The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Anak-Anak Langit by Mohd Amin MS (z-lib.org)

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by iislatifah96, 2021-12-05 22:46:16

Anak-Anak Langit by Mohd Amin MS (z-lib.org)

Anak-Anak Langit by Mohd Amin MS (z-lib.org)

http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS

bungsu mengantarkanku. Pak Cik kuliah di Universitas
Riau dan tinggal di sekitar kampus. Kami numpang
menginap di rumah kontrakannya, karena kebetulan ada
temannya yang pulang kampung selepas ujian.

Pagi itu, aku mengikuti ujian tulis. Ada sekitar 20
peserta ujian. Sepuluh orang dari Pekanbaru, enam orang
dari Kampar, dan empat orang dari Bengkalis. Panitia
mengumumkan bahwa ujian masuk MAK ini dilakukan
secara serentak di beberapa tempat. Selain di Pekanbaru,
ujian juga diselenggarakan di Tembilahan bagi mereka ber-
asal dari Kabupaten Indragiri Hilir dan Indragiri Hulu,
serta di Tanjung Pinang bagi mereka yang berasal dari
Kepulauan Riau.

Semua anak berkumpul di sebuah aula yang cukup
besar dan diawasi ketat beberapa orang berpakaian
safari. Tak satu pun yang kukenal, baik dari peserta ujian
maupun pengawasnya. Tapi, apa peduliku. Sudah men-
daftar di SMA 1 Pekanbaru membuatku berbunga-bunga.
Ada harapan besar yang kurasakan. Hidupku kembali,
harapanku membuncah lagi. Dalam hati aku bersorak,
“Hai sains, Einstein, aku datang!” Dari informasi yang
kudapat, SMA 1 Pekanbaru ini memiliki fasilitas yang
lengkap, mulai perpustakaan, laboratorium hingga
gedung sekolah. Guru-gurunya pun sangat ekselen. Pokok-
nya hebat. Kupikir, agaknya lebih hebat daripada SMA
Wahidin Bagan Siapi-api.

Aku memasuki ruang ujian tulis dengan semangat.
Semua peserta tampak dengan saksama mengikuti instruksi
dan pengarahan tentang tata tertib ujian dari pengawas.
Sorot mata yang fokus dan wajah-wajah yang serius, meng-
isyaratkan semangat mereka yang membara. Semua materi

40

http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT

ujian berbentuk pilihan ganda, tinggal memberi tanda
silang pada pilihan yang dianggap benar. Ada lima puluh
soal untuk materi pengetahuan Islam dan lima puluh soal
pula untuk materi bahasa Arab. Masing-masing materi
ujian diberi waktu satu jam. Di antara dua ujian tulis itu,
disediakan waktu istirahat setengah jam. Aku melahap
materi ujian pengetahuan Islam dengan cepat, bahkan
dapat kuselesaikan dalam waktu kurang dari satu jam.
Sedangkan untuk bahasa Arab, sedikit agak rumit, kendati
dapat kuselesaikan hingga injury time. Sebuah perjuangan
yang tak ringan, terutama menjawab materi bahasa Arab.

Usai ujian, barulah aku tersadar. Aku telah menjawab
soal-soal ujian tulis tadi dengan serius, dengan seluruh ke-
mampuanku. Semangatku yang membara usai mendaftar
di SMA 1 Pekanbaru telah menjadikanku lupa dengan
niatku semula. Yaitu, menyelesaikan soal ujian MAK ini
dengan asal-asalan saja. Wah, jangan-jangan aku lulus.
Sesuatu yang tak kuharapkan tentunya. Aku pun berjanji
dalam hati, untuk ujian wawancara esok hari, aku akan
asal-asalan saja.

Esok harinya, pagi-pagi sekali aku sudah diantarkan
Pak Cik Syahruddin untuk tes wawancara. Dewan peng-
ujinya terdiri dari empat orang. Masing-masing duduk di
sudut ruangan sebuah aula yang berukuran 15x25 meter.
Dua penguji melakukan tes wawancara dengan materi
pengetahuan Islam, sedangkan dua lagi materi bahasa
Arab. Kadang ada juga yang menguji hal lain, misalnya
motivasi, bakat, atau hal lain yang tak begitu penting.

Ujian ini dilakukan secara bergiliran. Satu kali masuk
ruangan, empat orang peserta langsung datang ke masing-
masing penguji. Setelah selesai di satu penguji, masing-

41

http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS

masing peserta datang ke meja penguji yang lainnya untuk
diwawancarai. Begitu seterusnya, hingga keempat peserta
mendapatkan giliran diuji oleh penguji sesuai dengan
bidangnya masing-masing. Rata-rata, satu penguji meng-
habiskan waktu lima belas hingga dua puluh menit. Jika
dikalkulasikan empat penguji, tentu diperlukan waktu
minimal satu jam hingga satu jam dua puluh menit.

Aku mulai memprediksi kapan giliranku. Tak ada
jadwal nama yang dipanggil, sehingga tak bisa diperkirakan
siapa yang dipanggil setelah empat peserta pertama keluar.
Semuanya menunggu di luar ruangan. Kulihat sebagian
besar dari peserta tes membaca buku-buku pelajaran MTs,
mulai dari al-Quran-hadits, aqidah akhlak, fikih, sejarah
Islam, hingga bahasa Arab. Ada juga yang berdiskusi antar
sesama peserta. Tampaknya mereka sudah saling kenal,
mungkin satu sekolah. Semuanya tampak begitu serius,
sangat antusias.

Empat peserta pertama keluar dari ruang ujian dengan
wajah tegang. Entah apa yang ditanyakan para penguji itu,
sehingga membuat mereka tampak frustrasi. Wajah-wajah
mereka kusut masai, seperti seprai yang baru dicuci dan
belum sempat disetrika.

“Susah, Syaf?”
“Beratlah. Mungkin aku tak lulus tampaknya ni!”
“Masa juara umum tak lulus? Yang benarlah Dikau,
Syaf?”
“Ya, tapi ini benar-benar berat, Wak!”
“Berat, ye?
“Serius! Mike1 ni tak percaye 'kan aku?”

1 Kamu (bahasa Melayu)

42

http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT

Seorang yang dipanggil Syaf itu menekuk wajahnya
dalam-dalam. Ada kelelahan dan keputusasaan di wajah-
nya. Lalu kulihat anak yang bertanya tadi menanyakan
tentang apa saja yang sudah ditanyakan para penguji. Anak
yang dipanggil Syaf itu menyampaikan apa yang dialami-
nya dan gambaran pertanyaan yang sudah ditanyakan
kepadanya. Mereka terlibat pembicaraan dan diskusi
serius. Kulihat beberapa anak lainnya juga menanyakan
kepada rekannya. Tampaknya satu sekolah, karena mereka
memiliki seragam yang sama, dengan batik Riau berwarna
biru bermotif bunga-bunga. Ini tentu beda denganku yang
“sebatang kara”. Meskipun ada empat orang yang berasal
dari Kabupaten Bengkalis, tapi hanya aku seorang yang
dari Bagan Siapi-api. Mungkinkah salah satu yang sudah
dites itu anak dari Bengkalis? Kusimak bahasa Melayunya,
seperti Melayu pesisir, agak dekat ke Melayu Kepulauan,
namun sedikit beda dengan kami. Aku ingin mendekat dan
bertanya, ketika tiba-tiba dari pengeras suara terdengar
panggilan. Terpaksa kuurungkan karena semua telinga
memang dipasangkan ke arah panggilan. Tak ada namaku.
Artinya, harus satu jam lagi menunggu.

Empat orang kedua usai, dan empat orang giliran
berikutnya bergegas masuk ke ruang ujian—tak termasuk
aku. Ruangan itu tampak semakin angker bagi kami
semua. Aku pun ikut larut dan merasakan atmosfer ke-
tegangannya, terpengaruh dengan pembicaraan mereka.
Apalagi, seorang anak yang baru keluar langsung berkata
kepadaku, menyampaikan keluh kesahnya. Aku tak kenal
anak itu, tapi ia tampak berusaha mengakrabkan diri.
Tampaknya, ia tak punya kawan juga. Mungkin tinggalnya
di ujung barat Riau sana, karena bahasanya lebih mirip

43

http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS

bahasa Kampar yang lebih kasar, dekat ke arah perbatasan
Sumatera Barat, arah ke Barat sedikit dari PLTA Koto
Panjang. Agak beda dengan bahasa Omak dan Uwan.2

Usai kloter ketiga keluar dari ruangan, panitia meng-
umumkan bahwa tes berikutnya akan dilanjutkan setelah
istirahat shalat Zuhur dan makan siang. Giliranku tertunda
lagi. Panitia kemudian membagikan konsumsi kepada
semua peserta ujian, termasuk para penguji. Panitia juga
menunjukkan kepada kami di mana mushalla kantor
berada. Aku dan beberapa anak yang lain pun bergerak
menuju mushalla. Sebagian lagi, ada yang langsung me-
nyantap makan siang yang telah dibagikan.

Seorang pria berpeci hitam, bersafari cokelat tua dan
memiliki janggut tipis menjadi imam shalat Zuhur waktu
itu. Ia tampak bersahaja dan dihormati beberapa pegawai
di lingkungan kantor itu. Seperti orang yang sangat ber-
pengaruh di sana. Usai shalat zuhur, shalat sunat rawatib,
dan sedikit berzikir serta doa, sang imam ini menyalami
kami satu per satu. Aku yang terakhir. Tak kusangka, ia
menggenggam tanganku lebih lama dan erat sekali. Ada
energi yang tersalurkan dari tangannya. Ia memandangku
dengan tajam.

“Nak, kamu ini seperti dalam kegundahan. Ada raut
kemuraman dan kekusutan di wajahmu. Ada apa?”

Tentu aku terkejut mendengar pertanyaan yang tak
kusangka, yang langsung menohok hati. Ia seperti dapat
menebak isi hatiku. Bapak ini membaca pikiranku.

“Ah, tak apa, Pak!”

2 Nenek (bahasa Kampar, Riau)

44

http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT

“Tidak. Sepertinya Anak ini tak nyaman ikut tes ke
MAK? Bukankah begitu?”

“Ah, tidak juga, Pak. Mungkin karena terlalu lama
menunggu. Giliran saya belum juga sampai. Padahal, saya
sudah menunggu dari pagi. Saya ingin menyelesaikan ini
secepatnya biar tak ada urusan lagi!”

“Tak ada urusan lagi? Maksudnya bagaimana?”

“Ya, biar lunaslah utang saya pada Mak saya. Mak
ingin saya masuk sekolah ini. Abah juga macam tu.
Padahal saya tidak. Saya ingin masuk SMA, Pak! Saya
ingin mempelajari sains lebih banyak, agar dapat menjadi
ilmuwan.”

Ups. Mulutku terlanjur banyak omong rupanya.
Kulihat Pak Imam itu mengernyitkan dahinya. Matanya
menatapku lekat-lekat. Dingin. Tajam. Tapi kemudian dia
tersenyum.

“Begini Nak, ya! Cita-cita dan harapanmu bagus. Tapi
mempelajari agama itu juga bagus. Islam memerlukan
anak-anak yang tangguh dan cerdas untuk membelanya.
Makanya, Depag ingin mencetak anak-anak yang tangguh
itu. Dari anak-anak pilihan seperti kalianlah, maka masa
depan agama ini akan lebih baik. Jangan sampai yang
belajar di sekolah agama itu hanya anak-anak bodoh saja.
Sekarang, kalau ada anak bodoh, bandel, maka dikirim
ke pesantren. Akibatnya, pesantren kita banyak yang jadi
tong sampah, tempat anak-anak buangan, anak-anak yang
bermasalah. Kalau begitu terus cara berpikir kita, maka
siapa yang akan menjadi pemimpin Islam ke depan nanti?
Untuk itu, Depag ingin mengubahnya, karena sekolah
agama bukan tempat anak-anak bodoh. Ya... sebenarnya
pilihan tinggal pada kamu sendiri. Tapi saran Bapak,
ikutlah program sekolah ini!”

