ivLarasPenulis : Silvi Rani Anggraini Penyunting : Sri KandiIlustrator Kover : Dilla MckPenata Letak : Wahidah Rahmadhani QRCBN :62-2584-9760-928Diterbitkan pada tahun 2024 oleh: Penerbit Rumah Literasi ANAJalan A. Sani Muthalib Perumahan Azzura Residence 2 No. C13Kelurahan Terjun, Kecamatan Medan MarelanKota Medan, Provinsi Sumatera Utara 20256 Hak cipta dilindungi Undang-undang Isi buku ini sebagian maupun seluruhnya dilarang diperbanyak dalam bentuk apa pun tanpa izin tertulis dari penerbit, kecuali dalam hal pengutipan untuk penulisan artikel atau karangan ilmiah.
v Salam LiterasiAlhamdulillah, segala puji bagi Allah SWT, Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang yang telah melimpahkan rahmat dan nikmat-Nya untuk kita semua. Cinta adalah satu dari banyaknya rahmat Tuhan kepada manusia. Tidak ada yang dapat lari dan menghindar ketika cinta telah menguasai jiwa. Meskipun harus melewati berjuta rintangan dan kesedihan, Laras tetap memilih menjaga cintanya pada Sagara, lelaki yang telah mengikat hatinya. Tidak ada yang dapat mengukur kedalaman rasa cinta keduanya, Laras dan Sagara, namun kesetiaan pada cinta telah dibuktikan meski akhirnya mereka tak pernah bersama. Laras membawa cintanya sampai akhir usia, meninggalkan Sagara dengan luka dan penyesalannya. Kisah cinta yang luar biasa, Silvi Rani Anggraini, penulis novel “Laras” ini merangkai setiap peristiwa dengan begitu indah. Baca sampai selesai novel ini karena setiap bagian akan membawa kita larut dalam kisah cinta Laras dan Sagara.
viSemoga novel ini menginspirasi! Selamat membaca! Salam Literasi Penerbit
viiDaftar IsiSalam Literasi........................................................................vDaftar Isi..............................................................................viiPerkenalan..............................................................................1Hari Tersial.............................................................................5Sudah Ada Yang Punya........................................................14Menguntit Sagara.................................................................24Basket..................................................................................32Kesayangan Laras................................................................41Kehangatan Keluarga .........................................................46Cerita di Rooftop.................................................................49Luka di Taman Kota............................................................57Ternyata Mereka Dekat........................................................67Peringatan Kedua.................................................................76Laras Terluka.......................................................................84Kembali Sekolah..................................................................88Cerita di Pantai Hari ini.......................................................93Kemarahan Sagara.............................................................101Malam Minggu..................................................................106Rahasia Apa?.....................................................................116
viiiSiapa yang Bakar?.............................................................126Kotak Berlumuran Darah...................................................139Cemburu.............................................................................151Pertandingan Baket............................................................160Berkunjung........................................................................168Turnamen dan Luka...........................................................176Pertemuan Terakhir............................................................196Memaafkan........................................................................208Kemenagan........................................................................215Pertemuan..........................................................................222Ke Surabaya.......................................................................232Pulang................................................................................237Sebuah Rahasia..................................................................251Maafkan Aku, Laras!.........................................................256Kecewa...............................................................................273Lukanya Masih Membekas................................................287Kritis..................................................................................294Tentang Sagara...................................................................301Besuk.................................................................................313Wiraatmaja.........................................................................319
ixSiuman...............................................................................322Jadian.................................................................................332Sagara, Kamu Di mana?....................................................345Sebuah Surat......................................................................353Antara Rindu Dan Penyesalan...........................................364Satu Tahun yang Lalu........................................................375Keputusan yang Sulit.........................................................385Kemarahan dan Penyesalan...............................................393Selamat Jalan.....................................................................404Mengenang Kisah Cinta Lama..........................................419Biodata Penulis..................................................................424
1PerkenalanTampaknya sang matahari sudah mulai timbul, menandakan pagi telah tiba. Seorang gadis yang masih bergelut di bawah selimut tiba-tiba membuka mata karena pancaran sinar surya mengintip di balik jendela kamarnya. Saat melihat jam dinding, “Aduh mampus jam 06.30.”Hari ini adalah hari pertama ia masuk sekolah menegah atas sebagai murid baru yang sedang di tahap orientasi pengenalan lingkungan sekolah.Laras langsung membanting selimut dan mengambil handuk yang berada di balik pintu dan bergegas mandi. Untungnya kamar mandi ada di dalam kamar hingga tidak perlu lagi turun ke bawah. Tidak butuh waktu lama gadis berusia 16 tahun itu selesai berpakaian dengan rapi. Dan bersiap berangkat sekolah. “Ma, aku berangkat dulu ya. Assalamualaikum,” teriak Laras di ruang tengah sambil memasang kaos kaki dan sepatu.
