The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Anak-Anak Langit by Mohd Amin MS (z-lib.org)

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by iislatifah96, 2021-12-05 22:46:16

Anak-Anak Langit by Mohd Amin MS (z-lib.org)

Anak-Anak Langit by Mohd Amin MS (z-lib.org)

http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS

dua, menghafal adalah pekerjaan bodoh, karena analisa
jauh lebih penting. Ia tak cocok menjadi santri, karena
prasyarat tradisi pesantren adalah menghafal. Begitulah.
Mereka berdua tetap eksis di dunia santri modern yang
aneh ini.

Kalau Azwar dan Hendra benar-benar mengandalkan
kapasitas intelektual dan teknik uniknya, beda lagi dengan
Rasyid dan Syahid. Keduanya benar-benar gila belajar.
Subuh belajar, malam belajar, dini hari pun belajar. Yang
ada di kepala kedua anak ini hanya belajar dan belajar.
Mereka tak tergoda ekstra kurikuler, hentakan bola basket
yang memikat, bahkan juga anak-anak putri MAN. Mereka
mengabaikan semuanya demi masa depan, demi tekad baja
yang sudah terpatri dari kampung halaman nun jauh di
sana.

Syahid suka sekali belajar di Masjid Nurul Hikmah.
Usai tutor sebaya dan shalat Isya’, dia akan mengambil
tempat di samping mihrab. Jika tak ada orang di mihrab,
maka ia akan membenamkan diri di sana, agar tak ada
yang tahu ia tengah menjalankan tekadnya menuju puncak
prestasi. Tapi biasanya, tempat itu sudah diambil alih Kak
Army Junaidi, kakak kelas dua yang memiliki militansi
belajar tak kalah tangguh. Kalau dilihat dari arti namanya,
dua kata itu memiliki arti yang sama. Army dalam bahasa
Inggris berarti tentara, dan Junaidi dalam bahasa Arab
juga bermakna tentara. Dan tentara merupakan simbol
perjuangan serta kegigihan. Syahid sendiri adalah pejuang
yang hebat, tampak dari namanya juga: Syahid, pejuang
yang gugur di jalan Allah. Syahid dan Kak Army adalah
dua sosok pejuang dan pecinta masjid yang tiada dua.
Kelak, setelah kelas tiga tamat, Ketua BKM beralih ke Kak

190

http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT

Army dan selanjutnya ke Syahid, sebuah regenerasi yang
alami dan tak memiliki tendensi sedikit pun. Sejak dini,
bakat itu telah tampak dari kecintaannya kepada masjid.
Merekalah pemilik mimbar itu.

Suatu malam, karena belum makan, usai shalat Isya’
Syahid balik ke asrama. Namun tak lama setelah kampung
tengahnya terisi, ia bersiap lagi. Aku yang tengah berdiri
santai di depan asrama memergokinya.

“Mau ke mana, Hid!?”

“Ah biasa, ke masjid. Tidur! Di sana lebih nyaman!”

Dia tengah berusaha menyiasatiku. Aku tahu itu. Di te-
ngah persaingan ini, akal bulus sudah biasa. Bahkan orang
lurus seperti Syahid pun layak dicurigai kata-katanya.

“Aku ikut ya?” ujarku tak kalah siasat. Kulihat keragu-
an di matanya. Tapi ia segera tersenyum.

“Mm, ya baiklah!

“Aku juga ikut!” Mukhlasin, teman sekamar Syahid
menyeruak dari balik lemari. Wajahnya semringah begitu
mendengar Syahid ke masjid malam itu. Entah apa yang
ada dalam pikirannya, sepertinya menarik sekali. Aku jadi
penasaran.

“Oke, kita berangkat,” ujar Syahid memberi komando.

Berbekal sebuah sarung, aku bergegas mengikuti
keduanya menuju Masjid Nurul Hikmah. Besok diadakan
post test mata pelajaran Pendidikan Moral Pancasila (PMP)
turunan dari program P4. Pak Sahari Eddie Jambak,
guru PMP yang killer itu menjanjikan tak ada jaminan
nilai PMP di atas angka tujuh di rapor. Pak Keriting yang
tinggi semampai ini berjanji akan objektif memberikan
penilaian, termasuk memberi nilai empat di rapor, kalau

191

http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS

nilai post test kami menunjukkan akumulasi seperti itu.
Itulah makna objektif baginya. Untuk itu, buku pelajaran
PMP kuikutkan dalam perjalanan ke masjid, berikut
catatan-catatan penting yang disampaikan di kelas. Kulihat
Mukhlasin juga demikian. Tapi, tak demikian dengan
Syahid. Dia melenggang kangkung dengan sepotong
sarung diselempangkan di bahunya. Aku heran, terasa ada
yang mengganjal. Perasaan itu terus menggangguku, sejak
menaiki tangga berkemiringan nyaris 35 derajat melawan
gravitasi, menelusuri lorong gelap, melewati kelas-kelas
MAN, lalu sampai ke pintu masjid.

Kami bertiga masuk ke dalam masjid. Beberapa teman
sudah ada di sana. Kulihat Mulyadi, Mursalin, Andi, dan
para sahibul masjid lainnya sedang asyik membaca. Beberapa
kakak kelas juga ada di sana. Aku langsung mengambil
posisi membaca. Kugulung beberapa sajadah, kuletakkan
buku di atasnya, agar lebih dekat ke mata. Mukhlasin juga
demikian. Tapi Syahid tidak. Dia malah asyik membaca
al-Quran. Besok post test PMP yang menakutkan itu,
ia malah sibuk mendekatkan diri kepada Allah. Apakah
menurutnya itu akan membantu? Sedemikian hebatkah
kekuatan al-Quran, sehingga bisa membantu ulangan?
Aku terus bertanya dalam hati. Setengah jam kemudian,
ketika Mursalin sudah mulai lelah dan mengambil posisi
membaringkan badan, sedangkan Mulyadi sudah balik
ke asrama, Syahid menghentikan bacaan tartilnya yang
pelan, lalu pamit.

“Ke mana, Hid?”

“Mau ke Mas Lasno dulu, cari cemilan!”

Kami mengangguk. Aku terus menekuni bacaan PMP
yang semakin tak menarik ini. Dalam catatanku, kata

192

http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT

guru hebat ini, kalau kita mengamalkan Pancasila, maka
bisa masuk surga. Jadilah pancasilais sejati!

Mengamalkan Pancasila akan masuk surga. Aku me-
rapalkan kalimat itu berulang-ulang, bak mengucapkan
mantra-mantra hebat yang menyebabkan pelafalnya men-
jadi sakti mandraguna, dapat terbang ke awang-awang,
atau tiba-tiba menghilang dari hadapan setiap orang.
Atau pelafalnya tiba-tiba dapat mengelus-elus kepala Tuk
Belang1, dan memerintahkannya berhenti menjadi pe-
mangsa, berubah menjadi herbivora, seperti kuda atau
kambing. Ah, entahlah. Mungkin aku salah catat, atau
sedang melamun saat Pak Sahari Eddie menerangkan pe-
lajaran. Yang jelas, itulah yang tertera dalam buku catat-
anku. Agak malas jadinya melihat catatan-catatan itu.
Hendra dan Azwar sudah mendebat Pak Keriting ini habis-
habisan. Apalagi Zulfariadi juga sudah mengeluarkan
dalil-dalil al-Quran dan hadis demi melawan pandangan
itu. Namun Pak Guru yang luar biasa ini tetap kukuh pada
pendapatnya. Dan anehnya, semua itu terekam dalam
catatanku. Mau muntah rasanya. Lalu, aku berusaha mem-
buka obrolan dengan Mukhlasin yang sejak tadi hanya
diam teronggok di sudut masjid yang lain. Kudekati dia.

“Syahid cari apa?”
“Biasa, cari makanan ringan. Biar kita tambah se-
mangat belajar!”
Aha, rupanya inilah yang membuat Mukhlasin
semringah tadi. Bersama Syahid, berarti ada jaminan

1 Istilah Tuk Belang atau Datuk Belang biasa digunakan di beberapa
kawasan di Riau untuk menunjuk harimau. Orang-orang tua zaman
dulu melarang menyebut kata “harimau” dan sering meminta anak-
anaknya untuk menyebut Tuk Belang, Datuk atau Tuk.

193

http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS

perut akan terisi. Dia bandar yang hebat, pengertian,
dan baik hati. Di tengah suasana dingin Koto Baru, perut
memang selalu keroncongan minta diisi. Syahid sendiri
berasal dari keluarga mampu. Bapaknya pejabat tinggi di
Kanwil Departemen Agama Sumatera Utara. Kalau kirim-
an wesel kami berkisar Rp 25 ribu sampai Rp 50 ribu,
dia mendapatkan Rp 100 ribu sebulan. Kadang lebih.
Tentu perbedaan yang cukup mencolok. Itu tampak dari
pakaiannya, buku-bukunya, dan hobinya mentraktir ini.
Kudapatkan berkah dari sapaanku di depan asrama tadi.

Kedai Mas Lasno ada di samping aula. Mas Lasno
adalah penjaga sekolah. Tiap malam, dia melakukan
patroli keliling sekolah dengan senter panjang dan sebo.
Kadang dia berpatroli sampai ke asrama. Rupanya, dialah
sosok bersebo saat Mapertas tempo hari, yang menambah
kecemasan dan ketakutan kami waktu itu. Kakak-kakak
itu telah berkomplot dengannya. Selain penjaga sekolah,
Mas Lasno juga membuka warung kecil sebagai kantin
sekolah. Ia menjual makanan ringan, hingga keperluan
sehari-hari. Syahid mencari makanan ringan di sana,
nyaris setiap malam.

Tak sampai lima menit, ia kembali. Di tangannya ter-
dapat bungkusan plastik yang di dalamnya berisi aneka
makanan ringan, mulai dari berbagai jenis kerupuk hingga
roti dan permen. Ada juga minuman. Lengkaplah sudah. Be-
berapa orang yang hadir malam itu langsung mengerubungi
makanan gratis yang disediakan Syahid. Bahkan, Mursalin
yang sudah tidur pun langsung buyar mimpinya. Dia
sudah tahu jadwal bangunnya, saat ada bunyi “kresek”,
lalu keributan kecil melanda. Syahid semringah, kami
semua senang. Berkah tak terduga. Dalam sepuluh menit,

194

http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT

semuanya ludes. Kami mengucapkan terima kasih dan
kembali ke posisi semula untuk belajar. Sebaliknya, Syahid
malah mengambil posisi tidur di dalam mihrab. Aku
heran, sambil merasa bersalah. Ternyata dia tak bohong.
Dia memang tidur di masjid ini.

Besok paginya, post test dilaksanakan. Pak Sahari mem-
berikan soal seperti yang tertera di buku, lengkap dengan
semua hafalan dan definisi yang bejibun. Aku gugup dan
stres. Semua isi buku jadi bahan soalnya. Syahid tenang.
Yang kutahu, dia hanya tidur semalam. Sepekan kemudian,
nilai pun dibagikan. Aku dapat enam dan dia kebalikannya,
sembilan. Aku tambah terheran-heran. Apakah ini berkat
bacaan tartilnya? Ah, rasanya mustahil!

***

Kalau Syahid, Andi, Mulyadi, Mukhlasin, dan Mursalin
menghabiskan waktunya di masjid untuk belajar, lain lagi
dengan beberapa rekan yang lain. Rasyid memiliki tempat
favorit di kasur lantai duanya. Dia melintangkan sebuah
papan di antara besi pembatas tempat tidurnya, sehingga
membentuk sebuah meja belajar. Kadang, ia meletakkan
sajadah di atas papan itu sebagai alas. Di lain waktu, ia
menjadikan bantal sebagai tempat bukunya. Di tempat
itulah, dia menghabiskan waktu untuk mengasah semua
wawasan yang didapatnya di pagi dan sore hari. Dia sangat
tekun, menggabungkan kecerdasan dengan ketekunan.
Darinya kutahu teknik belajar yang efektif.

