The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Anak-Anak Langit by Mohd Amin MS (z-lib.org)

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by iislatifah96, 2021-12-05 22:46:16

Anak-Anak Langit by Mohd Amin MS (z-lib.org)

Anak-Anak Langit by Mohd Amin MS (z-lib.org)

http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS

Aku benar-benar ingin bayan, sebuah penjelasan yang
benar-benar nyata dari beliau. Al-Bayan, karangan Buya
Abdul Hamid Hakim, ulama besar pemimpin Thawalib
Padang Panjang bermakna sama, penjelasan. Kami antusias
ingin belajar kitab al-Bayan, tapi bayan dari Ustadz Ismail
serasa lebih penting. Aku tak sabar dan ingin mendapatkan
penjelasan nyata dari beliau lebih dulu, sebelum berbagai
argumen dan penjelasan kitab al-Bayan yang sesungguhnya
hadir di hadapan kami. Aku ingin mendapatkan ilmu dari
al-Bayan dengan hati lapang, tidak dengan berjuta tanda
tanya yang menggantung begitu hebat di kepala.

“Kenapa anak-anak langit seperti kami ternyata
mudah terjerumus dalam dosa, Buya? Apakah ini dosa
turunan bagi kami, dari kakak-kakak kami atau dari
generasi pendahulu kami? Apakah kami masih pantas
disebut anak-anak langit!?” ujarku menyerbu tak sabar
ketika Buya Ismail baru pertama kali masuk ke kelas kami
saat turorial petang.

Buya Ismail terdiam mendengar pertanyaanku di awal
kedatangannya itu. Kening beliau berkerut, kepalanya
ditengadahkan dengan berat seperti berusaha melawan
sebuah beban yang seolah menggayut erat di salah satu
sudut kepalanya. Beliau menarik napas panjang, lalu ter-
diam kembali. Tak biasanya beliau seperti itu, setidaknya
saat beberapa jam kami bertemu dua tahun lalu, dengan
pertanyaan yang sama sulit dan kritisnya. Apakah orang
tua ini juga teringat perilaku putranya? Entahlah.

“Ini memang tantangan yang berat...!” ujar beliau
membuka kata.

Kami menunggu. Spontanitas Buya Ismail seperti
hilang. Entah karena mulai dimakan usia, atau memang

440

http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT

pertanyaan ini sangat sulit baginya. Tapi semakin berumur
tentu makin bijak pula seorang manusia. Beliau menarik
napas dalam. Matanya mengambang.

“Begini. Anda semua memang anak-anak langit, dan
tetap anak-anak langit sampai kapan pun...!”

Beliau menarik napas lagi. Kami mulai tak sabar.
Tapi Buya Ismail tetap tenang. Raut wajahnya yang teguh
mengisyaratkan ketenangannya, kendati kutangkap sedikit
gundah di sorot matanya.

“Anda semua adalah generasi anak-anak langit yang
mewarisi semua kebaikan manusia pertama—kepolosan,
akal budi, kepintaran, dan iman! Tapi ingat, dari langit,
Allah tak hanya menurunkan Nabi Adam alaihissalam.
Allah juga menurunkan Iblis. Makhluk terkutuk itulah
yang dapat mengubah manusia sesuai dengan janjinya
kepada Allah! Mereka mengibliskan manusia, memasuki
aliran darah manusia yang abai dan lalai, untuk meniupkan
pengaruhnya!”

Kami terkesiap. Penjelasan yang biasa, yang sering ku-
dengar saat khotbah Jumat, namun terasa beda saat keluar
dari mulut Buya Ismail. Anak-anak langit yang hebat
ini dapat saja seketika berubah menjadi iblis berbentuk
manusia, jika tak sanggup menghadapi godaan sang ahli
neraka.

“Tahukah Anda, sejak kapan pengaruh itu ada pada
anak langit?”

“Ya, Buya. Pada Adam sendiri!” kataku cepat.

“Benar. Adamlah yang pertama kali tergelincir karena
buah khuldi. Kesalahan pertama yang menjadi takdirnya
sebagai manusia langit yang turun ke bumi. Tapi, tak
hanya sampai di sana!”

441

http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS

Buya Ismail kembali terdiam dan menarik napas pan-
jang.

“Setelah itu, Adam bertobat, merasa telah menzalimi
dirinya sendiri, dan diampuni Allah. Ribuan tahun
Adam bertobat, berdoa seraya mengucap, ‘Rabbana
zhalamna anfusana, wa in lam taghfirlana wa tarhamna
la nakuunanna minal khasirin.’ Dan tobat beliau diterima.
Namun, generasi berikutnya melakukan kesalahan yang
sama. Anda pernah mendengar kisah Qabil dan Habil?”

Kami mengangguk.

“Qabil adalah tipe anak nabi yang membangkang.
Dialah anak langit berikutnya yang jatuh dalam pelukan
iblis. Melakukan kejahatan pertama dalam sejarah umat
manusia saat membunuh Habil saudaranya. Bahkan,
anak nabi pun tak dapat dikendalikan, seperti halnya
Nuh yang tak dapat mengendalikan anak dan istrinya!”
ujar Buya Ismail dengan nada rendah. Matanya berkaca-
kaca, terlihat seperti ada beban berat. Keningnya makin
berkerut, seumpama memikirkan benang kusut yang sulit
terurai. Pertanyaan keduaku soal orang baik yang akan
meneruskan generasi baik tak jadi kulontarkan. Beliau
telah menjawab dua pertanyaanku sekaligus. Kendati aku
tak menanyakan tentang Ramilus, tapi seolah Buya Ismail
membaca hatiku, dan dia telah menjawab pertanyaan itu
dengan lengkap. Tapi, itu telah menjadikan beban pikir-
annya bertambah berat. Sebaliknya, aku justru mendapat-
kan pencerahan yang makin berarti dari penjelasan beliau.
Aku siap menerima ilmu dari kitab al-Bayan. Hatiku telah
lega, setelah impitan beban itu diangkat Buya Ismail. Beban
itu kini beralih ke pundak beliau. Aku memandang sosok
bersahaja ini dengan rasa serba salah, antara kelegaan dan

442

http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT

kasihan. Beliau hanya tersenyum, agak getir.
“Ya, baiklah. Mari kita belajar kitab Al-Bayan,” ujar

beliau, mulai kembali tersenyum.
***

443

http://facebook.com/indonesiapustaka 38

I'tiraf

Menjadi senior di kelas tiga MAK memang beda. Ada
nuansa tersendiri yang takkan terlupa—saat euforia
tak lagi meluap-luap, tapi asa masih membubung. Terminal
terakhir ini adalah masa reda bagi gejolak remaja kami.
Seperti para pendahulu, ketika naik kelas III, kami pindah
ke Asrama Darun Najah yang romantis itu, dengan taman
dan kolam hiasnya yang indah. Kami pun sudah tumbuh
menjadi remaja yang lebih dewasa. Kumis dan jenggot
mulai mekar. Wajah-wajah anak muda makin membentuk
karakter yang kuat. Yang ganteng tambah ganteng, yang
jelek pun mulai mematut-matut diri di cermin dan me-
make-over wajah sedemikian rupa agar bisa ikut bersaing,
kendati tetap saja sulit berubah jadi ganteng. Untuk me-
nambah rasa percaya diri, maka otot pun dilatih agar
lebih kekar. Karena itu, barbel menjadi sarapan pagi tiap
hari untuk diangkat. Setelah itu, mematut-matut diri di
cermin depan asrama dengan bertelanjang dada.

http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT

Perilaku kami pun mulai menapaki tahapan stabil. Yang
terpenting, kami telah memiliki pembina asrama, Ustadz
Zaidan Lubis. Ustadz Zaidan termasuk yang paling senior
di antara para ustadz kami. Beliau yang paling paham
bagaimana membina anak-anak MAK, karena sudah ber-
ada di sekolah hebat ini sejak awal keberadaannya. Beliau
memiliki semua prasyarat untuk menjadi pembina yang
hebat, mulai dari kemampuan berbahasa Arab, hingga
kemauan untuk mendidik kami yang terlantar selama
satu setengah tahun. Perawakannya biasa, berwajah bulat,
berambut keriting, dengan kening sedikit lebar. Kendati
bermarga Lubis, Ustadz Zaidan tidaklah garang. Gaya
bicaranya tetap kalem, kendati kadang dapat juga marah.

Di asrama ini, disiplin belajar, berbahasa, dan ber-
ibadah terasa lebih kuat. Kehidupan terasa lebih berarti,
karena Ustadz Zaidan mengawasi kegiatan kami dengan
saksama. Dari bangun tidur, hingga tidur lagi. Sudah ada
yang membangunkan kami sebelum shalat Subuh. Tentu
berbeda ketika masih berada di Asrama Darul Falah yang
cenderung semaunya. Jika tak mau bangun, Ustadz Zaidan
akan menarik selimut si pemalas itu. Kalau tak bangun
juga, maka sudah ada seember air yang disiapkan, dan
percikannya akan melayang ke muka si pemalas. Setiap
pagi, setengah jam sebelum waktu subuh, Ustadz Zaidan
selalu melakukannya untuk tiap kamar. Kendati awalnya
agak kesal, namun dalam hati kami bahagia. Lama sekali
tak ada yang membangunkan kami untuk shalat Subuh
berjamaah di masjid.

Di Asrama Darun Najah ini pula, sudah ada yang
selalu mengajak berbahasa Arab dan Inggris tiap ber-
komunikasi. Tiap berjumpa beliau, Ustadz Zaidan tak

445

http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS

akan mau bercakap selain dengan dua bahasa itu. Maka,
mau tak mau, semua anggota asrama harus berbahasa Arab
atau Inggris, kendati sekadar untuk keperluan kecil saja.
Sebagian kawan yang tak terbiasa pun gelagapan. Kendati
berbahasa dengan kaidah tak tepat, campur bahasa
Indonesia, bahkan bahasa Minang, Ustadz Zaidan lebih
menghargainya daripada kami berbahasa Indonesia. Kami
pun mulai terbiasa kembali bercanda, berdebat, bahkan
marah dengan bahasa Arab. Sebuah revolusi terjadi
dengan cepat. Ustadz Zaidan pun tak sungkan menegur
kami yang sudah berbadan lebih besar darinya. Beliau juga
mengawasi semua perilaku kami, sampai yang sekecil-
kecilnya. Kendati merasa kurang nyaman, kami menikmati
saat-saat terakhir yang indah itu.

Pengawasan beliau benar-benar menyeluruh, termasuk
soal jadwal belajar. Jika jam belajar sudah tiba, Ustadz
Zaidan akan mengawasi tiap-tiap kamar dengan ketat.
Termasuklah soal jadwal menonton televisi. Televisi hitam-
putih ukuran 20 inci ini hanya boleh hidup hingga pukul
sembilan lebih tiga puluh menit, sampai batas acara “Dunia
dalam Berita” tuntas. Setelah itu, televisi yang remotenya
berubah menjadi sandal jepit ini wajib dipadamkan. Ustadz
Zaidan akan mengawasi ini dengan sangat ketat.

