The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by MOHD RAHIMI BIN RAMLI Moe, 2021-08-05 23:44:36

Fiqih Islam Wa Adillatuhu Jld1

Fiqih Islam Wa Adillatuhu Jld1

Baglan 1: IBADAH IstAM IIUD 1

al-Miqdad ibnul Aswad bertanya kepada be- (h) Daging dan Susu Binatang yang tidak
liau. Dia pun bertanya dan Rasul meniawab, Boleh Dimakan
'Diwajibkan berwudhu."' Sedangkan dalam ri- Daging binatang yang tidak boleh dima-
wayat Imam Muslim disebutkan, "Hendaklah
membasuh dzakarnya dan hendaklah ber- kan dan juga susunya dihukumi najis, karena
susu itu berasal dari dagingnya. Oleh sebab itu,
wudhu."362 ia mengikut hukum dagingnya.

Wadi ialah air putih pekat yang keluar (i) Bagian Anggota yang Terpisah
setelah air kencing ataupun ketika menang-
gung sesuatu yang berat. Ia juga dihukumi Yang dimaksud adalah bagian anggota
yang terpisah ataupun yang terputus dari ba-
najis karena ia keluar bersama-sama air ken- dan binatang semasa masih hidup, seperti
cing ataupun sesudahnya. Oleh sebab itu, ia tangan dan ekor atau punggungnya, kecuali
dihukumi sama seperti air kencing.363 bulu dan seumpamanya. Ini berdasarkan sab-
da Nabi Muhammad saw.,
Pasir ataupun batu yang keluar setelah air
kencing. Apabila menurut keterangan dokter "Bagian mana pun dari badan binatang
yang adil bahwa ia berasal dari air kencing, yang terputus atau terpotong ketika ia masih
maka dihukumi najis. fika tidak, maka dihu-
kumi sesuatu yang mutanajjis [terkena najis) hidup, maka ia dianggap sebogai bangkai.'B6s
yang dapat dibersihkan dengan cara mem-
2. Najis yang Diperselisihkan oleh Ulama
basuhnya.36a
Para fuqaha berselisih pendapat menge-
(g) Daging Bangkai Binatang Daratyang nai hukum najis dalam beberapa perkara.
Berdarah Mengalir
Yang dimaksud dengan binatang terse- (a) Aniing
Menurut pendapat yang ashah dari ka-
but adalah segala jenis binatang darat baik
- kanlah najis 'oin karena ia berguna untuk
yang boleh dimakan dagingnya ataupun yang
tidak seperti anjing, kambing, kucing, burung- _pgn,agaan dan buruan,
burung kecil, dan seumpamanya. Kulit bang-
kai yang belum disamak juga disamakan hu- mane i2 adalah naiis 'ain karena huruf h4'
kumnya. Ini adalah menurut pendapat ulama
Madzhab Hanafi. Ulama selain mereka me- dituiukan kepadanya [hahi), karena keduduk-
annya yang lebih dekat dengan huruf ha'itu.
ngatakan bahwa semua bagian bangkai selain
mayat manusia seperti tulang, bulu, dan lain- Mulut, air liuc dan tahi anjing saja yang di-
lainnya dihukum najis, karena setiap bagian hukumi najis. Namun semua bagian badan-
itu merupakan bagian yang hidup (sebelum ia nya yang lain tidak dapat diqiyaskan dengan
mulutnya. Oleh sebab itu, tempat yang dijilat
menjadi bangkai).

362 Hadits riwayat asy-Syaikhan dari Ali. Adapun lafalnya dalam riwayat Ahmad dan Abu Dawud, "la membasuh dzakar dan iuga kedua
buah dzakarnya, kemudian berwudhu." [Nailul Authar,lilid l, hlm. 51)

363 Perlu diingat bahwa benda yang keluar dari badan Nabi Muhammad saw. seperti darah, nanah, muntah, tahi, air kencing madzi,

dan wadi adalah suci/bersih karena Barakah (perempuan berketurunan Habsyi) telah meminum air kencing beliau. Lalu beliau
bersabda, "Api neroka tidak akan menjilat perutmu." Hadits ini disahkan oleh ad-Daruquthni, dan lagi Abu Tibah juga telah me-
minum darah Nabi Muhammad saw. yang diambil dari beliau sesudah ia membekam darah Rasulullah. Lalu beliau bersabda,
"0rang yang darahnya bercampur dengan darahku, mako dirinyo tidak akan disentuh oleh api neraka!'
364 Mughnil Muhtoj, filid I, hlm. 79.
365 Hadits riwayat al-Hakim dan dia menghukumi shahih berdasarkan syarat asy-Syaikhan. Diriwayatkan juga oleh Abu Dawud dan at-

Tirmidzi, dia mengatakan bahwa hadits ini adalah hadits yang baik, dari Abu Waqid al-Laitsi r.a. fSubulus Salam, Iilid I, hlm, 28).

FrqlH Isr-A.M f rLrD 1

anjing mestilah dibasuh sebanyak tuiuh kali,365 najisnya mulut anjing telah ditetapkan ber-
karena Nabi Muhammad saw. bersabda,
dasarkan nash hadits yang telah lalu.
;W €yi :1 e id' e;'it
(il Meskipun mulut adalah anggota badan
yang terbaik pada diri binatang itu karena ia
"Apabila seekor anjing meminum dari be- sering membuka mulut dan mengeluarkan
jana salah orang dari kamu, maka basuhlah
bejana itu sebanyak tujuh kali." lidahnya, tetapi ia tetap dihukumi najis. Oleh

Menurut riwayat Imam Ahmad dan Mus- sebab itu, bagian badannya yang lain juga
lim, redaksinya adalah seperti berikut.
dihukumi najis.
"Bejana salah seorang dari kamu yang
dijilat anjing menjadi bersih jika dibasuh se- Dalam hadits lain tentang najis yang di-
riwayatkan oleh ad-Daruquthni dan al-Hakim
banyak tujuh kali, dan basuhan yang pertama bahwa Nabi Muhammad saw diundang ke
rumah suatu kaum. Beliau memenuhi undang-
adalah deng an tanah.'867
an itu. Kemudian beliau diundang juga ke
Ulama madzhab Maliki358 berkata bahwa, rumah yang lain, lalu beliau tidak mau me-

semua anjing-baik yang boleh digunakan menuhi undangan itu. Oleh sebab itu, beliau
untuk penjaga dan buruan ataupun yang ti-
ditanya tentang tindakannya itu dan beliau
dak boleh, hanya jilatannya saja yang wajib menjawab, "Dalam rumah si fulan terdapat
dibasuh sebanyak tuiuh kali secara ta'abbudi.
Ini adalah menurut pendapat yang masyhirr seekor anjing." Lalu beliau diberi tahu bahwa
dari kalangan mereka. Sehingga, tidak wajib di dalam rumah si fulan juga terdapat seekor
membasuh tujuh kali apabila anjing itu hanya kucing. Beliau menjawab, "Sesungguhnya ku-
memasukkan kakinya ataupun memasukkan cing tidaklah najis!'Atas dasar ini, maka dapat
Iidahnya ke dalam sesuatu bejana ai4 tapi dipahami bahwa anjing itu adalah najis.
tanpa menggerakkannya ataupun tanpa ter-
jatuh air liurnya. (b) Bangkai BinatangAir dan Binatang
yang tidak Berdarah Mengalir
Ulama madzhab Syafi'i dan Hambali36e
- berkata bahwa aniinq, babi, dan keturunan Semua ulama madzhab bersepakat bahwa

yang lahir dari keduanva, termasuk kotoran bangkai binatang air seperti ikan dan bina-

sg lah hin. Oleh sebab tang laut yang lain adalah bersih, karena Nabi

itu, apa saja yang disentuh oleh binatang itu Muhammad saw. bersabda,
hendaklah dibasuh sebanyak tujuh kali, salah
satunya adalah dengan debu. Karena, hukum A-Ai :ot1ii 0;4, 6 ::-i

"t'jlt, ,t *t'oStt:

Jt;&)t)

"Dihalalkan untuk kita dua Pli, tu7gkoi

dan dua jenis darah; ikan dan belolang, hati

dan limpa.'47o

36 Fathul Qadir, Jilid l, hlm. 64; Raddut Mukhtar oleh lbnu Abidin, Jilid I, hlm. 192, 300; al-Bada'i',Jilid l, hlm. 63'

367 H"ditr ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan as-syaikhan dari Abu Hurairah (Nailul Authar,lilid I, hlm. 36; Subulus Salam, Jilid I,
hlm.22).

368 Asy-Syarhut Kabir,lilid I, hlm.83; asy-Syarhush Shaghir,lilid l, hlm.43.
36e Mughnil Muhtaj,lilid I, hlm.78; Kasysyaful Qina', Jilid I, hlm. 208; al'Mughni,Jilid l, hlm. 52.
370 H"ditr riwayat Ahmad, Ibnu Majah, dan ad-Daruquthni dari Ibnu Umar terdapat kelemahan di dalam sanadnya (subulus Salam,

]ilid I, hlm. 25; Nailul Authar,lilid VIII, hlm. 150).

BaE[an 1: IBADAH FIqLH ISLAM JITID 1

Berkaitan dengan laut, Rasul juga ber- tidak mengalir adalah suci menurut penda-
pat ulama madzhab Hanafi. Begitulah juga
sabda, menurut pendapat ulama madzhab Maliki3Ta
mengenai hukum bangkai binatang laut dan
A ,Pt;jc )rii":t ,^ juga bangkai binatang yang tidak mengalir

"Airnye, (yaitu oi, tortl menyucikan dan darahnya, semuanya adalah bersih.

bangkainya holal.'a71 Ulama madzhab Syafi'i dan Hambali3Ts
mengatakan bahwa bangkai ikan, belalang,
Para fuqaha berselisih pendapat menge- dan seumpamanya yang dari jenis binatang
Iaut adalah suci. Tetapi, bangkai binatang
nai bangkai binatang yang darahnya tidak yang darahnya tidak mengalir seperti lalat,

mengalir. Perbincangan mereka adalah seba- kepinding, kumbang, kalajengking, lipas, dan
gai berikut. semacamnya dihukumi najis menurut pen-

Ulama madzhab Hanafi37z menyatakan dapat ulama madzhab Syafi'i. Ia dihukumi
bahwa kematian seekor binatang yang hidup
bersih oleh ulama madzhab Hambali. Bang-
di dalam air, maka ia tidak menyebabkan kai binatang laut yang hidup di darat seperti
katak, buaya, dan ular adalah najis menurut
air itu menjadi najis seperti ikan, katah dan pendapat ulama madzhab Syafi'i dan Hambali.
ketam yang mati dalam air. Tetapi, daging
bangkai binatang yang berdarah mengalir Walaupun begitu, ulama madzhab Syafi'i
dan juga kulitnya-sebelum disamak-adalah berkata bahwa bangkai ulat seperti bangkai
najis. Binatang apa saja yang darahnya tidak ulat cuka ataupun ulat buah apel dihukumi
mengalir, jika terjatuh ke dalam air, maka najis. Tetapi, ia tidak menyebabkan cuka dan
ia tidak menyebabkan air itu menjadi najis buah apel itu menjadi najis, karena amat su-
seperti kepinding, lalat, kala jengking, dan
yang seumpamanya. Karena, terdapat hadits kar untuk mengelakkan dari ulat tersebut.

yang berkaitan dengan masalah lalat, Malahan ulat itu boleh dimakan bersama cuka
ataupun bersama buah apel tersebut, sebab
Jika terjatuh seekor lalat ke dalam mi- memisahkan di antara keduanya adalah sulit.

numan salah orang dari kamu, maka hendaklah Ulama madzhab Hambali menyatakan bah-
ia menenggelamkannya, kemudian membuang -
nya. Karena, sesungguhnya pada salah satu wa binatang yang darahnya tidak mengalir.
sayapnya terdapat penyakit, dan pada sayap- Apabila ia dilahirkan dari benda-benda yang
nya yang satu lagi terdapat penawor.'473 bersih, maka ia dihukum bersih baik hidup
ataupun mati. Tetapi jika ia dilahirkan dari
Oleh sebab itu, jelas bahwa bangkai bina- benda-benda yang najis seperti ulat kebun
tang air dan bangkai binatang yang darahnya dan juga lipas, maka ia dihukumi najis baik

hidup ataupun mati. Karena kelahirannya ber-

371, Hadits riwayat,4shabus Sunan al-Arba'oh dan lbnu Abi Syaibah, dan lafal hadits ini adalah riwayat lbnu Abi Syaibah. Ia dishahihkan

ofeh Ibnu Khuzaimah dan at-Tirmidzi dari Abu Hurairah (Subulus Salam,1,: L4).
372 Fathul Qadir,lilid l, hlm. 57; al-Bada'i',lilid I, hlm. 62 dan hlm. setentsnya(Muraqi al-Falah, hlm. 25J.
373 Hadits riwayat al-Bukhari dari Abu Hurairah. Asy-Syafi'i berkata, "Sebab terjadi demikian adalah karena Nabi Muhammad saw.

tidak menyuruh supaya menenggelamkan sesuatu yang menyebabkan tempat dia mati itu menladi naiis. Karena, tindakan demi-

kian dianggap sebagai sengaja merusaknya. Abu Dawud juga telah memasukkan satu penambahan melalui satu sanad yang baik,

'Dan sesungguhnya ia berlindung dengan menggunakan sayapnya yang mempunyai racun."' (Nashbur Rayah,lilid I, hlm. 115)
374 Bidayatul Mujtahrd, Jilid I, hlm. 74; asy-Syarhush Shaghir,lilid I, hlm. 44, 45,49; al-Qawanin al-Fiqhiyyah, hlm. 34.

375 Mughnil Muhtaj, Jilid t, hlm. 78; al-Muhadzdzab, filid I, hlm.47; al-Mughni,lilid I, hlm.42 - 44; Kasysyaful Qina',lilidlhlm."22?.

FIQIH ISI.AM JITID Bagfan 1: IBADAH

asal dari benda najis, maka ia juga dihukumi Bagian-bagian tersebut adalah seperti
najis seperti anak anjing dan juga babi yang tanduh tulang dan gigi, termasuk juga gading
dihukumi najis karena dilahirkan dari induk gajah, semua jenis kuku seperti kuku kuda,
kuku kaki unta dan kuku kaki lembu, dan
yang najis. termasuk juga semua jenis bulu dan rambut,
urat putih dan juga al-infihah3Tu yang keras;
Kesimpulannya, bangkai binatang air semua ini dihukumi bersih menurut pendapat

dan juga bangkai binatang lainnya yang tidak ulama madzhab Hanafi.377 Karena, semua ben-
da tersebut bukanlah bangkai sebab bangkai
mempunyai darah adalah bersih menurut
pendapat fuqaha, kecuali ulama madzhab binatang menurut pengertian syara' ialah
nama bagi binatang yang telah keluar nyawa-
Syafi'i saja yang mengatakan bahwa binatang nya tidak disebabkan oleh perbuatan manusia

yang darahnya tidak mengalir adalah najis, ataupun disebabkan oleh perbuatan manusia

berdasarkan firman Allah SWT, yang tidak sesuai dengan kehendak syara'.

"Diharamkan bagimu (memakan) bangkai Sedangkan benda-benda tersebut tidak mem-
...." (al-Maa'idah: 3)
punyai nyawa, maka oleh sebab itu ia tidak
Pengertian bangkai menurut ulama
dihukum sebagai bangkai. Lagipula kalau di-
madzhab Syafi'i ialah binatang yang hilang
nyawanya tanpa sembelihan yang sah me- perhatikan najis bangkai-bangkai tersebut
nurut syara' seperti sembelihan orang Ma-
jusi, orang yang sedang berihram, sembelihan adalah karena adanya darah yang mengalir
dengan menggunakan tulang, dan begitu juga dan bahan-bahan lembab yang dihukumi najis.
binatang yang tidak halal dimakan jika disem-
belih. Demikian juga pendapat ulama madz- Padahal, darah dan bahan lembab itu tidak
hab Maliki. Mereka mengatakan bahwa semua
binatang yang disembelih di lehernya ataupun terdapat pada benda-benda tersebut.
disembelih pada pangkal lehernya atau de-
ngan cara melukainya, maka hukumnya adalah Berdasarkan ini, maka bagian anggota
bersih, asalkan binatang-binatang tersebut
adalah binatang yang tidak haram dimakan. binatang tersebut yang terpotong atau terpu-
Namun binatang yang tidak boleh dimakan tus pada masa hidupnya dihukumi bersih.
seperti keledai, bighal, dan kuda, menurut
pendapat mereka, sembelihannya adalah tidak Menurut Abu Hanifah, al-infihah yang
memberi dampak apa pun terhadap diri bina-
tang tersebut. Begitu juga dengan anjing dan cair dan juga susu adalah bersih berdasarkan
babi, sembelihan tidak memberi dampak apa firman Allah SWT,
pun, oleh sebab itu bangkai binatang tersebut
dihukumi najis. "Dan sungguh, pada hewan ternak itu
benar-benar terdapat pelajaran bagi kamu.
(c) Bagian-Bagian Bangkai yang Keras Kami memberimu minum dari apa yang ada
yang tidak Mengandungi Darah dalam perutnya (berupa) susu murni antora
kotoran dan darah, yang mudah ditelan bagi
orong yang meminumnya." (an-Nahl: 66)

Abu Yusuf dan Muhammad ibnul Hasan asy-

Syaibani berkata-pendapat mereka adalah

376 Infihah adalah suatu benda yang keluar dari perut anak kambing yang berumur setahun, lalu diperas dan dimasukkan ke dalam
susu dan ia mengembang seperti keju. Ia dikenali dengan nama al-Majinah dalam bahasa pasaran.

377 Al-Bada'i',lilid I, hlm. 63.

. ai rri.--:i-., .
".*i

FIQIH TSLAM JITID 1

pendapat yang ozhhar-bahwa kedua benda (d) Kulit Bangkai

itu dihukumi najis karena susu itu meskipun Ulqna madzhab Maliki dan Hambali-

bersih, tetapi disebabkan ia berdekatan de- dalam pendapat vang terkuat di kalangan
-.-- mereka-37e me
ngan najis, maka ia menjadi najis.

Jumhur ulama selain ulama madzhab adalah najis, baik sesudah disamak ataupun

Hanafi378 berkata semua bagian badan bangkai karena ia adalah bagian dari
adalah najis, termasuk al-lnfihah dan juga susu =ebEanagukmain. yOale, h sebab itu, ia menjadi haram

kecuali-menurut pendapat ulama madzhab berdasarkan firman Allah SWT,

Syafi'i-jika keduanya diambil dari anak ...i$t#.-*?

yang sedang menyusu. Karena, setiap bagian

bangkai adalah tempat keberadaan nyawa.

Namun, ulama madzhab Hambali mengatakan "Diharamkan bagimu (memakan) bangkai
...." (al-Maa'idah: 3)
bahwa bulu bangkai adalah bersih, karena
terdapat hadits riwayat ad-Daruquthni dari

Nabi Muhammad saw., Ia tidak akan berubah menjadi bersih

"Minyak misik'dari bangkai yang sudah meskipun disamah sama seperti daging yang
disamak adalah tidak mengapa, begitu juga
tidak akan bersih meskipun disamak. Pen-
dengan bulu-bulunya apabila ia sudah di-
dapat mereka didukung oleh beberapa hadits,
bosuh." di antaranya adalah,

Tetapi, hadits ini adalah lemah. Ulama "Janganloh kamu manfaotkan bagian

madzhab Maliki mengecualikan juga bulu. bangkai mana pun.'aso

Mereka mengatakan bahwa hukumnya ada- Di antara dalil lainnya adalah surat Rasul
lah bersih, karena ia tidak dihukumi sebagai kepada fuhainah,

bangkai. Keadaannya tidak sama dengan "Aku telah memudahkan (membolehkan)
penggunaan kulit-kulit bangkai bagi kamu.
tulang di mana tulang adalah najis. Sebagian Tetapi opabila suratku ini sudah sampoi, ja-
ulama madzhab Maliki memutuskan bahwa nganlah kamu gunakan bagian bangkai mana
gading gajah adalah makruh tanzih. Begitu pun, meskipun itu kulit yang disamak ataupun
juga dengan batang bulu bagi makhluk yang urat putih.'481
masih hidup ataupun yang sudah mati. Ke-

simpulannya adalah, para fuqaha selain ulama
madzhab Syafi'i mengatakan bahwa semua
jenis bulu bangkai adalah suci.

378 Asy-Syarhush Shaghir, f ilid I, hlm. 44, 49 dan hlm. seterusnya; asy-Syarhul Kabrr, Jilid I. hlm. 55; Mughnit Muhnj,Jilid I, hlm. 78; al-

37e Mughni, filid I, hlm. 52,72,74,79. 51; al-Mughni,l:66; Bidayatut Mujtahid,f ilid I, hlm. 76.
Shaghir,Jilid,l, hlm.
Asy-Syarhush
380 H"ditr riwayat Abu Bakr asy-Syafi'i, melalui sanadnya dari Abuz Zubair dari labi4, sanadnya adalah baik.
381 Hrditr riwayat Ahmad dan Abu Dawud dari Abdullah bin Ukaim. Imam Ahmad berkata, sanadnya adalah baik, tetapi apabila

dikaji didapati bahwa hadits ini adalah dhaifkarena sanadnya terputus dan tidak ielas matannya. Karena, kadang-kadang ia mem-
punyai arti yang umum, dan kadang-kadang berbentuk mengkhususkan, yaitu dengan disebutnya "sebulan ataupun dua bulan."

At-Tirmidzi berkata pada akhir hadits, Ahmad tidak menerima hadits ini karena sanadnya yang tidak jelas. Sebagian ulama men-

coba menyelaraskan antara hadits ini dengan hadits-hadits lain yang shahih berkaitan dengan pembersihan dengan menggunakan

samak, bahwa hadits ini berkaitan dengan kulit-kulit yang belum disamak karena perkataat"al-ihab" adalah nama khas bagi kulit

FIqLH ISI."A,M II[ID 1

Dalam riwayat lain, disebutkan, "Telah benda yang lembab dan juga najis dari kulit

tiba surat Rasulullah saw. kepadakami sebulan yang disamak. Selain itu, pendapat ini juga
ataupun dua bulan sebelum beliau wafat." didukung oleh sebuah hadits lain riwayat

Mereka menganggap bahwa hadits ini Imam al-Bukhari dan Muslim dari lbnu Abbas,
menasakh hadits-hadits lain sebelumnya. Ka- "Seorang hamba sahaya perempuan Mai-

rena, hadits ini disabdakan oleh Rasulullah munah diberi sedekah seekor kambing, lalu
kambing itu mati. Setelah itu Rasulullah saw.
saw. pada akhir umurnya.
melewatinya dan beliau bersabda,
Sementara itu, ulama madzhab Maliki
*t;y,su 6yuc $;u. i:j,:r v^
memahami hadits, wti;

"Kulit apabilo disamak ia akan menjadi

bersih."

