The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Anak-Anak Langit by Mohd Amin MS (z-lib.org)

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by iislatifah96, 2021-12-05 22:46:16

Anak-Anak Langit by Mohd Amin MS (z-lib.org)

Anak-Anak Langit by Mohd Amin MS (z-lib.org)

http://facebook.com/indonesiapustaka 19

Midun

Petang itu, setelah sebulan berlalu kisah Pak Jalil
tentang orang-orang Bunian, aku merasa sedang sial
sekali. Sejak pagi, hujan turun tiada henti. Jemuran tak
sedikit pun menunjukkan tanda-tanda akan kering, karena
mentari sama sekali tak mau menunjukkan sinarnya. Kami
dikepung hujan sepanjang hari, diselimuti dinginnya Koto
Baru yang membuai. Jika tak ada tekad baja, tutorial
pun malas kujalani. Hujan sepanjang hari baru terhenti,
kala sang surya yang sejak pagi malu-malu bersembunyi,
mulai condong ke ufuk Barat. Matahari tua sudah tinggal
sepenggalah di balik Singgalang. Dalam lima belas menit,
puncak gunung menelan cahaya besar tersebut tanpa ter-
sisa sedikit pun. Tinggal rona biasnya saja yang masih
semburat di langit senja.

Saat-saat genting itulah, aku teringat sesuatu yang sangat
penting, yang menjadikanku merasa sedang sial. Seluruh

http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT

pakaian dalamku masih basah diguyur hujan seharian. Saat
pulang sekolah di siang hari, aku sempat berniat meng-
ambil semua jemuran yang kucuci subuh hari, ketika belum
ada tanda-tanda mau turun hujan. Hujan deras yang ber-
kepanjangan menghapus semua rencana itu. Semuanya men-
jadi lebih basah dibanding saat kujemur. Yang gawat tentu
saja sempak, celana dalam itu. Ada tiga belas buah, tapi
basah semua. Esok hari, tak mungkin aku pergi ke sekolah
dengan pelindung basah seperti itu. Apalagi kalau nekad
tanpa celana dalam. Wow! Pantang sekali. Kalau malam
mungkin bisa diantisipasi dengan memakai kain sarung.
Untuk sekolah esok harinya? Tak ada jalan lain. Tentu solusi
yang paling cerdas adalah membeli perkakas baru.

Aku menghitung waktu di ambang senja yang meng-
gantung. Perjalanan pergi sekitar dua belas menit, pulang
juga dua belas menit, lalu di toko Pak Jalil tujuanku sekitar
lima menit. Ada bonus satu menit untuk cadangan waktu
menyeberang jalan kalau banyak bus-bus besar NPM yang
melintas. Tiga puluh menit waktu yang tersedia, kurasa
cukup untuk sampai kembali ke asrama sebelum Magrib.
Maklum saja, Pak Amri sedang mengetatkan jadwal shalat
Magrib di masjid. Aku tak mau ketinggalan, serta masuk
dalam daftar catatan hitamnya.

Dengan agak berlari, kukumpulkan seluruh energi
menuju toko “Berkah Ilahi” Pak Jalil. Haris yang sempat
bertanya, “Mau ke mana?” Nyaris tak kugubris. Aku men-
jawab sekenanya saja. Di kepalaku hanya fokus, celana
dalam dan Pak Jalil. Aku tak ingin ketinggalan semuanya,
membeli perkakas hebat itu dan shalat Magrib tepat waktu.
Semua harus terlaksana dengan waktu tersisa yang semakin
kritis. Dengan beban yang berat itu, perjalanan ke toko Pak

241

http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS

Jalil terasa begitu lama. Padahal, setelah sampai di depan
toko itu, waktu yang terpakai hanya sepuluh menit saja,
lebih cepat dua menit dari biasanya. Tentu beda kalau jalan
sambil bersantai, bisa dua puluh menit atau lebih.

Toko Berkah Ilahi itu sepi. Pasar Koto Baru juga sepi,
karena hari itu memang bukan hari pasar. Kamis petang
yang diam kudapati di depan toko Pak Jalil. Timbul per-
tanyaan besar dalam hati, kenapa pasar ini begitu lengang?
Apakah perempuan-perempuan Bunian telah menguasai
Koto Baru? Pikiranku melayang ke cerita Pak Jalil di
ambang senja yang redup. Tidak. Pasti hanya sebuah
kebetulan. Benar saja, karena sejurus kemudian kulihat
denyut kehidupan di seberang jalan.

“Kopi ciek, Ni!”1
Itu adalah permintaan khas pengunjung di Lapau Koto
Baru. Di seberang Pasar Koto Baru memang berjejer lapau-
lapau yang menjual minuman dan makanan ringan. Kopi
panas dan teh telur adalah minuman favorit di sini. Di
petang yang baru saja lepas dari basah, mengopi tentu sangat
nikmat. Baru kusadari, renyai hujan kadang masih terasa
dan semangatku mengejar deadline telah menjadikanku tak
merasakan rintik hujan itu. Pantas saja tak ada yang datang.
Akulah yang pertama, dan lelaki bersarung itu yang kedua.
Aku meliriknya sekilas. Ia tampak tersenyum menyeringai
dari seberang jalan. Sesekali senyumnya lenyap ditelan bus
NPM dan truk sayur yang lewat dengan suara menggelegar.
Toko Pak Jalil tetap saja sepi.
“Pak Jalil... Pak!”
Diam. Tak ada jawaban.
“Pak Jalil, O Pak!”

1 “Kopi satu, Kak!”

242

http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT

Tetap saja senyap. Aku menunggu detik demi detik
yang berlalu begitu cepat. Lelaki di seberang jalan melirik
kepadaku, bibirnya tetap menyungging dengan senyumnya
yang menyeringai.

“Pak... Pak Jaliiiil!”

Sunyi, hanya sesekali suara kendaraan lewat, renyai
hujan dan lagu-lagu daerah, agak hilang timbul, mungkin
dari radio. Suara-suara itu muncul bergantian, kadang
mendadak ditingkahi dengan suara bus-bus NPM. Aku
melihat ke sekeliling toko Berkah Ilahi, tetap kosong
melompong. Pandangan kuarahkan kembali ke lelaki di
seberang jalan. Ia tetap tersenyum menyeringai penuh
misteri. Kali ini, aku membalas senyumnya, sekadar ber-
basa-basi. Sebuah truk tiba-tiba datang dan melambat, lalu
parkir di samping lapau. Lelaki itu hilang ditelan truk.
Kualihkan pandangan kembali ke arah toko Pak Jalil. Dan
pemandangan di depan mataku berubah drastis, sungguh
luar biasa. Keindahan yang sempurna telah terdedah. Tak
terkira dengan kata-kata, yang membuatku terpesona,
diam ternganga. Dengan jarak pandang hanya 30 senti
meter, tepat di depanku berdiri sesosok bidadari yang
begitu elok rupawan. Mataku tancap ke mata indahnya.
Ia juga menatapku. Pandangan kami bersirobok. Ia ter-
senyum ramah. Renyah sekali. Aku pun mulai bertanya-
tanya dalam hati. Apakah ini sosok peri atau orang Bunian
Gunung Merapi? Aku tak sempat berpikir jernih, karena
sudah begitu terpesona. Mabuk kepayang. Jantungku
berhenti berdetak. Dunia seakan juga berhenti berputar,
detak Jam Gadang Bukit Tinggi stop sementara diikuti
jarum jam lainnya. Aku terbuai. Rasanya seperti makan
kacang tumbuk asli Bagan. Manisnya terasa lama, sampai
ke relung hati terdalam.

243

http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS

“Uda... Uda mencari sesuatu?”

Kalimat itu begitu manis terdengar, membuyarkan
lamunan indahku. Ia memanggilku “Uda!” Ahai. Saat
itulah aku tahu yang di depanku manusia biasa bukan
bidadari, peri, atau orang Bunian yang sedang menggoda.
Bibir yang mengeluarkan kalimat-kalimat itu begitu
memesona. Suaranya lembut, empuk sekali, selaras de-
ngan wajahnya yang rupawan dan posturnya yang tinggi
semampai. Keramahan yang sama dengan Pak Jalil kurasa-
kan. Hatiku damai. Ingin kukenang terus kalimat yang
baru keluar dari bibir itu, kuulang lagi perlahan dalam
memori yang tersisa. Ia tersenyum. Hatiku runtuh.
Lututku goyah, hampir jatuh tak kuat menahan beban
di dada, saat melihat senyumnya yang elok menawan.
Tak kulihat gaya senyum Pak Jalil di sana. Ah, itu adalah
senyum Bu Jalil. Aha, ini pastilah anaknya. Perpaduan ke-
ramahan dan kecantikan, alangkah indahnya. Agaknya,
dari tadi gadis ini berada di seberang lemari kaca mencari
sesuatu. Dari bawah lemari kaca itu juga terdengar suara
radio AM siaran Bukit Tinggi, sehingga barangkali dia
tak mendengarku yang memanggil dalam renyai hujan.
Sekarang ia muncul tepat di depan hidungku.

“Uda! Uda mencari sesuatu?”

Aku terkesiap. Mulutku tetap terkunci. Ia memberikan
pesona luar biasa yang menjadikanku tergetar dan tak
dapat berkata apa-apa. Wajahnya mengingatkanku pada
Desi Ratnasari dalam sinetron TVRI yang begitu terkenal
di tahun 1991, Sengsara Membawa Nikmat. Aku jadi ter-
ingat dialog-dialog dalam sinetron yang bersetting Ranah
Minang itu. Midun yang diperankan Sandy Nayoan,
dan Halimah diperankan Desi Ratnasari. Ketika Midun

244

http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT

dipenjara karena difitnah, Halimah membawa makanan
rantang untuknya. Midun berkata dengan penuh takzim,
“Ambo ini orang hukuman, terbiasa makan ransum beras
bercampur gabah.” Lalu Halimah berkata pula, ”Jadi, Uda
menolak makanan yang sudah payah-payah saya masak
ini?” Midun berkata lagi, “Bukan begitu Uni, Ambo takut
jadi tidak terbiasa makan makanan penjara.” Dialog itu
terngiang di kepala, begitu sosok perempuan luar biasa di
depanku mengulang pertanyaannya. Begitu mengesankan,
romantis dalam kesederhanaan. Itu yang kulihat dari
tampilannya, sederhana namun memikat. Ada lagi sesuatu
yang kuingat dan menjadi kalimat yang paling dahsyat
dalam sinetron itu. Waktu itu Midun berkata, “Uni,
barang Uni jatuah!” Alangkah perhatiannya, kalimat yang
dapat membuat hati perempuan mana pun runtuh. Aku
segera ingin menjadi Midun. Tapi mulutku terkunci rapat
sekali. Tak sanggup menanggung semua anugerah yang
begitu cepat datang. Aku tak siap.

“Udaaa? Capeklah! A yang Uda cari?”2

Ia cemberut. Tapi yang kulihat dalam temaram senja
adalah keindahan yang bertambah-tambah, alami tak
dibuat-buat. Aku tak tega membiarkannya bertanya terus.
Sudah tiga kali, dan belum ada jawaban dariku. Padahal,
selain sebagai gadis muda berwajah artis, ia tentu sudah
diajarkan bisnis oleh Pak Jalil, yang akan memperhatikan
efisiensi waktu dan pelayanan kepada pelanggan. Ia pasti se-
orang calon pebisnis profesional yang masa mudanya sudah
mulai digunakan untuk belajar bisnis kecil-kecilan di toko
bapaknya. Seperti saat senja gerimis yang romantis itu.

