The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Anak-Anak Langit by Mohd Amin MS (z-lib.org)

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by iislatifah96, 2021-12-05 22:46:16

Anak-Anak Langit by Mohd Amin MS (z-lib.org)

Anak-Anak Langit by Mohd Amin MS (z-lib.org)

http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS

panjang menghadapi anak-anak SMA yang memakai
celana khas pebasket. Kami juga tak ragu menghadapi
tekanan mereka, dengan dukungan para cheerleaders
mereka yang gegap gempita. Semua itu karena ada be-
berapa anak-anak MAN yang memiliki mental tangguh
dan ikut bersama kami menjadi tim MAN/MAK. Untuk
perbandingan basket ke luar, nama MAN/MAK memang
terus menggandeng.

Ada nama-nama seperti Jusmadi dan Indradi.
Jusmadi adalah pemain bertubuh kecil namun lincah,
memiliki mental yang tangguh di lapangan dan selalu
menjadi komandan yang hebat dalam memotivasi kerja
sama tim. Sedangkan Indradi adalah sosok yang pendiam,
tubuhnya tinggi besar. Ironisnya, Indradi adalah anak
Kepala Sekolah. Pengecualian, illa yang aneh bagiku.
Dengan bapaknya kami bermusuhan, antipati, marah,
namun terhadap anaknya kami bergaul dekat sekali.
Bagaimanapun, dua anak MAN ini kami perlukan setelah
Sarianto tak lagi bersama. Sebuah tim hebat kemudian
muncul, kendati kami memang tak pernah berstatus juara
saat menghadapi anak-anak SMA se-Sumatera Barat.
Dari berbagai road show pertandingan bersama anak-
anak MAN, jelas sekali kami adalah sebuah tim basket
yang hebat. Kini, aku memiliki pandangan yang berbeda
terhadap mereka. Sebuah persahabatan yang tulus telah
mereka tunjukkan, kemudian kami jalani bersama.

***

Pengecualian kedua yang paling kuingat adalah tentang
Pak Bernard. Sejak lama kami memusuhinya. Karena telah
terabaikan, maka kami menuding Sang Mudir Madrasah

390

http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT

ini menjadi biang kerok kegagalan kami sebagai anak-
anak potensial. Kami selalu menyalahkan Pak Bernard.
Ketika kami merasa telah menjadi generasi terburuk MAK
sepanjang masa, dialah kambing hitam kegagalan kami.
Apalagi, kakak-kakak kami selalu menceritakan kehebatan
sistem ketat ala militer dari pimpinan sebelumnya, yang
juga sangat akrab bergaul dengan para siswa. Namun, kami
tak mendapatkan sosok seperti itu saat berada di sekolah
ini. Yang kami dapatkan hanya pembiaran. Bahkan, banyak
anasir ilmu hitam yang masuk ke asrama pun dia tak tahu.
Mungkin tahu, tapi membiarkan saja, atau barangkali ikut
merasa gentar. Entahlah. Kami pun menyalahkan Pak
Bernard habis-habisan. Dia telah menjadi kambing hitam
atas semua kegagalan yang kami raih, bahkan hingga akhir
perjalanan kami di sekolah hebat ini.

Ada satu peristiwa yang mengubah pandanganku ter-
hadap Pak Bernard. Usai menemui teman di Thawalib,
aku pulang dari Padang Panjang menumpang Datsun me-
nuju Koto Baru. Secara tidak sengaja, aku menemui beliau
berada di dalam oplet butut yang terbatuk-batuk itu. Aku
tak tahu, apa keperluan Pak Bernard. Hanya ada kami
berdua, plus supir, dan seorang nenek tua di dalam oplet.
Oplet pun bergerak pelan menyusuri jalan menanjak dan
menurun yang berkelok-kelok. Pak Bernard duduk di
hadapanku. Aku berharap dia tak mengenaliku, karena
kami memang belum pernah berdialog sama sekali. Kendati
rumah dinasnya berdekatan dengan Asrama Darul Falah
kami, beliau hanya sekali datang, itu pun hanya untuk
marah-marah, untuk menampar. Perihnya masih terasa
sampai sekarang. Pak Bernard tampak selalu sibuk dengan
urusannya, sedangkan aku juga sibuk dengan urusanku

391

http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS

pula. Aku memandang ke arah kiri atau kanan, dan ber-
usaha lari dari pandangan matanya. Kadang, mataku
memandang jauh ke pepohonan dan ngarai sepanjang
perjalanan Padang Panjang-Koto Baru. Pepohonan itu
bagai berlari, tak ingin membiarkanku menatap mereka,
untuk berbicara menyampaikan perasaanku yang gundah
di hadapan Pak Bernard.

“Simuh!”

Pak Bernard tiba-tiba memanggil. Matanya menatapku.
Tentu aku terkejut bukan kepalang. Pak Bernard ternyata
kenal padaku, tahu namaku. Entah dari mana. Tapi aku
hanya diam, heran, terpaku dalam keheningan.

“Bapak tahu kalian memusuhi Bapak sejak peristiwa
itu!”

Pak Bernard menarik napas panjang. Dia menatapku,
tatapan yang terasa tulus, bagai tatapan seorang ayah pada
anaknya. Aku melihatnya. Entah kenapa, aku merasa iba
melihat tatapan itu. Pak Bernard sama sekali berbeda de-
ngan pandangan kami selama ini. Tak kulihat sikap cuek
dan otoriter dalam tatap matanya. Juga cerita-cerita buruk
tentangnya. Tapi dendam kami tentu tak mudah terhapus
begitu saja, hanya dengan sebuah pertemuan di atas oplet
Datsun tua.

“Bapak memang kenal dengan kalian, mungkin tak
semua, tapi beberapa, termasuk padamu, Muh. Sebenarnya
Bapak memperhatikan kalian, cuma Bapak tak biasa saja
bersikap akrab seperti orang lain!”

Aku hanya diam. Pikiranku terus berkecamuk.

“Bapak ini orang manajemen, yang terbiasa menyerah-
kan segala sesuatunya pada orang yang Bapak percaya.

392

http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT

Kalau Bapak turun langsung, berarti Bapak tak memer-
cayai bawahan!”

Entah mengapa, Pak Bernard seperti ingin mencurah-
kan semuanya di oplet sepi itu. Aku seolah tak dapat ber-
kata-kata. Selain masih marah, juga serasa tak percaya
pada pendengaranku sendiri. Mulutku bagai terkunci,
sampai kemudian Pak Bernard menyerahkan seikat pisang
kepadaku.

“Hanya sedikit. Untuk kalian di asrama!” ujarnya lagi
di akhir pembicaraannya yang monolog. Aku memang
hanya menjawab dengan anggukan saja. Sesekali me-
ngeluarkan sepatah kata, “Ya” atau “Ya, Pak!”

Sebelum sampai ke sekolah, Pak Bernard turun. Beliau
mengatakan, mau mengunjungi seorang guru yang sakit di
Desa Koto Baru. Sudah beberapa hari guru MAN itu sakit
dan Pak Bernard yang baru datang dari kampung halaman-
nya di Sawahlunto ingin langsung menjenguk guru itu. Tak
sepatah kata pun sempat kuucapkan pada Pak Bernard,
sampai aku turun di depan sekolah dan masuk asrama.
Aku juga tak sempat berkata-kata, ketika kawan-kawanku
berebutan mengambil sesisir pisang dari Pak Bernard.
Tak sepatah kata pun dapat terucap, kendati aku ingin
menyampaikan kenyataan ini dengan berjuta kata kepada
teman-temanku yang masih marah, yang terbiar.

***

Pengecualian ketiga adalah tentang kakak-kakak senior.
Bagiku, kakak-kakak senior pasti semuanya hebat. Waktu
kelas I dulu, ketika menyaksikan kehebatan Kak Arif
Badruddin, maka semua kakak-kakak yang lain kuanggap

393

http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS

sama kualitasnya. Demikian juga ketika melihat kakak-
kakak kelas II, seperti Urwah, Jon Pamil, Army, Zul ’Adli,
dan Ismail. Aku membayangkan, pasti semuanya hebat-
hebat, tanpa kecuali. Tapi saat naik kelas, baru kutahu,
hukum pengecualian berlaku juga pada mereka. Di antara
yang hebat-hebat ini, ada yang tergolong biasa, bahkan
masuk kategori tak termaafkan. Kisah konyol kudapatkan
dari salah satu tiga nama kembar. Jika kakak kelas dua
tingkat kami dulu ada tiga orang bernama Saiful, maka
kakak kelas satu tingkat kami ada tiga orang bernama
Khairul. Ada Khairul Sabri, Khairul Razi, dan Khairul
Umuri. Tiga nama yang unik, sekaligus mengandung
kesalahan, jika salah ucap. Almarhumah Bunda Sri yang
paling sering mengingatkan kekeliruan nama Indonesia
yang diarabkan ini. Nama Khairul, Saiful, Amrul adalah
mudhaf dari sebuah idhafah, berarti harus ada mudhaf
ilaih-nya. Kata majemuk itu harus disebut keduanya,
misalnya rumah sakit. Satu kata tak bisa dipisahkan de-
ngan yang lainnya. Kata majemuk tak akan lengkap atau
bisa mempunyai makna berbeda, kalau salah satunya
dihilangkan. Apalagi alif dan lam di ujung nama Khairul
atau Saiful itu merupakan bagian dari mudhaf ilaih-nya.

“Seharusnya dipanggil Khairu atau Saifu,” ujar Bunda
Sri waktu itu.

Ah, sudahlah. Soal nama, panjang sekali pembahasan-
nya. Bab pengecualian ini tentang tiga Khairul, maksudnya
Khairu. Yang paling fenomenal adalah Khairul Umuri,
karena sikap dan pembawaannya yang selalu konyol.
Kak Khairul yang satu ini sudah berusaha semaksimal
mungkin berbahasa Arab, berpidato bahasa Inggris, hingga
menghafal ayat-ayat yang lumayan panjang untuk dibawa-

394

http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT

kan ketika menjadi imam. Maklumlah. Sudah kelas tiga,
semua harus mampu berpidato bahasa Arab dan menjadi
imam. Tapi, malang nian nasib kakak yang satu ini. Saat
tampil berpidato bahasa Arab, dalam kegiatan kultum
rutin kami, naskah pidato yang sudah ia siapkan dengan
sempurna raib entah ke mana. Pasalnya, ketika naskah itu
ditaruh di balik mimbar, ada sebagian temannya yang usil.
Rupanya, sekelompok geng kelas tiga menyembunyikan
naskah tersebut. Kak Khairul Umuri pun gelagapan di atas
mimbar, disaksikan kami adik-adik kelas yang menunggu
aksi fasih pidatonya. Juga para ustadz pembina asrama
yang hanya senyum-senyum.

“Amma ba’du... amma ba’du. Uriidu... uriidu... mm,
mm... Wa iza... mm, mm.. Ayyuhal hadiruuun... mm,
mm....”

Detik demi detik berlalu, dan kalimat yang keluar
hanya itu saja. Kami tak sabar menunggu. Tangannya masih
mencari-cari. Matanya liar antara menghadap hadirin dan
kertas yang bertebaran di mimbar. Beberapa menit telah
berlalu. Akhirnya, kalimat pamungkas pun keluar.

