga zakat dan kafarat
zihar. Namun apabila yang digabungkan ada-
mandi junub pada hari |umat dengan niat lah zakat dan kafarat yamin maka zakat Iebih

mandi sunnah fumat dan niat menghilangkan utama. Adapun dalam shalat, maka shalatyang
jinabah, maka jinabahnya akan hilang dan lebih utama adalah yang dianggap sah, oleh
juga akan mendapatkan pahala sunnah man- sebab itu shalat fardhu harus diutamakan atas
shalat jenazah.
di lumat. Contoh lainnya adalah apabila se-
Apabila dua niat ibadah yang digabung
seorang berniat melakukan mandi Jumat dan tersebut yang satu adalah fardhu dan yang
mandi'ld, maka kedua-duanya sah. satu lagi adalah sunnah, seperti seseorang
menggabungkan niat shalat Zhuhur dengan
Dua ibadah kategori maqashid yang di- shalat sunnah, maka yang sah adalah niat sa-
gabungkan adakalanya fardhu semua, sunnah

78e Kasysyatul Qinai iilid 1, hlm. 370; al'Mughni, iilid 1, hlm. 468; Fathul Qadir iilid 1, hlm. 285.
1e0 lbnu Nujaim, al-Asyb ah wan-Nazha'ithlm. 39 dan setelahnya.

FIQIH ISTAM JILID 1

lah fardhu. Adapun yang sunnah tidak sah. Ini Imam as-Suyuthilel menyatakan bahwa
adalah menurut pendapat Abu Yusuf. Adapun barangsiapa niat melakukan satu kesunnah-
Muhammad mengatakan bahwa kedua niat an digabung dengan kesunnahan lain, maka
shalat tersebut tidak sah. Apabila seseorang kedua-duanya tidak diakui. Tapi kalau dia
niat puasa hari Arafah dan hari Senin (umpa-
niat melaksanakan zakat dan niat sedekah
sunnah, maka menurut Abu Yusuf yang sah manya), maka sah niatnya. Apabila seseorang
adalah niat zakat. Sedangkan menurut Mu- niat dua kesunnahan dan salah satunya dari
keduanya tidak dapat masuk dalam yang lain
hammad, yang sah adalah sedekah sunnah. seperti shalat sunnah Dhuha dan shalat sun-
Apabila seseorang niat melakukan shalat sun- nah Fajar; maka kedua-duanya tidak ada yang
nah dan shalat jenazah, maka yang sah adalah sah apabila memang dicampur. Namun apa-
bila salah satunya dapat masuk ke yang lain
niat shalat sunnah.
seperti niat shalat sunnah tahiyyatul masjid
Apabila dua niat ibadah yang digabung dan niat shalat sunnah ratibah zhuhur fmisal-
adalah sama-sama sunnah, seperti niat shalat
sunnah fajar dan tahiyyatul masjid, maka sah nya), maka kedua duanya sah. Karena, shalat
tahiyyatul masjid otomatis terjadi dengan me-
dua-duanya. lakukan shalat sunnah ratibah zhuhur. Ibnu
Hajar dan al-lraqi mengatakan bahwa meng-
Adapun dalam ibadah haji, apabila se-
seorang menggabungkan niat ihram nadzar gabungkan niat puasa fardhu dengan puasa
dan ihram sunnah, maka ihramnya yang di- sunnah Arafah, Asyura (hari kesepuluh bulan
akui adalah ihram sunnah. Apabila seseorang Muharram), Tasu'a (hari kesembilan bulan
menggabungkan niat ihram fardhu dengan Muharram), enam hari bulan Syawwal, tiga
niat ihram sunnah, maka yang diakui adalah hari pada setiap bulan (ayyamul bidh), atau
niat ihram sunnah. Ini menurut pendapat Abu puasa hari Senin dan Kamis adalah sah dan
Yusuf dan menurut pendapat Muhammad
yang ashah. Apabila seseorang melakukan mendapat kedua-duanya.
niat ihram untuk dua haji berbarengan, atau
yang satu lebih awal dan yang lainnya lebih Umpamanya lelaki berkata kepada istri-
belakangan, maka menurut Abu Hanifah dan nya, "Kamu haram untuk saya" dengan niat
Abu Yusuf, keduanya diakui. Adapun menurut menjatuhkan talak dan zihar; atau dia berkata
Muhammad, yang diakui adalah yang niatnya kepada dua istrinya, "Kamu berdua haram
dilakukan berbarengan. Sedangkan yang tidak untukku," dengan niat untuk salah satunya
bareng, maka niat yang diakui adalah niat adalah talak dan untuk yang satunya lagi ada-
Iah zihan maka menurut madzhab Hanafi yang
yang pertama saja. diakui adalah yang paling berat, yaitu talak.
Karena, satu kata tidak mungkin menerima
Apabila seseorang niat melakukan ibadah, dua maksud. Sedangkan menurut pendapat
yang ashah di kalangan ulama Syafi'iyah ada-
kemudian di tengah-tengah ibadah dia niat
berpindah kepada ibadah lain dengan cara lah orang tersebut disuruh memilih salah
bertakbir dan maksud niat berpindah kepa-
satu. Mana yang dipilih, maka itulah yang di-
da ibadah yang lain, maka ia dianggap keluar
dari ibadah yang pertama, sama seperti apa- tetapkan.le2
bila dia memperbarui niat yang pertama dan

bertakbir.

1,91, Al -Asybah wan- N a zha' ir, hlm. 20.
192 Ibnu Nujaim, al-Asybah wan-Nazha'inhlm. 42; ash-ShuyutYl', al-Asybah wan-ltlozha'ir,hlm 2L.

rIQIH ISI."AM IILID 1

Pembahasan terperinci mengenai maksud lainnya dapat dibedakan. Wudhu, mandi, sha-
niat dalam madzhab Syafi'i akan diterangkan
pada pembahasan berikut ini lat, dan puasa ada yang hukumnya fardhu, sun-
nah, dan ada juga yang wajib karena nadzar.
G. TUJUAN NIAT DAN FAKTOR.FAKTORNYA Tayamum juga kadang dilakukan karena ha-
dats atau jinabah, padahal bentuk amalannya
Ibnun Nujaim dan Imam as-Suyuthile3 me- adalah sama, yaitu mengusap wajah dan kedua

nerangkan pembahasan tujuan niat dengan tangan saja.
pembahasan yang sangat lengkap. Tujuan
Ada beberapa poin yang berhubungan
utama niat adalah untuk membedakan antara
ibadah dengan adat, dan juga untuk mem- dengan pembahasan ini, yaitu:
bedakan antara tingkatan-tingkatan ibadah.
a. Amalan yang tidak termasuk adat ke-
Umpamanya adalah amalan wudhu dan biasaan dan juga tidak mungkin serupa
mandi yang mempunyai beberapa kemung- dengan yang lain. Dalam amalan seperti
kinan apabila dilakukan, yaitu untuk mem- ini, niat yang disyaratkan hanyalah me-
bersihkan badan, mendapat kesegaran, atau nyatakan kehendak untuk melakukan

ibadah. (qashdul fi'l) tidak lebih dari itu, seperti

Maksud menahan diri dari makan dan iman kepada Allah S\MI, ma'rifah, takut,
minum atau yang seumpamanya, kadang dan mengharap kepada Allah atau mem-

untuk menjaga kesehatan, untuk pengobatan, baca Al-Qur'an dan berdzikir karena
atau karena memang tidak ingin makan dan
amalan-amalan tersebut mempunyai ciri-
minum. Maksud duduk di masjid adakalanya
untuk istirahat atau yang lain. Memberikan ciri yang istimewa, yang menyebabkannya
harta kepada orang lain adakalanya karena
didorong keinginan-keinginan duniawi, dan tidak serupa dengan amalan yang Iain.
adakalanya didorong keinginan untuk men- Apabila seseorang berkeinginan untuk
dekatkan diri kepada Allah SWT seperti za-
beriman atau membaca Al-Qur'an, maka
kat, sedekah, atau kafarat. Maksud menyem-
belih kadang hanya untuk memenuhi keper- dia akan diberi pahala dan dihukumi taat,

luan makanan, sehingga hukumnya adalah meskipun dalam melakukannya tanpa
mubah atau sunnah, dan adakalanya untuk ada niat untuk mendekatkan diri kepada
Allah. Adapun amalan yang tidak mem-
qurban sehingga menjadi amalan ibadah. Atau
punyai karekter seperti di atas, maka
penyembelihan itu dilakukan untuk acara
tidak cukup hanya sekadar menyatakan
ritual menyambut kedatangan seorang pem- keinginan melakukan amalan tersebut,
besa[ maka hukumnya haram. Oleh sebab itu, melainkan harus ada niat tambahan, yaitu
niat disyariatkan oleh agama supaya amalan niat mendekatkan diri kepada Allah SWT
ketika-umpamanya-memasuki masjid,
ibadah dapat dibedakan dari yang lain.
supaya ia mendapatkan pahala.
Hukum amalan yang dilakukan untuk
b. Amalan yang ada kemungkinan serupa
mendekatkan diri kepada Allah adakalanya
dengan amalan lain, maka harus dijelaskan
fardhu, sunnah, atau wajib. Oleh sebab itu, niat
ditetapkan supaya antara satu dengan yang dengan terang jenis amalan tersebut

(ta'yin). Dalilnya adalah sabda Rasulullah
saw, "Sesu ngguhnya setiap orang hanya
akan mendapatkan apa yang diniati saja,"

1e3 Ibn, Nuiaim, al-Asybah wan-Nazha'ir, hlm. 24 dan setelahnya; ash-shuyuthi, a l-Asybah wan-Nqzha'ir, hlm. 10-21.

*T

PonElantar llmu Flqlh FrqlH ISLAM f lLlD 1

Hadits ini secara jelas menegaskan ke- ibadah shalat. Dengan ta'yinini,maka mak-

harusan ta'yin dalam niat. Oleh sebab itu, sud niat-yaitu supaya ada perbedaan
dalam melaksanakan shalat fardhu, sese-
orang harus melakukan ta'yin, karena dengan yang Iain-dapat tercapai, sehing-
ga perlu menyatakan dengan jelas ten-
perbuatan dan bentuk shalat Zhuhur
tang kefardhuan ibadah supaya dia dapat
dan Ashar adalah sama, dan yang mem- dibedakan dari ibadah yang sunnah.
bedakannya adalah ta'yin (dengan cara
Pendapat y ang ashah juga menetapkan
menerangkan secara jelas jenis shalat bahwa kewajiban menyatakan dengan je-
yang dilakukan tersebut sewaktu niat). las (ta'yin) bahwa ibadah yang dilakukan
adalah ibadah shalat mempunyai maksud
Shalat-shalat sunnah selain sunnah mut-
supaya ia dapat dibedakan dari ibadah
lak, seperti shalat sunnah rawatib iuga
harus dijelaskan secara jelas jenisnya lain seperti puasa atau yang lain. Pendapat
(ta'yin), yaitu dengan cara menisbatkan yang ashah juga menetapkan bahwa me-
kepada shalat Zhuhur umpamanya baik nyatakan kefardhuan dalam mandi me-
rupakan syarat. Adapun dalam wudhu
itu ba'diyah atau qabliyah. tidak dianggap sebagai syarat, karena akti-
vitas mandi kadang merupakan aktivitas
Kemudian Imam as-Suyuthi menerang-
kan tiga kaidah, yaitu: kebiasaan, sedangkan aktivitas wudhu

Sesuatu yang tidak disyaratkan untuk adalah pasti ibadah. Pendapatyang ashoh

dinyatakan baik secara globalmau- juga menetapkan bahwa apabila dalam

pun terperinci, maka salah dalam me- niat zakat orang yang melakukannya
nyatakannya/menentukannya (ta'yin)
menggunakan kata sedekah, maka menya-
adalah tidak mengapa, sePerti me-
takan kefardhuan adalah syarat. Namun
nyatakan tempat shalat dan masanya. apabila dia menggunakan kata zakat, ma-
ka tidak perlu menyatakan kefardhuan.
Sesuatu yang disyaratkan untuk di- Karena, sedekah ada yang fardhu dan
nyatakan (ta'yin), apabila salah me- ada juga yang sunnah, sehingga tidak
nyatakannya dapat menyebabkan ru- cukup hanya menyebut sedekah saja' Se-
dangkan amalan zaliat dapat dipastikan
saknya niat, seperti kesalahan menya- kefardhuannya, karena zakat memang
takan puasa pada ibadah shalat atau nama atau istilah yang digunakan untuk
salah menyatakan shalat Zhuhur pada amalan fardhu yang berhubungan dengan
pelaksanaan shalat Ashar harta, sehingga tidak perlu diperjelas lagi
dengan menyatakan kefardhuan. Adapun
a Sesuatu yang disyaratkan untuk di- haji dan umrah, maka ulama sepakat bah-
nyatakan secara global namun tidak wa menyatakan kefardhuan dengan jelas
wajib menyatakannya secara terpe-
adalah syarat.
rinci, apabila dinyatakan secara terpe-
Kesimpulannya adalah ibadah Yang
rinci dan salah, maka menyebabkan niatnya harus dengan menyatakan kefar-
rusaknya niat. UmpamanYa adalah dhuan ada empat macam: [1]. Ibadah haji,
masalah jumlah rakaat, kalau seum- umrah zakat (dengan menggunakan kata
pama ada orang yang niat shalat zakat ketika niat) dan shalat berjamaah,

Zhuhur dengan lima atau tiga rakaat,
maka niatnya tidak sah.

c. Disyaratkan menyatakan dengan jelas

(ta'yin) tentang kefardhuan dan tentang

FIqlH ISI,AM Pengantar llmu Flqlh

tidak disyaratkan menyatakan kefardhu- Aturan menggabungkan niat dua ibadah
an.l2l.lbadah shalat, shalat fumat, mandi, akan diterangkan dalam pembahasan berikut
dan zakat (dengan menggunakan kata
sedekah ketika niat), disyaratkan menya- ini.
takan kefardhuan. Ini menurut pendapat
yang ashah. [3]. Ibadah wudhu dan pua- Pertama, niat ibadah digabung dengan
sa, tidak disyaratkan menyatakan kefar-
dhuan menurut pendapat yang ashah niat yang bukan ibadah, maka niatnya men-
[4]. Tayamum, tidak cukup dengan niat jadi batal. Umpamanya adalah menyembelih
fardhu, bahkan dapat menyebabkan niat hewan qurban dengan niat karena Allah dan
tersebut tidak sah-menurut pendapat juga karena yang lain. Niat seperti ini menye-
yang shahih, sehingga apabila ada orang babkan hasil sembelihannya menjadi haram.
Contoh lain adalah, apabila seseorang me-
niat fardhu tayamum maka tidak cukup. Iakukan takbiratul ihram berulangkali dan
setiap takbiratul ihram dia niat memulai sha-
d. Dalam shalat dan termasuk shalat fumat
tidak disyaratkan menyatakan niat qadha' latnya, maka shalatnya batal karena niat yang
atau ada'-menurut pendapat yang ashah. pertama menjadi terputus.

Menurut pendapat yang rajih, dalam Tapi, ada juga yang tidak menyebabkan
puasa harus dinyatakan niat qadha'. Se-
batalnya niat. Umpamanya adalah ketika
dangkan dalam haji dan umrah tidak
berwudhu atau mandi wajib seseorang juga
disyaratkan menyatakan niat qadha' atau berniat mencari kesegaran, maka menurut
ada', karena apabila seseorang melaku- pendapat yang ashah adalah sah niatnya.
kan haji atau umrah ada' dengan niat qa- Karena, kesegaran akan tetap diperoleh baik
dha'tidak apa-apa dan akan menjadi haji dikehendaki atau tidah sehingga kalau me-
atau umrah qadha'. Kalau orang tersebut mang dikehendaki, maka ia tidak dianggap
menduakan niat ibadah dengan niat yang
memang mempunyai tanggungan haji- lain. Dan juga tidak dianggap meninggalkan
keikhlasan, melainkan niat tersebut adalah
yaitu haji waktu kecil yang dia batalkan- untuk ibadah yang memang kesejukan itu
kemudian dia menginjak dewasa dan
menyertai amalan ibadah tersebut.
melakukan haji dengan niat qadha', maka
Kedua, niat ibadah fardhu digabung de-
hajinya menjadi haji ada'.
ngan niat ibadah lain yang sunnah. Ada banyak
e. Keikhlasan merupakan faktor yang da-
pat membedakan antara satu ibadah de- kemungkinan dalam kasus ini.
ngan ibadah yang lain. Oleh sebab itu,
menggantikan atau mewakilkan niat ke- a. Tidak menyebabkan batalnya niat dan ke-
pada orang lain adalah tidak sah. Kecuali,
dua-duanya dapat diperoleh. Umpamanya
dalam ibadah yang memang boleh diganti adalah seseorang melakukan takbiratul
atau diwakilkan seperti membagikan har- ihram dan dia niat melakukan shalat far-
dhu dan juga niat shalat tahiyyatul masjid,
ta zakat, menyembelilh hewan qurban, maka niatnya sah dan dia mendapatkan
puasa menggantikan maut, dan haji. keduanya. Contoh lain adalah niat mandi
Melakukan niat sendiri ini diwajibkan, jinabah dengan mandi fumat secara ber-
samaan, maka kedua-duanya sah. Orang
karena maksud utamanya adalah untuk yang mengucapkan salam di akhir shalat

menguji kesungguhan niat ibadah yang dengan niat keluar dari shalat dan juga
tersembunyi dalam hati, sehingga harus niat memberi salam kepada orang-orang
yang hadic maka kedua-dua niatnya ter-
dilakukan sendiri oleh orang mukallaf.

,l,' $

T

Pengantar llmu Flqlh FIQIH ISTAM JILID 1

sebut sah. Kalau seseorang melakukan haji atau antara niat mandi dan niat wudhu, maka

fardhu dan menggabungkannya dengan kedua-duanya sah, menurut pendapat yang

umrah sunnah atau sebaliknya, maka ke- ashah.

fI dua-duanya sah. Kalau seseorang ketika Keempat, niat perkara sunnah digabung

puasa hari Arafah niat melakukan puasa dengan perkara sunnah yang lain, maka kedua-
qadhai nadzar, atau kafarat, maka niatnya
I sah dan dia mendapatkan semuanya. duanya tidak sah. Karena dua perkara sun-

nah, apabila salah satunya tidak dapat masuk

b. Mendapatkan yang fardhu saja. Umpama- dalam yang lainnya, maka dua-duanya tidak

nya adalah seseorang niat haji fardhu dan sah ketika digabungkan. Umpamanya adalah

haji sunnah, maka yang sah adalah niat antara sunnah dhuha dan sunnah fajar yang
haji fardhu. Karena apabila dia berniat dilakukan secara qadhai Namun apabila salah
dengan niat haji sunnah, maka hajinya satunya dapat masuk ke dalam yang lainnya,

akan menjadi haji fardhu, Kalau seseorang seperti antara sunnah tahiyyatul masjid dan
melakukan shalat yang sudah terlewat sunnah zhuhul maka kedua-duanya sah.

pada malam Ramadhan, dan dalam waktu Namun ada beberapa kasus yang dike-
bersamaan dia niat shalat Tarawih, maka cualikan, yaitu apabila seseorang niat mandi
yang sah adalah niat shalat yang terlewat
fumat dan mandi 'ld, maka kedua-duanya
bukannya Tarawih.
sah. Begitu juga apabila seseorang melakukan
c. Mendapatkan yang sunnah saja. Umpa- khotbah dengan niat khotbah 'ld dan khotbah

manya adalah seseorang mengeluarkan kusuf secara bersamaan, maka kedua-duanya
uang sebanyak lima dirham, dia niat me-
sah. Sama seperti apabila seseorang niat puasa
ngeluarkan zakat dan juga niat menge-
hari Arafah dan niat puasa Senin, maka kedua-
luarkan sedekah sunnah, maka zakatnya duanya juga sah.
tidak sah, dan yang sah adalah sedekah
sunnahnya. Kalau seandainya orang me- Kelima, niat perkara yang bukan ibadah
lakukan khotbah dengan.niat khotbah digabung dengan perkara yang lain dan dua
perkara tersebut mempunyai konsekuensi
fumat dan khotbah Kusuf, maka niat hukum yang berbeda. Umpamanya adalah le-
laki berkata kepada istrinya, "Kamu adalah
khotbah f umatnya tidak sah. Karena, dalam haram untukku" dengan niat talak dan zhihar,
maka menurut pendapat yang ashah orang
amalan seperti ini ada unsur menduakan tersebut disuruh memilih antara dua hal ter-
sebut, mana yang dia pilih maka itulah yang
perkara fardhu dengan perkara sunnah.
berlaku.
d. Menyebabkan batal semuanya. Umpama-
Kesimpulannya adalah niat mempunyai
nya adalah imam sedang dalam keadaan
beberapa faktor pembentuk, yaitu [1], Kehen-
ruku' dan makmum masbuq (makmum dak [al-qashdu); l2). Kefardhuan bagi ibadah
yang terlambat) melakukan takbir sekali shalat fardhu yang lima, mandi, zakat yang di-
dengan niat takbiratul ihram dan takbir
lafalkan dengan kata sedekah; [3].Menyatakan
turun menuju posisi rukul maka shalatnya
dengan jelas jenis yang diniati (ta'yin), iika
tidak sah. Kalau ada orang niat shalat memang yang diniati tersebut mempunyai

fardhu dan shalat sunnah ratibah, maka
semuanya tidak sah.

