The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Buku ini menceritakan kisah cinta Laras dan Sagara yang tak pernah bersatu karena ajal telah lebih dahulu menjemput Laras. Tinggallah Sagara dengan penyesalan yang tiada akhir. Menyesali semua keputusannya yang ternyata sangat melukai hati Laras.

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Yayasan ananda Nurul hayana, 2024-10-31 04:02:13

Laras

Buku ini menceritakan kisah cinta Laras dan Sagara yang tak pernah bersatu karena ajal telah lebih dahulu menjemput Laras. Tinggallah Sagara dengan penyesalan yang tiada akhir. Menyesali semua keputusannya yang ternyata sangat melukai hati Laras.

Keywords: Novel Remaja

42 Kehangatan Keluarga“Pa! Bang Daffa nakal,” kata Laras mengadu.“Lah bocah, kapan gue jahili lo?” balas Daffa sedikit menyolot.Setelah selesai makan malam berapa menit yang lalu mereka sekeluarga memang sedang berkumpul di ruang keluarga.Bagas yang sedari tadi sedang menonton berita di televisi langsung menoleh ke arah anak gadisnya. “Emang abang kamu bikin ulah apa lagi?”“Begini ya Pa, tadikan Laras lagi mengobrol bareng keluarga barunya Siti. Masa Abang tiba-tiba bilang begini,” ucap Laras yang langsung memperaktekkan ucapan abangnya.“Dasar sinting, lihat saja nanti boneka kamu Abang bakar!” sambung Laras sedikit mengebu-gebu.“Lah lagian lo duluan yang ngatain gue,” bela Daffa dengan cepat.“Abang ya, Laras kan cuma puji kegantengan abang saja tadi,” balas Laras.


43“Terus ya Laras cuma mau menagih janji yang waktu itu untuk belikan lemari keponakan-keponakan Abang,” ucap Laras menghadap ke arah abangnya.“ATM gue rusak,” sahut Daffa.“Papa,” rengek Laras yang beranjak mendekat ke arah Bagas.“Ma! Geser dikit Laras sesak napas,” sambungnya, sebab sekarang Laras lagi memeluk papanya.“Laras kamu ini ya,” ucap Susan yang mulai bergeser.“Pa! Boleh ya Laras beli lemari lagi? Soalnya Laras sudah janji sama ponakan Laras,” rayu Laras.“Daffa kamu ini pelit banget sama adik sendiri,” ucap Bagas yang sedang mengelus puncak kepala anak gadisnya.“Bukannya pelit, Pa. Tapi ATM Daffa kan lagi tahap proses menuju halal,” kata Daffa menjelaskan.“Papa enggak mau tahu pokoknya besok kamu sudah belikan Laras lemari,” ucap Bagas.“Puas lo?” cibir Daffa melirik Laras sekilas.“Makasih Papa,” ucap Laras langsung menghujani papanya dengan ciuman.


44“Manja,” cibir Susan.“Sudah ah, ayo Ma kita ke kamar Papa mengantuk,” kata Bagas sambil mengajak istrinya.***


45 Cerita di Rooftop“Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan, sembilan, sepuluh, sebelas, dua belas, tiga belas, empat belas, lima belas,” Mamat yang sedang menghitung pena yang dicurinya selama seminggu.“Keren banget gue,” sambungnya.Ketiga sahabat Mamat pun langsung menatapnya dengan tajam.“Begitu saja bangga, memang sudah enggak waras lo,” cibir Bibin sambil menampol lengan cowok itu.“Gue heran sama lo Mat, kenapa hobi mencuri pena orang? Jangan-jangan pena Pak Somat suka lo embat juga?” tanya Carles yang frustasi melihat kelakuan sahabatnya satu itu.“Gue jadi yakin Mat, untuk mengeliminasi lo dari sahabat gue,” sahut Sagara.“Eh, kalian bertiga jangan suka iri dengan hasil kerja orang lain,” balas Mamat kembali dengan menyusun penanya di dalam kotak pensil.


46“Astagfirullah,” ucap Carles frustasi langsung keluar dari kelas.“Tobat,” sambung Sagara ikut-ikutan keluar kelas.“Gue tuh heran sama mereka! Seperti banyak beban pikiran, dikit-dikit main pergi saja,” ujar Mamat menatap Bibin.Bibin yang sedari tadi memang sudah kesal melihat tingkah laku Mamat akhirnya memberikan kata mutiara.“Mat, sebenarnya lo itu pintar kalau di bidang pelajaran. Tapi, kalau di luar pelajaran kenapa otak lo geser begini?” tanya Bibin sambil menatap tersangka.“Terima kasih atas pujiannya, gue memang pintar! Ini juga gue lagi menunjukan bakat Bin,” kata Mamat tersenyum bangga.“Iya,” jeda Bibin sebelum melanjutkan perkataannya, “Bakat maling!” “Menyesal gue kasih pujian ke lo,” ketus Bibin yang meninggalkan Mamat. Mamat hanya pasrah menatap semua kepergian para sahabatnya.“Nasib orang pintar ya begini,” ujar Mamat yang


47kembali menyusun pena.Sagara yang kepalang kesal dengan kelakuan Mamat mengasingkan diri ke rooftop sekolah. Mata Sagara memicing ketika menangkap siluet seorang gadis sedang berdiri di ujung pembatas tiang rooftop.“Kalau mau bunuh diri jangan di sini,” ucap Sagara.Laras yang terkejut dengan seruan itu pun langsung mundur dan menoleh. Laras menabrak dada bidang Sagara.“Eh maaf Kak enggak sengaja,” ucap Laras.“Hem,” balas Sagara cuek memilih duduk.“Lo mau bunuh diri?” tanya Sagara menatap gedunggedung tinggi di sekitar sekolah. “Eh anu Kak, tadi cincin aku jatuh jadi aku ambil. Maaf Kak,” ucap Laras dengan canggung.“Mana mungkin gue mau bunuh diri dengan cara tidak terpuji, aneh-aneh saja tuh cowok,” batin Laras mencibir.“Gue kira sudah enggak betah hidup,” sahut Sagara datar.Laras menghiraukan ucapan Sagara, fokus mengambil kembali cincin yang belum dapat ia jangkau sejak tadi.


