The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by MOHD RAHIMI BIN RAMLI Moe, 2021-08-05 23:44:36

Fiqih Islam Wa Adillatuhu Jld1

Fiqih Islam Wa Adillatuhu Jld1

FIqLH ISLq,M JILID 1

Sebagaimana telah kita jelaskan, masa- [1] Hukum-hukum syara' yang termasuk

lah-masalah ini merupakan masalah yang bagian cabang (furu'iyyah) dan termasuk
dibincangkan dalam pembahasan taklid
dan talfiq. Adapun selain masalah ter- masalah ijtihadiyah; [2] Sebab-sebab yang
sebut, maka kita tidak dibolehkan meng- melatarbelakangi timbulnya hukum-hu-
ambil pendapat yang termudah, seperti kum syara' tersebut; [3] Perkara-perkara
dalam masalah aqidah, dasar-dasar ke- yang menjadi syarat hukum-hukum syara'
imanan, dan juga dalam masalah akhlak,
ma'rifatullah, mengenali sifat-sifat Allah, tersebut; [4] Perkara-perkara yang men-
penetapan kewujudan Allah dan keesa- jadi penghalang lmawanil bagi hukum-
an-Nya, dan juga mengenai bukti-bukti
hukum syara' tersebut; t5] Cara-caraee
kenabian. Begitu juga dalam masalah yang
untuk menetapkan sebab, syarat, dan
termasuk kategori aksioma dalam ajaran
agama, yaitu yang telah disepakati oleh penghalang tersebut.

semua umat Islam. Orang yang menentang- Kalimat'hukum-hukum syara' (al-ah-
kam asy-syar'iyyah)'dalam uraian di atas,
nya dihukumi kafir dalam semua bidang mengecualikan hukum-hukum logis (a1-
tuntutan syara': ibadah, muamalah, hu- ahkam al-'aqliyyah) seperti matematika,
kuman, keharaman-keharaman, seperti teknik, dll., dan juga megecualikan'hukum-
rukun Islam yang lima, keharaman riba, hukum indra' (abahkam al-hissiyyah).
zina, kehalalan transaksi jual beli, per-
nikahan, utang piutang, dan sebagainya Sedangkan kalimat'termasuk bagian
yang hukumnya ditetapkan secara qath'i cabang' (al-furu'jtyah) mengecualikan per-
melalui ijmal Oleh sebab itu, dalam ma- kara-perkara yang termasuk ushuluddin
dan ushul fiqih. Adapun kalimat'termasuk
salah ini tidak dibolehkan taklid, talfiq, masalah ijtihadiyah' mengecualikan ma-

ataupun mengambil pendapat yang paling salah-masalah aksioma dalam agama.

mudah, Dan oleh sebab itu iuga, talfiq Contoh sebab yang melatarbelakangi
timbulnya hukum syara' adalah merusak-
yang menyebabkan penghalalan perkara- kan suatu benda menjadi sebab bagi hu-
kum wajibnya mengganti barang terse-
perkara yang haram seperti minuman but. Contoh perkara yang menjadi syarat
anggur yang memabukkan, zina dll. juga hukum syara' adalah keberadaan wali
tidak dibenarkan. Begitu iuga talfiq yang dan saksi merupakan syarat dalam akad
menyebabkan hancurnya hak-hak kema- nikah. Adapun contoh perkara yang men-
nusiaan atau menyebabkan manusia di- jadi penghalang bagi hukum syara' ada-
lah keadaan gila atau ayan menjadi peng-
timpa pesakitan, marabahaya, dan ancam- halang bagi ditetapkannya tuntutan syara'.
Begitu juga utang menjadi penghalang
an, juga tidak dibolehkan. Sebab, Islam bagi wajibnya berzakat. Adapun contoh
melarang menimbulkan bahaya baik un-
tuk diri sendiri maupun untuk orang lain. cara untuk menetapkan sebab, syarat, dan
penghalang adalah semua perkara yang
Imam al-Qarafie8 berkata, "Berdasar- dijadikan petunjuk dalam proses mah-
kan penelitian, maka dapat disimpulkan
bahwa kriteria pendapat-pendapat madz- kamah seperti bukti, ikrar dan sebagai-
hab yang kita dibolehkan taklid ada lima:

98 N-lhkam fi Tamyiz al-Fatawa 'an al-Ahkam wa Tasharrufati al-Qadhi wa al-lmam, hlm.195 dan setelahnya.
99
Seperti dengan cara iqrar dan kesaksian.

FIqLH ISI."AM IILID 1 kelahiran seorang anak, begitu juga dalam

nya. Cara-cara ini dapat dikelompokkan ke masalah bolehnya akad jual beli dengan
dalam dua bagian:
syarat ada manfaat bagi salah satu penjual
tu Cara yang disepakati oleh ulama, se- atau pembeli, penetapan talak karena pi.
hak lelaki menghilang mempersulit, atau
perti menghadirkan dua saksi dalam
membahayakan istrinya, dihitungnya man-
kasus harta benda, menghadirkan faat bangunan, menjamin pekerja dan bu-

empat saksi dalam kasus perzinaan, ruh dan juga larangan memberi hadiah
dan ikrar dalam semua kasus tersebut
kepada orang yang memberi utang.
jika memang dilakukan oleh orang
yang patut untuk ikrar, dan ikrar 2. Praktik mengambil pendapat yang paling
tersebut memang dilakukan pada
mudah tersebut tidak menyebabkan mun-
tempatnya.
culnya amalan yang bertentangan dengan
12) Cara yang diperselisihkan oleh ulama, sumber-sumber syariah yang qath'i, dan
seperti menghadirkan satu saksi dan juga tidak bertentangan dengan dasar-da-
sumpah, kesaksian anak kecil dalam sar serta prinsip-prinsip utama syariah.
kasus pembunuhan dan luka dan juga
Syarat ini diambil dari pendapat ulama-
ikrar yang ditarik kembali. Sebagai- ulama Maliki-termasuk Imam asy-Sya-
thibi-yang menegaskan bahwa ketetapan
mana kita boleh bertaklid kepada
pemerintah atau keputusan hakim dalam
ulama dalam masalah hukum, sebab- empat kasus-yang akan diterangkan nan-
sebabnya, syarat-syaratnya, dan juga
penghalangnya, maka kita juga boleh ti-harus ditolak. Hal ini menunjukkan

bertaklid kepada mereka dalam bahwa praktik mengambil pendapat yang
masalah cara menetapkan sebab, paling mudah tidak boleh sampai menye-
babkannya bertentangan dengan perkara-
syarat, dan penghalang tersebut. perkara yang telah disebut di atas. Empat
kasus yang disebut oleh para ulama Maliki
Dengan demikian, maka praktik me-
milih pendapat yang paling mudah ini adalah:101

dibatasi hanya pada masalah-masalah fu- [1] Apabila seorang qadhi menetapkan
ru'iyah saja yang hukumnya ditetapkan
melalui dalil zhanni oleh para mujtahid. hukum yang bertentangan dengan Al-
Qur'an, As-Sunnah, atau ijma, maka
Hal ini seperti dalam masalah wajibnya
shalat Witi4 niat dalam wudhu, utang dia sendiri harus membatalkan ke-

menjadi penghalang bagi wajibnya zakat, tetapannya tersebut, dan qadhi yang
bolehnya jual beli mu'athah,7oo diterima- berkuasa setelahnya juga harus mem-
batalkan ketetapan tersebut. Selain
nya kesaksian anak kecil dalam kasus itu, ketetapan tersebut harus dikate-
pembunuhan dan luka, cukupnya satu gorikan sebagai pendapat yang syadz.
saksi disertai dengan sumpah, kesaksian
[2] Apabila seorang qadhi menetapkan
wanita dalam masalah-masalah yang ber- hukum dengan menggunakan zhan
hubungan dengan kewanitaan seperti da-
lam masalah kecacatan alat kelamin dan dan terkaan belaka bukan berdasar-

100 Y"ng dimaksud dengan al-Mu'athah adalahjual beli r.anpa ijab dan qabul, seperti umpamanya seseorang menyerahkan uang dan
mengambil barang tanpa ada perkataan apa pun dari kedua belah pihak atau dari salah satunya.
Al -,Qawa n in al - Fiqh W ah hlm. 294,

i..!1,#;!,)i;:kiil t*i,,::i,l:tlwii i.

kan pengetahuan dan ijtihad, maka FIqLH IST.A.M JITID 1
dia dan iuga qadhi yang berkuasa
Begitu juga keputusan-keputusan seperti
setelahnya harus membatalkan kete-
ini juga tidak diakui, meskipun dikeluar-
tapan tersebut. kan oleh hakim atau pemerintah. Bertaklid
kepada seorang mufti yang mengeluar-
[3] Apabila seorang qadhi menetapkan kan keputusan seperti ini juga tidak sah,
hukum berdasarkan iitihad, namun bahkan mengikuti keputusan seperti ini

setelah itu dia mengetahui bahwa hukumnya haram,103 Adapun alasan bahwa

ketetapannya itu salah, maka qadhi hukum yang bertentangan dengan ijma
harus dibatalkan adalah karena ketetapan
yang berkuasa setelahnya harus mem- ijma adalah ketetapan yang terjaga dari
batalkan ketetapan tersebut. Namun, kesalahan. Menetapkan suatu hukum ha-
ada perselisihan pendapat dalam hal ruslah dengan kebenaran, dan menentang
apakah qadhi tersebut harus mem- keputusan ijma merupakan suatu keba-
tilan yang sangat nyata.
batalkan ketetapannya sendiri atau
Adapun alasan bahwa hukum yang
tidak.
bertentangan dengan kaidah-kaidah [sya-
[4] Apabila seorang qadhi bermaksud ra'), qiyas jaft, dan nash harus dibatalkan
menetapkan hukum berdasarkan adalah karena hukum mengikuti perkara-
satu madzhab, namun dia lupa dan perkara tersebut adalah wajib, dan me-
nentangnya adalah haram. Oleh sebab itu,
akhirnya menetapkan hukum dengan hukum yang ditetapkan dengan ijtihad
madzhab yang lainnya, maka dia harus yang salah sehingga bertentangan dengan
membatalkan ketetapannya tersebut.
Adapun orang lain tidak diwajibkan perkara-perkara tersebut tidak diakui
membatalkan keputusannya tersebut. oleh syara'. Allah SWT berfirman, "... Ke-
mudian, jika kamu berbeda pendapat ten'
Bagian yang paling penting dalam ka-
jian kita kali ini adalah bagian yang per- tang sesuatu, maka kembalikanlah kepada
tama. Imam al-Qarafiloz menyebutkan em- Allah (Al-Qur'an) dan Rasul (sunnahnya)...!'
pat bentuk keputusan hukum yang harus (an-Nisaa':59)
dibatalkan, yaitu keputusan yang berten-
tangan dengan ijma; keputusan yang ber- Contoh ketetapan hukum yang ber-
tentangan dengan kaidah-kaidah (syara'); tentangan dengan nash adalah keputusan
qadhi yang membatalkan wakaf benda-
keputusan yang bertentangan dengan benda bergerak. Keputusan ini harus di-
qiyas jali; keputusan yang bertentangan batalkan, karena ia bertentangan dengan
dengan nash. Kemudian Imam al-Qarafi nash-nash hadits tentang sahnya wakaf
memberikan contoh bagi setiap bagian benda bergerak, di antaranya adalah hadits
tersebut dan juga menerangkan sebab- yang menyatakan bahwa Rasulullah saw.
menetapkan bahwa Khalid ibnul Walid
sebab mengapa keputusan tersebut harus telah mewakafkan baiu-baiu'besi dan alat-

dibatalkan. Setelah itu, Imam al-Qarafi

berkata, "Keputusan-keputusan seperti
ini tidak diakui oleh syara' karena lemah.

702 At-lhkam1i Tamyiz al-Fatawa 'an al-Ahkom, hlm. 128; Tabshiratut Hukkam, iilid 1, hlm. 70, 73.

I."-103 lzzuddin bin Abdussalam (w. 660) membolehkan talfiq dengan syarat perkara yang ditaklidi tidak termasuk perkara yang

FrqlH IsrAM JrrrD 1 -]

I

alat perangnya di jalan Allah.1oa Contoh istri dalam beberapa kondisi. Keputusan
lainnya adalah keputusan hakim yang ini bertentangan dengan ijma yang me-

menetapkan bolehnya wasiat kepada ahli netapkan bahwa memberi bagian yang adil
waris. Karena, keputusan ini bertentang- kepada istri-istri adalah wajib. Begitu juga
dengan hukuman zina yang diputuskan
an dengan hadits mutawatir yang menye- berdasarkan dengan qarinah. Keputusan

butkan bahwa, "Wasiat tidak boleh diberi- ini bertentangan dengan ijma dan juga

kan kepada ahli waris!'fuga, seperti fatwa nash Al-Qur'an yang jelas.
pembolehan riba yang sedikit atau bunga
Contoh ketetapan hukum yang berten-
bank dalam kadar 7o/o,karena keputusan tangan dengan kaidah-kaidah syara'-se-

ini bertentangan dengan ayat-ayat Al- perti yang dicontohkan oleh Imam al-
Qarafi-adalah masalah as-Suraijiyyah
Qur'an yang menunjukkan secara jelas
mengenai keharaman riba. Yaitu ayat, "... [masalah yang dinisbatkan kepada Ah-
Padahal Allah telah menghalalkan jual beli mad bin Suraij asy-Syafi'i [w. 306])-yaitu
apabila seorang suami berkata kepada
dan mengharamkan riba.,." (al-Baqarah:
istrinya, "fika saya menjatuhkan talak
275) Contoh lainnya adalah menyama-
kepadamu, maka sebelum itu kamu adalah
kan bagian anak laki-laki dan anak perem-
wanita yang ditalak tiga kali." Menurut
puan dalam pembagian waris, karena ibnu Suraij, lafaz tersebut tidak menye-

keputusan ini jelas-jelas bertentangan babkan jatuhnya talak.

dengan nash AI-Qur'an, "...(S/eitu) bagian Ibnu Taimiyah dan Ibnul Qayyim juga
sependapat dengan Ibnu Suraij.los Alasan
seorang anak laki-laki sama dengan bagi- mereka adalah karena lafaz talak yang
an dua orang anak perempuan...!' (an-Ni-
diucapkan oleh suami tersebut tidak
saa': 11) mengenai sasaran. fika seorang hakim

Contoh ketetapan hukum yang berten- menetapkan bahwa talak tersebut jatuh,

tangan dengan ijma adalah ketetapan maka ketetapan itu harus dibatalkan-

yang melarang kakek mendapat bagian menurut madzhab Maliki-karena ber-

warisan jika saudara-saudara si mayit tentangan dengan kaidah syara'. Di antara

masih hidup. Ketetapan ini bertentangan kaidah syara' ada yang menetapkan bahwd
dengan ijma sahabat yang menetapkan,
suatu syarat harus ada kaitannya dengan
bahwa kakek mendapat bagian warisan, sesuatu yang disyarati, jika antara kedua-
nya tidak ada ikatan yang menghubung-
meskipun mereka berbeda pendapat
dalam hal apakah dia mewarisi semua kan, maka syarat tersebut tidak sah.106 Be-
gitu juga dengan wasiat kepada ahli waris,
harta si mayit dan menghalangi saudara- ia juga bertentangan dengan kaidah 'men-
cegah kemafsadatan harus didahulukan
saudara si mayit mendapat warisan, atau

dia mendapat bagian warisan. Begitu
juga dengan saudara-saudara si mayit
juga turut mendapat warisan. Contoh

lainnya adalah keputusan tidak wajibnya
memberi bagian yang adil kepada istri-

104 Nailul Authan jilid 6, hlm. 25.
105 A'lam al-Muwaqqi'in, jilid 3, hlm. 263.
106 Contoh praktik yang menyalahi kaidah syara' menurut madzhab Syafi'i adalah jual beli muhth ah atau muradhah. Menurut mereka,

iual beli seperti ini bertentangan dengan prinsip utama syara', yaitu kerelaan yang disyaratkan dalam lual beli dan perdagangan
harus diucapkan dengan lisan melalui y'ab dan qabul.

,#

Pengantar llmu Flqlh FIQIH ISTAM JITID 1

daripada membangun kemaslahatan' dan karena darurat. Hal ini sudah dipraktik-
juga bertentangan dengan'hukum harus
kan di negara-negara Islam.
mengikuti kemaslahatan yang raiihi dan
3. Praktik memilih pendapat yang paling
dalam masalah ini kemaslahatan yang ra-
mudah ini hendaknya tidak menyebabkan
iih adalah kekalnya ikatan persaudaraan terjadinya talfiq y ang dilarang.

yang didasari semangat saling mencintai, Kami sudah menerangkan bentuk-
saling menolong, dan ikatan silaturahim. bentuk talfiq yang dilarang, baik karena
eksistensinya dilarang seperti mengha-
Contoh ketetapan hukum yang berten- lalkan perkara yang haram seumpama
khamr, zina, dan sebagainya, ataupun
tangan dengan qiyas jali adalah menerima karena ada perkara lain yang menyertai
kesaksian orang Nasrani, Keputusan ini dan dilarang. Bentuk yang kedua ini ter-
harus dibatalkan karena seorang fasik
tidak dapat diterima kesaksiannya, se- bagi kepada tiga bentuk:
dangkan orang kafir adalah sangat fasik
dan tidak layak menempati peran-peran [1] Sengaja mencari-cari pendapat yang
strategis dalam syara'. Kesimpulan ini di-
peroleh melalui prosedur qiyas, sehingga mudah (tatabbu' ar-rukhash), bukan
keputusan di atas harus dibatalkan. Se- karena kondisi darurat atau ada ka-
lain itu, Allah SWT juga berfirman, "... rena ada uzur;
dan persaksikanlah dengan dua orang
saksi yang adil di antara kamu...." (ath- [2] Praktik talfiq yang bertentangan de-
Thalaaq: 2) Ini adalah pendapat madzhab
yang empat selain madzhab Hambali ngan keputusan hakim (pemerintah).
yang membolehkan kesaksian Ahli Kitab
pl falfiq yang menyebabkan seseorang
dalam masalah wasiat semasa dalam per-
harus membatalkan praktik amalan
jalanan, jika m'emang tidak ada selain berdasarkan taklid yang telah dilaku-

mereka. Keputusan madzhab Hambali ini kan, atau membatalkan perkara Yang
berdasarkan kepada firman Allah SWT, ".., disepakati oleh semua ulama sebagai
atau dua orang yang berlainan (agama) konsekuensi dari suatu amalan yang
dengan kemu...." (al-Maa'idah: 106) dilakukan dengan cara taklid. Syarat

Tetapi saya berpendapat bahwa se- ini selain pada masalah ibadah mah-
bab-sebab psikologis, sosial, fanatisme,
dan juga kondisi-kondisi tertentu yang dhah.
ada pada masa dulu di antara umat Islam
dan penganut agama lain adalah faktor- Oleh sebab itu, seseorang tidak boleh
faktor yang menyebabkan ulama mene- mengambil pendapat yang paling mu-
tapkan ditolaknya kesaksian selain umat dah jika menyebabkannya menjauh dari
tanggung jawab melaksanakan tuntutan-
Islam. Adapun sekarang, di mana umat tuntutan syara', atau menyebabkan per-
masalahan agama dan pernikahan diper-
Islam dan yang lainnya hidup dalam satu mainkan, menyebabkan timbulnya mu-

masyarakat dan saling berkomunikasi dharat pada diri manusia, menimbulkan
kerusakan di muka bumi, atau mengan-
antara satu dengan lainnya, maka tidak-
lah mengapa menerima kesaksian mereka cam kemaslahatan sosial.

Karenanya, tidak boleh melakukan

talfiq atau mengambil pendapat yang pa-

I

l

Isr"A.M IrrrD 1 Pongfitar llmu Flqlh

ling mudah, supaya terlepas dari tuntutan tapkan melalui ijtihad. Keputusan ini
membayar zakat dengan cara melakukan
diambil supaya pemasukan dana bagi ne-
hilah;lo7 umpamanya sebelum sampai satu gara semakin banyak, untuk memenuhi
tahun orang yang mempunyai harta satu biaya pengelolaan dan pembiayaan kebu-
tuhan umum.
nisab meminjamkan hartanya tersebut
kepada orang lain (sehingga hartanya ti- Dalam memilih pendapat yang paling
dak sampai satu nisab), kemudian di lain
waktu dia meminta hartanya tersebut se- mudah juga wajib mempertimbangkan
hingga dia tidak wajib membayar zal<at.
tujuan-tujuan utama syariah (maqashid
Atau dengan cara orang yang seharusnya asy-syari'ah), konsisten dengan aturan
membayar zakat melakukan transaksi jual dan hikmah tasyri'-nya, melindungi ke-
beli atau hibah tapi formalitas saja, untuk maslahatan manusia secara umum dalam
kemudian hartanya itu diminta kembali. masalah muamalat, hukuman, harta ben-
da, dan hubungan pernikahan, bukannya
Ini semua merupakan tipu muslihat hanya mempertimbangkan kemaslahatan
khusus sebagian pihak saja. Dalam me-
yang diharamkan dan tidak menyebabkan milih pendapat yang paling mudah, juga
gugurnya kewajiban membayar zakat,108 wajib mempertimbangkan kemaslahatan
karena kalau kewajiban zakat digugurkan yang lebih utama. Dan ketika dalam ke-
adaan darurat, hendaknya mempertim-
dengan alasan ini, maka kemaslahatan bangkan supaya tidak terjadi kerusakan

fakir miskin akan teramcam dan hak-hak yang besar di dunia. Selain itu, aturan-
fakir miskin akan terhalang. Begitu juga
tidak boleh mengeluarkan fatwa dalam aturan syara'juga harus dijadikan standar
dalam merealisasikan maslahat dan juga
masalah zakat dengan menggunakan dalam menghindari mafsadah.

pendapat yang paling mudah. Sikap ini Yang dimaksud dengan maqashid asy-
syari'ah adalah melindungi agama [aqidah
diambil untuk membela hak-hak fakir dan ibadah); melindungi iiwa; melindungi
miskin. Keputusan fatwa seharusnya akal; melindungi keturunan; melindungi
harta benda.
menggunakan pendapat yang dapat me-
realisasikan kemaslahatan, umpamanya Dalam melihat maqashid asy-syari'ah
adalah mengeluarkan fatwa dengan ber- ini juga harus dipertimbangkan tingkat-
an-tingakatannya, yaitu tingkatan primer
pegang kepada madzhab Malih Syafi'i, (dharuriyyat); tingkatan sekunder (hajiy-
yat); dan tingkatan komplementer (tdhsi-
dan jumhur ulama yang menetapkan harta ntyyat).
anak kecil dan orang gila wajib dikeluar-
kan zakatnya, tanah kharajiyyah (tanah Yang dimaksud dengan tingkatan pri-
yang berhasil dikuasai umat Islam dengan mer (dharunltyat) adalah segala sesuatu
cara perang) wajib dikeluarkan zakatnya yang memang diperlukan bagi kehidup-
dan juga pajak kharaj, sehingga tanah an manusia baik kehidupan keagamaan
tersebut wajib dibayar kharaj dan'usyur-
nya, karena 'usyur merupakan kewajiban
agama bagi setiap umat Islam, sedangkan
kharaj merupakan kewajiban yang dite-

107 Ibnul Qayyim berkata, "seorang mufti tidak boleh mencari-cari hilah yang diharamkan dan yang dimakruhkan." (A'tam at-Muwaq-
qi'in, jilid, 4, hlm. 222)

