http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS
Belanda, hingga melahirkan Kaum Paderi—kelompok
pembaru yang disegani. Mereka membawa ajaran Kaum
Wahabi yang memerangi bid’ah dan khurafat. Merekalah
yang menjadikan Tuanku Imam Bonjol berani mengangkat
senjata melawan Belanda. Selain Perang Diponegoro,
perlawanan Tuanku Imam Bonjol dicatat dalam sejarah
perang kemerdekaan sebagai peperangan yang paling
dahsyat. Bahkan, tentara Belanda harus berbagi untuk
menghadapi dua peperangan ini, berdamai dengan yang
satu lalu pindah ke perang satu lagi.
Kini, aku berdiri di sini, di depan masjid Haji Miskin,
sang inspirator pahlawan itu. Agak lama aku berdiri me-
matung menyaksikan monumen sejarah ini, hingga ter-
tinggal dari rombongan. Terbayang sebuah perjuangan
keras yang pernah dilakukan para tokoh ini. Tergambar
pula hebatnya ajaran Haji Miskin dan kawan-kawan
dalam membesarkan kepahlawanan Tuanku Imam Bonjol.
Kepahlawanan memang tak tercipta dengan sendirinya.
Banyak tokoh-tokoh besar yang menjadi master mind
dari hadirnya sosok kepahlawanan itu. Merekalah yang
menjadi penasihat spiritual para pahlawan. Trio alumni
Mekkah ini menciptakan sosok Tuanku Imam Bonjol,
Tuanku Rao hingga Tuanku Tambusai, yang menjadi
seorang pahlawan nasional dari Dalu-dalu, Riau, salah satu
kebanggaan kami. Sedangkan napak tilas yang kulakukan
ini, berikut tekanan mental yang terjadi, kayaknya belum
ada apa-apanya.
Dalam perjuangan, kadang anak dan saudara dapat
menjadi lawan. Mereka mendapat asupan gizi dari setan
dan hawa nafsu untuk melawan kebenaran. Dan itu ter-
bukti dalam Perang Paderi, yang tak hanya melawan
90
http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT
Belanda, namun juga Kaum Adat. Saat itu terjadi, mereka
harus berbesar hati, berani dan tangguh untuk menghadapi
bagian dari diri mereka sendiri. Tergambar betapa sulitnya
posisi Tuanku Imam Bonjol. Bedil, meriam, dan bom
Belanda meraung-raung dari depan, sementara pedang
dan tombak Kaum Adat berusaha menusuk dari belakang.
Teriakan jihad melawan kafir Belanda berkumandang
di mana-mana. Allahu akbar! Allahu Akbar! Itulah yang
mengantarkan perjuangan ke gerbang kemerdekaan, yang
diabadikan dalam pembukaan UUD 1945, “atas berkat
rahmat Allah”. Sesuatu fakta sejarah yang sekarang kerap
dikhianati oleh anak bangsa sendiri, dengan beragam
dalih.
Blarrrr!! Sebuah bom Belanda meledak dekat sekali.
Di tepi telingaku, menggugah seluruh kesadaranku.
Ramon rupanya telah mengguncang bahuku keras sekali.
Lamunan panjang itu terputus. Rupanya, sejak tadi ia
telah memanggil-manggil dari kejauhan tanpa kuhiraukan,
sampai ia langsung mendatangiku. Ia tak mau kelompok-
nya tertinggal satu anggota pun.
Kami melanjutkan perjalanan hingga petang hari.
Malam harinya diisi dengan acara hiburan khas perkemah-
an, kuis dan game, lengkap dengan berbagai hukuman
juga. Begitulah. Tanpa terasa, sepekan telah kami lalui.
Tak terasa pula ternyata matahari telah begitu hebat meng-
hanguskan kulit. Dinginnya suasana Koto Baru seolah
menafikan panas yang membakar, sehingga perjalanan
berkilo-kilo meter di tengah terik matahari bulan Juli
bagai tak dirasakan. Dingin itu menjadi pembius yang
efektif bagi kulit-kulit bayi yang tak terbiasa dengan sinar
ultraviolet ini. Sebagian kami memang tak akrab dengan
91
http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS
matahari terik seperti halnya para petani dan peladang.
Kendati Abah seorang pekebun sejati, aku juga tak terlalu
biasa dengan panas mentari. Aku selalu beralasan banyak
PR ketika diajak Abah ke kebun. Karena tak terbiasa, kulit
wajah kami terkelupas, kering dan gosong. Yang mencolok
terlihat pada hidung. Tak heran kalau kami menunjuk
hidung masing-masing sebagai si hidung belang. Matahari
sukses membakar hidung kami selama sepekan ini, tanpa
terasa, karena selalu dibuai dengan cuaca dingin Koto
Baru.
“Benar-benar para lelaki hidung belang,” seru Ramon.
Semua tertawa, menertawakan diri sendiri, sambil me-
nunjuk hidung rekan lain.
***
92
http://facebook.com/indonesiapustaka 7
Anak-Anak Langit
Ospek yang menjajah mental baru saja usai. Akan
tetapi yang kami hadapi belumlah tuntas, karena
semua yang terjadi hanyalah awal untuk memasuki
gerbang berikutnya. Apalagi, asrama yang sudah kami
huni sekarang belum sah kalau belum mengikuti kegiatan
bernama Mapertas, Masa Perkenalan Tahap Awal Asrama.
Mapertas adalah tanda legalitas kami di asrama ini. Kami
sudah membayangkan akan menghadapi perploncoan jilid
kedua, kendati kami tahu, kini situasinya agak berbeda.
Saat itu, tiga rekan dari Tembilahan, Riau sudah ikut
bergabung. Seharusnya, mereka berangkat bersama dengan
kami, “Sebelas Askar Bertuah”. Semua teman-teman dari
Jambi dan sebagian besar anak-anak asal Sumatera Barat
juga sudah datang dan masuk asrama yang sama. Totalnya,
sebelas anak dari Riau, sembilan dari Jambi, dan sisanya
Urang Awak dari Ranah Minang. Mereka memilih kamar
http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS
sesuai yang diinginkan, tentu sisa-sisa dari kamar kami
anak Riau yang sudah lebih dulu menempati. Kini, nyaris
semua kamar sudah terisi.
Hanya berselang sehari setelah Ospek gabungan
MAN/MAK itu tuntas, kami menghadapi babak baru, ke-
hidupan berasrama. Ini merupakan bentuk perkenalan
internal, yang menandakan kami memang khusus, agak
berbeda dengan anak-anak yang bersekolah di MAN Koto
Baru. Asrama adalah domain spesial anak-anak MAK.
Kakak-kakak senior MAK mengumpulkan kami di asrama
kelas III, Dakhiliyah Darun Najah. Kami menginap di
sana, makan secara berjamaah, dan melakukan berbagai
aktivitas sesuai dengan arahan kakak senior.
Agak berbeda dengan Ospek yang menitikberatkan
pada penempaan fisik, Mapertas lebih menekankan pada
pembinaan mental-spiritual. Pembinaan dilakukan pada
petang dan malam hari di ruang kelas sekolah ini, juga
di masjid. Usai Ospek, sebenarnya sekolah formal sudah
dimulai, karena kami sudah mulai mendaftar sebagai
siswa. Tak beda dengan anak-anak MAN lainnya, kami
juga harus membayar uang masuk, SPP, dan seragam
sekolah. Tuduhan anak emas dan serba gratis runtuh
seketika. Kalau dari pagi hingga siang kami mulai masuk
sekolah, maka petang hingga malam hari kami mengikuti
Mapertas. Ketika itu, Kegiatan Belajar Mengajar (KBM)
belum efektif berjalan. Kami hanya mengikuti penataran
Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila, atau
yang lebih dikenal dengan penataran P4. Konon, kegiatan
ini bertujuan agar para siswa menjadi pancasilais sejati. Ter-
nyata, Mapertas tak seseram yang kami bayangkan. Isinya
hanyalah pemberian materi dasar tentang keislaman, ke-
94
http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT
pemudaan, motivasi belajar dan keasramaan serta berbagai
problematikanya. Materi keislaman diisi kakak-kakak
alumni MAK angkatan tahun pertama dan kedua. Karena
memang ketika itu baru ada dua angkatan alumni. Dari
yang datang menyampaikan materi, setidaknya ada dua
kecenderungan para alumni ini, yaitu condong ke Timur
dan condong ke Barat.
Beberapa alumni yang kuliah di Ma’had Lembaga Ilmu
Pengetahuan Islam dan Arab (LIPIA) Jakarta, cenderung
condong ke Timur, karena semua dosen-dosennya berasal
dari Timur Tengah, baik dari Mekkah, Madinah, Mesir,
Sudan, maupun Kuwait. Mereka banyak menyampaikan
pemurnian Islam dan tantangan dunia Islam dalam meng-
hadapi perang pemikiran, ghazwul fikri. Sedangkan sebagian
alumni MAK yang kuliah di IAIN Syarif Hidayatullah
Jakarta, IAIN Imam Bonjol, Padang, atau IAIN lainnya, lebih
beragam corak berpikirnya. Dari materi yang disampaikan,
kami pun mendapatkan pencerahan yang berwarna-warni.
Tapi, semuanya jelas memperkaya kami.
Sebagian kawan tertarik dengan pembahasan yang
disampaikan secara terpisah oleh kakak alumni yang
berafiliasi ke Timur dan kakak yang berafiliasi ke Barat.
Perdebatan Syafrizal versus Rinaldi pun dimulai lagi.
Makin keras, intens, dan tajam. Namun kali ini, suara
mereka tenggelam oleh para argumentator baru. Dari
Jambi, ada Adamrino yang paling ngotot, selain juga
Jalaluddin yang selalu menengahi dan Zulhuda yang
selalu santai menyampaikan pendapatnya. Dari Sumatera
Barat, muncul para argumentator piawai seperti Suhadi
Ady yang sangat diplomatis dan ulung bersilat lidah,
Hendra Purnama yang kritis dan kuat dalil berpikirnya,
95
http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS
Azwar Darma yang mahir menggunakan metafora dalam
setiap detil kalimatnya, Zulfariadi Tanjung yang begitu
mumpuni dalam menyampaikan petatah-petitih Minang,
piawai dalam mengeluarkan syair dan ungkapan, juga Andi
Putra yang kuat dalil naqli dan aqlinya, dengan ayat-ayat
dan hadits yang selalu keluar dari mulutnya. Belum lagi
Burmal Ismail yang smart dan penuh determinasi, atau
Mursalin yang tak pernah lelah berimprovisasi dengan
berbagai ledakan humor spontannya.