48Sagara berdecak, “Pinggir biar gue yang ambil,” kata Sagara sembari mengapai cincin.“Lain kali jangan ceroboh,” nasihat Sagara. “Iya Kak, makasih ya,” ujar Laras yang menerima cincin itu. Sagara hanya berdeham, lalu pergi meninggalkan Laras. Laras yang melihat Sagara berlalu pergi, melompat kegirangan. “Mimpi apa gue semalam bisa ketemu Kak Gara di sini,” Laras mengulum bibirnya.Di balik pintu, tanpa mereka sadari sejak tadi ada yang melihat kejadian yang berlangsung, seketika orang itu tersenyum licik menatap Laras. “Mainan baru,” guman seseorang yang berlalu meninggalkan tempat itu.***Laras dan ketiga sahabatnya sudah berada di lapangan basket, sesuai janji semalam keempat sahabat itu memilih ekskul basket.“Selamat sore semuanya, perkenalkan nama saya coach


49Wahyu! Saya di sini yang akan mengajar kalian mengenal teori-teori basket,” ucap sang pelatih.“Berhubung kalian baru bergabung di ekskul basket, jadi hari ini khusus perkenalan dulu! Sambil kita perhatikan senior-senior kalian bermain basket,” sambungnya.“Ras, Kak Sagara gantengkan?” bisik Amel ketika melihat Sagara sedang mendribel bola. “Eh, Iya,” gugup Laras memperhatikan Sagara dan kawan-kawan lainnya.“Kak Sagara, lo terlalu indah untuk gue miliki. Perasaan gue cukup gue yang tahu, gue akan jadi penggagum rahasia lo selama hati gue masih milih lo jadi tempat persinggahannya,”ucap Laras dalam hati.“Aduh pacar gue berkeringatan saja damagenya ngenabanget,” kata Melisa.“Carles memang beda!” seru Arin spontan. Laras , Amel, dan Melisa menatap Arin terkejut.“Lo ada rasa sama Kak Carles?” tanya Melisa.“Demi apa lo puji dia Rin? Biasanya lo kutu buku yang enggak main cinta-cintaan,” sambung Amel.


50“Memang kenapa kalau Arin punya rasa sama Kak Carles?” tanya Laras bingung.“Pokoknya lo enggak boleh suka sama Kak Carles, titik enggak pakai koma,” nasihat Amel.“Emang kenapa?” tanya Arin.“Dia playboy, enggak baik buat lo yang masyaallah,” ucap Amel. Ketiganya terdiam bersamaan dengan perkataan Amel. Bunyi peluit panjang dari coach Wahyu membuyarkan lamunan mereka.Laras melihat ke arah lapangan anak-anak Woktai dan yang lainnya sedang menatap mereka.“Mel bagi minum dong,” kata Mamat saat duduk di samping Amel.“Bisa enggak lo modal sedikit Mat?” omel Amel sembari memberikan botol minumnya.“Enggak usah pelit jadi tetangga,” sahut Mamat menerima pemberian Amel.“Heran gue berantam melulu,” cetus Laras.“Aw- si manisnya gue,” ujar Mamat melirik Laras.


51“Eh Mat, lo enggak ada niat kenali ke kita begitu?” tanya Bibin, sebab mereka bertiga hanya diam memperhatikan interaksi Mamat dan para adik kelas. “Eh iya sorry Bro gue lupa hehe,” cengir Mamat.“Kenalkan mereka teman gue, itu Bibin sampingnya Carles dan yang ujung sono Sagara,” Mamat memperkenalkan temannya.“Salam kenal gue Carles,” ucapnya sambil tersenyum.“Hai salam kenal semua, gue Bibin,” kata Bibin melambaikan tangan kepada mereka.“Alay,” cibir Sagara yang sedari tadi diam melihat kelakuan para sahabatnya.“Gue Sagara,” sambungnya dengan cuek lalu meneguk habis minumannya.“Hem, kenali gue Amel dan mereka sahabat gue, yang samping gue Arin dan yang itu Melisa. Terakhir namanya Laras,” kata Amel memperkenalkan sahabatnya.“Hai semua,” kompak Laras dan kedua sahabatnya.“Waduh kompak banget,” ujar Bibin tertawa.Laras yang sedari tadi merasa ada yang


52memperhatikannya, melirik ke arah sisi kanannya. Tepat saat itu juga mata mereka bertemu, Sagara sedari tadi memperhatikan Laras, entah apa yang membuat Sagara tak melepaskan maniknya dari figur gadis berusia 16 tahun itu. ***


53 Luka di Taman KotaDiary LarasUntuk sekarang tak apa semesta sedang tak sejalan denganku.Tak mengapa mencintai dalam diam adalah caraku.Memandangnya dari kejauhan adalah hobikuAndai kau tahu betapa aku begitu ingin bersamamu,tapi aku sadar itu takkan bisa.Aku juga seorang perempuan. Aku tahu sakitnya kehilangan.Jadi tak mengapa bahagialah bersamanya!Aku yakin... Aku pasti bisa mengontrol perasaan ini.Aku pasti bisa menjaga mata ini.Aku pasti bisa iya pasti bisa! Tersenyumlah duhai aku...Teruntuk pikiranku kita tidak boleh egois ya.Walau kamu selalu merasuki aku untuk egois.Bersabarlah akan ada hal indah menantimu di persimpangan Laras! ***Hari Minggu adalah waktunya kita harus bersantai, menikmati secangkir teh buatan Mama mungkin, atau