108 A'la- al-Muwaqqi'in,jilid 3, hlm.257, 320.

IsrAM lrlrD 1

maupun kehidupan keduniaan. Apabila benaran itu menuruti keinginan mereko,
sesuatu tersebut tidak terpenuhi, maka
pasti binasalah langit dan bumi, dan semua
kehidupan di dunia ini akan cacat, ke- yang ada di dalamnya...J' (al-Mu'minuun:

nikmatan akan hilang, dan hukuman di 7t)
akhirat akan diterima. Dengan kata lain, ia
adalah segala sesuatu yang sudah menjadi Allah SWT juga berfirman, "... Kemu-
dian, jika kamu berbeda pendapat tentang
keharusan bagi manusia untuk melindungi sesuotu, maka kembalikanlah kepada Allah
(AI-Qur'an) dan Rasul (sunnahnya)...." (an-
perkara utama yang lima di atas. Nisaa': 59), sehingga mengembalikan per-
tentangan pendapat kepada hawa nafsu
Yang dimaksud. dengan tingkatan se-
kunder (hajtyyat) adalah segala sesuatu adalah tidak boleh. Selain itu, banyak

yang diperlukan oleh manusia untuk juga ayat-ayat yang semakna dengan ayat

menghilangkan kesukaran. Apabila sesua- di atas, di antaranya adalah, "Maka jika
tu tersebut tidak terpenuhi, maka manu- mereka tidak menjawab (tantanganmu),

sia akan merasa kesulitan dan sempit, maka ketahuilah bahwa mereka hanyalah
namun tidak sampai menyebabkan hidup- mengikuti keinginan mereka. Dan siapa-
nya cacat. Tanpa sesuatu yang termasuk kah yang lebih sesat daripada orang yong
mengikuti keinginannyq tonpa mendapat
tingkatan sekunder ini, maka perkara petunjuk dari Allah sedikit pun? Sungguh,

utama yang lima di atas akan terwujud Allah tidak memberi petunjuk kepada

namun disertai dengan kesulitan dan ke- orang-orang yang zalimJ' (al-Qashshash:
50),
sempitan.
"Dan hendaklah engkau memutuskan
Adapun yang dimaksud dengan ting-
katan komplemen ter (tahsinfua f) adalah perkara di antara mereka menurut apa
kemaslahatan-kemaslahatan yang dimak-
sudkan sebagai pelengkap, seperti supaya yang diturunkan Allah, dan janganlah eng'
ibadah menjadi semakin baik dan akhlak kau mengikuti keinginan mereka...." (al-
semakin sempurna dengan bersuci dan Maa'idah:49);
menutup aurat. Tahsiniyot ini laksana pa-
gar yang menjaga kewujudan perkara- "Wahai Dawud! Sesungguhnya engkau
perkara lima utama yang disebut di atas. Kami jadikan khalifah (penguasa) di bumi,

4. Ketika mengambil pendapat yang paling maka berilah keputusan (perkara) di an'
tara manusia dengan adil dan ianganlah
mudah, hendaklah memang dalam ke- engkau mengikuti hawa nafsu, karena
adaan darurat atau dalam kondisi perlu akan menyesatkan engkau dari ialan Al-
lah...!' (Shaad: 26)
(hajat).
Atas dasar ini, maka para ulama me-
OIeh sebab itu, mengambil pendapat wajibkan seorang mufti untuk tidak meng-

yang paling mudah ini hendaklah tidak ikuti hawa nafsu manusia,loe melainkan
hendaklah dia mempertimbangkan ke-
dilakukan untuk mempermainkan ajaran
agama, mengikuti hawa nafsu, mencari maslahatan dan juga dalil yang raiih. Se-
kesenangan, atau memenuhi kepentingan bagaimana telah saya terangkan, yang

pribadi. Hal ini karena syara' melarang

sikap mengikuti hawa nafsu, sebagaimana
firman Allah S\AIT, "Dan seandainya ke-

70e A:lamqt-Muwaqqi'it1iilid1,hhrr,47;ol-lrluwafaqa|Jilid4,hlm. l32dansetelahnya;al-l'tisharyiitid2,hlm. 176.

'" o * .iffi -. * ^ ,ry!r. .,.* . ,tr* ,* *" ,, -di ;,#- ;r'or- , s...:

-]

FlqlH ISLAM ,rLrD 1 -"*\.1. penElntar llmu Flqlh

110 / Hal ini menunjukkan bahwa menge-
depankan kemaslahatan pribadi dalam
dimaksud dengan al-mashlahah al-mu'ta-
barah adalah kemaslahatan yang kompe- mengambil pendapat yang paling mudah
adalah suatu sikap yang tidak dibenarkan
rehensif. Allah SWT berfirman kepada
secara fiqih dan juga secara syara', me-
utusan-Nya, "Kemudian Kami jadikan eng-
kau (Muhammad) mengikuti syariat (per- lainkan yang dikedepankan haruslah ke-

aturan) dari agama itu, maka ikutilah maslahatan umum atau kemaslahatan
(syariat itu) dan janganlah engkau ikuti
yang komprehensif.
keinginan orang-orang yang tidak menge- Apabila mengikuti hawa nafsu adalah
tahui. Sungguh, mereka tidok akan dapat
menghindarkan engkau sedikit pun dari haram, maka praktik mengambil pendapat
(azab) Allah...l' (al-faatsiyah: 18-19) yang paling mudah harus dibatasi apabila
memang dalam keadaan darurat atau ha-
Imam al-Qarafi dalam kitab al-lhkam
dan Syaikh Ulaisy dalam fatwanyallo me- jat. Hal ini karena ada kaidah fiqih yang
nyatakan bahwa mengikuti hawa nafsu menyatakan "Keadaan darurat menye-
dalam menetapkan hukum dan fatwa ada- babkan perkara yang dilarang menjadi
mubah" dan juga "Kondisi perlu [hajat)
lah haram secara ijma.
menempati posisi keadaan darurat, baik
Ibnul Qayyim berkata, "Seorang mufti hajat tersebut adalah hajat umum atau-
tidak dibenarkan mencari-cari pendapat pun khusus."
yang mudah untuk orang yang dia ada
Yang dimaksud dengan darurat di
keperluan kepadanya. fika mufti itu me- sini adalah segala sesuatu yang apabila
tidak dipenuhi, maka akan menimbulkan
lakukan hal tersebut, maka dia dihukumi
fasik dan haram meminta fatwa kepada- bahaya. Sedangkan yang dimaksud hajat
nya.t" Sebagaimana telah saya terangkan, adalah segala sesuatu yang apabila tidak
keadaan seperti inilah yang mendorong dipenuhi, maka hal itu akan menyebabkan
Imam asy-Syathibi melarang sikap men- kesulitan dan kesukaran. Yang dimaksud
cari-cari pendapat yang mudah (titabbu' dengan hajat umum adalah hajat yang
ar-rukhash). Imam asy-Syathibi berkata, memang diperlukan oleh semua masya-
"Ditinggalkannya prinsip mengutamakan rakat. Sedangkan hajat khusus adalah,
hajat yang diperlukan oleh kelompok ma-
tarjih dalam mengikuti salah satu dari syarakat tertentu saja, seperti masyarakat
kota atau kampung tertentu. Hajat khusus
dua dalil atau dua pendapat, menyebab- ini bukan berarti hajat individu.113
kan kebanyakan fuqaha yang dalam taraf
taklid memberi fatwa kepada kawannya Saya tidak sependapat dengan Imam
atau karibnya, dengan fatwa-fatwa yang
tidak pernah difatwakan oleh mufti selain asy-Syathibi yang menyatakan bahwa me-
dia, karena mengikuti keinginan nafsu dan ngamalkan sesuatu dalam keadaan daru-
syahwat, atau karena dia memerlukan se-
suatu dari kawan atau karib tersebut.lr2 rat atau hajat berarti mengikuti hawa

nafsu,lla karena keadaan darurat dan ha-

1r0 Fath al-Ati al-Malik fi Fatwa 'ala madzhab MaliL iilid 1, hlm. 68; at'lhkam, hlm. 79
771 A'hm al-Muwaqqi'in, jilid 4,h1m.222.
1rz
At-Muwa\aqat, iilid 4, hlm. 135. i ,,
rr3
lra Al-Madkhol al-Fiqhi, hlm.6o3.

Al Muwa\oqaG, iilid 4, hlm, 1a5.

FIqLH ISTAM JILID 1

jat akan selalu berubah sesuai dengan kim jika mempunyai kemampuan iiti-

perkembangan masa. Oleh sebab itu, dalam had tidak boleh menetapkan hukum atau
memberi fatwa, kecuali dengan pendapat
menentukan kondisi darurat dan hajat
perlu mengikuti aturan-aturan yang telah yang paling rajih baginya. Namun jika

ditetapkan,yaitu kondisi tersebut memang dia masih dalam taraf muqalli4 maka dia
boleh memberi fatwa dan menetapkan
benar-benar terjadi bukan kondisi yang hukum dengan menggunakan pendapat
diprediksikan. Kondisi tersebut memang yang masyhur dalam madzhabnya, meski-
diyakini terjadi atau diduga kuat terjadi, pun menurutnya pendapat tersebut tidak
kondisi tersebut memang mendesah
kuat. Hal ini dilakukan karena bertaklid
dll..11s kepada keputusan imam-yang ditaklidi-

5. Praktik mengambil pendapat yang paling yang menetapkan bahwa pendapat ter-
sebut adalah pendapat yang rajih, sama
mudah ini hendaknya dibatasi dengan seperti ketika seseorang mengikuti suatu
fatwa." Dia juga menegaskan, 'Adapun
prinsip tarjih. Dengan kata lain, hendaknya menetapkan hukum atau memberi fatwa
dengan pendapat yang lemah (marjuh),
. tujuan utama pertama seseorang adalah maka hal itu termasuk sikap yang tidak

mengamalkan pendapat yang paling kuat sesuai dengan ijma."116

atau paling rajih berdasarkan kekuatan Namun Syekh Ulaisy menggugat klaim
dalilnya. Hal ini karena praktik memilih adanya ijma dalam masalah tersebut de-
pendapat yang paling mudah merupa- ngan berkata, "Mungkin yang dimaksud
ij ma-kalau memang ada-dalam masalah
kan satu bentuk ijtihad, dan seorang muj- ini adalah ijma dalam kasus seorang qadhi
atau mufti yang taklid dengan pendapat
tahid harus mengikuti dalil kuat yang gradz karena mengikuti hawa nafsunya.

mengantarnya kepada kebenaran dengan |ika dia sedang marah kepada seseorang
berpedoman pada dugaan yang kuat. atau menghadapi orangyangtidak dikenal,
maka dia akan menetapkan hukum yang
Atas dasar ini, maka para pakar ushul berat kepadanya dengan mengambil pen-
fiqih mewajibkan seorang mufti atau muj- dapat yang masyhur. Namun jika dia me-
tahid untuk mengikuti suatu pendapat ka- nyenangi seseorang atau dia ada perlu
rena berdasarkan.dalilnya. Oleh sebab itu, dengan orang tersebut dan orang tersebut
dia tidak boleh memilih pendapat di an- adaldh kawan atau karibnya, atau dia malu
tara madzhab yang dalilnya paling dhail kepada seseorang karena orang tersebut
melainkan dia harus memilih pendapat adalah orang terhormat atau anak orang
yang dalilnya paling kuat. Keputusan ini kaya, maka dia akan memberi fatwa ke-
didasari bahwa para sahabat bersepakat pada orang-orang tersebut dan menetap-
dalam ijtihad mereka, akan wajibnya ber- kan hukum dengan menggunakan pen-
amal dengan menggunakan salah satu
dari dua dugaan kuat yang paling kuat, dapat syadz yang ringan.117
bukannya yang paling lemah. Selain itu,
akal logis juga mewajibkan seseorang un-

tuk mengamalkan pendapat yang paling

kuat, dan pada dasarnya syara'serasi de-

ngan akal.

Imam al-Qarafi berkata, "seorang ha-

115 Lihat Wahbah az-Zthail| Nazhariyyoh adh-Dharurah, hlm. 66 dan setelahnya.

116 At-thkamfi Tamyiz al-Fatawa'an al-Ahkam,hlm.79,80;Tabshirah al-Huklam,iilidL,hlm.66; Fatawa Syail,tt'Ulaisy,iilid 1, hlm.64,68.

tL7 Fath alAli al-Mol,& jilid 1, hlm. 62. i

I

FIqLH ISI."AM IITID 1 muqallid apabila mempunyai kemampu-
an untuk melakukan tariih, dan dia meng-
Ketika membincangkan masalah me- hadapi dua pendapat yang satu raTih dan
yang satunya lagi mariuh, maka orang ter-
milih berbagai pendapat, Syekh Ulaisy sebut wajib meneliti dan melakukan tar-
jih. Namun jika yang dihadapi adalah dua
dalam kitab Fatawa-nya berkata, "Penda- pendapat yang sama kuatnya [tidak ada
pat yang benar adalah apabila seorang yang rajih menurutnya), maka dia boleh
muqallidtersebut mempunyai kemampu- menetapkan hukum dengan mengguna-
an untuk menimbang-nimbang cara tar- kan salah satu dari dua pendapat tersebut,
jih pendapat dan mengetahui cara menen-
tukan pendapat yang harus didahulukan atau melakul<an tariih dengan memper-
dan pendapat yang bena[ maka dalam
timbangkan imam yang lebih pandai, atau
menghadapi dua pendapat atau lebih- pendukung yang lebih banyak atau yang

jika memang untuk kasus seorang saja, dia lebih berat dan keras.12o
tidak boleh mengamalkan atau memberi
fatwa atau menetapkan hukum, kecuali Apa yang telah diuraikan tersebut mene-
dengan menggunakan pendapat yang ra- rangkan pendapat-pendapat ulama dalam hal
wajibnya menggunakan pendapat yang raiih
yih menurutnya,lls dalam menetapkan fatwa, memutuskan hu-
kum, dan dalam amalan, kecuali jika memang
Imam al-Qarafi mengatakan bahwa ada alasan lain yang dibenarkan oleh syara"
seorang mujtahid dilarang menetapkan Oleh sebab itu, menggunakan pendapat yang
hukum dan memberi fatwa, kecuali de- marjuh (dhaif atau syadz) 121 adalah diboleh-
kan jika dalam kondisi darurat atau hajat, atau
ngan menggunakan pendapat'yangmenu-
jika dapat memenuhi kemaslahatan umum
rutnya rajih. Seorang muqallid boleh dengan menggunakan pendapat itu. Begitu

memberi fatwa dengan menggunakan pen- juga, seorang hakim boleh berpegang kepada
dapat yang masyhur dalam madzhab yang
ditaklidi, meskipun menurutnya pendapat pendapat marjuh tersebut bila dalam keadaan
tersebut syadz dan lemah (mariuh). Ke- kondisi di atas, sebagaimana yang telah kami

mudian Syekh Ulaisylle mengomentari terangkan.
pendapat Imam al-Qarafi ini dengan ber-
kata, "Dalam uraian tersebut tidak ada Tidak ada ijma yang menetapkan la-

dalil yang menunjukkan bahwa seseorang rangan menggunakan pendapat mariuh, ka-
boleh mengamalkan pendapat yang tidak rena pada kenyataannya terdapat bukti yang
rajih. Karena, keputusan bolehnya meng- menunjukkan bahwa ulama berbeda pan-
amalkan pendapat yang mariuh menurut dangan dalam hal pendapat-pendapat mana
yang boleh diambil oleh seorang muqallid.
seseorang namun raTfh menurut imam Ada yang mengatakan bahwa pendapat yang
diamalkan haruslah pendapat imam yang pa-
madzhabnya. Atau sebaliknya, hal itu ling luas ilmunya. Ada iuga yang berpendapat
bahwa harus mengikuti pendapat kebanyak-
tidaklah menyebabkan munculnya ke-

putusan bahwa mengamalkan pendapat
yangmarjuh menurut kedua pihak adalah

boleh."

Kesimpulan dari pendapat Imam al-

Qarafi dan Syaikh Ulaisy adalah seorang

118 Fatawa Syaikh'Ulaisy, iilid 1, hlm. 65.

719 tbid..

L20 Al-lhkam, hlm. 80; Fatawa'Ulaisy, jilid 1, hlm. 65,69,79.
L27 Syadaafulah

FrqLH Isr.iq.M f rLrD I

an ulama. Ada juga yang berpandangan boleh bidang agama dan dunia dapat dihindari, maka

mengikuti pendapat siapa saja dari ulama orang seperti ini diharapkan termasuk orang

yang dikehendaki, meskipun ulama tersebut yang selamat dengan niat yang membatasinya
bukanlah yang paling pandai, dan meskipun
pendapat tersebut bukan pendapat kebanyak- tersebut."123

an ulama, melainkan pendapat tersebut Syekh Ulaisy berkata, 'Adapun bertaklid
kepada pendapat yang ringan tanpa maksud
adalah pendapat sebagian kecil ulama, atau sengaja mencari-carinya, tetapi karena kondisi
perbandingan antara ulama yang mempunyai perlu, dalam keadaan tertentu dan juga karena
pendapat tersebut dengan ulama yang tidak takut terjadi fitnah atau yang semacamnya,
berpendapat demikian sama, atau ulama yang maka taklid semacam itu adalah boleh.12a
berpendapat tersebut pengetahuan ilmunya
lebih rendah apabila dibanding dengan yang Inilah menurut saya aturan main dalam
lain. Pendapat terakhir ini berarti setuju de- mengambil pendapatyang paling mudah. Apa-
bila kita mengikuti aturan ini dengan konsis-
ngan pendapat syadz. ten dan disiplin, maka kita akan mengamalkan
prinsip modergt dan pertengahan (al-l'tidal
Sebagian ahli tafsir ada yang menerang- wat-Tawassuth) yang merupakan fondasi sya-
kan rahasia firman Allah SWT kepada Nabi riah Islam. Ini adalah sesuai dengan metode
Dawud, "Dan ianganloh mengikuti hawa naf' yang dilakukan oleh Khalifah Abu fa'far al-
su"122 setelah Allah memerintahkan Nabi Da- Manshur ketika bertemu dengan Imam Malik
pada musim haji. Khalifah berkata kepada
wud untuk menetapkan hukum dengan kebe-
naran. Tafsiran tersebut adalah, 'Ayat tersebut Imam Malik "sekarang ini orang alim yang

mengisyaratkan bahwa yang boleh diikuti masih hidup tinggal saya dan kamu. Saya sibuk
dengan urusan politik. Dan saya harap kamu
bukan hanya hukum yang benar (al-haq) saia.
[Maksud mengikuti hawa nafsu dalam ayat menyusun kitab dalam masalah sunnah dan
tersebut adalah) jika yang mendorong sese-
orang menetapkan hukum dengan pendapat fiqih yang menghindari kemudahan-kemudah-
an pendapat lbnu Abbas, kerasnya pendapat
yang tidak benar itu adalah hawa nafsunya,
Ibnu Umar dan syadz-nya pendapat Ibnu
sehingga yang dituhankan oleh orang tersebut
Mas'ud!" Imam Malik berkata, "Kemudian Abu
adalah hawa nafsunya, bukan Allah SWT.
Bahkan jika pendapat yang benar itu tidak fa'far memberi tahu cara penulisan seperti
itu." Maksudnya adalah memberi tahu cara
sesuai dengan nafsunya, maka dia juga akan
meninggalkannya dan mengikuti selain Allah yang tengah-tengah.
SWT. Adapun orang yang bertaklid kepada
pendapat yang syadz dengan alasan bahwa Aturan-aturan di atas dapat diringkas

pendapat syadz ini menurut si empunya dan menjadi dua saia:
orang yang bertaklid kepadanya adalah pen- Pertama, pendapat yang diambil adalah

dapat yang bena4, dan orang tersebut memilih dalam masalah-masalah ijtihadiyah yang tidak
pendapat yang syadz ini bukan hanya karena ada dalil rajih-nya.

dorongan hawa nafsu, melainkan karena do- Kedua, dilakukan karena dalam kondisi
darurat, kondisi hajat atau karena kemasla-
rongan hajat dan supaya kemudharatan dalam
hatan atau udzur.

722 Surah Shaad: 26.

tz3 Fatawa Syaikh'Ulaisy, jilidl, hlm. 62.

124 tbid..

!

FIqLH ISI,A,M IILID 1 pendapat yang menentangnya juga dalam

Ibnu Hajar dan ulama-ulama madzhab masalah tersebut. Syarat ini perlu diteliti
ulang, karena menyebabkan dilarangnya
Syafi'i yang lainl2s menetapkan beberapa sya- praktik taklid setelah mengerjakan satu
rat dalam taklid. Syarat-syarat ini sangat tepat amalan. Yang lebih tepat adalah dihukumi
apabila ditetapkan untuk mengatur masalah
yang kita bincangkan ini, yaitu masalah meng- boleh sebagaimana pendapat ulama
ambil pendapat yang paling mudah. Syarat-
syarat taklid ada enam: Syafi'iyah.

a. Pendapat-pendapat madzhab yang ditak- f. Tidak mencampur antara dua pendapat

lidi harus terpelihara, supaya dapat di- imam yang menyebabkan munculnya satu
yakini bahwa masalah yang ditaklidi
paket pendapat baru yang tidak diakui
tersebut memang berasal dari madzhab keabsahannya oleh dua imam tersebut.
Umpamanya adalah bertaklid kepada
tersebut.
Imam asy-Syafi'i dalam masalah cukupnya
b. Muqallid harus menjaga (mengamalkan) mengusap sebagian kepala ketika wudhu,
dan pada masa yang sama bertaklid ke-
syarat-syarat yang ditetapkan oleh imam pada Imam Malik dalam masalah sucinya
madzhabnya dalam masalah yang diikuti anjing kemudian orang tersebut melaku-
tersebut.
kan shalat. Imam al-Bulqini berkata,
c. Taklid tersebut tidak menyebabkan ke-'
"Penggabungan beberapa pendapat yang
putusan qadhi terabaikan, selagi keputus- dapat menyebabkan rusaknya taklid ada-
an qadhi tersebut tidak bertentangan de-
ngan nash Al-Qirr'an, sunnah, ijma, atau lah jika penggabungan itu pada satu ma-
salah tertentu, seperti taklid kepada dua
qiyas jali. imam dalam amalan bersuci dari hadats.
Namun apabila terjadinya penggabungan
d. Tidak mengikuti pendapat yang mudah,
yaitu dengan cara mengambil pendapat itu dalam dua amalanyangberbeda seperti
yang paling mudah dari setiap madzhab
dengan maksud menghindari tuntutan- amalan bersuci dari hadats dan amalan

tuntutan. Ibnu Hajar berkata, "Orang bersuci dari kotoran, maka penggabungan
yang melakukan seperti ini sangat tepat itu tidaklah merusakkan taklid."
untuk dihukumi fasiq." Imam ar-Ramli
berkata, "Yang tepat orang seperti ini Sebagian ulama madzhab Syafi'i ada yang
tidak dihukumi fasiq, meskipun tetap
menambahkan satu syarat lagi, yaitu wajib-
berdosa." Menurut ulama madzhab Syafi'i nya seorang muqallid meyakini keutamaan
belakangan (al-Muta'akhkhirun), syarat imamnya atau persamaannya dengan imam
yang lain. Tetapi, pendapat yang masyhur
ini bukanlah syarat bagi sahnya taklid, sebagaimana yang didukung oleh Imam an-

melainkan ia adalah syarat untuk mengelak Nawawi dan ar-Rafi'i adalah bolehnya bertak-

dari perbuatan dosa, seperti larangan lid kepada ulama yang tingkat keutamaannya
lebih rendah, meskipun ada ulama yang ting-
melakukan shalat di tanah g ha sab.