2Yang ada dipikirannya saat ini bagaimana dia bisa sampai sekolah dalam waktu empat puluh menit.Kalian pasti pernah merasakan seperti Laras. Hari pertama masuk sekolah, pada saat orientasi siswa, harus datang pagi, kalau tidak akan mendapatkan hukuman kakak senior.Mama Laras yang berada di dapur langsung pergi ke ruang tengah untuk melihat anak keduanya tersebut.“Kamu, Laras, kebiasaan deh, suka teriak-teriak dikira rumah ini hutan apa?” ujar Susan, Mama Laras, yang baru saja datang dari arah dapur. Ia merasa gemas sendiri melihat tingkah laku anak perempuannya itu.“Aduh Ma, maaf deh nanti saja ya ceramahnya tunggu Laras pulang sekolah saja ya,” ucap Laras dengan menyengir lucu.“Kamu enggak sarapan dulu?”“Enggak deh Ma, enggak sempat! Sudah ah Laras pamit. Assalamualaikum,” ujar Laras. Setelah selesai mengikat tali sepatu, Laras langsung menyodorkan tangan untuk salim. Sedangkan Susan hanya
3geleng-geleng kepala melihat anak gadisnya.Larasati Putri Baskara gadis remaja berusia 16 tahun yang sering dipanggil Laras. Ia anak kedua dari Bapak Bagas Baskara dan Ibu Susan Ningsih. Laras juga memiliki abang yang super-duper menyebalkan, Daffa Putra Baskara. Di balik sifat jahil Daffa ia adalah abang yang perhatian.Laras juga memiliki sahabat yang selalu ada saat suka maupun duka. Amel Karmalasari, sahabat Laras yang satu ini mulutnya sungguh pedas seperti seblak level sepuluh. Laras menyematkan panggilan sayang untuk Amel yaitu ‘Karma’. Sahabat Laras selanjutnya Melisa, yang satu ini anaknya sering bikin orang-orang murka untungnya dia cantik. Terakhir ada Arinda Puspa yang satu ini sifat dewasanya masyaallah. Mereka berempat sudah berteman sejak mereka duduk di bangku sekolah menengah pertama.
4 Hari Tersial“Akhirnya sampai juga gue,” Laras yang baru saja turun dari sepeda motor miliknya itu sambil melirik kiri kanan yang sudah sepi.Ya, karena dia terlambat dan beruntung pintu pagar sekolah SMA Harapan Bangsa tersebut tidak lagi dikunci.“Alhamdulillah,” ujar Laras.Sekarang Laras sedang berada di parkiran sekolah, sedangkan siswa-siswi lain telah berkumpul di lapangan basket untuk mendengarkan arahan dari kakak OSIS SMA Harapan Bangsa.Di saat ingin melangkahkan kaki ke arah lapangan untuk ikut baris. Tiba-tiba ia dikejutkan oleh seseorang yang memanggilnya, dengan refleks Laras berhenti dan langsung melihat arah belakang. “Hai, kamu tunggu!” teriak seseorang sambil berjalan menghampiri Laras dengan nada bicara galak.“Kenapa bisa terlambat?”Laras melirik sekilas ke arah lawan bicaranya ketika
5menemukan manik mata lelaki tersebut, dia langsung menundukkan wajah tidak berani menatap orang yang ada dihadapannya itu dan dapat dilihat dari seragam cowok itu adalah salah satu anggota OSIS.“Maaf Kak, tadi ban motor saya bocor,” ujar Laras masih dengan posisi awal.“Kalau bicara sama orang itu jangan lihat ke lantai, memang yang lagi bicara sama kamu itu lantai?” amuk lelaki tersebut yang dari tadi memperhatikan Laras.“Alasan! Ayo ikut saya,” titah lelaki itu.Laras yang mengikuti dari belakang, saat sampai lapangan basket yang sudah dipenuhi banyak orang langsung menundukkan wajah tidak berani menatap arah siswa-siswi. Menurut Laras hari ini adalah hari tersial baginya.Banyak siswa yang diam-diam membicarakannya, karena berani-beraninya terlambat di hari pertama masuk. Sesekali pun ia mendengar kata-kata ”Galang’. “Nama kakak ini Galang, kah?” guman Laras bertanya.Saat Laras dan kakak kelasnya itu sampai di tengah lapangan banyak sekali pertanyaan-pertanyaan dari anak
6OSIS.“Hai Cantik.”“Hai Manis, boleh kenalan?”“Bagi wa dong.” “Berisik!” seru Laras ketus.Kakak kelas yang digadang-gadang oleh Laras bernama Galang itu mencibir pelan. “Galak.”“Nih anak telat, enaknya dikasih hukuman apa?” tanya Galang kepada teman-temannya.Laras yang mendengarkan ucapan Galang langsung melotot sempurna.“Mampus,” lirih Laras panik.Lelaki di samping Galang pun langsung maju satu langkah menghadap Laras.“Siapa nama kamu?” tanya lelaki itu sambil melihat wajah Laras dan Galang bergantian sebab baru kali ini melihat temannya itu membawa kasus perempuan untuk diberikan hukuman biasanya mau bagaimana pun pasti dibiarkan saja oleh Galang.
7Laras yang melihat lawan bicaranya terkejut, “Masyaallah ciptaan Tuhan ganteng banget!” ucapnya spontan.Semua orang yang berada di sana pun langsung tertawa. Laras langsung menutup mulutnya bisa-bisanya keceplosan, betapa malunya Laras ditertawakan oleh anggota OSIS dan siswa baru lainnya. “Diam!” bentak lelaki tadi, Deo namanya.“Kamu,” tunjuk Deo ke arah Laras.“Sapu halaman samping sekolah sekarang! Yang lainnya masuk kelas yang telah ditentukan dan persiapkan perkenalan diri kalian masing-masing,” sambung Deo.Tepat bel berbunyi pertanda jam istirahat dan hukuman Laras berakhir.“Huh! Akhirnya selesai,” ujar Laras sambil melepaskan sapu yang ada di tangan dan berjalan menuju kantin.Laras mencari keberadaan para sahabatnya, setelah sampai kantin, Laras melihat salah satu meja pojok kanan.“Heh, Karma lo kebiasaan ya, gue kan semalam sudah chat lo besok bangunkan gue,” omel Laras sambil
8mendudukan diri di samping Amel.“Sorry, Ras. Kelupaan, soalnya sebelum ke sekolah abang gue minta antar ke bandara dia mau pergi ke Singapura, jadi gue disuruh mengantarkan dia dulu,” cerita Amel panjang kali lebar, sedangkan Laras hanya komat kamit saja mengomel.“Sudah itu saja terus alasan lo,” ujar Laras sambil meneguk minum milik Amel.“Hei bocah! Minuman gue yang lo embat itu,” amuk Amel.“Yaelah, tinggal beli lagi kenapa. Uang bokap lo juga banyak,” dengan santainya Laras menjawab.“Ya kan gue mau minum juga marfuah. Tuh lihat antrean sudah sampai perpustakaan,” kata Amel berlebihan.“Enggak sampai perpustakaan juga kali,” cibir Laras.“Sudah-sudah enggak usah mulai deh! Tinggal pesan lagi kayak orang susah, perasaan setiap ketemu ribut melulu heran gue,” ucap Arin.“Karma dengar kata Arin, jangan pelit,” kata Laras sambil cengengesan.