45

http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS

Aku hanya tersenyum. Ada perasaan malu juga di hati
karena bapak itu tahu apa keinginanku, harapanku dan...
kepura-puraanku ikut tes ini. Tampaknya, ia merupakan
sosok yang berpengaruh di kantor ini. Tapi yang pasti,
bapak ini bukan salah satu penguji, karena aku sempat
mengintip sosok-sosok penguji itu dari jendela. Bapak ini
bukan salah satunya.

“Terima kasih, Pak!”

“Ya ya. Tak apa.”

Ia kemudian beranjak. Beberapa pegawai kemudian
menyusul di belakangnya. Baru kusadari, percakapanku
tadi disimak yang lain juga. Gawat! Apalagi kalau sampai
ke telinga para penguji. Aku akan jadi bulan-bulanan
mereka di ruang ujian. Tapi kenapa aku harus pusing?
Bukankah aku memang tak ingin lulus dalam tes ini?
Kalau perlu, aku berdebat dengan para penguji itu, biar
sekalian tak diluluskan hari itu juga.

Usai makan siang, aku kembali ke ruang tunggu.
Ketika panggilan untuk tes wawancara terdengar, namaku
belum juga disebut. Barulah pada panggilan terakhir, saat
kesabaran sudah sampai titik nadir, ketika menunggu
bukan lagi menjadi penantian harapan, panggilan itu
datang. Saat itu sudah pukul 15.00, ketika kami semua
sudah kelelahan. Aku masuk dan duduk di hadapan se-
orang bapak berkepala agak botak, dengan kumis tipis
menghiasi bibirnya. Sebuah dasi merah bermotif garis-
garis terpasang rapi di atas kemeja putihnya. Ia menatap
agak sinis kepadaku. Telapak tangannya menempel di
meja dan jari telunjuknya mengetuk-ketuk, seperti me-
nyatakan, “Awas kau!” Matanya menatap tajam bak ingin
menelanku.

46

http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT

“Masmuk?”
“A... apa, Pak?”
“Masmukkk?”
“Ng... anu. Tak tahu saya, Pak!”
“What’s your name?!”
“Oooo, Simuh, Pak!”
“Aina taskun?”
“Mmmmmm, anu..!”
“Aina taskun… Where’s your address?”
“O, alamat. Di Bagan Siapi-api, Pak!”
“Ma ahzana istitha’ata hadzal walad fi lughatil
‘arabiyyah. A hadzalladzi sayadkhulu al-madrasah al-
’aliyah al-khasshah!?”3
Bapak itu seperti bergumam sendiri, namun agaknya
sengaja diperdengarkan padaku. Begitu demonstratif.
Aku hanya manggut-manggut mendengar khutbahnya.
Cengengesan. Tampak bapak itu menarik napas, mau marah
tapi tak jadi, karena reaksiku tak menunjukkan ekspresi
gentar. Sejurus kemudian, ia membuka buku bacaan.
Pelajaran bahasa Arab untuk Madrasah Tsanawiyah. Ia
menunjuk bacaan dengan judul “Biladuna”, bacaan untuk
semester pertama kelas III MTs.
“Iqra’!”
Kali ini aku paham, itu sebuah perintah untuk mem-
baca. Itu adalah perintah malaikat Jibril kepada Rasulullah,
ketika pertama kali menerima wahyu. Aku coba membaca

3 Alangkah menyedihkannya kemampuan bahasa Arab anak
ini. Apakah yang seperti ini akan masuk ke Madrasah Aliyah
Khusus?

47

http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS

tulisan Arab tak berbaris itu, kitab gundul yang sebenarnya
tak benar-benar gundul, karena di tempat tertentu ada
barisnya. Karena bagian dari pelajaran bahasa Arab kami,
aku tak kesulitan membacanya, kendati mungkin banyak
salah juga. Kulihat bapak itu manggut-manggut saja, ter-
dengar juga deheman berkali-kali. Entah apa maksudnya
dan apa yang ada dalam kepalanya. Sesekali, muncul juga
komentar miring darinya, sesuatu yang tak mengenakkan,
kadang membuat kesal.

Aku mulai menyadari satu hal, para penguji ini
memang sedang menekan kami, berusaha mengintimidasi
dan menjatuhkan mental. Apalagi mungkin saja kejadian
di mushalla tadi sudah diketahuinya. Jadi, tekanan padaku
lebih kuat. Hal yang sama kualami ketika menghadapi para
penguji lainnya. Bahkan, ada yang lebih keras dengan me-
nunjuk-nunjuk sambil menyumpah-nyumpah dalam bahasa
Arab, yang aku tak paham. Dengan suaranya yang meng-
gelegar, penguji ketigaku menumpahkan kekesalannya pada
jawabanku yang senada, yakni “tak tahu”, “tak paham”,
atau “entah, Pak!” Nyatanya, aku memang bersikap terlalu
apa adanya dalam tes wawancara itu, tak berusaha sedikit
pun, spontan, dan cenderung masa bodoh. Suatu sikap
yang tentu mengesalkan bagi para penguji itu. Mereka pasti
mengharapkanku dan semua peserta tes ini mati ketakutan,
kalau perlu terkencing-kencing di kursi itu. Bagiku, semua
tak masalah dan aku menghadapinya dengan santai. Yang
penting bagiku semuanya selesai, dan semua urusan beres.

***

Sepekan telah berlalu. Kini, tibalah waktunya. Saat-saat
yang mendebarkan bagi peserta ujian masuk MAK. “Peng-

48

http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT

umuman”. Pagi itu, aku sempat menolak untuk datang
melihatnya, namun Abah memintaku tetap datang. Kalau
tak lulus, aku boleh melanjutkan rencana B, sekolah di SMA
1 Pekanbaru. Tapi kalau lulus? Belum terpikirkan. Mudah-
mudahan saja tidak. Aku sudah berbuat seenaknya kepada
para penguji, tak memperlihatkan sedikit pun kegentaran
pada mereka. Bahkan, untuk pertanyaan tentang sejarah
Islam, aku mendebat mereka habis-habisan. Lebih cocok
disebut debat kusir daripada tes wawancara, karena aku
menempatkan diri setara dengan penguji itu. Aku ingat,
hampir saja aku diusir dari ruangan itu, karena meralat
pertanyaannya, bukan malah menjawab yang ditanyakan.
Ah, sepertinya memang takkan lulus!

Kenangan itu masih membekas dalam ingatanku,
ketika aku sudah berada di depan dinding pengumuman
Kanwil Depag. Kulihat beberapa anak sudah ada di sana,
mengamati lekat-lekat papan dinding pengumuman. Ada
di antara mereka yang tampak asing bagiku, karena tak
terlihat waktu tes sepekan yang lalu. Mereka juga tampak
tak berusaha mencari pengumuman seperti yang lain, bak
sudah tahu hasilnya. Apakah ada yang tak ikut tes tapi
bisa lulus, seperti sering terjadi pada penerimaan sekolah
untuk keprajaan yang didominasi anak-anak pejabat itu?
Atau tak ubahnya penerimaan PNS yang sering diikuti
joki, sama sekali tak ikut tes, tahu-tahu diumumkan lulus?
Berbagai pikiran miring melandaku. Namun, melihat
tampangnya yang lugu dan lucu, bahkan cenderung agak
pendiam, sepertinya tidak. Bukan tipe anak pejabat yang
banyak gaya dan over acting. Mungkin aku salah.

Puas sudah rasanya mengamati dinding pengumuman
di Kanwil Depag itu, yang kami cari tak ada. Ternyata,

49

http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS

panitia tak menempelkan pengumuman di sana. Kami,
sesama peserta tes pun saling bertanya. Ada apa? Jawaban
atas berbagai pertanyaan itu kemudian muncul ketika ada
pengumuman yang disampaikan oleh salah seorang panitia
kepada kami yang sedang berkumpul. Kami diminta masuk
ke aula, karena pengumuman akan langsung disampaikan
oleh Kepala Kanwil Depag Riau.

Satu per satu kami masuk ke ruangan yang sepekan lalu
jadi tempat ujian yang menggetarkan sebagian besar kami,
kecuali aku tentunya. Beberapa orang datang dari pintu
lain ruangan itu dan duduk di kursi terdepan. Protokol
kemudian memulai acara. Setelah menyampaikan sedikit
pembukaan, protokol langsung mempersilakan Kakanwil
Depag Riau, Pak Hamdi, menyampaikan sambutannya.
Sungguh aku terkejut luar biasa, karena Pak Hamdi itu
ternyata imam kami shalat zuhur di waktu istirahat me-
nunggu tes wawancara sepekan lalu. Pantas saja, ia begitu
berwibawa dan punya karisma di mata pegawai yang lain.
Aku teringat kembali pada genggaman tangannya, tatap-
an matanya, penjelasannya tentang MAK, harapan-harap-
annya, dan segala petuahnya. Ada kebimbangan dalam
jiwa, ketika melihatnya mulai tampil di mimbar. Entah
mengapa, jantungku berdebar lebih kencang.

Dalam kesempatan itu, Pak Hamdi memaparkan
tentang MAK dan segala seluk beluknya. Beliau memapar-
kan, sekolah ini merupakan program dari Departemen
Agama, yang dibuat untuk mencetak kader-kader ulama
yang mumpuni, cerdas, berwawasan luas, dan mampu
menjawab tantangan zaman. Sekolah unggulan yang di-
gagas Menteri Agama Munawir Sadzali ini, memiliki hal
yang berbeda dibanding madrasah aliyah biasa, bahkan

50

http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT

dibanding pesantren sekalipun. Makanya, kemudian di-
sebutlah Madrasah Aliyah Khusus, karena memang ada
hal-hal yang spesial di sana. MAK adalah upaya pemerintah
membuat pesantren yang dinegerikan, bahkan dibiayai
sepenuhnya oleh Departemen Agama. Bedanya dengan
pesantren, yang akan masuk sekolah ini hanya anak-anak
yang brilian, anak-anak spesial, yang dibuktikan dengan
prestasinya selama di Madrasah Tsanawiyah. Harus ada
rekomendasi dari kepala sekolah dan kepala kantor Depag
kabupaten atau kota yang bersangkutan. Setelah itu, dites
secara ketat.

Pak Hamdi juga berpesan, bahwa yang lulus nanti
akan masuk asrama dan mengikuti sistem pendidikan yang
ketat ala pesantren. Semua fasilitas asrama berupa tempat
tidur, lemari, dan fasilitas lain sudah tersedia. Buku-
buku pelajaran, makan sehari-hari, biaya sekolah, juga
akan dapat dinikmati. Satu lagi yang penting, kami juga
dijanjikan akan mendapatkan uang saku tiap bulannya.
Beliau juga bercerita, disiplin di sekolah ini sangat ketat,
mulai dari jadwal bangun tidur, belajar, hingga hukuman
untuk berbagai keterlambatan dan kelalaian. Semua akan
diawasi secara ketat dan ada sanksi keras bagi yang me-
langgar. Di sana diterapkan pendidikan ketat ala militer.
Pelanggaran berat karena melanggar disiplin, akan di-
keluarkan dari sekolah dengan cara tidak hormat. Begitu
juga bagi mereka yang nilainya di bawah standar. Pak
Hamdi menyebut, kami adalah angkatan kelima di sekolah
ini. Ada empat angkatan yang sudah menunjukkan betapa
hebatnya mereka bersaing dengan anak-anak lainnya di
Sumatera Barat dan Jambi. Bahkan, angkatan pertama
hingga ketiga mampu bersaing dengan anak-anak se-

51

http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS

Sumatera, dari Aceh hingga Lampung. Nama mereka
begitu harum semerbak dan menjadi sumber kebanggaan.
Beliau berpesan untuk dapat menjaga kekompakan serta
menjaga dan mengharumkan nama Riau.

