http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS
dikuasai. Namun demikian, para penyelinap seperti kami,
para pecandu film horor ini belum sempat berpikir untuk
belajar. Kami justru berkumpul di kamar tujuh yang semua
anggotanya masuk geng penggemar Friday The 13th. Di
kamar itu, kami kembali mendiskusikan film yang baru
saja tayang, menebak apa yang akan terjadi pekan depan.
Kendati geng ini termasuk bangsa cuek dan pemalas, kami
tak mau mengganggu rekan-rekan lain yang tengah tekun
menghafal pelajaran di kamar masing-masing. Kami pun
berdiskusi sambil agak berbisik. Salah satu materi diskusi
kami adalah tentang keberadaan geng ini. Agaknya, geng
ini perlu diabadikan. Kami sepakat menamakan kelompok
penyelinap ini sebagai Geng Friday. Kami mengucapkan
janji setia untuk tak membocorkan rahasia ini.
Hanya beberapa detik usai pengukuhan Geng Friday
dan pengucapan janji setia yang diucapkan dalam suasana
temaram dan khidmat, keheningan pecah. Suara lolongan
manusia dan teriakan histeris membahana.
“Hantuuuuuu, pocooooongg! Toloooong!”
Kami semua terkesiap. Apakah ritual yang kami
lakukan telah membangkitkan hantu kuburan sebelah?
Kami bergidik. Kuburan itu tak jauh dari kamar tujuh,
hanya berjarak beberapa meter saja. Dari jendela pun
tampak dengan jelas. Aroma horor pun menyebar ke
seantero ruangan. Menegangkan. Petualangan Friday
The 13th telah memasuki alam nyata. Teriakan histeris
itu begitu nyata, tapi kami masih ragu, apakah masih ter-
jebak dalam ilusi atau telah kembali ke dunia nyata. Lalu,
siapakah yang berteriak histeris itu?
Kami bergegas keluar ruangan menuju sumber
teriakan. Semua penghuni kamar yang lain juga keluar
290
http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT
untuk melihat apa yang telah terjadi. Konsentrasi belajar
untuk ujian buyar seketika. Beberapa kawan mengarahkan
telunjuk ke arah kamar lima, karena diyakini suara itu ber-
asal dari sana. Setelah ditelusuri, benarlah adanya. Suara
itu bukan dari alam gaib atau khayalan kami yang masih
terjebak dalam nuansa Friday The 13th. Suara itu nyata,
keluar dari mulut Syarifuddin, anak Tembilahan.
“Pu pu... putiiih, wajahnya pu... pucat. Jalannya
seperti aa a angin...,” ujar Syarifuddin terbata saat kami
sampai ke kamarnya.
“Hantu apa, Din? Bagaimana bentuknya?”
“Po... po... coong!”
“Yakin kamu melihatnya sendiri?!”
“Ya, itu memang po pocong, dibalut kain kafan.
Putiiiih semua. Di atas kepalanya ada kain ikatan
pocong!”
“Ayo minum dulu, Din!”
Usai minum dan mengatur napas, Syarifuddin kembali
menceritakan pengalamannya melihat pocong. Ia tampak
sangat ketakutan. Wajahnya pucat pasi. Mata sipitnya me-
nyiratkan ketakutan yang amat sangat. Aku bertanya-tanya
dalam hati, benarkah Syarifuddin melihat hantu Indonesia
bernama pocong itu? Yang dibungkus kain kafan putih,
dengan ikatan di puncak kepalanya? Melihat gelagatnya,
Syarifuddin tidak sedang mereka-reka cerita. Dia sangat
yakin telah melihatnya. Di samping itu, ia juga anak yang
jujur, termasuk orang yang lurus di antara kami. Bahkan
terhitung alim. Tapi, bukankah hantu takut pada orang
alim? Berbagai pertanyaan menghantui dan menggelayut
berat di sudut kepalaku. Aku mempersempit peluang dan
291
http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS
kemungkinan. Bisa saja Syarifuddin salah lihat, karena
kaca tembus pandang itu sudah begitu kotor sehingga ke-
mungkinan yang dilihat di balik kaca itu bukanlah pocong,
melainkan bayangan benda lain. Apalagi malam itu kabut
Gunung Merapi turun cukup tebal, sehingga menutupi
pandangannya.
“Apa kamu yakin betul, Akhi?!”
“Ya, jelas sekali. Putiiih! Itu memang pocong!”
Tak sedikit pun ada keraguan. Tentu saja semua gelagat-
nya menjadikan kami yakin, ia telah melihat makhluk itu
dengan mata kepalanya sendiri. Pasalnya, Syarifuddin
hendak buang air ke kamar mandi. Sekonyong-konyong,
ia melihat pocong berdiri kaku di balik kaca belakang
asrama. Hasrat itu pun hilang seketika. Maka, keluarlah
teriakan histeris itu.
Suasana malam itu semakin mencekam. Sebagian
besar penghuni kamar sebelas dan sembilan pindah ke
kamar-kamar genap. Dua kamar itu memang yang paling
dekat dengan dua kuburan di samping asrama, tempat
yang diduga sebagai asal muasal penampakan pocong
yang dilihat Syarifuddin. Embun terus turun dan semakin
tebal menyelimuti ketakutan anak-anak tanggung ini.
Apalagi, berbagai kisah tentang hantu dan makhluk
halus kemudian menyeruak di antara kami, mulai dari
genderuwo, kuntilanak, orang Bunian, wewe gombel,
palasik, dan entah apa lagi namanya. Wawasan yang
kurang dan iman yang naik-turun, menjadikan ketakutan
itu memenjara kami.
***
292
http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT
Sejak saat itu, malam-malam kami lalui dengan aroma ke-
takutan tiada henti. Ada yang mengatakan, asrama kami
ini merupakan bekas camp Jepang dan tempat penyiksaan
kaum pribumi. Banyak Romusha yang disiksa hingga mati
di sekitar tempat ini, seperti juga di Lubang Jepang Bukit
Tinggi. Entah berapa orang yang meninggal di sini. Belum
lagi kisah misteri lainnya, yang keluar dari mulut siapa
saja. Ketakutan benar-benar mencekam warga Asrama
Darul Falah ini. Beberapa kawan tak berani ke belakang,
karena di balik kamar mandi itu, ada dua kuburan yang
diduga sebagai sumber penampakan pocong.
“Mungkin pocongnya marah, karena kuburan berada
di dekat WC,” ujar seorang kawan. Wajahnya pucat pasi,
lama sekali.
Aku mengangkat bahu mendengarnya. Ternyata,
kawanku yang satu ini—tak usahlah kusebut namanya—
memang benar-benar takut luar biasa dengan penampakan
pocong itu. Sampai-sampai dia tak berani ke kamar
mandi di malam hari. Jika ada hasrat ingin buang hajat,
maka dia menampungnya di dalam ember yang tiba-tiba
saja dialihfungsikan menjadi pispot baginya. Aromanya
memang sempat menyebar ke mana-mana, bertamasya
dengan santai ke lorong-lorong asrama, mulai masuk ke
kamar-kamar lain, namun kawan ini dengan cepat me-
nutupnya rapat-rapat. Bau pesing itu pun terkurung dalam
ember pispot dadakan. Namun, sepandai-pandainya
tupai melompat, tentu akhirnya jatuh juga. Sepandai-
pandainya menyimpan bangkai, eh air seni, tentu terbau
juga. Pesingnya dapat mencari celah, memberontak, dan
akhirnya menyeruak untuk menyerang hidung. Aku
adalah salah seorang yang mengetahui kejadian konyol
293
http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS
dan memalukan itu. Padahal, sebelum menyebar ke mana-
mana, tak banyak yang tahu rahasia ini. Aku termasuk
yang tahu belakangan. Tapi sobat, ini termasuk rahasia
tingkat tinggi, top secret, yang tak akan kuceritakan
kepada siapa pun.
Cerita penampakan pocong itu menyebar ke mana-
mana. Konon, Pak Kepala Sekolah pun takut dengan pe-
nampakan pocong, begitu juga penghuni asrama yang
lainnya. Ceritanya menyebar hingga ke asrama putri, ke
anak-anak MAN, hingga ke warga Koto Baru. Bumbu-
bumbu cerita semakin banyak dan beraneka ragam, hingga
kami pun semakin dilanda ketakutan. Sedikit banyak,
cerita pocong juga berdampak bagi pembelajaran kami.
Yang jelas, ujian semester tak maksimal dijalani akibat
berbagai kisah dan persepsi yang terbentuk. Tak hanya
aku, rekan-rekan lain juga demikian. Kecuali yang sama
sekali tak terpengaruh dengan kisah penampakan ini. Tapi
jumlahnya tak seberapa, bukan termasuk arus utama di
asrama ini.
Saat rapor dibagikan, aku sudah merasa cukup mampu
bersaing dengan 39 rekan-rekan hebat ini. Aku cukup
percaya diri, karena merasa bukan terlahir sebagai anak
dengan kecerdasan rendah. Orang kampungku mengakui
kecerdasan yang kumiliki. Bukan sembarang. Namun
apa daya, perasaanku salah kali ini. Rapor jelas tak dapat
berbohong, karena ada angka-angka yang pasti di sana.
Tertulis jelas: rangking 25 dari 40 siswa. Aku terperangah
melihatnya. Apa yang harus kukatakan pada Abah dan
Omak? Seingatku, rangking kelas yang kududuki sejak
SD hingga MTs selalu pertama, dan minimal kedua.
Sekarang, turun drastis menjadi 25. Benar-benar hal yang
294
http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT
memalukan. Yang membuatku agak semringah adalah
nilai rata-rataku yang tak jelek-jelek amat, 7,9. Saat
MTs, dengan nilai 7,8 saja, aku sudah jadi juara kelas.
Sekarang, dengan nilai 7,9, aku berada di urutan ke-25.
Memang tuah betul berada di tengah anak-anak hebat ini.
Tapi, bagaimana mempertanggungjawabkan semuanya di
hadapan kedua orangtuaku? Bagi mereka, yang terpenting
itu rangking, bukan indeks prestasi atau nilai rata-rata,
karena di sanalah akumulasi nilai dibanding rekan sekelas
lainnya. Kadang ada juga guru yang mengobral nilai
sehingga semua mendapat jatah nilai bagus. Perlu alasan
yang jitu, agar keduanya mafhum atas rangking yang
kumiliki. Akhirnya, kutemukan jawaban itu. Saat pulang
kampung untuk pertama kalinya, usai penerimaan rapor
semester pertama, dengan enteng jawaban itu keluar dari
mulutku.
“Ado pocong, Mak. Tak konsentrasi belajar!”
***
295
http://facebook.com/indonesiapustaka 23
Perantau
Selepas penerimaan rapor, sebagian besar penghuni
asrama merasa perlu pulang kampung untuk bersua
keluarga. Waktu enam bulan dirasa cukup melelahkan
untuk berkutat dengan pelajaran dan kitab kuning. Mudik
boleh jadi merupakan rehat fisik dan psikis yang telah
terkuras energinya. Ini merupakan panggilan lain dari
tugas sebagai utusan daerah. Panggilan itu juga datang
kepadaku. Dari Omak. Akibatnya, keputusanku berubah
drastis dari rencana semula. Aku pun akhirnya pulang,
meski dengan agak terpaksa.