9“Lo kali yang enggak modal,” sungut Amel.“Sudah dong Ras, Mel,” ucap Arin lagi menengahi perdebatan antara Laras dan Amel.“Oh iya Ras, emang kenapa lo bisa telat gitu?” tanya Melisa yang sedari tadi diam menyimak.Laras mulai menceritakan alasan dia telat. Ceritanya membuat ketiga sahabat itu tersebut tak bisa menahan tawa .“Memang gila sahabat gue,” kata Amel ketawa paling kencang tak habis pikir melihat kelakuan Laras.“Bodoh,” ucap Melisa dan Arin barengan. Mereka memang tahu bahwa kelemahan Laras itu adalah penakut. Semalam Laras menonton film horor bersama Bang Daffa sampai jam tiga pagi. Lebih tepatnya Bang Daffa yang menonton, Laras hanya teriak-teriak enggak jelas. Di saat mau tidur Laras kebelet ingin buang air kecil. Dikarenakan Laras takut, ia tidak berani ke toilet dan langsung tidur. Dan berakhir Laras mengompol di tempat tidur. ***Setelah jam istirahat usai mereka langsung ke lapangan basket dan melanjutkan masa perkenalan siswa baru,
10beruntungnya mereka berempat segugus.“Oke Adik-adik mungkin itu saja pengarahan dari Kakak hari ini, semoga kalian mendengarkan apa yang Kakak sampaikan dan Kakak harap besok tidak ada lagi siswa baru terlambat. Mengerti? Wassallamuallaikum Warahmatullahi.Wabarakatuh,” ujar Deo selaku ketua OSIS“Mengerti Kak,” ujar mereka serempak, semua siswa SMA Harapan Bangsa langsung berhamburan pulang.“Karma, Lisan, Ari gue duluan ya bye,” ujar Laras. Mereka hanya dapat menahan kesal melihat kelakuan Laras karena suka sekali menganti nama orang. Enggak tahu apa orang tua mereka sudah susah payah mencari nama yang bagus, eh malah Laras seenak jidat menganti nama mereka. Kalau mereka protes Laras akan ngeles berkata seperti ini. “Itu adalah bentuk kasih sayang gue pada kalian.”***Setelah sampai di rumah, Laras langsung memarkirkan motor kesayangan di garasi.“Assalamualaikum, Laras pulang!” teriak Laras yang
11baru masuk rumah.“Waalaikumsalam,” jawab Mama dan Papa Laras.“Laras sini kamu!” teriak Susan.“Mampus! Ada dosa apa gue hari ini?” guman Laras sambil berjalan ke ruang tengah di mana Mama dan Papa Laras lagi menonton televisi, begitu sampai langsung ia mengarahkan tangannya ke orang tuanya, salim.“Kamu itu selalu saja mengompol di tempat tidur, kapan mau stop kebiasaan kamu itu Laras?” ucap Susan, sebab dia sudah benar-benar lelah memperingatkan putrinya ini untuk tidak mengompol di atas kasur.“Kamu itu sudah gadis bukan anak kecil lagi Laras, masa ke toilet saja kamu enggak bisa!” sambung Susan mengomeli.“Ya maaf Ma, namanya juga khilaf mana Laras tahu itu kasur,” bela Laras sambil menyengir.Mama dan Papa Laras menghela napas mendengar jawaban Laras yang bicara tanpa dosa itu, mereka tahu itu sudah jadi kebiasaan Laras ketika dia ketakutan dan imbas dari semua itu Laras menolak ke toilet malam-malam.
