The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Buku ini menceritakan kisah cinta Laras dan Sagara yang tak pernah bersatu karena ajal telah lebih dahulu menjemput Laras. Tinggallah Sagara dengan penyesalan yang tiada akhir. Menyesali semua keputusannya yang ternyata sangat melukai hati Laras.

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Yayasan ananda Nurul hayana, 2024-10-31 04:02:13

Laras

Buku ini menceritakan kisah cinta Laras dan Sagara yang tak pernah bersatu karena ajal telah lebih dahulu menjemput Laras. Tinggallah Sagara dengan penyesalan yang tiada akhir. Menyesali semua keputusannya yang ternyata sangat melukai hati Laras.

Keywords: Novel Remaja

342“Surat apa ini?” ujar Laras melihat bentuk kertas di selipan boneka itu. “Dari orang ganteng,” ucap Laras dengan senyum sambil memegang kartu tersebut dan dengan keberanian dia membuka kertas tersebut.Gimana kalau aku enggak bisa menunggu kamu pulang Kak,” ucap Laras yang menangis sejadi-jadinya, dia langsung memeluk boneka yang ada di depannya.Hai, Gue Sagara MahendraCowok tertampan di sekolahSemoga lo suka ya hadiah dari gue. Ketika hadiah inisampai ke tangan lo, artinya gue sudah enggak berada di sini. Gue benar-benar minta maaf sama lo karenameninggalkan lo. Tapi ini bukan tanda putus ya. Baru kemarin jadian, masak iya sudah putus saja. Untuk sementara gue enggak berada di Indonesia, tapi gue enggaktahu kapan gue pulang. Lo tunggu gue balik ya. Maafgue enggak pamit langsung. Kalau lo kangen gue, lo bisapeluk boneka ini. Anggap saja memeluk gue. Sekali lagimaafkan gue. Tunggu gue balikI love you Sagara Mahendra


343“Jauh darimu membuatku sadar bahwa merindukanmu adalah rutinitasku setiap hari”


344Antara Rindu Dan PenyesalanSatu tahun kemudianSagara yang satu tahun lalu dinyatakan lumpuh kini sudah bisa berjalan kembali setelah melewati terapi rutin. Sagara sedang menghadap kaca jendela sambil menikmati pemandangan kota Paris. Sagara sedang melakukan panggilan via telepon dengan seseorang, dapat dia dengar suara gaduh di seberang sana.“Halo Bosku,” ucap Mamat. “Mana Carles?” tanya Sagara.“Ada di samping gue,” jawab Mamat.“Kenapa nomor Carles kagak aktif?” tanya Sagara lagi.“Hpnya dibanting ceweknya,” jawab Mamat.“Kasih HP lo ke dia,” perintah Sagara.“Nih Gara mau omong,” ucap Mamat sambil memberikan telepon genggamnya pada Carles. Saat ini mereka sedang berada di sekolah lebih tepatnya atas rooftop. Ya, tidak terasa hari cepat berlalu dan kini mereka sudah menjadi siswa tingkat akhir dan sebentar


345lagi hari kelulusan telah tiba. “Hem,” ucap Carles.“Ham ham hem saja lo,” ucap Sagara.“Iya kenapa?” tanya Carles.“Sudah 2 hari, lo kagak kasih kabar ke gue!”“Sorry Bro, cewek gue galak, gara-gara gue sering videokan Laras dikira gue selingkuh dari dia,” jawab Carles.“Alasan, kagak mau tahu hari ini lo harus cari keberadaan Laras, gue tunggu dalam 2 jam, kalau lewat dari situ siap-siap saja,” ucap Sagara.“Kagak bi...,” pangilan dimatikan secara sepihak dari sana. “Setan!” ucap Carles.“Kenapa lagi sih Car, asli lo bukan Carles yang dulu lagi,” ucap Mamat. “Bacot, gue pinjam HP lo bentar,” ucap Carles yang beranjak dari tempat itu. “Woi, balikan HP gue,” teriak Mamat. Tiba-tiba sebuah botol minum dilemparkan ke punggung Mamat, “Ah....sakit!” teriak Mamat.


346“Ini sekolah bukan hutan,” ucap Bibin yang terjaga dari tidurnya. “Ya enggak usah lempar botol juga kali,” ucap sinis Mamat. “Apa, mau ini kursi melayang ke perut lo, begitu?” ucap Bibin.“Mending lo tidur lagi deh, capek gue lihat lo marahmarah melulu!” ucap Mamat.“Malas!” ucap Bibin sambil pergi meninggalkan Mamat sendiri di rooftop. “Ah!” teriak Mamat kesal sambil menendang botol. “Perasaan ditinggal melulu gue,” omel Mamat lagi.“Enggak Amel, enggak orang tua, enggak sahabat sama saja,” ucapnya sambil duduk di lantai. “Capek tahu enggak,” omelnya seorang diri. ***Di tempat lain Carles sedang kelimpungan mencari keberadaan Laras, mulai dari kantin, taman bahkan kelas sudah dia datangi tapi tidak ada tanda-tanda Laras berada di sana.


347“Di mana sih itu anak?” tanya Carles pada diri sendiri. Dia menarik napas sambil duduk di salah satu kursi di depan kelas Laras. “Sedang apa?” tanya seseorang.“Astaghfirullah,” Carles kaget saat ada yang menegurnya. “Sedang apa di sini?” ulang cewek itu dengan jutek. “Enggak lihat gue duduk,” jawab Carles.“Bohong, cari siapa?” tanya Arin dengan penasaran. Ya, Carles dan Arin memang sudah 4 bulan menjadi pasangan kekasih. Carles yang cuek dan Arin yang ternyata hobi marah membuat hubungan mereka selalu tidak baik-baik saja, ada saja pertengkaran yang menyambut di hubungan mereka. “Aku duduk Arin,” ucap Carles semanis mungkin, walaupun Arin suka marah tapi dia sayang dengan gadis itu. “Laras,” teriak Arin di depan pintu kelas.“Enggak ada Laras,” dengan refleks Carles berdiri melihat ke dalam kelas yang kosong itu. “Sudah aku duga Kakak lagi cari Laras,” ucap Arin