Pelan-pelan bus ANS yang kucegat di depan MAN/
MAK meninggalkan berbagai kenangan indah di desa ini.
Baru saja kutinggalkan Koto Baru, rasa rindu telah me-
nyergapku kembali. Semakin jauh bus berjalan, semakin
erat pula ingatanku memagut. Bus itu melesat memacu
http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT
angin, namun ingatanku bergerak lambat. Satu per satu
kenangan indah mulai tergambar jelas di depan pelupuk
mataku. Talago, dingin, nuansa Merapi-Singgalang dan
Sang Desi Ratnasari. Hanya pocong yang membuat
suasana jadi tak enak, mengacaukan semua lamunan
indah itu.
Tapi, insiden pocong terlalu kecil kalau dibandingkan
dengan anugerah indah yang terekam dalam perjalanan
hidup remaja perantau sepertiku. Hanya kurang dari
48 jam berada di kampungku, Bangko, Bagan Siapi-api,
aku bergerak kembali. Agaknya, air Talago Koto Baru
yang kuminum telah mendarah daging dalam tubuh
dan jiwaku, sehingga membuatku selalu terkenang pada
semua bagian di desa itu—orang-orangnya, alamnya, juga
keramahannya. Jiwaku pun berontak. Beribu alasan ku-
sampaikan pada Omak. Kubilang saja takut terlambat,
karena jarak tempuh yang cukup jauh. Dari Bagan Siapi-
api ke Pekanbaru setidaknya butuh waktu tujuh hingga
delapan jam, lalu menginap sehari di kos Pak Cik. Baru
kemudian menempuh waktu tujuh hingga delapan jam
lagi ke Bukit Tinggi. Setelahnya, menempuh perjalanan
25 menit dengan oplet Datsun ke Koto Baru. Setidaknya,
butuh waktu dua hari untuk sampai ke Koto Baru. Di
samping itu, aku juga menyampaikan tentang disiplin
baru yang akan ditegakkan pembina asrama pada semester
kedua nanti.
“Ustadz Amri pembina kami berencana menegakkan
disiplin lebih keras, Mak! Atan khawatir nanti terlambat!”
“Tapi 'kan ado pocong. Tak takut kau?!” ujar Omak
heran melihat keinginanku untuk cepat kembali. Padahal
waktu keberangkatan pertama dulu, enam bulan yang
297
http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS
lalu, aku menunjukkan gelagat enggan, bahkan hampir
tak mau. Itulah hati, yang selalu bolak-balik, dan pe-
miliknya sendiri tak memahaminya. Atau kadang berusaha
membohonginya. Hanya pemilik sejatinya, Sang Pencipta
yang memahami hati dengan pasti, dan tak akan dapat
dibohongi. Aku juga sempat menceritakan tentang pocong
saat ujian. Kendati begitu, tetap saja aku ingin secepatnya
kembali. Agak aneh memang, tertangkap jelas dari kerutan
kening pada wajah orangtua itu.
“Tak apo, Mak. Kami 'kan ramai! Hantu tu takut
pado orang ramai!”
Sekenanya saja kujawab, meski agak janggal di telinga
Omak. Sebenarnya, alasan yang kuberikan pada Omak tak
sekadar dibuat-buat. Aku tak berbohong, karena Ustadz
Amri telah berjanji akan menerapkan disiplin lebih ketat
pada semester kedua. Selama ini, dia menunggu instruksi
dari kepala sekolah, namun tak kunjung datang. Pada
semester kedua nanti, beliau mengambil inisiatif sendiri.
Aku menyampaikan semua itu kepada Omak, termasuk
pocong yang tak perlu terlalu dirisaukan. Kami toh sudah
biasa melihat hantu kendati hanya di layar kaca. Jadi,
alasanku rasanya lumayan masuk akal. Padahal, yang se-
sungguhnya terjadi, aku sudah rindu dengan Koto Baru—
suasananya, orang-orangnya, alamnya, juga anugerah
cintanya. Ditambah lagi hasrat di hati, yang ingin menjadi
perantau sejati.
Angan-anganku langsung melayang pada rekan-rekan
yang menetap di asrama. Entah karena betah berdiam
di Koto Baru atau ada alasan lainnya. Sebagian anak
Riau yang dekat seperti Pekanbaru berinisiatif pulang
kampung. Tapi yang lain, seperti dari Tanjung Pinang
298
http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT
dan Tembilahan lebih memilih menetap di asrama, meng-
habiskan masa-masa liburan di sana. Sebagian besar anak
Jambi juga tetap di asrama. Hanya sebagian kecil yang
pulang kampung. Terutama mereka yang secara geografis
relatif dekat dengan Koto Baru, seperti Ihsan dari Muaro
Bungo atau Zulhuda dari Kerinci. Sedangkan anak-anak
Sumatera Barat, tak usah ditanya. Tak tersisa satu orang
pun. Frekuensi mereka juga lebih sering tak ada di asrama,
bahkan ada yang tiap bulan atau tiap dua pekan balik
kampung menemui keluarga sambil menambah amunisi,
uang, beras, ataupun lauk-pauk. Bagi mereka, sekolah di
MAK Koto Baru hanyalah numpang menginap, bukan
merantau.
Sejatinya, aku sendiri tak ingin pulang kampung di
semester pertama ini. Apalagi kudengar Rasyid, Iwan, Yani,
dan Sarianto tak balik kampung. Sesama anak Bengkalis,
Syafrizal juga memilih bertahan di asrama. Bahkan,
Syarifuddin yang baru saja melihat penampakan pocong
tak keberatan tetap berada di asrama. Dia tak ikut-ikutan
balik kampung untuk lari dari kejaran pocong. Ia kuatkan
diri untuk melawan rasa takut itu. Ia hanya pindah ke
asrama kelas II untuk sementara waktu. Ada sedikit trauma
pada dirinya, tapi dengan segera bisa terobati.
Keinginanku untuk segera kembali ke asrama juga
terinspirasi oleh Kak Saiful, salah seorang senior kami
di kelas III. Ada tiga nama Saiful di sana, maka yang
kuceritakan di sini adalah Kak Saiful yang berasal dari
Lampung. Saiful lainnya sebut saja B dan C, berasal dari
Lubuk Basung Sumatera Barat dan Bengkulu. Sedangkan
Saiful A ini, dari Lampung. Ia seorang pria yang teguh
pendirian dan berani.
299
http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS
“Kalau ingin benar-benar merantau, jangan sering-
sering pulang. Itu hanya membuat kita cengeng dan manja.
Saya ini tiga tahun tak pulang. Dulu kerbau kesayangan
saya baru saja lahir. Kini sudah besar, kata Mak saya!”
cerita Kak Saiful riang. Wajahnya sangat bahagia.
“Apakah kalau sering pulang kurang berfaedah, Kak?”
tanyaku suatu malam usai tutor sebaya.
“Sebenarnya tidak juga. Tapi, kenikmatan merantau itu
akan berkurang kalau sering-sering pulang kampung!”
“Tapi 'kan kita perlu penyegaran, Kak?”
“Ya, di sanalah tantangannya merantau. Mungkin
karena saya yang kurang romantis dengan keluarga, tak
memahami pentingnya silaturahim. Bagi saya, jarang ber-
jumpa justru menjadikan rindu bertambah. Nanti akan
mencapai puncaknya saat saya tamat!” ujarnya yakin.
Matanya menerawang. Terselip rindu yang amat sangat
di sana, tapi matanya menunjukkan tekad baja dan api
semangat yang menyala-nyala.
Aku mengagumi pandangannya, sederhana, namun
menggugah. Agaknya, merantau di negeri orang memang
tak boleh tanggung-tanggung. Jika sebentar-sebentar
pulang kampung, sama saja dengan tamasya, bukan me-
rantau. Dahulu, banyak orang yang menuntut ilmu ke
pesantren yang sangat jauh, berpindah dari satu tempat
ke tempat lainnya. Tak tebersit sedikit pun untuk pulang
kampung. Pergi merantau menuntut ilmu bagaikan men-
jelajahi dunia antah berantah, yang setiap saat bisa meng-
ubah arah mata angin kehidupan. Salam perpisahan bagi
para perantau, bagai salam perpisahan bagi mujahid di
jalan Allah. Pulang dengan membawa kemenangan yang
gilang-gemilang atau syahid di medan pertempuran. Tak
300
http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT
ada yang dapat menjamin dan memprediksi masa depan
di tanah rantau.
Namun demikian, merantau merupakan jalan menuju
pencapaian kehidupan yang lebih baik. Diam dan ber-
pangku pada nasib akan menjadikan manusia bak katak
dalam tempurung. Air saja, kalau diam di tempat, pasti
akan keruh dan membusuk, setidaknya tak dapat dipakai
untuk berwudhu. Sebaliknya, dengan bergerak, mencari
jalan lain kehidupan di tempat-tempat yang berbeda,
maka semua wawasan akan terbuka. Ilmu pun bertambah,
pergaulan luas, cakrawala kehidupan kian bermakna.
Imam as-Syafi’i pernah berujar, “Orang berilmu dan
beradab tak diam di kampung halaman. Tinggalkan negeri-
mu, lalu merantaulah ke negeri orang. Merantaulah, maka
akan kau dapatkan pengganti kerabat dan kawan. Ber-
payah-payahlah, manisnya hidup akan terasa usai payah
berjuang.”
Kenyataannya, merantau memang membuka jalan
menuju kesuksesan. Entah berapa banyak perantau dari
negeri ini yang begitu hebat di negeri orang. Bahkan, tak
sedikit yang menjadi mercusuar dunia. Salah satu imam
besar Masjidil Haram di Mekkah adalah putra Indonesia,
berasal dari Ranah Minang pula. Dialah Syeikh Ahmad
Khatib al-Minangkabawi yang berasal dari Koto Gadang,
IV Koto, Agam, Sumatera Barat. Syeikh Ahmad Khatib
menjadi imam, khatib dan guru besar di Masjidil Haram
pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20, dan
memberikan pengaruh besar bagi keislaman di Minang
Kabau. Tentu saja predikat luar biasa itu didapatkan dari
ketekunan dan keluasan ilmu yang dimiliki.
“Hanya yang gigih di tanah rantau, yang sampai pada
predikat itu,” ujar Kak Saiful mengakhiri kisahnya.
301
http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS
Aku berada dalam dilema. Idealismeku menganjurkan
untuk tak pulang kampung semester ini. Terlalu dini,
belum apa-apa. Mendengar cerita Kak Saiful, aku merasa
malu jika disebut sebagai perantau di negeri orang. Ranah
Minang memang negeri rantau yang terasa jauh jika diukur
dengan patokan lama. Seorang Midun harus berjalan
tertatih-tatih dengan pedatinya menelusuri pundak
Gunung Merapi selama berhari-hari dalam perjalanan
antara Padang ke Bukit Tinggi. Tapi itu dulu, saat pedati
dengan sapi kurus di depannya menjadi alat transportasi
andalan. Sekarang, zaman telah berubah. Teknologi
transportasi telah mengalami revolusi luar biasa. Pedati
tinggal kenangan dalam lukisan-lukisan pemandangan
para seniman. Kini, semua berganti mesin, bahkan telah
berubah menjadi jet-jet pembelah angkasa. Dalam hitung-
an menit, jarak bermil-mil tuntas ditempuh.
