The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Anak-Anak Langit by Mohd Amin MS (z-lib.org)

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by iislatifah96, 2021-12-05 22:46:16

Anak-Anak Langit by Mohd Amin MS (z-lib.org)

Anak-Anak Langit by Mohd Amin MS (z-lib.org)

http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS

pula dikatakan gratis, karena sejatinya dipotong dari uang
beasiswa yang kami terima dari Depag pusat. Di atas kertas,
kami mendapatkan uang sejumlah Rp 25 ribu per bulan.
Jumlah yang cukup besar kala itu. Kenyataannya, setelah
dipotong segala macam urusan asrama, mulai honor
Mbak Karti hingga pembina asrama dan kepala sekolah,
hanya tersisa Rp 17 ribu. Uang itu pun dipotong lagi
untuk membeli beras, sayur, dan kacang hijau. Jumlahnya
fluktuatif, tergantung harga beras ketika itu. Walhasil,
sisanya hanya Rp 500, atau sama sekali habis alias nihil.
Kalau beras sedang mahal, kami dicatat berutang kepada
bendahara asrama. Tapi kalau masih ada sisa Rp 500 itu,
kebahagiaan rasanya memuncak menapaki Singgalang,
mengawang-awang bersama debu Merapi, yang sesekali
meletup-letup mengeluarkan belerang. Lumayan untuk
makan semangkuk bakso di Bofet Meri depan sekolah
atau minum teh telur di Lapau Koto Baru. Paling tidak,
bisa dipakai untuk membeli dua bungkus lemang tapai,
yang sebungkusnya dijual saringgik atau tangah tigo
ratuih.1

Mbak Karti memasakkan nasi untuk tiga asrama tiga
kali sehari: pagi, siang, dan petang. Tiga bakul pun disiap-
kan untuk tiga asrama. Ketika lonceng berbunyi, para
petugas piket masing-masing asrama akan menjemput
bakul-bakul itu. Khusus untuk makan siang, biasanya ada
jatah sayur. Giliran hari Ahad tiba, kami mendapatkan
puding bubur kacang hijau. Sedangkan untuk kebutuhan

1 Saringgik atau seringgit adalah sebutan untuk nominal uang Rp
250. Sama dengan tangah tigo ratuih, yang jika diindonesiakan
menjadi setengah tiga ratus. Setengah tiga ratus dalam ungkapan
Minang darek bukan Rp 150, melainkan Rp 250.

140

http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT

lauk-pauk, masih menjadi tanggung jawab pribadi, bisa
dibeli atau masak sendiri. Ada kawan yang membeli di
Lapau Mak Uki, atau ada juga yang memasak sendiri. Hari
Selasa merupakan hari pasar di Koto Baru. Saat itulah
kami berbelanja keperluan sehari-hari, termasuk untuk
bahan memasak. Sepanjang jalur Bukit Tinggi hingga ke
Padang Panjang, memang terdapat hari pasar yang ber-
giliran. Hebatnya, para pedaganglah yang mendatangi
pasar. Hari Ahad adalah hari pasar untuk kawasan Bukit
Tinggi, Senin di Padang Lawas dan Selasa di Koto Baru,
begitu seterusnya sampai ke Aie Angek, Penyalai hingga
Padang Panjang.

Selain memasak sendiri atau membeli di Lapau, ada
juga yang membawa lauk-pauk dari kampungnya. Anak-
anak Sumbar yang kampungnya dekat dari Koto Baru
biasanya selalu pulang kampung untuk menjemput lauk-
pauknya, bahkan untuk makan hingga dua atau tiga hari.
Yang praktis memang hanya membeli. Bicara soal makanan,
yang paling menyenangkan adalah ketika ada undangan
dari warga Koto Baru, baik itu acara walimah perkawinan,
khitanan, menyambut Ramadhan, atau syukuran wisuda.
Undangan mendoa ini, biasanya diteruskan dengan acara
makan bersama. Saat-saat kenduri inilah, Zulfariadi men-
jadi pahlawan kami, terutama soal petatah-petitih Minang,
atau berbalas pantun dalam tradisi Melayu.

Di awal-awal, Zulfariadi memang hanya sebagai
asisten. Ada senior kami yang lebih piawai berpetatah-
petitih Minang. Dialah Kak Yon Apri. Namun belakangan,
Zulfariadi bertambah matang dalam tiap ungkapan Minang-
nya. Undangan seperti itu sebenarnya dilema bagi kami.
Berita baik dan sekaligus berita buruk. Berita baiknya,

141

http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS

kenduri berarti perbaikan gizi. Daging dan rendang me-
rupakan makanan mewah bagi kami yang tak pernah me-
nikmatinya. Ya, kecuali saat-saat kenduri seperti ini. Lauk
yang ada di Lapau Mak Uki pun paling banter hanya
ikan. Sedangkan berita buruknya, kami harus menunggu
acara “berbalas pantun” usai. Biasanya, setelah berdoa dan
makan-makan, undangan akan menyampaikan hasrat untuk
pamit. Namun permintaan pamit tak dapat dikabulkan
begitu saja. Bagi beberapa kawan yang rajin belajar dan tak
suka membuang waktu dengan percuma, makanan lezat itu
harus mereka bayar mahal dengan waktu.

Seperti halnya acara menyambut pengantin di
kampung kami, yang untuk membuka pintu saja harus
ada syarat, begitu pulalah acara kenduri di Desa Koto
Baru ini. Silat lidah orang-orang ini memang luar biasa.
Mereka tak mengizinkan undangan pulang karena banyak
hal, misalnya hari yang gelap, jembatan yang rusak, ada
binatang buas, atau alasan lain yang kendati dibuat-buat
tampak sangat elegan. Setelah bernegosiasi antara setengah
hingga satu jam, undangan baru diperbolehkan pulang.
Untuk urusan berbalas pantun inilah, Zulfariadi kerap
menjadi andalan kami. Kalau lawannya lebih ringan, kami
bisa cepat pulang, kadang pernah hanya lima belas menit.
Tapi, kalau bertemu lawan yang tangguh, kadang anak
Solok ini minta ampun juga. Kami diperbolehkan pulang
ke asrama hanya karena kasihan saja. Kadang, Zulfariadi
memang kehabisan bahan menghadapi pemuka adat Koto
Baru. Tapi, untuk ukuran anak-anak MAK, dia termasuk
yang paling hebat. Apalagi dibandingkan denganku, yang
hanya paham beberapa patah kata yang kerap kami jadi-
kan bahan gurauan di asrama.

142

http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT

“Kok makan lah kanyang, kok duduak lah panek, kok
mato lah mangantuak...A kami pun 'kan mambuka selo
lai. 'Kan baitu Angku..?”2 Ahmad Fajar, anak Jambi, paling
sering mengulang-ulang kalimat seperti ini di asrama.
Maklumlah, yang kami pelajari di asrama ternyata bukan
hanya bahasa Arab dan Inggris, melainkan juga bahasa
Minang.

Bagi anak-anak baru seperti kami, soal makan memang
agak ribet dan rumit. Tidak sebagaimana di asrama kelas
II dan kelas III yang sudah stabil. Persoalan kecil bisa jadi
masalah besar. Bahkan, tak jarang berujung bentrok, baik
sekadar kata, hingga adu fisik. Solusi dengan piket kadang
berakhir juga dengan kecurigaan, lalu salah paham, dan
pertengkaran. Pasalnya, ketika lonceng berbunyi, petugas
piket masing-masing asrama boleh mengambil bakul
untuk dibagikan ke anggota asrama lainnya. Saat itulah,
selera besar petugas piket masing-masing kamar terkadang
mengalahkan solidaritas kelompok. Pertengkaran pagi itu
misalnya. Sebenarnya dipicu perkara ringan, yakni salah
paham antara anak Jambi dan Sumbar. Jundi, seorang ber-
temperamen keras dari Jambi menunjuk Bani Adam, sang
petugas piket hari Ahad sambil bersungut-sungut.

“Budak sikok tu rakus nian!”
Rupanya gumam Jundi didengarnya, dan membuat
telinganya berdiri, memerah. Bani Adam naik pitam. Situasi
memanas, karena kalimat itu dinilai melecehkan, mem-
provokasi sekaligus menghina.

2 Kalau makan sudah kenyang, duduk sudah penat, mata telah
mengantuk, dan kami pun ingin membuka sila kaki (untuk
pulang). Begitu ’kan Tuan?

143

http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS

“A kecek Ang!? Budak saikua?”
Bani Adam yang sedang membagikan kacang hijau
sebagai petugas piket pagi itu langsung menghambur ke
arah Jundi. Karena merasa berkata benar dan tak salah
sedikit pun, Jundi balik meradang. Keduanya sudah sangat
dekat dan tinggal melayangkan hook serta upper cut.
Tangan Bani Adam bahkan sudah naik, sedangkan Jundi
siap dengan kuda-kudanya. Tangannya juga sudah me-
ngepal. Pertarungan kelas bantam baru saja akan dimulai,
saat kami beramai-ramai berusaha melerai adu fisik itu.
“Kalian ini memalukan saja. Gara-gara makanan
sampai berkelahi!” Andi, ketua asrama kami berusaha me-
nengahi dengan suaranya yang berwibawa.
“Paja tu yang menghina Den dulu!”3
“Dio yang rakus. Untuk kamar dio banyak nian. Kito
ndak!”
“Tapi manga Ang kecek Budak! Saikua pulo. Memang-
nyo Den ko baruak!”
“Sebentar dulu kawan!”
Jalal kini yang berusaha menengahi. Anak Jambi itu
tampaknya mulai memahami apa yang telah terjadi. Dia
sekamar dengan Bani Adam, jadi masih dalam kelompok-
nya. Namun tentu punya hubungan emosional dengan
Jundi, karena satu daerah asal, sesama anak Jambi. Jadi
posisinya cukup adil untuk jadi mediator dalam insiden
kecil itu. Dan Jalal mengambil perannya dengan baik,
ketika memutuskan angkat bicara. Sebab, wibawa dan
kedudukan Andi ternyata belum cukup kuat untuk me-

3 Anak itu yang menghinaku lebih dulu.

144

http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT

netralisir keadaan yang terlanjur memanas. Dia memegang
pundak Bani Adam, yang baru sepekan ini menjadi rekan
sekamarnya. Kayaknya, ia mulai memahami karakter
kawannya yang satu ini, temperamen, keras, meledak-
ledak, dan cenderung emosional.

“Bani! Begini ya. Maafkanlah kawan kita Jundi. Dia
tak bermaksud menghina!”

“Yo, tapi katonyo budak saikua tu?”

“Itu bukan menghina. Kami biasa memanggil kawan
akrab dengan sebutan budak! Maksudnya bukan budak
hamba sahaya. Bukan itu. Kadang, budak berarti beliau.
Anak yang dihargai dan diakrabi juga dipanggil budak. Itu
sapaan akrab, Kawan!”

“Kalau saikua tu?”

“Oo sikok. Bukan seekor. Itu artinya seorang. Kami
biasa menggunakan kalimat itu untuk orang. Itu panggilan
akrab, kebiasaan sehari-hari saja. Bukan menghina!”

“Tapi paja tu mangejek Den rakus!”

“Nah, kalau itu tak tahu aku. Sudahlah, kita bagi saja
sesuai aturan!”

Kulihat Jalal membawa Bani Adam agak ke dalam.
Mereka berbicara berdua. Bani tampak masih kurang
senang. Sesekali ia menatap Jundi dengan mata masih
penuh amarah. Agaknya, diplomasi Jalal mulai meredakan
emosinya yang tadi membubung. Sebaliknya, Jundi juga
sudah reda emosinya. Andi berusaha menenangkannya.
Kedua orang itu mulai dipisahkan agak jauh. Namun dari
sorot matanya, kami lihat emosi keduanya belum redup.
Masih menyala-nyala, berkeinginan kuat untuk tetap
berbagi ketupat Bengkulu, berbaku hantam.