2 Abang, cepatlah, apa yang abang cari!

245

http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS

Aku segera ingin mengeluarkan jawaban, agar
transaksi bisnis kami bisa lancar. Ia pebisnis profesional,
dan aku harus menghargai itu. Tentu dengan kalimat
terbaik yang akan memberikan kesan padanya, seperti
Midun kepada Halimah. Tapi mulutku terkunci, tergagap
dalam trauma kata-kata. Apalagi yang akan kusampaikan
adalah kalimat yang kurang elok dikatakan pada seorang
gadis muda nan rupawan. Ngg, mau... mau beli celana
dalam! Eh anu sempak. Aduh bukan, itu kolor, yang hijau
ya! Kolor ijo! Dua biji!

Ya ampun. Tidak. Kalimat itu terlalu vulgar untuk
disampaikan di depan Desi Ratnasari yang anggun ini.
Di mana wibawa seorang Midun menyampaikan kalimat
tolol seperti itu. Tentu sangat memalukan. Aku dalam
dilema. Mulutku tetap terkunci. Aku mencoba beberapa
alternatif, misalnya menyerahkan uang sambil menutup
muka dan menyebut pelan, Uniii! tolong, celana dalam
dua! Cepat sikit, ya! Kalimat ini sangat lembut sekali, de-
ngan ayunan khas Melayu di awal dan ujungnya. Atau
kubuat kalimat yang bernada keras, dengan sedikit
ancaman, mirip perampok yang menodongkan pistol
FN sambil menyodorkan kantong uang. Angkek tangan!
Sarawa kotok ciek...eh, duo. Capek saketek!3 Alternatif
lain, kutulis saja permintaan transaksi di selembar kertas

3 Angkat tangan. Celana dalam satu, eh dua. Cepat sedikit!
Ungkapan sarawa kotok sendiri biasa dipakai di Sumatera
Barat, kadang dengan konotasi kurang elok. Padahal konon
di kalangan santri, istilah ini berasal dari bahasa Arab, yakni
sirwal al-qat’i. Sirwal artinya celana panjang, dan qat’i artinya
terpotong. Sirwal al-qat’i (dapat dibaca sirwalul qata’ atau
simpelnya sirwalul kotok) berarti celana panjang yang terpotong
atau celana pendek, identik dengan celana dalam.

246

http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT

sambil menyerahkan uang. Aku tunggu dia mengambil
benda keramat itu. Setelah mendapatkan barang itu, aku
akan lari terbirit-birit, atau bersiul-siul sendiri seperti tak
terjadi apa-apa. Semua alternatif itu membuatku pusing
sendiri. Mau muntah. Oh, God!

“Udaaa!” ujarnya dengan nada lembut, membuat
telingaku terasa digelitik dan dibuai sihir kalimatnya.

“La dakek maghrib Da!?”4
Ia mengingatkan dengan lembut sekali. Kali itu aku
tergugah. Sekelebat, aku teringat wajah Pak Amri.
“Ee iyo, Uni. Itu, mau beli sara... ahh, ce... cela...eh
bukan. Anu ee, apo, itu...kol... Anu, sem... sem... sen... aaa
sendok!”
“Sendok?”
“Eh, iya. Sendok. Sendok! Betul, sendok!”
“Indak salah, Da?”5
“Tidak. Iya, sendok. Untuk makan!” Aku nyengir,
lalu menirukan gaya makan dengan sendok. Berusaha
tegar dalam ragu. Gadis itu membaca keraguanku, juga
kegugupanku. Dia tersenyum simpul penuh makna. Tapi
sebagai pebisnis sejati, ia tak perlu banyak tanya keperluan
pelanggan. Sendok untuk apa? Mencari tergopoh saat
menjelang Magrib di rintik hujan? Ah, alasan!
“Bara, Da?”6
Aku mengisyaratkan telunjuk. Tak berani melihatnya,
apalagi berkata-kata.
“Salusin?”

4 Sudah dekat maghrib, Bang!
5 Tidak salah, Bang?
6 Berapa Bang?

247

http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS

“Sa... Satu!”
Aku benar-benar kikuk. Entah apa yang kujawab. Ia
tak mau bertanya lagi, kendati pastilah Desi Ratnasari ini
tertawa setengah mati di dalam hatinya. Tapi lagi-lagi,
sebagai seorang calon profesional muda ia tak banyak
mengeluarkan sikap yang bisa menyebabkan pelanggan
tersinggung. Ia ambilkan sebilah sendok keramat itu.
“Berapa, Ni?”
“Duo tali, Da!”7
Aku mengeluarkan uang lima puluh rupiah sesuai
permintaannya. Dan transaksi pun terjadi antara dua insan
yang beranjak dewasa. Sah. Lalu dengan tingkah yang paling
bodoh, aku beranjak dari hadapannya. Tak sempat lagi
berbasa-basi, atau sekadar ucapan sampai jumpa. Sekilas
kulihat dia menutup mulut dengan jari lentiknya. Ia pasti
tertawa cekikikan, kendati tak kudengar. Aku merasakan
pandangan matanya menghunjam punggungku, dalam
sekali, menembus ke dada. Menyesakkan. Menggetarkan
semua isi jantungku. Pandangannya bagai panah yang me-
nancap dengan tali erat yang masih di genggamannya.
Sesekali, dia menarik tali itu hingga aku kembali terseret
ke belakang. Aku merasakan perjalanan pulang itu lama
sekali, seolah tak pernah beranjak dari hadapannya. Dari
mulutnya seakan terlontar aba-aba, satu...dua...kiri...
kanan...kiri...kanan...kanan. Menggodaku dalam gugup
tiada tara. Aku jadi kerap salah langkah. Keringat dingin
keluar. Ditambah lagi di tanganku ada sebilah sendok sakti
mandraguna. Sebuah sendok antik yang tak akan terlupa.

7 Duo tali berarti lima puluh rupiah. Setali adalah sebutan untuk
dua puluh lima rupiah.

248

http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT

Lamat-lamat kudengar azan Magrib berkumandang dari
masjid di sekitar Koto Baru. Suaranya beradu dengan
suara Rasyid yang mendayu merdu memanggil-manggil
dari kejauhan dari toa Masjid Nurul Hikmah. Kucepatkan
langkah. Aku sudah terlambat, terlena dunia.

***

Akhirnya, aku memang terlambat sampai ke masjid, dan
sudah pasti masuk dalam daftar catatan hitam Pak Amri.
Kendati hanya sekadar catatan, kami gentar juga dengan
ancaman beliau. Jika poinnya banyak dan mencapai limit
tertentu, maka bersiaplah dihukum. Apa itu? Kami pun tak
tahu. Belum pernah Pak Amri benar-benar mengeluarkan
hukuman. Paling tinggi, hanya nasihat. Wacana memang
pernah, misalnya dibotak, diskors, atau dikeluarkan. Tapi
tak pernah ada realisasinya.

Bagiku kali ini, bukan itu yang merisaukan. Tapi
hari-hariku yang terampas dari kemerdekaan sebagai
lelaki, sebagai manusia, bahkan sebagai hamba-Nya. Sejak
perjumpaan dengan Sang Halimah di toko “Berkah Ilahi”,
konsentrasiku buyar, sehancur-hancurnya. Sebuah revolusi
batin telah terjadi menjadi bagian dari pengalamanku
sebagai manusia. Rupanya, inilah salah satu bagian dari
godaan bagi makhluk bernama manusia. Itu dimulai saat
shalat Magrib pertama, usai perjumpaan tersebut. Entah
apa yang kubaca dan kuingat. Jangan-jangan yang kubaca
bukan sami’allahu liman hamidah, tapi ujungnya berganti
pula dengan halimah. Hamidah berubah jadi Halimah.
Usai shalat, hanya istigfar yang dapat terucap. Shalat Isya’
juga begitu, Subuh pun demikian. Kendati berusaha keras,
tetap tak bisa. Ternyata, tak mudah melupakan pandangan
pertama.

249

http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS

Ba’da Isya’, aku meminjam setrika kepada Burmal.
Akhirnya, kutemukan solusi jitu mengeringkan celana
dalam. Tentu bukan dengan gaya Mr. Bean, yang dengan
konyol memasukkan benda keramat itu ke dalam oven,
namun cukup disetrika hingga agak kering, lalu diangin-
anginkan. Satu urusan agaknya beres. Tapi urusan dengan
pandangan pertama itu, tak juga berhenti. Secara refleks,
tanganku bergerak ke dalam saku jaket, lalu mengeluarkan
sendok keramat itu. Selama menyetrika, sendok itu tak
lepas dari pandangan. Maka muncullah sosok Halimah di
kepala sendok itu. Aku kembali beristigfar. Konsentrasi ku-
arahkan lagi pada setrika. Namun itu hanya sekejap saja,
karena bayangan wajah itu kembali hadir, ia tersenyum
menggodaku. Aku mau pingsan dibuatnya. Sampai asap
kemudian menyeruak, baunya tak enak. Kukira sudah ada
di alam bawah sadar, tapi tidak. Rupanya, celana dalam
basah itu telah kering pula, atau lebih tepatnya hangus
karena setrika. Asapnya menyeruak menasbihkan kelalai-
an. Untung saja tak ada yang melihat kejadian paling me-
malukan itu.

Setelah menengok ke kanan dan ke kiri, benda
keramat satu itu kusimpan rapi diam-diam, dan pekerjaan
menyetrika kulanjutkan dengan antrean perkakas yang
lainnya. Namun tetap saja lamunanku tak berujung, walau-
pun telah berusaha sekuat tenaga untuk tak menghangus-
kan koleksi yang lainnya. Akhirnya, aku tak tahan.

Setelah lebih dari 24 jam kejadian itu berlalu, aku ber-
siap ingin mempermalukan diri sendiri di hadapan teman-
teman lainnya. Orang-orang menyebutnya curhat. Bagiku,
itu merupakan teknik membagi stres kepada orang lain.
Menurut buku yang pernah kubaca, jika masalah disimpan
sendiri, maka ia akan beranak-pinak di dalam kepala dan

250

http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT

membuatnya berdesak-desakan dengan unsur stres yang
lainnya. Beban itu akan menjadikan stres bertambah akut.
Jika ia terus dipelihara, maka diagnosanya bisa menjadi
sinting. Menurut buku itu, cara mengatasinya adalah de-
ngan berbagi kepada orang terdekat, yang dapat memberi-
kan solusi seperti orangtua, guru, atau teman. Kepada
orangtua tak mungkin, Pak Amri apalagi. Maka kupilih
teman saja.

Aku tahu risiko yang akan kuterima. Tapi aku lelaki,
kendati masih muda dan belum tahu makna cinta. Bagi
lelaki, berbagi soal yang seperti ini konon biasa saja.
Lelaki yang naksir perempuan bahkan mengumumkan
perasaan dan rencana-rencananya kepada banyak orang
untuk menyusun strategi. Sekaligus untuk psywar kepada
pesaingnya. Padahal, cintanya belum tentu diterima.
Dalam hal ini, keputusan yang kubuat agak spekulatif. Saat
itu, aku sendirian di kamar, karena semua rekan sekamar
sedang belajar dengan tekun di masjid ba’da Isya’. Siapa
saja kawan yang datang pertama kali ke kamar ini akan
kuceritakan peristiwa ajaib kemarin petang.