“Belajar dua kali satu jam, lebih baik daripada belajar
dua jam sekaligus. Bahkan, belajar tiga jam sekaligus tak
lebih baik daripada belajar dua kali satu jam,” ujar Rasyid
berteori.

195

http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS

Rasyid membocorkan sedikit rahasia otak saat belajar.
Menurutnya, otak memang perlu olahraga. Namun
demikian, ia juga perlu rehat dan refresh. Otak yang di-
paksakan menghafal pelajaran selama tiga jam dapat
invalid dan tiba-tiba hang, ketika diminta menjawab soal
ujian. Saat itu, komputer baru mulai dikenal dan Rasyid
cukup fasih menggunakan istilah-istilahnya. Ketika otak
digunakan setengah jam, lalu istirahat seperempat jam,
dilanjutkan lagi hingga satu jam kemudian, maka ia masih
fresh. Rasyid menganjurkan agar waktu rehat itu tetap
dilakukan dengan aktivitas positif.

“Misalnya mengaji, membaca kitab, atau sekadar
senam kecil,” ujarnya memberi kiat.

Rasyid percaya, kendati seseorang itu jenius, ketekun-
an masih lebih penting. Sikap mau belajar dan mengulang
kaji masih lebih diutamakan. Sikap Rasyid ini menandakan
bahwa dia tak hanya pintar, namun juga rendah hati. Dia
memegang prinsip dari pepatah lama, “Hafal jalan karena
dilalui, hafal kaji karena diulang.” Sepintar apa pun orang,
jika ia membiarkan kepintarannya teronggok begitu saja
dan hanya digunakan sesekali saja, maka kepintaran itu
akan mandek.

Lain Rasyid lain lagi Syafrizal. Anak Bengkalis itu
memiliki teknik belajar yang agak beda. Ia tak bisa belajar
dalam keramaian. Ia akan selalu mencari tempat yang sepi.
Kalau perlu, ia akan mencari tempat untuk menghidupkan
lilin dan memasuki ruang-ruang kelas yang kosong, lalu
membenamkan dirinya dalam berbagai pelajaran dengan
sebatang lilin sebagai penerangnya. Berjam-jam waktu
diinvestasikan untuk pembelajaran seperti itu. Teknik
itu juga dilakukan beberapa kakak kelas kami. Konon,

196

http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT

ada seorang kakak MAK alumni tahun pertama yang
memelopori cara belajar seperti itu. Kak Irsyad namanya.
Dan ia memang menjadi alumni yang paling populer di
mata kami. Namanya harum semerbak.

Mengapa Syafrizal suka mencari tempat sepi? Bak
para pertapa yang menunggu wangsit, atau seperti para
sastrawan mencari ilusi sakti bernama inspirasi? Ternyata,
dia memiliki jawaban yang tak kalah sakti, cukup rasional
dan ilmiah. Menurutnya, ilmu itu berasal dari renungan
dan kajian. Dan itu tak sembarang.

“Mendalami ilmu juga perlu renungan. Untuk itu,
perlu keheningan,” ujarnya mantap.

Lebih canggih lagi dia juga mengutip fisikawan Albert
Einstein dalam My Credo. Einstein pernah berujar, meski-
pun dia adalah tipe orang penyendiri dalam kehidupan
sehari-hari, kesadarannya untuk terlibat dalam komunitas
tak tampak yang terdiri atas orang-orang yang berjuang
bagi kebenaran, keindahan, dan keadilan—membuatnya
merasa tak terkucil. Syafrizal percaya dengan pendapat
ini. Menurutnya, pendapat Einstein itu sangat brilian.

“Ketika saya sendiri dalam keheningan, apa yang saya
pelajari akan melompat keluar dari dalam buku. Saya
melihat dengan jelas bagaimana orang-orang bersenjatakan
kapak batu memburu mammoth di zaman Megalithikum.
Di saat-saat sepi, saya dapat membayangkan betapa hebat-
nya perang Paderi, betapa gigihnya perlawanan Tuanku
Imam Bonjol, dan canggihnya meriam Kompeni. Jadi,
saya tak merasa kesepian dan sendirian dalam malam
gelap yang sunyi,” ujarnya memberi argumen.

Weleh-weleh! Rupanya anak ini telah mengidap
syndrom imajinasi yang tak terperi. Ia tak ubahnya seperti

197

http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS

Azwar, namun dengan metode pembelajaran yang lebih
canggih, lebih tekun, dan terpola. Hasilnya tentu akan
berbeda pula. Sebenarnya, banyak lagi teknik belajar yang
unik kutemukan pada anak-anak ini. Ada yang hobinya
bertamasya dan hanya bisa belajar jika dia merasa sedang
bersenang-senang, sedang gembira. Zulhuda misalnya. Ia
akan selalu pergi ke persawahan sambil mengajak Iwan
dan Satria. Tujuannya menikmati burung layang-layang
dan lambaian angin Gunung Singgalang yang menggoyang
batang padi yang mulai merunduk. Di lain waktu, hijaunya
sawi juga bisa menenteramkan mata. Saat itulah, ia
membuka buku untuk belajar. Kalau malam menjelang, ia
akan menikmati walkman pemberian Omnya dari Kerinci
sana. Tanpa itu, Zulhuda akan mandek belajar.

Yang aku heran adalah Burmal. Anak Salido itu ke-
lihatan tak pernah belajar sama sekali. Ketika musim
ulangan dan post test tiba, pekerjaannya hanya masuk dari
kamar ke kamar untuk mengajak ngobrol kawan yang lain,
tentang apa saja, hobi, basket, bahkan tren gaya rambut
terkini. Kadang tentang anak-anak putri MAN. Kawan
ngobrolnya sering kali Suhadi, Chandra, atau Patrick.
Chandra yang tak mau diganggu kadang menolak, apalagi
saat musim ulangan. Jika diganggu saat belajar, bantal
dapat melayang. Kadang sandal jepitnya yang bicara.
Kalau setan pengganggu belum juga enyah, sepatunya
yang bicara. Biasanya, kalau sudah begitu, Burmal yang
tinggi besar pun akan lari terbirit-birit. Tapi Burmal
tetap akan dapat menemukan kawan ngobrol saat malam
ulangan. Suhadi misalnya. Ia akan sukarela menemani.
Apalagi Burmal dikenal royal dan dermawan. Maklum
saja, bapaknya adalah juragan ayam yang sangat kaya

198

http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT

di Salido, Pesisir Selatan. Jika dia pulang kampung dan
balik lagi ke Koto Baru, ia akan membawa segudang telur
ayam. Kami pun sering mendapat jatah telur ayamnya,
untuk membuat teh telur, minuman khas Koto Baru. Bagi
Burmal, mengobrol di saat-saat penting termasuk saat
ujian sudah menjadi kebiasaan. Untuk kawan mengobrol,
makanan kecil selalu keluar dari tas dan lemarinya. Usai
puas mengobrol, pukul 22.00 WIB, dia disiplin menarik
selimut, tidur mendengkur, menjulurkan kakinya yang
panjang ke atas meja ekstra, karena tak muat untuk
kapasitas tempat tidur. Tak lama membaringkan tubuh, ia
sudah lelap, mendengkur. Kendati demikian, nilai ulang-
annya tetap hebat, antara delapan dan sembilan. Kadang
sepuluh. Dia memang dikenal sebagai anak pemalas. Kami
memberinya gelar “Burmalas”, “si Bur yang pemalas”.
Tapi nilai-nilai yang ekselen itu sungguh luar biasa. Apa-
kah dia demikian pintarnya, sehingga tak memerlukan
pengulangan pelajaran sedikit pun?

Aku penasaran dengan tabiatnya, juga nilai-nilainya
yang selalu hebat. Aku membentuk tim pencari fakta
kecil-kecilan. Kusebarkan jasus,2 intel Melayu khusus
internal. Kusuap teman sekamarnya, Haris, dengan se-
bungkus lamang tapai, agar buka mulut tentang apa kunci-
nya, sehingga Burmal demikian hebat menjawab ujian.
Benarkah dia tak perlu belajar sama sekali? Haris agak ke-
sulitan menemukan jawabannya, karena jadwal tidurnya
juga nyaris sama. Namun akhirnya ia tahu juga rahasia
Burmal. Dan kudapatkanlah jawaban yang jitu dari semua
misteri kecil ini. Ternyata, apa yang dilakukannya hanya

2 Mata-mata atau intel (bahasa Arab)

199

http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS

kamuflase belaka. Menurut Haris, pagi-pagi sekali, pukul
setengah empat pagi, dia sudah bangun dan memulai
belajar hingga subuh. Untuk menutupi kerajinannya, usai
subuh dia tidur lagi. Kudapatkan informasi serupa dari Tim
Pencari Fakta yang lain, Mukhlasin, yang kusogok pula
dengan seporsi bika Koto Baru, makanan khas kawasan
ini. Ternyata, Syahid melakukan modus yang serupa. Dia
lebih tekun lagi, bangun pukul dua dini hari, lalu belajar
sampai subuh. Usai shalat Subuh, ia mengulang lagi
sampai akan berangkat sekolah. Informasi dari intelijenku
menyebutkan, di mihrab itu semua buku pelajaran Syahid
tersimpan rapi, sehingga ia bisa membaca dan belajar apa
saja. Hmm, pantas saja.

Kutarik kesimpulan penting. Ternyata, kecerdasan
dan bakat saja tak cukup. Harus ada usaha yang keras
menopangnya. Belajar dan belajar. Lebih gigih, keras,
sungguh-sungguh. Tekad baja, itulah kuncinya. Untuk itu-
lah kami berada di sini, MAK, sekolah hebat, para calon
ulama dan pemimpin umat, bersaing menjadi yang terbaik.
Ck ck ck, aku berdecak sendiri, mengagumi sobat-sobatku
yang tiada dua.

***

200

http://facebook.com/indonesiapustaka 16

Buffalo Fight dan
Gitar Tak Berdawai

Di sekitar Koto Baru, ada sebuah lapangan seluas se-
tengah hektar yang multi fungsi. Di sisi dua garis
batasnya terdapat mistar gawang. Artinya, ia dapat di-
fungsikan sebagai lapangan sepak bola. Namun tak hanya
untuk bermain bola, lapangan itu juga berfungsi sebagai
fasilitas umum dan fasilitas adat. Kawasan itu bernama
“Lapangan Batu Palano”, terletak di tepi batas Desa Batu
Palano yang bersebelahan dengan Koto Baru.

Pada hari Selasa petang, lapangan Batu Palano di-
gunakan untuk arena adu kerbau, atau adu kabau dalam
dialek lokal. Even ini bukan hanya milik warga Koto Baru
dan Batu Palano saja, melainkan sudah menjadi milik
masyarakat adat sepanjang jalan antara Padang Panjang
hingga Bukit Tinggi, mulai dari Penyalaian, Aie Angek,
Koto Baru, Batu Palano, Pandai Sikek, Batagak, hingga
Padang Luar. Biasanya, kegiatan ini disesuaikan dengan

http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS

hari pasar. Karena Selasa adalah hari pasar di Koto Baru,
maka hari itulah diadakan even adu kabau. Pasar tak
hanya digunakan untuk berbelanja, namun juga untuk me-
nunjukkan keramaian dan kemeriahan dalam suasana riuh
redam. Salah satu caranya ya dengan adu kabau ini.