“Amma ba’du... wassalamu 'alaikum warahmatullahi
wa barakatuh!”

Kami pun tertawa terpingkal-pingkal. Wajah Kak
Khairul Umuri bersemu merah, malu tak tertahan di
hadapan adik kelas yang menyaksikan seluruh rangkaian
peristiwa itu. Setelah itu, ia hanya cengar-cengir, lalu lari
terbirit-birit keluar masjid. Sejak saat itu, dia tak mau lagi
berpidato bahasa Arab. Dia trauma dengan tragedi yang
memalukan itu. Jika tiba gilirannya, dia memilih alasan
sedang sakit perut.

Tapi kekonyolan tak sampai di situ. Kak Khairul
Umuri lagi-lagi membuat ulah. Semua bermula saat dia

395

http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS

berusaha menghafal ayat-ayat yang panjang untuk menjadi
imam. Sebenarnya, bacaan tartilnya lumayan fasih, cuma
hafalannya yang payah, angin-anginan. Kak Khairul
berusaha menghafal ayat dengan menutup mushaf, lalu
membacanya tanpa melihat. Malangnya, saat baris atas
hafal, yang di bawah lupa. Giliran yang bawah hafal,
yang di atas tak ingat lagi. Namun demikian, usaha yang
dilakukannya tetap luar biasa. Dia punya dedikasi dan
ketekunan untuk belajar. Dia sangat gigih. Kali ini, Kak
Khairul Umuri tengah berkonsentrasi menghafal Surah as-
Sajadah yang disunnahkan untuk dibaca saat Subuh hari
Jumat. Setiap ba’da Subuh, hanya lantunan suaranya yang
garau memantul-mantul di antara tiang masjid, sedang
berusaha menghafal surah itu.

Sampai hari yang diharapkan pun tiba. Beberapa
kali Kak Khairul Umuri ini berniat tampil menjadi imam
Subuh, tapi selalu saja ada yang mendahului. Kadang
karena ia terlambat datang ke masjid atau karena ia ragu
dengan hafalannya. Akibatnya, posisi itu langsung saja
diambil alih oleh Kak Army atau Syahid. Dalam beberapa
pekan, kejadian terus berulang. Tapi kali itu, agaknya Kak
Khairul Umuri sudah membulatkan tekad. Jauh sebelum
azan Subuh, dia sudah ada di masjid. Ia mengenakan baju
koko terbaiknya, dengan peci putih baru, agaknya hadiah
orang pulang haji. Dengan langkah pasti, dan terdengar
berbisik lafaz bismillah, dia maju, bahkan saat muazin
baru memulai iqamah. Tak ada yang bisa mencegah tekad
kuatnya menjadi imam Subuh Jumat itu. Usai iqamah
tuntas, dia pun memulai takbir. Sampai bacaan al-Fatihah
selesai, semua lancar. Namun memasuki bacaan Surah as-
Sajadah, masalah pun mulai muncul.

396

http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT

“Alif Laaaammm Miiiimmm!”

Diam. Tak ada suara. Agaknya, Kak Khairul Umuri
mengalami syndrome lupa yang luar biasa. Baru satu ayat,
dia sudah lupa. Mungkin ia terlalu berkonsentrasi pada pe-
nampilan dan melupakan ayat yang sudah dianggap hafal
di luar kepala. Kak Army dari belakang di shaf makmum
membantu.

“Tanziilul kitabi laa raiba fihi....”

Tak ada sambungan dari sang imam. Hanya diam.
Lama sekali. Kami tahu Kak Khairul ragu. Dia lupa berat.
Tapi apakah separah itu? Lalu tak lama kemudian, ter-
dengar suara sang Imam.

“Dzalikal kitabu laa raiba fihi....”

Lalu berhenti. Lama sekali. Dia juga kelihatan ragu
dan mulai menyadari bahwa yang dibacanya ternyata
Surah al-Baqarah. Suasana hening, teduh, dan dingin.
Yang mengantuk dalam shalat sudah menguap berulang
kali. Tapi sang Imam bergeming. Memorinya error berat.
Lalu...

“Allahu akbar!”

Spontan saja, langkah berani sang Imam untuk rukuk
menuai kontroversi. Sebagian besar jamaah tak dapat me-
nahan tawa dengan tubuh berguncang-guncang, berusaha
keras menahan geli. Yang lain terbatuk-batuk untuk
menahan tawa.

“Mbhh... mbhmmh...!”

“Uhuk... uhuk... mbmmbbhhhh...!”

Jamaah bagian belakang ada yang membatalkan
shalatnya saat itu juga, lalu tertawa kencang di luar masjid.
Untung sebagian besar masih dapat menahan diri men-

397

http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS

dengar bacaan ayat terpendek yang baru sekali itu terjadi.
Satu ayat saja, alif laaam miiim. Dan beruntung sekali
sang Imam mampu menyelesaikan shalat, kendati dengan
hati masygul. Bacaan Surah al-Ikhlas menjadi andalan di
rakaat kedua.

“Astaghfirullah,” ujarnya setelah itu. Wajahnya me-
nunjukkan ekspresi sangat menyesal sekali. Malu tak ter-
kira. Usai beristighfar, ia menyalami makmumnya satu per
satu. Seolah ia ingin menyampaikan salam perpisahan, tak
akan sekali-kali lagi menjadi imam Subuh. Kepada para
ustad, ia minta maaf takzim sekali. Dia cium tangan para
ustadz itu dengan hikmat. Yang lain malah tertawa atau
menahan tawa, karena para ustadz masih berada di depan
mereka.

“Dasar, bahlul!” teriak kembaran namanya Kak
Khairul Razi setengah berbisik di sampingku. Dia juga tak
kuat menahan tawa.

Kalau sudah seperti ini, tulisan Milan Kundera agaknya
harus direvisi, “Ketika manusia tertawa, Tuhan murka.”
Astaghfirullah!

***

398

http://facebook.com/indonesiapustaka 33

Nasionalisme

Ketika itu, saat rezim Orde Baru masih berkuasa, ada
anggapan yang berkembang bahwa orang-orang
pesantren dan bersekolah agama telah berkurang nasional-
ismenya. Para ulama telah mengajarkan nasionalisme lain,
yang mengabaikan pengabdian pada negara. Padahal, apa
kurangnya nasionalisme Teuku Umar, Cut Nyak Dien,
Pangeran Diponegoro, Tuanku Imam Bonjol, Tuanku
Tambusai? Mereka adalah ulama, tapi mengorbankan jiwa
dan raga demi bangsa dan negara. Lalu sekarang, definisi
nasionalisme yang diagung-agungkan itu dapat dipelintir
ke mana-mana.

Atas nama nasionalisme, kami para siswa yang me-
miliki tinggi di atas 160 sentimeter diminta mengikuti ke-
giatan hebat khusus remaja. Kini, inilah tafsir nasionalisme
itu. Konon, remaja seluruh Indonesia diwajibkan meng-
ikuti kegiatan yang intinya hanya baris-berbaris dan me-
lambaikan bendera. Kegiatan ini bernama “Kirab Remaja”.

http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS

Tahukah engkau Sobat, dalam bahasa Minang, ia dapat
diplesetkan menjadi “Kirok Remaja”, yang maknanya
kurang lebih, “Enyahlah Engkau Remaja!” Agaknya
makna ini berlebihan, tapi aku menemukan simpul-simpul
kebenarannya kemudian.

Dalam kegiatan bertema nasionalisme ini, kami,
gabungan anak MAN dan MAK, diberi jatah baju kaos
merah-putih. Konon dari negara. Jatah negara harus
dihormati dan dipakai secara bertanggung jawab. Tak
boleh ada sedikit pun kotor atau kusut. Untuk itu, selalu
dilakukan inspeksi. Bermodal selembar baju kaos itu, kami
pun digembleng bak militer, keras dan tak ada senyum.
Kami dilatih baris-berbaris, cara hormat, cara menjaga
kekompakan, dan menghargai pimpinan. Yang akan kami
hormati nanti adalah orang penting dari Jakarta. Kami
harus menghargainya sebagai simbol negara. Di sanalah
nasionalisme itu harus ditunjukkan.

Latihan tak hanya dilakukan di sekolah, namun juga
hingga ke Padang Panjang. Pelatih kami seorang militer
berpangkat Pembantu Letnan Satu (Peltu) yang keras.
Tapi yang tak kalah galaknya adalah asistennya, seorang
dari ormas pemuda, bernama Joko Purnomo. Sepanjang
latihan, suaranya lantang mengentak-entak, berusaha men-
jatuhkan mental kami. Suaranya berlomba keras dengan
pelatih kelompok lain sesama ormas pemuda, juga para
purna paskibraka dan Menwa.

“Guoblok semua. Tak becus. Ini yang kalian namakan
nasionalisme!? Cara hormat bendera saja tak bisa. Apa
harus seratus kali saya mengajarkan kalian, ha?!”

“Siap salah, Kak!”

“Sekarang, kalian lari lapangan dua putaran. Laksana-
kan!”

400

http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT

“Siap, Kak!”

Satu orang bersalah, tapi semua kena damprat.
Habis sudah energi untuk mendengarkan makian lelaki
yang baru saja tamat kuliah ini. Ditambah lagi, Kak Joko
memberikan hukuman fisik berupa lari keliling lapangan,
push up, hingga hormat bendera lama sekali. Kesalahan
pribadi adalah kesalahan kelompok. Hanya ada satu orang
di antara kelompok kami yang luar biasa telmi, alias telat
mikirnya. Kadang perintah hadap kanan dilaksanakannya
dengan hadap kiri. Saat ada perintah hormat, ia hanya
tergagap tak bereaksi. Akibatnya, kami semua yang kena
hukum. Bagaikan Ospek kedua bagi kami, bahkan lebih
parah. Semakin hari, polah Kak Joko makin menjadi-jadi.
Dia menyuruh kami tiarap di lumpur, merayap, berlari
di tengah terik, squad jump, berguling-guling di tanah
miring. Ini lebih keras daripada latihan bela diri. Yang
tak tertahan adalah mulutnya yang tak punya rem. Semua
kata yang ada di kepalanya, yang isinya lebih buruk dari
kebun binatang, muntah keluar tanpa ampun. Makin hari
semakin menjadi.

“Kalian semua jangan macam-macam ya. Nasib kalian
ada di tangan saya. Tak ada bantahan, tak ada kata me-
lawan. Saya yang menentukan nasib kalian di sini. Saya
yang berkuasa. Kalian hanya tikus kecil, tak tahu apa-apa.
Paham!”

Kami diam. Kali ini dia benar-benar kelewatan. Kata-
katanya tak termaafkan.

“Kenapa kalian diam? Gagu, ya?”

Kami tetap diam. Tak bergerak, tak bersuara. Saat
itu terik sekali. Dinginnya udara Padang Panjang sedikit
mengurangi panasnya mentari. Namun, hawa dingin di-

401

http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS

tambah dengan panasnya mentari, hasilnya adalah panas
yang membakar kulit. Apalagi Kak Joko tak memper-
kenankan kami menggunakan topi jatah, yang seharusnya
dipakai saat latihan. Hanya dia yang berhak memakai
topi. Arogan sekali.

