392“Cantik,” ucapnya tersenyum lirih sambil menatap gadis yang tertidur itu. “Kenapa enggak bangun? Kamu enggak mau lihat aku lagi?” ucap Sagara.Sagara berdioalog sendiri, karena tidak ada jawaban dari orang yang berada di hadapannya ini. Dia mendekati Laras dan mencium kening Laras. Menatap mata Laras yang kini tertutup selamanya. Mata ini yang dulu selalu menatapnya penuh cinta.“Maaf, maafkan belum bisa jadi pacar yang baik. Tidur yang nyenyak tuan putri,” bisik Sagara dengan suara berat. “Mohon maaf, pasien akan segera kami bawa ke ruang jenazah!” ujar seorang perawat. “Permisi,” ucap salah seorang suster.Ketiga sahabat Laras menangis saat menatap para medis membawa Laras ke ruang jenazah. “Laras, benaran meninggalkan kita?” tanya Arin dengan Amel dan Melisa. Amel yang melihat Sagara ada di depan matanya, mendekat ke arah Sagara dengan tatapan benci.
393PlakTamparan keras dari tangan Amel mendarat ke wajah Sagara. “Puas, puas sudah buat sahabat gue menderita selama ini! Puas sudah buat dia meninggal! Puaskan?” tanya Amel dengan emosi. Semua yang berada di sana terkejut melihat Amel menampar Sagara. Sedangkan Sagara hanya diam sambil memegangi pipi kanannya yang terasa panas. “Mel,” tegur Mamat yang mendekat ke Amel. “Diam, gue lagi mau marah dengan ini anak,” ucap Amel sambil menangis. “Jangan Sayang, ikhlaskan Laras,” ucap Mamat yang sedang memeluk Amel erat. “Gue, kehilangan sahabat Mat!” lirih Amel yang sedang menangis di pelukan Mamat. “Iya, kita semua kehilangan. Tapi kita harus ikhlaskan Laras! sekarang dia sudah enggak sakit lagi,” nasehat Mamat. Keesokan harinya proses pemakaman dilakukan.
394Semua merasa kehilangan, semua bersedih dengan musibah yang terjadi. Hari pemakaman pun ramai dengan pelayat, semua anak SMA Harapan Bangsa ikut hadir ke pemakaman. Serta terlihat juga The Tiger ikut mengawal kepergian Bu Bos mereka. “Tante Susan yang sabar ya!” ucap Amel. Proses pemakaman hampir selesai, kini proses tabur bunga pun dilakukan. Semua yang berada di sana merasa terpukul dengan kepergian Laras, terutama Sagara yang telah menciptakan luka mendalam bagi Laras semasa hidupnya. Kini kehidupan Larasati Putri Baskara telah berakhir. Kisah cintanya dengan Sagara, lelaki yang begitu dicintainya pun telah usai. Cinta terakhirnya, cinta yang dia bawa sampai akhir hayatnya.”Selama jalan anak Mama.”“Selamat jalan adik Abang.”“Selamat jalan Sahabat.”“Selamat jalan Bu Bos.”Satu persatu pelayat telah pulang, hanya tertinggal Deo
395dan Sagara. “Yang sabar!” ucap Deo pada Sagara, dia merasa kasihan dengan keadaan saudaranya itu. Deo pun beranjak pergi dari pemakaman. “Selamat berkumpul bersama Papa kamu, Sayang!” ucap Sagara dengan mengusap batu nisan. “Namamu akan terukir indah di sini,” ucap Sagara yang memegang dadanya. “Karena separuh jiwaku juga ikut terkubur bersamamu. Terimakasih sudah menjadikan aku cinta terakhirmu!” ucapnya. “Maaf, maafkan aku yang egois ini! Aku pulang dulu ya Cantik, besok aku ke sini lagi,” ucap Sagara.Sebelum benar-benar pergi Sagara mengucapkan kalimat indah yang tak Mungkin dijawab oleh sang kekasih. “I love you more than you love me”
396Mengenang Kisah Cinta LamaSatu tahun berlalu.Sagara kini sedang berada di makam Laras, gadis yang selama ini masih tersimpan rapi di relung hatinya. Sosok gadis ceria, sosok gadis yang selalu mengumbar aura positif. “Assalamualaikum,” ucap Sagara.Sagara langsung meletakan bunga mawar di atas makam Laras. Hampir setiap minggu Sagara ziarah ke makam Laras. “Apa kabar? Enak ya di sana? Pasti lo lagi kumpul sama bokap lo, lagi cerita-cerita. Lo pasti sudah ketemu Mama gue ya? Kalo sudah, sampaikan salam gue ya!” ucap Sagara dengan suara berat. “Kadang gue suka putus asa dengan keadaan. Gue mau cepat-cepat menyusul kalian saja. Biar bisa kumpul! Iya, berempat! Aku, Kamu, Nyokap gue, Bokap lo. Kita mengobrol bareng gitu!” ujar Sagara seperti orang gila. Ya, begitulah Sagara kalau pergi ke makam Laras, sendiri, agar dia lebih leluasa dalam menyampaikan keluh kesahnya.
