http://facebook.com/indonesiapustaka
http://facebook.com/indonesiapustaka
http://facebook.com/indonesiapustaka
http://facebook.com/indonesiapustaka
Anak-Anak Langit
Hak cipta © Mohd Amin MS, 2011
Penulis: Mohd Amin MS
Editor: Wiyanto Suud
Cetakan 1, Juli 2011
Diterbitkan oleh Pustaka Alvabet
Anggota IKAPI
Jl. SMA 14 No. 10, Cawang
Kramat Jati, Jakarta Timur 13610
Telp. (021) 8006458, Faks. (021) 8006458
e-mail: [email protected]
www.alvabet.co.id
Desain sampul: Ujang Prayana
Tata letak isi: Dadang Kusmana
http://facebook.com/indonesiapustaka ___________________________________________________________________________
Perpustakaan Nasional RI. Data Katalog dalam Terbitan (KDT)
Amin MS, Mohd
Anak-Anak Langit/Mohd Amin MS; Editor: Wiyanto Suud
Cet. 1 — Jakarta: Pustaka Alvabet, Juli 2011
504 hlm. 13 x 20 cm
ISBN 978-602-9193-04-6
1. Novel I. Judul
Daftar Isi
http://facebook.com/indonesiapustaka Ucapan Terima Kasih vii
Prolog 1
1 Bimbang 11
2 Tangan-tangan Takdir 23
3 Sebelas Askar Bertuah 39
4 Yong Dolah 58
5 Tengkelek 72
6 Hidung Belang 80
7 Anak-Anak Langit 93
8 Syubbanul Yaum, Rijalul Ghad 106
9 Tersangka 116
10 Ego 127
11 Ukhuwah 136
12 Iqra’ 149
13 Senior 159
14 Brilian 173
15 Tekad 186
16 Buffalo Fight dan Gitar Tak Berdawai 201
MOHD AMIN MS 211
229
17 Pendekar Gunung Merapi 240
18 Pak Jalil 256
19 Midun 272
20 Common Enemy 283
21 Bunga Desa 296
22 Geng Friday Vs Pocong 304
23 Perantau 316
24 Kapal tak Bernakhoda, Iwan Fals Berdendang 326
25 Jin-jin Bergentayangan di Langit Koto Baru 337
26 Sarang Penyamun 347
27 Insiden Sara 357
28 Teror 366
29 Bunda Sri 378
30 Manusia Amfibi, Kartu Merah, dan Shaolin 383
31 Langit Kelabu 399
32 Illa 407
33 Nasionalisme 419
34 The Power of Love 427
35 Edelweis 437
36 Siklus 444
37 Al-Bayan 462
38 I'tiraf 475
39 All MAK Final
40 Dialog 485
493
Epilog
Tentang Penulis
http://facebook.com/indonesiapustaka vi
http://facebook.com/indonesiapustaka Ucapan Terima Kasih
Puji syukur kepada Allah atas anugerah imajinasi dan
inspirasi, gabungan buah pikir yang memungkinkan
terwujudnya novel ini.
Terima kasih yang tulus untuk Raja Sya’ariah, pembaca
pertama draf novel ini, pemberi ide, kawan diskusi dan
sekaligus penyemangat; serta untuk dua inspirator mungil,
Muhammad Fatih al-Fikri dan Muhammad Faiz Azhim.
Buat ibuku, Hj. Saidah Fakhriyah, yang doa-doanya terus
mengalir tiada henti, siang maupun malam. Dan ayahku, H.
Makhasin (alm), yang kesabarannya tiada banding, darinya
kupelajari banyak hal tentang arti kehidupan.
Terima kasih juga buat adik-adikku, kawan-kawan
pemberi ide dan masukan, Aris Bintania, al-Badri,
Zulkarnain, dan Bang Raja Isyam Azwar, yang telah
membaca, mengkritisi, serta memberi masukan untuk ke-
http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS
lengkapan novel ini. Juga beberapa sobat kentalku atas
diskusi di dunia maya, yang dari diskusi itu keluarlah ide-
ide baru dan segar dalam proses penulisan novel ini.
Ucapan terima kasih juga untuk para endorser novel
ini, Bapak Rusli Zainal, Pak Rida K. Liamsi, Bang Firdaus
Siraj, Buya Gusrizal Gazahar, Bang Iswandi Syahputra,
Nuruddin Mhd. Ali, dan Jufrizal.
Terima kasih tak terhingga juga teruntuk semua
karakter yang digunakan dalam novel ini, yang sejatinya
merupakan karakter-karakter sebenarnya, karakter yang
dimodifikasi dan sebagiannya imajinasi. Terima kasih
kepada rekan-rekanku seluruh “anak-anak langit” dari
setiap angkatan dengan pengalaman tak terlupakan ber-
sama generasi hebat ini.
Ungkapan salam takzim dan terima kasih tak terhingga
bagi para guru, ustadz, dan ustadzahku yang tiada banding
dalam keikhlasan, pengabdian, dan dedikasi. Jasa kalian
tak akan terlupakan sampai kapan pun.
Terima kasih pula kepada teknologi jejaring sosial, yang
lewat dunia maya itu, plus “keisengan seorang kawan”,
info keberadaan novel ini tersebar ke seluruh dunia, jauh
sebelum masa terbitnya: dari Siena (Italia), Washington
DC(Amerika Serikat), Kairo (Mesir), Sydney (Australia),
hingga Jeddah (Arab Saudi); dari Batam hingga Jogja, dari
Jambi sampai Jakarta, dari Aceh hingga Makasar. Juga
berbagai kota lainnya di dunia, tempat para alumni MAPK
tersebar.
Terima kasih juga kepada sobat-sobat Ika Mapokus
atas penyebaran informasinya. Termasuk juga jaringan
MAPK di seluruh Indonesia, yang diam-diam telah me-
lahirkan sosok-sosok luar biasa bagi negeri ini, kendati
viii
http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT
banyak yang tak mengenal mereka sebagai alumni
pesantren produk pemerintah, anak-anak unggulan di
masanya.
Terima kasih pula kepada penerbit Alvabet: Ahmad
Zaky selaku Direktur, seorang kawan lama; Zulkifli Al-
Humami sebagai Editor in-Chief; Wiyanto Suud, editor
naskah ini; Dadang Kusmana (layouter); dan Ujang
Prayana (desainer cover).
Last but not least, terima kasih kepada para pembaca
dan semua apresiasi yang sudah terdedah, bahkan sebelum
naskah novel ini benar-benar hadir.
Koto Baru-Pekanbaru
1991-2011
Penulis
ix
http://facebook.com/indonesiapustaka
http://facebook.com/indonesiapustaka Prolog
Kairo, 2 Februari 2011
Dini hari. Embun sudah mulai turun. Aku menyibak tirai
jendela apartemenku, hanya beberapa blok dari lapangan
Tahrir Square. Yang kulihat bukan sunyi sepi, melainkan
ribuan orang yang penuh amarah. Mereka meneriakkan
kemarahan kepada Hosni Mubarak, penguasa absolut
selama 30 tahun terakhir. Ini adalah hari ke delapan
aksi revolusi Mesir yang bergolak sejak 25 Januari 2011.
Seratus orang telah tewas, ribuan terluka. Telekomunikasi,
internet, bahkan listrik mulai terputus. Kecemasan me-
landa warga asing, dan eksodus besar-besaran terjadi.
Bukannya surut, aksi massa malah makin solid. Jam malam
yang diterapkan militer mereka anggap angin lalu. Bahkan
mereka mulai berkemah di lapangan Tahrir Square.
Massa masih terus menyemut di sekitar jalanan menuju
lapangan Tahrir Square. Dari jendela apartemenku, teriakan
http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS
mereka jelas terdengar. Beberapa di antara mereka mulai
membakar apa saja sambil meneriakkan kebencian kepada
Hosni Mubarak. Tak sedikit yang mengacung-acungkan
sepatu. Kebencian benar-benar melanda mereka. Amarah
itu berpadu dengan api yang terus berkobar-kobar. Tank-
tank militer seolah tak berdaya dan mulai membiarkan
saja aksi yang makin meluas.
Pandangan kuarahkan ke layar televisi. Tayangan
Al-Jazeera menunjukkan perspektif yang lebih luas. Tak
hanya di Tahrir Square, kerusuhan, aksi massa, kemarah-
an dan pembakaran terjadi di banyak tempat. Orang-
orang datang dari seluruh penjuru negeri, melemparkan
molotov, lalu membakar apa saja. Aku melihat dengan
jelas api yang menyala, berkobar-kobar di tiap sudut kota.
Api itu berisi dendam, kesumat, dan amarah pada rezim
Hosni Mubarak menjelang kejatuhannya.
Sobat, entah mengapa, saat melihat tayangan Al-
Jazeera di lapangan Tahrir Square ini, memoriku melayang
ke saat-saat paling dramatis ketika di asrama dulu, tujuh
belas tahun yang lalu. Kobaran api yang menyala-nyala di
tiap sudut kota Kairo itu persis seperti yang kulihat di Koto
Baru, di sekolah kita dulu. Sebelum aku membuat laporan
amuk massa anti-Mobarak di Tahrir Square ini, aku seakan
tak sabar ingin mengisahkan kembali kepadamu tentang
kisah kita; tentang calon orang-orang yang dielu-elukan
menjadi anak-anak unggul bagi negeri kita; tentang kisah
dua dasawarsa lalu, yang orang-orangnya terkepung dalam
janji-janji dan tak dapat lepas darinya. Anak-anak pilihan
itu seharusnya mendapatkan panggung yang layak di
masanya, namun tak kunjung menemukannya jua. Anak-
anak ini ditemukan, dielu-elukan, lalu terbuang begitu
2
http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT
saja. Ini kisah tentang kita sobatku, tentang semua hal
yang sebenarnya wajar, hanya nostalgia biasa. Tapi seiring
waktu, tak usahlah engkau anggap kita anak-anak hebat
itu lagi. Karena sungguh, kita hanya anak-anak biasa, yang
kerap alpa dan tergoda. Semuanya, termasuk aku.