Ketiga, niat perkara fardhu digabung

dengan perkara fardhu yang lain. Apabila itu kesamaan dengan amalan-amalan lain; [4].
dilakukan antara niat haji dan niat umrah Keikhlasary oleh sebab itu tidak boleh me-

Isr."A,M IruD 1 Pengantar llmu Flqlh

wakilkan niat kecuali dalam amalan-amalan nya adalah janji-janji lahiriah mereka. Namun
yang boleh diganti atau diwakilkan. menurut madzhab Syafi'i, kafarat orang kafir
selain dalam bentuk ibadah [puasa) seperti
Hukum asal dalam masalah niat adalah memerdekakan budak dan memberi makan
tidak boleh menggabungkan dua amalan iba- fakir miskin adalah sah. Dan supaya sah, me-
reka disyaratkan berniat, karena yang ditekan-
dah dengan satu niat, kecuali beberapa ibadah kan di sini adalah sisi denda dan hukumannya.
yang dikecualikan. Sehingga, niat adalah untuk membedakan dari
kegiatan untuk maksud yang lain bukan untuk
H. SYARAT.SYARAT NIAT
mendekatkan diri kepada Allah SWT. Pem-
Niat dalam semua bentuk ibadah mem-
punyai beberapa syarat, namun niat dalam bayaran kafarat ini hampir sama dengan pem-
masing-masing ibadah juga mempunyai sya- bayaran utang. Mandi setelah berhenti dari
rat-syarat tersendiri. Syarat niat dalam semua
bentuk ibadah adalah sebagai berikut.lea haid yang dilakukan oleh wanita Ahli Kitab
yang menjadi istri seorang Muslim adalah sah.
A. ISLAM Ketetapan ini diputuskan supaya sang suami
dibolehkan menggauli istrinya tersebut tan-
Niat yang dapat menghasilkan pahala dan
pa ada perbedaan pendapat, karena darurat.
dapat menyebabkan sahnya suatu amalan Menurut madzhab Syafi'i supaya mandinya itu
adalah niatyang dilakukan oleh orang Muslim. sah, maka wanita itu disyaratkan niat terlebih
Ibadah yang dilakukan oleh orang kafir tidak dulu.

sah. Oleh sebab itu, tayamum dan wudhu yang Adapun orang yang murtad, maka mandi
atau amalan lainnya yang dilakukan tidak
dilakukan oleh orang kafir dianggap tidak sah. Namun apabila orang murtad tersebut
mengeluarkan zakat sewaktu dalam keadaan
berarti sebagaimana ditegaskan oleh jumhur murtad, maka hal itu sah dan cukup.
ulama, Namun menurut madzhab Hanafi, wu-
dhu dan mandinya orang kafir adalah sah, B. TAMYIZ
karena niat-menurut mereka-hanya disya-
ratkan sewaktu tayamum tidak pada waktu Ulama bersepakat bahwa, ibadah yang di-
wudhu. Apabila setelah melakukan wudhu dan lakukan oleh anak kecil yang belum mumayyiz
mandi orang kafir itu masuk Islam, maka dia
boleh malakukan shalat dengan wudhu dan (belum dapat membedakan yang baik dan
mandi yang dilakukan sebelum masuk Islam yang buruk) dan orang gila adalah tidak sah.
tersebut. Menurut madzhab Hanafi kafarat Namun menurut madzhab Syafi'i, seorang
yang dilakukan oleh orang kafir tidak sah, wali yang mewudhukan anaknya untuk ke-
begitu juga dengan sumpah yang diucapkan- perluan thawaf-yaitu ketika dia melakukan
nya. Karena, Allah SWT berfirman, ihram untukanaknya-adalah sah. Begitu juga

"... Sesungguhnya mereka qdalqh orang- apabila seorang suami memandikan istrinya
orang yang tidak dapat dipegang janjinya...!'
yang gila setelah berhentinya darah haid
(at-Taubah: 12) dan Allah juga berfirman,
"Dan jika mereka melanggar sumpah setelah adalah sah, apabila suami tersebut berniat. Hal
ada perjanjian...!' (at-Taubah: 12) maksud- ini adalah menurut pendapat yangashah.

1e4 lbnu Nujaim, al-Asybahwan-Nazha'ir,hlm.52-55; as-Suyuthi, al-Asybahwan-Nazha'inhlm.31-38; Ghayatul Muntaha,lilid 1, hlm.

1 15 dan setelahnya.

', lw:

W:,*",.

FIqLH IS[-A.M IILID 1

Oleh sebab itu, perbuatan anak kecil dan Imam as-Suyuthi menjelaskan apabila ada
orang gila yang dilakukan dengan sengaja orang mengucapkan kata talak dengan meng-
adalah dianggap tidak sengaja. Madzhab Ha- gunakan bahasa yang tidak dimengerti, kemu-
nafi menambahkan baik anak kecil tersebut dian orang tersebut berkata, "Saya menghendaki
maknanya dalam bahasa Arabi' maka menurut
sudah mumayyiz atau belum. Sedangkan pendapat yang ashah, ucapan talaknya ter-
sebut tidak berlaku.
madzhab Syafi'i, menetapkan bahwa kesenga-
D. TIDAK MELAKUKAN PERKARA YANC
jaan orang gila dan anak kecil yang belum
DAPAT MERUSAK NIAT ATAU MERUSAK
mu mayyizdianggap ketidaksengaj aan. Namun PERKARA YANG DINIATI.

apabila yang melakukan adalah anak kecil Oleh sebab itu, orang yang berniat harus
yang sudah mumayyiz, maka tetap dianggap memegang teguh konsekuensi niat tersebut.
Atas dasar ini juga, maka ibadah seperti shalat,
sebagai kesengajaan. puasa, haji, dan tayamum, akan menjadi batal
Wudhu orang yang mabuk menjadi batal apabila ketika melakukan ibadah tersebut
orang yang melakukannya murtad-semoga
karena mabuknya tersebut. Begitu juga sha- Allah melindungi kita dari kemurtadan. Be-
latnya menjadi batal, karena orang tersebut gitu juga status sebagai sahabat Nabi men-
berada dalam kondisi tidak dapat membeda- jadi batal, apabila orang tersebut murtad dan
kan yang baik dan yang buruk. Adapun madz- mati dalam kedaan murtad. Namun apabila
hab Syafi'i menegaskan bahwa orang yang orang tersebut kembali lagi kepada Islam dan
Nabi masih hidup, maka status sahabat terse-
mabuk tidak dihukumi sebagai orang yang but dapat disematkan kembali. Tetapi apabila
berhadats. Sehingga, shalat dan amalannya Nabi sudah meninggal ketika orang tersebut
yang lain tidak batal, kecuali jika dia sampai kembali kepada Islam, maka ada perbedaan
pendapat dalam masalah statusnya sebagai
mabuk berat dan keluar bau dari mulutnya. sahabat. Imam as-suyuthi menyebutkan bah-
wa wudhu dan mandi tidak menjadi batal
C. MENGETAHUI PERKARA YANG DINIATI karena murtad. Karena, amalan-amalan dalam
wudhu dan mandi tidaklah saling berhubung-
Barangsiapa tidak mengetahui kewajiban an. Namun, amalan yang dilakukan ketika da-
melaksanakan shalat lima waktu, maka niat- lam keadaan murtad tidak diberi pahala.
nya tidak sah. Begitu juga orang yang hanya
mengetahui bahwa yang wajib hanyalah be- Kemurtadan menyebabkan hapusnya amal,
pahala, dan juga keimanan yang terlewat, baik
berapa shalat saja dari shalat lima waktu' orang tersebut nantinya masuk Islam kembali
Namun syarat ini tidak berlaku dalam ibadah
atau tidak.
haji, karena haji berbeda dengan shalat. Dalam Di antara perkara yang menyebabkan ru-

haji tidak disyaratkan menyatakan dengan saknya niat adalah niat untuk memutuskan
atau membatalkan. Apabila ada orarrg yang
jelas perkara yang diniati (ta'yin), melainkan berniat hendak membatalkan imannya, maka
ihram akan sah hanya dengan niat yang mut- seketika itu juga dia menjadi murtad. Kalau
seseorang berniat membatalkan shalat namun
lak. Ali r.a. melakukan ihram (dengan niat)

"melakukan ihram yang dilakukan oleh Nabi

Muhammadi' dan Nabi membenarkan tin-
dakan Ali tersebut. Apabila sebelum melaku-
kan amalan seseorang menyatakan dengan

jelas (ta'yin) bahwa amalannya adalah amalan

haji atau umrah, maka amalannya itu sah.
Namun apabila ta'yin itu dilakukan setelah
memulai amalan, maka ia menjadi amalan

umrah.

FIQIH ISIAM JITID 1 Peng.ntar llmu Flqlh

dilakukan setelah selesai shalat, maka shalat- dia membatalkan niatnya sebelum faja4 maka
nya tidak batal, begitu juga ibadah-ibadah yang niat itu tidak aktif lagi.
lain. Namun apabila niat membatalkan shalat
Apabila seorang musafir memutuskan un-
itu dilakukan di tengah-tengah mengerjakan
tuk tinggal dan menjadi orang mukim, maka
shalat, maka batallah shalatnya. Karena, sha- dia ditetapkan sebagai mukim dan status
lat hampir sama dengan iman. Namun Ibnu
Nujaim al-Mishri mengatakan bahwa shalat- safarnya menjadi batal dengan lima syarat; [1].
Benar-benar tidak melakukan safar lagi. Kalau
nya orang tersebut tidak batal kecuali jika seandainya seseorang niat bermukim namun
dia tetap melakukan perjalanan, maka niatnya
orang tersebut mengucapkan takbir; dan niat
melakukan pekerjaan yang lain, maka tak- tidak sah; [2] Tempat mukimnya memang layak
bir tersebut sebagai pemutus pekerjaan yang untuk bermukim. Kalau seandainya seseorang
pertama, dan putusnya bukan hanya sekadar
dengan niat. niat bermukim di tengah laut atau di pulau

Apabila ada orang ketika di tengah-te- [yang tidak mungkin ditempati), maka niatnya
ngah melakukan thaharah niat membatal-
tidak sah; [3] Niatnya tersebut atas inisiatif
kan thaharah, maka amalan thaharah yang sendiri. Oleh sebab itu, niat bermukim yang
dilakukan oleh orang yang ikut-ikutan tidak
sebelumnya tidak batal. Tetapi, dia wajib sah; [4] Mukimnya dalam masa setengah bu-
memperbarui niat untuk melakukan amal- lan. Apabila seseorang niat bermukim dalam
jangka waktu kurang dari setengah bulan,
an thaharah yang tersisa. Apabila seseorang
niat membatalkan puasa atau i'tikaf, maka maka dia masih boleh mengqashar shalat; [5]
puasa dan i'tikafnya tidak batal. Hal ini karena Masa setengah bulan itu dilalui di satu tempat.
shalat merupakan ibadah khusus yang ber- Apabila seseorang niat mukim setengah bulan
beda dengan ibadah-ibadah yang lain, karena namun masanya dibagi di dua tempat, seperti
ia sangat menekankan ikatan dan doa kepada di Mina dan Mekah, maka dia tidak dihukumi
Allah SWT. Apabila setelah fajar seseorang
mulai melakukan puasa fardhu, kemudian sebagai orang yang mukim.les
dia niat membatalkan puasanya tersebut dan
berubah melakukan puasa sunnah, maka pua- Perkara yang hampir sama dengan mem-
sanya tidak batal. Karena, puasa sunnah dan batalkan niat, adalah mengubah niat, yaitu
puasa wajib begitu juga sedekah sunnah dan niat pindah dari satu bentuk shalat ke shalat
sedekah wajib, adalah satu jenis. Apabila ada yang lain. Menurut madzhab Hanafi, perubah-
seseorang memulai shalat dengan niat fardhu, an tersebut tidak akan terjadi kecuali dengan
kemudian dia mengubah niatnya menjadi niat melakukan takbir bukan hanya dengan niat
shalat sunnah, maka shalatnya berubah men- melakukan perubahan saja, dan takbir itu ha-
ruslah yang kedua bukan yang pertama. Um-
jadi shalat sunnah. Apabila seseorang niat pamanya adalah seseorang melakukan shalat
Ashar setelah melakukan iftitahshalaf Zhuhur;
dalam hati akan melakukan perkara-perkara
yang membatalkan shalat, maka shalatnya ti- sehingga shalat Zhuhurnya batal, disyaratkan
dak batal. Apabila seseorang niat akan makan
atau berjimak sewaktu puasa, maka niatnya juga niat tersebut tidak dilafalkan dengan
itu tidak memengaruhi sahnya puasa. Apabila lisan. Apabila dia melafalkan dengan lisan,
seseorang niatpuasa di malam hari, kemudian
maka yang pertama menjadi batal.
7es Ad-Durrul Mukhtar wa Raddul Mukhtan tllid^L,h1m.737.
Menurut Imam al-Mawardi, "Shalat men-
jadi batal apabila seseorang melakukan per-

Pengantar llmu Flqlh FIQIH ISIAM IILID 1

pindahan niat dari satu fardhu ke fardhu juga batal. Karena, kalimat tersebut makna
yang lain, atau dari satu sunnah ratibah ke asalnya menunjukkan kepada arti menggan-
tungkan niat kepada sesuatu. Kalau ada orang
sunnah ratibah yang lain, seperti berpindah berniat, "Besok saya puasa, insya Allahl' maka
dari shalat Witir ke shalat sunnah fajac atau niatnya tidak sah. Ibnu Nujaim berpendapat
dari shalat sunnah ke shalat fardhu, atau dari bahwa apabila kalimat insya Allah tersebut
fardhu ke sunnah, kecuali jika memang ada dikaitkan dengan niat puasa dan shalat, maka

udzur. Umpamanya adalah seseorang mela- tidak batal. Namun jika dikaitkan dengan
kukan takbiratul ihram untuk shalat fardhu
secara sendirian kemudian ada jamaah, lalu ucapan seperti talak dan membebaskan bu-

orang tersebut memutuskan untuk meng- dak, maka batallah niatnya.
akhiri shalatnya pada rakaat kedua dengan Namun ada beberapa kasus yang dite-

salam, maka shalat yang dilakukan itu sah dan rangkan oleh Imam as-Suyuthi, di mana niat

dianggap'sebagai shalat sunnah. Ini adalah tidak batal meskipun ada keraguan dalam niat
atau niat tersebut digantungkan kepada yang
menurut pendaPat Yang ashah. lain. Di antara contoh ragu-ragu adalah apabila
seseorang ragu apakah air yang akan diguna-
Di antara perkara yang menyebabkan kan itu air mutlak atau air bunga mawal maka
orang tersebut tidak perlu berijtihad, melain-
rusaknya niat adalah adalah ragu-ragu dan kan dia boleh terus berwudhu dengan air ter-
tidak pasti terhadap niat yang asal. Apabila sebut. Munculnya keraguan ketika niat diam-
puni karena darurat. Contoh lainnya adalah
seseorang niat puasa di hari syak [malam apabila seseorang menyadari bahwa dia mem-
punyai tanggungan puasa wajib, namun dia
tanggal tiga puluh Sya'ban),-sehingga apabila tidak tahu pasti apakah puasa tersebut puasa
Ramadhan atau puasa nadzar atau puasa ka-
memang hari itu masih dalam bulan Sya'ban, farat, maka dia boleh terus berniat puasa wa-

maka dia tidak dianggap puasa. Dan apabila jib dan niat tersebut sudah cukup untuknya'
sudah masuk bulan Ramadhan, maka dia di- Tidak adanya kepastian niat dalam kasus ini
anggap puasa-, maka niat puasanya tersebut
tidak sah. Beda apabila keraguan itu teriadi dimaafkan karena darurat.
pada malam tanggal tiga puluh Ramadhan, Adapun contoh menggantungkan (to'liq)
karena diikutkan dengan yang asal. Apabila
seseorang ragu apakah dia jadi membatalkan niat yang tidak menyebabkan batalnya niat

shalat atau tidak, atau dia menggantungkan adalah, apabila seseorang ragu apakah imam-
batalnya shalat dengan sesuatu, maka batallah nya mengqashar shalat atau tidak, kemudian
shalatnya. Apabila seseorang ragu apakah dia dia berkata, 'Apabila dia mengqashar shalat,
tadi niat qashar atau tidak, atau ragu apakah
dia akan melaksanakan shalat secara sem- maka saya ikut mengqashar. Apabila tidah
purna atau tidak (qashar), maka orang terse-
but tidak boleh mengqashar shalat, melainkan maka saya juga tidak mengqashar shalati' dan

harus melaksanakannya dengan sempurna. ternyata sang imam mengqashar shalat, maka

Contoh lainnya adalah mengikuti niat de- orang tersebut harus mengqashar.
ngan kalimat insya Allah. Imam as-Suyuthi
mengatakan bahwa apabila orang yang me- Apabila ada orang yang hendak ihram
berkata, 'Apabila Zaid sudah berihram, ma-
nyatakan itu bermaksud menggantungkan ka saya pun berihram." Dan ternyata, Zaid
benar-benar sudah berihram, maka jadilah
niatnya, maka batallah niat tersebut. Namun ihram orang tersebut. Namun apabila Zaid
jika maksudnya adalah mencari keberkahan,
lili:il
maka tidak batal. Apabila dia tidak bermaksud

apa pun dengan pernyataan itu, maka niatnya

ir;!iii

'idd

,r.il

FIQIH ISI.JA,M IITID 1 I

ternyata belum berihram, maka ihram orang I
tersebut tidak jadi. Apabila orang tersebut
menggantungkan niat ihramnya dengan ke- madzhab Syafi'i. Dikatakan juga bahwa shalat
jadian yang akan datang, umpamanya dia ber-
kata, "fika nanti Zaid berihram, atau jika awal fumat tersebut tidak sah.
bulan datang, maka saya berihrami'maka niat-
nya tidak sah. Di antara perkara yang menyebabkan