Aku terpaku dalam rencana-rencana usai penerimaan
rapor. Sebenarnya, ada niat untuk menyembunyikan rapor
rangking 25 ini dari Omak. Caranya mudah saja, aku tak
balik kampung. Lebih dari itu, aku juga ingin menjadi
perantau sejati, yang biarlah tertatih di awal, namun men-
dapatkan kesuksesan di masa depan. Tapi Omak telah
mengeluarkan sebuah instruksi. Beliau merindukanku.
Lewat sebuah pesan pendek yang dikirim di balik wesel
sebelum ujian, disebutkan permintaan itu.
“Pulanglah walau tak lamo! Jangan lupa oleh-oleh
sanjai Bukit Tinggi. Tertanda. Omak.”
Aku membaca pesan pendek itu lama sekali, termangu
dalam ragu. Agaknya, ini sebuah perintah. Maka mau tak
mau, harus kujalankan titah suci ini, apa pun konsekuensi-
nya. Jika tidak, aku takut kualat, menjadi anak tak ber-
302
http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT
bakti, dan membantah kata-kata orangtua. Bukankah
kitab suci menyebutkan, bahwa berkata “ah” saja pada
orangtua itu dosa. Lagi pula, aku selalu teringat kesehatan
Abah yang belakangan sering memburuk. Minimal aku
bisa kembali melihat dan mengetahui keadaan pria
sederhana ini. Diam-diam terselip pula rindu di hati.
Gayung pun bersambut. Di sisi lain, kepulanganku juga
menyisakan perang batin dan rasa malu tak tertanggung.
Rangking 25 membuatku tak berkutik dan serba salah di
depan orangtua. Aku malu telah begitu menyombongkan
kepintaran yang secuil. Tak berani berargumen apa pun,
karena pernah sesumbar menyebut pengetahuan agama
mudah dikuasai. Sains lebih penting dan di atas segalanya.
Kini, aku tertunduk di hadapan Abah dan Omak, dengan
catatan rekor rangking 25. Lalu pocong pun jadi alasan,
kambing hitam yang pas untuk kasus ini. Entah salah apa
hantu blau itu.
***
303
http://facebook.com/indonesiapustaka 24
Kapal tak Bernakhoda,
Iwan Fals Berdendang
Datang kembali ke Koto Baru bagaikan terlahir untuk
yang kedua kalinya. Tak kusangka, desa permai di
pinggang Gunung Merapi dengan panorama Singgalang
yang pernah kutolak ini telah menjadi kawah penyimpan
rindu tak bertepi. Aku tak kuasa menahan hasrat untuk
kembali. Dinginnya malam, segarnya udara pagi, dan
bianglala senja menjelma menjadi sebentuk kenangan.
Indahnya persaudaraan, kebersamaan, senasib dan seper-
juangan sesama anak rantau merupakan kehangatan dalam
sebuah keluarga besar. Dan kompetisi panas dengan anak-
anak cerdas yang akan menjelang bagaikan tantangan yang
siap meledakkan semangat. Spirit baruku menggelora
menghadapi tantangan-tantangan itu. Dinginnya Koto
Baru, kehangatan ukhuwah, dan panasnya tantangan
persaingan tak hanya menyegarkan badan, namun juga
jiwa. Semuanya berpadu menjadi satu untuk menjadikan
http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT
kami sebagai makhluk baru yang siap kembali bertarung
menjadi yang terbaik. Aku pun datang dengan spirit
baru, bersiap untuk kembali memacu prestasi, melawan
semua kemalasan dan kebodohan. Aku siap menghadapi
janji Ustadz Amri yang akan bertindak tegas pada setiap
pelanggaran yang dilakukan penghuni asrama.
Hari pertama belajar di semester kedua adalah hari-
hari paling bersemangat bagiku. Aku bagai terlahir kembali.
Setiap pelajaran kulahap habis, baik pagi maupun kelas
tutorial sore. Malamnya, tutor sebaya tak pernah ku-
lewatkan. Bahkan, ritual wajib nonton Friday The 13th ku-
tinggalkan sementara. Aku pamit pada Geng Friday untuk
sementara waktu. Aku tak menyia-nyiakan waktu sedetik
pun. Waktuku hanya untuk belajar dan menimba ilmu.
Tak hanya Geng Friday, basket yang menjadi kegemaranku
sejak lama pun demikian. Kutinggalkan asyiknya empasan
bola-bola dan kepuasan menjaringkan si kulit bundar,
demi sebuah konsentrasi baru dalam kesungguhan belajar.
Frekuensi berlatih bela diri juga kukurangi, kumintakan
izin pada Pak Suwardi.
Rupanya, aku tak sendirian. Semua rekan-rekanku
kini berubah menjadi orang-orang serius. Entah karena
senasib kena damprat dan maki hamun orangtua masing-
masing, atau ada motivasi lain di balik itu. Sebagian di
antara mereka mulai membaca peta prestasi di antara 40
anak ini. Ada yang merasa sudah nasib menjadi juru kunci
dalam peringkat kelas, namun tak sedikit yang merasa
belum maksimal mengeluarkan potensi. Maklum, 40 anak
ini sama sepertiku, anak-anak pilihan dan berprestasi.
Terlempar dari peringkat pertama ke peringkat 30 atau
40 merupakan aib yang tak boleh terjadi. Tentu, cara
305
http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS
memperbaikinya hanya dengan kembali berusaha keras
melawan kebodohan.
Dalam dua bulan pertama, prestasi akademikku me-
ningkat cukup hebat. Sebuah revolusi pribadi telah terjadi
dan aku telah berada dalam lingkaran elite anak-anak
berprestasi. Aku seolah sudah berada dalam jalur yang
selama ini menjadi tekad dan keinginanku. Nilai post test
dan ulanganku menunjukkan angka yang memuaskan.
Angka-angka pun bergerak dari enam menjadi delapan,
dari tujuh menjadi sembilan. Tak jarang angka sepuluh
pun menjadi hakku. Aku juga menemukan bukti sahih per-
kataan Ustadz Hardiman tentang membaca kitab kuning
yang tiba-tiba saja terkuasai dengan sendirinya. Juga pe-
tuahnya untuk menjadi ikan yang tak terpengaruh asinnya
laut. Kini, Geng Friday perlahan kutinggalkan, dan inilah
yang kudapat. Awal prestasi.
***
Hanya dua bulan. Memang selama dua bulan itu, Ustadz
Amri mengawasi kami dengan ketat. Geng Friday masih
beraksi, namun dengan frekuensi yang sangat minim.
Ustadz Amri sudah paham kelakuan anggota geng dan
mengawasi dengan ketat rumah Mas Lono, tempat hantu-
hantu bergentayangan di layar kaca. Hanya yang benar-
benar nekad melakukan ritual nonton Friday The 13th,
saat Ustadz Amri diketahui sedang keluar kota. Itu pun
sangat jarang.
Sampai suatu hari, informasi itu mengentakkan kami.
Aku terdiam. Para siswa berprestasi muram. Para penjaga
moral di asrama menangis. Tapi, para pemuja Friday The
13th bersorak, pengagung kebebasan melantunkan lagu-
306
http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT
lagu bahagia. Revolusi telah bergulir, dan tentu saja korban
berjatuhan. Ada ungkapan yang sering dikatakan oleh
Bung Karno, “Ah, itu biasa dalam revolusi.” Tapi, ini bukan
sesuatu yang biasa bagi kami. Revolusi asrama itu berasal
dari informasi yang mendadak dan mengejutkan kami.
Ustadz Amri berhenti. Beliau tak lagi menjadi pembina
asrama kami. Beliau pindah ke Padang, mendapatkan
tugas baru yang menuntut konsentrasi penuh. Kami pun
terbiar.
Usai tak lagi memiliki pembina asrama, pengingat
dan pengayom, kami seperti kehilangan arah. Asrama
diatur dengan manajemen mandor kawat, hukum rimba,
atau tak ada aturan sama sekali. Aturan bersama yang di-
sepakati dengan serius tentang jam belajar, jam makan,
mandi, ke masjid, tentang kebersamaan, gotong-royong,
kebersihan atau entah apa lagi, kerap dilanggar sendiri
oleh para pembuatnya. Yang merasa hebat tak perlu ikut
aturan. Sebagian besar justru meremehkan aturan yang
disepakati bersama, bahkan menginjak-injaknya dengan
kejam. Awalnya cuma satu-dua, lalu perlahan menjadi
arus utama, menelikung akal sehat, dan berubah menjadi
pemufakatan jahat. Tangan kakak-kakak kelas yang ber-
wibawa hanya bisa menjangkau aktivitas di masjid, tak
lebih. Di asrama, semua dapat terjadi di luar ketentuan. No
rule. Usai kepergian Ustadz Amri, kami seperti anak-anak
ayam yang kehilangan induk, bagai kapal tak bernakhoda.
Barulah terasa, betapapun peran beliau sangat minim di
asrama, namun tengkeleknya yang berbunyi “klak kluk
klak kluk” itu saja dapat mengendurkan semangat untuk
berbuat negatif. Ketiadaan beliau tentu menjadikan kami
leluasa berbuat apa saja.
307
http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS
Tapi kami pun sebenarnya terbelah. Kalau dikelompok-
kan, ada beberapa golongan di antara kami. Golongan
pertama adalah mereka yang benar-benar tak berubah sama
sekali perilakunya, baik ada pembina asrama ataupun tidak.
Mereka tetap saja istiqamah, khusu’ dan tawadu’, tekun,
serta tetap bertungkus lumus dalam kegigihan menuntut
ilmu. Orang-orangnya jelas, Syahid, Rasyid, Andi, dan
gengnya di masjid. Ada lagi yang kehebatannya tergantung
pada pengaruh arus utama yang ada di asrama. Ketika tak
ada pembina asrama, mereka cenderung memperturutkan
gejolak remaja, mereka pun ikut larut di dalamnya. Yang
ketiga adalah mereka yang memelihara kenakalannya
kapan pun dan di mana pun. Pembina asrama masih ada
pun, tetap saja aktivitas nonton Friday The13th dilakukan,
dan beberapa aksi kenakalan lainnya. Seperti kelompok
sosial pada umumnya, anak-anak hebat kelompok pertama
sedikit jumlahnya. Kelompok yang benar-benar sulit diatur
juga tak seberapa. Yang terbanyak adalah yang pertengahan,
dan aku masuk di antaranya.
Ketiadaan pembina asrama menjadikan panggilan
misterius dari roh-roh jahat dalam benda keramat Friday
The 13th membahana. Ia menggoda rasa penasaran. Dua
bulan menjadi jeda waktu yang sangat panjang. Ingin
rasanya segera mengulang sensasi pulang dengan bulu
kuduk berdiri, ketakutan pada pocong dan roh jahat, lalu
lari terbirit-birit menuruni asrama. Aku kalah. Geng Friday
bahkan bertambah anggotanya, dua kali lipat. Akhirnya,
undangan itu pun datang. Undangan yang sebenarnya
kunantikan, untuk kembali larut dalam euforia. Tekad
untuk berubah pun hancur berkeping-keping. Roh jahat
telah merasuki kami dengan sempurna. Karena ada roh
308
http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT
jahat yang membantu menggerakkannya, Langkah kaki
menuju layar Friday The 13th tak lagi dapat kutolak. Kini,
sang kaki membantah tuannya dan langkah pun berayun,
berbelok ke arah film horor itu.