145

http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS

Aku jadi teringat berita di televisi tentang baku hantam
dan baku bunuh akibat berebut makanan. Beberapa orang
kaya membagikan zakat malnya menjelang Idul Fitri. Lalu
ribuan kaum dhuafa berjejal dari tempat-tempat yang
jauh, berjalan kaki atau naik kendaraan umum untuk
mendapatkan belas kasihan dari sang dermawan. Yang
terjadi malah mereka saling injak, tak jarang yang mati
sia-sia demi uang sepuluh ribu rupiah. Di negeri-negeri
yang terkena bencana, orang rela membunuh tetangganya
sendiri demi mendapatkan sepotong roti, karena sudah
berhari-hari tak makan akibat terputusnya logistik. Homo
homini lupus. Manusia memang kadang bisa berubah men-
jadi serigala pada sesamanya. Saat itu terjadi, ia berada di
level terendah derajat kemanusiaannya. Syukurlah, yang
kami lakukan ketika itu bukan berkelahi karena makanan
semata. Makanan memang menjadi pemicu awal, tapi
yang menjadi penyebab utama adalah salah paham.

“Sebab jika baku hantam itu terjadi karena makanan,
kalian akan berada di tingkat terendah kemanusiaan.
Asfala safilin,” ujar Pak Amri yang datang kemudian me-
nengahi pertelagahan Jundi dan Bani Adam.

Masalah itu selesai ketika Pak Amri datang. Beliau
menggeleng-gelengkan kepala melihat perilaku kami.
Meskipun berbagai perseteruan menyangkut makanan
masih kerap muncul ke permukaan. Usai insiden itu, tetap
saja diperlukan waktu berbulan-bulan untuk menetralkan
dan mendinginkan suasana sampai semuanya mencair.
Anak-anak langit ini tetap saja menunjukkan ego luar
biasa dalam tiap persinggungan yang terjadi. Berbagai
insiden tetap nyaris terjadi. Aku pun mulai bingung dan
ragu dengan predikat yang disematkan kepada kami.
Sama sekali tak tercermin dari perilaku kami.

146

http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT

“Makanan hanya sebatas perut. Ukhuwah yang pen-
ting,” ujar Mursalin suatu ketika dalam rapat yang kami
gelar ketika ada kisruh lagi usai pembagian kacang hijau
secara tak adil. Petugas piket melebihkan bagiannya dan
ketahuan oleh yang lain. Ego pun bicara. Silat lidah terjadi,
dalil keluar, dan luka lama diungkit. Pernyataan sang kawan
yang mengandung ambigu termasuk yang disorot, karena
praktik di lapangan dapat berbeda. Namun saat Rasyid
yang bicara, semua mengangguk maklum. Sepakat.

“Marilah kita jaga hak kawan yang lain. Seberapalah
kuat perut kita,” ujarnya lirih dengan nada datar.

Ungkapan yang mirip, namun punya tuah yang ber-
beda. Memang, bukan Rasyid seorang yang menjadikan
kami menyelami dan menghargai hak individu masing-
masing secara lebih baik. Namun setidaknya, contoh yang
diberikannya bersama warga kamarnya ketika piket dapat
menenteramkan semua penghuni asrama. Manajemen
terbuka, transparan, dan mengutamakan ukhuwah telah
diterapkan, mengalahkan ego dan kepentingan pribadi.
Manajemen terbuka pula yang kemudian diterapkan secara
simultan pada kamar-kamar yang lain. Sikap toleran dan
menghargai persahabatan telah menjadi pusat resonansi
yang getarannya menembus dinding-dinding kamar dan
memasuki hati semua kawan seasrama. Ternyata, tak ada
yang bisa menundukkan ego, kecuali keteladanan. Kamar
tujuh yang dihuni Rasyid dan kawan-kawan, kamar dua
belas yang dihuni Syahid dan kawan-kawan, kamar empat
tempat kami, aku, Andi sang ketua, Syafrizal dan Mulyadi
menjadi rujukan tempat yang netral dan selalu fair.

Aku beruntung sekamar dengan tiga orang yang me-
miliki sifat moderat, tak meledak-ledak, dan emosional.

147

http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS

Juga soal makanan. Saat kami sedang bertugas, semua lega.
Kami pun bangga, turut menjadi kontributor dalam misi
ukhuwah yang digalang Rasyid dengan keteladanannya.
Menjadi contoh untuk tak perlu berbuat curang hanya
demi sedikit kelebihan makanan yang besoknya telah
menjadi sampah, feses yang harus digelontorkan ke WC.
Perlahan namun pasti, makanan tak lagi menjadi masalah
bagi kami. Bahkan, sebagian rela memberikan haknya
kepada yang lain. Tak hanya nasi atau kacang hijau, tapi
juga lauk-pauk dan makanan yang dikirim dari kampung.
Itulah indahnya ukhuwah, bangunan persaudaraan yang
kuat, kendati dibina dengan berat dan perlu waktu yang
tak sedikit. Kami melalui tahapan ini dengan susah
payah, penuh perjuangan, dan dinamika. Kami belajar
tentang kebersamaan terus-menerus. Sebab, yang kesat
dapat diampelas, yang berbongkol dapat ditarah, yang
keruh dapat dijernihkan dan yang kusut dapat diuraikan.
Aku jadi ingat pepatah Melayu, bahwa hidup ini jelang-
menjelang, sakit jenguk-menjenguk, lapang sama berlegar,
sempit sama berhimpit, lebih beri-memberi, jalan ber-
iringan. Sejak saat itu, kami pun mulai menata kehidupan
berukhuwah yang lebih baik. Itulah indahnya bingkai
ukhuwah.

***

148

http://facebook.com/indonesiapustaka 12

Iqra’

Aku tak bisa melupakan orang yang pertama kali me-
ngenalkanku pada alfabet. Ibu Juzmaniar namanya.
Begitu mengesankan dan tak akan terlupakan sampai
kapan pun. Beliau menjadi pahlawan yang membuka
pintu segala ilmu—tak terkira luasnya, tak terduga dalam-
nya, tak terukur tingginya. Itulah sebabnya, ayat yang
pertama turun kepada Muhammad menyuruh umatnya
untuk membuka wawasan, mencari ilmu lewat pintunya,
membaca. “Iqra’!” “Bacalah!” Sebuah kalimat, sebagai
pertanda kelahiran kembali umat manusia. Sebagaimana
Tuhan mengajarkan nama-nama benda kepada Adam. Se-
konyong-konyong, perintah itu membuat Muhammad
menggigil, demi menanggung pengetahuan umat manusia
di masa depan. Jika sosok agung bernama Muhammad
saja menggigil mendengar perintah hebat itu, apalagi aku,
seorang pria desa, bukan siapa-siapa. Rupanya, itulah yang
akan terjadi pada diriku.

http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS

Ingatanku yang samar pada Ibu Juzmaniar membentuk
memori kerinduan yang terus terngiang hingga sekarang.
Bagiku, Ibu Juzmaniar adalah perempuan luar biasa yang
datang dari langit untuk menghukum kejahilanku. Saat
ia datang, semua ketakutan, menyuruk-nyuruk di bawah
kolong meja, saling bersembunyi di balik punggung
kawan. Semua takut melihat tampangnya, wibawanya, dan
pembawaannya yang teguh. Kami takut langsung disuruh
membaca, karena yang ada di otak kami masih nol besar.
Senyumnya yang ramah menyapa, menundukkan ketakut-
an kami. Suaranya yang lembut meneduhkan jiwa kami,
membantu mental untuk terus mengikuti kalimat-kalimat
pelajaran pertama darinya. Abjad pertama yang dikenal-
kannya i. Tapi dari i itulah kalimat “Ini Budi” terangkai
dan bermiliar rangkai kalimat berikutnya hadir di kepala,
lalu meluncur deras dari bibir. Sungguh ajaib. Luar biasa.

Entah kenapa, ketika masuk pelajaran Bahasa Arab
di MAK ini, ingatanku melanglang buana menuju sketsa
samar kebersamaan dengan Ibu Juzmaniar itu. Ada rasa
gentar dan gusar di hati, seperti pertama kali masuk kelas
I SD dulu. Padahal, huruf Arab bukanlah hal baru bagiku.
Abah adalah guru pertamaku membaca huruf hijaiyyah.
Beliaulah yang menunjukajar alif ba’ ta’ kepadaku hingga
tamat juz ‘amma. Bahasa Arab juga dijejalkan pada
pelajaran madrasah. Namun sejak kelas I hingga kelas II,
guru-guru MTs-ku hanya mengajarkan tentang tashrif1

1 Tashrif adalah perubahan kata. Ada dua jenis tashrif, isthilahi dan
lughawi. Tashrif isthilahi merupakan perubahan kata dari fi’il
(kata kerja) madhi (masa lalu) ke mudhari’ (sekarang dan masa
depan), serta amr (perintah). Sedangkan tashrif lughawi merupa-
kan perubahan kata berdasarkan subjeknya, huwa (dia laki-laki),
anta (kamu laki-laki), anti (kamu perempuan), dan seterusnya.

150

http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT

saja, berulang-ulang, dan itu lagi, untuk menyesuaikan
kemampuan anak-anak yang dianggap lemah. Tiap siswa
maju ke depan untuk menghafalkan tashrif fi’il madhi
dan mudhari’, sepanjang semester, tanpa perlu tahu apa
maksudnya. Barulah di kelas III ada kemajuan, ketika Pak
Azhar memegang mata pelajaran bahasa Arab. Itu pun
agak terlambat.

Kini, di kelas MAK yang hebat ini, bahasa Arab seolah
menjadi momok baru bagiku. Ibu Juzmaniar seakan hadir
kembali untuk menghardik kejahilanku, kebodohan lama
yang berulang, bak teori siklus Ibnu Khaldun dalam karya
monumentalnya, Muqaddimah. Waktu memang berlalu,
namun dalam praktiknya, pengulangan-pengulangan
kerap terjadi, kadang tanpa disadari sedikit pun. Meski
pengulangan itu memiliki perbedaan. Karena, yang akan
hadir di hadapanku adalah seorang lelaki gempal berbibir
hitam, khas perokok.

“Iqra!” perintahnya padaku sambil menunjuk baris per-
tama Kitab Mukhtashar Jiddan syarh Matan aj-Jurmiyah.
Aku gelagapan. Menggigil. Tak berlebihan, jika Sang Ter-
pilih Muhammad menggigil saat diperintahkan membaca
kalam agung itu. “Iqra!” Sampai sosok agung itu harus
pulang, dan minta kepada istri tercinta, Khadijah, untuk
menyelimutinya. Surah al-Muddatsir pun turun seketika.

Kini aku menghadapi perintah serupa. Kurasakan
kegelisahan yang tak terperi. Dan entah apa yang harus
dibaca dari huruf-huruf Arab kecil berangkai di atas kertas
berwarna kuning itu. Tak berbaris pula, alias gundul. Tak
ada titik dan koma, sehingga sepanjang halaman boleh saja
dibaca dengan satu napas. Itulah kitab gundul pertama di
tanganku, kitab kuning yang kubeli di Pasar Aur Kuning

151

http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS

Bukit Tinggi bersama beberapa kitab penunjang pelajaran
lainnya, seperti An-Nahwu al-Wadhih, Bulugh al-Maram,
Kifayat al-Akhyar, Subul as-Salam, Qawa’id al-Lughah al-
’Arabiyah, dan Fiqh as-Sunnah. Sebagian kitab itu baru
kami pelajari di kelas II dan III, namun dengan semangat
membara langsung kubeli semuanya, dengan uang hadiah
dari Pak Iskandar yang dikirim belakangan oleh Abah.
Motivasi dari Datuk Ismail menjadikanku bersemangat.
Tak penting bisa dibaca atau tidak, yang penting ada dulu,
lumayan juga untuk gagah-gagahan. Aku sudah merasa
jadi ulama faqih ketika memilikinya, lalu menjejerkannya
di lemari. Padahal, berhadapan dengan kitab kuning dasar
seperti ini saja, aku tak berkutik. Benar-benar mati kutu.