***
Koto Baru, Padang Panjang, Juni 1994
Ketika itu malam semakin larut. Kabut putih dari Gunung
Merapi dan Singgalang datang berarakan bagaikan gumpal-
an salju yang turun saling berkejaran, lalu mengempas dan
menenggelamkan semua makhluk dalam senyap. Embun
pun mulai turun, membasahi dedaunan, atap-atap rumah,
dan persawahan. Bulir-bulirnya bulat, nyaris seperti rintik
hujan. Hawanya sejuk menusuk tulang.
Saat-saat seperti ini, yang paling enak tentu menarik
selimut, tidur hingga pagi menjelang, serta memuaskan
jiwa dalam buaian mimpi indah. Itulah yang kami lakukan
sejak tiga tahun lalu, saat pertama kali merasakan AC alami
yang besar ini. Kami yang berasal dari daerah relatif panas,
terpaksa harus menyalakan lilin sebagai perapian. Sampai
sekarang pun, dingin hawa Koto Baru di kaki Gunung
Merapi dan Singgalang ini tak dapat ditaklukkan dengan
kaus kaki, selimut tebal, atau jaket dan sarung tangan.
Malam itu tak seperti biasanya. Tak ada tanda-tanda
kawan sekamar akan memejamkan mata dan membiarkan
tubuh untuk rehat barang sebentar usai bersukaria siang
tadi, usai pengumuman kelulusan kami. Rasyid, misalnya,
masih asyik dengan kitab-kitabnya. Ia memang tekun
sekaligus brilian, tipe manusia langka. Rasyid adalah anak
3
http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS
nelayan dari Tanjung Pinang, yang tentu saja lebih terbiasa
dengan panas dan laut.
Selain Rasyid dan aku, ada sembilan orang lagi anak
Riau yang berjibaku dengan dingin udara Koto Baru di
kamar-kamar asrama yang menjadi kawah candradimuka
bagi anak-anak rantau seperti kami. Ada juga anak-anak
tempatan, urang awak, dan ‘’budak-budak’’ Jambi. Salah
seorang budak Jambi di kamar kami adalah Jalal yang
menjadi pemimpin kharismatik bagi rekan-rekannya.
Kendati batas teritorial dan kedaerahan sudah kami abaik-
an dua setengah tahun lalu, namun tetap ada kebanggaan
membawa nama daerah.
Demikianlah. Rasyid menjadi kebanggaan kami se-
bagai anak Riau di Ranah Minang ini. Sedangkan Jalal
merupakan lokomotif bagi anak-anak Jambi. Di masa-
masa awal dulu, dingin hawa Koto Baru tak dapat me-
nyejukkan jiwa muda siswa-siswa asrama ini. Tetapi
Jalal dapat menetralisirnya. Jam kecil di atas lemari Jalal
menunjukkan pukul 2.15 dini hari, tapi pria bernama
lengkap Ahmad Jalaluddin Rumi ini tak kelihatan batang
hidungnya, dia pergi entah ke mana.
Satu lagi teman sekamarku bernama Zulfariadi. Dia
juga tak kelihatan sejak tadi. Sejak dulu, dan mungkin
hingga kini, dia adalah pakar nahwu-sharaf di kelas kami.
Bahasa Arabnya lancar bak air mengalir dari Telaga Dewi,
meluncur dengan deras di lereng Singgalang. Bahasa Arab
Fushah1 pula. Saat kami baru belajar Mukhtasshar Jiddan2,
1 Bahasa Arab sesuai gramatikal, lawannya ‘amiyah atau ‘ajam,
bahasa keseharian masyarakat semenanjung Arab.
2 Mukhtasshar Jiddan adalah salah satu kitab dasar dalam bahasa
Arab, syarh (penjelasan) dari kitab Matan al-Jurumiyah.
4
http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT
dia sudah bicara ungkapan-ungkapan sastra dalam bahasa
Arab: balaghah, badi’ dan bayan. Saat kami baru belajar
qâma Zaidun wa Zaidun qâ’imun3, fi’il-fâ’il, mubtada’-
khabar, dia sudah melantunkan syair-syair Imam Syafi’i
dan Rumi, lengkap dengan makna balaghah dan bayan-
nya. Sebagai anak Minang asli, Zulfariadi juga prototipe
pemuda tradisional yang paham segala seluk-beluk adat.
Kami juga sering menyebutnya Datuak. Tentu bukan
Datuak Maringgih si tukang kawin itu, melainkan datuak
dalam arti pemangku adat di Ranah Minang. Zulfariadi
memang penyuka sastra, baik sastra Minang ataupun
sastra Arab. Inilah kelebihannya yang lain.
Dengan demikian, komplitlah kamar kami. Ada orang
pintar dan alim, pemimpin kharismatik, dan pemuka adat.
Lengkaplah konsep ’’tali berpilin tiga” atau “tiga tungku
sejerangan’’, yakni ulama, penguasa, dan pemuka adat. Tiga
orang itu mewakilinya: Rasyid, Jalal, dan Zulfariadi. Atau,
bisa disederhanakan menjadi dua: ulama dan umara—
juga terwakili oleh tiga orang itu. Jangan heran bahwa
kamar 10—kamar yang kami tempati—dianggap kamar
rujukan, tempat bertanya, dan tempat kawan-kawan lain
menyampaikan aspirasi. Mereka termasuk orang-orang
yang didahulukan selangkah, yang ditinggikan seranting,
yang dilebihkan serambut, dan yang dimuliakan sekuku.
Sedangkan aku? Tak perlu ditanya, Sobat, dan tak
usah masuk hitungan! Aku bukanlah siapa-siapa. Aku
3 Pemakaian contoh bahasa Arab qâma Zaidun dan Zaidun qâ’imun,
yang artinya Zaid berdiri, paling sering digunakan dalam kitab
Mukhtasshar Jiddan sebagai bentuk dari fi’il-fâ’il atau mubtada’-
khabar, gramatika yang paling sederhana dalam bahasa Arab
untuk ungkapan subjek dan predikat dalam sebuah kalimat.
5
http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS
hanyalah seorang anak biasa yang terlanjur muncul di
tengah anak-anak luar biasa ini. Kalau di kampung Pak
Cikku, yang kini tinggal di Pasir Pangaraian, aku sekadar
tukang koba.4
Tinggal aku dan Rasyid yang ada di dalam kamar.
Rasyid terlalu asyik dengan kitab-kitabnya, sehingga tak
mungkin diajak ngobrol. Meski ingin segera terlelap
tidur, entah mengapa mataku sulit dipejamkan. Masih
tergambar jelas di pelupuk mataku bayangan pengumuman
kelulusan kami siang tadi. Selanjutnya seperti apa? Pikiran
itu terus berputar-putar dalam otakku, sehingga mata ini
tak merasakan kantuk dalam waktu sedemikian larut.
Zulfariadi yang biasanya tidur jauh lebih cepat pun tak
tampak. Entah ke mana.
Sontak sebuah kepala melongok di pintu kamar kami.
Zulfariadi!
‘’Bani mambaka buku. Caliaklah!’’5
Secepat itu Zulfariadi muncul, secepat itu pula meng-
hilang dari pandangan. Informasi itu membuyarkan semua
lamunan panjangku. Bani membakar buku? Apa pula yang
dipikirkan anak itu? Aku bergegas menyingkirkan selimut
dan segera keluar melihat apa yang terjadi. Tampaknya
Rasyid juga cukup terganggu dengan informasi yang di-
sampaikan Zulfariadi. Ia pun bergegas menyingkirkan
selimutnya dan turun. Kami berdua beranjak ke halaman
asrama yang terbentang luas dan asri—beberapa pohon
4 Tukang koba ada di Rokan Hulu Riau, yakni semacam pencerita
dengan alunan musik tradisional setempat, agak mirip dengan
tradisi saluang dari Sumatera Barat.
5 Bani membakar buku. Lihatlah! (bahasa Minang).
6
http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT
peneduh memang terdapat di sana, dengan sedikit taman
dan kolam kecil peninggalan kakak kelas kami.
Namun, yang kulihat malam itu sungguh berbeda.
Bukan taman asri yang dilumuri cahaya temaram rembulan
dan sedikit lampu redup seperti biasanya, melainkan
cahaya yang benar-benar terang. Kobaran api menyala-
nyala di udara. Cahayanya membias ke beberapa orang di
sekitarnya. Tampak jelas wajah Bani terkena bias cahaya
api. Ia bertelanjang dada, tergambar jelas sosok tubuhnya
yang tinggi kurus. Terlihat Bani yang penuh kebencian
dan kemarahan. Ketika kami sampai, Bani baru saja
melemparkan bukunya yang terakhir. Kawan-kawan lain
yang berusaha mencegah sepertinya terlambat, begitu juga
kami yang baru datang. Sebenarnya, bukan hanya Bani
yang melakukan hal itu, tapi juga beberapa yang lain, di
antaranya Arif Yanto, Barmawi, Jundi, Haris, Suhadi, dan
Hendra. Tetapi pada Banilah kulihat fokus api kemarahan
itu berada. Yang lain tampak ikut-ikutan saja. Mereka
hanya membakar kertas-kertas bekas ulangan, catatan-
catatan harian. Kulihat ada juga catatan utang, hingga
surat cinta yang ikut dibakar.