397“Lelah, tahu enggak, hidup itu melelahkan Ras, lelah lihat sikap Papa yang makin hari semakin menjadi-jadi. Kalo boleh memilih lebih baik waktu gue sakit enggak usah selamat saja!” ucap Sagara yang putus asa. Lama dia terdiam sambil mengelus dan menatap batu nisan yang tertulis indah nama Laras. “Makasih atas waktu singkatnya, Ras!” “Maaf ya, kemarin gue lancang masuk kamar lo dan lagi-lagi gue lancang baca buku diary lo, tapi gue terharu banget dengan isinya!” ujar Sagara yang menampilkan senyum tipis. Ya, kemarin memang Sagara bertamu ke rumah Laras. Setelah hari di mana gadis yang sangat dia cintai meninggal, Sagara merasa sangat terpukul, bahkan hariharinya hanya berada di dalam kamar Laras. Bisa dikatakan selama seminggu Sagara menginap di rumah orang tua Laras, awalnya hanya bolak balik tapi Mama Laras yang merasa kasihan dengan Sagara mengizinkan Sagara tidur di rumahnya. Setelah mendengar cerita bahwa kehidupan lelaki itu cukup menyedihkan, jiwa keibuan dalam diri Susan
398muncul. Sekarang bisa dikatakan Sagara adalah anak angkat Susan sekarang.Setelah melewati banyak rintangan untuk meminta pintu maaf dari Daffa, akhirnya Daffa mampu memaafkan Sagara dan sudah menganggap Sagara adalah adiknya. “Gue suka senyum sendiri kalo lagi baca buku diary lo, gue merasa dicintai banget! Andai lo masih ada di sini Ras, bakal gue jaga lo terus. Tapi, Allah lebih sayang lo, Dia enggak mau lo makin sakit,” ucap Daffa lagi.“Boleh cerita enggak? Gue sekarang sudah kuliah, enggak terasa ya sudah setahun saja lo ninggalkan gue!” ucap Daffa.Ya, sudah satu tahun Sagara dan ketiga sahabatnya masuk perguruan tinggi. Lagi-lagi mereka mengambil jurusan yang sama. Kalau ditanya? Kenapa memilih Fakultas atau jurusan yang sama? Pasti mereka akan kompak menjawab. Biar sukses bareng! Sahabat sejati bukan? “Dan jujur hati gue masih tertutup buat orang baru, entah kenapa menurut gue lo itu selalu ada di mana pun gue
399berada!” ucap Sagara yang langsung termenung menatap batu nisan itu. Sagara kembali bersuara. “Walaupun nantinya, gue menemukan tambatan hati yang baru, dia harus siap mendapatkan setengah hati yang ada di diri gue, Bukan karena tak cinta namun separuh hatiku telah lo bawa ke dalam keabadian!” “Sudah ah, gue pamit pulang! Minggu depan gue ke sini lagi, jangan pernah bosan untuk mendengarkan keluh kesah gue,” ucap Daffa lagi.“Oh iya, satu lagi! Kenapa lo sudah enggak pernah datang lagi ke mimpi gue? Ayo dong entar malam datang ya, kangen nih gue!” ucapnya sambil tersenyum. Kalau Sagara lagi ada masalah pasti tempat dia bercerita adalah makam Laras, kekasihnya. Dia rela berjamjam di sini dengan percakapan yang tak mungkin dibalas oleh Laras. Tapi, dia senang berada di sini! Dia merasa dekat bahkan sangat dekat dengan Laras. Sebelum pulang Sagara membacakan ayat-ayat pendek suci Al-Qur’an yang dia hapal.
400Pada akhirnya kisah perjalanan mereka yang singkat hanya menjadi kenangan yang takkan terlupakan, bahkan walaupun ada kisah yang baru, kisah yang lama akan tetap abadi! terlepas itu semua adalah takdir. ***
401Biodata PenulisSilvi Rani Anggraini, penulis asal kota Palembang lulusan S-1 Ilmu Pemerintahan di Universitas Indo Global Mandiri, selain ketertarikannya dalam dunia politik penulis juga hobi membaca dan menulis. Lahir di Betung, 27 Mei 2000 merupakan pribadi yang suka belajar dan bercita-cita menjadi penulis terkenal. Kegemarannya menulis akhirnya ia tuangkan menjadi cerita di aplikasi wattpad. Setelah 2 tahun cerita “Laras” berada di aplikasi wattpad akhirnya cerita ini menemukan takdir baru, penerbit Rumah Literasi ANA menawarkan terbitan versi buku cetak. Novel Laras adalah novel yang pertama kali ada di akun wattpad penulis, novel Laras ini memiliki daya tarik sendiri yang mengundang antusias pembaca.
Penerbit Rumah Literasi ANA Jalan A. Sani Muthalib Perumahan Azzura Residence No.C.13 Kelurahan Terjunn, Kecamatan Medan Marelan,Kota Medan, Provinsi Sumatera Utara 20256 Hp. 0895-3847-3311, 082267229815Email [email protected] Website.rumahliterasiiana.wordpress.comIg. rumahliterasianaFb. Rumah Literasi AnaSagara sedang berada di sebuah komplek perumahan. Motor yang dikendarainya berhenti di depan pintu gerbang sebuah rumah yang tampak sepi, tapi sebuah sepeda motor terparkir di halaman. “Kayak kenal itu motor, tapi di mana ya?” Sagara memicingkan matanya mengingat-ingat motor tersebut. Dengan langkah pelan, Sagara memasuki perkarangan rumah. Motornya dia tinggal begitu saja di depan pintu gerbang. Sagara telah sampai di depan pintu utama. DegBenar dia tidak salah lihat, atau matanya yang bermasalah. Dengan amarah yang tidak tertahan lagi dia masuk ke dalam rumah. Lalu......