Contoh lain adalah apabila ada orang yang rusaknya niat adalah tidak adanya kemampu-
mempunyai tanggungan shalat fardhu namun an untuk melaksanakan sesuatu yang diniati,

dia ragu apakah sudah melaksanakannya baik ketidakmampuan itu berdasarkan per-

atau belum, kemudian dalam niatnya dia me- timbangan akal, syarai atau adat kebiasaan.
nyatakan, "Saya akan shalat mengganti shalat Contoh yang pertama adalah apabila ada
yang menjadi tanggungan saya jika memang
belum saya kerjakan. Namun bila sudah saya orang mengambil air wudhu dengan niat un-
kerjakan, maka shalat saya ini menjadi shalat
sunnah," dan ternyata shalat tersebut sudah tuk melakukan shalat dan pada waktu ber-
ditunaikan, maka niatnya tersebut tetap sah.
samaan niat untuk tidak melaksanakan shalat,
Apabila ada orang niat puasa pada malam maka niatnya tidak sah karena ada perten-
tanggal tiga puluh Sya'ban sembari berkata,
"Kalau memang besok sudah masuk bulan tangan [kontradiksi) dalam niatnya.
Ramadhan, maka saya puasa wajib. Tetapi Contoh yang kedua adalah orang yang niat
kalau belum masuk bulan Ramadhan, maka
puasa saya adalah puasa sunnahi' maka niat- berwudhu untuk melakukan shalat di tempat
nya tersebut sah dan sudah cukup. Apabila ada yang najis, maka tidak sah niatnya.
orang niat mengeluarkan zakat atas hartanya
Contoh yang ketiga adalah apabila ada
yang tidak ada di tempat dengan berkata, orang yang berwudhu dengan niat untuk sha-
lat'ld, padahal dia masih berada di awal tahun
"Saya keluarkan zakat atas hartaku yang tidak hijriyah, atau ada orang niat thawaf padahal
ada di tangan, jika ia memang masih ada. Na-
mun jika harta tersebut memang hilang, maka dia masih ada di Syam. Menurut pendapat
zakat tersebut adalah untuk harta benda yang
ada pada diriku saja," dan ternyata hartanya yang ashah niatnya sah, tapi dikatakan juga
tersebut masih ada, maka niatnya tersebut bahwa niatnya tidak sah.

sudah cukup. Atau bila hartanya memang Yang diterangkan ini adalah syarat-syarat
umum dalam berbagai ibadah. Syarat-syarat
benar-benar hilang, maka niatnya cukup un- tersebut juga digariskan oleh para ahli fiqih
tuk zakat harta yang ada di tangannya saja. untuk ibadah thaharah. Mereka mengatakan
bahwa dalam niat wudhu disyaratkan Islam,
Apabila ada orang melakukan shalatfumat tamyiz, mengetahui apa yang diniati, dan ti-
dak melakukan perkara yang membatalkan
di akhir waktu dan dia berkata, "fika waktu niat, yaitu dengan memegang teguh konse-
shalat fumat masih, maka shalat yang aku kuensi niat tersebut, sehingga dia tidak boleh
memindahkan niat wudhunya kepada amalan
lakukan adalah shalat fumat. Namun apabila yang lain. Niat tersebut juga disyaratkan ti-
waktunya sudah habis, maka shalat tersebut dak digantungkan dengan sesuatu yang lain.
adalah shalat ZhuhuC' dan ternyata waktu- Kalau seseorang mengatakan "insye Allahi'
nya masih, maka shalat fumatnya sah. Ini
dan dia bermaksud menggantungkan niat
merupakan pendapat salah satu wal dalam
atau dia memutlakkan kalimat tersebut, maka
niatnya tidak sah. Namun jika dia bermaksud

mendapatkan berkah, maka sah niatnya.

Selain madzhab Hanafi mensyaratkan

masuknya waktu shalat bagi niat wudhu yang
dilakukan oleh orang yang keluar hadats se-

T-

Pengbntar llmu Flqlh FIqLH ISTAM

cara berterusan, seperti orang yang keluar gpkr4t-"tcnrV)uar'/ c /0
kencing terus atau wanita yang sedang me- ,t / ol / /t

ngalami istihadhah, hal ini karena thaharah "Barangsiapa tidak niat puasa pada ma'
lam hari sebelum munculnya faiar maka tidak
mereka adalah thaharah dalam keadaan udzur (sah/ se mp urna) p uasany a.'ae7
dan darurat. Sehingga, perlu dibatasi dengan
fumhur ulama juga menetapkan bahwa
waktu sama seperti tayamum.le6 ta'yin niat dalam puasa fardhu adalah syarat,
Syarat-syarat umum di atas juga ditetap- sedangkan madzhab Hanafi tidak mengang-
gapnya sebagai syarat. Yang dimaksud ta'yin
kan oleh fuqaha untuk niat ibadah shalat. Se- tersebut adalah bertekad puasa esok hari di
lain itu, mdreka juga menambahkan beberapa bulan Ramadhan, bertekad puasa esok hari
syarat, yaitu membarengkan niat dengan tak- sebagai qadha', atau sebagai kafarat atau se-
biratul ihram; madzhab Hanafi mensyaratkan bagai nadzar. fumhur iuga mensyaratkan
niat tersebut harus pasti. Sehingga apabila
niat harus bersambung dengan amalan pada malam syak seseorang berniat, 'Apabila
besok memang Ramadhan, maka saya akan
shalat, tidak boleh ada pembatas asing di puasa fardhu. Apabila belum masuk Rama-

antara keduanya. Sedangkan madzhab Syafi'i dhan, maka saya puasa sunnah," maka niatnya
menetapkan bahwa niat harus berbarengan
dengan amalan shalat. Madzhab Maliki dan tersebut tidak sah. Hal ini disebabkan tidak
Hambali juga menetapkan bahwa niat harus
berbarengan dengan takbiratul ihram. Tetapi ada kepastian puasa yang mana yang akan
dilaksanakan, karena orang tersebut tidak
menurut mereka, mendahulukan niat atas memastikan bahwa puasanya adalah puasa
takbiratul ihram dalam jangka masa yang Ramadhan. Namun menurut madzhab Hanafi,
memastikan niat dalam puasa yang waktunya
singkat adalah boleh. Para fuqaha sepakat telah ditentukan bukanlah termasuk syarat,
bahwa menentukan jenis shalat fardhu yang sehingga apabila ada orang yang melakukan
dilakukan-seperti shalat Zhuhur atau Ashar-
adalah termasuk syarat. Karena, shalat fardhu niat dengan niat di atas, maka sah niatnya.
banyak jumlahnya dan salah satu di antara-
nya tidak boleh dilakukan dengan niat shalat Ahli fiqih sepakat bahwa niat kefardhuan
fardhu yang lain. puasa bukanlah syarat dalam niat puasa. Hal

Niat keluar dari shalat ketika mengucap- ini berbeda dengan apa yang ditetapkan dalam
kan salam tidak diwajibkan, namun menurut shalat, karena puasa Ramadhan yang dilaku-
madzhab Syafi'i dan Maliki niat tersebut di- kan oleh orang yang baligh sudah pasti fardhu.
Berbeda dengan shalat, sebab shalat i'adoh
sunnahkan.
adalah sunnah. Ulama juga sepakat bahwa
Syarat-syarat umum di atas juga ditetap- menyatakan sunnah, ada' atau mengaitkan
kan fuqaha untuk niat puasa. Mereka juga dengan Allah SWT dalam niat puasa bukan-
menambahi beberapa syarat lain, yaitu me-
lakukan niat pada malam hari, menurut pen- lah suatu syarat. Karena, maksud tersebut su-
dapat jumhur selain madzhab Hanafi. Menurut dah dipenuhi dengan hanya menyatakan niat
madzhab Hanafi, melakukan niat puasa di
malam hari adalah keutamaan. Dalil masalah

ini adalah sabda Rasulullah saw.,

1e6 Mughnit Muhtaj, iilid,l,hlm. 47; at-Mughni,jilid 1, hlm. 142.
1e7 H"ditr ini diriwayatkan oleh ad-Daruquthni dengan sanad yang rawi'rawinya *iqoh.

Isr-A.M IrtlD 1 I

puasa, sehingga tidak perlu menyatakan ke- naan pemberian harta tersebut kepada fakir I
miskin. Yaitu, ketika memisahkan kadar harta I
sunnahannya. yang wajib dizakati atau ketika memberikan I
harta zakat tersebut kepada wakil, atau se-
Jumhur ulama juga mensyaratkan peng- telahnya namun sebelum pembagian zakat I
ulangan niat sesuai dengan jumlah hari. Se- kepada fakir miskin. Niat juga boleh dilakukan
pada rentang masa antara waktu memisahkan i
hingga pada setiap hari bulan Ramadhan, kadar harta yang wajib dizakati dan waktu {
seseorang harus niat puasa secara sendiri- pembagian zakat, meskipun niatnya tersebut
tidak berbarengan dengan waktu pembagian 1
sendiri. Karena, ibadah puasa dalam satu hari atau waktu pemisahan.
.l
tidak ada sangkut pautnya dengan ibadah Niat juga boleh dipasrahkan kepada wakil ;i
il
puasa pada hari berikutnya. Namun, madzhab jika memang wakil tersebut kapabel [Mus- 1
Maliki mengatakan bahwa niat sekali di awal lim dan mukallaf). Untuk membagikan zakat
puasa sudah cukup untuk puasa selama bu- tersebut kepada yang berhah seseorang juga I
lan Ramadhan. Sehingga, boleh puasa sebulan
penuh dengan niat sekali saja. boleh mewakilkannya kepada anak kecil atau l
orang kafir; asalkan orang-orang yang akan
Dalam masalah zakat, para ulama juga diberi zakat tersebut sudah ditentukan secara i
menetapkan syarat-syarat umum di atas. Na- jelas. Wali wajib melakukan niat ketika melak-
mun, mereka berbeda pendapat dalam ma- sanakan zakatnya anak kecil, orang gila, atau I
salah keharusan barengnya pelaksanaan niat orang yang bodoh (safih).|ika dia tidak ber- I
dengan waktu memberikan zakat. Madzhab niat, maka dia wajib menggantinya. Apabila I
Hanafi menetapkan bahwa membayar zakat seseorang menyampaikan zakat kepada imam I
tidak boleh tanpa niat dan niat tersebut harus (pemerintah) tanpa niat, maka niatnya imam I
dinyatakan sewaktu membayarkannya (ada') belum mencukupi. Hal ini menurut pendapat
kepada fakir miskin, meskipun secara hukmi yang azhar. Apabila seseorang yang wajib za-
saja. Yaitu, umpamanya ada orang sewaktu kat (tidak mau membayar zakat) dan dipaksa
memberikan zakat kepada fakir miskin tidak untuk membayar zakat, maka niatnya adalah
niat. Namun setelah itu, dia niat dan harta ketika harta zakat itu diambil. Apabila orang

zakat itu masih ada di tangan fakir miskin, itu tidak menyatakan niat, maka orang yang

maka sah niatnya. Begitu juga apabila niat- mengambilnya waj ib niat.
nya itu diucapkan ketika memberikan kepada
wakilnya dan sang wakil ketika memberikan Bagi madzhab Hambali, pelaksanaan niat
kepada fakir miskin tidak niat, atau niat itu boleh mendahului pelaksanaan zakat jika ren-
dinyatakan ketika memisahkan kadar harta tang waktu tidak panjan& sama seperti iba-
yang wajib dizakati. dah-ibadah yang lain. Apabila seseorang mem-
berikan zakatnya kepada wakil dan niat hanya
Madzhab Maliki mensyaratkan niat di- dilakukan oleh orang yang wajib zakat-wakil-
lakukan sewaktu memberikan (daf'u) zakat nya tidak menyatakan niat-maka niat zakat-
nya sah, jika memang jarak antara pelaksana-
tersebut kepada fakir miskin, dan niat tersebut an niat dengan pembagian zakat tidak lama.
juga sudah cukup apabila dilakukan sewaktu fika jarak antara niat dan pembagian zakat
memisahkan kadar harta yang wajib dizakati. adalah lama, maka niatnya tidak sah. Kecuali,
Niat yang dilakukan oleh imam [pemerintah)
atau perwakilannya juga sudah cukup sebagai
pengganti niat orang yang wajib zakat.

Madzhab Syafi'i, Hanafi, dan Maliki mem-
bolehkan terjadinya niat mendahului pelaksa-

-Tr FIqLH ISIAM JILID 1

I
l

Pengantar llmu Flqlh

jika orang yang wajib zakat itu menyatakan dengan niat. Tetapi menurut madzhab Maliki,
orang yang melakukan seperti itu wajib mem-
niat ketika memberikannya kepada wakil dan bayar dam,karena dia meninggalkan talbiyah
wakil juga niat ketika memberikannya kepada dan tidak melepaskan pakaian yang berjahit
ketika niat. Sewaktu ihram, lelaki disyaratkan
orang-orang yang berhak. Tetapi jika harta menanggalkan pakaian yang berjahit, tidak

zakat itu diambil oleh imam dengan cara pak- memakai wewangian, dan perkara-perkara
sa, maka sudah dianggap cukup, meskipun lain yang dilarang sewaktu ihram. Adapun
tanpa niat. Karena, adanya udzur untuk me- ihramnya wanita adalah dengan cara mem-
lakukan niat dapat menggugurkan kewajiban
niat, sama seperti udzurnya anak kecil dan buka wajahnya. Syarat yang lain adalah ihram

orang gila. harus dilakukan dari miqat Setiap negeri

Menurut jumhur ulama-selain madzhab mempunyai miqat tertentu yang telah diketa-

Hanafi, orang yang secara sukarela menyede- hui oleh banyak orang.
kahkan seluruh hartanya, belum dianggap se-
bagai membayar zakat. Karena, orang terse- Jumhur fuqaha menyatakan bahwa meng-

but tidak menyatakan niat fardhu, sehingga gabungkan haji kepada ibadah umrah atau
disamakan dengan sedekah sebagian harta-
nya. Kasus ini disamakan dengan kasus orang sebaliknya adalah boleh, dengan syarat peng-
yang shalat seratus rakaat, namun dia tidak
niat shalat fardhu. Menurut madzhab Hanafi, gabungan itu dilakukan sebelum melakukan
thawaf umrah. Adapun menurut madzhab
apa yang dilakukan oleh orang tersebut sudah
Hanafi, syaratnya adalah sebelum melakukan
dianggap menggugurkan kewajiban, dengan empat putaran dalam thawaf umrah. Namun
syarat dia tidak niat nadzar atau niat-niat wajib
lainnya. Alasannya adalah dalam harta terse- menurut madzhab Hanafi, menggabungkan
umrah kepada ibadah haji tidak boleh.
but ada yang wajib dizakati, sehingga tidak
perlu dipertegas lagi. Oleh sebab itu, apabila Menurut madzhab Hambali, membatalkan
ada orang fakir berutang kepada orang yang haji dan mengubahnya menjadi ibadah umrah
wajib zakat, kemudian orang yang wajib za-
adalah boleh. Pendapat madzhab Hambali
kat itu membebaskan utangnya, maka pembe-
basan itu dianggap sebagai pembayaranzakat, ini berbeda dengan pendapat jumhur yang

baik dia niat atau tidak. melarang praktik ini.

Syarat-syarat umum di atas juga ditetap- Madzhab Syafi'i dan Hambali mensyarat-
kan oleh ulama sebagai syarat dalam haji dan kan niat sewaktu menyembelih hewan qur-
umrah. Selain itu, ihram haji harus dilaksana- ban, karena qurban adalah sarana bagi orang
kan pada waktu-waktu tertentu yang telah yang melakukannya untuk mendekatkan diri
ditetapkan, yaitu tiga bulan: Syawal, Dzul- kepada Allah SWT. Niat tersebut cukup di-
nyatakan dalam hati. Adapun mengucapkan-
qa'dah, dan Dzulhijjah. Adapun umrah, boleh nya dengan lisan tidak menjadi syarat, karena
dilaksanakan sepanjang tahun. Menurut ma- niat adalah amalan hati dan mengucapkannya
dengan lisan hanya untuk membantu niat saja.
dzhab Hanafi, ihram harus dilakukan ber- Imam al-Kasani dalam al-Bada'i' mengatakan
samaan dengan amalan-amalan haji, baik itu
ucapan maupun perbuatan, seperti talbiyah bahwa pelaksanaan qurban harus dengan
atau melepas baju yang berjahit. Namun, jum-
hur ulama tidak mewajibkan hal itu. Menurut niat, dan menurut madzhab Hanafi niat sudah
jumhuc ihram sudah diakui meskipun hanya cukup apabila dilakukan ketika membeli he-
wan qurban tersebut, sebagaimana yang akan

kami terangkan nanti.

FIQIH ISLAM IILID 1 salah apakah niat itu ruku atau syarat dalam

l. NIAT DALAM IBADAH: SYARAT ATAU ibadah.

RUKUN? Ibnu Nujaimle8 berkata, "Menurut madz-
hab kami, niat adalah syarat dalam semua
Sebelum ini kita telah membahas masa-
lah syarat-syarat niat, tempat, cara, waktu bentuk ibadah. Ini merupakan kesepakatan

niat, dan sebagainya. Sehingga, dalam masa- semua ulama madzhab Hanafi. Dia bukan ru-
lah niat sewaktu ibadah kita hanya akan mem- kun. Perbedaan hanya muncul dalam masa-
bahas apakah niat termasuk rukun atau syarat lah takbiratul ihram, namun pendapat yang
dalam ibadah. Sebagaimana diketahui, syarat mu'tamad adalah takbiratul ihram merupakan
dan rukun adalah sama-sama fardhu, tetapi syarat sama seperti niat. Namun dikatakan
keduanya mempunyai perbedaan. Syarat ada- juga takbiratul ihram adalah rukun. Madzhab
lah faktor eksternal dari perkara yang disya- Hambali dan Maliki juga mengatakan bahwa

rati, seperti bersuci merupakan syarat sah niat adalah syarat dalam ibadah, ia bukan

shalat dan dia merupakan faktor eksternal dari rukun meskipun berada di dalam ibadah."lee
perbuatan shalat. Sedangkan rukun-menu-
Imam as-Suyuthizoo mengatakan bahwa
rut istilah dalam madzhab Hanafi-adalah ulama pengikut madzhab Syafi'i berbeda
pendapat apakah niat termasuk rukun atau
sesuatu yang diperlukan oleh kewujudan syarat ibadah. Sebagian besar dari mereka
memilih bahwa niat adalah rukun, karena
suatu perkara. Sehingga, ia merupakan bagian
sesuatu dan merupakan unsur internal yang niat berada di dalam amalan ibadah, dan
membangun sesuatu tersebut. Sedangkan arti
rukun menurut jumhur ulama adalah, perka- itu merupakan karakteristik rukun. Sedang-
ra yang menjadi penopang utama kewujudan
sesuatu, baik dia merupakan bagian internal kan syarat, adalah perkara yang mendahului
amalan ibadah dan harus terus-menerus ber-
dari sesuatu tersebut maupun dia merupa-
kan unsur utama bagi sesuatu itu. Ruku' dan sambung dengan ibadah.

sujud merupakan rukun dalam shalat, karena Pada pembahasan berikut akan saya te-
kedua perbuatan tersebut merupakan bagian rangkan hukum niat dalam setiap ibadah.
dari saslat, Shighat ijab dan qabul merupakan
syarat akad menurut istilah madzhab Hanafi. 7. BERSUC'
Selain shighat ijab dan qabul, dua orang yang
melakukan akad, benda yang diakadi dan harga Para ahli fiqih berbeda pendapat dalam
juga dianggap sebagai rukun akad menurut hal apakah niat wudhu menjadi syarat atau
istilah jumhur ulama.
bukan. Madzhab Hanafi2ol menyatakan bahwa
Namun sebelum membahas secara ter-
orang yang wudhu disunnahkan memulai
perinci masalah hukum niat dalam ibadah, wudhunya dengan niat supaya mendapatkan
pahala, waktu pelaksanaannya adalah sebe-
saya akan uraikan dulu pembahasan yang di- lum rstinia', sehingga semua amal perbuat-
lakukan oleh Imam as-Suyuthi dan Ibnu Nu- annya dapat dikategorikan sebagai ibadah
jaim, karena kedua imam ini merupakan wakil untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.
representatif bagi dua kelompok dalam ma-

198 Al-Asybah wan-Nazha'ir , hlm. 55.

199 Al-Qawanin al-Fiqhiyyah, hlm. 57; Ghayatul Muntaha jilid 1, hlm. 115.
200 Perinciannya akan diuraikan pada pembahasan niat pada tempat yang dituntut
201 AbBada'i',1ilid 1, hlm. 17; ad-Durrul Mukhtar iilid 1, hlm. 98 dan setelahnya.

