92dengan beberapa warga. Tapi, apa yang dilihatnya, mamanya tak berdaya dalam keadaan mengenaskanSagara kecil meraung menangis histeris, memanggil mamanya yang sama sekali tidak menjawabnya. Harusnya Sagara tidak pergi, harusnya Sagara tidak meninggalkan mamanya, banyak keharusan yang seharusnya Sagara kecil lakukan agar pelita hidupnya tidak pergi selama-lamanya.“Gara bodoh ya, Ma.”Setelah kejadian memakan korban itu, Sagara kecil menjadi pendiam. Kasus itu tidak pernah diusut tuntas. Bahkan papanya sendiri menutup telinga dan tidak mau mendengar ceritanya.Laras terkejut mendengar cerita Sagara, semenyeramkan itu memori masa kecil Sagara. Menyaksikan mamanya terbunuh di tangan seorang preman. Pasti hari-hari setelah hari itu, Sagara menjalani hidupnya dengan rasa takut. Takut ditinggalkan.Laras memeluk Sagara, mengelus rambut kakak kelasnya itu. Pasti berat menjadi Sagara. “Menangis saja Kak, keluar kan saja,” Laras mengelus
93punggung Sagara, berusaha memberikan ketenangan. “Gue cengeng ya?” lirih Sagara semakin mengeratkan pelukan mereka. “Enggak, cowok juga butuh menangis kalau bebannya sudah seberat itu,” kata Laras.“Tunggu gue ya,” pinta Sagara menatap Laras penuh permohonan.“Untuk?” tanya Laras bingung.“Gue lagi berusaha buat bokap membatalkan pertunangan gue sama Salsa, gue sudah enggak betah dijadikan alat terus-menerus,” ucapnya.“Kalau gue enggak mau dan memilih pergi?” tantang Laras. “Gue bunuh mau?” tanya Sagara menatap penuh ketidaksukaan ke arah Laras.“Gue juga bukan siapa-siapa lo Kak,” sahut Laras cuek.“Mau dipacari atau dihalali?” tanya Sagara menaikturunkan alisnya. “Ih, apaan sih,” jawab Laras cemberut.“Gue benaran serius ya Ras, kalau lo pergi nih ya bakal
94gue cari lo terus gue bakalan lakukan hal yang di luar dugaan lo sama sekali,” ancam Sagara.“Sagara gila!” seru Laras langsung berlari ke arah pantai. “Jangan lari-lari nanti lo jatuh,” teriak Sagara.“Sini kejar gue kalau berani Kak,” tantang Laras.“Oke siapa takut,” Sagara mulai mengejar Laras.“Tertipu!” seru Laras sambil memeletkan lidah, saat Sagara mengejarnya tapi tidak bisa.“Aduh sakit,” rintih Sagara sambil memegang perutnya.“Kak,” teriak Laras mulai mendekat.“Mana yang sakit?” sambungnya sambil memegang perut Sagara khawatir.“Hap, kena lo kan,” ucap Sagara memeluk Laras dengan erat. Laras tertipu.“Curang,” amuk Laras.“Jangan ngambek,” ucap Sagara sambil membalik tubuh Laras untuk menghadapnya.“Cantik,” puji Sagara.Mereka saling menatap, terkunci dengan sorot mata
95satu sama lain.“Manis,” bisik Sagara.“Ah, ayo pulang,” rajuk Laras. ***
96Kemarahan SagaraSenyum tak luntur terulas di bibir Sagara, ia benar-benar merasa jatuh cinta hari ini. Pantai akan menjadi destinasi favorit Sagara mulai detik ini.Sagara memasuki rumahnya sembari bersiul, hanya Laras yang dapat membuat Sagara seperti orang gila seperti ini. Tapi rasanya benar-benar menggelitik. “Dari mana kamu?” tanya Salsa yang duduk dengan angkuh di ruang keluarga. Senyum Sagara luntur, ia mendatarkan wajahnya. Salsa dan papanya memang jago dalam merusak mood Sagara.“Bukan urusan lo,” sahut Sagara cuek terus berjalan menuju kamar pribadinya.“Aku tanya sekali lagi, dari mana?” teriak Salsa semakin sok berkuasa. “Aku sudah menunggu kamu selama tiga jam. Kamu kemana? Hah?” Salsa mendekat, menatap Sagara penuh permusuhan.Namun Sagara seolah tuli dengan perkataan Salsa dan
97terus memasuki kamarnya. “Jawab Gara!” bentak Salsa semakin murka. “Gue bosan lihat lo marah-marah enggak jelas begini,” ucap Sagara datar.“Gue enggak butuh dicari, enggak butuh ditunggu apa lagi sama lo,” kata Sagara pedas.“Lo enggak usah sok berkuasa atas diri gue, karena di antara lo dan gue hanya status.”“Aku tunangan kamu! Kalau kamu lupa!” balas Salsa semakin membentak, suara Salsa memang memancing keributan yang luar biasa. “Salsa-Salsa, dari dulu lo tahu gue enggak pernah suka sama lo. Dasar lonya saja yang berharap gue suka sama lo,” cibir Sagara.“Gue selama ini diam karena gue terpaksa!” amuk Sagara. Ia benar-benar lelah dengan sikap semena-mena Salsa yang sok berkuasa akan dirinya, sok merasa paling cantik dan merasa bahwa semua hal harus sesuai kemauannya. “Kenapa Gar?” tanya Salsa melirih.