Bani Adam al-Qadri, nama lengkap lelaki itu, menatap
nanar buku terakhirnya yang mulai dilahap api. Matanya
ikut menyala-nyala. Giginya gemeretak. Api yang nyaris
padam pun kembali berkobar, seperti kemarahan yang
bersemayam dalam dadanya. Sejak awal, ia memang me-
nunjukkan kemarahannya kepada semua yang ada di
asrama. Dia meninggalkan semua yang ada di kampungnya,
ibunya, adik-adiknya, demi mengejar mimpi-mimpi yang
dijanjikan. Tapi semuanya nihil di matanya. Dia tak men-
dapatkan apa-apa. Aku tahu Bani marah, seperti juga
7
http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS
kami. Namun beginikah caranya? Dengan membakar
buku, sumber ilmu yang sangat berharga? Kulihat mata
Rasyid berkaca-kaca. Baginya, buku adalah segalanya.
Tapi tidak begitu di mata Bani yang sudah tersulut emosi,
yang telah menahan amarah sejak lama.
Bagi kami, mungkin apa yang dilakukannya sudah
cukup untuk meluapkan kemarahan yang menumpuk
selama tiga tahun. Tapi ternyata tidak. Bahkan, ia berusaha
mengambil plang nama sekolah kami. Plang yang tinggi
tak menghalangi niatnya mengambil benda itu. Dengan
berjingkat, ia berhasil mengambilnya. Ketika plang kecil
itu hampir masuk ke dalam kobaran api, sebuah tangan
mencegahnya.
‘’Jangan Bani! Tolong sisakan energi dan kemarahan-
mu! Sudahlah!’’
Andi Putra Nanda mencegah niat Bani. Dia berhasil
menghentikan Bani. Dengan wibawanya, Andi dapat
meredakan emosi Bani yang tampak masih meledak-
ledak. Bani merelakan plang nama itu diambil Andi. Aku
kemudian mengambil plang itu dari tangan Andi dan me-
natap bacaannya. Ada emosi yang menggugah perasaan
dalam tulisan itu. Tanganku bergetar begitu melihat tulis-
an yang nyaris saja musnah dilalap api. Nyaris saja lepas,
kalau saja ingatanku tak kembali dari kegalauan yang
sangat kuat, yang menggugah semua emosiku.
‘’Departemen Agama. Madrasah Aliyah Khusus. Special
Islamic Senior High School. Al-Madrasah al-’Aliyah al-
Khâsshah. Dakhiliyah Dâr al-Najâh.’’
Mataku lekat-lekat menatap kata khusus, special, dan
al-Khâsshah. Emosiku tiba-tiba kembali meledak. Jiwa-
ku bergetar. Seharusnya memang tak ada kata itu. Bani
8
http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT
sudah berulang kali menyerukannya—baik dalam ungkap-
an langsungnya kepada kepala sekolah, dalam aksi demo-
nya, lagu protesnya, atau dalam pernyataan sikapnya di
tembok-tembok. Hendra, kawan kami yang lain, pun be-
berapa kali membuat kartun dan protes. Aku melihat lagi
ke arah plang, di bawah tulisan itu.
‘’Koto Baru (Kobar), Padang Panjang, Sumatera Barat.’’
Koto Baru memang mengobarkan semangatku, juga
teman-teman lain yang memulainya dari nol. Tapi tentu
tidak bagi Bani, anak tempatan yang tak merasakan per-
ubahan selama tiga tahun di sini. Ia mengobarkan api ke-
benciannya pada janji muluk yang tak terealisasi. Dalam
kebekuan dan hawa dingin Koto Baru, sesungguhnya hati
kami sejak lama memang terbakar, menyala dan berkobar-
kobar. Aku dapat merasakan apa yang Bani rasakan: ke-
marahan yang tak berujung, yang memuncak ke ubun-
ubun. Tetapi, apakah cara melampiaskannya dengan mem-
bakar buku? Aku rasa tidak, Sobat!
***
9
http://facebook.com/indonesiapustaka
http://facebook.com/indonesiapustaka 1
Bimbang
Inilah kisahku, Sobat, sebuah kenangan masa-masa
remaja. Entah mengapa, aku ingin menceritakannya
padamu, meskipun mungkin tak begitu penting bagimu.
Kawan-kawan sepermainanku di kawasan pesisir
timur Riau memanggilku Atan, semacam Buyung di
Minangkabau atau Ucok di Sumatera Utara. Tapi di
raporku tertera jelas namaku Simuh. Aku hanyalah anak
kampung biasa, yang punya cita-cita layaknya anak-
anak lain. Aku ingin mengetahui beberapa hal tentang
manusia, alam semesta, dan bagaimana semuanya dapat
berkembang, lalu menjadi sebuah disiplin ilmu. Rasa ke-
ingintahuan itu menuntunku untuk mencari wawasan-
wawasan baru, guru-guru, dan teman-teman yang dapat
menyalurkan semua gagasan baru. Tentu juga sekolah yang
memungkinkan untuk itu. Bagiku, semuanya naluriah
saja. Sangat lumrah.
http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS
Dalam pikiran kanak-kanakku, Perguruan Wahidin
Bagan Siapi-api adalah salah satu lembaga pendidikan yang
mampu memuaskan hasratku. Sekolah ini sudah sangat
tua, memiliki jenjang pendidikan dari SD hingga SMA.
Namanya begitu harum di Bagan Siapi-api. Aku sangat
berminat untuk bersekolah di sana. Bahkan, hasratku men-
jelma menjadi sebuah asa yang menggelora, obsesi yang
terus menghantui, dan mimpi yang harus kuraih.
Beberapa teman SD di kampungku, Karim dan
Adnan, bahkan sudah duduk di bangku SMP di sana.
Sedangkan aku terpaksa tak bisa mengenyam pendidikan
di sekolah bergengsi itu. Abah sakit keras dan memerlukan
biaya besar. Alasan klasik, tapi begitulah adanya. Nasib
kemudian membawaku singgah di MTs Nurul Falah,
madrasah setingkat SMP tertua di kampung kami, Bangko,
sekitar 2 km dari pusat kota Bagan Siapi-api. Bukan apa-
apa. Pak Saiful, kepala sekolah kami, membolehkan
Abah untuk menunda pembayaran uang pangkal masuk
sekolah, kendati sekolah kami bisa dibilang sekarat dan
sangat tergantung SPP serta uang pangkal dari siswa. Pak
Saiful masih memandang Abah sebagai kawan lamanya.
Akulah satu-satunya siswa yang baru membayar uang
pangkal sekolah setelah tiga bulan di sana.
MTs Nurul Falah telah menjadikanku melebihi harap-
an siapa pun. Pada Juni 1991, aku dinyatakan lulus dengan
nilai tertinggi ketiga se-Kabupaten Bengkalis. Peringkat
pertama diraih anak MTs Negeri di Bengkalis; yang kedua
anak SMP Bengkalis; dan ketiga aku, seorang anak MTs
swasta dari yayasan kecil yang namanya nyaris tak ter-
dengar. Sebuah MTs yang kembang-kempis dan nyaris
tutup karena kekurangan murid, miskin, dan terpinggir-
12
http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT
kan. Prestasi besar itu tentulah sebuah anugerah terindah.
Di Bagan Siapi-api, akulah yang terbaik.
Pak Saiful memuji setinggi langit atas prestasiku.
Sebuah prestasi yang belum pernah diraih anak MTs
Nurul Falah sebelumnya, dan karena itu layak mendapat
pujian. Bahkan, Pak Iskandar, salah seorang pejabat di
Bengkalis, kawan sepermainan Abah sejak kecil, mau jauh-
jauh datang dari Kota Terubuk hanya untuk memujiku,
pujian yang membuatku berada di awang-awang. Tak
sekadar memuji, beliau memberiku hadiah uang tunai.
Tak tanggung-tanggung, dua ratus ribu rupiah, lumayan
besar untuk masa kala itu.
Tampaknya, inilah jalanku untuk meraih impian ber-
sekolah di Perguruan Wahidin. Karim dan Adnan sering
membawaku bermain basket di sana, berkenalan dengan
dua teman Tionghoa yang menyenangkan, A Chuan dan
Ang Cui. Dalam tiga bulan terakhir kala itu, kami berlima
menjadi tim basket yang hebat, sekaligus kelompok belajar
yang efektif. Dibandingkan dengan tim resmi sekolah itu,
sebenarnya tim basket kami tidaklah hebat-hebat betul.
Namun untuk sekadar bergaya, jadilah. Tentu aku tak mau
kehilangan teman-teman baruku. Niatku semakin besar,
ketika prestasi belajarku tumbuh seiring pertemananku
dengan mereka. Ini tentu menjadi argumen penting yang
bisa kusampaikan pada Abah dan Omak.
Dulu, Abah pernah menakut-nakuti kami kakak-ber-
adik tatkala bersikeras bersekolah di Perguruan Wahidin.
Walhasil, Bang Farid dan Kak Ros tak ada yang bersekolah
di sana. Bang Farid ke Pesantren Darun Nahdhah di
Bangkinang, sedangkan Kak Ros di Nurul Falah. Entah
serius entah tidak, atau hanya menggertak, Abah mengata-
13
http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS
kan bahwa bersekolah di Wahidin sama saja mengikuti budaya
dan agama orang Tionghoa. Berbahaya, bisa jadi musyrik.