54sepotong bolu kukus. Weekend seperti ini menikmati olahan tangan Mama ialah hal yang paling enak. Tapi, di Minggu pagi ini Laras jauh lebih produktif dari pada minggu sebelumnya. Laras sedang joging tak jauh dari rumahnya, di taman kota. Di taman ini memang banyak orang-orang yang sedang berolahraga. Selain itu, sebagian orang bersantai sambil menikmati bubur ayam dan menyaksikan keramaian. “Ah capek,” Laras berhenti lari, sudah merasa kelelahan di putaran ketiga. “Capek banget ya ternyata, begini banget jadi remaja jompo,” keluh Laras meluruskan kakinya.“Nih buat lo,” sambil menyodorkan air minum mengalihkan atensi Laras. “Kak Sagara,” ucap Laras terkejut dengan keberadaan kakak kelasnya itu.“Hem,” guman Sagara.“Enggak mau diambil?” Sagara menggoyangkan tangannya.“Eh iya, makasih Kak,” kata Laras sambil menerima


55botol minum pemberian Sagara.“Boleh ikut duduk enggak?” tanya Sagara terdengar basa-basi, padahal Sagara sudah duduk sepersekian detik sebelum ia bertanya.“Silahkan Kak,” jawab Laras.Jangan tanya bagaimana perasaan Laras saat ini, tentu hatinya sedang berdisko ria. Kalian bayangkan saja, kalian memiliki crush dan crush kalian memberikan minuman untuk kalian. Membayangkan saja Laras tidak berani karena sadar diri, tapi kini benar-benar terjadi. Semilir angin menemani kedua sejoli itu terdiam bersama sepi, menerbangkan beberapa helai rambut Laras yang kian basah karena keringat.“Lo suka ke sini ya Ras?” tanya Sagara memutuskan sepi yang menggerogoti hati.“Enggak juga sih Kak, cuma rumah gue dekat dari sini,” jawab Laras canggung, Sagara ber-oh ria. “Ras lo tahu enggak? Hati dan perasaan itu enggak bisa berbohong?” kata Sagara menoleh ke arah Laras.Laras terkejut, langsung saja menatap Sagara yang


56lebih dulu menatapnya. “Maksudnya, Kak?” tanya Laras.“Gue harap lo paham Ras, cinta enggak bisa dipaksakan. Begitu juga gue, jangan paksakan hati lo untuk gue karena gue enggak akan pernah bisa balas perasaan lo,” ujar Sagara.Lagi-lagi Laras terkejut, tindakan Sagara sungguh keterlaluan, tadi seakan memberikan harapan tapi kini menghancurkan harapan itu. Padahal sedikit pun Laras tidak merecoki hidup Sagara dengan rasa sukanya. “Dari mana Kakak bisa tahu?” mati-matian Laras berusaha sebaik mungkin, tidak mungkin ia menumpahkan tangisannya di depan Sagara, memalukan.“Lo enggak perlu tahu gue tahu dari mana, yang perlu lo tahu stop suka sama gue,” kata Sagara bangkit dari duduknya.“Oh ya satu lagi, lo pasti tahu gue sudah punya pacar, jadi jangan cari ribut sama pacar gue,” sambungnya memperingati.Laras tak percaya akan hari ini, apa perasaanya mengganggu Sagara? Apa rasa sukanya begitu ketara sehingga Sagara merasa risih? Padahal untuk bersaing dengan pacar


57Sagara pun Laras sadar diri. Lucu sekali Sagara ini, padahal laki-laki itu yang sering berbicara lebih dulu kepada Laras seakan mereka saling mengenal. “Itu baru permulaan Laras,” kata Salsa yang sedari tadi menguping percakapan antara Laras dan Sagara. “Kak Salsa,” Laras tahu siapa gadis di depannya ini, pacar Sagara. Gadis beruntung yang mendapatkan cinta dari Kakak kelasnya itu. “Iya, kenapa takut?” ejek Salsa yang mulai mendekat ke arah Laras.“Mau apa Kak?’ tanya Laras yang mulai takut terjadi hal aneh, sebab ucapan Sagara masih membekas di ingatannya.“Jangan cari ribut sama pacar gue!”“Laras-Laras, gue lagi enggak mau ribut sama lo. Gue enggak akan omong ini berkali-kali, jadi lo harus ingat omongan gue bahkan sampai lo mati sekali pun.”“Jangan coba-coba untuk dekati apa yang sudah jadi milik gue,” kata Salsa penuh penekanan. .“Lo kira. Gue enggak tahu, kejadian di toilet, rooftop,


58lapangan, gue tahu semuanya Laras!” seru Salsa menatap penuh permusuhan Laras.“Lo itu masih kecil Laras, lebih baik lo sadar diri, enggak usah jadi bitch sejak dini.”“G-gue enggak bermaksud merusak hubungan kalian,” gugup Laras.“Omong kosong!” bentak Salsa.“Asal lo tahu, Sagara itu cinta mati sama gue. Jadi buang jauh-jauh angan lo untuk bisa dicintai sama pacar gue,” tekan Salsa berlalu meninggalkan Laras.“Emang salah ya gue punya perasaan sama Kak Gara? Gue kan enggak ganggu hubungan mereka,” lirih Laras menangis.“Lo terlalu baik untuk dia Ras,” ucap seseorang yang berada di balik pohon, dia sejak tadi memperhatikan Laras. “Salsa kamu terlalu licik, Sagara masih sama seperti dulu terlalu bodoh,” sambungnya.Laras menghirup udara sebanyak mungkin, membangun ketenangan untuk dirinya sendiri. Laras bangkit dari duduknya dan beranjak pulang, lebih baik ia di rumah,


59tidak akan bertemu dengan Sagara dan Salsa yang sudah membuatnya sakit hati. Sepasang kekasih itu benar-benar berhasil membuat Laras sakit hati. “Eh adikku yang cantik sudah pulang, buset kusut amat tuh muka,” kata Daffa melihat Laras yang pulang dengan wajah yang berantakan. Laras mengacuhkan abangnya, langsung berlari pergi menuju kamarnya yang berada di lantai dua. Daffa yang melihat adiknya pergi dengan keadaan menangis seketika bingung. ***Laras termenung di balkon kamarnya, kejadian hari ini benar-benar mengusik ketenangan hati dan pikirannya. Sikap Sagara yang tidak mudah ditebak, sepersekian detik berbuat baik dengan memberikan Laras sebotol air minum, lalu menghujami Laras dengan kalimat pedasnya. “Gue juga enggak mau suka sama pacar orang lain, tapi kan perasaan enggak bisa diatur sukanya sama siapa. Toh, gue enggak berusaha rebut Kak Gara dari Kak Salsa,” gumam Laras.