Sepuluh menit pertama lewat. Hatiku berdetak
kencang, tak sabar menunggu, siapa yang akan datang men-
dengarkan kisah rinduku. Dua puluh menit juga berlalu
tanpa kejadian apa-apa. Tak ada yang datang ke kamar.
Biasanya, ada saja yang datang minimal untuk meminta air
minum atau bertanya sesuatu kepada Andi, salah seorang
brilian di antara penghuni kamar kami. Barulah satu
menit kemudian, datang Burmal dan Chandra ke kamar.
Keduanya berencana jumpa Andi untuk membicarakan
soal fasilitas asrama. Sebagai ketua asrama, Andi memang
tempat mengadu paling efektif. Selain itu, mereka juga

251

http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS

ingin bicara soal basket denganku. Sebelum masuk ke
urusan kecil itu, aku menyampaikan pertemuan hebat di
toko Pak Jalil tersebut. Kalimatku belum sampai pada soal
beli celana dalam atau sendok keramat, tapi Burmal sudah
tertawa sekencang-kencangnya.

“Muh... Muh! Anak Pak Jalil is the ancient issue. Aina
Anta fi thawilil waqt?8 Di gua Hira’? Jadi Ashabul Kahfi?
Makonyo, jan sibuk beraja jo.9 Lah samo pulo jo Syahid,
Andi, Rasyid... ha ha ha!”

Burmal menertawakanku habis-habisan, bahasanya
campur aduk tak keruan. Setelah memasuki beberapa
bulan di asrama dan di sekolah yang katanya hebat ini,
barulah kusadari, yang kami pelajari bukanlah lughatain
(dua bahasa asing), yakni Arab dan Inggris, melainkan
ditambah pula kurikulum baru—bahasa Minang. Aku,
sosok Melayu yang kental ini, sudah pula pandai bahasa
Minang. Yang hebat tentu Sarianto. Ke mana-mana, dia
mempraktikkan bahasa Minangnya yang sangat kacau. A
deang, katanya ke setiap orang. Padahal kalimat itu secara
makna berarti menantang, kendati secara harfiah berarti
apa kabarmu. Tak jarang dia di-caliak buruak10 beberapa
kawan. Burmal pun demikian, tiap saat selalu berbahasa
ibunya, jarang sekali kudengar berbahasa Indonesia.
Bahasa Minangnya pun masih sangat kental. Seperti kami,
dia juga belum pernah bertemu dengan etnis lain, karena
selalu berkutat di kampungnya, Salido sana. Tapi karena
mereka tuan rumah di MAK ini, tentu mereka yang me-
miliki kuasa bahasa.

8 Anak Pak Jalil itu isu kuno. Ke mana saja kamu selama ini?
9 Makanya, jangan sibuk belajar saja.
10 Caliak buruak maksudnya dilihat dengan tatapan marah.

252

http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT

Burmal kembali tertawa. Tapi yang ditertawakannya
bukan sikap bodohku atas perjumpaan ajaib dengan putri
Pak Jalil itu. Ia menertawakan keberadaanku selama ini,
hingga tak tahu isu paling hot di asrama. Di satu sisi,
aku selamat dari cemeeh yang lebih hebat tentang celana
dalam dan sendok keramat. Di sisi lain, beban pikiran
juga sudah tertransfer separonya ke anak-anak ini, kendati
mereka tak tahu. Beruntung aku belum menyampaikan
seluruhnya, ketika dua anak ini datang. Aku justru men-
dapat cemeeh lainnya, “Gak gaul”. Tak tahu isu yang
sedang berkembang.

“Kama se salamo ko, Kawan!?”11 Chandra menimpali
pula.

Lalu muncul pula Haris, Patrick, Satria, Iwan, Zulhuda,
Toni, Ihsan, dan Adamrino. Tawa lebar dua anak ini meng-
undang yang lain datang ke kamarku. Maka lengkap-
lah para penggosip itu berkumpul. Burmal kemudian
menceritakan kisah pertemuanku yang ajaib dan penuh
romantisme itu, dengan gaya yang sangat tak enak. Ia benar-
benar mengejekku habis-habisan. Menyebalkan sekali. Aku
hanya dapat tersenyum, bukan sekadar menanggapi tawa
ejek mereka. Lebih dari itu, karena masih menyimpan rapi
kisah pribadiku yang memalukan itu. Tapi yang lain sudah
tertawa terpingkal-pingkal. Entah apa yang ditertawakan,
hingga begitu heboh, lama sekali. Agaknya, ada sesuatu
yang lebih hebat.

“Kalau berminat jo anak Pak Jalil, langkahi dulu
mayat Satria!” ujar Patrick penuh makna. Ia tersenyum,
menjengkelkan sekali, sambil melirik ke anak Batu Sangkar
itu. Satria pun senyum-senyum saja.

11 “Ke mana saja selama ini, Kawan!”

253

http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS

“Sebelumnya, hadapi dulu Burmal, Zulhuda, Arif
Yanto, Adamrino, Ismet, Mardi, Haris, Faisal, Jundi,
Ahmad Fajar, Ihsan, Bani Adam, dan banyak lai,” ujar
Chandra pula.

Makkkk! Wah-wah! Aku tertegun. Banyak sekali peng-
gemar Sang Desi Ratnasari. Rupanya, sudah sejak satu
setengah bulan lalu wacana anak Pak Jalil ini mencuat
di asrama kami. Mendengar daftar yang sudah terdedah,
nyaliku bergetar. Tapi, hatiku tak gampang beralih begitu
saja. Bukankah tempo hari aku menangkap tatapan yang
berbeda di mata anak itu? Apa artinya? Apakah diberikan
juga pada semua anak-anak ini? Teman-teman seasrama
yang berubah menjadi para pesaingku? Atau aku yang
gede rasa, ge-er, tak tahu malu dan salah menafsirkan
sikap orang!? Aku memaki diri sendiri. Mendengar kata-
kata para tamu kamar di malam itu, peluangku mungkin
satu banding dua puluh lima. Jangan-jangan, para zuhud
dan ahli ibadah seperti Syahid dan Rasyid juga ikut dalam
persaingan ini. Peluangku akan makin tipis saja, bisa satu
banding tiga puluh lima atau banding tiga puluh sembilan
sekalian.

“Jangan lupa, masih ada kakak-kakak senior, Nco!”

Zulhuda menepuk pundakku. Hatiku makin menciut
saja, kendati semangat itu belum padam. Yang jelas,
peluangku terus menipis dan kini menjadi satu banding
seratus sembilan belas. Tapi nyala semangat itu masih
ada, kendati terus mengecil. Aku bertekad tak mundur
begitu saja. Bukankah aku belum berjuang sedikit pun!?
Bahkan namanya saja aku belum tahu. Kami belum
sempat berkenalan sama sekali. Dan pantang larang bagi
lelaki menyerah sebelum bertarung. Berikutnya, kalimat

254

http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT

dari Chandra membuatku harus berpikir ulang untuk
meneruskan langkah.

“Masih ada lagi anak-anak MAN, pemuda Koto Baru,
dan anak-anak teman sekolahnya di SMA Bukit Tinggi!”

Rangkaian kalimat itu menjadikan peluangku menjadi
satu banding seribu. Aku adalah satu dari seribu kumbang
yang memperebutkan setangkai bunga di taman indah
milik Pak Jalil. Siapakah yang akan dipilih sang bunga
dari seribu kumbang yang datang? Aku tak tahu. Setelah
itu, tak lama setelah peristiwa itu, Sang Desi Ratnasari
tak kelihatan lagi. Perbincangan tak pernah lepas tentang-
nya sepanjang malam, namun ia telah pergi meninggalkan
Koto Baru dengan menyisakan hati banyak lelaki yang
terdampar dalam dahaga cinta. Banyak yang frustrasi.
Kabarnya, anak Pak Jalil ini pindah ke Bukit Tinggi ikut
neneknya, karena di sana lebih dekat dengan sekolah-
nya. Yang jelas, ia sudah tak ada lagi di sini. Siapakah
pejuang cinta yang akan mengejarnya ke sana? Apakah
aku sanggup, meninggalkan banyak hal di Koto Baru—
pendidikan, cinta ilmu, cinta orangtua, cinta Allah, demi
mengejar cinta remaja yang menggebu-gebu? Entahlah.
Yang pasti, hatiku merintih. Aku tak bisa menjadi Midun
yang mendapatkan perhatian penuh dari Halimah.
Walaupun di lubuk hati yang terdalam, aku tetap ingin
menjadi Midun. Hanya kalimat lirih yang dapat terucap
pelan dalam dingin malam. Unii, hati Uda jatuah, hancua
bakapiang-kapiang!12

***

12 Sayang, hati abang jatuh, hancur berkeping-keping.

255

http://facebook.com/indonesiapustaka 20

Common Enemy

Basket merupakan olahraga yang indah dan sangat
populer di kalangan anak muda, termasuk bagi kami
siswa MAN/MAK. Ia tak hanya memerlukan tenaga, ke-
lincahan, kekuatan, kecepatan, tapi juga inteligensia.
Mungkin, bakat alami sangat penting dalam basket. Karena
itu, betapapun kerasnya Azwar berlatih, atau metode apa
pun yang digunakan Arif Yanto dalam mengembangkan
permainan basketnya, tetap saja tak ada kemajuan yang
pernah dicapai.

Di sanalah letak kecerdasan yang berbeda. Apa yang
kurang dari Azwar? Posturnya hanya sedikit di bawah
Burmal, sekitar 183 sentimeter. Otaknya brilian, de-
ngan peta pikiran yang tak akan mudah dicerna orang
biasa. Ototnya juga cukup terlatih, buah dari olah seni
bela diri. Asumsiku, dengan peta pikiran itu, ia hanya
mampu melakukan peta langkah, penghitungan gerak

http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT

lawan, dan jarak tembak bola dengan jaring. Kalau ia
mampu mengombinasikan dan mengharmonisasi langkah
dengan drible—yang sering menjadi masalah bagi para
pemula—tentu akan membuahkan angka. Kenyataannya,
Azwar begitu canggung ketika berada di lapangan basket.
Drible-nya kerap tak seirama dengan bola sehingga tak
enak dilihat, canggung. Benar-benar payah. Lalu lihatlah
Syahid, dengan badan kekarnya dan otak cemerlangnya.
Sama saja. Saat men-drible, ia tampak seperti menepuk-
nepuk kulit bundar itu, dengan mata tak lepas dari bola,
hingga kepalanya mengangguk-angguk sambil berlari.
Kaku sekali.

Lalu, bandingkan dengan permainan Burmal. Maka
keindahan olahragalah yang tampak. Lapangan basket
akan menjadi miliknya. Ia adalah seniman olahraga. Di
lapangan basket ini, drible-nya mantap, shooting-nya
akurat, rebound dan block-nya juga tiada dua. Dengan
postur tinggi menjulang, atletis, wajah rupawan, ia adalah
model olahraga yang sesungguhnya. Model atlet super-
lengkap. Apalagi tak hanya basket yang dikuasainya, tapi
juga bola voli, takraw, tenis meja, bulu tangkis, hingga
catur. Pada semua bidang itu, ia nomor satu, minimal
nomor dua untuk catur dan tenis meja.

Di antara semua cabang olahraga yang digemari di
MAN/MAK, basket tetap yang paling favorit. Makanya,
untuk cabang yang satu ini, tiada detik yang tersisa di
lapangan. Sekolah ini hanya memiliki satu lapangan
basket. Tapi, lapangan itu tak pernah sepi dari aktivitas
latihan. Tak perlu memakai pakaian olahraga, karena
seragam putih-hijau muda tak akan basah oleh keringat
di Koto Baru ini. Ketika jam istirahat tiba, maka mulailah

257

http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS

pula shooting-shooting ringan dilakukan di dua ring itu.
Kami yang berminat dalam bidang ini pun boleh ikutan.
Aturannya simpel sekali. Siapa yang mendapat bola, ia
yang berhak melakukan shooting, lalu bola diperebutkan
kembali. Jika ada kesepakatan, maka diadakan uji coba
pertandingan antar tim yang tak jelas anggotanya. Siapa
pun boleh ikutan. Sebenarnya, tak hanya saat itu saja. Ada
juga jam pelajaran olahraga di masing-masing kelas. Itulah
saatnya konsolidasi.