Adu kabau tak sekadar hobi atau melampiaskan
hasrat untuk melihat hewan ini bertarung. Di sana ada
muatan tradisi yang diwariskan secara turun-temurun dan
terus terpelihara. Walaupun tradisi ini telah mengalami
pasang surut sepanjang zaman. Saat kerbau bertarung,
penonton datang dari seluruh penjuru negeri. Bahkan
tak sedikit turis manca negara yang datang jauh-jauh dari
Bukit Tinggi atau Padang, hanya untuk melihat kerbau
berkelahi, menyilangkan tanduk yang sudah diasah, lalu
salah satunya terluka dan lari. Tak sedikit yang matanya
buta, pecah berdarah-darah. Minimal, badannya penuh
goresan usai bertarung penuh semangat. Beberapa spanduk
berbahasa asing berseliweran menyambut para turis yang
menggelontorkan dolar. Misalnya, “Buffalo Fight Koto
Baru”, “Welcome to Batu Palano”, “Rumble in Koto Baru”,
atau “Attention, Big Fight!” Tak sedikit di antara mereka
yang ikut bertaruh. Penduduk dan panitia juga mendapat
penghasilan tambahan dari tiket masuk, penjualan makanan
ringan, hingga jasa parkir.

Hari kerbau bertarung juga menjadi ajang promosi
berbagai produk. Berbagai spanduk iklan bertebaran di
areal lapangan itu—mulai dari obat sakit kepala hingga
obat kuat, dari balsem sampai obat antinyamuk. Suara
loudspeaker terdengar membahana ke seantero desa. Di
hari-hari tertentu, umumnya hari besar, evennya dibuat
lebih semarak, karena mendatangkan kerbau-kerbau

202

http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT

unggulan dari berbagai desa nun jauh. Para penonton
biasanya jauh lebih banyak, berdesak-desakan, sehingga
menimbulkan kemacetan di jalan yang menuju ke sana.

Kerbau-kerbau yang akan diadu itu kebanyakan
bukan kerbau biasa. Kerbau-kerbau ini adalah ras pilihan
yang bertubuh besar dengan tanduk tajam menjulang ke
depan. Bahkan, tanduk-tanduk itu diasah pula ujungnya,
menyerupai ujung tombak, runcing sekali. Para datuak
dan dukun selalu mengeluarkan jampi-jampi untuk mem-
beri energi pada sang kerbau sejak masa persiapan. Tatkala
sudah masuk lapangan Batu Palano, jampi dan mantra
akan keluar dengan lebih dahsyat, lebih panjang dari
biasanya. Semua kesaktian dan ilmu warisan leluhur di-
keluarkan. Maka yang bertarung sesungguhnya bukanlah
kerbaunya, melainkan orang-orang di belakang layar. Adu
kabau tak ubahnya pertarungan gengsi mereka sebagai
“orang pintar”.

Selain pertarungan di belakang layar, kemenangan
tentu akan ditentukan kualitas kerbau yang akan diadu.
Maka kerbau yang diadu tak lain tak bukan adalah kerbau
unggul dari keturunan petarung sejati. Bukan sembarang.
Mungkin sebagiannya memiliki garis keturunan banteng
matador di Spanyol, melihat dari pembawaannya yang
begitu jumawa. Tak sedikit di antaranya yang berani
mengejar penonton, layaknya banteng-banteng yang mem-
buru sang matador. Kalau itu terjadi, lapangan akan riuh
redam. Penonton bisa kocar-kacir dalam histeria.

Suatu ketika, seekor kerbau mengamuk. Ia meng-
arahkan tanduknya yang runcing kepada siapa saja yang
ada di dekatnya. Seorang bule Australia terkena tandukan
di kakinya. Tungkainya yang panjang terlalu lambat

203

http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS

bereaksi saat kerbau muda itu mulai mengamuk. Si Jantan
itu tak tahu lagi melihat siapa yang ditanduknya. Jangan
coba-coba memakai baju merah seperti bule Australia
yang malang itu. Tak sampai di sana, sang kerbau me-
neruskan aksi brutalnya kepada semua orang yang
kemudian lari tunggang-langgang. Setelah memenangkan
pertarungannya, kerbau besar itu memang terus berusaha
mengejar orang yang sejak awal terus memprovokasinya.
Sang provokator pun terbirit-birit dan lari menjauh, begitu
juga orang-orang terdekat di sana. Mereka sudah tahu
adatnya. Yang lambat hanya bule Australia berbaju merah
itu. Tak cukup hingga seputar lapangan, sang kerbau meng-
ejar hingga jauh. Kejar-kejaran terjadi sampai ke Jalan
Raya Bukit Tinggi-Padang hingga ke depan sekolah kami.
Sampai orang yang dikejar menghilang di balik ratusan
kendaraan yang melintas. Kendaraan pun tak berani me-
lanjutkan perjalanan, sehingga terjadi kemacetan yang
cukup panjang. Sebagian mereka menghentikan laju
kendaraan, karena ingin menonton aksi heroik kerbau
matador. Sang banteng Koto Baru berdiri dengan gagah
menunggu di tengah jalan yang macet. Untunglah sang
dukun dapat mengatasi banteng Koto Baru titisan Spanyol
itu. Insiden petang itu pun berakhir happy ending dan
sorak sorai, tak ada korban, kecuali bule Australia. Itu
pun ringan saja.

Saat kejadian itu, aku dan beberapa kawan sedang
berada di depan MAN/MAK Koto Baru. Aku ingin ke
Pasar Koto Baru untuk membeli beberapa perlengkapan.
Beberapa kawan kutemui di jalan, ketika sedang asyik
membeli bika Koto Baru. Salah satu yang khas dari desa
kecil yang permai ini memang bika, makanan tradisional

204

http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT

berbentuk pipih dan sangat lezat. Di tepi Talago Koto Baru,
ada penjual bika yang biasa membuka kiosnya tiap petang
hingga malam. Banyak anak-anak MAN maupun MAK
yang datang ke kios, sambil menikmati keindahan talago.
Kadang kesempatan petang hari seperti itu juga digunakan
untuk curi-curi pandang dengan anak-anak putri MAN,
termasuk anak Aspi. Aku bertemu dengan beberapa kawan
di sana. Namun belum lagi kami sempat bercakap-cakap,
keributan terjadi. Suasana temaram petang yang damai
pun rusak seketika, saat kerbau mengarah ke kami. Speaker
dari Lapangan Batu Palano yang keras terdengar sampai ke
tempat kami berdiri, memberi peringatan kepada siapa
saja yang ada di jalan. Sampai akhirnya, aku menyaksikan
beberapa dukun dan pawang berhasil menaklukkan sang
banteng pemenang. Kami pun menarik napas lega. Aku
kemudian bertanya kepada Syahid yang kuanggap seide.

“Bagaimana pendapatmu tentang adu kabau itu,
Hid?”

“Seharusnya tak boleh. Banyak yang menyalahi di
sana, mengadu dan menyiksa binatang, judi, dan klenik!”

“Tapi itu 'kan tradisi?”

“Ya kalau tradisinya salah kenapa harus dilanjutkan.
Di zaman jahiliyah juga ada tradisi membunuh anak
perempuan, menyembah berhala. Itu 'kan akhirnya yang
diubah Rasulullah?! Rasulullah melakukan revolusi besar
pada tradisi jahiliah.”

“Hei, Kawan!” Aku menyenggol iganya dengan siku.
“Berani ndak kamu menghentikan mereka!?”

Syahid diam. Tangannya menggaruk kepala yang tak
gatal. Dia tersenyum kecut.

“Mmm, kalau itu nanti dululah. Belum saatnya!”

205

http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS

“Tapi 'kan pangkal lenganmu besar. Apa gunanya
mengangkat barbel tiap hari!?”

“Ah, itu 'kan untuk olahraga saja. Kalau praktik di
lapangan, apalagi yang nahi munkar, perlu strategi. Kita
persuasif dulu, bil hikmah wal mau’izatil hasanah!”1

Kami tahu, jawaban itu sangat klise dan Syahid me-
wakili kami semua di sana: aku, Yani, Rasyid, Mursalin, dan
Syarifuddin. Tak berdaya menghadapi situasi. Sebaliknya,
ada perasaan aneh dan melempar tanggung jawab kepada
ulama setempat. Sudah masyhur di seantero negeri, Ranah
Minang adalah sumber ulama dan tokoh Islam. Apa
reaksi mereka? Ada juga pepatah yang dianut masyarakat,
bahwa adat bersendi syarak, syarak bersendi kitabullah.
Tapi kondisinya tetap sama, orang tetap memelihara
tradisi ini. Apalagi kami, anak-anak muda yang masih
hijau dan ilmu agamanya masih dangkal. Datang dari
tempat yang jauh untuk belajar ilmu agama dasar. Belum
pandai apa-apa, konon lagi beradu argumen dan bersilat
lidah, pastilah kami tak ada apa-apanya. Paling tidak,
kami punya semangat untuk berbuat, walau terbentur
tembok tebal. Yani, anak Banjar asal Tembilahan yang
paling sering berteori tentang itu. Ia paling suka mengutip
hadis, “Dzalika ad’aful iman”, itulah selemah-lemah iman,
mengubah kemungkaran dengan hati. Padahal, Rasulullah
menganjurkan, mencegah kemungkaran wajib dengan
kekuatan, tangan, power. Jika tak berdaya, maka dengan
lidah, nasihat, peringatan, tausiyah. Kalau masih tak
sanggup, minimal diam saja, bertekad tak ikut di dalamnya

1 Dengan hikmah dan pelajaran yang baik. Disebutkan dengan
jelas dalam surah an-Naml ayat 125.

206

http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT

dan berdoa supaya ada yang mengubahnya. Itulah iman
terlemah dalam mencegah kemungkaran. Kemungkar-
an? Tunggu dulu, karena ada di antara kawan yang me-
nyebut adu kabau ini bukan termasuk wilayah itu, karena
ada maslahah di sana, ada teori ushul juga, “Al-’adah
muhakkamah”, adat dapat menjadi hukum. Kalau sudah
masuk perdebatan ini, masalahnya akan panjang. Bisa-bisa
masing-masing pendebat bak kerbau juga saling adu pukul.
Dan itu nyaris saja terjadi, kepada para calon ulama dan
pemimpin ini. Payah!

***

Jika ditilik perilaku kesehariannya, kerbau-kerbau aduan
ini termasuk makhluk yang spesial di spesiesnya. Termasuk
jenis ningrat yang manja dan memerlukan perlakuan
khusus. Kerbau-kerbau ini tak akan sudi bekerja di sawah,
berkubang lumpur, dan berjemur di bawah terik matahari.
Kerjanya hanya duduk diam dalam kandang yang diteduhi
atap rumbia, sambil terus memamah biak. Secara rutin,
si empunya akan memandikan kerbau itu di Talago Koto
Baru. Sebagai penduduk kampung yang merasa punya hak
atas talago, mereka tak peduli air talago itu nantinya di-
alirkan ke mana, termasuk ke asrama kami untuk makan-
minum dan mandi. Tak heran, kalau air mandi kami
sering terasa gatal. Rupanya telah bercampur dengan air
mandi kerbau. Entah berapa banyak feses kerbau yang ber-
campur dengan air Talago Koto Baru. Semuanya menjadi
air minum, sumber makanan, dan air mandi. Selama tiga
tahun, air itu menjadi sumber kehidupan kami. Betapa
hebatnya vitamin yang kami konsumsi, dan entah berapa
banyak air yang kami guyurkan ke badan tiap kali mandi.