Memang, sobat-sobat baruku ini tak pernah terbayang
sebelumnya. Mereka membuat suasana diskusi begitu
hangat, bersemangat, dan seolah tiada habis. Alangkah
hebatnya kekuatan argumentasi yang dihasilkan dari cara
berpikir dan nalar anak-anak tamatan MTs ini. Argumentasi
mereka bernas dan berisi, menandakan kapasitas ilmu
mereka juga di atas rata-rata anak seusianya. Ketika
melihat cara mereka berargumentasi dan mengeluarkan
opini, aku seperti melihat debat mahasiswa dan para
dosen di televisi. Inilah kumpulan anak-anak brilian yang
tersembunyi di pelosok kampung-kampung kecil dari tiga
provinsi, yang sekarang menyatu dalam ruangan kelas di
sebelah masjid, tak jauh dari lorong jebakan gelap tempo
hari. Kumpulan anak-anak yang argumentasinya begitu
berbobot dan tak pernah kutemukan sebelumnya. Men-
dadak saja aku merasa minder, kecil, tak ada apa-apanya
dibandingkan dengan anak-anak hebat ini. Aku yang selalu
juara kelas di kampung kami Bangko, Bagan Siapi-api, kini
merasa tak sebanding dengan cakrawala berpikir mereka.
Begitu luas, kuat, beragam, beraneka warna. Pelangi yang
sempurna, membentuk setengah lingkaran yang begitu
indah. Ternyata, ilmu itu tak terbatas cakupannya, tak
96
http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT
bertepi samudranya. Aku hanyalah titik kecil di tengah
samudra ilmu.
Selain para alumni, pembicara juga berasal dari kakak
senior dan guru. Pada sesi berikutnya, moderator diskusi,
Kak Jon Pamil memperkenalkan sosok sepuh penuh
wibawa. Beliau adalah Pak Ismail, murid langsung Buya
Hamka serta beberapa ulama besar dari Sumatera Barat.
Ada gelar datuk di depan namanya. Datuk Ismail merupa-
kan salah seorang guru di kelas III MAK, mengajar ushul
fikih pada tutorial saja. Beliau sudah pensiun beberapa
tahun lalu. Kemampuan bahasa Arabnya yang sangat
andal, ushul fikih dan ilmu kalamnya yang luar biasa
menjadikannya sosok yang tak kenal pensiun. Beliau
diminta menjadi pendidik di mana-mana—mulai dari
Thawalib Padang Panjang, Parabek Bukit Tinggi, hingga di
MAK ini. Umurnya sudah 65 tahun, namun masih sangat
energik dan mampu mengimbangi stamina kami yang
masih muda. Terpancar energi yang luar biasa dari wajah
dan pembawaannya yang berwibawa, tangguh, dan kuat.
Suaranya besar, menggelegar, sehingga ketika beliau ber-
bicara, tak satu pun suara lain yang berani keluar. Cara
berpikirnya, retorikanya, serta logikanya menunjukkan
kapasitas intelektual, wawasan, dan pengalaman yang tiada
tanding.
Pak Ismail memaparkan tema yang biasa, beda dengan
kakak-kakak mahasiswa yang pembahasannya di awang-
awang, dengan bahasa yang sulit-sulit dan berat. Malah
ada kesan dibuat-buat dan dihebat-hebatkan, dibarat-barat-
kan pula. Sebaliknya, Pak Ismail memaparkan apa ada-
nya, santai, egaliter. Pada malam yang dingin itu, beliau
berbicara tentang motivasi belajar, dan yang berkaitan de-
97
http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS
ngan kepribadian. Pada awal pembicaraan, beliau langsung
membuka diskusi.
“Untuk apa sebenarnya kalian belajar sekarang? Kalau
dihitung dari kampung kalian masing-masing, Koto Baru
ini begitu jauh jaraknya. Memangnya, apa yang dikejar
kemari?”
“Agar pintar, Pak! Karena sekolah ini memiliki program
yang bisa membuat orang menjadi pintar, menguasai ilmu
agama dan taat. Di sini program pendidikannya bagus,
disiplin dan terarah, Pak!” seorang anak mengangkat
tangan dan menjawab cepat. Mursalin rupanya, dari Baso,
sebuah kota kecamatan tak jauh dari Bukit Tinggi.
“Bagus itu. Yang lain?!”
“Supaya masa depan lebih baik, dapat mengabdi
kepada bangsa, negara, dan agama, Pak! Sebab kita tahu,
bangsa ini mengharapkan anak-anak muda yang cerdas dan
beriman.” Andi mengangkat tangan dan menjawab lugas.
“Jayyid jiddan. Bagus Sekali. Ada jawaban lain?”
“Saya, Pak. Kami ke tempat ini karena menuntut ilmu
itu wajib walaupun ke negeri Cina,” ujar Indramis asal
Sulit Air.
“Oke, baiklah. Jawaban kalian sebenarnya membentuk
sebuah konfigurasi yang indah. Tapi, ada sedikit perkara yang
mau saya mau tanyakan. Kamu yang pertama. Siapa?”
“Mursalin, Pak!”
“Ya, Mursalin. Tadi Anda katakan di sini program
pendidikannya bagus, disiplin, terarah. Bagaimana kalau
kenyataannya tak seperti itu?”
“Kami dengar seperti itu, Pak. Pokoknya, MAK is the
best!”
98
http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT
“Ya, bagaimana kalau yang terjadi sebaliknya, ternyata
mutu pendidikan di sini sama saja?”
“Tentu kami kecewa, Pak!”
“Oke. Anda sudah memulai kekecewaan itu dari
sekarang. Lantas bagaimana?”
Mursalin menggeleng. Tak tahu menjawab apa.
“Baiklah. Sekarang, katanya ingin mengabdi kepada
bangsa dan agama, karena dibutuhkan sosok-sosok pemuda
cerdas dan beriman. Begitu juga menuntut ilmu wajib walau-
pun ke negeri Cina. Nah, menuntut ilmu 'kan tak harus
di sini? Banyak tempat, banyak sarana. Bahkan, belajar di
kolong jembatan pun bisa 'kan?”
Kami diam. Pak Ismail tampak sedang menguji. Kami
ragu dan mulai takut terjebak dalam jawaban yang salah.
Sebab setiap kalimat yang keluar, bisa berbalik kepada
kami. Kami harus benar-benar waspada mengeluarkan
kalimat di depan orang tua yang satu ini. Kearifannya se-
bagai seorang guru biasa di desa terpencil ini, kukira me-
lebihi Pak Kakanwil kami di Riau.
“Begini. Tadi sudah saya katakan bahwa jawaban
kalian membentuk sebuah konfigurasi. Jawaban-jawaban
itu mengandung kebenaran. Namun harus diuji lagi, apa-
kah kebenaran itu relevan dengan situasi aktualnya atau
tidak? Sebab kenyataannya, yang sering disampaikan anak
muda seperti kalian hanya idealitas semu, dangkal, dan
sering terjebak retorika.”
Kami menyimak lebih serius. Aku makin mengagumi
cara pandang beliau, begitu juga tutur katanya yang lugas,
jelas, namun perlu diurai lagi dengan pemikiran yang
tenang.
99
http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS
“Begini. Saya ingin menyampaikan bahwa modal pen-
didikan yang kalian lakukan sekarang adalah gambaran
kalian di masa mendatang. Kalian yang hadir sekarang
adalah sesuatu dari bangunan perilaku kalian di masa lalu.
Dan begitulah seterusnya.”
Kami mengernyitkan dahi. Tergambar di kepala namun
masih samar-samar.
“Maksud saya adalah, apa yang akan kalian lakukan
sekarang merupakan modal untuk sesuatu yang akan
kalian raih sepuluh hingga dua puluh tahun ke depan. Pen-
didikan yang kalian ikuti sekarang, tak akan berarti apa-apa
kalau kalian tak mengazamkan kesungguhan kalian dalam
mencapai apa yang dicita-citakan, yang menjadi tekad
kalian. Tak peduli pendidikan kalian di MAK, pesantren
atau di pinggir jalan. Imam Syafi’i tak pernah masuk
sekolah, namun memiliki kesungguhan yang luar biasa,
mau berguru kepada setiap syeikh yang memiliki ilmu.
Dan beliau mendapatkan cahaya ilmu dari kesungguhannya
itu. Lembaga pendidikan bukan jaminan. Guru tak dapat
membuat pintar, karena guru hanya mengarahkan, bukan
mentransfer kecerdasan. Semua berpulang kepada kalian.
Kalau kalian ingin mengubah dunia, ubah dulu diri kalian,
maka dunia akan berubah dengan sendirinya. Catat itu!”
Aku mencatatnya. Dalam hati.
“Tuan Guru,” Azwar tiba-tiba menyela sambil meng-
angkat tangannya. Pak Ismail mengalihkan pandangannya
ke sosok tinggi kurus ini. Apalagi ia memanggil dengan
keras, ditambah dengan sebutan Tuan Guru pula, sesuatu
yang beda, karena panggilan Tuan Guru kerap digunakan
kalangan sufi untuk orang-orang yang sudah mencapai
tingkatan sufistik tertentu.
100
http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT
“Kami ini sekelompok anak-anak yang paling tidak
juara kelas, bahkan tak sedikit yang juara umum di sekolah-
nya. Modal dasar sudah kami miliki. Bagaimana menurut
Tuan Guru?”
“Begini, Anakku. Kalian ini memang anak-anak hebat,
anak-anak yang terlahir dari rahim istimewa perut bumi,
dengan bakat alami yang luar biasa. Kalian adalah anak-
anak langit yang akan mewarnai bumi dengan mahakarya
yang luar biasa. Kalian akan melukis alam dengan pelangi
kehidupan, yang memberikan pencerahan dan kedamaian
pada umat. Kalian orang-orang terpilih. Kalianlah sosok-
sosok dambaan umat manusia itu!”
Kami semringah, berbunga-bunga. Aku termasuk
yang paling tercerahkan. Anak-anak langit! Luar biasa,
alangkah eloknya. Tapi, benarkah demikian?
“Jadi, apakah kami semua akan menjadi orang sukses,
Tuan Guru?” Azwar yang penasaran terus bertanya.
“Hm, tidak juga. Hanya yang tangguh dan mampu
mengalahkan kerasnya dunia akan menjadi orang sukses.
Bung Karno pernah berpesan. ‘Berikan kepadaku sepuluh
orang pemuda yang membara cintanya pada Tanah Air,
maka aku akan mengguncang dunia bersama mereka!’”
Saat menirukan ucapan Bung Karno, tangan Pak
Ismail mengepal. Suaranya yang berat menjadi lantang,
memecah kesunyian malam, menghangatkan dinginnya
udara, membakar semangat kami. Bung Karno seperti hidup
kembali, dan orasinya benar-benar menggugah kami.
“Jadi, hanya dengan sepuluh pemuda yang membara
cintanya pada tanah air. Artinya, hanya pemuda yang
kokoh, keras, tangguh, bukan semua pemuda. Ketangguh-
an, itulah syaratnya!”
101
http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS
Aku ingin mengacungkan tangan, mempertanyakan
tentang anak-anak langit, yang masih mengusik pikiran
terdalam. Namun, Hendra sudah mendahului.