Bagi kami, anak-anak baru MAK, latih tanding saat
jam istirahat hampir tak pernah terjadi. Lapangan lebih
didominasi anak-anak MAN. Kami memiliki waktu yang
lebih longgar saat jam pelajaran olahraga dan petang hari-
nya, atau yang lebih ekstrem pagi hari ba’da subuh. Ter-
kadang, petang hari lapangan juga dimanfaatkan anak-
anak MAN yang hobi bermain basket. Namun jumlahnya
tak sebanyak kami. Saat itulah, di sela-sela kelas tutorial,
kami melakukan konsolidasi dan membentuk tim.

Menjelang pembagian rapor tiap semester, ada per-
tandingan olahraga antar-kelas. Saat itu, pembentukan
tim adalah keharusan. Kami menyebut pertandingan ini
“class meeting”, sebuah ajang silaturahim antar-kelas dan
jurusan. Anak-anak MAK termasuk di dalamnya. Untuk
pertandingan ini, gengsi kelas diperebutkan. Kebanggaan
kami tentu saja kakak kelas III, yang menyabet juara
umum class meeting sebanyak tiga kali berturut-turut. De-
ngan memenangkan basket dan voli, sudah cukup untuk
meraih tropi juara umum, kendati kehilangan poin di
tenis meja dan takraw yang direbut kelas lain.

Hari-hari menjelang pertandingan itu kian dekat.
Makanya, Burmal dan Chandra malam itu datang ke

258

http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT

kamarku untuk mendiskusikan rencana kami dalam
rangka menghadapi pertandingan basket class meeting.
Tapi pertemuan itu batal. Ketika kuceritakan tentang anak
Pak Jalil dan pertemuan di suatu senja yang romantis,
mereka lebih tertarik menertawakanku. Sebenarnya,
tanpa dibicarakan pun, tim basket dan voli sudah ter-
bentuk secara alami. Tim ini terdiri dari Burmal sebagai
center, lalu Chandra dan Sarianto sebagai forward.
Ketiganya adalah atlet tangguh dengan bakat alami yang
luar biasa. Tak satu pun di antara kami yang berani me-
nyanggah kebenaran absolut itu. Tinggal mencari guard.
Ada beberapa pilihan yang agak rasional, yakni Patrick,
Satria, Toni, Ismet, dan aku. Akhirnya, pilihan jatuh
kepada Patrick dan aku, yang secara alami dianggap lebih
berbakat sebagai guard dibandingkan kandidat lainnya.
Maka, jadilah the dream team versi kami sendiri, sebuah
tim yang menunjukkan bakat alami luar biasa. Calon
juara baru telah muncul.

Bakat juara kami sudah terlihat saat dalam berbagai
latihan bersama, beberapa lawan yang kami hadapi ber-
jatuhan. Lawan yang kerap kami hadapi saat jam olahraga
adalah kelas biologi, yang memiliki waktu jam pelajaran
sama, meski dengan guru berbeda. Tiap pekan, kami
menghajar mereka dengan skor telak. Sebenarnya, mereka
bermaterikan pemain tangguh, tapi kurang solid dalam
menyerang dan bertahan. Ini mengakibatkan permainan
mereka kerap kacau, dan dengan mudah kami libas.

Hari-hari berlalu begitu cepat. Class meeting itu datang
menghampiri kami—sebuah tim muda dengan semangat
luar biasa. Usai ujian semester pertama, maka pertandingan
pun digelar. Di sinilah aku memahami kompetisi bebas
yang dapat merekatkan sekaligus meretakkan. Ternyata,

259

http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS

class meeting tak hanya mempertemukan antar-kelas
yang selevel, namun juga antar-perbedaan kelas. Setelah
babak penyisihan, kelas I bisa saja bertanding menghadapi
kelas II atau kelas III. Di samping itu, class meeting juga
memberikan gambaran ekstrem tentang “permusuhan
abadi” antara siswa MAN dan MAK yang kerap memicu
konflik dan pertelagahan antara darah muda. Di class
meeting inilah, peringatan dari beberapa kakak kelas itu
menemukan momentumnya.

Bagi sebagian anak-anak MAN yang peduli pada
persaingan abadi ini, siswa MAK merupakan musuh ber-
sama di lapangan. Kami adalah common enemy yang
harus ditaklukkan dengan segala cara. Tak peduli jurusan
mereka fisika, biologi, sosial, bahasa, ataupun agama.
Kalau menghadapi anak-anak MAK, mereka pun bersatu
padu. Tak sedikit yang mengaku sebagai siswa kelas lain.
Sistem transfer pemain kelas seolah biasa. Jika ketahuan,
dan dilakukan protes ke panitia, mereka bisa tutup mata
atau meminta dimaklumi, karena ada pemain sekelas yang
kurang atau tak bisa main. Maklum, panitia, termasuk
wasit pertandingan nyaris semuanya berasal dari anak-
anak MAN. Hanya dalam pertandingan krusial, guru
olahraga dilibatkan sebagai wasit. Dalam kondisi seperti
itu, kami hanya memaklumi saja. Pernah juga kakak kelas
II protes, karena sistem transfer pemain ini menyebabkan
kompetisi antar-kelas menjadi tidak sehat. Pertandingan
antar-kelas pun dapat berubah menjadi pertandingan
antara anak MAN versus MAK.

“Hanya dengan kekompakan, kita akan mampu meng-
hadapi mereka,” ujar Kak Aldiansyah memberi semangat,
supaya tak canggung melihat banyaknya penonton.

260

http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT

Lapangan basket tua yang kembali dicat itu memang
tak seperti biasanya. Aku sudah menyaksikan beberapa
pertandingan antar-kelas MAN, penontonnya hanya
beberapa orang. Tapi saat kelas III MAK bermain melawan
salah satu kelas MAN, ratusan siswa dan siswi MAN
berjubel di pinggir lapangan. Setiap pertandingan anak
MAK adalah magnet yang menyedot perhatian. Tentu
saja daya tarik pertandingan itu ada pada kelas III MAK
sebagai juara bertahan, dengan level permainan tingkat
tinggi yang memukau. Suasana juga sangat bergemuruh.
Teriakan yel-yel memberi semangat bergaung. Kami
mengambil tempat di sisi barat lapangan. Sedangkan
sisi timur lapangan, dipenuhi oleh siswa dan siswi MAN
dari kelas yang berbeda-beda. Pendukung kedua tim
juga menjadi daya tarik tersendiri, karena kebanyakan
pendukung anak MAN adalah siswi berjilbab yang baris
berjejer dua hingga tiga shaf. Sisanya, para siswa yang
tak lelah memprovokasi dengan kata-kata kasar, bahkan
ejekan dan maki hamun.

“Anak MAK, anak mami!”, “Pitih1 Pemerintah, Woi!”,
“Anak emas tak tahu malu!” “Anak MAK, anak manjo,
banci!”, “Kalahkan... kalahkan... kalahkan anak MAK!”

Beberapa kalimat itu sering terlontar dari kubu
provokator anak-anak MAN di salah satu sudut lapangan.
Jumlahnya tak banyak, tapi provokasi mereka sangat me-
nyakitkan. Biasanya, para pemain akan menanggapi de-
ngan tenang. Kakak-kakak itu telah terbiasa dengan kalimat
ini. Konsentrasi mereka tampak lekat pada permainan.
Kak Irjax bahkan dengan santai tersenyum menghadapi

1 Pitih artinya uang.

261

http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS

provokasi itu. Ia melambaikan tangan dengan flamboyan
ke arah siswi-siswi MAN, menebarkan pesonanya yang
khas, sambil membuat panas hati para siswanya. Gaya
flamboyan itu memang sangat terkenal di antara para siswi
MAN, dan Kak Irjax menjadi ikon dan idola tersendiri,
tiada dua. Kakak-kakak lainnya juga tampil santai. Justru
kami yang tak tahan—anak-anak kelas satu, yang baru kali
itu mendengar berbagai provokasi dan hinaan. Kami geram.
Suhadi sudah emosi. Haris menggigil, giginya gemeretak.
Jundi sudah mengepal-epalkan tinjunya. Indramis dan
Barmawi sudah memasang kuda-kuda. Beberapa kakak
kelas dua juga tampak sudah emosi. Kendati darah kami
mendidih mendengarkannya, kami diminta tenang oleh
Kak Aldiansyah. Provokasi itu harus dihadapi dengan
kepala dingin. Tapi, dia sendiri menanggung amarah yang
lebih berat. Sekali waktu, ditunjuknya mulut provokator
itu. Hanya 10 sentimeter dari mulut anak itu.

“Hei, kau bisa diam ndak,” ujarnya saat darah Medan-
nya menggelegak, setelah provokasi tak berhenti juga.

Yang ditunjuk tak bisa terima dan balik meradang.
Ketegangan pun terjadi di tempat penonton. Pertandingan
pun diskors untuk sementara waktu. Baku hantam
nyaris saja terjadi. Tapi beberapa orang melerai. Satu hal
yang pasti, gertakan Kak Aldiansyah menjadikan tensi
pertandingan justru berbalik positif bagi kami. Gertakan
itu memberikan pertanda bahwa kami ada, dan siap
bertarung kapan saja. Ratusan siswa MAN boleh bersatu,
tapi kami juga siap dengan segala konsekuensi. Jika hadir
semua, jumlah kami 120 orang. Cukup kuat untuk per-
kelahian massal. Aku teringat semua latihan silat yang
telah kujalani. Inilah saatnya. Di sisi lain, aku juga teringat

262

http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT

semua petuah Pak Suwardi, tentang jiwa sejati seorang
pendekar.

Untung saja perkelahian tak terjadi. Gertakan Kak
Aldiansyah tak dilanjutkan dengan perintah serang atau
sejenisnya. Ia masih punya akal sehat untuk bisa meredam
kami yang mulai emosi. Kak Aldiansyah sukses mengelola
konflik. Ternyata, pertandingan dalam class meeting
memang bukan hanya fisik dan teknik. Mental bertarung
juga akan menentukan hasilnya. Sepanjang pertandingan,
beberapa kali terjadi ketegangan antar pemain, suporter
dan official. Kak Aldiansyah begitu piawai melakukan
manajemen konflik itu. Kendati secara teknis tak me-
mahami basket, namun ia dapat mengatur mental tanding
rekan-rekannya. Itulah yang kami tangkap dari kepiawaian-
nya melakukan provokasi, menggertak keras, sambil
mengibaskan jaket panjangnya yang melengser bak serban.
Penilaianku pun kepadanya menjadi nisbi, relatif, berubah-
ubah. Kadang aku memandangnya sebagai provokator,
tukang gertak, pembisik. Kadang juga sebagai pemimpin,
pengayom, dan master manajemen konflik. Seperti
sekarang ini. Dia memang sosok yang luar biasa. Unik.

Pagi itu, di bawah sorak-sorai ratusan orang, per-
tandingan penting antara kelas III MAK dan III Biologi di-
menangkan dengan mutlak oleh kakak-kakak kami yang
hebat. Kami bangga pada mereka. Kini, sampailah giliran
kami yang harus menghadapi panggung yang sebenarnya.
Kami menghadapi sesama kelas satu. Awalnya, ada ke-
canggungan saat menghadapi lawan di hadapan ratusan
penonton. Rupanya, siswi-siswi MAN penasaran juga
melihat generasi baru MAK, yang selama ini hanya ber-
sembunyi di kelas, dekat dengan kandang kerbau. Mereka

263

http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS

ingin melihat anak-anak muda ini, sehingga antusiasme
itu menjadikan kami kikuk. Mungkin, aku yang paling me-
rasakan demam panggung, terutama saat ditonton ratusan
siswi MAN. Aku membayangkan Sang Desi Ratnasari
Koto Baru, putri Pak Jalil yang rupawan, berada di antara
para penonton itu. Ahai!