Waktu itu, aku hanya diam. Persis seperti sembilan
tahun lalu, saat pertama kali Ibu Juzmaniar memintaku
menirukan huruf i, yang tertulis indah berangkai di
atas papan tulis hitam sekolah kami. Aku hanya diam.
Terpaku dalam ketololan, bak nelayan tersesat tanpa
kompas di tengah samudra lepas. Tak ada rasi bintang
yang bisa dibaca untuk menunjuk arah. Aku melongo.
Yang membuatku heran, kenapa pula ustadz satu ini me-
nunjukku yang duduk di bangku paling belakang sambil
menundukkan muka, berusaha sembunyi, persis seperti
dulu ketika aku menyuruk di kolong meja dari tatapan
Ibu Juzmaniar. Rupanya, ketakutanku terbaca olehnya,
dan beliau langsung menembakku. Dua belas pas.

Ustadz Hardiman Koto, guru bahasa Arabku itu ter-
senyum. Agak nakal. Seperti sengaja mengerjaiku dan mem-
permainkan kebodohanku. Mungkin, inilah yang kurang
disukai beberapa kawan dan kakak kelas—yang sengaja
diwariskan pula kepada kami. Tabiatnya memang agak

152

http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT

aneh, suka menggertak, seperti yang dilakukan padaku
waktu itu. Tapi sebagai guru, hatinya pasti baik. Tak ada
guru yang berniat jahat ketika datang ke tempat agung
bernama sekolah. Para muridlah yang kadang tak mampu
membaca kebaikan guru, malah mengerjai, melawan, juga
mendebat, dan mengolok-olok. Setidaknya, menggunjing
di belakangnya, menjelek-jelekkan perilakunya. Kurang
lebih sama dengan cerita kakak-kakak kelasku di SD dulu,
ketika menakut-takuti saat akan masuk sekolah.

“Kalau kau tak bisa baco, Muh, Ibu Juz akan menjewer
kupingmu, mengurungmu di lemari, dan melempari
kepalomu dengan penghapus papan!” Itulah kalimat yang
kudengar sebelum masuk SD. Sadis sekali. Tuduhan yang
serius dan sangat tak masuk akal. Sebuah alasan yang me-
nyebabkanku harus menyuruk-nyuruk di kolong meja
karena ketakutan. Bahkan, awalnya aku tak berani masuk
kelas ketika melihat tampang ibu guru itu, juga perawak-
annya yang menurutku waktu itu menyeramkan. Tapi,
semua itu tak terbukti. Ternyata, Ibu Juzmaniar yang ku-
temui adalah sosok yang baik hati, lembut sekali.

Ustadz Hardiman kurasa sama kedudukannya dengan
Ibu Juzmaniar. Secara fisik juga sama. Sama gempalnya,
gemuk pendek berisi, tak jauh dengan postur Ibu Juzmaniar.
Langkah-langkahnya tegas dan simpel, namun penuh energi.
Ustadz Hardiman bertugas sebagai pembina asrama kelas II,
namun mengajar bahasa Arab untuk kami di kelas I MAK.
Beliau juga wali kelas kami di kelas I. Wataknya keras,
sangar, namun jenaka dengan berbagai cerita yang tak jarang
mengundang tawa. Kadang menyerempet-nyerempet agak
dewasa. Tapi sebelum sampai ke sana, terimalah dulu ujian
mental darinya. Beliau memang pribadi yang berbeda, unik.

153

http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS

Mungkin, ini berkaitan dengan nama beliau. Sebab
tak jarang, nama seseorang berkaitan erat dengan perilaku-
nya. Bukankah nama adalah doa? Yang kutahu, setelah
kutimbang-timbang dengan cermat di kemudian hari, nama
Hardiman berasal dari kata hard dan iman, atau hard dan
man. Hard dalam bahasa Inggris berarti kuat, keras, kaku,
juga bisa berarti rumit dan kejam. Sedangkan iman, ya
iman, yakin, percaya. Artinya, ia seorang yang kuat iman,
teguh pendirian. Bisa juga berarti lelaki yang keras. Atau
dari bahasa Arab, harida yahrudu hardan, yang berarti
marah, emosi. Tentu itu hanya tafsirku sendiri. Namun
memang, dan entah kenapa, keras dan marah adalah kesan
yang selalu terlihat pada diri beliau, walau sesekali humor-
nya bisa meledakkan seisi kelas. Berdasarkan informasi
dari kakak-kakak kelas, kesan keras, pemarah, penggertak
itu terdengar riuh rendah, dan sangat nyaring di telinga
kami. Sebagian mereka membisikkan hal-hal yang kurang
pas tentang sosok beliau.

Bagiku, semuanya berbeda. Ustadz Hardiman adalah
pelitaku dalam menjelajahi gelapnya bahasa Arab. Beliau-
lah sang penunjuk jalan itu, sosok yang menuntun langkah
pertamaku mengenal bahasa Arab yang menjadi gudang
ilmu agama. Beliau yang mengajariku pertama kali, “Al-
kalamu huwallafzul murakkab al-mufidu bil wadh’i.”2
Sebuah kalimat sakti yang harus diketahui setiap santri
saat belajar bahasa Arab untuk pertama kalinya. Kalimat
itulah yang menjadi pembuka bagi pengetahuan bahasa
Arab, yang memiliki keluasan tiada tara dalam berbagai
kitab turats karangan para ulama. Beliau yang memberi

2 Kalam merupakan lafaz yang tersusun, berfaedah, dengan se-
buah fungsi kedudukan.

154

http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT

penerangan awal tentang kalimat, “Qama Zaidun wa
Zaidun qaimun”3, seperti halnya Ibu Juzmaniar mengajari
kami “Ini Budi, Ini Ibu Budi.”

Beliau juga yang mengajari kami untuk pertama kali-
nya mengenal laboratorium bahasa, menggunakan per-
alatan canggih yang dilekatkan ke telinga, headphone, lalu
mengikuti cara bacanya dari native speaker, asli orang Arab
lewat kaset. Al-’Arabiyah li an-Nasyi’in, itulah buku yang
kami pelajari di laboratorium bahasa, sejak jilid pertama
yang paling sederhana, hingga jilid keenam yang lebih
rumit. Kitab ini asli keluaran Saudi Arabia, untuk ghair
natiqin, atau orang asing, agar mampu berbahasa Arab de-
ngan fushah sesuai kaidah yang benar. Beliaulah yang meng-
ajarkan seperti apa dasar-dasar bahasa fushah, bukan logat
‘amiyah, seperti kebanyakan produk pesantren. Bagaimana
mungkin ada yang menuduh bahasa Arab beliau ‘amiyah?
Rasanya tidak mungkin, karena beliau sangat paham dasar-
dasar bahasa Arab fushah, yang digunakan sebagai dasar
untuk membaca al-Quran. Sejarah bahasa Arab memang
digali oleh pakar sastra dan bahasa Arab dari bacaan-
bacaan al-Quran. Dari sanalah, Ustadz Hardiman mulai
mengajarkan pelan-pelan keagungan bahasa al-Quran itu,
karena al-Quran diturunkan dengan bahasa Arab fushah.

Berhari-hari dan berbulan-bulan berikutnya merupa-
kan proses yang terus mendebarkan bersama Ustadz
Hardiman. Ada keraguan, kebimbangan, kecemasan, dan
kegamangan memasuki kelasnya. Khawatir kembali men-
dapat sergahannya, ujian mentalnya. Kekhawatiran juga

3 Artinya Zaid berdiri. Kalimat ini sering dipakai sebagai contoh
dalam pelajaran bahasa Arab.

155

http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS

melanda, karena bahasa Arab ternyata tak semudah yang
dikira. Tapi, ketakutan kami terhadap bahasa Arab kerap
dijawabnya dengan enteng.

“Nanti kalian bisa sendiri. Percayalah pada Bapak!”

Enteng, tenang, dan tanpa beban. Beda sekali dengan
kami yang berkeringat dingin di hadapannya. Tapi, ‘ajiiiib.
Perkataan sang guru memang manjur. Ibarat mantra sakti
yang memberi berkah dan anugerah tiada tara. Meskipun
aku tak bisa berteriak “bingo”, “ahlan wa sahlan ya ahla
lughah al-’arabiyah” atau “eureka”, seperti Archimedes
bersorak ketika menemukan teorinya atau teriakan se-
macamnya, ketika tahu-tahu sudah mampu berbahasa
Arab berbulan-bulan setelah itu. Sebab belajar adalah
proses yang panjang dan pengetahuan tak bisa datang
begitu saja. Setidaknya, aku tahu di mana pangkalnya:
Pak Hardiman, seperti halnya Ibu Juzmaniar. Dari pelita
yang dihidupkannya, perlahan namun pasti, bahasa Arab
tak lagi gelap yang menjadi momok menakutkan bagiku,
juga teman-teman lain yang berlatar bahasa Arab minim.
Entah kapan resminya bahasa Arab menjadi akrab dalam
bacaan-bacaan kami, percakapan kami, pergaulan kami.

Pak Hardiman tak hanya guru bahasa Arab dasar
yang sekadar mengajar. Banyak petuah-petuah sakti yang
disampaikan di sela-sela guyonan khasnya. Yang paling
kuingat adalah tentang konsistensi diri.

“Jadilah seperti ikan di laut. Walaupun air di sekeliling-
nya asin, tubuhnya tak ikut menjadi asin. Dia tak ter-
pengaruh oleh lingkungannya. Dia konsisten, teguh pen-
dirian, dan kuat,” ujar beliau suatu kali.

Aku menyimaknya, mencatatnya. Satu modal penting
selain bahasa Arab dasar darinya. Petuah lama dan pem-

156

http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT

belajaran dasar yang kadang dianggap tak penting itu
menjadi pijakan dan fondasi awal. Dari sanalah, kami
punya modal untuk mendalami ilmu fikih, ushul fikih,
tafsir, hadis, ilmu tafsir, mushthalah hadits, dan lainnya.
Kendati baru dipelajari pada tingkat lanjut di semester II
ke atas, namun setidaknya aku sudah bisa mencoba mem-
baca berbagai kitab itu dengan usaha sendiri. Di semester
awal kelas I, pelajaran kami memang baru yang dasar
saja. Misalnya, bahasa Arab sampai delapan SKS, bahasa
Inggris enam SKS, dan ushul fikih empat SKS. Sisanya,
sama dengan pelajaran anak-anak MAN pada umum-
nya—mulai dari akidah-akhlak, PMP, matematika, fisika,
biologi, IPS, sejarah, hingga olahraga.

Selain kelas pagi reguler, yang membedakan kami,
anak-anak MAK dengan MAN adalah kelas tutorial
di petang hari, mulai pukul 14.30 WIB hingga pukul
17.30 WIB. Kelas tutorial diisi dengan materi pelajaran
yang semuanya menggunakan kitab kuning. Kami
dibentuk dalam empat kelompok, yang masing-masing
beranggotakan 10 anak. Dalam rentang waktu satu se-
tengah jam untuk satu sesi, tiap siswa akan mendapatkan
giliran membaca kitab kuning. Saat semester pertama,
mata pelajaran yang diajarkan baru bahasa Arab, ushul
fikih dan fikih saja. Hanya tiga hari dalam sepekan.
Sisanya, dapat kami gunakan untuk hal lainnya, seperti
olahraga atau kegiatan ekstra di petang hari.