348menahan butiran air mata agar tidak menangis. “Ikut aku, enggak ada waktu untuk drama,” ucap Carles sambil memegang pergelangan tangan milik gadis itu. “Lepas!” teriak Arin. “Diam!” bentak Carles. Semua orang yang berada di lorong tersebut beralih memperhatikan manusia yang berbeda jenis itu saling tarik menarik. Saat mereka telah sampai di gudang belakang sekolah barulah Carles melepaskan pergelangan tangan Arin. Dengan guratan amarah Carles menatap manik mata gadis itu, mendekat semakin mendekat dan itu sukses membuat tubuh Arin bergetar hebat, dengan wajah pucat dan keringat bercucuran karena takut. Bunyi getaran suara handphone di saku celana Carles membuat langkahnya terhenti. “Halo,” sapa Carles waspada, sudah dapat ditebak siapa yang meneleponnya kalau bukan Sagara Mahendra. “Mana?” ucap Sagara tidak sabaran, entahlah sudah dua hari lelaki itu tidak melihat aktivitas Laras dan itu sukses


349membuat hatinya gelisah. Carles melirik gadis di sampingnya sebentar, dapat dilihat gadis itu sedang ketakutan. “Gue sudah coba cari dia di sekolah, tapi itu anak kagak kelihatan Gar,” jelas Carles dengan berhati-hati agar tidak menyinggung perasaan Sagara. “Kok bisa, kan lo bisa cari info dengan sahabatnya atau cewek lo,” ucap Sagara.Mendengar suara khas milik Sagara membuat Arin tersadar dari lamunannya, dia menatap manik mata Carles dengan dalam seolah-olah bertanya ternyata selama ini kamu ambil video Laras diam-diam karena disuruh. Terjawab sudah teka-teki yang ada di pikiran Arin, ternyata Carles tidak menyukai Laras melngainkan Sagara yang menyuruh Carles.“Kenapa baru bilang? Kenapa?” ucapnya memegang bahu lelaki itu. “Maaf,” ada rasa guratan penyesalan di hati Carles melihat gadis di depannya ini. “Kalian, mau tahu Laras di mana?” ucapnya berusaha agar tidak menangis tapi percuma.


350Sialnya butiran tersebut jatuh dengan sendirinya. Sebelum menyampaikan kebenarannya gadis itu menghirup udara sebanyak-banyaknya. “Laras sakit, kena gagal ginjal dan sekarang dia kritis di rumah sakit,” ucap Arin.Kalimat yang didengar Sagara maupun Carles mampu membuat jantung mereka berdetak dua kali lipat dari biasanya. Sagara yang memang mendengar percakapan mereka dari tadi langsung menutup panggilan tersebut dan kini dia terduduk lemah di lantai, menyesal itulah kalimat yang dapat digambarkan untuknya. Sedangkan Arin sudah lemah seketika saat membayangkan kejadian tempo lalu. Dengan sekejap tubuhnya ambruk ke lantai. Dia mengingat pertengkaran dua hari yang lalu dengan Carles. Dengan teganya dia membanting handphone Carles dan dia kembali mengingat percakapan terakhirnya dengan Laras sebelum Laras dinyatakan kritis. “Sayang,” ucap Carles yang berjongkok melihat keadaan Arin. Sungguh dia tidak tega melihat Arin yang terlihat terluka.


351“Maaf,” ucap Carles yang membawa Arin ke pelukannya. “Aku egois, aku sahabat yang egois dengan teganya aku menuduh Laras selingkuh dengan Kakak,” ucap Arin yang masih berada dipelukan Carles. “Dia rela hujan-hujanan ke rumah aku cuma untuk klarifikasi bahwa dia enggak selingkuh dengan Kakak, tapi aku masih enggak percaya,” ucap Arin terbata-bata. “Pulang dari situ dia masuk rumah sakit, gara-gara aku, dia kelelahan,” ucap Arin yang masih sesegukan menangis di pelukan Carles. “Stop menyalahkan diri kamu sendiri,” ucap Carles yang melepaskan pelukan tersebut dan dia langsung memegang bahu milik gadis itu. “Kamu enggak salah, aku yang salah,” Carles berusaha menenangkan sambil mengusap air mata Arin. “Enggak aku yang salah,” ucap Arin histeris. Melihat Arin histeris, Carles kembali memeluk gadis itu dengan erat, dia menangis melihat kondisi Arin sekarang. “Nanti kita ke rumah sakit, jangan menangis lagi,”


352ucapnya mencium pucuk kepala milik gadis itu. Tak jauh berbeda dengan Arin kondisi Sagara pun sama, sama-sama terguncang mendengar kabar Laras terkena gagal ginjal. Jadi selama ini gadis itu pura-pura kuat di depannya, sungguh dia sangat menyesal dengan perbuatannya pada Laras. Brak Lemari kaca yang berada di kamarnya pecah karena lemparan gelas yang berada di nakas. Sagara mengacak rambutnya dengan kasar, dia mengepalkan kedua tangannya dan tubuhnya bergetar kini dia berubah menjadi lelaki yang lemah. Pacar macam apa dia di saat kekasihnya bertaruh nyawa tapi dia tidak berada di sampingnya. “Sagara buka pintunya,” gedoran pintu dari luar sama sekali tidak digubris oleh Sagara. “Gara buka,” ulang wanita itu karena khawatir. “Pergi!” bentak Sagara dari dalam kamar. “Kamu baik-baik saja kan?” tanya wanita itu lagi. “Pergi!” teriak Sagara.“Oke, kalau sudah tenang kamu buka pintunya ya, aku


353tunggu kamu di sini.”Tidak ada sahutan dari dalam kamar membuat dia khawatir, ada apa dengan Sagara? Entahlah dia hanya bisa menunggu kapan akan di buka pintu tersebut. Sedangkan Sagara kembali terduduk di lantai dengan sandaran samping tempat tidur, dia menangis, dia kecewa, dia rindu akan Laras. Ingin sekali dia pulang saat ini juga untuk mendampingi Laras apakah setelah dia berada di sana gadis itu mau memaafkannya? Cuaca dingin malam di Paris seakan tahu dia sedang bersedih. “Tuhan apa yang harus gue lakukan,” ucap Sagara. Tubuhnya sakit dan tenggorokan kering bahkan tangan dan kakinya bergetar hebat. Untuk menangis pun sudah tidak ada tetesan air mata yang keluar, yang ada relung hatinya sesak, dia mengingat kejadian setahun yang lalu sebelum dia bertolak ke Paris.