”Nanti kau ikut pulo betepekong1. Menyombah-
nyombah dewa,” sergah Abah suatu ketika, dulu sekali,
saat aku masih kecil, belum bisa berpendapat.
”Tapi Bah, tak ado pelajaran menyombah-nyombah
tu!”
“Pokoknyo, Abah katokan tak usah...!”
Hati kecilku mengatakan tak setuju pada Abah, namun
tak kuasa berontak. Apalah daya seorang anak tamatan
SD. Sebenarnya ada argumen yang hendak kusampaikan,
namun lidahku kelu, sulit rasanya merangkai kalimat yang
tepat. Terasa di ujung lidah, namun sulit terucap. Lagi
pula, wawasanku masih sangat terbatas kala itu.
Belakangan, aku menemukan argumen yang cukup
kuat dari Pak Saiful, ketika beliau menggantikan guru
agama yang sedang sakit. Pak Saiful menjelaskan, bahwa
belajar itu penting ke mana dan di mana saja. Rasulullah
pernah menganjurkan, ”Tuntutlah ilmu walau sampai ke
negeri China.”2 Aku berpikir, kalau orang Chinanya sudah
di sini, apa salahnya belajar dari mereka langsung. Tak
usah berlelah-lelah datang ke China. Aku mengagumi ke-
beranian dan tekad orang-orang China yang merantau ke
mana saja di pelosok dunia ini. Tak satu jengkal pun yang
tak ada orang beretnis Tionghoa di dalamnya. Betapa
1 Tepekong atau Toapekong berarti sembahyang dalam agama
orang-orang Tionghoa.
2 Redaksi bahasa Arabnya, “Uthlubul ’ilma walau bisshîn.”
Menurut Baihaqi, hadis ini masyhur, tapi lemah dari segi sanad
atau silsilah periwayatannya.
14
http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT
hebat mereka, mampu berlayar sedemikian jauh, kadang
tanpa tahu tempat tujuannya.
Aku pernah membaca riwayat Ibnu Batutah dan
Colombus, yang berlayar ke ujung samudra seakan tak
bertepi, mencari sesuatu yang tak pasti. Mencari hal yang
tak pasti saja mereka berani mengorbankan jiwa. Seperti
mobil yang berjalan dalam kekelaman malam, di jalan
gelap tiada berlampu, rembulan dan bintang, yang ada
hanya lampu sorot untuk menerangi jalan sepuluh meter
ke depan. Selanjutnya apa? Tak ada yang tahu. Bisa jadi
akan melintasi hutan yang gelap gulita, akan menemui
binatang buas, atau akan terperosok ke jurang. Namun,
dengan ketidakpastian itulah muncul sebuah harapan
yang membuncah. Kenyataannya, dalam kesesatan dan
kehilangan kompas pula, Colombus menemukan tanah
harapan baru yang bernama Amerika. Ketidaksengajaan
yang diusahakan dengan kesungguhan kadang dapat meng-
hasilkan sesuatu yang luar biasa.
Kekagumanku pada orang-orang Tionghoa ini meng-
hapus semua persepsi negatif yang selama ini kudengar.
Namun Abah tak sependapat denganku. Entah karena
pandangan Abah yang masih kolot atau trauma pada
masa lalu, aku pun tak tahu. Trauma masa lalu memang
mungkin saja masih lekat di kepala beliau, sulit dilepaskan
begitu saja. Peristiwa Bagan Siapi-api I dan Bagan Siapi-
api II memang tak mudah dilupakan. Orang-orang tua
mengenalnya dengan sebutan “Peristiwa Bendera” dan
“Peristiwa Tentara Jambang”. Berdasarkan kisah Datuk
kepada Abah, tragedi itu sungguh mengerikan. Ada pen-
jarahan, pembunuhan, mayat-mayat bergelimpangan,
dan kerusuhan di mana-mana. Ratusan bahkan ribuan
15
http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS
manusia menjadi korban kekejian konflik multi-etnis
antara Tionghoa dan penduduk pribumi itu. Kisah tragis
yang sungguh memilukan.
Kendati sudah dilakukan rekonsiliasi dan dicari akar
masalahnya, beberapa orang tua masih menyimpan trauma
yang mendalam, baik dari pihak lokal maupun orang-
orang Tionghoa. Apalagi, trauma itu diwariskan ke anak-
cucu. Aku dengar dari A Chuan, banyak orang Tionghoa
Bagan memilih keluar kota, jikalau mereka mendengar
ada riak kecil yang berpotensi menimbulkan kerusuhan.
Sekecil apa pun riak itu, luka lama bisa kambuh kembali.
A Chuan dan Ang Cui hanya sedikit dari remaja Tionghoa
Bagan yang mau menerima kami apa adanya. Sebagian
besar tak mau bergaul dengan anak-anak pribumi, dan
cenderung memilih teman sesama Tionghoa saja. Begitu
juga sebaliknya, sebagian anak-anak Melayu kadang-
kadang menjaga jarak. Sekat sosial itu yang masih sulit
diatasi hingga sekarang.
Sekolah Perguruan Wahidin mayoritas diisi anak-anak
Tionghoa. Bisa dikatakan, 80 persen siswanya berasal
dari warga Tionghoa Bagan Siapi-api. Sisanya berasal dari
penduduk lokal, terutama anak para pejabat dan orang-
orang berduit. Maklum, sekolah ini merupakan yang
tertua di Bagan Siapi-api dan memiliki mutu pendidikan
yang relatif baik. Sekolah favoritlah. Di samping itu,
populasi penduduk di Bagan Siapi-api didominasi oleh
warga Tionghoa. Hampir 50 persen merupakan warga
keturunan, mungkin lebih. Meskipun karena beberapa
faktor, jumlahnya kemudian semakin berkurang.
Pak Saiful pernah bercerita, kalau dirunut sejarahnya,
penghuni kota Bagan Siapi-api awalnya berasal dari etnis
16
http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT
Tionghoa. Bahkan semuanya. Mereka berlayar dari dataran
China dan menemukan daerah yang banyak ikan ini pada
1875. Awalnya, mereka hanya 18 orang, berasal dari suku
Ang yang terkenal gigih dan tangguh. Mereka membentuk
komunitas tersendiri dan menjadikan daerah baru itu
sebagai tempat mencari nafkah yang memakmurkan.
Suku Ang ini mampu menaklukkan laut dengan tongkang-
tongkangnya, kendati tidak mudah. Bahkan dua dari tiga
tongkang mereka sempat tenggelam dan hilang ditelan
samudra, menyisakan satu saja yang terus berlayar ke
selatan, menyinggahi Songla di Thailand, Penang di
Malaysia hingga ke Selat Malaka, menuju Panipahan dan
Kubu. Demi negeri harapan, yang entah di mana, mereka
mengabaikan empasan ombak dan gulungan gelombang
samudra. Ada semangat dan kekuatan spiritual yang
mereka bawa. Akhirnya, ditemukanlah surga ikan yang
kemudian dinamai Bagan Siapi-api. Itulah yang tercatat
dalam sejarah. Dalam pelajaran IPS sewaktu SD, Bagan
Siapi-api disebut-sebut sebagai daerah penghasil ikan ter-
besar di Indonesia. Dan itulah kampungku, Sobat!
Dengan semakin banyaknya penduduk Tionghoa,
tentu diperlukan sekolah untuk anak-anak mereka. Salah
satu sekolah yang berdiri waktu itu adalah Perguruan
Wahidin. Awalnya, sekolah ini bernama King Cun School,
berdiri pada 1930-an. Baru pada 1957, namanya diubah
menjadi Sekolah Perguruan Wahidin, mengacu pada nama
pahlawan nasional Wahidin Sudiro Husodo. Pengubahan
nama ini merupakan upaya nasionalisasi yang dilakukan
oleh pemerintahan Soekarno waktu itu. Sebenarnya, ada
beberapa sekolah lagi di Bagan Siapi-api. Namun, yang
paling favorit tetaplah Perguruan Wahidin.
17
http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS
Abah pun pernah bercerita bahwa sejak dulu, orang-
orang Melayu sudah sering mencari ikan di perairan
Bagan Siapi-api. Kendati ikannya luar biasa banyak,
mereka tak menetap di sana. Mereka hanya membuat
pondok kecil yang berbentuk bagan-bagan di sekitar per-
airan itu. Setelah mengumpulkan cukup banyak ikan,
mereka kembali ke Bangko, sebuah kampung yang dulu
merupakan pusat kerajaan Melayu, bernama Kerajaan
Bangko, dalam wilayah Kesultanan Siak.
Orang-orang Melayu sempat kaget dengan kedatangan
orang China dari suku Ang, yang akhirnya menetap di
sana. Namun itu dibiarkan saja, karena orang Melayu lebih
suka singgah di sekitar Sungai Sundung, daerah Bangko.
Itulah yang menjadi wilayah leluhur Abah, tempatnya di-
lahirkan, dibesarkan, dan ditempa alam. Daerah ini tak
begitu jauh dari Bagan Siapi-api dan dihuni mayoritas
orang Melayu Bagan. Tentu berbeda dengan di kota yang
mayoritas dihuni etnis Tionghoa.
Ketika penduduk suku Ang semakin banyak, se-
bagiannya juga beranak-pinak, dan ditambah lagi de-
ngan kedatangan kelompok baru, jumlah mereka men-
capai sekitar 300 orang. Oleh karena itu, raja Siak
bersama dengan pimpinan Bangko mengutus Datuk
Sontil sebagai pemimpin mereka. Dialah yang menjadi
kapitan pertama di Bagan Siapi-api, yang paham bahasa
Tionghoa dan mengerti dinamika serta aktivitas sosial
mereka. Perkembangan inilah yang kemudian menjadikan
akulturasi budaya Melayu-Tionghoa. Awalnya berjalan
sangat baik, sinergis, dan terjadi simbiosis mutualisme.