“Kenapa? Merasa tak enak ya? Para pejuang dulu
lebih dari ini. Bertahanlah, tikus-tikus kecil!”

“Siap, Dan!”

“Hai, Monyet! Kamu ini idiot ya?! Dari tadi salah
terus!”

“Siap, Kak!”

Kak Joko menikmati sekali perannya. Dia tampil
sangat dominan. Dialah penguasa kami, melebihi apa
pun. Tapi, semuanya runtuh seketika. Sebuah getaran
hebat mengentak bumi. Gempa kecil berkekuatan 5,4
skala richter, yang kuketahui datanya di harian Haluan
keesokan harinya. Goyangan itu memang tak berdampak
apa-apa bagi kami yang berada di lapangan, tapi tentu
menimbulkan kecemasan bagi mereka yang ada di dalam
ruangan. Gempa memang tak akan membunuh, tapi
bangunanlah yang mengancam nyawa, begitu sebuah
adagium lama tentang gempa.

Dan itulah yang terjadi. Wuuuutttt... Bummmmmm!
Satu-satunya tiang bendera di lapangan itu tumbang ke
tanah. Kemungkinan bautnya lepas, sehingga sedikit getaran
gempa yang tak seberapa langsung menjatuhkannya.
Gravitasi bekerja ke arah Kak Joko yang tengah marah-
marah. Tiang besi sebesar betis orang dewasa setinggi lima
belas meter itu lewat di depan hidungnya, mengempas
keras tiga sentimeter di depan ujung jari kakinya. Dari

402

http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT

jarak jatuhnya, aku yakin angin tiang itu menampar wajah
Kak Joko keras sekali, menerbangkan semangat dan
seluruh energinya untuk marah. Usai selamat dari maut,
Kak Joko hanya terdiam mematung, lama sekali. Nyalinya
runtuh. Semua mata memandang ke arah tiang yang jatuh
dan Kak Joko yang diam mematung. Wajahnya kaku, pias,
pucat pasi. Semangatnya benar-benar terbang.

“Ja... ja... tuh. Ham... pir... Un... tung se... se... la... mat!”

Kak Joko tetap mematung. Seorang rekannya harus
membawanya keluar dari lapangan, untuk menenang-
kannya yang mengalami stres berat. Badannya masih kaku
dan kakinya gemetar hebat. Tampak dari cara berjalannya.
Setelah kejadian itu, latihan dibubarkan sementara sampai
waktu tak ditentukan. Setelah itu, kudengar Kak Joko
tak mau bicara sehari-semalam, tak makan dua hari. Dia
berubah gagu, hanya banyak beristighfar.

***

Hari yang dijanjikan pun tiba. Kami berbaris berderet
dengan menggunakan kaos merah-putih yang itu-itu juga.
Kak Joko tak lagi mendampingi, digantikan rekannya yang
lain. Kabarnya, ia masih stres berat. Selain kaos merah-
putih dan topi dengan sponsor sebuah merek mobil,
kami juga diberi jatah sebuah syal dan bendera plastik
dengan tangkai sebuah lidi. Ternyata, latihan berat yang
kami lakukan, dengan maki hamun luar biasa dan nyaris
ada korban nyawa, hanya untuk melambai-lambaikan
bendera plastik. Kami, siswa dari seluruh sekolah di
Padang Panjang, berdebar menanti kedatangan sang putri
penguasa, dengan berdiri berjejer di jalanan sepanjang
Padang Panjang-Bukit Tinggi. Aku mendapatkan pos di

403

http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS

sekitar Desa Aie Angek. Dari markas utama di Padang
Panjang, kami harus berjalan kaki menuju tempat itu.

Saat waktu yang dijanjikan, iring-iringan mobil itu
datang telat dua jam dari jadwal. Saatnya kami harus me-
lambaikan bendera. Skenarionya, putri penguasa itu akan
melambaikan tangan pula sambil tersenyum. Dan kami
akan bangga mendapatkan senyum dari mobil mercy hitam
yang kacanya dinaikkan sedikit itu. Tapi, saat melewati
rombongan kami, entah sudah capek melambaikan
tangan, sang putri memilih berbincang dengan teman di
sebelahnya. Yang kami lihat hanya kerudungnya, mem-
balut rambutnya setengah terbuka. Ternyata, inilah makna
nasionalisme itu.

***

Ketika perintah itu datang lagi, kami masih trauma dengan
latihan dan nasionalisme versi baru yang pernah didengung-
dengungkan. Seorang pejabat tinggi negara akan datang.
Kali ini serius, bukan anak atau nyonya pejabat, melainkan
benar-benar pejabatnya. Wakil Presiden Republik Indonesia
Jenderal Tri Sutrisno akan mengunjungi MAN/MAK
dalam waktu dekat. Dan kami, eks-Kirab Remaja diminta
kembali menjadi pagar betis. Kata Kak Joko waktu itu,
“Penjaga Simbol Negara”. Oh, God! Akankah latihan
berat harus kami jalani lagi untuk sekadar melambaikan
bendera?

Pertanyaan masih menggelayut di kepala. Kemudian,
ada kabar baik sampai ke kami. Hanya eks-Kirab Remaja
anak MAN yang akan menjadi pagar betis. Syukurlah.
Sedangkan kami, akan ditempatkan di posisi lain. Kami
ditempatkan di laboratorium bahasa, menandakan bahwa

404

http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT

kegiatan berbahasa asing di sini hebat luar biasa. Tak
hanya laboratorium yang akan ditunjukkan, melainkan
juga yang lain. Maka, kejadian aneh bin ajaib pun muncul.
Beberapa kelas disulap menjadi tempat kegiatan siswa
untuk ekstrakurikuler. Ada kelas kaligrafi, kelas menjahit,
kelas otomotif, kelas elektronik, kelas komputer, kelas tata
boga, dan entah apa lagi. Semua peralatan didatangkan
dari luar, yang sama sekali tak pernah ada sebelumnya.
Palsu. Seluruh kelas juga dicat rapi, kursi-kursi buruk
disingkirkan, lapangan becek ditimbun dan diratakan.
Ruang pertemuan dihiasi dengan aksesori adat lengkap,
yang mengilap dan berdelau. Semua pemandangan yang
kurang elok, tempat sampah yang tak pada tempatnya,
bahkan setitik debu pun akan disingkirkan. Sekolah kami
menjadi sangat luar biasa. Kami akan menyambut tamu
agung. Dan semua sambutan harus sempurna, tak boleh
ada cela.

Sebulan sebelum Pak Tri datang, asrama kami di-
datangi militer. Mereka menginterogasi kami, bertanya
ini-itu yang kami tak paham. Sehari menjelang hari H,
ratusan tentara bersenjata laras panjang M-16 dan AK-47
tumpah di asrama. Memang yang masuk ke asrama hanya
beberapa orang, tapi yang mengintai sana-sini ramai
sekali. Beruntung mereka ramah, tak segarang Kak Joko
yang lebih militer daripada militer.

Akhirnya, Pak Tri pun datang. Helikopter meraung-
raung, kemudian mendarat di Lapangan Batu Palano.
Selanjutnya, rombongan ini datang ke sekolah kami.
Beliau hanya sejenak mendatangi pelatihan kaligrafi,
tempat menjahit, lalu ke laboratorium bahasa. Aula yang
sudah dihiasi dengan sempurna tak dilirik sedikit pun.

405

http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS

Padahal, ratusan orang, pejabat, pemuka adat, para guru,
ormas, dan intelektual muda sudah siap berdialog di sana.
Kabarnya, Pak Tri ada agenda lain, sehingga dialog di-
batalkan.

Di laboratorium bahasa, kami pun sudah bersiap. Di
dekat pintu ada Burmal, Andi, Syahid, Rasyid, Ahmad
Fajar, dan beberapa orang yang lihai berbahasa Inggris
serta bahasa Arab. Jika ditanya bahasa Inggris oleh Pak
Tri, mereka pasti mampu melayani. Tapi, setelah melihat
ke dalam ruangan, Pak Tri malah tertarik beranjak ke
belakang. Beliau menuju tempatku. Darahku berdesir.

“What’s your name, Young Man?”
“I am... I am Simuh, Mr. Vice President!”
“Good. Are you fine here?”
“Of course. It’s a perfect school, Mr. Vice President.
Very good!”
“Okay, good good! Thank’s, Young Man!”
Lalu Pak Tri beranjak. Sejurus kemudian, sirene me-
raung-raung keras, memecah udara dingin. Iring-iringan
mobil itu perlahan beranjak meninggalkan Koto Baru
menuju Bukit Tinggi. Suara sirene pun perlahan meredup
dan hilang dari pendengaran.

***

406

http://facebook.com/indonesiapustaka 34

The Power of Love

Kini, kami sudah lebih dewasa, nyaris kelas tiga, mulai
menjadi senior di antara adik-adik kelas. Cara berpikir
dan bertindak pun agaknya harus sudah lebih dewasa.
Banyak sudah petuah dan nasihat yang masuk ke kepala.
Semuanya luar biasa, mencerahkan, dan menginstal
jiwa yang error. Tapi untuk urusan cinta? Perihal yang
satu ini memang rumit luar biasa. Seperti analogi bebas
dari almarhumah Bunda Sri, bahwa cinta bisa membuat
orang pintar menjadi bodoh, orang berpaham menjadi
linglung, cerdik cendekia menjadi pandir. Dia tak logis,
mengalahkan akal sehat. Itulah yang kemudian menerpa
hari-hariku.

“Muh, ada salam dari Najwa!”
Aku diam. Tak kuacuhkan Zulhuda yang tiba-tiba
datang menyeruak pintu kamar, dan dari mulutnya me-
luncur kalimat tak jelas juntrungnya. Tak ada angin tak
ada hujan, ada kalimat spontan itu. Salam. Sebuah kata

http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS

yang indah sebenarnya. Aku yang sedang konsentrasi
mengulang pelajaran tafsir tak menghiraukannya.

“Muh, jawablah. Ada salam untukmu!”

“Ya sudah, sampaikan balik. Wa'alaikum salam!” ujar-
ku sekenanya. Aku tak berpretensi apa-apa. Tujuanku
hanya mengusirnya segera. Kalau tidak, dia bisa seperti
radio rusak yang tak beranjak dari daun pintu itu, meracau
tak keruan. Entah didengar entah tidak, akan terus
bersuara. Aku jadi kasihan pada setiap penyiar radio. Usai
mengusirnya, aku kembali larut dalam belajar. Motivasi
almarhumah Bunda Sri mendorongku lebih kuat belajar.
Aku kira urusannya selesai sampai di sana. Ternyata
prediksiku salah. Dua hari kemudian, saat mengulang
pelajaran ushul fikih, Zulhuda datang lagi mengacaukan
konsentrasiku.

“Muh, ada salam lagi dari Najwa!”

Aku mengerutkan kening. Mataku mengarah padanya,
agak melotot. Ia tahu, aku telah terganggu dengan ke-
datangannya. Tapi, tatapan matanya seperti memohon.
Zulhuda memang kerap seperti itu, sering bersikap yang
membuat orang tak tega. Kulepaskan tatapan pada huruf-
huruf tak berbaris dalam kitabku.