“Buya! Kadang semangat kita bisa berkurang. Kadang
malas melanda. Kendati sudah bertekad dalam hati sambil
berulang-ulang menyebut, ‘saya tidak malas’, tetap saja
sulit melawannya. Bagaimana ini, Buya?”
“Baik! Ini merupakan penyakit klasik yang harus hati-
hati mencari obatnya. Ketika ada penyakit batin seperti ini,
orang sering kali mencari obat dengan memasukkan racun-
nya juga. Ketika Anda melakukan penolakan terhadap
sikap malas, maka yang tergambar dalam pikiran adalah
malas itu, kendati sambil berusaha bersikap antipatinya.
Dalam alam bawah sadar Anda, kata malas itu justru makin
terpatri, makin kuat. Kata malas justru semakin banyak
menyelimuti otak Anda. Maka kendati beribu-ribu kali
mengazamkan ‘saya tidak malas’, Anda akan tetap malas.
Kenapa? Karena memang ada kata ‘malas’ itu dalam
pikiran Anda. Sama seperti banyak gerakan antiperang.
Sekarang justru makin banyak perang. Solusinya adalah,
hentikan menyebut ‘saya tidak malas’. Ganti menjadi,
‘saya anak rajin’. Begitu!”
Hendra mengangguk-angguk. Yang lain terkesima.
Aku juga.
Satria, anak Batusangkar tak mau ketinggalan. Ia
menyambar posisi bertanya ketika yang lain masih meng-
acungkan tangan.
“Pak, saya Satria. Saya mau menanyakan tentang ke-
mampuan yang besar dan bagaimana berfokus dengan-
nya?”
102
http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT
“Baiklah! Anak-anakku, kalian adalah anak-anak
langit yang memiliki kekuatan yang sangat besar. Potensi
kalian luar biasa. Kalian ibarat matahari yang memiliki
panas kuat untuk menyinari alam semesta. Matahari juga
menjadi pusat edar dan tempat planet melakukan thawaf.
Ia menjadi sumbu, begitu hebatnya, begitu kuat posisi-
nya. Bahkan suhunya sampai 6.000 derajat Celcius. Tapi
tahukah kalian, kadang matahari dapat dikalahkan api
buatan manusia?”
Kami terdiam. Tak berani mengambil kesimpulan
atas pertanyaan Pak Ismail yang entah ke mana arahnya,
apalagi menjawabnya. Bagaimana mungkin ciptaan Tuhan
bernama matahari dikalahkan api buatan manusia?
“Ya, ada saatnya matahari dapat dikalahkan. Matahari
dapat dikalahkan api tukang las dengan panas yang
mungkin hanya 500 derajat Celcius, kurang dari 10
persennya. Kenapa?”
Kami kembali tak berani menjawab. Takut jawaban
kami, yang rasanya sudah dipersiapkan dengan matang,
dengan logika yang tepat, malah kurang tepat bagi
beliau.
“Itu karena sinar api tukang las itu fokus. Ia menjadi
sangat kuat. Sama seperti sinar laser yang mampu me-
nembus baja. Sedangkan matahari, sinarnya menyebar,
tidak fokus. Banyak turis yang sengaja membakar tubuh-
nya di bawah terik matahari dan tak apa-apa, malah me-
nikmatinya. Sebaliknya, ketika api itu fokus, maka besi
pun dapat ditembusnya. Coba kalian lihat rintik hujan.
Begitu banyak, begitu deras menghunjam, dari jarak yang
jauh di angkasa sana. Tapi hujan tak berpengaruh pada
batu, tanah dan atap. Tapi coba lihat tetesan air di atas
103
http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS
batu. Hanya kecil, tapi titiknya fokus. Granit yang keras
pun lama-lama akan bolong dibuatnya. Nah, begitulah
kekuatan fokus!”
“Jadi, kekuatan fokus dapat mengalahkan energi
matahari, Buya?!” tanya Hendra pula.
“Ya, itulah kekuatan fokus. Tapi sebenarnya, Anakku,
matahari yang menyebar itu pun sebenarnya dapat mem-
bakar jika difokuskan. Contohnya adalah kaca loop yang
jika didekatkan ke kertas akan membakarnya dalam
beberapa detik. Itulah kehebatan fokus. Baiklah. Bagi
kalian yang memiliki kekuatan besar, bakat alami kuat,
tetaplah fokus. Namun yang memiliki energi kecil, bakat
pas-pasan, asal fokus, akan tetap dapat mengalahkan
matahari, mengalahkan hujan. Untuk kalian semua, saya
yakin mampu mengalahkan matahari dan hujan. Sebab,
kalian adalah anak-anak langit yang berasal dari energi
matahari dan napas kehidupan hujan. Jika keduanya ber-
temu, maka pelangi akan mewarnai langit. Itulah tempat
kalian berasal!”
Kami terkesima. Benar-benar brilian, memberikan
pencerahan. Malam itu begitu terang dengan cahaya yang
datang dari Pak Datuk, secerah matahari, sebening rintik
hujan. Pertanyaan lain datang silih berganti sesudah itu.
Sekali diberikan waktu, tiga anak mengacungkan tangan.
Lain waktu, lima anak yang bertanya. Pertanyaanku belum
juga sempat terlontar sampai waktu menunjukkan pukul
00.00 WIB, berarti saat istirahat telah tiba. Pak Ismail
masih kuat menandingi semangat kami, namun moderator
dengan tegas menghentikan acara. Kami lalu turun ke
asrama kelas tiga dengan semangat baru yang menggebu-
gebu. Kami telah terlahir kembali menjadi sosok muda
104
http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT
yang lebih berenergi. Ruang makan kecil ukuran 10
x 10 meter yang berubah fungsi menjadi kamar tidur
bersama untuk 35 anak itu menjadi terasa begitu luas.
Hanya sekejap, kami pun terlelap dalam mimpi indah.
Namun sebelum dingin membelai badan dalam lelap yang
panjang, hatiku sempat gundah dan terus bertanya-tanya.
Anak-anak langit?! Ah, mungkin agak naif!
***
105
http://facebook.com/indonesiapustaka 8
Syubbanul Yaum,
Rijalul Ghad
Asrama Kelas III Darun Najah itu begitu beda. Suasananya
lebih teduh dan nyaman. Ada aula yang sekaligus ber-
fungsi sebagai ruang makan di bagian tengah. Koridornya
cukup luas. Sedangkan di bagian belakang merupakan
dapur, lengkap dengan tempat masaknya. Teras depan pun
sangat luas, yang didesain artistik dengan taman dan kolam
ikan hias. Kamar-kamar asrama sebanyak 12 unit berdiri
berjajar di sekeliling aula. Di kedua sisinya, terdapat taman-
taman kecil yang berisi bunga-bunga indah. Ada berbagai
jenis bunga yang ditanam di sana, misalnya clematis alpina,
mawar, bonsai beringin, dan beberapa tanaman bunga yang
biasa merambat di pagar seperti pergola, dan trellis. Semua-
nya tertata rapi. Setiap orang yang menguakkan pintu kamar
dan memandang keluar, dipastikan akan melihat aula dan
taman-taman kecil ini. Alangkah indahnya, kontras sekali
dengan asrama kami yang mirip rumah sakit.
http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT
Di aula ukuran 10 x 10 meter itulah kami menginap,
meninggalkan asrama rumah sakit untuk sementara
waktu. Tak hanya tidur dan makan, persiapan berangkat
ke sekolah juga dari asrama itu. Ia menjadi tenda kedua
setelah kain bentangan berbentuk piramid dengan dua
tonggak menjadi tempat kami melepas lelah beberapa
malam yang lalu. Dalam ruangan ini, kami diajarkan
ukhuwah dengan makan bersama di satu talam. Caranya,
lima anak duduk melingkar, menikmati makanan
bersama-sama, berbagi tempat dan nasi-lauk. Kalau kami
berjumlah 35 anak, berarti ada 7 kelompok talam. Dari
sanalah tumbuh semangat kebersamaan, persaudaraan,
solidaritas, senasib dan sepenanggungan.
Pada hari kedua menetap di asrama Kelas III itu, baru
aku sadari telah dikelilingi berbagai petuah, ungkapan,
pepatah, dan kata-kata motivasi dosis tinggi. Semuanya
berbahasa Arab, terpasang manis di tembok-tembok aula,
berjejer membentuk konfigurasi datar. Seorang kaligrafer
ulung telah mengerahkan daya kemampuannya untuk
menghasilkan lukisan sarat makna berbentuk kaligrafi
itu. Goresan dan komposisi warnanya menggabungkan
gaya lukis surealis yang mengagumkan dan kaligrafi indah
dengan hiasan pinggir yang memukau. Beberapa khat
tampak mudah dibaca, karena ditulis dengan jenis tulisan
tsuluts dan naskhi. Yang berjenis farisi juga bisa terbaca,
karena bacaannya yang ringkas. Namun, ada juga yang
bertuliskan jenis huruf diwani jali yang rumit dan melilit-
lilit, atau riq’ah yang berbentuk kotak-kotak tanpa baris.
Tak sembarang orang mampu membacanya.
Aku mengajak Rasyid dan Syafrizal membaca ber-
bagai tulisan itu, terutama yang diwani jali. Setelah ber-
107
http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS
diskusi, kami dapatkan juga cara membaca tulisan ajaib
itu. Ada yang berbunyi, salamatul insan fi hifzil lisan,1
an-nazhafatu minal iman,2 khairukum ‘anfa’ukum
linnas,3 man jadda wajada,4 libasukum yukrimukum
qablal julud kalamulum yukrimukum ba’dal julud.5 Yang
paling menarik perhatian kami adalah syubbanul yaum
rijalul ghad6, sebuah ungkapan yang ditulis dengan khat
diwani jali, nyaris tak bisa dibaca, sehingga pesannya
pun mungkin jarang yang mengamalkan. Zulfariadi yang
kami ajak berdiskusi menerangkan bahwa ungkapan Arab
itu sejalan dengan paparan Buya Ismail kemarin malam.
Pemuda sekarang adalah pengganti para pemimpin yang
tengah berkuasa.
“Sekarang 'kan kekurangan stok pemimpin. Banyak
penguasa, namun gila harta, bukan tipikal pemimpin. Kelak,
kitalah nanti yang akan mengisinya,” ujar Zulfariadi yakin.
Pencerahan yang diberikan Buya Ismail telah benar-
benar membuatnya memiliki tekad baja. Menjadi pemimpin
adalah salah satu obsesinya usai mendengar wejangan
dahsyat itu. Aku juga merasakan energi yang sama. Saat
Buya Ismail mengulangi pidato Bung Karno itu, dengan
suara lantang penuh retorikanya, aku bergidik. Bung Karno
seolah berada di hadapan kami. Ternyata, hal yang sama juga
1 Keselamatan seseorang terletak pada kemampuannya menjaga
lisan.