Dengan bersih menurut arti bahasa saja 'Mengapa kamu tidak mengambil kulitnya,
bukan bersih menurut syara'. Demikian juga meny am aknya, d a n m engg un aka nny a?' M ereka
hukumnya jika binatang yang tidak boleh di-
menjawab, 'Ia telah menjadi bangkai.' Rasul
makan dagingnya disembelih, maka kulitnya menjawab,'Sesungguhnya yang diharamkan
adalah najis baik disamak ataupun tidak.
adalah memakannya."'
Ulama madzhab Hanafi dan Syafi'i382 ber-
Dalam hadits yang lain Rasul bersabda,
kata bahwa semua kulit yang najis karena
menjadi bangkai atau karena sebab lainnya- b?t) it:st;1g

seperti karena binatang tersebut termasuk "la dapat dibersihkan dengan air dan daUn
binatang yang tidak boleh dimakan daging-
pohon qarez."
nya-maka kulitnya dapat menjadi bersih
apabila disamak. Hal ini berdasarkan sabda Imam an-Nawawi berkata dalam Syarh
Muslim: Penyamakan (kulit bangkai binatang)
Nabi Muhammad saw., adalah boleh dengan apa saja yang dapat me-
ngeringkan segala kotorannya, menghilangkan
"Kulit apa pun yang disamalg maka ia baunya yang busuk, dan dapat menjaganya
dari menjadi kerusakan seperti dengan meng-
menjadi bersih.'t3g3 gunakan syats (sejenis tanah), daun qaraz,
kulit buah delima, ataupun bahan obat-obatan
Hadits ini diriwayatkan iuga oleh Imam yang bersih. Penyamakan tidak dianggap de-
ngan cara memanaskan kulit di bawah terik
Muslim dengan redaksi, matahari, kecuali menurut pendapat ulama

"lika suatu kulit itu disamak, maka ia akan madzhab Hanafi saja. Begitu juga penyamakan
menjadi bersih." tidak dianggap dengan cara menggunakan ta-

Inilah pendapat yangrajih, karena hadits
tersebut adalah shahih dan karena samakan
memang dapat menghilangkan segala benda-

382 At-Bodo'i',1ilid I, hlm. 85; Mughnil Muhtaj,Jilid l, hlm.82.
383 Hrditr ini diriwayatkan oleh dua orang sahaba! yaitu lbnu Abbas dan tbnu Umar, dari perawi pertama yang meriwayatkan adalah

an-Nasa'i, at-Tirmidzi, dan lbnu Maiah. At-Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan fbaik) dan shahih. Perawi kedua yang

meriwayatkan adalah ad-Daruquthni, dia mengatakan bahwa sanadnya adalah baik (Nashbur Rayah. Jilid I, hlm. 115 dan halaman

seterusnya).

rrqlH lsr."AM f rLrD 1

nah, abu, dan juga garam menurut pendapat yang belum memakan makanan apa pun
kepada Rasulullah saw.. Lalu Ummu Qais
yangashah.
meletakkan anaknya itu di atas pangkuan
Dengan demikian, ulama madzhab Hanafi
Rasul, dan anak itu kemudian kencing di atas-
membolehkan proses penyamakan hakiki
nya. Rasul kemudian meminta air dan me-
[yang sebenarnya) dengan menggunakan ba- mercikkan air tersebut tanpa membasuhnya.
han-bahan kimia. Mereka juga membolehkan Dalam riwayat at-Tirmidzi-yang mengakui
penyamakan hukmi seperti menggunakan ta-
bahwa hadits itu adalah hasan-disebutkan,
nah dengan memanaskannya di bawah terik
matahari. Karena, cara tersebut dapat me- "Air kencing anak perempuan dibasuh dan
ngeringkan kulit yang disamah di samping air kencing anak lelaki diperciki (air).'aqs

juga dapat menghilangkan kotoran dan mem- Perbedaan antara keduanya adalah kare-
bersihkannya, seperti yang telah dijelaskan na anak-anak lelaki sering digendong, maka

dulu. hukum air kencingnya diringankan. Di sam-
ping itu air kencing anak lelaki lebih lembut
(e) Air KencingAnak-anak Lelaki yang daripada air kencing anak perempuan yang
Belum Memakan Makanan Apa pun
Kecuali Susu menyebabkan ia tidak melekat di tempat
Ulama madzhab Syafi'i dan Hambali3sa
kencingnya. Air kencing anak khunsa adalah
memutuskan bahwa apa saja yang terkena
najis air kencing ataupun muntah anak lelaki sama hukumnya dengan air kencing anak
yang belum memakan makanan apa pun
(yaitu sebelum umurnya mencapai dua tahun) perempuan.
Ini adalah pendapat yangrajih karena ha-
selain susu saja fini tidak termasuk bahan
ditsnya shahih. Oleh sebab itu, ia diutamakan
yang disuap ke mulutnya ketika acara tahnik daripada hadits yang umum, yang menyuruh
di saat dia baru dilahirkan seperti buah tamar) semua jenis air kencing dibasuh.

maka untuk membersihkannya adalah dengan Ulama madzhab Hanafi dan Maliki386 me-
negaskan bahwa air kencing ataupun muntah
cara memercikkan air ke tempat tersebut. anak lelaki dan juga perempuan adalah najis

Tetapi, tempat yang terkena air kencing dan semuanya wajib dibasuh. Hal ini berda-

anak-anak perempuan atau anak-anak khunsa ar.i beberapa

harus dibasuh dengan mengalirkan air ke tem- buah hadits yang menyuruh agar semua jenis
air kencing dibasuh. Di antaranya adalah se-
pat tersebut. Ini berdasarkan kepada pada buah hadits,

hukum asal mengenai air kencing yang najis. "Basuhlah air kencing, korena kebanyakan
Air kencing anak lelaki dikecualikan karena adzab kubur itu datang darinya.'a87
ia sering digendong. Alasan ini diambil dari
hadits riwayat asy-Syaikhan dari Ummu Qais
binti Mihsan yang membawa anak lelakinya

384 Mughnil Muhtaj,lllid I, hlm. 84; I{arysyaful Qina", Jilid l, hlm' 217 atMuhadzdzab, Jilid I, hlm' 49.
38s R luk k"dua hadits tersebut dalam kitab Nashbur Rayah, filid I, hlm. 126 - 127.
386 Bidayatut Mujtahid,lilidl,hlm.77,82; ary-Syarhush Shaghir, filid I, him. 73: Muraqi al-Falah. hlm. 25; al-Lubab Syarhul Kitab,lilid

I, hlm. 55; Fathul Qadir, filid 1, hlm. l4O: ad'Dutul Mukhtor,lilid I, hlm. 293.
387 H.ditr ini diriwayatkan oleh tiga orang sahabat yaitu Anas, Abu Hurairah, dan lbnu Abbas. Hadits riwayat Anas diriwayatkan

oleh ad-Daruquthni. Ia adalah hadits mursal. Hadits riwayat Abu Hurairah, diriwayatkan oleh ad-Daruquthni dan al-Hakim di
dalam kitab al-Mustadrak. Al-Hakim berkata, ia adalah hadits shahih menurut asy-Syaikhan, dan saya tidak mendapati kecacatan
padanya. Namun, mereka berdua tidak meriwayatkannya. Adapun hadits riwayat Ibnu Abbas diriwayatkan oleh ath-Thabrani, ad-

Daruquthni, al-Baihaqi, dan al-Hakim (ffashburRayalr. f ilid I, hlm' 128).

ilffi
1-'r+

FIQIH ISI."AM IILID 1

Namun, ulama madzhab Maliki berkata, makruh. Demikianlah kedudukan air kencing

"Air kencing ataupun tahi anak kecil yang semua binatang lain, hukumnya adalah meng-

terkena pakaian ataupun badan orang yang ikut hukum dagingnya. Oleh sebab itu, air

menyusuinya adalah dimaafkan, baik yang kencing binatang yang dagingnya haram di-
menyusui itu ibunya sendiri ataupun bukan. makan adalah naiis, dan air kencing binatang

Dengan syarat, apabila dia memang berusaha yang dagingnya boleh dimakan adalah bersih.
menghindarkan diri dari najis tersebut ketika Sedangkan air kencing binatang yang makruh

najis itu keluar. |ika dia tidak ada usaha dimakan dagingnya adalah makruh.

untuk itu, maka tidak dimaafkan. Namun, dia Dalil yang menunjukkan bersihnya air
kencing dan kotoran itu ialah tindakan Rasu-
disunnahkan membasuhnya jika memang lullah saw. yang membenarkan sekumpulan

kotorannya terlihat." kaum Urainah meminum air kencing dan susu
unta.38e fuga, berdasarkan bolehnya seorang
(f) Air Kencing dan Kotoran Binatang Muslim menunaikan shalat di dalam kandang

yang Boleh Dimakan Dagingnya kambing. Hal ini menunjukkan bahwa tahi
dan air kencing binatang tersebut adalah
Ada dua kecenderungan di kalangan ahli
bersih dan suci.3eo
fiqih mengenai masalah ini. Salah satunya
Ulama madzhab Syafi'i dan Hanafi3el ber-
mengatakan bahwa ia bersih, dan yang satu
lagi mengatakan bahwa ia adalah najis. Ke- kata balrwa air kencing. muntah. dan juqa
cenderungan pertama didukung oleh ulama
tahi binatang ataupun manusia adalah najis,
madzhab Maliki dan Hambali dan yang kedua karena terdapat perintah dari Nabi Muham-
didukung oleh ulama madzhab Hanafi dan mad saw. supaya air dicurahkan ke atas air
kencing orang Arab badui yang kencing dalam
Syafi'i.

-Ulama madzhab Maliki dan Hambali3ss
nba bi-

unta, lembu, kambing, ayam, merpati dan haaG yang berkaitan dengan dua buah kubuc

semua ienis burung adalah bersih. Namun, "Adapun salah seorang dari keduanya ialah
ulama madzhab Maliki mengecualikan bina- karena ia tidak membasuh air kencingnyq.'o"
tang yang biasa makan atau minum benda-
Begitu juga sabda Rasul dalam hadits yang
benda najis, maka tahi binatang itu adalah lalu,

najis. Binatang yang dagingnya makruh di-
makan, maka air kencing serta tahinya juga

388 Asy-Syorhush Shaghir,Jilid I, hlm.47; Bidayatul Mujtahid, lilid l,hlm.77 dan hlm. seterusnya; al-Qawanin al-Fiqhiyyah, hlm.33 dan
halaman seterusnya; Kasysyaful Qinaj Iilid I, him. 220.

389 Hadits riwayat asy-Syaikhan dan Ahmad dari Anas bin Malik: Seiumlah orang dari suku Ukl ataupun Urainah telah datang ke
Madinah. Mereka merasa tidak suka tinggal di Madinah. Lalu, Rasulullah saw. menyuruh mereka meminum air kencing unta jantan
dan beliau menyuruh mereka keluar (ke tempat untal dan meminum air kencing dan susunya (Nailul Authar,lilid I, hlm. 48).

Ibnu Taimiyah berkata di akhir hadits yang lalu, "'Telah tsaDit dari Rasul bahwa beliau bersabda,'Shalatlah di dalam kandang
kambing!" Diriwayatkan oleh lmam Ahmad dan at-Tirmidzi dan dia menghukuminya shahih, bahwa Rasulullah saw. bersabda,
"Shalatlah di dalam kandang kambing dan janganlah kamu shalat di dalam kandang unta!' Ada yang mengatakan bahwa hikmah

pelarangan tersebut adalah berdasarkan kepada perasaan iiiik terhadap apa yang ada di dalam kandang unta, dan kemungkinan ia
terasa iijik ketika sedang shalat dan hal ini dapat menyebabkan terputusnya shalat (Nailul Authar,Jilid ll, hlm. 137).
391 Mughnil Muhtaj,lilid I, hlm. 79: al -MuhadzdzaD, Jilid I, hlm.46; Fathul Qadirlilid l, hlm. L42 dan hlm. seterusnya; Muraqi al-Falah,
hlm. 25 dan hlm. seterusnya; ad-Durrul Mukhror, Jilid l,him.295 - 297.
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan asy-Syaikhan dari Anas bin Malik (Nailul Authar,lilid I, hlm. 43; Nashbur Rayah.Jilid
I, him.212).

Hadits riwayatal-Bukhari dan Muslim dari lbnu Abbas {Nashbur Rayah, filid I, hlm. 314).

FIQLH ISIAM JITID 1

"Basuhlah air kencing." Menurut pendapat Abu Yusuf dan Muham-
mad ibnul Hasan asy-Syaibani, ia adalah najis
Dalam sebuah hadits yang lain diriwayat- ringan. Oleh sebab itu, shalat dengan pakaian
kan bahwa beliau pernah diberi dua kerikil yang terkena najis ini tetap sah, kecuali jika
dan tahi kering untuk digunakan dalam ber- kadarnya sangat banyak. Masalah ini adalah
istinja',lalu beliau mengambil dua kerikil saja masalah ijtihadiyah, dan lagi ia merupakan
kondisi darurat karena ia sering terdapat di
dan menolak tahi yang kering. Rasulullah
jalan raya.
saw. bersabda,
Pendapat Abu Yusuf dan Muhammad
JJrt,j
adalah yang terkuat, karena keadaan 'umum
"lni adalah riks. (riks adalah naiis)." al-balwa (kesulitan umum yang amat sukar

Adapun mengenai muntah, meskipun ia untuk dielakkan) yang banyak di jalan raya.

tidak berubah, namun ia tetap merupakan Kadar banyak adalah sekadar yang dikatakan
sesuatu yang keluar dari usus. Oleh sebab
banyak dan berlebihan oleh banyak ,orang.
itu, ia tetap najis, karena ia dianggap sebagai Umpanya adalah bagian yang terkena najis

bagian dari sisa-sisa makanan yang sudah ialah seperempat bagian pakaian.

berubah yang sama keadaannya dengan air Berdasarkan penjelasan ini, maka air ken-
kencing. Begitu juga ludah yang naik dari usus,
kecuali jika ia turun dari kepala ataupun dari cing binatang apa saja yang dagingnya boleh
bagian dalam leher dan dada, maka ia adalah dimakan, tahi anjing, tahi, dan air liur binatang
bersih. buas seperti harimau, beruang, dan juga tahi

. Mengenai perintah Rasulullah saw. dalam ayam, itih dan angsa adalah najis berat me-
Hadits al-'lJrnayain adalah untuk berobat, dan
berobat dengan menggunakan bahan naiis nurut kesepakatan seluruh ulama. Dimaaf-
adalah dibolehkan ketika tidak ada bahan
kan apabila banyaknya hanya sekadar luasnya
yang bersih yang dapat menggantikannya.
Ulama madzhab Hanafi ketika membuat satu koin dirham.

uraian masalah ini, berpendapat bahwa air Air kencing kuda, air kencing binatang

kencing binatang yang boleh dimakan daging- yang dagingnya boleh dimakan dan tahi bu-
nya adalah najis mukhaffafah (najis ringan).
rung yang tidak boleh dimakan seperti elang,
Oleh sebab itu, bagi orang yang seperempat
pakaiannya terkena najis, maka dia boleh adalah termasuk kumpulan naiis mukhaffafah
menunaikan shalat. Ini adalah pendapat Abu
menurut pendapat yangashah. Karena, semua
Hanifah dan Abu Yusuf.
itu dianggap sebagai satu kesulitan umum
Adapun tahi kuda dan juga tahi lembu
yang tidak dapat dielakkan. Ia dimaafkan jika
adalah najis menurut pendapat Abu Hanifah,
kadarnya kurang dari seperempat pakaian
sama seperti tahi binatang yang dagingnya
tidak boleh dimakan. Karena, Nabi Muham- ataupun badan. Maksudnya adalah kadar ang-
mad saw. telah membuang tahi kering dan
gota yang terkena najis itu kadarnya tidak
bersabda, "Ini adalah rijs ataupun riks [naiis)." sampai seperempat anggota itu seperti ang-

gota tangan dan kaki. Tetapi jika kadar yang

terkena itu mencapai seperempat bagian

(pakaian ataupun anggota badan) atau lebih,

maka kadar itu sudah dianggap sebagai kadar

yang banyak dan berlebihan.

Adapun tahi burung yang dagingnya bo-
leh dimakan yang berak di udara seperti bu-

FIQIH ISLAM IILID 1

rung merpati, maka ia adalah bersih menurut Maliki ia adalah najis. Ulama madzhab Ham-
pendapat ulama Madzhab Hanafi karena ke-
bali juga berpendapat apabila mani itu dari
jadian itu adalah lumrah ('umum al-Balwa);
artinya burung-burung itu sering memenuhi binatangyang boleh dimakan, maka hukumnya
adalah bersih. Menurut pendapat yang ashah
jalan raya dan warung-warung. Iman Muham-
di kalangan ulama madzhab Syafi'i, air mani
mad menganggap air kencing binatang yang
binatang selain anjing dan babi dan gabungan
boleh dimakan hukumnya adalah bersih, se-
perti kuda. Dia berkata, "Tahi binatang (yang dari salah satunya adalah bersih.
dagingnya boleh dimakan) tidak menghalang
sahnya shalat seseorang meskipun kadarnya -
banyak," Kata-kata ini diucapkan ketika beliau
memasuki kota ar-Ray bersama Khalifah dan hab Hanafi dan Maliki'3e6 berpendapat bahwa
melihat sendiri bagaimana kesulitan yang di-
hadapi banyak orang berkenaan dengan tahi- air mani itu adalah najis_cbn bekasnya wajib
dibasuh. Namun, mereka mengatakan wajib
tahi binatang itu yang memenuhi jalan-raya
dan juga warung-warung. Atas dasar ini, EUrrut t utika mani itu masih basah. Apabila

maka para ulama menjadikan tanah Bukhara ia sudah kering di atas pakaian, maka cukup
sebagai asal qiyas bagi jalan-jalan lainnya.3ea dikeruk saja.

Pendapat ini adalah sama dengan pendapat Ulama madzhab Maliki secara mutlak
mengatakan bahwa air mani itu najis walau-
Imam Malik dan Ahmad. pun ia dari binatang yang boleh dimakan.

Ulama madzhab Syafi'i3es berkata, "Tahi Karena, ia menjijikkan, kotorl dan mudah
burung meskipun banyak adalah dimaafkan
karena amat sulit untuk menghindarkan diri berubah menjadi busuk. Lagipula asalnya
darinya." Menurut saya pendapat yang sesuai adalah dari darah. Dan juga dengan alasan
bahwa kemaafan yang diberikan kepada yang
untuk kita amalkan adalah pendapat yang asal tidak harus diberikan kepada yang ca-
bang. Sehingga meskipun kadar darah yang
termudah dalam perkara-perkara semacam sedikit-yaitu yang tidak sampai ukuran satu
koin dirham-adalah dimaafkan. Namun, air
ini, selama kadar najis itu memang tidak mani yang sedikit tidak dapat dimaafkan ka-
rena tidak semua yang ditetapkan kepada
banyak. perkara asal harus ditetapkan juga kepada
perkara-perkara cabangnya. Dalil mereka
(g) Air Mani ialah hadits riwayat Aisyah,
Air mani ialah air yang keluar ketika ke-
"Saya pernah menggosok-gosok [menge-
nikmatan jimak memuncak. Apabila air mani
ruk) air mani yang melekat pada pakaian
tersebut adalah mani manusia, maka terdapat Rasulullah saw. ketika ia sudah kering, dan
saya membasuhnya ketika ia masih basah
dua pendapat mengenai hukum najis atau
bersihnya. Tetapi jika ia mani binatang, maka atau lembab."3e7

menurut pendapat ulama madzhab Hanafi dan

3ea Roddul Mukhtar,lilid l, hlm. 295 dan hlm. seterusnya; al-Lubab Syarhut Kitab,lilid I, hlm.56.
3es Mughnit Muhtoj,Iilid I, hlm. 188.
3e6 Ad-Drrrul Mukhtan filid l, hlm. 287 danhlm. seterusnya; at-Lubab Syarhut Kitab,lilid I, hlm. 55; Muraqi al-Folah, hlm. 26; Bidayatul

Mujtahid,Jilid I, hlm. 79; asy-Syarhush Shaghir,Jilid I, hlm. 54; asy-Syarhul Kabia filid 1, hlm. 56.
397 H"ditr riwayat ad-Daruquthni dalam kitab Sunan-nya dan riwayat al-Bazzar dalam kitab musnadnya, dia berkata, "Tidak diketahui

orang lain selain Abdullah ibnuz Zubair yang meriwayatkannya dari Aisyah." Adapun hadits,"Basuhlah ia jika ia masih lembab dan
gosoklah io jika sudah kering" adalah sebuah hadits gharib dan tidak dikenali (Nashbur Rayah, fil. I, hlm. 209). Hadits ini keselu-
ruhannya tidak ielas, karena dalam sebagian matannya disebut perkataan basuh, dan dalam sebagian matan yang lain disebut
gosok. Dalam matannyayang lain disebut, "Maka, terus shalatlah dengannya,"

Baglan 1: IBADAH ISLTA.M IIIID 1

Diriwayatkan juga oleh al-Bukhari dan basuh, mengusap, ataupun mengeruknya. Saya
sepakat dengan pendapat yang mengatakan
Muslim dari Aisyah, bahwa air mani adalah bersih, agar kita tidak
terpaksa mengatakan bahwa asal usul manu-
"Bahwa dia pernah membasuh air mani
sia itu naiis, di samping pendapat ini juga
yang terdapat pada pakaian Rasulullah saw., akan memberi kemudahan kepada manu-
'sesudah itu, Rasul keluar menunaikan shalat,
dan saya masih dapat melihat bekas basah air sia. Namun begitu, menghilangkan bekasnya
pada pakaiannya itu."' adalah sunnah karena mematuhi sunnah Nabi

Lagipula, air mani itu seakan-akan-ha- Muhammad saw.

dats yang keluar dari badan. Ini menunjukkan Namun, bersihnya air mani itu, apabila
bahwa air mani tersebut adalah najis.
memang tidak didahului dengan keluarnya air
Menurut pendapat yang azhhar dari ka- madzi yang biasanya keluar ketika memun-
langan ulama madzhab Syafi'i dan iuga pen- caknya nafsu. Dan hendaklah sebelum keluar-
nya mani kemaluan tersebut dibasuh dengan
@ bahwa air mani ada- air (iika keluar kencing). Tetapi jika bekas air
kencing masih ada pada kemaluan karena air
ataupun mengeiuknya ii 4g!g! ,it mg4l kencing itu dikeringkan dengan kertas seperti
yang sering berlaku di kalangan kebanyakan
lelaki. Ini adalah berdasarkan kepada hadits orang sekarang ini, maka air mani akan men-
jadi mutanaiTfs karena bercampur dengan air
riwiyatAisyah, bahwa dia pernah menggosok- kencing yang telah dikeringkan itu, Oleh sebab
itu, hendaklah seseorang mengkhususkan pa-
gosok air mani yang terdapat pada pakaian kaian tertentu untuk berjimak supaya dapat
terhindar dari perbedaan pendapat,
Rasulullah saw.. Kemudian Rasul menunai-
(h) Air yang Keluar karena Luka (Sakit)
kan shalat dengan pakaian itu.3ee Dalam ri- Ulama madzhab Hanafi dan Malikiao3

wayat yang lain, disebutkan, "Saya pernah menganggap benda-benda berikut adalah na-
jis, yaitu al-qaih (yaitu nanah yang kental yang
menggosok-gosok air mani pada pakaian keluar dari bisul), ash-shadiid (yaitu air jernih
yang berasal dari nanah yang bercampur de-
Rasul ketika beliau sedang shalat dengan ngan darah), dan air kudis [nanah putih), yaitu

pakaian itu,aoo air yang mengalir keluar dari luka seperti
karena terkena api, penyakit kurap, kudis,
Ibnu Abbas berkata, "Usaplah ia dari ba- ataupun penyakit-penyakit lainnya Namun,
al-qaih dan ash-sh adiid yang sedikit adalah
dan atau pakaian kamu dengan rumput atau-
dimaafkan sama seperti darah yang sedikit.
pun potongan kain, karena ia seperti tempat

iahitan dan air ludahr'4ol

Air mani adalah berbeda dengan air ken-

cing dan air madzi, karena ia merupakan

unsur awal kewujudan manusia. Imam asy-

Syaukani menjelaskan tentang najisnya air

mani ini, "sebenarnya air mani itu adalah najis

yang dapat dibersihkan dengan salah satu cara

yang telah ditetapkani'4oz yaitu dengan mem-

398 Mughnit Muhtaj, Jilid I, hlm. 79-80; Kasysyaful Qina',Jilidl,hlm.224; al-Muhadzdzab, lilid I, hlm. 47.
399 Hadits riwayat al-lama'ah, lafalnya, "saya pernah menggosok-gosok air mani dari pakaian Rasulullah saw. Kemudian beliau pergi

menunaikan shalat dengan memakai pakaian itu!' (Noilul Authar, Iilid I, hlm. 53)
400 Hadits riwayat Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban di dalam kedua kitab shahih mereka'

401 Hadits riwayat Sa'id, dan diriwayatkan iuga oleh ad-Daruquthni secara morJui
402 Nailul Authar,Jilid I, hlm. 55.
403 Al-Bada'/,lilid l, hlm. 60; ad-Durrul Mukhtor, lilid l,hlm.294; asy-Syarhul Kabir, Iilid I, hlm 56 dan hlm. seterusnya; asy-Syarhush

Shaghir,lilld I, hlm. 55; al'Qawanin al-Flglri.ryaft, hlm. 33.

i::li::.,.: +;i!EJ:.,:i-.:!:.lr:.-,ii-.;FSi:....j.i:.::---:::r:-:.:,:i::-==-..

FIQIH ISIAM JILID 1

Ulama madzhab Syafi'i dan Hambali4o4 se- (i) Mayat Manusia danAiryang Mengalir
pendapat dengan ulama lain tentang najisnya
dari Mulut Orang yang Tidur
al-qaih dan ash-shadiid. Namun, ulama madz-
Kita hanya mengetahui dua pendapat saja
hab Hambali memutuskan bahwa darah yang mengenai hukum mayat manusia.a0ll\4gng1q!__

sedikit dan apa saja yang bersumber darinya, ' pendapat ulama madzhab Hanafi, mayat ma-
seperti al-qaih, ash-shadiid, dan air kudis, ada-
nusia adalah najis berdasarkan-flatrga ssftagian-
lah dimaafkan jika ia tidak jatuh ke dalam sahabat. Di antara mereka adalah Ibnu Abbas
?an lUnriZubair yang menyamakan hukum-
cairan dan makanan. Karena, biasanya orang nya seperti bangkai-bangkai lainnya.
sering mengalami hal itu. Lagipula, amat sulit
Menurut pendapat jumhur ulama, ia ada-
untuk mengelakkan diri dari hal ini, sama lah suci karena sabda Nabi Muhammad saw.,

seperti masalah bekas yang masih tersisa dari "Sesungguhnya orang Islom tidak akan
istijmar (istinja' dengan menggunakan batu).
Adapun cairan dan makanan yang terkena menjadi najis."
najis-najis tersebut, maka ia tidak dimaafkan.
Sebagaimana yang ditegaskan oleh ulama
Kadar sedikit yang dimaafkan ialah kadar madzhab Syafi'i dan Hambali,a06 air yang me-
yang tidak membatalkan wudhu, yaitu kadar
ngalir keluar dari mulut orang yang sedang
yang tidak dirasakan jijik oleh seseorang. .41- tidur semasa tidurnya adalah bersih. Namun,
qaih dan yang seumpamanya lebih utama ulama madzhab Syafi'i dan Maliki berkata,
jika ia keluar langsung dari usus seseorang se-
dimaafkan jika dibanding dengan darah. Najis perti ia keluar dalam keadaan berbau busuk
dan berwarna kuning, maka ia dihukumi na-
yang dimaafkan yang keluar dari binatang jis sama seperti hukum air ludah yang keluar
dari usus. Tetapi jika ia keluar dari tempat lain
yang bersih ataupun manusia, hendaklah jenis selain usus ataupun diragui apakah ia keluar
dari usus ataupun tidah maka ia dihukumi
yang memang tidak dapat dihindari. Namun
apabila masih ada jalan untuk menghindar bersih.
darinya, maka ia tidak diberi kemaafan. Ulama madzhab MalikiaoT menganggap

Menurut pendapat yang terkuat dari bahwa al-qalas, yaitu air yang didorong keluar

kalangan ulama Madzhab Syafi'i, benda-benda oleh usus seseorang jika usus sudah penuh,
adalah suci, apabila memang ia belum me-
berikut adalah bersih: darah jerawat bintik-
nyamai salah satu dari sifat-sifat tahi.
bintik kecil, nyamuk, tahi lalat, air kudis,
b. Jenis Naiis yang Haqiqi
kurap air, luka bakar ataupun tempat yang
melembung [bengkak) yang mengeluarkan 7. PemMgf,an Najis Menurut Ulama Hanafl
bau ataupun yang tidak mengeluarkan bau
fmenurut pendapat yang kuat) dan juga bekas Pembagian najis menurut pendapat ulama
bekaman baik kecil ataupun besar. Darah madzhab Hanafi, yaitu sebagai berikut.
orang lain yang sedikit, yaitu darah manusia
yang telah terpisah dari badannya kemudian
kembali mengenainya lagi, adalah dimaafkan

menurut pendapat yang azhhar.