Sebenarnya, soal remote sandal jepit ini punya cerita
tersendiri. Secara fisik, televisi tua peninggalan zaman
antah berantah ini sudah tak layak pakai, bakal tak bisa
nyala, dan segera digudangkan. Dia menjalani hari-hari
bak kerakap tumbuh di batu, hidup segan mati tak mau
alias la yamutu wala yahya, jadi tak bermutu karena tak
ada biaya. Tapi, berkat keahlian elektronik beberapa kawan
yang mengutak-atik, televisi legendaris ini masih sempat

446

http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT

bertahan. Namun entah mengapa, setelah masuk bengkel
reparasi yang tak profesional itu, ulah televisi bertambah.
Tiap sepuluh menit ia akan mati, dan harus diketok dulu
untuk menyalakannya kembali. Sebagian kawan yang
tak sabar menjadikan sandal untuk melemparnya. Ajaib.
Sandal-sandal itu berhasil menghidupkan televisi kembali.
Sejak itu, tiap menonton televisi, sandal-sandal selalu di-
siapkan, dan kawan-kawan akan berebut melemparkan
benda itu ke arah televisi malang tiap sepuluh menit.

Soal sandal dan televisi hanya sedikit romantisme
kami di Asrama Darun Najah ini. Yang lebih hebat adalah
kelakuan kami yang nyaris tak berubah, walaupun umur
sudah beranjak dewasa dan Ustadz Zaidan sudah mem-
berikan perhatian dan pengawasan dengan ketat. Rupanya,
lama terbiar telah menjadikan anak-anak ini lupa aturan,
akhlak, dan perilaku Islami. Salah satu yang fenomenal
adalah soal majalah remaja. Mungkin, bagi remaja di luar
sana, membaca majalah remaja seperti Hai, Gadis, Aneka,
atau apalah namanya, akan biasa saja. Tapi di asrama
tempat calon-calon ulama dan pemimpin negeri, mem-
baca majalah seperti itu hukumnya makruh, bahkan dapat
menuju haram. Tapi, semuanya seolah menjadi boleh jika
tak ketahuan.

Pada suatu malam yang basah di kamar tiga, komplotan
itu pun memulai aksi mereka. Beberapa anak berkumpul
mengerubung majalah Gadis terbaru di Sabtu malam Ahad,
hari libur nasional kami, tanpa pengawasan Ustad. Rubrik
yang digemari waktu itu adalah pemilihan cover majalah.
Maka tema yang diangkat para remaja puber dalam per-
bincangan malam adalah tentang siapa yang paling cantik di
antara 20 remaja putri yang foto close up-nya terpampang

447

http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS

di sana. Terjadi perdebatan panas di kalangan calon ulama.
Semua beda pendapat, mengunggulkan kandidatnya. Ada
yang menilai keindahan mata gadis pujaan, ada yang me-
lihat hidung bangirnya, atau bibir sensualnya. Ada yang
melihat kulitnya yang putih bersinar dan sangat halus bagai
jalan aspal hotmix. Tak sedikit yang mengagumi rambutnya
yang bak mayang terurai. Yang lain tak kurang menilai
kombinasi dan keharmonisan wajah-wajah itu.

“Iko rancak woi!”
“Yang ini manis, ya?”
“Ah, yang ini lebih cantik. Yang itu sih kampungan!”
“Ini yang lawa1. Bedelau. Ck ck ck, amboi!”
“Ahai, amoy ini lebih cantik lho, oriental coy!”
“Yang ini yang paling yahud. Blasteran Sunda dan
Jerman!”
“Kalau menurutku, yang sudut itu yang paling ayu.
Wajahnya anggun, penuh pesona, asli Indonesia, namun
mengalahkan semua. Tiada dua!”
“Hm, cantik-cantik kentutnya bau juga 'kan!?”
Gerombolan itu terkejut. Ada yang berkata tidak sopan
di antara komentar-komentar indah. Sebuah komentar
paling tak sedap didengar, merusak suasana dan konsentrasi.
Komentar yang terakhir itu bukan tentang siapa yang ter-
manis dan tercantik, tapi gangguan serius pada pemandang-
an serba manis itu. Pandangan protes langsung mengarah
ke sosok yang berbicara tiba-tiba. Kurang ajar betul agaknya
anak satu ini!

1 Lawa, berarti cantik (bahasa Melayu)

448

http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT

“Hey, siapa sih yang sok tahu ini!”
Seseorang angkat bicara tanpa menoleh. Tapi suara
protes itu seakan hilang ditelan malam. Tak hanya si
tukang protes, tapi semua pemilik kepala di sana. Semua-
nya mendadak mau pingsan. Ustadz Zaidan sudah berdiri
di antara para berandal. Di Sabtu malam Ahad seperti
ini—tidak seperti biasa—Ustadz Zaidan ternyata masih
di asrama.
“Eh, Us... Ustad...!” Burmal yang menjadi sponsor
acara gelagapan. Begitu juga beberapa komplotan lainnya.
Chandra, Patrick, Satria, Zulhuda, Haris, Iwan, Barmawi,
dan Jundi tak dapat menyembunyikan wajahnya. Mereka
tertangkap basah telah melakukan tindakan di luar disiplin
seorang calon ulama.
“Afwan, Ustad. Afwan, ashif Ustad...!”2
“Mar’ah jamilah, na’am? Aina!?”3
“Laa, Ustad. Afwan!”4
Burmal sebagai penanggung jawab kegiatan tersipu.
Yang lain tertunduk. Banyak yang cengengesan. Kami
yang tahu belakangan peristiwa yang menggegerkan itu
hanya terkekeh dari luar kamar tersebut. Sebagian pria
yang tertangkap basah mengacungkan tinjunya kepada
kami di luar. Setelah itu, mereka tertunduk menatap
lantai di depan pembina kami. Mereka tertangkap basah,
yumsak mablul, tak dapat berkata-kata lagi. Tak dapat ber-
sembunyi, dan harus siap menerima sanksi. Tapi, Ustadz

2 “Maaf, Ustad!”
3 ”Perempuan cantik ya? Mana?”
4 “Tidak, Ustad. Maaf!

449

http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS

Zaidan tak memberikan hukuman berat yang berlebihan.
Beliau hanya menyita majalah itu, memanggil mereka dan
memberikan nasihat. Hanya itu. Yang paling panjang men-
dapat nasihat Ustadz Zaidan adalah Burmal. Sebab dia kini
dipercaya sebagai ketua asrama. Seharusnya sebagai ketua
asrama, dia memberi contoh yang baik kepada kawan-
kawan lainnya. Eh, malah dia yang menjadi sponsor acara.
Majalah itu ternyata miliknya, yang dibeli di Bukit Tinggi.
Dia pun hanya dapat tertunduk dalam, ketika menjadi
yang terakhir keluar dari kamar kerja Ustadz Zaidan.

Di lain hari, kenakalan terorganisir yang dilakukan
kelompok ini adalah menghilangkan ubi jalar di depan
asrama. Siapa pun tahu, yang menanam ubi jalar itu adalah
Ustadz Zaidan. Kenyataannya, siapa yang memanen?
Bukan beliau, melainkan beberapa oknum di antara kami.
Tak usahlah kusebut nama-nama terdakwa ini, Sobat.
Sebab, yang dilakukan kali ini adalah kreativitas lain yang
tak pantas ditiru oleh para calon ulama. Apalagi membantu
memanen hasil pertanian ustadz sendiri, sebuah kejahatan
tak termaafkan. Jika dikembalikan kepada pemiliknya,
tentu tak masalah. Namun, kalau dibakar dan dimakan
sendiri, ia jadi hal yang tak pantas dilakukan calon ustadz
seperti kami.

Sebenarnya, ada aksi penyamaran yang dilakukan.
Usai ubi jalar itu dipanen, sisa rambat dan daun ubi jalar
itu ditanam kembali dengan ubi yang tak ada lagi. Tentu
saja tak lama kemudian tanaman ini akan mati. Para
berandal ini menyangka aksi tersebut tak akan ketahuan.
Bisa jadi pencurinya adalah warga Koto Baru yang lewat
atau anak-anak nakal lain dari luar sana. Namun hebatnya,
Ustadz Zaidan tahu persis siapa saja pelakunya. Anak-

450

http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT

anak asrama juga. Mereka pun dipanggil satu per satu
untuk diberi nasihat dan pengarahan. Entah diikhlaskan
atau tidak, aku tak tahu.

Kenakalan warisan lain dari Asrama Darul Falah
adalah soal disiplin belajar masuk kelas yang tak tentu.
Beberapa kawan kerap tak masuk kelas dan tutorial sore,
tanpa alasan yang jelas. Urusan ini Ustadz Zaidan juga
tahu dan memanggil para tersangka ke kamar kerjanya.
Kejahatan yang agak berat adalah soal merokok. Dan
entah mengapa, Ustadz Zaidan juga tahu persis siapa-siapa
pelakunya, lalu memanggil mereka ke kamar kerjanya
yang mendadak jadi angker bagi kami.

Kami mulai menganggap Ustadz Zaidan memiliki
kesaktian tersendiri, sehingga dapat mengetahui segala
hal yang ada di asrama. Beberapa orang yang ‘alim dan
‘abid memang dapat saja diberikan Allah anugerah berupa
karamah. Antara lain mengetahui apa yang tak diketahui
manusia biasa. Semacam wali-wali Allah yang diberi
anugerah. Kami makin menyegani pembina asrama yang
satu ini. Kami seolah berada dalam pengawasan beliau 24
jam, termasuk di hari Sabtu. Sebagian besar kejahatan yang
dilakukan memang terjadi pada hari Sabtu, saat Ustadz
Zaidan tak mengajar dan balik ke rumahnya di Padang.
Istri dan anak beliau memang tinggal di Padang, sehingga
sekali sepekan, Sabtu-Ahad, beliau ke Padang. Sehari-hari,
beliau hanya di asrama kami dari Senin hingga Jumat.
Kendati demikian, apa yang terjadi pada Sabtu-Ahad di
asrama, beliau tahu persis, seperti kasus penangkapan saat
pemilihan cover girls malam itu.

Melihat gelagat yang terjadi, kami merasa benar-benar
tak leluasa lagi berbuat onar dan kenakalan. Kami seolah

451

http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS

terus diawasi. Ini mirip dengan para ulama zaman dulu
yang mengajarkan mengaji di surau. Jika sang ulama ada
keperluan sebentar, dia cukup meninggalkan kopiahnya
saja. Maka anak-anak pun akan diam, tak berani berbuat
nakal dan aneh-aneh, takut pada kopiah yang menjadi
representasi dirinya. Kami melihat itu dari keahlian Ustadz
Zaidan membaca perilaku dan semua ulah kami.

Kesaktian Ustadz Zaidan mulai kondang ke mana-
mana. Namun, anak-anak cerdas seperti kami tak mudah
terjebak begitu saja. Pikiran logis sebagian kami mulai
mencari-cari, apa sebenarnya yang terjadi, sehingga
Ustadz Zaidan paham betul kejadian di asrama, kendati
beliau tak ada. Kami mulai saling curiga antar-sesama.
Jangan-jangan ada yang menjadi intelnya Ustadz Zaidan
di asrama ini. Saat kami kelas dua, sistem ini memang
diterapkan untuk mendisiplinkan bahasa. Ada jawasis5
yang mengawasi, agar hanya bahasa Arab dan Inggris saja
yang dipakai penghuni asrama. Tapi jawasis yang dibentuk
Ikas MAK dan berkeliaran keliling asrama ini tak begitu
efektif. Para jasus atau intel Melayu terhebat pun sering
ditertawakan, karena hanya dapat memberikan sanksi
nasihat. Tak lebih. Yang kami terapkan tetap saja bahasa
Minang, bukan bahasa Arab apalagi Inggris.