2 Kebersihan sebagian dari iman.
3 Sebaik-baik kalian adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.
4 Siapa yang bersungguh-sungguh akan sukses.
5 Pakaianmu akan memuliakanmu sebelum duduk, perkataanmu
akan memuliakanmu setelah duduk.
6 Pemuda hari ini, pemimpin di esok hari.
108
http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT
dirasakan kawan-kawan lainnya. Tekad baja pun dimulai
pagi itu, ketika kami berdiskusi ringan menjelang berangkat
sekolah, saat sarapan dengan talam-talam terbentang.
“Di depan talam ini, saya berikrar akan bersiap men-
jadi pemimpin masa depan yang amanah,” ujar Mursalin
sambil mengambil sepotong tempe goreng di depanku
dan memasukkan ke mulutnya. Aku hanya melongo.
***
Pagi itu kami sekolah seperti biasa, namun dengan
semangat yang berbeda. Sebuah program instal baru telah
terpasang dalam chip memori, dan kami siap menghadapi
hari-hari yang indah. Pada petang hingga malam seperti
hari-hari yang lalu, kami memulai aktivitas lagi untuk
Mapertas. Kali ini yang menjadi pembicara adalah Kak
Arif Badruddin, seorang pria berkaca mata, dengan pe-
rawakan kecil. Ia memiliki gaya bicara yang lembut namun
tegas, dengan artikulasi sangat baik dan tertata. Kendati
bertubuh kecil, Kak Arif Badruddin memiliki nyali yang
besar, pendirian yang kokoh, dan keyakinan yang kuat. Ia
tak memelihara jenggot atau memiliki jidat hitam seperti
beberapa kakak lainnya. Namun demikian, pendiriannya
terhadap ajaran Islam sangat kokoh. Islamnya kaffah, tak
mau setengah-setengah. Kak Arif Badruddin mengingatkan
bahwa sekarang ini adalah zaman gila, saat kemungkaran
berpadu dengan kebaikan. Orang naik haji dari biaya
korupsi itu biasa. Berzina dilindungi hukum, tapi yang
mencari jalan Islam dengan sunnah dihalang-halangi. Jadi
juara hasil kolusi dengan guru atau curang dalam ujian
bukan lagi tabu. Ia juga menyampaikan tren beragama
yang belakangan meruntuhkan sendi-sendi keislaman,
109
http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS
misalnya membuat doa bersama beda agama, termasuk
menerapkan fikih lintas agama, atau membebaskan nilai
Islam dimasuki elemen lain yang sama sekali bid’ah. Kak
Arif meneguhkan sikapnya tentang bahaya itu semua.
“Kelak, Anda akan menghadapi semua itu,” ingat
lelaki yang dipercaya sebagai Sekretaris Ikatan Asrama
Madrasah Aliyah Khusus (Ikas MAK) itu.
Sebagian dari kami mengikuti dengan saksama, me-
nyimak, dan mencermati uraian serta peringatannya. Tapi,
sebagian lagi menanggapinya bak angin lalu. Sesuatu yang
dianggap klise dan sudah biasa, seperti halnya khatib Jumat
yang khutbahnya dibawa tidur oleh sebagian jamaah, atau
didengar tapi menguap berkali-kali.
Pada malam harinya, yang jadi pembicara adalah Kak
Aldiansyah, Ketua Ikas MAK. Sosoknya tinggi besar dan
selalu menggunakan jaket hitam panjang mengembang
hingga lutut. Kendati berbicara agak cadel, berkaca mata
pula, namun sikapnya menunjukkan kedewasaan dan ke-
kerasan hatinya. Kak Aldiansyah banyak berbicara tentang
keasramaan, Ikas MAK, sejarah MAK, dan yang paling
membuat kami semua penasaran dan ingin terus mengikuti
paparannya adalah perseteruan abadi dengan anak MAN.
“Sebagian dari mereka memang kurang ajar,” ujar
Kak Aldiansyah seperti berusaha memprovokasi kami.
Kami tak sabar menunggu kalimat berikutnya. Pe-
nasaran menggelayuti kepala kami. Aku juga. Terbayang
kembali bagaimana perlakuan dua algojo berbadan kekar
yang menyeret kami dari asrama. Lalu disambut pula oleh
si ceking berkaca mata tebal dengan sumpah serapah dan
maki hamun. Teringat pula, kepungan singa yang siap
mencabik-cabik bison kecil. Inilah rupanya!
110
http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT
“Mereka selalu iri dan dengki,” lanjut Kak Aldiansyah.
Kak Aldiansyah menegaskan, sejak awal MAK ini
berdiri empat tahun lalu, anak-anak MAN sudah mem-
perlihatkan kebenciannya terhadap anak-anak MAK. Ada
upaya terus-menerus untuk menumbuhkan kebencian ter-
hadap anak-anak MAK, sehingga generasi pembenci itu
terus berganti. Warisan permusuhan itu seakan tak pernah
tuntas, karena generasi baru telah hadir dan menciptakan
luka yang baru pula. Bisikan itu begitu kuat merasuk jiwa.
Kami mengiyakan, merasakan betapa hebatnya hinaan
saat Ospek tempo hari. Kami ikut terbawa emosi. Tapi
mendadak aku teringat Ang Cui, teman bermain basket
di Perguruan Wahidin yang begitu tulus, lurus dan ikhlas.
Leluhurnya yang menjadi korban pembantaian tentara
Jambang tak lagi diingatnya. Menurutnya, yang perlu
ditatap adalah masa depan. Kalau darah dibalas darah,
mungkin dalam jangka pendek akan memuaskan jiwa,
menenangkan pikiran. Selanjutnya, ketenteraman akan
terancam kembali, karena setiap saat dendam kesumat
itu akan datang dalam bentuk yang lain. Makanya, Ang
Cui selalu berpesan untuk mengubur permusuhan dan
dendam itu dalam-dalam. “Jangan melihat ke belakang
lagi,” serunya padaku ketika itu. Nadanya lirih.
Aku tercenung. Dalam. Baru kurasakan betapa sulitnya
menata hati. Qalb, sesuatu yang berbolak-balik adalah
tabiat hati yang sudah ada dari sononya. Pertama benci,
lalu cinta, rindu, beralih dendam. Itulah yang selalu terjadi,
bumbu dalam membentuk peradaban manusia, sejak era
Mesopotamia hingga Mesir kuno, juga sebagai faktor
penghancur peradaban itu. Rindu dan dendam kadang
menjadi sangat tipis bedanya. Cinta dan benci hanya
111
http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS
dua sisi dari satu mata uang yang sama. Tak jarang, cinta
yang ditolak berubah menjadi benci, dan menyebabkan
seorang kaisar harus mengerahkan ratusan ribu tentara
untuk memaksa sang putri dambaan hati bertekuk lutut.
Jarak bermil-mil ditempuh, dengan sumber daya dan dana
melimpah hanya digunakan untuk sebuah hasrat, rindu-
dendam dan cinta, yang akhirnya menimbulkan perang,
tragedi kemanusiaan, pembunuhan massal, lalu hilanglah
sebuah generasi.
Aku ingin berteriak, tapi suaraku tercekat. Kak
Aldiansyah tak melewatkan momentum memasukkan
pengaruhnya yang lain. Dia bercerita, MAN Koto Baru
sebenarnya sudah sangat tua, sudah berdiri sejak tahun
1971, kendati waktu itu baru bernama PGA. Sudah ber-
umur 20 tahun. Sementara MAK baru empat tahun,
masih balita, muda belia. Ternyata, saudara muda ini
lebih mengundang daya tarik, dipuji dan disanjung se-
tinggi langit. Para guru membicarakannya, penduduk desa
takjub, jamaah bersyukur atas kehadirannya, dan seluruh
penduduk provinsi mengelu-elukan di mana-mana. Anak-
anaknya juga pintar, berprestasi, dan ehm, ganteng-ganteng
pula.
“Banyak siswi MAN yang naksir kita. Makanya, para
siswanya marah,” ujar Kak Aldiansyah terkekeh.
Hampir semua manggut-manggut, mengiyakan apa
yang disampaikan Kak Aldiansyah. Pengalaman men-
jadikan anak-anak langit ini menyatu dalam satu pandang-
an yang sama. Satu langkah lagi, hancurlah semua bangun-
an yang sudah tersusun rapi itu, yang sudah mulai tampak
bentuknya ketika malam sebelumnya mendapatkan pen-
cerahan.
112
http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT
“Kalian sudah ikut Ospek 'kan!? Bagaimana rasanya?”
“Wah, kami benar-benar dihina, Kak!” Haris meng-
acungkan tangan dan langsung berkomentar.
“Benar-benar tak beradab. Cara mereka sangat arogan!”
“Iya, Kak. Kita harus melawan ketidakadilan ini!”
“Benar, kita lawan!” kata Jundi, seorang anak asal
Jambi.
“Ya, itu betul. Kalian harus ingat satu hal, bahwa anak-
anak MAN akan selalu iri, dengki, dan akan selalu me-
nyerang kalian kapan dan di mana saja. Oleh karena itu,
kita harus bersatu, siap dan waspada...”
Klontang!! Atap seng kelas itu berbunyi keras, ketika
Kak Aldiansyah belum menyelesaikan kalimatnya. Bunyi
lemparan benda keras terus menyusul seperti belasan batu
yang sengaja dilemparkan. Setelah itu, derai kaca pecah
menyusul bersahut-sahutan. Lalu teriakan-teriakan dan
kegaduhan terdengar dari luar ruangan. Satu-satunya
lampu di ruangan itu pun tiba-tiba mati. Gelap gulita.
Suara-suara teriakan dan umpatan susul-menyusul, seperti
orang berkelahi. Suara kaki yang berlarian ke sana kemari
juga terdengar riuh rendah.
Seorang kakak panitia masuk ke ruangan. Kami dapat
melihat wajahnya dalam samar, karena di belakangnya
mengiringi seorang dewasa yang mukanya ditutup sebo
dengan sarung melingkar di pundak serta badannya, dan
sebuah senter panjang menyala. Sosoknya yang tinggi
kurus dan tampak sangat gusar, menjadikan ruangan kecil
itu mencekam. Kami ikut-ikutan panik melihat situasi
yang makin mencekam. Suara teriakan orang tak henti
dan suara benda pecah terus saja terdengar.
113
http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS
“Anak MAN menyerang kita,” ujar kakak panitia itu
melapor. Sosok bersebo itu hanya diam. Matanya nanar.
Kami terpaku, makin was-was.
“Tenang, adik-adik. Tidak apa-apa. Ini sudah biasa, dan
kami akan menanganinya. Di luar banyak kakak-kakak
kalian dan kita sedang konsolidasi,” ujar Kak Aldiansyah
berusaha menenangkan kami. Suaranya berwibawa,
kendati ada nada kepanikan.
Suara-suara di luar mulai mereda. Namun sekali-
kali batu melayang juga menghantam atap seng. Suara
kaca pecah masih terdengar. Kak Aldiansyah terus me-
nenangkan kami yang mulai emosi. Haris ingin keluar
menghadapi anak-anak MAN itu. Suhadi juga tampak tak
terima. Adamrino dan Jundi, duo Jambi sudah naik pitam.