“Najwa mana?”

Zulhuda semringah, karena aku melayaninya.

“Najwa, anak Aspi Tiga. Masa tak tahu?”

Aku menggeleng.

“Jadi, bagaimana?”

Aku membaca gelagatnya. Apakah Zulhuda serius?
Raut wajahnya menunjukkan kesungguhan. Saat kasus
Surayya, setelah kukonfirmasi pada Bu Jalil, terbukti dia

408

http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT

berkata benar. Kendati sering membual, agaknya kali itu
dia berkata jujur. Tapi aku sedang malas bercerita tentang
cinta. Kabarnya, hal yang satu ini akan banyak membuang
energi. Toni sudah membuktikannya. Waktunya banyak
habis bersama Mitha, anak Aspi Tiga juga, sehingga waktu
belajarnya berkurang. Aspi tiga adalah asrama putri tiga.
Sama seperti anak-anak MAK, anak-anak putri MAN juga
punya asrama. Ada tiga asrama—Aspi Satu, Dua, dan Tiga.
Bedanya, kami yang putra berpisah asrama antara kelas satu,
dua, dan tiga. Sedangkan di Aspi ini, bercampur antarkelas
dan jurusan. Artinya, di Aspi Satu itu ada siswi MAN kelas
satu, dua, dan tiga. Begitu juga dengan jurusannya, beraneka
ragam. Kudengar, Toni sudah terkena panah asmara anak
Aspi Tiga. Ia kerap mencuri waktu untuk bertemu saat jam
belajar, waktu tutorial, hingga malam-malam pun begitu.
Prestasinya juga tak maksimal.

“Jadi, bagaimana?” ulangnya.

“Bagaimana apanya?”

“Dibalas, ndak?”

Aku menatap Zulhuda, memastikan kejujuran dan
ketulusannya sekali lagi.

“Ya, terserah dikaulah!” kataku sekenanya lagi.

Zulhuda kemudian beranjak dan aku kembali me-
nyibukkan diri dengan pelajaran. Waktu mulai berharga
bagiku, karena ilmu yang diberikan para guru dan ustadz
terasa makin hebat. Aku mulai menikmati keluasan ilmu,
dan tak ingin diganggu urusan cinta.

Bagi Zulhuda, jawabanku berarti “ya”. Anehnya, dia
bersedia menjadi mak comblang tanpa dibayar, tanpa ada
imbalan, dan perjanjian apa-apa. Konon, tak hanya aku,

409

http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS

beberapa teman lainnya pun demikian. Ada semacam
kebahagiaan terpancar di matanya, ketika dia berhasil
menghubung-hubungkan orang. Pada hari-hari berikut-
nya, salam itu datang bertubi-tubi. Semakin aku cuek,
semakin sering datang, entah dari mana informasinya,
saling sambung-menyambung. Konon, di Aspi ada juga
mak comblang, sedangkan Zulhuda dari pihak kami.
Lengkaplah sudah. Toni dan Mitha adalah salah satu bukti
keberhasilan comblang gaya Zulhuda.

Sebenarnya, Aspi Satu dan Aspi Tiga merupakan bagian
dari kompleks asrama ini. Asrama Darul Falah—tempat
kami menetap—dan asrama Darus Salam bersebelahan
dengan asrama putri satu serta asrama putri tiga. Empat
asrama ini hanya dibatasi sebuah tembok setinggi tiga
meter. Bahkan, Asrama Darus Salam hanya berjarak dua
meter dari Aspi satu, dengan dibatasi tembok tinggi. Kami
menamakannya Tembok Berlin, karena saking tingginya.
Asrama lain yang agak jauh adalah Asrama Darun Najah,
yang berada di kontur tanah paling rendah, dekat per-
sawahan warga. Sedangkan asrama putri dua berada di
luar kompleks MAN/MAK, paling jauh tempatnya, ter-
letak di sekitar Pasar Koto Baru. Tujuan diadakan asrama
tentu saja karena sekolah ini terletak di pedesaan, sehingga
jarang penduduk memiliki tempat kos. Para siswanya juga
berasal dari berbagai pelosok negeri.

Sejatinya, Tembok Berlin itu adalah hijab yang me-
nandakan kami tak boleh berdekatan dengan anak-
anak Aspi MAN. Dan memang, kami pun menjaganya,
untuk tidak berhubungan dengan siswi-siswi MAN yang
berasrama di sana. Meskipun lokal kami bersebelahan
dengan Aspi ini. Jadi, jika dipetakan secara umum ber-

410

http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT

dasarkan garis lurus, maka Asrama Darul Falah berada
paling selatan, selanjutnya Asrama Darus Salam, tembok
Berlin, Aspi Satu, Aspi Tiga, Tembok Berlin lagi, dan yang
paling utara adalah tiga kelas MAK. Untuk menuju kelas,
kami setiap hari harus naik melewati kelas-kelas MAN,
memasuki gang sempit di antara Tembok Berlin, dan
turun kembali menuju kelas. Sebenarnya ada jalan pintas,
sebuah pintu di Tembok Berlin, yang lewat langsung di
depan Aspi. Namun, pintu itu selalu dikunci dan hanya
pembina asrama dan Kepala Sekolah yang boleh lewat
dari sana. Ada juga jalan lain dari bawah, yang sangat
terjal, melalui pematang sawah penduduk.

Secara faktual, Tembok Berlin ini cukup efektif men-
jadi hijab antara anak MAK dan Aspi. Seiring berjalannya
waktu, bertambahnya usia, pengalaman, dan minimnya
pengawasan, maka celah sekecil apa pun akan menjadi
peluang. Magnet itu bekerja cepat sekali. Adalah Mbak
Karti yang turut menjembatani anak-anak MAK dengan
Aspi Satu dan Aspi Tiga. Tentu motifnya tak jauh-jauh
dari bisnis. Mbak Karti, tukang masak kami, adalah orang
yang paling leluasa masuk ke asrama kami sekaligus Aspi.
Gajinya yang kecil tak cukup untuk memenuhi kebutuhan
keluarga yang semakin meningkat. Solusinya, ia pun
berbisnis sampingan dengan menjual makanan ringan—
baik berupa goreng ubi jalar, goreng pisang, hingga
kacang hijau yang dibungkus rapi. Tiap petang, Mbak
Karti berkeliling lima ke asrama ini, untuk menjajakan
barang dagangannya. Ada nama kreatif yang menjadi
brand mereknya, “Angek-angek”. Ini mengacu pada kata
hangat, karena baik kacang hijau maupun gorengannya
selalu hangat. Angek-angek berasal dari bahasa Minang

411

http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS

yang berarti “hangat-hangat”. Tentu semua makanan
itu sangat nikmat disantap saat petang dan malam yang
dingin.

“Angek-angek hoi!”

Kalau sudah mendengar itu, kami pun merubungnya,
takut kalau kehabisan. Ada musim baik baginya, ada juga
nasib yang kurang beruntung. Saat itulah, Mbak Karti
mengeluarkan strategi baru.

“Ton, kirimlah angek-angek pada anak Aspi. Biar
laku kacang hijau Mbak ko!” ujarnya berbahasa Minang,
namun dengan logat Jawa yang kental.

Dengan senang hati, Toni tentu mentraktir Mitha.
Setelah satu sampel berhasil, Mbak Karti meneruskan
jurusnya untuk yang lain. Ternyata, strategi marketing
ciptaannya luar biasa sukses. Dalam waktu singkat, angek-
angek Mbak Karti laku keras, karena di dalamnya ada
muatan cinta. Saling kirim angek-angek, kirim salam,
bahkan kadang surat menjadi menu sehari-hari. Jadilah
dia kurir cinta sambil berbisnis. Saling curi informasi juga
terjadi, sehingga apa yang berkembang di Aspi, anak-anak
MAK juga tahu berdasarkan keterangan Mbak Karti.
Begitu juga sebaliknya. Sampai urusan itu juga menjadi
urusanku.

“Muh, ada salam dari Najwa. Ini juga titipannya.
Angek-angek!”

Aku terkesiap, tak menduga. Kali ini bukan Zulhuda
yang menjadi comblang, tapi Mbak Karti. Tak mungkin
Mbak Karti melakukan rekayasa cinta. Aku menatapnya
penuh selidik. Dia cuek, karena masih banyak lagi yang
harus dikerjakannya, mengirimkan angek-angek pesanan

412

http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT

sejumlah anak Aspi kepada beberapa teman. Bisnis cinta-
nya laku keras.

“Ya lah Mbak, terima kasih ya!”
Aku hanya dapat menatap sebungkus kacang hijau
yang tergeletak pasrah di atas meja. Sama sekali tak ku-
sentuh sejak pertama kali diletakkan Mbak Karti di sana.
Kacang hijau yang hangat pun telah berubah dingin dan
nyaris beku, sebeku hatiku yang tak tentu arah. Aku
menduga Zulhuda hanya main-main. Tapi, perempuan
selugu Mbak Karti tentu tak mungkin seperti itu. Ia pasti
mendapat instruksi dari sana. Apakah ada cinta dari Aspi
Tiga untukku? Lamunanku melayang pada Surayya yang
tak kunjung menampakkan wajahnya. Aku bimbang. Saat
ada suara bariton garau datang mengganggu, lamunanku
buyar berkeping-keping.
“Ini kayaknya menganggur. Untukku ya!?”
Tanpa persetujuanku, Mursalin mengambil kacang
hijau yang terdiam kaku beberapa jam. Aku hanya me-
longo, tak sempat berkata dan berbuat apa-apa. Dalam
sekejap, kacang hijau dingin itu sudah masuk ke perut-
nya.
“Alhamdulillah. Syukran, ya!?”1
“Ya... ya...!”
Di hari-hari berikutnya, Mbak Karti begitu intens
mengirimkan salam dan angek-angek dari Najwa. Tiap
hari, aku selalu mendapat jatah gratis “angek-angek
cinta” itu. Sebagian besar kacang hijau itu masuk ke perut
Mursalin. Hanya satu bungkus yang kumakan, saat hingga

1 Alhamdulillah. Terima kasih, ya!?

413

http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS

tengah malam dia tak datang dan aku tengah lapar berat.
Akhirnya, kunikmati juga pemberian indah tersebut.
Alangkah enaknya. Aku menyayangkan selama ini telah
melewatkannya. Sudah dua pekan angek-angek itu datang
kepadaku. Artinya, ada 14 bungkus kacang hijau. Sebegitu
perhatiannyakah dia kepadaku? Lalu seperti apa rupanya?
Jangan-jangan seperti nenek sihir.

“Penasaran 'kan?” tanya Zulhuda.

Aku mengangguk pelan. Agak ragu.

“Besok, habis tutorial, ikut aku. Dia sering sore-sore
keluar asrama. Oke, Nco?!”

Kembali aku hanya mengangguk pelan. Rasa penasaran
mulai muncul. Tapi aku ragu. Akhirnya, kuiyakan juga
tawaran Zulhuda.