354Satu Tahun yang LaluSagara sedang berada di sebuah komplek perumahan. Motor yang dikendarainya berhenti di depan pintu gerbang sebuah rumah yang tampak sepi, tapi sebuah sepeda motor terparkir di halaman. “Kayak kenal itu motor, tapi di mana ya?” Sagara memicingkan matanya mengingat-ingat motor tersebut. Dengan langkah pelan, Sagara memasuki perkarangan rumah. Motornya dia tinggal begitu saja di depan pintu gerbang. Sagara telah sampai di depan pintu utama. DegBenar dia tidak salah lihat, atau matanya yang bermasalah. Dengan amarah yang tidak tertahan lagi dia masuk ke dalam rumah. Lalu...... BughPukulan demi pukulan dilontarkan oleh Sagara pada lelaki yang baru saja memeluk tunangannya. “Kurang ajar,” kilatan amarah Sagara melihat


355musuhnya itu. Galang yang memang belum siap dengan pukulan tersebut hanya bisa pasrah.“Gara, stop!” teriak Salsa. Tentunya dia sangat syok dengan kedatangan Sagara yang tiba-tiba. BughSeakan belum puas Sagara kembali menendang perut Galang. “Akh...,”“Aku mohon, stop Gara, Galang bisa mati!” Salsa menghalangi tubuh Galang, kini dia yang berhadapan dengan Sagara.Sagara tersenyum remeh melihat sepasang manusia itu. Ingin rasanya dia menonjok wanita di depannya ini. Tapi, dia masih waras sehingga ia tidak melakukannya. “Hebat,” tepukan tangan Sagara membuat Galang murka. “Kenapa? Lo, enggak senang?” Sagara menatap Galang yang terguling sambil memegang perutnya.


356“Dan, lo Salsa! Enakkan jadi simpanan Galang?” tunjuk Sagara dengan tersenyum mengejek. “Bangsat, bisa diam enggak lo,” bentak Galang sambil mencoba untuk berdiri. “Kenapa? Gue harus diam coba? Enggak boleh gue cerita begitu?” Sagara mengeryitkan dahinya. Lemah, itulah yang dapat dirasakan Salsa. “Lang,” Salsa menatap Galang, mencoba meminta penjelasan. “Lo, dengar baik-baik. Galang itu sudah punya cewek, sekarang itu cewek lagi di luar negeri. Dan lo cuma dijadikan pelampiasannya doang” jelas Sagara dengan senyum remeh. DegSalsa berusaha tidak menangis agar tidak terlihat lemah. BughPukulan ke perutnya dari Galang yang tiba-tiba membuat Sagara hampir oleng kebelakang. “Lo juga, jadi orang jangan munafik,” ujar Galang. Sagara hanya tersenyum melihat Galang yang


357kebakaran jenggot. “Lo emang dari dulu enggak pernah berubah Lang, apa yang gue punya selalu lo rebut,” ucap Sagara. “Lo, mau Salsakan?” lirik Sagara pada Salsa, “Ambil, gue enggak butuh cewek macam itu,”PlakTamparan keras dari Salsa pada Sagara, membuat lelaki itu terdiam. Sagara kini memegang pipi kanannya yang terasa perih akibat tamparan keras tersebut. “Kenapa? Lo mau apa? Marah? Atau lo mau kasih tahu orang tua gue?” ucap Salsa. “Jangan munafik Gara, lo juga ada main di belakang gue.”“Bagus kalau lo tahu, enggak usah sok munafik jadi cewek, lo kan juga waktu itu ada di taman,” ujar Sagara remeh. Sedangkan Salsa kembali terdiam. “Kenapa, lo enggak batalkan tunangan kita? lo kan tahu, gue enggak cinta sama sekali dengan lo,” ucap Sagara.“Kenapa? Malah seakan-akan lo yang tersakiti?


358Padahal mudah, tinggal bilang batalkan perjodohan.”“Kenapa, kenapa? Kamu enggak pernah menerima aku, Gar,” ucap Salsa pelan. “Simpel, gue enggak suka lo,” ucap Sagara santai tanpa beban, “Gue sudah videokan kelakuan kalian, biar jadi bukti.” “Gar, aku mohon jangan kasih tahu bokap,” mohon Salsa pada Sagara. “Enak di lo enggak enak di gue,” ucap Sagara“Gar, Gara tunggu,” Salsa mengejar Sagara yang hendak keluar rumah tersebut, namun langkah kakinya terhenti saat mendengar ucapan... “Lo harus tahu Gar, siapa yang suka meneror Laras. Selain bokap lo! Dia ada di dek...,” ucap Galang dengan lantang. “Galang,” Salsa mencoba mencegah. “Brengsek,” Sagara kembali ke arah Galang, “Ulangi!” mata tajam Sagara sambil menarik kera baju Galang. “Santai Bro,” ujar Galang.


359Bugh“Enggak usah mengundur waktu, gue paling benci,” pukulan mendarat ke rahang Galang. “Is oke, tunangan lo sendiri,” ucap Galang.“Apa-apaan kamu Galang, Kita berdua yang melakukan. Kenapa kamu jadikan aku kambing hitam?” ucap Salsa tidak terima. “Kenyataannya memang begitu, dan bokap lo juga ikut andil dalam memainkan peran ini,” tunjuk Galang pada Sagara, dia merasa puas melihat lelaki itu menderita. “Kurang ajar!” sungguh Sagara kali ini merasa dipermainkan. Salsa yang merasa dipojokan oleh Galang, kembali buka suara,”Gar, jangan dengarkan ucapan Galang, itu semua enggak benar!” “Pinggir!” Sagara menyentak bahu Salsa, dia berlalu, pergi dari rumah itu. Kini Sagara sedang mengendarai motor menuju pulang, karena ART di rumahnya tadi mengabari bahwa ada tuan besar.