***

Aku tahu, Ustadz Hardiman memiliki reputasi yang kurang
baik di mata beberapa orang. Kakak-kakak kelas kami yang
mengatakan. Ada kakak kelas yang pernah marah-marah

157

http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS

kepada beliau, membenci, tak suka, bahkan dengan emosi
mengejarnya. Padahal, beliau adalah guru bahasa Arab
pertama yang mengajarkanku membaca kalimat dalam
kitab gundul, Qama Zaidun, seperti halnya Ibu Juzmaniar
mengajarkan “Ini Budi”. Ia yang pertama kali mengajariku
merangkak, menatahku hingga berdiri dan berjalan pelan-
pelan. Banyak yang mengajariku hingga dapat berlari
kencang, tapi tak akan kulupakan yang pernah mengajariku
merangkak. Aku tak peduli apa pun kata orang. Yang
terpenting, beliau adalah guruku, yang harus dihormati
dengan penuh takzim. Seperti sahabat Rasulullah Ali bin
Abi Thalib yang diberi label sebagai gerbang ilmu, namun
tetap tawadu’. Bahkan, beliau siap menjadi budak bagi
siapa saja yang mengajarkannya satu huruf ilmu.

Bagiku, Pak Hardiman adalah gerbang itu. Mungkin
agak naif, tapi begitulah yang kurasakan. Mungkin aku
harus katakan kepada beberapa teman dan kakak yang me-
remehkannya, aku telah termakan petuahnya itu, “Jadilah
seperti ikan di laut!”

***

158

http://facebook.com/indonesiapustaka 13

Senior

Mapertas ternyata telah membentuk pola pikir ter-
sendiri bagi kami, komunitas baru di lingkungan
MAK ini. Jika kepada guru kami dituntun untuk hormat,
maka kepada kakak-kakak senior, kami mengidap syndrome
segan yang luar biasa. Tak jarang, untuk berpapasan pun
kami segan dan terpaksa mengambil jalan yang lain. Kami
memandang wibawa kakak-kakak itu, respek pada mereka.
Kami membayangkan, betapa hebat ilmu, wawasan, dan
pengaruh mereka. Beberapa orang di antara mereka hafidz
30 juz. Ada yang qari’, faqih, mufassir, muhaddits, yang
bahasa Arabnya lancar bak air mengalir, orasinya saat
pidato memukau. Setiap Jumat, kakak-kakak kelas ini yang
menyampaikan khutbah dan menjadi imam. Ketika menjadi
imam, bacaan ayat mereka panjang-panjang, minimal surah
al-A’la atau asy-Syams. Malah kadang surah Yasin, pernah
pula surah al-Kahfi. Hanya sesekali saja pembina asrama
tampil menjadi imam—baik Ustadz Zaidan selaku pembina

http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS

asrama kelas III, Ustadz Hardiman selaku pembina asrama
kelas II, atau Ustadz Amri selaku pembina asrama kelas I.
Bisa dikatakan hanya sebulan sekali saja, para ustadz ini
tampil menjadi imam.

Iklim yang tercipta di lingkungan asrama ini memang
cair sekali, egaliter kata orang, sehingga pembina asrama
bukan hal yang perlu ditakuti berlebihan. Para pembina
asrama membiarkan kakak-kakak kelas itu mengembang-
kan ilmunya secara lebih praktis, dengan tampil lebih
banyak. Sebab, mereka dipersiapkan menjadi pemimpin
masyarakat yang sesungguhnya, tentu dengan keterampilan
keagamaan yang memadai. Menjadi imam, khatib, pen-
ceramah, bahkan hingga ke luar Koto Baru adalah hal yang
biasa, kelaziman yang galib. Lebih khusus lagi di bulan
Ramadhan, siswa MAK diundang berceramah hingga ke
tempat-tempat yang jauh. Semuanya terjadwal dan ada per-
mintaan resmi dari masjid, musalla, dan lembaga dakwah
yang bersangkutan. Artinya, para siswa MAK memang sudah
mahir, bahkan memiliki pengikut serta pengaruh sendiri
pada orang-orang kampung di Koto Baru dan sekitarnya.

Semua jadwal itu diatur oleh sebuah lembaga otonom
di bawah Ikas MAK, bernama “Badan Kemakmuran
Masjid” (BKM). Pusat kegiatan dilaksanakan di Masjid
Nurul Hikmah, yang ketika malam, seolah menjadi milik
siswa MAK. Maklum saja, kendati lokasinya berada di
kontur tanah paling atas, di lokasi MAN, tapi tak ada
siswa MAN yang datang untuk shalat Magrib dan Isya’ di
sana. Sebab mereka kos di tempat-tempat yang jauh dari
sekolah ini, di rumah-rumah penduduk. Bahkan, anak-
anak asrama putri yang lokasinya lebih dekat ke masjid
dibanding asrama MAK, sudah sadar diri untuk tak datang

160

http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT

shalat berjamaah Magrib dan Isya di masjid. Mungkin
mereka menggunakan mazhab, bahwa perempuan lebih
afdhal shalat di rumah saja, atau memang mafhum dengan
dominasi anak-anak MAK atas masjid ini. Atau ada sesuatu
yang lain? Aku tak tahu. Yang kutahu, saat Ramadhan
tiba, masjid ini tampak lebih semarak, lebih indah dengan
kehadiran mereka. Itu saja bedanya.

Bagi kami, kakak-kakak senior adalah kebanggaan
yang luar biasa. Nama mereka sangat harum. Kak Arif
Badruddin misalnya. Dia baru saja memenangkan lomba
pidato bahasa Arab se-Sumatera Barat di Bukit Tinggi.
Padahal, lawan-lawan mereka bukan sembarang, anak-
anak pesantren dari Thawalib dan Diniyah Putra di Padang
Panjang, juga Parabek dan Candung di Bukit Tinggi.
Semuanya takluk. Juara keduanya masih dari MAK, Kak
Imam, seorang hafidz yang bahasa Arabnya minta ampun,
mengalir deras sekali, lebih deras daripada air terjun
Lembah Anai. Fushahnya akan membuat orang Arab ter-
kagum-kagum, karena mereka cenderung lebih sering
menggunakan bahasa ‘amiyah daripada fushah yang ter-
nyata lebih sulit, kendati sangat indah dan sastrawi, seperti
halnya al-Quran. Perbedaan antara Kak Imam dengan
Kak Arif Badruddin hanya soal artikulasi, pembawaan,
dan retorika saja. Kak Arif Badruddin memiliki segalanya,
artikulasi bahasa yang jelas dan fasih, pembawaan yang
berwibawa dan retorika yang indah menawan. Tak hanya
bahasa Arab, Kak Arif Badruddin juga sangat piawai ber-
cas-cis-cus atau berbahasa Inggris.

Tim basket kelas III juga lambang kebanggaan kami,
yang beresonansi bagi sekolah ini secara umum. Mereka
jaminan kemenangan yang memesona. Tim basket ini me-

161

http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS

menangkan class meeting, dan mereka berhak mewakili
sekolah untuk mengikuti turnamen di luar. Lawan mereka
pun bukan lagi sesama siswa MAN se-Sumatera Barat, me-
lainkan siswa-siswa SMA dari tempat-tempat yang jauh.
Tim voli kakak-kakak ini juga sangat hebat dan nama
mereka bergaung ke mana-mana. Berbagai pertandingan
yang melibatkan nama MAN/MAK Koto Baru, akan terasa
kurang dan hambar jika tak melibatkan kakak-kakak itu,
dalam bidang apa saja. Tak hanya adu keahlian pidato
baik Arab maupun Inggris, atau adu pintar seperti cerdas
cermat, namun juga olahraga dan seni, seperti kaligrafi
serta seni baca al-Quran. Semuanya dilibas habis. Adu
otak oke, adu otot juga tak masalah. Adu kreativitas dan
imajinasi juga siapa takut. Kami benar-benar mengagumi
kehebatan mereka, ikon yang membanggakan.

Bagi kami, kakak-kakak kelas III adalah inspirasi, pem-
buktian nama, sekaligus teladan. Tempat berkumpulnya
decak kagum dalam tepuk tangan yang riuh rendah.
Mereka adalah pemandu yang akan mengarahkan ke mana
jalan kami. Banyak di antara kami yang mengidolakan
satu, dua, bahkan lebih dari mereka. Tentu itu disesuaikan
dengan bakat dan harapan dari mereka. Sarianto misalnya,
sangat terobsesi dan mengidolakan Kak Fajran Zein yang
jago bermain basket. Dia lebih dikenal dengan nama Irjax.
Driblenya yang luar biasa menjadikannya forward yang
sangat disegani lawan. Badannya dapat meliuk-liuk dan
dengan mudah menerobos kepungan lawan.

“Aku sudah belajar teknik drible pada Kak Irjax.
Aku juga dapat tanda tangannya di kaosku. Ini dia,” ujar
Sarianto bangga sambil menunjukkan kaosnya. Tertera
nama dan tanda tangan di sana.

162

http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT

Memang, Sarianto sangat mengagumi Kak Fajran,
pria asal Aceh itu. Di samping itu, dia juga punya modal
tebal muka dan tak segan turun ke asrama kelas III. Di
saat kami segan dan kikuk berhadapan dengan kakak
kelas, terutama yang kelas III, ia dengan santai menyapa
kakak-kakak itu. Tak lama setelah itu, dia berani datang
ke asrama kelas III, yang cukup angker bagi kami, sarang
macan yang ditakuti. Bak bintara memasuki markas para
perwira, tentu harus penuh hormat, tergopoh-gopoh dan
takzim. Bagi Sarianto, demi pilihan idolanya Kak Fajran,
ia terobos semua larangan tak tertulis itu.

Lain lagi dengan Burmal. Dia mengidolakan Kak
Zulfahmi, jago basket dan voli. Shooting basketnya
akurat, driblenya yahud, dan smas-smas volinya tajam me-
nyengat. Tinggi badan Burmal melebihi Kak Zulfahmi.
Dengan potensi fisiknya, kayaknya ia bisa melebihi prestasi
lelaki keriting itu. Tim basket kelas III ini juga diperkuat
oleh Kak Afwan, Kak Abrar, dan Kak Ihsan. Kelimanya
adalah sosok-sosok yang kami kagumi di lapangan basket.
Di bidang yang lain, Rasyid mengagumi Kak Imam. Ia
menyukai kehebatan bahasa Arab pria berjenggot lebat
ini. Sekilas, Kak Imam lebih tua dari umur sebenarnya
jika dilihat dari jenggot lebat semata, yang begitu indah
bak lebah bergelantungan. Padahal, Rasyid tak berjenggot
sedikit pun. Ia mengagumi Kak Imam bukan karena
rambut-rambut halus di bawah dagu itu, melainkan
karena kemampuan, ketekunan, dan pola pikir lelaki itu.
Baginya, Kak Imam adalah gudang ilmu yang tak habis
dikuras dalam setahun. Aku sendiri mengagumi Kak Arif
Badruddin. Tenang, sabar, berwibawa, dan punya prinsip.
Itulah kesan yang melekat padanya. Ia tak banyak cakap,

163

http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS

tak besar bual, kata orang Melayu. Tapi sekali bicara, maka
kalimat yang meluncur dari bibirnya begitu indah, lancar,
mengena, penuh energi, dan berisi. Banyak sekali kakak-
kakak yang luar biasa di sini, mulai dari Kak Delmus hingga
Wandi. Dari Kak Zuhdi hingga Riyal Fuadi. Semuanya
memiliki kekhasan sendiri. Mereka ibarat sumur ilmu
yang kadang perlu ditimba dalam-dalam terlebih dahulu,
namun kadang dapat datang sendiri mengantarkan butiran
mutiara ilmunya.