“Ananda sekalian ini nantinya akan menjadi ikon
Riau. Ibarat Lancang Kuning yang tengah berlayar jauh
ke Samudra. Untuk itu, harus ada yang menjadi nakhoda,
namun bukan menjadi hal yang hina ketika hanya menjadi
kelasi. Ananda sekalian adalah satu kesatuan Lancang
Kuning yang utuh. Ada yang menjadi lunasnya, kayu dasar
sampan, kayu yang kuat tak disambung, dan menjadi
fondasi Lancang Kuning kita. Kendati hanya menjadi
lunas perahu, bukan berarti ia hina. Karena tanpa lunas,
perahu tak akan mengapung. Ada juga di antara kalian
yang menjadi magon, tempat berkumpul dan berdiamnya
para kelasi, yang melindungi kelasi dari badai, hujan,
dan hempasan gelombang. Ada juga yang harus menjadi
dandan, tempat juru mudi mengendalikan arah kapal di
buritan. Juga ada yang harus menjadi sauk, sebuah kayu
yang mempertemukan kedua ujung papan dinding perahu,
yang menghubungkan haluan dan buritan. Semuanya
merupakan elemen penting dalam sebuah perahu bernama
Lancang Kuning ini,” ujar Pak Hamdi tampak begitu ber-
semangat, penuh energi.

Aku terkesima mendengarnya. Semakin jauh aku
berjalan, semakin banyak mutiara ilmu yang kutemukan.
Selanjutnya, Pak Hamdi sampai pada pengumuman ke-
lulusan yang mendebarkan itu. Beliau menyebut nama
Rasyid Sidik dari Tanjung Pinang di urutan pertama.
Rupanya, dua anak yang tak tampak ikut tes dan langsung
lulus itu berasal dari Tanjung Pinang dan mereka lulus tes

52

http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT

di sana. Satu sudah disebutkan, bernama Rasyid Sidik. Ah,
aku sudah menyangka yang tidak-tidak pada keduanya.

“Berikutnya Syafrizal dari Bengkalis, Badrun el-
Rahimi dari Pekanbaru, Muhammad Amin dari Pekanbaru,
Rinaldi dari Pekanbaru, Haris al-Bintani dari Bengkalis,
Iwan al-Ghazali dari Tanjung Pinang, Ahmad Yani dari
Tembilahan, Syarifuddin el-Banjari dari Tembilahan, dan
Sarianto dari Tembilahan.”

Pak Hamdi menghentikan ucapannya. Semua orang
terdiam. Dan memang, tak ada namaku. Haruskah aku
bersyukur atas kegagalanku yang kuanggap sebagai ke-
berhasilan? Perasaanku justru berbeda, campur aduk. Pen-
jelasan Pak Hamdi sedikit menggugahku, seorang remaja
yang masih labil dan gampang berubah arah. Ketika
namaku tak disebut alias gagal, seolah ada kehampaan
yang melanda. Sejak dulu, aku suka persaingan. Konon,
setiap lelaki sangat hobi bersaing, dan itulah yang me-
nyebabkan jenis satu ini menyukai hal-hal yang berbau
kompetisi, hal yang justru dianggap aneh oleh sebagian
besar kaum perempuan. Kini, aku gagal dalam persaingan
itu. Tentu ada kegundahan dalam jiwa. Dari audiens, se-
orang bapak berseragam memberikan isyarat. Pak Hamdi
hanya tersenyum melihat isyarat itu. Sepertinya beliau
sudah tahu.

“Ya, ya, ada yang tertinggal satu. Simuh dari Bagan
Siapi-api, Bengkalis.”

Deg! Aku tercekat. Baru saja aku akan berusaha me-
nenangkan pikiran untuk menerima kegagalanku dalam
persaingan awal ini. Ternyata, namaku disebut juga. Baru
saja aku berusaha menata hati untuk menerima keadaan.
Sekarang, situasinya berubah 180 derajat, berputar drastis,

53

http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS

dari utara ke selatan, hitam ke putih. Entah bagaimana
aku harus bersikap, bersyukur atau menyesali, tertawa
atau menangis.

“Simuh, silakan berdiri!” Aku sendiri bingung harus
bersikap seperti apa menerima kenyataan ini. Aku seakan
tak percaya ketika ada perintah itu.

Pak Hamdi tersenyum, agak nakal. Aku ragu. Dari
semua yang diumumkan lulus, hanya aku yang diminta
berdiri secara khusus. Padahal, aku di urutan terakhir.
Artinya, yang paling bodoh di antara mereka yang lulus
ini. Kenapa bukan anak Tanjung Pinang itu? Aku kikuk,
tak tahu harus bersikap bagaimana. Di tengah rasa kikuk
dan bingung itu, aku pun berdiri juga, mengangguk pada
Pak Hamdi. Para penguji menengok ke arahku. Mereka
tersenyum. Tulus. Anak-anak lain melihatku. Aku tambah
grogi.

“Simuh ini sebenarnya anak yang berbakat dan cerdas.
Hasil tes tertulisnya menunjukkan itu. Ia juga memiliki
visi dan tekad, sesuatu yang diperlukan bagi negeri dan
umat ini. Makanya, dengan segala kekurangannya, ke-
keraskepalaannya, keberaniannya kepada tim penguji,
kami meluluskannya.”

Aku tambah tersipu. Serasa badan ingin hilang saja
dari hadapan mereka, berubah menjadi asap, mengepul
ke udara, atau tiba-tiba berubah menjadi batu yang tak
bisa mendengar, melihat, dan merasakan semua kejadian
di ruangan itu.

“Ananda sekalian. Itulah hasil dari tes yang sudah
kami selenggarakan. Kami sudah berusaha dengan fair
dan inilah hasilnya, sebelas anak yang akan mengarungi
kawah candradimuka. Selamat kepada ananda sekalian!

54

http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT

Dan untuk ananda yang belum beruntung, semoga men-
dapatkan sekolah yang sama baiknya.”

Beberapa anak yang tak lulus mulai menampakkan
wajah sedih. Bahkan seorang anak bertubuh kecil, de-
ngan kaca mata berantai yang sangat tebal tak dapat
lagi membendung air matanya. Ia sesenggukan. Ku-
lihat beberapa anak di dekatnya menepuk pundak anak
yang sebelumnya tampak sangat percaya diri itu. Anak
Pekanbaru yang tampak sangat pintar.

“Ini memang sebuah keputusan yang berat. Ada anak-
anak kita yang begitu ingin masuk ke MAK, namun tak
lulus. Tapi ada juga yang angin-anginan, malah lulus. Tapi
percayalah, semuanya kami nilai secara fair. Sekali lagi, ini
hasil yang sangat adil, tak ada intervensi atau tekanan dari
mana pun. Bapak yang langsung mengawasi dan meng-
garansi.”

Kayaknya kata-kata itu ditujukan kepadaku dan
anak kurus-kecil berkaca mata, yang masih sesenggukan
itu. Ternyata, ia begitu menginginkannya. Apakah aku
mundur saja dan menyerahkan posisiku ke dia? Tapi aku
tampaknya mulai suka pada sekolah ini. Bayangan yang
indah tampak sekilas di depan mata. Entahlah.

“Ananda sekalian. Sekolah ini nanti akan banyak
tantangan, misalnya cuaca dingin, tapi boleh jadi situasi
akan panas dan penuh persaingan. Untuk itu, kuatkan
diri, mantapkan niat dan jaga kekompakan satu sama lain.
Antum bersebelas adalah sebuah tim yang tak boleh retak
oleh apa pun. Jaga kekompakan kalian, pilih kapten tim.
Kalian adalah anak-anak hebat yang pernah dilahirkan di
bumi Riau ini. Kalian adalah anak-anak unggul, brilian
dan memiliki tuah bagi negeri. Ibarat sepak bola, kalianlah

55

http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS

Sebelas Askar Bertuah,4 kesebelasan yang kuat, tangguh,
dan akan mengharumkan nama daerah ini kelak. Tolong
perhatikan itu!”

Pak Hamdi menatap kami satu per satu. Matanya tak
berkedip. Agaknya Pak Hamdi ini juga penggemar berat
sepak bola sampai dia tahu banyak hal tentang olahraga
paling populer itu. Dia benar-benar sosok yang kompleks.
Diam-diam aku ingin sepertinya, memahami banyak
hal yang masih misteri di dunia ini, menggapai semua
pengetahuan yang luasnya tak terbilang.

“Bapak juga ingin berpesan, baik-baiklah berperangai
di negeri orang,” ujar beliau pula.

Setelah itu, Pak Hamdi memberi isyarat kepada
ajudannya. Sang ajudan kemudian memberikan semacam
kartu kepada kami satu per satu. Kami membukanya per-
lahan, ingin mengintipnya dalam rasa penasaran yang
akut, namun Pak Hamdi buru-buru mencegahnya.

“Nanti saja ya!” ujarnya tetap tenang.
Pak Hamdi kemudian menutup kalimatnya. Setelah
mengucapkan salam, beliau mendatangi kami satu per
satu, menyalami, dan menatap kami. Tatapan matanya
memberikan pengharapan yang besar, agar kami dapat
menjadi penerusnya kelak. Aku merasa yang paling kikuk,
ketika Pak Hamdi menepuk-nepuk pundakku sambil ter-
senyum. Penuh arti. Beliau kemudian keluar ruangan
diikuti stafnya yang lain. Kami pun tak sabar membuka
kertas ucapan yang diberikan itu. Seperti sengaja didesain
untuk kata-kata mutiara atau motivasi. Desainnya unik,

4 Julukan kesebelasan sepakbola asal Pekanbaru, PSPS.

56

http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT

dengan renda khas Melayu bermotif pucuk rebung di
sisi-sisinya. Ternyata, isi kertas itu adalah Gurindam Dua
Belas Raja Ali Haji, yang sangat legendaris itu. Kami pun
terpana saat membacanya. Sungguh dalam.

Pasal Kelima
Jika hendak mengenal orang yang berbangsa,

lihat kepada budi dan bahasa.
Jika hendak mengenal orang yang berbahagia,

sangat memeliharakan yang sia-sia.
Jika hendak mengenal orang berilmu,

bertanya dan belajar tidaklah jemu.
Jika hendak mengenal orang yang berakal,

di dalam dunia mengambil bekal.
Jika hendak mengenal orang yang baik perangai,

lihat pada ketika bercampur dengan orang ramai.
***

57

http://facebook.com/indonesiapustaka 4

Yong Dolah

Aku seperti berada dalam perangkap nasib yang me-
ngendalikan seluruh sub sistem kehidupan. Provokasi
Pak Hamdi telah menjadikanku berada dalam ruang hampa
yang mengharu biru. Jiwa muda yang meledak-ledak itu
tiba-tiba saja melunak dan menemukan keseimbangan-
nya. Aku takluk. Dan tahu-tahu saja, aku sudah berada di
tempat ini, lemari es raksasa dengan panorama indah di
setiap jengkal tanahnya. Dingin dan romantis.

Pak Hamdi tak hanya berpidato berapi-api seperti
galibnya para penguasa zaman kini, tapi lebih bertindak
nyata membekali kami. Beliau menyediakan kendaraan
buat kami berdelapan, minus tiga rekan dari Tembilahan,
karena masih ada urusan administrasi di daerahnya. Tidak
hanya itu, kami pun dikasih sedikit uang saku. Semua itu
dikeluarkan dari kocek pribadi beliau. Aku seakan tak
percaya dapat ikut dalam rombongan ini. Rencana B untuk

http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT

sekolah di SMA 1 Pekanbaru pun berantakan, setelah
rencana A di Perguruan Wahidin juga berbuah nihil. Dan
anehnya, perlawananku redam, tergerus bersama berbagai
petuah itu. Runtuh oleh sebuah harapan baru. Tak terasa,
aku sudah sampai di tempat ini. Usailah perjalanan me-
lewati malam panjang di kelok sembilan, dengan turut
mengikuti alunan saluang di Lubuk Bangku, sebuah
tempat peristirahatan khas dalam perjalanan malam ke
Sumatera Barat. Hawa dingin mulai menyapa pagi, ketika
bus yang kami tumpangi berhenti tepat di depan sebuah
bangunan di desa kecil bernama Koto Baru.