360“Anak tidak tahu diuntung, bukannya kerja malah keluyuran malam-malam!” sindir Wira, Papa Sagara, saat melihat Sagara masuk rumah. “Contoh itu Deo, dia kerja,” ucap Wira lagi.“Kenapa Papa ke sini?” tanya Sagara“Terserah Papa dong, rumah-rumah Papa,” jawab Wira sesukanya. Mendengar itu Sagara berlalu dari ruang tengah menuju kamarnya, karena percuma mendengarkan omongan Papanya. Pasti dia akan yang kalah. Lama dia terdiam di dalam kamarnya, hari ini cukup lelah dan merasa bahagia. Karena jalan untuk memutuskanperjodohan sedikit lagi akan terlaksana. Kini dia berpikir bagaimana menyampaikan pada Papanya. Tapi yang jelas dia sangat murka Salsa dan Papanya kerja sama untuk mencelakai Laras. Suara ketukan terdengar di pintu kamar Sagara.“Aden dipanggil tuan besar, beliau ingin menyampaikan sesuatu,” ucap Bibik.“Iya Bik, tunggu sebentar,” jawab Sagara.


361Sagara menuruni anak tangga dengan tidak bersemangat. “Ada apa?” tanya Sagara.“Bisa sopan sedikit tidak sama orang tua!” jawab Wira kesal.“Hem,” deheman Sagara sambil menyandarkan bahunya ke dinding. “Langsung ke intinya saja, pilihan kamu ada 2,” Wira menatap anaknya, “Pertama, kamu lanjutkan pertunangan dengan Salsa. kedua, kamu pergi jauh dan enggak usah kembali lagi atau gadis yang lagi dekat dengan kamu saat ini bakal menderita.”“Kenapa, Papa selalu mengatur hidup aku?”“Terserah kamu, suka atau tidak, semua keputusan ada pada diri kamu sendiri,” ucap Wira.“Padahal Papa tahu, Salsa selingkuh!” senyum remeh Sagara. “Terserah dia, yang penting saham Papa bertambah,” ucap Wira.“Papa sungguh hebat, menjual anak demi harta,”


362tepukan tangan Sagara, kali ini dia benar-benar murka. “Kamu kira hidup enak, enggak butuh uang banyak?”“Papa saja nikah sana!” setelah mengucapkan itu, Sagara berbalik menuju kamar. Namun langkah kakinya terhenti saat mendengar... “Anak buah Papa lagi berada di rumah gadis itu”DegKilatan amarah terlihat jelas dari Sagara, wajahnya memerah serta tatapan tajam ke arah papanya. “Jangan sakiti dia,” ucap Sagara sambil mengepalkan kedua tangannya. “Papa sudah memberikan kamu pilihan, bukan!” ucap Wira santai. Kali ini dia mengalah, sungguh dia sudah tidak sanggup lagi menghadapi kelakuan papanya yang gila harta. “Beri waktu 2 hari, untuk mengurus paspor Gara,” setelah mengucapkan itu, dia benar-benar pergi dari rumah tersebut. Wira menelpon salah satu anak buahnya,”Pergi dari tempat itu!”


363“Dasar, anak keras kepala,” ucap Wira setelah memutuskan panggilan tersebut. “Jika Sagara gagal, Deo harus mau,” ucap Wira.


364Keputusan yang SulitDasar gila harta,” emosi Sagara yang masih duduk di lantai, saat dia mengingat kembali kejadian itu. “Gara buka,” ucap seseorang dari luar. Sagara sama sekali tidak menyahut. “Gara buka, ini gue Bahar,” seru Bahar yang sedang khawatir dengan kondisi Sagara. “Kak, aku takut terjadi apa-apa dengan dia,” ujar Alena yang panik, sebab sedari tadi dia menunggu Sagara membuka pintu kamar, tapi sampai sekarang tak kunjung dibuka. Maka dia pun menghubungi kakaknya yang memang hari ini sedang berada di Paris. Alena adalah adik kandung Bahar. Alena sudah lama berada di Paris untuk kuliah S1 di salah satu universitas di Paris. Selama Sagara berada di Paris Alenalah yang mengurus lelaki itu. ClekPintu kamar terbuka dan terlihatlah sosok yang sedari tadi membuat kedua kakak beradik itu khawatir dalam


365keadaan yang berantakan. Kesan pertama yang Bahar jumpai saat masuk ke dalam kamar nuansa black itu adalah berantakan. Bantal, selimut serta pecahan beling pun berserak di lantai. Bahar menoleh ke arah Sagara, “Lo, ada masalah apa?” Sagara masih tetap diam dengan tatapan kosong dia berdiri menghadap jendela yang memperlihatkan indahnya Kota Paris. Alena yang berada di dekat Sagara menyentuh bahu Sagara, tetapi naas Sagara menepisnya.“Kamu kenapa?” tanya Alena berusaha agar tidak menangis. Tidak ada jawaban sama sekali, sungguh sakit. Padahal selama ini lelaki itu tidak pernah sekasar ini padanya. Ada apa dengan mereka berdua selama di Paris? Entahlah hanya mereka yang tahu. Melihat ada hal yang tidak beres pada Sagara membuat Bahar meminta adiknya keluar dari ruangan itu. “Al, kamu keluar dulu ya, Kakak mau bicara berdua dengan Gara,” ucap Bahar yang menatap adiknya, ada rasa


366kasihan melihat adik semata wayangnya mencintai orang yang tidak mungkin dia gapai. “Iya Kak,” ucap Alena. Setelah adiknya pergi barulah Bahar bertanya pada Sagara yang sudah dianggapnya sudah seperti saudara. “Kalau ada masalah, cerita sama gue?” ucap Bahar yang saat ini berdiri sejajar dengan Sagara. “Laras sakit dan dia lagi dirawat di rumah sakit,” ucap Sagara setelah sekian lama terdiam, tenggorokannya kering saat menyebut gadis yang dia cintai sedang sekarat di rumah sakit. “Terus?” tanya Bahar yang penasaran. “Gue rasa, gue adalah pacar yang gagal!” ucap Sagara.“Lo, mau pulang ke Indonesia?” tanya Bahar dengan tampang datar. Sagara menoleh ke samping, memandang Bahar, “Gue bingung.” “Kenapa lagi?” tanya Bahar.“Gue ingin ketemu dia. tapi, kalau gue pulang itu artinya gue ingkar janji dengan bokap!” ucap Sagara.