Kekakuan kami dientakkan oleh angka pertama
yang dipersembahkan Sarianto. Lewat aksi drible-nya
yang menawan, ia melakukan sedikit gerak tipu, lalu tiga
langkah lay up-nya dengan meliuk berhasil mengangkat
bola dan menyarangkannya dengan sukses ke dalam ring.
Dua poin pertama itu mengangkat moral kami. Selanjut-
nya, pertandingan melawan kelas I Agama itu kami lalui
dengan mudah. Poin demi poin pun kami kumpulkan
lewat Burmal, Chandra, dan Sarianto. Sesekali ada balasan
dari tim lawan, tapi jarang sekali. Poin pertamaku dalam
pertandingan resmi itu membuatku merasakan sudah
menjadi Hakeem Olajuwon. Maklum saja, dua poin itu ku-
sarangkan lewat aksi yang cukup cantik, didahului dengan
pivot, memutarkan badan dengan sumbu satu kaki, lalu
melompat dan melakukan shooting tanpa melihat ring,
dan masuk. Aku pelajari itu dari kawanku di Perguruan
Wahidin, Ang Cui. Kadang, itu kulakukan dengan tangan
yang lurus bak akan melakukan slam dunk, namun dari
jarak yang cukup jauh, sehingga sangat sulit diblok.

Kata Ang Cui, pemain basket NBA, Hakeem Olajuwon
sering melakukan itu. Ia menirunya habis-habisan, lalu
mewariskannya padaku. Ang Cui selalu menonton aksi-aksi
pemain NBA klasik lewat TV parabola, termasuk yang juga
tenar saat itu seperti Earvin “Magic” Johnson. Aku sempat
berguru pada Ang Cui, dan inilah yang kudapatkan. Berkat

264

http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT

itu pula, gelar “baling-baling dari Riau” kudapatkan. Aku
melayang-layang dalam pujian. Saat poin kedua kudapatkan
dari aksi yang sama, tepuk tangan bergemuruh luar biasa.
Aku membayangkan “Desi Ratnasari” bertepuk tangan
riuh di antara ratusan penonton. Ia meneriakkan namaku
berkali-kali. Ah, sesuatu yang tak mungkin!

Kami menyudahi pertandingan pertama dengan
euforia yang luar biasa. Skor telak 28-8 kami dapatkan.
Aku mencetak enam poin, lumayan untuk debut pertama.
Sisanya, dibagi bersama rekan yang lain. Sarianto tertinggi
diikuti Burmal. Pertandingan berikutnya melawan sesama
kelas I, kami lewati dengan sangat mudah. Hari itu, dua
pertandingan di babak penyisihan kami lalui dengan
mudah dan angka mutlak.

Hari berikutnya, satu pertandingan penting kami
selesaikan, sebagai tiket untuk masuk ke babak perdelapan
final. Di perdelapan final, kami berhadapan dengan kelas II
Fisika. Selama ini, jurusan fisika dikenal sebagai gudangnya
para pebasket. Mereka juga terkenal sebagai orang-orang
yang keras, garang, dan tak kenal kompromi. Tim inilah
yang menjadi tumpuan harapan anak-anak MAN untuk
mengalahkan kami. Kelas II Fisika sudah memiliki reputasi
yang hebat, tak jauh dari seniornya kelas III fisika. Tahun
lalu, kelas III Fisika meraih peringkat kedua setelah di-
kalahkan kelas III MAK di final. Sedangkan kelas II
fisika bertengger di peringkat ketiga. Mereka hampir saja
mengalahkan kakak-kakak kelas III MAK di semifinal,
dengan skor tipis. Waktu itu, mereka masih kelas I dan
kakak MAK masih kalas II. Kini, kami menghadapi para
pemain dengan reputasi hebat ini. Jantung kami berdebar
kencang. Tapi, Kak Aldiansyah memberikan semangat.

265

http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS

“Kalian bisa mengalahkan mereka. Bermain tenang dan
santai saja. Mereka bukan apa-apa!” ujar Kak Aldiansyah
membesarkan hati kami.

“Bagaimana menghadapi Si King, Kak?”

“Biasa saja, Bur! Kamu tempel saja agak ketat, lalu
Patrick juga terus mengawasi gerakannya!”

“Sikunya itu bagaimana, Kak?”

“Cari sisi yang lain dari sikunya. Jangan terlalu dekat,
tapi jaga jarak, tak boleh terlalu jauh, sehingga ia tak
leluasa melakukan lay up. Santai saja, dan jangan pecah
konsentrasi!”

Bak pelatih profesional yang bisa membaca gelagat
teknik dan fisik, Kak Aldiansyah memberikan pengarahan
kepada kami yang sudah memasuki babak perdelapan
final. Memang, kami mewaspadai beberapa pemain kelas
II Fisika. Yang paling menonjol adalah siswa bernama
Asrul. Ia lebih dikenal dengan julukan “Si King”, alias “si
Raja”. Agaknya, ia adalah raja berandal di kampungnya
atau di kelasnya. Badannya besar dan kekar. Dadanya
berotot, lengannya tiga kali lenganku dengan otot bisep
dan trisep yang terlatih. Wajahnya sangar dengan hidung
besar, rahang keras. Matanya tajam, dengan pandangan
yang tak banyak orang berani di dekatnya. Dua alis
matanya bertemu. Sekilas, ia mirip dengan juara tinju
kelas berat dunia, Mike Tyson. Di lapangan basket, ia
merupakan atlet yang lumayan bagus. Sebenarnya, bukan
itu yang kami cemaskan, melainkan gaya drible-nya yang
selalu mengayunkan siku. Ia akan selalu memaksakan lay
up kendati dihadang center dan guard lawan. Ketika me-
lakukan itu, ia selalu mengayunkan siku. Tentu saja akan
sangat menakutkan, seperti teknik Mike Tyson bergaya

266

http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT

slugger, main seruduk. Apalagi ketika mereka bertanding,
yang menjadi wasit biasanya berasal dari anak-anak MAN.
Yang seperti itu tak boleh sedikit pun dilanggar. Aneh.
Mereka yang garang, kami yang tak boleh menghadang.

Tentu saja, pertandingan kami hadapi dengan cemas.
Di tengah minimnya pengalaman, lawan yang kami hadapi
adalah calon tim terbaik dari siswa MAN. Apalagi di sana
ada Si King. Ketika melakukan lay up khasnya, menerobos
Burmal dan Patrick yang terlihat ragu, hati kami menjadi
ciut. Ia pun mencetak angka pertama. Berikutnya, giliran
salah satu pemain oportunis lainnya, Dedek yang beraksi.
Dia menyarangkan tembakan tiga angka, dan kami segera
tertinggal lima angka. Kak Aldiansyah kemudian meminta
time out, melihat permainan kami tak berkembang.

“Kenapa kalian?”

“Kami ragu, Kak. Permainan mereka kasar dan keras!”

“Tidak. Kalian punya peluang. Bermainlah agak
tenang, lebih sabar. Secara teknik, kalian lebih baik.
Percaya diri saja, percaya kepada teman, dan raihlah ke-
menangan itu. Ayo!”

Lalu kami melakukan salam kompak dan menghadapi
kembali Si King dan pasukannya yang garang ini. Masing-
masing anggota tim bersalaman biasa, selanjutnya diiringi
dengan salam komando khas militer dengan cara mengait-
kan dua jempol seperti orang hendak beradu panco.
Setelah masing-masing bersalaman satu sama lain, kami
menyatukan tangan, dan berteriak lantang.

“Khaaaasshah!”

Salam kompak dan teriakan lantang ini menjadi ciri
khas kami, ringkasan dari Al-Madrasah Al-’Aliyah Al-

267

http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS

Khasshah. Dan itu merupakan spirit kami yang luar
biasa. Mengembalikan mental kami yang sempat drop.
Mereka kembali menguasai bola. Dedek dengan jemawa
melakukan drible mengitari lapangan sambil mencari
kawan. Lalu ia memberikan umpan kepada Si King yang
lepas dari kawalan Burmal. Saat akan melakukan lay up
sikunya, Sarianto dengan tangkas melakukan steal. Wasit
menganggap upaya Sarianto bersih, dan bola curian itu
langsung dibawanya sendiri ke ring lawan tanpa dapat di-
hadang. Rupanya, semua pemain kelas II Fisika ini terlalu
percaya diri dan membiarkan pertahanan mereka kosong.
Dengan cepat, Sarianto menuju pertahanan kosong, dan
melakukan drible, lay up, lalu poin pertama kami dimulai
dengan aksi brilian anak ini. Poin itu mengangkat moral
bertanding kami.

Sebaliknya, siswa kelas II Fisika merasa mulai men-
dapatkan perlawanan. Mereka melakukan serangan frontal
dan terus melupakan pertahanan. Sehingga, counter attack
yang kami lakukan selalu berbuah angka. Di samping
itu, Burmal juga sudah mulai berani menghadang dan
melakukan blok, Chandra juga sering melakukan steal
dan Sarianto tak lelah menyumbang angka. Dalam waktu
singkat, skor kami menjadi sama. Selanjutnya, kejar-
mengejar angka terjadi sangat dramatis. Tak sedikit siswi
MAN yang histeris melihat pertandingan paling men-
debarkan hari itu. Sesuatu yang luar biasa telah kami
lakukan. Kami akhirnya mengalahkan tim kuat kelas
II fisika, dengan skor lumayan besar, selisih lima poin.
Pencapaian yang menyebabkan kami larut dalam euforia
luar biasa. Si King sampai menggenggam bola Mikasa itu
dengan geram, lalu membantingnya ke lantai lapangan

268

http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT

saat wasit meniup peluit tanda berakhirnya pertandingan.
Ia kecewa berat, begitu juga pasukannya. Terlebih, yang
mengalahkan pasukan elite itu adalah “anak bawang”
seperti kami. Sebaliknya, kami larut dalam puja-puji.
Seluruh dunia seolah memberikan applause, Magic
Johnson mengajak kami bertanding eksebisi, lalu kami
mencoba ring NBA.

Euforia kami terbawa hingga petang dan malam.
Seolah kami sudah juara pada turnamen enam bulanan ini.
Kami melakukan selebrasi kecil-kecilan, dengan membakar
ubi jalar, lalu menyantapnya bersama-sama. Kami tak lagi
memikirkan pertandingan esok harinya, di laga perempat
final, menghadapi kelas I Biologi. Bukankah tim ini selalu
kami kalahkan tiap pekannya dalam pertandingan per-
sahabatan? Kami sudah mengenal kelebihan, terutama ke-
lemahan mereka. Tak ada yang perlu dicemaskan. Kendati
mereka mungkin sudah berbenah. Buktinya, mereka ber-
hasil masuk babak perempat final. Kami tak ambil peduli.
Kami telah mengalahkan kelas II Fisika yang hebat itu.
Mungkin hanya kelas III MAK, para senior kami itu, yang
mampu mengalahkan kami.