Aku pun mencari kambing hitam baru. Tak ada pem-
bina, itulah kambing hitamnya. Kulupakan petuah Ustadz
Hardiman tentang teori ikannya, juga nasihat tentang
“Anak-anak Langit” yang luar biasa dari Buya Ismail.
Kami larut dalam euforia dan ketiadaan pembina asrama.
Kami menikmatinya.
Selain kelalaian dengan Friday The 13th, berbagai
serangan virus dan roh jahat juga menghantui kami.
Kondisi asrama benar-benar kacau. Tak ada lagi keteduhan,
ketenangan, dan konsentrasi belajar. Mungkin, sebagian
kami sedang membangun kepercayaan diri baru, untuk
lari dari kenyataan. Atau menciptakan ingar-bingar, agar
dapat lari dari paranoia ketakutan kepada makhluk ber-
nama pocong. Maka, beberapa kawan mulai menyetel
radio dan tape recorder sekencang-kencangnya. Ketika
mendengar suara ingar-bingar ini, sang pocong pun akan
ikut berjoget. Tak ada lagi ketakutan, kecemasan, dan
putus asa. Semua bergembira dan larut dalam euforia.
Tentu, ingar-bingar itu dipandang sebagai ketidak-
disiplinan bagi orang luar. Ini adalah bentuk kekacauan
yang nyata. Pada suatu malam, larut malam, sang kepala
sekolah yang rumah dinasnya tak jauh dari asrama kami itu
pun datang. Pak Bernard, sang kepala sekolah itu berang
bukan kepalang. Rupanya, beliau sudah memantau sejak
beberapa waktu lalu, tanpa ada yang menyadarinya sedikit
pun. Dan dia sudah berdiri di pintu kamar enam, tempat
kekacauan dengan suasana heboh itu terjadi. Lalu plak,
309
http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS
plak! Dua tamparan mendarat! Dia tahu si pembuat onar
dan langsung menamparnya. Bani Adam. Yang terkena
hanya diam, namun gerahamnya beradu menahan geram.
“Kalian benar-benar tak tahu malu. Malam-malam
begini masih membuat ribut! Dasar berandal!”
Kami terdiam, dan baru menyadari di sana telah hadir
sosok yang bisa menentukan masa depan kami. Padanya
memang ada otoritas penuh. Di tangannya ada tanda
tangan yang dapat menentukan seluruh masa depan kami.
Lidahnya asin, tanda tangannya ajaib. Kami pun gentar.
Kecut. Jantung berdebar tak keruan.
“Siapa lagi yang memicu keributan?!”
Kami terdiam. Baru kali itu beliau muncul, namun
wibawanya menjatuhkan mental kami. Ternyata, ia sosok
yang berani dan tegas, walaupun tak ditunjukkan dalam
kesehariannya. Dia bukan tipe lembut yang tak berani
berbuat apa-apa, bahkan setelah delapan bulan kami
bertetangga dengannya. Semua terkesiap melihat shock
therapy yang diberikannya. Tapi keheningan pupus, saat
seseorang dari kami menyela.
“Saya, Pak. Saya bertanggung jawab di sini! Saya ikut
berbuat kegaduhan!”
Mata Pak Bernard mengarah kepada suara itu. Lalu,
plak! Tamparan keras mendarat di pipi Andi Putra Nanda.
Anak asal Aceh, ketua asrama kami itu meringis. Tapi ia
tampak tegar. Ada rona bahagia di matanya. Ia seperti puas
mendapatkan tamparan keras yang benar-benar nyata.
Bagai terbangun dari tidur panjang. Anak berprestasi
seperti Andi dengan tegar menunjukkan kejantanannya,
tanggung jawab, dan keteguhan hati. Ia adalah martir
310
http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT
bagi kami. Ada penyesalan di wajah Pak Bernard usai me-
layangkan tangannya pada Andi, seorang brilian di antara
kami, juara kelas di semester pertama, mengalahkan semua
anak cerdas dan rajin seperti Rasyid, Syahid, Burmal atau
Syafrizal. Ya, Andi-lah sang juara di antara kami, dan dialah
juga yang mendapatkan hadiah tangan itu. Kulihat wajah
Pak Bernard memerah. Ada rona kasihan dan tak tega
di matanya. Namun tangan sudah terlanjur digerakkan,
wibawa harus ditegakkan, dan pantang ditarik lagi. Lalu
berkodi-kodi, berlaksa-laksa kemarahan dan sumpah
serapah tak tertahan keluar dari mulut Pak Bernard.
Nasihat-nasihatnya juga tak terbendung. Kami hanya
diam. Tapi dalam hati menggerutu tak keruan.
Kedatangan Pak Bernard memang kami nantikan,
untuk memperhatikan, bergaul dengan kami yang yatim
piatu, tak terurus di asrama hebat ini. Kedatangannya yang
mendadak tentu sebuah anugerah. Alih-alih memberikan
pencerahan, kedatangan itu justru memberikan tamparan.
Sekali datang, tiga tamparan. Diam-diam kami meradang.
Lima menit setelah beliau kembali ke rumah dinasnya
yang elok, kehebohan kembali terjadi. Sejak detik itu, per-
lawanan justru baru saja dimulai. Api pun berkobar dalam
hati, di antara selimut dinginnya Koto Baru. Malam-malam
yang dingin tak menjadikan api kemarahan itu pupus dan
redam, malah semakin menyala-nyala, membakar hati
kami yang awalnya adalah anak-anak baik, teladan, dan
brilian. Kami benar-benar tak terima dengan perlakuan
tak adil ini.
Beberapa kawan mengonkretkan kemarahan itu. Ada
yang mengambil gitar, lalu memainkannya dan menyanyi
sekeras-kerasnya. Ada pula yang membeli stik drum, lalu
311
http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS
menggebuk-gebuk lemari, merasa telah menjadi drummer
hebat pula. Yang lain membantu dengan menepuk kaleng
rombeng. Grup musik jadi-jadian pun hadir di asrama itu.
Ada yang merasa telah menjadi Iwan Fals, lengkap dengan
upaya menggondrongkan rambut, memakai semua atribut
dan membeli posternya. Rambut gondrong itu tentu dapat
menjadi masalah. Kalau ada razia di sekolah, mereka
sembunyi di asrama, baru masuk kelas setelah aman. Ada
yang merasa telah menjadi Ari Wibowo, lengkap pula
dengan kaca mata hitam dan topi baretnya yang khas
seniman ala sastrawan Putu Wijaya. Lalu beberapa grup
musik ini pun memulai aksinya di malam-malam yang
dingin. Pertama gaya Ari Wibowo, dengan “Madu dan
Racun”nya.
“Madu di tangan kananmu... Racun di tangan kirimu...
Aku tak tahu mana yang akan kau berikan padakuuu...
Aku tak tahu mana yang akan kau berikan padakuuu...
jreng jreng jreng!”
Lalu berpadu pula dengan lagu lain, yang tak kalah
hebat, “Singkong dan Keju” dengan gubahan yang unik.
“Aku suka singkong, kau suka keju ou ou ou...
Aku dambakan, seorang pembina yang sederhanaaa...
Aku ini hanya anak singkong... aku... hanya... anak
singkoooooonggg... jreng jreng jreng!”
Tak lama berselang, lagu-lagu Iwan Fals muncul dari
beberapa kamar yang menyuarakan kemarahan tiada tara.
Kemarahan itu berpadu dengan kreativitas yang melonjak-
lonjak dari otak-otak besar para penghuni asrama, dari
beberapa kelompok berandal kambuhan yang awalnya
adalah para calon ustadz ini. Lagu “Pesawat Tempur” pun
membahana, dengan gubahan yang antik dari Bani Adam.
312
http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT
“Waktu kau lewat, aku sedang mainkan gitar. Sebuah
lagu yang kunyanyikan tentang dirimu... Seperti kemarin,
kamu hanya lemparkan tangan... Lalu pergi begitu saja
bagai pesawat tempur... jreng jreng jreng!”
“Hai kau yang di sana, singgahlah untuk bernyanyi...
Singgahlah walau hanya sebentar... Penguasa, penguasa,
berilah hambamu uang... Beri hamba uang... Beri hamba
uang... Beri hamba uaaaaangg... jreng jreng jreng!”
Dan simaklah gubahan lagu Iwan Fals dan grupnya
Swami dengan lagu “Bongkar”. Gubahan ini pun keluar
dari mulut Bani Adam yang ternyata benar-benar marah
dengan tamparan Pak Bernard malam itu.
“Kalau cinta sudah dibuang... Jangan harap keadilan
akan datang... Kesedihan hanya tontonan... Bagi mereka
yang diperbudak jabatan... Wo o ya o ya o ya Bernard...
Wo o ya o ya o ya Bernard... jreng jreng jreng!”
“Di jalanan, kami sandarkan cita-cita... Sebab di
asrama tak ada lagi yang bisa dipercaya... Orang tua,
pandanglah kami sebagai manusia... Kami bertanya, tolong
kau jawab dengan cinta... Wo o ya o ya o ya Bernard...Wo
o ya o ya o ya Bernard... jreng jreng jreng!”
Selain bermain gitar dan alat musik jadi-jadian—baik
itu lemari, ember, dan kaleng-kaleng rombeng—ada juga
yang dengan suara pas-pasan memilih menyetel tape
sekeras-kerasnya lalu menyanyi sesuka hati, mumpung
tak ada yang melarang. Nyanyian itu sekaligus bernada
tantangan, dan aku yakin pasti sampai ke rumah dinas
Pak Bernard. Hendra pun mulai beraksi. Lewat bakat meng-
gambarnya, dibuatlah beberapa karikatur, lalu ditempelkan
di dinding kamar dan di kaca depan asrama kami. Sayang-
nya, sang kepala sekolah tak pernah lewat jalan itu, karena
313
http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS
dia lebih memilih jalan ke arah Aspi setiap hari. Jadi,
karikatur itu tak pernah terlihat. Padahal, karikaturnya
merupakan sarkasme yang luar biasa. Rupanya, Pak Bernard
tak tertarik lagi mendatangi asrama kami dan membiarkan
semua kekacauan terus terjadi. Ternyata, tantangan kami
benar-benar diabaikan Pak Bernard, dan kami pun makin
terpuruk. Semua makin menjadi-jadi, karena pengganti
Ustadz Amri tak kunjung ada.
Sebenarnya, ada upaya Kepala Sekolah untuk
mencari pengganti Ustadz Amri. Sejumlah nama terdedah.
Ada guru bahasa Arab kelas II, Ustadz Yasri Ilyas, guru
bahasa Indonesia kami Pak Firman, guru fikih di MAN
Pak Syamsul, hingga guru bahasa Inggris Pak Makmun.