Ada perdagangan dan tukar-menukar komoditas. Sampai
terjadilah peristiwa Bagan Siapi-api yang menghancurkan
18
http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT
segalanya dan menyisakan trauma mendalam, termasuk
pada Abah. Ia mewarisinya dari abahnya, datuk kami.
Peristiwa itu pula yang menyebabkan Abah meng-
haramkan anak-anaknya bersekolah di Perguruan
Wahidin. Takut anak-anaknya terpengaruh, atau men-
jadi korban pula, seperti seorang Pak Ciknya yang ikut
tewas. Dapat menjadi musyrik tampaknya hanya alasan
beliau saja. Yang kutangkap sesungguhnya adalah trauma
yang sangat akut. Hampir tiap aku bercerita tentang
orang Tionghoa, seberapa pun baiknya, kendati sekilas
saja, Abah langsung menceritakan peristiwa itu kembali.
Begitulah, dan terus diulang-ulang. Entah sudah berapa
puluh kali aku mendengar cerita Abah tentang peristiwa
Bagan Siapi-api. Ada kebosanan juga, kendati Abah men-
ceritakannya dengan penuh emosi, dengan semua energi
yang dimilikinya.
Aku memang tak mengalami peristiwa itu, sehingga tak
bisa menerima alasan Abah, juga menyelami perasaannya.
Cerita yang berulang-ulang malah membuatku imun.
Kenyataan yang kualami justru tak seperti itu. Zaman
sudah berubah. Yang kulihat, ada anak-anak Tionghoa
yang baik dan juga cukup ramah. Sebagiannya anak-anak
pintar dan potensial. Di samping itu, Perguruan Wahidin
bukan sekolah khusus warga Tionghoa. Sebagian besar
guru-gurunya orang Melayu pula. Hanya sebagian kecil
yang bermata sipit. Bahkan ketua yayasannya sempat di-
percayakan pada orang Melayu. Pak Sudarno, misalnya.
Tapi itu tak masuk dalam pikiran Abah. Baginya, sekolah
itu tetap sekolah Tionghoa, namanya saja yang Wahidin.
Aku tak mengerti jalan pikiran Abah. Bagaimanapun,
aku sangat berhasrat sekolah di sana. Aku menyukai
19
http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS
sains, terutama fisika. Sekilas, aku telah mempelajari teori
relativitas Einstein dengan rumus E=mc² yang terkenal itu.
Aku juga salut pada Thomas Alfa Edison. Meski dicap anak
idiot, berkat ketekunannya, ia berhasil menciptakan bola
lampu pijar, menjadikan hidup lebih mudah karenanya.
Aku berkeyakinan, hanya dengan bersekolah di Perguruan
Wahidin, pengetahuan sekilas yang pernah disampaikan
Pak Karman, guru fisika kami, bisa disempurnakan. Itu tak
akan kudapat secara maksimal jika sekolah di tempat lain.
Contohnya, sekolah kami yang tak memiliki laboratorium
fisika. Jangankan laboratorium, kelas pun sudah hampir
rubuh. Sangat berbeda dengan Sekolah Perguruan Wahidin
yang fasilitasnya serba lengkap.
Ingin rasanya menyampaikan kembali hasratku untuk
bersekolah di Perguruan Wahidin. Memuntahkan segala
cita-cita dan asa, menyampaikan segala argumen yang
sempat terpikirkan kepada Abah yang tetap keras dan
tegar dengan sikapnya. Mungkin juga sampai sekarang.
Berulang kali aku mau menyampaikan niat itu, berulang
kali pula kuurungkan. Aku sudah tahu jawaban Abah.
“Tidak!” Aku berusaha lagi mengumpulkan segenap ke-
beranian yang tersisa, namun tetap tak berdaya melawan
sekat yang kuciptakan sendiri. Bahwa aku akan menemu-
kan tembok tebal ketidaksukaan Abah pada yang berbau
Tionghoa. Bahwa semuanya sudah final dengan satu kata.
“Tidak!”
Masa pendaftaran masuk SMA Perguruan Wahidin
lebih cepat dari biasanya dan dari sekolah-sekolah lain-
nya. Maklum, sekolah favorit. Sehari menjelang masa pen-
daftaran berakhir, aku mengumpulkan keberanianku yang
terakhir sebelum menemui Abah yang tengah berleha-leha
20
http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT
di teras usai makan malam. Keberanian yang terakhir ini
masih harus diuji, karena selama ini keteguhan sikap
Abah tak tergoyahkan. Aku mendekati beliau dengan
hati-hati. Kulihat Abah memijit-pijit kepalanya dengan
jari-jari tangannya. Rokok kereteknya terletak di meja de-
ngan asap yang masih tercium di sekitar tempat duduk
Abah. Bau asap rokok bersebati dengan bau balsem yang
menyengat di sekitar kepala Abah.
“Abah...!” Abah menengok, menatapku penuh makna.
Tapi aku tak tahu maksudnya. Kecemasanku malah makin
memuncak.
“Ado apo, Tan!”
“Anu... Bah!”
Aku tak melanjutkan kalimat, melainkan menarik napas
dulu, mengatur deburan perasaanku dan kecamuk jiwa
yang sulit dikendalikan. Aku melihat reaksi Abah, tampak
tak begitu tenang. Rautnya gelisah, setengah merintih
menahan sakit. Aku ingin menyampaikan sesuatu yang
penting tentang masa depan sekolahku. Tapi aku tak tega
melihat Abah. Tiga tahun lalu, penyakit darah tingginya
menyebabkan Abah menderita stroke ringan dan harus
dirawat di rumah sakit. Aku tak ingin karena keegoisanku
kali ini, terjadi apa-apa pada diri Abah. Tentu ini akan ku-
sesali seumur hidup. Percakapan dalam hatiku belum selesai
antara menyampaikan niat hendak melanjutkan ke SMA
Wahidin atau tidak, namun percakapan dengan Abah sudah
kuselesaikan sendiri. Aku tak mau menjadi penyebab hal
yang buruk pada diri Abah. Setelah sedikit berbasa-basi,
aku pamit meninggalkan Abah sendirian. Kulihat Abah
menyusul tak lama kemudian, dan masuk ke dalam kamar.
Aku berdoa, mudah-mudahan tak terjadi apa-apa.
21
Sebenarnya, aku sudah bicara dengan Omak pada
siang harinya. Omak menyerahkan semua keputusan
tentang masa depan sekolahku kepada Abah. Tak ada jalan
lain, kecuali mendatangi Abah. Tapi, inilah kenyataannya.
Semua niat yang sudah bergumpal-gumpal dalam hati
urung kusampaikan, karena melihat Abah sedang tidak
stabil. Darah tingginya kumat. Malam-malam yang
panjang pun kuhabiskan untuk merenung, menimbang-
nimbang dalam kebimbangan yang makin dalam, makin
larut, ragu, dan serba tak pasti. Dalam kebimbangan itu,
mataku akhirnya dapat terpejam juga.
***
http://facebook.com/indonesiapustaka
http://facebook.com/indonesiapustaka 2
Tangan-tangan Takdir
Aku terbangun agak kesiangan, setelah cahaya mentari
menembus kaca jendela kamar, mulai lembut meng-
hangatkan kulit. Malam yang penuh kebimbangan telah
terlewati. Aku pun bergegas ke kamar mandi. Saatnya
membuat keputusan untuk menentukan seluruh masa
depanku. Tak lama kemudian, aku melongok ke kamar
Abah. Beliau masih tergolek menahan nyeri. Kata Omak,
Abah tak tidur semalaman. Tak kulihat Abah yang gagah,
kuat, dan penuh wibawa. Badannya yang kekar dan atletis
ala petani, ternyata menyimpan potensi penyakit yang
besar, darah tinggi itu, stroke yang menakutkan itu.
Kuurungkan niat untuk berbicara kepada Abah yang
masih terbaring lemah. Kata Omak, usai salat subuh, Abah
baru dapat memejamkan mata. Itu pun tak sempurna,
sesekali terdengar rintihan dari mulut beliau. Haruskah
kuputuskan sendiri masa depanku? Tak mungkin aku
http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS
membangunkan Abah, untuk menanyakan boleh-tidaknya
aku melanjutkan SMA di Perguruan Wahidin. Aku minta
pendapat Omak. Omak hanya menggelengkan kepala,
dan menyerahkan sepenuhnya padaku, atau menunggu
Abah dulu. Omak juga belum sempat menyampaikan
pertanyaanku kepada Abah. Dengan demikian, lengkap
sudah kegundahanku.
Dalam kebimbangan dan ketidakpastian, kuambil
semua berkas persyaratan untuk masuk SMA, lalu kukayuh
sepeda unto1 tua ke Bagan Siapi-api. Lamunan yang
panjang menjadikan konsentrasiku buyar. Nyaris saja aku
mengambil jalan berbeda menuju arah lain. Untung baru
100 meter. Aku berbalik arah, kukayuh sepaku menuju
Perguruan Wahidin. Kali yang lain, hampir saja aku me-
nabrak seekor kerbau yang mogok di jalan, tertinggal dari
rombongannya yang sudah mendapatkan rumput segar.