Tidak mengamalkan satu pendapat dalam

satu masalah kemudian mengamalkan

12s Lihat Sayyid Alawi bin Ahmad as-saqqal al-Fawa'id al-Makkiyyah fi Ma Yahtajuhu Thalabah asy-Syaf iyah min al-Masa'il wadh-

Dhawabith wql.Qawa'ifl al"KulliSnro}, dalam ,So b'atu Kutubin hlm.51. , 'k- , ,.:::tii::!i!i:i.,,

FIqLH ISI"A.M IILID 1

kat keutamaannya lebih tinggi. Ibnu Abidin Pada masa sekarang, aktivitas ijtihad sa-
ngat mungkin dilakukan dan tidak ada kesu-
dalam kitab Radd al-Mukhtar berkata, "Dalam litan dalam melakukannya, dengan syarat kita
dapat mengesampingkan khayalan-khayalan
kitab at-Tahrir dan syarahnya disebutkan, serta suara-suara warisan lama yang meng-
boleh bertaklid kepada ulama yang tingkat ganggu pikiran dan hati, dan juga sangkaan
keutamaannya lebih rendah meskipun ada keliru bahwa kita tidak mungkin sampai ke-
pada tingkatan yang telah dicapai oleh ulama-
ulama yang tingkat keutamaannya lebih tinggi.
Pendapat ini juga didukung oleh ulama-ulama ulama terdahulu. Sehingga, seakan-akan ak-
madzhab Hanafi, Maliki, Hambali, dan Syafi'i. tivitas ijtihad ini mustahil dilakukan. Apakah
ada sesuatu yang mustahil setelah manusia
Ada juga ulama yang menambah satu sampai ke angkasa dan diciptanya peralatan
syarat lagi, sehingga menjadi delapan syarat. dan teknologi modern yang mengagumkan?
Syarat tersebut adalah imam madzhab yang
diikuti harus masih hidup ketika praktik tak- Tidaklah sulit untuk memenuhi syarat-
lid dilakukan. Namun syarat ini ditolak oleh syarat ijtihad setelah berbagai disiplin ilmu

ulama, karena Imam an-Nawawi dan ar-Rafi'i telah dikumpulkan dalam tulisan, dan karya-
sepakat membolehkan bertaklid kepada orang karya tulis dalam berbagai bidang banyak di-
tulis, serta banyak usaha yang telah dilakukan
yang sudah mati. Mereka berdua berkata, "lni
untuk membersihkannya dari unsur-unsur
adalah pendapat yang shahih."
serapan negatif yang berada di dalamnya.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan
Ulama yang hidup pada setiap masa se-
bahwa dua syarat pertama harus dipenuhi lalu melakukan ijtihad. Mereka me-ra7ih-kan
dalam mempraktikkan taklid dan mengambil antara satu pendapat fuqaha-fuqaha sebe-
pendapat yang paling mudah. Adapun syarat lumnya dengan pendapat yang lainnya, hingga
yang ketujuh dan kedelapan tidak perlu. Saya
juga sepakat dengan syarat yang ketiga, dan madzhab-madzhab yang ada ini teratur dan
ia saya jadikan pegangan dalam kaiian saya.
Saya juga melarang praktik talfiq apabila ia hukum-hukumnya tertata raPi.

termasuk talfi q y ang dilarang, s ehingga syarat Dalam kitab Syarh Mukhtashar lbnu Haiib
yang kelima tidak diperlukan. Saya mengambil
pendapat yang bertentangan dengan syarat bab "al-Qadha'i' Ibnu Abdussalam-salah se-
orang tokoh madzhab Maliki-berkata, "Ting-
keempat jika memang ada keperluan (al' katan mujtahid adalah tingkatan yang dapat
diusahakan. Ia adalah syarat dalam memberi-
hajat). kan fatwa dan dalam menetapkan hukuman
(ol-qadha). Aktivitas ijtihad akan terus ber-
Menurut saya proyek penyusunan un-
dang-undang sipil, perdagangan, dan juga hu- langsung hingga masa terputusnya ilmu-se-
kuman kriminal hendaknya diambil dari sum- perti yang diberitakan oleh Rasulullah saw..
ber-sumber fiqih Islam semuanya (yaitu fiqih
sahabat, tabi'in, fiqih madzhab empat, dan Dan pada masa sekarang, masa terputusnya
madzhab para mujtahid yang lain serta fiqih-
fiqih ulama kontemporer). ilmu tersebut belum terjadi. Apabila ijtihad
ini tidak dilakukan, maka berarti umat Islam
bersepakat dalam kesalahan, dan ini adalah
batill'

-

FlqlH Isr.JA.M JrLrD 1

Imam as-Suyuthi mengomentari ungkap- Syekh al-Maraghi dalam kajiannya ten-

an di atas, "Perhatikanlah, bagaimana Ibnu tang al-ljtihad fil /s/am berkata, "Meskipun

Abdissalam menegaskan bahwa tingkatan ijti- saya menghormati ulama yang berpendapat
had bukanlah tingkatan yang tidak dapat di- bahwa ijtihad adalah mustahil, namun saya
capai, dan tingkatan itu berlangsung hingga
zamannya. Dia juga menegaskan bahwa tidak berbeda pendapat dengan mereka. Dan saya
adanya tingkatan ijtihad berarti umat Islam
bersepakat dalam kebatilan. Hal ini adalah se- katakan bahwa banyak ulama-ulama yang ada

suatu yang mustahil''125 di ma'had-ma'had (sekolah) agama di Mesir
yang telah memenuhi syarat-syarat ijtihad

dan mereka haram bertaklid."

*,,(6l.#Fli,

Ar-Radd 'alaa Man Akhlada fil Ardhi, hlm. 24.

i

FIqLH ISI"AM IILID 1

BAB KETUJUH

HASIL IJTIHAD YANG BENAR

Para pakar ushul fiqih bersepakat bahwa seperti masalah kewajiban shalat lima waktu,
orang yang melakukan penelitian dalam ma- zakat, haii, puasa Ramadhan, haramnya per-
salah-masalah logika murni127 dan masalah- zinaan, pembunuhan, mencuri, minum arah
dan perkara-perkara lain yang diketahui se-
masalah ushuliyah,128 wajib mencari satu cara pasti sebagai aiaran agama.

kebenaran, karena dalam masalah-masalah Tidak semua muitahid sampai kepada
tersebut kebenaran hanyalah satu bukannya
banyak. Orang yang benar dalam masalah- kebenaran dalam masalah-masalah di atas.
masalah tersebut juga satu. Kalau tidak de-
mikian, maka akan terjadi pertentangan yang Namun kebenaran hanyalah satu, yaitu yang
saling menafikan. Barangsiapa memperoleh diketahui bersama oleh umum. Orang yang
kebenaran, maka dia mencapai kesuksesan. sesuai dengan kebenaran, maka dia orangyang
Tetapi bagi orang yang melakukan kesalahan,
maka dia telah melakukan dosa. DoSa banyak benar. Sedangkan orang yang berbeda dengan
jenisnya; kesalahan yang berhubungan dengan
masalah keimanan kepada Allah dan Rasul- kebenaran, maka dia salah dan berdosa.
Nya menyebabkan kekafiran atau bid'ah yang
fasik. Sebab, orang yang melakukan kesalahan Masalah fiqh$ryah zhanniyyah (hukum-
hukum fiqih yang tidak mempunyai dalil yang
tersebut berpaling dari kebenaran seperti qath'i) adalah masalah-masalah yang meniadi
objek ijtihad. Orang yang berijtihad dalam
pendapat yang menafikan melihat Allah di masalah ini tidak akan berdosa. Namun, para
akhirat nanti, dan pendapat yang menetapkan
pakar ushul fiqih berbeda pendapat dalam
bahwa Al-Qur'an adalah makhluk.l2e
masalah ini, apakah semua mujtahid dihukumi
Masalah-masalah aksioma dalam ajaran benar atau mujtahid yang benar hanya satu.

agama disamakan dengan masalah di atas, Penyebab terjadinya perbedaan pendapat
ini adalah, karena ada pertanyaan apakahAllah
telah menetapkan satu hukum tertentu bagi

727 Masalah logika murni (al-Qadhaya al-Aqliyyah) adalah masalah yang dapat ditemukan oleh orang yang berpikir dengan modal
logika, sebelum datang ketetapan syara'seperti ketetapan bahwa Tuhan pencipta itu ada, sifat-sifat-Nya, diutusnya para rasul,

mukjizat, baru munculnya alam, dll..
t28 Contoh masalah ushulisyah adalah ketetapan bahwa iima, qiyas, dan khabor ahad adalah huliah, karena dalilnya kuat dan orang

yang tidak mengakuinya dianggap sebagai orang yang salah dan berdosa.

129 At-Mustashfa, jilid 2, hlm. IOS; al-lhkam lil-Amidi, jilid 3, hlm. L46; Syarh al-Muhalla 'ala Jam' al-Jawamf, jilid 2, hlm. 3L8; Syarh
al-Adhud'ala Mukhtashar lbn al-Hajib, iilid 2, hlm.293; Musallam ats-kubut, iilid 2, hlm. 328; Kasyf al-Asrar jilid 4,h1m.1137; at-
iilrd [, hrm. ?fi#_ l:yra glnnul ,hffizz8,
{alwilr, i$d ?, Nm.}L8 ; a I 1M1S;w q.

--

FIQIH ISI."A,M IILID 1 Pengantar llmu Flqlh

setiap masalah sebelum mujtahid melakukan Selain itu, para fuqaha dan mutakallimun
aktivitas ijtihadnya, atau masalah tersebut ti-
dak mempunyai hukum tertentu, melainkan juga berbeda pendapat. Sebagian mereka
hukum sesuatu tersebut adalah hukum yang
berhasil ditemui oleh seorang mujtahid dalam mengatakan bahwa hukum yang ditetapkan
aktivitas ijtihadnya.
Allah tersebut tidak mempunyai petunjuk
Imam al-Asy'ari, al-Ghazali, dan al-Qadhi (dalil) dan tanda yang dapat mengantar se-
al-Baqilani berkata, "Tidak ada hukum Allah seorang menemui ketetapan hukum terse-
sebelum ijtihadnya seorang mujtahid. Hukum
Allah adalah hukum yang berhasil ditemui but. Hukum laksana benda yang terkubur dan
oleh seorang mujtahid melalui aktivitas ijti- didapatkan secara tidak sengaja oleh orang
hadnya. Sehingga, hukum berdasarkan dugaan
kuat (zhann), dan hukum yang diduga kuat yang mencarinya. Ini adalah pendapat yang
oleh seorang mujtahid itulah hukum Allah.
Sehingga, setiap mujtahid adalah bena4 kare- tidak logis. Bagaimana mungkin Allah menun-
na dia telah melaksanakan apa yang menjadi
tanggung jawabnya. tut hamba-hamba-Nya melaksanakan hukum

fumhur ulama dan juga madzhab Syi'ah yang tidak ada petunjuknya?
mengatakan bahwa Allah menetapkan satu
hukum tertentu bagi setiap permasalahan Sedangkan sebagian besar ulama menga-
sebelum ada aktivitas ijtihad. Barangsiapa se- takan bahwa Allah SWT telah membuat pe-
suai dengan ketetapan Allah tersebut, maka tunjuk fdalil yangtarafnyazhanni) bagi hukum
dia adalah orang yang benar. Adapun yang ti- yang ditetapkan-Nya. Seorang mujtahid tidak
dak sesuai dengan ketetapan Allah, maka dia
salah. Orang yang benar hanya satu, dan dia dituntut untuk selalu sampai kepada dalil
mendapat dua pahala, sedangkan selainnya
adalah salah dan mendapatkan satu pahala.130 tersebut, karena memang dalil tersebut samar.

Barangsiapa tidak dapat sampai kepada da-

lil tersebut, maka dia dimaafkan dan tetap

mendapat pahala. Ini adalah pendapat yang
shahih berdasarkan sabda Rasulullah saw.,

"Apabila seorang hakim menetapkan hukuman

dan berijtihod kemudian ijtihadnya itu betul,

maka dia mendapatkan dua pahala. Apabilo dia
menetapkan hukuman dan berijtihad namun

salah, maka dia mendopatkan satu pahala!'

.' Sr3re,b,',

Al-Luma'lisy-Syairazi,hlm.Tl; al-Mustashfa, iilid 2, hlm. 1.06 dan setelahnya; al-lhkam lil-Amidi, jilid 3, hlm. 138 dan setelahnya;
Syarh al-lsnawi, jilid 3, hlm. 257; Sayrh al-Muhalla'alaa Jam' al-Jawami', jilid 2, hlm. 318; Syorh al-Adhud 'ala Mukhtashar al-Mun-
taha, lllid 2, hlm.293:, at-Taqrir wat-Tahbin jilid.3, hlm. 306; Fawatih ar-Rahamut Syarh Musallam ats-Tsubut, jilid 2, hlm. 37 6 dan
setelahnya; Kasyf al-Asrar, jilid 4, hlm. ll38; at-Talwih 'ala at-Taudhih, jilid 2, hlm. !L8; Irsyad al-Fuhul hlm. 230; al-Milal wan-Nu-

hal lisy-Syahrastanr, jilid 2, hlm. 203.

FIqLH ISI.A.M JILID 1

BAB KEDELAPAN
CARA BERIJTIHAD

Apabila terjadi masalah baru atau apabila da nash tersebut dan menghukumi masalah
ada orang yang ingin mengambil pendapat yang dikajinya itu berdasarkan petunjuk nash
yangrajih dari pendapat-pendapat para imam,
maka seorang alim yang akan beriitihad hen- tersebut. Apabila tidak ditemukan dalam
daklah mengumpulkan semua kemampuan di-
siplin ilmu yang berhubungan dengan perma- Kitabullah, maka hendaklah dia mencari dalam
salahan yang akan dikaji seperti ilmu bahasa, As-Sunnah, apabila ada khabar; atau sunnah
ayat-ayat Al-Qur'an, hadits-hadits Nabi, pen- 'amaliyyah atau taqririyah, maka hendaknya
dapat-pendapat ulama salaf dan menggunakan
metode qiyas. Dengan kata lain, seorang alim dia mengambilnya sebagai dalil. Kemudian
tersebut hendaknya memenuhi syarat-syarat
memperhatikan ijma' ulama, qiyas,131 kemudi-
ijtihad dalam masalah tersebut. Kemudian an menggunakan logika yang sesuai dengan
semangat pensyariatan hukum Islam.132
mengkaji dan meneliti masalah tersebut tanpa
membawa-bawa fanatisme satu madzhab ter- Demikianlah cara melakukan ijtihad, ada-
tentu. Secara ringkas prosedur ijtihad dapat kalanya merujuk kepada makna lahiriah nash,
diuraikan sebagai berikut. apabila memang nash tersebut sesuai dengan
realitas masalah yang dikaji. Dan adakalanya
Pertama-tama hendaklah melihat nash- juga merujuk kepada sisi logika dari nash yai-
nash Kitabullah, apabila dia menemukan nash tu qiyas, atau menimbang realitas masalah de-
yang jelas mengenai masalah yang dikajinya, ngan menggunakan kaidah-kaidah umum yang
maka hendaklah dia berpegang teguh kepa- digali dari dalil-dalil Al-Qur'an dan As-Sunnah
yang beragam seperti istihsan, maslahah mur-
salah,'urf, sadd adz- dzari' ah, dll.. 133

,'s.alF&r.,

131 Asy-Syafi'i, ar-Risalah, hlm. 508; al-Milal wan Nlhal iilid 2, hlm. 198; al-Ghazali, al-Mankhul, hlm. 466.
t32 Alam al-Muwaqqi'in, jilid 1, hlm. 66; Irsyad al-Fuhul, hlm.227 .
133 As-Sayis, Tarikh al-Fiqh ol-ls/amt hlm. 31

--l

FIqLH ISI."AM JILID 1

BAB KESEMBILAN

MEMBATALKAN IJTIHAD, BERUBAHNYA
IJTIHAD SERTA PERUBAHAN HUKUM
KARENA PERUBAHAN ZAMAN

A. PERUBAHAN IJTIHAD (TAGHAYYUR AL. B. MEMBATALKAN IJTIHAD (NAQDHUL
unHAq
ttTtHAD)
Apabila seorang mujtahid mengeluarkan
Seorang mujtahid boleh mengubah ijti- fatwa dalam satu kasus, atau seorang qadhi

hadnya dengan cara menarik kembali pendapat memutuskan sengketa di antara dua orang,
yang pernah dikeluarkan. Hal ini karena basis
kemudian mujtahid dan qadhi tersebut ber-
utama ijtihad adalah dalil, apabila seorang ubah pikiran dan mereka mempunyai penda-
pat baru yang berbeda dengan pendapat yang
mujtahid menemukan dalil baru maka dia wa- pertama, maka pendapat manakah yang harus
diambil; pendapat yang baru atau pendapat
jib mengambil dan menggunakannya karena yang lama, apakah hasil iitihad yang lama da-
dalam dalil baru tersebut terdapat petunjuk pat dibatalkan? Sebelum menjawab pertanya-
an ini, perlu ditegaskan terlebih dulu bahwa
yang lebih utama untuk diambil daripada da- anta ra men gubah i j tihad (ta g h ayy ur aI - ii ti h a d)
lil yang sebelumnya dan juga karena dalil baru dengan membatalkan ijtihad (naqdh al-iiti-
tersebut lebih dekat dengan kebenaranl3a. had) ada perbedaan, Taghayyur al-ijtihadber'
hubungan dengan masalah teoretis untuk me-
Dalam surat Umar r.a. yang dikirim kepa- netapkan dasar bagi mengubah ijtihad yang
da Abu Musa al-Asy'ari (Qadhi yang bertugas lama. Adapun naqdh al-ijtihad adalah berhu-
di Kufah) disebutkan, "Keputusan yang telah bungan dengan masalah praktis kehidupan,
engkau ambil hari ini janganlah menghalangi-
mu untuk kembali kepada kebenaran, karena
wujud kebenaran adalah sudah lama. Kembali
kepada kebenaran adalah lebih baik dibanding
berterusan dalam kebatilan."

fatwa, dan menangani sengketa yang terjadi di FlqlH Isr-A,M )rLrD 1

antara manusia. sarkan kepada dalil zhanni, maka tidak perlu
dibatalkan. Karena, apabila dibatalkan akan
Para pakar ushul fiqih membedakan menyebabkan hukum menjadi semrawut, ti-
dak stabil, dan hilangnya kepercayaan kepada
pengamalan naqdh al-iitihad yang dilakukan
oleh mujtahid dengan yang dilakukan oleh hakim. Ini tentunya bertentangan dengan

hakim.13s prinsip kemaslahatan yang merupakan alasan
utama mengapa seorang hakim harus diang-
Apabila seorang mujtahid mempunyai kat. Yaitu, untuk menangani sengketa dalam
satu pendapat tertentu, kemudian dugaan masyarakat. Kalau seandainya keputusan ha-
kuatnya berubah, maka dia wajib mengubah
kim boleh dibatalkan, maka kaidah-kaidah
ijtihadnya tersebut. Contohnya adalah apabila
ada seorang muitahid berpendapat bahwa hukum tidak akan stabil, dan persengketaan
khulu' menyebabkan nikah meniadi /askh. Ke- akan terus terjadi meskipun setelah dijatuh-
mudian dia menikah dengan seorang wanita
yang dulu pernah dia khulu'tiga kali. Lalu dia kannya keputusan. Hal ini tentunya menye-
mempunyai pendapat baru yang mengatakan
bahwa khulu' mempunyai konsekuensi sama babkan timbulnya percekcokan yang berke-
lanjutan dan merajalelanya permusuhan serta
dengan talah maka dia wajib berpisah dari
kerusakan, Dan ini sudah barang tentu ber-
istrinya dan dia tidak boleh bersamanya kare-
na mengamalkan hasil iitihadnya yang kedua. tentangan dengan hikmah dari pengangkatan
seorang hakim, sebagaimana diterangkan oleh
Hal ini karena dia sudah tahu bahwa ijtihad Imam al-Qarafi.136

pertamanya adalah salah dan yang kedua ada- Teladan utama dalam masalah ini adalah

lah yang benar. Umar r.a.. Ketika dia menetapkan dua hukum-
an dalam masalah waris, dia berkata, "Kepu-
Berbeda dengan hakim. Apabila ada se- tusan yang itu adalah berdasarkan keputusan
orang hakim atau qadhi menghukumi satu yang sudah saya tetapkan. Dan keputusan ini
kasus tertentu dengan menggunakan ijtihad, sesuai dengan keputusan yang sedang saya
kemudian ijtihadnya tersebut berubah ketika
menangani kasus yang sama, maka keputusan- tetapkan." Selain itu, para fuqaha telah me-
netapkan kaidah dalam masalah furu'iyyah,
nya yang pertama itu perlu dilihat terlebih yaitu "ijtihad tidak dapat dibatalkan dengan

dulu; jika memang bertentangan dengan dalil ijtihadJ'
yang jelas dari nash Al-Qur'an atau As-Sunnah
atau ijma atau qiyas jali, maka ulama sepakat C. PERUBAHAN HUKUM KARENA
mengatakan keputusannya yang pertama itu
wajib dibatalkan, baik oleh hakim itu sendiri PERUBAHAN ZAMAN
ataupun oleh mujtahid yang lain. Karena, ke-
putusannya jelas-jelas bertentangan dengan Tidak ada yang mengingkari bahwa sua-
tu hukum kadang berubah karena perubahan
dalil. zaman. Perubahan hukum ini bisa terjadi di-
sebabkan berubahnya adat kebiasaan, beru-
Namun apabila keputusannya itu dalam bahnya kemaslahatan manusia, atau karena
kondisi darurat, atau karena adanya dekaden-
masalah ijtihadiyah atau masalah yang dida-

r3s At-Mustashfa,jilid 2, hlm. 120; al-Amidi, a t-lhkam, jilid.3, hlm. 158; Musallam ats-Tsubut, jilid 2, hlm. 345; Fawatih ar-Rahomut, iilid

2, hlm. 395; at:Taqrir wat-Tahbin iilid 3, hlm 335; Sayarh al-Muhalla 'ala Jam' al-Jawami', iilid,2, hlm. 320; al-Madkhal ila Madzhab
Ahmad, hlm. L90i I rsyad al- Fuhul, hlm. 232.

#jj i.}lfl'ts

I

I

FIqLH ISI"{M IILID 1

si moral dan melemahnya rasa keberagamaan kan kebenaran, merealisasikan kemaslahatan,
dalam masyarakat, atau karena perkembangan
dan menghindari mafsadah [kerusakan).
zaman dan munculnya sistem-sistem baru. Adapun selain hukum-hukum tersebut,
Oleh sebab itu, hukum wajib diubah supaya
yaitu hukum-hukum dasar yang ditetapkan
kemaslahatan dapat terealisasikan, mafsadah untuk tujuan legislasi atau dasar-dasar yang
dapat dihindari, dan kebaikan serta kebenaran
dapat ditegakkan. Atas dasar ini, maka prinsip digunakan untuk menetapkan peraturan
perubahan hukum adalah lebih dekat dengan
umum, maka ia termasuk hukum-hukum yang
teori al-mashlahah al-mursalah ketimbang tetap dan tidak boleh berubah, seperti dasar-

dengan teori al-'urf. dasar aqidah, ibadah, akhlah dasar-dasar

Perlu ditegaskan di sini bahwa hukum berinteraksi seperti menghormati kemuliaan
manusia, prinsip saling rela dalam transaksi,
yang dapat diubah adalah hukum-hukum yang keharusan memenuhi janji, mengganti keru-
dihasilkan berdasarkan qiyas atau al-mashla- sakan, menciptakan suasana aman dan ke-
stabilan, menekan tingkat kriminalitas, men-
hah al-mursalah dan itu pun terbatas dalam jaga hak-hak kemanusiaan, prinsip tanggung
jawab pribadi, dan menghormati prinsip ke-
masalah-masalah muamalah, undang-undang,
hukum administratif, hukuman to'zir, dan hu- adilan dan syura.
kum-hukum yang bertujuan untuk menegak-

- tffin',

Pen8lanta? llmu Flqlh Isr.AM IrrrD 1

BAB KESEPULUH
RANCANGAN PEMBAHASAN

Buku ini akan dibagi kepada enam harta temuan, perlombaan (as-sabq), barang
hilang, dan a sy - sy uf 'ah.
bagian:
Bagian V
Bagian I Perkara yang berkaitan dengan negara
Ibadah dan perkara yang berkaitan de-
[fiqih umum), yaitu hudud, kriminal, jihad,
ngannya seperti nazar, sumpah, berkorban,
dan sembelihan (hubungan manusia dengan perjanjian, kehakiman, cara menetapkan hu-
kuman, hukum-hukum mengenai imamah
Allah SWT) [khalifah) atau sistem pemerintahan yang bi-
asanya dinamakan al-Ahkam as-Sulthaniyyah.
BagianII
Teori-teori fiqih yang penting. Bagian VI
Urusan kekeluarga an (al-Ahwal asy-Syakh-
Bagian III
shiyyah) merangkumi perkawinan, perceraian,
Muamalat, kontrak-kontrak, dan perkara dan perkara yang berkaitan dengan kedua-
yang berkaitan dengannya (hubungan sesama duanya, harta warisan, wasiat, dan wakaf.
manusia).
Pembahasan mengenai kelayakan dan ke-
Bagian IV walian dalam masalah perkawinan, akan di-
Kepemilikan dan perkara yang berkaitan Iakukan dalam pembahasan teori-teori fiqih.
Tetapi ia kadang diulang dalam perbincangan
dengannya termasuk hukum-hukum menge- tentang al-ahwal asy-syakhshryyah, kontrak
nai tanah, ihya' al-mawat, hak irtifaq, kontrak- jual beli, dan lain-lain.
kontrak investasi tanah, hukum mengenai
barang tambang dan minyak, cara pembagian
ghanimah fqismah), harta rampasan perang,

" i\iflKt&,"

FrqLH IsrLM lrrrD I -.I

I

BAB KESEBELAS
DAI]TAIT UKURAN.IJKURAN"

A. UNIT UKURAN PANJANG Satu mil ialah 4000 hasta atau 1848 m
atau L/2 sa'ah atau 1000 ba'.
O Satu al-qashbah ialah 6 hasta atau 3696 Ukuran mil laut sekarang ialah 1848,32

meter.138 m.