60Sedangkan di lantai bawah kediaman Baskara, semua orang dibuat cemas dengan keterdiaman anak bungsu mereka yang sedari siang tadi hingga malam mengurung diri di kamar. Susan mengetuk pintu kamar Laras“Sayang, boleh Mama masuk?” tanya Susan, tapi tidak ada sahutan dari dalam.“Sayang kamu baik-baik saja kan? Kalau kamu ada masalah cerita sama Mama sini,” sambungnya.“Iya Ma, Laras baik kok,” sahut Laras dengan suara seraknya.Sejak tadi Laras menangis, entah mengapa rasanya begitu sakit. Laras butuh teman cerita, tapi ia tidak mau merepotkan keluarganya. “Kamu enggak mau makan malam? Kata Abang dari tadi siang kamu belum makan,” ucap Susan khawatir.“Masih kenyang, Ma!” teriak Laras.“Ya sudah nanti kalau kamu lapar panggil Mama atau Abang ya,” pesan Susan yang segera berlalu dari depan kamar anak gadisnya.“Bagaimana Ma?” tanya Bagas saat melihat istrinya


61masuk ke kamar mereka.“Masih sama, Pa,” ucap Susan dengan lesu. “Mama khawatir Pa, kira-kira kenapa Laras ya Pa?” tanya Susan lirih, terlihat jelas kekhawatiran ibu dua orang anak itu.“Sudah enggak usah khawatir, nanti ada saatnya Laras cerita tapi bukan sekarang,” kata Bagas sambil menenangkan istrinya. “Lebih baik sekarang Mama tidur,” sambungnya. ***


62“Bila mencintaimu kamu pikir beban bagimu tapi tidak denganku yang mencintaimu tanpa syarat”


63Ternyata Mereka Dekat?Semenjak kejadian beberapa hari yang lalu, Laras benar-benar menepati janjinya untuk melupakan Sagara. “Lo kenapa beberapa hari ini diam melulu, Ras?” tanya Amel yang merasa bingung karena perubahan Laras.“Iya Ras, cerita sama kita,” ucap Arin.“Gue lihat-lihat lo kayak menghindar begitu kalau diajak ke kantin, di kelas melulu,” sahut Melisa.Mereka benar-benar bingung dengan Laras sebab berapa hari ini gadis itu berdiam diri dalam kelas, meskipun lapar pasti Laras menitip makanan kepada mereka. Lama terdiam Laras menatap ketiga sahabatnya.“Gue lagi berusaha menjauhi seseorang untuk kesehatan perasaan gue,” ucap Laras. Mereka bertiga tertegun dengan ucapan Laras.“Siapa yang bikin lo kayak begini?” tanya Amel menatap Laras.“Gue pernah ceritakan sama lo berdua?” balas Laras yang tiba-tiba menangis.


64“Minggu kemarin dia minta gue berhenti menyukai dia, dan itu membuat gue sakit,” lirih Laras menelungkupkan wajahnya di antara lipatan tangan.“Ras lo kuat, enggak apa-apa seiring berjalannya waktu perasaan lo bakalan pudar untuk dia,” ucap Melisa memeluk Laras.“Kita selalu ada buat lo,” sahut Amel ikut memeluk Laras.“Ini bukan salah lo. Soal hati kita enggak bisa memilih untuk suka sama siapa, jadi jangan merasa ini salah lo,” nasihat Arin sambil memeluk Laras.“Ya sudah kita mau ke kantin, lo mau ikut enggak?” tawar Arin.“Nanti gue menyusul,” jawab Laras.Laras terdiam menikmati sepi, ia melihat sekeliling kelas. Ia sendiri di kelas, karena teman-teman yang lain pasti sedang di kantin. Laras bangkit dari duduknya, memantapkan kembali hati bahwa ia harus biasa saja melihat Sagara nanti. “Ras sini,” teriak Amel memanggil Laras.Laras sedikit merasa tidak yakin atas keputusan yang


65ia ambil, Laras ingin putar balik. Tapi ketika maniknya bertubrukan dengan manik pekat Sagara, entah kenapa rasa kesal memuncak.“Lo enggak boleh terlihat seperti budak cinta Sagara, Laras,” kata Laras memaki dirinya sendiri. “Kenapa mereka bisa duduk dekat geng Woktai, ada dia lagi,” guman Laras dengan suara pelan.“Eh si Manis, sini duduk samping gue,” tawar Mamat.“Si Buntel bisa saja,” ucap Carles menoyor lengan Mamat.“Enggak usah Ras, sini duduk dekat gue,” cegah Amel yang menarik tangan Laras untuk duduk di sebelahnya.“Mat, lo enggak usah sok kegantengan ya. Maaf-maaf nih Laras tuh enggak suka sama lo, karena ada hati yang harus dijaga,” sambung Amel sambil melirik Sagara.“Sudah Mel, enggak malu apa dilihat orang,” ucap Laras tidak enak hati.“Mau menitip apa Ras? Sekalian gue mau pesan makanan,” tanya Bibin menawarkan.“Enggak usah Kak, aku saja yang pesan,” tolak Laras