Keesokan harinya, saat senja akan menyapa, aku yang
satu kelompok tutorial dengan Zulhuda telah menunggu
di pintu gerbang MAN/MAK. Itu adalah satu-satunya
pintu keluar resmi bagi kami menuju ke mana pun, baik
ke Pasar Koto Baru atau Bukit Tinggi. Kalau ingin keluar,
anak-anak Aspi pasti lewat sana. Kami berdiri di sisi pagar
sambil berbincang, sama sekali tak intelek, bahkan mirip
preman yang siap mengompas orang mau lewat. Demi
mengobati rasa penasaran, kuikuti saran bodoh yang
belum pernah kulakukan itu. Kebiasaan itu sempat men-
jadi tren, dan menara Masjid Nurul Hikmah menjadi saksi
bisu semua peristiwa itu.

“Kapan, Zul. Jangan main-main ah!?”

“Sebentar lagi, Nco! Cinta itu perlu pengorbanan.
Tunggu sebentar, ya!” ujar Zulhuda setelah setengah jam
berlalu.

414

http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT

Banyak yang lalu lalang di tempat itu. Sebagian besar
anak-anak MAK yang pergi pulang membeli sambal di
kedai Mak Uki, atau Mas Lasno yang bolak-balik sambil
terheran-heran menyaksikan kami. Ada juga beberapa
anak Aspi, tapi kebanyakan mereka pergi membuang
sampah ke tempat sampah di depan sekolah.

“Mana, Zul?”

“Sabar, Nco! Sebentar lagi! Kata kawannya, dia tadi
keluar. Pasti sebentar lagi balik!”

Kami kembali menunggu sambil menyapa tiap kawan
yang lewat di sana. Tak berapa lama, perkataan Zulhuda
menemukan kebenarannya. Dari kejauhan terlihat dua
orang yang datang dengan langkah pelan. Mereka dari
arah Pasar Koto Baru. Satu orang agak tinggi, yang satu
biasa.

“Najwa itu yang tinggi. Satu lagi kawannya!” bisik
Zulhuda.

Setelah dekat, baru dapat kulihat parasnya dengan
jelas. Ternyata dugaanku salah sama sekali, bukan sosok
nenek sihir. Najwa adalah sosok yang luar biasa, berkulit
putih, dengan komposisi wajah yang seimbang. Hidung,
mata, alis, bibir, semuanya menunjukkan keindahan. Dia
juga tinggi semampai dengan jilbab renda yang berumbai-
rumbai, berwarna merah cerah, seirama dengan parasnya
yang memikat. Zulhuda memasang senyum. Dia juga ter-
senyum. Hatiku runtuh seketika. Aku melongo sampai
keduanya hilang ditelan dinding, masuk ke asrama.

“Woii, sudah oi. Ayo pulang!”

Aku terkesiap, seperti tersadar dari deja vu yang tiba-
tiba melanda. Tak merasakan hawa dingin yang menampar-

415

http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS

nampar. Rasyid sudah mulai mengaji, suaranya mengalun
indah dari toa masjid, pertanda Magrib akan menjelang.

***

Sepekan setelah kejadian itu, kami menghadapi ujian
semester empat. Ini adalah ujian kenaikan kelas yang akan
menentukan naik kelas tiga atau tidak. Bagi kami, ini adalah
penentuan marwah rangking kelas. Rangkingku sendiri
tak pernah naik signifikan. Dari 25, hanya merangkak
sedikit-sedikit menjadi 23, 22, dan terakhir 21. Hanya
segitu kesombongan yang kubawa dari kampung. Tapi,
kali ini mungkin agak beda.

Malam-malam awal ujian, angek-angek tak lagi ber-
keliaran ke asrama, entah Mbak Karti paham akan meng-
ganggu konsentrasi belajar atau ada faktor lain. Di malam
kedua, dia membawakan beberapa kacang hijau itu.
Memang tak banyak seperti biasanya, tapi yang sedikit itu
yang akan menggetarkan dunia.

“Ini khusus untuk pesanan saja. Ini untuk kamu,
Muh! Ini suratnya!”

Aku terkesiap. Najwa, si anak Aspi tinggi semampai
nan rupawan itu mengirim surat padaku? Jantungku ber-
degup kencang, nadiku semburat tak terkendali, ke kanan,
kiri, atas, dan bawah. Tak sabar kuambil sepucuk surat
bersampul pink itu dari tangan Mbak Karti, membuka
sampulnya perlahan dan membaca isinya.

“Rajin-rajin belajar ya! Ttd. Najwa.”
Deg! Dia begitu perhatian, sampai memintaku belajar
dengan rajin, sungguh-sungguh. Sebuah permintaan yang
indah dan sangat layak dipenuhi. Sejak itu, aku menjadi

416

http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT

gila belajar. Beberapa kata motivasi dosis tinggi yang
kucatat dari almarhumah Bunda Sri, Buya Ismail, dan para
ustadz lainnya kubaca berulang kali. Aku resapi isinya.
Gurindam 12 Raja Ali Haji pasal kelima kubaca berulang-
ulang juga. Kertas itu sudah mulai lusuh, namun tetap
menyembulkan cahaya yang menerangiku pada ilmu.
Ketika kurasakan ada kata pujian yang menunggu di luar
sana, motivasiku semakin berlipat-lipat. Kekuatan cinta
memang luar biasa, walaupun itu sebenarnya masih samar,
absurd, dan tak jelas. Aku melupakan banyak hal dan
hanya larut dalam belajar untuk sukses dalam ujian. Pagi,
siang, petang, malam, dini hari, semua waktu kuhabiskan
untuk belajar dan kembali belajar. Tujuanku hanya satu,
meraih prestasi tertinggi, dan maju ke depan di lapangan
sekolah. Kini, setiap semester memang mulai dibudayakan
pemberian hadiah dari sekolah kepada lima besar kelas.
Lima orang dari masing-masing kelas gabungan MAN dan
MAK akan maju untuk menerima hadiah. Kendati tak
seberapa, namun cukup prestise. Kubulatkan tekad untuk
menampik kejahilan dan menyongsong prestasi.

Tekad baja memang berdampak luar biasa. Target itu
kudapatkan dengan euforia yang meledak-ledak. Aku ber-
teriak tertahan. Yes! Semua orang, termasuk para langganan
juara kelas, Andi, Rasyid, Syahid, Syafrizal, dan Burmal
terkaget-kaget menyaksikan aku berhasil masuk lima
besar. Bahkan, salah satu dari mereka tergeser. Indramis
dan Mursalin yang rangkingnya selalu sepuluh tingkat di
atasku sampai melongo. Kaca mata Mursalin nyaris jatuh,
bibirnya longsor mengikuti lidahnya yang melambai.
Matanya yang sendu, mendadak melotot, nyaris keluar
saat melihatku maju ke lapangan. Haris sampai mengecek

417

http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS

telinganya, mengorek-ngoreknya dengan korek kuping
plastik, tak percaya mendengarkan pengumuman dari toa
sekolah. Indramis yang mulai bangga dengan kumisnya
yang perlahan menebal tak beraturan itu, sampai memutar-
mutar sungut antiknya. Kumis itu, melenting-lenting tak
keruan seperti ikut merasa tak percaya. Rambutnya yang
keriting seakan berdiri dan berubah lurus. Dari semua
sobat-sobatku itu, hanya Andi yang menyalamiku dengan
salam kompak khas MAK. Didahului salaman biasa,
dilanjutkan dengan salam komando khas militer seperti
orang hendak beradu panco. Genggaman tangannya erat.

‘’Selamat ya, Muh!’’ ujarnya.
‘’Terima kasih, Sobat!’’
Memang hebat betul kekuatan cinta, yang konon
dapat menaklukkan tujuh samudra dan lima benua.
Diam-diam, aku berharap Najwa menyaksikan semua ini,
sebuah persembahan agung gerbang prestasi menuju masa
depan. Aku berharap, di salah satu sudut barisan MAN,
dia tersenyum dengan bangga. Senyum termanis yang
diberikan, seperti saat itu kusaksikan di ambang senja. So
sweet, Sobat!

***

418

http://facebook.com/indonesiapustaka 35

Edelweis

Bersekolah di Koto Baru tak akan lengkap jika tak
pernah mencicipi naik Gunung Merapi dan Singgalang.
Ibarat pergi ke Mekkah, lupa thawaf mengelilingi Ka'bah,
atau ke Mesir, tak sempat melihat piramid dan Sungai
Nil. Tentu anggapan ini tak berlebihan, karena Koto
Baru berada di kaki Gunung Singgalang dan di pinggang
Merapi. Alangkah naifnya orang yang tak pernah me-
lakukan petualangan hebat di dua gunung itu. Koto Baru
juga merupakan salah satu base camp terbaik para pendaki
dari seluruh penjuru dunia menuju dua puncak gunung ini.
Tiap Sabtu petang, kami selalu saja melihat banyak orang
asing yang berkeliaran di Pasar Koto Baru, untuk membeli
perlengkapan mendaki. Jumlahnya kadang ratusan, dari
berbagai tempat di Sumbar dan Riau, kadang dari provinsi
lain. Bahkan, tak sedikit orang yang berkebangsaan asing.

Tapi, mendaki gunung bukan hal sembarang. Diperlu-
kan kekuatan fisik dan mental, serta waktu yang tepat

http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS

untuk melakukannya. Ada juga strategi, dan keberanian
ekstra untuk melawan, katakanlah, aturan. Kepala
sekolah kami memang menerapkan aturan keras bagi
siswanya untuk tak mendaki gunung. Dengan demikian,
naik gunung merupakan pekerjaan terlarang, haram bagi
para siswa MAN/MAK, kecuali tentu jika tak ketahuan.
Konon, Syahid salah satu yang menaati aturan ini dengan
ketat, sehingga ia tak pernah sama sekali naik Singgalang,
apalagi Merapi. Banyak tragedi dalam pendakian, dan
itu kerap menjadi pembelajaran. Ada juga kejadian yang
sebenarnya bisa dieliminir, namun kenyataannya musibah
sulit diduga. Seorang siswi MAN pernah minta izin kepada
wali kelasnya untuk pulang kampung. Kenyataannya, ia
justru berasyik masyuk bersama pacarnya sambil mendaki
Gunung Singgalang. Malangnya, stamina sang siswi justru
drop saat di puncak, dan jatuh pingsan dalam waktu yang
cukup lama. Skandal memalukan ini ketahuan. Singkat
cerita, ia dikeluarkan dari sekolah.

Kisah itu tentu menjadi pelajaran bagi kami. Untuk
mendaki gunung, selain harus sehat fisik dan mental, niat
juga harus diluruskan. Mendaki juga harus dilakukan
diam-diam, rahasia, dan dengan semua persiapan yang
matang. Di samping itu, waktu juga perlu diperhatikan,
yakni di malam yang cerah, tak berkabut dan berawan,
apalagi hujan. Tidak juga saat rawan, misalnya gempa
atau ketika Merapi terbatuk. Untuk menjaga stamina,
kami harus banyak istirahat pada pagi dan sore hari.
Sebagai penambah tenaga, kami biasanya meminum teh
telur. Tiga butir telur diambil kuningnya saja, dikocok
agak lama dengan campuran gula, lalu diberi teh dan di-
sedu dengan air panas. Selain nikmat, teh telur ini juga
dianggap berkhasiat menambah tenaga.