Sebenarnya, kekaguman kami pada masing-masing
kakak senior itu bukan terjadi secara kebetulan. Adalah
BKM Nurul Hikmah yang mengaturnya. Kami memang
memiliki jadwal pertemuan dengan kakak-kakak kelas itu,
yang bernama “tutor sebaya di Masjid Nurul Hikmah”.
Jika di petang hari kami diajarkan langsung oleh para guru,
maka pada tutor sebaya ba’da Magrib, kami mendapat
kesempatan untuk menggali ilmu dari kakak-kakak kelas
ini. Tentu saja wawasan, keterampilan, dan cara pandang
mereka terhadap sebuah bidang studi sudah lebih mapan.
Biasanya, yang kami sodorkan kepada kakak-kakak itu
adalah pelajaran bahasa Arab, baik tentang cara mem-
bacanya atau pun makna yang terkandung dalam kitab-
kitab itu. Dalam tutor sebaya, tak akan ada pembahasan
fisika atau sejarah. Semua yang dibahas kitab-kitab kuning.

BKM menyusun jadwal tutor sebaya untuk kelas III
membina kelas I, satu kali dalam sepekan. Kelas III mem-
bina kelas II juga satu kali sepekan. Sisanya, kelas II mem-
bina kelas I tiga kali dalam sepekan. Semua tutor sebaya
dilakukan ba’da Magrib, setelah ada kuliah tujuh menit
dalam bahasa Arab, yang diisi oleh para siswa. Ahad
malam Senin diisi dengan muhadharah atau ceramah

164

http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT

agama dari siswa terpilih yang dijadwal dan Sabtu malam
Ahad tak ada kegiatan.

Aku beruntung mendapatkan guru tutor yang hebat—
Kak Arif Badruddin dari kelas III dan Kak Ismail dari kelas
II. Keduanya sangat lihai berbahasa Arab. Kendati jadwal
pembinaan tutor sebaya ini lebih banyak dilakukan kelas
II, namun entah mengapa tetap saja kami memandang
senior kelas III yang lebih hebat segalanya. Pembinaan
yang mereka berikan terasa lebih berbobot, tergali dengan
dalam dan berenergi. Ada pengalaman yang lebih luas pada
mereka. Mereka bertemu kakak-kakak alumni pertama
sekolah ini, yang paham benar bagaimana menjadi perintis
sekolah yang dilabeli predikat khusus. Mereka yang
datang dari ujung Sumatera di Lampung dan pangkalnya
di Banda Aceh, harus menerima kenyataan yang berbeda
dari janji yang terdengar nyaring sebelumnya.

“Waktu itu belum ada asrama. Jadi angkatan pertama
tidur di aula sepanjang tahun,” ujar Kak Arif Badruddin
bercerita.

Aku menyimak tekun ceritanya, usai berbaris-baris
huruf Arab tak bertitik-koma kubaca di depannya. Aku
yang tak pernah mendengar ini, menunjukkan wajah miris
seketika. Ia membacaku penuh arti.

“Jangan terlalu dirisaukan. Tidur di aula tak masalah
kalau hati kita lapang dan pikiran kita jernih!”

Aku manggut-manggut. Ia terus membaca gelagatku.

“Kamu tahu, pesantren-pesantren di Jawa, banyak
kondisinya yang jauh lebih berat. Kadang di ruangan
5 x 5 meter dihuni delapan hingga sepuluh orang. Tak
ada tempat untuk buku, peralatan pribadi, bahkan

165

http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS

tempat tidur. Kebanyakan mereka tidur di lantai atau di
masjid. Dan itu terjadi sepanjang tahun, terus-menerus.
Tapi, dari kondisi itulah lahir ulama-ulama besar yang
menghiasi sejarah kita. Kita ini sudah lumayanlah, ada
asrama, tempat tidur yang nyaman, punya pembina, dan
kurikulum pembelajaran yang baik.”

Aku mengangguk, ia tersenyum.

Lain waktu, Kak Arif Badruddin memaparkan panjang
lebar tentang satu kata di dalam Kitab Mukhtashar Jiddan,
yang tak disampaikan sedikit pun oleh Pak Hardiman.
Mungkin inilah beda nuansa antara guru dan kakak senior
berbakat. Ia menjelaskan tentang makna murakkab yang
menjadi salah satu prasyarat dalam kalam (kalimat). Kata
itu seolah-olah murakkab atau tersusun, tetapi tidak. Ini
disebut tarkib majzi. Murakkab adalah salah satu syarat
terbentuknya kalam, semacam kalimat yang minimal ter-
diri dari dua unsur, yakni subjek dan predikat. Dalam
bahasa Arab, bentuknya bisa fi’il-fa’il atau mubtada’
khabar untuk syarat murakkab ini. Namun, ada kalanya ia
hanya mirip kalimat yang murakkab atau tarkib, padahal
tidak. Ia hanya berbentuk majaz. Makanya, kerap disebut
tarkib majzi. Contohnya ba’labak, yang telah menjadi
sebuah contoh klasik dalam kitab tipis ini, juga dalam ber-
bagai kitab nahwu pada umumnya. Penjelasan Kak Arif
telah membuka nuansa baru bagiku.

Ba’labak yang juga kerap disebut Baalbek, merupakan
sebuah nama Kota di Lebanon, sekitar 86 kilometer
sebelah Selatan Beirut. Kak Arif bercerita, nama Kota itu
berasal dari kata ba’lun yang berarti keledai, dan bakun
atau baka-yabki yang berarti menangis. Konon, dulunya
terdapat keledai yang hobi menangis dan lekatlah nama

166

http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT

Baalbek itu padanya. Baalbek bahkan memiliki kisah yang
lain. Ba’lun adalah nama berhala milik raja Arhab yang
terbuat dari emas dengan tinggi 20 hasta atau kira-kira 10
meter berkepala empat. Raja Arhab memaksa rakyatnya
untuk menyembah Ba’lun atau Ba’al. Di sana terdapat
Candi Baalbek atau Temple of Jupiter, yang sudah ada
sejak kaum Phonichian Romawi Kuno dan diagung-
agungkan sebagai Dewa Matahari. Ketika dikalahkan
Bangsa Yunani, Kota ini pernah berubah nama menjadi
Heliopolis atau Kota Matahari. Candi Baalbek adalah
keajaiban alam, sama hebatnya dengan piramid dan spink.
Konstruksi bangunannya dinilai luar biasa, karena dibuat
dari batu-batu super besar dengan berat 100-125 ton.
Entah teknik apa yang digunakan untuk mengangkatnya.
Bahkan, ada batu olahan di Candi Baalbek yang berukuran
21,5 m x 4,2 m dengan berat diperkirakan mencapai 1500
ton. Balok batu itu dinamakan juga Stone of the Pregnant
Woman, yang diakui sebagai batu olahan terbesar di
dunia. Kak Arif Badruddin tak lupa menjelaskan tentang
kaitan semua ini dengan surah ash-Shaffaat ayat 125. “A
tad’una ba’lan wa tadzaruna ahsanal khaliqin”, apakah
kamu menyembah ba’al dan kamu tinggalkan sebaik-baik
pencipta?

“Terlepas dari kesesatan yang dilakukan orang-orang
Balbeek, penyembah ba’al dan dewa-dewa matahari, di
sana memang sudah ada peradaban yang besar. Fakta ini
membuktikan bahwa kawasan Timur Tengah memiliki
teknologi yang luar biasa di zaman dulu. Peradaban yang
nyaris punah oleh tata dunia baru. Anda tahu kenapa
para Rasul diturunkan di kawasan Timur Tengah dan se-
kitarnya? Karena di sana peradaban sudah tumbuh lebih

167

http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS

dahulu, selain kesesatan juga sudah merajalela. Jadi, bukan
di Negara Adidaya sekarang yang tata dunianya baru, tapi
sombongnya minta ampun,” ujarnya ber-Anda kepadaku.

Aku mengagumi penjelasan Kak Arif Badruddin.
Hanya dari serangkai kata tarkib majzi, ba’labak itu, ber-
juta wawasan keluar dari mulutnya. Luar biasa memikat.
Lain waktu, ia bercerita pula tentang kejayaan Islam di
masa lalu. Setelah Yunani dan Romawi tenggelam dan
Barat umumnya berada dalam stagnasi, Islam tampil
dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Selama seribu
tahun, cahaya ilmu itu menyinari dunia Islam, ketika
Barat dilanda masa suram. Muncul ilmuwan besar dalam
bidang kedokteran, filsafat, kimia, fisika, perbintangan,
matematika dan semua bidang ilmu. Nyaris semua ilmu-
ilmu dari Yunani sudah diterjemahkan ke dalam bahasa
Arab, sehingga dunia Islam bermandikan cahaya ilmu. Salah
satu yang dicontohkan ketika itu adalah Al-Khawarizmi,
sang penemu algoritma. Penemuannya digunakan untuk
banyak hal, termasuk diagram alur dalam ilmu komputer
atau informatika. Al-Khawarizmi juga merupakan penemu
aljabar yang dikembangkan dalam bukunya Al-Jabr wa
al-Muqabilah. Dari sanalah dikembangkan tabel rincian
trigonometri yang memuat fungsi sinus, cosinus dan
cotangen, serta konsep diferensiasinya. Kak Arif Badruddin
juga menyebutkan pemakaian angka Arab yang digunakan
hingga sekarang menggantikan angka Romawi. Dengan
penemuan angka itu, maka efisiensi nilai angka dapat
dilakukan. Bayangkan betapa rumitnya dunia ekonomi
jika angka Romawi tetap dipakai hingga saat ini. Angka
Arab adalah kontribusi terbesar dunia Islam dalam ilmu
matematika dan semua turunannya.

168

http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT

“Tapi, orang sekarang sering lupa itu, dan selalu meng-
agung-agungkan Barat saja. Kalau tidak, jauh merujuk
ke zaman Yunani di masa Plato atau Aristoteles. Masa
peradaban Islam selama seribu tahun kerap dianggap tak
pernah ada,” ujarnya dengan nada lirih. Selanjutnya, Kak
Arif Badruddin banyak bercerita tentang tantangan masa
depan Islam yang semakin berat. Malam itu menjadi
malam yang sangat berharga bagiku, setelah menemu-
kan wawasan baru yang luar biasa, yang akan kukenang
terus sebagai ilmu baru. Kudapatkan dari seorang pria
berbadan kecil, berwajah cekung, namun bersorot mata
tajam dan selalu bersemangat ketika membincangkan
pengetahuan.

***

Tak seperti biasa, malam Kamis itu sepi. Kak Arif Badruddin,
guru tutor sebayaku tak datang. Beberapa kakak kelas III
juga tak datang ke masjid. Dalam sistem tutorial sebaya
ini, jika seorang guru tutor tidak datang, maka dapat
bergabung dengan kakak yang datang. Aku pernah ber-
gabung dengan Rasyid untuk berguru kepada Kak Imam.
Kudapatkan wawasan dengan nuansa yang berbeda, tapi
memiliki bobot yang tak kalah. Kebanyakan mereka mem-
berikan sisi lain dari ilmu yang diajarkan formal di sekolah
dan berbagai pencerahan.

Tapi tentu saja tak ada sisi dunia yang sempurna.
Keping mata uang selalu bersisi dua. Siang tak akan
lengkap jika tak datang malam, kanan tak bermakna jika
kiri tiada. Dunia tutorial sebaya yang semula kami anggap
serba sempurna itu ternyata dapat menyisakan dilema.
Mungkin ini yang disebut keseimbangan.

169

http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS

Kalau Kak Arif mengajarkan keteladanan, tawaduk,
dan menerima apa adanya dengan kondisi yang terjadi,
lain halnya dengan beberapa kakak yang lain. Kak
Aldiansyah yang sempat menjadi guru tutor pengganti
misalnya, menceritakan peristiwa yang sama dalam sudut
pandang berbeda.