66yang mulai bangkit.“Lo duduk saja, biar gue yang pesan. Mau menitip apa?” tanya Sagara yang sedari tadi memperhatikan Laras.“Bakso saja.” Sagara langsung menuju stand bakso, tak lama Sagara kembali membawa nampan berisi satu mangkuk bakso dan teh panas.“Nih dimakan.” “Makasih Kak,” ucap Laras yang sedikit memperhatikan Sagara.“Sama-sama.” Ketiga sahabat Sagara bingung melihat perlakuan Sagara, tumben sekali mau mengantre untuk membeli makanan. Aneh.Tapi tidak dengan ketiga sahabat Laras, mereka diamdiam menahan senyum, mereka paham betul pasti Laras sedang bahagia karena diperlakukan baik oleh Sagara.Proses belajar mengajar pun sudah berakhir sejak lima belas menit yang lalu. Laras sedikit terlambat pulang karena harus melaksanakan piket terlebih dahulu.


67Laras menyusuri koridor sekolah yang mulai sepi. Hanya ada beberapa orang yang juga melaksanakan piket atau berkumpul untuk ekskul. Tiba-tiba tangannya dicekal oleh seseorang.“Aaa, tolong lepas,” ronta Laras berusaha melepaskan tangannya yang dicekal semakin kuat.“Ikut gue,” perintah Sagara menarik Laras sampai ke rooftop. “Enggak mau, lepas Kak.”“Kenapa menghindar?” tanya Sagara mempertipis jarak di antara mereka. Laras yang masih bingung, seketika kakinya lemas. Ada apa lagi ini? “Jawab! Punya mulutkan lo?’ bentak Sagara.“Lo maunya apa sih, Kak? Lo minta gue untuk enggak suka sama lo, gue sudah turuti,” balas Laras yang menitikkan air mata padahal ia sudah berusaha untuk tidak terlihat lemah.“Bukan begitu maksud gue Ras, lo hanya boleh ubah perasaan lo terhadap gue bukan menjauh kayak begini,” ucap Sagara yang meninju dinding tepat di samping Laras.


68Sagara emosi dengan jawaban Laras, bukan itu maunya, bukan itu tujuan Sagara dengan perkataannya kemarin. Sagara juga terpaksa bicara begitu karena ada orang yang mengawasinya dari jauh.“Gue berusaha chat lo untuk minta maaf soal kemarin. Tapi lo enggak baca satu pun chat gue,” ucap Sagara.“Maaf.”Hanya itu yang dapat Laras katakan, nyalinya menciut mendengar bentakan Sagara. “Apa cuma gara-gara omongan gue, lo sudah enggak mau berteman sama gue lagi?” tanya Sagara menatap Laras.“Jawab!” bentak Sagara.Selama ini sebenarnya Sagara dan Laras sudah dekat, dekat dalam artian sebagai teman. Mereka selama ini diamdiam sering jalan bareng, curhat, saling kasih perhatian. Mereka dekat sudah sebulan yang lalu, saat mereka kenalan di lapangan basket. Sagara dan Laras sengaja menutupi bahwa mereka berteman karena tidak ingin Laras akan bertengkar dengan Salsa. Sagara nyaman berteman dengan Laras. Laras itu baik, perhatian, dan selalu enak jika


69diajak mengobrol, sedangkan bersama Salsa, Sagara tidak tahu ada rasa apa karena hubungannya dan Salsa hanyalah sebuah ikatan, itulah yang membuat Sagara merasa dilema saat ini.“Gue kayak wanita simpanan ya Kak?” tanya Laras memainkan kuku jarinya. “Cukup gue jadi pengagum rahasia Kakak saja, gue ikhlas hati gue mencintai Kakak dalam diam. Tapi sekarang Kakak sudah tahu kan gue suka sama Kakak?” kata Laras sambil menatap Sagara. “Maaf Kak, gue sudah ganggu Kakak dengan adanya perasaan ini. Gue menyerah,” ucap Laras yang ingin pergi dari tempat itu.Tiba-tiba dengan perasaan kalut Sagara memeluk Laras.“Lepas, Kak.”Sagara tetap memeluk Laras seakan tak mau kehilangan, “Maaf.”“Laras, jangan pernah berpikir untuk meninggalkan gue.”


70Isakan tangis Laras semakin keras. Laras semakin merasa bersalah sudah menjadi penghalang hubungan antara Sagara dan Salsa. Memiliki perasaan kepada Sagara saja yang notabanenya memiliki pacar sudah salah. “Sudah jangan menangis lagi, sudah sore gue antar pulang mau?” tawar Sagara sembari mengusap air mata Laras.“Gue ada motor sendiri, Kak,” ketus Laras.“Gue ikuti dari belakang.”“Terserah.”Mereka tidak tahu saja bahwa sedari tadi ada yang menyaksikan pertengkaran kedua remaja itu.“Tunggu pembalasan gue, Laras,” gumam seseorang mengepalkan jemarinya. “Upik abu sok bersaing sama princess, Gara hanya milik gue.”“Lo seolah-olah tersakiti, padahal lo yang paling munafik di sini, Salsa,” bisik lelaki di belakang Salsa.“Enggak usah ikut campur jika itu menyangkut urusan Laras.”


71Peringatan Kedua“Karena lo kita ada di sini Mat!” seru Bibin tak terima.“Iya nih, si Mamat susah mengajak-ngajak kita,” sahut Carles.“Oh, mengajak bergelut iya sini-sini,” ucap Mamat sambil meninju udara.“Sudah lakukan saja, sudah kejadian juga,” kata Sagara menengahi.Mereka berempat sedang dihukum oleh guru bimbingan konseling karena ketahuan merokok dan lebih parahnya lagi Mamat membawa vape. Alhasil mereka sedang hormat di bawah tiang bendera. Jangan ditanya betapa murkanya Pak Somat mengetahui kelakuan anaknya itu.“Mat, mulai besok uang jajan kamu ayah kurangi!” seru Pak Somat.“Jangan dong Yah, nanti Mamat mau beli bensin pakai apa?” kata Mamat memelas.“Itu mah terserah kamu,” sahut Pak Somat berlalu pergi.