404 Kasysyaful Qina', Iilid I, hlm. 219; Mughnil Muhtaj,lilid.l, hlm.79, 193 - I94; alMuhadzdzab,|ilid I, hlm.47.
405 Fathul Qadir,lilid I, hlm. 72; asy-Syarhush Shaghir, Jilid l, hlm. 44; Mughnil Muhtaj,lilid I, hlm.44 dan78; Kasysyaful Qina',lilidl,

hlm.222; al-Muhadzdzab, f ilid I, hlm.47.
+06 Mughnil Muhwj, filid I, hlm. 79; Kasyryaful Qrna', lilid I, hlm.220.
407 Asy-Syorhush Shaghia lrlid I, hlm. 48.

l: :r.l!." :
:{ *ia:!+- -,'

,,.Y:i

B.glan 1: IBADAH FIqLH ISIAM JITID 1

a) Naiis Mugh allazhah dan Mukhaffafahais pendapat Abu Hanifah. Adapun Abu Yusuf
dan Muhammad bin Hasan asy-Syaibani ber-
Najis mughallazhah [berat) ialah najis
yang hukumnya ditetapkan melalui dalil kata, semuanya adalah naiis mukhaffafah, dan
qath'i, [yaitu dalil yang jelas dari Al-Qur'an pendapat mereka berdua adalah pendapat
dan Sunnah al-Mutawatirah) seperti darah yang azhhar. Karena, keadaan seperti itu telah
menjadi kesulitan umum ('umum al-balwa) di
yang mengalir; tahi, air kencing binatang yang jalan raya yang sukar dihindari. Sementara itu
Muhammad akhirnya, menganggapnya bersih,
dagingnya tidak boleh dimakan, meskipun
dan dia berkata, "Tidak menjadi halangan
binatang itu masih kecil dan belum memakan meskipun ia jijik ketika dipandangJ' Pada za-
makanan apa pun, arak,aoe tahi burung yang
man kita ini, jalan raya sering dipenuhi dengan
tidak berak di udara seperti ayam, itik dan
najis, maka najis itu dihukumi sebagai najis
angsa, daging bangkai dan kulitnya, tahi anjing
mukhaffafah.
tahi binatang buas dan air liurnya, muntah
yang memenuhi mulut, dan apa saja yang Najis mukhaffafah dimaafkan dalam-
shalat jika kadar yang mengenai pakaian itu
membatalkan wudhu yang keluar dari badan
manusia seperti tahi, air mani, air madzi, dan sekadar seperempat saja, ataupun sekadar
seperempat anggota seperti apabila terkena
juga darah yang mengalir. najis pada tangan dan kaki jika yang terkena

Najis-najis tersebut dimaafkan dalam itu adalah anggota badan. Kadar ini diper-
shalat jika kadarnya hanya sebesar ukuran
koin dirham ataupun kurang dari kadar itu timbangkan untuk kemudahan banyak orang,
(yaitu ukuran satu dirham besar untuk ka- terutama bagi orang awam yang tidak mem-
punyai pendapat yang dipegangi.
dar timbangan, dan untuk kadar ukuran luas
maka ia adalah sekadar lebar telapak tangan b) Naiis yang Padat dan Naiis yang Cair

menurut pendapat yang shahih). Karena, ka- Najis yang padat ialah seperti bangkai dan
dar sedikit menyebabkannya sulit untuk di- tahi. Adapun najis yang cair ialah seperti air
kencing, darah yang mengalir, dan air madzi.
hindari. Kadar minimal dirham ini diukur
c) Naiis yang Dapat Dilihat dan Naiis yang
sebesar ukuran tempat istinja'. Tetapi jika na-
jis-najis tersebut melebihi kadar satu dirham, tidak Dapat Dilihat'lo
maka tidak boleh shalat dengan jumlah najis Najis yang dapat dilihat ialah najis yang
dapat dilihat dengan mata ketika ia sudah ke-
tersebut. ring, seperti tahi dan darah. Untuk member-

Najis mukhaffafah [ringan) adalah najis sihkan najis yang dapat dilihat ini, dapat
yang hukumnya ditetapkan melalui dalil yang
dilakukan dengan cara menghilangkan dan
tidak qath'i, seperti air kencing binatang yang
tidak boleh dimakan dagingnya seperti kuda membersihkan benda najis itu, meskipun
dan seperti tahi unggas yang tidak boleh di-
makan dagingnya. Adapun tahi unta, kambing dengan sekali basuhan saja. Ini menurut pen-
tahi kuda, bighal, himar dan tahi lembu, se- dapat yang shahih karena najis tersebut telah
muanya adalah naiis mughallazhah menurut

408 Al-'lnayah bi Hamisy Fath at-Qadir lilid I, hlm. t40 - 144; ad-Durrul Mukhtar, Jilid l, hlm. 293 - 297; al-Lubab, f ilid I, hlm. 55.
409 Adapun minuman selain arak, maka menurut zahir riwayat, hukumnya adalah najis berat. Tetapi jika berdasarkan kias pendapat

Abu Yusufdan Muhammad ibnul Hasan asy-syaibani, maka ia dianggap sebagai naiis ringan. Terjadinya hal ini adalah disebabkan
terdapat pertentangan pendapat mengenainya di kalangan para ilama(Raddul Mukhtar,Jilid I, hlm. 295).
410 Fathut Qadir,Jilid I, hlm L45; ad-Durrut Mukhtar,llid,l, hlm. 303 - 307:. al-Lubab, filid I, hlm. 57; Muragi al-Falah,hlm.26.

l

, -:ll*,

FIqLH ISIA.M JITID 1 Baglan 1: IBADAH

mengambil tempat dan ada bendanya. Oleh gian anggota yang terpisah dari binatang yang
masih hidup semasa hidupnya, kecuali bulu
sebab itu, untuk menghilangkannya adalah dan apa saja yang seumpamanya, susu babi,

dengan cara menghilangkan benda tersebut. bahan cair yang memabukkan, air kencing

Najis yang tidak dapat dilihat ialah najis binatang yang dilarang memakannya, tahinya,
yang tidak dapat dilihat oleh mata ketika dia air mani, darah, dan juga nanah yang banyak.
sesudah kering, seperti air kencing dan se-
umpamanya. Dengan kata lain, ia adalah najis Adapun najis-najis yang diperselisihkan
yangzatnya tidak dapat dilihat oleh pandang- hukum najisnya dalam madzhab Maliki ada
an mata. Untuk membersihkannya, hendaklah
najis itu dibasuh hingga muncul dugaan kuat delapan belas, yaitu air kencing anak-anak

(zhan) pada diri pembasuh, bahwa tempat yang belum memakan makanan ap apun, air
kencing binatang yang makruh dimakan, kulit
yang dibasuhnya itu sudah bersih. Kadar yang bangkai binatang yang sudah disamah kulit
dapat menimbulkan zhan adalah tiga kali ba- binatang yang disembelih dari jenis binatang
suhan, karena mengulangi basuhan itu perlu yang haram dimakan dagingnya, tulangnya,
untuk menghilangkan najis. fika tidak dapat debu bangkainya, gading gajah, darah ikan
dipastikan mengenai hilangnya najis tersebut, paus, [darah) lalat, kadar yang sedikit dari
maka untuk menentukan hilangnya najis itu darah haid, kadar yang sedikit dari darah yang
hendaklah disandarkan kepada munculnya bercampur dengan nanah, air liur anjing, susu
sangkaan kuat, sama seperti ijtihad ketika binatang yang tidak boleh dimakan dagingnya
menentukan arah qiblat. Setiap kali membasuh selain babi, susu yang bercampur najis, ke-
hendaklah basuhan itu diperah. Ini menurut ringat yang bercampur najis, bulu babi, dan
pendapat yang zahir, karena dengan cara ini juga arak yang sudah berubah menjadi cuka.
maka najis itu akan dikeluarkan.
Konsekuensi dari pembagian-pembagian
2. lenls Nafis Menurut Pendapat Ulama
ini akan jelas kelihatan dalam pembahasan
Selaln Ulama Madzhab Hanaff
mengenai cara membersihkannya dan menge-
Pembagian yang ada di kalangan ulama nai ukuran najis yang dimaafkan.
Hanafiyah juga terkenal di kalangan ulama
2. UKURAN N,,,'S YANG DIMAAF'$N
selain ulama madzhab Hanafi. Ulama madzhab
Terdapat beberapa ketentuan yang dibuat
Maliki menambah satu pembagian lain, yaitu oleh fuqaha mengenai najis-najis yang dimaaf-
najis yang disepakati najisnya dalam madzhab kan. Dan menurut saya tidaklah salah kalau
dan satu lagi ialah najis yang dipertikaikan
najisnya dalam madzhab.all kita berpegang dengan ketetapan-ketetapan

Najis-naiis yang disetuiui hukum najisnya fuqaha tersebut. Di antara yang penting adalah
ada delapan belas, yaitu air kencing manusia sebagai berikut.

dewasa, tahinya, air madzi, air wadi, daging a. Menurut Madzhab Hanaffalz

bangkai, anjing dan babi dan tulang keduanya, Ulama madzhab Hanafi telah menentu-
kan najis yang dimaafkan berdasarkan kepada
kulit babi, kulit bangkai [binatang selain jenis najis itu sendiri, baik dari jenis najis mu-

anjing dan babi) yang belum lagi disamak, ba-

4rr ALqawanin at-Fiqhiyyah,hlm. 34.
arz Fathut qadir, Iilid I, hlm. 140- 146; ad-Durrul Mukhtar wa Hasyiah lbn Abidin, Jilid l, hlm. 295 - 309 Muraqi al-Falah, hlm. 25 dan

hlm. seterusnya.

Bagan 1: IBADAH IIqIH ISI"AM JILID 1

ghallazhah ataupun dari jenis mukhaffafah. Dimaafkan juga percikan air mandi mayat
Mereka mengatakan bahwa naiis mughalla- yang sukar untuk dihindari ataupun yang tidak
zhah ataupun mukhaffafah yang dimaafkan dapat dihindari sama sekali ketika memandi-
adalah iika kadarnya sedikit. Mereka menen- kannya. Hal ini dimaafkan karena adanya ke-
adaan 'umum al-balwa. Begitu juga tanah jalan
tukan kadar naiis mughallazhah yang sedikit raya yang keras juga dimaafkan, kecuali jika
adalah yang kurang dari satu dirham (3,17 diketahui hin naiisnya, maka tidak dimaafkan.
gm), yaitu yang beratnya sama dengan 20 qi-
rat (untuk najis yang kering). Adapun untuk Dimaafkan juga darah yang masih berada
najis yang cair kadar [yang dimaafkan) adalah
kadar yang tidak sampai segenggam telapak dalam urat saraf binatang yang disembelih,
tangan. Menurut pendapat yang masyhur da- karena terdapat kesulitan untuk menghindar
lam madzhab Hanafi, menunaikan shalat de-
ngan membawa najis yang sedikit meskipun ia darinya. Dimaafkan juga darah iantung, limpa,

dimaafkan adalah haram. dan hati, karena ia merupakan darah yang
tidak mengalir. Dimaafkan juga darah yang
Najis mukhaffafah yang terkena pakaian
dianggap sedikit jika ia tidak sampai kepada tidak membatalkan wudhu menurut pendapat
ukuran seperempat pakaian tersebut. Dan yang ashah, dan dimaafkan juga darah kepin-
apabila yang terkena adalah badan, maka
ukurannya ialah jika ia tidak sampai kadar se- ding, nyamuk, atau kutu meskipun iumlahnya
perempat anggota tubuh-seperti tangan dan banyak. Dimaafkan juga darah ikan menurut
kaki-yang terkena najis tersebut. pendapat yang ashah. Begitu iuga dimaafkan

Begitu juga air kencing ataupun tahi ku- air liur keledai dan himax, tetapi menurut
cing dan tikus yang sedikit adalah dimaafkan,
baik ia mengenai makanan ataupun pada pa- pendapat al-madzhab ia adalah bersih, dan di-
kaian karena darurat. Dan dimaafkan iuga maafkan darah orang yang mati syahid untuk
percikan air basuhan yang tidak jelas tempat dirinya meskipun darah itu mengalir.
yang mana yang terkena najis pada sesuatu
wadah. Dimaafkan iuga percikan air kencing Uap najis dimaafkan, begitu juga dengan
yang kecil seukuran kepala jarum karena debu dan airnya karena darurat, supaya roti
darurat, meskipun percikannya mengenai yang dibuat di seluruh negara tidak dihukumi
keseluruhan pakaian dan badan, Tetapi iika
percikan itu masuk ke dalam air yang sedikit, najis. Dimaafkan juga anginyangbertiup ke arah
maka ia menyebabkan najis menurutpendapat
najis, kemudian angin itu mengenai pakaian,
yangashah. kecuali jika jelas kelihatan bekas najisnya

Darah yang mengenai tubuh tukang sem- pada pakaian.
belih ataupun pakaiannya adalah sama hukum-
Dimaafkan juga tahi unta dan kambing
nya dengan air kencing yang sedikit. Begitu
apabila ia jatuh ke dalam telaga ataupun wa-
juga dengan bekas najis yang dibawa oleh lalat dah, selama kadarnya tidak banyak sehingga
yang berasal dari benda najis. Demikian juga menjijikkan ataupun ia hancur sehingga me-
dengan tahi himar, keledai, lembu, dan gajah nyebabkan airnya berubah warna. Kadar yang
dalam keadaan darurat dan'umum al-balwa. sedikit ialah kadar yang dipandang sedikit

oleh orang yang melihat, dan kadar yang
banyak ialah kadar yang dirasa jijik oleh orang

yang melihatnya.

Adapun tahi burung yang boleh dimakan
yang berak di udara, maka hukumnya bersih.
Apabila ia tidak berak di udara, maka hukum-

nya adalah najis mukhaffafah.

FIQIH ISIAM JITID 1 8aglan 1: IBADAH

Kita dapat menyimpulkan bahwa sebab- setiap hari dan meskipun hanya sekali saja

sebab kemaafan itu adalah karena darurat, dalam sehari.

'umum al-balwa, ataupun sulit untuk meng- Bawasir yang basah414 iika terkena badan
hindarkan diri dari najis tersebut. ataupun pakaian pada setiap hari, meskipun
hanya sekali [juga dimaafkan). Tetapi yang
b. Menurut Madzhab Maliki413 terkena tangan ataupun kain, maka ia tidak
dimaafkan. Sehingga dia harus membasuhnya,
Menurut ulama madzhab Maliki, kadar
darah binatang darat yang sedikit adalah di- kecuali jika bawasir itu sering keluar masuk
maafkan. Ash-shadid dan al-qaih yang sedikit umpamanya melebihi dua kali dalam sehari.
juga dimaafkary yaitu jika ukurannya sekadar Iika tidak maka dia wajib membasuh tangan-
satu dirham al-bighali. Artinya sekadar suatu
bulatan hitam yang terdapat pada kaki depan nya, karena membasuh tangan bukanlah per-
binatang bighal ataupun kurang dari kadar buatan yang sulit sebagaimana sulitnya mem-
basuh pakaian dan badan.
itu. Ketetapan ini tetap berlaku meskipun
Dimaafkan juga air kencing ataupun tahi
darah atau yang semacamnya itu keluar dari anak kecil yang terkena pakaian ibu yang me-
tubuh orang itu sendiri ataupun dari orang nyusuinya ataupun badannya, meskipun anak
Iain, dan baik darah atau yang semacamnya
itu bukan anaknya sendiri. Dengan syarat,
itu keluar dari manusia ataupun binatang,
apabila dia berusaha menghindarkan diri ke-
meskipun dari babi. Begitu juga sama saja tika najis itu sedang keluar. Namun jika dia
baik tempat yang terkena darah itu pakaian
tidak berhati-hati, maka tidak dimaafkan.
ataupun badan ataupun tempat lainnya. Begitu juga hukumnya bagi tukang sem-
Najis apa pun yang susah dihindari ketika
belih, tukang membersihkan kandang dan
shalat dan ketika memasuki masjid adalah di- kamar mandi, dan dokter yang merawat luka.
maafkan. Tetapi yang masuk ke dalam makan- Adapun ibu yang menyusui anak sendiri atau
anak orang lain disunnahkan menyediakan
an dan minuman tidaklah dimaafkan. Oleh sehelai pakaian khusus untuk shalat.

sebab itu, jika sesuatu najis itu terjatuh ke da- Dimaafkan juga air kencing ataupun tahi
lam makanan ataupun minuman, maka ia akan
menyebabkan najis, sehingga makanan dan kuda, bighal, dan keledai yang terkena pakaian
minuman itu tidak boleh dimakan dan dimi- orang yang sedang shalat, terkena badannya,
num. ataupun terkena tempat shalatnya, apabila dia
adalah orang yang bekerja memelihara bina-
Najis-najis yang dimaafkan karena susah
untuk dihindari adalah hadats yang berterus- tang-binatang itu, ataupun bekerja memberi
an, yaitu hadats yang terjadi dengan sendiri- makan ataupun menambatnya dan sebagai-
nya tanpa dikehendaki oleh orang yang ber- nya, karena sulit untuk menghindarkan diri

kenaan seperti air kencing, air madzi, air dari najis-najis itu.

mani, dan tahi yang mengalir keluar dari lu- Bekas najis yang dibawa lalat ataupun
bang dubur dengan sendirinya. Najis-najis ini nyamuk yang jatuh ke dalam najis baik tahi,
dimaafkan, dan tidak wajib dibasuh karena
darurat, apabila keadaan itu memang terjadi air kencin& ataupun darah, yang melekat

pada kakinya ataupun mulutnya, kemudian

ar3 Al-gawaninal-Fiqhiyyah,hlm.33;asy-SyarhutKabir,Jilidl,hlm.56,58,7L-Bl,ll2;asy-syarhushshaghir,lilid,l,hlm.Tl-79.
414 Bawasir ialah sesuatu yang tumbuh di bagian dalam tempat keluarnya najis yang menyebabkan keluar cairan lernbab yang najis.

Bag[an 1: IBADAH ISTAM )ILID 1

ia terbang dan hinggap pada pakaian ataupun Dimaafkan juga tanah yang terkena air
badan. Maka, najis-najis yang dibawanya itu hujan dan juga airnya yang bercampur de-
ngan najis jika terkena pakaian ataupun kaki,
dimaafkan karena sulit menghindarkan diri
selama ia masih berada di jalan meskipun
darinya.
setelah hujan berhenti. Demikian itu memang
Bekas cacar tato yang sukar dihilangkan
kadar najis itu tidak melebihi kadar tanah
juga dimaafkan karena darurat.als Dimaafkan atau air itu secara meyakinkan ataupun atas
juga bekas tempat bekam jika diusap dengan
dasar zhan, dan selama najis itu belum dicam-
kain dan yang semacamnya: pemaafan ini pur oleh seseorang dengan benda lainnya, dan
juga selama orang tersebut tidak melakukan
hingga tempat bekaman itu meniadi baih tindakan apa pun yang menyebabkan ter-
kemudian barulah dibasuh. Ini disebabkan jadinya percampuran itu. Tetapi jika terjadi
satu saja dari keadaan tersebut, maka najis itu
terdapat kesulitan untuk membasuhnya se- tidak dimaafkan lagi dan wajib dibasuh, sama
belum lukanya sembuh. Oleh sebab itu, apa-
seperti keadaannya apabila jalan itu kering
bila ia sudah sembuh hendaklah dibasuh. Dan
membasuhnya adalah wajib, ada pula yang karena tidak terdapat lagi kesulitan.

mengatakan sunnah. Bekas istijmar dengan menggunakan batu
ataupun kertas bagi lelaki adalah dimaafkan,
Bekas bisul sejak ia mulai mengalir juga
jika memang najisnya itu tidak melebihi ka-
dimaafkan, jika memang bisul itu banyak, dar yang biasa. Tetapi jika najisnya itu ke-
luar dan banyak mengotori bagian sekitar
baik ia mengalir dengan sendirinya ataupun tempat keluarnya melebihi kebiasaan yang
dengan sebab dipencet. Karena jika banyak normal, maka hendaklah kadar yang lebih
alirannya akan sulit untuk diatasi [darurat) itu dibasuh dan kadar yang biasa dimaafkan.
sama seperti kudis dan kurap. lika bisul itu
hanya sebiji saja, maka airnya yang mengalir Adapun perempuan hendaklah menggunakan
dengan sendirinya ataupun keluar dengan air ketika ber-istinja' untuk membersihkan air
sebab dipencet adalah dimaafkan. Tetapi apa- kencingnya sendiri seperti yang akan dijelas-
kan dengan lebih lanjut dalam perbincangan
bila ia dipencet tanpa ada keperluan, maka ia tentang istinja' nanti.
tidak dimaafkan kecuali iika kadarnya tidak
melebihi kadar satu dirham. c. Menurut Madzhab Syafl'l 416

Dimaafkan juga darah kutu anjing apabila Ulama madzhab Syafi'i berpendapat bah-

kurang dari kadar satu dirham, bukan kadar wa tidak ada najis yang dimaafkan kecuali
yang melebihinya. Tahi kutu anjing meskipun
banyak juga dimaafkan. Begitu juga dimaafkan najis-najis berikut.
bangkai kutu manusia yang sedikit, yaitu ka- Najis yang tidak dapat dilihat oleh mata

dar tiga ekor ataupun kurang dari itu. normal seperti darah yang sedikit dan per-
Dimaafkan juga air yang keluar dari mu- cikan air kencing yang sedikit.

lut orang yang sedang tidur jika ia keluar dari Dimaafkan juga-baik banyak atau sedi-
ususnya dan berwarna kuning, busuh dan kit-darah jerawat atau bintik-bintik darah
keadaannya berterusan seperti sepanjang
masa. Tetapi jika ia tidak berterusan, maka ia

dihukumi najis.

a1s Asy-syaikh Ulaisy, Fath al-Ati at-Malik,Jilid l, hlm. 112.

476 Al-Moi^u',lilid I, hlm. 265, 292 dan hlm. seterusnya; Mughnil Muhtaj,lilidl, hlm. 81, l9l - l94i Syarh al-Bajuri,lilidl,hlm. 104, 107;

Hasyiah asy-Syarqawi'ala Thuhfatith Thullab, filid I, hlm. 133 dan hlm. seterusnya; Syarh al-Hadhramiyyah oleh lbnu Hair, hlm. 50

dan hlm. seterusnya.

;+'.

FIqLH ISI.AM JILID 1

kepinding, darah bisul, darah kudis atau ku- Dimaafkan juga bekas najis di tempat is-
rap, dan nanah. Begitu iuga darah kutu babi, tijmar yang menggunakan batu untuk orang
kutu manusia, nyamuh lalat, kepinding, dan yang bersangkutan saja, bukan untuk orang
binatang semacamnya yang darahnya tidak
lain. Meskipun, tempat itu berkeringat dan
mengali4,a17 tempat bekam dan hisapan darah,
lembab, selagi bekas najis itu tidak berpindah
najis lalat, air kencing kelalawar; kencing
ke tempat lain.
yang terus-menerus, darah istihadhah, air luka
atau kudis atau lainnya yang berbau dan juga Dimaafkan iuga najis yang biasanya sukar
dihindari seperti tanah jalan raya yang me-
yang tidak berbau menurut pendapat yang mang diyakini kenajisannya sewaktu musim
azhhar, semuanya dimaafkan karena sulit
untuk menghindarkan diri darinya. dingin, bukannya pada musim panas. Pemaaf-

Tetapi jika yang dipencet adalah jerawat, an itu jika najis itu mengenai bagian bawah
bintik-bintik, ataupun bisul, ataupun yang di-
bunuh itu adalah kutu ataupun ada kain yang pakaian seseorang atau kakinya, bukan Iengan
dibentang dan terdapat najis yang dimaafkan baju atau tangannya. Dengan syarat, najis itu
pada kain itu, maka kadar yang dimaafkan
adalah kadar yang sedikit saia. Karena, amat tidak jelas keberadaannya dan orang yang
sulit untuk menghindarkan diri darinya. berkenaan telah berusaha menghindarkan diri
najis itu. Umpamanya dia tidak membiarkan
Adapun kulit kutu anjing dan seumpama- ujung bajunya terurai ke bawah. Disyaratkan
nya adalah tidak dimaafkan. Menurut pen- juga najis itu mengenainya semasa dia se-
dapat yang azhha4 darah ajnabiaLg yang se-
dikit adalah dimaafkan selain darah anjing dang berjalan ataupun menunggang, bukan-
dan babi. Termasuk darah ajnabi adalah nya ketika dia terjatuh ke tanah. Oleh sebab
darah yang telah berpisah dari badan sese- itu, penentuan kadar sedikit yang dimaafkan
orang kemudian kembali mengenainya lagi.
Sebab, kemaafan adalah prinsip syara' yang adalah berdasarkan keadaan orang berkenaan,
mengedepankan kemudahan. Adapun darah
anjing dan seumpamanya tidak dimaafkan, Yaitu apabila ia tidak dianggap sebagai orang
meskipun kadarnya sedikit karena hukumnya yang terjatuh ke sesuatu yang najis ataupun
yang berat. Untuk menentukan kadar sedikit
jatuh dan mukanya terkena najis, ataupun
dan banyak adalah berdasarkan adat. dengan kadar sedikit yang masih melekat,
Adalah jelas bahwa asas kemaafan yang
sehingga najis itu tidak dimaafkan.
diberikan kepada darah-darah tersebut adalah
selagi ia tidak bercampur dengan benda lain. fika tanah itu tidak diyakini kenajisan-
fika ia bercampur dengan benda lain, meski-
pun benda lain itu adalah darah yang berasal nya, tetapi hanya ada sangkaan kuat saja se-
dari darahnya sendiri yang keluar dari bagian perti yang terjadi pada kebanyakan jalan raya,

anggotanya yang lain, maka tidak dapat di- maka kedudukan tanah itu dan yang seum-

maafkan. pamanya adalah sama seperti pakaian tukang-

tukang pembuat arak, pakaian anak-anak
penyembelih, atau penjual daging dan juga
pakaian orang kafir yang memercayai bahwa

agamanya menuntut penggunaan najis. Maka,

menurut pendapat yang ashah ia adalah suci
berdasarkan kepada asal wuiudnya. Tetapi
jika tidak ada dugaan mengenai kenajisannya,

417 Seperti lalat, semut, kalajengking, dan cicak, bukannya seperti ulat katak, dan tikus.
418 Yritu darah yang terpisah dari diri manusia kemudian kembali mengenainya lagi. Tetapi jika diambil darah asing (bukan darah

sendiri) lalu dilumurkan ke badannya ataupun pakaiannya, maka darah itu tidak dimaafkan. Karena, tindakan seperti itu dianggap
sebagai melampaui batas, sebab perbuatan melumuri najis ke badan dihukumi haram.