367“Dan, akhirnya lo memilih bertahan dengan penyesalan? Iya?” tanya Bahar.Ucapan menohok dari Bahar mampu membuat Sagara terdiam. “Hidup itu pilihan Gar, dan di sini memang cukup sulit untuk buat lo memilih. Tapi, ini adalah kesempatan lo untuk berpikir mana yang baik dan buruk,” ucap Bahar.“Pilihan itu mudah, tetap tinggal di sini dengan penyesalan atau pulang dengan ketidaktenangan. Intinya sama! Semuanya bikin lo lega,” Bahar kembali memberi nasehat. “Sudah tahu kabar terbaru dia?” tanya Bahar. Gelengan kepala dari Sagara sudah memberi jawaban. “HP gue pecah,” ujar Sagara. “Nih, pake HP gue dulu, hubungi Carles atau siapa yang lo percaya,” ujar Bahar memberikan handphonenya. “Thanks,” ucap Sagara seraya mengambil handphoneBahar. “Iya, tenangkan dulu pikiran lo, gue tinggal keluar,” ucap Bahar.


368Namun kemudian ia menghentikan langkahnya, “Satu lagi, gue tunggu keputusan lo besok pagi.”“Iya, sekali lagi thank’s atas arahannya,” jawab Sagara.“Hem.”Setelah Bahar pergi, Sagara langsung mencari kontak Carles. “Iya Bang,” jawab Carles.“Ini gue, Sagara,” ucap Sagara.“Sorry Bro, gue kira Bang Bahar tadi,” jawab Carles. “Does not matter, ada kabar terbaru apa tentang cewek gue?” “Kenapa, lo enggak balik ke sini saja dulu?” Carles kembali bertanya. Terdengar helaan nafas Sagara. “Gue, takut ingkar janji. Car,” jawab Sagara.“Jangan egois Gar, dia butuh lo,” ucap Carles.“Gue tahu itu!” jawab Sagara.“Kalo lo tahu, harusnya lo pulang! Sebelum lo menyesal,” ucap Carles mengingatkan.Setelah mengucapkan kata menohok untuk sahabatnya


369itu, Carles mematikan sambungan telepon dengan sepihak. Dia gemas sendiri dengan sahabatnya itu. Sudah tahu keadaan lagi genting, masih saja belum mau pulang.TingSebuah kiriman gambar masuk ke ponsel Bahar. Carles yang mengirim gambar Laras. Pada saat dia mengangkat telepon Sagara, ia sedang menemani kekasihnya membesuk Laras. Air mata Sagara sudah tidak terbendung lagi melihat gadis yang dia cintai sedang berjuang melawan penyakitnya. Dipandangnya lagi foto itu, tubuh yang setahun lalu indah kini kurus terkulai lemas di atas ranjang dengan berbagai alat medis. “Maaf Sayang, pasti kamu di dalam sana merasa kesepian,” ucap Sagara sambil menatap foto itu. Pandangan Sagara kosong. Raganya ada di Paris, tapi jiwanya ada di Indonesia. Pikirannya tak tenang bahkan untuk memejamkan matanya pun sulit, padahal malam kian larut. ***Di Jakarta, sahabat-sahabat Laras sedang berkumpul di


370depan ruang ICU sebuah rumah sakit.“Ma,” panggil Daffa.“Iya, Daf,” Susan menoleh ke arah putranya, Daffa. “Mama pulang ya, biar malam ini Daffa yang jaga Laras,” ujar Daffa. “Tapi, nanti kalau Laras bangun, enggak ada Mama di sampingnya gimana?” ujar Susan khawatir. “Nanti, Daffa telepon Mama. Mama pulang ya diantar Bibin. Manda juga sudah Chat Daffa, katanya lagi di jalan menuju rumah,” ucap Daffa.“Ya sudah, Mama pulang ya, kabari Mama kalau Adik kamu bangun. Kamu jangan lupa istirahat,” ucap Susan.“Iya, pokoknya Mama istirahat dulu, besok ke sini lagi,” ujar Daffa. “Tante pamit pulang ya, kalian juga jangan lupa istirahat,” ujar Susan pada teman-teman Laras. “Iya Tante, hati-hati,” jawab sahabat-sahabat Laras.“Bin, titip Mama Abang ya,” ujar Daffa. “Siap Bang,” ucap Bibin.“Bang, kami pamit pulang dulu ya, besok ke sini lagi.


371Jangan lupa istirahat Bang,” ucap Carles.“Iya, hati- hati di jalan, kalian juga jangan lupa istirahat,” ucap Daffa. “Siap Bang,” jawab Mamat.Setelah sepi, Daffa berdiri menghadap jendala kaca pembatas ruangan Laras dirawat. “Maafkan Abang, Ras,” batin Daffa.


372Kemarahan dan PenyesalanKeesokan harinya keadaan Laras masih belum mengalami kemajuan, keadaannya masih sama dengan hari sebelumnya. Hari ini adalah hari minggu, sejak jam 10.00 WIB tadi sahabat-sahabat Laras bersama geng Woktai sudah berada di depan ruang ICU. Mereka memang sudah berniat untuk datang lebih awal karena ingin lebih mengetahui perkembangan sahabatnya. “Abang, titip Laras sebentar ya,” ucap Daffa pada sahabat-sahabat adiknya. “Baik, Bang!” jawab Carles sedangkan yang lainnya hanya menggangukan kepala saja. Setelah Daffa pergi, Amel melontarkan pertanyaan pada ketiga lelaki yang berada di hadapannya. Sebenarnya sudah sejak lama dia ingin bertanya tapi momennya belum pas dan ini menurutnya waktu yang pas. “Gue, mau tanya kepada kalian bertiga!”“Bertanya apa?” ucap Mamat bingung, begitu juga