Seperti prediksi awal, pertandingan melawan kelas
I Biologi memang cukup mudah. Poin pertama kami di-
sumbangkan Burmal. Selanjutnya, aku dan Patrick mem-
berikan poin. Unggul enam angka menjadikan kami di atas
angin. Tapi rupanya kelas I Biologi sudah mendapatkan
banyak amunisi dari senior mereka, kelas II Biologi, juga
kelas II Fisika yang baru kemarin kami kalahkan. Termasuk
dari kelas III Fisika yang pengalamannya luar biasa. Sampai
di poin enam, perolehan angka kami terhenti cukup
lama. Sebaliknya, setelah melakukan time up, mereka

269

http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS

tampil beda. Setelah melakukan pergantian pemain,
mereka melakukan taktik yang tak pernah kami prediksi.
Begitu mendapat bola, pemain ini langsung menembak
dari jarak jauh. Poin tiga angka itu begitu mengejutkan.
Kami berusaha membalas, namun gagal. Poin tiga angka
kembali mereka dapatkan. Hanya dalam dua menit, posisi
sudah seimbang. Tiga angka berikutnya membuat kami
panik. Entah keberuntungan apa yang mereka dapatkan.
Yang jelas, tiap melakukan shooting dari jarak jauh, selalu
berbuah angka. Shooting yang seperti ini jelas sulit sekali
diblok oleh forward kami, Chandra dan Sarianto. Burmal
yang tinggi menjulang selalu berada jauh dari jangkauan
para pemain ini, sehingga mustahil melakukan blok.

Permainan kami benar-benar hancur hari itu. Time
up yang kami lakukan tak berbuah apa-apa. Bahkan,
Burmal yang frustrasi tak percaya lagi kepada rekan yang
lain, dan selalu berusaha membalas dengan melakukan
shooting jarak jauh juga. Tapi hasilnya selalu gagal. Ini
menjadikan moral tim anjlok luar biasa. Aku yang ikut-
ikutan melakukan tembakan tiga angka juga gagal.
Terobosan Sarianto selalu dihadang dengan kasar dan
hanya diganjar pelanggaran ringan. Kami berada dalam
situasi panik luar biasa, tak juga keluar dari krisis. Ketika
peluit tanda berakhirnya pertandingan ditiup, kami hanya
dapat terduduk lemas, mengetahui kalah tipis satu poin.
Burmal terdiam. Patrick tertunduk lesu, sama dengan
Chandra, yang selalu menghela napas tak percaya. Satria
yang menggantikanku di kwarter terakhir juga tak dapat
berkata apa-apa. Sarianto bahkan hampir menangis. Kami
benar-benar habis hari itu.

Kelas I Biologi memang hanya sampai di situ. Mereka
dikalahkan kelas II MAK di babak semifinal. Namun,

270

http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT

mereka sudah begitu bangga bisa mengalahkan kami.
Sebuah kekuatan baru telah rontok di tangan mereka,
yang kami dianggap sebelah mata. Tinggal kami yang
harus menangisi kekalahan, karena sikap bodoh dan ter-
lalu sombong. Kesombongan telah meruntuhkan semua
bangunan reputasi yang sudah dibangun dengan susah
payah.

“Yang mengalahkan kalian, diri kalian sendiri,” ujar
Kak Aldiansyah menganalisis kekalahan yang menyakitkan
itu.

Kami hanya terdiam. Beruntung, kekalahan kami ter-
balas, dan juara tetap milik kakak-kakak MAK. Di final,
kelas II MAK berhadapan dengan kelas III MAK, setelah
mengalahkan lawan masing-masing di babak sebelumnya.
Pertandingan final hanya formalitas saja, karena kelas
II MAK membiarkan seniornya tetap meraih juara, dan
menahbiskan diri sebagai empat kali juara umum class
meeting.

***

271

http://facebook.com/indonesiapustaka 21

Bunga Desa

Turnamen class meeting telah usai. Namun, entah
kenapa, ingatanku kembali ke putri Pak Jalil.
Bagaimana kabarnya kini? Setelah pertemuan ajaib itu, aku
sempat melihatnya sekali, namun tak berani menyapanya.
Rasa trauma dan gentar masih menghantuiku, mengalah-
kan rasa penasaran dan debaran jantung hati. Setelah itu,
dia seolah menghilang sampai berbulan-bulan. Hingga
semester pertama ini hampir usai, sosok bidadari itu tak
juga menampakkan wajahnya. Berulang kali kuziarahi
kedai Pak Jalil, untuk sekadar melihat-lihat, kalau-kalau
bisa bertemu kembali. Aku pun kerap mencari-cari
alasan.

Suatu ketika, belum lagi kedai itu buka, aku sudah
berdiri di depannya. Ketika Pak Jalil membuka kedai,
dia pun kaget bukan kepalang. Mungkin dikiranya ada

http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT

penampakan atau hantu blau yang tiba-tiba datang di
Subuh buta. Apalagi, pagi itu kabut tebal menyelimuti,
jarak pandang hanya beberapa meter saja. Pak Jalil meng-
awasiku dengan hati-hati. Matanya menatap nanar. Di-
pandangnya lekat-lekat. Setelah mengenaliku, dia pun me-
narik napas lega.

“Haa Simuh ruponyo. Pagi bana datang ma? Ka cari
a ko?”1

“Ndak Pak. Itu... anu, cari sikat gigi sama odol. Habis
rupanya. Tak enak pula ke sekolah tak gosok gigi,” ujarku
memberi alasan pada Pak Jalil yang masih melongo.

Pak Jalil kemudian menyerahkan barang yang kucari.
Aku menyodorkan uang sesuai yang diminta. Sebenarnya,
aku berniat ingin bertanya, tapi kuurungkan niat itu. Pasti
sangat tidak sopan, menanyakan anak gadis orang saat
matahari belum lagi muncul dari ufuk timur. Ayam jantan
saja masih nyaring berkokok tak henti-henti, pertanda
pagi baru saja menghampiri. Sisa malam pun masih terasa,
sepi. Aku kemudian pamit dengan hati hampa. Siang hari-
nya, usai belajar, aku kembali mendatangi kedai Pak Jalil.
Kali ini aku membeli kaos kaki. Dan sang pujaan hati
tak juga muncul. Petang hari, ketika aku berpura-pura
membeli anak kunci, si dia tak juga menampakkan wajah.
Pernah juga ada hasrat menanyakannya ke Pak Jalil. Tapi,
kegugupanku malah menjadi-jadi.

“Pak... anu... anak... ee, Ibu mano Pak. Tak ado
tampak lai?”

1 Ha, Simuh rupanya. Pagi betul datang? Mau cari apa?

273

http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS

“O, pai ka Padang... alah tigo hari ko!”2
“Ooooo...!”
Rencana itu pun gagal. Aku kembali pulang dengan
tangan hampa. Aku terus mencari tahu keberadaan si
dia. Sampai akhirnya, kudapatkan informasi itu. Aku
mendengar dari Zulhuda, katanya, dia ikut berjualan
dengan pamannya di Pasar Atas Bukit Tinggi. Zulhuda
pernah melihatnya di sana. Agaknya, ia pun penasaran
dengan anak Pak Jalil itu, lalu menyusul ke sana. Ah,
Surayya! Nama singkat itu, sosok yang begitu didamba.
Aku baru tahu namanya, setelah beberapa lama peristiwa
memalukan itu terjadi. Zulhuda yang memberi tahuku.
Seperti namanya, Surayya, nama sebuah bintang di langit,
dia begitu jauh, tak terjangkau. Terlihat kerlipnya, jelas
kemilaunya, namun sulit untuk diraih oleh siapa pun. Ia
adalah bintang kejora yang indah tiada tara, menghiasi
luasnya cakrawala, namun tak tergapai sedikit pun. Dia
seperti untouchable, bahkan nyaris invisible. Saat mencari
kitab di Bukit Tinggi, aku pernah berusaha mencari di tiap
sudut Pasar Atas untuk menemukan keberadaannya, seperti
penuturan peta buta Zulhuda. Berjam-jam kutelusuri,
tetap tak pernah ada. Dia seperti menghilang ditelan bumi.
Apakah Zulhuda hanya berbohong? Mengacaukan radar
persaingan, lantas mengambil keuntungan dari keyakinan
orang atas ceritanya?
“Itu betul. Tak bohong,” ujar Zulhuda.
“Ah, awak tu mempermainkan saya saja!”
“Tidak. Ini betul, serius, Muh. Tanya Satria ini!”
ujar Zulhuda dengan wajah serius sambil mulutnya

2 O, pergi ke Padang, sudah tiga hari ini

274

http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT

mengarah ke Satria. Bibirnya sampai monyong. Maklum,
itu digunakan untuk mengganti tangannya yang tampak
enggan berbohong. Kulihat sikunya bergerak menggeser
iga Satria.

Satria hanya mengangguk-angguk. Aku membaca
gelagat tak beres pada dua anak ini. Agak sulit dipercaya.
Tapi apa mau dikata, tak ada sumber pelacakan yang bisa
didengar keterangannya secara valid. Keterangan Zulhuda
mungkin modal awal. Dari gelagat itu, agaknya lebih
baik tak melanjutkan pencarian berdasarkan keterangan
keduanya. Sangat menyesatkan. Satu-satunya cara adalah
dengan menanyakan ke bapaknya, Pak Jalil. Aku pernah
coba melakukannya. Tapi, apa aku punya mental yang
cukup untuk mencoba lagi? Di depan anaknya saja aku
grogi, salah tingkah. Apalagi di depan bapaknya. Sudah ku-
bulatkan tekad untuk menemui Pak Jalil. Lagi-lagi, ketika
sampai di depannya, sudah saling berhadap-hadapan,
mentalku jatuh.

Aha, aku teringat pesan Ustadz Ali Bahar saat meng-
ajar ilmu kalam. Ustadz Ali Bahar, yang biasa kami panggil
Ustadz Alba itu memang jago tentang ilmu kalam atau
ilmu mantiq. Kendati kami baru mempelajarinya di kelas
III kelak, namun di kelas I ini, kami telah bertemu beliau
yang mengajar ushul fiqh saat tutorial petang. Kadang, pe-
lajaran ilmu kalam yang antik itu pun mampir ke telinga
kami.

“Menggunakan simbol dan memakai ilmu mantiq
kadang menjadi solusi dalam banyak hal,” ujar Ustadz
Alba saat itu.

Aku ingat pelajaran itu. Konon, ilmu mantiq itu luar
biasa hebat. Kadang dengan sebuah logika sederhana,

275

http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS

sebuah persoalan rumit dapat teratasi. Ustadz Alba pernah
mencontohkan tentang kebohongan dan kejujuran yang
dapat dilakukan sekaligus. Suatu ketika, seorang ustadz
ditanya tentara penguasa zalim tentang pahlawan pem-
berani yang memberontak. Secara kebetulan, ia melintas
di suatu desa. Tentu sang ustadz tidak boleh berbohong,
karena berbohong itu dosa. Di sisi lain, dia juga harus me-
lindungi sang pahlawan.

“Dari sisi mantiq, ini tak sulit. Ketika itu, ustadz ter-
sebut pun menggeser kakinya sedikit. Lalu dia berkata.
Sejak saya berdiri di sini, saya tak pernah melihat orang
yang Tuan maksud. Dengan demikian, dia bisa melindungi
pahlawan itu, sekaligus tidak berbohong. Itulah, kehebatan
mantiq,” ujar Ustadz Alba memberi ilustrasi.

Aku sangat ingat pelajaran ini. Luar biasa. Entah
kenapa, aku terobsesi menerapkan ilmu ini untuk per-
soalan cinta. Aku pun mencoba bereksperimen. Dengan
berbekal sebilah sendok sakti mandraguna di tangan, hasil
pertemuanku dengan “Sang Pujaan Hati”, kubulatkan
tekad. Kudatangi toko “Berkah Ilahi” dengan gagah
berani. Langkah tegap sambil membusungkan dada ku-
terapkan. Maju tak gentar.

