142Cemburu“Tadi itu pacar kamu Ras?” tanya Manda saat melihat Laras baru saja membuka pintu kamar.“Cuma teman Kak,” jawab Laras dengan santai sambil duduk di kursi meja rias.“Masa teman, kok keliatan kayak ada rasa begitu sama kamu?” ucap Manda yang sedang duduk di atas kasur.“Dia sudah ada tunangan Kak, jadi sudah enggak mungkin juga kami ada hubungan spesial. Kalo pun ada itu cuma sahabatan enggak lebih,” ujar Laras menjelaskan.“Kakak dulu ketemu sama Abang di mana?” tanya Laras melihat calon kakak iparnya itu.“Panjang ceritanya Ras, Intinya waktu itu Abang kamu sudah punya pacar tapi mantannya tinggalkan dia ke New York dan di situ aku ketemu dia saat terpuruknya, Abang kamu itu bucin banget waktu itu sama mantannya. berjalannya waktu dia mulai membuka hati untuk aku dan kita sama-sama belajar dari masa lalu, akhirnya menuju angka tiga tahun aku bersyukur punya Abang kamu Ras,” curhat Manda dengan
143sedikit menitikkan air mata, mengenang masa-masa saat pertama kali bertemu Daffa.“Kamu kenapa tanya begitu? Ada yang mau dicurhatkan sama Kakak?” sambungnya.“Sebenarnya aku suka sama orang yang Kakak lihat tadi, tapi aku enggak mau merusak hubungan orang lain jadi biar aku pendam saja cinta ini,” ucap Laras sambil menerawang kejadian yang ia lalui dengan Sagara.“Jangan pernah berpikir begitu Ras, Jodoh enggak ada yang tahu, mau dia sudah ada tunangan atau belum, itu enggak bisa menjamin mereka akan berjodoh, siapa tahu dia jodoh kamu,yang penting kamu sabar dan aku lihat dia nyaman sama kamu, kayak takut kehilangan gitu, sudah pasti dia suka sama kamu tapi aku sarani buat jangan terlalu dekat sama dia kasihan tunangannya,” nasihat Manda.“Aku tuh suka bingung Kak sama dia. Kadang cuek, kadang baik, kadang romantis, cemburuan lagi. Bahkan suka galak kalau kemauan dia enggak aku turuti.” “Emang pertama kali kalian bertemu di mana?” tanya Manda, dia jadi penasaran kenapa sampai segitunya lelaki itu
144terhadap Laras.“Panjang ceritanya Kak tapi yang pasti awalnya aku yang suka dia duluan tapi enggak aku kasih tahu sama dia,” ucap Laras mengingat pertemuan dengan Sagara.Setelah bercerita panjang lebar melakukan kewajiban sebelum tidur, mereka berdua langsung menuju alam mimpi.***Tok..tok..tok!“Eh, ada kamu, cari Laras?” tanya Manda yang sedang membuka pintu“Iya kak, Larasnya belum pergi kan?” tanya Sagara.“Belum, ayo masuk dulu.”“Enggak usah kak, makasih,” tolak Sagara.“Ya sudah gue panggilkan Laras dulu ya, kamu duduk saja dulu.”“Iya Kak,” ucap Sagara duduk di kursi teras rumah.“Ras, di bawah ada teman kamu yang semalam tuh,” ucap Manda yang baru saja sampai di kamar.“Kakak duluan ya, mau kerja,” pamit Manda.“Iya hati-hati Kak,” ucap Laras saat melihat Manda
145keluar dari kamarnya.Dengan rasa penasaran Laras menuju lantai bawah dan langsung ke teras rumah tanpa sarapan pagi sebab dia sangat penasaran kenapa Sagara menjemputnya.“Lama banget,” omel Sagara galak.“Lah kan gue enggak minta Kakak buat jemput,” ucap Laras bingung dengan kelakuan Sagara.“Baik salah enggak baik salah, ayo naik,” ucap Sagara yang sudah berada di atas motor ninjanya.“Enggak mau,” tolak Laras.“Kenapa?” tanya Sagara langsung menoleh.“Gue ada motor sendiri.” “Gue enggak mau lo kenapa-kenapa,” ucap Sagara yang mengikuti Laras dari belakang.“Mau satu sekolah menggosipkan kita?”“Ya janganlah,” ucap Sagara.“ Ya sudah gue naik motor sendiri.” “Gue ikuti dari belakang,” Sagara mencari aman. Benar saja setelah sampai ke halaman sekolah banyak pasang mata memperhatikan mereka, nasib baik dia tidak
146dibonceng coba kalau dibonceng bisa jadi perang ketiga.“Laras,” teriak Melisa saat melihat Laras baru saja masuk kelas.“Apa,” sahut Laras.“Gue mau cerita, Arin, Amel lihat sini dulu,” pinta Melisa“Buruan mau omong apa?” tanya Amel.“Gue lagi dekat sama Kak Bibin,” curhat Melisa.“Wah hebat lo Mel bisa taklukan tuh anak. Tapi ingat dia playboy,” ucap Amel.“Kok bisa?” tanya Laras“Waktu itu dia antar gue pulang karena motor gue tibatiba rusak di parkiran sekolah, dari situ mulai dekat,” cerita Melisa.“Selamat ya Mel, tinggal gue yang enggak punya pasangan,” keluh Arin yang tidak semangat.“Gue juga kali,” sahut Laras.“Lo kan ada Kak Gara,” ucap Arin.“Kebiasaan Laras enggak mau mengaku, kalau gue benar memang enggak punya.”