Bangunan itu sepi, nyaris tak ada aktivitas. Dari luar
tampak atap-atapnya yang bergonjong dengan ujung
runcingnya mengarah ke langit, khas bangunan di Ranah
Minang. Di sampingnya terdapat bangunan lain yang
tertata rapi, berada di tanah yang lebih tinggi, dengan
ornamen yang tampak baru. Satu per satu kami turun dari
bus sambil menenteng tas-tas besar. Dengan susah payah
kami mendaki jalan menuju gerbang sekolah yang terbuka
lebar. Tingginya sekitar dua setengah meter. Seorang
satpam menyambut kami dengan ramah. Setelah meng-
ucap salam, menanyakan sedikit identitas dan tujuan, ia
mempersilakan kami masuk ke asrama.

“Terus lurus saja ka sana. A... nanti belok kiri, turun
sedikit. A... lalu belok kanan dan turun lagi. A... tak jauh-
lah,” ujarnya dengan logat khas Minang yang tak bisa di-
sembunyikan.

Kami mengangguk dan mengikuti petunjuknya. Kami
masuk ke kompleks MAN/MAK Koto Baru dan tampaklah
berbagai bangunan yang agak tak biasa. Areal sekolah ini
ternyata jauh lebih luas dari Perguruan Wahidin dan juga

59

http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS

SMA 1 Pekanbaru. Aku sama sekali tak menyangka, di
desa kecil, terpencil, dan tak memiliki infrastruktur yang
mencukupi ini, terdapat sebuah lembaga pendidikan yang
begitu hebat, dengan gedung-gedung yang mentereng.
Citra dan namanya juga begitu harum, setidaknya yang
sudah kudengar. Bangunan-bangunan itu terpancang kuat
di tanah dengan kontur berbukit-bukit.

Satu bangunan tercacak di puncak tertinggi, belakang-
an kuketahui sebagai kantor guru dan kepala sekolah.
Mungkin agar para guru bisa memonitor siswa dari atas,
seperti para sipir yang mengawasi narapidana dari atas
menara penjaga. Di sayap kiri kawasan ini, terdapat
bangunan berbentuk letter U saling menyambung, ter-
masuk di dalamnya bangunan depan dengan atap ber-
gonjong. Bedanya, sisi-sisi lainnya beratap seng biasa,
tidak bergonjong. Bangunan kelas lainnya menutupi letter
U tadi kendati tak sepenuhnya, sehingga letter U nyaris
seperti letter O, kecuali menyisakan sedikit ruang untuk
areal pengawasan dari kantor majelis guru. Di tengah-
tengahnya, terdapat lapangan olahraga. Yang agak men-
colok adalah lapangan basket dengan lantai yang baru
saja dicat rapi. Dua ring dengan jaring-jaring yang baru
tercacak pula di sana. Ada juga dua lapangan voli, dua
lapangan takraw, dan areal untuk tanaman pelindung.

Di sayap kanan, terdapat aula yang lumayan besar dan
kelas-kelas terpisah. Di kontur tanah yang lebih tinggi,
berdiri beberapa bangunan kelas lagi, yang kelihatannya
masih baru. Ada satu bangunan lagi yang agak spesial,
baik dari bentuk arsitektur bangunannya, cat dindingnya,
maupun lokasinya. Bangunan ini sama tingginya dari
gedung pengawas para guru. Belakangan aku tahu, itu

60

http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT

adalah laboratorium bahasa, khusus untuk kami anak-
anak MAK.

Tak jauh dari lapangan basket, terdapat sebuah masjid
berbentuk sederhana dengan menara yang menjulang
tinggi. Kami menyusuri lapangan, mengikuti alur jalan me-
nuju sebuah pintu berlorong gelap dan akhirnya menuruni
jalan yang ditunjukkan Pak Satpam itu. Sebuah jalan yang
lebih mirip tempat penurun air di sebuah turbin dengan
kemiringan 35 derajat menyambut kehadiran kami. Pintu
kecil dengan ruangan gelap berbentuk lorong itu menjadi
perangkap yang sangat mengejutkan. Seorang dari kami,
Haris, nyaris saja tergelincir dan jatuh berguling-guling,
karena tak menyangka di balik pintu tak berdaun itu sudah
ada penurunan tak terduga. Semangat yang menggebu,
menjadikan tenaganya tak terkendali saat memasuki pe-
nurunan ekstrem itu. Ransel besar yang bebannya me-
lebihi berat badannya, telah menyeret tubuhnya yang
kecil-kekar, menggumpal menuruni jalan lurus menurun.
Sebuah kejutan kecil yang tak terduga.

“Ups. Hati-hati ya, Dik?”

“Eh, iya, Kak!”

Seorang lelaki muda dengan mata teduh dan ber-
jenggot tipis menghentikan laju Haris. Dia tampak lebih tua
dari kami, antara satu hingga dua tahun. Makanya, Haris
spontan saja memanggil kakak. Kami pun turut mendekat
dengan berusaha mengerem langkah menuruni jalan terjal
itu. Sebagian sepatu kets berdecit-decit menahan dorongan
tubuh dan tas-tas besar bawaan kami, bersekongkol dengan
gaya gravitasi yang menyedot dari bawah.

“Kalau boleh tahu, asrama MAK kelas satu di mana,
Kak?” Haris memberanikan diri bertanya setelah dorongan
badannya berhasil distabilkan.

61

http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS

“Oh itu, yang di bawah. Persis di bawah penurunan
ini!”

“Terima kasih, Kak!”

Kakak berjenggot tipis itu tersenyum, lalu mengangguk
kecil. Ia kemudian naik ke atas menuju pintu lorong gelap
tadi dan menghilang di balik dinding. Langkahnya pasti,
menandakan kaki-kaki kecilnya itu telah terbiasa menaiki
jalan miring yang unik ini. Kami melanjutkan turun de-
ngan hati-hati sekali. Cukuplah sekali penurunan tajam di
balik pintu rahasia itu nyaris menjungkalkan kami. Usai
berbelok menuju penurunan kedua, kami menemukan
asrama itu. Di depannya terpampang sebuah plang nama
berhuruf Arab tak berbaris. Belakangan, ketika aku
mampu membacanya, terbacalah “Dakhiliyah Darul Falah
al-Madrasah al-’Aliyah al-Khaasshah”.

Kami mengucapkan salam berkali-kali. Tak ada jawab-
an. Saat itu memang masih libur, bahkan baru saja libur ke-
naikan kelas. Di desa yang sepi bernama Koto Baru, tentu
kurang menarik dan bukan pilihan tempat berlibur yang
tepat. Koto Baru memang desa yang sunyi-sepi. Kalau
bukan karena ratusan anak-anak sekolah yang belajar,
kos, dan berbelanja, Koto Baru hanyalah sebuah desa
biasa, yang tak jauh berbeda dengan desa-desa terpencil
lain di negeri ini. Memilih tempat sepi dan dingin tentu
merupakan pilihan terakhir, ketika musim liburan seperti
ini. Meluapkan kerinduan kepada keluarga di kampung
akan lebih mengasyikkan daripada berbenam di sini.

Seorang lelaki berpakaian pramuka berjalan tergesa
ke arah kami, nyaris seperti berlari. Kacunya bergoyang-
goyang mengikuti arah kebalikan jalan cepatnya. Baret
cokelat yang disandang di pundaknya nyaris saja lepas

62

http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT

saat tersenggol rumput liar yang menjalari tebing tempat
penurunan.

“Kalian anak baru?” tanyanya ketika berpapasan.

“Ya, Kak!”

“Dari mana?”

“Dari Riau, Kak!”

“Oo, ya baiklah. Silakan masuk asrama dan selamat
datang di Koto Baru! Jangan lupa, dua hari lagi ada Ospek
dan semua anak baru harus ikut. Tolong siapkan kacu
pramuka dan peralatan berkemah. Oke, ya!?”

“Ya, Kak!”

Haris yang paling banyak menjawab. Kakak berpakaian
pramuka itu berlalu dan menaiki tebing curam dan lorong
kelam itu, lalu menghilang di balik tembok. Sebuah pesan
sudah tersampaikan dan kami segera memasuki ruangan
asrama itu dengan perasaan yang tak menentu. Hm, ada
Ospek di sini. Seberapa beratkah? Adakah seperti Ospek
mahasiswa yang jadi arena penyiksaan bagi yunior?

Kami mendapati ruangan yang benar-benar kosong
melompong, tak ada yang tersisa. Tak ada siswa, juga peng-
huni asrama, pengawas atau guru. Asrama itu berbentuk
lorong lurus, dengan kamar berjajar di sisi kiri dan kanan,
seperti bangsal di rumah sakit. Kamar di sisi kiri bernomor
ganjil dan kanan bernomor genap. Pintu depan berbentuk
kaca tembus pandang, sama dengan pintu belakang.
Benar-benar tak ada bedanya dengan bangsal rumah sakit.
Agak menyesakkan, dan sedikit menyeramkan.

Satu-satunya yang menenteramkan hati adalah panorama
indah Gunung Singgalang di belakang asrama, yang dibatasi
tembok setinggi satu meter dua puluh senti. Agak lama

63

http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS

kami menikmati keindahan alam ini. Luar biasa. Di bawah
asrama kami terdapat satu asrama lagi yang kondisinya lebih
baik, dicat biru muda dengan bentuk bulatan, jauh berbeda
dengan asrama rumah sakit ini. Pemandangan tak kalah
indah ada pada sawah yang mulai menguning keemasan di
bawah asrama itu. Jika musimnya sudah berganti, sawah
yang menguning akan berubah menjadi ladang-ladang
jagung dan lobak-sawi yang hijau menggemaskan.

Sawi Koto Baru memang terkenal hingga ke Riau,
dan inilah sumbernya, awal dari rantai makanan dan geliat
perekonomian bermula. Pemandangan di bawahnya,
dengan berbagai jenis pepohonan, konfigurasi rumah de-
ngan titik-titik kecil, masjid besar dari kejauhan dengan
menaranya yang menjulang, yang kemudian kuketahui
sebagai Masjid Haji Miskin, rombongan burung-burung
pipit yang bersusulan dan membentuk formasi unik, telah
membentuk lukisan alam eksotis dan mengukuhkan ke-
hebatan arsitektur alam yang luar biasa. Alangkah indah
dan serasinya. Baru kusadari, kami sebenarnya berada di
pinggang Gunung Merapi dan pemandangan di bawah
sana, lembah indah itu, adalah kaki Gunung Singgalang.
Inilah rupanya yang menjadi magnet MAN/MAK Koto
Baru, menjadi pusat ingatan banyak orang dan inspirasi
yang tiada henti.

Usai menikmati keindahan alam, kami memeriksa
ruangan satu per satu, mengamati detil ruangan, dan
fasilitas kamar. Ada dua tempat tidur bertingkat untuk
empat orang dan empat lemari sederhana berpintu
dua. Pintu lemari bagian atas bentangannya mengikuti
garis vertikal. Ketika dibuka, bisa difungsikan sebagai
meja. Sedangkan pintu bagian bawah mengikuti garis

64

http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT

horizontal dengan dua daun pintu saling mengatup-buka.
Kami memilih kamar secara acak, melihat fasilitas yang
agak baik, dan kondisi kamar yang memadai. Sebab, ada
beberapa kamar yang papan tempat tidurnya kurang,
kasurnya tak ada atau lemarinya hancur lebur. Entah apa
yang terjadi pada orang-orang sebelum kami, kakak-kakak
yang pernah menghuni asrama ini. Sekarang, mumpung
yang paling dahulu datang, maka kami yang menjadi
penentu. Kami yang merasa berhak atas semua.