:f,.$ffi{s{

-r-

Caranya adalah dengan niat menghilang- FIqLH ISIAM JITID 1
kan hadats, niat untuk melakukan shalat, niat
c. Qiyas terhadap jenis-jenis thahorah yang
wudhu, atau niat melaksanakan perintah.
Tempat niat adalah hati. Apabila seseorang lain dan ibadah-ibadah yang lain. Wudhu
adalah bersuci dengan menggunakan air,
mengucapkan niatnya dengan lisan dengan maka dia tidak disyaratkan berniat sama
tujuan supaya amalan hati dan lisan berjalan seperti menghilangkan najis dengan air.
bersama-sama, maka hal tersebut disunnah- Niat juga bukan termasuk syarat dalam
shalat sama seperti menutup aurat. Wa-
kan.
nita dzimmi istri seorang Muslim yang
Konsekuensi pendapat yang tidak me- haidnya berhenti juga tidak diwajibkan
nganggap niat sebagai fardhu ini adalah sah-
mandi.
nya wudhu orang yang ingin mendapat kese-
garan, atau orang yang masuk ke dalam kolam d. Wudhu adalah amalan pengantar (wasi-

untuk berenang, untuk membersihkan badan, lah) sebelum shalat. Wudhu bukanlah
atau untuk menyelamatkan orang yang teng-
amalan yang menjadi tujuan utama. Niat
gelam, dan sebagainya. hanya dituntut dalam amalan-amalan yang
termasuk kategori tujuan utama (maqa-
Dalil-dalil mereka adalah sebagai berikut' shidJ bukan yang masuk kategori wasilah.

a. Tidak adanya nash dalam Al-Qur'an yang fumhur ulama selain madzhab Hanafi2o2
mengatakan bahwa niat merupakan amalan
menyatakan bahwa niat adalah fardhu' fardhu dalam wudhu, supaya amalan-amal-
an wudhu benar-benar menjadi amalan iba-
Ayat wudhu hanya memerintahkan mem-
basuh anggota badan yang tiga dan me- dah untuk mendekatkan diri kepada Allah

ngusap kepala. Penetapan niat sebagai SWT. Shalat tidak boleh dilaksanakan dengan
amalan wudhu yang tidak dimaksudkan untuk
syarat wudhu dengan menggunakan ha- ibadah, sehingga amalan itu menjadi laksana
dits ahad berarti menambah aturan yang perbuatan makan, minum, tidur; dan sebagai-
ditetapkan nash Al-Qur'an. Dan bagi madz- nya. Dalil yang mereka pakai adalah sebagai
berikut.
hab Hanafi, menambah merupakan salah
satu bentuk naskh (menghapus ketetapan a. Sunnah, yaitu sabda Rasulullah saw yang
hukum yang sebelumnya), dan naskh tidak
diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari, Mus-
boleh dilakukan dengan menggunakan lim,Abu Dawud, at-Tirmidzi, an-Nasa'i, dan
Ibnu Majah yang bersumber dari sahabat
hadits ahad. Umar r.a., " Innamal a'maalu bin'niyaat wa
innamaa likullimri'in maa nawaa." Mak-
b. Tidak adanya nas sunnah yang menyata- sudnya adalah amal-amal yang diakui oleh
syara' adalah amal-amal yang mengguna-
kan bahwa niat adalah fardhu. Nabi juga kan niat. Wudhu adalah suatu amalan dan
tidak mengajarkan hal tersebut kepada ia tidak akan diakui oleh syara' jika tanpa
niat.
orang Arab, padahal mereka adalah

orang-orang yang bodoh. Difardhukannya

niat dalam tayamum, adalah karena ia

menggunakan debu, dan debu sebenarnya

tidak dapat menghilangkan hadats. Debu
hanya sebagai pengganti air.

202 An-N"*rr"i, at-Majmui jilid 1, hlm. 361 dan setelahnya; Bidayatul Mujtahid, jilid 1, hlm. 7; asy-syarhul Kabir, iilid 1, hlm. 93 dan
setelahnya; Mughnit Muhtaj,iilid 1, hlm.47 dan setelahnya; al-Mughni,iilid 1, hlm. 110 dan setelahnya; Kasysyaful Qinaj jilid 1, hlm'

94-1.01..

FIQIH ISLAM IILID 1 /-:":\tto P€ngantar tlmu Fiqlh -

\:i1 t;J I
\{,.-'l i

Untuk merealisasikan ikhlas dalam iba- but adalah hadits masyhur. Perawi yang me- ti

dah. Allah SWT berfirman, "Padahal me- riwayatkan dari Umar ada lebih dari dua ratus I
,i
reka hanya diperintah menyembah Allah, orang dan kebanyakannya adalah tokoh-tokoh
:f
dengan ikhlas menaati-Nya semotq-mata utama, di antaranya adalah Imam Malik, ats-
i)l
karena (menjalankan) agama...J' (al-Bay- Tsauri, al-Auza'i, Ibnul Mubarak, al-Laits bin
yinah: 5) Wudhu adalah ibadah yang di- Sa'd, Hammad bin Zaid, Syu'bah, Ibnu Uyai- .

perintah oleh syara'. Ia tidak akan diakui nah, dll.. Selain itu, mengalirnya air ke anggota i
I
apabila dijalankan tanpa keikhlasan niat tubuh tanpa disertai niat, atau disertai niat I

hanya kepada Allah SWT. Ikhlas adalah mendapat kesegaran, bukan dianggap sebagai i
perbuatan hati, yaitu niat.
amalan wudhu. Ia dapat dianggap sebagai ,i
c. Qiyas. Niat disyaratkan dalam amalan wu- rl
dhu, sama seperti dalam amalan shalat wudhu jika sesuai dengan tuntutan-tuntutan

syariah, dan segala amal perbuatan bergan-

dan juga sama dengan tayammum yang tung kepada tujuan atau niatnya, sebagaimana

dikerjakan dengan maksud supaya boleh yang telah disepakati oleh ulama.

malaksanakan shalat.

d. Wudhu adalah pengantar (wasilah) kepa- 1. Tayamum

da tujuan utama, yaitu shalat, sehingga Ulama bersepakat bahwa niat adalah wa-
ia mempunyai hukum yang sama dengan
tujuan utama tersebut. Dalilnya adalah jib dalam tayamum. Menurut madzhab Ma-
firman Allah SWT, "Apabila kamu hendak
liki dan Syafi'i, niat dikategorikan sebagai
melaksanakan shalat, maka basuhlah wa-
jahmu...." (al-Maa'idah: 6) Ini menunjuk- fardhu. Adapun menurut pendapat madzhab
kan bahwa wudhu diperintahkan ketika
hendak melaksanakan shalat dan untuk Hanafi dan Hambali2o3 yang mu'tamad, niat

ibadah shalat. OIeh sebab itu, sewaktu merupakan syarat. Dalil mereka bahwa niat

membasuh anggota wudhu mestinya di- dalam tayamum termasuk syarat adalah ha-
niatkan untuk melaksanakan shalat, dan dits "innamal a'maalu bin-niyoat." Madzhab
hal itu akan terjadi hanya dengan niat. Maliki juga berargumentasi bahwa debu da-

pat menyebabkan kotornya anggota badan.
Oleh sebab itu, dia tidak dapat menyucikan

jika tanpa niat. Dengan kata lain, debu bukan-

Setelah membandingkan dua dalil yang lah suci secara hakiki. Ia dihukumi suci karena
ada hajat, dan hajat hanya diketahui dengan
digunakan dua kelompok yang berbeda pen- niat. Berbeda dengan wudhu yang merupakan
amalan bersuci yang hakiki, maka tidak di-
dapat di atas, maka menurut saya pendapat perlukan menyatakan hajat ketika berwudhu
sehingga tidak perlu niat.
yang tepat adalah pendapat yang mengatakan

bahwa niat dalam wudhu termasuk fardhu.

Karena, banyak hadits ahad yang menetapkan

hukum yang tidak ada dalam Al-Qur'an, bah- 2. Mandi

kan hadits yang diriwayatkan Umar-meski- Perbedaan pendapat yang ada dalam
pun jalur sanad bagian awal termasuk jenis mandi sama dengan perbedaan pendapat
gharib, tapi jalur sanad bagian akhir termasuk yang ada dalam wudhu. fumhur ulama-se-
jenis sanad masyhur-, sehingga hadits terse-

Al-Bada'i' , iilid 1, hlm. 45,52; Fathul Qadin iilid 1, hlm. 86, 89; ad-Dardir, asy-Syarhul Kablr iilid 1, hlm. 154; al-Qawanin al-Fiqhiy-
yah, hlm.37; Bidayatul Mujtahid, jilid 1. hlm.64 dan setelahnya; Mughnil Muhtaj, iilid t,hlm.97; al-Muhadzdzab, jilid 1, hlm. 32;
al-Mughni, jilid 1, hlm 25t; Kasysyaful Qinai jilid 1, hlm. 199 dan setelahnya,

'ii,

,tts.

#'

Pengantar llmu Fiqih FrqlH lsrAM

lain madzhab Hanafi-menetapkan kewajib- madzhab Syafi'i dan sebagian madzhab Ma-
an niat ketika mandi sama seperti ketika wu- lik, niat merupakan salah satu rukun shalat.
dhu, dengan dasar hadits "innemel a'maalu Karena, niat wajib dilakukan pada sebagian
bin-niyaat." Madzhab Hanafi berpendapat dari amalan shalat saja, yaitu di awal shalat,
bahwa memulai mandi dengan niat adalah bukan pada seluruh amalan shalat. Sehingga,
sunnah, supaya mandinya benar-benar men- dia merupakan salah satu rukun shalat sama
jadi sarana untuk mendekatkan diri kepada seperti takbir dan ruku'.2os
Allah, sehingga mendapatkan pahala, sama
seperti dalam wudhu.zoa Madzhab Hambali Apakah seorang imam wajib niat sebagai
juga mensyaratkan niat dalam memandikan imam? Sebagian ulama berpendapat bahwa
mayit, orang yang memandikan wajib berniat
memandikan mayit. Dasarnya adalah hadits niat seperti itu tidak wajib. Pendapat ini

" innamel e'maqlu bin-niyaat." menjadikan hadits yang menceritakan bahwa
Ibnu Abbas berdiri di samping Rasulullah saw.
3. Shalat setelah beliau memulai shalat sebagai dalil.

Menurut kesepakatan ulama, niat wajib Sebagian ulama yang lain mewajibkan
dilakukan sewaktu melaksanakan shalat, su-
paya ia menjadi beda dengan adat kebiasaan niat menjadi imam, karena seorang imam ber-
dan juga supaya muncul keikhlasan hanya tanggung jawab menanggung sebagian amal-

kepada Allah ketika melaksanakan shalat. Sha- an-amalan shalat makmumnya.206

lat adalah ibadah, dan ibadah adalah ikhlas fumhur ulama berpendapat bahwa niat
mengamalkan suatu pekerjaan secara me-
menjadi imam bukan merupakan syarat, tetapi
nyeluruh hanya karena Allah SWT. Allah SWT disunnahkan melakukannya supaya mendapat
berfirman, "Padahal mereka hanya diperintah
menyembah Allqh, dengan ikhlas menaati-Nya keutamaan jamaah. Apabila seorang imam
semata-mqta karena (menjalankan) agama...." tidak berniat menjadi imam, maka ia tidak
(al-Bayyinah:5) mendapatkan keutamaan jamaah. Karena,
seseorang akan mendapatkan pahala amal
Imam al-Mawardi mengatakan bahwa sesuai dengan apa yang diniatinya. Madzhab
Syafi'i dan Maliki mengecualikan shalat-shalat
orang Arab biasa mengatakan ikhlas dengan yang sahnya hanya dilakukan dengan cara
berjamaah seperti shalat fumat, shalat jamak
menggunakan kata niat. Hadits "innamal karena hujan, shalat khauf, dan istikhlaf, maka

a'maalu bin-niyaat' juga menunjukkan kepada imamnya harus niat sebagai imam.

wajibnya niat, sehingga shalat tanpa niat Madzhab Hanafi mengecualikan orang
adalah tidak sah. Menurut madzhab Hanafi yang menjadi imam bagi makmum perem-
puan, imam tersebut disyaratkan niat men-
dan Maliki, niat merupakan salah satu syarat jadi imam supaya ikutnya makmum wanita
sah shalat, begitu juga menurut pendapat
yang rajih dalam madzhab Maliki. Menurut kepadanya dalam shalat dapat dianggap sah.

Ad-Durrul Mukhtan jilid 1, hlm. 140 dan setelahnya; ad-Dardic asy-Syarhush Shaghic iilid 1, hlm. 166 dan setelahnya; Mughnil
Muhtaj, )ilid 7,h\m.72 dan setelahnya; Kasysyaful Qina', jilid I, hlm. 173 dan setelahnya; al-Majmui iilid 1, hlm. 370.
Tabyinul Haqa'iq, jilid 1, hlm. 99; Asybah wan-Nazha'ir Ii lbni Nujaim, hlm. 14; asy-Syarhul Kabir wa Hasyiyah ad-Dasuqt, jilid 1, hlm.
233,521; asy-Syarhush Shaghin iilid 1, hlm. 305; al-Majmu', jilid 1, hlm. 148 dan setelahnya; al-Asybah wan-Nazha'ir lis-Suyuthi,
hlm. 11, 38; Mughnil Muhtaj, jilid 1, hlm. 148; Hasyiyah al-Bajuri, jilid 1, hlm. 149; al-Mughni,lilid 1, hlm. 464 dan setelahnya; 6ha-

yatul Muntaha, jilid 1, hlm. 115; Kasysyaful Qinai jilid 1, hlm. 364 dan setelahnya.
Al-Asybah wan-Nazha'ir li lbni Nujaim, hlm. 1.5; al-Qawanin al-Fiqhiyyoh, hlm. 57, 68 dan setelahnya; Mughnil Muhtaj, jilid 2, hlm.

252-258; Kasysyaful Qina', jilid 1, hlm. 565 dan setelahnya.

FIQIH ISTAM JILID 1 Adapun niat makmum untuk mengikuti !
imam adalah syarat, sebagaimana telah dise-
Madzhab Hambali mengatakan bahwa pakati oleh semua madzhab. Oleh sebab itu, l
seorang makmum yang tidak niat mengikuti
niat menjadi imam adalah syarat dalam shalat imam, tidak sah ikutnya dengan imam. Cara- I
jamaah secara mutlak. Oleh sebab itu, seorang nya adalah sewaktu takbiratul ihram makmum
imam harus niat sebagai imam dan makmum menyatakan niat mengikuti imam atau niat
berjamaah, atau niat menjadi makmum. Apa-
juga harus niat sebagai makmum. Apabila bila dia meninggalkan niat tersebut atau ragu

niat itu tidak dilakukan, maka batallah shalat- dan dia mengikuti gerakan imam, maka shalat-
nya. Namun apabila ada orang yang ber-tak- nya makmum tersebut batal. Makmum juga
tidak perlu menyebut nama imamnya sewak-
biratul ihram secara sendirian lalu datang
tu niat. Apabila dia menyebut nama imam
orang lain dan melakukan shalat bersamanya,
kemudian orang tersebut niat sebagai imam, dan keliru, maka batallah shalatnya menurut
maka sahlah niatnya jika shalatnya tersebut madzhab Syafi'i. Namun, menentukan orang
adalah shalat sunnah. Dalilnya adalah hadits tertentu untuk dijadikan imam adalah wajib.
dari Ibnu Abbas yang berkata, "Saya berma- Umpamanya adalah ada orang niat mengikuti
shalatnya salah satu orang yang ada di depan-
lam di rumah bibiku, Maimunah. Kemudian nya dan dia tidak menentukan yang mana dari
dua orang tersebut, maka tidak sah. Shalatnya
Rasulullah saw bangun tengah malam untuk menjadi sah apabila dia menentukan dengan
melakukan shalat malam. Beliau menuju ke jelas orang yang mana yang ia jadikan imam.
Karena, menentukan imam secara pasti adalah
tempat air untuk berwudhu dan kemudian syarat. Bermakmum kepada orang lebih dari
satu juga tidak boleh. Apabila seseorang niat
melakukan shalat. Ketika saya melihat Rasu- bermakmum kepada dua orang maka tidak
sah, karena dia tidak mungkin mengikuti ke-
lullah melakukan hal itu, saya pun bangun.
dua-duanya secara bersamaan.
Lalu saya mengambil wudhu di tempat air dan
Menurut madzhab Syafi'I, syarat niat
kemudian berdiri di sisi kiri Rasul. Namun,
mengikuti imam (al-iqtida') adalah dilakukan
Rasul kemudian menarik tanganku dan me- bersama dengan takbiratul ihram. Menurut
narikku ke sisi kanannya."2o7 madzhab Hanafi, niat tersebut boleh menda-

Adapun dalam shalat fardhu, apabila ada hului takbiratul ihram, dengan syarat di an-
orang yang melakukan shalat-umpamanya tara niat dan takbiratul ihram tersebut tidak

imam masjid-dan dia menunggu kedatang- ada hal asing yang menghalangi. Namun me-
an orang lain, lalu dia melakukan takbiratul
ihram dulu baru kemudian ada orang yang nurut madzhab Hanafi dan juga madzhab

datang dan shalat bersamanya, maka menu- Hambali, yang utama adalah melakukan niat
tersebut bersamaan dengan melakukan fak-
rut madzhab Hambali yang demikian itu bo- biratul ihram, supaya terhindar dari perbeda-
leh. Alasannya adalah karena Nabi pernah an pendapat dalam masalah ini, dan keluar
takbiratul ihram sendiri, kemudian fabir dan

fabarah datang. Lalu keduanya melakukantak-
biratul ihram dan shalat bersama Rasul. Rasul
tidak mengingkari apa yang mereka lakukan.

Zahir hadits itu menunjukkan bahwa shalat

yang dilakukan adalah shalat fardhu, karena
mereka sedang dalam perjalanan. Selain da-
lam kondisi-kondisi tersebut, maka tidak sah
menjadi makmum kepada orang yang tidak
niat menjadi imam.