147Laras memukul Amel, “Itu si tetangga lo gimana Karma?” tanya Laras emosi.“Dia bukan siapa-siapa gue,” sahut Amel “Tahu nih Amel sudah mau tunangan masih saja kelakuannya,” ucap Melisa.“Gue ke perpus dulu ya,” pamit Arin yang beranjak dari kursi.“Mau ngapain?” tanya Laras.“Ambil buku disuruh Bu Melta,” kata Arin yang menjabat sebagai sekretaris kelas. “Gue ikut.”Saat ingin menuju perpustakaan Laras melihat Sagara yang sedang bersama Salsa, dapat dilihat Sagara hanya diam kebanyakan Salsa yang aktif.Sagara yang dari tadi merasa ada yang memperhatikannya menunjukan reaksi yang berbeda.“Sal, bagus yang mana ini apa ini,” tunjuk Sagara terhadap benda yang ada di sebuah aplikasi belanja online.“Menurut aku yang ini sih, lebih simpel tapi elegan, kamu mau beli buat siapa?” tanya Salsa.
148“Buat lo lah masa buat orang lain, tunangan gue itu kan lo,” ucap Sagara sedikit keras.“Serius?” tanya Salsa yang tersenyum bahagia.“Hem.”Mendengar penuturan Sagara membuat Laras jadi sedih, karena terlalu sakit ketika melihat orang yang kita sayang lagi duduk dengan orang lain.“Gue duluan ya, Rin,” ucap Laras yang tidak sanggup melihat pasangan itu.“Maaf,” batin Sagara Sagara melirik Laras saat berlalu pergi. Ini sedikit pelajaran buat Laras yang sudah berani menolak jemputan tadi pagi.“Sayang biar aku saja yang pilih warnanya,” ujar Salsa dengan semangat.“Cek di hp lo saja, gue ke kelas,” ucap Sagara yang berlalu pergi.“Eh, enggak bisa begitu dong,” teriak Salsa.***
149“Percayalah siapa yang tidak sakit saat melihat orang yang kita sayangi bersama orang lain”
150Pertandingan BaketJam istirahat kedua sudah berbunyi menandakan bahwa pelajaran mereka telah usai. Semua siswa berhamburan keluar kelas, ada yang menuju kantin, mushola, taman dan lain-lain. Beda dengan keempat sahabat itu mereka akan mengikuti diskusi perlombaan sesuai perintah captain basket di pesan grup untuk segera berkumpul di aula sekolah.“Guys, duduk di sana saja,” ucap Amel yang menunjuk kursi paling depan.“Di sini saja, gue malas kalau duduk di depan,” ucap Melisa.“Enggak asyik lo,” keluh Amel.“Sudah di depan saja Lis,” sahut Arin“Siapa tahu ada diskusi yang menarik didengar.”“Setuju, ayo tinggal saja si Lisa,” ucap Amel.“Ayo Ras,” ajak Arin “Mengalah gue,” ucap Melisa yang mengikuti mereka dan langsung duduk tepat berhadapan dengan meja depan.“Halo semua. Diskusi akan kita mulai sepuluh menit
151lagi,” ucap ketua OSIS SMA Harapan Bangsa.Laras yang tadi hanya memainkan ponsel miliknya seketika jadi mengangkat arah pandangan ke sumber suara.“Kak Deo,” batin Laras.Kini mata mereka bertemu dan saling beradu satu sama lain. Dari arah yang berlawanan ada seorang yang menahan amarahnya melihat tatapan kedua pasangan itu.“Brengsek,” umpat Sagara. Mendengar umpatan Sagara tiga sekawan langsung menoleh ke arah Sangara.“Lo kenapa?” tanya Bibin.“Lo kalau mau kesurupan jangan di sini,” ujar Mamat.“Lo kenapa Gar?” tanya Carles.“Berisik.” “Nih, anak butuh kita mandikan kembang tujuh rupa biar enggak kesurupan,” ucap Mamat.“Berani?” tantang Sagara yang menoleh ke arah Mamat dengan muka galak, wajahnya sudah merah karena menahan emosi. “Sudah Gar, enggak usah dipikirkan kalau jodoh
152enggak bakal ke mana,” bisik Carles menasihati. Sagara kembali melihat ke arah Laras, tampaknya acara tatapan tadi sudah berakhir.“Pulang sekolah habis lo,” batin Sagara “Ras, kayaknya Kak Deo ada rasa deh sama lo,” ujar Arin yang sedari tadi mencuri pandang arah ketua OSIS.“Enggak tahu dan enggak mau tahu,” cuek Laras.Diskusi pun dimulai, Deo menjelaskan kegiatan yang akan dilakukan di SMA Harapan Bangsa yaitu perlombaan tanding basket antar sekolah.Setelah satu jam lamanya mereka diskusi di aula sekolah, kini seluruh anggota basket berkumpul membahas perihal pertandingan basket. “Kalian sudah dengarkan apa yang dikatakan Deo tadi. Jadi gue harap kalian enggak menyepelekan pertandingan ini. Satu lagi ketika gue menunjuk kalian untuk jadi ketua tim maka itu harus dipatuhi,” ucap Sagara yang melirik sekilas arah Laras.“Jadi gue putuskan untuk captain basket B putra gue tunjuk Bima, Lo siap Bim? “ tanya Sagara.
153“Siap Kak.”“Tim putri gue tunjuk Laras.” “Ras,” ucap ketiga sahabatnya yang melihat ke arah gadis itu, mereka sangat terkejut dengan ucapan Sagara. Tapi memang sih Laras bisa dikatakan jago dalam urusan basket, namun apakah gadis itu mau jadi captain?“Gue keberatan,” protes Laras.“Tidak ada kata penolakan. Terimakasih kalian boleh bubar,” ucap Sagara final dan berlalu meninggalkan aula tersebut.***Kini mereka sedang berada di kantin yang sedang sepi, sebab ini sudah jam masuk kelas berhubung tadi mereka ada kegiatan jadi diberi kelonggaran untuk istirahat.“Melisa sini gabung bareng kita,” teriak Bibin yang melihat Melisa.“Sejak kapan lo dekat sama Melisa?” tanya Mamat.“Kepo lo.”“Ayo kita duduk bareng mereka,” ajak Melisa.“Enggak usah deh,” tolak Laras.
