http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS
berniat mengejar Toni. Kedua tangannya sudah dikepal
dan saling diadu, mirip petinju yang siap berlaga.
“Kau sudah menghina daerah kami, Ton! Rasakan
tinjuku ini!”
Tapi, sebelum keduanya sampai ke tempat Toni,
Barmawi dicegah Rasyid. Sedangkan Jundi dipeluk Haris.
“Sudahlah, tenang, Kawan! Jangan emosi!”
Jundi dan Barmawi tak dapat menyembunyikan
rasa kesalnya. Keduanya menunjuk ke arah Toni dengan
pandangan kemarahan. Mereka meronta. Sejurus kemu-
dian, Jundi lepas dari bekapan Haris, lalu mengejar Toni di
depan. Saat hampir saja sampai di hadapan Toni, kakinya
tersandung, lalu jatuh tersungkur ke lantai. Dia berdiri,
dan di hadapannya kini ada Satria. Rupanya, lelaki asal
Batu Sangkar itu yang menjegal kakinya hingga terjatuh.
Tentu saja tindakan itu membuatnya tambah naik
pitam. Apalagi Satria sudah bersiap dengan sikap me-
nantang. Kini, Jundi sudah berhadap-hadapan dengan
Satria dan siap saling serang.
“Hadapi dulu Harimau Tanah Datar ini,” ujar Satria
menepuk dadanya.
Gawat. Keduanya adalah jagoan tenaga dalam. Kami
semua kenal bagaimana mereka belajar dari perguruan
yang berbeda soal ilmu-ilmu pelontar jarak jauh itu.
Keduanya juga sering melampiaskan emosi di asrama
dengan menghantam pintu asrama hingga jebol. Kini,
mereka sudah saling berhadapan mempertaruhkan nama
daerah dan perguruan. Genderang perang dimulai. Yang
lain tak mau kalah, karena Fadri, Mardi, Suhadi, Patrick,
dan Indramis dari Sumatera Barat juga tersulut emosi.
340
http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT
Anak-anak dari Jambi juga terbakar emosinya lebih hebat.
Kulihat Ihsan, Ismet, Arif Yanto, dan Ahmad Fajar mulai
geram dan berteriak-teriak. Mereka juga ingin maju ke
arah kumpulan anak Sumatera Barat. Jika terjadi perang
saudara, di mana posisi kami anak-anak Riau? Tak ada
komando. Secara spontan, mereka menentukan pilihannya
masing-masing. Sebagiannya memihak ke anak Sumbar
dan lainnya ke anak Jambi. Haris dan Iwan memihak ke
anak-anak Jambi. Sedangkan Yani dan Badrun memihak
ke anak-anak Sumbar. Sisanya, memilih bersikap netral
alias abstain, atau menjadi penengah. Kendati demikian,
kekacauan tak terelakkan. Meja-meja mulai terbalik,
banting-bantingan terjadi, dan kursi terangkat ke sana
kemari. Benda-benda di dalam tas melayang, hingga
papan tulis berbunyi keras berdentam-dentam.
Saat itu, kedua guru magang tak bisa berbuat apa-apa.
Keduanya gemetar. Pak Sahari, sang guru PMP tak masuk,
dan tinggallah dua guru magang ini di dalam kelas yang
angker dan penuh aroma dendam. Saling pukul dalam
perkelahian massal.
“Berhentiiiiii... Jangan berkelahiiiiii...!”
“Tolonglah dengarkan saya. Jangan berkelahiiii.
Stooooop!”
Tak ada yang peduli. Saling dorong, saling banting,
dan teriakan-teriakan keras terjadi. Bahkan, sudah ada
darah yang mengucur ke lantai. Kedua guru magang itu
makin cemas.
“Toloooong, jangan berkelahiiiii. Di mana moral
kalian, anak-anak MAK! Katanya kalian anak-anak baik,
anak alim, kenapa kalian berkelahi?! Hey... hey... Ber-
hentiiiiii!”
341
http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS
Tetap saja perkelahian massal itu tak mau berhenti.
Anak-anak dari Jambi makin beringas, sementara anak-
anak Sumbar tak mau kalah, juga menunjukkan do-
minasinya. Mereka lebih banyak jumlah, tapi anak Jambi
lebih kuat semangatnya. Dua guru magang makin ketakut-
an. Seorang guru yang berperawakan kecil, imut, dan
tercantik di antara yang lainnya, hanya diam terpaku di
sudut ruangan di belakang. Bibirnya gemetar. Lututnya
goyah. Badannya menggigil, seperti orang kena malaria.
Hanya istighfar yang terucap dari mulutnya, sambil terus
menggigil tak dapat menguasai dirinya. Agaknya, ada
trauma tersendiri baginya melihat pertarungan tak biasa
ini, riuh, kacau, berdarah-darah pula. Kulihat hampir saja
guru mungil ini pingsan sambil berdiri. Ibu Rosa, begitu
nama mahasiswi mungil ini, hanya diam mematung
dengan tubuh bergetar.
Sebaliknya, guru magang yang satu lagi lebih berani.
Dari tadi, dia saja yang terus-menerus berteriak, berusaha
menghentikan perkelahian. Namun tetap tak berhasil. Ibu
Grace ini berperawakan besar dan sedikit gemuk, sehingga
kecantikannya tersembunyi di balik kekar tubuhnya. Dia
juga memiliki mental yang cukup kuat untuk menghadapi
situasi kacau-balau itu. Tak cukup hanya dengan ucapan,
tangannya ikut menghadang. Ihsan yang bertubuh kecil
sampai terbanting ke papan tulis, saat Bu Grace menarik
tangannya. Saat itu, Ihsan yang berada di dekatnya berniat
mengejar Suhadi, malah ia yang terjungkal. Ihsan sampai
terdiam tak berkutik dibanting Bu Grace yang mendadak
jadi wonder woman. Kendati memiliki tenaga super, teriak-
an keras dan mental tangguh, tetap saja tak cukup untuk
menghadapi baku hantam yang sedemikian rumit. Bu
Grace tampak putus asa. Tangannya menarik tangan para
342
http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT
fighter yang terdekat sambil terus berteriak. Tapi perang
sudah terjadi, tak ada yang bisa menghentikan. Bu Grace
mulai bergelagat untuk lari dari persoalan atau meminta
bantuan. Ia lari ke pintu. Pintu macet, agaknya terkunci.
Ia gedor-gedor dengan keras. Ditariknya gagang pintu
sekeras-kerasnya, tapi pintu itu terlalu keras.
“Buka pintuuuuuuu! Mano kunciiiiiii?”
Perkelahian tetap berlanjut. Malah semakin menjadi-
jadi. Bu Grace makin blingsatan, berteriak-teriak minta
tolong. Tak hanya berteriak histeris, ia juga mulai berniat
naik ke jendela kaca, karena pintu tak juga terkuak.
Roknya sudah dijinjing dan kakinya sudah naik ke
kursi, satu kakinya bahkan sudah naik ke meja untuk ke-
mudian melompat lewat jendela kaca yang bisa dibuka.
Mungkin dia membayangkan akan melakukan itu untuk
dapat melaporkan kejadian tak terkendali ini kepada
guru piket. Bahkan kepada Kepala Sekolah. Kulihat di
balik kaca, kakak-kakak kelas kami keluar dari ruangan
belajar, melihat aksi yang akan dilakukan Bu Grace. De-
ngan tubuhnya yang besar, berjilbab, rok panjang, naik
ke meja lalu melompat ke jendela, tentu merupakan pe-
mandangan yang luar biasa. Di tempat terpencil kami
itu, memang hanya ada tiga kelas MAK. Di sebelah kami
adalah kelas II MAK dan di ujung kelas III. Teriakan Bu
Grace mengundang mereka keluar satu per satu. Melihat
di luar banyak yang menonton, Bu Grace mengurungkan
niatnya. Ia terpaku di atas kursi. Barangkali ada perasaan
teriakannya sudah didengar, sehingga niatnya melompat
keluar jendela tak jadi terlaksana. Atau ia mendadak
malu ditonton dari luar dan mengabaikan kepanikannya
terhadap aksi brutal para siswanya.
343
http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS
Yang aneh, perkelahian mendadak terhenti. Suasana
tiba-tiba sunyi seperti sedia kala, bagai tak pernah terjadi
sesuatu apa. Satu kaki Bu Grace yang sudah di atas meja
ditarik lagi. Ia bingung, serba salah dan kikuk. Suhadi
kemudian mengulurkan tangan.
“Ibu Grace, kemarilah!”
“Ibu Rosa juga silakan ke depan!”
Bu Grace makin heran. Bu Rosa terpukau dalam rasa
gamangnya. Ia masih trauma. Bibirnya masih bergetar
hebat. Bu Grace perlahan turun dari kursi di dekat
jendela kaca, masih dengan langkah gamang dan wajah
tak percaya. Ia menuju ke depan dengan heran.
“Bu Grace dan Bu Rosa. Kami tak dapat memberikan
apa-apa. Inilah kenang-kenangan dari kami...!”
Lalu semua bertepuk tangan. Riuh sekali.
“Ja...ja...jadi ini hanya lelucon? Kalian mengerjai
kami?”
“Ya, begitulah... Tapi maaf, kalau kami agak ber-
lebihan. Kami tak bermaksud begitu. Hanya sekadar untuk
memberi kesan dan kenang-kenangan,” tambah Toni.
“Masya Allah, kalian memang bandel-bandel, ya!”
Bu Rosa yang dari tadi diam menimpali. Muka pucatnya
sudah mulai berdarah. Sebelumnya, wajah putihnya benar-
benar memutih bak mayat hidup.
“Ta...tapi bagaimana dengan darah itu?”
“Ah, itu cuma obat merah dan sedikit saos kok!”
“Kalau pintu terkunci?”
“Ini dia kuncinya,” Suhadi mengeluarkan kunci pintu
dari sakunya. Lengkap sudah permainan akting yang kami
lakukan.
344
http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT
“Dasar kalian, ya!”
Bu Grace bersungut-sungut, marah tak keruan, tapi
juga salah tingkah. Bingung harus berbuat apa. Ketika ia
mengadu pada mentornya, Pak Sahari, beliau hanya ter-
tawa. Hal ini sudah kami kondisikan jauh hari. Saat itu
memang jam pelajaran terakhir di semester kedua dan
kami sudah minta izin kepada Pak Sahari dan Pak Firman
untuk membuat acara di sepuluh menit terakhir. Kami me-
ngantongi izin itu, dan kedua guru itu sengaja tak masuk
untuk membiarkan kami membuat acara.
Sobat-sobatku ini memang hebat, bahkan aku pun
terkejut tak kepalang dengan insiden sara ini, karena aku
tak ikut dalam skenario luar biasa ini. Aku sudah biasa
melihat baku hantam di asrama, tapi tak pernah semassal
dan sebrutal yang baru kulihat. Benar-benar hebat. Aku
pantas mengacungkan jempol kepada mereka. Dua jempol.
Menurutku, sebagian dari mereka layak mendapatkan
Piala Citra, bahkan Piala Oscar. Untuk sutradara terbaik
layak diberikan kepada Suhadi. Sedangkan penata laga
terbaik dapat diberikan kepada Satria, efek visual dan
penata gaya untuk Toni, dan skenario terbaik untuk
Zulhuda. Sedangkan bintang sebenar bintang hari itu
adalah Adamrino sebagai pemeran pria terbaik. Aktingnya
sungguh luar biasa.
Usai dua guru magang PMP pamit, drama berikutnya
tercipta pula untuk dua guru magang bahasa Indonesia.