72Mamat memasang wajah memelas, selalu memotong uang jajan. Terpaksa mereka berempat harus berdiri hormat di tiang bendera.“Panas banget,” keluh Bibin.“Enggak ada yang bilang dingin, Bin,” sahut Mamat.“Lo pada mending diam!” bentak Carles.Sagara menyorot datar teman-temannya, sudah panas seperti ini masih saja bertengkar. Seolah-olah tahu ada yang memperhatikannya, Sagara melihat ke arah lantai dua. Sagara mengulas senyum tipis ketika matanya bertubrukan dengan netra hazel Laras. “Semangat,” kata Laras tanpa suara, hanya terlihat dari gerakan bibir dan kepalan tangan yang ia acungkan. Sagara tersenyum tipis dan menganggukkan kepalanya. Energinya semakin bertambah sehabis diberikan semangat oleh si cantik Laras. “Eh buset senyum-senyum sendiri,” cibir Mamat.“Kesurupankah?” tanya Bibin terdengar polos.Sedangkan Carles hanya diam, ia sedari tadi memperhatikan Sagara dan salah satu adik kelas mereka.


73“Ternyata kalian ada main,” gumam Charles menatap Sagara.***Bel istirahat berbunyi, semua orang berbondongbondong menuju kantin untuk memberikan asupan energi. Sagara dan teman-temannya pun langsung ngacir ke kantin, mereka sudah tidak tahan dengan panas yang menyengat kulit mereka, juga rasa haus dan lapar, perut mereka sedari tadi berontak ingin diisi.“Ah, lega banget habis minum es,” Mamat bersendawa puas karena sudah menghabiskan dua gelas teh manis dingin. “Hooh, Jakarta selalu panas,” keluh Bibin sambil minum esnya.“Sayang,” seru Salsa memeluk lengan Sagara.Seisi kantin pun seketika jadi ramai.Sagara yang sedang menikmati siomaynya pun, terkejut dengan aksi Salsa yang memeluknya. Sejak kapan Salsa ingin meng-publish hubungan mereka? Apa sejak ada Laras? “Lepas, Sal.”“Kangen,” kata Salsa semakin memeluk Sagara erat.


74“Enggak usah lebai, gue lagi makan,” cibir Sagara yang mulai melepaskan belitan tangan Salsa.“Kaya jelangkung lo,” cibir Charles. “Mending lo pergi deh, bikin ribut doang,” usir Mamat dengan teganya. “Sayang,” rengek Salsa manja.“Sudah Mat biarkan saja,” ucap Sagara.Salsa yang merasa dibela pun menatap penuh ejek ke arah teman-teman Sagara, Mamat hanya merotasikan bola matanya, malas meladeni Salsa yang sok berkuasa atas Sagara. Laras yang diam-diam menyaksikan keromantisan Sagara dan Salsa pun hanya bisa tersenyum maklum.“Gue enggak apa-apa, buang jauh-jauh ekspresi kasihan lo pada,” kata Laras mengancam teman-temannya sembari tertawa kecil. “Lo enggak apa-apa?”“Gue enggak apa-apa, merekakan pacaran.”“Kita makan di taman saja yuk?” tawar Amel. Ia ingin menjaga perasaan Laras tentunya, meskipun Laras


75berkata tidak apa-apa, pasti temannya itu tetap merasa sakit hati. “Di sini saja ah, gue enggak apa-apa. Lo pada tenang saja,” kata Laras meyakinkan.Mereka bertiga pun mengangguk, mulai sibuk memesan makanan mereka.“Sakit sih, tapi resiko mencintai pacar orang.”***Setelah mengisi perut di kantin, kini Laras sedang berada di toilet. “Ketemu lagi,” tiba-tiba Salsa menarik rambut Laras.“Aduh, sakit Kak,” lirih Laras terkejut mendapati serangan mendadak.“Sudah gue kasih tahu, jauhi Sagara! Tapi lo tetap ngeyel, bitch.”Plak Satu tamparan keras berhasil mengenai wajah Laras, tercetak jiplakan tangan di pipi kanan Laras. “Itu buat lo yang berani caper ke Sagara.”Plak


76Tamparan kedua mendarat di pipi kiri Laras, rasa perih menjalar hingga ke kepala.“Ini buat peringatan kedua, gue harap lo sadar diri adik kelasku,” ejek Salsa mengelus rambut Laras, sepersekian detik kemudian menariknya dengan kasar.“Kakak keterlaluan, aku sudah enggak berteman dengan Kak Gara,” kata Laras berusaha membela diri.“Sakit,” lirih Laras.“Sakit ya?” ejek Salsa, “Permainannya belum usai.”“Guys sudah siap?” tanya Salsa pada kedua temannya.“Nih Sal,” Nana, salah satu teman Salsa memberikan ember berisi air.Byur , Salsa dan teman-temannya menyiram Laras. “Rasain lo bitch!” seru mereka bertiga tertawa puas. “Kunci pintunya,” kata Salsa berlalu meninggalkan toilet.Laras meraung dengan hebat, kedua pipinya sakit, kulit kepalanya perih, ia kedinginan, tapi hatinya jauh lebih sakit. Ia tidak terima diperlakukan sekasar ini oleh Salsa, tapi ia tidak ada nyali untuk melawan Salsa dan teman-temannya.