154“Enggak usah, enggak sudi gue makan bareng Mamat!” seru Amel masih jengkel perihal perjodohan mereka.“Pokoknya lo pada harus ikut gue, titik!” Melisa memaksa.Dengan terpaksa mereka mengikuti kemauan Melisa, memang susah kalau masa pdkt.“Mau pesan apa Mel?” tanya Bibin.“Batagor saja Kak.”“Kalian bertiga?” “Samakan saja Kak!”Sementara Bibin memesan makanan mereka sedikit bercanda untuk mencairkan suasana.“Amel senyum sedikit kenapa,” ujar Mamat“Sakit gigi,” ketus Amel.“Sakit gigi benaran baru tahu lo,” ucap Mamat yang mendekatkan tubuhnya ke Amel.“Awas saja kalau sakit lo ke rumah gue,” bisiknya.“Sudah mulai bisik-bisik, entar lagi go publik,” sindir Arin.“Maksudnya apa Rin?” tanya Carles.
155“Lo pada enggak ada yang tahu?” balas Melisa.“Kagak,” sahut Carles dan Bibin yang sedang membawa nampan berisik pesanan mereka, sedangkan Sagara hanya menyimak pembicaraan mereka.“Wah? Benar-benar lo ya Kak. Teman sendiri enggak lo kasih tahu,” kompor Laras.“Amel calon tunangan gue,” kata Mamat.“Hah?” teriak ketiga laki-laki.Laras, Melisa, Arin dan Amel langsung menutup telinga masing-masing, karena suara teriakan ketiga sahabat itu yang sangat memekakkan telinga. Sedangkan Amel mati-matian menahan kesal pada ketiga sahabatnya itu.“Puas?” amuk Amel galak.“Sorry Mel, kita keceplosan,” ujar Laras tidak enak hati.“Kita tarik lagi deh perkataan kita tadi,” ucap Melisa pada mereka.“Mana bisa bego, keburu tahu,” sewot Mamat.Mereka tertawa mendengar kemarahan Mamat. Delapan remaja SMA itu langsung menikmati makanan mereka,
156sesekali mereka bercerita, sesekali juga pasti ada adegan kebucinan Bibin dan Melisa yang masih di tahap awal-awal, juga perdebatan antara Amel dan Mamat. ***
157“Kita tidak akan pernah tahu bersama siapa kita akan melabuhkan cinta terakhir,maka dari itu nikmatilah setiap momen kebersamaan”
158BerkunjungAnak-anak SMA Harapan Bangsa sudah mulai berhamburan pulang ke rumah masing-masing, begitu juga dengan Laras yang lagi berada di parkiran mengeluarkan motor maticnya.“Kayak kenal,” ucapnya saat melihat di ujung jalan arah rumahnya.“Kenapa?” tanya Laras cuek karena tadi dia tidak niat untuk berhenti tapi sebuah hadangan yang terpaksa membuat dia menghentikan laju motornya.“Ikut gue pergi sebentar,” ajak Sagara.“Enggak mau,” tolaknya.“Harus mau, pulang dulu ganti baju sana,” suruh Sagara.“Apa sih,” omel Laras.“Mau gue culik?” tanya Sagara datar.Mendengar perkataan itu Laras melajukan motornya kembali menuju rumah diikuti oleh Sagara.“Tunggu di luar,” perintah Laras. Selang berapa menit Laras sudah berganti pakaian
159biasa, sedangkan Sagara hanya mengenakan kaos hitam dan celana sekolah.“Mau ke mana?” tanya Laras.Lelaki itu tidak menjawab melainkan langsung menuju motornya.“Ayo na...,” ucapannya langsung terhenti saat melihat pakaian yang dikenakan oleh Laras.“Ganti rok lo,” serunya dingin.“Pakai ini saja, biar cepat jalan.”“Ganti,” tekan Sagara.“Apa sih mau dia, ini salah itu salah, perasaan apa yang gue pakai enggak ada yang benar di mata dia,” umpat Laras dengan wajah jutek sambil masuk rumah.“Enggak usah ngedumel\\,” kata Sagara.“Kenapa ikut masuk?” marah Laras. “Terserah gue,” balas Sagara cuek.“Keluar sana, gue mau ganti celana,” ucap Laras yang mendorong Sagara keluar rumahnya.“Lo gantinya kan di kamar bukan di sini, gue mau menumpang ke kamar mandi,” ucap Sagara dengan berlalu
160mengarah dapur.“Ck,” decakan Laras yang melihat kelakuan Sagara. “Sudah kan?” tanya Laras yang baru saja keluar dari arah kamarnya.Sagara yang memang saat ini sedang tiduran di sofa ruang tamu pun langsung menatap Laras.“Good.”“Berasa rumah sendiri ya?” cibir Laras menuju halaman rumahnya.“Enggak usah menyindir,” ucap Sagara.“Lah siapa yang menyindir coba?”“Naik,” ucap Sagara yang mempersilahkan Laras naik motornya.“Mau ke mana sih?” tanyanya saat sudah berada di atas motor.“Berisik,” ketus Sagara.Inilah yang membuat Laras jadi kesal saat berhadapan dengan Sagara, tidak mau kalah. Setelah melakukan perdebatan kecil akhirnya mereka sampai di suatu pemakaman umum.