Perjalanan itu terasa sangat panjang. Jalan sekitar
2 kilometer terasa 100 kilometer. Semua terasa sangat
berat, bagaikan berton-ton beban yang menggelayuti kaki
dan pedal sepedaku. Semua sendi terasa ngilu. Berbeda
ketika menuju arena bermain basket, beban kaki begitu
ringan. Sangat enteng. Keringat pagi dan hembusan angin
laut harusnya menjadi sesuatu yang menyegarkan. Kini,
berganti menjadi keringat dingin yang menggelisahkan.
Sesudah sampai di Perguruan Wahidin, aku meletakkan
sepedaku di antara sepeda-sepeda lain yang tersusun
rapi di areal parkiran. Aku tercenung di depan kantor
penerimaan siswa baru. Tak ada yang dapat kulakukan,
karena kebimbangan masih terus menggelayutiku. Aku
1 Sepeda onthel
24
http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT
hanya diam dan mematung, menyaksikan keramaian
di meja penerimaan siswa baru itu. Tatapanku kosong,
tak tahu harus berbuat apa. Aku makin larut. Kubiarkan
anak-anak lain melihatku dengan pandangan heran dan
mengernyitkan mata. Kebanyakan dari mereka berkulit
putih dan bermata sipit, sehingga mata-mata itu menjadi
nyaris tak kelihatan. Meskipun beberapa di antara mereka
berkulit sama denganku, khas anak Melayu.
“Hai, Muh. Kamu masuk sini luga, ya?”
Seseorang menepuk pundakku dari belakang, suaranya
tak asing bagiku, seperti kukenal, tipe anak Tionghoa
Bagan Siapi-api. Aku menoleh. Ang Cui! Aku menatapnya
sesaat, lalu menggeleng pelan. Ang Cui agaknya dapat
membaca wajahku yang kusut, kemudian membawaku ke
tempat lain yang lebih teduh dan jauh dari keramaian. Di
bangku kosong, di bawah pohon ceri yang rindang, dia
mengajakku duduk.
“Kenapa? Ada apa!?”
“Tak apa. Aku belum memutuskan apakah masuk
SMA Wahidin ini atau tidak. Aku ragu!”
“Hayya...Kok malah lagu. Ini sekolah favolit 'kan? Lu
'kan tahu itu? Apalagi lu punya nilai exelent-lah. Hebatlah!
Tak ada lawan di Bagan ini.”
“Itu betul. Ini juga cita-citaku sejak lama. Tapi...”
Aku tak meneruskan, malah terdiam sesaat. Ada ke-
bimbangan dalam hati untuk menceritakan masalahku
pada Ang Cui. Namun dia tampak begitu polos, tak
punya motif jelek, apa adanya. Kutatap ia lekat-lekat,
dan kayaknya bukan tipe anak yang makan teman. Ku-
putuskan untuk menceritakan apa yang terjadi, tentang
25
http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS
keraguanku, kondisi Abah, dan pandangannya tentang
etnis Tionghoa.
“Maaf ya. Itu Abahku kok. Aku tak seperti itu!”
“Hayya, tak apalah! Memang begitulah yang ada.
Kami juga macam itulah.”
Kami terdiam sesaat, hanyut dalam pikiran masing-
masing. Entah apa yang dipikirkan Ang Cui. Aku juga
sedikit menyesal telah menyampaikan pendapat Abah
tentang etnis Tionghoa. Takut Ang Cui tersinggung atau
memandangku berbeda, kendati dia bilang tak apa-apa.
Kesunyian itu tiba-tiba pecah, ketika terdengar panggilan
yang sangat keras dari toa yang sangat besar.
“Ang Cui!”
“Itu aku. Sebental ya, Muh. Aku ke sana dulu!”
“Ya lah. Silakan. Nanti kita lanjutkan. Kapan-kapan
kita jumpa lagi!”
Ang Cui melambaikan tangan, seolah menyampaikan
salam perpisahan. Dan memang itu agaknya menjadi
salam perpisahan. Sejak itu, aku tak pernah berjumpa lagi
dengannya. Ang Cui menghilang di antara kerumunan
para pendaftar. Dan dia tak pernah muncul lagi, mungkin
bertemu temannya yang lain, atau langsung pulang karena
ada panggilan dari koko-nya. Maklum, Ang Cui harus
sudah menjaga toko pakaian, membantu koko-nya, jika
tak ada aktivitas sekolah.
Perguruan Wahidin sedang padat-padatnya waktu
itu. Ratusan anak datang dari berbagai penjuru di sekitar
Bagan Siapi-api. Tak hanya dari kota, namun juga dari
berbagai pelosok desa di kecamatan lain, seperti Bagan
Jawa dan Bagan Punak di Bangko Pusako, Tanah Putih,
Kubu, Panipahan, dan Ujung Tanjung. Bahkan ada yang
26
http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT
datang dari Selatpanjang dan Bengkalis. Panitia hanya
membuka pendaftaran selama tiga hari, dan setelah itu
dilakukan seleksi nilai ujian akhir. Hanya 100 anak yang
akan diterima dari sekitar 500 pendaftar. Namun sampai
sesiang itu, aku masih belum dapat mengambil keputusan,
apakah mendaftar atau tidak. Hingga pukul 16.00 petang,
aku tak dapat mengambil keputusan penting itu. Setiap
hendak mendatangi meja penerimaan siswa, terbayang
wajah Abah yang tengah tergolek dengan penyakit darah
tinggi dan stroke ringannya. Setiap itu pula aku mundur.
Akhirnya, pendaftaran pun ditutup. Aku melangkah
gontai menuju parkir sepeda. Dengan lemas, kukayuh
sepeda tuaku pulang ke rumah. Terasa sangat berat, dengan
beban yang bertambah-tambah. Lebih berat dari waktu
keberangkatan. Ban-bannya pun seolah berkata, “Tunggu
dulu.” Sehingga, jalannya terseok-seok. Energiku pun
sudah terkuras habis hanya untuk berpikir, menimbang-
nimbang, menoleransi, dan kadang mengorbankan ke-
inginan dan nasib sendiri. Karena itu mungkin Abah mem-
beriku nama Simuh, yang artinya toleran, lebih banyak
mengorbankan diri sendiri, untuk mempertimbangkan
orang lain. Apalagi kali ini, yang kupertimbangkan adalah
Abahku sendiri. Dengan perjuangan keras, tertatih-tatih,
sampai juga aku di rumah. Tak kuduga, Abah sudah ber-
diri dengan mengembangkan senyuman di depan pintu
rumah. Kondisinya tampak sudah baikan. Apa yang di-
tanyakan Abah berikutnya lebih mengejutkan.
“Dah mendaftar, Tan?”
“Daftar apo, Bah?”
“Daftar SMA di Wahidin. Omak kau tadi dah mengato-
kan ka aku!”
27
http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS
“Abah tak melarang?”
“Tidaklah! Dulu memang aku macam tu. Kini, tak
lagi do.”
Sesuatu yang sangat mengejutkan, mendebarkan, dan
mengoyak-ngoyak kesadaranku. Ternyata, aku terjebak
dalam asumsiku, dalam fatamorgana ilusi yang kuciptakan,
dalam ketakutan-ketakutanku sendiri, yang sama sekali tak
beralasan. Abah sama sekali tak melarangku bersekolah
di Perguruan Wahidin. Paradigma lama itu telah berubah,
telah menjadi bagian dari masa lalunya, yang terkubur ber-
sama pikiran tak baik lainnya. Beliau telah memperoleh
pencerahan, entah dari siapa. Sayangnya, aku tak tahu itu.
Dan lebih gawat lagi, semuanya telah terlambat. Untuk men-
daftar lagi atau untuk merevisi kesan Abah di mata Ang
Cui. Semuanya benar-benar terlambat. Masih segar dalam
ingatanku, rona wajah Ang Cui yang berubah. Aku juga
menyaksikan beberapa guru dan pegawai Yayasan Wahidin
memasukkan meja ke dalam ruangan dan menutup pintu
kelas. Bahkan, aku menjadi yang terakhir berada di halaman
sekolah itu, ketika semuanya sudah beranjak pulang.
Malam-malam panjang kuhabiskan untuk menyesali
diri, memvonis diri telah bertindak bodoh, terburu-buru
menyimpulkan pendapat orang lain. Termasuk meng-
hardik diri, tak mengambil keputusan sendiri, di saat-saat
yang krusial. Padahal, sikap nekat dan berani, kadang
menjadi titik tolak perubahan yang luar biasa, sesuatu
yang mengubah dunia. Tak terasa, kalimat “seandainya...”
meluncur pelan dari bibirku, berulang-ulang. Tapi semua
telah berakhir, tak ada lagi gunanya berandai-andai.
Aku harus bertindak, masih ada peluang, kendati sekecil
lubang jarum.
28
http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT
Setelah malam yang melelahkan berakhir, pagi yang
cerah datang, kupacu sepeda menuju Perguruan Wahidin.
Setitik harapan kusematkan dalam dada. Pagi-pagi
sekali, usai salat subuh, aku bergerak mengejar harapan
itu. Sesampainya di sana, pintu gerbang sekolah belum
dibuka. Aku datang yang paling awal, masih pagi sekali.
Sambil menunggu Satpam datang, kurenungkan kembali
apa yang terjadi, tentang pendidikan dan nasibku. Terurai
kembali dalam ingatanku, semua pendidikan yang telah
kuterima. Dari deretan ingatan itu, muncul sebuah tarikan
benang merah, bahwa ternyata tak satu pun sekolah yang
kuimpikan bisa menjadi kenyataan. Aku pernah men-
dambakan bisa mengenyam pendidikan Sekolah Dasar di
Muara Mahat, karena Kak Ros bersekolah di sana, dan
dia menjadi anak yang hebat. Tentu karena sekolahnya
juga hebat. Sebuah sekolah teladan.