Keempat guru magang sempat bertemu di depan kelas,
namun komunikasi mereka tak sampai membuka rahasia
permainan kami. Maka permainan babak kedua ber-
langsung tak kalah serunya. Dua guru magang bahasa
Indonesia, yang masuk setelah mata pelajaran PMP itu,
345
http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS
juga merasakan hal yang sama. Bahkan, salah satunya
sempat menangis dalam kelas kami. Ia tersedu-sedu di
sudut ruangan. Pasti, kenang-kenangan yang kami berikan
itu tak akan terlupakan juga oleh Bu Nur, terutama Bu
Nadila yang bedaknya nyaris luntur karena air mata.
“Dasar kalian anak-anak berandalllll. Mmmm,
jahaaaaaattt!” seru Bu Nadila sambil menyeka air matanya.
Tapi, bibirnya masih dapat menyungging senyuman,
seperti anak bungsu yang sedang ngambek.
***
346
http://facebook.com/indonesiapustaka 28
Teror
Guru-guru lelaki yang masuk ke kelas kami kebanyakan
bergaya eksentrik, unik, dan khas. Entah kebetulan
atau tidak, guru-guru bergaya khas itu seakan berjodoh
dengan kami. Barangkali, sengaja diberikan kepada kami
untuk alasan tertentu. Mungkin untuk menundukkan
kami, kelompok berandal yang kian liar. Sebagiannya
dapat seide dengan kami, yang lain bertentangan, bahkan
keras sekali.
Pak Mambang, guru kesenian, agaknya guru paling
eksentrik di antara yang lain. Pak Mambang bertubuh
kurus, pipinya tirus. Rambutnya awut-awutan, bibirnya
hitam karena kepulan asap rokok yang keluar-masuk.
Tiap masuk kelas, dia selalu merokok, dengan jaket besar
yang selalu dibawanya. Guru lainnya yang unik adalah Pak
Sahari. Posturnya tinggi semampai dan cenderung kurus.
Yang fenomenal adalah rambutnya yang keriting mirip
Ahmad Albar. Rambut itu benar-benar keriting dan selalu
http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS
dibiarkan menggumpal, sehingga kribonya dapat mem-
bentuk sebuah brokoli, besar sekali. Satu hal lagi, beliau
terkenal pelit memberikan nilai, yang menjadikannya
sangat fenomenal bagi kami. Fenomena lainnya adalah
Pak Firmansyah yang mengajarkan bahasa Indonesia.
Posturnya kecil, di bawah kami semua, sehingga beliau
selalu menengadah ketika melihat kami. Meski demikian,
Pak Firmansyah termasuk guru yang dapat mengambil hati
sebagian besar anak-anak ini. Ia juga modis, tapi tak banyak
gaya. Cerdas, tapi tak berusaha menggurui. Ide-idenya juga
cemerlang dan akomodatif terhadap jiwa muda.
Fenomena terbesar dari guru lelaki yang masuk ke kelas
kami adalah Pak Zainuddin. Sebab, ia menggabungkan
tiga fenomena sekaligus, menggabungkan keunikan Pak
Mambang, Pak Sahari, dan Pak Firmansyah. Wajahnya
tirus, bertubuh kurus. Bibirnya hitam menandakan ia pe-
rokok berat. Kendati tak seekstrem Pak Mambang yang
kerap merokok di depan kelas, namun bibirnya yang hitam
dan geliginya yang dipenuhi plak hitam menandakan keras-
nya gaya hidup merokok yang dilakoninya. Saat berjalan
menuju kelas kami, rokok masih diisapnya dalam-dalam
untuk memenuhi rongga dada dan baru benar-benar
berhenti saat sudah masuk kelas. Kendati perokok berat,
tampilannya tak urakan layaknya seniman. Bahkan bisa
dikatakan, Pak Zainuddin adalah seorang pria romantis
nan modis, perlente. Bajunya selalu bergaya anak muda,
begitu juga model celananya. Waktu itu, terkenal model
celana yang kecil bagian bawahnya, tapi besar bagian atas
sekitar paha dan pinggang. Entah apa namanya, yang
jelas, model ini merupakan kebalikan dari model celana A
Rafiq, yang kecil di bagian atas tapi besar di bagian bawah.
348
http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT
Biasanya, celana model A Rafiq ini dapat menyapu lantai,
karena potongan bawah celana panjang ini rata dengan
lantai dan menutupi seluruh bagian telapak kaki. Rata-
rata, para guru senior dan beberapa guru muda masih
menggunakan model A Rafiq. Namun, Pak Zainuddin
beda, karena seleranya anak muda sekali. Ia mengikuti
tren pakaian, parfum, gaya hidup, juga gaya bicara anak
muda. Dari segi ini, pria lajang yang sudah lewat kepala
tiga ini agak mirip Pak Firman.
Fenomena lainnya adalah dari cara mengajarnya yang
terbilang unik. Beliau tak pernah memberi tahu materi
pelajarannya, bab-babnya, juga buku panduan yang di-
pakai. Pengalaman sepuluh tahun menjadi guru IPS-
geografi-ekonomi menjadikannya masuk kelas dengan
penuh percaya diri, tanpa memperhitungkan siapa siswa
yang dihadapinya. Cara mengajarnya juga lebih mirip
profesor yang mengajar mahasiswa strata dua atau tiga,
dibanding siswa sekolah menengah kelas satu. Barangkali,
Pak Zainuddin ini sudah mendapat masukan tentang
kami yang pintar, hebat, dan serba tahu, sehingga gaya
mengajarnya dengan berceramah dan diskusi menjadi
andalan, seperti saat menghadapi orang dewasa yang sudah
paham persoalan. Beliau juga tak segan melayani kami
dalam diskusi dan debat. Tapi yang parah adalah soal nilai.
Pelitnya luar biasa, mirip Pak Sahari. Jatah siswa hanya
nilai enam dan tujuh, sementara delapan dan sembilan
adalah haknya selaku profesor. Sepuluh itu nilai Tuhan.
Barangkali, nilai-nilai itu juga harus kami terima,
sebagai akibat dari interaksi yang terjadi dengan kami
saat beliau mengajar. Seperti biasa, Pak Zainuddin tak
pernah membawa satu lembar pun catatan pelajaran atau
349
http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS
buku. Beliau merupakan seorang ilmuwan dan pendidik
muda yang sangat percaya diri. Maka, dengan hebat
beliau akan menerangkan lempeng bumi, dan bagaimana
terjadinya gempa serta tsunami. Menurut Pak Zainuddin,
lapisan bumi terdiri dari lempeng-lempeng yang selalu
bergerak. Gerakannya terjadi secara alami, mengikuti
gerakan magma di perut bumi yang tak pernah berhenti
menggelegak. Saat sebuah lempeng bergerak secara men-
dadak, maka terjadilah getaran hebat, yang kemudian
disebut gempa.
“Ibarat air mendidih yang menggerakkan tutup
periuk,” ujarnya memberi ilustrasi tentang kerja magma
menggerakkan lempeng bumi.
Jika gempa itu terjadi di dalam laut, maka ia akan me-
nimbulkan patahan dan amblasnya dasar laut. Turunnya air
seketika itu akan menimbulkan efek pecahan air dan lahir-
lah gelombang besar. Semakin besar patahannya, makin
besar pula gelombang yang dinamakan tsunami itu. Baru se-
puluh menit menerangkan tentang lempeng dan fenomena
alamnya, hingga tsunami, rasa penasaran langsung meng-
hunjam di otak kami. Maka pertanyaan pun mengarah
bertubi-tubi tak terkendali.
“Pak, mengapa lempeng tak berhenti bergerak? Dari
mana energi panas bumi, bahan bakarnya, apakah tak
pernah habis? Bukankah itu artinya akan mengganggu
stabilitas bumi sebagai sebuah kesatuan yang utuh. Lalu
bagaimana masa depan bumi dengan fenomena alam ini?”
tanya Azwar.
“Itu fenomena alam, memang begitulah adanya!”
“Ya, tapi 'kan pasti ada sebabnya, Pak! Ada kausalitas-
nya di sana!”
350
http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT
“Itu yang saya katakan, bahwa ada magma di dalam
perut bumi yang terus menggelegak. Itulah yang meng-
gerakkan lempeng setiap saat!”
“Lalu sampai kapan, Pak? Setiap bahan bakar pasti
habis 'kan?”
“Ya, seterusnya sampai dunia kiamat, ia akan bergerak
terus, bahkan dapat menggeser pulau dan benua. Peta
dunia dapat berubah, sebagai akibat pergerakan lempeng
ini! Kalau api magma itu mati, mati jugalah kehidupan,
seperti matahari, yang bahan bakarnya akan habis dan
mati dalam 5 miliar tahun lagi!”
Pak Zainuddin memperlihatkan keahliannya soal
geologi dan sains. Beliau lolos dari sergapan pertama
kami. Diskusi kemudian dikembangkannya hingga ke
arah yang berbelok dan berliku, jauh sekali, sejak zaman
purba hingga megalithikum, tentang bagaimana pem-
bentukan benua Amerika, Asia, dan Afrika, sebagai akibat
pergerakan lempeng. Juga tentang zaman es dan men-
cairnya berbagai gunung salju, sehingga beberapa darat-
an menghilang. Juga tentang bagaimana cekukan bumi
terbentuk lalu menjadi danau, dan bagaimana magma
mendesak ke atas membentuk gundukan, lalu muncullah
gunung. Dengan piawai, Pak Zainuddin meracik cerita itu.
Matanya berbinar-binar menerangkan wawasan-wawasan
baru, bahkan sesekali diselingi mitos sebagai bumbu cerita.
Aku menikmati ceritanya, sebuah wawasan baru tentang
cakrawala dunia. Keasyikan, jam pelajaran kami pun habis
ditelan ceritanya.
Di hari yang lain, tema IPS-geologi tak lagi tentang
lempeng. Kami bingung, karena sebelumnya hanya men-
dapatkan kuliah selama lima belas menit, dan sekarang
351
http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS
harus masuk ke topik lain. Tak ada batas pelajaran, target-
target, dan evaluasi kemampuan. Tapi Bagaimanapun,
tak ada pilihan dan kami mengikuti saja gaya kuliah yang
disampaikan Pak Zainuddin. Kala itu, beliau mengajarkan
tentang fenomena laut, aneka kehidupan di dasar laut,
tentang palung, juga gunung api di laut.
“Gunung api laut itu dapat meletus, dan sering me-
nimbulkan efek tsunami. Seperti Gunung Krakatau yang
meletus tahun 1883!”
Tiba-tiba, Mursalin yang sejak tadi tidur di kelas me-
nunjuk dengan ujung pena di atas telunjuknya. Matanya
yang sendu mendadak berbinar seakan meloncat. Tapi,
tetap saja sendu. Dia memang salah satu penidur di kelas
kami, dan tak segan melakukannya saat guru menerangkan
pelajaran di depan kelas. Sebagian kawan bahkan men-
julukinya Abu Na’im, alias Si Penidur. Awalnya, gelar
itu diberikan guru kami yang lain, Pak Ali Bahar, karena
mendapatinya tertidur di kelas dengan santainya. Maka,
pertanyaannya yang tiba-tiba pun seolah meloncat dari
mimpi-mimpi indahnya.
“Pak, apakah tsunami itu bisa sampai ke Eropa? Debu
letusannya 'kan sampai ke Eropa!?”
Pak Zainuddin menoleh ke arah Mursalin yang tiba-
tiba menyerobot kalimatnya. Dia tampak kurang suka.
“Kamu itu ya. Pertanyaan kamu tak terbobot. Pakai
logika dong. Kamu enggak ngerti peta ya? Jelas tidak lah,
'kan banyak benua yang menghalangi. Mana bisa tsunami
sampai ke sana. Kalau debu bisa saja!”