Aku bersama Syafrizal memilih kamar nomor enam.
Badrun, Rinaldi dan Amin memilih kamar tujuh, sedangkan
Rasyid, Iwan dan Haris memilih kamar delapan. Naluriah
saja, kami memilih teman yang dekat secara emosional
dan kedaerahan. Aku memilih bersama Syafrizal karena
ia anak Bengkalis, anak hebat dengan nilai tertinggi se-
kabupaten yang sejak awal ingin betul kutahu seperti
apa orangnya. Syafrizal anak yang pendiam, kurus, kecil,
dan agak kental Melayunya. Ikatan sebagai sesama anak
Melayu pesisir mengukuhkan kebersamaan kami. Apalagi,
ia memang terlihat sebagai anak cerdas. Dari yang kutahu,
ia penghafal yang cepat, karena ia hafal pertanyaan tes
masuk MAK ini dan apa yang dijawabnya.

“Aku masih ragu dengan pertanyaan nomor tiga puluh
tujuh dan empat puluh satu. Nomor tiga puluh tujuh
tentang ayat yang memerintahkan untuk mencatat ketika
berutang. Pilihannya surah al-Baqarah ayat 270, 271, 280
atau ayat 281. Padahal, setahuku itu ayat 282. Itu ayat yang
termasuk paling panjang dan aku ingat persis. Sedangkan
pertanyaan keempat puluh satu tentang sahabat Nabi
yang ikut dalam perang Badar. Ada nama Mu’awiyah,
Amr bin Ash, Khalid bin Walid dan Salahuddin al-Ayubi.

65

http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS

Tak satu pun yang betul. Mu’awiyah, Amr bin Ash dan
Khalid belum masuk Islam ketika itu. Sultan Salahuddin
al-Ayubi baru ada berabad-abad kemudian,” ujarnya tanpa
menunjukkan nada kesombongan sedikit pun.

Syafrizal terus saja mengonfirmasi soal-jawaban dari
tes yang kami ikuti beberapa waktu yang lalu. Dia ber-
usaha mengingat-ingat kembali dan mengecek jawaban-
nya kepadaku. Bagiku, semua sudah blank. Kosong me-
lompong. Hingar-bingarnya telah usai dan tak lagi masuk
dalam prioritas pikiranku. Tapi tidak bagi Syafrizal. Dia
seperti memiliki rekaman scan di pelupuk matanya ter-
hadap semua soal itu. Matanya seakan dapat memindai
semua kertas-kertas soal itu, lalu merekam tegas di salah
satu sudut otaknya, mengolahnya dan menganalisis semua-
nya dengan tepat, lalu memuntahkan beratus-ratus jawab-
an dari sisi otaknya yang lain. Tak ada yang luput dari
ingatannya. Setelah kuingat-ingat, memang itulah soal yang
ditanyakan dalam ujian. Sebagian aku jawab dengan benar,
karena sama dengan jawabannya. Namun, ada juga yang
berbeda. Untuk yang berbeda, pasti dia yang betul dan aku
yang salah. Pantas saja, ia jadi yang terbaik se-Kabupaten
Bengkalis. Dan aku merasa sangat beruntung di urutan
berikut, setelahnya.

Rasyid dan Iwan memilih sekamar, karena memang
mereka satu daerah, sesama anak Tanjung Pinang. Dan
Haris? Dia juga bergabung dengan keduanya. Kendati
ikut tes di Bengkalis, tapi Haris lebih memiliki keterikatan
emosional dengan dua anak Tanjung Pinang itu. Sebab,
mereka satu sekolah saat SD. Perjalanan Haris ternyata
sangat jauh. Leluhurnya berasal dari Tarempa, Natuna,
sebuah tempat nun jauh di Laut Cina Selatan yang secara

66

http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT

geografis lebih dekat ke Kalimantan atau Thailand Selatan.
Tapi dia lahir di Tanjung Pinang, bersekolah SD di Negeri
Segantang Lada itu. Bahkan nama Al-Bintani diambil dari
nama Pulau Bintan, asal daerah kelahirannya. Tanjung
Pinang memang berada di Pulau Bintan. Tapi kemudian
dia pindah ke Bengkalis hingga ikut tes bersama beberapa
anak Bengkalis. Kendati demikian, Haris agaknya lebih
merasa dekat dengan dua anak Tanjung Pinang itu di-
banding kami sesama anak Bengkalis.

Sedangkan Badrun, Rinaldi dan Amin satu kamar
pula karena mereka satu sekolah di Pekanbaru. Bahkan,
Badrun dan Rinaldi lebih dekat lagi karena mereka berasal
dari satu kelas, satu ilmu, satu perguruan. Pantas saja
mereka sudah memiliki ikatan emosional yang kuat. Tapi
ada uniknya, karena kulihat mereka sesekali bertengkar.
Entah soal apa.

Malam itu, kami berkumpul di kamar delapan, ber-
cerita tentang pengalaman masing-masing yang menarik,
unik dan apa saja yang bisa membunuh waktu. Malam
merambat naik, suhu pun semakin turun. Kami mulai
merasakan Koto Baru yang sebenarnya. Jaket tebal mulai
membungkus tubuh, kaus kaki dipakai dan selimut di-
gulungkan ke seluruh badan. Kami pernah mendapat
pesan untuk bersiap-siap menghadapi dinginnya Koto
Baru. Namun dingin ini melebihi yang diperkirakan.
Tangan dan kaki menjadi pucat. Gigi-gigi bergemeretuk.
Tiap sebentar, proses ekskresi yang terhambat lewat
keringat harus tersalurkan melalui kandung kemih. Dan
solusinya tentu ke kamar mandi.

Iwan kemudian mengeluarkan beberapa lilin yang
dibelinya di Pasar Koto Baru ketika membeli makanan

67

http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS

petang tadi. Ketika lilin-lilin kecil itu menyala, bergegas
kami mendekat dan menjadikannya sebagai perapian
untuk menghangatkan badan. Tak cukup itu, beberapa
tangan mulai terbentang di atas api-api kecil itu. Kami
membayangkan sedang berada di benua Eropa saat musim
dingin, ketika salju turun dan atap-atap berubah menjadi
putih. Saat itu, berada di dekat perapian sambil menikmati
secangkir teh hangat dan minuman rempah lainnya tentu
menjadi sensasi luar biasa. Itu bahkan menjadi sebuah ke-
butuhan primer yang tak tergantikan. Pantas saja Kompeni
betah menjajah negeri ini selama tiga setengah abad, demi
rempah-rempahnya.

Kehangatan pun mulai terasa. Apalagi obrolan sudah
dibuka dan berbagai kisah pun menyeruak dalam ruangan
kecil itu. Pengalaman tak terlupakan yang dirasakan ber-
sama, tentu saja saat-saat suasana tes.

“Bapak yang botak itu seram betul. Macam nak
makan kite,” ujar Haris terkekeh.

“Iya, menyeramkan,” timpal Badrun.

“Menurutku bapak yang gendut itu yang paling me-
nakutkan. Nadanya datar, tapi pertanyaannya menukik.
Dia langsung mengejar dari satu pertanyaan ke pertanyaan
lain!” ujar Rinaldi.

“Bagaimana kalian, Rasyid?” tanyaku pula menye-
lidik.

“Sama saja. Penguji kami menanyakan soal-soal yang
berat. Misalnya berapa juz hafal al-Quran. Aku bilang satu
juz. Eh, dia langsung tanya juz kedua!”

“Dapat?”

68

http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT

“Ya, siketlah.”1

Rasyid nyengir. Ia menutup mulutnya. Anak Melayu
seperti dia tak akan pernah menyebut ia bisa atau seratus
persen dapat. Tidak. Mereka terbiasa merendah-rendah,
tawadhu’, penuh takzim. Adatnya jelas: merendah tidak
membuang marwah, meninggi tak membuang budi. Sifat
merendah bahkan menjunjung tuah. Di dalam tinggi, ia
rendah; di dalam rendah, ia tinggi. Aku yakin Rasyid
menjalani filosofi bahwa tanda Melayu sejati itu, malu ber-
cakap dan tinggi hati, malu meminta rajin memberi, malu
berlagak membesar diri.

Yang kutahu, sejak nenek moyangnya dulu memang
begitulah adatnya. Usut punya usut, Iwan memberi tahuku
kalau Rasyid sudah hafal 3 juz al-Quran, tapi ia hanya
menyebutkan satu. Apakah itu termasuk bohong?

“Yang lain belum hafal sangat, Muh,” katanya kepada-
ku, ketika kukejar di lain waktu.

Haris bercerita pula tentang pengalaman kecilnya
saat di Natuna, ketika berkejaran dengan ombak, mencari
kerang dan rumput laut dengan menyelam atau berlayar
ke Laut Cina Selatan. Baginya, mengikuti rasi bintang di
malam hari dan berlomba dengan lumba-lumba di siang
hari merupakan hari-hari menyenangkan di laut lepas
sana. Badrun berkisah tentang daerah kelahirannya di
Minas, yang menjadi daerah penghasil minyak dengan pipa
angguknya yang sudah menyedot bermiliar barel minyak
mentah. Pipa-pipa yang melewati gubuk-gubuk Sakai
yang kumuh, menandakan betapa ironisnya kehidupan
di Ranah Melayu. Kenyataan itu menjadi bagian dari

1 Ya, sedikitlah. (bahasa Melayu)

69

http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS

masa kecil Badrun bersama masyarakat adatnya. Rinaldi
lebih tertarik bercerita tentang cita-citanya menjadikan
Riau sebagai daerah perekonomian baru. Menurutnya,
Riau merupakan daerah yang akan menjadi sebuah ke-
kuatan ekonomi baru, dan memerlukan sosok-sosok pe-
mimpin muda yang tangguh. Iwan berkisah tentang ke-
hebatan Laksamana Hangtuah melawan para lanun, dan
kesetiaannya kepada Sultan. Ia mengagumi Hang Tuah
sebagai ksatria sejati tiada dua.

Sedangkan aku lebih tertarik mengangkat cerita
Datuk Sontil dari Bagan dan segala polahnya. Di Bagan,
selain ada Datuk Sontil sebagai pemuka masyarakat dan
pemimpin bagi orang Tionghoa di zaman Kerajaan Siak,
ada juga tokoh cerita dalam teater kuno kampung kami
yang kerap ditampilkan dalam pertunjukan tonil dan
sangat digandrungi orang kampung sejak dulu. Namanya
Datuk Sontil juga. Datuk Sontil satu ini merupakan
anggota Dewan Kerajaan Sungai Daun, yang sebenarnya
cukup hebat. Peranannya sangat sentral dalam Kerajaan.
Namun yang sering membuat para penonton terpingkal-
pingkal ketika menyaksikan tonil adalah telinganya yang
pekak. Jadi, tiap dia memberi pengarahan, selalu tak
nyambung, bahkan cenderung mengacau dan membuat
rumit masalah. Ya, mirip-mirip Bolot-lah. Tapi di sanalah
pertunjukan tonil di kampung kami jadi heboh. Teater
kuno ini pun begitu legendaris digandrungi sejak zaman
dulu, sampai era televisi tiba.