“Bayangkan saja, angkatan pertama kita tak disediakan
asrama. Belum lagi kualitas pembelajaran yang payah,”
ujarnya kepada kami.

Entah kenapa, tutor sebaya di hadapannya waktu
itu diikuti banyak orang. Ketika itu, beberapa kakak
kelas III sakit, sehingga tak bisa datang ke masjid. Ter-
masuk di antaranya Kak Arif Badruddin. Kak Aldiansyah
yang mengasuh Suhadi kudatangi. Aku ingin tahu ke-
mampuannya, sebagai perbandingan dan juga menyelami
wawasannya. Mulanya, kami hanya berdua saja di depan
Ketua Ikas MAK ini. Tapi ketika ia mulai bercerita, be-
berapa kawan lain yang tak mendapatkan guru dan yang
tadinya belajar sendiri atau membaca al-Quran beringsut
ke tempat kami duduk bersila. Kuhitung akhirnya ada
sepuluh anak yang melingkari Kak Aldiansyah. Ia jadi
tambah semangat bercerita. Tutor sebaya itu berubah
menjadi “pemberian anasir penting bagi para yunior”.
Mapertas jilid dua pun dimulai.

“Kalian semua harus tahu bahwa sejarah selalu ber-
ulang.”

Aku tahu itu, pernah kudengar dari guru sejarah di
MTs dulu. Tapi, entah ke mana arah pembicaraan Kak
Aldiansyah kali ini. Ia memulai dengan sangat abstrak.

“Sejarah MAK ini merupakan perulangan dan
miniatur dari republik ini. Ada kudeta, ada kebencian,

170

http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT

ada permusuhan, dan ada babak baru yang ditata dari
pengorbanan dan tumbal orang lain!”

Absurd. Kami semakin bingung. Kak Aldiansyah
seperti menikmati kebingungan kami. Ia terlihat bersorak-
sorai dalam hati. Senyum kecilnya menandakan itu.

“Kalian lihat Orde Lama ditumbangkan Orde Baru
dengan cara kudeta terselubung. Cara yang sangat rapi dan
kerap dilupakan sejarah. Sebab, jenderal yang menanglah
si pembuat sejarah, tentu dengan sudut pandang dan
seleranya sendiri. Lalu kita semua mengalami amnesia
sejarah, tak mau peduli pada kebenaran. Namun yakinlah,
sejarah yang sebenarnya nanti akan mengungkapnya lebih
jelas, yang akan menelanjangi kebobrokan itu!”

Kami diam. Menunggu kalimatnya. Entah apa.

“Seperti juga sekolah ini. Pemimpin lama kita dikudeta,
disingkirkan, lalu diganti dengan yang baru. Tapi apa yang
terjadi? Hanya kemunduran, degradasi, tenggelam dalam
fatamorgana janji dan keindahan semu. Kejayaan MAK
ini akan hilang!” ujarnya berapi-api. Pandangannya jauh
menerawang.

Kak Aldiansyah terus menyampaikan sabdanya, de-
ngan bahasa-bahasa yang sulit. Ia membaca sejarah dengan
baik. Ia memberikan analogi dengan cermat, dengan
kajian dan referensi yang dibacanya dari buku-buku yang
belum tersentuh oleh orang seusianya. Ia sudah membaca
Di Bawah Bendera Revolusi-nya Bung Karno, Das Kapital-
nya Karl Marx, Mein Kampf-nya Adolf Hitler, buku-buku
tentang Che Guevara, Fidel Castro, Benito Mussolini, Tan
Malaka, dan sejumlah buku revolusioner-kritis lainnya.
Wawasannya sangat luas dan pisau analisisnya tajam
dalam membaca situasi dan sejarah yang telah terbentang
di hadapannya, termasuk kepada kami.

171

http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS

Kak Aldiansyah kemudian bercerita bagaimana kepala
sekolah yang lama disingkirkan. Padahal, dialah yang
membina sejak awal MAK ini, dengan keterampilan, ke-
disiplinan, dan ketegasannya. Latar belakang militer telah
menjadikan para pendahulu kami lebih tangguh dan ber-
disiplin tinggi.

“Sekarang kita tak punya sosok itu lagi,” ujarnya
lirih.

Kami menyimak dengan tekun, menyelami pandangan
Kak Aldiansyah. Dia lalu bercerita tentang konspirasi be-
berapa guru untuk memberikan mosi tak percaya kepada
sang kepala sekolah. Sempat ada kegaduhan, ricuh, pro
kontra, dan cenderung chaos. Akhirnya, sang kepala
sekolah dicopot. Dia digantikan orang baru yang berbeda,
tak seirama dengan yang lama, pindahan dari daerah lain
yang sama sekali tak paham tentang situasi di tempat ini.

“Kalian harus tahu sejarah ini, agar tak kaget nantinya.
Jadi, kalau sekolah ini tak lagi hebat nantinya, ya kalian
sudah paham!”

Kami terdiam. Sebuah kisah sejarah yang entah harus
disikapi seperti apa telah hadir dengan jelas. Ia mem-
berikan fakta, setengah gelas air yang bisa dimaknai ber-
beda—setengah isi atau setengah kosong. Sejarah yang
multitafsir telah terdedah, terbentang jelas bak hamparan
pasir tak bermaya, luas tanpa batas. Dan tafsir di kepala
kami lebih beragam dari yang dipikirkan Kak Aldiansyah.
Untung saja aku mendapatkan gambaran alternatif dari
Kak Arif.

***

172

http://facebook.com/indonesiapustaka 14

Brilian

Konon, hanya ada dua kekuatan (power) yang mampu
mempengaruhi manusia, yaitu ilmu dan uang. Ilmu
dan kecerdasan yang melekat pada diri seseorang ter-
kadang menjadikannya memiliki ego yang besar, karena
memang memiliki kekuatan untuk mempengaruhi orang
lain, agar mengikuti apa yang menjadi keinginannya. Kini,
aku tengah berada di komunitas anak-anak langit yang siap
tampil di pentas dunia. Anak-anak luar biasa yang memiliki
beraneka rupa kecerdasan. Setidaknya, begitulah harapan
besar yang ditanamkan Ustadz Ismail saat Mapertas, yang
terus terngiang-ngiang dan membahana di kepala kami.
Perkataan beliau memang mengandung kebenaran, telah
kutemukan bukti-buktinya, kendati serpihan-serpihannya
mulai tergerus arus dunia yang menghanyutkan. Perlahan
tampak kehilangan tuahnya saat ego dan hawa nafsu ber-
cokol, menampakkan dominasinya. Kadang larut dalam
emosi tak menentu.

http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS

Ego dan emosi tentu tak dapat disalahkan sepenuhnya.
Sebab, di balik ego-ego besar itulah kecerdasan anak
manusia bersembunyi, lalu keluar dengan dahsyat. Ke-
cerdasan agaknya tak bisa disembunyikan dari ego,
karena ia melompat, memancar dan melejit liar bersama
ego-ego itu. Ego seperti itu pula yang kini tengah tumbuh
pada diri kami. Kecerdasan yang alami telah menjadikan
anak-anak ini layak berada di kelas-kelas khusus yang di-
sediakan pemerintah. Mereka begitu brilian. Jika orang
membaca hingga empat kali, maka kelompok ini cukup
hanya sekali dan langsung lengket di kepalanya. Aku me-
nemukan anak-anak hebat itu di sini. Burmal, Hendra,
Rasyid, Syafrizal, Andi, Zulfariadi, Fadri, dan Azwar
adalah sedikit di antaranya.

Ada yang sibuk berpikir, menganalisa, tanpa perlu
mengulang pelajaran di kelas. Bagi mereka, pelajaran
adalah olahraga otak, yang tak perlu pembuktian. Belajar
adalah vitamin untuk jiwa, kepuasan batin, tak peduli
apa pun hasilnya, bukan yang ditasbihkan dalam kertas
ulangan, atau rapor kenaikan kelas. Bahkan ijazah sekali
pun. Bagi mereka, prinsip “cogito ergo sum”, “aku ber-
pikir, maka aku ada” seperti ungkapan Rene Descartes,
telah menyatu pada diri mereka. Apa yang diterima
di sekolah tidak ditelan mentah-mentah, masih perlu
dianalisa, dipikir ulang, dan kalau perlu dibuat terobosan
konfigurasi pemikiran dan alternatif baru yang berbeda.
Aku mendapatkan sosok pemikir ini pada diri Mursalin,
Hendra, Rinaldi, Haris, dan Azwar. Mereka adalah para
pemikir, filosof muda yang tak begitu memedulikan nilai
di atas kertas. Kalau ilmu yang diterima tak sesuai dengan
pemikiran logis dan nalar brilian mereka, tak jarang

174

http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT

berpusu-pusu argumen muntah dari mulut mereka untuk
mematahkan semua logika absurd yang tak cerdas itu.
Bahkan, perlawanan itu kadang tak menghiraukan nilai
yang secara absolut ada di tangan para guru, atau sedikit
respek terhadap orang yang lebih tua usianya.

Anak-anak ini memiliki kecerdasan intelektual, atau
yang lebih dikenal dengan Intelectual Quation (IQ).
Mereka menempatkan logika sebagai ilmu yang berbicara
tentang teknik berpikir benar dan valid. Dengan logika
pula, mereka mampu memilih mana yang benar-benar
tepat bagi diri dan mana yang tidak, mana yang baik bagi
perkembangan diri dan mana yang tidak—tanpa perlu
memperhatikan ajaran, petuah, atau etika yang digariskan
secara turun-temurun.

Secara khusus, ada pula yang memiliki kecerdasan
linguistik yang luar biasa. Bagi kelompok ini, bahasa
asing—baik Arab dan Inggris—bukanlah hal susah untuk
dipelajari. Mereka meramu bahasa asing dengan sangat
memikat, melebihi kami yang kendati sudah berpeluh-
peluh menghafal mufradat1 dan vocabulary2, tetap saja ter-
tatih-tatih, dan secepat kilat menggantinya dengan bahasa
Indonesia saat tak menemukan kata asing itu.

“Uridu an a’kula... angek-angek.”3 Begitu yang sering
kami lakukan, kalau tak bisa dengan cepat menemukan
mufradat bahasa Arab untuk ubi jalar yang digoreng dan
masih hangat, yang biasa kami sebut angek-angek. Namun
Zulfariadi tak akan kehilangan kata untuk itu. Ia seperti

1 Kosakata (bahasa Arab)
2 Kosakata (bahasa Inggris)
3 Aku ingin makan… angek-angek.

175

http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS

kamus berjalan, pakar nahwu-sharaf yang akan menjawab
semua kegelisahan para pemula seperti kami. Sosok seperti
itu juga ada pada Burmal, yang begitu lincah bercas-
cis-cus. Ia mengukir kalimat-kalimatnya dengan bahasa
Inggris yang very good, easy. Tanyakan saja kepadanya
padanan setiap kata, maka akan dijawabnya dengan tiga
sampai lima kata. TOEFL-nya saja sudah 500 saat masuk
MAK. Pantas saja.

Zulfariadi dan Burmal memang sosok referensi soal
dua bahasa asing itu. Keduanya merepresentasikan ke-
ahlian berbahasa yang tiada dua. Setidaknya, itulah yang
tergambar dari keduanya, saat unjuk kebolehan bersama
guru bahasa Arab dan bahasa Inggris. Selain keduanya,
Ahmad Fajar adalah sosok lain yang begitu antusias pada
bahasa asing ini. Segala cara dilakukannya, kendati bakat
alaminya tak sekuat dua orang tadi.