Sebagian besar kami berdiri dengan emosi memuncak.
Tapi Kak Aldiansyah menenangkan kami. Kemudian,
kami dievakuasi ke asrama. Kami disuruh merunduk dan
berjalan beriringan menuju asrama.
“Biar kakak-kakak kalian yang mengatasi semuanya,”
ujar Kak Aldiansyah dengan nada tenang.
Kami diminta langsung tidur. Padahal, jarum jam
belum menunjukkan pukul 22.00 WIB. Beberapa kakak
panitia tampak berjaga-jaga di luar. Sebagian dari mereka
membawa pentungan dan kayu seadanya. Wajah-wajah
tegang mereka perlihatkan. Sebagian kami bertanya-tanya
ke teman yang lain. Sebagian beristighfar. Suara-suara di
luar asrama masih terdengar, mirip orang bertengkar. Kami
gundah. Namun kakak-kakak itu menyuruh kami tidur
dengan rasa penasaran, rasa ingin tahu yang mendalam.
Suara kegaduhan itu perlahan mereda, suara kami pun
mulai tenggelam dalam dingin. Namun sebelum benar-
114
http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT
benar larut dalam mimpi, hatiku bertanya-tanya, bisakah
pemuda-pemuda seperti kami ini menjadi pemimpin
kelak? Jawaban yang kuterima samar ditelan mimpi.
***
115
http://facebook.com/indonesiapustaka 9
Tersangka
Qum, qum! Bi sur’ah! Bangun, bangun! Cepat!”
“Cepaaaat!”
“Ayo, keluar semuaaa!”
“Tidak ada lagi yang tidur. Banguunnn!”
Suara-suara itu lantang terdengar, menyentakkan ke-
sadaran kami dari lelap. Satu per satu kami terbangun
dan dengan rasa malas berusaha untuk bergerak. Yang
masih pulas dibuai mimpi harus menerima akibatnya, di-
siram dengan kejam tanpa ampun. Masing-masing kena
seember kecil. Guyuran dinginnya air Koto Baru menerpa
wajah-wajah yang masih lelap, tentu membuat gelagapan
seketika. Dalam tempo kurang dari lima menit, semua
sudah terbangun.
Kami digiring ke atas, menapaki anak-anak tangga de-
ngan beribu pertanyaan dan kegalauan. Peristiwa semalam
http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT
belum sepenuhnya hilang dari memori. Kini, entah apa
yang akan terjadi. Dalam senyap, kami merayapi anak
tangga dengan tergesa. Setiap suara yang keluar akan
dibentak dan disuruh diam. Tak boleh satu patah kata
pun yang terucap. Kami dikumpulkan di tengah lapangan
basket, berbaris tiga shaf.
“Tahu kenapa kalian dikumpulkan di sini?” Kak
Aldiansyah memulai pertemuan itu dengan pertanyaannya.
Kakak-kakak yang lain mengelilingi kami. Ramai sekali.
Kami diam dalam kantuk dan pertanyaan yang meng-
gelayuti kepala.
“Sebagian dari kalian telah melakukan tindakan
bodoh dan memalukan!”
Kami membisu.
“Ada lima orang di antara kalian yang telah men-
coreng nama MAK. Kalian harus tahu, kami sudah de-
ngan susah payah membangun nama baik sekolah ini,
kekhususan kami. Akhlak dan perilaku kami jaga sebaik-
baiknya. Tahu-tahu, ada di antara kalian yang berbuat
kotor, memalukan. Kalian mencoreng muka kami,” ujar
Kak Aldiansyah dengan nada tinggi. Suaranya bergetar.
“Sekarang, sebelum kami sebutkan. Mengaku saja.
Siapa yang berbuat, maju!” seorang kakak berkumis tebal
kemudian mengeluarkan suara, Kak Saifullah, begitu dia
biasa dipanggil, ketua panitia acara ini.
Kami diam. Bungkam seribu bahasa. Titik-titik embun
terus turun mendinginkan suasana di tengah hati yang
terus bergolak antara bingung dan penasaran. Tak satu
pun di antara kami yang berani angkat bicara. Kak Saiful
terlihat berbisik kepada Kak Aldiansyah.
117
http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS
“Baiklah. Saya sebutkan saja. Ada pengaduan bahwa
di antara kalian ada yang mengintip anak Aspi1 mandi di
talago. Dua orang. Satu orang berani melawan kakak kelas
dan guru, dan dua orang lagi terlibat kasus pencurian.”
Kak Aldiansyah berbicara sambil matanya menatap
kami dengan tajam. Sebagian besar kami menunduk. Kami
tak berani kepada kakak-kakak ini.
“Ayo mengaku saja! Cepaat! Gara-gara kalian anak
MAN marah dan bertingkah. Kami yang kena!”
Kami diam. Semuanya. Kakak-kakak yang mengelilingi
kami juga membisu. Cukup lama untuk suasana yang
dingin dini hari seperti itu, tanpa jaket pula. Kakak-kakak
ini tak memberi kesempatan kami untuk memakai jaket.
Bahkan, yang sudah memakai jaket pun diminta untuk
menanggalkannya di asrama.
“Karena tak ada yang mau mengaku, maka semuanya
akan dihukum. Sebelum semuanya kena, ayo mengaku
saja! Jangan korbankan kawan-kawan kalian!”
Semua tetap bungkam. Dua menit tanpa suara. Bahkan
binatang malam pun enggan memecah keheningan itu.
Mereka tampak ikut kompak membuat suasana menjadi
sunyi-senyap.
“Baiklah. Sekarang, semuanya push up dua puluh
kali. Laksanakan!”
Dengan malas dan terpaksa, kami mengambil posisi
push up, lalu melaksanakannya segera. Hukuman itu kami
tanggung bersama, karena tak ada yang mau mengaku
1 Aspi adalah asrama putri. Selain ada asrama putra untuk MAK,
ada juga asrama puteri untuk siswi-siswi MAN yang lokasinya
tak jauh dari asrama MAK
118
http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT
apa yang sudah dituduhkan itu. Inilah risiko menjadi se-
buah tim, sekaligus tanggung jawabnya. Tetapi sebagian
dari kami mengeluarkan suara tanda tak puas, kesal, meng-
gerundel, antara terdengar dan tidak. Tetap saja, tak ada
yang berani bicara dengan jelas dan lantang.
“Sekarang, agar yang lainnya tak dihukum juga, ayo
mengaku saja. Cepat!”
Semua tetap diam.
“Baiklah kalau itu mau kalian, terpaksa kami akan
membuka semuanya. Kami punya bukti perbuatan memalu-
kan yang kalian lakukan, yang menyebabkan anak-anak
MAN marah, penduduk kampung emosi, lalu MAK ini
menjadi sasaran caci maki, dilempar dan dihina. Sebelum
semuanya kami ungkapkan, sekali lagi, mengakulah!”
Tetap saja tak ada yang maju.
“Oke. Baiklah kalau begitu...!”
Kak Aldiansyah memberi isyarat. Seorang kakak maju
dan membisikkan sesuatu. Matanya mengarah pada se-
orang di sudut kanan barisan, dan seorang lagi di tengah
berdiri paling depan. Mata Kak Aldiansyah mengarah ke
dua orang yang ditunjuk itu. Lalu ia bergerak ke depan
dan memeriksa saku anak itu. Kakak yang lain menuju
sudut kanan barisan, dan melakukan hal yang sama.
“Dapat! Ketahuan kamu ya!?”
Kak Aldiansyah mengeluarkan sesuatu dari kantong
celana anak itu. Sebuah dompet, yang kukenal. Itu...
dompetku. Bagaimana bisa? Kendati isinya hanya kartu
pelajar MTs, sedikit uang, tinggal sepuluh ribu saja, namun
dompet itu sangat berharga bagiku. Ada nilai penting di
dalamnya. Itulah dompet pertamaku. Pemberian Ang Cui.
Entah bagaimana dompetku ada di saku anak itu.
119
http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS
“Nah, sekarang kamu ketahuan sebagai pencurinya.
Maju!”
Anak itu maju. Badannya gemetar. Yumsak mablul,
tertangkap basah dengan barang bukti ada di tubuhnya.
Bagaimana bisa mengelak lagi dengan barang bukti yang
begitu jelas? Aku marah, namun kasihan juga. Anak itu
maju. Ternyata Sarianto, anak Tembilahan yang baru
datang beberapa hari lalu. Matanya yang biasanya berbinar
kini redup. Mulutnya yang tak henti berceloteh, akrab
dan tak pernah lelah bercerita, kini kehilangan daya untuk
mengucap sepatah kata pun. Habis sudah keakraban dan
keberaniannya.
Hal yang sama juga terjadi pada anak lainnya di sudut
kanan barisan. Seorang anak berambut merah kepirangan,
ikal dengan sedikit jambul ala Lupus, telah menjadi ter-
sangka yang lain. Wajahnya yang putih kemerahan sedikit
kelihatan dalam keremangan. Kami mencuri pandang di
antara tatapan tertunduk. Sebuah senter dari seorang ber-
sebo ungu muda mengarah ke wajah putih merah merona
itu. Tampaklah dengan jelas muka bayinya yang merona
merah dalam sorotan senter dari jarak setengah meter itu. Ia
kelihatan begitu malu. Asmanzil namanya, anak dari Limo
Kaum, Tanah Datar, Sumatera Barat. Sepintas, muka merah
meronanya mirip dengan Pangeran Charles dari Inggris.
“Kamu juga maju ke mari!”
Asmanzil tak berkutik. Di saku celananya juga ditemu-
kan dompet bukan miliknya. Kak Aldiansyah membuka
dua dompet itu satu per satu. Lalu mengeluarkan tanda
pengenal dari dalamnya.
“Ini dompet milik Simuh dari MTs Nurul Falah,
Bagan Siapi-api, Riau. Satu lagi punya Burmal dari MTsN
120
http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT
Salido, Pesisir Selatan, Sumatera Barat. Dompet ini kami
tahan dulu sebagai barang bukti!”
Dua anak itu hanya bisa menunduk. Sejumlah kakak
lain yang dari tadi hanya diam mulai mendekati mereka
berdua dengan ekspresi gusar. Ada raut kemarahan pada
wajah mereka.
“Kami sebagai anak Riau, malu punya adik sepertimu.
Jadi maling!” seorang kakak kelas III meradang. Nyaris saja
tangannya melayang kalau tak dicegah Kak Aldiansyah.
Asmanzil juga mendapatkan perlakuan serupa dari kakak-
kakak yang satu kampung dengannya.
“Sudah-sudah. Kita hadapi saja dengan kepala dingin.
Jangan emosi!” Kak Aldiansyah menenangkan. Suaranya
terdengar berwibawa.