: '==:=-: - =: , :,.:i-a-:..::::: - :

FIqLH ISI"A,M JITID 1

maka ia dihukum bersih sama seperti air pan- kan dari bulu anjing, babi, anak dari kedua-
curan atap rumah yang disangka ada najis
tetapi ia masih tetap dihukumi bersih. duanya, ataupun dari salah satu binatang
itu yang kawin dengan binatang lain. fika
Dimaafkan juga bangkai ulat buah-buah- bulu-bulu itu dari kedua-duanya, meskipun
an, ulat cuka, dan keju yang terbentuk dari sedikit, maka tidak dimaafkan. Adapun bulu
bahan-bahan tersebut dalam bahan tersebut,
selagi ulat tersebut tidak dikeluarkan kemu- yang banyak dari binatang yang ditunggangi
adalah dimaafkan, karena sulit untuk meng-
dian ia dimasukkan lagi ke dalamnya sesudah
hindarinya.
mati, dan selama ia tidak menyebabkan bahan- Di antara perkara yang dimaafkan juga
bahan itu berubah. Dimaafkan iuga al-lnfihah
yang digunakan untuk keiu, alkohol yang di- ialah bekas tato,ale tahi ikan yang terdapat di
dalam air jika ia tidak menyebabkan air ber-
gunakan di dalam obat-obatan dan berbagai ubah, darah yang masih terdapat pada daging
jenis pewangi, asap naiis (yang dibakar), ataupun tulang air liur yang keluar dari usus
orang sakit yang sedang tidur, tanah dan ko-
uap air najis yang iatuh atau menetes karena toran yang mengenai penggembala ataupun
api, roti yang dipanaskan di dalam abu najis, pemandu binatang yang kuat tarikannya, tahi
meskipun sebagiannya melekat pada roti itu.
fuga, dimaafkan pakaian yang dibentang di binatang berkaki empat dan air kencingnya
atas dinding yang dibangun dari abu naiis
ketika digunakan untuk menghancurkan biii-
karena sulit untuk menghindarinya. Dimaafkan bijian, tahi tikus yang terjatuh ke dalam kulah

juga bangkai yang tidak mempunyai darah air jika kadarnya sedikit dan tidak menye-
mengalir yang jatuh dengan sendirinya ke
benda cair seperti lalat, semut, dan tawon, babkan berubahnya air itu, tahi binatang
selagi ia tidak menyebabkan benda cair itu
yang diperah susunya dan najis yang terdapat
berubah. pada ujung susunya apabila iatuh ke dalam

Dimaafkan juga tahi bugung yang terda- susu ketika dilakukan pemerahan, bekas ta-

pat di atas tanah lapang ataupun di atas tanah hi binatang berkaki empat yang bercampur

iika memang sulit untuk dihindari. Kemaafan dengan tanah, najis yang terkena madu le-
ini jika memang tidak sengaja terkena naiis itu bah dan najisnya mulut anak-anak ketika
ketika berjalan di atasnya. Kecuali, jika ter- memberi susuan kepadanya ataupun ketika
paksa seperti jalan itu meniadi tempat laluan
yang harus dilewati, dan di kanan kirinya tidak menciumnya.

ada jalan. d. Menurut Madzhab Hamball42o

Dimaafkan juga bulu najis yang sedikit Menurut madzhab Hambali, kadar najis
yang sedikit meskipun ia tidak dapat dilihat
seperti sehelai ataupun dua helai, asalkan bu- oleh mata seperti najis yang melekat pada

ar9 AI-Wosy^ ialah menusuk-nusuk kulit hingga keluar darah kemudian di atasnya diusapkan suatu bahan, seumpama nila
supaya tempat itu berwarna biru ataupun berwarna hilau akibat dari tusukan iarum itu. Perbuatan ini dihukumi haram,

kaiena terdapat sebuah hadits yang diriwayatkan dalam dua kitab shahih, "Alloh mengutuk perempuan yang menjadi tu-
kang menyambung rambut dan perempuan yang meminta disambung rambutnya, perempuan yang meniadi tukang tato dan
perempuan yang meminta ditato kulitnya, perempuan yang menjadi tukang asah gigi dan perempuan yang meminta giginya

diasah, dan perempuan yang menjadi tukang cabut rambut di dahi dan perempuan yang meminta agar dicabut rambut di dahi-
nya." Menghilangkan bekas tato adalah waiib iika tidak ditakuti berlaku bahaya pada diri orang yang melakukannya. Tetapi
apa pun bagi orang berkenaan sesudah ia bertobat. Ke-
iika ditakuti timbul bahaya maka ia tidak waiib, dan tidak ada dosa dengan kerelaannya sesudah ia mencapai umur baligh.
tetapan ini jika perbuatan yang dilakukan pada dirinya itu adalah

Jika tidak, maka tidak ada kewaliban menghapus (Mughnil Muhtai, lilid I, hlm. 191). Ulama madzhab Hanafi berkata, "Tem-
pat rusukan itu dianggap bersih jika ia dibasul\ karena susah untuk dihapus bekasnyal' (Raddul Mukhtar, filid I, hlm. 305J.

,itid I, hlp. 30, Iilid II, hlm. 78 ' 79; KaqqafuI Qrrls1 Jilid I, hlrn 218 - ??1-

Isr"AM JrLrD 1

kaki lalat dan yang seumpamanya adalah Dimaafkan juga kadar yang sedikit dari ,#
tidak dimaafkan. Karena, firman Allah SWT asap najis, abunya, dan juga uapnya selama
dalam surah al-Muddatstsi4 menyebutkan, sifat kenajisannya tidak jelas kelihatan pada L
benda yang bersih. Alasannya, karena sulit
"Dan bersihkanlah pakaianmu." Dan juga ber- ,tl
dasarkan perkataan Ibnu Umar, "Kami disuruh mengatasinya.
membasuh najis sebanyak tujuh kali" dan juga rl
Dimaafkan juga air sedikit yang mutanaj-
dalil lainnya. yis karena bercampur dengan air najis yang I
dimaafkan karena kadarnya yang sedikit.
Namun, madzhab ini memaafkan jumlah
yang sedikit dari darah, nanah, ash-shadid, Dimaafkan juga nafis yang masuk ke da-
dan air luka, selagi ia tidak mengenai bahan lam mata seseorang dan jika matanya dibasuh
cair atau makanan, karena sulit menghindar
dari benda-benda najis itu. Hukum ini adalah maka akan membahayakannya.
jika ia berasal dari makhluk hidup yang suci Dimaafkan juga bekas darah atau sema-
semasa hidupnya, baik itu manusia atau bi-
natang yang dagingnya boleh dimakan se- camnya seperti nanah yang banyak jatuh ke
atas suatu benda, kemudian diusap. Karena,
perti unta dan lembu, ataupun tidak boleh di- kadar yang tersisa sesudah ia diusap adalah

makan dagingnya seperti kucing, selagi tidak sedikit.
keluar dari kemaluan depan (qubul) ataupun
kemaluan belakang [dubrff). Oleh sebab itu, Di antara benda-benda yang dianggap oleh

jika najis itu keluar dari binatang yang di- ulama madzhab Hambali sebagai suci ialah
darah yang masih ada dalam urat-urat daging
hukumi najis seperti anjing dan babi, keledai binatang yang boleh dimakan dagingnya. Ka-
dan bighal, ataupun ia keluar dari salah satu rena, darah-darah itu tidak mungkin dihindari,
saluran [kemaluan depan ataupun belakang) darah ikan, darah orang yang mati syahid yang
termasuk juga darah haid, nifas, dan istiha- masih berada di badannya meskipun jumlah-
dhah, maka najis-najis itu tidak dimaafkan. nya banyak, darah kepinding kutu, nyamuk,
lalat, dan binatang lainnya yang darahnya
Bekas istijmafzL juga dimaafkan sesudah tidak mengalir, hati dan limpa binatang yang
boleh dimakan dagingnya karena ada sebuah
tempat yang terkena najis itu bersih dan bi- hadits, dihalalkan bagi kami dua jenis bangkai
dan dua jenis darah, ulat sutra dan tahinya,
langan yang dikehendaki dalam istrTmarsudah misk yaitu pusar binatang rvsa,'enbar kare-
terpenuhi. Dimaafkan juga tanah di jalan raya na ada perkataan Ibnu Abbas dalam kitab al-
yang dipastikan kenajisannya karena sukar Bukhari, "'Anbar adalah sesuatu yang telah di-
untuk menghindarkan diri darinya. buang oleh laut," air yang mengalir dari mulut
orang yang sedang tidur ketika tidur seperti
Dimaafkan juga air kencing yang sedikit yang telah dijelaskan sebelum ini, uap yang
bagi pengidap penyakit kencing terus-me- keluar dari satu rongga atau lubang [badan),
nerus yang sudah berusaha untuk menjaganya
dengan sempurna. Karena, kondisi seperti itu

memang sukar untuk mengatasinya.

42t Ada tiga kondisi di mana tempat yang terkena naiis-nalis berat dimaafkan, Pertama, tempat istinja, yaitu tempat istinja yang meng-

gunakan batu sesudah ia bersih dan sesudah sempurna bilangan yang dikehendaki di dalam istinia adalah dimaafkan, tanpa ada
khilafpendapat di kalangan ulama'yang kami ketahui. Kedua,bagian bawah/tapak khufdan sandal. fika ia terkena najis lalu ia
digosok-gosokkan dengan tanah sehingga benda naiisnya hilang, ada tiga riwayat mengenai hukumnya. Salah satunya menga-

takan cukup dengan digosok-gosokkan dengan tanah dan boleh dipakai dalam shalat. Ini adalah pendapat yang terkuat menurut

penjelasan Ibnu Qudamah. Ketiga, iika seseorang itu membalut tulangnya yang patah dengan tulang yang dihukumi najis, maka
ia tidak wajib membukanya iika ditakuti timbul bahaya, dan shalatnya dihukumi sah (al-Mughni, Jilid II, hlm. 83 dan halaman se-
terusnya).

BaElan 1: IBADAH FIqLH ISIAM JILID 1

karena bentuknya tidak jelas di samping sulit Kita juga mengetahui bahwa pendapat
menghindarinya, ludah meskipun ia berwarna yangrajih di kalangan ulama madzhab Hanafi
mengatakan, bahwa najis haqiqi dapat diber-
biru, baik ia keluar dari kepala fseorang), sihkan dengan berbagai macam cairan selain
air biasa seperti air mawa[ cuka, air buah-
ataupun dari dada, ataupun dari usus karena buahan, dan juga air tanaman. Najis haqiqi
terdapat sebuah hadits riwayat Muslim dari juga dapat dibersihkan dengan berbagai ma-
Abu Hurairah secara marfit', "Apabila seorang cam bahan pembersih lainnya, yang menurut
di antara kamu mengeluarkan ludahnya ma- pendapat ulama madzhab Hanafi jumlahnya
ka ludahkanlah di sebelah kirinya ataupun di mencapai 21: sebagiannya disepakati oleh
bawah kakinya. fika dia tidak dapat melaku- ulama yang lain dan sebagian lagi diperse-

kannya, maka meludahlah seperti ini, lalu lisihkan.

beliau meludahkannya ke pakaiannya. Kemu- Adapun cara membersihkan najis dengan
dian beliau menggosok-gosokkannya dengan
pakaiannya." air ataupun syarat-syaratnya adalah sebagai

Kalau ludah itu najis, tentulah Rasul tidak berikut.a23

menyuruh menggosokkannya ke pakaian. a. Dari Segl Bllangan

Apalagi hal itu dilakukan Rasul ketika beliau Ulama madzhab Hanafi mensyaratkan ka-

hendak menunaikan shalat. dar bilangan tertentu untuk membersihkan
najis yang tidak dapat dilihat oleh mata
Demikian juga air kencing ikan boleh di-
makan atau yang seumpamanya, semuanya normal, yaitu sebanyak tiga kali basuhan. Oleh
dihukumi bersih.
sebab itu, mereka berkata, "fika najis itu dari
3. CARA MENYUCIKAN N,//IS HAQIQI jenis yang tidak dapat dilihat oleh mata nor-
mal seperti air kencing bekas air liur anjing
DENGAN AIR dan lain-lain, maka cara membersihkannya

Tempat-tempat yang dapat dibersihkan ialah dengan membasuhnya hingga ia menjadi
dari najis haqiqi ada tiga, yaitu badan, pakaian, bersih mengikuti keyakinan pembasuhnya. Ia
dan tempat shalat. tidak akan menjadi bersih kecuali dengan tiga

Dalam pembahasan mengenai bahan- kali basuhan." Mereka menetapkan bilangan
tiga kali ini-meskipun dalam masalah najis
bahan yang bisa digunakan untuk menyucikan anjing-karena keyakinan tentang bersihnya
najis, kita mengetahui bahwa air yang bersih suatu tempat akan muncul pada diri seseorang
merupakan bahan asal yang dapat digunakan
dengan bilangan itu. Lalu, ia dijadikannya
untuk membersihkan najis. Hal ini berdasar-
kan sabda Rasulullah saw. kepada Asma binti sebagai suatu indikasi untuk membuktikan
Abu Bakar mengenai cara membersihkan pa-
kaiannya yang terkena darah haid, "Hendak- bersihnya tempat yang terkena najis. Langkah
ini diambil untuk memudahkan (taisir).
lah kamu menggosok-gosokkannya kemudian
basuhlah ia dengan air.Da22

422 Hrdit ini telah disetuiui kesahihannya oleh Ahmad dan asy-syaikhan (Nailut Authar.Jilid I, hlm. 38J.
a23 Lihrt pendapat ulama madzhab Hanafi dalam al-Bada'i', filid I, hlm. 897 - 89 ad-Durntl Mukhtar, filid I, hlm. 303 - 3L0; Fathul

Qadir,Jil I, hlm. 145; al-Lubab, Jilid I, hlm. 57: Muraqi alFalah, hlm.26 dan seterusnya; lihat pendapat ulama madzhab Maliki
dalam Bidayatul Mujtahid,lilid.l, hlm 83; ary-Syarhush Shaghia f ilid I, hlm.8l - 82; al-Qawanin al-Fiqhiyyah, hlm. 35; lihat pendapat

ulama madzhab Syafi'i dalam al-Majmu',lilid I, hlm. 188; Mughnil Muhtaj,lilid l, hlm. 83 - 85; al-Muhadzdzab,Jilid I, hlm. 48 dan

hlm. selanjutnya dan lihatpendapat ulama madzhab Hambali dalamal-Mughnililid 1, hlm.52 - Sa; Karyryaful Qrna', Jilid l, hlm.208

- 213.

FIqLH ISTAM JILID 1 Baglan 1: IBADAH f
I
Dalilnya adalah dua buah hadits, "Wadah I

yang dijilat anjing hendaklah dibasuh se- menghilangkan bekas darahnya, "Cukuploh 1
bagi kamu menggunakan air dan keberadaan
banyak tiga kali."a24 Hadits kedua, 'Apabila b ekasny a tidaklah b erp eng aruh op o - ap a.'426 I
seseorang di antara kamu bangun dari tidur-
nya, hendaklah dia membasuh tangannya se- Menghilangkan bekas najis itu dianggap
banyak tiga kali sebelum dia memasukkannya susah iika ia memang memerlukan bahan

ke dalam bejana."azs pembersih yang lain selain air bersih seperti
sabun ataupun air panas. Oleh sebab itu, kain
Dalam kedua hadits ini, Rasulullah saw. yang dicelup dengan bahan najis akan men-
telah menyuruh agar dilakukan basuhan se- jadi bersih apabila air yang digunakan untuk
banyak tiga kali, meskipun pada najis yang membasuhnya meniadi bersih, meskipun be-
tidak dapat dilihat dengan kasat mata. Adapun kas celupan naiis itu masih tetap ada pada kain
perintah Rasul berkenaan dengan membasuh itu.
jilatan anjing sebanyak tujuh kali itu adalah
pada masa permulaan Islam saja, yang bertu- Menurut pendapat yang ashah, tidaklah
juan untuk menghapus adat kebiasaan orang mengapa bekas minyak yang terkena najis
pada masa itu yang terlalu gemar memeli- asalkan najis yang dibersihkan dengan basuh-
hara anjing. Kondisinya sama seperti perintah an itu hilang. Minyak yang terkena najis akan
memecahkan botol arak dan larangan memi- menjadi bersih apabila air dicurahkan ke atas-
numnya ketika arak itu mulai diharamkan. nya sebanyak tiga kali.

Sekiranya najis itu termasuk jenis yang Susu, madu lebah, anggur ataupun kurma
serta minyah dapat dibersihkan dari najis de-
dapat dilihat dengan mata kasat seperti darah ngan cara memanaskannya di atas api hingga

dan seumpamanya, maka pembersihannya mendidih sebanyak tiga kali. Kemudian di-
tuangkan air ke atasnya, dipanaskan hingga
ialah dengan menghilangkan benda najis itu, mendidih dan hingga minyaknya terapung.
meskipun dengan hanya sekali basuhan-me- Cara ini dilakukan sebanyak tiga kali.

nurut pendapat yang shahih-kecuali jika Daging yang dimasak dengan arak dapat
dibersihkan dengan cara memasaknya hingga
bekasnya masih ada, seperti warna ataupun mendidih dan dibiarkan hingga sejuk seba-
baunya. Apa saja yang tidak dapat dihilangkan nyak tiga kali. Oleh sebab itu, ayam yang di-
baik warna atau baunya, maka tidaklah me- masak sebelum dikeluarkan isi perutnya dapat
ngapa. Menurut pendapat yang rajih, naiis dibersihkan bagian luar dan dalamnya dengan
itu hendaklah dibasuh hingga air basuhan itu cara membasuhnya, kemudian diulangi seba-
menjadi jernih atau bersih. Hal ini berdasar- nyak tiga kali, menurut pendapat yang telah
kan sabda Rasulullah saw. kepada perempuan difatwakan. Apabila seekor ayam dimasukkan
yang sedang mengalami haid yang tidak dapat

Hadits riwayat Abu Hurairah disampaikan melalui dua lalur sanad. Pertama melalui ad-Daruquthni, dia mempunyai dua riwayat.
Riwayatnya yang pertama terdapat seorang perawi motruk, dan riwayat yang kedua, sanadnya shahih. lalur kedua melalui riwayat

Ibnu Adi di dalam al-Kamil dan iuga riwayat Ibnul Jauzi. Hadits ini adalah hadits yang tidak shahih (Nashbur Rayah, Jilid l, hlm. 130

dan hlm. seterusnya).

Hadits riwayat Malik, asy-Syafi'i, dan juga Ahmad dalam Musnad-nya dan diriwayatkan juga oleh enam pengumpul kiab hadits

yang terkenal dari Abu Hurairah, dan ia adalah hadits shahih lagi hasan.
426 Hadits riwayat Imam Ahmad, at-Tirmidzi, Abu Dawud, dan al-Baihaqi dari Abu Hurairah. Teks sepenuhnya adalah sebagai berikut,

"Khaulah binti Yassar berkata,'Ya Rasulullah, saya hanya memiliki sehelai pakaian saja dan saya memakainya sewaktu saya haid.'

Baginda menjawab,'Apabila kamu suci, maka basuhlah tempatyang terkena darah! Ia bertanya kepada Rasul lagi,'Ya Rasulullah,

iika bekasnya tidak hilang?' Rasul menjawab,'Cukuplah kamu menggunakan air dan kewujudan bekasnya tidak menyebabkan apa-
',lilid Ir hkn.
l" Hadits ini sanadnya lemah $Voilul

Baglan 1: IBADAH FIqLH ISI-A.M JILID 1

ke dalam air panas untuk memudahkan kerja liun air kencing, dan semua bagian yang ba-
mencabuti bulunya, maka ia dapat dibersih-
kan dengan dibasuh sebanyak tiga kali. sah, dan juga bagian-bagian keringapabila ber-
sentuh dengan sesuatu yang basah) dari badan
Gandum yang dimasak dengan arak tidak anjing, babi, anak campuran antara kedua-
mungkin dibersihkan sama sekali. Ini adalah duanya, ataupun yang lahir dari salah satu di
antara keduanya yang kawin dengan binatang
menurut pendapat yang telah difatwakan. lain yang suci, hendaklah (tempat atau bagian
Tetapi jika ia menjadi mengembang karena
yang terkena naiis itu) dibasuh sebanyak tu-
air kencing, maka hendaklah ia direndam dan
dikeringkan, kemudian diulangi sebanyak tiga juh kali, Salah satunya adalah dengan air yang
dicampur dengan debu yang bersih meskipun
kali. fika tepung roti itu dicampur dengan debu pasir. Karena, Nabi Muhammad saw.
arak, maka untuk menyucikannya adalah
bersabda,
dengan cara mencurahkan cuka ke atasnya
lL :fi' 'dot',,
hingga hilang bekas araknya, barulah ia men-
jadi bersih. ,t
$ i(lr{,,."-t
Ulama madzhab Maliki berpendapat bah- (-' r:t \.,1 ',
wa untuk membersihkan najis tidaklah cukup
hanya dengan mengalirkan air saja. Najis dan i ,i.
luka bekasnya haruslah dihilangkan terlebih
dahulu hingga air yang berpisah dari tempat "wada h r,,n ilu?,i *t,;' :"#:^
yang dibersihkan itu menjadi bersih dan rasa
dibasuh sebanyak tujuh kali, dan hendaklah
najis itu hilang sama sekali. Begitu juga de-
basuhan pertamanya ataupun terakhirnya de-
ngan warna dan baunya juga harus hilang, jika
ngan menggunakan (air bercampur dengan)
memang mudah untuk menghilangkan kedua-
duanya. Tidaklah mengapa jika masih terdapat sgnqfi,"a27
warna ataupun bau yang memang sukar di-
hilangkan seperti pakaian yang dicelup dengan Dalam Hadits riwayat Abdullah ibnul
za'faran yang terkena najis ataupun nila yang
terkena najis dan yang seperti dua hal itu. Mughaffal, Rasulullah saw. bersabda,

Untuk membasuh najis tidak disyaratkan -aat oJ--tc..-t.Jo9z
kadar bilangan basuhan tertentu, karena yang €fiU.o/
dipahami dari perintah menghilangkan naiis
ialah menghilangkan zatnya. Adapun bilangan '\C otit*'
tujuh kali yang disyaratkan untuk membasuh ,-i<j' d, t;t
bekas jilatan anjing adalah bertujuan ibadah, ,t

bukannya karena najis itu. 7t.)r,s\1J
Ulama madzhab Syafi'i dan Hambali ber-
"Apabila seekor anjing menjilat sesuatu
pendapat bahwa apa saia yang menjadi muta-
nalrs karena bersentuhan dengan sedikit (air wadah, maka hendaklah kamu membasuhnya

sebanyak tujuh kali. Bilasan yang kedelapan ka-

linya dengan (air yang bercampur) sqnqfi.'azg

Babi diqiyaskan dengan anjing karena ia
lebih buruk keadaannya dari anjing dan lebih
jahat tabiatnya. Disebabkan ada nash syara'

427 Hadits riwayat Imam Hadits yang enam dalam kitab-kitab mereka dari Abu Hurairah. Menurut lafal Imam Muslim dan Abu Dawud

adalah sebagai berikut, "Bersihnya suatu wadah kepunyaan salah seorang di antara kamu apabila dijilat anjing adalah dengan cara

membasuhnya sebanyak tuiuh kali." Ia diriwayatkan iuga oleh Imam Malik dalam al-Muwaththa'dengan lafal,'Apabila diminum."

Selain dalam al-Muwaththa' Malik diriwayatkan dengan lafal, 'Apabila diiilat." (Nashbur Rayah,lilid I, hlm. 132)
a28 H"ditr .iwayat Muslim {N ashbur Rayh. Jilid I. hlm. 133}.

,; : ,' ,.i+-€Sinrir r ;:-:::r.:rii:.: j -',;i;!:':tEi::

FIqLH ISI."A,M 1 t'

'ILID I

mengenai pengharaman anjing dan pengha- Dan juga, karena ada sebuah hadits yang me- t
raman memilikinya, maka hukum mengenai nerangkan, "Apabila aku menyuruh kamu me-
babi ditetapkan dengan cara at-tanbih (mem-
peringatkan). Nash syara' tidak secara jelas lakukan sesuettt, maka lakukanlah sekuat ke-

menyebutkan hukum babi ini karena orang mampuanmu!'aze

Arab belum terbiasa dengan masalah babi ini. Adapun najis selain najis anjing dan babi,

Pada basuhan yang pertama lebih utama maka menurut pendapat ulama madzhab
dicampur dengan tanah karena ada Hadits Hambali ia dapat dibersihkan dengan tujuh
yang berkaitan dengannya. Lagi pula air yang kali basuhan tanpa menggunakan debu. Hal ini
digunakan untuk basuhan-basuhan berikut- berdasarkan perkataan Ibnu Uman "Kami te-
lah diperintahkan membasuh najis sebanyak
nya akan dapat membersihkan tanah itu, tujuh kali."
dan tanah itu haruslah diratakan ke semua
tempat yang terkena najis, yaitu dengan cara Perkataan itu merupakan perintah Nabi
saw.. Dalam perintah membersihkan najis
meratakan tanah itu bersama-sama dengan air
anjing, Rasul juga memerintahkan tujuh kali
ke semua bagian tempat yang terkena najis. basuhan. Maka, najis-najis lain juga disama-
kan dengan najis anjing tersebut. Sesuatu hu-
Menurut pendapat yangazhhar di kalang- kum tidaklah khusus bagi sebab yang menye-
an ulama madzhab Syafi'i adalah tanah me- babkan timbunya nash itu. Ini terbukti ketika
hukum membersihkan badan dan pakaian
rupakan satu-satunya bahan yang harus dari najis disamakan dengan hukum mem-
digunakan. Oleh sebab itu, tidaklah cukup bersihkan dari najis anjing. Tempat istinja'
juga hendaklah dibasuh sebanyak tujuh kali,
menggunakan bahan lainnya seperti garam sama seperti tempat lain yang terkena najis.
Tetapi jika tempat yang dibasuh tidak bisa
dan sabun. bersih dengan tujuh kali basuhan maka boleh
dibasuh lagi hingga tempat itu menjadi bersih.
Adapun menurut ulama madzhab Ham- Dan jika warna najis yang dibasuh masih ada,
bali, serbuk garam, sabun, dan juga nukhalah maka tidaklah mengapa. Begitu juga apabila

[sejenisbahan pembasuh) serta bahan-bahan yang masih ada adalah baunya ataupun kedua-

lain yang seumpamanya yang dapat meng- duanya yang memang tidak dapat dihilangkan.
hilangkan kotoran dapat dijadikan sebagai
Hal ini berdasarkan hadits riwayat Khaulah
pengganti debu, meskipun waktu itu debu binti Yassar, "Cukuplah kamu menggunakan
air, dan bekasnya tidaklah membahayakan
mudah didapat. Karena, penekanan penggu-
naan debu hanyalah karena untuk memberi kamu."
perhatian kepada suatu bahan yang mem- Tetapi jika masih terdapat rasa najis, maka

punyai daya pembersih yang tinggi. fika tanah ia dianggap belum bersih karena kewujudan
(yang dicampur) dapat merusak tempat yang rasa membuktikan bahwa najis itu masih ada.
Ditambah lagi rasa najis mudah dihilangkan.
dibasuh, maka cukuplah dengan mencampur
tanah dengan kadar paling minimal ke dalam

salah satu basuhan di antara beberapa kali

basuhan yang dilakukan. Tujuannya adalah

untuk menghindari dari kerusakan yang

mungkin terjadi pada bahan yang dibasuh.