Kini, timbul rasa curiga, ada di antara kami yang
menjadi jasus Ustadz Zaidan. Tapi siapa pengkhianat
itu? Mengapa dia mau bekerja dengan Ustadz Zaidan?
Beberapa orang di antara pelaku kejahatan yang kurang
senang dilaporkan segera membentuk panitia khusus alias
Pansus. Pansus yang beranggota lima orang ini dipimpin

5 Jamak dari Jasus. Artinya, mata-mata atau intel

452

http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT

Suhadi, anggota paling senior di antara kami. Tugasnya
mencari tahu siapa sebenarnya jasus Ustadz Zaidan. Be-
berapa nama diinventarisir. Ada beberapa orang yang di-
anggap dekat dengan Ustadz Zaidan, di antaranya Syahid,
Rasyid, dan Andi. Kecurigaan mengarah kepada mereka.
Ada juga beberapa nama lain seperti Satria, Arif, Zulhuda,
dan Toni. Mereka kerap keluar-masuk kamar kerja Ustadz
Zaidan tanpa melakukan kesalahan berarti. Dicurigai te-
ngah melapor. Aku juga masuk daftar yang dicurigai,
karena pernah menghadap Ustadz Zaidan di kantor majelis
guru, dan terlihat oleh salah seorang anggota Pansus.

Pansus yang diketuai Suhadi pun mulai bekerja.
Semua informasi digali, tentang kemungkinan karamah
Ustadz Zaidan, adanya kamera pemantau, hingga jasus
yang bekerja untuk beliau. Tujuannya, agar semuanya
jelas, sehingga tak ada saling curiga lagi. Sebagai ketua
asrama dan yang pernah dipanggil Ustadz Zaidan, Burmal
tentu mendukung penuh upaya yang dilakukan Suhadi
dan timnya. Maka, segala permintaan tim untuk me-
nyelidiki dan menginterogasi banyak orang dikabulkan.
Termasuk logistik dan apa saja yang diminta tim. Burmal
yang membiayai semua operasi kontra-intelijen ini. Aku
termasuk yang diinterogasi mengenai berbagai pertemuan
yang dilakukan, materinya, serta motifnya, termasuk juga
soal alibi ketika menolak tuduhan itu. Tim ini memang
bekerja sangat keras, disiplin dan detail. Mereka tampak
bekerja sangat profesional. Setelah bekerja selama dua
pekan, Pansus kemudian menarik kesimpulan penting.
Namun, kesimpulan itu tak bisa diumumkan begitu saja,
karena Pansus ingin membukanya dalam sebuah rapat
umum.

453

http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS

Akhirnya, pada suatu Sabtu malam, ketika Ustadz
Zaidan benar-benar sedang ke Padang, kami menggelar
rapat paripurna. Tak boleh ada yang keluar malam itu,
demi mendengarkan kesimpulan hasil kerja Pansus. Ter-
masuk para terduga jasus dan apa yang akan diputuskan
bagi mereka. Nasib para terduga, termasuk aku, akan di-
tentukan dalam rapat ini.

“Berdasarkan hasil kerja Pansus, maka kami menyimpul-
kan Ustadz Zaidan memang memiliki jasus di antara kita!”
ujar Suhadi penuh retorika. Tatapan matanya ke semua
sudut penuh kemenangan.

Kami saling bertanya. Siapakah gerangan pengkhianat
itu?

“Siapa orangnya?” tanya Indramis tak sabar. Kumisnya
yang mulai lebat sampai melenting-lenting. Belakangan ia
bahkan diberi gelar Sunguik alias Si Kumis, karena rambut-
rambut di atas bibir itu dibiarkannya bersemi lebat sekali
nyaris seperti Pak Raden dalam serial Si Unyil. Luar biasa
garangnya kumis si Indramis ini.

“Tenanglah dulu, Kawan! Ketua Pansus belum
selesai!” ujar Suhadi kembali beretorika. Dia memegang
kepalanya yang licin bak profesor.

“Cepatlah. Siapa orangnya!?” tanya Adamrino pula.
Suaranya menggelegar memecah malam.

“Hm, baiklah kalau itu maunya hadirin sekalian.
Nah, itu orangnya!” ujar Suhadi menunjuk ke satu sosok
yang sejak tadi hanya tertunduk kaku. Yang ditunjuk ter-
peranjat, kemudian melakukan bantahan dan protes.

“Kok, saya?” tanya Toni. Dia seperti tak terima telah
dituduh Pansus melakukan gerakan spionase terhadap
sesama.

454

http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT

“Jelaskan, War!” pinta Suhadi pada anggota timnya,
Azwar.

“Oke, Bos! Berdasarkan hasil wawancara dan
investigasi kami, Toni yang paling sering ke kamar Ustadz
Zaidan. Kami sudah pernah menanyakan kepadanya, tapi
dia membantah. Tapi kami punya bukti lain!”

“Apa itu, War!” Haris menyambar.
“Toni pernah ketahuan merokok di kamar mandi!”
“Tapi itu tak membuktikan apa-apa!? Ini fitnah!” ujar
Toni.
“Itu fakta yang menjadikannya dapat ditekan Ustadz
Zaidan!”
“Tidak. Itu fitnah!”
“Ada satu lagi. Yang tahu saya tak masuk tutor tafsir
petang itu karena ke Bukit Tinggi hanya Toni. Yang tahu
Indramis mulai merokok juga hanya Toni. Informasi
tentang ubi jalar itu hanya beberapa orang. Dan Toni juga
di sana. Hanya dia yang tak ikut menikmati. Yang lain ikut
membakar ubi jalar dan makan. Jadi pasti kena getahnya.
Mereka telah kami telusuri dan clear. Hanya Toni yang
meragukan. Kesimpulan kami, dia pelakunya! Takkan ada
orang lain!”
Toni terdesak. Semua mata mengarah padanya. Mata-
mata yang telah menghukum dengan pandangan paling
sadis. Dia tak sanggup menatap kami, apalagi orang-orang
yang pernah dilaporkannya.
“Okelah. Saya mengaku! Tapi, semua saya lakukan
demi kebaikan kita. Apa itu salah?”
“Jelas salah! Itu namanya pengkhianatan. Tidak
solider! Dasar!”
“Betul. Tak setia kawan!’

455

http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS

“Tak senasib sepenanggungan!”
“Tapi kawan-kawan. Ini demi kebaikan kita!” ujar
Toni berusaha membela diri.
“Kebaikan kita atau kebaikanmu?” tanya Suhadi lagi.
“Kita tentu termasuk saya!” ujar Toni.
“Tidak. Ini pasti hanya untuk kebaikanmu saja. Ya,
'kan? Mengaku saja!” cecar Suhadi.
“Kami masih punya bukti lain yang otentik!” tambah
Azwar.
“Sebelum kami telanjangi semua, tolong sampaikan
apa motif semua ini! Sampaikan sejelas-jelasnya. Mungkin
kami bisa mempertimbangkan!” tambah anggota Pansus
lainnya, Hendra.
“Oke, oke, baiklah. Saya akan buka semuanya...
Mmm, saya memang pernah tertangkap saat merokok.
Ustadz Zaidan mengancam. Saya takut sekali dikeluarkan
dari sekolah ini, berpisah dengan kawan-kawan semua.
Maka, terjadilah semuanya...,” ujar Toni tertunduk lesu.
Matanya berkaca-kaca. Wajahnya terlihat pasrah.
“Ooo, begitu ya!”
Kami bergumam. Semua menarik kesimpulan sendiri-
sendiri yang mungkin saja berbeda antara satu dengan
yang lainnya.
“Lalu bagaimana?” tanya Burmal.
“Dia pantas dihukum,” seru Barmawi.
“Sanksi sosial yang keras!” tambah Iwan.
“Sanksi yang paling kejam!” tambah Bani pula.
“Tenang, kawan-kawan. Kita berkumpul di sini
untuk mencari solusi. Kita ingin mengurai benang kusut
yang terjadi. Jadi, jangan sampai solusi yang akan kita

456

http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT

pecahkan justru kontraproduktif! Kita harus tetap menjaga
ukhuwah!” ujar Andi berwibawa.

“Lalu apa?”

“Begini saja. Bagaimana kalau persoalan ini kita
anggap selesai. I’tiraf dari Toni sudah cukup. Pengakuan
dan rasa penyesalannya dapat kita maklumi, karena kondisi
darurat! Bukankah ad-dharurah tubih al-mahdzurah,
kondisi darurat membolehkan yang dianggap buruk?”
ujar Rasyid coba memberi solusi.

“Ya, saya setuju. Kita maafkan saja Toni, lalu kita
minta dia berhenti melakukan semua tindakan intelijen
itu. Kita harus kompak walaupun akan berhadapan
dengan Ustadz Zaidan!” ujar Haris.

“Oke, baiklah. Mungkin itu bisa jadi solusi. Atau ada
pendapat lain?” tanya Burmal.

Tak ada suara. Solusi yang dilontarkan Rasyid seperti-
nya cukup brilian, sehingga semua memaklumi. Toni kami
kenal bukan kawan yang oportunis. Makanya, ketika dia
melakukan suatu kesalahan, kawan-kawan dapat cepat
memaafkan. Kami tak mempermasalahkannya terlalu jauh,
setelah tahu motifnya. Dia hanya terpaksa melakukan itu
untuk menutupi kesalahannya. Kami juga memahami
bahwa Ustadz Zaidan menggunakan Toni adalah agar
kami dapat berubah. Tapi, perubahan itu begitu sulit
terjadi ketika kondisi kami sudah benar-benar parah.

“Oke... Kalau tak ada. Rapat kita tutup saja...!” ujar
Burmal lagi.

“Tunggu dulu...!”

Semua menatap pada asal suara. Kali ini Satria yang
melontarkan kata. Wajah putih dan unik ala Chow Yun Fat-
nya menyeringai. Sebuah misteri besar akan terungkap.

457

http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS

“Saya juga ingin membuat pengakuan!”

“Pengakuan? Ya, silakanlah. Kalau perlu, pertemuan
ini kita jadikan sarana untuk mengaku, curhat, dan saling
berbagi!” seru Burmal sok berwibawa.

“Oke. Saya ingin mengaku soal pocong saat kelas
satu!”

“Pocong?!” semua berteriak tertahan. Memori langsung
terlempar ke masa lalu, sekitar delapan belas bulan sebelum
ini. Kami pun mengarahkan pandangan ke tembok di
kontur tanah tinggi tempat asrama kelas satu itu. Hanya
tembok tebal yang diguyur cahaya rembulan. Dari sela-sela
jendela kaca ruang pertemuan itu, tembok tersebut masih
terlihat kokoh. Di sanalah momen pocong itu terjadi. Di
balik tembok itu pula, dua kuburan masih teronggok kaku.

“Ya, soal pocong itu...!”