207 Mutta1aq'alaih.

dari dilema perbedaan (al- khuruj mi n a I khil af) FIqLH ISLAM )IIID 1

adalah disunnahkan. rut madzhab Syafi'i dalam qaul yang ozhhar,
niat jamak tersebut boleh dilakukan ketika
Madzhab Maliki mensyaratkan niat ter- di tengah-tengah melaksanakan shalat yang
sebut dilakukan berbarengan dengan takbira-
tul ihram, atau sebelumnya dalam jarak waktu pertama, meskipun sewaktu salam. Dua madz-
yang dekat, sama seperti niat shalat yang su- hab ini juga mengatakan bahwa jamak ta'khir

dah diterangkan. dianggap sah jika ada niat jamak atau niat
ta'khir (mengakhirkan shalat) yang dilakukan
Menurut pendapat yang masyhu[ adzan sebelum waktu shalat pertama habis. Meski-
pun, niat itu dilakukan di akhir waktu sekadar
tidak memerlukan niat. Namun, ada yang satu rakaaq yaitu dalam waktu kalau sekira-
nya orang tersebut melakukan shalat terse-
mengatakan bahwa ia memerlukan niat. but dalam waktu itu, maka tetap dianggap
melakukan shalat adai lni menurut madzhab
Menurut madzhab Hanafi dan Hambali, Syafi'i, Adapun menurut madzhab Hambali,

niat menyampaikan khotbah adalah syarat niat tersebut harus dilakukan sebelum sampai
waktu yang sempit sehingga tidak cukup un-
bagi khotbah ]umat. Dalilnya adalah hadits
"innomal a'maalu bin-niyaat!' Kalau seumpa- tuk melakukan shalat yang pertama. Apabila
manya khatib menyampaikan khotbah tanpa niat dilakukan dalam waktu sempit tersebut,
niat, maka-menurut mereka-tidak diakui maka jamaknya tidak sah. Karena, mengak-
oleh syara'. Madzhab Maliki dan Syafi'i tidak hirkan shalat hingga kadar waktu yang sempit
mensyaratkan niat dalam khotbah fumat, me- sehingga tidak cukup untuk melakukan shalat
lainkan mereka mensyaratkan tidak adanya
niat yang menyimpang dari khotbah seperti tersebut adalah haram dan berdosa.20e
umpamanya khatib mengucapkan hamdalah,
4. Puasa
namun bukan untuk khotbah, tapi untuk
]umhur ulama selain madzhab Syafi'i
mendoakan orang yang bersin. Maka, ham-
dalahnya itu belum cukup bagi sahnya khot- berpendapat bahwa niat puasa adalah syarat.
Alasannya adalah puasa Ramadhan dan puasa-
bah.208 puasa lainnya merupakan ibadah. Ibadah
adalah nama satu pekerjaan yang dilakukan
Madzhab Syafi'i mensyaratkan niat ketika
melakukan sujud tilawah dan sujud syukur; oleh seseorang atas inisiatifnya sendiri [kti-
dan niat teresbut harus dilakukan ketika tak- yar) dan ikhlas karena memenuhi perintah
biratul ihram. Namun apabila sujud tilawah
tersebut dilakukan dalam shalat, maka niat- Allah. Ikhtiyar danikhlas tidak akan wujud tan-
nya cukup dalam hati tidak perlu diucapkan pa niat. Oleh sebab itu, melaksanakan puasa
dengan lisan, sama dengan ketika hendak tanpa niat adalah tidak sah, karena dengan
niat maka ibadah dapat dibedakan dari adat.
melakukan sujud sahwi.
Adapun madzhab Syafi'i berpendapat bah-
Madzhab Syafi'i dan Hambali mengatakan wa niat puasa merupakan rukun sama seper-

bahwa jamak taqdim dapat dianggap sah ti menahan diri dari perkara-perkara yang
jika ada niat jamak sewaktu melakukan tak-
biratul ihram shalat yang pertama. Dalilnya
adalah "innamal a'maalu bin-niyaati' menu-

Ad-DurntlMukhtaniilid, l,hlm.T5T-760;Muraqial-Falah,hlm.87; KasysyafulQinaiiilidZ,hlm.34-37;al-Asybahwan-Nazha'irli
Ibni Nujaim, hlm. 15.
Al-Majmu',iilid4,hlm.253-269; Mughnil Muhtaj,jilidl, hlm. 277-275; ttusysyaful Qina',iilid2, hlm.3-8; al-Mughni,iilid2,hlm.273-

FIQIH TSIAM Pengantar llmu Flqlh

membatalkan puasa. Dalilnya adalah "innamol 6. Zakat
e' maalu bin- niyaat!' 210
Para ahli fiqih sepakat bahwa niat adalah
Menurut pendapat yang ashah dalam syarat dalam membayar zakat. Dasarnya ada-
madzhab Syafi'i niat ada'[melakukan secara
tunai) dan qadha'(melakukan ibadah sebagai lah "innamal a'maalu bin-niyaati' aktivitas
pengganti ibadah yang terlewat) dalam sha-
lat, haji, zakat, kafarat, dan shalat jenazah membayar adalah suatu pekerjaan dan ia ter-
bukanlah termasuk syarat. Adapun niat ada' masuk ibadah sama seperti shalat sehingga
dalam shalat f umat adalah karena shalat f umat
tidak dapat di-qadha'. Menyatakan niat qadha' memerlukan niat, supaya dapat dibedakan
dalam puasa qadha' juga harus dilakukan. Ini
merupakan pendapat yang rajih dalam ma- antara zakat yang wajib dengan sedekah yang
dzhab Syafi'i dan merupakan kesepakatan
sunnah.212
semua madzhab.
7. Hall dan Umrah
5. !'tikaf
Menurut madzhab Hanafi, niat ihram haji
I'tikaf menurut madzhab Syafi'i adalah merupakan syarat sah bagi haji baik hajinya
berdiam diri di dalam Masjid yang dilakukan fardhu ataupun sunnah. Begitu juga dalam
oleh orang tertentu dengan niat. Menurut ihram umrah. Dan umrah menurut mereka
kesepakatan ulama, niat merupakan syarat adalah sunnah. Adapun umrah yang dinadzar-
kan, maka hukumnya adalah fardhu. Apabila
bagi sahnya i'tikaf, baik itu i'tikaf wajib, ada orang nadzar melakukan haji wajib, maka
dia hanya diwajibkan melakukan haji wajib
sunnah, atau nafl. Oleh sebab itu, i'tikaf tidak tersebut, sama seperti masalah menyembelih
qurban.
sah jika tanpa niat. Dalilnya adalah hadits
Adapun jumhur ahli fiqih mengatakan
"innamal a'maelu bin-niyaati'dan juga karena bahwa ihram-niat memulai melakukan ma-

i'tikaf adalah ibadah murni (mahdhah), nasik-adalah rukun dalam amalan haji dan
sehingga tidak akan sah tanpa niat sama umrah. Sehingga, haji dan umrah tidak sah jika
tanpa niat dan ihram juga tidak sah tanpa niat.
seperti puasa, shalat dan ibadah-ibadah yang
lain. Madzhab Syafi'i menambahkan, apabila Dalilnya adalah "innamol a'maalu bin-niyaat."

i'tikaf tersebut fardhu karena nadzaL maka Selain daripada itu, haji dan umrah adalah
ibadah yang murni (mahdhah), sehingga ia
orang yang melakukannya harus menyatakan tidak sah jika tanpa niat sama seperti puasa
dan shalat.213 Tempat niat adalah hati. Ihram
kefardhuannya, supaya i'tikaf tersebut dapat adalah niat dalam hati. Menurut kebanyakan

dibedakan dari jenis ketaatan yang lain.211

21,0 Ad-Durrul Mukhtar: iilid 2, hlm. 116 dan setelahnya; Muraqi al-Falah, hlm. 105; al-Qawanin al-Fiqhiyyah, hlm. 113; al-Asybah wan-
Nazha'ir li lbni Nujaim,hlm.16,35; Al-Asbahwan-Nazha'ir lis-Suyuthi,hlm.16; Mughnil Muhtai, itlid l,hlm.423,432; ol-Muhadzhab,
jilid 1, hlm. L77; al-Mughni, iilid 3, hlm. 137 dan setelahnya; Kosysyaful Qina', jilid 2, hlm. 359.

277 Fathul Qadin iilid 2, hlm. 106 dan setelahnya; ad-Dutul Mukhtan iilid 2, hlm. 777 dan setelahnya; al-Asybah wan-Nazha'ir li lbni

Nujaim, hlm. 17; al-Qawanin al-Fiqhiyyah, hlm. 125; asy-Syarhush Shaghin jilid 1, hlm. 725 dan setelahnya; al-Muhadzdzab, )ilid l,

hlm. 190 dan setelahnya; Mughnil Muhtaj, jilid 1, hlm. 453 dan setelahnya; al-Mughni, jilid 3, hlm. 184 dan setelahnya; Kasysyaful

Qina',iilid 2, hlm.406 dan setelahnya.
272 Al-Asybah wan-Nazha'ir li lbni Nujaim, hlm. 16; al-Bada'ii lilid 2, hlm. 40l, asy-Syarhush Shaghia lilid 1, hlm. 666 dan setelahnya;

al-Qawanin al-Fiqhiyyah, hlm. 99; al-Majmuiiilid 6, hlm. 182 dan setelahnya; al-Mughni, iilid 2, hlm.638 dan setelahnya.
273 Al-Asybah wan-Nazha'ir li lbni Nujaim, hlm. 16; al-Bada'ii iilid 2, hlm. 161; Fathul Qadin jilid 2, hlm. 134 dan setelahnya; asy-

Syarhush Shaghir jilid 2, hlm. 16,25; al-Qawanin al-Fiqhiyyah, hlm. 131.; Mughnil Muhtaj,jilid 1, hlm. 476 dan setelahnya; al-Majmui

)ilid 7, hlm.226 dan setelahnya; Ghayatul Muntaha iilid 1, 365; al-Mughni, Jilid 3, hlm. 288'28t.

T Pongantar llmu Flqlh FIQIH ISI,AM JILID 1

,t

ulama, melafalkan niat dengan lisan merupa- kepada niat orang yang bersumpah (halif). Se-

kan keutamaan, karena ada riwayat dari sa- dangkan ulama yang lain, mengatakan bahwa

habat Anas dalam Shahih Muslim yang me- hal itu bergantung kepada niat orang yang

nyatakan bahwa Anas mendengar Rasulullah menuntut sumpah (mustahlif).21s

saw berkata, Madzhab Maliki mengatakan bahwa sum-

pah bergantung kepada niat orang yang me-

0J*9) (D:J_ , *r locl nuntut sumpah (mustohlif), dan niat orang
yang bersumpah (halif) tidak diterima dan

"Kani datang untukhaji dan umreh" tidak diakui. Karena, orang yang menentang/
menuduh seakan-akan menerima sumpah itu

Menurut jumhur ihram sudah terjadi sebagai pengganti haknya. Selain itu, Rasu-
hanya dengan niat saja. Namun menurut lullah saw juga bersabda, "Sumpah adalah
madzhab Hanafi, ihram tidak cukup hanya
dengan niat saja, melainkan ia harus ber- bergantung kepada niat mustahlif!' Dalam
samaan dengan ucapan atau pekerjaan haji
riwayat lain disebutkan, "Sumpahmu bergan-
seperti talbiyah atau melepaskan diri dari tung kepada apq yang dibenarkan oleh rival-

pakaian yang berjahit. muil2t6

Menurut madzhab Hanafi, sumpah ber-
gantung kepada niat mustahlif. Kecttali jika

8. Sumpah sumpah tersebut dalam masalah tala( pem-

Sumpah dengan nama Allah tidak me- bebasan budah atau yang semacamnya, maka
merlukan niat. Oleh sebab itu, sumpah yang
yang diakui adalah niat orang yang bersumpah
dilakukan dengan sengaja, tidak sengaja, lalai,
atau dipaksa, akan tetap menjadi sumpah yang (halif).ltu pun jika dia tidak melakukan niat
membawa konsekuensi-konsekuensi terten-
tu. Begitu juga apabila seseorang melanggar yang bertentangan dengan apa yang zhahin
sumpahnya dengan melakukan sesuatu yang baik halif tersebut dalam posisi yang men-
dia bertekad untuk tidak melakukannya.2'n zalimi atau yang dizalimi. Begitu juga ketika
sumpah dengan nama Allah, dan posisi orang

yang bersumpah (halif) adalah orang yang
dizalimi, maka niat yang diakui adalah niatha-

Adapun dalam kasus sumpah yang di- lif. Yang dimaksud dengan posisi orang yang
menzalimi adalah ketika seseorang melakukan
minta oleh pihak lain (umpamanya dalam

satu persengketaan), maka ulama bersepakat sumpah mempunyai maksud untuk memba-

bahwa sumpah dalam masalah pengakuan dan talkan hak orang lain.

tuduhan adalah bergantung kepada niat orang Madzhab Hambali dan juga satu riwayat

yang menuntut sumpah (mustahlif) bukannya dalam madzhab Hanafi mengatakan bahwa

orang yang bersumpah (halif). Namun, para orang yang bersumpah, kemudian dia menak-

ulama berbeda pendapat dalam hal niat sum- wil ucapan sumpahnya (maksudnya adalah

pah untuk berjanji dan semacamnya. Sebagian memberikan makna kepada sumpahnya de-

ulama mengatakan bahwa hal itu bergantung ngan makna yang berbeda dengan makna

214 Al-Asybah wan-Nazha'ir Ii lbni Nujaim, hlm. 19, 20.

z7s Bidayatul Mujtahid,jilid 1, hlm. 403; al-Bada'i' ,jilid 3, hlm. 2O; al-Asybah Ii lbni Nujaim, hlm. 20, 57; Mughnil MuhtaT iilid 4, hlm.
321; al-Mughni, jilid 8, hlm. 727 ,7 63; asy-Syarhul Kabir ma'a ad-Dasuqi, iilid 2, hlm. L39; al-Qawanin al-Fiqhiyyah, hlm. 162.

216 H"ditr ini diriwayatkan oleh Imam Muslim, Ibnu Majah dari Abu Hurairah. Riwayat kedua diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Abu
Dawud, at:Tirmidzi, Ibnu Majah (Jami' al-Usltul, jilid 12, hlm. 307).

FIQIH IST"A.M JITID 1

zhahir) dan orang tersebut dalam posisi di- maka dia tidak dianggap melanggar sumpah.
Begitu juga apabila si fulan bersumpah tidak
zalimi, maka dia boleh melakukan takwil akan menjual barang kepada seorang tertentu
tersebut. Namun apabila dia berada dalam dengan harga sepuluh dirham, namun ke-

posisi menzalimi, maka takwilnya tidak ber- mudian dia menjualnya dengan harga sebelas
guna. Ibnu Nujaim mengatakan bahwa fatwa
atau sembilan dirham, maka dia juga tidak
yang digunakan dalam madzhab Hanafi dianggap melanggar sumpah, meskipun dia

adalah apabila orang yang bersumpah (halif) punya maksud akan menjualnya dengan harga
berada dalam posisi dizalimi, maka niatnplah
yang diakui. Namun apabila dia dalam posisi yang lebih tinggi dari sepuluh dirham.
menzalimi, maka niatnya tidak diakui. Namun,
Imam Maliki dalam pendapat masyhur-
dengan syarat sumpah tersebut menggunakan nya mengatakan bahwa niat halif-lah yang
Asma Allah SWT. Dan apabila sumpah tersebut diakui dalam sumpah yang tidak mempunyai
dalam masalah talak atau pembebasan budah konsekuensi hukuman mahkamah bagi halifls
maka niat orang yang bersumpah tidak diakui
Begitu juga dengan nadzar, jika memang
secara keseluruhan.
sumpah tersebut tidak'dalam masalah tuduh-
Pendapat yang ditetapkan dalam madzhab an/pengakuan. Apabila dalam masalah tuduh-
Syafi'i adalah sumpah bergantung kepada niat
an dan pengakuan, maka niat yang diakui
orang yang bersumpah. adalah niat mustahlrl Apabila tidak ada niat,
maka perlu dipertimbangkan situasi dan
Para ahli fiqih juga berbeda pendapat da-
lam masalah perkara yang disumpahi (al-mah- kondisi. Dan apabila situasi dan kondisi tidak
luf 'alaih), apakah ia ditentukan berdasarkan menunjukkan apa pun, maka perlu melihat
niat, adat kebiasaan, atau arti lafal yang di- makna lafal yang diucapkan, Dengan kata lain,
apabila tidak ada niat, maka perlu dilihat adat
ucapkan.217 kebiasaan. fika hal itu tidak memberikan hasil

Madzhab Hanafi mengatakan bahwa al- apa pun, maka perlu melihat arti lafal yang
mahluf 'alaih ditentukan oleh adat kebiasa-
an, bukan oleh maksud dan niat yang meng- diucapkan dari segi bahasa.

ucapkan. Hal ini karena arah tujuan orang Adapun sumpah yang mempunyai kon-
sekuensi hukuman mahkamah bagi halif dan
yang melakukan sumpah dapat diketahui me- termasuk dalam bidang istifta', maka aturan

lalui pemahaman menurut adat kebiasaan. yang ditetapkan seperti di atas juga harus
Ini adalah keputusan secara umum dalam diterapkan dengan tertib. Namun apabila

madzhab Hanafi. Namun, ada al-mahluf 'alaih sumpah itu mempunyai konsekuensi hukum-
yang ditentukan berdasarkan lafal yang di- an mahkamah bagi halif, maka yang perlu
utarakan. Contohnya adalah apabila si fulan dipertimbangkan hanyalah segi bahasa saja.
Kecuali jika situasi dan kondisi yang ada men-
sedang marah kepada seseorang dan dia dukung niat yang diklaim oleh halrl maka
bersumpah tidak akan membeli barang dari situasi dan kondisi itu perlu dipertimbangkan.
orang tersebut dengan harga satu dirham,
namun kemudian dia membeli bat'ang dari

orang tersebut dengan harga seratus dirham,

277 At-AsybahlilbniNujaim,hlm.5T; al-Asybahlis-Suyuthi,hlm.40; Rasa'illbnuAbidin,jilidl,hlm.292;BidayatulMujtahi4jilidl,hlm.
398 dan setelahnya; al-l'tisham lisy-Syathibi, jilid 2, hlm. 141; Mughnil Muhtaj, iilid 4, hlm. 335; al-Mughni, iilid 8, hlm. 763.

278 Maksudnya adalah halrltidak akan dihukumi dalam mahkamah, melainkan urusannya dipasrahkan kepada dirinya dan Allah. Sum-
pah ini adalah yang berkaitan dengan diri sendiri atau dengan Allah, bukan yang bersangkutan dengan orang lain. Sumpah yang

bersangkutan dengan orang lain dapatdiintervensi oleh mahkamah'

Flq[H IsrAM lrrrD 1

Madzhab Syafi'i mengatakan bahwa pe- S UM PAH DI MAH KAM AH/ PENGADI LAN
nentuan maksud sumpah adalah berdasarkan
lafal yang digunakan, sehingga harus mengikuti Sebelum ini saya sudah menerangkan
arti bahasa yang sebenarnya. Kecuali, iika ha'
1rlmempunyai niat lain dan dia melaksanakan bahwa niatyang diakui dalam sumpah di peng-
adilan adalah niat Hakim/Qadhi yang menun-
niatnya itu. Umpamanya adalah seseorang
tut sumpah. Dalilnya adalah sabda Rasulullah
bersumpah tidak akan makan kepala, namun saw. yang diriwayatkan oleh Imam Muslim
kemudian dia makan kepala ikan paus. Bagi dari Abu Hurairah, "Sumpah adalah berdasar-
pihakyang mempertimbangkan adat [madzhab kan kepada niat orang yang meminta sumpah
Hanafi), maka pendapat orang tersebut tidak (mustahlif)." Mustahlif dalam hadits ini diarti-
kan dengan hakim, karena dialah yang mem-
dianggap sebagai melanggar sumpah. Namun punyai kekuasaan untuk meminta orang ber-
bagi kelompok yang mempertimbangkan segi sumpah. Kalau seandainya niat yang diakui
bahasa [madzhab Syafi'i), mereka mengata- adalah niat halif, maka manfaat sumpah akan

kan bahwa orang tersebut telah melanggar hilang dan banyak hak manusia yang dilanggar.

sumpahnya. Orang yang bersumpah tidak akan Karena, setiap orang akan bersumpah sesuka

makan daging, tapi kemudian makan lemah hati sesuai dengan maksud dan kehendaknya.
dihukumi melanggar sumpah oleh madzhab
Syafi'i, dan tidak dianggap melanggar sumpah Ketika Qadhi meminta orang untuk ber-
sumpah, namun orang tersebut menutup-
oleh selain madzhab Syafi'i. nutupi sumpahnya dengan menerangkan se-
cara berbelit-belit dan menghendaki sumpah-
Madzhab Hambali mengatakan bahwa nya dengan maksud yang berbeda dari arti
zhahirnya, atau dia melakukan takwil (mem-
sumpah dikembalikan kepada niat orang punyai keyakinan yang berbeda dengan mak-

yang melakukan sumpah (halif). Apabila dia sud Qadhi), atau halif membuat pengecualian-
mempunyai niat yang memang masih dapat pengecualian, umpamanya setelah bersumpah
dia mengucapkan insya Allah, atau dia mem-
ditampung oleh maksud lafal yang diucapkan, buat syarat yang tidak didengar oleh Qadhi,
maka niatnya itu diterima, baik niatnya itu se- umpamanya dia mengucap dengan pelan "jika
laras dengan makna zhahir lafal atau tidak. saya masuk rumahi' maka semuanya tersebut
Dalilnya adalah sabda Rasulullah saw., "inna-
mal a'maalu bin-niyaat wa innamaa likullimri'in tidak menjadi penghalang untuk merietap-
maa nawaa," Apabila orang yang mengucapkan
sumpah tidak mempunyai niat, maka dikem- kan bahwa halr/ tersebut telah berdosa kare-
balikan kepada penyebab atau perkara yang na melakukan sumpah palsu. Iika kita tidak
menggerakkan munculnya sumpah tersebut. menghukuminya berdosa, maka tujuan utama
Apabila ada orang yang bersumpah tidak akan dari sumpah (yaitu supaya ada rasa takut da-
lam diri orang yang bersumpah) akan hilang.
tidur dengan istrinya dalam rumah tertentu, dan
penyebabnya adalah dia tidak suka terhadap Madzhab Syafi'i dan Hambalizle menetap-

rumah tersebut karena dia takut bahaya dalam kan bahwa niat yang diakui dalam sumpah
adalah niat mustahlf dengan dua syarat.
rumah itu, maka sumpahnya hanya berlaku
pada rumah tersebut. Namun jika penyebab- a. fika Qadhi tidak meminta orang tersebut

nya adalah karena dia memang benci kepada melakukan sumpah dalam masalah talak

istrinya, maka dia tidak boleh tidur dengan atau pembebasan budak.

istrinya tersebut di rumah mana pun.