Satu al-jarib ialah 100 qashbah atau Satu/arsakh ialah tiga milatau 5544 meter
atau 12000 khathwah (langkah), kurang
3600 hasta hasyimi atau qadam persegi lebih L,l / 2 sa'ah [perj alanan).
atari yard persegi atau 1366,0416 meter Satu barid Arab ialah empat/arsakh atau
22176 meter atau 22,176 km atau lebih
persegi. kurang enam sa'ah fiam).'no
Satu qadam ialah 30,4 cm. Satu yard
farak qashar bagi orang musafir ialah
sekarang ialah 91,43 cm. Satu hasta ha- 88,704 km. Menurut ulama Hanafi lebih
kurang 86 km. Dan sebagian ulama me-
syimi adalah 32 ishbi' atau qirath. Satu
netapkan 83 km.
ishba'ialah 1,925 cm.
a Satu hasta Mesirl3e ialah 46,2 cm. Satufidan Mesir ialah 4200, 6/5m persegi
atau 333, L/3 qashbah persegi,
a Satu hasta yang dimaksudkan dalam
a Satufaddan lama ialah 5929 m persegi.
kajian fiqih ialah hasta hasymi,yaitu6L,2 a Satu dawnam ialah1000 m persegi.

cm.

a Satu al-ba'ialah empat hasta.
a Satu marhalah ialah L2 jam (sa'ah).
a Satu qafiz (dalam ukuran panjang) ialah

L/10 jarib atau 136,6 m.

Safighalwah ialah 400 hasta atau 184,8 m.

737 Lihat Dr. Dhiya'uddin ar-Rais, a l-Kharaj fi ad-Daulah al-lslamiyyah,hlm.26L,3S3; Subhi Shalih, an-Nuzhum al-lslamiyyah,hlm.409,
429; Ibnu Rif'ah al-Anshari, Al-ldhah wat-Tibyan fi Ma'rifati al-Mul<yal wal Mizan.
Al-Qashbah sekarang adalah 23,75 meter persegi. Madzhab Hanafi, Syafi'1, dan yang lain kadang berbeda pendapat dalam menen-

tukan ukuran dengan ukuran gram karena ada perbedaan dalam penghitungan al-wasg dan marhaloh.

Para penulis menamakannya dengan berbagai nama seperti dzira'(hasta) kecil, hasta umum, hasta qiyas, hasta tangan, hasta manu-

sia, atau hasta yang betul. affisz6! sehipgga km,
ulanra

rl

B. UNIT UKURAN TAKARAN FIqLH ISI.AM JITID 1

a Satu sha' syar'i atau sha' Baghdad ialah o Satu al-Mana ialah dua rithl.
empat mud atau 5,L / 3 rithl. Beratnya ada- o Al-Farq ialah bejana yang dibuat dari
lah sama dengan 685,7 dirham atau 2,75
liter atau 2175 gram. Ini adalah menurut tembaga yang dapat menampungL6 rithl,
pendapat Syafi'i, ahli-ahli fiqh Hijaz, dan berarti dia sama dengan 10 kilogram atau
dua orang sahabat Abu Hanifah, dengan
enam qrsth. Satu qisth ialah lf 2 sha'.
pertimbangan satu mud ialah L/3 rithl
AI-Mudyu [timbangan negeri Syam dan
Iraq. Menurut Abu Hanifah dan ahli fiqih Mesir) ukuran ini bukanlah mud.la sama

Iraq, satu sha'ialah delapan rithf dengan dengan 22,5 sha'.

perhitungan bahwa satu mud ialah dua a Satu jarib ialah 48 sha'atau 192 mud.
a Satu al-Wasq ialah 60 sha'. Lima awsuq
rithl. Oleh sebab itu, beratnya adalah sama
dengan 3800 gram. Menurut Imam an- ialah nisab zakat, iaitu 300 sha' atau
Nawawi, "Pendapat yang ashah ialah satu
sha'sama dengan 685,5/7 dirham. Satu 653 kilogram menurut pendapat jumhur
rirhl adalah L28,4/7 dirham. Yang diakui ulama selain madzhab Hanafi berdasar-
adalah sha' nabawi jika memang ada atau kan perkiraan bahwa satu sho'ialah2L75
seukuran dengannya. fika tidak ada, maka gram atau 7200 mud atau empat irdab dan
duakailah [ukuran kailah sekarangatau 50
orang yang wajib mengeluarkan zakat kailah Mesir). Satu kaylah ialah?4 mud. Satu
fitrah hendaknya mengeluarkan seukur- irdab Mesir sekarang ialah 96 qadh atau
2BB mud atau 198 liter atau 156 kilogram
an yang sekiranya dia yakin bahwa yang
atau L92 rithl atau 72 sha'. Satu kaylah
dikeluarkan itu tidak kurang dari satu
Mesir adalah sama dengan enam sha'atau
sha'. Satu sho'menurut timbangan Mesir 32 rith.
Safi lrdab Mesir atau saht irdab Arab ialah
adalah duaqadah.
24 sha'atau 64 mana atau l2B rithl atau
Satu mud ialah 1, L/3 rithl atau 675 gram enam waibah atau 66liter.

atau 0,688liter. Satu al-Waibah ialah 24 mud atau enam
sha', iaitu satu kaylah Mesir sekarang.
Satu rithl syara' atau rithl Baghdad adalah Sat:.t al-Kurr [timbangan Arab yang ter-
besar) ialah 720 sha'atau 60 qafiz atau
L28, 4/7 dirham. Ada dikatakan bahwa
L0 irdab atau 3840 rithl lraq atau 1560
satu rithl ialah 130 dirham. Rithl Baghddd
ialah 408 gram. Rithl Mesir ialah 144 kilogram.
dirham, yakni kurang lebih 450 gram.
c. UNIT UKURAN TIMBANGAN DAN UANG
Satu dirham Iraqi ialah 3,17 gram. Satu
dirham Mesir sekarang ialah 3,12 gram. o Satu dinar ialah sama dengan satu mitsqal
Satu dirham Arab adalah2,975 gram, emas atau 4,25 gram emasral atauT2biji
Satu qafa ialah L2 sha' atau delapan sya'ir (gandum) yang sederhana. Satu biji
makkuk, Satu makkuk ialah L,LfZ sha'. sya'ir yang sederhana ialah 0,059 gram
Satu qafiz menyamai juga 33 liter atau 128
rithl Baghdad. Ia juga sama dengan tiga emas.
kiljah. Satu kifah ialah setengah sha'.

Ukuran yang ditetapkan oleh Bank Isla$.r Faisal di Sudan ialah 4 ,45?,Wam

,;;;:{'1*, iirffii. t,.*;*1,; #, r,iffiif:r .r,* '!*ffu,,,,",.*j iirruu, ,,,,ffi.,

IsrAM )rLrD 1

Satu mitsqal atau dinar ialah 20 qirath. o Satu qinthar syara' ialah 1200 uqiyah atau
Mitsqal asing ('ajam) ialah 4,80 gram dan
8.400 dinarla3 atau 80.000 dirham. Satu
mitsqal Iraq ialah lima gram.1az uqiyah ialah tujuh mitsqal,yang menyamai
Satu qirath ialah 0,2L25 gram perah jika 119 gram perak.

kita menghitung bahwa mitsqal terbagi o Satu qintharmenuruttimbangansekarang

kepada 20 qirath, ukuran ini adalah ukur- ialah 100 rithl Syam. Satu rithl Syam ialah
an yang ingin ditambah oleh Mu'awiyah 2,564 kilogram. Nisab buah anggur dan
kepada negeri Mesir, atau 0,2475 gram buah tamar (lima awsuq,) ialah 2,5 qinthar
zabib (kismis) atau 553 kilogram atau 50
perak jika kita mengira mitsqal terbagi
kaylah Mesir,
kepada 22 qirath.
E. PERHATIAN
Satu dirham Arab ialah 7 /10 mitsqal [dinar)
atau 2,975 gram atau enam daniq atau 50, Ukuran yang kami gunakan di sini ialah
2/5 biii sya'ir yang sederhana. 10 dirham berdasarkan kepada pendapat yang ashah,
ialah tuiuh mitsqal emas atau L40 qirath iaitu satu dinar sama dengan (4,25 gram), satu
dan satu uqiyah emas ialah 40 dirham.
dirham sama dengan(2,975 gram). Nisab perak
Satu daniq ialah dua qirath atau B, 2/5biji dalamzakatadalah [595 gram) dan nisab emas
sya'ir yang sederhana atau 1/6 dirham adalah [85 gram). Satu sha'menurut madzhab
Syafi'i adalah (2,176 gram). fadi, lima awsuq
atau 0,495 gram perak.
ialah 300 sha' x 2L76 gram = 652,8 kilogram,
Satu ath-Thasuj ialah dua biji ataul/Z qirath
atau0,L237 gram. Qirath ialah dua thasuj. yaitu kurang lebih 653 kilogram.
Satu habbah (biji) ialah 0,618 gram perak
atau 0,06 gram atau dua/a/s. Kami iuga menggunakan kesimpulan

a Satu nuwah ialah lima dirham. ukuran menurut yang masyhur, kecuali dalam
kasus untuk menghitung madzhab yang lain.
a Satu/a/s ialah 0,03 gram perak.

,',.{!ffi},*

142 Berdasarkan hitungan ini, maka nisab zakat emas 20 mitsqal adalah sama dengan 96 gram iika menggunakan mitsqal'aiami dan 100

gram iika menggunakan mitsqal traqi. Emas harus diiadikan asas ukuran, dan kadar nisab zakat mestilah mengikut harga emas atau

perak dalam mata uang modern sekarang.

143 Msnurut LrSon s/-i4rab dan pepgertian Arqb,._qfnfar ialah dinan

illii!::::i:, ",,0,Mt0,, . ;t:r,:i!iiiit , ,',.i:1,.

FIqLH ISI,!A,M )ILID 1

BAB KED UA B ELAS

NIAT DAN PENDORONG DALAM
IBADAH, AKAD, EASKH DANJUGA
NIAT MENINGGALKAN PERKARA YANG
DILARANG OLEH AGAMA (AT-TURUIo

Pada bab ini kita akan membahas niat SIGNIFIKANSI PEMBAHASAN DAN

yang dibenarkan oleh agama (al-qashdu atau RANCANGANNYA
al-iradah) dan juga niat yang tidak dibenar-
kan oleh agama (al-ba'its as-sayyi'). Perkara- Syariah Islam adalah istimewa, karena
perkara yang dibahas meliputi hukum, cara bersifat komperehensif meliputi semua urus-
an keagamaan dan keduniaan, sistem yang
niat dalam bidang ibadah (seperti bersuci, mengatur kehidupan rohani dan juga kehi-
puasa, zakat, haji dll.), muamalah [seperti
akad jual beli, akad nikah, hibah, kafalah, hi- dupan sipil. Selain itu, syariat Islam juga
walah, dll.), faskh (seperti talak untuk meng-
akhiri ikatan pernikahan) dan mengenai mengatur hak yang terbagi menjadi dua, yaitu
niat at-turuk (perkara-perkara yang dituntut hak yang terlaksana dengan didukung oleh
oleh agama untuk ditinggalkan seperti me- institusi kehakiman (haq qadha'rJ dan hak
yang terlaksana tanpa didukung oleh institusi
ninggalkan kemakruhan dan keharaman,
kehakiman (haq diy anf).
menghilangkan najis, mengembalikan benda Yang dimaksud dengan haq diyani adalah

yang di-ghashab [diapakai tanpa izin], pe- hak-hak yang tidak termasuk dalam wilayah
minjaman, memberikan hadiah, dan hal-hal
lain yang tidak memerlukan niat), niat dalam kehakiman. Dalam hak-hak ini, seseorang
perkara-perkara mubah dan adat kebiasaan
seperti makan, minum, berjimah dan hal- bertanggung jawab secara langsung kepada

hal lain yang serupa, yang apabila seseorang Allah SWT.
Adapun yang dimaksud dengan haq qa-
berniat dalam hal tersebut, maka dia akan
mendapatkan pahala ibadah, dan niat terse- dha'i adalah hak-hak yang masuk dalam
wilayah kehakiman. Orang yang mengaku
but tidak berat untuk dilakukan bahkan dapat mempunyai hak tersebut dapat melakukan
diterima secara natural oleh jiwa, insting, dan
proses penetapan hak di depan hakim/qadhi.
juga doronganpribadi.
Pembagian ini mempunyai konsekunsi

lain, yaitu hukum-hukum yang termasuk

haq diygl"ti harus

FIqLH ISI.A.M JILID 1 beragama dan rasa diawasi oleh Tuhan dalam

dengan berdasarkan niat dan harus sesuai segala urusan baik yang dirahasiakan atau
dengan realitas dan kenyataan hukum yang tidak, semakin berkurang. Dan juga, pertim-
bangan unsur takwa dalam menuntut hak dan
sebenarnya. Sedangkan hukum-hukum yang
termasuk kategori haq qadhat, maka harus melepaskannya semakin hilang. Ini semua
diputuskan berdasarkan sisi lahiriahnya, tidak
perlu meneliti niat dan tidak harus sesuai de- menyebabkan hilangnya perhatian kepada
ngan kenyataan. Contohnya adalah apabila ada masalah niat. Sehingga, fenomena yang ber-

seseorang tidak sengaja mengucapkan kata kembang di masyarakat ini mendorong kita

talak kepada istrinya, dan dia tidak bermaksud untuk mengingatkan kembali kepada hukum
menjatuhkan talak, maka seorang qadhi akan dan nilai-nilai Islam. Karena, Islam mempunyai

menetapkan bahwa talak tersebut memang sistem yang ideal, kekal, dan dapat mencipta-
terjadi karena melihat sisi lahiriah kejadian
dan tidak mungkin mengetahui kenyataan kan kemaslahatan bagi manusia. Dengan me-
yang sebenarnya. Namun dari sisi haq diyani, nerapkan sistem Islam, maka perilaku yang
maka seorang mufti akan menetapkan bahwa
talak tersebut tidak terjadi dan ketetapan ini menyimpang dan kesalahan-kesalahan juga
dapat diatasi. Sistem Islam adalah standar
boleh dipakai oleh seseorang dalam hubungan utama dalam penilaian yang dilakukan oleh
dia dengan Allah S\MT. kebanyakan nurani manusia, dan juga.dasar

Hak kegamaan (haq diyan{) bergantung utama penilaian Allah SWT di akhirat nanti.
kepada niat dan niat menjadi asas amal ke-
Di antara faktor terpenting dalam hukum
agamaan.laa Hak ini adalah hak yang kekal, Islam yang wajib dilakukan oleh orang mu-
abadi, dan tidak akan berubah. Niat inilah
kallaf adalah niat yang benar. Niat yang benar
yang menjadi dasar ditetapkannya pahala
dan hukuman dari Allah SWT. Islam adalah ini merupakan alat untuk menilai sebuah
agama, dan agama merupakan inti dari Islam.
Beragama akan diakui apabila diniatkan ha- amal. fika niatnya bena[ maka amalnya juga
benar. Begitu juga sebaliknya, apabila niatnya
nya kepada Allah SWT. rusak, maka amalnya juga rusak. Amalan
yang dilakukan oleh orang-orang beriman
Undang-undang positif tidak melihat tidak akan diakui oleh syara' dan juga tidak
akan diberi pahala jika tidak disertai dengan
sisi niat dan sisi batin, bahwa ia tidak mem- niat. Hadits, "Sesungguhnya amal perbuatan
pertimbangkan konsep halal dan haram me-
nurut konsep agama. Yang diperhatikan ada- adalah bergantung kepada niatnya, dan setiap
lah sisi luaq, yaitu dengan mengamati realitas
kehidupan melalui interaksi yang biasa ter- seseorang akan mendapatkan (sesuatu) sesuai
jadi, dan mengaturnya dengan berpandukan dengan niatnyai' yang diriwayatkan oleh sa-

kepada sistem yang berlaku di masyarakat habat UmaX, merupakan salah satu hadits

dan negara. utama dalam ajaran Islam. Ia juga salah satu
Dengan diterapkannya undang-undang
dasar-dasar agama dan banyak hukum-hukum
positif di dunia Islam, maka rasa keagamaan yang ditetapkan dalam ajaran agama yang
umat Islam menjadi melemah, dominasi rasa berbasis pada hadits ini. Selain itu, hadits ini
dianggap sebagai separuh agama. Imam Abu

Dawud berkata, "Sesungguhnya hadits ini

laa Al-Baihaqi dan ath{habrani meriwayatkan sebuah hadits dari sahabat Anas bin Malih " Niat seorang mukmin lebih baik daripada

amalnya."'fetapi hadits ini dhaif, sebagaimana diterangkan oleh as-suyuthi dalam al-Jami'ash-Shaghiir Imam al-Munawi berkata,
"Hadits ini rnempun),aipanyak ialur sana!,y,pe d-+{
kedhaifannyal'

I

Isr.-A.M JrLID 1

adalah separuh ajaran Islam. Karena, adakala- 'sesungguhnya Allah Mahasuci (thayyib) dan

nya agama itu berbentuk lahiriah yaitu amal tidak menerima kecuali sesuatu yang suci
perbuatan, dan adakalanya juga berbentuk (thoyyib)l dan juga hadits 'Di antara tanda

batiniah yaitu niat." baiknya keislaman seseorang adalah dia me-

Hadits ini juga dianggap sebagai seper- ninggalkan perkara yang tidak memberinya
kemanfaatan.' Kemudian dia berkata, 'Setiap
tiga ilmu. Imam asy-Syafi'i dan Imam Ahmad satu hadits dari empat hadits ini merupakan

menegaskan bahwa di dalam hadits innamal seperempat ilmu."'1as
a'moqlu bin-niyaat terdapat sepertiga ilmu'
Imam al-Baihaqi dan juga yang lain berkata, Atas dasar ini semua, maka pembahasan
niat menjadi prioritas dalam agama. Dia juga
"Penyebabnya adalah pekerjaan manusia ada- menjadi dasar ilmu yang penting bagi setiap
kalanya dengan hati, lisan, dan juga dengan
manusia. Karena dalam pembahasan niat ter-
anggota badan. Niat adalah salah satu [pe- dapat pembahasan aturan, keterangan, dan
kerjaan) yang dilakukan oleh salah satu dari
tiga hal tersebut." Imam asy-Syafi'i berkata, juga peringatan. Menerangkan aturan niat
"Dalam hadits ini terkandung tuiuh puluh bab akan memudahkan orang yang beribadah
untuk mengetahui cara yang paling shahih
pembahasan fiqihJ'Oleh sebab itu, para ulama dan selamat dalam mengerjakan ibadahnya.
menganggap sunnah memulai sebuah kitab Dengan mengetahui niat, maka seseorang
dengan pembahasan niat ini, dengan maksud
dapat mengetahui cara membedakan antara
untuk mengingatkan para penuntut ilmu su- pet'kara yang halal dan haram. Begitu juga, dia
paya membetulkan niatnya. Sehingga, dalam
menuntut ilmu, melakukan kebajikan baik akan mengetahui perkara yang menyebabkan
untuk dirinya, umatnya dan juga negaranya, dosa dan perkara yang menghasilkan pahala'
adalah hanya karena Allah SWT. Oleh sebab Dia juga akan tahu batasan minimal dalam
itu juga, para ulama menetapkan bahwa kai-
dah al-umur bi maqashidiha (segala sesuatu menuntut ilmu. Karena, suatu ibadah tidak
adalah bergantung kepada tujuannya) meru- akan sah jika tidak dengan niat, dan hukum

pakan sepertiga ilmu. setiap perbuatan seperti akad atau faskh iuga

Sekelompok ulama mengatakan bahwa tergantung kepada bentuk niat; jika niatnya
hadits innamal a'mqalu bin'niyaat adalah se- dibenarkan oleh agama, maka perbuatan ter-
perempat ajaran Islam. Abu Dawud berkata,
"Saya perhatikan hadits-hadits Musnad, dan sebutboleh dan shahih. Namun apabila niatnya
saya dapati bahwa jumlahnya adalah empat tidak dibenarkan oleh agama, maka perbuatan
ribu hadits. Kemudian saya perhatikan lagi,
dan saya temukan bahwa perbincangan em- tersebut rusak dan batal.

pat ribu hadits tersebut berkisar di antara Apakah yang dipertimbangkan dalam me-

empat hadits, yaitu hadits riwayat Nu'man bin lakukan akad; tujuan, dan sisi batiniahnya
Basyir;'Perkara halal adalah jelas dan perkara
yang haram juga jelas;' hadits Umarl 'Sesung- atau lafal yang diucapkan dan sisi lahiriahnya?
guhnya segala perbuatan adalah tergantung Apakah tujuan yang jelek menyebabkan akan
kepada niatnya;' hadits riwayat Abu Hurairah, menjadi batal atau tidak? Untuk menjawab
pertanyaan ini, kita perlu membahas masalah

dzara'i'.

Pembahasan niat ini akan mencakup be-

berapa pembahasan Yaitu:

1as As-Suyuth i, o I - Asybah w an-N azha' ir, hlm. B

FIQIH ISLAM IILID 1 I

7. Hakikat niat atau definisi niat. I
2. Hukum niat [kewajiban niat), dalil-dalil
perkara-perkara mubah. Hanya Allah-lah Dzat
yang mewajibkannya, dan kaidah-kaidah Yang memberi pertolongan kepada jalan yang
syara' yang berhubungan dengannya. lurus.