207

http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS

Maka di musim-musim tertentu, terutama saat debit
air Talago Koto Baru berkurang karena kemarau, kami pun
mengalami masa gatal luar biasa sepanjang hari. Efek feses
kerbau ningrat. Kadang itu terjadi juga di musim dingin
yang lembab, tatkala bakteri mudah berkembang biak,
sedang hobi membelah diri dan selalu lapar memangsa
kulit. Musim bergitar pun datang dan terus menyebar
dari satu kamar ke kamar lainnya. Bakteri dengan cepat
berkembang, dan irama bergitar pun makin semarak.
Gitar-gitar tak berdawai. Kami pun berdendang sayang
sepanjang malam, bergitar sambil melantunkan lagu-lagu
orkestra. Jika dalam urusan lain kami begitu sulit memadu
kekompakan, maka di musim bergitar ini, orkestra kami
begitu padu. Kami berubah menjadi bangau-bangau putih
yang terbang dalam formasi V yang begitu padu. Kami
berubah menjadi ikan-ikan pelagis yang berenang seirama
dalam kelompok besar.

Kami adalah orkestra yang sangat padu. Kami memain-
kan Simphony Beethoven dan instrumentalia Mozart
dengan paduan yang benar-benar seirama. Semuanya
kompak. Gitar-gitar tak berdawai ini memacu mulut ikut
seirama berdendang. Ala makk, rasanya tak tertahankan.
Bagaikan ribuan ulat bulu yang menyerang tubuh. Gatal
yang akut. Rasanya berpadu, antara pedih, nikmat, sakit,
panas, dan entah apa lagi. Perasaan pun campur aduk,
antara penasaran, marah, geram, dendam, rindu dan
senang. Semuanya bersatu padu. Gatal yang luar biasa
uniknya. Apalagi wabah itu menjalar secara massal, tak
ada yang tak merasakannya. Sampai kami merasa imun,
dan akhirnya kebal terhadap semuanya, berhari-hari,
dan berbulan-bulan kemudian. Bagi warga, semuanya

208

http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT

bukan hal yang harus dicemaskan. Mereka biasa mandi
dengan air yang sama, dan tak terjadi apa-apa. Mereka
pun merasa tak perlu berbasa-basi, apalagi sampai minta
maaf. Kamilah yang harus menyesuaikan diri, bukan
mereka. Bukankah ada pepatah, di mana bumi dipijak, di
sana langit dijunjung, di mana air disauk, di sana ranting
dipatah? Inilah mungkin makna pepatah Melayu itu.

Bagi warga, kerbau aduan adalah aset berharga. Demi
aset berharga, apa pun akan dilakukan sang empunya.
Parahnya lagi, bertambah lama, kerbau-kerbau ini makin
melonjak pula perangainya. Apalagi, sang tuan benar-benar
menjadikan kerbau-kerbau itu bak raja. Sesekali, sang
tuan akan memberikan puding berupa telur mentah dan
sejumlah vitamin tambahan. Makanannya rumput pilihan
dan dedak yang mahal, kualitas tinggi. Pantang larang bagi
kerbau-kerbau ini untuk bekerja membajak di sawah.

Di kelas kami yang terletak di tebing setinggi delapan
meter, yang tersuruk di balik asrama putri, dengan
tembok tinggi penghalang, masih ada kawasan kosong
yang digunakan masyarakat setempat. Sebagian kawasan
itu difungsikan untuk kandang kerbau jawara ini. Tiap
pagi, pemandangan yang hadir di balik kaca kelas tembus
pandang kami adalah panorama Gunung Singgalang dan
kegiatan memamah biak sang kerbau petarung. Sosok yang
begitu santai sepanjang waktu. Siangnya digunakan untuk
makan, dan malamnya tidur nyenyak dengan penjagaan
ketat. Pakai obat antinyamuk pula, lengkap dengan lampu
penerang. Bagi pemiliknya, sang kerbau jawara adalah
aset tiada dua, yang harganya bisa mencapai puluhan
hingga ratusan juta.

Kisah kerbau-kerbau Koto Baru adalah sebuah ironi.
Di tengah keterbatasan ekonomi masyarakatnya, mereka

209

http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS

memberikan kemewahan pada sang kerbau. Saat semua
bayangan itu melintas, tergambar jelas di hadapanku se-
buah realitas yang paradoks. Saat kami memulai latihan
yang demikian ketat, untuk pertarungan yang tak jelas
kapan akan terjadi, sang kerbau duduk manis sambil me-
mamah biak untuk menghadapi pertarungan yang ter-
jadwal ketat di depan matanya. Aku menarik kesimpulan
prematur, itulah takdir perbedaan antara manusia dan
kerbau. Semakin santai manusia, semakin suram masa
depannya. Tapi kerbau, semakin enak makannya, nyenyak
tidurnya, semakin hebat pula pertarungannya. Saat itu
dilakoninya, ia akan senang, santai, karena tuannya juga
senang. Lalu asupan makannya bertambah, dan harganya
juga naik berlipat-lipat. Apakah dengan demikian lebih
enak menjadi kerbau? Tentu tidak, Sobat! Percayalah dan
bersyukurlah telah menjadi manusia, sebaik-baik makhluk.
Fi ahsani takwim.

***

210

http://facebook.com/indonesiapustaka 17

Pendekar
Gunung Merapi

Entah mengapa, kami merasa anak-anak MAN sebagai
lawan yang sangat dekat. Sebagian dari mereka me-
musuhi kami dengan keras. Untuk itu, kami merasa perlu
mempersiapkan diri tak hanya mental, tapi juga fisik.
Pertarungan seperti sudah ada di depan mata, dan kami
harus jadi orang kuat. Begitulah saat ada tawaran latih-
an seni bela diri, semuanya sepakat mengikuti. Tak ada
pengecualian. Apalagi waktu kami masih banyak yang
tersisa. Saat masih semester pertama, kelas tutorial MAK
di petang hari memang belum begitu padat. Hanya tiga
hari dalam sepekan, itu pun tuntas menjelang shalat ‘Ashar.
Praktis ba’da Ashar kami tak memiliki kegiatan lain yang
memadai. Beberapa teman memilih ikut aktivitas sekolah,
bergabung dengan anak-anak MAN—baik itu OSIS,
pramuka, juga berbagai kegiatan olahraga dan seni. Toni,
Hendra, Suhadi, Andi, dan Mardi adalah anak-anak MAK
yang ikut bergabung dalam pramuka dan OSIS. Sisanya,
memilih kegiatan mandiri di petang hari.

http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS

Rasyid dan Syahid selalu menghabiskan waktunya
untuk belajar lagi di Masjid Nurul Hikmah. Sedangkan
aku memilih berolahraga saja bersama beberapa rekan
yang lain, seperti Burmal, Sarianto, Chandra, Patrick, ter-
masuk Ismet, anak Jambi. Aku memilih basket, karena
dari Perguruan Wahidin, keahlianku mendrible bola sudah
mulai terasah. Aku menyukainya. Namun begitu, tetap
saja banyak waktu yang tersia-sia dibandingkan energi
kami yang berlebih dan meluap-luap. Gejolak remaja
yang menggelora, semangat yang terus terpompa, men-
jadikan kami kekurangan sarana untuk memenuhinya.
Sampai suatu ketika, guru olahraga kami, Pak Suwardi me-
nawarkan untuk belajar sedikit bela diri. Kami langsung
setuju, menyambar dengan semangat rencana hebat itu.
Ke depan, tantangan yang akan kami hadapi semakin
berat—baik internal maupun eksternal. Beberapa senior
MAK selalu saja menyebut “permusuhan abadi” yang
tak akan pernah usai dengan anak-anak MAN. Entahlah.
Provokasi itu menjadi salah satu pemicu semangat atau
tidak. Yang jelas, kami terlalu bersemangat untuk menjadi
juru damai.

Juru damai? Ya, ada pameo klasik di kalangan ahli
strategi pertempuran yang diajarkan guru sejarah kami
Bu Riska, yakni jika ingin dalam kondisi damai, maka ber-
siaplah untuk berperang. Persiapan perang, itulah kunci-
nya. Kalau disederhanakan dalam pepatah lama muatan
lokal, maka ia akan bertransformasi menjadi, ‘’musuh
jangan dicari, jika bertemu jangan lari.’’ Pameo ini ingin
menunjukkan bahwa persiapan perang sangat penting
untuk menjaga perdamaian. Kekuatan mutlak diperlukan
agar musuh tak berani datang. Sebab orang yang siap

212

http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT

bertarung kapan saja akan menjadikan wibawa melekat
padanya, sehingga orang lain tak mau cari masalah dengan-
nya. Hanya orang kuat yang dapat menjadi juru damai.
Tengoklah negara-negara super power. Perdamaian ala
mereka harus ditegakkan dengan serbuan misil dan rudal.

“Suatu saat, kalian harus siap!” Begitu pesan yang
selalu kami terima.

Pada suatu sore yang cerah tak berawan, kami me-
mulai latihan itu. Meski lagi musim terik, cuaca masih
tetap terasa sejuk. Sejak saat itu, kami resmi berguru pada
Pak Suwardi. Beliau adalah sosok muda yang kokoh,
berbadan atletis, agak legam, dengan kumis tipis meng-
hiasi bagian atas bibirnya. Pak Suwardi bukan tipe guru
pemarah, bahkan terlalu lembut berbahasa untuk ukur-
an manusia sekekar tubuhnya. Beliau bersuara kecil. Tapi
entah mengapa, kami yang beragam polah ini bisa diatur-
nya dengan perintah-perintah ringan saja. Ada wibawa
pada pembawaannya.

Untuk perlengkapan silat, kami menggunakan celana
galembong yang bagian pisaknya dijahit khusus, lebar,
sangat fleksibel. Kendati kainnya berasal dari jenis katun
biasa, tapi fleksibilitasnya tak kalah dengan jenis kaus, yang
dapat dibuat untuk split, yakni posisi kaki mengangkang
penuh hingga lurus sejajar. Hanya sedikit orang di dunia
ini yang mampu melakukannya, kecuali para pesenam
atau atlet bela diri. Aktor Jean Claude Van Dame sering
bergaya seperti ini.

Kami mengambil tempat latihan di lapangan Batu
Palano, seberang Jalan Lintas Bukit Tinggi-Padang agak
naik ke arah Gunung Merapi. Konturnya lebih menanjak,
agak tajam, sehingga berjalan menuju lapangan ini akan

213

http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS

membuat lutut goyang dan napas ngos-ngosan. Sama
curamnya dengan tangga lurus ke arah lorong gelap
menuju masjid, namun yang ini jaraknya lebih panjang.
Ketika sampai di lapangan, barulah terasa khasnya,
ratanya bak air, luas dan melegakan.

***

Pada hari Selasa, lapangan sepenuhnya milik warga se-
tempat, digunakan untuk adu kabau Koto Baru. Tapi
pada hari lain, lapangan bebas digunakan siapa saja. Kami
mengambil kesempatan itu untuk berlatih menjadi pen-
dekar. Latihan diadakan tiga kali dalam sepekan, Senin,
Rabu, dan Jumat ba’da Ashar. Latihan pertama dimulai
dengan pemanasan ringan, layaknya pemanasan untuk
olahraga lainnya—mulai dari berlari keliling lapangan,
lalu senam kecil, menggerak-gerakkan tangan ke kanan
dan ke kiri dengan cara menyiku. Berikutnya, mem-
bentangkan kedua tangan. Kaki juga digerakkan untuk
pemanasan, satu lurus dan yang satu ditekukkan secara
bergantian. Selanjutnya, kami belajar kuda-kuda, dua kaki
ditekuk, tangan dikepalkan di samping pinggang meng-
arah ke depan. Pandangan juga lurus ke depan. Posisi
itu dipertahankan lama sekali. Selama tiga hari dalam
sepekan, kami hanya menghabiskan waktu untuk gerakan
itu-itu saja. Ada kebosanan juga, kendati guru kami sudah
berusaha agak santai. Sesekali, ia melontarkan joke.
Kendati sebenarnya kurang pas dengan pembawaannya
yang serius dan keras.