21e Mughnil Muhtaj, lrlid 4, hlm. 47 5 ; Kasysyaful Qina j jilid 6, hlm. 242.

-

FIQIH ISI,AM IILID 1 lam meninggalkan rukun, karena ragu

b. fika Qadhi tersebut memang tidak berlaku dalam masalah rukun sangat banyak, beda
dengan ragu dalam masalah syarat. Apa-
zalim ketika meminta orang melakukan
bila sewaktu matahari mau tenggelam
sumpah.
(akhir hari), orang yang puasa ragu apa-
MENCGUNAKAN MAKNA KIASAN DALAM kah dia sudah niat atau belum, maka ke-
BERSUMPAH
raguannya itu tidak memengaruhi apa
Orang yang bersumpah-selain sumpah
pun.
yang di dalam mahkamah-yaitu sumpah
c. Niat dalam sumpah dapat mengkhusus-
yang dilakukan atas inisiatifnya sendiri atau
diminta orang lain, dan orang lain tersebut ti- kan makna lafal yang umum. Namun, ia
dak dalam posisi dituntut haknya oleh orang tidak dapat mengumumkan makna lafal
yang bersumpah, boleh melakukan sumpah yang khusus. Contoh yang pertama adalah
dengan menggunakan makna kiasan. Yaitu, orang yang berkata, "Wallaahl, saya tidak
dengan menyatakan bahwa maksud sumpah- akan berkata kepada seseorang," dan yang
nya bukanlah maksud yang biasa dipahami
melalui lafal yang diucapkan, atau dia ber- dia maksud dengan seseorang adalah
maksud memberi makna selain makna zhahir
atas sumpah yang diucapkan. Dalilnya adalah Zaid. Contoh yang kedua adalah si fulan
hadits Nabi, "inna mal a'maalu bin-niyaat " Qa- memberi air kepada orang lain, kemudian
dhi Iyadh menyatakan ulama berijma bahwa orang lain itu bersumpah, "Wallaahi, saya
orang yang bersumpah (halif) dapat diakui tidak akan minum air itu apabila haus."
niatnya dan diterima ucapannya, apabila dia Sumpahnya itu hanya berlaku pada me-
minum ketika haus. Sehingga apabila dia
mengucapkan sumpah itu bukan karena di- minum pada selain kondisi itu, maka ti-
dak dianggap berdosa. Karena, niat akan
minta, dan sumpahnya itu tidak berhubungan berpengaruh jika memang lafal yang di-
dengan penetapan dan pembatalan hak.
ucapkan itu dapat menampung niatnya
Atas dasar ini, maka Imam as-Suyuthi22o
tersebut dengan pendekatan yang benar.
menguraikan tiga kaidah, yaitu:
Ibnu Nujaim2z1 mengatakan bahwa meng-
a. Arti lafal yang diucapkan adalah bergan- khususkan makna kata yang umum dapat
diterima dalam masalah yang masuk kategori
tung kepada niat orang yang mengucap- diyani bukan masalah qadha'i. Namun menu-
kannya, kecuali dalam satu kasus, yaitu rut imam al-Khashshaf, dalam masalah qadha'i
sumpah di hadapan Qadhi. Niat yang di- pun hal tersebut dapat diterima. Kalau ada
orang berkata, "Semua wanita yang saya ni-
akui dalam sumpah di hadapan Qadhi kahi, saya talak," kemudian dia berkata, "Yaitu
wanita yang berasal dari kota Ai' maka tidak
adalah niat Qadhi bukan niat orang yang sah menurut zhohir madzhab Hanafi. Namun

bersumpah. menurut al-Khashshaf, pengkhususan itu da-

b. Niat berlaku dalam masalah syarat, yaitu pat diterima. Apabila seseorang berada di ha-
dapan orang zalim, maka pendapat al-Khash-
dalam kasus orang telah melakukan shalat
kemudian ragu; apakah yang ditinggalkan

tadi itu shalat atau bersuci (thaharah),

maka orang tersebut wajib mengulangi-
nya. Berbeda apabila seseorang ragu da-

220 Al-Asybah wa n- N azha'in hlm. 40.
227 Al-Asybah wan-N azha' in hlm. 18, 56.

FIqLH ISI"AM,IIID 1

shaf ini boleh dipakai. Sehingga apabila ada ketika dia diniati untuk qurban sebelum-
orang zalim meminta seseorang bersumpah,
maka orang tersebut boleh mengkhususkan nya. Menurut pendapat yang mu'tamad dan
masyhur dalam madzhab Maliki, wajibnya
makna yang umum dalam sumpahnya. Sam- penyembelihan qurban adalah hanya karena
penyembelihan. Penyembelihan qurban tidak
pai sekarang saya tidak berpendapat akan menjadi wajib karena nadzar.223
bolehnya mengumumkan makna lafal yang
2. Berburu
khusus.
Berburu adalah mengambil sesuatu yang
1. Qurban
mubah yang belum dimiliki oleh siapa pun.
Penyembelihan qurban tidak akan sah Hal ini dapat terjadi dengan cara menguasai
hewan tersebut secara nyata atau dengan
tanpa niat. Karena, penyembelihan adakalanya menguasainya secara hukmi, yaitu dengan
untuk menikmati dagingnya dan ada juga yang cara mengambil langkah yang dapat mele-

didorong keinginan untuk mendekatkan diri mahkan burung, hewan, atau ikan. Sehingga,
kepada Allah. Suatu pekerjaan tidak dianggap
sebagai ibadah untuk mendekatkan diri ke- ia tidak lari. Umpamanya adalah memben-

pada Allah, kecuali dengan niat. Karena, Rasu- tangkan jaring untuk mendapatkan ikan atau
lullah saw. bersabda,
melepaskan hewan-hewan terlatih seperti
6_iv:itJJ!.6Li:9r, icvr 4
anjing, singa, dll..
L:'j!
Orang yang ingin menguasai hewan secara
"Sesungguhnyo segala amal perbuotan
hukmi disyaratkan melakukan niat memiliki
bergantung kepada niatnya. Dan setiap urusan hewan buruannya tersebut. Ini sesuai dengan
akan dibalas sesuat dengan niat," kaidah, "Segala sesuatu bergantung kepada
tujuannya." Barangsiapa memasang jaring pe-
Imam al-Kasani mengatakan bahwa yang rangkap dengan niat memanaskannya supaya
dimaksud qurban adalah amalan ibadah yang kering, kemudian ada burung yang tersang-
dimaksudkan untuk mendekatkan diri kepada kut, maka burung tersebut boleh dimiliki oleh
Allah, sehingga penyembelihan qurban harus siapa pun yang pertama kali mengambilnya.
dengan niat. Karena, niatnya memang tidak tertuju ke-
pada memburu burung. Namun apabila niat-
Madzhab Syafi'i dan Hambali mengatakan nya ketika membentangkan jaring perangkap
bahwa niat dilakukan ketika menyembelih he- adalah untuk berburu, maka burung yang ter-
wan qurban. Karena, aktivitas menyembelih sangkut adalah milik orang yang mempunyai
perangkap tersebut. |ika ada orang lain yang
merupakan aktivitas untuk mendekatkan diri
kepada Allah. Niat cukup dilakukan dengan mengambilnya, maka dihukumi ghashab. Apa-
hati. Ia tidak disyaratkan diucapkan dengan
lisan. Karena, niat adalah pekerjaan hati dan bila ada burung menetas di halaman seseorang,
ucapan lisan merupakan indikator niat ter- maka orang yang mendapatinya pertama kali
akan menjadi pemiliknya. Kecuali, jika pemilik
sebut.222
halaman itu memang menyediakan halaman-
Menurut Maliki, seekor hewan menjadi nya untuk penetasan burung.

hewan qurban ketika dia disembelih atau

z2 2 Al-Bada'ii jilid 5, hlm. 71.; al-Qawanin al-Fiqhiyyah, hlm. 1B7; Mughnil Muhtaj, jilid 4, hlm. 289; Kasysyaful Qinai jilid 3, hlm. 6.
22 3 Al-Qawan in al - Flqhlyyala hlm.L$7, L89.

,.,:

T

I

FIQIH ISI,AM JILID 1 I

Apabila ada burung masuk ke dalam I

rumah, kemudian pemilik rumah menutup aspek objektivitas yang nyata seperti undang-
pintu supaya dapat menangkap burung itu, undang Jerman. Sedangkan sebab atau pendo-
maka burung itu menjadi miliknya. Namun rong yang antara satu orang dengan yang lain
berbeda-beda, dianggap sebagai unsur inter-
jika dia menutup pintunya tidak sengaja, maka nal yang dapat menyebabkan kekacauan dan
dia tidak dianggap memiliki burung tersebut.
Begitu juga apabila ada hewan buruan jatuh mengancam stabilitas muamalah.
ke dalam tanah galian, maka ia akan meniadi
milik orang yang memburu jika memang gali- Bagi mereka, sebab atau pendorong tidak
mempunyai efek apa pun terhadap akad. Ke-
an tanah itu dimaksudkan untuk memburu.
Apabila tidak ada maksud seperti itu, maka cuali, jika sebab atau pendorong tersebut
hewan buruan itu menjadi miliki siapa saja
memang dinyatakan dengan jelas dalam per-
yang mendapatinya.z2a nyataan (shighat) akad, atau sebab dan pen-

3. Membaca Al-Qur'an dorong tersebut tercakup oleh sisi lahiriah
akad. Contohnya adalah menyewa orang un-
Dengan niat dan tujuan tertentu, maka Al- tuk menyanyi, meratapi kematian, atau untuk
Qur'an bisa dianggap sebagai bukan Al-Qur'an. melakukan perbuatan-perbuatan yang me-
Sehingga, orang yang junub dan wanita yang lenakan seseorang dari ingat kepada Allah
(malahi). Apabila sebab atau pendorong ter-
haid boleh membaca bagian-bagian dzikir sebut tidak dinyatakan dengan jelas dalam
dalam Al-Qur'an dengan niat membaca dzikir shighat akad, umpamanya adalah sisi lahiriah
akad tidak menampung sebab atau pendorong
dan boleh membaca bagian-bagian doa dalam yang tidak dibenarkan oleh syara', maka akad-
Al-Qur'an dengan niat membaca doa.22s nya adalah sah. Karena, akad tersebut telah
memenuhi rukun-rukun utamanya, yaitu iiab,
J. NIAT DATAM AKAD ATAU MUAMALAH
qabul, perkara yang diakadi memang perkara-
Ada dua kecenderungan di kalangan ula- perkara yang dibolehkan secara hukum (ahliy-
ma dalam menanggapi teori sebab (nazhariy- yatul mahall li hukmil'aqdi). Selain itu, setelah
yatus sabab); pertama kecenderungan yang akad belum tentu ada maksiat. Oleh karena itu,
menekankan sisi objektivitas atau sisi lahiri- sebab dan pendorong tidak dianggap sebagai
ah. kedua,kecenderungan yang memerhatikan
sisi niat, dorongan, atau keinginan batin,225 faktor yang dapat membatalkan akad. Dengan
kata lain, secara lahir akad tersebut sah. Ka-
Pandangan pertama didukung oleh madz- rena, akad tersebut telah memenuhi rukun
hab Hanafi dan Syafi'i.227 Mereka menekan- dan syarat yang dituntut oleh syara'. Sehingga,
tidak perlu meneliti niat atau tujuan yang di-
kan sisi lahiriah dalam akad, bukannya sisi larang syara' yang ada di balik akad tersebut'
batiniah. Dengan kata lain, untuk menjaga
prinsip stabilitas muamalah, mereka tidak Tetapi, akad seperti ini makruh atau haram
menggunakan teori sebab atau sisi pendorong.
Karena, fiqih mereka lebih cenderung kepada sebab niatnya tidak dibenarkan oleh syara'.

Atas dasar ini, maka madzhab Hanafi dan
Syafi'i menganggap bahwa akad-akad yang

224 Al-Bodo'i: lilid 6, hlm. 193 dan setelahnya. 20.
22s Al-Asybah wan-Nazha'ir li lbni Nuiaim, hlm.

226 Ket"rangan lebih terperinci akan diuraikan nanti.
227 PendapatdalammadzhabHanafidapatdilihatdalamMukhtasharath:Thahawi,hlm.280;TakmilahFathal-QadiniilidS,hlm.
127;

abBada'ii jilid 4, hlm. 189; Tabyinul Haqa'iq, iilid 2, hlm. 125 dan setelahnya.

! ., ffi1m, .: .".:r;iffi1.q !

akan diterangkan di bawah ini adalah sah. Isr.-AM IrLrD 1

Namun, hukumnya makruh tahrim-menurut Contoh lainnya adalah menjual alat ber-
madzhab Syafi'i hukumnya haram-karena
ada larangan dalam sunnah Nabi. Akad-akad judi, atau membangun bangunan untuk

tersebut adalah: tempat maksiat atau tempat berjudi, men-

Bai' al-'lnah [fual beli secara formalitas jual kayu yang akan dibuat untuk alat
yang dijadikan sarana untuk praktik riba).
musik, menyewakan alat transportasi un-
Contohnya adalah menjual barang dengan tuk mengangkat minuman keras, dll..
cara kredit dengan harga seratus dirham
dalam jangka masa tertentu, kemudian d. Nikah muhallil, yaitu orang yang menikahi

orang yang menjual tersebut membeli wanita yang telah ditalak tiga kali (talak
barang itu lagi secara tunai dengan harga ba'in), dengan maksud supaya wanita
seratus sepuluh dirham sebelum habis tersebut nantinya halal dinikahi oleh sua-
masa tempo. Kelebihan harga tersebut minya yang pertama. Dengan cara, orang
dianggap riba. Namun, madzhab Hanafi tersebut melakukan hubungan badan de-
menganggap bahwa akad ini adalah akad ngan wanita tersebut dalam satu malam
yang rusak, jika tidak ada pihak ketiga misalnya, kemudian orang tersebut men-
yang menengahi antara pemilik asal ba- jatuhkan talak kepada wanita itu, supaya
rang dengan pembeli. Alasannya adalah suami yang pertama boleh melakukan
penjualan pertama belum sempurna, ka- akad nikah baru dengan wanita tersebut.

rena harganya belum lunas. Dan juga, ka- Akad nikah muhallil ini secara lahir sah
rena penjualan kedua dianggap sebagai
menjual barang sebelum menjadi hakyang berdasarkan firman Allah SWT, "Kemudi-
sempurna. Peniualan seperti ini tidak sah. an jika dia menceraikannya (setelah talak

b. Menjual anggur kepada orang yang mem- yang kedua), mako perempuan itu tidak

buat arak. Maksudnya adalah menjual halal lagi baginya sebelum dia menikah de-
ngan suamiyang lain...!' (al-Baqarah: 230)
anggur kepada orang yang diketahui bah- Maksudnya adalah dalam akad nikah itu
wa dia akan membuatnya menjadi arak, maksud dan niat yang sedemikian tidak
atau diduga kuat bahwa orang tersebut
akan membuat arak. Apabila penjual ragu dinyatakan, melainkan niat dan maksud
(syak) atau mengira (wahm) bahwa si tersebut dinyatakan secara rahasia pada
pembeli akan menjadikannya arak, maka waktu selain masa akad nikah.

penj ualan tersebut makruh. Kesimpulannya adalah kelompok ini ti-

Menjual senjata di waktu ada kekacauan dak mengakui sebab atau pendorong [dibalik
akad) kecuali jika maksud dan sebab terse-
dalam negeri. Maksudnya adalah menjual but ada dalam shighat akad. f ika maksud dan
senjata kepada orang-orang yang meme- sebab itu tidak tercakup dalam shighat akad,
rangi umat Islam, atau kepada perampok. maka tidak dianggap.