“Kenapa?” tanya sang korban penampakan, Syarifuddin,
tak sabar.

“Pocong itu... palsu! Itu saya!”

Semua terperangah. Syarifuddin yang paling shock.
Dia tak percaya begitu saja.

“Bagaimana mungkin. Begitu putih, jalannya juga se-
perti angin!”

“Ya dengan sedikit bedak dan jalan pocong!” ujar
Satria menjelaskan.

Dia kemudian menjelaskan semua rencana itu. Sebuah
rencana yang matang dengan partnernya, Zulhuda. Aktor
intelektual lainnya adalah Hendra. Dialah biang kerok
dari kasus pocong yang menggetarkan jagat persilatan itu.
Rencana yang sempurna dan rahasia yang tiada dua. Kain
pocong diambil dari sprei kamar yang putih. Sedangkan

458

http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT

bedak dibeli dari toko Pak Jalil. Awalnya, kata Satria, dia
ingin menakuti Burmal yang tinggi besar. Konon, lelaki
ini hanya badannya yang besar, tapi mentalnya kerdil.
Kabarnya dia penakut luar biasa, paranoid sejati.

“Tapi yang keluar Syarifuddin, dia yang kena!” ujar
Satria.

“Uh, dasar kalian!”

Lalu segulung kertas pun melayang ke arah lelaki
itu. Berasal dari Syarifuddin yang kesal. Kemudian dia
tertawa. Kami pun terkekeh mendengar cerita Satria. Aku
percaya seratus persen, karena Satria benar-benar men-
ceritakannya dengan tulus. Kurasa yang lain juga.

“Jadi, kalau ada yang masih percaya ada hantu, nikmati-
lah kepercayaan itu,” ujar Satria sambil tersenyum.

Kami mengangguk.

“Kecuali...!”

“Kecuali apa?”

“Jin! Makhluk-makhluk itu.... Ah, sudahlah...!”

Satria memandang nanar. Matanya tak mengarah
ke mana pun, menatap kosong, seolah ada penyesalan
yang dalam. Malam itu menjadi malam pengakuan yang
sempurna. Kami memaafkan Toni dan menyalaminya.
Kami bahkan memeluknya. Dia juga berjanji tak akan
melakukan itu lagi. Dia mengambil risiko dihukum berat
Ustadz Zaidan, karena membuka rahasia dan enggan
menjalankan tugas intelijen lagi. Dia berjanji, apa pun
risiko akan ditanggungnya, kendati risiko terbesar itu
dikeluarkan dari sekolah hebat ini. Kami juga menjabat
tangan Satria, partnernya Zulhuda, dan Hendra si otak
perencana pocong. Sebuah rahasia besar telah terungkap.

459

http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS

Saat bersalaman dengan Zulhuda, dia membisikkan se-
suatu kepadaku.

“Muh, sini sebentar. Ada rahasia juga yang mau aku
sampaikan!” ujarnya sambil menarik tanganku menjauh
dari keramaian.

Aku memandangnya heran.
“Rahasia?”
“Ya. Tentang Najwa!”
“Najwa?”
“Ya!”
“Ada apa?”
“Itu, anuu. Itu... Sebelumnya maafkan aku ya!”
“Kenapa?”
“Soalnya, semua tentang Najwa itu juga palsu. Aku
yang merekayasa semua. Aku yang mengirim salam, mem-
bayar angek-angek Mbak Karti, menulis pesan untuk rajin
belajar. Aku kenal dengannya. Makanya, sore itu dia
tersenyum pada kita. Bukan padamu, tapi padaku. Aku
melarangmu untuk mengambil edelweis di Singgalang,
karena takut kamu makin kecewa nantinya. Soalnya, ini
pepesan kosong saja. Ini bagian dari permainan. Semua
rekayasa, Muh!”
“Ja... jadi!?”
“Ya... Semuanya rekayasa. Tak ada salam, tak ada
cinta!”
“Zulhudaaaaaa! Dasar biang kerok!”
Kulemparkan sandal jepit yang kupakai ke arahnya.
Dia lari terbirit-birit sambil terkekeh. Sandal itu luput.
Aku bingung harus bersikap bagaimana. Sepanjang malam

460

http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT

aku hanya dapat tersenyum. Cinta memang punya energi,
dan aku membuktikannya, walaupun akhirnya kutahu,
semuanya semu. Aku tak tahu harus marah atau berterima
kasih pada Zulhuda. Yang jelas, sepanjang malam itu aku
hanya tersenyum, sesekali tertawa sendiri. Nyaris gila.

***

461

http://facebook.com/indonesiapustaka 39

All MAK Final

Sejak dulu, aku menyukai otodidak. Belajar sendiri dan
menguasai banyak hal dengan mencoba rumus ciptaan
pribadi memang melelahkan. Tapi hasilnya, akan me-
muaskan jiwa. Kendati demikian, tentu saja otodidak tak
akan mampu mengalahkan kecepatan belajar terstruktur
yang telah melewati berbagai eksperimen dari orang-
orang terpelajar sebelumnya. Rumusnya sudah paten dan
mudah diterapkan. Berbeda dengan otodidak, rumusnya
harus dicari sendiri dengan teknik trial and error, lebih
banyak error-nya. Apa pun itu, aku tetap suka otodidak.

Ternyata aku tak sendiri. Beberapa kawan juga meng-
gemarinya. Ahmad Fajar salah satunya. Dia sangat tekun ber-
otodidak. Dia menyukai bahasa Inggris seperti menyukai
kekasih. Semua buku asing habis dilahapnya. Setiap orang
diajak bercas-cis-cus, conversation. Bahkan, belakangan
dia belajar dengan menggunakan guru dari udara. Sebuah

http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT

kursus telah tercipta lewat jasa pos, dan tiap pekan buku
tipis bahasa Inggris itu melayang ke kamarnya. Perlahan
namun pasti, ketekunan itu telah menjadikannya master
baru dalam English speaking. Dia juga sangat tekun belajar
bahasa Arab. Dua bahasa itu, kelak mengantarkannya
melanglang buana ke belahan dunia lain.

Rasyid juga penyuka otodidak. Dia adalah hafidz al-
Quran. Tak banyak guru yang bisa ditanyakan tentang tafsir.
Untuk itu, belajar otodidak adalah jawaban. Bukankah
buku dan kitab bertebaran menunggu dibaca? Bani adalah
otodidak lain di bidang seni suara, seperti halnya Rinaldi
yang tekun mengembangkan seni musiknya. Satria kian
hebat berotodidak di bidang kaligrafi. Tangannya makin
terasah menggoreskan tinta di atas kanvas menuliskan
keindahan kalimat ilahi. Sementara Andi, makin piawai
pula berorasi. Malam-malam yang dingin adalah tempat
wajahnya beradu muka dengan cermin, untuk mengasah
kemampuan pidato dan orasinya.

Aku termasuk salah seorang yang berotodidak di
bidang seni baca al-Quran. Bagiku, al-Quran itu indah luar
biasa, dan suaraku lumayan merdu untuk melantunkan
ayat-ayat dengan nada khas Timur Tengah. Guru pertama-
ku adalah Muammar ZA. Tentu aku tak berguru langsung
padanya. Kutemukan benda ajaib yang bisa memperdengar-
kan Muammar melantunkan ayat-ayat suci itu di salah
satu toko kitab di Bukit Tinggi. Berbekal sebuah kaset,
aku resmi menjadi murid Muammar. Aku tirukan semua
bacaan Muammar, termasuk tilawah-tilawah yang agak
asing terdengar, karena menggunakan tilawah selain dari
Imam Hafsh.

Dulu, ketika masih duduk di kelas satu, aku sering
ingin menanyakan banyak hal kepada beberapa qari’

463

http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS

kelas tiga, misalnya Kak Rial Fuadi atau Kak Arif. Juga
Kak Saiful Anwar di kelas dua. Aku segan pada mereka,
sehingga hanya sekali saja niat itu terlaksana. Sisanya,
aku menyibukkan diri dengan belajar kepada Muammar,
mendengar suaranya, lalu mencermati dan meniru-
kannya. Aku mulai mengenal semua jenis lagu, dari
bayyati hingga jiharkah. Delapan lagu dengan cabang-
cabangnya, termasuk berbagai variasinya yang unik telah
kukuasai. Semua cabang dan variasi tersebut merupakan
kombinasi dari senandung Timur Tengah—mulai Mesir,
Turki, hingga Hadramaut. Termasuk sedikit improvisasi
dari pelantun legendaris asal Mesir, Ummi Kaltsum, juga
mampu kukuasai.

Selama dua tahun belajar, kemampuanku bisa dikata-
kan maju pesat, melompat drastis, dari nol menuju seratus,
from zero to hero. Ternyata, otodidak yang ditekuni dengan
serius tak akan kalah dengan belajar pada guru, bahkan
sekolah formal sekali pun. Buya Hamka dan Thomas Alfa
Edison telah membuktikan itu. Kenapa aku tidak?

Memang, aku tak memiliki pretensi apa-apa di bidang
tilawah al-Quran. Aku hanya ingin memahami semua
seluk-beluk al-Quran, terutama keindahannya, karena
salah satu i’jaz1 al-Quran adalah soal keindahan itu,
nilai sastrawinya. Aku menyukai berbagai langgam cara
bacanya, seni membacanya, juga aspek-aspek lain yang
berkaitan dengan keindahannya. Secara alami, hanya itu
keinginanku, ketika mempelajari dan menekuni tilawah
mujawwad al-Quran. Ternyata, kemampuanku menarik
minat Burmal saat kami sudah duduk di kelas tiga.

1 Mukjizat.

464

http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT

“Ikut TC, mau ndak, Muh?” ujarnya suatu hari.

“Untuk apa?”

“Ikut MTQ! Untuk fahmil Qur’an dari Kabupaten
Pesisir Selatan masih kurang orang di bidang seni baca al-
Quran. Ada rekan, tapi kemampuannya masih di bawah
rata-rata. Kamu bisa ikut TC, dan kalau terpilih nanti kita
sama-sama!”

TC atau Training Center adalah pemusatan latihan
menjelang pelaksanaan Musabaqah Tilawatil Quran. TC
sekaligus sarana untuk penyaringan bagi calon peserta
MTQ yang dinyatakan layak. Waktu itu, aku menjawab
sekenanya saja, karena menganggap ajakan Burmal tak
serius. Apalagi aku bukan penduduk Sumatera Barat, tak
punya KTP daerah ini. Kemudian, Burmal menghubungiku
kembali.

“Ini serius. Ikutlah TC itu. Mudah-mudahan lulus,
dan kita bisa bersama-sama,” ujarnya.

Akhirnya, aku berangkat ke Kabupaten Pesisir Selatan,
mengikuti TC untuk tilawah dan Fahmil Qur’an. Ke-
mampuan tilawahku dinilai belum setara dengan para qari’
lain, maklum otodidak, sehingga masih kaku. Namun,
pemahamanku tentang nada tilawah mujawwad, analisa
terhadap semua cabang lagu, dan kecepatanku menjawab
pertanyaan, membuat tim penguji kagum. Kemampuan
akademikku juga jadi perhatian. Akhirnya, aku terpilih
menjadi salah satu dari tiga orang tim Fahmil Qur’an dari
kabupaten ini.