161“Ayo,” ajak Sagara yang barusan memarkirkan motornya.“Mau ke makam siapa?” “Mama.”Laras langsung diam mengikuti Sagara, dia sedikit melirik ke arah samping dapat dilihat wajah Sagara memancarkan raut wajah menahan kesal tidak sedikit pun senyum.“Iya tahu gue ganteng,” kata Sagara dengan narsisnya.“Enggak usah kepedean,” ucap Laras dengan mengalihkan pandangannya ke arah lain, wajahnya sudah merah menahan malu.“Assalamualaikum Ma,” ucap Sagara yang baru saja sampai ke makam mamanya.“Assalamualaikum Tante.”“Ma, maaf ya Gara sudah jarang berkunjung ke rumah Mama, soalnya lagi banyak kerjaan,” ucap Sagara.“Ma, kenalkan ini namanya Laras, sifatnya hampir mirip sama Mama. Dia baik, cantik, suka kasih nasihat ke aku, katanya dia pintar masak tapi enggak pernah tuh masak
162untuk aku,” adu Sagara dengan rajukan di akhir kalimatnya“Tapi ada sifat yang enggak baik dari dia Ma. Suka marah, menangis, mementingkan orang lain,” ucapnya tanpa melihat orang yang berada di sampingnya.Sedangkan yang dibicarakan yang awalnya terharu berubah jadi kesal mendengar curhatan Sagara kepada mamanya.“Gue enggak begitu ya,” ucap Laras yang tidak terima.“Enggak usah melotot begitu, nanti tuh mata keluar,” kata Sagara menakut-nakuti.“Tante, aku enggak pernah marah sama anak Tante. Malah dia yang suka marah sama aku,” Laras ikut-ikutan mengadu.“Enggak Ma, bohong buktinya tadi pas di sekolah dia sama cowok lain,” sindir Sagara.“Tadi kan enggak sengaja bertemu ya, padahal kamu yang egois maunya dua sekaligus,” sindir Laras emosi.“Kalau bisa dua, kenapa harus satu?” “Tuh kan Tante lihat sendiri kelakuan anak Tante,” ucap Laras tidak mau kalah.
163“Dia itu suka marah-marah enggak jelas sama aku Tante, padahal dia sudah punya tunangan masih saja mau dekat-dekat sama aku,” sambungnya.“Siapa coba mau dekati lo?”“Oh! Awas ya besok-besok enggak usah lagi ketemu aku,” rajuk Laras yang ingin pergi dari pemakaman.“Lihat tuh Ma, calon mantunya ambekan.”Mendengar ucapan Sagara membuat Laras mati-matian tidak tersenyum.“Mau ke mana? Sini gue belum puas kenalkan lo ke Mama,” ucap Sagara yang menarik pergelangan tangan milik Laras untuk kembali ke tempat semula.Setelah tenang, mereka langsung berdoa dengan khusyuk, lalu menaburkan bunga, menyiram air sekitar pemakaman. Setelah itu mereka langsung pergi dari area pemakaman umum.Setelah berkunjung ke pemakaman tadi saat ini mereka sedang berada di sebuah cafe karena mereka berdua belum mengisi perut mereka sedari pulang sekolah tadi. “Sudah makan dulu, dari tadi kamu belum makan,”
164kata Laras.Laras tahu bahwa Sagara sedang sedih merindukan mamanya. “Sini buka mulutnya, aku suapi,” tawar Laras sambil mengarahkan sendok yang berisi nasi. Dengan semangat Sagara membuka mulutnya, ini momen langka jadi harus gerak cepat.“Modus,” ejek Laras ketika melihat keantusiasan Sagara.“Enggak ikhlas?” omel Sagara.“Ikhlas, ayo buka mulut lagi,” Laras menggoyangkan sendoknya tepat di depan wajah Sagara.“Makasih Cantikku,” ucap Sagara tersenyum ***
165“Percayalah Kehilangan cinta pertama anak perempuan secara tiba-tiba itu sangat menyakitkan”
166Turnamen dan LukaSMA Harapan Bangsa saat ini sedang kedatangan siswa dari sekolah lain. Mereka hari ini akan mengadakan turnamen yang sudah dibicarakan hampir dua minggu yang lalu.Kini di lapangan basket dipenuhi siswa-siswa yang akan ikut memeriahkan pertandingan.Tim cheelider sedang menunjukkan performa terbaik mereka.“Lima menit lagi tim Sagara tanding, persiapkan diri kalian,” ujar Coach Wahyu.“Siap Pak”“Kalian dengarkan gue jangan ada main kasar, mainnya santai saja,” ucap Sagara.“Siap!” ucap anggota tim.Suara peluit terdengar, menandakan babak pertama akan dimulai.“Sebelum bertanding mari kita memanjatkan doa menurut kepercayaan masing-masing,” intruksi CoachWahyu.