Pak Zainuddin menjawab dengan jemawa. Tapi tensi
mulai panas, mungkin karena ia merasa diserobot saat
352
http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT
sedang serius. Pak Zainuddin menunjukkan gelagat ber-
beda dari sebelumnya. Sebagai orang bijak, Mursalin tak
menunjukkan gelagat memprotes ucapan Pak Zainuddin.
Dia langsung terdiam. Wajahnya menunduk, seperti
seorang sufi yang mendapat petuah mursyidnya untuk
diam. Karena tak ada reaksi, Pak Zainuddin melanjutkan
ceramahnya. Pelajaran dilanjutkan masih soal kelautan,
tentang fenomena keluasan samudra, hingga mengapa
laut menjadi asin.
“Pak, kenapa Danau Laut Mati bisa asin airnya?
Padahal ia danau, bukan laut?” tanya Syahid pula menyela
pertanyaan.
“Ya, karena dari awal sudah mengandung unsur
garam. Ia asin secara alami! Tanahnya memang sudah me-
ngandung zat garam dari dulu!”
“Tapi pasti ada alasannya 'kan, Pak!? Tak mungkin
begitu saja tanpa alasan ilmiah yang jelas!” tambah Azwar
pula.
Pak Zainuddin terdiam. Matanya menatap Azwar
dalam-dalam. Agaknya, kali ini beliau tak menemukan
jawaban yang dapat memuaskan hasrat kuatnya untuk
menghadapi dan menundukkan kami. Beliau tampak
gusar saat tak menemukan jawaban yang dianggap hebat
di hadapan kami. Entah lupa atau apa. Beliau malah balik
bertanya.
“Lalu, menurut kamu kenapa danau itu asin?
“Ya, ndak tahu, Pak. 'Kan Bapak gurunya, bukan saya.
Kalau saya, ya pasti saya tahu!”
Muka Pak Zainuddin merah padam. Kali ini beliau
benar-benar merasa terhina, disudutkan oleh siswa yang
353
http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS
sebenarnya tak lebih paham darinya. Hanya karena kritis
dan rasa ingin tahu yang meluap-luap. Tapi agaknya,
beliau menganggap martabatnya seolah telah hilang di
hadapan kami. Beliau merasa terhina. Saat jeda tanpa
suara, ketika kami sedang menarik napas menunggu reaksi
kemarahan Pak Zainuddin, Hendra justru menyulut lebih
panas. Dengan tetap menggoreskan pena di atas kertasnya,
Hendra bertanya santai. Ia malah seperti mengejek Pak
Zainuddin, melawan ketidaktahuannya pada aspek itu
dengan wawasan lain yang dimilikinya.
“Berapa kadar garam di Danau Toba, Pak? Kabarnya
danau ini memiliki kedalaman seperti laut dan terhubung
dengan Selat Melaka. Artinya, mengandung garam juga
'kan? Dan kata buku yang saya baca, Danau Laut Mati itu
juga seperti itu lho, terhubung dengan laut, seperti Danau
Assal di Afrika, yang lebih rendah dari permukaan laut!”
Belum sempat Pak Zainuddin menanggapi ini, muncul
pula wawasan lain dari Satria yang tiba-tiba menyela.
“Kalau dari buku yang saya baca, Danau Laut Mati
itu jadi asin karena dia statis. Sungai Jordan bermuara di
sana dan airnya menjadi asin karena pengendapan yang
menahun. Itu adalah permukaan air yang paling rendah
di dunia, 417 meter di bawah permukaan laut!”
“Kamu itu ya! Sudah tahu masih tanya-tanya!” ujar
Pak Zainuddin tambah marah.
“Jadi sebenarnya kadar garamnya berapa, Pak?”
“Kamu itu, ya! Profesor kamu tanya tak akan tahu,
apalagi saya! Masa kadar garam ditanya-tanya pula. Kamu
jangan teror-teror saya, ya! Selalu dari kemarin-kemarin,
kamu teror-teror saya terus. Saya ini guru kamu, bukan
sasaran teror. Paham!”
354
http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT
Kami terkesiap. Pak Zainuddin marah besar. Muka-
nya menghitam, telinganya merah. Tangannya bergetar,
tanda marah tak kepalang. Ia tak terima seolah dikerjai
dengan pertanyaan yang dianggap menjebak, dan di sisi
lain menjawab ketidaktahuannya soal itu. Kami semua
terdiam menunggu reaksi beliau. Tapi tetap saja ada
yang mengacau. Di tengah seriusnya Pak Zainuddin
marah-marah, Asmanzil malah cekikikan di belakang.
Mukanya yang bersemu merah bertambah kemerahan
seperti kepiting rebus. Asmanzil pun kena damprat habis-
habisan.
“Hei, kamu! Saya menerangkan di depan, kamu jojing
di belakang. Ketawa lagi!”
Tangannya menunjuk lurus di muka anak Salimpauang,
Tanah Datar, yang kerap kami panggil Mister, karena
wajahnya yang mirip bule itu, Pangeran Charles dari Koto
Baru. Asmanzil terkesiap. Wajahnya bertambah merah.
Rupanya, sejak dari tadi dia sama sekali tak memperhatikan
diskusi yang terjadi. Dia malah asyik bercanda di belakang
dengan Indramis. Tapi yang jelas kelihatan bergurau hanya
Asmanzil, apalagi dengan wajah bule, putih bersemu
merah dengan rambut kemerahan, tentu tingkahnya cepat
ketahuan. Pak Zainuddin lalu menuju ke arah Asmanzil
yang kaku menunggu. Lalu sebuah tendangan meluncur
ke mejanya. Brak!!
“Kamu juga mau meneror pelajaran saya, ya!?” seru-
nya penuh emosi.
Asmanzil bungkam. Wajahnya tetap bersemu merah.
Matanya memandang seperti agak menantang, padahal
bukan. Begitulah memang kesehariannya, menatap orang
bak menantang. Pak Zainuddin justru bereaksi berbeda.
355
http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS
Beliau surut, tak berniat meneruskan amarahnya. Entah
mengapa.
Usai pertemuan itu, kelas dengan Pak Zainuddin tak
lagi kondusif. Setelah itu, seperti ada kesepakatan mem-
beri gelar guru IPS ini dengan julukan “Pak Teror”. Aih,
sebutan apa pula itu! Hubungan kami memang semakin
tak baik. Diskusi menjadi makin tak sehat, dan target
pelajaran terus molor. Padahal tiap masuk kelas, Pak
Zainuddin selalu memberikan materi baru, sementara
materi lama tak pernah selesai dibahas, habis oleh diskusi
dan debat. Saat ulangan dan ujian, kami terpana melihat
berbagai soal yang tak pernah kami lihat, baca, dan bahas.
Maka jawaban yang keluar pun tentu asal-asalan, tak
memuaskan.
“Kalian hanya dapat meneror saya saja. Lihat hasil
ujian kalian, tak ada yang berbobot. Goblok. Kalah dari
anak MAN. Mana kehebatan yang kalian gembar-gembor-
kan!” seru Pak Zainuddin sambil tersenyum mengejek. Ia
menunjukkan fakta di atas kertas, dan itulah yang ditulis-
nya di rapor kami.
Tentu saja hati kami panas, dibanding-bandingkan de-
ngan anak MAN, dianggap tak berbobot. Dicap goblok
lagi. Maka julukan Pak Teror benar-benar melekat pada
pria lajang ini. Beliau adalah tokoh antagonis yang tak
akan terlupa bagi 40 anak ini. Di sebalik yang lain, ada sisi
hatiku yang tergores, luka, tak terima—Bagaimanapun
beliau adalah guru, sang profesor pula, yang mengajarkan
dalamnya pengetahuan perut bumi, dan luasnya samudra
ilmu. Aku benar-benar tak tega dengan gelar itu.
***
356
http://facebook.com/indonesiapustaka 29
Bunda Sri
Kalau ada keindahan paling mengagumkan di MAK
kami ini, dialah Bu Sri. Nama beliau memang seperti
orang kebanyakan, mirip nama seorang tokoh dalam dunia
pewayangan, Sri Ramayana. Seperti ungkapan Wiliam
Shakespeare, “what’s in a name?”, “Apalah arti sebuah
nama?” Agaknya, ungkapan ini sesuai dengan keadaan Bu
Sri. Jangan terburu-buru menilai orang dari namanya saja,
karena beliau adalah sosok yang berbeda. Tokoh dunia
pewayangan yang satu ini sangat islami, cantik, dewasa,
dan pendidik yang luar biasa. Kecantikan beliau diiringi
dengan balutan pakaian muslimah yang tertutup rapi dan
jilbab-mudawarah yang panjang. Sebuah kecantikan yang
meneduhkan, termasuk bagi kami, kaum berandal muda
yang sedang mencari jati diri.
Bukan itu saja keistimewaan Bu Sri, semua ajaran
akhlak yang disampaikannya, kecerdasan otaknya, ke-
mampuan komunikasinya dan pandangan-pandangannya,
http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS
langsung menyentuh titik kesadaran kami. Penguasaan
bahasa Arab, terutama sastra serta berbagai pepatah Arab,
menjadikan beliau sosok yang komplet. Pelajaran hadis
yang diasuhnya dapat seketika menjadi instal jiwa dan
brain storming yang hebat. Apalagi beliau tampak begitu
piawai membaca psikologi kami.
“Ibu tahu kalian anak-anak hebat, tapi sejauh apa
itu akan bermanfaat? Apa gunanya hidup, jika tak ber-
manfaat!?” ujar beliau coba mengetuk pintu hati kami, saat
pertemuan pertama di mata pelajaran yang beliau asuh.
Saat itu, kami sudah naik kelas dua, dan beberapa pelajaran
berbasis bahasa Arab mulai kami terima. Bu Sri adalah salah
satu guru kami dalam pelajaran hadis dan ilmu hadis.
Waktu itu, kami tak menjawab pertanyaan beliau.
Hanya terdiam menunggu kalimat beliau. Ada yang cuek,
banyak pula yang mulai memperhatikan, karena pribadi-
nya yang khas. Ada perasaan berbeda di dekat beliau.
Perasaan diayomi saat mendengar kalimat-kalimat hebat-
nya. Menyirami dengan sejuk jiwa-jiwa kami yang gersang.
Aku mulai berpikir, kalau saja laki-laki, pastilah beliau
kami minta menjadi pembina asrama hari itu juga. Tapi
beliau perempuan, dan tak semua bisa menerima nasihat
beliau, kendati kami tahu itu semua benar. Padahal, sudah
lama sekali kami tak mendapatkan pencerahan. Terakhir
disampaikan Ustadz Ismail saat Mapertas, sudah lama
sekali. Sesekali dari Ustadz Zaidan atau Ustadz Yasri. Tapi
yang disampaikan Bu Sri memang beda.
“Ibu mendengar banyak hal tentang kalian, kelakuan,
polah, juga kehebatan kalian. Harus diakui, kalian ini
spesial, anak-anak yang luar biasa. Bahkan ada yang me-
nyebut anak-anak langit!”
358
http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT
Bu Sri berdiam sesaat sambil menunggu reaksi kami.
Tapi kami tetap bergeming.
“Ada hal yang agak spesial dari kalian. Bedanya de-
ngan para pendahulu MAK, kalian lihai dalam berdebat.
Sangat hebat. Kalau kalian mau, mungkin bisa membuat
Ibu menangis di ruangan ini, karena kalian memang
pintar, ahli berargumen dan pendebat yang ulung. Tapi
apa itu guna kepintaran? Untuk dibawa menyombongkan
intelektualitas? Apa tak ada gunanya para guru yang kata
kalian kurang pintar? Apa kalian mau seperti anak-anak
STM di Jakarta, yang justru mengerjai, bahkan memerkosa
guru perempuannya?”