Dari garis ayah, Omak memang berasal dari Muara
Mahat, Kampar. Sedang dari garis ibu, Omak berasal
dari Bangkinang. Kami sempat menetap di Muara
Mahat cukup lama. Rencana pemerintah membuat PLTA
Koto Panjang di akhir tahun 1970-an membuat seluruh
keluarga gusar. Rencana itu akan menenggelamkan desa
kami dan belasan desa lainnya di Kecamatan XIII Koto
Kampar. Dan itulah yang terjadi kemudian. Desa-desa
kami pun ditenggelamkan air, meninggalkan beberapa
kenangan yang belum sepenuhnya lekat dalam ingatanku
yang masih sangat kecil.
Ingatanku melayang ke awal tahun 1980, saat kami
pindah dengan berat hati ke kampung Abah di Bangko.
Kak Ros pun pindah sekolah juga. Ia merasa tidak puas,
karena SD di sini tak memenuhi harapannya. Di sana
29
http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS
jugalah aku bersekolah, yang kondisinya tak lebih baik
dari MTs Nurul Falah, berdinding papan, beratap seng
tua yang telah berkarat, dan bocor di sana-sini. Di sana-
lah aku belajar membaca “Ini Budi”, menghitung dan
mengenal angka. Cita-citaku melanjutkan SMP ke Per-
guruan Wahidin pun tak kesampaian karena masalah
biaya. Kini, untuk ke SMA Wahidin, aku masih terjebak di
luar pagar sekolah ini, di pagi yang masih dingin, dengan
udara sedikit basah bercampur embun. Tak terasa, sapaan
lembut mentari mulai menerpa wajahku, menggelitik ke-
sadaranku. Aku pun dikejutkan dari lamunan panjang itu,
ketika seorang satpam bertubuh kekar dengan kumis lebat
melintang di atas bibirnya menepuk pundakku. Setelah
menanyai beberapa hal yang menyangkut tugasnya, ia
segera membuka pintu pagar sekolah.
Matahari terus beranjak naik, dan tak ada tanda-tanda
keramaian dengan siswa yang berjubel seperti kemarin.
Tak ada juga guru dan pengurus yayasan yang membuka
pendaftaran, yang sesekali memanggil nama-nama pen-
daftar lewat pengeras suara. Pendaftaran memang sudah
ditutup, dan tak dibuka lagi. Aku pun berinisiatif me-
nemui kepala SMA dan ketua yayasan, agar memperoleh
dispensasi. Namun jawaban yang kuterima sama sekali
tak mengenakkan. Aku ditolak mentah-mentah, karena
terlambat mendaftar. Kusampaikan beberapa alasan, baik
masalah keluarga maupun prestasi belajarku, yang menjadi
terbaik ketiga se-kabupaten. Aku berharap bisa dikasih
kesempatan, dan mampu mengangkat nama sekolah ini.
Hasilnya tetap saja nihil. Aturan sudah dibuat, dan bukan
untuk dilanggar. Tinggallah aku yang harus menerima
nasib, menyesali semua kebodohanku.
***
30
http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT
Aku melangkah gontai menuju parkir sepeda. Harapan
yang tadinya menggunung, habis seketika, tak bersisa.
Semua bayangan tentang sekolah-sekolahku muncul
kembali. Tampaknya, aku tak mampu meretas masa
depanku sendiri. Kenyataan berkata lain. Banyak tangan
dan kehendak yang mengendalikanku, mengacak-acak
semua rencanaku, masa depanku, dan cita-cita besarku.
Seakan ada kekuatan yang penuh misteri dan mahabesar
yang tak menginginkanku menjadi sesuai dengan apa
yang kukehendaki. Mulai dari pemerintah dengan ke-
kuatan militernya yang menenggelamkan sekolah di
Muara Mahat, vonis dokter tentang stroke Abah, sampai
kebodohanku sendiri yang memberikan asumsi salah
tentang sikap Abah. Semuanya seolah-olah memasungku
dalam aturan dan skenarionya sendiri. Ya Allah, apakah
ini bagian dari takdir-Mu?
Aku tak tahu lagi harus berbuat apa. Kukayuh sepedaku
dengan penuh rasa putus asa. Pikiranku buntu, kalut tak
karuan, nyaris kehilangan kesadaran. Laju roda sepedaku
lambat, laksana berjalan di awang-awang. Kerikil dan
lubang-lubang kecil yang biasanya mengguncang perut
dan menggetarkan kepala, kini tak terasa lagi. Beberapa
orang yang menyapaku di jalan tak kuhiraukan, bahkan
tak kusadari sama sekali. Aku baru tahu sehari kemudian.
Mereka bilang aku sombong, tak menjawab tegur sapa
mereka.
Akhirnya, sampai juga di rumah. Dari kejauhan,
kulihat ada tiga orang dewasa sedang asyik berbincang
di beranda rumahku, yang diteduhi sebuah pohon ceri
tua. Sesekali mereka tertawa, sangat akrab dan hangat.
Aku turun dari sepeda dan menuntunnya menyeberangi
31
http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS
jembatan dengan lebar sedepa di depan rumah. Semakin
dekat, makin terlihat olehku, mereka bertiga adalah Abah,
Pak Saiful, dan Pak Iskandar. Rupanya reuni kecil-kecilan
tiga kawan lama. Kulihat Abah sudah segar betul, tak
seperti dua hari yang lalu.
Pak Saiful menyapaku, begitu juga Pak Iskandar. Abah
mengajakku turut serta bergabung dengan mereka sambil
minum kopi. Sebuah ajakan yang tak lazim, karena selama
ini Omak melarangku minum kopi. Dan Abah tahu persis
larangan itu masih berlaku, setidaknya hingga kemarin.
Masih anak kecil, katanya, tak boleh mengopi, karena
kopi selalu identik dengan rokok dan orang-orang dewasa.
Aku menggeleng lemah. Kepalaku terasa sangat berat dan
beban ini benar-benar sulit untuk ditanggung. Mataku
berkunang-kunang, tatapanku kosong melompong. Aku
hanya menyalami dan mencium tangan Abah, Pak Saiful,
dan Pak Iskandar secara bergantian. Setelah pamit, aku
masuk kamar, menghempaskan badan di atas kasur.
Pandanganku mulai terasa gelap, gelap sekali. Aku pun
tak sadarkan diri.
***
Detik demi detik berlalu, berganti menit dan jam. Ingatan-
ku baru pulih saat malam tiba, ketika gelap sudah menyapa
dan matahari sudah tenggelam di ufuk barat. Sangat jauh,
bahkan nyaris terbit kembali di ufuk timur. Kulihat Abah,
Omak, dan Kak Ros mengelilingiku. Ada juga adik-adikku
Nur, Hasti, dan Dani. Hanya si kecil Adul yang tak kulihat.
Mungkin sudah terlelap tidur. Ada juga mantri Kasim di
sisi kiriku. Mereka mengembangkan senyuman. Sebentuk
wajah yang penuh perhatian, kasih sayang, dan cinta, yang
32
http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT
sudah lama sekali tak kulihat. Ada kecemasan di wajah-
wajah itu, wajah-wajah yang kusayangi. Omak langsung
memelukku erat. Lama sekali. Kemudian menciumiku
berkali-kali dengan derai air mata di pipinya yang keriput.
Omak bercerita, aku tak sadar sejak datang dari Perguruan
Wahidin sampai dini hari itu, sekitar dua belas jam.
Kepalaku pusing, badanku menggigil. Menurut mantri
Kasim, aku kelelahan dan mengalami depresi berat. Ia
pun telah menyuntikku dan menyerahkan sejumlah obat
berbentuk pil pada Omak. Pantas saja, terasa ada pegal dan
ngilu di pantat, bekas suntikan rupanya.
Dengan sabar, Omak berusaha mendudukkanku
pada sandaran bantal lusuh miliknya. Rupa-rupanya,
semua cukup panik. Telah banyak usaha yang dilakukan
untuk menyadarkanku, mendatangkan ”orang pintar”,
membawa bantal lusuh Omak ke pangkuanku, hingga
mendatangkan mantri Kasim. Di masa kecil, aku memang
memiliki ikatan batin yang kuat pada Omak, sampai
bantal beliau pun selalu kucari dan kubawa tidur. Konon,
“penyakit” itu baru hilang ketika aku naik kelas tiga MTs,
setahun yang lalu. Kata orang-orang tua, bantal itu diyakini
sebagai obat rindu, yang sangat diperlukan untuk saat-
saat tertentu. Selain bantalku sendiri, bantal antik itu kini
menjadi sandaranku. Omak kemudian menyodorkanku
sepiring nasi yang dilunakkan, lebih mirip bubur. Baru
kusadari, sejak pagi hingga selarut ini, belum sebutir nasi
pun masuk mengganjal perutku. Badanku sedikit agak
segar usai menghabiskan sepiring bubur dan menelan tiga
butir pil pemberian mantri Kasim.
Abah memandangku penuh makna. Ia terlihat seperti
akan menyampaikan sesuatu, namun urung mengatakannya.
33
http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS
Kak Ros membuka percakapan, menceritakan hal-hal yang
lucu, dan berusaha menghiburku. Tampaknya, mereka
sudah paham apa yang terjadi padaku. Cukup lama kami
berempat bercerita, tentang banyak hal, terutama yang
menggembirakan, masa lalu, juga harapan-harapan di
masa depan. Sampai aku kembali lelah, merasakan obat
mantri Kasim mulai bekerja. Kedua mataku mulai terasa
berat. Sejurus kemudian, aku terlelap dalam tidur pan-
jang.