420

http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT

Target pertamaku adalah naik Gunung Singgalang.
Selain niat untuk pendakian yang memang sudah di ubun-
ubun, tekadku yang lain adalah memetik bunga edelweis.
Ingin kupersembahkan bunga gunung itu kepada Najwa,
sebagai persembahan terindah yang pernah ada. Maka,
rencana pun digagas. Waktu sudah kupatok, yakni Sabtu
malam, ba’da Isya’, usai ujian semester empat. Menjelang
kelas tiga, mental kami memang sudah tangguh untuk
berani melanggar aturan sekolah. Sedikit jadi berandal tak
masalah, daripada tidak pernah sama sekali menaklukkan
Singgalang, yang tiap pagi dan petang berdiri menantang.
Apalagi banyak kawan yang tiap bulan, bahkan dua pekan
sekali naik gunung ini. Haris dan Jundi contohnya. Kami
berencana naik Gunung Singgalang bersepuluh, delapan
orang kelas dua, sedangkan dua kelas satu. Beberapa adik
kelas ingin mencoba pengalaman baru bersama kami. Pe-
mandu pendakian ini antara lain Zulhuda, Indramis, Fadri,
Haris, dan Jundi. Kelimanya sudah berpengalaman. Sedang-
kan aku, Ahmad Fajar, dan Mursalin, baru pertama kali
dan harus mengikuti semua aturan baku yang ditetapkan.

Sejak sehari sebelumnya, kami harus menyiapkan
perlengkapan pribadi berupa baju kaos tebal lengan
panjang, celana tebal, sepatu kets, kaos kaki, jaket dalam,
jaket tebal, serta makanan dan minuman ringan. Ransel
juga harus dilengkapi dengan senter dan cadangannya,
perlengkapan ekstra seperti tape recorder dan kalau perlu
kompor untuk masak. Biasanya, ada acara masak mie
instan di atas gunung untuk sarapan pagi. Perlengkapan
masak dan tape recorder ini digunakan bersama, dan men-
jadi tanggung jawab kelompok. Termasuk sebuah senter
besar bagi pimpinan rombongan.

421

http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS

Pendakian Gunung Singgalang memerlukan waktu
sekitar delapan jam nonstop. Bagi kaum profesional, dapat
lebih cepat. Pendakian dimulai ba’da Isya’ dari tempat kami
menuju pemancar atau relay yang kadang disebut juga
pesanggrahan. Pendakian sesungguhnya dimulai dari relay
atau pemancar televisi di pinggang Gunung Singgalang
ini. Di Pesanggrahan, kami mendapat penjelasan dari
petugas pemantau. Ada juga sejumlah aturan, untuk tak
membuat sampah, tak mengganggu pepohonan, berbuat
onar, dan mabuk. Semua perlengkapan diperiksa, apalagi
minuman alkohol, akan langsung disita. Satu aturan lagi,
dan ini yang terpenting, tak boleh membawa edelweis
yang dipetik di atas gunung. Hancur sudah niatku.

“No way for edelweis. Kami tak akan segan memberi
sanksi bagi pelanggar ini,” ujar seorang pengawas.

Usai mendapatkan pembekalan, perjalanan melelah-
kan itu pun dimulai. Haris dan Jundi memimpin di
depan, sementara Indramis dan Fadri menyusul. Yang
lain di belakang berbaris satu per satu. Penutup barisan
ada Zulhuda untuk mengawasi rombongan, agar jangan
sampai tercecer.

Di awal tanah miring 35 derajat ini, kami menemukan
ilalang dan tumbuhan perdu yang beraneka bentuk. Ada
yang rendah, banyak yang tinggi. Bau perdu menyeruak
di antara ilalang yang bergoyang ditiup angin gunung. Bau
itu berpadu dengan bau beberapa binatang gunung, yang
khas adalah landak. Ada juga berbagai jenis pepohonan
di sana, baik dari jenis mempening, berangan, damar
minyak, dan podo. Pepohonan itu tumbuh dengan jarak
berjauhan, sehingga langit masih tampak jelas. Malam
itu cerah, dengan bintang yang bertaburan menghiasi

422

http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT

angkasa. Bulan purnama menambah keindahan malam.
Namun, angin dingin tetap saja meliuk-liuk menampar
wajah yang terbuka. Zulhuda yang sudah paham kondisi,
mengantisipasinya dengan memakai sebo, membiarkan
matanya saja yang terbuka diempas angin. Sementara
kami, terpaksa membiarkan angin malam yang dingin dan
kering menampar wajah kami. Bagi Haris dan Jundi, soal
seperti ini tak menjadi masalah karena sudah biasa. Sedikit
keringat yang keluar juga membantu menghangatkan
badan. Tapi, bagi kami yang baru kali itu menapaki lereng
Singgalang, dinginnya terasa agak menusuk.

Beberapa kilo meter telah berlalu, yang kami temui
hanya tumbuhanperdu dan ilalang, serta sedikit pohon.
Baru setelah itu, hamparan kebun tebu rakyat membentang.
Tingginya mencapai dua hingga tiga meter, menenggelam-
kan kami dalam hamparan yang luas, berhektare-hektare.
Usai melewati perkebunan tebu, kami harus menghadapi
hutan yang sesungguhnya. Hutan Gunung Singgalang
sangat padat, dengan pepohonan tua yang umurnya ratus-
an tahun. Hutan yang rapat itu menutupi pandangan ke
langit dan gemintang. Jika di awal-awal pendakian kami
harus menopang diri sendiri, melawan gravitasi dalam
kemiringan, maka sejak memasuki pepohonan rapat
Gunung Singgalang, kami mulai terbantu dengan ber-
bagai akar-akaran pohon yang bisa berfungsi sebagai tali.
Ternyata, pendakian Singgalang tak sesulit yang dibayang-
kan, karena tapak jalannya sudah ada, dan para pendaki
tinggal menelusurinya dengan bantuan cahaya senter.
Akar-akaran pohon juga sangat membantu.

Semakin lama, pepohonan semakin rapat. Napas juga
kian sesak. Kami harus berpacu dengan waktu, sekaligus

423

http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS

berebut oksigen dengan ratusan pohon-pohon tua yang
sudah lebih dahulu bercokol di sana. Malam adalah milik
pepohonan ini, dan kami adalah tamu yang berusaha
mereguk sedikit oksigen dari mereka. Puncak Singgalang
terasa begitu jauh, rasa putus asa mulai menghampiri.
Dekat di mata, namun jauh di kaki. Mursalin sampai lima
kali meminta waktu untuk istirahat, untuk mengurut-
urut kakinya, minum, dan makan roti. Memang, di
jalan setapak Singgalang terdapat banyak shelter yang
bisa dimanfaatkan untuk istirahat. Beruntung perjalanan
menuju puncak Singgalang tak ada halangan, tak ada
binatang buas, atau kawan yang mendadak pingsan dan
harus dibantu regu penyelamat.

“Cepatlah. Nanti kita terlambat sampai. Nanti tak
bisa pula melihat sunrise,” ujar Indramis tak sabar.

Mursalin menunjukkan gelagat malas. Namun, dia
bangkit juga. Perjalanan dilanjutkan. Kami menemukan
pepohonan yang lebih bervariasi. Kami sudah memasuki
hutan ericaceous atau hutan gunung. Spesies utama
yang kami temukan di sini adalah pohon kelat, periuk
kera, buluh, resam, serta paku pakis. Makin ke puncak,
pepohonan semakin lebat. Menjelang benar-benar sampai
ke puncak Singgalang, justru tanah bebatuan yang kami
temukan. Beberapa pohon tumbuh dalam jarak renggang.
Hanya lumut, dan aneka tumbuhan perdu yang menghiasi
hamparan tanah terjal itu. Dan... “edelweis”. Bunga gunung
itu bertebaran di hamparan luas tanah berbatu, sangat
menggoda. Ia seolah berkata, “Petiklah aku, berikan kepada
kekasihmu!” Sungguh indah. Aku segera teringat larangan
keras pengawas Singgalang.

“Alangkah indahnya jika bunga-bunga itu tetap di
tempatnya. Jika tiap malam minggu seratus orang datang

424

http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT

dan memetik edelweis, niscaya dalam enam bulan musnah-
lah spesies ini!”

Aku mengingatnya. Benar-benar peringatan luar biasa
untuk menjaga kelangsungan lingkungan di Singgalang.
Tapi, keinginan ini begitu besar. Ada dorongan yang
meluap-luap untuk memberikan hal yang spektakuler
kepada Najwa. Edelweis adalah sebuah bukti kesungguhan
itu, bunga abadi yang tak pernah layu, menandakan cinta
yang juga abadi. Tanganku sudah akan bergerak, namun
Zulhuda mencegahnya. Dia menggeleng.

“Jangan!” katanya pelan.

Aku menatap matanya. Aneh. Bahkan, seorang
Zulhuda yang urakan, berandal, pelanggar aturan, kini
memiliki hati yang begitu lembut untuk urusan edelweis.
Dia melarangku dengan keras.

“Antum orang baik di mataku. Jangan berbuat ke-
salahan!” ujarnya pelan. Ia menunjukkan wajah serius. Ia
seperti memohon, benar-benar memintaku tak melakukan
itu. Tatapan matanya aneh, menghiba. Seperti ada pe-
rasaan bersalah. Aku tak mengerti. Hanya setangkai bunga
edelweis, dan ia begitu kukuh. Apakah Zulhuda seorang
pencinta bunga, atau pecinta lingkungan yang hebat?
Aku benar-benar tak paham. Padahal, kalau soal urusan
diperiksa pengawas Singgalang, itu bisa diakali. Entahlah,
aku benar-benar heran melihat Zulhuda kali ini. Akhirnya,
kubatalkan niat itu. Begitu juga beberapa kawan lainnya.
Ternyata, hanya aku yang benar-benar menyimpan hasrat
pada edelweis. Yang lain biasa-biasa saja.

Menjelang pukul lima pagi, kami sampai ke puncak
Singgalang. Kelegaan yang luar biasa menghampiriku.
Rasanya tak terkira. Keputusasaan menempuh jarak

425

http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS

delapan jam dengan letih dan napas berpacu, akhirnya
berbuah kelegaan. Aku menapaki puncak itu dengan lega,
menyapa air Telaga Dewi, berwudhu dan bersujud syukur
dua kali. Kulirik arloji dan saatnya shalat Subuh. Mursalin
melantunkan azan. Suaranya yang parau membahana ke
angkasa. Kami pun shalat di pinggir Telaga Dewi yang
datar dan tenteram. Puncak Singgalang adalah nuansa ke-
indahan tak terkira, sejuk, dan damai. Di puncak itu, ku-
lantunkan puji-pujian kepada Yang Mahakuasa. Alangkah
indahnya panorama ini, hamparan tiada dua yang pernah
kusaksikan di dunia.