Hanya berselang tiga pekan setelah TC itu, kami
mengikuti MTQ tingkat Provinsi Sumatera Barat di Bukit
Tinggi. Aku tidak terlalu kaget ketika berada di Bukit
Tinggi, kami yang selama ini satu asrama, dan meng-

465

http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS

anggap kemampuan sesama teman biasa-biasa saja, ter-
nyata tidak bagi orang lain. Kami tetaplah sekelompok
anak-anak berbakat yang dapat diandalkan, dicari, dan
ditemukan. Para utusan kabupaten tetap menjadi andalan
bagi daerahnya. Meski tidak kaget, kurasakan getaran
yang hebat, ketika menemukan sobat-sobat istimewaku
itu berjajar di antara peserta musabaqah.

Aku tersenyum sendiri. Setelah mengingat kembali
masa-masa kelam yang terjadi pada kami, rasa-rasanya
ini tak mungkin. Aku menemukan Satria yang menjadi
kaligrafer dari Kabupaten Tanah Datar. Chandra dan
Mulyadi menjadi peserta Fahmil Qur’an dari kabupaten
yang sama. Andi dan Hendra menjadi peserta Fahmil
Qur’an dari Padang Panjang. Peserta lain dari cabang ini
adalah Fadri dan Mardi dari Padang, Azwar dan Suhadi
dari Agam, Mursalin dan Tarmizi dari Bukit Tinggi,
Zulfariadi dari Solok, dan Burmal dari Pesisir Selatan. Ada
juga beberapa peserta yang diperbantukan, karena bukan
asli putra daerah, seperti aku yang mengikuti Fahmil
Qur’an mewakili Kabupaten Pesisir Selatan, Rasyid yang
mengikuti cabang tafsir dari Padang Panjang, Syahid
di bidang tafsir dari Bukit Tinggi, dan Syafrizal bidang
Fahmil Qur’an dari Pasaman.

Pertemuan Bukit Tinggi adalah arena lain dari adu
kecerdasan dan kompetisi bagi kami. Hanya tempatnya
yang berbeda, tapi orangnya lebih kurang sama. Hampir
separuh dari peserta Fahmil Qur’an atau kerap disebut
cerdas cermat kandungan isi al-Quran adalah kami,
anak-anak MAK kelas tiga yang sedang mencari jati diri.
Sesuatu yang tak terduga, namun menunjukkan bahwa
identitas kami telah hadir. Aku sedikit takjub melihat
pengalaman kami yang buruk, diliputi gemawan hitam,

466

http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT

dan pengalaman tak menyenangkan dalam belajar, namun
tetap saja kukuh menuai prestasi. Ini adalah paradoks
yang lain dari kehidupan kami. Sekelompok anak ini
berkumpul di panggungnya yang lain, untuk meraih ke-
hormatan dan prestasi. Ini adalah momen all MAK final,
saat kami harus berjuang keras demi sebuah prestasi dan
prestise. Lebih dari itu, ini adalah silaturahim kami di
tempat yang berbeda. Belum lagi tamat, kami sudah me-
laksanakan reuni yang pertama.

Aku terkagum-kagum melihat semua kemegahan ini.
Dengan pakaian yang dijahit rapi, jas seragam, peci, dan
semua atribut yang disediakan daerah—kami adalah utus-
an yang benar-benar diharapkan. Terlebih, dari seragam
yang berbeda itu, muncul wajah-wajah yang sudah sangat
kukenal. Semua adalah teman-temanku, pemuda sekarang,
pemimpin masa depan, syubbanul yaum, rijalul ghad. Aku
menangkap masa depan dari tampilan gagah rekan-rekan
ini, saat tampil di pawai ta’aruf, juga ketika penampilan
mereka di arena MTQ. Segera kulupakan masa-masa
gelap, yang rasanya baru kemarin terjadi.

Semuanya membuatku terkesima. Sesuatu yang mem-
buatku lebih terkejut adalah kehadiran Najwa, anak Aspi
Tiga, siswi MAN yang menjadi bahan olok-olok Zulhuda
bagiku. Ingatanku melayang kepada Zulhuda, yang de-
ngan teganya mempermainkan perasaan dan cinta. Itu
adalah kejadian paling konyol selama aku berada di Koto
Baru—selain peristiwa Pak Jalil, juga putrinya Surayya.
Semuanya tentang cinta, khas dunia remaja. Setidaknya,
peristiwa itu menjadi kenangan manis yang dapat menjadi
bahan untuk menertawakan diri sendiri.

Aku melihat Najwa dari jauh berjalan beriringan de-
ngan seorang rekan perempuannya yang berseragam sama.

467

http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS

Dia tetap mengagumkan, anggun, dan penuh pesona. Aku
terpana. Tapi, olokan Zulhuda langsung tergambar jelas
di depan pelupuk mataku. Aku pun menahan diri untuk
tak memandangnya walau dari kejauhan.

Langkah Najwa dan rekannya kian pasti. Matanya
telah tertancap padaku. Aku seolah diserang ribuan panah
yang menghunjam kaki dan memakunya di tanah. Aku
terdiam saat dia terus datang mendekat. Aku tak berdaya,
tak tahu harus berbuat dan berkata apa pun. Najwa ke-
mudian tersenyum ke arahku. Aku membalas. Kemudian
segera menyadari diri, melihat ke kiri, ke kanan, dan ke
belakang. Jangan-jangan ada temannya di sampingku, dan
aku kembali ge er. Aku tak ingin menjadi keledai yang
jatuh di lubang yang sama. Aku mencampakkan ingatan
telah dikerjai habis-habisan. Kutarik napas panjang, untuk
mengalahkan semua kegugupan dan perasaan yang serba
tak jelas. Pikiranku langsung pada orang di belakangku
yang disapa Najwa. Ternyata, tidak ada orang lain sama
sekali. Hanya aku seorang. Aku menggigil.

“Ikut Fahmil Qur’an ya, Akhi?” ujarnya terdengar
lembut sekali.

“Eh... Iya, Ukh... Ukhti!”

“Dari kabupaten mana?”

“Pesi..sir Selatan!”

“Ooo...!”

Dia terdiam sesaat. Aku juga diam. Temannya juga
diam. Hanya senyum-senyum kecil. Kami saling diam
dalam hiruk-pikuk lantunan suara mengaji. Aku tak tahu
harus berkata apa. Ternyata, dia mengenalku, setidaknya
bersedia menyapaku. Aku benar-benar terpana, diam tak
dapat berbuat apa-apa. Aku tak berdaya, berada dalam

468

http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT

dilema. Pikiranku berkecamuk, dada berdebar kencang,
keringat dingin mulai keluar, tangan gemetar. Sejurus
kemudian, sebuah tangan besar menarik tanganku, meng-
hentikan semua nuansa indah yang menyergap batin.
Burmal dengan tega membuyarkan semuanya.

“Cepatlah, Muh. Giliran kita tinggal lima menit lagi!”
ujarnya tanpa ragu.

“Tunggulah dulu, Bur!”
“Tak ada waktu lagi, do! A cepatlah sedikit!”
“Iyo, yo!”
Kejadian itu cepat sekali. Wajahku masih menghadap
ke arah mereka berdua, namun kakiku sudah bergerak
mengikuti tangan yang digamit Burmal. Sebelum benar-
benar menghilang dari pandangannya, aku masih sempat
kembali tersenyum kepada Najwa. Kali ini senyum yang
tulus. Dia membalas, agaknya dengan senyum termanis.
Ada perasaan aneh menyelusup ke hati, semacam kelegaan
yang tiada dua.

***

Akhirnya, musabaqah itu memang menjadi milik kami.
Satria menjuarai kaligrafi di dua bidang sekaligus, baik
hiasan mushaf maupun kategori dekorasi. Rasyid me-
menangkan tafsir diikuti Syahid di peringkat kedua. Yang
sangat ketat adalah bidang Fahmil Qur’an atau cerdas
cermat isi kandungan al-Quran. Kami berhasil masuk final
berkat kesigapan Burmal menjawab semua pertanyaan.
Bahkan pertanyaan yang belum jelas pun dijawabnya.
Jika tak tahu, dia menanyakan padaku atau Afrianto,
teman kami yang juga siswa MAN Koto Baru. Satu tim
lagi yang masuk final adalah Tim Andi Putra dan Hendra

469

http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS

dari Padang Panjang. Sedangkan satu tim lainnya adalah
Mursalin dan Tarmizi dari Bukit Tinggi. Sebenarnya
bukan kedua anak itu yang tampil luar biasa, melainkan
juru bicaranya. Dia adalah... Najwa.

Aku begitu kaget melihat keberhasilannya hingga final.
Terlebih, aku paham bahwa Mursalin dan Tarmizi tidaklah
setangguh kami dari tim kabupaten lain. Sebutlah Burmal
dan Afrianto dari tim kami. Afrianto adalah langganan
juara umum dari siswa MAN Koto Baru. Sebenarnya, dia
dulunya akan masuk ke MAK, tapi mendadak sakit ketika
tes, dan tentu saja gagal. Kemampuannya pun berada
sejajar dengan para pemuncak di MAK, bahkan mungkin
lebih, sehingga aku dan Burmal tak meragukannya sedikit
pun. Sedangkan di tim lainnya, ada Andi dan Hendra, yang
memang luar biasa plus seorang anak yang tak kukenal,
agaknya dari Pesantren Thawalib, Padang Panjang. Lalu
tim mereka yang satu ini? Hanya Mursalin dan Tarmizi,
yang menurut kami tak begitu kuat. Aku dapat membaca
kemampuan keduanya dari rangking kelas mereka. Tapi,
mereka tampak begitu hebat saat merontokkan lawan-
lawannya di babak penyisihan, yang sebagiannya adalah
sobat-sobat terbaikku, anak-anak MAK juga. Pastilah itu
karena Najwa. Oh, alangkah lengkapnya si dia ini, cantik,
anggun, beriman, cerdas pula.

Entah kenapa, aku sangat gugup menghadapi final
ini. Berbeda dengan babak penyisihan yang lebih ringan,
dengan lawan-lawan yang relatif mudah dikalahkan,
babak final ini terasa sangat berat. Bukan hanya kadar
dan kualitas pertanyaannya, tapi teror mentalnya. Seperti
biasa, Burmal tampil garang sebagai juru bicara kami. Andi
sebenarnya tak kalah, karena dia juga ingin membuktikan

470

http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT

kapasitasnya di Fahmil Qur’an kali ini. Najwa sebagai juru
bicara tim tampak biasa saja, tak terlalu menggebu-gebu.

Di fase awal, tim kami memimpin angka, berkejaran
dengan tim Andi, sedangkan tim Najwa tertinggal cukup
jauh. Namun di pertengahan musabaqah, perolehan angka
sempat berimbang. Tim Bukit Tinggi dengan juru bicara
Najwa semakin bersemangat, ketika angka demi angka
mereka kumpulkan. Sebaliknya, Padang Panjang mulai
tertinggal, dan kami dari Pesisir Selatan bertahan. Me-
masuki babak akhir di pertanyaan rebutan, entah kenapa
kegugupanku tambah luar biasa. Konsentrasiku buyar,
karena Najwa tampil begitu luar biasa. Aku semakin
mengaguminya. Kecerdasannya, wawasannya, keluwesan-
nya dalam menjawab setiap pertanyaan, ketenangannya,
dan empuk suaranya membuatku terpana. Kami panik,
ketika pertama kalinya Tim Bukit Tinggi unggul. Tapi
Burmal memang lincah, karena setiap ada pertanyaan,
tanpa berpikir ia langsung memencet bel. Teeett!