373dengan yang lainnya. “Ini sudah setahun, Sagara benar-benar hilang seperti ditelan bumi!” ucap AmelMendengar Amel berbicara seperti itu membuat ketiga lelaki itu saling lirik satu sama lain, serta membuat Arin terdiam sambil sedikit melirik Carles. Sungguh, kali ini Arin merasa bersalah pada kedua sahabat itu. “Kalian bertiga benaran enggak tahu?” tanya Amel menatap satu persatu dari mereka. Mamat, Carles serta Bibin spontan mengelengkan kepala sebagai pertanda tidak tahu. “Mat!” panggil Amel. “Serius, gue enggak tahu!” ucap Mamat yang sedikit gugup takut keceplosan. Amel yang merasa curiga dengan ketiga lelaki itu, apalagi mendengar Mamat berbicara sedikit gugup. Kembali melontarkan pertanyaan. “Kalau kalian bertiga, mencoba menutupi keberadaan tuh anak, Siap-siap kalian hadapi gue!!” ujar Amel kembali


374menatap mereka, tatapan Amel berhenti saat mengarah ke Mamat. “Terutama lo, Mat!” sambungnya. “Kena getahnya, nih gue,” batin Mamat. “Gue orang pertama yang bakal gebuki kalian, jika berani memberi info palsu,” ucap melisa yang ikut berbicara. Mendengar suara Melisa, Bibin ikut khawatir jika nantinya dia juga bakal diamuk oleh gadis itu. “Gar, awas saja lo ya,” batin Bibin. Melihat kedua temannya yang menampilkan raut wajah yang tidak bersahabat membuat Carles ingin tertawa. “Untung, pacar gue sudah tahu!” batin Carles. “Mel, jangan gitulah,” tegur Mamat yang merasa keberatan. “Apa? Enggak suka?”Melihat Amel yang kali ini tidak bisa diajak negosiasi, Mamat kembali cemberut. “Kalian bertiga, pada enggak tahukan? gimana kecewanya Laras waktu Sagara bentak dia di keramaian pas acara gue waktu itu, setelah itu teman kalian menghilang.


375Eh, tahu-tahu sudah di rumah sakit saja. Kalian juga enggak tahukan? Sebahagia apa Laras saat cerita dia sudah jadian sama itu cowok. Tapi, kebahagiaan itu cuma bertahan satu hari, karena Sagara kembali menghilang. Bahkan dengan hebatnya hilang seperti ditelan bumi, satu tahun,” ucap Amel. “Setelah kepergian Sagara, Laras mulai sering sakitsakitan. Bahkan dia menderita gagal ginjal sudah lama dan kami para sahabatnya sama sekali enggak pernah dikasih tahu, bahkan dia enggak pernah sama sekali pun mengeluh sakit di depan kita,” kali ini air mata Amel sudah tidak bisa ditahan lagi, begitu juga Melisa dan Arin.“Sebenarnya gue sudah sarankan buat putus saja dengan lelaki egois seperti Sagara,” ucap Amel.Mamat, Carles dan Bibin hanya mampu terdiam. Mereka tidak sanggup untuk berbicara karena yang diucapkan oleh Amel itu semua benar Sagara adalah orang yang egois. “Sudah Mel, sabar ya! Ini rumah sakit enggak bagus ribut-ribut di sini,” ujar Arin sambil mengusap bahu Amel. “Assalamualaikum,” sapa Susan yang baru saja datang, dia sedikit bingung dengan keenam remaja itu yang seperti


376lagi ada konflik. “Waalaikumsalam, Tante,” ucap mereka. “Kalian, baik-baik saja kan?” tanya Susan. “Iya Tan, kita baik kok. Tante ke sini sendirian?” tanya Arin. “Syukurlah. Iya sendiri, Tante naik ojek. Cuma tadi dijemput Bang Daffa di Lobby,” jawab Susan.“Terus, Bang Daffa mana?” tanya Arin. “Tadi katanya mau ketemu teman dulu,” jawab Susan.DegSpontan ketiga lelaki itu melirik kanan kiri arah lorong itu dan saling pandang, mereka curiga jika Bang Daffa melihat Sagara. Dari tatapan mereka bertiga saja, sudah menandakan akan ada pertikaian. “Kayaknya, Gara sudah sampai Indonesia.” bisik Mamat pada Bibin. “Coba lo, tanya Carles!” bisik Bibin. “Car, Gara sudah tiba Indonesia belum?” bisik Mamat. “Hem,” deheman Carles sudah memberi tahu bahwa


377benar Sagara sudah berada di Indonesia. Ada rasa lega dari ketiga sahabat Sagara, namun juga ada rasa was-was dengan jika Sagara bertemu dengan Daffa atau yang lainnya. Di balik dinding tembok pembatas ruang ICU, Sagara sedari tadi mendengar perbincangan sahabat-sahabatnya. Bohong jika batinnya tidak sakit, mendengar apa yang dibahas oleh Amel. Sungguh, jika boleh waktu diputar kembali dia akan memperbaiki hubungannya. Setelah banyak perdebatan dengan Alena serta Bahar, Sagara akhirnya kembali lagi menginjak tanah kelahirannya. Butuh pertimbangan untuk kembali ke sini, setelah landing pukul 8.00 WIB, dia langsung meminta sherlocktempat Laras dirawat pada Carles. Ingin sekali dia mendekat ke teman-temannya. Tapi, dia belum punya keberanian untuk itu. Sagara berputar arah untuk meninggalkan rumah sakit, Namun.... Bugh“Beraninya lo menampakkan diri ke sini!” ucap Daffa.


378Satu pukulan mendarat ke wajah mulus Sagara. Sebenarnya Daffa sedikit kurang yakin bahwa itu adalah Sagara, lelaki yang sudah membuat adiknya tersakiti oleh sikap egoisnya. Makanya dia berdiam diri sambil menunggu Sagara berputar arah dan ternyata benar tebakannya. “Gara-gara lo, adik gue masuk rumah sakit. Bangsat,” emosi Daffa. “Suara orang lagi berkelahi?” ujar Susan pada keenam remaja itu. Sedangkan ketiga lelaki remaja itu sudah cemas, di dalam pikiran mereka apakah Sagara sudah bertemu Daffa. “Kayaknya, dari lorong sini deh,” ujar Melisa. “Ayo, kita lihat!” Bugh Lagi-lagi pukulan Daffa mendarat sempurna ke wajah Sagara, sedangkan Sagara hanya berdiam diri saja tidak membalas pukulan Daffa. “Astaghfirullah, Daffa,” ucap Susan saat melihat anaknya memukul anak orang membabi buta. “Sagara,” ujar ke enam remaja itu.