98Drama apa lagi ini ya Tuhan. Sagara mengurut pangkal hidungnya, pusing dengan segala kerumitan dalam hidupnya. Kenapa papanya sama sekali tidak memberikan Sagara kebebasan barang sedikit pun.“Kenapa kamu enggak bisa balas perasaan aku?” teriak Salsa mengamuk, Salsa sudah seperti orang gila saja. “Apa? Mau mengadu? Mengadu sana gue enggak peduli,” acuh Sagara membanting pintu kamarnya dengan keras. “Apa-apaan kamu Sagara?” bentakan serta bantingan vas bunga membuat Sagara semakin murka saja. “Dia lagi,” decak Sagara malas. Siapa lagi kalau bukan papanya, Tuan Wira yang terhormat. “Sudah Om, aku yang salah,” kata Salsa melerai keributan antara ayah dan anak itu. “Diam kamu. Ayo Sagara minta maaf sama Salsa,” perintah Wira. “Enggak sudi,” jawab Sagara.“Sudah berani kamu ya,” murka Wira menatap bengis anaknya.
99“Papa enggak pernah mengajarkan kamu kayak begini sama perempuan,” kata Wira. Tepat saat itu Sagara tersenyum remeh melihat papanya. “Mendadak lupa dengan kejadian dua belas tahun lalu?” tanya Sagara mengejek.“Apa aku harus mendongeng sekarang? Biar Papa ingat lagi?” Wira terdiam, tidak berani melawan Sagara. Sagara benar-benar duplikat Wira, keras kepala.“Lo Salsa pulang sana,” usir Sagara.“Gar,” ucap Salsa sambil menatap Sagara.“Pulang!” perintah Sagara dengan nada menyeramkan.“Papa kalau mau nikah lagi, nikah saja sama Salsa,” ketus Sagara menutup pintu kamarnya.“Anak kurang ajar!” ***
100Malam MingguHari Sabtu identik dengan malam minggu, malam minggu identik dengan sepasang kekasih yang memadu kasih. Mungkin menikmati sate padang di teras rumah, atau menelusuri jalan raya menambah kemacetan, atau juga hanya bermain di alun-alun kota. Tapi pastinya, Laras tidak akan melakukan kegiatan malam minggunya bersama pacar. Malam minggu ini Laras akan main di rumah Amel, mengisi kekosongan tentunya. Akhir-akhir ini rumahnya selalu sepi, Mama dan Papa belum pulang, dan abangnya pun masih berada di kantor.Sebelum berangkat Laras langsung menghubungi abangnya meminta izin, hanya sebatas satu buble chat. Di izinkan atau tidak, Laras akan tetap pergi, sebab ia juga kesepian sendiri di rumah besar ini. Abangku yang gantengnya kelewatan, malam ini kan malam Minggu. Laras izin keluar ya? Sekalian izin menginap tempat Amel diizini kan, ya pasti dong. Makasih Abang.
101Langsung saja Laras berangkat menuju lokasi pertemuan mereka dengan motor maticnya. Laras tidak takut berpergian sendirian, sebab malam minggu identik juga dengan keramaian.Laras yang sudah sampai di lokasi pun langsung memarkirkan motornya dan langsung masuk ke cafe. Sam’s Cafe, cafe kekinian ala remaja dengan interior vintage. “Halo besti,” sapa Laras menyengir tanpa dosa, ia telat.“Selain kang mengompol nih anak kang telat,” sindir Amel.Laras tertawa, sebenarnya mereka janjian jam tujuh sedangkan Laras baru datang jam delapan malam.“Ya maaf, kelamaan di jalan,” jawab Laras alasan.“Mau pesan apa Ras?” tanya Arin.“Wait-wait,” Laras membuka buku menu.“Dimsum udang satu, kentang goreng satu, waffle satu, desert rasa red velvet satu, sama minumannya Green tealemon,” ucap Laras membacakan pesanannya.Teman-teman Laras melotot, sebanyak itu pesanannya? Ya meskipun itu bukan makanan berat semua sih.
102“Gila lo ya,” cibir Melisa.“Lapar banget Mbak?” tanya Arin tertawa diikuti oleh Amel.“Program menaikan berat badan,” sahut Laras kalem.Setelah pesanan sampai mereka berempat langsung menikmati makanan yang tersaji di atas meja sambil mendengarkan lagu-lagu yang dinyanyikan oleh penyanyi cafe.“Asyik banget di sini ya,” ujar Arin dan dibalas anggukan oleh mereka bertiga.“Eh kalian tahu enggak?” dari bau-baunya sih pasti mengundang dosa. “Kalau ghibah up deh, menambah dosa saja lo,” tolak Laras sok, padahal ia sudah kepo juga haha. “Ck, bukan. Ini soal gue sama si Mamat!” seru Amel cemberut.Laras, Arin da Melisa semakin mendekat, tertarik dengan pembahasan kali ini. “Gue mau dijodohkan sama Mamat,” kata Amel dalam sekali tarikan napas. Amel rasanya mau menangis saja, yang
103benar saja sudah zaman modern begini masih main jodohjodohan.“Haha, kata gue juga apa. Lo sama dia jangan ribut melulu, jodohkan akhirnya,” ejek Laras tertawa.“Ah pusing gue,” rengek Amel dengan nada memelas.“Wah, keren lo Mel,” ucap Arin.“Gila enggak kebayang gue, gimana nanti kalau kalian sudah nikah. Pasti berantem melulu,” ujar Melisa yang sedang membayangkan masa depan Amel.“Sudah deh enggak usah bacot! Kasih solusi kek,” decak Amel.“Atau gue kabur saja ya?” pikir Amel “Enggak usah gila, terima takdir,” sahut Laras. Mereka bertiga lagi-lagi ketawa melihat Amel yang sedang kesal itu.“Eh lihat arah jam dua belas deh,” suruh Melisa yang tidak sengaja melihat geng Woktai.“Sudahlah malas gue,” rajuk Amel.“Dia ada di sini juga,” batin Laras yang sedang melihat arah perkumpulan kakak kelasnya.Laras berusaha menikmati suasana cafe, sesekali
104mereka masih mengobrol meskipun tidak melanjutkan obrolan tentang Amel dan Mamat dijodohkan. Karena Amel kepalang sudah kesal, bahkan ia sudah merengek sejak tadi.Mereka menikmati live musik, lagu Sial-Mahalini mengisi keriuhan Cafe.“Sial, kaya hidup gue,” kekeh Amel tapi sambil merengek. “Selamat menikmati malam minggu. Bagi yang mau request atau mau menyanyi silahkan datang ke atas panggung. Nanti akan kita beri waktu untuk kalian menyanyikan sebuah lagu.”“Gue mau menyanyi ah,” kata Laras langsung berdiri dan berjalan menuju panggung. “Halo, selamat malam semua. Berdirinya saya di sini ingin menyanyikan lagu yang bagi saya mempunyai makna tersendiri,” kata Laras sambil tersenyum.“Teruntuk kamu yang entah di mana, kamu teman ceritaku. Selamat menikmati malam minggu ya,” sambungnya.“Laras,” guman Sagara sedikit terkejut melihat kehadiran Laras.