“114 surat,” jawab Burmal ketika dewan juri baru
membacakan pertanyaan “Berapa...” dan dia sudah tahu
ujung pertanyaan itu mengarah pada berapa jumlah surat
dalam al-Quran.

“Siapa saja para nabi...”

Teeettt!

“Nuh, Ibrahim, Musa, Isa, Muhammad!”

“Ya, seratus!”

Begitu lincahnya Burmal menjawab pertanyaan
dewan juri. Saat pertanyaan baru beberapa kata yang
terucap dia sudah menjawab. Juga pertanyaan tentang
nabi-nabi yang termasuk dalam ulul ’azmi atau nabi

471

http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS

yang memiliki kesabaran luar biasa dibanding 25 nabi
dan rasul lainnya. Saat itu, kami dari Pesisir Selatan ber-
balik unggul dibanding Bukit Tinggi dengan selisih
sangat tipis, 25 poin saja. Adapun Tim Padang Panjang
sudah jauh tertinggal. Saat-saat kritis itu, kegugupanku
justru tak hilang sama sekali, malah semakin parah. Aku
malah makin terpana, ketika berada di dekat Najwa dan
suaranya yang lembut terus memantul di dalam ruangan
saat menjawab berbagai pertanyaan. Dengan suaranya
yang sebenarnya normal, datar, dia dapat mengimbangi
Burmal yang selalu menjawab dengan cepat, tak sabar.
Ternyata, kelembutannya mampu mengimbangi tekad dan
kekerasan hati Burmal dalam menjawab tiap pertanyaan
dari dewan juri. Aku mengagumi gaya dan caranya. Saat
itulah konsentrasiku buyar, semua hafalanku hilang. Yang
ada hanya keindahan yang melenakan. Entah kenapa, aku
tiba-tiba teringat pada edelweis Gunung Singgalang, yang
tak jadi kupersembahkan pada Najwa. Dia begitu indah,
dan pantas menerima bunga abadi” itu, namun aku tak
mendapatkan kesempatan itu. Entah kapan aku dapat mem-
berikan simbol keabadian itu. Lamunanku benar-benar tak
berperi, melayang jauh ke seberang gunung. Dan, puisi
cinta itu pun mengalir. Aku menciptakan puisi di tengah
musabaqah yang serius dan ingar-bingar. Ya ampun!

Edelweis Fajar

Masih kuingat, ketika
purnama di atas gunung, mengapung terang
cahaya di balik cahaya
Umpama lorong dinding,

472

http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT

terbingkai pelita di dalam kaca
bagai gemintang gemilang, namun fatamorgana

Lihatlah saatnya tiba!
ketika pendarnya memudar
selimut hitam terbuka, perlahan
hamparan curam menyergap mata
menyerang jiwa yang letih, dalam bias fajar
Singgalang, di tepi sunrise
dan pandanglah pelangi berjuta warna!

Tapi bukan itu, Kasih!
pesonamu yang menggiring hasrat
“Berikan kepadaku yang terindah,” ujar bayangmu
berulang kali
membuatku tak kuat melawan tabu
tak berdaya manahan hasrat
menggebu, merindu
dalam gugup berdegup
ingin kupetik edelweis terindah:
putih berembun-basah-bermandi cahaya
hanya untukmu
sebuah pertanda, cinta sunyi
yang terendap abadi

Aku tersenyum, sepi, sendirian. Tak kurasakan lagi
hiruk-pikuk dan ketegangan. Sesekali mataku melirik
ke Najwa. Dia begitu anggun, memesona. Saat Burmal
memencet bel, dan menyikutku untuk menjawab, aku
gelagapan. Tak kudengar sedikit pun bacaan dewan juri.
Lamunanku benar-benar panjang tak berujung, luas tak

473

http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS

bertepi. Puisi itu pun buyar, hancur berkeping-keping.
Setelah menguasai diri, aku mencoba mengingat-ingat
ujung lagu tilawah yang dibacakan salah satu dewan juri,
tapi tak berhasil. Lamunanku benar-benar menghancurkan
konsentrasi pada musabaqah ini. Jika tak menjawab,
jawaban dianggap salah. Menjawab pun punya risiko.
Akhirnya, kuputuskan tetap menjawab, karena siku
Burmal terus merangsek igaku. Sakit. Jawaban rast ’alan-
nawa yang bernada spekulasi justru membuat tim ini
makin terpuruk.

“Kurangi seratus,” ujar ketua dewan juri dengan
kejam.

Kami gelagapan. Habis sudah. Keputusan itu meng-
ubah segalanya. Kemenangan yang di depan mata buyar
seketika. Apalagi waktu babak terakhir itu pun habis.
Kami kalah tipis oleh Tim Bukit Tinggi, tuan rumah, yang
akhirnya memenangkan musabaqah. Najwa tersenyum.
Mursalin dan Tarmizi tampak semringah. Sebaliknya,
Burmal kelihatan sangat kesal, begitu juga Afrianto. Aneh-
nya, aku justru mati rasa. Rasanya masih di awang-awang.
Aku malah tersenyum. Ternyata, keindahan rasa dapat
mengalahkan logika.

“Payah!” Burmal lalu menatapku heran, penuh kesal.
Aku tak bereaksi pada kemarahannya. Aku kembali
hanya tersenyum, yang tentu saja sulit sekali ditafsirkan.
Bahkan, aku pun sulit menafsirkannya. Semuanya berjalan
abnormal.

***

474

http://facebook.com/indonesiapustaka 40

Dialog

Ada seorang kawan yang nyaris luput dari perhatianku.
Bukan apa-apa, melainkan karena sosoknya yang
netral. Dia sekaligus tokoh yang aneh bagiku, seorang
yang agaknya paling tak kusukai di asrama kami. Dia me-
rupakan sosok yang menurutku penyendiri, tertutup, dan
bukan siapa-siapa, sehingga tak perlu diceritakan terlalu
banyak. Orang kerap menilainya sombong, apalagi di
mata cewek-cewek. Sama sepertiku, ia pernah dikirimi
angek-angek oleh anak Aspi. Bedanya, dia cuek, sementara
aku melayani permainan itu. Jadinya, aku terjebak dalam
sebuah permainan cinta yang rumit. Dia tidak, selambe
saja. Anak itu bernama Amin.

Aku sangat jarang bercakap-cakap, apalagi berdialog
dengannya. Di kelas, pembawaannya juga kalem, diam,
tidak dinamis sama sekali. Dia hanya datang, mendengar-
kan pelajaran, lalu pulang. Pelajar yang sangat standar.
Aku memperkirakan masa depan anak ini akan suram.

http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS

Barangkali dia hanya akan menjadi karyawan rendahan,
yang pergi pagi pulang petang dan mendapatkan upah
standar UMR, sambil menanggung beban ekonomi yang
bertambah berat. Malam-malam akan dihabiskannya de-
ngan melamun sambil makan kuaci, menghitung nasibnya.
Besok, dia akan menghadapi rutinitas yang itu-itu saja,
mendapatkan ransum pas-pasan, lalu melamun lagi di
malam hari berikutnya.

Paling tinggi, dia akan menjadi guru sekolah dasar di
daerah terpencil dengan penghasilan pas-pasan. Mungkin
juga sekadar guru mengaji di surau-surau. Kalau dia me-
lanjutkan perguruan tinggi di IAIN, mungkin dia bisa
menjadi guru madrasah atau mengajar di pesantren. Bekal
pelajaran kami di MAK ini, ditambah pendidikan sarjana,
mungkin dapat menjadi modal untuk berprofesi sebagai
guru di madrasah atau pesantren. Almarhumah Bunda Sri
juga pernah berpesan bahwa pendidikan agama tak akan
sia-sia. Mereka yang bergelut dalam pendidikan agama
pasti tak akan menganggur atau kekurangan pekerjaan.
Minimal menjadi pembaca doa, lebai,1 penceramah, atau
gharim di mushalla dan masjid.

Bagiku, Amin adalah sosok pelajar yang biasa saja,
tidak pintar, namun juga tidak terlalu bodoh. Anehnya,
kendati biasa-biasa saja, dia selalu masuk sepuluh besar.
Dia jelas belum selevel Rasyid, Syahid, Syafrizal, atau
Andi. Bahkan, dibandingkan Jalal atau Fadri saja, dia
belum apa-apa. Ketekunannya belajar masih kalah jauh
dibanding anak-anak itu. Soal kepintaran, menurutku tak

1 Pegawai masjid atau orang yang mengurus suatu pekerjaan yang
bertalian dengan agama Islam di dusun.

476

http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT

sepintar Burmal, Azwar, atau Hendra. Barangkali, ia hanya
beruntung bisa terus berada dalam jajaran sepuluh besar
rangking kelas. Paling-paling, dia hanya ikut-ikutan saja.
Ketika ada tren orang belajar, dia ikut belajar, sehingga
prestasinya ikut terdongkrak. Prestasinya benar-benar tak
ada, sangat standar dan biasa.

Satu-satunya prestasi yang menurutku pernah di-
tunjukkannya pada kami hanya soal bermain catur. Dia
adalah Gary Kasparov di lingkungan kami. Tak ada yang
dapat mengalahkannya di papan hitam putih itu. Catur
adalah panggungnya. Mulai Bani Adam sampai Adamrino
dihajarnya. Bahkan, Adamrino sampai tiga belas kali
kalah berturut-turut darinya. Hingga suatu ketika, saat
Kasparov itu lengah, Adamrino berhasil memenangkan
pertarungan yang keempat belas. Ketika sampai di titik
itu, Adamrino menghentikan permainan catur dengan
sang juara. Selamanya. Diajak, diiming-iming korban
menteri, ditraktir jika menang pun dia enggan.

“Aku sudah mengalahkan Kasparov. Aku tak mau
main lagi. Rekorku tak boleh ternoda,” ujarnya penuh
kebanggaan.

Cerita itu kondang di antara kami. Satu-satunya
lawan sepadan bagi Amin hanyalah Burmal. Burmal yang
bisa dikatakan Jenius di papan catur pun berhasil dia
tumbangkan, kendati dengan skor tipis. Mereka saling
mengalahkan, tapi kemenangan Amin lebih banyak. Kami
kerap menganalogikan keduanya bak Kasparov melawan
Karpov. Amin Kasparov, Burmal Karpov. Langkah-
langkah mereka berdua begitu sulit diprediksi, sehingga
kami yang kerap menjadi saksi dwitarung itu, selalu salah
memprediksi langkah apa yang akan mereka mainkan.