12Berujung mimpi membawanya pipis di atas tempat tidur.“Sudah mendingan kamu ganti baju terus makan siang selesai itu baru bersihkan kamar kamu!” kata Bagas. Kalau sudah begini Laras tidak bisa membantah apa yang diucapkan papanya.“Baik, Pa. Laras ke kamar dulu,” pamit Laras langsung naik tangga menuju kamarnya.***
13Sudah Ada Yang Punya Dari kejauhan Laras dan tiga sahabatnya, melihat geng Woktai yang mulai mendekat ke arah kantin. Membuat seluruh siswa-siswi ribut seketika. Geng Woktai ialah perkumpulan badboynya SMA Harapan Bangsa. “Ah pacar halu gue.”“Kak Gara.”“Kak Bibin.”“Boy-boynya kita,” begitulah kira-kira ucapan mereka ketika melihat anggota geng Woktai.“Kalian tahu enggak? Mereka berempat itu penguasa sekolah,” kata Amel sambil melirik sekilas arah perkumpulan cowok-cowok itu.“Enggak,” jawab Arin dan Melisa. Amel yang mendengar ucapan mereka pun langsung cemberut.“Nih, ya gue jelaskan satu persatu geng Woktai. Yang rambut ikal kayak mie sedap guri-guri gimana begitu adalah anak dari Pak Somat guru Matematika kita namanya Mamat, sedangkan yang tinggi itu Carles, terus cowok yang lagi pesan
14makanan di sana itu Bibin,” jelas Amel yang selalu update.“Woktai itu apa?” tanya Melisa yang langsung menatap Amel.“Cowok santai, jadi mereka itu apa-apa dibawa santai makanya sering dapat hukuman dari guru,” jelas Amel.“Oh iya cowok yang lagi main ponsel samping si Ikal itu namanya Sagara. Dia itu sudah ganteng, pintar, baik. Ahidaman gue!” seru Amel mengklaim Sagara menjadi miliknya. “Tapi sayang sudah punya cewek,” sambung Amel sambil menatap Laras lesu.Sedangkan Laras masih saja diam sejak kedatangan geng Woktai, entah apa yang membuat gadis itu diam saja. Mendengarkan cerita atau memang sudah tahu.“Ras, kenapa bengong?” tanya Amel.“Iya Ras dari tadi gue perhatikan lo diam melulu, kenapa?” sambung Melisa sebab dia sudah mulai gatal untuk bertanya.Laras yang memang dari tadi kurang fokus terhadap pembicaraan sahabatnya, langsung berdiri dan melangkah pergi meninggalkan mereka bertiga.
15Amel, Arin, Melisa melihat kepergian Laras secara tiba-tiba langsung mengangga tidak percaya atas sikap Laras.“Gila gue sudah cerita panjang kali lebar, eh tuh bocah malah pergi,” gerutu Amel yang mulai emosi.“Memang kelakuan si tukang mengompol bikin emosi,” sambung Melisa sambil mengelus dada melihat kelakuan Laras.“Sabar ini cobaan,” ucap Arin yang lanjut makan bakso.Sudah sepuluh menit Laras berada di taman belakang sekolah, gadis itu duduk di bangku kecil tepat di depan kolam ikan. Pandangan mata Laras menatap ke depan dengan segudang pikiran tentang cowok tinggi itu.Sagara Mahendra, salah satu cowok terpopuler di SMA Harapan Bangsa yang mampu membuat hati Laras bergetar seketika. Apakah, ini cinta pandangan pertama? Entahlah Laras pun tak memahami perasaannya. Tapi ketika mendengar bahwa Sagara memiliki cewek, Laras sedikit kecewa. Laras yang asyik melamun, seketika terkejut karena kedatangan Kakak kelasnya. “Kenapa melamun?” tanya Kak Deo.
16Ya, cowok tersebut adalah ketua OSIS yang menghukum Laras waktu Ospek seminggu lalu.“Kak Deo, sudah lama ada di sini?” tanya Laras.Alih-alih menjawab pertanyaan cowok tersebut Laras lebih tertarik memberi pertanyaan.“Lima menit yang lalu mungkin,” kata Kak Deo.“Oh,” jawab Laras sambil menoleh ke samping untuk melihat lawan bicara.“Boleh duduk enggak nih?” tanya Kak Deo sambil melirik kursi kosong.“Duduk saja Kak,” ujar Laras yang mempersilahkan lelaki itu duduk.“Kenapa? Gue perhatikan kayak ada masalah?” tanya Kak Deo perhatian.“Lagi gabut saja, Kak,” jawab singkat Laras, sebab Laras agak risih diberi pertanyaan mengenai masalah pribadi.Kak Deo yang sedari tadi menatap Laras sambil tersenyum penuh arti, baru cowok itu melontarkan pertanyaan bertepatan bel pertanda waktu istirahat telah usai berbunyi.“Duluan Kak,” pamit Laras.
17Kak Deo hanya menganggukkan kepala sambil tersenyum. Setelah laras berlalu pergi tanpa sadar ia mengucapkan kata cantik. ***“Gila ya Ras, tega benar lo sama kita, dari mana lo? Kok baru kelihatan?” omel Amel yang memang sedari tadi menunggu kedatangan Laras, saat melihat Laras baru tiba di dalam kelas langsung saja di wawancarai ala Amel.“Tadi gue ke toilet sebentar Karma,” jawab Laras, ia melangkahkan kakinya menuju kursi di samping Melisa.“Aduh Laras, sebentarmu itu dua puluh menit, ngapaindi sana? Oh gue tahu, pasti lo mengintip toilet cowok ya?” kata Amel menuduh.Laras yang mendengar tuduhan tidak bermutu pun, langsung memukul kepala Amel pakai buku setebal buku dosa.“Otak lo kayanya harus dicuci deh,” sinis Laras.“Pakai apa Ras?” sahut Arin.“Pakai deterjen kali ya,” jawab Laras.“Ah enggak mempan, pakai pemutih baju saja biar