105“Manis,” ucap Mamat yang melihat ke arah panggung.“Gila, benaran itu si Laras anak SMA Harapan Bangsa?” tanya Bibin.“Iya,” jawab Carles.“Gila cantik banget,” ucap Bibin tak berkedip melihat Laras. Sedangkan Sagara memilih diam sambil menatap Laras.“Teman curhat, Larocca.”“Kutatap wajahmu, saat pertama kita bertemu, terasa bergetar jiwaku, saat kau tersenyum padaku-” bait demi bait Laras nyanyikan, sesekali ia melirik Sagara. “Menawan indahnya aku, bibirmu seakan mengisyaratkan, dekatlah padaku....huo...oooo.”Ketika reff Laras memalingkan wajahnya, “Semua hilang, seketika saat dia berkata. Aku sudah ada yang punya, dia bukan milikku...hu..huuu, dia hanyalah kenangan indah yang melintas di mataku...wo..wowo..ho..ooo.” Sagara tak melepaskan pandangannya dari Laras, ia dapat melihat ada rasa sakit di balik syair-syair indah yang dinyanyikan adik kelasnya itu.
106“Maaf,” lirih Sagara membantin. “Gila bagus benar suaranya,” puji Bibin terpesona.“Masyaallahmerdunya,” ujar Mamat sambil tersenyum.Pikiran Sagara kacau, ia dapat melihat bahwa Laras sedang menahan tangis di atas panggung. “Sabar,” ucap Carles menenangkan Sagara sebab ia tahu lagu yang dinyanyikan Laras untuk Sagara. “Aku bukanlah kekasihmu...huu..u, ku hanya teman curhatmu.”Semua pengunjung cafe bertepuk tangan saat Laras selesai menyanyikan sebuah lagu.“Terimakasih semuanya,” ucap Laras tersenyum dengan tulus dan beranjak turun.“Gila! Keren sahabat gue,” puji Amel bertepuk tangan. saat melihat sahabatnya duduk kembali ke bangku mereka.“Parah lo Ras, gue jadi sedih,” sahut Melisa.“Lo tahu Ras, fokus gue cuma lihat tatapan Kak Gara ke lo. Bikin jantung gue jeda-jedug,” ucap Arin yang tangannya mengarah kedadanya.“Sudah enggak usah lebai kalian, gue ke toilet bentar,”
107sambungnya.Laras langsung berlari menuju toilet, cairan bening mengalir begitu saja dari kelopak matanya. Sedari tadi Laras berusaha menahan tangis tapi ia berusaha menahannya.“Ras.” Laras terkejut, langsung membalikkan tubuhnya.“Kak Gara lo kok di sini?” tanya Laras terkejut, lansung menghapus sisa air matanya. Tanpa aba-aba Sagara langsung membawa Laras ke dalam dekapannya.“Maaf,” hanya itu yang dapat diucapkan Sagara.“Maaf gue egois, Ras.”“Gue yang minta maaf,” ucap Laras yang menangis semakin kencang sambil memeluk erat Sagara.“Enggak gue yang salah,” jawab Sagara.Setelah berapa menit mereka berada di dalam toilet saling mendengarkan degup jantung masing-masing.“Sudah enggak usah menangis lagi,” ucap Sagara sambil mengurai dekapannya.“Hem, Kakak duluan keluar, nanti gue menyusul,” kata
108Laras.“Maaf ya, jaga kesehatan,” ucap Sagara mengelus rambut Laras.“Gue duluan,” pamitnya. Laras membasuh wajahnya, isakan tangis sesekali terdengar. Entahlah akhir-akhir ini Laras merasa tidak tenang dan mudah menangis. ***
109Rahasia Apa?“Bang, Mama sama Papa kapan pulangnya sih?” tanya Laras, ia heran sudah seminggu kedua orang tuanya tidak pulang.Laras dan Daffa sedang berada di ruang keluarga, dan Laras merasa kesepian. Mama dan Papa katanya ke Surabaya, menemani Nenek yang lagi sakit tapi saat ditanya sakit apa tidak ada yang berani mengatakan padanya, ditelepon pun tidak ada yang mengangkat.Daffa yang sedang fokus pada laptopnya seketika berhenti dengan kegiatannya lalu langsung menatap adiknya.” Katanya tiga hari lagi sih.” “Dari kemarin-kemarin itu saja jawaban Abang. Bosan dengarnya!”“Ya Abang mana tahu, Mama cuman bilang itu,” jawab Daffa.“Coba telepon Mama atau Papa deh Bang, Laras sudah berapa kali hubungi mereka tapi enggak ada satu pun yang angkat,” ucap Laras, sebab ia merasa ada yang disembunyikan
110oleh keluarganya.“Mampus gue, kalau dihubungi pasti Laras tahu semua. Misal enggak dihubungi dia curiga,” batin DaffaDengan sedikit keberanian, Daffa mencoba menghubungi Mamanya. Nomor yang anda tuju sedang di luar jangkauan. Bukan suara mamanya yang membalas telepon Daffa, melainkan operator. “Sibuk kali Ras,” ucap Daffa yang menatap adiknya itu. Kali ini dia benar-benar selamat tapi entah esok atau lusa Daffa tidak tahu harus berbohong apalagi.“Mending kamu istirahat sana, sudah malam juga,” suruh Daffa.“Aku pamit ke kamar, Abang jangan begadang ya nanti sakit. Kalau Abang sakit yang jaga Laras siapa coba?” pamit Laras sambil sedikit memberi nasihat.“Tenang nyawa abang ada dua, jadi siap jagai adik kesayangan Abang.”“Gimana jadinya kalau kamu tahu kebenaran yang sesungguhnya Dek,” guman Daffa yang menghela nafas.