Lain lagi Syafrizal. Dia suka menceritakan kejenakaan
dan besar bualnya Yong Dolah. Tokoh ini juga sangat
legendaris di Bengkalis, dan kami sedikit-sedikit pernah
juga mendengar cerita ini di Bagan. Suatu kali, kata

70

http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT

Syafrizal membuka cerita, Yong Dolah menjaring ikan
bilis, sejenis teri, yang ukurannya hanya 5 cm, namun
beratnya minta ampun, tak kuat mengangkatnya.

“Setelah menggunakan crane, barulah terangkat bilis
kecik tu. Yong Dolah pun heran, kenapelah ikan bilis
kecik tu bisa berat sangat. Setelah Yong buka perut bilis
tu, ternyata di dalamnye ade kapal selam. Tau tak berape
besar kapal selam tu? Haa, itu kepalenye di Bengkalis,
ekornye ade di Bagan,” ujar Syafrizal menirukan bual
Yong Dolah.

Kami terpingkal-pingkal, sakit perut karena tertawa.
Belakangan aku tahu, Syafrizal membuat sedikit improvisasi
pada cerita Yong Dolah ini. Koleksi cerita Yong Dolah pun
tak hanya satu, namun bejibun. Cerita Yong di Prancis,
berperang melawan Amerika, Yong bersama Saddam
Husein, dan berbagai cerita konyol lainnya. Tak ada yang
membuat kami diam. Semua terpingkal-pingkal. Haris me-
nambahkan cerita-cerita humor dan tebak-tebakan yang
tak kalah konyol. Rasyid ikut pula menyumbang humor-
humor sufi. Hanya Amin yang tak mau bercerita. Ber-
ulang kali hanya menggeleng dan berdehem saja ketika
tiba gilirannya. Ketika kami gelak terbahak-bahak, sampai
berderai air mata pula, ia hanya tersenyum kecil.

“Saya tak punya stok cerita, kawan,” katanya kemudian.
Aku heran. Anak ini begitu malas bicara, entah apa
yang ada di otaknya, berisi entah tidak. Entah diamnya
emas ataukah loyang, siapa yang tahu? Yang jelas, aku kok
kurang suka sama anak ini!

***

71

http://facebook.com/indonesiapustaka 5

Tengkelek

Pagi menjelang. Malam pertama di Koto Baru telah kami
lewati. Apa yang terjadi semalam, mulai mengakrabkan
kami berdelapan. Pagi itu, pembina asrama kami datang.
Pak Amri Burhanuddin namanya, yang kurang lebih
berumur 45 tahun. Penguasaan bahasa Arabnya sangat
baik. Agaknya, lebih hebat dari para penguji kami saat tes
masuk MAK tempo hari. Bahasa Arabnya teratur, fushah.
Berbeda dengan beberapa kalangan pesantren, yang kerap
menggunakan bahasa Arab ‘amiyah atau pasaran, yang
kadang dicampur dengan bahasa Indonesia, tanpa kaidah
yang jelas. Pak Amri—begitu kami kerap memanggil
beliau—merupakan lulusan Thawalib Padang Panjang.
Sebuah pesantren tertua di Sumatera, yang didirikan
Inyiak Karim Amarullah, ayah Buya Hamka.

Rambutnya yang tinggal di samping dan belakang
menandakan upaya keras yang telah dilakukannya tak
sembarangan. Beliau telah melalui tahapan pencapaian
ilmu dengan level tinggi. Kepalanya yang luas dan licin itu
begitu gamblang menerangkan siapa jati dirinya, seorang

http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT

profesor yang siap memberikan ilmu kepada siapa yang
memerlukan. Beliau mirip Einstein, fisikawan terkenal
itu, atau gambaran Imam al-Ghazali yang entah dari
mana, lukisannya kerap menghiasi sampul-sampul buku
terjemahan karyanya. Beliau juga seorang sarjana dari
IAIN Imam Bonjol Padang, dengan prestasi yang ekselen
pula. Tentu syarat yang sangat layak untuk mendampingi
kami dengan ego dan kehendak yang berbeda-beda.

Pagi itu cuaca sangat cerah, ketika sinar matahari
dari jarak bertahun cahaya menembus kabut tipis Koto
Baru. Pak Amri mendatangi kami. Kami pun berkumpul.
Dengan berwibawa beliau mengucapkan salam, lalu meng-
hampiriku yang terdekat dari pintu.

“Masmuk?!”
“Ismi Simuh, Ustad!” jawabku mantap. Yang ini aku
sudah tahu, pengalaman saat tes lalu. Pak Amri tersenyum.
Gigi-giginya kelihatan. Kumisnya yang jarang-jarang turut
semringah mengikuti alur bibirnya.
“Min aina Anta?”
“Ana min Riau!” jawabku tak kalah mantap dibanding
jawaban pertama.
“Jayyid. Ha kadza Simuh wa antum jami’an. Uridu an
tatakallama billughatil ‘arabiyah fi hadzihi ad-dakhiliyah
au fi kulli makan wa zaman. Hadza syarthun min syurut
hammah fi madrasatina likay takunuu jami’an mumtazan.
Hal antum tastathi’un?”1

1 “Bagus. Beginilah Simuh dan kalian semua. Saya ingin agar ka-
lian semua berbicara hanya dengan bahasa Arab di asrama ini
atau di mana pun dan kapan pun. Ini merupakan syarat penting
di sekolah kita ini, agar kalian semua dapat menjadi siswa yang
ekselen. Apakah Anda semua sanggup?”

73

http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS

Aku menggeleng. Blank! Terlalu panjang dan banyak
kosakata yang tak kumengerti. Yang lain juga begitu,
kecuali Rasyid. Jawaban Rasyid memecah kebuntuan
kami. Matanya berbinar.

“Insya Allah, Ustad!”
Itu hanyalah sepenggal kisah perkenalan kami dengan
Pak Amri di hari kedua kami berada di asrama ini. Pak
Amri kemudian mengajak kami terus bercakap-cakap
dengan bahasa Arab, walaupun kami sering mengangkat
bahu, menggeleng, atau sekadar menjawab na’am dan
la, ya dan tidak. Di antara kami berdelapan, tak seorang
pun pernah mengenyam pendidikan pesantren. Makanya,
bahasa Arab menjadi hal yang menakutkan bagi kami.
Tapi, ada satu kebiasaan, yang bisa kami gunakan untuk
mendeteksi kedatangan Pak Amri, yaitu dari langkah
tengkeleknya dengan bunyi khas klak-kluk-klak-kluk.
Tengkelek adalah sandal kayu berpunggung karet ban,
dengan bunyi yang khas ketika dipakai berjalan. Tengkelek
sering digunakan khusus di masjid, untuk berwudu’ atau
ke kamar kecil. Kami pun pura-pura membaca dan sok tak
mau diganggu saat Pak Amri datang dengan tengkeleknya
itu. Kadang Pak Amri melanjutkan langkahnya ke kamar
mandi. Namun tak jarang beliau masuk juga ke kamar,
seperti yang terjadi pagi itu.
“Madza taf ’al?”2
“Iqra,’ Ustad. Iqra’ kitab!” jawabku mantap, sok tahu.
“Laisa kadzalik. Ana aqra’ul kitab.” Pak Amri ber-
usaha membetulkan jawabanku. Setelah itu, beliau men-
jelaskan sedikit tentang tata bahasa Arab. Baru kuingat

2 “Apa yang kamu kerjakan?”

74

http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT

pelajaran tentang fi’il amr itu, yang selalu dicontohkan
Pak Azhar, guru bahasa Arabku dulu di MTs dengan
ayat al-quran, misalnya iqra’ bismirabbikalladzi khalaq,3
khudz min amwalihim shadaqatan,4 waqimisshalah inna
shalata tanha ‘anil fakhsyaa’i wal munkari.5 Semuanya
bermakna perintah. Berbeda dengan fi’il mudhari’, yang
seharusnya kuucapkan kepada Pak Amri. Artinya, tadi
aku menyuruh Pak Amri membaca buku. Padahal, aku
ingin mengungkapkan, aku sedang membaca buku. Ah,
jurus memang selalu lupa ketika bersilat. Masalahnya,
karena pendekar jarang latihan. Di sanalah kelemahan
pendidikan madrasah secara umum, pendidikan dengan
kurikulum yang ambisius, namun jarang diterapkan.

Pak Amri pun berlalu. Suara tengkelek itu beranjak
menjauh dan menghilang ditelan pagi yang senyap.
Kami menarik napas lega. Usai Pak Amri lewat, kami
sibuk dengan kegiatan masing-masing. Aku mengemasi
pakaian dan sepatu untuk segera dicuci. Syafrizal terus
asyik dengan bacaan-bacaan berat yang dibawanya dari
Bengkalis. Katanya, buku pemberian pamannya yang
kuliah di Jurusan Akidah Filsafat IAIN Syarif Hidayatullah
Jakarta. Ia mulai suka membaca buku-buku Imam al-
Ghazali, seperti Ihya’ Ulumuddin.

“Menurutmu, Muh, dalam menjalani kehidupan ini,
mana yang lebih tepat, mengikuti logika dan akal sehat
atau mengutamakan wahyu dalam setiap hal?”

3 “Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang Menciptakan.”
(QS. Al-Alaq: 1)

4 “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka.” (QS. At-Taubah: 103)
5 “Dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari

(perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar.” (QS. Al-Ankabut: 45)

75

http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS

Aku menggeleng. Aku selalu tak tertarik dengan
filsafat, ilmu kalam, atau sejenisnya. Terlebih ilmu yang
seperti itu tak pernah kupelajari. Pernah kudengar, tapi tak
pernah kupelajari secara serius. Tapi Rinaldi menanggapi-
nya. Ketika itu, dia sekonyong-konyong masuk ke kamar
kami. Menurut Rinaldi, Allah menciptakan akal untuk
berpikir. Oleh karena itu, logika harus digunakan untuk
mengelola alam. Tanpa penggunaan akal secara maksimal,
umat Islam akan tertinggal, jumud dan statis. Opini itu
tentu saja ditentang habis-habisan oleh Syafrizal, yang
menyebut keutamaan wahyu dan keterbatasan akal.

“Bagaimanapun, logika dan akal pikiran itu ada
batasnya. Akal tak boleh dinomorsatukan,” ujar Syafrizal
sengit.

Rinaldi tak terima. Menurutnya, akal diciptakan
untuk berpikir seluas-luasnya tanpa perlu dibatasi. Akal-
lah yang menjadikan manusia berbeda dengan hewan.
Bukankah manusia adalah hayawan natiq, hewan yang
berbicara? Terdapat miliaran jaringan yang bersemayam di
batok kepala sebesar dua kepal tangan itu. Ayat al-Quran
berulang kali menyebut, ”afala ta’qilun”6 atau “afala
tatafakkarun”7.

“Apa maksudnya, kalau tidak kita disuruh untuk me-
maksimalkan peran akal,” ujarnya kemudian.

Debat itu tak mau berhenti. Dua ahli debat telah
lahir di pagi yang dingin, saat kami semua belum sempat
mandi. Debat memang menjadi hal yang efektif untuk
menyalurkan hasrat yang menggebu-gebu pada ilmu. Ia

6 Artinya, “Apa kalian tidak menggunakan akal kalian?”
7 Artinya, “Apa kalian tidak berpikir?”

76

http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT

menjadi kanal paling efektif untuk berbagi wawasan dari
kepala-kepala besar yang penuh ego. Debat dapat menjadi
obat bagi mereka yang lelah mencari lawan diskusi, karena
level pikiran yang tak imbang, sementara berpusu-pusu
argumentasi penuh ilmu telah terjejal untuk dilontarkan.
Sepertinya, baru kali ini Rinaldi mendapatkan lawan yang
sepadan. Begitu juga Syafrizal. Ketika bertemu, tentu
kesempatan langka ini terlalu sayang untuk dilewatkan.
Dan meledaklah ketegangan itu. Tak ada yang mau me-
ngalah. Aku hanya terdiam mengamati mereka yang telah
merusak konsentrasiku mencari peralatan cuci.