77“Mama sakit,” tangis Laras.“Laras!” seruan panik sesorang di depan pintu toilet.“Kak, tolong.” Belum sempat menyebut nama seseorang yang ada dihadapannya Laras langsung menutup mata.***


78“Perbuatan jahat tidak akan mungkin membuahkan kebaikan”


79Laras TerlukaLelaki itu mendekat terkejut melihat adik kelasnya terbujur lemah dengan tubuh basah.“Kurang ajar!” ucap Deo.Ya, Deo, ketua OSIS SMA Harapan Bangsa. Deo langsung menggendong Laras ke ruang UKS tidak mempedulikan beberapa orang yang kepo.Setelah meletakkan Laras di atas brankar, Deo keluar sebentar membiarkan anak PMR yang mengganti pakaian basah Laras. Sebenarnya Deo ke toilet untuk menganti pakaian olaraga tapi ketika mendengar keributan dalam toilet cewek, ia mengurungkan niatnya dan mengecek ke toilet cewek. Sayangnya sang pelaku telah pergi, hanya ada Laras terbujur lemah di lantai toilet yang dingin. Setelah pakaian Laras diganti barulah ia masuk dan duduk di kursi samping brankar.“Kamu cantik,” kata Deo menatap manik mata yang tertutup.


80“Kamu enggak pantas buat dia,” sambungnya.Lama terdiam Laras tak kunjung bangun membuat Deo semakin cemas, dilihatnya gadis yang berada di atas brankar terlihat wajah semakin pucat. Dengan inisatif Deo membaluri minyak angin di tangan, kaki, leher dan sedikit di bagian hidung Laras.“Ugh, gue di mana?” lirih Laras membuka matanya.“Alhamdulillah! Lo sudah siuman, bagian mana yang sakit?” tanyanya sambil menghadap Laras.“Enggak ada Kak,” kata Laras berusaha bangkit dari tidurnya.“Sini gue bantu,” tawar Deo. “Makasih ya Kak Deo sudah menolong gue,” ucap Laras dengan tulus.“Iya, sama-sama.” “Kak, baju ini?” Laras sedang menatap dirinya sendiri. “Tadi anak PMR yang gantikan pakaian lo.”“Syukurlah.”“Butuh gue labrak enggak tuh cewek?” tanya Deo sambil menatap Laras.


81“Jangan, lagi pula ini salah gue juga Kak,” cegah Laras.“Yakin?”“Iya.”“Ya sudah! Gue ke kelas duluan, kalau ada apa-apa hubungi gue,” ujar Deo yang meninggalkan kertas berisi nomor ponselnya dan mulai pergi meninggalkan UKS.Setelah kepergian Kakak kelasnya itu, Laras mengambil kertas yang diletakkan di atas nakas samping brankar dan mulai memasukkan nomor WA Deo.Laras beralih ke akun WhatsApp, banyak sekali pesan masuk dari para sahabatnya. Laras membuka roomchat bersama Arin dan mulai mengetik sesuatu.Rin, gue duluan pulang tadi sudah izin. Gue minta tolong bawakan tas dan motor gue ya.Setelah pesannya terkirim, Laras langsung menghubungi abangnya, minta untuk dijemput. Laras mulai bangun dari tidurannya, ia ingin pulang. Sebentar lagi abangnya pasti sampai. Dengan kondisi yang


82belum fit, Laras menyusuri koridor kelas yang untungnya sepi. “Pak bukakan pintu pagarnya ya,” pinta Laras yang mendekat pos penjaga.“Neng Laras sakit? Kok pucat banget?” tanya penjaga sekolah sambil membuka pintu pagar.“Kurang enak badan saja, Pak. Makasih ya, Pak.”“Iya Neng, hati-hati.” ***


83 Kembali SekolahSetelah dua hari absen tanpa kabar, akhirnya Laras kembali ke sekolah lagi meskipun dengan keadaan yang belum baik sepenuhnya. “Ras lo kok pucat sih?” tanya Arin khawatir.“Iya Ras, biasanya lo kuat. Kenapa tiba-tiba badan lo lemah begini?” sahut Amel ikut khawatir.Melisa menganggukkan kepalanya, ”Ras, kalau belum enakan lebih baik jangan masuk dulu.”“Lo ke UKS saja ya,” kata Arin.Hari ini kelas Laras sedang kebagian jam olahraga, sehingga membuat anak lainnya bersemangat tapi tidak dengan Laras. Laras diam-diam menahan sakit.“Gue enggak apa-apa, mungkin gue belum pulih sepenuhnya.”“Ya sudah lo duduk di kursi sana saja,” ucap Amel.Hari ini mereka kebagian materi basket, Laras hanya duduk saja di pinggir lapangan tidak berniat ikut gabung bermain basket.


84“Bagi minuman dong Ras,” pinta Amel.“Nih, modal Mel.”“Yaelah, kebiasaan pelit,” sahut Amel.“Malam minggu jalan yuk,” ajak Melisa tiba-tiba.“Upss, jomlo,” teriak Amel.“Gimana? Pada mau enggak?” tanya Melisa menatap ketiga sahabatnya.“Gue si yes. Tidur di rumah gue ya,” sahut Amel.Mereka sepakat jika malam minggu ini menginap di rumah Amel, sesekali enggak apa-apa. Laras mengalihkan atensinya ketika gawainya bergetar di balik saku seragamnya, Laras mengecek ternyata pesan dari Sagara.Kak Gara:Nanti pulang sekolah bareng gue ya?Laras: Aku ikut Melisa saja kak.