Pekan kedua, latihan sungguh berbeda. Sebagai pe-
manasan, kami diajak menelusuri lereng Gunung Merapi
dengan bertelanjang kaki. Pak Suwardi berlari di depan,

214

http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT

dan kami mengikutinya dari belakang. Jalan yang kami
lalui adalah jalan berbatu, pengerasan menjelang peng-
aspalan. Pengerasan jalan di sini berbeda dengan tempat
lain. Batu yang digunakan adalah batu gunung asli, lava
yang membeku. Oleh karenanya, sisa-sisa panasnya masih
terasa dan bentuknya tajam-tajam. Pak Suwardi melesat di
jalan berbatu itu bak kijang diburu harimau. Cepat sekali.
Beberapa kali ia menoleh ke belakang, dan menunggu
kami yang tertatih-tatih. Batu-batu kecil itu menjadikan
langkah kami jauh tertinggal. Ingin rasanya berbalik arah
atau mencari jalan lain.

Dalam kondisi seperti ini, memilih jalan yang sedikit
mulus merupakan perkara mustahil, karena seratus persen
jalan yang dilalui adalah kerikil tajam. Jika ingin sedikit
nakal, maka tapak kaki bisa diarahkan ke pinggir. Risiko-
nya masuk parit atau menginjak putri malu, yang duri-
durinya tak kalah ganas, kadang bercampur pula dengan
batu-batu tajam. Jalan yang belum bernama itu seperti
menjebak kami dalam dilema. Karena, sepanjang mata
memandang, yang ada hanya kerikil tajam yang dipagari
putri malu berduri. Tak ada tempat untuk menghindar.
Maka rasakanlah tusukan-tusukan batu kecil Merapi yang
tajam itu di telapak kaki yang manja. Atau cobalah duri
putri malu yang menyiksa. Itulah pelajaran berat pertama
dari pencak silat Pak Suwardi. Tinggalkan kemanjaan di
rumah, dan bersiaplah jadi sekeras batu. Sengatan pertama
telah membuat sebagian kami putus asa. Hari itu, tak ada
latihan yang lain selain berlari di tengah kerikil tajam, yang
tajamnya sampai ke ubun-ubun. Keindahan panorama
Gunung Merapi dengan pepohonan perdu, ilalang hutan,
cemara, seraya, meranti, kemuning, dan beberapa telaga

215

http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS

sejuk hingga kolam air hangat belerang yang uapnya
benar-benar hangat tak menjadikan latihan lari sore itu
menjadi indah. Malah hancur. Kami berantakan dilantak
batu tajam dan putri malu.

Kami pulang dengan wajah letih, stamina drop.
Keringat bersimbah-simbah, mata berkunang-kunang. Dua
setengah jam berlari dalam incaran batu tajam Merapi telah
menjadikan kulit kaki-kaki bayi ini melepuh. Tapak kaki
seperti terbakar karena gesekan kerikil tajam itu bagaikan
lava membara yang keluar dari perut Merapi. Seolah-olah
ingin memberi pelajaran pada kaki kami, yang jarang
digunakan untuk melangkah ke masjid. Kami frustrasi.
Hanya beberapa orang yang kukuh. Beruntung, pada
hari Rabu pekan kedua latihan itu, Pak Suwardi melalui
seorang kurir mengabarkan kalau latihannya ditiadakan
untuk sementara waktu. Pak Suwardi ke Padang sampai
hari Sabtu untuk mengikuti penataran. Artinya, dua kali
kami tak latihan, selain Rabu juga Jumat.

“Alhamdulillah.” Jawaban itu seperti meluncur begitu
serentak, setelah menerima berita dari kurir itu. Kaki kami
memang benar-benar melepuh. Untuk berjalan ke kelas
pun sulit, apalagi untuk memulai latihan lagi.

Tetapi perjalanan tak boleh berhenti. Latihan keras
harus dilalui, agar kami dapat sekeras batu menghadapi
dunia yang juga keras. Tantangan pertama, tentu dari anak-
anak MAN. Pekan ketiga, kami kembali berkumpul di
lapangan Batu Palano. Hari itu, Pak Suwardi tak mengajak
kami berlari di jalan berbatu tajam gunung Merapi. Pak
Suwardi menunjukkan jalan lain yang berbeda, sedikit
batu, tapi lebih banyak lecah, bencah, dan genangan air.
Kami melewati beberapa anak sungai kecil yang jernih,

216

http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT

menyeberanginya, dan menapaki beberapa bebatuan
yang ada di sana tanpa alas kaki. Beberapa kali kami me-
lihat ular menggantung di ranting pohon, monyet yang
melompat berteriak-teriak riang gembira, dan biawak-
biawak melata lincah di perairan. Makhluk-makhluk itu
berhamburan melihat kehadiran kami yang berlari penuh
semangat. Dan aneh, kami tak merasakan lagi ganasnya
alam di telapak kaki. Padahal, kami pulang melalui jalan
yang berbatu. Berlari di antara jalan lecah dan berundak-
undak mulai kami nikmati. Petang harinya, usai sampai ke
asrama, bekas pekerjaan kami tetap ada. Beberapa ekor
pacet lengket di kaki, tak mau melepas hisapan darah-
nya. Usai diberi puntung rokok, barulah pacet-pacet itu
menyingkir, menyisakan luka yang menganga. Darah pun
enggan beku di bekas gigitannya. Terus mengalir.

Latihan hari berikutnya, kami berlari lagi ke arah se-
buah perbukitan di lereng Gunung Merapi ini. Konturnya
benar-benar curam. Di sanalah, Pak Suwardi melatih kami
untuk tahap selanjutnya. Kami diharuskan rolling, berguling
ke depan di tanah miring itu. Jika satu dua kali tentu tak
masalah. Tapi kalau sudah mencapai sepuluh hingga dua
puluh kali, maka kepala akan berputar hebat, pening
menjadi-jadi. Dunia seakan berputar-putar tak keruan. Kami
tak bisa membedakan, mana Gunung Merapi dan Gunung
Singgalang, mana Barat dan Timur. Semua tampak berputar.
Sebagian besar malah muntah-muntah karena pusing tak
terkira. Ahai, berat nian cobaan untuk menjadi pendekar.
Padahal, kami belum memulai latihan satu jurus pun.

“Ini agar kalian siap menghadapi latihan yang se-
sungguhnya!” ucap Pak Suwardi penuh energi. Suaranya
pelan, tapi mantap.

217

http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS

Kami mengangguk dan melanjutkan latihan berat ini
dengan tekun. Setelah dua bulan hanya melakukan latihan
fisik berat dan kuda-kuda yang itu-itu juga, barulah kami
diajarkan sedikit pencak silat yang sebenarnya. Ternyata,
tak sesuai dengan harapan. Pak Suwardi mengajarkan
begitu berat latihan fisik hanya untuk memasuki tahapan
baru yang tak begitu jantan, bahkan cenderung gemulai
seperti tari. Jurus-jurus silat yang diajarkannya tak sekeras
latihan fisik yang kami alami, yang membuat kaki lecet,
tangan kram, kepala pusing, betis naik, perut mual dan
muntah-muntah. Sebagian mulai malas latihan. Ketika
memasuki bulan ketiga dan keempat, latihan menjadi tak
efektif, semakin kekurangan murid.

Memasuki enam bulan kedua, kondisinya lebih parah
lagi. Beberapa kawan mulai tertarik belajar tenaga dalam
dan ilmu-ilmu yang berhubungan dengan alam gaib.
Latihan silat yang mengandalkan fisik pun kehilangan
pesonanya. Hanya beberapa orang saja yang masih tersisa.
Dan aku salah satu di antaranya. Pak Suwardi tentu
kecewa. Sebaliknya, beliau tak mau mengecewakan kami
yang masih setia. Akhirnya, jadwal latihan dipindahkan
menjadi malam hari, ba’da Isya, hingga waktu yang tak
tentu. Kadang kami menghabiskan waktu hingga larut
malam, di sebuah lapangan yang tak jauh dari rumah
beliau di Desa Aie Angek. Setiap malam, kami memulai
latihan dengan doa, membaca al-Fatihah lalu menghormat
takzim dengan merapatkan kedua tangan kepada Sang
Guru sambil menunduk.

Di malam-malam ini, Pak Suwardi banyak mengajar-
kan teknik baru. Kuda-kuda kami, parabek kanan dan
kiri kini lebih baik. Saat kuda-kuda sudah kokoh, kami

218

http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT

dituntun untuk menggerakkan kedua lengan dengan me-
nyilangkannya di depan dada, atau satu lengan menjulur
ke depan sebatas bahu, sementara lengan yang satunya
lagi berada di dekat perut dalam posisi menjaga. Posisi
kepala diluruskan dan pandangan mata diarahkan pada
tubuh lawan. Gerakan ini berfungsi untuk melindungi
anggota tubuh yang penting, seperti dada, kepala, dan
perut bagian bawah. Tak hanya gerakan yang keras, ada
juga gerakan-gerakan yang sangat gemulai, yang banyak
tak disukai beberapa kawan. Tapi, rupanya, di sanalah
kehebatan dan letak seni pencak silat. Gaya tari dan akar
gerak tradisi randai ini ternyata dapat mengelabui lawan.
Mirip jurus mabuk atau jurus tidur ala kungfu Cina—
seolah tak berdaya, rapuh, lemah, namun ternyata sangat
kuat. Pantas saja, karena latihan dasarnya saja membuat
kami shock dan muntah-muntah. Setelah lengan dan kaki
sekeras batu, ketika tangan sudah dapat memecahkan batu
bata tiga lapis, barulah jurus-jurus asli diajarkan. Biasa-
nya, kami mengikuti juga sesi latih tanding, tentu dengan
kelas yang sama, dengan ukuran badan yang seimbang.
Latihan malam selalu ditutup dengan salam takzim, mem-
baca hamdalah, dan doa. Selain latihan fisik, kami juga
sering berdiskusi tentang pencak silat dan dunia bela diri
lainnya.

“Pancak itu adalah sarana pendidikan bagi masyarakat
Minang. Jadi, maknanya luas sekali, bukan hanya latihan
fisik saja,” ujar Pak Suwardi memulai pembicaraannya
usai kami mengikuti latihan, di suatu malam yang basah.
Hujan deras menghentikan latihan kami. Tak lama setelah
hujan turun, obor yang diletakkan pada empat penjuru
arah mata angin di lapangan kecil itu padam. Dalam gelap,

219

http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS

kami tak dapat melihat apa pun, sehingga latihan harus di-
hentikan. Pak Suwardi pun ingin melanjutkannya dalam
ruangan saja, di rumah panggungnya yang bersahaja.
Kami duduk bersila mendengarkan petuah guru muda
ini. Begitu banyak yang belum disampaikannya dan sudah
saatnya diberikan kepada murid-murid yang tetap setia.

“Pada dasarnya, belajar pancak ini memang malam
hari seperti yang kita lakukan sekarang. Dulu sekali, ketika
kami masih kecil, belajar pancak ini dilakukan di surau
sambil mengaji. Tiap anak yang sudah khitan tak boleh
lagi tidur di rumah. Ia harus ke surau belajar mengaji dan
pancak, dan tidur di rumah Allah sampai subuh.”

“Sekarang, tradisinya bagaimana Pak? Apakah masih
seperti dulu?” tanyaku yang merupakan satu-satunya anak
Melayu di forum itu. Aku cukup penasaran.

“Ya, tentu sudah beda. Sekarang, mengaji tak hanya
di surau. Sudah ada madrasah, MDA. Lembaga pancak
silek pun sudah banyak. Bahkan, banyak perguruan yang
hebat-hebat dengan modifikasi yang bagus. Semua sudah
berubah. Tapi, yang kalian pelajari dari saya ini, bisa
dikatakan yang asli dari guru saya!”