379“Daffa, sudah! Ini rumah sakit, Nak,” Susan berusaha melerai. “Gara, lo enggak apa-apakan?” tanya Carles, Bibin dan Mamat sambil membantu Sagara berdiri. Melihat ada keributan satpam rumah sakit langsung menuju ke arah Daffa dan Sagara.“Stop, mohon maaf dek ini rumah sakit. Jika mau adu jotos silahkan keluar,” ujar Satpam tersebut. “Maafkan teman kita ya Pak,” ujar Carles yang meminta maaf. “Mending, kalian bawa teman kalian pergi dari sini!” ucap Daffa yang masih emosi dan berlalu pergi. “Gara, maafkan anak Tante ya!” ucap Susan dengan tulus. “Iya Tan, enggak apa-apa, ini memang salah Gara. Ya sudah, Gara pamit pulang dulu Tan!” jawab Sagara. “Iya hati-hati, Tante cari Daffa dulu ya,” ucap Susan.Sagara sedikit melirik ke arah sahabat-sahabat Laras, namun mereka sama sekali tidak mau menatap dia dan kembali melangkahkan kaki menuju ruang ICU.


380“Sudah, Gar diam saja dulu,” ucap Bibin. “Banyak-banyak sabar saja!” sambung Mamat. Sedangkan Carles tidak sedikit pun mengeluarkan suara, dia memberi kode pada mereka untuk menuju parkiran. Mereka mengikuti Carles dari belakang, namun Sagara menoleh ke belakang sebentar. “Maaf, belum bisa ketemu. Gue janji besok ke sini lagi,” batin Sagara.


381“Perpisahan yang paling menyakitkan adalah kematian”


382Selamat Jalan“Welcome Back Ketua!” ucap Arlen yang menyambut kedatangan Sagara, sedangkan yang disambut hanya tersenyum tipis. “Eh, tunggu! Ini kenapa?” tanya Arlen yang melihat wajah Sagara penuh dengan lebam. “Biasa Bang, laki!” sahut Sagara. “Sudah deh Bang Ar, mending diajak masuk dulu bos kita nih. Capek lo perjalanan dari Paris ke Indonesia, dapat tinju gratis lagi!” ucap Mamat. “Sudah Gar, masuk saja dulu,” ucap Carles. Sagara yang memang kelelahan pun langsung masuk ke dalam rumah The Tiger. Sagara sekarang tidak punya rumah lagi serta kekayaannya kini tidak seperti dulu lagi. “Siapa memang yang meninju itu anak?” tanya Arlen saat Sagara sudah tidak ada di hadapannya lagi. “Abangnya Laras!” sahut Bibin yang duduk di kursi teras.


383“Kok bisa?” tanya Arlen. “Enggak usah kepo!” sambung Mamat. “Iya juga kenapa gue kepo!” ucap Arlen yang sedang mengaruk telinganya yang tidak gatal. Sedangkan Sagara kini dia sedang duduk termenung di kursi, di ruang tamu. “Nih, diminum dulu!” ujar Carles yang baru saja keluar dari arah dapur. “Thanks,” ucap Sagara.Lama mereka terdiam, Tiba-tiba..... “Darurat,” ucap Mamat yang baru saja masuk ke ruang tamu dengan wajah cemas. Sagara dan Carles menatap Mamat dengan rasa penasaran. “Kenapa lo?” tanya Carles yang sedang bingung. “Anu...anu...,anu,” gagap Mamat. “Lama benar lo Mat, ini lagi gawat darurat, kenapa belum dikasih tahu?” ucap Bibin yang menyusul Mamat. “Laras kritis, kita berdua mau ke rumah sakit. Kalian berdua mau ikut enggak?” ucap Bibin.


384“Serius lo,” tanya Sagara yang masih tidak percaya. “Iya Bos, tadi Melisa kasih kabar ke gue!”“Laras,” guman Sagara dengan penuh rasa khawatir. “Ya sudah, kenapa masih duduk di situ lo pada!” ucap Bibin dengan gemas melihat ketiga sahabatnya. “Astaghfirullah, sorry lupa!” ucap Carles. Sedangkan Sagara hanya terdiam, tanpa banyak pertanyaan lagi dia langsung menuju arah pintu utama, rasa khawatirnya begitu besar mengalahkan rasa sakit di wajahnya. “Cepat, Car!” teriak Sagara, saat melihat temannya masih berada di depan pintu sedangkan dia sudah terlebih dahulu berada di area motor. Mereka telah sampai di rumah sakit tempat Laras dirawat. Telihat para medis sedang menangani Laras. Mereka memandang dari dinding kaca dengan perasaan tidak karuan.Sagara, Carles, Bibin dan Mamat ikut menyaksikan bagaimana Laras berjuang di dalam ICU. Pandangan Sagara lurus ke depan. Pilu, itulah yang dirasakan oleh Sagara saat ini. semua yang berada di sana sudah terlihat cemas, apalagi Tante Susan yang sedang


385menangis dipelukan Daffa. Sagara memandang gadis yang dulu ceria itu dari pembatas kaca, ada rasa sesal di benaknya, mengapa dulu dia tidak menghubungi gadis itu. “Sayang, kamu harus bertahan ya, aku sudah pulang! Ayo bangun dong, dulu kamu suka marah kalo aku pake logue, sekarang aku sudah ganti jadi aku-kamu, bangun ya Cantik!” batin Sagara. “Kamu kuat Ras, bangun ya!” batin Amel dengantatapan sendu. “Bangun Ras, lihat di samping gue ada cowok lo nih,” batin Arin dengan tatapan bersalah. “Ayo Ras, kamu pasti bisa lawan penyakit itu!” batin Melisa yang sekali menyeka air matanya. “Manis cepat bangun ya!” batin Mamat. “Ras, Gara pulang. Ayo bangun gebukin dia!” batin Carles. “Bangun dong Bu Bos,” batin Bibin yang melirik Sagara. Semua yang berada di sana membatin tanpa