Guru bahasa Arab kelas II, yang menjadi favoritku, Ustadz
Yasri Ilyas, tak mungkin meninggalkan anak didiknya
di Parabek, Bukit Tinggi. Salah satu pesantren tertua di
Ranah Minang itu memagari Ustadz Yasri dengan ketat.
Beliau sangat diperlukan di sana, mutiara yang tak akan
ditukar dengan apa pun. Beliau hanya bisa berbagi ilmu di
sini, tapi tak dapat bersama kami di asrama. Aku menyesali
tak dapat lebih leluasa menggali ilmunya selain di dalam
kelas, ketika mulai naik kelas dua. Beliau terlalu hebat
untuk disia-siakan. Tapi itulah adanya. Pak Firman juga
demikian, karena Kepala Sekolah tak menginginkannya,
dengan alasan masih terlalu muda, masih lajang pula. Ber-
bulan-bulan kemudian, setelah banyak waktu-waktu yang
kosong, Pak Syamsul dan Pak Makmun akhirnya menjadi
pembina asrama kami secara bergantian. Namun, beliau-
beliau itu tak tinggal di asrama, sehingga tetap tak dapat
sepenuhnya mengontrol kelakuan anak-anak ini. Maka,
euforia sepanjang hari pun menjadi milik kami seutuhnya.
314
http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT
No law, no rule. Hukum rimbalah yang berlaku. Dan
itu terjadi selama satu setengah tahun. Waktu yang tak
sebentar, Sobat!
***
315
http://facebook.com/indonesiapustaka 25
Jin-jin Bergentayangan
di Langit Koto Baru
Sesuatu yang menakutkan kadang terasa nisbi, dan men-
jadi aneh di sisi lainnya. Ketakutan kami pada hantu-
hantu dan roh jahat dalam film Friday The 13th justru
menjadi magnet dengan daya tarik yang sangat kuat. Rasa
ingin tahu menjelma menjadi candu. Setelah melihatnya
sekali, ingin mengulangi untuk yang kedua kali. Dan
ingin menontonnya lagi dan lagi. Dalam perkembangan
berikutnya, terjadi revolusi perilaku yang sungguh sangat
mengerikan bagi kami. Roh-roh jahat dalam film Friday The
13th melompat keluar dari televisi, merasuki kehidupan
anak-anak muda ini. Kali ini, yang terjadi sungguh-sungguh
telah membelenggu jiwa mereka. Ia nyata, senyata terbitnya
mentari di balik Merapi, lalu tenggelam di balik Singgalang.
Oh sobat, agaknya inilah masa terkelam dalam kehidupan
berasrama kami.
http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT
Semua ini bermula dari Pak Boy, seorang guru
supranatural dan ahli tenaga dalam dari Padang Panjang.
Salah seorang teman berguru kepadanya, kemudian mem-
perkenalkannya pada teman-teman di asrama. Ia meng-
ajarkan seni bela diri dari dunia supranatural. Ajarannya
sungguh ajaib dan instan. Berbagai peragaan kemampuan-
nya sempat terdedah di depan kami, dan semuanya ber-
decak kagum tak kepalang. Pak Boy berperawakan kecil.
Wajahnya tirus, tubuhnya ceking tak berisi. Ia suka me-
ngenakan jaket tebal dan longgar, sehingga tubuh ceking-
nya terlindungi, terlihat lebih berisi. Ia adalah sosok yang
unik dengan rambut gondrong dan kumis tak keruan,
melenting sana-sini, jaket serta pakaian acak-acakan.
Bibirnya hitam legam. Geliginya pun agak kehitaman.
Ketika pertama kali datang ke asrama kami, ia duduk di
atas meja dengan pongah. Sejurus kemudian, ia menyulut
rokok kereteknya, lalu mengepul-ngepulkan asapnya ke
segala arah. Polahnya seenaknya. Di balik sikap cueknya,
tatapan mata lelaki ini begitu tajam. Ia lelaki yang penuh
karakter, dan dengan cepat segera menjadi idola bagi
sebagian kami yang goyah, yang sedang mencari jati diri.
Karakter jiwa seninya, dan yang terpenting keajaiban
supranatural yang dimilikinya adalah magnet yang luar
biasa. Ketika melihatnya pertama kali mengajarkan sesuatu
yang kunilai agak menyimpang, aku dan beberapa kawan
mencoba untuk menghindar. Tapi, arus utama asrama ini
justru mendukungnya.
Tanpa sadar, ajaran-ajaran supranatural yang luar
biasa itu merasuk ke jiwa sebagian anak-anak langit yang
hebat ini. Ketiadaan pembimbing benar-benar menjadikan
segala hal datang kepada kami tanpa ada filter sedikit
317
http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS
pun. Ibarat serbuan air bah yang menyapu apa saja,
merontokkan semua benteng moral dan akidah. Sejak
kedatangan Pak Boy, tiba-tiba saja ilmu tenaga dalam
menjadi tren yang sangat digemari. Ia seolah menjadi dewa
penyelamat di antara kami yang mulai kehilangan jati diri.
Dia membimbing kami ke jalannya yang kelam. Ia ajarkan
segala hal berbau klenik. Sebagian kami memanggilnya
Mas Boy, sebuah panggilan akrab, karena ia memang
keturunan Jawa dan masih sangat muda. Padahal, ia ber-
karakter lokal, bahasa Minangnya lancar.
Sejak itu, tontonan Friday The 13th bukan sekadar
hiburan atau pemacu adrenalin. Roh-roh jahat itu benar-
benar nyata keluar dari televisi, dan memasuki kepala
kami satu per satu. Wabahnya menyebar cepat sekali.
Hanya sedikit yang mampu bertahan. Kesibukanku ber-
sama Pak Suwardi menjadikanku dan beberapa kawan
selamat dari cengkeraman jin-jin yang bergentayangan di
langit Koto Baru ini. Beberapa teman lain, yang masih
memiliki akal sehat dan akidah yang kuat, tak mau ikut-
ikutan dengan berbagai alasan. Rasyid, Andi, Badrun, dan
Syahid contohnya. Tapi mayoritas justru tergoda untuk
ikut di dalamnya. Anak-anak muda ini benar-benar telah
terlena.
Bayangkan, hanya dengan sekali sentak, dari jarak dua
hingga tiga meter, orang lain akan terpental. Betapa hebat-
nya tenaga dalam yang diajarkan Pak Boy. Tak hanya itu,
ilmu tenaga dalam ini juga dapat menjaga diri dari serangan
siapa saja tanpa perlu kuda-kuda atau menghafal jurus.
Tak perlu latihan fisik yang melelahkan dan berdarah-
darah, atau mengeluarkan keringat berlebihan. Setiap
orang yang hendak menyerang akan terpental dengan
318
http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT
sendirinya tanpa disentuh sedikit pun. Bahkan, saat tidur
pun ia dijamin aman, karena kekuatan tenaga prana, chi,
ki, juga para khodam dan entah apalagi namanya telah
menjaga tubuhnya. Sedikit atraksi diperlihatkan Pak
Boy. Dengan sandal yang sudah diisi tenaga dalam, salah
seorang dari kami diminta mengambil sandal tersebut. Apa
yang terjadi? Kawan itu justru terpelanting. Betapa hebat-
nya. Semua ingin segera menjadi pendekar pilih banding,
sakti mandraguna bak Brama Kumbara. Siapa tak tergoda
memiliki kekuatan sakti mandraguna ini? Apalagi kami.
Sekelompok anak muda tanpa pegangan, tanpa tempat
bertanya.
Hari-hari berikutnya adalah hari-hari yang penuh
aroma magis. Berbagai latihan digelar, mulai dari pernapas-
an hingga olah tenaga dalam. Tapi ada syaratnya. Latihan itu
harus dibarengi dengan olah emosi. Sebab, latihan tenaga
dalam menuntut emosi tinggi bagi penyerangnya. Hanya
dengan lawan yang emosi, ilmu ini dapat dikeluarkan. Dan
terpentallah dia karena emosinya. Latihan ini tak hanya
dilakukan di lapangan basket saat tengah malam, tapi juga
di asrama—baik di dalam kamar atau pun di depan asrama.
Di samping itu, lapangan Batu Palano dan beberapa ruang
terbuka hijau di Koto Baru juga menjadi tempat latihan
alternatif. Semuanya dilakukan di malam hari.
Dalam perkembangan yang lebih ekstrem, guru
tenaga dalam pun mulai datang silih berganti. Tak hanya
Pak Boy, masih banyak yang lainnya, dengan aliran-aliran
yang beraneka rupa. Bahkan, Pak Boy mulai kehilangan
murid. Hanya yang benar-benar setia saja yang masih
mengikutinya. Dengan guru-guru yang dianggap lebih
sakti, yang entah dari mana datangnya, maka aliran tenaga
319
http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS
dalam yang menyerbu asrama kami tak jelas lagi bentuknya.
Semuanya demi memenuhi hasrat dan rasa penasaran pada
ilmu bela diri instan. Buat apa latihan keras, kalau hanya
dengan ujung jari saja bisa membuat orang lain terkapar?
Itulah yang ada di pikiran sebagian besar kawan-kawanku
ini. Di balik itu, banyak juga di antara mereka yang hanya
mencari sensasi, atau kompensasi dari kemarahan yang
tak berujung. Berbagai krisis percaya diri telah terlahir
akibat berbagai janji muluk tak terealisasi. Terlebih di
tengah hiruk-pikuk serbuan ilmu-ilmu tenaga dalam ini,
pembina asrama pun tak ada. Akhirnya, rasa frustrasi dan
krisis percaya diri menggumpal, lalu menggelinding bagai
bola salju. Bobollah semua benteng pertahanan. Krisis
kepercayaan diri telah membuat ilmu-ilmu ini leluasa
merasuki jiwa-jiwa hampa. Ia mengalir bersama aliran
darah yang telah terkorosi oleh segala racun instan ber-
nama “tenaga dalam”.
Kalau hanya belajar tenaga dalam biasa, mungkin
beberapa kawan yang lain masih bisa menerima. Tapi
yang terjadi sungguh di luar dugaan. Tiap hari, ada saja
yang berkelahi. Jika emosi meledak, maka pintu kerap
jadi sasaran. Pintu kayu yang dilapisi tripleks itu pun
pecah bagian luarnya, dihantam beberapa kawan yang tak
mampu menahan luapan emosinya. Bukan hanya satu,
tapi nyaris semua pintu kamar. Sebab, pengikut aliran
tenaga dalam ini berasal dari seluruh perwakilan kamar.
Tidak ada kamar yang steril dari kuatnya pengaruh ajaran
tenaga dalam ini.
Tak terhitung lagi berapa kawan yang baku hantam
karena luapan emosinya. Tak sedikit yang berdarah-darah,
karena terbentur tembok atau jatuh di lantai. Entah berapa
320
http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT
banyak yang histeris dan kejang-kejang secara mendadak.
Tenaga dalam ini benar-benar berusaha membangkitkan
emosi penggunanya, ketika tersenggol sedikit saja, maka
darah muda langsung bergejolak. Baku hantam pun tak
terhindarkan. Hari-hari kami hanya disibukkan dengan
berkelahi, emosi, baku hantam, sedangkan yang netral
berusaha mendamaikan.