Hadits riwayat Ahmad, Muslim, an-Nasa'i, dan lbnu Majah dari Abu Hurairah, "Contohilah apo yang aku tinggalkan kepada kamu.
Sesungguhnya orang yang sebelum kamu menjadi binasa karena banyak pertanyaan mereka dan juga penentangan mereka terhadap

nabinabi (yang diutus kepada) mereka. Oleh karena itu, apabila aku menyuruh kamu melakukan sesuatu, maka lakukanlah sesuai
W;nS kamu mampu Dan apabila alu melarangmu dqri sesuafiL mlka tineeylkanlah ia!'Hadits ini shahih.

Baglan 1: IBADAH FIqLH TSI."AM IILID 1

Adapun pendapat ulama madzhab Syafi'i Karena, air tidak dapat dikeluarkan dalam

tentang najis selain najis anjing dan babi, kadar yang banyak kecuali dengan cara meme-
adalah apabila najis itu termasuk jenis yang rahnya. Oleh sebab itu, pembasuhan tersebut
tidak akan sempurna tanpa pemerahan itu.
dapat dideteksi dengan salah satu pancaindra,
maka wajib menghilangkan zat, rasa, warna, fika tempat yang terkena najis itu bukan
dan juga baunya. Wajib juga menggunakan dari jenis yang dapat menyerap air seperti
bahan semisal sabun jika hal-hal itu tidak da-
pat dihapuskan kecuali dengan menggunakan wadah-wadah yang terbuat dari tanah liat atau
logam, ataupun dari jenis yang dapat mene-
bahan itu. rima resapan najis tapi sedikit seperti badan,

Tidaklah mengapa apabila warna ataupun khuf, dan sepatu, maka cara membersihkannya

bau yang sukar untuk dihapuskan masih ialah dengan cara menghilangkan zat najis itu.

tetap ada. Ini adalah pendapat yang disetujui fika tempat yang terkena najis itu bukan
oleh semua fuqaha. Namun apabila yang termasuk jenis benda yang dapat diperah se-
wujud adalah kedua-duanya, ataupun yang perti tikar, sajadah, permadani, dan kayu, ma-
wujud adalah rasanya saja, maka keadaan itu
dianggap belum suci. Dalam membersihkan ka cara membersihkannya adalah dengan cara

najis yang dapat dilihat tidak disyaratkan merendamnya ke dalam air. Cara ini diulangi
sebanyak tiga kali, serta setelah setiap kali
bilangan basuhan tertentu. rendaman hendaknya dikeringkan. Dengan
cara ini, maka benda itu akan menjadi bersih.
fika najis itu termasuk jenis yang tidak Ini adalah pendapat yangrajih dari Abu Yusuf.
dapat dilihat, yaitu najis yang diyakini ke- Adapun Muhammad berpendapat bahwa
beradaannya, namun tidak dapat diketahui benda-benda itu tidak akan menjadi bersih

rasanya, warnanya, dan juga baunya, maka sama sekali.
untuk menghilangkannya cukuplah dengan
mengalirkan air ke atasnya sekali saja, seperti Cara membersihkan bumi yang lembut
najis air kencing yang telah kering yang tidak
ada bekasnya lagi. Maksud dari perkataan ialah dengan cara mencurahkan air ke atasnya
mengalirkan ialah sampainya air ke tempat sehingga ia meresap ke bagian bawah tanah
yang terkena najis dalam keadaan mengalir, itu. Dengan cara itu, maka naiis tersebut akan
tidak hanya sekadar memercikkannya. hilang. Dalam masalah ini, tidak disyaratkan
bilangan basuhan tertentu. Namun untuk me-
b. Memerah Sesuatu yang Dapat Diperah netapkan bersihnya, hendaklah didasarkan
kepada ijtihad dan keyakinan. Penyerapan air
dan yang Telah Menyerap Banyak Naiis
ataupun pengendapannya ke bagian bawah
Ulama madzhab Hanafi berpendapat
jika tempat yang terkena najis itu termasuk tanah disamakan dengan proses pemerahan
di atas. Apabila diqiyaskan dengan zhahir ar-
jenis benda yang meresap banyak najis. fika riwayal maka cara membersihkannya adalah
ia dapat diperah seperti pakaian, maka cara
membersihkannya adalah dengan membasuh dengan cara mencurahkan air ke atasnya
serta memerahnya hingga hilang zat najis itu.
Cara ini dipakai sekiranya najis itu dari jenis sebanyaktiga kali. Dan pada setiap kali curahan
najis yang dapat dilihat. fika ia termasuk ienis hendaklah dibiarkan ia mengendap ke bawah.

najis hukmr, maka cara membersihkannya fika tempat yang terkena najis tersebut
adalah dengan cara membasuhnya tiga kali
dari jenis bahan yang keras dan terdapat suatu
serJa rnemerahnya pada setiap l<ali basuhan. .
lubang atau saluran besar di bagian bawah-
:. *,i nya, maka untuk membersihkannya dari na-
jis hendaklah dengan cara mencurahkan air

FIqLH ISI.A,M JILID 1 Bagan 1: IBADAH I
I
ke atasnya sebanyak tiga kali, dan kemudian Tetapi jika basuhan itu dilakukan dalam tiga I
wadah, maka setiap wadah hanya perlu ditu- ,
air itu dikeluarkan melalui lubang tersebut.
kar airnya sekali saja.
Tetapi jika ia tidak mempunyai lubang keluar
aiL maka tidak perlu dibasuh. Karena, basuhan Cara yang baik sebagaimana yang telah
itu tidak akan memengaruhi apa pun. Namun, dijelaskan oleh Ibnu Abidina3o mengenai cara
menurut pendapat ulama madzhab Syafi'i, pembersihan najis yang dapat dilihat ialah
najis tersebut dapat dibersihkan dengan men-
curahkan air yang banyak ke atasnya, seperti dengan cara menghilangkan zat najisnya, mes-
yang kita akan bahas nanti. kipun hanya dengan sekali basuhan dan mes-
kipun dilakukan dalam satu wadah, dan tidak
Selain madzhab Hanafi tidak mensyarat- disyaratkan diulang tiga kali basuhan dan pe-
kan pemerahan pada sesuatu yang dapat di- rahan. Adapun najis yang tidak dapat dilihat,
maka cara yang baik untuk membersihkannya
perah, karena dengan cara membasahi sebagi- adalah hingga munculnya keyakinan mengenai
bersihnya, tanpa mengaitkannya dengan bi-
an dari tempat itu sudah dapat menyebabkan langan basuhan tertentu. Ini menurut apa yang
telah difatwakan. Namun menurut pendapat
benda itu menjadi bersih. Perselisihan pen-
yang lemah, pembersihan ini disyaratkan tiga
dapat ini disebabkan oleh hukum air basuhan
tersebut, apakah ia bersih atau najis. Sekira- kali basuhan.
nya ia dihukumi bersih, maka tidak waiib lagi
diperah. Jika sebaliknya, maka wajib diperah. Adapun yang telah menjadi fatwa di ka-
Tetapi, disunnahkan supaya diperah untuk
mengelakkan pertentangan pendapat. Adapun langan ulama madzhab Hanafi adalah hampir
benda-benda yang tidak dapat diperah, maka sama dengan pendapat ulama madzhab Maliki
tidak disyaratkan hal yang demikian. yang mengatakan wajib dihilangkan zat najis
yang akan dibersihkan.
c. Mencurahkan ataupun Menuangkan Alr
Ulama madzhab Syafi'i-menurut penda-
ke Atas Nalls (dan Membasuh Wadah) pat yang ashah-mengatakan bahwa untuk
membersihkan najis itu disyaratkan mengalir-
Ulama madzhab Hanafi berpendapat bah- kan air saja tanpa memerah. Yaitu, disyarat-
kan mengalirkan air ke atas tempat yang ter-
wa tidak disyaratkan mencurahkan air atau- kena najis, jika air itu sedikit agar air itu tidak
pun menuangkannya ke tempat yang terkena menjadi najis. Jika sebaliknya, maka air akan
najis. Oleh sebab itu, pakaian yang terkena menfadi najis hanya karena najis terjatuh
ke dalamnya. Oleh sebab itu, jika pakaian di-
najis ataupun badan yang terkena najis dapat
masukkan ke dalam suatu bejana basuhan dan
dibersihkan di dalam wadah-wadah dengan
di dalamnya terdapat darah yang dimaafkan,
cara mengganti airnya sebanyak tiga kali, dan lalu dicurahkan air ke dalam bejana itu, maka
air itu akan menjadi najis karena bercampur
basuhan itu hendaklah diperah setiap kali
dengan darah itu.
air ditukar. Wadah itu hendaklah dibasuh se- Seseorangwajib melebihkan air berkumur
banyak tiga kali sesudah basuhan pertama
yang digunakan untuk membasuh pakaian ketika dia membasuh mulutnyayang terkena
pada badan yang terkena najis, dan hendak- najis, dan ia haram menelan makanan sebelum
lah wadah itu dibasuh dua kali setelah basuh- membersihkan mulutnya
an yang kedua. Hendaklah wadah itu dibasuh
sekali setelah basuhan yang ketiga. Ini jika
basuhan itu dilakukan dalam satu wadah saja.

Raddul Muffitaa jilid I, hlm. 308.

Ba8lan 1: IBADAH FrqLH Isr-A.M IrLrD 1

Oleh sebab itu, ulama madzhab Hanafi ke atasnya, hingga najis itu tenggelam. Hal
bersepakat dengan para ulama madzhab
lain mengenai benda yang terkena najis, jika ini berdasarkan hadits riwayat Abu Hurairah,
dibasuh dalam air yang mengalir ataupun "Orang Arab kampdng berdiri lalu kencing di
dalam masiid. Kemudian orang-orang berdiri
dibasuh dalam air yang banyak yang sama hu- hendak memukulnya, lantas Rasulullah saw.
kumnya dengan air yang mengalir, dituangkan
bersabda,
banyak air ke atasnya, ataupun air dialirkan
i,(.;t ,i,Y,/ o* {; ,btA)i'r;;:,
ke atasnya, maka ia akan meniadi bersih tanpa ,i. :' .,, ,,)
disyaratkan pemerahan, pengeringan, ataupun .tt | ./c- ",, a'3
lJ.:r-J
pengulangan menenggelamkannya ke dalam It e-* .*ru:u. t.,
air. Karena, mengalirkan air di tempat yang
terkena najis sudah dianggap sama dengan L'J).J *t
mengulangi pembasuhan dan juga pemerah-
'Biorkanlah dia, dan curahkan setimba
an.431 air ke atas air kencingnya. Sesungguhnya ka-
mu telah diutuskan sebagai orang yang me-
Membrslhkan Tanah yangTe*ena Ndls
nyenangkan, dan bukan menyusahken."'a3s
dengan Alr yanS Banyak
Ulama madzhab Hanafi berpendapat'32 Ulama madzhab Syafi'i telah mengurai-
kan dengan terperinci tentang cara mem-
jika tanah yang terkena najis itu keras dan bersihkan air yang terkena naiis dengan cara
curam, maka hendaklah digali satu lubang
di bawahnya, kemudian dicurahkan air tiga menambahkan jumlah air yang banyak.a3'
kali ke atasnya dan dibiarkan ia turun mele-
wati lubang itu. Hal ini berdasarkan kepada a. fika najis itu menyebabkan terjadinya

hadits riwayat ad-Daruquthni dari Anas ten- perubahan dan jumlah air itu melebihi
tang kisah orang Arab kampung yang kencing
di dalam masjid, "Hendaknya kamu menggali dua kulah, maka ia dihukumi bersih jika
perubahan yang terjadi hilang dengan
satu lubang di tempatnya, kemudian curah-
kan air ke atasnya."433 Tanah yang seperti itu sendirinya, dengan menambahkan air lain

tidak dapat dibersihkan dengan hanya mem- kepadanya, ataupun dengan membuang
perbanyak jumlah air. sebagiannya. Karena, naiis yang ada di-
sebabkan perubahan dan perubahan itu
Ulama madzhab selain ulama Hanafi ber-
kata,a3a tanah yang terkena najis dapat diber- telah hilang.
sihkan dengan cara mencurahkan banyak air
ke atasnya, yaitu kadar yang dapat memban- b. fika najis itu jatuh di air yang tidak ada
jirinya ataupun dengan cara menuangkan air
dua kulah, maka ia akan menjadi bersih

dengan cara ditambah air lain kepadariya,

sehingga kadarnya mencapai dua kulah
baik air itu diperbanyak dengan air yang
bersih ataupun air mutanajjrs, dan baik

a3r tbid..

432 At-Bodo'r,Jilid 1, hlm. 89.
433 T"t"pi hadits ini merupakan Hadits mo'lul yang hanya diriwayatkan oleh Abdul Jabbar saia tanpa sahabat-sahabat lbnu Uyainah

yang merupakan penghafal-penghafal hadits (Nailul Authar,Jilid 1, hlm.42).

434 Asy-Syarhush Shaghir, filid I, hlm. 82; at-Muhadzdzab, Jilid I, hlm. 7; al-Majmu', filid I, hlm. 188 dan hlm. seterusnya; Kasysyaful

435 Qina', 2L3; al-Mughni, lilid 11, hlm. 94. Ahmad dan asy-syaikhan telah meriwayatkan hadis lain dengan arti yang sama, salah
Hrditr riwayat al-Jamahh kecuali Muslim.

satu lafalnya adalah, "Jangan dipotong." (Nailul Authar,lilid I, hlm. 4l - 43)
436 ,AbWuhadzdzob, Jilid I, hlm.6.7;
', lilid l, hlm. 183 -,.195.

-T

I

FIqLH ISI.AM )ILID 1 I

kadar air yang ditambah itu banyak atau orang. Ulama madzhab Syafi'i menganggap air
sedikit. Ia akan menjadi bersih dengan
memperbanyak kadar air itu, meskipun kolam mandi dan air kolam biasa sama seperti
ia tidak mencapai kadar dua kulah. Sama hukum air yang mengalir, jika airnya mengalir
seperti bumi atau tanah yang terkena
turun dari bagian atas dan banyak orang yang
najis apabila dituangi air hingga tanah mengambil air dengan tangan mereka. Oleh
itu tenggelam dengan air, karena air itu sebab itu, jika nampan atau tangan yang ter-
kena najis dimasukkan ke dalam air tersebut,
menutupi najis tersebut.a3T
maka air itu tidak akan menjadi mutanajjis.
Tetapi air yang menjadi bersih dengan
fika ada najis yang tidak dapat dilihat be-
penambahan air lain yang tidak sampai kadar kasnya baik rasa, warna, atau baunya terjatuh
ke dalam air itu, maka air itu dihukumi suci
dua kulah, dihukumi bersih pada dirinya lagi menyucikan, boleh digunakan untuk ber-
sendiri, tetapi air itu tidak dapat membersih-
kan benda yang lain. Karena, air yang telah wudhu dan untuk menghilangkan najis. Ka-
digunakan untuk membersihkan najis tidak rena, najis jika berada dalam keadaan cair
boleh digunakan lagi untuk bersuci. Namun
tidak akan meresap bersama-sama aliran air.
jika kadar air itu melebihi dua kulah, dan najis
yang jatuh ke dalamnya adalah keras. Maka, fika najis itu berupa seekor binatang yang
menurut pendapat al-madzhab boleh bersuci telah mati, maka jika air itu mengalir ke arah

dengannya karena najis itu tidak dianggap binatang itu, ataupun ke arah sebagian besar
badannya, ataupun ke arah separuh badan-
keberadaannya.
nya, maka air itu tidak boleh digunakan.
fika kadar air itu hanya dua kulah, dan di
dalamnya terdapat najis yang masih kelihatan Dan jika ia mengalir ke bagian yang paling
wujudnya (tidak hancur atdu meresap), maka kecil dari anggota binatang itu, sedangkan
terdapat dua pendapat mengenai masalah ini, kadar air yang banyak mengalir pada tempat
menurut pendapat yan g ashah, bersuci dengan yang bersih, dan air itu masih mempunyai
air tersebut adalah boleh. Namun jika najis kekuatannya, maka ia boleh digunakan apa-
sudah meresap ke dalam air, maka menurut
pendapat yang shahih bersuci dengannya bila ia memang tidak ada najisnya.

adalah boleh. Ulama Iraq menetapkan hukum khusus
berkenanaan dengan al-ghadiira3e dan kolam
Bersuci dengan Air yang Mengallr besar yang airnya tidak mengalir, yaitu tem-
Ulama madzhab Hanafia3E mengatakan pat yang airnya tidak bergerak pada salah
satu sisinya ketika ia dikocak pada satu sisi
bahwa hukum air yang mengalir berlainan
yang lain. Yaitu apabila ada najis jatuh di salah
dengan hukum air yang tidak mengalir. Yang
dimaksud dengan air yang mengalir ialah air satu sisinya-menurut zhahir ar-riwayat dan
yang biasanya dianggap mengalir oleh banyak ini merupakan pendapat yang ashah-maka

jika seseorang mendasarkan keputusannya

berdasarkan kepada dugaan dan juga ijtihad-
nya bahwa najis itu tidak akan sampai ke sisi

437 An-N"*"*i berkata apa yang dituduhkdn oleh sebahagian ulama madzhab Hanafi yang mengatakan bahwa madzhab Syafi'i ber-

pendapat sekiranya kadar air dua kulah itu kurang satu kuz lalu dicampur (ditambahi) dengan air kencing (sehingga meniadi dua

kulah) maka ia akan meniadi suci, adalah dakwaan yang tidak betul dan merupakan pembohongan. Tidak ada siapa pun di antara

ulama madzhab Syafi'i yang mengatakan demikian (al-Majmu',lilid,l, hlm. 190).
438 Ad-Durrul Mukhtar Jilid I, hlm. 173 - l8O; al-Lubab, Jilid I, hlm. 27; Fathul Qadir, filid I, hlm. 53 - 56.
439 Ialah suatu wadah seperti manglukyang dalam yang dapat digunakan untuk mengambil air.

Baglan 1: IBADAH FIQTH TSTAM IILID 1

yang satunya lagi, maka air yang terdapat najis dari setiap sudut-baik di bawah, kanan

di sisi yang lain yang tidak terkena najis dan kiri-juga naiis. Kedua keterangan ini

dapat digunakan untuk berwudhu dan untuk adalah sama.
menghilangkan najis. Karena, pada lahirnya
fika air itu mengalir dan di dalamnya
najis itu tidak sampai ke penjuru yang satu
terdapat najis yang ikut mengalir bersamanya
lagi. Adapun hukum yang difatwakan adalah
seperti bangkai, dan aliran air itu berubah
boleh bersuci dengan air yang terdapat di
[karena najis tersebut), maka air yang berada
semua penjuru kolam itu. pada bagian sebelumnya adalah bersih karena
najis tidak akan sampai kepadanya. Keadaan
Ulama selain madzhab Hanafiaao menga-
takan bahwa air yang mengalir sama hukum- ini seperti air yang dicurahkan kepada najis
nya dengan air yang tidak mengalir. f ika kadar dari kendi. Begitu juga bagian yang berada
air itu banyak dan tidak kemasukan oleh najis, pada setelahnya dihukumi bersih, karena
yaitu tidak berubah salah satu sifatnya baik
rasa, warna dan bau, maka ia dihukumi ber- najis itu juga tidak sampai kepadanya. Adapun
bagian air yang mengelilinginya baik di atas,
sih. Sebaliknya, jika kadarnya sedikit, maka bawah, kanan, dan juga kirinya, jika memang
keseluruhannya akan menjadi mutanajjis kadarnya mencapai dua kulah dan tidak ter-
jadi perubahan apa pun dengan sebab najis
meskipun hanya bersentuh dengan najis.
itu, maka ia dihukumi bersih. Tetapi jika
Menurut pendapat ulama madzhab Mali-
ki, tidak ada batas khusus bagi kadar banyak- kadarnya tidak sampai dua kulah, maka ia

nya sesuatu air. Adapun pendapat ulama menjadi mutanajjis, keadaannya sama seperti
air yang tidak mengalir.
madzhab Syafi'i dan Hambali air yang banyak
Perlu diperhatikan juga bagian-bagian
itu ialah air yang kadarnya mencapai dua dari setiap satu aliran itu dari satu bagian ke
kulah [kurang lebih 500 kati Baghdad), dan
pengertian air yang mengalir ialah apabila bagian yang lain, yaitu air yang meninggi dan
memang terjadi aliran air, yaitu seperti yang
menurun di antara dua tebing sungai ketika
didefinisikan oleh ulama madzhab Syafi'i, air ia berombak. Air di bagian yang mengalir me-
yang naik ke atas ketika ia berombak, baik ia
benar-benar terjadi ataupun sekadar dikira rupakan air yang tidak padu. Oleh karena itu,
saja, jika alirannya besar, maka ia tidak akan jika ada najis yang terjatuh ke dalamnya dan
menjadi mutanajjis. Kecuali, jika terjadi pe- bergerak mengikuti pergerakan aliran air, ma-
ka bagian aliran air yang terkena najis tersebut
rubahan pada air tersebut, dan air itu di-
anggap terpisah dari air yang di depannya dihukumi najis. Tetapi, air yang mengalir
setelahnya dihukumi sebagai air basuhan
dan juga air yang di belakangnya.
najis. fika najis itu seekor anjing, maka wajib-
Menurut ulama madzhab Hambali air lah dibasuh sebanyak tujuh kali, salah satu-
yang terkena najis, maka air yang ada di de- nya dibasuh dengan air debu yang bersih.

katnya juga najis. Begitu juga yang ada di bela- Untuk mengetahui air yang mengalir itu

kangnya, di depannya, serta yang ada di dua dua kulah, adalah dengan cara mengukurnya
tebing sungai yang menyebelahinya, atau de- sepanjang satu seperempathasta baik paniang
ngan kata lain air yang berada di sekeliling
lebar, dan dalamnya.

Bidayatul Mujtahid, filid I, hlm. 23; al-Qawanin al-Fiqhiyyah, hlm. 30; asy-Syarhush Shaghir, Jilid I, hlm. 30 dan hlm. seterusnya;
Mughnil Muhtaj, Jilid I, hlm.24 dan hlm. seterusnya; al-Muhadzdzab, Jilid 1, hlm.7; Kasysyaful Qina',Jilid I, hlm.40 dan hlm.
seterusnya; al-Mughni,lilid I, hlm. 31 dan hlm. seterusnya.

FrqLH lsrr{,M f ILID 1 Oleh sebab itu, jika seseorang itu berhadats,
maka air itu akan menjadi air musta'mal tan-
fika di depan air ada tempat tinggi yang pa khilaf. Karena terdapat dua sebab, yaitu
menahannya dari mengalir, maka hukumnya
adalah sama seperti air yang tidak mengalir. terangkatnya hadats dan mengeriakan ibadah.

Kesimpulannya adalah apabila ada naiis Tetapi iika seseorang itu belum berhadats,
mengenai air, maka air itu dihukumi sebagai
air mutanajjrs Ini menurut ijma ulama. Apabila maka menurut pendapat ulama madzhab

ada air mengenai najis, maka air itu juga Hanafi selain Zufar, ia juga akan menjadi mus-

menjadi mutanajjis.aar ta'mal, karena terdapat sebab melakukan iba-
dah. Karena, wudhu dianggap sebagai suatu
4. HUKUM GHIISALAH cahaya di atas satu cahaya yang lain, Menurut

Ghusaloh ialah air yang telah digunakan pendapat Zufar, ia tidak akan menjadi air
untuk mengangkat hadats atau menghilang-
kan kotoran: naiis, baik naiis hukmi ataupun musta'mal karena tidak terdapat sebab
naiis haqiql. Menurut pendapatiumhur selain
ulama madzhab Hanafi, hukum ghusalah yang mengangkat hadats. Tetapi jika wudhu
adalah bersih jika tempat yang dibasuh itu
ataupun mandi itu semata-mata bertujuan
bersih.
Adapun menurut para fuqaha, maka ada untuk mendinginkan badan dan orang ter-
sebut belum berhadats, maka ia tidak akan
tiga uraian terperinci sebagai berikut.
Ulama madzhab Hanafiaa2 berpendapat menjadi air musta'mal.

bahwa ghusalah (air basuhan najis) terbagi Ghusalah najis haqiqi ialah air basuhan
kepada dua jenis: ghusalah naiis haqiqi dan
ghusalah najis hukmi yaitu hadats. Ghusalah najis yang berubah keadaannya apabila ber-

najis hukmi ialah air musta'mal, dan menurut pisah dari tempat basuhan, yaitu berubah
zhahir ar-riwayat ia dihukumi bersih, tetapi
tidak menyucikan. Artinya, ia tidak boleh di- rasa, warna, atau baunya. Atau .air basuhan
gunakan untuk berwudhu. Akan tetapi me- najis apabila tempat basuhan itu belum ber-
nurut pendapat yangrajih, ia boleh digunakan sih, umpamanya air itu berpisah dari tempat
untuk menghilangkan najis haqiqi. basuhan sesudah basuhan tiga kali berturut-
turut yang digunakan untuk membasuh najis
Air musta'mal ialah air yang telah terpisah yang tidak dapat dilihat wujudnya. Karena,
semua najis itu berpindah kepada air itu, dan
dari badan dan berkumpul di suatu tempat.
tidak ada bagian air yang bersih dari najis.
Namun apabila air itu masih berada pada Tidak boleh menggunakan ghusalah ke'

anggota yang menggunakannya, maka ia tidak cuali untuk air minum, membersihkan tanah
dinamakan sebagai musta'mal. Suatu air hanya yang basah, memberi minum binatang, dan
akan menjadi musto'mal apabila digunakan
untuk mengangkat hadats ataupun sebab niat seumpamanya. Tetapi iika air itu telah berubah
untuk mengerjakan ibadah mendekatkan diri rasa, warna, ataupun bau, maka perubahan
kepada Allah SWT seperti shalat biasa, shalat
ienazah, memasuki masj id, menyentuh mushaf ini menunjukkan bahwa najis tersebut men-
Al-Qur'an, membaca Al-Qur'an, dan lain-lain.
dominasi air itu. Dalam hal ini ia sama dengan

hukum air kencing. fika belum berubah, ma-
ka boleh digunakan. Karena apabila air tidak

berubah, maka hal ini menunjukkan bahwa

najis itu belum mendominasi kebersihan air.
Hukum menggunakan sesuatu yang bukan

+47 Ad-Durul Mukhtar, Jilid I, hlm. 300 dan halaman selaniutnya.
442 AlBada'i',lrlid I, hlrn. 66 - 69; Raddul Muktrfsr, filid I, hlm. 300.