“Nah, dua orang sudah dapat. Tinggal tiga orang
lagi. Satu yang berani mengganggu anak kepala sekolah
dan melawan kakak kelas. Dua orang lagi yang mengintip
anak Aspi. Ayo mengaku, dan maju ke depan!”
Semua kembali diam. Dua orang tersangka yang
berdiri paling depan juga tak berani bicara. Semua mata
masih menatap lekat-lekat pada dua orang ini. Namun,
Kak Aldiansyah mulai meliarkan matanya ke anak-anak
lain yang makin tegang. Semua menunggu dengan cemas.
Tak tahu siapa tersangka berikutnya. Seorang kakak
membisiki Kak Aldiansyah, lalu terlontarlah nama itu.
“Zulfariadi Tanjung!”
Anak itu terkejut. Ia berdiri persis di sampingku. Aku
sempat melirik ekspresinya. Wajahnya yang berwibawa
dengan sisiran rapi tak bisa menyembunyikan kegusaran
yang tiba-tiba menerjang akal sehatnya.
121
http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS
“Tidak, Kak, bukan saya. Bukan saya!”
“Maju sini. Kamu pelakunya! Kamu yang berani
mengganggu anak kepala sekolah 'kan!?”
“Ampun, Kak, tidak ada. Bukan, Kak!”
Seorang kakak maju dan mendekati Zulfariadi. Anak
Solok itu gemetar.
“Ya, saya melihatnya. Dia yang mengganggu anak Pak
Mudir!2”
“Ampun, Kak, bukan, Kak!”
“Kamu juga melawan saya waktu itu. Memakai sandal
saya ke kamar mandi, lalu tak mengaku. Ayo!” Kak Saiful
kali ini yang bicara.
“Hanya pinjam, Kak!”
“Pinjam tanpa izin itu beda tipis dengan mencuri.
Kamu masuk kategori pencuri, pembangkang dan pem-
buat onar. Ayo maju!”
Zulfariadi tak berkutik. Dengan langkah gontai ia
maju berdampingan dengan Sarianto dan Asmanzil. Ia
menjadi tersangka ketiga yang harus menghadapi sidang
pengadilan di lapangan basket yang dingin dan tampak
semakin angker, menjadi arena mahkamah yang ditakuti.
“Kini tinggal dua tersangka lagi. Ini yang paling
brengsek. Penjahat susila, mengintip anak Aspi mandi
di talago. Ayo, mengaku saja. Sebelum kami menangkap
kalian dan mengungkap semua kejahatan kalian!”
Semua tetap membisu.
“Saksi dan bukti-bukti lengkap. Cepat maju saja,
jangan menunggu kami ungkap dulu semua!”
2 Mudir, sebutan lain kepala sekolah
122
http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT
Tetap saja bungkam.
“Baiklah kalau begitu. Yang namanya Suhadi dan
Azwar maju! Kalianlah tersangkanya!”
“Tidak, Kak. Onde mande, ampun, Kak. Saya tak
mengintip!” Suhadi berteriak-teriak lantang.
“Bohong. Jam tiga dini hari kemarin, kamu ke mana?”
seorang kakak yang menyaksikan langkah Suhadi mem-
berikan kesaksian, lalu langsung menginterogasi.
“Ke Talago, Kak!”
“Nah, mengaku 'kan!”
“Tapi bukan mengintip, Kak. Saya cuma mandi.
Sumpah, Kak!”
“Kan bisa di asrama?”
“Tak ada air, Kak!”
“Ah, kamu banyak alasan saja!”
“Kamu ke Talago bersama siapa?”
“Azwar, Kak!”
“Nah, makin jelas perbuatan amoral kalian berdua!”
“Bukan, Kak. Kami tak melakukan itu!”
“Tak ada alasan. Sekarang, kalian maju!”
Dua orang itu tak berkutik, dan terpaksa keluar dari
barisan menuju tempat para tersangka lain berkumpul.
Kak Saiful yang dari tadi tak begitu banyak berkomentar
kali ini maju.
“Memalukan orang Lubuk Basung saja!” sergahnya
pada dua orang ini. Azwar bergeming. Tubuhnya yang
tinggi semampai melayang-layang tak bereaksi. Dia me-
nanggapi sergahan itu dengan dingin. Sebaliknya, Suhadi
tampak santai. Kepalanya yang sudah mulai tampak meng-
123
http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS
kilat digoyang-goyangkan. Ia maju dengan tanpa beban.
Keduanya memang berasal dari Lubuk Basung, Sumatera
Barat, dan kini kerap tampak bersama. Rupanya, sama
dengan kampung Kak Saifullah.
Lima orang tersangka telah berkumpul. Kak Aldiansyah
menatap kelimanya dengan tajam. Ia berjalan mondar-
mandir di hadapan kelima orang itu. Sesekali, ia berjalan
ke arah belakang mengelilingi kelima tersangka. Ia menarik
napas. Matanya masih lekat pada lima orang itu.
“Kalian berlima telah membuat malu korps MAK. Kalian
telah mencemarkan nama baik sekolah ini, kami semua.
Kalian telah meludahi muka kami, muka guru-guru dan
semua orang di lingkungan ini. Benar-benar memalukan!”
“Apa kata anak-anak MAN, kalau tahu ulah kalian
seperti ini?”
“Bikin malu saja!”
Kami tertunduk. Apalagi kelima orang di depan itu.
Kecuali Suhadi yang tampak tak begitu hirau. Usianya
yang lebih banyak dari kami semua, menjadikannya lebih
matang dalam bersikap.
“Apa kalian masih merasa berhak di sini? Saya rasa
tidak. Kalian tak lagi memiliki akhlak yang bisa dibangga-
kan. Kalian tak cocok di sini!”
Seorang kakak kemudian menyerahkan sebuah map
kepada Kak Aldiansyah. Semua tegang dan menunggu apa
yang akan terjadi. Kak Aldiansyah membaca sepucuk surat
yang tertera dalam map itu. Mulai dari tanggal hari itu,
judul surat keputusan, nomor surat, menimbang dan se-
terusnya, mengingat dan seterusnya, memperhatikan dan
seterusnya, semua dibacakan dengan lantang. Ternyata,
itu surat dari kepala sekolah, terlihat dari judulnya.
124
http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT
“Menyatakan, bahwa nama-nama yang tertera di bawah
ini: Asmanzil, Azwar, Suhadi, Sarianto, dan Zulfariadi,
dinyatakan bersalah telah melanggar kode etik Madrasah
Aliyah Khusus...!”
Kak Aldiansyah menghentikan kalimatnya. Jantung
kami berdebar. Entah apa yang akan terjadi pada lima
anak itu.
“Memutuskan, bahwa kelima siswa yang disebutkan
di atas, diberhentikan dengan tidak hormat dari madrasah
ini...!”
Kak Aldiansyah masih meneruskan kalimatnya, namun
suaranya tenggelam dalam sebuah tangisan dahsyat.
Zulfariadi telah bersimbah air mata. Titik-titik bening
mengalir deras dari dua sudut matanya, meloncat ke sana
kemari tak beraturan. Tak hanya itu, ia juga meraung-
raung memecah kesunyian malam. Ia melolong-lolong bak
serigala kehilangan anak, menyebut apak-amak, hingga
nenek moyangnya, meminta ampun sepuluh jari. Suara-
nya membahana memantul-mantul jauh, melengking, dan
memasuki ruang kelas, menelusuri kebun serta hutan. Suara-
nya membahana dan cukup kuat untuk membangunkan
binatang yang sedang terlelap tidur, menyentakkan semua
makhluk hidup, tanpa kecuali. Jin-jin pun akan terpana
mendengar raungan itu. Begitu memilukan. Ia bahkan
bergolek-golek di lantai sambil menghentak-hentakkan
kakinya. Sedu sedan itu berlangsung lama, mengharu biru
dan menggugah kami yang tersisa dalam penyaksian yang
tak jelas harus berbuat apa. Sebuah keputusan yang tak adil,
tak bisa dimengerti dan absurd telah lahir, menghancurkan
masa depan anak itu.
Kulihat Sarianto juga menitikkan air mata. Asmanzil
berkaca-kaca, seperti juga mata sebagian besar dari kami.
125
http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS
Namun, Suhadi tetap santai. Sementara Azwar bergeming.
Matanya tetap kukuh, dan mulutnya mengatup kuat
dalam diam seribu bahasa. Pandangannya lurus ke depan,
fokus tak berkedip.
Kakak-kakak yang lain berusaha menenangkan
Zulfariadi yang tak mau berhenti menangis dan meraung-
raung di tepi subuh yang akan menjelang. Namun raungan
itu tetap tak mau berhenti. Mata Sarianto sudah sembab.
Asmanzil juga tak kuasa menahan pedih.
“Sudahlah. Kalau begitu, SK ini saya batalkan saja,”
ujar Kak Aldiansyah kemudian. Ia merobek surat yang baru
dibacanya menjadi serpihan kertas-kertas kecil. Sebuah
antiklimaks baru saja terjadi. Kami heran. Zulfariadi
berhenti meraung seketika. Ia memandang ke arah Kak
Aldiansyah dengan pandangan tak percaya.
“Selamat untuk kalian semua. Kalian diterima di
asrama, bergabung bersama kami,” lanjutnya. Setelah
itu, tepuk tangan membahana. Zulfariadi tak tahu harus
mengatakan apa. Ia tersenyum, sepanjang subuh, mungkin
sepanjang bulan dan tahun. Semringah sekali. Sebuah
lakon yang tak akan pernah dilupakan, kini menjadi
bagian dari memori hidupnya. Kami semua merasakan
hal yang sama. Aku juga masih terpana, sampai Kak Saiful
menyalami dan mengembalikan dompetku.
“Tadi tertinggal di kamar mandi, ya?”
Aku berusaha mengingat-ingat, lalu mengangguk
pelan.
***
126
http://facebook.com/indonesiapustaka 10
Ego
Tahukah engkau, sobat? Konon katanya, ada tiga perkara
yang menjadikan makhluk bernama manusia ini men-
capai titik zenit egonya. Pertama, ia pintar. Kedua, laki-
laki. Dan ketiga, bertemu dengan lawan yang sepadan.
Apa jadinya, kalau semua perkara itu berpadu menjadi
satu? Itulah yang terjadi pada kami, anak-anak yang turun
dari langit dan muncul di permukaan bumi melalui tiga
provinsi. Kini, kumpulan anak-anak pintar, lelaki, dan
siap bersaing itu berada di suatu tempat, 24 jam sehari.
Formasi telah lengkap, berjumlah 40 orang dengan gaya
dan latar belakang yang berbeda-beda. Mulai dari bangun
tidur hingga tidur lagi, 40 ABG ini harus melakukan ke-
giatan bersama, kolektif, dan seirama.