Kedatangan Badrun dan Haris ke kamar kami tak
menambah suasana menjadi lebih dingin. Bahkan, debat
itu semakin memanas, karena keduanya menjadi suporter
kedua belah pihak. Haris membela Rinaldi, dan Badrun
membela Syafrizal. Ide mereka cocok, argumen mereka
senada, dan dalil-dalil mereka saling menguatkan. Badrun
menyebut peran akal sangat terbatas, bahkan mencela
mereka yang mengagungkan akal seperti kaum Mu’tazilah
dan kaum Qadariyah.

“Mereka tak percaya takdir, mengurangi rukun iman
yang keenam. Masya Allah,” tambah Badrun mencibir.

Haris membantah itu. Menurutnya, telah terjadi distorsi
sejarah dalam aliran ilmu kalam, dan selalu memojokkan
kaum rasional. Haris berpendapat, sejarah ilmu kalam di-
tulis oleh kaum yang kurang memberikan tempat kepada
kebebasan berpikir.

“Padahal, Islam itu logis,” ujarnya pula.

Entah dari mana keempat anak ini mendapatkan
wawasan yang sedemikian luas. Sejumlah pemahaman itu
baru kami dapatkan di kelas III kelak. Saat kelas III MTs,

77

http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS

memang pelajaran tentang sejarah peradaban Islam juga
sampai ke topik ini. Namun yang kuterima di kelas, tak
sampai sejauh yang mereka debatkan. Kini, mereka sudah
begitu fasih memperdebatkannya. Tetapi Bagaimanapun,
itu hanya debat kusir yang tak jelas. Malah tak sehat.
Entah sudah berapa ratus tahun umur debat seperti ini
terjadi. Mungkin aku perlu juga menghentikannya, men-
ciptakan sejarah dengan menghentikan debat yang tak
perlu. Aku ingin segera mengangkat diri menjadi wasit,
lalu mengeluarkan kartu kuning. Ruang kamar kami men-
jadi panas seketika dibakar aroma debat, dan aku ingin
mendinginkannya kembali, segera mengakhirinya dengan
meniup peluit panjang.

Tapi harus kuakui, debat itu terlalu asyik untuk di-
hentikan begitu saja. Aku pun larut dibuatnya. Bukankah
aku juga korban dari nasib? Bukankah aku juga harus me-
lemparkan logika dan keinginan? Bukankah ada tangan-
tangan takdir yang mengaturku? Setidaknya, itulah yang
kurasakan, kualami dan entah akan sampai kapan terjadi.
Aku mau berargumen, namun teringat dengan keinginanku
untuk berdiri pada posisi netral, pada namaku yang me-
nyandang predikat toleran, penyeimbang, dan juru damai.
Aku pun ragu melontarkan pendapat. Padahal, kalau aku
cenderung pada satu pendapat, maka debat itu selesai,
dengan perbandingan tiga lawan dua. Akhirnya, aku
tetap memilih tak bersikap. Mau dihentikan sulit, ikut di
dalamnya juga kurang pas. Ah, aku justru larut dengan
debat kusir mereka. Aku berada di persimpangan, bagai
menonton pertandingan bulu tangkis, kepala melengos ke
kiri dan ke kanan. Jadi, tak ada peluit yang tertiup atau
kartu kuning yang keluar. Sungguh pilihan yang sulit.

78

http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT

Tetapi, semuanya terhenti ketika suara tengkelek klak-
kluk-klak-kluk itu terdengar mendekat. Rinaldi yang sedang
menyiapkan jurus debat berikutnya terdiam. Syafrizal tak
bersuara. Haris dan Badrun juga tak berkutik. Keempatnya
mengatupkan bibir rapat-rapat mendengarkan bunyi klak-
kluk-klak-kluk itu datang mendekat. Aku terkekeh, bersorak
girang. Ternyata, ada juga yang akhirnya meniupkan peluit
panjang tanda berakhirnya debat kusir yang mengarah tak
sehat ini. Suara tengkelek itu!

Saat itu, lamat-lamat terdengar pula suara Rasyid
mengalun syahdu saat melantunkan bacaan tartilnya dari
kamar sebelah. Merdu sekali, menenteramkan. Mirip
betul dengan suara Imam Masjidil Haram, Syaikh Al-
Matrud yang sering ditayangkan di televisi, ketika tarawih
di malam-malam Ramadhan. Saat itu, ia mendengungkan
qiraah Imam Hafsh dari ‘Ashim, seperti kebanyakan
qari’ tartil Indonesia umumnya. Lain waktu, ketika kami
telah tunak di MAK ini, kudengar juga Rasyid membaca
qira’ah lainnya seperti Imam Warsh dari Nafi’ dan qira’ah
ad-Duri dari Abu Amr. Terdengar unik, namun begitu
indah. Bacaan tilawah itu mengalun lembut meneduhkan
hati kami semua. Benarlah kiranya, bacaan al-Quran
merupakan obat bagi penyakit-penyakit hati, petunjuk bagi
yang sedang emosi dan bingung arah hidupnya. Bacaan
lembut itu telah meruntuhkan semua ego, mengusir setan-
setan dan syahwat ingin bersitegang urat leher anak-anak
ini. Debat pun selesailah pagi itu.

***

79

http://facebook.com/indonesiapustaka 6

Hidung Belang

Hari ini hari ketiga kami di Koto Baru. Suara tengkelek
klak-kluk-klak-kluk yang biasanya mengisi pagi-
pagi kami kini tak lagi terdengar. Sebaliknya, suara itu
digantikan dengan hentakan sepatu lars khas militer. Dua
orang berpakaian pramuka lengkap datang ke asrama
tanpa diundang. Postur mereka besar-besar, dengan suara
yang berat dan menggelegar. Wajah mereka sangar, de-
ngan sikap yang sama sekali tak bersahabat. Hentakan
sepatu lars mereka menciutkan nyali kami yang sedang
berkumpul.

“Kenapa kalian masih di sini? Ayo naik, Ospeknya
sudah dimulai. Cepaaaaat!”

Kami terkesiap. Tanpa persiapan apa pun, kami di-
paksa naik ke atas, bergegas ke lapangan yang menjadi
killing field ala Westerling itu. Bak tentara yang men-
dengar alarm tanda perang ketika sedang lelap dalam

http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT

tidur, begitulah perintah itu datang dengan suara yang
menggelegar. Dua algojo itu sama sekali tak mau me-
nunggu. Aku tak menemukan sepatu dan terpaksa naik ke
atas dengan sandal jepit, sama dengan Badrun. Yang lain
masih sempat mengenakan sepatu, karena berada di bawah
kolong tempat tidur mereka. Satu persamaan kami, belum
satu pun di antara kami yang mandi pagi itu. Dengan air
sedingin salju di benua Antartika, mandi memang lebih
nikmat saat matahari sudah tinggi, bukan pagi-pagi buta
ketika sang surya masih malu-malu bersembunyi di ufuk
Timur.

Begitulah, kami harus merelakan semuanya. Kami
digiring seperti tawanan perang yang kalah secara me-
malukan. Para kadet baru yang tak disiplin harus diberi
pelajaran, dihukum seberat-beratnya. Aku tak tahu apa
perasaan Pak Amri, ketika anak binaannya tiba-tiba diculik
untuk mengikuti perploncoan ini. Kami dikumpulkan di
lapangan sekolah. Rupanya kami tak sendiri. Beberapa
peserta sudah berkumpul di sana, dan hanya sedikit yang
memakai kelengkapan upacara. Mereka mendapatkan
pengarahan dari seorang kakak bertubuh gempal. Agak-
nya, ia penanggung jawab acara ini. Sebagian lagi, ada
yang berkumpul dalam kelompok-kelompok kecil, yang
diplonco secara terpisah. Pembunuhan karakter pun
dimulai. Sebagian dari mereka sudah mendapatkan ganjar-
an. Ada yang push up, squad jump atau menghitung luas
lapangan basket dengan pensil. Ada juga yang berlari
keliling lapangan.

Kami yang datang belakangan diminta menghadap
seorang kakak pramuka berjaket hitam. Posturnya kurus
tinggi, tampak tak terlalu sangar. Wajahnya tak menunjuk-

81

http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS

kan kekerasan sikapnya, apalagi sebuah kaca mata tebal
menghiasi muka cekingnya. Kami sedikit lega, ketika
melihat kelompok lain menghadapi kakak-kakak pramuka
yang galak, kami menemukan Si Ceking dengan wajah
innocent, tanpa ekspresi, tampang tanpa dosa.

“Tahu kesalahan kalian?” tanyanya datar.
“Ya, Kak!”
“Apa?”
“Terlambat, Kak!”
“Apalagi?
“Tak pakai seragam, Kak!”
“Nah sekarang, kalau sudah tahu kesalahan kalian,
lalu bagaimana!?
Kami diam.
“Ayo, jawab!” suaranya menaik. Kami kaget. Rupanya,
Si Ceking ini pandai marah juga. Telinganya yang mem-
belok ke depan mulai memerah. Kami bungkam. Dia
diam. Hanya matanya yang mulai liar. Dua biji mata di
balik kaca mata tebal itu melotot menunjukkan aura ke-
bencian. Kami pun dilanda rasa gelisah. Menunggu apa
yang akan terjadi.
“Jawab!?”
“Dihukum, Kak!” Haris tiba-tiba memberanikan
diri.
“Ayo, kamu yang ngomong. Sini. Push up sepuluh
kali!”
Haris menurut. Ia pun mengambil posisi push up, me-
laksanakan perintah itu. Kami lega. Ternyata, hukuman
diambil perwakilan saja. Ia memang rajin melawan de-

82

http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT

ngan kata-kata. Akhirnya, kena getahnya juga. Haris telah
mengambil tanggung jawab kelompok, ia martir dan kami
harus berterima kasih padanya. Tapi kami salah.

“Yang lain, push up tiga puluh kali!” sergahnya dengan
suara menggelegar. Seluruh aliran darahnya mengarah ke
wajah, sehingga wajahnya menghitam, merah padam-
gosong. Telinganya makin memerah pula.

Mendengar gempita suaranya, ada perasaan aneh
di hati. Rasanya, tak cocok saja melihat Si Ceking ini
marah. Hampir saja kami terpingkal-pingkal melihat gaya
marahnya, yang tampak dibuat-buat. Persis seperti akting
ala Si Emon dalam Catatan Si Boy, yang Bagaimanapun
galaknya, tetap saja tak menakutkan. Ada yang tersenyum
kecil, untuk menyembunyikan rasa geli melihat keganjilan
itu. Aku pun begitu. Rupanya, sikap kami ini membuat
Si Ceking naik pitam, karena ia merasa kekuasaannya
dilecehkan.

“Push uppppp!” teriaknya sekuat tenaga. Ia tampak
gusar sekali.

Teriakan Si Ceking yang melengking, mengundang
kakak-kakak yang lainnya datang. Salah seorang dari
algojo kekar yang menggiring kami ke ladang pembantaian
ini menghampiri. Ia menatap kami satu per satu dengan
mata tajam. Lalu berbisik ke telinga Si Ceking.

“O, rupanya kalian anak MAK ya? Pantas saja.”

Kami terdiam. Sementara, Haris sudah menyelesaikan
hukumannya. Rupanya, status MAK itu adalah bensin yang
akan membakar kemarahan Si Ceking. Si Algojo Kekar
dan Si Ceking itu kini seperti mendapatkan bensin dan
pemantiknya untuk membakar kami. Ledakan kemarahan

83

http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS

dan sumpah serapah pun tinggal menunggu waktu. Dan
dimulailah maki hamun yang menyakitkan itu.

“Mentang-mentang MAK, anak emas pemerintah,
jangan harap kalian bisa bebas dari hukuman, ya! Kalian
hanya beban, tak lebih dari sampah. Kalian tak ada apa-
apanya. Mengerti!”