“Pak... Pak Jalil!”

“Ado apo, Muh?”

“Eh... Itu... Anu Pak. Ada perlu sedikit!”

“Kok ndak seperti biaso. Agak gugup tampaknyo!”

Aku berusaha menguasai diri, menahan deburan
jantung yang semakin cepat berdetak. Kalimat yang ku-
susun rapi sejak dari asrama pun keluar. Tapi entah persis
atau tidak, aku pun lupa. Grogi berat sudah melanda

276

http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT

sejak awal. Kuingat lagi wajah Pak Alba, lalu kubulatkan
tekad.

“Eh, tidak Pak. Anu...Ka... katanya Bapak punya
bunga yang indah nian di rumah!”

“Bunga?”

“Ya, Pak. Bunga kesayangan Bapak. Yang selalu jadi
idola dan didatangi kumbang-kumbang. Boleh saya ber-
temu, Pak!? Sudah lama tak tampak. Apakah Bapak sudi
memercayakannya pada saya?!”

Pak Jalil memandangku dengan heran, penuh selidik.
Mentalku ciut, takut ia marah besar karena kalimatku
yang salah. Detak jantungku makin tak beraturan. Tiba-
tiba Pak Jalil tersenyum, semringah. Aku pun lega.

“Haa! Anak mudo. A belum ada yang bicara terus
terang. Ini yang Bapak salut darimu. Keindahan memang
untuk dikagumi, dirawat dan dipelihara dengan penuh
cinta. Besok Bapak bawakan untukmu! Sip?!”

“Oke Pak, sip!”

Aku tak menyangka, begitu mudah. Memang hebat
petuah cinta dari Ustadz Alba. Aku sampai tak sabar me-
nunggu hari esok, bertemu dengan dambaan hati, dan di-
restui calon mertua. Hari itu menjadi hari terindah dalam
hidupku. Syahid sampai heran, aku yang biasanya diam,
kini banyak berdendang, terutama lagu-lagu semenanjung
yang sedang tren, mulai dari Amy Search sampai Iklim.

Sesuai janji, keesokan harinya aku datang tepat waktu.
Kulihat Pak Jalil hanya sendirian saja. Ke mana Surayya,
kembang dambaan itu? Pastilah ia akan memberi surprise
yang luar biasa kepadaku. Pak Jalil tersenyum padaku.
Beliau seperti menanti kehadiran orang penting, calon
menantunya. Ehm!

277

http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS

“Simuh, ba a kaba?3 Anak Bapak yang satu ko memang
rajin, langganan yang hebat dan tepat waktu!”

“Ya, Pak. Terima kasih!”
Aku tersipu. Pak Jalil tersenyum ramah. Petang itu,
Pak Jalil kelihatan ganteng sekali. Agaknya, rambutnya
baru saja dipotong rapi dan beberapa helai yang mulai
memutih pun sudah samar dengan bilasan cat rambut.
“Pak Jalil kelihatan awet muda ya!?” ujarku berbasa-
basi.
“Ah, bisa saja Simuh ko! Aa... sudah pandai pula
memuji!” Pak Jalil senyum lagi. Makin semringah.
“O, ya! Yang kepatang4 itu, a sebentar ya!”
Pak Jalil berjalan ke belakang. Di balik tokonya
memang ada sedikit ruang untuk istirahat. Dia menguak
tirai itu dan masuk ke ruangan tersebut. Jantungku ber-
debar menunggu bunga pujaan hati. Ketika Pak Jalil keluar
lagi dari bilik itu, mendadak saja jantungku berhenti ber-
detak. Hanya sendirian.
“Ini dia. Cantik, 'kan?”
Pak Jalil menyodorkan setangkai mawar ke hadapanku.
Bunga itu tertanam dalam pot yang terbuat dari tanah liat,
dengan hiasan ornamen yang amat memikat, bermotif daun
dan ukiran. Hatiku menjadi kelu melihat kenyataan yang
ditunjukkan Pak Jalil. Aku melupakan sesuatu yang sangat
penting, bahwa Pak Jalil adalah orang yang lugu, kendati
ramah dan mudah bergaul. Dalam kasus ini malah sangat
naif, tak paham majaz, apalagi segala macam ilmu mantiq.

3 Apa kabar
4 kemarin

278

http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT

Aku lupakan itu, sesuatu yang sangat fatal. Oh, God! Pak
Jalil masih terus beramah-tamah, padahal wajahku sudah
sangat masam di depannya. Ia tak memedulikan reaksiku,
bahkan meneruskan niatnya.

“Ini tak mahal. Tiga ribu sajo. Tapi karena Simuh
benar-benar berminat, Bapak kasih diskon. A... dua
ribulah!”

Aku manyun. Tuah betul. Pak Jalil malah membisniskan
cinta, sesuatu yang tulus. Aku hanya diam. Pak Jalil heran,
aku yang tadinya begitu antusias mendadak terdiam di
hadapannya. Aku mulai kesal dengan segala hal yang
terjadi. Kami saling diam. Aku tak tahu harus berkata
apa. Pak Jalil pun agaknya sudah menyadari keramahanku
yang mendadak hilang. Dia tak paham dan juga terdiam.
Sesaat kemudian, ada pembeli lain, dan Pak Jalil antusias
melayaninya lebih dulu. Usai transaksi dengan pelanggan
itu, kami kembali tinggal berdua. Masih saling diam.
Untunglah, sejurus kemudian Bu Jalil datang. Sosoknya
menyeruak dari dalam bilik kecil. Kekakuan itu pun cair
seketika. Mendadak aku punya ide cemerlang.

“Eh, Bu Jalil. Saya kira Surayya! Ibu kelihatan muda
hari ini, mirip Surayya, bagai kakak beradik saja!” pujiku
meniru gaya Benyamin S di hadapan calon mertua.

“Ah kamu, bisa saja ya!”

Bu Jalil tersenyum. Wajahnya bersemu merah.
Perempuan memang unik, terkadang begitu mudah di-
rayu, apalagi untuk perempuan berumur seperti Bu Jalil.
Pujilah ia setinggi langit, kemudian tunggulah hasilnya.
Mungkin, pujian itu sudah lama sekali tak didengarnya,
sudah belasan tahun yang lalu. Sebagai perempuan, tentu
ia masih punya keinginan mendengarkan kata-kata manis

279

http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS

seperti masa mudanya dulu. Saat itu, setiap jejaka yang
datang, pasti menyerbunya dengan beribu pujian. Kini,
pengakuan itu muncul kembali. Alangkah indahnya. Kini,
Bu Jalil mulai masuk dalam perangkap cemerlangku, yang
mendadak tersengat listrik ratusan volt usai kaku bersama
Pak Jalil. Lampu ide itu benar-benar benderang menerangi
kegelapan dan kekakuan bersama Pak Jalil.

“O ya, Bu! Surayya di mana sekarang? Tak pernah
tampak lagi!” ujarku ramah, tapi penuh muslihat.

“Ya, itulah, Dik. Dia itu kemarin pindah ke Bukit
Tinggi. Tapi kemudian tak tahan. Banyak laki-laki yang
mengganggunya, mengejarnya terus-menerus. Sekarang
ini pindah ke Padang, di tempat neneknya. Baru sebulan.
Mudah-mudahan amanlah di sana. Doakan ya, Dik!”

“Ya lah, Bu. Mudah-mudahan baik-baik saja!”
Bu Jalil memanggilku “Dik”. Mungkin dia merasa muda
karena rangkaian kalimatku. Rayuan maut ala Benyamin S
yang manjur telah termakan. Bagiku itu tak penting. Yang
terpenting, aku tahu di mana Surayya sekarang, berkat
sedikit muslihat tentunya. Aku juga membayangkan,
betapa beratnya beban Surayya. Entah berapa jejaka dan
duda yang mengejarnya. Dan, aku salah satu di antaranya.
Ternyata, kecantikan tak selamanya mendatangkan berkah.
Setidaknya untuk kasus Surayya. Cantik dapat berarti duka
atau musibah.
“A... lalu bunganya bagaimana? Dua ribu saja, nyo!
Diskon lagilah. A... seribu lima ratus. Iko murah bana
ma!”5

5 Ini murah sekali lho!

280

http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT

Pak Jalil tiba-tiba menyela, aku tercekat. Bu Jalil me-
lihat ke arahnya dengan cemberut. Agaknya, dia merasa
tak enak hati.

“Sudahlah, Da!6 Bunga ini banyak di rumah. Bawa
saja Dik Simuh! Ini gratis dari saya!”

Perempuan memang makhluk unik, kadang susah
ditebak. Apakah Surayya seperti itu juga? Atau seperti Pak
Jalil? Aku tak tahu.

***

Sejak hari itu, aku tak pernah mendengar kabar beritanya.
Namun demikian, bunga pemberian keluarga Pak Jalil
tetap kurawat dengan baik, sebagaimana aku tetap menjaga
rasa cinta dan kasih dalam hatiku. Bunga mawar itu pun
tumbuh subur. Ketika musim berbunga, kuncup-kuncup-
nya merekah dengan indah. Seindah Surayya. Di malam
hari, aku kerap membawa bunga mawar yang indah ini ke
halaman asrama sambil menatap bintang-bintang di langit.
Kulihat satu di antara bintang itu mengerdip kepadaku
dalam sepi, sendirian. Dia menggodaku dengan kerdipan
itu. Itulah Bintang Kejora. Itulah Surayya.

Ketika liburan panjang tiba, kutitipkan hatiku,
bunga mawar itu pada Yani yang tinggal di asrama. Aku
berpesan kepadanya untuk selalu menyirami bunga pusaka
tersebut tiap pagi dan petang. Tapi malang, ternyata dia
abai, malah ikut berlibur ke kampung Zulhuda. Selama
dua bulan tak mendapat air, kuncup-kuncup bunga itu

6 Da, panggilan untuk Uda, yang berarti Abang dalam bahasa
Minang.

281

http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS

pun satu per satu berguguran ke tanah, bersama dengan
gugurannya dedaunan kuning yang meranggas. Tamatlah
riwayat bunga yang penuh kenangan itu. Seiring dengan
berjalannya waktu, pelan-pelan, gugur pula harapanku,
hilang ditelan zaman, bersama berbagai persoalan yang
kemudian membelit.

***

282

http://facebook.com/indonesiapustaka 22

Geng Friday Vs Pocong

Di persimpangan lorong gelap mirip labirin menuju
penurunan asrama kami, terdapat sebuah kantin.
Pemilik kantin, Mbak Asri dan Mas Lono, merupakan
orang-orang baik lagi ramah. Kalau ada keperluan apa saja,
pintu rumah mereka selalu terbuka bagi kami. Awalnya,
ada seorang kawan yang meminjam palu untuk memaku
lemari. Karena tak lekas pulang, banyak yang bertanya-
tanya. Apa yang membuatnya betah di sana? Apakah ada
gadis tambatan hati? Apakah anak Mas Lono mirip Desi
Ratnasari juga? Ternyata tidak. Anak mereka masih kecil-
kecil. Tentu ada hal lain yang menyebabkan sang kawan
betah di sana. Ternyata, di rumah itu ada televisi hitam
putih berukuran 14 inci. Itulah daya tarik hebat baginya.
Kemudian, penyakit ini menular kepada yang lain dengan
sangat cepat. Magnet kotak ajaib itu begitu dahsyatnya.
Virusnya membelah diri dalam hitungan detik dan me-
nyebar ke kepala kawan-kawan. Sejenis amuba yang siap
menggerogoti rasa penasaran.

http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS

Maklum saja, bagi kami anak setengah pesantren,
televisi adalah barang mewah. Asrama Darul Falah tak me-
miliki televisi sama sekali. Satu-satunya televisi untuk 120
anak ini ada di asrama Darun Najah kelas III. Perlu mental
baja untuk datang ke asrama kelas III, apalagi untuk
sekadar urusan nonton televisi. Andaikata bisa menonton
pun limit waktunya sangat terbatas, karena Ustadz Zaidan,
pembina asrama kelas III, hanya membolehkan televisi
hidup untuk siaran bermutu saja seperti “Dunia dalam
Berita”. Untuk segala macam hiburan dan film, tak ada
cerita. Ustadz Zaidan memastikan itu tiap hari.