Bukan sesuatu yang mudah memadukan anak-anak
yang begitu beragam gaya dan latarnya. Kami bukan se-
buah komunitas yang secara naluri dapat menyatu dengan
http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS
sendirinya. Sebagaimana bangau yang terbang dalam
formasi V yang begitu indah. Anak-anak langit ini bukanlah
sekelompok bangau dengan insting alaminya, mekanisme
biologisnya seirama, orkestranya padu. Sekali lagi bukan.
Mereka adalah sekelompok makhluk dengan egosentris
luar biasa, dengan kehendak-kehendak beragam. Satu ego
akan bertemu dengan ego yang lain, sama besarnya, sama
kuatnya. Maka benturan akan kerap terjadi. Pasti. Saat itu
terjadi, tentu perlu solusi bersama. Ada sederet persoalan
yang menanti di sana.
Pertama-tama soal kamar. Ternyata, kamar-kamar di
asrama Darul Falah kami bukan sekadar ruangan simetris
berbentuk kubus yang sama ukuran, bentuk, dan fasilitas
penunjangnya, mulai dari tempat tidur dengan seprei
putih hingga lemari dua pintu. Tapi, setiap unit memiliki
nilai yang berbeda, unik, dan tak ada duanya. Dan para
lelaki pintar dalam ranah kompetisi, akan membacanya
sebagai teks yang beragam pula. Di tempat kami ini,
kamar yang bernomor genap bernilai lebih strategis dari
segi apa pun. Mendapat cahaya matahari petang, meng-
hadap pemandangan asri Gunung Singgalang, leluasa me-
mandang dapur umum, asrama kelas tiga dan kelas dua,
serta panorama persawahan yang menyejukkan hati. Udara-
nya juga lebih segar, karena jendela menghadap pohon
peneduh di samping asrama. Tidak hanya itu, aroma
sedap masakan kadang tercium menggoda selera. Nyam-
nyam. Tentu yang bisa menikmatinya hanya mereka yang
tinggal di kamar bernomor genap.
Sebaliknya, kamar bernomor ganjil memiliki jendela
yang menghadap tembok tinggi dengan kawat berduri di
atasnya. Di balik tembok itu, ada semak belukar dan pe-
128
http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT
pohonan tak terawat. Sekelompok betung tua dan gedung
sekolah MAN di kontur tanah tinggi menutupi pandangan
ke arah Gunung Merapi. Tak tampak sedikit pun jua.
Sesekali, terdengar binatang malam yang melolong-lolong
dari pepohonan itu. Pasti banyak ular, juga binatang
liar lainnya di sana. Di samping deretan kamar ini pula
septic tank dibuat, sehingga pada musim-musim tertentu,
aroma tak sedap menyeruak masuk ke kamar. Yang paling
ekstrem dan menyeramkan, di sana terdapat dua kuburan
yang entah mengapa letaknya persis di samping kamar.
Satu kuburan orang dewasa terletak di samping kamar
sebelas, dan satu lagi kuburan bayi di samping kamar
sembilan. Entah apa yang terpikir oleh orang-orang yang
membangun gedung ini, septic tank di samping kuburan!?
Sungguh aneh tapi nyata. Benar-benar pelecehan terhadap
harkat dan martabat kemanusiaan.
Begitu tirai jendela dibuka, maka terlihatlah dua
kuburan itu, serta septic tank agak ke belakang. Perpadu-
an yang menyeramkan dan membuat bergidik. Hampir
tak ada yang mau berkamar di samping kuburan, kamar
sebelas dan sembilan, termasuk kamar ganjil pada umum-
nya. Siapa yang mau kepalanya digapai tangan berlumur
tanah lumpur, atau selalu mendengar tangis bayi tanpa
wujud dari balik tembok? Tak ada. Bayangan dan ilusi
tentang cerita-cerita hantu itu telah menjadi paranoia yang
terlanjur bergentayangan di kepala. Kami yang hebat dan
pintar ini, anak-anak langit yang luar biasa ini, empat puluh
pemilik ego ini, tak mau berspekulasi dengan mendedah-
kan kepalanya di dekat dinding terluar dua kamar itu.
Hampir semuanya pernah mendengar kisah hantu.
Kisah itu menjadi trauma psikis tersendiri. Berbagai
129
http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS
bumbu cerita mistis mulai berseliweran. Ada cerita tentang
pocong, kuntilanak, genderuwo, hingga wewe gombel.
Kisah berbagai ilmu hitam pun keluar, seperti sijundai,
palasik dan voodoo dari Afrika. Ketika itu bergema
nyaring di telinga, lalu masuk ke benak, maka ego mulai
bicara kembali. Semua menolak menempati kamar-kamar
itu, dan ingin pindah ke kamar genap. Oleh karena itu,
keputusan harus diambil. Hanya ada empat anak untuk
satu kamar, tak lebih. Dan jumlah kamar juga hanya 10,
tak lebih. Kemudian kami memutuskan untuk mengundi
kamar, biar lebih fair. Yang tak beruntung, harus menerima
nasib. Hadapilah dengan pintar, termasuk kemungkinan
menghadapi hantu-hantu dan bau septic tank yang se-
waktu-waktu ramah menyapa. Akhirnya, satu masalah pun
selesai.
Berikutnya, soal ketertiban asrama, termasuk juga
tentang kebersihan, giliran mandi, dan keamanan. Kami
tak tahu prosedur tetap dan aturan baku seperti apa yang
pernah dilakukan para pendahulu. Yang pasti, pembina
asrama tak terlalu banyak mengurusi detail hal-hal kecil
seperti kebersihan, ketertiban, dan keamanan ini. Kami
seperti dibiarkan menentukan otonomi sendiri. Ustadz Amri
hanya mengawasi secara umum, misalnya membangunkan
dengan mengetuk pintu—dengan cara khas menggunakan
anak kunci besarnya, mengawasi kegiatan di masjid, dan
sesekali ke kamar melihat-lihat. Tak sekali pun ada rapat
atau pembicaraan antara pembina dan anak binaannya.
Tidak adanya jadwal Ustadz Amri mengajar kami di kelas,
menjadikan pertemuan dengan pembina asrama jarang
sekali terjadi. Ustadz Amri hanya membangunkan di
pagi hari ketika beliau juga hendak ke kamar mandi, lalu
130
http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT
berangkat mengajar di MAN. Malamnya, kami kadang
berjumpa di masjid atau berpapasan di lorong asrama.
Tentu saja, segala yang berkaitan dengan hal-hal kecil
asrama, mutlak menjadi wewenang kami. Maka kami
membentuk pengurus asrama, berikut jadwal piket untuk
kebersihan, keamanan, ketertiban, dan lainnya. Andi
Putra kami pilih menjadi ketua asrama selama kelas satu.
Selanjutnya berbagai aturan pun disusun dan sepakati ber-
sama. Tapi tetap saja ada masalah. Berbagai jadwal untuk
giliran mandi, kendati sempat menjadi perdebatan panas,
akhirnya tetap tak ada solusi. Karena, ada beberapa ke-
butuhan individu yang tak bisa diatur-atur. Bagaimana
mau mengatur kebelet? Tak mungkin. Jalan keluarnya,
hukum rimba saja. The sooner the better. Siapa cepat,
dia dapat yang terbaik. Yang terlambat beberapa detik
saja, harus antre lama sekali. Hanya ada empat kamar
mandi untuk 40 remaja laki-laki yang penuh ego. Tiap
pagi, pintu kamar mandi berdentam-dentam digedor,
karena kampung tengah sudah demonstrasi. Sementara,
yang di dalam kamar mandi juga tengah berjuang keras
mengeluarkan sisa makanan semalam. Pernah kudengar
dialog seperti ini, antara anak Sumbar dan anak Jambi.
“Woi, a cepatlah sedikit, tak tahan lai! Manga se di
dalam!?”1
“Tenang... tanggung nih... uuuugh, sret sret sret,
brolll!”
“Jangan lama-lama Woi, sebentar lagi bel babunyi...!”
1 Woi cepatlah sedikit. Tak tahan lagi nih. Mengapa saja di dalam?
131
http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS
“Sabar Nco,2 sedikit lagi... ugh ugh srett broll, byurrrr!”
Ketika aroma asing menyeruak dan menyerang indra
penciuman, yang menunggu di luar pun memegang
hidung, termasuk juga tetangga. Apalagi dinding empat
kamar mandi itu tak menutupi hingga ke plafon, sehingga
suara, bau dan benda abstrak lainnya dapat beranjang sana
keluar untuk menyapa hidung dan telinga. Sapaan “halo”
dari benda-benda itu dapat membuat si pembersih dan si
rapi Arif Yanto muntah-muntah. Demikianlah. Kegiatan
pagi di lorong kamar mandi itu bisa sangat hiruk-pikuk
bak pasar ikan. Akan ada sumpah serapah dan gedoran
pintu kamar mandi.
Ketika listrik PLN mati, jadwal mandi juga bisa menjadi
kendala besar, karena tak bisa memompa air ke asrama.
Akibatnya, yang bisa dipakai hanya air yang mengalir
semalam dan debitnya sangat terbatas. Yang terlambat
melakukan aktivitas harian, habislah peluangnya. Dalam
kondisi seperti itu, ada dua pilihan yang menurut kami
sama cerdasnya. Pertama, pergi ke sekolah tanpa mandi.
Sobat yang seperti ini, biasanya punya filsafat hidup,
”Kambing saja tak mandi laku jutaan, apalagi manusia”.
Tapi sungguh, di Koto Baru ini, tak mandi ke sekolah
bukanlah hal yang haram. Aku pernah melakukannya.
Satu kali, eh dua kali mungkin. Malah, ada seorang kawan
yang mandi tiap tiga hari sekali. Tiga hari tak mandi,
mandi sekali, lalu tiga hari libur lagi. Koto Baru memang
cukup nyaman untuk bersekolah dengan cuci muka saja.
Keringat nyaris tak pernah keluar, sehingga bau badan
2 Nco, dari kata konco. Anak-anak Jambi sering menyebut itu
sebagai kata kawan.
132
http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT
netral-netral saja. Apalagi kelas kami terisolasi di tempat
sepi, sehingga kami nyaris tak pernah berjumpa siswa lain,
apalagi lawan jenis dari anak-anak MAN.
Pilihan kedua, pergi ke Talago Koto Baru. Di sana
ada dua tempat pemandian umum. Satu berjarak setengah
kilometer dari asrama. Yang lain satu kilometer. Tempat pe-
mandian umum ini memiliki dinding tembok setinggi dua
meter dengan ukuran sekitar 4 x 5 meter. Airnya langsung
dialirkan melalui pipa-pipa dari Talago Koto Baru, asli
dari mata air lereng Gunung Merapi. Tapi namanya juga
pemandian umum warga, pintunya tak ada, sehingga
mandi pun tentu tak begitu nyaman. Di samping itu, kalau
listrik mati, anak-anak Aspi juga berduyun-duyun datang
kemari. Karena tak ada label men atau women pada pintu
masuknya, maka hukum alam berlaku. Rombongan yang
datang lebih dulu, ialah yang berkuasa. Biasanya, be-
berapa orang anak Aspi yang lebih dulu datang akan mem-
bentangkan kain untuk menutup pintu kamar mandi itu,
sambil berjaga di luar secara bergantian. Soal yang satu ini,
kami sangat menjaga privasi mereka. Kami masih punya
marwah dan tak punya tendensi berbuat macam-macam.