Kami terdiam mendengar kalimat-kalimat ini. Bu Sri
sedang menguji kami, menerobos ego kami yang selama
ini tersalurkan dengan serampangan. Beliau membidik
pusat kesadaran, mengajak kami merenung lebih dalam
tentang makna pendidikan, ilmu, dan pembelajaran. Lebih
jauh lagi, tentang arti kehidupan.
“Kalian punya banyak keinginan dan harapan. Tapi
kalian juga punya pilihan-pilihan! Sekaranglah menentu-
kannya. Kalau seperti ini terus, maka tak ada gunanya
status spesial itu. Tentukan pilihan kalian sekarang!”
Pertemuan pertama yang menyentakkan kesadaran
itu begitu berkesan. Ada yang protes di dalam hati, namun
lebih banyak yang menerima argumen beliau. Sebagian
kami tertunduk dalam takzim usai mendengar semuanya.
Apalagi kemudian dilanjutkan pula dengan pelajaran
hadis yang disajikan lewat cara tak biasa. Kami dikisahkan
tentang para perawi yang luar biasa, yang dedikasinya
begitu hebat untuk kemurnian hadis, agar sampai kepada
orang-orang setelahnya, sebagai ajaran yang benar-benar
359
http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS
murni dari Rasulullah. Kecerdasan, kekuatan ingatan
dan integritas, itulah kunci dari kehebatan para perawi.
Kami benar-benar mendapat pelajaran berharga hari itu.
Tapi sampai di asrama, kami seolah lupa semuanya. Petuah
hebat yang disampaikan Bu Sri saat pertama kali berjumpa
langsung hilang di tengah jalan. Masuk telinga kanan,
keluar telinga kiri. Belum sampai ke asrama, sudah ada
emosi yang meledak, hanya karena sedikit tersenggol.
Kami lupa para perawi, muhadditsin, Bu Sri, bahkan ke-
teladanan Rasulullah. Euforia tetap terjadi, karena ruang,
waktu, dan kebebasan menjadi milik kami sepenuhnya,
tanpa ada yang mampu membatasi. Apa yang baru diterima
di pagi hari akan menjadi usang di malam hari. Manusia-
manusia patuh dan takzim yang terdidik di pagi dan sore
hari dapat menjadi berandal dan preman di malam hari.
Malam menjadi dunia yang berbeda bagi kami.
Walau kami sudah naik kelas dua, pembina asrama
tetap tak kunjung datang. Maka program instal jiwa hanya
dapat terjadi di kelas dan kami kembali ke asrama dengan
setumpuk persoalan besar—emosi, perkelahian, egoisme,
dan kenakalan. Semuanya seperti lingkaran setan yang
tak kunjung menemukan jawabannya. Pagi diinstal ulang,
malam sudah error lagi. Pagi mendapat pencerahan, malam
mendapat suntikan halusinasi tak bertepi. Jiwa-jiwa yang
kelelahan mencari jati diri belum menemukan juga hakikat
penciptaannya. Malah menghamba kepada entah siapa.
Tapi Bu Sri seperti tak pernah lelah. Beliau bagaikan
pembina asrama bayangan yang tak digaji, tak henti
memberi spirit dan pencerahan. Secara de jure, dalam
surat-surat administrasi, kami punya pembina asrama.
Rupanya, di sanalah kehebatan birokrasi dan laporan
360
http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT
administrasi. Sosok pembina itu antara ada dan tiada. Ke-
beradaannya yang tak jelas, di luar asrama atau entah di
mana, menjadikan jiwa kami terkorosi dan selalu gersang.
Beruntung Bu Sri menjadi penyeimbang. Beliau seolah
ahli terapi yang sangat paham psikologi kami, dan selalu
memberikan jawaban-jawaban yang unik dan pas atas
problem yang tengah terjadi.
“Mengapa kalian yang pintar-pintar ini jadi kumpulan
anak jahil?” tanya Bu Sri suatu ketika. Beliau seperti
mengejek, tapi sesungguhnya tengah berusaha mengobati
penyakit akut yang kami derita secara berjamaah.
Kami menggeleng. Terdiam sambil berharap jawab-
annya segera. Kami tahu, setiap jawaban beliau adalah
mutiara ilmu yang harus direkam lekat-lekat. Aku bahkan
mencatatnya dalam sebuah buku tulis khusus berjudul
“Kumpulan Petuah Hebat”. Kelak, aku ingin mengabadi-
kannya dalam buku, entah kapan.
“Jawabannya karena kalian berkumpul. Orang Arab
menyebut izaj tama’a al-’ulama’ kanu ka al-juhala’. Jika
orang pintar berkumpul, maka mereka laksana orang-
orang bodoh. Cobalah lihat saat para jenderal berkumpul,
mereka akan bertingkah seperti prajurit, tertawa-tawa,
cengengesan. Beda sekali kalau di hadapan prajuritnya,
ia akan tegas, gagah, dan hebat. Begitu juga kalau kaum
cendekiawan, alim ulama, juga para presiden yang ber-
kumpul. Akan tampak jiwa kekanak-kanakannya. Karakter
aslinya akan keluar dengan sendirinya. Nah, begitu juga
kalian!”
“Lalu apa solusinya, Bu!” Azwar menyambar tak sabar.
“Kuncinya, sadarilah bahwa diri kalian adalah anak-
anak spesial yang beda dengan orang lain. Sadari itu terus-
361
http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS
menerus. Jangan larut dalam kebersamaan yang menyesat-
kan! Resapi bahwa diri kalian adalah produk unggul yang
tak boleh dikalahkan apa pun, apalagi cuma jin dan setan,
yang derajatnya lebih rendah. Kalian pasti lebih unggul!”
Kami kembali terdiam, terutama yang terkena sengatan
kalimat beliau. Kami selalu menunggu kalimat-kalimat
beliau yang bertabur butiran mutiara ilmu, cakrawala luas
yang kami sama sekali jahil tentangnya. Bu Sri kemudian
menceritakan kisah Imam asy-Syafi’i yang sudah hafal
al-Quran saat berusia tujuh tahun. Beliau memaparkan
tekad kuat Imam asy-Syafi’i dalam belajar dan menuntut
ilmu ke negeri-negeri yang jauh. Beliau paparkan banyak
sekali nasihat dan syair Imam asy-Syafi’i dalam menuntut
ilmu, berbakti kepada guru, merantau, dan banyak lagi.
Beliau juga bercerita bagaimana Imam al-Bukhari me-
nyusun Kitab Shahih-nya. Untuk meyakinkan diri pada
satu hadis saja, beliau harus shalat sunnah dua rakaat.
Padahal, Shahih al-Bukhari terdiri dari ribuan hadis. Beliau
paparkan juga bagaimana syarat ketat perawi hadis yang
jangankan berbuat kriminal seperti mencuri, memandang
lawan jenis saja dapat dikategorikan orang yang tak adil,
tak diterima hadisnya. Satu perbuatan minum seteguk air
tanpa izin, yang sudah masuk kategori mencuri, akan men-
jadikan perawi itu ditolak hadisnya. Kecerdasan Imam
Al-Bukhari yang hafal ratusan ribu hadis lengkap dengan
sanad dan matannya juga diceritakan. Bahkan al-Bukhari
pernah diuji para pakar hadis di zamannya dengan seratus
hadis yang sudah diacak sanad dan matannya. al-Bukhari
kemudian berhasil mengembalikan semua sanad dan
matan itu sesuai kondisi yang sebenarnya.
“Coba sesekali saja renungkan diri kalian. Seperberapa
dari diri kalian ini bisa mengimbangi Imam al-Bukhari, se-
362
http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT
berapa cerdas dan seberapa adil perilaku kalian dibanding
beliau!”
Kami kembali termenung. Kata-kata beliau meng-
hunjam sanubari. Kami minder, kecil dibandingkan dengan
Imam al-Bukhari, apalagi Rasulullah, yang setiap katanya
dikutip menjadi panduan umat Islam dalam berperilaku.
Mata Azwar sampai berkaca-kaca. Tak pernah Azwar
seperti itu. Dia yang biasanya pembantah dan pendebat
kelas satu kini berubah begitu santun di hadapan Bu Sri.
Apalagi yang namanya Rasyid dan Syahid. Mereka ter-
menung dalam sekali, meresapi kata-kata beliau. Sejak saat
itu, kami memanggil beliau Bunda Sri. Beliau terasa begitu
dekat, menjadi ibu yang mengayomi dan melindungi
anak-anaknya.
Namun, tak mudah melawan bisikan jin-jin untuk
terlena dalam euforia kesenangan dan angkara murka,
karena dakwah bil lisan boleh jadi menyentuh hati, tapi
tak jarang akan memantul di hati yang telah membatu.
Ini hanya bisa diterapkan dengan dakwah bil hal, dengan
konkret. Tapi pembimbing yang dijanjikan itu tak pernah
kunjung datang. Tinggallah kami yang terus merana
dalam kepungan bisikan setan. Aktivis Friday The 13th
terus bertambah, dan sensasi lari dalam suasana ketakutan
serta keceriaan saling kejar juga dimulai lagi. Cerita hantu,
pocong, palasik, orang bunian lagi-lagi bertebaran. Makin
seru di malam-malam sepi dan dingin.
Soal yang satu ini pernah dikomentari Bunda Sri
dalam salah satu kisahnya. Beliau bercerita, seorang
pengota, yang kerap membual sana-sini baru saja pergi
dari lapau dan meninggalkan aroma horor di lapau itu.
Semua orang mulai percaya ada makhluk siluman peng-
363
http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS
isap darah yang akan mengincar bayi-bayi, seperti cerita
orang itu. Ubun-ubun bayi yang masih lemah menjadi
incarannya. Lalu lewatlah di lapau itu seorang alim yang
sangat fasih berbahasa Arab. Dia ditanyakan tentang silum-
an pengisap darah itu. Buya tersebut hanya menjawab
singkat, fala syai’.
“Tahukah kalian apa reaksi orang-orang? Mereka
menyebut makhluk itu dengan nama Palasik. Padahal, fala
syai’ maksudnya omong kosong!” ujar Bunda Sri sambil
tersenyum.
Kami pun bereaksi sama seperti beliau. Sebuah wawas-
an baru telah kami dapatkan. Tapi ingatan tentang hantu
dan pocong tak mudah hilang, karena ia nyata. Pencerahan
Bunda Sri hanya mengambang singkat, lalu mengendap
pelan-pelan di otak kami. Tapi kadang menghilang begitu
saja.
Di lain kesempatan, beliau menyampaikan tentang
hakikat merantau dalam menuntut ilmu. Beliau menyitir
syair Imam asy-Syafi’i yang legendaris, tentang air yang
tak bergerak, yang akan statis dan busuk. Beliau juga me-
nantang kami untuk terus berkelana mencari ilmu dan
wawasan-wawasan baru. Tak perlu takut meninggalkan
sanak keluarga, atau cengeng di tanah rantau.
“Zur ghibban fazdud laka hubban. Jarang-jaranglah
bertemu, maka cinta dan rindu akan bertambah,” ujar
beliau melontarkan pepatah Arab lagi. Kami hanya tersipu,
karena hanya berani jadi perantau semu, tak lebih.
Lalu apa kata beliau tentang kami yang suka mem-
banggakan segala hal yang bersifat fisik? Pepatah Arab
beliau juga keluar dengan cemerlang. Libasukum
yukrimukum qabl al-julus, kalamukum yukrimukum
364
http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT
ba’d al-julus. Pakaian hanya memuliakan sebelum duduk,
tapi perkataan memuliakan setelah duduk. Pepatah Arab
ini pernah kulihat di dinding ruang tempat kami meng-
ikuti Mapertas di Asrama Darun Najah Kelas III. Sekilas
maknanya biasa. Ternyata dalam sekali, ketika Bunda
Sri yang menyampaikannya. Maknanya, bahwa nama,
jabatan, kegantengan, kecantikan, hanya akan memulia-
kan seseorang sesaat saja, menjelang ia duduk dari posisi
datangnya.