***

426

http://facebook.com/indonesiapustaka 36

Siklus

Sebagian kami menantikan betul saat-saat ini—menjadi
senior di antara para junior. Sudah lelah rasanya dileceh-
kan, dianggap bodoh, dan dipersalahkan. Menjadi senior
adalah kodrat alami yang hanya perlu siklus waktu. Tanpa
diundang pun, dia akan datang dengan sendirinya. Tanpa
upaya atau bersusah payah, waktu akan melemparkan
kami menuju takdir sebagai senior. Inilah saatnya untuk
membalas apa yang kami terima di masa-masa lalu.

Waktu 24 bulan itu terasa begitu singkat, saat kami
tahu-tahu sudah dipanggil kakak oleh komunitas MAK.
Kamilah kelas tiga, paling senior. Ada anak-anak MAN
yang Ospek, ada anak MAK yang Mapertas untuk jadi
sasaran. Semuanya adalah lahan untuk melampiaskan
segala hal yang terasa getir di masa lalu, dan kini menjadi
pembalasan turun-temurun yang tak berkesudahan.

Ketika duduk di kelas II, kami beri pelajaran insiden
berat kepada adik kelas satu tingkat. Saat ujung Mapertas,

http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS

kami rendam para tersangka yang diduga mencemarkan
nama MAK di Talago Koto Baru. Alasan kami, mereka
telah berbuat kotor dan harus dicuci dengan cara di-
rendam di Talago Koto Baru. Waktu itu, memang bukan
kami aktor intelektualnya, tetapi kakak kelas satu tingkat,
namun kami punya andil di sana. Kami ingin mereka
merasakan dinginnya air talago saat dini hari. Sasaran
kami adalah anak-anak yang kelihatan bandel, urakan,
aneh, dan kelihatan suka melawan. Sama persis seperti
kakak-kakak senior memperlakukan kami dulu. Lima
orang kami jejerkan di sana. Ada Baim, Edi, Nasrun,
Hadi, dan Andri. Semuanya bertampang unik dan dipilih
berdasarkan tingkat kenakalannya.

“Kalian mengintip anak Aspi ya?”

“Kalian mencuri, 'kan?”

“Kalian berkelahi, 'kan?”

“Tidak, Kak!”

“Ayo mengaku saja!”

“Ampun, Kak!”

“Memalukan anak Riau saja!”

“Bikin aib bagi budak-budak Jambi!”

“Kalian telah mencoreng ulama-ulama Minang!”

Begitulah. Dalam dingin dini hari, tuduhan kepada
mereka berjejer dan beruntun. Skenario disusun kakak
kelas kami, dan bersama-sama dengan angkatan kami, di-
lakukanlah perploncoan itu. Kendati tak ada pengakuan,
hukuman tetap dijatuhkan. Mereka pun berendam di
Talago Koto Baru yang sangat dingin. Setelah itu, kami
kembalikan mereka dalam suasana tawa, seperti yang
kami alami dulu.

428

http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT

Kini, kami sudah duduk di kelas III. Adik kelas II
angkatan setelah kami, mengalami perlakuan tak kalah
garang. Kali ini, kamilah yang membuat segala skenario,
karena kami yang paling senior. Sama seperti sebelumnya,
sasaran kami adalah anak baru yang tampak lain dari yang
lain. Ada Raymond, Aris, Rady, Radguna, sampai Mardhi.
Mereka dijajarkan di lapangan basket, disuruh mengaku
telah berbuat kenakalan. Karena tetap tak mengaku,
hukuman lantas diberikan, sebuah hukuman maksimal,
“dipecat”.

Setelah dikeluarkan surat pemecatan terhadap mereka,
kami bawa mereka dengan mobil sekolah ke terminal Aur
Kuning Bukit Tinggi. Dini hari itu juga, setelah dipecat,
adik-adik yang malang itu akan dikirim ke kampung
halamannya masing-masing dengan bus antar-kota
antar-provinsi. Di antara mereka ada yang langsung
menangis ketika akan diantar ke dalam bus. Beberapa
kawan melepas dengan tangisan juga, tentu kamuflase.
Kendati kami, kakak-kakak ini marah karena adik-adik
asal daerahnya berbuat kejahatan, tapi masih ada yang
menangisi kepulangan mereka. Tentu agar semua skenario
berjalan lancar. Kami menikmati pembalasan turun-
temurun itu. Seperti sebelum-sebelumnya, acara tetap
happy ending. Ada tangisan haru, tawa, dan berpeluk-
pelukan. Kami belikan mereka kerupuk sanjai khas Bukit
Tinggi. Sedianya untuk pulang kampung, tapi kemudian
kami nikmati bersama dalam tawa. Ketika bisa melakukan
semuanya, kami sebagai senior merasa hebat.

***

Terlepas dari itu, apa yang dilakukan Badrun sungguh di
luar kebiasaan. Ketika sudah dipanggil kakak dan menjadi

429

http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS

senior, dia justru biasa saja. Ternyata, dia merasa lebih
nyaman menjadi siswa baru. Memakai pakaian pramuka
lengkap dengan kacunya, Badrun menggoda kakak-kakak
MAN yang merasa senior, tak mengenali dirinya yang
jarang keluar. Semua bermula saat Badrun jalan sendirian
di antara siswa baru yang Ospek.

“Hai Dik. Kamu kok tak pakai kacu. Pakai sandal
lagi! Mana sepatumu?!”

Badrun menoleh ke arah panggilan itu. Seorang siswi
MAN yang baru naik kelas dua menghardiknya dengan
galak. Tangannya berkacak pinggang, matanya melotot.
Alisnya naik. Wajahnya dibuat seseram mungkin, sehingga
tak sedikit pun menyisakan kelembutan perempuan.
Badrun berniat balik meradang, namun pikirannya ber-
ubah seketika.

“Anu, kak. Itu anu...!”

“Apa anu-anu!?”

“Anunya lupa, Kak!” Dia terkekeh. Tak lama ke-
mudian, ia melanjutkan akting wajah culunnya.

“Ayo ambil dan pakai. Lalu menghadap ke meja piket.
Cepat!”

“Ya, Kak! Siaaaaap grakkkkk! Laksanaken!”

Badrun menghormat. Kakinya dientakkan ke tanah,
tangan kanannya menyilang ke dahi, tapi bukan di posisi
samping seperti orang menghormat, namun di tengah, bak
orang mengisyaratkan gila. Karena dilakukan dengan lima
jari, aksi itu tak begitu kentara. Dia berlaku bodoh seperti
anak buah Naga Bonar pada sang jenderal, tegas, keras,
namun culun. Badrun benar-benar menikmati aksinya
di depan “kakak” yang merasa senior ini. Kami yang me-

430

http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT

nyaksikan dari kejauhan, sakit perut menahan tawa me-
lihat aksinya. Tapi, pertunjukan itu tak hanya sampai di
sana. Terlanjur basah, Badrun malah melanjutkan akting-
nya di antara siswa dan siswi MAN. Sesuai perintah
“kakak” bernama Ummu Khalisah itu, Badrun balik ke
asrama.

Menurut Zulhuda, Ummu adalah anak Aspi Satu yang
baru naik kelas dua, dan memang terkenal tegas. Anak
pramuka yang tak kenal kompromi pada disiplin. Mungkin
dia piket waktu itu, lalu ingin menegakkan disiplin pada
setiap peserta Ospek. Apalagi dia menemukan seorang
anak tak disiplin yang melenggang di depannya. Badrun
kemudian menukar pakaiannya dengan baju pramuka, kacu,
dan mengenakan sepatu. Badrun yang berpostur kurus, tak
memiliki selembar kumis pun, berpenampilan apa adanya,
memang terlihat lebih muda. Tentu ini mendukung semua
niatnya. Secepat kilat, ia kembali ke Ummu.

“Siap, Kak. Semua perlengkapan sudah siap. Laporan
selesai! Hormat grakkkk! Wassalam!”

“Tadi 'kan saya suruh ke piket. Pergi sana!”
“Siap Kak, sama kakak saja!”
“Sanaaaa! Lapor piketttt!”
“Jangan marah-marah donk, Kak. Nanti cepat tua,
tak laku lho!”
“Eh, kamu berani sama senior ya?!”
“Ampun, Kak. Tak berani!”
“Sekarang, kamu push up sepuluh kali. Cepat!”
“Tak kuat. Capek, Kak!”
“Kalau begitu, squad jump sepuluh kali!”

431

http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS

“Tak sanggup, Kak!”
“Kalau begitu, mau kamu apa?”
“Lari saja Kak ya?”
Tanpa diiyakan, Badrun berlari-lari di tempat dengan
lunglai, tak bertenaga, membuat semua orang yang me-
lihatnya kasihan. Hanya beberapa saat, dia langsung ber-
henti.
“Sudah, Kak. Cape deh!”
“Kamu itu ya. Lari lagi, keliling lapangan dua kali!”
“Tak sanggup lagi, Kak!”
“Lariiiiii, cepat!”
“Tak sanggup, Kak. Kalau saya pingsan bagaimana?
Kakak mau tanggung jawab? Hmm, Kak minta tanda
tangan, donk!?
“Eh, malah minta tanda tangan!?”
“Kalau tak dikasih, saya doakan Kakak tak dapat
jodoh seumur hidup!”
Si Ummu melotot. Badrun tak peduli. Akhirnya,
dia mendapatkan juga tanda tangan yang didamba. Dia
tersenyum semringah dan nakal. Lain hari, Badrun men-
datangi Bu Citra, guru matematika kami kelas satu. Niat-
nya sama, ingin meminta tanda tangan, karena dalam
Ospek ini, selain meminta tanda tangan dan berkenalan
dengan kakak kelas, dengan guru-guru juga diharuskan.
Minimal, dapat sepuluh tanda tangan kakak kelas, dan
tiga guru. Jika tak mendapatkan batas minimal, sanksi
akan menghadang. Petang itu, Badrun menghadap Bu
Guru yang imut ini. Awalnya, Bu Citra menanggapi biasa
saja seperti anak-anak lainnya. Akhirnya, dia merasakan

432

http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT

ada yang khas dari wajah anak itu. Dengan pandangan
penuh selidik, Bu Citra menerima Badrun. Wajah anak itu
diperhatikan dengan saksama.

“Kamu rasanya kok mirip Badrun ya. Sekarang, dia
sudah kelas tiga!”

“Oh, iya, Bu. Itu abang sepupu saya! Mirip 'kan?”

“Ooooo...!”

Kena sudah Bu Citra dikerjai Badrun. Dia juga men-
dapatkan tanda tangan antik itu. Kami yang melihat dari
kejauhan kembali terkekeh melihat kehebatan akting-
nya. Tapi, kawan-kawan yang lain tak kalah hebat dalam
memberikan ospek kepada anak-anak baru. Andi yang
terbanyak didatangi, karena dia baik, ramah, dan mudah
memberi tanda tangan. Andi tak seperti senior lainnya yang
punya banyak prasyarat untuk sebuah tanda tangan. Andi
hanya kerap memberikan nasihat. Kadang, nasihatnya
luar biasa panjang, menyentuh, penuh dedikasi, dan meng-
haru biru sampai ada yang menangis dibuatnya, teringat
kesalahan masa lalu atau kurang bakti pada orangtua. Andi
memang sosok pemimpin. Dia adalah Ketua Ikas MAK
menggantikan Kak Jon Pamil usai era Kak Aldiansyah,
dan itu sangat kentara dari semua kalimat yang keluar
dari mulutnya. Termasuk dalam ospek yang seharusnya
hanya untuk main-main ini. Dia sosok pemimpin yang
benar-benar luar biasa, pengayom yang tiada dua.