Ke mana Kepala Sekolah? Aku tak tahu. Tapi yang
pasti, setelah insiden penamparan itu, beliau tak muncul
lagi di asrama. Entah apa jadinya kalau beliau berani
muncul di tengah emosi anak muda yang tak terkendali.
Sebagian dari kami pun mulai meracau dan dilingkupi
kesurupan tingkat tinggi. Kalau itu terjadi, hanya sesama
mereka yang sanggup mengatasi. Tengkelek Ustadz
Amri pun mungkin tak akan berpengaruh. Juga wibawa
Kepala Sekolah. Sebab yang mengendalikan bukan lagi
dirinya, melainkan jin-jin. Mungkin Pak Kepala Sekolah
membaca gelagat ini, dan lebih baik mendiamkan daripada
masuk dalam pusaran persoalan yang salah-salah akan
menghantam dirinya. Fase berikutnya menjadi bagian
paling kelam bagi asrama kami. Pembelajaran tenaga
dalam yang diterima kawan-kawan ini tak lagi sekadar
mengandalkan emosi lawan. Kini, mereka mengundang
jin-jin seluruh dunia, untuk memaksimalkan kekuatan
tenaga dalam yang mereka miliki.
Saat itu, di malam yang senyap, aku terjebak dalam
kamar sepuluh, tempatku sekamar dengan Satria, Haris,
dan Fadri. Usai ujian, kami memang melakukan pertukaran
kamar, dan inilah kawan-kawanku, yang ketiganya meng-
ikuti pelajaran tenaga dalam dengan memanggil jin-jin.
Mereka menyebutnya syekh. Aku terbangun dalam samar,
321
http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS
di tengah igauan panjang yang tak bertepi. Di kamar itu,
aku berada di tempat tidur tingkat dua yang batas pinggir
besinya kututup handuk. Selimut tebal dan jaket adalah
perlengkapan lain yang wajib saat tidur. Dari bawah,
sosok tidurku dipastikan tak akan kelihatan. Mungkin
mereka tak menyadari aku berada di ruangan itu, atau
aku pasti diperkirakan akan terlelap hingga pagi hari,
sehingga latihan malam itu dilakukan di kamar kami,
tanpa memperhitungkanku. Pesertanya juga bukan hanya
anggota kamar, melainkan juga dari kamar lain, kakak-
kakak kelas, juga anak-anak MAN, dan beberapa orang
asing yang umurnya lebih dewasa. Sebagian kukenal dari
suara-suara mereka. Ramai sekali.
Saat kesadaranku terjaga, belum lagi mata kubuka,
hawa mencekam dan mengerikan langsung menyeruak
di sekeliling kamar. Aku merasakan suasana tak biasa,
panas, dan mencekam. Tak pernah ada cerita AC mati
di Koto Baru, tapi aku merasakannya malam itu, dini
hari yang menggetarkan dan menggelisahkan. Suara-
suara geraman, gemuruh geligi, dan mantra, para syekh
yang menyampaikan petuah, yang keluar dari sebagian
mulut anak-anak ini, berganti satu per satu. Ritual-ritual
aneh menghiasi kamar itu. Awan hitam menggantung di
Koto Baru, jin-jin berpesta, dan anak-anak ini larut dalam
euforia. Sementara aku terjebak di sini, antara tidur dan
jaga, antara ada dan tiada di alam nyata.
“Hghghh, rrrrrrrrr, khalian harus berthahan. Akhan
bhanyak sherangan dhari musuh-musuh... rrrrrrr!”
Suara orang tua terdengar dari mulut salah satu dari
mereka. Jika disimak suaranya, kesannya berat sekali,
seperti orang tua yang benar-benar telah uzur, yang telah
322
http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT
menghabiskan umurnya lebih dari seabad. Aku merasa
aneh, karena sebelumnya kudengar hanya suara anak-
anak muda. Sebagian kukenal, yang lain tidak.
“Ugh..ugh...nanti saatnya khalian harus melakhukan
serangan bhalik. Syekh dari Iraq akhan membantu...!
Akhan kita mintha jugha bhantuan syekh-syekh dari
Afrikha, Iran dan khawasan Thimur Thengah lainnya...!”
Kali ini suara berbeda datang dari mulut lainnya.
Suaranya tetap berat, tertatih-tatih dan seret. Mendengar-
nya terasa melelahkan, tapi nyali akan runtuh dibuatnya.
Bulu kuduk akan berdiri, semua bulu roma bereaksi. Ia
menghantam titik alam bawah sadar dengan begitu cepat.
Aku masih terbuai dalam suasana mencekam mengikuti
pertunjukan yang tak biasa ini. Sekonyong-konyong, ada
suara yang menggelegar dari salah satu mereka.
“Wrrrrr ghhhhh brrrrghh, siapa yang berani memata-
matai di sini. Ada yang thak bheres di ruangan ini!”
Lalu kudengar di antara mereka saling kasak-kusuk.
Ada saling curiga di antara mereka. Ada yang bertanya,
siapa di antara mereka yang masuk perguruan lain. Ada-
kah berguru pada syekh lain yang berlawanan dengan
para syekh ini?
“Ayo, coba mengaku kalau ada orang lain di sini.
Kalau tidak syekh bisa marah!”
Kali ini suara anak muda, barangkali koordinator
di antara mereka. Ia terdengar gusar sekali. Ia menanyai
semua orang di sana berkali-kali. Terdengar kata “bukan”
dan “tidak” berulang kali.
“Kalau bukan kalian, lalu siapa?”
“Bhukannn merekhaaa. Tapi ada sathu orang lain di
siniii. Chariii dan temukhan!”
323
http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS
“O iya, ada Simuh sedang tidur di atas!” ujar sese-
orang. Aku kenal suaranya, salah seorang penghuni kamar
ini, Satria.
Aku tercekat. Detik jarum jam seakan berhenti. Hanya
mereka yang bergerak, bercakap-cakap dan dapat ber-
buat semaunya. Sementara aku, nadiku, napasku, seluruh
sendiku berhenti. Kemudian, kurasakan darahku berdesir,
lalu jantungku berdetak kencang sekali. Wajahku agaknya
memutih, pucat pasi, karena tamparan angin dingin terasa
sangat keras menusuk ke wajah, menyergap tiba-tiba,
setelah tadi panas membara. Lalu mereka membangun-
kanku yang sebenarnya sudah sejak beberapa waktu lalu
terbangun, tepatnya antara sadar dan tidak. Kini aku ter-
sadar sepenuhnya. Mendadak saja, suara-suara syekh itu
menghilang dari beberapa anak muda di sana. Saat sudah
terbangun dengan sempurna, kulihat di antara mereka
mengerjap-ngerjapkan mata, seperti baru saja tersadar.
Aku dibimbing keluar kamar.
“Tolong berwudhu di kamar mandi dan shalat sunnah-
lah dua rakaat,” ujar salah seorang yang asing bagiku. Pem-
bawaannya tenang, tapi sorot matanya tajam menghunjam
dada.
Dalam gundah, aku tak memiliki pilihan lain selain
menurut saja dan melangkah keluar kamar. Saat me-
langkah keluar pintu, kurasakan berbagai mata tajam me-
mandang ke arahku, jauh lebih banyak dari orang yang
hadir di dalam ruangan itu. Semuanya seakan berkata,
“Dasar mata-mata musuh, tak tahu diri! Enyah Kau!”
Aku bergidik. Ini jauh lebih dahsyat dari sekadar sensasi
menonton Friday The 13th. Ini nyata, bukan ilusi atau
permainan akting di layar kaca. Entah apa yang terjadi
324
http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT
saat aku di kamar mandi. Tapi yang jelas, setelah masuk
kembali ke kamar, orang-orang itu tak ada lagi. Tinggal
kami berempat penghuni kamar yang tersisa. Sejurus
kemudian, ketiganya pergi meninggalkanku yang terdiam
dalam tanda tanya.
***
325
http://facebook.com/indonesiapustaka 26
Sarang Penyamun
Pengaruh jin yang bergentayangan di asrama sampai ke
mana-mana. Pengaruh itu juga sampai di kelas. Perilaku
kami menjadi benar-benar tak terkendali lagi, masuk level
berandal, sama sekali tak mencerminkan perilaku calon
ulama seperti yang didengung-dengungkan. Masa remaja
kami habis untuk hal-hal yang tak penting, dan semuanya
makin menjadi-jadi, di mana pun, kapan pun.
Sampai-sampai, rasa frustrasi itu mampir ke kelas, di
tengah para ibu guru. Waktu itu, ada lagu yang sangat ter-
kenal tentang Ibu Guru. Lirik syairnya yang paling meng-
goda anak-anak muda untuk larut menirunya.
“Guruku cantik sekali
mengajar kami bahasa Inggris...”
Kalau ada yang coba melantunkan lagu ini di asrama,
betapapun sumbang suaranya, yang lain akan mengikuti
http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT
dengan sungguh-sungguh. Akan ada koor bersama yang
tiba-tiba saja terbentuk. Minimal ikut berdendang. Semua-
nya disumbangkan demi seseorang yang menjadi idola
bagi sebagian besar kami. Dialah Bu Jamila, guru bahasa
Inggris yang masih lajang, mojang Priangan yang tiba-tiba
datang menjadi pengobat rindu bagi bujang-bujang putus
asa.
Kehadiran Bu Jamila bagaikan oase di tengah gurun
pasir. Melegakan, menghilangkan dahaga. Menyejukkan
sekaligus menghanyutkan. Ataukah ia hanya fatamorgana
oase, yang dari jarak ratusan meter tampak akan memuas-
kan rasa haus, sebuah telaga bening yang menjadi harap-
an, lalu perlahan hilang dari pandangan mata, begitu sang
pengembara menghampirinya? Sulit ditebak, seperti sulit-
nya menebak isi hati atau keinginan-keinginannya. Yang
nyata kami rasakan, kehadiran beliau menjadi penawar
bagi para bujang yang sedang dilanda rasa frustrasi berat
di asrama.
Mila Jamila Karmila, itulah namanya. Beliau mem-
perkenalkan diri berasal dari Bandung. Lulusan IKIP
Padang, Jurusan Bahasa dan Sastra Inggris. Kuliah di sana
karena mengikuti orangtuanya yang selalu berpindah
tugas. Berbekal ilmu bahasa Inggris itu dan ingin meng-
abdikan pengetahuannya, maka Bu Jamila melamar
menjadi guru bahasa Inggris di MAN/MAK. Dan entah
mengapa, Bidang Kurikulum menempatkannya di kelas
kami, anak-anak yang sedang haus kasih sayang dan
perhatian. Tentu, kehadiran Bu Jamila menjadi magnet,
primadona bagi kami.
Bu Jamila merupakan sosok yang sesuai namanya,
cantik dan anggun. Beliau juga sangat supel, pandai bergaul
327
http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS
dan ramah. Termasuk kepada kami, murid-muridnya.