“Setelah itu, yang akan menjadikan Anda mulia adalah
perkataan. Artinya, kualitas pribadi, kekuatan pikiran, dan
isi kepala Anda. Itulah yang akan menentukan, bukan
sekadar penampilan!” kata beliau ber-Anda. Terasa janggal,
tapi manis di telinga, membuat hati kami jadi berbunga-
bunga.
Mursalin kemudian menyampaikan pertanyaan lagi,
tentang hafalannya yang kadang berkurang, daya tangkap-
nya yang kadang dapat lepas. Jawaban Bunda Sri ternyata
tak disangka. Beliau mengutip pertanyaan Imam asy-
Syafi’i kepada gurunya, tentang tata cara menuntut ilmu.
Jawaban Sang Guru sungguh luar biasa.
“Ilmu itu cahaya Allah, dan cahaya Allah tak akan di-
berikan kepada orang yang berbuat maksiat!”
Kami hanya menunduk, sangat dalam. Kenakalan
dan perilaku jahil kami benar-benar sudah berada di titik
paling nadir. Entah kapan cahaya Allah itu akan datang
lagi. Kami tak sanggup menatap dunia, juga wajah Bunda
Sri. Padahal, beliau masih tetap tersenyum.
***
365
http://facebook.com/indonesiapustaka 30
Manusia Amfibi,
Kartu Merah, dan
Shaolin
Kelas dua adalah masa transisi yang menentukan
siapa kami dan ke mana kami akan menempuh masa
depan kehidupan. Ini adalah masa tersulit. Masa-masa itu
adalah ujian yang sesungguhnya dari status kami sebagai
anak-anak langit versi Ustadz Ismail. Dengan semua yang
telah kami alami, status itu mulai diragukan, bahkan di-
sangsikan. Siang dan sore, kami adalah anak-anak baik,
dimasuki anasir-anasir pembangun dan pengisi jiwa. Tapi
pada malam hari, kami akan berubah menjadi pengikut
hedonis dan bisikan para jin dan setan. Lihatlah kami,
sekelompok manusia amfibi, makhluk-makhluk dua alam
yang terombang-ambing antara anasir baik dan jahat.
Pada pagi hari, kami mulai dipadatkan dengan pelaja-
ran-pelajaran yang hebat, guru-guru berilmu, dan wawasan-
wawasan tiada dua. Kami ingin mereguk semua sumber
http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT
pengetahuan di dunia, merekonstruksi teori, menganalisis
pendapat, beradu argumen, menghafal dalil. Para guru
pilihan kini berada di depan kami, buku dan kitab juga
makin berat. Bunda Sri Ramayana mengajarkan hadis
dengan buku standar MAK, al-Hadits wa ‘Ulumuh, yang
diterbitkan Depag RI, disusun Drs. al-Haj Zarqawi Suyuthi
dkk. Kitab saduran ini sangat hebat, karena maraji’ atau
sumber rujukannya berasal dari banyak sekali kitab hadis
turats alias klasik dan kontemporer, mulai dari Minhah
al-Mughits fi ‘Ilm Mushthalah al-Hadits, karya Hafiz
Hasan, ‘Ilm Musthalah al-Hadits karya Prof. Dr. Mahmud
Yunus, Ushul al-Hadits Ulumuh wa Musthalahuh karya
Dr. Muhammad Ajjaj al-Khatib, Dalil al-Falihin li Thurq
Riyad as-Shalihin karya Muhammad ‘Ilan as-Siddiqy,
hingga Nail al-Authar Syarh Muntaqa al-Akhbar karya
Muhammad bin Ali bin Muhammad Syaukani. Semuanya
kitab luar biasa.
Guru hebat lainnya adalah Ustadz Zaidan, pembina
asrama kelas tiga. Beliau juga sudah mulai masuk ke kelas
kami, memberikan wawasannya yang bercorak Pesantren
Sipirok, Sumatera Utara. Tak kalah dari pesantren-pesantren
di Sumatera Barat, seperti Thawalib atau Parabek, bahkan
juga pesantren di Pulau Jawa. Beliau mengajarkan bahasa
Arab dengan kitab Ta’lim al-Lughah al-’Arabiyah yang
diterbitkan Depag RI, disusun Drs. H. Chatibul Umam
dan Drs. H. Moh Matsna HA, MA. Kitab lainnya untuk
pembelajaran di laboratorium adalah Al-’Arabiyyah li an-
Nasyi’in, sebuah panduan pembelajaran bahasa Arab fushah
bagi orang non-Arab, yang dikeluarkan resmi pemerintah
Arab Saudi. Kitab ini terdiri dari enam jilid dan kami
tuntaskan semuanya di hari-hari yang berat. Belum lagi
367
http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS
kitab-kitab bahasa Arab lainnya, seperti Qawai’d al-Lughah
al-’Arabiyah karya Hifni Bek Dayyab, Muhammad Bek
Dayyab, Syeikh Mustofa Tomum, Mahmud Afandi Umar,
dan Sulthon Bek Muhammad. Kami mempelajarinya saat
tutorial petang.
Pada mata pelajaran tafsir, hadir seorang guru yang
menurutku memiliki keluasan pengetahuan luar biasa,
pintar dan jarang ada bandingannya. Beliaulah Ustadz
Yasri Ilyas, seorang ustadz yang tunak mendidik santri di
Parabek, Bukit Tinggi, namun masih menyempatkan diri
menyalurkan ilmunya kepada kami. Beliau mengajarkan
bahasa Arab dan tafsir. Kitabnya ‘Ilmu at-Tafsir karya
Al-Haj Mawardi Muhammad. Kitab ini diajarkan saat
tutorial petang. Sedangkan pagi harinya, salah seorang
guru legendaris kami, Ustadz Ali Bahar, mengajarkan at-
Tafsir wa ‘Ulumuh, terbitan Depag RI, sebuah kitab yang
disusun Dr. Muhammad Amin dkk. Sama seperti al-Hadits
wa ‘Ulumuh, maraji’ kitab ini juga luar biasa. Misalnya,
al-Itqan fi ‘Ulum al-Quran karya Imam Jalaluddin as-
Suyuthi, Tafsir al-Qayyim karya Ibnu Qayyim al-Jauziyah,
Tafsir al-Qasimi karya Jalaluddin al-Qasimi, at-Tibyan
fi ‘Ulum al-Quran karya Muhammad Ali as-Shabuni,
Manahil al-’Irfan fil ‘Ulum al-Quran karya Muhammad
Abd al-’Azhim Zarqawi, Mabahits fi ‘Ulum al-Quran
karya Manna’ al-Qattan, Ahkam al-Quran karya Ibnu
Arabi, Tafsir Ayat Ahkam karya Muhammad Ali as-Sayis,
dan banyak lagi.
Ada juga Ustadz Syamsurizal yang mengajarkan fikih
dengan kitab Fiqh Sunnah karya Sayyid Sabiq. Lalu ada
juga Ustadz Mudarlis yang mendidik kami bidang ushul
fikih dengan kitab ‘Ilmu Ushul Fiqh karya Abdul Wahab
368
http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT
Khallaf. Ada juga Kitab as-Sulam, al Mu’in al-Mubin, al-
Bayan, karya Abdul Hamid Hakim, sebagai tambahan
penyeimbang.
Dengan guru-guru yang mumpuni, kitab yang hebat,
pendekatan ilmiah yang luar biasa, seharusnya kami men-
jelma menjadi manusia-manusia berpikiran maju, ilmiah,
dan terampil menggunakan logika dan akal sehat. Tak
sedikit pun kitab-kitab itu mengajarkan hal-hal yang tak
masuk akal atau klenik, seperti beberapa kitab asal-asalan
yang berusaha diarab-arabkan. Aku pernah menemukan
kitab seperti itu berjudul Mujarrobat, yang dari segi makna-
nya saja coba-coba. Kadang, fungsinya hanya untuk jimat
atau pengusir bangsa jin dan setan.
Tentu berbeda dengan kitab-kitab yang kami pelajari.
Semua kitab kami adalah kitab standar ilmiah. Bahkan
ushul fiqh, yang menjadi kerangka pikir penyusunan
hukum fikih, adalah sebuah upaya berpikir sistematis
dan logis untuk merumuskan sebuah hukum dari dalil.
Seperti qiyas, cara istinbath hukum dengan menggunakan
analogi atau perbandingan, yang jelas memerlukan logika
dan akal sehat. Atau berbagai qaidah ushul fiqh, dari yang
sederhana hingga yang agak rumit. Semua itu diajarkan
dengan telaten oleh Ustadz Mudarlis. Lihatlah ajaran
yang kami terima, benar-benar hebat tak terkira. Pagi,
siang, sore, dan malam, kami semua berkutat dengan
kitab, guru-guru pilihan, kakak-kakak kelas yang luar
biasa dalam tutor sebaya, nasihat-nasihat yang bertebaran
dan menjadi gizi bagi jiwa.
Pagi pukul 4.30, kami sudah harus bangun, shalat Subuh
di masjid Nurul Hikmah, dan mengikuti muhaddatsah di
lapangan basket dalam balutan dingin suasana Koto Baru.
369
http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS
Muhaddatsah atau obrolan pagi adalah menu tiap pagi,
perbincangan adik kelas dengan kakak kelas menggunakan
bahasa Arab atau bahasa Inggris. Selanjutnya, mandi dan
berangkat ke sekolah hingga pukul 13.30. Usai makan
siang, pukul 14.30 hingga pukul 18.00, kami menghabis-
kan waktu untuk tutorial, mengkaji berbagai kitab yang
hebat-hebat. Hampir tak ada waktu yang tersisa, dan
seharusnya kami sudah lelah dengan semuanya. Tentu
itu tak berlaku bagi semuanya. Setidaknya, jadwal yang
disusun kebanyakan diikuti, kendati kadang kami lalai
juga. Misalnya, saat salah seorang guru tutor kami,
Ustadz Pardi yang jauh-jauh datang dari Parabek di Bukit
Tinggi, sampai menyusul ke asrama karena belum ada
yang datang ke kelasnya, saat jam tutorial sudah masuk.
Dengan tergopoh-gopoh, kulihat beliau datang ke Asrama
Darul Falah kami, mencari siswanya yang sedang malas-
malasan.
“Tak belajar?” tanya Pak Pardi. Intonasinya datar.
Beliau memang tak tampak sedang marah, dan begitulah
kebiasaannya. Makanya, kami pun tak bereaksi berlebihan.
Kami juga tak takut sama sekali.
“Eh iya Ustad, kami segera datang!”
“Sebentar, Ustad!”
“Afwan Ustad, tadi agak terlambat keluar kelas!”
Beberapa dari kami mencari alasan. Ada yang pura-
pura tak tahu. Kendati malu, kami cuek saja. Kebanyakan
kami saling mengandalkan untuk membuat lokal tutorial
itu tak kosong. Namun hari itu, semua rupanya meng-
andalkan kawan yang lain. Jadilah kelas tutorial kosong
melompong. Pak Pardi pun hanya tersenyum agak jengah
dan segera naik kembali ke kelas menunggu kami, siswa-
370
http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT
nya. Luar biasa perangai kami, sampai dijemput ke asrama
untuk masuk kelas tutorial. Tapi tetap saja kami disibukkan
dengan berbagai pelajaran itu.