Kecenderungan kedua adalah kecende-
rungan yang didukung oleh madzhab Maliki,
Hambali, Zahiri dan Syi'ah.228 Mereka mem-

Pendapat madzhab Malikiyah dapat dilihat dalam Bidayatul-Mujtahid, iilid2,hlm. 140; Mawahib al-Jalil fil-Hithab, iilid,4, hlm. 404,
263; al-Muwafaqat, iilid 2, hlm. 261; al-Furuq, jilid 3, hlm. 266; Pendapat madzhab Hambali dapat di lihat dalam al-Mughni, jilid,

3, hlm. t7 4,222; A'lam al-Muwaqqi'in, jilid 3, hlm. t06, L07, l2l, 731, 748; Ghayatul Muntaha, jilid 2, hlm. 18; Pendapat madzhab

Zahiri dapat dilihat dalam al-Muhalla, iilid 9, hlm. 36; Pendapat madzhab Syi'ah Ja'fariyyah dapat dilihat dalam al-Mukhtashar an-
Nafi'fi Fiqh al-lmamiyyah, hlm. 140; Pendapat madzhab Zaidiyyah dapat dilihat dalam al-Muntazi'al-MukhtalJilid 3, hlm. 19 dan

FIqLH ISIAM JILID 1 Pengantar llmu Flqlh i

pertimbangkan maksud, niat, atau pendorong kan papan yang akan ditulis kata-kata ratap- I
dalam akad, sehingga mereka akan memba- an, atau menjual kain sutra yang akan dipakai I
talkan aktivitas yang didorong oleh maksud
oleh lelaki, adalah batal.23o I
yang tidak dibenarkan oleh syaral Hal itu
Menjual anggur kepada pembuat arak dan I
dengan syarat pihak lain mengetahui maksud menjual senjata kepada musuh berarti mem-
yang tidak dibenarkan oleh syara' tersebut. bantu orang lain melakukan dosa. Oleh sebab ),
Atau, ada kemungkinan pihak lain mengeta-
itu, akadnya tidak sah. Selain itu, akad-akad I
hui maksud tersebut dengan memerhatikan tersebut merupakan akad untuk bermaksiat I
kepada Allah. Maka, akad-akad itu tidak sah.
situasi dan qarinah yang dapat menunjukkan Adapun alasan tidak sahnya akad nikah mu-
kepada maksud yang kotor itu. Umpamanya hallil adalah, karena ia bertentangan dengan
adalah seorang musuh memberi hadiah ke- tujuan-tujuan mulia pernikahan, yaitu akad
pada pimpinan perang, atau memberi hadiah nikah yang kekal, membangun rumah tang-
kepada hakim atau pegawai. Pemberian terse- ga yang permanen, melahirkan keturunan,
but adalah dimaksudkan sebagai risywah dan serta menikmati suasana tenang dan sejah-
menjadi hak negara. Atau, seorang istri yang tera. Sedangkan tujuan akad nikah muhallil
memberikan maharnya kepada suaminya su- ini hanyalah supaya istri yang sudah ditalak
paya suaminya tetap menjadikannya sebagai
istri. fika setelah itu sang suami menalaknya, tiga dapat kembali kepada suami pertamanya.

maka sang istri boleh meminta mahar yang Itu pun dilakukan dalam waktu yang singkat
dan penuh kebingungan. Ini adalah rekayasa
telah diberikan ke suaminya tersebut.22e (hilah) supaya tidak ada pengharaman lagi,
dan hal itu merupakan tujuan yang tidak di-
Kelompok ini mengamalkan teori sebab
benarkan oleh syara'.
atau teori keinginan batin, sebagaimana yang
diamalkan dalam hukum negara-negara Latin. Bai' al-'Inah atat bai' al-Aial dianggap ba-
tal karena orang yang melakukan menjadikan
Maksud keputusan ini adalah untuk melin-
akad jual beli ini sebagai rekayasa (hilah)
dungi dimensi moral, akhlak, dan agama. Se-
hingga jika pendorong akad adalah dibenar- untuk menghalalkan riba. Tujuan utamanya
kan agama, maka akadnya shahih. Namun jika bukanlah jual beli, melainkan akad ini adalah
sarana untuk melakukan akad haram yang
pendorong akad tersebut tidak dibenarkan tidak dibenarkan oleh syara'. OIeh sebab itu,
akad tersebut dilarang untuk menutup jalan
oleh agama, maka akadnya batal dan haram.
Karena kalau dibolehkan, hal itu berarti me- menuju keharaman (saddudz dzari'ah).
Kesimpulannya adalah kelompok kedua
nolong orang untuk melakukan dosa dan
ini mempertimbangkan maksud dan niat.
maksiat.
Meskipun, keduanya tidak disebut dalam
Atas dasar ini, maka madzhab Maliki,
Hambali, dan yang setuju dengan mereka akad, dengan syarat maksud dan niat tersebut
diketahui oleh pihak yang satunya. Atau di
menetapkan bahwa hukum akad-akad yang saat situasi dan kondisi dapat menunjukkan
telah diterangkan di atas adalah batal. Madz- maksud dan niat tersebut, hal ini karena niat
hab Maliki juga menetapkan bahwa menjual
tanah yang akan didirikan gereja, menjual merupakan ruh dan inti perbuatan. Oleh se-
kayu yang akan dibuat salib, membeli hamba
sahaya untuk dijadikan penyanyi, menyewa-

229 Al-Qawa'id libni Rajab, hlm. 322
230 Mawahib al-lalil lil-Hithab, jilid 4, hIm.254.

,+ 'ri{W
lNii s{,,1"

FIqLH ISIAM JILID 1

bab itu, dapat dikatakan bahwa kelompok ini dengan bercanda, maka pemberian itu sah. Te-
menggunakan teori sebab. Yaitu, teori yang tapi, madzhab Hanafi23z mengatakan bahwa,
mensyaratkan sebab yang ada dibalik akad 'Apabila akad jual beli dilakukan dengan kata
harus sebab yang dibenarkan oleh syara'. Apa- yang menunjukkan masa yang akan datang
(mudhari) dan kata tersebut tidak didahului
bila sebab tersebut tidak dibenarkan oleh dengan 'saufa' (artinya 'akan') atau huruf sfn
[juga menunjukkan 'akan'), maka akad terse-
syara', maka akadnya tidak sah. but memerlukan niat. fika orang yang meng-
utarakan itu berniat menyerahkan barang itu
Ada satu permasalahan, ketika suatu akad secara tunai, maka jadilah akad menjual ter-
tidak dibarengi dengan niat atau pendorong sebut. Apabila tidak ada niat yang seperti itu,
maka akadnya juga tidak jadi. Berbeda apabila
yang jelek yang tidak dibenarkan oleh sya- yang digunakan adalah kata yang menunjuk-
ra', apakah sah akad tersebut apabila meng- kan waktu lampau (al-madhi), maka akad jual
beli tersebut tidak perlu bergantung kepada
gunakan niat yang dapat mengubah sifat
niat.
akad?
Adapun jika menggunakan kata kerja mu-
Madzhab Maliki dan Hanafi menegaskan dhari'yang menunjukkan masa yang jauh di
bahwa niat mempunyai efek terhadap shighot
akad. Mereka pun berpendapat bahwa nikah hadapan, maka ia disamakan dengan meng-
akan dihukumi sah jika akadnya mengguna-
kan lafal apa pun yang menunjukkan kepada gunakan kata perintah. Sehingga, akad jual beli
pemindahan kepemilikan barang secara seke-
tika. Umpamanya adalah tazwij (menikahkan), yang menggunakan kata tersebut tidak sah
nikah (menikah), tamlik [memindahkan ke- meskipun dengan niat. Akad jual beli dengan
pemilikan), 7a?u [menjadikan), hibah (mem- cara main-main adalah tidak sah, karena ini
berikan), 'athiyah (memberikan), dan shada- menunj ukkan tidak adanya kerelaan.
qah (menyedekahkan) dengan syarat, niat,
atau qarinah yang ada menunjukkan bahwa Adapun sahnya ikrar, akad perwakilan,
maksud lafal yang dipakai adalah mengarah akad penitipan, akad pinjam meminjam,
kepada pernikahan (az-zawaj). Selain itu, di- qadzaf, dan penetapan hukum mencuri, maka
syaratkan juga para saksi memahami maksud tidak perlu digantungkan kepada niat.
akad tersebut. Hal ini karena akad pernikahan
Penetapan hukum qishash perlu digan-
adalah sama dengan akad-akad yang lain, yang tungkan kepada maksud pembunuhan yang
dilakukan oleh orang yang membunuh. Te-
memerlukan kerelaan di antara kedua belah tapi, madzhab Hanafi mengatakan bahwa
dikarenakan maksud atau pendorong dalam
pihak yang melakukan akad. Oleh sebab itu,
akad tersebut sah dilakukan dengan semua diri seseorang adalalah perkara yang ter-
lafal yang menunjukkan kerelaan kedua belah
pihak dan juga dapat mewakili keinginan ke- sembunyi. Maka, diperlukan alat untuk me-

dua belah pihak.231 ngetahuinya. fika orang yang membunuh

Adapun akad jual beli, pembatalan akad itu memotong-motong tubuh orang yang

(al-iqalah), akad sewa, dan hibah tidak bergan- dibunuh, maka pembunuhan itu ditetapkan
tung kepada niat. Kalau seandainya ada orang
yang memberikan barang kepada orang lain pembunuhan sengaja sehingga orang tersebut

237 Fathul Qadir, filid 2, hlm, 346; ad-Durrul Mukhtqr wa Raddul Muhtan lilid 2, hlm. 368 dan setelahnya; ad-Dardi6 asy-Syarhul Kabir,
jilid 2, hlm, 220 dan setelahnya; Bidayatul Mujtal'i4 iilid 2, hlm. 168; al-Qawanin al-Fiqhiyyah, hlm. 195.
AbAsybahwan-Nazha'tr li lbni Nujaim, hlm. 18,20.

FIqLH ISLAM JILID 1 Pengantal llmu Flqlh

wajib di-qishash. Namun iika orang yang juk eksternal yang berupa situasi dan kon-
membunuh itu tidak memotong-motong tu-
disi tidak dapat dijadikan dasar. Apabila sang
buh orang yang dibunuh, tetapi termasuk suami mengatakan bahwa dia tidak bermak-
pembunuhan biasa, maka pembunuhan itu
sud menjatuhkan talah maka tidak terjadi
dikategorikan sebagai pembunuhan yang me-
nyerupai sengaja (syibhu 'amd) sehingga tidak talak. Namun bila orang tersebut menolak ke-
tika diminta sumpah bahwa dia memang tidak
wajib dikenakan qrshash. Ini adalah menurut
menjatuhkan talak, maka diputuskan bahwa
pendapat madzhab Hanafi.
dia bermaksud menjatuhkan talak.
K. NIAT DALAM FASKH
Madzhab Syafi'i menegaskan bahwa apa-
Apabila iqalah [membatalkan akad) dan
talak dilakukan dengan menggunakan kalimat bila talak itu menggunakan kalimat sindiran
yang jelas (sharih), maka ia tidak memerlu-
kan niat.233 Sehingga apabila ada orang yang maka niatnya harus berbarengan dengan pe-
menjatuhkan talak kepada istrinya [dengan
kalimat yang jelas) karena lalai atau tidak ngucapan kata-kata itu. Apabila niatnya hanya
sengaja, maka talaknya tetap jatuh' Bahkan, berbarengan dengan bagian awal kalimat saja,
ulama madzhab Hanafi mengatakan talakyang
kemudian sebelum kalimat itu berakhir niat-
menggunakan kata-kata yang mushahafah (sa-
lah ucap) tetap berlaku. Tetapi, harus ada ke- nya sudah hilang maka tidak dianggap sebagai

nyataan niat secara lafal. talak.

Adapun talak dengan menggunakan kata Apabila suami berkata [dengan bahasa
sindiran (kinayah, yaitu kata yang menunjuk- Arab) kepada istrinya qnti thalaq atau anti
kan arti talak dan lainnya, dan kata tersebut ath-thalaq (keduanya menggunakan bentuk
tidak biasa digunakan orang untuk menjatuh-
kan talak. Umpamanya adalah seorang suami mashdar thalaq) atau anti thaliq thalaqan,
berkata kepada istrinya, "lkutlah kepada ke- maka-menurut madzhab Hanafi, Hamba-
luargamu, pergilah, keluarlah, uruslah sendiri
dirimu, kamu sendiri, kamu bebas, dll.), maka li, dan Maliki-jatuhlah talak satu [talak
raj'i) iika memang tidak disertai niat talak
keputusan mahkamah kata tersebut tidak
menjadi talak. Kecuali, hal itu didasari oleh tiga. fika dia berniat menjatuhkan talak tiga,
niat atau ada kondisi yang menunjukkan
bahwa kata itu memang dimaksudkan untuk maka jatuhlah talak tiga' Karena menurut
madzhab Hanafi, Maliki, dan Hambali, kata
menjatuhkan talak. Umpamanya adalah kata
itu diucapkan ketika keadaan marah atau se- tersebut merupakan kata yang )elas (sharih)
dan bentuk mashdar dapat diartikan sedikit
dang membincangkan talak. Ini adalah me- [satu) dan banyak (tiga), dan orang yang me-

nurut madzhab Hanafi dan Hambali. lakukannya juga mempunyai niat yang me-
mang dapat ditampung oleh kata tersebut.
Menurut madzhab Maliki dan SYafi'i,
kata tersebut tidak menunjukkan arti talak, Madzhab Hanafi menambahkan, bahwa talak

kecuali jika memang ada niat. Adapun petun- dengan menggunakan bentuk mashdar dengan
niat menjatuhkan talak dua adalah tidak sah,

kecuali jika yang ditalak itu adalah hamba

sahaya.

Mewakilkan pengucapan (tafwidh) talak,

khulu', ila', dan zhihar yang dilakukan dengan
menggunakan kata yang jelas fsharihJ tidak
perlu bergantung kepada niat. Apabila meng-
gunakan kata sindiran, maka diperlukan niat,

Adapun rujuk (membangun kembali ikatan IsrAM rrllD 1

pernikahan) adalah sama dengan akad nikah. Apabila ini yang terjadi, maka orang ter-
Karena, rujuk adalah mengharapkan kekalnya sebut mendapat pahala. Apabila tidak ada
pernikahan. Rujuk yang menggunakan kata proses semacam ini, maka orang yang me-
yang jelas tidak perlu bergantung kepada niat. ninggalkannya tidak mendapat pahala. Oleh
Sedangkan yang menggunakan kata sindiran, sebab itu, orang yang meninggalkan perzina-
memerlukan niat. an tidak mendapat pahala ketika dia sedang
melakukan shalat. Orang yang tidak mampu
Menurut pendapat yang ashah dalam berzina dan meninggalkan perzinaan juga
tidak mendapat pahala, Orang yang buta dan
madzhab Syafi'i, talak yang menggunakan ben- dia tidak mau melihat benda-benda haram
tukmashdar: (anti thalaq atau anti ath-thalaq) juga tidak mendapat pahala.
bukan termasuk talak sharih, melainkan ma-
suk kategori sindiran, karena bentuk mashdar Ada juga beberapa perbuatan yang berada
dapat digunakan untuk menunjukkan banyak
di antara dua kutub; amal pelaksanaan fal-
arti.23a
fi'l) dan meninggalkan (at-tarku,). Namun hal
Atas dasar ini, maka madzhab Syafi'i ju-
ini ditetapkan sebagai perbuatan yang masuk
ga menetapkan bahwa qadzaf [menuduh ber-
zina) dengan menggunakan kata sindiran da- kategori at-tarku, sehingga kebanyakan ulama
pat dihukumi had jika memang dia bermaksud menetapkan bahwa perbuatan tersebut tidak
menuduh (qadzaf). Hal ini disamakan dengan
penggunakan kata sindiran dalam talak, Se- memerlukan niat. Dengan pertimbangan, ia
hingga, kata sindiran yang disertai dengan niat sama dengan perbuatan at-tarku yang murni.
dalam qadzaf dapat menyebabkan ditetapkan- Umpamanya adalah menghilangkan najis,
nya had dan dianggap seperti qadzaf dengan
kata yang jelas (sharih). mengembalikan barang yang di-ghasab, atau
barang pinjaman dan menyampaikan hadiah.
L. NIAT DALAM PERBUATAN YANG
Sahnya perbuatan-perbuatan ini tidak me-
DITUNTUT OLEH AGAMA UNTUK
DlTr NGGALKAN (AT-TURUK) merlukan niat, namun penetapan pahala bagi
perbuatan-perbuatan tersebut memerlukan
Umpamanya adalah meninggalkan riya niat mendekatkan diri kepada Allah SWT.
atau perkara-perkara yang dilarang agama.
Sebagaimana yang ditetapkan oleh syara', Menurut pendapat yang ashah di kalang-
meninggalkan perkara-perkara yang dilarang an kebanyakan ulama-selain madzhab Ham-
oleh agama tidak memerlukan niat. Namun bali-memandikan mayit tidak memerlukan
apabila dimaksudkan untuk mendapat paha- niat, sama seperti perbuatan-perbuatan yang
la, maka perlu niat jika memang dalam pelak- masuk kategori at-tarku. Karena, maksud me-
sanaannya ada proses menahan diri. Yaitu, mandikan mayit adalah membersihkan badan
apabila nafsu mengajak melakukan perbuatan sama seperti menghilangkan najis. Menurut
dosa, dan orang tersebut mampu melaku- pendapat yang ashah, keluar dari shalat juga
kannya, namun dia menahan diri karena takut
kepada Allah SWT. tidak disyaratkan niat, karena niat hanya

pantas pada perbuatan yang masuk kategori
pelaksanaan (al-'amal) bukan meninggalkan
(at-tarku).

Di antara perbuatan-perbuatan yang di-
samakan dengan perbuatan at-tarku adalah
memberi makan hewan piaraan. Apabila da-

ISLAM IITID 1 Pengantar llmu Flqih

lam melakukan perbuatan itu dia berniat ibadah. Umpamanya adalah makan dan minum

melaksanakan perintah Allah, maka dia men- dengan niat supaya kuat melakukan ketaat-
dapat pahala. Namun jika dalam melakukan an, melakukan hubungan badan dengan istri
perbuatan itu dia hanya berniat menjaga harta dengan niat untuk menjaga kemuliaan dirinya
bendanya, maka dia tidak mendapat pahala, dan juga kehormatan istrinya atau niat supaya
mendapat keturunan yang taat kepada Allah.
sebagaimana yang diterangkan oleh Imam Begitu juga dengan meninggalkan zina dan
khamc dengan niat meninggalkan larangan
al-Qarafi. Namun, ada beberapa hewan yang
dikecualikan dari hukum ini. Yaitu, kuda mi- syaral
lik orang yang berjihad di jalan Allah. fika dia
menambatkan kuda itu dengan niatfi sabililah, Oleh sebab itu, semua perbuatan yang
dan kuda itu minum, maka orang yang punya bisa menjadi ibadah perlu diniati ibadah su-
akan mendapatkan pahala meskipun dia ti-
dak berniat memberinya minum. Begitu juga paya ia menjadi ibadah dan berpahala. Inilah
dengan istri, menutup pintu, dan mematikan yang dimaksud oleh hadits "innamal a'maqlu
lampu ketika hendak tidur. fika orang yang
bin-niyaat."
melakukannya niat melaksanakan perintah Sebagaimana yang dikatakan oleh Imam
Allah, maka dia akan mendapatkan pahala.
ar-Ramli, orang yang melakukan perbuatan
Tetapi jika dia mempunyai niat lain, maka ia mubah dan adat kebiasaan hendaklah me-

tidak mendapat pahala.23s nyatakan dan menghadirkan niatnya itu su-
paya dia mendapatkan pahala ibadah. Dan
M. NIAT DALAM PERKARA-PERKARA untuk melakukan itu tidaklah susah. Bahkan,

MUBAH DAN ADAT KEBIASAAN akan terasa nikmat dan disenangi oleh jiwa.
Mahasuci Allah atas anugerahnya yang agung.
Perkara-perkara mubah dan adat kebiasa- Dan betapa luasnya rahmat dan anugerah-
an yang dilakukan oleh manusia dalam setiap
hari bisa mempunyai karakter yang berbeda- Nya. Allah menghalalkan perkara-perkara
beda sesuai dengan niat dan tujuannya. fika
perbuatan-perbuatan tersebut didorong oleh baik yang disenangi oleh jiwa, dan kemudian
ketakwaan atau taat kepada perintah Allah,
maka hal itu dianggap sebagai ibadah. Namun Dia memberi pahala apabila perkara itu di-
jika tidak didorong oleh niat yang sedemikian,
niati dengan niat yang baik, sebagaimana Dia
maka ia tidak dianggap sebagai ibadah dan juga memberi pahala kepada orang yang me-
laksanakan ibadah yang memang dituntut-
tidak berpahala. Atas dasar ini, maka perbuat- Nya. Segala puji hanyalah milik Allah, tidak
an-perbuatan mubah seperti makan, minum, ada tuhan selain-Nya, dan tidak ada kebaikan

tidur, mencari rezeki, berhubungan badan melainkan kebaikan- Nya.
dengan istri, begitu juga perbuatan-perbuat- OIeh sebab itu, pada waktu pagi dan pe-

an yang berbentuk meninggalkan {at-tarku) tang setiap orang disunnahkan untuk mem-
baca doa di bawah ini, supaya semua amalan
seperti meninggalkan zina, meninggalkan mubah dan perbuatan meninggalkan maksiat
khamr, semuanya ini tidak memerlukan niat. mendapat pahala. Doa tersebut adalah,

Perbuatan-perbuatan ini juga tidak akan Pt :f q :i- r(;lt ti e'^jfi c'A1

menjadi ibadah, kecuali jika diniati sebagai

z3s tbid., hlm. 2l.; al-Asybah wan-Nazha'ir lis-Suyuthi,hlm. !l; Syarh al-Arba'in an-Nawawiyyah, hlm. 7-8 dan Ghayatul Muntaha, iilid l,

hlm. 115.

f i';,;t1'r!i\,r9'-rt F b lsr-A.M lrLrD 1

A#.$- l*t* 4. NIKAH

"Ya Allah, semua perbuatan yoig oku tr*u- Nikah merupakan amalan yang dekat de-
ngan amalan ibadah. Bahkan, menikah lebih
kan di siang hari-(di malam hari)-yang ter- utama daripada mengalokasikan semua waktu
hanya untuk ibadah saja. Menurut pendapat
masuk amal kebaikan, maka itu odalah untuk yang shahih dalam madzhab Hanafi, dalam
memenuhi perintah-Mu. Dan semua kemak- kondisi normal hukum nikah adalah sunnah
siatan yang aku tinggalkan, adalah untuk me-
ning g a lkan I a ran g a n - I a rang a n - M u." mu'akkadah. Sehingga untuk membuahkan
pahala, ia memerlukan niat. Niatnya adalah
N. NIAT DALAM PERKARA.PERKARA YANG untuk menjaga kemuliaan diri, menjaga ke-
hormatan istrinya, dan untuk mendapatkan
LAIN keturunan. Masalah rujuk dan talak adalah

Ada amalan-amalan lain yang belum saya sama dengan masalah nikah, karena kedua-
duanya sama mempunyai maksud untuk mem-
singgung. Berikut ini saya akan membahas bangun kekalnya hubungan keluarga. Sehingga
apabila orang yang melakukannya menggu-
masalah niat dalam amalan-amalan tersebut nakan kata yang jelas, maka ia tidak memer-
lukan niat. Namun jika dia menggunakan kata
secara global.236 sindiran (kiasan/kfnayah), maka ia memerlu-
kan niat.
7. IIHAD
5, MENE|APKAN HUKUMAN (AL.QADHA')
fihad merupakan ibadah yang paling
agung. Oleh sebab itu, ia perlu disertai de- Al-Qadha' juga termasuk ibadah, sehingga
dia memerlukan niat apabila ingin mendapat-
fngan niat yang ikhlas, supaya benar-benar kan pahala.

sabilillah. 6. HUDUD, TA',ZtR, DAN KEnETAPAN-

2, WASIAT KETETAPAN HA'<IM DAN PEMERINTAH
Supaya mendapatkan pahala, maka perlu
Wasiat sama dengan membebaskan bu- adanya niat dalam hal-hal tersebut.
dak. Apabila orang yang melakukan wasiat
7. GANT' RUGI
mempunyai niat untuk mendekatkan diri
Membayar ganti rugi tidak memerlukan
kepada Allah, maka dia akan mendapatkan
pahala. fika tidak, maka perbuatannya tetap niat. Orang yang merusak milik orang lain-
baik sengaja atau tidak-wajib membayar
dianggap sah.
ganti rugi. Apakah sesuatu yang diniati dan
3. WAKAF belum dikerjakan dapat menyebabkan wajib-
nya membayar ganti rugi? Madzhab Hanafi
Asal wakaf bukanlah ibadah, karena mengatakan bahwa orang yang berihram jika
orang kafir boleh melakukan wakaf. Apabila
seorang Muslim melakukan wakaf dengan

niat mendekatkan diri kepada Allah, maka dia
mendapat pahala. Apabila tidak ada niat ter-
sebut, maka dia tidak mendapatkan pahala.