18bersih tuh isi otak si Karma,” kata Melisa ikut mengompori sambil tertawa.“Jangan! Ceburkan ke kali saja sekalian,” ucap Arin.“Sialan lo pada,” amuk Amel. Ia langsung duduk dan diam memperhatikan teman sekelas tertawa bersama seolaholah puas melihat atas pembullian ketiga sahabatnya.“Selamat siang Anak-anak,” sapa Bu Agnes sambil masuk ke dalam kelas. “Siang Bu,” sahut mereka serempak.Ruangan X IPA 3 yang tadinya ramai berubah jadi sunyi, sebab mereka sangat takut melihat guru di depan mereka.“Baik. Silahkan buka halaman dua puluh di buku cetak kalian masing-masing,” ujar Bu Agnes.Dengan malas mereka membuka buku cetak halaman dua puluh. Melihat soal yang bejejer rapi di halaman buku, membuat kepala Laras tiba-tiba berdenyut. Ya, ini hari Selasa jam terakhir pelajaran Kimia.Perlu dicatat, Laras adalah gadis yang benci pelajaran Kimia, apalagi jam terakhir itu lagi rawan-rawannya tidur
19siang.“Gila soal macam apa ini,” protes Laras sambil melotot ke arah buku cetak dengan nada rendah.Laras menoleh ke kanan hendak bertanya, “Sa lo, astagfirullah,” niat hati ingin meminta contekan tapi dia menemukan seorang siswa X IPA 3 tergeletak tak bernyawa dengan menelungkupkan wajah ke atas meja sebagai bantal. Eh maaf maksudnya tidur. Memang dasar Laras mulutnya butuh diruqiah.“Ari sudah selesai belum?” tanya Laras yang sedang mentoel bahu Arin pakai penggaris.Dengan terpaksa Arin menoleh ke belakang melihat si pelaku yang tersenyum pepsodent.“Ya ampun Ras sehari enggak menyontek bisakan?” ujar Arin, sebab Laras selalu saja begitu apa-apa menyontek.“Begini ya Ari, anak Papa Burhan, otak gue itu butuh refreshing,” kata Laras sok serius.“Iya semerdeka lo lah,” jawab Arin malas sembari memberikan buku latihan Kimia dan langsung menghadap ke depan sebab kalau diladeni bikin emosi. Itu adalah kata kunci
20Laras untuk menyontek dari jaman SMP.“Makasih Arinya aku,” sahut Laras yang mulai menyalin jawaban. Kenapa Laras tidak bertanya pada Amel ya percuma Amel sebelas dua belas dengan Laras, cuma bisa debat.“Hei, bangun enggak lo,” teriak Laras, Amel, Arin ketika kelas sudah mulai sepi.Ya iyalah ini kan pukul 13.30 waktunya pulang. Niat mereka mau pulang duluan tapi berhubung masih punya jiwa sosial yang tinggi, mereka sepakat membangunkan Melisa.“Zyan masih mengantuk,” lirih Melisa dengan mata tertutup.“Ini nih, keseringan halu yang enggak benar. Mel bangunkan tuh bocah,” suruh Laras sambil mondar-mandir.Amel yang mendengar instruksi Laras pun langsung mendekat ke arah Melisa.“Melisa!” teriak Amel.Sedangkan Laras dan Arin sudah terlebih dahulu menutup kuping mereka.“Zyan Malik,” refleks Melisa berteriak.
21“Sudahlah cabut,” emosi Laras sambil memberi instruksi dua sahabatnya untuk pergi meninggalkan Melisa.“Woi sohib tunggu gue,” teriak Melisa sambil lari keluar kelas.Mereka bertiga berjalan begitu saja tanpa berhenti, sebab Laras, Amel, dan Arin masih emosi dengan Melisa yang mempunyai tingkat halusinasi tingkat tinggi bila menyangkut Zyan Malik. ***
22Menguntit SagaraSetelah pulang sekolah bukannya mencari kegiatan yang berguna, Laras malah asyik bersemedi di atas kasurnya, berguling-guling tidak jelas hingga matahari mulai terbenam.“Ah bosan!” seru Laras, ia mulai bangkit menuju arah dapur.“Mending ke dapur bantu Mama masak,” ucap Laras bicara sendiri sembari menuruni undakan tangga.“Hei anak Papa, sini Sayang,” kata Papa Bagas saat melihat anak kesayangannya turun dari lantai atas.Laras yang mendengar papanya memanggil dengan malas menghampiri papanya yang berada di ruang keluarga sembari menonton televisi dengan secangkir kopi yang ia seruput penuh nikmat.“Iya, Papa Laras yang paling ganteng,” ucap Laras sambil duduk di sofa.“Gimana sekolah kamu lancar?” tanya Bagas.“Lancar Pa, bahkan saking lancarnya otak Laras jadi pintar,” kata Laras dengan memberikan acungan jempol.
23“Kamu les ya! Biar kamu tambah pintar,” nasihat Bagas.“Ah, si Papa bisa saja,” ucap Laras dengan senyum malu-malunya.“Cantik banget sih anaknya Papa,” Bagas mengelus surai hitam pekat milik putrinya.“Iya dong, anaknya Papa Bagas dan Mama Susan.”***Setelah usai berbicara asyik dengan papanya, Laras langsung saja menemui sang Mama yang berada di dapur.“Masak apa Ma?” tanya Laras yang sudah sampai di dapur.“Lagi goreng ayam tepung,” jawab Susan.“Ya sudah sini Laras bantu Ma,” tawar Laras, ia mulai mendekat ke arah kompor.Belum sempat melihat berapa ayam yang belum digoreng, Laras langsung berbalik arah ke meja makan saat mendengar ucapan mamanya.“Ras, kamu lebih baik rapikan meja makan saja. Soalnya masakan Mama sebentar lagi kelar.”