167“Kita sambut tim kebanggaan SMA Harapan Bangsa, tim Sagara!” ucap pembawa acara.Sagara dan kawan-kawan memasuki lapangan basket.Teriakan-teriakan memenuhi lapangan.“Ah Sagara,” ucap seorang siswi.“Ya ampun Gara ganteng banget,” sambut temannya.“Fiks calon mantu Mama gue!” ujar yang lainnya.“Carles,” ucap siswi lainnya“Bibin, Mamat,” Bibin dan Mamat pun tak kalah diidolakan.Yah begitulah kira-kira kaum hawa mengidolakan tim Sagara.“Mari kita sambut tim SMA 11!”“Aturan mainnya kalian sudah paham?” tanya wasit kepada dua captain tersebut.“Paham!” ucap ketua captain“Waktu bermain 4 babak, yang masing-masing memiliki waktu 10 menit.”“Siap!”Wasit mulai meleparkan bola ke atas dan pertandingan
168pun di mulai.“Go go go go go go go Sagara,” teriak penonton.“Kak Sagara semangat!” teriak penonton.“Hore!” teriak mereka saat Sagara berhasil memasukan bola dengan gaya chest pass.Chest pass merupakan teknik passing yang dilakukan dengan cara memegang bola dengan kedua tangan di depan dada. Bola harus dipegang menggunakkan ujung jari dari kedua tangan, sedangkan ibu jari berada dibagian belakang bola.Di lapangan basket sedang seru-serunya, sedangkan di tempat lain ada dua remaja sedang berseteru.“Kamu enggak bisa begitu ya!” ucap Salsa.“Kenapa enggak suka?” jawab Galang.“Pokoknya kalau ada apa-apa kamu harus tanggung jawab Galang, aku enggak mau ikut-ikutan ya,” ucap Salsa.“Enak saja, kita melakukan berdua jadi tanggung jawab berdua,” ucap galang lagi.“Tapi gimana kalau Sagara tahu?” tanya salsa.“Dia enggak bakal tahu asal kamu bisa tutup mulut,
169di sini kamu pacar aku dan Sagara bukan siapa-siapa kamu walaupun terikat dengan cincin tapi dia enggak suka kamu!” ucap Galang sambil memegang bahu gadis itu.Air mata keluar dari kelopak mata Salsa.“Aku penghianat,” ucap Salsa.“Kamu enggak penghianat,” jawab Galang.“Sudah enggak usah menangis, belum tentu dia juga khawatir sama kamu,” ucap Galang.Galang sangat bahagia rencananya akan berhasil sedangkan Salsa hatinya was-was, dia takut kalau Sagara tahu bakal jadi permasalahan besar bukan hanya hubungan perselingkuhan mereka yang terbongkar tapi kelurganya yang akan menanggung malu.Di lapangan pertandingan semakin sengit karena antara dua tim sama-sama kuat.“Gara!” teriak Carles, dia melihat lawan mereka yang merebut bola sambil mendorong Sagara sangat kuat.Belum sempat menghindar Sagara sudah tersungkur ke depan, dan tersangka pura-pura tidak tahu dan melanjutkan membawa bola.
170Peluit wasit berbunyi, wasit menghentikan sementara pertandingan dan menuju ke tengah lapangan.“Woi jangan curang!” teriak penonton heboh.“Woi jangan main curang kenapa!” ucap Mamat menarik lawan yang menjatuhkan sahabatnya, dia sangat emosi.“Sudah Mat!” ucap Carles.“Ahk!” rintih Sngara yang kesakitan.“Gara lo enggak apa-apakan?” tanya Mamat yang sedikit emosi.“Sudah enggak usah jadi orang bego lo Mat, enggak lihat tuh muka Gara luka,” ucap Bibin.“Ayo Gar kita bantu berdiri, masih kuat enggak,” ucap Carles.“Gue oke!” ucapnya mencoba berdiri.“No 2 sini kamu,” panggil wasit.“Maaf Pak, saya enggak sengaja,” jawabnya.“Oke, minta maaf!” perintah wasit. “Gue minta maaf,” ucap lelaki itu.“Hem,” jawab Sagara.
171“Masih bisa lanjut Gara?” tanya wasit“Masih Pak,” jawab Gara.Pertandingan masih berlanjut walaupun captain SMA Harapan Bangsa sedikit menahan sakit tapi dia tetap fokus ke pertandingan.“Ras, Kak Gara terluka,” bisik Melisa.“Kok bisa?” tanya Laras.“Ada yang dorong dia dan wajah Kak Gara yang terluka tapi dia tetap lanjutkan pertandingan,” terang Melisa.“Gue ke lapangan dulu,” ucap Laras yang tergesa-gesa menuju lapangan.Saat tiba di lapangan benar dia melihat dari kejauhan tampak Sagara menahan kesakitan, wajah yang putih mulus berubah jadi penuh luka dan darah mengering pun masih menempel.Gara yang merasakan kehadiran gadis itu pun langsung mengarah ke gadis cantik itu.Sedikit tersenyum seolah-olah mengatakan, “Gue baikbaik saja.”Melihat Sagara tersenyum ke arahnya membuat dia
172sedikit lega, walaupun ingin rasanya dia datang mengobati luka itu.“Semangat!” seru Laras.Dia menyemangati Sagara dengan isyarat. Setelah melihat keadaan Sagara, Laras menjauh dari lapangan itu menuju ruang ganti tim basket perempuan.“Gimana?” tanya Melisa saat dia melihat sahabatnya masuk.“Iya dia terluka,” jawab Laras.Bunyi panggilan masuk dari telepon Laras.“Iya Bang!” jawab Laras.“Kamu sudah tanding?” tanya Daffa.“ Belum, kenapa?” ucap Laras.“Abang,” panggil Laras.Lagi-lagi tidak ada suara dari seberang sana, kenapa? Itulah pertanyaan yang muncul di pikiran Laras.“Dek, Papa,” terdengar suara Daffa dari seberang.“Papa sudah pulang ya Bang?” tanya Laras dengan gembira.“Iya,” ucap Daffa dengan terbata-bata.
173“Kok Papa enggak kabari Laras dulu. Pasti kejutan ya?” ucap Laras.“Bang kok diam?” Laras semakin bingung kenapa abangnya diam. Ah mungkin saking bahagianya karena kepulangan papanya ke rumah membuat tidak bisa berbicara! Pikir Laras.Tunggu!Kok ada suara isakan tangis dari Abangnya.“Bang, Kenapa? Cerita sama Laras?” ucapnya sudah mulai ketakutan.“P..a...pa sudah enggak ada!” jawab Daffa di sela-sela tangisnya. “Maksudnya gimana?” tanya Laras bingung dan risau.“Papa sudah pergi meninggalkan kita selama-lamanya,” ucap Daffa.Handphone Laras terlepas begitu saja. Benarkah ini nyata? Atau hanya prank?“Papa!” teriak Laras seraya menangis sesungukan membuat orang di sana kebingungan ada apa dengan gadis itu?