111Daffa lelah begini terus, sampai kapan ia bisa menutupi masalah ini, pasti dengan seiring berjalannya waktu Laras akan tahu dengan fakta sesungguhnya.***Laras sudah mempersiapkan diri untuk berangkat sekolah. Ia menuruni undakan tangga, menuju dapur. “Pasti Abang yang masak,” ucap Laras melihat ada seporsi nasi goreng di meja makan. “Eh ada suratnya juga,” lirih Laras melihat secarik kertas.Untuk: Adikku, LarasAbang hari ini pergi ke Bandung ada kerjaan di sana selama beberapa hari, kamu baik-baik di rumah. Jaga kesehatan, makan tepat waktu dan jangan lupa kunci pintu. Abang tahu kamu penakut jadi nanti Manda yang akan temani kamu di rumah. Itu sudah Abang siapkan sarapan buat kamu. Jangan nakal!-Dari Abang yang paling ganteng“Kenapa semua pada pergi sih?” ucap Laras sedih, tiba-
112tiba nafsu makannya hilang namun ia tetap menikmati nasi goreng buatan abangnya sebagai rasa terimakasih.Setelah sarapan ia langsung bergegas menuju garasi untuk mengambil motor kesayangannya. Laras menyusuri jalanan sambil bernyanyi, merasa ada yang mengikutinya dari belakang ia langsung melihat kaca spionnya.“Siapa ya?” ucapnya saat melihat seseorang berkostum hitam mengikutinya, dengan keberaniannya Laras mengendarai motor sekencang mungkin. “Ah, akhirnya sampai, siapa sih tadi yang mengikuti gue,” ucapnya berseru panik.Laras langsung saja menuju kelasnya, sebentar lagi bel akan berbunyi dan harus mengikuti upacara bendera di hari Senin. ***“Gawat Gar, kita harus cabut sekarang,” ucap Calres yang baru saja membaca pesan dari teman mereka.Keempat sahabat itu sedang berada di dalam kelas, saat ini jam pelajaran sedang berlangsung. Bahkan Pak Somat pun baru saja masuk ke dalam kelas mereka, bagaimana
113mau minta izin dari guru killer itu, yang ada hukuman yang mereka dapat.“Kenapa?” bisik Sagara.“Ada yang coba bakar markas kita,” jawab Carles yang ikut berbisik, ia tidak mau ada yang mendengar pembicaraan mereka. Bisa-bisa identitas mereka ketahuan.”Untungnya ada Rendi dan anak lainnya yang baru datang ke markas, jadi cuma bagian dapur yang ke bakar,” sambungnya.Ketika di sekolah atau di rumah mereka akan jadi anak baik, penurut. Namun, ketika di luar lingkungan itu mereka adalah anak geng motor. “Apa?” Sagara terkejut.“Siapa yang berani lakukan itu? Kalian ada musuh baru atau gimana?” tanya Sagara memicing tajam.“Gila mana ada! Selama ini musuh kita cuma satu,” sahut Carles.“Hubungi Bang Bahar, biar dia yang urus. Enggak mungkin kita minta izin yang ada makin rumit,” suruh Sagara.Tidak mungkin mereka izin di saat proses KBM. Lagi
114pula tidak ada yang tahu bahwa mereka adalah anak-anak geng motor. Bisa-bisa mereka bermasalah sampai dengan kepala sekolah bahkan ketua yayasan sekali pun.“Hem.” Seketika kedua sahabat itu terdiam mendengar deheman sang guru. Membuat seisi kelas melihat arah mereka.“Kalian berdua mau gantikan saya mengajar di depan? Hah?” marah Pak Somat yang menatap kedua muridnya itu.“Eh, enggak Pak lanjut saja,” ucap Carles sedangkan Sagara hanya menganggukkan tanda menyetujui pembicaraan temannya.“Kalian berdua kenapa?” tanya Mamat saat Pak Somat yang dinobatkan sebagai bapak kandungnya sudah mulai menulis di papan tulis.“Nanti saja omongnya, dengari tuh Bapak lo bicara. Mau uang jajan lo dipotong lagi? Ujung-ujungnya hutang ke gue lo,” ujar Sagara menatap Mamat.“Pakai perhitungan segala lo,” sahut Mamat.“Sudah Mat, gue enggak mau dihukum,” kata Carles.Setelah pulang sekolah keempat sahabat itu langsung
115menuju markas namun di ujung koridor ada Salsa yang memberhentikan langkah keempat sahabat itu.“Sayang, aku ikut pulang bareng kamu ya?” pinta Salsa yang memeluk lengan Sagara. “Pulang sendiri gue ada urusan,” tolak Sagara sambil melepaskan belitan tangan itu.“Ya, padahal Mama mau ketemu kamu lo.” “Sore gue ke sana,” sahut Sagara.Mau bagaimana pun Mama Salsa adalah sahabat dekat mama Sagara. Sewaktu kecil pun Sagara sering bermain dengan Salsa dan Mama Salsa menyayangi Sagara seperti anak kandungnya.“Oke deh, ditunggu kedatangannya bi,” ucap Salsa yang berlalu pergi dengan sahabatnya.“Eneg gue lihat dia,” ucap Mamat.“Apalagi gue, ingin rasanya gue ceburkan ke sungai,” sahut Bibin.Sagara berlalu pergi, tidak peduli cibiran para sahabatnya.“Yaelah ditinggal,” ucap Mamat yang melihat Sagara