477

http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS

Prestasi besar yang pernah diraihnya di bidang catur
adalah saat memenangkan kejuaraan antarpelajar SMA
se-Padang Panjang. Tak terlalu hebat, tapi cukuplah untuk
membuatnya mendapat perhatian. Dari puluhan peserta,
dia berhasil memenangkan trofi yang dibawanya dengan
bangga ke asrama. Ketika membawa piala itu, euforia
tampak meledak-ledak di wajahnya. Matanya berbinar,
bibirnya selalu menyunggingkan senyum. Dia adalah
anak biasa yang mendapatkan anugerah luar biasa. Pantas
saja begitu semringah, melebihi apa pun yang pernah
kulihat. Pialanya saja berdiri kokoh setinggi satu meter,
lebih hebat daripada piala class meeting kami. Tentu mem-
buatnya girang tak kepalang. Itu pertama kali aku melihat
ekspresinya. Sisanya, dia lebih banyak diam.

Setelah peristiwa tersebut, aku selalu ingin tahu, apa
sebenarnya yang dimiliki anak itu, apakah benar-benar
berisi atau kosong. Ia agak misterius setelah menunjukkan
prestasi di bidang catur. Dia seperti cukup pintar dapat
mengakali Burmal yang Jenius. Bagiku, dia tetap anak yang
biasa-biasa saja, sangat formal, dan tak pernah berbuat
apa-apa bagi komunitas kami. Namun, di penghujung
pertemuan di MAK ini, aku seperti dilanda penasaran
yang hebat. Dia seperti melompat dari dunianya selama
ini. Aku ingin sekali berdialog dengannya, mengetahui
seperti apa buah pikirannya atau menggali sesuatu yang
lain darinya. Kadang, aku melihat sosok yang tak jauh
dariku pada dirinya. Kerapkali, dia adalah orang asing
yang berbeda. Benar-benar aneh.

Di suatu malam jelang detik-detik kebersamaan kami
di MAK, aku mendatangi kamarnya. Aku menyampaikan
niat untuk berdialog dengannya. Dialog yang tak biasa.

478

http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT

“Sekarang saja. Memang kenapa?” tanyanya.
“Tidak. Aku ingin di waktu yang khusus dan tempat
khusus,” ujarku pula.
“Kapan? Di mana?”
Aku tak dapat menjawab. Belum terpikir olehku
tempat dan waktu yang tepat. Yang terpikir hanyalah
tentang dialog di tempat tak biasa dan waktu yang tak
biasa pula. Sesuatu yang beda. Hanya sampai di sana dan
belum hingga rinciannya.
“Bagaimana kalau di dalam mimpi-mimpi saja. Kamu
tidur, aku tidur. Kita jumpa dan berdialog panjang dalam
mimpi-mimpi. Kita bisa berdebat, adu argumentasi, main
catur, adu lari, dan kalau perlu bertinju. Bagus 'kan?” ujar-
nya tersenyum, agak menyindir.
Aku menggeleng, sedikit emosi mendengar usulan
konyolnya. Entah apa yang dipikirkan anak itu tentang
usul dialogku. Mungkin dia menganggapku agak gila saat
mengusulkan dialog khusus dengannya, tapi tak kunjung
menemukan solusi konkret mengenai teknisnya. Dia
mungkin saja menganggapku pembual.
“Atau keluarkan saja rohmu, aku mengeluarkan rohku
pula, kita jumpa di puncak Merapi!” ujarnya tambah
ekstrem.
Terdengar bertambah aneh di telingaku. Dia makin
menjadi-jadi dengan usul konyolnya. Mengeluarkan roh
dari jasad hanya ada dalam film. Atau sudah mati sekalian.
Tak ada jaminan roh itu akan kembali. Baru kutahu, dia
punya imajinasi yang bisa dibilang tak biasa. Cukup pantas,
ia punya kapasitas di papan catur, yang memerlukan
analisa panjang dan langkah imajinatif itu. Tapi, aku dapat
mencuri ide dari usul konyolnya tersebut.

479

http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS

“Oke, di Gunung Merapi, Sabtu malam ini!” ujarku
penuh keyakinan.

“Roh kita?”

“Bukan. Fisik dan jiwa. Kita jumpa di sana!”

“Okelah Bung, deal!”

Aku tak menyangka, dia menerima tantanganku.
Bahkan, jawabannya sangat cepat, ringkas, dan spontan
sekali. Dia tak menunjukkan ragu sedikit pun. Kami
sepakat akan mendaki gunung di malam yang sama, namun
tidak bersama-sama. Aku berencana mengajak beberapa
teman bermain basket dari anak-anak MAN. Sementara
dia mengajak rekan-rekan sekondannya di meja catur dari
anak-anak MAN pula dan beberapa siswa SMA di Padang
Panjang. Kami memang sepakat, tak boleh ada anak-anak
MAK yang ikut dalam rombongan ini. Kami tak akan
berangkat bersama, dan tak akan saling menyapa, jika di
perjalanan berselisih jalan atau saling melihat.

“Kita berjumpa saja di puncak Merpati ba’da Subuh!”
ujarku.

“Baiklah. Kita jumpa di sana, Bung!”

Perjalanan ke puncak Gunung Merapi sedikit berbeda
dengan Singgalang. Hutan gunung hampir sama, hanya di
Merapi bebatuan terjalnya jauh lebih banyak. Hamparan
tanah tandus berbatu menjadi pemandangan yang biasa
di lereng gunung, terutama saat akan sampai ke puncak.
Maklum, gunung ini masih aktif, sehingga di kawasan
menuju puncak, nuansa gunung berapi yang panas de-
ngan bebatuan keras memaksa pohon enggan tumbuh.
Gunung ini memang tak pernah lelah beraktivitas, bahkan
siap meletus kapan saja. Kadang, ia mengeluarkan abu
vulkanik yang menghitamkan cakrawala dan menutupi

480

http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT

semua keindahan alam sekitarnya. Lava merahnya
yang menggelegak tampak begitu hebat menyembur
bak rebusan kolak panas. Jika sesuatu dilemparkan ke
kawahnya, benda itu akan berpijar merah, lalu terbakar
sebelum menyentuh bubur panas itu, seperti meteor yang
menembus atmosfer bumi, berpendar indah, memercikkan
bunga api, lalu terkikis perlahan bersama hawa panas.

Aku sampai di puncak Merpati Gunung Merapi ini
lebih dahulu. Aku berjanji dari awal akan mengunggulinya,
dan itu kubuktikan. Sepuluh menit kemudian, dia me-
nyusul dengan napas terengah-engah. Di tempat yang kami
sepakati, usai shalat Subuh dengan rombongan masing-
masing, kami bertemu. Kami berdua memisahkan diri dari
rombongan masing-masing. Dan dimulailah dialog itu.

Aku: Sampai juga akhirnya ente Ya Akhi!
Amin: Ya, seperti yang antum lihatlah!
Aku: Berat?
Amin: Lumayan, lebih menantang daripada Singgalang.
O, ya... Sebenarnya mau bicara tentang apa? Kenapa tak di
bawah saja?
Aku: Ah, tak apa-apa. Aku hanya mau mengajak men-
daki saja, sebelum naik Merapi dilarang!
Amin: Tapi, kemarin sepertinya serius!
Aku: Ya, sedikitlah. Aku hanya ingin tahu, ente itu
seperti apa sebenarnya?
Amin: Aku?
Aku: Ya, kamu sobatku!
Amin: Aku ya, seperti inilah. Seperti yang antum lihat
sehari-hari!
Aku: Tapi kamu kok sepertinya beda, tak pernah ada
di mana-mana. Kawan lain belajar tenaga dalam, kamu

481

http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS

tidak. Orang lain latihan silat, kamu malas-malasan.
Orang main basket, kamu angin-anginan. Orang nonton
Friday The 13th, kamu cuek. Orang ikut Kirab Remaja,
kamu menghilang. Orang main kirim angek-angek, kamu
biarkan saja. Orang sampai bersidang-sidang membahas
jasus, kamu tak peduli. Orang lain ikut MTQ, kamu
malah main catur!

Amin: Ya, itulah aku!
Aku: Kok kamu gitu?
Amin: Ya, memangnya kenapa? Salah?
Aku: Tidak juga sih. Tapi kamu seharusnya bersama-
sama kami. Kalau kamu diam sendiri dengan maumu,
kamu akan ditinggalkan zaman, ya Akhi!
Amin: Ah, masa!?
Aku: Memang kamu tak pernah belajar?
Amin: Ya, aku belajar terus. Aku mengagumi para
ustadz dan ustadah. Buya Ismail dan Bunda Sri terutama,
juga Ustadz Yasri dan Ustadz Zaidan!
Aku: Hanya itu?
Amin: Memangnya belajar apa lagi?
Aku: Ah, kamu memang naif, Min!
Amin: Lho, kenapa? Memangnya kamu belajar dari
siapa?
Aku: Aku belajar dari para guru, para ustadz dan
ustadah, mengagumi wawasan dan keilmuan mereka.
Aku menelusuri setiap inci kalimat mutiara mereka. Aku
menghormati setiap guru atau yang mengajarkan apa
pun, walaupun setetes ilmu. Aku juga belajar dari Mak
Gapuak yang profesional dalam kesederhanaannya. Aku
belajar dari Pak Jalil yang jujur, lugu, dan kadang naif.

482

http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT

Aku mengagumi sifat dan pembawaan alaminya yang
tiada dua. Aku belajar dari kemenangan. Tapi, aku lebih
banyak belajar dari kekalahan, dari rasa sakit, dari titik
nadir kealpaan, dari setiap detik kelalaian. Kekalahan me-
rupakan lecutan untuk stimulan menuju kemenangan. Aku
belajar dari kematian, rasa kehilangan, dan waktu nisbi
yang tinggal sedikit dan terus akan tergerus. Aku akan
terus menghitung hari untuk menyusul arwah yang sudah
terbang lebih dahulu. Aku belajar dari rasa penasaran, ke-
ingintahuan, yang tumbuh dan berkembang biak dengan
cepat. Dia menjadi amuba yang dalam hitungan detik
membelah diri menjadi miliaran, triliunan, lalu memenuhi
otak dan meledak untuk memecah kebuntuan. Kau tahu
Sobat, rasa penasaran akan menimbulkan rasa ingin tahu,
dan itu adalah sumber ilmu. Rasa penasaranlah yang
membawa Thomas Alfa Edison melakukan eksperimen
ribuan kali untuk menemukan lampu pijar. Di sisi lain,
tahukah kau Sobat, rasa penasaran pula yang menjadikan
Nabi Adam alaihissalam tergelincir. Khuldi yang
tergantung manis dan menggiurkan adalah benda peng-
gugah penasaran itu. Ia adalah penggoda munculnya
dosa pertama yang menjadikan kita semua terlempar
ke dunia fana ini. Belajarlah dari itu, karena aku telah
mempelajarinya dengan sungguh. Aku pun belajar dari
rasa ketakutan, yang darinya muncul kekerdilan jiwa,
traumatik, dan paranoid. Kalau kau tahu rahasianya
Sobat, ketakutan adalah energi untuk menjadikanmu lebih
unggul, berani melawan, dan kau akan mengagumi betapa
hebat energi yang tersimpan selama ini. Semuanya berasal
dari ketakutan, kecemasan, yang kadang tak beralasan.
Harus kau tahu, sesuatu yang tak membunuhmu akan
menjadikanmu lebih kuat. Aku juga belajar dari cinta,

483

http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS

rasanya, gejolaknya, dan kekuatannya. Aku belajar dari
alam, sesuatu yang terkembang luas, universitas paling
hebat dan guru terbaik yang pernah ada! Alam terkembang
adalah guruku.