174“Papa!” dengan kaki gemetaran dia kembali mengambil handphone yang ada di lantai.“Abang,” panggil Laras.“Iya Sayang, kamu kuat ya, ada Abang, ada Mama yang selalu ada buat kamu. Abang tutup dulu ya nanti kalau sampai rumah baru Abang hubungi lagi. Kamu fokus dulu ke pertandingan kamu oke cantik”Belum sempat dia membalas handphone itu sudah mati.“Papa, jadi selama ini Papa enggak hubungi Laras karena Papa sakit?” “Ah.” teriak Laras dengan kesedihan yang mendalam.Dunianya runtuh! Tatapannya kosong, hatinya hampa.“Ras, Lo kenapa? “ tanya ketiga sahabatnya yang mendekatinya.Laras menangis.“Papa, Papa gue sudah enggak ada.” tangisnya semakin pecah, tubuhnya lemah jatuh tersungkur ke lantai. Kini dia hanya memikirkan cinta pertamanya bukan lagi pertandingan atau siapa pun.
175“Inalillahi wa Inna ilaihi raji’un,” ucap mereka serempak. Mereka langsung memeluk Laras.“Sabar Ras, masih ada kita,” mereka menangis dan mencoba menguatkan gadis itu.“Papa,” panggil Laras disela-sela tangisnya“Om Bagas orang baik!” ucap Arin.“Lo mau pulang? Nanti kita yang minta izin,” ucap Amel yang tidak tega melihat gadis dengan mata bengkak itu.Laras menggelengkan kepala, “Abang enggak izinkan sampai pertandingan selesai.”“Papa! Laras sayang Papa. Kenapa secepat ini Pa? kenapa?” batin Laras. Lagi-lagi dia menangis, teringat kenangan indah bersama papanya.“Nanti Papa pulangnya bawa boneka besar ya!” pinta Laras waktu itu.“Iya Sayang, kamu jangan nakal menurut sama Abang,” jawab Bagas, Papa Laras.“Nanti pokoknya Mama sama Papa harus tetap
176hubungi Laras ya!” pinta Laras.“Kamu sudah kayak mau ditinggal setahun saja” ucap Bagas sambil memeluk anak gadisnya itu.“Bukan begitu Pa, kan Laras kesepian!” ucap Laras.“Sudah Ras, sayang-sayangnya nanti lagi, temani Papa sarapan dulu sana,” ucap Mama Laras.“Ini minum dulu,” ucap Arin yang membawa sebotol minuman.“Sudah tenangkan dulu pikiran lo,” ucap Arin lagi.Tiba-tiba ponsel Melisa bordering, ada pesan dari Bibin mengatakan pertandingan tim Sagara sudah selesai.Melihat pesan tersebut, Melisa langsung whatsappSagara.Kak!Laras butuh kakak, dia lagi ada di ruang ganti perempuan dia lagi sedih barusan abangnya mengabarkan papanya sudah enggak ada.Melihat isi pesan dari Melisa membuat Sagara seketika berdiri, tanpa menghiraukan teriak teman-temannya. yang
177dia pikirkan keadaan Laras, pasti dia sangat sedih saat ini. Karena dia pernah merasakan ini, ditinggal orang tersayang.Saat tiba di ruang ganti perempuan dia hanya melihat ketiga sahabat Laras sedang berusaha menenangkan Laras.“Laras!”Mendengar suara Sagara membuat mereka menoleh dan sedikit berjarak dari Laras untuk memberi ruang buat Sagara.“Ras!” panggilnya lagi saat Laras tidak merespon panggilannya. Dia sangat sedih melihat Laras. mata sayu, bengkak, pucat. Dia tidak tega melihat Laras langsung saja membawanya ke dalam dekapannya. Luka yang ada di wajahnya tidak sebanding dengan luka yang dirasakan Laras saat ini.“Papa...,” Laras menangis lagi saat berada di dalam pelukan Sagara.“Iya, Kamu tenang dulu,” ucap Sagara mencoba menenangkan gadis itu.“Papa pergi Kak, Aku enggak punya Papa lagi,” tangisan pilu itu terdengar dalam ruangan yang hanya ada
178mereka berlima, Mereka ikut merasakan kesedihan gadis itu.“Kamu mau pulang? Biar aku antar,” ucap Sagara yang biasa pakai Lo gue kini berubah jadi aku kamu.“Kenapa?” tanyanya saat melihat gelengan kepala dari Laras.“Sebentar lagi tim aku tanding, Aku harus ikut karena aku captainnya,” ucapnya masih dalam dekapan Sagara.“Yakin?” tanya Sagara lagi.Anggukan itu memberi tanda bahwa gadis itu bisa, Sagara melepaskan dekapan keduanya dan membersihkan air mata gadis itu.“Kalian keluar dulu ya! Aku mau tenangi diri dulu”“Oke, kalau ada apa-apa lo teriak saja. Kita ada di depan kok,” ucap Arin yang tidak tega meninggalkan Laras sendirian.“Gue ke lapangan ya,” ucap Sagara.Laras hanya menganggukkan kepalanya.“Papa, Laras izin tanding dulu ya, nanti Laras pulang cepat,” ucapnya dengan wajah memerah karena dari tadi dia menangis.
179Di depan pintu ruang ganti tim basket perempuan.“Kalian jagai Laras ya, kalau ada apa-apa hubungi gue,” ucap Sagara.“Tanpa Kakak suruh kita pasti akan jagai Laras,” ucap Amel sedikit tidak suka pada Sagara.“Hem,”***Jam 13.00 WIB“Tim putri sudah siap?” tanya pak Wahyu.“Siap Pak,” ucap Laras yang baru keluar dari ruang ganti.Tadinya mereka sudah kumpul semua tinggal Laras yang belum tapi mendengar ucapan siap membuat teman sekelilingnya terharu dengan ketegaran gadis itu. Dia rela mengorbankan perasaannya demi sebuah tanggung jawab.“Yakin Ras? Saya tidak masalah kalau kamu pulang duluan,” ucap coach Wahyu.“Yakin Coach!” ucapnya mencoba tersenyum.“Ya sudah kalau itu keputusan kamu! Kamu harus sabar ya,” ucapnya menyemangati Laras.