85Kak Gara:No! Tidak ada penolakanLaras:Kak Salsa gimana? Aku enggak mau di cap selingkuhan kamu ya!Kak Gara:Dia enggak sekolah.Siapa bilang? Lo itu frends gue.Pokoknya nanti gue tunggu di Halte.Laras:Dasar pemaksaan.Read.“Dasar gila,” cibir Laras.***Bel pulang sekolah sudah berdering sejak setengah jam yang lalu, tapi Laras sengaja masih menunggu di kelas. Sesuai kesepakatan Sagara dan Laras tadi, mereka akan


86pulang bareng. Sebenarnya bukan kesepakatan mereka, hanya Sagara yang memaksa.Sejujurnya Laras merasa bersalah kepada Salsa. Laras sudah berusaha menghindar tapi dasar Sagara saja yang egois, Sagara yang membuat Laras seperti perempuan jahat di sini. Jika bisa memilih. Laras pasti memilih seperti awal saja sebelum mengenal Sagara, ia hanya datang sekolah, mendengarkan guru menjelaskan, mengerjakan tugas sekolah, dan pulang. Tidak ada Sagara dalam hidupnya, tidak ada masalah antara Salsa dan Laras tentunya.“Sudah lama?” tanya Laras basa-basi.“Lama banget sih kayak siput,” omel Sagara galak, sebab ia dari tadi menunggu Laras.“Maaf. Mau satu sekolah ngebully gue gitu?” tanya Laras sarkas.“Ya enggaklah, ayo buruan naik,” ajak Sagara.“Giliran enggak ada Kak Salsa saja berani,” ejek Laras.“Jangan mulai,” sahut Sagara memperingati.Laras memilih diam, menikmati perjalanan mereka sore hari ini.


87“Kita mau ke mana? Ini bukan jalan ke rumah gue ya,” tanya Laras yang sedang memperhatikan sekitar.“Mau ke hutan.”“Ngapai, Kak.”“Sudah diam saja, nanti lo bakal tahu.”Laras terkadang bingung dengan sikap Sagara, kadang baik, kadang cuek, kadang egois, kadang suka bikin sakit hati, kadang bikin kesal. ***


88 Cerita di Pantai Hari iniSemilir angin menerbangkan surai panjang Laras, alunan ombak yang menghantam batu karang menjadi pelengkap kedua insan yang sedang terdiam membisu. Terpaan angin laut benar-benar memanjakan Laras yang sedang menikmati indahnya pantai.“Lo tahu Ras? Betapa beruntungnya gue ketemu lo,” kata Sagara mengisi kekosongan.Laras tidak menjawab, ia diam menunggu Sagara melanjutkan ucapannya.“Karena lo, semangat hidup gue kembali lagi,” ucap Sagara tulus.Laras menoleh, sedikit tertawa miris. Rasanya lucu mendengar Sagara mengatakan hal itu di saat ia memiliki pacar.“Padahal Kakak sudah punya Kak Salsa,” sindir Laras mengingatkan.“Gue enggak bahagia sama sekali,” ucap Sagara.“Salsa itu tunangan gue, tapi gue enggak cinta sama


89dia,” keluh Sagara melempar krikil hingga mendarat di pesisir pantai.Laras terkejut, ia menatap tidak percaya kepada Sagara. Tunangan? Yang benar saja. Pantas saja Salsa semengerikan itu melabraknya, ternyata Sagara tunangannya.“Lo bohongi gue? Lo buat gue terlihat jahat di sini Kak,” lirih Laras kecewa.“Dengarkan gue dulu,” potong Sagara. “Gue enggak cinta sedikit pun sama Salsa. Gue terpaksa, gue dipaksa untuk tunangan sama dia,” terang Sagara dengan wajah yang kusut. “Tapi dia tunangan lo Kak, gue yang jahat di sini,” lirih Laras. Laras rasanya ingin menangis, tapi ia lelah menangisi hal ini-ini saja.“Lo enggak bersalah sama sekali, gue dipaksa bokap gue. Dan gue harus apa Ras? Gue enggak bisa milih, karena semuanya sudah diatur,” ujar Sagara menatap Laras.Laras terdiam, hidupnya terasa lebih berat setelah bertemu dengan Sagara. Laras rasanya menyesal telah


90berteman dengan Sagara, Laras mencintai Sagara, tapi Sagara memiliki tunangan yaitu Salsa, namun Sagara tidak mencintai Salsa, melainkan mencintai Laras. Sayangnya Laras dan Sagara tidak bisa bersama, karena ada Salsa di antara mereka.Laras tersenyum getir, sulit sekali mencintai Sagara ternyata. Ia senang bisa mencintai Sagara, tapi di sisi lain, ia merasakan sakit. Sakit mencintai pria yang jelas-jelas milik orang lain.“Ras, jangan tinggalkan gue sendirian. Gue selalu merasa takut sendiri,” pinta Sagara menatap Laras penuh permohonan.“Cukup nyokap gue yang pergi untuk selama-lamanya, lo jangan.” Layaknya kaset rusak, Sagara mengingat kembali duka mendalam bagi dirinya. Di mana tepat di hadapannya ibunya merenggang nyawa demi menyelamatkan Sagara.“Sayang kamu lari, ayo lari yang kuat.”“Enggak, aku mau jaga Mama,” teriak Sagara kecil.“Mama baik-baik saja Sayang, kamu cari bantuan. Selamatkan diri kamu ya,” pinta Dewi memohon kepada


91anaknya. Seluruh tubuhnya sudah berdarah-darah, dari bagian kepalanya pun sudah mengalir banyak darah segar. Dewi menangis, ia merasakan ketakutan. Ia takut anaknya turut terluka. Lebih baik luka-luka itu hanya dirinya yang mendapatkan tidak dengan pangeran kecilnya. “Ah, Sagara pergi, Nak,” rintihan menyayat hati yang didengar Sagara kecil.“Mama!”“Heh anak kecil mau ikut mati juga kamu?” ancam preman sambil berjalan menuju Sagara yang meringkuk ketakutan. “Tidak! jangan sakiti anak saya, saya mohon,” teriak Dewi sambil menangis meraung-raung.“Mama tolong, Ma-” jerit Sagara kecil yang sedang kesakitan akibat dilempari dengan balok kayu.“Sayang lari, ayo kamu lari!” teriak Dewi, ia ingin anaknya selamat.Dengan berat hati, Sagara kecil berlari mencari pertolongan, selang berapa jam ia kembali ke rumahnya


Click to View FlipBook Version