Tentu kondisinya berbeda dengan televisi Mbak
Asri yang bebas sensor. Kendati hanya ada siaran TVRI,
tapi berbagai sinetronnya cukup memikat. Film-filmnya
apalagi, sangat mengasyikkan. Di antara film yang paling
digemari komunitas kami adalah Friday The 13th, sebuah
film thriller yang sangat mencekam. Kami hanya menunggu
film ini tiap pekannya. Sesuai judulnya, film berseri ini
ditayangkan tiap malam Jumat. Maka, usai shalat Isya
berjamaah di masjid, diam-diam beberapa orang di antara
kami tak turun melewati lorong, namun menyelinap ke
kantin lalu mengetuk pintu rumah Mas Lono dan Mbak
Asri. Si empunya sudah paham maksud kedatangan
rombongan pemuja kisah hantu ini, dan pintunya selalu
terbuka lebar. Rombongan ini mirip dengan orang-orang
yang ingin menonton bioskop misbar1, berjalan tergopoh-
gopoh untuk mencari tempat strategis, takut kalau kena
hujan. Tapi kali ini, tentu karena takut ketahuan Ustadz
Amri, bukan karena hujan.

1 Misbar, sebutan untuk bioskop yang terbuka bagian atasnya,
jika gerimis, bubar.

284

http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT

Seperti biasa, jika ada tren baru, aku baru tahu ke-
biasaan itu belakangan. Saat menyadari penghuni asrama
selalu berkurang tiap malam Jumat, aku penasaran.
Maka kulakukanlah investigasi kecil-kecilan. Akhirnya,
kutemukan jejak para penyelinap ini. Satu rombongan
penyelinap, kadang bisa mencapai 10 orang. Untuk dapat
menonton Friday The 13th, mereka harus berdesak-desak-
an di ruang tamu yang sempit. Syahdan, pada suatu malam
Jumat Kliwon yang tak berbintang, disertai lolongan
anjing liar dari kegelapan malam, aku resmi masuk
sebagai anggota geng penyelinap ini. Tak ada perayaan
dan persyaratan khusus untuk menjadi anggota tetapnya.
Cukup tutup mulut alias dapat menyimpan rahasia.

Setelah masuk geng yang satu ini, barulah kutahu
bagaimana hasrat dapat mengalahkan apa pun. Ternyata,
tontonan dapat menjadi candu yang meracuni, kendati
peringatan dan larangan telah terpatri di kepala. Justru
di sanalah tantangan dan ketegangannya. Padahal, ber-
desak-desakan mencari tempat saat menonton film ini
merupakan hal yang harus diterima sebagai konsekuensi
anggota geng. Sama sekali tak nyaman. Namun di sanalah
hebatnya suasana hati saat menonton. Tak terbayang
bagaimana rasanya menonton film ini sendirian, di malam
Jumat yang beku mencekam.

Sutradara film ini tentunya sangat hebat. Ia ber-
hasil mengeksplorasi rasa takut pada diri manusia, mem-
visualisasikannya dalam bentuk gambar bergerak, sampai
ketakutan itu benar-benar hadir dan dirasakan oleh pe-
nonton. Meski kami tahu itu hanya akting dalam film,
tapi ia tampak begitu nyata. Bulu kuduk akan berdiri
ketika sosok misterius dan benda-benda horor yang

285

http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS

klasik tiba-tiba bermunculan. Lalu ada yang mati, darah
berceceran. Para jagoan mulai melakukan penyelidikan,
nyawa yang menjadi taruhan. Kadang, ia terperangkap
dalam labirin misteri tak terpecahkan. Ditambah lagi de-
ngan iringan musik yang khas, suasana horor pun kian
kental. Sang sutradara benar-benar sukses menciptakan
nuansa ketakutan universal lewat filmnya, dari jarak
beribu-ribu mil yang kami tak tahu tempatnya. Semua
unsur ketakutan disajikan serba sempurna, “profesional”
kata orang.

Tentu berbeda dengan film produksi dalam negeri.
Orang Barat pasti tak akan takut pada Suzanna yang ber-
peran sebagai kuntilanak, karena trik kamera dan ilustrasi-
nya sangat payah. Kadang masih terlihat tali-temali saat ada
kepala tertawa melayang-layang. Kalau ia berubah menjadi
buaya, sosoknya lebih mirip cicak, roti buaya Betawi,
atau boneka. Bukan menakutkan, malah menggelikan.
Tapi, yang ini berbeda. Benar-benar membuat bulu roma
berdiri. Ketakutan yang ada dalam film itu benar-benar
bisa dirasakan semua orang, boleh dikatakan bersifat
universal. Dari orang kota seperti Badrun, sampai orang
kampung sepertiku ciut melihat berbagai adegan horor
yang disuguhkan. Usai menonton film Friday The 13th
ini, kami merasa perlu pulang bersama-sama ke asrama
yang jaraknya hanya sejengkal. Alasannya jelas, takut
sendirian. Itulah hebatnya sang kreator film ini, Frank
Mancuso, yang mampu menciptakan aroma ketakutan
kelas wahid. Biasanya, usai menonton film ini, kami akan
pulang dalam rombongan kecil yang saling berdekatan.
Jalan menurun yang gelap, dengan hawa dingin menyapa
kuduk, dan lambaian betung tua di sebelah asrama de-

286

http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT

ngan derak-derak patah dan siulan mautnya, disertai
pemandangan dua kuburan, akan menyergap kami tiap
malam Jumat. Tapi di sanalah sensasinya, ketakutan yang
mengasyikkan. Kami takut, tapi ketagihan. Ibarat rokok
yang selalu diberi label ancaman kematian, tapi candunya
telah melenakan.

***

Saat ujian semester pertama dimulai, kebiasaan nonton
Friday The 13th ini terhenti di pekan pertama ujian. Ustadz
Amri menegaskan akan mengamati kegiatan belajar para
penghuni asrama binaannya, baik di masjid, di kamar,
maupun di ruang-ruang kelas MAN, yang kerap diguna-
kan beberapa di antara kami. Pekan pertama ujian sukses
kami lalui dengan ketekunan belajar. Namun di pekan
kedua, saat ujian sudah memasuki babak-babak akhir,
bisikan-bisikan untuk menonton itu hadir kembali. Rasa
penasaran pada kisah yang terlewat satu episode telah
menjadikan kami melupakan niat semula untuk belajar
dengan sungguh-sungguh.

Pantas saja, penasaran menjadi pangkal dari segala
dosa. Jika penasaran itu diberi bumbu lebih hebat oleh
setan, maka ia akan berubah menjadi perbuatan dosa dan
durhaka. Tahukah Engkau Sobat, dosa pertama manusia
terlahir dari rasa penasaran? Itulah penasaran Adam ter-
hadap buah larangan, Khuldi. Larangan Tuhan justru men-
jadikan rasa penasaran itu bertambah-tambah. Jika tak
dilarang, mungkin selera Adam tak akan terbit melihat
buah Khuldi yang tergantung manis di salah satu sudut
surga. Bukankah buah-buahan lain begitu banyak ragam
dan rasanya, tak dilarang pula. Tapi mengapa Khuldi? Di

287

http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS

sanalah peran Iblis semakin nyata. Raja setan ini menggoda
Adam dengan segala cara. Tak usahlah kusebutkan rincinya
kisah ini, karena sudah termaktub jelas dalam kitab suci.
Agaknya, penasaran kami mirip-mirip penasaran Adam
terhadap Khuldi. Hanya sepekan kami sanggup melawan
godaan dan menaati larangan Ustadz Amri yang begitu
sakral. Pekan berikutnya, saat ujian masih berlangsung,
setan telah menguasai jiwa-jiwa kami. Kami terjebak
dalam perangkap itu, menonton kelanjutan kisah Friday
The 13th.

“Bukankah sekarang masih ujian?” ujar Mas Lono.

“Hanya ujian kesenian, Mas! Tak apa-apa, santai saja.
Ini 'kan juga kesenian, seni akting. Film itu seni lho?!”

“Tapi bagaimana kalau Pak Kepala Sekolah marah?”

“Alah 'kan beliau tak tahu, sibuk mengurung diri di
rumahnya!”

“Kalau pembina kalian, Ustadz Amri?”

“Tenang, Mas. Yang penting jaga rahasia saja!”

“Yo lah, ra opo-opo. Tapi, habis ini belajar ya?”

“Beres, Mas!”

Akhirnya, kami berhasil juga nonton film Friday The
13th, entah sudah episode yang ke berapa. Yang jelas,
cerita malam itu paling menakutkan dari yang pernah
ada. Episode kali itu menceritakan tentang sebuah barang
antik, pisau tua milik seorang pangeran yang dikutuk
sejak abad pertengahan. Sang jagoan, Ryan Dallon yang
diperankan John D. LeMay, tersesat di sebuah rumah tua,
demi mencari pisau itu untuk dikembalikan ke tempat-
nya. Bersama sepupunya Micki Foster yang diperankan
Louise Robey, mereka harus menghadapi segala ancaman

288

http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT

dari kutukan pisau itu. Tapi, justru pisau itu yang seolah
mengejar mereka. Apalagi, ahli barang antik, seorang
pemilik toko kuno, praktisi supranatural, Paman Jack
Marshak, belum juga muncul membantu keduanya.
Teriakan histeris si pirang Micki menjadi aroma ketakutan
yang diekspos sepanjang film. Dunia kegelapan malam
itu menang karena pisau itu memakan korban jiwa, se-
orang pria lanjut usia yang tiba-tiba datang karena di-
undang oleh roh jahat penghuni rumah tua itu. Malang,
orang tua itu tewas di rumah yang sudah puluhan tahun
ditinggalkannya. Kekuatan roh jahat menang.

Kami menyaksikan semuanya dengan bergidik. Se-
olah roh jahat yang bersemayam di pisau itu keluar dari
televisi, lalu mengintai jiwa-jiwa kami. Embusan angin
dingin menampar wajah, ketika kami satu per satu
keluar dari rumah Mas Lono, usai menyaksikan tulisan
to be continued... Tak seperti biasa, kali ini episodenya
bersambung, menyisakan ketakutan untuk pekan depan.
Kami pun keluar dari rumah itu dengan rasa ketakutan
luar biasa. Aku menyaksikan lambaian betung lebih
kencang dari biasanya. Desau angin menjadikannya ber-
derak keras sekali. Dua kuburan di samping asrama bagai
ikut bergerak digoyang angin. Nisannya menyala-nyala.
Lolongan anjing hutan yang tiba-tiba terdengar menyalak-
nyalak menambah suasana mencekam. Tanpa aba-aba,
kami lari tunggang langgang menuruni turunan curam,
langsung masuk ke asrama.

Di asrama, suasana terasa lebih teduh, sunyi sepi. Tak
ada suara. Para penghuninya tengah tekun belajar untuk
menghadapi ujian esok harinya. Kendati hanya ujian ke-
senian, namun banyak sekali hafalan pelajaran yang harus

289


Click to View FlipBook Version