3. Tempat niat. A. HAKIKAT NIAT ATAU DEFINISI NIAT
4. Waktu niat. tj.
5. Cara niat. Kata [a;Jl) dalam bahasa Arab berarti
6. Ragu dalam niat, berubah niat, meng-
mengingini s6suatu dan bertekad hati untuk
gabungkan dua ibadah dengan satu niat.
7. Tujuan niat dan faktor-faktornya. mendapatkannya.la6 Al-Azhari mengatakan bah-

B. Syarat-syarat niat. wa kalimat [trr!r;) artinya adalah 'semoga
9. Niat dalam ibadah.
Allah menjagamu.' Orang Arab juga sering
10. Niat dalam akad.
berkata (l\r lri) dengan maksud'semoga Allah
11. Niat dalam/askh.
L2, Niat dalam perbuatan yang dituntut oleh menemanimu dalam perjalanan dan menjaga-
mu.' Dengan kata Iain [aiJt) berarti kehendak
agama untuk ditinggalkan (at-turuk).
13. Niat dalam perkara-perkara mubah dan atau [.l-;ji), yaitu yakinnya hati untuk mela-

adat kebiasaan. kukan sesuatu dan kuatnya kehendak untuk
1,4. Niat dalam perkara-perkara yang lain. melakukannya tanpa ada keraguan. Sehingga

Para ahli hadits dan pakar fiqih telah (tD aan menginginkan sesuatu t..,1r,.iir i;r111 ,ar-

banyak melakukan pembahasan masalah niat. lah sinonim. Kedua kata tersebtt-sama-sama
Namun, pembahasan tersebut terpisah-pisah digunakan untuk menunjukkan pekerjaan yang
dalam berbagai bab dan permasalahan. Saya
sedang terjadi maupun yang akan terjadi.
tidak menemukan kitab lengkap yang mem-
bahas masalah hukum dan bentuk niat selain Sebagian pakar bahasa membedakan arti
kitab Nihayatul Ahkamfi Bayani Ma li an-Niyoh
antara tata 1.!r1 dengan kata [lFl). Kata
min Ahkam karya Ahmad Bik al-Husaini, yang
dicetak pada tahun 1320 H/L903 M oleh per- 1a!11 aigunakan untuk menunjukkan keingin-
cetakan al-Amiriyyah, Mesir. Namun, buku an yang berhubungan dengan perbuatan yang

ini hanya membahas masalah niat perspektif sedang dilakukan, sedangkan t<ata 1pFl) ai-
madzhab Syafi'i saja dan hanya membahas niat gunakan untuk menunjukkan keinginan yang
berhubungan dengan perbuatan yang akan
dalam beberapa bab ibadah saja. dilakukan. Tetapi, pembedaan makna ini di-
tentang oleh para ulama, karena dalam ki-
Oleh sebab itu, saya merasa terdorong tab-kitab yang.membahas bahasa (kutub al-
tughah) kata 1o!t) seringkali hanya diartikan
untuk menulis permasalahan seputar niat de-
ngan rancangan bab yang telah saya uraikan dengan (fFl)

di atas, supaya para pembaca mengetahui Adapun menurut istilah syara' 1a!t) aaa-
teori niat ini secara lebih menyeluruh, baik lah tekad hati untuk melakukan amalari fardhu
atau yang lain. Niat juga dapat diartikan de-
dalam masalah ibadah, muamalah, ahwal asy- ngan keinginan yang berhubungan dengan pe-
kerjaan yang sedang atau akan dilakukan. Atas
syakhshiyyah, at-turuk, dan juga niat dalam dasar ini, maka setiap perbuatan yang dilaku-
kan oleh orang yang berakal, dalam keadaan
sadar dan atas inisiatif sendiri, pasti disertai

146 An-N"rvrr,rli,at-Majmu', jllid 1, hlm 360 dan seterusnya; lbnu Nuiaim, al-Arybohwan-Nazha'ir,Damaskus: Darul Fikr, hlm.24,

FtqLH ISl,{.M JITID I

dengan niat baik perbuatan tersebut berke- lainkan ia berhubungan dengan hukum natu-
ral (al-hukm al-wadh rl, yaitu hukum-hukum
naan dengan ibadah maupun adat kebiasaan. yang berupa sebab, syarat, penghalang, atau
Perbuatan yang dilakukan oleh orang mukal-
hukum shahih, fasid.,'azimah, atau rukhshah.
Ial tersebut merupakan objek yang menjadi Sehingga, merusak harta orang lain menjadi
sasaran hukum-hukum syara' seperti waiib, sebab wajibnya mengganti kerusakan terse-
but, baik yang melakukan kerusakan itu anak
haram, nadbf sunnah, makruh, dan mubah. kecil maupun orang dewasa, orang berakal
maupun orang gila.
Adapun perbuatan yang tidak disertai
Apabila kita perhatikan lagi, maka kita
dengan niat, maka dianggap perbuatan orang
yang lalai, tidak diakui, dan tidak ada sangkut dapati bahwa makna niat dalam puasa adalah
pautnya dengan hukum syara'. Apabila satu keinginan secara umum (al-iradah al-kulli-
perbuatan dilakukan oleh orang yang tidak
berakal dan tidak dalam keadaan sadar seper- Wah), dan hal ini merupakan makna niat se-
cara umum. Sehingga, niat puasa dari malam
ti dilakukan oleh orang gila, orang yang lupa,
hari tetap dianggap sah, dan niat puasa tidak
orang yang tidak sengaja, atau orang yang di- disyaratkan harus berbarengan dengan awal
paksa, maka perbuatan tersebut tidak diakui memulai puasa, yaitu sewaktu menyingsing-
dan tidak ada kaitannya dengan hukum-hu- nya fajar. Sehingga kalau seandainya ada orang
yang niat pada malam hari kemudian makan
kum syara' yang telah disebut di atas. Kare- lalu puasa, maka sah puasanya. Adapun se-
na, perbuatan tersebut tidak disertai dengan lain puasa, yaitu ibadah-ibadah yang menun-
tut niat, harus dibarengkan dengan awal per-
niat, dan perbuatan tersebut tidak diakui oleh buatan supaya sah, Maka dalam melakukan
syara' dan tidak ada kaitannya dengan tun- niat tersebut, seseorang harus melakukannya
tutan fthalab) atau tawaran untuk memilih dengan nyata (tahqtqan), yaitu memunculkan
(takhyir). keinginan berbarengan dengan awal perbuat-
an. Inilah yang dimaksud dengan niat sebagai
Apabila perbuatan tersebut termasuk rukun ibadah seperti wudhu, mandi wajib, ta-

adat kebiasaan seperti makan, minum, berdiri, yamum, shalat, puasa, zakat, dan haji, sebagai-
duduk, berbaring berjalan, tidur; dan sebagai- mana pendapat ulama-ulama madzhab Syafi'i.
nya yang dilakukan oleh orang berakal, dalam
keadaan sadar dan tanpa niat, maka perbuat- Begitu juga dengan niat-niat akad dan
an tersebut dihukumi boleh, jika tidak diba- faskh yang berbentuk ungkapan majaz (kina-
rengi dengan perbuatan yang dilarang atau yah), niat dalam akad seperti itu harus nyata
yang diwajibkan. Dan juga, perbuatan tersebut (tahqiq), yaitu munculnya niat harus ber-
diakui/dinilai oleh syara'. barengan dengan lafal akad yang berbentuk
kinayah, atau berbarengan dengan penulisan
Mungkin ada yang bertanya mengapa atau berbarengan dengan isyarat orang bisu
wudhunya orang yang lupa menjadi batal;
orang gila atau anak kecil diwajibkan meng- yang dapat dipahami oleh orang yang menge-
tahuinya. Begitu iuga dalam masalah penge-
ganti benda-benda yang dia rusak, dan meng-
apa orang yang tidak sengaja melakukan pem- cualian (al-istitsna) dalam ikrar dan talah
bunuhan, memotong anggota badan orang
lain, menghilangkan fungsi pendengaran dan syarat (ta'liq) talak dengan menggunakan ka-
limah "insya Allah," maka niatnya harus ber-
penglihatan, menampar atau menyebabkan
bergesernya sendi tulang diwajibkan mem-

bayar denda (diyat)? Ketiga kasus ini tidak

ada hubungannya dengan hukum syara', me-

FIQIH ISt"A.M )ILID 1

bentuk niat yang nyata-nyata (tahqiq) mun- oleh Al-Qur'an tetapi tidak menggunakan kata
cul di hati sebelum selesai mengucapkan kata
il'Jt), metainkan menggunakan kata-kata lain
yang dikecualikan.
1
Kesimpulan dalam pembahasan hakikat
niat adalah sebagaimana yang dikatakan oleh yang mempunyai makna hampir sama.
Ibnu Rajab al-Hambali. Ketahuilah, sesung-
guhnya niat menurut arti bahasa adalah satu Ulama yang membedakan antara kata an-
bentuk dari keinginan. Meskipun ada yang niyah, al-iradah, abqashdu dan lain-lain lagi
bermaksud mengkhususkan kata an-niyah un-
membedakan antara kata iradah, qashd, niyah,
tuk menunjukkan makna yang pertama yang
dan'azom, namun bukan di sini tempat untuk
membahasnya. Menurut ulama niat mempu- biasa dipakai oleh ulama fiqih. Namun, ada juga
nyai dua makna. Pertama, untuk membeda- ulama yang mengatakan bahwa an-niyah ada-
kan antara satu ibadah dengan ibadah yang lah khusus untuk yang dilakukan oleh orang
lain, seperti untuk membedakan shalat Zhu-
hur dengan shalat Ashaf, untuk membedakan yang berniat sedangkan kata al-iradah lebih
antara puasa Ramadhan dengan puasa yang umum dan tidak dikhususkan untuk apa yang
lain, atau untuk membedakan antara ibadah dilakukan oleh orang yang berniat saja. Con-
dengan adat kebiasaan seperti untuk mem- tohnya adalah "manusia ingin (yuriduJ Allah
bedakan antara mandi wajib dengan mandi
untuk menyegarkan atau membersihkan ba- mengampuni dosanyai' untuk mengungkapkan
dan. Makna niat seperti ini adalah yang paling
kalimat ini tidak digunakan kata an-niyah.
banyak dijumpai dalam kitab-kitab fiqih.
Sebagaimana sudah saya terangkan bahwa
Kedua, untuk membedakan tujuan me- kata an-niyah dalam sabda Rasul dan ucapan-
lakukan suatu amalan, apakah tujuannya ucapan ulama salaf menunjukkan kepada arti
adalah karena Allah saja atau karena Allah yang kedua. Sehingga, ia juga mempunyai arti
al-iradah. Oleh sebab itu, dalam Al-Qur'an kata
dan juga lain-Nya. Ini adalah maksud niat al -iradah sering digunakan.

yang dibincangkan oleh para al-Arifun (ahli B. HUKUM NIAT (KEWAJTBAN NIAT),
ma'rifat) dalam kitab yang membahas masalah
ikhlas. Makna ini juga yang banyak dijumpai DALIL-DALIL YANG MEWAJIBKANNYA
dalam ucapan ulama-ulama salaf. Imam Abu DAN KAIDAH.KAIDAH SYARA' YANG

Bakar bin Abid Dunya mengarang sebuah BERHUBUNGAN DENGANNYA
kitab dengan judul Kitab al-lkhlaash wan-
Hukum niat menurut jumhur fuqahalaT
Niyah, dan yang dimaksud dengan an-Niyah (selain madzhab Hanafi) adalah wajib apa-
bila perbuatan yang dilakukan itu tidak sah
dalam kitab tersebut adalah niat dengan mak- jika tanpa niat seperti wudhu, mandi fselain
na yang kedua ini. Makna kedua ini juga yang memandikan mayat), tayamum, berbagai

berulangkali dimaksudkan oleh Rasulullah macam shalat, zakat, puasa, haji, umrah dan

saw. dalam sabda-sabdanya. Kadang-kadang sebagainya.

beliau menggunakan kata ({Jt) , (;;ljYt) dan Namun apabila sahnya perbuatan yang
kadang menggunakan kata yang sdmakna.
Makna yang kedua ini juga banyak disebut dilakukan itu tidak tergantung dengan niat,

maka hukum berniat adalah sunnah, seperti
ketika mengembalikan barang yang di-gashab
[dimanfaatkan tanpa izin oleh yang memili-

Ad-Dardir, asy-Syarhul Kabir,iilid 1, hlm.93 dan setelahnya; an-Nawawi, al-Majmu', jilid 1, hlm 361 dan seterusnya; Mughnil
Muhtaj, iilid 1.. hlm 47 dan setelahnya; al-MuhadzdzaD, iilid 1, hlm 14 dan setelahnya; al-Mughni, iilid 1, hlm 110 dan setelahnya;
Kasysyaful Qinai jilid 1, hlm 94-107; al-Husaini,.Ahkamun Niyah,hlm.l0,76,78 dan setelahnya.

-t

Pengantal llmu Flqlh FtqLH Isr-AM frrrD 1

kinya), ketika melakukan perbuatan yang mu- Dalil lainnya adalah hadits yang disepaka-
bah semisal makan minum, dan juga ketika ti keshahihannya oleh Imam al-Bukhari, Imam
meninggalkan perbuatan-perbuatan yang di-
Iarang (at-turuk) seperti meninggalkan p erkara Muslim, Abu Dawud, at-Tirmidzi, an-Nasa'i,
yang diharamkan dan perkara yang makruh. Ibnu Majah, Imam Ahmad yang bersumber
dari sahabat Umar ibnul Khaththab r.a. dia
Karena apabila niat dilakukan, maka hal itu berkata, "Saya pernah mendengar rasulullah
akan menyia-nyiakan waktu dan terhalang
untuk melakukan perbuatan yang lebih ber- saw bersabda,'

manfaat. j,s u urt ,F *ti -tisq it;lr *l

Ulama madzhab Hanafila8 berpendapat, il;*r;,; *^ ;'li';* uG i;,
bahwa niat adalah disunnahkan ketika berwu-
)i t-{*;:qu.;'a,UG ,,,t ,^)-r, it
dhu, mandi dan perbuatan-perbuatan lain 4\ -16 6 ,-)ti'fu t*;*.;i/t
yang menjadi pembuka lwasilah) untuk sha-
'sesungguhnya (sahnya) amal-amal per-
lat, supaya mendapatkan pahala. Namun, niat buatan adalah hanya be.rgantung kepado niat-
adalah syarat sah shalat sebagaimana yang nya, dan sesungguhnya setiap seseorang hanya
akan mendapatkan apa yang diniatinya. Ba-
ditetapkan juga oleh madzhab Maliki dan rangsiapa hijrahnya adalah karena Allah SWT
dan Rasul-Nya, maka hijrahnya dicatat Allah
Hambali. SWT dan Rasul-Nya. Dan barangsiapa hiirah-
nya karena untuk mendapotkan dunia atau
Penjelasan lebih lanjut mengenai masa- (menikahi) wanita, moka hiirahnya adalah
lah ini akan diterangkan pada bab "Niat dalam (dicatat) sesuai dengan tuiuan hiirahnya ter-
Ibadah." Hal ini sebagaimana diketahui bahwa sebltL"
ulama telah bersepakat untuk menetapkan
bahwa niat untuk shalat adalah wajib, supaya Imam an-Nawawi mengatakan bahwa ini
antara ibadah dengan adat kebiasaan dapat adalah hadits yang agung dan merupakan sa-
dibedakan, dan supaya keikhlasan dapat di- lah satu hadits utama yang meniadi sumber
ajaran-ajaran Islam. Bahkan, hadits ini adalah
realisasikan dalam shalat. Karena, shalat ada- hadits yang paling agung dari hadits-hadits
Iah ibadah dan maksud ibadah adalah meng- tersebut yang jumlahnya adalah empat puluh
ikhlaskan amal dengan menggunkan semua dua hadits.
daya upaya orang yang ibadah (al-'abid) hanya
untukAllah SWT. Yang dimaksud dengan amal-amal per-
buatan (al-a'ma[)dalam hadits tersebut adalah
Dalil wajibnya niat banyak sekali, di anta- amal ketaatan dan amalan syara'bukan amal/
ranya adalah firman Allah SWT, perbuatan mubah. Hadits di atas menunjukkan
bahwa niat adalah syarat ibadah. Karena, kata
"Padahal mereka hanya diperintah me' innama di awal hadits menunjukkan kata 'ha-
nyembah Allah, dengan ikhlas menaati-Nya
semata-mata karena (menialankan) agama,
dan juga agar melaksanakan shalat dan me-
nunaikan zakat; dan yang demikian itulah
qgama yang lurus (benar)." (al'Bayyinah: 5)

Imam al-Mawardi mengatakan bahwa kata
al-ikhlaash biasa digunakan oleh orang Arab
untuk menunjukkan arti an'niyah.

1aB Ad-Durrul Mukhtar, jilid 1, hlm 98 dan setelahnya; ol-Bada'i',iilid,1 hlm. 17; Tabylnul Haqa'iq, iilid 1, hlm.99.

FIqLH IST"AM JILID 1 Pengantar llmu Flqih Y

nya' yang berarti mengukuhkan kedudukan amalan adalah bergantung kepada niat. Se- i
kata yang disebut setelahnya (yaitu an-niyah) hingga, niat adalah syarat bagi sempurnanya
dan menafikan yang lainnya. Yang dimaksud 1
amalan supaya mendapatkan pahala.
al-a'mal di sini bukanlah bentuk sisi luar amal Ungkapan "innqma likullimri'in ma nawa

tersebut. Karena, bentuk sisi luar tersebut fdan sesungguhnya setiap seseorang hanya
tetap wujud meskipun tanpa niat. Maksud akan mendapatkan apa yang diniatinya)" me-
hadits tersebut adalah hukum suatu amal
tidak akan ada tanpa adanya niat. Dengan nunjukkan dua perkara.
kata lain, amal-amal syar'i tidak akan diakui
Pertama, Imam al-Khaththabi mengata-
tanpa ada niat seperti amalan wudhu, mandi, kan bahwa ungkapan ini memberikan makna
tayamum, shalat, zakat, puasa, haji, i'tikaf, dan yang berbeda dari ungkapan yang pertama
ibadah-ibadah lainnya. Adapun membuang (innamal a'malu bin-niyaat), yaitu makna ke-
najis, maka tidak memerlukan niat. Karena, dia harusan menentukan suatu bentuk amalan
termasuk pekerjaan meninggalkan, dan amal- tertentu (ta'yin an-niyah) ketika berniat. Imam
an meninggalkan (at-tarku,/ tidak memerlukan an-Nawawi mengatakan bahwa menentukan
niat. suatu bentuk ibadah tertentu ketika berniat
(ta'yin al-'ibodah al-manwiyyah) merupakan
Pada ungkapan " innamal a'malu binniyaat
(Sesungguhnya amal-amal perbuatan adalah syarat bagi sahnya ibadah tersebut. Kalau se-
hanya bergantung kepada niatnya) dalam ha- seorang melakukan shalat qadha, maka dia

dits di atas, terdapat kata yang disembunyi- tidak cukup berniat melakukan shalat yang
terlewat, melainkan dia harus menentukan
kan. Namun, ulama berbeda pendapat dalam apakah shalat tersebut Zhuhun Asharl atau
menentukan kata tersebut. fumhur ulama se-
yang lainnya. Kalau seandainya ungkapan yang
lain madzhab Hanafi-yaitu ulama-ulama
kedua ini (innama likullimri'in ma nawa) tidak
yang mensyaratkan niat-mengatakan bahwa ada dalam hadits, maka niattanpata'yin sudah
kata tersebut adalah kata yang menunjukkan cukup, sebagaimana yang ditunjukkan oleh
arti sah. Sehingga, maksud ungkapan di atas ungkapan yang pertama dalam hadits.
adalah sahnya amalan adalah bergantung ke-
pada niat. Sehingga, niat adalah syarat sah. Kedua, ungkapan ini juga menunjukkan
Oleh sebab itu, amalan-amalan yang masuk
kategori pengantar/perantara (wasilah) se- bahwa penggantian dalam masalah ibadah dan
perti wudhu, mandi dll. tidak akan sah tanpa mewakilkan dalam masalah niat adalah tidak
boleh. Namun, ada beberapa ibadah yang di-
adanya niat. Begitu juga dengan amalan-amalan kecualikan, yaitu dalam masalah membagikan
yang masuk kategori tujuan (maqashid) seperti zakat kepada orang yang berhak dan dalam
shalat, puasa, haji, dll.. masalah penyembelihan hewan korban. Dalam

Sementara itu, ulama madzhab Hanafi- kedua ibadah ini boleh melakukan perwakil-
yang tidak mensyaratkan niat dalam amalan- an baik dalam niat, penyembelihan, maupun

amalan kategori wasilah-mengatakan bahwa pembagian, meskipun orang yang mewakilkan
kata yang disembunyikan tersebut adalah kata
mampu melakukan niat sendiri. Begitu juga
yang menunjukkan arti sempurna. Sehingga,
boleh mewakilkan pembayaran utang.lae
arti ungkapan di atas adalah sempurnanya
Sebab munculnya hadits ini ini adalah

sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam

14e An-N"*"*i,al-Majmu',jilid1,hlm361 danseGrusnya; Syarhal.Arba'inan-Nawawltyah,hlm.5-7;lbnuDaqiqal-Aid,hlm. 13-14.

li:t *tt fiif

fl

PonemarrhuFrqrh .. di:;\;';'' FIQIH ISLAM JILID 1

ath-Thabrani dalam al-Mu'iamul Kabir dengan maksiatan, kemudian dia tidak melaku-
kannya atau tidak mengucapkannya, maka
sanad tsiqah hingga Ibnu Mas'ud r.a. yang dia tidak berdosa."1s0 Hal ini berdasarkan
sabda Rasulullah saw yang diriwayatkan
menceritakan bahwa ada lelaki yang mela- oleh imam hadits yang enam dari Abu

mar perempuan yang bernama Ummu Qais. Hurairah r.a., bahwasanya Rasulullah saw.
Namun, perempuan tersebut tidak mau me- bersabda,

nikah dengan Ielaki itu, kecuali kalau lelaki :d'; b #,!.)i* Ja ar ,it

itu mau berhijrah. Maka, lelaki tersebut ke- :'F tl:8 ?t t--6rtjoli

mudian berhijrah dan akhirnya dia menikahi " Sesungguhnya Allah SWT mengampuni
umatku dari apa saja yang terbetik dalam
perempuan tersebut. Kami pun menjuluki.le- hatinya, selagi belum terucap atau belum
terlaksanai'
laki tersebut dengan Muhaiir Ummi Qais.
Keikhlasan dalam beribadah dan dalam
Kesimpulannya adalah, hadits ini menun- melakukan amalan-amalan syara' adalah
asas bagi mendapatkan pahala di akhirat,
jukkan beberapa perkara. kebahagiaan dan kesejahteraan di dunia.
Dalilnya adalah sebagaimana yang dite-
a. Suatu amalan tidak diakui oleh syara'se- gaskan oleh Imam az-Zaila'i bahwa orang
yang melakukan shalat membutuhkan
hingga ada hubungan dengan masalah niat yang ikhlas.
Semua amal yang bermanfaat, atau pe-
dosa dan pahala, kecuali apabila disertai kerjaan yang mubah, atau meninggalkan
sesuatu yang dilarang apabila disertai
dengan niat. dengan niat yang baik dan dimaksudkan
untuk melaksanakan perintah Allah, di-
b. Menentukan (ta'yin) amalan yang diniati d. anggap ibadah dan akan mendapatkan
pahala dari Allah.
secara tepat dan menjelaskan perbeda- Apabila tujuan ketika mengerjakan se-
suatu adalah untuk disenangi orang, su-
annya dengan amalan-amalan yang lain, paya terkenal atau untuk mendapatkan
kemanfaatan duniawi sebagaimana yang
merupakan syarat dalam niat. Oleh sebab dilakukan oleh Muhajir Ummi Qais, maka

itu, tidaklah cukup niat melakukan shalat orang yang melakukannya tidak akan

secara umum, melainkan harus ada pe- mendapat pahala di akhirat.

nentuan shalat Zhuhur; Ashaf, atau Shu-

buh misalnya. Ini adalah kesepakatan se- e.

mua ulama.

c. Barangsiapa berniat melakukan amal sa-

leh, kemudian ada sesuatu yang mengha-

langinya untuk merealisasikan niatnya

itu seperti sakit atau mati, maka dia te-

tap mendapatkan pahala. Karena, orang

yang mempunyai kehendak untuk me-

lakukan kebajikan kemudian dia tidak f.