Sosoknya tinggi semampai, bahkan cenderung kurus. Ada
kawan usil yang menjulukinya kutilang, alias kurus tinggi
langsing. Namun itu tak mengurangi keindahan ciptaan
Tuhan yang dititipkan pada dirinya. Bibirnya selalu merah
menyala dibaluti lipstik merek terkenal, begitu juga bedak
yang menghiasi wajahnya. Sangat serasi dan berkelas.
Kalaupun tak menggunakan make up sama sekali, rasanya
keindahan wanita sudah menjadi miliknya. Apalagi dengan
semua balutan make up itu.
Bu Jamila selalu tampil sempurna di depan kelas,
dengan rasa percaya diri tinggi, langkahnya pasti. Kami
nyaris tak percaya ada supermodel kelas atas yang bersedia
masuk kampung di Koto Baru ini, hanya untuk mengajar-
kan kami ber-cas-cis-cus. Yang membedakannya dengan
supermodel papan atas Jakarta hanya balutan pakaian
dan jilbab yang selalu rapi menutupi auratnya. Karena itu,
ketika ia mengajar, yang kami perhatikan kerapkali bukan
pelajarannya, melainkan paras dan keindahannya. Kami
seperti melihat cover Majalah Gadis, tapi yang ini islami,
memakai jilbab. Kalau sekarang, ia pantas sekali menjadi
cover Majalah Alia.
Sebenarnya, tak hanya Bu Jamila korps muslimah
yang berani masuk ke sarang penyamun ini. Cukup
banyak stok anak perawan yang berani masuk dan berdiri
di depan kelas, mengajarkan berbagai pelajaran kepada
kami. Kalau dalam novel karya Sutan Takdir Ali Syahbana,
Anak Perawan di Sarang Penyamun itu, para penyamun-
lah yang menculik anak perawan, namun di sini beda.
Merekalah yang masuk ke sarang penyamun. Alangkah
beraninya. Tapi mereka guru, telah lulus sarjana keguruan,
328
http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT
tentu telah dibekali cara untuk menaklukkan hati siswa,
betapa pun berandalnya. Di kelas kami, ada Bu Riska yang
mengajarkan sejarah, Bu Zulfarini yang mengajarkan IPS,
Bu Serly yang mengajarkan IPA Biologi-Kimia, Bu Citra
yang mengajarkan matematika, sampai Bu Ningsih yang
mengajarkan keterampilan. Jika ditotal, sekitar 40 persen
guru yang mengajarkan mata pelajaran umum adalah para
muslimah.
Rata-rata mereka berpenampilan menarik, muda,
bahkan baru saja lulus kuliah. Menjadi guru di desa seperti
Koto Baru adalah tantangan sekaligus peluang. Tantangan,
karena letak Koto Baru yang terpencil dan hawa dingin-
nya yang ekstrem. Peluang, karena Koto Baru adalah desa
yang spesial dan fenomenal sejak lama, apalagi dengan
kehadiran MAK lima tahun belakangan. Lalu, siapa sangka,
mereka akan bertemu dengan kami, para bujang penasaran
yang sedang haus kasih sayang dan perhatian. Sebagian
guru-guru muslimah yang muda ini sudah berpengalaman
mengajar anak-anak MAN. Tentu, mengajar siswa MAK,
kendati hanya kelas satu merupakan tantangan baru.
Pastinya beda, karena kami semua kaum lelaki.
Bu Serly misalnya. Beliau termasuk guru yang disegani
di kalangan siswa MAN, karena pandai bergaul, humoris,
kendati bisa berubah menjadi sangat galak. Di samping itu,
badannya yang tinggi besar dan pembawaannya yang ber-
wibawa menjadikannya cukup disegani di kalangan siswa
MAN. Di sisi lain, penguasaannya pada mata pelajaran
IPA Biologi-Kimia juga menjadikannya tampak hebat. Tapi
di antara kami, tetap saja ada yang berani menggodanya,
menanyakan hal-hal kritis, menggugah rasa penasaran,
hingga yang agak pribadi. Apalagi pelajaran biologi yang
329
http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS
identik dengan anatomi tubuh manusia, pertanyaan se-
putar itu paling digemari sebagian kami. Hebohlah.
Kadang, pertanyaan yang menyerempet hal pribadi juga
terlontar.
“Bu Guru sudah punya pacar?” tanya Zulhuda suatu
hari, membuatnya agak tersentak.
Tak ada anak MAN yang berani seperti itu. Tapi, bagi
anak frustrasi dengan segenap kenakalan remaja di MAK
ini, bisa dengan santai melepaskan pertanyaan itu. Yang
ditanya kaget, kemudian tersenyum. Raut muka Bu Serly
tak menunjukkan kemarahan, malah bereaksi penuh kejut-
an. Jawabannya mematikan permainan, skak mat dalam
satu kalimat penuh makna, namun tak kehilangan selera
humor.
“Hush, kalian ini masih kecil, jangan bicara pacar.
Nanti kalau sudah tamat baru boleh, ya! Sekarang belajar
saja dulu. Apalagi kamu Zul, badan kecil, tampang pas-
pasan, otak kampung, mana ada cewek yang mau!?”
Semua tertawa. Zulhuda mati kutu, hanya nyengir
kuda yang bisa diperbuat. Habis sudah permainannya.
Di sanalah kehebatan Bu Serly, yang tak canggung sedikit
pun menghadapi komunitas lelaki seperti kami, 40 jejaka
tanggung. Namun demikian, tak semua guru perempuan
ini dapat menanggapi candaan dan godaan kami de-
ngan jawaban seperti Bu Serly. Guru keterampilan, Bu
Ningsih, bisa dikatakan sudah cukup berpengalaman
menghadapi pertanyaan seperti ini. Tapi tetap saja ia tak
selincah Bu Serly menjawabnya, yang mampu berkelit
sambil membalas.
“Ah kalian. Kalau itu urusan pribadi Ibu, ya!” jawab-
nya saat ditanyai dengan pertanyaan yang sama.
330
http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT
Ia tetap tersenyum. Beda sekali dengan Bu Zulfarini.
Dalam keseharian, beliau selalu tampil ceria, bahkan
senyum tak lepas menyungging dari bibirnya. Saat ada
yang berani menanyakan itu kepadanya, mukanya ber-
ubah, langsung merah padam. Ia menyudahi pelajaran
saat itu juga, bahkan tak masuk saat pelajaran berikutnya.
Barulah ketika yang bicara datang kepadanya minta maaf,
ia kembali bersedia masuk ke kelas kami.
“Maafkan Ibu kemarin, ya! Soal itu Ibu pernah trauma,
apalagi yang menanyakan kalian. Tak terpikir oleh Ibu,”
katanya setelah itu.
Kami pun maklum. Tak semua orang bisa ditanyai
dengan pertanyaan seperti itu, di depan umum pula.
Apalagi yang menanyakannya seorang siswa. Keceriaannya
di depan kelas bukan jaminan Bu Zulfarini boleh diselidiki
kehidupan pribadinya, atau diajak bercanda soal asmara.
Kalau pada Bu Zulfarini saja para berandal di kelas kami
jadi sungkan, apalagi pada sosok Bu Riska yang meng-
ajarkan sejarah. Beliau sangat pendiam, formal, dan kaku.
Ketika masuk ke kelas kami, terselip grogi di wajahnya.
Wajahnya juga menunjukkan keseriusan terus-menerus,
sehingga kami tak berani menanyakan hal di luar pelajaran.
Bahkan soal pelajaran pun, jika tak perlu betul, tak ada
yang berminat bertanya.
Atau tengoklah Bu Citra yang mengajarkan matematika,
yang tak mau berbicara selain angka. Entah mengapa,
Azwar mengidolakannya. Padahal menurut kami, pelajar-
annya sangat membosankan, tak ada ilustrasi sama sekali
selain statis pada angka dan angka. Kalau berani, untuk
menggodanya pun, mulailah dulu dengan angka. Karena
filosofinya adalah, “Hidup ini rangkaian angka yang
331
http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS
bergerak, maka kunjungi dan rawatlah ia setiap hari, agar
hidup menjadi lebih hidup.” Sayangnya, tak ada yang
bisa menandinginya soal angka-angka ini kecuali Azwar.
Payahnya, lelaki tinggi kurus ini bukan tipe lelaki peng-
goda.
Lalu apa reaksi Bu Jamila saat godaan itu sampai
kepadanya?
“Nanti ya, ada saatnya kalian tahu. Sekarang belajar
saja dulu!”
“Kapan kami dapat jawaban, Bu Guru!”
“No more about love. There is no question again...
bla...bla...bla...!”
Lalu Bu Jamila bicara bahasa Inggris panjang sekali,
sepanjang jalan Koto Baru ke Bukit Tinggi, lima belas menit
tak kurang. Yang bertanya hanya melongo, antara paham
dan tidak. Kalau sudah demikian, selesai sudah tema cinta.
Dan entah kenapa, kami pun kembali larut dalam pelajaran
yang dibawakannya. Beliau dengan mudah membawa
kami kembali pada pelajarannya, kendati tetap saja ada
yang masih tak bisa lepas dari parasnya. Itulah risiko guru
perempuan cantik yang berada di sarang penyamun, 40
lelaki yang kehilangan kasih sayang dan perhatian.
Sebenarnya, tak hanya guru-guru lajang yang masuk di
kelas kami. Ada juga beberapa guru perempuan senior. Di
antaranya Bu Wahidah yang mengajarkan akidah akhlak,
Bu Gusnimar yang mengajarkan sejarah dunia, dan Bu Sri
yang mengajarkan hadis. Mereka semua merupakan guru-
guru hebat dan berpengalaman. Tapi soal debat, pertanya-
an kritis, tetap saja terlontar dan membuat para guru
ini kelabakan. Misalnya, Bu Gusnimar pernah berdebat
332
http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT
panjang dengan Azwar yang mengkritisi pemaparannya.
Beliau menggunakan otoritas keguruannya. Tapi, Azwar
malah balik merontokkan semua argumentasi beliau.
Ada kegugupan, kegeraman, dan akhirnya air bening
yang tampak di sudut mata Bu Gusnimar setelah dicecar
Azwar. Alasannya kuat, dalilnya hebat, dan serangan kata-
katanya tak terbantahkan. Siapa yang sanggup melawan.
Tak ada guru yang lolos dari kekritisan dan pertanyaan-
pertanyaan mengejutkan dari kami, terutama Azwar dan
Hendra. Saat Bu Gusnimar mengusirnya keluar, Azwar
malah menantang.
“Keluar kamu!”
“Ibu saja yang keluar!”
Tentu saja ini sangat mengagetkan. Tak ada siswa yang
berani begitu. Kenyataannya, ada di antara kami yang
berani. Debat pun selesai, dan ibu guru itu yang harus
mengalah di hadapan kami. Tak ada ibu guru yang benar-
benar memiliki mental baja menghadapi kami. Kecuali Bu
Sri. Soal Bu Sri, akan kuceritakan lain kali, karena beliau
sungguh beda.
***
Pagi itu, Bu Jamila mengajar bahasa Inggris seperti biasa-
nya. Senyumnya pun tetap mengembang, kendati kadang
ada saja kawan yang melontarkan pertanyaan agak nakal.