24Setelah semuanya selesai, masakan juga sudah tersaji di atas meja.“Beres, tinggal menikmati deh,” kata Laras melihat semua sudah rapi tertata.Baru hendak memisahkan kulit dan daging ayam goreng untuk dimakan. Tiba-tiba ada yang menepis tangannya.“Ras, panggil Papa dulu,” tegur Susan.Laras langsung saja berlari memanggil papanya.“Pa, makan malam sudah siap. Ayo makan,” ajak Laras.Bagas yang mendengar suara anaknya memanggil untuk makan malam pun langsung menuju meja makan. Bagas memperhatikan Laras dari belakang sambil gelenggeleng kepala melihat kelakuan anaknya.Mereka bertiga menikmati makan malam dengan sunyi. Laras yang dari tadi penasaran akhirnya mengeluarkan suara.”Pa, Ma. Abang belum pulang?” tanya Laras. Biasanya kalau sedang kumpul menikmati masakan mamanya, dia dan abangnya bagai Tom and Jerry yang rebutan ayam goreng.“Abang pulang malam,” jawab Susan.***
25Pukul 21.30 WIB, terdengar ketukan dari luar pintu kamar Laras. Membuat Laras langsung mengalihkan perhatian dari benda persegi miliknya. Dapat ditebak pasti sang pelaku adalah abangnya.“Ras, Abang boleh masuk enggak?” tanya Daffa dari luar kamar.“Masuk saja Bang,” sahut Laras.Setelah mendengar sahutan dari Laras, Daffa langsung masuk.“Kebiasaan main ponsel melulu lo,” ucap Daffa saat melihat adik kesayangannya sedang asyik mengotak-atik benda pintar itu.“Ada perlu apa?” tanya Laras.Daffa sama Laras adalah adik kakak yang suka berbagi cerita, oleh karena itu Laras yakin kehadiran abangnya tak lain adalah untuk bercerita. “Begini Dek, lusakan ulang tahun Manda. Abang lagi bingung mau kasih dia kado apa,” ucap Daffa menceritakan permasalahannya.“Biasanya, cewek itu suka hal yang berbau romantis,”
26kata Laras sambil menopang dagu dan terus berpikir.“Nah, gimana kalau Abang kasih saja rumah gede, mobil sama perhiasan,” sambung Laras antusias menatap abangnya.“Gila lo ya! Dikira Abang lo ini orang kaya!” sahut Daffa mengamuk, sebab ia sudah serius menanggapi Laras. Bukannya dapat ide bagus tapi dapat emosi.“Santai dong Bro, masa begitu saja marah,” ucap Laras cekikikan, dia memang senang membuat abangnya marah. Kapan lagi coba menjahili abangnya ini, biasanya Daffa yang selalu menjahilinya. “Lo yang enggak bisa bikin gue santai, setiap kali lihat lo terlintas di otak gue mau gampar lo, tapi sayangnya lo adik gue,” judes Daffa yang hendak membuka pintu dan keluar dari kamar Laras.“Ajak saja ke tempat yang menurut Abang paling bagus di Jakarta,” teriak Laras dengan cepat, bisa tidak diberi uang jajan kalau abangnya marah.Daffa yang sudah mulai menuju kamarnya pun samarsamar tersenyum mendengar teriakan Laras.
27“Ide bagus, makasih Cantik,” kata Daffa berbalik lagi membuka pintu kamar Laras.“Ya sama-sama. Jangan lupa uang warna merah besok,” sahut Laras saat melihat kepergian abangnya.Setelah kepergian abangnya, Laras merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Laras masih kepikiran tentang apa yang ia lihat di akun sosial media cowok itu.Ya, tepat berapa menit lalu Laras sempat menguntit akun instagram milik Sagara, sebelum abangnya datang merecoki kegiatan menguntitnya. Lama kelamaan mata Laras sudah tidak bisa diajak bekerja sama, akhirnya ia terlelap dengan ponsel yang berada di genggamannya. ***
28“Sesakit itukah mencintainya dalam diam”
29Basket“Pak tunggu,” teriak Laras.Penjaga sekolah SMA Harapan Bangsa pun seketika memberhentikan kegiatannya untuk menutup gerbang sekolah.“Neng Laras, telat lagi?” ucap Pak Togar membuka kembali gerbang.“Eh iya Pak, makasih Pak,” ucap Laras tersenyum sambil melajukan sepeda motornya menuju parkiran. “Huh,” hela napas Pak Togar kembali menutup gerbang.Dengan bersenandung kecil Laras menuju kelas X IPA 3 yang berada di lantai dua, beruntunglah koridor kelas sepi sebab jam sudah menunjukkan pukul 07:15 WIB.Tepat di depan kelas X IPA 3 Laras melihat dari kejauhan orang yang sudah membuat pikiran dan hatinya tidak sinkron sedang menuju tangga bersama sahabatnya. Mulai dekat semakin dekat. Dengan hati yang mulai berdebar Laras memutuskan masuk ke kelas yang sudah mulai ramai dengan kesibukan masing-masing.