***
Pagi itu badanku sudah cukup segar. Kulihat Abah, Omak
dan Kak Ros sudah menunggu di meja makan tua di
ruang tengah. Ada beberapa potong ubi goreng pagi itu.
Aku menghampiri mereka untuk menikmati sarapan pagi
bersama. Kebiasaan yang jarang kulakukan. Biasanya, aku
berangkat pagi-pagi ke sekolah.
“Tan...”
“Yo, Bah!”
Abah membuka pembicaraan, usai sepotong ubi
goreng masuk ke mulut kami masing-masing. Tapi, tak
biasa Abah memotong kalimatnya sendiri. Seperti ada ke-
raguan di wajahnya untuk meneruskan kalimat selanjutnya.
Akhirnya, beliau melanjutkan kalimatnya juga.
“Abah minta maaf!”
“Kenapo, Bah!”
“Tersebab Abah, engkau dah macam ni!”
Abah menarik napas sejenak, kemudian menceritakan
pertemuannya dengan Pak Saiful dan Pak Iskandar. Abah
menyadari kesalahannya, karena beliau juga aku ragu dan
34
http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT
terlambat mendaftar ke sekolah idamanku. Pak Saiful
telah menceriterakan semuanya. Menurut Pak Saiful,
kepala sekolah SMA Wahidin telah menghubunginya.
Ia menyampaikan permintaan maaf karena tidak bisa
membantu, karena aturan harus diterapkan dengan fair
kepada siapa pun. Kemudian beliau menyampaikan be-
berapa peluang dan alternatif sekolah lainnya. Pasal-
nya, penerimaan siswa baru di SMA Wahidin telah
memakai sistem panitia dari tim independen. Yang tak
memenuhi syarat, otomatis digugurkan. Keterlambatan
mendaftar merupakan pelanggaran fatal dan tak dapat
ditoleransi. Sebenarnya, SMA Wahidin sangat menunggu
kedatanganku. Bahkan, aku disarankan untuk mengambil
sekolah di tempat lain dulu. Tiga atau empat bulan,
kemudian bisa pindah ke sana. Dengan syarat, prestasi
bagus dan ada alasan kuat untuk pindah. Aku hanya ter-
mangu mendengar cerita Abah. Ternyata, ada banyak
tangan yang ikut andil dalam skenario di belakang per-
masalahanku. Semuanya mengarah pada titik tertentu,
yang sama sekali tak kupahami.
Abah ternyata belum selesai. Beliau kemudian me-
nyampaikan skenario lain yang lebih rumit bagiku. Ber-
dasarkan informasi dari Pak Saiful, ada sekolah plus yang
diperuntukkan bagi anak-anak pintar di Padang Panjang.
Namanya, Madrasah Aliyah Khusus, biasa disingkat MAK.
Sekolah ini didirikan oleh Departemen Agama untuk
anak-anak cerdas dan memiliki kemauan belajar keras.
Sekolah ini merupakan upaya Departemen Agama untuk
mencetak ulama-ulama muda, yang keberadaannya kian
langka. Setelah diseleksi secara ketat, hanya anak-anak
bertalenta khusus yang akan diterima di sana.
35
http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS
“Semua keperluan sekolah dilengkapi, dapat uang
saku pulo,” ujar Abah menirukan Pak Saiful.
Aku sudah pernah mendengar ini sebelumnya dari
Pak Iskandar. Dan aku sama sekali tak tertarik. Aku
yakin, yang akan dipelajari pasti itu-itu saja, tentang fikih,
sejarah Islam, hadits, dan tafsir. Semua sudah kupelajari
di surau, juga MTs. Kendati tak mendalam, namun jadi-
lah untuk bisa dipakai sendiri. Yang penting, aku bisa
shalat, mengaji, dan sedikit membaca doa. Abah agaknya
membaca wajahku yang menunjukkan ekspresi datar, tak
tertarik. Tapi beliau tampak tak menyerah begitu saja.
“Abah ingin kau jadi orang alim, Tan. Tak macam
Abah yang bodoh dan jahil!”
Kali ini kulihat wajah Abah agak memohon. Dan aku
paling tak bisa melihat orang-orang terdekatku kecewa,
apalagi Abah, sosok yang sangat kuhormati. Perang batin
kembali terjadi. Haruskah aku mengalah lagi? Mengalah
pada tangan-tangan takdir yang tak kukehendaki? Inikah
takdirku? Haruskah aku menyerah pada nasib tanpa dapat
mengubahnya sama sekali? Dalam perang batin yang
belum tuntas, Abah sudah melanjutkan perkataannya.
“Tengoklah!”
Abah menyodorkan selembar surat kepadaku. Sebuah
rekomendasi dari Pak Saiful selaku kepala sekolah MTs
Nurul Falah. Dan satu lagi, rekomendasi dari Kepala
Kantor Depag Kabupaten Bengkalis. Surat itu menunjuk
namaku dan tiga nama lainnya untuk dapat mengikuti
tes masuk Madrasah Aliyah Khusus di Kantor Wilayah
Departemen Agama Provinsi Riau di Pekanbaru. Namaku
ada di urutan kedua. Waktunya tinggal empat hari lagi dari
sekarang. Artinya, jika aku mengabulkan permintaan Abah,
36
http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT
maka aku harus berangkat besok ke Pekanbaru. Omak
kemudian ikut menghampiri kami. Dan seperti sudah
kompak, keduanya memintaku untuk mencoba sekolah
di tempat itu. Apalagi menurut Pak Saiful, pendidikan
di sekolah khusus itu sangat ketat, disiplin, berkarakter,
dan pemerintah menjamin semuanya, mulai dari uang
sekolah, uang makan, buku-buku, hingga jaminan masa
depan. Katanya, akan ada ikatan dinas sebagai jaminan
masa depan. Omak menitikberatkan pada jaminan masa
depan ini. Omak berharap aku bisa langsung jadi PNS,
agar masa tuaku tak seburuk dirinya.
Aku tak bisa memutuskan apa-apa selain mengangguk-
angguk saja. Membiarkan kedua orang tuaku menafsirkan
sendiri anggukanku, membiarkan mereka berdua me-
nyampaikan nasihat dan petuahnya. Entah kudengar atau
tidak, karena aku terlalu sibuk dengan perang batinku.
Sampai malam pun, aku masih menimbang-nimbang, dan
belum ada keputusan yang kubuat.
***
Bus antar kota dalam provinsi (AKDP) Trio Trans sudah
stand by di depan rumah kami yang berada di pinggir jalan
lintas. Ditemani Abah, aku berangkat ke Pekanbaru dengan
hati masih gundah. Mulutku memang sudah mengatakan
“ya”, tapi hatiku tetap berontak. Dalam hati, aku ingin lari
dengan cara apa saja, menghindari pemaksaan tak langsung
ini. Misalnya dengan mogok berangkat atau pura-pura
bangun kesiangan. Tapi semuanya tak bisa dihindari dan
aku mengikuti saja semua prosedur keberangkatan. Mulai
dari menyiapkan pakaian, menyetrika, memasukkannya
ke dalam tas, bersalam-salaman dengan Omak dan Kak
37
http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS
Ros. Semua prosedur itu kulalui, tanpa ada sedikit pun
kesan enggan dan melawan. Sampai bus antar kota dalam
provinsi itu mulai melaju, hatiku masih gundah, tak ikhlas,
namun tak kuasa untuk sekadar memperlihatkannya pada
Abah.
Dalam perjalanan, pikiranku melayang-layang dan
bertualang jauh ke negeri entah berantah. Pohon-pohon
yang tampak berlari di kanan kiri jalan, bagaikan barisan
tentara yang datang mengejar ke arahku, mengepung ber-
bagai rencana masa depanku. Tapi, siapa yang dapat me-
menjarakan harapan dan ide-ide? Tak ada. Sekonyong-
konyong, muncul sebuah ide gila. Di Pekanbaru, ibu kota
Provinsi Riau itu, aku bisa saja mendaftar ke SMA lain,
yang pasti lebih hebat. Aku bisa mengatakannya sebagai
cadangan kalau tak lulus tes di sekolah agama itu. Aku
juga bisa asal-asalan menjawab soal ujian tes atau ogah-
ogahan saat wawancara. Yap! Inilah solusinya. Agak nakal,
tapi oke juga!
***
38
http://facebook.com/indonesiapustaka 3
Sebelas Askar Bertuah
Misiku mendaftar ke salah satu SMA di Pekanbaru
terpenuhi di hari pertama kami datang. Bukan
SMA biasa, melainkan SMA favorit pula, SMA 1, yang
katanya paling didamba anak-anak SMP di Pekanbaru.
Kalau dilihat nilai ujian akhir, rasanya anak kampung
sepertiku punya peluang cukup besar, karena namaku
berada di papan atas, masuk dalam deretan 15 besar.
Abah mempersilakanku mendaftar, sebagai kompensasi
dan negosiasiku untuk ikut tes masuk MAK. Tentu aku
tak mengatakan kompensasi itu ke Abah. Aku hanya
mengatakan sebagai cadangan atau jaga-jaga, kalau tak
lulus tes di MAK. Dan Abah setuju. Aku pun tersenyum
lebar, sebuah senyum kemenangan.
Pada hari yang ditentukan, aku datang ke kantor
Kanwil Depag Riau untuk mengikuti ujian masuk MAK
itu. Pak Cik Syahruddin, adik kandung Abah yang paling