Di samping itu, aku juga menemukan kecerdasan
lain pada seorang anak berperawakan kecil, berwajah
bulat, dan berkening lebar. Aku melihat kecerdasan
imajinatif pada sosok Hendra. Kecerdasan Imajinatif yang
dimilikinya tergolong luar biasa. Ia pelukis alam yang
hebat, mengimajinasi setiap perkataan para guru dengan
rangkaian imajinasi dengan perspektif luar biasa. Dia
sering melukis Gunung Singgalang dari sudut Kabupaten
Agam, atau dari sudut langit Utara, Selatan, Barat, Timur.
Dia memandang Merapi dari sudut pandang pilot pesawat
antariksa, lalu melukiskannya di atas kertas. Hendra tak
sedang berangan-angan atau melamunkan sesuatu yang
tidak berguna ketika melakukan itu. Yang dilukis dalam
imajinasinya adalah mimpi dan hasrat atau imajinasi yang
ideal dalam hidupnya. Baginya, visi dan cita-cita harus

176

http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT

digambarkan dengan jelas. Setiap jam belajar, ia selalu
menyediakan sebuah kertas kosong dengan pensil hitam
di tangan. Saat guru menerangkan apa saja, tangannya
akan menari-nari di atas kanvas kecil itu, menggambar apa
yang ada di otaknya. Ketika ditanya, ia pasti dapat men-
jawab. Para guru pun akan melongo mendengar jawaban-
nya, karena persis seperti apa yang diterangkan di depan
kelas. Jadi, jangan dikira, tangannya yang menari-nari di
atas kertas itu hanya perbuatan iseng yang tak perlu, yang
menandakan pengendalinya berotak udang. Tidak, karena
di belakang tangan itu ada otak besar yang begitu brilian.

“Ini adalah cara saya belajar,” ujarnya saat kutanyakan
hobinya memain-mainkan pensil di atas kertas.

Benar saja. Hendra termasuk anak yang hanya belajar
di kelas. Lukisannya adalah kode-kode tertentu yang
akan mengingatkannya pada perkataan guru saat me-
nerangkan pelajaran. Ia cukup menatap lukisannya, lalu
tiap huruf yang keluar dari mulut sang guru akan menari-
nari di kepalanya dan masuk dalam ingatannya. Jika ia
memerlukan untuk mengeluarkannya, maka ia tinggal
memanggilnya saja, dan keluarlah pengetahuan itu lewat
mulutnya atau goresan penanya di atas kertas ulangan.
Sebuah kekuatan imajinatif yang luar biasa tentunya,
bakat alami yang tiada dua.

Pada saat yang lain, aku menemukan kecerdasan
matematis pada Azwar, kecerdasan yang menjadikannya
tertarik pada angka dan ruang. Ia memiliki kecerdasan
otak linear, sebuah kecerdasan paling primitif, yang ber-
fungsi mengontrol rasionalisme matematis untuk pen-
jumlahan, perkalian, pengurangan, dan pembagian. Ke-
cerdasannya membaca angka sungguh di luar perkiraan.

177

http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS

Ia akan selalu menghitung dan memperkirakan setiap
kondisi, keadaan, dan lingkungan, agar bisa berguna
dan bermanfaat baginya, dan kelak dapat digunakannya.
Saat melihat atau mengamati suatu objek, yang ada di
benaknya adalah angka, selain logis-tidaknya sesuatu itu.
Pada suatu pagi, kami sibuk membicarakan keindahan
panorama Singgalang yang dihiasi hijaunya sawi yang ter-
tanam dengan rapi. Di tambah lagi dengan hawa dingin
yang menyapa, memberi suasana romantis. Tapi, Azwar
malah menghitung tinggi gunung itu dari sudut ia ber-
diri, lalu mengalkulasikannya dengan beberapa rumus
ajaib buatannya sendiri. Ia juga menghitung berapa jarak
jalan lurus yang akan dapat ditempuh dengan derajat ke-
miringan Gunung Singgalang, dari titik koordinat Pasar
Koto Baru. Ia mengalkulasikan juga rata-rata kecepatan
jalan seseorang dengan kemiringan gunung, dan berapa
waktu tempuhnya.

“Tentu saja perhitungan ini tak akan pas, karena kalau
naik gunung jalannya dapat berbelok, kecepatan berubah
dan banyak gangguan teknis di lapangan. Tapi, setidak-
nya saya puas bisa menganalisa angka-angka di Gunung
Singgalang ini,” ujarnya dengan semringah.

Kendati semringah, tetap saja pembawaannya dingin,
tak menggebu-gebu. Dalam memfungsikan kecerdasannya,
Azwar punya cara yang sangat unik. Ia selalu memetakan
semua hal, semua ingatan, semua pelajaran. Pelajaran
yang paling digemarinya adalah matematika. Sebab, dari
matematikalah semua perhitungan alam didapat, dan
bisa dirumuskan dengan logika. Ia pengagum berat Al-
Khawarizmi, pencipta rumus algoritma dan aljabar itu.
Aku kagum pada ingatannya yang sangat kuat. Kadang

178

http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT

ia tak belajar sama sekali, tapi mampu menghafal tokoh-
tokoh sejarah dengan tepat, hanya dari keterangan guru
di depan kelas. Ia mampu merumuskan setiap perhitungan
matematika dengan caranya sendiri.

“Mungkin bagi orang akan rumit, tapi apa yang saya
pikirkan bisa menjadi cara tersendiri. Temukan filosofinya,
lalu buat peta lain untuk mencari jalannya. Jika sudah
jumpa, itulah cara terbaik untuk menuju rumusan tadi,”
ujar Azwar ketika kutanyakan kiatnya menghitung lebih
cepat dari rumus yang diajarkan guru.

Bagi anak tinggi kurus berpipi tirus ini, matematika
adalah permainan. Oleh karenanya, ia akan rela menghabis-
kan waktunya berlama-lama hanya untuk menuntaskan
hobinya bermain angka. Menjelaskan semua hal dengan
rumusan angka-angka. Pantas saja ia begitu mahir.

“Tapi bukan sekadar permainan, Kawan. Ada teknik-
nya.”

“Apa itu?!”
“Peta pikiran!”
“Bagaimana cara kerjanya?”
“Begini. Sebenarnya, tiap kita dianugerahi kemampuan
mengingat yang tak jauh beda. Hanya ada yang bisa
mengolahnya dengan baik dan ada yang membiarkan ke-
mampuannya begitu saja!”
Azwar memperbaiki posisi duduknya. Ia melihatku
lebih serius ketika kudatangi kamarnya pada sebuah
malam dingin yang basah. Aku penasaran sekali dengan
tekniknya.
“Terus?”
“Ya, itu tergantung kita, bagaimana mengolah ke-
mampuan itu?!”

179

http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS

“Tapi, bagaimana kalau kita tak punya kemampuan?
Saya ini pelupa, bahkan sangat pelupa! Mungkinkah bisa
diperbaiki?”

“Ya, kenapa tidak! Antum4 punya potensi. Saya kata-
kan tadi tentang peta pikiran, di sanalah kuncinya!”

“Lalu, bagaimana menerapkannya?”
“Ada dua hal, yakni dengan imajinasi dan asosiasi.
Dengan imajinasi, kita bisa mengaitkan sesuatu, misalnya
angka, benda, atau apa pun dengan hal-hal yang me-
nyenangkan. Itu akan membantu ingatan kita pada se-
suatu tersebut. Imajinasi adalah sketsa pikiran yang akan
membuat kita membayangkan hal yang mudah diingat,
indah, menyenangkan terkait dengan sesuatu yang kita
pikirkan di awal. Sedangkan dengan asosiasi, kita dapat
menghubungkan angka atau benda itu dengan sesuatu
yang lain. Ini akan menyegarkan ingatan. Misalnya ada
angka delapan. Maka ciptakan asosiasi tentang angka
delapan itu, yakni tanggal lahir Antum. Buat imajinasinya
seindah mungkin, misalnya hari saat perayaan ulang tahun.
Maka ia akan lebih lengket di kepala daripada mengingat
angkanya saja!”
“Apakah sedemikian mudahnya?”
“Sebenarnya tidak juga. Tapi juga tak terlalu sulit,
asal kita mau berlatih terus-menerus dan memetakan
semuanya. Sebab, otak kita ibarat lemari buku. Kalau kita
serakkan buku begitu saja, maka mencarinya akan sulit.
Tapi, kalau kita buat sekat-sekatnya, ada kelompok buku
matematika, kelompok buku agama, kelompok buku

4 Anda.

180

http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT

sains, sejarah, maka kita akan mudah mencarinya, secepat
kita membuka pintu lemari itu!”

“Kalau begitu, kita harus menata pikiran kita!?”
“Thab’an, ya Akhi.5 Betul sekali!”
“Mungkin, ada teknik yang lebih mudah untuk di-
terapkan?”
“Okelah. Begini saja. Sekarang saya mau tanya. Bagai-
mana Antum mengingat angka ini, 8145972!”
“Ya, langsung diingat saja. Dibaca, diresapi, lalu
diingat. Begitu!”
“Nah. Di sanalah perbedaan antara orang yang sudah
memetakan pikirannya dengan yang tidak!”
“Maksudnya?”
“Coba lihat! Rangkaian angka tadi sebenarnya sangat
indah, terdiri dari konfigurasi angka yang gampang diingat.
Semuanya berkaitan dengan angka sembilan. Delapan
plus satu, empat plus lima, sembilan, dan tujuh plus dua.
Semuanya berkaitan dengan angka sembilan. Indah bukan?
Sebenarnya begitu juga dengan angka-angka lainnya, pasti
menunjukkan sebuah konfigurasi yang bisa diasosiasikan
dan diimajinasikan. Itulah indahnya!”
Aku terkagum-kagum mendengarkan penjelasannya.
Pantas saja, matematika dan sains begitu mudah baginya.
Beragam pertanyaan lain meloncat-loncat dari kepalaku.
Tapi pertanyaan berikutnya membuatku seperti menohok
diri sendiri. Ingatanku melayang pada Perguruan Wahidin di
Bagan Siapi-api, juga rencana B-ku di SMA 1 Pekanbaru.

5 Tentu, saudaraku.

181

http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS

“Kalau Antum menyukai matematika dan sains, ya
Akhi, kenapa masuk ke MAK ini? Tidak ke SMA?” Per-
tanyaan itu tak sempat terlontar dari mulutku. Bibirku
seperti terkunci rapat untuk menyampaikannya. Otakku
melarangnya. Sebab, jawaban dari pertanyaan itu akan
menyerangku habis-habisan, menghajar kebodohanku
sendiri. Juga takdir yang tak bersahabat. Namun, Azwar
seperti mendengarnya dengan jelas sekali. Ia juga men-
jawab dengan jelas.

“Ah, tak apa-apa. Pelajaran tentang keislaman juga hal
yang paling kugemari. Aku menyukai sejarah Islam dan
pemikiran politik Islam. Semuanya sangat menarik, begitu
menantang, dan perlu diuraikan dengan penjelasan dan
alternatif lain!” Bibirnya tetap mengatup, lalu tersenyum.
Sebenarnya, jawaban itu tidak keluar dari mulutnya. Se-
baliknya, telingaku juga tak mendengar jawaban itu dari
mulutnya. Tapi hatiku mendengar dengan jelas, begitu
nyata, langsung masuk ke relung hati. Menghunjam
deras.

***

Dari anak-anak langit ini pula aku memahami bahwa
kecerdasan tak hanya melulu dikaitkan dengan otak.
Selain otak, ada juga kecerdasan otot. Mike Tyson adalah
pemilik kecerdasan otot di bidang tinju. Masternya di
bidang ini tentu The Greatest Muhammad Ali. Kalau tak
cerdas, mana mungkin ia mampu mengaplikasikan teknik
bertinju yang dibahas hingga bertahun-tahun setelah masa
kejayaannya hancur lebur dihajar parkinson, lalu terkulai
dalam lemah dan tangan bergetar. Hanya orang cerdas
yang mampu menerapkan teknik hit and run, terbang bak

182

http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT

kupu-kupu, menyengat bagai lebah, seperti berbagai aksi
di atas ring yang ditunjukkan Ali. Perhatikan bagaimana ia
menaklukkan George Foreman di Kinsasa, Zaire, begitu
cerdas, alami, dan tak ada dua. Perhatikan juga Maradona
dan Pele. Olah bolanya, tendangan pisangnya, gocek-
annya—semua memesona. Semua itu merupakan refleksi
kecerdasan. Itulah kecerdasan fisik.