30Mereka memang anak IPA yang katanya pendiam, rajin dan lain sebagainya. Tapi itu tidak berlaku di kelas Laras yang super duper ribut. Ada yang mengobrol, menyanyi, tidur, membaca dan masih banyak kegiatan lain yang tidak mencerminkan bahwa mereka anak IPA yang digadanggadang baik dan rajin.“Telat lagi Kang Ngompol,” ejek Amel menghadap bangku Laras.“Jangan julid, Mel,” sahut Arin melerai terlebih dahulu perdebatan yang akan terjadi antara Amel dan Laras.Laras yang baru saja duduk di kursi pun langsung menatap mereka.“Kalian pernah enggak sih, mengalami hal ingin memiliki tapi sadar diri?”“Omo! Seorang Larasati yang cuma tahu mengompol lagi jatuh cinta?” heboh Amel.“Gimana Ras, siapa orangnya? Kasih tahu kita?” tanya Arin berseru antusias.Laras yang mendengar ucapan para sahabatnya langsung menghela napas, tiba-tiba Laras teringat cowok
31yang ia taksir sudah ada pemiliknya. “Ras, cerita dong,” pinta Amel yang mulai kepo.“Ah si Laras mah begitu, siapa tahu kan gue bisa bantu menikung dari lo,” sambung Amel. Langsung saja Laras memberikan jitakkan di jidat Amel. “Dosa apa gue punya sahabat kayak lo, Karma.”“Emang ini anak butuh diruqiyah Ras, sudah bau-bau jadi pelakor sejak dini,” ucap Arin.“Enak saja, begini-gini banyak yang naksir gue ya! Dasar para jomlo,” cibir Amel.“Sesama jomlo enggak usah saling menghina,” sahut Laras dan Arin bersamaan.“Omong-omong Melisa mana?’ tanya Laras yang baru sadar sahabat satunya tidak ada.“Sakit.” “Bisa juga dia sakit ya,” kata Laras dengan santainya.“Eh Ras, mau kasih tahu enggak siapa orangnya,” pinta Amel kepo.“Nanti saja tunggu kita berempat,” jawab Laras.Mereka bertiga langsung diam, ketika ada instruksi
32dari kakak kelas yang masuk ke kelas mereka. Geng Woktai, Laras tersenyum simpul.“Assalamualaikum adik-adik, jadi kedatangan kami ke sini ingin memberikan sedikit informasi kepada kalian.”“Sebelumnya perkenalkan nama Kakak, Sagara Mahendra ketua basket SMA Harapan Bangsa, di sebelah saya ini ada Bibin, dan sebelahnya Carles terakhir Mamat,” ucap Sagara memperkenalkan satu persatu temannya.“Berhubung sekolah kita ini diwajibkan ikut ekstrakurikuler, maka kami membuka pendaftaran bagi kalian yang berminat di ekskul basket. Untuk latihannya setiap hari Kamis sepulang sekolah,” jelas Sagara.“Eh Ras, mau daftar enggak?” tanya Arin.Laras yang sedari tadi asyik memandang figur kakak kelasnya pun tersadar dan menatap Arin dengan kikuk.“Enggak tahu deh, bingung gue,” ujarnya kembali melihat ke depan.Tepat saat itu mata Laras dan Sagara bertemu. Dengan cepat Laras memutuskan kontak mata mereka.” Malu gue, dia kok menatap gue ya.”
33“Oke, yang mau daftar silahkan hubungi Carles. Nanti dia yang akan masukkan kalian di grup basket dan mungkin itu saja yang dapat Kakak sampaikan, terimakasih.”“Ini diisi jangan dicoret-coret! Bagi yang minat besok jam 14.30 kita kumpul di lapangan basket,” ucap Bibin sambil membagikan kertas formulir.“Ingat Jono tuh kertas jangan lo jadikan bungkus cabe,” ucap Mamat memperingatkan salah satu adik kelasnya.“Eh Adik manis kok sendirian duduknya? Mau abang temani enggak?” sambung Mamat saat melihat Laras.“Enggak Kak, makasih,” ucap Laras dengan senyum tulus.“Manis,” sambung Mamat yang langsung berdiri di samping Jono.“Eh titisan Burhan!” seru Mamat memanggil Amel.“Pergi titisan Somat!” balas Amel berseru dengan emosi.“Nanti jodoh baru tahu rasa lo berdua,” kata Arin menakuti.Sebab Amel dan Mamat bertetanggaan, dan Arin sudah
34terbiasa melihat tingkah laku Amel dan Mamat. “Bukan tipe gue,” sahut Mamat sambil keluar kelas mengikuti para sahabatnya. “Eh mie goreng punya kaca enggak di rumah? Muka sama rambut saja enggak sama, belagu lo!” teriak Amel.“Emang kalian berdua kenal Kak Mamat?” tanya Laras yang melihat interaksi kedua sahabatnya itu.“Iya dia tetangga gue,” sahut Amel.“Oh pantas, cocok sama lo suka ngegas!” “Jadi tetangga nih ceritanya?” sambung Laras mengejek.“Sorry bukan level gue,” ucap Amel.“Yaelah, nanti bucin baru tahu lo. Kan seru tuh misal lebaran enggak perlu mudik,” kata Arin tertawa bersama Laras.***“Gue ke toilet dulu,” kata Laras pada teman-temannya.Saat hampir tiba di toilet ia mendengar orang yang berbicara. Karena rasa penasaran yang tak dapat dibendung, Laras sedikit mengintip dari asal sumber suara.
35Tanpa sadar Laras menangis. Di ruangan kosong itu sedang terjadi asmaraloka dua manusia berbeda jenis. Dia adalah Sagara yang sedang memeluk erat perempuan. Entah kenapa Laras merasa tersinggung dan sakit hati, padahal Laras paham betul punya hak apa ia untuk cemburu? Tapi ini menyangkut perihal hati yang sulit untuk diajak kompromi. “Kenapa gue harus menangis sih? Wajar dong dia kayak begitu, merekakan pacaran,” ucap Laras sambil menangis di bilik toilet.Sayangnya Laras tidak mengetahui bahwa Sagara melihatnya mengintip dan menangis. “Aneh, kenapa dia menangis?” Sagara bertanya-tanya. Entah kenapa tangis cewek itu sedikit menganggu Sagara. Sekarang Sagara berada di rooftop sekolah, sibuk memikirkan kenapa gadis bertubuh mungil itu menangis melihatnya.“Eh si Bos, dari tadi dicari malahan bengong di sini,” ucap Bibin yang baru datang bersama Carles dan Mamat.“Gar, bulan depankan lomba basket antar sekolah, sudah lo kasih belum pengajuan ke anak OSIS?” tanya Carles.