bisa melakukannya diberi pahala satu

kebajikan. Dan barangsiapa berkehendak

melakukan kejelekan namun dia tidak

jadi melakukannya, maka dosa tersebut

tidak dicatat. Imam as-Suyuthi berkata,

"Barangsiapa bertekad melakukan ke-

As-Suyuthi, ol-A sybah wa n - N azha'ir, hlm. 29'

-

ISIAM JrLrD l

PENDAPAT MADZHAB HANAFI DAIAM kukan puasa wajib yang lain atau berniat
MASALAH TA'YIN AL-MANW! (MENENTUKAN melakukan puasa sunnah. Dan apabila
SECARA JETAS AMALAN YANG DtNtATl) orang yang puasa tersebut dalam safar

Madzhab Hanafiisl membagi masalah ta1 (perjalanan), maka apabila dia berniat

yin al-manwi secara lebih terperinci, yaitu se- melakukan puasa wajib selain Ramadhan.
bagai berikut. Maka, puasanya dihukumi sesuai dengan
apa yang diniati, sehingga tidak dianggap
a. Apabila amalan yang diniati itu termasuk sebagai puasa Ramadhan. Apabila orang
amalah ibadah dan waktunya luas, cukup tersebut niat puasa sunnah, maka ada dua
untuk melakukan ibadah tersebut dan riwayat dan yang shahih adalah puasanya
juga ibadah lain, maka ta'yin tersebut dihukumi puasa Ramadhan.
wajib dilakukan seperti dalam shalat de-
ngan cara menyebutkan shalat Zhuhur. c. Apabila waktu ibadah tersebut diperseli-
Dan apabila ditambah dengan kata hari ini
(al-yaum) sehingga menjadi zuhrul yaum sihkan, seperti waktu haji yang di satu sisi
hampir sama dengan ibadah yang waktu-
(zhuhur hari ini) hukumnya adalah sah. nya sempit, karena dalam satu tahun haji
Batasan ta'yin yang dibenarkan adalah hanya sah sekali saja, dan pada sisi lain ia
seperti ibadah yang waktunya luas apa-
sekiranya seseorang ditanya shalat apa- bila memerhatikan bahwa amalan-amalan

kah yang dikerjakan. Maka, dia dapat haji adalah lebih singkat apabila diban-

menjawabnya tanpa berpikir panjang. Ke- ding dengan waktu yang disediakan, maka

wajiban ta'yin dalam shalat ini tidaklah ibadah seperti ini sah dilakukan hanya

gugur akibat waktunya sudah sempit. dengan niat yang mutlak karena memper-

b. Apabila waktu ibadah adalah bersamaan timbangkan sisi waktunya yang sempit.
dengan ibadah yang dilakukan, sehingga Namun apabila orang yang melakukan
tidak mungkin melakukan ibadah yang berniat melakukan sunnah, maka hajinya
sama dalam waktu yang sama seperti dihukumi sesuai dengan niatnya, karena
mempertimbangkan sisi waktunya yang
puasa di hari Ramadhan-dengan kata
luas.
lain ibadah yang waktunya sempit-ma-
ka ta'yin tidaklah menjadi syarat, jika me- KAIDAH.KAIDAH UMUM SYARA' YANC
mang orang yang puasa tersebut sehat BERHUBUNGAN DENGAN MASALAH NIAT
dan dalam keadaan mukim. Sehingga, dia
Para ulama meneliti hadits Umar "innamal
sah hanya dengan niat puasa secara mut- a'maalu bin-niyaat'dan membuat tiga kaidah
lak atau niat puasa sunnah (jika memang yang bersumber dari hadits ini. Para mujtahid
puasanya sunnah). Karena, membatasi dan imam madzhab menggunakan tiga kaidah

(tayin) sesuatu yang sudah terbatas ini untuk membangun dasar-dasar madzhab

(mu'ayyan) dianggap perbuatan main- mereka, dan juga untuk menyimpulkan [rstin-
main. Apabila orang yang puasa tersebut bath) hukum-hukum fiqih furu'iyyah.1sz Tiga
sakit, maka ada dua riwayat. Yang shahih kaidah tersebut adalah sebagai berikut.
adalah yang menetapkan bahwa puasa
orang tersebut dianggap sebagai puasa
Ramadhan, meskipun dia berniat mela-

Ibnu an-Nuiaim, al-Asybah wan Nazho'ir, Damasykus: Darul Fikf hlm. 25.

TM#:

Pengantar llmu Flqlh FIQIH ISLAM IILID 1

7. (:9t !r +ri y); Sebagaimana yang telah saya terangkan,
z. (t;y6)irli) aan
3. G,_;(rl[it, G.dL yd_,rat *p.Iii1 menurut jumhur ulama niat adalah wajib
baik dalam ibadah yang termasuk kategori
Katdah peftama:(?q! ll.qt-i 17 rtaak
pengantar (wasilah) maupun kategori tujuan
Ada Ganjaran kecuali dengAn Adanya Niat (maqashid). Namun bagi ulama Hanafi, niat
Sebagaimana telah diterangkan, niat ada-
adalah syarat kesempurnaan bagi ibadah-
lah syarat dalam ibadah. Hal ini berdasarkan ibadah yang termasuk kategori pengantar
(wasilah) seperti wudhu dan mandi. Adapun
ijma, ayat Al-Qur'an yang artinya, untuk ibadah yang termasuk kategori tujuan
(moqashid) seperti shalat, zakat, puasa, dan
:;fiii1411<8g4n'i;-JYtfr ('
haji, maka niat dianggap sebagai syarat sah.
ffi't?'!)qd1f1t\31J1):5n#i
Maksud dari kaidah di atas adalah, semua
"Padahal mereka hanya diperintah me- amalan syara'tidak akan mendapatkan pahala
nyembah Allah, dengan ikhlas (mukhlishin) me' jika tanpa ada niat. Ibnu Nujaim al-Mishrilsa
naati-Nya semata-mata karena (menialankan) berkata "Balasan ada dua macam: pertama
agqma, dan juga agar melaksanakan shalatdan adalah balasan di akhirat yang berupa pahala
menunaikan zakat; dan yang demikian itulah dan siksa, dan kedua adalah balasan di dunia
agama yang lurus (benor)." (al-Bayyinah: 5) yang berupa kesehatan dan kerusakan. Yang
dimaksud ganjaran (ats-tsawab) dalam kaidah
Ibnu Nujaim al-Hanafi berkata, "Pendapat di atas adalah ganjaran akhirat. Karena, ulama
yang pertama adalah lebih tepat, karena mak- bersepakat bahwa tidak akan ada pahala dan
na ibadah dalam ayat tersebut adalah tauhid
karena adanya qarinah (petunjuk) bersam- siksa jika tidak ada niat. Dengan demikian,
bungnya ('athafl shalat dan zakat. Niat tidak maka bentuk ganjaran dunia tidak termasuk
disyaratkan dalam wudhu, mandi, membasuh
khuf, menghilangkan najis dari baju, badan, yang dimaksudkan dalam kaidah tersebut. Ka-
tempat, dan bejana. Adapun dalam tayamum, rena, arti pertama sudah memenuhi tuntutan
kata dalam kaidah tersebut, sehingga tidak
niat tetap disyaratkan dengan alasan yang memerlukan arti yang lain.

akan diterangkan nanti. Hal ini karena maksud Kaidah kedua: $yu..jilil segata

niat adalah berkeinginan (ol-qashdu). Ada- sesuatu adalah berdasarkan kepada
pun memandikan mayat, maka para ulama maksudnya

mengatakan bahwa niat tidak disyaratkan bagi Maksud dari kaidah ini adalah, sesungguh-
sahnya menshalati mayat tersebut dan bagi nya ketetapan hukum-hukum syara'bagi amal
kesuciannya, melainkan ia hanya syarat bagi perbuatan manusia baik yang berupa ucapan
atau tindakan adalah mengikuti maksud dan
menggugurkan kewajiban dan tanggungan tujuan orang yang melakukan tindakan ter-
sebut, bukannya sisi lahiriah amal perbuatan
orang mukalaf.ls3 tersebut.

152 Drlr. kaiian fiqih terdapat lima kaidah fiqih yang di dalamnya mencakup berbagai permasalahan fiqhiyyah. Kelima kaidah terse-

but adalah, l7l Al-Umur bi Maqashidiha; l2l adh-Dharar Yuzal; 13) al-Adah Muhakkamah; 14) al-Yaqin lo Yazulu bi asy-Syakk; 15)

a I - M a sya qqa h Taj li b at-Ta i s i r.
153 Ibnu an-Nujaim, at-Asybah wan-Nazha'ir, Damaskus: Darul Fikr, hlm. 14.

rsa
rbid..

, r. '',: 'q',,;! 'rli;': ri., ,i"ll:.i "j#''

!,.,t!,|l;:,'\:| !,': i

FIqLH ISTAM JILID -r

Sumber utama kaidah ini adalah hadits I

yang telah diterangkan sebelum ini, yaitu ha- I
dits, "innamal a'maalu bin niyaaf' dan juga I
hadits-hadits lain yang serupa yang diurai-
kan oleh Imam as-Suyuthi dalam kitabnya.lss i
Contoh kasus-kasus yang didasarkan kepada
kaidah ini adalah sebagai berikut. Qadhi Khan yang bermadzhab Hanafi
dalam kitab Fatawa-nya1s6 berkata, jika niat
Hukuman membunuh berbeda-beda se- orang yang menjual perasan anggur kepada
suai dengan tujuan dan niat orang yang me- orang yang biasa membuat arak adalah ber-
lakukan tindakan kriminal tersebut. Apabila dagang, maka hal itu tidak haram. Namun jika
orang yang membunuh tersebut sengaja, ma- dia berniat supaya perasan anggur tersebut
ka dia dihukum qishash. Namun apabila dia dibuat arak, maka hal itu haram.1s7 Begitu juga

melakukannya dengan tidak sengaja, maka dengan niat menanam kurma.
dia wajib membayar diyat. Amalan shalat se-
seorang akan diterima dan diberi pahala apa- Hukum sikap seseorang menjauhi sauda-
bila didasari dengan keikhlasan. Namun jika ranya selama lebih dari tiga hari juga didasar-
dilakukan karena riyal maka shalat tersebut
kan kepada niat. )ika dia memang berniat
tidak diterima.
mendiamkan saudaranya tersebut, maka ha-
Barangsiapa mengambil barang temuan ramlah hukumnya. Namun jika tidak ada niat
dengan maksud untuk memilikinya, maka dia mendiamkan, maka hal itu tidak haram.
dihukumi sebagai orang yang ghashab, ber-
dosa, dan juga wajib mengganti kerusakan- Hukum meninggalkan perhiasan dan we-
kerusakan yang berlaku. Namun jika ia meng- wangian (ihdod) yang dilakukan oleh perem-
ambil barang tersebut dengan maksud untuk puan selain istri si mayit selama lebih dari tiga
hari, juga didasarkan kepada. fika maksudnya
menjaganya, maka dia boleh membawanya adalah karena si mayit, maka hukumnya ha-
dan dia dianggap seperti orang yang dititipi ram. fika maksudnya tidak seperti itu, maka
barang. Sehingga, dia tidak perlu mengganti hukumnya boleh.
rugi kerusakan yang terjadi, kecuali jika ke-
rusakan tersebut akibat kelalaiannya dalam fika orang yang shalat membaca satu ayat
Al-Qur'an dengan niat menjawab pembicara-
menjaga, an orang lain, maka batallah shalatnya. Begitu
juga apabila orang yang shalat diberi kabar
Apabila ada lelaki berkata kepada istrinya, gembir kemudian dia berkata, " olhamdulillahi'
"Pergilah ke rumah keluargamu!" dan dia ber- dengan maksud mengucapkan rasa syukur;
maksud menjatuhkan talak, maka terjadilah maka shalatnya batal. Atau apabila orang yang
apa yang dia maksud. Namun apabila dia tidak shalat tersebut diberi kabar yang menyedih-
mempunyai maksud untuk menjatuhkan talak, kan, kemudian dia berkata, "Lao Haula wa laa
maka talak itu pun tidak jatuh. Quwwata illaa billaah," dengan maksud mem-
baca hauqalah, atau dia diberi tahu ada sese-
orang yang meninggal kemudian dia berkata,
" lnnaa lillaahi wa innaa ilahi raaji'uun" dengan
maksud mengucapkan istirja', maka batallah

shalatnya.

1ss As-suyuth i, al-Asybah wan Nazha'ir,hlm.7 .
156 lbnu an-Nu jaim, at-Asybah wan-N azha'ir,Damaskus: Darul Fikr, hlm. 22.
1s7 Mrdrhrb Syafi'iyyah mengatakan menjual kurma dan anggur kepada orang yang biasa membuat khamr (nabidz) dari dua bahan

tersebut adalah haram, lika memang yang menjual mengetahui hal tersebut atau mempunyai dugaan kuat. Contoh lainnya adalah
menjual senjata kepada pemberontak dan perampok, karena memang ada larangan dalam masalah ini. Tetapi, larangan terebut
tidak menyebabkan akad jual beli tersebut menjadi batal (Mughnil Muhtaj, iilid 2, hlm. 37-38J.

"d.,,

Pengantar llmu Flqlh FIQIH ISI.AM JILID

Apabila seseorang bersujud di hadapan ikra[ sewa, wasiat, talak,khul',rujuk, ilai zihar,
Ii'an, sumpah, qazaf, dan asuransi (al'aimaan),
sultan dan dia berniat memberi hormat ke-
bila lafal akad yang digunakan berbentuk ung-
padanya, bukan dengan maksud menyembah, kapan kinayah/maiaz dan orang yang meng-
ucapkan bermaksud akad yang sebenarnya,
maka dia tidak dihukumi kafir. Karena, para
malaikat diperintah Allah untuk bersujud ke- maka akad tersebut terjadi. Namun jika dia
berniat mengungkapkan arti sebenarnya dari
pada Adam. Saudara-saudara Yusuf juga ber-
ungkapan majaztersebut, maka akadnya tidak
sujud kepada Nabi Yusuf.
terjadi.lss
Orang yang makan hingga kenyang dan
Kaldah Ketlgla:(,4r'lJr-, yr;! t1'it 1i';j;i
niatnya adalah supaya kuat puasa atau supaya
tetamu mau makan dengan senang hati, hu- ,,,r'"t'i lrjrr., I yaig Dtakut datam Akad

kumnya adalah sunnah. adalah Maksud dan Substanslnya, bukan
Lafal dan Bentuk Luarnya
Apabila ada seorang kafir harbi meniadi'
kan seorang Muslim sebagai tameng untuk Kaidah ini lebih khusus apabila dibanding
berlindung, kemudian ada seorang Muslim lain dengan kaidah sebelumnya, karena kaidah ini
yang mengarahkan panah ke arah mereka, jika berhubungan dengan jenis-jenis akad yang
khusus. Adapun kaidah yang kedua berhu-
dia bermaksud membunuh yang Muslim maka bungan dengan semua bentuk tasharruf (akad
haram. Namun jika dia bermaksud membunuh
dan pengelolaan harta benda).
yang kafir; maka tidak haram.
fika seseorang menjadikan kitab sebagai Maksud dari kaidah ini adalah bentuk la-
fal akad akan menyebabkan berubahnya satu
bantal tidur dan dia bermaksud meniaga kitab bentuk akad ke bentuk yang lain, jika me-
tersebut, maka tidak dimakruhkan. Namun mang hal itu dikehendaki oleh dua pihak yang
melakukan akad. Oleh sebab itu, akad hibah
jika tidak ada maksud untuk menjaganya, yang disertai dengan syarat wajib mengganti
(syarth 'iwadh), akan berubah menjadi akad
maka makruh. Apabila seseorang menanam
pohon di pekarangan masjid dengan maksud jual beli. Umpamanya seseorang berkata,
supaya teduh, maka tidak makruh. Namun jika "Saya menghibahkan barang ini kepadamu,
dia bermaksud untuk mendapatkan keman-
faatan yang lain, maka makruh. fika penulisan dengan syarat kamu memberi saya barang se-
Asma Allah dalam logam dirham dimaksud-
kan supaya menjadi tanda, maka tidak mak- jumlah sekian." Hal ini karena substansi dari
akad ini adalah jual beli. Maka, hukum yang
ruh. Namun jika maksudnya adalah untuk
berlaku juga hukum jual beli.
meremehkan, maka hal itu makruh.
fika seseorang duduk di atas peti yang di Akad kafalah (menanggung utang orang
Iain) dengan syarat orangyang memberi utang
dalamnya ada mushaf AI-Qur'an dengan mak- tidak boleh menuntut kepada orang yang su-

sud menjaganya, maka hal itu tidak dimak- dah ditanggung utangnya, maka ia menjadi

ruhkan. Namun apabila tidak ada maksud yang akadhiwalah.

seperti itu, maka dimakruhkan. Akad pemindahan utang (hiwalah) dengan
Dalam akad jual beli, hibah, wakal utang, syarat orang yang memberlutang mempunyai
hak untuk meminta piutangnya kepada orang
jaminan, pembebasan utang, pemindahan
utang, pembatalan akad, perwakilan, pem-
berian kekuasaan kepada pihak lain untuk
mengambil keputusan (tafwidh al-qadha),

Ibnu Nuiaim, al-Asybahwan-Nazha'ir,hlm.22- 23; as-Suyuthi,al-Asybahwan-Nazha'ir, hlm,9-10'

I

lsrAM rrrrD 1

yang memindahkan utang, dan juga kepada dengan sahnya akad. Faktor eksternal tidak
orang yang dipindahkan utang kepadanya, akan merusak akad, meskipun niat dan tujuan
maka akad ini menjadi akad kafalah. dalam akad mempunyai tanda dan indikasi
yang jelas.
Akad pinjaman dengan syarat ada ganti,
maka menjadi akad sewa. Keterangan ini menunjukkan bahwa ma-
dzhab Syafi'i dan Hanafi tidak menggunakan
Menurut madzhab Hanafi, sebagian besar
hukum-hukum dalam akad jual beli al-wafa' konsep saddudz dzari'ah dalam masalah jual
[yaitu orang yang sedang dalam keadaan bu- beli al-ajal dan jual beli al-'iinah. Umpamanya
tuh menjual bangunan miliknya untuk men-
dapatkan uang, dengan syarat apabila orang adalah seseorang menjual barang dengan har-
tersebut sudah mampu mengembalikan se- ga sepuluh dirham yang akan dibayar dalam
jumlah uang yang didapat kepada orang yang jangka masa sebulan, kemudian orang terse-
membeli, maka bangunannya tersebut akan but (yang menjual) membelinya dengan harga
kembali menjadi miliknya) adalah mengam- lima dirham sebelum habis satu bulan. Dalam
bil dari akad gadai (ar-rahn). Karena, memang
akad gadailah yang dimaksudkan oleh kedua menanggapi masalah ini, asy-Syafi'i melihat
belah pihak. sisi bentuk jual belinya dan menghukuminya
berdasarkan sisi lahiriahnya. Sehingga, me-
Namun, kaidah ini dipakai oleh madzhab
Hanafi dan Syafi'i1se jika memang "maksud" reka menganggap akad tersebut sah. Sedang-
tersebut tampak dalam akad secara nyata. kan Abu Hanifah-meskipun dia tidak meng-
Apabila dalam akad tidak ada sesuatu yang gunakan konsep saddudz dzari'ah-meng-
menunjukkan niat atau maksud tersebut se- anggap bahwa akad yang kedua adalah tidak
cara nyata, maka kaidah yang digunakan
adalah "Yang diakui dalam masalah yang sah. Hal itu dengan alasan, harga pada akad
berhubungan dengan Allah adalah substansi-
nya, sedangkan yang diakui dalam masalah pertama belum selesai dibayar; maka akad jual
yang berhubungan dengan sesama hamba beli yang pertama belum sempurna. Sehingga,
akad yang kedua mengikuti hukum yang ada
adalah sebuian dan lafal." pada akad pertama.

Dengan kata lain dalam masalah akad, Sedangkan Imam Malik dan Imam Ahmad
menggunakan konsep saddudz dzari'qh da-
yang menjadi dasar pertama adalah lafal bu- lam menanggapi bentuk jual beli semacam ini.
kan niat dan maksud. Hal ini karena niat dan
keinginan yang tidak dibenarkan oleh agama Karena, jual beli seperti ini biasa digunakan
tersembunyi dalam hati, dan hukumnya di- oleh orang untuk mendapatkan keuntungan
serahkan kepada Allah, dan orang yang me-
lakukannya akan disiksa selagi niatnya itu dengan cara menjual barang, yang harga asal-

memang termasuk dosa. Atas dasar ini juga, nya lima dirham dengan harga sepuluh dirham
maka hukum-hukum akad harus ditetapkan apabila dibeli kredit, dengan cara menampak-
berdasarkan ungkapan akad dan perkara-
perkara yang menyertainya. Rusaknya akad kan akad jual beli yang kelihatannya sah.

didasarkan kepada ungkapan akad, begitu juga Ibnul Qayyim berkata, "Hukum-hukum syara'
ditetapkan berdasarkan penilaian terhadap
sisi Iaihiriah (lafal yang diungkapkan), sesuai
dengan kebiasaan orang dalam memahami
lafal yang diungkapkan tersebut dan selagi
tidak ada tanda-tanda bahwa orang tersebut

rse Hasyiyah al-Hamawi'ala al-Asybah wan-Nazha'ir li lbni Nujaim, jilid,1. hlm. 12 dan setelahnya; Mughnil Muhtaj Syarh al-Minhaj,iilid

2. hlm 37-38; dan as-Suyurhi, al-Asybahwan-Nazha'ir,hlm. 148-149.

Pengantar llmu Flqlh IsrAM IrLrD 1

mempunyai maksud lain yang berbeda dengan melafalkan dengan lisan namun tidak ber-
maksud ucapannya tersebut. Adapun niat dan niat dalam hati, maka tidak mencukupi.
maksud akan dipertimbangkan dan dinilai da- Dan jika dia berniat dalam hati, namun tidak
lam kasus-kasus yang praktik dan realitasnya melafalkannya dengan lisan, maka niatnya
berbeda dengan lafal atau sighat yang diung- itu cukup. Imam al-Baidhawi berkata, "Niat
adalah perasaan hati yang terdorong oleh
kapkan."160 sesuatu yang ia anggap cocok baik sesuatu

Pendapat inilah yang menurut saya paling itu, berbentuk datangnya suatu manfaat atau
benar; supaya pintu mereka-reka bentuk akad tertolaknya suatu kerusakan, baik pada wak-
dalam masalah riba tertutup. Sehingga, niat tu sekarang maupun yang akan datang. Niat
yang jelek atau maksud yang tidak dibenarkan menurut syara' dikhususkan untuk menun-
oleh syara' merupakan sebab yang jelas bagi juk kepada keinginan yang mengarah kepada
penetapan tidak sahnya suatu akad jual beli.
perbuatan untuk mendapatkan rida Allah
C. TEMPAT NIAT SWT, dan untuk melaksanakan hukum-hu-

Semua ulama bersepakat bahwa tempat kum-NyaJ'
niat adalah hati. Niat dengan hanya melafal-
Pembicaraan mengenai tempat niat
kannya di lisan saja belum dianggap cukup.
Melafalkan niat bukanlah suatu syarat, na- menghasilkan dua poin kesimpulan, yaitu se-

mun ia disunnahkan oleh jumhur ulama selain bagai berikut.
madzhab Maliki, dengan maksud untuk mem-
bantu hati dalam menghadirkan niat. Dengan t. Niat tidak cukup hanya dengan menggu-
kata lain, supaya ucapan lisan dapat membantu
ingatnya hati. Bagi madzhab Maliki, yang ter- nakan lisan tanpa ada keinginan di hati,
baik adalah meninggalkan melafalkan niat,161 karena Allah SWT berfirman, "Padahal
karena tidak ada dalil yang bersumber dari mereka hanya diperintah menyembah
Rasulullah saw. dan sahabatnya bahwa mereka
melafalkan niat. Begitu juga, tidak ada infor- Allah, dengan ikhlas (mukhlishin) menaati-
masi yang mengatakan bahwa imam madzhab Nya semota-mata karena (menialankan)
empat berpendapat demikian. egemq, dan juga agar melaksanakan sha-

Sebab mengapa niat dalam semua ibadah lat dan menunaikan zakat; dan yang demi-
harus di hati adalah, karena niat merupakan
kian itulah agama yang lurus (benar)."
bentuk pengungkapan keikhlasan, dan ke- (al-Bayyinah: 5) Tempat ikhlas bukanlah
ikhlasan hanya ada dalam hati, atau karena di mulut, melainkan di hati, yaitu dengan
cara berniat bahwa amalnya adalah ha-
hakikat niat adalah keinginan. Oleh sebab itu, nya untuk Allah SWT saja. Dan juga, hal
apabila ada orang yang berniat dengan hati
ini berdasarkan sabda Rasulullah saw.,
dan juga melafalkan dengan lisan, maka-
menurut jumhur-dia telah melakukan niat "sesunggungnya (sahnya) amal'amal per'
dengan cara yang sempurna. Apabila dia
buatan adqlah hanya bergantung kepada
niatnya, dan sesungguhnya setiap sese-
orang hanya akan mendapatkan apa yang

diniatinya."