180“Oke baik, sebelum bertanding mari kita berdoa menurut kepercayaan kita masing-masing”“Kita panggil tim putri SMA Harapan Bangsa,” ucap Pembawa Acara.Mereka semua masuk ke lapangan.Laras mencoba tegar.“Harus fokus,” ucapnya menyemangati diri sendiri.“Semangat!” ucapan dari pinggir lapangan, siapa lagi kalau bukan tim Sagara.“Kita panggil tim SMA Tunas Kelapa,” ucap pembawa acara.“Aturan main sudah paham?” tanya wasit.“Paham!” jawab kedua captain.“Pertandingan dilakukan 4 babak dan waktu 10 menit sudah termasuk jam istirahat,” jelas wasit.“Siap!” aba-aba wasit.“Siap!”Bola dilempar ke atas dan didapatkan oleh tim lawan.Menit demi menit sudah berlalu dan hasilnya sangat tidak memuaskan tapi mereka memaklumi karena tim
181mereka baru dibentuk, tapi tidak dengan Laras yang merasa kekalahan ini ulah dirinya.“Maafkan gue ya, gara-gara gue enggak bisa fokus kita jadi kalah,” ucap Laras yang meminta maaf kepada timnya, dia sadar bahwa dia tadi tidak fokus.“Sudah Ras biasa saja,” ucap salah satu mereka.“Gue duluan pulang ya, Abang gue sudah kabari gue,” ucapnya dengan raut sedih.“Kita ikut ya,” ucap Amel.“Iya, untuk semuanya gue minta maaf sekali lagi,” ucap Laras.“Iya Ras, yang sabar, kita yakin lo bisa,” ucap salah satu dari mereka.Ketika menuju parkiran geng Woktai sudah menunggu kehadiran mereka, Laras sangat bersyukur masih mempunyai teman seperti mereka walaupun tidak dekat tapi mereka mempunyai solidaritas tinggi.“Motor kalian tinggalkan dulu nanti ada yang ambil! Titipin saja ke satpam,” ucap Sagara.“Iya,” jawab Melisa.
182“Dipakai,” ucap Sagara yang memberikan helm kepada gadis itu.Sedang geng Woktai lainnya yang sudah lebih dulu berada di atas motor. Mereka semakin penasaran dengan hubungan Sagara dan Laras, ingin bertanya tapi tidak memungkinkan jadi mereka tahan dulu. Kecuali Carles dia cuek saja karena dia sudah tahu.“Ayo naik!” ajak Sagara.“Nanti ada yang lihat, aku ikut Kak Carles saja ya,” ucap Laras.“Naik,” ucap Sagara lagi, dia tidak habis pikir dengan Laras, masih sempatnya memikirkan orang lain dibanding dirinya sendiri.Dengan berat hati dia ikut duduk di belakang jok motor Sagara.“Rin, Mau gue tinggal?” ucap Carles saat melihat gadis itu belum ikut duduk di jok belakangnya sedangkan yang lain sudah mulai melajukan motor mereka.Ya Amel dibonceng calon tunangannya, Mamat. Melisa dibonceng Bibin.
183“Ah iya Kak, Tunggu,” ucap Arin.Untungnya parkiran dan halaman sekolah utama SMA Harapan Bangsa sedang sepi jadi mereka tidak perlu takut ada yang lihat.Dalam perjalanan Laras banyak diam sesekali menghapus air matanya, membuat Sagara sedikit memperlambat laju motornya takut Laras terjatuh karenaberpengangan dengan menggunakan satu tangan.***
184“Tidurlah dengan damai di tempat keabadianmu! Papaku Sayang”Laras
185Pertemuan TerakhirLaras pikir ini hanya mimpi, ternyata ini nyata. Papa yang begitu disayangnya, kini terbujur kaku di hadapannya, dengan berbalut kain kapan baju terakhir untuk papanya.Pulang sekolah tadi Laras berteriak histeris memanggilmanggil papanya. Saat itu hanya papanyalah yang ada di pikirannya. Orang-orang yang berada di sekitarnya tidak berani buka suara, karena mereka merasa kasihan dengan apa yang saat ini menimpa Laras. Daffa, Abangnya pun tak dapat berkata apa-apa menyaksikan keadaan adiknya yang seperti hilang kesadaran. “Abang bilang sama Laras, Papa hanya tidur!” ucapnya disela-sela tangisnya. “Abang bilang....” ucap Laras sambil kedua tangannya mengguncang kuat bahu Daffa. Tubuh Daffa bahkan hampir saja terpental ke belakang, untung ada Manda, pacar Daffa yang menahannya. Daffa hanya diam. Semua orang hanya diam, hanya air mata kesedihan yang mengalir di pipi mereka.
186 “Kenapa? Kenapa Abang enggak jujur sama Laras! Aku juga anaknya Bang,” sesal Laras pada abangnya. Benar kata orang kehilangan terbesar dalam hidup anak perempuan itu adalah cinta pertamanya.“Sudah, Kamu tenang dulu, istighfar,” ucap Daffa. Dia juga hancur tapi ini sudah takdir. Matanya berkacakaca menahan untuk tidak menangis. “Abang bukan enggak mau kasih tahu kamu Ras. Tapi Abang khawatir dengan kesehatanmu, Abang takut nanti kamu sakit,” ucap Daffa. Di sela tangisnya Laras mendekat ke papanya. Dia tersenyum luka melihat wajah Bagas yang tenang seperti tidak ada beban.“Papa maafkan Laras, saat Papa sakit Laras enggak tahu apa-apa. Maafkan Laras tidak menemani Papa di saatsaat terakhir Papa,” ucapnya.“Laras sudah jadi anak durhaka ya Pa,” ucap Laras di sela-sela tangisnya.“Laras kangen Papa. Papa janji bawakan Laras boneka besar. Papa juga janji akan ajak kita semua liburan berempat?