Kami menyimak tekun. Kemudian Pak Suwardi me-
maparkan sejarah singkat pencak silat. Seni bela diri ini,
menurutnya konon berasal dari Gujarat, India, yang masuk
ke Sumatera pada abad ke-8, yaitu pada waktu Kerajaan
Sriwijaya berkuasa. Pada masa itu, saudagar-saudagar
kaya India sering datang membawa dagangannya ke
Sumatera, dan diterima sebagai tamu terhormat oleh raja
dan kalangan istana. Untuk menjaga barang dagangannya,
mereka membawa beberapa pengawal yang menguasai
seni bela diri.

220

http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT

“Konon, dari merekalah diajarkan ilmu bela diri
untuk pertama kali,” cerita Pak Suwardi.

“Kalau India, berarti kita ini murid keturunan Kresna
dan Wisnu. Ada kaitan dengan Brama Kumbara juga ya?”
bisik Zulhuda yang terobsesi dengan cerita dari sandiwara
radio itu.

“Ssst... diam!”

Zulhuda terus saja berceloteh di samping telingaku,
sementara Pak Suwardi juga terus menyampaikan kisah-
nya. Menurut Pak Suwardi, pengembangan silat Minang
selanjutnya dilakukan oleh Niniak Datuak Suri Dirajo,
di daerah Tenggara lereng Gunung Merapi. Daerah itu
bernama Pariangan. Perkembangan silat Minang sangat
berkaitan erat dengan perkembangan suku-suku Minang
dari daerah Pariangan. Itu satu versi, dan ada juga versi
lainnya. Pak Suwardi akan menyampaikan itu, tapi perkata-
annya urung terlontar, ketika ada interupsi mendadak.

“Lalu apa kaitannya dengan surau, Pak?” Azwar, pria
tinggi melayang yang ternyata berminat pada olahraga
keras ini menyergap dengan pertanyaannya.

“Ya, tentu ada. Konon, banyak mitos tentang pancak
ini. Ada yang mengatakan ilmu bela diri ini disampaikan
kepada orang Minang lewat mimpi dengan kekuatan gaib.
Ada juga pendapat bahwa dua leluhur Ranah Minang,
yaitu Datuak Perpatih Nan Sebatang dan Datuak Ke-
temanggungan adalah pencipta pancak selain yang tadi
sudah disebut, Datuak Suri Dirajo. Tapi ada juga yang
menyebut bahwa pancak Minang ini diturunkan melalui
Malaikat Jibril kepada Nabi Adam dan diteruskan secara
gaib kepada leluhur orang Minang terdahulu. Dari
sanalah, pancak diajarkan di surau-surau secara turun-

221

http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS

temurun. Sejarah tentang pedagang Gujarat itu juga mem-
bawa misi Islam sambil berdagang. Selain itu, mereka juga
mengajarkan silek!”

“Apakah ini ada kaitannya dengan silat Pangean dari
Kuantan, Pak? Gerakannya agak mirip-mirip!?” ujarku saat
terkenang beberapa gerakan yang pernah diperlihatkan
Pak Cik Syahruddin. Sebelum kuliah, Pak Cik sempat
berguru di Rantau Kuantan selama dua tahun.

“Ya, memang ada kaitannya. Ada kebudayaan yang
sama, termasuk soal ilmu bela diri. Silat Pangean juga
bagus! Ada kaitannya dengan pancak Lintau!”

Lalu Pak Suwardi menjelaskan tentang silat Pangean.
Beliau cukup memahami tentang ilmu bela diri dari
daerah Kuantan, Riau itu, seperti beliau juga paham aliran
silat lainnya di tanah air, bahkan dari tempat yang jauh.
Tentang silat Betawi, Cimande dan Cikalong, Pak Suwardi
pun lancar memaparkan persamaan dan perbedaannya.
Tentang silat Pangean sendiri, menurutnya ada dua jenis
aliran, yakni Pangean Bathino yang diwariskan Inyiak
Simah dan Pangean Jantan yang diwariskan Datuak
Bolang. Pangean Jantan gerakannya sedikit kasar, keras,
dan biasanya dipergunakan untuk berperang. Sedangkan
Pangean Bathino gerakannya lemah gemulai, santai, dan
lunak. Jenis ini diperuntukkan bagi pangeran-pangeran
kerajaan atau keturunan raja. Silat ini lebih banyak meng-
gunakan teknik, kendati tenaga juga bukan tak penting.

“Silat Pangean Bathino berasal dari daerah Koto
Tinggi, Pangean di Rantau Kuantan. Sedangkan Silat
Pangean Jantan berasal dari Datuak Bolang dari Lintau.
Makanya, ada kaitan erat dengan pancak silek Minang,”
paparnya.

222

http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT

Malam itu, kami menemukan sebuah sejarah penting
tentang seni bela diri. Sebuah sejarah peradaban yang
kami ikut di dalamnya, sebagai penerus yang asli, karena
Pak Suwardi adalah sedikit dari generasi Minang yang
peduli pada warisan budayanya. Banyak orang pintar
yang jenius dalam memodifikasi, namun kutemukan ke-
aslian pada diri Pak Suwardi. Ia tak mau mencampur aduk
dengan seni bela diri yang lain. Apa yang didapat dari
gurunya, seberapa pun kuno, kampungan, itulah yang
diajarkan. Tentu beda dengan wawasan yang didapat dari
bangku sekolah, atau pengalaman pribadinya yang lebih
beragam.

Tapi kami, para murid ini, tetap memiliki sudut
pandang yang berbeda. Penjelasan Pak Suwardi malam
itu menjadi diskusi yang menarik di asrama. Tentu hanya
di kalangan kami saja. Azwar memandangnya dari sisi
proyeksi angka. Dia bahkan sempat melakukan penelitian
kecil-kecilan tentang tinggal berapa persen surau yang
masih mengajarkan silat di ranah Minang, berapa banyak
anak yang masih tidur di surau untuk menuntut ilmu
agama daripada larut dengan televisi dan game, terutama
game watch yang mulai booming. Ia juga melakukan survei
tentang misi pendidikan pada pencak silat dan tanggapan
anak-anak zaman sekarang. Hasilnya ada di kepala Azwar
sendiri, tak dipublikasikan atau diberi tahu pada siapa
pun. Yang jelas, statistik yang didapat menjadikannya
selalu semringah dan makin rajin bergaul dengan angka.

Zulhuda lain lagi. Berkat penjelasan Pak Suwardi
malam itu, ia makin terobsesi menjadi pendekar dengan
ilmu kanuragan tinggi bak Brama Kumbara. Atau pendekar
sakti mandraguna dari legenda Gunung Merapi, Sembara,

223

http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS

yang juga populer di sandiwara radio. Kendati cerita yang
terakhir ini agak kacau settingnya, terutama saat diangkat
ke layar kaca, Zulhuda tak peduli. Baginya, Sembara
adalah superhero Gunung Merapi yang menjadi idola dan
cita-citanya. Zulhuda juga anak gunung, bahkan pemuncak
di Sumatera. Ia tinggal di kaki Gunung Kerinci dengan
ketinggian 3.800 meter, lebih hebat dari Gunung Merapi
sekalipun. Legenda gunung termasuk tentang Sembara
menjadi salah satu obsesinya.

Bagiku, latar belakang cerita Sembara memang
agak membingungkan. Judulnya Misteri Gunung Merapi.
Tokoh-tokohnya bernama orang Sumatera, seperti Datuk
Panglima Kumbang, Mak Lampir, Wak Bayau. Panggilan
datuk, mak, dan wak, sangat khas Sumatera, kawasan
Melayu secara umum, termasuk di Ranah Minang ini.
Tapi dalam kisahnya, Misteri Gunung Merapi memiliki
latar belakang Jawa, dengan merujuk pada Gunung
Merapi di Jawa Tengah-Yogyakarta. Hal itu makin kentara
saat belakangan stasiun televisi mengangkat kisah ini ke
layar kaca. Setahuku, di Indonesia memang hanya ada
dua gunung yang bernama Merapi—satu di Jawa Tengah-
Yogyakarta dan satu di Sumatera Barat.

Di lain waktu, aku menemukan versi lain dari kakak
kelas III MAK, yang berasal dari Pagar Alam, Sumatera
Selatan. Menurut Kak Donni, kisah Misteri Gunung Merapi
itu berasal dari legenda di Gunung Dempo, Pagar Alam,
Sumatera Selatan, yang bersebelahan dengan Bengkulu.
Menurut orang kampung di sana, makam Datuk Panglima
Kumbang sebagai bukti sejarahnya terdapat di sekitar
kaki Gunung Dempo. Bukti lainnya, di Gunung Dempo
memiliki kabut yang selalu menutupi puncaknya. Kabut

224

http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT

itu sangat khas dan kabarnya tak ada di puncak gunung
yang lain. Orang menyebutnya Kabut Tunggal. Dalam
kisah Misteri Gunung Merapi, Kabut Tunggal adalah pe-
nolong Sembara dari penglihatan sakti Mak Lampir, yang
mampu mendeteksi keberadaan jagoan itu hanya lewat
seember air. Mak Lampir memiliki semacam radar CCTV
untuk memantau keberadaan Sembara di mana pun ber-
ada. Ketika diliputi Kabut Tunggal itu, Mak Lampir akan
kesulitan mencari keberadaan Sembara. Ia akan kehilangan
jejak, karena radarnya dikacaukan. Kabut Tunggal adalah
inti dari Misteri Gunung Merapi itu. Tapi anehnya, Kabut
Tunggal itu bersemayam di puncak Gunung Dempo, bahkan
menjadi ciri khasnya pula, bukan Gunung Merapi di Jawa
Tengah-Yogyakarta atau Gunung Merapi di Sumatera Barat.
Seperti itulah kisah yang dituturkan penduduk lokal. Entah
mana yang benar. Wallahu a’lam. Toh, itu hanya cerita.

***

Bagi kami, Pak Suwardi tak sekadar guru pencak silat
dengan kekuatan otot yang luar biasa. Selain mengajarkan
aspek fisik, beliau juga tak lupa memberikan warna lain
bagi kami secara mental. Di kesempatan lain, beliau
memaparkan beberapa makna dari gerakan yang di-
ajarkannya. Kami menyimak dalam diam dan begitu
terpana dengan penjelasan beliau.

“Pada dasarnya, gerakan pancak ini merujuk kepada
abjad Arab dalam al-Quran. Gerakan berdiri atau tagak itu
adalah alif. Maksudnya Allah, sebagai makna tauhid. Lalu
ada gerakan kuda-kuda yang disimbolkan dengan huruf
dal. Itu adalah Adam alaihissalam yang merupakan bapak
moyang manusia. Dari sanalah kita berasal, dan kuda-

225

http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS

kuda harus dibuat sekokoh Adam. Selanjutnya, gerakan
disebut langkah mim. Ini adalah simbol dari Rasulullah
Muhammad sallallahu ‘alaihi wa sallam. Setiap langkah
dalam gerakan silat, harus didasarkan pada prinsip gerak-
an mim, untuk jalan dakwah Rasulullah yang agung. Jadi,
pancak silek ini bukan untuk gagah-gagahan. Ini untuk
bela diri dan menegakkan syiar Islam!”

Kami terkesiap dan tersipu. Merasa bersalah. Pak
Suwardi seperti tengah menyindir kami dengan kata-kata-
nya yang sangat lembut. Kami tersadar, sebagian niat kami
sudah salah. Awalnya, kami belajar untuk menghadapi
tantangan anak-anak MAN yang katanya harus dihadapi
dengan keras. Kami harus siap tarung. Dari sanalah kami
berniat dan belajar bela diri. Tapi, kami terperangkap di
sini. Pak Suwardi menelanjangi niat buruk kami.