Misalnya, apa bahasa Inggrisnya, “Aku merindukan dirimu
sejak lama!” Tampak pertanyaan umum, tapi menjebak. Bu
Guru pasti sudah paham arahnya, dan menjawab enteng,
“Imposible!” Lalu kami semua tertawa. Rasa penasaran
memang tak pernah lepas untuk Bu Jamila. Zulhuda tak
333
http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS
sabar ingin tahu rumah beliau, sesekali ingin bertandang.
Satria apalagi. Burmal, sudahlah, dengan bakat bahasa
Inggrisnya, ia ingin selalu ber-conversation dalam banyak
kesempatan. Jundi mencoba jalan lain, dengan me-
nerapkan bacaan pengasih untuk melunakkan hatinya,
agar lebih banyak memandang ke arahnya, lebih per-
hatian padanya yang merasa terbuang. Jundi benar-benar
berharap kasih sayang tulus dari ibu guru yang cantik ini.
Tapi semuanya nihil, termasuk bacaan-bacaan yang entah
didapat dari mana. Tak mempan. Bu Jamila sama sekali
tak tergoyahkan. Beliau kukuh.
Sampai pagi itu, saat semuanya terpaku, begitu Bu
Jamila menyebut kata pamungkas yang tak akan ter-
lupakan. Sepuluh menit sebelum jam pelajaran tuntas,
pintu kelas kami diketuk. Ucapan salam terdengar. Setelah
pintu terkuak, tampak dua orang lelaki. Satu orang ber-
perawakan sedang, klimis, dan rapi. Sedangkan yang lain-
nya berwajah bule, bermata biru, tinggi besar, dan kekar.
Bahunya kokoh dan lengannya berotot. Wajahnya juga
sangat tampan, dengan potongan mirip pemain bola
Paolo Maldini. Ia berpakaian sedikit santai, t-shirt polo
dengan celana panjang katun. Entah siapa dua orang ini,
bisa jadi native speaker atau entah siapa. Kelas riuh, saling
bertanya-tanya.
“Okay attention please, my students! Dengarkan Ibu.
Perkenalkan, ini adalah Pak Sugiri. Beliau adalah guru
bahasa Inggris kalian yang baru!”
“Maksudnya? Bu Guru mau pergi, diganti?” ujar
Satria tak sabar. Ia mewakili semua.
“Oh, please! Jangan tinggalkan kami, Bu!”
“Ya, kami berjanji akan berubah, tak akan berbuat
yang tidak-tidak!”
334
http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT
“Tolonglah, Bu!”
“Ya Bu, apa saja akan kami turuti, asal Ibu tidak
pindah! Sudah banyak yang meninggalkan kami!”
“Okey, okey... Dengarkan Ibu dulu, ya! Baiklah. Ini
memang berat. Tapi semuanya sudah takdir dan kehendak
Allah. Ibu bahagia berada di tengah-tengah kalian semua.
Kendati agak nakal, tapi pada dasarnya kalian anak baik,
tak pernah berbuat kurang ajar. Ya sekadar nakal, bolehlah,
asal jangan kurang ajar dan melanggar moral. Kalian juga
anak-anak yang cerdas dan Ibu tahu kemampuan kalian
berada di atas rata-rata. Jarang Ibu temukan anak-anak
seperti kalian!”
Bu Jamila menarik napas. Ia seperti berat hati me-
nyampaikan kalimat berikutnya. Kami menunggu.
“Baiklah. Ibu memang akan pindah, bahkan ke
tempat yang saaaaangat jauh. Ibu akan pindah ke Genoa,
Italia, pekan depan! Makanya, Pak Sugiri yang akan meng-
gantikan Ibu di sini nantinya. Beliau ini kawan Ibu di IKIP
Padang. Kemampuan bahasa Inggrisnya lebih hebat dari
Ibu!”
“Apakah tidak bisa ditunda, Bu. Setidaknya sampai
semester ini selesai?”
“Maafkan Ibu, sepertinya tidak. Ini keputusan yang
berat, tapi harus Ibu lakukan!”
“Genoa? Italia? Jauh sekali, Bu?”
“Ya. Itulah garis nasib yang harus Ibu jalani. Nanti
nasib juga akan membawa kalian ke jalan yang tak ter-
duga!”
“Lalu, bule itu siapa?”
“Oh ya, Ibu hampir lupa. Ini namanya Alexander
Galliani. Pria Italia, sudah masuk Islam. Sekarang namanya
335
http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS
Alexander Zulkarnaen Hesham!” Bu Jamila tersenyum. Ia
memandang ke arah Mr. Hesham. Ia membalas senyuman
itu. Kami tak tahu artinya. Tapi ada rasa lain di hati. Se-
macam terbakar.
“Assalamu’alaikum!” Bule Italia itu memberi salam.
Tangannya mengatup di dada, bibirnya tersenyum. Takzim
sekali. Kami menjawab serempak salamnya.
“Beliau ini siapa, Bu?”
“Oh ya, hampir lupa. Mr. Hesham ini tunangan Ibu.
Rencananya, kami akan menikah pekan depan, dan Ibu
akan tinggal di Italia mengikuti beliau ini!”
Deg! Semua terpana. Halilintar menyambar kencang
sekali siang itu, menghantam otak kami semua. Usai
penjelasan itu, tak ada lagi yang berselera mendengarkan
penjelasan Bu Jamila, sampai kemudian beliau pamit
meninggalkan para jejaka ini yang masih termangu. Para
penggemarnya frustrasi, putus asa. Habis sudah harapan,
asa terbang melayang. Jundi sampai tak mau makan tiga
hari. Zulhuda uring-uringan. Ihsan tak bersemangat lagi
belajar. Satria yang periang tiba-tiba jadi sariawan. Burmal
mondar-mandir tak keruan. Kepalanya terus menggeleng
tak percaya. Yani tak bisa tidur sehari-semalam.
Tapi, di balik itu, kami juga bersyukur. Bu Jamila men-
dapatkan jodoh yang luar biasa, bisa dikatakan sempurna.
Kami? Masih anak kecil. Jauh dibanding pria Italia yang
gagah rupawan. Kami minder dan mengakui pilihan Bu
Jamila sangat tepat. Kami hanya dapat berucap, “Selamat
jalan Bu Jamila, selamat menempuh hidup baru di Negeri
Pizza. Semoga bahagia!”
***
336
http://facebook.com/indonesiapustaka 27
Insiden Sara
Rasa frustrasi yang akut dalam komunitas ini tak hanya
terjadi dan dapat tuntas begitu saja di asrama. Ke-
hilangan beberapa orang penting telah menjadikan rasa
frustrasi itu bertambah-tambah, berkali lipat. Maka, ia
merembet ke segala arah. Pertengkaran, bahkan baku
hantam menjadi menu sehari-hari di asrama, yang seharus-
nya menjadi tempat yang teduh dan sejuk. Yang lebih
parah, kini ia merembet ke luar, masuk ke dalam kelas.
Ketika sampai di titik kulminasinya, ia berubah menjadi
perkelahian berbau sara.
Itulah yang terjadi dan dipertontonkan kepada guru-
guru baru kami. Waktu itu, beberapa guru magang meng-
ajar di kelas kami. Hanya dua bidang studi, yakni bahasa
Indonesia dan Pendidikan Moral Pancasila (PMP). Tapi,
itu sudah cukup untuk menciptakan momen kekacauan
baru. Tentu saja para guru magang dibimbing guru kami
yang sebenarnya, Pak Sahari dan Pak Firman. Kendati
http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS
demikian, kegaduhan tetap terjadi. Empat guru magang
dari IKIP Padang ini semuanya perempuan. Sekali per-
temuan, dua guru yang masuk. Yang satu mengajar di
depan, yang lain duduk manis di belakang, menyaksikan
rekannya. Guru kami, yang menjadi pembimbing, kadang
duduk di belakang, kadang hanya melihat dari luar, atau
sama sekali tak masuk kelas, karena sudah memercayakan
materi pelajarannya kepada para guru magang ini.
Kehadiran para guru magang ini bisa dibilang sungguh
berani. Lagi-lagi, karena keempatnya perempuan, sang
perawan di sarang penyamun. Kelas kami yang sepi, ter-
pencil dekat kandang kerbau, di sebuah tanah berkontur
tinggi dekat kawasan masyarakat, sungguh sangat ideal
untuk belajar. Di sisi lain, kondisi ini menjadikan kami
terisolir dari kelas-kelas MAN lainnya. Inilah yang
kukatakan sebagai sarang penyamun. Kawanan lanun ini
tak perlu menculik anak perawan. Tapi, merekalah yang
datang untuk menjadi tawanan gerombolan bajak laut
ini.
Pada suatu pagi menjelang siang, terjadilah kejadian
paling memalukan itu. Perkelahian berbau sara terdedah
hebat di depan para ibu guru magang yang muda dan
cantik-cantik ini. Kejadian bermula saat Adamrino, se-
orang anak asal Jambi yang bersuara lantang, tiba-tiba
meninggikan suara ketidaksetujuannya atas pendapat Toni
dari Sumatera Barat tentang P4 dan Pancasila.
“Masa dengan P4 dan Pancasila bisa masuk surga.
Apa itu? Mustahil! Yang tidak-tidak saja!”
“Lho, 'kan saya katakan kalau dapat mengamalkan
Ketuhanan Yang Maha Esa hingga berkeadilan, maka bisa
masuk surga!”
338
http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT
“Tapi Bung, surga itu tak dijual pemerintah. Mana
ada, dengan P4 bisa masuk surga. Kalau mau masuk surga
ya rajin-rajin shalat, puasa, banyak mengaji, bukan dengan
P4!”
“Dasar anak Jambi, tak bisa diajak berpikiran maju,
berqiyas dan bermajaz. Itukan pemikiran filosofis. Mana-
lah dimengeti oleh budak-budak ini!” ujar Toni bersungut-
sungut.
“Hei, Ton. Jaga mulutmu, ya?”
Adamrino mulai menaikkan suaranya. Giginya geme-
retak. Suaranya yang sudah besar menggelegar, kini ber-
tambah tinggi. Ibu guru magang hanya melongo. Kalimat
yang disadur dari Pak Sahari itu kini berkembang men-
jadi debat panas dan berbau sara. Sang guru magang yang
malang tak dapat mencegah, karena debat itu terus me-
nyambung bersahut-sahutan.
“Lho memang demikiankan? Mau apa lagi?”
“Tolong cabut kata-katamu, kalau tidak...!”
Kali ini Jundi, anak Jambi lainnya yang angkat bicara.
Ia tak sabar membela kawan sedaerahnya. Ia tersinggung,
karena nama daerahnya dilecehkan. Jundi naik pitam.
“Kalau tidak kenapa, ha? Mau apa?”
“Kalau tidak kau rasakan tinjuku ini...!”
Jundi yang duduk di bangku paling belakang di sebelah
kanan kelas bangkit dan berusaha mengejar Toni Hendra
yang duduk di barisan depan sebelah kiri. Tangannya me-
ngepal. Jarak mereka sangat jauh. Kini, sudah semakin
mendekat dengan niat menyerang untuk baku hantam.
Perang dunia ketiga segera dimulai, karena Barmawi,
teman sesama dari Jambi ikut terpancing emosinya. Ia juga
339