236 Ghrl,atul Muntaha, iilid,l, hlm. 115.

FIqLH ISI."A.M 1

'IIID

memakai baju fberjahit) kemudian dia me- Namun apabila yang menyembelih itu meng-
ganti harga hewan tersebut, maka qurban itu
lepaskannya, dan sewaktu melepaskannya dia
belum mencukupi.
berniat akan memakainya lagi, maka denda- Apakah hewan yang sudah diniati untuk

nya tidak serta-merta menjadi ganda (hanya qurban harus disembelih sebagai qurban?
dengan niat itu), Namun jika dia berniat tidak Madzhab Hanafi menegaskan apabila ada
akan memakainya lagi, tetapi dia memakai orang miskin membeli hewan dengan maksud
untuk qurban, maka dia harus melaksanakan-
baju itu lagi, maka hukumannya menjadi gan- nya. Dia tidak boleh menjualnya. Namun apa-
da. Begitu juga orang yang dititipi baju kemu- bila orang yang membeli itu kaya, maka niat-
dian memakai baju titipan tersebut, dan ke- nya tidak mesti dilaksanakan. Namun, Ibnu
Nujaim dalam al-Asybah menegaskan bahwa
mudian melepasnya lagi dan dia berniat akan
niat qurban itu harus dilaksanakan secara
memakainya lagi, maka dia tetap dibebani
mutlak. Adapun pendapat yang shahih me-
tanggungan ganti rugi apabila ada kerusakan. nurut selain Ibnu Nujaim, niat tersebut tidak
mesti dilaksanakan dan boleh disembelih di
8. KAFARAT selain hari-hari qurban dan kemudian me-

Supaya kafarat menjadi sah, maka diper- nyedekahkannya.

lukan niat, baik kafarat itu berbentuk pem- Madzhab Syafi'i dan satu pendapat dalam
madzhab Maliki menegaskan bahwa keharus-
bebasan budah puasa, atau memberi makan an melaksanakan qurban bergantung kepada
fakir miskin. ucapan orang yang membelinya. Apabila dia

9, MENYEMBELIH QURBAN mengatakan, "ini adalah hewan qurban" atau
"aku jadikan hewan ini sebagai hewan qurbdn,"
Menyembelih hewan qurban juga memer- maka dia wajib melaksanakan perkataannya
lukan niat. Tetapi menurut pendapat madz- itu. Karena dengan perkataan itu, maka dia
sudah tidak mempunyai hak kepemilikan atas
hab Hanafi, niat tersebut dinyatakan ketika hewan tersebut. Menurut madzhab Maliki,
keharusan melaksanakan qurban disebabkan
membeli, bukannya ketika menyembelih. Apa- niat sebelumnya atau aktivitas penyembelih-

bila ada orang yang sewaktu membeli hewan an, Hal ini bertentangan dengan pendapatyang
berniat untuk menjadikannya sebagai hewan masuk kategori al-Madzhab. Adapun menurut
qurban, kemudian ada orang lain yang me- pendapat yang mu'tamad dan masyhur dalam
madzhab, keharusan melaksanakan qurban
nyembelih hewan tersebut tanpa sepengeta-
huan dan tanpa izin orang pertama, maka jika hanya disebabkan aktivitas penyembelihan.
Dan penyembelihan qurban tidak menjadi
orang yang menyembelih itu berniat sebagai
wakil dari orang yang memiliki, dia tidak wajib karenanadzar.
menanggung ganti rugi. Namun jika orang
kedua tersebut menyembelih untuk dirinya
sendiri, maka apabila orang kedua tersebut

tidak mengganti harga hewan itu kepada

pemilik pertama, maka qurban mencukupi.

,u.q-
--r,o'

Pangantar llmu Flqlh ,.,a -:- FIQIH ISI."AM JILID I
195

PENUTUP

Demikianlah pembahasan niat, kepenting- niat untuk jihad, mencintai sesama mukmin,
annya, dan juga hukum-hukumnya. Ia adalah dan dilaksanakan dengan hati yang bersih,
maka orang tersebut akan mendapatkan pa-
pekerjaan hati yang mengarahkan seorang hala. Namun jika amalnya didorong oleh riyai
supaya terkenal atau prestise, maka ia akan
Muslim kepada kebaikan atau kejelekan. Ia juga
standar bagi penilaian amalan-amalan syara' menghasilkan siksa.
seperti ibadah, muamalah. Dengan niat, maka
bisa ditetapkan mana amalan yang shahih dan Barangsiapa niatnya baih maka ia akan
mana amalan yang tidak sah dan tidak diakui. mendapatkan kemuliaan, kejayaan, dan ke-

Dengan niat, maka amal seseorang dapat baikan di dunia dan di akhirat. Dan barangsiapa

membuahkan pahala atau siksa di akhirat' niatnya jelek, maka dia akan mendapatkan

Jika dalam melakukan amalan seseorang ber- kerugian dan kehinaan di dunia dan akhirat.

*:']#h: ,

l

k
k

T

I

i

t

BAGIAN

BADAH

I

I

H

h

Baglan 1: lBADAll FIQIH ISLAM I

199 'ILID

PENDAHULUAN

Perkara-perkara agama terdiri atas masa- Shalat, zakat, puasa, haji, berkata bena4
lah aqidah, akhlak, ibadah, muamalah, dan menunaikan amanah, berbuat baik kepada ibu
bapak, menjalin ikatan silaturrahmi, menunai-
hukuman. Semua ini dinamakan al-Fiqhul kan janji, menyuruh kepada kebaikan, me-
Akbar. Oleh karena kajian kita berkaitan larang kemungkaran, jihad memerangi orang
kafir dan munafih berbuat baik kepada tetang-
dengan hukum-hukum syara' yang berbentuk ga, anak yatim, orang miskin, orang yang da-
amali, maka kita tidak akan membincangkan lam perjalanan, bersikap baik kepada hewan,
perkara-perkara aqidah dan akhlak. berdoa, berdzikir; membaca Al-Qur'an dan se-
macamnya, semua ini adalah ibadah.
Ibadah terbagi kepada lima bagian yaitu
shalat, zakat, puasa, haji, dan jihad. Namun Demikian juga dengan perasaan cinta ke-
dalam tulisan ini, kita tidak akan menerang- pada Allah dan Rasul-Nya, takut kepada Allah,
kan masalah jihad dalam bab ibadah. Tetapi, bertobat kepada Allah, ikhlas kepada Allah,
ia akan dibahas dalam bab hukum yang ber- sabar atas hukuman Allah, mensyukuri nikmat
kaitan dengan pemerintahan. Allah, ridha dengan qadha Allah, tawakal ke-
pada Allah, mengharap rahmat Allah, takut
Muamalah terbagi kepada lima bagian
yaitu penukaran harta, munakahat, mukha- kepada siksaan Allah dan lainnya, juga di-

shamqt (pertikaian), amanah, dan warisan. namakan ibadah.

Hukuman jinayah terbagi kepada Iima Hal ini disebabkan ibadah merupakan
bagian yaitu qishash, hukuman had bagi pen-
tujuan yang disukai dan diridhai oleh Allah.
curian, zina. tuduhanzina, dan murtad.237 Dan semua makhluk diciptakan untuk ber-
ibadah, sebagaimana diterangkan dalam fir-
Ibadah ialah istilah yang digunakan untuk
mencakup segala perkara yang disukai dan di- man Allah SWT,
ridhai oleh Allah, baik ia berbentuk perkata-
an, perbuatan batin, atau perbuatan zahir.2:rti ffie.2341-{lt6lti$ii;vi
Sehingga, agama Allah (dinullah) dapat diarti-

kan sebagai beribadah kepada-Nya, menaati-
Nya, dan tunduk kepada-Nya.

237 Roddul Mukhtar,lilid I, hlm. 73 dan ditambah lagi dengan hodd (hukumanl minum arak dan mabuk
238 Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, ol-'lJbudiyyah,hlm.2.

,'-, r .-. 'li ,rl
' 1i,, lEi
r$--"g

FIQIH ISLAM JILID 1 Oleh sebab itulah, para ahli fiqih biasanya l
mendahulukan pembahasan mengenai ibadah
"Aku tidak menciptakan jin dan manusia
daripada pembahasan yang lain, karena
melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku."
(adz-Dzaariyaat: 56) memang kedudukan ibadah teramat penting.
Alasannya adalah bahwa manusia tidak di-
Para rasul diutus untuk mengajak manusia ciptakan kecuali untuk beribadah. Para ahli
supaya beribadah kepada Allah, seperti yang fiqih juga mendahulukan pembahasan shalat
daripada kewajiban-kewajiban yang lain. Ka-
dikatakan oleh Nabi Nuh kepada kaumnya, rena, shalat merupakan amalan yang paling
disukai oleh Allah SWT setelah iman, ditambah
"Beribadahlah kamu semua kepada Allah SWT. lagi ia adalah tiang agama.23e

Tidak ada bagimu tuhan selain Dia!" Nabi RANCANGAN PEMBAHASAN IBADAH
Hud, Nabi Shalih, Nabi Syu'aib, dan lain-lain
Pembahasan ibadah-selain jihad-akan
juga mengatakan hal yang sama kepada kaum mencakup beberapa perkara berikut: bersuci,
mereka. shalat, jenazah, puasa, i'tikafi zakat, haji, sum-

Oleh karena semua makhluk adalah pah dan nadzar, makanan dan minuman, hewan
hamba Allah SWT-baik makhluk yang baik buruan dan sembelihan, qurban, aqiqah, dan
maupun yang jahat, mukmin ataupun kafir, khitan.
ahli neraka ataupun ahli surga-maka ibadah
Pembahasan ini akan dibagi kepada sem-
yang benar bagi mereka adalah ibadah kepada
Allah SWT Yang Esa dan Kuasa. Allah SWT bilan bab yaitu:
berfirman,
. Bab Satu: Bersuci atau Pendahuluan sha-
"Sungguh, (agama tauhid) inilah agamo
lat
kamu, agama yang satu, dan Aku adalah Tuhan-
. Bab Dua: Shalat dan Hukum yang Ber-
mu, maka sembohlah Aku" (al-Anbiyaa':.92)
hubungan dengan Jenazah
Allah SWT juga berfirman,
. Bab Tiga: Puasa dan I'tikaf
"Wahai manusia! Sembahlah Tuhanmu
a Bab Empat: Zakat dan f enis-Jenisnya
yang telah menciptokan kamu dan orang-orang a Bab Lima: Haji dan Umrah
a Bab Enam: Sumpah, Nadzar, dan Kafarat
yang sebelum kamu, agar kamu bertakwa." (al-
Baqarah: 21) a Bab Tujuh: Hal-Hal yang Dilarang dan
yang Dibolehkan atau Masalah Makanan
Dan juga firman-Nya
dan Minuman
y'!4-11.;;\ttA5E-V3 a Bab Delapan: Qurban, Aqiqah, dan Khitan
a Bab Sembilan: Hewan Buruan dan Sembe-
"Aku tidqk menciptakan jin dan manusia
lihan
melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku."
(adz-Dzaariyaat: 56)

Sabda Nabi Muhammad saw.," Sholat odalah tiang agama. Siapa yang mendirikan shalat, berarti dia mendirikan agama. Siapa yang
meruntuhkannya, berarti dia meruntuhkan agoma." (HR al-Baihaqi dari lbnu Umar) Hadits ini dhaif tetapi lafal, " Shalat adalah
tiang agamal' adalah hadits hasan.

B"g|an 1: IBADAH FIQIH ISLAM IILID 'I

BAB PERTAMA

THAHARAH

(Wasilah atau Mukodimah Shalqt)

Pembahasan mengenai thaharah (ber- termasuk pengertian, hukum, cara, dan faedah
suci) mengandung tujuh bagian. bersiwak. Pembahasan ketiga mengenai me-
nyapu dua khuf.Ini meliputi pengertian, dasar
A. Konsep Thaharah
pensyariatan, cara, syarat, waktu menyapu,
Perkara yang dibincangkan dalam bab perkara yang membatalkannya, menyapu
serban, menyapu sarung kaki, dan menyapu
ini meliputi pengertian, kepentingan, jenis-
jenis benda yang menyucikan, jenis-jenis pembalut fiabirah).

air, hukum mengenai sisa dan telaga air, dan E. Mandi
jenis-jenis benda yang suci.
Dalam pasal ini, pembahasannya meliputi
B. Naiis
kelebihan air mandi, perkara-perkara yang
Pembahasan dalam pasal ini meliputi je-
nis najis, kadar najis yang dimaafkan, cara menyebabkan mandi, perkara-perkara far-
dhu, sunnah dan makruh, serta perkara yang
menyucikan najis, dan hukum air basuhan. diharamkan bagi orang yang berjunub, mandi-
mandi sunnah dan hukum yang berhubungan
C. lstinja' dengan konsekuensi mandi seperti memasuki
masjid dan bilik air.
Pembahasannya meliputi pengertiannya,
hukum, cara, dan adab membuang air. F. Tayamum
Dalam pasal ini, akan dibahas masalah
D. Wudhu dan Ferkara yan$ Berkaitan
Pasal ini dibagi kepada tiga pembahasan. definisi, dasar pensyariatan, sifat, sebab, far-
dhu, cara, syarat, sunnah, makruh, perkara-
Pembahasan pertama, fardhu, syarat, dan perkara yang membatalkan tayamum, dan

sunnah wudhu, di samping perkara yang hukum orang yang tidak mempunyai dua

membatalkan wudhu serta wudhu orang yang bahan penyuci (air dan debu).
uzur. Pembahasan kedua mengenai bersiwak

FIQIH ISLAM JILID I Baglan 1: IBADAH

G. Haid, Nifas, dan lstihadhah "Suci adalah sebagian dari iman.'241

Pasal ini mengandung empat pembahasan. Dalam pasal ini, akan dibahas beberapa
Pembahasan pertama mengenai definisi haid perkara berikut ini.

dan masanya. Pembahasan kedua menge- o Pertama: Pengertian dan kepentingan tha-
nai definisi nifas dan masanya. Pembahasan
harah.
ketiga mengenai hukum haid dan nifas, serta
perkara yang diharamkan bagi orang yang haid . Kedua: Syarat wajib thaharah.
dan nifas. Pembahasan keempat mengenai . Ketiga: Jenis-jenis benda yang dapat me-
istihadhah dan hukumnya.
nyucikan.
A. KONSEP THAHARAH
Para ahli fiqih mendahulukan pembahas- . Keempat: fenis-jenis air.
. Kelima: Hukum tentang sisa dan telaga.
an thaharah sebelum pembahasan shalat. . Keenam : Jenis jenis barang yang suci.

Alasannya adalah thahorah merupakan kunci 7. PENCERTIAN DAN PENTINGNYA
dan syarat sahnya shalat. Syarat mestilah
THAHARAH
didahulukan dari masyruth [perkara yang
Thaharah menurut arti bahasa adalah
memerlukan syarat). Nabi Muhammad saw.
bersih dan suci dari kotoran atau najis hr'ssi
bersabda, fyang dapat terlihat) seperti kencing atau
lainnya, dan najis mo'nawi lyang tidak ke-
';lt ;yJr ()-& lihatan zatnya) seperti aib dan maksiat.

f-f:3r qt;X1 Adapun menurut istilah syara', thahrah
ialah bersih dari najis baik najis haqiqi, yai-
"Kunci shalat ialah suci (thuhur); yang tu khabats (kotoran) atau najis hukmi, yaitu
menyebabkan haram melakukan perkara-per-
kara yang dihalalkan sebelum shalat,adalah hadats.2a2
takbiratul ihram; dan yang menghalalkon me-
lakukan perkara yong diharamkan sewaktu Khabats ialah sesuatu yang kotor men-
urut syara'. Adapun hadats ialah sifat syara'
shalat ialah salam.'2ao
yang melekat pada anggota tubuh dan ia dapat
Rasul juga bersabda, menghilangkan th a h a rah [kesucian).

.rt.;.jyr Imam an-Nawawi mendefinisikan tha-
harah sebagai kegiatan mengangkat hadats

atau menghilangkan najis atau yang serupa de-
ngan kedua kegiatan itu, dari segi bentuk atau
maknanya.2a3 Tambahan di akhir definisi yang

Hadits shahih dan hasan yang dipetik oleh Abu Dawud, at-Tirmidzi, dan lbnu Majah dari Ali bin Abu Thalib (Noshbur Rayah,lllid,l,

hlm.307).
241 Hadits shahih yang diriwayatkan oleh Muslim. Terdapat perselisihan dalam makna thaharah tersebut. Adayang menyatakan bahwa

pahala bersuci itu adalah separuh dari pahala beriman. lman yang dimaksudkan di sini ialah "shalat." Allah SWT telah berfirman,

"Dan Allah tidok akan menghilangkan iman kamu;'Oleh karena bersuci (thaharah) itu adalah syarat penyempurna shalat, maka ia

menjadi bagian dari shalat. Secara zahirnya pengertian bersuci dalam hadits ini membawa arti suci dari sudut mahawl (dalaman).
Ini karena seorang Muslim itu dianggap sempurna imannya jika hatinya suci dari sifat-sifat mazmumah seperti sombong, hasad,
dan dengki. Imannya dianggap lemah iika tidak bersih jiwanya dan tidak ikhlas hatinya.
242 AI-Lubab Syarhul Kitab, jilid l, hlm. 70; ad-Durrul Mukhtor,lilid I, hlm. 79.
24:\ Al-Majmu',lilid I, hlm. 124; Mughnil Muhtaj, Jilid l, hlm. 16.


Click to View FlipBook Version