36“Belum! Besok gue kasih ke Deo, suratnya lupa gue bawa.”“Satu, dua, tiga, empat, lima.”Mereka bertiga menatap Mamat yang sedang menghitung pena.“Eh Mamat bin Somat! Katanya anak orang kaya? Kok hobinya menyolong pena orang, enggak modal banget,” cibir Bibin.“Lumayan buat pajangan,” sahut Mamat masih menghitung jumlah pena.“Memang enggak salah didikan Bapak Somat,” sindir Carles.“Awas lo berdua nanti pinjam pena gue! Enggak bakal gue pinjami!” ancam Mamat sambil menatap Carles dan Bibin.“Jangan dong,” rayu Bibin.“Tahu nih anak baperan,” sambung Carles.“Tobat Mat, sebelum neraka menanti,” kata Sagara sok serius.“Mulut lo, pedas amat,” ucap Mamat tak semangat.
37 Kesayangan LarasSetelah pulang sekolah Laras singgah sebentar ke toko boneka, ia sedang memilih ayah terbaik untuk anak-anak Siti di rumah.“Pokoknya gue harus cari ayah yang terbaik untuk keponakan gue, kasihan si Siti tiga bulan menjanda,” ucap Laras sambil melirik jajaran boneka beruang besar.“Jangan kayak si Johan sukanya pergi tanpa alasan,” sambungnya.Johan itu boneka beruang kedua Laras tapi sayangnya waktu Laras sekeluarga liburan ke tempat neneknya di Surabaya. Gara-gara abangnya, boneka kesayangannya diberikan kepada sepupu Laras. Laras sempat marah pada abangnya, sampai Mama membujuknya dengan alasan akan memberikan boneka baru.“Ini bagus tapi ini agak kecil jadi jatuhnya kakak mereka,” ujar Laras dengan suara kecil.“Ini jelek.” “Nah ketemu! Hai ganteng, lucu banget pakai baju
38garis-garis begini,” ucap Laras dengan tersenyum senang.Entah takdir atau memang kebetulan, di saat asyiknya berceloteh dengan boneka barunya, Sagara, kakak kelasnya menghampiri Laras. “Eh, lo anak kelas X IPA 3 kan?” tanya Sagara, tepat di hadapan Laras.Jangan ditanya keadaan Laras saat ini, senang tapi tidak punya keberanian untuk menatap cowok itu. Bahkan untuk bicara pun bibirnya terkatup rapat.“Hai,” sapa Sagara sekali lagi sambil menyentuh bahu Laras, karena sedari tadi gadis itu hanya diam.“Iya Kak, ada yang bisa gue bantu?” jawab Laras yang tersenyum malu.“Bisa-bisanya gue melamun depan Kak Gara,” ucap Laras dalam hati.“Boleh bantu gue enggak? Eh maaf nama lo siapa? Gue Sagara,” ucap Sagara sambil menyodorkan tangannya.“Laras Kak. Mau minta bantu apa, Kak?” jawab Laras canggung membalas jabatan tangan Sagara.“Begini, gue lagi cari boneka hello kitty, tapi yang edisi
39terbaru,” ucap Sagara sambil melirik jajaran boneka.“Nah ini dia Kak bonekanya,” tunjuk Laras pada boneka di depannya.Mata Sagara membulat sempurna melihat benda di depan matanya, bukan masalah harga tapi boneka itu mengalahkan badan Sagara sendiri.“Gila,” singkat Sagara.“Ya sudah, enggak jadi beli,” sambungnya. Terserah Salsa mau marah atau tidak dengannya.“Eh kenapa Kak?” tanya Laras sesantai mungkin padahal hatinya jedak-jeduk bernyanyi.“Enggak apa-apa! Oh iya makasih Ras.”“Serius?”“Iya, gue duluan ya,” pamit Sagara.“Iya Kak, hati-hati!” ucap Laras yang melihat cowok itu keluar dari toko boneka.Laras kembali mengambil boneka beruang yang dipilihnya tadi dan berjalan ke kasir.“Kamu ganteng, tapi sayang terlalu sulit untuk dimiliki, Kak.”
40 ***“Siti semoga kamu bahagia ya, enggak boleh sedih lagi pokoknya kamu harus lupakan si Johan,” ucap Laras yang sedang berada di teras rumah sambil membersihkan beruangberuang kesayangan.“Kamu Ucup jangan bikin Siti menangis, terus jagai anaknya Siti. Awas saja kamu nakal aku sumbangkan kamu ke panti asuhan,” sambung Laras.“Pokoknya yang rukun ya, tenang saja soal rumah nanti kita minta belikan sama Bang Daffa,” ucap Laras bicara sendiri.“Sudah sinting,” ucap Daffa yang baru saja pulang kerja melihat tingkah random adiknya.“Eh, Bang Daffa tumben hari ini aura kegantengannya keluar,” kata Laras melihat Daffa yang bersandar di daun pintu.“Pasti ada maunya!” ucap Daffa bersiap mengambil ancang-ancang kabur, sebab pasti Laras meminta yang anehaneh, jadi lebih baik kabur.“Berhenti di situ atau motor kesayangan Abang, Laras
41rusakan!” ancam Laras.“Berani lo lakukan itu, habis boneka lo gue bakar,” tunjuk Daffa ke arah jejeran boneka beruang adiknya.Spontan Laras memeluk boneka kesayangannya, “Dasar Abang sinting!” teriak Laras. ***