Poin ini dapat dikembangkan menjadi

dua poin lagi, yaitu:

160 Al-qarafi, al-Furuq,lilid 2. hlm. 32; A'lamul Muwaqqi'in, jilidZ,hlm.777-129; jilid 4, hlm. 400 dan setelahnya.
161 lbru Nujaim, al-Asybah wan-Nazha'ir, hlm. 46-51.; al-Qawanin al-Fiqhiyyah, hlm. 57; ad-Dardif, asy-Syarh al'Kabir wa Syarh ad-

Dasuqi, iilid 1, hlm. 233; as-Suyuthi, al-Asybah wan-Nazha'ir, hlm. 26-30; KasysyafulQinaj jilid 1, hlm. 365; Ahkamun Niyah,hlm.
10,78,82,97 danL27.

-

FrqLH Isr.,A,M IrLrD 1 PenElantar Ilmu Flqlh

Apabila ada perbedaan antara ucapan nafi162 mengatakan bahwa kasus-ka-
lisan dengan suara hati, maka yang
diakui adalah suara hati. Kalau sese- sus seperti di atas tetap menyebabkan
orang niat berwudhu dengan hatinya, ditetapkannya kafarat. Sebab, yang

sedangkan lisannya mengatakan men- dimaksud dengan yamin al-laghwi-
yang tidak dihukumi dan tidak ada
cari kesegaran, maka wudhu orang kafaratnya-adalah sumpah yang
tersebut sah. Tapi apabila yang ber-
laku adalah sebaliknya, maka tidak menceritakan tentang kejadian yang
sah. Begitu juga apabila seseorang telah lewat atau kejadian yang sedang
niat shalat Zhuhur dalam hati, namun
lisannya mengatakan shalat Ashar, terjadi, dan hati orang yang meng-
atau hatinya berniat haji namun lisan-
nya menyebut umrah atau sebalik- ucapkan itu menduga kuat bahwa

nya, maka yang dianggap sah adalah ucapannya itu sesuai dengan realitas.
Namun, ternyata ucapannya itu tidak
apa yang disuarakan oleh hatinya. sesuai dengan realitas yang sebenar-
Dalam kitab fiqih madzhab Hanafi
(al-Qunyah wal- M uj tabal disebutkan, nya terjadi.163 Umpamanya ada sese-
"Barangsiapa tidak mampu meng- orang yang berkata, "Wallaahi [demi

hadirkan niat dalam hatinya atau dia Allah), saya tidak pernah masuk ru-
selalu ragu dalam niat yang dilaku-
kan dengan hati, maka cukup bagi- mah ini." Dia mempunyai dugaan
nya melafalkan niat tersebut dengan
lisan, karena'Allah tidak membebani kuat bahwa memang dia tidak pernah
seseorang melainkan sesuai dengan ke- masuk rumah tersebut, tapi ternyata
sang g up anny a."' (al-Baqarah: 2 86) keliru. Atau ada orang melihat seekor
burung dari jauh, dia menduga bahwa
b. fika seseorang secara tidak sengaja burung itu adalah burung gagak, ke-
menguchpkan sumpah "billaahil' ma- mudian dia bersumpah dan ternyata
burung yang ditunjuk tersebut adalah
ka menurut jumhur ulama selain ma- burung merpati. Sementara menurut
dzhab Hanafi, sumpahnya tersebut jumhur ulama, yang dimaksud dengan
yamin al-laghwi adalah sumpah yang
tidak terjadi dan dianggap sumpah diucapkan oleh orang yang bersum-
main-main (stamin allaghwi), dan ti-
pah, baik sumpah itu atas sesuatu
dak ada sangkut pautnya dengan ka-
farat (denda) apabila dia melanggar yang telah terjadi, sedang terjadi,
sumpahnya. Begitu juga apabila se- ataupun yang akan terjadi. Namun,
seorang mempunyai maksud untuk sumpah tersebut tidak dimaksudkan
bersumpah atas sesuatu, namun lisan-
nya keliru mengucapkan sumpah atas sebagai sumpah. Umpamanya adalah
sesuatu yang lain, maka sumpahnya
ada orang yang berkata tanpa maksud
juga tidak sah. Ulama madzhab Ha-
bersumpah, "Tidak, wallahii' "Betul,
wollahil' "Ya, dia tadi membaca Al-
Qur'ani' dan kemudian dari lisannya
terlepas ucapan sumpah, namun tidak

dimaksudkan sebagai sumpah.

762 Ibnu Nujaim, ol-Asyba h wan- N azha' ir, hlm.7 .
163 Al - Bo da'i i iilld 3, hlm. 3-4.

i riiii,ti, ,:t:ir ,::.

:F
I'

i' FIqLH ISTAM 1

I 'ILID

) dalam kitab al-lbanah berkata, "Hu-

)r Kesimpulannya adalah ulama madz-

hab Hanafi tidak mengakui keber- kum yang asal adalah setiap orang

adaan yamin al-laghwi terhadap per- yang mengatakan sesuatu dengan

kara yang akan terjadi. Sumpah yang terang adalah diterima. Namun apa-

dilakukan untuk sesuatu apa pun yang bila dia mempunyai niat lain, maka
akan terjadi, akan tetap dihukumi se- diterima juga dan dipasrahkan ke-

bagai sumpah yang sebenarnya, dan pada Allah dan hukumannya tidak

orang yang mengucapkannya wajib dilaksanakan." Contohnya adalah apa-

membayar kafarat jika dia melanggar bila lelaki berkata kepada istrinya,

sumpahnya, baik sumpah tersebut "Kamu saya talak," kemudian sang

diucapkan dengan sengaja maupun suami berkata, "Yang saya maksud

tidak. Menurut ulama madzhab Ha- adalah melepaskan kamu dari ikatan

nafi, yamin al-laghwi hanya berlaku tali/rantai," namun tidak ada indikasi

bagi sumpah atas sesuatu yang su- apa yang dimaksudkannya itu benar

dah terjadi ataupun yang sedang [seperti istrinya tidak dalam keada-
an terikat), maka alasannya itu tidak
terjadi saja. Yaitu, ketika orang yang

bersumpah menduga kuat bahwa apa diterima. Tapi apabila ada indikator,

yang dikatakannya itu sesuai dengan umpamanya istrinya memang dalam

realitas, namun ternyata tidak. keadaan terikat kemudian dia me-

Keterangan di atas adalah berkena- lepaskan tali tersebut dan mengata-

an dengan sumpah dengan asma Allah kan maksudnya tadi, maka ucapannya

(billaahi). Adapun dalam masalah itu diterima (dan tidak terjadi talak).

talah memerdekakan budak dan ila' 2. Dalam semua bentuk ibadah, melafalkan

maka tetap dianggap sebagai haq niat dengan lisan bukanlah termasuk

qadha'i bukan haq diyani. Dengan syarat niat. OIeh sebab itu, apa yang

kata lain, dalam masalah-masalah diutarakan oleh lisan tidak dianggap.

ini, sisi batiniah tidak dianggap dan Kesimpulan ini menimbulkan beberapa

urusannya dipasrahkan antara dia konsekuensi, yaitu sebagai berikut.

dengan Allah SWT. Karena, dalam Apabila ada orang yang menghidup-

masalah ini terdapat hak orang lain kan tanah yang mati (ihya'al-mowat)

sesama hamba. dengan niat akan membangun masjid

c. Apabila seseorang mengartikan talak di atasnya, maka tanah tersebut

dan al-'itq [makna syar'inya adalah menjadi tanah masjid dengan niat-

'memerdekakan budak') dengan se- nya tersebut. Untuk menetapkannya,

lain makna syar'i, seperti lafal talak tidak perlu dengan melafalkan niat itu

diartikan'terlepasnya ikatan rantai dengan lisan.

atau tali' atau 'menggabungkan se- b. Barangsiapa bersumpah tidak akan

suatu dengan yang lain,' maka lafaz memberi salam kepada si fulan, ke-

talak dan al-'itq-nya tidak diterima mudian orang tersebut memberi

dan dipasrahkan kepada Allah SWT. salam kepada satu kelompok yang

Yang diakui adalah apa yang dimak- di dalamnya ada si fulan, namun da-

sudkannya tersebut. Imam al-Faurani lam hatinya orang tersebut berniat

-

FIQIH ISI.AM JILID 1 Pongantar llmu Flqlh

mengecualikan si fulan dari salamnya atau tidak jadi mengucapkannya, maka orang I
tersebut, maka dia tidak melanggar
sumpahnya. Berbeda dengan orang tersebut tidak berdosa. Karena, Rasulullah ri

yang bersumpah tidak akan masuk saw. bersabda, l

rumah si fulan, kemudian dia ,iii,1 t+ .;,^; c; "4d\,',:Ji')t*..;f"i'!.l'\rt:r ,it l

memasuki rumah tersebut dengan * 'i i1
niat memasuki rumah selain si fulan,
karena memang ada banyak orang .,9 fJ

di rumah tersebut, maka dia telah "Sesungguhnya Allah SWT tidak akan
menghukum bisikan-bisikan jiwa umatku, se-
melanggar sumpahnya menurut pen-
dapat yang ashah di kalangan ulama lagi mereka belum mengucapkan atau belum

madzhab Syafi'i. Menurut ulama merealisasikannya." (diriwayatkan oleh imam

Hanafi, orang tersebut dianggap me- hadits yang enam dari Abu Hurairah r.a.)
langgar sumpah jika si fulan memang
berada di dalam rumah. fika si fulan Imam as-Subki dan yang lain membagi
tidak berada dalam rumah, maka dia
tidak dianggap melanggar sumpah. bisikan maksiat dalam jiwa kepada lima

Namun perlu diketahui, ada beberapa tingkatan.
perkara yang dikecualikan dari kesimpulan
Tingkatan pertama, (al-Hajis) apa yang
kedua ini, yaitu sebagai berikut. muncul seketika dalam hati. Ulama berijma
bahwa bentuk yang seperti ini tidak dihukumi.
Masalah nadzar, talak, memerdekakan Karena, munculnya bisikan tersebut bukan
budak, dan wakaf. Apabila seseorang telah atas inisiatif diri seseorang, melainkan datang
dengan sendirinya, dan orang tersebut tidak
berniat dalam hati mengenai masalah-masalah mampu menahan dan mengendalikannya.
tersebut, namun dia tidak melafalkan niatnya
dengan lisan, maka nadzar, waqaf, talak, dan Tingkatan kedua, (al-Khathir) apa yang
memerdekakan budak tersebut tidak terjadi,
hingga orang tersebut melafalkannya dengan terlintas dalam hati dan manusia mampu
menghalaunya, bentuk seperti ini juga tidak
lisan.
dihukumi.
Perkara lain yang dikecualikan juga ada-
lah apabila ada lelaki berkata kepada istri- Tingkatan ketiga, (Hadits an-Nafsi) ke-
nya,"Kemu saya talak," kemudian sang lelaki raguan yang ada dalam hati; hingga muncul
berkata, "Yang saya maksud adalah jika Allah sikap menimbang-nimbang, apakah perbuatan
mengendaki (insya Allah)." Maka, ucapannya ini perlu dilakukan atau tidak. Bentuk seperti
tersebut tidak diterima. Imam ar-Rafi'i ber- ini juga bukan merupakan dosa berdasarkan
kata, "Pendapat yang masyhur adalah yang
mengatakan bahwa orang tersebut tidak di- nash hadits yang disebut di atas. Apabila
tetapkan hukum atasnya." Contoh lainnya
adalah bisikan hati selagi belum diucapkan tingkatan yang ini saja tidak dihukumi, maka
dan diamalkan, maka ia juga tidak dihukumi. dua tingkatan sebelumnya lebih berhak untuk
Atau orang yang bertekad untuk melakukan tidak dihukumi,

maksiat, namun tidak jadi melakukannya Tingkatan keempat, (al-Hamm) memper-

kuat keinginan untuk melakukan sesuatu.

Dalam hadits disebutkan bahwa barangsiapa
memperkuat keinginan untuk melakukan ke-

L

lr, ,

W

F,,

ISIic.M IITID 1

bajikan, maka ia akan diganjar satu kebajikan. Ada juga yang mengatakan bahwa waktunya
Namun siapa yang memperkuat keinginanya adalah ketika melakukan amalan bersuci yang

untuk melakukan kejelekan, maka tidak di- pertama kali. Madzhab Syafi'i berpendapat
catat sebagai amal kejelekan,l6a melainkan bahwa membarengkan niat dengan basuhan
akan ditunggu jika perbuatan jelek itu akhir-
nya ditinggalkan karena Allah. Maka, orang- pertama kali pada bagian wajah adalah wajib,
tersebut mendapatkan satu kebaikan. Dan
apabila dia melakukan perbuatan jelek ter- supaya niat tersebut berbarengan dengan
sebut, maka dicatat satu kejelekan. Sehingga,
amalan fardhu yang pertama sebagaimana
pendapat yangashah adalah yang mengatakan dalam shalat. Namun, disunnahkan melaku-
bahwa yang dihukumi dosa adalah apabila kan niat sebelum membasuh kedua telapak
perbuatan jelek itu jadi dilakukan, sedangkan tangan, supaya niatnya tersebut dapat men-
al-hamm tidak dihukumi. cakup seluruh amalan sunnah dan fardhu
wudhu. Sehingga, kesemua amalan tersebut
Tingkotan kelima, (al-'azmu) kuatnya ke- akan mendapat pahala, sebagaimana yang
inginan dan tekad untuk melakukan sesuatu.
Ulama yang telah melakukan penelitian men- dikatakan oleh madzhab Hanafi.

dalam menyatakan bahwa tingkatan ini ter- Boleh mendahulukan niat sebelum me-

kena hukum. mulai bersuci dalam jarak waktu yang pendek.

D. WAKTU NIAT Apabila jarak waktunya lama, maka tidak

Secara umum waktu niat adalah di awal memadai. Disunnahkan menghadirkan niat
melakukan ibadah, kecuali dalam beberapa dalam hati selama melakukan wudhu hingga
akhir amalan wudhu selesai, supaya semua
kasus yang akan saya terangkan.l6s
amalannya dibarengi dengan niat. Namun
Niat wudhu adalah ketika membasuh apabila dia hanya konsisten dengan konse-

muka. Madzhab Hanafi berpendapat bahwa kuensi niat saja, artinya semasa wudhu dia ti-
niat wudhu disunnahkan dilakukan ketika me- dak ada niat untuk keluar dari wudhu, maka
lakukan amalan sunnah yang pertama, yaitu hal itu sudah mencukupi,.
ketika membasuh telapak tangan hingga per-
gelangan tangan, supaya pahala kesunnahan- Madzhab Hambali mengatakan bahwa
kesunnahan sebelum membasuh muka dapat waktu niat wudhu adalah ketika pertama kali
diperoleh. Waktunya adalah sebelum mela- melakukan amalan wajib, yaitu ketika mem-
kukan istinja' supaya semua perbuatannya
baca basmalah.
menjadi amalan untuk mendekatkan diri ke-
Menurut madzhab Syafi'i dan Hambali,
pada Allah SWT. orang yang berwudhu dibolehkan melakukan
tafriq (memisah-misahkan) niat pada semua
Madzhab Maliki mengatakan, bahwa anggota wudhu. Yaitu, dengan cara berniat
menghilangkan hadats dari anggota wudhu
waktu berniat adalah ketika membasuh muka. yang sedang dibasuh atau diusap. Hal ini di-
sebabkan memisah-misah amalan wudhu di-

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Muslim dari Ibnu Abbas, "Sesungguhnya Allah telah menetapkan kebaikan dan
keburukan, kemudian menerangkannya. Barangsiapa berniat melakukan kebaikan, namun tidak jadi melaksanakannya, maka Allah

akan mecatat kebaikan untuknya. Apabila dia berniat melakukan kebaikan dan kemudian mengamalkannya, maka Allah akan men-
catat sepuluh kebaikan untuknya hingga tujuh ratus kali lipat, bahkan hingga berlipat ganda. Apabila seseorang berniat melakukan
kejelekan, namun ia tidak jadi melakukannya, maka Allah akan mencatat kebaikan kepadanya. Namun jika dia berniat melakukan

kebaikan lalu melaksanakannya, maka Allah akan mencatat satu kejelekan untuknya."

Ibnu Nufaim, aI-Asybahwan-Nazha'ir,hlm.43 dan setelahnya; as-Suyuthi,al-Asybah wan-Nazha'ir; al-Htsaini,Ahkamun Niyah,hlm.

t0,74,78,L22 - L25.

-

FIqLH ISTAM IILID 1 Pengnntar llmu Flqlh

bolehkan, sehingga memisah-misah niat ma- adalah syarat. Madzhab Hanafi mengatakan
sing-masing amalan tersebut juga boleh. bahwa waktu niat tayamamum adalah ketika

Pendapat yang mu'tamad menurut madz- menempelkan debu ke telapak tangan. Se-
dangkan madzhab Syafi'i mewajibkan diba-
hab Malik-yang berbeda dengan pendapat rengkannya niat dengan perpindahan debu
Ibnu Rusyd-adalah tidak cukup melakukan
tafriq niat pada masing-masing anggota wu- ketika akan diusapkan ke wajah, karena itu-
dhu. Yaitu, dengan melakukan niat khusus lah rukun tayamum yang pertama. Wajib juga
untuk masing-masing anggota wudhu ketika melanggengkan niat hingga sampai mengusap
bagian dari wajah. Madzhab Maliki dan Ham-
membasuh atau mengusapnya, jika tanpa bali menganggap cukup apabila niat dilakukan
ketika mengusap wajah.
ada maksud untuk menyempurnakan wudhu.
Namun jika dia melakukan tafriq niat ketika Niat shalat adalah ketika takbiratul ih-

membasuh atau mengusap masing-masing ram. Madzhab Hanafi166 mensyaratkan bersam-
anggota-anggota wudhu dengan maksud un-
tuk menyempurnakan wudhunya, dan itu di- bungnya niat dengan shalat, sehingga tidak
lakukan dengan cepat, maka niat wudhunya boleh ada pemisah yang lain antara niat dan
takbiratul ihram. Yang dimaksud dengan pe-
mencukupi. misah yang lain adalah perbuatan yang tidak

Bagi madzhab Hanafi, mandi adalah sama pantas dilakukan ketika shalat seperti makan,
dengan wudhu dalam masalah kesunnahan-
kesunnahannya. Karena, memulai dengan niat minum, dll.. Madzhab Maliki167 mewajibkan
ketika mandi wajib bagi mereka hanyalah ke- menghadirkan niat (di hati) ketika takbiratul
sunnahan. hal ini dimaksudkan supaya semua ihram, atau sebelumnya dalam jangka waktu
yang dilakukan oleh orang yang mandi terse- yang tidak lama.

but dapat dianggap sebagai amalan untuk Madzhab Syafi'i168 mensyaratkan niat ha-
mendekatkan diri kepada Allah SWT seperti
rus berbarengan dengan pekerjaan shalat.
alasan dalam wudhu. fumhur ulama mewajib-
Apabila niatnya terlambat, maka dinamakan
kan niat ketika mandi wajib, sama seperti 'ezom. Madzhab Hambalil6e mengatakan bah-
wudhu dengan dalil hadits "innamal a'moalu wa yang afdhal adalah membarengkan niat
bin-niyaot." Niat tersebut dilakukan ketika dengan takbiratul ihram. Apabila niatnya Iebih
mulai membasuh bagian pertama dari ang- dulu daripada takbiratul ihram, namun jarak
gota badan, yaitu dengan cara menghadirkan waktunya tidak lama dan waktu melaksana-
kan shalat fardhu sudah masuk, serta orang
niat mandi wajib atau menghilangkan jinabah tersebut tidak membatalkan niatnya, dan juga
atau menghilangkan hadats besar atau berniat
supaya boleh melakukan hal-hal yang dilarang masih dalam keadaan Islam, tidak murtad,
sebelum mandi wajib.
maka shalatnya sah. Karena, didahulukannya
Madzhab empat sepakat bahwa niat niat atas takbiratul ihram dalam jangka waktu
tayamum adalah wajib. Namun menurut
pendapat yang mu'tamad dan rajih dalam yang pendek tidak menghilangkan maksud,
madzhab Hanafi dan Hambali niat tayamum bahwa shalat tersebut telah diniati, dan juga
tidak menyebabkan orang tersebut dianggap

766 Az-Zaila'i,Tabyinul Haqa'iq, jilid 1, hlm 99
767 Asy-Syarh ash-Shaghir wa Hasyiyah ash-Shawi, jilid 1, hlm. 305.
168 Hasyiyah al-Bajuri, jilid 1, hlm. 305.
769 Kasysyaful Qina', iilid 1, hlm. 367; Ghayatul Muntaha, jilid 1, hlm,54, 115.