Tapi, di situlah tuduhan mengintip anak Aspi tempo hari
itu muncul saat Mapertas. Itulah rupanya.
Kalau tak terpaksa betul, berjalan jauh di pagi yang
gelap dengan senter kecil melewati jalan tikus, selebar
satu batu-bata pembatas drainase tak akan kami lakukan
hanya untuk mengejar mandi. Makanya, kalau ada yang
pergi sebelum subuh ke Talago Koto Baru, pasti akan ada
pandangan-pandangan aneh. Cengengesan. Biasanya,
sorakan nakal pun berkumandang.
“Aha, mandi besar ya!?”
133
http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS
Bagi Syarifuddin, apa yang terjadi adalah musibah.
Kalau itu terjadi, ia selalu berucap astagfirullah. Tapi
sepanjang pengetahuan kami, dia yang paling tinggi
frekuensi kedatangan ke Talago. Seperti ada janji dengan
para penunggu Talago Koto Baru di pagi-pagi buta yang
dingin. Dia tentu merupakan prototipe pemuda hebat yang
didamba para pemudi harapan bangsa di luar sana. Anak
muda sehat harapan masa depan umat manusia. Kondisi
ini agak beda dengan Adamrino yang tak terlalu sering
ke Talago. Tapi sekali ke sana, hebohnya se-Koto Baru. Ia
menganggap apa yang terjadi adalah anugerah, dan kerap
berucap alhamdulillah. Mimpi tak dapat ditebak dan itu
adalah pemberian yang tak mungkin ditolak.
“Kenapa harus disesali?” tanyanya berapologi.
Kadang muncul juga pertanyaan, kenapa lelaki ber-
mimpi? Tak lain karena ia memiliki ego yang besar, ingin
berkuasa, lebih dari apa pun. Karena egonya itulah, maka
pertanda balignya juga sesuatu yang menyenangkan ego-
nya. Dalam ketidaksadaran pun, ketika dibuai mimpi
indah, ego kaum lelaki masih bekerja. Tentu berbanding
terbalik dengan remaja putri, yang tanda balignya adalah
darah. Simbol kengerian, kesakitan, sesuatu yang menakut-
kan. Seharusnya, setiap lelaki berempati dengan ini.
Dalam hukum Islam, ada hadis yang menyatakan,
“Siapa yang melihat air, wajib mandi.” Tentu air yang di-
lihat bukan sembarang, sobat, melainkan air dari langit
asal-muasal manusia itu. Air yang disebutkan al-Quran
sebagai air hina, tapi sangat berharga bagi kelangsungan
hidup dan kehidupan manusia. Saat semuanya sudah
terjadi, ego untuk bermalas-malasan harus disingkirkan
jauh-jauh, dipadamkan, didinginkan dengan bilasan air
134
http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT
seperti yang diajarkan Rasulullah. Makanya, langkah kaki
harus diazamkan ke Talago Koto Baru—seberat apa pun
kondisinya, sedingin apa pun, sejauh apa pun. Kecuali
ingin menggantinya dengan tayamum, itu pun kalau dalam
keadaan sakit, sebagai rukhshah yang diberikan. Jika tidak,
bergerak ke Talago adalah satu-satunya cara, walaupun
kadang harus menanggung malu, menahan wajah yang
memerah. Sebab, akan ada saja yang bersorak.
“Pengumuman woi... Ada yang ke Talago subuh
hari...!”
Alamaakkk, tak tanggung malunya.
***
135
http://facebook.com/indonesiapustaka 11
Ukhuwah
Di antara asrama Darus Salam, Darul Falah, dan Darun
Najah, berdiri sebuah rumah kecil, yang sebenarnya
tak layak disebut rumah karena ukurannya yang terlalu
mini, lebih kecil dari rumah tipe 36. Di dalamnya, ada
satu keluarga dengan tiga anak yang semuanya lelaki.
Dari rumah kecil itulah plus dapur berukuran 3 x 4
meter, setiap hari kami mendapat asupan energi. Tokoh
yang ada sekarang adalah lelaki yang menjadi pembantu
umum di sana. Selain kami—para lajang tanggung penuh
ego yang sedang mencari jati diri ini, sosok lelaki kekar
penghuni rumah kecil di tengah-tengah kawasan asrama
pun demikian, setali tiga uang. Meskipun dari segi usia,
bisa dibilang tak muda lagi, tapi ego lelaki itu tak kalah
dari anak-anak muda seperti kami. Konon, lelaki memang
sulit lepas dari egonya, tak mengenal usia, ras, dan suku
bangsa.
http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT
Kendati hanya pembantu umum, tapi soal penampilan,
ia tak mau kalah. Rambutnya panjang dan terurus dengan
baik. Kaosnya polo, jaketnya juga, kadang hammer. Celana-
nya levi’s. Ia selalu memakai kaca mata rayban yang ber-
ganti model tiap waktu. Di lehernya menggantung kalung,
agaknya terbuat dari emas. Semuanya tampak sangat ber-
tolak belakang dengan profesinya di asrama MAK ini.
Kurang cocok dengan kesehariannya. Di tambah lagi,
jemari tangannya yang dihiasi cincin-cincin batu akik yang
berdelau. Hobinya mabuk. Kambing putih atau kamput
adalah merek minuman haram favoritnya. Kadang ia
pulang dalam keadaan teler. Hobi lainnya mengangkat
barbel. Tampak jelas dampak hobinya itu pada otot-otot
lengannya yang kekar, juga dada bidangnya. Perutnya
bahkan berketak-ketak, berbentuk six pack yang macho.
Pagi-pagi sebelum mengangkat beras, air, dan bergoni-
goni sayuran, ia sudah lebih dulu mengangkat barbel-
barbel besar, sambil mematut-matut dirinya di kaca tinggi
di samping rumah kecil itu.
Setahuku, Mas Kasno, nama lelaki itu, tak punya pe-
kerjaan lain, selain membantu sang istri memasak nasi,
sayuran, dan kacang hijau. Itu pun angin-anginan. Kalau
ia sedang tak mood, maka tugas itu dapat beralih ke siapa
saja yang kebetulan melintas di sekitar dapur. Tugas lelaki
itu memang hanya di bagian pembantu umum. Tak lebih.
Tentu saja ia bukan siapa-siapa, bukan tokoh utama bagi
kami. Kalau kami tak berpapasan di dapur, nyaris saja ia
tak dikenal. Sedangkan aku pengecualian. Tempat tidurku
di lantai II kamar empat, mengarah persis ke dapur. Tiap
pagi, perilakunya dapat kulihat dengan jelas. Tokoh
utama kami yang sebenarnya adalah Mbak Karti, seorang
137
http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS
perempuan bersahaja, yang dengan tekun membesarkan
ketiga anak lelakinya, Purnomo, Patrio dan Anang.
Untuk mencari nafkah tambahan, ia bisa melakukan
apa saja, yang penting halal. Dari jualan makanan ringan
sampai jualan jamu. Dan anak-anak yang tinggal di asrama
adalah pasar potensial yang ia garap. Tiga asrama MAK,
plus asrama putri. Aktivitas itu cukup banyak menyita
waktunya, hingga nyaris tanpa istirahat. Namun begitu,
apa yang dilakukan Mbak Karti tak sepenuhnya berkenan
di hati sang suami. Apalagi, tokoh antagonis ini termasuk
tipe orang yang ringan tangan. Sehingga, tak jarang tangan
kekar hasil dari olah otot mengangkat barbel itu nyasar ke
wajah Mbak Karti. Rintihan tangis pun pecah, menyayat-
nyayat dinginnya malam. Suara itu, tangisan seorang ibu.
Kadang, pagi-pagi kami masih menemukan wajah
sembabnya. Namun ia selalu berusaha menutupi duka lara
itu dengan senyum penuh ketegaran. Bagi Mbak Karti,
tidak ada istilah KDRT dalam kamus hidupnya. Apa yang
dialaminya itu dianggap biasa saja. Ya, istri harus selalu
sabar dan pengertian terhadap suami. Ia tak pernah me-
lawan atau membantah, kendati siapa pun tahu tak ada
yang rela disakiti. Semut pun akan menggigit ketika di-
injak. Kalau sudah begitu, tinggallah kami yang merasa
miris melihat nasibnya, mata sembabnya, dan duka hatinya
yang senantiasa terbawa hingga pagi tiba. Kami tak bisa
berbuat apa-apa, hanya mengurut dada kalau mendengar
tangis sendunya. Siapa yang berani pada lelaki tinggi besar
nan kekar itu?
Paradoks. Mungkin itu kata yang tepat untuk Mas
Kasno. Kendati sering bertengkar, lelaki kekar itu ternyata
sayang sama istrinya. Terutama anak-anaknya. Kadang, ia
138
http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT
terlihat menggendong anak bungsunya dengan bangga.
Ia mengangkat bayi mungil berumur satu setengah tahun
itu bak barbel, berkali-kali sambil tersenyum bangga. Se-
sekali, ia menggoda bayi mungilnya, mengajaknya ber-
tinju, berlatih jalan, tertatih-tatih, jatuh bangun. Ia juga
kerap melemparkan sang buah hati tinggi sekali, lalu me-
nyambutnya dengan suka cita. Kendati awalnya pucat
pasi, sang anak akhirnya kembali tertawa riang dengan
lambungan-lambungan ritmis. Lelaki itu bagaikan singa
yang melatih anaknya berburu, menerkam, menggigit,
namun tak melukai. Sangar, berotot, keras, namun penuh
cinta. Ketika hatinya sedang berbunga bersama si kecil
Anang, tak tampak kegarangan di wajahnya. Dengan
Mbak Karti pun sesekali bisa tampak sangat serasi dan
harmonis. Tentu ketika mood-nya lagi baik, penuh de-
ngan kasih sayang. Ah, entahlah. Kadang cinta memang
terlalu rumit untuk dipahami. Melihat semua yang telah
terdedah, aku makin bingung mengartikan makna cinta.
Absurd.
***
Bagi kami, masakan Mbak Karti adalah sumber energi
tiada dua, tak tergantikan. Tugas utama kami di MAK ini
adalah belajar, dengan memanfaatkan waktu semaksimal
mungkin. Tak ada tempo untuk memasak sendiri, yang
tentunya menyita waktu belajar. Kebijakan ini merupakan
bagian dari fasilitas yang dijanjikan. Setelah masuk asrama,
kami memang mendapatkan sebagian fasilitas yang dijanji-
kan tersebut. Kendati uang sekolah dan seragam tetap
membayar seperti siswa lainnya, namun fasilitas asrama
berikut perangkatnya digratiskan. Soal makanan, tak bisa
139