“Bagaimana kalau niat kami awalnya bukan itu,
Guru?!” tanya Tarmizi memberanikan diri.

“Perbaiki niat kalian! Jangan sedikit pun berniat
untuk keburukan, apalagi mencelakakan orang!”

“Tapi kalau sudah terlanjur, bagaimana Pak?” timpal
Mardi.

“Mulai sekarang, perbaiki niat itu!”

Lalu Pak Suwardi memaparkan betapa luhurnya ajaran
asli pencak silat ini. Menurutnya, silat berasal dari bahasa
Arab silaturahim, menyambung persaudaraan. Artinya,
dengan belajar silat, yang seharusnya terjadi adalah ter-
jalin keharmonisan, kekerabatan, dan persahabatan.
Silat bukan untuk mencari musuh, apalagi memutuskan
silaturahim dan persahabatan. Yang lebih tinggi dari itu,
silat harus menumbuhkan ukhuwah.

226

http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT

“Silat mengajarkan pertemanan, bukan permusuhan.
Sebab, satu musuh terlalu banyak, tapi seribu teman masih
terlalu sedikit,” ujar Pak Suwardi mengutip perkataan
sahabat Saidina Ali bin Abi Thalib ra.

Beliau juga memaparkan istilah lain dari Silat
Minangkabau, yakni Silek Langkah Ampek. Istilah ini
dinisbahkan kepada sifat Nabi Muhammad SAW, dan para
Rasul pada umumnya, yaitu sidiq atau kebenaran, amanah
atau dapat dipercaya, tabligh yang artinya menyampaikan
kebenaran, dan fathanah yang bermakna cerdas dan
bijaksana. Dengan sifat-sifat keseluruhan Nabi itulah,
Silek Langkah Ampek harus diamalkan.

“Semuanya menuju kepada empat tingkatan kesufian—
mulai dari syari’at, thariqat, haqiqat hingga ma’rifat,” ujar
Pak Suwardi penuh hikmat. Suaranya pelan sekali. Kami
terkesima mendengarkan penjelasan guru muda ini. Kami
malu pada niat semula, yang ingin tampil hebat, jumawa,
bahkan menguasai. Awalnya, kami ingin hebat, kuat, dan
superior karena berambisi menjadi pendamai, tapi jika
sudah hebat, lalu apa? Jangan-jangan malah lebih kejam
dan menjadi musuh perdamaian. Kami makin malu saat
Pak Suwardi menyampaikan pepatah penting bagi para
pesilat Minang. “Indak ado gayuang nan indak basambuik,
indak ado tangkok nan indak balapehan”, yang artinya, tak
ada gayung yang tak bersambut, tak ada tangkapan yang
tak dilepaskan. Maknanya menurut beliau, lebih kurang,
keterampilan ilmu bela diri bukanlah digunakan untuk
mencederai lawan, apalagi menyakiti, melainkan untuk
memberi pelajaran agar lawan tidak lagi melakukan per-
buatan yang dapat merugikan orang lain. Ada pesan per-
damaian di sana, pesan kemanusiaan, bahwa tak ada per-

227

http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS

musuhan jika tangan telah terulur untuk meminta maaf,
gayung sudah siap disambut. Kami malu, benar-benar
malu mendengar petuah beliau. Tapi, Pak Suwardi hanya
tersenyum.

“Sebelum masuk pelajaran silek harimau, silek
kumango, dan pelajaran yang lebih tinggi, perbaiki dulu niat
kalian!” ujar beliau penuh wibawa. Kami hanya tertegun.
Diam.

***

228

http://facebook.com/indonesiapustaka 18

Pak Jalil

Di salah satu sudut Pasar Koto Baru, berdiri sebuah
toko kelontong kecil berukuran 4 x 4 meter. Tak ada
yang istimewa di toko itu. Barang-barang yang dijual di
sana pun sama saja dengan toko kelontong yang lain—
mulai dari alat tulis hingga perkakas rumah tangga, dari
sandal jepit sampai pensil-pena, ada piring-gelas juga
sempak-kaus dalam. Toko itu diberi nama “Berkah Ilahi”.
Persis di sebelahnya, berdiri toko yang menjual barang-
barang yang tak jauh beda. Letaknya lebih strategis, karena
berada di pertigaan jalan, yang depannya bisa dibuka
untuk dua jalan. Biasanya, letak seperti ini dianggap lebih
strategis oleh pedagang, cenderung hoki. Kondisinya agak
beda dengan toko “Berkah Ilahi”, yang mengarah ke satu
jalan saja. Namun entah mengapa, toko itu lebih diminati
pengunjung. Apa rahasianya?

Aku hanya mereka-reka dan mengira saja. Mungkin
karena faktor Pak Jalil, pemilik toko kelontong Berkah

http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS

Ilahi tersebut. Namanya Bagindo Abdul Jalil. Kami me-
manggilnya Pak Jalil. Dibanding toko sebelahnya, Pak
Jalil memang beda. Pak Jalil selalu menyambut setiap
pengunjung tokonya dengan ramah, senyum, dan air muka
cerah. Semua pelanggan dianggap raja yang harus dilayani
sebaik-baiknya. Bagi yang sepadan umur dengannya, selalu
dipanggilnya angku, sebuah panggilan penghormatan.
Sedangkan bagi yang muda-muda, ia memanggil nama
dengan akrab. Kadang tak segan dipanggilnya angku pula,
atau kadang angku mudo. Pelanggan muda tak ubahnya
bagai menantu saja baginya, menantu baik tentunya.
Alangkah indahnya.

Sebaliknya, pemilik toko di sebelahnya akan me-
nyambut setiap pelanggan dengan muka masam dan per-
tanyaan kasar. Seorang ibu-ibu pemberang, yang hobinya
mengangkat alis ketika ditawar. Bahkan, kalau tak ber-
kenan, ia akan mengusir pelanggannya dengan kasar. Dia
juga selalu berkacak pinggang di toko itu. Manalah ada
pelanggan yang mau berlama-lama di tokonya. Madu pun
yang dijualnya pasti terasa pahit, dan orang menyangkanya
sebagai racun.

Pak Jalil memang sudah tak muda lagi, usianya sekitar
45 tahun. Badannya gemuk, agak pendek. Perutnya di-
jejali lemak di kiri, kanan, dan depan. Ubannya telah
mulai membias di rambutnya yang lurus dan selalu tersisir
rapi. Kulitnya yang putih sudah mulai menampakkan
keriput di sana-sini. Kendati wajahnya tak begitu tampan,
tapi Pak Jalil memiliki istri yang cantik, tinggi semampai,
yang sesekali datang menemaninya berjualan di Pasar
Koto Baru. Aku memprediksi, pastilah Pak Jalil seorang
pahlawan cinta yang hebat di masanya, negosiator ulung

230

http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT

yang tiada dua, sehingga mendapatkan pasangan hidup
yang diidamkan.

“Ba a kaba, Muh. Sedang paralu apo? A di siko1 ter-
sedia semua. A silakanlah!”

Aku terkesan. Baru dua pekan lalu aku berbelanja
di toko kelontong ini untuk pertama kalinya. Ketika itu,
Pak Jalil menanyakan namaku. Dan sekarang, dia sudah
memanggilku dengan akrab, bak pelanggan yang sudah
bertahun-tahun mendatangi tokonya. Bahkan, dia sudah
hafal namaku. Apakah ia menaruh perhatian khusus
padaku? Mau diangkat menantu mungkin!

“Tidak, Pak. Cuma mencari senter!”
“O, ada. Silakan dipilih. Ini yang agak bagus, senter
kaluaran Jepang yang asli. Ini terang sekali. A tapi memang
harganya juga agak tinggi!”
“Kalau yang lain, Pak?”
“Ada juga, mereknya sama... Tapi, ini buatan lokal!”
Pak Jalil agak berbisik, nadanya direndahkan.
“Ooo, palsu maksudnya, Pak?!”
“Stttt. Bukaaaan, bukan palsu. Tapi ini kualitas nomor
duanya! Biasalah. Ada barang kualitas nomor satu, ada pula
yang nomor dua. Dalam bisnis itu biasa. A harganya juga
beda. Ya, tinggal pilih saja. Mana yang Simuh berminat!”
Begitulah dialog pendek suatu petang di hari pasar
bersama Pak Jalil. Dia berhasil mengomunikasikan
barang dagangannya dengan bahasa yang baik, tanpa
harus bermaksud membohongi pelanggan. Selain me-

1 Apa kabar, Muh, sedang perlu apa? Di sini tersedia semua.
Silakan!

231

http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS

miliki komunikasi bisnis yang hebat, dia juga begitu
ramah, dan selalu mengundang keceriaan. Tipe saudagar
Minang yang tekun manggaleh, mencari nafkah untuk
keluarga dengan keikhlasan dan penuh dedikasi. Nama
Pak Jalil sudah cukup lama kudengar. Kakak-kakak kelas
merekomendasikan tokonya untuk dijadikan langganan
membeli kebutuhan harian. Namun baru dua bulan setelah
tinggal di Koto Baru, aku singgah ke tokonya. Agak ter-
lambat dari kawan-kawan lainnya, yang sudah lama lebih
akrab dengan Pak Jalil. Biasanya, aku mencari barang
harian di sembarang toko yang jumlahnya puluhan di
pasar itu. Tetapi, saat berjumpa Pak Jalil, sepertinya aku
hanyut oleh pembawaannya yang sangat akrab. Aku telah
tersihir keramahannya.

Sebenarnya, bukan Pak Jalil saja langgananku di Pasar
Koto Baru. Di hari pasar, tiap Selasa, ritual wajib bagiku
adalah mencari sebungkus lamang tapai, seikat pisang,
dan sebungkus gorengan. Biasanya, aku membeli beberapa
potong pisang goreng kipas dan ubi jalar goreng, yang
isinya kuning kemerahan. Ubi jalar Koto Baru memang
beda, rasanya manis dan gurih. Apalagi kalau digoreng
oleh pemasak yang profesional. Aku memiliki langganan di
pasar ini, seorang ibu tua yang badannya gemuk sekali.

Tiap petang ia menggoreng ubi jalar, ubi kayu, pisang
dan godok di sebuah sudut pasar, tempatnya membuka
lapak. Untuk sampai ke tempat itu, ia biasa diantar, atau
sesekali dipapah oleh anak atau keponakannya. Untuk
bangkit dan pulang juga demikian. Badannya memang
gemuk luar biasa, mungkin lebih dari 120 kilogram,
sehingga menyulitkannya untuk bangkit jika sudah duduk
terpacak di kursi kerjanya. Anak dan keponakannyalah

232

http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT

yang membantu mengambilkan barang dan melayani
pembeli. Kendati kondisinya demikian, hasil karyanya
sungguh luar biasa, gorengan nomor satu se-Koto Baru,
mungkin se-jalur Padang Panjang-Bukit Tinggi.

Kami memanggilnya Mak Gapuak, mengacu pada
badannya yang bongsor. Dan begitulah orang-orang me-
manggilnya. Aku sendiri tak tahu persis namanya. Apa
yang membuat dagangannya laku? Aku yakin bukan
badan dan posturnya yang bak pesumo, yang ia sendiri
kesusahan membawanya. Atau sesuatu yang berbau
magis, yang sering digunakan orang—perdukunan dan
jimat-jampi. Tidak. Gorengannya laku bukan karena itu
semua, melainkan karena sebuah dedikasi yang tinggi.
Aku pernah iseng-iseng menanyakan tentang gorengannya
yang laku keras dan tak pernah henti dibeli orang. Suatu
ketika, saat lapaknya baru satu menit dibuka, kutanyakan
resep rahasia itu.