“Adik-adik seharusnya ingat, orangtua di kampung
sampai setengah mati mencari nafkah, bercucur keringat,
air mata dan darah, hanya untuk adik-adik. Kadang, adik-
adik malah bersenang-senang di sini tanpa hirau sedikit
pun. Ada yang menghabiskan duit untuk merokok, ber-
pacaran, dan lainnya. Apa untuk itu adik-adik datang

433

http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS

kemari. Ingatlah terus orangtua yang bertani di kampung,”
ujar Andi dalam salah satu nasihatnya. Setelah itu, pelan-
pelan dia akan mengetuk pintu hati anak-anak itu, lalu
membawa mereka hanyut dalam posisi serba salah. Pelan-
pelan mulai ada mata yang berkaca-kaca, lalu butiran air
pun mengalir. Tak sedikit yang benar-benar menangis.

Lain lagi dengan Zulfariadi. Setiap anak baru yang
datang meminta tanda tangan kepadanya diharuskan
bernyanyi di depannya, baik laki-laki maupun perempuan.
Zulfariadi memang penyuka lagu dan nada. Saban hari
dia berdendang di kamar mandi. Tapi nadanya selalu
sumbang, paling tak enak didengar. Ini termasuk keanehan
dan illa yang lain di asrama kami. Pintar, kreatif, tekun,
namun tak dapat merangkai suaranya dalam bentuk
nada yang harmonis. Obsesinya yang luar biasa terhadap
nada, menjadikannya tak putus asa untuk berusaha. Tiap
ada lagu baru yang muncul, dia akan selalu menirukan
dengan segala daya. Benar-benar serius. Matanya sampai
dipejam-pejamkan untuk menghayati lagu itu. Tapi irama-
nya tetap sama, antara jazz dan keroncong, antara pop
dan seriosa bercampur pula dengan dangdut dan hip
hop, tak jelas. Dalam hal mengaji juga demikian. Bahkan,
azan merupakan salah satu kegemarannya untuk menguji
coba berbagai latihan yang sudah dilakukan. Tetap saja
iramanya tak berubah, antara hijaz dan keroncong, atau
nahawand dan seriosa, meragukan. Sumbang.

Dengan obsesinya pada nada, maka dia ingin selalu
mendengar dari orang-orang bagaimana mereka bisa
mengeluarkan nada itu. Tentu Zulfariadi tak bisa memaksa
kami untuk menyanyi. Tapi anak-anak baru ini? Tentu
sasaran ideal. Maka, tiap anak yang menghadap kepadanya

434

http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT

harus melantunkan tiap nada yang dipintanya. Aku yang
melihat dari jarak dekat tiba-tiba saja merasa kasihan me-
lihat seorang perempuan muda dengan jilbab panjang
dan wajah teduh yang harus bernyanyi di depannya. Dia
terlihat tertekan sekali. Wajahnya yang manis berubah
kusut masai. Usai menyanyi di depan Zulfariadi, aku me-
manggilnya.

“Adik tahu, apa hukum perempuan menyanyi di
depan lelaki?” sergahku penuh nada tekanan.

Dia tertunduk. Agaknya, dia kini berada dalam ke-
adaan serba salah. Keberadaan kami di sini memang lebih
banyak menjadikan anak-anak baru di posisi serba salah,
lalu menyesal. Tak sedikit yang menangis.

“Tapi, Kak. Kakak itu yang menyuruh!”
“Tahu tidak hukumnya?” tanyaku mengulangi.
“Ya, Kak. Tak boleh!”
“Nah, kenapa masih dilakukan?”
“Kakak itu yang menyuruh, Kak!” ujarnya makin
pucat. Kendati tambah kasihan, aku ingin memberikan
tekanan mental yang lebih hebat kepadanya. Kalau perlu,
aku akan membuatnya menangis merasa bersalah seperti
Andi yang begitu hebat retorikanya.
“Kalau disuruh masuk jurang mau juga?”
“Tidak, Kak!”
“Nah... Mulai sekarang, konsistenlah!”
Lalu berbagai dalil kukeluarkan. Aku menyadur
dari Andi, Ustadz Ismail, Bunda Sri, dan banyak nasihat-
nasihat hebat lainnya. Mata anak itu sampai berkaca-
kaca. Betapa hebatnya. Lalu kuberikan tanda tangan pada

435

http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS

anak baru itu. Dia pergi dengan wajah muram. Petuahku
agaknya termakan juga olehnya. Bahkan, dia menyepikan
diri, tak mau lagi menghadapi kakak-kakak senior yang
permintaannya aneh-aneh, kadang genit.

Selanjutnya, sasaranku tak jauh beda dengan itu. Tiap
ada anak yang disuruh aneh-aneh oleh senior yang lain,
selalu kupanggil untuk memberikan pencerahan dan men-
jadikan mereka dalam dilema, sekaligus supaya mereka
berani melawan pada takdirnya sebagai junior. Perintah
dari kakak senior memang serba aneh demi tanda tangan.
Ada yang disuruh jalan mundur, berjalan miring, berteriak
keliling lapangan, menirukan bencong, menirukan gaya
binatang mulai dari monyet hingga kodok, sampai me-
nyanyi dan menari, atau menampilkan bakat yang lain.
Para senior ini bisa berlaku bak artis top yang melakukan
tes audisi, atau bagai pelatih militer terhadap kadetnya.
Aku puas dapat memberikan sedikit pencerahan. Tapi
yang lebih penting, menyalurkan hasrat dan euforia
untuk menekan mental anak-anak baru. Dengan sedikit
kemarahan kamuflase tentunya. Akting yang sempurna.
Ternyata, memang asyik jadi senior!

***

436

http://facebook.com/indonesiapustaka 37

Al-Bayan

Waktu telah melemparkan kami menuju terminal
terakhir di MAK. Pertanyaan yang menggelayut
sejak awal di benakku tak juga terjawab. Hanya satu orang
yang berhak menjawabnya, Ustadz Ismail. Beliaulah yang
melontarkan kisah anak-anak langit, melepaskan beban
kepada kami, dan membuat kami berada dalam euforia
tiada batas. Kala mendengar kisahnya, kami melambung
dan bercita-cita setinggi langit. Tapi, kenyataan yang kami
terima sungguh merupakan antiklimaks dari harapan.
Semakin hari, voltase semangat kami semakin menurun
drastis, dari titik zenitnya menuju titik nadir.

Kejadian terakhir kali yang paling tak dapat kupahami
adalah tentang Ramilus. Dia adalah siswa MAN Jurusan
Fisika angkatan kami, penerus generasi Si Asrul “King”
dan Dedek. Wataknya keras, penuh ambisi, kendati tetap
ada sinar kebaikan di salah satu sudut matanya. Saat itu,
pada semester empat akhir, kami telah memenangkan

http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS

kompetisi class meeting dengan mengalahkan kelas II
Fisika di final basket dan kelas II Biologi di final voli. Kami
berpeluang menambah medali di cabang sepak takraw.
Tapi, sebuah insiden terjadi saat Chandra memprotes
wasit yang dinilai tak adil dengan menyatakan bola
masuk. Padahal, menurut Chandra, jelas di luar garis.
Dia sampai mendatangi wasit dengan menuding-nuding.
Wasit, seorang siswa MAN, kukuh dengan pendiriannya.
Anak-anak MAN yang lain ikut memprovokasi, dan dalam
waktu singkat ketegangan terjadi. Saat itulah, sebuah
tendangan mendarat di punggungku. Padahal, aku berada
jauh dari lokasi keributan.

Aku berbalik ke arah sang penendang curang. Dia-
lah Ramilus. Aku segera menangkap kerah bajunya, lalu
bersiap melayangkan tinju. Refleksku masih terjaga dengan
baik, karena pelajaran silat yang kujalani dengan rutin.
Aku tinggal melayangkan saja semua kekuatan di kepalan
tangan. Tinjuku sudah benar-benar terarah. Geramku
makin kuat. Tapi, ingatanku melayang cepat pada Buya
Ismail, membuat kemarahan itu gamang. Aku sangat kenal
anak itu, juga Buya Ismail. Ramilus adalah anak keduanya.
Sebuah paradoks yang lain lagi dalam kamus hidupku,
illa yang aneh. Bagaimana mungkin orang hebat seperti
Buya Ismail memiliki anak seberandal ini? Padahal, anak
pertama beliau, Kak Arwin, adalah Jenius MAK angkatan
kedua, kakak alumni yang namanya begitu harum di mata
kami.

Aku terkesima ketika menatap wajahnya yang ke-
lihatan mulai cemas saat melihat kepalan tanganku. Dalam
hitungan detik, dia melepaskan cengkeraman tanganku
yang diam terpana. Dia tersenyum penuh kemenangan,

438

http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT

karena begitu mudah melepas cengkeraman tanganku.
Kawan-kawannya juga berusaha melindungi, sehingga
tinjuku tak jadi melayang. Insiden itu segera reda setelah
Ramilus diamankan. Banyak kawan-kawan MAK yang
mengejarnya, karena tak sportif, kalah di lapangan basket,
lalu membalas di luar dengan cara tak kesatria. Kawan-
kawanku menuntut dia harus diadili. Tapi, beberapa anak
MAN membelanya. Insiden itu reda setelah dia diminta
pulang saat itu juga. Beberapa orang guru mendamaikan
insiden itu, sehingga tak terjadi perkelahian massal.

Tensi yang turun dan reda tak membuat hatiku lega.
Aku malah bertambah kalut dan gamang. Bukan karena
tendangan dari belakang itu, bukan karena kecurangan
yang dilakukan padaku, tapi pada sosok Ramilusnya.
Sakitnya tak seberapa, tapi rasa gundahku yang makin tak
terkira. Seorang buya sekaliber Ustadz Ismail memiliki
anak sebrutal Ramilus? Ini adalah paradoks yang luar
biasa bagiku. Maka, saat mulai berada di kelas tiga, usai
kenaikan kelas, ketika Ustadz Ismail masuk kelas tutorial
kami, mengajarkan ushul fikih kitab al-Bayan, yang ku-
minta pertama kali dari beliau adalah penjelasan atas
semua kekacauan yang terjadi.

Aku tak sabar mendapatkan penjelasan darinya, kla-
rifikasi atas beban sejarah yang harus kami tanggung
sebagai anak-anak langit, serta berbagai paradoks yang
telah terjadi. Aku juga ingin menanyakan soal anak orang
hebat, apakah akan seperti bapaknya. Apakah benar, buah
selalu jatuh tak jauh dari pohonnya? Tentu aku tak berani
menyebut Ramilus. Pertanyaan itu akan aku simpan ter-
lebih dahulu, setelah aku menanyakan pada beliau tentang
anak-anak langit yang menjadi beban sejarah bagi kami.

439


Click to View FlipBook Version