Kecerdasan fisik merupakan kecerdasan artifisial,
kecerdasan yang berhubungan dengan pesona lahiriah.
Dengan kecerdasan ini, ia dapat mengaktualisasikan diri
melalui otot dan olah tubuhnya. Aku menemukan seorang
yang begitu komplet dalam kecerdasan fisiknya. Tak ada
olahraga yang dapat lepas dari tubuhnya. Burmal, dialah
sosok itu. Tinggi badan 187 sentimeter bukanlah sekadar
rangka besar yang teronggok begitu saja dengan tungkai-
tungkai panjang untuk menjangkau benda di atas lemari.
Tungkai panjang itu adalah tulang-tulang yang dibungkus
otot terlatih dengan kendali penuh dari kecerdasan
otaknya. Tak ada olahraga yang luput darinya. Ia sangat
jago bermain basket. Driblenya akurat, shootingnya bagus,
dan selalu menang dalam rebound. Dalam bermain bola
voli, kudapatkan juga bakat yang luar biasa pada dirinya.
Smasnya benar-benar tajam, keras, dan menggetarkan
nyali siapa saja yang berada di seberang net. Tak jarang
spike itu menghajar kepala lawannya, sampai terpental
jatuh berguling-guling. Kalau itu sudah terjadi, maka
mental lawan untuk bertarung tak akan tersisa, lalu de-
ngan leluasa ia akan mengontrol pertandingan, kendati
tetap dilakukan secara kolektif. Ia juga sangat piawai
bermain takraw. Smas saltonya akan menghunjam tanah
deras sekali, mematikan tiap pergerakan lawan. Permainan

183

http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS

tenis mejanya juga sangat memikat, juga brilian dalam
permainan catur. Untuk urusan tenis meja, ia hanya bisa
dikalahkan oleh Haris. Di atas papan catur, ia hanya takluk
pada Amin. Satu yang kusimak dari sosoknya adalah
kecerdasan alami yang mengombinasikan kecerdasan fisik
dan otak, gabungan yang kompleks.

Kecerdasan fisik juga kutemukan pada Chandra Bob.
Tubuh kecilnya tak menjadi penghalang baginya untuk
menjadi pemain basket yang hebat, atlet takraw yang
lincah, dan pengumpan yang andal di lapangan voli.
Anak Batu Sangkar itu begitu terampil mengolah bola.
Ia merupakan playmaker di semua bidang, pengumpan
yang baik, dan selalu respek kepada lawan dan kawan.
Satu lagi yang memiliki kecerdasan fisik luar biasa adalah
Patrick. Anak Pasaman ini juga memiliki keterampilan
yang luar biasa dalam berolahraga. Tingginya tak lebih
dariku, tapi lompatannya luar biasa tinggi. Ia spiker kedua
setelah Burmal di lapangan voli. Ia juga guard yang andal
di lapangan basket. Di lapangan takraw, kemampuannya
juga hebat, tapi masih sering jadi cadangan untuk rekan
kami yang lain.

Last but not least, yang juga mengesankan kecerdasan
fisiknya adalah Sarianto. Kendati fisiknya kurus kecil,
namun ia begitu dominan jika berada di lapangan basket.
Tangannya bagai memiliki lem saat memegang bola
basket, melakukan drible sambil meliuk-liukkan badan.
Wajahnya yang selalu semringah ketika membawa bola,
menjadikan permainan begitu hidup di hadapannya. Lay
upnya sambil berkelit, dipastikan akan berbuah angka.
Ring basket yang tinggi tak ubahnya satu jengkal dari
tangannya. Jika ia shooting, ring seakan menyesuaikan

184

http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT

tempat untuk menampung bolanya. Keahliannya bermain
takraw juga menjadikannya satu dari trio tak tertandingi
bersama Burmal dan Chandra. Hanya lapangan voli yang
membuatnya tak berminat. Entah mengapa, padahal ia
bisa.

***

185

http://facebook.com/indonesiapustaka 15

Tekad

Semakin hari, kemampuan dan kelebihan individu
anak-anak langit semakin jelas tergambar. Kini, kami
berada dalam persaingan ketat untuk membuktikan
eksistensi diri di MAK ini—baik secara terang-terangan
atau sembunyi-sembunyi. Menurut Ustadz Ismail, hanya
sepuluh orang dari kami yang akan menggetarkan dunia.
Itu kalau merujuk pada pidato Bung Karno. Dengan kata
lain, hanya sepuluh besar (the best ten) yang berhak atas
predikat itu. Beberapa teman terprovokasi oleh hasutan
penuh energi Ustadz Ismail, dan mulai membulatkan
tekadnya dalam-dalam. Tak ada yang mengatakan dengan
jelas, tapi kulihat itu dari cara mereka belajar. Aku juga
yakin, masing-masing individu telah mendapat petuah
sakti dari orangtuanya di kampung, untuk belajar lebih
giat di rantau, agar menjadi orang nantinya. Hanya de-
ngan belajar keras semuanya dapat tercapai. Aku sendiri,

http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT

yang datang setengah hati ke kawah Candradimuka ini,
mulai mendapat petuah dari Omak lewat suratnya.

“Belajarlah rajin-rajin, Nak, patuh pada guru, berbakti
pada orangtua, dan taat kepada Allah.” Pesan yang kubaca
pada tiap alinea terakhir surat Omak, sebelum ditutup de-
ngan salam. Biasanya, surat datang berbarengan dengan
wesel Rp 35 ribu untuk keperluan sehari-hari. Aku yakin,
pastilah anak-anak lain juga menerima pesan yang sama
denganku. Bisa jadi, pesannya lebih hebat dan lebih sakti
lagi. Apalagi Rasyid yang datang dari jauh di seberang
pulau sana, daerah kepulauan yang dulu mata uangnya
dalam bentuk dolar dan adatnya lebih lekat ke Negeri
Semenanjung. Pastilah nasihat dan petuah yang diterimanya
jauh lebih dahsyat. Terbukti pada pembawaannya yang
begitu tekun dalam belajar.

Dalam praktiknya, sebagian besar sobat-sobatku ini
memang menampakkan gelagat pembelajaran yang meng-
gebu-gebu. Seperti Syahid asal Medan, perwakilan dari
Sumatera Barat, menerapkan prinsip, “Man jadda wajada”,
“Siapa yang bersungguh-sungguh, pasti sukses”. Begitu
juga dengan Rasyid, Badrun, dan Syafrizal. Jalaluddin,
Mukhlasin, dan Ahmad Fajar dari Jambi juga masuk dalam
kelompok ini. Andi, Indramis, Mulyadi, Satria, Fadri, dan
Chandra dari Sumatera Barat tampak memiliki tekad yang
serupa. Mereka belajar ekstra keras untuk membuktikan
kapasitasnya sebagai anak berprestasi dari asal sekolahnya
masing-masing. Sedangkan Amin... ah, anak itu mungkin
termasuk juga.

Kata orang, belajar keras bisa dilakukan untuk meng-
imbangi otak yang kurang pintar. Tapi bisa juga tidak,
karena orang pintar pun dapat tumpul otaknya kalau tak

187

http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS

pernah diajak berpikir dan menggunakan nalarnya. Otak
sekali-kali harus diajak olahraga, minimal olahraga ringan,
seperti mengisi teka-teki silang. Aku selalu teringat ucap-
an Buya Ismail tempo hari, tentang kekuatan dan fokus.
Banyak yang memiliki kekuatan layaknya matahari,
namun gagal karena kurang fokus. Tapi tak sedikit yang
tak punya daya, kurang begitu cerdas, namun memiliki
ketekunan, fokus, lalu meraih keberhasilan dari sikap
positif itu. Seperti Thomas Alfa Edison, yang dianggap
idiot atau setidaknya bodoh oleh gurunya. Ia sempat
dikeluarkan dari sekolah, sambil mendapat cemoohan.
Berkat ketekunannya, ia berhasil menciptakan lampu
pijar, sebuah revolusi besar bagi sains dan kehidupan
umat manusia. Konon, ia baru berhasil setelah melakukan
percobaan sebanyak 9999 kali setelah 9998 percobaannya
gatot, gagal total. Bahkan, kegagalan yang biasa dialami
orang dan disikapi dengan penyesalan itu justru dimaknai
berbeda olehnya. Dia pernah berkata, “Dengan kegagalan
itu, berarti saya mengetahui ribuan cara agar lampu tidak
menyala.” Orang bisa saja menyebut perkataan itu sebagai
sebuah pendapat jenius yang keluar dari orang idiot.
Namun, suatu fakta yang tak dapat dimungkiri, dari sana-
lah revolusi sains itu berpijar, menyala, dan menerangi
dunia. Ada sebuah riwayat mengatakan, ketika Thomas
Alfa Edison meninggal dunia, lampu seluruh Amerika
dipadamkan sejenak untuk mengheningkan cipta, demi
mengenang jasa-jasanya.

Di asrama rumah sakit ini, aku menemukan banyak
sekali teknik belajar yang ditunjukkan sobat-sobatku, baik
yang berasal dari golongan brilian, maupun yang masuk
kelompok cerdas tingkatan biasa-biasa saja. Hendra dan

188

http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT

Azwar telah menunjukkan cara belajar paling unik yang
pernah kulihat. Keduanya menggunakan media sendiri
untuk mengasah ingatannya. Azwar menggunakan metode
peta pikiran (mind map) untuk mengingat seluruh pe-
lajaran yang ada—mulai dari matematika hingga sejarah,
dari IPA-kimia hingga hadis. Metodenya cukup manjur,
setidaknya ketika di kelas dia mampu menjawab per-
tanyaan para guru. Di sisi lain, Azwar memiliki kelemahan
tersendiri untuk dapat menjadi pemenang kompetisi ini.
Dia penidur. Jam tidurnya bahkan sangat cepat, matanya
menyala hanya sampai pukul 21.00 WIB. Saat orang lain
di luar sana mulai menonton “Dunia dalam Berita” di
TVRI, ketika Yan Partawijaya masih berceloteh tentang
agresi Amerika ke negara dunia ketiga, saat itulah tubuh
tingginya mulai dibuai hawa dingin Koto Baru, terlelap
dalam tidur.

Hendra beda lagi. Teknik menggambarnya menjadi
dominan dalam pembelajaran. Saat guru IPS-Geografi,
Pak Zainuddin menerangkan tentang lempeng, gempa,
dan tsunami, ia sibuk menggambar peta bumi lengkap de-
ngan lapisan tanahnya. Ia menambahkan gambar naga di
perut bumi, yang selalu bergerak dan mengeluarkan api
lewat kawah gunung. Saat pelajaran sejarah tentang Ken
Arok, Hendra menggambar keris yang lekuknya aneh, dan
ujungnya membengkok ke hulu. Keris Empu Gandring
yang sakti mandraguna menjadi unik di tangannya. Tiap
pelajaran, sketsa gambarnya pasti berbeda. Rupanya, itulah
yang ia baca saat mengulang pelajaran. Gambar-gambar
itu menjadi koleksi catatan pelajaran dan alat bantu
ingatan. Sama dengan Azwar, Hendra kurang tertarik
menghafal pelajaran layaknya para santri. Bagi mereka ber-

189


Click to View FlipBook Version