“A Indak ado resep rahasia!”

“Pasti ado lah, Mak!” ujarku mencoba mengorek
keterangan bak reporter melakukan investigasi. Ia tahu
aku menunggu jawabannya. Ia melihat rasa penasaranku.
Sebentar ia ragu, tapi akhirnya buka mulut juga.

“Mmm... Sabananyo ado. Di siko!”

Mak Gapuak menunjuk dadanya. Dia bicara hati, ke-
mauan, dan dedikasi. Menurutnya, gorengan yang ada
sekarang bukan sekali jadi. Mak Gapuak telah belasan
tahun menjual gorengan dengan cara yang sama dan itu-
itu saja. Sampai ia berpikir untuk mencoba resep baru,
bumbu-bumbu alami dengan kombinasi yang berbeda. Ia
mendedikasikan seluruh hidup dan perjuangannya untuk
ubi jalar goreng. Pisang goreng kipas yang lebarnya bisa dua

233

http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS

kali telapak tangan orang dewasa, juga menjadi makanan
favorit di lapaknya. Nikmat sekali. Biasanya, Mak Gapuak
memasak gorengan itu dengan bumbu modifikasinya,
merasakannya, lalu menanyakan pada pelanggan. Puluhan
kali dilakukan dan banyak yang merasa tak pas. Lalu ia
mencoba dan melakukan eksperimen yang lain.

“Sakali itu pas-lah. Ikolah resepnyo sampai kini!”

Aku tersenyum. Mak Gapuak semringah. Kendati
tak membocorkan resep rahasianya, tapi resep utama ke-
hidupan telah keluar dari mulutnya. Dan itu lebih hebat
dari resep apa pun di dunia ini. Petang itu, kuborong
40 potong ubi jalar goreng. Aku ingin membagikan ke-
senanganku pada semua rekan. Apalagi, siangnya baru
saja kami mendapatkan uang saku beasiswa, lima ratus
perak. Uangku memang kurang, tapi kutambah dengan
wesel dari kampung. Aku ingin anak-anak langit penghuni
asrama merasakan gorengan ubi jalar yang diberi bumbu
dedikasi, cinta, dan kesungguhan. Mak Gapuak tak perlu
menyebut diri profesional, dengan membuka gerai di
mal, tapi ia telah menunjukkan sikap profesional yang
sesungguhnya.

***

Lain Mak Gapuak, lain lagi Pak Jalil, seseorang yang ku-
kagumi di desa Koto Baru yang permai ini. Menurutku,
ia termasuk seorang pria flamboyan dalam merayu.
Kalau dulu di masa muda, yang menjadi sasaran adalah
para wanita. Sekarang semua itu disalurkan kepada para
pelanggannya. Aku sendiri betah berlama-lama di toko-
nya. Apalagi kalau bukan mendengar cerita-ceritanya
yang menarik. Memang, salah satu bakat luar biasa Pak

234

http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT

Jalil adalah bercerita. Ia sangat piawai merangkai kata,
mengolah kisah dan berita menjadi sajian menyegarkan
bagi jiwa. Ia bercerita tentang banyak hal—mulai sejarah
Koto Baru hingga berbagai mitos tentang Gunung
Singgalang dan Merapi. Berbagai pengalaman orang saat
naik ke dua gunung di antara Koto Baru itu juga jadi
bahan ceritanya.

Petang itu sepi sekali. Sudah agak senja untuk membeli
keperluan peralatan sekolah, pena, dan buku tulis, kendati
matahari belum turun sepenuhnya. Tak kusangka, petang
itu adalah hari yang penting, karena Pak Jalil memiliki
banyak waktu untuk bercerita. Biasanya, ia disibukkan
dengan pelanggan. Tanpa perlu dipancing, ia bercerita
banyak hal. Kali itu ceritanya tentang misteri yang me-
nyelimuti Gunung Merapi. Sebelumnya, aku pernah
mendengarkan cerita tentang Gunung Singgalang, yang
semuanya realistis berdasarkan pengalaman Pak Jalil. Pak
Jalil menyebut, Gunung Singgalang pernah ditongkrongi
sekitar 1000 orang dalam satu malam. Malam istimewa itu
adalah malam pergantian tahun. Rupanya, banyak muda-
mudi yang mabuk kasmaran ingin menghabiskan malam
pergantian tahun di puncak Singgalang. Belum lagi tren
aneh merayakan segala macam di puncak gunung, mulai
pengukuhan pecinta alam sampai perpisahan sekolah.
Sebenarnya, semua itu hanya cerita biasa. Pak Jalil yang
seorang moralis pun hanya mengangkat bahu dan seolah
tak ambil pusing dengan kejadian-kejadian mesum dan
cabul sepanjang Gunung Singgalang.

Hal ini berbeda dengan Gunung Merapi. Pak Jalil me-
ngisahkan banyak misteri yang melingkupi Gunung Merapi.
Menurutnya, Gunung Merapi memiliki penunggu berupa

235

http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS

orang-orang Bunian. Orang Bunian merupakan sejenis
makhluk halus yang dikenal di wilayah Minangkabau dan
sebagian wilayah Riau, seperti di Indragiri. Bahkan, di sana
ada tarian yang bernama “Rentak Bunian”. Di beberapa
daerah seperti Jambi, juga dikenal legenda orang Bunian,
termasuk di Kalimantan dan kawasan Melayu lainnya.
Ketika bicara tentang orang Bunian, Pak Jalil tampak
bersemangat. Dengan sangat ekspresif, ia menceritakan
seluk beluk orang Bunian ini.

“Kok disapo urang Bunian, a diam se lah. Jiko dijawab,
a kanailah!”2

“Apo tanda urang Bunian tu, Pak?” tanyaku pe-
nasaran.

“Samo jo urang biaso. Cumo indak ado lakuak ‘an di
ateh bibianyo!”3

Lalu Pak Jalil bercerita panjang lebar tentang berbagai
kisah orang-orang yang tersesat di Gunung Merapi.
Awalnya, kebanyakan di antara mereka merasa diterima
dalam komunitas masyarakat di sana, semacam desa
yang lengkap dan ramah. Bahkan ada rumah-rumah dan
fasilitas umum. Pada umumnya, mereka yang tersesat ini
tak merasa sudah masuk ke perkampungan orang Bunian,
karena menganggap itu sebagai perkampungan biasa. Tak
jarang mereka hidup di sana, bahkan beranak-pinak pula.
Mereka lupa pada dunia luar, karena kampung Bunian
itu sangat indah, eksotis, dan melenakan. Mereka terbawa

2 “Kalau disapa orang Bunian, diam sajalah. Jika menjawab,
maka kena (guna-guna)lah.”

3 “Sama seperti orang biasa. Cuma tak ada lekukan di atas
bibirnya.”

236

http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT

dalam suasana kampung Bunian nan elok bak Taman Eden.
Biasanya, saat hari menjelang Magrib, di lereng Merapi
akan tercium aroma harum masakan. Ini adalah pancingan
pertama orang Bunian, sekaligus undangan kepada yang
tersesat untuk masuk ke perkampungan misterius itu.
Aroma itu biasa dikenal sebagai masakan dewa atau samba
dewa. Aromanya mirip bau kentang goreng.

Dewa di sini tentu beda dengan dewa dalam keper-
cayaan umat Hindu dan Budha. Dewa dalam kisah ini
adalah sosok perempuan cantik yang sangat pintar me-
masak dan membuat terlena orang-orang yang datang.
Kemudian, muncullah istilah “dipelihara dewa” atau
“disembunyikan dewa”. Biasanya, perasaan aneh baru
muncul setelah berbulan-bulan berada di perkampungan
Bunian itu. Tapi, hitungan waktu orang Bunian relatif
lebih lama. Sebulan di kampung orang Bunian, baru satu
jam di dunia manusia. Kadang, setelah bertahun-tahun di
perkampungan itu, masyarakat luar baru merasa kehilang-
an dua-tiga hari saja. Kalau semua itu telah terjadi, maka
tergantung kemurahan hati orang Bunian.

“Kok lai indak basalah, inyo dipalapehan. Kok basalah
gadang, salamonya di sinan. Kadang mati di sinan!”4

Pak Jalil kemudian menyampaikan pesan moralnya
kepada orang-orang yang akan mendaki Gunung Merapi.
Dia juga menyampaikan padaku hari itu, seperti yang
telah disampaikan pada ratusan orang sebelumku. Yaitu,
agar mereka tidak berbuat maksiat dan kebejatan saat
naik gunung. Kalau tetap dilakukan juga, maka orang-

4 “Kalau tak bersalah, dia akan dilepaskan. Kalau bersalah besar,
dia akan selamanya di sana. Kadang mati di sana.”

237

http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS

orang Bunian akan marah dan menculik pasangan mesum
yang berani macam-macam di sepanjang lereng Gunung
Merapi. Gunung Merapi merupakan wilayah kekuasaan
mereka. Tak hanya pasangan mesum, mereka yang berbuat
khianat, para bajingan juga mendapatkan ancaman serupa.
Aku bergidik. Aku yakin, perasaan yang serupa juga
dirasakan orang-orang yang mendengar cerita Pak Jalil
sebelum ini. Apalagi saat menyampaikan kalimat ancaman
itu, mata Pak Jalil mendelik, giginya gemeletuk, wajahnya
memerah. Seluruh daya dan ekspresinya disampaikan
penuh energi—sebuah pesan tentang keberadaan orang
Bunian dan pantang larang di Gunung Merapi. Ketika
menyampaikan pesan itu, Pak Jalil begitu menjiwai,
berkarakter, dan keras. Tak pernah kulihat dirinya seperti
itu. Ia bagaikan humas para Bunian atau salah satu dari
mereka. Nadanya benar-benar mengancam.

“Jan cubo-cubo babuek maksiaik di sinan!”5

Aku kembali bergidik. Terdiam dalam ketakutan yang
mencekam. Ketika cerita Pak Jalil menjelang khatam, hari
sudah bergerak menuju Magrib. Petang mulai tampak
gemerlap, karena lampu-lampu mulai dinyalakan. Cahaya
matahari sudah dimakan Singgalang, menyisakan biasnya
yang temaram. Saat itulah bau masakan tercium menyengat
di ujung hidung, mirip bau randang kapau dan goreng
ikan maco dicampur kentang yang mengundang selera.
Beberapa orang perempuan asing kulihat berkeliaran di
sekitar toko Pak Jalil. Mereka bertingkah aneh, berpakaian
longgar, dengan caping menutupi kepala. Mereka melirik
penuh misteri. Dalam suasana batin tak menentu—

5 “Jangan coba-coba berbuat maksiat di sana!”

238

http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT

antara ketakutan, cemas, dan penasaran—aku berusaha
memberanikan diri bertanya kepada Pak Jalil. Pertanyaan
pamungkas.

“Betul cerito tu, Pak? Pak Jalil pernah mengalami
sendiri?”

“A tak taulah. Kato urang-urang baitu!”6
Aku mengembuskan napas lega. Ketika itu kabut
mulai turun, embun dingin Koto Baru pun mulai terasa.
Dari mulutku keluar kabut kecil itu. Fuihhh! Setelah ber-
pamitan dengan Pak Jalil, aku beranjak pulang. Kulihat
perempuan-perempuan itu mengawasiku dari kejauhan.
Wajah mereka tersembunyi di balik caping yang menutupi
kepala mereka. Pandangan mata mereka sungguh aneh,
tajam, dan menusuk. Aku tak dapat melihat wajah-wajah
mereka di keremangan senja, apalagi saat ditutupi topi
caping yang luas. Langkah pun semakin kupercepat.

***

6 Ya, tidak tahulah. Kata orang-orang seperti itu

239


Click to View FlipBook Version