Sungguh, semua kesibukan di asrama sebenarnya telah
membuat kami sangat lelah. Tapi lepas Isya’, apa yang
didapat di pagi hari hingga petang seolah terbang ditangkap
hawa malam yang penuh misteri. Tahukah Engkau Sobat,
malam benar-benar mengandung misteri yang luar biasa.
Magnetnya sangat kuat dan daya pikatnya mengalahkan
akal sehat. Saat malam tiba, semuanya pun seolah berubah.
Kelelahan bagai hilang begitu saja dan energi yang terkuras
bagaikan disuntik helium dan ekstasi yang membuat kami
melayang-layang dalam mabuk kepayang. Energi seolah
terisi kembali oleh godaan malam. Ada doping hebat
yang membuat kekuatan bertambah-tambah untuk larut
dalam euforia. Kendati tak semua, tapi banyaknya manusia
malam telah menjadikan asrama kami tak tentu arah lagi.
Ada yang kerjanya belajar ilmu tenaga dalam ke tempat-
tempat yang jauh, tak sedikit yang terbang ke Bukit Tinggi,
menikmati suasana malam Jam Gadang, keluyuran mencari
bioskop, atau sekadar mencari angin di pemancar Gunung
Merapi dan Singgalang. Dunia malam adalah dunia kami
sepenuhnya. Karenanya, kami bebas memilih mau menjadi
apa pun yang kami kehendaki. Ada yang menyibukkan
diri dengan kekhusyukan ibadah dan belajar, tapi ada juga
yang larut dalam gejolak remaja, memperturutkan semua
dorongan masa muda. Maka, benar kata Bunda Sri, silakan
menentukan dari sekarang, apa yang ditentukan sekarang,
akan menjadi gambaran masa depan.
Kini, asrama MAK yang hebat itu benar-benar tak ber-
tuan. Malam adalah dunianya sendiri. Apalagi kapal kami
371
http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS
tetap tak bernakhoda, karena nakhoda baru masih enggan
memasuki kapal hantu yang berlayar malam. Ingatanku
melayang pada syair Lancang Kuning, “Jika sang nakhoda
tak paham, alamatlah kapal akan tenggelam.” Tapi jika
kapal tak ada nakhoda? Entahlah apa yang terjadi, pasti
tenggelam karena menghantam karang serta hancur
berkeping-keping. Yang nyata, kami tengah mengalami
metamorfosis, makhluk yang tak tentu arah, menjadi
manusia siang dan manusia malam. Manusia dua alam,
amfibi.
***
Kami adalah anak-anak ayam yang kehilangan induk, kapal
tak bernakhoda yang kehilangan arah, berkecai di tengah
buih samudra. Kami terombang-ambing umpama biduk
tanggal kemudi, laksana suluh tercucuk ke air, sebangsa
layang-layang putus tali, contoh si buta kehilangan
tongkat. Maka roda nasib akan segera menggilas anak-
anak ini satu per satu. Tinggal menunggu waktu, karena
roda kehidupan tak pernah berhenti. Lingkaran garis edar
tata surya tak pernah sekejap pun putus atau mengeluarkan
planet dari orbitnya. Selama itu masih terjadi, maka
hukum alam akan mengganjar anak-cucu Adam yang me-
lupakan orbitnya, bergeser satu milimeter dari koridor
kebenarannya. Asrama adalah orbit kami, maka keluar
dari orbit itu hanya akan melempangkan jalan bagi nasib,
untuk mencuri kami masuk ke alam kegelapan.
Nasib memang tak dapat ditolak. Tapi kalau itu me-
nimpamu, keluargamu, atau temanmu, alangkah sakitnya.
Kini, nasib itu menyapa salah seorang dari kami. Seorang
yang dekat, partner bermain basket, dengan kecerdasan
372
http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT
alami dan visi hebatnya telah keluar dari jalur itu. Dialah
Sarianto. Anak Tembilahan itu telah merasakan dampak
nyata ketiadaan pembina asrama. Tak begitu jelas, sejak
kapan ia kerap menghilang dari garis edar kami. Kesibukan
sendiri dengan rutinitas dan menghadapi serbuan nilai
asing telah menjadikan kami abai padanya, sehingga dia
sama sekali tak terpantau. Kami baru merasa hampa,
ketika di lapangan basket pun Sarianto tak muncul. Kami
benar-benar kehilangan teman andalan. Tak hanya di
lapangan basket, tapi juga di kelas, dengan keceriaan khas-
nya, dan kadang celetukannya.
Kabar yang beredar, sejak asrama tak lagi memiliki
pembina, ia kerap keluar malam dan terlibat geng preman
di Bukit Tinggi. Makin hari, keterlibatannya semakin
intens, sehingga larut dalam berbagai aktivitas yang merugi-
kan diri dan masa depannya. Tak ada yang tahu dan me-
mantau perkembangannya, karena kami sudah disibukkan
dengan urusan sendiri. Kami baru tahu setelah semuanya
terlambat dan kami tak dapat berbuat apa-apa.
Sarianto merupakan satu dari skuad kami, anak-
anak Riau. Dia adalah satu dari “Sebelas Askar Bertuah”
yang telah diminta untuk mengharumkan nama Riau di
kalangan anak-anak hebat tiga provinsi. Ketika mengetahui
kehadirannya perlahan hilang, solidaritas Riau tiba-tiba
muncul. Ada kehampaan terasa. Ia bagaikan patung pasir
yang hancur perlahan ditiup angin kencang. Pelan namun
pasti, hilang dari hadapan kami, terkikis butir demi butir
tanpa dapat dicegah sedikit pun.
“Muh, permainan basketmu bagus. Tapi, aku mungkin
tak bisa terus bermain dengan tim ini, denganmu juga!”
“Kenapa, Sar?”
373
http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS
“Ah, tak apa. Hidup ini kadang susah diduga!”
Dialog itu masih terekam jelas dalam pikiranku. Dia
mengatakannya sekitar dua bulan lalu, saat beberapa kawan
sedang sibuk bereuforia dengan tenaga dalam. Sarianto
malah tak tertarik. Dia memilih hidup lebih bebas bersama
teman-teman barunya di Bukit Tinggi. Kini, firasat yang
sempat diungkap itu menemukan titik-titik konkretnya.
Perlahan, nyala api semangat hidup dan obsesinya redup.
Lalu menghilang seperti ditiup angin, tak tersisa sedikit
pun.
Askar Bertuah kini telah kehilangan salah satu skuad
terhebatnya. Tim ini tak akan lagi terlihat paras lucunya,
keceriaannya, keberaniannya, dan cara pergaulannya
yang supel dan ramah kepada siapa saja. Salah satu skuad
terbaik Askar Bertuah itu telah terkena kartu merah,
dan keluar dari arena pertandingan. Tim kami menjadi
pincang dengan ketiadaannya, dan kami, anak-anak
Askar Bertuah tak dapat berbuat apa-apa. Lebih dari
itu, kami semua, anak-anak langit ini, telah benar-benar
kehilangan aset penting sebagai salah satu atlet terbaik
yang dimiliki. Tak ada peringatan sekolah, wali kelas,
atau kartu kuning atas kealpaannya selama ini. Tiba-tiba,
kami sudah menyadari, dia tak lagi bersama kami. Kartu
merah itu telah diterimanya, dan garis edar hidupnya tak
lagi bersama anak-anak langit ini. Tapi yang lebih ironis,
sekolah sama sekali tak pernah tahu di mana dia, ke mana,
dan apa aktivitasnya. Sekolah tak pernah mengecek lagi
berapa anggota asrama. Dia benar-benar seperti hilang
ditelan bumi.
***
374
http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT
Sarianto benar-benar telah menghilang dari garis edar
kami. Semua merasa kehilangan. Dan yang paling merasa
kehilangan adalah Yani. Sarianto adalah teman sejatinya,
kawan terhebat baginya. Sebagai sesama anak Banjar dari
Tembilahan, keduanya sudah dekat sejak lama, dan baru
kali ini terpisah. Yani sudah berusaha sekuat tenaga, agar
Sarianto tak berpisah dari kami. Tapi garis takdir berkata
lain, karena godaan dunia luar telah begitu kuat mem-
belenggunya. Yani sangat terpukul dan tak dapat meng-
ekspresikan kegelisahannya. Dia ikut stres. Sebagai bentuk
ekspresi rasa frustrasinya, Yani mencukur rambutnya,
plontos.
“Kenapa Ne’. Kok botak?” tanyaku dengan gaya bahasa
Banjar. Bagi anak-anak Banjar, Yani memang dipanggil
Yane’. Begitulah dialek mereka dari dulu. Karena itu, kami
memanggilnya dengan Ne’.
“Ini bagian dari ekspresiku. Mau ngamuk, tak bisa.
Mau memecahkan pintu, sudah pecah semua. Mau demo,
capek. Mau berteriak, sudah dari dulu. Mau apa lagi? Ya
beginilah! Botak adalah ekspresiku,” ujar Yani dengan
wajah tegang.
Sejatinya, Yani tukang pangkas rambut di antara kami.
Kini, malah rambut dia yang dipangkas habis, botak.
Tukang pangkas lainnya di asrama kami adalah Mardi,
dan dialah sang eksekutor gaya plontos Yani. Beberapa
kawan menilai model gaya rambut Yani sangat eksentrik,
terutama bagi kami yang sedang dilanda frustrasi berat.
Zulfariadi berkenan dengan model itu. Maka rambut
belah sampingnya yang unik pun dikorbankan untuk
model shaolin temple ini. Tapi yang membuatku geleng-
geleng kepala adalah alasan yang dikemukakan untuk
aksinya yang lumayan provokatif itu.
375
http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS
“Tidak ada yang menghukum kita seperti anak pesantren.
Sekarang kita menghukum diri kita sendiri. Ana mau seperti
anak pesantren. Inilah kebanggaan,” ujar Zulfariadi.
Dia memang aneh. Bukan dia saja, tetapi juga kami.
Zulfariadi tiba-tiba saja bangga dengan botaknya. Bagi
anak pesantren di mana pun di negeri ini, botak adalah
hukuman yang dianggap tercela, karena telah melakukan
pelanggaran berat. Pernah botak berarti pernah me-
lakukan kesalahan besar. Kalau botak sepanjang tahun,
berarti kesalahan yang sama dilakukan berulang kali.
Memang kadang ia bisa dianggap ritual biasa. Kendati
tak bersalah, berbotak ria pertanda pernah di pesantren
menjadi sebuah trademark. Tapi bagi kami, yang tak
pernah mengenal tegur sapa dan hukuman, yang seperti
itu justru menimbulkan kerinduan. Kami rindu dihukum,
kami rindu dibotak. Kami ingin ada yang memperhatikan.
Kami haus kasih sayang. Dan gerakan botak bersama ini
merupakan bentuk solidaritas kami kepada Sarianto,
sebagai teman seperjuangan. Setelah Yani dan Zulfariadi
memperkenalkan model rambut baru itu, berguguranlah
rambut-rambut kami di asrama. Dimulai dari Haris,
lalu menyusul Iwan, Badrun, Syafrizal, dan Syarifuddin.
Aku pun akhirnya ikut dalam rombongan ini, sebagai
bentuk solidaritas dan protes atas apa yang terjadi pada
Sarianto. Bahkan, Rasyid pun mengikuti gaya rambut ini.
Rasyid termasuk yang sangat terpukul dengan kepergian
Sarianto yang tak terduga. Apalagi selama kelas dua,
kami memilihnya sebagai ketua asrama, menggantikan
Andi. Rasyid merasa kepemimpinannya di asrama nyaris
tak berguna. Dia tak berhasil membujuk Sarianto untuk
tetap bertahan. Itu dilampiaskannya dengan botak,
376
http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT
sesuatu yang membuat Bunda Sri pun terheran-heran.