386mengeluarkan kata. DegJantung mereka berdetak lebih cepat dari biasanya saat melihat monitor berhenti berfungsi. Rasa khawatir semakin bertambah saat dokter dan para medis berhenti melakukanpenanganan pada Laras. “Daff!” gagap Susan memanggil Daffa saat melihat ke arah depan. “Tenang Ma, Laras pasti bisa,” ucap Daffa menenangkan Susan. “Bangun Ras, Bangun enggak! Jangan bikin Abang takut!” batin Daffa. “Tuhan, jangan ambil dia. Tuhan!” batin Sagara dengan menatap gadis itu sendu.“Sabar Gar, gue yakin Laras pasti bisa lawan penyakitnya,” ucap Carles memberi semangat sambil menepuk bahu Sagara. Sedangkan Mamat dan Bibin mereka tidak mampu berkata lagi, saat melihat Sagara terluka yang kedua kalinya. Amel, Melisa dan Arin mereka berpelukan saling


387menguatkan dan berdoa dalam hati. Pintu ruangan terbuka. Dokter yang selama ini membantu penyembuhan Laras keluar dari ruangan itu. “Putra, Adik gue baik-baik saja kan?” tanya Daffa saat melihat sahabat keluar dari dalam ruangan ICU. Dokter Putra menghela napasnya sebentar, ada rasa berat untuk menyampaikan kabar ini. Tapi, mau tak mau sebagai dokter dia harus menyampaikan kabar baik atau buruk pada keluarga pasien. Lama dia menatap Daffa, sedangkan Daffa sendiri seolah tahu apa maksud tatapan itu. Tapi dia berusaha menyangkal semuanya. “Put!” ulang Daffa. “Maaf Daffa, Tante dan yang lainnya. Saya terpaksa memberikan kabar yang kurang berkenan di hati,” ucap Dokter Putra. “Kondisi Laras semakin menurun sejak operasi yang dilakukan dua hari yang lalu membuat jantung Laras melemah,” Dokter Putra menjeda sebentar, “Seperti kita ketahui penyakit Laras sudah semakin parah, maka mohon


388maaf kami tim rumah sakit ini telah melakukan usaha semaksimal mungkin, tetapi sore ini jam 16:00 Wib Laras sudah tidak bisa tertolong lagi, Laras meninggal dunia!” sambung Dokter Putra dengan hati-hati. Kabar apa ini, semua yang berada di sana sudah menangis histeris. “Lo bohong kan Put? Laras masih hidupkan Put?” tanya Daffa dengan emosi sambil memengang bahu Dokter Putra. Sungguh melihat Daffa yang sehisteris itu membuat Putra merasa iba dengan sahabatnya ini. “Daff, sorry gue enggak bisa pegang janji gue untuk selamatkan Laras,” ucap Dokter Putra merasa bersalah. “Put, adek gue, adek gue,” ucap Daffa dengan pegangan tangan kian melemah. “Lo harus kuat, demi Tante Susan!” ucap Dokter Putra.Susan menangis histeris sambil memeluk Manda yang juga menangis. Manda baru saja datang rencana dia hari ini mau menjenguk calon adik iparnya, tapi sungguh di luar dugaannya ini sungguh mengejutkan. “Laras...!” tangis Susan.


389Para sahabat Laras sama terpukulnya, mereka sudah menangis histeris.Sagara, orang yang pertama merasa sangat kehilangan, kini terduduk lemah sambil mengacak rambutnya. Dia menyesal, kecewa, marah dengan dirinya sendiri. Untuk berbicara dia sudah tidak mampu, bahkan tenggorokannya sakit. Tubuhnya bergetar dia menangis dengan perasaan yang kalut. Dia berdiri kembali menatap kaca pembatas mengarah ruangan yang menampilkan para medis sedang melepaskan alat-alat yang melekat di tubuh kekasihnya. “Lo, ingkar janji! Lo bilang mau bersama gue selamanya. Tapi kenapa? Kenapa Ras! Lo pergi lebih dulu di saat gue belum minta maaf ke lo!” ucap Sagara lirih sambil menangis. Kedua telapak tangannya mencekram kuat kaca pembatas itu. BughSagara meninju dinding rumah sakit. “Laras,” ucapnya bersandar sambil merosotkan tubuhnya ke lantai.


390Separuh jiwanya pergi untuk selamanya, hatinya hancur, dunianya runtuh seketika. Kecewa dengan dirinya sendiri! Carles, Bibin dan Mamat menatap Sagara dengan iba, mereka mendekati Sagara dan merangkul bahu lelaki itu. “Gue tahu, lo merasa bersalah! Tapi gue mohon lo jangan kayak orang gila begini Gar. Ikhlaskan Laras, Gar,” ucap Carles menenangkan Sagara. “Masih ada kita di sini Gar!” sambung Bibin. “Gue belum minta maaf ke dia!” ujar Sagara dengan tubuh kian bergetar. “Laras orang baik, gue yakin dia sudah maafkan lo!” ujar Mamat yang juga merasa sedih. Masih teringat jelas bagaimana dulu dia sering mengoda Laras dengan sebutan manis. Mereka membantu Sagara berdiri saat melihat ranjang yang berisi Laras sudah keluar dari ruang ICU dengan kain yang menutupi seluruh tubuhnya. “Sayang, anak mama bangun!” teriak Susan yang sedang menguncang tubuh Laras yang sudah tak bernyawa


391itu. “Laras!” tangis Susan kian histeris. “Ma, sabar!” ucap Daffa sambil menjauhkan Susan dari tubuh Laras. “Daffa, adik kamu masih hidupkan?” tanya Susan.Daffa yang merasa tak tega melihat kondisi mamanya langsung memeluknya erat sambil mencoba menguatkan mamanya. “Mama tenang ya, ikhlaskan Laras,” ucap Daffa sambil mengusap surai rambut mamanya. Tubuh Susan kian melemah dan akhirnya Susan tidak sadarkan diri. “Ma!” ucap Daffa yang memegang erat saat melihat mamanya pingsan. “Daffa, bawa Tante Susan ke ruang samping,” ucap Dokter Putra. Dengan segera Daffa membawa mamanya diikuti oleh Manda dan Dokter Putra. Sagara mendekati Laras, dia membuka tutup kepala dari kain putih itu.


Click to View FlipBook Version