Aku terkesiap. Kuyakin yang lainnya juga. Baru tiga hari
kami di sini, dan tiba-tiba saja Si Ceking ini melontarkan
hinaan yang tak dinyana. Entah apa dosa kami, sehingga
kami harus menanggung luapan amarahnya.

“Ya. Kalian hanya sekelompok anak yang jadi beban.
Kalian tak bermodal, datang kemari tak membayar,
maunya gratis saja. Kalian juga tak lebih pintar dari kami.
Anak MAK memang anak mak, anak mami, anak manja
yang harus enyah,” tambah Si Algojo Kekar.

Sangat menyakitkan. Aku geram, marah, dan emosi
memuncak. Tak seorang pun di antara kami yang tak
terusik dengan serbuan kalimat itu. Bahkan, Rasyid pun
sangat tak nyaman dengan segala lontaran yang menusuk-
nusuk. Tapi apa daya. Kami berada dalam genggaman
mereka. Beberapa kakak senior juga datang, bertambah
banyak, dua kali lipat dari jumlah kami. Mereka seperti
sekelompok singa lapar yang mengepung anak bison kecil.
Kami tersandera, menjadi sasaran tembak yang sangat
empuk. Kami terpojok, dalam kebingungan, dan putus
asa. Mereka memelototi kami, mencari semua kesalahan
kami. Mulai dari seragam pramuka yang tak ada, kacu,
rambut panjang, kuku belum dipotong, cara berdiri, juga
cara memandang. Semua dipersalahkan. Apalagi aku, yang
hanya memakai sandal jepit. Hukuman pun bertambah,
berlipat-lipat, berdentam-dentam, menyakitkan. Kendati

84

http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT

tak ada hukuman fisik, seperti pukulan dan tendangan,
namun pukulan mental yang kami rasakan jauh lebih
berat. Penghinaan itu.

Seharian kami mendapatkan hukuman—mulai dari
berlari-lari, push up hingga squad jump. Semuanya di-
iringi dengan kecaman, hinaan, dan entah apalagi. Apa
saja yang tak mengenakkan di hati. Sore harinya, kami
diperbolehkan pulang. Itu pun untuk mempersiapkan diri
menghadapi segala tantangan dan hukuman yang lebih
berat keesokan harinya. Akan ada perkemahan dan kami
diminta untuk mempersiapkan segala perlengkapan kemah,
termasuk perlengkapan pramuka. Semua siswa dianggap
sudah masuk pramuka, bahkan sebelum mendaftar di
sekolah ini. Ya, belum satu formulir pun yang kami isi
untuk masuk sekolah ini, dan belum terlambat pula untuk
mengundurkan diri, atau mogok mengikuti kegiatan ini.
Tapi kalau mundur, berarti kalah perang, kalah sebelum
bertempur. Sebuah pantang larang dalam menghadapi
kehidupan. Kami teringat pesan Pak Hamdi.

Perploncoan sudah dimulai, dan tak ada tawar-me-
nawar. Hanya ada dua pilihan, ikut atau mundur. Aneh-
nya, perploncoan ini dianggap sebagai kegiatan orientasi
studi dan pengenalan kampus (Ospek). Namun mereka
mengecam sebutan itu.

“Jangan ada yang menyebut Ospek. Ini namanya
Pekpram, perkemahan pramuka. Mengerti!” ujar Si
Ceking kala itu.

Hari berikutnya, dimulailah perkemahan itu. Kami me-
mutuskan mengikuti kegiatan ini, walaupun sebelumnya
sempat ada opsi tak ikut atau mundur saja. Apalagi Pak
Amri menyebut, kakak-kakak kelas itu tak lebih dari siswa

85

http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS

biasa dan Ospek tak ada pengaruhnya pada pembelajaran.
Tapi keputusan sudah dibuat, dan kami bertekad akan
menghadapi semua tantangan ini. Kami, anak-anak Riau
yang masuk MAK adalah tim yang tangguh kendati mulai
dipisahkan satu sama lain. Aku tak tahu memperoleh
kawan yang mana, karena kami dibagi secara acak. Yang
jelas, semua teman-teman satu kelompokku adalah anak-
anak MAN, tak ada anak MAK sepertiku.

Ada kegundahan juga di hati, jangan-jangan anak-anak
ini juga memusuhiku seperti siswa senior MAN lainnya.
Ternyata tidak. Bibit permusuhan itu belum ada pada diri
mereka. Mereka masih menganggap persahabatan lebih
baik daripada permusuhan. Kebanyakan mereka berasal
dari desa-desa yang jauh se-antero Sumatera Barat, mulai
dari Rao hingga Sijunjung, dari Painan hingga Payakumbuh.
Bahkan, ada dua orang yang berasal dari luar Sumatera
Barat, satu dari Lampung di ujung Sumatera dan satu dari
Deli Serdang Sumatera Utara. Begitu hebatnya nama MAN/
MAK Koto Baru ini, hingga siswanya datang dari berbagai
penjuru, dengan jarak tempuh ratusan kilometer. Namun
apa yang mereka dapat? Azab dan sengsara. Apalagi ketika
masuk camp penyiksaan ini. Di antara azab dan sengsara
itulah, persahabatan dan kedekatan kami terjalin.

Perkemahan putra didirikan di areal kosong di
belakang asrama kami. Hanya berjarak sepelemparan
batu dari asrama yang baru tiga malam kami tiduri. Areal
perkemahan itu cukup luas untuk lima belas kemah. Kontur
tanahnya datar, kendati di belakangnya juga terdapat tebing
yang curam. Kalau satu kemah dihuni sepuluh anak, berarti
ada 150 anak baru yang masuk dalam camp penyiksaan
ini. Apalagi di satu kemah ada yang mencapai sebelas

86

http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT

hingga dua belas siswa. Kemah kami sendiri dihuni sebelas
anak baru. Tentu total dari seluruh anggota perkemahan
lebih dari 150 anak. Itu baru yang putra. Yang putri beda
lagi, dengan perkemahan di areal lapangan sekolah, yang
jumlahnya sekitar 150 siswi juga.

Berkemah di Koto Baru menjadi tantangan tersendiri
bagiku. Tidur di kasur yang empuk berteman selimut
tebal saja sudah minta ampun dinginnya. Sekarang,
kami menghadapi alam terbuka dengan hanya dinaungi
selembar kain kemah tipis. Yang pasti, tak akan mampu
melindungi kami dari serangan embun dan hawa dingin
yang menusuk tulang. Namun, rasa lelah yang sangat
kuat menepis semuanya. Hukuman yang bertubi-tubi
membuat kami kecapekan—berjalan dan berlari ke
sana kemari, mengikuti berbagai arahan senior, instruksi,
pembelajaran dan orientasi studi dalam kelas, pengenalan
kampus, mencari tanda tangan kakak kelas, menemui
orang-orang tua Koto Baru untuk memahami daerah
ini, dan segala program yang dibuat-buat. Ketika semua
lelah, tak ada yang akan mampu menghalangi tubuh
untuk rehat. Kebersamaan yang tercipta secara spontan,
telah menjadikan kehangatan tersendiri dalam kemah
berukuran 2,5 x 3 meter itu. Dengan berbantal tas-tas
pakaian, kami bergelimpangan dalam tenda-tenda sempit,
mirip ikan sarden yang siap digoreng.

Hari-hari perkemahan itu begitu berat. Pada hari
ketiga, kami sudah harus menjalani hiking ke lereng
Gunung Merapi yang menanjak, melewati jalan-jalan
terjal berbatu. Kami menelusuri Batu Palano menuju ke
arah Desa Aie Angek dan menanjak lagi hingga berakhir
di pemancar, sebuah areal luas yang biasa dipakai untuk

87

http://facebook.com/indonesiapustaka MOHD AMIN MS

rehat sebelum mendaki gunung. Perlu waktu setengah hari
untuk mencapainya.

Hari berikutnya, kami hiking ke daerah yang ber-
lawanan, arah Gunung Singgalang. Kami memasuki Desa
Pandai Sikek, sebuah desa yang terkenal dengan kekhasan
kain tenunnya. Jalan menuju Desa Pandai Sikek ini me-
nurun dan berkelok-kelok. Jalannya berbatu, keras, dan
penuh tantangan. Hanya sedikit jalan poros desa yang
kami lalui. Sisanya, kami diarahkan menuju jalan setapak,
yang hanya bisa dilalui oleh satu orang saja. Kami harus
melalui pematang sawah, areal perkebunan rakyat, hingga
areal sapi mencari makan. Entah sedang gila atau senewen,
seekor sapi jantan dengan garang mengejar kami habis-
habisan, mengarahkan tanduknya ke sana kemari. Tentu
saja kami lari terbirit-birit dibuatnya. Beberapa anggota
kelompok bahkan terperosok ke dalam parit, sehingga
wajah dan pakaian mereka berlepotan lumpur.

“Mungkin sapi itu melihat kacu warna merah kita,”
ujar ketua kelompok kami, Ramon setelah kami lolos dari
kejaran si sapi gila.

Entahlah. Yang jelas, sapi gila itu sudah berhenti
mengejar dan itu membuat kami lega. Bagaimanapun juga,
kejaran sapi gila itu telah banyak menguras energi kami.
Meski begitu, perjalanan harus dilanjutkan. Tak ada waktu
untuk berleha-leha. Karena kakak-kakak yang kejam itu
sudah menunggu sambil melihat jam kedatangan kami di
setiap pos. Setiap keterlambatan akan diganjar push up
sesuai dengan jumlah menitnya. Mereka tak mau tahu
alasan. Makanya, setelah mengatur napas, sedikit minum
dan rehat sejenak, Ramon meminta anggota kelompoknya
kembali berangkat.

88

http://facebook.com/indonesiapustaka ANAK-ANAK LANGIT

“Kita tak mau dihukum lagi, kan?” tanyanya kepada
kami.

Kami mengangguk. Dengan agak enggan, kami
beringsut juga menelusuri jalan-jalan kecil di Desa Pandai
Sikek ini. Kami terus berjalan, hingga sampai ke tempat
perempuan-perempuan Pandai Sikek menenun dengan
tekunnya. Ketekunan perempuan-perempuan Pandai Sikek
telah menjelma menjadi sebuah produk peradaban yang
dikenang di segala penjuru dunia. Kain tenunan mereka
telah melegenda, menjadi kain para raja dan bangsawan,
serta dihargai sangat tinggi di manca negara. Tangan-
tangan terampil itu begitu lincah dan tekun bergerak
memintal benang emas dan katun di atas panta yang ter-
buat dari rotan atau bambu. Sesekali mereka ngobrol,
kadang juga diselingi dengan senda gurau. Namun, semua
itu tak mengganggu aktivitas menenun mereka. Mereka
hafal dengan ragam dan corak kain yang ditenun. Tanpa
melihat pun, jadilah.

Perjalanan kami berlanjut hingga sampai ke Masjid
Haji Miskin. Masjid itu sangat luas dan menaranya men-
julang tinggi. Aku ingat, menara inilah yang kulihat tempo
hari dari belakang asrama. Ternyata, masjid itu tak hanya
berfungsi sebagai tempat ibadah bagi masyarakat sekitar,
tapi juga sebagai tempat para santri mengkaji ilmu. Sebuah
pondok pesantren telah berdiri di sampingnya, kendati
sangat sederhana. Saat itu, kami sudah sampai di Palak
Tankuah Koto Tinggi, masih di kawasan Desa Pandai Sikek.
Di sinilah rupanya sang inspirator pahlawan Nasional
Tuanku Imam Bonjol berasal. Bersama Haji Sumanik dan
Haji Piobang, Haji Miskin adalah ulama besar Sumatera
Barat yang menyebarkan Islam dengan gigih di zaman

89


Click to View FlipBook Version