Pengantar llmu Flqlh FrqLH Isr."A,M frlrD 1

tidak berniat. fuga, karena niat adalah syarat sudah dimulai sejak awal takbiratul ihram)
shalat maka boleh didulukan seperti syarat- tidak boleh. Yang dimaksud oleh Imam asy-
syarat yang lain. Begitu juga tuntutan untuk Syafi'i dengan ucapannya, "tidak sebelumnya"
membarengkan niat dengan takbiratul ihram adalah niat yang dilakukan sebelum takbiratul
ihram, kemudian orang yang berniat tersebut
adalah menyulitkan. Allah SWT berfirman, memutuskan niatnya itu sebelum takbiratul
ihram. Perkataan Imam asy-Syafi'i "dan tidak
(&vA).... q:z$rcfu|#tf) setelahnya" bukan berarti niat yang berlang-
sung terus hingga takbiratul ihram selesai
W,D adalah tidak boleh. Melainkan,yang dimaksud
adalah apabila ada orang yang memulai niat
"...den Dia tidakmenjadikan kesukaran un- setelah selesai takbiratul ihram, maka itu ti-
tukmu dalam agama...." (al-Haii: 78) dak boleh. Namun apabila dia niat sebelum
takbiratul ihram, kemudian niat tersebut ber-
Selain itu, awal shalat adalah termasuk langsung terus hingga akhir takbiratul ihram,
bagian dari shalat. Maka, menempatkan niat maka niat yang seperti ini adalah boleh, dan
berarti orang tersebut melaksanakan niat
pada awal shalat adalah sudah cukup. tersebut melebihi dari apa yang diwajibkan.
Hal yang seperti itu tidaklah membahayakan
Kesimpulannya adalah, niat wajib berba-
rengan dengan takbiratul ihram, dan madz- sahnya niat.
hab Syafi'i selain mewajibkan barengnya niat
dengan takbiratul ihram, mereka juga me- Madzhab Hanafi mengatakan bahwa niat
wajibkan niat tersebut harus berlangsung se- menjadi imam harus dilakukan ketika ada
panjang melakukan takbiratul ihram. Karena orang yang mengikutinya (menjadi makmum),
bukan sebelumnya. Niat berjamaah juga se-
takbiratul ihram adalahamalan pertama dalam
baiknya dilakukan di awal amalan shalat-
shalat, maka wajib dibarengkan dengannya
nya makmum. Dalam kitab Fathul Qadir bab
sama seperti ibadah haji dan lainnya. Adapun "Sahnya Mengikuti Imam" disebutkan bahwa
yang lebih baik adalah niat mengikuti imam
madzhab-madzhab lain membolehkan niat (niat menjadi makmum) ketika imam sudah
memulai shalat.
dilakukan sebelum takbir dengan jarak waktu
Adapun ibadah-ibadah yang waktu niat-
yang sebentar, Apabila niat tersebut dilakukan nya tidak diharuskan di awal melaksanakan
terlambat atau mandahului takbiratul ihram ibadah tersebut adalah sebagai berikut.
dalam jarak waktu yang lama, maka shalatnya
A. PUASA
batal.
Boleh mendahulukan niat sebelum awal
Imam asy-Syafi'i berkata, 'Apabila sese- waktu melakukan puasa, karena untuk me-
orang melakukan takbiratul ihram-baik se- ngetahui secara tepat masuk awalnya waktu
bagai imam ataupun sendirian-maka dia puasa adalah sulit. Apabila ada orang yang
harus niat sewaktu takbiratul ihram, tidak niat puasa berbarengan dengan waktu fajar
sebelumnya (la qablah) juga tidak setelahnya maka tidak sah, menurut pendapat yang ashah
(wa la ba'dah)." Ulama-ulama madzhab Syafi'i dalam madzhab Syafi'i. Madzhab Hanafi mem-

memberi komentar perkataan imam asy-Syafi'i

di atas, "lmam asy-Syafi'i tidak bermaksud

bahwa niat yang mendahului takbiratul ihram
fyang berlangsung terus hingga selesai tak-
biratul ihram) dan [niat) yang (selesainya) ter-
lambat setelah takbiratul ihram (tapi niatnya

-

FrQIH ls[,q,M JrrrD 1 dzikir yang lain. Sehingga, dapat disimpul-

perinci pembahasan ini; apabila puasanya kan bahwa jumhur ulama mengatakan bahwa
ihram cukup hanya dengan niat saja. Namun
adalah puasa Ramadhan tunai (ada'), maka menurut madzhab Hanafi, ihram tidak cukup
boleh mendahulukan niat dimulai dari ter- hanya dengan niat saja, melainkan niat terse-
benamnya matahari, atau membarengkan niat
dengan terbitnya fajar (dan ini adalah waktu but harus dibarengkan dengan ucapan atau
yang asli), atau mengakhirkan niat hingga se- perbuatan yang khusus dilakukan sewaktu
belum tengah hari menurut hitungan syara'.
Ini semua untuk mempermudah orang yang ihram. Pendapat yang ashah dalam madzhab
melakukan puasa. Apabila puasanya bukan
Syafi'i adalah waktu niat bagi orang yang
puasa tunai (ado') seperti puasa qadha, nadzar,
atau kafarat, maka boleh niatnya didulukan berhaji tamattu' adalah selagi dia belum sele-
mulai dari terbenamnya matahari hingga ter- sai dari melakukan umrah.

bitnya fajar. Boleh jua membarengkan niat C. AKAT DAN ZAI<AT FITRAH
dengan terbitnya fajar; karena itulah waktu Dalam kedua ibadah ini, niat boleh men-

yang asli untuk puasa. Apabila puasanya sun- dahului aktivitas pembagian zakat kepada
nah, maka waktu niatnya sama dengan waktu
niat puasa Ramadhan tunai. fakir miskin. Hukum ini adalah hasil qiyas

B. HAJI dengan puasa. Niat tersebut cukup apabila di-
lakukan ketika memisahkan bagian yang akan
Niat dalam haji adalah mendahului pelak- dizakatkan dari harta benda yang di milikinya,

sanaan manasik haji, yaitu dilakukan ketika atau ketika menyerahkannya kepada wakil
atau setelahnya namun sebelum dibagikan
berihram. Maksud ihram adalah niat dan kepada orang yang berhak menerimanya. Ini
semua adalah untuk memudahkan orang yang
membaca talbiyah atau yang menggantikan-
nya, seperti ketika menggiring hewan yang mengeluarkan zakat, meskipun hukum asalnya
akan disembelih sebagai al-hadyu menurut adalah niat zakat harus dilakukan bersamaan
madzhab Hanafi. Madzhab Maliki mengatakan
bahwa ihram adalah dengan cara melakukan ketika membagikan zakat tersebut. Apakah
niat yang dilakukan bersamaan dengan ucap- boleh niat dilakukan setelah zakat itu diberi-
an atau perbuatan yang berhubungan dengan
haji, seperti ucapan talbiyah dan menuju per- kan kepada yang berhak? Madzhab Hanafi me-
jalanan. Tetapi menurut pendapat yang lebih ngatakan apabila seseorang memberikan za-
rajih, ihram adalah dengan melakukan niat
saja. Madzhab Syafi'i dan Hambali mengata- kat tanpa niat, kemudian setelah itu dia baru
kan bahwa ihram cukup hanya dengan niat niat, maka niatnya itu sah apabila harta zakat
saja. Apabila ada orang yang hanya berniat itu masih berada di tangan fakir miskin, apa-
dan tidak mengucapkan talbiyoh, maka sudah bila sudah tidak di tangan lagi maka tidak sah.
cukup. Namun apabila dia mengucapkan tal-
biyah saja tanpa niat, maka ihramnya belum Niat pembayaran kafarat juga sama de-
cukup. ngan niat pembayaran zakat, boleh mendahu-
lukan niat sebelum pelaksanaan pembagian
Niat tidak disyaratkan berbarengan de- kafarat kepada orang-orang yang berhak.
ngan pembacaan talbiyah, karena talbiyah
adalah salah satu bentuk dzikir dan dia D. NIAT MENIAMA'( DUA SHALAT
Niat menjamak tersebut adalah dilaku-
tidaklah wajib dalam haji sebagaimana dzikir-
kan ketika waktu shalat yang pertama apa-

bila shalat yang kedua adalah shalat yang

digabungkan ke shalat yang pertama. Apabila

shalat yang pertama dijadikan ibadah pertama FrqlH IsLAM fll-rD I
yang dilakukan, maka boleh mengakhirkan niat
melewati waktu yang awal. Karena, pendapat (tafriq on-niyoh), yaitu berniat setiap kali
yangazhar menetapkan bahwa niat di tengah-
tengah waktu itu adalah boleh. melakukan rukun-rukunnya.
Adapun dalam wudhu boleh melakukan
E, NIAT MENYEMBELIH HEWAN QURBAN
tafriq on-niyah menurut pendapat yang ashah
Boleh mendahulukan niat atas pelaksa- dalam madzhab Syafi'i sebagaimana yang
telah saya terangkan. Yang lebih sempurna
naan penyembelihan. Menurut pendapat yang dalam melakukan haji adalah melakukan niat
ashah dalam madzhab Syafi'i, membarengkan dalam masing-masing thawaf, sa'i, dan wukuf

niat dengan waktu penyembelihan tidaklah di Arafah. Tetapi apabila thawafnya adalah
wajib, Dan menurut pendapat yang ashah,
boleh juga melakukan niat ketika menyerah- thawaf nadzar atau thawaf sunnah, maka di-
syaratkan niat. Karena, thawaf tersebut tidak
kan hewan qurban kepada pihak wakil. ikut dalam satu paket ibadah apa pun, Oleh

F. NIAT MENCECUALIKAN SESiUATU DALAM sebab itu, dapat dikatakan bahwa thawaf
adalah ibadah yang wajib niat apabila tha-
SUMPAH
wafnya itu sunnah. Tetapi kalau thawafnya itu
Niat tersebut wajib dilakukan sebelum fardhu, maka tidak diwajibkan niat.

selesainya sumpah dan pengecualian tersebut Madzhab Hambali mengatakan bahwa
juga wajib diniati. yang wajib dalam niat adalah mengkontinyu-
kan makna niat, bukan mengkontinyukan ha-
TIDAK DISYARATKANNYA MENGHADIRKAN kikat niat, dengan cara menjauhi keinginan
NIAT SEGARA BERTERUSAN HINGGA untuk memutus niat. Kalau umpama sese-
SELESAINYA IBADAH. orang lalai dengan niatnya (di tengah-tengah
waktu shalat), maka hal itu tidak memenga-
Niat tidak disyaratkan langgeng hingga ruhi sahnya shalat yang dilakukan.
akhir ibadah, karena hal itu menyulitkan. Be-
gitu juga, tidak wajib niat ibadah bagi setiap Madzhab Hanafi mengatakan bahwa orang

bagian-bagian ibadah tersebut, melainkan cu- yang berhaji apabila melakukan thawaf de-
ngan niat thawaf sunnah pada Hari Qurban,
kup niat melakukan amalan-amalan ibadah maka ia menjadi thawaf fardhu. Apabila dia
itu secara keseluruhan. OIeh sebab itu, niat melakukan thawaf setelah selesai nafan dan
dia niat melakukan thawaf sunnah, maka dia
dalam ibadah yang mempunyai banyak amal sudah dianggap melakukan thawaf osh-shadr
perbuatan (al-af'al) cukup dilakukan di awal (thawaf al-wada'). Apabila ada orang thawaf
ibadah saja, tidak perlu berniat ketika me- dengan maksud mencari orang yang berutang
lakukan perbuatan-perbuatan yang ada dalam
ibadah tersebut seperti wudhu dan shalat. kepadanya, maka thawafnya tidak cukup.
Begitu juga haji, sehingga tidak perlu menyen-
Namun apabila ada orang yang melakukan
dirikan niat untuk thawal sa'i, dan wukuf,
Dalam shalat tidak boleh membagi-bagi niat wuquf di Arafah dengan maksud mencari

orang yang berutang kepadanya, maka wukuf-

nya sah. Karena, thawaf adalah ibadah yang

idependen, sedangkan wukuf tidak.170

170 lbnu an-Nujaim, al-Asybah wan-Nazha'ir, hlm.45-46 dan setelahnya; as-Suyuthi, al-Asyboh wan-Nazha'ir, hlm. 23; al-Husaini,
Ahkamun Niyah,hlm. L24-lZ6; al-Mughni, iilid 1, hlm. 467,

FrqlH IsrAM f rrrD 1 Pongantal llmu Flqlh

E. CARA NIAT nama shalat tersebut secara tepat supaya dia
Ibadah memerlukan niat untuk melak-
dapat dibedakan dari shalat-shalat fardhu
sanakannya yang dapat membedakannya dari
amalan yang lain, baik amalan lain itu berupa yang lain. Dalam niat shalat fardhu juga harus
ibadah yang satu bentuk dengannya atau satu disebut kefardhuannya, supaya dia dapat di-
jenis atau bukan ibadah (adat kebiasaan). Hal bedakan dari shalat-shalat sunnah. Sebagian
fuqaha mengatakan bahwa penyebutan ke-
ini karena maksud dari niat dalam ibadah
fardhuan dalam niat shalat fardhu tidak
adalah untuk membedakannya dari adat ke- disyaratkan, cukup dengan menyebutkan
biasaan, atau untuk membedakan antara satu
nama shalat tersebut secara tepat. Karena,
tingkatan ibadah dengan yang lainnya. memang nama shalat yang disebut itu adalah
Contohnya adalah, amalan wudhu akan
shalat fardhu.
menjadi ibadah jika memang orang yang me-
lakukan bermaksud menjadikannya sebagai Melakukan shalat sunnah rawotib dan
penyambung bagi pelaksanaan ibadah seperti
shalat, thawal dll. yang memang pelaksana- shalat sunnah mu'akkadah fbukan shalat sun-
annya harus dengan wudhu. Amalan wudhu nah mutlak) juga harus dengan niat yaitu niat
tanpa niat ibadah akan menjadi amalan adat melakukannya dan menentukan secara pasti
kebiasasan seperti membersihkan anggota jenisnya seperti shalat sunnah yang mengikuti
badan, mencari kesejukan, dll.. Apabila dalam
melakukan wudhu seseorang berniat supaya shalat fardhu Zhuhur, atau shalat Idul Fitri,
atau shalat Kusuf, dll.. Shalat sunnah mutlak
dengan wudhunya itu dia boleh melakukan cukup hanya dengan niat melakukannya, su-
paya dia berbeda dengan shalat-shalat yang
shalat, atau berniat fardhu mandi, maka sah- lain. Karena, memang shalat sunnah mutlak
lah wudhu orang tersebut. ini tidak ada ketentuan waktu dan sebabnya.

Amalan shalat-meskipun ia tidak me- Memberi harta kepada orang lain tanpa
nyerupai jenis amalan adat kebiasaan, me- harga atau kembalian adalah bentuk amalan
lainkan ia adalah ibadah yang murni (mah- yang masih umum. Ia dapat dikatakan zakat,
dhah)-namun shalat ada banyak jenisnya.
Shalat dapat dikelompokkan ke dalam dua sedekah sunnah, hadiah, atau hibah. Oleh se-
bab itu, selain harus menyatakan niat mem-
jenis; shalat fardhu dan shalat sunnah. Shalat beri, juga harus ditambahi dengan penentu-
fardhu dapat dikelompokkan ke dalam dua
bentuk; fardhu 'ain dan fardhu kifayah. Con- an (ta'yin) menggunakan sifat syar'i seperti
toh shalat fardhu 'ain adalah shalat wajib lima zakat-misalnya-supaya ia dapat dibedakan
waktu, sedangkan contoh shalat fardhu kifa-
yah adalah salah jenazah. dari perbuatan-perbuatan memberi harta

Sementara itu, shalat sunnah dapat di- selain zakat. Dalam niat zakat tidak perlu me-
negaskan kefardhuannya, karena lafal zakat
kelompokkan kepada dua macam; shalat sun- dalam istilah syara' digunakan untuk amalan

nah yang mengikuti shalat fardhu-seperti wajib.
shalat Witir, shalat Id, shalat gerhana mata-
hari, shalat gerhana rembulan, shalat Istisqa' Menahan diri tidak makan, minum, dan
shalat tarawih-dan shalat sunnah mutlak.
semacamnya, adakalanya dilakukan karena
Shalat fardhu wajib dilakukan dengan niat, puasa, dan adakalanya untuk menjaga diri dan
pengobatan. Oleh sebab itu, niat menahan diri
yaitu niat melakukannya dengan menyebut (al-imsak) dalam puasa harus disertai dengan
penyebutan kata shiyam/shauln supaya dia

dapat dibedakan dari perbuatan-perbuatan

lain yang hampir serupa.

PenEantar llmu Flqlh FIQIH ISI.,A,M JILID 1
151

Selain itu, puasa juga ada yang fardhu dan A. NIAT WUDHU
ada juga yang sunnah sama seperti shalat. Oleh
Cara niat wudhu adalah dengan berniat
sebab itu, selain menyatakan niat puasa, orang menghilangkan hadats, atau berniat untuk
yang melakukan puasa juga harus menyatakan melakukan shalat, atau niat wudhu, atau niat
secara jelas jenis puasanya seperti puasa Ra-
madhan, puasa qadha, puasa kafarat sumpah, melaksanakan perintah AIlah, atau niat supaya
kafarat zihar; kafarat pembunuhan, kafarat boleh melakukan perkara-perkara yang me-

jimak di tengah hari Ramadhan, atau puasa lakukannya memang harus dengan wudhu
seperti shalat, thawal dan memegang mushaf,
fidyah karena memakai wewangian ketika haji, atau niat menghilangkan janabah, atau niat
dll.. Ketika niat puasa-puasa yang disebutkan fardhu mandi, atau niat mandi wajib. Semua-
nya itu dilakukan sewaktu membasuh bagian
tersebut, seseorang tidak perlu menyatakan
pertama dari badan seperti bagian kepala atau
kefardhuannya. Karena, puasa-puasa yang di- yang lain.

sebut memang puasa fardhu dan tidak akan Apabila wudhunya dibantu oleh orang
lain, maka niat yang diakui adalah niat yang
serupa dengan puasa-puasa Iain yang sunnah. dilakukan oleh orang yang berwudhu, bukan
orang yang membantunya berwudhu. Karena,
Pergi menuju Tanah Haram adakalanya orang yang wudhulah yang dituntut oleh per-
untuk berihram, dan adakalanya juga untuk intah syaral Adapun orang yang hadatsnya
melakukan kegiatan dagang atau kebiasaan- berterusan seperti wanita yang mengalami
istihadhah, atau orang yang selalu keluar
kebiasaan lain. Oleh sebab itu, ketika niat kencing dan semacamnya, maka niatnya ada-
ihram seseorang harus menyatakan dengan lah niat supaya boleh melakukan shalat, bu-
kan niat untuk menghilangkan hadats. Karena,
jelas bahwa dia memang hendak berihram un- hadatsnya tidak mungkin hilang.172

tuk haji-kalau memang dalam bulan-bulan B. NIAT TAYAMUM
haji-atau untuk umrah, dan boleh juga orang
itu niat ihram secara mutlak kemudian boleh Menurut madzhab Hanafi, orang yang ber-
tayamum boleh berniat dengan salah satu dari
memilih di antara haji atau umrah-kalau tiga niat berikut ini; [1] niat bersuci dari hadats;

memang berada dalam musim haji. Kalau di [2] niat supaya boleh melakukan shalat; [3]
luar musim haji, maka niat ihramnya itu akan
menjadi ihram umrah. Menyatakan kefardhu- niat melaksanakan ibadah tertentu yang tidak
an juga tidak disyaratkan kalau memang se- sah jika tanpa bersuci seperti shalat, sujud tila-
wah, atau shalat janazah. Madzhab Hanafi juga
belum ini orang tersebut belum pernah haji tidak mensyaratkan menyatakan kefardhuan
ketika niat tayamum. Karena, menurut mereka
atau umrah.171 tayamum adalah ibadah pengantar (wasilah).

Dalil bagi disyaratkannya menyatakan de-
ngan jelas jenis ibadah yang akan dilakukan
(ta'yin) adalah hadits "innamal a'maalu bin-
niyaatl'sebagaimana yang sudah kami terang-

kan.

Pada uraian berikut ini, akan saya tampil-
kan beberapa contoh cara niat dalam ibadah,

171 Ahmad al-Husiani, Nihayatut Ahkam fi Bayani Ma fi an-Niyah minat Ahkam, hlm. 10 dan setelahnya. al-Majmu', jilid 1, hlm. 361
172 Al-Bodr'i:jilid1, hlm. 77; ad-Durrul dan setelahnya dan 140 dan setelahnya;
Mukhtan iilid 1, hlm. 98

dan setelahnya; Mughnil Muhtaj, jilid 7,hlm.47 dan72; Bidoyatul Mujtahid, jilid 1, hlm 7 dan setelahnya dan 42 dan setelahnya;

asy-Syorhush Shaghin iilid 1, hlm 114 dan setelahnya, L66 dan setelahnya; Kasysyaful Qinai iilid 1, hlm. 94 dan setelahnya,lT3 dan
setelahnya; ol-Mughnri, jilid 1, hlm. 142, 2L8 dan setelahnya.

FIQIH ISI.AM IITID 1 ibadah lain yang tidak boleh dilakukan ke-
cuali setelah mandi terlebih dulu. Kalau orang
Niat tayamum menurut madzhab Maliki tersebut niat supaya boleh melakukan ibadah
adalah niat supaya boleh melakukan shalat;
atau niat supaya boleh melakukan ibadah yang yang sebenarnya boleh dilakukan tanpa mandi
tidak boleh dilakukan apabila ada hadats; atau terlebih dahulu seperti niat mandi untuk shalat
niat fardhu tayamum. Semuanya itu dilakukan Id, maka mandinya tidak sah. Niat mandi wajib
ketika mengusap wajah. Kalau seandainya se-
seorang niat menghilangkan hadats saja, maka juga harus dilakukan berbarengan dengan
tayamumnya tidak sah. Karena, tayamum ti- perbuatan fardhu yang pertama, yaitu ketika
dak dapat menghilangkan hadats, Ini menurut
pendapat yang masyhur di kalangan madzhab membasuh anggota badan pertama kali, baik
Maliki. Kalau dia niat fardhu tayamum, maka yang dibasuh bagian atas badan maupun ba-
hal itu sudah mencukupi. gian bawah. Karena, dalam mandi tidak di-
wajibkan tartib.lTa Madzhab Hanafi juga tidak
Madzhab Syafi'i mengatakan bahwa niat mensyaratkan harus menyatakan kefardhuan
tayamum harus dengan cara niat supaya bo-
Ieh melakukan shalat atau ibadah yang se- dalam niat mandi atau wudhu, karena niat
macamnya. Menurut pendapat yang ashah, dalam mandi dan wudhu menurut mereka
niat tayamum dengan menyatakan niat fardhu bukanlah syarat, melainkan sunnah untuk
tayamum; atau fardhu thaharah; atau bersuci
dari hadats atau jinabah adalah tidak men- mendapatkan pahala.
cukupi, karena tayamum tidak dapat meng-
hilangkan hadats. D. NIAT SHALAT

Niat tayamum menurut madzhab Hambali Madzhab Hanafi mengatakan apabila
adalah dengan cara niat supaya boleh melaku- orang yang melakukan shalat itu sendirian,
kan ibadah yang hanya boleh dilakukan jika
maka ia harus menentukan dengan jelas jenis
ada tayamum seperti shalat, tawal meme-
shalat fardhu atau wajib yang dilakukan.
gang mushaf, sama seperti pendapat madzhab Namun jika dia melakukan shalat sunnah,

Syafi'i.173 maka cukup dengan niat shalat saja.

C. NIAT MANDI Apabila ia menjadi imam, maka wajib

Niat bagi orang yang mandi wajib adalah melakukan tayin sebagaimana yang telah di-
ketika membasuh pertama kali bagian tubuh terangkan. Apabila imam dan makmumnya
dengan menyatakan [dalam hati) niat fard- lelaki, maka imamnya tidak disyaratkan niat
hu mandi; atau niat menghilangkan jinabah mengimami lelaki. Makmum sah mengikuti
atau hadats besar; atau niat supaya boleh
melakukan ibadah yang yang tidak boleh di- imam, meskipun imamnya tidak berniat meng-
lakukan kecuali setelah mandi, seperti niat
supaya boleh melakukan shalat, thawaf, atau imami mereka. Apabila imamnya lelaki dan

makmumnya perempuan, maka imamnya di-

syaratkan niat mengimami wanita, supaya

niat makmum wanita dalam mengikuti imam
tersebut menjadi sah.

173 Fathul Qadin jilid 1, hlm. 86,89; al-Bada'i; jilid 1, hlm. 25-52; Tabyinul Haqa'iq, jilid 1, hlm. 38; asy-Syarhul Kab,t; iilid 1, hlm 154;
al-Qawanin al-Fiqhiyyah, hlm. 37; al-Muhadzdzab, jilid 1, hlm. 32; Mughnil Muhtaj, iilid 1., hlm. 94,; al-Mughni, jilid 1, hlm. 251;
Kasysyaful Qinaj jilid 1, hlm. 199.
Fathul Qadin iilid 1, hlm.38 dan setelahnya; al-Lubab Syarh al-Kitab, jilid 1, hlm. 2O; asy-Syarhush Shaghin iil 1, hlm. 166 dan sete-
lahnya; Bidayatul Mujtahid,iilid, L, hlm. 42 dan setelahnya; Mughnil Muhtaj, iilid 1, hlm. 72 dan setelahnya; al-Mughni, jilid 1, hlm.

218 dan setelahnya;Kasysyaful Qina', iilid,1, hlm. 173 dan setelahnya.


Click to View FlipBook Version