187Tapi Papa malah pergi,” ucapnya lagi.Lalu Laras memperhatikan sekelilingnya, dia perhatikan orang di sana satu persatu, Namun!“Mama mana Bang?” tanyanya pada Daffa.“Mama..,” Daffa bingung harus menjawab apa pada Laras, dia melirik arah Manda, meminta persetujuan Manda. Manda pun menganggukkan kepalanya pertanda setuju.“Mama masih di rumah sakit,” ucap Daffa.“Kenapa enggak ikut pulang?” tanya Laras lagi.“Mama sama Papa kecelakaan waktu pergi ke Surabaya Dek,” ucap Daffa.“Ya Tuhan,” ucap Laras seraya tertunduk lemas.Benar kata orang kehilangan terbesar dalam hidup adalah kehilangan salah seorang yang berarti dalam hidup.Sagara dan kawan-kawan hanya diam memperhatikan Laras, mereka iba melihat gadis itu Bahkan mereka ikut menangis melihatnya.“Enggak terbayang kalau berada di posisi Laras itu gue,” ucap Amel.“Iya, pasti gue sudah pingsan duluan,” sahut Melisa.
188“Kasihan Laras,” ujar Arin.“Bin, Ingin rasanya gue mendekap si Manis, gue enggak tega lihat dia sedih begitu,” ucap Mamat.“Gue juga kasihan,” ucap Bibin.“Baru kali ini lihat dia sesedih itu,” ucap Carles, sebab dia tahu Laras adalah gadis ceria.Sagara bisa merasakan sakitnya kehilangan itu seperti apa? Ingin rasanya dia mendekati Laras untuk sekadar menyemangati atau mendekapnya supaya beban perasaan Laras sedikit berkurang.“Sudah ya, Kita harus segera memakamkan Papa, kamu harus ikhlas ya biar Papa istirahat dengan tenang,” ucap Daffa yang memberikan pengertian kepada Laras.“Papa..!” tangis Laras kembali memenuhi ruangan.“Untuk seluruh hadirin, terimakasih sudah datang di kediaman keluarga Bagas Baskara. Dan untuk pihak keluarga semoga diberikan kekuatan dan hati yang ikhlas supaya almarhum tenang di alam sana, untuk semua apabila semasa hidupnya beliau ada salah mohon dimaafkan dan apabila beliau mempunyai hutang piutang dapat disampaikan pada
189kami, kerabatnya.”“Sebentar lagi almarhum akan kita salatkan, setelah itu kita bersama-sama mengantarkan almarhun ke peristirahatan terakhirnya,” ucap pembawa acara yang merupakan kerabat Laras.Setelah disalat kan, para pelayat pun turut mengantarkan almarhum Papa Laras ke pemakamannya. Sahabat-sahabat Laras, dengan setia mendampingi Laras hingga pengantaran jenazah Papa Laras ke pemakaman, mereka tidak pernah sedikit membiarkan Laras sendirian.Mereka semua menyaksikan proses pemakaman seorang pengusaha sukses yang terkenal baik semasa hidupnya. Bagas Baskara yang meninggal secara tragis akibat kecelakaan. Entah kebetulan atau tidak, kecelakaan tersebut hingga saat ini masih menjadi kasus yang masih diselidiki pihak berwenang.Tangis Laras pecah saat mendengar lantunan suara Azan dari abangnya, dia semakin memeluk erat bingkai foto papanya.“Laras yang kuat ya,” ucap Manda sambil memegang
190bahu Laras, dia berusaha menenangkan Laras.Proses demi proses sudah berlalu kini Bagas Baskara, papa Laras, sudah tidak terlihat lagi, hanya gundukan tanah kuning dengan batu nisan bertuliskan namanya yang kini ada di depan Laras.Setelah proses pemakaman selesai, para pelayat mulai beranjak dari tempat itu, yang tertinggal kini hanya Laras, Daffa, Manda dan sahabat-sahabat Laras.“Abang pulang duluan ya,” ucapnya menyentuh bahu adiknya, dia segera menjauh dari Laras. Karena tidak ada sahutan dari Laras, membuat Daffa merasa bersalah merahasiakan masalah sebesar ini. Dia tahu Laras akan marah! Tapi inilah resikonya dia akan menerima.Kenapa dia merahasiakan ini semua dari Laras? Ada hal yang tidak mungkin dia beri tahu kepada Laras, karena ini juga menyangkut kesehatan Laras.“Jagai Laras ya,” ucapnya pada Sagaran, karena dia tahu bahwa adiknya sangat suka kepada Sagara. “Pasti Bang!” jawab Sagara.“Papa yang tenang ya, Laras janji jadi anak yang pintar,
191maaf dulu Laras sering membuat Papa pusing,” ucapnya disela-sela tangisnya.“Laras enggak bisa bayangkan hidup tanpa Papa, Mama juga lagi sakit! Kalian hebat enggak mau kasih tahu Laras,” ucapnya lagi.Mereka yang berada di sana ikut terbawa suasana sedih.“Sudah ya Ras, Ikhlaskan Om Bagas, jangan ditangisi terus, nanti Om Bagas sedih lihat kamu kayak begini,” ucap Arin.“Kamu pulang ya, kita antar sampai rumah, biar kamu bisa istirahat, jangan sampai kamu juga sakit. Ingat masih ada Mama kamu yang harus kamu rawat. Mungkin kamu enggak bisa rawat Papa kamu tapi kamu masih bisa rawat Mama kamu. Jadi kamu harus kuat enggak boleh sakit,” nasihat Arin.“Kamu benar Rin,” ucap Laras. “Papa, Laras pamit pulang, nanti Laras ke sini lagi bareng Mama,” ucap Laras.“Biar gue yang antar Laras pulang. Kalian pulang duluan saja. Istirahat besok masih ada pertandingan,” ucap