Tak hanya kami anak-anak Riau, anak-anak lainnya
juga mengikuti model rambut ini. Mereka mengikuti
gaya dan motivasi dari Zulfariadi. Bisa dibilang, botak
adalah bentuk cari perhatian lain yang kami sampaikan.
Ketika upacara bendera pada hari Senin, kepala-kepala
botak itulah yang hadir di lapangan, bergabung dengan
anak-anak MAN. Tak ada malu, segan, atau merasa aneh.
Kami malah bangga. Tak kurang dari tiga puluh orang
anggota shaolin ini berjajar memilih shaf terdepan di
barisan kelas II MAK. Sedangkan yang masih memelihara
rambut hitamnya justru berbaris di belakang. Hanya
mereka yang punya pacar, sedang naksir anak MAN,
khawatir kehilangan gantengnya, atau takut rambutnya
tak tumbuh lagi yang tetap memelihara rambut. Ada juga
yang beralasan tak mau sekadar ikut-ikutan, sehingga tak
ikut berbotak-botak ria. Kami tak peduli pada pandangan
orang, pada cara melihat orang, pada penilaian orang,
dan semua perspektif yang muncul karenanya. Kami tak
peduli dengan anggapan adanya aliran macam-macam
dengan polah kami yang benar-benar aneh ini. Semuanya
tak kami pedulikan lagi. Inilah kami.
***
377
http://facebook.com/indonesiapustaka 31
Langit Kelabu
Pagi menjelang siang, langit masih gelap. Sejak petang
hari sebelumnya, Gunung Merapi menyemburkan
debu vulkanik kehitaman, butirannya agak kasar dengan
bau belerang yang menyengat. Debu vulkanik itu me-
menuhi udara dan tak membiarkan seberkas cahaya
pun menyinari bumi. Semua telah dipenuhi dengan
lapisan debu vulkanik, baik atap-atap rumah, dedaunan,
hamparan sawah, maupun tumbuhan perdu. Kalau kami
keluar dalam sekejap saja, kepala akan dijejali dengan debu
tersebut. Oleh karena itu, kami lebih memilih bertahan
di dalam ruangan, untuk menghindari debu yang tiba-
tiba memenuhi cakrawala. Suara gemuruh pun kadang
terdengar keras. Namun, pemerintah tak menganggap
ini sebagai ancaman serius, karena Merapi diprediksi tak
akan meletus dalam waktu dekat. Debu vulkaniknya saja
yang keluar, disertai sedikit getaran dan kadang suara
http://facebook.com/indonesiapustaka gemuruh. Hanya larangan mendaki yang dikeluarkan
otoritas setempat.
Di hari kedua, debu vulkanik Merapi itu pun reda.
Merapi berhenti mengeluarkan amarahnya. Tetapi, langit
kelam tak juga berganti terang. Mendung malah meng-
gayut erat menggantikan debu-debu yang menghiasi
cakrawala. Langit tetap saja diliputi gemawan hitam yang
bertambah berat, lalu mengkristal menjadi butiran-butiran
kecil. Gerimis pun pelan-pelan menitik membasahi bumi,
membersihkan perlahan debu di atas atap-atap rumah,
tumbuhan perdu, sawah dan dedaunan.
Air bening itu menghapus semua jejak hitam bekas
debu vulkanik. Sebaliknya, hati kami malah dilanda
gemalau tak kepalang, tak 'kan habis dikikis hujan. Wajah
kami muram. Hati kami mulai menitikkan gerimis sendu,
pedih. Rintik-rintiknya mulai membasahi tanah merah
bekas galian. Hujan itu mengguyur tubuh kami, hati kami,
menyatu dengan deraian air mata yang tumpah ruah di
sebuah pemakaman desa yang permai. Di atas gundukan
tanah merah yang basah, terpancang dua buah batu nisan.
Kulihat lekat-lekat batu nisan itu dengan pikiran masygul.
Tertera nama yang tak akan pernah terlupa, Sri Ramayana.
Bunda Sri yang kami kagumi telah berpulang, kembali
ke haribaan ilahi. Ruhnya kembali ke langit dengan
tenteram. Beliau meninggalkan suami, anak, keluarga,
kerabat, teman, juga kami, sekelompok anak yang sedang
gundah mencari jati diri. Beliau pergi dengan tenang,
bahkan dengan wajah tetap tersenyum, kata orang-orang
dekatnya. Sebuah akhir yang baik. Husnul khatimah.
Berita kematian itu memang meledakkan urat syaraf,
bak halilintar tunggal di tengah terik matahari. Kami
tahu beliau sakit, namun tak menyangka kepergiannya
http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS
akan secepat ini. Masih terngiang jelas di telinga kami,
penjelasan beliau tentang pepatah Arab, “Perkataan dan
kualitas diri yang akan memuliakan.” Rupanya, itulah
hari terakhir beliau bersama kami di kelas. Sejak saat itu,
beliau tak pernah masuk lagi, karena tak kuat menahan
sakit yang mendera. Beliau mulai dirawat di Rumah Sakit
dr. Achmad Mochtar, Bukit Tinggi. Saat kami datang
menjenguk, beliau tampak tetap ceria, masih dengan
jilbab-mudawarah yang membalut rapi dan senyum yang
senantiasa mengembang. Wajahnya tetap cantik, dan
selalu saja berusaha memberikan berbagai pencerahan.
“Ibu bangga kepada kalian, pada semua hal yang
kalian tunjukkan. Juga perubahan sikap kalian. Ibu juga
bangga bisa menjadi guru kalian, menjadi bagian dari per-
ubahan, kendati mungkin tak bisa mengantarkan kalian
hingga akhir nanti!”
Kami tak menyangka, kalimat itu menjadi pertanda ke-
pergian beliau. Kami berpikir positif melihat gelagat yang
beliau tunjukkan. Barangkali, maksudnya tak lagi mengajar
hingga kelas tiga. Apalagi Bunda Sri menyampaikan
kalimat-kalimatnya dengan tenang, senyum yang tetap
mengembang, wajah yang tetap semringah, kendati rona
pucat tak dapat beliau sembunyikan. Mukanya pasi,
nyaris tak berdarah. Namun begitu, senyuman terus me-
ngembang di bibirnya, matanya berbinar di balik kaca
mata yang menghiasi. Ketika kami tanyakan penyakit apa
yang beliau derita, Bunda Sri hanya menjawab ringan.
“Ah, tak apa-apa. Hanya sakit perut biasa. Cuma kata
dokter, harus opname!” Belakangan kami tahu, komplikasi
penyakit telah menggerogoti tubuhnya yang kelihatan
sehat. Yang paling parah, beliau mengidap kanker rahim
380
http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT
stadium empat. Di tambah lagi dengan beberapa penyakit
lainnya, mulai dari liver hingga jantung. Sebenarnya,
Bunda Sri sudah payah sekali, tapi terus memaksakan diri
mengajar dan memenuhi tanggung jawabnya sebagai guru.
Konon, obsesi terbesarnya mengubah perilaku kami yang
bengal, berandalan tak terurus. Sampai kondisi fisiknya
tak memungkinkan lagi untuk berdiri, akhirnya beliau
menyerah. Ketika itu, kami memandang beliau dengan
getir. Tapi tetap berusaha tersenyum. Kami berusaha mem-
besarkan hati beliau, namun sebenarnya tengah melawan
tangis tak terkira. Berusaha sekuat tenaga membesarkan
hati kami sendiri yang gundah gulana.
Kini, jasad beliau sudah terbaring kaku di liang lahat.
Ratusan pelayat mengantarkan beliau ke tempat per-
istirahatan terakhir. Derai air mata tak terbendung dari
ratusan orang. Tak terkecuali dari para lelaki remaja yang
konon pantang mengeluarkan air mata. Azwar yang kokoh
itu, yang sangat pandai merangkai kata, melawan, bahkan
memojokkan guru, tak beda dengan yang lain. Bahkan, dia
yang merasa paling kehilangan. Matanya berkaca-kaca.
Nyaris saja air bening di sudut matanya jatuh berderai
menyatu dengan hujan. Kami benar-benar merasa ke-
hilangan. Baru saja kami mendapatkan pencerahan dari
semua nasihat beliau. Kini, semuanya terbang. Dalam
bisik, di tengah rintiknya hujan, dengan hati gundah, aku
merintih kepada Tuhan. Aku mulai menggugat Tuhan.
“Ya Allah, kenapa orang baik selalu umurnya pendek?
Padahal, kalau Engkau mau, Engkau dapat memanjangkan
umurnya! Apakah ini keadilan-Mu Ya Allah?”
“Umur beliau tetap panjang, selama kita mendoakan
beliau dan mengamalkan ilmu yang diajarkannya. Ingat
hadis itu 'kan?”
381
http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS
Aku terkejut. Seseorang berada di sampingku, meng-
ucapkan beberapa kalimat tak terduga. Suaranya ber-
wibawa, timbul tenggelam di antara sedu sedan dan isak
tangis, juga rintik hujan yang terus saja turun, dan per-
lahan makin deras. Rasanya, aku hanya berteriak dalam
hati, entahlah kalau rintihan itu ternyata keluar pula dari
mulutku. Sepertinya, lelaki itu memang mendengarnya.
Dia malah memegang pundakku, tangannya dingin dan
kaku. Rasanya, malaikat maut yang baru menjemput Bu
Sri tengah berada di sampingku, mengajakku berbincang
dalam nuansa yang membuat merinding. Butiran hujan
terasa makin berat memaku kepala yang ditutup kopiah,
menyebar ke pundak, dan membasahi tubuh. Badanku
terasa kaku, kelu.
Aku memalingkan pandangan untuk melihatnya.
Lelaki itu tersenyum. Perasaan lega langsung menyeruak
kesadaran. Ternyata bukan malaikat maut, melainkan
Ustadz Yasri yang ikut melayat.
“Tadi antum berteriak sambil berbisik. Ana men-
dengarnya! Muh, amalkan apa yang diajarkan beliau dan
doakan beliau, insya Allah umurnya akan tetap panjang di
sisi Allah,” ujar Ustadz Yasri.
Aku mengangguk. Usai membaca berbaris-baris doa,
dengan langkah berat kami meninggalkan pusara itu.
Hujan rintik-rintik terus saja turun membasahi wajah,
menyatu dengan air mata para pelayat. Semakin lama
semakin lebat, sampai debu vulkanik Merapi benar-benar
terhapus dari permukaan bumi, atap-atap rumah, de-
daunan dan berbagai tumbuhan perdu. Tapi, duka kami
tak akan terhapus dalam waktu dekat ini.
***
382
http://facebook.com/indonesiapustaka 32
Illa
Dulu, aku sering berpikir hitam atau putih, benar atau
salah. Pikiranku juga kukuh menggeneralisir umat
manusia, bahwa dalam kelompok penjahat, tak akan ada
kebaikan sedikit pun. Sebaliknya, dalam kelompok orang
baik, pikiran jahatnya telah terbuang dan hilang sama
sekali. Bagiku, orang baik pantas mendapat ganjaran atas
kebaikannya. Demikian juga dengan orang jahat, seharus-
nya telah menerima nerakanya di dunia. Kalau terjadi
sebaliknya, aku kerap menyalahkan penentu nasib. Aku
malah pernah menggugat Tuhan, saat orang baik seperti
Bunda Sri meninggal dunia di usia muda, sementara para
penjahat dan koruptor leluasa menghirup napas panjang.
Aku hanya berpikir pragmatis.
Mungkin karena itu pula, Milan Kundera menulis,
“Ketika manusia berpikir, Tuhan tertawa.” Konon, ungkap-
an ini berasal dari pepatah Yahudi yang dianut secara turun-
temurun. Apakah Tuhan tertawa saat aku mempertanyakan
http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS
kebijakannya mengambil nyawa Bunda Sri? Mungkin ya
atau tidak. Tuhan dapat saja menganggapku bagian kaum
agelastes versi Milan Kundera, yang tak punya selera
humor. Tuhan tersenyum melihatku berpikir menggugat
pengetahuannya yang luas, yang memahami semua
struktur pola pikir manusia, sampai yang di luar batas itu.