116pergi begitu saja.“Eh, Car memang ada musibah apa sih? Enggak biasanya kita ke markas,” tanya Bibin. Biasanya hanya ada keperluan mendesak saja mereka mengunjungi markas selebihnya mereka lebih asyik bermain seperti remaja pada umumnya.“Ada yang coba mau bakar Markas,” jawab Carles yang berjalan mendahului mereka.“Apa?” teriak Bibin dan Mamat.“Enggak bisa dibiarkan, siapa yang berani sama kita. Lawan gue dulu,” ucap Bibin yang mengebu-gebu.“Lawan Mamat juga,” sahut Mamat.Mereka berempat langsung menuju markas saling beriringan.***
117“Terkadang berbohong demi kebaikan itu penting tapi jangan terlalu sering karena bakal jadi beban kita sendiri”
118Siapa yang Bakar?Mereka berempat saat ini sedang berada di Markas the Tiger. Ya mereka yang paling berbahaya untuk siapa yang ingin menjatuhkan mereka. Anggota the Tiger terbilang cukup banyak yaitu berjumlah lima puluh orang dengan ketua ada dua. Ketua pertama bernama Bahar, dia mengatur anggota jika ada permasalahan yang terjadi sangat berat dan yang kedua adalah Sagara Mahendra tugasnya cukup ringan dan hanya dibutuhkan jika memang mendesak saja tapi kedua ketua ini memiliki kedudukan yang setara dan sangat disegani.Jangan lupakan anggota inti dari the Tiger yaitu Carles, Bibin, Mamat, Yayan, Arlen. The Tiger bukan geng perusak, mereka juga banyak melakukan kegiatan amal, seperti berbagi kepada masyarakat sekitar, berbagi di yayasan anak yatim, berkumpul dengan geng lain. Sedangkan kegiatan tahunan yaitu turing, geng mereka tidak ada yang namanya berkelahi tapi jika ada yang mengusik mereka tidak segan-segan melawan balik.
119Geng The Tiger hanya meiliki satu musuh yaitu Geng Moriam diketuai oleh Galang. Sebenarnya dulu mereka adalah sahabat dekat tapi berhubung ada konflik antara Sagara dan Galang maka mereka memutuskan keluar dari The Tiger.“Gimana bisa terjadi?” tanya Sagara yang berada di tengah-tengah anggota The Tiger.“Rendi jelaskan kronologinya,” suruh Bahar menunjuk Rendi.“Jadi,” ucap Rendi dengan memulai menjelaskan duduk permasalahan yang terjadi.Rendi yang baru saja sampai ke markas tiba-tiba mendengar suara dari arah belakang.“Bunyi apa itu?” tanya Rendi kepada rekannya.“Kurang tahu Bro,” ucap salah satu anggota The Tiger.“Kalian ikut gue,” dengan rasa penasaran lelaki itu menuju sumber suara bersama dua anggota lainnya.Mereka melihat orang berbaju hitam memakai topeng yang berjumlah empat orang sedang menyiramkan bahan bakar ke sudut dapur markas.“Hei!” teriak Rendi saat salah satu mereka melempar
120kertas yang dibakar.Bluss Seketika api sudah mulai membesar melahap bagian dapur, mendengar teriakan tersebut ke empat orang tidak dikenal itupun langsung buru-buru pergi dari pintu belakang.Rendi dan kawan-kawan pun mulai panik mereka sudah tidak memikirkan lagi orang berbaju hitam yang ada dipikiran mereka menyelamatkan markas dari kobaran api.“Telepon pemadam kebakaran cepat!” ucap Rendi yang sudah panik, sebab salah satu anggota mereka ada yang menetap di markas dan kamarnya itu berada di area dapur yang sedang dilahap si jago merah.“Bang Arlen ada di dalam!” ucap mereka yang sedang berkeringat dingin dengan wajah pucat.“Iya bro, lagi menuju lokasi,” sahut salah satu mereka yang juga ikut panik.Sedangkan yang satunya dengan cepat berlari menghidupkan mesin air dan mengambil selang yang biasa digunakan untuk mencuci mobil atau motor untuk menyiram kobaran api yang semakin membesar dengan kepanikan yang
121melanda ketiga anggota itu pun langsung saling membantu menyiram air ke arah si jago merah.Beruntungnya markas mereka agak sedikit jauh dari pemukiman warga jadi tidak ada rumah warga yang ikut terbakar.Selang berapa menit pemadam kebakaran mulai datang dengan segera para pemadam kebakaran melakukan pemadaman dan mengevakuasi barang yang bisa diselamatkan.“Lapor dengan kejadian ini kami menyampaikan bahwa..” ucap salah satu anggota damkar itu menatap satusatu dari tiga sekawan itu.Dengan perasaan was-was mereka mendengarkan berita tersebut takut hal yang tidak diinginkan terjadi.“Tidak ada korban jiwa.”“Alhamdulillah,” mereka mengucap syukur bersama.“Terima kasih Pak!” ucap Rendi.“Oke baik, sama-sama.” “Begitulah kira-kira kronologinya yang begitu cepat,” ucap Rendi yang menatap anggota lainnya satu persatu.