IsrAM IrLrD 1

termasuk najis 'ain pada keseluruhan bagian- dihukumi bersih. Dan jika tidak, maka ia juga
dihukumi tidak bersih.
nya adalah boleh.
Ulama madzhab Hambaliaas dan ulama
Ulama madzhab Malikiaa3 berpendapat jika mazhab Syafi'i berpendapat bahwa air yang
ghusalah itu berubah rasa, warna, bau, maka digunakan untuk membersihkan najis, apa-
ia dihukum mutanajjis jika tempat [yang di- bila ia berpisah dari tempat basuhan dalam
keadaan berubah karena najis itu ataupun ia
basuh) masih ada najis. Tetapi jika tempat berpisah sebelum tempat yang dibasuh itu
(yang dibasuh itu) bersih, maka ghusalah itu menjadi bersih, maka air itu ataupun ghusalah
dihukumi bersih. Tidak boleh menggunakan itu menjadi mutanajjis. Karena, ia telah ber-

air mutanajjls dalam semua urusan. ubah karena najis itu. Kondisi ini sama se-
perti apabila ada air sedikit bersentuhan
Menurut pendapat yangazhhar di kalang-
an ulama madzhab Syafi'i,aaa ghusalah yang dengan tempat yang terkena najis dan ia tidak
mampu membersihkannya, maka ia dihukumi
sedikit dihukumi bersih apabila berpisah dari mutanajjis, sama seperti apabila air itu yang
tempat yang dibasuh dalam keadaan tidak didatangi najis.

berubah. Dan tempat yang dibasuh itu juga Namun apabila air itu berpisah dalam
telah menjadi bersih, karena air yang masih keadaan tidak berubah dari basuhan yang
ada di tempat yang dibasuh adalah sebagian
yang tertinggal. Tetapi jika ghusalah yang telah membersihkan tempat berkenaan, maka
berpisah dari tempat yang dibasuh itu ter-
kena najis, maka sudah tentu tempat yang jika tempat yang hendak dibasuh itu adalah
telah dibasuh itu turut terkena najis. Adapun tanah, ia dihukumi suci. Karena, tanah yang

ghusalah yang banyak, maka ia dihukumi telah dikencingi oleh orang Arab pada masa
bersih selagi ia tidak berubah meskipun Rasul dapat dibersihkan dengan curahan se-

tempat yang dibasuh belum bersih. Artinya, timba air ke atasnya berdasarkan kepada

ghusalah yang sedikityang sudah terpisah dari perintah Nabi Muhammad saw..
tempat yang dibasuh dihukumi bersih, tetapi
fika tempat itu bukan tanah, maka ter-
tidak menyucikan apabila tidak berubah
dapat dua pendapat mengenai masalah ini.
rasa, warna, ataupun baunya, di samping tidak Menurut pendapat yang ashah, ia dihukumi
bersih.
bertambah beratnya sesudah dikira kadar
C. ISTINJA'
air yang diserap oleh baju dan kadar kotoran
7. PENGERT'AN'ST'NTA' DAN
yang keluar dari kain itu, dan juga tempat
PERBEDAANNYA DENGAN ISTIBRA' SERTA
yang dibasuh sudah menjadi bersih. Namun ISTIIMAR

sekiranya ia berubah, bertambah beratnya, Perkataan istinja' menurut bahasa ada-
lah perbuatan yang dilakukan untuk meng-
belum bersih tempat yang dibasuh, maka ia hilangkan najis, yaitu tahi. Adapun menurut
dihukumi mutanajjis sama seperti hukum istilah syara' istinja' adalah perbuatan yang
tempat yang dibasuh. Dengan ini, maka jelas dilakukan untuk menghilangkan najis dengan

bahwa hukum ghusalah adalah sama seperti
hukum tempat yang dibasuh secara mutlak.
Oleh sebab itu, apabila tempat yang dibasuh

itu dihukumi bersih, maka ghusalah juga

aa3 Asy-Syorhush Shaghir,Jilid I, hlm. 82; al-Qawanin at-Fiqhlryah,hlm. 35.
aaa Mughnil Muhtaj,lilid,I, hlm. 85; Syarh al-Hadhramgryah,hlm. 23dan hlm. selanjutnya.
aas Al-Mughni,Jilid l, hlm..sS, filid 11, hlm.98.

FrqLH IsrAM )rLrD 1 yang biasanya digunakan untuk duduk dengan
menggunakan batu ataupun dengan jari ketika
menggunakan benda seperti air atau batu. ber - istinj a' dengan air.aa6
ladi, istinja' berarti'menggunakan batu atau
Semua cara ini adalah untuk membersih-
air. kan najis, dan seseorang tidak boleh meng-
Istinja'dapat diartikan juga sebagai tin- ambil wudhu melainkan sesudah dia yakin
bahwa sisa air kencingnya sudah tidak ada
dakan menghilangkan najis yang kotor meski-
pun najis tersebut jarang keluar seperti da- lagi.
rah, air madzi, dan air wadi. Pembersihan itu
juga bukan dilakukan begitu saja, melainkan 2 HUKUM tSTtNlA" 1STuMAR, DAN ISTIBRA',
dilakukan ketika ada keperluan saja, yaitu de-
ngan menggunakan air ataupun batu. Menurut ulama madzhab Hanafi,aaT istinia'
adalah sunnah mu'akkad bagi lelaki dan pe-
Istinja' juga dapat diartikan perbuatan rempuan dalam kondisi normal, selagi najis itu
membersihkan najis yang keluar dari qu- tidak melampaui tempat keluarnya. Karena,
bul ataupun dubur. Oleh sebab itu, ia bukan- Nabi Muhammad saw. melakukan cara itu dan
lah untuk menghilangkan najis akibat angin juga karena beliau bersabda,
(kentut), karena bangun tidur, atau karena
berbekam. Benda yang digunakan untuk ,puU' FI -tiiC./ / , O q c 2/ o- r1i .z o2cr jU,e

istinjo' ataupun istithabah adalah air atau- J* -r,e*:tt

pun bahan lain yang dapat digunakan untuk cr )\' \
menghilangkan najis.
"Siapa yang beristijmar hendaklah dilaku-
Adapun istijmar adalah membersihkan
kan dengan bilangan yang ganiil. Siapa yang
najis dengan menggunakan batu dan yang se-
melakukannyo, maka adalah lebih baik. Dan
macamnya. Perkataan istijmar berasal dari
kata al-jamarat yangberarti'bebatuan.' siapa yang tidak melakukannya, moka tidaklah

Sedangkan istibra' adalah membersihkan berdoso.'aag
dari sesuatu yang keluar baik dari kemaluan
depan ataupun belakang. Sehingga, i4 yakin fika najis itu melampaui saluran keluar-
bahwa sisa-sisa yang keluar itu sudah hilang. nya meskipun sebesar uang koin dirham,
Ia dapat diartikan juga sebagai membersihkan
tempat keluar najis dari sisa-sisa percikan air maka wajib membersihkannya dengan air.

kencing. fika limpahan itu sampai melebihi kadar

Istinzah adalah menjauhkan diri dari ko- koin dirham, maka wajib dibasuh dengan air
toran, dan ia mempunyai arti yang sama de-
ataupun benda cair lainnya.
nganistibra'.
Istinqa' adalah membersihkan, yaitu de- fumhur ulama selain ulama madzhab

ngan cara menekan bagian belakang tubuh Hanafiaae berkata, bahwa ber-istinia' ataupun

Ad-Durrul Mukhtar wa Raddul Mukhtar,lilid,l, hlm. 310, 319; Muraqi al-Falah, hlm. 7; Kasysyaful Qina', Iilid I, hlm. 62; asy-Syarhush
Shaghir,lilid I, hlm.87,93,96, 100; Mughnil Muhtaj, filid I, hlm.42 dan seterusnya.
447 Fathul Qadir, Jilid I, hlm. !48; Tabyinul Haqa'iq, Jilid I, hlm. 76; al-Lubab, Jilid I, hlm. 57; ad'Durrul Mukhtar Jilid I, hlm. 310, 313;
Muraqi al-Falah, hlm. 7.

Diriwayatkan oleh Abu Dawud, Ibnu Maiah, Ahmad, al-Baihaqi, dan lbnu Hibban dari Abu Hurairah (Nashbur Rayah, Jilid I, hlm.

2t7).
Ary-Syarhush Shaghir,lilid 1,h\m94,96, al-Qawanin al-Fiqhfuah,hlm.37; asy-Syarhul Kabir, Jilid I, hlm. 109 dan seterusnya; Mugh-
nit Muhtaj,lilid I, hlm. 43,46; al-Muhadzdzab, filid I, hlm. 28; al-Mughni.lil l, hlm. 149 dan seterusnya; Rasyslaful Qina', Jilid I, hlm.

Baglan 1: IBADAH FIQTH ISLAM JITID 1

ber-istijmar atas sesuatu yang keluar dari angin dari duburnya.lni disetujui oleh seluruh
dua kemaluan seperti air kencing, air madzi, ulama berdasarkan sabda Rasulullah saw.,
ataupun tahi adalah wajib. Hal ini berdasar-
"Siopa yang beristinja' karena kenfut, ma-
kan firman Allah SWT, ka dia bukanlah termasuk golongan kami."4s7

"Dan segala kotoran hendaklah engkau Ketika menafsiri surah al-Maa'idah ayat
jauhi." (al-Muddatstsir: 5) 6,Zaid bin Aslam berkata,

Perintah dalam ayat ini adalah umum me- 'Apabila kamu hendak melaksanakan
liputi setiap tempat, baik pada pakaian atau-
pun badan. Lagipula, ber-istinja' dengan air shalat (padahal kamu berhadats kecil), maka
merupakan cara yang mendasar dalam meng-
hilangkan najis. fuga, berdasarkan sabda Ra- (berwudhulah) yaitu basuhlah wajohmu...."
sulullah saw.,
(al-Maa'idah:6)
ii'*;dir J;U.1t a -t,t-1 .J; t;1
Ayat ini hanya menyuruh membasuh
Jl ,,5r-l
*ur ke,i'o. I o ) ?*x- j;;1 muka. Ini membuktikan bahwa selain muka
tidaklah wajib. Lagipula, istinja' disyariatkan
"Jika salah seorang di antara kamu hen- dengan tujuan membersihkan najis, padahal
dak pergi ke tempat buang air besar, hen- ketika kentut tidak ada najis. Menurut pen-
daklah membawa tiga batu. Karene, sesung- dapat azhar dari kalangan ulama madzhab
guhnya batu itu sudah cukup untuk mem-
Syafi'i, rsfinTa' tidak disyariatkan karena
bersihkannya."aso
keluar ulat dan juga tahi keras yang tidak
fuga, berdasarkan sabda Rasul, mengotori bagian dubur; karena tidak terda-
pat najis. Namun menurut pendapat ulama
"Hendaknya seseorang di antara kamu
madzhab Syafi'i dan Hambali, dalam keadaan
tidak beristinjo' dengan bilangan batu yang
kurang dari tiga." (HR Muslim) seperti itu istinja' tetap disunnahkan. Me-
nurut ulama madzhab Hanafi dan Maliki,
Dalam lafaz lain, Imam Muslim menya-
takan, "Sesungguhnya kami dilarang ber- istinja'diwajibkan jika memang ulat dan tahi
istinja'dengan bilangan yang kurang dari tiga yang keras itu keluar selepas membuang air
besar dan sebelum beristinja'.
batu."
Istibra'boleh dilakukan baik dengan ber-
Kesemuanya ini adalah perintah, dan se- jalan, berdehem, ataupun memiringkan ba-
tiap perintah menunjukkan kewajiban. dan ke sebelah kiri ataupun dengan cara lain-
nya, seperti mengangkat dan menghentakkan
Istinjo'tidak diwajibkan kepada siapa saja kakinya. Yang dimaksud dengan istibra'adalah
yang bangun dari tidur ataupun yang keluar membersihkan bagian zakar yang menjadi
tempat keluar air kencing, dengan cara me-
ngurut batang zakarnya dengan tangan kiri,

Riwayat Abu Dawud, diriwayatkan iuga oleh asy-Syafi'i dan al-Baihaqi, "Hendaklah kamu ber-istinla'dengan tiga batu." Diriwayat-
kan oleh Ahmad, an-Nasa'i, Abu Dawud, ad-Daruquthni dan dia berkata bahwa isnad hadits ini hasan shahih dari Aisyah,"Jika salah

seorang di antara kamu pergi ke tempatbuang air besar, maka pergilah dengan membawo tiga batu. Karena, sesungguhnya batu itu

cukup untuk membersihkannyai' (Nashbur Rayah, filid I, hlm. 2L4; Nailul Authaa Jilid I, hlm.90)
451 Riwayat ath-Thabrani dalam aI- Mu'jamush Shaghir.

ISLIA.M IITID 1

dimulai dari bibir duburnya hingga ke kepala tertinggal pada saluran air kencing, sehingga
zakar sebanyak tiga kali, agar tidak ada lagi dikhawatirkan akan keluar. Ada orang yang
sisa basah air kencing di tempat itu. Boleh cukup dengan sekali urutan saja dan ada juga
juga dilakukan dengan meletakkan jari ten- yang memerlukan berulang-ulang urutan. Ada
orang yang perlu berdehem dan ada orang
gah tangan kirinya di bawah zakarnya dan yang tidak perlu melakukan apa-apa.

ibu jarinya di bagian atas zakarnya, kemudian Menyumbat lubang kencing zakar dengan
mengurutnya turun ke arah kepala zakarl dan sesuatu seperti kapas adalah makruh. Makruh
disunnahkan juga menariknya dengan per- juga duduk berlama-lama dalam WC, karena
lahan sebanyak tiga kali agar keluar sisa air dapat menyebabkan sakit limpa atau hati.
kencingnya, jika ada.
Dalil yang menunjukan bahwa istibra'
Menurut ulama madzhab Maliki, Hambali, dituntut adalah hadits riwayat Ibnu Abbas,

dan juga Syafi'I, istibra'itu dilakukan dengan bahwa Nabi Muhammad saw. melintasi bagian
cara menarik dan mengurut zakar dengan yang dekat dengan dua buah kubur, lalu beliau
perlahan-lahan sebanyak tiga kali. Yaitu, de- bersabda,
ngan meletakkan jari telunjuk tangan kirinya
di bawah pangkal zakarnya, sedangkan ibu ;v;Li ei J-. (,p) ou.A ct oqU vit
jarinya di atas zakar, kemudian mengurutnya
dengan perlahan-lahan hingga keluarlah sisa o*,l ;.'tt t:i') )?t e 'r:;'t otE*
air kencing yang masih ada. Ketika menarik
dan mengurut zakar, disunnahkan dengan a^*)U.,r#
cara perlahan, sehingga yakin bahwa tempat
itu sudah bersih dari air kencing. fanganlah "Kedua-dua orang yang berada dalam
seseorang mengikut perasaan ragu-ragu
(wahm), karena sikap itu dapat menyebabkan kubur ini sedang diazab, tetapi bukan diazab
timbulnya penyakit waswas yang merusak korena melakukan dosa besar. Salah seorang
di antara keduanya (diazab karena) apabila
keberagamaan.asz kencing tidak melakukan istibra' dan yang
lainnya karena sering mengadu domba."4s3
Imam Ahmad meriwayatkan sebuah ha-
Adapun dalil bagi ulama yang mengata-
dits, kan bahwa istibra'adalah sunnah bukannya
waiib adalah sabda Rasulullah saw.,
"Apabilo seseorang di antara kamu ken-

cing, maka hendaklah ia menarik zakarnya

sebanyak tiga kali."

Adapun cara istibra'bagi perempuan ada- +ti u t*7J;l,c,A,--1t,.'o/ t ,e./
lah dengan menekan bagian ari-ari kemalu-
annya dengan ujung jari tangan kirinya. ^u Jli

Pada umumnya, istibro' itu mempunyai "r"rrrAon dari air Xrnring, korrno orob

cara yang berlainan menurut keadaan masing- kubur pada umumnya disebabkan darinyo."
masing. Tujuannya adalah agar seseorang itu
Yang dimaksud dengan berhentinya air
yakin bahwa tidak ada lagi air kencing yang
kencing adalah ketika ia tidak akan keluar

a52 Ol"h sebab itu orang yang bijak berkata, waswas disebabkan rusaknya akal atau ragu dalam masalah agama

FIqLH ISI,A,M IILID 1

lagi. Adapun maksud hadits di atas adalah @ i'ru"6<r;.43rr*

berkenaan dengan orang yang tidak melaku- "... Di dalamnya ada orang-orong yang
kan istibra', padahal biasanya kalau dia tidak
istibra' maka air kencingnya akan keluar lagi. ing in membersihkan diri...." (at-Taubah: 108)

3. ALAT-A|AT, SIFAT, DAN CARA BER-tSTlNlA', Rasulullah saw. bersabda,

Istinja' hendaklah dilakukan dengan meng- 'zf ct -\. 6 'rt"*
,L"r!fc/l J,,rr gxJe ell. o,/'o/ot'l U-
gunakan air, batu, atau yang semacamnya, dl
yaitu benda-benda yang keras, suci, dan
mampu menghilangkan kotoran, dan juga ;)d,! t;'; uti i:r+ t-; ,fil
barang tersebut bukanlah barang yang ber- i ie o. o., .c ;, .::.
harga fterhormat) menurut syara'. Di antara teu,q*:
alat yang bisa dugunakan untuk ber-istinja' z".LtAl ,f1L.1P.).
adalah kertas, potongan kain, kayu, dan kulit t
,K;rli :Jr;
kayu. Dengan menggunakan alat-alat ini, maka 0

tuiuan istinja' akan tercapai sama seperti "Wahai kaum Anshar! Sesungguhnya Allah

ketika menggunakan batu. SWT telah memuji kalian berkaitan dengan

Cara yang paling baik adalah dengan masalah bersuci. Apakah [jenis-jenis) bersuci
menggunakan bahan yang keras dan juga yong telah kamu lakukanT'Mereka menjawab,
air sekaligus. Yaitu, dengan mendahulukan
"Kami berwudhu untuk shalat, mandi karena
menggunakan kertas dan yang semacamnya,
jinabah, dan ber-rstinja' dengan air." Rasul
kemudian diikuti dengan menggunakan air,
karena benda najis itu akan hilang dengan berkata, " Pahalanya adalah untuk kalian, maka

kertas ataupun batu, dan bekasnya akan hi- hendaklah kalian mengamalkannya."ass

lang dengan menggunakan air.asa Syarat ber-istinja' dengan batu ataupun

Menggunakan air saia adalah lebih baik kertas dan yang seumpamanya adalah sebagai
daripada menggunakan batu saja atau yang
seumpamanya. Karena, air mampu menghi- berikut.as6

langkan zat najis dan juga bekasnya. Berbeda L. Hendaklah najis yang keluar itu belum
dengan batu, benda kertas, dan yang seumpa-
kering. )ika ia sudah kering, maka wajib
manya. menggunakan air ketika membersihkan-
Diriwayatkan dari sahabatAnas bin Malik,
nya.
bahwa ketika ayat ke-108 surah at:Taubah
2. fangan sampai najis itu berpindah tempat
turun, yaitu,
dari tempat keluarnya dan melekat pada
tempat yang lain itu. Dan jangan sampai

Al-Lubab.Jilid I, hlm. 57 dan sesudahnya; Muraqi al-Falah, hlm. 7; al-Qawanin alFiqhiyuyh. hlm. 36 - 37 , asy-Syarhush Shaghir,lilid
I, hlm.92, L00, Mughnil Muhtaj,lilid 1, hlm. 13: al-Mughni, |ilid I, hlm. 151 dan seterusnya; Kasysyaful Qina', Jilid l, hlm. 72,75; al-
Muhadzdab, f ilid I, hlm. 27 dan seterusnya.
Riwayat lbnu Majah, al-Hakim, dan al-Baihaqi dan sanadnya hasan. Hadits ini didukung oleh kata-kata Ibnu Abbas, 'Ayat berikut ini
diturunkan kepada pendudlk,'Di dalamnya ada orang yang ingin membersihkan diri, dan Allah mengasihi orang yang menyucikan
dirinya!" Nabi Muhammad saw. bertanya kepada mereka tentang cara bersuci lalu mereka menjawab, "Kami menggunakan batu

dan disusuli dengan air." (N ashbur Rayah |ilid I, hlm. 218 dan seterusnya)
Mughnil Muhtaj. )ilid I. hlm. 44 dan seterusnya; al-Muhadzdzab, Jilid I, hlm. 28; Kasysyaful Qina'filid I, hlm. 72 dan seterusnya; al-
Mughn|lilid I, hlm. 152, 159 dan seterusnya; ad-Durrul Mukhtar,Jilid I, hlm. 311 dan seterusnya; asy-Syarhush Shaghir, Jilid l, hlm.
97 ,100; Bidayatul Mujtahid,lilid I, hlm. 83; alQawanin al-Fiqhiyyah,hlm.36; al-Lubab,lilid I, hlm. 58; Fathul Qadir,lilid I, hlm. 148;
Tabyinul Haqa'ig, Jilid I, hlm 77.

FIqLH FIqLH ISI.AM )ILID 1 kebanyakan orang, tetapi tidak sampai
lewati bagian pantatnya (yaitu pantat sel
dimu najis itu melewati tempat keluarnya. dalam yang terlindung ketika seseoran
zakat berdiri), dan juga tidak melewati bagiar
sisa fika ia melewati dan berada ditempat pala zakarnya (yaitu bagian ujung dari te
juga khitan atau kadar tempat tersebut ap
gah lain, maka untuk membersihkannya wa-
ibu j: memang zakarnya terpotongJ.
menl jib menggunakan air. Ini merupakan ke-
disur Menurut pendapat ulama madzhab
lahar sepakatan ulama. liki, seseorang tidak boleh ber-istijmar de
kenci menggunakan batu untuk membersihka
3. fanganlah najis itu bercampur dengan mani, air madzi, dan darah haid, melai
I ia wajib menggunakan air untuk menghi
dan j benda lain yang basah, baik benda itu na- kan air mani, darah haid, dan darah nifas
cara jis ataupun suci. fika ia bercampur dengan juga darah istihadhah jika memang istiha
perla benda lain yang kering, maka tidaklah tersebut tidak datang setiap hari, mesl
ngan hanya sekali. fika ia datang setiap hari, t
mengapa.
di b: ia dimaafkan sama seperti lelaki atau
4. Hendaklah najis yang keluar itu melewati
jarin' rempuan yang senantiasa keluar air ker
deng saluran yang biasa. Oleh sebab itu, peng- fika keadaannya demikian, maka tidak r

air k gunaan batu atau seumpamanya tidak menghilangkannya.
cukup apabila najis yang keluar itu tidak
dan melewati saluran biasa, seperti keluar Begitu juga menurut pendapat u
cara melewati jalur bekam, ataupun melewati madzhab Maliki, untuk menghilangkal
satu lubang yang terbuka di bawah usus kencing perempuan, baik perawan ata
itu s meskipun saluran yang asal tersumbat
secara kebetulan. fuga, tidak memadai janda, maka harus menggunakan air. Ka
sese( ber-istinja'dengan kertas dan yang se- ia sering melewati tempat keluarnya hing
{wah umpamanya untuk menyucikan air ken- bagian anggota yang biasanya digunakar
cing seorang khunsa musykil, meskipun tuk duduk.
timb yang keluar itu melewati salah satu dari
kebe Apakah Tigp Buah Merupakan Syarat bi
dua kemaluannya. Karena, kemungkinan lstlnja'dengan Batu?
I ia adalah kemaluan yang lebih. Begitu juga
kertas tidak memadai untuk menyucikan Ulama madzhab Hanafi dan Maliki
dits, air kencing yang keluar dari zakar yang kata, "Sunnah menggunakan tiga batu, t
tidaklah wajib. Dan apabila menggunaka
crng, tertutup kulup apabila air kencingnya rang dari tiga, maka sudah cukup, jika bil;
sebat itu memang sudah dapat membersihkan
telah mengenai kulit kulupnya.
I Maksud bersih di sini adalah hilangny
Menurut pendapat ulama selain ulama najis dan juga basahnya najis, hingga
lah c madzhab Maliki, menggunakan kertas dan
yang seumpamanya untuk mengusap darah yang telah digunakan itu tidak terdapat I
anny haid ataupun nifas adalah mencukupi. Begitu najis apapun lagi kecuali dalam kadar
paling minimal. Oleh sebab itu, apa yang'
I juga-menurut pendapat yang azhar di ka- menurut pendapat ulama madzhab It
dan sunnah menurut pendapat ulama n
cara langan ulama madzhab Syafi'i dan di kalangan
masi ulama madzhab Hambali dan Hanafi-sudah
yakir cukup apabila seseorang menggunakan batu

4"5r3aR untuk mengusap apa saja yang keluarnya
jarang seperti darah, wadi, dan juga madzi.
Ataupun, untuk membersihkan najis yang
sudah berceceran tidak seperti kebiasaan

hab Hanafi adalah bersihnya tempat istinja', Isr-A.M l[rD 1
bukannya jumlah batu yang digunakan. Ini
berdasarkan hadits Rasulullah saw. yang lalu, ';,*'slto- tl'. ,' o' t

"Siapa yang beristijmar, maka hendaklah "Apabila salah seorang di antara kamu ber-
ia mengganjilkan bilangannya. Siapa yang me- istijmar, maka beristijmarlah dengan bilangan
lakukan demikian, maka ituloh adalah baik, yang ganjil."
dan siapa yang tidak melakukannyo, maka
tidaklah berdosa." Hukum wajib yang ditunjukkan oleh ha-
dits ini telah dihapus oleh hadits lain riwayat
Ulama madzhab Syafi'i dan Hambali ber- Abu Dawud,

pendapat bahwa yang diwajibkan adalah 3;1 j; d-1 o.. o- t1'. ., c'or

bersihnya tempat istinja'dan juga sempurna- eU; ,P J-* ),e{dl
nya tiga buah batu, ataupun dengan tiga kali
usapan meskipun hanya dengan menggunakan C; )"1 d)O //
tiga sudut dari sebiji batu. fika tempat istinja'
belum juga bersih dengan menggunakan tiga "Barangsiapa beristijmar, hendaklah iq
buah batu, maka wajib dibersihkan dengan mengganjilkan bilangannya. Siapa yang me-
batu yang keempat dan seterusnya, hingga lakukan (demikian), maka itulah yang baik,
tidak bekas najisnya hilang kecuali yang me- dan siapa yang tidak (melakukan demikian),
mang hanya bisa dihilangkan dengan meng-
gunakan air ataupun batu yang kecil. Karena, maka tidaklah berdosq."

itulah (suci) yang menjadi tujuan istinja'. Adapun bilangan basuhan ketika ber-
Dalil mereka adalah beberapa hadits yang istinja' dengan air; maka menurut pendapat

telah lalu. Di antaranya adalah, yang ashah, adalah mengikut kepada perasa-

"Hendaklah kamu beristinja' dengan meng- an hingga hati merasa puas dan yakin bahwa
gunakan tiga buah betu."
tempat itu sudah bersih, ataupun dengan
fuga, hadits riwayat Muslim dari Salman,
munculnya dugaan kuat bahwa tempat itu
"Rasulullah saw. melarang kami beristinja' sudah bersih. Inilah pendapat yangashah dari
dengan bilangan botu yang kurang dari tiga Imam Ahmad. Abu Dawud berkata, "lmam
biji."
Ahmad ditanya tentang sejauh mana batasan
Dalam redaksi lain disebutkan, "dengan
ber-istinja' dengan air." Lalu dia menjawab,
tiga sudut dari sebuah betu."
"[Hingga) bersih."
Apabila seseorang menggunakan lebih
dari tiga buah batu, maka dia mengganjilkan Tidak ada riwayat dari Nabi Muhammad
bilangannya. Karena, berdasarkan riwayat saw. berkenaan dengan masalah ini yang me-
asy-Syaikhan dari Abu Hurairah, bahwa Nabi netapkan jumlah tertentu [ketika istinjo) dan

Muhammad saw. bersabda, Rasul juga tidak menyuruh menggunakan

jumlah tertentu. Ada iuga riwayat yang ber-
sumber dari Imam Ahmad bahwa dia ber-

pendapat, bilangannya adalah tujuh kqli

basuhan.asT Oleh sebab itu, yang diwajibkan
dalam istinja'adalah adanya zhan (dugaan
kuat) bahwa najis tersebut telah hilang. Dan

4s7 Muraqi al-Falah, hlm.8; at-Mughni,lilid ! hlm. 161 dan seterusnya; Mughnit Muhtaj,Jilid l, hlm.46.