Amin: Wah, wah, kamu hebat juga ya!? Baiklah, kamu
lebih baik dariku. Aku tak bisa seperti itu! Aku kagum.
Aku beruntung pernah mengenalmu!

Aku tersipu sekaligus heran. Tersipu mendapat
pujiannya, sekaligus heran melihat reaksinya yang tetap
cuek, selambe, kata orang Melayu. Dia sama sekali tak
belajar apa-apa di MAK yang hebat ini. Kulihat sekilas,
ketika aku serius menyampaikan hal-hal yang penting, dia
malah mengalihkan pandangan ke kawah Merapi. Dia
tak melihatku yang tengah serius menyampaikan hal-hal
penting yang kurasa dia harus tahu. Dialog itu berakhir
sampai di sana. Amin, tahukah engkau Sobat, jika engkau
mau belajar, mempelajari alam dengan kesungguhan hati,
semuanya akan berlangsung lebih mudah!? Dia diam.
Kulihat dia tak berminat dengan kalimatku, yang kusadari
terucap dalam hati. Dia malah asyik berbincang dengan
rekan-rekannya sesama pecatur, yang datang kemudian
menemui kami, sambil menyaksikan panorama Singgalang
dari Puncak Merpati Gunung Merapi yang indah di pagi
hari. Dari sini, tampak juga Lembah Hantu, Gunung
Tandikek, bahkan panorama Danau Singkarak. Beberapa
rekanku juga kemudian menemuiku. Sang Surya pelan
merayap terbit, dan dari puncak Merapi ini, bias cahayanya
yang perlahan berpijar menembus awan tipis, benar-benar
terlihat indah. Dengan terbitnya mentari, sudah saatnya
kami turun menghadapi kehidupan di hari yang baru.

***

484

http://facebook.com/indonesiapustaka Epilog

Kairo, 12 Mei 2011
Aku menatap Sungai Nil yang mengalir tenang. Desau
angin di tepian Nil menyejukkan wajah yang terbuka. Sejuk-
nya terasa dalam hingga ke relung hati. Embusan angin
juga mengibaskan rambut dalam gerakan-gerakan ritmis.
Tatapanku menuju ke tengah Nil yang berarus tenang
namun kuat di dalamnya, seakan menyimpan misteri tiada
dua.

Nil telah menjadi saksi semua kejadian di Mesir mulai
era Fir’aun hingga Hosni Mubarak. Di masa Fir’aun, Nil
menjadi saksi kisah penghanyutan bayi bernama Musa
oleh ibunya agar terhindar dari pembunuhan massal oleh
tentara Fir’aun. Nil juga menjadi saksi kejatuhan sang
Fir’aun. Di era sekarang, Nil juga menjadi saksi kejatuhan
Fir’aun modern bernama Hosni Mubarak, seorang
diktator yang sangat ditakuti di masa kejayaannya.

http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS

Kini sang Diktator itu harus tertunduk, menjadi
pesakitan. Dia hanya bertahan selama 18 hari sejak Mesir
bergolak, dan menyatakan mundur pada 11 Februari
2011. Mubarak yang perkasa itu kini tumbang dan
melarikan diri. Tapi kemudian dia ditangkap atas tuduhan
korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan oleh mantan anak
buahnya sendiri. Bahkan anak-anaknya juga diperlakukan
sama. Saat akan meminta perlindungan, tak ada negara
Barat yang bersedia menampungnya. Padahal, Mubarak
adalah satu dari beberapa penguasa absolut di kawasan
Timur Tengah yang selalu setia kepada Barat. Begitulah,
ketika dia tak berguna lagi, Mubarak justru dilemparkan
ke tong sampah oleh tuannya. Nasibnya hanya sedikit lebih
baik dibanding para penentang frontal, seperti Saddam
Husein atau Moammar Khadafi, yang dihadiahi misil dan
rudal. Setidaknya, itulah yang kutahu dari berbagai situs
di Mesir, yang lebih leluasa bersuara pascakejatuhan sang
Diktator.

Aku melihat kembali ke arah laptop putih yang telah
menemaniku selama tiga bulan ini. Di antara tugas mem-
buat laporan langsung dari Mesir, berselancar di internet,
aku menyempatkan diri bercerita kepadamu, Sobat. Tak
terasa, sudah tiga bulan aku bersamamu. Kurasa cukuplah
untuk kali ini. Lain waktu akan aku sambung kembali
ceritaku.

Kututup laptop itu. Pandangan kembali kuarahkan
ke tengah Nil. Arus tenangnya tetap menyimpan misteri,
seperti misteri yang dimulai dua dekade yang lalu di Koto
Baru. Setelah melewati waktu 20 tahun, semuanya telah
berubah. Nyaris tak pernah kuprediksi sama sekali.

Aku mendapat kabar mengejutkan tentang teman-
teman remajaku itu, yang sungguh penuh warna dan

486

http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT

dinamika. Nasib telah mengempaskan mereka ke arah
yang tak tentu, mozaiknya kacau tak beraturan. Beberapa
di antara mereka masih terbelenggu dengan rasa putus asa.
Beberapa anak-anak berbakat, yang dulu digadang-gadang
menjadi ulama dan cerdik cendekia, kini berjajar dengan
para pedagang kaki lima di emperan toko, atau menjadi
buruh kebun. Baju lusuh, pakaian seadanya, wajah letih
dengan rona kemarahan masih tersisa dalam semua gerak-
gerik mereka. Aku miris menyaksikan semua kenyataan
itu. Ada pula yang kerjanya hanya menadahkan tangan,
atau melanglang buana tak tentu arah dari satu dermawan
ke dermawan lainnya. Oh, para sobat istimewaku, anak-
anak langit yang luar biasa itu...

Di sebalik itu, aku mendapati syabab itu telah menjadi
rijal, para pemuda itu telah menjadi pemimpin, anak-anak
terlantar dan terbiar itu telah menjadi orang-orang ter-
didik. Mereka yang frustrasi tetap terkungkung dengan ke-
putusasaannya, namun yang mau melepas beban berat itu
kini telah berjaya. Ahmad Fajar telah malang-melintang di
luar negeri. Kini, dia menjadi orang penting di Kedutaan
Besar Republik Indonesia di Jeddah. Burmal telah pula
jadi orang hebat di Jakarta. Dia memulai kariernya
sebagai akademisi. Gelar akademisnya paling berderet,
dua S1 dan dua S2. Kini, dia tengah menempuh pen-
didikan doktornya di Siena, Italia, dan sebentar lagi Ph.D
ada di belakang namanya. Sama seperti dulu, dia adalah
makhluk multitalenta, dan selalu luar biasa di mataku. Tak
hanya mengasah intelektualnya, Burmal juga mengasah
jiwa bisnisnya. Mitra bisnisnya merupakan orang-orang
top, dan kerap ke luar negeri, di belahan dunia mana
saja. Baginya, naik pesawat bak naik oplet saja. Paspornya

487

http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS

penuh cap, tiap sebentar. Tak hanya itu, bintang iklan,
model, dan dunia selebriti juga pernah disinggahinya.
Aku pernah melihatnya di televisi dalam sebuah iklan air
mineral. Sebuah multitalenta yang tak ada duanya, sosok
yang paling unik dari generasi kami.

Beberapa sobatku yang lain berkutat dengan dunia
halal dan haram. Ada yang mengajarkan halal dan haram
dengan pendekatan mendidik. Mereka adalah para guru,
Cik Gu, pahlawan tanpa tanda jasa. Zulfariadi, Indramis
dan Zulhuda memilih profesi mulia ini. Dalam hati aku
membatin: pastilah mereka akan diperlakukan seperti
apa yang mereka lakukan kepada guru-guru kami dahulu.
Terutama Zulhuda, yang telah mengerjai aku habis-habisan
soal cinta, termasuk para guru. Rasakanlah, Sobat!

Sobat-sobatku yang lain mengajarkan halal dan haram
dengan pendekatan akademis yang kritis. Pendekatan
ilmiah yang mereka terapkan dapat saja membuat halal
dan haram menjadi nisbi. Kajian-kajian itu dapat menjadi
sangat kritis, dengan pisau analisis yang berasal dari sudut
pandang sangat banyak. Perspektifnya komplit, dari Timur
hingga Barat. Sesuatu yang sederhana dapat menjadi
rumit dan sulit. Itulah fenomena yang kulihat. Di antara
mereka yang menjadi dosen adalah Rasyid, Chandra Bob,
Satria, Jalal dan Haris. Rasyid menjadi dosen di Surakarta,
dengan gelar akademis yang berderet, seperti juga yang
lainnya. Adapun Chandra dan Satria menjadi dosen di
Batu Sangkar, Jalal di Jambi dan Haris di Pekanbaru.
Sebentar lagi, gelar doktor nyaris saja mereka sandang.

Ada juga yang meletakkan halal dan haram sesuai
dengan porsi yang sesungguhnya. Mereka adalah para
mufti, ulama, Tuan Guru. Mereka akan menyebutkan
yang halal itu halal, dan haram itu haram. Mereka orang-

488

http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT

orang yang sangat kokoh pendirian, kuat pada prinsip.
Yang mengejutkanku, sosok itu kudapati pada diri Hendra.
Anak muda yang dinamis, berani, tegas, dan pembangkang
itu telah bermetamorfosis menjadi seorang kyai panutan,
tempat para santri bertanya, tempat umat meminta fatwa.
Hendra—si anak nakal itu—kini menjelma menjadi
pimpinan salah satu pondok pesantren terkemuka di
Medan. Kharismanya luar biasa. Hendra telah menentukan
garis hidupnya dan mereformasi dirinya, dari sosok
rasional dan radikal menjadi pribadi yang santun dan taat.
Mungkin dia telah menemukan seseorang yang mengubah
kehidupannya, atau bisa saja di suatu malam Ramadhan
dia mendapat anugerah Lailatul Qadar, kemudian berubah
180 derajat. Semua mungkin saja. Yang jelas, kulihat sebuah
revolusi diri yang luar biasa pada dirinya. Kini, dia selalu
menggunakan jubah. Jenggotnya menyengser, panjang
sekali. Matanya menyiratkan pandangan kedewasaan
seorang ulama. Tak kutemukan lagi Hendra yang
pembangkang, urakan, kritis, dan suka melawan. Yang ada
hanyalah Hendra yang santun dan rendah hati.

Syarifuddin juga mengabdikan diri di dunia ini. Ia
sangat populer di mata umat, alias dai kondang. Dia
dai dan juru dakwah yang disegani di Jakarta. Dia juga
seorang mufti yang disegani, terutama di kalangan awam.
Dakwahnya menyentuh, karena dia selalu berdakwah
tanpa pandang bulu, tak segan ke daerah-daerah pelosok,
kotor, kusam dan terpinggirkan. Lebih dari itu, dia selalu
menerapkan apa yang dikatakannya.

Informasi yang juga mengejutkanku adalah soal
Andi Putra. Sobatku yang satu ini sungguh telah menjadi
pemimpin yang luar biasa. Pengalaman mengubah pribadi-
nya menjadi pemimpin tangguh. Usai belajar tiga tahun di

489


Click to View FlipBook Version