122“Maaf tidak bisa mencegah mereka. Saat itu kami sedang panik kami pikir Bang Arlen berada di dalam kamar. Biasanya jam segini dia berada di markas,” sambungnya.“Yan, hubungi Arlen,” perintah Bahar yang menatap sahabatnya itu.“Enggak bisa dihubungi bos,” sahut Yayan.Sedangkan orang yang disamping kiri Bahar sudah mulai terlihat emosi dengan wajah sudah mulai berubah merah. Mengertakkan gigi dan mengepalkan tangannya.“Periksa semua CCTV yang ada di seluruh area markas, pastikan jangan kehilangan jejak mereka,” ujar Sagara yang menahan emosi.“Siap bos,” ujar mereka berbarengan dan mulai melakukan pencarian.“Kira-kira siapa pelakunya Bang?” tanya Carles kepada Bahar. Mereka saat ini sedang duduk di ruang tengah.“Galang?” tebak Mamat.“Nah benar tuh, jangan-jangan dia pelakunya. Kan selama ini dia benci sama the tiger,” sahut Bibin.“Gue sih mikirnya itu tapi kita tidak ada bukti yang
123mengarah ke sana,” jawab Bahar dengan wajah serius.“Menurut gue bukan Galang pelakunya,” ucap Yayan dengan santai.Mendengar perkataan itu mereka bertiga menatap Yayan dengan pandangan sulit diartikan.“Tapi Bang, selama ini yang benci kita hanya tuh anak,” sahut Bibin.“Gar, menurut lo siapa pelakunya?” tanya Bahar melirik lelaki itu yang sedari tadi hanya diam.“Benar kata Bang Yayan bukan Galang,” ucap Sagara.Tentu membuat mereka yang ada di sana beralih menatap Sagara. Tidak biasanya lelaki itu tidak sependapat dengan mereka.“Coba kalian pikir, mana mungkin dia berani sama kita. Gue tahu banget Galang itu seperti apa! Jadi enggak mungkin. Pasti ada orang lain yang berani mempertaruhkan nyawanya membakar markas the tiger,” sambungnya.“Ada benarnya juga,” sahut Bahar.“Yang dipikiran gue saat ini siapa pelakunya?” ucap Carles.
124“Gue belum kepikiran siapa orangnya, tapi jangan harap tuh orang bisa bebas dari gue,” kata Sagara dengan nada penuh emosi.“Pasti orang suruhan,” celetuk Mamat.“Tumben lo pintar,” puji Bibin terhadap lelaki itu.“Bisa jadi,” balas Sagara yang sedang berpikir siapa musuh mereka.“Assalamualaikum, Bro-broku,” sapa Arlen yang baru saja datang.Kelima sekawan itu langsung menoleh ke arah orang yang membuat mereka cemas dari tadi.“Lah, kenapa pada melihat gue kayak tersangka maling gitu?” tanya Arlen mengarah mereka dengan santai sambil membawa kantong plastik.“Dari mana lo Len?” tanya Bahar saat melihat lelaki itu mulai mendekati mereka.“Dari minimarket bentar temankan cewek gue, emang kenapa?” balas Arlen yang bingung dengan pertanyaan lelaki itu.“Kita kira lo hangus kebakar di dapur,” sahut Yayan.
125“Iya Bang, lo tahu enggak? Kita cemas memikirkan lo,” ucap Bibin.“Yang benar kalo omong,” bingung Arlen.“Tuh liat ke belakang, dapur sudah jadi abu dibakar orang yang enggak dikenal. Rendi tadi yang lihat dan dia kira Abang lagi berada di kamar,” jelas Mamat.“Apa!” teriak Arlen panik seketika langsung menuju kamar kesayangannya.“Kuping gue sakit dengar dia teriak,” ujar Yayan menutup telinganya.“Kamar gue,” teriak Arlen dari arah belakang.“Biarkan dia histeris begitu, diamkan saja,” sahut Bahar.“Gue cabut duluan,” ucap Sagara yang beranjak dari tempat duduknya.“Mau ke mana Bos?” tanya Mamat.“Ada urusan.”“Urusan cewek lagi pasti,” sahut Bibin.“Cabe pasti,” lanjut Mamat.“Enggak bisa dibiarkan pelakunya berkeliaran, kamar
126gue ikut terbakar cuma sisa sedikit itu pun sudah hitam semua,” curhat Arlen yang menahan kesal.“Untung bukan lo yang hangus,” sahut Bahar.Setelah dari markas tadi Sagara bergegas menuju kediamannya dulu baru ke rumah Salsa.“Assalamualaikum,” salam Sagara yang berada di depan pintu utama rumah Salsa. “Walaikumsalam,” jawab Mona.“Eh Gara, ayo sini masuk Sayang,” sambungnya dengan antusias.“Iya Tante,” balas Sagara sambil menyodorkan tangannya untuk salim.“Duduk dulu Gara, tante panggil Salsa sebentar,” ucap Mona dengan senyum. “ Oh iya, mau minum apa?”“Air putih saja Tante,” ucapnya.“Oke ditunggu.”Selang berapa menit Salsa datang menemui Sagara.“Aku kira kamu enggak akan datang, bi,” ucap Salsa ikut duduk disamping Sagara.
127“Hem,” guman Sagara masih duduk santai tanpa memperhatikan gadis itu.“Nih, Gar, diminum,” ucap Mona.“Makasih Tan.”“Gimana kabar kamu sehat? Papa kamu juga sehatkan?” tanya Mona dengan menatap Sagara.“Alhamdulillah sehat Tan.”“Gar kamu dari rumah atau dari luar?” tanya Salsa.“Dari rumah.”“Tante tinggal dulu ya,” ucap Mona, ia sengaja membiarkan mereka berdua mengobrol.“Bohongi gue?” tanya Sagara setelah merasa Tante Mona sudah tidak terlihat lagi.“Sengaja.”“Enggak lucu,” ketus Sagara.“Lagian kamu kalau enggak begitu, enggak bakal ke rumah,” sahut Salsa.“Gue pulang,” ucapnya yang ingin segera pergi dari sana.“Segitunya kamu enggak mau sama aku?” Salsa mulai
128sedih.“Sekali-kali ajak gue jalan Bi atau kamu luangin waktu main ke rumah.”“Ini sudah,” cuek Sagara.Lama mereka terdiam terhitung satu jam dengan kesibukan masing-masing kalau dilihat mereka bukan seperti tunangan pada umumnya. Miris.“Panggilkan Tante Mona,” suruh Sagara.“Mau apa?”“Pulang.”“Sepuluh menit lagi,” rengek Salsa.“Panggilkan,” tekan Sagara dengan tatapan menusuk.Dengan kaki menghentak Salsa mulai bangkit dan menuju arah taman belakang rumahnya.“Ma, Gara mau pamit,” ucap Salsa dengan tidak semangat.“Cepat banget,” ujar Mona yang langsung pergi ke arah ruang tamu.“Tante Gara pamit pulang dulu ya, nanti Gara main lagi ke sini. Tante jaga kesehatan ya,” ucap Sagara dengan tulus.