FIqLH ISI."A,M TILID 1 Baglan 1: IBADAH

tidaklah mengapa menguji bau najis dengan keadaan tergantung karena-jika buah zakar
tangan, karena kewujudan bau najis itu me- tidak tergantung-dikhawatirkan ia akan ter-
nunjukkan bahwa najis itu masih ada di tem-
pat yang berkenaan. Oleh karena itu jika me- kena kotoran. Dan apabila zakar itu turun
mang masih ada bau, maka tangan tersebut
dihukumi terkena najis. (rapat), maka ketika menggunakan batu yang
ketiga hendaknya menggerakannya seperti
Cara Ber-lstinja' ketika menggerakkan batu yang kedua, yaitu
Hendaklah seseorang menuangkan air ke dari arah belakang ke depan.

atas tangan kirinya sebelum dia menyentuh Adapun perempuan hendaklah memulai-
nya dari arah depan ke arah belakang supaya
najis, kemudian dia membasuh qubulnya, yai- kelamin depannya tidak terkena najisase
tu saluran air kencing, dan membasuh seluruh
zakarnya apabila keluar air madzi. Kemudian Ulama madzhab Syafi'i45o berpendapat
bahwa meratakan setiap satu batu ke semua
barulah membasuh dubur diikuti dengan bagian tempat [keluar najis) adalah sunnah,
yaitu memulakan dengan batu yang pertama
mencurahkan air, dan menggosok dengan ta- dari bagian depan sebelah kanan dubur; ke-
mudian mendorongnya dengan perlahan me-
ngan kiri. Hendaklah dia membungkukkan ngelilingi dubur hingga kembali ke tempat
semula. Begitu juga dengan batu yang kedua,
badan sedikit kemudian menggosoknya (du- tetapi hendaklah memulakannya dari bagian
depan sebelah kiri. Sementara, batu ketiga di-
bur) dengan cermat sehingga tempat itu gunakan untuk membersihkan kedua belah
sisinya dan juga bagian keluarnya najis yang
menjadi bersih. Ber-istinja' dengan menggu- dinamai musrabah.

nakan tangan kanan tidak dianjurkan. Be- 4. HALJIAL YANC DISUNNAHKAN KETKA
gitu juga menyentuh zakar dengan tangan
TSTINIA'461
kanan.ass
Hal-hal yang disunnahkan ketika istinja'
Seseorang yang sedang berpuasa hendak-
lah tidak memasukkan jarinya ke dalam du- adalah:

burl karena tindakan itu dapat membatalkan a. Ketika ber-istinjo' hendaklah dengan

puasa. menggunakan batu ataupun kertas yang
lembut: tidak kasar seperti batu bata dan
Cara Ber-Istltmar tidak pula licin seperti batu akik. Karena,
Hendaklah batu pertama digunakan un- tujuannya adalah supaya dapat digunakan
untuk membersihkan najis. Bahan selain
tuk mengusap, dimula dari bagian depan ke batu yang dapat digunakan adalah setiap
bahan yang bersih yang dapat menghi-
arah bagian belakang, dan batu kedua diguna-

kan untuk bagian belakang ke arah bagian

depan. Kemudian batu yang ketiga digunakan
untuk mengusap seperti ketika menggunakan
batu yang pertama, yaitu dari arah depan ke
arah belakang, jika memang buah zakar dalam

asB Al-qawanin al-Fiqhiyyah,hlm. 36; Tabyinut Haqa'iq, Jilid l, hlm. 78.
45e Muraqi al-Faloh, hlm. 8.
a60
46r Mughnil Muhtaj,lilid I, hlm.45; al-Muhadzdzab, f ilid I, hlm. 27. Fath al-Qadir,lllid I, hlm. 150; Tabyin al-Haqa'iq, jilid l, hlm. 78;
Muraqi al-Falah, hlm. 7; ad-Durr al-Mukhtar,Jilid,l, hlm. 311 - 315;

al-Lubab,Jilid,l, hlm. 58; asy-Syarh ash-Shaghir,lilid I, hlm.96, 100 dan seterusnya; Bidayah al-Mujtahid,Jilid I, hlm. B0; al-Qawanin

al-Fiqhiyah,hlm.37; Mughni al-Muhtaj,lilid I, hlm.43,46; al-Muhadzdzab, Jilid I, hlm. 28; al-Mughni,lilid I, hlm. 154 - 158; Kasyqtaf

al-Qina',lilidl, hlm. 75 dan 77.
).,

J'rJ
t":.
[+J

mr"t

langkan najis dan tidak membahayakan' FrqlH lsrAM ]lLlD 1
Ia juga bukan termasuk benda yang ber-
apabila menggunakan tanah dan arang
harga dan bukan pula benda yang bernilai. yang keras, maka boleh. Begitu juga tidak
Oleh sebab itu, janganlah ber-isfirya'de- boleh dengan menggunakan bahan yang
bernilai, karena ia bernilai dari segi zatnya
ngan sesuatu yang kotor seperti arang, seperti emas, perak, dan batu permata,
sesuatu yang berbahaya seperti kaca, se- ataupun karena ia adalah hak milik orang
suatu yang benilai seperti sutra, dan lain- lain, seperti dinding rumah orang lain,
lain yang ada nilai dan harganya. Karena, meskipun dinding itu telah diwakafkan.
tindakan itu termasuk tindakan merusak
harta benda. Begitu juga, ianganlah ber- Ulama madzhab Maliki mengatakan

istinja' dengan menggunakan bahan yang bahwa makruh ber-istinia' dengan tulang
dan tahi binatang yang bersih, begitu juga
bernilai baik dari segi rasa, kemuliaannya, dengan menggunakan dinding miliknya
ataupun karena ia milik orang lain' sendiri.

Oleh sebab itu, menurut ulama madz' Kesimpulannya adalah, syarat bagi
pembolehan ber-rsfrTmar dengan meng-
hab Hanafi, ber-istinia' dengan meng-
gunakan batu dan yang seumpamanya ada
gunakan barang cair selain air seperti air
mawar dan cuka adalah boleh. Adapun lima perkara, yaitu menggunakan bahan
jumhur ulama selain ulama madzhab Ha- yang keras, bersih, dapat menghilangkan
najis, tidak menyakitkan, dan tidak berupa
nafi mensyaratkan istinia' itu dilakukan bahan yang mulia seperti makanan, bahan
terhormat, ataupun karena ia adalah milik
dengan menggunakan bahan keras yang orang lain. fika syarat-syarat tersebut ti-
kering, maka ber-tstinia' dengan meng- dak sempurna, maka tidak boleh meng-
gunakannya sebagai bahan istinia'. Dan
gunakan cairan tidak boleh. sudah dianggap memadai jika dia dapat
menyucikan tempat najis itu, dan mema-
Mereka bersePakat bahwa istinia'
dai juga bersuci dengan tangan tanpa
hendaklah dengan menggunakan bahan menggunakan tiga biji anak batu dan se-
suci yang mampu menghilangkan (najis). umpamanya (tapi tangannya dihukumi

Oleh sebab itu, tidak boleh (ataupun terkena najis).
Ulama madzhab Hanafi tidak mensya-
makruh tahrim menurut ulama madzhab
Hanafi) ber-istinia' dengan najis seperti ratkan bahan yang digunakan untuk ber-

dengan menggunakan tahi unta, tahi istinja' itu berupa sesuatu yang keras'

kambing, atau lain-lain. fuga tidak boleh Ulama madzhab Maliki dan Hanafi ber-
menggunakan tulang, makanan, ataupun kata, "fika seseorang ber-istiimar dengan
sesuatu yang tidak dibolehkan adalah
roti yang menjadi bahan makanan ma- memadai, tetapi makruh."

nusia ataupun binatang. Karena, ia diang- Ber-istinia' dengan menggunakan tahi
gap sebagai satu tindakan merusak dan binatang dan tulang dilarang sama sekali.
menghina. Begitu juga tidak boleh meng- Imam Muslim dan Ahmad meriwayatkan
gunakan sesuatu yang tidak dapat meng- dari Ibnu Mas'ud, bahwa Rasulullah saw.
hilangkan najis seperti kaca, bulu, tebu
yang licin, atau batu bata' fuga, tidak bo- bersabda,

leh dengan menggunakan bahan Yang '1. t;,

bercerai-berai seperti tanah ataupun ta-
nah liat dan arang yang lembut. Berbeda

FIQIH ISI"AM ,ILID 1 Bagan 1: IBADAH

6.t-Lit;b qy t4 gJ.H x Dan kalaupun benar, maka ia diandaikan
sebagai larangan terhadap arang yang
"Janganlah kamu beristinja' dengan sudah hancur."
2. Menggunakan tiga batu ataupun kertas
tahi binatang dan juga tulang, karena dan yang seumpamanya adalah sunnah
menurut pendapat ulama madzhab Hanafi
kedua-duanya adalah makanan bagi sau- dan Maliki, dan wajib menurut pendapat
dara-soudara kamu dari kalangan jin.'a62 ulama madzhab Syafi'i dan juga Hambali.
Oleh sebab itu, mereka berkata bahwa ada
Imam ad-Daruqutni telah meriwayat- dua perkara yang diwajibkan ketika ber-
kan bahwa, "Nabi Muhammad saw. me- istinja'dengan batu. Salah satunya adalah
memenuhi bilangan tiga kali usapan, mes-
larang kami ber-istinja' dengan meng- kipun hanya dengan menggunakan sudut-
gunakan tahi binatang dan juga tulang, sudut pada bagian batu yang satu. Hen-
daklah bilangan usapannya diganjilkan,
karena kedua-duanya merupakan bahan
yang tidak menyucikan."a63 yaitu apabila bilangannya sudah tiga

Imam Abu Dawud juga meriwayatkan kali, maka boleh sampai bilangan tujuh
dari Ibnu Mas'ud, bahwa Rasul bersabda
kepada Ruwaifa'bin Tsabit (Abu Bakrah), kali jika tempat yang di-istinTa' itu be-
lum suci dan bersih. Disunnahkan juga
"Beritahukan kepada orang-orqng,
siapa yang beristinja' dengan mengguna- menggunakan setiap batu ataupun yang
kan tahi ataupun tulang, moka ia terlepas
seumpamanya itu untuk membersihkan
dari agama Muhammad sew..'464
semua bagian tempat keluarnya najis.
Larangan ini adalah umum mencakup Dalil mereka adalah berdasarkan dua
bahan yang suci baik dari tulang ataupun
buah hadits, hadits pertama,
tahi. Apabila menggunakan makanan
jin dilarang, maka sudah barang tentu "Apabilo salah seorang di antara ka-

menggunakan makanan manusia lebih mu pergi ke tempat membuang najis, hen-
dilarang lagi. Tetapi, ulama madzhab daklah ia membawa tiga buah batu karena
Syafi'i membolehkan melakukan istinja' itu sudah mencukupi."
dengan menggunakan bahan makanan
Hadits kedua,
yang khusus untuk binatang seperti
"Siapo yong beristijmar, hendaklah ia
rumput. fumhur ulama mengatakan yang meng g anj ilkan bil a ng an usep anny e. "a6s
demikian itu tidak boleh.
3. |anganlah ber-istinja' dengan mengguna-
Imam an-Nawawi berkata, "Larangan
ber-istinja' dengan arang adalah dhaif.

462 Nashbur Rayah, f ilid I, hlm. 219; Nailul Authar, lilid l, hlm. 97.
463 lsnadnya shahih (Nailu//uthar,lilid I, hlm. 96).

464 Riwayat Ahmad, Muslim, dan Abu Dawud dari Jabi4 "Nabi Muhammad saw. melarang ber-rstinla'dengan tulang atau tahi binatang
kering." Diriwayatkan oleh ad-Daruquthni dari lbnu Mas'ud bahwa Rasulullah saw. pergi berhajat dan menyuruh lbnu Mas'ud

membawakan tiga batu, lalu Ibnu Mas'ud membawa dua batu dan satu tahi binatang kering. Nabi membuang tahi binatang itu dan
bersabda, "la adalah najis, bawakan kepadaku batu." Al-Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah kisah yang serupa, yaitu beliau
bersabda, " Bawakan kepadaku batu untuk mengusap (dalom beristinja'), jangan bowakan tulang dan tahi binatang yang kering."

(Nashbur Rayah, f ilid I, hlm. 2L6,2L9; Nailul Authar.lilid I, hlm. 96 - 97)
Hadits pertama diriwayatkan oleh Imam Ahmad, an-Nasa'i, Abu Dawud, ad-Daruquthni dan dia berkata, "Hadits ini isnadnya hasan
shahih," juga diriwayatkan oleh Ibnu Maiah dari Aisyah. Hadits kedua diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Dawud, dan lbnu Maiah dari

Abu Hurairah (Nailul Authar, f ilid l, hIm.90,95).

.: +3

Baglan 1: IBADAH FIqLH ISI.A.M )ILID 1

kan tangan kanan, kecuali dalam keadaan ia tidak dapat berlindung kecuali dengan
uzur. Karena, Rasul saw. bersabda, menghimpun sekumpulan pasir, maka

titi y:;;i ,,,*r)' i"i i';'!t hen d aklah ia memb elakang iny a."

* J;syjy,#.ll.*:' lt;l Hendaklah dilakukan di suatu tempat
116d;A
yang jauh dari keramaian seperti di bagian
"Apabila salah seorang di antara kamu
padang pasir dan seumpamanya, Yang
kencing, maka ianganlah ia menyentuh mana bagian itu tidak didengar bunyinya

zakarnya dengan tangan kanannya. Dan dan tidak tercium baunya.
apabiia ia memasuki kamor mandi, maka
janganlah ia mengusap (naiisnya) dengan 5. Orang yang ber-rstinja' dengan air hendak-
tangan kanannya. Apabila ia minum, maka
janganlah ia minum dengan sekali nopas lah menggosok tangannya dengan tanah,
kemudian membasuhnya selepas ber-
saje.'466
istinja' baik menggosoknya itu dengan
Dengan demikian, maka ber-istinia'
dengan tangan kiri adalah sunnah. tanah ataupun sabun, garam halus dan

4. Bersembunyi dan tidak membuka aurat yang seumpamanya.

di hadapan pandangan orang lain adalah 6. Mengeringkan bagian dubur sebelum ber-
wajib ketika ber-isfinia' dan juga ketika
membuang air. Sebab, membuka aurat diri jika dia sedang berpuasa, agar tem-
adalah haram dan dapat menyebabkan pat duduk (bagian dubur itu) itu tidak

fasiq. Maka, janganlah sampai dilakukan menghisap air yang ada.
untuk tujuan menegakkan sunnah. Hen-
7. Lelaki hendaklah memulai istinia' pada
daklah tempat keluar naiis-yang ada di
balik pakaian-itu diusap dengan batu kemaluan depan terlebih dahulu agar ta-
atau yang semacamnya. Namun jika ngannya tidak menjadi kotor apabila dia
tempat keluar najis itu dibiarkan tanpa memulai istinja' pada kemaluan belakang
diusap, maka shalat orang tersebut sah. [dubur). Adapun bagi perempuan, diberi
Karena, apa yang masih terdapat pada pilihan untuk memulakan istinia'-nya pa-
tempat keluar itu tidaklah dianggap. Dalil da salah satu di antara kedua kemaluan-
nya. Menurut pendapat ulama madzhab
yang menunjukkan wajib berlindung Syafi'i dan Hambali, seseorang disunnah-

adalah beberapa buah hadits yang di- kan mencurahkan air ke kemaluannya
riwayatkan oleh Imam Abu Dawud dan
dan iuga kain yang dipakainya agar hilang
Ibnu Majah, di antaranya adalah, perasaan waswas pada dirinya.

"Siapa yang pergi ke tempat menunai' 5. ADAB MEMBUANG A'R

kan hojat, hendoklah ia berlindung. Jika Orang yang membuang air disunnahkan

melakukan perkara-perkara berikut.a6T

l. Tidak membawa sesuatu yang bertuliskan

asma Allah SWT, juga nama-nama Yang
dimuliakan seperti nama malaikat, Al-
'Aziz, Al-Karim, Muhammad, dan Ahmad.

466 Riwayat Imam Hadits yang enam dari Abu Qatadah (Nashbur Rayah, lilid I, hlm. 220).
467 Ad-Durrul Mukhtar,lilid t, hlm. 316 - 318; asy-syarhush Shaghir, Jilid l, hlm. a7 - 94; Mughnil Muhtai,lilid I, hlm. 39 - 43; al-Mu'
' 75.hadzdzab,lllid I, hlm.25; al-Mughni,Jilidl, hlm- 162 168l, I@svsvaful Qina', lilid I; hlm. 62 -
..,.+:
l: . ,+:, :,.:i : :; .-..<::."1:=.: l::=::. a:=ii==: :- -,:..:::,::.:lUj.:::.-.:==::.l .::-.i :..:.:.=.:=i::.,:,:-.-... ,,: :=.:i:S:.:,n:r. :t=*:!* ;:-:ll;:;

.::::: -:

f relH IsLq.M f rLrD 1 Hal ini perlu dilakukan karena meng- "rr,Ji
ikuti sebuah haditsyangdiriwayatkan oleh
Hal ini berdasarkan hadits riwayat Anas i
r.a., bahwa Nabi Muhammad saw. apa- asy-Syaikhan dalam bab "as-Sunnah,"
bila memasuki kamar mandi, beliau me- i
lepas cincinnyaa6s yang terdapat tulisan "Untuk melindungi aurat manusia
Muhammad Rasulullah. Namun jika sese- dari mata-mata jin adalah apabila salah 1
orang membawa masuk benda seperti itu
ke dalam kamar mandi dengan maksud seorang di antara kamu memasuki kamar l
untuk menjaganya dari terjatuh, maka
mandi, maka hendaklah dia membaca,
tidaklah dilarang. 'Bismilloh,' karena kamor mandi itu me-

2. Hendaklah memakai sandal, menutup ke- nunggui seseorang dengan penyakit. Moka
pala, membawa batu, ataupun menyiap- apabila dia datang ke kamar mandi, hen-
kan bahan lainnya untuk menghilangkan daklah ia membaca doa,
najis seperti air atau yang semacamnya.
ut4t)*=Jr ; :t'u ir;i
3. Hendaklah melangkah dengan kaki kiri
terlebih dahulu ketika memasuki kamar Dan ketika keluar hendaklah membaca
mandi. Dan apabila melangkah keluar;
hendaknya memulai dengan kaki kanan. doa,
Karena apa saja yang dilakukan untuk
tujuan kemuliaan, hendaklah dimulai de- t +t, sl' I'1o dz -.oi'\ t c/ .. e ,

ngan anggota kanan. Tetapi jika untuk hal- csiYr -ui.Jt ,Lvt'F
hal yang menjijikkan, hendaklah dimulai
€lGt
dengan menggunakan anggota kiri. Ini
Amalan ini disunnahkan, karena untuk
disebabkan karena anggota kanan cocok mengikuti sunnah Rasulullah saw.. Hadits
untuk sesuatu yang dimuliakan dan ang- ini juga diriwayatkan oleh an-Nasa'i.

gota kiri tepat untuk sesuatu yang kotor. 4. Hendaklah dia bertumpu di atas kakinya

Oleh sebab itu, apabila keluar atau masuk yang kiri ketika duduk, karena cara ini
masjid dan rumah, maka yang hendaknya
dilakukan adalah sebaliknya ketika ma- dapat memudahkan keluarnya najis. fuga,
suk atau keluar kamar mandi. karena terdapat sebuah hadits riwayat
ath-Thabrani dari Suraqah bin Malik yang
Ketika seseorang hendak masuk ka-
mar mandi, hendaknya ia membaca doa, menyebutkan,

$' i+i;t Ar*r' e,1' "Kami disuruh oleh Rasulullah saw.
to bertumpu di atas kaki kiri dan menegak-
.5t4lJ
kan kaki yang kanan."
"Dengan menyebut asma Allah. Yo
Begitu juga, hendaklah seseorang me-
Allah, aku berlindung kepadamu dari setan renggangkan jarak di antara dua kakinya,
lelaki dan setan perempuan." tidak bercakap-cakap kecuali karena da-
rurat, dan jangan berlama-lama melebihi

Riwayat Ibnu Maiah, Abu Dawud, dan dia mengatakan bahwa hadits ini munkal diriwayatkan oleh an-Nasa'i, at-Tirmidzi dan dia
menganggap shahlh fNailul Authar,lilid I, hlm. 73).

FIQIH ISLAM JITID 1

kadar yang diperlukan karena perbuatan "Apabila seseorqng itu kencing, hen-
daklah ia berlindung (menjaga) diri dari
itu akan menyebabkan timbulnya penya-
air kencingnya."
kit bawasir ataupun jantung berdarah dan
5. Janganlah kencing melawan arah tiupan
seumpamanya.
angin, agar najis itu tidak kembali kepada-
Dia juga disunnahkan untuk tidak nya. f angan pula kencing ke dalam air yang
mengangkat pakaiannya, kecuali jika pa-
kaian itu menyentuh tanah. Karena, cara tidak mengalir atau air yang mengali4,
seperti itu lebih menjamin bagi tertutup
auratnya. Ini juga berdasarkan sebuah tetapi sedikit, ataupun yang mengalir itu
hadits riwayat Abu Dawud dari Nabi banyak menurut pendapat ulama madz-
hab Hanafi. Karena, ada larangan dalam
Muhammad saw., sebuah hadits riwayat al-Bukhari dan

'Apabila Rasulullah ingin membuang Muslim.aTo
air; beliau tidak mengangkat pakaiannya
fanganlah juga kencing di tanah-tanah
kecuali apabila ia menyentuh tanah."
pekuburan untuk menghormatinya. Be-
Bagi orang yang membuang air kecil,
disunnahkan duduk supaya air kencing- gitu juga jangan kencing di jalan-jalan dan
nya tidak memercik kembali ke arahnya. tempat orang berkumpul untuk bercakap-
Kencing sambil berdiri adalah makruh cakap, karena Nabi Muhammad saw. ber-

kecuali jika ada uzur. Ibnu Mas'ud berkata, sabda,
"Dianggap sebagai tindakan yang kurang
sopan jika kamu kencing sambil berdiri." g /2 'o /o ,A
Aisyah berkata, "Siapa yang menceritakan
kepadamu bahwa Rasulullah saw. ken- abujr
cing sambil berdiri, maka janganlah kamu )t;t e#t2 t-ral
memercayainya. Sebenarnya, beliau tidak
pernah kencing kecuali sambil duduk.D46e ,-rt'rJt rFI
4
Diriwayatkan dari sekumpulan para
sahabat: Uma[ Ali, dan lainnya, tentang P" e..Pt*ft

hukum rukhshah kencing sambil berdiri. "Takutilah tiga tempot yang dikutuk;
membuang air besor di tempat laluan air,
Seseorang juga disunnahkan kencing di tengah-tengah jalan raya, dan di bawah
di tempat yang tanahnya lembut, agar bayang-bayang atau tempat orang berte-
percikan air kencingnya itu tidak me-
duh."471.
ngenai badannya. Diriwayatkan dari Abu
Musa oleh Imam Ahmad dan Abu Dawud, Kencing ke dalam tanah yang merekah
ataupun lubang juga dilarang, karena Nabi

Muhammad saw. melarang seseorang
kencing ke dalam lubang yang menjadi

tempat tinggal binatang.aT2

469 At-Tirmidzi berkata inilah hadits yang paling shahih mengenai buang air kecil. Diriwayatkan oleh kumpulan lima Imam kecuali Abu

Dawud (Nai/ul / utha n lilid I, hlm. 88).
470 Nash haditsnya, "Jangan kencing di dalam air yang tenang, kemudian mandi di situ."
a71 Diriwayatkan oleh Abu Dawud dengan isnad yang iayyid dari Mu'adz. Diriwayatkan iuga oleh Imam Muslim, Ahmad, dan Abu

Dawud dari Abu Hurairah, "Takutlah kepada yang dilaknati!'Para sahabat bertanya, "Siapakah yang dilaknati, wahai Rasulullah?"

Rasul menjawab, "Mereka yang membuang air besar di tengah jalan atau di bowah pohon tempat orang berteduh!' Dalam hal ini,

membuang air kecil diqiyaskan dengan membuang air besar.
472 RiwayatAbu Dawud dari AMutlah bin Sariis [NailulAuthar,lilid I, hlm. B4).