Mungkin manusia berpikir bagai katak yang ingin menjadi
lembu. Ironi yang menyedihkan sekaligus menggelikan.
Aku juga berpikir Tuhan tega, padahal hikmah di balik itu
siapa yang menyangka. Wajar saja kalau Tuhan tertawa.
Demikianlah. Pikiran-pikiran justifikasi terhadap
banyak hal sudah terlanjur mengendap dan mengkristal
sejak lama, tertanam dengan subur di satu sudut otakku.
Akumulasi pikiranku itu tentu tak muncul dengan sendiri-
nya, tanpa ada premis yang mendahului. Semuanya meng-
alir karena doktrin-doktrin yang pernah kuterima di
bangku sekolah, dari guru, orang kampung, dan semua
pengalaman hidup yang pernah kualami dan kurasakan.
Doktrin menghakimi dan menjustifikasi sudah biasa
dalam kamusku. Sekali salah, seterusnya salah. Begitu juga
sebaliknya. Sampai suatu ketika, guru ilmu kalam dan tafsir
kami, Ustadz Ali Bahar menjungkirkan pola pikir itu.
“Semua ada kecualinya. Limadza?”1 ujar Ustadz Ali.
“Dalam setiap hukum ada pengecualian, illa. Di sana-
lah muncul segala hikmah yang tak kita tahu sebelumnya.
Bahkan menjadi penguat dari sebuah sistem. Coba simak
kalimat tauhid, laa ilaaha illallah. Kenapa harus meng-
gunakan la nafi2 di awal, lalu diiringi illa? Limadza?”
tanya beliau.
1 Mengapa?
2 La nafi merupakan sebuah ungkapan peniadaan.
384
http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT
Ustadz yang satu ini, yang kerap kali kami panggil
Ustadz Alba, memang suka sekali menggunakan kata
“limadza”. Usai mengucapkan kalimat itu, kepalanya akan
berpaling ke samping, sambil menyunggingkan senyum.
Itulah ciri khasnya, tiada dua. Kami pun menggeleng
mendengar pertanyaannya. Diam.
“Karena la nafi dan illa itu menunjukkan taukid,
peneguhan. Awalnya disebutkan ‘tak ada tuhan’, tapi
kemudian ditegaskan dengan ‘kecuali Allah’. Artinya,
hanya Allah sebenar-benar Tuhan. Yang lain bukan!”
Kemudian, Ustadz Alba menerangkan banyak sekali
tentang “filosofi kecuali”. Beliau memberikan penerangan
sebuah fenomena alam dan berbagai pengecualian di dalam-
nya. Mengapa api tak membakar Ibrahim, ketika tentara
Raja Namruz melemparkannya ke dalam kobaran api yang
menggunung? Mengapa Isa dapat menghidupkan orang
mati? Itulah pengecualian, mukjizat namanya. Selain itu,
banyak sekali pengecualian di luar kebiasaan dan nalar. Di
sanalah hikmah hakikat penciptaan dan kejadian muncul,
tapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya.
“Jangan terburu-buru menghakimi sesuatu. Kadang,
di balik sesuatu yang kita anggap salah, muncul berbagai
kebenaran yang berlimpah. Di balik musibah, muncul
berkah!”
Aku mencoba mencermati perkataan beliau. Apakah
ada kebaikan yang bisa ditunjukkan para penjahat? Apa-
kah banyak hikmah di balik ajaran ilmu sesat, tenaga
dalam, jin-jin yang merasuki dan melingkupi kehidupan
kami di asrama? Adakah yang aku tak tahu, apa saja ke-
baikan di balik keburukan ini? Lalu seperti apa kebaikan
anak-anak MAN yang jelas-jelas memusuhi kami semua?
385
http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS
Aku tak bisa menjawab pertanyaan yang kubuat sendiri.
Bagiku, ilmu baru yang disampaikan Ustadz Alba terasa
asing, karena minim bukti. Kecuali tentang mukjizat para
rasul tentunya. Dan tiba-tiba, aku berpikir menggunakan
filosofi kecuali. Ahai!
Bukti konkret itu akhirnya kudapatkan juga. Di suatu
petang yang temaram, secara tak terduga, aku bertemu
dengan Mike Tyson-nya MAN, Si King, di pasar Koto
Baru. Asrul alias Si King, Dedek, dan sejumlah siswa kelas
tiga Fisika MAN sedang nongkrong di kedai gorengan
Mak Gapuak yang legendaris. Aku yang sendirian ke
pasar tak melihat gerombolan ini dan langsung nyelonong
ke los itu untuk membeli pisang goreng dan ubi jalar
goreng. Alangkah terkejutnya, ketika aku telah berada
di tengah-tengah mereka. Tanpa aba-aba, mereka telah
mengepungku. Kulihat Si King menaikkan lengan baju,
memperlihatkan otot bisepnya yang melengkung kekar.
Aku bergidik. Si King sendiri saja, pasti akan membuatku
babak belur, apalagi ditambah sembilan orang. Aku
khawatir sekali dengan sikap mereka yang tak bersahabat.
Kekalahan memalukan di lapangan basket, pasti membuat
mereka akan berbuat apa saja di luar. Itu yang pernah ter-
jadi pada kakak-kakak kelas kami. Nyaliku langsung ciut
mengingat cerita itu. Kenapa aku nekad keluar sendiri?
Bertemu pula dengan jago-jago kelahi ini? Lagi-lagi aku
menyalahkan nasib.
“Ndak makan di sini?” Dedek bertanya ringan. Dia
memang biasa mengakrabkan diri. Maklum, sesama orang
Riau. Dia orang Pekanbaru dan aku dari Bagan. Kami
sudah saling kenal di luar.
“Ti... tidak, Bang. Dibawa pulang saja!”
386
http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT
“Sudahlah, makan saja di sini. Nanti sisanya dibawa
pulang!” Kali ini Si King yang bersuara, garau, berat, dan
garang.
Dia menarik lenganku, agak kasar, lalu mendudukkanku
di sisinya. Aku terpaksa duduk di samping pria ini. Aku
menggigit pisang goreng dengan berat, hati-hati, dan tak
bersuara. Aku pasrahkan diri. Sebab, mau lari di tengah
kepungan itu sudah tak mungkin lagi. Harapanku, ada
teman-teman dan kakak MAK yang datang menolong.
Atau Mak Gapuak di hadapanku, dengan badan besarnya,
tentu bisa mengusir mereka. Tapi semua hampa.
“Kenapa? Tak enak?”
“E... enak, Bang!”
“Kok makannya lambat?”
“I... iya, Bang! Ini juga cepat!”
“Ayolah, jangan babaso3. Baso4 masih jauh!”
“I... iya, Bang!”
Kulihat mereka diam sejenak, lalu terlibat saling obrol
di antara mereka. Aku mulai merasa agak lega, karena tak
ada gelagat akan menghajarku. Mereka membicarakan
hal-hal yang biasa.
“Ini... Si King ini dapat penghargaan. Dia baru pulang
dari lomba fisika tingkat provinsi di Padang. Lumayan,
dapat perak. Perak apa berak, King? Ha ha ha!” Dedek
dengan jorok melontarkan joke.
Si Asrul “King” juara lomba fisika? Tak mungkin.
Sesuatu yang hampir mustahil, seperti memasukkan gajah
3 Babaso maksudnya berbasa-basi.
4 Baso adalah sebuah kota kecamatan tak jauh dari Bukit Tinggi.
387
http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS
ke dalam kulkas. Pria berotot kekar, wajah beringas,
suara berat dan garang ini berotak brilian? Sungguh aneh.
Duplikat Tyson ini tak mungkin berotak seperti itu. Tyson
asli saja blo’on, tentu duplikatnya tak jauh beda. Aku
mengernyitkan dahi. Dedek rupanya membaca kesangsian-
ku.
“Mungkin tak percaya, ya? Si King ini tampangnya
saja yang garang, tapi hatinya baik kok. Mukanya Rambo,
tapi hatinya Rinto. Dia andalan kami dalam fisika!”
“Kalau tak percaya, lihat tuh medali di lehernya!”
tambah Dedek. Aku melihat ke arah dadanya. Di lehernya
melingkar tali khas medali dan di dadanya menggantung
medali bulat keperakan. Ada tulisan olimpiade fisika di
sana.
“Ja... jadi...!”
“Ya, Si King ini sedang mentraktir kami semua
sekarang. Kamu juga ditraktirnya. Asyik 'kan?” seru yang
lainnya.
Aku mengangguk. Si King tetap diam. Gayanya tak
berubah. Aku memandangnya dengan penglihatan yang
berbeda. Si Tyson itu kini berubah intelek di mataku.
“Kapan-kapan kita main basket lagi!” serunya me-
nunjuk ke arahku dengan dingin. Tapi kutahu, tawarannya
penuh kehangatan, sehangat pisang goreng dan ubi jalar
gratis yang dihadiahkan kepadaku untuk dibawa pulang.
Dan memang, setelah itu kami cukup akrab. Dengan
Dedek apalagi. Aku bahkan memanggilnya Bang, karena
sesama anak Riau dan dia kakak kelas. Kalau dalam per-
tandingan basket three on three kalah, dia juga sering
mentraktirku. Aku memang sering diajak bersama-sama
main basket dengan mereka, kadang dengan pertandingan
eksebisi antara MAK dan Fisika. Kadang bercampur.
388
http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT
Di luar jam sekolah, Bang Dedek adalah orang yang
sangat akrab dengan sesama anak-anak Riau, baik anak-anak
MAN maupun anak-anak MAK. Bahkan, dia memimpin
anak-anak Riau dalam sebuah paguyuban Ikatan Siswa
Riau. Anggotanya tak hanya para siswa asal MAN/MAK
Koto Baru, melainkan juga dari beberapa siswa di Padang
Panjang dan Bukit Tinggi—mulai dari Thawalib, Diniyah
Putri, Parabek, termasuk MAN/MAK ini. Kadang, aku
merasa heran dengan cara pandang dan bersikap terhadap
anak-anak MAN. Melihat kebaikan mereka di luar class
meeting, rasanya tak adil kalau aku harus menghukum
mereka dengan cap “musuh”. Sungguh pandanganku ter-
hadap anak-anak MAN berubah dengan cepat, sangat
drastis. Waktulah yang menjawab semua itu. Agaknya,
kedekatanlah yang menjadikan semuanya berubah, walau
kadang nisbi, relatif, dan berubah-ubah. Anak-anak MAN
bagaikan saudara kandung bagi kami. Saudara kandung
memang sering bertengkar, kadang berkelahi. Tapi kalau
bertemu dengan anak tetangga yang mengganggu, kami
akan kompak untuk menghadapi mereka. Dengan anak
tetangga yang sering bermusuhan pun bisa menjadi
kompak, kalau menghadapi anak kampung lain. Begitulah
hukum alam berputar, lingkarannya bak obat nyamuk.
Ada irisan yang kadang sulit dijelaskan.
Kenyataannya, kami memang kerap bermain basket
dengan anak-anak MAN, berlatih tanding, bahkan berbagi
cerita pula. Kami kerap mengikuti turnamen di luar. Yang
kami hadapi tak lagi anak-anak MAN se-Sumatera Barat,
melainkan anak-anak SMA. Mulai dari Bukit Tinggi,
Padang Panjang, Batu Sangkar, hingga Padang telah kami
jelajahi. Kami tak akan canggung memakai celana training
389