129“Iya kamu juga, jangan nakal, titip salam buat papa kamu,” ucap Mona.“Baik Tan, Gara pamit Assalamuallaikum,” pamit Sagara.
130“Percayalah duhai kamu akan kubawa sampai ke alam yang berbeda cinta dalam diam ini.”
131Kotak Berlumuran DarahSuara ketukan pintu mengalihkan atensi Laras yang sedang asyik menonton film sembari mengemil.“Siapa sih malam-malam begini ke rumah?” tanya Laras pada dirinya sendiri, saat ini dia sedang berada di rumah seorang diri. Keluarganya memang tidak menyewa pembantu atau penjaga karena kedua orang tua Laras lebih ingin menikmati keharmonisan keluarga.“Enggak ada siapa-siapa,” kata Laras ketika membuka pintu utama tapi tidak ada orang sama sekali.“Kotak apa ini?” tanya Laras yang melihat ada sebuah kotak kecil di lantai. Ia langsung mengambil kotak tersebut dan masuk kembali ke rumah.“Pengagum rahasia gue kali,” gumamnya dengan senyum bangga.Bruk “Astagfirullah,” teriak Laras yang terkejut. Wajahnya pucat dan berkeringat dingin, dia sangat ketakutan dengan isi kotak tersebut!
132Lagi-lagi suara ketukan dari arah pintu depan merusak isi pikirannya, Laras yang semula berdiri kini telah terduduk lemah di lantai dengan air mata sudah mulai menetes menemani keringat yang mengucur deras.Dengan gemetaran Laras mengambil ponselnya yang berada di atas meja entah siapa yang dihubunginya pertama kali yang penting ada yang menemaninnya.Nomor yang anda tuju sedang sibukOrang pertama tidak mengangkat telponnya, dapat dilihat dari kaca jendela bayangan orang di luar rumah masih belum pergi. Laras mencoba menelepon lagi. Tersambung.“Halo,” ucap orang di seberang sana.“Tolong,” lirih Laras dengan gemetaran.“Ras lo kenapa?” tanya orang itu.“Ras!” tanyanya lagi.“Kak ada orang asing di rumah, gue takut sendirian.”“Oke gue ke sana, serlok rumah lo,” balas laki-laki itu.“Lo jangan panik, kunci pintunya gue segera ke sana,” sambungnya langsung mematikan telepon.Tok...tok...tok
133Laras memilih diam sambil menutup telinganya, ketukan lagi entah siapa yang ingin membuatnya menderita yang jelas ini sudah termasuk kasus kriminal.“Ras, ini gue Sagara!” Sejak berapa menit lalu Sagara berada di depan pintu itu, tapi tidak ada yang menyahut sama sekali. “Kak Gara?” Laras sedikit tersenyum lega, dia bangkit menuju pintu depan.“Lo benaran Kak Gara kan?” teriak Laras dari dalam rumah.“Buka enggak atau gue dobrak nih pintu,” ucap Sagara sudah mulai tersulut emosi dengan Laras, Sagara sudah mengetuk pintu sedari tadi tapi tidak di buka sama sekali malah bertanya dengan teriakan.Orang yang sedari tadi membuat emosinya naik ternyata saat ini sangat memprihatinkan.“Lo Kenapa?” tanya Sagara dengan memegang bahu gadis itu, sebab ia bingung padahal berapa menit lalu mereka sedang saling kirim pesan di mana gadis itu berpesan untuk minta tolong membelikan bakso kesukaannya.
134“Aku takut,” adu Laras dengan gemetaran, Laras sedikit mengintip ke arah halaman dan sepi itulah mengambarkan keadaan rumah Laras. “Ada yang ketuk-ketuk pintu dari tadi saat dibuka enggak ada orang tapi ada kotak berukuran kecil, terus aku buka ada isi foto Papa dengan lumuran darah,” sambungnya dengan berusaha tidak menangis tapi detik itu juga dia kalah dengan dirinya sendiri cairan bening mengalir begitu saja.“Tenang, jangan panik ada gue di sini,” ucap Sagara yang langsung mendekap erat Laras.“Stop menangisnya jangan jadi manusia cengeng, gue enggak suka,” sambungnya sedikit melepaskan dekapannya.Mendengar penuturan Sagara sontak membuat Laras mati-matian menahan untuk tidak menangis lagi.“Sudah enggak menangis kok,” ucap Laras langsung menunjukkan wajahnya.“Good,” puji Sagara mengelus rambut milik gadis itu, dia tersenyum gemas melihat orang di depannya ini sebab dapat dilihat Laras mencoba menahannya.“Gue bawakan pesanan lo, enggak mau di makan atau
135suruh gue masuk begitu? Bosan gue di depan pintu,” ucap Sagara mencairkan suasana.“Ya sudah ayo mas...,” ucapan Laras terhenti saat melihat ada motor lain yang berada dihalaman rumahnya, mata elang yang menusuk dari lelaki berbalut hoodie yang sedari tadi menyaksikan sepasang anak manusia sedang berpelukan itu.“Kak Deo,” ujar Laras dengan suara pelan namun masih bisa didengar oleh Sagara.Mendengar nama Deo disebut Sagara segera berbalik ke belakang tepat mata pekatnya bertubrukan dengan mata pekat lainnya. Lama mereka saling menatap tajam satu sama lain dan Sagara mulai mengakhirinya. Perlahan Sagara mulai menghampiri Deo yang masih posisi sama sejak berapa menit lalu. Sedangkan Laras melihat gerak langkah Sagara langsung mengikuti dari belakang.“Kenapa ke sini?” tanya Sagara tanpa ada basa-basi, saat berada dekat lelaki itu.“Bukan urusan lo,” balas Deo yang tak kalah tajam dari saudaranya itu. Ya, mereka adalah saudara seayah namun