: rirr ; 'i"g:B-i-E;-..'. ":={ .. E\. i

1,-i

FIQLH ISTAM Hal ini jika memang tidak ada saluran

fanganlah kencing di bawah pohon yang membolehkan air kencing dan air

yang sedang berbuah, agar buahnya tidak lainnya keluar dari tempat itu.
terjatuh ke atas air kencing itu. Kencing ke
dalam air yang sedikit, menurut pendapat 6. Menurut pendapat ulama madzhab Ha-
ulama madzhab Hanafi, adalah haram.
Kencing ke dalam air yang banyak adalah nafi, menghadap kiblat ataupun membe-
makruh tahrim. Kencing ke dalam air yang lakanginya dengan kemaluan ketika mem-
mengalir adalah makruh tanzih, karena buang air meskipun dilakukan di dalam
bangunan, adalah makruh tahrim, karena
air itu akan menjadi mutanajjrs. Ulama Nabi Muhammad saw. bersabda,

madzhab Syafi'i berkata, tidak boleh ken- \i'iet t;;* x ault gi ri1
cing di bawah pohon meskipun ketika ia
belum berbuah. Karena, dikhawatirkan ti"; )i ti" 6:6:)1*
buahnya akan menjadi kotor ketika jatuh
di, m'aopkaabjialangkaan^la,h^ik^armruu'kmi eknqgmhaadr'ampakne-
yang dapat menyebabkan orang me-
arah kiblat atau mernbelakanginya ketika
rasa jijik untuk mengambilnya. Tetapi
membuang air kecil atau besar. Tetapi,
mereka tidak mengharamkannya, karena
kotoran yang mungkin terjadi tidaklah hendaklah kamu menghadap ke arah timur
meyakinkan. Ulama madzhab Hambali ataupun barat.'a1s
membolehkan kencing sewaktu pohon
tidak berbuah, karena yang disukai Nabi fumhur ulama selain ulama madzhab
Muhammad saw. untuk berlindung ketika Hanafi berpendapat bahwa tindakan yang
beliau menunaikan hajatnya adalah rum- demikian itu tidak makruh jika terjadi di
pun pohon tamar.a73 tempat yang memang disediakan untuk
membuang air. Karena, terdapat sebuah
Ber-istinja'dengan air di tempat me- hadits riwayat fabi4,
nunaikan hajat adalah makruh. Hendak-
Iah orang itu berpindah ke tempat lain "Nabi Muhammad saw. melarang kami
supaya percikannya tidak akan menge-
nainya, yang sudah barang tentu akan menghadap ke arah kiblat ketika mem-
buang air kecil, tetapi saya melihatnya
menyebabkan najis. Kencing di tempat
menghadap ke arahnya setahun sebelum
mandi juga makruh karena sabda Nabi beliau vvafa1"a76
Muhammad saw.,
Apa yang dilihat oleh fabir itu dipa-
"Janganlah kamu kencing di tempat
hami bahwa Nabi Muhammad saw. me-
mondi kemudian mengambil wudhu di da- lakukannya di dalam bangunan ataupun
lamnya. Sesungguhnya perasaan waswas ketika beliau berlindung dengan sesuatu.
secora umumnya odalah disebabkan dari
hol ini."474

473 Riwayat Ahmad, Muslim, dan Ibnu Malah.
a7a Riwayat Abu Dawud dan lbnu Maiah dari Abdullah bin Mughaffal.
a7s Ri*ryat Ahmad dan asy-syaikhan dalam shahih mereka dari Abu Ayyub (Nailul Authar,Jilid I, hlm. 80).
476 Riwayat at-Tirmidzi dan dia menghukuminya sebagai hadits hasan. Dia berkata bahwa hadits ini hasan gharib. Diriwayatkan iuga

oleh ol-Jama'ah dari lbnu Umar {Nailul Authar,lilid I, hlm. 80-81).

Baglan 1: IBADAH ISLAM IILID 1

Menghadap kiblat dan juga membe- dakan seperti itu adalah tidak wajar di-
lakukan. Haram juga kencing di kuburan
lakanginya di dalam suatu bangunan yang
karena untuk menghormatinya. Dan mak-
bukan disediakan untuk membuang air ruh kencing di bagian pekuburan karena
adalah haram. Begitu juga di padang pa-
si6, tanpa suatu pelindung yang tinggi, untuk menghormatinya.
sekurang-kurangnya dua pertiga hasta
ataupun lebih, serta pelindung itu tidak Apabila dia bersin pada saat mem-
jauh darinya melebihi tiga hasta. Kondisi buang air kecil atau besaL hendaklah dia

ini sama dengan kondisi ketika menye- mengucapkan al-Hamdulilloh di dalam

tubuhi istri di bagian lapang tanpa pelin- hatinya. Kemudian sesudah beristinia'
dung. Sebaliknya, jika ia dilakukan bukan dan setelah keluar dari tempat istinia'
di tempat lapang seperti di dalam rumah
hendaklah membaca doa,
ataupun di tempat lapang yang berlin-
(f;ry)o o1 o n ' ' ,:4tew'*'41
dung, maka tidak haram.
Makruh juga menghadap ke arah mata- 9i*l4l A

hari dan bulan dalam keadaan telanjang. "Ya Allah, sucikanlah hatiku dari ke'
Karena, kedua-duanya mengandung ca- munafikan, dan jagalah fariiku dari per-
haya Allah S\4/I, dan juga kedua-duanya buatan y ang menj ijikkan."
dianggap sebagai tanda kebesaran-Nya.
Oleh sebab itu, jika seseorang berlindung )c,V,'.-'v,.J"l'ti' q t:t' ,'jl"51 i 6jJ't \ t oz
dari keduanya dengan sesuatu ataupun -r-i'iJt
(membuang air) di dalam bangunan yang ca,iJ ,1
disediakan, maka tidaklah mengapa. Be-
oi-
gitu juga makruh menghadaP ke arah i Cr\st".dz-

tiupan angin, agar ia tidak terkena percik- olil
an air kencingnya sendiri, yang akan me-
"segala puji bagi Atlah iang telah
nyebabkan badannya kotor oleh najis
mencicipkan kepadaku satu kenikmatan
tersebut.
don menetapkan kemanfaatan pada diriku,
7. Disunnahkan tidak melihat ke arah langit
dan mengeluarkon hal yang menyokitkan
atau melihat kelaminnya. Sunnah juga ti-
dari diriku."
dak memain-mainkan kelamin dengan ta-
ngan, dan juga sunnah tidak menoleh ke D. WUDHU DAN PERKARAYANG
kanan dan ke kiri. Tidak bersuci pada saat
BERKAITAN DENGANNYA
itu juga disunnahkan, karena semuanya
ini adalah tindakan yang tidak layak da- 7. WUDHU

lam keadaan yang demikian. fangan pula Dalam pasal ini akan dijelaskan tentang
dia duduk berlama-lama, karena yang de-
definisi wudhu, rukun, syarat, sunnah, adab,
mikian itu akan menyebabkan penyakit perkara yang dimakruhkan dalam wudhu,
perkara yang membatalkan wudhu, dan cara
bawasir. Hendaklah dia melepaskan pa- berwudhu bagi orang yang udzur, serta hal-
kaiannya sedikit demi sedikit sebelum dia hal yang dilarang bagi orang yang tidak mem-

bangun. punyai wudhu.
Haram kencing di dalam masjid mes-
Kita telah membicarakan bersuci dari
kipun ke dalam suatu wadah, karena tin-
kotoran (najis) pada pasal sebelumnya. Se-

benarnya bersuci dari kotoran merupakan

FIq!H ISTAM IITID 1 Baglan 1: TBADAH

thoharah haqiqiyyah (bersuci yang sebenar- buatan-perbuatan tertentu yang dimulai
dengan niat khusus.aTE Perbuatan tersebut
nya). Adapun bersuci dari hadats adalah
bagian dari thaharah hukmiyyah (bersuci adalah membasuh muka, membasuh kedua
tangan, mengusap kepala [rambut kepala),
dari segi hukum). Thahorah hukmiyyah ter- dan membasuh kedua kaki. Definisi wudhu
bagi menjadi tiga bagian yaitu wudhu, mandi,
dan tayamum. Di sini, kita akan mulai dengan yang lebih jelas adalah menggunakan air
membicarakan masalah wudhu. Ia didahulu-
kan karena perkara yang mewajibkan wudhu yang suci pada empat anggota badan (yaitu
ialah hadats kecil, sedangkan perkara yang seperti yang telah disebutkan di atas) dengan
mewajibkan mandi ialah hadats besar. Ada- cara-cara tertentu yang telah ditentukan oleh
pun tayamum merupakan pengganti wudhu syara'.a7e Hukum asal wudhu [yang diniatkan
dan mandi dalam keadaan-keadaan tertentu. untuk digunakan melaksanakan shalat) adalah
Sebelum ini, kita telah mendefinisikan tho- fardhu, karena ia merupakan syarat sah shalat.
harah hukmiyyah sebagai sifat syara' yang di- Hal ini berdasarkan firman Allah SWT,
atributkan pada anggota badan, dan dia dapat
menimbulkan keadaan suci (thoharah). Se- "Wahai orang-orong yang beriman! Apa-
bila kamu hendak melaksanakan shalat, maka
mentara thaharah hoqiqiyyah adalah tindakan basuhloh wajahmu dan tanganmu sampai ke
menghilangkan kotoran, yaitu barang-barang
yang ditetapkan oleh syara'sebagai kotor. siku, dan sapulah kepadamu dan (basuh) kedua

a. Definisi dan HukurrHukum Wudhu kakimu sampai ke kedua mata kaki...." (al-
Maa'idah: 6)
(Jenls atau Cara)
Dan sabda Nabi Muhammad saw.,
Menurut bahasa, kata wudhu-dengan
membaca dhammah pada huruf wawu (wu- ,;; L';i ti1 V;i i>; Ji?nt t
dhu')-adalah nama untuk suatu perbuatan
yang memanfaatkan air dan digunakan untuk G.;

fmembersihkan) anggota-anggota badan ter- "Allah tidak akan menerima shalat sese-
tentu. Definisi wudhu inilah yang dimaksud orang di antara kamu yang telah berhadats
pada pasal ini. Ia diambil dari kata berbahasa
arab al-wadho'eh, al-hasan, dan an-nazhafah. hing g a dia berwudhu."4Bo
fika dikatakan wadha'a ar-rajul dalam ung-
kapan Arab, maka ia berarti "lelaki itu telah Dan juga berdasarkan atas konsensus
bersih/baik/suci."
ulama (ijma') yang mengatakan wajib.
fika kata wudhu dibaca dengan fathah
pada huruf wowu (wadhu'), maka ia berarti air Menurut ulama, wudhu diwajibkan di
Madinah seperti yang dinyatakan oleh para
yang digunakan untuk berwudhu.
Wudhu menurut istilah syara'adalah ke- muhaqqiq fulama peneliti). Hikmah dari mem-
bersihkan anggota-anggota badan tersebut
giatan kebersihan yang khusus,aTT atau per- adalah karena anggota-anggota tersebut se-
ring terkena kotoran dan debu.

*'477 Muraqi al-Falah, hlm. 9
u,ii,ti i,nt j, irirJ,, i,-. rr.

47e Ka"y"yaful Qina',lilid I, hlm.91.
a8o Ri*ryrt rry-syaikhan.

:sj

.=€*.-l

Kadang-kadang wudhu mempunyai hu- ISIAM JILID 1
kum lain, yaitu sunnah, wajib (menurut pen-
dapat ulama madzhab Hanafi)481 ataupun "Allah tidak menerima shalat sese-
haram. Oleh sebab itu, para fuqaha membagi orang tanpa berwudhu. Begitu juga Dia
wudhu menjadi beberapa bagian, dan mereka (Allah) tidak menerima sedekah yang

j uga menyebutkan sifat-sifatnya. dihasilkan dari harta khianat (ghulul).'a8s
Ulama madzhab Hanafiasz berpendapat
2. Wudhu difardhukan karena ingin meme-
bahwa hukum wudhu terbagi meniadi lima
bagian, yaitu sebagai berikut. gang Al-Qur'an, walaupun hanya sepotong
ayat yang ditulis di atas kertas atau di atas
Pertama: Fardhu dinding ataupun dicap di atas uang. Hal ini
karena firman Allah,
1. Wudhu difardhukan bagi orang yang ber-
ffi"arffse$$r,5
hadats apabila ia ingin melaksanakan sha-
"Tidak ada yang menyentuhnya se-
lat, baik shalat itu adalah shalat fardhu lain hambo-hamba yang disucikan." (al'

ataupun shalat sunnah, dan baik shalat Waaqi'ah:79)

itu dilakukan secara sempurna ataupun Dan sabda Rasulullah saw.,
tidak seperti shalat jenazah dan sujud
tilawah.as3 Hukum ini berdasarkan ayat ZG otot.;lt ja.t
yang telah di sebutkan di atas, yaitu fir-
"Al - Qur' an tidak b o I eh di sentuh ke cu a li
man Allah SWT, oleh orang yang suci dari hadats.'486

"Wahai orang-orang yang beriman! Kedua: Waltb
Wudhu diwajibkan karena ingin menger-
Apabila kamu hendak melaksanakan sha'
lat, maka basuhlah wajahmu dan tangan- jakan thawaf; mengelilingi Ka'bah. fumhur
mu sampai ke siku, dan sapulah kepadamu ulama selain madzhab Hanafi mengatakan
dan (basuh) kedua kakimu sampai ke ke- bahwa ia adalah fardhu. Rasulullah saw ber-
dua mata kaki...." (al-Maa'idah: 6)
sabda,
Dan juga, berdasarkan hadits Rasulullah
uOz o . . o1 o t. (--+cL'lot l -'r$si
saw.,
AJ L-l -r; iur 0l ;)t.a
"Allah tidak menerima shalat salah
seorang kamu jika ia berhadats, hingga ia h,. 'tt,frtt+

mengambil wttdhu." 484

481 Fardhu dalam madzhab Hanafi ialah hukum yang ditetapkan dengan dalil qath'i. Adapun wajib adalah hukum yang ditetapkan

dengan dalil zhanni (dugaan kuat).

482 Muraqi al-Falah, hlm. 13 dan seterusnya.

483 Ada beberapa ayat Al-Qur'an yang dinamakan dengan ayat saiadah. Menurut ulama Syafi'i dan Hambali, iumlahnya ada 14 ayat.
Apabila ayat ini dibaca oleh orang Mukmin, maka hendaklah dia sujud dengan niat dan dalam keadaan suci serta menghadap

kiblat. Sujud tilawah ini hukumnya adalah wajib menurut ulama Hanafi. Adapun menurut iumhur hukumnya adalah sunnah.
484 Diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari, Mustim, Abu Dawud, dan at-Tirmidzi dari Abu Hurairah (Subulus Salam, filid l, hlm.40)'
485 Diriwayatkan oleh al-Jama'ah kecuali al-Bukhari dari lbnu Umar. Kata ghulul artinya khianat, dan maksudnya di sini adalah men-

curi harta rampasan sebelum dibagi (Arailul.4uthar,lilid I, hlm. 204).

486 Diriwayad<an oleh al-Atsram, ad-Daruquthni, al-Hakim, al-Baihaqi, ath-Thabrani, dan Malik dalam al-Muwaththo' secara mursal.

Hadits ini adalah db. if, tetapi Ibnu Hajaq berkaa hhwa lni bica.diErima durJrcr, Iilld I, hl rn. 2O4),

FIqLH ISI.AM JITID 1

"Thawaf di Baitullah itu merupakan sha- Memperbarui wudhu disunnahkan
lal hanya saja Allah membolehkan percakapan
jika seseorang telah melakukan satu sha-
di dalamnya. Oleh sebab itu, barangsiapa ber-
Iat dengan menggunakan wudhu yang
cakap di dalam tawaf, maka hendaklah dia
sebelumnya, baik shalat tersebut shalat
hanya meng ucapkan perkora yang baik.'aBl fardhu ataupun shalat sunnah. Hal ini
karena setiap satu kali wudhu digambar-
Ulama madzhab Hanafi berpendapat kan bagaikan satu cahaya yang akan
menambah terang cahaya yang lain. fika
bahwa thawaf bukan merupakan shalat yang orang memperbarui wudhu, namun dia
sebenarnya, maka sah dan tidaknya bukan tidak mengerjakan perbuatan apa pun
bergantung pada bersuci. Oleh sebab itu, jika yang disyariatkan, maka memperbarui
seseorang tidak berwudhu kemudian melaku-
kan thawal maka dia diwajibkan membayar wudhu tersebut merupakan israfaeo
dam, jika thawaf itu wajib. Namun jika thawaf
itu termasuk fardhu, dan orang yang melaku- Kesunnahan memperbarui wudhu
kan sedang dalam keadaanTanabah, maka dia
diwajibkan membayar unta (badanah). Dan ini adalah berdasarkan sabda Nabi

jika thawaf itu sunnah, maka dia diwajibkan Muhammad saw. yang mengatakan,

bersedekah. olrj,"i*';4 *e iVn.-'yo.rl

Ketigla: Sunnah "Barangsiopa berwudhu sedangkan
Wudhu disunnahkan dalam banyak ke-
dia masih dalam keadaan suci (belum
adaan, di antaranya adalah dalam keadaan- berhadats), maka akan ditetapkan un-

keadaan seperti berikut.ass tu kny a s ep uluh ke b aikan.' ae 1

1. Berwudhu setiap kali hendak shalat. Hal Begitu juga seseorang disunnahkan
untuk selalu berada dalam keadaan ber-
ini karena sabda Nabi saw., wudhu, karena terdapat sebuah hadits

'.oji:ni:*,f ,f *it- ;:iY",)&o t'l;o',-1!,'^"li. n li:1l'l"lyang diriwayatkan oleh Ibnu Majah,
,r*,3.ni
o'' '{ -*i ':( al-Hakim, Ahmad, dan al-Baihaqi dari

L^ Tsauban r.a.,

"Jika tidak karena dikhawatirkqn "Beristiqamahlah dan jangan ingkar!

aku menyusahkan umotku, tentulah aku Keta huil a h b a hw a sesung g uhny a p e rbu ata n
menyuruh mereka berwudhu pada setiap
hendak melaksanqkan shalal dan setiap kamu yang paling baik adalah shalat, dan
orang yang selalu memelihara wudhunya
wudhu juga hendaklah disertai dengan adalah orang Mukmin."

bersiwak.'age 2. Menyentuh buku-buku agama seperti

buku tafsir, hadits, aqidah, fiqih, dan lain-

487 Diriwayatkan oleh lbnu Hibban, al-Hakim, dan at-Tirmidzi dari Ibnu Abba s (Nashbur Rayah, Jilid lll, hlm. 57).
a88 Mughnil Muhtaj,lilidt, hlm. 63.
a8e Riwayat Ahmad dengan isnad yang shahih dari Abu Hurairah (Naitul Authar,lilid I, hlm. 210).
aeo lbnu Abidiu Raddul Mukhraa Jilid I, hlm. 111.
ae1 Riwayat Abu Dawud, at-Tirmidzi, dan Ibn Maiah dari Ihnu Umar; tetapi hadits ini dhaif.

FIQIH ISIAM IILID 1

nya. Tetapi jika di dalam buku tersebut 4. Sebelum melakukan mandi junub, juga
disunnahkan berwudhu dan sunnah juga
ayat Al-Qur'an lebih banyak dari tafsirnya,
maka haram hukumnya menyentuh tanpa bagi orang yang berada dalam keadaan
janabah (berhadats besar) ketika dia ingin
berwudhu.
makan, minum, tidur, dan mengulangi
3. Sunnah berwudhu ketika hendak tidur bersetubuh [jimak). Karena, terdapat
sunnah Nabi mengenai hal itu. Aisyah
dan setelah bangun tidur, dan disunnah-
kan bersegera melakukan wudhu selepas berkata, "Nabi Muhammad saw. berwudhu
bangun tidur. Hal ini karena sabda Nabi apabila ingin makan atau tidur, yaitu jika

Muhammad saw., beliau berada dalam keadaan ya nabqh."ae3

':At !i-*':O';t* 4t6\ Aisyah berkata lagi, "SesungguhnYa

#i,'Jir #!, ,!t: Rasulullah saw. apabila berada dalam
""'#twtt ,;xllt:*gor'cr,t , rn',. :rri: , o.1*l-1rir,':r ;,1,? keadaan janabah, beliau membasuh ke-
maluan dan berwudhu seperti wudhu
qP -Aii**yeri eii,UL untuk shalat apabila beliau ingin tidur."aea
' -\ a4ol*s;,t:'t;r; \ u), Abu Sa'id al-Khudri juga berkata, "Apabila

d41 qit,*, a';i.jjr el.\,( salah seorang di antara kamu telah
'^r^rru'i
bersetubuh (berjimak) dengan istrinya,
'Apabila *^i, hendak kemudian dia ingin mengulangi, maka
hendaklah berwudhu terlebih dahulu."aes
tempat tidun maka hendaklah berwudhu
seperti wudhu untuk mengeriakan shalat. 5. Sunnah berwudhu sesudah marah, karena
Kemudian tidurloh dengan memiringkan
badan ke sebelah kanan. Lalu bacalah doa, wudhu dapat meredakan kemarahan.
'Ya Alloh, aku berserah diri kepada'Mu, aku Imam Ahmad telah meriwayatkan di
memalingkan mukoku ke arah-Mu, aku dalam kitab Musnad, "lika salah satu di
serahkan urusanku kepoda-Mu, dan aku
berlindung dengan-Mu. Tidak ada tempat antara kamu marah, maka hendaklah ia
berlindung dan tempat meminta kecuali
pada-Mu. Aku beriman dengan kitab-Mu berwudhu."

yang telah Engkau turunkan, dan beriman 6. Sunnah berwudhu untuk membaca Al-

dengan Nabi-Mu yang telah Engkau Qur'an, mengkaji, dan meriwayatkan ha-

USUg."492 dits serta membaca buku-buku agama,

Karena, hal ini menunjukkan tingginya

perhatian terhadap hal-hal tersebut. Imam

Malik berwudhu dan bersuci dulu ketika

akan meriwayatkan hadits dari Rasulullah

saw.. Hal ini dilakukan untuk memulia-

kannya.

Riwayat Imam Ahmad, al-Bukhari, dan at-Tirmidzi dari al-Barra'bin Azib. Hadits ini menyuruh membasuh tangan setelah bangun

tidur, setelah itu baru mengambil wudhu. labir meriwayatkan hadits ini secara marfu'bahwa Nabi Muhammad saw. bersabda,
"Apabila seseorang di antara kamu bangun dari tidur dan hendak berwudhu, maka ianganlah ia memasukkan tangannya ke dalam
tempat air yang akan digunakan untuk wudhu, sebelum ia membasuh tangannnya terlebih dulu. Karena, ia tidok tahu di mana

tangannya diletakkan dan di atas apa tangannya diletakkan!' (Nashbur Rayah, lilid l, hlm. 2)

+93 Riwayat Imam Ahmad dan Muslim dan ada luga yang diriwayatkan oleh an-Nasa'i yang maknanya hampir sama.
494 Riwayat al-fama'ah.

495 Riwayat al-f ama'ah kecuali al-Bukhari.

FIqIH ISIAM JILID 1 Baglan 1: IBADAH

7. Berwudhu disunnahkan apabila hendak (benteng) bagi kamu semua. Maka, yang
adzan dan iqamah, berkhotbah meskipun
khotbah nikah, berziarah ke kubur Nabi demikian itu adalah benteng kamu seka-
Muhammad saw., mengerjakan wuquf di
Arafah, dan melakukan sa'i di antara bu- lian."4e6

kit Shafa dengan Marwa. Ini dilakukan 9. Sunnah berwudhu setelah tertawa ter-

karena tempat-tempat tersebut berada bahak-bahak di luar shalat, karena per-

dalam bagian ibadah. buatan tersebut dianggap sebagai hadats.
10. Sunnah berwudhu sesudah memandikan
8. Sunnah berwudhu setelah melakukan ke-
salahan seperti mengumpat, berbohong, dan menghantarkan mayat ke kubur. Hal

menghasud, atau perbuatan-perbuatan ini berdasarkan sabda Nabi Muhammad
yang sejenisnya. Hal ini karena perbuat-
an-perbuatan yang baik dapat mengha- saw.,
puskan dosa yang ditimbulkan dari per-
i'nv'r'+c'i
buatan-perbuatan yang buruk. Nabi saw.
"Barangsiapa memandikan mayat
bersabda, maka hendaklah ia memandikan dirinya.
Dan barangsiapa menghantarkan mayal
ttlilr : a' ,J"G J; ;AIi Yi
i;, tu- tSs t.,r-'rit : t;; maka hendaklah ia berwudh.t."4e7
/o
Lq,-rrs;t di :yit 11. Sunnah berwudhu dengan maksud untuk
rt' . dJll menghindar dari perbedaan pendapat di
kalangan ulama dalam suatu kasus. Um-
ifa.tfut'rJ.u;ti-r*r:ir pamanya apabila seseorang menyentuh
perempuan atau menyentuh kemaluannya
' , ,',,'i dengan telapak tangan, atau sesudah dia
Jt't..uii' , makan daging unta, maka ia disunnahkan
berwudhu. Karena, sebagian ulama ber-
bu.)r FJ$ ,Lu.)r FJr, ;y-e.lr -rli pendapat bahwa wudhu adalah wajib
sebab hal-hal tersebut. Hal ini dilakukan
'Mauka'h kamu jika a*r't nlrt*on supaya ibadahnya menjadi sah menurut
seluruh ulama dan supaya terhindar tang-
kepada sesuatu yang bisa menghapuskan gung jawab keagamaannya.

doso-dosamu, yang bisa mengongkat dera- Keempat: Makruh
jatmu?" Mereka menjawab, "Mau, wahai Mengulang wudhu sebelum melaksana-
Rasulullahl' Rasul bersabda, "Menyem-
purnakan (melakukan) wudhu setelah me- kan shalat adalah dimakruhkan. Yakni, ber-
wudhu di atas wudhu yang masih ada, meski-
lakukan perkara-perkara yang dibenci, pun dia telah berpindah tempat.ae8 Hukum
memperbanyak langkah untuk menuju

ke masjid, menunggu masa shalat setelah

mengerjakan shalat sebelumnya, maka

perbuatanyang demikian itu adalah ribath

Riwayat MaliI Muslim, at-Tirmidzi, an-Nasa'i dan Ibnu Maiah-dengan arti yang hampir sama-dari Abu Hurairah. Diriwayatkan
juga oleh Ibnu Majah dan lbnu Hibban dalam .Shahih-nya dari Abu Sa'id al-Khudri (at:Targhib wat-Tarhib,lilid I, hlm. 158).
497 Riwayat Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Ibnu Hibban dari Abu Hurairah. Hadits ini adalah hadits hasan.
494 Pendapat ini adalah yang telah diteliti oleh lbnu Abidin (Raddul Mukhtar, Jilid I, hlm. 111) walaupun dalam Muraqi al-Falah ia
mengatakan bahwa mengulang wudhu adalah sunnah lika tempat wudhunya itu berlainan.

",tW,;u'


Click to View FlipBook Version