136beda ibu.“Jelas ini jadi urusan gue!” seru Sagara dengan senyuman remehnya mengarah ke Deo, Sagara sangat membenci Deo.Setiap melihat Deo, Sagara terus mengingat kejadian tragis menimpa mamanya dua belas tahun lalu di mana belum genap seminggu mamanya meninggal papanya kembali mengenalkan sosok perempuan kepadanya dan yang membuat ia murka sampai sekarang ternyata perempuan itu istri simpanan papanya dan dari hasil perselingkuhan itu menghadirkan saudara beda ibu yaitu Deo Putra Wiraatmadja.“Sudah Kak, tadi gue yang menyuruh Kak Deo ke sini. Soalnya gue hubungi Kakak tapi enggak diangkat,” jelas Laras dengan sedikit gugup karena sedari tadi dia memperhatikan mereka berdua.“Kak Deo makasih ya, sudah datang ke sini. Laras minta maaf merepotkan Kakak,” ucap Laras yang merasa bersalah. “Gue juga enggak tahu Kak Gara sudah sampai di sini dari tadi, makanya gue telepon Kak Deo untuk ke sini. Sekali lagi gue minta maaf ya Kak dan maaf juga atas ucapan Kak
137Gara tadi,” sambungnya.“Santai Ras, gue enggak masalah kok,” ucap Deo yang berusaha tersenyum padahal dia menahan untuk tidak cemburu biarlah cintanya untuk Laras dia simpan dengan sendirinya dia tidak mau terjadi permusuhan lagi dengan saudaranya.Sebenarnya Deo sudah berusaha untuk dekat dengan Sagara namun lelaki itu menolak keras bahkan membencinya.“Lo sudah ada temankan? Jadi gue boleh pulang dong?” ucap Sagara berlalu meninggalkan mereka berdua.Sontak membuat Laras jadi serba salah memilih Sagara atau Deo untuk menemaninya sampai jam sepuluh malam karena nanti pacar abangnya akan ke sini menamaninya.Deo yang melihat Laras sedang menatap Sagara yang sedang mengenakan helm jadi tidak tega.“Sudah. Cegah sana, biar gue yang pulang,” ucap Deo menatap Laras.Laras yang mendengar ucapan Deo langsung melihat ke arah lelaki itu dengan perasaan tidak enak.“Gue pulang, hati-hati,” sambungnya yang mulai
138menghidupkan setarter motor.“Maaf Kak sekali lagi, Kakak juga hati-hati.”Deo menganggukkan kepalanya dan berlalu meninggalkan halaman rumah Laras.Melihat Deo sudah pergi dengan cepat Laras menghampiri Sagara yang ingin menghidupakan motornya.“Jangan pergi,” cegahnya yang mencekal pergelangan tangan Sagara.Seakan tuli dengan perkataan memohon dari Laras, Sagara mulai ingin menjalankan motornya namun terhalang dengan permohonan Laras.“Gue takut Kak,” lirih Laras dengan menahan tangis.Niat hati ingin pergi dari Laras, Sagara jadi mematikan kembali motornya, ia tidak tega dengan Laras yang sudah ingin menangis. “Masuk,” ucap Sagara dengan tatapan tajam.Laras yang ditatap dengan tajam pun langsung menciut dan berjalan mausk, kali ini dia pasrah menunggu dengan seorang diri. Tapi ketika mendengar ada derap langkah kaki di
139belakang dirinya, Laras tersenyum ternyata Sagara masih perduli dengan dirinya.“Ambil,” Sagara menyodorkan bungkus plastik yang sempat dia letakkan di atas meja teras rumah.“Mau minum apa Kak?” tanya Laras saat menyambut plastik berisi satu bungkus bakso pesanaannya.“Air putih,” sahut Sagara yang mengambil kotak kecil berisi foto Papa Laras dan duduk di sofa.Tidak berselang lama Laras kembali ke ruang tamu dengan membawa nampan berisi dua gelas air minum dan satu mangkuk bakso.“Diminum Kak,” ucapnya yang meletakkan gelas di atas meja.“Hem.”Tidak biasanya Sagara terdiam lama begini biasanya berapa menit kemudian ia kembali ceria, bercerita banyak hal dengan Laras. Tapi sejak kehadiran Deo tadi Sagara hanya diam. Laras jadi tidak enak hati, bahkan Laras tidak jadi memakan bakso pemberian Sagara padahal jika dilihat bakso itu sangat menggugah selera.
140“Maaf,” Laras mencoba meminta maaf atas kejadian tadi.“Hem.”“Kak, sekali lagi aku minta maaf ya.”“Jangan dekati dia lagi,” suruh Sagara dengan nada pelan.“Kenapa?” tanya Laras.“Pokoknya jangan! Gue enggak mau kehilangan lagi.”“Kan kita masih bisa jadi teman selamanya,” balas Laras dengan sedikit takut, padahal dalam hati dia sedih. Sebenarnya rasa ini masih ada bahkan tetap selalu ada, dia akui dia lemah ketika berhadapan dengan Sagara. Tapi dia berusaha untuk tidak jadi orang egois karena Laras tahu betul bagaimana rasanya kehilangan.“Lo selalu saja anggap gue teman,” emosi Sagara memang gampang tersulut. “Jangan egois, Kak.” “Sudah gue bilang gue enggak cinta Salsa,” ucapnya galak, Sagara sebal lagi-lagi pembahasan selalu Salsa.“Tapi mau bagaimana pun dia tunangan kamu dan aku
141cuman teman,” ucapnya mencoba tersenyum.“Terserah.” Sagara lebih baik mengalah dari pada diteruskan pasti akan semakin panjang.***